• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Perbandingan Sistem Perawatan antara Metode Age Replacement atau Block Replacement Berdasarkan Selang Waktu dan Ongkos Perawatan (Studi Kasus: PT. PDM Indonesia)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisis Perbandingan Sistem Perawatan antara Metode Age Replacement atau Block Replacement Berdasarkan Selang Waktu dan Ongkos Perawatan (Studi Kasus: PT. PDM Indonesia)"

Copied!
163
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PERBANDINGAN SISTEM PERAWATAN ANTARA METODE AGE REPLACEMENT ATAU BLOCK REPLACEMENT BERDASARKAN SELANG WAKTU DAN ONGKOS PERAWATAN

(STUDI KASUS PT. PDM INDONESIA)

TUGAS SARJANA

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat-Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik

Oleh :

KRISTINA RAJAGUKGUK 050403023

D E P A R T E M E N T E K N I K I N D U S T R I

F A K U L T A S T E K N I K

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

M E D A N

(2)
(3)
(4)
(5)

ABSTRAK

Aktivitas produksi sering mengalami hambatan dikarenakan tidak berfungsinya mesin-mesin produksi, yang dalam industri proses merupakan komponen utama. Kegagalan beroperasinya mesin, selain mengakibatkan opportunity cost juga mengakibatkan tingginya produk cacat (reject), dan pada akhirnya menurunkan produktivitas perusahaan.

PT. PDM Indonesia adalah perusahaan yang bergerak di bidang produksi kertas rokok. Pada perusahaan ini terdapat Paper Machine, yang berfungsi untuk mengolah bubur kertas (pulp) menjadi kertas rokok, yang merupakan salah satu mesin yang memiliki peranan yang cukup penting dalam proses produksi, khususnya pada Suction Dryer. Berdasarkan pengamatan di lapangan komponen yang sering mengalami kerusakan atau komponen kritis adalah komponen bearing dan gear coupling. Jika komponen ini mengalami kerusakan secara tiba-tiba, tentu akan mengganggu proses produksi. Berhentinya proses produksi akan menyebabkan kerugian perusahaan. Oleh karena itu salah satu cara untuk meminimalkan probabilitas terjadinya kerusakan di masa yang akan datang adalah dengan cara penggantian komponen sebelum memasuki masa kritis. Hal ini dapat dilakukan dengan menentukan selang waktu penggantian yang optimum yang meminimisasi ongkos perawatan menggunakan metode age replacement dan block replacement.

Dalam penentuan waktu penggantian yang optimum, diperlukan data selang waktu kerusakan yang terjadi selama periode 2008-2009, data biaya tenaga kerja, kehilangan produksi dan biaya komponen. Kemudian melihat pola distribusi waktu kerusakan. Dalam penelitian ini, distribusi statistik yang dipakai adalah distribusi normal, lognormal, eksponensial dan weibull.

Berdasarkan hasil pengolahan data, diperoleh bahwa data kerusakan komponen berdistribusi lognormal dengan estimasi parameter yang telah diperoleh. Waktu penggantian yang optimum untuk komponen bearing digunakan metode age replacement yaitu komponen akan diganti sebelum beroperasi selama 25 hari. Sedangkan untuk komponen gear coupling digunakan metode age replacement yaitu komponen akan diganti sebelum beroperasi selama 35 hari.

Besarnya penghematan yang diperoleh perusahaan jika melakukan

kebijakan penggantian terencana terhadap komponen bearing adalah Rp. 29.066.195,1415,- (63.87%). Sedangkan untuk komponen gear coupling

adalah Rp. 32.846.411,5417,- (71.84%).

Kata kunci: Sistem Perawatan, Perawatan Pencegahan, Age Replacement, Block

(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, yang

telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan

laporan Tugas Sarjana ini.

Tugas Sarjana merupakan salah satu syarat akademis yang harus dipenuhi

untuk menyelesaikan studi di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik,

Universitas Sumatera Utara. Penulis melakukan penelitian di PT. PDM Indonesia,

dengan judul penelitian ”Analisis Perbandingan Sistem Perawatan antara

Metode Age Replacement atau Block Replacement Berdasarkan Selang Waktu dan Ongkos Perawatan (Studi Kasus: PT. PDM Indonesia)”.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan laporan ini,

karena pengetahuan dan pengalaman penulis yang masih terbatas. Oleh karena itu,

penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk

menyempurnakan laporan ini.

Akhir kata, penulis mengharapkan agar laporan Tugas Sarjana ini dapat

memberikan manfaat bagi kita semua.

Medan, Mei 2010

(7)

UCAPAN TERIMAKASIH

Terimakasih penulis ucapkan yang sebesar-besarnya kepada Tuhan Yesus

Kristus yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk merasakan dan

mengikuti pendidikan di Departemen Teknik Industri USU serta telah

membimbing penulis selama masa kuliah dan penulisan laporan Tugas Sarjana

ini.

Dalam penulisan Tugas Sarjana ini penulis telah mendapatkan bimbingan

dan bantuan dari berbagai pihak, baik berupa materil, spiritual, informasi maupun

administrasi. Oleh karena itu sudah selayaknya penulis mengucapkan terima kasih

kepada:

1. Orang tua penulis (M. Rajagukguk dan K. br. Lumban Tobing) dan

saudara-saudara penulis (abang A. Rajagukguk/A. br. Sinambela, kakak Juliana br.

Rajagukguk dan Helen Oktavia br. Rajagukguk, serta adik tercinta Mutiara

Novelia br. Rajagukguk) yang telah mendukung penulis dalam doa, dana dan

semangat.

2. Bapak Ir. Tanib S. Tjolia, M. Eng, selaku Dosen Pembimbing I atas waktu,

bimbingan, pengarahan, dan masukan yang diberikan kepada penulis dalam

penyelesaian Tugas Sarjana ini.

3. Bapak Aulia Ishak, ST. MT, selaku Dosen Pembimbing II atas waktu,

bimbingan, pengarahan, dan masukan yang diberikan kepada penulis dalam

(8)

4. Ibu Ir. Rosnani Ginting, MT. selaku Ketua Departemen Teknik Industri

Universitas Sumatera Utara, yang telah memberi izin pelaksanaan Tugas

Sarjana ini dan dukungan serta perhatian yang diberikan kepada penulis.

5. Bapak Prof. Dr. Ir. Sukaria Sinulingga, M. Eng, selaku Ketua Bidang

Rekayasa Sistem Manufaktur atas waktu, bimbingan, pengarahan, dan

masukan yang diberikan penulis dalam penyelesaian Tugas Sarjana ini.

6. Bapak Ir. Sugih Arto Pujangkoro, MM. selaku Koordinator Tugas Akhir

Departemen Teknik Industri USU.

7. Bapak Pengadilan Ginting dan bapak Hasmadi sebagai staff Maintenance di

PT. PDM Indonesia yang telah mengizinkan penulis melakukan penelitian dan

membantu penulis dalam pengumpulan data.

8. Bapak Jimmy FC Nelwan sebagai staff Departemen Produksi sekaligus

sebagai pembimbing lapangan yang telah membantu dan membimbing penulis

dalam pengumpulan data.

9. Ibu Juliana sebagai staff HRD (Human Research Development), yang telah

memberikan kemudahan dalam birokrasi dan urusan surat-menyurat dengan

PT. PDM Indonesia.

10.Staff pegawai Teknik Industri Bang Bowo, Bang Mino, Kak Dina, Bang

Nurmansyah, Bang Kumis, Kak Rahma dan Ibu Ani, terimakasih atas

bantuannya dalam masalah administrasi untuk melaksanakan Tugas Sarjana

ini.

(9)

12.Teman-teman KTB (K’Leni, K’Tiur, K’Eci, Imel, Dwi, dan Ana) yang selalu

setia mendoakan penulis dan memberikan semangat yang luar biasa dari awal

hingga selesainya pengerjaan Tugas Sarjana ini.

13.Sahabat-sahabat terkasih (Bemviana Sianturi, Deasy N. Simarmata, Juniyanti

Napitupulu, Lila A. Damanik, dan Marnasib L. Sihite) yang selalu

memberikan dukungan dan doa serta tidak henti-hentinya memberikan nasehat

positif kepada penulis untuk tetap semangat.

(10)

- DAFTAR ISI -

BAB Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

SERTIFIKAT EVALUASI TUGAS SARJANA ... iii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... v

UCAPAN TERIMAKASIH ... vi

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR GAMBAR ... xix

DAFTAR LAMPIRAN ... xx I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Permasalahan ... I- 1

1.2. Rumusan Masalah ... I- 3

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... I- 4

1.4. Batasan Masalah dan Asumsi ... I- 5

1.5. Sistematika Penulisan Tugas Akhir ... I- 6

II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

2.1. Sejarah Perusahaan ... II-1

(11)

- DAFTAR ISI (lanjutan) -

BAB Halaman

2.3.1. Struktur Organisasi ... II-3

2.3.2. Jumlah Tenaga Kerja dan Jam Kerja Perusahaan ... II-5

2.3.3. Sistem Pengupahan dan Fasilitas yang Digunakan ... II-6

2.4. Proses Produksi ... II-8

2.4.1. Bahan ... II-9

2.4.1.1. Bahan Baku ... II-9

2.4.1.2. Bahan Penolong ... II-11

2.4.1.3. Bahan Tambahan... II-15

2.4.2. Pengendalian Mutu Produk ... II-15

2.4.3. Uraian Proses Produksi ... II-18

2.4.3.1. Tahapan Persiapan ... II-18

2.4.3.2. Proses Pembuatan Kertas di Paper Machine ... II-21

2.4.3.3. Tahap Finishing ... II-24

2.4.4. Mesin, Peralatan, dan Utilitas ... II-27

2.4.4.1. Mesin ... II-27

2.4.4.2. Peralatan (Equipment) ... II-33

2.4.4.3. Utilitas ... II-33

III LANDASAN TEORI

3.1. Definisi Perawatan (Maintenance) ... III-1

(12)

- DAFTAR ISI (lanjutan) -

BAB Halaman

3.3. Jenis-jenis Perawatan ... III-2

3.4. Konsep Reliability (Keandalan) ... III-5

3.5. Kurva Laju Kerusakan ... III-8

3.6. Distribusi Kerusakan ... III-10

3.6.1. Distribusi Normal ... III-10

3.6.2. Distribusi Lognormal ... III-11

3.6.3. Distribusi Eksponensial ... III-12

3.6.4. Distribusi Weibull ... III-13

3.7. Identifikasi dan Parameter Distribusi ... III-15

3.7.1. Identifikasi Distribusi Awal ... III-15

3.7.2. Estimasi Parameter ... III-16

3.8. Mean Time To Failure (MTTF) ... III-17

3.9. Model Perawatan ... III-18

3.9.1. Model Perawatan Pencegahan Probabilistik ... III-18

3.9.2. Model Penggantian Pencegahan ... III-19

3.9.2.1. Model Age Replacement ... III-20

3.9.2.2. Model Block Replacement ... III-24

3.10. Elemen-elemen dalam Perawatan ... III-27

(13)

- DAFTAR ISI (lanjutan) -

BAB Halaman

IV METODOLOGI PENELITIAN

4.1. Tempat dan Waktu Penelitian ... IV- 1

4.2. Objek Penelitian ... IV- 1

4.3. Jenis Penelitian ... IV- 1

4.4. Variabel Penelitian ... IV- 2

4.5. Pengumpulan Data ... IV- 2

4.5.1. Cara Pengumpulan Data... IV- 3

4.6. Pengolahan Data... IV- 4

4.7. Analisis Data ... IV- 9

4.8. Kesimpulan dan Saran ... IV- 9

V PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

5.1. Pengumpulan Data ... V- 1

5.1.1. Pemilihan Komponen Kritis ... V- 1

5.1.2. Data Selang Waktu Antar Kerusakan ... V- 3

5.2. Pengolahan Data... V- 4

5.2.1. Pemilihan Pola Distribusi Kerusakan ... V- 4

5.2.1.1. Distribusi Kerusakan Komponen Bearing... V- 4

5.2.1.1.1. Perhitungan Secara Manual ... V- 4

(14)

- DAFTAR ISI (lanjutan) -

BAB Halaman

5.2.1.2. Distribusi Kerusakan Komponen Gear

Coupling ... V-10

5.2.1.2.1. Perhitungan Secara Manual ... V-10

5.2.1.2.2. Perhitungan dengan Software ... V-15

5.2.2. Perhitungan Parameter Distribusi ... V-16

5.2.2.1. Perhitungan MTTF Komponen Bearing ... V-16

5.2.2.2. Perhitungan MTTF Komponen Gear

Coupling ... V-19

5.2.3. Perhitungan Cost of Failure dan Cost of Preventive ... V-20

5.2.3.1. Perhitungan Cost of Failure... V-20

5.2.3.2. Perhitungan Cost of Preventive ... V-22

5.2.4. Perhitungan Selang Waktu Penggantian Pencegahan .. V-22

5.2.4.1. Metode Age Replacement ... V-22

5.2.4.1.1. Selang Waktu Penggantian

Komponen Bearing ... V-22

5.2.4.1.2. Selang Waktu Penggantian

Komponen Gear Coupling ... V-25

5.2.4.2. Metode Block Replacement ... V-27

(15)

- DAFTAR ISI (lanjutan) -

BAB Halaman

5.2.4.2.2. Selang Waktu Penggantian

Komponen Gear Coupling ... V-29

5.2.5. Perhitungan Ongkos Perawatan Saat Ini dan Usulan .. V-31

5.2.5.1. Perhitungan Ongkos Perawatan Saat Ini ... V-31

5.2.5.1.1. Perhitungan Ongkos Perawatan Saat

Ini untuk Komponen Bearing ... V-31

5.2.5.1.2. Perhitungan Ongkos Perawatan Saat

Ini untuk Komponen Gear

Coupling ... V-32

5.2.5.2. Perhitungan Ongkos Perawatan Usulan ... V-32

5.2.5.2.1. Perhitungan Ongkos Perawatan

Usulan untuk Komponen Bearing .. V-33

5.2.5.2.2. Perhitungan Ongkos Perawatan

Usulan untuk Komponen Gear

Coupling ... V-33

VI ANALISIS DAN PEMBAHASAN

6.1. Pemilihan Komponen Kritis ... VI- 1

6.2. Pemilihan Pola Distribusi ... VI- 2

6.3. Perhitungan Maximum Likelihood Estimator (MLE) ... VI- 3

(16)

- DAFTAR ISI (lanjutan) -

BAB Halaman

6.5. Perbandingan Age Replacement dan Block Replacement ... VI- 4

6.6. Ongkos Perawatan Saat Ini dan Usulan ... VI- 5

VII KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan ... VII- 1

7.2. Saran ... VII- 2

(17)

- DAFTAR TABEL -

TABEL Halaman 2.1. Jenis Pulp Serat Panjang ... II- 10

2.2. Jenis Pulp Serat Pendek ... II- 10

2.3. Jenis Kalsium Karbonat ... II- 12

2.4. Jenis-jenis Cationic Retention Aid ... II- 12

2.5. Jenis-jenis Anti Foam ... II- 13

2.6. Jenis Biocide ... II- 13

2.7. Jenis Citric Acid ... II- 14

2.8. Jenis Potassium Hydroxide... II- 14

2.9. Jenis-jenis Coagulant ... II- 14

2.10. Perbedaan Kertas Biasa dengan Kertas Rokok ... II- 18

5.1. Jenis, Jumlah, Harga, dan Frekuensi Kerusakan Komponen ... V- 1

5.2. Analisis Spare Part ... V- 2

5.3. Klasifikasi komponen dengan Metode ABC ... V- 2

5.4. Data Selang Waktu Antar Kerusakan Komponen Bearing dan

Gear Coupling Periode Tahun 2008-2009 ... V- 3

5.5. Perhitungan Index of Fit dengan Distribusi Normal pada

Komponen Bearing ... V- 5

5.6. Perhitungan Index of Fit dengan Distribusi Lognormal pada

(18)

- DAFTAR TABEL (lanjutan) -

TABEL Halaman 5.7. Perhitungan Index of Fit dengan Distribusi Eksponensial pada

Komponen Bearing ... V- 7

5.8. Perhitungan Index of Fit dengan Distribusi Weibull pada

Komponen Bearing ... V- 8

5.9. Rekapitulasi Perhitungan Manual Distribusi Selang Waktu Antar

Kerusakan pada Komponen Bearing ... V- 9

5.10.Perhitungan Index of Fit dengan Distribusi Normal pada

Komponen Gear Coupling ... V-11

5.11.Perhitungan Index of Fit dengan Distribusi Lognormal pada

Komponen Gear Coupling ... V-12

5.12.Perhitungan Index of Fit dengan Distribusi Eksponensial pada

Komponen Gear Coupling ... V-13

5.13.Perhitungan Index of Fit dengan Distribusi Weibull pada

Komponen Gear Coupling ... V-14

5.14.Rekapitulasi Perhitungan Manual Distribusi Selang Waktu Antar

Kerusakan pada Komponen Gear Coupling... V-15

5.15.Pola Distribusi Terpilih Data Selang Waktu Antar Kerusakan

Tiap Komponen ... V-16

(19)

- DAFTAR TABEL (lanjutan) -

TABEL Halaman 5.18.Perhitungan Selang Waktu Penggantian Komponen Bearing

dengan Metode Age Replacement ... V-24

5.19.Perhitungan Selang Waktu Penggantian Komponen Gear Coupling

dengan Metode Age Replacement ... V-26

5.20.Perhitungan Selang Waktu Penggantian Komponen Bearing

dengan Metode Block Replacement ... V-28

5.21.Perhitungan Selang Waktu Penggantian Komponen Gear Coupling

dengan Metode Block Replacement ... V-30

5.22.Rekapitulasi Selang Waktu Penggantian Komponen dengan

Metode Age Replacement dan Block Replacement ... V-31

5.23.Penghematan Ongkos Saat Ini dan Usulan PT. PDM Indonesia ... V-34

(20)

- DAFTAR GAMBAR -

GAMBAR Halaman 2.1. Struktur Organisasi PT. PDM Indonesia ... II- 4

2.2. Blok Diagram Pembuatan Kertas Rokok ... II-26

3.1. Perawatan dan Siklus Hidup Komponen ... III- 9

3.2. Model Perawatan Perencanaan dan Perbaikan Kerusakan ... III-19

3.3. Model Age Replacement ... III-21

3.4. Kebijaksanaan Perawatan Penggantian Pencegahan... III-21

3.5. Kurva MTTF ... III-23

3.6. Model Block Replacement ... III-25

(21)

- DAFTAR LAMPIRAN -

LAMPIRAN Halaman 1. Uraian Tugas dan Tanggung Jawab ... L- 1

2 Wilayah Luas Di Bawah Kurva Normal ... L- 2

3 Ordinates of the Standard Normal Distribution ... L- 3

(22)

ABSTRAK

Aktivitas produksi sering mengalami hambatan dikarenakan tidak berfungsinya mesin-mesin produksi, yang dalam industri proses merupakan komponen utama. Kegagalan beroperasinya mesin, selain mengakibatkan opportunity cost juga mengakibatkan tingginya produk cacat (reject), dan pada akhirnya menurunkan produktivitas perusahaan.

PT. PDM Indonesia adalah perusahaan yang bergerak di bidang produksi kertas rokok. Pada perusahaan ini terdapat Paper Machine, yang berfungsi untuk mengolah bubur kertas (pulp) menjadi kertas rokok, yang merupakan salah satu mesin yang memiliki peranan yang cukup penting dalam proses produksi, khususnya pada Suction Dryer. Berdasarkan pengamatan di lapangan komponen yang sering mengalami kerusakan atau komponen kritis adalah komponen bearing dan gear coupling. Jika komponen ini mengalami kerusakan secara tiba-tiba, tentu akan mengganggu proses produksi. Berhentinya proses produksi akan menyebabkan kerugian perusahaan. Oleh karena itu salah satu cara untuk meminimalkan probabilitas terjadinya kerusakan di masa yang akan datang adalah dengan cara penggantian komponen sebelum memasuki masa kritis. Hal ini dapat dilakukan dengan menentukan selang waktu penggantian yang optimum yang meminimisasi ongkos perawatan menggunakan metode age replacement dan block replacement.

Dalam penentuan waktu penggantian yang optimum, diperlukan data selang waktu kerusakan yang terjadi selama periode 2008-2009, data biaya tenaga kerja, kehilangan produksi dan biaya komponen. Kemudian melihat pola distribusi waktu kerusakan. Dalam penelitian ini, distribusi statistik yang dipakai adalah distribusi normal, lognormal, eksponensial dan weibull.

Berdasarkan hasil pengolahan data, diperoleh bahwa data kerusakan komponen berdistribusi lognormal dengan estimasi parameter yang telah diperoleh. Waktu penggantian yang optimum untuk komponen bearing digunakan metode age replacement yaitu komponen akan diganti sebelum beroperasi selama 25 hari. Sedangkan untuk komponen gear coupling digunakan metode age replacement yaitu komponen akan diganti sebelum beroperasi selama 35 hari.

Besarnya penghematan yang diperoleh perusahaan jika melakukan

kebijakan penggantian terencana terhadap komponen bearing adalah Rp. 29.066.195,1415,- (63.87%). Sedangkan untuk komponen gear coupling

adalah Rp. 32.846.411,5417,- (71.84%).

Kata kunci: Sistem Perawatan, Perawatan Pencegahan, Age Replacement, Block

(23)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Permasalahan

Dalam industri manufaktur, mesin atau peralatan sebagai salah satu

sumber daya yang ada, memegang peranan yang sangat vital untuk mendukung

jalannya proses produksi karena hampir semua proses produksi yang berlangsung

menggunakan mesin atau peralatan. Untuk menjaga kelancaran proses produksi,

maka mesin atau peralatan harus dioptimalkan penggunaannya. Apabila mesin

atau peralatan yang digunakan mengalami kerusakan, baik pada saat akan

beroperasi maupun pada saat sedang berproduksi, maka hal ini akan mengganggu

kelancaran proses produksi yang berdampak pada kerugian perusahaan berupa

opportunity cost karena penghentian produksi akibat adanya waktu yang

terbuang sia-sia untuk memperbaiki kerusakan mesin.

Untuk mencegah atau meminimalisasi kemungkinan terjadinya

penghentian proses produksi akibat kerusakan mesin, maka dapat dilakukan suatu

usaha atau tindakan pemeliharaan pencegahan (preventive maintenance) yaitu

dengan menerapkan metode replacement terhadap komponen-komponen mesin

yang bersifat kritis. Replacement secara preventive bertujuan untuk mengurangi

probabilitas terjadinya kerusakan di waktu mendatang. Apabila komponen

digunakan secara terus-menerus maka laju kerusakan komponen juga cenderung

(24)

melakukan penggantian terhadap komponen kritis setelah terjadi kerusakan. Tentu

hal ini akan berdampak pada kerugian perusahaan.

Pada kenyataannya, selang waktu penggantian yang terlalu singkat

mengakibatkan biaya pemeliharaan semakin besar dan sisa umur pakai komponen

juga akan terbuang sia-sia. Sementara jika selang waktu penggantian terlalu lama,

maka kemungkinan kerusakan komponen akan semakin tinggi dan biaya untuk

perbaikan akibat kerusakan menjadi meningkat. Oleh karena itu, perlu dilakukan

penentuan selang waktu replacement yang optimal sehingga meminimumkan

ongkos penggantian.

PT. PDM Indonesia merupakan sebuah perusahaan swasta yang bergerak

dalam bidang produksi kertas rokok (cigarette paper). Dalam hal perawatan

mesin, perusahaan ini telah menerapkan preventive maintenance berupa kegiatan

fisik seperti memeriksa dan membersihkan kotoran atau debu serta memberi

oli/grase (pelumasan mesin). Namun dalam hal replacement terhadap komponen

kritis, perusahaan lebih cenderung bersifat corrective artinya komponen diganti

bila telah terjadi kerusakan.

Pada PT. PDM Indonesia, komponen mesin yang sering kali mengalami

kerusakan adalah komponen bearing dan gear coupling pada Suction Dryer yang

terdapat di Paper Machine. Jika komponen ini rusak secara tiba-tiba maka akan

mengakibatkan terhentinya proses produksi untuk beberapa lama sehingga akan

mempengaruhi pendapatan perusahaan. Pada kenyataannya, besarnya biaya yang

(25)

Penentuan interval waktu penggantian komponen kritis dapat dilakukan

dengan model Block Replacement dan Age Replacement. Block Replacement

adalah model penggantian komponen pada selang waktu yang tetap (konstan)

tanpa memperhatikan kondisi komponen. Sedangkan Age Replacement adalah

selang waktu penggantian komponen dengan memperhatikan umur pemakaian

dari komponen tersebut, dimana penggantiannya tidak mempengaruhi

penggantian komponen lainnya.

Oleh karena itu, dilakukan penelitian terhadap kedua model penggantian

untuk mendapatkan interval waktu penggantian yang dapat meminimisasi ongkos

perawatan sehingga dapat diperoleh informasi tentang kedua metode penggantian

dan melihat kesesuaian metode penggantian terhadap komponen bearing dan gear

coupling. Kemudian dilakukan pemilihan model penggantian yang lebih sesuai

dengan kondisi perusahaan.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi pokok

permasalahan dalam penelitian ini adalah tingginya frekuensi kerusakan dari

komponen bearing dan gear coupling yang dapat berpengaruh terhadap

pendapatan perusahaan, yang ditandai dengan tidak adanya sistem penggantian

komponen kritis, dimana komponen diganti jika telah mengalami kerusakan. Oleh

karena itu diperlukan sistem penggantian komponen yang meminimumkan

(26)

komponen yang dapat meminimisasi ongkos perawatan dengan menggunakan

model age replacement dan block replacement.

1.3. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian

Yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah:

Mengoptimalkan sistem maintenance dengan membandingkan model age

replacement dan block replacement dan memilih model penggantian yang

lebih sesuai dengan kondisi perusahaan.

Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Bagi Perusahaan

a. Memberikan gambaran bagi perusahaan mengenai model perilaku

kerusakan yang dapat digunakan sebagai acuan dan pedoman dalam

melakukan perawatan terencana dan perbaikan mesin produksi.

b. Sebagai masukan bagi perusahaan dalam hal menentukan selang waktu

penggantian yang optimum dengan minimisasi ongkos perawatan.

2. Bagi Mahasiswa

Menambah pengalaman mahasiswa dalam menganalisis faktor-faktor dan

masalah, mengidentifikasi serta mengaplikasikan ilmu-ilmu teknik industri

(27)

3. Bagi Fakultas

Menambah jumlah dan memperbaharui hasil karya mahasiswa yang dapat

menjadi literatur dan referensi penelitian di departemen Teknik Industri

khususnya.

1.4. Batasan Masalah dan Asumsi

Agar permasalahan perawatan ini dapat lebih terarah maka perlu dilakukan

pembatasan sebagai berikut:

1. Penelitian dilakukan hanya untuk mesin yang sering mengalami kerusakan.

Dalam hal ini dibatasi untuk Paper Machine Suction Dryer.

2. Perhitungan dilakukan hanya untuk komponen mesin yang bersifat kritis saja

yaitu bearing dan gear coupling.

3. Biaya yang dibahas adalah biaya yang berhubungan dengan biaya penggantian

komponen sedangkan biaya yang berhubungan dengan biaya persediaan

komponen tidak dibahas.

Asumsi yang diperlukan dalam penelitian ini adalah:

1. Komponen yang terdapat dalam mesin bersifat non-repairable

2. Operator yang melakukan perawatan adalah operator mesin itu sendiri dan

diasumsikan memiliki kemampuan yang sama dan telah siap setiap waktu.

3. Komponen, alat dan semua perlengkapan yang diperlukan untuk perawatan

(28)

1.5. Sistematika Penulisan Tugas Akhir

Sistematika penulisan tugas akhir ini adalah sebagai berikut:

JUDUL

LEMBAR PENGESAHAN

KATA PENGANTAR

UCAPAN TERIMA KASIH

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR LAMPIRAN

RINGKASAN

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Permasalahan

1.2. Rumusan Permasalahan

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.4. Batasan Masalah dan Asumsi

1.5. Sistematika Penulisan Tugas Akhir

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

2.1. Sejarah Perusahaan

2.2. Ruang Lingkup Bidang Usaha

2.3. Organisasi dan Manajemen

(29)

2.3.3. Jumlah Tenaga Kerja dan Jam Kerja Perusahaan

2.3.4. Sistem Pengupahan dan Fasilitas yang Digunakan

2.4. Proses Produksi

2.4.1. Bahan

2.4.1.1. Bahan Baku

2.4.1.2. Bahan Tambahan

2.4.1.3. Bahan Penolong

2.4.2. Standar Mutu Produk

2.4.3. Uraian Proses Produksi

2.4.4. Mesin, Peralatan, dan Utilitas

BAB III LANDASAN TEORI

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB V PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB VI ANALISIS PEMECAHAN MASALAH

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan

7.2. Saran

DAFTAR PUSTAKA

(30)

BAB II

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

2.1. Sejarah Perusahaan

PT. Kimsari Paper Indonesia didirikan pada tahun 1984 dan mulai

melakukan produksi kertas rokok pada tahun 1985. PT. Kimsari Paper Indonesia

merupakan sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang produksi kertas

rokok dengan status Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal

Dalam Negeri (PMDN). Perusahaan ini didirikan atas prakarsa tiga pemegang

saham, yaitu PT. Sarida Perkasa, PT. Duta Mendut dan Kimberly Clark

Corporation yang mana pada akhir tahun 1983 membeli seluruh aset eks. PT

Delitua Paper Mill yang mengalami likuidasi dengan SPP Presiden No.

441/I/PMA/1983, 31 Desember 1983 dan akte pendirian 31 Desember 1983 N0.

427, 24 Februari 1984 Notaris Ridwan Suselo, Jakarta.

Papeteries de Mauduit (PDM) yang merupakan anak perusahaan

Schweiter-Mauduit di Prancis, terlibat dalam desain dan konstruksi pabrik pada

pertengahan tahun 1980-an, memberikan bantuan teknis dan lisensi kepada

Kimsari untuk menggunakan merek dagang PDM dalam memasarkan produk di

Indonesia. Pada tahun 24 Oktober 2003, Schweitzer-Mauduit International Inc

mengumumkan di Alpharetta bahwa adanya kesepakatan untuk mengambil salah

satu anak perusahaannnya yaitu PT. Kimsari Paper Indonesia.

(31)

Sejak saat itu PT. Kimsari Paper Indonesia berganti nama menjadi PT. PDM

Indonesia.

Dari tahun ke tahun perusahaan ini mengalami perkembangan yang baik

dengan adanya peningkatan dalam kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan

melalui modifikasi beberapa mesin produksi, perluasan lantai produksi, dan

koordinasi dengan semua unit dalam perusahaan. PT. PDM Indonesia yang

merupakan penghasil kertas rokok terbesar di Indonesia, sangat menjaga kualitas

produksinya agar kertas rokok yang dihasilkan selalu sesuai dengan standard

kualitas yang ditentukan.

2.2. Ruang Lingkup Bidang Usaha

Perusahaan ini bergerak dalam bidang industri pembuatan kertas rokok

(cigarette paper). Kertas rokok tersebut diproduksi dalam dua bentuk yaitu

bobbin dan ream. Adapun ukurannya yaitu :

- Bobbin (gulungan), lebar 24-29 mm

Panjang 5500-6000 cm

- Ream (lembaran), lebar 51 cm

Panjang 76-83 cm, Jumlah 500 lembar

Produk ini dipasarkan ke pabrik-pabrik rokok yang ada di Sumatera Utara

dan Pulau Jawa. Pasar terbesar perusahaan terutama adalah dari Pulau Jawa

(32)

2.3. Organisasi dan Manajemen

Organisasi dan manajemen merupakan faktor yang paling penting untuk

memperlancar aktivitas perusahaan sehingga tercapai sasaran dan target yang

diharapkan. Agar aktivitas perusahaan berjalan dengan lancar maka perusahaan

harus memiliki organisasi dan manajemen yang baik. Perusahaan yang terdiri dari

beberapa bagian aktivitas yang berbeda-beda harus dikoordinasikan sedemikian

rupa sehingga dapat mencapai sasaran dan target perusahaan dengan efisiensi

yang tinggi.

2.3.1. Struktur Organisasi

Struktur organisasi adalah suatu cara atau sistem untuk mengadakan

pembagian kerja, pembatasan tugas, tanggung jawab, dan wewenang serta

menetapkan hubungan-hubungan antar unsur organisasi yang satu dengan yang

lain sehingga memungkinkan orang untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan.

Struktur organisasi yang digunakan di PT. PDM Indonesia adalah struktur

organisasi garis dan fungsional, yaitu perpaduan antara organisasi garis dan

organisasi fungsional. Adapun struktur organisasi di PT. PDM Indonesia dapat

(33)

General Manager

Manager Pembelian

Manager Sumber Daya Manusia

Hubungan Luar Manager

Pemeliharaan

Perencanaan Teknik Manager Produksi

dan Finishing Manager

Keuangan Manager Teknik

Staf Pengendalian Kualitas Bagian Proses

Data dan Komputer

Bagian Proses Administrasi Penjualan dan

Pemasaran

Bagian Kontrol Internal dan

Budget

Bagian Akuntansi

Produksi

Finishing

Manager Pengendalian Kualitas

Maintenance

Electricity

Staf Pembelian

[image:33.595.123.566.138.652.2]

Hubungan Garis Hubungan Fungsional Keterangan:

(34)

2.3.2. Jumlah Tenaga Kerja dan Jam Kerja Perusahaan

Jumlah tenaga kerja pada PT. PDM Indonesia adalah sebanyak 201 orang

yang terdiri atas 178 orang laki-laki dan 23 orang wanita. Tenaga kerja ini dapat

digolongkan atas staf dan karyawan. Golongan staf adalah pekerja pada tingkat

direktur, manajer, kepala bagian, dan pekerja yang tidak bekerja pada bagian

produksi. Sedangkan golongan karyawan adalah pekerja yang bekerja pada bagian

produksi termasuk satpam.

Staf bekerja pada hari Senin sampai Jumat dengan jumlah jam kerja 7 jam

sehari. Jadwal kerja golongan staf adalah sebagai berikut:

- Pukul 08.30 – 12.00 waktu kerja

- Pukul 12.00 – 13.30 waktu istirahat

- Pukul 13.30 – 17.00 waktu kerja

Untuk karyawan, jadwal kerja dibagi atas 3 shift, dimana jam kerjanya

pada hari senin - minggu adalah 7 jam sehari. Jadwal kerjanya adalah berikut:

Shift 1 Pukul 06.00 – 12.00 waktu kerja

Pukul 12.00 – 13.00 waktu istirahat

Pukul 13.00 – 14.00 waktu kerja

Shift 2 Pukul 14.00 – 18.00 waktu kerja

Pukul 18.00 – 19.00 waktu istirahat

Pukul 19.00 – 22.00 waktu kerja

Shift 3 Pukul 22.00 – 02.00 waktu kerja

(35)

2.3.3. Sistem Pengupahan dan Fasilitas yang Digunakan PT. PDM Indonesia memiliki 3 sistem pengupahan, yaitu:

1. Upah bulanan

Upah bulanan diberikan kepada karyawan yang sudah tetap, dimana

jumlahnya ditentukan berdasarkan kebijakan pemerintah. Karyawan tetap

yang bekerja pada perusahaan ini berjumlah 186 orang yang terdiri dari

manajer, kepala bagian, dan supervisor.

2. Upah borongan

Upah borongan diberikan kepada karyawan yang bekerja pada masa

tertentu dimana jumlahnya disesuaikan dengan perjanjian antara

perusahaan dengan karyawan tersebut. Karyawan yang bekerja pada

bagian ini ada 8 orang termasuk supir yang bertugas mengirim hasil

produksi ke pabrik rokok yang ada di Sumatera maupun Pulau Jawa.

3. Upah harian

Upah harian diberikan kepada karyawan harian lepas dan pembayarannya

dilakukan perhari. Karyawan lepas ini berjumlah 7 orang, yang terdiri atas

cleaning service atau helper.

PT. PDM Indonesia memiliki sistem laporan penilaian terhadap karyawan

yang digunakan untuk menentukan prestasi kerja serta kenaikan gaji atau upah

terhadap karyawan tersebut. Sistem laporan penilaian tersebut antara lain:

- Kualitas kerja

Karyawan mampu melaksanakan pekerjaannya sesuai prosedur kerja yang ada

(36)

- Kuantitas kerja

Karyawan mampu melaksanakan pekerjaannya lebih banyak dari rata-rata

yang biasa dilakukan pekerja lainnya.

- Pengetahuan kerja

Karyawan mampu menguasai seluk beluk pekerjaannya dengan baik.

- Kepatuhan kerja

Karyawan melaksanakan pekerjaannya tepat waktu sesuai instruksi atasan.

- Kerjasama

Karyawan dapat bekerjasama dan membina hubungan baik dengan rekan

sekerja, sehingga dapat menciptakn suasana kerja yang kondusif.

- Inisiatif

Karyawan mampu mengemukakan ide-ide dan saran yang membangun untuk

kebaikan perusahaan.

- Loyalitas kepada perusahaan

Karyawan tersebut mampu menjaga nama baik perusahaan dengan sikap

teladan.

- Kehadiran kerja

Karyawan selalu datang teratur sesuai dengan jadwal kerja.

- Keselamatan kerja

Karyawan dapat melaksanakan pekerjaannya sesuai prosedur dan peraturan

keselamatan kerja.

(37)

- Jaminan sosial untuk tenaga kerja (Jamsostek)

- Jaminan Kesehatan

- Tunjangan Hari Raya

- Tunjangan Keluarga

2.4. Proses Produksi

Pada proses manufaktur terdapat proses transformasi dari bahan baku (raw

material) menjadi produk jadi. Proses ini disebut sebagai proses produksi yang

didefinisikan sebagai suatu metode dan teknik-teknik mengubah input menjadi

output sehingga hasil yang berupa barang atau jasa serta hasil sampingannya

memiliki nilai tambah atau nilai guna yang berarti. Dalam pengolahaan proses

tersebut dapat terjadi perubahan secara fisik seperti bentuk dan dimensi, maupun

non fisik seperti sifat. Sedangkan yang dimaksud dengan nilai tambah adalah nilai

keluaran yang bertambah secara fungsional dan ekonomis.

Setiap perusahaan memiliki keinginan untuk meningkatkan

produktivitasnya sehingga diperlukan pemahaman terhadap proses produksi yang

ada agar dapat mempermudah dalam menganalisa kerja perusahaan guna

perbaikan sistem kerja. Untuk itu perlu diketahui proses produksi di PT. PDM

Indonesia yang meliputi bahan baku, bahan penolong, bahan pembantu serta

(38)

2.4.1. Bahan

Untuk memproduksi kertas rokok, PT. PDM Indonesia menggunakan

bahan dengan syarat utama harus bersertifikat food grade (aman untuk makanan)

dan tidak mengandung bahan berbahaya (non hazardous material). Bahan yang

digunakan untuk memproduksi kertas rokok terdiri dari bahan baku, bahan

tambahan dan bahan penolong.

2.4.1.1. Bahan Baku

Bahan baku utama adalah bahan utama yang digunakan dalam pembuatan

produk pada proses produksi dan memiliki persentase yang besar dibandingkan

bahan-bahan lainnya. Adapun bahan baku yang digunakan dalam proses produksi

di PT. PDM Indonesia adalah:

a. Pulp serat panjang (Needle Bleached Kraft Pulp)

Gunanya untuk kerangka dasar struktur dan menjaga kekuatan kertas

sewaktu masih dalam keadaan basah (wet strenght) dan mempertahankan

kekuatan kertas agar tidak mudah putus (runability) pada proses pembuatan

maupun pada mesin pembuat kertas rokok. Serat NBKP masih panjang dan harus

dihaluskan melalui proses penggilingan (refining). Pulp serat panjang ini sangat

(39)
[image:39.595.131.492.436.521.2]

Tabel 2.1. Jenis Pulp Serat Panjang

Nama Jenis Negara Asal Dipakai (aplikasi)

NBKP Caribo Serat Panjang Canada Hydra Pulper

NBKP Harmac Serat Panjang Canada Hydra Pulper

Fax Pulp Serat Panjang Afrika Selatan Hydra Pulper Abaca Pulp Serat Panjang Filipina Hydra Pulper

Sumber : PT.PDM Indonesia

b. Pulp Serat Pendek (Leaf Bleached Kraft Pulp)

Berfungsi sebagai pembentuk perata sususnan kertas dan pengisi (sheet

uniformity). Serat LBKP tidak perlu dihaluskan lagi agar tidak hancur. Pulp serat

pendek ini beragan jenis, diantaranya disajikan pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2. Jenis Pulp Serat Pendek

Nama Jenis Negara Asal Dipakai (aplikasi) LBKP Baycell Serat Pendek Chilli Hydra Pulper LBKP Santa Fc Serat Pendek France, USA Hydra Pulper LBKP Aracruz Serat Pendek Brazil Hydra Pulper

Sumber : PT.PDM Indonesia

c. Kertas Bekas (Broke)

Kertas bekas merupakan kertas-kertas hasil produksi dari tiap Paper

Machine yang tidak layak jual karena adanya kerusakan, tidak sesuai dengan

standar yang ditetapkan konsumen ataupun sisi kertas yang terbuang.

Pemakaian kertas bekas ini dapat mengurangi biaya produksi karena

jumlahnya banyak dan juga dapat membantu kerataan formasi kertas serta

(40)

1. Wet Broke

Yaitu kertas yang belum memasuki proses drying atau berasal dari sisiran

pada saat pressing.

2. Dry Brooke

Yaitu broke yang telah kering atau telah memasuki drying namun putus

dengan sendirinya.

2.4.1.2. Bahan Penolong

Bahan penolong adalah bahan yang digunakan untuk memperlancar

proses produksi, tetapi tidak tampak di bagian akhir produk. Bahan penolong yang

digunakan di PT. PDM Indonesia adalah sebagai berikut:

a. Precipitated Calcium Carbonate

CaCO3 dengan struktur Calcite dan partikel size-nya berukuran 1.0 ±0.2

µ m digunakan sebagai filler (bahan pengisi) kertas, pemerata pori-pori (porosity)

dan memutihkan kertas (whiteness). Guna filler antara lain :

1. Menghasilkan struktur atau susunan kertas yang lebih baik

2. Meningkatkan tekstur agar permukaannya lebih halus dan komposisinya lebih

seragam.

3. Meningkatkan opacity (daya tahan terhadap sinar) pada kertas

4. Membuat hasil cetakan menjadi lebih baik

Jenis-jenis kalsium karbonat yang dipakai antara lain dapat dilihat pada

(41)

Tabel 2.3. Jenis Kalsium Karbonat

Nama Jenis Negara /Daerah Asal Dipakai (aplikasi)

PC 700 Tepung CaCO3 Jepang Dissolving Tank

Precarb 100 Tepung CaCO3 Malaysia Dissolving Tank LA 100 Tepung CaCO3 Yogyakarta Dissolving Tank Sumber : PT.PDM Indonesia

b. Cationic Retention Aid

Bahan dasar CRA (starch) dan gum arabicum, kanji kentang yang

dibutuhkan untuk pengikat partikel buburan sehingga menghasilkan buburan pulp

yang homogen dan menambah kekuatan kertas pada waktu basah maupun kering

[image:41.595.119.507.470.620.2]

dan mengurangi lose pada wire. Jenis-jenis CRA yang dipakai adapat dilihat pada

Tabel 2.4.

Tabel 2.4. Jenis-jenis Cationic Retention Aid

Nama Jenis Negara/Daerah Asal Dipakai (aplikasi)

Meyproid Gum Arabicum France Hyra Pulper

4200 Gum Arabicum France, Korea Hydra Pulper

Polygal Redibond

Modifikasi

Kanji Jakarta Forming

Raysamil T150

Modifikasi

Kanji Lampung Forming

(42)

c. Anti Foam (Deformer)

Polimer yang berdasarkan water base digunakan untuk mencegah

buih-buih agar tidak masuk kedalam kertas. Jenis-Jenis anti foam yang dipakai dapat

[image:42.595.110.518.524.590.2]

dilihat pada Tabel 2.5.

Tabel 2.5. Jenis-jenis Anti Foam

Nama Jenis Negara/Daerah Asal Dipakai (aplikasi)

Bevaloid 5631 Anti Busa France Mixing

Nopco ENA-475 Anti Busa Tanggerang Mixing

Afranil Anti Busa Tanggerang Mixing

Sumber : PT.PDM Indonesia

d. Pencegah Bakteri (biocide)

Biocide digunakan sebagai pembunuh bakteri untuk mencegah

penggumpalan bakteri (slime pot), Jenis-jenis biocide dapat dilihat pada Tabel 2.6.

Tabel 2.6. Jenis Biocide

Nama Jenis Negara/Daerah Asal Dipakai (aplikasi) Natrium

Hypochlorite

Biocide,

Anti Bakteri Medan Forming

Sumber : PT.PDM Indonesia

e. Citric Acid, Anhydrous C6H8O7 Kering

Citric acid atau asam citrun yang dipakai sebagai zat pembakar dalam

(43)
[image:43.595.127.499.141.204.2]

Tabel 2.7. Jenis Citric Acid

Nama Jenis Daerah Asal Dipakai (aplikasi) Citric Acid

C6H8O7

Zat pembakar Lampung Size Press

Sumber : PT.PDM Indonesia

f. Potassium Hydroxide KOH

Digunakan untuk menetralisir Citric Acid sebelum diaplikasikan ke mesin

[image:43.595.122.500.367.431.2]

distribusi. Jenisnya disajikan pada Tabel 2.8.

Tabel 2.8. Jenis Potassium Hydroxide

Nama Jenis Negara Asal Dipakai (aplikasi)

Potassium Hydroxide, KOH

Penetralisir

Citric Acid India, Korea Cooking Tank Sumber : PT.PDM Indonesia

g. Bahan penggumpal (coagulant)

Untuk pengolahan air sungai (water treatment). Jenis-jenis coagulant

dapat dilihat pada Tabel 2.9.

Tabel 2.9. Jenis-jenis Coagulant

Nama Jenis Negara/Daerah Asal Dipakai (aplikasi)

Poly Aluminium Chloride

Penggumpal

(coagulant) Air sungai Korea, India, Jepang Water treatment

PAC Kymene Penggumpal white

water Korea Clarifier

Nalco 1452 Penggumpal white

water Jakarta Clarifier

Sumber : PT.PDM Indonesia h. Air

(44)

2.4.1.3. Bahan Tambahan

Bahan tambahan adalah bahan yang digunakan dalam proses produksi dan

berfungsi meningkatkan mutu produk serta merupakan bagian dari produk akhir.

Bahan tambahan yang digunakan PT. PDM Indonesia adalah:

a. Kertas Pembungkus

Kegunaan kertas pembungkus adalah untuk membungkus kertas rokok dalam

ukuran ream.

b. Core

Kegunaan core sebagai inti dari gulungan kertas selama proses penggulungan

baik di paper machine maupun di bagian finishing.

c. Kotak Karton

Keguanaan kotak karton adalah untuk mengepak hasil produksi

d. Label atau etiket

Kegunaan label sebagai pengenal peusahaan yang ditempel pada kertas

pembungkus produk.

2.4.2. Pengendalian Mutu Produk

Pandangan konsumen (pemakai) terhadap mutu cigarette paper

menunjukkan ada 3 unsur penting yang harus diperhatikan, yaitu:

1. Kertas tahan dan tidak mudah putus dalam proses di pabrik kertas rokok pada

kecepatan tinggi.

(45)

Di PT. PDM Indonesia, setiap bahan baku yang masuk dilakukan

pengujian standar mutu oleh departemen Quality Control. Fungsi Quality Control

dibagi pada 2 kategori penting, yaitu untuk eksternal dan internal. Eksternal

antara lain:

a. Sebagai pertimbangan akan kebutuhan konsumen. Yaitu pemenuhan

spesifikasi yang diberikan oleh konsumen.

b. Hubungan baik dengan konsumen. Menerima keluhan konsumen mengenai

kehandalan kualitas produk yang dihasilkan perusahaan.

c. Kepuasan konsumen. Memenuhi secara tepat segala kualifikasi yang

ditargetkan oleh konsumen.

PT. PDM Indonesia dalam melakukan eksternal control biasanya langsung

datang ke konsumen untuk mendengarkan saran atau keluhan dari pelangggan

yang biasanya dilakukan 2 kali dalam sebulan, dan biasanya keluhan konsumen

berupa masalah packaging (pengepakan), dan juga basis weight (masalah berat

kertas). Internal control antara lain dilakukan melalui pemeriksaan sample kertas

secara rutin, baik pada waktu produksi maupun sesudah produksi apakah cocok

dengan spesifikasi yang ditentukan.

Adapun pelaksanaan quality control dibagi ke dalam 2 jenis tindakan,

yaitu :

a. Dynamic control: meliputi departemen slitter (bobbin) dimana banyak

petunjuk yang diambil dan dianalisa. Dynamic control selalu memberikan

petunjuk seperti kecepatan yang tidak sama pada slitting machines.

(46)

Beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam pengendalian kualitas adalah:

1. Basis weight : Berat kertas yang merupakan satu unsur cigarrette paper yang

terpenting. Bila basis weight berubah maka semua parameter yang lain akan

berubah. Basis weight ditentukan dalam satuan gr/m2.

2. Tensile Strenght : Untuk mengukur daya tahan maksimum kertas sampai

putus. Bagian quality control memeriksa apakah sesuai dengan range yang

telah ditetapkan. Jika ada penyimpangan dari range-nya akan diuji kembali

dengan lebih mempertahankan arah serat (satuan KgF).

3. Porosity : Pengukuran aliran udara melalui kertas sample 20 cm2 dengan

perbedaan tekanan 10 cm WG. Sangat penting untuk membedakan antara

penembusan udara pada pori-porinya dengan penembusan udara pada

lubang-lubang besar akibat kesalahan proses (satuan 4H20cm210WG).

4. Filler : Untuk megukur banyaknya CaCO3 yang tidak ditambahkan pada

kertas untuk meninggikan opacity atau porosity atau kedua-duanya (satuan

%.In Paper).

5. Opacity : Utuk menguji daya tembus (daya tahan) kertas untuk menahan sinar

terang (satuan %).

6. Brightness : Pengukuran keputihan kertas (916 lipatan) dengan sinar terang

(satuan %).

7. Formation : Pemeriksaan secara visual terhadap susunan serat kertas, formasi

jelek bukan berarti kertas memiliki kualitas yang jelek, tetapi yang

(47)

Perbedaan kertas biasa dengan kertas rokok disajikan pada Tabel 2.10.

Tabel 2.10. Perbedaan Kertas Biasa dengan Kertas Rokok

Kertas Biasa Kertas Rokok

Basis weight +/- (70 gr/m2) Basis weight +/- (25 gr/m2)

Porosity +/- (5-10 cm) Porosity +/- (2-2,5cm)

Tensile > 5 KgF Tensile > 3 KgF

TiO2 sebagai filler CaCO3 sebagai filler

Sumber : PT.PDM Indonesia

2.4.3. Uraian Proses Produksi

Uraian proses produksi di PT. PDM Indonesia dapat diuraikan atas

beberapa tahapan yaitu tahap persiapan, tahap proses pembuatan kertas di Paper

Machine, dan tahap finishing.

2.4.3.1. Tahap Persiapan

Bahan baku sebelum diolah menjadi kertas harus dipersiapkan terlebih

dahulu. Bagian yang melaksanakan hal ini disebut stock preparation. Bahan yang

digunakan ada tiga yaitu pulp NBKP, LBKP, dan CaCo3.

a. Pengolahan NBKP

Bahan baku NBKP dimasukkan ke dalam hydra pulper dengan

menggunakan konveyor. Hydra pulper ini merupakan tangki untuk menguraikan

serat-serat pulp yang dicampur dengan white water sebagai pengencer. Didalam

(48)

didapatkan buburan dengan konsistensi 38-40 gr/ltr. Proses berlangsung secara

batch setiap 10-20 menit. Bahan baku ini digunakan sebanyak 1,5 bal untuk satu

kali pelarutan.

Kemudian buburan NBKP ditransfer ke wood dump chest sebagai tempat

penampungan sementara yang didalamnya terdapat agiator (pengaduk) untuk

membuat konsistensi bubur tetap terjaga.

Lalu buburan NBKP dipompakan ke refiner. Refiner merupakan suatu

alat yang berfungsi untuk memotong dan memecahkan serat sehingga serat-serat

menjadi lebih halus. Kemudian buburan yang telah halus ini ditampung di refiner

chest, dan dijaga konsistensinya sama dengan sebelum di mixing.

b. Pengolahan LBKP

LBKP sekitar 1,5 bal dilarutkan selama 10-20 menit. Untuk mendapatkan

konsistensi 38-40 gr/liter. Proses juga berlangsung secara batch. Pelarutan LBKP

dilakukan di hydra pulper bergantian dengan NBKP. Setelah itu dipompa ke

dalam storage chest, sebagai tempat penampungan sementara. Larutan terus

diaduk agar tidak mengendap sehingga konsistensinya tetap.

c. Pengolahan Broke

Buburan broke yang diproses di stock preparation ini berasal dari dry

broke dan wet broke. Khusus untuk dry broke sebelum masuk ke mixing chest

(49)

konsistensi tertentu, selanjutnya buburan broke ditransfer ke super vibrator yang

fungsinya hampir sama dengan refiner yaitu memecah gumpalan serat.

Untuk wet broke aliran prosesnya hampir sama dengan dry broke tetapi

tidak melalui super fiberator karena wet broke tersebut berupa serat-serat yang

sudah halus, maka alirannya langsung menuju broke chest.

d. Pengolahan Kalsium Karbonat

Kalsium karbonat dilarutkan di disolving tank sesuai dengan kebutuhan,

tetapi biasanya dilarutkan sebanyak 125 kg untuk dicampur dengan 2000 liter air.

Larutan diaduk selama 15 menit agar konsistensinya terjaga. Hasil larutan kalsium

karbonat disaring dengan vibrating screen dengan ukuran 100 mesh.

e. Pencampuran NBKP, LBKP, Broke dan Kalsium Karbonat

Di mixing chest seluruh bahan baku NBKP, LBKP dan broke dicampur

jadi satu. Komposisi dari pencampuran di mixing chest akan berlainan sesuai

dengan grade kertas rokok yang diinginkan konsumen. Contoh salah satu

komponen grade adalah low porosity dengan komposisi NBKP 25%, LBKP 35 %

dan broke 40%. Konsistensi yang diinginkan adalah sekitar 60 gr/ liter. Pada saat

pemompaan dalam proses mixing akan timbul buih-buih, sehingga diperlukan

bahan tambahan seperti deformer untuk menghilangkan buih. Campuran ini dibuat

sekitar 1 : 6 dengan air untuk kemudian dicampur terlebih dahulu di machine

chest dan siap dipakai pada paper machine. Buburan dipompakan ke stock master

(50)

Buburan yang keluar kemudian dialirkan ke centicleaner, yang berfungsi

untuk mengeluarkan kontaminan berat berdasarkan gaya sentrifugal melalui tiga

cleaner yaitu :

- Buburan yang telah diencerkan kembali dengan white water yang berasal dari

penyaringan dipompakan ke primary cleaner. Kemudian buburan yang baik

masuk ke constant level tank sedangkan reject masuk ke secondary cleaner.

Di secondary cleaner dipisahkan lagi, dimana buburan yang baik masuk ke

primary cleaner dan reject masuk ke tertiary cleaners dan kotorannya dibuang

ke limbah pembuangan.

- Buburan yang baik dari primary cleaner diencerkan dalam constant level tank

dengan white water dari pembuangan di wire. Buburan yang baik langsung ke

headbox, sedangkan yang reject masuk ke rotary screen.

- Pada rotary screen dilakukan penyaringan, buburan yang baik masuk ke

constant level tank dan reject mengalir ke wet broke chest.

2.4.3.2. Tahap Proses Pembuatan Kertas di Paper Machine

Setelah Approach flow system, tahap selanjutnya adalah pembuatan

lembaran kertas yang berawal dari head box. Sistem yang dipakai adalah system

close head box yang merupakan head box bertekanan untuk menjaga agar

turbulansi didalam head box tetap stabil. Tujuan utama head box adalah :

a. Mengeluarkan aliran yang seragam dari slice opening ke wire dengan sudut

(51)

c. Menghasilkan turbulensi terkontrol untuk menghilangkan gumpalan fiber

d. Mengatur grammatur kertas yang diproduksi

Dengan mengatur slice, maka aliran stock yang dihasilkan akan konstan

dan hampir sama dengan kecepatan wire sehingga akan didapatkan kertas dengan

formasi dan grammatur yang sama di tiap bagian.

Wire ini merupakan wire yang bersambung yang bergetar diantara dua roll

besar, satu didekat headbox dan yang satu lagi diujung lainnya. Wire ini terbuat

dari plastik berupa lembaran kasa yang telah dirancang sedemikian rupa. Di wire

ini dilakukan pengurangan kadar air dengan memberikan tekanan vakum 4-5 bar

secara terkontrol sehingga tidak merusak formasi lembaran kertas basah (wet

paper). Wire juga dibersihkan secara kontinu dengan sistem shower sehingga wire

tidak kotor dan selalu bersih.

Buburan diatas wire diayak dengan ukuran 100 mesh dan diatur

sedemikian rupa agar berat dasar kertas diperoleh. Berat dasar kertas pada

pembuatan kertas rokok ini merupakan elemen yang terpenting. Oleh karena itu,

proses ini sangat diperhatikan. Air yang keluar dari wire selama pembentukan wet

paper disebut white water dan biasanya ditampung di white water pit atau silo.

White water ini didaur ulang secara terus menerus dan dipakai pada proses yang

menggunakan air, karena akan lebih ekonomis dibandingkan dengan

menggunakan fresh water. Kemudian buburan digiling lagi dengan dandy roll

agar betul-betul uniform, setelah itu buburan dibentuk seperti lembaran (sheet).

Dari dandy roll, lembaran dipress dengan kekuatan 4-5 bar untuk

(52)

sudah kuat untuk ditarik hingga kadar airnya menjadi 60%-65%. Lembaran yang

masih basah dihisap oleh contact wire/ vacum rube menuju press utama.

Lembaran tersebut ditarik lagi ke embossing dengan pemberian garis

horizontal yang disebut verge making, yang ditempatkan pada bagian bawah

embossing. Pengepresan tergantung pada kadar air yang diinginkan. Setelah

pemberian verge making, air residu dari kertas dibuang lagi denga cara evaporasi

di main dryer. Proses evaporasi ini memerlukan banyak energi yang disuplai

dalam bentuk uap. Main dryer juga merupakan bagian besar dalam mesin kertas

sehingga memerlukan energi yang besar pula. Main dryer terdiri dari 15 dryer.

Tekanan dari steam bervariasi tergantung dari jenis kertas rokok yang akan

diproduksi. Selanjutnya lembaran kertas yang kadar airnya mulai sedikit

dilanjutkan ke unit size press yang berfungsi untuk melapisi permukaan kertas

dengan chemical yang diberikan antara dryer 10 dan dryer 11.

Setelah melewati size press, kertas yang kadar airnya bertambah lagi

akibat penambahan chemical tersebut dikeringkan lagi ke after dryer. Pengeringan

ini melalui lima buah roll dengan suhu yang dibuat bertahap dari 500C sampai

1000C. Selanjutnya lembaran kertas ini ditransfer ke bagian on reel untuk

digulung sesuai dengan order permintaan konsumen.

Kertas yang sudah kering digulung sehingga membentuk roll yang besar

atau disebut juga dengan jumbo roll. Panjang jumbo roll itu tidak sama tergantung

pada bentuk pada proses finishing. Bila untuk repping machine panjangnya sekitar

(53)

Jumbo roll dari on reel kemudian dicetak polanya berupa logo konsumen

yang diinginkan. Pencetakan logo ini tergantung dari permintaan konsumen

karena tidak semua roll dari paper machine yang melalui proses repping ini.

Setelah roll selesai di repping, dibawa lagi ke bagian roll sliter untuk dipotong

menjadi roll yang lebih kecil dimana lebar dan tebalnya dibuat sesuai kebutuhan.

2.4.3.3. Tahap Finishing

Pada tahap ini, rol-rol kertas rokok dibagi menurut bentuk kertas yang

akan diproduksi. Kegiatan-kegiatan yang ada antara lain :

a. Ream Cutter

Rol-rol kecil dari roll sliter dipotong menjadi lembaran-lembaran (ream).

Lembaran ini panjangnya 76-83 cm dan lebarnya 51 cm. Pada tahap ini kertas

masih diperiksa untuk yang terakhir kalinya. Pemeriksaan yang dilakukan ialah :

- Cutting

Pemeriksaan ini dilakukan pada hasil pemotongan oleh mesin. Apabila hasil

pemotongan kasar, maka kertas akan dibuang menjadi broke.

- Penampilan fisik

Termasuk disini adalah kebersihan, jika kertas kotor maka kertas juga akan di

buang dan dijadikan broke.

- Rectangular

Pemeriksaan ini dilakukan khusus pada ream, kertas dilipat dan diperiksa

apakah simetris atau tidak. Apabila ketidaksimetrisan kertas melampaui batas

(54)

b. Bobbin Slitter

Rol-rol dari slitter dipotong lagi pada bagian ini menjadi bobbin-bobbin.

Setiap bobbin mempunyai ukuran 24-29 mm. Sedangkan panjang kertas sekitar

5500-6000 m. Pada tahap ini, kertas yang berbentuk bobbin masih diperiksa lagi

utnuk terakhir kalinya. Pemeriksaan yang dilakukan adalah :

- Cutting

Pemeriksaan ini dilakukan pada hasil pemotongan oleh mesin. Apabila hasil

pemotongan kasar, maka kertas akan dibuang menjadi broke.

- Penampilan fisik

Termasuk disini adalah kebersihan, jika ada bagian bobbin kotor maka kertas

juga akan di buang dan dijadikan broke.

- Hasil penggulungan

Pemeriksaan ini khusus dilakukan pada bobbin. Bobbin yang sudah dipotong,

diperiksa gulungannya apakah rapi atau tidak. Jika ada bobbin yang kurang

rapi akan dikirim ke bagian bobbin reclamer untuk digulung kembali.

c. Packaging

Produk jadi berbentuk ream atau bobbin yang sudah selesai, dibungkus

dengan pembungkus. Setelah diletakkan labelnya kemudian dipindahkan ke

gudang barang jadi untuk selanjutnya dikirimkan ke konsumen atau pabrik rokok.

(55)

Penghancuran Bahan Baku

Pencampuran Bahan Baku Penghalusan Bahan Baku

Pelarutan Bahan Baku

Embossing Pressing Fourdriner

Pembersihan Bubur Kertas

Penggulungan Kertas Pengeringan II Pemberian Zat Kimia

Pengeringan I

Pemotongan Kertas Pencetakan Logo

Bentuk Bobbin Bentuk Ream

[image:55.595.146.556.110.744.2]

Packing

Gambar 2.2. Blok Diagram Pembuatan Kertas Rokok

Tahap Persiapan

Bahan

Tahap Pembuatan

Kertas

Tahap Penyelesaian

(56)

2.4.4. Mesin, Peralatan, dan Utilitas 2.4.4.1. Mesin

Dalam memproduksi kertas rokok, PT. PDM Indonesia menggunakan

beberapa jenis mesin. Adapun jenis dan spesifikasi mesin yang digunakan untuk

memproduksi kertas rokok di PT.PDM Indonesia adalah sebagai berikut :

1. Tangki Penampungan

a. Wood Dump Chest

Kapasitas : 20 m3

Merek : Kimsari

Type : Rotary 763

Fungsi : Menampung larutan NBKP yang berasal dari hydra pulper

sebelum diproses pada refiner.

b. Wood refiner chest

Kapasitas : 15 m3

Merek : Kimsari

Type : Rotary 763

Fungsi : Menampung larutan NBKP yang berasal dari refiner

sebelum dimasukkan ke dalam mixing chest.

c. Storage chest

Kapasitas : 380 m3

Merek : Kimsari

(57)

Fungsi : Menampung larutan LBKP yang berasal dari hydra

pulper sebelum dimasukkan ke dalam mixing chest.

d. Super vibrator chest

Kapasitas : 10 m3

Merek : Kimsari

Type : Rotary 763

Fungsi : Menampung broke dari super vibrator sebelum

dimasukkan ke dalam broke chest

e. Broke Chest

Kapasitas : 10 m3

Merek : Kimsari

Type : Rotary 763

Fungsi : Menampung broke yang sudah dihancurkan pada rotary

screen (wet broke) dan super vibrator chest sebelum

dimasukkan ke dalam mixing chest.

f. Mixing chest

Kapasitas : 10 m3

Merek : Kimsari

Type : CM 7T30/2

Fungsi : Mencampur NBKP, LBKP, dan broke menjadi satu untuk

kemudian dialirkan ke dalam machine chest.

g. Machine chest

(58)

Merek : Kimsari

Type : CM 7T30/2

Fungsi : Menampung campuran larutan pulp sebelum diproses

dalam paper machine.

2. Tangki pengolah pulp

a. Hydra Pulper

Kapasitas : 20 m3

Merek : Kimsari

Type : CM 7T30/2

Fungsi : Menghancurkan dan melarutkan NBKP dan LBKP

menjadi larutan pulp yang kemudian dialirkan ke dalam

b. Sydra Pulper

Kapasitas : 20 m3

Merek : Kimsari

Type : CM 7T30/2

Fungsi : Melarutkan broke yang kemudian dialirkan ke super

vibrator.

c. Super Vibrator

Kapasitas : 20 m3

Merek : Kimsari

Type : Engasungs Tank

(59)

d. Twin Hydralic Refiner

Ukuran : 20”/22”

Berat : 1150 kg

Tegangan : 3300 V

Frekuensi : 50 Hz

Putaran : 980 rpm

Type : BDH

Fungsi : Menghancurkan dan menghaluskan NBKP yang kemudian

dialirkan ke refiner chest.

e. Pompa

Kapasitas : 1,5 m3/menit

Putaran : 1150 rpm

Daya : 18,5 Kw

Fungsi : Memompakan larutan pulp melalui pipa-pipa dari satu

tangki ke tangki yang lain.

3. Mesin

a. Head of machine

Fungsinya: untuk mengencerkan buburan dan untuk membersihkan

serta mengatur laju buburan.

- Centi cleaner, yang terdiri dari pipa kerucut untuk memisahkan

kotoran dari pulp, jumlahnya 35 buah

- Rotary screen, untuk menyaring pulp atau serat yang kasar yang

(60)

- Constant level tank, untuk menstabilkan keadaan buburan

dilengkapi dengan alat otomatis 1 buah flow meter dan motor rised

pulper, dimana flow buburan 500m3/hr dan flow CaCO3 30m3/hr.

b. Four driner

Fungsinya: untuk membentuk buburan menjadi lembaran/sheet.

Perlengkapan lainnya adalah :

- Head box yang dilengkapi dengan pressure rise (bertekanan)

- Vacum box sebanyak 18 buah

- Pomp-pompa sebanyak 18 buah

- Wire dengan panjang 30 cm, dilengkapi dengan shaker

(penggoyang) serta dandy roll yang berfungsi untuk meratakan

buburan.

- Wet felt dengan ukuran 16,7 m x 2 m yang berputar membawa

kertas yang terdiri dari 2 buah roll yang dilapisi karet berdiameter

60 cm.

c. Pick up press

Fungsinya: untuk mengeluarkan air yang masih dikandung oleh

lembaran kertas.

d. Embosser

Fungsinya: untuk mencetak garis-garis horizontal pada kertas.

Embossing terdiri atas roll yang berputar terbuat dari stainless steel

(61)

Fungsinya: untuk menambah bahan kimia agar kualitas pada kertas

bertambah baik. Terdiri dari tiga buah roll yang berintegrasi dengan

dryer dan ditambahkan diantara dryer nomor 10 dan 11.

f. Dryer

Fungsinya: untuk mengeringkan lembaran kertas. Menggunakan 15

dryer yang terdiri dari 2 jenis :

- Free dryer

- Position dryer

Dryer dilengkapi dengan kain bentangan, selain itu ada juga madeline

yang berfungsi untuk menghembuskan udara panas ke kain felt dan 2

unit exhaust untuk menghisap udara-udara yang keluar dan

seperangkat carier roop untuk membawa kertas dari press ke felt.

g. Roll slitter

Fungsinya: untuk memotong jumbo roll menjadi roll yang lebih kecil.

h. Ream cutter

Fungsinya: untuk memotong rol kecil menjadi lembaran ream.

i. Bobbin slitter

Fungsinya: untuk memotong rol-rol kecil menjadi gulungan (bobbin).

j. Repping machine

Fungsinya: untuk mencetak garis atau pola sesuai dengan permintaan

konsumen.

k. Bobbin reaclemer

(62)

2.4.4.2. Peralatan (Equipment)

Peralatan material handling digunakan untuk memindahkan material dari

suatu tempat ke tempat lain. Mesin dan peralatan material handling yang

digunakan adalah:

1. Hinged Forklift

Forklift ini digunakan untuk mengangkut jumbo roll ke daerah finishing untuk

dipotong pada mesin-mesin roll slitter. Selain itu juga digunakan untuk

mengangkut barang jadi ke gudang barang jadi. Gerakan garpu pada forklift

jenis ini terbatas, hanya bisa digerakkan atas-bawah dan maju-mundur.

Kapasitasnya tiga ton.

2. Hoist Crane

Crane ini digunakan untuk mengangkat jumbo roll ke daerah repping

machine. Operasi pemakaiannya dikendalikan dengan switch gantung dari

lantai.

2.4.4.3. Utilitas

Sarana pendukung merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi

kelancaran proses produksi. Sarana pendukung yang ada di pabrik PT. PDM

Indonesia terdiri dari kebutuhan tenaga listrik, kebutuhan tenaga air, dan steam

(boiler).

1. Kebutuhan tenaga listrik

(63)

Pemenuhan kebutuhan listrik ini diperoleh dari perusahaan listrik negara (PLN).

Pemakaian listrik yang dipergunakan pada PT. PDM Indonesia adalah 20 KV

(1550 Kwh/metrik ton paper) dengan keperluan untuk boiler 900 Lt/metrik ton

paper dan kebutuhan air 1200 m3.

2. Kebutuhan Air

Air dibutuhkan untuk membantu proses produksi serta kebutuhan para

pegawai PT. PDM Indonesia. Air yang dipakai berasal dari air permukaan umum

dan PDAM Tirtanadi.

3. (Steam) Boiler

Fungsi boiler disini adalah untuk menghasilkan energi panas yang

diperlukan pada proses produksi untuk mengeringkan lembaran-lembaran kertas

(64)

BAB III

LANDASAN TEORI

3.1. Definisi Perawatan (Maintenance)

Perawatan atau disebut juga pemeliharaan merupakan suatu fungsi utama

dalam organisasi atau industri yang sama dengan fungsi-fungsi lainnya seperti

produksi. Permeliharaan pabrik dan peralatan dalam tatanan kerja yang baik

sangat penting untuk mencapai kualitas dan keandalan (Realibility) tertentu serta

kerja yang efektif dan efisien. Sistem yang baikpun tidak akan bekerja secara

memuaskan kecuali dipelihara dengan baik pula. Perawatan pada umumnya

dilihat sebagai kegiatan fisik seperti membersihkan peralatan yang bersangkutan,

memberi oli (pelumas), memperbaiki kerusakan, mengganti komponen dan

sema

Gambar

Gambar 2.1. Struktur Organisasi PT. PDM Indonesia  Sumber: PT. PDM Indonesia
Tabel 2.1. Jenis Pulp Serat Panjang
Tabel 2.4. Jenis-jenis Cationic Retention Aid
Tabel 2.5. Jenis-jenis Anti Foam
+7

Referensi

Dokumen terkait

Analisis data yang telah ditentukan bertujuan untuk memperoleh interval waktu optimum penggantian wire screen sehingga dapat menentukan biaya maintenance yang

Judul Penelitian “ METODE AGE REPLACEMENT DIGUNAKAN UNTUK MENENTUKAN INTERVAL WAKTU PERAWATAN MESIN PADA ARMADA BUS”. Penelitian ini dilakukan di PO Harapan Jaya

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan perencanaan perawatan sebagai pengoptimalan biaya down time pada mesin flying shear menggunakan metode age replacement di PT. Hanil Jaya