• Tidak ada hasil yang ditemukan

Modifikasi Tepung Ubi Jalar Orange Dalam Pembuatan Mi Basah Dan Daya Terimanya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Modifikasi Tepung Ubi Jalar Orange Dalam Pembuatan Mi Basah Dan Daya Terimanya"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)

MODIFIKASI TEPUNG UBI JALAR ORANGE DALAM PEMBUATAN MI BASAH DAN DAYA TERIMANYA

SKRIPSI

OLEH

:

SUCI HIDAYANI SIREGAR NIM. 061000253

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

MODIFIKASI TEPUNG UBI JALAR ORANGE DALAM PEMBUATAN MI BASAH DAN DAYA TERIMANYA

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

OLEH :

SUCI HIDAYANI SIREGAR NIM. 061000253

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

HALAMAN PENGESAHAN Skripsi Dengan Judul :

UJI DAYA TERIMA MI BASAH YANG DIMODIFIKASI DENGAN TEPUNG UBI JALAR ORANGE

Yang dipersiapkan dan dipertahankan oleh : SUCI HIDAYANI SIREGAR

NIM. 061000253

Telah Diuji dan Dipertahankan Dihadapan Tim Penguji Skripsi Pada Tanggal 06 Juli 2010 dan

Dinyatakan Telah Memenuhi Syarat Untuk Diterima Tim Penguji

Dr. Ir. Evawany Aritonang, MSi NIP. 19680616 199303 2 003 Penguji II

Ernawati Nasution, SKM, MKes NIP. 19700212 199501 2 001

Penguji III

Dra. Jumirah, Apt, MKes NIP. 19580315 198811 2 001 Medan, Juli 2010

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

Dekan,

(4)

ABSTRAK

Untuk mendukung program diversifikasi pangan, perlu dikenalkan produk-produk olahan ubi jalar orange yang citranya baik dan relatif sederhana teknologi pengolahannya agar dapat diadopsi dan dikembangkan baik oleh industri skala rumah tangga/kecil, menengah, maupun besar. Salah satu bentuk olahan yang dapat dibuat berbahan dasar tepung ubi jalar orange yaitu mi basah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil modifikasi tepung ubi jalar orange dalam pembuatan mi basah dan daya terimanya.

Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen/pengembangan produk. Panelis dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumetara Utara, sebanyak 30 orang. Data yang diperoleh dianalisa secara deskriptif.

Hasil uji daya terima panelis terhadap mi basah ubi jalar orange berdasarkan indikator rasa, aroma, warna, dan tekstur yang paling disukai panelis adalah mi basah dengan penambahan tepung ubi jalar orange 25% dikarenakan bila jumlah tepung ubi jalar orange semakin banyak dari jumlah tepung terigu, maka dapat mempengaruhi tingkat kesukaan panelis terhadap mi basah.

Perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk daya simpan mi basah dengan jumlah tepung ubi jalar orange sebanyak 25% yang merupakan hasil percobaan terbaik dari penelitian ini.

(5)

ABSTRACT

To support food diversification program, it is required to introduce orange sweet potato-processed products with good image and relatively simple processing technology that can be adopted and developed either by the household scale industries / small, medium, or large. One of the processed products that can be made of orange sweet potato flour is wet noodle. The objective of this reseach is to find the modified orange sweet potato flavor in processing wet noodle and the acceptability.

The type of this reseach is an experiment /development of product. The panelist of the study included 30 students of Public Health Faculty of North Sumatra University. The collected data were then analyzed descriptively.

The acceptability test of the panelist for the orange sweet potato wet noodle based on flavor, color, and texture found that the most desired by the panelist includd the wetted mie by adding 25% orange sweet potato flour due to if the orange sweet potato flour was larger than that of wheat one, it can influence on the delight of the panelist for the wet noodle.

It is required to make further to storability of wet noodle added by 25% orange sweet potato flour as the best result of treatment.

(6)

KATA PENGANTAR

Rasa syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan

karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyadari sepenuhnya

bahwa apa yang disajikan dalam skripsi masih terdapat kekurangan, oleh sebab itu

penulis mengharapkan saran dan kritikan yang sifatnya membangun yang bermanfaat

bagi skripsi ini. Adapun judul skripsi ini adalah : “ji Daya Terima Mi Basah yang

Dimodifikasi dengan Tepung Ubi Jalar Orange”.

Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada Fitri

Ardiani, SKM., MPH, selaku dosen pembimbing I dan Dr. Ir. Evawany Y Aritonang, M.Si selaku dosen pembimbung II, yang telah banyak meluangkan waktu dan pikiranya dalam memberikan petunjuk, saran dan bimbingan kepada penulis

sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari

bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis dengan rasa hormat

menyampaikan terimakasih kepada :

1. Ibu dr. Ria Masniari Lubis, MSi selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Dra. Jumirah, Apt, MKes selaku Ketua Departemen Gizi Kesehatan

Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

3. Seluruh Dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

4. Ayahanda (Dharma Yusfi Siregar) dan Ibunda (Alm. Suhatni dan Nurbaiti

Nasution) tercinta yang telah banyak memberikan yang terbaik bagi penulis, juga

(7)

dan kakak Iparku (K’Rona dan K’Dian) yang memberikan motivasi kepada

penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Kawan-kawan peminatan Gizi Kesehatan Masyarakat (Netty, K’Juli, K’Ilan,

K’Uli, K’Indri, Apri)

Akhirnya pada semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu,

semoga Allah SWT membalas semua kebaikan Bapak, Ibu dan teman-teman sekalian.

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca sekalian.

Medan, Juni 2010 Penulis

(8)

DAFTAR ISI 2.1.3. Komposisi Gizi Ubi Jalar ... 2.1.4. Tepung Ubi Jalar ... 2.1.5. Perbedaan Tepung Ubi Jalar Dari Tepung Terigu ... 2.2. Penganekaragaman Produk Ubi Jalar ... 2.3. Mi ... 2.4. Proses Dasar Pembuatan Mi Basah... 2.5. Daya Terima... 2.6. Kerangka Konsep Penelitian ...

BAB III METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian... 3.2. Waktu dan Tempat Eksperimen ... 3.3. Panelis ... 3.4. Bahan Penelitian... 3.5. Peralatan yang Digunakan ... 3.6. Tahap-Tahap Pembuatan Mi Basah Dari Tepung Ubi Jalar

Orange... 3.7. Definisi Operasional ...

(9)

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.1. Distribusi Panelis Berdasarkan Kelompok Umur ... 4.2. Distribusi Panelis Berdasarkan Jenis Kelamin... 4.3. Daya Terima Panelis terhadap Mi Basah dengan Penambahan Tepung Ubi Jalar Orange Berdasarkan Indikator Rasa, Aroma, Warna dan Tekstur. ... 4.3.1. Indikator Rasa ... 4.3.2. Indikator Aroma ... 4.3.3. Indikator Warna ... 4.3.4. Indikator Tekstur...

4.4. Komposisi Mi Basah Ubi Jalar Orange...

BAB V PEMBAHASAN

5.1. Sifat Fisik Mi Basah... 5.2. Daya Terima Panelis terhadap Mi Basah pada Indikator Rasa ... 5.3. Daya Terima Panelis terhadap Mi Basah pada Indikator Aroma.... 5.4. Daya Terima Panelis terhadap Mi Basah pada Indikator Warna .... 5.5. Daya Terima Panelis terhadap Mi Basah pada Indikator Tesktur...

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan ... 6.2. Saran...

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Kandungan Gizi Ubi Jalar Tiap 100 Gram Bahan ...

Tabel 2.2. Komposisi Kimia Tepung Ubi Jalar...

Tabel 3.1. Jenis dan Ukuran Bahan dalam Eksperimen ...

Tabel 3.2. Pemberian Skor Pada Skala Hedonik...

Tabel 4.1. Distribusi Panelis Berdasarkan Kelompok Umur ...

Tabel 4.2. Distribusi Panelis Berdasarkan Jenis Kelamin...

Tabel 4.3. Daya Terima Panelis terhadap Mi Basah dengan Penambahan Tepung Ubi Jalar Orange pada Indikator Rasa ...

Tabel 4.4. Daya Terima Panelis terhadap Mi Basah dengan Penambahan Tepung Ubi Jalar Orange pada Indikator Aroma...

Tabel 4.5. Daya Terima Panelis terhadap Mi Basah dengan Penambahan Tepung Ubi Jalar Orange pada Indikator Warna ...

Tabel 4.6. Daya Terima Panelis terhadap Mi Basah dengan Penambahan Tepung Ubi Jalar Orange pada Indikator Tesktur...

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Kerangka Konsep Penelitian ...

(12)

ABSTRAK

Untuk mendukung program diversifikasi pangan, perlu dikenalkan produk-produk olahan ubi jalar orange yang citranya baik dan relatif sederhana teknologi pengolahannya agar dapat diadopsi dan dikembangkan baik oleh industri skala rumah tangga/kecil, menengah, maupun besar. Salah satu bentuk olahan yang dapat dibuat berbahan dasar tepung ubi jalar orange yaitu mi basah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil modifikasi tepung ubi jalar orange dalam pembuatan mi basah dan daya terimanya.

Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen/pengembangan produk. Panelis dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumetara Utara, sebanyak 30 orang. Data yang diperoleh dianalisa secara deskriptif.

Hasil uji daya terima panelis terhadap mi basah ubi jalar orange berdasarkan indikator rasa, aroma, warna, dan tekstur yang paling disukai panelis adalah mi basah dengan penambahan tepung ubi jalar orange 25% dikarenakan bila jumlah tepung ubi jalar orange semakin banyak dari jumlah tepung terigu, maka dapat mempengaruhi tingkat kesukaan panelis terhadap mi basah.

Perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk daya simpan mi basah dengan jumlah tepung ubi jalar orange sebanyak 25% yang merupakan hasil percobaan terbaik dari penelitian ini.

(13)

ABSTRACT

To support food diversification program, it is required to introduce orange sweet potato-processed products with good image and relatively simple processing technology that can be adopted and developed either by the household scale industries / small, medium, or large. One of the processed products that can be made of orange sweet potato flour is wet noodle. The objective of this reseach is to find the modified orange sweet potato flavor in processing wet noodle and the acceptability.

The type of this reseach is an experiment /development of product. The panelist of the study included 30 students of Public Health Faculty of North Sumatra University. The collected data were then analyzed descriptively.

The acceptability test of the panelist for the orange sweet potato wet noodle based on flavor, color, and texture found that the most desired by the panelist includd the wetted mie by adding 25% orange sweet potato flour due to if the orange sweet potato flour was larger than that of wheat one, it can influence on the delight of the panelist for the wet noodle.

It is required to make further to storability of wet noodle added by 25% orange sweet potato flour as the best result of treatment.

(14)

BAB I PENDAHULUAN

1.2.Latar Belakang

Upaya diversifikasi pangan dengan memanfaatkan bahan pangan lokal, seperti

ubi jalar merupakan salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap

beras dan terigu. Sekitar 89% produksi ubi jalar di Indonesia digunakan untuk bahan

pangan, sisanya untuk pakan ternak dan bahan baku industri. Ubi jalar kaya akan

karbohidrat, vitamin, dan mineral. Khusus ubi jalar orange/merah kaya akan

betakaroten (prekursor vitamin A) dan ubi jalar ungu mengandung senyawa

antosianin (antioksidan). Pemanfaatan ubi jalar masih terbatas pada jenis-jenis

makanan tradisional yang citranya seringkali dianggap lebih rendah dibanding produk

olahan terigu. Diversifikasi, baik pengolahan dari bahan segar maupun produk antara

(setengah jadi) akan memperluas pemanfaatannya, memberi nilai tambah, sekaligus

memacu pengembangan agroindustri berbasis ubi jalar (FAOSTAT, 2003).

Ubi jalar merupakan sumber karbohidrat keempat di Indonesia, setelah beras

jagung, dan ubi kayu. Namun, perkembangan produksinya dari tahun ke tahun relatif

rendah. Produksi ubi jalar pada tahun 2000 sebesar 1,8 juta ton dengan luas panen

194.000 Ha. Hanya mengalami sedikit peningkatan menjadi 1,9 juta ton pada tahun

2005 dari luas panen 178.336 Ha (BPS, 2006). Hal ini disebabkan oleh masih kurang

maksimalnya pemanfaatan ubi jalar, baik sebagai bahan baku pangan maupun

(15)

Penyajian ubi jalar dapat dilakukan dengan direbus, digoreng, ataupun

dikukus. Ubi jalar juga dapat dimanfaatkan sebagai produk makanan ringan dan

umumnya dikonsumsi dalam bentuk segarnya yang telah direbus, dipanggang,

ataupun dimasak dengan bahan-bahan lainnya. Ubi jalar dapat diolah menjadi

beberapa produk pangan seperti gaplek ubi jalar, tepung ubi jalar, keripik ubi jalar,

french fries ubi jalar, tape ubi jalar, dan kue ubi jalar. Produk-produk ini sudah

banyak dikenal masyarakat yaitu rasanya yang enak dan manis. Penelitian-penelitian

terdahulu mengenai pengolahan ubi jalar menjadi berbagai macam produk antara lain

sirup fruktosa (Sastrodipuro, 1985), manisan kering ubi jalar (Widarsono, 1993),

french fries (Yunus, 1997), mie ubi jalar (Simanjuntak, 2001), selai (Fatonah, 2002),

flakes ubi jalar (Khasanah, 2003), biskuit ubi jalar (Djuanda, 2003), reconstituted

chips (Hadisetiawati, 2005), minuman puree ubi jalar (Ariwibawa, 2005), yogurt ubi

jalar (Kusuma, 2007), dan lain-lain.

Penelitian yang telah berhasil melakukan substitusi tepung terigu oleh tepung

ubi jalar pada pembuatan roti sebesar 30%, cake sebesar 50%, bihun sebesar 40%,

dan cookies sebesar 70% (Djuanda, 2003). Selain itu juga Sulistiyo (2006) telah

berhasil melakukan substitusi tepung terigu oleh 100% tepung ubi jalar untuk

brownies kukus ubi jalar dengan umur simpan tiga hari.

Sebagai bahan baku industri, ubi jalar terutama digunakan untuk saos.

Sementara produk pangan dari ubi jalar masih terbatas pada bentuk makanan

tradisional, seperti ubi rebus, ubi goreng, kolak, getuk, dan kripik, sehingga seringkali

citranya dianggap lebih rendah bila dibandingkan dengan produk-produk makanan

yang berasal dari terigu. Oleh karena itu, untuk mendukung program diversifikasi

(16)

relatif sederhana teknologi pengolahannya agar dapat diadopsi dan dikembangkan

baik oleh industri skala rumah tangga/kecil, menengah, maupun besar.

Pada masyarakat Indonesia, ubi jalar sudah banyak dikenal dan dengan mudah

ditemukan di pasar-pasar tradisional. Ubi jalar yang dikenal di tanah air berupa ubi

merah, ubi orange, ubi kuning, ubi putih dan ubi ungu. Ubi jalar orange merupakan

sumber karbohidrat yang cukup tinggi dan juga mengandung betakaroten, vitamin E,

kalsium, zat besi serta serat. Kombinasi vitamin A (betakaroten) dan vitamin E dalam

ubi jalar orange bekerja sama dalam mencegah stroke dan serangan jantung.

Betakarotennya mencegah stroke, sementara vitamin E ubi jalar orange mencegah

penyumbatan dalam saluran pembuluh darah, sehingga munculnya serangan jantung

dapat dicegah (Apraidji, 2009).

Antioksidan merupakan senyawa penting untuk menjaga kesehatan tubuh

karena berfungsi sebagai penangkal radikal bebas. Salah satu jenis antioksidan ini

adalah betakaroten. Fungsi betakaroten tersebut adalah sebagai prekursor vitamin A

yang secara enzimatis berubah menjadi retinol, zat aktif vitamin A dalam tubuh.

Dilaporkan konsumsi vitamin A yang cukup dalam jangka waktu beberapa tahun, di

dalam hati akan tertimbun cadangan vitamin A yang dapat memenuhi kebutuhan

sampai sekitar tiga bulan tanpa konsumsi vitamin A dari makanan. Salah satu

penghasil antioksidan yang saat ini menjadi primadona adalah ubi jalar. Komoditi ubi

jalar mempunyai potensi yang sangat tinggi untuk dikembangkan, mempunyai

produktivitas tinggi, potensi penggunaan cukup luas dan cocok untuk progam

diversifikasi pangan. Selain mengandung serat tinggi, ubi jalar mengandung rafinosa

yang berfungsi sebagai prebiotik, mengandung karotenoid, antosianin, senyawa

(17)

Kekurangan vitamin A merupakan salah satu masalah gizi utama dibanyak

negara berkembang, termasuk Indonesia. Ubi jalar merah memiliki kandungan β

-karoten atau provitamin A yang tinggi yaitu 7.700 IU per 100 gr sehingga

memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai sumber β-karoten alami (Sutomo,

2007).

Ubi jalar dapat diproses menjadi tepung yang bisa diolah menjadi aneka

produk makanan yang mempunyai nilai tambah tinggi. Proses penepungan dapat

mengkonversi bahan pangan lokal menjadi produk pangan bernilai gizi tinggi,

bernilai tambah, dan bercita rasa sesuai selera masyarakat, serta harganya terjangkau

oleh masyarakat luas. Hal ini sejalan dengan pendapat para ahli pangan bahwa

pemanfaatan bahan pangan berkarbohidrat tinggi dalam bentuk tepung lebih

menguntungkan, karena lebih fleksibel, mudah dicampur (dibuat komposit), dapat

diperkaya gizinya (fortifikasi), ruang tempat lebih efisien, daya tahan simpan lebih

lama, dan sesuai dengan tuntutan kehidupan modern yang serba praktis (Damardjati

et al., 2000).

Pada umumnya, bahan dasar pembuatan mi adalah tepung terigu. Tepung

terigu diperoleh dari biji gandum (Triticum vulgare) yang digiling. Tepung terigu

berfungsi membentuk struktur mi, sumber protein dan karbohidrat. Kandungan

protein utama tepung terigu yang berperan dalam pembuatan mi adalah gluten.

Gluten dapat dibentuk dari gliadin (prolamin dalam gandum) dan glutenin. Protein

dalam tepung terigu untuk pembuatan mi harus dalam jumlah yang cukup tinggi

supaya mi menjadi elastis dan tahan terhadap penarikan sewaktu proses produksinya.

Tepung terigu merupakan produk import sehingga perlu dilakukan alternatif

(18)

dianggap memiliki kandungan gizi yang lebih lengkap terutama kandungan vitamin A

dan antioksidan. Disamping itu juga menambah penganekaragaman makanan. Dan

secara tidak langsung juga telah mensubtitusi penggunaan beras dan tepung terigu,

apalagi saat ini harga tepung terigu semakin mahal.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka sebagai permusan masalah adalah

bagaimana hasil uji daya terima mi basah yang dimodifikasi dengan tepung ubi jalar

orange.

1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui hasil uji daya terima mi basah yang dimodifikasi dengan

tepung ubi jalar orange.

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Untuk membuat mi basah ditambahkan dengan tepung ubi jalar orange (25%,

50% dan 75%).

2. Mengetahui daya terima mi basah yang terbuat dari tepung terigu dengan

penambahan tepung ubi jalar orange sebanyak 25%, 50% dan 75%

1.4. Manfaat Penelitian

Sebagai salah satu cara dalam pemanfaatan produk pangan lokal dan

(19)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Ubi Jalar/ Ketela Rambat ( Ipomoea batatas ) 2.1.1. Sejarah Singkat

Ubi jalar atau ketela rambat atau “sweet potato” diduga berasal dari Benua

Amerika. Para ahli botani dan pertanian memperkirakan daerah asal tanaman ubi jalar

adalah Selandia Baru, Polinesia, dan Amerika bagian tengah. Nikolai Ivanovich

Vavilov, seorang ahli botani Soviet, memastikan daerah sentrum primer asal tanaman

ubi jalar adalah Amerika Tengah.

Ubi jalar mulai menyebar ke seluruh dunia, terutama negara-negara beriklim

tropika pada abad ke-16. Orang-orang Spanyol menyebarkan ubi jalar ke kawasan

Asia, terutama Filipina, Jepang, dan Indonesia (Purwono dan Purnawati, 2007).

2.1.2. Manfaat Ubi jalar

Ubi jalar dapat berfungsi sebagai sumber makanan pokok bagi sebagian besar

penduduk di Indonesia khususnya di pedesaan. Ubi jalar juga dapat diolah menjadi

bahan baku untuk industri makanan misalnya pembuatan es krim, cake ubi, ubi keju,

kue ubi sayur, macaroni ubi jalar, puding ubi jalar, ubi panggang, pembuatan alkohol

dan masih banyak lagi fungsi dari ubi jalar dapat nilai ekonomis yang tinggi.

Selain direbus atau digoreng, ubi jalar dapat diolah jadi keripik, tepung ubi

jalar, bahan campuran garam meja, dan bahan MSG (Monosodium Glutamat).

Tepung ubi jalar dapat dibuat menjadi cookies, jam, kecap, muffin, dan lain-lain. Hal

(20)

rendah dan kadang-kadang rasanya agak pahit. Untuk meningkatkan kadar protein

tersebut, dalam pembuatan kue tepung ubi jalar dapat dicampur dengan kacang hijau

atau kacang kedelai. Sedangkan untuk memperbaiki rasanya dapat dilakukan dengan

menambahkan bahan flavor (Masaharu, 2006) .

Manfaat lain ubi jalar orange untuk mengendalikan produksi hormon

melatonin yang dapat bekerja menghasilkan kelenjar pineal di dalam otak. Melatonin

merupakan antioksidan andal yang menjaga kesehatan sel dan sistem saraf otak,

sekaligus mereparasinya jika ada kerusakan. Kekurangan asupan vitamin A

menghambat produksi melatonin dan menurunkan fungsi saraf otak sehingga muncul

gangguan tidur dan berkurangnya daya ingat. Keterbatasan produksi melatonin

berakibat menurunkan produksi hormon endokrin, sehingga sistem kekebalan tubuh

merosot. Kondisi ini memudahkan terjadinya infeksi dan mempercepat laju proses

penuaan. Ubi jalar orange yang berlimpah vitamin A dan E dapat mengoptimumkan

produksi hormon melatonin (Usmiati, 2005).

Ubi jalar juga bisa dijadikan obat karena mengandung prebiotik. Prebiotik ini

penting sekali karena sebagai pakan mikroba di dalam usus sehingga pencernaan akan

menjadi sehat. Selain beta-karoten dan prebiotik, ubi jalar ternyata banyak

mengandung zat antioksidan yang dapat dijadikan pewarna alami.

Dengan rajin makan ubi jalar orange, ketajaman daya ingat dan kesegaran

kulit serta organ tubuh tetap terjaga. Kombinasi vitamin A (betakaroten) dan vitamin

E (tokoferol) dalam ubi jalar orange bekerja sama untuk mencegah stroke dan

serangan jantung. Beta karotennya mencegah stroke sementara vitamin E ubi jalar

(21)

munculnya serangan jantung dapat dicegah. Manfaat tersebut didukung pula oleh

kandungan serat dalam ubi jalar orange. Ubi jalar orange merupakan umbi-umbian

yang mengandung senyawa antioksidan paling lengkap. Hampir semua zat gizi yang

terkandung dalam ubi jalar orange mendukung kemampuannya memerangi serangan

jantung koroner. Kesimpulan dari sebuah hasil penelitian yang menyebutkan kalium

dalam ubi jalar orange dapat mencegah 40% resiko penderita hipertensi terserang

stroke fatal. Sementara tekanan darah yang berlebihan pun merosot sekitar 25 %. Jika

demikian kenyataannya, kita jangan pernah lagi menganggap remeh ubi jalar orange

(Usmiati, 2005).

Vitamin A sangat berperan dalam proses pertumbuhan, reproduksi,

penglihatan, serta pemeliharaan sel-sel epitel pada mata. Vitamin A juga sangat

penting dalam meningkatkan daya tahan dan kekebalan tubuh terhadap serangan

penyakit. Ubi jalar merupakan antioksidan yang kuat untuk menetralisir keganasan

radikal bebas, penyebab penuaan dini dan pencetus aneka penyakit degeneratif seperti

kanker dan penyakit jantung. Jadi hal ini juga akan meningkatkan daya tahan dan

kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit degeneratif. Ubi jalar juga dapat

menghaluskan kulit dan menyehatkan mata. Hal ini sangat penting terutama bagi

wanita yang ingin berkulit halus dan memiliki kecantikan alami. Selain kandungan

betakaroten dan vitamin A yang tinggi, ubi jalar mengandung banyak karbohidrat

(75-90 persen) yang terdiri dari pati (60-80 persen berat kering), gula (4-30 persen

(22)

2.1.3. Komposisi Gizi Ubi Jalar

Tabel 2.1. Kandungan Gizi Ubi Jalar Tiap 100 Gram Bahan

(mg)

Meskipun kandungan karbohidrat dan gula pada ubi jalar tinggi, lemak

hampir tidak ditemukan. Selain rendah lemak, ubi jalar juga bebas kolesterol, sumber

serat, kalori, dan vitamin C yang merupakan antioksidan yang membantu

memperlambat proses penuaan (Suismono, 1995).

Ubi jalar selain sebagai sumber karbohidrat yang baik, juga sebagai sumber

serat pangan dan sumber beta karoten yang baik. Karbohidrat yang dikandung ubi

jalar masuk dalam klasifikasi low gliycemix Index (LGI, 54) artinya komoditi ini

(23)

Betakaroten atau zat warna jingga banyak terdapat pada ubi jalar

orange/merah, ubi jalar ungu, wortel, kentang, tomat, mangga, pepaya, jeruk, labu,

bayam dan lain-lain. Jika mengkonsumsi ubi jalar orange dan bahan lain yang

mengandung betakaroten kita tidak hanya memasok betakaroten tetapi akan

memperoleh seluruh bentuk karotenoid yang ada di dalamnya ( Sibuea, 2006).

Adapun fungsi betakaroten antara lain (Harli, 2000) :

1. Sebagai prekursor vitamin A yang secara enzimatis berubah menjadi retinol zat

aktif vitamin A dalam tubuh. Dilaporkan konsumsi vitamin A yang selalu cukup

dalam jangka waktu beberapa tahun, di dalam hati akan tertimbun cadangan

vitamin A yang dapat memenuhi kebutuhan sampai sekitar tiga bulan tanpa

konsumsi vitamin A dari makanan. Vitamin A sangat berperan dalam proses

pertumbuhan, reproduksi, penglihatan, serta pemeliharaan sel-sel epitel pada

mata. Vitamin A juga sangat penting dalam meningkatkan daya tahan dan

kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit.

2. Sebagai anti-oksidan yang kuat untuk menetralisir keganasan radikal bebas,

penyebab penuaan dini dan pencetus aneka penyakit degeneratif seperti kanker

dan penyakit jantung. Jadi hal ini juga akan meningkatkan daya tahan dan

kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit degeneratif.

3. Menghaluskan kulit dan menyehatkan mata. Hal ini sangat penting terutama bagi

(24)

2.1.4. Tepung Ubi Jalar

Tepung ubi jalar mengandung protein 3% (bk=basis kering), lemak 0,6% (bk),

karbohidrat 94% (bk), dan abu 2% (bk) (Antarlina, 1994). Tepung ubi jalar relatif

tahan lama disimpan yaitu sampai 2 bulan tanpa menimbulkan bau, perubahan warna,

serangan jamur, dan serangga (Setyono dan Thahir, 1994). Tepung ubi jalar ini sangat

potensial sebagai bahan baku produk-produk pangan berbasis tepung dan mampu

bersaing dari segi kualitas produk yang dihasilkan. Sebagai bahan baku kue kering

(cookies) dan cake, penggunaan tepung ubi jalar dapat mencapai 50–100%. Variasi

resep yang digunakan tergantung pada selera pembuat sedangkan cara pembuatannya

mengikuti cara pembuatan kue berbahan baku terigu. Penggunaan tepung ubi jalar

sebagai bahan baku kue juga menguntungkan karena dapat menghemat kebutuhan

gula sampai dengan 20%. Sementara untuk bahan baku roti tawar, mi kering dan mi

basah, tepung ubi jalar dapat mengganti/mensubstitusi terigu masing-masing sebesar

10% dan 20% (Heriyanto, et al., 1999).

Untuk meningkatkan kualitas gizi tepung ubi jalar, terutama protein, tepung

ubi jalar dapat diperkaya dengan cara mencampurnya dengan berbagai jenis tepung

kacang-kacangan, seperti kacang kedelai, kacang tunggak, kacang hijau, kacang

komak dan lain-lain (tepung komposit). Kualitas fisik dan kimia tepung komposit ubi

jalar sangat tergantung pada perbandingan komposisi antara jumlah dan jenis

kacang-kacangan yang digunakan. Sebagai contoh, tepung komposit ubi jalar dengan kacang

hijau (75:25), mengandung 9% protein, 0,55% lemak, dan 2,13% serat (Utomo dan

(25)

Kandungan gizi tepung ubi jalar tergantung pada varietas ubi jalar dan

lingkungan. Kandungan gizi tepung ubi jalar dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 2.2. Kandungan Gizi Tepung Ubi Jalar per 100 Gram Bahan No. Parameter

Sumber : Susilawati dan Medikasari, (2008)

2.1.5. Perbedaan Tepung Ubi Jalar Orange dan Tepung Terigu

Terdapat 2 perbedaan mendasar yang membedakan tepung ubi jalar orange

dan tepung terigu. Pertama, tepung ubi jalar orange tidak mengandung gluten. Gluten

adalah senyawa protein pada terigu yang memberikan elastisitas dan ekstensibilitas

pada mi. Kedua, menurut Kearsley dan Dziedzic (1995), dibandingkan pati lainnya,

pati ubi jalar orange mengandung amilopektin yang tinggi (87%). Dibandingkan

amilosa, amilopektin memiliki kekentalan yang lebih tinggi, sehingga adonan pati ubi

jalar orange secara umum bersifat lengket dan memiliki tingkat kekentalan yang

(26)

2.2. Penganekaragaman Produk Ubi Jalar

Menurut Soekarto (1990) dalam Antarlina et al. (1994), pengertian

diversifikasi pangan adalah suatu usaha membudidayakan pola makan dan tata menu

yang melibatkan pemanfaatan semua sumberdaya pangan yang diproduksi agar

dicapai kesejahteraan baik dari segi kecukupan gizi maupun kecukupan pangan.

Diversifikasi pangan dapat dilakukan baik secara horizontal maupun vertikal. Secara

vertikal, artinya tidak tergantung dan memanfaatkan satu jenis komoditas tanaman

pangan saja (beras), tetapi beragam komoditas lainnya, seperti jagung, ubi kayu, ubi

jalar, dan lain-lain. Sementara diversifikasi secara horizontal dilakukan dengan

mengolah beragam jenis produk dari satu jenis komoditas tanaman pangan, baik dari

bahan segar maupun setengah jadi (produk antara).

Menurut Bunasor (1990) dalam Antarlina et al. (1994), pola diversifikasi

pangan dapat dilakukan melalui penganekaragaman makanan pokok, lauk-pauk dan

makanan kecil (snacks). Selain memperluas pemanfaatan komoditas tanaman pangan,

diversifikasi pangan juga memberi peluang bagi berkembangnya industri pengolahan

(agroindustri) baik skala kecil, menengah maupun besar, memberi nilai tambah untuk

produk olahannya, membuka lapangan kerja baru dan menambah gairah petani untuk

meningkatkan produksi guna menjaga kelangsungan pasokan bahan baku.

Penganekaragaman produk olahan ubi jalar dapat dilakukan baik pada bahan

segar maupun setengah jadi (produk antara) yang selanjutnya dapat langsung

dipasarkan atau diolah menjadi produk makanan siap santap. Produk segar ubi jalar

dapat berupa saos, selai, keripik, dan jus; sedang produk setengah jadi dapat berupa

(27)

mengatasi melimpahnya produksi ubi jalar pada saat panen raya yang kerapkali

merugikan petani akibat merosotnya harga karena ubi jalar segar tidak tahan lama

disimpan. Bentuk setengah jadi, seperti tepung akan lebih awet disimpan dan

fleksibel karena dapat digunakan sebagai bahan baku atau campuran tepung beras,

ketan, atau terigu yang telah umum dikenal dan digunakan masyarakat dalam

pengolahan makanan.

Untuk menjamin ketersediaan ubi jalar segar yang mutunya baik, perlu

diperhatikan penanganan pascapanennya, yang meliputi penentuan umur panen

optimum, cara panen, dan penyimpanan segar. Hal ini penting karena kadar air ubi

jalar yang relatif tinggi (>60%) menyebabkan umbi sangat mudah rusak (busuk,

bertunas) bila disimpan pada suhu kamar. Teknik penanganan sederhana yang relatif

mudah untuk diterapkan baik ditingkat petani maupun pedagang dan pengolah,

diharapkan dapat mempertahankan mutu fisik ubi jalar sebagai bahan baku untuk

produk olahan segar maupun produk antara.

2.3. Mi

Secara umum mi dapat digolongkan menjadi dua, mi kering dan mi basah. Mi

basah adalah mi yang dipasarkan dalam keadaan mentah, biasanya jenis mi ini

memiliki daya tahan 1 sampai 2 hari. Mi kering adalah mi basah yang melewati tahap

penggorengan sehingga memiliki daya tahan yang lebih lama.

Mi merupakan salah satu jenis makanan yang paling populer di Asia

khususnya di Asia Timur dan Asia Tenggara. Menurut catatan sejarah, mi pertama

(28)

dinasti Han. Mi berkembang dan menyebar ke Jepang, Korea, Taiwan dan

negara-negara di Asia Tenggara bahkan meluas sampai ke benua Eropa. Menurut buku-buku

sejarah, di benua Eropa mi mulai dikenal setelah Marco Polo berkunjung ke Cina dan

membawa oleh-oleh mi. Namun pada perkembangannya di Eropa mi berubah

menjadi pasta seperti yang kita kenal saat ini (Winneke, 2007).

Mi adalah adonan tipis dan panjang yang telah digulung, dikeringkan, dan

dimasak dalam air mendidih. Istilah ini juga merujuk kepada mi kering yang harus

dimasak kembali dengan dicelupkan dalam air. Orang Italia, Tionghoa, dan Arab

telah mengklaim bangsa mereka sebagai pencipta mi, meskipun tulisan tertua

mengenai mi berasal dari Dinasti Han Timur, antara tahun 25 dan 220 Masehi. Pada

Oktober 2005, mi tertua yang diperkirakan berusia 4.000 tahun ditemukan di Qinghai,

Tiongkok.

Mi adalah nama lazimnya. Orang Eropa menyebutnya pasta (dari bahasa

Italia) secara generik, dan noodle (bahasa Inggis) untuk pasta yang berbentuk

memanjang. Namun begitu, di Eropa bahan baku mi biasanya dari jenis-jenis gandum

sementara di Asia bahan baku mi lebih bervariasi. Di Asia sendiri, pasta yang dibuat

selalu berbentuk memanjang. Berbagai bentuk mi dapat ditemukan diberbagai tempat.

Perbedaan mi terjadi karena campuran bahan, asal-usul tepung sebagai bahan baku,

serta teknik pengolahan.

Mi merupakan bahan pangan yang cukup potensial, selain harganya relatif

murah dan praktis mengolahnya, mi juga mempunyai gandungan gizi yang cukup

(29)

karbohidrat 50.0 gr, mineral 1.7 mg dan kalsium 49 mg. Ditilik dari kandungan

gizinya, mi rendah akan kandungan kalorinya sehingga cocok untuk orang yang

sedang menjalani diet rendah kalori (Arixs, 2006).

Tepung terigu merupakan bahan dasar pembuatan mi. Tepung terigu diperoleh

dari biji gandum (Triticum vulgare) yang digiling. Tepung terigu berfungsi

membentuk struktur mi, sumber protein dan karbohidrat. Kandungan protein utama

tepung terigu yang berperan dalam pembuatan mi adalah gluten. Gluten dapat

dibentuk dari gliadin (prolamin dalam gandum) dan glutenin. Protein dalam tepung

terigu untuk pembuatan mi harus dalam jumlah yang cukup tinggi supaya mi menjadi

elastis dan tahan terhadap penarikan sewaktu proses produksinya. Bahan-bahan lain

yang digunakan antara lain air, garam, bahan pengembang, zat warna, bumbu dan

telur (Astawan, 2006).

Air berfungsi sebagai media reaksi antara gluten dan karbohidrat, melarutkan

garam, dan membentuk sifat kenyal gluten. Pati dan gluten akan mengembang dengan

adanya air. Air yang digunakan sebaiknya memiliki pH antara 6-9, hal ini disebabkan

absorpsi air makin meningkat dengan naiknya pH. Makin banyak air yang diserap, mi

menjadi tidak mudah patah. Jumlah air yang optimum membentuk pasta yang baik.

Garam berperan dalam memberi rasa, memperkuat tekstur mi, meningkatkan

fleksibilitas dan elastisitas mi serta mengikat air. Garam dapat menghambat aktivitas

enzim protease dan amilase sehingga pasta tidak bersifat lengket dan tidak

(30)

Putih telur akan menghasilkan suatu lapisan yang tipis dan kuat pada

permukaan mi. Lapisan tersebut cukup efektif untuk mencegah penyerapan minyak

sewaktu digoreng dan kekeruhan saus mi sewaktu pemasakan. Lesitin pada kuning

telur merupakan pengemulsi yang baik, dapat mempercepat hidrasi air pada terigu,

dan bersifat mengembangkan adonan (Pamudjirahar, 1981).

Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan mi basah beserta jumlahnya

dapat dilihat pada tabel 2.3.

Tabel 2.3. Bahan dan Jumlah Bahan yang Digunakan untuk Pembuatan Mi Basah

Bahan Jumlah Tepung terigu segitiga biru

Garam Sumber : Astawan, M, 2008.

Langka-langkah dalam pembuatan mi basah adalah sebagai berikut (Astawan,

M, 2008) :

1. Pencampuran bahan

Bahan-bahan yang telah disiapkan nantinya dicampur semuanya, kecuali

minyak goreng. Pada proses pencampuran ini, pertamanya tepung terigu ditaruh di

atas meja pencampuran. Tepung terigu disusun menjadi suatu gundukan dengan

lubang di tengah-tengah kemudian ditambahkan bahan-bahan lain ke dalam lubang

tersebut. Secara perlahan-lahan, campuran tersebut diaduk rata dan ditambah air

sampai membentuk adonan yang homogen, yaitu menggumpal bila dikepal dengan

(31)

2. Pengulenan adonan

Adonan yang sudah membentuk gumpalan selanjutnya diuleni. Pengulenan ini

dapat menggunakan alat kayu berbentuk silinder dengan diameter 7 cm dan panjang

1,75 m. Pengulenan dilakukan secara berulang-ulang selama sekitar 15 menit.

3. Pembentukan lembaran

Adonan yang sudah kalis dibagi menjadi dua bagian dengan menggunakan

pisau. Bagian yang pertama dimasukkan ke dalam mesin pembentuk lembaran yang

diatur ketebalannya secara berulang kali (4-5 kali) sampai ketebalan lembar mi

mencapai 1,5-2mm. Lembar yang keluar dari mesin dibedaki dengan tepung tapioka

agar tidak menyatu kembali. Bagian yang kedua pun diperlakukan seperti potongan

yang pertama. Proses pembentukan lembaran ini berlangsung sekitar 20 menit.

4. Pembentukan Mi

Proses pembentukan mi ini umumnya sudah dilakukan dengan alat pencetak

mi (roll press) yang digerakkan tenaga listrik. Alat ini mempunyai dua rol. Rol

pertama berfungsi untuk menipiskan lembaran mi dan rol kedua berfungsi untuk

mencetak mi.

5. Perebusan

Perebusan dilakukan hanya pada pembuatan mi basah. Air dimasukkan ke

wajan kemudian dimasak sampai mendidih. Mi dimasak selama 2 menit sambil

diaduk perlahan. Api yang digunakan untuk merebus mi harus besar supaya waktu

perebusan singkat. Apabila waktu perebusannya lama, mi akan menjadi lembek

(32)

6. Pendinginan

Mi hasil perebusan kemudian ditiriskan dalam wadah bambu atau plastik.

Selanjutnya, didinginkan dan ditambahkan minyak kacang agar tekstur mi lebih

kelihatan halus dan antarpilimam tidak lengket.

2.5. Daya Terima

Penilaian daya terima menggunakan uji organoleptik metode hedonik meliputi

warna, aroma, rasa dan tekstur (Misnawi dan wahyudi, 1999). Penilaian organoleptik

disebut juga penilaian dengan indera atau penilaian sensorik merupakan suatu cara

penilaian yang paling sederhana. Penilaian organoleptik banyak digunakan untuk

menilai mutu komoditi hasil pertanian dan makanan. Penilaian dengan cara ini

banyak disenangi karena dapat dilaksanakan dengan cepat dan langsung.

Kadang-kadang penilaian ini dapat memberikan hasil penelitian yang sangat teliti, sifat

subjektif pangan lebih umum disebut organoleptik atau sifat inderawi karena

penilaian didasarkan pada rangsangan sensorik pada organ indera (Soekarto, 2002).

Soekarto (2000), mengemukakan bahwa uji penerimaan meliputi uji kesukaan

(hedonik) dan uji mutu hedonik. Dalam uji hedonik panelis diminta untuk

menyatakan tanggapan pribadinya tentang tingkat kesukaan terhadap suatu produk.

Tingkat kesukaan ini disebut skala hedonik yang dapat direntangkan atau diciutkan

menurut rentangan skala yang dikehendaki. Kemudian dalam analisis data skala

hedonik tersebut ditransformasikan dalam skala numerik dan dilakukan analisis

(33)

2.6. Kerangka Konsep Penelitian

Ubi Jalar Orange

Tepung terigu protein tinggi (75%, 50%, 25%) Bahan :

- Garam - Telur

- Minyak goreng - Air

Tepung ubi jalar Orange (25%, 50%, 75%)

Mi Basah

Uji Daya Terima

(Aroma, Warna, Rasa dan Tekstur)

Gambar 1. Kerangka Konsep Penelitian

Keterangan :

Bagan diatas menjelaskan bahwa tepung ubi jalar orange dicampur dengan

tepung terigu dalam jumlah yang berbeda dan ditambah dengan bahan lainnya

(garam, baking powder, telur, dan air) untuk digunakan dalam pembuatan mi. Dari

(34)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah eksperimen, yaitu uji daya terima mi basah yang

dimodifikasi dengan tepung ubi jalar orange.

3.2. Waktu dan Tempat Eksperimen

Pembuatan mi basah dan Uji Daya Terima dilaksanakan pada bulan April

2010, di Laboratorium Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara.

3.3. Panelis

Panelis dalam penelitian ini adalah panelis tidak terlatih yaitu mahasiswa

FKM USU sebanyak 30 orang yang digunakan untuk menguji tingkat kesukaan mi

basah yang terbuat dari campuran tepung terigu ditambah dengan tepung ubi jalar

orange.

3.4. Bahan Penelitian

Penggunaan bahan pada penelitian ini dipilih bahan yang berkualitas baik,

misalnya kondisi bahan masih baik, tidak busuk. Adapun bahan yang digunakan di

(35)

Tabel 3.1. Jenis dan Ukuran Bahan

Kelompok Eksperimen Bahan

U1 U2 U3

Tepung ubi jalar orange

Tepung terigu berprotein tinggi Garam

3.5. Peralatan yang Digunakan

Peralatan yang digunakan di dalam pelaksanaan penelitian ini dipilih yang

kondisinya masih baik dan higienis. Peralatan yang digunakan yaitu :

- Gilingan tepung - Alat pembuat mi (ampia)

- Ayakan - Pisau

- Talenan - Baskom

- Kompor gas - Saringan

(36)

3.7. Proses Pembuatan Tepung Ubi Jalar Orange dan Tahap-Tahap Pembuatan Mi Basah Dari Tepung Ubi Jalar Orange

3.6.1. Proses Pembuatan Tepung Ubi Jalar 1. Umbi dibersihkan dari tanah dan kotoran.

2. Kulitnya dikupas/dilepas dari umbinya.

3. Disawut (diiris tipis-tipis).

4. Dikeringkan dengan matahari.

5. Sawut kering digiling dan diayak

6. Tepung ubi jalar

3.6.2. Tahap-Tahap Pembuatan Mi Basah Dari Tepung Ubi Jalar Orange 1. Pembuatan tepung ubi jalar orange

Ubi jalar orange yang masih segar dikupas, dicuci, diiris, dikeringkan,

digiling dan diayak.

2. Pencampuran bahan

Tepung terigu dicampur dengan tepung ubi jalar orange, tujuannya supaya

tepung ini menjadi homogen dan warnanya merata, baru dilakukan pencampuran

tahap berikutnya. Tahap pencampuran bertujuan agar hidrasi tepung dengan air

berlangsung secara merata dan menarik serat-serat gluten. Bahan-bahan yang telah

disiapkan nantinya akan dicampur semuanya. Pada proses pencampuran ini,

pertamanya tepung diletakkan diatas meja pencampuran. Secara perlahan-lahan,

campuran tersebut diaduk rata dan ditambah air sampai membentuk adonan yang

homogen, yaitu menggumpal bila dikepal dengan tangan. Untuk mendapatkan adonan

yang baik harus diperhatikan jumlah penambahan air, total tepung yang digunakan

(37)

3. Pembentukan lembaran

Pembentukan lembaran bertujuan untuk menghaluskan serat-serat gluten dan

membuat lembaran adonan. Pada waktu pembentukan lembaran sebaiknya tidak

bersuhu rendah yaitu kurang dari 250C (suhu kamar), karena pada suhu tersebut

menyebabkan lembaran pecah-pecah dan kasar. Mutu lembaran pasta yang demikian

akan menghasilkan mi yang mudah patah.

4. Pembentukan mi

Diakhir proses pembentukan lembaran, lembar adonan yang tipis dipotong

memanjang dengan menggunakan rool pemotong mi, dan selanjutnya dipotong

melintang pada panjang tertentu, sehingga dalam keadaan kering menghasilkan berat

standar.

5. Perebusan

Setelah pembentukan mi dilakukan proses perebusan. Pada proses ini terjadi

gelatinisasi pati dan koagulasi gluten sehingga dengan terjadinya dehidrasi air dari

gluten akan menyebabkan timbulnya kekenyalan mi. Hal ini disebabkan oleh

putusnya ikatan hidrogen, sehingga rantai ikatan kompleks pati dan gluten lebih

rapat. Pada waktu sebelum dikukus, ikatan bersifat lunak dan fleksibel, tetapi setelah

dikukus menjadi keras dan kuat. Perebusan dilakukan selama 2 menit pada suhu

1000C.

6. Pendinginan

Mi hasil perebusan kemudian ditiriskan dalam wadah bambu atau plastik.

Selanjutnya, didinginkan dan bisa ditambahkan minyak makan agar tekstur mi lebih

kelihatan halus dan antar pilinan tidak lengket. Untuk lebih jelasnya maka dapat

(38)

(39)

3.7. Definisi Operasional

a. Tepung ubi jalar orange adalah tepung yang diperoleh dari ubi jalar orange yang

masih segar yaitu dengan cara dikupas, dicuci, diiris, dikeringkan, digiling dan

diayak.

b. Mi basah adalah mi hasil modifikasi tepung ubi jalar orange (25%, 50% dan 75%

dari jumlah tepung terigu).

c. Daya Terima adalah tingkat kesukaan panelis yaitu mahasiswa FKM USU

terhadap mi basah yang terbuat dari campuran tepung terigu ditambah dengan

tepung ubi jalar orange yang meliputi indikator warna, tekstur, aroma dan rasa.

d. Warna adalah corak rupa yang ditimbulkan oleh mi basah yang dapat dibedakan

dengan indera penglihatan pada mi basah berbasis ubi jalar orange.

e. Rasa adalah bagian dari organoleptik yang ditimbulkan oleh mi basah yang dapat

dirasakan oleh indera pengecap pada mi basah berbasis ubi jalar orange.

f. Aroma adalah bagian dari organoleptik yang ditimbulkan oleh mi basah yang

dapat dirasakan oleh indera penciuman.

g. Tekstur adalah tingkat kekenyalan dari mi basah berbasis ubi jalar orange.

h. Panelis adalah mahasiswa yang digunakan untuk menguji tingkat kesukaan

terhadap mi basah yaitu sebanyak 30 panelis.

3.8. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

metode penilaian. Metode penilaian di dalam eksperimen ini yaitu penilaian

(40)

suatu komoditi dengan menggunakan panelis sebagai instrumen atau alat. Metode ini

digunakan untuk mengumpulkan data tentang tingkat kesukaan terhadap mi basah

berbasis ubi jalar merah.

Dalam pengujian ini panelis mengemukakan responnya yang berupa suka atau

tidak sukanya terhadap sifat produk hasil eksperimen yang diuji (Kartika dkk,1988)

yaitu mi basah berbasis ubi jalar orange. Pada pengujian organoleptik ini

menggunakan skala hedonik dengan lima (5) kriteria kesukaan dan diberi skor

sebagai berikut :

Tabel 3.2. Pemberian Skor Pada Skala Hedonik

Skala Hedonik Skala Numerik

Sangat Suka Suka

Cukup Suka Kurang Suka Tidak Suka

(41)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1. Distribusi Panelis Berdasarkan Kelompok Umur

Panelis yang mengukur tingkat kesukaan terhadap mi basah yaitu mahasiswa

FKM USU. Pangelompokan umur panelis dapat dilihat pada tabel 4.1.

Tabel 4.1. Distribusi Panelis Berdasarkan Kelompok Umur

No. Umur Jumlah Persentase

(%)

Dari Tabel 4.1 dapat dilihat bahwa kelompok umur panelis paling banyak

berada pada kelompok umur 20-24 tahun sebanyak 14 orang (46,70%), sedangkan

yang paling sedikit yaitu < 20 tahun sebanyak 2 orang (6,70%).

4.2. Distribusi Panelis Berdasarkan Jenis Kelamin

Dari hasil penelitian diperoleh jumlah panelis berdasarkan jenis kelamin yang

dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.2. Distribusi Panelis Berdasarkan Jenis Kelamin

No. Jenis Kelamin Jumlah Persentase

(%)

1. Laki-laki 6 20,00

2. Perempuan 24 80,00

Jumlah 30 100,00

Dari Tabel 4.2 dapat kita ketahui bahwa sebagian besar adalah perempuan

yang menjadi panelis yaitu sebanyak 24 orang (80,00%), sehingga diperoleh laki-laki

(42)

4.3. Daya Terima Panelis terhadap Mi Basah dengan Penambahan Tepung Ubi Jalar Orange Berdasarkan Indikator Rasa, Aroma, Warna dan Tekstur

Dalam menentukan tingkat kesukaan panelis terhadap mi basah yang terbuat

dari campuran tepung terigu ditambah dengan tepung ubi jalar orange berdasarkan

indikator rasa, aroma, warna dan tekstur.

4.3.1. Indikator Rasa

Rasa mi basah sangat mempengaruhi tingkat kesukaan panelis, bahkan dapat

dikatakan merupakan faktor penentu utama. Hasil penilaian panelis terhadap mi basah

berdasarkan indikator rasa dapat dilihat pada tabel 4.3.

Tabel 4.3. Daya Terima Panelis terhadap Mi Basah dengan Penambahan Tepung Ubi Jalar Orange pada Indikator Rasa

No. Sampel Skor Rata-rata Kriteria

Tabel 4.3 dapat menunjukkan bahwa dari hasil penilaian 30 panelis yaitu

mahasiswa FKM-USU, dalam uji kesukaan pada indikator rasa yang paling disukai

adalah sampel U1 25 yaitu perbandingan jumlah tepung ubi jalar orange dan tepung

terigu 25%:75% dengan jumlah skor 112 dan nilai rata-rata 3,73, sehingga kriteria

(43)

4.3.2. Indikator Aroma

Aroma merupakan bau yang sukar diukur sehingga biasanya menimbulkan

pendapat yang berlainan dalam menilai kualitas aromanya. Dari hasil penelitian

diperoleh tingkat kesukaan panelis terhadap mi basah berdasarkan indikator aroma

seperti pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.4. Daya Terima Panelis terhadap Mi Basah dengan Penambahan Tepung Ubi Jalar Orange pada Indikator Aroma

No. Sampel Skor Rata-rata Kriteria

Dari Tabel 4.4 dapat diketahui bahwa jumlah skor tertinggi dalam uji kesukaan

mi basah pada indikator aroma adalah 108 yaitu pada sampel U125 dan nilai rata-rata

3,60 dengan kriteria kesukaan yaitu antara cukup suka hingga suka.

4.3.3. Indikator Warna

Warna makanan yang menarik dapat mempengaruhi tingkat kesukaan panelis

dan membangkitkan selera makan. Hasil penilaian panelis terhadap mi basah

berdasarkan indikator warna dapat dilihat pada tabel 4.5.

Tabel 4.5. Daya Terima Panelis terhadap Mi Basah dengan Penambahan Tepung Ubi Jalar Orange pada Indikator Warna

(44)

Dari Tabel 4.5 dapat diketahui bahwa jumlah skor tertinggi dalam uji kesukaan

mi basah pada indikator warna adalah 100 dengan nilai rata-rata 3,33 yaitu pada

sampel U125 dengan dengan kriteria kesukaan yaitu cukup suka hingga suka.

4.3.4. Indikator Tekstur

Tingkat kekenyalan mi basah sangat ditentukan oleh jumlah tepung ubi jalar

orange yang ditambahkan. Dari hasil penilaian panelis terhadap mi basah diperoleh

tingkat kesukaan panelis berdasarkan indikator tekstur seperti yang tertera pada tabel

4.6. di bawah ini.

Tabel 4.6. Daya Terima Panelis terhadap Mi Basah dengan Penambahan Tepung Ubi Jalar Orange pada Indikator Tesktur

No. Sampel Skor Rata-rata Kriteria

Kesukaan

1. U1 25 96 3,20 Cukup

suka-suka

2. U2 50 75 2,50 Kurang

suka-cukup suka

3. U3 75 59 1,97 Kurang

suka-cukup suka

Berdasarkan Tabel 4.6 dapat dilihat bahwa skor tertinggi dalam uji kesukaan

mi basah pada indikator tekstur adalah 96 yaitu pada sampel U125 dengan nilai

rata-rata 3,20 dan dengan kriteria kesukaan yaitu cukup suka hingga suka.

4.4. Komposisi Gizi Mi Basah Ubi Jalar Orange

Komposisi gizi mi basah ubi jalar orange pada masing-masing sampel dapat

(45)

Tabel 4.7. Komposisi Gizi Mi Basah dalam 100 gr bahan

No. Zat Gizi U1 U2 U3

1. Energi (kal) 228,0 224,4 218,5

2. Protein (g) 13,7 14,1 14,3

3. Lemak (g) 18,0 17,7 17,3

4. Karbohidrat/pati (g) 1,2 1,2 1,1

5. Serat (g) 1,3 1,1 0,9

6. Natrium (mg) 140,9 138,7 135,0

7. Calsium (gr) 57,3 56,4 54,9

8. Vitamin (A) (mcg) 207,0 212,7 216,1

9. Vitamin B1 (mg) 0,1 0,1 0,1

10. Vitamin B2 (mg) 0,6 0,6 0,5

(46)

BAB V PEMBAHASAN

5.1. Sifat Fisik Mi Basah

1. Mi basah dengan tepung ubi jalar orange sebanyak 25% dan tepung terigu 75%.

Sifat fisik mi basah :

− Tekstur mi lebih halus

− Lebih kenyal

− Warnanya kuning kecoklatan

2. Mi basah dengan tepung ubi jalar

halus

a coklat muda

ora nge sebanyak 75% dan tepung terigu 25%.

lat tua

h dan kasar

orange sebanyak 50% dan tepung terigu 50%.

Sifat fisik mi basah :

− Tekstur mi kurang

− Kenyal

− Warnany

3. Mi basah dengan tepung ubi jalar

Sifat fisik mi basah :

− Tidak kenyal

− Warnanya cok

− Lembaran pecah-peca

(47)

Semakin sedikit konsentrasi penambahan tepung ubi jalar orange, maka

keken

5.2. Daya Terima Konsumen terhadap Mi Basah Berdasarkan Rasa

n konsumen

terhada

ar suatu senyawa

dapat d

t mempengaruhi rasa mi adalah kualitas dan ukuran partikel

tepung

yalan produk akan semakin berkurang. Hal ini menunjukkan bahwa

karakteristik kekenyalan produk mi sangat ditentukan oleh konsentrasi tepung terigu.

Dimana tepung ubi jalar orange tidak mengandung gluten. Gluten adalah senyawa

protein pada terigu yang memberikan elastisitas pada mi. Hal ini mengakibatkan mi

yang dibuat dari tepung ubi jalar orange kurang kuat dan kurang elastis. Begitu juga

dengan warna mi basah yang dihasilkan, semakin tinggi konsentrasi tepung ubi jalar

orange yang ditambahkan, maka warna semakin lebih gelap.

Menurut Padaga, dkk (2005), rasa sangat mempengaruhi kesukaa

p makanan, bahkan dapat dikatakan merupakan faktor penentu utama. Saat ini,

rasa mi di pasaran sudah sangat beragam sehingga diperlukan kejelian dan kreatifitas

untuk memadupadankan rasa yang menjadi kegemaran konsumen.

Rasa lebih banyak melibatkan pancaindera yaitu lidah, ag

ikenali rasanya, senyawa tersebut harus dapat mengadakan hubungan dengan

mikrovilus dan impuls yang terbentuk yang dikirim melalui syaraf ke pusat susunan

syaraf (Winarno, 1992).

Faktor yang dapa

. Ukuran partikel tepung yang masih relatif besar akan memberikan rasa

berpasir pada mi. Oleh karenanya perlu dilakukan pengayakan sampai ukuran tepung

lebih kecil. Hal ini sesuai dengan komposisi mi itu sendiri, dimana tepung adalah

(48)

ubi jalar orange dalam pembuatan mi basah akan memberikan rasa dari ubi jalar itu

sendiri, sehingga pada aplikasinya mi yang dihasilkan dapat menimbulkan rasa ubi

jalar.

Hasil penilaian panelis seperti yang terlihat pada Tabel 4.3 menunjukkan

bahwa

jalar

orange

mi basah dengan penambahan tepung ubi jalar orange 50% dan 75%

memberikan tingkat kesukaan yang sama yaitu kurang suka sampai cukup suka,

namun jumlah skor pada penambahan tepung ubi jalar orange 50% lebih tinggi

dibandingkan dengan penambahan tepung ubi jalar orange 75%. Tampaknya panelis

lebih menyukai mi basah dengan penambahan tepung ubi jalar orange 25%, hal ini

dapat dilihat dari nilai rata-ratanya lebih tinggi dibanding dengan yang lainnya.

Kesukaan panelis terhadap mi basah dengan penambahan tepung ubi

25% dikarenakan rasa khas dari ubi jalar orange tidak terlalu menonjol,

dimana bila jumlah tepung ubi jalar orange semakin banyak dari jumlah tepung

terigu, maka dapat mempengaruhi tingkat kesukaan panelis terhadap mi, yaitu

cenderung semakin berkurang, panelis lebih menyukai aroma dari mi basah yang

biasa panelis konsumsi, yaitu mi yang berbahan dasar tepung terigu dan bahan-bahan

tambahan lainnya yang merupakan bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan

mi pada umumnya, sehingga apabila dicampur dengan tepung ubi jalar orange maka

(49)

5.3. Daya Terima Konsumen terhadap Mi Basah Berdasarkan Aroma

Menurut Kartika (1988) aroma adalah bau yang sukar diukur sehingga

biasanya menimbulkan pendapat yang berlainan dalam menilai kualitas aromanya.

Perbedaan pendapat disebabkan setiap orang memiliki perbedaan penciuman,

meskipun mereka dapat membedakan aroma namun setiap orang mempunyai

kesukaan yang berlainan.

Munculnya perbedaan aroma pada mi basah disebabkan karena bahan-bahan

yang digunakan dalam pembuatan mi yang masing-masing mempunyai aroma yang

khas. Dengan adanya perbedaan perbandingan jumlah tepung ubi jalar orange dan

tepung terigu yang digunakan sebagai bahan pembuatan mi sehingga akan

menghasilkan penilaian yang berbeda dari panelis.

Dengan penambahan tepung ubi jalar orange, sehingga mi basah akan

menghasilkan aroma khas yang dimiliki ubi jalar. Pada hasil uji organoleptik

menunjukkan bahwa dengan penambahan jumlah tepung ubi jalar orange 75% dalam

adonan mi, maka dapat menurunkan kesukaan panelis terhadap aroma mi yang

dihasilkan. Panelis lebih menyukai aroma normal dari mi yang biasa panelis

konsumsi, yaitu mi yang berbahan dasar tepung terigu dan bahan-bahan tambahan

lainnya yang merupakan bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan mi pada

umumnya.

Aroma yang paling disukai adalah pada mi dengan konsentrasi tepung ubi

jalar sebesar 25%. Hal ini disebabkan aroma yang dihasilkan cenderung lebih disukai

(50)

ubi jalar lebih tajam dan kurang disukai. Hal ini juga disebabkan kita masih jarang

mengkonsumsi ubi jalar, sehingga aromanya masih agak asing bagi konsumen.

5.4. Daya Terima Konsumen terhadap Mi Basah Berdasarkan Warna

Fungsi dari warna pada suatu makanan sangatlah penting, karena dapat

membangkitkan selera makan. Warna dalam suatu makanan yang dijual di pasaran

belum tentu aman, yang tidak baik untuk dikonsumsi terlalu sering karena adanya

residu logam berat pada zat pewarna tersebut sehingga berbahaya bagi kesehatan

(Winarno, 1992). Warna makanan yang menarik dapat mempengaruhi selera

konsumen dan membangkitkan selera makan.

Warna mempunyai peran dan arti yang sangat penting pada komoditas

pangan, karena mempengaruhi penerimaan konsumen terhadap komoditas tersebut.

Respon panelis terhadap warna mi basah campuran tepung terigu dan tepung ubi jalar

orange memperlihatkan bahwa mi basah dengan campuran tepung ubi jalar 50% dan

75% adalah mi yang paling tidak disukai dari segi warnanya. Hal ini disebabkan

karena pada mi ini kandungan tepung ubi jalar orange lebih tinggi daripada tepung

terigunya. Sedangkan masalah utama yang sering terjadi dalam ekstraksi pati ubi jalar

yaitu adanya reaksi pencoklatan (browning). Akibat reaksi pencoklatan timbul warna

yang tidak menarik pada pati ubi jalar atau warna pati yang semula orange menjadi

coklat dan mutunya menjadi rendah, sehingga kurang disukai oleh panelis.

Perbedaan perbandingan jumlah tepung ubi jalar orange dan tepung terigu

menyebabkan perbedaan kandungan protein yang berasal dari tepung terigu dan

(51)

Menurut Winarno (1984), reaksi maillard merupakan reaksi antara karbohidrat,

khususnya gula pereduksi dengan NH2 dari protein yang menghasilkan senyawa

hidroksimetilfurfural yang kemudian berlanjut menjadi furfural. Furfural yang

terbentuk kemudian berpolimer membentuk senyawa melanoidin yang berwarna

cokelat. Melanoidin inilah yang memberikan warna coklat pada mi.

Menurut Ferinawati (2005), semakin tinggi gluten yang ditambahkan

menyebabkan melanoidin yang dihasilkan memberikan intensitas warna yang kurang,

sehingga warna produk yang dihasilkan menjadi kuning kecokelatan. Oleh karena itu,

pada penambahan tepung ubi jalar orange sebanyak 25% menghasilkan warna yang

lebih disukai panelis, dibandingkan pada penambahan tepung ubi jalar orange

sebanyak 50% dan 75%. Menurut Winarno (1997), bahwa terbentuknya warna gelap

pada suatu bahan terjadi karena adanya reaksi antara gula reduksi dan protein pada

saat pemanasan mi basah.

5.5. Daya Terima Konsumen terhadap Mi Basah Berdasarkan Tesktur

Makin tinggi substitusi tepung terigu oleh tepung non terigu, maka makin

rendah elastisitas mi. Hal ini dikarenakan elastisitas mi basah dipengaruhi oleh

gluten. Semakin sedikit terigu yang digunakan, maka semakin rendah gluten yang ada

di dalamnya yang berarti elastisitas mi lebih rendah. Widowati (2005) menyatakan

bahwa gluten menentukan elastisitas dan stabilitas olahan dari tepung. Besarnya

protein pembentuk gluten menentukan sifat adonan dan produk yang dihasilkan.

Dari hasil penilaian panelis dapat dilihat bahwa skor tertinggi dalam uji

kesukaan mi basah pada indikator tekstur adalah 96 yaitu pada sampel U1 25 dengan

(52)

Komponen yang sangat berpengaruh pada tekstur mi adalah jumlah telur yang

digunakan, penggunaan minyak goreng dan gluten. Putih telur memberi lapisan yang

tipis dan kuat pada permukaan mi, sehingga mi menjadi tidak mudah putus. Lesitin

pada kuning telur juga merupakan pengemulsi yang baik. Lesitin merupakan

surfaktan atau pengemulsi yang terdapat di dalam kuning telur. Lesitin atau

fosfatidilkolin terdiri dari asam fosfat, kolin, asam-asam lemak, gliserol, glikolipid,

trigliserida, dan fosfolipid. Lesitin dapat menurunkan tegangan permukaan air

sehingga lemak dapat teremulsi di dalamnya dengan lebih mudah. Lesitin juga

menurunkan tegangan antar kedua cairan ini dengan mengadsorbsi di pertemuan

keduanya. Emulsi minyak dan air dalam adonan ini menjadi sangat baik karena

adanya lesitin. Minyak goreng ini dapat membuat adonan menjadi lebih halus, dan

pada akhirnya menjadi mi yang tidak mudah putus.

Karakteristik kekenyalan mi berkaitan erat dengan rasio amilosa-amilopektin

tepung ubi jalar orange. Tepung ubi jalar mengandung amilopektin yang memiliki

viskositas dan kekentalan yang tinggi, sehingga adonan berbahan baku pati ubi jalar

umumnya bersifat lengket. Amilosa memberi efek “keras”, sedangkan amilopektin

memberikan efek lunak bagi adonan. Perbedaan ini berdasarkan pada susunan

molekul yang berbeda dari kedua senyawa tersebut.

Kekenyalan mi juga amat bergantung pada gluten. Gluten memberikan

visko-elatisitas pada adonan, dan menjadikan produk akhir lebih kenyal. Gluten adalah

protein yang terdiri dari Glutenin dan Gliadin. Protein-protein ini sangat menentukan

kekuatan adonan mi. Glutenin merupakan senyawa yang dapat memberikan kekuatan

pada adonan, karena dapat menaikkan stabilitas melalui jaringan tiga dimensi yang

(53)

selama proses pembuatan adonan. Gliadin adalah senyawa glikoprotein. Protein ini

sangat diperlukan untuk memberikan pengembangan dan kekuatan adonan. Di dalam

air, molekul-molekul pati ubi jalar akan membentuk matriks dengan gluten sebagai

penyangganya. Oleh karena itu, gluten sangat dibutuhkan untuk memberikan

elastisitas pada mi. Struktur gliadin di dalam suspensi berubah bersamaan dengan

sedikit perubahan pada rentang konsentrasi, sehingga gliadin adalah senyawa yang

penting dalam menambah atau mengendalikan viskoelastisitas dari adonan (Abidin,

(54)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Konsumen lebih menerima mi basah dengan penambahan tepung ubi jalar

orange sebanyak 25% dan tepung terigu 75% berdasarkan indikator rasa, aroma

warna, dan tekstur. Hal ini dikarenakan bila jumlah tepung ubi jalar orange semakin

banyak dari jumlah tepung terigu, maka dapat mempengaruhi tingkat kesukaan

panelis terhadap mi, yaitu cenderung semakin berkurang. Panelis lebih menyukai

aroma normal dari mi basah yang biasa panelis konsumsi, yaitu mi yang berbahan

dasar tepung terigu dan bahan-bahan tambahan lainnya yang merupakan bahan-bahan

yang digunakan dalam pembuatan mi pada umumnya, sehingga apabila dicampur

dengan tepung ubi jalar orange semakin kurang disukai oleh panelis.

6.2. Saran

Perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk menghilangkan bau asam pada

tepung ubi jalar orange serta menggunakan pewarna (alami) dalam pembuatan

(55)

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z., Devi, C., dan Adeline, 2009. Mie Basah Berbahan Dasar Tepung Singkong: Pengembangan Formulasi, Proses Produksi Dan Karakterisasi Produk. Seminar Nasional Teknik Kimia Indonesia.

Bandung, 19-20 Oktober 2009. dalam

http://www.che.itb.ac.id/sntki2009/daftar/prosiding/TPM07.pdf. diakses

tanggl 12 April 2010.

Almatsier, 2006. Prinsip Ilmu Dasar Gizi, Jakarta. PT. Gramedia Pustaka Utama.

Anonim, 2008. Tinggalkan tepung impor pilihlah tepung lokal

http://juliuskurnia.wordpress.com. diakeses tanggal 4 Juni 2009

Antarlina, S.S., D. Harnowo dan E. Ginting. 1994. Teknologi pengolahan jagung untuk menunjang program diversifikasi makanan. Dalam M.M. Dahlan, A. Taufiq, Sudaryono dan A. Winarto (ed). Risalah Seminar Hasil Penelitian Tanaman Pangan di Tanah Mediteran (Alfisol): Kasus Kabupaten Lamongan. Balittan Malang. hlm 71–84.

Apraidji. W. H., 2007. Khasiat Ubi Jalar Merah Bagi Kesehatan

http://vibizlife.com/healthdetail.php?p-health&awal=470&puge=48&id=1

Diakses 16 September 2009.

Arixs. 2006. Khasiat Telo. http://people.sejatinet.com/azil/feed/. Diakses tanggal 20 November 2009.

Astawan, 2006. Membuat Mi dan Bihun. Jakarta.

Damardjati, D.S., S. Widowati dan Suismono. 2000. Sistem Pengembangan Agroindustri Tepung Kasava di Indonesia: Studi kasus di Kabupaten Ponorogo. Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor.

Ditjen Bina Produksi Tanaman Pangan. 2002. Prospek dan Peluang Agribisnis Ubi Jalar. Direktorat Kabi, Ditjen Bina Produksi Tanaman Pangan, Deptan. Jakarta. hlm 3.

FAOSTAT, 2003. Database Statistik Tentang Keseimbangan Makanan.

www.fao.ora : Diakses tgl;. 21 Juni 2009.

(56)

Heriyanto, R. Krisdiana dan S.S. Antarlina. 1999. Pengembangan agroindustri berbasis ubi jalar dalam upaya peningkatan nilai tambah dan pemberdayaan masyarakat petani. Dalam F.R. Zakaria, M. Astawan, S. Koswara dan M.T. Suhartono (ed). Prosising Seminar Nasional Teknologi Pangan. Jakarta, 12–13 Oktober 1999. hlm 416–429.

Juanda dan Cahyo, 2000. Ubi Jalar Budi Daya dan Analisis Usaha Tani. Yogyakarta.

Masaharu,W., Kopitozie. 2006. Ubi Jalar Untuk Kesehatan. (Bagi Yang Suka Ngemil). http://blog.indosiar.com/valasinfo. Diakses tanggal 20 November 2009

Moehji, Sjahmin. 1998. Ilmu Gizi dan Diet. Jakarta. Bharata Karya Aksara.

Pamudjirahar. A. 1981. Pengawetan Telur. Universitas Gadjah Mada Press, Yogyakarta.

Rukmana, 1997. Ubi Jalar Ubi Daya dan Pasca Panen. Yogyakarta.

Sarwono, B. 2005. Cara Budi Daya Yang Tepat, Efisien, dan Ekonomis Ubi Jalar. Penebar Swadaya. Jakarta.

Setyono, A. dan R. Thahir. 1994. Pembuatan dan pemanfaatan chip kering ubi jalar bentuk kubus. Dalam A. Winarto, Y. Widodo, S.S. Antarlina, H. Pudjosantoso dan Sumarno (ed). Risalah Seminar Penerapan Teknologi Produksi dan Pasca Panen Ubi jalar Mendukung Agroindustri. Balittan. Malang. hlm 67–79.

Sibuea, P. 2006. Antioksidan. Teknologi Hasil Pertanian. Unika St. Thomas SU. Medan.

Soekerto, 2002. Penilaian Organoleptik Untuk Industri Pangan dan Hasil Pertanian. Bharatara Karya Aksara, Jakarta.

Sutomo, B. 2006. Kandungan gizi Ubi Jalar Merah, Vitamin A-nya Mencapai 2010. mcg.http/budiboga.blogspot.com/2007/07/kandungan-gizi-ubi-jalar-merah-vitamihn.html. Diakses tanggal 04 Juni 2009.

Usmiati, S. 2005. Karakteristik Serbuk Ubi Jalar Kuning. Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fateta, IPB. Bogor.

(57)

Widayati, E., Damayanti, W. 2007. Dua Puluh Jenis Penanganan Dari Ubi Jalar. Penerbit Tiara Aksa. Surabaya.

Winarno, F.G. 2000. Potensi dan Peran Tepung-tepungan bagi Indsutri Pangan dan Program Perbaikan Gizi. Makalah pada Seminar Nasional Interaktif Penganekaragaman Makanan untuk Memantapkan Ketersediaan Pangan. Jakarta, Oktober 2000.

Winneke. 2007. Sejarah Mi. http://www.Yahoo.com/health/news/0010/22/541.htm. Diakses tanggal 20 November 2009

(58)

Lampiran

FORMULIR

UJI DAYA TERIMA

Nama : ...

Umur : ...

Jenis kelamin : ...

Petunjuk Penilaian

Ujilah sampel dibawah ini dengan sebaik-baiknya dan nyatakan pendapat

anda tentang apa yang dirasakan oleh indera. Kemudian beri skor menurut urutan

berikut :

Sangat Suka : skor 5

Suka : skor 4

Cukup Suka : skor 3

Kurang suka : skor 2

Tidak Suka : skor 1

Sampel Indikator

U1 25 U2 50 U375

Rasa

Aroma

Warna

Gambar

Tabel 2.1. Kandungan Gizi Ubi Jalar Tiap 100 Gram Bahan
Tabel 2.2. Kandungan Gizi Tepung Ubi Jalar per 100 Gram Bahan No. Parameter Tepung ubi jalar Tepung ubi jalar Tepung ubi
Tabel 2.3. Bahan dan Jumlah Bahan yang Digunakan untuk Pembuatan Mi Basah
Gambar 1. Kerangka Konsep Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

jumlah mikrobia pada mi basah dari komposit tepung ubi jalar ungu. dan

Persentase Daya Terima Panelis Terhadap Kesukaan secara Keseluruhan Apem dengan Subtitusi Tepung Ubi Jalar Oranye pada Penelitian Pendahuluan

Berdasarkan hasil pengujian kesukaan terhadap rasa kue kering dari tepung ubi jalar ungu oleh panelis tidak terlatih maka rasa yang paling disukai oleh panelis adalah

  Tujuan dari penelitian ini antara lain untuk menentukan formula mi instan yang dibuat dengan substitusi tepung ubi jalar kuning dan bekatul beras merah yang paling disukai

Cookies yang paling tidak disukai panelis yaitu cookies dengan perlakuan F4 karena subtitusi tepung millet merah dan tepung ubi jalar ungu paling banyak

Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada pengaruh komposisi tepung komposit jagung, kacang hijau dan ubi jalar kuning terhadap daya terima warna, aroma, tekstur

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh imbangan tepung ubi jalar orange, tepung kedelai, dan puree pisang terhadap daya terima cookies meliputi warna, rasa, aroma,

Substitusi tepung terigu menggunakan tepung mocaf dan tepung ubi jalar putih berpengaruh terhadap daya terima dengan parameter warna, aroma, rasa, dan tekstur roti tawar.. Tepung mocaf