STlJDI KEBEKLANJIJTAN PROGRAM MAKANAN
TAMBAHAN [JNTUK ANAK SEKOLAH (PMT-AS)
DI
BANDUNG DAN BOGOR
OLEH
:
IRA ENDAH ROHIMA
PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
ABSTRAK
IRA ENDAH ROHIMA. Studi Keberlanjutan Program Makanan Tambahan untuk Anak. Sekolah (PMT-AS) di Bandung dan Bogor. Dibimbing oleh ALI KHOMSAN dan IGN. DJOKO SUSANTO.
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keberlanjutan PMT-AS. Tujusn khusus penelitian adalah untuk mengkaji : (1) kinerja PMT-AS di Bandung dan Bogor, (2) persepsi pejabat daerah mengenai pelaksanaan, manfaat, beban, kebutuhan, sasaran, dan pengaruh otonomi daerah terhadap keberlanjutan PMI-AS,
(3) persepsi pihak sekolah mengenai pelaksanaan, manfaat, beban, kebutuhan, dan pelatihan dari PMT-AS, (4) persepsi masyarakat mengenai pelaksanaan, manfaat, beban, dan kebutuhan dari PMT-AS, (5) upaya pejabat daerah, pihak sekolah, dan masyarakat terhadap keberlanjutan PMT-AS, dan (6) perbaikan model kinerja menurut pejabat daerah dan pihak sekolah untuk keberlanjutan PMT-AS.
Desain penelitian ini adalah cross sedional study dan retrospectif yang dilaksanakan di Bandung dan Bogor. Pengambilan data primer dan sekunder dilakukan pada bulan April-Juli 2002. Responden adalah pejabat daerah, pihak sekolah, dan masyarakat yang seluruhnya berjumlah 117 orang.
Pada tahun anggaran 2002, Kota Bandung dan Kota Bogor masih menyelenggarakan PMT-AS sedangkan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bogor tidak menyelenggarakan PMT-AS. Meskipun demikian, seluruh pejabat daerah di Bandung dan Bogor memberikan persepsi bahwa pelaksanaan PMT-AS berjalan deng.sn baik, 75%-100% pejabat daerah menilai bahwa PMT-AS memberikan manf.aat, PMT-AS tidak menjadi beban (50-loo%), PMT-AS masih dibutuhkan (87,5- loo%,), sasaran perlu selektif lagi (87,5-loo%), dan otonomi daerah mempengaruhi kebe~lanjutan PMT-AS (62,5-87,5%).
Pihak sekolah (91.7-100%) di Bandung dan Bogor memberikan persepsi bahwa pelaksanaan PMT-AS berjalan dengan baik, 75-91,7% pihak sekolah menilai bahwa PMT-AS memberikan manfaat, PMT-AS tidak menjadi beban (83,3-loo%),
PMT-AS masih dibutuhkan (91,7-loo%), dan pelatihan masih diperlukan oleh pihak sekolah (75-100%).
Masyarakat (75-100%) di Bandung dan Bogor memberikan persepsi bahwa pelaksanaan PMT-AS berjalan dengan baik, 75-90,9% masyarakat menilai bahwa PMT-AS memberikan manfaat, dan seluruh masyarakat menilai bahwa PMT-AS tidak menjadi beban dan masih dibutuhkan.
Upaya melanjutkan PMT-AS secara mandiri di Bandung dan Bogor oleh
SURAT PERNYAT.4AN
Dengan ini saya rnenyatakan bahwa tesis yang berjudul
Stud1 Keberlanjutan Program Makanan Tambahan untuk Anak Sekolah
(PMT-AS) di Bandung dan Bogor adalah benar nerupakan hasil karya saya sendiri
dan belurn pernah dipublikasikan. Sernua surnber data dan inforrnasi yang
digurakan telah dinyatakan secara jelas dan dapat diperiksa kebenarannya.
STIIDI KEBERLANJIITAN PROGRAM MAKANAN
TAlMBAHAN UNTUK ANAK SEKOLAH (PMT-AS)
DI BANDlJNG DAN BOGOR
IRA ENDAH ROHIRIA
Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada
Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga
PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul Tesis : Studi Keberlanjutan Program Makanan Tarnbahan Untuk Anak
Sekolah (PMT-AS) di Bandung dan Bogor
Nama : Ira Endah Rohirna
NRP : P.21500011
Program Studi : Gizi Masyarakat dan Surnberdaya Keluarga
Menyetujui,
1. Komisi Pernbimbing
Prof.Dr.lr. Ali Khornsan.MS. K'stua
~ r . l ~ n . Dioko Susanto,SKM..APU Anggota
Mengetahui,
2. Ketua Program Studi Gizi Masyarakat 3. Direktur Program Pascasarjana dari Surnberdaya Keluarga
ProfDr Ir Ali Khornsan, MS.
--
Penulis dilahirkan di Bandung pada tanggal 21 Maret 1976 dari ayah
dr. Ading Suwardi dan ibu Tati Resmiati. Penulis merupakan putri keempat dari lima
bersaudara.
Tahun 1994 penulis lulus dari SMA Negeri 17 Bandung dan pada tahun yang
sama lulus seleksi masuk Universitas Pasundan (Unpas) Bandung. Penulis memilih
Jurusan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Industri. Selain itu penulis mengikuti
Diploma dengan jurusan Komputer Akuntansi di Java Study Bandung.
Selama perkuliahan penulis rnenjadi asisten laboratorium mata kuliah
Analisis Pangan pada tahun ajaran 199811999, Pada tahun 1999 penulis
menyelesaikan pendidikan S-I dan tahun 2000 berkesempatan untuk melanjutkan
ke Program Pascasarjana IPB pada program studi Gizi Masyarakat dan
Allah, tidak membebani seseomng melainkan sesuai dengan
kesanggupannya. I a mendapat paha~la (dari kebqjikan) yang diusohakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang
PRAKATA
Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wata2'ala,
yang telah memberikan kesehatan dan kesempatan kepada penulis untuk dapat
men](elesaikan penelitian ini dengan judul Studi Keberlanjutan Program Makanan
Tambahan Untuk Anak Sekolah (PMT-AS) di Bandung dan Bogor.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Prof.Dr.lr. Ali Khomsan, MS. selaku
ketua komisi pembimbing dan ketua Program Studi Gizi Masyarakat dan
Sumberdaya keluarga, Dr.lgn. Djoko Susanto, SKM., APU selaku anggota komisi
pemt)imbing, dan Dr.lr. Hadi Riyadi, MS. selaku penguji pada ujian tesis yang telah
memberikan bimbingan dan saran yang sangat bermanfaat bagi kesempurnaan
penelitian ini. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada pejabat
daereh, pihak sekolah, dan masyarakat di Bandung dan Bogor yang telah membantu
dalarn pengumpulan data. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah,
ibu, serta seluruh keluarga, atas segala doa dan kasih sayangnya.
Penulis menyadari tesis ini jauh dari sempurna, tetapi penulis berusaha
melakukan yang terbaik bagi penelitian ini. Semoga kiranya tesis ini bermanfaat.
Bogor, Agustus 2002
DAFTAR
IS1
Halaman
DAFTAR TABEL ... . . . ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .. viii DAFTAR GAMBAR ... . . . ... ... . . . ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ix
PENIIAHULUAN
Latar Belakang ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... 1 . .
Tujuan Penelltian ... . . ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... . . ... ... ... ... ... ... .. 3 . .
Manfaat Penelitian ... ... ... ... ... ... ... . . . ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... . . ... ... ... . 3
TINJAUAN PUSTAKA
Gizi Murid Sekolah Dasa 4
Program Makanan Tambahan untuk Anak Sekolah . .. ..
.
.. . ... ... .. . ... ... . . . .. 5Otonomi Daerah dan Kebutuhan Program ... ... ... ... ... ... ... ...
...
... ... ... ... .. 8 Keberlanjutan Program . . ..
. . .. .
. . . .. . 10Persepsi ... . .. . . ... .. . . ... .. . .. . . .. .. . . .. ... . .. ... ... ..
. ... .
.. .. . ... .. . .. . ... . .. .. . .. . .. . . I IKERANGKA PEMlKlRAN ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... . I 3
METODE PENELlTlAN
Desain, Lokasi, dan Waktc Penelitian
...
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ......
... ... .. 16Teknik Penarikan Contoh 16
Jenis dan Cara Pengumpulan Data . . .
. . .
..
.. . . .
. ..
. . . .. .. . .
. . 17Pengolahan dan Analisis Data 18
Definisi Operasional 19
HASlL DAN PEMBAHASAN
Hasil ... 20 Pembahasan ... 38
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan ... 42 Saran ... 43
DAFTAR TABEL
Halaman
1.
C)aftar responden ... ... ... ... ... ......
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... . . . ... . . . ... I72. Jenis dan cara pengumpulan data 18
3. Keadaan wilayah Bandung dan Bogor 20
4. Miteria sasaran PMT-AS 2 1
5. Clata keseluruhan dan sasaran PMT-AS Tahun 2001 ... ... ... ... ... . . . ... ... .. 21
6. Lokasi sekolah yang menjadi contoh penelitian ... ... ... ... ... ... ... ... ... . . . . . . . 22
7. Karakteristik sekolah yang menjadi contoh penelitian
.
.. .. . . .. . .. ... . .. ... .. . . .. 238. Fersentase status gizi anak yang mendapat PMT-AS di Bogor ... ... ... ... .. 28
9. Fersentase siswa yang memperoleh nilai kurang dari enam di Bogor ... ... 29
10. Persepsi mengenai pelaksanaan PMT-AS ... ... . ... ... ... ... ... ... ... ... . . . .. . ... 30
1 1 . Persepsi mengenai manfaat PMT-AS 3 1
12. Persepsi mengenai beban PMT-AS 32
13. Persepsi mengenai kebutuhan PMT-AS 33
14. Persepsi mengenai pelatihan ... ... ... ... ... ... ... ...
... ...
... ... ... ... ... ... ... ... ... 3415. Persepsi mengenai sasaran PMT-AS 35
16. Persepsi rnengenai otonomi daerah yang mempengaruhi keberlanjutan
PMT-AS ... 36
17. Upaya untuk keberlanjutan PMT-AS . . . ... ... ... . . . .. . . . . ... . . . ... ... ... ... ... ... 37
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Kerangka pernikiran studi keberlanjutan PMT-AS ... ... ... ... ... ... ... ... .. 15
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1
.
Cover kuesioner penelitian ... 472 . Kuesioner penelitian untuk Pejabat Daerah ... 48
3 . Kuesioner penelitian untuk Pihak Sekolah ... 49
4 . Kuesioner penelitian untuk Masyarakat ... 50
PENDAHULUAN
Salah satu program penting yang dimulai dalarn Repelita VI adalah Program
Pendidikan Dasar 9 tahun. Program ini mempunyai sasaran agar paling larnbat pada
Repelita VII sernua anak umur 7-15 tahun serendah-rendahnya berpendidikan
SLTP Salah satu kendala untuk rnencapai sasaran tersebut adalah tingginya angka
putus sekolah (drop out) pada siswa SDIMI dan banyaknya siswa yang tidak
melanjutkan ke jenjang pendidikan SLTP. Masalah kerniskinan orang tua serta
rendalinya status gizi dan kesehatan anak merupakan dua rnasalah penting di
sarnping rnasalah jurnlah dan rnutu fasilitas pendidikan yang kurang rnernadai.
IKegiatan yang dilaksanakan pemerintah untuk menanggulangi rnasalah
tersebut adalah rnenyelenggarakan Program Makanan Tarnbahan Anak Sekolah
(PMT-AS). Kegiatan tersebut ditujukan kepada siswa SDIMI di daerah lnpres Desa
Tertinggal (IDT) dengan memberikan makanan tarnbahan dan pemberian obat
cacing dalarn ueaha peningkatan status gizi anak. lndikator keberhasilan PMT-AS
yang telah ditentukan oleh Forum Koordinasi PMT-AS meliputi peningkatan status
gizi ar~ak SDIMI, penurunan angka ~ibsensi, peningkatan nilai anak untuk semua
mata pelajaran, penurunan angka infeksi kecacingan anak, peningkatan
pengetahuan, sikap dan keterarnpilan anak dan guru dalam aspek kesehatan serta
terlaksananya PMT-AS setiap tahun anggaran (Forum Koordinasi PMT-AS, 1999).
Pads awalnya PMT-AS diselenggarakan di 6 propinsi lndonesia Timur Jan
Jawa Tengah. Sejak tahun ajaran I99611997 program ini dilaksanakan di desa-desa
tertinggal di luar Jawa-Bali dan pada tahun ajaran 199711998 diperluas ke seluruh
Madpasah lbtidaiyah (MI) di desa tertinggal. PMT-AS merupakan program yang
berslfat multi dimensional dengan rnulti tujuan dan multi sasaran. Dari ?egi tujuan
PMT-AS berdirnensi gizi, kesehatan, pendidikan, pertanian, ekonomi, dan
pemberdayaan masyarakat. Dari segi sasaran, PMT-AS berdimensi anak, orang tua
murid, guru, dan rnasyarakat ( F o N ~ Koordinasi PMT-AS, 1999).
Penelitian sebelumnya mengenai PMT-AS telah banyak dilakukan,
menunjukkan hasil yang beragam di antaranya pemahaman yang cukup mengenai
kons'zp PMT-AS pada sebagian besar anak sekolah, guru, dan orang tua (Pranadji
dan Hardinsyah, 2000), dampak pemberian PMT-AS pada peningkatan kadar
glukclsa darah siswa di Bogor (Triatma, eta/., 2000), status gizi anak sekolah yang
menclapat PMT-AS lebih baik dibandingkan status gizi anak sekolah yang tidak
menclapat PMT-AS (Reviyanti, et a/., 2000), persepsi masyarakat yang terlibat cukup
baik cjengan keberadaan PMT-AS (Endaryanto, 1999).
Selain itu makanan kudapan yang belurn rnernenuhi persyaratan gizi
PMT-AS (Hardinsyah, et al., 2000), kegiatan PMT-AS belum menunjukkan dampak
positif terhadap pengetahuan, sikap, dan perilaku gizi siswa (Sukandar dan Tanziha,
2000:1, pelaksanaan PMT-AS di tingkat petugas pemasak belum sepenuhnya sesuai
d e n g ; ~ pedoman pelaksanaan (Sukandar, et a/., 1998), proses pelaksanaan
PMT-AS masih ada aktivitas yang belum sesuai dengan petunjuk teknis PMT-AS
(Widiyaningsih, 1999), serta manajemen penyelenggaraan PMT-AS belum sesuai
dengan petunjuk teknis di Kabupaten Bogor (Hardinsyah, eta/., 2000)
Mernasuki era otonomi daerah sebagai konsekuensi logis pelaksanaan
Unda'ig-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Daerah serta Peraturan Pemerintah RI Nomor 25 Tahun
Padii tahun anggaran 2002, pelaksanaan PMT-AS tidak lagi diberikan dana secara
khusus dari pemerintah pusat tetapi dibebankan pada pcmerintah daerah sehingga
kebijakan pelaksanaan PMT-AS mengalami perubahan kebijakan berdasarkan
pertiinbangan Bupati dan Walikota daerah seternpat.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keberlanjutan PMT-AS. Secara lebih
khusus, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji :
1 . Kinerja PMT-AS di Bandung dan Bogor.
2. Persepsi pejabat daerah mengenai pelaksanaan, manfaat, beban, kebutuhan.
s~asaran, dan pengaruh otonomi daerah terhadap keberlanjutan PMT-AS.
3. Persepsi pihak sekolah mengenai pelaksanaan, manfaat, beban, kebutuhan, dan
pelatihan dari PMT-AS.
4. Persepsi masyarakat mengenai pelaksanaan, manfaat, beban, dan kebutuhan
dari PMT-AS.
5. Upaya pejabat daerah, pihak sekolah dan masyarakat untuk kebecanjutan
PMT-AS.
6. P~srbaikan model kinerja PMT-AS rnenurut pejabat daerah dan pihak sekolah
urltuk keberlanjutan PMT-AS.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi
pembuat dan pengambil kebijakan program dalam meningkatkan pelaksanaan
program rnakanan tarnbahan bagi anak Sekolah Dasar sehingga dapat
menir~gkatkan kualitas surnberdaya manusia di masa depan. Selain itu sebagai
TINJAUAN PUSTAKA
Gizi Murid Seliolah Dasar
Murid sekolah dasar pada umumnya berusia antara 6-12 tahun. Pada masa ini
anak dalam masa pertumbuhan yang cepat dan kegiatan fisik yang aktif.
Pertumbuhan anak sekolah relatif lebih lambat dibandingkan pertumbuhan pada
w a k t ~ bayi atau pra sekolah. Krause (1979) menyatakan keturunan dan lingkungan
mercpakan determinan yang sangat penting dalam pertumbuhan dan
perkembangan sekolah anak. Pertumbuhan merupakan refleksi dari kondisi
keseiatan seseorang, sedangkan penyebab langsung seorang anak dapat tumbuh
dan berkembang secara baik adalah cukupnya masukan zat gizi serta !erbebasnya
dari penyakit infeksi.
Perturnbuhan dan perkembangan seorang anak akan normal bila ia
mengkonsumsi makanan dengan jumlah yang cukup. Pada periode ini anak lebih
aktif memilih makanan yang disukai. Kebutuhan energi akan tetap tinggi karena
mereka mempunyai aktivitas fisik yang meningkat. Protein diperlukan untuk
pemt~entukan otot dan darah. Untuk pertumbuhan yang masih berlangsung, maka
dibutl~hkan kalsium dan fosfor untuk mineralisasi tulang dan gigi disertai dengan
vitamin D yang cukup.
Angka kecukupan gizi rata-rata yang dianjurkan dan disebarkan melalui
Widy.3karya Nasional Pangan dan Gizi sebagai pedoman berapa besar kebutuhan
gizi anak. Angka kecukupan gizi untuk anak usia 7-9 tahun energi yang dibut~hkan
adalah 1900 Kkal dan protein 37 gram sedangkan anak usia 10-12 tahun laki-laki
ener~li yang dibutuhkan adalah 2000 Kkal dan protein 45 gram serta wanita energi
Program Makanan Tambahan Untuk Anak Sekolah
Program makanan tambahan anak sekolah merupakan usaha yang
dilakukan negara-negara berkembang dalam rangka memenuhi rnakanan bergizi.
Pelernbagaan program makanan tambahan untuk anak-anak dimulai sejak
pertengahan abad ke 19, saat Barisan Pengawal Nasional di Paris mengumpulkan
dana untuk menyediakan makan siang di sekolah untuk anak-anak yang
menibutuhkan bantuan. Pada awalnya kegiatan pemberian makanan tambahan
dibiayai secara pribadi atau kelompok-kelompok penyurnbang dan ditujukan khusus
untuk anak-anak miskin dalarn bentuk pembagian susu. Perkembangan selanjutnya,
program ini diambil alih pemerintah dengan rnembagikan jenis rnakanan yang lebih
banyak kepada anak-anak di semua tingkat ekonomi (Berg, 1986).
Di banyak negara, program makanan tarnbahan berbeda jenisnya dan
biasanya tergantung dari tujuan yang akan dicapai (Harper, 1986). Program
makanan tambahan untuk anak di lndonesia dilaksanakan dengan latar belakang
bahwa anak merupakan aset sumberdaya manusia yang sangat penting guna
meribangun masa depan bangsa yang maju, mandiri, sejahtera, dan berkeadilan
(Syarief, 1997).
Program makanan tambahan anak sekolah di daerah miskin dan terpencil di
seluruh lndonesia diselenggarakan mulai tahun 199611997 yang dikukuhkan melalui
Inpres No. 1 Tahun 1997, setelah sebelumnya pada tahun 199211993 sampai
199E'/1996 dilakukan ujicoba pemberian makanan tambahan dan obat cacing pada
anak-anak SD di 11 propinsi. PMT-AS di lndonesia tidak sama dengan program
makanan tambahan di negara lain yang memberikan makan siang &tau sarapan
mak.man kudapan dengan syarat-syarat tertentu seperti menggunakan bahan lokal,
tidak berbentuk makanan lengkap atau makanan pokok (nasi dan lauk pauknya) dan
benifat sebagai makanan suplemen bukan substitusi, selain itu rnakanan harus
mens3andung kurang lebih 300 Kalori dan 5 gram protein untuk setiap kali
peml~erian, kudapan diberikan tiga kali seminggu atau 108 kali dalam satu tahun
ajaran. Kegiatan lainnya berupa pemberian obat cacing setiap dua kali per tahun
serte; penyuluhan 1 pendidikan gizi dan kesehatan.
PMT-AS merupakan program yang bersifat multi dimensional dengan multi
tujuan dan multi sasaran. Dari segi tujuan PMT-AS berdimensi gizi, kesehatan,
pendidikan , pertanian, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat. Dari segi sasaran,
PMT.AS berdimensi anak, orang tua murid, guru, dan masyarakat (Forum
Koorclinasi PMT-AS, 1999). Adapun tujuan dan sasaran PMT-AS adalah sebagai
berikut :
1. Tujuan Umum dan Jangka Panjang antara lain meningkatkan keadaan gizi dan
derajat kesehatan anak SD, meningkatkan kemampuan dan prestasi belajar
anak SD, rnemberdayakan orang tua murid dan masyarakat sehingga lebih
rr~emperhatikan pendidikan, gizi dan kesehatan anak, serta rnembantu upaya
peningkatan pendapatan masyarakat miskin dan peningkatan ekonomi
pedesaan.
2. Sasaran dan Tujuan Jangka Pendek dan Menengah
a Untuk anak SD antara lain mengurangi absensi dan meningkatkan perhatian
serta kemampuan anak dalam proses belajar di kelas, mendidik anak akan
pentingnya gizi seimbang dan makan pagi untuk kesehatannya, mendidik
anak untuk selalu rnenyukai makanan tradisional dan makanan atau jajanan
anak akan pentingnya kebersihan dan sanitasi lingkungan, meningkatkan
status gizi dan kesehstan anak, dan meningkatkan prestasi belajar.
tr. Untuk guru antara lain mendorong guru untuk menggunakan PMT-AS
sebagai media pendidikan gizi dan kesehatan anak, membantu mendorong
semangat guru dalam mendidik anak SD di daerah miskin dan terpencil.
c.. Untuk orang tua murid dan masyarakat setempat antara lain untuk mendidik
orang tua murid dan masyarakat akan pentingnya pendidikan, gizi,
kesehatan, dan kebersihan lingkungan bagi anak dan keluarga, untuk
mendorong diaktifkannya kembali upaya pemanfaatan tanaman pekarangan
dan kebun sekolah, dan menyediakan pasar untuk hasil tanaman
pekarangan dan kebun sekolah untuk dimanfaatkan sebagai sumber bahan
jajanan lokal untuk PMT-AS.
Pelaksanaan PMT-AS rnemerlukan pendekatan yang holistik dan kerjasama
multisektoral. Menurut Harper (1986) dengan digabungkannya beberapa kegiatan
dala~n program makanan tambahan diharapkan dapat memberi hasil yang efektif
dan :secara nyata dapat mempercepat perbaikan gizi masyarakat.
Organisasi tim pelaksana PMT-AS di tingkat sekolah diketuai oleh Kepala
Sekcllah. Bendahara dan sekretaris dijabat oleh guru. Anggota dewan guru yang lain
menjadi anggota tim pelaksana bersama-sama dengan bidan desa, ketua BP3 dan
angsota PKK. Tim pengelola PMT-AS di tingkat Kecamatan terdiri dari Camat,
Kepala Puskesmas, Kepala Seksi PMD, Tenaga Pelaksana Gizi Puskesmas, Kepala
Bala Penyuluhan Pertanian, Pengawas TWSD dan Penilik Pendidikan Agama,
O t o ~ ~ o m i Daerah dan K e b u t u h a ~ ~ Program
Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) telah menggariskan arah
pembangunan daerah dalam Program Jangka Panjang (PJP) II, yaitu untuk memacu
pernerataan pembangunan dan hasil-hasilnya dalam rangka meningkatkan
kesejahteraan rakyat, menggalakkan prakarsa dan peran serta aktif masyarakat,
serta rneningkatkan pendayagunaan potensi secara opimal dan terpadu dalam
mengisi otonomi daerah yang nyata, dinamis, serasi, dan bertanggung jawab serta
rnen~perkuat persatuan dan kesatuan bangsa (Anonim, 1997). Otonomi daerah
rnen~erlukan kerjasama dan harrnonisasi hubungan antar daerah akan memperluas
jangkauan pemanfaatan sumber daya dan berbagai hasil suatu daerah
(Marlan, 2001).
Pemerintah bertanggung jawab atas pendidikan, menyediakan sekolah cuma-
cum:3, dan mengharuskan wajib belajar karena banyak orang tua tidak mampu
menyekolahkan anaknya. Keadaan tingkat kesehatan gizi anak-anak di sebagian
besir dunia menimbulkan keragu-raguan karena ketidakmampuan orang tua dalam
menyediakan gizi yang cukup. Bila terjadi penyakit dan kurang gizi, maka
pemerintah harus melakukan intervensi. Penyelesaian untuk membantu
mengatasinya, pemerintah haws rnelakukan suatu kegiatan (Berg, 1985)
Kegiatan yang dilakukan di Indonesia adalah PMT-AS dengan indikator
keberhasilan yang telah ditentukan oleh Forum Koordinasi PMT-AS meliputi
peningkatan status gizi anak SDIMI, penurunan angka absensi sakit, peningkatan
nilai anak untuk semua mata pelajaran, penurunan angka infeksi kecacingan anak,
peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan anak dan guru dalam aspek
Keberhasilan mengatasi masalah gizi merupakan tanggung jawab bersama.
Peja~bat tidak hanya menentukan besamya angka gizi salah serta efeknya pada
perkembangan daerah tapi juga rnempertimbangkan program dan kebijakan untuk
mengatasi kekurangan itu. Koordinasi di antara badan-badan pemerintah maupun
kelompok non pemerintah dengan rencana utama memprogramkan gizi sangat
bemianfaat (Berg, 1985). Berhasil atau gagalnya program juga dipengaruhi oleh
sikap rnasyarakat terhadapnya. Apabila sikap ini menguntungkan maka masyarakat
akar~ bertindak sesuai rencana program (Surjadi, 1989).
Memasuki era otonorni daerah sebagai konsekuensi logis pelaksanaan
Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Daerah serta Peraturan Pernerintah RI Nomor 25 Tahun 2000
tentang Kewenangan Pemerintah dan Propinsi sebagai Daerah Otonom. Dengan
dem~kian pelaksanaan PMT-AS rnengalarni perubahan kebijakan, baik sistem
perencanaaan maupun penganggaran dan rnekanisme pelaksanaannya.
Pelaksanaan pembangunan daerah khususnya pada jangka pendek,
mer~~pakan pelaksanaan dari kegiatan program pembangunan. Kegiatan program
dilakukan berdasarkan dana yang dianggarkan di Anggaran Pendapatan dan
Belaiija Daerah (APBD). Dengan dernikian, APBD menentukan pelaksanaan dan
keberlanjutan program yang dilaksanakan baik oleh Pernerintah Daerah (Pemda)
rnaupun oleh instansi atau dinas yang ada di daerah tersebut. Perencanaan
pernl~angunan daerah juga dikaitkan dengan keputusan politik (political interest) dari
pernerintah, maka ada ha1 tertentu yang harus dilaksanakan tanpa harus
men!rampingkan kepentingan rnasyarakat, namun untuk jangka panjang kebijakan
yang diambil harus tetap sejalan dengan kesepakatan yang telah digariskan
Pada sebuah program diperlukan pemantauan dan evaluasi yang bersifat
internal maupun eksternal untuk mempunyai serangkaian sistem informasi
manajemen pada badan-badan individu untuk bass bagi fungsi-fungsi tersebut.
Salah satu sebab utama kegagalan adalah kesalahpahaman pada rancangan
program tersebut (Kasley dan Kumar, 1991).
Keberlan,jutan Program
Keberlanjutan atau sustainability berasal dari bahasa latin dari kata sustenere
bera t i menegakkan. Etimologi ini juga merefleksikan hasil perdebatan diantara para
ilmu~van di Spanyol bahwa sustainability berasal dari sostenibilidad (asal kata
sostt?ner) atau sustentabilidad (asal kata sustentar) yang berarti menjadi tegak
(Becqer, 1998).
Program yang dilaksanakan sebagai proses pembangunan perlu diperhatikan
aspek keberlanjutan dan perencanaan. Pembangunan yang dilaksanakan tanpa
perencanaan yang berkelanjutan akan menyulitkan pelaksanaan pembangunan.
Suatu proses pembangunan yang berkesinambungan dari waktu ke waktu dengan
melitlatkan kebijaksanaan dari pembuat keputusan berdasarkan sumber daya yang
tersedia dan disusun secara sistematis. Suatu perencanaan dibuat berdasarkan
tujuan yang jelas karena perencanaan tersebut dipergunakan sebagai arah atau
pedoman pelaksanaan pembangunan (Soekartawi, 1990).
lmplementasi dan keberlanjutan program merupakan suatu tantangan dalam
perericanaan program. Strategi top down tidak hanya kurang efektif tapi juga sulit
untuk, menjaga keberlanjutan. Program pengembangan pada masyarakat perlu
mempertimbangkan tentang jalan keluar yang baik dari masalah yang ada di
11
hasil penelitian yang berhasil dilakukan oleh Nantel dan Tontisirin (2002) di Thailand
dengan melalukan pendekatan pada seluruh masyarakat dan partisipan melalui
fasili1:as dan motivasi untuk mengirnplementasikan dan melanjutkan program atau
intervensi. Hasil penelitian ini menunjukan cara yang cukup efektif untuk
keberlanjutan program dalam memecahkan masalah malnutrisi di Thailand.
Penelitian lain yang berhubungan dengan keberlanjutan program dilakukan
oleh Gleason dan Sharmanov (2002) di Uzbekistan, Republik Kyrgyz, Tajkistan,
Turkmenistan, dan Kazakhstan dalam mengatasi masalah prevalensi anemia dan
defisensi zat besi pada anak dan wanita. Keberhasilan dan keberlanjutan program
intenrensi yang dilakukan dengan berbagai cara diantaranya pendidikan, promosi
serta suplementasi. Kesepakatan dan tujuan yang baik antara masyarakat dan
pengelola program dibutuhkan untuk keberlanjutan program.
Persepsi
Persepsi adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang di dalam
memaharni inforrnasi tentang lingkungannya, baik lewat penglihatan, pendengaran,
penghayatan, perasaan, dan penciuman. Secara sederhana, persepsi merupakan
s u a t ~ ~ penafsiran terhadap situasi (Thoha, 1986). Sedangkan rnenurut Rahmat
(1992!), persepsi merupakan hasil pengalaman seseorang tentang obyek, peristiwa,
atau keadaan dan menurut Applbaurn et a1 (1973) persepsi adalah tanggapan atau
pend3pat yang di dalarnnya terkandung unsur penilaian terhadap obyek dan gejala
berdasarkan pengalaman dan wawasan yang dimilikinya.
Pengertian tentang persepsi yang lebih spesifik dikemukakan oleh McMahon
dan IMcMahon (1986) dimana persepsi merupakan proses penyusunan informasi
seringkali tidak sama antara individu yang satu dengan lainnya, tergantung faktor-
faktol' tertentu yaqg ada pada diri dan di luar individu tersebut yang dapat
mempegaruhi persepsinya. Menurut Schiffman (1982), terdapat tiga faktor yang
mempengaruhi persepsi antara lain (1) faktor struktural sifatnya fisiologis seperti
penglihatan, pendengaran, dan sebagainya, (2) faktor fungsional rnerupakan faktor
yang dipengaruhi oleh ingatan, kebutuhan, dan kebiasaan serta pengalaman yang
didapat dari interaksi personal dan sosial, serta (3) faktor kultural, yang
rnempengaruhi budaya dalarn konteks adat istiadat dan tradisi.
Menurut Schiffman dan Kanuk (1983), terkait dengan persepsi yang
rnerupakan bagian dari sikap disebutkan terdapat tiga komponen yang akan
mempengaruhi pandangan seseorang terhadap suatu obyek tertentu yaitu
komponen kognitif, afektif, dan konatif. Komponen kognitif menekankan kepada
pengetahuan dan persepsi seseorang terhadap obyek berdasarkan pengalaman
langsi~ng yang dihubungkan dengan sumber informasi. Pengetahuan dan persepsi
ini akan menghasilkan kepercayaan (belief) terhadap obyek tertentu. Kornponen
afektif menekankan kepada perasaan atau ernosi dalarn menilai obyek tertentu.
Komponen konatif menekankan kepada kecenderungan (tendency) dan menurut
beberapa interpretasi kornponen konatif merupakan perilaku aktual seseorang untuk
K E R A N G K A P E M I K I R A N
Program Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMT-AS) merupakan salah
sat^ komponen Program Perluasan Jaring Pengaman Sosial dan Penanggulangan
Kentiskinan (PJPS-PK). PMT-AS sebagai upaya pemerintah untuk mengatasi
masalah kurang gizi dan angka putus sekolah yang tinggi pada murid Sekolah
Dasar. Selain itu diharapkan juga mampu memberdayakan orang tua murid dan
masyarakat sehingga lebih memperhatikan pendidikan, gizi, dan kesehatan anak.
Keberlanjutan PMT-AS dipengaruhi oleh kinerja, persepsi, upaya dan
pertsaikan model kinerja yang dilakukan oleh pihak terkait seperti pejabat daerah,
pihak sekolah dan masyarakat. Semua aspek keberlanjutan PMT-AS untuk
mendapatkan kinerja dan hasil yang lebih baik dan efektif. Adapun kinerja PMT-AS
mencakup input, proses, dan output.
Input meliputi dana yang diperoleh dari APBD, tenaga dari pihak terkait,
sarana, prasarana, pelatihan dan penyuluhan. Proses mencakup perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan, evaluasi dan pemantauan. Perencanaan dilakukan
untuk menetapkan tujuan dan prosedur untuk mencapai tujuan tersebut.
Pengorganisasian merupakan langkah menempatkan sumberdaya manusia sesuai
dengan posisinya. Pelaksanaan mempakan upaya untuk mencapai tujuan.
Sedangkan evaluasi dan pemantauan merupakan upaya untuk mengoreksi
pelal<sanaan program yang sedang atau telah selesai dikerjakan secara terns
men'?rus. Output meliputi peningkatan status g i ~ i anak, penurunan angka absensi
Dengan adanya PMT-AS, banyak dukungan berbagai pihak untuk
pelaksanaannya mulai dari pejabat daerah, pihak sekolah, dan masyarakat sehingga
program tersebut dapat terlaksana dengan baik meskipun telah memasuki era
otonomi daerah. Otonomi daerah merubah kerangka arus dari atas (top down) yang
menerapkan program dengan instruksi dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah
menjadi instruksi pemerintah daerah pada pihak terkait dengan mengalami
perubahan kebijakan terutama kinerja. Kinerja PMT-AS memberi pengaruh pada
persepsi pejabat daerah, pihak sekolah, dan masyarakat juga terhadap
keberlanjutan PMT-AS.
Persepsi yang berbeda dapat mempengaruhi keberlanjutan suatu program.
Persepsi pejabat daerah dipengaruhi oleh pelaksanaan, manfaat, beban, kebutuhan,
sasaran, dan otonomi daerah yang mencakup alokasi dana, prioritas penyusunan
program, dan efisiensi rnanajemen. Persepsi dari pihak sekolah dan masyarakat
diper~garuhi oleh pelaksanaan, manfaat, beban, dan kebutuhan dari PMT-AS.
Persspsi pejabat daerah, pihak sekolah dan masyarakat terjadi hubungan timbal
balik. Persepsi pejabat daerah dipengaruhi oleh persepsi pihak sekolah dan
masyarakat demikian juga sebaliknya persepsi pihak sekolah dan masyarakat
Upaya dan Perbaikan Model Kinerja PMT-AS
0 Status Gizi
I
Otonomi Daerah
Prioritas Penyusunan Program
Efisiensi manaiemen
Keterangan :
C 3 = Faktor yang diduga mempengaruhi (diteliti)
. . . . .
[image:99.612.84.504.80.665.2]. . . ... = Manfaat PMT-AS (tidak diteliti)
METODE PENELlTlAN
Desain, Lokasi dan Waktu Penelitian
Desain penelitian ini adalah cross-sectional study dan retrospectif dengan
rnenggali informasi mengenai kinerja PMT-AS, persepsi dan upaya serta perbaikan
rnotlel dalam keberlanjutan PMT-AS. Penelitian dilaksanakan di Bandung dan Bogor
berlangsung dari April sampai Juli 2002. Pemilihan lokasi berdasarkan situasi
pangan dan gizi 2000-2001 dimana Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bogor
rnerupakan daerah yang mempunyai risiko tinggi rawan pangan dan gizi sedangkan
Kota Bandung dan Kota Bogor rnerupakan daerah yang mempuyai resiko rendah
rawan pangan dan gizi.
Teknik Penarikan Contoh
Responden adalah pejabat daerah, pihak sekolah, dan masyarakat. Pejabat
Daerah meliputi Kornisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tingkat 11,
Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda), Pernberdayaan
Masyarakat, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Pusat Kesehatan Masyarakat
(Purjkesrnas), Kecamatan, dan Kelurahan. Pihak sekolah meliputi Kepala Sekolah,
Dewan Sekolah dan guru SD dan MI yang pernah dan masih menerirna bantuan
PM1.-AS, dan rnasyarakat terutama orang tua murid, PKK dan tokoh masyarakat
yan<g ada di Bandung dan Bogor. Pemilihan responden dari pejabat daerah, pihak
sekolah, dan masyarakat dilakukan secara purposif. Jurnlah responden adalah
117 orang yang terdiri dari pejabat daerah 32 orang, pihak sekolah 48 orang, dan
Tabel 1. Daftar responden
Pejabat daerah yang diwawancara pada tingkat kota dan kabupaten adalah
--
Responden
1. Pejabat Daerah DPRD Bappeda PMG Dinas Pendidikan Dinas Kesehatan Puskesrnas Kecamatan
.
Kelurahan--
2. Sekolah
Kepala Sekolah Guru
Dewan Sekolah
3. Masyarakat
Orang tua murid PKK
.
Tokoh Masyarakat JUMLAHKepala Bidang atau Pimpinan Proyek yang rnenangani PMT-AS sehingga dapat
rnenjawab kuesioner dengan baik. Pejabat daerah pada tingkat kecamatan dan
kelurahan dipilih berdasarkan lokasi dimana terdapat sekolah penerima PMT-AS
Bandung
Jenis d m Cara Pengurnpulan Data
Kabupaten 1 1 1 1 1 1 1 1 4 4 4 4 4 1 29
Data yang dikurnpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Jml 4 4 4 4 4 4 4 4 Kota 1 1 1 1 1 1 1 1 4 4 4 4 4 3 31 Bog or
Peng~rnpulan data orimer dilakukan dengan rnelakukan wawancara berdasarkan Kabupaten 1 1 1 1 1 1 1 1
kuesicner sedangkan data sekunder diperoleh dari arsip yang diperoleh dari Kota 1 1 1 1 1 1 1 1 4 4 4 4 3 1 28
responden. Jenis data dan cara pengurnpulannya dapat dilihat pada Tabel 2.
4 4 4 4 3 2 29 16 16 16
'
1614
7
Tabel 2. Jenis dan cara pengumpulan data
M
Kinerja PMT-AS/
Puskesmas, ~ecamatan, dan Kelurahan
/
Sekunder/
Arsip DPRD, BaDveda. PMD. DinasNo Data
-
1 I Persepsi, Upaya dan
/
Perbaikan ModelI
.
Masyarakat Sekolah.
Pejabat DaerahI I
I
1
1
1
/
~endidikan. Dinas ~esehatan, Puskesmas,/
Jenis DataPrimer
Primer
Primer
Pengotahan dan Analisis Data
Cara Pengump~~lan
Wawancara dengan orang tua murid, tokoh masyakat, dan PKK
Wawancara dengan guru, kepala sekolah. dan dewan sekolah
Wawancara terhadap DPRD komisi E,
Bappeda, Kabag PMD, Kabag Dinas Pendidikan, Kabag Dinas Kesehatan,
Data sekolah dan murid Kebijaksanaan
Pemerintah
Sumberdaya manusia
Struktur APED dan Pengalokasian Dana Kondisi Wilayah
--
Data yang dikumpulkan merupakan data kualitatif dan diolah secara
deskriptif. Data yang diolah rnencakup sikap terhadap keberlanjutan PMT-AS dari
masyarakat, sekolah, dan pejabat daerah. Penelitian ini dapat dikatakan sebagai
penelitian deskriptif kualitatif.
Penilaian kinerja diperoleh dari laporan atau arsip dari pejabat daerah, PKK,
dan 5;ekolah rnengenai pelaksanaan PMT-AS yang rneliputi input, proses, dan output
PMT-AS di Kabupaten dan Kota wilayah Bandung dan Bogor. Input rneliputi dana,
tenaga, sarana, prasarana, pelatihan, dan penyuluhan. Proses meliputi
perericanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, evaluasi, dan pemantauan. Ouput
meliputi peningkatan status gizi, peningkatan nilai, penurunan absensi anak. Sekunder Primer Sekunder Primer Primer Sekuner Sekunder
Kecamatan, Kelurahan, PKK dan Sekolah. Arsip PMD dan Sekolah
Wawancara dengan pejabat daerah Arsip FK PMT-AS
Wawancara dengan masyarakat, sekolah, dan Kelurahan
Arsip pejabat daerah
[image:102.612.87.527.118.412.2]Penilaian persepsi rnasyarakat dan sekolah didasarkan pada pertanyaan-
pertanyaan yang mencakup aspek keberlanjutan di antaranya (1) pemahaman
tentang PMT-AS dan pelaksanaannya, (2) manfaat yang dirasakan selama PMT-AS
berlangsung (3) rnanfaat bila rneneruskan PMT-AS, dan (4) kebutuhan dari PMT-AS.
Penilaian persepsi pejabat daerah didasarkan pada (1) kernandirian daerah dalarn
menyelenggarakan PMT-AS, (2) anggaran yang dialokasikan pada PMT-AS, (3)
keberlanjutan PMT-AS setelah adanya otonomi daerah, (4) sasaran yang diinginkan
pada PMT-AS dan (5) model yang diinginkan bila PMT-AS akan dilanjutkan.
lnforrnasi lain yang dianalisis adalah upaya dari rnasyarakat, sekolah, dan
pejal~at daerah dalarn rnenjaga keberlanjutan PMT-AS. Upaya sebagi antisipasi
untuli rnendapatkan dana apabila PMT-AS dihentikan pendanaannya oleh Pernda.
Definisi Operasional
Keborlanjutan adalah pelaksanaan program pemerintah yang dilakukan dalarn
waktu yang panjang karena adanya dukungan dan kebutuhan dari pejabat
daerah, sekolah, dan masyaraka!.
Persepsi rnerupakan proses penyusunan informasi untuk rnernbuat penafsiran dan
pengertian terhadap PMT-AS.
Otor~omi adalah instrurnen pengimbang dan rnenyeirnbangkan kecenderungan
rnernusat atau rnendaerah.
Motivasi adalah suatu dorongan untuk mencapai tujuan karena adanya kebuthan
biblogis, kebutuhan psikologis, dan kebutuhan sosial.
Status gizi adalah keadaan tubuh yang diakibatkan oleh konsurnsi, penyerapan dan
penggunaan rnakanan. Untuk rnenilai status gizi digunakan indikator BBlU,
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
1. Keadaan Wilayah
Bandung dan Bogor merupakan wilayah dengan penduduk yang cukup padat
(lihat Tabel 3). Berdasarkan pemantauan Tim Sistem Kewaspadaan Pangan dan
Gizi 13usat Tahun 2001 tentang situasi pangan dan gizi di Indonesia, Kabupaten
Bandung dan Kabupaten Bogor termasuk wilayah yang mempunyai risiko tinggi
rawall pangan dan gizi sedangkan Kota Bandung dan Kota Bogor terrnasuk wilayah
yang mernpunyai risiko rendah rawan pangan dan gizi. Pemantauan situasi pangan
dan (lizi rnenggunakan ~ndikator prevalensi gizi kurang balita, kerusakan tanarnan
padi, dan jumlah keluarga miskin. Situasi pangan dan gizi menurut KabupatenlKota
Tahui 2000-2001 dapat dilihat pada Lampiran 5.
Tabel 3. Keadaan wilayah Bandung dan Bogor
Wilayah Luas Wilayah Jumlah Penduduk Jumlah Jml Jml
(km2) L P Kec Desa
I I I I I 1
Bandi~ng Kabupaten 285.209 2.141.402 2.016.681 4.158.083 42 451
Kota 16.729,6 1.073.568 1.062.692 2.136.260 26 139
-- 1
B0gos:
Kabupaten
I
2.273.738 1.830.433 3.508.826 3.508.826 35 425
Kota 11.850 378.365 750.819 750.819 6 68 I
1 1 I I I I I J
Sumber: Badan Pusat Statistik (2000)
Keadaan wilayah Bandung dan Bogor tal,un 2001 yang mempunyai risiko
terhadap rawan pangan dan gizi menjadi daerah sasaran PMT-AS. Pelaksanaan
PMT-AS di Bandung dan Bogor memiliki kriteria tertentu dalam rnernilih lokasi
[image:104.612.78.520.454.603.2]Tabel 4. Kriteria sasaran PMT-AS
Bogor
1
Kabupaten Kota Kabupaten ~ o t a Desa tertinggal Desa Desa IDT Desa yang rnemiliki 2
tertinggal 20% keluarga miskin SD dari SD di lokasi SD di kawasan 13asar miskin dari keluarga Pra IDT kumuh atau merniliki
keluarga Sejahtera siswa rawan
KSlKSl
MI di daerah MI di lokasi MI di kawasan kurnuh lbtidaiyah miskin dari miskin dari I DT atau rnerniliki siswa
keluarga keluarga Pra rawan
Pra KSI KS1 Sejahtera
20% dengan status (Ponpes) santri 7-12 tahun gizi kuran
Sumber : Badan Pemberdayaan Masyarakat Jawa Barat (2002)
2. Keadaan Sekolah
Berdasarkan hasil evaluasi Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM)
propinsi Jawa Barat tahun 2001, sekitar 15,36
-
51,38% siswa di Bandung dan1,09 .. 14,22% siswa di Bogor telah menerima PMT-AS. Jumlah sekolah dan jumlah
[image:105.616.93.526.105.311.2]murid keseluruhan dan yang telah menerima PMT-AS dapat dilihat pada Tabel 5
Tabel 5. Data keseluruhan dan sasaran PMT-AS tahun 2001
Bandung
1
BogorKabupaten
1
Kota Kabupaten1
KotaJumlah I Jumlah / Jumiah 1 Jumiah I Jumlah 1 Jumlah I Jumlah
/
sekoiah1
slswa/
sekolahI
siswa1
sekolah/
siswa1
Keseluruhan :I
t
I
1
I
I
1 EsD
2 hli
3 Fonpes JUMLAH
Sasaran :
1 S D
"
596.93: I: l o o l l s 2 2 . 1 1 ~ 1.514
1
3 Fonpes 224 14.867 ! 0 1
-
JUMLAH 6% 91.297 i 190 3 7 0 0 0 393 92 477 11 864
.-A
[image:105.616.76.542.484.709.2]Dalarn penelitian ini, Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah lbtidaiyah (MI) di
Bantlung dan Bogor dipilih secara purposif seperti terlihat pada Tabel 6
Di Kabupaten Bandung dipilih 2 SD dan 2 MI yang pernah rnenerirna PMT-AS
sedangkan di Kota Bandung dlpilih 2 SD dan 2 MI yang rnasih rnenerirna PMT-AS
Di Ksbupaten Bogor dipilih 2 SD dan 2 MI yang pemah rnenerirna PMT-AS dan di
Kota Bogor dipilih 1 SD dan 1 MI yang rnasih rnenerirna PMT-AS serta 1 SD dan 1MI
yang pernah rnenerirna PMT-AS.
Tabel 6. Lokasi sekolah yang menjadi contoh penelitian
Wilayah SDlMl Kecamatan DesalKelurahan
-
/
Kabupaten/
1. SD. Cilampeni 3/
Katapang1
Pangauban2. SD. Margahayu 7 Margahayu Margahayu selataii
3. MI. Miftahul Jannah Katapang Katapang
1
4. MI. AI Haq Margahayu Margahayu selatanKota 1. SD. Cibuntu 2 Bandung kulon Warung muncang
2. SD. Citarip 3 Bojongloa kaler Kopo
3. MI. YPPI Bandung kulon Warung muncang
4. MI. Salatiyah 3 Bojongloa kaler Kopo
Bogor Kabupaten
/
1. SD. Neglasari 1 dan 2/
Drarnagat
i
1
NeglasariI
I
1
2. SD. Parakan I/
CiomasI
ParakanI
I
/
3. MI. Manbaul 'Uluum/
Ciampea/
Ciampea4. MI. AI Husna Ciomas Parakan
--
I. SD. Sukadamai 1 Tanah ~areal Sukadamai
2. SD. Situpete Tanah sareal Sukadamai
I
I
/
3. MI. A. lyanatul HudaI .
Tanah sareal/
Meka~wangi4. MI. Nurul Amal Tanah sareal Kencana i
Pemilihan lokasi sekolah didasari oleh karakteristik yang berbeda dari
sekokh-sekolah yang ada di Bandung dan Bogor seperti terlihat pada T a b e l 7
Pem~lihan lokasi dilihat dari keadaan bangunan sekolah, perbandingan guru dengan
23
Tabel 7. Karakteristik sekolah yang menjadi contoh penelitian
Sekolah Dasar (SD) I
Madarasah lbtidaiyah (MI)
BANDUNG
1. SsD. Cilarnpeni 3 2. S'D. Margahayu 7 3. SD. Cibuntu 2 4. SD. Citarip 3 5. hll. AI Haq
6. hll. Miftahul Jannah
7. hII. YPPI
8. hll. Salafiyah 3
BOGOR
1. SD. Neglasari 1 SD. Neglasari 2 2. SD. Parakan 1
3. SD. Sukadamai 1 4 . SD. Situpete
5. kll. Manbaul 'Uluum 2 6. kII. AI Husna
7. MI. A.I. Huda
8. kll. Nurul Amal
Tdk ada Tdk ada Tdk ada Tdk ada Tdk ada Tdk ada Tdk ada Tdk ada
3. Kinerja Program Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMT-AS)
Kebun Sekolah Tdk ada Tdkada Tdkada Tdkada Ada Tdkada { T d k a d a i
3.1. I(omponen Input
Jml Murid
Dana. Pada tahun anggaran 2002, pelaksanaan PMT-AS telah mernasuki Jrnl 157 261 262 298 146 67 181 L 137 128 119 130 81 35
/
83tahun keenam. Kota Bandung dan Kota Bogor tetap menyelenggarakan PMT-AS P 120 133 143 168 65 32
9 8 1
sebagai program untuk rnernperbaiki status gizi anak sekolah dan rnenurunkan
absensi, sedangkan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bogor tidak Jrnl Guru
rnenyelenggarakan PMT-AS karena tidak terrnasuk dalam prioritas penyusunan
Jrnl 8 8 8 6 6 6
1 4
L 1 2 1 4 1 1
I 3
program. P 7 6 7 2 5 5
I 1
Jrnl Kelas 5 6 5 3 6 5
I 6
Jrnl WC 2 1 3 3 2 0
Penyaluran dana PMT-AS dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah
(APBD) dialokasikan ke rekening masing-masing kepala sekolah melalui Bank
penyialur unit kecamatan seperti Bank Rakyat Indonesia di Kabupaten Bandung,
Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Kota Bandung, Bank Pembangunan Daerah
(BPD) di Kabupaten Bogor, dan Bank Jabar di Kota Bogor. Kepala sekolah membuat
pengajuan pencairan dengan ditandatangani oleh kepala sekolah SDIMIlPonpes
diketahui oleh BP31Dewan Sekolah dan ketua TP. PKK DesaIKelurahan serta camat
di sasiaran PMT-AS.
Perbedaan tahun ajaran dengan tahun anggaran daerah di Bandung dan
Bogo. rnenjadi kendala karena pencairan dana menjadi tidak tepat waktu dan tidak
sesuai dengan jumlah murid. Pihak sekolah merasa berat karena harus
menanggung kekurangan dana tersebut dan akibatnya penyelenggaraan PMT-AS
kadar~g harus dihentikan sementara waktu.
Tenaga. Tenaga pelaksana PMT-AS di Bandung dan Bogor didukung
berbagai pihak dari pejabat daerah, pihak sekolah, dan masyarakat. Pejabat daerah
mempunyai kewenangan dalam membuat kebijakan mengenai pengalokasian dana,
pelak:janaan dan mekanismenya. Pihak sekolah dan masyarakat merupakan tim
pelak:jana PMT-AS. Proses pelaksanaan ditentukan oleh kerjasama antara pihak
sekolah, masyarakat dan pejabat daerah dari tingkat kecamatan dan kelurahan
sampai tim koordinasi.
Sarana dan Prasarana. Sarana PMT-AS adalah alat ukur tinggi dan
tirnbangan badan, sedangkan prasarana PMT-AS adalah alat masak, kebun
sekolah, dan sarana air bersih. Alat ukur tinggi dan tirnbangan badan di Bandung
dan l3ogor disediakan di setiap sekolah penerima PMT-AS untuk rnelakukan
Alat masak dialokasikan kepada juru masak pada awal pelaksanaan
PMT-AS. Alat masak di Bandung dan Bogor tahun 2001 masih mengguna'tan
bantuan tahun sebelumnya. Keadaan alat masak pada umumnya sudah rusak
sehi~gga rnenggunakan alat masak dari rnasyarakat.
Pada umumnya kebun sekolah belum dimiliki oleh sekolah sasaran PMT-AS
di Bandung dan Bogor. Kebun sekolah merupakan salah satu usaha membantu
kete,-sediaan pangan dan meningkatkan kesadaran baik guru, murid dan orang tua
muri'j dalam memanfaatkan lahan yang tersedia.
Di Kabupaten Bandung penyediaan sarana air bersih belum seluruhnya
terpenuhi, di Kota Bandung baru mencapai 50%, di Kabupaten Bogor 70%, dan di
Kota Bogor 95%. Sarana air bersih merupakan penunjang yang penting dalam
peml,uatan kudapan dan kesehatan diri anak.
Pelatihan dan Penvuluhan. Pelatihan diberikan oleh tim pengelola tingkat
kecarnatan terutama Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) kepada tim pelaksana. TPG
Puskesmas berperan dalam melatih kelompok petugas masak dari PKK untuk
membuat kudapan yang baik dan sesuai dengan standar, selain itu memantau
dalarn pengukuran berat dan tinggi badan.
Pihak sekolah diberikan penyuluhan terutama rnasalah administrasi berupa
proses pencairan dana, pelaporan pelaksanaan, pengumpulan data dasar (tinggi
badan, berat badan, rapor, absen) dan tata tertib pernberian kudapan.
3.2. ktornponen Proses
Perencanaan. Perencanaan yang dilakukan adalah penganggaran dana,
pendi3taan lokasi sasaran, survei lokasi, sosialisasi, dan rapat koordinasi. Tahun
anggaran 2002, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bogor lebih mernprioritaskan
Pendataan dan suwei lokasi sasaran didasari oleh usulan dari kecamatan
kemudian dinilai berdasarkan kriteri? yang telah ditetapkan. Sosialisasi dan rapat
koordinasi dilakukan secara berjenjang pada tingkat kecamatan, kelurahan, sekolah,
masyarakat, dan lembaga pemberdayaan masyarakat
Pennornanisasian. Organisasi dari PMT-AS dimulai dari tingkat koordinasi
kota/<abupaten sampai tingkat sekolah sebagai pelaksana seperti terlihat pada
Gaml3ar 2. Forum koordinasi pada tingkat kotalkabupaten adalah Badan
Pemberdayaan Masyarakat (BPM), Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah
(Bappeda), Dinas Pendidikan dan Pengajaran, Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian,
Departemen Agama, dan Tim Penggerak PKK tingkat kotalkabupaten
Tim pengelola PMT-AS pada tingkat kecamatan adalah Camat, Pusat
Keseliatan Masyarakat (Puskesmas), Dinas Pendidikan tingkat kecamatan, dan
TP. PKK tingkat kecamatan. Tim pengelola pada tingkat kelurahan adalah
LuraP~IKepala Desa, PKK tingkat kelurahan, Pendamping Kelompok Masyarakat
(Pokrrlas) IDT, dan Kader Pembangunan Desa. Tim pelaksana PMT-AS tingkat
SDlMllPonpes adalah kepala sekolah, guru, pengurus BP3tDewan Sekolah
Forum Koordinasi PMT-AS Tingkat KotaIKabupaten
Tingkat Kecamatan
Tingkat Kelurahan
[image:110.616.216.379.523.712.2]Tingkat SDIMIlPonpes
Pelaksanaan. Pelaksanaan PMT-AS meliputi penyaluran dana, pemberian
kudapan, dan pemberian obat cacing. Penyaluran dana tahun 2001 yang telah
dialo8.tasikan ke rekening kepala sekolah diberikan kepada petugas masak dengan
keter~tuan 1 Hari Makan Anak (HMA) sebesar Rp. 4601siswa termasuk insentif bagi
petugas masak maksimal Rp. 50lsiswa per sekali makan.
Kudapan diberikan pada saat istirahat agar tidak mengganggu proses
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Sebelum kudapan dimakan bersama-sama oleh
anak di kelas terlebih dahulu guru mengingatkan anak-anak untuk mencuci tangan
dengan sabun yang telah disediakan sekolah, berdoa sesuai dengan ajaran agama
masirlg-masing dan mendengarkan penjelasan guru mengenai manfaat kudapan
bagi ltesehatan dan gizi.
Pemberian obat cacing pada tahun 2001 di setiap wilayah berbeda.
Di Kibupaten Bandung dan kabupaten Bogor obat cacing diberikan sebanyak satu
kali s'etahun. Di Kota Bandung dan Kota Bogor obat cacing diberikan dua kali
setahun yaitu pada bulan Juni dan Oktober.
Evaluasi dan Pemantauan. Evaluasi dan pemantauan dilakukan oleh tim
secara berjenjang. Evaluasi tingkat kotalkabupaten berdasarkan pelaporan tingkat
kecarnatan, kelurahan, dan sekolah. Pelaporan dilakukan setiap bulan secara
berjenjang. Kendala yang dihadapi pada evaluasi dan pemantauan adalah
pelaporan yang tidak diserahkan dan terlambat sehingga akan mempersulit tim
untuk melakukan evaluasi dan pemantauan secara menyeluruh.
3.3. Komponen Output
Output merupakan manfaat yang diperoleh dengan adanya PMT-AS.
Manfaat yang diperoleh berpengaruh pada status gizi anak, angka absensi, prestasi
Status Gizi. Perbaikan status gizi diperoieh dari adanya peningkatan berat
baden dan tinggi badan setelah pernberian PMT-AS. Tabel 8 rnenunjukkan bahwa
terdapat fluktuasi presentase status gizi anak pada tahun 2000 dan 2001. Krisis
ekoriorni yang berkepanjangan kernungkinan rnasih rnernpengaruhi penyediaan
[image:112.616.101.523.262.373.2]rnakanan di rumah.
Tabel 8. Persentase status gizi anak yang rnendapat PMT-AS di Bogor
Lokasi Status gizi Tahun 2000 (%) Tahun 2001 (%)
Kabupaten Bogor Kurang 10,69 10,07
Baik 85,511 85,87
Lebih 4,04 4,06
Kuang 12,05 7,64
Baik 85,82 83,50 ,
/
Lebih 2,03/
3 5 5/
Sumtper : Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dan Kota Bogor (2002)
PMT-AS berpengaruh terhadap status gizi anak sekolah sesuai dengan
penelitian dari Reviyanti, et a/. (2000) di Kecarnatan Cibungbulang, Kabupaten
Bogcr rnenunjukkan status gizi anak sekolah sebelum mendapat PMT-AS berbeda
sang.st nyata dengan status gizi anak setelah rnendapat PMT-AS selama satu tahun
ajaran. Ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan jumlah anak yang berstatus gizi
baik (20%), penurunan jurnlah anak yang berstatus gizi sedang (16,9%) dan
penupunan jurnlah anak yang berstatus gizi kurang (3,1%).
Prestasi akademik. Prestasi akadernik yang dicerrninkan oleh nilai rnata
pelajaran Maternatika, IPS, dan IPA belurn dapat rnenggarnbarkan darnpak PMT-AS.
Tabei 9 rneiunjukkan bahwa terdapat fluktuasi jurnlah siswa pada tahun 2000 dan
2001 yang rnernperoleh nilai kurang dari enarn untuk mata pelajaran Maternatika,
IPS, dan IPA. Peningkatan atau penurunan prestasi tidak bisa dikaitkan dengan
pernberian PMT-AS saja melainkan dipengatuhi oleh dukungan sekolah, keluarga,
29
Tabel 9. Persentase siswa yang rnernperoleh nilai kurang dari 6 di Bogor
Lokasi
~ Z ~ ~ p a t e n Bogor
3. IPA
1. Maternatika 2. IPS
Absensi. Penurunan ketidakhadiran siswa pada saat PMT-AS berlangsung Mata pelajaran
1. Matematika 2. IPS
I
13. IPA
terjadi ketika pernberian kudapan. Pernberian kudapan rnenjadi daya tarik tersendiri
bagi anak sekolah. Hal ini disebabkan karena adanya kudapan gratis serta suasana 7,86
15,31 8.94 ~ ~
8,36
1
yang berbeda seperti dilakukannnya tata tertib sebelurn kudapan dirnakan bersarna. Tahun 2000 (%)
Nilai < 6
11,71 6,52
7,41 12,77
9 35
Surnber : Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dan Kota Bogor (2002)
Penelitian yang telah dilakukan oleh Rustiawan, et a/. (1998) rnenunjukkan . Tahun 2001 (%)
Nilai < 6
11,51 7.73
bahvrfa anak yang tidak hadir disekolah pada hari tanpa PMT lebih banyak dari pada
hari flMT, yaitu antara 3,s-13,3% pada hari PMT dan 6,5-14,3% pda hari tanpa PMT
di wilayah luar Jawa-Bali.
Kebersihan diri dan linakungan. Kebersihan diri dan lingkungan
rnerupakan bagian dari penyelenggaraan PMT-AS yang dapat berdarnpak pada
kehiclupan sehari-hari. Kebersihan diri tercerrnin saat anak harus rnencuci tangan
sebelurn makan juga saat rnernbuang pernbungkus rnakanan ke dalarn ternpat
sarnpah. Hal yang sederhana tersebut diharapkan dapat berjalan walaupun
pernt~erian PMT-AS dihentikan.
Pencletahuan Gizi. PMT-AS diharapkan dapat rneningkatkan pengetahuan
gizi rielibatkan guru, orang tua rnund, dan murid. Narnun penelitian Sukandar dan
Tanzha (2000) di Kabupaten Bogor rnenunjukkan bahwa kegiatan PMT-AS belurn
Guru diharapkan memberikan informasi mengenai gizi kepada murid
sebe.lum kudapa? diberikan sehingga murid dapat rnengetahui kandungan dalam
kudapan dan dapat memilih makanan yang sehat. Manfaat lain adalah bila murid
dapi~t memberitahukan informasi di sekolah kepada orang tuanya.
4. Persepsi msngenai pelaksanaan PMT-AS
Pada umumnya pelaksanaan PMT-AS di Bandung dan Bogor berjalan
dengan baik seperti terlihat pada Tabel 10. Hal ini dinyatakan oleh pejabat daerah
(100')%), pihak sekolah (91,7-100%) dan masyarakat (75-100%). Pelaksanaan dinilai
baik bila pencairan dana tepat waktu dan sesuai dengan jurnlah anak, pelatihan dan
penyuluhan cukup, proses pemasakan kudapan yang higienis dan be~ariasi.
Pada umumnya persepsi pejabat daerah, pihak sekolah, dan maryarakat di
Banclung dan Bogor memberikan persepsi positif pada pelaksanaan PMT-AS.
Meskipun demikian, persepsi 9,l-25% masyarakat menvatakan pelaksanaan
berjalan tidak baik. Hal ini disebabkan penilain pada pembagian kudapan dan menu
kudapan yang kadang kurang berjalan dengan baik.
Tabel 10. Persepsi mengenai pelaksanaan PMT-AS
-
1 Kabupaten Kota
1
I Responden Balk ( Tldak balk Jumlah Balk
I
T~dak balk Jumlah1
I n 1 % I n / % n / % n I % I n 1 % n j % I
-
BandungPejabat Daerah 8 100 0 0,O 8 100 8 100 0 0,O 8 I 0 0
P~hak Sekolah 12 100 0 0,O 12 100 12 I 0 0 0 0,O 12 100
Masydrakat 9 100 0 0,O 9 100 10 90,9 1 9,l 11 100
-
.IUMLAH 29 100 0 0,O 29 100 30 96,8 1 3,2 31 100I
Bogor
m b a t Daerah 8 100 0 0.0 8 100 8 100 0 0.0 8 100
I Pihak Sekolah 11 91,7 1 8,3 12 I 0 0 11 91,7 1 8,3 12 100
I Masyiarakat 6 75,O 2 25,O 8 100 9 100 0 0,O 9 100
I .lUMLAH 25 89,3 3 10,7 28 100 28 96,6 1 3'4 29 100
6. Persepsi mengenai beban PMT-AS
Pada umumnya PMT-AS tidak dianggap beban bagi 50-100% pejabat
daerah, 83,3-100% pihak sekolah, dan S ~ ~ U N ~ masyarakat (lihat Tabel 12). Persepsi
dinils~i beban bila ada kemgian yang dirasakan dari segi biaya, tenaga, moril dan
waktc~. Sebagian pejabat daerah yang merasakan PMT-AS menjadi beban apabila
[image:116.612.82.529.277.502.2]pengalokasian dana terlambat sehingga merepotkan dalam penyelenggaraannya
Tabel 12. Persepsi mengenai beban PMT-AS
I--
Kabupaten KotaBeban I Tidak Jumlah Beban i Tidak Jumlah
Responden
1
beban1
I
beban/
n j % I n / % I n 1 % I n 1 % I n / % I n 1 %
Bandung
Pejabat Daerah
1
41
50.0/
4/
50,O1
8/
100/
0/
0,OI
81
1001
81
100Pihak Sekolah 0 0,O 12 100 12 100 0 0,O 12 100 12 100
Masyarakat 0 0,O 9 100 9 100 0 0,O 11 100 11 100
JUMLAH
L-
4 13,8 25 86,2 29 100 O 0.0 31 100 31 100Bogor
1
01
0,O/
81
100/
81
100/
11
12,51
71
87,51
8/
100Pihak Sekolah 2 16,7 10 83.3 12 100 0 0,O 12 100 12 100
Masyarakat 0 0,O 8 I 0 0 8 I00 0 0,O 9 100 9 100
2 7,l 26 92,9 28 100 1 3,4 28 96,6 29 100
Beban yang dirasakan pihak sekolah adalah terjadinya pencairan dana yang
tidak tepat waktu dan tidak sesuai dengan jumlah siswa sehingga sekolah harus
rneniinggung kekurangan tersebut, akibatnya kudapan tidak sesuai dengan standar.
Kendala lain yang dihadapi adalah kewajiban membuat laporan yang memerlukan
waktu dan tenaga tetapi tidak mendapatkan penghasilan tambahan.
Masyarakat tidak merasakan beban dengan adanya PMT-AS bahkan
sebaliknya mereka merasa senang karena anak mereka menjadi lebih sehat dan
rajin. Meskipun demikian, masyarakat merasa dana PMT-AS lebih baik dialokasikan
7. 13ersepsi mengenai kebutuhan PMT-AS
PMT-AS masih dibutuhkan oleh masyarakat seperti terlihat pada Tabel 13.
Hal ini diny~takan oleh 87.5-100% pejabat daera