PENENTUAN ANGKA LEMPENG TOTAL PADA AIR SUNGAI
BELAWAN
TUGAS AKHIR
OLEH:
FAUZIYAH AMIN NAIBAHO NIM 122410003
PROGRAM STUDI DIPLOMA III
ANALIS FARMASI DAN MAKANAN
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan kemudahan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan Tugas Akhir yang berjudul “Penetapan Angka Lempeng Total Pada Air Sungai Belawan ” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar ahli madya pada program studi Diploma III Analis Farmasi dan Makanan di Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.
Dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini ternyata tidaklah semudah yang dibayangkan. Namun, berkat dorongan, semangat dan dukungan dari berbagai pihak merupakan kekuatan yang sangat besar hingga akhirnya terselesaikan Tugas Akhir ini. Terutama, dorongan dari kedua orang tua penulis yang telah membesarkan penulis dengan sepenuh hati, juga dalam mendidik penulis dengan penuh kasih sayang serta doa yang tiada henti – hentinya kepada penulis tanpa terkecuali kepada Kakak, abang dan adik dalam memberikan motivasi sampai penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini juga tidak pernah berhenti untuk menempuh cita - cita yang diharapkan.
Pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada:
2. Ibu Prof. Dr. Julia Reveny, M.Si., Apt, selaku Wakil Dekan I Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Prof. Dr. Jansen Silalahi, M.App.Sc., Apt., selaku Ketua Program Studi Diploma III Analis Farmasi dan Makanan di Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.
4. Ibu Dra. Erly Sitompul, M.Si., Apt, selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk memberikan nasehat dan bimbingan hingga selesainya tugas akhir ini.
5. Seluruh dosen/staf Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.
6. Seluruh staf dan pegawai Laboratorium Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi Instalasi Pengolahan Air (IPA) Sunggal yang telah membimbing penulis saat Praktek Kerja Lapangan di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi Instalasi Pengolahan Air Sunggal (IPA).
7. Sahabat-sahabat penulis yang memberikan semangat, motivasi, tempat untuk bertukar fikiran dan dukungan dalam suka dan duka dalam menyelesaikan tugas akhir.
8. Seluruh teman-teman kuliah angkatan 2012 semuanya tanpa terkecuali adik – adik stambuk 2013 dan 2014 yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, namun tidak mengurangi arti keberadaan mereka.
menyumbangkan masukan dan kritikan demi kesempurnaan Tugas Akhir ini dan untuk menambah pengetahuan penulis dalam membuat tulisan – tulisan dimasa yang akan datang.
Akhir kata penulis berharap semoga Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri maupun yang memerlukannya. Amin
Medan, April 2015 Penulis
Penentuan Angka Lempeng Total Pada Air Sungai Belawan Abstrak
Air merupakan sumber daya alam sangat penting dan mutlak diperlukan semua makhluk hidup, baik manusia, hewan dan tumbuhan. Air juga unsur utama dalam tumbuhan, tubuh hewan dan tubuh manusia.Air sungai merupakan jenis air permukaan dimana air ini mendapat derajat pengotoran yang sangat tinggi,
Sampel air sungai belawan yang digunakan dilakukan pemeriksaan dengan metode analisis angka lempeng total bakteri (viabel count) sehingga didapat tingkat pencemaran air sungai yang tinggi, didapat jumlah Angka lempeng total sebesar 900 cfu/ml pada pengenceran 10-1, pH 7,2 dan kekeruhan sebanyak 106 NTU.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492/ Menkes/Per/IV/ 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum bahwa air minum tidak boleh mengandung bakteri patogen, memiliki kekeruhan < 5NTU sehingga untuk air sungai belawan diperlukan pengolahan lebih lanjut agar air tersebut dapat digunakan sebagai air minum seperti melalui proses fisika yaitu penyaringan, pengedapan, melalui proses kimiawi seperti koagulasi, flokulasi, desinfeksi untuk membunuh mikroorganisme, melalui pengolahan khusus untuk menghilangkan rasa dan bau, menghilangkan besi dan mangan.
Metode pengolahan yang dilakukan di PDAM Tirtanadi Sunggal ialah dengan penyaringan kasar dan halus unutk memisahkan sampah – sampah yang terdapat di air sungai kemudian dilakukan pemberian pree chlorination dilakukan pengendapan berdasarkan daya gravitasi sehingga air akan terpisah dengan lumpur–lumpur. Air tersebut dipompa kedalam clearator untuk dilakukan proses flokulasi dan koagulasi kemudian dilakukan penyaringan. Air yang melalui filter dilakukan penambahan post chlotination di dalam reservoir.
2.4.1 Metode Pengolahan Fisik ... 7
2.4.2 Metode Pengolahan Kimia ... 9
2.4.3 Metode Pengolahan Khusus ... 12
2.5 Pencemaran Air ... 12
2.6 Golongan Air ... 13
2.7 Persyaratan Air Bersih ... 14
2.7.1 Persyaratan Air Secara fisik ... 14
2.7.2 Persyaratan Air Secara Kimia ... 15
2.7.3 Persyaratan Air Secara Biologi ... 16
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 21
4.1 Hasil ... 21
4.2 Pembahasan ... 21
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 22
5.1 Kesimpulan ... 22
5.2 Saran ... 22 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Gambar Sampel ... 24 2. Diagram Alir ... 25 3.. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492 Menkes/ per/ IV/ 2010
Penentuan Angka Lempeng Total Pada Air Sungai Belawan Abstrak
Air merupakan sumber daya alam sangat penting dan mutlak diperlukan semua makhluk hidup, baik manusia, hewan dan tumbuhan. Air juga unsur utama dalam tumbuhan, tubuh hewan dan tubuh manusia.Air sungai merupakan jenis air permukaan dimana air ini mendapat derajat pengotoran yang sangat tinggi,
Sampel air sungai belawan yang digunakan dilakukan pemeriksaan dengan metode analisis angka lempeng total bakteri (viabel count) sehingga didapat tingkat pencemaran air sungai yang tinggi, didapat jumlah Angka lempeng total sebesar 900 cfu/ml pada pengenceran 10-1, pH 7,2 dan kekeruhan sebanyak 106 NTU.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492/ Menkes/Per/IV/ 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum bahwa air minum tidak boleh mengandung bakteri patogen, memiliki kekeruhan < 5NTU sehingga untuk air sungai belawan diperlukan pengolahan lebih lanjut agar air tersebut dapat digunakan sebagai air minum seperti melalui proses fisika yaitu penyaringan, pengedapan, melalui proses kimiawi seperti koagulasi, flokulasi, desinfeksi untuk membunuh mikroorganisme, melalui pengolahan khusus untuk menghilangkan rasa dan bau, menghilangkan besi dan mangan.
Metode pengolahan yang dilakukan di PDAM Tirtanadi Sunggal ialah dengan penyaringan kasar dan halus unutk memisahkan sampah – sampah yang terdapat di air sungai kemudian dilakukan pemberian pree chlorination dilakukan pengendapan berdasarkan daya gravitasi sehingga air akan terpisah dengan lumpur–lumpur. Air tersebut dipompa kedalam clearator untuk dilakukan proses flokulasi dan koagulasi kemudian dilakukan penyaringan. Air yang melalui filter dilakukan penambahan post chlotination di dalam reservoir.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Air merupakan kebutuhan yang sangat pokok bagi kehidupan. Semua makhluk hidup memerlukan air tanpa air tidak ada kehidupan. Kebutuhan air menyangkut dua hal: (1) air untuk kehidupan kita sebagai makhluk hayati, (2) air untuk kehidupan kita dalam berbudaya (Mahida, 1984).
Air juga termasuk alat untuk mengangkut zat dari bagian tubuh yang satu kebagian lain, misalnya darah sebagian besar terdiri dari air, mengalir keseluruh bagian tubuh dan membawa oksigen yang terikat pada sel darah merah kesemua sel dalam tubuh. Air juga diperlukan untuk mengatur suhu tubuh (Mahida, 1984).
1.2 Tujuan Dan Manfaat 1.2.1 Tujuan
Untuk mengetahui sejauh mana tingkat pencemaran pada air sungai belawan yang bertujuan untuk penangangan dan pemberian zat–zat yang dapat menghilangkan pencemaran tersebut supaya air yang akan didistribusikan memenuhi persyaratan secara mikrobiologi.
1.2.2 Manfaat
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Air
Air merupakan kebutuhan yang sangat pokok bagi kehidupan. Semua makhluk hidup memerlukan air tanpa air tidak ada kehidupan. Kebutuhan air menyangkut dua hal: (1) air untuk kehidupan kita sebagai makhluk hayati, (2) air untuk kehidupan kita dalam berbudaya (Mahida, 1984).
Air sebagai sumber daya alam sangat penting dan mutlak diperlukan semua makhluk hidup, baik manusia, hewan dan tumbuhan. Air merupakan unsur utama dalam tumbuhan, tubuh hewan dan tubuh manusia. Air digunakan manusia untuk berbagai keperluan rumah tangga, pertanian, perikanan, industri, sumber energi, sarana transportasi dan tempat rekresi (Manik, 2009).
Rumus kimia dari air adalah merupakan perpaduan dua atom H (hidrogen) dan satu atom O (oksigen) dengan formula atau rumus molekul H2O. Air yang berada
dialam ditemukan dengan wujud padat, cair, dan gas. Pada tekanan atmosfer (76 cm-Hg) dan didinginkan sampai 0 . Dalam keadaan normal (murni), air bersifat netral
dan dapat melarutkan berbagai zat. Air akan pecah menjadi unsur H dan O pada suhu 2500 (Manik, 2009).
mengalami polusi dan tidak dapat diminum ialah air yang mengalami pencemaran oleh mikroorganisme atau zat–zat kimia (Peleczar, 1988).
Perairan alamiah dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Air atmosfer, air yang terkandung dalam awan dan dipresipitasikan sebagai hujan, salju atau hujan batu es
2. Kumpulan air seperti danau, kali dan laut
3. Air dibawah permukaan tanah di daerah yang semula pori tanahnya serta ruang didalam dan diantara batu–batunya jenuh dengan air (Irianto, 2006).
2.2 Sumber Air 2.2.1 Air Permukaan
Air yang mengalir di permukaan bumi akan membentuk air permukaan. Air ini, mendapat pengotoran selama pengalirannya. Pengotorannya seperti lumpur, batang– batang kayu, daun–daun, kotoran industri dan sebagainya. Pengotoran terjadi secara fisik, kimia dan bakteriologi (biologi) sehingga menyebabkan kualitas air permukaan menjadi berbeda–beda (Waluyo,2009).
Air permukaan sangat mudah terkena pencemaran air sehingga untuk menghilangkan kontaminan air tersebut diberi perlakuan atau di didihkan sebelum diminum (Peleczar, 1988).
berwarna yang disebabkan oleh zat–zat organik yang telah membusuk. Pembusukan dapat menyebabkan kadar Fe dan Mn semakin tinggi demikian pula kelarutan oksigen menjadi sangat berkurang sampai mencapai keadaan anaerob (Waluyo,2009).
Air danau atau air tawar biasanya ditumbuhi alga pada permukaannya. Pengambilan air rawa sebaiknya pada kedalaman yang tengah agar endapan Fe dan Mn tidak terbawa demikian juga dengan alga dan lumut yang ada di permukaan (Waluyo,2009).
2.2.2 Air Tanah
Air tanah secara umum terbagi menjadi 1. Air tanah dangkal
Air tanah dangkal terjadi akibat proses penyerapan air dari permukaan tanah. Lumpur dan bakteri akan tertahan sehingga air tanah dangkal terlihat jernih tetapi banyak mengandung zat–zat kimia (garam–garam terlarut) karena melalui lapisan tanah yang memiliki unsur-unsur kimia tertentu untuk masing-masing lapis tanah. Air tanah dangkal memiliki kedalaman sampai 15 meter.
2. Air tanah dalam
3. Mata air
Air yang berasal dari sumur atau mata air telah mengalami penyaringan selama perjalanannya menembus lapisan–lapisan tanah sehingga partikel– partikel yang tersuspensikan didalamnya termasuk mikroorganisme tersingkirkan (Peleczar, 1988).
Mata air adalah air tanah yang keluar dengan sendirinya kepermukaan tanah. Air yang berasal dari mata air hampir tidak dipengaruh oleh musim dan memiliki kualitas yang sama dengan air tanah dalam. Berdasarkan munculnya kepermukaan tanah dibagi menjadi:
- Rembesan, dimana air keluar dari lereng – lereng
- Umbul, dimana air keluar kepermukaan pada suatu dataran (Waluyo,2009). 2.2.3 Air Atmosfir (Air Hujan)
Air atmosfir dalam keadaan murni sangat bersih tetapi sering terjadi pengotoran karena industri, debu dan lain sebagainya. Oleh karena itu, untuk menjadikan air hujan sebagai sumber air minum hendaknya pada waktu menampung air hujan jangan dimulai pada saat mulai turun karena masih banyak mengandung kotoran (Waluyo,2009).
2.2.4 Air Laut
Air laut mempunyai sifat asin, karena mengandung berbagai garam, misalnya NaCl. Garam NaCl memiliki kadar dalam air laut lebih kurang 3 %. Air laut tanpa diolah terlebih dahulu tidak memenuhi syarat untuk air minum (Waluyo,2009).
2.3 Klasifikasi Mutu Air
Klafisikasi mutu air dibagi menjadi empat (4) kelas, yaitu:
a) Kelas satu, yaitu air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
b) Kelas dua, yaitu air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, mengairi pertanaman, dan peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut,
c) Kelas tiga, yaitu air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, mengairi pertanaman, dan peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
2.4 Pengolahan Air
2.4.1 Metode Pengolahan Fisik 1. Penyaringan
Penyaringan digunakan untuk memastikan bahwa satuan utama dalam suatu instalasi pengolahan bekerja lebih efisien, maka diperlukan pembuangan sampah-sampah besar yang mengambang dan terapung., misalnya batang-batang kayu. Saringan kasar dari batang-batang yang berjarak kira-kira 0,75 hingga 2 inci (20 hingga 50 mm), sedangkan saringan mikro (atau ayakan mikro) dibuat dalam bentuk suatu drum yang ditutup dengan saringan jala halus yang ditunjang oleh suatu jala kasar sebagai penguat. Lubang saringan bervariasi kira-kira 23 hingga 65 mikron.
2. Aerasi
Aerasi adalah suatu bentuk perpindahan gas dan dipergunakan dalam berbagai variasi operasi, yaitu: tambahan oksigen untuk mengoksidasi besi dan mangan terlarut, pembuangan karbondioksida, pembuangan hidrogen sulfida untuk menghilangkan bau dan rasa dan pembuangan minyak uang mudah menguap dan bahan-bahan penyebab bau dan rasa.
3. Pencampuran
4. Flokulasi
Bahan-bahan pengental kimia apabila ditambahkan ke air yang mengandung kekeruhan, akan terbentuk kumpulan partikel yang turun mengendap (koagulasi). Pembuangan kumpulan partikel pada awalnya sangat kecil, pengadukan cepat harus di ikuti dengan suatu jangka waktu pengadukan halus (flokulasi) selama 20 – 30 menit. Hal ini akan menyebabkan bertumbukannya kumpulan-kumpulan partikel kecil yang akan membentuk partikel-partikel yang lebih besar dan jumlahnya lebih sedikit. Berhubung dengan kerapatannya, partikel-partikel besar ini dapat dibuang dengan pengendapan gaya berat.
5. Pengendapan
Laju pengendapan suatu partikel di dalam air tergantung pada kekentalan dan kerapatan air maupun ukuran, bentuk, dan jenis partikel yang bersangkutan. Pemurnian air dengan cara pengendapan dimaksudkan untuk menciptakan suatu kondisi sedemikian rupa, sehingga bahan-bahan terapung di dalam air dapat diendapkan.
6. Filtrasi
2.4.2 Metode Pengolahan Kimiawi 1. Koagulasi
Bahan-bahan padat terapung yang berukuran halus atau koloidal di dalam air dapat dihilangkan dengan menggunakan bahan-bahan kimia agar dapat terapung dengan lebih sempurna. Koagulan bereaksi dengan air dan partikel-partikel yang membuat keruh untuk membentuk endapan flokulan. Koagulan yang paling sering digunakan adalah alum [Al2(SO4)3.18H2O], yang bereaksi dengan alkalinitas di dalam
air untuk membentuk suatu kumpulan Aluminum Hidroksida (Linsley dan Joseph, 1985).
Prosedur yang digunakan dalam pemurnian buatan meliputi koagulasi sedimentasi, penyaringan dan penggunaan bahan kimia seperti klor, ozon, dan iodium. Langkah pertama ialah membuang bahan yang melayang didalamnya dengan penambahan tawas (Aluminium Kalium Sulfat). Tawas membentuk endapan seperti, gelatin yang mengendapan pelan–pelan dengan membawa benda–benda partikel dan sejumlah besar mikroorganisme (Volk,w dan Margaret, F.W. 1989).
2. Disinfeksi
Disinfeksi bermaksud membunuh bakteri patogen yang penyebarannya melalui air, seperti bakteri penyebab typhus, kolera, disentri, dan lain-lain. Metode tersebut merupakan salah satu cara untuk membunuh bakteri patogen, karena ada 3 cara yaitu:
- Cara kimia, yaitu dengan cara penambahan bahan kimia
- Cara fisika, yaitu dengan pemanasan dengan air, sinar ultraviolet
- Cara mekanis, yaitu dengan pengendapan (bakteri berkurang 25 – 75%).
Klor memiliki beberapa kualitas yang mendukung penggunaannya dalam persediaan air. Keunggulan klor adalah senyawa bakterisida yang sangat efektif bahkan bila digunakan dalam konsentrasi 1 ppm. Disamping itu klor juga cukup stabil (tanpa adanya bahan organik yang berkelebihan) dan cukup murah (Volk,w dan Margaret, F.W. 1989).
Ozon merupakan suatu senyawa pengoksidasian yang kuat, juga desinfektan air yang efektif, tetapi mahal. Ozon mempunyai kelebihan terhadap klor karena menghilangkan rasa yang tidak dikehendaki, tetapi harganya membatasi penggunaan yang praktis pada saat ini. Selain itu ozon tidak mempunyai efek anti mikroorganisme yang terus – menerus seperti klor (Volk,w dan Margaret, F.W. 1989).
Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan cara yang akan dipilih, yaitu:
- Daya (kekuatan) dalam membunuh mikroorganisme patogen, misalnya bakteri, virus, protozoa, dan cacing
- Kemampuan dalam memproduksi residu yang akan berfungsi sebagai pelindung kualitas air pada sistem distribusi
- Kualitas estetika (warna, rasa, bau) dari air yang didesinfeksi - Teknologi pengadaan dan penggunaan yang tersedia
- Faktor ekonomi (Waluyo, 2009). 2.4.3 Metode Pengolahan Khusus
1. Menghilangkan Rasa dan Bau
Rasa dan bau disebabkan oleh gas-gas terlarut, zat-zat organik hidup, zat-zat organik yang membusuk, limbah industri dan klorin, baik sebagai residu atau dalam gabungan dengan fenol atau bahan-bahan organik yang membusuk. Aerasi, adsorpsi, dan oksidasi adalah beberapa metode yang telah dipergunakan untuk menghilangkan rasa dan bau
2. Menghilangkan Besi dan Mangan
Metode yang digunakan untuk menghilangkan besi dan mangan, penambahan bahan-bahan kimia dan pengendapan serta filtrasi, filtrasi melalui zeolit mangan, dan pertukaran ion, namun metode yang paling banyak digunakan untuk menghilangkan besi dan mangan adalah metode oksidasi dan presipitasi (Linsley dan Joseph, 1985).
2.5 Pencemaran Air
pencemaran. Air dari mata air dipegunungan apabila lokasi pengambilan yang berbeda akan menghasikan keadaan normal yang berbeda pula. Air yang ada dibumi ini tidak pernah terdapat dalam keadaan murni bersih tetapi selalu ada senyawa atau mineral (unsur) lain yang terlarut didalamnya. Hal ini tidak berarti bahwa semua air dimuka bumi ini tercemar.
Air hujan mengandung SO4, Cl, NH3, CO2, N2, C, O2 dan debu
Air dari mata air mengandung Na, Mg, Ca, Fe, O2 (Wardhana, 1995).
Pencemaran didalam air diklasifikasikan menjadi: 1. Ionik dan terlarut
2. Non ionik dan tak terlarut 3. Gas –gas
Pencemaran tersebut digolongkan menjadi dua golongan tergantung pada positif dan negatif. Pencemaran non ionik dan tak larut sering kategorikan menurut ukurannya dan sebagai terapung jika mereka mengendap atau sebagai koloidal jika tak dapat mengendap. Warna dan bahan dapat diklasifikasikan baik sebagai ionik dan terlarut maupun sebagai non ionik terlarut maupun sebagai non ionik tak terlarut tergantung pada sifat molekulnya (Linsley, R dan Joseph B, 1979).
2.6 Golongan Air
150-200 liter atau 35-40 galon. Kebutuhan air tersebut bervariasi dan bergantung pada keadaan iklim, standar kehidupan, dan kebiasaan masyarakat (Chandra, 2007).
Air secara bakteriologis dapat dibagi menjadi beberapa golongan berdasarkan jumlah bakteri koliform yang terkandung dalam 100 cc sampel air/MPN. Golongan– golongan air tersebut, antara lain:
1. Air tanpa pengotoran, mata air (artesis) bebas dari kontaminasi bakteri koliform dan patogen atau zat kimia beracun
2. Air yang sudah mengalami proses desinfeksi, MPN< 50/100 cc 3. Air dengan penjernihan lengkap, MPN < 5000/ 100 cc
4. Air dengan penjernihan tidak lengkap, MPN < 5000/100 cc
5. Air dengan penjernihan khusus, MPN > 250000/100 cc (Chandra, 2011).
2.7 Persyaratan Air Bersih
Semakin sulitnya tempat dan sumber air, semakin tinggi nilai pencemarannya, dan semakin tinggi biaya untuk pengolahan dan pemurnian air tersebut. Oleh karena itu, nilai air yang memenuhi syarat untuk kepentingan kehidupan ditentukan berdasarkan syarat fisik, persyaratan kimia dan persyaratan biologis dari WHO, APPHA (American Public Health Association) Amerika Serikat, atau Departemen Kesehatan RI (Suriawiria, 2005).
2.7.1 Persyaratan Air Secara Fisik
halus dari mana pun asalnya yang ada didalam air. Kekeruhan biasanya disebabkan oleh lempeng, partikel- partikel tanah dan pencemaran–pencemaran koloidal lainnya (Linsley, R dan Joseph B, 1979).
Warna. Air yang mengandung warna diakibatkan oleh jenis- jenis tertentu dari bahan organik yang terlarut dan koloidal yang terbilas dari tanah atau tumbuh– tumbuhan yang membusuk. Warna terjadi karena pencemaran terlarut (Linsley, R dan Joseph B, 1979).
Rasa dan Bau disebabkan oleh adanya bahan organik yang membusuk atau bahan kimia yang mudah menguap. Air minum secara praktis dari warna, rasa dan bau (Linsley, R dan Joseph B, 1979).
Suhu air merupakan hal yang penting jika dikaitkan dengan tujuan penggunaannya. Pengolahan untuk membuang bahan–bahan pencemar serta pengangkutan sumber airnya. Suhu air tanah akan bervariasi menurut kedalaman dan ciri – ciri akifer yang menjadi sumber air itu. Suhu air permukaan dari suatu waduk yang dalam bervariasi juga menurut kedalamannya (Linsley, R dan Joseph B, 1979). 2.7.2 Persyaratan Air Secara Kimia
yang banyak mengakibatkan pembusukan biologis dari bahan–bahan organik. Adanya karbon dioksida merupakan hal yang penting karena mempengaruhi pH air, menimbulkan karat bagi sistem perpipaan dan mempengaruhi kebutuhan dosis bila dipergunakan pengolahan kimia (Linsley, R dan Joseph B, 1979).
2.7.3 Persyaratan Air Secara Biologis
Mikroorganisme nonpatogen secara relatif tidak berbahaya bagi kesehatan, namun dalam jumlah berlebihan mikroorganisme nonpatogen dapat mempengaruhi rasa dan bau sehingga dapat menyulitkan pengelolaan air (Ryadi, 1984).
Air yang berasal dari sumur biasa, sumur pompa, sumber mata air didalamnya terdiri dari berbagai bakteri: kelompok bakteri besi (misalnya Crenothrix dan Sphaerotilus) yang mampu mengoksidasi senyawa ferro menjadi ferri akibatnya air
apabila disimpan lama menjadi warna kehitam-hitaman dan kecokelat-cokelatan, (Suriawiria, 1993).
BAB III
METODE PENGUJIAN
3.1 Tempat
Pengujian pengaruh pemberian klorin terhadap pertumbuhan mikroba pada air baku dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara pada tanggal 20 Februari 2015 .
3.2 Sampel, Alat, dan Bahan 3.2.1 Sampel
Sampel yang digunakan berupa air sungai Belawan. 3.2.2 Alat
Alat-alat yang digunakan adalah autoklaf, beaker glass, cawan petri, erlenmeyer, kapas, kertas perkamen, laminar air flow, oven, pipet inokulum, rak tabung reaksi , dan tabung reaksi.
3.2.3Bahan
3.3 Pembuatan Media 3.3.1 Pembuatan Media PCA
Komposisi: PCA 2,35 g Aquadest 100 ml
Timbang PCA sebanyak 2,35 g dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 100 ml. Dilarutkan dengan 100 ml aquades, lalu di homogenkan. Dipanaskan sambil diaduk hingga larutan mendidih dan terlarut sempurna. Ditutup dengan aluminium foil. Disterilisasi dengan autoklaf pada suhu 121 oC selama 20 menit.
3.3.2Pembuatan Media NaCl 9%
Komposisi: Natrium klorida 9 g Air suling 100 ml
Natrium klorida ditimbang sebanyak 0,9 g lalu dilarutkan dengan air suling steril sedikit demi sedikit dalam erlenmeyer 100 ml sampai larut sempurna, disterilkan di autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit (Sonnenwirth, 1980).
3.4 Prosedur 3.4.1 Sterilisasi Alat
3.4.2 Pengenceran
Disetrilkan seluruh alat dan bahan yang digunakan. Dilakukan pengenceran 10-1 menggunakan media pengencer NaCl. Diisi tabung reaksi 10-1 menggunakan media NaCl sebanyak 9 ml tutup menggunakan pendopol. Disterilkan media tersebut didalam autoklaf selama 15 menit pada suhu 1210C diamkan sampai dingin kemudian dipipet 1 ml sampel air sungai belawan masukkan kedalam pengenceran 10-1 lalu homogenkan. Kemudian pipet 0,1 ml dari pengenceran 10-1 masukkan kedalam 10-1 lalu dihomogenkan.
3.4.3 Pengujian sampel
Persiapan dan homogenisasi dilakukan dan dibuat tingkat pengenceran menggunakan larutan pengencer NaCl. Sebanyak 1 ml dipipet dari pengenceran 10-1 ke dalam cawan petri steril kemudian tuangkan 15 ml media PCA yang masih cair dengan suhu (45±1) ke dalam masing-masing cawan petri. Goyangkan cawan petri dengan hati-hati (putar dan goyang ke depan, ke belakang, ke kanan dan ke kiri) sehingga contoh pembenihan tercampur merata dan memadat. Biarkan sampai campuran dalam cawan petri memadat. Masukkan semua cawan petri dengan posisi terbalik ke dalam inkubator pada suhu 37 selama 24 jam. Jika memungkinkan
inkubasi dilakukan dalam udara yang diperkaya dengan CO2 dalam suatu jar anaerob.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Analisa
Dari hasil pengujian yang dilakukan menggunakan sampel air sungai belawan didapat angka lempeng total sebanyak 900 cfu/ml.
4.2 Pembahasan
Sampel yang digunakan dalam pengujian ialah air sungai belawan yang telah melalui proses penyaringan dari sampah dan akan masuk kekawasan PDAM Tirtanadi Sunggal mempunyai pH 7.2 dan kekeruhan 106 NTU. Jumlah angka lempeng total pada pengenceran 10-1 sebanyak 900 cfu/ml. Air tersebut memenuhi syarat bila dilihat dari pH karena persyaratan pH menurut permenkes terdapat pada 6,5 - 8,5 namun bila dilihat dari kekeruhan dan jumlah angka lempeng total maka air tersebut tidak memenuhi syarat. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492 / Menkes / Per / IV / 2010 Tanggal 19 April 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum, kadar maksimal yang diperbolehkan untuk kekeruhan yaitu sebanyak 5 NTU.
benda serta partikel dan sejumlah besar mikroorganisme (Volk,w dan Margaret, F.W. 1989).
Endapan tawas mengendap, kemudian airnya dipompa ke alat penyaringan untuk menghilangkan partikel yang ketinggian dan juga banyak bakteri yang tersisa. Penyaringan dibuat dari pasir dan kerikil dengan partikel– patikel halus dekat dengan permukaan. Langkah akhir dalam pemurnian air minum ialah memberikan perlakuan kimia untuk menjamin bahwa tidak ada organisme patogen enterik, dilakukan dengan penambahan klor kedalam air
Pada umumnya untuk membunuh mikroorganisme dengan pemanasan lebih mudah pada reaksi medium asam atau alkalis, kalau dibandingkan dengan medium netral karena dalam keadaan netral waktu pemanasan yang diperlukan untuk membunuh akan lebih lama (Suriawiria,1993).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Tingkat pencemaran pada air sungai belawan sangat tinggi. Hal ini dapat dibuktikan dengan tingkat kekeruhan sebesar 106 NTU, pH sebesar 7,2 dan jumlah angka lempeng total sebanyak 900 cfu/ml.
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
Chandra, B. (2011). Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta: EGC. Halaman.40. Darmono, (2010). Lingkungan Hidup Dan Pencemaran. Jakarta: Universitas
Indonesia Press. Halaman 28.
Irianto, K. (2006). Mikrobiologi: Menguak Dunia Mikroorganisme. Bandung: Yrama Widya. Halaman 150.
Lay, W.B. (1992). Analisis Mikrobiologi Di Laboratorium. Jakarta: Penerbit PT. Raja Grafindo Persada. Halaman 32.
Linsley, R dan Joseph B.. 1996. Teknik Sumber Daya Air. Jilid 2. Edisi ketiga. Jakarta: Penerbit Erlangga. Halaman 119 – 125, 127 – 129, 133. 249-250. Mahida, U.N. (1984). Pencemaran Limbah dan Pemanfaatan Limbah Industri.
Jakarta : C.V Rajawali. Halaman 11.
Peleczar, Ml. (1988). Dasar –Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Universitas Indonesia Press. Halaman 53.
Manik, K.E.S. (2009). Pengelolaan Lingkungan Hidup. Jakarta: Djambatan. Halaman 145 – 146.
Ryadi, S. (1984). Pencemaran Air. Surabaya: Karya Anda. Halaman 8-13.
Suriawiria, U. (2005). Air Dalam Kehidupan Dan Lingkungan Yang Sehat. Bandung: Penerbit: P.T Alumni. Halaman 3, 13.
Suriawiria, U (1993). Mikrobiologi Air. Bandung: Penerbit : P.T Alumni. Halaman 24, 90 - 91.
Volk,W dan Margaret, F.W. (1989). Mikrobiologi Dasar. Edisi kelima jilid 2. Jakarta: Penerbit Erlangga. Halaman 266.
Waluyo, L. (2009). Mikrobiologi Lingkungan. Malang: UMM Press. Halaman 159-166.
Lampiran I. Gambar Sampel
Lampiran II. Diagram Alir I. Pembuatan Media
a. Pembuatan Media NaCl 9 %
Dimasukkan kedalam erlemeyer 100 ml
Dilarutkan dengan air suling steril sedikit demi
sedikit hingga larut
Disterilkan di autoklaf pada suhu 121oC selama
15 menit. 0,9 g NaCl
b. Pembuatan Media PCA
Ditimbang sebanyak 2,35 g
Dimasukkan ke dalam erlemeyer 100 ml
Dilarutkan dengan 100 ml air suling sampai
homogenya
Dipanaskan sambil diaduk sampai terlarut
sempurna, ditunggu hingga mendidih
Ditutup dengan aluminium foil dan disterilkan
dengan autoklaf pada suhu 121oC selama 20 menit.
II. Prosedur a. Sterilisasi Alat
Dibungkus dengan perkamen
Dimasukkan kedalam oven pada suhu 170
o
c selama 1 jam Alat – alat gelas
Hasil Serbuk PCA
b. Sterilisasi Media
Dimasukkan kedalam autoklaf pada suhu
121 oc selama 15 menit
c. Pengenceran
Disterilkan didalam autoklaf selama 15
menit pada suhu 121 oc didiamkan sampai dingin
Dimasukkan kedalam tabung reaksi
(pengenceran 10-1)
Ditutup menggunakan pendopol
Dipipet 1 ml sampel air sungai belawan
dimasukkan kedalam pengenceran 10-1 homogenkan
Media
Hasil
d. Pengujian Sampel
← Dilakukan persiapan dan homogenisasi
← Dibuat tingkat pengenceran menggunakan larutan pengencer NaCl
← Dipipet 1 ml dari pengenceran 10-1 ke dalam cawan petri steril
← Dituangkan 15 ml media PCA yang masih cair dengan suhu (45±1) ke dalam masing-masing cawan petri
← Digoyangkan cawan petri dengan hati-hati (putar dan goyang ke depan, ke belakang, ke kanan dan ke kiri) sehingga contoh pembenihan tercampur merata dan memadat
← Dibiarkan sampai campuran dalam cawan petri memadat
← Dimasukkan semua cawan petri dengan posisi
terbalik ke dalam inkubator pada suhu 37 selama 24
jam. Inkubasi dilakukan dalam udara yang diperkaya dengan CO2 dalam suatu jar anaerob
← Dicatat pertumbuhan koloni pada setiap cawan petri yang mengandung 25 koloni sampai dengan 250 koloni setelah 24 jam
Larutan NaCl
Lampiran III. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492 / Menkes / Per / IV / 2010 Tanggal 19 April 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum.
I. PARAMETER WAJIB
No Jenis Parameter Satuan Kadar maksimum
yang diperbolehkan 1 Parameter yang berhubungan
langsung dengan kesehatan
a. Parameter Mikrobiologi
1 ) E. Coli Jumlah per100
ml sampel
0 2 ) Total Bakteri Koliform Jumlah per
100 ml sampel
5 ) Mangan mg / l 0,4
No Jenis Parameter Satuan Kadar maksimum
yang diperbolehkan 1 KIMIAWI
a. Bahan Anorganik
1,4-Dichlorobenzene ( 1,4-DCB ) mg / l 0,3 Lain – lain
No Jenis Parameter Satuan Kadar maksimum
yang diperbolehkan Di ( 2 – ethylhexyl ) phthalate mg / l 0,008
Acrylamide mg / l 0,0005
Epichlorohydrin mg / l 0,0004
Hexachlorobutadiene mg / l 0,0006
Ethylenediaminetetraacetic acid (EDTA)
1,2-Dibromo-3-chloropropane ( DBCP ) mg / l 0,001 2,4 Dichloropenoxyacetic acid ( 2,4-D ) mg / l 0,03
Chlorophenoxy herbicides selain 2,4-D dan MCPA
2,4-DB mg / l 0,090
Dichlorprop mg / l 0,10
Mecoprop mg / l 0,001 2,4,5-Trichlorophenoxyacetic acid mg / l 0,009 d. Desinfektan dan Hasil Sampingannya
Desinfektan
Chlorine mg / l 5
Hasil Sampingan
Bromate mg / l 0,01
No Jenis Parameter Satuan Kadar maksimum
Lampiran IV. Gambar Alat
Autoklaf Oven
LAF Cawan petri
Lampiran V. Tahapan Pengujian
Penambahan media Media NaCl
Lampiran VI. Skema pengolahan air PDAM IPA Sunggal