• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRAK PENGARUH LINGKUNGAN SOSIAL DAN DISIPLIN BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR EKONOMI SISWA KELAS X SMA BINA MULYA BANDAR LAMPUNG TAHUN AJARAN 2012/2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ABSTRAK PENGARUH LINGKUNGAN SOSIAL DAN DISIPLIN BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR EKONOMI SISWA KELAS X SMA BINA MULYA BANDAR LAMPUNG TAHUN AJARAN 2012/2013"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH LINGKUNGAN SOSIAL DAN DISIPLIN BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR EKONOMI SISWA KELAS X

SMA BINA MULYA BANDAR LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2012/2013

(Skripsi)

Oleh :

Vivi Ratnasari

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN

Pada

Program Studi Pendidikan Ekonomi Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

PENGARUH LINGKUNGAN SOSIAL DAN DISIPLIN BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR EKONOMI SISWA KELAS X

SMA BINA MULYA BANDAR LAMPUNG TAHUN AJARAN 2012/2013

Oleh

VIVI RATNASARI

Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor eksternal maupun faktor internal. Salah satu faktor eksternal siswa yang berpengaruh terhadap pencapaian hasil belajar adalah lingkungan sosial, sedangkan faktor internal salah satunya adalah disiplin belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:

1. Ada pengaruh lingkungan sosial terhadap hasil belajar ekonomi siswa kelas X SMA Bina Mulya Bandar Lampung Tahun Ajaran 2012/2013. 2. Ada pengaruh disiplin belajar terhadap hasil belajar ekonomi siswa kelas

X SMA Bina Mulya Bandar Lampung Tahun Ajaran 2012/2013.

3. Ada Pengaruh lingkungan sosial dan disiplin belajar terhadap hasil belajar ekonomi siswa kelas X SMA Bina Mulya Bandar Lampung Tahun Ajaran 2012/2013.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Bina Mulya Bandar Lampung Tahun Ajaran 2012/2013, yaitu berjumlah 66 siswa. Pengambilan sampel berjumlah 56 siswa dilakukan dengan Simple Random Sampling dengan menggunakan rumus Cochran. Alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah angket. Metode yang digunakan adalah penelitian deskriptif verifikatif dengan pendekatan ex post facto dan survei. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, angket dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik analisis regresi.

Hasil penelitian menunjukan bahwa ada pengaruh lingkungan sosial dan disiplin belajar terhadap hasil belajar ekonomi siswa kelas X SMA Bina Mulya Bandar Lampung Tahun Ajaran 2012/2013. Hal ini ditunjukkan dengan koofisien korelasi(R) = 0,745 dan koofisien determinasi(R2) = 0,556, yang berarti hasil belajar ekonomi siswa dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan disiplin belajar siswa sebesar 55,6% dan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain.

Berdasarkan analisis data diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

(3)

2. Ada pengaruh disiplin belajar terhadap hasil belajar ekonomi siswa kelas X SMA Bina Mulya Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2012/2013.

3. Ada pengaruh lingkungan sosial dan disiplin belajar terhadap hasil belajar ekonomi siswa kelas X SMA Bina Mulya Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2012/2013.

(4)
(5)
(6)
(7)

DAFTAR ISI

Halaman DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 10

C. Pembatasan Masalah ... 11

D. Rumusan Masalah ... 11

E. Tujuan Penelitian ... 12

F. Kegunaan Penelitian ... 12

G. Ruang Lingkup Penelitian ... 13

II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS A. Tinjauan Pustaka ... 14

1. Hasil Belajar... 14

2. Lingkungan Sosial ... 16

3. Disiplin Belajar ... 22

B. Hasil Penelitian yang Relevan... 28

C. Kerangka Pikir... 30

D. Hipotesis Penelitian... 34

III. METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian ... 35

B. Populasi dan Sampel ... 36

1. Populasi ... 36

2. Sampel... 37

C. Teknik Sampling ... 38

D. Variabel Penelitian ... 39

E. Definisi Konseptual Dan Operasional Variabel ... 40

(8)

Halaman

G. Teknik Pengumpulan Data ... 44

1. Observasi ... 44

2. Dokumentasi. ... 44

3. Kuesioner (Angket) ... 44

4. Wawancara ... 45

H. Uji Persyaratan Instrumen ... 46

1. Uji Validitas ... 46

2. Uji Reliabilitas ... 48

I. Uji Persyaratan Analisis Parametrik ... 50

1. Uji Normalitas ... 50

2. Uji Homogenitas ... 52

3. Uji Asumsi Klasik ... 52

a. Uji Keberartian Dan Kelinieran Regresi... 52

b. Uji Multikolinieritas ... 54

c. Uji Autokorelasi ... 56

d. Uji Heteroskedastisitas ... 56

J. Uji Hipotesis ... 57

1. Regresi Linier Sederhana ... 57

2. Regresi Linier Multiple ... 58

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Ganbaran Umum Lokasi Penelitian ... 60

1. Sejarah Berdirinya SMA Bina Mulya Bandar Lampung ... 60

2. Situasi dan Kondisi SMA Bina Mulya Bandar Lampung ... 61

3. Visi dan Misi SMA Bina Mulya Bandar Lampung ... 62

4. Proses Belajar Mengajar ... 63

5. Gambaran Umum Responden ... 63

6. Kegiatan Ekstrakulikuler ... 63

B. Deskripsi Data ... 64

1. Lingkungan Sosial (X1)... 64

2. Disiplin Belajar (X2) ... 67

3. Hasil Belajar Ekonomi (Y) ... 69

C. Persyaratan Uji Statistik Parametrik ... 72

1. Uji Normalitas Data ... 72

2. Uji Homogenitas Sampel ... 73

D. Uji Asumsi Klasik Untuk Regresi Ganda ... 74

1. Uji Linieritas Garis Regresi ... 74

2. Uji Multikolinieritas... 75

3. Uji Autokorelasi ... 76

4. Uji Heteroskedastisitas... 77

E. Uji Hipotesis ... 79

1. Regresi Linier Sederhana ... 79

(9)

Halaman

1.2 Pengujian Hipotesis Kedua ... 80

2. Regresi Linier Multiple ... 82

2.1 Pengujian Hipotesis Ketiga ... 82

F. Pembahasan ... 84

1. Pengaruh Lingkungan Sosial (X1) Terhadap Hasil Belajar Ekonomi (Y) ... 84

2. Pengaruh Disiplin Belajar (X2) Terhadap Hasil Belajar Ekonomi (Y) ... 89

3. Pengaruh Lingkungan Sosial (X1) dan Disiplin Belajar (X2) Terhadap Hasil Belajar Ekonomi (Y) ... 94

V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 103

B. Saran ... 104

(10)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan sebagai usaha sadar yang sistematis-sistemik selalu bertolak dari

sejumlah landasan serta mengindahkan sejumlah asas-asas tertentu. Landasan dan

asas tersebut sangat penting, karena pendidikan merupakan pilar utama terhadap

pengembangan manusia dan masyarakat suatu bangsa tertentu. Landasan-landasan

pendidikan akan memberikan pijakan dan arah terhadap pembentukan manusia,

dan serentak dengan itu, mendukung perkembangan masyarakat, bangsa dan

negara. Sedangkan asas-asas pokok pendidikan akan memberi corak khusus dalam

penyelenggaraan pendidikan itu, dan pada gilirannya, memberi corak pada

hasil-hasil pendidikan itu, yakni manusia dan masyarakat.

Masalah pendidikan merupakan masalah yang sangat penting dan sama sekali

tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Maju mundurnya suatu bangsa sebagian

besar ditentukan oleh maju mundurnya pendidikan negara itu, maka hampir

seluruh negara di dunia menangani secara langsung masalah-masalah yang

berhubungan dengan pendidikan. Dalam hal ini, masing-masing negara itu

(11)

2 Cita-cita bangsa Indonesia adalah terbentuknya manusia Pancasila bagi seluruh

warga negaranya. Tujuan pendidikannya telah disejajarkan dengan cita-cita

tersebut. Semua institusi atau lembaga pendidikan harus mengarahkan segala

kegiatan di sekolahnya bagi pencapaian tujuan itu. Hal ini sesuai dengan tujuan

umum pendidikan Indonesia yang tertuang dalam GBHN, yang isinya adalah

sebagai berikut:

”Pengembangan di bidang pendidikan didasarkan atas falsafah negara Pancasila dan diarahkan untuk membentuk manusia-manusia pembangunan yang ber-Pancasila dan untuk membentuk manusia Indonesia yang sehat jasmani dan rohaninya memiliki pengetahuan dan keterampilan, dapat mengembangkan kreativitas dan tanggung jawab, dapat menyuburkan sikap demokrasi dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya dan mencintai sesama manusia sesuai dengan ketentuan termaktub dalam UUD 1945” (Arikunto, 2009: 130).

Pendidikan juga merupakan suatu proses yang kompleks dan melibatkan berbagai

pihak, khususnya keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai lingkungan

pendidikan yang dikenal sebagai tripusat pendidikan. Anak sebagai peserta didik

menjadi sasaran utama dalam kegiatan pendidikan, dimana mereka diharapkan

dapat mencapai keberhasilan dalam proses belajarnya. Proses belajar

pembelajaran dalam dunia pendidikan secara umum melibatkan empat buah

komponen utama yaitu murid, guru, lingkungan belajar, dan materi belajar.

Keempat komponen ini mempengaruhi murid dalam mencapai tujuan belajarnya.

Proses belajar pembelajaran dapat dikatakan berhasil mencapai tujuan belajar atau

tidak, dapat dilihat dari hasil belajar siswa.

Hasil belajar pada hakekatnya tersirat dalam tujuan pengajaran dan dipengaruhi

(12)

3 teori belajar di sekolah (Theory of School Lerning dari Bloom) yang menyatakan

ada tiga variabel utama dalam teori belajar sekolah, yakni karakteristik individu,

kualitas pengajaran dan hasil belajar siswa.

Bloom dalam Irvina (2011) berpendapat bahwa kualitas pengajaran adalah tinggi

rendahnya atau efektif tidaknya proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan

pengajaran yang berdasarkan pada karakteristik individu, kualitas pengajaran dan

hasil belajar siswa. Sedangkan dari sisi siswa, hasil belajar merupakan

berakhirnya pangkal dan puncak proses belajar. Proses belajar itu sendiri

merupakan hal yang dialami siswa dan merupakan suatu respon terhadap segala

acara pembelajaran yang diprogramkan oleh guru serta pengelolaan pembelajaran

bertujuan untuk mencapai tujuan belajar.

Tinggi rendahnya hasil belajar siswa dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik

dari dalam maupun dari luar siswa. M. Ngalim Purwanto, MP (2004:102)

berpendapat sebagai berikut:

Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dapat kita bedakan menjadi dua

golongan yaitu: (1) Faktor yang ada pada diri organisme itu sendiri, disebut faktor individual, (2) Faktor yang ada di luar individu, yang disebut faktor sosial.

Adapun yang termasuk ke dalam faktor individual adalah faktor kematangan, pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi dan faktor pribadi. Sedangkan yang termasuk faktor sosial adalah faktor keluarga, keadaan rumah tangga, guru dan cara mengajarnya, alat-alat yang digunakan dalam belajar mengajar, lingkungan dan kesempatan yang tersedia, dan motivasi sosial.

Oleh karena itu, rendahnya hasil belajar tergantung peran serta dari faktor internal

siswa seperti disiplin belajar, kecerdasan, minat belajar dan lain-lain. Sedangkan

dari faktor eksternal siswa seperti lingkungan sosial di sekolah dan masyarakat

(13)

4 Berdasarkan penelitian pendahuluan yang dilaksanakan pada November 2012,

diperoleh data hasil belajar siswa kelas X SMA Bina Mulya Bandar Lampung

pada mata pelajaran ekonomi tidak sama, karena masih ada sebagian besar siswa

yang memperoleh hasil kurang dari standar. Hal ini dapat ditunjukkan pada nilai

Ujian Tengah Semester I siswa kelas X SMA Bina Mulya Bandar Lampung pada

mata pelajaran Ekonomi seperti tercantum pada Tabel 1 berikut ini.

Tabel 1. Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi Siswa Kelas X Ujian Tengah Semester I SMA Bina Mulya Tahun Pelajaran 2012/2013 Hasil Belajar (Nilai) Jumlah Siswa Persentase (%)

< 70

≥ 70 51 15

77,3% 22,7%

Jumlah 66 100%

Sumber: Data Nilai Guru Mata Pelajaran Ekonomi SMA Bina Mulya Bandar Lampung

Berdasarkan Tabel 1 di atas dapat diketahui hasil belajar siswa bervariasi dari

nilai yang tinggi sampai dengan nilai yang rendah. Hasil belajar yang diperoleh

siswa kelas X SMA Bina Mulya Bandar Lampung pada mata pelajaran ekonomi

dari 66 siswa, yang mendapat nilai kurang dari 70 sebanyak 51 siswa atau sebesar

77,3%. Hal ini berarti sebagian besar siswa memiliki hasil belajar yang masih

tergolong rendah. Adapun kriteria yang dijadikan pedoman adalah Kriteria

Ketuntasan Minimal SMA Bina Mulya Bandar Lampung. Menurut guru mata

pelajaran ekonomi SMA Bina Mulya Bandar Lampung, siswa yang mendapat

nilai 70 maka dianggap tuntas, sedangkan siswa yang mendapat nilai kurang dari

70 maka harus mengikuti remedial yang diadakan oleh guru yang bersangkutan.

Dari tabel tersebut juga dapat lihat bahwa siswa yang menguasai mata pelajaran

(14)

5 bahan pelajarannya pun rendah. Menurut Djamarah dan Zain (2006:121) tingkat

keberhasilan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Istimewa/Maksimal : Apabila seluruh bahan pelajaran yang diajarkan itu dapat dikuasai oleh siswa

2. Baik sekali/Optimal : Apabila sebagian besar (76% s.d 99%) bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai oleh siswa 3. Baik/Minimal : Apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya 60% s.d 75% saja yang dikuasai oleh siswa. 4. Kurang : Apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang

dari 60% dikuasai oleh siswa.

Hasil belajar pada hakikatnya merupakan pencerminan dari usaha belajar.

Rendahnya hasil belajar ekonomi siswa kelas X SMA Bina Mulya dapat dilihat

salah satunya dari nilai Ujian Tengah Semester yang terhitung kurang

memuaskan. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor internal

(dari dalam diri siswa), seperti motivasi belajar, disiplin belajar, kecerdasan, dan

lain-lain. Serta faktor eksternal (dari luar diri siswa), diantaranya: fasilitas belajar,

partisipasi orangtua, lingkungan keluarga, lingkungan sosial dan lain-lain.

Keberhasilan anak didik dapat diketahui dari nilai-nilai yang diperoleh pada mata

pelajaran yang ditempuh, akan tetapi tidak semua keberhasilan hasil belajar dapat

berjalan lancar tanpa kendala karena hasil belajar dipengaruhi oleh banyak faktor,

baik faktor dari dalam diri siswa ataupun dari luar. Faktor dari dalam diri yang

mempengaruhi salah satunya adalah disiplin belajar.

Proses kedisiplinan dimulai dari rumah, sehingga diperlukan peran serta dari

orangtua untuk memantau anak-anaknya dalam belajar di rumah. Salah satu hal

(15)

6 melaksanakan dan menyelesaikan tugas belajarnya dengan baik. Adanya

ketidakdisiplinan dari siswa dikarenakan kurangnya kesadaran dari siswa itu

sendiri dan juga kurangnya perhatian dari orangtua terhadap pendidikan

putra-putrinya serta kurangnya perhatian dan pengawasan terhadap proses belajar siswa

di rumah.

Menumbuhkan sikap disiplin pada diri siswa bukan hanya tugas dari orangtua,

tetapi guru pun memiliki andil yang sama dalam hal ini. Di sekolah siswa dapat

menerapkan disiplin belajar dengan memanfaatkan waktu untuk mengkaji kembali

pelajaran yang telah disampaikan oleh guru dan dapat pula mendiskusikan dengan

teman-teman di sekolah, sedangkan di kelas siswa memperhatikan pelajaran yang

disampaikan lalu menanyakan bagian pelajaran yang tidak dimengerti kepada

guru. Disiplin belajar di sekolah juga dapat tercermin dalam hal siswa tetap

belajar sendiri di kelas atau di perpustakaan sekolah saat guru mata pelajaran yang

bersangkutan tidak hadir di kelas saat jam pelajaran tersebut berlangsung.

Rendahnya nilai Ujian Tengah Semester disebabkan karena anak cenderung

kurang disiplin dalam belajar, kurang pengawasan orangtua kepada anak untuk

menerapkan sistem jam belajar di rumah, dan lingkungan sosial siswa di sekolah

dan di rumah yang membawa pengaruh buruk bagi siswa, seperti mengobrol saat

pelajaran sedang berlangsung, ikut membolos sekolah bersama teman-teman,

(16)

7 Berdasarkan pengamatan yang dilakukan peneliti pada penelitian pendahuluan

November 2012 di SMA Bina Mulya Bandar Lampung Tahun Pelajaran

2012/2013 pada siswa kelas X, diperoleh hasil bahwa secara umum tingkat

kedisiplinan siswa masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 2

berikut ini:

Tabel 2. Aktivitas Siswa di Dalam Kelas Saat Pelajaran Berlangsung

No. Aktivitas Siswa Jumlah Siswa

1. Memperhatikan penjelasan guru 10

2. Mengerjakan tugas mata pelajaran lain 2

3. Tidur di kelas 1

4. Mengobrol dengan teman 8

5. Mengoperasikan telepon genggam (mengirim pesan singkat dll)

5

6. Membolos jam pelajaran (ke kantin sekolah) 2

7 Tidak masuk sekolah 3

Jumlah 31

Sumber: Pengamatan Pada PenelitianPendahuluan pada November 2012

Dari Tabel 2 di atas, terlihat tingkat kedisiplinan siswa yang masih rendah. Selain

itu disiplin siswa yang kurang dapat dilihat dari absensi siswa selama beberapa

bulan terakhir, dari data yang diperoleh banyak sekali siswa yang tidak masuk

sekolah tanpa mengirimkan surat izin kepada pihak sekolah sehingga

ketidakhadiran siswa tersebut tanpa keterangan (alpa). Disiplin belajar siswa saat

di rumah pun tergolong masih rendah, hal ini terbukti dari adanya beberapa siswa

yang mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah (PR) saat di sekolah sebelum

pelajaran yang bersangkutan di mulai.

Rendahnya disiplin belajar siswa juga dapat terlihat dari ada beberapa siswa yang

(17)

8 Bahkan ada juga siswa yang berkelahi dengan teman yang lain sehingga hal

tersebut tergolong dalam pelanggaran tata tertib sekolah.

Lingkungan sosial tempat siswa sehari-hari bersosialisasi juga memegang peran

penting dalam mempengaruhi hasil belajarnya. Lingkungan sosial yang kondusif

dapat memudahkan siswa dalam belajar, sebaliknya lingkungan yang tidak

mendukung akan membuat siswa malas belajar. Hal itu dapat berakibat rendahnya

hasil belajar yang diperoleh siswa.

Berdasarkan penelitian pendahuluan yang dilaksanakan pada November 2012,

SMA Bina Mulya adalah Sekolah swasta yang terletak di kota Bandar Lampung

berlokasi dipinggiran kota dengan jarak sekitar ±400m dari jalan raya. Jika dilihat

dari letaknya, sekolah ini sangat nyaman untuk proses pendidikan karena masih

jauh dari hiruk pikuk keramain warga dan lalu lintas kendaraan, sehingga dapat

menciptakan suasana belajar mengajar yang kondusif. Kurikulum yang diterapkan

di SMA Bina Mulya adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Dengan penggunaan KTSP siswa SMA Bina Mulya juga mendapat pengajaran

yang sama dengan SMA Negeri lainnya walaupun SMA Bina Mulya adalah SMA

Swasta. SMA Bina Mulya termasuk sekolah yang sudah memiliki fasilitas

lengkap dan menunjang proses pembelajaran.

Jika dihubungkan dengan mata pelajaran ekonomi kelas X, sarana yang digunakan

sudah cukup lengkap. Tersedia perpustakaan sekolah yang menyediakan

buku-buku pokok pegangan untuk siswa meskipun pemanfaatannya masih kurang. Hal

(18)

9 buku-buku di perpustakaan. Di samping itu, media belajar yang digunakan sudah

tergolong baik. Hal ini terbukti dengan tersedianya media belajar LCD. Namun,

LCD ini jarang digunakan dalam proses pembelajaran, sehingga pemanfaatan

media LCD yang masih kurang membuat proses belajar mengajar di kelas

menjadi monoton atau membosankan. Hal yang perlu ditingkatkan adalah

komunikasi siswa dan guru di luar jam pelajaran, karena di SMA Bina Mulya ini

komunikasi antara guru dan siswa di luar jam pelajaran masih tergolong rendah.

Latar belakang lingkungan tempat tinggal siswa juga bervariasi, hal ini juga dapat

menjadi salah satu faktor yang menyebabkan beragamnya tingkat keberhasilan

siswa dalam belajar dikarenakan lingkungan sosial yang berbeda-beda. Selain itu

teman bergaul disekolah juga mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Tidak

adanya mawas diri dari siswa dalam memilih teman bergaul dapat membuat siswa

tersebut terjerumus dalam pergaulan yang buruk sehingga berpengaruh pada hasil

belajarnya yang menjadi menurun.

Berdasarkan penelitian pendahuluan yang dilakukan peneliti pada November

2012, lingkungan sosial yang buruk dapat mempengaruhi hasil belajar siswa

menjadi buruk pula. Sebagai contoh, terdapat siswa yang melakukan provokasi

kepada teman-temannya untuk berkelahi dengan siswa lain. Selain itu ada juga

beberapa siswa yang mengikuti temannya untuk membolos saat pelajaran di

sekolah masih berlangsung, bahkan ada yang pulang saat jam sekolah belum

selesai tanpa izin terlebih dahulu kepada pihak sekolah. Dari hasil pengamatan

(19)

10 belajar yang buruk. Hal ini terbukti dari nilai-nilai yang diperoleh siswa tersebut

masih banyak yang belum mencapai KKM yang telah ditentukan.

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis ingin meneliti pengaruh yang

signifikan antara hubungan lingkungan sosial dan disiplin belajar terhadap hasil

belajar sehingga penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul:

”Pengaruh Lingkungan Sosial Dan Disiplin Belajar Terhadap Hasil Belajar

Ekonomi Kelas X SMA Bina Mulya Bandar Lampung Tahun Ajaran 2012/2013”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dapat diidentifikasikan permasalahan yang

muncul dalam penelitian ini adalah:

1. Kurangnya disiplin belajar dari para siswa saat di rumah, terbukti dari

adanya siswa yang mengerjakan pekerjaan rumah (PR) di sekolah..

2. Kurangnya disiplin belajar dari para siswa saat di sekolah, terbukti dengan

adanya siswa yang membolos pada saat jam pelajaran berlangsung.

3. Kurangnya kesadaran siswa untuk belajar sendiri walaupun guru tidak

hadir di kelas.

4. Kurangnya pengawasan guru terhadap pergaulan siswa di sekolah.

5. Kurangnya komunikasi antara guru dan siswa diluar jam pelajaran

sekolah.

6. Masih rendahnya jumlah siswa yang berhasil mencapai KKM pada mata

(20)

11

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah, maka agar

permasalahan dalam penelitian ini menjadi jelas dan terarah penulis membatasi

permasalahan sebagai berikut:

1. Disiplin belajar yang dimaksud dalam penelitian ini dibatasi pada

kesadaran diri siswa untuk belajar sendiri di rumah tanpa adanya

pembimbing dalam belajar. Dan disiplin siswa saat di sekolah.

2. Lingkungan sosial dalam penelitian ini mencakup lingkungan belajar

ekstern siswa, yaitu lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.

Lingkungan belajar ekstern di duga mempengaruhi hasil belajar siswa

karena kedua lingkungan tersebut adalah tempat siswa belajar sehari-hari.

Jika kedua lingkungan belajar itu baik maka akan baik pula hasil belajar

siwa, begitupun sebaliknya.

3. Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa

pada mata pelajaran ekonomi yang dicapai setelah proses belajar.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah, maka

rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah ada pengaruh positif antara lingkungan sosial siswa terhadap hasil

belajar Ekonomi siswa Kelas X SMA Bina Mulya Tengah Tahun Pelajaran

(21)

12 2. Apakah ada pengaruh positif antara disiplin belajar terhadap hasil belajar

Ekonomi siswa Kelas X SMA Bina Mulya Tengah Tahun Pelajaran

2012/2013?

3. Apakah ada pengaruh positif antara lingkungan sosial siswa dan disiplin

belajar terhadap hasil belajar Ekonomi siswa Kelas X SMA Bina Mulya

Tengah Tahun Pelajaran 2012/2013?

E. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui pengaruh positif antara lingkungan sosial siswa

terhadap hasil belajar.

2. Untuk mengetahui pengaruh positif antara disiplin belajar terhadap hasil

belajar.

3. Untuk mengetahui pengaruh positif antara lingkungan sosial siswa dan

disiplin belajar terhadap hasil belajar.

F. Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah:

1. Kegunaan teoritis

Secara umum penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan

kepada dunia pendidikan dalam dunia pengajaran ekonomi pada layanan

peningkatan hasil belajar.

2. Kegunaan praktis

(22)

13 a. Sebagai masukan orangtua dan anggota masyarakat lainnya untuk

meningkatkan disiplin belajar pada siswa dan menciptakan lingkungan

sosial yang lebih kondusif. Suasana kondusif merupakan suasana yang

nyaman dan aman mulai dari keluarga kemudian diaplikasikan ke

lingkungan sosial sehingga dapat meningktakan hasil belajar.

b. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pedoman atau referensi

untuk penelitian berikutnya yang sejenis.

G. Ruang Lingkup

Adapun ruang lingkup penelitian ini adalah:

1. Objek

Ruang lingkup objek penelitian ini adalah lingkungan sosial (X1), disiplin

belajar (X2), dan hasil belajar (Y).

2. Subjek

Ruang lingkup subjek penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Bina Mulya

Bandar Lampung.

3. Tempat

Ruang lingkup tempat penelitian ini adalah SMA Bina Mulya Bandar

Lampung.

4. Waktu

(23)

II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS

A. Tinjauan Pustaka 1. Hasil Belajar

Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan

kelakuan. Hasil belajar yang utama adalah pola tingkah laku yang bulat. Seperti

yang diungkapkan oleh Hamalik (2004: 30) bukti bahwa seseorang telah belajar

ialah terjadinya perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak

tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti.

Lebih lanjut Hamalik (2004:30) mengatakan tingkah laku manusia terdiri dari

sejumlah aspek. Hasil belajar akan tampak pada setiap perubahan pada

aspek-aspek tersebut. Adapun aspek-aspek-aspek-aspek itu adalah:

1) pengetahuan 6) emosional 2) pengertian 7) hubungan sosial 3) kebiasaan 8) jasmani

4) keterampilan 9) etis atau budi pekerti 5) apresiasi 10) sikap

Kalau seseorang telah melakukan perbuatan belajar maka akan terlihat terjadinya

perubahan dalam salah satu atau beberapa aspek tingkah laku tersebut.

(24)

15

dimiliki seseorang. Penguasaan hasil belajar oleh seseorang dapat dilihat dari

perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan

berpikir, maupun keterampilan motorik.

Dilihat dari hasil belajar sebagai perubahan dalam kapabilitas (kemampuan

tertentu) sebagai akibat belajar maka Jenkins dan Unwin dalam Hamzah B.Uno

(2008: 196) menyatakan bahwa hasil akhir dari belajar (learning outcomes) adalah suatu pernyataan yang menunjukkan tentang apa yang mungkin dapat dikerjakan

siswa sebagai hasil kegiatan belajarnya. Di sini Jenkins dan Unwin melihat hasil

belajar serupa dengan pengertian Gagne, yaitu siswa yang mampu mengerjakan

sesuatu sebagai hasil belajar tentulah akibat kapabilitasnya (kemampuan tertentu).

Berdasarkan pengertian Gagne serta Jenkins dan Unwin, dapat diartikan bahwa

hasil belajar merupakan pengalaman belajar yang diperoleh siswa dalam bentuk

kemampuan tertentu.

Hasil belajar yang nampak dari kemampuan yang diperoleh siswa, menurut Gagne

dalam Hamzah B.Uno (2008: 210) dapat dilihat dari lima kategori, yaitu

keterampilan intelektual (intelectual skills), informasi verbal (verbal information), strategi kognitif (cognitive strategies), keterampilan motorik (moto skills), dan sikap (attitudes).

Pada intinya, tujuan belajar itu adalah ingin mendapatkan pengetahuan.,

(25)

16

berarti akan menghasilkan, hasil belajar. Relevan dengan uraian mengenai tujuan

belajar tersebut, hasil belajar itu meliputi:

a. Hal ihwal keilmuan dan pengetahuan, konsep atau fakta (kognitif);

b. Hal ihwal personal, kepribadian atau sikap (afektif);

c. Hal ihwal kelakuan, keterampilan atau penampilan (psikomotorik).

Ketiga hasil belajar di atas dalam pengajaran merupakan tiga hal yang secara

perencanaan dan programatik terpisah, namun dalam kenyataannya pada diri

siswa akan merupakan satu kesatuan yang utuh dan bulat. Karena semua itu

bermuara kepada anak didik, maka setelah terjadi proses internalisasi,

terbentuklah suatu kepribadian yang utuh. Dan untuk itu semua, diperlukan sistem

lingkungan yang mendukung (Sardiman, 2007: 28-29).

Menurut Paul Suparno dalam Sardiman A.M (2007: 38) hasil belajar dipengaruhi

oleh pengalaman subjek belajar dengan dunia fisik dan lingkungannya. Lebih

lanjut Paul mengatakan bahwa hasil belajar seseorang tergantung pada apa yang

telah diketahui, si subjek belajar, tujuan, motivasi yang memengaruhi proses

interaksi dengan bahan yang sedang dipelajari.

2. Lingkungan Sosial

Menurut Ngalim Purwanto (2007: 73) lingkungan sosial ialah semua orang atau manusia lain yang mempengaruhi kita. Pengaruh lingkungan sosial itu ada yang kita terima secara langsung dan ada yang tidak langsung. Pengaruh secara langsung, misalnya dalam pergaulan sehari-hari dengan orang lain, dengan keluarga kita, teman-teman atau kawan sekolah, kawan sepekerjaan, dan

(26)

17

Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. Dalam hubungannya

dengan manusia sebagai makhluk sosial, terkandung maksud bahwa manusia

bagaimanapun juga tidak dapat terlepas dari individu lain. Secara kodrati manusia

akan selalu hidup bersama. Pemenuhan keinginan untuk saling bergaul sesama

siswa dan guru serta orang lain, merupakan salah satu upaya untuk memenuhi

kebutuhan sosial anak/siswa. Dalam hal ini sekolah harus dipandang sebagai

lembaga tempat para siswa belajar, bergaul, dan beradaptasi dengan lingkungan,

seperti misalnya bergaul dengan sesama teman yang berbeda jenis kelamin, suku

bangsa, agama, status sosial dan kecakapan. Adanya dimensi kesosialan pada diri

manusia tampak lebih jelas pada dorongan untuk bergaul. Dengan adanya

dorongan untuk bergaul, setiap orang ingin bertemu dengan sesamanya.

Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa anak itu dibesarkan di tengah-tengah

berbagai kumpulan. Artinya, anak itu dipenuhi oleh anggota-anggota keluarga,

oleh teman-teman sepermainan, oleh lingkungan tetangga dan seterusnya. Segala

pengaruh luar, yang datang dari orang lain, kita sebut pengaruh lingkungan sosial.

Jadi yang termasuk lingkungan sosial itu ialah setiap orang yang berhubungan

dengan anak itu.

Pendidikan juga termasuk dalam lingkungan sosial. Dalam hal ini yang kita

maksud dengan pendidikan itu ialah pengaruh-pengaruh yang disengaja dari

anggota-anggota beberapa golongan tertentu. Misalnya, pengaruh dari orangtua,

nenek/kakek yang tinggal serumah, pengaruh guru di sekolah dan sebagainya.

Selanjutnya lingkungan sosial dalam pola kehidupan tertentu di daerah adalah

(27)

18

daerah di mana murid dan sekolah itu berada. Contoh lembaga masyarakat seperti

rukun tetangga, rukun warga, kelurahan, LKMD, puskesmas, dan lain-lain.

Senada dengan pernyataan tersebut, Hamalik (2004:196) mengemukakan bahwa

lingkungan sosial adalah lingkungan masyarakat baik kelompok besar atau

kelompok kecil.

Menurut Bruner dalam Budiningsih (2005) perkembangan kognitif seseorang

terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya melihat lingkungan, yaitu:

enactive, iconic dan symbolic.

1. Tahap enaktif, seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upayanya untuk memahami lingkungan sekitarnya. Artinya, dalam memahami dunia

sekitarnya anak menggunakan pengetahuan motorik. Misalnya, melalui gigitan, sentuhan, pegangan, dan sebagainya.

2. Tahap ikonik, seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. Maksudnya, dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui bentuk perumpamaan (tampil) dan

perbandingan (komparasi).

3. Tahap simbolik, seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam

berbahasa dan logika. Dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui simbol-simbol bahasa, logika, matematika, dan sebagainya.

Pada penelitian ini, penulis membatasi pembahasan dan penelitian tentang

lingkungan sosial menjadi 2, yaitu:

a. Lingkungan Sekolah

Sekolah adalah suatu lembaga yang memberikan pengajaran kepada

murid-muridnya. Menurut pengertian umum, sekolah adalah sebagai tempat mengajar

dan belajar. Dalam dunia pendidikan kita mengenal dua jenis sekolah, yaitu

sekolah konvensional dan sekolah modern. Sekolah konvensional memberikan

(28)

19

yang telah dibaca dan tugas-tugas dalam pelajaran berhitung. Pengetahuan yang

diperolah langsung dapat ditransferkan dalam ke dalam situasi kehidupan.

Sekolah ini kurang memperhatikan perencanaan belajar dan perkembangan

keterampilan sosial, sikap, apresiasi, dan lain-lain.

Sedangkan sekolah modern, tidak hanya bertujuan mengembangkan segi

intelektual, tetapi juga jasmaniah, sosial, emosional, dan lain-lain. Mata pelajaran

memang digunakan, di samping memperbanyak ragam dan macam bahan bacaan.

Guru berusaha mencegah timbulnya frustasi dengan jalan menyesuaikan bahan

pelajaran dengan minat individu, mengurangi kemungkinan persaingan dan

pertengkaran. Siswa belajar hidup dalam kelompok sosial.

Menurut Tulus Tu’u (2004: 1) lingkungan sekolah dipahami sebagai lembaga pendidikan formal, dimana ditempat inilah kegiatan belajar mengajar berlangsung, ilmu pengetahuan diajarkan dan dikembangkan kepada anak didik. Sedangkan menurut Gerakan Disiplin Nasional (GDN) lingkungan sekolah diartikan sebagai lingkungan dimana para siswa dibiasakan dengan nilai-nilai atta tertib sekolah dan nilai-nilai kegiatan pembelajaran berbagai bidang studi yang dapat meresap ke dalam kesadaran hati nurani. (Tulus Tu’u, 2004: 11).

Menurut Yusuf (2001: 54) sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melaksanakan program bimbingan, pengajaran, dan latihan dalam rangka membantu siswa agar mampu mengembangkan potensinya, baik yang menyangkut aspek moral, spiritual, intelektual, emosional, maupun sosial. Jadi, lingkungan sekolah adalah jumlah semua benda hidup dan mati serta seluruh kondisi yang ada di dalam lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melaksanakan program pendidikan dan membantu siswa mengembangkan potensinya.

a. Unsur- unsur lingkungan sekolah

Menurut Slameto (2003: 64) faktor sekolah yang mempengaruhi belajar

(29)

20

dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, estándar pelajaran,

keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah. Berikut ini dibahas

faktor-faktor tersebut satu persatu:

a.) Metode Mengajar

Metode mengajar adalah suatu cara/jalan yang harus dilalui di dalam

mengajar. Mengajar itu sendiri menurut Ign. S. Ulih Bukit Karo Karo adalah menyajikan bahan pelajarn oleh orang kepada orang lain agar orang lain itu menerima, menguasai dan mengembangkannya.

Mengajar itu mempengaruhi belajar. Metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi belajar siswa yang tidak baik pula. Metode mengajar yang kurang baik itu dapat terjadi misalnya karena guru kurang persiapan dan kurang menguasai bahan pelajaran sehingga guru tersebut menyajikannya tidak jelas atau sikap guru terhadap siswa dan atau terhadap mata pelajaran itu sendiri tidak baik, sehingga siswa kurang senang terhadap pelajaran atau gurunya. Akibatnya siswa malas untuk belajar.

b.) Kurikulum

Kurikulum diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa. Kegiatan itu sebagian besar adalah menyajikan bahan pelajaran agar siswa menerima, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran itu. Jelaslah bahan pelajaran itu mempengaruhi belajar siswa. Kurikulum yang kurang baik berpengaruh tidak baik terhadap belajar.

c.) Relasi guru dengan siswa

Proses belajar mengajar terjadi antara guru dengan siswa. Proses tersebut juga dipengaruhi oleh relasi yang ada dalam proses itu sendiri. Jadi cara belajar siswa juga dipengaruhi oleh relasi dengan gurunya. Di dalam relasi (guru dengan siswa) yang baik, siswa akan menyukai gurunya, juga akan menyukai mata pelajaran yang diberikannya sehingga siswa berusaha mempelajari sebaik-baiknya.

d.) Relasi siswa dengan siswa

Siswa yang mempunyai sifat-sifat atau tingkah laku yang kurang menyenangkan teman lain, mempunyai rasa rendah diri atau sedang

mengalami tekanan-tekanan batin, akan diasingkan dari kelompok. Akibatnya makin parah masalahnya dan akan menganggu belajarnya. Lebih-lebih lagi ia menjadi malas untuk masuk sekolah dengan alasan-alasan yang tidak-tidak karena di sekolah mengalami perlakuan yang kurang menyenangkan dari teman-temannya. Menciptakan relasi yang baik antar siswa adalah perlu, agar dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap belajar siswa.

e.) Disiplin sekolah

Kedisiplinan sekolah erat hubungannya dengan kerajinaan siswa dalam seklah dan juga dalam belajar. Kedisiplinan seko9lah mencakup kedisiplinan guru dalam mengajar dengan melqaksanakan tata tertib, kedisiplinan

(30)

21

f.) Alat pelajaran

Alat pelajaran erat hubungannya dengan cara belajar siswa, karena alat

pelajaran yang dipakai oleh guru pada waktu mengajar dipakai pula oleh siswa untuk menerima bahan yang diajarkan itu. Alat pelajaran yang lengkap dan tepat akan memperlancar penerimaan bahan pelajaran yang diberikan kepada siswa. Jika siswa mudah menerima pelajaran dan menguasainya, maka belajarnya akan menjadi lebih giat dan lebih maju.

g.) Waktu sekolah

Waktu sekolah ialah waktu terjadinya proses belajar mengajar di sekolah. Waktu itu dapat pagi hari, siang, sore/mlam hari. Waktu sekolah juga

mempengaruhi belajar siswa. Jika terjadi siswa terpaksa masuk sekolah di sore hari, sebenarnya kurang dapat dipertanggungjawabkan. Di mana siswa harus beristirahat, tetapi terpaksa masuk sekolah, hingga mereka mendengarkan pelajaran sambil mengantuk dan sebagainya. Sebaliknya siswa belajar di pagi hari, pikiran masih segar, jasmani dalam kondisi yang baik.

h.) Standar pelajaran di atas ukuran

Guru berpendirian untuk mempertahankan wibawanya, perlu memberi pelajaran di atas ukuran standar. Akibtnya siswa merasa kurang mampu dan takut kepada guru. Bila banyak siswa yang tidak berhasil dalam mempelajari mata pelajarannya, guru semacam itu meras senang. Tetapi berdasarkan teori belajar, yang mengingat perkembangan psikis da kepribadian siswa yang berbeda-beda, hal tersebut tidak boleh terjadi.

i.) Keadaan gedung

Dengan jumlah siswa yang banyak serta variasi karakteristik mereka masing-masing menuntut keadaan gedung dewasa ini harus memadai di dalam setiap kelas. Bagaimana mungkin mereka dapat belajar dengan enak, kalau kelas itu tidak memadai bagi setiap siswa.

j.) Metode belajar

Banyak siswa melaksanakan cara belajar yang salah. Dlam hal ini perlu pembinaan dari guru. Dengan cara belajar yang tepat akan efgektif pula hasil belaajar siswa itu. Juga dalam pembagian waktu untuk belajar. Kadang-kadang siswa belajar tidak teratur, atau terus-menerus, karena besok akan tes. Dengan belajar demikian siswa akan kurang beristirahat, bahkan mungkin dapat jatuh sakit. Maka perlu belajar secra teratur setiap hari, dengan pembagian waktu yang baik, memlilih cara belajar yang tepat dan cukup istirahat akan meningktkan hasil belajar.

k.) Tugas rumah

Waktu belajar terutama adalah di sekolah, di samping untuk belajar waktu di rimah biarlah digunkan untuk kegiatan-kegiatan lain. Maka diharapkan guru jangan terlalu banyak memberi trugas yang harus dikerjakan di rumah, sehingga anak tidak mempunyai waktu lagi untuk kegiatan yang lain.

b. Lingkungan tempat tinggal (Masyarakat)

Menurut Slameto (2003: 71) masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga

(31)

22

siswa dalam masyarakat. Pada uraian berikut ini akan dibahas hal-hal dalam

masyarakat yang mempengaruhi belajar, yaitu:

1) Kegiatan siswa dalam masyarakat

Kegiatan siswa dalam masyarakat dapat menguntungkan terhadap

perkembangan pribadinya. Tetapi jika siswa ambil bagian dalam kegiatan masyarakat yang terlalu banyak, misalnya berorganisasi, kegiatan-kegiatan sosial, keagamaan dan lain-lain, belajarnya akan terganggu, lebih-lebih jika tidak bijaksana dalam mengatur waktunya.

2) Mass Media

Yang termasuk mass media adalah bioskop, radio, TV, surat kabar, majalah, buku-buku, komik-komik dan lain-lain. Semuanya itu ada dan beredar dalam masyarakat.

Mass media yang baik memberi pengaruh yang baik terhadap siswa dan juga terhadap belajarnya. Sebaliknya mass media yang jelek juga akan berpengaruh jelek terhadap siswa.

3) Teman Bergaul

Pengaruh-pengaruh dari teman bergaul siswa lebih cepat masuk jiwanya daripada yang kita duga. Teman bergaul yang baik akan berpengaruh baik terhadap diri siswa, begitu juga sebaliknya, teman bergaul yang jelek pasti mempengaruhi yang bersifat buruk juga.

4) Bentuk Kehidupan Masyarakat

Kehidupan masyarakat disekitar siswa juga berpengaruh terhadap belajar siswa. Masyarakat yang terdiri dari orang-orang yang tidak terpelajar, penjudi, suka mencuri dan mempunyai kebiasaan yang tidak baik, akan berpengaruh jelek kepada anak (siswa) yang berada di situ. Begitu juga sebaliknya.

3. Disiplin Belajar

Disiplin belajar dalam penelitian ini adalah sikap atau tingkahlaku siswa yang taat

dan patuh untuk dapat menjalankan kewajibannya untuk belajar, baik belajar di

sekolah maupun belajar di rumah. Indikator disiplin belajar dalam penelitian ini

adalah: ketaatan terhadap tata tertib sekolah, ketaatan terhadap kegiatan belajar di

sekolah, ketaatan dalam mengerjakan tugas-tugas pelajaran, dan ketaatan terhadap

(32)

23

Menurut Djamarah (2008: 17) disiplin adalah tata tertib, yaitu ketaatan

(kepatuhan) pada peraturan tata tertib dan sebagainya. Berdisiplin berarti menaati

(mematuhi) tata tertib. Lebih lanjut Djamarah mengatakan, disiplin yang

dikehendaki itu tidak hanya muncul karena kesadaran, tetapi ada juga karena

paksaan. Disiplin yang muncul karena kesadaran disebabkan seseorang menyadari

bahwa hanya dengan disiplinlah akan didapatkan kesuksesan dalam segala hal,

dengan disiplinlah didapatkan keteraturan dalam kehidupan, dengan disipplinlah

dapat menghilangkan kekecewaan orang lain, dan dengan disiplinlah orang lain

mengaguminya.

Disiplin karena paksaan biasanya dilakukan dengan terpaksa pula. Keterpaksaan

itu karena takut akan dikenakan sanksi hukum akibat pelanggaran terhadap

peraturan. Ada pengawasan dari petugas (pemimpin) timbul disiplin, tetapi tidak

ada pengawas (pemimpin) pelanggaran dilakukan. Maka disiplin yang terpaksa,

identik dengan ketakutan pada hukum. Sedangkan displin karena kesadaran

menjadikan hukum sebagai alat yang menyenangkan di jiwa dan selalu siap sedia

untuk menaatinya.

Disiplin belajar adalah suatu sikap, tingkah laku dan perbuatan siswa untuk

melakukan aktivitas belajar yang sesuai dengan keputusan-keputusan,

peraturan-peraturan dan norma-norma yang telah ditetapkan bersama, baik persetujuan

tertulis maupun tidak tertulis antara siswa dengan guru di sekolah maupun dengan

orang tua di rumah.

(33)

24

Menurut Walgito (2008: 12) disiplin belajar adalah ketaatan dan kepatuhan dalam

melaksanakan aktivitas belajar sesuai aturannya untuk mencapai tujuan yang

diharapkannya, keterikatan antara disiplin belajar dengan hasil belajar sangat erat

sehingga semakin berdisiplin dalam belajar semakin baik hasil yang dicapai.

Tulus Tu’u (2004: 37) mengatakan ”disiplin berperan penting dalam membentuk individu yang berciri keunggulan”. Disiplin itu penting karena alasan berikut ini: 1) Dengan disiplin yang muncul karena kesadaran diri, siswa berhasildalam

belajarnya. Sebaliknya, siswa yang kerap kali melanggar ketentuan sekolah pada umumnya terhambat optimalisasi potensi dan prestasi.

2) Tanpa disiplin yang baik, suasana sekolah dan juga kelas, menjadi kurang kondusif bagi kegiatan pembelajran. Secara positif, disiplin memberi dukungan lingkungan yang tenang dan tertib bagi proses pembelajran.

3) Orang tua senantiasa berharap di sekolah anak-anak dibiasakan dengan norma-norma, nilai kehidupan dan disiplin. Dengan demikian, anak-anak dapat menjadi individu yang tertib, teratur dan disiplin.

4) Disiplin merupakan jalan bagi siswa untuk sukses dalam belajar dan kelak ketika bekerja. Kesadaran pentingnya norma, aturan, kepatuhan dan ketaatan merupakan persyaratan kesuksesan seseorang.

Kesadaran pentingnya norma, aturan, kepatuhan, dan ketaatan merupakan

prasyarat kesuksesan seseorang Sedangkan menurut Maman Rachman dalam

Tu’u (2004:35) pentingnya disiplin bagi para siswa adalah sebagai berikut:

a. Memberi dukungan bagi terciptanya perilaku yang tidak menyimpang b. Membantu siswa memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan

lingkungan

c. Cara menyelesaikan tuntutan yang ingin ditunjukan peserta didik terhadap lingkunganya

d. Untuk mengatur keseimbangan keinginan individu satu dengan individu lainnya

e. Menjauhi siswa melakukan hal-hal yang dilarang sekolah f. Mendorong siswa melakukan hal-hal yang baik dan benar

g. Peserta didik belajar hidup dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik, positif dan bermanfaat baginya dan lingkungannya

h. Kebiasaan baik itu menyebabkan ketenangan jiwanya dan lingkungannya

Dari uraian di atas, disiplin sangat penting dan dibutuhkan oleh setiap siswa.

Disiplin yang tumbuh secara sadar akan membentuk sikap, perilaku, dan tata

(34)

25

a. Unsur-unsur Disiplin

Menurut Tulus Tu’u (2004: 33) unsur-unsur disiplin adalah sebagai berikut: 1. Mengikuti dan menaati peraturan, nilai dan hukum yang berlaku.

2. Pengikutan dan ketaatan tersebut terutama muncul karena adanya kesadaran diri bahwa hal itu berguna bagi kebaikan dan keberhasilan dirinya. Dapat juga muncul karena rasa takut, tekanan,paksaan dan dorongan dari luar dirinya. 3. Sebagai alat pendidikan untuk mempengaruhi, mengubah, membina, dan

membentuk perilaku sesuai dengan nilai-nilai yang ditentukan atau diajarkan. 4. Hukuman yang diberikan bagi yang melanggar ketentuan yang

berlaku, dalam rangka mendidik, melatih, mengendalikan dan memperbaiki tingkah laku.

5. Peraturan-peraturaan yang berlaku sebagai pedoman dan ukuran perilaku.

b. Fungsi Disiplin

Fungsi disiplin sangat penting untuk ditanamkan pada siswa, sehingga siswa

menjadi sadar bahwa dengan disiplin akan tercapai hasil belajar yang optimal.

Fungsi disiplin menurut Tu’u (2004: 38-44) adalah sebagai berikut:

a. Menata kehidupan bersama

Manusia merupakan mahluk sosial. Manusia tidak akan bisa hidup tanpa batuan orang lain. Dalam kehidupan bermasyarakat sering terjadi pertikaian antara sesama orang yang disebabkan karena benturan kepentingan, karena manusia selain sebagai mahluk sosial ia juga sebagai mahluk individu yang tidak lepas dari sifat egonya, sehingga kadangkadang di masyarakat terjadi benturan antara kepentingan pribadi dengan kepentingan bersama. Di sinilah pentingnya disiplin untuk mengaur tata kehidupan manusia dalam kelompok tertentu atau dalam masyarakat. Sehingga kehidupan bermasyarakat akan tentram dan teratur.

b. Membangun kepribadian

Kepribadian adalah keseluruhan sifat, tingkah laku yang khas yang dimiliki oleh seseorang. Antara orang yang satu dengan orang yang lain mempunyai kepribadian yang berbeda. Lingkungan yang berdisiplin baik sangat

berpengaruh terhadap kepribadian seseorang. Apalagi seorang siswa yang sedang tumbuh kepribadiannya, tentu lingkungan sekolah yang tertib, teratur, tenang, dan tentram sangat berperan dalam membangun kepribadian yang baik.

c. Melatih kepribadian yang baik

(35)

26

d. Pemaksaan

Disiplin akan tercipta dengan kesadaran seseorang untuk mematuhi semua ketentuan, peraturan, dan noma yang berlaku dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab. Disiplin dengan motif kesadaran diri lebih baik dan kuat. Dangan melakukan kepatuhan dan ketaatan atas kesadaran diri bermanfaat bagi kebaikan dan kemajuan diri. Sebaliknya disiplin dapat pula terjadi karena adanya pemaksaan dan tekanan dari luar. Misalnya, ketika seorang siswa yang kurang disiplin masuk ke satu sekolah yang berdisiplin baik, maka ia terpaksa harus menaati dan mematuhi tata tertib yang ada di sekolah tersebut.

e. Hukuman

Dalam suatu sekolah tentunya ada aturan atau tata tertib. Tata tertib ini berisi hal-hal yang positif dan harus dilakukan oleh siswa. Sisi lainnya berisi sanksi atau hukuman bagi yang melanggar tata tertib tersebut. Hukuman berperan sangat penting karena dapat memberi motifasi dan kekuatan bagi siswa untuk mematuhi tata tertib dan peraturan-peraturan yang ada, karena tanpa adanya hukuman sangat diragukan siswa akan mematuhi paraturan yang sudah ditentukan.

f. Menciptakan lingkungan yang kondusif

Disiplin di sekolah berfungsi mendukung terlaksananya proses kegiatan pendidikan berjalan lancar. Hal itu dicapai dengan merancang peraturan sekolah, yakni peraturan bagi guru-guru dan bagi para siswa, serta peraturan lain yang dianggap perlu. Kemudian diimplementasikan secara konsisten dan konsekuen, dengan demikian diharapkan sekolah akan menjadi lingkungan pendidikan yang aman, tenang, tentram, dan teratur.

c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi dan Membentuk Disiplin Menurut Tu’u (2004:48-49) mengatakan ada empat faktor dominan yang mempengaruhi dan membentuk disiplin yaitu:

a) Kesadaran diri

Sebagai pemahaman diri bahwa disiplin penting bagi kebaikan dan

keberhasilan dirinya. Selain itu kesadaran diri menjadi motif sangat kuat bagi terwujudnya disiplin. Disiplin yang terbentuk atas kesadarn diri akan kuat pengaruhnya dan akan lebih tahan lama dibandingkan dengan disiplin yang terbentuk karena unsur paksaan atau hukuman.

b) Pengikutan dan ketaatan

Sebagai langkah penerapan dan praktik atas peraturan-peraturan yang mengatur perilaku individunya. Hal ini sebagai kelanjutan dari adanya kesadaran diri yang dihasilkan oleh kemampuan dan kemauan diri yang kuat. c) Alat pendidikan

Untuk mempengaruhi, mengubah, membina, dan membentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang ditentukan atau diajarkan.

d) Hukuman

(36)

27

hukuman. Hukuman akan menyadarkan, mengoreksi, dan meluruskan yang salah, sehingga orang kembali pada perilaku yang sesuai dengan harapan.

Lebih lanjut Tu’u (2004:49-50) menambahkan masih ada faktorfaktor lain yang berpengaruh dalam pembentukan disiplin yaitu.

a. Teladan

Teladan adalah contoh yang baik yang seharusnya ditiru oleh orang lain. Dalam hal ini siswa lebih mudah meniru apa yang mereka lihat sebagai teladan (orang yang dianggap baik dan patut ditiru) daripada dengan apa yang mereka dengar. Karena itu contoh dan teladan disiplin dari atasan, kepala sekolah dan guru-guru serta penata usaha sangatberpengaruh terhadap disiplin para siswa.

b. Lingkungan berdisiplin

Lingkungan berdisiplin kuat pengaruhnya dalam pembentukan disiplin dibandingkan dengan lingkungan yang belum menerapkan disiplin. Bila berada di lingkungan yang berdisiplin, seseorang akan terbawa oleh lingkungan tersebut.

c. Latihan berdisiplin

Disiplin dapat tercapai dan dibentuk melalui latihan dan kebiasaan. Artinya melakuakn disiplin secara berulang-ulang dan membiasakannya dalam praktik-praktik disiplin sehari-hari.

d. Pelanggaran Disiplin

Terdapat beberapa faktor atau sumber yang dapat menyebabkan timbulnya

masalah-masalah yang dapat mengganggu terpeliharanya disiplin. Menurut

Ekosiswoyo dan Rachman (2000:100-105), contoh-contoh sumber pelanggaran

disiplin antara lain:

Pelanggaran di sekolah, contohnya:

1) Tipe kepemimpinan guru atau sekolah yang otoriter yang senantiasa

mendiktekan kehendaknya tanpa memperhatikan kedaulatan siswa. Perbuatan seperti itu mengakibatkan siswa menjadi berpura-pura patuh, apatis atau sebaliknya. Hal itu akan menjadikan siswa agresif, yaitu ingin berontak terhadap kekangan dan perlakuan yang tidak manusiawi yang mereka terima. 2) Guru yang membiarkan siswa berbuat salah, lebih mementingkan mata

pelajarandari pada siswanya.

(37)

28

Pelanggaran di keluarga/ rumah, contohnya:

1) Lingkungan rumah atau keluarga, seperti kurang perhatian, ketidak

teraturan,pertengkaran, masa bodoh, tekanan, dan sibuk urusannya masing-masing.

2) Lingkungan atau situasi tempat tinggal, seperti lingkungan kriminal, lingkungan bising, dan lingkungan minuman keras.

(Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2241184-displin-belajar/#ixzz2J85y5f00 diakses 29 Januari 2013)

e. Macam-macam Disiplin

Untuk mencapai disiplin belajar maka perlu dipahami macam-macam disiplin

belajar yang harus siswa patuhi baik di kelas, maupun diluar kelas. Berikut ini

macam-macam disiplin ditunjukkan dengan tiga perilaku yaitu:

a) perilaku kedisiplinan di dalam kelas

b) perilaku kedisiplinan di luar kelas di lingkungan sekolah

c) perilaku kedisiplinan di rumah.

(Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2241184-displin-belajar/#ixzz2J85y5f00 diakses 29 Januari 2013)

B. Penelitian Yang Relevan

Studi atau penelitian yang sejenis dengan pokok permaslahan yang dihadapkan

dalam skripsi ini telah banyak dilakukan oleh peneliti-peneliti terdahulu. Oleh

karena itu, pada bagian ini dilengkapi beberapa hasil penelitian yang ada

(38)
[image:38.595.109.517.106.657.2]

29

Tabel 3. Hasil Penelitian yang Relevan

Tahun Nama Judul Skripsi Kesimpulan

2011 Irvina Vartessia Linda

0713031032

Pengaruh Lingkungan Keluarga Dan

Lingkungan Sosial Terhadap Hasil Belajar IPS Kelas IX SMP Satya Dharma Sudjana PT GMP Lampung Tengah Tahun Pelajaran

2010/2011

Ada pengaruh lingkungan sosial terhadap hasil belajar IPS kelas IX SMP Satya Dharma Sudjana PT GMP Lampung Tengah Tahun Pelajaran

2010/2011. Hal ini ditunjukan dengan Fhitung > Ftabel atau 94,412 > 3,265, dengan koefisien korelasi (R) 0,844, koefisien determinasi (R²) 0,713.

Hasil belajar dipengaruhi oleh lingkungan

keluarga dan lingkungan sosial sebesar 71,3%. 2011 Nur Asiyah Pengaruh Disiplin

Belajar, Lingkungan Keluarga Dan Lingkungan Sosial Terhadap Prestasi Belajar IPS Terpadu Siswa Kelas VII Semester Ganjil SMPN 3 Pesisir Tengah ,Krui Lampung Barat Tahun Pelajaran 2010/2011.

Ada pengaruh disiplin belajar, lingkungan keluarga dan lingkungan sosial terhadap prestasi belajar IPS terpadu siswa kelas VII semester ganjil SMPN 3 Pesisir Tengah tahun pelajaran 2010/ 2011. Hal ini ditunjukkan dengan Fhitung( 18,057) > Ftabel (4,249). Koefisien korelasi (R) 0,441, koefisien determinasi (R²) = 0,194. Prestasi belajar dipengaruhi oleh disiplin belajar,

lingkungan keluarga dan lingkungan sosial

(39)
[image:39.595.104.518.109.382.2]

30

Tabel 3. Hasil Penelitian yang Relevan (Tabel Lanjutan)

Tahun Nama Judul Skripsi Kesimpulan

2009 Leny Astuti 0513031030

Pengaruh Motivasi Dan Disiplin Belajar

Terhadap Prestasi Belajar IPS Terpadu Siswa Kelas VII SMP

Muhammadiyah 3 Bandar Lampung Tahun Ajaran 2008/2009

Ada pengaruh motivasi belajar dan disiplin belajar terhadap prestasi belajar IPS siswa kelas VII IPS SMP

Muhammadiyah 3 Bandar Lampung tahun ajaran 2008/2009 yang dibuktikan dari hasil perhitungan yang menunjukkan bahwa koefisien korelasi (R) sebesar 0,562 dan koefisien determinasi (R²)= 0,316 atau 31,6% kemudian diperoleh persamaan regresi Y= 33,047 = 0,369 X2.

C. Kerangka Pikir

1. Pengaruh Lingkungan Sosial (X1) terhadap Hasil Belajar (Y)

Lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat sebagai lingkungan sosial siswa

memiliki pengaruh yang besar terhadap hasil belajar karena pada dasarnya

lingkungan juga merupakan tempat siswa mendapatkan pendidikan baik secara

langsung maupun tidak langsung. Kondisi lingkungan sosial yang baik dapat

dicerminkan dengan hubungan yang harmonis antara siswa dan teman-teman

bermainnya di rumah dan sekolah, siswa dengan guru dan seluruh warga sekolah,

serta siswa dengna warga masyarakat tempat tinggalnya. Hubungan yang

harmonis dapat memberikan dampak positif bagi siswa dalam belajar, seperti

semangat untuk belajar bersama teman-temannya, tidak sungkan untuk berdiskusi

(40)

31

aktif dalam intrakulikuler dan ekstrakulikuler sekolah, mencontoh atau

meneladani tokoh-tokoh masyarakat yang telah sukses, dan lain-lain.

Berbanding terbalik dengan hal itu, kondisi lingkungan sosial yang tidak harmonis

atau banyak memberikan dampak negatif pada siswa dapat menurunkan semangat

siswa dalam belajar sehingga buruklah hasil belajarnya. Dampak negatif itu dapat

berupa perilaku kasar dan melanggar norma, lebih senang menghabiskan waktu

untuk hal yang tidak berguna, dan lain-lain.

Senada dengan uraian di atas, Hamalik (2004: 49) menyatakan bahwa:

”Perkembangan tingkah laku seseorang adalah berkat pengaruh dari lingkungan. Lingkungan kita artikan secara luas, bukan saja terdiri dari lingkungan alam akan tetapi meliputi lingkungan sosial. Bahkan lingkungan sosial inilah yang dapat dikatakan lebih memegang peranan. Melalui interaksi antara individu dan lingkungannya maka siswa memperoleh pengalaman yang selanjutnya

mempengaruhi kelakuannya sehingga berubah dan berkembang. Itu sebabnya maka ada pendapat yang mengatakan, bahwa pendidikan adalah proses sosialisasi, di mana siswa dipersiapkan sesuai dengan norma-norma masyarakat tempat ia hidup.”

2. Pengaruh Disiplin Belajar (X2) terhadap Hasil Belajar (Y)

Pada hakikatnya belajar bertujuan untuk merubah tingkah laku seseorang, dari

yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak bisa menjadi bisa dan sebagainya.

Disiplin merupakan suatu sikap yang sulit untuk ditumbuhkan dalam diri siswa

secara mandiri. Perlu adanya bantuan dari pihak luar dalam hal ini orangtua, guru,

dan lingkungan untuk menanamkan dan menumbuhkan disiplin dalam diri siswa

(41)

32

Menurut Walgito (2008: 12) disiplin belajar adalah ketaatan dan kepatuhan dalam

melaksanakan aktivitas belajar sesuai aturannya untuk mencapai tujuan yang

diharapkannya, keterikatan antara disiplin belajar dengan hasil belajar sangat erat

sehingga semakin berdisiplin dalam belajar semakin baik hasil yang dicapai.

Berdasarkan pendapat Walgito di atas, disiplin yang diterapkan dengan baik di

sekolah maupun di rumah akan memberikan andil besar bagi pertumbuhan dan

perkembangan prestasi siswa. Penerapan disiplin belajar di sekolah dan di rumah

akan mendorong, memotivasi dan memaksa para siswa untuk bersaing dalam

meningkatkan hasil belajar. Jadi, disiplin berarti mengalami ketepatan dan

keteraturan dalam aktivitas belajar, ketepatan dan keteraturan dalam belajar akan

memungkinkan pencapaian hasil belajar yang lebih baik dibandingkan yang

aktivitas belajarnya tidak tepat dan tidak teratur.

3. Pengaruh Lingkungan Sosial (X1) dan Disiplin Belajar (X2) terhadap Hasil Belajar (Y)

Baik buruknya hasil belajar yang diperoleh siswa dipengaruhi oleh beberapa hal,

diantaranya yaitu lingkungan sosial dan disiplin belajar. Ketika seorang siswa

hidup dan berkembang di tengah-tengah lingkungan yang buruk maka akan

berpengaruh juga terhadap perkembangan potensinya sehingga hasil belajarnya

pun akan jelek. Begitu pula sebaliknya, lingkungan yang harmonis akan

membawa dampak positif pada siswa. Lingkungan sosial berarti semua hal yang

ada di sekitar kita baik benda ataupun makhluk hidup yang dapat mempengaruhi

(42)

33

Lingkungan tempat siswa tumbuh dan berkembang juga dapat membentuk

kepribadian siswa. Kedisiplinan siswa dalam belajar dapat tercipta jika

lingkungan sekitarnya dapat mendukung dan memberikan pengawasan. Dukungan

dan pengawasan dari orang-orang di sekitar siswa dapat membuat siswa disiplin

dalam memanfaatkan waktu untuk belajar dan juga taat pada peraturan dan norma

yang ada di masyarakat dan sekolah.

Disiplin belajar yang baik dari siswa sudah pasti memiliki pengaruh besar dalam

keberhasilan belajar siswa. Sebaliknya jika siswa tidak disiplin, dan terlebih lagi

siswa memiliki lingkungan sosial yang buruk maka akan membuat hasil belajar

siswa menjadi tidak optimal. Prestasi cenderung terhambat, dan muncullah

siswa-siswa yang bermasalah dalam perilaku disiplin dan prestasi belajarnya.

Hubungan dari kedua faktor tersebut dalam penelitian ini dapat dituangkan dalam

kerangka pikir sebagai berikut:

[image:42.595.127.474.496.672.2]

Gambar 1. Kerangka Pikir Lingkungan Sosial

(X1)

Disiplin Belajar (X2)

(43)

34

D. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan hipotesis tersebut maka hipotesis yang dirumuskan dalam penelitian

ini adalah sebagai berikut:

1. Ada pengaruh lingkungan sosial terhadap hasil belajar ekonomi kelas X

Semester Ganjil SMA Bina Mulya Bandar Lampung Tahun Ajaran 2012/2013

2. Ada pengaruh disiplin belajar terhadap hasil belajar ekonomi kelas X Semester

Ganjil SMA Bina Mulya Bandar Lampung Tahun Ajaran 2012/2013.

3. Ada pengaruh lingkungan sosial dan disiplin belajar dengan ekonomi kelas X

(44)

III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif verifikatif dengan

pendekatan ex post facto dan survey. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan atau melakukan keadaan objek atau subjek

penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat dan lain-lain) pada saat sekarang

berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. Sedangkan

verifikatif menunjukkan penelitian mencari pengaruh antara variabel bebas

terhadap variabel terikat.

Pendekatan ex post facto adalah salah satu pendekatan yang digunakan untuk mengumpulkan data dengan cara mengambil data secara langsung di area

penelitian yang dapat menggambarkan data-data masa lalu dan kondisi lapangan

sebelum dilaksanakannya penelitian lebih lanjut. Sedangkan yang dimaksud

dengan pendekatan survey adalah pendekatan yang digunakan untuk mendapatkan

data dari tempat tertentu yang alamiah (bukan buatan), tetapi penelitian dilakukan

dalam pengumpulan data, misalnya dengan mengedarkan kuesioner, test,

(45)

36

Berdasarkan definisi di atas, maka metode deskriptif verifikatif adalah metode

yang menggambarkan pengaruh dua variabel atau lebih yang berbeda sesuai

dengan fakta-fakta yang ada. Penggunaan metode deskriptif verifikatif dalam

penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pengaruh lingkungan sosial dan

disiplin belajar terhadap hasil belajar Ekonomi kelas X SMA Bina Mulya Bandar

Lampung.

B. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas : obyek/subyek yang

mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk

dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2011: 117). Populasi

dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas X SMA Bina Mulya Bandar

Lampung tahun pelajaran 2012/2013, yang terdiri dari dua kelas dan yang

berjumlah 66 siswa. Untuk perinciannya dapat dilihat pada Tabel 4 sebagai

[image:45.595.111.494.568.653.2]

berikut:

Tabel 4. Jumlah siswa kelas X SMA Bina Mulya Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2012/2013.

No Kelas Laki-Laki Perempuan Jumlah

1 X.1 14 21 35

2 X.2 10 21 31

Jumlah 66

Sumber: Arsip Tata Usaha SMA Bina Mulya Bandar Lampung

Populasi diambil secara acak diwakili kelas X.1 dan X.2 yang jumlah populasi

berjumlah 66 siswa. Populasi tersebut diambil karena kedua kelas tersebut

(46)

37

2. Sampel

Sugiyono (2009:81) mengatakan, sampel adalah bagian dari jumlah dan

karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Dalam penelitian ini penetuan

besarnya sampel dihitung berdasarkan rumus Cochran yang didasarkan pada jenis

kelamin, yaitu:

Keterangan:

n = Jumlah sampel minimal N = Ukuran populasi

T = Tingkat kepercayaan (digunakan 0,95 sehingga nilai t = 1,96) d = Taraf kekeliruan (digunakan 0,05)

p = Proporsi dari karakteristik tertentu (golongan) q = 1 – p

1 = Bilangan konstan (Sudarmanto, 2011).

Berdasarkan rumus Cochran, maka dapat dihitung besarnya jumlah sampel yang

terdapat dalam penelitian ini yaitu,

p = 14 = 0,4; (Proporsi untuk siswa laki-laki) 35

q = 1 – 0,4 = 0,6; (Proporsi untuk siswa perempuan)

x 0, 4 x 0,6 = 0,921984

= = 0,0025

0,921984

0,0025 n = —————————

1 0,921984 1+ — (————— - 1)

(47)

38

368,7936 368,7936

n = —————— = —————— = 56,110 dibulatkan menjadi 56 1 + 5,5726303 6,5726303

C. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik probability sampling. Probability sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang

memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih

menjadi anggota sampel (Sugiyono, 2011: 120). Teknik probability sampling yang digunakan adalah simple random sampling. Dikatakan simple (sederhana) karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa

memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu.

Untuk menentukan besarnya sampel pada setiap kelas dilakukan dengan alokasi

proporsional agar sampel yang diambil lebih proporsional (Nazir, 2000: 82), hal

ini dilakukan dengan cara:

Jumlah sampel tiap kelas = Xjumlah tiap kelas

Tabel 5. Perhitungan Proporsi Sampel Untuk Masing-Masing Kelas

No Kelas Perhitungan Jumlah Siswa (Sampel)

1

2

X1

X2

56

— X 35 = 29,69 66

56

— X 31 = 26,30 66

30

26

(48)

39

Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa dalam penelitian ini jumlah

populasi yang akan diteliti sebanyak 66 siswa dari seluruh populasi itu

mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi sampel. Peneliti

mengambil sampel siswa agar memenuhi alokasi proporsional dari populasi yang

berjumlah 66 siswa yang diambil dari dua kelas yaitu kelas X.1 dan X.2. jadi,

jumlah keseluruhan responden yang menjadi sampel dalam penelitian ini

sebanyak56 siswa.

D. Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau

kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk

dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2011: 61). Variabel

yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Variabel Independen (Bebas)

Variabel bebas merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi sebab

perubahannya atau timbulnya variabel dependen atau terikat (Sugiyono, 2011:

61). Adapun yang menjadi variabel bebas adalah lingkungan sosial (X1), dan

disiplin belajar (X2).

2. Variabel Dependen (terikat)

Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat, karena

adanya variabel bebas (Sugiyono, 2011: 61). Adapun yang menjadi variabel

(49)

40

E. Definisi Konseptual dan Operasional Variabel 1. Definisi Konseptual

Definisi konseptual adalah definisi yang diberikan kepada suatu konstrak guna

menjelaskan suatu konsep variabel baik variabel bebas maupun variabel terikat.

Adapum definisi konseptual dari variabel bebas dan variabel terikat dalam

penelitian ini yaitu sebagai berikut:

a. Lingkungan Sosial

Menurut Ngalim Purwanto (2007: 73) lingkungan sosial ialah semua orang atau manusia lain yang mempengaruhi kita. Pengaruh lingkungan sosial itu ada yang kita terima secara langsung dan ada yang tidak langsung. Pengaruh secara langsung, misalnya dalam pergaulan sehari-hari dengan orang lain, dengan keluarga kita, teman-teman atau kawan sekolah, kawan sepekerjaan, dan sebagainya. Yang tidak langsung, melalui radio, televisi, dengan

membaca buku-buku, majalah, surat kabar, dan sebagainya, dan berbagai cara yang lain.

b. Disiplin Belajar

Menurut Walgito (2008: 12) disiplin belajar adalah ketaatan dan kepatuhan

dalam melaksanakan aktivitas belajar sesuai aturannya untuk mencapai tujuan

yang diharapkannya, keterikatan antara disiplin belajar dengan hasil belajar

sangat erat sehingga semakin berdisiplin dalam belajar semakin baik hasil

yang dicapai.

c. Hasil Belajar

Menurut Sukmadinata (2007: 189) hasil belajar atau achievment merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan-kecakapan potensial atau kepasitas

yang dimiliki seseorang. Penguasaan hasil belajar oleh seseorang dapat dilihat

dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan,

(50)

41

2. Definisi Operasional Variabel

Berdasarkan definisi konsetual dari para ahli maka definisi operasional variabel

[image:50.595.115.548.207.739.2]

penelitian ini yaitu:

Tabel 6. Variabel, Definisi Operasional, Indikator, Sub indikator, Skala Pengukuran

No Variabel Definisi Operasional

Indikator Sub Indikator Skala Pengu-kuran 1 Lingkungan

Sosial (X1). Lingkungan sosial ialah semua orang atau manusia lain yang mempengaruhi kita. Pengaruh lingkungan sosial itu ada yang kita terima secara langsung dan ada yang tidak langsung. Ngalim Purwanto (2007: 73) Lingkungan sosial adalah semua hal yang ada di sekitar seseorang dan yang mempengaruhi perubahan tingkah lakunya, baik benda mati maupun makhluk hidup, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Pengaruh yang didapat dari lingkungan tempat seseorang tumbuh dan berkembang ada yang bersifat positif dan ada juga yang negatif

a) Lingkungan sekolah 1. Relasi guru

dengan siswa 2. Relasi siswa

dengan siswa 3. Keadaan lingkungan sekolah b) Lingkungan Tempat Tinggal (Masyarakat) 1. Relasi sosial

Gambar

Tabel 1. Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi Siswa Kelas X Ujian
Tabel 2. Aktivitas Siswa di Dalam Kelas Saat Pelajaran Berlangsung
Tabel 3. Hasil Penelitian yang Relevan
Tabel 3. Hasil Penelitian yang Relevan (Tabel Lanjutan)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Jika perkaranya demikian…bahwasanya tidak satu amalanpun yang kita yakini kita lakukan ikhlas karena Allah…dan tidak satu amalanpun yang ikhlas kita lakukan lantas kita yakin

(1) Berdasarkan SPdORD sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 ayat 1 ditetapkan retribusi terutang dengan menerbitkan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.. (2) Apabila

Based on the research background above the problem of this study is “how is class struggle reflected in Jane Austen’s Persuasion “.. Limitation of

tenaga kesehatan umumnya bahwa terapi latihan dan terapi manipulasi secara dini dan intensif sangat efektif untuk meningkatkan lingkup gerak sendi bahu pada pasien frozen

Komplain yang dilakukan oleh konsumen adalah sebuah masukan bagi perusahaan untuk menjadi lebih baik, apabila tidak ada konsumen yang melakukan komplain,

Namun, ada beberapa penelitian tentang sisi lain dari buah naga yang sudah dipublikasi dalam Journal of Food Chemistry , antara lain penelitian mengenai aspek prebiotik daging

[r]

[r]