Nama : Dhafi Kusuma Adam NIM : 09.42010.0054 Program : S1 (Strata Satu) Jurusan : Desain Komunikasi Visual
SEKOLAH TINGGI
MANAJEMEN INFORMATIKA & TEKNIK KOMPUTER SURABAYA
viii
ABSTRAK
Kafe merupakan suatu tempat untuk santai atau berkumpul dengan teman. Melihat pertumbuhan perekonomian kota Surabaya sejak lima tahun terakhir yang meningkat, berbagai upaya dilakukan guna meraih pangsa pasar terbesar. Salah satu upaya yang dapat dilakukan perusahaan adalah dengan membentuk identitas merek yang mampu memberikan citra khusus bagi pembeli yang kemudian melekat di benak konsumen. Tujuan perancangan ini adalah untuk mengetahui bagaimana merancang ulang brand Burgerman sebagai upaya memperluas segmentasi pelanggan mulai dari usia 18 sampai dengan 40 tahun.
Perancangan dilakukan dengan pendekatan survei, wawancara, dan studi eksisting guna merumuskan konsep perancangan. Data dianalisis menggunakan indikator: STP, keunggulan, keterbatasan, peluang, tantangan serta USP (Unique Selling Proposition).
Dari hasil analisis dan perancangan karya ditemukan bahwa keinginan burgerman untuk membidik target market dan keunikan yang dimiliki oleh Burgerman belum tampak pada brand yang ditanamkan kepada konsumen. Tidak adanya keseragaman konsep desain di setiap media visual menyebabkan brand yang selama ini dilakukan memiliki tingkat yang rendah.
Brand burgerman dirancang untuk memunculkan keunikan dan konsep yang dimiliki yaitu enjoy serta konsisten pada setiap media visual dengan diciptakannya logo baru dan buku pedoman system identitas sebagai patokan dalam mendesain setiap media visual. Perancangan karya mengacu pada prinsip-prinsip desain dan bagaimana menciptakan brand dengan konsistensi desain disetiap media visual. Hasil perancangan ini diharapkan dapat memberikan rancangan desain yang sesuai dengan Burgerman serta dapat memperluas segmentasi pelanggan.
x
2.1 Memperluas Segmentasi Pasar ... 9
2.2 Perancangan ... 9
2.2.1 Branding ... 10
2.2.2 Peran Branding ... 10
2.2.3 Corporate Visual Identity ... 12
2.2.4 Logo ... 13
2.2.5 Layout ... 15
2.2.6 Tipografi... 16
2.2.7 Keyword/Konsep ... 20
xi
2.3 Metode Penelitian ... 21
2.3.1 Metode Penelitian Kualitatif ... 21
2.3.2 Analisis Data ... 22
2.4 Strategi Pemasaran ... 22
2.5 Segmentastion, Targeting, Positioning ... 24
2.6 Kerangka Teori ... 31
2.7 Kerangka Berpikir ... 32
BAB III METODOLOGI DAN PERANCANGAN KARYA ... 33
3.1 Prosedur Perancangan ... 33
3.2 Metodologi Penelitian ... 35
3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 35
3.4 Teknik Pengambilan Data ... 36
3.5 Teknik Analisis Data ... 38
3.5.1 Analisis Data Wawancara ... 39
3.5.2 Studi Eksisting ... 40
3.5.3 Analisis Studi Eksisting ... 63
1. Analisis Perusahaan ... 65
2. Analisis Kompetitor ... 71
3.6 Keyword ... 73
3.6.1 Perancangan Keyword ... 74
3.7 Proses Pencarian Warna ... 78
3.8 Gagasan Perancangan Karya ... 80
3.9 Konsep Perancangan ... 82
xii
4.1 Pedoman Sistem Identitas... 104
4.2 Standar Desain ... 112
BAB V PENUTUP... 126
5.1 Kesimpulan ... 126
5.2 Saran ... 127
DAFTAR PUSTAKA ... 128
BIODATA PENULIS... 131
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Kafe merupakan suatu tempat untuk santai atau berkumpul dengan teman. Burgerman adalah salah satu kafe burger di Surabaya yang bermaksud memperluas segmentasi pelanggan. Pada awalnya Burgerman menempatkan posisi pada segmentasi anak muda. Saat ini ingin mengubah segmentasi dan persepsi konsumen dari kafe burger untuk anak muda menjadi lebih luas. Melihat permasalahan tersebut, tugas akhir ini diarahlan pada perancangan rebranding Visual Identity sebagai upaya memperluas segmentasi pelanggan.
Melihat pertumbuhan perekonomian kota Surabaya sejak lima tahun terakhir yang meningkat, Tjahjono Haryono, (Ketua Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia) di dalam Surabaya post mengatakan menjamurnya jumlah restoran dan café di Surabaya disebabkan karena berbagai kemudahan terdapat di Surabaya. Pertumbuhan makro ekonomi mengalami perkembangan 30-40%, salah satunya dengan mudahnya akses jalan di Surabaya.
Dari beberapa teori diatas, suatu perusahaan harus dapat menguasai persaingan segmen dengan adanya pemain baru.
Rustan (2009:-8) mengatakan, ada beberapa pertimbangan dalam meredesain logo antara lain adalah karena re-positioning. Dari kedua teori tersebut menyimpulkan bahwa burgerman harus re-branding guna memperluas segmentasi pelangganya.
Mengapa visual brand sangat penting? Alasan pertama, karena banyak sekali merek produk yang sama di pasaran sehingga sulit bagi seorang pemasar untuk menyelipkan merek ke benak konsumen. Kedua, karena otak konsumen terbatas daya ingatnya, (Budiman, 2008: 99)
Burgerman berdiri sejak tahun 2007. Dengan pengelolaan management yang tidak terlalu besar, Burgerman mempunyai konsep sebuah kafe yang menawarkan produk makanan ringan burger yang bisa dinikmati sambil berbincang-bincang, bertemu dengan teman ataupun rekan kerja.
Dewasa ini ada banyak produk burger di Surabaya. Burger biasanya disajikan dengan cara di-grill, namun ada juga yang di goreng. Daging yang digunakannya pun bermacam macam. Ada daging sapi, daging ayam, ikan, udang, dan tahu untuk yang vegetarian.
3
Tetapi Burgerman ingin menyajikan hal lain, yaitu Burger yang dihasilkan merupakan hasil olahan sendiri atau handMade dari daging sapi asli dicampur sedikit tepung roti dan diproses secara tradisional dengan menggunakan resep rahasia tentunya dan melalui beberapa tahapan.
Setelah burger dipanggang atau digoreng, disajikan dengan ukuran yang cukup besar dan tebal dagingnya benar-benar terasa dan cukup membuat perut kenyang. Untuk mendapatkan burger dengan cita rasa yang unik, dapat disajikan dengan aneka sauce pilihan, seperti Barbeque, Cheezy, Thousand Island, Mayo dan sebagainya. Selain itu burgerman juga menyediakan suasana yang nyaman dan fleksible dimana konsumen dapat memilih sesuai keinginan karena terdapat 2 ruangan yaitu ruangan indor dan outdor.
Tai dan Chew (2009: 2) dalam bukunya Brand Management mengatakan, membangun sebuah brand yang kuat salah satunya adalah dengan cara menciptakan deferensiasi. Dengan membuat penawaran penjualan yang unik dibandingkan dengan produk lain.
Pengertian tentang merek, “Merek adalah istilah, tanda, simbol, desain atau
kombinasi dari semuanya ini yang dimaksudkan untuk mengidentifikasikan produk atau jasa dari seorang atau sekelompok penjual, yang membedakan
produk/jasa tersebut dengan produk lain terutama produk saingannya”, (Kotler
1987: 440).
Brand bisa menjadi mindset bagi seseorang jika seseorang itu telah mengalami komunikasi (proses pengiriman pesan) dan pengalaman terhadap brand tersebut berdasarkan pengalaman emosional ataupun telah mengalami fungsi dari produk suatu brand tersebut, (Keller 2003: 4).
Dengan keunggulan atau USP yang ditawarkan oleh Burgerman, selama berjalan ± 5 tahun Burgerman sudah bisa membranding dirinya sebagai kafe yang menawarkan produk burger yang mempunyai keunikan cita rasa yang khas dibandingkan tempat lain dan merupakan kafe yang bisa digunakan sebagai tempat santai merefresh pikiran yang penat ditengah kesibukan kota untuk kalangan anak muda.
Didukung dengan konsep desain kafe yang dibuat santai dengan ruangan outdoor dan menyajikan suasana yang nyaman dan cool. Burgerman juga menyediakan ruangan ber AC bagi yang memang menginginkan untuk bersantai di dalam ruangan AC.
Menurut Peter Peverelli di dalam (http: //www.agesvisual.wordpress.com), identitas visual perusahaan digunakan untuk mengomunikasikan keberadaan sebuah korporasi, organisasi, institusi ataupun golongan, dengan menggunakan nama, lambang atau logo, tipografi, warna, dan semboyan (tagline/slogan).
5
Rustan (2009: 54) dalam bukunya berjudul logo mengatakan untuk membuat identitas suatu perusahaan, dibutuhkan seperangkat atribut lainnya untuk menjaga konsistensi penerapan pada berbagai media, karena penerapan yang konsistensi dapat meningkatkan brand awarnes. Seperti logo, tipografi, warna, packaging, seragam, signage, bangunan.
Argenti (2009: 78), dalam bukunya komunikasi korporat mengatakan Identitas sebuah perusahaan adalah manifestasi aktual dari realita perusahaan seperti yang disampaikan melalui nama perusahaan, logo, moto, produk, layanan, bangunan, alat-alat tulis, seragam, dan barang-barang bukti nyata yang diciptakan oleh organisasi tersebut dan dikomunikasikan kepada beragam konstituen. Konstituen kemudian membentuk persepsi berdasarkan pesan yang dikirimkan oleh perusahaan tersebut dalam bentuk nyata.
Brand berasal dari kata brand yang artinya membakar, dimana pada saat itu digunakan untuk mencap ternak guna membedakan kepemilikan ternak tersebut. Menurut American Marketing Association, brand dapat diartikan sebagai nama, tanda, simbol, desain, atau kombinasi antaranya yang berfungsi untuk mengidentifikasikan barang atau jasa dari suatu produsen, untuk membedakan produk mereka dalam pasar yang penuh persaingan, (Keller, 2003:i3).
informasi visual, maka dilakukan melalui elemen – elemen desain visual antara lain, (a) Logo perusahaan (b) Bangunan, terdiri dari desain interior dan ekterior (c) Seragam kerja, terdiri dari seragam karyawan perempuan dan lelaki (d) Stationary, terdiri dari buku menu, packaging (e) Visual multimedia, terdiri dari situs website, company profile perusahaan.
Selain itu, Budiman (2008: 90) mengatakan untuk membangun sebuah brand dibenak konsumen tidak bisa dilakukan dengan waktu yang singkat, melainkan akan memakan waktu yang lama dan harus dilakukan secara terus-menerus (continue) maka brand itulah yang akan membawa sebuah merek menjadi besar. Selain itu agar sebuah produk cepat dikenal juga harus melakukan periklanan hard sell karena impact jangka pendeknya lebih cepat.
Dari pernyataan di atas maka dilakukan strategi keduanya bisa digunakan untuk mencapai target jangka panjang tanpa melupakan pencapaiannya dalam jangka pendek.
1.2 Rumusan Masalah
7
1. Bagaimana merancang rebranding Burgerman sebagai upaya memperluas segmentasi pelanggan?
2. Bagaimana memunculkan brand Burgerman pada konsumen bahwa Burgerman bukan hanya kafe untuk kalangan anak remaja?
1.3 Batasan Masalah
Pada perancangan ini peneliti membatasi sampai dengan perancangan konsep Visual Identity dengan hasil akhir terciptanya sebuah logo baru Burgerman dan buku Pedoman Sistem Identitas yang akan digunakan sebagai pedoman atau patokan untuk merancang desain visual selanjutnya.
1.4 Tujuan Perancangan
Dari beberapa masalah yang telah diuraikan di atas maka tujuan dari perancangan adalah :
1. Rebranding Burgerman sebagai upaya memperluas segmentasi pelanggan 2. Untuk menciptakan brand sebagai kafe burger dengan segmentasi lebih luas
mulai usia 18-40 tahun.
1.5 Manfaat Perancangan 1. Teoritis
Dapat memperkaya konsep atau teori yang menyokong perkembangan ilmu pengetahuan desain komunikasi visual, khususnya yang terkait dengan perancangan branding sebuah produk.
2. Praktis
9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Landasan teori berisi data yang relevan dengan perancangan ini. Dalam kajiannya akan dipaparkan beberapa fakta, konsep, prosedur, maupun teori-teori yang terkait dengan perancangan.
2.1 Memperluas Segmentasi Pasar
Kotler, (2010:i18) mengatakan segmen pasar suatu produk yang dibidik harus didasarkan pada situasi persaingannya, antara lain intensitas persaingan segmen, potensi masuknya pemain baru, hambatan masuk industri, keberadaan produk-produk pengganti, kehadiran produk-produk komplementer serta pertumbuhan kekuatan tawar menawar pembeli maupun pemasok.
Rustan (2009:i-8) mengatakan, ada beberapa pertimbangan dalam meredesain logo antara lain adalah karena re-positioning. Dari kedua teori tersebut menyimpulkan bahwa burgerman harus re-branding guna memperluas segmentasi pelangganya.
2.2 Perancangan
satu sistem secara detail yang membolehkan dilakukan realisasi fisik (Pressman: 2009).
2.2.1 Branding
Brand berasal dari kata brandr yang artinya membakar, dimana pada saat itu digunakan untuk mencap ternak guna membedakan kepemilikan ternak tersebut. Menurut American Marketing Association, brand dapat diartikan sebagai nama, tanda, simbol, desain, atau kombinasi antaranya yang berfungsi untuk mengidentifikasikan barang atau jasa dari suatu produsen, untuk membedakan produk mereka dalam pasar yang penuh persaingan. (Keller, 2003: 3).
Pengertian tentang merek, “Merek adalah istilah, tanda, simbol, desain atau
kombinasi dari semuanya ini yang dimaksudkan untuk mengidentifikasikan produk atau jasa dari seorang atau sekelompok penjual, yang membedakan produk/jasa tersebut dengan produk lain terutama produk saingannya” (Kotler 1987: 440).
2.2.2 Peran Branding
11
tersebut berdasarkan pengalaman emosional ataupun telah mengalami fungsi dari produk suatu brand tersebut (Keller 2003: 4).
Visual brand sangat penting, pertama karena banyak sekali merek produk yang sama di pasaran sehingga sulit bagi seorang pemasar untuk menyelipkan merek ke benak konsumen. Kedua, karena otak konsumen terbatas daya ingatnya. (Budiman 2008: 99).
Rustan (2009: 54) di dalam bukunya berjudul logo mengatakan untuk membuat identitas suatu perusahaan, dibutuhkan seperangkat atribut lainnya untuk menjaga konsistensi penerapan pada berbagai media, karena penerapan yang konsistensi dapat meningkatkan brand awarnes. Seperti logo, tipografi, warna, packaging, seragam, signage, bangunan.
Tai dan chew (2009: 2) dalam bukunya brand management mengatakan membangun sebuah brand salah satunya adalah dengan cara menciptakan deferensiasi. Dengan membuat penawaran penjualan yang unik dibandingkan dengan produk lain.
2.2.3 Corporate Visual Identity
Argenti (2009: 78), dalam bukunya komunikasi korporat mengatakan Identitas sebuah perusahaan adalah manifestasi actual dari realita perusahaan seperti yang disampaikan melalui nama perusahaan, logo, moto, produk, layanan, bangunan, alat-alat tulis, seragam, dan barang-barang bukti nyata yang diciptakan oleh organisasi tersebut dan dikomunikasikan kepada beragam konstituen. Konstituen kemudian membentuk persepsi berdasarkan pesan yang dikirimkan oleh perusahaan tersebut dalam bentuk nyata.
Menurut Peter Peverelli di dalam (http: //www.agesvisual.wordpress.com), identitas visual perusahaan digunakan untuk mengomunikasikan keberadaan sebuah korporasi, organisasi, institusi ataupun golongan, dengan menggunakan nama, lambang atau logo, tipografi, warna, dan semboyan (tagline/slogan).
Menurut Balmer (1995) di dalam (http://agesvisual.com) identitas perusahaan adalah “secara riil corporate identity dapat diwujudkan berupa kultur
organisasi, perusahaan atau kepribadian dari organisasi, perusahaan tersebut agar masyarakat mengetahui, mengenal, merasakan dan memahami filosofi-filosofi perusahaan, organisasi tersebut”.
Lebih lanjut identitas perusahaan (corporate identity,) terdiri dari tiga bagian, yaitu :
13
2. Corporate Communication, yaitu : iklan, public relations, brosur, sepanduk, informasi dan lain sebagainya.
3. Corporate Behavior, yaitu : nilai-nilai internal, norma-norma, etika dalam berkerja, pelayanan dan lain sebagainya.
2.2.4 Logo
Asal kata logo dari bahasa yunani logos, yang berarti kata, pikiran, pembicaraan, akal budi. (Rustan 2009: 12).
Fungsi dari logo sendiri adalah sebagai sebuah bendera, tanda tangan dan sebuah lambing yang secara langsung tidak menjual, tetapi memberi suati identitas, informasi, persuasi yang akhirnya sebagai alat pemasaran. (Rustan 2009: -8)
1. Logotype
Pertama kali logotype muncul tahun 1810 – 1840, diartikan sebagai: tulisan nama entitas yang di desain secara kgusus dengan menggunakan teknik lettering atau memakai jenis huruf tertentu. Fungsinya adalah : (Rustan 2009: 12-13)
a. Identitas diri. Untuk membedakannya dengan identitas orang lain b. Tanda kepemilikan. Untuk membedakanmiliknya dengan milik orang
lain
c. Tanda jaminan kualitas
2. Logogram
Logogram adalah sebuah symbol tulisan yang mewakili sebuah kata/makna. Fungsinya adalah untuk mempersingkat penulisan sebuah kata. Logogram sering juga disebut ideogram (symbol yang mewakili sebuah ide) (Rustan 2009: 13-14).
a. Tahapan Membuat Logo
Rustan 2009: 36 mengatakan, pengetahuan mengenai tahapan kerja, kriteria logo yang baik, dan sejumlah pengetahuan lain dibutuhkan untuk membuat logo yang efektif. Untuk membuat logo tahapan kerja yang dilakukan adalah :
1. Riset dan analisa, bisa dilakukan dengan cara mencari kekuatan dan kelemahan perusahaan, wawancara kemudian dikumpulkan dalam bentuk keyword/kata kunci. Keseluruhan hasil riset dan analisa ini dirangkum dalam creative brief yang akan digunakan untuk tahap berikutnya
2. Thumbnail, berdasarkan creative brief membuat tuhumbnail yang merupakan visual brainstorming atau cara pengembangan ide lewat visual, berupa sketsa-sketsa pensil atau bullpen yang dilakukan secara manual.
3. Komputer, beberapa thumbnail yang brpotensi dipilih, lalu dipindahkan ke komputer.
4. Review, tahap selanjutnya adalah mengajukan ke klient untuk dipilih. 5. Pendaftaran merek, logo yang sudah selesai kemudian didaftarkan ke
15
6. Sistem Identitas, dalam tahap ini menentukan atribut lainnya seperti logo turunan, system warna, system tipografi, system penerapan logo pada berbagai media, dan lain-lain. Zsemua itu dirangkum dalam pedoman system identitas.
7. Produksi, Berdasarkan pedoman system identitas, berbagai media internal dan eksternal mulai diproduksi dengan menggunakan identitas yang sudah didaftarkan/dipamerkan.
2.2.5 Layout
Layout bberkaitan dengan pengaturan huruf dan visual pada permukaan dua dimensi agar seluruh informasi dapat dibaca, jelas, dan menarik. Layout merupakan pengaturan huruf dan visual pada sebuah cetakan atau halaman elektronik. (Suyanto, 2004: 95).
Untuk memulai mendesain layout suyanto, (2004: 95) mengatakan harus memulai dengan beberapa pertanyaan :
1. Siapa yang akan membaca atau melihat ini? 2. Gaya apa yang cocok untuk audience? 3. Apa fungsi desain tersebut?
4. Apa informasi atau pesan yang akan disampaikan? 5. Dimana itu akan dilihat
1. Apa pesan utama atau informasi yang butuh dikomunikasikan? 2. Elemen mana yang paling menarik?
3. Elemen mana yang paling penting?
Layout berhasil, jika menggunakan prinsip kesatuan. Prinsip kesatuan dapat dengan menggunakan hubungan, kesejajaran, grid, dan aliran. Suyanto, 2004: 98
Keseimbangan merupakan distribusi bobot dalam layout. Sepeerti halnya hirarki visual, keseimbangan merupakan factor yang penting dalam kesuksesan merancang layout. Untuk membuat keseimbangan desain, harus mempertimbangkan bobot visual, posisi, dan pengaturan.
2.2.6 Tipografi
1. Strategi Desain Headline dan Body Copy
Keterbacaan sebuah iklan menjadi hal yang harus diutamakan kemudian menyusul tampilan visualnya. Beberapa hal yang dirangkum dari Enterpreneur the book series yang ditulis oleh Largest Catholic University yaitu bahasa yang digunakan untuk penyusunan teks pada iklan hendaknya sederhana jelas, singkat, dan tepat serta memiliki daya tarik pada kalimatnya karena desain dan layout adalah semua tentang komunikasi bukan ornamentasi.
2. Memilih Jenis Huruf Yang Tepat.
17
progresif tampak bagus bila ditempatkan pada media dengan white space yang luas.
3. Penggunaan Style Huruf Pada Tipografi. a. Huruf Miring atau Italic.
Huruf miring (italic) memproyeksikan perasaan tindakan, kecepatan atau progresif. Efek visual bergerak ke depan akan tampak terutama bila dikombinasikan dengan jenis huruf sans-serif.
b. Huruf Kapital dan Huruf Kecil.
Huruf kapital memproyeksikan formalitas, dan kesan corporate yang kuat. Huruf kecil memberikan kesan ramah dan bersahaja. Menggunakan huruf kecil secara eksklusif menunjukkan lebih informal dengan gambaran sederhana.
c. Huruf Tebal (bold).
Huruf tebal menyampaikan penekanan dan juga dianggap lebih maskulin.
e. Strategi Gaya Layout.
Layout iklan sangat menentukan penyajian. Model layout iklan yang masih digunakan saat ini diantaranya:
1. Axial
Elemen-elemen iklan diletakkan berdasarkan sebuah sumbu yang diletakkan pada posisi tertentu di halaman iklan. Pada metode ini akan ditampakkan banyak bidang kosong.
2. Vertical Panel Layout
Tata letaknya menghadirkan garis pemisah secara vertical dan membagi layout iklan tersebut.
Gambar 2.1 Vertikal Panel Layout Sumber:
19
a) Jumble Layout
Penyajian iklan dengan komposisi beberapa gambar dan teksnya disusun secara teratur.
Gambar 2.2 Jumble Layout
Sumber: http://pengantarperiklanan.blogspot.com/2008/03/contoh-jumble-dan-grid-lay-out.html diakses pada 4 Oktober 2012
2.2.7 Keyword/Konsep
Untuk menemukan sebuah konsep desain, sesorang harus melakukan riset dan analisis dengan mencari fakta-fakta tentang entitas. Mulai dari visi-misi, budaya, anallisis pasar, target market, keunggulan dan kelemahan, (Rustan 2009: 37).
2.2.8 Warna
terhadap orang lain, lingkungan maupun produk dalam waktu janya 90 detik saja. Dan keputusan tersebut 90%-nya didasari oleh warna. Warna juga meningkatkan brand recognition sebanyak 80% menurut penelitian yang dilakukan oleh University of Loyola, Chicago, Amerika. Karena itu memilih warna yang tepat merupakan proses yang sangat penting dalam mendesain identitas visual. Untuk itu dibutuhkan riset yang mendalam menyangkut beberapa bidang, antara lain psikologi, budaya dan komunikasi, (Rustan 2009: 72).
Memilih warna bagi suatu identitas bukan berdasarkan selera, atau asal tebak. Karena belum tentu warna yang kita sukai adalaha yang paling sesuai dengan kepribadian entitas tersebut. Butuh riset yang mendalam akan hal ini, contohnya riset terhadap kepribadian entitas, produk, media, pelanggan dan market/pasar, (Rustan 2009: 74).
2.3 Metode Penelitian
2.3.1 Metode Penelitian Kualitatif
21
1. Wawancara
wawancara adalah salah satu alat yang paling banyak digunakan untuk mengumpulkan data penelitian kualitatif. Wawancara memungkinkan peneliti mengumpulkan data yang beragam dari para responden dalam berbagai situasi dan konteks.
2. Observasi/Studi Lapangan
Observasi di definisikan sebagai pengamatan akan manusia pada “habitatnya” (hughes 2005).
3. Telaah Dokumen
Selain wawancara dan studi lapangan, data dapat juga diperoleh dengan cara menelaah dokumen. Dokumen adalah segala sesuatu materi dalam bentuk tertulis yang dibuat oleh manusia. (Esterberg 2002). Dokumen dapat berupa buku, artikel, media masa, catatan harian, manifesto, undang-undang, notulen, blog, halaman web, foto, dan lainnya.
2.3.2 Analisis Data
dapat ditafsirkan, dimana meliputi kegiatan mengelompokkan, mengatur, mengurutkan data atau memisahkan komponen atau bagian yang relevan dari keseluruhan data, sehingga data mudah dikelola. (Bhina Patria – www.inparametric.com). Sedangkan kualitatif yaitu Analisis Data yang
dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. (Bogdan & Biklen, 1982).
2.4 Strategi Pemasaran
Perilaku konsumen menjadi masukan bagi pemasar untuk mengembangkan strategi pemasaran, maka suatu perusahaan harus mempunyai strategi pemasaran yang mampu mempengaruhi konsumen yang menjadi target marketnya, sehingga penentuan segmentasi pasar, pemilihan pasar sasaran, dan kemudian positioning sebagai pedoman dari strategi bauran pemasaran menjadi penting untuk diperhatikan dengan baik.
1. Kekuatan
23
a. Keahlian atau pengalaman penting b. Aset fisik yang berharga
c. Aset manusia atau sumber daya manusia yang berharga d. Aset organisasional yang berharga
e. Aset yang tak terukur dan bersifat abstrak f. Kemampuan yang kompetiitf
g. Prestasi/atribut yang dapat mengunutngkan posisi perusahaan dipasar. h. Aliansi yang kompetitif/kerjasama yang menguntungkan
2. Kelemahan
Suatu hal yang menjadi kekurangan dan kurang baik ketika dikerjakan perusahaan atau sebuah kondisi yang tidak menguntungkan posisi perusahaan di pasar. (Thompson 2005: 93) Kelemahan itu dapat berupa
a. Keahilan, pengalaman, modal intelektual yang rendah dan tidak terbukti
b. Defisiensi dalam aspek fisik, organisasional, atau aset yang bersifat abstrak
sumber daya yang cukup besar agar bisa sukses dalam setiap kesempatan yang ada di dalam industri (Thompson, 2005: 94).
2.5 Segmentation, Targeting, Positioning (STP)
Suatu perusahan dalam menawarkan dalam menawarkan produk maupun jasanya tidak dapat melayani semua kebutuhan konsumennya yang terdiri dari berbagai segmen pasar yang sangat beragam. Masing-masing konsumen memiliki kebutuhan yang berbeda dan sangat bervariasi keinginannya.
Suatu perusahaan perlu mengidentifikasikan segmen pasarnya sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan konsumennya dengan lebih efektif. (Kotler 2003: 278).
Target pemasaran dari suatu perusahan memerlukan pemasarnya untuk mengambil tiga tahap utama, yakni
1. Mengidentifikasikan dan membagi sekelompok pembeli secara terpisah berdasarkan kebutuhan dan pilihan yang beragam (market segmentation)
2. Memilih satu atau lebih segmen pasar yang akan dimasuki (market targeting)
25
a. Segmentation
Segmen pasar terdiri dari sekelompok konsumen yang memiliki kebutuhan yang sama. Para pemasar tidak menciptakan segmen, tetapi tugas seorang pemasar adalah mengidentifikasikan segmen yang ada dan menetapkan target mana yang akan dituju. Perusahaan akan lebih mudah memilih jalur distribusi dan komunikasi yang terbaik, dan hal tersebut akan mengetahui para kompetitornya secara jelas yang memiliki target segmen yang sama (Kotler, 2003: 279).
Diungkapkan oleh Philip kotler dalam (Wijaya S. d., 2006) menyatakan “Perusahaan menawarkan produk unggulannya kepada
masyarakat luas.” Akan tetapi, untuk mendapatkan keuntungan yang
maksimal perusahaan harus memilih pasar apa yang ingin mereka layani. Menurut Kotler, Bown, dan Makens (2002, pp.255-261) menyatakan bahwa segmentasi dapat dilakukan berdasarkan variabel-variabel di bawah ini: 1. Segmentasi Geografis
Segmentasi geografis adalah segmentasi yang memberi pasar menjadi unit geografis yang berbeda-beda seperti negara, daerah otonomi, kota, iklim atau kawasan pemukiman.
2. Segmentasi Demografis
mensegmentasi kelompok konsumen. Salah satu alasannya adalah kebutuhan, keinginan dan tingkat penggunaan konsumen berhubungan erat dengan variabel demografis. Alasan lainnya adalah bahwa variabel demografis lebih mudah diukur jika dibandingkan dengan jenis Elizabeth hurlock membagi segmentasi berdasarkan usia sebagai berikut :
Tabel 2.1 Pengelompokan Usia
No Kelompok Usia Kategori
1 0 - 6 Tahun Balita
Segmentasi ini mengelompokkan pembeli berdasarkan pengetahuan, sikap, tingkat penggunaan atas sebuah produk atau jasa, serta manfaat yang dicari oleh konsumen dalam membeli sebuah produk atau jasa.
4. Segmentasi Psikografis
27
Joseph Plumer (1974) mengatakan bahwa segmentasi gaya hidup mengukur aktivitas-aktivitas manusia dalam hal :
a. Bagaima mereka menghabiskan waktunya (pekerjaan, hobi, hiburan, belanja, olahraga dll)
b. Minat mereka; apa yang dianggap penting disekitarnya (keluarga, rumah, karir, makanan dll)
c. Pandangan-pandangan baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain (isu-isu sosial, politik, masa depan dll) d. Karakter-karakter dasar seperti tahap yang mereka lalui dalam
kehidupan (life cycle), penghasilan, pendidikan dan di mana mereka tinggal.
b. Targeting
Setelah mengevaluasi berbagai segmen, perusahaan harus memutuskan segmen mana dan berapa segmen yang akan dilayani. Pasar sasaran mencapkup seperangkat pembeli yang memiliki kebutuhan atau karakteristik umum yang ingin dilayani oleh perusahaan.
kompetitif perusahaan yang bersangkutan. Keunggulan kompetitif merupakan cara untuk mengukur apakah perusahaan memiliki kekuatan dan keahlian yang memadai untuk menguasai segmen pasar yang dipilih sehingga memberikan value bagi konsumen. (c) Segmen pasar yang dibidik harus didasarkan pada situasi persaingannya. Perusahaan harus mempertimbangkan situasi persaingan yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi daya tarik targeting perusahaan.
Beberapa faktor yang dipertimbangkan disini antara lain intensitas persaingan segmen, potensi masuknya pemain baru, hambatan masuk industri, keberadaan produk-produk pengganti, kehadiran produk-produk komplementer serta pertumbuhan kekuatan tawar menawar pembeli maupun pemasok.
c. Positioning
29
atau merek akan dikelompokkan dalam sejumlah kategori. Penetapan posisi dimulai dengan produk, yaitu suatu barang, jasa, perusahaan, lembaga, atau bahkan orang.
Menurut Solomon, dan Elnora di dalam http://blog.ub.ac.id/ (2003:235) Ada beberapa positioning yang dapat dilakukan, yaitu
1. Identity
Perusahaan memposisikan diriya melalui atributnya, seperti ukuran atau berapa lama keberadaan perusahaan itu. Pendekatan ini berusaha mengidentifikasikan atribut apa yang dimiliki suatu produk dan manfaat yang dirasakan oleh kosumen atas produk tersebut. 2. Benefit Positioning
Suatu produk diposisikan sebagai leader dan mencipatakan beberapa keuntungan yang belum dimiliki pesaingnya.
3. Use or Application Positioning
Produk diposisikan sebagai kategori yang terbaik dalam aplikasi ataupun penggunaannya dibandingkan pesaingnya.
4. User Positioning
Produk diposisikan sebagai kategori terbaik untuk beberapa kelompok pengguna.
5. Competitor Positioning
6. Product Category Positioning
Produk diposisikan sebagai leader di dalam kategori tertentu. 7. Quality or Price Positioning
Suatu produk dianggap menawarkan nilai yang terbaik dibandingkan produk pesaingnya.
d. Unique Selling Proposition (USP)
31
Program promosi yang dilakukan Burgerman selama ini
Dokumentasi
Literatur
Goal Burgerman dua Tahun Kedepan
Membangun brand harus dilakukan secara konsisten dan
terus menerus untuk bisa menjadi top of mind
a. Banyak tumbuh pesaing-pesaing baru yang sama dengan Burgerman di Surabaya.
b. Merubah segmentasi konsumen dari Usia 18-40 tahun
c. Tampilan Visual khususnya iklan/promosi Burgerman tidak memiliki ciri khas dan tidak konsisten sehingga sulit untuk menjadi top of mind dibenak konsumen
Rebranding Burgerman Sebagai Upaya Memperluas Segmentasi
Kerangka Berpikir
Gambar 2.22 Kerangka Berpikir Rebranding Burgerman Latar Belakang Masalah :
Brand Identity rendah
33
BAB III
METODOLOGI DAN PERANCANGAN KARYA
3.1 Prosedur Perancangan
Perencanaan yang seksama disusun secara logis dan sistematis sangat penting dilakukan dalam sebuah penelitan. Hal ini bertujuan agar hasil dari perancangan dapat menjawab kebutuhan perusahaan dan dapat dipertanggung- jawabkan. Kerangka Tugas Akhir harus jelas sehingga memberikan kemudahan dalam memecahkan masalah dan memperkecil kemungkinan kekurangan atau kesalahan dalam perancangan. Prosedur perencanaan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Riset Pasar
Tahap ini merupakan tahap awal dalam melihat kebutuhan dan tingkat aware konsumen terhadap media promosi yang sudah dimiliki oleh Burgerman. Riset pasar meliputi: analisis kompetisi, media promosi yang potensial terhadap kebutuhan konsumen hingga perumusan kebutuhan.
2. Program
a. Gagasan Desain
Pada tahap ini dibuat konsep rancangan baik secara verbal maupun visual. Gagasan desain dibuat berdasar pada konsep, nilai fungsi, dan estetika yang kemudian diwujudkan dengan beberapa alternatif rancangan/desain.
b. Alternatif Desain
Perancang membuat beberapa alternatif desain yang komperehensif.
+
Konsep, nilai & Estetika Alternatif Program Analisis Data
35
3.2 Metodologi Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan observasi, wawancara, dan Telaah Dokumen. Pendekatan observasi dilakukan mencermati langsung secara visual terhadap kondisi objek penelitian. Pendekatan wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi-informasi yang akurat langsung kepada pemiiliknya. Penelitian ini dibatasi waktu dan aktifitas, sehingga mengaharuskan peneliti mengumpulkan informasi yang detail dengan menggunakan beragam prosedur pengumpulan data selama periode tertentu. Sedangakan pendekatan kepustakaan dilakukan untuk menunjang penelitian secara teoritis.
3.3 Teknik Pengumpulan Data 1. Data dan Sumber Data
Data yang diperoleh mempunyai peran yang penting dalam menjawab pokok permasalahan yang dihadapi dalam rebranding kafe Burgerman. Data mengenai kafe Burgerman diperoleh melalui pengamatan langsung pada produk dan segmentasi pasar yang dibidik kafe burgerman. Data ini berguna untuk mengetahui konsep awal yang akan digunakan untuk merancang rebranding kafe Burgerman. Sumber data penelitian ini terdiri atas data premier dan data skunder.
a. Data Premier
pemilik Burgerman. Berdasarkan kriteria tersebut, maka subyek atau informan untuk Tugas Akhir adalah penanggung jawab Burgerman dan pelanggan Burgerman yang mengetahui seluk beluk perusahaan.
b. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari sumber kedua atau sumber sekunder dari data yang dibutukan, artinya data tersebut didapatkan dari sumber-sumber lain yang mendukung. Sumber data data sekunder diharapkan berperan membantu mengungkap data yang diharapakan. Pada perancangan ini, sumber-sumber data sekunder diperoleh dari buku-buku yang berkaitan dengan rebranding melalui buku-buku yang berkaitan dengan Tugas Akhir ini, literatur, artikel yang didapat dari majalah maupun website. Data sekunder dalam Tugas Akhir meliputi gambaran umum perusahaan, gambaran umum kompetitor dan landasan teori yang diperlukan.
3.4 Teknik Pengambilan Data
Metodologi dalam perancangan ini menggambarkan tentang tata cara pengumpulan data yang diperlukan guna menjawab permasalahan yang ada. Dalam hal ini, digunakan beberapa pengambilan data, antara lain:
1. Observasi
37
yang diamati. Observasi berstruktur, aspek-aspek tingkah laku yang akan diobservasi telah dimuat dalam suatu daftar yang telah disusun secara sistematis, antara lain :
a. Daftar chek (chek list), adalah suatu daftar yang memuat catatan tentang sejumlah kegiatan promosi yang dilakukan oleh perusahaan mulai dari awal sampai dengan penelitian ini dibuat.
b. Skala bertingkat (rating scale), adalah gejala-gejala yang akan diobservasi itu didalam tingkatan-tingkatan yang telah ditentukan. 2. Wawancara
Wawancara atau interview adalah metode pengumpulan data yang menghendaki komunikasi langsung antara penyelidik dengan subyek atau informan (Yatim, 2001). Metode ini merupakan proses tanya jawab lisan, dimana dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik. Pada penelitian ini wawancara yang digunakan adalah wawancara terstruktur dimana pewawancara menggunakan pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya. Adapun informan yang dipilih adalah Ibu Dian. Beliau adalah pemilik dari Burgerman yang memahami tentang seluk beluk Burgerman terutama pada strategi dan media promosi yang dilakukan dalam kurun waktu mulai tahun 2007 hingga saat ini.
3. Telaah Dokumen
buku, artikel, media masa, catatan harian, manifesto, undang-undang, notulen, blog, halaman web, foto, dan lainnya.
3.5 Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan proses sistematis pencarian dan pengaturan transkripsi wawancara, observasi atau survey, studi eksisting dan meteri-materi lain yang telah dikumpulkan untuk meningkatkan pemahaman mengenai materi-materi tersebut dan memungkinkan penyajian data yang sudah ditemukan. Sebagai landasan analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif-kualitatif. Deskriptif adalah Kegiatan menyimpulkan data mentah dalam jumlah besar sehingga datanya dapat ditafsirkan, dimana meliputi kegiatan mengelompokkan, mengatur, mengurutkan data atau memisahkan komponen atau bagian yang relevan dari keseluruhan data, sehingga data mudah dikelola. (Bhina Patria – www.inparametric.com).
Sedangkan kualitatif yaitu Analisis Data yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. (Bogdan & Biklen, 1982).
39
selesai dilaksanakan, maka dibuat beberapa rancangan rebranding yang sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.
3.5.1 Analisis Data Wawancara
Dari hasil wawancara dengan Ibu Dian Dendar selaku Pemilik maka dapat diperoleh hasil analisis sebagai berikut:
1. Burgerman merupakan sebuah kafe yang menawarkan produk burger sabagai produk utamanya. Ada beberapa produk lain akan tetapi tidak di tonjolkan hanya sebagai pelengkap saja sperti softdrink dan sebagainya. 2. Keunggulan produk dari burgeman dibandingkan dengan produk-produk
lain adalah daging yang digunakan sebgai bahan dasar merupakan daging olahan sendiri, dan bebas dari bahan pengawet. Bukan olahan pabrikan seperti burger-burger yang lain. Dengan resep dan citarasa yang khas tentunnya. Selain itu burgerman juga menyediakan tempat dengan suasana outdoor dan indoor dimana bisa dibuat santai bersama teman. Bisa memilih di luar atau di dalam ruangan. Hal ini merupakan keunggulan atau keunikan burgerman dibandingkan dengan competitor atau produsen lain yang serupa. 3. Sampai saat ini burgerman segmentasinya adalah anak muda, dan sekarang burgerman ingin merubah segmentasi targetnya menjadi lebih luas yaitu remaja-dewasa
5. Persepsi yang ingin ditanamkan dalam benak konsumen saat ini adalah bahwa Burgerman adalah sebuah kafe burger tempat berkumpul bersama.
3.5.2 Studi Eksisting 1. Data Perusahaan
a. Latar Belakang Pendirian Burgerman
Burgerman didirikan di Surabaya oleh Dian Dendar. Adapun hal-hal yang melatar belakangi Burgerman untuk memulai usaha ini sebagai berikut:
1. Gaya hidup di kota besar yang mempunyai tingkat stress tinggi dan kebutuhan akan tempat yang santai untuk berbincang-bincang dengan hidangan makanan kecil.
2. Kebanyakan kafe menawarkan minuman kopi, dan Burgerman berpikiran beda dari kafe-kafe yang lain
41
Gambar 3.2 Logo burgerman b. Perkembangan Burgerman
1. Dari Sisi Nama dan Tagline
Gambar 3.3 Perkembangan Burgerman dari Produk, Layanan, dan Tagline c. Gambaran Umum Perusahaan
Burgerman adalah kafe burger yang menyajikan burger dengan 2 jenis
daging yaitu burger dari daging sapi (Beef Burger) dan burger dari daging ayam
(Chicken Burger). Bahan-bahan dasar dari pembuatan burger ini yaitu
roti,daging,mayonise dimana daging dan saos pastanya dibuat sendiri alias
HandMade dengan racikan resep rahasia keluarga dan bebas dari bahan pengawet.
Begitu pula dengan cara penyajian burger di BURGERMAN yaitu dengan
memasaknya lansung diatas kompor grill setelah konsumen memesannya jadi
fresh from the oven.
Dengan cara ini, rasa hangat dan gurih masi terasa hingga ke dalam gigitan
dagingnya. Dan terbukti dengan cara pemasakan seperti ini keawetan rasa burger
dari Burgerman ini terjaga. Disajikan di meja dengan suasana yanga santai dan
nyaman sehingga dapat membuat konsumen merasa relas dan betah.
Didirikan 10 November 2008 Nama: Burgerman Produk : burger, Kopi
Tagline: Ingat Burger, Ya Burgerman Fasilitas: Outdoor
Tahun 2010-2013 Nama : Burgerman
Produk : Burger, Hotdog, Kopi, Snack, Spaghet, Friesh
43
Dimana terdapat ruangan indoor dan outdoor bagi konsumen yang memang
lebih mau private bisa di ruangan indoor yang disediakan.
d. Visi dan Misi Burgerman
Visi: Menyajikan Burger dari dengan daging olahan hand made menghasilkan cita rasa yang khas dan disajikan dengan suasana yang nyaman.
Misi: Menjadi Ikon Burger di kota Surabaya e. USP Burgerman
Sebagai kafe burger di Surabaya, buergerman mempunyai 2 keunggulan dari kompetitornya. Yang pertama adalah daginburgernya dibuat dengan HandMade atau olahan tangan sendiri. Jadi dagingnya terbuat dari daging sapi asli yang dioalah dengan resep rahasia dan bebas dari bahan pengawet. Hal ini sudah di uji di lab dan mendapatkan surat keterangan dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan).
Yang kedua yaitu Burgerman mempunyai lokasi yang memadai untuk bersantai, karena memang pada konsep awal ibu Dian selaku pendiri Burgerman mengkonsep burgerman sebagai kafe Burger bukan hanya otlet burger.
45
f. Lokasi Burgerman
Burgerman berpusat di Jl. Bawean no 28 Surabaya. Lokasi ini adalah satu-satunya lokasi yang buka di Surabaya. Pada dasarnya burgerman mempunyai rencana ke depannya untuk membuka cabang baru akan tetapi cabang yang sekarang ini masih dianggap kurang kuat brandingnya sehingga harus menunggu brand nya kuat dulu baru membuka cabang.
Gambar 3.6 Lokasi Burgerman g. Produk Yang Ditawarkan
Untuk produk makanan, burgerman menawarkan produknya antara
lain : Beef Classic Burger, Chicken Classic Burger, Chicken Crispy Burger,
47
Untuk produk minuman burgerman menawarkan Ice/Hot Chocolate,
Ice/Hot Cappucino, Ice/Hot Milo, Mineral Water, Softdrinks.
h. Strategi Pemasaran Burgerman 1. Strategi Produk/Jasa
Produk utama yang ditawarkan Burgerman adalah roti burger. Meskipun banyak macam nama yang disajikan akan tetapi tetap masih mengandung unsur roti burger.
2. Strategi Harga
Burgerman menawarkan harga yang bervariasi sesuai dengan jenis produknys. Harga ini disesuaikan dengan segmentasi pasar yang merupakan kalangan anak muda kelas menengah.
3. Strategi Tempat
Gambar 3.7 Burgerman outdoor
49
Gambar 3.9 Burgerman di ruangan indoor 4. Strategi Promosi
Strategi promosi yang dilakukan menggunakan media below the line, diantaranya brosur, leaflet, mading, spanduk, x-banner. Mading setiap bulan diperbaharui sesuai dengan promo yang berlaku saat itu, brosur dan leaflet diperbaharui 3-6 bulan sekali, spanduk dibuat bila ada promosi eksternal berupa event, x-banner diperbaharui sesuai kebutuhan. Untuk Media above the line Burgerman sampai saat ini masih belum menerapkannya.
a. Poster Burgeman
51
b. Poster Burgerman
c. Poster Burgerman
53
d. Poster Burgerman
e. X-Banner Burgerman
55
2. Data Kompetitor
a. Latar Belakang Klenger Burger
Gambar 3.15 Logo klenger Burger
Klenger BurgerTM adalah burger asli buatan anak negeri dengan cita rasa Indonesia yang terlahir pada tanggal 10 bulan Februari tahun 2006 oleh suami istri Gatut Cahyadi & Velly Kristanti.
menjamur menjadi 38 outlet yang dikembangan dengan sistem kerjasama sederhana yang kemudian dikenal sebagai konsep franchise.
Tahun 2008 pada bulan Desember, Klenger BurgerTM menjadi suatu badan usaha perseroan dengan nama PT KINARYA ANAK NEGERI. Di dalam naungan PT inilah Klenger BurgerTM terus melakukan expansi dan penetrasi market agar dapat mencapai awareness di masyarakat Indonesia sebagai Burger lokal dengan kualitas baik dan harga terjangkau. Tahun 2010 Klenger BurgerTM telah mencapai 80 outlet yang tersebar di Jabodetabek, Bali, Bandung, Kuningan, Medan & Makasar.
Di awal lahirnya di tahun 2006, Klenger BurgerTM sudah sadar akan Legalitas Brand dan juga Halal produk. Oleh karenanya Sertifikat Merek dan Sertifikat Halal sudah dimilikinya sampai saat ini.
b. Perkembangan Klenger Burger
Tahun 2008 pada bulan Desember, Klenger BurgerTM menjadi suatu badan usaha perseroan dengan nama PT KINARYA ANAK NEGERI. Di dalam naungan PT inilah Klenger BurgerTM terus melakukan expansi dan penetrasi market agar dapat mencapai awareness di masyarakat Indonesia sebagai Burger lokal dengan kualitas baik dan harga terjangkau.
57
c. Gambaran Umum Klenger Burger
Sebuah kafe burger yang mengangkat tema konsep modern, dengan menawarkan system frienchcise. Dengan keunggulan bahan yang dikelola dengan sangat higienis dan dijamin 100% halal dan daging yang lembut dengan mengangkat slogan “NO GIRL, NO WAY”
Klenger Burger memiliki kelebihan pada branding produknya, dimana seluruh konsep desain media promosinya semuam konsisten dan mempunyai satu konsep. Sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Peter Peverelli, Identitas visual perusahaan digunakan untuk mengkomunikasikan keberadaan sebuah korporasi, organisasi, institusi ataupun golongan, dengan menggunakan nama, lambang, tipografi, warna dan semboyan (tagline/slogan).
d. Visi dan Misi Klenger Burger
Visi : Local company F&B yang solid, terkemuka, modern dan mendunia Misi : Melahirkan brand/ produk yang innovatif & acceptable, berkembang,
service excellence, profitable dan bermanfaat bagi seluruh masyarakat Indonesia
e. USP Klenger Burger
Klenger Burger memiliki kelebihan pada branding produknya, dimana seluruh konsep desain media promosinya semuam konsisten dan mempunyai satu konsep. Sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Peter Peverelli, Identitas visual perusahaan digunakan untuk mengkomunikasikan keberadaan sebuah korporasi, organisasi, institusi ataupun golongan, dengan menggunakan nama, lambang, tipografi, warna dan semboyan (tagline/slogan).
59
1. Baliho Logo Klenger Burger
Gambar 3.16 Baliho Logo Klenger Burger 2. Stand Jualan Klenger Burger
3. Acara Event Klenger Burger
Gambar 3.18 Acara Event Klenger Burger
4. Media Promosi Brosur Baliho Klenger Burger
61
5. Menu Klenger Burger
Gambar 3. 20 Menu Klenger Burger
f. Strategi Pemasaran 1. Strategi Produk/ Jasa
Produk utama yang ditawarkan Klenger Burge adalah roti burger. Meskipun banyak macam nama yang disajikan akan tetapi tetap masih mengandung unsur roti burger.
2. Strategi Harga
3. Strategi Tempat
Tahun 2010 Klenger Burger telah mencapai 80 outlet yang tersebar di Jabodetabek, Bali, Bandung, Kuningan, Medan, Makasar dan Surabaya. Hal ini sangat cepat karena memang klenger burger menyediakan Franchise untuk yang mau bergabung menjadi rekanan sehingga klenger burger cepat dikenal oleh masyarakat luas.
4. Strategi Promosi
Strategi Promosi yang dilakukan menggunakan media below the line, diantaranya brosur, leaflet, mading, spanduk, x-banner. Mading setiap bulan diperbaharui sesuai dengan promo yang berlaku saat itu, brosur dan leaflet diperbaharui 3-6 bulan sekali, spanduk dibuat bila ada promosi eksternal berupa event, x-banner diperbaharui sesuai kebutuhan.
63
3.5.3 Analisis Studi Eksisting
Analisis studi eksisting dalam perancangan ini mengacu pada observasi yang telah dilakukan terhadap objek yang diteliti.
1. Analisis Perusahaan
a. Segmentasi dan Targeting
Dalam rebranding burgerman pada kali ini, sasaran atau target audience yang dituju adalah :
Demografis
Usia : 18 – 40 (Dewasa Dini) Jenis Kelamin : Pria dan Wanita
Profesi : Pegawai negeri/swasta,
pelajar/mahasiswa, keluarga
Gaya hidup : Aktifitas padat dan sibuk, mengikuti trend,
senang menghabiskan waktu senggang dengan kegiatan berkumpul bersama, hang out atau relaksasi.
Kepribadian : Suka hal baruTerbuka/ mudah terhadap
banyak masalah baru, komitmen, reprodukrif, Penyesuaian terhadap kehidupan baru, meningkatkan daya tarik, perubahan penampilan, keterasingan social
Behavioral
Manfaat : memberikan suasana yang santai, nyaman, relax
disaat mau berkumpul bersama teman, keluarga, ataupun me-refreshkan pikiran sejenak.
b. Positioning
Positioning adalah suatu proses atau upaya untuk menempatkan suatu produk, individu, perusahaan, merek atau apa saja dalam alam pikiran mereka yang dianggap sebagai sasaranan atau konsumennya (Kasali, 2007). Positioning merupakan hal yang penting dan tidak boleh dilupakan dalam perancangan sebuah branding. Burgerman menempatkan dirinya sebagai kafe burger yang mempunyai cita rasa yang khas dan berbeda dan tempat berkumpul bersam-sama teman maupun keluarga di dukung dengan suasana yang nyaman.
c. Keunggulan Burgerman
65
di dukung ruangan indoor bagi yang memang mau santai di dalam ruangan ac. Menurut Ibu Dian Dendar selaku pemilik Burgerman dengan mengusung konsep tempat yang nyaman dan santai di ruang outdoor, seseorang akan merasakan suasana yang berbeda. Dengan didukung dengan makanan burger yang enak tentu akan membuat seseorang mau untuk dating kembali karena merasa nyaman.
d. Keterbatasan Burgerman
Burgerman tidak konsisten dalam tampilan desain interior maupun eksteriornnya. Penggunaan elemen warna pada furniture ataua media-media iklannya seperti x-banner spanduk kurang mengandung unsur kesatuan.
Menurut Peter Peverelli di dalam (http: //www.agesvisual.wordpress.com), identitas visual perusahaan digunakan untuk mengomunikasikan keberadaan sebuah korporasi, organisasi, institusi ataupun golongan, dengan menggunakan nama, lambang atau logo, tipografi, warna, dan semboyan (tagline/slogan). Untuk itu Identitas visual perusahaan merupakan suatu cara untuk rebranding Burgerman dibidang informasi visual.
perusahaan dibenak konsumen tidak bisa dilakukan dengan waktu yang singkat, melainkan akan memakan waktu. Akan tetapi brand itulah yang akan membawa sebuah merek menjadi besar.
Maka dari itu agar sebuah produk cepat dikenal juga harus melakukan periklanan hard sell karena impact jangka pendeknya lebih cepat.
e. Peluang Burgerman
Berdasarkan dari hasil pengamatan, pengunjung burgerman saat ini sudah bukan hanya anak muda lagi, melainkan ada beberapa keluarga yang memang datang untuk bercengkrama dan mencari suasana lain. Dari sini peluang burgerman untuk memperluas segmentasi pelanggan dengan meraup semua usia mempunyai potensi yang tinggi.
f. Tantangan Yang Dihadapi Burgerman
67
dikatakan bahwa visual identity/brand identity suatu perusahaan sangat penting guna membesarkan perusahaan tersebut.
2. Asumsi Data Survey, Wawancara dan Studi Eksisting
Dari data hasil survey, wawancara dan studi eksisting maka dapat di tarik kesimpulan atau asumsi antara lain:
a. Data Pemasaran
1. Konsumen mengetahui Burgerman hanya melalui informasi dari teman atau saudara (mouth to mouth)
2. Media promosi yang diandalkan saat ini hanyalah social media internet.
3. Media promosi seperti website yang memiliki peluang besar untuk meraih konsumen baru dan menarik minat konsumen di zaman modern ini namun belum di kembangkan sama sekali. 4. Konsep desain yang konsisten pada media promosi masih belum
ada.
5. Kompetitor Burgerman dari hasil wawancara dan observasi b. Data Target Market
c. Unique Selling Proposition
Memasarkan suatu produk agar mampu bersaing dengan kompetitornya, maka produk tersebut harus memiliki kelebihan atau keunikan tersendiri. USP atau unique selling proposition digunakan untuk menganalisis keunikan jasa dan produk yang dapat diangkat menjadi nilai lebih dari kompetitornya (Saputra, 2009). Karakter spesifik yang dimiliki oleh Burgerman adalah dari bahan dasar yang diproduksi menggunakan daging olahan dengan resep sendiri, sehingga mempunyai cita rasa yang khas. Selain itu juga burgerman memiliki lokasi suasana yang nyaman untuk berkumpul bersama – sama teman. Dengan di lokasi yang outdoor dan juga di dukung ruangan indoor bagi yang memang mau santai di dalam ruangan AC.\ 3. Analisis Kompetitor
Analisis kompetitor mengacu pada pesaing Burgeman yaitu “Klenger Burger Surabaya”
a. Segmentasi dan Targeting
Dari hasil wawancara, Observasi dan Telaah Dokumen, sasaran atau target audience yang dituju klenger burger adalah :
Demografis
Usia : 15 – 40 (Dewasa Dini) Jenis Kelamin : Pria dan Wanita
Profesi : Pegawai negeri/swasta,
69
Budaya : Aktifitas padat dan sibuk, mengikuti trend,
senang menghabiskan waktu senggang dengan kegiatan berkumpul bersama, hang out atau relaksasi.
Kepribadian : Suka hal baru, terbuka/ mudah terhadap
segala perubahan, Kreatif Menciptakan Profesi Ingin tampil menarik, Pergaulan terbatas dengan kelompoknya, banyak masalah baru, komitmen, reprodukrif, Penyesuaian terhadap kehidupan baru, meningkatkan daya tarik, perubahan penampilan, keterasingan sosial
Psikis : keterasingan sosial, perubahan penampilan,
meningkatkan daya tarik, Penyesuaian terhadap kehidupan baru, reprodukrif, komitmen, banyak masalah baru
Behavioral
Manfaat : menyajikan burger yang cepat saji dengan
daging yang lembut.
Klenger Burger menempatkan diri sebagai Kafe burger yang modern, bahan bahannya dikelola dengan sangat higienis dan dijmanin 100% halal. Dengan slogan “No gril, No way”
c. Keunggulan Kompetitor
Klenger Burger memiliki kelebihan pada branding produknya, dimana seluruh konsep desain media promosinya semuam konsisten dan mempunyai satu konsep. Sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Peter Peverelli, Identitas visual perusahaan digunakan untuk mengkomunikasikan keberadaan sebuah korporasi, organisasi, institusi ataupun golongan, dengan menggunakan nama, lambang, tipografi, warna dan semboyan (tagline/slogan).
Konsistensi ini pula yang diterapkan oleh Klenger Burger pada setiap media promosi baik dalam bentuk layout, warna, dan komposisi memunculkan karakter tersendiri bagi Klenger Burger mudah dikenali. Promosi Klenger Burger di dunia internet juga terus berjalan dan di dukung promosi-promosi event yang dilakukan. Dimana mengedakan event kecil-kecilan dan unik agar lebiih cepat dikenal oleh masyarakat, seperti makan burger raksasa dan sebagainya.
d. Keterbatasan Kompetitor
71
tetapi tidak bisa menjaga standarisasi yang ditetapkan oleh cabang pusat. Jadi ujung-ujungnya cabang-cabang tersebut harus ditutup oleh pusat. Mungkin dari hal pelayanan kepada konsumen dan sebagainya.
Dengan banyaknya cabang dari klenger burger yang berjalan belum lama dan akhirnya tutup, hal ini tentunya akan membawa citra buruk bagi perusahaan. Seperti yang dikemukakan oleh Tai (2012:viii) persepsi adalah kenyataan. Artinya branding memiliki tempat di benak konsumen, bukan di dunia nyata. Apa yang dianggap benar oleh pikiran adalah kebenaran, dan anda tidak dapat membantahnya. Konsumen menganggap bahwa pelayanan dari klenger kurang baik dan harus tutup dan yang tadinya menjadi pelanggan bisa berpindah ke produk lain, karena kurang baiknya pelayanan
tehadap konsumen
Jika tidak mempunyai inovasi baru dalam hal pelayanan franchise,
bisa tersaingi oleh produk lain. Hal ini tentunya akan berpengaruh pada
tingkat brand dari konsumen terhadap produk tersebut. e. Peluang Kompetitor
tekanan pada bagian-bagian tertentu memudahkan iklan-iklan ini diingat oleh audiens.
Disamping itu klenger burger juga mulai memperhatikan minat pelanggan melalui internet, yaitu dengan adanya fitur like (suka) dengan produk tersebut dan memberikan video profil tentang perusahaan. Hal ini menjadi peluang untuk mendapatkan konsumen baru mengingat internet memiliki peran yang besar di dunia pemasaran saat ini.
f. Tantangan Yang Dihadapi Kompetitor
Dari observasi yang dilakukan diperoleh data bahwa klenger burger mempunyai resiko pembajakan nama yang cukup besar. Mengingat brand dari klenger burger sudah cukup dikenal tentunya pembajakan nama juga menjadi sebuah ancaman. Maka dari itu diperlukan adanya USP atau keunikan produk yang tidak dapat ditawarkan oleh pihak lain. (Rosess Roves dalam Reality in Advertising) Tai, 2012:2.
2. Hasil Analisis Studi Eksisting Kompetitor
Dari data hasil survey dan studi eksisting maka dapat di tarik kesimpulan atau asumsi antara lain:
73
b. Media promosi yang diandalkan untuk lebih mengenalkan kepada konsumen adalah melalui internet. Akan tetapi untuk promosi media cetak juga tidak dilupakan
c. Pendekatan konsep menggunakan proses pengolahan denganteknologi canggih yang terjaga kehigienisannya dan dijamin 100% halal.
3.6 Keyword
Burgerman merupakan kafe di Surabaya yang menyajikan burger sebagai produk unggulannya. Dengan didukung lokasi dan suasana yang nyaman tentu akan membuat konsumen merasa betah dan berlama-lama. Mengingat kondisi psikografis masyarakt Surabaya yang butuh akan sedikit refresh pikiran disaat sibuknya aktivitas mereka sehari-hari dan padatnya kendaraan lalu lintas dan jam kerja yang tinggi.
dengan konsep Enjoy. Enjoy dalam bahasa Indonesia artinya “menikmati”. Menikmati - dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah
Menikmati me.nik.mati
[v] (1) merasai (sesuatu yg nikmat atau lezat): kami ~ makan minum; (2) mengecap; mengalami (sesuatu yg menyenangkan atau memuaskan):~hasil kemerdekaan (http:// kamusbahasaindonesia.org/menikmati#ixzz2IXrxV28n)
Konsep yang diangkat pada perancangan branding Burgerman adalah suasana yang enjoy. Enjoy diarahkan bagi masyarakat kota Surabaya tengah. Mengingat Burgerman menempatkan posisi target market/konsumennya pada masyarakat kota Surabaya tengah yang mempunyai potensi tingkat stress hidup yang tinggi.
3.6.1 Perancagan Keyword
Dalam perancangan keyword dilakukan dengan proses yang sangat mendalam dalam analisisnya, dilakukannya brainstorming dengan mengacu pada data-data yang telah dikumpulkan. Baik data tersier, skunder maupun pengamatan secara langsung.
75
1. Proses Perancangan keyword a. Burgerman
Visi : Menyajikan burger dengan daging olahan hand mate untuk menghasilkan sita rasa yang khas dan disajikan dengan suasana yang nyaman.
Misi : Menjadi icon burger di kota Surabaya
Target market : Pria/ Wanita, Usia 18-40 tahun (dewasa muda/ dini)
Budaya : Dinamis, elegant, modern
Kepribadian : Santai, fleksibel, inovasi, nyaman, original Psikis : Gaul, trendy, status sosial
Melihat dari budaya, kepribadian dan psikis yang diangkat oleh Burgerman, dientuitaskan menjadi modern, relax, eksis
b. Masyarakat Kota Surabaya Tengah
Budaya : Aktifitas padat dan sibuk, menghabiskan waktu senggang dengan kegiatan kumpul bersama, hang out, relaksasi, mengikuti trend
Psikis : Keterasingan sosial, perubahan penampilan, meningkatkan daya tarik, penyesuaian terhadap hal baru, reproduktif, komitmen, banyak masalah baru Melihat dari budaya, kepribadian dan psikis yang diangkat oleh masyarakat kota Surabaya, dientuitaskan menjadi individual, butuh tempat relaxaxi, butuh tempat rekreasi yang tidak menhabiskan tenaga, Entertainment, produktif, aktif (Sumber: Elizabeth Hurlock, 1980: 246-314)
Dari budaya, kepribadian, dan psikis yang dimiliki oleh burgerman maka dientuiskan menjadi fashionable dan masyarakat kota Surabaya dientuitaskan menjadi Fresh & Young. Dari kedua Entuitas tersebut di entuiskan lagi menjadi satu kata yaitu Enjoy.
77
Gambar 3.21 Skema Perrancangan Keyword
2. Deskripsi Konsep
3.7 Proses Pencarian Warna
Dari keyword diatas, pencarian warna dengan menggunakan teori shigenobu kobayashi, ditemukan warna-warna yang sesuai dengan keyword adalah golongan warna enjoyable
79
Gambar 3.23 Golongan Warna Terpilih
Pemilihan warna diatas didukung juga dengan teorinya rustan dalam bukunya logo (2009: 73) tentang pemilihan warna. Warna Oranye menyimbolkan gairah, selera makan, kebahagiaan, antusiasme, kesenangan. Selanjutnya warna hijau menyimbolkan masa muda, harmoni, tenang. Selanjutnya warna kuning menyimbolkan bahagia, cerdas, persahabatan.
Gambar 3.24 Warna Terpilih
3.8 Gagasan Perancangan Karya
81
tempat untuk me-fresh kan pikiran didukung suasana yang enjoy dengan segmentasi lebih luas mulai usia 18-40 tahun.
3.9 Konsep Peracangan
2. Draft yang mudah diikuti mata 3. Point of interest
Strategi headline & body copy
1. Penekanan (bold, italic,
83
3.10 Konsep Visual 3.10.1 Konsep Kreatif
Metode perancangan pada Tugas Akhir ini terdiri atas: 1. Tema Pokok Perancangan/Big Idea
Tema pokok dari perancangan adalah enjoy. Yang dimaksud dari tema ini adalah kenyamanan dan menikmati suasana yang ditawarkan dan konsumen dapat menikmati sekaligus merasakan kenikmatan citarasa burger.
2. Pendukung Tema Perancangan
Untuk mendukung tema digunakan gaya desain enjoy. Konsep desain ini mengacu pada strategi desain dasar, dimana layer bidang teks dan gambar diminimalisir sehingga tampak banyak space mengesankan ke enjoy-an suasana. Disamping itu juga menggunakan warna warna dari keyword untuk mewakili warna- warna yang disukai oleh target audience atau masyarakat kota Surabaya tengah.
3. Pemilihan Bentuk Pesan Visual
Pesan visual merupakan salah satu daya tarik dari sebuah iklan atau promosi dan juga menampilkan karakter dari produk yang hendak dipromosikan. Untuk perancangan brand Burgerman, bentuk visual yang dipakai adalah : a. Bentuk pesan visual path yang mengikuti alur pandangan mata dengan
b. Warna untuk konsep ini terdapat 3 warna yaitu warna oranye dengan kalibrasi warna (C:0.04% M:50.7% Y:98.7% K:0%), (R:247 G:147 B:30) kuning dengan kalibrasi warna (C:3.82% M:0.47 Y:80.41% K:0%), (R:252 G:238 B:80) selanjutnya warna hijau muda (C:64.86% M:6.8% Y:81.51% K:0%), (R:99 G:177 B:101).
85
Gambar 3.27 Gradasi Warna
c. Visualisasi yang menggunakan fotografi. Foto yang digunakan adalah produk dari Burgerman dengan gaya still life dimana dapat menggugah selera ingin makan produk tersebut dan foto lokasi yang nyaman di dukung dengan sentuhan vector sebagai pendukung konsep yaitu enjoy.