• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian Ekologi Pasak Bumi (Eurycoma Longifolia Jack) Dan Pemanfaatan Oleh Masyarakat Di Sekitar Hutan Bukit Lawang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Kajian Ekologi Pasak Bumi (Eurycoma Longifolia Jack) Dan Pemanfaatan Oleh Masyarakat Di Sekitar Hutan Bukit Lawang"

Copied!
141
0
0

Teks penuh

(1)

KAJIAN EKOLOGI PASAK BUMI (

Eurycoma longifolia

Jack)

DAN PEMANFAATAN OLEH MASYARAKAT DI

SEKITAR HUTAN BUKIT LAWANG

T E S I S

OLEH:

AMINATA BR GINTING

087030002

 

 

 

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

KAJIAN EKOLOGI PASAK BUMI (

Eurycoma longifolia

Jack)

DAN PEMANFAATAN OLEH MASYARAKAT DI

SEKITAR HUTAN BUKIT LAWANG

T E S I S

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains

dalam Program Studi Ilmu Biologi pada Fakultas Matematika dan

Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara

Oleh

AMINATA BR GINTING

087030002

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

Judul Tesis

: KAJIAN EKOLOGI PASAK BUMI (Eurycoma

longifolia JACK) DAN PEMANFAATAN OLEH

MASYARAKAT DI SEKITAR HUTAN BUKIT

LAWANG

Nama Mahasiswa

: AMINATA BR GINTING

Nomor Induk Mahasiswa

: 087030002

Program Studi

: BIOLOGI

 

Menyetujui

Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Retno Widhiastuti, M. S

Dr. Budi Utomo SP. MP.

Ketua

Anggota

 

Disetujui oleh:

Dekan

Ketua Prgram Studi

(4)

Telah diuji pada

Tanggal : 02 September 2010

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua

: Prof. Dr. Retno Widhiastuti, M.S.

Anggota

: Dr. Budi Utomo, SP.MP

Prof. Dr. Zulkifli Nasution, M.Sc.

Dr. Suci Rahayu, M.S

 

 

 

(5)

ABSTRACT

Ecological studies peg the Earth at Station Resort Bukt Lawang Orangutan

Rehabilitation has not been investigated. The purpose of this study is to determine the

physical, chemical, and biotic habitat, potential, association with other types,

patterns of distribution and utilization of Eurycoma longifolia by people who live

around the forest of Bukit Lawang. Location of research at the Orangutan

Rehabilitation Station Bukit Lawang resort in an area 200 ha TNGL. With the

combination method sided path. Laying of the sample unit by using systematic

sampling with random start. Line is based on the topography. Measurements were

taken at growth rates of trees, poles, saplings, and seedlings.

Having observed the physical condition of the environmental chemical is

known that the land component consists of sand, silt and clay, is also high nutrient

content, average air temperatures during the day 23.70 C average soil temperature

during the day 24.10 C; humidity average 90.8% during the day, the average soil pH

of 6.4, and the average light intensity of 113.6 x 10 Lux. Found in groups of moth

pests of the Order Lepidoptera, family Geometridae. Diversity of tree growth rate is

found 72 species, Eurycoma longifolia has a 2.16% IVI. Diversity of growth rates

found in 44 types of poles, Eurycoma longifolia has a 22.9% IVI. Diversity of the

growth rate of saplings found in 70 species, Eurycoma longifolia has a 24% IVI.

Diversity of seedling growth rate is found 69 species, which is dominated by the pegs

of the earth with IVI 24.6%. In the tree growth rate pegs of the earth associated with

Parkia sp significance, Shorea scabrida, Eury nitida and Plemengia macrophylla. At

this level of growth poles significant association with Shorea sp. On the growth rate

of saplings and seedlings Eurycoma longifolia is not associated with other types.

Eurycoma longifolia distribution patterns at the level of tree growth is uneven, the

growth rate poles, saplings, and seedlings are clustered. Knowledge, the introduction

and utilization of Eurycoma longifolia by communities living around the forest of

Bukit Lawang is good enough. Part of plant used mainly roots.

(6)

ABSTRAK

Kajian ekologi pasak bumi di Stasiun Rehabilitasi Orangutan Resort Bukt

Lawang belum pernah diteliti. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi

fisik, kimia, dan biotik habitat, potensi, asosiasi dengan jenis lain, pola persebaran

Eurycoma longifolia dan pemanfaatan Eurycoma longifolia oleh masyarakat yang

tinggal di sekitar hutan Bukit Lawang. Lokasi penelitian di Stasiun Rehabilitasi

Orangutan Resort Bukit Lawang. Peletakan unit sampel dilakukan dengan

menggunakan cara systematic sampling with random start. Jalur dibuat berdasarkan

keadaan topografi. Pengukuran dilakukan pada tingkat pertumbuhan pohon, tiang,

pancang, dan semai.

Hasil penelitian menunjukkan komponen tanah terdiri atas pasir, debu dan liat,

Kandungan hara juga tinggi, Suhu udara rata-rata pada siang hari 23,70C; suhu tanah

rata-rata pada siang hari 24,10C; kelembaban udara rata-rata pada siang hari 90,8 %;

pH tanah rata-rata 6,4; dan intensitas cahaya rata-rata 113,6 x 10 Lux. Hama

ditemukan kelompok ngengat Ordo Lepidoptera, Famili Geometridae.

Keanekaragaman tingkat pertumbuhan pohon ditemukan 72 jenis, Eurycoma

longifolia memiliki INP 2,16 %. Keanekaragaman tingkat pertumbuhan tiang

ditemukan 44 jenis, Eurycoma longifolia memiliki INP 22,9 %. Keanekaragaman

tingkat pertumbuhan pancang ditemukan 70 jenis, Eurycoma longifolia memiliki INP

24 %. Keanekaragaman tingkat pertumbuhan semai ditemukan 69 jenis, yang

didomonasi oleh pasak bumi dengan INP 24,6 %. Pada tingkat pertumbuhan pohon

pasak bumi berasosiasi signifikans dengan Parkia sp,

Shorea scabrida, Eury nitida

dan

Plemengia macrophylla. Pada tingkat pertumbuhan tiang berasosiasi signifikan

dengan Shorea sp. Pada tingkat pertumbuhan pancang dan semai Eurycoma longifolia

tidak berasosiasi dengan jenis lain. Pola persebaran Eurycoma longifolia pada tingkat

pertumbuhan pohon adalah merata, tingkat pertumbuhan tiang, pancang, dan semai

adalah mengelompok. Pengetahuan, pengenalan dan pemanfaatan Eurycoma

longifolia oleh masyarakat yang tinggal disekitar hutan Bukit Lawang cukup baik.

Bagian tumbuhan yang digunakan terutama adalah akarnya.

Kata kunci: Ekologi, Pasak bumi, Sifat fisik, kimia, biotik, potensi, asosiasi,

pemanfaatan, masyarakat, hama, TNGL.

 

 

 

(7)

PERNYATAAN

KAJIAN EKOLOGI PASAK BUMI (Eurycoma longifolia Jack) DAN

PEMANFAATAN OLEH MASYARAKAT DI SEKITAR HUTAN BUKIT

LAWANG

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah

diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan disuatu perguruan tinggi dan

sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah

ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali secara tertulis diacu dalam naskah ini

dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, 02 September 2010

Penulis

(8)

PENGHARGAAN

Puji dan syukur Penulis Panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah

memberikan berkat dan karunia-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan penelitian ini

yang bertema

“Kajian Ekologi Dan Pemanfaatan Pasak Bumi di Taman Nasional

Gunung Louser Bukit Lawang.

Dilaksanakan sebagai salah satu syarat untuk

menyelesaikan studi pada Program Studi Magister Biologi Sekolah Pascasarjana Universitas

Sumatera Utara Medan.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada Prof. Dr. Retno Widhiastuti,Msi dan Dr.

Budi Utomo, SP, MP selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan

dan arahan selama penulis melaksanakan penelitian sampai selesainya penyusunan tesis ini.

Dalam kesempatan ini penulis juga mengucapkan terimakasih kepada:

1.

Prof. Dr. Ir. Zulkifli Nasution M.Sc. dan Dr. Suci Rahayu sebagai dosen penguji atas

arahan dan masukan dalam penyempurnaan penyusunan tesis ini.

2.

Gubernur Syamsul Arifin, Bupati D.D.Sinulingga, Kadis Tanah karo dan Kepala Sekolah

SMAN I Berastagi yang telah memberi Beasiswa kepada guru-guru juga kesempatan

untuk melanjutkan studi.

3.

Ayahanda Jeremia Ginting dan Ibunda Tandariah br Barus, juga do’a-do’a anak-anakku

tersayang Roswanda, Yonathhan, Maria, dan Emeninta.

4.

Abanganda terhormat Mulyono Surbakti yang telah banyak membantu dan memotivasi

penulis, abanganda Riswan Bangun di TNGL, Kepala desa Sampe Raya Titik Pinem dan

Kepala desa Timbang Lawan Sinar Bangun yang telah banyak membantu penulis.

5.

Luthfi A.M.Siregar yang telah memberi fasilitas literatur kepada penulis dan, Prof. Dr.

Darma Bakti,SP.MP. yang telah membantu penulis untuk mengidentifikasi hama.

(9)

RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir di desa Bandar Baru, Kecamatan sibolangit Kabupaten Deli

Serdang Sumatera Utara, tanggal 09 April 1969 dari seorang ibu bernama Tandariah

br Barus dan ayah bernama Jeremia Ginting tinggal di desa Namoriam kecamatan

Pancur Batu.

Lulus Sekolah Dasar Negeri 101824 Durian Simbelang tahun 1981, Lulus SMP

Negeri II Pancur Batu tahun 1984, Lulus SMA Negeri I Pancur Batu tahun 1987.

Tahun 1987 melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi Negeri melalui jalur

PMDK ke FKIP MIPA UNSYIAH Darussalam Banda Aceh. Lulus dengan gelar

sarjana S1 pada tahun 1992.

Pada tahun 1995 ditempatkan bekerja sebagai guru di SMA Negeri I Jaya

Lamno Aceh Barat. Bekerja disana selama 5 tahun. Tahun 2000 pindah dinas ke

SMA Negeri I Berastagi. Pada tahun 2008 melanjutkan studi di Program Magister

Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera

Utara dengan beasiswa dari PROVSU.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(10)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

………...

v

PERNYATAAN ………... vi

RIWAYAT HIDUP

………...

vii

DAFTAR ISI

………...

xi

DAFTAR TABEL

………...

xii

DAFTAR GAMBAR

………...

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

………...

xiv

BAB I.

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang ………..

1

1.2

Perumusan Masalah ………..

3

1.3

Tujuan Penelitian ……….

3

1.4

Manfaat Penelitian ………

4

BAB II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Hutan Hujan Tropis ………..

5

2.2

Hubungan Masyarakat dengan Lingkungan Tmhn…….

6

2.3

Pola Distribusi ………..

7

2.4

Asosiasi ……….

7

2.5

Taman Nasional Gunung Leuser ………..

8

2.6

Pasak Bumi dan Manfaatnya ………

9

2.6.1

Deskripsi ………...

9

2.6.2

Ekologi Pasak Bumi………..

10

2.6.3

Manfaat Pasak Bumi ……….

11

BAB III,

BAHAN DAN METODE

3.1

Tempat dan Waktu Penelitian ………...

14

3.2

Bahan dan Alat Penelitian ………

14

3.3

DataPrimer ………

15

3.4

Data Sekunder ………...

15

3.5

Prosedur Penelitian ………..

15

3.6

Cara Pengumpulan Data ………...

16

3.6.1

Pembuatan Jalur ………

17

3.6.2

Pengukuran ………

17

3.6.3

Kondisi Abiotik Habitat ………...

18

3.6.4

Pola Distribusi ……….

18

3.6.5

Asosiasi ………

18

3.7

Pengumpulan Data kuisioner ………...

19

3.8

Analisis Data ………

20

(11)

BAB IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Hasil Pengamatan Fisik Lingkungan ………...

24

4.1.1

Iklim dan Hidrologi ………..

24

4.1.3

Topografi dan Geologi ………..

24

4.2

Aspek Biologi Pasak Bumi ………...

25

4.2.1

Morfologi pasak bumi ………...

25

4.2.2

Hama Pasak Bumi ……….

27

4.3

Komposisi dan Dominansi……….

28

4.3.1

Tingkat Pohon ………...

28

4.3.2

Tingkat Tiang ………

29

4.3.3

Tingkat Pancang ………...

30

4.3.4

Tingkat Semai ………...

30

4.4

Asosiasi Pasak Bumi dengan Jenis Lain …………...

32

4.5

Pola penyebaran pasak bumi ………

38

4.6

Pemanfaatan Pasak Bumi Oleh Masyarakat ………

38

4.6.1

Karakteristik Responden ………...

39

4.6.1.1

Desa Sampe Raya ………

40

4.6.1.2

Desa Timbang Lawan ………..

40

4.6.2

Pengetahuan Tanaman Obat ………

42

4.6.3

Pemanfaatan Pasak Bumi ………

44

4.6.4

Pelestarian Tumbuhan Pasak Bumi………..

46

BAB V.

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1

Kesimpulan ………..

49

5.2

Saran ………

50

DAFTAR PUSTAKA

………..…

52

 

 

 

 

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel Judul halaman

1

Dominansi 10 jenis tingkat pohon , tiang,

pancang dan semai di kawasa Stasiun………. 31

2

Asosiasi pasak bumi dengan jenis lain ………... 33

3

Pola persebaran pasak bumi……….………. 38

4

Karakteristik responden desa Sampe Raya

dan Timbang Lawan ………... 41

5

Pengetahuan masyarakat mengenai tumnuhan pasak bumi…... 43

6

Pemanfaatan pasak bumi oleh masyarakat ……….. 45

7

Persepsi masyarakat tentang budidaya pasak bumi ……….. 47

 

       

 

 

      

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(13)

 

DAFTAR GAMBAR

No. Judul

Halaman

1

Peta Lokasi Penelitian ………... 14

2

Petak Contoh ……….. 16

3.a

Pohon Pasak Bumi ………... …. 25

3.b

Pasak Bumi Berbunga ………... 25

3.c

Batang Pasak Bumi ………...…. …... 25

3.d

Tangkai Daun Pasak Bumi ………...……. 25

4.e

Daun Pasak Bumi ……….………... 26

4.f

Morfologi daun yang berbeda ………...……….. 26

4.g

Bunga Tumbuh di Ketiak Batang ……… 26

4.h

Bunga Pasak Bumi ……….. 26

5.i

Malai buah yang panjang ………... 27

5.j

Buah muda 5 buah 1 tangkai ……….……….. 27

5.k

Buah muda ………...….……... 27

5.l

Buah yang sudah masak ………. …. 27

6. m

Bagian pucuk yang diserang hama ……….. 27

6.n

Bagian daun yang diserang hama ………...………. 27

6.o&p

Biji yang diserang ulat ………. 27

7.q

Perkembangan Larva ………..……….. 28

7.r

Pupa ……….. 28

7.s

Ngengat dewasa ………..………... 28

7.t

Metamorfosis hama ……….……….. 28

7.u

Pupa melekat pada daun pasak bumi ………..………... 28

 

xiii

 

 

 

 

 

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

No Judul Hal

1 Klimatologi……….

56

2

Tabel data lapangan pengamatan vegetasi seedling………..

57

3

Tabel data lapangan pengamatan vegetasi sapling………

62

4

Tabel data lapangan pengamatan vegetasi pole………...

73

5

Tabel data lapangan pengamatan vegetasi pohon………...

77

6 Kuisioner

penelitian………...

83

7 Karakteristik

responden

desa

Timbang Lawan………..

89

8

Karakteristik responden desa Sampe Raya………

93

9 Perhitungan

Dominansi………...

97

10 Perhitungan

Asosiasi………...

99

11 Perhitungan

Pola

Pertumbuhan………..

100

12

Hasil Perhitungan Dominansi tingkat Pohon………...

102

13

Hasil Perhitungan Dominansi tingkat Tiang………...

104

14

Hasil Perhitungan Dominansi tingkat Pancang………...

106

15

Hasil Perhitungan Dominansi tingkat Semai ...…...…………...

108

16

Hasil Perhitungan Asosiasi Tingkat Pohon ………..

110

17

Hasil Perhitungan Asosiasi Tingkat Tiang ………...

112

18

Hasil Perhitungan Asosiasi Tingkat Pancang ………...

114

19

Hasil Perhitungan Asosiasi Tingkat Semai ………...

116

20 Perhitungan

Pola

Persebaran………...

118

21

Data Hasil Analisis Tanah ………

121

22

Foto Penelitian di Bukit Lawang………...

124

23

Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI)...………..

126

24

Surat Keterangan Selesai Penelitian TNGL………...………...

127

25

Surat Izin Penelitian di Desa………... 128

26

Surat Keterangan Selesai Penelitian Desa Sampe Raya………

129

27

Surat Keterangan Selesai Penelitian Desa Timbang Lawan………..

130

 

 

 

 

(15)

ABSTRACT

Ecological studies peg the Earth at Station Resort Bukt Lawang Orangutan

Rehabilitation has not been investigated. The purpose of this study is to determine the

physical, chemical, and biotic habitat, potential, association with other types,

patterns of distribution and utilization of Eurycoma longifolia by people who live

around the forest of Bukit Lawang. Location of research at the Orangutan

Rehabilitation Station Bukit Lawang resort in an area 200 ha TNGL. With the

combination method sided path. Laying of the sample unit by using systematic

sampling with random start. Line is based on the topography. Measurements were

taken at growth rates of trees, poles, saplings, and seedlings.

Having observed the physical condition of the environmental chemical is

known that the land component consists of sand, silt and clay, is also high nutrient

content, average air temperatures during the day 23.70 C average soil temperature

during the day 24.10 C; humidity average 90.8% during the day, the average soil pH

of 6.4, and the average light intensity of 113.6 x 10 Lux. Found in groups of moth

pests of the Order Lepidoptera, family Geometridae. Diversity of tree growth rate is

found 72 species, Eurycoma longifolia has a 2.16% IVI. Diversity of growth rates

found in 44 types of poles, Eurycoma longifolia has a 22.9% IVI. Diversity of the

growth rate of saplings found in 70 species, Eurycoma longifolia has a 24% IVI.

Diversity of seedling growth rate is found 69 species, which is dominated by the pegs

of the earth with IVI 24.6%. In the tree growth rate pegs of the earth associated with

Parkia sp significance, Shorea scabrida, Eury nitida and Plemengia macrophylla. At

this level of growth poles significant association with Shorea sp. On the growth rate

of saplings and seedlings Eurycoma longifolia is not associated with other types.

Eurycoma longifolia distribution patterns at the level of tree growth is uneven, the

growth rate poles, saplings, and seedlings are clustered. Knowledge, the introduction

and utilization of Eurycoma longifolia by communities living around the forest of

Bukit Lawang is good enough. Part of plant used mainly roots.

(16)

ABSTRAK

Kajian ekologi pasak bumi di Stasiun Rehabilitasi Orangutan Resort Bukt

Lawang belum pernah diteliti. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi

fisik, kimia, dan biotik habitat, potensi, asosiasi dengan jenis lain, pola persebaran

Eurycoma longifolia dan pemanfaatan Eurycoma longifolia oleh masyarakat yang

tinggal di sekitar hutan Bukit Lawang. Lokasi penelitian di Stasiun Rehabilitasi

Orangutan Resort Bukit Lawang. Peletakan unit sampel dilakukan dengan

menggunakan cara systematic sampling with random start. Jalur dibuat berdasarkan

keadaan topografi. Pengukuran dilakukan pada tingkat pertumbuhan pohon, tiang,

pancang, dan semai.

Hasil penelitian menunjukkan komponen tanah terdiri atas pasir, debu dan liat,

Kandungan hara juga tinggi, Suhu udara rata-rata pada siang hari 23,70C; suhu tanah

rata-rata pada siang hari 24,10C; kelembaban udara rata-rata pada siang hari 90,8 %;

pH tanah rata-rata 6,4; dan intensitas cahaya rata-rata 113,6 x 10 Lux. Hama

ditemukan kelompok ngengat Ordo Lepidoptera, Famili Geometridae.

Keanekaragaman tingkat pertumbuhan pohon ditemukan 72 jenis, Eurycoma

longifolia memiliki INP 2,16 %. Keanekaragaman tingkat pertumbuhan tiang

ditemukan 44 jenis, Eurycoma longifolia memiliki INP 22,9 %. Keanekaragaman

tingkat pertumbuhan pancang ditemukan 70 jenis, Eurycoma longifolia memiliki INP

24 %. Keanekaragaman tingkat pertumbuhan semai ditemukan 69 jenis, yang

didomonasi oleh pasak bumi dengan INP 24,6 %. Pada tingkat pertumbuhan pohon

pasak bumi berasosiasi signifikans dengan Parkia sp,

Shorea scabrida, Eury nitida

dan

Plemengia macrophylla. Pada tingkat pertumbuhan tiang berasosiasi signifikan

dengan Shorea sp. Pada tingkat pertumbuhan pancang dan semai Eurycoma longifolia

tidak berasosiasi dengan jenis lain. Pola persebaran Eurycoma longifolia pada tingkat

pertumbuhan pohon adalah merata, tingkat pertumbuhan tiang, pancang, dan semai

adalah mengelompok. Pengetahuan, pengenalan dan pemanfaatan Eurycoma

longifolia oleh masyarakat yang tinggal disekitar hutan Bukit Lawang cukup baik.

Bagian tumbuhan yang digunakan terutama adalah akarnya.

Kata kunci: Ekologi, Pasak bumi, Sifat fisik, kimia, biotik, potensi, asosiasi,

pemanfaatan, masyarakat, hama, TNGL.

 

 

 

(17)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah

Hutan tropis Indonesia mendapat julukan negara megabiodiversity karena kekayaan

keanekaragaman flora dan faunanya. Salah satu bentuk keanekaragaman hayati tersebut

adalah tumbuhan obat. Beberapa jenis flora hutan hujan tropis Indonesia yang digunakan

sebagai bahan baku obat tradisional (jamu) seperti: pasak bumi (

Eurycoma longifolia

Jack)

, Leunca (

Solanum nigrum

L.), Murbei (

Morus alba

L.), Ceplukan (

Physalis angulata

L.), Daun sendok (

Plantago major

L.) dsb. Banyaknya manfaat keanekaragaman hayati

dan pentingnya bagi kesejahteraan umat manusia, maka pelestarian keanekaragaman hayati

tersebut menuntut perubahan sikap dan prilaku masyarakat.

Penduduk Indonesia telah sejak lama menggunakan tumbuhan liar sebagai obat

alami, terutama yang tinggal di pedesaan. Pengetahuan pemanfaatan tumbuhan obat ini

diwariskan turun temurun. Seiring dengan perkembangan waktu dan kemajuan ilmu

pengetahuan dan teknologi, berbagai jenis tumbuhan sebagai tumbuhan obat terus

dimanfaatkan. Keadaan tersebut mendorong bioprospeksi (

biodiversity prospecting

) yaitu

suatu kegiatan yang mengacu pada penyelidikan keanekaragaman hayati yang mengandung

gen – gen tertentu yang memiliki nilai perdagangan dan sebagai sumber biokimia untuk

obat-obatan (Eisnor

dalam

Reid

et al

.,1993)

(18)

sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur iklim seperti: suhu, kelembaban udara, intensitas

cahaya, keadaan tanah juga angin. Kekayaan keanekaragaman flora yang terdapat di hutan

berhubungan dengan kekayaan pemanfaatan flora oleh masyarakat setempat.

Bukit lawang Sumatera Utara adalah bagian dari Taman Nasional Gunung Leuser

(TNGL) merupakan zona pemanfaatan dikhususkan untuk pariwisata dan pusat penelitian

orangutan. Dari hasil inventarisasi yang telah dilakukan oleh Ferdinal (2007) diketahui

bahwa di kawasan ini terdapat puluhan jenis tumbuhan yang berkasiat obat seperti pasak

bumi, Tawar ipuh (

Aeschynanthus sp.

), Gumba (Melastomaceae) dan sebagainya.

Salah satu jenis tumbuhan obat yang terdapat di hutan Bukit Lawang dan banyak

dimanfaatkan adalah pasak bumi. Pasak bumi pada umumnya dijumpai dalam bentuk semai,

pancang atau tiang. Jarang yang dijumpai golongan pohon karena pertumbuhannya sangat

lambat. Dewasa ini banyak dilakukan riset tentang manfaat pasak bumi untuk

menyembuhkan berbagai penyakit. Hal tersebut dipublikasikan di media masa, sehingga

keberadaan pasak bumi di hutan menjadi terancam. Keseluruhan bagian dari tumbuhan pasak

bumi dapat digunakan sebagai obat, tetapi yang paling banyak digunakan adalah bagian

akarnya.

(19)

Data tentang penelitian bioekologi dan silvi kultur pasak bumi masih kurang guna

menunjang pengadaan bahan tanaman obat. Pengadaan bahan obat akhir akhir ini melalui

pembudidayaan tanaman obat makin penting dengan berkembangnya industri jamu di

Indonesia. Pemerintah maupun swasta nasional berupaya mengembangkan budidaya

tumbuhan obat dan penanganannya mendapat perhatian yang lebih besar.

1.2

Perumusan Masalah

Pasak bumi secara ilmiah telah diakui khasiatnya sebagai obat bermacam

penyakit mulai dari sakit ginjal, diabetes, hingga pemicu kejantanan para pria. Oleh karena

itu keberadaan tumbuhan ini di hutan Bukit Lawang terancam karena diburu oleh masyarakat,

maupun pedagang obat-obatan. Sementara itu budidaya tumbuhan ini sendiri sangat jarang

dilakukan karena tekhnik silvi kulturnya belum banyak diketahui. Oleh karena itu masalah

dalam penelitianini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1.

Bagaimana ekologi pasak bumi di hutan alami Bukit Lawang

2.

Apa faktor-faktor fisik kimia yang mempengaruhi persebaran dan habitat pasak bumi

di hutan alami.

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1.

Mengetahui kondisi fisik, kimia, dan ekologi pasak bumi di habitat alamnya hutan

Bukit Lawang

(20)

4.

Mengetahui bagaimana asosiasi pasak bumi dengan spesies tumbuhan lain di

hutan Bukit Lawang.

5.

Mengetahui pemanfaatan pasak bumi oleh masarakat yang tinggal di sekitar

Bukit Lawang.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaaat:

Informasi data tentang potensi, kondisi fisik dan kimia habitat alam serta pola

persebaran pasak bumi di hutan bukit lawang

Sebagai masukan bagi pihak pengelola Pusat Penelitian Orang utan Bukit

Lawang Taman Nasional Gunung Leuser dalam upaya konservasi pasak bumi

Informasi bagi masyarakat/ peneliti/ pengguna tumbuhan pasak bumi dalam

(21)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Hutan Hujan Tropis

Hutan hujan tropis menurut R. A. Butller (2001) adalah hutan yang unik yang

berlokasi di daerah tropis, curah hujan minimal 80 mm/tahun, memiliki kanopi,

keanekaragaman biota yang tinggi serta hubungan simbiotik antar spesies yang tak

terpisahkan. Dalam hutan hujan tropis tumbuh pohon dengan keanekaragaman yang sangat

tinggi sehingga disebut ekosistim yang stabil karena memiliki flora dan fauna yang sangat

kompleks.

Pohon merupakan tumbuhan yang mendominasi kawasan hutan. Baher (1950)

mendeskripsikan pohon sebagai tumbuhan berkayu yang mempunyai batang yang luas yang

biasanya mencapai tinggi kurang lebih 8 feet dan diameter setinggi dada (1,3 meter) minimal

12 inchi .Menurut Kusmana (1995) membedakan tingkat kehidupan pohon sehubungan

ukuran tinggi dan diameter batangnya sebagai berikut:

1.

Semai (

Seedling

) yaitu permudaan yang tingginya kurang dari atau sama dengan 1,5

meter.

2.

Pancang (

Sapling

) yaitu permudaan yang tingginya 1,5 meter atau lebih sampai

batang muda yang diameternya kurang dari 10 cm

3.

Tiang (

Pole

) yaitu pohon-pohon muda yang mempunyai diameter 10 cm sampai

batas lebih kecil dari 20 cm.

(22)

2.2 Hubungan Masyarakat Tumbuh-tumbuhan Dengan Lingkungan

Lingkungan adalah suatu sistem yang kompleks dimana berbagai faktor berpengaruh

timbal balik satu sama lain dengan masyarakat tumbuh-tumbuhan. Faktor-faktor lingkungan

mempunyai pengaruh yang berbeda pada saat yang berlainan terhadap kelangsungan hidup

setiap jenis tumbuhan. Faktor lingkungan dikatakan penting apabila pada suatu waktu

tertentu mempengaruhi hidup dan tumbuhnya tumbuh-tumbuhan. Karena terdapat pula taraf

minimal, optimum, atau maksimal menurut batas-batas toleransi dari masing-masing dari

masing-masing masyarakat tumbuh-tumbuhan. Kisaran toleransi untuk setiap masyarakat

tumbuh-tumbuhan tidak sama. Ada yang memiliki batas toleransi yang sempit (

steno

) dan

ada yang luas (

euri

). Pada tumbuhan yang batas toleransinya steno, titik minimum, optimum,

dan maksimum berdekatan. Sehingga perbedaan yang sedikit saja dapat menjadi kritis untuk

pertumbuhannya. Setiap keadaan atau jumlah sesuatu faktor fisik yang berbeda sedikit dapat

melampaui batas-batas toleransi dikatakan menjadi faktor penghambat/

limiting factor

( Kusmana, 1995).

(23)

(jamur, bakteri, cacing, rayap); juga faktor-faktor biotik (manusia, hewan, dan

tumbuh-tumbuhan lain).

Iklim mikro (microenvironment) adalah iklim yang hanya berlaku untuk

tempat atau ruang terbatas. Menurut Geiger (1965) dalam Soerianegara (1998) iklim

mikro yaitu iklim yang mempengaruhi habitat mikro dekat dengan permukaan tanah

di bawah tegakan hutan yang mempengaruhi keadaan masyarakat hutan.

2.3 Pola

Distribusi

Pola distribusi merupakan penyebaran satu jenis atau beberapa jenis

masyarakat tumbuh-tumbuhan. Menurut Kusmana (1995) ada tiga tipe pola distribusi

tumbuhan yaitu:

a.

Acak (random) mencerminkan homogenitas dan/ atau pola behevior yang

tidak selektif.

b.

Mengelompok (clumped) mencerminkan habitat yang heterogen, mode

reproduktif behavior berkelompok dan lain-lain.

c.

Beraturan (reguler, uniform) mencerminkan adanya interaksi negatif antata

individu seperti persaingan untuk ruang dan unsur-unsur atau cahaya.

2.4 Assosiasi

Assosiasi adalah kekariban antara dua spesies dalam komunitas, yang selalu

(24)

Kedua spesies tumbuh pada lingkungan yang serupa.

Distribusi geografi kedua spesies serupa dan keduanya hidup di daerah yang sama.

Bila salah satu spesies hidupnya bergantung pada yang lain.

Bila salah satu spesies menyediakan perlindungan terhadap yang lain.

Hutan hujan berkurang dengan sangat cepat. Hal ini terjadi karena sebab yang

sangat kompleks di masyarakat. Mengingat begitu penting peranan hutan hujan tropis

maka banyak orang yang ingin menyelamatkan hutan hujan meskipun usaha itu tidak

mudah. Menurut R.A.Buttler (2001) beberapa langkah untuk menyelamatkan hutan

hujan dalam skala luas ekosistem di seluruh dunia adalah: (1) Mengajarkan orang lain

tentang pentingnya lingkungan dan bagaimana mereka bisa membantu

menyelamatkan hutan hujan. (2) Memperbaiki ekosistem yang rusak dengan

menanam pepohonan di wilayah dimana hutan telah ditebangi. (3) Menganjurkan

orang-orang untuk hidup dengan cara yang tidak merusak lingkungan. (4) Mendirikan

taman-taman yang dapat melindungi hutan hujan dan alam liarnya. (5) Mendukung

perusahaan-perusahaan yang bekerja dalam aturan yang meminimalkan kerusakan

terhadap lingkungan.

2.5

Taman Nasional Gunung Leuser

Taman Nasional Gunung Leuser merupakan salah satu taman nasional di Indonesia

yang diresmikan pada tahun 1980 yang merupakan gabungan dari suaka margasatwa

(25)

Selatan, TW Lawaegurah, dan TW Sekundur. Menurut pengumuman menteri

pertanian tanggal 6 maret 1980 luas Taman Nasional Gunung Leuser adalah

792.675 ha yang mencakup dua propinsi. Nanggroe Aceh Darrusalam (NAD) dengan

luas 578.690 ha dan Sumatera Utara seluas 213.985 ha. Taman Nasional Gunung

Leuser merupakan Hutan Lindung atau daerah Ekowisata Internasional yang

pengelolaannya diserahkan kepada pemerintahan Republik Indonesia pada bulan

Januari 1980 yang dikelola Direktorat Jendral Perlindungan Hutan dan Pelestarian

Alam Departemen Kehutanan. Dalam pengelolaannya Taman Nasional Gunung

Leuser terbagi atas empat (4) kawasan konservasi yaitu seksi konservasi wilayah I

(lembah alas dan Gayo Lawe) Aceh Tenggara ; seksi konservasi II (Tapak Tuan)

Aceh Selatan; Seksi konservasi wilayah III (Bukit Lawang); seksi konservasi wilayah

IV (Besitang)(Departemen kehutanan,1990)

Daerah ekowisata bukit lawang Bahorok merupakan daerah rehabilitasi orang

utan. Pengunjung berdatangan baik dari mancanegara maupun turis local memiliki

interest yang berbeda. Pada umumnya wisatawan dari luar negeri lebih suka

melakukan perjalanan ke hutan untuk melihat indahnya kekayaan alami yang ada di

kawasan ini. Karena hutan Bukit Lawang Bahorok ini juga menyimpan kekayaan

Biodiversitas flora dan fauna yang tinggi (Hendras, 2009).

2.6 Pasak Bumi dan Manfaatnya

Kekayaan biodiversitas flora tersebut salah satunya adalah pasak bumi yang

merupakan Hasil Hutan Non Kayu berupa tanaman obat.

(26)

Klasifikasi pasak bumi menurut Cronquist (1981)

Divisio : Magnoliophyta

Class : Magnoliopsida

Sub Class : Rosidae

Ordo : Sapindales

Famili : Simaroubaceae

Genus : Eurycoma

Species : Eurycoma longifolia Jack

Pasak bumi merupakan tumbuhan perdu atau pohon kecil yang tingginya

dapat mencapai 20 m. Daun pasak bumi berbentuk lanset dengan tepi rata berukuran

2,5 – 14,2 X 0,7 - 4,5 cm. Daun majemuk menyirip ganjil dengan jumlah anak daun

11- 38 mengumpul pada ujung ranting. Bunga berwarna merah berbentuk malai dan

berbulu. Buah berwarna kuning kemerahan ketika muda serta menjadi hitam pada

saat tua. Pasak bumi termasuk tumbuhan berumah satu atau berumah dua (Hadad dan

Taryono, 1998: Padua et al.,1999).

2.6.2 Ekologi Pasak Bumi

Pasak bumi adalah salah satu jenis tumbuhan obat yang merupakan tumbuhan

asli Indonesia. Namun juga tersebar di hutan-hutan Malaysia, Thailand, Filiphina,

Vietnam, dan Birma (Siregar et al., 2003; Minorsky , 2004). Di Indonesia pasak bumi

mempunyai beragam nama daerah antara lain; pasak bumi (Kalimantan), widara putih

(Jawa), mempoleh (Bangka), besan (Sumut), tongkat ali (Aceh). Di Malaysia dikenal

(27)

dikenal dengan plaa-lai-pueak, hae pan chan, plaalai phuenk, dan phiak (Hadad dan

Taryono,1998; Pandua et al.,1999). Tumbuhan ini menyukai tanah asam berpasir,

memiliki drainase tanah yang baik. Biasanya hidup di hutan dekat pantai, baik hutan

primer atau sekunder. Ditemukan sampai ketinggian tempat 1000 m dari permukaan laut

(Whitmore, 1992). Pasak bumi dapat dijumpai pada daerah-daerah pungggung bukit atau

pematang dan daerah berlereng (Nuryamin, 2000). Tumbuhan ini tumbuh pada temperatur

rata-rata 25

0

C dengan kelembaban udara 86% setelah melalui masa muda tumbuhan ini

membutuhkan lebih banyak sinar matahari untuk membantu perkembangan vegetatif dan

system reproduksinya. Pasak bumi berbunga dan berbuah sepanjang tahun. Biasanya bunga

mekar sekitar bulan juni sampai juli. Sementara buahnya masak pada bulan September

(Padua

et al

.,1999).

2.6.3 Manfaat Tumbuhan Pasak Bumi

(28)

karbolina,

-7-metoksi, 1-asid propionik, (9) eurikomalakton, (10) eurikomanol, (11)

eurikomanol,

13-

-18-dihidro, (12)

eurikomanol,-2-

-D-glukosida, (13) eurikomanon, (14) eurikomanona, 13-21-dihidro, (15)

eurikomanona, 13-beta-21-dihidroksi, (16) klaineanon, 14-15-beta-dihidroksi, (17)

klaineanon,14-15-dihidroksi, (18) longilaston, (19)

-sitosterol, (20) stigmasterol. Kegunaan

kandungan kimia ini adalah: (1) untuk antimalaria; (12) mengatasi ulser, luka, demam dan

lemah, obat meroyan, bisul, tonik menguatkan badan; (11) untuk bisul, tonik menguatkan

badan; (10) antipiretik; (13) mengatasi gusi berdarah; (14) sifilis, luka dan ulser (Kuo

et al

.,

2004).

(29)

jantan (Ang

et al.,

2002). Hasil penelitian Ruqiah G.P.Panjaitan menunjukkan bahwa

pemberian fraksi metanol air akar pasak bumi dengan dosis

1000 mg/Kg BB menunjukkan aktivitas hepatoprotektor terhadap karbon tetraklorida.

Gambaran ultra struktur menunjukkan bahwa fraksi metanol air mampu melindungi

sel-sel hati yang ditandai dengan tidak terjadi perubahan patologis pada membrane

sel, membrane inti sel, mitokondria, dan reticulum endoplasmic (Ruqiah G.P.

(30)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1.

Tempat Dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Stasiun Rehabilitasi Orangutan Resort Bukit Lawang

Taman Nasional Gunung Leuser Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Propinsi Sumatra

Utara. Secara geografis terletak pada 3

0

30’LU – 3

0

45’LU dan 98,0 – 98,15 BT (Departemen

kehutanan,1990). Lokasi penelitian dilakukan jauh dari pemukiman masyarakat, jarak

tempuh lebih kurang 3 jam dengan berjalan kaki. Penelitian dilaksanakan selama empat bulan

yang dimulai dari bulan April hingga bulan Juli 2010.

(31)

Gambar 1. Peta lokasi penelitian

3.2

Bahan dan Alat Penelitian

Bahan dan alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Peta kerja/ peta

lokasi, pasak bumi, tali ukur, alkohol, koran bekas, kantong plastik untuk sample tanah, soil

moisture tester, kompas, pita ukur, soil thermometer, Lux meter, parang, Altimeter,

Clinometer, pancang kayu, alat tulis menulis, kamera, peralatan analisis tanah di

laboratorium, pH meter, higrometer.

3. 3 Data Primer

Data primer ekologi pasak bumi (

Eurycoma longifolia

Jack) diambil data

pengukuran jumlah populasi, diameter batang, tinggi batang, ketinggian tempat tumbuh dan

penyebarannya. Data dari masyarakat diambil menggunakan kuisioner yang telah

dipersiapkan sebelumnya.

3.4 Data Sekunder

Data sekunder seperti peta lokasi dan kondisi umum Pusat Penelitian Orangutan

Bukit Lawang diperoleh dari Balai Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) Sub Seksi Bukit

Lawang dan Unit Manajemen Leuser (UML). Data/ informasi specimen herbarium tumbuhan

obat diperoleh dari visitor center Bukit Lawang serta informasi lain dari masyarakat.

3.5

Prosedur Penelitian

3.5.1 Penentuan lokasi

(32)

kurve minimum, diperoleh jumlah petak contoh adalah 30 buah dan disesuaikan

dengan kondisi lapangan. Penentuan jumlah petak contoh menggunakan kurva

minimum area, jika pertambahan jumlah Spesies tidak lebih dari 10 persen maka

jumlah petak contoh dianggap sudah mewakili jalur tersebut.

Petak dibuat berjarak (rested) dengan ukuran petak contoh 20 x 20 m untuk

tingkat pertumbuhan pohon (trees), 10 x 10 m untuk tiang (pole), 5 x 5 m untuk

pancang (sapling) dan 2 x 2 m untuk pengukuran semai (seedling). Jarak petak

contoh selanjutnya 100 m.

100 m

D

C

B

A

D

C

B

[image:32.612.157.508.331.456.2]

A

Gambar 2 : petak contoh

Petak A = petak ukur untuk pohon dengan ukuran 20 x 20 m

2

Petak B = petak ukur untuk pole dengan ukuran 10 x 10 m

2

Petak C = petak ukur untuk sapling dengan ukuran 5 x 5 m

2

Petak D = petak ukur untuk seedling dengan ukuran 2 x 2 m

2

3.6 Cara Pengumpulan Data

Untuk mengetahui potensi seperti kerapatan frekuensi, pola penyebaran dan

populasi anakan pasak bumi dilakukan pengambilan data pada petak pengamatan.

Selanjutnya berdasarkan letak petak yang akan diamati dan sketsa jalur yang telah

(33)

3.6.1.

Pembuatan Jalur

Menentukan titik awal pengamatan, titik awal merupakan suatu titik dimulainya

pengukuran yang posisinya disesuaikan dengan kondisi lapangan. Kemudian dilakukan

pembuatan jalur yaitu dengan membuat arah rintisan, mengukur lebar, panjang, dan jarak

antar jalur 100 m yang diletakkan pada lokasi secara acak disesuaikan dengan kondisi

lapangan. Kemudian dibuat plot dengan ukuran 20 x 20 meter untuk tingkat pertumbuhan

pohon, 10 x 10 meter untuk tingkat pertumbuhan tiang, 5 x 5 meter untuk tingkat

pertumbuhan pancang dan 2 x 2 meter untuk semai. Pada setiap plot dilakukan pengamatan

pada seluruh tingkat pertumbuhan pohon dengan mengukur diameter batang setinggi dada

(1,3 m), pada pohon, demikian juga untuk tiang, pancang dengan tinggi 1,5 meter atau lebih

dengan diameter kurang dari 10 cm, dan semai tingginya 1,5 meter atau kurang.

Spesimen dari seluruh individu yang di ukur di koleksi dan diberi label gantung setelah

lebih dahulu mencatat ciri-ciri morfologinya. Kemudian dilakukan pengawetan specimen

yaitu specimen disusun dan dibungkus dengan kertas koran dan dimasukkan ke dalam

kantong plastik dan diberi alkohol 70% udara dalam kantong plastik dikeluarkan dan kantong

plastik ditutup dengan lakban. Selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk dikeringkan.

3.6.2

Pengukuran

(34)

3.6.3

Kondisi abiotik Habitat

Kondisi fisik habitat dinilai dari:

Ketinggian tempat tumbuh pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack) dari

permukaan.

Suhu udara diukur dengan Termometer, kelembaban udara dengan

hygrometer, kelembaban dan Ph tanah dengan soil tester, suhu tanah dengan

soil thermometer. Yang dilakukan pagi sekitar jam 08.00-09.00, siang

11.00-13.00, sore 16.00-17.00 pada beberapa lokasi petak contoh.

Intensitas cahaya matahari, dilihat dari kondisi hutan apakah cahaya matahari

dapat menembus sampai ke dasar hutan yang sangat dipengaruhi taju pohon

diukur dengan Lux meter. Yang dilakukan pagi sekitar jam 08.00-09.00, siang

11.00-13.00, sore 16.00-17.00 pada beberapa lokasi petak contoh.

3.6.4 Pola distribusi

Pola distribusi dilihat dari: Apakah pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack)

tumbuhnya secara acak (random), mengelompok (clumped), atau beraturan (reguler).

Bila V/M = 1 (random)

V/M > 1 (clumped)

V/M < 1 (reguler)

3.6.5 Assosiasi (Interspesipik Assosiation)

Assosiasi dilihat dari apakah pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack)

tumbuhnya selalu ada bersama-sama dengan spesies tertentu atau tidak.

(35)

3.7

Pengumpulan Data Kuisioner

Pengumpulan data pemanfaatan pasak bumi oleh masyarakat sekitar Bukit Lawang,

dilakukan beberapa langkah, yaitu:

1.

Populasi dan sampel

Populasi adalah masyarakat/ penduduk yang bertempat tinggal di sekitar Bukit

Lawang. Sampel dalam penelitian ini disebut responden, yang ditentukan dengan teknik

quota sampling

yaitu mewakili segenap lapisan masyarakat secara pekerjaan dan pendidikan,

meliputi: tokoh- tokoh masyarakat, ahli pengobatan tradisional (dukun/ tabib), masyarakat

umum. Responden dipilih yang telah dewasa umur. Dalam menentukan

sampel

menurut Gay

dalam

Hasan (2002), bahwa ukuran minimum sampel yang dapat diterima pada

metoda penelitian deskriptif minimal 10 % dari jumlah populasi. Sedangkan jumlah sampel

menurut Kusmayadi dan Sugiarto penentuan jumlah sampel sudah representatif dan relevan

dengan menggunakan rumus Slovin, yaitu:

n =

n= Ukuran sample

N= Ukuran populasi

e=Margin error yang diperkenankan 0,1 ( Kusmayadi dan Sugiarto,2000).

(36)

 

3.7

Analisis Data

Analisis Ekologi dan Dominansi Vegetasi

Dihitung dari besarnya persentase jumlah jalur ditemukannya pasak bumi

(Eurycoma longifolia

Jack), dengan menghitung dan menganalisis kerapatan (K),

kerapatan relatif (KR), frekwensi (F), frekwensi relatif (FR), Dominansi (D),

Dominansi Relatif (DR), Indeks nilai penting (INP). Dengan menggunakan rumus

(Soerianegara dan Indrawan, 1998).

Jumlah individu

a. Kerapatan (K)

=

Luas petak contoh

K suatu jenis

(37)

K total seluruh jenis

Jumlah petak contoh ditemukannya suatu spesies

b. Frekuensi (F

) =

Jumlah seluruh petak contoh

F suatu spesies

Frekuensi relatif (FR) =

x 100 %

F seluruh spesies

Luas bidang dasar suatu spesies.

c. Dominansi (D)

=

Luas petak contoh

D suatu spesies

Dominansi relatif

=

x 100%

D seluruh spesies

Indeks Nilai Penting/ INP (%) = kerapatan relatif + dominansi relatif + frekwensi

relatif

Assosiasi interspesifik dihitung dengan rumus:

Rumus : X

2

hit = (ad – bc)

2

x N

m x n x r x s

Nilai X

2

ini dibandingkan dengan X

2

tab (

α

= 0,05 , db = 1 )

Bila X

2

hit

X

2

tab ada asosiasi

a=

(38)

c=

d=

N= total petak contoh

m= a + b

n = a + c

r= c + d

s= b + d

(Kusmana, 1995)

Distribusi spesial individu

Keterangan :

X=

Jumlah individu pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack) yang ditemukan

pada Seluruh petak pengamatan.

N=

Jumlah seluruh petak pengamatan.

V/M = 1 (random)

V/M > 1 (clumped)

(39)

Keterangan : V = Variens

M

=

Means

(Kusmana dan Istomo, 1995)

Untuk menguji apakah V/M < 1 atau > 1 digunakan uji X

2

dengan derajat bebas (q

- 2), dimana q =

ekuensi kelas pada tingkat peluang 5%

Analisis Data Kuisioner

Data yang diperoleh dari kuisioner selanjutnya dianalisis dengan Soft Ware

Statistic Paclage For Sosial Science (SPSS) versi 15.00 dengan perangkat

(40)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.

Hasil Pengamatan Fisik Lingkungan Lokasi Penelitian

4.1.1

Iklim dan Hidrologi

Berdasarkan klasifikasi Schmidt Ferqusson Stasiun Rehabilitasi Orangutan Bahorok

temasuk tipe iklim A, dengan curah hujan cukup tinggi dan merata sepanjang tahun tanpa

bulan kering yang nyata. Menurut hasil pengukuran yang dilakukan Departemen Kehutanan

curah hujan rata – rata pertahun adalah 4673 mm yang diukur tahun 1977 s.d. 1982,

sedangkan data dari Badan Meteorologi dan Geofisika selama sepuluh tahun terakhir yaitu

tahun 1999 s.d. 2008, curah hujan rata-rata pertahun adalah 4913 mm.

Berdasarkan data dari Departemen Kehutanan dari Stasiun pengamat Bukit Lawang

suhu minimal 19

0

C, suhu maksimal 34

0

C dengan suhu rata-rata 24

0

C. Dan kelembaban

maksimal 99% dan minimal 70%. Dari penelitian penulis, suhu udara rata-rata pada siang

hari 23,7

0

C. Suhu tanah rata-rata pada siang hari 24,1

0

C. Kelembaban udara rata-rata pada

siang hari 90,8%. pH tanah rata-rata 6,4 dengan Intensitas cahaya matahari rata-rata 113,6 x

10 Lux.

4.1.2

Topografi dan Geologi

(41)

Hampir tidak ditemukan daerah yang datar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa

wilayah ini berada di dataran tinggi dengan kemiringan lahan relatif besar sekitar 40

0

,

dengan ketinggian 0 – 700 meter dari permukaan laut (mdpl). Daerah penelitian yang

dilakukan penulis yaitu paling rendah 223 mdpl, sedangkan yang tertinggi adalah 401

mdpl, dengan ketinggian rata-rata adalah 314,1mdpl. Berdasarkan peta geologi

Sumatera Utara TNGL Stasiun Rehabilitasi Orangutan Bukit Lawang mempunyai

jenis tanah podsolik merah kuning yang peka terhadap erosi. Latosol dan podsolik

coklat. Podsolik dan Litosol dengan bahan induk permokarbon (Departemen

Kehutanan,1990). Berdasarkan hasil penelitian penulis komponen tanah terdiri atas

pasir, debu dan liat dengan perbandingan rata-rata pasir 65,56 %; debu 15,33 %; dan

liat 19,11 %. Kandungan hara juga tinggi, dengan komposisi rata-rata yaitu: C-org

3,18 %; N-total 0,24 %; C/N 13,25; P-avl 4,12 ppm; K-exch 0,18 me/100;

Ca-exch 1,05 me/100; Mg-exck 0,92 me/100; dan Zn 6,40 ppm.

4.2.

Aspek Biologi Pasak Bumi

4.2.1 Morfologi Pasak Bumi

(a)

(b)

(c)

(d)

Ket. Gambar 3. a) Tanaman pasak bumi; b) Pasak bumi berbunga; c) Batang pasak bumi; d)

(42)

Pasak bumi adalah tumbuhan berkayu (jenis pohon) dapat mencapai tinggi 20 meter

atau lebih. Akar tunggal menancap ke bumi, kulit berwarna abu – abu tidak bergetah, tidak

terkelupas. Ujung pucuk tidak tertutup oleh kuncup daun. Dominansi apikal sangat kuat,

batang tidak bercabang.

Tangkai daun tubuh berseling, anak daun majemuk berjumlah ganjil, tumbuh

berhadapan bagian ujung ditutup satu anak daun, semua daun bentuknya seragam. Ditemukan

dua macam pasak bumi berdasarkan bentuk anak daunnya. Bentuk anak daun oval jika diraba

permukaan bawah lebih halus, ukuran daun lebih lebar dan bentuk anak daun lanset, jenis ini

memiliki batang muda lebih licin dan mengkilat, di lapangan jumlahnya lebih dominan.

(e)

(f)

(g)

(h)

Ket. Gambar 4. e) Daun pasak bumi; f) Morfologi daun yang berbeda; g) Bunga tumbuh di ketiak;

h) Bunga pasak bumi.

Perbungaan ada di ketiak, aksis perbungaan bercabang. Bunga bermalai mencapai

panjang 100 cm sampai 150 cm, berwarna merah oranye. Bunga ada yang hermaprodit atau

berkelamin satu jantan atau betina pada satu pohon atau pohon yang berbeda. Sehingga tidak

selalu bunga dapat membentuk biji. Bunga memiliki kelopak lima, mahkota lima bertautan

sedikit, mudah jatuh. Ukuran bunga kecil lebih kurang 0,5 cm. Selama penelitian, tidak

ditemukan hewan yang membantu proses penyerbukan.

(43)

biji. Buah yang tua dan masak berwarna hitam. Dalam biji terdapat endosperm

berkeping dua.

(i)

(j)

(k)

(l)

Ket. gambar 5. i) Malai buah yang panjang; j) buah pasak bumi muda; k) Buah muda; l) Buah

yang sudah masak.

4.2.2

Hama Pasak Bumi

Selama pengamatan ditemukan serangga yang menyerang pasak bumi. Sejenis

ngengat yang sangat ganas menyerang pucuk, daun, serta biji. Serangga yang bersifat

nokturnal ini meletakkan telur secara berkelompok pada bagian pucuk tanaman pasak

bumi, telur menetas menjadi larva ulat membentuk jaring-jaring seperti jaring

laba-laba. Selama fase ulat memakan bagian pucuk, tunas daun sampai habis yang

menyebabkan terganggunya pertumbuhan. Juga memakan daun, buah (kulit biji),

bahkan menggerek biji (endosperm) sampai habis.

(m)

(n)

(o)

(p)

Ket. gambar 6. m) bagian pucuk yang diserang hama; n) bagian daun yang diserang hama; o dan )

(44)

Identifikasi hama.

Kingdom

:

Animalia

Filum

:

Invertebrata

Kelas

:

Insekta

Ordo

:

Lepidoptera

Famili

:

Geometridae

(q)

(r)

(s)

(t)

(u)

Ket. gambar 7. q) Perkembangan Larva; r) Pupa; s) Ngengat dewasa famili Geometridae; t)

Metamorfosis hama; u) Pupa melekat pada daun pasak bumi

4.3.

Komposisi dan Dominansi

4.4.

4.3.1

Tingkat Pohon

(45)

pada lampiran 4). Jenis tumbuhan yang mendominasi tegakan pada tingkat petumbuhan

pohon adalah

Castanopsis tungurut

dengan INP 13.3%, Kerapatan 10 individu/ha;diikuti

Alseodaphne sp

dengan INP 10.9%, Kerapatan 5 individu/ha;

Shorea leprosula

dengan INP

10.3%, Kerapatan 5 individu/ha;

Shorea platyclados

dengan INP 9.5%, Kerapatan 13

individu/ha;

Shorea sp

dengan INP 8.3%,Kerapatan 8 individu/ha;

Shorea materialis

dengan

INP 7.97%, Kerapatan 2 individu/ha;

Santiria rubiginosa

dengan INP 7.1%, Kerapatan 5

individu/ha;

Ficus sp

dengan INP 7.0%,Kerapatan 7 individu/ha;

Scaphium sp

dengan INP

6.9%, Kerapatan 6 individu/ha;dan

Eugenia garcinifolia

dengan INP 6.7%, Kerapatan 7

individu/ha. Pasak bumi (

Eurycoma longifolia

) memiliki INP sebesar 2.16% dengan

kerapatan 2 pohon/ha.

Smith (1977) menyatakan bahwa jenis dominan adalah jenis yang dapat

memanfaatkan lingkungan yang ditempatinya secara efisien dari pada jenis lain ditempat

yang sama. Dalam hal ini di kawasan Stasion Rehabilitasi Orangutan Resort Bukit Lawang

tingkat pohon tidak ada jenis yang sangat menonjol karena INP tidak terlalu menyolok

perbedaannya.

4.3.2 Tingkat Tiang

(46)

garcinifolia

dengan INP 7.6%, Kerapatan 13 individu/ha;

Shorea lepidota

dengan INP 7.4%,

Kerapatan 17 individu/ha;

Diospyros malam

dengan INP 6.7%, Kerapatan 13 individu/ha;

Alseodaphne sp

dengan INP 6.6%, Kerapatan 17 individu/ha dan

Shorea scabrida

dengan

INP 6.2%, Kerapatan 13 individu/ha.

4.3.3 Tingkat Pancang

Keanakaragaman jenis tingkat pertumbuhan pancang di kawasan Stasion Rehabilitasi

Orangutan Resort Bukit Lawang diperoleh 70 jenis (dapat dilihat pada lampiran 2). Jenis

tumbuhan yang mendominansi tegakan pada tingkat pertumbuhan pancang adalah

Cinamommum oblisifolium

dengan INP 26.6%, Kerapatan 133 individu/ha;

Eurycoma

longifolia

dengan INP 24%, Kerapatan 186 individu/ha;

Disoxylum exelsum

dengan INP

15.2%, Kerapatan 106 individu/ha;

Shorea blumutensis

dengan INP 9.8%, Kerapatan 80

individu/ha;

Gironniera hirta

dengan INP 9,4, Kerapatan 80 individu/ha;

Lindera glauca

dengan INP 9.4%, Kerapatan 66 individu/ha;

Eugenia polita

dengan INP 9.3%, Kerapatan 80

individu/ha;

Ixora sp 1

dengan INP 8,6 %, Kerapatan 53 individu/ha;

Anisoptera

magistocarpa

dengan INP 8,5 %, Kerapatan 53 individu/ha; dan

Eugenia helferi

dengan INP

8.1%, Kerapatan 40 individu/ha.

4.3.4 Tingkat semai

(47)

416 individu/ha; Spondias cythercae dengan INP 5,40 %, Kerapatan 333 individu/ha;

Coffea malayana dengan INP 5,4 %, Kerapatan 333 individu/ha; Gironniera nervosa

dengan INP 5,4 %, Kerapatan 333 individu/ha; Gironniera sp dengan INP 4,0 %,

Kerapatan 250 individu/ha; Eugenia polita dengan INP 4,0 %, Kerapatan 250

individu/ha; dan Aporusa sp dengan INP 4,0 %, Kerapatan 250 individu/ha. Dominasi

tingkat pertumbuhan pohon, tiang, pancang dan semai tersebut disajikan dalam Tabel

[image:47.612.108.530.363.708.2]

1 berikut:

Tabel 1. Dominansi tegakan 10 jenis tingkat pertumbuhan pohon , tiang, pancang dan

semai di kawasan Stasiun Rehabilitasi Orangutan Resort Bukit Lawang.

Pertumbuhan Jenis/

spesies

KR

FR

DR

INP

Pohon

Castanopsis tungurut

0.07 6.45 6.77 13.28

Alseodaphne sp.

0.03 3.23 7.68 10.93

Shorea leprosula

0.03 3.87 6.35 10.26

Shorea platyclados

0.08 5.16 4.25 9.50

Shorea sp.

0.05 3.23 4.99 8.27

Sorea materialis

0.01 0.65 7.31 7.97

Santiria rubiginosa

0.03 2.58 4.45 7.06

Ficus sp

0.04 3.87 3.12 7.04

Scaphium sp.

0.03 3.23 3.60 6.86

Eugenia garcinifolia

0.04 4.52 2.16 6.72

Tiang

Shorea platyclados

0.12 11.21 13.81 25.15

Euricoma longifolia

0.15 12.15 10.66 22.97

Shorea sp

0.06 4.67 6.01 10.75

Anisoptera magistocarpa

0.06 4.67 5.68 10.41

Eugenia garcinifolia

0.03 3.74 3.81 7.58

Shorea lepidota

0.03 3.74 3.62 7.39

Scaphium sp.

0.03 3.74 3.25 7.02

Diospyros malam

0.03 2.80 3.92 6.75

Alseodaphne sp.

0.04 1.87 4.73 6.64

Shorea scabrida

0.03 3.74 2.39 6.16

Pancang

Cinamommum oblisifolium

6.13 6.13 11.38 23.65

Eurycoma longifolia Jack

8.59 8.59 5.46 22.63

Disoxylum exelsum

4.91 4.91 5.69 15.51

Shorea blumutensis

3.68 3.68 2.79 10.15

Gironniera hirta

3.68 3.68 2.18 9.54

Lindera glauca BL.

3.07 3.07 3.41 9.55

Eugenia polita King

3.68 3.68 1.92 9.29

(48)

Lanjutan tabel 1 ….

Pertumbuhan Jenis/

spesies

KR

FR

DR

INP

Eugenia helferi

1.84 1.84 4.33 8.01

Semai

Eurycoma longifolia Jack

10.81 10.81

-

21.62

Cinamommum oblisifolium

8.78 8.78

-

17.56

Endiandra evadenia

3.38 3.38

-

6.76

Ixora sp 1

3.38 3.38

-

6.76

Spondias cythercae Sonn

2.70 2.70

-

5.40

Coffea malayana Ridl

2.70 2.70

-

5.40

Gironniera nervosa

2.70 2.70

-

5.40

Gironniera sp

2.03 2.03

-

4.05

Eugenia polita King

2.03 2.03

-

4.05

Aporusa sp

2.03 2.03

-

4.05

Pada tingkat semai jenis

Eurycoma longifolia mendominansi tegakan dengan

INP 24.6% dan kerapatan 1333 batang/ha. Jika dibandingkan dengan tingkat

pertumbuhan pancang 320 batang/ ha, tingkat pertumbuhan tiang 73 batang/ha dan

tingkat pertumbuhan pohon hanya 2 batang/ha. Hal ini mungkin terjadi karena untuk

perkecambahan biji Eurycoma longifolia tidak membutuhkan cahaya matahari secara

langsung, namun untuk pertumbuhan selanjutnya tumbuhan ini membutuhkan cahaya

matahari lebih banyak untuk proses fotosintesis sehingga banyak anakan Eurycoma

longifolia yang mati dan tidak sampai mencapai tingkat pertumbuhan selanjutnya..

Kemungkinan yang kedua adalah karena tumbuhan ini digunakan yang terutama

adalah bagian akarnya, maka tidak tertutup kemungkinan bahwa manusia

mencabutnya untuk digunakan sebagai tanaman obat sehingga tingkat pertmbuhan

pohon sudah jarang ditemukan.

4.4

Asosiasi Pasak Bumi dengan jenis lain

Dari hasil perhitungan tabel kontingensi pohon ada atau tidaknya asosiasi

(49)

signifikan dengan pasangan jenis yang diuji. Artinya kemungkinan untuk tumbuh

hidup bersama-sama lebih besar dari pada tidak dengan pasangan tumbuhan tersebut

begitu juga sebaliknya. Dengan demikian pada tingkat pertumbuhan pohon

Eurycoma longifolia berasosiasi signifikan dengan Parkia sp dengan X

2

hitung =

6,47;

Shorea scabrida dengan X

2

hit = 10,7; Eury nitidia X

2

hitung = 6,47 dan

Plemengia macrophylla dengan X

2

hitung = 14,5.

Dari hasil perhitungan tabel kontingensi tingkat pertumbuhan tiang dapat

diketahui bahwa Eurycoma longifolia berasosiasi signifikan dengan Shorea sp

dengan nilai X

2

hitung sebesar 4.36 > X

2

tab 3,84. Pada tingkat pertumbuhan

pancang dan semai dapat diketahui bahwa Eurycoma longifolia tidak berasosiasi

dengan jenis lain, dimana X

2

hitung berada di bawah X

2

tabel. Asosiasi pasak bumi

[image:49.612.114.531.488.701.2]

dengan jenis lain disajikan dalam tabel 2 berikut:

Tabel 2. Asosiasi pasak bumi dengan jenis lain pada tingkat pertumbuhan pohon, tiang,

pancang

dan

semai.

  

Eurycoma longifolia

Spesies

Pohon Tiang Pancang Semai

  

Ket. asosiasi

Ket. asosiasi

Ket. asosiasi

Ket. asosiasi

Spondias cythercae - - NS NS

Gironniera sp - - NS NS

Eugenia polita - - NS NS

Endiandra evadenia - - NS NS

Hydnocarpus Wrayi - - NS NS

Moesa sp 1 - - NS NS

Ixora sp 1 - - NS NS

Cinamommum oblisifolium - - NS NS

Eucaliphus corimbosa - - NS NS

Parkia sp S - NS NS

(50)

Lanjutan tabel 2 …

   Eurycoma longifolia

Spesies Pohon Tiang Pancang Semai

   Ket. asosiasi Ket. asosiasi Ket. asosiasi Ket. asosiasi

Disoxylum exelsum - - NS NS

Claoxyton longifolium - - - NS

Aporusa sp - - NS NS

Eusideroxyton Zwagen - - NS NS

Cleidion spiciflorum - - NS -

Nephelium mutabile - - NS NS

Mangivera longives NS NS NS NS

Trema angustifolia - - NS NS

Dialium indum - - NS NS

Shorea materialis NS - NS -

Canarium comune - NS NS NS

Litsea amora NS - NS NS

Palaqium rostratum NS NS - NS

Acronychia laurifolia - - NS -

Litsea sepikonsis - - NS NS

Shorea blumutensis - - NS NS

Diospyros malam NS NS NS -

Lindera glauca BL. - - NS NS

Bovea microphylla - - - NS

Eugenia grandis NS - - NS

Shorea platyclados NS NS NS NS

Eugenia densiflora NS NS NS -

Actinidia sp - - NS -

Terminalia sp - - - NS

Rhinorea anguifera - - NS -

Pongamia pinnata NS - NS NS

Baccaurea sp - - - NS

Parkia roxburghii NS - - NS

Garcinia mangostana - - - NS

Disoxylum arborecens NS NS NS -

Canarium rufum - - NS -

Dyera costulata - NS NS NS

Lansium sp NS NS - NS

Shorea scabrida NS NS NS NS

(51)

Lanjutan tabel 2 …

  

Eurycoma longifolia

Spesies

Pohon Tiang Pancang Semai

  

Ket. asosiasi

Ket. asosiasi

Ket. asosiasi

Ket. asosiasi

Hedyatis phicippensis - - - NS

Eurya trichocarpa - - NS -

Arthrocarpus elasticus NS - NS NS

Anisoptera magistocarpa NS NS NS NS

Garcinia nigrolinellata - - NS NS

Rhodan cinerea Jack - - NS NS

Palaqium hexandrum - - NS NS

Antidesma neurocarpum - - - NS

Switonia acuta - - - NS

Alophyllum pulcherimum - - NS -

Scutinanthe brunnea - - NS -

Santina oblongifolia - - NS -

Diospyros decipiens - - - NS

Lasianthus stipulans - - - NS

Lunasia amara - - - NS

Styrax benzoin NS - NS NS

Vatica bancana - - - NS

Aglaia graffithii - - - NS

Coffea malayana - - NS NS

Ixora finlaysoniana - - - NS

Buchanania sessifolia BL. - - NS NS

Macaranga triloba - - NS -

Bisscofia javanica - - NS -

Syzium sp - - NS NS

Hydnocarpus filipes - - - NS

Hymenacardia punctata - - NS NS

Eugenia helferi - - NS NS

Gironniera hirta - - NS NS

Tarena pulchra - - NS -

Eugenia sp - - NS NS

Aglaia tricosternon - - NS NS

Gironniera subaegualis - - NS -

Gironniera parvifolia - - - NS

(52)

Lanjutan tabel 2 …

  

Eurycoma longifolia

Spesies

Pohon Tiang Pancang Semai

  

Ket. asosiasi

Ket. asosiasi

Ket. asosiasi

Ket. asosiasi

Psychotria obovata - - - NS

Litsea umbellata Merr - - NS -

Daryodes rostrata - - - -

Horsfieldia irya - NS - NS

Gironniera nervosa - * NS NS

Castanapsis tungurut NS NS NS -

Shorea sp NS S NS -

Alseodaphne feotida NS - - NS

Antiarsis toxicaria - - - NS

Shorea lepidota NS NS NS -

Aporosa prainiana - - - NS

Shorea leprosula NS - NS -

Taractogenesis konsteri - - NS -

Shorea multiflora - NS - NS

Lindera pippericarpa - - NS -

Eugenia griffithi NS NS - -

Santiria rubiginosa NS - - -

Ixora blumei NS NS - -

Shorea ovalis NS - - -

Scaphium sp. NS NS - -

Eugenia garcinifolia NS NS - -

Brassaiopsis glomerulata NS - - -

Polyanthia glauca NS - - -

Mangifera sp NS - - -

Dipterocarpus opterus NS - - -

Arytera litoralis NS - - -

Ficus sp NS NS - -

Hopea sangal NS - - -

Dipterocarpus sp NS NS - -

Durio sp. NS - - -

Shorea ovata NS NS - -

Kompasia exelsa NS - - -

Knema sp NS NS - -

Antidesma montanum NS - - -

(53)

Lanjutan tabel 2 …

  

Eurycoma longifolia

Spesies

Pohon Tiang Pancang Semai

  

Ket. asosiasi

Ket. asosiasi

Ket. asosiasi

Ket. asosiasi

Persea sp NS - - -

Lithocarpus sp NS NS - -

Michelia montana NS - - -

Latocarpus sp2 NS - - -

Elaeocarpus obtusus NS - - -

Vernonia arborea NS - - -

Aglaia glabiflora NS NS - -

Semecarpus sp NS - - -

Acronychia sp NS NS - -

Quercus sp NS - - -

Memecilon laevigatum NS NS - -

Alseodaphne sp. NS NS - -

Eurya nitida S NS - -

Cinnamomum sundairicum NS - - -

Gambar

Tabel                                    Judul                                                                      halaman
Gambar 2 :  petak contoh
Tabel 1. Dominansi tegakan 10  jenis tingkat pertumbuhan pohon , tiang, pancang dan
Tabel 2. Asosiasi  pasak bumi dengan  jenis  lain pada   tingkat   pertumbuhan  pohon, tiang,   pancang dan semai
+6

Referensi

Dokumen terkait

Ekstrak etanol akar pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack.) dalam jamu “T” berpengaruh meningkatkan mounting pada mencit Swiss Webster jantan. 1.7

Apakah ekstrak etanol akar Pasak Bumi (Eurycoma longifolia Jack.) meningkatkan perilaku seksual mencit galur Swiss-Webster jantan yang diukur berdasarkan

Pengaruh Ekstrak Metanol Akar Pasak Bumi ( Eurycoma Longifolia, Jack.) terhadap Jumlah Splenosit Mencit Diinfeksi Listeria monocytogenes.. The Effect of Methanol Extract of

Persebaran Pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack) di Jalur Utama Patroli Tahura SSH Provinsi Riau yaitu mengelompok dengan nilai indeks morisita 5,78 pada sisi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian ekstrak akar pasak bumi ( Eurycoma longifolia Jack ) pada tahap prakopulasi terhadap berat badan, jumlah

Fraksi etil asetat ekstrak etanol akar pasak bumi ( Eurycoma longifolia , Jack.) mempunyai aktivitas sitotoksik terhadap sel HeLa dengan harga IC 50 sebesar 3, 70 µg/ ml dan

Adanya perbedaan bermakna kualitas spermatozoa kelompok perlakuan 2 terhadap kelompok kontrol sesuai dengan hipotesis bahwa pemberian ekstrak pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack)

Pada tahun 2008 melanjutkan studi di Program Magister Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara dengan beasiswa dari