• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDEKATAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALIST

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENDEKATAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALIST"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PENDEKATAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK

BERBANTUAN MEDIA GRAFIS BERPENGARUH

TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA

SISWA KELAS V SD GUGUS 1 MENGWI

Ni Luh Rinayanti

1

, I Wayan Rinda Suardika

2

, I Nengah Suadnyana

3

1,2,3

Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP

Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

E-mail: [email protected], [email protected],

[email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara siswa yang mengikuti pembelajaran pendekatan pendidikan matematika realistik berbantuan media grafis dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. Penelitian ini tergolong eksperimen semu, dengan desain

Nonequivalent Control Group Design. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD Gugus 1 Mengwi. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive random sampling. Sampel dari penelitian ini adalah SD No. 4 Cemagi dan SD No. 2 Cemagi. Penentuan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diperoleh dari hasil pengundian, dengan hasil SD No. 2 Cemagi sebagai kelompok eksperimen dan SD No.4 cemagi sebagai kelompok kontrol. Pengumpulan data hasil belajar matematika siswa mengunakan tes uraian. Data dikumpulkan selanjutnya dianalisis dengan uji-t. Hasil penelitian menunjukan terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara siswa yang mengikuti pembelajaran pendekatan pendidikan matematika realistik berbantuan media grafis dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. Hal tersebut dilihat dari nilai rata-rata kelompok eksperimen 81,53 dan nilai rata-rata kelompok kontrol 74,79. Perbedaan yang signifikan juga terlihat pada hasil analisis data yakni, sebesar 5,15 sedangkan sebesar 2,00. Karena dapat disimpulkan bahwa pendekatan pendidikan matematika realistik berbantuan media grafis berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa kelas V SD Gugus 1 Mengwi.

Kata Kunci: pendekatan pendidikan matematika realistik, media grafis, hasil belajar matematika.

Abstract

The objective of this study is to determine the significant differences between students’

learning outcomes of match subject with use match education learning approach which assist by graphic media with students who use the conventional learning. This study is a quasi experiment with the design of the study is Non-Equivalent Control Group Design.The population of this study is conducted to all of the fifth grade students of SD

Gugus 1 Mengwi. The sample was taken by using purposive random sampling technique.

(2)

81.53 and the average of control group is 74.79. The significant differences is also can be seen from the result of the test, tvalue is 5.15 on the other hand, ttable is 2.00. Because tvalue

> ttable so, it can be concluded match education learning approach which assists by

graphic media influence learning outcomes of match subject of the fifth grade students at SD Gugus 1 Mengwi.

Keywords: match education learning approach, graphic media, the results of learning match.

PENDAHULUAN

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Sehingga memiliki kemampuan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta

ketrampilan yang diperlukan dirinya,

masyarakat, bangsa dan negara. Berbagai

upaya dilakukan oleh pemerintah untuk mewujudkan mutu pendidikan yang mampu menciptakan sumberdaya manusia yang

berkualitas. Seperti penyempurnaan

kurikulum secara berkala, perbaikan sarana

dan prasarana pendidikan serta

memberikan pelatihan-pelatihan untuk

meningkatkan kualitas guru dalam

pembelajaran. Hal tersebut dilakukan agar guru dapat mengembangkan pendekatan-pendekatan pembelajaran yang mampu mengoptimalkan proses belajar siswa. Sesuai dengan paradigma pembelajaran saat ini yakni pembelajaran yang berpusat pada siswa. Menurut (Suryanto 2009:7) paradigma baru pembelajaran ditandai

dengan inovasi dalam proses

pembelajaran, inovasi pembelajaran berarti

perubahan atau pembaharuan dalam

proses pembelajaran. Guru dapat

merancang pembelajaran inovatif, sehingga siswa dapat berperan aktif dalam proses

pembelajaran, seperti halnya dalam

pembelajaran matematika. Menurut Tarigan (2012:13) matematika merupakan cabang ilmu pengetahuan yang menuntut siswa

untuk memiliki kemampuan berpikir

matematis. Berpikir matematis adalah berpikir yang logis, rasional, kritis, cermat, jujur, dan efektif. Sejalan dengan pendapat

tersebut Japa, dkk (2011:2) juga

mengemukakan bahwa pembelajaran

matematika adalah proses yang sengaja

dirancang dengan tujuan untuk

menciptakan suasana lingkungan yang

memungkinkan siswa melaksanakan

kegiatan belajar matematika. Sehingga siswa memiliki kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, kreatif, serta kemampuan kerjasama. Hal ini berarti

bahwa proses pembelajaran

matematematika lebih menekankan pada aktivitas siswa. Interaksi siswa dengan sumber belajar seperti buku-buku, teman, serta guru.

Matematika perlu diberikan kepada siswa mulai dari sekolah dasar, untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir logis, analisis, sistematis, kritis,

kreatif, serta kemampuan kerjasama

(Aisyah 2007:1-3). Tujuan pembelajaran matematika di sekolah dasar menurut

Badan Standar Nasional Pendidikan

(BSNP) (2006:417) adalah. (1)Memahami

konsep matematika, menjelaskan

keterkaitan antara konsep dan

mengaplisipikasi konsep secara luwes,

akurat, episien, dan tepat dalam

pemecahan masalah. (2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika atau menggunakan model atau cara sendiri dalam membuat generalisasi atau hubungan/keterkaitan, dalam menyusun/menjelaskan gagasan

dan menyatakan matematika. (3)

Memecahkan masalah, yang meiputi

kemampuan memahami masalah

merancang model matematika,

menyelesaikan model, serta menafsirkan

soslusi yang diperoleh. (4)

Mengkomunikasikan gagasan melalui

(3)

Dari hasil observasi di sekolah dasar Gugus 1 Mengwi masih banyak siswa yang beranggapan bahwa matematika itu sulit,

membosankan, dan menakutkan,

disamping itu aktivitas guru masih sangat dominan dalam proses pembelajaran. Siswa bertugas menerima imformasi yang

disampaikan oleh guru, sehingga

pembelajaran menjadi kurang menarik,

padahal matematika merupakan

pembelajaran yang sangat erat kaitannya

dengan kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran yang biasa dilaksanakan oleh guru diistilahkan dengan pembelajaran konvensional. Seperti yang dikemukakan

oleh Sanjaya (2006:22) bahwa

pembelajaran konvensional merupakan

suatu pembelajaran yang secara umum dan biasa dilaksanakan atau diterapkan oleh guru pada masa kini. Proses pembelajaran lebih sering diarahkan pada aliran informasi dari guru kepada siswa. Pada umumnya

pembelajaran konvensional adalah

pembelajaran yang lebih terpusat pada guru. Hal tersebut sejalan dengan pendapat yang dikemukakan Rusmono (2012: 66) yang mengemukakan bahwa pembelajaran yang berpusat pada guru adalah proses pembelajaran dimana guru menyampaikan imformasi secara verbal (ceramah) kepada

siswa. Sementara itu siswa hanya

menerima dan mengikuti proses

pembelajaran dari materi yang telah disajikan atau disampaikan guru.

Berdasarkan uraian pendapat

diatas pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang biasa dilaksanakan dalam proses pembelajaran selama ini, yang cendrung berpusat pada guru. Dalam

proses pembelajaran guru yang

menyampaikan imformasi baik secara verbal, atau melalui demonstrasi. Siswa hanya bertugas menerima dan mengikuti

proses pembelajaran tersebut.

Pembelajaran konvensional mempunyai

beberapa kelemahan, seperti yang

dikemukakan oleh Sanjaya (2009) sebagai berikut.(1) Sering terjadi kesulitan untuk menjaga agar siswa tetap tertarik dengan materi yang dipelajari, karena tidak semua siswa memiliki cara belajar terbaik dengan mendengarkan. (2) Pembelajaran tersebut mengasumsikan bahwa cara belajar siswa itu sama dan tidak bersifat pribadi. (3)

Kurang menekankan pada pemberian keterampilan proses (hands-on activities). (4) Siswa tidak mengetahui apa tujuan mereka belajar pada hari itu. (5) Penekanan sering hanya pada penyelesaian tugas. (6) Daya serapnya rendah dan cepat hilang karena materi yang diperoleh bersifat menghafal.

Berdasarkan hal tersebut perlu

dirancang suatu pembelajaran yang

inovatif. Pembelajaran yang mampu

mengaktifkan siswa dalam proses mencari, serta menemukan materi yang sedang dipelajari serta berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Pendekatan pendidikan matematika realistik berbantuan media grafis merupakan salah satu inovasi dalam

proses pembelajaran. Pendekatan

pendidikan matematika realistik merupakan

pendekatan pembelajaran yang

dikembangkan berdasarkan pemikiran

Hans Freudenthal dari Belanda. Menurut Dolk (dalam Aisyah, 2007: 7-3) dasar pemikiran dari pendekatan ini bahwa matematika bukanlah materi yang dapat dipindahkan dari guru kepada siswa, tetapi matematika merupakan suatu kegiatan siswa yang bermula dari pemecahan

masalah. Winataputra (2007:1.38)

mengemukakan bahwa untuk

meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah, guru hendaknya mengajukan permasalahan yang menarik. Dan berada dalam jangkauan siswa yakni

sesuai dengan pengetahuan dan

ketrampilan yang telah siswa miliki.

Menurut Wijaya (2012:21) pendidikan matematika realistik adalah pembelajaran yang menggunakan permasalahan realistik,

yakni permasalahan yang dapat

dibayangkan (imaginable), atau nyata

dalam pikiran siswa. Permasalahan

tersebut dapat berupa cerita rekaan atau karangan, dan permainan. Sejalan dengan pendapat tersebut Tarigan (2006: 4) juga

mengemukakan bahwa pembelajaran

matematika realistik merupakan

pendekatan pembelajaran yang mengacu pada penalaran siswa yang bersifat

realistik. Sehingga mengacu pada

(4)

Jadi dari beberapa pendapat

tersebut dapat disimpulkan bahwa

pendekatan pendidikan matematika realistik merupakan pendekatan dalam proses

pembelajaran yang berorientasi pada

permasalahan nyata, yang dekat dengan

kehidupan sehari-hari siswa atau

permasalah yang dapat dibayangkan oleh siswa. Sehingga siswa berperan aktif dalam proses pembelajaran serta memiliki pola pikir logis, kritis, dan jujur.

Prinsip pendekatan pendidikan

matematika realistik menurut Gravemeijer (dalam Japa, dkk 2011: 44) ada tiga yaitu. (1) Guided re-invention atau menemukan kembali secara seimbang. Siswa memiliki kesempatan untuk mencari menemukan materi yang dipelajari seperti pakar atau orang-orang yang sudah ahli. (2) Didacdical Phenomenology atau penomena digdaktik. Topik-topik matematika yang diberikan

berasal dari fenomena sehari-hari

(masalah kontekstual yang terjadi).

Topik-topik ini dipilih berdasarkan pada

pertimbangan: aplikasi dan, kontribusinya, untuk perkembangan matematika lanjut. (3)

Self-developed model atau model dibangun sendiri oleh siswa. Siswa mengembangkan

model sendiri dalam memecahkan

permasalah-permasalahan kontekstual

yang diberikan. Pertama siswa

menggunakan penyelesaian informal.

Setelah terjadi interaksi serta melakukan diskusi, salah satu penyelesaian atau pemecahan masalah yang digunakan siswa akan berkembang menjadi model formal.

Sejalan dengan pendapat yang

dikemukakan oleh Pribadi (2009: 31) bahwa

pembelajaran harus menjadi sebuah

aktivitas yang berfokus pada siswa, karena siswa merupakan subyek dari proses dan aktivitas pembelajaran. Siswa harus aktif

dalam pencarian dan pengembangan

pengetahuan. Guru harus mengubah

perannya dari pemegang otoritas dalam pembelajaran menjadi fasilitator agar siswa

mampu membangun pengetahuannya

sendiri, dengan cara berinteraksi dengan berbagai sumber belajar yang ada.

Karakteristik pendekatan pendidikan matematika realistik adalah pendekatan dalam pembelajaran yang dimulai dengan permasalahan-permasalahan nyata atau permasalahan yang kontekstual, yang

dapat dibayangkan oleh siswa.

Penyajian materi saling terkait dimulai dari permasalah nyata selanjutnya mengarah kepada konsep-konsep yang lebih bersifat abstrak. Siswa memiliki kebebasan untuk mengekspresikan hasil kerja mereka dalam

menyelesaikan masalah nyata yang

diberikan oleh guru, dan guru berperan sebagai fasilitator bagi siswa, sehingga terjalin interaksi yang interaktif dalam proses pembelajaran.

Suwarsono (2001:5) menyatakan

keunggulan dari pendekatan pendidikan patematika realistik adalah sebagai berikut. (1) Pendekatan pendidikan matematika realistik memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa tentang keterkaitan antara matematika dengan kehidupan sehari-hari (kehidupan dunia nyata) dan kegunaan matematika pada umumnya bagi manusia. (2) Pendekatan

pendidikan matematika realistik

memberikan pengertian yang jelas dan

operasional kepada siswa bahwa

matematika adalah suatu bidang kajian

yang dikonstruksi dan dikembangkan

sendiri oleh siswa tidak hanya oleh mereka yang disebut pakar dalam bidang tersebut. (3) Pendekatan pendidikan matematika realistik memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa bahwa cara penyelesaian suatu soal atau masalah tidak harus tunggal dan tidak harus sama antara siswa yang satu dengan yang lain. Setiap siswa bisa menemukan atau menggunakan cara sendiri, asalkan siswa tersebut bersungguh sungguh dalam mengerjakan soal atau masalah tersebut. Selanjutnya dengan membandingkan cara penyelesaian yang satu dengan cara penyelesaian yang lain, akan bisa diperoleh cara penyelesaian yang paling tepat, sesuai dengan proses penyelesaian soal atau masalah tersebut. (4) Pendekatan pendidikan matematika realistik memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa bahwa dalam mempelajari matematika, proses pembelajaran merupakan sesuatu yang utama dan untuk mempelajari matematika siswa harus menjalani proses itu dan

berusaha untuk menemukan sendiri

konsep-konsep matematika, dengan

bantuan pihak lain yang dapat

(5)

guru). Tanpa kemauan untuk menjalani sendiri proses tersebut, pembelajaran yang bermakna tidak akan terjadi.

Permasalahan-permasalah

kontekstual yang disampaikan akan

tergambar jelas dalam pikiran siswa melalui media grafis. Menurut Daryanto (2010: 19) bahwa media grafis merupakan suatu

penyajian secara visual, yang

menggunakan titik-titik, garis-garis, gambar-gambar, tulisan-tulisan, atau simbol visual

yang lain dengan maksud untuk

menghtiarkan, menggambarkan, dan

merangkum suatu ide, data, atau kejadian.

Menurut Sukirman (2012: 86) yang

mengemukakan bahwa media grafis

merupakan media visual yang berfungi

menyalurkan pesan dari sumber

kepenerima pesan melalui perpaduan antara kata-kata serta gambar-gambar.

Berdasarkan pendapat tersebut

media grafis merupakan media yang disajikan secara visual berupa gambar-gambar, tulisan-tulisan, serta perpaduan

dari keduanya yang berfungsi

menghantarkan pesan dari pengirim

kepada penerima pesan. Dalam proses pembelajaran media grafis dapat menarik

perhatian siswa. Menjelaskan ide,

mengihtiarkan fakta yang mungkin akan cepat dilupakan atau diabaikan jika hanya menggunakan bahasa verbal saja tanpa

divisualkan. Kelebihan media grafis

menurut Daryanto (2010: 19) adalah bentuknya sederhana, bahannya mudah

diperoleh, dapat menyampaikan

rangkuman, mampu mengatasi

keterbatasan ruang dan waktu, dapat divariasikan (dipadukan) dengan media yang lainnya. Tetapi dalam pembuatan media grafis memelukan kreativitas guru, agar pesan yang ingin disampaikan melalui media ini dapat diterima dengan baik oleh siswa. Lebih lanjut Daryanto (2010: 119), mengemukakan media grafis terdiri atas enam jenis, diantaranya : ganbar, bagan, grafik, poster, kartun, dan komik. Jenis-jenis media grafis dapat disesuaikan dengan materi yang dibelajarkan.

Berdasarkan prinsip, karakteristik,

kelebihan pendekatan pendidikan

matematika realistik serta peran media grafis tersebut siswa dapat memaksimalkan

proses pembelajaran sehingga memperoleh hasil belajar matematika yang optimal.

Sudjana (2010:3) mengemukakan bahwa hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan

psikomotor. Sejalan dengan pendapat

tersebut Rusmono (2012:10) juga

mengemukakan bahwa hasil belajar

merupakan perubahan prilaku individu yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan

psikomotor. Perubahan prilaku tersebut diperoleh setelah siswa melaksanakan proses pembelajaran melalui interaksinya dengan berbagai sumber belajar. Dan menurut Dimyati dan Mudjiono (2002:36) hasil belajar adalah hasil yang ditunjukkan dari suatu interaksi tindak belajar dan biasanya ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan guru.

Dari uraian pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika adalah hasil yang diperoleh oleh siswa setelah melaksanakan proses pembelajaran matematika dengan berbagai sumber belajar. Dan mengacu pada berubahan tingkah laku yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotor kearah yang lebih baik. Selain perubahan pada sikap atau prilaku hasil belajar siswa akan tercermin secara jelas dalam hasil yang diperoleh setelah melaksanakan tes hasil belajar. Dalam penelitian ini hasil belajar yang dianalisis adalah hasil belajar pada ranah kognitif. Berikut ini adalah

langkah-langkah pembelajaran dengan

pendekatan pendidikan matematika realistik berbantuan media grafis. Langkah-langkah pembelajaran ini diadaptasi dari

langkah-langkah pembelajaran pendekatan

pendidikan matematika realistik dari Aisyah.

(1) Kegiatan pendahuluan: guru

menyiapkan peserta didik baik fisik maupun

psikis sebelum mengikuti proses

pembelajaran, guru melakukan absensi,

guru menyampaikan apersepsi, guru

menyampaikan lingkup materi yang akan di

pelajari, guru menyampaikan tujuan

pembelajaran. (2) Kegiatan inti sebagai

berikut. Guru menyampaikan

permasalahan yang kontekstual, serta menampilkan media pembelajaran berupa

gambar visual agar siswa dapat

(6)

permasalahan yang di sampaikan. Meberikan kesempatan kepada siswa untuk

menyampaikan pendapat, terhadap

permasalahan yang disampaikan. Menggali pengetahuan siswa lebih dalam melalui latihan soal-soal kontektual baik secara berkelompok maupun individu. Siswa atau

kelompok menyampaikan pendapatnya

terhadap latihan yang diberikan. Siswa bersama guru memberikan konfirmasi terhadap pendapat yang disampaikan siswa baik secara individu maupun kelompok. Guru membantu siswa untuk menemukan pemecahan masalah yang lebih baik. Guru memberikan penguatan ,motivasi serta pengarahan untuk penyelesaian terbaik kepada siswa. (3) Kegiatan penutup adalah. Siswa bersama guru guru membuat rangkuman kesimpulan mengenai materi yang telah di pelajari. Guru memberikan tes secara individual. Guru memberikan umpan balik terhadap hasil pekerjaan siswa. Guru

menyampaikan kegiatan tindak lanjut

berupa pekerjaan rumah.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara siswa yang

mengikuti pembelajaran pendekatan

pendidikan matematika realistik berbantuan media grafis dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional.

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen, dan jenis penelitian ini adalah

eksperimen semu (quasi eksperiment),

karena tidak semua variabel dapat

dikontrol secara ketat. Rancangan

eksperimen yang digunakan adalah Non

Equivalent Control Group Design. Data hasil belajar matematika siswa dalam penelitian ini diambil dari skor post test

yang diberikan pada akhir penelitian. Post

test digunakan untuk mengetahui

perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara siswa yang mengikuti

pembelajaran pendekatan pendidikan

matematika realistik berbantuan media grafis dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. Pre test dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui kesetaraan dari kedua kelompok dalam

penelitian. Seperti yang dikemukakan

(Dantes (2012: 34) Pemberian Pra tes

biasanya digunakan untuk mengukur

ekuivalensi atau menyetarakan kelompok. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD gugus 1 Mengwi. Sampel dalam penelitian ini diambil dengan

mengkombinasikan teknik probability

sampling dan non probability sampling

yakni teknik purposive simple random

sampling. Seperti yang dikemukakan oleh Dantes (2012:47) bahwa “Sebagai suatu catatan, dalam penelitian-penelitian dimana

terjadi penarikan sampel, sangat

memungkinkan kombinasi penggunaan

teknik sampling, baik pada sampling

probabilitas, nonprobabilitas, atau bahkan kombinasi antara teknik probabilitas dengan

nonprobabilitas. Dengan kata lain, satu tahap didasarkan atas prinsip probalitas, dan selebihnya dilakukan atas prinsip

sampling non probalitas”. Menurut

Sugiyono (2011: 96) Sampling purposive

adalah pengambilan sampel berdasarkan kriteria tertentu. Dan simple random sampling adalah penarikan sampel secara sederhana dengan cara random (acak). Kriteria sampel yang dipilih dalam penelitian ini adalah sampel besar, yakni sampel yang kelasnya berjumlah tiga puluh atau lebih dari tiga puluh siswa. Di SD Gugus 1 Mengwi terdapat tiga sekolah dasar yang memiliki jumlah siswa kelas V yang lebih dari tiga puluh. sekolah tersebut adalah SD No. 1 Munggu, SD No. 2 Cemagi dan SD No. 4 Cemagi. Berdasarkan keterangan dari kepala gugus inti yang menyatakan bahwa seluruh SD di Gugus 1 Mengwi telah setara, selanjutnya ketiga sekolah yang memenuhi kriteria diundi untuk menentukan

sampel dalam penelitian. Dari hasil

pengundian diperoleh dua kelompok kelas sebagai sampel. Kelompok eksperimen dan kelompok kontrol ditentukan dengan cara diundi kembali, dengan hasil SD No.2 Cemagi sebagai kelompok eksperimen dan SD No.4 Cemagi sebagai kelompok kontrol. Data hasil belajar matematika siswa dikumpulkan dengan menggunakan tes hasil belajar. Tes hasil belajar yang digunakan adalah tes esai/uraian. Menurut Azwar (1999:108) soal bentuk esai (uraian)

merupakan teknik terbaik untuk

mengungkapkan kemampuan

(7)

menyatakan pengetahuan secara lengkap. Dalam menjawab tes esai siswa dituntut untuk menjawab secara rinci, teliti, dan berpikir sistematik. Menurut Sudjana (1989: 36) tes esai memiliki kelebihan diantaranya: 1) Dapat mengukur proses mental atau aspek kognitif lebih tinggi. 2) Dapat mengembangkan kemampuan berbahasa, baik lisan, maupun tulisan, dengan baik dan benar. 3) dapat melatih kemampuan pola berpikir logis, analitis, dan sistemati. 4) Mengembangkan ketrampilan pemecahan masalah. 5) Pembuatan soal lebih cepat serta dapat melihat proses berpikir siswa. Menurut Sudijono (1996: 302) pensekoran tes uraian umumnya berdasarkan bobot yang diberikan pada setiap butir soal tingkat kesukarannya, banyak sedikitnya pendapat serta tepat atau tidak pendapat yang dikemukakan. Dalam penelitian ini,

penilaian hasil belajar menggunakan

rentangan penilaian 0-4.

Sebelum digunakan tes hasil belajar

matematika diuji cobakan untuk

menentukan validitas dan reliabilitas dari

instrument yang digunakan dalam

penelitian. Sebuah tes dikatakan valid atau sahih jika tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur. Menurut Arikunto (2002 : 144) validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan kevalidan atau kesahihan suatu instumen. Untuk mengukur validitas

tes digunakan rumus korelasi product

moment. Nilai yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan nilai yang diperoleh dari r tabel, jika r hitung > r tabel maka soal di kategorikan valid. Berdasarkan hasil analisis dari 20 soal yang diuji cobakan terdapat 19 butir soal yang valid.

Butir-butir soal yang valid kemudian diuji reliabilitas. Untuk mencari reliabilitas tes soal esai keseluruhan digunakan rumus

Alpha Cronbach, karena tes essay bersifat palitomi. Berdasarkan derajat reliabilitas tes, yang dikemukakan oleh Guilfird (dalam Koyan, 2011:136) 19 butir soal tersebut dalam katagori reliabilitas sangat tinggi.

Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan uji-t (t-test). Sebelum dilakukan uji-t terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat yakni uji normalitas dan uji

homogenitas varians. Uji normalitas

sebaran data menggunakan rumus chi

kuadrat Kriteria pengujian pada taraf

signifikansi 5% adalah 11,07. Jika x2

hitung < x2tabel dengan dk = k-1 maka data berdistribusi normal. Uji homogenitas varian antar kelompok menggunakan rumus Uji-F. “Uji homogenitas dilakukan untuk membuktikan bahwa perbedaan yang terjadi pada uji hipotesis benar-benar terjadi akibat adanya perbedaan antar kedua

kelompok” (Winarsunu 2010: 100). Kriteria

pengujian untuk mengetahui data yang mempunyai varians yang homogen yaitu,

Fhit < Ftabel (n1 – 1, n2 - 1) maka sampel homogen. Pengujian dilakukan pada taraf signifikansi 5% dengan derajat kebebasan untuk pembilang n1 – 1 dan derajat kebebasan untuk penyebut n2– 1.

Jika dari hasil uji normalitas dan homogenitas varians, diketahui bahwa sampel berdistribusi normal dan homogen maka dilanjutkan dengan uji hipotesis. Analisis statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis penelitian ini adalah uji t

separated varians dengan taraf signifikansi 5% (

=0,05) atau taraf kepercayaan 95% memaparkan nilai rata-rata, nilai tertinggi, dan nilai terendah dari data hasil belajar

matematika baik pada kelompok

eksperimen maupun kelompok kontrol. Berdasarkan analisis nilai post tes hasil belajar matematika, nilai rata-rata kelompok eksperimen lebih dari nilai rata-rata kelompok kontrol. Nilai rata-rata dari kelompok eksperimen 81,53 dan nilai rata-rata kelompok kontrol 74,79.

Nilai tertinggi yang diperoleh oleh siswa pada kelompok eksperimen sebesar 93, dan nilai tertinggi siswa pada kelompok kontrol sebesar 85. Nilai terendah yang diperoleh siswa pada kelompok eksperimen 63, dan nilai terendah yang diperoleh oleh siswa pada kelompok kontrol 58.

(8)

dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. Perbedaan yang signifikan juga terlihat dari hasil uj-t terhadap nilai post tes hasil belajar kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Analisis uji-t hasil belajar kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dilakukan setelah melaksanakan uji prasyarat yakniuji normalitas dan uji homogenitas.

Uji normalitas data dilakukan pada kedua kelompok yaitu pada kelompok eksperimen yang dibelajarkan dengan pendekatan pendidikan matematika reastik

berbantuan media grafis, dan pada

kelompok kontrol yang dibelajarkan dengan pembelajaran konvensional. Berdasarkan hasil analisis nilai post tes hasil belajar matematika pada kelompok eksperiment diperoleh = 2,84. Dengan dk = k-1 pada taraf signifikansi 5% diperoleh = 11,07. Karena < maka

data hasil belajar matematika pada

kelompok eksperimen dikategorikan

berdistribusi normal. Sedangkan analisis nilai post tes hasil belajar matematika pada kontol diperoleh = 2,77. Dengan dk = k-1 pada taraf signifikansi 5% diperoleh

= 11,07. Karena <

maka data hasil belajar matematika pada kelompok kontrol dikategorikan berdistribusi normal.

Setelah data hasil belajar

matematika kedua kelompok dinyatakan

berdistribusi normal dilakukan uji

homogenitas varian antar kelompok.

Uji homogenitas varian antar kelompok menggunakan Uji-F. Berdasarkan analisis uji homogenitas varian diperoleh

sebesar 1,07, nilai ini kemudian

dibandingkan dengan nilai . Derajat kebebasan pembilang 38-1 = 37 dan derajat kebebasan penyebut 38-1 = 37

dengan taraf signifikansi 5%, maka

diperoleh sebesar 1,76. Karena

< , ini berarti nilai post test

hasil belajar matematika pada kolompok

eksperimen serta kelompok kontrol

homogen.

Hasil uji normalitas dan

homogenitas varians yang dilakukan pada

kelompok eksperimen dan kelompok

kontrol, menunjukan bahwa sebaran data pada kedua kelompok berdistribusi normal dan homogen, selanjutnya data hasil belajar matematika dianalis dengan uji-t. Kriteria pengujian hipotesis adalah jika thitung < ttabel, maka hoditerima (gagal ditolak)

dan ha ditolak, sebaliknya jika thitung ≥ ttabel, maka ho ditolak dan ha diterima. Pengujian

dilakukan pada taraf signifikan 5% (α = 0,05) atau taraf kepercayaan 95% dengan dk = n1+ n2–2. Hasil perhitungan uji-t disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Tabel Uji Hipotesis Penelitian antara Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol

Berdasarkan tabel sebeumnnya, diperoleh nilai t hitung sebesar 5, 15 dan nilai t tabel pada tarap signifikansi 5%, dengan dk=74 sebesar 2,00. Karena nilai thitung lebih dari nilai ttabel (5,15 > 2,00), maka hipotesis alternatif (Ha) diterima. Ini berarti, terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara siswa yang

mengikuti pembelajaran pendekatan

pendidikan matematika realistik berbantuan media grafis dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional.

Berdasarkan pernyataan dari ketua Gugus 1 Mengwi serta hasil uji kesetaraan data tes sumatif matematika siswa kelas IV semester 2 kedua sampel penelitian ini

dinyatakan setara. Hal tersebut

menunjukan bahwa sebelum diberikan perlakuan kedua kelompok mempunyai kemampuan awal yang sama. Kedua sampel yang telah terpilih diundi untuk menentukan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Keompok eksperimen

dibelajarkan dengan pendekatan

pendidikan matematika relistik sedangkan kelompok kontrol dibelajarkan dengan

Kelompok Penelitian thitung ttabel Status

Hasil Belajar Matematika

(9)

pembelajaran konvensional. Perlakuan tersebut diterapkan selama 8 kali baik pada

kelas eksperimen maupun kontrol,

selanjutnya kedua kelompok dikenakan pengkuran ( post test).

Berdasarkan analisis nilai post test hasil belajar matematika kedua

kelompok maka diketahui terdapat

perbedaan nilai rata-rata antara kedua kelompok. Nilai rata-rata siswa pada kelompok eksperimen yang mengikuti

pembelajaran pendekatan pendidikan

matematika realistik berbantuan media grafis lebih tinggi dibandingkan nilai rata-rata siswa pada kelompok kontrol yang mengikuti pembelajaran konvensional. Nilai

rata-rata pada kelompok eksperimen

sebesar 81,53 sedangkan nilai rata-rata pada kelompok kontrol sebesar 74,79. Selain nilai rata-rata hasil belajar siswa, perbedaan yang signifikan dapat dilihat dari keseluruhan nilai post test hasil belajar matematika siswa yang dianalisis melalui uji hipotesis menggunakan uji-t. Sebelum dilakukan uji hipotesis mengunakan uji-t, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat yang meliputi uji normalitas dan uji homogenitas. Dari hasil anasilis uji prasyarat diketahui bahwa sebaran data nilai post test hasil

belajar matematika kedua kelompok

berdistribusi normal dan homogen. Karena data pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol telah memenuhi uji prasyarat maka dilanjutkan dengan uji hipotesis menggunakan uji-t. Dari hasil analisis diperoleh = 5,15 dan = 2,00 dalam taraf signifikansi 5% dan derajat kebebasan = 74. Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa > maka Ha diterima dan Ho ditolak.

Sehingga terdapat perbedaan yang

signifikan terhadap hasil belajar matematika antara siswa yang mengikuti pembelajaran pendekatan pendidikan matematika realistik dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional.

Perbedaan hasil belajar yang ditimbul dikarenakan adanya perbedaan proses dalam pembelajaran. Pendekatan pendidikan matematika realistik merupakan pendekatan dalam pembelajaran yang

beorientasi pada

permasalahan-permasalahan kontekstual. Permasalahan

yang dekat dengan siswa atau

permasalahan yang mampu dibayangkan

oleh siswa. Hal tersebut dapat

menumbuhkan minat belajar siswa karena materi yang dibelajari dirasakan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Dengan bantuan media grafis sebagai media pembelajaran seperti gambar semakin

menumbuhkan minat belajar siswa.

Permasalahan kontektual yang

disampaikan dapat dipertegas melalui media grafis seperti gambar. Karena media grafis berfungsi menyampaikan pesan atau imformasi dari pengirm ke penerima pesan, dari guru ke murid ataupun sebaliknya. Selain itu media grafis juga dapat menarik perhatian siswa dengan gambar serta

warna yang menarik. Dengan

menggunakan pendekatan matematika

realistik berbantuan media grafis siswa dapat berperan secara aktif sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Hal tersebut juga bermuara pada hasil belajar yang diperoleh siswa, seperti yang telah diunggkapkan diatas berdasarkan hasil analisis uji-t menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap hasil belajar matematika antara siswa yang

dibelajarkan dengan pendekatan

pendidikan matematika realistik dengan

siswa yang dibelajarkan dengan

pembelajaran konvensional.

Perbedaan hasil belajar yang signifikan antara pendekatan pembelajaran matematika realistik dengan pembelajaran konvensional juga dikemukakan oleh Ari Sutariani. Rata-rata skor hasil belajar pada kelompok eksperimen = 19,57 sedangkan

pada kelompok kontrol= 10,61.

Derdasarkan hasil uji hipotesi terhadap hasil belajar matematika diperoleh thitung = 6,179. Penelitian yang dilakukan oleh Wiwik Arimiarti di Desa Angseri (2012) juga

mengemukakan bahwa pendekatan

pendidikan matematika realstik berbantuan lembar kerja siswa berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa kelas IV di Desa Angseri. Dengan hasil rata-rata kelompok eksperimen lebih besar dari kelompok kontrol yakni XE = 53 XK = 41,7.

(10)

analisis post tes hasil belajar matematika siswa, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara siswa yang mengikuti

pembelajaran pendekatan pendidikan

matematika realistik berbantuan media grafis dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensionaal.

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara siswa yang

mengikuti pembelajaran pendekatan

pendidikan matematika realistik berbantuan media grafis dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil analisis uji hipotesis yang menggunakan uji-t dengan hasil thitung lebih dari ttabel yaitu 5,15 > 2,00 sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Selain itu nilai rata-rata hasil belajar matematika kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol yaitu 81,53 > 74,79. Dengan

demikian pendekatan pendidikan

matematika realistik berbantuan media

grafis berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa kelas V SD Gugus 1 Mengwi.

DAFTAR RUJUKAN

Aisyah Nyimas, dkk. 2007. Pengembangan Pembelajaran Matemtika SD.

Direktorat Jenderal Pendidikan

Tinggi Deprtemen Pendidikan

Nasional.

Arikunto, Suharsini. 2002. Prosedur

Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta

Azwar, Saifuddin. 1999. Tes Prestasi. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.

Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006.

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Jakarta: Badan Standar Pendidikan

Dantes. 2012. Metode Penelitian.

Yogyakarta:CV Andi Offset

Daryanto. 2010. Media Pembeljaran.

Yogyakarta: Gava Media

Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Japa I Gusti Ngurah, dkk. 2011. Pendidikan Matematika I. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha

Koyan. 2011. Assesmen dalam Pendidikan. Singaraja: UNDIKSHA

Pribadi A Beny. 2009. Model Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Dian Rakyat

Rusmono. 2012. Strategi Pembelajaran

Problem Based Learning. Bogor: Ghalia Indonesia

Sanjaya .2009.”Metode Pembeajaran Ceramah di Kelas”.Tersedia pada http://stkipselong.blogspot.com/2010 /01/blog-post.html. (diakses tanggal 18 Februari 2013)

Sudjana, Nana. 2010. Penilaian Hasil

Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

---. 1989. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sudijono Anas. 1996. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian

Administrasi. Bandung: Alfabeta

Sukirman. 2012. Pengembangan Media

Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani

Suryanto. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Jawa Timur: Masmedia Buana Pustaka.

Suwarsono.2001.”Pembelajaran Pendidikan

Matematia Realistik“. Tersedia pada

http://ejournal.unirow.ac.id/ojs/files/j ournals/2/articles/4/public/JURNAL-WARLI-4.pdf (diakses tanggal 12 Februari 2013)

Tarigan Daitin. 2006. Pembelajaran

(11)

Pendidikan Nasional Direktorat

Jenderal Pendidikan Tinggi

Direktorat Ketenagaan

Wijaya Ariyadi. 2012. Pendidikan

Matematika Realistik. Yogyakarta: Graha Ilmu

Winarsunu. 2010. Statistik Dalam Penelitian Psikologi Dan Pendidikan.Malang:

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari 10 orang Frater, untuk perilaku yang termasuk ke dalam dimensi pengamalan atau konsekuensi (the consequential dimensions/ religious

Pemecahan perkara (splitsing) merupakan wewenang dari Jaksa yang diatur dalam Pasal 142 KUHAP, yang menyebutkan bahwa: 7 ^ o u Z o penuntut umum menerima satu bekas

Pengujian hipotesis dengan uji t pada taraf signifikan α =0,05 dan dk =41, diperoleh hasil perhitungan thitung = 3,2 dan ttabel = 1,67, sehingga 3,2 &gt; 1,67 atau

Abstrak: Pengembangan Bahan Ajar Materi Morfologi Gigi Di Jurusan Teknik Gigi Politeknik Kesehatan Tanjung Karang. Tujuan penelitian adalah: 1) Mendeskripsikan potensi

Perlakuan yang menunjukkan penurunan persentase nilai COD yang terendah yaitu perlakuan dengan tanpa lumpur aktif dan penambahan 0,3% dolomit, hal ini terjadi

Penerapan sanksi pidana yang diterapkan kepada pengemudi kendaraan bermotor umum yang melanggar aturan lalu lintas angkutan jalan berdasarkan Undang-Undang Nomor 22

Perhitungan debit banjir maksimum rancangan Qp dapat dilakukan setelah semua parameter input yang diperlukan terpenuhi. Perhitungan debit banjir maksimum dirancang dengan

Penggunaan algoritma Fisher-Yates pada game edukasi &#34;Ruang Geometri&#34;, terdapat di proses pengacakan soal kuis yang berada pada menu Ruang Geometri. Algoritma