KAJIAN EKOLOGI PASAK BUMI (
Eurycoma longifolia
Jack)
DAN PEMANFAATAN OLEH MASYARAKAT DI
SEKITAR HUTAN BUKIT LAWANG
T E S I S
OLEH:
AMINATA BR GINTING
087030002
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
KAJIAN EKOLOGI PASAK BUMI (
Eurycoma longifolia
Jack)
DAN PEMANFAATAN OLEH MASYARAKAT DI
SEKITAR HUTAN BUKIT LAWANG
T E S I S
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
dalam Program Studi Ilmu Biologi pada Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara
Oleh
AMINATA BR GINTING
087030002
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Judul Tesis
: KAJIAN EKOLOGI PASAK BUMI (Eurycoma
longifolia JACK) DAN PEMANFAATAN OLEH
MASYARAKAT DI SEKITAR HUTAN BUKIT
LAWANG
Nama Mahasiswa
: AMINATA BR GINTING
Nomor Induk Mahasiswa
: 087030002
Program Studi
: BIOLOGI
Menyetujui
Komisi Pembimbing
Prof. Dr. Retno Widhiastuti, M. S
Dr. Budi Utomo SP. MP.
Ketua
Anggota
Disetujui oleh:
Dekan
Ketua Prgram Studi
Telah diuji pada
Tanggal : 02 September 2010
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua
: Prof. Dr. Retno Widhiastuti, M.S.
Anggota
: Dr. Budi Utomo, SP.MP
Prof. Dr. Zulkifli Nasution, M.Sc.
Dr. Suci Rahayu, M.S
ABSTRACT
Ecological studies peg the Earth at Station Resort Bukt Lawang Orangutan
Rehabilitation has not been investigated. The purpose of this study is to determine the
physical, chemical, and biotic habitat, potential, association with other types,
patterns of distribution and utilization of Eurycoma longifolia by people who live
around the forest of Bukit Lawang. Location of research at the Orangutan
Rehabilitation Station Bukit Lawang resort in an area 200 ha TNGL. With the
combination method sided path. Laying of the sample unit by using systematic
sampling with random start. Line is based on the topography. Measurements were
taken at growth rates of trees, poles, saplings, and seedlings.
Having observed the physical condition of the environmental chemical is
known that the land component consists of sand, silt and clay, is also high nutrient
content, average air temperatures during the day 23.70 C average soil temperature
during the day 24.10 C; humidity average 90.8% during the day, the average soil pH
of 6.4, and the average light intensity of 113.6 x 10 Lux. Found in groups of moth
pests of the Order Lepidoptera, family Geometridae. Diversity of tree growth rate is
found 72 species, Eurycoma longifolia has a 2.16% IVI. Diversity of growth rates
found in 44 types of poles, Eurycoma longifolia has a 22.9% IVI. Diversity of the
growth rate of saplings found in 70 species, Eurycoma longifolia has a 24% IVI.
Diversity of seedling growth rate is found 69 species, which is dominated by the pegs
of the earth with IVI 24.6%. In the tree growth rate pegs of the earth associated with
Parkia sp significance, Shorea scabrida, Eury nitida and Plemengia macrophylla. At
this level of growth poles significant association with Shorea sp. On the growth rate
of saplings and seedlings Eurycoma longifolia is not associated with other types.
Eurycoma longifolia distribution patterns at the level of tree growth is uneven, the
growth rate poles, saplings, and seedlings are clustered. Knowledge, the introduction
and utilization of Eurycoma longifolia by communities living around the forest of
Bukit Lawang is good enough. Part of plant used mainly roots.
ABSTRAK
Kajian ekologi pasak bumi di Stasiun Rehabilitasi Orangutan Resort Bukt
Lawang belum pernah diteliti. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi
fisik, kimia, dan biotik habitat, potensi, asosiasi dengan jenis lain, pola persebaran
Eurycoma longifolia dan pemanfaatan Eurycoma longifolia oleh masyarakat yang
tinggal di sekitar hutan Bukit Lawang. Lokasi penelitian di Stasiun Rehabilitasi
Orangutan Resort Bukit Lawang. Peletakan unit sampel dilakukan dengan
menggunakan cara systematic sampling with random start. Jalur dibuat berdasarkan
keadaan topografi. Pengukuran dilakukan pada tingkat pertumbuhan pohon, tiang,
pancang, dan semai.
Hasil penelitian menunjukkan komponen tanah terdiri atas pasir, debu dan liat,
Kandungan hara juga tinggi, Suhu udara rata-rata pada siang hari 23,70C; suhu tanah
rata-rata pada siang hari 24,10C; kelembaban udara rata-rata pada siang hari 90,8 %;
pH tanah rata-rata 6,4; dan intensitas cahaya rata-rata 113,6 x 10 Lux. Hama
ditemukan kelompok ngengat Ordo Lepidoptera, Famili Geometridae.
Keanekaragaman tingkat pertumbuhan pohon ditemukan 72 jenis, Eurycoma
longifolia memiliki INP 2,16 %. Keanekaragaman tingkat pertumbuhan tiang
ditemukan 44 jenis, Eurycoma longifolia memiliki INP 22,9 %. Keanekaragaman
tingkat pertumbuhan pancang ditemukan 70 jenis, Eurycoma longifolia memiliki INP
24 %. Keanekaragaman tingkat pertumbuhan semai ditemukan 69 jenis, yang
didomonasi oleh pasak bumi dengan INP 24,6 %. Pada tingkat pertumbuhan pohon
pasak bumi berasosiasi signifikans dengan Parkia sp,
Shorea scabrida, Eury nitida
dan
Plemengia macrophylla. Pada tingkat pertumbuhan tiang berasosiasi signifikan
dengan Shorea sp. Pada tingkat pertumbuhan pancang dan semai Eurycoma longifolia
tidak berasosiasi dengan jenis lain. Pola persebaran Eurycoma longifolia pada tingkat
pertumbuhan pohon adalah merata, tingkat pertumbuhan tiang, pancang, dan semai
adalah mengelompok. Pengetahuan, pengenalan dan pemanfaatan Eurycoma
longifolia oleh masyarakat yang tinggal disekitar hutan Bukit Lawang cukup baik.
Bagian tumbuhan yang digunakan terutama adalah akarnya.
Kata kunci: Ekologi, Pasak bumi, Sifat fisik, kimia, biotik, potensi, asosiasi,
pemanfaatan, masyarakat, hama, TNGL.
PERNYATAAN
KAJIAN EKOLOGI PASAK BUMI (Eurycoma longifolia Jack) DAN
PEMANFAATAN OLEH MASYARAKAT DI SEKITAR HUTAN BUKIT
LAWANG
TESIS
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah
diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan disuatu perguruan tinggi dan
sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah
ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali secara tertulis diacu dalam naskah ini
dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, 02 September 2010
Penulis
PENGHARGAAN
Puji dan syukur Penulis Panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
memberikan berkat dan karunia-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan penelitian ini
yang bertema
“Kajian Ekologi Dan Pemanfaatan Pasak Bumi di Taman Nasional
Gunung Louser Bukit Lawang.
Dilaksanakan sebagai salah satu syarat untuk
menyelesaikan studi pada Program Studi Magister Biologi Sekolah Pascasarjana Universitas
Sumatera Utara Medan.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada Prof. Dr. Retno Widhiastuti,Msi dan Dr.
Budi Utomo, SP, MP selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan
dan arahan selama penulis melaksanakan penelitian sampai selesainya penyusunan tesis ini.
Dalam kesempatan ini penulis juga mengucapkan terimakasih kepada:
1.
Prof. Dr. Ir. Zulkifli Nasution M.Sc. dan Dr. Suci Rahayu sebagai dosen penguji atas
arahan dan masukan dalam penyempurnaan penyusunan tesis ini.
2.
Gubernur Syamsul Arifin, Bupati D.D.Sinulingga, Kadis Tanah karo dan Kepala Sekolah
SMAN I Berastagi yang telah memberi Beasiswa kepada guru-guru juga kesempatan
untuk melanjutkan studi.
3.
Ayahanda Jeremia Ginting dan Ibunda Tandariah br Barus, juga do’a-do’a anak-anakku
tersayang Roswanda, Yonathhan, Maria, dan Emeninta.
4.
Abanganda terhormat Mulyono Surbakti yang telah banyak membantu dan memotivasi
penulis, abanganda Riswan Bangun di TNGL, Kepala desa Sampe Raya Titik Pinem dan
Kepala desa Timbang Lawan Sinar Bangun yang telah banyak membantu penulis.
5.
Luthfi A.M.Siregar yang telah memberi fasilitas literatur kepada penulis dan, Prof. Dr.
Darma Bakti,SP.MP. yang telah membantu penulis untuk mengidentifikasi hama.
RIWAYAT HIDUP
Penulis lahir di desa Bandar Baru, Kecamatan sibolangit Kabupaten Deli
Serdang Sumatera Utara, tanggal 09 April 1969 dari seorang ibu bernama Tandariah
br Barus dan ayah bernama Jeremia Ginting tinggal di desa Namoriam kecamatan
Pancur Batu.
Lulus Sekolah Dasar Negeri 101824 Durian Simbelang tahun 1981, Lulus SMP
Negeri II Pancur Batu tahun 1984, Lulus SMA Negeri I Pancur Batu tahun 1987.
Tahun 1987 melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi Negeri melalui jalur
PMDK ke FKIP MIPA UNSYIAH Darussalam Banda Aceh. Lulus dengan gelar
sarjana S1 pada tahun 1992.
Pada tahun 1995 ditempatkan bekerja sebagai guru di SMA Negeri I Jaya
Lamno Aceh Barat. Bekerja disana selama 5 tahun. Tahun 2000 pindah dinas ke
SMA Negeri I Berastagi. Pada tahun 2008 melanjutkan studi di Program Magister
Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera
Utara dengan beasiswa dari PROVSU.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
………...
v
PERNYATAAN ………... vi
RIWAYAT HIDUP
………...
vii
DAFTAR ISI
………...
xi
DAFTAR TABEL
………...
xii
DAFTAR GAMBAR
………...
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
………...
xiv
BAB I.
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang ………..
1
1.2
Perumusan Masalah ………..
3
1.3
Tujuan Penelitian ……….
3
1.4
Manfaat Penelitian ………
4
BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Hutan Hujan Tropis ………..
5
2.2
Hubungan Masyarakat dengan Lingkungan Tmhn…….
6
2.3
Pola Distribusi ………..
7
2.4
Asosiasi ……….
7
2.5
Taman Nasional Gunung Leuser ………..
8
2.6
Pasak Bumi dan Manfaatnya ………
9
2.6.1
Deskripsi ………...
9
2.6.2
Ekologi Pasak Bumi………..
10
2.6.3
Manfaat Pasak Bumi ……….
11
BAB III,
BAHAN DAN METODE
3.1
Tempat dan Waktu Penelitian ………...
14
3.2
Bahan dan Alat Penelitian ………
14
3.3
DataPrimer ………
15
3.4
Data Sekunder ………...
15
3.5
Prosedur Penelitian ………..
15
3.6
Cara Pengumpulan Data ………...
16
3.6.1
Pembuatan Jalur ………
17
3.6.2
Pengukuran ………
17
3.6.3
Kondisi Abiotik Habitat ………...
18
3.6.4
Pola Distribusi ……….
18
3.6.5
Asosiasi ………
18
3.7
Pengumpulan Data kuisioner ………...
19
3.8
Analisis Data ………
20
BAB IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil Pengamatan Fisik Lingkungan ………...
24
4.1.1
Iklim dan Hidrologi ………..
24
4.1.3
Topografi dan Geologi ………..
24
4.2
Aspek Biologi Pasak Bumi ………...
25
4.2.1
Morfologi pasak bumi ………...
25
4.2.2
Hama Pasak Bumi ……….
27
4.3
Komposisi dan Dominansi……….
28
4.3.1
Tingkat Pohon ………...
28
4.3.2
Tingkat Tiang ………
29
4.3.3
Tingkat Pancang ………...
30
4.3.4
Tingkat Semai ………...
30
4.4
Asosiasi Pasak Bumi dengan Jenis Lain …………...
32
4.5
Pola penyebaran pasak bumi ………
38
4.6
Pemanfaatan Pasak Bumi Oleh Masyarakat ………
38
4.6.1
Karakteristik Responden ………...
39
4.6.1.1
Desa Sampe Raya ………
40
4.6.1.2
Desa Timbang Lawan ………..
40
4.6.2
Pengetahuan Tanaman Obat ………
42
4.6.3
Pemanfaatan Pasak Bumi ………
44
4.6.4
Pelestarian Tumbuhan Pasak Bumi………..
46
BAB V.
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan ………..
49
5.2
Saran ………
50
DAFTAR PUSTAKA
………..…
52
DAFTAR TABEL
Tabel Judul halaman
1
Dominansi 10 jenis tingkat pohon , tiang,
pancang dan semai di kawasa Stasiun………. 31
2
Asosiasi pasak bumi dengan jenis lain ………... 33
3
Pola persebaran pasak bumi……….………. 38
4
Karakteristik responden desa Sampe Raya
dan Timbang Lawan ………... 41
5
Pengetahuan masyarakat mengenai tumnuhan pasak bumi…... 43
6
Pemanfaatan pasak bumi oleh masyarakat ……….. 45
7
Persepsi masyarakat tentang budidaya pasak bumi ……….. 47
DAFTAR GAMBAR
No. Judul
Halaman
1
Peta Lokasi Penelitian ………... 14
2
Petak Contoh ……….. 16
3.a
Pohon Pasak Bumi ………... …. 25
3.b
Pasak Bumi Berbunga ………... 25
3.c
Batang Pasak Bumi ………...…. …... 25
3.d
Tangkai Daun Pasak Bumi ………...……. 25
4.e
Daun Pasak Bumi ……….………... 26
4.f
Morfologi daun yang berbeda ………...……….. 26
4.g
Bunga Tumbuh di Ketiak Batang ……… 26
4.h
Bunga Pasak Bumi ……….. 26
5.i
Malai buah yang panjang ………... 27
5.j
Buah muda 5 buah 1 tangkai ……….……….. 27
5.k
Buah muda ………...….……... 27
5.l
Buah yang sudah masak ………. …. 27
6. m
Bagian pucuk yang diserang hama ……….. 27
6.n
Bagian daun yang diserang hama ………...………. 27
6.o&p
Biji yang diserang ulat ………. 27
7.q
Perkembangan Larva ………..……….. 28
7.r
Pupa ……….. 28
7.s
Ngengat dewasa ………..………... 28
7.t
Metamorfosis hama ……….……….. 28
7.u
Pupa melekat pada daun pasak bumi ………..………... 28
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
No Judul Hal
1 Klimatologi……….
56
2
Tabel data lapangan pengamatan vegetasi seedling………..
57
3
Tabel data lapangan pengamatan vegetasi sapling………
62
4
Tabel data lapangan pengamatan vegetasi pole………...
73
5
Tabel data lapangan pengamatan vegetasi pohon………...
77
6 Kuisioner
penelitian………...
83
7 Karakteristik
responden
desa
Timbang Lawan………..
89
8
Karakteristik responden desa Sampe Raya………
93
9 Perhitungan
Dominansi………...
97
10 Perhitungan
Asosiasi………...
99
11 Perhitungan
Pola
Pertumbuhan………..
100
12
Hasil Perhitungan Dominansi tingkat Pohon………...
102
13
Hasil Perhitungan Dominansi tingkat Tiang………...
104
14
Hasil Perhitungan Dominansi tingkat Pancang………...
106
15
Hasil Perhitungan Dominansi tingkat Semai ...…...…………...
108
16
Hasil Perhitungan Asosiasi Tingkat Pohon ………..
110
17
Hasil Perhitungan Asosiasi Tingkat Tiang ………...
112
18
Hasil Perhitungan Asosiasi Tingkat Pancang ………...
114
19
Hasil Perhitungan Asosiasi Tingkat Semai ………...
116
20 Perhitungan
Pola
Persebaran………...
118
21
Data Hasil Analisis Tanah ………
121
22
Foto Penelitian di Bukit Lawang………...
124
23
Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI)...………..
126
24
Surat Keterangan Selesai Penelitian TNGL………...………...
127
25
Surat Izin Penelitian di Desa………... 128
26
Surat Keterangan Selesai Penelitian Desa Sampe Raya………
129
27
Surat Keterangan Selesai Penelitian Desa Timbang Lawan………..
130
ABSTRACT
Ecological studies peg the Earth at Station Resort Bukt Lawang Orangutan
Rehabilitation has not been investigated. The purpose of this study is to determine the
physical, chemical, and biotic habitat, potential, association with other types,
patterns of distribution and utilization of Eurycoma longifolia by people who live
around the forest of Bukit Lawang. Location of research at the Orangutan
Rehabilitation Station Bukit Lawang resort in an area 200 ha TNGL. With the
combination method sided path. Laying of the sample unit by using systematic
sampling with random start. Line is based on the topography. Measurements were
taken at growth rates of trees, poles, saplings, and seedlings.
Having observed the physical condition of the environmental chemical is
known that the land component consists of sand, silt and clay, is also high nutrient
content, average air temperatures during the day 23.70 C average soil temperature
during the day 24.10 C; humidity average 90.8% during the day, the average soil pH
of 6.4, and the average light intensity of 113.6 x 10 Lux. Found in groups of moth
pests of the Order Lepidoptera, family Geometridae. Diversity of tree growth rate is
found 72 species, Eurycoma longifolia has a 2.16% IVI. Diversity of growth rates
found in 44 types of poles, Eurycoma longifolia has a 22.9% IVI. Diversity of the
growth rate of saplings found in 70 species, Eurycoma longifolia has a 24% IVI.
Diversity of seedling growth rate is found 69 species, which is dominated by the pegs
of the earth with IVI 24.6%. In the tree growth rate pegs of the earth associated with
Parkia sp significance, Shorea scabrida, Eury nitida and Plemengia macrophylla. At
this level of growth poles significant association with Shorea sp. On the growth rate
of saplings and seedlings Eurycoma longifolia is not associated with other types.
Eurycoma longifolia distribution patterns at the level of tree growth is uneven, the
growth rate poles, saplings, and seedlings are clustered. Knowledge, the introduction
and utilization of Eurycoma longifolia by communities living around the forest of
Bukit Lawang is good enough. Part of plant used mainly roots.
ABSTRAK
Kajian ekologi pasak bumi di Stasiun Rehabilitasi Orangutan Resort Bukt
Lawang belum pernah diteliti. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi
fisik, kimia, dan biotik habitat, potensi, asosiasi dengan jenis lain, pola persebaran
Eurycoma longifolia dan pemanfaatan Eurycoma longifolia oleh masyarakat yang
tinggal di sekitar hutan Bukit Lawang. Lokasi penelitian di Stasiun Rehabilitasi
Orangutan Resort Bukit Lawang. Peletakan unit sampel dilakukan dengan
menggunakan cara systematic sampling with random start. Jalur dibuat berdasarkan
keadaan topografi. Pengukuran dilakukan pada tingkat pertumbuhan pohon, tiang,
pancang, dan semai.
Hasil penelitian menunjukkan komponen tanah terdiri atas pasir, debu dan liat,
Kandungan hara juga tinggi, Suhu udara rata-rata pada siang hari 23,70C; suhu tanah
rata-rata pada siang hari 24,10C; kelembaban udara rata-rata pada siang hari 90,8 %;
pH tanah rata-rata 6,4; dan intensitas cahaya rata-rata 113,6 x 10 Lux. Hama
ditemukan kelompok ngengat Ordo Lepidoptera, Famili Geometridae.
Keanekaragaman tingkat pertumbuhan pohon ditemukan 72 jenis, Eurycoma
longifolia memiliki INP 2,16 %. Keanekaragaman tingkat pertumbuhan tiang
ditemukan 44 jenis, Eurycoma longifolia memiliki INP 22,9 %. Keanekaragaman
tingkat pertumbuhan pancang ditemukan 70 jenis, Eurycoma longifolia memiliki INP
24 %. Keanekaragaman tingkat pertumbuhan semai ditemukan 69 jenis, yang
didomonasi oleh pasak bumi dengan INP 24,6 %. Pada tingkat pertumbuhan pohon
pasak bumi berasosiasi signifikans dengan Parkia sp,
Shorea scabrida, Eury nitida
dan
Plemengia macrophylla. Pada tingkat pertumbuhan tiang berasosiasi signifikan
dengan Shorea sp. Pada tingkat pertumbuhan pancang dan semai Eurycoma longifolia
tidak berasosiasi dengan jenis lain. Pola persebaran Eurycoma longifolia pada tingkat
pertumbuhan pohon adalah merata, tingkat pertumbuhan tiang, pancang, dan semai
adalah mengelompok. Pengetahuan, pengenalan dan pemanfaatan Eurycoma
longifolia oleh masyarakat yang tinggal disekitar hutan Bukit Lawang cukup baik.
Bagian tumbuhan yang digunakan terutama adalah akarnya.
Kata kunci: Ekologi, Pasak bumi, Sifat fisik, kimia, biotik, potensi, asosiasi,
pemanfaatan, masyarakat, hama, TNGL.
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Hutan tropis Indonesia mendapat julukan negara megabiodiversity karena kekayaan
keanekaragaman flora dan faunanya. Salah satu bentuk keanekaragaman hayati tersebut
adalah tumbuhan obat. Beberapa jenis flora hutan hujan tropis Indonesia yang digunakan
sebagai bahan baku obat tradisional (jamu) seperti: pasak bumi (
Eurycoma longifolia
Jack)
, Leunca (
Solanum nigrum
L.), Murbei (
Morus alba
L.), Ceplukan (
Physalis angulata
L.), Daun sendok (
Plantago major
L.) dsb. Banyaknya manfaat keanekaragaman hayati
dan pentingnya bagi kesejahteraan umat manusia, maka pelestarian keanekaragaman hayati
tersebut menuntut perubahan sikap dan prilaku masyarakat.
Penduduk Indonesia telah sejak lama menggunakan tumbuhan liar sebagai obat
alami, terutama yang tinggal di pedesaan. Pengetahuan pemanfaatan tumbuhan obat ini
diwariskan turun temurun. Seiring dengan perkembangan waktu dan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi, berbagai jenis tumbuhan sebagai tumbuhan obat terus
dimanfaatkan. Keadaan tersebut mendorong bioprospeksi (
biodiversity prospecting
) yaitu
suatu kegiatan yang mengacu pada penyelidikan keanekaragaman hayati yang mengandung
gen – gen tertentu yang memiliki nilai perdagangan dan sebagai sumber biokimia untuk
obat-obatan (Eisnor
dalam
Reid
et al
.,1993)
sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur iklim seperti: suhu, kelembaban udara, intensitas
cahaya, keadaan tanah juga angin. Kekayaan keanekaragaman flora yang terdapat di hutan
berhubungan dengan kekayaan pemanfaatan flora oleh masyarakat setempat.
Bukit lawang Sumatera Utara adalah bagian dari Taman Nasional Gunung Leuser
(TNGL) merupakan zona pemanfaatan dikhususkan untuk pariwisata dan pusat penelitian
orangutan. Dari hasil inventarisasi yang telah dilakukan oleh Ferdinal (2007) diketahui
bahwa di kawasan ini terdapat puluhan jenis tumbuhan yang berkasiat obat seperti pasak
bumi, Tawar ipuh (
Aeschynanthus sp.
), Gumba (Melastomaceae) dan sebagainya.
Salah satu jenis tumbuhan obat yang terdapat di hutan Bukit Lawang dan banyak
dimanfaatkan adalah pasak bumi. Pasak bumi pada umumnya dijumpai dalam bentuk semai,
pancang atau tiang. Jarang yang dijumpai golongan pohon karena pertumbuhannya sangat
lambat. Dewasa ini banyak dilakukan riset tentang manfaat pasak bumi untuk
menyembuhkan berbagai penyakit. Hal tersebut dipublikasikan di media masa, sehingga
keberadaan pasak bumi di hutan menjadi terancam. Keseluruhan bagian dari tumbuhan pasak
bumi dapat digunakan sebagai obat, tetapi yang paling banyak digunakan adalah bagian
akarnya.
Data tentang penelitian bioekologi dan silvi kultur pasak bumi masih kurang guna
menunjang pengadaan bahan tanaman obat. Pengadaan bahan obat akhir akhir ini melalui
pembudidayaan tanaman obat makin penting dengan berkembangnya industri jamu di
Indonesia. Pemerintah maupun swasta nasional berupaya mengembangkan budidaya
tumbuhan obat dan penanganannya mendapat perhatian yang lebih besar.
1.2
Perumusan Masalah
Pasak bumi secara ilmiah telah diakui khasiatnya sebagai obat bermacam
penyakit mulai dari sakit ginjal, diabetes, hingga pemicu kejantanan para pria. Oleh karena
itu keberadaan tumbuhan ini di hutan Bukit Lawang terancam karena diburu oleh masyarakat,
maupun pedagang obat-obatan. Sementara itu budidaya tumbuhan ini sendiri sangat jarang
dilakukan karena tekhnik silvi kulturnya belum banyak diketahui. Oleh karena itu masalah
dalam penelitianini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.
Bagaimana ekologi pasak bumi di hutan alami Bukit Lawang
2.
Apa faktor-faktor fisik kimia yang mempengaruhi persebaran dan habitat pasak bumi
di hutan alami.
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk :
1.
Mengetahui kondisi fisik, kimia, dan ekologi pasak bumi di habitat alamnya hutan
Bukit Lawang
4.
Mengetahui bagaimana asosiasi pasak bumi dengan spesies tumbuhan lain di
hutan Bukit Lawang.
5.
Mengetahui pemanfaatan pasak bumi oleh masarakat yang tinggal di sekitar
Bukit Lawang.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaaat:
Informasi data tentang potensi, kondisi fisik dan kimia habitat alam serta pola
persebaran pasak bumi di hutan bukit lawang
Sebagai masukan bagi pihak pengelola Pusat Penelitian Orang utan Bukit
Lawang Taman Nasional Gunung Leuser dalam upaya konservasi pasak bumi
Informasi bagi masyarakat/ peneliti/ pengguna tumbuhan pasak bumi dalam
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Hutan Hujan Tropis
Hutan hujan tropis menurut R. A. Butller (2001) adalah hutan yang unik yang
berlokasi di daerah tropis, curah hujan minimal 80 mm/tahun, memiliki kanopi,
keanekaragaman biota yang tinggi serta hubungan simbiotik antar spesies yang tak
terpisahkan. Dalam hutan hujan tropis tumbuh pohon dengan keanekaragaman yang sangat
tinggi sehingga disebut ekosistim yang stabil karena memiliki flora dan fauna yang sangat
kompleks.
Pohon merupakan tumbuhan yang mendominasi kawasan hutan. Baher (1950)
mendeskripsikan pohon sebagai tumbuhan berkayu yang mempunyai batang yang luas yang
biasanya mencapai tinggi kurang lebih 8 feet dan diameter setinggi dada (1,3 meter) minimal
12 inchi .Menurut Kusmana (1995) membedakan tingkat kehidupan pohon sehubungan
ukuran tinggi dan diameter batangnya sebagai berikut:
1.
Semai (
Seedling
) yaitu permudaan yang tingginya kurang dari atau sama dengan 1,5
meter.
2.
Pancang (
Sapling
) yaitu permudaan yang tingginya 1,5 meter atau lebih sampai
batang muda yang diameternya kurang dari 10 cm
3.
Tiang (
Pole
) yaitu pohon-pohon muda yang mempunyai diameter 10 cm sampai
batas lebih kecil dari 20 cm.
2.2 Hubungan Masyarakat Tumbuh-tumbuhan Dengan Lingkungan
Lingkungan adalah suatu sistem yang kompleks dimana berbagai faktor berpengaruh
timbal balik satu sama lain dengan masyarakat tumbuh-tumbuhan. Faktor-faktor lingkungan
mempunyai pengaruh yang berbeda pada saat yang berlainan terhadap kelangsungan hidup
setiap jenis tumbuhan. Faktor lingkungan dikatakan penting apabila pada suatu waktu
tertentu mempengaruhi hidup dan tumbuhnya tumbuh-tumbuhan. Karena terdapat pula taraf
minimal, optimum, atau maksimal menurut batas-batas toleransi dari masing-masing dari
masing-masing masyarakat tumbuh-tumbuhan. Kisaran toleransi untuk setiap masyarakat
tumbuh-tumbuhan tidak sama. Ada yang memiliki batas toleransi yang sempit (
steno
) dan
ada yang luas (
euri
). Pada tumbuhan yang batas toleransinya steno, titik minimum, optimum,
dan maksimum berdekatan. Sehingga perbedaan yang sedikit saja dapat menjadi kritis untuk
pertumbuhannya. Setiap keadaan atau jumlah sesuatu faktor fisik yang berbeda sedikit dapat
melampaui batas-batas toleransi dikatakan menjadi faktor penghambat/
limiting factor
( Kusmana, 1995).
(jamur, bakteri, cacing, rayap); juga faktor-faktor biotik (manusia, hewan, dan
tumbuh-tumbuhan lain).
Iklim mikro (microenvironment) adalah iklim yang hanya berlaku untuk
tempat atau ruang terbatas. Menurut Geiger (1965) dalam Soerianegara (1998) iklim
mikro yaitu iklim yang mempengaruhi habitat mikro dekat dengan permukaan tanah
di bawah tegakan hutan yang mempengaruhi keadaan masyarakat hutan.
2.3 Pola
Distribusi
Pola distribusi merupakan penyebaran satu jenis atau beberapa jenis
masyarakat tumbuh-tumbuhan. Menurut Kusmana (1995) ada tiga tipe pola distribusi
tumbuhan yaitu:
a.
Acak (random) mencerminkan homogenitas dan/ atau pola behevior yang
tidak selektif.
b.
Mengelompok (clumped) mencerminkan habitat yang heterogen, mode
reproduktif behavior berkelompok dan lain-lain.
c.
Beraturan (reguler, uniform) mencerminkan adanya interaksi negatif antata
individu seperti persaingan untuk ruang dan unsur-unsur atau cahaya.
2.4 Assosiasi
Assosiasi adalah kekariban antara dua spesies dalam komunitas, yang selalu
Kedua spesies tumbuh pada lingkungan yang serupa.
Distribusi geografi kedua spesies serupa dan keduanya hidup di daerah yang sama.
Bila salah satu spesies hidupnya bergantung pada yang lain.
Bila salah satu spesies menyediakan perlindungan terhadap yang lain.
Hutan hujan berkurang dengan sangat cepat. Hal ini terjadi karena sebab yang
sangat kompleks di masyarakat. Mengingat begitu penting peranan hutan hujan tropis
maka banyak orang yang ingin menyelamatkan hutan hujan meskipun usaha itu tidak
mudah. Menurut R.A.Buttler (2001) beberapa langkah untuk menyelamatkan hutan
hujan dalam skala luas ekosistem di seluruh dunia adalah: (1) Mengajarkan orang lain
tentang pentingnya lingkungan dan bagaimana mereka bisa membantu
menyelamatkan hutan hujan. (2) Memperbaiki ekosistem yang rusak dengan
menanam pepohonan di wilayah dimana hutan telah ditebangi. (3) Menganjurkan
orang-orang untuk hidup dengan cara yang tidak merusak lingkungan. (4) Mendirikan
taman-taman yang dapat melindungi hutan hujan dan alam liarnya. (5) Mendukung
perusahaan-perusahaan yang bekerja dalam aturan yang meminimalkan kerusakan
terhadap lingkungan.
2.5
Taman Nasional Gunung Leuser
Taman Nasional Gunung Leuser merupakan salah satu taman nasional di Indonesia
yang diresmikan pada tahun 1980 yang merupakan gabungan dari suaka margasatwa
Selatan, TW Lawaegurah, dan TW Sekundur. Menurut pengumuman menteri
pertanian tanggal 6 maret 1980 luas Taman Nasional Gunung Leuser adalah
792.675 ha yang mencakup dua propinsi. Nanggroe Aceh Darrusalam (NAD) dengan
luas 578.690 ha dan Sumatera Utara seluas 213.985 ha. Taman Nasional Gunung
Leuser merupakan Hutan Lindung atau daerah Ekowisata Internasional yang
pengelolaannya diserahkan kepada pemerintahan Republik Indonesia pada bulan
Januari 1980 yang dikelola Direktorat Jendral Perlindungan Hutan dan Pelestarian
Alam Departemen Kehutanan. Dalam pengelolaannya Taman Nasional Gunung
Leuser terbagi atas empat (4) kawasan konservasi yaitu seksi konservasi wilayah I
(lembah alas dan Gayo Lawe) Aceh Tenggara ; seksi konservasi II (Tapak Tuan)
Aceh Selatan; Seksi konservasi wilayah III (Bukit Lawang); seksi konservasi wilayah
IV (Besitang)(Departemen kehutanan,1990)
Daerah ekowisata bukit lawang Bahorok merupakan daerah rehabilitasi orang
utan. Pengunjung berdatangan baik dari mancanegara maupun turis local memiliki
interest yang berbeda. Pada umumnya wisatawan dari luar negeri lebih suka
melakukan perjalanan ke hutan untuk melihat indahnya kekayaan alami yang ada di
kawasan ini. Karena hutan Bukit Lawang Bahorok ini juga menyimpan kekayaan
Biodiversitas flora dan fauna yang tinggi (Hendras, 2009).
2.6 Pasak Bumi dan Manfaatnya
Kekayaan biodiversitas flora tersebut salah satunya adalah pasak bumi yang
merupakan Hasil Hutan Non Kayu berupa tanaman obat.
Klasifikasi pasak bumi menurut Cronquist (1981)
Divisio : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Sub Class : Rosidae
Ordo : Sapindales
Famili : Simaroubaceae
Genus : Eurycoma
Species : Eurycoma longifolia Jack
Pasak bumi merupakan tumbuhan perdu atau pohon kecil yang tingginya
dapat mencapai 20 m. Daun pasak bumi berbentuk lanset dengan tepi rata berukuran
2,5 – 14,2 X 0,7 - 4,5 cm. Daun majemuk menyirip ganjil dengan jumlah anak daun
11- 38 mengumpul pada ujung ranting. Bunga berwarna merah berbentuk malai dan
berbulu. Buah berwarna kuning kemerahan ketika muda serta menjadi hitam pada
saat tua. Pasak bumi termasuk tumbuhan berumah satu atau berumah dua (Hadad dan
Taryono, 1998: Padua et al.,1999).
2.6.2 Ekologi Pasak Bumi
Pasak bumi adalah salah satu jenis tumbuhan obat yang merupakan tumbuhan
asli Indonesia. Namun juga tersebar di hutan-hutan Malaysia, Thailand, Filiphina,
Vietnam, dan Birma (Siregar et al., 2003; Minorsky , 2004). Di Indonesia pasak bumi
mempunyai beragam nama daerah antara lain; pasak bumi (Kalimantan), widara putih
(Jawa), mempoleh (Bangka), besan (Sumut), tongkat ali (Aceh). Di Malaysia dikenal
dikenal dengan plaa-lai-pueak, hae pan chan, plaalai phuenk, dan phiak (Hadad dan
Taryono,1998; Pandua et al.,1999). Tumbuhan ini menyukai tanah asam berpasir,
memiliki drainase tanah yang baik. Biasanya hidup di hutan dekat pantai, baik hutan
primer atau sekunder. Ditemukan sampai ketinggian tempat 1000 m dari permukaan laut
(Whitmore, 1992). Pasak bumi dapat dijumpai pada daerah-daerah pungggung bukit atau
pematang dan daerah berlereng (Nuryamin, 2000). Tumbuhan ini tumbuh pada temperatur
rata-rata 25
0C dengan kelembaban udara 86% setelah melalui masa muda tumbuhan ini
membutuhkan lebih banyak sinar matahari untuk membantu perkembangan vegetatif dan
system reproduksinya. Pasak bumi berbunga dan berbuah sepanjang tahun. Biasanya bunga
mekar sekitar bulan juni sampai juli. Sementara buahnya masak pada bulan September
(Padua
et al
.,1999).
2.6.3 Manfaat Tumbuhan Pasak Bumi
karbolina,
-7-metoksi, 1-asid propionik, (9) eurikomalakton, (10) eurikomanol, (11)
eurikomanol,
13-
-18-dihidro, (12)
eurikomanol,-2-
-D-glukosida, (13) eurikomanon, (14) eurikomanona, 13-21-dihidro, (15)
eurikomanona, 13-beta-21-dihidroksi, (16) klaineanon, 14-15-beta-dihidroksi, (17)
klaineanon,14-15-dihidroksi, (18) longilaston, (19)
-sitosterol, (20) stigmasterol. Kegunaan
kandungan kimia ini adalah: (1) untuk antimalaria; (12) mengatasi ulser, luka, demam dan
lemah, obat meroyan, bisul, tonik menguatkan badan; (11) untuk bisul, tonik menguatkan
badan; (10) antipiretik; (13) mengatasi gusi berdarah; (14) sifilis, luka dan ulser (Kuo
et al
.,
2004).
jantan (Ang
et al.,
2002). Hasil penelitian Ruqiah G.P.Panjaitan menunjukkan bahwa
pemberian fraksi metanol air akar pasak bumi dengan dosis
1000 mg/Kg BB menunjukkan aktivitas hepatoprotektor terhadap karbon tetraklorida.
Gambaran ultra struktur menunjukkan bahwa fraksi metanol air mampu melindungi
sel-sel hati yang ditandai dengan tidak terjadi perubahan patologis pada membrane
sel, membrane inti sel, mitokondria, dan reticulum endoplasmic (Ruqiah G.P.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.
Tempat Dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Stasiun Rehabilitasi Orangutan Resort Bukit Lawang
Taman Nasional Gunung Leuser Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Propinsi Sumatra
Utara. Secara geografis terletak pada 3
030’LU – 3
045’LU dan 98,0 – 98,15 BT (Departemen
kehutanan,1990). Lokasi penelitian dilakukan jauh dari pemukiman masyarakat, jarak
tempuh lebih kurang 3 jam dengan berjalan kaki. Penelitian dilaksanakan selama empat bulan
yang dimulai dari bulan April hingga bulan Juli 2010.
Gambar 1. Peta lokasi penelitian
3.2
Bahan dan Alat Penelitian
Bahan dan alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Peta kerja/ peta
lokasi, pasak bumi, tali ukur, alkohol, koran bekas, kantong plastik untuk sample tanah, soil
moisture tester, kompas, pita ukur, soil thermometer, Lux meter, parang, Altimeter,
Clinometer, pancang kayu, alat tulis menulis, kamera, peralatan analisis tanah di
laboratorium, pH meter, higrometer.
3. 3 Data Primer
Data primer ekologi pasak bumi (
Eurycoma longifolia
Jack) diambil data
pengukuran jumlah populasi, diameter batang, tinggi batang, ketinggian tempat tumbuh dan
penyebarannya. Data dari masyarakat diambil menggunakan kuisioner yang telah
dipersiapkan sebelumnya.
3.4 Data Sekunder
Data sekunder seperti peta lokasi dan kondisi umum Pusat Penelitian Orangutan
Bukit Lawang diperoleh dari Balai Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) Sub Seksi Bukit
Lawang dan Unit Manajemen Leuser (UML). Data/ informasi specimen herbarium tumbuhan
obat diperoleh dari visitor center Bukit Lawang serta informasi lain dari masyarakat.
3.5
Prosedur Penelitian
3.5.1 Penentuan lokasi
kurve minimum, diperoleh jumlah petak contoh adalah 30 buah dan disesuaikan
dengan kondisi lapangan. Penentuan jumlah petak contoh menggunakan kurva
minimum area, jika pertambahan jumlah Spesies tidak lebih dari 10 persen maka
jumlah petak contoh dianggap sudah mewakili jalur tersebut.
Petak dibuat berjarak (rested) dengan ukuran petak contoh 20 x 20 m untuk
tingkat pertumbuhan pohon (trees), 10 x 10 m untuk tiang (pole), 5 x 5 m untuk
pancang (sapling) dan 2 x 2 m untuk pengukuran semai (seedling). Jarak petak
contoh selanjutnya 100 m.
100 m
D
C
B
A
D
C
B
[image:32.612.157.508.331.456.2]A
Gambar 2 : petak contoh
Petak A = petak ukur untuk pohon dengan ukuran 20 x 20 m
2Petak B = petak ukur untuk pole dengan ukuran 10 x 10 m
2Petak C = petak ukur untuk sapling dengan ukuran 5 x 5 m
2Petak D = petak ukur untuk seedling dengan ukuran 2 x 2 m
23.6 Cara Pengumpulan Data
Untuk mengetahui potensi seperti kerapatan frekuensi, pola penyebaran dan
populasi anakan pasak bumi dilakukan pengambilan data pada petak pengamatan.
Selanjutnya berdasarkan letak petak yang akan diamati dan sketsa jalur yang telah
3.6.1.
Pembuatan Jalur
Menentukan titik awal pengamatan, titik awal merupakan suatu titik dimulainya
pengukuran yang posisinya disesuaikan dengan kondisi lapangan. Kemudian dilakukan
pembuatan jalur yaitu dengan membuat arah rintisan, mengukur lebar, panjang, dan jarak
antar jalur 100 m yang diletakkan pada lokasi secara acak disesuaikan dengan kondisi
lapangan. Kemudian dibuat plot dengan ukuran 20 x 20 meter untuk tingkat pertumbuhan
pohon, 10 x 10 meter untuk tingkat pertumbuhan tiang, 5 x 5 meter untuk tingkat
pertumbuhan pancang dan 2 x 2 meter untuk semai. Pada setiap plot dilakukan pengamatan
pada seluruh tingkat pertumbuhan pohon dengan mengukur diameter batang setinggi dada
(1,3 m), pada pohon, demikian juga untuk tiang, pancang dengan tinggi 1,5 meter atau lebih
dengan diameter kurang dari 10 cm, dan semai tingginya 1,5 meter atau kurang.
Spesimen dari seluruh individu yang di ukur di koleksi dan diberi label gantung setelah
lebih dahulu mencatat ciri-ciri morfologinya. Kemudian dilakukan pengawetan specimen
yaitu specimen disusun dan dibungkus dengan kertas koran dan dimasukkan ke dalam
kantong plastik dan diberi alkohol 70% udara dalam kantong plastik dikeluarkan dan kantong
plastik ditutup dengan lakban. Selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk dikeringkan.
3.6.2
Pengukuran
3.6.3
Kondisi abiotik Habitat
Kondisi fisik habitat dinilai dari:
Ketinggian tempat tumbuh pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack) dari
permukaan.
Suhu udara diukur dengan Termometer, kelembaban udara dengan
hygrometer, kelembaban dan Ph tanah dengan soil tester, suhu tanah dengan
soil thermometer. Yang dilakukan pagi sekitar jam 08.00-09.00, siang
11.00-13.00, sore 16.00-17.00 pada beberapa lokasi petak contoh.
Intensitas cahaya matahari, dilihat dari kondisi hutan apakah cahaya matahari
dapat menembus sampai ke dasar hutan yang sangat dipengaruhi taju pohon
diukur dengan Lux meter. Yang dilakukan pagi sekitar jam 08.00-09.00, siang
11.00-13.00, sore 16.00-17.00 pada beberapa lokasi petak contoh.
3.6.4 Pola distribusi
Pola distribusi dilihat dari: Apakah pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack)
tumbuhnya secara acak (random), mengelompok (clumped), atau beraturan (reguler).
Bila V/M = 1 (random)
V/M > 1 (clumped)
V/M < 1 (reguler)
3.6.5 Assosiasi (Interspesipik Assosiation)
Assosiasi dilihat dari apakah pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack)
tumbuhnya selalu ada bersama-sama dengan spesies tertentu atau tidak.
3.7
Pengumpulan Data Kuisioner
Pengumpulan data pemanfaatan pasak bumi oleh masyarakat sekitar Bukit Lawang,
dilakukan beberapa langkah, yaitu:
1.
Populasi dan sampel
Populasi adalah masyarakat/ penduduk yang bertempat tinggal di sekitar Bukit
Lawang. Sampel dalam penelitian ini disebut responden, yang ditentukan dengan teknik
quota sampling
yaitu mewakili segenap lapisan masyarakat secara pekerjaan dan pendidikan,
meliputi: tokoh- tokoh masyarakat, ahli pengobatan tradisional (dukun/ tabib), masyarakat
umum. Responden dipilih yang telah dewasa umur. Dalam menentukan
sampel
menurut Gay
dalam
Hasan (2002), bahwa ukuran minimum sampel yang dapat diterima pada
metoda penelitian deskriptif minimal 10 % dari jumlah populasi. Sedangkan jumlah sampel
menurut Kusmayadi dan Sugiarto penentuan jumlah sampel sudah representatif dan relevan
dengan menggunakan rumus Slovin, yaitu:
n =
n= Ukuran sample
N= Ukuran populasi
e=Margin error yang diperkenankan 0,1 ( Kusmayadi dan Sugiarto,2000).
3.7
Analisis Data
Analisis Ekologi dan Dominansi Vegetasi
Dihitung dari besarnya persentase jumlah jalur ditemukannya pasak bumi
(Eurycoma longifolia
Jack), dengan menghitung dan menganalisis kerapatan (K),
kerapatan relatif (KR), frekwensi (F), frekwensi relatif (FR), Dominansi (D),
Dominansi Relatif (DR), Indeks nilai penting (INP). Dengan menggunakan rumus
(Soerianegara dan Indrawan, 1998).
Jumlah individu
a. Kerapatan (K)
=
Luas petak contoh
K suatu jenis
K total seluruh jenis
Jumlah petak contoh ditemukannya suatu spesies
b. Frekuensi (F
) =
Jumlah seluruh petak contoh
F suatu spesies
Frekuensi relatif (FR) =
x 100 %
F seluruh spesies
Luas bidang dasar suatu spesies.
c. Dominansi (D)
=
Luas petak contoh
D suatu spesies
Dominansi relatif
=
x 100%
D seluruh spesies
Indeks Nilai Penting/ INP (%) = kerapatan relatif + dominansi relatif + frekwensi
relatif
Assosiasi interspesifik dihitung dengan rumus:
Rumus : X
2hit = (ad – bc)
2x N
m x n x r x s
Nilai X
2ini dibandingkan dengan X
2tab (
α
= 0,05 , db = 1 )
Bila X
2hit
≥
X
2tab ada asosiasi
a=
c=
d=
N= total petak contoh
m= a + b
n = a + c
r= c + d
s= b + d
(Kusmana, 1995)
Distribusi spesial individu
Keterangan :
X=
Jumlah individu pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack) yang ditemukan
pada Seluruh petak pengamatan.
N=
Jumlah seluruh petak pengamatan.
V/M = 1 (random)
V/M > 1 (clumped)
Keterangan : V = Variens
M
=
Means
(Kusmana dan Istomo, 1995)
Untuk menguji apakah V/M < 1 atau > 1 digunakan uji X
2dengan derajat bebas (q
- 2), dimana q =
ekuensi kelas pada tingkat peluang 5%
Analisis Data Kuisioner
Data yang diperoleh dari kuisioner selanjutnya dianalisis dengan Soft Ware
Statistic Paclage For Sosial Science (SPSS) versi 15.00 dengan perangkat
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.
Hasil Pengamatan Fisik Lingkungan Lokasi Penelitian
4.1.1
Iklim dan Hidrologi
Berdasarkan klasifikasi Schmidt Ferqusson Stasiun Rehabilitasi Orangutan Bahorok
temasuk tipe iklim A, dengan curah hujan cukup tinggi dan merata sepanjang tahun tanpa
bulan kering yang nyata. Menurut hasil pengukuran yang dilakukan Departemen Kehutanan
curah hujan rata – rata pertahun adalah 4673 mm yang diukur tahun 1977 s.d. 1982,
sedangkan data dari Badan Meteorologi dan Geofisika selama sepuluh tahun terakhir yaitu
tahun 1999 s.d. 2008, curah hujan rata-rata pertahun adalah 4913 mm.
Berdasarkan data dari Departemen Kehutanan dari Stasiun pengamat Bukit Lawang
suhu minimal 19
0C, suhu maksimal 34
0C dengan suhu rata-rata 24
0C. Dan kelembaban
maksimal 99% dan minimal 70%. Dari penelitian penulis, suhu udara rata-rata pada siang
hari 23,7
0C. Suhu tanah rata-rata pada siang hari 24,1
0C. Kelembaban udara rata-rata pada
siang hari 90,8%. pH tanah rata-rata 6,4 dengan Intensitas cahaya matahari rata-rata 113,6 x
10 Lux.
4.1.2
Topografi dan Geologi
Hampir tidak ditemukan daerah yang datar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
wilayah ini berada di dataran tinggi dengan kemiringan lahan relatif besar sekitar 40
0,
dengan ketinggian 0 – 700 meter dari permukaan laut (mdpl). Daerah penelitian yang
dilakukan penulis yaitu paling rendah 223 mdpl, sedangkan yang tertinggi adalah 401
mdpl, dengan ketinggian rata-rata adalah 314,1mdpl. Berdasarkan peta geologi
Sumatera Utara TNGL Stasiun Rehabilitasi Orangutan Bukit Lawang mempunyai
jenis tanah podsolik merah kuning yang peka terhadap erosi. Latosol dan podsolik
coklat. Podsolik dan Litosol dengan bahan induk permokarbon (Departemen
Kehutanan,1990). Berdasarkan hasil penelitian penulis komponen tanah terdiri atas
pasir, debu dan liat dengan perbandingan rata-rata pasir 65,56 %; debu 15,33 %; dan
liat 19,11 %. Kandungan hara juga tinggi, dengan komposisi rata-rata yaitu: C-org
3,18 %; N-total 0,24 %; C/N 13,25; P-avl 4,12 ppm; K-exch 0,18 me/100;
Ca-exch 1,05 me/100; Mg-exck 0,92 me/100; dan Zn 6,40 ppm.
4.2.
Aspek Biologi Pasak Bumi
4.2.1 Morfologi Pasak Bumi
(a)
(b)
(c)
(d)
Ket. Gambar 3. a) Tanaman pasak bumi; b) Pasak bumi berbunga; c) Batang pasak bumi; d)
Pasak bumi adalah tumbuhan berkayu (jenis pohon) dapat mencapai tinggi 20 meter
atau lebih. Akar tunggal menancap ke bumi, kulit berwarna abu – abu tidak bergetah, tidak
terkelupas. Ujung pucuk tidak tertutup oleh kuncup daun. Dominansi apikal sangat kuat,
batang tidak bercabang.
Tangkai daun tubuh berseling, anak daun majemuk berjumlah ganjil, tumbuh
berhadapan bagian ujung ditutup satu anak daun, semua daun bentuknya seragam. Ditemukan
dua macam pasak bumi berdasarkan bentuk anak daunnya. Bentuk anak daun oval jika diraba
permukaan bawah lebih halus, ukuran daun lebih lebar dan bentuk anak daun lanset, jenis ini
memiliki batang muda lebih licin dan mengkilat, di lapangan jumlahnya lebih dominan.
(e)
(f)
(g)
(h)
Ket. Gambar 4. e) Daun pasak bumi; f) Morfologi daun yang berbeda; g) Bunga tumbuh di ketiak;
h) Bunga pasak bumi.
Perbungaan ada di ketiak, aksis perbungaan bercabang. Bunga bermalai mencapai
panjang 100 cm sampai 150 cm, berwarna merah oranye. Bunga ada yang hermaprodit atau
berkelamin satu jantan atau betina pada satu pohon atau pohon yang berbeda. Sehingga tidak
selalu bunga dapat membentuk biji. Bunga memiliki kelopak lima, mahkota lima bertautan
sedikit, mudah jatuh. Ukuran bunga kecil lebih kurang 0,5 cm. Selama penelitian, tidak
ditemukan hewan yang membantu proses penyerbukan.
biji. Buah yang tua dan masak berwarna hitam. Dalam biji terdapat endosperm
berkeping dua.
(i)
(j)
(k)
(l)
Ket. gambar 5. i) Malai buah yang panjang; j) buah pasak bumi muda; k) Buah muda; l) Buah
yang sudah masak.
4.2.2
Hama Pasak Bumi
Selama pengamatan ditemukan serangga yang menyerang pasak bumi. Sejenis
ngengat yang sangat ganas menyerang pucuk, daun, serta biji. Serangga yang bersifat
nokturnal ini meletakkan telur secara berkelompok pada bagian pucuk tanaman pasak
bumi, telur menetas menjadi larva ulat membentuk jaring-jaring seperti jaring
laba-laba. Selama fase ulat memakan bagian pucuk, tunas daun sampai habis yang
menyebabkan terganggunya pertumbuhan. Juga memakan daun, buah (kulit biji),
bahkan menggerek biji (endosperm) sampai habis.
(m)
(n)
(o)
(p)
Ket. gambar 6. m) bagian pucuk yang diserang hama; n) bagian daun yang diserang hama; o dan )
Identifikasi hama.
Kingdom
:
Animalia
Filum
:
Invertebrata
Kelas
:
Insekta
Ordo
:
Lepidoptera
Famili
:
Geometridae
(q)
(r)
(s)
(t)
(u)
Ket. gambar 7. q) Perkembangan Larva; r) Pupa; s) Ngengat dewasa famili Geometridae; t)
Metamorfosis hama; u) Pupa melekat pada daun pasak bumi
4.3.
Komposisi dan Dominansi
4.4.
4.3.1
Tingkat Pohon
pada lampiran 4). Jenis tumbuhan yang mendominasi tegakan pada tingkat petumbuhan
pohon adalah
Castanopsis tungurut
dengan INP 13.3%, Kerapatan 10 individu/ha;diikuti
Alseodaphne sp
dengan INP 10.9%, Kerapatan 5 individu/ha;
Shorea leprosula
dengan INP
10.3%, Kerapatan 5 individu/ha;
Shorea platyclados
dengan INP 9.5%, Kerapatan 13
individu/ha;
Shorea sp
dengan INP 8.3%,Kerapatan 8 individu/ha;
Shorea materialis
dengan
INP 7.97%, Kerapatan 2 individu/ha;
Santiria rubiginosa
dengan INP 7.1%, Kerapatan 5
individu/ha;
Ficus sp
dengan INP 7.0%,Kerapatan 7 individu/ha;
Scaphium sp
dengan INP
6.9%, Kerapatan 6 individu/ha;dan
Eugenia garcinifolia
dengan INP 6.7%, Kerapatan 7
individu/ha. Pasak bumi (
Eurycoma longifolia
) memiliki INP sebesar 2.16% dengan
kerapatan 2 pohon/ha.
Smith (1977) menyatakan bahwa jenis dominan adalah jenis yang dapat
memanfaatkan lingkungan yang ditempatinya secara efisien dari pada jenis lain ditempat
yang sama. Dalam hal ini di kawasan Stasion Rehabilitasi Orangutan Resort Bukit Lawang
tingkat pohon tidak ada jenis yang sangat menonjol karena INP tidak terlalu menyolok
perbedaannya.
4.3.2 Tingkat Tiang
garcinifolia
dengan INP 7.6%, Kerapatan 13 individu/ha;
Shorea lepidota
dengan INP 7.4%,
Kerapatan 17 individu/ha;
Diospyros malam
dengan INP 6.7%, Kerapatan 13 individu/ha;
Alseodaphne sp
dengan INP 6.6%, Kerapatan 17 individu/ha dan
Shorea scabrida
dengan
INP 6.2%, Kerapatan 13 individu/ha.
4.3.3 Tingkat Pancang
Keanakaragaman jenis tingkat pertumbuhan pancang di kawasan Stasion Rehabilitasi
Orangutan Resort Bukit Lawang diperoleh 70 jenis (dapat dilihat pada lampiran 2). Jenis
tumbuhan yang mendominansi tegakan pada tingkat pertumbuhan pancang adalah
Cinamommum oblisifolium
dengan INP 26.6%, Kerapatan 133 individu/ha;
Eurycoma
longifolia
dengan INP 24%, Kerapatan 186 individu/ha;
Disoxylum exelsum
dengan INP
15.2%, Kerapatan 106 individu/ha;
Shorea blumutensis
dengan INP 9.8%, Kerapatan 80
individu/ha;
Gironniera hirta
dengan INP 9,4, Kerapatan 80 individu/ha;
Lindera glauca
dengan INP 9.4%, Kerapatan 66 individu/ha;
Eugenia polita
dengan INP 9.3%, Kerapatan 80
individu/ha;
Ixora sp 1
dengan INP 8,6 %, Kerapatan 53 individu/ha;
Anisoptera
magistocarpa
dengan INP 8,5 %, Kerapatan 53 individu/ha; dan
Eugenia helferi
dengan INP
8.1%, Kerapatan 40 individu/ha.
4.3.4 Tingkat semai
416 individu/ha; Spondias cythercae dengan INP 5,40 %, Kerapatan 333 individu/ha;
Coffea malayana dengan INP 5,4 %, Kerapatan 333 individu/ha; Gironniera nervosa
dengan INP 5,4 %, Kerapatan 333 individu/ha; Gironniera sp dengan INP 4,0 %,
Kerapatan 250 individu/ha; Eugenia polita dengan INP 4,0 %, Kerapatan 250
individu/ha; dan Aporusa sp dengan INP 4,0 %, Kerapatan 250 individu/ha. Dominasi
tingkat pertumbuhan pohon, tiang, pancang dan semai tersebut disajikan dalam Tabel
[image:47.612.108.530.363.708.2]1 berikut:
Tabel 1. Dominansi tegakan 10 jenis tingkat pertumbuhan pohon , tiang, pancang dan
semai di kawasan Stasiun Rehabilitasi Orangutan Resort Bukit Lawang.
Pertumbuhan Jenis/
spesies
KR
FR
DR
INP
Pohon
Castanopsis tungurut
0.07 6.45 6.77 13.28
Alseodaphne sp.
0.03 3.23 7.68 10.93
Shorea leprosula
0.03 3.87 6.35 10.26
Shorea platyclados
0.08 5.16 4.25 9.50
Shorea sp.
0.05 3.23 4.99 8.27
Sorea materialis
0.01 0.65 7.31 7.97
Santiria rubiginosa
0.03 2.58 4.45 7.06
Ficus sp
0.04 3.87 3.12 7.04
Scaphium sp.
0.03 3.23 3.60 6.86
Eugenia garcinifolia
0.04 4.52 2.16 6.72
Tiang
Shorea platyclados
0.12 11.21 13.81 25.15
Euricoma longifolia
0.15 12.15 10.66 22.97
Shorea sp
0.06 4.67 6.01 10.75
Anisoptera magistocarpa
0.06 4.67 5.68 10.41
Eugenia garcinifolia
0.03 3.74 3.81 7.58
Shorea lepidota
0.03 3.74 3.62 7.39
Scaphium sp.
0.03 3.74 3.25 7.02
Diospyros malam
0.03 2.80 3.92 6.75
Alseodaphne sp.
0.04 1.87 4.73 6.64
Shorea scabrida
0.03 3.74 2.39 6.16
Pancang
Cinamommum oblisifolium
6.13 6.13 11.38 23.65
Eurycoma longifolia Jack
8.59 8.59 5.46 22.63
Disoxylum exelsum
4.91 4.91 5.69 15.51
Shorea blumutensis
3.68 3.68 2.79 10.15
Gironniera hirta
3.68 3.68 2.18 9.54
Lindera glauca BL.
3.07 3.07 3.41 9.55
Eugenia polita King
3.68 3.68 1.92 9.29
Lanjutan tabel 1 ….
Pertumbuhan Jenis/
spesies
KR
FR
DR
INP
Eugenia helferi
1.84 1.84 4.33 8.01
Semai
Eurycoma longifolia Jack
10.81 10.81
-
21.62
Cinamommum oblisifolium
8.78 8.78
-
17.56
Endiandra evadenia
3.38 3.38
-
6.76
Ixora sp 1
3.38 3.38
-
6.76
Spondias cythercae Sonn
2.70 2.70
-
5.40
Coffea malayana Ridl
2.70 2.70
-
5.40
Gironniera nervosa
2.70 2.70
-
5.40
Gironniera sp
2.03 2.03
-
4.05
Eugenia polita King
2.03 2.03
-
4.05
Aporusa sp
2.03 2.03
-
4.05
Pada tingkat semai jenis
Eurycoma longifolia mendominansi tegakan dengan
INP 24.6% dan kerapatan 1333 batang/ha. Jika dibandingkan dengan tingkat
pertumbuhan pancang 320 batang/ ha, tingkat pertumbuhan tiang 73 batang/ha dan
tingkat pertumbuhan pohon hanya 2 batang/ha. Hal ini mungkin terjadi karena untuk
perkecambahan biji Eurycoma longifolia tidak membutuhkan cahaya matahari secara
langsung, namun untuk pertumbuhan selanjutnya tumbuhan ini membutuhkan cahaya
matahari lebih banyak untuk proses fotosintesis sehingga banyak anakan Eurycoma
longifolia yang mati dan tidak sampai mencapai tingkat pertumbuhan selanjutnya..
Kemungkinan yang kedua adalah karena tumbuhan ini digunakan yang terutama
adalah bagian akarnya, maka tidak tertutup kemungkinan bahwa manusia
mencabutnya untuk digunakan sebagai tanaman obat sehingga tingkat pertmbuhan
pohon sudah jarang ditemukan.
4.4
Asosiasi Pasak Bumi dengan jenis lain
Dari hasil perhitungan tabel kontingensi pohon ada atau tidaknya asosiasi
signifikan dengan pasangan jenis yang diuji. Artinya kemungkinan untuk tumbuh
hidup bersama-sama lebih besar dari pada tidak dengan pasangan tumbuhan tersebut
begitu juga sebaliknya. Dengan demikian pada tingkat pertumbuhan pohon
Eurycoma longifolia berasosiasi signifikan dengan Parkia sp dengan X
2hitung =
6,47;
Shorea scabrida dengan X
2hit = 10,7; Eury nitidia X
2hitung = 6,47 dan
Plemengia macrophylla dengan X
2hitung = 14,5.
Dari hasil perhitungan tabel kontingensi tingkat pertumbuhan tiang dapat
diketahui bahwa Eurycoma longifolia berasosiasi signifikan dengan Shorea sp
dengan nilai X
2hitung sebesar 4.36 > X
2tab 3,84. Pada tingkat pertumbuhan
pancang dan semai dapat diketahui bahwa Eurycoma longifolia tidak berasosiasi
dengan jenis lain, dimana X
2hitung berada di bawah X
2tabel. Asosiasi pasak bumi
[image:49.612.114.531.488.701.2]dengan jenis lain disajikan dalam tabel 2 berikut:
Tabel 2. Asosiasi pasak bumi dengan jenis lain pada tingkat pertumbuhan pohon, tiang,
pancang
dan
semai.
Eurycoma longifolia
Spesies
Pohon Tiang Pancang Semai
Ket. asosiasi
Ket. asosiasi
Ket. asosiasi
Ket. asosiasi
Spondias cythercae - - NS NS
Gironniera sp - - NS NS
Eugenia polita - - NS NS
Endiandra evadenia - - NS NS
Hydnocarpus Wrayi - - NS NS
Moesa sp 1 - - NS NS
Ixora sp 1 - - NS NS
Cinamommum oblisifolium - - NS NS
Eucaliphus corimbosa - - NS NS
Parkia sp S - NS NS
Lanjutan tabel 2 …
Eurycoma longifolia
Spesies Pohon Tiang Pancang Semai
Ket. asosiasi Ket. asosiasi Ket. asosiasi Ket. asosiasi
Disoxylum exelsum - - NS NS
Claoxyton longifolium - - - NS
Aporusa sp - - NS NS
Eusideroxyton Zwagen - - NS NS
Cleidion spiciflorum - - NS -
Nephelium mutabile - - NS NS
Mangivera longives NS NS NS NS
Trema angustifolia - - NS NS
Dialium indum - - NS NS
Shorea materialis NS - NS -
Canarium comune - NS NS NS
Litsea amora NS - NS NS
Palaqium rostratum NS NS - NS
Acronychia laurifolia - - NS -
Litsea sepikonsis - - NS NS
Shorea blumutensis - - NS NS
Diospyros malam NS NS NS -
Lindera glauca BL. - - NS NS
Bovea microphylla - - - NS
Eugenia grandis NS - - NS
Shorea platyclados NS NS NS NS
Eugenia densiflora NS NS NS -
Actinidia sp - - NS -
Terminalia sp - - - NS
Rhinorea anguifera - - NS -
Pongamia pinnata NS - NS NS
Baccaurea sp - - - NS
Parkia roxburghii NS - - NS
Garcinia mangostana - - - NS
Disoxylum arborecens NS NS NS -
Canarium rufum - - NS -
Dyera costulata - NS NS NS
Lansium sp NS NS - NS
Shorea scabrida NS NS NS NS
Lanjutan tabel 2 …
Eurycoma longifolia
Spesies
Pohon Tiang Pancang Semai
Ket. asosiasi
Ket. asosiasi
Ket. asosiasi
Ket. asosiasi
Hedyatis phicippensis - - - NS
Eurya trichocarpa - - NS -
Arthrocarpus elasticus NS - NS NS
Anisoptera magistocarpa NS NS NS NS
Garcinia nigrolinellata - - NS NS
Rhodan cinerea Jack - - NS NS
Palaqium hexandrum - - NS NS
Antidesma neurocarpum - - - NS
Switonia acuta - - - NS
Alophyllum pulcherimum - - NS -
Scutinanthe brunnea - - NS -
Santina oblongifolia - - NS -
Diospyros decipiens - - - NS
Lasianthus stipulans - - - NS
Lunasia amara - - - NS
Styrax benzoin NS - NS NS
Vatica bancana - - - NS
Aglaia graffithii - - - NS
Coffea malayana - - NS NS
Ixora finlaysoniana - - - NS
Buchanania sessifolia BL. - - NS NS
Macaranga triloba - - NS -
Bisscofia javanica - - NS -
Syzium sp - - NS NS
Hydnocarpus filipes - - - NS
Hymenacardia punctata - - NS NS
Eugenia helferi - - NS NS
Gironniera hirta - - NS NS
Tarena pulchra - - NS -
Eugenia sp - - NS NS
Aglaia tricosternon - - NS NS
Gironniera subaegualis - - NS -
Gironniera parvifolia - - - NS
Lanjutan tabel 2 …
Eurycoma longifolia
Spesies
Pohon Tiang Pancang Semai
Ket. asosiasi
Ket. asosiasi
Ket. asosiasi
Ket. asosiasi
Psychotria obovata - - - NS
Litsea umbellata Merr - - NS -
Daryodes rostrata - - - -
Horsfieldia irya - NS - NS
Gironniera nervosa - * NS NS
Castanapsis tungurut NS NS NS -
Shorea sp NS S NS -
Alseodaphne feotida NS - - NS
Antiarsis toxicaria - - - NS
Shorea lepidota NS NS NS -
Aporosa prainiana - - - NS
Shorea leprosula NS - NS -
Taractogenesis konsteri - - NS -
Shorea multiflora - NS - NS
Lindera pippericarpa - - NS -
Eugenia griffithi NS NS - -
Santiria rubiginosa NS - - -
Ixora blumei NS NS - -
Shorea ovalis NS - - -
Scaphium sp. NS NS - -
Eugenia garcinifolia NS NS - -
Brassaiopsis glomerulata NS - - -
Polyanthia glauca NS - - -
Mangifera sp NS - - -
Dipterocarpus opterus NS - - -
Arytera litoralis NS - - -
Ficus sp NS NS - -
Hopea sangal NS - - -
Dipterocarpus sp NS NS - -
Durio sp. NS - - -
Shorea ovata NS NS - -
Kompasia exelsa NS - - -
Knema sp NS NS - -
Antidesma montanum NS - - -
Lanjutan tabel 2 …
Eurycoma longifolia
Spesies
Pohon Tiang Pancang Semai
Ket. asosiasi
Ket. asosiasi
Ket. asosiasi
Ket. asosiasi
Persea sp NS - - -
Lithocarpus sp NS NS - -
Michelia montana NS - - -
Latocarpus sp2 NS - - -
Elaeocarpus obtusus NS - - -
Vernonia arborea NS - - -
Aglaia glabiflora NS NS - -
Semecarpus sp NS - - -
Acronychia sp NS NS - -
Quercus sp NS - - -
Memecilon laevigatum NS NS - -
Alseodaphne sp. NS NS - -
Eurya nitida S NS - -
Cinnamomum sundairicum NS - - -