1 1.1.1 PENGERTIAN AUDITING
Menurut Soekrisno Agoes, (2004:3):
“Suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistimatis, oleh pihak yang rofessiona, terhadap laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen, beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya, dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut”.
1.1.2 AUDITING DAN ASERSI MANAJEMEN
Asersi adalah representasi manajemen mengenai kewajaran laporan keuangan. Auditing Standards Board (ASB), suatu badan yang dibentuk AICPA untuk memformulasikan standar auditing dan interpretasinya, mengklasifikasikan asersi laporan keuangan sebagai berikut:
1. Existence atau occurance. 2. Completeness.
3. Right and obligations.
4. Valuation atau allocation. 5. Presentation and disclosure.
1.2 PERBEDAAN AUDITING DAN ACCOUNTING
Auditing mempunyai sifat analitis, karena akuntan rofes memulai pemeriksaannya dari angka-angka dalam laporan keuangan, lalu dicocokkan dengan neraca saldo (trial balance), buku besar (general ledger), buku harian (special journals), bukti-bukti pembukuan (documents) dan sub buku besar (sub-ledger). Auditing dilakukan oleh akuntan rofes (khususnya financial audit) dengan berpedoman pada Standar Profesional Akuntan Publik, Aturan Etika IAI Kompartemen Akuntan Publik dan Standar Pengendalian Mutu.
Accounting mempunyai sifat konstruktif, karena disusun mulai dari bukti-bukti pembukuan, buku harian, buku besar dan sub buku besar, neraca saldo sampai dengan laporan keuangan. Akuntansi (accounting) dilakukan oleh pegawai perusahaan (bagian akuntansi) dengan berpedoman pada Standar Akuntansi Keuangan.
1.3 JENIS-JENIS AUDIT
Ditinjau dari luasnya pemeriksaan, audit bisa dibedakan atas: 1. General Audit (Pemeriksaan Umum)
MODUL APLIKASI KOMPUTERISASI AUDITING BAB 1 PENGANTAR AUDITING
2
sesuai dengan Standar Profesional Akuntan Publik dan memperhatikan Kode Etik Akuntan Indonesia. Aturan Etika KAP yang telah disahkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia serta Standar Pengendalian Mutu.
2. Special Audit (Pemeriksaan khusus)
Suatu pemeriksaan terbatas (sesuai dengan permintaan auditee) yang dilakukan oleh KAP yang rofessiona, dan pada akhir pemeriksaannya auditor tidak perlu memberikan pendapat terhadap kewajaran laporan laporan keuangan secara keseluruhan. Pendapat yang diberikan terbatas pada pos atau masalah tertentu yang diperiksa, karena prosedur audit yang dilakukan juga terbatas.
Ditinjau dari jenis pemeriksaan, audit bisa dibedakan atas: 1. Management Audit (Operational Audit)
Suatu pemeriksaan terhadap kegiatan operasi suatu perusahaan, termasuk kebijakan akuntansi dan kebijakan operasional yang telah ditentukan oleh manajemen, untuk mengetahui apakah kegiatan operasi tersebut sudah dilakukan secara efektif, efisien dan ekonomis.
Ada 4 (empat) tahapan dalam suatu manajement audit: 1) Preliminary Survey (Survei Pendahuluan)
2) Review and Testing of Management Control System (Penelaahan dan Pengujian Atas Sistim Pengendalian Manajemen)
3) Detailed Examination (Pengujian Terinci) 4) Report Development (Pengembangan Laporan) Management audit bisa dilakukan oleh:
Internal Auditor
Kantor Akuntan Publik Management Consultant
2. Compliance Audit (Pemeriksaan Ketaatan)
Pemerisaan yang dilakukan untuk mengetahui apakah perusahaan sudah mentaati peraturan-peraturan dan kebijakan-kebijakan yang berlaku, baik yang ditetapkan oleh pihak intern perusahaan (manajemen, dewan komisaris) maupun pihak ekstern (Pemerintah, Bapepam, Bank Indonesia, Direktorat Jenderal Pajak, dan lain-lain). Pemeriksaan bisa dilakukan baik oleh KAP maupun Bagian Internal Audit.
3. Internal Audit (Pemeriksaan Intern)
Pemeriksaan yang dilakukan oleh bagian internal audit perusahaan, baik terhadap laporan keuangan dan catatan akuntansi perusahaan, maupun ketaatan terhadap kebijakan manajemen yang telah ditetapkan. Laporan internal auditor berisi temuan pemeriksaan (audit findings) mengenai penyimpangan dan kecurangan yang ditemukan, kelemahan pengendalian intern, beserta saran-saran perbaikannya (recommendations).
4. Computer Audit
Pemeriksaan oleh KAP terhadap perusahaan yang memproses data akuntansinya dengan menggunakan EDP (Electronic Data Processing) sistem.
1.4 PROFESI AKUNTAN
3
Intern (Internal Audit Departement) suatu perusahaan swasta atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN), di BUMN biasanya disebut Satuan Pengawas Intern (SPI).
Auditor Pemerintah (Government Auditor): dengan bekerja di BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan), BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) atau Inspektor di suatu Departemen Pemerintah.
Financial Accountant, dengan bekerja dibagian akuntansi keuangan suatu perusahaan.
Cost Accountant, dengan bekerja dibagian akuntansi biaya suatu perusahaan.
Management Accountant: dengan bekerja dibagian akuntansi manajemen suatu perusahaan.
Tax Accountant: dengan bekerja dibagian perpajakan suatu perusahaan atau Direktorat Jenderal Pajak.
Akuntan Pendidik, dengan bekerja sebagai dosen baik di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Pergurun Tinggi Swasta (PTS).
1.5 PEER PREVIEW
Peer Review adalah suatu penelaahan yang dilakukan terhadap Kantor Akuntan Publik untuk menilai apakah Kantor Akuntan Publik telah mengembangkan secara memadai kebijakan dan prosedur pengendalian mutu yang disyaratkan dalam Pernyataan Standar Auditing (PSA) No.20 yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia.
MODUL APLIKASI KOMPUTERISASI AUDITING BAB 1 PENGANTAR AUDITING
[image:4.612.110.536.66.635.2]4 Tabel 1.1
Lima Elemen Pengendalian Mutu
Elemen Persyaratan Contoh Prosedur
Independensi, Integritas, dan objektifitas
Semua petugas audit harus memelihara sikap rofessiona baik dalam kenyataan maupun dalam penampilan, melaksanakan seluruh tanggung jawab professional dengan integritas yang tinggi, dan memelihara objektivitas dalam menjalankan tanggung jawab profesionalnya.
Setiap partner dan staf harus menjawab “kuesioner mengenai independensi setiap tahun, yang antara lain berkaitan dengan pemilikan saham dan keanggotaan sebagai dewan direksi.
Manajemen Personalia
Perusahaan harus menetapkan kebijakan dan prosedur untuk memberikan keyakinan memadai bahwa:
a) Seluruh staf baru harus mempunyai kualifikasi yang cukup agar dapat melaksanakan tugasnya dengan kompeten. b) Tugas diberikan kepada staf yang mempunyai
pelatihan teknis dan keahlian yang cukup. c)Semua staf harus mengikuti pendidikan
profesi berkelanjutan dan kegiatan pengembangan profesi agar dapat memenuhi tanggung jawab yang diberikan.
d) Staf yang dipromosikan dalam jabatan yang lebih tinggi, telah memiliki kualifikasi yang diperlukan untuk memenuhi tanggung jawab yang diberikan.
Setiap staf rofessional harus dievaluasi untuk setiap penugasan audit, dengan menggunakan laporan evaluasi penugasan individual perusahaan.
Penerimaan dan
keberlanjutan klien dan penugasan
Perusahaan harus menetapkan kebijakan dan prosedur untuk memutuskan apakah akan menerima klien baru atau mempertahankan klien lama. Kebijakan dan prosedur ini harus bisa mengurangi risiko yang timbul dari klien yang manajemennya tidak memiliki integritas: perusahaan sebaiknya hanya menerima penugasan yang sesuai dengan kemampuan profesionalnya
Formulir evaluasi klien, yang berisi komentar auditor sebelumnya dan evaluasi manajemen, harus dibuat untuk setiap klien baru sebelum diterima sebagai klien.
Kinerja penugasan
Harus ada kebijakan dan prosedur untuk meyakinkan bahwa pekerjaan yang dilaksanakan oleh staf audit memenuhi standar rofessional yang berlaku, persyaratan perundang-undangan, dan standar pengendalian mutu perusahaan.
Harus ada direktur akuntansi dan auditing untuk konsultasi dan mengotorisasi seluruh penugasan sebelum penugasan tersebut selesai.
Pemantauan
Harus ada kebijakan dan prosedur untuk meyakinkan bahwa keempat elemen pengendalian mutu lainnya diterapkan secara efektif
Partner pengendalian mutu harus mentest prosedur pengendalian mutu paling kurang setahun sekali untuk meyakinkan ketaatan perusahaan terhadap prosedur pengendalian mutu.
5
STANDAR PROFESIONAL AKUNTAN PUBLIK DAN KODE ETIK AKUNTAN INDONESIA
2.1 PERKEMBANGAN STANDAR PROFESIONAL AKUNTAN PUBLIK Tahun 1972, pertama kalinya ikatan Akuntan Indonesia berhasil menerbitkan Norma Pemeriksaan Akuntan, yang disahkan dalam Kongres ke III Ikatan Akuntan Indonesia. Pada tanggal 19 April 1986, Norma Pemeriksaan Akuntan yang telah diteliti dan disempurnakan oleh Tim Pengesahan, disahkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia sebagai norma pemeriksaan yang berlaku efektif selambat-lambatnya untuk penugasan pemeriksaan atas laporan keuangan yang diterima setelah tanggal 31 Desember 1986. Tahun 1992, Ikatan Akuntan Indonesia menerbitkan Norma Pemeriksaan Akuntan, Edisi revisi yang memasukkan suplemen No.1 sampai dengan No.12 dan interpretasi No.1 sampai dengan Nomor.2. Indonesia merubah nama Komite Norma Pemeriksaan Akuntan menjadi Dewan Standar Profesional Akuntan Publik. Selama tahun 1999 Dewan melakukan perubahan atas Standar Profesional Akuntan Publik per 1 Agustus 1994 dan menerbitkannya dalam buku yang diberi judul “Standar Profesional Akuntan Publik per 1 Januari 2001”.
Standar Profesional Akuntan Publik per 1 Januari 2001 terdiri dari lima standar, yaitu:
1. Pernyataan Standar Auditing (PSA) yang dilengkapi dengan Interpretasi Pernyataan Standar Auditing (IPSA).
2. Pernyataan Standar Atestasi (PSAT) yang dilengkapi dengan Interpretasi Pernyataan Standar Atestasi (IPSAT).
3. Pernyataan Standar Jasa Akuntansi dan Review (PSAR) yang dilengkapi dengan Interpretasi Pernyataan Standar Jasa Akuntansi dan Review (IPSAR). 4. Pernyataan Standar Jasa Konsultasi (PSJK) yang dilengkapi dengan
Interpretasi Pernyataan Standar Jasa Konsultasi (IPSJK).
5. Pernyataan Standar Pengendalian Mutu (PSPM) yang dilengkapi dengan Interpretasi Pernyataan Standar Pengendalian Mutu (IPSM).
MODUL APLIKASI KOMPUTERISASI AUDITING BAB 1 PENGANTAR AUDITING
6
[image:6.612.130.552.64.624.2]2.2 HIRARKI STANDAR AUDITING
Gambar 2.1 Hirarki Standar Auditing
Sumber: SPAP Per 1 Januari 2001 (IAI, 2001: 001.12) Standar Auditing
Standar Umum Standar Pekerjaan
Lapangan
Standar Pelaporan
Keahlian dan pelatihan teknis yang memadai
Independensi dalam sikap mental
Penggunaan kemahiran professional dengan cermat & seksama
Perencanaan dan supervisi audit
Pemahaman yang memadai atas pengendalian intern
Bukti audit kompeten yang cukup
Pernyataan tentang kesesuaian laporan keuangan dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum
Pernyataan mengenai ketidakkonsistensian penerapan prinsip akuntansi yang berlaku umum
Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan
Pernyataan pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan Pernyataan Standar Auditing (PSA) Pernyataan Standar Auditing (PSA) Pernyataan Standar Auditing (PSA) Interprestasi Pernyataan Standar Auditing (IPSA) Interprestasi Pernyataan Standar Auditing (IPSA) Interprestasi Pernyataan Standar Auditing (IPSA)
7
Gambar 2.2. Proses kodifikasi PSA, PSAT, PSAR, PSJK, PSPM dan AE dalam Standar Profesional
Sumber: SPAP (IAI, 2001:001.13)
2.3 SEPULUH STANDAR AUDITING
Menurut PSA No.01 (SA Seksi 150): Standar auditing beda dengan prosedur auditing. “Prosedur“ berkaitan dengan tindakan yang harus dilaksanakan, “ Standar “ berkenaan dengan kriteria atau ukuran hidup kinerja tindakan dan berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai melalui penggunaan prosedur tersebut. Jadi, berlainan dengan prosedur auditing, standar auditing mencakup mutu professional (Professional Qualities) auditor independen dan pertimbangan (Judgement) yang digunakan dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporan auditing.
Standar auditing yang telah ditetapkan dan disahkan oleh ikatan akuntan Indonesia terdiri dari “Sepuluh standar yang dikelompokan menjadi 3 kelompok besar”, yaitu :
a. Standar Umum:
1. Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan tehnis yang cukup sebagai auditor.
2. Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor.
Standar Auditing Standar Atestasi Standar Jasa Akuntansi & Review Standar Jasa Konsultasi Standar Pengendalian Mutu
Perikatan Atestasi Perikatan Non Atestasi
PSA PSAT PSAR PSJK PSPM
IPSA IPSAT IPSAR IPSJK IPSPM
MODUL APLIKASI KOMPUTERISASI AUDITING BAB 1 PENGANTAR AUDITING
8
3. Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama.
b. Standar Pekerjaan Lapangan:
1. Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus di supervise dengan semestinya.
2. Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan.
3. Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan pandapat atas laporan keuangan yang diaudit.
c. Standar Pelaporan:
1. Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
2. Laporan auditor harus menunjukkan, jika ada, ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya.
3. Pengungkapan informatif dalam laporaan keuangan harus dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor.
4. Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendaapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan, maka alasannya harus dinyatakan. Dalam hal nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, maka laporan auditor harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan audit yang dilaksanakan, jika ada, dan tingkat tanggungjawab yang dipikul oleh auditor (IAI, 2001: 150.1 & 150.2).
2.4 KODE ETIK AKUNTAN INDONESIA
Kode Etik Akuntan Indonesia adalah pedoman bagi para anggota Ikatan Akuntan Indonesia untuk bertugas secara bertanggung jawab dan objektif.
Rumusan Kode Etik saat ini sebagian besar dari rumusan kode etik yang dihasilkan dalam kongres ke-6 Ikatan Akuntan Indonesia dan ditambah dengan masukan-masukan yang diperoleh dari Seminar Sehari Pemutakhiran Kode Etik Akuntan Indonesia tanggal 15 Juni 1994 di Hotal Daichi Jakarta serta hasil pembahasan Sidang Komite Kode Etik Akuntan Indonesia tahun 1994 di Bandung.
2.4.1 PERNYATAAN ETIKA PROFESI
Saat itu Kode Etik Akuntan Indonesia terdiri atas delapan (8) bab (11pasal) dan enam (6)pernyataan etika profesi. Pernyataan tersebut adalah:
1. Pernyataan etika profesi Nomor 1 tentang INTEGRITAS, OBJEKTIVITAS DAN INDENPENDENSI.
2. Pernyataan etika profesi Nomor 2 tentang KECAKAPAN PROFESIONAL. 3. Pernyataan etika profesi Nomor 3 tentang PENGUNGKAPAN INFORMASI
9 AKUNTAN PUBLIK.
5. Pernyataan etika profesi Nomor 5 tentang KOMUNIKASI ANTAR AKUNTAN PUBLIK.
6. Pernyataan etika profesi Nomor 6 tentang PERPINDAHAN STAFF/PARTNER DARI SATU KANTOR AKUNTAN KE KANTOR AKUNTAN LAIN.
Dalam Kongres ke 7 Ikatan Akuntan Indonesia yang diadakan di Jakarta bulan September 1998 diadakan beberapa perubahan mengenai Kode Etik, antara lain:
o Komite Kode Etik tidak ada lagi di Struktur Organisasi IAI. o Rerangka Kode Etik IAI menjadi:
Prinsip Etika. Aturan Etika.
Interprestasi Aturan Etika. Tanya dan Jawab.
Keterangan:
Prinsip Etika mengikat seluruh anggota IAI, dan merupakan produk kongres.
Aturan Etika mengikat kepada anggota kompartemen dan merupakan produk Rapat Anggota Kompartemen. Aturan Etika tidak boleh bertentangan dengan Prinsip Etika.
Interpretasi Aturan Etika merupakan interpretasi yang dikeluarkan oleh Badan yang dibentuk oleh Kompartemen setelah memperhatikan tanggapan dari anggota dan pihak-pihak berkepentingan lainnya, sebagai panduan dalam penerapan Aturan Etika, tanpa dimaksudkan untuk membatasi lingkup dan penerapannya.
Pernyataan Etika Profesi yang berlaku saat ini dapat dipakai sebagai interpretasi dan atau Aturan Etika sampai dikeluarkannya aturan dan interpretasi baru untuk menggantikannya.
o Prinsip Etika Profesi, yang merupakan landasan perilaku etika profesional,
terdiri dari 8 prinsip yaitu: 1. Tanggung Jawab Profesi 2. Kepentingan Umum (Publik) 3. Integritas
4. Obyektifitas
5. Kompetensi dan kehati-hatian Profesional 6. Kerahasiaan
MODUL APLIKASI KOMPUTERISASI AUDITING BAB 1 PENGANTAR AUDITING
10
[image:10.612.112.572.82.511.2]2.4.2 RERANGKA KODE ETIK IKATAN AKUNTAN INDONESIA
Gambar 2.3. Rerangka Kode Etik IAI
Sumber: SPAP IAI 2001:20000.7
2.4.3 ATURAN ETIKA KOMPARTEMEN AKUNTAN PUBLIK
Aturan etika kompartemen akuntan publik (IAI, 20000.1-20000.6):
DEFINISI/PENGERTIAN
Klien adalah pemberi kerja (orang atau badan), yang mempekerjakan atau menugaskan seseorang atau lebih anggota IAI-KAP atau KAP tempat anggota bekerja untuk melaksanakan jasa profesional. Istilah pemberi kerja untuk tujuan ini tidak termasuk orang atau badan yang mempekerjakan anggota.
Laporan Keuangan adalah suatu penyajian data keuangan termasuk catatan yang menyertainya, bila ada, yang dimaksudkan untuk mengkomunikasikan sumber daya ekonomi (aktiva) dan/atau kewajiban suatu entitas pada saat tertentu atau perubahan atas aktiva dan/atau kewajiban selam suatu periode tertentu sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum atau basis akuntansi komprehensif selain prinsip akuntansi yang berlaku umum. Data
RAPAT ANGGOTA KAP
Tanggung jawab profesi Kepentingan Umum (Publik)
11
atau yang terdapat dalam dokumen untuk suatu pelaporan yang diatur dalam standar atestasi dalam perikatan atestasi, dan surat pemberitahuan tahunan pajak (SPT) serta daftar-daftar pendukungnya bukan merupakan laporan keuangan. Pernyataan, surat kuasa atau tanda tangan pembuat SPT tidak merupakan pernyataan pendapat atas laporan keuangan.
Kantor Akuntan Publik (KAP) adalah suatu bentuk organisasi akuntan publik yang memperoleh izin sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berusaha dibidang pemberian jasa profesional dalam praktik akuntan publik.
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) adalah wadah organisasi profesi akuntan Indonesia yang diakui pemerintah.
Ikatan Akuntan Indonesia-Kompartemen Akuntan Publik (IAI-KAP)
adalah wadah organisasi para akuntan Indonesia yang menjalankan profesi sebagai akuntan publik atau bekerja di kantor akuntan publik.
Anggota adalah semua anggota IAI-KAP.
Anggota Kantor Akuntan Publik (anggota KAP) adalah anggota IAI-KAP dan staf profesional (baik anggota IAI-IAI-KAP maupun yang bukan anggota IAI-KAP) yang bekerja pada satu KAP.
Akuntan Publik adalah akuntan yang memiliki izin dari Menteri Keuangan atau pejabat yang berwenang lainnya untuk menjalankan praktik akuntan publik.
Praktik akuntan publik adalah pemberian jasa profesional kepada klien yang dilakukan oleh anggota IAI-KAP yang dapat berupa jasa audit, jasa atestasi, jasa akuntansi dan review, perpajakan, perencanaan keuangan perorangan, jasa pendukung litigasi, dan jasa lain yang diatur Standar Profesional Akuntan Publik.
2.5 KASUS PRAKOM Petunjuk:
Silahkan Anda Buat Kelompok belajar dengan rekan Anda dan diskusikan konsep jawaban dari soal Studi kasus di bawah ini:
Soal:
Bila Anda & Rekan-rekan akan membuat Kantor Akuntan Publik persiapan apa saja yang diperlukan untuk mengembangkan usaha tersebut jika dilihat dari faktor-faktor di bawah ini:
01. Nama perusahaan,
02. Tujuan perusahaan (Visi dan Misi), 03. Struktur organisasi,
04. Objek dan aktivitas perusahaan 05. Kebijakan Perusahaan
06. Promosi Perusahaan
Dengan catatan faktor-faktor di atas harus sesuai dan tidak melanggar: 1) Standar profesional akuntan publik saat ini
2) Standar Auditing
3) Kode etik akuntan Indonesia dan
STANDAR PROFESIONAL AKUNTAN PUBLIK
DAN KODE ETIK AKUNTAN INDONESIA
2.1 PERKEMBANGAN STANDAR PROFESIONAL AKUNTAN PUBLIK
Tahun 1972, pertama kalinya ikatan Akuntan Indonesia berhasil menerbitkan Norma
Pemeriksaan Akuntan, yang disahkan dalam Kongres ke III Ikatan Akuntan Indonesia.
Norma Pemeriksaan Akuntan tersebut mencakup tanggung jawab akuntan publik,
unsur-unsur norma pemeriksaan akuntan yang antara lain meliputi: pengkajian dan penilaian
pengendalian intern, bahan pembuktian dan penjelasan informatif, serta pembahasan
mengenai peristiwa kemudian, laporan khusus dari berkas pemeriksaan. Pada Kongres IV
Ikatan Akuntan Indonesia tanggal 25-26 Oktober 1982, Komisi Norma Pemeriksaan
Akuntan mengusulkan agar segera dilakukan penyempurnaan atas buku Norma
Pemeriksaan Akuntan yang lama, dan melengkapinya dengan serangkaian suplemen yang
merupakan penjabaran lebih lanjut norma tersebut. Untuk melaksanakan tugas tersebut,
telah dibentuk Komite Norma Pemeriksaan Akuntan yang baru untuk periode kepengurusan
1982-1986, yang anggotanya berasal dari unsur-unsur akuntan pendidik, akuntan publik
dan akuntan pemerintah. Komite ini telah menyelesaikan konsep Norma Pemeriksaan
Akuntan yang disempurnakan pada tanggal 11 Maret 1984.
Pada tanggal 19 April 1986, Norma Pemeriksaan Akuntan yang telah diteliti dan
disempurnakan oleh Tim Pengesahan, disahkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan
Indonesia sebagai norma pemeriksaan yang berlaku efektif selambat-lambatnya untuk
penugasan pemeriksaan atas laporan keuangan yang diterima setelah tanggal 31 Desember
1986. Tahun 1992, Ikatan Akuntan Indonesia menerbitkan Norma Pemeriksaan Akuntan,
Edisi revisi yang memasukkan suplemen No.1 sampai dengan No.12 dan interpretasi No.1
Tujuan Khusus Pembelajaran:
1. Mengetahui perkembangan Standar Profesional Akuntan
Publik.
2. Mengetahui Hirarki dan Isi Standar Auditing.
sampai dengan Nomor.2. Dalam Kongres ke VII Ikatan Akuntan Indonesia tahun 1994,
disahkan Standar Profesional Akuntan Publik yang secara garis besar berisi:
1. Uraian mengenai standar profesional akuntan publik.
2. Berbagai pernyataan standar auditing yang telah diklasifikasikan.
3. Berbagai pernyataan standar atestasi yang telah diklasifikasikan.
4. Pernyataan jasa akuntansi dan review.
Pertengahan tahun 1999 Ikatan Akuntan Indonesia merubah nama Komite Norma
Pemeriksaan Akuntan menjadi Dewan Standar Profesional Akuntan Publik. Selama tahun
1999 Dewan melakukan perubahan atas Standar Profesional Akuntan Publik per 1 Agustus
1994 dan menerbitkannya dalam buku yang diberi judul “Standar Profesional Akuntan
Publik per 1 Januari 2001”.
Standar Profesional Akuntan Publik per 1 Januari 2001 terdiri dari lima standar,
yaitu:
1. Pernyataan Standar Auditing (PSA) yang dilengkapi dengan Interpretasi Pernyataan
Standar Auditing (IPSA).
2. Pernyataan Standar Atestasi (PSAT) yang dilengkapi dengan Interpretasi Pernyataan
Standar Atestasi (IPSAT).
3. Pernyataan Standar Jasa Akuntansi dan Review (PSAR) yang dilengkapi dengan
Interpretasi Pernyataan Standar Jasa Akuntansi dan Review (IPSAR).
4. Pernyataan Standar Jasa Konsultasi (PSJK) yang dilengkapi dengan Interpretasi
Pernyataan Standar Jasa Konsultasi (IPSJK).
5. Pernyataan Standar Pengendalian Mutu (PSPM) yang dilengkapi dengan Interpretasi
Pernyataan Standar Pengendalian Mutu (IPSM).
Selain kelima standar tersebut masih dilengkapi dengan Aturan Etika Kompartemen
2.2 HIRARKI STANDAR AUDITING
Gambar 2.1 Hirarki Standar Auditing
Sumber: SPAP Per 1 Januari 2001 (IAI, 2001: 001.12) Standar Auditing
Standar Umum Standar Pekerjaan
Lapangan
Standar Pelaporan
Keahlian dan pelatihan teknis yang memadai
Independensi dalam sikap mental
Penggunaan kemahiran professional dengan cermat & seksama
Perencanaan dan supervisi audit
Pemahaman yang memadai atas pengendalian intern
Bukti audit kompeten yang cukup
Pernyataan tentang kesesuaian laporan keuangan dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum
Pernyataan mengenai ketidakkonsistensian penerapan prinsip akuntansi yang berlaku umum
Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan
Pernyataan pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan Pernyataan Standar Auditing (PSA) Pernyataan Standar Auditing (PSA) Pernyataan Standar Auditing (PSA) Interprestasi Pernyataan Standar Auditing (IPSA) Interprestasi Pernyataan Standar Auditing (IPSA) Interprestasi Pernyataan Standar Auditing (IPSA) Landasan operasional Landasan operasional
Gambar 2.2. Proses kodifikasi PSA, PSAT, PSAR, PSJK, PSPM dan AE dalam Standar Profesional
Sumber: SPAP (IAI, 2001:001.13)
2.3 SEPULUH STANDAR AUDITING
Menurut PSA No.01 (SA Seksi 150): Standar auditing beda dengan prosedur auditing. “Prosedur“ berkaitan dengan tindakan yang harus dilaksanakan, “ Standar “
berkenaan dengan kriteria atau ukuran hidup kinerja tindakan dan berkaitan dengan tujuan
yang hendak dicapai melalui penggunaan prosedur tersebut. Jadi, berlainan dengan
prosedur auditing, standar auditing mencakup mutu professional (Professional Qualities)
auditor independen dan pertimbangan (Judgement) yang digunakan dalam pelaksanaan
audit dan penyusunan laporan auditing. Standar
Auditing
Standar Atestasi
Standar Jasa Akuntansi & Review
Standar Jasa Konsultasi
Standar Pengendalian
Mutu
Perikatan Atestasi Perikatan Non Atestasi
PSA PSAT PSAR PSJK PSPM
IPSA IPSAT IPSAR IPSJK IPSPM
Standar auditing yang telah ditetapkan dan disahkan oleh ikatan akuntan Indonesia terdiri
dari “Sepuluh standar yang dikelompokan menjadi 3 kelompok besar”, yaitu :
a. Standar Umum:
1. Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan
pelatihan tehnis yang cukup sebagai auditor.
2. Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap
mental harus dipertahankan oleh auditor.
3. Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan
kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama.
b. Standar Pekerjaan Lapangan:
1. Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus di
supervise dengan semestinya.
2. Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh untuk
merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan
dilakukan.
3. Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan,
permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan
pandapat atas laporan keuangan yang diaudit.
c. Standar Pelaporan:
1. Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
2. Laporan auditor harus menunjukkan, jika ada, ketidakkonsistenan penerapan
prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan
dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode
sebelumnya.
3. Pengungkapan informatif dalam laporaan keuangan harus dipandang memadai,
kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor.
4. Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendaapat mengenai laporan
keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak
dapat diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan, maka
alasannya harus dinyatakan. Dalam hal nama auditor dikaitkan dengan laporan
pekerjaan audit yang dilaksanakan, jika ada, dan tingkat tanggungjawab yang
dipikul oleh auditor (IAI, 2001: 150.1 & 150.2).
Standar-standar tersebut diatas dalam banyak hal sering berhubungan dan saling tergantung
satu sama lain dan “Materialitas” dan “risiko audit” melandasi penerapan semua standar
auditing, terutama standar pekerjaaan lapangan dan standar pelaporan.
PSA No.01 (SA Seksi 161) mengatur hubungan standar auditing dengan standar pengendalian mutu sebagai berikut :
01. Auditor independen bertanggung jawab untuk memenuhi standar auditing yang
diterapkan Ikatan Akuntan Indonesia dalam penugasan audit. Seksi 202 Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik mengharuskan anggota Ikatan Akuntan Indonesia yang
berpraktik sebagai auditor independent mematuhi standar auditing jika berkaitan
dengan audit atas laporan keuangan.
02. Kantor akuntan publik juga harus mematuhi standar auditing yang diterapkan Ikatan
Akuntan Indonesia dalam pelaksanaan audit. Oleh karena itu, kantor akuntan publik
harus memuat kebijakan daan prosedur pengendalian mutu untuk memberikan
keyakinan memadai tentang kesesuaian penugasan audit dengan standar auditing yang
diterapkn Ikatan Akuntan Indonesia. Sifat dan luasnya kebijakan dan prosedur
pengendalian mutu yang ditetapkan oleh kantor akuntan publik tergantung atas
faktor-faktor tertentu, seperti ukuran kantor akuntan publik, tingkat otonomi yang diberikan
kepada karyawan dan kantor-kantor cabang, sifat praktik, organisasi kantornya, serta
pertimbangan biaya manfaat.
03. Standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia berkaitan dengan
pelaksanaan penugasan audit secara individual; standar pengendalian mutu berkaitan
dengan pelaksanaan praktik audit kantor akuntan publik secara keseluruhan. Oleh
karena itu, standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia dan standar
pengendalian mutu berhubungan satu sama lain, dan kebijakan dan prosedur
pengendalian mutu yang diterapkan oleh kantor akuntan publik berpengaruh terhadap
pelaksanaan penugasan audit secara individual dan pelaksanaan praktik audit kantor
PENJELASAN MASING-MASING STANDAR AUDITING a) Standar Umum:
Standar umum bersifat pribadi dan berkaitan dengan persyaratan auditor dan mutu
pekerjaannya, berbeda dengan standar yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan
lapangan dan pelaporan. Standar pribadi atau standar umum ini berlaku sama dalam
bidang pelaksanaan pekerjaan lapangan dan pelaporan.
1. Standar umum Ke-1:
Menegaskan bahwa tingginya kemampuan seseorang dalam bidang-bidang lain,
termasuk dalam bisnis dan keuangan, ia tidak dapat memenuhi persyaratan yang
dimaksudkan standar auditing ini, jika tidak memiliki pendidikan serta pengalaman
memadai dalam bidang auditing. Pendidikan formal auditor independen dan pengalaman
profesionalnya saling melengkapi satu sama lain. Pendidikan formal diperoleh dari
perguruan tinggi, yaitu fakultas ekonomi jurusan akuntansi negeri (PTN) atau swasta (PTS)
ditambah ujian UNA Dasar dan UNA Profesi. Seorang Auditor harus mempunyai nomor
register negara akuntan (registered accountant) dan mulai tahun 1998 harus mempunyai
predikat Bersertifikat Akuntan Publik (BAP). Dibawah jenjang partner, ada audit manajer,
supervisor, senior, asisten yang tidak harus seorang akuntaan beregister (registered
accountant) namun harus pernah mempelajari akuntansi, perpajakan dan auditing. Seorang
auditor harus mengikuti Pendidikan profesi berkelanjutan (continue profesional education)
baik yang diadakan di KAP, IAI atau diseminar dan lokakarya. Dalam setahun seorang
partner KAP harus mengumpulkan antara 30-40 SKP. Auditor harus selalu mengikuti
perkembangan-perkembangan yang berkaitan dengan profesinya dan peraturan-peraturan
pemerintah termasuk perpajakan. Pengalaman profesional diperoleh dari praktek kerja di
bawah bimbingan (supervisi) auditor yang lebih senior.
2. Standar umum Ke-2:
Hal-hal berikut ini dimuat dalam PSA No.04 (SA Seksi 220):
01. Standar ini mengharuskan auditor bersikap independen, artinya tidak mudah
dipengaruhi, karena Auditor tidak dibenarkan memihak kepada kepentingan
siapapun, sebab bagaimanapun sempurnanya keahlian teknis yang ia miliki, ia akan
kehilangan sikap tidak memihak yang justru sangat penting untuk mempertahankan
kebebasan pendapatnya. Auditor mengakui kewajiban untuk jujur tidak hanya
yang meletakkan kepercayaan (paling tidak sebagian) atas laporan auditor
independen, seperti calon-calon pemilik dan kreditur.
02. Kepercayaan masyarakat umum atas independensi sikap auditor independen sangat
penting bagi perkembangan profesi akuntan publik. Kepercayaan akan menurun jika
terdapat bukti bahwa indenpendensi sikap auditor ternyata berkurang, bahkan
kepercayaan masyarakat dapat juga menurun disebabkan oleh keadaan mereka yang
berpikiran sehat (reasonable) dianggap dapat mempengaruhi sikap independennya.
Untuk menjadi independen, auditor harus secara intelektual jujur, ia harus bebas dari
setiap kewajiban terhadap kliennya dan tidak mempunyai kepentingan dengan
kliennya, apakah itu manajemen perusahaan atau pemilik perusahaan. Auditor
independen tidak hanya berkewajiban mempertahankan fakta bahwa ia independen,
tetapi ia harus pula menghindari keadaan yang dapat menyebabkab pihak luar
meragukan sikap indenpendensinya.
03. Profesi akuntan publik telah menetapkan dalam Kode Etik Akuntan Indonesia, agar
anggota profesi menjaga dirinya dari kehilangan persepsi indenpendensi masyrakat.
Anggapan masyarakat terhadap indenpendensi auditor karena pemilikan
indenpendensi merupakan masalah mutu pribadi, bukan merupakan suatu aturan
yang dirumuskan untuk dapat diuji secara objektif. Sepanjang persepsi
indenpendensi ini dimasukkan kedalam Aturan Etika, hal ini akan mengikat auditor
independen menurut ketentuan profesi.
04. Bapepam menetapkan persyaratan indenpendensi bagi auditor yg melaporkan tentang
informasi keuangan yang diserahkan kepada badan tersebut yang mungkin berbeda
dengan yang ditentukan oleh Ikatan Akuntan Indonesia.
05. Auditor harus mengelola praktiknya dalam persepsi independensi dan aturan
ditetapkan untuk mencapai derajat independensi dalam melaksanakan pekerjaannya.
06. Untuk menekankan independensi auditor dari manajemen, penunjukan auditor dari
banyak perusahaan dilaksanakan oleh dewan komisaris, rapat umum pemegang
3. Standar umum Ke-3:
Hal-hal berikut dimuat dalam PSA No.04 (SA Seksi 230):
01. Standar ini menuntut auditor independen untuk merencanakan dan melaksanakan
pekerjaannya dengan menggunakan kemahiran profesionalnya secara cermat dan
seksama. Penggunaan kemahiran profesional dengan kecermatan dan keseksamaan
menekankan tanggung jawab setiap profesional yang bekerja dalam organisasi
auditor independen untuk mengamati standar pekerjaan lapangan dan standar
pelaporan.
02. Penggunaan kemahiran profesional dengan cermat dan seksama menyangkut apa
yang dikerjakan auditor dan bagaimana kesempurnaan pekerjaannya.
03. Seorang auditor harus memiliki “tingkat keterampilan yang umumnya dimiliki” oleh
auditor pada umumnya dan harus menggunakan keterampilan dengan “kecermatan
dan keseksamaan yang wajar”.
04. Para auditor harus ditugasi dan disupervisi sesuai dengan tingkat pengetahuan,
keterampilan, dan kemampuan sedemikian rupa sehingga mereka dapat
mengevaluasi bukti audit yang mereka periksa. Auditor dengan tanggung jawab
akhir untuk suatu perikatan harus mengetahui, pada tingkat yang minimum, standar
akuntansi dan auditing yang relevan dan harus memiliki pengetahuan tentang
kliennya. Auditor dengan tanggung jawab akhir bertanggung jawab atas penetapan
tugas dan pelaksanaan supervisi asisten.
05. Penggunaan kemahiran profesional dengan cermat dan seksama menuntut auditor
untuk melaksanakan skeptisme profesional. Skeptisme profesional adalah sikap yang
mencakup pikiran yang selalu mempertanyakan dan melakukan evaluasi secara kritis
bukti audit. Auditor menggunakan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang
dituntut oleh profesi akuntan publik untuk melaksanakan dengan cermat dan
seksama, dengan maksud baik dan integritas, pengumpulan dan penilaian bukti audit
secara objektif.
06. Pengumpulan dan penilaian bukti audit secara objektif menurut auditor
mempertimbangkan kompetensi dan kecukupan bukti karena bukti dikumpulkan dan
dinilai selama proses audit, sehingga skeptisme profesional harus digunakan selama
07. Auditor tidak menganggap bahwa manajemen adalah tidak jujur, namun dalam
menggunakan skeptisme profesional, auditor tidak harus puas dengan bukti yang
kurang persuasif karena keyakinannya bahwa manajemen adalah jujur.
08. Penggunaan kemahiran profesional dengan cermat dan seksama memungkinkan
auditor untuk memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari
salah saji material, baik yang disebabkan oleh kekeliruan atau kecurangan.
Keyakinan mutlak tidak dapat dicapai karena sifat bukti audit dan karakteristik
kecurangan tersebut. Oleh karena itu, suatu audit yang dilaksanakan berdasarkan
standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia mungkin tidak dapat
mendeteksi salah saji material.
09. Tujuan auditor independen adalah untuk memperoleh bukti kompeten yang cukup
untuk memberikan basis yang memadai baginya dalam merumuskan suatu pendapat.
Sifat sebagian bukti diperoleh, sebagian, dari konsep pengujian selektif atas data
yang diaudit, yang memerlukan pertimbangan tentang bidang yang akan diuji dan
sifat, saat, dan luasnya pengujian yang harus dilakukan. Disamping itu, pertimbangan
diperlukan dalam menafsirkan hasil pengujian audit dan penilaian bukti audit.
Meskipun dengan maksud baik dan integritas, kesalahan dan kekeliruan dalam
pertimbangan dapat terjadi. Lebih lanjut, penyajian akuntansi berisi estimasi
akuntansi, pengukuran yang mengandung ketidakpastian bawaan dan tergantung
pada hasil dari peristiwa di masa depan. Auditor menggunakan pertimbangan
profesional dalam mengevaluasi kewajaran estimasi akuntansi berdasarkan informasi
yang dapat diharapkan secara masuk akal yang tersedia sebelum penyelesaian
pekerjaan lapangan. Sebagai akibat dari faktor-faktor tersebut, dalam banyak hal,
auditor harus mempercayai bukti yang bersifat persuasif daripada yang bersifat
meyakinkan.
10. Oleh karena karakteristik kecurangan, terutama yang melibatkan penyembunyian dan
pemalsuan dokumentasi (termasuk pemalsuan dokumen), audit yang direncanakan
dan dilaksanakan semestinya mungkin tidak dapat mendeteksi salah saji material.
Sebagai contoh, suatu audit yang dilaksanakan berdasarkan standar auditing yang
ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia jarang berkaitan dengan penentuan keaslian
mendeteksi salah saji yang disengaja disembunyikan melalui kolusi diantara personel
klien dan pihak ketiga atau diantara manajemen atau karyawan klien.
11. Pendapat auditor atas laporan keuangan didasarkan pada konsep pemerolehan
keyakinan memadai, auditor bukan penjamin dan laporannya tidak merupakan suatu
jaminan. Penemuan kemudian salah saji material, yang disebabkan oleh kekeliruan
atau kecurangan, yang ada dalam laporan keuangan, tidak berarti bahwa dengan
sendirinya merupakan bukti (a) kegagalan untuk memperoleh keyakinan memadai,
(b)tidak memadainya perencanaan, pelaksanaan atau pertimbangan, (c)tidak
menggunkan kemahiran profesional dengan cermat dan seksama, atau (d)kegagalan
untuk mematuhi standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI, 2001: 230.1-230.3).
b) Standar Pekerjaan Lapangan :
Standar pekerjaan lapangan berkaitan dengan pelaksanaan pemeriksan akuntan
dilapangan (audit field work), mulai dari perencanaan audit dan supervisi, pemahaman dan
evaluasi pengendalian intern, pengumpulan bukti-bukti audit melalui compliance test,
substanstivetest, analitycal review, sampai audit field work.
1. Standar pekerjaan lapangan Ke-1:
Standar ini berisi pedoman bagi auditor dalam membuat perencanaan dan melakukan
supervisi.
2. Standar pekerjaan lapangan Ke-2:
Standar ini menjelaskan unsur-unsur pengendalian intern dan bagaimana cara auditor
mempertimbangkan pengendalian intern dalam merencanakan dan melaksanakan suatu
audit.
3. Standar pekerjaan lapangan Ke-3:
Standar ini menjelaskan mengenai cara-cara yang harus dilakukan oleh auditor dalam
mengumpulkan bahan bukti yang cukup dan kompeten untuk mendukung pendapat yang
Beberapa hal mengenai asersi dari PSA No.07 (SA Seksi 326):
Asersi (assertions) adalah pernyataan manajemen yang terkandung di dalam komponen laporan keuangan. Pernyataan tersebut dapat bersifat implisit atau eksplisit
serta dapat diklasifikasikan berdasarkan penggolongan dasar sebagai berikut ini:
a. Keberadaan atau keterjadian (existence or occurance)
b. Kelengkapan (completeness)
c. Hak dan kewaajiban (right and obligation)
d. Penilaian (evaluation) atau alokasi
e. Penyajian dan pengungkapan (presentation and disclosure)
Asersi keberadaan atau kejadian berhubungan dengan apakah aktiva atau utang satuan usaha ada pada tanggal tertentu dan apakah transaksi yang dicatat telah terjadi
selama periode tertentu.
Asersi kelengkapan berhubungan dengan apakah semua transaksi dan akun yang seharusnya disajikan dalam laporan keuangan telah dicantumkan di dalamnya.
Asersi hak dan kewajiban berhubungan dengan apakah aktiva merupakan hak perusahaan dan utang merupakan kewajiban perusahaan pada tanggal tertentu.
Asersi penilaian atau alokasi berhubungan dengan apakah komponen-komponen aktiva, kewajiban, pendapatan dan biaya sudah dicantumkan dalam laporan keuangan
pada jumlah yang semestinya.
Dalam memperoleh bukti audit yang mendukung asersi dalam laporan keuangan, auditor independen merumuskan tujuan audit spesifik ditinjau dari sudut
asersi. Untuk merumuskan tujuan audit, auditor independen hendaknya
mempertimbangkan kondisi khusus dalam perusahaan tersebut.
Auditor independen tidak perlu secara satu per satu menghubungkan tujuan audit dengan prosedur audit. Beberapa prosedur audit dapat dikaitkan dengan lebih dari satu tujuan audit. Di lain pihak, kombinasi berbagai prosedur audit dibutuhkan
c. Standar Pelaporan:
Standar pelaporan yang terdiri dari 4 standar merupakan pedoman bagi auditor
independen dalam menyusun laporan auditnya.
1. Standar pelaporan Ke-1:
Menurut PSA No.08 (SA Seksi 410):
01. Istilah prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia yang digunakan dalam
standar pelaporan pertama dimaksudkan meliputi tidak hanya prinsip dan praktik
akuntansi, tetapi juga metode penerapannya. Standar pelaporan pertama tidak
mengharuskan auditor untuk menyatakan tentang fakta, namun standar mengharuskan
auditor untuk menyatakan suatu pendapat mengenai apakah laporan keuangan telah
disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi. Jika auditor melaporkan suatu laporan
keuangan yang disusun sesuai dengan basis akuntansi komprehensif selain prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, maka standar pelaporan pertama akan
terpenuhi dengan cara mengungkapkan dalam laporan auditor bahwa laporan
keuangan telah disusun sesuai dengan basis akuntansi komprehensif selain prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia dan dengan menyatakan pendapat (atau
pernyataan tidak memberikan pendapat) apakah laporan keuangan disajikan sesuai
basis akuntansi komprehensif yang digunakan. Jika pembatasan terhadap lingkup
audit tidak memungkinkan auditor untuk memberikan pendapat mengenai kesesuaian,
maka pengecualian semestinya diperlukan dalam laporan auditnya.
02. Istilah “prinsip akuntansi yang berlaku umum” adalah padanan dari frasa “generally
accepted accounting principles” adalah suatu istilah teknis akuntansi yang mencakup
konversi, aturan, dan prosedur yang diperlukan untuk membatasi praktik akuntansi
yang berlaku umum di wilayah tertentu pada saat tertentu. Prinsip akuntansi yang
berlaku umum di suatu wilayah tertentu mungkin berbeda dengan prinsip akuntansi
yang berlaku di wilayah lain. Untuk laporan keuangan yang akan didistribusikan
kepada umum di Indonesia, harus disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum di Indonesia. Standar pelaporan pertama akan terpenuhi dengan cara
mengungkapkan dalam laporan auditor apakah laporan keuangan telah disajikan
2. Standar pelaporan Ke-2:
Menurut PSA No.09 (SA Seksi 420):
01. Tujuan standar konsistensi adalah untuk memberikan jaminan bahwa jika daya
banding laporan keuangan diantara dua periode dipengaruhi secara material oleh
perubahan prinsip akuntansi, auditor akan mengungkapkan perubahan dalam
laporannya. Juga dinyatakan secara tersirat dalam tujuan standar bahwa prinsip
akuntansi telah diamati konsistensi penerapannya dalam setiap periode akuntansi yang
bersangkutan. Standar tersebut secara tersirat mengandung arti bahwa auditor puas
bahwa daya banding laporan keuangan diantara dua periode akuntansi tidak
dipengaruhi secara material oleh perubahan prinsip akuntansi dan bahwa prinsip
akuntansi telah diterapkan secara konsisten diantara dua atau lebih periode akuntansi
baik karena (1)tidak terjadi perubahan prinsip akuntansi atau (2)terdapat perubahan
prinsip atau metode penerapannya, namun dampak perubahan prinsip akuntansi
terhadap daya banding laporan keuangan tidak material. Keadaan-keadaan tersebut
auditor tidak perlu membuat pengungkapan mengenai konsistensi dalam laporan
auditnya.
02. Penerapan semestinya standar konsistensi menuntut auditor independen untuk
memahami hubungan antara konsistensi dengan daya banding laporan keuangan.
Walaupun ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi dapat menyebabkan
kurangnya daya banding laporan keuangan, nemun faktor lain yang tidak
berhubungan dengan konsistensi dapat pula terjadi.
03. Perbandingan laporan keuangan suatu satuan usaha diantara beberapa periode dapat
dipengaruhi oleh (a)perubahan akuntansi, (b)kesalahan dalam laporan keuangan yang diterbitkan dalam periode sebelumnya, (c)perubahan penggolongan dan
(d)peristiwa atau transaksi yang sangat berbeda dengan yang dipertanggungjawabkan
dalam laporan keuangan yang disajikan dalam periode sebelumnya. Perubahan akuntansi adalah suatu perubahan dalam (1)prinsip akuntansi, (2)estimasi akuntansi, (3)entitas yang membuat laporan keuangan (yang merupakan tipe khusus perubahan
prinsip akuntansi).
04. Perubahan dalam prinsip akuntansi yang mempunyai pengaruh material atas laporan
menambahkan paragraf penjelasan disajikan setelah paragraf pendapat. Faktor-faktor
lain yang mempengaruhi daya banding laporan keuangan mungkin membutuhkan
pengungkapan, tapi tidak perlu diberi komentar dalam laporan auditor independen.
3. Standar Pelaporan Ke-3:
Menurut PSA No.10 (SA Seksi 431):
01. Penyajian laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di
Indonesia mencakup dimuatnya pengungkapan informatif yang memadai atas hal-hal
material. Hal-hal tersebut mencakup bentuk, susunan, dan isi laporan keuangan, serta
catatan atas laporan keuangan, sebagai contoh, istilah yang digunakan, rincian yang
dibuat, penggolongan unsur dalam laporan keuangan, dan dasar-dasar yang digunakan
untuk menghasilkan jumlah yang dicantumkan dalam laporan keuangan. Auditor
harus mempertimbangkan apakah masih terdapat hal-hal tertentu yang harus
diungkapkan sehubungan dengan keadaan dan fakta yang diketahuinya pada saat
audit.
02. Bila manajemen menghilangkan dari laporan keuangan, informasi yang seharusnya
diungkapkan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia,
termasuk catatan atas laporan keuangan, maka auditor harus memberikan informasi
yang cukup dalam laporannya, jika memungkinkan atau praktis; kecuali tidak
disajikan informasi tersebut adalah sesuai dengan Pernyataan Standar Auditing yang
ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. Istilah “memungkinkan atau praktis” diartikan
bahwa informasi dapat diperoleh secara wajar dari akun dan catatan manajemen dan
bahwa menyajikan informasi ynag demikian dalam laporannya tidak menempatkan
auditor sebagai pihak yang menyusun laporan keuangan.
03. Dalam mempertimbangkan cukup atau tidaknya pengungkapan segala aspek lain
auditnya, auditor menggunakan informasi yang diterima dari klien atas dasar
kepercayaan yang diberikan oleh klien, bahwa auditor akan merahasiakan informasi.
Tanpa kepercayaan, auditor akan sulit untuk memperoleh informasi yang diperlukan
untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan. Oleh karena itu, tanpa izin
kliennya, auditor tidak boleh mengungkapkan informasi yang tidak diharuskan untuk
diungkapkan dalam laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
4. Standar pelaporan Ke-4:
Tujuan standar pelaporan adalah untuk mencegah salah tafsir tingkat tanggung jawab
yang dipikul oleh akuntan bila namanya dikaitkan dengan laporan keuangan:
01. Seorang akuntan dikaitkan dengan laporan keuangan jika ia mengijinkan namanya
dicantumkan pada suatu laporan, dokumen atau komunikasi tertulis yang berisi
laporan. Bila seorang akuntan menyerahkan kepada kliennya atau pihak lain suatu
laporan keuangan yang disusunnya atau dibantu penyusunannya, ia dianggap
berkaitan dengan laporan keuangan.Walau akuntan dapat berpartisipasi dalam
penyusunan laporan keuangan, laporan keuangan merupakan representasi manajemen,
dan kewajaran penyajiannya sesuai prinsip akuntansi yang berlaku umum merupakan
tanggung jawab manajemen.
02. Akuntan dapat dikaitkan dengan laporan keuangan yang diaudit atau yang tidak
diaudit. Laporan keuangan disebut telah diaudit bila akuntan telah menerapkan
prosedur auditing yang cukup memungkinkannya melaporkan laporan tersebut
sebagaimana dijelaskan dalam SA Seksi 508 (PSA No.29), Laporan Auditor atas
Laporan Keuangan Auditan. Laporan keuangan (informasi keuangan) interim entitas
publik yang tidak diaudit disebut sebagai di review bila akuntan menerapkan prosedur
yang memungkinkannya untuk menyatakan pendapat atas laporan (informasi)
sebagaimana dijelaskan dalam SAT Seksi 400 (PSAT No.01), Informasi keuangan
interim.
2.4 KODE ETIK AKUNTAN INDONESIA
Kode Etik Akuntan Indonesia adalah pedoman bagi para anggota Ikatan Akuntan Indonesia untuk bertugas secara bertanggung jawab dan objektif.
Rumusan Kode Etik saat ini sebagian besar dari rumusan kode etik yang dihasilkan dalam
kongres ke-6 Ikatan Akuntan Indonesia dan ditambah dengan masukan-masukan yang
diperoleh dari Seminar Sehari Pemutakhiran Kode Etik Akuntan Indonesia tanggal 15 Juni
1994 di Hotal Daichi Jakarta serta hasil pembahasan Sidang Komite Kode Etik Akuntan
MODUL APLIKASI KOMPUTERISASI AUDITING
BAB II STANDAR PROFESIONAL AKUNTAN PUBLIK DAN KODE ETIK AKUNTAN INDONESIA
40
4. Standar pelaporan Ke-4:
Tujuan standar pelaporan adalah untuk mencegah salah tafsir tingkat tanggung jawab yang dipikul oleh akuntan bila namanya dikaitkan dengan laporan keuangan:
01. Seorang akuntan dikaitkan dengan laporan keuangan jika ia mengijinkan namanya dicantumkan pada suatu laporan, dokumen atau komunikasi tertulis yang berisi laporan. Bila seorang akuntan menyerahkan kepada kliennya atau pihak lain suatu laporan keuangan yang disusunnya atau dibantu penyusunannya, ia dianggap berkaitan dengan laporan keuangan.Walau akuntan dapat berpartisipasi dalam penyusunan laporan keuangan, laporan keuangan merupakan representasi manajemen, dan kewajaran penyajiannya sesuai prinsip akuntansi yang berlaku umum merupakan tanggung jawab manajemen.
02. Akuntan dapat dikaitkan dengan laporan keuangan yang diaudit atau yang tidak diaudit. Laporan keuangan disebut telah diaudit bila akuntan telah menerapkan prosedur auditing yang cukup memungkinkannya melaporkan laporan tersebut sebagaimana dijelaskan dalam SA Seksi 508 (PSA No.29), Laporan Auditor atas Laporan Keuangan Auditan. Laporan keuangan (informasi keuangan) interim entitas publik yang tidak diaudit disebut sebagai di review bila akuntan menerapkan prosedur yang memungkinkannya untuk menyatakan pendapat atas laporan (informasi) sebagaimana dijelaskan dalam SAT Seksi 400 (PSAT No.01), Informasi keuangan interim.
2.4 KODE ETIK AKUNTAN INDONESIA
Kode Etik Akuntan Indonesia adalah pedoman bagi para anggota Ikatan Akuntan Indonesia untuk bertugas secara bertanggung jawab dan objektif.
2.4.1 PERNYATAAN ETIKA PROFESI
Saat itu Kode Etik Akuntan Indonesia terdiri atas delapan (8) bab (11pasal) dan enam (6)pernyataan etika profesi. Pernyataan tersebut adalah:
1. Pernyataan etika profesi Nomor 1 tentang INTEGRITAS, OBJEKTIVITAS DAN INDENPENDENSI.
2. Pernyataan etika profesi Nomor 2 tentang KECAKAPAN PROFESIONAL.
3. Pernyataan etika profesi Nomor 3 tentang PENGUNGKAPAN INFORMASI RAHASIA KLIEN.
4. Pernyataan etika profesi Nomor 4 tentang IKLAN BAGI KANTOR AKUNTAN PUBLIK.
5. Pernyataan etika profesi Nomor 5 tentang KOMUNIKASI ANTAR AKUNTAN PUBLIK.
6. Pernyataan etika profesi Nomor 6 tentang PERPINDAHAN STAFF/PARTNER DARI SATU KANTOR AKUNTAN KE KANTOR AKUNTAN LAIN.
Dalam Kongres ke 7 Ikatan Akuntan Indonesia yang diadakan di Jakarta bulan September 1998 diadakan beberapa perubahan mengenai Kode Etik, antara lain:
o Komite Kode Etik tidak ada lagi di Struktur Organisasi IAI. o Rerangka Kode Etik IAI menjadi:
Prinsip Etika. Aturan Etika.
Interprestasi Aturan Etika. Tanya dan Jawab.
Keterangan:
Prinsip Etika mengikat seluruh anggota IAI, dan merupakan produk kongres.
Aturan Etika mengikat kepada anggota kompartemen dan merupakan produk Rapat Anggota Kompartemen. Aturan Etika tidak boleh bertentangan dengan Prinsip Etika.
MODUL APLIKASI KOMPUTERISASI AUDITING
BAB II STANDAR PROFESIONAL AKUNTAN PUBLIK DAN KODE ETIK AKUNTAN INDONESIA
42
Pernyataan Etika Profesi yang berlaku saat ini dapat dipakai sebagai interpretasi dan atau Aturan Etika sampai dikeluarkannya aturan dan interpretasi baru untuk menggantikannya.
o Prinsip Etika Profesi, yang merupakan landasan perilaku etika profesional, terdiri dari 8
prinsip yaitu:
1. Tanggung Jawab Profesi 2. Kepentingan Umum (Publik) 3. Integritas
4. Obyektifitas
5. Kompetensi dan kehati-hatian Profesional 6. Kerahasiaan
Gambar 2.3. Rerangka Kode Etik IAI
Sumber: SPAP IAI 2001:20000.7
RAPAT ANGGOTA KAP
Tanggung jawab profesi Kepentingan Umum (Publik)
MODUL APLIKASI KOMPUTERISASI AUDITING
BAB II STANDAR PROFESIONAL AKUNTAN PUBLIK DAN KODE ETIK AKUNTAN INDONESIA
44
2.4.3 ATURAN ETIKA KOMPARTEMEN AKUNTAN PUBLIK
Aturan etika kompartemen akuntan publik (IAI, 20000.1-20000.6):
KETERTERAPAN (APPLICABILITY)
Aturan Etika ini harus diterapkan oleh anggota Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Publik (KAP) dan staf professional (baik yang anggota IAI-KAP maupun yang bukan anggota IAI-IAI-KAP (yang bekerja pada satu Kantor Akuntan Publik (KAP). Rekan pimpinan KAP bertanggung jawab atas ditaatinya aturan etika oleh anggota KAP.
DEFINISI/PENGERTIAN
Klien adalah pemberi kerja (orang atau badan), yang mempekerjakan atau menugaskan seseorang atau lebih anggota IAI-KAP atau KAP tempat anggota bekerja untuk melaksanakan jasa profesional. Istilah pemberi kerja untuk tujuan ini tidak termasuk orang atau badan yang mempekerjakan anggota.
Laporan Keuangan adalah suatu penyajian data keuangan termasuk catatan yang menyertainya, bila ada, yang dimaksudkan untuk mengkomunikasikan sumber daya ekonomi (aktiva) dan/atau kewajiban suatu entitas pada saat tertentu atau perubahan atas aktiva dan/atau kewajiban selam suatu periode tertentu sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum atau basis akuntansi komprehensif selain prinsip akuntansi yang berlaku umum. Data keuangan lainnya yang digunakan untuk mendukung rekomendasi kepada klien atau yang terdapat dalam dokumen untuk suatu pelaporan yang diatur dalam standar atestasi dalam perikatan atestasi, dan surat pemberitahuan tahunan pajak (SPT) serta daftar-daftar pendukungnya bukan merupakan laporan keuangan. Pernyataan, surat kuasa atau tanda tangan pembuat SPT tidak merupakan pernyataan pendapat atas laporan keuangan.
Kantor Akuntan Publik (KAP) adalah suatu bentuk organisasi akuntan publik yang memperoleh izin sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berusaha dibidang pemberian jasa profesional dalam praktik akuntan publik.
wadah organisasi para akuntan Indonesia yang menjalankan profesi sebagai akuntan publik atau bekerja di kantor akuntan publik.
Anggota adalah semua anggota IAI-KAP.
Anggota Kantor Akuntan Publik (anggota KAP) adalah anggota IAI-KAP dan staf profesional (baik anggota IAI-KAP maupun yang bukan anggota IAI-KAP) yang bekerja pada satu KAP.
Akuntan Publik adalah akuntan yang memiliki izin dari Menteri Keuangan atau pejabat yang berwenang lainnya untuk menjalankan praktik akuntan publik.
Praktik akuntan publik adalah pemberian jasa profesional kepada klien yang dilakukan oleh anggota IAI-KAP yang dapat berupa jasa audit, jasa atestasi, jasa akuntansi dan review, perpajakan, perencanaan keuangan perorangan, jasa pendukung litigasi, dan jasa lain yang diatur Standar Profesional Akuntan Publik:
100 INDEPENDENSI, INTEGRITAS, DAN OBJEKTIFITAS 101 Independensi
Dalam menjalankan tugasnya, anggota KAP harus selalu mempertahankan sikap mental independen di dalam memberikan jasa profesional sebagaimana diatur dalam standar profesional akuntan publik yang ditetapkan oleh IAI. Sikap mental independensi harus meliputi independen dalam fakta (in fact) maupun dalam penampilan (in appearance).
102 Integritas dan Objektifitas
Dalam menjalankan tugasnya, anggota KAP harus mempertahankan integritas dan objektivitas, harus bebas dari benturan kepentingan (conflict of interest) dan tidak boleh membiarkan faktor salah saji material (material misstatement) yang diketahuinya atau mengalihkan (mensubordinasikan) pertimbangannya kepada pihak lain.
200 STANDAR UMUM DAN PRINSIP AKUNTANSI 201 Standar Umum
MODUL APLIKASI KOMPUTERISASI AUDITING
BAB II STANDAR PROFESIONAL AKUNTAN PUBLIK DAN KODE ETIK AKUNTAN INDONESIA
46
A. Kompetensi profesional. Anggota KAP hanya boleh melakukan pemberian jasa profesional yang secara layak (reasonable) diharapkan dapat diselesaikan dengan kompetensi profesional.
B. Kecermatan dan keseksamaan profesional. Anggota KAP wajib melakukan pemberian jasa profesional dengan kecermatan dan keseksamaan profesional.
C. Perencanaan dan supervisi. Anggota KAP wajib merencanakan dan mensupervisi secara memadai setiap pelaksanaan pemberian jasa profesional.
D. Data relevan yang memadai. Anggota KAP wajib memperoleh data relevan yang memadai untuk menjadi dasar yang layak bagi simpulan atau rekomendasi sehubungan dengan pelaksanaan jasa profesionalnya.
202 Kapatuhan terhadap Standar
Anggota KAP yang melaksanakan penugasan jasa auditing, atestasi, review, kompilasi, konsultasi manajemen, perpajakan, atau jasa profesional lainnya wajib mematuhi standar yang dikeluarkan oleh badan pengatur standar yang ditetapkan oleh IAI.
203 Prinsip-prinsip Akuntansi
Anggota KAP tidak diperkenankan:
(1) Menyatakan pendapat atau memberikan penegasan bahwa laporan keuangan atau data keuangan lain suatu entitas disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum atau.
3.1 LAPORAN AKUNTAN
Pada akhir pemeriksaannya, dalam pemeriksaan umum (general audit), KAP akan memberikan suatu laporan akuntan yang terdiri dari:
a. Lembaran opini, yang merupakan tanggung jawab akuntan publik, dimana akuntan
publik memberikan pendapatnya terhadap kewajaran laporan keuangan yang disusun
oleh manajemen dan merupakan tanggung jawab manajemen.
b. Laporan keuangan, yang terdiri dari:
Neraca
Laporan Laba-Rugi
Laporan Perubahan Ekuitas Laporan Arus Kas
Catatan atas Laporan Keuangan, yang antara lain berisi: bagian umum (menjelaskan latar belakang perusahaan), kebijakan akuntansi dan penjelasan atas pos-pos neraca dan laba rugi.
Informasi tambahan berupa lampiran mengenai perincian pos-pos yang penting seperti perincian piutang, aktiva tetap, hutang, beban umum dan administrasi serta beban penjualan.
Tanggal laporan akuntan harus sama dengan laporan selesainya pekerjaan lapangan
dan tanggal surat pernyataan langganan, karena menunjukan sampai tanggal berapa
akuntan bertanggung jawab untuk menjelaskan hal-hal penting yang terjadi. Jika
sesudah tanggal selesainya pekerjaan lapangan (audit field work), terjadi peristiwa penting yang jumlahnya material dan mempunyai pengaruh terhadap laporan
keuangan yang diperiksa, dan saat itu laporan audit belum dikeluarkan, auditor harus
Tujuan Khusus Pembelajaran:
1. Mengenal Laporan Akuntan dan Jenis-jenis Laporan Akuntan.
2. Bisa membuat Pendapat Akuntan dari beberapa jenis. 3. Mengetahui hubungan Laporan Auditor Independen
dengan Pendapat Akuntan.
MODUL APLIKASI KOMPUTERISASI AUDITING BAB III LAPORAN AKUNTAN
56
menjelaskan kejadian penting tersebut dalam catatan atas laporan keuangan dan
lembaran opini. Untuk tanggal laporan akuntan mempunyai dua tanggal (dual dating), ke-1 tanggal selesainya pemeriksaan lapangan, ke-2 tanggal terjadinya peristiwa penting tersebut.
3.2 JENIS-JENIS LAPORAN AKUNTAN 3.2.1 Laporan Auditor Bentuk Baku
Laporan auditor bentuk baku harus menyebutkan laporan keuangan yang diaudit
dalam paragraf pengantar, menggambarkan sifat audit dalam paragraf lingkup audit, dan
menyatakan pendapat auditor dalam paragraf pendapat. Untuk laporan auditor bentuk
baku bisa digunakan untuk satu kesatuan utuh laporan keuangan atau komparatif.
Unsur pokok laporan auditor bentuk baku adalah: a. Suatu judul yang memuat kata independen
b. Suatu pernyataan bahwa laporan keuangan yang disebutkan dalam laporan auditor
telah diaudit oleh auditor.
c. Suatu pernyataan bahwa laporan keuangan adalah tanggung jawab manajemen
perusahaan dan tanggung jawab auditor terletak pada pernyataan pendapat atas
laporan keuangan berdasarkan atas auditnya.
d. Suatu pernyataan bahwa audit dilaksanakan berdasarkan standar auditing yang
ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia.
e. Suatu pernyataan bahwa standar auditing mengharuskan auditor merencanakan dan
melaksanakan auditnya agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan
keuangan bebas dari salah saji material.
f. Suatu pernyataan bahwa audit meliputi:
(1)Pemeriksaan (examination), atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan.
(2)Penentuan prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi-estimasi signifikan
yang dibuat manajemen.
(3)Penilaian penyajian laporan keuangan secara keseluruhan.
g. Suatu pernyataan bahwa auditor yakin bahwa audit yang dilaksanakan memberikan
semua hal yang material, posisi keuangan perusahaan keuangan pada tanggal neraca
dan hasil usaha dan arus kas untuk periode yang berakhir pada tanggal sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
i. Tanda tangan, nama rekan, nomor izin akuntan publik, nomor izin usaha kantor
akuntan publik.
j. Tanggal laporan auditor.
Berikut ini adalah “Contoh Laporan Auditor Bentuk Baku”:
Laporan Auditor Independen
No. : A01/II/KAK/04 Tanggal : 20 Januari 2004
Kepada Yth,
Direksi dan Dewan Komisaris PT MQ PRODUCTION Jl Gegerkalong Girangr No.03 Bandung
Kami telah mengaudit neraca PT MQ PRODUCTION tanggal 31 Desember 2003 serta laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Laporan keuangan adalah tanggung jawab manajemen perusahaan. Tanggung jawab kami terletak pada pernyataan pendapat atas lapora keuangan berdasarkan audit kami.
Kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami merencanakan dan melaksanakan audit agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Audit juga meliputi penilaian atas standar akuntansi keuangan yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Kami yakin bahwa audit kami memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat.
Menurut pendapat kami, laporan keuangan yang kami sebut diatas menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan PT MQ PRODUCTION tanggal 31 Desember 2003, dan hasil usaha, perubahan ekuitas serta arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
Kantor Akuntan Publik Dra. Astrid Krisanti, MM
(Dra. Astrid Krisanti) Reg. Neg. D-241188
MODUL APLIKASI KOMPUTERISASI AUDITING BAB IV PENGENDALIAN INTERN 75
PENGENDALIAN INTERN
(
INTERNAL CONTROL
)
4.1 PENGERTIAN PENGENDALIAN INTERN
Istilah yang biasa dipakai untuk pengendalian intern adalah sistem pengendalian
intern, sistem pengawasan intern, dan struktur pengendalian intern. Mulai tahun 2001
istilah resmi yang digunakan IAI adalah pengendalian intern. Standar Pekerjaan
Lapangan Yang Kedua menyebutkan (IAI, 2001: 150.1):
“
”.
IAI (2001: 319.2) mendefinisikan: “Pengendalian intern sebagai suatu pr