ETIK UMB
Etika dan
Sikap
Profesional
Sarjana
Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh
Fakultas
Ekonomi & Bisnis Manajemen
02
84037 Udjiani Hatiningrum, SH., MSiAbstract
Kompetensi
Pada Pokok bahasan ini akan mendiskripsikan tentang bagaimana seorang Sarjana yang siap dan
profesional ditengah-tengah kehidupan masyarakat
professional.
ETIKA DAN SIKAP
PROFESIONAL SARJANA
1. Sarjana
2. Sikap Profesional
3. Visi dan Misi
4. Budaya Kerja
1. Sarjana
Banyak orang berpendapat bahwa penentu garis karir adalah jenjang pendidikan (Primi Artiningrum dkk, 2013:1). Karir tidak sama dengan pekerjaan. Pekerjaan atau profesi adalah alat. Pekerjaan adalah alat untuk mencapai karir tertentu. Pekerjaan adalah rutinitas harian yang dijalani seseorang guna mendapatkan nafkah untuk menutupi keperluan sehari-harinya, terutama pangan-sandang-papan-pendidikan-kesehatan. Karir adalah semua pekerjaan atau jabatan yang dipegang selama masa kerja seseorang. Karir bisa dilihat dari dua sisi: pertama yang benar-benar dirasakan pelaksanaannya, kedua yang ingin ditampilkan kepada dunia. Kebanggaan atas karir tidak sama dengan kebanggaan atas fasilitas kantor atau gaji besar yang melebihi rekan-rekan lainnya. Kebanggaan atas karir berawal dari kejujuran kepada diri sendiri atas apa yang dirasakan, dan keberanian untuk terus bersifat jujur.
Kalau Pekerjaa n
Orang yang punya karir, sudah pasti punya pekerjaan. Tetapi orang punya pekerjaan, belum tentu punya karir.
Menurut Andre Wongso pernah membahas soal profesi dan etika pada talkshow
rutinnya di radio Sonora (Primi Artiningrum dkk, 2013:1). Beliau menjelaskan bahwa sebagai seorang sarjana profesional di bidang apa pun kita diharapkan mampu melakukan tugas dan pekerjaan sesuai dengan lingkup profesionalisme kita. Namun profesionalisme saja tidak cukup. Kita juga harus bertanggung jawab secara etika dan moral. Jika tidak tegas dalam mengontrol atau mengendalikan godaan pikiran negatif, kita akan mudah terjerumus dalam pelangaran-pelanggaran yang dapat mendatangkan akibat fatal bagi karir dan masa depan kita.
Setiap profesional perlu memiliki etika profesi dan etos kerja dalam setiap melaksanakan kegiatan atau pekerjaan. Etos kerja merupakan keyakinan yang berfungsi sebagai panduan tingkah laku bagi seseorang, sekelompok orang, atau sebuah institusi.
2. Sikap Profesional
Sikap berasal dari kata attitude. Attitude adalah kecenderungan individu untuk merespon dengan cara yang khusus terhadap stimulus yang ada dalam lingkungan sosial (Gerungan, 2004). Profesional sering diartikan sebagai suatu keterampilan teknis yang dimiliki seseorang. Menurut Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer (2002), Profesional artinya berhubungan dengan profesi dan membutuhkan keahlian tertentu dalam melakukan keahliannya. Profesional adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. Atau seorang profesional adalah seseorang yang hidup dengan mempraktekkan suatu keahlian tertentu atau dengan terlibat dalam suatu kegiatan tertentu yang menurut keahlian, sementara orang lain melakukan hal yang sama sebagai sekedar hobi, untuk senang-senang, atau untuk mengisi waktu luang.
Secara keilmuan, seorang sarjana adalah seseorang Yang sudah SIAP terjun Ke...?? Seorang sarjana diharapkan mampu berkiprah di masyarakat. Mampu menjadi teladan bagi dirinya sendiri dan orang lain. Sarjana diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara. Seorang sarjana diharapkan memiliki sikap profesional. Misalnya :
- Seorang sarjana manajemen dapat menghasilkan tenaga ahli bagi pembangunan nasional sehingga mampu mengisi kebutuhan masyarakat akan tenaga kerja mahir, trampil mampu berdiri sendiri dan peka terhadap perubahan sosial, ilmu teknologi dengan memilih jalur Manajemen Keuangan, Manajemen Pemasaran, Manajemen Sumber Daya Manusia, dan Manajemen Operasi. Maka dengan demikian tenaga-tenaga tersebut mampu memangku jabatan-jabatannya baik dalam jabatan manajerial maupun jabatan lainnya dalam organisasi publik atau swasta dimulai pada jenjang pertama dan memiliki potensi pengembangan diri untuk mencapai jenjang yang lebih tinggi.
Agar sarjana bersikap profesional perlu dibangun profesionalismenya. Profesionalisme adalah tingkah laku, keahlian atau kualitas dan seseorang yang profesional (Longman, 1987). Dengan kata lain profesionale adalah komitmen para profesional terhadap profesinya. Dengan demikian sarjana yang bersikap profesional adalah sarjana yang komit terhadap profesinya.
3. Visi dan Misi
Seseorang mencapai gelar sarjana perlu terlebih dahulu menjalani pendidikan formal di suatu lembaga pendidikan formal, yaitu Perguruan Tinggi Primi Artiningrum dkk, 2013:2). Perguruan Tinggi dimana mahasiswa menjalani pendidikan kesarjanaannya tentunya juga memiliki visi dan misi.
Sebagai contoh, salah satu lembaga pendidikan formal di Jakarta memiliki visi: menjadi universitas unggul dan terkemuka untuk menghasilkan tenaga profesional yang memenuhi kebutuhan industri dan masyarakat dalam persaingan global. Visi tersebut dilengkapi butir-butir misi, yaitu:
1. Menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dan menciptakan serta menerapkan keunggulan akademik untuk menghasilkan tenaga profesional dan lulusan yang memenuhi standar kualitas yang disyaratkan.
2. Menerapkan manajemen pendidikan tinggi yang efektif dan efisien dan mengembangkan jaringan kerjasama dengan industri dan kemitraan yang berkelanjutan sebagai respon atas perubahan arus dan daya saing global.
3. Mengembangkan kompetensi dan menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan dan etika profesonal kepada para mahasiswa dan staf yang memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kualitas hidup.
Budaya kerja merupakan sistem nilai, persepsi, perilaku dan keyakinan yang dianut oleh tiap individu karyawan dan kelompok karyawan tentang makna kerja dan refleksinya dalam kegiatan mencapai tujuan organsiasi dan individual (Mangkuprawira,Sjafrie, Juni 2007). Budaya kerja diturunkan dari budaya organisasi. Budaya Organisasi itu sendiri merupakan sistem nilai yang mengandung cita-cita organisasi sebagai sistem internal dan sistem eksternal sosial. Hal itu tercermin dari isi visi, misi, dan tujuan organisasi. Dengan kata lain, seharusnya setiap organisasi memiliki identitas budaya tertentu dalam organisasinya. Dalam perusahaan dikenal sebagai budaya korporat dimana d idalamnya terdapat budaya kerja. (Mangkuprawira, Sjafrie, Juni 2007).
Budaya kerja yang ditanam dan dikembangkan di lingkungan Perguruan Tinggi tersebut adalah disiplin akan datang kuliah tepat waktu dan tepat jumlah kehadiran kuliahnya dalam satu semester. Jika ada tugas kuliah, tugas tersebut juga akan diserahkan tepat waktu. Perhatikan orang-orang yang sukses mencapai cita dan tujuan hidupnya. Mereka adalah orang-orang yang disiplin.
Orang-orang yang berhasil dan mencapai prestasi hebat adalah orang-orang yang memiliki disiplin diri. Beberapa alasan kenapa kita perlu disiplin di dalam hidup ini, antara lain:
1. Ingin sukses hidupnya
2. Ingin menjadi ahli dalam segala hal 3. Ingin lebih teratur hidupnya
4. Ingin selalu sehat 5. dan sebagainya.
Jujur
Jujur untuk mengungkapkan apa adanya tanpa harus menutupinya oleh alasan apapun. Salah satu resiko kejujuran adalah menerima kenyataan pahit yang harus ditanggung oleh para pelaku kejujuran. Tidak setiap kejujuran itu harus dibayar dengan harga “pahit”, banyak orang kemudian dimuliakan dan mendapatkan tempat terhormat karena kejujurannya. Bahkan demi status sosial, gengsi dan ego ini dapat membuat sebagian orang mencari jalan pintas untuk lebih memilih berbohong daripada mengungkapkan sebuah kejujuran. Jujur sangat identik dengan kebenaran.
Tanggungjawab
Kata tanggungjawab berasal dari bahasa Inggris responsible, yang berarti ablility to response. Menurut Kamus bahasa Indonesia kata ini mengandung makna keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Orang yang bertanggungjawab adalah orang yang sadar akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggungjawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya. Tanggung jawab menurut kamus umum bahasa Indonesia adalah, keadaan wajib menanggung segala sesuatunya.Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak di sengaja.
Orang yang bertanggungjawab adalah orang yang berani menanggung risiko atas segala yang menjadi tanggungjawabnya dan orang yang bertanggungjawab adalah orang yang mau berkorban demi kepentingan orang lain. Tanggungjawab erat kaitannya dengan kewajiban. Kewajiban adalah sesuatu yang dibebankan terhadap seseorang. Kewajiban merupakan bandingan terhadap hak, dan dapat juga tidak mengacu kepada hak. Maka dengan tanggungjawab dalam hal ini adalah tanggungjawab terhadap kewajibannya.
Kreatif
Setiap orang itu senang dengan hal hal baru. Sementara yang namanya orang kreatif itu sukanya menciptakan hal hal baru. Sifat kreatif ini dapat membuat kita lebih dicintai dan disenangi oleh orang orang yang ada di sekitar kita. Meskipun sifat kreatif itu akan menyenangkan banyak orang yang ada di sekitar kita, namun tidak semua orang mampu menjadi kreatif. Banyak orang yang merasa kesulitan untuk menjadi kreatif.
Dengan kata lain kreatif juga berarti keyakinan dan kemauan terus-menerus untuk meningkatkan kualitas (diri, pekerjaan, hasil-hasil yang dicapai).
Beberapa alasan orang termotivasi untuk berpikir kreatif antara lain: 1. Adanya kebutuhan untuk dapat berpartisipasi dalam hidupnya 2. Adanya keinganan untuk menjadi berharga dalam hidupnya 3. Adanya hasrat untuk tetap dapat melanjutkan kehidupannya 4. Dapat menjadi manusia yang lebih mandiri lagi
5. dan lain sebagainya
Dengan berpikir kreatif akan memudahkan hidup, sehingga tidak heran kalau kemudian banyak orang yang sukses, baik secara materi, kepribadian dengan mencoba menggunakan pikiran-pikiran kreatif yang cemerlang.
Ramah Lingkungan
Di masa sekarang kondisi lingkungan semakin tidak mendukung kehidupan yang nyaman. Pemanasan global menjadi masalah dunia, yang dampaknya dirasakan oleh seluruh manusia di dunia. Indonesia yang terkenal sebagai paru-paru dunia karena kekayaan hutan tropisnya, kini semakin minim kekayaan hutan tersebut. Oleh karena itu budaya ramah lingkungan perlu ditanamkan, paling tidak untuk menahan agar kerusakan lingkungan tidak bertambah bahkan jika mungkin para sarjana dapat berkontribusi untuk perbaikan lingkungan di masa yang akan datang.
Kearifan Lokal
Tuhan menciptakan segala sesuatu beraneka ragam. manusia saja tidak semua pria, tidak semua wanita. Pria atau wanita itu ada yang berkulit putih, coklat, ataupun hitam. rambutnya pun ada yang lurus, bergelombang, atau keriting.
Memahami kearifan Lokal secara fungsional, maka sudah selayaknya sebagai Manusia, menggunakan perasaan dan akal pikiran untuk hal-hal yang baik. Maka sejogyanya kita sebagai manusia gunakanlah akal pikiran dan perasaan kita untuk menstimulus jiwa dan raga pada hal-hal yang bijak, dan bukan hanya digunakan untuk mengumbar hawa nafsu saja, dalam memperlakukan alam.
Menjaga kearifan lokal yang berlaku di dalam masyarakat memang sangat penting, karena hal itu merupakan nilai-nilai luhur yang harus tetap dipertahankan. Jadi kearifan lokal merupakan budaya luhur yang diciptakan nenek moyang lewat sebuah pengalaman yang akhirnya menjadi kaidah atau norma.
pula kearifan budaya lokal. Budaya ini yang perlu kita junjung untuk menunjukkan jati diri bangsa.
Siapa lagi yang akan mewarisi peninggalan budaya nenek moyang kita, tentunya kita semua sebagai bangsa Indonesia. Namun kita tetap mejaga, melestarikan dan memberdayakan kearifan lokal yang ada dengan tanpa merusak dan menghapus kearifan lokal tersebut. Walaupun kita menuju modernisasi, kita tetap jangan sampai modernisasi yang merusak kearifan lokal. Untuk itu sudah menjadi kewajiban kita semua untuk selalu tetap menjaga, dan melestarikan kearifan lokal yang kita miliki.
Daftar Pustaka
Primi Artiningrum dkk, Etika dan Perilaku Profesional Sarjana, Graha ilmu, Yogyakarta, 2013.