Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Ilmu Sosial Islam (S.Sos.I)
Oleh:
Fathan Nur Hamidi
NIM: 107051002570
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu
persyaratan memperoleh gelar strata satu di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya saya atau merupakan
hasil jiplakan dari orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta
Jakarta, 5 September 2011
Pluralitas merupakan pengakuan terhadap kondisi keberagaman yang terdapat dalam suatu masyarakat dengan menghormati dan menghargai karakteristik dan perbedaan masing-masing. Gagasan pluralitas ini begitu populer dalam kajian diskusi publik internasional dan disambut baik oleh berbagai pihak, khususnya di Indonesia yang memiliki keberagaman suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Terlebih kondisi bangsa Indonesia akhir-akhir ini tengah dilanda beberapa konflik bernuansa SARA, sehingga gagasan pluralitas ini kian marak didengungkan. Oleh karena itu untuk meredam konflik yang terjadi, sudah seharusnya setiap elemen bangsa memelihara pluralitas tersebut, khususnya media massa dalam hal ini surat kabar
sebagai media informasi dan edukasi. Harian Kompas sebagai surat kabar hendaknya menyajikan
artikel pemberitaan yang mendidik terkait pentingnya memelihara pluralitas.
Dengan demikian, pertanyaannya adalah, Bagaimana peran harian Kompas dalam
memelihara pluralitas di Indonesia? Kemudian bagaimana perilaku, pelaku, kedudukan, dan
kaitan harian Kompas dalam memelihara pluralitas tersebut?
Harian Kompas merupakan surat kabar nasional terbesar di Indonesia yang berperan
sebagai media informasi, dan edukasi, khususnya terkait pentingnya memelihara pluralitas di
Indonesia. Hal ini terlihat dari wujud perilaku yang telah direalisasikan harian Kompas melalui
artikel pemberitaan terkait pluralitas tersebut. Dalam pemberitaannya, harian Kompas
menekankan pentingnya memelihara pluralitas dengan hidup rukun, saling menghormati dan menghargai perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Pemberitaan terkait
pluralitas yang disajikan ini tidak terlepas dari keinginan harian Kompas untuk menjadikan
pluralitas sebagai refrensi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam pemberitaannya,
harian Kompas melibatkan narasumber dari berbagai tokoh yang konsen terhadap isu pluralitas
seperti Komaruddin Hidayat, Moeslim Abdurrahman, Magnis Suseno, Musdah Mulia, Djohan Effendi, Amin Abdullah dan sebagainya.
Teori yang dibangun dalam penelitian ini yaitu mengenai pluralitas. Pluralitas tersebut dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu kelompok mayoritas, dan kelompok minoritas. Kemudian dari kedua kelompok tersebut terdiri atas pluralitas suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Dan dari beberapa elemen tersebut dapat dijabarkan lagi secara lebih detail menjadi pusat dan daerah, pribumi dan pendatang, Islam dan non Islam, sipil dan militer, sekular dan religius, modern dan tradisional, serta laki-laki dan perempuan.
Metodologi penelitian ini yaitu kualitatif deskriptif dengan menjabarkan data-data ke
dalam tulisan yang lebih luas dan mendalam. Kemudian dianalisis dengan teori peran (role
theory) melalui empat pendekatan yang terdiri atas perilaku peran, pelaku peran, kedudukan orang yang berperan, serta kaitan antara orang dan perilaku.
Dari data tersebut, pemberitaan terkait pluralitas yang disajikan harian Kompas sudah
cukup baik. Namun pemberitaan tersebut belum proporsional karena terlalu mengangkat kelompok minoritas yang dikhawatirkan dapat mencederai kelompok mayoritas. Selain itu,
harian Kompas masih sering menyamakan pluralitas dengan pluralisme. Padahal dalam
penerapannya kedua istilah tersebut berbeda, bahkan bertentangan.
Harian Kompas sangat konsen dan menaruh perhatian yang besar terhadap pluralitas di
Indonesia. Hal ini diwujudkan dalam pemberitaan terkait pluralitas dengan intensitas yang cukup
banyak. Harian Kompas mendidik masyarakat untuk terus hidup rukun, saling menghormati, dan
Bismillahirrahmannirrahim
Alhamdulillahirabbil ‘Alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT atas ridha-Nya, akhirnya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini yang
berjudul “Peran Harian Kompas dalam Memelihara Pluralitas di Indonesia”
sebagai persyaratan guna mencapai gelar Sarjana Ilmu Sosial Islam di Fakultas
Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi
Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat, dan semua umatnya. Semoga kelak
kita mendapatkan syafa’atnya di yaumil kiamat.
Penulis sangat menyadari dalam proses penyelesaian skripsi ini banyak
sekali hambatan dan rintangan yang menghadang. Mulai dari persoalan teknis
pengumpulan data, sampai persoalan pribadi yang kerap muncul. Namun pada
akhirnya penulis tetap gigih dan semangat sehingga semua persoalan tersebut
dapat teratasi dengan baik. Hal ini tentu saja atas bantuan dan motivasi dari
berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada:
1. Dosen Pembimbing Skripsi, Prof. Andi Faisal Bakti, MA, PhD yang telah
meluangkan waktu di tengah kesibukannya untuk membimbing dan
memberikan ilmunya serta memotivasi penulis dalam proses penyelesaian
skripsi.
2. Dr. H. Arief Shubhan, MA selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu
Komunikasi beserta stafnya.
3. Drs. Jumroni, M.Si selaku Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran
dan kemudahan lainnya dalam menyelesaikan perkuliahan ini.
5. Dosen Penasehat Akademik, Drs. H. Tarmi, MM yang telah membimbing
kami selama masa perkuliahan berlangsung.
6. Segenap dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang telah
mendidik dan memberikan ilmunya pada masa perkuliahan.
7. Kedua orang tua tercinta Bpk. Wiyono dan Ibu. Sri Hartiningsih, serta
keluarga yang telah memberikan motivasi dan do’a serta pengorbanannya
demi mewujudkan harapan dan cita-cita penulis.
8. Teman-teman perkuliahan Komunikasi Penyiaran Islam angkatan 2007,
khususnya teman-teman kelas 7 KPI B, dan adinda Husnul Khotimah yang
telah berbagi bersama dalam segala hal selama masa perkuliahan dan turut
serta membantu dalam penyelesaian skripsi ini.
9. Pimpinan dan seluruh staf Redaksi Harian Kompas yang telah meluangkan
waktunya dalam memberikan informasi atau data yang berkaitan dengan
penelitian.
Semoga Allah SWT membalas amal kebaikan dan jasa serta segala
dukungan yang telah diberikan kepada penulis dengan balasan yang berlipat
ganda. Penulis berharap semoga penelitian ini bermanfaat untuk semua. Amin.
Jakarta, 20 Agustus 2011
FNH
KATA PENGANTAR………..vi
DAFTAR ISI………..………...…..viii
BAB I PENDAHULUAN……...………....1
A. Latar Belakang Masalah…………...……….1
B. Batasan dan Rumusan Masalah………...………...6
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian……….….7
D. Metodologi Penelitian...………...9
E. Tinjauan Kepustakaan………..………14 F. Sistematika Penulisan………..………...16
BAB II KAJIAN TEORI..………..………….17 A. Peran………..………...17
1. Subjek dan Target………..………...18
2. Perilaku………...19
3. Kedudukan Orang yang Berperilaku………...…….20
4. Kaitan Orang dan Perilaku……….………..21
B. Surat Kabar………..………....22
1. Sejarah Singkat Surat Kabar………..22
2. Fungsi atau Peran Surat Kabar………...25
3. Karakteristik Surat Kabar………...27
C. Pluralisme dan Pluralitas………..………...….27
1. Pengertian Pluralisme dan Pluralitas………..27
2. Sejarah Perkembangan Pluralisme dan Pluralitas………..30 3. Islam, Pluralisme dan Pluralitas……….33
4. Pluralitas di Indonesia………39
BAB III GAMBARAN UMUM PROFIL HARIAN KOMPAS………...…….48
A. Sejarah Berdirinya Harian Kompas…..………....48
B. Visi dan Misi Harian Kompas………..51
1. Visi Harian Kompas………...51
D. Pangsa Pasar Harian Kompas………..……….56
E. Strategi Perusahaan dan Pengembangan Produk……….………57 BAB IV ANALISIS PERAN HARIAN KOMPAS DALAM MEMELIHARA PLURALITAS DI INDONESIA…………..…………..…....………….………59
A. Perilaku Peran………..…………...59
1. Harapan (Expectation)………59
2. Norma (Norm)………..……..62
3. Wujud Perilaku (Performance)……….…….65
4. Penilaian (Evaluation) dan Sanksi (Sanction)………..……..78
B. Pelaku Peran………...……….…….81
1. Subjek (pelaku)………..……81
2. Target (sasaran).……….……83
C. Kedudukan Orang-orang yang Berperilaku……….87
D. Kaitan Orang dan Perilaku……….……..89
BAB V PENUTUP……….95
A. Kesimpulan………...…...95
B. Saran………...……96
DAFTAR PUSTAKA………98
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat luas terbentang dari
Sabang hingga Merauke. Wilayah Indonesia yang luas ini tentu memiliki beragam
suku, agama, ras, maupun golongan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS)
yang dikutip oleh Jawa Pos National Network (JPNN), terdapat 1.128 suku bangsa
di Indonesia.1 Keragaman ini merupakan salah satu realitas utama yang dialami
masyarakat dan kebudayaan Indonesia sejak masa silam. Bahkan lebih-lebih lagi
pada masa kini hingga di waktu-waktu mendatang.2
Keragaman yang biasa disebut kemajemukan adalah sebuah sunnatullah.3
Hukum alam sekaligus keberuntungan yang dimiliki bangsa dan negara ini, dan
tidak banyak dimiliki oleh bangsa dan negara lain. Tak ada sebuah bangsa dan
negara Indonesia jika tidak ada kemajemukan yang penuh dengan kekayaan sosial
budaya yang tak ternilai ini. Oleh karena itu bangsa Indonesia harus menjunjung
tinggi nilai-nilai pluralitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kemunculan gagasan pluralitas tidak terlepas dari sejarah perkembangan
pluralisme. Pluralisme bermula dari masa pergolakan pemikiran modern di Barat.
Ketika itu di Eropa terjadi konflik antara gereja dengan kehidupan nyata di luar
gereja. Hal ini disebabkan oleh tindakan diskriminasi dari gereja terhadap
1
Indonesia Miliki 1.128 Suku Bangsa, diakses pada 02 Juni 2011 dari http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=57455.
2
Azyumardi Azra, Merawat Kemajemukan Merawat Indonesia, (Yogyakarta: Kanisius, 2007), h. 19.
3
beberapa sekte Kristen yang mengakibatkan pertumpahan darah antar etnis dan
sektarian tersebut. Kemudian muncullah gerakan reformasi pemikiran agama atau
liberalisasi agama yang dilancarkan oleh Gereja Kristen pada abad ke-19 dalam
gerakan Liberal Protestantism.4 Dari sinilah awal kemunculan gagasan pluralisme
yang pada awalnya digunakan sebagai landasan umat Kristen untuk berinteraksi
secara toleran dengan agama lain.
Pada masa perkembangannya, muncullah istilah pluralitas yang sering
dikaitkan dengan pluralisme, meskipun kedua kata tersebut masih sering
diperdebatkan maknanya. Adakalanya pluralisme dan pluralitas diartikan sama,
yakni sebuah keadaan yang bersifat plural, jamak, atau banyak.5 Namun
adakalanya pluralisme dan pluralitas diartikan berbeda, yakni pluralisme
merupakan keberagaman yang tampak secara formal pada tataran luar belaka,
tetapi pada tataran esensi atau hakikatnya berupaya untuk diseragamkan.6
Sedangkan pluralitas adalah pengakuan akan eksistensi yang beragam dengan
seluruh karakteristik dan kekhususannya masing-masing.7
Menurut Furnivall, “masyarakat plural” adalah masyarakat yang terdiri
atas dua atau lebih unsur atau tatanan sosial yang hidup berdampingan, tetapi
tidak bercampur dan menyatu dalam satu unit politik tunggal (Furnivall
1944:446). Berdasarkan kerangka sosial-kultural, politik dan pengalaman Eropa,
Furnivall memandang masyarakat-masyarakat plural di Asia Tenggara, khususnya
4
Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis, (Jakarta: Perspektif, 2005), Cet. Ke-1, h.17-18.
5
Umi Sumbulah, Islam “Radikal” Dan Pluralisme Agama: Studi Konstruksi Sosial Aktivis Hizb al-Tahrir dan Majelis Mujahidin di Malang tentang Agama Kristen dan Yahudi, (Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, 2010), h. 48.
6
Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis, (Jakarta: Perspektif, 2005), Cet. Ke-1, h. 142.
7
di Indonesia akan terjerumus ke dalam anarki jika gagal menemukan formula
federasi pluralis yang memadai (Furnivall 1944:468-469).8
Pluralitas sangat bertentangan dengan sinkretisme yang mencampurkan
elemen-elemen yang saling bertentangan. Sinkretisme adalah suatu ideologi yang
mencoba mencampurkan dan merekonsiliasi berbagai unsur yang berbeda-beda
dalam satu wadah tertentu.9 Sehingga semua paham dan keyakinan dianggap
sama. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ideologi ini disebutkan paham
(aliran) baru yang merupakan perpaduan dari beberapa paham (aliran) yang
berbeda untuk mencari keserasian, dan keseimbangan.
Di antara bentuk gerakan sinkretisme adalah Gnosticisme yang
mencampurkan antara filsafat Yunani, agama Yahudi, dan agama Kristen di Eropa
dan Amerika Utara. Ada juga aliran Buddha Mahayana yang merupakan
pencampuran antara ajaran agama Budha dengan Hindu pemuja Dewa Syiwa.
Sinkretisme agama jelas bertentangan dan dilarang oleh semua agama, terlebih
dalam agama Islam.10
Pada masa lalu, nilai-nilai pluralitas atau kemajemukan bangsa Indonesia
dirangkum dalam wawasan nusantara. Konsep wawasan nusantara mampu
menjadi wadah pluralitas yang terdapat dalam masyarakat beragam suku, agama,
ras, dan antargolongan (SARA). Adapun penerapannya dalam bentuk "Sumpah
Pemuda,” dan setelah merdeka lebih dikenal dengan ideologi Pancasila. Pancasila
8
Azyumardi Azra, Merawat Kemajemukan Merawat Indonesia, (Yogyakarta: Kanisius, 2007), h. 10.
9
Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis, (Jakarta: Perspektif, 2005), Cet. Ke-1, h. 90.
10
dengan “Bhineka Tunggal Ika”nya yang merupakan alat pemersatu kemajemukan
masyarakat Indonesia.
Oleh karena itu kemajemukan yang terdapat pada bangsa dan negara ini
harus dipelihara, dirawat, dan dimanfaatkan untuk hari ini dan masa depan bangsa
Indonesia yang lebih baik. Namun untuk memelihara kemajemukan tersebut
tidaklah mudah. Sejak negara ini terbentuk melalui Proklamasi Kemerdekaan 17
Agustus 1945 menunjukkan betapa tidak mudahnya memelihara kemajemukan
yang dimiliki bangsa Indonesia.
Kemajemukan bangsa Indonesia yang awalnya dibangga-banggakan
cenderung mengalami disintegrasi sejak jatuhnya Presiden Soeharto pada tahun
1998 yang kemudian diikuti dengan masa yang disebut “era reformasi.” Krisis
moneter, ekonomi dan politik yang terjadi pada masa itu telah mengakibatkan
terjadinya krisis sosial budaya. Jalinan tenun masyarakat (fabric of society) seolah
tercabik-cabik akibat berbagai krisis yang melanda masyarakat.11
Krisis sosial budaya yang meluas ini dapat terlihat dalam berbagai bentuk
disintegrasi sosial politik yang bersumber dari euforia kebebasan yang nyaris
kebablasan. Hal ini mengakibatkan hilangnya kesabaran sosial dalam menghadapi
kehidupan yang semakin sulit karena terpaan krisis multidimensi yang begitu
dahsyat. Dalam suasana ini masyarakat mudah melakukan kekerasan dan anarkis
serta tidak mematuhi hukum, etika, serta moral yang berlaku. 12
Penyakit-penyakit sosial ini mengakibatkan timbulnya beberapa
benturan-benturan yang mengarah kepada konflik. Beberapa konflik yang pernah terjadi
sedikitnya bernuansa suku, agama, ras, maupun antargolongan tertentu (SARA).
11
Azyumardi Azra, Merawat Kemajemukan Merawat Indonesia, (Yogyakarta: Kanisius, 2007), h. 7.
12
Seperti yang tejadi di Aceh, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah, Ambon,
Poso, Papua, dan sebagainya.
Adapun untuk mengatasi konflik-konflik suku, agama, ras maupun
antargolongan yang akhir-akhir ini terjadi, maka perlu adanya sosialisasi kepada
masyarakat tentang pentingnya memelihara pluralitas di tengah kemajemukan
bangsa. Hal ini betujuan agar terciptanya persatuan Indonesia. Salah satunya
melalui pemanfaatan media massa yang kian marak dewasa ini.
Kehadiran media di era perkembangan teknologi yang begitu pesat dapat
mempermudah upaya penyebaran informasi yang mendidik terkait pentingnya
memelihara pluralitas. Media harus mampu menjadi agen perubahan di
masyarakat untuk selalu menghormati kemajemukan yang tercermin dalam
pluralitas bangsa.
Bukan sebaliknya media bebas memublikasikan sesuatu dengan
mengesampingkan kode etik demi memperoleh keuntungan yang berlipat.
Sehingga media justru menjadi sarana untuk menghancurkan bangsa, bahkan
cenderung provokatif untuk memecah persatuan bangsa.
Media massa yang ingin penulis teliti yaitu surat kabar harian Kompas.
Surat kabar ini merupakan surat kabar nasional yang telah lama terbit dan dikenal
luas oleh masyarakat. Kelebihan lain yang dimiliki oleh harian Kompas juga
paling diminati masyarakat. Hal ini terlihat dari jumlah pembaca yang mencapai
2,25 juta orang di seluruh Indonesia.13 Serta oplah penjualannya yang tinggi sebanyak
600.000 eksemplar per-hari.14 Hal ini dikarenakan isi pemberitannya yang netral
13
FA Santoso, Sejarah, Organisasi, dan Visi Misi Kompas, diakses pada 01 Juli 2011 dari Pusat Informasi Kompas.
14
dan akurat, serta harganya pun terjangkau dikalangan masyarakat kelas menengah
ke atas.
Karena penyebarannya yang secara nasional ini, maka surat kabar ini
sangat berperan aktif dalam setiap pemberitaanya. Khususnya pemberitaan yang
terkait isu pluralitas yang sedang berkembang di tengah masyarakat. Harian
Kompas sangat konsen dalam memberitakan isu terkait pluralitas. Hal ini terlihat
dari cukup banyaknya intensitas pemberitaan terkait pluralitas yang disajikan.
Begitu setiap saat ada kesempatan dan aktual, persoalan ini selalu diangkat.
Bahkan harian Kompas menjadikan pluralitas sebagai referensi dalam mencoba
ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.15
Maka berdasarkan latar belakang pemikiran tersebut, penulis ingin
menyusun suatu proposal penelitian secara ilmiah dengan judul: “Peran Harian
Kompas dalam Memelihara Pluralitas di Indonesia.”
B. Batasan dan Rumusan Masalah
1. Batasan Masalah
Harian Kompas terbit setiap hari dengan berbagai macam
pemberitaan baik berita nasional maupun internasional. Sehingga telah
banyak artikel yang diberitakan oleh surat kabar tersebut. Maka, agar
penelitian ini lebih terarah dan pembahasan tidak terlalu meluas, peneliti
merasa perlu memberikan pembatasan masalah.
Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini yaitu hanya pada
peran harian Kompas dalam memelihara pluralitas di Indonesia. Hal ini
tentu berkaitan dengan pemberitaan terkait pluralitas pada harian Kompas
15
edisi Januari sampai Maret 2011. Kemudian untuk analisisnya dengan
menggunakan teori peran (role theory).
2. Rumusan Masalah
Sedangkan rumusan masalah yang diangkat adalah:
Bagaimana peran harian Kompas dalam memelihara pluralitas di Indonesia
melalui pemberitaan terkait isu pluralitas tersebut?
Adapun pertanyaan turunannya adalah:
a. Bagaimana perilaku atau kegiatan yang dilakukan harian Kompas dalam
perannya memelihara pluralitas di Indonesia?
b. Siapa saja subjek (pelaku) yang ikut berperan dalam memelihara
pluralitas di Indonesia melalui pemberitaan pada harian Kompas
tersebut?
c. Bagaimana kedudukan orang yang berperilaku dalam perannya
memelihara pluralitas di Indonesia melalui pemberitaan pada harian
Kompas tersebut?
d. Bagaimana kaitan antara orang dan perilaku tersebut dalam perannya
memelihara pluralitas di Indonesia melalui pemberitaan pada harian
Kompas?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Tujuan yang diharapkan dapat dicapai dalam penelitian ini adalah:
a. Untuk mengetahui peran harian Kompas dalam memelihara pluralitas
b. Untuk mengetahui perilaku atau kegiatan yang dilakukan harian
Kompas dalam perannya memelihara pluralitas di Indonesia.
c. Untuk mengetahui aktor (pelaku) yang ikut berperan dalam
memelihara pluralitas di Indonesia melalui pemberitaan pada harian
Kompas tersebut.
d. Untuk mengetahui kedudukan orang yang berperilaku dalam perannya
memelihara pluralitas di Indonesia melalui pemberitaan pada harian
Kompas tersebut.
e. Untuk mengetahui kaitan antara orang dan perilaku tersebut dalam
perannya memelihara pluralitas di Indonesia melalui pemberitaan pada
harian Kompas.
2. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Akademis
Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi dalam
perkembangan kajian penelitian komunikasi mengenai media dan
komunikasi massa, serta memberikan pandangan mengenai teori peran
(role theory) untuk mengetahui peran media massa, khususnya surat
kabar dalam setiap pemberitaannya.
b. Manfaat Praktis
Diharapkan menjadi bahan informasi bagi peneliti lain di masa
mendatang dalam melakukan kajian media massa khususnya media
massa cetak (surat kabar) terutama dilihat dari teori peran (role
Menjadi kajian yang cukup menarik bagi praktisi media massa
yang bersifat membangun serta mengembangkan sebuah media massa
sebagai wadah bagi terciptanya keharmonisan masyarakat antar suku,
agama, ras maupun golongan yang ada di Indonesia.
D. Metodologi Penelitian
1. Bingkai Teori
Penelitian ini menggunakan bingkai teori peran (role theory). Teori
peran (role theory) adalah teori yang merupakan perpaduan berbagai teori,
orientasi maupun disiplin ilmu. Selain dari psikologi, teori peran (role
theory) berawal dari dan masih digunakan dalam sosiologi dan
antropologi. Dalam ketiga bidang ilmu tersebut, istilah “peran” diambil
dari dunia teater.16
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teori peran (role
theory) untuk menjelaskan peran harian Kompas dalam memelihara
pluralitas di Indonesia. Hal ini dapat dilihat melalui pemberitaan terkait
pluralitas yang disajikan oleh harian Kompas. Dengan teori peran (role
theory) tersebut juga dapat diketahui subjek (pelaku), perilaku, kedudukan
orang-orang yang berperilaku, dan kaitan antara orang yang berperilaku
dalam perannya memelihara pluralitas di Indonesia. Untuk memudahkan
penelitian ini, maka berikut bagan penelitian yang terdiri atas teori dan
metode penelitian yang digunakan:
16
BAGAN 1.1. METODE DAN TEORI
Sumber: Sarlito Wirawan Sarwono, Teori-teori Psikologi Sosial & Andi Faisal Bakti,
Identity, Culture and Politics an afro-asian dialogue; Communication and Violence: Communicating Human Integrity Characteristics is Necessary for Horizontal Conflict Resolution in Indonesia, diformat oleh Fathan Nur Hamidi: 2011.
Aktor
Subjek (Pelaku)
Target (Sasaran)
Berita Terkait Isu Pluralitas
Pada Harian Kompas
Teori Peran
(Role Theory)
(Biddle & Thomas: 1966)
Perilaku Peran
Expectation (Harapan) Norm (Norma)
Performance (Wujud Perilaku) Evaluation (Penilaian) dan
Sanction (Sanksi)
Teori
Pluralitas
(Bakti: 2008)
Mayoritas
Minoritas
Peran Harian Kompas
Dalam Memelihara Pluralitas
Di Indonesia Kedudukan Orang
yang Berperilaku
Kaitan Antara Orang
dan Perilaku
Agama
Islam - Non Islam
Suku dan Ras
Pusat - Daerah
Pribumi - Pendatang
Antar Golongan
Sipil - Militer
Sekular - Religius
Laki-laki - Perempuan
2. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Metode deskriptif
adalah pencarian fakta keadaan, variabel, dan fenomena-fenomena yang
terjadi. Metode deskriptif merupakan penggambaran, pemahaman,
penamaan, interpretasi, penafsiran, pengembangan dan eksplorasi terhadap
suatu masalah penelitian. Metode ini mempelajari masalah-masalah dalam
masyarakat, serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta
situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan serta pengaruh dari suatu
fenomena.
Dalam penelitian ini, penulis memaparkan peran harian Kompas
dalam memelihara pluralitas di Indonesia dengan menggunakan metode
deskriptif dan teori peran (role theory). Dengan metode deskriptif dan teori
peran (role theory) ini dapat diketahui bagaimana peran harian Kompas
dalam memelihara pluralitas di Indonesia melalui pemberitaan yang
disajikan terkait dengan isu pluralitas tersebut.
3. Pendekatan
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan
kualitatif adalah penelitian yang tidak berdasarkan pada prosedur statistik,
melainkan pada nilai dan kualitas. Untuk menilai kualitas objek, maka
digunakan wawancara kepada pihak Kompas, pengamatan, atau melalui
dokumen, naskah, buku, dan lain-lain. Pendekatan kualitatif menghasilkan
data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari sesuatu yang dapat
diamati. Pendekatan kualitatif dalam pelaksanaannya lebih dilakukan pada
Dalam penelitian ini pendekatan kualitatif digunakan untuk
menemukan peran media dalam memelihara pluralitas di Indonesia
melalui teori peran (role theory). Dengan pendekatan kualitatif melalui
wawancara kepada pihak harian Kompas, pengamatan, buku, dan naskah
pemberitaan terkait pluralitas yang disajikan pada harian Kompas dapat
menghasilkan data-data deskriptif berupa kata-kata tertulis
4. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian di rumah, kampus, dan kantor harian Kompas
yang beralamat di Jl. Palmerah Selatan 26-28 Jakarta 10270. Alasan
penulis memilih lokasi tersebut karena dapat mempermudah penulis dalam
memperoleh data penelitian. Di antaranya melalui wawancara kepada
redaksi harian Kompas, pengamatan, dan melalui buku, serta teks
pemberitaan terkait pluralitas pada surat kabar tersebut. Sedangkan waktu
penelitian dimulai dari bulan Maret 2011 sampai Juli 2011.
5. Subjek dan Objek Penelitian
Subjek yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah surat kabar
nasional yaitu harian Kompas. Sedangkan objek penelitiannya adalah
peran media tersebut dalam memelihara pluralitas di Indonesia, yang
dalam hal ini melalui pemberitaan terkait pluralitas pada surat kabar
tersebut.
6. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data, penulis melakukan pengumpulan data
a. Wawancara
Penulis melakukan wawancara langsung dengan redaksi dan
wartawan harian Kompas yang berkaitan dengan pemberitaan terkait
isu pluralitas dan peran harian Kompas dalam memelihara pluralitas
di Indonesia. Wawancara dilakukan di kantor harian Kompas.
b. Observasi
Teknik observasi yang dilakukan penulis yaitu dengan
mengamati tim redaksi harian Kompas dalam memelihara pluralitas di
Indonesia. Dalam hal ini yaitu melalui pemberitaan terkait isu
pluralitas tersebut pada harian Kompas.
c. Dokumentasi
Dokumentasi adalah teknis yang digunakan untuk melengkapi
data yang diperoleh dari hasil wawancara, yaitu mengumpulkan
buku-buku, makalah, artikel, bulletin, majalah dan dokumen tertulis lainnya
yang berkaitan dengan objek penelitian.
7. Teknik Pengolahan Data
Adapun teknik pengolahan data dengan menggunakan penjelasan
metode deskriptif, yaitu masalah yang dibahas dideskripsikan dengan
menggunakan dokumen-dokumen yang telah didapatkan. Setelah data-data
tersebut terkumpul, maka data tersebut disajikan dan diolah dengan cara
menghubungkan antara satu data dengan data yang lainnya dengan
8. Teknik Analisis Data
Analisis data pada penelitian ini merupakan proses penyederhanaan
data ke dalam bentuk yang mudah dibaca. Setelah itu peneliti berusaha
menganalisa data dengan menyusun ke dalam tulisan yang lebih luas.
Analisis data kualitatif fokusnya pada penunjukan makna, deskripsi,
penjernihan dan penempatan data pada konteksnya masing-masing, dan
sering kali melukiskannya di dalam kata-kata daripada angka-angka. 17
Dalam penelitian ini, penulis akan memaparkan analisis data
dengan menggunakan teori peran (role theory). Analisis data yang
disajikan berasal dari dokumen-dokumen pemberitaan, wawancara, buku
dan sebagainya. Kemudian data tersebut dituangkan ke dalam tulisan
secara luas dan detail yang mencakup perilaku peran, pelaku peran,
kedudukan orang-orang yang berperilaku, dan kaitan antara orang-orang
yang berperilaku. Sehingga dapat diketahui secara komprehensif peran
harian Kompas dalam memelihara pluralitas di Indonesia.
E. Tinjauan Kepustakaan
Sebelum melakukan penelitian, penulis telah melakukan tinjauan pustaka
di Perpustakaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi dan Perpustakaan
Utama UIN Jakarta terhadap penelitian terdahulu yang mempunyai judul, subjek,
objek penelitian yang hampir sama dengan penelitian yang akan diteliti oleh
penulis. Hal ini dimaksudkan agar dapat diketahui bahwa penelitian yang akan
penulis teliti tidak sama dengan penelitian terdahulu. Berikut ini beberapa
penelitian yang berhubungan dengan penelitian yang penulis teliti, yaitu:
17
1. Skripsi dengan judul “Peran Wahid Institut dalam Mengampanyekan Pemikiran Islam, Pluralisme, dan Demokrasi di Indonesia” karya M. Jazuli,
mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Jakarta pada tahun
2008. Dalam skripsi ini penulis meneliti tentang peran suatu lembaga yakni
Wahid Institut dalam mengampanyekan Islam, pluralisme, dan demokrasi di
Indonesia. Adapun teori yang digunakan dalam skripsi ini yaitu teori peran
(role theory) yang digunakan dalam analisis data untuk menemukan peran
Wahid Institut dalam mengampanyekan Islam, pluralisme, dan demokrasi di
Indonesia.
2. Skripsi dengan judul “Peran Media Dalam Sosialisasi Pluralisme
Keberagamaan (Analisis Wacana Majalah Syir’ah)” karya Fathuri, mahasiswa
jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Jakarta pada tahun 2006.
Dalam skripsi ini penulis meneliti tentang peran media dalam sosialisasi
pluralisme keberagamaan yakni majalah Syir’ah. Adapun teori yang
digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan analisis wacana
untuk menemukan peran majalah Syir’ah dalam sosialisasi pluralisme
keberagamaan.
Dari beberapa penelitian terdahulu tersebut memiliki perbedaan dengan
penelitian yang akan penulis teliti. Dalam penelitian ini, penulis akan meneliti
tentang peran media dalam memelihara pluralitas dengan menggunakan analisis
teori peran (role theory) untuk menemukan peran media yang dalam hal ini harian
F. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah dalam penyusunan penelitian ini menjadi skripsi,
penulis akan memberikan sistematika sesuai pedoman penulisan skripsi yang
berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai berikut:
Bab 1 berisi pendahuluan. Dalam bab ini penulis menguraikan antara lain
tentang latar belakang masalah yang menjadi landasan dalam melakukan
penelitian ini, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat
penelitian, metodologi penelitian, tinjauan pustaka, serta sistematika penulisan.
Kemudian dilanjutkan bab II yang membahas mengenai kajian teori. Dalam
bab ini penulis memaparkan tentang definisi dan ruang lingkup peran, surat kabar,
serta pluralisme dan pluralitas.
Selanjutnya disusul bab III yang menjelaskan tentang gambaran umum
profil harian Kompas. Dalam bab ini penulis memaparkan tentang sejarah
berdirinya harian Kompas, visi dan misi harian Kompas, stuktur organisasi harian
Kompas, pangsa pasar harian Kompas, serta strategi perusahaan dan
pengembangan produk.
Setelah itu dilanjutkan bab IV yang memaparkan analisis tentang peran
harian Kompas dalam memelihara pluralitas di Indonesia. Dalam bab ini penulis
menguraikan analisis data yang telah dikumpulkan antara lain tentang perilaku
peran, pelaku peran, kedudukan orang-orang yang berperilaku, dan kaitan antara
orang yang berperilaku.
Kemudian diakhiri bab V sebagai penutup. Dalam bab ini penulis
menguraikan antara lain kesimpulan hasil penelitian dan saran kepada media
A. Peran
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, peran berarti perangkat tingkah
laku yang diharapkan dan dimiliki oleh orang yang berkedudukan di masyarakat.1
Pada dasarnya peran tidak bisa dipisahkan dengan status kedudukan, walaupun
kedudukannya berbeda, akan tetapi saling berhubungan erat antara satu dengan
yang lainnya ibarat dua sisi mata uang yang berbeda.2 Dengan kata lain, seseorang
dapat dikatakan berperan apabila mampu memainkan perannya dengan baik sesuai
dengan statusnya di masyarakat.
Sedangkan Gross, Mason, dan A.W McEachern, sebagaimana dikutip oleh
David Berry, mendefinisikan peran yaitu sebagai berikut:
“Peran berfungsi sebagai seperangkat harapan-harapan yang dikenakan pada individu yang menempati kedudukan sosial tertentu. Menurutnya pula bahwa harapan-harapan tersebut merupakan imbangan-imbangan dari norma-norma sosial. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa peranan-peranan itu ditentukan oleh norma-norma di dalam masyarakat, maksudnya; kita diwajibkan untuk melakukan hal-hal yang diharapkan oleh “masyarakat” di dalam pekerjaan kita, di dalam keluarga dan di
dalam peranan-peranan lainnya.”3
Dari penjelasan-penjelasan di atas, dapat dikatakan seseorang berperan
apabila telah memiliki status di masyarakat. Di dalam status tersebut terdapat
tugas-tugas yang sebelumnya disusun berdasarkan harapan-harapannya, namun
1
Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008), h. 1051.
2
Sarlito Wirawan Sarwono, Teori Psikologi Sosial, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), Cet. Ke-8, h. 214.
3
harus sesuai dengan harapan masyarakat. Sehingga, apabila dalam tugas-tugasnya
yang semula disesuaikan dengan harapan orang atau lembaga yang berperan
kemudian tidak sesuai harapan masyarakat, maka dapat dikatakan belum berhasil.
Dalam teorinya, Biddle dan Thomas seperti dikutip Sarlito W Sarwono
membagi peristilahan teori peran dalam empat golongan, yaitu:
1. Orang yang mengambil bagian dalam interaksi sosial.
2. Perilaku yang muncul dalam interaksi tersebut.
3. Kedudukan orang-orang yang berperilaku.
4. Kaitan antara orang dan perilaku.4
Jadi peran adalah seperangkat tindakan atau perbuatan atau pekerjaan yang
dilakukan oleh seseorang yang berkedudukan di masyarakat dalam suatu peristiwa
atau keadaan yang sedang terjadi untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Berikut ini
hal-hal yang terkait dengan peran:
1. Subjek dan Target
Orang-orang yang mengambil bagian dalam interaksi sosial dapat
dibagi dalam 2 (dua) golongan sebagai berikut:
a. Subjek (pelaku); yaitu orang yang sedang berperilaku menuruti suatu
peran tertentu.
b. Target (sasaran); yaitu orang yang mempunyai hubungan dengan aktor
dan perilakunya.5
Aktor maupun target dapat berupa individu maupun kelompok
yang saling berhubungan. Secord dan Backman menyatakan bahwa aktor
4
Sarlito Wirawan Sarwono, Teori-teori Psikologi Sosial, (Jakarta: Rajawali Pers, 1984), h. 234.
5
menempati posisi pusat (focal position), sedangkan target menempati posisi
padanan dari posisi pusat tersebut (counter position).6 Dengan demikian
aktor dan target merupakan partner dalam melakukan suatu peran.
2. Perilaku
Menurut Biddle dan Thomas ada lima istilah tentang perilaku
dalam kaitannya dengan peran:
a. Expectation (harapan); adalah harapan-harapan orang pada umumnya
tentang perilaku-perilaku yang pantas ditunjukkan oleh seorang yang
mempunyai peran tertentu.
b. Norm (norma); adalah salah satu bentuk harapan yang menyertai suatu
peran dan merupakan suatu tuntutan peran (role demand). Tuntutan
peran melalui proses internalisasi dapat menjadi norma bagi peran yang
bersangkutan.
c. Performance (wujud perilaku); adalah perwujudan perilaku secara
nyata dalam suatu peran oleh aktor kepada target sasaran.
d. Evaluation (penilaian) dan sanction (sanksi); adalah segala sesuatu
yang didasarkan pada harapan masyarakat tentang norma. Berdasarkan
norma tersebut, orang memberikan penilaian berupa kesan positif atau
negatif terhadap suatu perilaku. Sedangkan sanksi adalah usaha orang
untuk mempertahankan nilai positif agar perwujudan perilaku dalam
peran diubah sedemikian rupa sesuai dengan harapan dan norma di
masyarakat.7
6
Sarlito Wirawan Sarwono, Teori-teori Psikologi Sosial, h. 235. 7
Dengan demikian expectation (harapan), norm (norma),
performance (wujud perilaku), evaluation (penilaian) dan sanction (sanksi)
saling berkaitan dalam perilaku peran. Harapan dan norma merupakan
segala sesuatu yang berisi harapan atau keinginan masyarakat tentang
perilaku yang menyertai suatu peran. Kemudian muncullah wujud perilaku
sebagai realisasi dari harapan dan norma tersebut. Sehingga timbullah
penilaian dan sanksi terhadap perilaku yang telah diwujudkan tersebut.
3. Kedudukan Orang yang Berperilaku
Secord & Backman dan Biddle & Thomas memberikan definisi
yang saling melengkapi tentang kedudukan (posisi). Dari ke-dua definisi
mereka dapat disimpulkan bahwa kedudukan adalah sekumpulan orang
yang secara bersama-sama diakui perbedaannya dari kelompok-kelompok
yang lain berdasarkan sifat-sifat yang mereka miliki bersama, perilaku yang
sama-sama mereka perbuat, dan reaksi orang-orang lain terhadap mereka
bersama.
Dengan demikian ada 3 (tiga) faktor yang mendasari penempatan
seseorang dalam posisi tertentu. Pertama, sifat-sifat yag dimiliki bersama
seperti jenis kelamin, suku bangsa, usia, atau ketiga sifat itu sekaligus.
Semakin banyak sifat yang dijadikan dasar kategori kedudukan, maka
semakin sedikit orang yang dapat ditempatkan dalam kedudukan itu.8 Ke
dua adalah perilaku yang sama seperti penjahat, olahragawan, pemimpin,
dan sebagainya. Ke tiga adalah reaksi orang lain terhadap mereka.
8
4. Kaitan antara Orang dan Perilaku
Biddle dan Thomas mengemukakan bahwa kaitan (hubungan) yang
dapat dibuktikan ada atau tidak adanya dan dapat diperkirakan kekuatannya
adalah kaitan antara orang dengan perilaku dan perilaku dengan perilaku.
Kaitan antara orang dengan orang dalam teori peran ini tidak banyak
dibicarakan.9 Kriteria untuk menetapkankan kaitan-kaitan tersebut adalah
sebagai berikut:
a. Derajat kesamaan atau ketidak samaan antara bagian-bagian yang saling
berkaitan tersebut. Derajat kesamaan memiliki kriteria yang disebut
konsesus yang berarti kaitan antara perilaku-perilaku yang berupa
kesepakatan mengenai suatu hal tertentu. Contoh: semua orang setuju
bahwa ayah harus mengayomi anak-anaknya. Sedangkan derajat
ketidaksamaan disebut disensus. Ada 2 (dua) disensus menurut Biddle
dan Thomas. Pertama, disensus yang tidak terpolarisasi, yaitu ada
beberapa pendapat yang berbeda-beda. Contoh: ada beberapa murid
yang berpendapat wali kelas mereka terlalu disiplin, dan ada yang
menilai wali kelas tersebut kurang sabar, dan sebagainya. Kedua,
disensus yang terpolarisasi, yaitu ada dua pendapat yang saling
bertentangan. Contoh: sebagian murid di kelas itu menilai wali kelasnya
negatif karena terlalu ketat, sedangkan sebagian murid yang lain
menilai wali kelasnya positif karena disiplin.
b. Derajat saling menentukan atau saling ketergantungan antara
bagian-bagian tersebut. Di sini suatu hubungan orang-perilaku akan
9
memengaruhi, menyebabkan atau menghambat hubungan
orang-perilaku yang lain. Misalnya orang-perilaku ayah akan memengaruhi orang-perilaku
anak.
c. Gabungan antara derajat kesamaan dan saling ketergantungan. Hal ini
terdiri atas konformitas, penyesuaian, dan kecermatan. Konformitas
(conformity) adalah kesesuaian antara perilaku seseorang dengan
perilaku orang-orang lain, atau perilaku seseorang dengan harapan
orang lain tentang perilakunya. Sedangkan penyesuaian (adjustment)
adalah perbedaan perilaku seseorang dengan yang diharapkan orang
lain, sehingga butuh penyesuaian perilakunya sesuai dengan harapan
orang lain. Kemudian kecermatan (accuracy) yaitu ketepatan
penggambaran suatu peran. Deskripsi peran yang cermat adalah
deskripsi yang sesuai dengan harapan-harapan peran itu, dan sesuai
dengan perilaku nyata yang ditunjukkan oleh orang yang memegang
peran itu.10
B. Surat Kabar
1. Sejarah Singkat Surat Kabar
Surat kabar merupakan media massa tertua dibandingkan dengan
jenis media massa lain. Surat kabar mengandung isi yang sangat beragam
berupa editorial, berita, saran, komik, opini, teka-teki silang, iklan, dan
data. Surat kabar sangatlah penting bagi kehidupan manusia dan sebagai
medium yang terus beradaptasi dengan gaya hidup yang selalu berubah.11
Keberadaan surat kabar dimulai sejak ditemukannya mesin cetak oleh
10
Sarlito Wirawan Sarwono, Teori-teori Psikologi Sosial, h. 246-251. 11
Johann Guternberg di Jerman. Surat kabar pertama yang diterbitkan di
Bremen Jerman pada tahun 1609. Kemudian pada tahun 1620 terbit surat
kabar di Frankfrut, Berlin, Humberg, Vienna, Amsterdam, dan Antwerp.12
Kemudian di Inggris terbit surat kabar pertama pada tahun 1621.
Dan secara resmi terbit surat kabar Oxford Gazette pada tahun 1665 yang
kemudian berubah namanya menjadi London Gazette. Sedangkan surat
kabar harian yang pertama terbit adalah Daily Courant.13
Selanjutnya surat kabar harian yang pertama di Amerika Serikat
adalah Pennsylvania Evening Post dan Daily Advertiser yang terbit pada
tahun 1783.14 Kemudian pada tahun 1833 terbit surat kabar New York Sun
yang menandai era surat kabar sebagai media massa karena harganya yang
murah. Pada akhir abad 19, surat kabar di Amerika mengalami kejayaan
karena surat kabar menjadi arena bisnis dan gencar melakukan promosinya.
Keberadaan surat kabar terus berkembang hingga ke Indonesia
yang dimulai sejak zaman Belanda. Pada tahun 1828 di Jakarta diterbitkan
Javasche Courant. Pada tahun 1835 di Surabaya terbit Soerabajasch
Advertentiebland yang kemudian diganti namanya menjadi Soerabajasch
Niews en Advertentiebland. Kemudian pada tahun 1885 di seluruh daerah
yang dikuasai Belanda terdapat 16 surat kabar berbahasa Belanda, dan 12
surat kabar berbahasa Melayu di antaranya adalah Bintang Barat,
Hindia-Nederland, Dinihari, Bintang Djohar (Bogor), Selompret Melayu dan
12
Elvinaro Ardianto, dkk, Komunikasi Massa: Suatu Pengantar, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2007), h. 105.
13
Elvinaro Ardianto, dkk, Komunikasi Massa: Suatu Pengantar, h. 105. 14
Tjahaja Moelia, Pemberitaan Bahroe (Surabaya) dan surat kabar berbahasa
Jawa Bromartini yang terbit di Solo.15
Ketika zaman Jepang, surat kabar yang ada di Indonesia diambil
alih dan disatukan. Hal ini bertujuan untuk memperketat pengawasan
terhadap isi surat kabar. Kantor berita Antara pun diambil alih yang
kemudian diteruskan oleh kantor berita Yashima. Surat kabar pada saat itu
digunakan sebagai alat propaganda pemerintah dan tentara Jepang.
Pada masa awal kemerdekaan, Indonesia pun melakukan
perlawanan dengan menerbitkan surat kabar Berita Indonesia yang
diprakarsai oleh Eddie Soeraedi. Surat kabar ini digunakan sebagai
propaganda bangsa Indonesia untuk melakukan perlawanan kepada Jepang.
Akibatnya Berita Indonesia berulang kali dibredel, dan selama
pembredelan para tenaga redaksinya ditampung oleh surat kabar Merdeka.
Surat kabar perjuangan lainnya adalah Harian Rakyat, Soeara Indonesia,
Soeara Merdeka, Kedaulatan Rakjat, dan Demokrasi.16
Kemudian pada zaman orde lama, persyaratan mendapat Surat Izin
Terbit (SIT) diperketat. Hal ini dimanfaatkan Partai Komunis Indonesia
(PKI) dengan memengaruhi karyawan surat kabar untuk mogok kerja
secara halus. Hal ini mengakibatkan banyaknya kolom surat kabar yang
tidak terisi dengan berita, melainkan diisi iklan gratis sebagaimana yang
dialami Soerabaja Post dan harian Pedoman di Jakarta.
Selanjutnya ketika zaman Orde Baru, pers tumbuh bebas tidak
seperti zaman orde lama. Namun surat kabar yang nakal memberitakan
15
Elvinaro Ardianto, dkk, Komunikasi Massa: Suatu Pengantar, h. 107. 16
kejelekan pemerintah pada saat itu, diberi ganjaran berupa pencabutan
Surat Izin Terbit dan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), seperti
Sinar Harapan, Detik, dan Tempo.
Pada zaman reformasi mengalirnya kebebasan pers yang ditandai
dengan tumbuh suburnya media massa. Ketika itu pemerintah memberikan
kemudahan memperoleh SIUPP. Kemudian pada masa pasca reformasi,
SIUPP dihapuskan. Akibatnya jumlah penerbitan pers di Indonesia
meningkat drastis mencapai 1800-2000 penerbit.17
2. Fungsi atau Peran Surat Kabar
Media massa adalah institusi yang berperan sebagai agen
perubahan sosial. Dalam menjalankan paradigmanya tersebut, media massa
berperan sebagai media informasi, edukasi, hiburan, dan persuasif.18 Dari
empat fungsi atau peran media massa (informasi, edukasi, hiburan, dan
persuasif), peran yang paling utama pada surat kabar adalah sebagai
pemberi informasi.19 Hal ini sesuai dengan sebagian besar rubrik surat
kabar terdiri atas berbagai jenis berita.
Peran surat kabar sebagai media informasi, yaitu surat kabar setiap
saat menyampaikan informasi kepada masyarakat dalam periode terbit
tertentu. Dengan informasi yang terbuka, jujur, dan benar disampaikan oleh
surat kabar kepada masyarakat, maka masyarakat akan menjadi masyarakat
yang informatif yang terbuka dan kaya dengan informasi. Melalui surat
kabar memungkinkan informasi dari institusi publik tersampaikan kepada
17
Elvinaro Ardianto, dkk, Komunikasi Massa: Suatu Pengantar, h. 110. 18
Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007), h. 85.
19
masyarakat secara luas dalam waktu cepat sehingga fungsi informatif
tercapai dalam waktu singkat dan cepat.20
Namun demikian, peran surat kabar sebagai hiburan juga tidak
dapat terabaikan, walaupun dalam skala yang rendah dibanding media
massa lain. Hiburan pada surat kabar tersedia dalam rubrik artikel ringan,
feature, rubrik cerita bergambar atau komik. Fungsi media massa sebagai
penghibur bertujuan untuk mengurangi ketegangan pikiran khalayak agar
segar kembali.21
Begitu pun dengan fungsi atau peran mendidik pada surat kabar
akan ditemukan pada artikel ilmiah, tajuk rencana, dan rubrik opini. Media
sebagai institusi pencerahan masyarakat berperan sebagai media edukasi.
Media massa menjadi media yang setiap saat mendidik masyarakat supaya
cerdas, terbuka pikirannya, dan menjadi masyarakat yang maju.22
Fungsi utama dari komunikasi massa melalui media massa dalam
hal ini surat kabar adalah melakukan guiding dan pendidikan sosial kepada
seluruh masyarakat. Media massa bertugas untuk memberikan
pencerahan-pencerahan kepada masyarakat di mana komunikasi massa itu berlangsung.
Komunikasi massa dimaksudkan agar proses pencerahan itu berlangsung
efektif dan efisien dan menyebar secara bersamaan di masyarakat luas.23
Kemudian fungsi memengaruhi pada surat kabar secara implisit
terdapat dalam tajuk rencana, feature, iklan, artikel, dan sebagainya.
20
Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007), h. 80-85.
21
Elvinaro Ardianto, dkk, Komunikasi Massa: Suatu Pengantar, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2007), h. 17.
22
Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007), h. 85.
23
Khalayak atau pembaca dapat terpengaruh oleh segala sesuatu yang
ditayangkan dalam surat kabar. Selanjutnya surat kabar pada
perkembangannya juga berperan sebagai alat kontrol sosial yang
konstruktif.24
3. Karakteristik Surat Kabar
Surat kabar sebagai media massa memiliki beberapa karakteristik.
Pertama, publisitas yaitu penyebarannya pada publik di berbagai tempat.
Hal ini agar berita-berita yang dicetak penting untuk diketahui publik dan
menarik bagi khalayak luas. Ke dua, periodesitas yang menunjuk pada
keteraturan terbitnya seperti harian, mingguan, dan sebagainya. Ke tiga,
universalitas yang menunjuk pada isi beritanya yang beragam meliputi
seluruh aspek kehidupan, seperti sosial, politik, ekonomi, budaya, agama,
dan sebagainya. Ke empat, aktualitas beritanya yang menunjuk pada
kekinian atau berita terbaru. Dan yang ke lima, beritanya selalu
terdokumentasikan setiap terbit.25
C. Pluralisme dan Pluralitas
1. Pengertian Pluralisme dan Pluralitas
Istilah pluralisme memiliki pengertian yang beragam, bahkan
saling bertolak belakang di berbagai kalangan. Sehingga masih sering
diperdebatkan dan menimbulkan salah faham karena masih mengandung
pengertian yang kabur, meskipun istilah ini begitu populer dan banyak
disambut baik secara luas.
24
Elvinaro Ardianto, dkk, Komunikasi Massa: Suatu Pengantar, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2007), h. 112.
25
Secara etimologis kata pluralisme berasal dari bahasa Inggris dari
dua kata yaitu plural dan isme. Plural berarti jamak atau banyak.26 Dan
isme berarti ide atau faham. Pluralisme dalam kamus bahasa Inggris
mempunyai tiga pengertian. Pertama, pengertian kegerejaan yaitu orang
yang memegang lebih dari satu jabatan dalam struktur kegerejaan,
memegang satu atau lebih secara bersamaan baik bersifat kegerejaan
maupun non kegerejaan.
Ke-dua, pengertian filosofis berarti sistem pemikiran yang
mengakui adanya landasan pemikiran mendasar yang lebih dari satu.
Sedangkan yang ke-tiga, pengertian sosio-politis ialah suatu sistem yang
mengakui koeksistensi keanekaragaman kelompok baik yang bercorak ras,
suku, aliran maupun partai dengan tetap menjunjung tinggi aspek-aspek
perbedaan yang sangat karakteristik di antara kelompok-kelompok
tersebut.27
Maka dari ketiga pengertian tersebut dapat disederhanakan dalam
satu makna pluralisme yaitu, koeksistensinya sebagai kelompok atau
keyakinan di satu waktu dengan tetap terpeliharanya perbedaan-perbedaan
dan karakteristik masing-masing.28 Dari pengertian ini dapat juga dipahami
bahwa pluralisme adalah paham yang menyadari suatu kenyataan tentang
adanya kemajemukan, keragaman sekaligus memberikan penghormatan
26John M. Echols dan Hassan Shadily, (ed), “
Plural,” Kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 2002) Cet. Ke-26, h. 435.
27 Lihat “Pluralism” dalam
The Shorter Oxford English Dictionary on Historical Principles, revised and edited by C.T. Onions (Oxford: The Calendron Press, 1952).
28
dan saling toleransi terhadap perbedaan tersebut dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara.
Sedangkan pluralitas dapat berarti keanekaragaman, sehingga
pluralitas merupakan kondisi objek dalam suatu masyarakat yang terdapat
sejumlah grup saling berbeda, baik strata ekonomi, ideologi, keimanan
maupun latar belakang etnis.
Namun dari segi konteks “pluralisme” khususnya pluralisme agama sering digunakan dalam studi-studi dan wacana-wacana diskusi pada
saat ini telah menunjukkan definisi yang berbeda dari definisi
etimologisnya. Berikut berbagai definisi pluralisme dari beberapa tokoh:
John Hick menegaskan bahwa:
“Pluralisme agama adalah suatu gagasan bahwa agama-agama
besar dunia merupakan persepsi dan konsepsi yang berbeda tentang, dan secara bertepatan merupakan respons yang beragam terhadap Yang Real atau Yang Maha Agung dari dalam pranata kultural manusia yang bervariasi; dan bahwa transformasi wujud manusia dari pemusatan-diri menuju pemusatan-Hakikat terjadi secara nyata dalam setiap masing-masing pranata kultural manusia tersebut, dan terjadi sejauh yang dapat diamati, sampai pada batas yang sama.”29
Nurcholis Madjid berpendapat bahwa:
“Pluralisme agama adalah semua agama adalah jalan kebenaran
menuju Tuhan.”30 Dia menyatakan bahwa keragaman agama tidak
hanya sekadar realitas sosial, tetapi keragaman agama justru menunjukkan bahwa kebenaran memang beragam. Tidak ada seseorang pun yang berhak memonopoli kebenaran Tuhan karena hal ini akan menjadi bibit permusuhan terhadap agama lain.
29
Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis, (Jakarta: Perspektif, 2005), Cet. Ke-1, h. 15.
30
Saat ini, pluralisme menjadi polemik di Indonesia karena
perbedaan mendasar antara pluralisme dengan pengertian awalnya, yaitu:
a. Pluralisme diliputi semangat religius, bukan hanya sosial kultural.
b. Pluralisme digunakan sabagai alasan pencampuran antara ajaran agama.
c. Pluralisme digunakan sebagai alasan untuk mengubah ajaran suatu
agama agar sesuai dengan ajaran agama lain.31
Dari berbagai bahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
pluralisme merupakan ideologi yang menyuarakan toleransi dalam
keberagaman tanpa batas dengan jalan menghilangkan perbedaan tersebut
dan berupaya menyeragamkan atau menyamakannya. Sedangkan pluralitas
merupakan sebuah pemahaman berbeda sekaligus dalam arti kemajemukan,
menjalani kehidupan bersama dalam kesadaran akan sikap saling
menghargai dan menghormati serta memahami berbagai perbedaan dan
karakteristik masing-masing baik suku, agama, ras, dan antargolongan.
2. Sejarah Perkembangan Pluralisme dan Pluralitas
Gagasan pluralisme agama muncul pada masa pencerahan
(Enlightenment) di Eropa pada abad ke-18 Masehi. Masa ini sering disebut
sebagai titik permulaan bangkitnya gerakan pemikiran modern yang
berorientasi pada superioritas akal dari belenggu agama.32 Di tengah hiruk
pikuk konflik yang terjadi antara gereja dan kehidupan nyata di luar gereja,
kemudian muncul suatu paham liberalisme yang unsurnya terdiri atas
kebebasan, toleransi, persamaan dan keragaman atau pluralisme.
31
Imam Subkhan, Hiruk Pikuk Wacana Pluralisme Di Yogya, (Yogyakarta: Kanisius, 2007), h. 28.
32
Kemudian gagasan pluralisme agama itu sendiri muncul dalam
kemasan “pluralisme politik” yang merupakan produk dari “liberalisme
politik”. Jelas, “liberalisme” merupakan respons politis terhadap kondisi
sosial masyarakat Kristen Eropa yang plural. 33 Maka dapat disimpulkan
bahwa gagasan pluralisme agama sebenarnya merupakan upaya umat
Kristen untuk berinteraksi dan hidup secara toleran dengan agama lain.
Pada abad ke-20 gagasan pluralisme tersebut berkembang ke
seluruh dunia. Tokoh pemula yang mengedepankan gagasan ini adalah
seorang teolog Kristen Liberal Ernst Troeltsch (1865-1923). Troeltsch
mengemukakan pendapatnya mengenai pluralisme agama yaitu:
“Bahwa dalam semua agama, termasuk Kristen, selalu mengandung elemen kebenaran mutlak, dan konsep ketuhanan di
muka bumi ini tidak hanya satu, melainkan beragam.”34
Selama dua dekade terakhir abad ke-20, gagasan pluralisme agama
telah berkembang pesat dalam pemikiran teologi modern. John Hick telah
merekonstruksi landasan teoritis pluralisme agama sehingga menjadi
sebuah teori yang baku dan populer yang sangat kental melekat dengan
namanya. Seperti dalam bukunya An Interpretation of Religion: Human
Responses to the Transcendent yang diangkat dari serial kuliahnya, yaitu
Gifford Lecture pada tahun 1986-1987.35
Namun gagasan pluralisme yang muncul akibat dari gerakan
”Protestantism” ini ditolak oleh kalangan Kristen Katolik yang tetap
berpegang teguh pada doktrin “extra eccelesiam nulla salus” (di luar gereja
33
Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis, h. 17-18. 34
Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis, h. 18. 35
tidak ada keselamatan).36 Meskipun gagasan pluralisme agama ini muncul
dalam masyarakat Kristen, tetapi pada dasarnya pemikiran ini juga
ditemukan dalam faham-faham humanisme sekular pada gerakan Hindu
Brahma Samaj, Masyarakat Teosofi, dan pemikiran kebenaran abadi.
Jika ditelusuri lebih jauh, sebenarnya gagasan pluralisme
sebenarnya bukan hanya dominasi pemikiran Barat, namun juga
mempunyai akar yang cukup kuat dalam pemikiran agama Timur,
khususnya dari India. Cikal bakal pluralisme agama lebih dahulu muncul di
India pada abad ke-15 dalam gagasan kabir (1440-1518) dan muridnya
yaitu Guru Nanak (1469-1538) yang merupakan pendiri agama
“Sikhisme”.37
Rammohan Ray (1772-1833) pencetus gerakan Brahma
Samaj yang semula pemeluk agama Hindu mencetuskan pemikiran Tuhan
Satu dan persamaan antar agama.38
Sri Ramakrishna (1834-1886) telah mengarungi pengembaraan
spiritual dari Hindu ke Islam dan Kristen serta kembali lagi ke Hindu. Dia
menyatakan perbedaan dalam setiap agama tidaklah berarti, karena pada
hakikatnya semua agama sama mengantarkan kepada satu tujuan yang
sama. Kemudian gagasan ini berkembang dan diterima di dunia Barat
khususnya. Menyusul kemudian tokoh-tokoh India lain seperti Mahatma
Gandhi (1869-1948) dan Sarvepalli Radhakrishnan (1888-1975) yang juga
menyuarakan gagasan pluralisme agama yang sama.
Ada perbedaan yang cukup menonjol antara gagasan pluralisme
agama yang muncul pada abad pra-modern dan pada abad modern di India.
36
Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis, h. 20. 37
Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis, h. 20. 38
Pada masa pra-modern, pluralisme tersebut ditandai dengan munculnya
agama baru “Sikhisme” yang merupakan perpaduan antara Hindu dan
Islam. Sedangkan pada masa modern, pluralisme tersebut mencetuskan
gagasan pluralisme agama yang lebih bercorak Hindu.39
Kemudian juga terdapat perbedaan mendasar antara gagasan
pluralisme agama yang dicetuskan oleh teolog-teolog India dengan yang
dicetuskan oleh Barat, khususnya Eropa. Gagasan pluralisme agama India
lebih memiliki akar teologisnya, karena kerangka dasarnya bersumber dari
ajaran kitab suci Hindu, seperti saling dimilikinya kebenaran oleh
jalan-jalan yang mengantarkan kepada Tuhan. Sedangkan di Barat gagasan ini
lebih merupakan produk filsafat atheisme modern yang muncul pada
pencerahan Eropa.40
3. Islam, Pluralisme dan Pluralitas
Dalam pemikiran Islam, pluralisme masih merupakan hal baru dan
tidak mempunyai akar ideologis atau bahkan teologis yang kuat. Gagasan
pluralisme, khususnya pluralisme agama yang muncul lebih merupakan
pemikiran baru yang ditimbulkan oleh proses penetrasi kultural Barat
modern dalam dunia Islam. Pendapat ini diperkuat oleh fakta bahwa
gagasan pluralisme agama dalam Islam baru muncul pada masa-masa pasca
perang Dunia Kedua.
Anis Malik Thoha mengatakan:
“Terminologi pluralisme tidaklah dikenal secara populer di
kalangan Islam, kecuali sejak abad ke-20 yang lalu. Yaitu ketika Barat berupaya menyebarkan ideologi modernnya yang dianggap universal, seperti demokrasi, pluralisme, HAM, dan pasar bebas
39
Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis, h. 22. 40
untuk berbagai kepentingannya. Atas dasar superioritas ras dan kultur Barat terus meremehkan dan menghina segala sesuatu yang bukan Barat, khususnya Islam dengan tuduhan intoleran,
fundamentalis, anti demokrasi, dan sebagainya.”41
Lebih lanjut Anis mengatakan bahwa:
“Dalam Al-Qur’an maupun Sunnah serta kitab-kitab klasik karya
para ulama tidak ada terminologi pluralisme agama secara verbal. Namun dalam pandangan para ulama Islam lebih membahas pluralitas agama dalam berinteraksi sosial dalam keragaman suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Teori-teori pluralis memberikan solusi teologis epistemologis, sedangkan Islam
memberikan solusi praktis sosiologis.”42
Masalah kehidupan bersama antar agama dalam masyarakat Islam
merupakan masalah sosial yang sangat penting sekaligus sensitif. Islam
memberikan aturan-aturan terhadap masalah ini yang bersumber dari
Al-Qur’an dan Sunnah. Dasar-dasar teoritis ini meliputi Tauhid, pluralitas
adalah sunnatullah, kebebasan beragama, dan pluralitas mengandaikan
frame of reference.43
a. Tauhid
Sentralitas Tauhid dalam Islam terhadap gagasan pluralisme agama
sangat jelas bagaimana Islam melihat hakikat Tuhan, wahyu, manusia,
dan masyarakat. Keempat hakikat ini berkaitan dengan hakikat agama
lain, karena akan menentukan posisi agama lain dalam Islam.44 Dalam
Tauhid ini hakikat ketuhanan hanya dimiliki Allah swt, sebagaimana
al-Qur’an menegaskan hakikat ini dengan sangat jelas.
41
Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis, h. 181. 42
Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis, h. 183. 43
Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis, h. 184. 44
Anis mengatakan:
“Hakikat wahyu dalam Tauhid yaitu manusia dapat mengenal Allah swt dengan adanya wahyu yang merupakan rahmat kepada seluruh umat manusia. Wahyu dan kenabian merupakan hal umum dan universal yang diturunkan Allah kepada setiap umat atau golongan sebagai petunjuk keimanan dan penyelamat mereka dari
kesesatan.”45
Selanjutnya hakikat manusia dalam Tauhid adalah sama di hadapan
Allah swt. Mereka diciptakan sebagai khalifah di muka bumi dengan
menyembah Allah swt. Islam menyatakan fitrah manusia ketika
dilahirkan ke dunia, tanpa membawa dosa keturunan. Dengan konsep
“agama fitrah” Islam telah meletakkan landasan universal yang lebih
kuat dan luas bagi humanisme yang sebenarnya bagi seluruh umat
manusia dengan berbagai latar belakang agama, dan sebagainya.
Kemudian Tauhid dan hakikat masyarakat meliputi seperangkat
sistem, aturan, hukum, etika, dan nilai yang sistematis saling melengkapi
untuk mengatur kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, dalam
perspektif Tauhid, masyarakat merupakan ekspresi riil sosiologis bagi
teori, kepercayaan, atau mazhab.46 Hal ini berarti Islam menginginkan
agar kehidupan Islam merambah ke segala aspek kehidupan, baik sosial,
ekonomi, politik, dan sebagainya.
Islam memandang seluruh manusia, Muslim dan non-Muslim yang
hidup berdampingan di masyarakat Islami sebagai “ummah wahidah”
(umat yang satu) seperti yang tertuang dalam “Piagam Madinah”.47
Semua ini menunjukkan bahwa non-Muslim menikmati otonomi dalam
45
Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis, h. 190. 46
Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis, h. 203. 47
masyarakat Islami. Islam telah meletakkan dasar dan prinsip toleran dan
kebebasan agama yang bel