Peranan united nations of children's fund (UNICEF) melalui kampanye women and children first pada Tahun 2004 dalam mengurangi dampak kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak di Cina

144 

Teks penuh

(1)
(2)

akademik (Ahli Madya, Sarjana, Master dan Doktor) baik di Universitas Komputer Indonesia maupun Perguruan tinggi lainnya.

2. Karya Tulis ini murni gagasan, rumusan penelitian saya sendiri tanpa bantuan pihak lain, kecuali arahan tim pembimbing.

3. Dalam karya tulis ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dan jelas ditentukan sebagai acuan dalam naskah yang disebutkan nama pengarang dan dicantumkan dalam daftar pustaka.

4. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar yang telah diperoleh karena karya tulis ini serta sanksi lainnya sesuai dengan norma yang berlaku di Perguruan Tinggi.

Bandung, 1 September 2013

(3)
(4)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

DATA PRIBADI

Nama : Budi Santoso

Nama Pangilan : Budi, Adam

Tempat, Tanggal Lahir : Bandung, 19 november 1988

Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Telepon : 085294512312

Status : Belum menikah

Nama Ayah : Suyadi

Pekerjaan : Wiraswasta

Nama Ibu : Sriyati

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Alamat Orang Tua : Jalan Baros Seneng Rt 01 Rw 03 No 03 Cimahi, Bandung

Moto : Jangan mempersulit hidup, semua ada jalan keluar

(5)

No Tahun Uraian Keterangan

1. 2008-2013

Program Studi Ilmu Hubungan

Internasional. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Komputer Indonesia

Berijazah

2. 2005-2008 SMA Negeri 4 Kota Cimahi Berijazah 3. 2002-2005 SMP Negeri 3 Kota Cimahi Berijazah 4. 1995-2002 SD Negeri Sudirman 1 Kota Cimahi Berijazah 5. 1993-1995 TK Santa Teresia Kota Cimahi Berijazah

PELATIHAN DAN SEMINAR

No. Tahun Uraian Keterangan

1. 2009 Pelatihan Latihan Dasar

Kepemimpinan Prodi HI Bersertifikat

2. 2010 Table Manner Course di Hotel

Golden Flower Bandung Bersertifikat

PENGALAMAN ORGANISASI

No. Tahun Uraian Keterangan

1. 2005-2010 Anggota dan Penggurus Pencinta Alam

BATARAGA Cimahi -

2. 2005-2007 Anggota Bela Diri Tawo SMAN 4 Cimahi - 3. 2002-2004 Anggota Basket SMPN 3 Cimahi - 4. 1999-2002 Anggota PRAMUKA SDN Sudirman 1 Cimahi -

PELATIHAN DAN SEMINAR

No. Tahun Uraian Keterangan

1. 2011

Peserta, Seminar Net Preneur : Meraih Peluang Bisnis Melalui Internet, Auditorium Miracle

UNIKOM Bersertifikat

2. 2011

Lokakarya Nasional “Reformasi Dewan Keamanan

PBB”

(6)

6. 2012

Simulasi Sidang ASEAN “Asean Community Building 2015’. Auditorium Miracle UNIKOM

Bersertifikat

KEAHLIAN/BAKAT

No. Uraian

1. Operasionalisasi Microsoft Office

2. Mengoprasikan semua jenis kendaraan darat

beroda 4 dan 2

3. Bahasa Inggris Aktif & Pasif

4 Panjat Tebing 5. Internet

Bandung, 9 September 2013

Hormat Saya

(7)

TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK-ANAK DI CINA

Role of United Nations of Children’s Fund (UNICEF) by Women and Children First Campaign in 2004 to Decreasing Violence Against Women and Childrens in China

S K R I P S I

Diajukan untuk menempuh Sidang Sarjana Strata-1 (S-1) pada

Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Komputer Indonesia

Oleh, BUDI SANTOSO

NIM. 44308009

PROGRAM STUDI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

(8)

KATA PENGANTAR

Peneliti tak henti-hentinya memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah

Subhanawata’ala atas izin dan ridho-Nya peneliti dapat menyelesaikan penelitian ini,

serta shalawat dan salam dihaturkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad S.A.W.

Peneliti menyadari dalam penyusunan skripsi ini, banyak menemukan kesulitan dan

hambatan yang disebabkan keterbatasan dan kemamupuan peneliti dan disertai

keinginan kuat dan usaha yang sungguh serta do’a, maka akhirnya penelitian ini dapat

diselesaikan sebagaimana yang diharapkan.

Untuk kedua orang tua yang aku sayangi dan hormati, Bapak Suyadi dan Ibu

Sriyati terima kasih atas segala do’a, dukungan, nasihat dan kasih sayangnya yang luar

biasa, serta dukungan moral dan materil. Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa tanpa

bantuan dari pihak-pihak yang telah membantu baik itu penelitian maupun dalam

penyusunan skripsi, peneliti tidak mungkin menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

Oleh karena itu, pada kesempatan ini peneliti menghaturkan rasa terima kasih yang

mendalam dan sebesar-besarnya kepada:

1. Yth. Bapak Prof. Dr. Samugyo Ibnu Redjo., Drs., MA, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Komputer Indonesia Bandung,

yang telah mengeluarkan surat pengantar untuk penelitian skripsi dan

(9)

pembimbing peneliti dan sebagai Ketua Prodi Hubungan Internasional

dengan memberikan pengarahan penyusunan skripsi secara cermat dan

teliti. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada bapak atas kesabarannya

dalam menghadapi dan membimbing saya, baik dalam masa proses

pembuatan usulan penelitian hingga detik-detik akhir skripsi untuk

disidangkan.

3. Yth. Seluruh Bapak/ Ibu Dosen Ilmu Hubungan Internasional UNIKOM yang telah membantu peneliti dalam memberikan arahan pada masa revisi bimbingan skripsi diantaranya Bapak H. Budi Mulyana, S.IP., M.Si, Ibu Sylvia Octa Putri, S.IP. dan Ibu Dewi Triwahyuni S.IP., M.Si

4. Yth. teteh Dwi Endah Susanti, S.E Sekretariat Jurusan Prodi Hubungan Internasional UNIKOM yang tanpa lelah membantu peneliti dalam

membantu peneliti dalam administrasi selama berkuliah di UNIKOM dan

selama proses skripsi.

5. Yth. Jajaran Staff LIPI Jakarta yang telah memberikan kesempatan peneliti untuk melakukan kunjungan penelitian, kehangatan setiap staff

yang membantu dengan detail mencari setiap data yang dibutuhkan.

(10)

menyemangati peniliti khusunya kepada Alfian Al Ayuby Pelu. S.IP, Chrisnanta Amijaya. S.IP, Fahmi Frizana Sinaga. S.IP dan Wenaldy Andarisma. S.IP,. Serta seluruh mahasiswa Hubungan Internasional Angkatan 2006-2012 terima kasih atas pertemanan dan dukungannya. 8. Semua pihak yang telah membantu sebelum dan selama pelaksanaan

penelitian skripsi yang tak dapat peneliti sebutkan satu per satu.

Peneliti menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih diperlukan

penyempurnaan dari berbagai sudut, baik dari segi isi maupun pemakaian

kalimat dan kata-kata yang tepat, oleh karena itu, peneliti mengharapkan saran

dan kritik yang membangun untuk kesempurnaan penyusunan skripsi ini.

Peneliti berharap kepada siapa saja (terutama mahasiswa Hubungan

Internasional) yang ingin melanjutkan/ melakukan penelitian dengan

subjek/objek yang serupa agar mampu membuat penelitian yang lebih baik dari

apa yang peneliti telah susun.

Terima kasih atas saran dan kritik dari pembaca. Semoga skripsi ini

bermanfaat bagi kita semua.

Bandung, Agustus 2013

(11)

LEMBAR PERNYATAAN ... ii

LEMBAR PERSEMBAHAN ... iii

ABSTRAK ... iv

ABSTRACT ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Penelitian ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 7

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian ... 8

1.3.1 Maksud Penelitian ... 8

1.3.2 Tujuan Penelitian ... 8

1.4 Kegunaan Penelitian... 9

1.4.1 Kegunaan Teoritis... 9

(12)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN ... 10

2.1 Tinjauan Pustaka ... 10

2.2 Kerangka Pemikiran ... 13

2.2.1 Hubungan Internasional ... 13

2.2.2 Kerjasama Internasional ... 15

2.2.3 Organisasi Internasional ... 18

2.2.3.1 Fungsi dan Bentuk Organisasi Internasional... 19

2.2.3.2 Peranan Organisasi Internasional ... 24

2.2.4 Konsep Kekerasan ... 26

2.2.4.1 Pengertian Kekerasan ... 26

2.2.4.2 Kekerasan Terhadap Perempuan ... 27

2.2.4.3 Kekerasan Terhadap Anak ... 29

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN ... 32

3.1 Objek Penelitian ... 32

3.1.1 United Nations of Children’s Fund (UNICEF) ... 32

3.1.1.1 Sejarah Organisasi UNICEF ... 32

3.1.1.2 Fungsi UNICEF ... 34

3.1.1.3 Misi UNICEF ... 36

3.1.1.4 Tujuan UNICEF ... 37

3.1.1.5 Struktur UNICEF ... 38

(13)

3.1.2 Cina ... 48

3.1.2.1 Gambaran Umum ... 48

3.1.2.2 Tipologi Kependudukan Cina ... 59

3.1.2.3 Kebijakan Satu Anak (One Child Policy) di Cina ... 61

3.1.2.4 Kampanye Women and Children First tahun 2004... 79

3.2 Metode Penelitian... 82

3.2.1 Desain Penelitian ... 82

3.2.1.1 Informan Penelitian ... 82

3.2.2 Teknik Pengumpulan Data ... 83

3.2.3 Teknik Penentuan Informan ... 84

3.2.4 Teknik Analisa Data ... 85

3.2.5 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 85

3.2.5.1 Lokasi Penelitian ... 85

3.2.5.2 Waktu Penelitian ... 86

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 87

4.1 Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Cina ... 88

4.1.1 Aborsi ... 90

4.1.1.1 Aborsi Jenis Kelamin Selektif ... 92

4.1.1.2 Infanticide ... 93

4.1.2 Ketidak-setaraan Perbandingan Jenis Kelamin ... 94

(14)

4.1.4 Meningkatnya Rasio Jenis Kelamin dan Tingkat Kriminalitas...

... 99

4.2 Upaya Yang Dilakukan UNICEF Melalui Kampanye Women and Children First ... 102

4.2.1 Program Kampanye Women and Children First ... 102

4.2.1.1 Perlindungan Perempuan dan Anak ... 103

4.2.1.2 Pendidikan ... 105

4.2.1.3 Kesetaraan Gender ... 109

4.3 Kendala Yang Dihadapi UNICEF dalam Kampanye Women and Children First ... 111

4.4 Keberhasilan Yang Dicapai UNICEF dalam Kampanye Women and Children First ... 114

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN... 117

5.1 Kesimpulan ... 117

5.2 Saran ... 119

DAFTAR PUSTAKA ... 121

LAMPIRAN ... 128

(15)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Demografi Cina ... 54

Tabel 3.2 Waktu Penelitian ... 86

Tabel 4.1 Perbandingan Umum... 90

(16)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Piramida Populasi di Cina 2010 – 2050 ... 69

Gambar 3.2 Statistik Aborsi di Negara Maju ... 76

Gambar 4.1 Peta Republik Rakyat Cina ... 87

Gambar 4.2 Rasio Sex ( Rasio Jenis Kelamin) ... 96

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

(18)

DAFTAR PUSTAKA

A. BUKU

Archer, Clive. 2003. 3rd edition International Organization. London, New York. Routledge.

Baylis, John and Steve Smith. 1999. The Globalizations of World Politics. UK. Oxford University Press.

Berger, Adolf. 2008. Encyclopedic dictionary of Roman law, DIANE Publishing

Burchill, Scott and Andrew Linkalter. 2009. Teori-teori Hubungan Internasional. Bandung. Nusa Media.

Eberstadt, Nicholas. 2011. A global wave against baby girls: Sex-selective Abortion Becomes a World Wide Practice. American Enterprise Institute.

Feng, Wang. 2005. Can China Afford One Child Policy. American Enterprise Institute.

Griffits, Martin, Terry O’Callaghan, & Steven C. Roach. 2008. 2nd edition. International Relation: The Key and Concepts.London & New York. Taylor and Francis Group.

Jemadu, Aleksius. 2008. Politik Global dalam Teori dan Praktik. Yogyakarta. Graha Ilmu.

(19)

Ko Ling, Chan. 2007. Sexual Violence Against Women and Children in China. China: Sexual Violence Research Initiative.

Komarudin. 1994. Ensiklopedia Manajemen, Edisi Kedua. Jakarta. Bumi Aksara.

Mas’oed, Moechtar. 1994. Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin, dan Metodologi. Jakarta. Pustaka LP3ES.

Mingst, Karen A. 2003. Essentials of International Relations, 2nd ed. New York. W.W Norton & Company.

Nasir, Muhammad. 1988. Metodologi Penelitian. Jakarta. Galia Indonesia. Robert, Jackson dan George Sorensen. 2005. Pengantar Studi Hubungan

Internasional. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.

Rocha da Silva, Pascal. 2006. " La politique de l'enfant unique en République populaire de Chine " ("The politics of one child in the People's

Republic of China"). University of Geneva.

Rudy, Teuku May. 2005. Administrasi dan Organisasi Internasional. Bandung. PT.Refika Aditama.

______________ 2011. Hubungan Internasional Kontemporer dan Masalah-masalah Global. Bandung. PT.Refika Aditama.

______________ 2011. Pengantar Ilmu Politik. Bandung. PT. Refika Aditama Schmidt, Heather M. 2002. The Cycle Created by China‟s One Child

Policy.New York. Routledge Press.

(20)

Soeprapto, R. 1997. Hubungan Internasional: Sistem, Interaksi dan Perilaku. Jakarta. Raja Grafindo Persada.

Sugiono, Muhadi. 2006. Global Governance Sebagai Agenda Penelitian Dalam Studi Hubungan Internasional. Jakarta.

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif R & D. Bandung. Alfabetis.

Widyaiswara BKKBN.2012. China Tercepat Menekan Laju Pertumbuhan Penduduk

B. PUBLIKASI

UNICEF. 1998. Welcome to UNICEF : An Orientation Handbook.

UNICEF. 2006. Joint Review of Maternal and Child Survival Strategies in

China.

Congressional-Executive Commission on China. 2008. Annual Report.

Congressional-Executive Commission on China. 2012. Annual Report.

Department of Population,Social,Science and Technology,National

Bureau Statistic. 2004 Women and Men China Facts and Figures

C. JURNAL DAN KARYA ILMIAH

(21)

Avraham Ebenstein. The “Missing Girls” of China and the Unintended

Consequences of the One Child Policy. Journal of Human Resources

45.1 (2010).

Ding, Qu Jian. 2006. Family Size, Fertility Preferences, and Sex Ratio in

China in The Era of The One Child Family Policy, dalam British

Medical Journal: London

Brooks, Rob. March 2009. “China’s Biggest Problem? Too Many Men. CNN

Articles

Kane, Pane dan Choi, Y, Chang. 1996. China‟s One Child Family Policy,

dalam British Medical Journal: London

Eka Octaviana. 2011. Peran UNICEF dalam Penanganan Pekerja Seks komersial Anak di India. Universitas Komputer Indonesia. Bandung.

Ebenstein, Abraham. 2010. “The „Missing Girls‟ of China and the Unintended

Consequences of the One Child Policy,”Journal of Human

Resources

Mark R. Austute. Conflict and Cooperation: An Introduction to World Politics.

Brown and Benchmark Publisher.Volume No. 1 A.(1999).

Claiton Publishing Divison (CPD). 2001. China the Country Study. Baton

(22)

Guo Zhingang, Lin Jintang, & Song Juan. 2002. Birth Policy and Family

Structure in the Future. Chinnese Journal of Population

Science.China.

Hsiu-Iun Teng Phd. 2003. China. Beijing Press.

Maristella Bergaglio. Population Growth in China: The Basic Characteristic

of China. Demographic Transistor. Vol. 2

Sharon K. Hom. Female Infanticide in China. The Human Rights Specter and

Thought Towards. 1992.

Wang Feng. Can China Afford to Continue Its One-Child Policy?. East West Center No. 77. March 2005.

Xiarong Li. License to Coerce: Violence against Women, State Responsibility and Legal Failures in China‟s Family Programs. 1996.

New York Times, Dudley Poston & Peter Morrison, China: Bachelor Bomb,

September 14, 2005

A. WEBSITE

http://www.stats.gov.cn/was40/gjtjj_en_detail.jsp?channelid=1175&record=

[05/12/12].

http://www.fmprc.gov.cn/ce/celt/eng/zt/zfbps/t125241.htm [05/12/12].

(23)

http://www.theepochtimes.com/n2/china-news/one-child-policy-abortions-in-china-most-are-forced-21819-all.html [13/12/12].

http://www.unicef.org/media/media_35908.htm diakses [13/12/12].

http://www.allgirlsallowed.org/category/topics/one-child-policy-china

[10/12/12].

http://www.pewglobal.org/2008/07/22/the-chinese-celebrate-their-roaring-economy-as-they-struggle-with-its-costs/ [06/12/12]

http://www.unicef.org/rightsresult/index.html [15/12/12]

http://www.unicef.org/cn/en/index.php/m=content&c=index&a=list&catid=35 [13/12/12].

http://unicef.cn/en/index.php?m=content&c=index&alists&catid=31 [27/04/13]

http://www.unicef.org/infobycountry/china_statistics.html [27/04/13].

http://www.cecc.gov/pages/annualRpt/annualRpt09/CECCannRpt2009.pdf diakses [05/01/13]

http://erabaru.net/opini/65-opini/28077-program-satu-anak-china-400-juta-janin-terbunuh-1 [5/6/2013]

http://dinaviriya.com/masa-tiga-kerajaan-dalam-sejarah-china-san-guo/ [5/6/2013]

(24)

http://www.unicef.cn/en/index.php?m=content&c=index&a=lists&catid=25 [18/06/2013]

http://populationpyramid.net/China/2010/ [20/07/2013]

http://populationpyramid.net/China/2015/ [20/07/2013]

http://www.unicef.cn/en/uploadfile/2012/0103/20120103044015827.pdf [20/07/2013]

http://www.unicef.cn/en/index.php?m=content&c=index&a=lists&catid=33 [20/07/2013]

http://www.unicef.org/infobycountry/china_statistics.html#103 [25/07/2013]

http://www.sant.ox.ac.uk/asian/China elfareState .pdf [1/8/2013]

http://www.unicef.cn/en/index.php?m=content&c=index&a=lists&catid=118 [27/07/2013]

http://www.stats.gov.cn/english/statisticaldata/otherdata/men&women_en.pdf [20/07/2013]

(25)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Cina merupakan negara dengan populasi terbesar di dunia. Pada tahun 2012,

total populasi di daratan Cina (termasuk 31 provinsi, daerah otonom, kota dan CPLA,

termasuk Hong Kong SAR, Macao SAR, Provinsi Taiwan, dan Cina perantauan)

adalah kurang lebih 1,48 milyar jiwa, meningkat 14,7 juta jiwa dibandingkan dengan

akhir tahun 2010. Kelahiran tahunan mencapai 16 juta jiwa, dibanding tingkat

kematian yang mencapai 9,6 juta jiwa (http://www.stats.gov.cn/was40/gjtjj_en_detail.

jsp?channelid=1175&record=33 diakses 01/12/12 pada 15.05 WIB).

Jika melihat sejarahnya, masalah penduduk merupakan pokok penting yang

menyentuh pada kelangsungan hidup dan perkembangan bangsa Cina, keberhasilan

atau kegagalan modernisasi Cina serta pembangunan yang terkoordinasi dan

berkelanjutan antara penduduk di satu sisi, dan ekonomi, masyarakat, sumber daya

dan lingkungan di sisi lain.

Dalam 15 tahun sejak berdirinya Republik Rakyat tahun 1964, penduduk Cina

meningkat antara 500-700 juta jiwa, dengan rata-rata peningkatan populasi sebanyak

100 juta populasi per 7,5 tahun. Antara 1964-1974 adalah periode dimana

(26)

meningkat sebesar 700-900 juta jiwa. Pada tahun 1973, Cina mulai mempromosikan

kebijakan keluarga berencana di seluruh negeri. Penduduk Cina meningkat 900-1,2

milyar jiwa pada periode dari tahun 1973 sampai Februari 1995, dan waktu yang

dibutuhkan untuk meningkatkan populasi sebesar 100 juta lagi diperpanjang menjadi

sekitar tujuh tahun (http://www.fmprc.gov.cn/ce/celt/eng/zt/zfbps/t125241.htm

diakses 01/12/12 pada 17.05 WIB).

Pada tahun 1979, untuk pertama kalinya pemerintah Cina mengumumkan untuk

memberlakukan kebijakan satu anak di Cina, sebab ledakan pertumbuhan penduduk

menyimpan bahaya bagi kestabilan sosial, politik, dan ekonomi. Semua pasangan di

Cina hanya menanggung satu anak saja (http://www.docshare.com/doc/136846/OneC

hild-Policy-in-China1 diakses 03/12/12 pada 19.40 WIB).

Tujuan utama dari kebijakan ini adalah untuk mengontrol populasi yang

notabene sebagai negara dengan populasi yang penduduknya terpadat didunia dan

pemerintah pun berusaha untuk meningkatkan standar kehidupan dan stabilitas

ekonomi di masyarakat Cina. Pemerintah kemudian melakukan reformasi kebijakan

yang dinilai komprehensif dalam sektor ekonomi untuk menarik investasi asing dan

domestik. Dan pada akhirnya perekonomian Cina mulai bangkit kembali.

Pada awal dekade 1966-1976 saat revolusi kebudayaan, populasi penduduk

Cina meningkat tajam dibawah ide generasi pertama pemimpin ketua Mao tentang

“lebih banyak orang, semakin kuat kita” (Xi, 2006:5). Kebijakan satu anakan ini lalu

(27)

lahir dari tahun 1979. Kebijakan ini mengundang kontroversi baik di dalam maupun

di luar Cina karena cara di mana kebijakan tersebut dilaksanakan dan karena

kekhawatiran tentang konsekuensi sosial yang negatif. Ketika Cina menjalankan

sensus pertamanya yaitu pada 1953, penduduk Cina berjumlah 582 juta jiwa,

sedangkan pada sensus kelima pada tahun 2000 meningkat dua kali lipat sebesar 1,2

milliar jiwa. Kebijakan ini mengakibatkan peningkatan aborsi paksa, pembunuhan

bayi perempuan. Hal ini disinyalir sebagai kemungkinan penyebab di balik

ketidaksetaraan gender di Cina dan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

(http://www.pewglobal.org/2008/07/22/the-chinese-celebrate-their-roaringeconomy-a

s-they-struggle-with-its-costs/ diakses 04/12/12 pada 17.25 WIB).

Dalam hal ini pihak perempuan sangat dirugikan di Cina. Adapun salah satu

kekurangan yang ditemukan pada kebijakan satu anak yaitu adanya isu

ketidakseimbangan rasio jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan. Kebijakan ini

awalnya disebut sebagai "last resort" yang akan berlangsung 20-30 tahun untuk

meringankan kekurangan sumber daya penduduk Cina. Meskipun terjadi pelonggaran

penegakan aturan, dengan pengecualian yang bervariasi antar provinsi, kebijakan

terus dilakukan tegas mencegah kelahiran di Cina. Sampai hari ini, pemerintah Cina

memastikan bahwa Kebijakan Satu-Anak telah mencegah 400 juta kelahiran

(http://www.allgirlsallowed.org/category/topics/one-child-policy-china). Hal ini

secara tidak langsung membawa dampak negatif bagi tatanan sosial di Cina mengenai

(28)

Kekerasan yang terjadi terhadap keduanya pun sangat tinggi dan menimbulkan

keterasingan bagi korban.

Dengan adanya kebijakan ini, Cina menjadi salah satu negara yang menjadi

tempat praktek kekerasan kaum perempuan dan anak-anak di bawah umur, hal ini

terjadi sebagai dampak yang diakibatkan oleh pemerintah yang memberlakukan

kebijakan satu anak. Kekerasan yang terjadi sangat beragam mulai dari psikis yang

bersangkutan, seperti adanya keterasingan dalam lingkungan social serta kekerasan

fisik yaitu aborsi janin untuk mencegah kehamilan berikutnya. UNICEF sangat peduli

terhadap perlindungan anak dan perempuan dalam kasus yang terjadi di Cina. Hal ini

didasarkan atas konvensi yang mengatur tentang hak-hak anak dimana Cina menjadi

Negara anggota, Convention on the Rights of the Child (CRC) dan Convention on

Elimination of all forms of discriminations Against Women (CEDAW) merupakan

landasan kuat UNICEF untuk membantu mengatasi kekerasan terhadap anak dan

perempuan atas dampak dari kebijakan satu anak di Cina. All Girls Allowed sebuah

merupakan organisasi yang peduli dengan kelangsungan hidup anak dan perempuan

di Cina, mereka juga menekankan bahwa pentingnya perempuan dalam kehidupan

masyarakat yang harus dilindungi hak-haknya, termasuk memiliki keturunan.

Adapun lima landasan yang dapat dijadikan sebagai dasar perjuangan hak anak itu

sendiri, antara lain:

a. Anak – anak harus mendapatkan fasilitas yang dibutuhkan bagi

(29)

b. Anak – anak yang lapar harus diberi makanan, anak yang sakit harus

dirawat, anak yang mengalami keterbelakangan harus dibantu dan

dibimbing, anak yang nakal harus mendapatkan pemulihan, anak yatim dan

terlantar harus dilindungi dan mendapat bantuan;

c. Anak – anak harus menjadi penerima bantuan internasional ketika terjadi

situasi yang berbahaya;

d. Anak – anak harus ditempatkan dalam posisi untuk mendapatan nafkah

hidup dan harus dilindungi dalam semua bentuk eksploitasi;

e. Anak harus terus-menerus disadarkan bahwa bakat mereka pun harus

diarahan untuk melayani sesama (http://www.unicef.org/uk/pages.asp?page

=92/ diakses tanggal 13/12/12 pada 15.04 WIB).

Kerjasama UNICEF dengan Cina telah terjalin selama lebih dari 70 tahun, sejak

1947. Kerjasama ini dilanjutkan pada tahun 1979 seiring dengan keluarnya kebijakan

satu anak di Cina. Dalam hal ini, kerjasama UNICEF-Cina dalam beberapa aspek

menyangkut kesejahteraan, melihat banyaknya praktek-praktek aborsi illegal dan

terasingnya perempuan yang mengalami hal tersebut. Maka pada tahun 2004,

UNICEF mencanangkan kampanye “Women and Children First“, sebagai wujud

kepedulian terhadap permasalahan yang menyangkut kelangsungan hidup perempuan

dan populasi penduduk di Cina (http://www.unicef.cn/en/index.php?m=content&c=in

(30)

Dari kasus diatas, didapati suatu interaksi dalam bentuk kerjasama dalam

penanganan masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak di Cina dalam konteks

kebijakan nasional yakni One Child Policy. Dengan demikian, peneliti merasa tertarik

untuk mengangkat judul :

“Peranan United Nations of Children’s Fund (UNICEF) melalui Kampanye Women and Children Firstpada tahun 2004 dalam mengurangi dampak

Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak-Anak di Cina .

Peneliti mengambil rentang waktu penelitian dimulai sejak tahun 2004 sampai

2008. Rentang tahun ini dipilih karena dua momentum, yaitu pada tahun 2004

UNICEF memulai kampanye, dan pada tahun 2008 dimana Cina menjadi tuan rumah

pesta olahraga olimpiade. Tahun 2008 yang penulis ambil, merujuk dimana Cina

menampilkan diri sebagai negara yang maju secara ekonomi, dan penduduknya

makmur, dengan menjadi tuan rumah olimpiade. Pemilihan tahun 2008 ini dipilih

oleh peneliti, karena melihat kampanye itu terus berlangsung hingga sekarang dan

perlu adanya batasan waktu yang tidak terlalu jauh. Maka penulis memilih tahun

tersebut karena pada tahu 2008 Cina menjadi tuan rumah olimpiade, yang

mengharuskan Cina menampilkan diri sebagai negara yang maju dengan ekonomi

dan pembangunan manusianya.

Ketertarikan peneliti terhadap penelitian ini didukung oleh beberapa mata

(31)

1. Pengantar Hubungan Internasional, merupakan peletak dasar bagi penelitian

yang akan dilakukan, terkait hubungan para aktor yang melewati batas –

batas negara.

2. Organisasi dan Administrasi Internasional, merupakan fokus kajian peneliti

terhadap permasalahan yang akan diteliti menyangkut keterlibatan salah satu

UNICEF sebagai wujud implementasi dari fungsi dan peran organisasi

internasional.

3. Isu – isu Global, karena masalah yang dikaji merupakan salah satu isu Global

yaitu kesetaraan gender dan perlindungan terhadap perempuan dan anak yang

mempunyai pengaruh besar bagi kehidupan masyarakat Internasional.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah, untuk memudahkan penulis

dalam melakukan pembahasan, penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

“Bagaimana Peranan United Nations of Children’s Fund (UNICEF) melalui

Women and Children First dalam mengatasi Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak-Anak di Cina”.

Rumusan masalah minor:

(32)

2. Upaya apa saja yang dilakukan oleh UNICEF melalui kampaye Women and Children First?

3. Kendala apa saja yang dihadapi UNICEF dalam mengimplementasikan kampanye Women and Children First?

4. Apa saja keberhasilan yang dicapai melalui kampanye Women and Children First?

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1 Maksud Penelitian

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui peranan UNICEF sebagai

Inter-Governmental Organization (IGO) yang sangat peduli dengan kesehatan dan

perlindungan terhadap bayi, anak, serta perempuan sebagai konsentrasi tugas dan

fungsinya dalam dunia internasional.

1.3.2 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan peneliti membahas kasus dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut.

1. Apa saja kekerasan yang terjadi terhadap perempuan dan anak yang ditimbulkan akibat dampak dari kebijakan satu anak di Cina?

2. Upaya apa saja yang dilakukan oleh UNICEF melalui kampaye Women and Children First?

3. Kendala apa saja yang dihadapi UNICEF dalam mengimplementasikan kampanye Women and Children First?

(33)

1.4 Kegunaan Penelitian

Berdasarkan pada tujuan penelitian, maka kegunaan penelitian ini dibagi

menjadi dua :

1.4.1 Kegunaan Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk memperkaya pengetahuan

mengenai keterlibatan suatu Organisasi Internasional, dalam mengatasi suatu

permasalahan. Dalam hal ini bagaimana UNICEF melakukan peran dan fungsinya

sebagai organisasi internasional berdasarkan teori-teori yang terkait hal tersebut.

1.4.2 Kegunaan Praktis

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan tambahan

infromasi dan studi empiris bagi para penstudi Ilmu Hubungan Internasional yang

menaruh minat terhadap peranan suatu organisasi internasional untuk meindungi

hak-hak perempuan dan anak untuk memperoleh hak-hak hidup seiring diberlakukannya

(34)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1 Tinjauan Pustaka

Beberapa penelitian sebelumnya yang pernah membahas kebijakan satu

anak di Cina tidak meniliti peran UNICEF di dalamnya. Namun sebagai

perbandingan dan analisa, penulis jadikan sebagai acuan dalam tinjaun pustaka

ini. Berikut adalah beberapa yang penulis baca.

Qu Jian Ding dalam British Medical Journal menulis tentang Family Size,

Fertility Preferences, and Sex Ratio in China in The Era of The One Child Family

Policy. Ding menguji dampak dari kebijakan satu anak di Cina pada tingkat

kesuburan, ukuran keluarga disukai, dan rasio jenis kelamin. Ding menjelaskan

bahwa selama kebijakan satu anak, rasio sex (jenis kelamin) berbanding tidak

setara antara laki-laki dan perempuan, dimana angka kelahiran bayi laki-laki lebih

tinggi dari bayi perempuan. Juga terhadap ukuran keluarga yang disukai, dimana

responden yang dia teliti sebanyak 57% menginginkan mempunyai anak lebih

dari satu. Kesimpulan dari penelitian Ding menjelaskan bahwa tingkat kelahiran

total dan ukuran keluarga disukai telah menurun, dan ketidakseimbangan kotor

dalam rasio jenis kelamin telah muncul (Ding, 2006, dalam British Medical

(35)

Penny Kane, dan Ching Y Choi, dalam jurnal yang sama dengan tahun yang

berbeda, 1996, menulis dengan judul China’s One Child Family Policy. Kane dan

Choi menulis bahwa implementasi kebijakan satu anak lebih berhasil di daerah

perkotaan dibandingkan dengan daerah pedesaan, di mana banyak dampak buruk

yang bersifat ekonomi, politik, dan sosial. Kritik utama terhadap kebijakan

tersebut adalah diskriminasi jenis kelamin tertentu. Kane dan Choi menyebut

bahwa Cina memiliki salah satu tingkat tertinggi di dunia bunuh diri perempuan

(Kane dan Choe, 1996: 992–994. Dalam British Medical Journal).

Wang Feng dalam East-West Center Journal menyebutkan hampir

dua-pertiga dari semua pasangan Cina (900 juta orang, atau hampir 3x penduduk AS)

berada di bawah skema kebijakan satu anak. Dana pemerintah untuk kebijakan

satu anak meningkat 3,6 kali lipat dari 1,34 miliar yuan pada 1990 menjadi 4,8

miliar yuan pada tahun 1998. Dalam pandangannya, Wang Feng lebih

menekankan bahwa pemberlakuan kebijakan satu anak ini bertujuan menekan

populasi untuk meminimalisir kebutuhan hidup di Cina yang mana mempunyai

tingkat populasi penduduk terbesar di dunia. Selain juga yang uatamanya untuk

menstabilkan pembangunan ekonomi di Cina. Terhadap kekerasan yang

ditimbulkan akibat kebijakan tersebut, Wang Feng tidak membahasnya.

Dalam Buku berjudul ―Gendercide and Genocide‖ oleh Adam Jones

menyatakan bahwa prinsip kesetaraan antara laki-laki dan perempuan harus lebih

(36)

anak laki-laki dan meningkatkan kesadaran masyarakat umum tentang masalah

ini, prinsip juga harus tercermin dalam kebijakan sosial dan ekonomi khusus

untuk melindungi hak-hak dasar perempuan dan anak-anak, terutama anak

perempuan. Peraturan pemerintah melarang penggunaan teknik identifikasi jenis

kelamin sebelum melahirkan untuk tujuan nonmedis harus ketat, dan pelanggar

harus dihukum sesuai. Undang-undang yang menghukum orang yang melakukan

pembunuhan bayi, penelantaran, dan pengabaian anak-anak perempuan, dan

hukum dan peraturan tentang perlindungan perempuan dan anak, harus

benar-benar ditegakkan. Kampanye untuk melindungi perempuan dan anak dari yang

diculik atau dijual ke dalam perbudakan harus efektif diperkuat secara. Program

keluarga berencana harus fokus pada pendidikan yang efektif umum, konseling

yang baik dan pelayanan, dan partisipasi sepenuhnya sukarela masyarakat dan

individu untuk meningkatkan prevalensi kontrasepsi, mengurangi kehamilan yang

tidak direncanakan, dan meminimalkan kebutuhan untuk aborsi (Jones, 2000:

298).

Jones menegaskan bahwa prinsip kesetaraan pria dan wanita harus di

promosikan secara lebih luas melalui media untuk meminimalisir tindakan

diskriminasi hak asasi manusia serta meningkatkan kesadaran masyarakat umum

mengenai permasalahan ini. Jones juga menghimbau masyarakat untuk

melakukan kampanye anti kekerasan untuk melindungi hak-hak anak dan

(37)

baik dan fokus terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi di publik, maka

dapat mengurangi kehamilan pranikah pada perempuan.

Dari tinjaun penelitian secara akademis sebelumnya, peneliti melihat ada

kekosongan penelitian menyangkut peran UNICEF dalam mengurangi masalah

dampak kekerasan atas kebijakan satu anak di Cina. Laporan UNICEF hanya

membahas aturan dan langkah yang terlalu general dalam perlindungan anak dan

perempuan tanpa menyinggung langkah kampanye di Cina. Wan Feng dalam

bukunya membahas aspek ekonomi dari kebijakan satu anak. Sedangkan Jones

membahas namun hanya sedikit soal kesetaraan kaum perempuan dapat

ditingkatkan melalui kampanye secara efektif di media agar perlakuan

diskriminatif bisa dihilangkan.

2.2 Kerangka Pemikiran 2.2.1 Hubungan Internasional

Hubungan Internasional merupakan cabang ilmu pengetahuan yang sedang

berkembang sesuai dengan perkembangan waktu. Telah kita ketahui bahwa

Hubungan internasional merupakan bentuk interaksi antara aktor yang satu

dengan aktor lainnya melewati batas-batas negara itu sendiri (Griffiths dkk, 2003:

95). Hubungan Internasional dilaksanakan melalui banyak jalur di samping jalur

pemerintah. Sebagai aktor dalam politik global negara juga tidak selalu bertindak

(38)

selalu bertindak secara koheren. Selain negara pun ada banyak aktor lain seperti

perusahaan multinasional, Organisasi internasional (Jemadu, 2008: 46).

Hubungan internasional yang pada dasarnya merupakan studi mengenai

interaksi lintas batas negara oleh state actor maupun non-state actor memiliki

berbagai macam pengertian. Dalam buku ―Pengantar Ilmu Hubungan

Internasional‖ Anak Agung Banyu Perwita & Yanyan Mochamad Yani.

menyatakan bahwa:

"Studi tentang Hubungan Internasional banyak diartikan sebagai suatu studi tentang interaksi antar aktor yang melewati batas-batas negara. Terjadinya Hubungan Internasional merupakan suatu keharusan sebagai akibat adanya saling ketergantungan dan bertambah kompleksnya kehidupan manusia dalam masyarakat internasional sehingga interdependensi tidak memungkinkan adanya suatu negara yang menutup diri terhadap dunia luar― (Perwita & Yani. 2005: 3-4).

Hubungan yang biasanya dilakukan masyarakat ini biasanya dilakukan

dalam pasar internasional yang dapat mempengaruhi kebijakan pemerintahannya

dan kekayaan serta kesejahteraan warga negaranya. Guna memahami seberapa

pentingnya ilmu Hubungan Internasional, diperlukan adanya pemahaman

mengenai apa yang pada dasarnya terjadi dalam negara, permasalahan maupun

karakteristik dari suatu Negara, apa dampaknya, seberapa penting dan bagaimana

kita harus memahami isu keterllibatan Organisasi Internasional (Robert &

(39)

Pada dasarnya, ilmu Hubungan Internasional lebih mencakup kepada segala

macam hubungan-hubungan antar bangsa di dalam lingkungan masyarakat dunia,

dengan adanya kekuatan-kekuatan di dalam proses mempertahankan pola hidup,

pola bertindak dan pola berpikir manusia, bagi suatu unit politik internasional.

Studi ini merupakan bagian dari ilmu yang lebih luas yaitu ilmu politik, dan

menitik beratkan kepada pentingnya studi fenomena-fenomena politik pada

peringkat global, serta kepada masalah-masalah perlindungan hak asasi manusia

dalam hal ini perempuan dan anak yang terkena dampak dari kebijakan satu anak

Cina, dan berbagai isu kemanusiaan lainnya seperti halnya hubungan interaksi

antara UNICEF sebagai Organisasi internasional dengan. Keterlibatan UNICEF

bertujuan untuk melakukan pengawasan dan pemantauan baik langsung dan tidak

langsung terkait kekerasan yang terjadi di Cina yang diakibatkan oleh kebijakan

satu anak dan memberikan solusi untuk mencegah praktek-praktek aborsi illegal

(http://www.unicef.cn/en/index.php?m=content&c=index&a=lists&catid=118 di

akses tanggal 13/01/12 pada 15.04 WIB).

2.2.2 Kerjasama Internasional

Kerjasama internasional merupakan suatu perwujudan kondisi masyarakat

yang saling tergantung satu dengan yang lain. Dalam melakukan kerjasama ini

dibutuhkan suatu wadah yang dapat memperlancar kegiatan kerjasama tersebut.

(40)

masing-masing pihak yang terlibat. Kerjasama internasional dapat terbentuk karena

kehidupan internasional meliputi bidang, seperti ideologi, politik, ekonomi,

sosial, lingkungan hidup, kebudayaan, pertahanan dan keamanan (Perwita dan

Yani, 2005: 34).

Dalam usaha sebuah negara untuk menyelesaikan suatu masalah yang

bersifat regional maupun internasional bisa diselesaikan bersama dengan

kerjasama, dalam kerjasama ini terdapat kepentingan-kepentingan nasional yang

bertemu dan tidak bisa dipenuhi di negaranya sendiri. Kerjasama menurut Holsti : ― Kerjasama yaitu proses-proses dimana sejumlah pemerintah saling mendekati dengan penyelesaian yang diusulkan, merundingkan atau membahas masalah, mengemukakan bukti teknis untuk menyetujui satu penyelesaian atau lainnya, dan mengakhiri perundingan dengan perjanjian atau perundingan tertentu yang memuaskan kedua belah pihak‖ (2002: 98).

Menurut Muhadi Sugiono ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan

dalam kerjasama internasional;

- ―Pertama, negara bukan lagi sebagai aktor eksklusif dalam politik internasional melainkan hanya bagian dari jaringan interaksi politik, militer, ekonomi dan kultural bersama-sama dengan aktor-aktor ekonomi dan masyarakat sipil.

- Kedua, kerjasama internasional tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kepentingan masing-masing negara yang terlibat di dalamnya, melainkan juga oleh institusi internasional, karena institusi internasional seringkali bukan hanya bisa mengelola berbagai kepentingan yang berbeda dari negara – negara anggotanya , tetapi juga memiliki dan bisa memaksakan kepentingannya sendiri ( ugiono, 2006: 6)‖.

Dalam suatu kerjasama internasional bertemu berbagai macam kepentingan

(41)

negerinya sendiri. Kerjasama internasional adalah sisi lain dari konflik

internasional yang juga merupakan salah satu aspek dalam hubungan

internasional. Isu utama dari kerjasama internasional yaitu berdasarkan pada

sejauh mana keuntungan bersama yang diperoleh melalui kerjasama tersebut

dapat mendukung konsepsi dari kepentingan tindakan yang unilateral dan

kompetitif. Kerjasama internasional terbentuk karena kehidupan internasional

meliputi berbagai bidang seperti ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya,

lingkungan hidup, pertahanan dan keamanan (Perwita dan Yani, 2005: 33-34).

Pada perkembangannya, kerjasama internasional kini tidak hanya dilakukan

oleh negara dengan negara saja, tetapi aktor lain seperti organisasi internasional,

individu dan organisasi non-pemerintah dapat melakukan kerjasama

internasional, dan aktor-aktor tersebut mempunyai kepentingan dan tujuan sendiri

dalam melaksanakan kerjasama internasional. Seperti UNICEF bekerjasama

dengan salah satu organisasi lokal All Girls Allowed yang juga sangat giat

menyerukan kesetaraan gender di Cina. Mereka berkerja sama untuk

meminimalisir eerasan yang terjadi di Cina akibat kebijakan satu anak dan

member penyuluhan terkait pendidikan dan pemahaman mengenai perlindungan

sendiri (self defense) jika sewaktu-waktu terjadi kekerasan yang menimpa

(42)

2.2.3 Organisasi Internasional

Organisasi-organisasi internasional tumbuh karena adanya kebutuhan dan

kepentingan mesyarakat antar-bangsa untuk adanya wadah serta alat untuk

melaksanakan kerja sama internasional. Sarana untuk mengkoordinasikan

kerjasama antar-negara dan antar-bangsa kearah pencapaian tujuan yang sama

dan yang perlu diusahakan secara bersama-sama. Salah satu kajian utama dalam

studi hubungan internasional adalah organisasi internasional yang juga

merupakan salah satu aktor dalam hubungan internasional (Perwita & Yani, 2005:

91).

Teuku May Rudi mendefinisikan organisasi internasional dalam buku nya

“Organisasi dan Administrasi Internasional” sebagai berikut:

―Pola kerjasama yang melintasi batas-batas negara, dengan didasari struktur organisasi yang jelas serta diharapkan atau diproyeksikan untuk berlangsung serta melaksanakan fungsinya secara berkesinambungan dan melembaga guna mengusahakan tercapainya tujuan-tujuan yang diperlukan serta disepakati bersama, baik antara pemerintah dengan pemerintah, maupun antara sesama kelompok non-pemerintah pada negara yang berbeda‖(Rudy, 2005:3).

Berdasarkan definisi diatas, maka Organisasi Internasional kurang lebih

harus mengandung unsur-unsur sebagai berikut:

1. Kerjasama yang ruang lingkupnya melingkupi batas-batas negara.

2. Mencapai tujuan-tujuan yang disepakati bersama.

3. Mencakup hubungan antar pemerintah maupun non pemerintah.

(43)

5. Melaksanakan fungsi secara berkesinambungan (Rudy, 2005: 3).

Sedangkan menurut Michael Hass dalam Buku Perwita dan Yani

“Pengantar Hubungan Internasional”, Pengertian organisasi internasional

memiliki dua pengertian yaitu:

―Pertama, organisasi internasional sebagai suatu lembaga atau struktur yang mempunyai serangkaian aturan, anggota, jadwal, tempat dan waktu pertemuan. Kedua, organisasi internasional merupakan pengaturan bagian-bagian menjadi satu kesatuan yang utuh dimana tidak ada aspek non lembaga dalam istilah organisasi internasional ini‖ (Perwita dan Yani, 2005:93).

Menurut Clive Archer dalam bukunya International Organizations,

organisasi internasional berasal dari dua kata organisasi dan internasional yang

berarti aktivitas-aktivitas antara individu-individu dan kelompok-kelompok di

negara lain serta juga termasuk hubungan intergovernmental yang disebut dengan

hubungan transnational (Perwita dan Yani, 2005: 92).

Dari definisi diatas, sangat jelas bahwa UNICEF merupakan suatu

organisasi internasional yang mempunyai tujuan dan fungsi khusus yakni

pengawasan hak-hak anak dan perempuan serta perlindungan dan pembangunan

karakter seorang anak yang memiliki kondisi sosial tidak layak.

2.2.3.1 Fungsi dan Bentuk Organisasi Internasional

Columbis dan Wolfe mengemukakan klasifikasi organisasi internasional

dengan keanggotaannya, menurut peneliti tersebut Inter-Governmental

(44)

1. Global Membership and General Purpose, yaitu suatu organisasi

internasional antar pemerintah dengan keanggotaan global serta maksud

dan tujuan umum.

2. Global Membership and limited puporse, yaitu suatu organisasi

internasional antar pemerintah dengan keanggotaan global dan memiliki

tujuan yang spesifik atau khusus, organisasi jenis ini dikenal pula sebagai

organisasi internasional yang fungsional karena menjalankan fungsi yang

khusus.

3. Regional membership and general purpose, yaitu suatu organisasi

internasional antar pemerintah dengan keanggotaan yang regional atau

berdasarkan kawasan dengan maksud dan tujuan yang umum, biasanya

bergerak dalam bidang yang luas, meliputi keamanan, politik, sosial,

ekonomi, dan sebagainya.

4. Regional membership and limited purpose organizations, yaitu suatu

organisasi internasional antar pemerintah dengan keanggotaan regional

dan memiliki maksud serta tujuan yang khusus dan terbatas, organisasi

internasional ini bergerak dalam bidang militer dan pertahanan, bidang

ekonomi, sosial, dan sebagainya (Perwita dan Yani, 2005: 94).

Organisasi internasional yang bersifat fungsional memiliki fungsi dalam

menjalankan aktifitasnya, fungsi ini bertujuan untuk mencapai tujuan yang

(45)

masalah yang timbul terhadap pihak yang terkait. Menurut Bennet fungsi

organisasi internasional adalah:

1. Untuk menyediakan hal-hal yang dibutuhkan bagi kerjasama yang

dilakukan antar negara dimana kerjasama itu menghasilkan keuntungan

yang besar bagi seluruh bangsa.

2. Untuk menyediakan banyak saluran-saluran komunikasi antar

pemerintahan sehingga ide-ide dapat bersatu ketika masalah muncul ke

permukaan (Perwita dan Yani, 2005: 97).

Adapun Fungsi organisasi internasional oleh Clive Archer dalam buku

“International Organization” :

a.) Fungsi agregasi dan artikulasi

b.) Organisasi Internasional sebagai Norma

c.) Sarana Rekrutmen dalam sistem internasional

d.) Sarana Sosialisasi

e.) Sebagai wadah pembuatan kebijakan

f.) Sebagai tempat penerapan kebijakan

g.) Menerapkan kebijakan yang adil

h.) Sarana Informasi Global

i.) Penerapan fungsi operasional (Archer, 2003: 95-107).

Mengacu pada fungsi organisasi internasional menurut Karen Mingst ada

(46)

tingkat Sistem Internasional yaitu Organisasi internasional mempunyai fungsi

untuk berkontribusi bersama dengan Negara-negara di dunia untuk menangani

suatu masalah Internasional sebagai contoh Organisasi Internasional dan

Negara-negara di dunia bekerjasama di bawah sistem Perserikatan Bangsa Bangsa dalam

menangani masalah Internasional. Organisasi internasional juga berfungsi untuk

mensurvei dan mengumpulkan segala informasi di dunia sebagai contoh UNICEF

melakukan pengawasan pasca kebijakan satu anak diberlakukan.

Kedua, fungsi organisasi internasional terhadap Negara yaitu organisasi

internasional digunakan oleh negara sebagai instrumen politik luar negeri sebagai

contoh kasus yaitu organisasi lokal di Cina yakni all girls allowed bekerja sama

dengan UNICEF untuk mengatasi masalah kekerasan terhadap perempuan dan

anak yang disebabkan oleh kebijakan satu anak. Ketiga, fungsi Organisasi

Internasional hubungan terhadap Individu yaitu organisasi internasional menjadi

tempat dimana individu bisa bersosialisasi terhadap norma-norma internasional

contohnya, Pembelajaran delegasi PBB dalam norma diplomatik. Selain itu,

organisasi internasional juga menjadi tempat dimana individu bisa mempelajari

tentang persamaan dan perbedaan suatu negara di dunia, misalnya para partisipan

mempelajari satu sama lain di pertemuan internasional (Mingst, 2003: 241).

Adapun fungsi Organisasi Internasional menurut Harold K. Jacobson yang

(47)

Fungsi Organisasi Internasional tersebut di kelompokkan menjadi lima ketegori

yaitu informatif, normatif, role-creating, role-supervisory, dan operasional.

Fungsi normatif dari Organisasi internasional meliputi standar tujuan dan

deklarasi organisasi tersebut. Dalam hal ini tidak terikat oleh legalisasi instrumen

melainkan ketetapannya dipengaruhi keadaan lingkungan domestik dan politik

internasional. Contoh: UNICEF melakukan tugasnya untuk melindungi anak-anak

dan perempuan yang berada dalam suatu lingkungan sosial yang tidak layak dan

memerlukan perlindungan khusus.

Fungsi rule-creating dari organisasi internasional sama seperti fungsi

normatif yaitu meliputi standar tujuan dan deklarasi organisasi tersebut, tapi disini

di batasi oleh frame legalitas yang mempengaruhinya. Contoh: UNICEF memiliki

tujuan dan misi untuk melakukan tugasnya sebagai organisasi internasional dalam

hal kelangsungan hidup perempuan dan anak.

Dari fungsi organisasi internasional yang dijelaskan di atas dapat dilihat

bahwa UNICEF sebagai aktor yang sangat penting. Hal ini ditunjukkan melalui

bagaimana cara UNICEF mengadvokasi pemerintah sehingga pada akhirnya

pemerintah sadar bahwa dengan kebijakan satu anak telah mengakibatkan

dampak negatif bagi perempuan dan anak-anak.

Dalam kasus penelitian ini, fungsi UNICEF sebagai organisasi internasional

adalah melakukan funsgi agregasi, sosialisasi, sarana informasi global dan

(48)

praktek-praktek illegal yang di akibatkan oleh kebijakan pemerintah memeliki

lebih dari satu anak.

2.2.3.2 Peranan Organisasi Internasional

Peranan organisasi internasional dapat digambarkan sebagai individu yang

berada dalam lingkungan masyarakat internasional. Sebagai anggota masyarakat

internasional, organisasi internasional harus tunduk pada peraturan-peraturan

yang telah disepakati bersama. Selain itu, melalui tindakan anggotannya, setiap

anggota tersebut melakukan kegiatan-kegiatan dalam rangka mencapai tujuannya

(Perwita dan Yani, 2005: 29). Peranan UNICEF dapat dikatakan sebagai

upayanya dalam menjalankan fungsinya sebagai suatu organisasi internasional

yang difokuskan pada perlindungan dan keselamatan anak-anak dalam kondisi

yang tidak atau kurang layak.

Negara – negara yang tergabung dalam keanggotaan suatu Organisasi

Internasional berhak meminta bantuan berupa saran, rekomendasi atau aksi

langsung berkaitan dengan masalah-masalah dimana pemerintah tidak dapat

mengambil resiko dengan hanya bertindak melalui kebijakan nasionalnya.

Bahkan saat ini Organisasi Internasional dapat mempengaruhi tingkah laku

negara secara tidak langsung, dimana kehadiran mereka – organisasi internasional – mencerminkan kebutuhan suatu masyarakat dunia untuk bekerjasama dalam

(49)

Peranan Organisasi Internasional terbagi dalam 3 (tiga) kategori, adalah

sebagai berikut :

1.) Sebagai instrumen, yaitu organisasi internasional digunakan oleh negara

negara anggotanya untuk mencapai tujuan tertentu berdasarkan tujuan

politik luar negerinya.

2.) Sebagai arena. organisasi internasional merupakan tempat bertemu bagi

anggota-anggotanya yang membahas dan membicarakan masalah

masalah yang dihadapi. Tidak jarang organisasi internasional digunakan

oleh beberapa negara untuk mengangkat masalah dalam negerinya,

ataupun mengangkat masalah dalam negeri orang lain dengan tujuan

untuk mendapat perhatian internasional.

3.) Sebagai aktor independen. organisasi internasional dapat membuat

keputusan-keputusan sendiri tanpa dipengaruhi oleh kekuasaan atau

paksaan dari luar organisasi. (Archer dalam Perwita & Yani, 2005: 95).

Jelas di atas bahwa suatu organisasi Internasional hanya bisa melakukan

tugas dan fungsinya dengan mengambil keputusan dari tubuh Organisasi

internasional terkait. Dengan demikian semakin jelas bahwa organisasi

internasional merupakan non-state actor (Aktor Non Negara) yang mempunyai

(50)

2.2.4 Konsep Kekerasan 2.2.4.1 Pengertian Kekerasan

Kekerasan berarti penganiayaan, penyiksaan, atau perlakuan salah. Menurut

WHO (Bagong dkk, 2000:15), kekerasan adalah penggunaan kekuatan fisik dan

kekuasaan, ancaman atau tindakan terhadap diri sendiri, perorangan atau

sekelompok orang atau masyarakat yang mengakibatkan atau kemungkinan besar

mengakibatkan memar/trauma, kematian, kerugian psikologis, kelainan

perkembangan atau perampasan hak.

Awal mulanya istilah tindak kekerasan pada anak atau child abuse dan

neglect dikenal dari dunia kedokteran. Sekitar tahun 1946, Caffey-seorang

radiologist melaporkan kasus cedera yang berupa gejala-gejala klinik seperti

patah tulang panjang yang majemuk (multiple fractures) pada anak-anak atau

bayi disertai pendarahan dikepala tanpa mengetahui sebabnya (unrecognized

trauma). Dalam dunia kedokteran, istilah ini dikenal dengan istilah Caffey

Syndrome (Ranuh, 1999: 12).

Sementara itu Adolf Berger mengungkapkan bahwa kekerasan merupakan

sebuah ekspresi baik yang dilakukan secara fisik ataupun secara verbal yang

mencerminkan pada tindakan agresi dan penyerangan pada kebebasan atau

martabat seseorang yang dapat dilakukan oleh perorangan atau sekelompok orang

(51)

bebas dapat diartinya bahwa semua kewenangan tanpa mengindahkan keabsahan

penggunaan atau tindakan kesewenang-wenangan (2008:14).

2.2.4.2Kekerasan terhadap Perempuan

Tindakan kekerasan terhadap perempuan menurut Pasal I dari deklarasi

CEDAW adalah setiap tindakan yang berakibat kesengsaraan atau

penderitaan-penderitaan pada perempuan secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk

ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara

sewenang-wenang baik yang terjadi di depan umum atau dalam lingkungan

kehidupan pribadi. Seringkali kekerasan pada perempuan terjadi karena adanya

ketimpangan atau ketidakadilan jender.

Ketimpangan jender adalah perbedaan peran dan hak perempuan dan

laki-laki di masyarakat yang menempatkan perempuan dalam status lebih rendah dari

laki-laki. ―Hak istimewa‖ yang dimiliki laki-laki ini seolah-olah menjadikan perempuan sebagai ―barang‖ milik laki-laki yang berhak untuk diperlakukan

semena-mena, termasuk dengan cara kekerasan.

Perempuan berhak memperoleh perlindungan hak asasi manusia.

Kekerasan terhadap perempuan dapat berupa pelanggaran hak-hak berikut:

 Hak atas kehidupan

 Hak atas persamaan

(52)

 Hak atas perlindungan yang sama di muka umum

 Hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan fisik maupun

mental yang sebaik-baiknya

 Hak atas pekerjaan yang layak dan kondisi kerja yang baik

 Hak untuk pendidikan lanjut

 Hak untuk tidak mengalami penganiayaan atau bentuk

kekejaman lain, perlakuan atau penyiksaan secara tidak

manusiawi yang sewenang-wenang.

Kekerasan perempuan dapat terjadi dalam bentuk:

 Tindak kekerasan fisik

 Tindak kekerasan non-fisik

 Tindak kekerasan psikologis atau jiwa

Tindak kekerasan fisik adalah tindakan yang bertujuan melukai, menyiksa atau menganiaya orang lain. Tindakan tersebut dapat dilakukan dengan

menggunakan anggota tubuh pelaku (tangan, kaki) atau dengan alat-alat lainnya.

Tindak kekerasan non-fisik adalah tindakan yang bertujuan merendahkan citra atau kepercayaan diri seorang perempuan, baik melalui kata-kata maupun

melalui perbuatan yang tidak disukai/dikehendaki korbannya.

Tindak kekerasan psikologis/jiwa adalah tindakan yang bertujuan mengganggu atau menekan emosi korban. Secara kejiwaan, korban menjadi tidak

(53)

pada suami atau orang lain dalam segala hal (termasuk keuangan). Akibatnya

korban menjadi sasaran dan selalu dalam keadaan tertekan atau bahkan takut.

2.2.4.3 Kekerasan Terhadap Anak

Barker mendefinisikan child abuse merupakan tindakan melukai

beulang-ulang secara fisik dan emosional terhadap anak yang ketergantungan, melalui

desakan hasrat, hukuman badan yang tak terkendali, degradasi dan cemoohan

permanen atau kekerasan seksual (Huraerah, 2007: 9).

Terry E. Lawson, psikiater internasional yang merumuskan definisi tentang

child abuse, menyebut ada empat macam abuse, yaitu physical abuse, emotional

abuse,verbal abuse, dan sexual abuse).

 Kekerasan secara Fisik (physical abuse)

Physical abuse, terjadi ketika orang tua/pengasuh dan pelindung anak

memukul anak (ketika anak sebenarnya memerlukan perhatian). Pukulan

akan diingat anak itu jika kekerasan fisik itu berlangsung dalam periode

tertentu. Kekerasan yang dilakukan seseorang berupa melukai bagian

tubuh anak.

 Kekerasan Emosional (emotional abuse)

Emotional abuse terjadi ketika orang tua/pengasuh dan pelindung anak

setelah mengetahui anaknya meminta perhatian, mengabaikan anak itu. Ia

(54)

ingin diganggu pada waktu itu. Ia boleh jadi mengabaikan kebutuhan anak

untuk dipeluk atau dilindungi. Anak akan mengingat semua kekerasan

emosional jika kekerasan emosional itu berlangsung konsisten. Orang tua

yang secara emosional berlaku keji pada anaknya akan terus menerus

melakukan hal sama sepanjang kehidupan anak itu.

 Kekerasan secara Verbal (verbal abuse)

Biasanya berupa perilaku verbal dimana pelaku melakukan pola

komunikasi yang berisi penghinaan, ataupun kata-kata yang melecehkan

anak. Pelaku biasanya melakukan tindakan mental abuse, menyalahkan,

melabeli, atau juga mengkambing hitamkan.

 Kekerasan Seksual (sexual abuse)

Sexual abuse meliputi pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan

terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut

(seperti istri, anak dan pekerja rumah tangga). Selanjutnya dijelaskan

bahwa sexual abuse adalah setiap perbuatan yang berupa pemaksaan

hubungan seksual, pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak wajar

dan atau tidak disukai, pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain

untuk tujuan komersil dan atau tujuan tertentu (Huraerah, 2007:24).

Eksploitasi anak menunjuk pada sikap diskriminatif atau perlakuan

sewenang-wenang terhadap anak yang dilakukan keluarga atau masyarakat.

(55)

ekonomi, sosial, atau politik tanpa memperhatikan hak-hak anak untuk

mendapatkan perlindungan sesuai dengan perkembangan fisik, psikisnya dan

status sosialnya. Misalnya, anak dipaksa untuk bekerja di pabrik-pabrik yang

membahayakan (pertambangan, sektor alas kaki) dengan upah rendah dan tanpa

peralatan yang memadai, anak dipaksa untuk angkat senjata, atau dipaksa

melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga melebihi batas kemampuannya

(56)

3.1 Objek Penelitian

3.1.1United Nations of Children’s Fund (UNICEF) 3.1.1.1 Sejarah UNICEF

UNICEF adalah organisasi yang didirikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa

pada tahun 1946, setelah Perang Dunia II dalam rangka untuk menyediakan

kebutuhan seperti makanan dan pakaian untuk anak-anak di Eropa. Pada tahun 1953,

UNICEF menjadi badan tetap dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Enam tahun

kemudian, sidang umum PBB mensahkan Deklarasi Hak Anak, yang dokumen dan

mengidentifikasi hak anak untuk kebutuhan seperti gizi, pendidikan dan tempat

tinggal. Pada bulan Desember 1950, majelis Umum PBB memberikan mandat kepada

UNICEF untuk membantu anak-anak yang hidup dalam kekurangan, khususnya

dinegara-negara yang sedang berkembang hingga akhirnya, pada bulan Oktober 1953,

Majelis Umum PBB memutuskan bahwa UNICEF ditetapkan menjadi suatu badan

permanen dalam PBB yang menangani masalah anak. UNICEF kemudian lebih dikenal sebagai United Nations Children’s Fund.

UNICEF dibangun dalam rangka untuk merawat anak-anak di seluruh dunia

(57)

UNICEF mendukung gagasan bahwa agar seorang anak memiliki masa depan yang

kuat, mereka membutuhkan kualitas awal untuk kehidupannya. Semenjak saat itu

gagasan lain mengenai cara-cara perlindungan terhadap anak-anak mulai dilakukan

termasuk diantaranya mendirikan suatu lembaga khusus yang menangani anak-anak.

Pada awal tahun pembentukannya, sumber-sumber dana digunakan untuk kebutuhan

darurat anak-anak korban perang untuk pengadaan pangan, obat-obatan dan sandang

pangan atau pakaian di Eropa dan Cina. Pada bulan desember 1950, Sidang Umum

PBB mengubah mandat organisasi ini untuk menanggapi berbagai kebutuhan yang

sangat mendesak dari sekian anak yang tidak terhitung jumlahnya di negara

berkembang.

Kemudian sekitar akhir tahun 1953, sidang umum memutuskan bahwa

UNICEF harus meneruskan tugasnya sebagai badan tetap PBB. Badan ini kemudian disebut the ―United Nations Children’s Fund‖ (Dana PBB untuk anak-anak).

UNICEF berupaya melalui berbagai kegiatannya untuk melindungi anak-anak dan

memungkinkan anak-anak tersebut mengembangkan potensinya secara penuh.

Pemberian nobel kepada UNICEF pada tahun 1965 merupakan salah satu bukti

tindakan langsung dari dunia internasional terhadap kepedulian dan pengakuan bahwa

kesejahteraan anak tidak dapat dipisahkan dari perdamaian dunia itu sendiri

(58)

3.1.1.2 Fungsi UNICEF

Sebagai salah satu organisasi kemanusiaan yang berada dibawah naungan PBB

yang peduli terhadap masalah anak-anak, UNICEF menjalankan fungsi-fungsi

sebagai berikut:

a. Memberi arahan dan alternatif pemecahan bagi negara-negara yang

menghadapi masalah tentang anak-anak.

b. Memberi advise dan bantuan bagi rencana dan penerapan usaha-usaha

kesejahteraan anak.

c. Mendukung latihan-latihan bagi para pekerja sosial UNICEF di seluruh

negara.

d. Mengkoordinasi proyek-proyek bantuan dalam skala kecil untuk

melakukan metode yang lebih baik.

e. Mengorganisasikan proyek-proyek yang lebih luas.

f. Bekerjasama dengan partner internasional untuk memberi bantuan

eksternal bagi negara yang membutuhkan (UNICEF,2009: 2).

Melihat fungsi-fungsi tersebut, nampak bahwa UNICEF sangat perduli dengan

kaum anak-anak. UNICEF melihat situasi anak-anak dari tiap negara berbeda-beda.

Antara kesejahteraan anak-anak di negara berkembang sangat berbeda dengan

kesejahteraan anak-anak di negara maju. Hal-hal ini selalu berkaitan baik dengan

sistem pemerintahan dan sistem perekonomian negara bersangkutan. Oleh karena itu,

(59)

oleh UNICEF untuk dapat melakukan kerjasama-kerjasama dengan berbagai pihak

untuk mendapatkan keseimbangan tersebut dalam menangani masalah seputar anak.

UNICEF ini adalah sebuah organisasi anak perusahaan dari Perserikatan

Bangsa-Bangsa yang didirikan setelah Perang Dunia II pada bulan Desember 1946.

Tujuan utama organisasi ini adalah untuk memberikan perawatan kesehatan yang

layak dan makanan untuk anak-anak dan perempuan di dunia. Fungsi UNICEF ini

yaitu, Penyediaan Infrastruktur Pendidikan Dasar untuk dunia, Meningkatkan tingkat

Anak Hidup di negara berkembang, Kesetaraan jender melalui pendidikan bagi anak

perempuan, Perlindungan anak-anak dari segala bentuk kekerasan dan pelecehan,

Melindungi dan advokasi hak anak. Imunisasi bayi dari berbagai penyakit.

Penyediaan gizi yang memadai dan air minum yang aman untuk anak-anak.

Pengembangan Analisis Situasi Anak dan Wanita adalah fungsi sentral dari

mandat UNICEF. Ini adalah output program yang sangat mendukung upaya nasional

dan lembaga ini, yang juga bagian dari upaya menyeluruh PBB untuk mendukung

kapasitas nasional untuk mempromosikan pembangunan manusia dan memenuhi hak

asasi warga negara. Pengkajian dan analisis menunjukkan dimensi anak relevan dari

masalah pembangunan nasional dan merupakan skema dari tindakan prioritas yang

terus berkelanjutan. Upaya ini didukung dengan promosi dan penggunaan data

analisis studi kualitatif dari pemerintah dan masyarakat sipil yang merupakan mitra

kerjasama pembangunan internasional (http://www.unicef.org/sitan/index_43348.

Figur

Table Manner Course di Hotel

Table Manner.

Course di Hotel . View in document p.5
Tabel 3.1 Demografi Cina
Tabel 3 1 Demografi Cina . View in document p.78
Gambar 3.1
Gambar 3 1 . View in document p.93
Gambar. 3.2
Gambar 3 2 . View in document p.100
Tabel 3.2
Tabel 3 2 . View in document p.110
Gambar 4.1 Peta Republik Rakyat Cina
Gambar 4 1 Peta Republik Rakyat Cina . View in document p.111
Tabel 4.1
Tabel 4 1 . View in document p.114
Gambar 4.2 Rasio jenis kelamin di Cina
Gambar 4 2 Rasio jenis kelamin di Cina . View in document p.120
Gambar 4.3 Kebijakan Satu Anak di Cina
Gambar 4 3 Kebijakan Satu Anak di Cina . View in document p.120
Tabel. 4.2
Tabel 4 2 . View in document p.131

Referensi

Memperbarui...