• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Keberlanjutan Program Makanan Tambahan Untuk Anak Sekolah (PMT-AS) di Bandung dan Bogor

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Studi Keberlanjutan Program Makanan Tambahan Untuk Anak Sekolah (PMT-AS) di Bandung dan Bogor"

Copied!
134
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)
(11)
(12)
(13)
(14)
(15)
(16)
(17)
(18)
(19)
(20)
(21)
(22)
(23)
(24)
(25)
(26)
(27)
(28)
(29)
(30)
(31)
(32)
(33)
(34)
(35)
(36)
(37)
(38)
(39)
(40)
(41)
(42)
(43)
(44)
(45)
(46)
(47)
(48)
(49)
(50)
(51)
(52)
(53)
(54)
(55)
(56)
(57)
(58)
(59)
(60)
(61)
(62)
(63)
(64)
(65)
(66)
(67)
(68)
(69)
(70)
(71)
(72)
(73)

STlJDI KEBEKLANJIJTAN PROGRAM MAKANAN

TAMBAHAN [JNTUK ANAK SEKOLAH (PMT-AS)

DI

BANDUNG DAN BOGOR

OLEH

:

IRA ENDAH ROHIMA

PROGRAM PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(74)

ABSTRAK

IRA ENDAH ROHIMA. Studi Keberlanjutan Program Makanan Tambahan untuk Anak. Sekolah (PMT-AS) di Bandung dan Bogor. Dibimbing oleh ALI KHOMSAN dan IGN. DJOKO SUSANTO.

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keberlanjutan PMT-AS. Tujusn khusus penelitian adalah untuk mengkaji : (1) kinerja PMT-AS di Bandung dan Bogor, (2) persepsi pejabat daerah mengenai pelaksanaan, manfaat, beban, kebutuhan, sasaran, dan pengaruh otonomi daerah terhadap keberlanjutan PMI-AS,

(3) persepsi pihak sekolah mengenai pelaksanaan, manfaat, beban, kebutuhan, dan pelatihan dari PMT-AS, (4) persepsi masyarakat mengenai pelaksanaan, manfaat, beban, dan kebutuhan dari PMT-AS, (5) upaya pejabat daerah, pihak sekolah, dan masyarakat terhadap keberlanjutan PMT-AS, dan (6) perbaikan model kinerja menurut pejabat daerah dan pihak sekolah untuk keberlanjutan PMT-AS.

Desain penelitian ini adalah cross sedional study dan retrospectif yang dilaksanakan di Bandung dan Bogor. Pengambilan data primer dan sekunder dilakukan pada bulan April-Juli 2002. Responden adalah pejabat daerah, pihak sekolah, dan masyarakat yang seluruhnya berjumlah 117 orang.

Pada tahun anggaran 2002, Kota Bandung dan Kota Bogor masih menyelenggarakan PMT-AS sedangkan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bogor tidak menyelenggarakan PMT-AS. Meskipun demikian, seluruh pejabat daerah di Bandung dan Bogor memberikan persepsi bahwa pelaksanaan PMT-AS berjalan deng.sn baik, 75%-100% pejabat daerah menilai bahwa PMT-AS memberikan manf.aat, PMT-AS tidak menjadi beban (50-loo%), PMT-AS masih dibutuhkan (87,5- loo%,), sasaran perlu selektif lagi (87,5-loo%), dan otonomi daerah mempengaruhi kebe~lanjutan PMT-AS (62,5-87,5%).

Pihak sekolah (91.7-100%) di Bandung dan Bogor memberikan persepsi bahwa pelaksanaan PMT-AS berjalan dengan baik, 75-91,7% pihak sekolah menilai bahwa PMT-AS memberikan manfaat, PMT-AS tidak menjadi beban (83,3-loo%),

PMT-AS masih dibutuhkan (91,7-loo%), dan pelatihan masih diperlukan oleh pihak sekolah (75-100%).

Masyarakat (75-100%) di Bandung dan Bogor memberikan persepsi bahwa pelaksanaan PMT-AS berjalan dengan baik, 75-90,9% masyarakat menilai bahwa PMT-AS memberikan manfaat, dan seluruh masyarakat menilai bahwa PMT-AS tidak menjadi beban dan masih dibutuhkan.

Upaya melanjutkan PMT-AS secara mandiri di Bandung dan Bogor oleh

(75)

SURAT PERNYAT.4AN

Dengan ini saya rnenyatakan bahwa tesis yang berjudul

Stud1 Keberlanjutan Program Makanan Tambahan untuk Anak Sekolah

(PMT-AS) di Bandung dan Bogor adalah benar nerupakan hasil karya saya sendiri

dan belurn pernah dipublikasikan. Sernua surnber data dan inforrnasi yang

digurakan telah dinyatakan secara jelas dan dapat diperiksa kebenarannya.

(76)

STIIDI KEBERLANJIITAN PROGRAM MAKANAN

TAlMBAHAN UNTUK ANAK SEKOLAH (PMT-AS)

DI BANDlJNG DAN BOGOR

IRA ENDAH ROHIRIA

Tesis

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga

PROGRAM PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(77)

Judul Tesis : Studi Keberlanjutan Program Makanan Tarnbahan Untuk Anak

Sekolah (PMT-AS) di Bandung dan Bogor

Nama : Ira Endah Rohirna

NRP : P.21500011

Program Studi : Gizi Masyarakat dan Surnberdaya Keluarga

Menyetujui,

1. Komisi Pernbimbing

Prof.Dr.lr. Ali Khornsan.MS. K'stua

~ r . l ~ n . Dioko Susanto,SKM..APU Anggota

Mengetahui,

2. Ketua Program Studi Gizi Masyarakat 3. Direktur Program Pascasarjana dari Surnberdaya Keluarga

ProfDr Ir Ali Khornsan, MS.

--

(78)

Penulis dilahirkan di Bandung pada tanggal 21 Maret 1976 dari ayah

dr. Ading Suwardi dan ibu Tati Resmiati. Penulis merupakan putri keempat dari lima

bersaudara.

Tahun 1994 penulis lulus dari SMA Negeri 17 Bandung dan pada tahun yang

sama lulus seleksi masuk Universitas Pasundan (Unpas) Bandung. Penulis memilih

Jurusan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Industri. Selain itu penulis mengikuti

Diploma dengan jurusan Komputer Akuntansi di Java Study Bandung.

Selama perkuliahan penulis rnenjadi asisten laboratorium mata kuliah

Analisis Pangan pada tahun ajaran 199811999, Pada tahun 1999 penulis

menyelesaikan pendidikan S-I dan tahun 2000 berkesempatan untuk melanjutkan

ke Program Pascasarjana IPB pada program studi Gizi Masyarakat dan

(79)

Allah, tidak membebani seseomng melainkan sesuai dengan

kesanggupannya. I a mendapat paha~la (dari kebqjikan) yang diusohakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang

(80)

PRAKATA

Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wata2'ala,

yang telah memberikan kesehatan dan kesempatan kepada penulis untuk dapat

men](elesaikan penelitian ini dengan judul Studi Keberlanjutan Program Makanan

Tambahan Untuk Anak Sekolah (PMT-AS) di Bandung dan Bogor.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Prof.Dr.lr. Ali Khomsan, MS. selaku

ketua komisi pembimbing dan ketua Program Studi Gizi Masyarakat dan

Sumberdaya keluarga, Dr.lgn. Djoko Susanto, SKM., APU selaku anggota komisi

pemt)imbing, dan Dr.lr. Hadi Riyadi, MS. selaku penguji pada ujian tesis yang telah

memberikan bimbingan dan saran yang sangat bermanfaat bagi kesempurnaan

penelitian ini. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada pejabat

daereh, pihak sekolah, dan masyarakat di Bandung dan Bogor yang telah membantu

dalarn pengumpulan data. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah,

ibu, serta seluruh keluarga, atas segala doa dan kasih sayangnya.

Penulis menyadari tesis ini jauh dari sempurna, tetapi penulis berusaha

melakukan yang terbaik bagi penelitian ini. Semoga kiranya tesis ini bermanfaat.

Bogor, Agustus 2002

(81)

DAFTAR

IS1

Halaman

DAFTAR TABEL ... . . . ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .. viii DAFTAR GAMBAR ... . . . ... ... . . . ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ix

PENIIAHULUAN

Latar Belakang ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... 1 . .

Tujuan Penelltian ... . . ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... . . ... ... ... ... ... ... .. 3 . .

Manfaat Penelitian ... ... ... ... ... ... ... . . . ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... . . ... ... ... . 3

TINJAUAN PUSTAKA

Gizi Murid Sekolah Dasa 4

Program Makanan Tambahan untuk Anak Sekolah . .. ..

.

.. . ... ... .. . ... ... . . . .. 5

Otonomi Daerah dan Kebutuhan Program ... ... ... ... ... ... ... ...

...

... ... ... ... .. 8 Keberlanjutan Program . . .

.

. . .

. .

. . . .. . 10

Persepsi ... . .. . . ... .. . . ... .. . .. . . .. .. . . .. ... . .. ... ... ..

. ... .

.. .. . ... .. . .. . ... . .. .. . .. . .. . . I I

KERANGKA PEMlKlRAN ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... . I 3

METODE PENELlTlAN

Desain, Lokasi, dan Waktc Penelitian

...

... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...

...

... ... .. 16

Teknik Penarikan Contoh 16

Jenis dan Cara Pengumpulan Data . . .

. . .

.

.

.

. . . .

. .

.

. . . .. .

. . .

. . 17

Pengolahan dan Analisis Data 18

Definisi Operasional 19

HASlL DAN PEMBAHASAN

Hasil ... 20 Pembahasan ... 38

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan ... 42 Saran ... 43

(82)

DAFTAR TABEL

Halaman

1.

C)aftar responden ... ... ... ... ... ...

...

... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... . . . ... . . . ... I7

2. Jenis dan cara pengumpulan data 18

3. Keadaan wilayah Bandung dan Bogor 20

4. Miteria sasaran PMT-AS 2 1

5. Clata keseluruhan dan sasaran PMT-AS Tahun 2001 ... ... ... ... ... . . . ... ... .. 21

6. Lokasi sekolah yang menjadi contoh penelitian ... ... ... ... ... ... ... ... ... . . . . . . . 22

7. Karakteristik sekolah yang menjadi contoh penelitian

.

.. .. . . .. . .. ... . .. ... .. . . .. 23

8. Fersentase status gizi anak yang mendapat PMT-AS di Bogor ... ... ... ... .. 28

9. Fersentase siswa yang memperoleh nilai kurang dari enam di Bogor ... ... 29

10. Persepsi mengenai pelaksanaan PMT-AS ... ... . ... ... ... ... ... ... ... ... . . . .. . ... 30

1 1 . Persepsi mengenai manfaat PMT-AS 3 1

12. Persepsi mengenai beban PMT-AS 32

13. Persepsi mengenai kebutuhan PMT-AS 33

14. Persepsi mengenai pelatihan ... ... ... ... ... ... ... ...

... ...

... ... ... ... ... ... ... ... ... 34

15. Persepsi mengenai sasaran PMT-AS 35

16. Persepsi rnengenai otonomi daerah yang mempengaruhi keberlanjutan

PMT-AS ... 36

17. Upaya untuk keberlanjutan PMT-AS . . . ... ... ... . . . .. . . . . ... . . . ... ... ... ... ... ... 37

(83)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Kerangka pernikiran studi keberlanjutan PMT-AS ... ... ... ... ... ... ... ... .. 15

(84)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1

.

Cover kuesioner penelitian ... 47

2 . Kuesioner penelitian untuk Pejabat Daerah ... 48

3 . Kuesioner penelitian untuk Pihak Sekolah ... 49

4 . Kuesioner penelitian untuk Masyarakat ... 50

(85)

PENDAHULUAN

Salah satu program penting yang dimulai dalarn Repelita VI adalah Program

Pendidikan Dasar 9 tahun. Program ini mempunyai sasaran agar paling larnbat pada

Repelita VII sernua anak umur 7-15 tahun serendah-rendahnya berpendidikan

SLTP Salah satu kendala untuk rnencapai sasaran tersebut adalah tingginya angka

putus sekolah (drop out) pada siswa SDIMI dan banyaknya siswa yang tidak

melanjutkan ke jenjang pendidikan SLTP. Masalah kerniskinan orang tua serta

rendalinya status gizi dan kesehatan anak merupakan dua rnasalah penting di

sarnping rnasalah jurnlah dan rnutu fasilitas pendidikan yang kurang rnernadai.

IKegiatan yang dilaksanakan pemerintah untuk menanggulangi rnasalah

tersebut adalah rnenyelenggarakan Program Makanan Tarnbahan Anak Sekolah

(PMT-AS). Kegiatan tersebut ditujukan kepada siswa SDIMI di daerah lnpres Desa

Tertinggal (IDT) dengan memberikan makanan tarnbahan dan pemberian obat

cacing dalarn ueaha peningkatan status gizi anak. lndikator keberhasilan PMT-AS

yang telah ditentukan oleh Forum Koordinasi PMT-AS meliputi peningkatan status

gizi ar~ak SDIMI, penurunan angka ~ibsensi, peningkatan nilai anak untuk semua

mata pelajaran, penurunan angka infeksi kecacingan anak, peningkatan

pengetahuan, sikap dan keterarnpilan anak dan guru dalam aspek kesehatan serta

terlaksananya PMT-AS setiap tahun anggaran (Forum Koordinasi PMT-AS, 1999).

Pads awalnya PMT-AS diselenggarakan di 6 propinsi lndonesia Timur Jan

Jawa Tengah. Sejak tahun ajaran I99611997 program ini dilaksanakan di desa-desa

tertinggal di luar Jawa-Bali dan pada tahun ajaran 199711998 diperluas ke seluruh

(86)

Madpasah lbtidaiyah (MI) di desa tertinggal. PMT-AS merupakan program yang

berslfat multi dimensional dengan rnulti tujuan dan multi sasaran. Dari ?egi tujuan

PMT-AS berdirnensi gizi, kesehatan, pendidikan, pertanian, ekonomi, dan

pemberdayaan masyarakat. Dari segi sasaran, PMT-AS berdimensi anak, orang tua

murid, guru, dan rnasyarakat ( F o N ~ Koordinasi PMT-AS, 1999).

Penelitian sebelumnya mengenai PMT-AS telah banyak dilakukan,

menunjukkan hasil yang beragam di antaranya pemahaman yang cukup mengenai

kons'zp PMT-AS pada sebagian besar anak sekolah, guru, dan orang tua (Pranadji

dan Hardinsyah, 2000), dampak pemberian PMT-AS pada peningkatan kadar

glukclsa darah siswa di Bogor (Triatma, eta/., 2000), status gizi anak sekolah yang

menclapat PMT-AS lebih baik dibandingkan status gizi anak sekolah yang tidak

menclapat PMT-AS (Reviyanti, et a/., 2000), persepsi masyarakat yang terlibat cukup

baik cjengan keberadaan PMT-AS (Endaryanto, 1999).

Selain itu makanan kudapan yang belurn rnernenuhi persyaratan gizi

PMT-AS (Hardinsyah, et al., 2000), kegiatan PMT-AS belum menunjukkan dampak

positif terhadap pengetahuan, sikap, dan perilaku gizi siswa (Sukandar dan Tanziha,

2000:1, pelaksanaan PMT-AS di tingkat petugas pemasak belum sepenuhnya sesuai

d e n g ; ~ pedoman pelaksanaan (Sukandar, et a/., 1998), proses pelaksanaan

PMT-AS masih ada aktivitas yang belum sesuai dengan petunjuk teknis PMT-AS

(Widiyaningsih, 1999), serta manajemen penyelenggaraan PMT-AS belum sesuai

dengan petunjuk teknis di Kabupaten Bogor (Hardinsyah, eta/., 2000)

Mernasuki era otonomi daerah sebagai konsekuensi logis pelaksanaan

Unda'ig-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang perimbangan Keuangan antara

Pemerintah Pusat dan Daerah serta Peraturan Pemerintah RI Nomor 25 Tahun

(87)

Padii tahun anggaran 2002, pelaksanaan PMT-AS tidak lagi diberikan dana secara

khusus dari pemerintah pusat tetapi dibebankan pada pcmerintah daerah sehingga

kebijakan pelaksanaan PMT-AS mengalami perubahan kebijakan berdasarkan

pertiinbangan Bupati dan Walikota daerah seternpat.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keberlanjutan PMT-AS. Secara lebih

khusus, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji :

1 . Kinerja PMT-AS di Bandung dan Bogor.

2. Persepsi pejabat daerah mengenai pelaksanaan, manfaat, beban, kebutuhan.

s~asaran, dan pengaruh otonomi daerah terhadap keberlanjutan PMT-AS.

3. Persepsi pihak sekolah mengenai pelaksanaan, manfaat, beban, kebutuhan, dan

pelatihan dari PMT-AS.

4. Persepsi masyarakat mengenai pelaksanaan, manfaat, beban, dan kebutuhan

dari PMT-AS.

5. Upaya pejabat daerah, pihak sekolah dan masyarakat untuk kebecanjutan

PMT-AS.

6. P~srbaikan model kinerja PMT-AS rnenurut pejabat daerah dan pihak sekolah

urltuk keberlanjutan PMT-AS.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi

pembuat dan pengambil kebijakan program dalam meningkatkan pelaksanaan

program rnakanan tarnbahan bagi anak Sekolah Dasar sehingga dapat

menir~gkatkan kualitas surnberdaya manusia di masa depan. Selain itu sebagai

(88)

TINJAUAN PUSTAKA

Gizi Murid Seliolah Dasar

Murid sekolah dasar pada umumnya berusia antara 6-12 tahun. Pada masa ini

anak dalam masa pertumbuhan yang cepat dan kegiatan fisik yang aktif.

Pertumbuhan anak sekolah relatif lebih lambat dibandingkan pertumbuhan pada

w a k t ~ bayi atau pra sekolah. Krause (1979) menyatakan keturunan dan lingkungan

mercpakan determinan yang sangat penting dalam pertumbuhan dan

perkembangan sekolah anak. Pertumbuhan merupakan refleksi dari kondisi

keseiatan seseorang, sedangkan penyebab langsung seorang anak dapat tumbuh

dan berkembang secara baik adalah cukupnya masukan zat gizi serta !erbebasnya

dari penyakit infeksi.

Perturnbuhan dan perkembangan seorang anak akan normal bila ia

mengkonsumsi makanan dengan jumlah yang cukup. Pada periode ini anak lebih

aktif memilih makanan yang disukai. Kebutuhan energi akan tetap tinggi karena

mereka mempunyai aktivitas fisik yang meningkat. Protein diperlukan untuk

pemt~entukan otot dan darah. Untuk pertumbuhan yang masih berlangsung, maka

dibutl~hkan kalsium dan fosfor untuk mineralisasi tulang dan gigi disertai dengan

vitamin D yang cukup.

Angka kecukupan gizi rata-rata yang dianjurkan dan disebarkan melalui

Widy.3karya Nasional Pangan dan Gizi sebagai pedoman berapa besar kebutuhan

gizi anak. Angka kecukupan gizi untuk anak usia 7-9 tahun energi yang dibut~hkan

adalah 1900 Kkal dan protein 37 gram sedangkan anak usia 10-12 tahun laki-laki

ener~li yang dibutuhkan adalah 2000 Kkal dan protein 45 gram serta wanita energi

(89)

Program Makanan Tambahan Untuk Anak Sekolah

Program makanan tambahan anak sekolah merupakan usaha yang

dilakukan negara-negara berkembang dalam rangka memenuhi rnakanan bergizi.

Pelernbagaan program makanan tambahan untuk anak-anak dimulai sejak

pertengahan abad ke 19, saat Barisan Pengawal Nasional di Paris mengumpulkan

dana untuk menyediakan makan siang di sekolah untuk anak-anak yang

menibutuhkan bantuan. Pada awalnya kegiatan pemberian makanan tambahan

dibiayai secara pribadi atau kelompok-kelompok penyurnbang dan ditujukan khusus

untuk anak-anak miskin dalarn bentuk pembagian susu. Perkembangan selanjutnya,

program ini diambil alih pemerintah dengan rnembagikan jenis rnakanan yang lebih

banyak kepada anak-anak di semua tingkat ekonomi (Berg, 1986).

Di banyak negara, program makanan tarnbahan berbeda jenisnya dan

biasanya tergantung dari tujuan yang akan dicapai (Harper, 1986). Program

makanan tambahan untuk anak di lndonesia dilaksanakan dengan latar belakang

bahwa anak merupakan aset sumberdaya manusia yang sangat penting guna

meribangun masa depan bangsa yang maju, mandiri, sejahtera, dan berkeadilan

(Syarief, 1997).

Program makanan tambahan anak sekolah di daerah miskin dan terpencil di

seluruh lndonesia diselenggarakan mulai tahun 199611997 yang dikukuhkan melalui

Inpres No. 1 Tahun 1997, setelah sebelumnya pada tahun 199211993 sampai

199E'/1996 dilakukan ujicoba pemberian makanan tambahan dan obat cacing pada

anak-anak SD di 11 propinsi. PMT-AS di lndonesia tidak sama dengan program

makanan tambahan di negara lain yang memberikan makan siang &tau sarapan

(90)

mak.man kudapan dengan syarat-syarat tertentu seperti menggunakan bahan lokal,

tidak berbentuk makanan lengkap atau makanan pokok (nasi dan lauk pauknya) dan

benifat sebagai makanan suplemen bukan substitusi, selain itu rnakanan harus

mens3andung kurang lebih 300 Kalori dan 5 gram protein untuk setiap kali

peml~erian, kudapan diberikan tiga kali seminggu atau 108 kali dalam satu tahun

ajaran. Kegiatan lainnya berupa pemberian obat cacing setiap dua kali per tahun

serte; penyuluhan 1 pendidikan gizi dan kesehatan.

PMT-AS merupakan program yang bersifat multi dimensional dengan multi

tujuan dan multi sasaran. Dari segi tujuan PMT-AS berdimensi gizi, kesehatan,

pendidikan , pertanian, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat. Dari segi sasaran,

PMT.AS berdimensi anak, orang tua murid, guru, dan masyarakat (Forum

Koorclinasi PMT-AS, 1999). Adapun tujuan dan sasaran PMT-AS adalah sebagai

berikut :

1. Tujuan Umum dan Jangka Panjang antara lain meningkatkan keadaan gizi dan

derajat kesehatan anak SD, meningkatkan kemampuan dan prestasi belajar

anak SD, rnemberdayakan orang tua murid dan masyarakat sehingga lebih

rr~emperhatikan pendidikan, gizi dan kesehatan anak, serta rnembantu upaya

peningkatan pendapatan masyarakat miskin dan peningkatan ekonomi

pedesaan.

2. Sasaran dan Tujuan Jangka Pendek dan Menengah

a Untuk anak SD antara lain mengurangi absensi dan meningkatkan perhatian

serta kemampuan anak dalam proses belajar di kelas, mendidik anak akan

pentingnya gizi seimbang dan makan pagi untuk kesehatannya, mendidik

anak untuk selalu rnenyukai makanan tradisional dan makanan atau jajanan

(91)

anak akan pentingnya kebersihan dan sanitasi lingkungan, meningkatkan

status gizi dan kesehstan anak, dan meningkatkan prestasi belajar.

tr. Untuk guru antara lain mendorong guru untuk menggunakan PMT-AS

sebagai media pendidikan gizi dan kesehatan anak, membantu mendorong

semangat guru dalam mendidik anak SD di daerah miskin dan terpencil.

c.. Untuk orang tua murid dan masyarakat setempat antara lain untuk mendidik

orang tua murid dan masyarakat akan pentingnya pendidikan, gizi,

kesehatan, dan kebersihan lingkungan bagi anak dan keluarga, untuk

mendorong diaktifkannya kembali upaya pemanfaatan tanaman pekarangan

dan kebun sekolah, dan menyediakan pasar untuk hasil tanaman

pekarangan dan kebun sekolah untuk dimanfaatkan sebagai sumber bahan

jajanan lokal untuk PMT-AS.

Pelaksanaan PMT-AS rnemerlukan pendekatan yang holistik dan kerjasama

multisektoral. Menurut Harper (1986) dengan digabungkannya beberapa kegiatan

dala~n program makanan tambahan diharapkan dapat memberi hasil yang efektif

dan :secara nyata dapat mempercepat perbaikan gizi masyarakat.

Organisasi tim pelaksana PMT-AS di tingkat sekolah diketuai oleh Kepala

Sekcllah. Bendahara dan sekretaris dijabat oleh guru. Anggota dewan guru yang lain

menjadi anggota tim pelaksana bersama-sama dengan bidan desa, ketua BP3 dan

angsota PKK. Tim pengelola PMT-AS di tingkat Kecamatan terdiri dari Camat,

Kepala Puskesmas, Kepala Seksi PMD, Tenaga Pelaksana Gizi Puskesmas, Kepala

Bala Penyuluhan Pertanian, Pengawas TWSD dan Penilik Pendidikan Agama,

(92)

O t o ~ ~ o m i Daerah dan K e b u t u h a ~ ~ Program

Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) telah menggariskan arah

pembangunan daerah dalam Program Jangka Panjang (PJP) II, yaitu untuk memacu

pernerataan pembangunan dan hasil-hasilnya dalam rangka meningkatkan

kesejahteraan rakyat, menggalakkan prakarsa dan peran serta aktif masyarakat,

serta rneningkatkan pendayagunaan potensi secara opimal dan terpadu dalam

mengisi otonomi daerah yang nyata, dinamis, serasi, dan bertanggung jawab serta

rnen~perkuat persatuan dan kesatuan bangsa (Anonim, 1997). Otonomi daerah

rnen~erlukan kerjasama dan harrnonisasi hubungan antar daerah akan memperluas

jangkauan pemanfaatan sumber daya dan berbagai hasil suatu daerah

(Marlan, 2001).

Pemerintah bertanggung jawab atas pendidikan, menyediakan sekolah cuma-

cum:3, dan mengharuskan wajib belajar karena banyak orang tua tidak mampu

menyekolahkan anaknya. Keadaan tingkat kesehatan gizi anak-anak di sebagian

besir dunia menimbulkan keragu-raguan karena ketidakmampuan orang tua dalam

menyediakan gizi yang cukup. Bila terjadi penyakit dan kurang gizi, maka

pemerintah harus melakukan intervensi. Penyelesaian untuk membantu

mengatasinya, pemerintah haws rnelakukan suatu kegiatan (Berg, 1985)

Kegiatan yang dilakukan di Indonesia adalah PMT-AS dengan indikator

keberhasilan yang telah ditentukan oleh Forum Koordinasi PMT-AS meliputi

peningkatan status gizi anak SDIMI, penurunan angka absensi sakit, peningkatan

nilai anak untuk semua mata pelajaran, penurunan angka infeksi kecacingan anak,

peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan anak dan guru dalam aspek

(93)

Keberhasilan mengatasi masalah gizi merupakan tanggung jawab bersama.

Peja~bat tidak hanya menentukan besamya angka gizi salah serta efeknya pada

perkembangan daerah tapi juga rnempertimbangkan program dan kebijakan untuk

mengatasi kekurangan itu. Koordinasi di antara badan-badan pemerintah maupun

kelompok non pemerintah dengan rencana utama memprogramkan gizi sangat

bemianfaat (Berg, 1985). Berhasil atau gagalnya program juga dipengaruhi oleh

sikap rnasyarakat terhadapnya. Apabila sikap ini menguntungkan maka masyarakat

akar~ bertindak sesuai rencana program (Surjadi, 1989).

Memasuki era otonorni daerah sebagai konsekuensi logis pelaksanaan

Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang perimbangan Keuangan antara

Pemerintah Pusat dan Daerah serta Peraturan Pernerintah RI Nomor 25 Tahun 2000

tentang Kewenangan Pemerintah dan Propinsi sebagai Daerah Otonom. Dengan

dem~kian pelaksanaan PMT-AS rnengalarni perubahan kebijakan, baik sistem

perencanaaan maupun penganggaran dan rnekanisme pelaksanaannya.

Pelaksanaan pembangunan daerah khususnya pada jangka pendek,

mer~~pakan pelaksanaan dari kegiatan program pembangunan. Kegiatan program

dilakukan berdasarkan dana yang dianggarkan di Anggaran Pendapatan dan

Belaiija Daerah (APBD). Dengan dernikian, APBD menentukan pelaksanaan dan

keberlanjutan program yang dilaksanakan baik oleh Pernerintah Daerah (Pemda)

rnaupun oleh instansi atau dinas yang ada di daerah tersebut. Perencanaan

pernl~angunan daerah juga dikaitkan dengan keputusan politik (political interest) dari

pernerintah, maka ada ha1 tertentu yang harus dilaksanakan tanpa harus

men!rampingkan kepentingan rnasyarakat, namun untuk jangka panjang kebijakan

yang diambil harus tetap sejalan dengan kesepakatan yang telah digariskan

(94)

Pada sebuah program diperlukan pemantauan dan evaluasi yang bersifat

internal maupun eksternal untuk mempunyai serangkaian sistem informasi

manajemen pada badan-badan individu untuk bass bagi fungsi-fungsi tersebut.

Salah satu sebab utama kegagalan adalah kesalahpahaman pada rancangan

program tersebut (Kasley dan Kumar, 1991).

Keberlan,jutan Program

Keberlanjutan atau sustainability berasal dari bahasa latin dari kata sustenere

bera t i menegakkan. Etimologi ini juga merefleksikan hasil perdebatan diantara para

ilmu~van di Spanyol bahwa sustainability berasal dari sostenibilidad (asal kata

sostt?ner) atau sustentabilidad (asal kata sustentar) yang berarti menjadi tegak

(Becqer, 1998).

Program yang dilaksanakan sebagai proses pembangunan perlu diperhatikan

aspek keberlanjutan dan perencanaan. Pembangunan yang dilaksanakan tanpa

perencanaan yang berkelanjutan akan menyulitkan pelaksanaan pembangunan.

Suatu proses pembangunan yang berkesinambungan dari waktu ke waktu dengan

melitlatkan kebijaksanaan dari pembuat keputusan berdasarkan sumber daya yang

tersedia dan disusun secara sistematis. Suatu perencanaan dibuat berdasarkan

tujuan yang jelas karena perencanaan tersebut dipergunakan sebagai arah atau

pedoman pelaksanaan pembangunan (Soekartawi, 1990).

lmplementasi dan keberlanjutan program merupakan suatu tantangan dalam

perericanaan program. Strategi top down tidak hanya kurang efektif tapi juga sulit

untuk, menjaga keberlanjutan. Program pengembangan pada masyarakat perlu

mempertimbangkan tentang jalan keluar yang baik dari masalah yang ada di

(95)

11

hasil penelitian yang berhasil dilakukan oleh Nantel dan Tontisirin (2002) di Thailand

dengan melalukan pendekatan pada seluruh masyarakat dan partisipan melalui

fasili1:as dan motivasi untuk mengirnplementasikan dan melanjutkan program atau

intervensi. Hasil penelitian ini menunjukan cara yang cukup efektif untuk

keberlanjutan program dalam memecahkan masalah malnutrisi di Thailand.

Penelitian lain yang berhubungan dengan keberlanjutan program dilakukan

oleh Gleason dan Sharmanov (2002) di Uzbekistan, Republik Kyrgyz, Tajkistan,

Turkmenistan, dan Kazakhstan dalam mengatasi masalah prevalensi anemia dan

defisensi zat besi pada anak dan wanita. Keberhasilan dan keberlanjutan program

intenrensi yang dilakukan dengan berbagai cara diantaranya pendidikan, promosi

serta suplementasi. Kesepakatan dan tujuan yang baik antara masyarakat dan

pengelola program dibutuhkan untuk keberlanjutan program.

Persepsi

Persepsi adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang di dalam

memaharni inforrnasi tentang lingkungannya, baik lewat penglihatan, pendengaran,

penghayatan, perasaan, dan penciuman. Secara sederhana, persepsi merupakan

s u a t ~ ~ penafsiran terhadap situasi (Thoha, 1986). Sedangkan rnenurut Rahmat

(1992!), persepsi merupakan hasil pengalaman seseorang tentang obyek, peristiwa,

atau keadaan dan menurut Applbaurn et a1 (1973) persepsi adalah tanggapan atau

pend3pat yang di dalarnnya terkandung unsur penilaian terhadap obyek dan gejala

berdasarkan pengalaman dan wawasan yang dimilikinya.

Pengertian tentang persepsi yang lebih spesifik dikemukakan oleh McMahon

dan IMcMahon (1986) dimana persepsi merupakan proses penyusunan informasi

(96)

seringkali tidak sama antara individu yang satu dengan lainnya, tergantung faktor-

faktol' tertentu yaqg ada pada diri dan di luar individu tersebut yang dapat

mempegaruhi persepsinya. Menurut Schiffman (1982), terdapat tiga faktor yang

mempengaruhi persepsi antara lain (1) faktor struktural sifatnya fisiologis seperti

penglihatan, pendengaran, dan sebagainya, (2) faktor fungsional rnerupakan faktor

yang dipengaruhi oleh ingatan, kebutuhan, dan kebiasaan serta pengalaman yang

didapat dari interaksi personal dan sosial, serta (3) faktor kultural, yang

rnempengaruhi budaya dalarn konteks adat istiadat dan tradisi.

Menurut Schiffman dan Kanuk (1983), terkait dengan persepsi yang

rnerupakan bagian dari sikap disebutkan terdapat tiga komponen yang akan

mempengaruhi pandangan seseorang terhadap suatu obyek tertentu yaitu

komponen kognitif, afektif, dan konatif. Komponen kognitif menekankan kepada

pengetahuan dan persepsi seseorang terhadap obyek berdasarkan pengalaman

langsi~ng yang dihubungkan dengan sumber informasi. Pengetahuan dan persepsi

ini akan menghasilkan kepercayaan (belief) terhadap obyek tertentu. Kornponen

afektif menekankan kepada perasaan atau ernosi dalarn menilai obyek tertentu.

Komponen konatif menekankan kepada kecenderungan (tendency) dan menurut

beberapa interpretasi kornponen konatif merupakan perilaku aktual seseorang untuk

(97)

K E R A N G K A P E M I K I R A N

Program Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMT-AS) merupakan salah

sat^ komponen Program Perluasan Jaring Pengaman Sosial dan Penanggulangan

Kentiskinan (PJPS-PK). PMT-AS sebagai upaya pemerintah untuk mengatasi

masalah kurang gizi dan angka putus sekolah yang tinggi pada murid Sekolah

Dasar. Selain itu diharapkan juga mampu memberdayakan orang tua murid dan

masyarakat sehingga lebih memperhatikan pendidikan, gizi, dan kesehatan anak.

Keberlanjutan PMT-AS dipengaruhi oleh kinerja, persepsi, upaya dan

pertsaikan model kinerja yang dilakukan oleh pihak terkait seperti pejabat daerah,

pihak sekolah dan masyarakat. Semua aspek keberlanjutan PMT-AS untuk

mendapatkan kinerja dan hasil yang lebih baik dan efektif. Adapun kinerja PMT-AS

mencakup input, proses, dan output.

Input meliputi dana yang diperoleh dari APBD, tenaga dari pihak terkait,

sarana, prasarana, pelatihan dan penyuluhan. Proses mencakup perencanaan,

pengorganisasian, pelaksanaan, evaluasi dan pemantauan. Perencanaan dilakukan

untuk menetapkan tujuan dan prosedur untuk mencapai tujuan tersebut.

Pengorganisasian merupakan langkah menempatkan sumberdaya manusia sesuai

dengan posisinya. Pelaksanaan mempakan upaya untuk mencapai tujuan.

Sedangkan evaluasi dan pemantauan merupakan upaya untuk mengoreksi

pelal<sanaan program yang sedang atau telah selesai dikerjakan secara terns

men'?rus. Output meliputi peningkatan status g i ~ i anak, penurunan angka absensi

(98)

Dengan adanya PMT-AS, banyak dukungan berbagai pihak untuk

pelaksanaannya mulai dari pejabat daerah, pihak sekolah, dan masyarakat sehingga

program tersebut dapat terlaksana dengan baik meskipun telah memasuki era

otonomi daerah. Otonomi daerah merubah kerangka arus dari atas (top down) yang

menerapkan program dengan instruksi dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah

menjadi instruksi pemerintah daerah pada pihak terkait dengan mengalami

perubahan kebijakan terutama kinerja. Kinerja PMT-AS memberi pengaruh pada

persepsi pejabat daerah, pihak sekolah, dan masyarakat juga terhadap

keberlanjutan PMT-AS.

Persepsi yang berbeda dapat mempengaruhi keberlanjutan suatu program.

Persepsi pejabat daerah dipengaruhi oleh pelaksanaan, manfaat, beban, kebutuhan,

sasaran, dan otonomi daerah yang mencakup alokasi dana, prioritas penyusunan

program, dan efisiensi rnanajemen. Persepsi dari pihak sekolah dan masyarakat

diper~garuhi oleh pelaksanaan, manfaat, beban, dan kebutuhan dari PMT-AS.

Persspsi pejabat daerah, pihak sekolah dan masyarakat terjadi hubungan timbal

balik. Persepsi pejabat daerah dipengaruhi oleh persepsi pihak sekolah dan

masyarakat demikian juga sebaliknya persepsi pihak sekolah dan masyarakat

(99)

Upaya dan Perbaikan Model Kinerja PMT-AS

0 Status Gizi

I

Otonomi Daerah

Prioritas Penyusunan Program

Efisiensi manaiemen

Keterangan :

C 3 = Faktor yang diduga mempengaruhi (diteliti)

. . . . .

[image:99.612.84.504.80.665.2]

. . . ... = Manfaat PMT-AS (tidak diteliti)

(100)

METODE PENELlTlAN

Desain, Lokasi dan Waktu Penelitian

Desain penelitian ini adalah cross-sectional study dan retrospectif dengan

rnenggali informasi mengenai kinerja PMT-AS, persepsi dan upaya serta perbaikan

rnotlel dalam keberlanjutan PMT-AS. Penelitian dilaksanakan di Bandung dan Bogor

berlangsung dari April sampai Juli 2002. Pemilihan lokasi berdasarkan situasi

pangan dan gizi 2000-2001 dimana Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bogor

rnerupakan daerah yang mempunyai risiko tinggi rawan pangan dan gizi sedangkan

Kota Bandung dan Kota Bogor rnerupakan daerah yang mempuyai resiko rendah

rawan pangan dan gizi.

Teknik Penarikan Contoh

Responden adalah pejabat daerah, pihak sekolah, dan masyarakat. Pejabat

Daerah meliputi Kornisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tingkat 11,

Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda), Pernberdayaan

Masyarakat, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Pusat Kesehatan Masyarakat

(Purjkesrnas), Kecamatan, dan Kelurahan. Pihak sekolah meliputi Kepala Sekolah,

Dewan Sekolah dan guru SD dan MI yang pernah dan masih menerirna bantuan

PM1.-AS, dan rnasyarakat terutama orang tua murid, PKK dan tokoh masyarakat

yan<g ada di Bandung dan Bogor. Pemilihan responden dari pejabat daerah, pihak

sekolah, dan masyarakat dilakukan secara purposif. Jurnlah responden adalah

117 orang yang terdiri dari pejabat daerah 32 orang, pihak sekolah 48 orang, dan

(101)
[image:101.612.98.525.114.426.2]

Tabel 1. Daftar responden

Pejabat daerah yang diwawancara pada tingkat kota dan kabupaten adalah

--

Responden

1. Pejabat Daerah DPRD Bappeda PMG Dinas Pendidikan Dinas Kesehatan Puskesrnas Kecamatan

.

Kelurahan

--

2. Sekolah

Kepala Sekolah Guru

Dewan Sekolah

3. Masyarakat

Orang tua murid PKK

.

Tokoh Masyarakat JUMLAH

Kepala Bidang atau Pimpinan Proyek yang rnenangani PMT-AS sehingga dapat

rnenjawab kuesioner dengan baik. Pejabat daerah pada tingkat kecamatan dan

kelurahan dipilih berdasarkan lokasi dimana terdapat sekolah penerima PMT-AS

Bandung

Jenis d m Cara Pengurnpulan Data

Kabupaten 1 1 1 1 1 1 1 1 4 4 4 4 4 1 29

Data yang dikurnpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Jml 4 4 4 4 4 4 4 4 Kota 1 1 1 1 1 1 1 1 4 4 4 4 4 3 31 Bog or

Peng~rnpulan data orimer dilakukan dengan rnelakukan wawancara berdasarkan Kabupaten 1 1 1 1 1 1 1 1

kuesicner sedangkan data sekunder diperoleh dari arsip yang diperoleh dari Kota 1 1 1 1 1 1 1 1 4 4 4 4 3 1 28

responden. Jenis data dan cara pengurnpulannya dapat dilihat pada Tabel 2.

4 4 4 4 3 2 29 16 16 16

'

16

14

7

(102)

Tabel 2. Jenis dan cara pengumpulan data

M

Kinerja PMT-AS

/

Puskesmas, ~ecamatan, dan Kelurahan

/

Sekunder

/

Arsip DPRD, BaDveda. PMD. Dinas

No Data

-

1 I Persepsi, Upaya dan

/

Perbaikan Model

I

.

Masyarakat Sekolah

.

Pejabat Daerah

I I

I

1

1

1

/

~endidikan. Dinas ~esehatan, Puskesmas,

/

Jenis Data

Primer

Primer

Primer

Pengotahan dan Analisis Data

Cara Pengump~~lan

Wawancara dengan orang tua murid, tokoh masyakat, dan PKK

Wawancara dengan guru, kepala sekolah. dan dewan sekolah

Wawancara terhadap DPRD komisi E,

Bappeda, Kabag PMD, Kabag Dinas Pendidikan, Kabag Dinas Kesehatan,

Data sekolah dan murid Kebijaksanaan

Pemerintah

Sumberdaya manusia

Struktur APED dan Pengalokasian Dana Kondisi Wilayah

--

Data yang dikumpulkan merupakan data kualitatif dan diolah secara

deskriptif. Data yang diolah rnencakup sikap terhadap keberlanjutan PMT-AS dari

masyarakat, sekolah, dan pejabat daerah. Penelitian ini dapat dikatakan sebagai

penelitian deskriptif kualitatif.

Penilaian kinerja diperoleh dari laporan atau arsip dari pejabat daerah, PKK,

dan 5;ekolah rnengenai pelaksanaan PMT-AS yang rneliputi input, proses, dan output

PMT-AS di Kabupaten dan Kota wilayah Bandung dan Bogor. Input rneliputi dana,

tenaga, sarana, prasarana, pelatihan, dan penyuluhan. Proses meliputi

perericanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, evaluasi, dan pemantauan. Ouput

meliputi peningkatan status gizi, peningkatan nilai, penurunan absensi anak. Sekunder Primer Sekunder Primer Primer Sekuner Sekunder

Kecamatan, Kelurahan, PKK dan Sekolah. Arsip PMD dan Sekolah

Wawancara dengan pejabat daerah Arsip FK PMT-AS

Wawancara dengan masyarakat, sekolah, dan Kelurahan

Arsip pejabat daerah

[image:102.612.87.527.118.412.2]
(103)

Penilaian persepsi rnasyarakat dan sekolah didasarkan pada pertanyaan-

pertanyaan yang mencakup aspek keberlanjutan di antaranya (1) pemahaman

tentang PMT-AS dan pelaksanaannya, (2) manfaat yang dirasakan selama PMT-AS

berlangsung (3) rnanfaat bila rneneruskan PMT-AS, dan (4) kebutuhan dari PMT-AS.

Penilaian persepsi pejabat daerah didasarkan pada (1) kernandirian daerah dalarn

menyelenggarakan PMT-AS, (2) anggaran yang dialokasikan pada PMT-AS, (3)

keberlanjutan PMT-AS setelah adanya otonomi daerah, (4) sasaran yang diinginkan

pada PMT-AS dan (5) model yang diinginkan bila PMT-AS akan dilanjutkan.

lnforrnasi lain yang dianalisis adalah upaya dari rnasyarakat, sekolah, dan

pejal~at daerah dalarn rnenjaga keberlanjutan PMT-AS. Upaya sebagi antisipasi

untuli rnendapatkan dana apabila PMT-AS dihentikan pendanaannya oleh Pernda.

Definisi Operasional

Keborlanjutan adalah pelaksanaan program pemerintah yang dilakukan dalarn

waktu yang panjang karena adanya dukungan dan kebutuhan dari pejabat

daerah, sekolah, dan masyaraka!.

Persepsi rnerupakan proses penyusunan informasi untuk rnernbuat penafsiran dan

pengertian terhadap PMT-AS.

Otor~omi adalah instrurnen pengimbang dan rnenyeirnbangkan kecenderungan

rnernusat atau rnendaerah.

Motivasi adalah suatu dorongan untuk mencapai tujuan karena adanya kebuthan

biblogis, kebutuhan psikologis, dan kebutuhan sosial.

Status gizi adalah keadaan tubuh yang diakibatkan oleh konsurnsi, penyerapan dan

penggunaan rnakanan. Untuk rnenilai status gizi digunakan indikator BBlU,

(104)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

1. Keadaan Wilayah

Bandung dan Bogor merupakan wilayah dengan penduduk yang cukup padat

(lihat Tabel 3). Berdasarkan pemantauan Tim Sistem Kewaspadaan Pangan dan

Gizi 13usat Tahun 2001 tentang situasi pangan dan gizi di Indonesia, Kabupaten

Bandung dan Kabupaten Bogor termasuk wilayah yang mempunyai risiko tinggi

rawall pangan dan gizi sedangkan Kota Bandung dan Kota Bogor terrnasuk wilayah

yang mernpunyai risiko rendah rawan pangan dan gizi. Pemantauan situasi pangan

dan (lizi rnenggunakan ~ndikator prevalensi gizi kurang balita, kerusakan tanarnan

padi, dan jumlah keluarga miskin. Situasi pangan dan gizi menurut KabupatenlKota

Tahui 2000-2001 dapat dilihat pada Lampiran 5.

Tabel 3. Keadaan wilayah Bandung dan Bogor

Wilayah Luas Wilayah Jumlah Penduduk Jumlah Jml Jml

(km2) L P Kec Desa

I I I I I 1

Bandi~ng Kabupaten 285.209 2.141.402 2.016.681 4.158.083 42 451

Kota 16.729,6 1.073.568 1.062.692 2.136.260 26 139

-- 1

B0gos:

Kabupaten

I

2.273.738 1.830.433 3.508.826 3.508.826 35 425

Kota 11.850 378.365 750.819 750.819 6 68 I

1 1 I I I I I J

Sumber: Badan Pusat Statistik (2000)

Keadaan wilayah Bandung dan Bogor tal,un 2001 yang mempunyai risiko

terhadap rawan pangan dan gizi menjadi daerah sasaran PMT-AS. Pelaksanaan

PMT-AS di Bandung dan Bogor memiliki kriteria tertentu dalam rnernilih lokasi

[image:104.612.78.520.454.603.2]
(105)

Tabel 4. Kriteria sasaran PMT-AS

Bogor

1

Kabupaten Kota Kabupaten ~ o t a Desa tertinggal Desa Desa IDT Desa yang rnemiliki 2

tertinggal 20% keluarga miskin SD dari SD di lokasi SD di kawasan 13asar miskin dari keluarga Pra IDT kumuh atau merniliki

keluarga Sejahtera siswa rawan

KSlKSl

MI di daerah MI di lokasi MI di kawasan kurnuh lbtidaiyah miskin dari miskin dari I DT atau rnerniliki siswa

keluarga keluarga Pra rawan

Pra KSI KS1 Sejahtera

20% dengan status (Ponpes) santri 7-12 tahun gizi kuran

Sumber : Badan Pemberdayaan Masyarakat Jawa Barat (2002)

2. Keadaan Sekolah

Berdasarkan hasil evaluasi Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM)

propinsi Jawa Barat tahun 2001, sekitar 15,36

-

51,38% siswa di Bandung dan

1,09 .. 14,22% siswa di Bogor telah menerima PMT-AS. Jumlah sekolah dan jumlah

[image:105.616.93.526.105.311.2]

murid keseluruhan dan yang telah menerima PMT-AS dapat dilihat pada Tabel 5

Tabel 5. Data keseluruhan dan sasaran PMT-AS tahun 2001

Bandung

1

Bogor

Kabupaten

1

Kota Kabupaten

1

Kota

Jumlah I Jumlah / Jumiah 1 Jumiah I Jumlah 1 Jumlah I Jumlah

/

sekoiah

1

slswa

/

sekolah

I

siswa

1

sekolah

/

siswa

1

Keseluruhan :

I

t

I

1

I

I

1 EsD

2 hli

3 Fonpes JUMLAH

Sasaran :

1 S D

"

59

6.93: I: l o o l l s 2 2 . 1 1 ~ 1.514

1

3 Fonpes 224 14.867 ! 0 1

-

JUMLAH 6% 91.297 i 190 3 7 0 0 0 393 92 477 11 864

.-A

[image:105.616.76.542.484.709.2]
(106)

Dalarn penelitian ini, Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah lbtidaiyah (MI) di

Bantlung dan Bogor dipilih secara purposif seperti terlihat pada Tabel 6

Di Kabupaten Bandung dipilih 2 SD dan 2 MI yang pernah rnenerirna PMT-AS

sedangkan di Kota Bandung dlpilih 2 SD dan 2 MI yang rnasih rnenerirna PMT-AS

Di Ksbupaten Bogor dipilih 2 SD dan 2 MI yang pemah rnenerirna PMT-AS dan di

Kota Bogor dipilih 1 SD dan 1 MI yang rnasih rnenerirna PMT-AS serta 1 SD dan 1MI

yang pernah rnenerirna PMT-AS.

Tabel 6. Lokasi sekolah yang menjadi contoh penelitian

Wilayah SDlMl Kecamatan DesalKelurahan

-

/

Kabupaten

/

1. SD. Cilampeni 3

/

Katapang

1

Pangauban

2. SD. Margahayu 7 Margahayu Margahayu selataii

3. MI. Miftahul Jannah Katapang Katapang

1

4. MI. AI Haq Margahayu Margahayu selatan

Kota 1. SD. Cibuntu 2 Bandung kulon Warung muncang

2. SD. Citarip 3 Bojongloa kaler Kopo

3. MI. YPPI Bandung kulon Warung muncang

4. MI. Salatiyah 3 Bojongloa kaler Kopo

Bogor Kabupaten

/

1. SD. Neglasari 1 dan 2

/

Drarnaga

t

i

1

Neglasari

I

I

1

2. SD. Parakan I

/

Ciomas

I

Parakan

I

I

/

3. MI. Manbaul 'Uluum

/

Ciampea

/

Ciampea

4. MI. AI Husna Ciomas Parakan

--

I. SD. Sukadamai 1 Tanah ~areal Sukadamai

2. SD. Situpete Tanah sareal Sukadamai

I

I

/

3. MI. A. lyanatul Huda

I .

Tanah sareal

/

Meka~wangi

4. MI. Nurul Amal Tanah sareal Kencana i

Pemilihan lokasi sekolah didasari oleh karakteristik yang berbeda dari

sekokh-sekolah yang ada di Bandung dan Bogor seperti terlihat pada T a b e l 7

Pem~lihan lokasi dilihat dari keadaan bangunan sekolah, perbandingan guru dengan

(107)
[image:107.612.83.531.120.491.2]

23

Tabel 7. Karakteristik sekolah yang menjadi contoh penelitian

Sekolah Dasar (SD) I

Madarasah lbtidaiyah (MI)

BANDUNG

1. SsD. Cilarnpeni 3 2. S'D. Margahayu 7 3. SD. Cibuntu 2 4. SD. Citarip 3 5. hll. AI Haq

6. hll. Miftahul Jannah

7. hII. YPPI

8. hll. Salafiyah 3

BOGOR

1. SD. Neglasari 1 SD. Neglasari 2 2. SD. Parakan 1

3. SD. Sukadamai 1 4 . SD. Situpete

5. kll. Manbaul 'Uluum 2 6. kII. AI Husna

7. MI. A.I. Huda

8. kll. Nurul Amal

Tdk ada Tdk ada Tdk ada Tdk ada Tdk ada Tdk ada Tdk ada Tdk ada

3. Kinerja Program Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMT-AS)

Kebun Sekolah Tdk ada Tdkada Tdkada Tdkada Ada Tdkada { T d k a d a i

3.1. I(omponen Input

Jml Murid

Dana. Pada tahun anggaran 2002, pelaksanaan PMT-AS telah mernasuki Jrnl 157 261 262 298 146 67 181 L 137 128 119 130 81 35

/

83

tahun keenam. Kota Bandung dan Kota Bogor tetap menyelenggarakan PMT-AS P 120 133 143 168 65 32

9 8 1

sebagai program untuk rnernperbaiki status gizi anak sekolah dan rnenurunkan

absensi, sedangkan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bogor tidak Jrnl Guru

rnenyelenggarakan PMT-AS karena tidak terrnasuk dalam prioritas penyusunan

Jrnl 8 8 8 6 6 6

1 4

L 1 2 1 4 1 1

I 3

program. P 7 6 7 2 5 5

I 1

Jrnl Kelas 5 6 5 3 6 5

I 6

Jrnl WC 2 1 3 3 2 0

(108)

Penyaluran dana PMT-AS dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah

(APBD) dialokasikan ke rekening masing-masing kepala sekolah melalui Bank

penyialur unit kecamatan seperti Bank Rakyat Indonesia di Kabupaten Bandung,

Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Kota Bandung, Bank Pembangunan Daerah

(BPD) di Kabupaten Bogor, dan Bank Jabar di Kota Bogor. Kepala sekolah membuat

pengajuan pencairan dengan ditandatangani oleh kepala sekolah SDIMIlPonpes

diketahui oleh BP31Dewan Sekolah dan ketua TP. PKK DesaIKelurahan serta camat

di sasiaran PMT-AS.

Perbedaan tahun ajaran dengan tahun anggaran daerah di Bandung dan

Bogo. rnenjadi kendala karena pencairan dana menjadi tidak tepat waktu dan tidak

sesuai dengan jumlah murid. Pihak sekolah merasa berat karena harus

menanggung kekurangan dana tersebut dan akibatnya penyelenggaraan PMT-AS

kadar~g harus dihentikan sementara waktu.

Tenaga. Tenaga pelaksana PMT-AS di Bandung dan Bogor didukung

berbagai pihak dari pejabat daerah, pihak sekolah, dan masyarakat. Pejabat daerah

mempunyai kewenangan dalam membuat kebijakan mengenai pengalokasian dana,

pelak:janaan dan mekanismenya. Pihak sekolah dan masyarakat merupakan tim

pelak:jana PMT-AS. Proses pelaksanaan ditentukan oleh kerjasama antara pihak

sekolah, masyarakat dan pejabat daerah dari tingkat kecamatan dan kelurahan

sampai tim koordinasi.

Sarana dan Prasarana. Sarana PMT-AS adalah alat ukur tinggi dan

tirnbangan badan, sedangkan prasarana PMT-AS adalah alat masak, kebun

sekolah, dan sarana air bersih. Alat ukur tinggi dan tirnbangan badan di Bandung

dan l3ogor disediakan di setiap sekolah penerima PMT-AS untuk rnelakukan

(109)

Alat masak dialokasikan kepada juru masak pada awal pelaksanaan

PMT-AS. Alat masak di Bandung dan Bogor tahun 2001 masih mengguna'tan

bantuan tahun sebelumnya. Keadaan alat masak pada umumnya sudah rusak

sehi~gga rnenggunakan alat masak dari rnasyarakat.

Pada umumnya kebun sekolah belum dimiliki oleh sekolah sasaran PMT-AS

di Bandung dan Bogor. Kebun sekolah merupakan salah satu usaha membantu

kete,-sediaan pangan dan meningkatkan kesadaran baik guru, murid dan orang tua

muri'j dalam memanfaatkan lahan yang tersedia.

Di Kabupaten Bandung penyediaan sarana air bersih belum seluruhnya

terpenuhi, di Kota Bandung baru mencapai 50%, di Kabupaten Bogor 70%, dan di

Kota Bogor 95%. Sarana air bersih merupakan penunjang yang penting dalam

peml,uatan kudapan dan kesehatan diri anak.

Pelatihan dan Penvuluhan. Pelatihan diberikan oleh tim pengelola tingkat

kecarnatan terutama Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) kepada tim pelaksana. TPG

Puskesmas berperan dalam melatih kelompok petugas masak dari PKK untuk

membuat kudapan yang baik dan sesuai dengan standar, selain itu memantau

dalarn pengukuran berat dan tinggi badan.

Pihak sekolah diberikan penyuluhan terutama rnasalah administrasi berupa

proses pencairan dana, pelaporan pelaksanaan, pengumpulan data dasar (tinggi

badan, berat badan, rapor, absen) dan tata tertib pernberian kudapan.

3.2. ktornponen Proses

Perencanaan. Perencanaan yang dilakukan adalah penganggaran dana,

pendi3taan lokasi sasaran, survei lokasi, sosialisasi, dan rapat koordinasi. Tahun

anggaran 2002, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bogor lebih mernprioritaskan

(110)

Pendataan dan suwei lokasi sasaran didasari oleh usulan dari kecamatan

kemudian dinilai berdasarkan kriteri? yang telah ditetapkan. Sosialisasi dan rapat

koordinasi dilakukan secara berjenjang pada tingkat kecamatan, kelurahan, sekolah,

masyarakat, dan lembaga pemberdayaan masyarakat

Pennornanisasian. Organisasi dari PMT-AS dimulai dari tingkat koordinasi

kota/<abupaten sampai tingkat sekolah sebagai pelaksana seperti terlihat pada

Gaml3ar 2. Forum koordinasi pada tingkat kotalkabupaten adalah Badan

Pemberdayaan Masyarakat (BPM), Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah

(Bappeda), Dinas Pendidikan dan Pengajaran, Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian,

Departemen Agama, dan Tim Penggerak PKK tingkat kotalkabupaten

Tim pengelola PMT-AS pada tingkat kecamatan adalah Camat, Pusat

Keseliatan Masyarakat (Puskesmas), Dinas Pendidikan tingkat kecamatan, dan

TP. PKK tingkat kecamatan. Tim pengelola pada tingkat kelurahan adalah

LuraP~IKepala Desa, PKK tingkat kelurahan, Pendamping Kelompok Masyarakat

(Pokrrlas) IDT, dan Kader Pembangunan Desa. Tim pelaksana PMT-AS tingkat

SDlMllPonpes adalah kepala sekolah, guru, pengurus BP3tDewan Sekolah

Forum Koordinasi PMT-AS Tingkat KotaIKabupaten

Tingkat Kecamatan

Tingkat Kelurahan

[image:110.616.216.379.523.712.2]

Tingkat SDIMIlPonpes

(111)

Pelaksanaan. Pelaksanaan PMT-AS meliputi penyaluran dana, pemberian

kudapan, dan pemberian obat cacing. Penyaluran dana tahun 2001 yang telah

dialo8.tasikan ke rekening kepala sekolah diberikan kepada petugas masak dengan

keter~tuan 1 Hari Makan Anak (HMA) sebesar Rp. 4601siswa termasuk insentif bagi

petugas masak maksimal Rp. 50lsiswa per sekali makan.

Kudapan diberikan pada saat istirahat agar tidak mengganggu proses

Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Sebelum kudapan dimakan bersama-sama oleh

anak di kelas terlebih dahulu guru mengingatkan anak-anak untuk mencuci tangan

dengan sabun yang telah disediakan sekolah, berdoa sesuai dengan ajaran agama

masirlg-masing dan mendengarkan penjelasan guru mengenai manfaat kudapan

bagi ltesehatan dan gizi.

Pemberian obat cacing pada tahun 2001 di setiap wilayah berbeda.

Di Kibupaten Bandung dan kabupaten Bogor obat cacing diberikan sebanyak satu

kali s'etahun. Di Kota Bandung dan Kota Bogor obat cacing diberikan dua kali

setahun yaitu pada bulan Juni dan Oktober.

Evaluasi dan Pemantauan. Evaluasi dan pemantauan dilakukan oleh tim

secara berjenjang. Evaluasi tingkat kotalkabupaten berdasarkan pelaporan tingkat

kecarnatan, kelurahan, dan sekolah. Pelaporan dilakukan setiap bulan secara

berjenjang. Kendala yang dihadapi pada evaluasi dan pemantauan adalah

pelaporan yang tidak diserahkan dan terlambat sehingga akan mempersulit tim

untuk melakukan evaluasi dan pemantauan secara menyeluruh.

3.3. Komponen Output

Output merupakan manfaat yang diperoleh dengan adanya PMT-AS.

Manfaat yang diperoleh berpengaruh pada status gizi anak, angka absensi, prestasi

(112)

Status Gizi. Perbaikan status gizi diperoieh dari adanya peningkatan berat

baden dan tinggi badan setelah pernberian PMT-AS. Tabel 8 rnenunjukkan bahwa

terdapat fluktuasi presentase status gizi anak pada tahun 2000 dan 2001. Krisis

ekoriorni yang berkepanjangan kernungkinan rnasih rnernpengaruhi penyediaan

[image:112.616.101.523.262.373.2]

rnakanan di rumah.

Tabel 8. Persentase status gizi anak yang rnendapat PMT-AS di Bogor

Lokasi Status gizi Tahun 2000 (%) Tahun 2001 (%)

Kabupaten Bogor Kurang 10,69 10,07

Baik 85,511 85,87

Lebih 4,04 4,06

Kuang 12,05 7,64

Baik 85,82 83,50 ,

/

Lebih 2,03

/

3 5 5

/

Sumtper : Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dan Kota Bogor (2002)

PMT-AS berpengaruh terhadap status gizi anak sekolah sesuai dengan

penelitian dari Reviyanti, et a/. (2000) di Kecarnatan Cibungbulang, Kabupaten

Bogcr rnenunjukkan status gizi anak sekolah sebelum mendapat PMT-AS berbeda

sang.st nyata dengan status gizi anak setelah rnendapat PMT-AS selama satu tahun

ajaran. Ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan jumlah anak yang berstatus gizi

baik (20%), penurunan jurnlah anak yang berstatus gizi sedang (16,9%) dan

penupunan jurnlah anak yang berstatus gizi kurang (3,1%).

Prestasi akademik. Prestasi akadernik yang dicerrninkan oleh nilai rnata

pelajaran Maternatika, IPS, dan IPA belurn dapat rnenggarnbarkan darnpak PMT-AS.

Tabei 9 rneiunjukkan bahwa terdapat fluktuasi jurnlah siswa pada tahun 2000 dan

2001 yang rnernperoleh nilai kurang dari enarn untuk mata pelajaran Maternatika,

IPS, dan IPA. Peningkatan atau penurunan prestasi tidak bisa dikaitkan dengan

pernberian PMT-AS saja melainkan dipengatuhi oleh dukungan sekolah, keluarga,

(113)
[image:113.612.91.515.119.244.2]

29

Tabel 9. Persentase siswa yang rnernperoleh nilai kurang dari 6 di Bogor

Lokasi

~ Z ~ ~ p a t e n Bogor

3. IPA

1. Maternatika 2. IPS

Absensi. Penurunan ketidakhadiran siswa pada saat PMT-AS berlangsung Mata pelajaran

1. Matematika 2. IPS

I

13. IPA

terjadi ketika pernberian kudapan. Pernberian kudapan rnenjadi daya tarik tersendiri

bagi anak sekolah. Hal ini disebabkan karena adanya kudapan gratis serta suasana 7,86

15,31 8.94 ~ ~

8,36

1

yang berbeda seperti dilakukannnya tata tertib sebelurn kudapan dirnakan bersarna. Tahun 2000 (%)

Nilai < 6

11,71 6,52

7,41 12,77

9 35

Surnber : Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dan Kota Bogor (2002)

Penelitian yang telah dilakukan oleh Rustiawan, et a/. (1998) rnenunjukkan . Tahun 2001 (%)

Nilai < 6

11,51 7.73

bahvrfa anak yang tidak hadir disekolah pada hari tanpa PMT lebih banyak dari pada

hari flMT, yaitu antara 3,s-13,3% pada hari PMT dan 6,5-14,3% pda hari tanpa PMT

di wilayah luar Jawa-Bali.

Kebersihan diri dan linakungan. Kebersihan diri dan lingkungan

rnerupakan bagian dari penyelenggaraan PMT-AS yang dapat berdarnpak pada

kehiclupan sehari-hari. Kebersihan diri tercerrnin saat anak harus rnencuci tangan

sebelurn makan juga saat rnernbuang pernbungkus rnakanan ke dalarn ternpat

sarnpah. Hal yang sederhana tersebut diharapkan dapat berjalan walaupun

pernt~erian PMT-AS dihentikan.

Pencletahuan Gizi. PMT-AS diharapkan dapat rneningkatkan pengetahuan

gizi rielibatkan guru, orang tua rnund, dan murid. Narnun penelitian Sukandar dan

Tanzha (2000) di Kabupaten Bogor rnenunjukkan bahwa kegiatan PMT-AS belurn

(114)

Guru diharapkan memberikan informasi mengenai gizi kepada murid

sebe.lum kudapa? diberikan sehingga murid dapat rnengetahui kandungan dalam

kudapan dan dapat memilih makanan yang sehat. Manfaat lain adalah bila murid

dapi~t memberitahukan informasi di sekolah kepada orang tuanya.

4. Persepsi msngenai pelaksanaan PMT-AS

Pada umumnya pelaksanaan PMT-AS di Bandung dan Bogor berjalan

dengan baik seperti terlihat pada Tabel 10. Hal ini dinyatakan oleh pejabat daerah

(100')%), pihak sekolah (91,7-100%) dan masyarakat (75-100%). Pelaksanaan dinilai

baik bila pencairan dana tepat waktu dan sesuai dengan jurnlah anak, pelatihan dan

penyuluhan cukup, proses pemasakan kudapan yang higienis dan be~ariasi.

Pada umumnya persepsi pejabat daerah, pihak sekolah, dan maryarakat di

Banclung dan Bogor memberikan persepsi positif pada pelaksanaan PMT-AS.

Meskipun demikian, persepsi 9,l-25% masyarakat menvatakan pelaksanaan

berjalan tidak baik. Hal ini disebabkan penilain pada pembagian kudapan dan menu

kudapan yang kadang kurang berjalan dengan baik.

Tabel 10. Persepsi mengenai pelaksanaan PMT-AS

-

1 Kabupaten Kota

1

I Responden Balk ( Tldak balk Jumlah Balk

I

T~dak balk Jumlah

1

I n 1 % I n / % n / % n I % I n 1 % n j % I

-

Bandung

Pejabat Daerah 8 100 0 0,O 8 100 8 100 0 0,O 8 I 0 0

P~hak Sekolah 12 100 0 0,O 12 100 12 I 0 0 0 0,O 12 100

Masydrakat 9 100 0 0,O 9 100 10 90,9 1 9,l 11 100

-

.IUMLAH 29 100 0 0,O 29 100 30 96,8 1 3,2 31 100

I

Bogor

m b a t Daerah 8 100 0 0.0 8 100 8 100 0 0.0 8 100

I Pihak Sekolah 11 91,7 1 8,3 12 I 0 0 11 91,7 1 8,3 12 100

I Masyiarakat 6 75,O 2 25,O 8 100 9 100 0 0,O 9 100

I .lUMLAH 25 89,3 3 10,7 28 100 28 96,6 1 3'4 29 100

(115)
(116)

6. Persepsi mengenai beban PMT-AS

Pada umumnya PMT-AS tidak dianggap beban bagi 50-100% pejabat

daerah, 83,3-100% pihak sekolah, dan S ~ ~ U N ~ masyarakat (lihat Tabel 12). Persepsi

dinils~i beban bila ada kemgian yang dirasakan dari segi biaya, tenaga, moril dan

waktc~. Sebagian pejabat daerah yang merasakan PMT-AS menjadi beban apabila

[image:116.612.82.529.277.502.2]

pengalokasian dana terlambat sehingga merepotkan dalam penyelenggaraannya

Tabel 12. Persepsi mengenai beban PMT-AS

I--

Kabupaten Kota

Beban I Tidak Jumlah Beban i Tidak Jumlah

Responden

1

beban

1

I

beban

/

n j % I n / % I n 1 % I n 1 % I n / % I n 1 %

Bandung

Pejabat Daerah

1

4

1

50.0

/

4

/

50,O

1

8

/

100

/

0

/

0,O

I

8

1

100

1

8

1

100

Pihak Sekolah 0 0,O 12 100 12 100 0 0,O 12 100 12 100

Masyarakat 0 0,O 9 100 9 100 0 0,O 11 100 11 100

JUMLAH

L-

4 13,8 25 86,2 29 100 O 0.0 31 100 31 100

Bogor

1

0

1

0,O

/

8

1

100

/

8

1

100

/

1

1

12,5

1

7

1

87,5

1

8

/

100

Pihak Sekolah 2 16,7 10 83.3 12 100 0 0,O 12 100 12 100

Masyarakat 0 0,O 8 I 0 0 8 I00 0 0,O 9 100 9 100

2 7,l 26 92,9 28 100 1 3,4 28 96,6 29 100

Beban yang dirasakan pihak sekolah adalah terjadinya pencairan dana yang

tidak tepat waktu dan tidak sesuai dengan jumlah siswa sehingga sekolah harus

rneniinggung kekurangan tersebut, akibatnya kudapan tidak sesuai dengan standar.

Kendala lain yang dihadapi adalah kewajiban membuat laporan yang memerlukan

waktu dan tenaga tetapi tidak mendapatkan penghasilan tambahan.

Masyarakat tidak merasakan beban dengan adanya PMT-AS bahkan

sebaliknya mereka merasa senang karena anak mereka menjadi lebih sehat dan

rajin. Meskipun demikian, masyarakat merasa dana PMT-AS lebih baik dialokasikan

(117)

7. 13ersepsi mengenai kebutuhan PMT-AS

PMT-AS masih dibutuhkan oleh masyarakat seperti terlihat pada Tabel 13.

Hal ini diny~takan oleh 87.5-100% pejabat daera

Gambar

Gambar 1. Kerangka pernikiran studi keberlanjutan PMT-AS
Tabel 1. Daftar responden
Tabel 2. Jenis dan cara pengumpulan data
Tabel 3. Keadaan wilayah Bandung dan Bogor
+7

Referensi

Dokumen terkait

status gizi, dan absensi siswa pada awal dan akhir periode empat bulan pelaksanaan. Program PMT-AS digunakan uji t berpasangan (Steel &amp; Tonie, 1991) (2)

Kontribusi makanan jajanan terhadap tingkat kecukupan energi dan protein serta status gizi anak Sekolah Dasar Siliwangi Semarang.. Teknik Penilaian Mutu Gizi

Dengan ini di Umumkan bahwa Pemenang Pelelangan Pengadaan Paket Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMT-AS) Pada Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara Tahun Anggaran 2011 adalah

Semua kegiatan kegiatan dari program Pemberian Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMTAS) ini diketuai oleh Badan Keluarga Berencana Dan Pemberdayaan Masyarakat dan

Penulis mengakhiri masa studi di IPB dengan menyelesaikan skripsi yang berjudul “Evaluasi Mutu Cookies Garut yang Digunakan pada Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk

Penyediaan Makanan Tambahan Anak Sekolah yang selanjutnya disingkat PMT-AS adalah kegiatan pemberian makanan kepada peserta didik dalam bentuk makanan berprotein

Solusi dari permasalahan ini yaitu dilakukannya Pemberian Makanan Tambahan PMT yang dapat meningkatkan keterampilan masyarakan dalam berinovasi pemberian makanan untuk penambah asupan

Program Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P) untuk ibu hamil kurang energi kronik (KEK) bertujuan untuk meningkatkan mutu gizi perorangan dan