SELF ASSESSMENT REMAJA TERHADAP GAYA HIDUP DI KOTA MEDAN
S K R I P S I
Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Dalam Bidang Antropologi Sosial
Oleh :
Cory Magdalena Simanjuntak
100905038
DEPARTEMEN ANTROPOLOGI SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
HALAMAN PERSETUJUAN Skripsi Ini Telah Dipertahankan Oleh :
Nama : Cory Magdalena Simanjuntak Nim : 100905038
Departemen : Antropologi Sosial
Judul : Self Assesment Remaja Terhadap Gaya Hidup Di Kota Medan
Medan, Agustus 2014
Pembimbing Skripsi Ketua Departemen
( Drs. Yance M.Si ) ( Dr. Fikarwin Zuska )
NIP. NIP. 196212201989031005
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PERNYATAAN ORIGINALITAS
SELF ASSESSMENT REMAJA TERHADAP GAYA HIDUP
SKRIPSI
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi , dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka.
Apabila dikemudian hari terbukti lain atau tidak seperti yang saya nyatakan di sini, saya bersedia diproses secara hukum dan siap menanggalkan gelar kesarjanaan saya.
Medan, Juli 2014
Penulis
ABSTRAK
Cory Magdalena Simanjuntak, 2014, Judul : Self Assessment RemajaTerhadap Gaya Hidup Remaja di Kota Medan. Skripsi ini terdiri dari 5 bab + 123 halaman + 34 daftar pustaka + 4 lampiran interview guide + 1 peta Sumatera Utara + 1 peta Kecamatan Polonia + 2 lampiran glosarium.
Penelitian ini mendeskripsikan tentang bagaimana penilaian remaja terhadap gaya hidup yang diikutinya di Kota Medan. Untuk mejawab permasalahan di atas penelitian ini menggunakan pendekatan Antropologi kognitif, dimana kebudayaan dianggap sebagai seperangkat pengetahuan yang diperoleh manusia yang digunakan untuk menginterprestasikan pengalaman dan tingkah laku.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode etnografi yang mendeskripsikan sebuah kebudayaan dengan cara mempelajari masyarakatnya dan belajar dari masyarakat. Oleh sebab itu, dalam hal ini peneliti akan menjelaskan tentang bagaimana penilaian remaja terhadap gaya hidup yang di ikutinya di Kota Medan dengan mendeskripsikan atau menggambarkan hal-hal dan fenomenasosial yang terjadi di dalam masyarakat.
Berbicara tentang remaja dan gaya hidup, tidak terlepas dari pengaruh globalisasi dan dampak budaya konsumen atas negara-negara pinggiran yang menghasilkan berbagai sektor industri. Nantinya juga penelitian ini akan melihat pengaruh-pengaruh lain diantaranya keberadaan budaya konsumen ditandai dengan munculnya produksi tanda dan makana terus-menerus. Selain itu pengaruh globalisasi dan dampak budaya konsumen juga mempengaruhi perkembangan gaya hidup pada remaja SMA melalui media massa, lingkungan sosial dan elektronik
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan alasan para remaja SMA memilih nongkrong, shopping, dan lainnya sebagai gaya hidup, serta bagaimana penilaian mereka terhadap gaya hidup yang mereka ikuti, dan bagaimana cara mereka untuk memenuhi gaya hidup yang mereka ikuti di Kota Medan, Khususnya di salah satu pusat perbelanjaanya itu Sun Plaza yang berada di Jalan Zainul Arifin secara etnografis.
Selain menggunakan observasi, saya juga melakukan wawancara dan mengumpulkan berbagai bahan data seperti, data literature, sekunder maupun primer dan juga cara saya dalam mendapatkan data yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana dan mengapa serta apa yang ada di balik gaya hidup yang diminati remaja di Kota Medan
UCAPAN TERIMA KASIH
Pertama-tama saya mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, karena berkat dan kasih karunia-Nyalah, saya dapat menyelesaikan skripsi ini. Sebagai manusia biasa tentunya tidak terlepas dari banyak kekurangan dan kelemahan. Sehingga penulisan skripsi ini masih belum bisa dikatakan sempurna, baik dalam penuturan kata ilmiah yang lazim maupun dalam penyajian data. Adapun penulisan skripsi ini adalah sebagai tugas akhir dari seorang mahasiswa dalam mencapai gelar sarjana khusunya dalam bidang Ilmu Antropologi, dan untuk penelitian ini berjudul “Self Assessment Remaja Terhadap Gaya Hidup di Kota Medan”.
Pada kesempatan ini, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Prof.Dr.Chairuddin P. Lubis, DTM&H, Sp. S (K), selaku Rektor Universitas Sumatera Utara. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. Bapak Dr. Fikarwin Zuska, selaku Ketua Departemen Antropologi FISIP USU terima kasih atas ilmunya, dan Bapak Drs. Agustrisno, M.S.P, selaku Sekretaris Departemen Antropologi Sosial FISIP USU.
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
KATA PENGANTAR
Pertama-tama saya mengucapkan puji dan syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas Berkat, Kuasa, Anugerah dan Kehendak-Nya, saya bisa menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Self Assessment Remaja Terhadap Gaya Hidup di Kota Medan”. Skripsi ini disusun untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar sarjana Ilmu Sosial dalam bidang Ilmu Antropologi, Fakultas Ilmu-ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. Skripsi ini membahas secara menyeluruh mengenai Pandangan Remaja Terhadap Gaya Hidup. Pembahasan tersebut diuraikan dari bab I sampai dengan bab V. Penguraian yang saya lakukan pada skripsi ini adalah sebagai berikut:
Bab pertama menguraikan garis besar penulisan skripsi secara menyeluruh, antara lain dikemukakan dari latar belakang masalah, perumusan masalah penelitian, sehingga dapat diketahui apa yang dikemukakan didalam penulisan skripsi ini. Selanjutnya, akan diuraikan juga tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian, dan alat pengumpulan data, disertai juga dengan kesimpulan dan saran. Penguraian dalam bab ini, dimaksudkan agar dapat memberikan gambaran secara keseluruhan mengenai materi penulisan yang dimaksudkan dalam penelitian skripsi.
DAFTAR ISI
HALAMAN PERSETUJUAN HALAMAN PENGESAHAN
PERNYATAAN ORIGINALITAS i
ABSTRAK ii
UCAPAN TERIMAKASIH iii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP iv
KATA PENGANTAR v
DAFTAR ISI ix
DAFTAR TABEL xi
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Tinjauan Pustaka 8
1.2.1. Konsumerisme& Konsumtif, Remaja, 8
Gaya Hidup, Self Assessment 8
1.2.2. Perkembangan Gaya Hidup di Indonesia 22
1.3. Rumusan Masalah 24
1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian 25
1.5. Metode Penelitian 26
1.6. Rangkaian Pengalaman Lapangan 34
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 36
2.1. Sejarah Singkat Kota Medan 36
2.3. Kependudukan 43
2.3.1. Keadaan Penduduk Kota Medan 43
2.3.2. Keadaan Penduduk di Kecamatan Medan Polonia 44
2.3.3. Komposisi Penduduk Berdasarkan Umur 46
2.3.4. Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin 47
2.3.5. Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama 48
2.3.6. Komposisi Penduduk Berdasarkan Kelompok Etnik 51
2.4. Komposisi Pendudukan Berdasarkan Mata Pencaharian 52
2.5. Sarana dan Alat Transportasi 54
2.6. Remaja di Kota Medan 54
BAB III GAYA HIDUP REMAJA DI KOTA MEDAN 59 3.1. Remaja Kota Medan Secara Umum dan Luas 59
3.1.1. Anak jaman 61
3.1.2 . Cabe-Cabean 65
3.1.3. Remaja Alay 72
3.2. Kegiatan Yang Dilakukan Ketika Berkumpul 75
3.2.1 Berbelanja dan Shopping 76
3.2.2. Sekedar Bercanda Gurau 80
3.3. Tempat Mereka Berkumpul 86
3.3.1. Cafe 87
3.3.2. Pendopo USU 89
3.3.3. Mall 90
BAB IV SELF ASSESSMENT REMAJA TERHADAP GAYA HIDUP 93
4.1. Pandangan Remaja Terhadap Gaya Hidup 93
4.1.1. Gaya Hidup Nongkrong 98
4.1.2. Shopping Mall 102
4.1.3. Gadget 106
4.2. Cara Remaja Memenuhi Gaya Hidup Mereka 108
BAB V PENUTUP 112
5.1. Kesimpulan 112
5.2. Saran 115
DzFTAR TABEL Nomor
Tabel
Judul Halaman
Tabel 2.1 Jumlah Penduduk Kota Medan 44
Tabel 2.2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis kelamin 45 Tabel 2.3 Komposisi Penduduk Berdasarkan Umur 46 Tabel 2.4 Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin 48
Tabel 2.5 Jumlah Sarana Ibadah 49
ABSTRAK
Cory Magdalena Simanjuntak, 2014, Judul : Self Assessment RemajaTerhadap Gaya Hidup Remaja di Kota Medan. Skripsi ini terdiri dari 5 bab + 123 halaman + 34 daftar pustaka + 4 lampiran interview guide + 1 peta Sumatera Utara + 1 peta Kecamatan Polonia + 2 lampiran glosarium.
Penelitian ini mendeskripsikan tentang bagaimana penilaian remaja terhadap gaya hidup yang diikutinya di Kota Medan. Untuk mejawab permasalahan di atas penelitian ini menggunakan pendekatan Antropologi kognitif, dimana kebudayaan dianggap sebagai seperangkat pengetahuan yang diperoleh manusia yang digunakan untuk menginterprestasikan pengalaman dan tingkah laku.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode etnografi yang mendeskripsikan sebuah kebudayaan dengan cara mempelajari masyarakatnya dan belajar dari masyarakat. Oleh sebab itu, dalam hal ini peneliti akan menjelaskan tentang bagaimana penilaian remaja terhadap gaya hidup yang di ikutinya di Kota Medan dengan mendeskripsikan atau menggambarkan hal-hal dan fenomenasosial yang terjadi di dalam masyarakat.
Berbicara tentang remaja dan gaya hidup, tidak terlepas dari pengaruh globalisasi dan dampak budaya konsumen atas negara-negara pinggiran yang menghasilkan berbagai sektor industri. Nantinya juga penelitian ini akan melihat pengaruh-pengaruh lain diantaranya keberadaan budaya konsumen ditandai dengan munculnya produksi tanda dan makana terus-menerus. Selain itu pengaruh globalisasi dan dampak budaya konsumen juga mempengaruhi perkembangan gaya hidup pada remaja SMA melalui media massa, lingkungan sosial dan elektronik
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan alasan para remaja SMA memilih nongkrong, shopping, dan lainnya sebagai gaya hidup, serta bagaimana penilaian mereka terhadap gaya hidup yang mereka ikuti, dan bagaimana cara mereka untuk memenuhi gaya hidup yang mereka ikuti di Kota Medan, Khususnya di salah satu pusat perbelanjaanya itu Sun Plaza yang berada di Jalan Zainul Arifin secara etnografis.
Selain menggunakan observasi, saya juga melakukan wawancara dan mengumpulkan berbagai bahan data seperti, data literature, sekunder maupun primer dan juga cara saya dalam mendapatkan data yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana dan mengapa serta apa yang ada di balik gaya hidup yang diminati remaja di Kota Medan
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah
Penelitian ini mengkaji tentang berkembangnya gaya hidup yang sudah
sangat mempengaruhi masyarakat umum khususnya remaja di Kota
Medan.Loudun dan Bitta (1984) mengatakan bahwa remaja adalah kelompok
yang berorientasi konsumtif, karena kelompok ini suka mencoba hal-hal yang
dianggap baru. Kelompok usia remaja sendiri adalah salah satu pasar potensial
bagi produsen, alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk di
saat usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk oleh rayuan
iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam
menggunakan uangnya.
Sifat-sifat remaja yang seperti inilah yang dimanfaatkan oleh para
produsen untuk memasuki pasar remaja.Di kalangan remaja yang memiliki orang
tua dengan kelas ekonomi yang cukup berada, terutama di Kota Medan yang
termaksud metropolitan, mall dan café maupun tempat tongkrongan lainnya sudah
menjadi rumah kedua bagi mereka. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka
juga dapat mengikuti mode yang sedang beredar (Tambunan, 2001).Banyak
remaja di Kota Medan yang sangat ingin terlihat oke dan memiliki gaya yang
sangat ngtrend dikalangan teman-temannya. Tidak asing lagi kita melihat para
untuk memenuhi style keren dan membeli barang-barang yang branded demi
kepuasan tersendiri. Beberapa remaja putri maupun putra mengaku bahwa mereka
tidak dapat menahan diri atau mengendalikan diri ketika mereka memiliki
kebutuhan akan suatu produk terbaru, atau barang yang hendak ingin dibelinya.
Adapun salah satu alasan mereka adalah ketika mereka membutuhkan
suatu barang saat itu, umumnya mereka tidak mempertimbangkan terlebih dahulu
dan langsung saja membelinya karena yang utama adalah mereka mendapatkan
barang yang diinginkannya saat itu juga, dan mengikuti perkembangan zaman
yang semakin hari semakin sangat mengglobal. Pada dasarnya remaja juga
membeli barang-barang itu tidak berdasarkan kebutuhan mereka melainkan hanya
sebagai keinginan pada saat itu juga. Adapun alasan mereka adalah kalau tidak
segera dibeli, mereka khawatir akan kehabisan produk maupun barang-barang
tersebut atau tidak mendapatkannya, bahkan mereka takut tidak terlihat gaul di
kalangan teman-temannya. Seandainyapun mereka tidak memiliki uang yang
cukup untuk memenuhi segala kebutuhan konsumtif mereka, banyak cara yang
mereka lakukan baik itu usaha yang positif maupun negative.Selain itu, ketika
mereka membutuhkan sesuatu mereka umumnya tidak melakukan survey terlebih
dahulu. Alasan mereka adalah agar mereka tidak terlalu lama-lama memilih
barang yang cocok dan sesuai dengan pilihan dan selera mereka
(Handayani,2003).
Penelitian ini dilakukan di beberapa tempat favorit tongkrongan remaja
Kota Medan berkumpul yaitu di café-café dan butik di Sun Plaza.Salah satu alasan
teman, dan melihat beberapa remaja yang mengikuti zaman memilih
tempat-tempat tersebut sebagai tempat-tempat nongkrong.Banyak kegiatan yang mereka lakukan
ketika berkumpul, dan memiliki kepuasaan tersendiri dalam diri mereka karena
sudah berkumpul dengan teman-temannya yang menurut mereka sudah gaul dan
mengikuti zaman.
Hal-hal yang sedang berada menguasai remaja ini juga tentunya berkaitan
dengan peran media massa, dengan pemahaman bahwa sebagian besar
negara-negara yang mengkonsumsi “komoditi” tidak biasa terlepas dari konsumsi kesan
dalam media, media juga yang memasarkan produk-produk terbaru seperti gadget,
fashion, bahkan tempat tongkrongan. Meningkatnya dominasi negara-negara pusat
dalam hal produksi serta distribusi budaya melalui media, sering ditunjukkan oleh
negara-negara konsumen.
Budaya masayarakat akan konsumsi sangat meningkat, dan setiap orang
yang memiliki sifat konsumtif tersebut sering diberi ciri matrealis dan tindakan
mementingkan diri sendiri yang hedonistis yang membuat masyarakat termaksud
remaja memusatkan kehidupannya pada konsumsi barang-barang. Hal ini terjadi
karena peralihan produksi barang secara masaal dan munculnya pasar-pasar yang
baru untuk barang konsumen yang diiringi dengan perubahan pada sarana
produksi, seperti misalnya rasionalisasi pedagang yang awalnya eceran, yang
selanjutnya mendorong munculnya tempat-tempat konsumsi baru seperti
tokoserba ada, café, dan pusat-pusat perbelanjaan yang modern. Dalam tempat
konsumsi tersebut, seluruh kegiatan peragaan bertujuan membuat barang tampak
menghasilkan situasi dimana makna dialihkan melalui suatu proses kompetisi.
Membeli barang berarti membeli kesan dan pengalaman, kegiatan belanja bukan
lagi suatu transaksi ekonomi “sederhana” melainkan interaksi simbolis, dimana
masyarakat terkhususnya remaja membeli dan mengkonsumsi kesan untuk
mengikuti gaya hidup yang semakin modern.
Dalam masyarakat komoditas atau konsumer terdapat suatu proses adopsi
cara belajar menuju aktivitas konsumsi dan pengembangan suatu gaya hidup yang
lebih modern lagi. Pembelajaran ini dilakukan dari berbagai media seperti
majalah, koran, televisi, dan radio maupun interaksi terhadap sesama yang banyak
menekankan peningkatan diri, pengembangan diri, bagaimana mengelola
kepemilikan, hubungan terhadap sesama dan ambisi serta bagaimana membangun
gaya hidup yang lebih modern lagi.Dengan demikian mereka yang bekerja
dimedia, desain, mode dan periklanan yang memuat segala jenis dan bentuk
produk terbaru yang pekerjaannya adalah memberikan pelayanan serta
memproduksi, memasarkan, dan menyebarkan barang-barang simbolik yang
sebagai perantara budaya baru ke masyarakat banyak. Budaya konsumerisme
sangat mempengaruhi gaya hidup remaja di zaman sekarang ini khususnya Kota
Medan.
Konsumerisme, pada masa sekarang telah menjadi gaya hidup. Hal
tersebut secara aktif memberi makna tentang hidup melalui mengkonsumsi
material. Bahkan ideologi tersebut mendasari rasionalitas masyarakat sekarang
khususnya remaja, sehingga segala sesuatu yang dipikirkan atau dilakukan
tertentu dilihat dari merek dan harganya, apabila pakaian, gadget yang digunakan
oleh seorang remaja dilihat bermerk dan harganya mahal otomatis remaja tersebut
akan dikatakan oleh teman-temannya keren dan gaul. Ideologi konsumerisme
inilah yang pada akhirnya sekrang telah menyusup dan mempengaruhi erat segala
aspek kehidupan masyarakat, mulai aspek politik hingga ke aspek sosial budaya.
Beberapa ilmuwan menyebut beberapa poin tertentu yang berkaitan
dengan munculnya kapitalisme modern seiring dengan revolusi industri. Asal
mula konsumerisme dikaitkan dengan proses industrialisasi pada awal abad ke-19
dan dihubungkan juga dengan munculnya kapitalisme. Kapitalisme yang
bertujuan untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya bagi pemilik modal dalam
kegiatan ekonomi dapat disejajarkan dengan konsumerisme yang tujuannya
adalah mendapatkan kepuasaan untuk individu tersebut.Budaya berakar dari
kebiasaan. Artinya, prilaku manusia yang sudah membudaya berakar dari suatu
prilaku yang dilakukan secara berulang-ulang. Misalnya, bangun pagi menjadi
budaya dalam diri seseorang karena ia sudah melakukan aktivitas tersebut secara
berulang-ulang. Begitu juga dengan konsumerisme yang sudah menjadi budaya
dalam gaya hidup seorang remaja, mereka telah berulang-ulang kali melakukan
kegiatan yang menurut mereka itu sangat berarti buat kepuasaan mereka dan
sebagai cara untuk membentuk prestise dikalangan teman-temannya.
Disadari atau tidak, era globalisasi dan mudahnya mendapatkan informasi
melalui berbagai sarana teknologi dapat mempengaruhi remaja untuk berprilaku
konsumtif. Arus globalisasi begitu sangat cepat merasuk ke dalam masyarakat
mengakses informasi terkini atau istilahnya update dikalangan mereka melalui
handphone yang sangat canggih yang mereka miliki. Di satu sisi globalisasi ini
membawa dampak positif bagi masyarakat, namun di sisi lain globalisasi dapat
menimbulkan dampak negatif dikalangan remaja seperti dis-orientasi,
rmerebaknya gaya hidup konsumerisme. Pengamat social dari Universitas Jember
Drs. Hadi Prayitno M.Kes mengatakan :
“Prilaku konsumtif anak-anak remaja sangat berdampak pada pergeseran gaya hidup (lifestyle) yang dapat berpengaruh pada kepekaan sifat sosial
mereka, sehingga cenderung mengabaikan dan tidak peduli dengan
lingkungan social (diluar kelompoknya), pandangan anak-anak tentang
kehidupan social yang baik dan buruk cenderung kabur karena mereka
mengalami pergeseran nilai dengan gaya hidup yang lebih hedon dan
individual”
Remaja yang ingin dianggap keberadaannya dan ingin diakui eksistensinya
oleh lingkungan dan teman-temannya dengan berusaha menjadi lingkungan
tersebut. Kebutuhan untuk diterima dan menjadi sama dengan orang lain yang
sebaya itu menyebabkan remaja untuk mengikuti berbagai atribut yang sedang
popular dikalangannya maupun di media. Seperti istilah yang sanagat popular dari
Descartes yaitu :
“Cogitu ergom sum : aku berpikir maka aku ada” tetapi sekarang istilah
yang popular adalah : “I shop therefore I am : aku berbelanja maka aku
ada”.
Salah satu caranya adalah dengan berprilaku konsumtif demi mengikuti
gaya hidup seperti halnya : memakai barang-barang yang baru dan bermerk,
bersenang-senang serta berkumpul dengan kelompoknya. Pada 20 tahun yang lalu
remaja Indonesia tidak menghadapi masalah seperti ini, sebab 20 tahun yang lalu
instrument yang mendukungnya gaya hidup modern juga tidak terlalu banyak.
Namun, saat ini puluhan pusat perbelanjaan berupa mall, café, bermunculan
dengan begitu pesat. Hal ini sangat berpengaruh bagi perkembangan gaya hidup
remaja yang tidak selayaknya.
Dengan adanya semua fasilitas-fasilitas dan tempat perbelanjaan yang ada
tersebut, memudahkan akses bagi masyarakat terutama remaja untuk berprilaku
konsumtif demi mengikuti gaya hidup. Karena untuk dianggap keberadaannya
oleh lingkungan, ia harus menjadi lingkungan tersebut dengan cara
mengkonsumsi dan menikmati semua fasilitas yang ada dan disediakan. Yang
pada awalnya tujuan ini semua dilakukan oleh remaja semata-mata ingin
diperhatikan dan ingin menunjukkan bahwa mereka (remaja) sudah menjadi
dewasa, sudah bisa hidup dan bergaul layaknya orang dewasa. Tetapi pada
akibatnya prilaku konsumtif ini akan terus menjadi kebiasaan gaya hidup remaja
di Medan. Dalam pergaulannya, remaja biasanya mempunyai trend tersendiri yang
dapat dilihat dari perwujudan sikap mereka dari bergaul dan berpacaran.
Perwujudan sikap yang mencolok ini biasanya terjadi di remaja yang berdomisili
di perkotaan, yang disebabkan karena kehidupan kota yang semakin kompleks dan
penuh dengan dinamika.
Berdirinya gedung-gedung mall, distro, dan café juga memberikan banyak
peluang kenyamanan yang ditawarkan.Akan tetapi remaja sering menyalahartikan
sesungguhnya.Generasi yang paling tidak aman terhadap sebutan hedonis adalah
remaja. Daya pikat gaya hidup hedonis sangat luar biasa, bahkan mayoritas
pemikiran remaja dewasa ini lebih memilih hidup enak, mewah dan serba
berkecukupan tanpa harus berusaha. Title “remaja yang gaul dan zaman” baru
melekat bila mampu mengikuti mode yang trend saat ini. Oleh karena semakin
marak dan berkembangnya gaya hidup remaja zaman sekarang khususnya remaja
yang ada di Kota Medan, maka peniliti sangat tertarik untuk mengkaji tentang self
assessment remaja terhadap gaya hidup yang ada di Kota Medan baik dari segi
fashion, gadget, dan tempat nongkrong yang ada.
1.2. Tinjauan Pustaka
1.2.1. Konsumerisme& Konsumtif, Remaja, Gaya Hidup, Self Assessment
Konsumerisme1
Cahyana (1995) memberikan defenisi konsumerisme sebagai tindakan
yang dilakukan dalam mengkonsumsi berbagai macam barang kebutuhan demi
kepuasaan tersendiri, dengan arti lain bahwa kegiatan konsumtif ini hanyalah adalah paham atau ideologi yang menjadikan seseorang
atau kelompok melakukan atau menjalankan proses konsumsi atau pemakaian
barang-barang hasil produksi secara berlebihan atau tidak sepantasnya secara
sadar dan berkelanjutan. Hal tersebut menjadikan manusia menjadi pecandu dari
suatu produk, sehingga ketergantungan tersebut tidak dapat atau susah
dihilangkan.
bersifat memenuhi segala keinginan hanya untuk sementara. Lubis ( 1997)
mendefinisikan bahwa prilaku konsumtif adalah prilaku membeli atau memakai
suatu barang yang tidak lagi didasarkan pada pertimbangan rasional, melainkan
karena adanya keinginan yang sudah tidak rasional lagi.
From (1998) mengatakan bahwa manusia sering dihadapkan pada
persoalan untuk memenuhi kebutuhan dan mempertahankan kehidupannya.Oleh
karena itu, manusia harus melengkapi kebutuhannya tersebut.Pada masa awal
peradaban manusia, segala kepenuhan tersebut langsung dipenuhi sendiri dengan
jalan memproduksi dan mengahsilkan barang yang dibutuhkan secara langsung.
Miasalnya, jika seseorang membutuhkan sesuatu untuk melindungi tubuhnya dari
hawa dingin, maka ia akan berburu mencari kulit bintang sebagai penghangat
tubuh. Jadi segala upaya, usaha, dan jerih payah dan pekerjaan yang dilakukannya
adalah untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan hidupnya.
Ada beberapa indikator prilaku konsumtif menurut Sumartono (2002)
yaitu:
- Membeli produk demi menjaga penampilan dan gengsi
Konsumen remaja mempunyai keinginan membeli yang tinggi,
karena pada umumnya remaja mempunyai cirri khas dalam
berpakaian, berdandan, gaya rambut dan sebagainya dengan tujuan
agar mereka selalu berpenampilan yang dapat menarik oerhatian
orang lain. Mereka membelanjakan uangnya lebih banyak untuk
- Membeli produk atas pertimbangan harga (bukan atas dasar
manfaat dan kegunaannya)
Remaja cenderung berprilaku yang ditandakan oleh adanya
kehidupan mewah sehingga cenderung menggunakan segala hal
yang dianggap mewah.
- Membeli produk hanya sekedar menjaga symbol status
Remaja mempunyai kemampuan membeli yang tinggi baik dalam
hal berpakaian, berdandan, gaya rambut, dan sebagainya sehingga
hal tersebut dapat menunjang sifat eksklusif dengan barang yang
mahal dan member kesan berasal dari kelas social yang lebih
tinggi. Dengan membeli suatu produk dapat memberikan simbol
status agar kelihatan lebih keren dimata orang lain.
- Memakai produk karena unsur konformitas terhadap model yang
mengiklankan
Remaja cenderung meniru prilaku tokoh yang diidolakannya dalam
bentuk menggunakan segala sesuatu yang dapat dipakai oleh tokoh
idolanya. Mereka juga cenderung memakai dan mencoba produk
yang ditawarkan bila ia mengidolakan public figure produk
tersebut.
- Munculnya penilaian bahwa membeli produk dengan harga mahal
akan menimbulkan rasa percaya diri yang tinggi.
Mereka para remaja itu juga sangat terdorong untuk mencoba
menumbuhkan rasa percaya diri. Cross dan Hurlock (1997) juga
menambahkan bahwa dengan membeli produk yang mereka
anggap dapat mempercantik penampilan fisik, mereka akan lebih
merasa percaya diri.
Konsumerisme juga adalah sebuah paham yang dijadikan sebagai gaya
hidup yang menganggap barang mewah sebagai ukuran kebahagian, kesenangan,
dan pemuasaan diri sendiri. Budaya konsumerisme ini bisa dikatakan sebagai gaya
hidup yang tidak hemat. Jika konsumerisme ini menjadi gaya hidup, maka akan
menimbulkan suatu kebutuhan yang tidak pernah bisa dipuaskan oleh apa yang
dikonsumsi dan membuat orang terus mengkonsumsi. Saat ini banyak dari
beberapa bahakan semua lapisan masyarakat belum bisa memprioritaskan antara
barang yang harus dipenuhi dan keinginan belaka (Puspita 2002).
Remaja2
Menurut Sri Rumini dan Siti Sundari (2004: 53) remaja adalah peralihan
dari masa anak-anak dan masa dewasa yang mengalami perkembangan aspek atau adalah sekelompok manusia yang tidak mau dianggap anak-anak,
tetapi belum mampu menempati dunia dewasa.Mereka berada pada jenjang
tengah, tidak disebut anak kecil lagi namun belum bisa disebut orang
dewasa.Intinya sedang dalam perjalanan menuju kedewasaan, pada masa remaja
seseorang mulai ingin mencoba-coba menjadi manusia yang dewasa.Artinya
remaja sudah mulai merasa cukup dewasa dalam mengambil keputusan sendiri
dan segala sesuatunya dia lakukan sendiri.’
2
fungsi untuk memasuki masa dewasa. Rentang waktu remaja ini biasanya
dibedakan atas tiga yaitu :
12 – 15 tahun = masa remaja awal
15 – 18 tahun = masa remaja pertengahan
18 – 21 tahun = masa remaja akhir
Pada tahun 1974, WHO memberikan defenisi tentang remaja yang lebih
bersifat konseptual. Dalam defenisi tersebut dikemukakan tiga (3) kriteria yaitu
bilogik, psikologik, dan sosial ekonomi, sehingga secara lengkap defenisi tersebut
berbunyi sebagai berikut (Sarwono 2001) :
1. Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan
tanda-tanda seksual skundernya sampai saat ia mencapai kematangan
seksual.
2. Individu mengalami psikologik dan pola identifikasi dari kanak-kanak
menjadi dewasa.
3. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh pada
keadaan yang relatif lebih mandiri.
Jelasnya remaja adalah suatu priode dengan permulaan dan masa
perlangsungan yang beragam, yang menandai berakhirnya masa anak dan
merupakan masa diletakannya dasar-dasar menuju taraf
kematangan.Perkembangan tersebut meliputi dimensi biologik, psikologik, dan
sosiologik yang saling terkait antara satu dengan lainnya.Secara biologic ditandai
perkembangan kognitif dan pemantapan perkembangan kepribadian.Secara
sosiologik ditandai dengan intesifnya persiapan dalam menyongsong peranannya
kelak sebagai seorang dewasa muda.
Masa remaja adalah berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21
tahun bagi wanita.Dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Zakiah Drajat
(1990) mengatakan :
“masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun
masa perkembanganperkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak
baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak,tetapi bukan pula
orang dewasa yang telah matang”.
Batasan usia remaja menurut Kartono (1990) dibagi tiga (3) yaitu :
• Remaja Awal (12-15 Tahun)
Pada masa ini, remaja mengalami perubahan jasmani yang sangat
pesat dan perkembangan intelektual yang sangat itensif sehingga
minat anak pada dunia luar sangat besar dan pada saat ini remaja
tidak mau dianggap kanak-kanak lagi namun sebelum bisa
meninggalkan pola kekanak-kanakannya.Selain itu pada masa ini
remaja sering merasa sunyi, ragu-ragu, tidak stabil, tidak puas dan
sering merasa kecewa.
• Remaja Pertengahan (15-18 Tahun)
Kepribadian remaja pada masa ini masih kekanak-kanakan tetapi
kepribadian dan kehidupan badaniah sendiri. Remaja mulai
menentukan nilai-nilai tertentu dan melakukan perenungan
terhadap pemikiran filsofis dan etis.
Maka dari perasaan yang penuh keraguan pada masa remaja awal
maka pada rentan usia ini mulai timbul kemantapan pada diri
sendiri. Rasa percaya diri pada remaja menimbulkan kesanggupan
pada dirinya untuk melakukan penilaian terhadap tingkah laku
yang dilakukannya.Selain itu pada masa ini remaja menemukan
diri sendiri atau jati dirinya.
• Remaja Akhir (18-21 Tahun)
Pada masa ini remaja sudah mantap dan stabil.Remaja sudah
mengenal dirinya dan ingin hidup dengan pola hidup yang
digariskan sendiri dengan keberanian.Remaja mulai memahami
arah hidupnya dan menyadari tujuan hidupnya.Remaja sudah
mempunyai pendirian tertentu berdasarkan satu pola yang jelas
yang baru ditemukannya.
Sedangkan Erickson (1990 :35) menyatakan bahwa :
“Masa remaja adalah masa kritis identitas atau masalah identitas-ego
remaja.Identitas diri yang dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan
siapa dirinyadan apa peranannya dalam masyarakat, serta usaha mencari
perasaankesinambungan dan kesamaan baru para remaja harus
memperjuangkan kembalidan seseorang akan siap menempatkan idola dan
Gaya hidup menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pola tingkah
laku sehari-hari segolongan manusia didalam masyarakat. Gaya hidup
menunjukkan bagaimana orang mengatur kehidupan pribadinya, kehidupan
masyarakat, prilaku di depan umum, dan upaya membedakan statusnya dari orang
lain melalui lambing-lambang social. Gaya hidup atau life style dapat diartikan
juga sebagai segala sesuatu yang memiliki karakteristik, kekhususan, dan tata cara
dalam kehidupan suatu masyarakat tertentu. Menurut Piliang (1998:208), gaya
hidup merupakan kombinasi dan totalitas cara, tata, kebiasaan, pilihan serta
objek-objek yang mendukungnya, dalam pelaksanaannya dilandasi oleh sistem nilai atau
system kepercayaan tertentu. Kita bisa menilai seseorang dengan cara melihat
gaya hidup orang tersebut. Itulah mengapa bagian dari departemen marketing
sebuah produk selalu melakukan pengamatan terhadap gaya hidup seseorang yang
menjadi target pasarnya untuk bisa mendapatkan hasil penjualan yang maksimal.
Karena memang melalui gaya hidup lah seseorang bisa dengan tanpa sadar
memperlihatkan kepada khalayak siapa diri mereka sebenarnya.
Menurut Kartodirjo (1987:53), gaya hidup merupakan suatu produksi dari
stratifikasi sosial, sehingga faktor status (kedudukan) dan kekayaan dapat
membentuk struktur gaya hidup. Gaya hidup ini, pada hakekatnya akan
membentuk eksklusifme yang tidak lain bertujuan untuk membedakan status
antara golongan yang satu dengan yang lainnya dalam suatu stratifikasi sosial.
Kottler (2002), gaya hidup merupakan sebuah penggambaran dari
keseluruhan diri seseorang yang berinteraksi dengan lingkungannya, dan ini
terhadap seseorang dalam bertindak berdasarkan pada norma yang berlaku. Oleh
karena itu banyak diketahui macam gaya hidup yang berkembang di masyarakat
sekarang misalnya gaya hidup hedonis, gaya hidup metropolis, gaya hidup global
dan lain sebagainya. Gaya hidup hanyalah salah satu cara mengelompokkan
konsumen secara psikografis, gaya hidup pada prinsipnya adalah bagaimana
seseorang menghabiskan waktu dan uangnya. Ada orang yang senang mencari
hiburan bersama kawan-kawannya, ada yang senang menyendiri, ada yang
berpergian bersama keluarga, berbelanja, melakukan aktivitas yang dinamis, dan
ada pula yang memiliki dan waktu luang dan uang yang berlebih untuk kegiatan
sosial-keagamaan.Gaya hidup juga dapat mempengaruhi prilaku seseorang, dan
akhirnya menentukan pilihan-pilihan konsumsi seseorang.
“Penampilan luar” menjadi salah satu situs yang penting bagi gaya hidup.
Gaya dan desain menjadi lebih penting daripada fungsi. Gaya menggantikan
substansi, kulit akan mengalahkan isi. Pemasaran penampilan luar, hal-hal yang
bersifat permukaan atau kulit akan menjadi bisnis besar gaya hidup (Chaney
1996:16). Lebih jauh Chaney juga mengatakan bahwa pada akhir modernitas
semua yang kita miliki akan menjadi budaya tontonan. Semua orang ingin
menjadi penonton dan sekaligus ingin ditonton.Ingin melihat tapi sekaligus juga
dilihat. Disinilah gaya mulai menjadi modus keberadaan manusia modern, kamu
bergaya maka kamu ada ! Kalau kamu tidak bergaya siap-siaplah untuk dianggap
‘Tidak Ada’: diremehkan, diabaikan, atau bahkan dilecehkan. Itulah sebabnya
menjelaskan mengapa banyak di zaman sekarang ini pria dan wanita modern yang
perlu tampil “beda”, modis, necis, parlente, dan funky.
Di zaman sekarang gaya hidup bukan lagi monopoli artis, model,
peragawan(wati), atau selebriti yang memang sengaja mempercantik diri untuk
tampil dimana saja. Tapi, gaya hidup golongan penganut Dandy Society itu kini
sudah ditiru secara kreatif oleh orang banyak untuk tampil sehari-hari, ke kantor,
seminar, pesta pernikahan, atau sekedar mencari kesenangan diri.
Gaya hidup merupakan cirri dari masyarakat modern, atau yang biasa juga
disebut dengan modernitas, maksudnya adalah siapapun yang hidup dalam
masyarakat modern akan menggunakan gagasan tentang gaya hidup untuk
menggambarkan tindakannya sendiri ataupun orang lain (Chaney 1996: 40). Cara
khusus seseorang mengekspresikan diri tidak disangsikan lagi itu merupakan
bagian dari usahanya mencari gaya hidup pribadinya. Dengan cara yang nyaris
sama kita biasanya mengindividualisasikan gaya hidup kita, namun biasanya
selalu ada kemiripan yang jelas dengan salah satu model gaya hidup yang telah
dipaketkan dan dipasarkan oleh sebuah subkultural.
Maka tampaklah bahwa gaya hidup dianggap merupakan proyek yang
lebih penting daripada aktivitas waktu luang yang khas, dan Giddens (2001 :23)
mengatakan bahwa :
“Gagasan gaya hidup telah dikorupsi oleh konsumerisme-meskipun pasar terutama ketika telah menjadi tema ideologis dalam politik non liberal,
sepertinya menawarkan kebebasan memilih dan dengan demikian ber-
Orang yang berasal dari subkultural, kelas sosial, dan pekerjaan yang sama
dapat mempunyai gaya hidup yang berbeda. Gaya hidup seseorang menunjukkan
pola kehidupan orang yang bersangkutan yang tercermin dalam kegiatan, minat,
dan pendapatnya. Konsep gaya hidup apabila digunakan pemasar secara cermat,
akan dapat membantu untuk memahami nilai-nilai konsumen yang terus berubah
dan bagaimana nilai-nilai tersebut mempengaruhi prilaku konsumen. Perubahan
gaya hidup juga membawa implikasi pada perubahan selera baik itu wanita
maupun pria, kebiasaan dan prilaku pembelian akan suatu produk tertentu untuk
menunjang gaya hidup seseorang.
Selain itu pola konsumsi pada masayarakat kota juga menjadikan
barang-barang ataupun jasa sebagai identitas mereka, barang-barang dan jasa dikonsumsi bukan
karena kebutuhan melainkan hanya sebatas memenuhi keinginan dan petunjuk
identitas sosial mereka ditengah-tengah lingkungan mereka. Identitas itu adalah
struktur diri, suatu organisasi yang dinamis dari dorongan-dorongan,
kemampuan-kemampuan, keyakinan-keyakinan yang terstruktur dengan sendirinya dalam diri
individu selama perkembangan individu.Singkatnya, identitas adalah suatu yang
ada pada diri kita yang tersusun atas keyakinan, dorongan, kemampuan, dan
segala hal yang secara otomatis berkembang dalam diri sepanjang hidup3
Gaya hidup juga merupakan prilaku seseorang yang ditunjukan dalam
aktivitas, minat dan opini khususnya yang berkaitan dengan citra diri untuk
merefleksikan status sosialnya. Gaya hidup merupakan frame ofe reference yang .
3
dipakai seseorang dalam bertingkah laku dan konsekeunsinya akan membentuk
pola prilaku tertentu4
Self Assessment ( penilaian diri) adalah suatu teknik penilaian yang
meminta seseorang (remaja) menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status,
proses, dan apa saja yang diketahuinya mengenai gaya hidup remaja yang ada di . Terutama bagaimana seseorang ingin dipersepsikan oleh
orang lain, sehingga gaya hidup sangat berkaitan dengan bagaimana ia
membentuk image di mata orang lain, berkaitan dengan status sosial yang
disandangnya. Untuk merefleksikan image inilah, dibutuhkan simbol-simbol
status tertentu, yang sangat berperan dalam mempengaruhi prilaku
konsumsinya.Fenomena seperti ini pokok pangkalnya adalah, stratifikasi sosial,
dan sebuah struktur sosial.
Istilah gaya hidup juga sangat berkaitan dengan budaya. Kedua istilah
tersebut mengindikasikan cara hidup yang biasa dijalani dan diterapkan sehingga
merupakan kebiasaan sekaligus cirri tersendiri (James Lull, 1998: 85). Jika dilihat
dari pendapat James Lull tersebut, dapat dikemukakan bahwa gaya hidup
memiliki cakupan luas, yakni meliputi seluruh sisi kehidupan seseorang. Jika
dilihat dari segi aspek, maka gaya hidup itu meliputi aspek ekonomi, politik,
kehidupan keluarga, dan kehidupan sosial. Gaya hidup juga mencakup pola
konsumsi seseorang, dengan demikian istilah ini sering dihubungkan dengan
dunia modern sehingga mengindikasikan kecenderungan memiliki dan
menerapkan sesuatu yang spesifik dalam rangka identitas diri.
4
sekitarnya. Teknik penilaian diri ini dapat digunakan untuk mengukur dan
mengetahui secara kognitif penilaian diri terhadap diri sendiri5
- Menumbuhkan rasa percaya diri, karena mereka diberi kepercayaan
untuk menilai dirinya sendiri.
.
Self Assessment menurut Boud (1991) adalah keterlibatan pelajar dalam
mengidentifikasi kriteria atau standar untuk diterapkan dalam belajar dan
membuat keputusan mengenai pencapaian kriteria dan standar tersebut. Dengan
kata lain self assessment adalah sebuah proses dimana seseorang memiliki
tanggung jawab untuk menilai kepribadian dan tingkah lakunya sendiri.
Penggunaan teknik self assessment ini member dampak positif terhadap
perkembangan kepribadian seseorang. Keuntungan penggunaan penilaian diri
sendiri ini adalah :
- Meningkatkan pemahaman seseorang terhadap kekuatan dan
kelemahan dirinya sendiri.
- Melatih dan membiasakan seseorang untuk membuat penilaian
yang jujur terhadap dirinya sendiri.
Self Assessment juga merupakan penilaian yang dilakukan seseorang
terhadap dirinya sendiri dalam menggali, menemukan, dan mengemukakan,
tentang kelebihan dan kekurangan dirinya sendiri dalam berbagai hal termaksud
dalam hal gaya hidup, serta mampu untuk menyikapi dan memperbaiki atas segala
5
kekurangan yang ada serta menguatkan dan mengembangkan lebih lanjut atas
segala kelebihan yang ada didalam dirinya.
Koentjaraningrat dalam bukunya Pengantar Ilmu Antropologi (2002: 180),
menjelaskan bahwa tindakan manusia adalah kebudayaan, karena hanya sedikit
tindakan manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang tidak perlu
dibiasakan dengan belajar, yaitu hanya beberapa tindakan naluri, beberapa refleks,
beberapa tindakan akibat fisiologi. Atau kelakuan apabila ia sedang membabi
buta, bahkan berbagai tindakan manusia dalam gennya bersama kelahirannya
(makan, minum, berjalan dengan kedua kakinya) juga dirombak olehnya menjadi
suatu tindakan berkebudayaan.
Geertz dalam bukunya Tafsir Kebudayaan (1992: 81), mengemukakan
suatu definisi kebudayaan sebagai :
• Suatu sistem keteraturan dari makna dan simbol-simbol, yang
dengan makna dan simbol tersebut individu-individu
mendefenisikan dunia mereka, mengekspresikan perasaan-perasaan
mereka, dan membuat penilaian mereka sendiri.
• Suatu pola makna-makna yang ditransmisikan secara historis yang
terkandung dalam bentuk-bentuk simbolik, yang melalui tersebut
manusia berkomunikasi, berinteraksi, memantapkan, dan
mengembangkan pengetahuan mereka mengenai dan bersikap
• Suatu peralatan simbolik bagi mengontrol prilaku, sumber-sumber
ekstrasomatik dari informasi.
1.2.2. Perkembangan Gaya Hidup di Indonesia
Gaya hidup masyarakat Indonesia di kota besar maupun di kota kecil
rata-rata sangat boros. Bahkan banyak diantaranya tidak bisa menabung, hal ini dapat
dilihat dari hasil survey konsumen yang dilakukan Lembaga Kandance
Internasional Indonesia. Penelitian ini berusaha memahami pola pendapatan dan
pengeluaran masyarakat Indonesia. Dalam survey yang dilakukan pada Juli
hingga Oktober 2013 terdapat 300 responden di Indonesia, masyarakatnya
mengakui Cuma bisa menabung maksimal Rp 1 juta dari pendapatan bulanannya.
Dari analisanya berdasarkan hasil survey, kebanyakan kelompok masyarakat yang
boros karena mereka ingin merasakan gaya hidup kelas atas atau elite. Banyak
pengeluaran tersier, terutama makanan mahal, pakaian yang branded hingga
jalan-jalan ke tempat-tempat wisata yang sangat mahal6
6
http://www.sindotrijaya.com/news/detail/5024/gaya-hidup-masyarakat-indonesia-boros#.U3w5mdKSz5M
.
Kelompok yang tidak bisa menabung ini, mereka ingin tampil mewah
dihadapan orang-orang banyak baik itu di lingkungan kerjanya, di lingkungan
sosialnya dan kebanyakan berasal dari kelas menengah yang ingin tampil sebagai
kelas atas. Sementara Managing Director Kadence Indonesia Vivek Thomas
“banyak golongan yang hampir bangkrut jumlahnya hampir 28 persen dan
kelompok ini belum menikah dan masih di usia yang produktif defisit yang
mereka alami sampai 35 persen lantaran kebanyakan dari mereka memakai
kartu kredit dan meminjam uang dari teman”
Survey ini menunjukkan, banyak generasi muda atau produktif Indonesia
tidak suka lagi menabung.Berbeda dari generasi sebelumnya yang sangat disiplin
menyisihkan uangnya maupun pedapatan bulanannya. Vivek juga menambahkan :
“kalau mengikuti trend gaya hidup seperti sekarang ini, prediksinya dua tahun kedepan yang bangkrut akan lebih banyak lagi. Ada gaya hidup untuk
memiliki produk-produk terbaru, di generasi ini akansemakin kuatnya
tekanan untuk berbelanja dan berfoya-foya”.
Melihat perkembangan gaya hidup seperti ini, proses saling mempengaruhi
adalah gejala yang wajar dalam interaksi sosial masyarakat. Melalui interaksi
dengan masyarakat lain, bangsa Indonesia ataupun kelompok-kelompok
masyarakat yang mendiami Indonesia telah mengalami proses dipengaruhi dan
mempengaruhi. Perubahan gaya hidup yang terjadi saat ini berlangsung begitu
cepat. Hanya dalam jangka waktu yang sebentar, globalisasi dapat mempengaruhi
segalanya baik itu dari aspek politik, sosial-ekonomi, dan budaya.
Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk dalam
berbagai hal, seperti anekaragam budaya, lingkungan alam, dan wilayah
geografisnya. Keanekaragaman yang ada pada masyarakat Indonesia inilah sangat
cepat meyerap kemajuan globalisasi yang datang dari luar Indonesia dan dengan
segera mengikuti perkembangan itu salah contohnya adalah perkembangan gaya
1.3. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang masalah dan tinjauan pustaka diatas, maka
penulis menyimpulkan rumusan masalah adalah sebagai, berikut :
1. Bagaimana pandangan remaja terhadap gaya hidup remaja itu
sendiri ?
2. Bagaimana remaja memenuhi gaya hidup yang mereka inginkan
atau ikuti ?
Dari rumusan masalah tersebut, penulis menyusun beberapa pertanyaan
penelitian seperti berikut :
- Bagaimana pandangan remaja terhadap gaya hidup.
- Menurut remaja apa itu gaya hidup.
- Mengapa harus mengikuti gaya hidup.
- Bagaimana penilaian informan terhadap gaya hidup yang
diikutinya.
- Seharusnya kah gaya hidup itu diikuti.
- Apa dampaknya kalau gaya hidup itu tidak informan ikuti.
- Apa yang informan lakukan untuk memenuhi dan mengikuti gaya
hidup dikalangan teman-teman maupun lingkungan informan.
- Dimanakah biasanya informan berkumpul dengan teman-teman
- Apa yang dilakukan ketika berkumpul bersama teman-teman
kelompoknya.
- Seperti apakah gaya hidup yang ngtrend menurut informan.
1.4.Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menjelaskan
secara etnografi bagaimana pandangan dan penilaian seorang remaja terhadap
gaya hidup remaja itu sendiri, dan bagaimana cara remaja untuk memenuhi gaya
hidup yang mereka inginkan dan yang mereka ikuti. Penelitian ini dilakukan
terhadap remaja Kota Medan, khususnya di pusat perbelanjaan Sun Plaza di jalan
K.H Zainul Arifin No: 7 Medan.
Sedangkan manfaat dari penelitian ini secara akademis, penelitian ini dapat
meningkatkan keilmuan dan wawasan di kalangan mahasiswa, akademisi, dan
ilmuan di bidang sosial dan budaya khususnya Antropologi Sosial terkait gaya
hidup remaja yang termasuk salah satu fenomena sosial. Harus dijelaskan dan di
perdalam lebih lanjut karena hal-hal ini dapat membantu sebagai bahan informasi
dan masukkan serta refrensi bagi peneliti lainnya yang berminat untuk meneliti
gaya hidup remaja yang mungkin saja nantinya akan semakin berkembang lagi
khususnya di Kota Medan.
Secara praktis, penelitian ini juga diharapkan juga bermanfaat kepada
kalangan masyarakat, khususnya remaja. Dan penelitian ini juga diharapkan dapat
masyarakat dapat mengetahui bahwa gaya hidup telah menjadi fenomena sosial
yang semakin mengglobal.
1.5. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
etnografi.Etnografi digunakan untuk meneliti prilaku-prilaku manusia terkait
dengan perkembangan teknologi, komunikasi dalam setting sosial dan budaya
tertentu. Spradley (1997:12) menjelaskan metode etnografi yaitu mendeskripsikan
sebuah kebudayaan dengan cara mempelajari masyarakatnya dan belajar dari
masyarakat. Oleh karena itu, dalam hal ini peneliti akan menjelaskan bagaimana
penilaian remaja terhadap gaya hidup remaja itu sendiri dengan mendeskripsikan
atau menggambarkan hal-hal dan fenomena sosial yang terjadi di dalam
masyarakat. Hal ini juga diungkapkan oleh Emzir (1990 :23)
“etnografi adalah suatu bentuk peneltian yang berfokus pada makna
antropologi melalui observasi. Biasanya para peneliti etnografi
memfokuskan penelitiannyapada masyarakat (tidak selalu secara geografis,
juga memperhatikan pekerjaan,pengangguran, dan masyarakat lainnya)”.
Jhon Van Maanen ( 1996: 263) juga menambahkan bahwa etnografi
“when used as a method, ethnography typically refers to fieldwork
(alternatively,participant-observation) conducted by a single investigator
who ‘lives with andlives like’ those who are studied usually for a year or
more”.
“ketika digunakan sebagai sebuah metode, etnografi biasanya mengacu
pada kerja lapangan (alternative, peserta observasi) yang dilakukan oleh
penyidik tunggal yangtinggal bersama dan hidup seperti mereka yang
dipelajari, biasanya selama satu tahun atau lebih”.
Spradley (1997:3) juga mengungkapkan bahwa etnografi merupakan
pekerjaan mendeskripsikan suatu kebudayaan yang bertujuan untuk memahami
suatu pandangan hidup dari sudut pandang penduduk asli. Dengan menggunakan
metode etnografi yang dipilih oleh penulis ini diharapkan hasilnya dapat
digunakan sebagai salah satu pemecahan masalah-masalah sosial-budaya di
masyarakat khususnya terkait masalah yang berkenaan dengan gaya hidupdi
zaman sekarang yang semakin banyak mempengaruhi kehidupan sosial
masyarakat. Karena ilmu harus memiliki kegunaan praktis dalam menyelesaikan
masalah-masalah kemanusiaan, begitu juga dengan penelitian etnografi, seorang
peneliti yang berhasil adalah juga seorang problem solver (Spradley,2007).
Meskipun penelitian ini menggunakan metode etnografi yang tujuannya
untuk mengungkapkan sudut pandang suatu masyarakat terhadap budayanya
sendiri, penulis juga tetap menggunakan landasan teori-teori khususnya teori
antropologi terkait topik penelitian ini untuk memperkuat metode etnografi yang
digunakan penulis. Saifuddin (2005:33) mengatakan sering sekali mahasiswa
suatu masyarakat yang tidak selalu sama. Tetapi, Saifuddin melanjutkan
pernyataannya bahwa teori dan etnografi merupakan satu kesatuan seperti dua sisi
mata uang logam yang tidak bisa dipisahkan sehingga teori tanpa etnografi atau
sebaliknya menjadi kurang bermakna, karena pemahaman mengenai perbedaan
kebudayaan sekurang-kurangnya merupakan salah satu tujuan terpenting dari
kajian antropologi.
Dengan menggunakan metode etnografi penulis tidak hanya menulis
hal-hal yang hanya dapat diamati saja. Tetapi penulis juga akan menggali secara
holistik7
7
mendalam
segala hal yang saling berkaitan dengan topic penelitian. Penulis akan
menggali subjektivitas informan terkait gaya hidup lebih dalam dan akan
dikaitkan dengan unsure-unsur lain yang berhubungan dengan topik penelitian.
Misalnya, bagaimana penilaian informan terhadap gaya hidup yang informan
ikuti? Hal ini sangat berkaitan dengan kondisi psikologis, dan akan sangat
berkaitan dengan pola pikir dan subjektivitas informan itu sendiri.
Saifuddin (2005:35) memang menyarankan hal diatas dalam penelitian
antropologi terlebih dengan metode etnografi.Karena menurutnya hal itulah yang
membedakan pendekatan antropologi dengan ilmu-ilmu sosial lainnya, khususnya
sosiologi. Selanjutnya Saifuddin juga mengatakan ada dua (2) aspek yang perlu
1. Mengamati suatu masyarakat secara keseluruhan, untuk melihat
bagaimana setiap unsur dari masyarakat tersebut bersesuaina bersama
dengan, atau bermakna dalam konteks , dan unsure-unsur lain.
2. Mengkaji suatu masyarakat dalam hubungannya dengan yang lain, untuk
menemukan persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan.
Untuk memenuhi kedua aspek yang dikatakn diatas, maka penulis
menggunakan teknik pengumpulan data dengan Observasi Partisipatif8
Observasi partisipasi yang dilakukan oleh penulis tidak akan mungkin bisa
berjalan mulus ketika para informan tidak dapat menerima penulis
ditengah-tengah komunitas mereka. Maka, untuk menghindari penolakan itu, penulis
terlebih dahulu harus membangun hubungan baik (rapport) serta menyampaikan
tujuan penelitian kepada informan secara jujur (Spradley, 2007:54). Untuk
mendapatkan informasi terkait topik penelitian, penulis juga akan membuat
, dengan
cara melihat secara langsung kegiatan-kegiatan para remaja di area café, maupun
pusat perbelanjaan. Diharapkan dengan melakukan observasi partisipasi peneliti
dapat merasakan langsung apa saja yang dirasakan informan sehingga dapat
memberikan data dan informasi yang bai dan valid. Ditengah-tengah keterlibatan
tersebut penulis juga akan melakukan wawancara mendalam atau depth interview
dilakukan dengan alat bantu seperti pedoman wawancara sesuai dengan topik
penelitian, tujuannya untuk mendapatkan informasi, persepsi, opini dari
permasalahan penelitian.
8
kriteria informan. Penulis akan mengacu pada pendapat Spradley (2007:65) ada
lima (5) syarat dalam menentukan informan yaitu :
1. Enkulturasi penuh, artinya mengetahui budaya miliknya dengan
baik
2. Keterlibatan langsung, yaitu orang yang masih berada dalam
budaya yang diteliti serta masih menggunakan penegtahuan dari
budaya itu untuk menuntun tindakannya.
3. Suasana budaya tidak dikenal, biasanya akan semakin menerima
tindak budaya sebagaimana adanya, dia tidak akan basa-basi.
4. Memiliki waktu yang cukup.
5. Non-analistik.
Mungkin, ketika dilapangan kelima syarat ini tidak dapat terpenuhi
seutuhnya, karena syarat-syarat diatas sangatlah ideal, sehingga kalaupun peneliti
hanya mampu memenuhi dua sampai tiga syarat adalah sebuah hal yang sah-sah
saja.Apalagi, ketika memasuki lapangan, peneliti juga masih menduga-duga siapa
yang pantas menjadi informan yang tepat sesuai penelitiannya.
Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan mencari data
primer dan data skunder. Data primer merupakan data yang diperoleh dari
lapangan melalui observasi partisipasi, wawancara mendalam, catatan harian
(fieldnote) dan dokumentasi sedangkan data skunder merupakan data yang didapat
dari kepustakaan, buku-buku, jurnal, tesis, laporan penelitian, skripsi, serta
Selain itu peneliti juga menggunakan observasi non partisipasi dengan cara
mengamati apa saja yang mereka lakukan ketika berkumpul, dan bagaimana gaya
serta cara berpakaian mereka ketika berbelanja, nongkrong, dan lain-lain. Hasil
observasi atau pengamatan ini kemudian dituangkan dalam bentuk catatan
lapangan.
Observasi secara non-partisipasi dan partisipasi merupakan bentuk dari
kerja lapangan untuk mendapatkan informasi yang mendukung jalannya suatu
penelitian. Kutipan dari Emerson (1995:1-2) member penekanan terhadap kerja
lapangan seorang etnografer sebagai berikut:
“Etnografer berkomitmen untuk pergi keluar dan semakin dekat
dengankegiatan dan pengalaman sehari-hari orang lain.”Mendapatkan
kedekatan” minimal membutuhkan kedekatan fisik dan sosial untukputaran
harian kehidupan masyarakat dan kegiatan, peneliti lapanganharus mampu
mengambil posisi ditengah-tengah situs kunci dan adegankehidupan lain
untuk mengamati dan memahami mereka.”
Pertanyaan-pertanyaan awal hingga informasi yang dibutuhkan untuk
mendeskripsikan kondisi objektif, sangat efektif dengan metode ini.Metode ini
juga dapat lebih mendekatkan diri secara emosional kepada informan.Selain itu,
data-data autentik dari sudut pandang masyarakat (emic view) juga dapat dimulai
dengan metode wawancara.Menurut Burhan Bungin (2007;107) wawancara
adalah merupakan proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan
cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau
dimana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang cukup
lama.
Ada berbagai tujuan yang dapat dicapai penulis melalu wawancara yaitu:
- Menciptakan hubungan baik diantara dua belah pihak yang terlibat
(subyek wawancara dan pewawancara). Pertemuan itu harus bebas dari
segala kecemasan dan ketakutan sehingga memungkinkan subyek
wawancara menyatakan sikap dan perasaan dengan bebas, tanpa
mekanisme pertahanan diri yang kadang-kadang dapat menghambat
pernyataannya.
- Meredakan ketegangan yang terdapat dalam subyek wawancara. Oleh
karena subyek wawancara pada umumnya membawa berbagai ketegangan
emosi ke dalam pertemuan wawancara itu, maka kedua belah pihak harus
berusaha meredakan ketegangan di dalam diri masaing-masing antara
pewawancara dan informan.
- Menyediakan informasi yang dibutuhkan. Dalam wawancara kedua belah
pihak akan mendapat kesempatan untuk memperoleh informasi yang
dibutuhkan.
- Mendorong kearah pemahaman diri pada pihak subyek wawancara,
hamper semua subyek menginginkan pemahaman diri yang lebih baik lagi.
Teknik wawancara dilakukan dengan melakukan tanya jawab secara
menjaga terstrukturnya wawancara mendalam, peneliti menggunakan pedoman
wawancara (interview guide).Pedoman wawancara yang disusun oleh peneliti
sebelum melakukan wawancara kelapangan bersifat fleksibel. Artinya, bila selama
melakukan wawancara peneliti menemukan jawaban-jawaban tidak dimengerti
oleh peneliti, maka peneliti akan melakukan perubahan-perubahan terhadap
pertanyaan yang telah disusun tersebut.
Ketika melakukan wawancara peneliti juga menggunakan beberapa alat
dokumentasi visual untuk menyimpan atau mengarsipkan data yang telah didapat
baik dari hasil observasi partisipasi, maupun wawanacara baik itu wawancara
mendalam.Bahan atau peralatan yang digunakan untuk mendukung dokumentasi
visual ini dapat disajikan dalam bentuk foto, rekaman dan video, tidak lupa juga
peneliti untuk membuat fieldnote (catatan lapangan).Spradley (1997) juga
mengungkapkan semua makna budaya diciptakan dengan menggunakan
simbol-simbol.Semua kata yang digunakan oleh informan dalam menjawab pertanyaan
penelitian adalah simbol-simbol.Peneliti juga sangat terbantu karena adanya bahan
visual ini, peneliti dapat dengan mudah mengingat apa yang telah dijelaskan dan
dikatakan oleh informan, selain ini alat visual ini juga memudahkan peneliti
dalam melakukan penyimpanan data yang telah diperoleh dari lokasi penelitian
yang telah dipilih oleh peneliti.
Setelah semua data telah terkumpul dan dikumpulkan dengan lengkap dari
yang telah terkumpul.Tahap ini adalah tahap yang penting dan menentukan hasil
akhir dari penelitian ini. Pada tahap inilah data akan dikerjakan dan dimanfaatkan
sedemikian rupa sampai berhasil mengumpulkan kebenaran dan informasi yang
berguna untuk menjawab fenomena sosial tentang gaya hidup remaja yang ada di
Kota Medan.
1.6. Rangkaian Pengalaman Lapangan
Hari pertama peneliti turun kelapangan pada tanggal 21 Januari 2013.Pada
awalnya peneliti hanya ingin sekedar hangout dan memilih pusat perbelanjaan
Sun Plaza sebagai lokasi untuk mencari hiburan. Sampainya disana peneliti hanya
jalan mengitari pusat perbelanjaan tersebut, ketika asyiknya
berjalan-jalan sambil mencuci mata melihat-lihat toko fashion yang ada di sana peneliti
bertemu dengan temannya adik peneliti yang kebetulan sedang ngopi bersama
teman-temannya, namanya Dinda (18 Tahun). dari pertemuan inilah akhirnya
peneliti dikenalkan kepada teman-temannya.Selama dua jam peneliti ikut gabung
dan juga mengorder cappuccino dingin untuk penghilang dahaga selama berjalan
mengitari pusat perbelanjaan tersebut, akhirnya peneliti pamit untuk pulang
duluan.
Dari pertemuan dengan Dinda tersebut, akhirnya peneliti memutuskan
Dinda adalah informan pertama yang akan peneliti wawancarai.Ketika tiba di
rumah, peneliti langsung meminta pin bb si Dinda tersebut kepada si adik
dinda, agar sekali-sekali mengajak peneliti untuk ikut berkumpul bersama dia dan
temannya. Awalnya ketika peneliti berkumpul dengan teman-teman Dinda,
mereka kurang merespon peneliti sehingga awal pertama pertemuan peneliti
masih mengamati apa saja yang mereka bicarakan dan lakukan ketika berkumpul.
Sehingga selanjutnya ketika Dinda kembali berkumpul bersama
teman-temannya, mereka mulai memberi respon baik kepada peneliti. Sehingga peneliti
secara pelan-pelan mulai membiasakan diri dengan semua yang mereka lakukan
baik itu dari gaya berbicara terhadap teman-teman kelompoknya, dan gaya
berpakaian serta apa saja yang jadi cemilan mereka ketika berkumpul.
Banyak informasi yang peneliti dapatkan ketika masih mewawancarai
Dinda, mulai dari dimana saja tempat mereka berkumpul dan Dinda pun
memperkenalkan peneliti kepada teman-temannya.Akhirnya dengan berjalannya
waktu dan terjalinnya komunikasi yang baik antara peniliti dan mereka para
remaja, peneliti pun memiliki hubungan perteman kepada mereka yang telah
BAB II
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
2.1. Sejarah Singkat Kota Medan
Medan masih merupakan hutan rimba dan disana-sini terutama
dimuara-muara sungai diselingi pemukiman-pemukiman penduduk yang berasal dari Karo
dan semenanjung Malaya.Pada tahun 1863 orang-orang Belanda mulai membuka
kebun tembakau di Deli yang sempat menjadi primadona Tanah Deli. Sejak itu
perekonomian terus berkembang sehingga Medan menjadi Kota pusat
pemerintahan dan perekonomian di Sumatera Utara
Mengenai asal nama Medan, ada yang mengatakan kalau itu berasal dari
kata maidandalam bahasa India yang artinya tanah datar. Dalam bahasa Melayu
sendiri kata medan berasal dari kata berkumpul, sehingga kata itu digunakan
sebagai peranan daerah (yang kelak menjadi sebuah kota) yang sejak dahulu telah
menjadi tempat berkumpul orang-orang dari berbagai penjuru. Mereka melakukan
berbagai aktivitas di kota ini, termaksud aktivitas perekonomian. Adapun bakal
pusat kota Medan didirikan pada pertapakan yang terdiri atas perkampungan
penduduk asli Melayu Deli.
Sebulum bangsa Belanda menguasai daerah Sumatera Utara, penduduk
Sumatera Utara telah mengenal bangsa lain seperti Portugis, Spanyol, dan Inggris.
ketatanegraan Pemerintah Hindia Belanda.Medan dalam bahasa Melayu, berarti
tempat berkumpul, karena sejak zaman dulu merupakan tempat berkumpul
orang-orang dari Hamparan Perak, Sukapiring, dan daerah lainnya untuk berdagang dan
bertaruh. Daerah ini dikenal dengan nama Kampung Melayu. Kampung ini
dikelilingi oleh kampong-kampung lain seperti Kesawan, Binuang, Tebing
Tinggi, dan Merbau.Keberadaan kampong-kampung ini sekarang sudah tidak ada
lagi, karena terdesak oleh perluasan Kota Medan yang semakin luas.
Dalam perkembangannya, Medan dijadikan Kotapraja oleh Pemerintah
Hindia Belanda, berbagai perkantoran didirikan.Pada tanggal 3 Maret 1887
Medan dijadikan Ibukota Keresidenan Sumatera Timur.Akibat perkembangan
yang semakin pesat oleh statusnya sebgai ibukota Keresidenan, maka pada tanggal
4 April 1909 Medan diberi status pemerintahan otonom. Di bawah pemerintahan
Kotapraja Medan mengadakan pembangunan jalan-jalan baru, jembatan, pipa air,
listrik.
Hal yang cukup menarik, bahwa secara fisik perkembangan kota tidak
hanya berurusan dengan kebutuhan orang hidup, seperti tempat tinggal,
perkantoran, dan stasiun kereta api. Perkembangan Kota Medan yang pesat
menjadikan Medan sebuah kota Modern yang yang ditandai dengan berdirinya
bangunan-bangunan beragam gaya arsitektural. Banyak orang mengatakan bahwa
Kota Medan menjadi betul-betul unik di Hindia Belanda, karena telah menjadi
Pemenuhan kebutuhan kehidupan sebuah perkotaan juga berhubungan
dengan pusat perbelanjaan.Di Medan pada bulan Maret 1933 diresmikan pusat
pasar yang menempati areal di sekitar jalan Sutomo.Demikian pula halnya dengan
bentuk dan pola taman di Medan, mendapat pengaruh dari model
taman-taman yang ada di Paris. Pesatnya perkembangan kota Medan tampak pula dari
pembagian wilayah administrasinya. Pada tahun 1959 wilayah Kota Medan
terbagi atas 4 (empat) wilayah kecamatan, dan pada saat itu terbagi atas 21
wilayah kecamatan.Hal ini disesuaikan dengan bertambahnya jumlah penduduk
dan luasan wilayah.Sesuai dengan namanya, Medan bukan hanya merupakan
pusat pertemuan berbagai bangsa dan kebudayaan melainkan juga sebagai tempat
pembauran budaya.Dikatakan bahwa penduduk aslinya yang etnik Melayu
sebenarnya adalah sebuah kelompok etnik yang berdarah campuran.
Kehadiran Kota Medan menjadi sebagai sebuah bentuk kota memiliki
proses perjalan sejarah yang panjang dan kompleks, hal ini dibuktikan dengan
berkembangnya daerah yang dinamakan sebagai Medan ini menuju pada bentuk
Kota Metropolitan. Sebagai hari lahir Kota Medan adalah 1 Juli 1590. Dan di
Kota Medan juga kelompok pendatang cenderung membentuk komunitas sendiri
antara lain dengan menempati daerah tertentu. Hal ini memunculkan kesan bahwa
sebuah daerah di suatu kota identik dengan sebuah kelompok mayarakat perantau.
Oleh karena itu, tidak mengherankan bila perantau itu mat berperan dalam
meningkatakan jumlah penduduk serta komposisi kelompok masyarakat di sebuah
pada peninggalan budaya dalam bentuk karya arsitekturnya, dan pembagian cara
pemukiman berdasarkan etnik.
Medan juga telah memiliki kelengkapan infrastruktur yang memadai
sebagai sebuah kota modern. Jalan-jalan di kota ini telah diaspal dan diberi
penerangan listrik. Hotel dan rumah sakit telah menampung tamu dan pasien
dalam jumlah yang cukup memadai, dan bentuk banguanan yang ada di Kota
Medan sangat mencolok dari dulu hingga sekarang.
Mayoritas penduduk Kota Medan sekarang ialah Suku Jawa dan
suku-suku dari Tapanuli (Batak, Mandailing, dan Karo). Di medan juga banyak pula
orang keturunan Hindia dan Tionghoa. Medan adalah salah satu kota di Indonesia
yang memiliki populasi orang Tionghoa yang cukup banyak. Keanekaragaman
etnis di Medan terlihat dari jumlah bangunan tempat ibadah seperti mesjid, gereja,
vihara, candi.Karakter penduduk pada setiap lingkungan di Kota Medan juga
sangat berbeda-beda.
2.2.Letak Geografis dan Lingkungan Alam
Kota Medan (dahulu daerah tingkat II berstatus kotamadya) adalah ibukota
provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Medan adalah pintu gerbang wilayah
Indonesia bagian barat dan juga sebagai pintu gerbang bagi para wisatawan untuk
menuju objek wisata Brastagi di daerah dataran tinggi Karo, objek wisata
Orangutan di Bukit Lawang, Danau Toba yang dikenal dengan tempat wisata
Kota Medan memiliki luas 26.510 Hektar (265,10 Km²) atau 3,6% dari
keseluruhan wilayah Sumatera Utara. Dengan demikian, dibandingkan dengan
kota atau kabupaten lainnya, Kota Medan memiliki luas wilayah yang relatif kecil,
tetapi dengan jumlah penduduk yang relatif besar. Secara geografis kota Medan
terletak pada 3° 30’- 3° 43’ Lintang Utara dan 98° 35’- 98º 44’ Bujur Timur.
Untuk itu topografi Kota Medan cenderung miring ke utara dan berada pada
ketinggian 2,5 – 37,5 meter diatas permukaan laut.
Secara administratif, wilayah Kota Medan hampir secara keseluruhan
berbatasan dengan Daerah Kabupaten Deli serdang, yaitu sebelah barat, sebelah
timur, dan sebelah selatan. Sepanjang wilayah utaranya berbatasan langsung
dengan Selat Malaka, yang diketahui merupakan salah satu jalur lintas terpadat di
dunia. Di samping itu sebagai daerah yang pada pinggiran jalur pelayaran Selat
Malaka, maka Kota Medan memiliki posisi strategis sebagai gerbang (pintu
masuk) kegiatan perdagangan barang dan jasa, baik perdagangan domestik
maupun luar negeri (ekspor-impor). Posisi geografis Kota Medan ini telah
mendorong perkembangan kota dalam 2 (dua) kutub pertumbuhan secara fisik,