PENDEKATAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK
BERBANTUAN MEDIA GRAFIS BERPENGARUH
TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA
SISWA KELAS V SD GUGUS 1 MENGWI
Ni Luh Rinayanti
1, I Wayan Rinda Suardika
2, I Nengah Suadnyana
31,2,3
Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
E-mail: [email protected], [email protected],
[email protected]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara siswa yang mengikuti pembelajaran pendekatan pendidikan matematika realistik berbantuan media grafis dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. Penelitian ini tergolong eksperimen semu, dengan desain
Nonequivalent Control Group Design. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD Gugus 1 Mengwi. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive random sampling. Sampel dari penelitian ini adalah SD No. 4 Cemagi dan SD No. 2 Cemagi. Penentuan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diperoleh dari hasil pengundian, dengan hasil SD No. 2 Cemagi sebagai kelompok eksperimen dan SD No.4 cemagi sebagai kelompok kontrol. Pengumpulan data hasil belajar matematika siswa mengunakan tes uraian. Data dikumpulkan selanjutnya dianalisis dengan uji-t. Hasil penelitian menunjukan terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara siswa yang mengikuti pembelajaran pendekatan pendidikan matematika realistik berbantuan media grafis dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. Hal tersebut dilihat dari nilai rata-rata kelompok eksperimen 81,53 dan nilai rata-rata kelompok kontrol 74,79. Perbedaan yang signifikan juga terlihat pada hasil analisis data yakni, sebesar 5,15 sedangkan sebesar 2,00. Karena dapat disimpulkan bahwa pendekatan pendidikan matematika realistik berbantuan media grafis berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa kelas V SD Gugus 1 Mengwi.
Kata Kunci: pendekatan pendidikan matematika realistik, media grafis, hasil belajar matematika.
Abstract
The objective of this study is to determine the significant differences between students’
learning outcomes of match subject with use match education learning approach which assist by graphic media with students who use the conventional learning. This study is a quasi experiment with the design of the study is Non-Equivalent Control Group Design.The population of this study is conducted to all of the fifth grade students of SD
Gugus 1 Mengwi. The sample was taken by using purposive random sampling technique.
81.53 and the average of control group is 74.79. The significant differences is also can be seen from the result of the test, tvalue is 5.15 on the other hand, ttable is 2.00. Because tvalue
> ttable so, it can be concluded match education learning approach which assists by
graphic media influence learning outcomes of match subject of the fifth grade students at SD Gugus 1 Mengwi.
Keywords: match education learning approach, graphic media, the results of learning match.
PENDAHULUAN
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Sehingga memiliki kemampuan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta
ketrampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara. Berbagai
upaya dilakukan oleh pemerintah untuk mewujudkan mutu pendidikan yang mampu menciptakan sumberdaya manusia yang
berkualitas. Seperti penyempurnaan
kurikulum secara berkala, perbaikan sarana
dan prasarana pendidikan serta
memberikan pelatihan-pelatihan untuk
meningkatkan kualitas guru dalam
pembelajaran. Hal tersebut dilakukan agar guru dapat mengembangkan pendekatan-pendekatan pembelajaran yang mampu mengoptimalkan proses belajar siswa. Sesuai dengan paradigma pembelajaran saat ini yakni pembelajaran yang berpusat pada siswa. Menurut (Suryanto 2009:7) paradigma baru pembelajaran ditandai
dengan inovasi dalam proses
pembelajaran, inovasi pembelajaran berarti
perubahan atau pembaharuan dalam
proses pembelajaran. Guru dapat
merancang pembelajaran inovatif, sehingga siswa dapat berperan aktif dalam proses
pembelajaran, seperti halnya dalam
pembelajaran matematika. Menurut Tarigan (2012:13) matematika merupakan cabang ilmu pengetahuan yang menuntut siswa
untuk memiliki kemampuan berpikir
matematis. Berpikir matematis adalah berpikir yang logis, rasional, kritis, cermat, jujur, dan efektif. Sejalan dengan pendapat
tersebut Japa, dkk (2011:2) juga
mengemukakan bahwa pembelajaran
matematika adalah proses yang sengaja
dirancang dengan tujuan untuk
menciptakan suasana lingkungan yang
memungkinkan siswa melaksanakan
kegiatan belajar matematika. Sehingga siswa memiliki kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, kreatif, serta kemampuan kerjasama. Hal ini berarti
bahwa proses pembelajaran
matematematika lebih menekankan pada aktivitas siswa. Interaksi siswa dengan sumber belajar seperti buku-buku, teman, serta guru.
Matematika perlu diberikan kepada siswa mulai dari sekolah dasar, untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir logis, analisis, sistematis, kritis,
kreatif, serta kemampuan kerjasama
(Aisyah 2007:1-3). Tujuan pembelajaran matematika di sekolah dasar menurut
Badan Standar Nasional Pendidikan
(BSNP) (2006:417) adalah. (1)Memahami
konsep matematika, menjelaskan
keterkaitan antara konsep dan
mengaplisipikasi konsep secara luwes,
akurat, episien, dan tepat dalam
pemecahan masalah. (2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika atau menggunakan model atau cara sendiri dalam membuat generalisasi atau hubungan/keterkaitan, dalam menyusun/menjelaskan gagasan
dan menyatakan matematika. (3)
Memecahkan masalah, yang meiputi
kemampuan memahami masalah
merancang model matematika,
menyelesaikan model, serta menafsirkan
soslusi yang diperoleh. (4)
Mengkomunikasikan gagasan melalui
Dari hasil observasi di sekolah dasar Gugus 1 Mengwi masih banyak siswa yang beranggapan bahwa matematika itu sulit,
membosankan, dan menakutkan,
disamping itu aktivitas guru masih sangat dominan dalam proses pembelajaran. Siswa bertugas menerima imformasi yang
disampaikan oleh guru, sehingga
pembelajaran menjadi kurang menarik,
padahal matematika merupakan
pembelajaran yang sangat erat kaitannya
dengan kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran yang biasa dilaksanakan oleh guru diistilahkan dengan pembelajaran konvensional. Seperti yang dikemukakan
oleh Sanjaya (2006:22) bahwa
pembelajaran konvensional merupakan
suatu pembelajaran yang secara umum dan biasa dilaksanakan atau diterapkan oleh guru pada masa kini. Proses pembelajaran lebih sering diarahkan pada aliran informasi dari guru kepada siswa. Pada umumnya
pembelajaran konvensional adalah
pembelajaran yang lebih terpusat pada guru. Hal tersebut sejalan dengan pendapat yang dikemukakan Rusmono (2012: 66) yang mengemukakan bahwa pembelajaran yang berpusat pada guru adalah proses pembelajaran dimana guru menyampaikan imformasi secara verbal (ceramah) kepada
siswa. Sementara itu siswa hanya
menerima dan mengikuti proses
pembelajaran dari materi yang telah disajikan atau disampaikan guru.
Berdasarkan uraian pendapat
diatas pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang biasa dilaksanakan dalam proses pembelajaran selama ini, yang cendrung berpusat pada guru. Dalam
proses pembelajaran guru yang
menyampaikan imformasi baik secara verbal, atau melalui demonstrasi. Siswa hanya bertugas menerima dan mengikuti
proses pembelajaran tersebut.
Pembelajaran konvensional mempunyai
beberapa kelemahan, seperti yang
dikemukakan oleh Sanjaya (2009) sebagai berikut.(1) Sering terjadi kesulitan untuk menjaga agar siswa tetap tertarik dengan materi yang dipelajari, karena tidak semua siswa memiliki cara belajar terbaik dengan mendengarkan. (2) Pembelajaran tersebut mengasumsikan bahwa cara belajar siswa itu sama dan tidak bersifat pribadi. (3)
Kurang menekankan pada pemberian keterampilan proses (hands-on activities). (4) Siswa tidak mengetahui apa tujuan mereka belajar pada hari itu. (5) Penekanan sering hanya pada penyelesaian tugas. (6) Daya serapnya rendah dan cepat hilang karena materi yang diperoleh bersifat menghafal.
Berdasarkan hal tersebut perlu
dirancang suatu pembelajaran yang
inovatif. Pembelajaran yang mampu
mengaktifkan siswa dalam proses mencari, serta menemukan materi yang sedang dipelajari serta berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Pendekatan pendidikan matematika realistik berbantuan media grafis merupakan salah satu inovasi dalam
proses pembelajaran. Pendekatan
pendidikan matematika realistik merupakan
pendekatan pembelajaran yang
dikembangkan berdasarkan pemikiran
Hans Freudenthal dari Belanda. Menurut Dolk (dalam Aisyah, 2007: 7-3) dasar pemikiran dari pendekatan ini bahwa matematika bukanlah materi yang dapat dipindahkan dari guru kepada siswa, tetapi matematika merupakan suatu kegiatan siswa yang bermula dari pemecahan
masalah. Winataputra (2007:1.38)
mengemukakan bahwa untuk
meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah, guru hendaknya mengajukan permasalahan yang menarik. Dan berada dalam jangkauan siswa yakni
sesuai dengan pengetahuan dan
ketrampilan yang telah siswa miliki.
Menurut Wijaya (2012:21) pendidikan matematika realistik adalah pembelajaran yang menggunakan permasalahan realistik,
yakni permasalahan yang dapat
dibayangkan (imaginable), atau nyata
dalam pikiran siswa. Permasalahan
tersebut dapat berupa cerita rekaan atau karangan, dan permainan. Sejalan dengan pendapat tersebut Tarigan (2006: 4) juga
mengemukakan bahwa pembelajaran
matematika realistik merupakan
pendekatan pembelajaran yang mengacu pada penalaran siswa yang bersifat
realistik. Sehingga mengacu pada
Jadi dari beberapa pendapat
tersebut dapat disimpulkan bahwa
pendekatan pendidikan matematika realistik merupakan pendekatan dalam proses
pembelajaran yang berorientasi pada
permasalahan nyata, yang dekat dengan
kehidupan sehari-hari siswa atau
permasalah yang dapat dibayangkan oleh siswa. Sehingga siswa berperan aktif dalam proses pembelajaran serta memiliki pola pikir logis, kritis, dan jujur.
Prinsip pendekatan pendidikan
matematika realistik menurut Gravemeijer (dalam Japa, dkk 2011: 44) ada tiga yaitu. (1) Guided re-invention atau menemukan kembali secara seimbang. Siswa memiliki kesempatan untuk mencari menemukan materi yang dipelajari seperti pakar atau orang-orang yang sudah ahli. (2) Didacdical Phenomenology atau penomena digdaktik. Topik-topik matematika yang diberikan
berasal dari fenomena sehari-hari
(masalah kontekstual yang terjadi).
Topik-topik ini dipilih berdasarkan pada
pertimbangan: aplikasi dan, kontribusinya, untuk perkembangan matematika lanjut. (3)
Self-developed model atau model dibangun sendiri oleh siswa. Siswa mengembangkan
model sendiri dalam memecahkan
permasalah-permasalahan kontekstual
yang diberikan. Pertama siswa
menggunakan penyelesaian informal.
Setelah terjadi interaksi serta melakukan diskusi, salah satu penyelesaian atau pemecahan masalah yang digunakan siswa akan berkembang menjadi model formal.
Sejalan dengan pendapat yang
dikemukakan oleh Pribadi (2009: 31) bahwa
pembelajaran harus menjadi sebuah
aktivitas yang berfokus pada siswa, karena siswa merupakan subyek dari proses dan aktivitas pembelajaran. Siswa harus aktif
dalam pencarian dan pengembangan
pengetahuan. Guru harus mengubah
perannya dari pemegang otoritas dalam pembelajaran menjadi fasilitator agar siswa
mampu membangun pengetahuannya
sendiri, dengan cara berinteraksi dengan berbagai sumber belajar yang ada.
Karakteristik pendekatan pendidikan matematika realistik adalah pendekatan dalam pembelajaran yang dimulai dengan permasalahan-permasalahan nyata atau permasalahan yang kontekstual, yang
dapat dibayangkan oleh siswa.
Penyajian materi saling terkait dimulai dari permasalah nyata selanjutnya mengarah kepada konsep-konsep yang lebih bersifat abstrak. Siswa memiliki kebebasan untuk mengekspresikan hasil kerja mereka dalam
menyelesaikan masalah nyata yang
diberikan oleh guru, dan guru berperan sebagai fasilitator bagi siswa, sehingga terjalin interaksi yang interaktif dalam proses pembelajaran.
Suwarsono (2001:5) menyatakan
keunggulan dari pendekatan pendidikan patematika realistik adalah sebagai berikut. (1) Pendekatan pendidikan matematika realistik memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa tentang keterkaitan antara matematika dengan kehidupan sehari-hari (kehidupan dunia nyata) dan kegunaan matematika pada umumnya bagi manusia. (2) Pendekatan
pendidikan matematika realistik
memberikan pengertian yang jelas dan
operasional kepada siswa bahwa
matematika adalah suatu bidang kajian
yang dikonstruksi dan dikembangkan
sendiri oleh siswa tidak hanya oleh mereka yang disebut pakar dalam bidang tersebut. (3) Pendekatan pendidikan matematika realistik memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa bahwa cara penyelesaian suatu soal atau masalah tidak harus tunggal dan tidak harus sama antara siswa yang satu dengan yang lain. Setiap siswa bisa menemukan atau menggunakan cara sendiri, asalkan siswa tersebut bersungguh sungguh dalam mengerjakan soal atau masalah tersebut. Selanjutnya dengan membandingkan cara penyelesaian yang satu dengan cara penyelesaian yang lain, akan bisa diperoleh cara penyelesaian yang paling tepat, sesuai dengan proses penyelesaian soal atau masalah tersebut. (4) Pendekatan pendidikan matematika realistik memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa bahwa dalam mempelajari matematika, proses pembelajaran merupakan sesuatu yang utama dan untuk mempelajari matematika siswa harus menjalani proses itu dan
berusaha untuk menemukan sendiri
konsep-konsep matematika, dengan
bantuan pihak lain yang dapat
guru). Tanpa kemauan untuk menjalani sendiri proses tersebut, pembelajaran yang bermakna tidak akan terjadi.
Permasalahan-permasalah
kontekstual yang disampaikan akan
tergambar jelas dalam pikiran siswa melalui media grafis. Menurut Daryanto (2010: 19) bahwa media grafis merupakan suatu
penyajian secara visual, yang
menggunakan titik-titik, garis-garis, gambar-gambar, tulisan-tulisan, atau simbol visual
yang lain dengan maksud untuk
menghtiarkan, menggambarkan, dan
merangkum suatu ide, data, atau kejadian.
Menurut Sukirman (2012: 86) yang
mengemukakan bahwa media grafis
merupakan media visual yang berfungi
menyalurkan pesan dari sumber
kepenerima pesan melalui perpaduan antara kata-kata serta gambar-gambar.
Berdasarkan pendapat tersebut
media grafis merupakan media yang disajikan secara visual berupa gambar-gambar, tulisan-tulisan, serta perpaduan
dari keduanya yang berfungsi
menghantarkan pesan dari pengirim
kepada penerima pesan. Dalam proses pembelajaran media grafis dapat menarik
perhatian siswa. Menjelaskan ide,
mengihtiarkan fakta yang mungkin akan cepat dilupakan atau diabaikan jika hanya menggunakan bahasa verbal saja tanpa
divisualkan. Kelebihan media grafis
menurut Daryanto (2010: 19) adalah bentuknya sederhana, bahannya mudah
diperoleh, dapat menyampaikan
rangkuman, mampu mengatasi
keterbatasan ruang dan waktu, dapat divariasikan (dipadukan) dengan media yang lainnya. Tetapi dalam pembuatan media grafis memelukan kreativitas guru, agar pesan yang ingin disampaikan melalui media ini dapat diterima dengan baik oleh siswa. Lebih lanjut Daryanto (2010: 119), mengemukakan media grafis terdiri atas enam jenis, diantaranya : ganbar, bagan, grafik, poster, kartun, dan komik. Jenis-jenis media grafis dapat disesuaikan dengan materi yang dibelajarkan.
Berdasarkan prinsip, karakteristik,
kelebihan pendekatan pendidikan
matematika realistik serta peran media grafis tersebut siswa dapat memaksimalkan
proses pembelajaran sehingga memperoleh hasil belajar matematika yang optimal.
Sudjana (2010:3) mengemukakan bahwa hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan
psikomotor. Sejalan dengan pendapat
tersebut Rusmono (2012:10) juga
mengemukakan bahwa hasil belajar
merupakan perubahan prilaku individu yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan
psikomotor. Perubahan prilaku tersebut diperoleh setelah siswa melaksanakan proses pembelajaran melalui interaksinya dengan berbagai sumber belajar. Dan menurut Dimyati dan Mudjiono (2002:36) hasil belajar adalah hasil yang ditunjukkan dari suatu interaksi tindak belajar dan biasanya ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan guru.
Dari uraian pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika adalah hasil yang diperoleh oleh siswa setelah melaksanakan proses pembelajaran matematika dengan berbagai sumber belajar. Dan mengacu pada berubahan tingkah laku yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotor kearah yang lebih baik. Selain perubahan pada sikap atau prilaku hasil belajar siswa akan tercermin secara jelas dalam hasil yang diperoleh setelah melaksanakan tes hasil belajar. Dalam penelitian ini hasil belajar yang dianalisis adalah hasil belajar pada ranah kognitif. Berikut ini adalah
langkah-langkah pembelajaran dengan
pendekatan pendidikan matematika realistik berbantuan media grafis. Langkah-langkah pembelajaran ini diadaptasi dari
langkah-langkah pembelajaran pendekatan
pendidikan matematika realistik dari Aisyah.
(1) Kegiatan pendahuluan: guru
menyiapkan peserta didik baik fisik maupun
psikis sebelum mengikuti proses
pembelajaran, guru melakukan absensi,
guru menyampaikan apersepsi, guru
menyampaikan lingkup materi yang akan di
pelajari, guru menyampaikan tujuan
pembelajaran. (2) Kegiatan inti sebagai
berikut. Guru menyampaikan
permasalahan yang kontekstual, serta menampilkan media pembelajaran berupa
gambar visual agar siswa dapat
permasalahan yang di sampaikan. Meberikan kesempatan kepada siswa untuk
menyampaikan pendapat, terhadap
permasalahan yang disampaikan. Menggali pengetahuan siswa lebih dalam melalui latihan soal-soal kontektual baik secara berkelompok maupun individu. Siswa atau
kelompok menyampaikan pendapatnya
terhadap latihan yang diberikan. Siswa bersama guru memberikan konfirmasi terhadap pendapat yang disampaikan siswa baik secara individu maupun kelompok. Guru membantu siswa untuk menemukan pemecahan masalah yang lebih baik. Guru memberikan penguatan ,motivasi serta pengarahan untuk penyelesaian terbaik kepada siswa. (3) Kegiatan penutup adalah. Siswa bersama guru guru membuat rangkuman kesimpulan mengenai materi yang telah di pelajari. Guru memberikan tes secara individual. Guru memberikan umpan balik terhadap hasil pekerjaan siswa. Guru
menyampaikan kegiatan tindak lanjut
berupa pekerjaan rumah.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara siswa yang
mengikuti pembelajaran pendekatan
pendidikan matematika realistik berbantuan media grafis dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen, dan jenis penelitian ini adalah
eksperimen semu (quasi eksperiment),
karena tidak semua variabel dapat
dikontrol secara ketat. Rancangan
eksperimen yang digunakan adalah Non
Equivalent Control Group Design. Data hasil belajar matematika siswa dalam penelitian ini diambil dari skor post test
yang diberikan pada akhir penelitian. Post
test digunakan untuk mengetahui
perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara siswa yang mengikuti
pembelajaran pendekatan pendidikan
matematika realistik berbantuan media grafis dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. Pre test dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui kesetaraan dari kedua kelompok dalam
penelitian. Seperti yang dikemukakan
(Dantes (2012: 34) Pemberian Pra tes
biasanya digunakan untuk mengukur
ekuivalensi atau menyetarakan kelompok. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD gugus 1 Mengwi. Sampel dalam penelitian ini diambil dengan
mengkombinasikan teknik probability
sampling dan non probability sampling
yakni teknik purposive simple random
sampling. Seperti yang dikemukakan oleh Dantes (2012:47) bahwa “Sebagai suatu catatan, dalam penelitian-penelitian dimana
terjadi penarikan sampel, sangat
memungkinkan kombinasi penggunaan
teknik sampling, baik pada sampling
probabilitas, nonprobabilitas, atau bahkan kombinasi antara teknik probabilitas dengan
nonprobabilitas. Dengan kata lain, satu tahap didasarkan atas prinsip probalitas, dan selebihnya dilakukan atas prinsip
sampling non probalitas”. Menurut
Sugiyono (2011: 96) Sampling purposive
adalah pengambilan sampel berdasarkan kriteria tertentu. Dan simple random sampling adalah penarikan sampel secara sederhana dengan cara random (acak). Kriteria sampel yang dipilih dalam penelitian ini adalah sampel besar, yakni sampel yang kelasnya berjumlah tiga puluh atau lebih dari tiga puluh siswa. Di SD Gugus 1 Mengwi terdapat tiga sekolah dasar yang memiliki jumlah siswa kelas V yang lebih dari tiga puluh. sekolah tersebut adalah SD No. 1 Munggu, SD No. 2 Cemagi dan SD No. 4 Cemagi. Berdasarkan keterangan dari kepala gugus inti yang menyatakan bahwa seluruh SD di Gugus 1 Mengwi telah setara, selanjutnya ketiga sekolah yang memenuhi kriteria diundi untuk menentukan
sampel dalam penelitian. Dari hasil
pengundian diperoleh dua kelompok kelas sebagai sampel. Kelompok eksperimen dan kelompok kontrol ditentukan dengan cara diundi kembali, dengan hasil SD No.2 Cemagi sebagai kelompok eksperimen dan SD No.4 Cemagi sebagai kelompok kontrol. Data hasil belajar matematika siswa dikumpulkan dengan menggunakan tes hasil belajar. Tes hasil belajar yang digunakan adalah tes esai/uraian. Menurut Azwar (1999:108) soal bentuk esai (uraian)
merupakan teknik terbaik untuk
mengungkapkan kemampuan
menyatakan pengetahuan secara lengkap. Dalam menjawab tes esai siswa dituntut untuk menjawab secara rinci, teliti, dan berpikir sistematik. Menurut Sudjana (1989: 36) tes esai memiliki kelebihan diantaranya: 1) Dapat mengukur proses mental atau aspek kognitif lebih tinggi. 2) Dapat mengembangkan kemampuan berbahasa, baik lisan, maupun tulisan, dengan baik dan benar. 3) dapat melatih kemampuan pola berpikir logis, analitis, dan sistemati. 4) Mengembangkan ketrampilan pemecahan masalah. 5) Pembuatan soal lebih cepat serta dapat melihat proses berpikir siswa. Menurut Sudijono (1996: 302) pensekoran tes uraian umumnya berdasarkan bobot yang diberikan pada setiap butir soal tingkat kesukarannya, banyak sedikitnya pendapat serta tepat atau tidak pendapat yang dikemukakan. Dalam penelitian ini,
penilaian hasil belajar menggunakan
rentangan penilaian 0-4.
Sebelum digunakan tes hasil belajar
matematika diuji cobakan untuk
menentukan validitas dan reliabilitas dari
instrument yang digunakan dalam
penelitian. Sebuah tes dikatakan valid atau sahih jika tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur. Menurut Arikunto (2002 : 144) validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan kevalidan atau kesahihan suatu instumen. Untuk mengukur validitas
tes digunakan rumus korelasi product
moment. Nilai yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan nilai yang diperoleh dari r tabel, jika r hitung > r tabel maka soal di kategorikan valid. Berdasarkan hasil analisis dari 20 soal yang diuji cobakan terdapat 19 butir soal yang valid.
Butir-butir soal yang valid kemudian diuji reliabilitas. Untuk mencari reliabilitas tes soal esai keseluruhan digunakan rumus
Alpha Cronbach, karena tes essay bersifat palitomi. Berdasarkan derajat reliabilitas tes, yang dikemukakan oleh Guilfird (dalam Koyan, 2011:136) 19 butir soal tersebut dalam katagori reliabilitas sangat tinggi.
Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan uji-t (t-test). Sebelum dilakukan uji-t terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat yakni uji normalitas dan uji
homogenitas varians. Uji normalitas
sebaran data menggunakan rumus chi
kuadrat Kriteria pengujian pada taraf
signifikansi 5% adalah 11,07. Jika x2
hitung < x2tabel dengan dk = k-1 maka data berdistribusi normal. Uji homogenitas varian antar kelompok menggunakan rumus Uji-F. “Uji homogenitas dilakukan untuk membuktikan bahwa perbedaan yang terjadi pada uji hipotesis benar-benar terjadi akibat adanya perbedaan antar kedua
kelompok” (Winarsunu 2010: 100). Kriteria
pengujian untuk mengetahui data yang mempunyai varians yang homogen yaitu,
Fhit < Ftabel (n1 – 1, n2 - 1) maka sampel homogen. Pengujian dilakukan pada taraf signifikansi 5% dengan derajat kebebasan untuk pembilang n1 – 1 dan derajat kebebasan untuk penyebut n2– 1.
Jika dari hasil uji normalitas dan homogenitas varians, diketahui bahwa sampel berdistribusi normal dan homogen maka dilanjutkan dengan uji hipotesis. Analisis statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis penelitian ini adalah uji t
separated varians dengan taraf signifikansi 5% (
=0,05) atau taraf kepercayaan 95% memaparkan nilai rata-rata, nilai tertinggi, dan nilai terendah dari data hasil belajarmatematika baik pada kelompok
eksperimen maupun kelompok kontrol. Berdasarkan analisis nilai post tes hasil belajar matematika, nilai rata-rata kelompok eksperimen lebih dari nilai rata-rata kelompok kontrol. Nilai rata-rata dari kelompok eksperimen 81,53 dan nilai rata-rata kelompok kontrol 74,79.
Nilai tertinggi yang diperoleh oleh siswa pada kelompok eksperimen sebesar 93, dan nilai tertinggi siswa pada kelompok kontrol sebesar 85. Nilai terendah yang diperoleh siswa pada kelompok eksperimen 63, dan nilai terendah yang diperoleh oleh siswa pada kelompok kontrol 58.
dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. Perbedaan yang signifikan juga terlihat dari hasil uj-t terhadap nilai post tes hasil belajar kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Analisis uji-t hasil belajar kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dilakukan setelah melaksanakan uji prasyarat yakniuji normalitas dan uji homogenitas.
Uji normalitas data dilakukan pada kedua kelompok yaitu pada kelompok eksperimen yang dibelajarkan dengan pendekatan pendidikan matematika reastik
berbantuan media grafis, dan pada
kelompok kontrol yang dibelajarkan dengan pembelajaran konvensional. Berdasarkan hasil analisis nilai post tes hasil belajar matematika pada kelompok eksperiment diperoleh = 2,84. Dengan dk = k-1 pada taraf signifikansi 5% diperoleh = 11,07. Karena < maka
data hasil belajar matematika pada
kelompok eksperimen dikategorikan
berdistribusi normal. Sedangkan analisis nilai post tes hasil belajar matematika pada kontol diperoleh = 2,77. Dengan dk = k-1 pada taraf signifikansi 5% diperoleh
= 11,07. Karena <
maka data hasil belajar matematika pada kelompok kontrol dikategorikan berdistribusi normal.
Setelah data hasil belajar
matematika kedua kelompok dinyatakan
berdistribusi normal dilakukan uji
homogenitas varian antar kelompok.
Uji homogenitas varian antar kelompok menggunakan Uji-F. Berdasarkan analisis uji homogenitas varian diperoleh
sebesar 1,07, nilai ini kemudian
dibandingkan dengan nilai . Derajat kebebasan pembilang 38-1 = 37 dan derajat kebebasan penyebut 38-1 = 37
dengan taraf signifikansi 5%, maka
diperoleh sebesar 1,76. Karena
< , ini berarti nilai post test
hasil belajar matematika pada kolompok
eksperimen serta kelompok kontrol
homogen.
Hasil uji normalitas dan
homogenitas varians yang dilakukan pada
kelompok eksperimen dan kelompok
kontrol, menunjukan bahwa sebaran data pada kedua kelompok berdistribusi normal dan homogen, selanjutnya data hasil belajar matematika dianalis dengan uji-t. Kriteria pengujian hipotesis adalah jika thitung < ttabel, maka hoditerima (gagal ditolak)
dan ha ditolak, sebaliknya jika thitung ≥ ttabel, maka ho ditolak dan ha diterima. Pengujian
dilakukan pada taraf signifikan 5% (α = 0,05) atau taraf kepercayaan 95% dengan dk = n1+ n2–2. Hasil perhitungan uji-t disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Tabel Uji Hipotesis Penelitian antara Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
Berdasarkan tabel sebeumnnya, diperoleh nilai t hitung sebesar 5, 15 dan nilai t tabel pada tarap signifikansi 5%, dengan dk=74 sebesar 2,00. Karena nilai thitung lebih dari nilai ttabel (5,15 > 2,00), maka hipotesis alternatif (Ha) diterima. Ini berarti, terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara siswa yang
mengikuti pembelajaran pendekatan
pendidikan matematika realistik berbantuan media grafis dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional.
Berdasarkan pernyataan dari ketua Gugus 1 Mengwi serta hasil uji kesetaraan data tes sumatif matematika siswa kelas IV semester 2 kedua sampel penelitian ini
dinyatakan setara. Hal tersebut
menunjukan bahwa sebelum diberikan perlakuan kedua kelompok mempunyai kemampuan awal yang sama. Kedua sampel yang telah terpilih diundi untuk menentukan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Keompok eksperimen
dibelajarkan dengan pendekatan
pendidikan matematika relistik sedangkan kelompok kontrol dibelajarkan dengan
Kelompok Penelitian thitung ttabel Status
Hasil Belajar Matematika
pembelajaran konvensional. Perlakuan tersebut diterapkan selama 8 kali baik pada
kelas eksperimen maupun kontrol,
selanjutnya kedua kelompok dikenakan pengkuran ( post test).
Berdasarkan analisis nilai post test hasil belajar matematika kedua
kelompok maka diketahui terdapat
perbedaan nilai rata-rata antara kedua kelompok. Nilai rata-rata siswa pada kelompok eksperimen yang mengikuti
pembelajaran pendekatan pendidikan
matematika realistik berbantuan media grafis lebih tinggi dibandingkan nilai rata-rata siswa pada kelompok kontrol yang mengikuti pembelajaran konvensional. Nilai
rata-rata pada kelompok eksperimen
sebesar 81,53 sedangkan nilai rata-rata pada kelompok kontrol sebesar 74,79. Selain nilai rata-rata hasil belajar siswa, perbedaan yang signifikan dapat dilihat dari keseluruhan nilai post test hasil belajar matematika siswa yang dianalisis melalui uji hipotesis menggunakan uji-t. Sebelum dilakukan uji hipotesis mengunakan uji-t, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat yang meliputi uji normalitas dan uji homogenitas. Dari hasil anasilis uji prasyarat diketahui bahwa sebaran data nilai post test hasil
belajar matematika kedua kelompok
berdistribusi normal dan homogen. Karena data pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol telah memenuhi uji prasyarat maka dilanjutkan dengan uji hipotesis menggunakan uji-t. Dari hasil analisis diperoleh = 5,15 dan = 2,00 dalam taraf signifikansi 5% dan derajat kebebasan = 74. Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa > maka Ha diterima dan Ho ditolak.
Sehingga terdapat perbedaan yang
signifikan terhadap hasil belajar matematika antara siswa yang mengikuti pembelajaran pendekatan pendidikan matematika realistik dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional.
Perbedaan hasil belajar yang ditimbul dikarenakan adanya perbedaan proses dalam pembelajaran. Pendekatan pendidikan matematika realistik merupakan pendekatan dalam pembelajaran yang
beorientasi pada
permasalahan-permasalahan kontekstual. Permasalahan
yang dekat dengan siswa atau
permasalahan yang mampu dibayangkan
oleh siswa. Hal tersebut dapat
menumbuhkan minat belajar siswa karena materi yang dibelajari dirasakan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Dengan bantuan media grafis sebagai media pembelajaran seperti gambar semakin
menumbuhkan minat belajar siswa.
Permasalahan kontektual yang
disampaikan dapat dipertegas melalui media grafis seperti gambar. Karena media grafis berfungsi menyampaikan pesan atau imformasi dari pengirm ke penerima pesan, dari guru ke murid ataupun sebaliknya. Selain itu media grafis juga dapat menarik perhatian siswa dengan gambar serta
warna yang menarik. Dengan
menggunakan pendekatan matematika
realistik berbantuan media grafis siswa dapat berperan secara aktif sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Hal tersebut juga bermuara pada hasil belajar yang diperoleh siswa, seperti yang telah diunggkapkan diatas berdasarkan hasil analisis uji-t menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap hasil belajar matematika antara siswa yang
dibelajarkan dengan pendekatan
pendidikan matematika realistik dengan
siswa yang dibelajarkan dengan
pembelajaran konvensional.
Perbedaan hasil belajar yang signifikan antara pendekatan pembelajaran matematika realistik dengan pembelajaran konvensional juga dikemukakan oleh Ari Sutariani. Rata-rata skor hasil belajar pada kelompok eksperimen = 19,57 sedangkan
pada kelompok kontrol= 10,61.
Derdasarkan hasil uji hipotesi terhadap hasil belajar matematika diperoleh thitung = 6,179. Penelitian yang dilakukan oleh Wiwik Arimiarti di Desa Angseri (2012) juga
mengemukakan bahwa pendekatan
pendidikan matematika realstik berbantuan lembar kerja siswa berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa kelas IV di Desa Angseri. Dengan hasil rata-rata kelompok eksperimen lebih besar dari kelompok kontrol yakni XE = 53 XK = 41,7.
analisis post tes hasil belajar matematika siswa, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara siswa yang mengikuti
pembelajaran pendekatan pendidikan
matematika realistik berbantuan media grafis dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensionaal.
PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara siswa yang
mengikuti pembelajaran pendekatan
pendidikan matematika realistik berbantuan media grafis dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil analisis uji hipotesis yang menggunakan uji-t dengan hasil thitung lebih dari ttabel yaitu 5,15 > 2,00 sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Selain itu nilai rata-rata hasil belajar matematika kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol yaitu 81,53 > 74,79. Dengan
demikian pendekatan pendidikan
matematika realistik berbantuan media
grafis berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa kelas V SD Gugus 1 Mengwi.
DAFTAR RUJUKAN
Aisyah Nyimas, dkk. 2007. Pengembangan Pembelajaran Matemtika SD.
Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi Deprtemen Pendidikan
Nasional.
Arikunto, Suharsini. 2002. Prosedur
Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta
Azwar, Saifuddin. 1999. Tes Prestasi. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.
Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006.
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Jakarta: Badan Standar Pendidikan
Dantes. 2012. Metode Penelitian.
Yogyakarta:CV Andi Offset
Daryanto. 2010. Media Pembeljaran.
Yogyakarta: Gava Media
Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Japa I Gusti Ngurah, dkk. 2011. Pendidikan Matematika I. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha
Koyan. 2011. Assesmen dalam Pendidikan. Singaraja: UNDIKSHA
Pribadi A Beny. 2009. Model Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Dian Rakyat
Rusmono. 2012. Strategi Pembelajaran
Problem Based Learning. Bogor: Ghalia Indonesia
Sanjaya .2009.”Metode Pembeajaran Ceramah di Kelas”.Tersedia pada http://stkipselong.blogspot.com/2010 /01/blog-post.html. (diakses tanggal 18 Februari 2013)
Sudjana, Nana. 2010. Penilaian Hasil
Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
---. 1989. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sudijono Anas. 1996. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian
Administrasi. Bandung: Alfabeta
Sukirman. 2012. Pengembangan Media
Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani
Suryanto. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Jawa Timur: Masmedia Buana Pustaka.
Suwarsono.2001.”Pembelajaran Pendidikan
Matematia Realistik“. Tersedia pada
http://ejournal.unirow.ac.id/ojs/files/j ournals/2/articles/4/public/JURNAL-WARLI-4.pdf (diakses tanggal 12 Februari 2013)
Tarigan Daitin. 2006. Pembelajaran
Pendidikan Nasional Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi
Direktorat Ketenagaan
Wijaya Ariyadi. 2012. Pendidikan
Matematika Realistik. Yogyakarta: Graha Ilmu
Winarsunu. 2010. Statistik Dalam Penelitian Psikologi Dan Pendidikan.Malang: