• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persepsi Masyarakat Terhadap Dinamika Pembangunan Kampung Nelayan Belawan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Persepsi Masyarakat Terhadap Dinamika Pembangunan Kampung Nelayan Belawan"

Copied!
144
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS

OLEH

DAMOZ HUTAGALUNG

127020001/AR

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

TESIS

Untuk Memperoleh Gelar Magister Teknik

Dalam Program Studi Teknik Arsitektur

Pada Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

Oleh

DAMOZ HUTAGALUNG

127020001/AR

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

KAMPUNG NELAYAN BELAWAN

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah

diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan

sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah

ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam

naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, 20 Agustus 2014

(4)

Nomor Pokok : 127020001

Program Studi : TEKNIK ARSITEKTUR

Bidang Kekhususan : MANAJEMEN PEMBANGUNAN KOTA

Menyetujui Komisi Pembimbing,

Dr. Ir. Bauni Hamid, M.DesS

Ketua Anggota

Ir. Nurlisa Ginting, M.Sc, PhD

Ketua Program Studi, Dekan,

Dr. Ir. Dwira Nirfalini Aulia, M.Sc Prof. Dr. Ir. Bustami Syam, M.S.M.E

(5)

Panitia Penguji Tesis

Ketua Komisi Penguji : Ir. Bauni Hamid, M.DesS, PhD

Anggota Komisi Penguji : 1. Ir. Nurlisa Ginting, M.Sc, PhD

2. Ir. Samsul Bahri, MT

3. Salmina Ginting, ST, MT

(6)

dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin. Namun pada saat yang sama juga terjadi resistensi penerimaan maupun pemanfaatan pembangunan itu sendiri yang mana sebagian dari pembangunan tersebut masih dieksekusi secara

top down tanpa memperhatikan pentingnya terlebih dahulu untuk memahami persepsi masyarakat akan pembangunan. Persepsi masyarakat terhadap pembangunan sangat penting karena merupakan salah satu faktor kunci dalam penerimaan pembangunan. Penelitian ini dilakukan pada permukiman nelayan di Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan. Ragam pembangunan di Kampung Nelayan antara lain pembangunan jalan setapak rabat beton, pembangunan sumur bor, pembangunan posyandu kesehatan, pembangunan WC umum dan pembangunan kebersihan sampah lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah menemukan pola persepsi masyarakat terhadap usaha usaha pembangunan yang sudah pernah dilakukan dan juga menemukan pengaruh faktor pengetahuan dan kebutuhan dalam pembentukan persepsi masyarakat berkenaan dengan pembangunan tersebut.

Penelitian bersifat deskriptif kualitatif yang didukung deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui pengumpulan data primer berupa observasi lapangan, wawancara, kuisioner dan pengumpulan data sekunder. Metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis kualitatif untuk menemukan pengaruh faktor pengetahuan dan kebutuhan dalam pembentukan persepsi masyarakat.

Hasil penelitian menunjukkan persepsi masyarakat cukup beragam dalam menyatakan pendapatnya terhadap berbagai pembangunan di Kampung Nelayan. Terhadap pembangunan jalan setapak rabat beton dan pembangunan sumur bor terdapat bentukan persepsi yang terbangun secara umum pada masyarakat Kampung Nelayan. Sejumlah 80% masyarakat menyatakan pembangunan jalan setapak rabat beton cukup baik dan demikian juga terhadap pembangunan sumur bor sejumlah 72% masyarakat menyatakan cukup baik. Tidak terdapat bentukan pendapat yang menjadi pola umum persepsi masyarakat terhadap pembangunan posyandu, WC umum dan kebersihan sampah dimana pola persebaran pendapat tersebar cukup merata. Pada analisis hubungan pengetahuan dan kebutuhan terhadap pembentukan persepsi masyarakat diperoleh hasil, terdapat hubungan antara pengetahuan dan kebutuhan terhadap pembentukan persepsi masyarakat akan pembangunan jalan setapak rabat beton dan pembangunan sumur bor, terdapat hubungan antara kebutuhan terhadap pembentukan persepsi masyarakat akan pembangunan posyandu, tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dan kebutuhan terhadap pembentukan persepsi masyarakat akan pembangunan WC umum dan kebersihan sampah.

(7)

attention to the people’s perception on the development. This perception is very important because it is one of the key factors in accepting the development. The research was conducted at Kelurahan Belawan I, Medan Belawan Subdistrict, Medan. The types of development at Kampung Nelayan were concrete rebate footpath, the construction of drilled wells, the construction of posyadu, the construction of public toilets, and the construction of garbage dumps. The objective of the research was to find out the pattern of public perception on the development which had been done and to find out the factors of knowledge and need in shaping public perception related to the development.

The research was descriptive qualitative, supported by descriptive quantitative. The data consisted of primary data which were gathered by conducting field observation, interviews, questionnaires, and gathering secondary data and analyzed qualitatively in order to find out the influence of the factors of knowledge and need on the shaping of public perception.

The result of the research showed that there were various public perceptions on the development at Kampung Nelayan. There was general public perception on the construction of concrete rebate footpaths and the construction of drilled wells at Kampung Nelayan. 80% of the respondents stated that the construction of concrete rebate footpaths was good, and 72% of them stated that the construction of drilled wells was good. There was no opinion which became the general pattern of public perception on the construction of public toilets and public toilets since the distributed pattern was distributed evenly. From the analysis of the correlation of knowledge and need with the shaping of public perception, it was found that there was the correlation of knowledge and need with the shaping of public perception on the construction of concrete rebate footpaths and drilled wells, there was the correlation between need and the shaping of public perception on the construction of posyandu, there was no correlation of knowledge and need with the shaping of public perception on the construction of public toilets and garbage dumps.

(8)

kemudahan bagi penyelesaian tesis ini dengan judul “ Persepsi Masyarakat Terhadap Dinamika Pembangunan Kampung Nelayan Belawan “ yang merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan dan menempuh studi pada Program Magister Teknik

Arsitektur, dengan konsentrasi Manajemen Pembangunan Kota, Universitas Sumatera

Utara Medan.

Penulis menyadari dalam penyelesaian tesis ini banyak melibatkan bantuan

maupun dukungan dari berbagai pihak berupa sumbangan saran dan pemikiran. Pada

kesempata ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

Ibu Dr. Ir. Dwira Nirfalini Aulia, M.Sc selaku Ketua Program Studi, Ibu Beny O.Y

Marpaung, ST, MT, PhD selaku Sekretaris Program Studi, Bapak Ir. Bauni Hamid,

M.DesS, PhD selaku pembimbing utama, Ibu Ir. Nurlisa Ginting, M.Sc selaku

pembimbing pendamping, Bapak dan Ibu penguji yang memberikan saran dan kritik

membangun, Keluarga yang saya cintai khususnya kepada Ibunda Dr. dr Diana

Sinulingga, M.Si dan Istri Nurul Yanni S.Psi yang penulis banggakan dan semua

pihak yang telah membantu dalam penyelesaian tesis ini yang tidak dapat penulis

sebutkan satu persatu.

Penulis menyadari di dalam penulisan tesis ini masih jauh dari kesempurnaan,

oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan

demi sempurnanya penelitian ini.

Medan, 20 Agustus 2014

(9)

Merupakan anak kedua dari tiga beraudara. Pendidikan dasar

(SD) ditempuh di SD Harapan 1 Medan dan lulus tahun 1992.

Jenjang pendidikan selanjutnya ditempuh di SMP Harapan 1

Medan dan lulus tahun 1995, kemudian dilanjutkan ke SMAN 1

Medan dan lulus tahun 1998. Pendidikan tinggi Sarjana (S1)

ditempuh di Universitas Sumatera Utara pada Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Sipil

dan lulus tahun 2005. Tahun 2005 – 2007 bekerja sebagai karyawan PT. Bank Sumut

di Medan. Tahun 2007 – 2009 bekerja sebagai karyawan PT. Bank Danamon di

Medan. Tahun 2009 diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di

Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara dan ditempatkan di Dinas Pekerjaan Umum

Kabupaten Deli Serdang. Selanjutnya pada tahun 2010 diangkat sebagai Pegawai

Negeri dan ditempatkan pada instansi yang sama. Pendidikan dan pelatihan yang

pernah diikuti antar lain Diklat Preservasi Bangunan Jembatan, Diklat Penyusunan

Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi, Diklat Pengadaan Barang dan Jasa.

Pada tahun 2012 berkesempatan unuk menempuh pendidikan Pascasarjana (S2) di

(10)

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR TABEL ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 4

1.3 Pembatasan Masalah ... 4

1.4 Tujuan Penelitian ... 5

1.5 Manfaat Penelitian ... 5

1.6 Sistematika Penulisan ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8

2.1 Persepsi ... 8

2.1.1 Defenisi ... 8

(11)

2.3.1 Pengertian pembangunan ... 15

2.3.2 Stakeholder dalam pembangunan ... 17

2.3.3 Persepsi masyarakat dalam pembangunan ... 19

2.4 Pengetahuan ... 20

2.5 Kebutuhan ... 23

2.6 Kampung Nelayan ... 23

BAB III METODE PENELITIAN ... 29

3.1 Jenis Penelitian ... 29

3.2 Lokasi Penelitian ... 29

3.3 Populasi dan Sampel ... 30

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 31

3.5 Metode Analisa Data ... 33

BAB IV GAMBARAN UMUM KAWASAN ... 36

4.1 Kawasan Penelitian ... 36

4.2 Pembangunan Jalan Setapak Rabat Beton ... 39

4.3 Pembangunan Sumur Bor ... 42

4.4 Pembangunan Sarana Posyandu ... 45

4.5 Pembangunan WC Umum ... 47

(12)

5.3 Kajian Pengetahuan Terhadap Persepsi Masyarakat ... 56

5.3.1 Kajian pengetahuan jalan setapak rabat beton ... 56

5.3.2 Kajian pengetahuan sumur bor ... 58

5.3.3 Kajian pengetahuan posyandu kesehatan ... 61

5.3.4 Kajian pengetahuan WC umum ... 64

5.3.5 Kajian pengetahuan kebersihan sampah dan lingkungan ... 66

5.4 Kajian Kebutuhan Terhadap Persepsi Masyarakat ... 68

5.4.1 Kajian kebutuhan jalan setapak rabat beton ... 68

5.4.2 Kajian kebutuhan sumur bor ... 71

5.4.3 Kajian kebutuhan posyandu kesehatan ... 72

5.4.4 Kajian kebutuhan WC umum ... 74

5.4.5 Kajian kebutuhan kebersihan sampah dan lingkungan ... 76

BAB VI PENUTUP ... 79

6.1 Kesimpulan ... 79

6.2 Rekomendasi ... 81

(13)

2.1 Proses Terjadinya Persepsi ... 10

2.2 Model Penelitian ... 26

4.1 Kampung Nelayan di Propinsi Sumatera Utara ... 36

4.2 Letak Kampung Nelayan di Kota Medan ... 37

4.3 Kampung Nelayan terdiri dari 5 Blok ... 39

4.4 Peta Jaringan Jalan Kampung Nelayan ... 39

4.5 Pembangunan Jalan Setapak Rabat Beton Kampung Nelayan ... 41

4.6 Pembangunan Sumur Bor Kampung Nelayan ... 43

4.7 Peta Lokasi Sumur Bor ... 44

4.8 Pembangunan Posyandu Kampung Nelayan ... 47

4.9 Peta Lokasi Posyandu ... 47

4.10 Pembangunan WC Umum Kampung Nelayan ... 48

4.11 Peta Lokasi WC Umum ... 49

(14)

2.1 Faktor yang Mempengaruhi Persepsi ... 14

2.2. Simpulan Teori ... 27

5.1 Distribusi Frekuensi Responden ... 53

5.2 Distribusi Pengetahuan Jalan Setapak Rabat Beton ... 56

5.3 Persepsi Terhadap Jalan Setapak Rabat Beton ... 57

5.4 Distribusi Pengetahuan Sumur Bor ... 58

5.5 Persepsi Terhadap Sumur Bor ... 60

5.6 Distribusi Pengetahuan Posyandu Kesehatan ... 61

5.7 Persepsi Terhadap Posyandu Kesehatan ... 63

5.8 Distribusi Pengetahuan WC Umum ... 64

5.9 Persepsi Terhadap WC Umum ... 65

5.10 Distribusi Pengetahuan Kebersihan Sampah Lingkungan .. 66

5.11 Persepsi Terhadap Kebersihan Sampah Lingkungan ... 67

5.12 Distribusi Kebutuhan Kebersihan Jalan Setapak Rabat Beton ... 68

5.14 Distribusi Kebutuhan Sumur Bor ... 71

5.16 Distribusi Kebutuhan Posyandu ... 73

5.18 Distribusi Kebutuhan WC Umum ... 75

(15)

dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin. Namun pada saat yang sama juga terjadi resistensi penerimaan maupun pemanfaatan pembangunan itu sendiri yang mana sebagian dari pembangunan tersebut masih dieksekusi secara

top down tanpa memperhatikan pentingnya terlebih dahulu untuk memahami persepsi masyarakat akan pembangunan. Persepsi masyarakat terhadap pembangunan sangat penting karena merupakan salah satu faktor kunci dalam penerimaan pembangunan. Penelitian ini dilakukan pada permukiman nelayan di Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan. Ragam pembangunan di Kampung Nelayan antara lain pembangunan jalan setapak rabat beton, pembangunan sumur bor, pembangunan posyandu kesehatan, pembangunan WC umum dan pembangunan kebersihan sampah lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah menemukan pola persepsi masyarakat terhadap usaha usaha pembangunan yang sudah pernah dilakukan dan juga menemukan pengaruh faktor pengetahuan dan kebutuhan dalam pembentukan persepsi masyarakat berkenaan dengan pembangunan tersebut.

Penelitian bersifat deskriptif kualitatif yang didukung deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui pengumpulan data primer berupa observasi lapangan, wawancara, kuisioner dan pengumpulan data sekunder. Metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis kualitatif untuk menemukan pengaruh faktor pengetahuan dan kebutuhan dalam pembentukan persepsi masyarakat.

Hasil penelitian menunjukkan persepsi masyarakat cukup beragam dalam menyatakan pendapatnya terhadap berbagai pembangunan di Kampung Nelayan. Terhadap pembangunan jalan setapak rabat beton dan pembangunan sumur bor terdapat bentukan persepsi yang terbangun secara umum pada masyarakat Kampung Nelayan. Sejumlah 80% masyarakat menyatakan pembangunan jalan setapak rabat beton cukup baik dan demikian juga terhadap pembangunan sumur bor sejumlah 72% masyarakat menyatakan cukup baik. Tidak terdapat bentukan pendapat yang menjadi pola umum persepsi masyarakat terhadap pembangunan posyandu, WC umum dan kebersihan sampah dimana pola persebaran pendapat tersebar cukup merata. Pada analisis hubungan pengetahuan dan kebutuhan terhadap pembentukan persepsi masyarakat diperoleh hasil, terdapat hubungan antara pengetahuan dan kebutuhan terhadap pembentukan persepsi masyarakat akan pembangunan jalan setapak rabat beton dan pembangunan sumur bor, terdapat hubungan antara kebutuhan terhadap pembentukan persepsi masyarakat akan pembangunan posyandu, tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dan kebutuhan terhadap pembentukan persepsi masyarakat akan pembangunan WC umum dan kebersihan sampah.

(16)

attention to the people’s perception on the development. This perception is very important because it is one of the key factors in accepting the development. The research was conducted at Kelurahan Belawan I, Medan Belawan Subdistrict, Medan. The types of development at Kampung Nelayan were concrete rebate footpath, the construction of drilled wells, the construction of posyadu, the construction of public toilets, and the construction of garbage dumps. The objective of the research was to find out the pattern of public perception on the development which had been done and to find out the factors of knowledge and need in shaping public perception related to the development.

The research was descriptive qualitative, supported by descriptive quantitative. The data consisted of primary data which were gathered by conducting field observation, interviews, questionnaires, and gathering secondary data and analyzed qualitatively in order to find out the influence of the factors of knowledge and need on the shaping of public perception.

The result of the research showed that there were various public perceptions on the development at Kampung Nelayan. There was general public perception on the construction of concrete rebate footpaths and the construction of drilled wells at Kampung Nelayan. 80% of the respondents stated that the construction of concrete rebate footpaths was good, and 72% of them stated that the construction of drilled wells was good. There was no opinion which became the general pattern of public perception on the construction of public toilets and public toilets since the distributed pattern was distributed evenly. From the analysis of the correlation of knowledge and need with the shaping of public perception, it was found that there was the correlation of knowledge and need with the shaping of public perception on the construction of concrete rebate footpaths and drilled wells, there was the correlation between need and the shaping of public perception on the construction of posyandu, there was no correlation of knowledge and need with the shaping of public perception on the construction of public toilets and garbage dumps.

(17)

1.1 Latar Belakang

Kampung Nelayan Belawan merupakan perkampungan yang terletak di

Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan. Perkampungan ini

dihuni sekitar 800 Kepala Keluarga (KK) dengan mata pencaharian utama bekerja

sebagai nelayan. Dalam beberapa tahun terakhir terdapat berbagai proses

pembangunan yang menjadi dinamika pembangunan di Kampung Nelayan, baik

pembangunan yang merupakan swadaya masyarakat ataupun pembangunan yang

dilakukan oleh pemerintah dan pihak lain. Pembangunan yang dilakukan oleh pihak

swasta biasanya merupakan sumbangan pembangunan sebagai bentuk corporate social responsibility di Kampung Nelayan ataupun sumbangan dari berbagai kalangan pengusaha. Sebagian dari usaha pembangunan tersebut belum dipergunakan secara

maksimal atau dapat dirasakan manfaatnya, seperti pendirian pos kesehatan

masyarakat oleh PT. Pertamina namun sebagian besar masyarakat masih belum

menggunakan fasilitas kesehatan tersebut untuk kegiatan berobat atau seperti

penyuluhan kebersihan lingkungan yang dilakukan kelompok mahasiswa kedokteran

Universitas Sumatera Utara namun belum terlihat dampak perbaikan yang cukup

signifikan dimana saat ini permukiman Kampung Nelayan masih tergolong

permukiman kumuh. Hal ini dapat terjadi salah satunya dikarenakan kurangnya

(18)

Persepsi masyarakat terhadap pembangunan sangat penting karena merupakan salah

satu faktor kunci dalam penerimaan pembangunan.

Persepsi masyarakat terhadap suatu pembangunan merupakan landasan atau

dasar utama bagi timbulnya kesediaan untuk ikut terlibat dan berperan aktif dalam

setiap kegiatan pembangunan tersebut. Makna positif atau negatif sebagai hasil

persepsi seseorang terhadap pembangunan akan menjadi pendorong atau penghambat

baginya untuk berperan dalam kegiatannya. Persepsi positif masyarakat dapat

mendorong terjadinya partisipasi aktif dalam kegiatan pembangunan sebaliknya

persepsi negatif memungkinkan timbulnya partisipasi semu atau bahkan resistensi

pembangunan di masyarakat. Keadaan yang demikian itu bila sering terjadi maka

akan berakibat kurang lancarnya kegiatan sesuai dengan rencana sehingga

menyulitkan usaha pencapaian tujuan pembangunan dan dapat berimplikasi kepada

hasil pembangunan yang berkurang manfaatnya.

Pada akhir tahun 2012 PT. Perkebunan Nusantara III (PTPN III) menyerahkan

bantuan berupa 10 unit sumur bor dan 5 unit WC umum dan pada saat bersamaan

juga dilakukan kegiatan bakti sosial perbaikan jalan kayu oleh para ibu ibu IIP

BUMN (Ikatan Istri Pimpinan) wilayah Sumatera Utara. PT. Perkebunan Nusantara

IV (PTPN IV) turut menyerahkan bantuan berupa papan jalan dan pembuatan

lapangan upacara sekolah dasar. Selain itu, perusahaan yang secara kawasan

bersinggungan langsung dengan Kampung Nelayan, yaitu PT. Pelabuhan Indonesia

(PELINDO), memberikan bantuan berupa beasiswa pendidikan kepada anak anak

(19)

kesehatan masyarakat (Sehati) memberikan bantuan berupa pendirian posyandu.

Peneliti tertarik untuk melihat berbagai isu persepsi berkembang yang terjadi di

masyarakat, apakah berbagai kegiatan pembangunan yang dilakukan telah melalui

proses penerimaan di dalam pemikiran masyarakat. Proses penerimaan di dalam

pemikiran masyarakat tersebut disebut persepsi, yang merupakan proses bagaimana

masyarakat menyeleksi, mengatur dan menginterpretasikan masukan masukan

informasi pembangunan yang ada dan kemudian menafsirkannya untuk memberikan

arti dan memaknai gambaran pembangunan di lingkungannya. Peneliti tertarik untuk

meneliti bagaimana tingkat pengetahuan dan kebutuhan masyarakat mempengaruhi

pembentukan persepsi masyarakat berkenaan dengan manfaat pembangunan tersebut.

Adanya pengalaman pembangunan, kemampuan berpikir, kerangka acuan yang tidak

sama pada masing masing individu dalam masyarakat maka akan memungkinkan

untuk menghasilkan persepsi pembangunan yang tidak sama pula.

Meskipun berbagai usaha pembangunan telah dilakukan di Kampung

Nelayan, namun di saat yang sama juga terjadi resistensi penerimaan maupun

pemanfaatan pembangunan itu sendiri. Contohnya meskipun fasilitas kesehatan dasar

posyandu telah didirikan di Kampung Nelayan namun banyak masyarakat yang

memilih untuk melakukan pengobatan sendiri atau bahkan memiliki anggapan bahwa

tidak perlu sampai pergi ke posyandu untuk mengobati penyakit kecil dan ringan. Hal

(20)

akan kesehatan tersebut terbentuk dari tingkat pengetahuan masyarakat tentang

kesehatan maupun tingkat kebutuhan akan hidup sehat pada populasi masyarakat

Kampung Nelayan. Meskipun tentunya tingkat pengetahuan dan kebutuhan bukanlah

satu satunya variabel faktor dalam membentuk persepsi masyarakat dan persepsi

masyarakat juga bukanlah satu satunya faktor dalam menentukan keberhasilan

pembangunan, namun penelitian ini penting dilakukan dengan maksud untuk

meletakkan komponen persepsi sebagai salah satu dasar pondasi dan dapat menjadi

informasi yang berguna bagi berbagai rencana pembangunan di masa depan sehingga

tercapainya pembangunan yang dapat diterima oleh masyarakat secara keseluruhan.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat dirumuskan permasalahan

penelitian yang menjadi research question yaitu bagaimana pengaruh faktor pengetahuan dan kebutuhan dalam pembentukan persepsi masyarakat berkenaan

dengan pembangunan yang dilakukan oleh berbagai pihak selama ini.

1.3 Pembatasan Masalah

Meskipun banyak faktor (variabel) yang potensial memengaruhi pembentukan

persepsi, namun mengingat dan mempertimbangkan segenap keterbatasan peneliti

dalam hal waktu, biaya dan tenaga, maka penelitian ini hanya dibatasi pada upaya

menemukan pengaruh faktor (variabel) pengetahuan dan kebutuhan dalam

(21)

melihat sampai sejauh mana keterkaitannya dengan peran serta masyarakat dalam

pembangunan sebagai resultan bentuk tindakan ataupun aksi yang dapat timbul

setelah adanya dorongan stimulus persepsi.

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan penelitian

research question yang muncul dengan latar belakang seperti yang diuraikan di atas yaitu:

1. Menemukan pola persepsi masyarakat Kampung Nelayan Belawan Medan

terhadap usaha usaha pembangunan yang sudah pernah dilakukan selama

ini oleh berbagai pihak di Kampung Nelayan Belawan Medan.

2. Menemukan pengaruh faktor pengetahuan dan kebutuhan dalam

pembentukan persepsi masyarakat berkenaan dengan pembangunan yang

dilakukan oleh berbagai pihak selama ini.

1.5 Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat/kegunaan

yaitu antara lain:

1. Secara teoritis/akademis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya

khasanah kepustakaan kependidikan serta dapat menjadi masukan bagi

(22)

mengambil kancah penelitian yang berbeda. Penelitian lanjutan linear

dapat dilakukan misalnya dengan melihat hubungannya (persepsi) dengan

lebih lanjut terhadap partisipasi masyarakat dalam pembangunan ataupun

penelitian lanjutan expanded dengan melihat faktor variabel lain yang berbeda dalam membentuk terjadinya persepsi.

2. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan

referensi bagi pemerintah dan berbagai pihak khususnya dalam maksud

melaksanakan pembangunan di Kampung Nelayan Belawan Medan. Hasil

penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi informasi yang berguna bagi

berbagai rencana pembangunan di masa depan sehingga tercapainya

pembangunan yang dapat diterima oleh masyarakat secara keseluruhan.

1.6 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan tesis ini dibuat untuk mempermudah dalam menyusun

tesis. Adapun sistematika penulisan tesis ini adalah sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini berisi uraian tentang Latar Belakang Masalah yang mendasari

pentingnya diadakan penelitian, Perumusan Masalah Penelitian, Tujuan Penelitian,

(23)

BAB II : TINJAUAN TEORI

Bab ini berisi tinjauan teori yang mendeskripsikan pengertian dari persepsi,

faktor faktor pembentuk persepsi, dinamika pembangunan dan kehidupan masyarakat

nelayan.

BAB III : METODE PENELITIAN

Bab ini berisi uraian tentang Lokasi Penelitian, Teknik Pengumpulan Data dan

Teknik Analisis Data yang digunakan, dan Pertanyaan Pertanyaan Penelitian.

BAB IV : GAMBARAN UMUM KAWASAN

Dalam bab ini diuraikan tentang gambaran mengenai kawasan penelitian dan

ragam dinamika kegiatan pembangunan yang dilakukan.

BAB V : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini diuraikan tentang Hasil Penelitian, Distribusi Data, dan

Pembahasan Hasil Penelitian yang dilakukan.

BAB VI : PENUTUP

Berisi uraian tentang pokok-pokok kesimpulan dan saran-saran yang perlu

(24)

2.1 Persepsi

2.1.1 Definisi

Pengertian persepsi berasal dari Bahasa Inggris, perception yang artinya persepsi, penglihatan, tanggapan; yaitu proses seseorang menjadi sadar akan segala

sesuatu dalam lingkungannya melalui indera indera yang dimilikinya atau

pengetahuan lingkungan yang diperoleh melalui interpretasi data indera (Kartono dan

Gulo, 1987). Kotler (2000) menerangkan persepsi sebagai proses bagaimana

seseorang menyeleksi, mengatur dan menginterpretasikan masukan-masukan

informasi untuk menciptakan gambaran keseluruhan yang berarti. Mangkunegara

(dalam Arindita, 2003) menyatakan bahwa persepsi adalah suatu proses pemberian

arti atau makna terhadap lingkungan. Dalam hal ini persepsi mencakup penafsiran

obyek, penerimaan stimulus (Input), pengorganisasian stimulus, dan penafsiran

terhadap stimulus yang telah diorganisasikan dengan cara mempengaruhi perilaku

dan pembentukan sikap. Adapun Robbins (2003) menjelaskan persepsi dalam

kaitannya dengan lingkungan, yaitu sebagai proses di mana individu-individu

mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indera mereka agar memberi makna

kepada lingkungan mereka. Walgito (1994) berpendapat bahwa persepsi seseorang

merupakan proses aktif yang memegang peranan, bukan hanya stimulus yang

(25)

pengalaman-pengalamannya, motivasi serta sikapnya yang relevan dalam menanggapi stimulus.

Individu dalam hubungannya dengan dunia luar selalu melakukan pengamatan untuk

dapat mengartikan rangsangan yang diterima dan alat indera dipergunakan sebagai

penghubungan antara individu dengan dunia luar. Agar proses pengamatan itu terjadi,

maka diperlukan objek yang diamati alat indera yang cukup baik dan perhatian

merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam mengadakan pengamatan.

Persepsi berarti analisis mengenai cara mengintegrasikan penerapan kita

terhadap hal-hal di sekeliling individu dengan kesan-kesan atau konsep yang sudah

ada, dan selanjutnya mengenali benda tersebut. Untuk memahami hal ini, maka

contoh sebagai berikut: individu baru pertama kali menjumpai buah yang sebelumnya

tidak kita kenali, dan kemudian ada orang yang memberitahu kita bahwa buah itu

namanya mangga. Individu kemudian mengamati serta menelaah bentuk, rasa, dan

lain sebagainya dari buah itu secara seksama sehingga timbul konsep mengenai

mangga dalam benak (memori) individu. Pada kesempatan lainnya, saat menjumpai

buah yang sama, maka individu akan menggunakan kesan-kesan dan konsep yang

telah kita miliki untuk mengenali bahwa yang kita lihat itu adalah mangga

(Taniputera, 2005). Melalui persepsi individu dapat menyadari, dapat mengerti

tentang keadaan diri individu yang bersangkutan. Persepsi itu merupakan aktivitas

yang integrated, maka seluruh apa yang ada dalam diri individu seperti perasaan, pengalaman, kemampuan berpikir, kerangka acuan dan aspek-aspek lain yang ada

dalam diri individu masyarakat akan ikut berperan dalam persepsi tersebut (Walgito,

(26)

sekalipun stimulusnya sama tetapi karena pengalaman tidak sama, kemampuan

berpikir tidak sama, kerangka acuan tidak sama, maka akan menimbulkan

kemungkinan hasil persepsi antara individu dengan individu yang lain tidak sama.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa persepsi masyarakat merupakan suatu proses

bagaimana masyarakat menyeleksi, mengatur dan menginterpretasikan masukan

masukan informasi pembangunan dan pengalaman pengalaman pembangunan yang

ada dan kemudian menafsirkannya untuk memberikan arti dan memaknai gambaran

pembangunan. Adanya pengalaman pembangunan, kemampuan berpikir, kerangka

acuan yang tidak sama pada masing masing individu dalam masyarakat maka akan

memungkinkan untuk menghasilkan persepsi pembangunan yang tidak sama pula.

2.1.2 Proses terjadi persepsi

Mutmainah (1997) menggambarkan proses terjadinya persepsi pada Gambar

(27)

Objek atau peristiwa yang terdapat di dunia nyata real world akan diterima oleh alat indera manusia: (1) Berupa masukan masukan informasi atau disebut

stimulus. Stimulus tersebut kemudian diubah oleh alat indera menjadi sinyal yang

dimengerti oleh otak; (2) “Komputer” otak akan mengolahnya dengan

membandingkannya dengan peristiwa peristiwa relevan yang tersimpan di otak (3)

sehingga menjadi pengalaman perseptual. Dunia yang dipersepsi bukanlah “dunia

ang nyata” real world. Yang kita persepsi adalah “dunia yang kita pahami” perceived world (Mutmainnah, 1997).

2.1.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi

Menurut Darwin P. Hunt, (2003) persepsi terbentuk atas tiga faktor yaitu

pengetahuan, keyakinan dan kebutuhan. “It is knowledge, beliefs and needs that structure our perceptions by interpreting the data of our senses”.

Menurut Richard L Gregory (1997), dikatakan bahwa persepsi berkaitan

secara tidak langsung dengan objek yang diterima oleh indera manusia dan bahwa

pengetahuan manusia dibutuhkan guna menyimpulkan objek yang diterima oleh

sensor indera kita sehingga objek tersebut menjadi berarti. “Human perception is but indirectly related to objects, being inferred from fragmentary and often hardly relevant data signalled by the eyes, so requiring inferences from knowledge of the world to make sense of the sensory signals”.

Adapun menurut Muhyadi (1989), persepsi yang terbentuk

(28)

sendiri, stimulus yang berupa obyek maupun peristiwa tertentu, situasi di mana

pembentukan persepsi itu terjadi. Orang yang membentuk persepsi itu sendiri,

khususnya kondisi intern atau karakteristik pribadinya, sangat menentukan persepsi

yang dibentuk. Termasuk dalam kategori kondisi intern ini antara lain: kebutuhan,

kelelahan, kecemasan, sikap, pengetahuan, motivasi, harapan, pengalaman masa lalu,

dan kepribadian.

Robbins (2003), mengemukakan bahwa faktor faktor yang

mempengaruhi persepsi yaitu:

1. Pelaku persepsi, yaitu bila seorang individu memandang pada suatu objek

dan mencoba menafsirkan apa yang dilihatnya, penafsiran itu sangat

dipengaruhi oleh karakteristik pribadi dari perilaku persepsi itu. Di antara

karakteristik pribadi yang lebih relevan mempengaruhi persepsi adalah

sikap, pengetahuan, motif atau kebutuhan, kepentingan atau minat,

pengalaman masa lalu, dan pengharapan (ekspektasi).

2. Target/obyek, yaitu karakteristik karakteristik dari target yang akan

diamati dapat mempengaruhi apa yang dipersepsikan, seperti orang yang

keras suaranya akan lebih mungkin untuk lebih diperhatikan dari suatu

kelompok mereka yang pendiam. Hubungan suatu target dengan latar

belakangnya mempengaruhi persepsi, seperti kecenderungan kita untuk

mengelompokkan benda-benda yang mirip.

3. Situasi, yaitu unsur unsur lingkungan sekitar kita yang mempengaruhi

(29)

Menurut Miftah Thoha (1996) faktor faktor yang mempengaruhi persepsi

seseorang berbeda antara satu dengan yang lainnya adalah:

1. Faktor intern, antara lain perasaan, sikap dan kepribadian individual,

prasangka, keinginan atau harapan, perhatian (fokus), proses belajar,

keadaan fisik, gangguan kejiwaan, nilai dan kebutuhan juga minat dan

motivasi dari individu.

2. Faktor ekstern, antara lain intensitas, ukuran, keberlawanan, pengulangan

gerakan, hal-hal baru dan familiar atau ketidakasingan suatu objek.

Mutmainnah (1997) mengatakan faktor faktor personal yang mempengaruhi

persepsi seseorang antara lain adalah kebutuhan atau motif, keyakinan, tujuan,

kapabilitas yang mencakup hal hal seperti pengetahuan, kegunaan, gaya komunikasi

dan pengalaman atau kebiasaan. Mutmainnah juga mengatakan bahwa terdapat faktor

stimuli objek yang mempengaruhi persepsi antara lain karakter fisik objek,

pengorganisasian pesan, kebaruan, mode dan asal mula informasi. Mutmainnah

menggolongkan pengaruh, media dan lingkungan sebagai situasi yang dapat

mempengaruhi persepsi.

Berdasarkan berbagai pendapat ahli di atas dapat dibuat pengelompokkan

variabel variabel faktor pembentuk persepsi dari berbagai pendapat ahli, secara Tabel

(30)

Tabel 2.1. Faktor yang mempengaruhi persepsi

Muhyadi Robbins

Miftah

2.2 Masyarakat

Dalam kamus bahasa Inggris, masyarakat disebut society asal katanya socius

yang berarti kawan. Arti yang lebih khusus, bahwa masyarakat adalah kesatuan sosial

yang mempunyai kehidupan jiwa seperti adanya ungkapan-ungkapan jiwa rakyat,

kehendak rakyat, kesadaran masyarakat dan sebaginya. Sedangkan jiwa masyarakat

ini merupakan potensi yang berasal dari unsur-unsur masyarakat meliputi pranata,

status dan peranan sosial. Sehingga para pakar sosiologi seperti Mac Iver, J.L Gillin

(31)

saling bergaul berinteraksi karena mempunyai nilai-nilai, norma-norma, cara-cara dan

prosedur yang merupakan kebutuhan bersama berupa suatu sistem adat istiadat

tertentu yang bersifat kontinyu dan terikat oleh suatu identitas bersama (Soelaiman,

dalam Adrianto, 2006).

2.3 Pembangunan

2.3.1 Pengertian pembangunan

Secara sederhana pembangunan sering diartikan sebagai suatu upaya untuk

melakukan perubahan menjadi lebih baik. Makna penting dari pembangunan adalah

adanya kemajuan/perbaikan progress, pertumbuhan dan diversifikasi. Para ahli memberikan pengertian pembangunan yang beragam. Istilah pembangunan bisa saja

diartikan berbeda oleh satu orang dengan orang lain, daerah yang satu dengan daerah

lainnya, Negara satu dengan Negara lain. Namun secara umum ada suatu

kesepakatan bahwa pembangunan merupakan proses untuk melakukan perubahan

(Riyadi dan Deddy Supriyadi Bratakusumah, 2005). Menurut Bintoro Tjokroamidjojo

(1988), pembangunan adalah upaya suatu masyarakat bangsa yang merupakan suatu

perubahan sosial yang besar dalam berbagai bidang kehidupan ke arah masyarakat

yang lebih maju dan baik, sesuai dengan pandangan masyarakat bangsa itu. Siagian

(1994) memberikan pengertian tentang pembangunan sebagai “Suatu usaha atau

rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana dan dilakukan secara

sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah, menuju modernitas dalam rangka

(32)

mencakup seluruh sistem sosial, seperti politik, ekonomi, infrastruktur, pertahanan,

pendidikan dan teknologi, kelembagaan, dan budaya. Portes (1998) mendefenisikan

pembangunan sebagai transformasi ekonomi, sosial dan budaya. Pembangunan

adalah proses perubahan yang direncanakan untuk memperbaiki berbagai aspek

kehidupan masyarakat. Ginanjar Kartasasmita (1994) memberikan pengertian yang

lebih sederhana, yaitu sebagai “suatu proses perubahan ke arah yang lebih baik

melalui upaya yang dilakukan secara terencana”.

Pembangunan dapat diartikan sebagai upaya terencana dan terprogram yang

dilakukan secara terus menerus oleh sutau negara untuk menciptakan masyarakat

yang lebih baik. Setiap individu society atau Negara state akan selalu bekerja keras untuk melakukan pembangunan demi kelangsungan hidupnya untuk masa ini dan

masa yang akan datang. Pembangunan dapat diartikan sebagai upaya terencana dan

terprogram yang dilakukan secara terus menerus oleh suatu negara untuk

menciptakan masyarakat yang lebih baik, dan merupakan proses dinamis untuk

mencapai kesejahteraan masyarakat. Proses kegiatan yang dilakukan dalam rangka

pengembangan kegiatan ekonomi dan peningkatan taraf hidup masyarakat. Tiap tiap

negara selalu mengejar pembangunan dengan tujuan semua orang turut

mengambil bagian. Sedangkan kemajuan ekonomi adalah suatu komponen esensial

dari pembangunan itu, walaupun bukan satu satunya. Hal ini disebabkan

pembangunan itu bukanlah semata-mata fenomena ekonomi. Dalam pengertian

yang paling mendasar, bahwa pembangunan itu haruslah mencakup masalah-masalah

(33)

diselidiki sebagai suatu proses multi dimensional yang melibatkan reorganisasi dan

reorientasi dari semua sistem ekonomi dan sosial (Todaro, 2000). Sejalan dengan

pendapat tersebut Dudley Seers, menyatakan bahwa pembangunan menuju pada tiga

sasaran penting yaitu mengurangi: kemiskinan (poverty), pengangguran

(unemployment), dan ketimpangan (inequality).

Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa dinamika pembangunan

Kampung Nelayan adalah aktifitas pergerakan pergerakan usaha untuk memperbaiki

kondisi yang lebih baik bagi masyarakat untuk menuju ke arah kemajuan di Kampung

Nelayan. Maju mundurnya suatu masyarakat dapat dilihat dari hasil hasil

pembangunan yang telah dilaksanakan oleh masyarakat tersebut.

2.3.2 Stakeholder dalam pembangunan

Dalam melaksanakan pembangunan terdapat tiga komponen utama agar

pelaksanaan pembangunan dapat berjalan dengan baik dan berhasil, pertama yaitu

pemerintah, kedua masyarakat dan ketiga swasta. Ketiganya memiliki peranan

masing masing, tetapi dalam pelaksanaannya ketiga komponen tersebut harus saling

berkoordinasi, bekerjasama dan saling melengkapi. Secara lebih jelas peranan ketiga

komponen tersebut adalah:

a. Peran Pemerintah

Sesuai dengan peraturan yang berkaitan dengan otonomi daerah maka

pemerintah sekarang ini dalam melaksanakan program pembangunannya

(34)

maupun pedoman pelaksanaan beserta petunjuk teknisnya namun lebih

berperan sebagai fasilitator dan motivator. Guna mempercepat keberhasilan

pembangunan prasarana dasar permukiman maka peranan pemerintah

dapat berupa pemberian stimulan yang berupa konsultasi dan kemudahan

berkomunikasi, material dan dana.

b. Peran Masyarakat

Masyarakat merupakan salah satu komponen utama dalam pelaksanaan

pembangunan, karena mereka dapat berperan baik sebagai subyek maupun

obyek pembangunan. Keterlibatan masyarakat akan sangat mendorong

terciptanya suatu hasil pembangunan yang baik, karena biar bagaimanapun

masyarakatlah yang mengetahui sekaligus memahami kondisi apa yang ada

di wilayahnya. Disamping itu, dengan melibatkan mereka dalam proses

pembangunan, pemerintah telah memberikan kepercayaan kepada

masyarakat sehingga mereka dapat merasa ikut bertanggung jawab dan

merasa memiliki program-program pembangunan.

c. Peran Swasta

Secara umum peranan swasta tidak dapat dipisahakan dari peran

masyarakat, namun demikian peranan mereka sangat besar terhadap laju

pembangunan. Adanya kewenangan suatu daerah untuk mengatur rumah

tangganya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, akan membuka

peluang bagi para investor pemegang modal untuk menanamkan usahanya.

(35)

sangat terbatas untuk memenuhi semua kebutuhan masyarakat yang boleh

dikata tidak mempunyai batas. Munculnya investor akan sangat membantu

pelaksanaan program pembangunan yang akan dilaksanakan oleh

pemerintah. Apabila hal ini benar benar bisa terwujud maka pemerintah

sangat diuntungkan, karena modal yang akan dikeluarkan akan relatif

sedikit dan percepatan pembangunan dapat dicapai dengan merata.

2.3.3 Persepsi masyarakat dalam pembangunan

Untuk mencapai keberhasilan pembangunan terdapat banyak hal dan aspek

yang harus diperhatikan, diantaranya adalah keterlibatan masyarakat di dalam

pembangunan. Salah satu keuntungan dengan adanya perlibatan masyarakat dalam

perencanaan pembangunan adalah pembangunan akan berjalan sesuai dengan

tanggapan dan kebutuhan masyarakat. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan

oleh Adrianto (2006) diperoleh kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang signifikan

antara tingkat partisipasi masyarakat terhadap persepsi masyarakat, dimana di dalam

penelitiannya disimpulkan bahwa pada responden masyarakat yang memiliki tingkat

partisipasi yang lebih tinggi terhadap pelaksanaan pembangunan prasarana dasar

memiliki tingkat persepsi terhadap pembangunan prasarana dasar yang lebih baik

pula. Sejalan dengan itu berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Nugraha

(2009) dikatakan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara partisipasi

dan persepsi masyarakat dalam pembangunan kota dimana di dalam penelitiannya

(36)

terbuka hijau yang lebih baik memiliki tingkat partisipasi pembangunan yang lebih

tinggi pula.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat kecenderungan

hubungan garis lurus antara persepsi dan partisipasi masyarakat di dalam

pembangunan dan perlunya dilakukan pengkajian terhadap tingkat persepsi

masyarakat yang dapat berfungsi sebagai tolak ukur ataupun indikator peran serta

masyarakat di dalam pembangunan.

2.4 Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu yang diperoleh manusia melalui

pengamatan inderawi terhadap objek tertentu. Penginderaan ini terjadi melalui panca

indera manusia yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan peraba.

Menurut Notoatmodjo (2003) pengetahuan terbagi atas 6 (enam) tingkatan yaitu:

1. Tahu (know) berarti ingat materi dipelajari sebelumnya secara benar.

2. Memahami (comprehension) artinya mampu menjelaskan objek yang

diketahui dan bisa menginterpretasikan materi dengan benar.

3. Aplikasi (Application) berarti mampu memakai materi yang dipelajari dari

situasi sebenarnya.

4. Analisis (analysis) berarti mampu menjabarkan materi pada komponen,

tetapi dalam struktur organisasi yang masih berkaitan.

5. Sintesis (synthesis) berarti mampu menghubungkan bagian dalam bentuk

(37)

6. Evaluasi (evaluation) berarti mampu menilai materi.

Menurut Arikunto (2006), pengetahuan dibagi ke dalam 3 (tiga) kategori.

Ketiga kategori tersebut lebih lanjut dikatakan Arikunto, yaitu:

1. Baik, bila subyek mampu menjawab dengan benar 76%-100% dari seluruh

pertanyaan.

2. Cukup, bila subyek mampu menjawab dengan benar 56%-75% dari

seluruh pertanyaan.

3. Kurang, bila subyek mampu menjawab dengan benar 40%-55% dari

seluruh pertanyaan.

Pengetahuan masyarakat Kampung Nelayan tentang pembangunan adalah

pengetahuan akan pembangunan yang dimiliki masyarakat Kampung Nelayan yang

diperoleh dari berbagai pengamatan melalui unsur inderawi tentang pembangunan itu

sendiri. Pengetahuan tersebut dapat diperoleh melalui pembelajaran di sekolah,

kegiatan diskusi, sosialisasi, pengalaman pembangunan,,dan sebagainya. Misalnya

seseorang mendapatkan pengetahuan tentang pentingnya penggunaan sabun pada saat

membersihkan tangan, yang diperoleh melalui penginderaan mata dan telinga ketika

melihat dan mendengarkan pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan yang

diberikan guru di sekolah. Ketika masyarakat mampu memakai sabun saat

membersihkan tangan, maka berdasarkan pendapat Notoatmodjo masyarakat tersebut

terletak pada tingkatan ketiga; aplikasi (application) yaitu mampu memakai materi

(38)

Dengan berpengetahuan yang baik dapat berimplikasi kepada tindakan yang

baik pula. Menurut Benyamin Bloom dalam Notoatmodjo (2003) perilaku terdiri dari

tiga aspek yaitu pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan tindakan (psikomotor).

Apabila dikaitkan dengan seorang masyarakat yang memiliki pengetahuan yang baik,

maka akan berdampak terhadap tindakan seseorang tersebut sebagai perwujudan

sikap menjadi perbuatan nyata sesuai yang diharapkan. Perbuatan nyata membuang

sampah pada tempatnya merupakan manifestasi tindakan yang diharapkan dari usaha

usaha memberikan pengetahuan tentang kebersihan lingkungan.

Bila proses perilaku ini didasari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang

positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya bila

perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan

berlangsung lama. Contohnya ibu-ibu menjadi peserta Keluarga Berencana, karena

diperintahkan oleh lurah tanpa mengetahui makna dan tujuan Keluarga Berencana,

maka mereka akan segera keluar dari keikutsertaannya dalam Keluarga Berencana

setelah beberapa saat perintah tersebut diterima (Notoatmodjo, 2007).

Dapat disimpulkan pengetahuan turut berkontribusi dalam menentukan

keberhasilan pembangunan meskipun tentu masih terdapat berbagai faktor lain,

sehingga dengan terdapatnya berbagai dinamika pembangunan yang telah dilakukan

di Kampung Nelayan, variabel pengetahuan menjadi salah satu komponen penting

dalam menentukan berhasil atau tidaknya pembangunan di wilayah perkampungan

(39)

2.5 Kebutuhan

Teori yang cukup terkenal dalam membahas tentang kebutuhan salah satunya

adalah teori Abraham Maslow yang mengklasifikasikan kebutuhan ke dalam lima

tingkat. Kebutuhan tersebut berjenjang dari yang paling mendesak hingga yang akan

muncul dengan sendirinya saat kebutuhan sebelumnya telah dipenuhi, namun hanya

sedikit yang mampu mencapai tingkatan tertinggi dari piramida kebutuhan. Tingkatan

tersebut dimulai dari yang terendah sampai tertinggi yaitu kebutuhan fisiologis, rasa

aman, sosial, penghargaan dan mewujudkan jati diri.

Maslow mengatakan bahwa kebutuhan dasar fisik/fisiologis dan keamanan

terlebih dahulu harus terpenuhi sebelum memenuhi kebutuhan kebutuhan lainnya.

Adapun contoh Kebutuhan fisiologis seperti sandang/pakaian, pangan/makanan,

papan/rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil,

bernafas, dan lain sebagainya. Kebutuhan keamanan seperti bebas dari penjajahan,

bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan semacamnya.

Kebutuhan sosial misalnya adalah memiliki teman, memiliki keluarga, dan lain lain.

Kebutuhan penghargaan meliputi hal hal sepeti pujian, piagam, tanda jasa, hadiah.

Terakhir adalah kebutuhan tertinggi yaitu kebutuhan aktualisasi diri.

2.6 Kampung Nelayan

Kampung merupakan bentuk permukiman yang unik, dihuni penduduk

berpendapatan menengah ke bawah, dapat tersebar di seluruh wilayah kota seperti di

(40)

sebagainya. Kampung juga dapat diartikan sebagai desa atau dusun, dapat pula

sebagai kelompok rumah rumah yang merupakan bagian kota, dan biasanya yang

rumahnya kurang bagus (Silas, 1998). Masyarakat kampung nelayan adalah

masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupannya di sepanjang hari dengan

kehidupan yang dihasilkan oleh laut. Laut adalah tempat dimana mereka mengelola

kehidupannya, mengembangkan kreativitas dan inovasi untuk mengoptimalkan

potensi kelautan. Sumber kehidupan yang berada di laut mempunyai makna bahwa

manusia yang akan memanfaatkan sumber hidup yang tersedia di laut tidak

mempertentangkan dirinya dengan hukum hukum alam kelautan yang telah terbentuk

dan terpola seperti yang mereka lihat dan rasakan.

Salah satu ciri perilaku sosial kehidupan dari masyarakat nelayan dapat

disimak dalam pernyataan antropolog Belanda (Boelaars, 1984) “Orang pesisir

memiliki orientasi yang kuat untuk merebut dan meningkatkan kewibawaan atau

status sosial. Mereka sendiri mengakui bahwa mereka cepat marah, mudah

tersinggung, lekas menggunakan kekerasan, dan gampang cenderung balas membalas

sampai dengan pembunuhan. Orang pesisir memiliki rasa harga diri yang amat tinggi

dan sangat peka. Perasaan itu bersumber pada kesadaran mereka bahwa pola hidup

pesisir memang pantas mendapat penghargaan yang tinggi”.

Masyarakat nelayan memiliki karakter keras, tegas, dan terbuka. Hal ini

dikarenakan nelayan menghadapi sumber daya yang bersifat “open access” dengan tingkat ketidakpastian yang cukup tinggi. Nelayan mesti berpindah-pindah tempat

(41)

berisiko tinggi. Berbeda dengan petani, masyarakat petani menghadapi sumber daya

yang lebih terkontrol yakni pengolahan lahan produksi. Karakteristik masyarakat

nelayan yaitu rata-rata penduduk golongan ekonomi lemah, dengan latar belakang

pendidikan relatif terbatas, pengetahuan akan lingkungan sehat cenderung masih

kurang, terjadi kebiasaan tidak sadar lingkungan serta cenderung kurang

memperhatikan bahaya dan resiko. Hal ini dapat dilihat pada permukiman Kampung

Nelayan dimana saat ini tergolong merupakan permukiman kumuh dengan perilaku

masyarakat yang cenderung kurang perduli akan kebersihan dan lingkungan sekitar.

Apabila dikaitkan dengan pendapat Indra Wijaya (1989) yaitu “Bagaimana

tafsiran dan pemikiran seseorang terhadap semua rangsangan yang diproseskan itu

akan tampak pengaruhnya dalam perilaku atau dalam sikap yang berkaitan dengan hal

hal yang dipersepsikan”, maka dengan demikian perilaku sikap masyarakat Kampung

Nelayan yang cenderung kurang perduli akan kebersihan dan lingkungan merupakan

manifestasi sikap dari persepsi masyarakat akan lingkungan tempat tinggalnya.

Apabila dikaitkan dengan sikap pembangunan hal tersebut memiliki integrasi yang

erat sebagai dasar perilaku yang membentuknya. Kondisi yang demikian dapat

dipahami mengingat waktu masyarakat nelayan yang banyak berada di laut dimana

ketika sedang mencari ikan dapat menghabiskan waktu berhari-hari bahkan sampai

berminggu-minggu di laut, tidak seperti masyarakat darat yang sudah lebih teratur,

pola aktifitas masyarakat nelayan terpusat pada kegiatan mencari ikan dimana laut

(42)

lainnya yang pada akhirnya akan berpengaruh pada pembangunan masyarakat

nelayan.

Merujuk pada kajian teoritik dan dengan mempertimbangkan keterbatasan

keterbatasan dan pemilihan komponen variabel faktor pembentuk persepsi yang

dipilih, maka dapat dibangun model penelitian yang secara bagan dapat

divisualisasikan seperti Gambar 2.3.

Gambar 2.3 Model Penelitian Pengetahuan

Masyarakat Tentang Pembangunan

Persepsi Masyarakat Terhadap Pembangunan

Kebutuhan Masyarakat akan

(43)

Adapun simpulan teori yang digunakan dijelaskan pada Tabel 2.2

Tabel 2.2 Simpulan Teori

Teori Variabel Data yang diperlukan Metoda Darwin P. Hunt,

(2003) "The concept of knowledge and how to measure it", Journal of Intellectual Capital, Vol. 4 Iss: 1, hal 101. “It is knowledge (pengetahuan), beliefs and needs (kebutuhan) that yang telah dilakukan di Kampung Nelayan suatu objek dan mencoba yang sudah dilakukan di Kampung setempat tentang

(44)

Tabel. 2.2 (Lanjutan)

Teori Variabel Data yang diperlukan Metoda karakteristik Robbin adalah pengetahuan dan kebutuhan individu tersebut

Masyarakat Pembangunan

Kebutuhan masyarakat telah dilakukan di Kampung Nelayan

dengan menggunakan tabulasi silang dan secara analitik dengan

(45)

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dimaksudkan untuk

mengumpulkan informasi dan membuat gambaran deskripsi dari penelitian. Kajian

dilakukan terhadap faktor pengetahuan, kebutuhan dan persepsi masyarakat. Tahapan

selanjutnya peneliti melakukan analisis dengan menggunakan pendekatan deskriptif

kuantitatif dan analisis kualitatif di dalam menganalisa hubungan faktor pengetahuan

dan kebutuhan terhadap pembentukan persepsi masyarakat berkenaan dengan

pembangunan yang dilakukan di Kampung Nelayan.

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini mengambil tempat di kawasan perkampungan Kampung

Nelayan yaitu di Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan.

Berdasarkan perumusan masalah dan tujuan penelitian maka dapat diidentifikasi

variabel variabel yang menjadi kriteria pemilihan lokasi penelitian yaitu variabel

lokasi populasi persepsi masyarakat, variabel lokasi populasi tingkat pengetahuan

masyarakat, variabel lokasi populasi kebutuhan masyarakat dan variabel lokasi

dinamika pembangunan. Keempat variabel tersebut harus berada pada satu daerah

lokasi yang sama sebagai parameter lokasi proses penelitian guna menemukan

(46)

dinamika pembangunan yang terjadi di Kampung Nelayan dengan maksud manfaat

pembangunan yang ditujukan untuk dapat dirasakan seluruh masyarakat Kampung

Nelayan, yang memiliki berbagai persepsi dan tingkat pengetahuan pembangunan dan

kebutuhan akan pembangunan yang beragam pula sehingga alasan kesamaan lokasi

dimana keseluruhan proses keempat variabel tersebut terjadi menjadikan Kampung

Nelayan sebagai tempat pemilihan lokasi penelitian.

3.3 Populasi dan Sampel

Populasi adalah seluruh masyarakat yang tinggal di perkampungan Kampung

Nelayan, Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan. Sampel

adalah sebagian masyarakat yang mewakili untuk diperiksa guna kepentingan

penelitian. Sampel penelitian ini ditentukan berdasarkan rumus Slovin. Pengambilan

sampel masyarakat yang diperiksa yang terpilih dilakukan secara random. Maka

teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode simple random sampling, yang bertujuan agar sampel dapat mewakili masyarakat di Kampung Nelayan.

n

=

N

1+Ne2

...

(3.1)

n = Jumlah sampel

N = Jumlah populasi

e = Kelonggaran ketidaktelitian yang ditolerir yaitu sebesar 10% sehingga

(47)

Berdasarkan rumus tersebut, maka jumlah sampel pada penelitian ini:

n = Jumlah sampel pada penelitian ini

N = Jumlah populasi, dalam hal ini jumlah penduduk Kampung Nelayan Belawan

e = Derajat kecermatan studi yang diharapkan 10%

Berdasarkan asumsi di atas maka jumlah sampel yang akan diambil adalah sebesar:

n

=

N

1+Ne2

=

4052

1+4052 x 0,12

=

4052

41,52

=

97,591 ≈ 100

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan suatu proses untuk mendapatkan data empiris

melalui responden dengan metode tertentu. Hal ini ditujukan untuk mendapatkan data

yang dibutuhkan sebagai bahan masukan untuk setiap tahap analisis berikutnya:

1. Pengumpulan Data Primer

Merupakan pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti secara

langsung kepada objek penelitian di lapangan, baik melalui pengamatan

observasi langsung maupun wawancara interview dan penyebaran angket kuisioner. Dalam melakukan pengamatan observasi objek yang diamati adalah ragam pembangunan yang telah dilakukan di Kampung Nelayan.

Wawancara interview dilakukan dengan cara mewawancara pihak pemerintah yaitu kepala lingkungan setempat. Penyebaran angket kuisioner

(48)

penelitian yaitu data pengetahuan, data kebutuhan, dan persepsi masyarakat

setempat akan pembangunan.

Batasan pengetahuan masyarakat yang akan diteliti dibatasi dengan ragam

pembangunan yang telah dilakukan di Kampung Nelayan selama ini yaitu:

a. Pengetahuan masyarakat tentang fungsi sumur bor dan air bersih.

b. Pengetahuan masyarakat tentang fungsi WC umum dan sanitasi.

c. Pengetahuan masyarakat tentang posyandu dan kesehatan.

d. Pengetahuan masyarakat terhadap fungsi jalan setapak rabat beton .

e. Pengetahuan masyarakat tentang terhadap penyuluhan kebersihan

sampah dan lingkungan.

Batasan kebutuhan masyarakat yang akan diteliti dibatasi dengan ragam

pembangunan yang telah dilakukan di Kampung Nelayan selama ini yaitu:

a. Kebutuhan masyarakat akan sumur bor dan air bersih.

b. Kebutuhan masyarakat akan WC umum dan sanitasi.

c. Kebutuhan masyarakat akan posyandu.

d. Kebutuhan masyarakat akan jalan setapak rabat beton.

e. Kebutuhan masyarakat akan kebersihan sampah dan lingkungan.

Batasan persepsi masyarakat yang akan diteliti dibatasi dengan hanya

kaitannya dengan pembangunan yang telah terjadi di Kampung Nelayan

selama ini yaitu:

a. Persepsi masyarakat terhadap pembangunan sumur bor di Kampung

(49)

b. Persepsi masyarakat terhadap pembangunan WC umum di Kampung

Nelayan.

c. Persepsi masyarakat terhadap pendirian posyandu di Kampung Nelayan.

d. Persepsi masyarakat terhadap perbaikan jalan setapak rabat beton di

Kampung Nelayan.

e. Persepsi masyarakat terhadap penyuluhan kebersihan sampah di

Kampung Nelayan.

2. Pengumpulan Data Sekunder

Pengumpulan data sekunder dilakukan peneliti dengan cara tidak langsung

ke objek penelitian, tetapi melalui penelitian terhadap dokumen dokumen

yang berkaitan dengan objek penelitian. Penelitian ini juga menggunakan

metode dokumentasi. Menurut Arikunto (2006) metode dokumentasi

adalah mencari data mengenai hal hal atau variabel yang berupa catatan,

transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan

sebagainya.

3.5 Metode Analisa Data

Setelah mendapatkan data data penelitian, yaitu data pengetahuan masyarakat

setempat tentang pembangunan, data kebutuhan masyarakat akan pembangunan dan

data persepsi masyarakat setempat mengenai dinamika pembangunan selanjutnya

ketiga jenis data tersebut digunakan menjadi bahan analisa. Berdasarkan pendapat

(50)

kebutuhan manusia maka dapat dijabarkan bahwa data persepsi merupakan variabel

terikat yang dibentuk variabel bebas yaitu data pengetahuan atau data kebutuhan,

sehingga dapat dikatakan variabel persepsi memiliki hubungan fungsional dan kausal

dengan variabel pengetahuan dan variabel kebutuhan. Metode analisa yang digunakan

dalam meneliti hubungan antara variabel salah satunya adalah dengan menggunakan

analisis Pearson Chi Square Test.

Ketiga variabel penelitian diukur dengan menggunakan skala likert dimana

untuk variabel pengetahuan diukur dengan data ordinal dengan kategori data yaitu

berpengetahuan kurang, berpengetahuan cukup dan berpengetahuan baik. Untuk

variabel kebutuhan diukur dengan data ordinal dengan kategori data yaitu tidak

membutuhkan, membutuhkan dan sangat membutuhkan. Untuk variabel persepsi

masyarakat akan pembangunan diukur dengan data ordinal dengan kategori data yaitu

sangat tidak baik, tidak baik, cukup baik, baik dan sangat baik. Dalam mendapatkan

data ordinal kebutuhan dan data ordinal persepsi dilakukan langsung dengan

menyebarkan angket kuisioner, namun untuk mendapatkan data ordinal pengetahuan

perlu dilakukan pengolahan terlebih dahulu yaitu dengan cara melakukan scoring

penilaian terhadap jawaban atas pertanyaan pertanyaan pengetahuan yang diberikan

kepada responden. Kategori berpengetahuan baik adalah apabila subyek mampu

menjawab dengan benar 76%-100% dari seluruh pertanyaan. Kategori

berpengetahuan cukup apabila subyek mampu menjawab dengan benar 56%-75%

dari seluruh pertanyaan. Kategori berpengetahuan kurang apabila subyek mampu

(51)

Jumlah frekuensi dari masing masing kategori atas ketiga variabel tersebut

akan saling diperbandingkan secara tabulasi silang untuk kemudian dilakukan analisa

komparatif dengan teknik chi square untuk memperoleh hubungannya, dengan rumusan hipotesis penelitian sebagai berikut:

1. Ho diterima: Tidak ada hubungan faktor pengetahuan/kebutuhan dengan

persepsi masyarakat.

2. Ho ditolak: Terdapat hubungan faktor pengetahuan/kebutuhan dengan

persepsi masyarakat.

Dasar pengambilan keputusan yaitu dengan melihat perbandingan X2 hitung

dengan X2 tabel:

1. Jika X2 hitung < X2 tabel, maka Ho diterima

2. Jika X2 hitung > X2 tabel, maka Ho ditolak

Dalam menentukan X2 tabel (df k-1xk-1) = 8, pada tingkat kepercayaan 95%

diperoleh nilai X2 tabel sebesar 15,507.

Dengan menggunakan metode analisa tersebut maka akan diperoleh hasil

penelitian untuk kemudian dilakukan penarikan kesimpulan sesuai dengan tujuan

penelitian yaitu menemukan pengaruh tingkat pengetahuan dan kebutuhan

masyarakat terhadap pembentukan persepsi berkenaan dengan pembangunan yang

(52)

4.1 Kawasan Penelitian

Kawasan penelitian terletak di Kampung Nelayan Lingkungan XII Kelurahan

Belawan I, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan. Kelurahan ini memiliki luas

wilayah ± 110 Ha (Gambar 4.1).

(53)

Berdasarkan letak geografis Kampung Nelayan berbatasan dengan, sebelah

utara dengan Paluh, sebelah selatan dengan Sei Belawan, sebelah timur dengan Pulau

Nonang, dan sebelah barat dengan Sei Batang Serang.

Menurut narasumber Kepala Lingkungan XII Kampung Nelayan telah berdiri

sejak tahun 1937, yang saat ini ditempati ± 800 kk. Berdasarkan data yang

dikumpulkan Kepala Lingkungan jumlah penduduk pada tahun 2013 berjumlah

sekitar 4052 jiwa. Kampung Nelayan pada mulanya termasuk ke dalam wilayah

Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang, seiring perjalanan waktu kemudian masuk

ke dalam bagian Kecamatan Medan Belawan Kota Medan. Kampung ini juga

termasuk ke dalam area kewilayahan administrasi Pelindo Belawan dimana sesuai

dengan peraturan pemerintah perkampungan ini termasuk di dalam kewilayahan

berjarak radius 1.000 meter dari Pelabuhan Umum Belawan (Gambar 4.2).

(54)

Perkampungan ini tumbuh secara organik pada tahun 1937 yang pada awalnya

berfungsi sebagai tempat persinggahan sementara yang dibangun masyarakat nelayan

ketika mencari ikan di laut. Sejak pertama berdiri memang tidak melibatkan

pemerintah ataupun perancang, dimana masyarakat Kampung Nelayan mulai

membangun tonggak tonggak kayu pancang pondasi tempat tinggal di atas air tanpa

surat kepemilikan yang jelas. Seiring berjalan waktu perkampungan terus tumbuh dan

berkembang lebih banyak lagi ke bagian dalam sisi daratan. Pada bagian dalam sisi

daratan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Deli Serdang terdapat sebagian

masyarakat yang ber-KTP Pemerintahan Kabupaten Deli Serdang. Perkampungan ini

cukup terisolir dari Kecamatan Medan Belawan utamanya dikarenakan kesulitan

aksesibilitas dalam menjangkau wilayah tersebut. Laut sebagai jalur perlintasan kapal

besar ternyata juga merupakan hambatan utama dalam berbagai kegiatan

penyeberangan dari wilayah induk Kecamatan Belawan menuju perkampungan

nelayan. Hal tersebut cukup ironis mengingat daerah Belawan merupakan daerah

pelabuhan berskala internasional dengan berbagai kegiatan aktifitas perekonomian

dan perdagangan di dalamnya. Satu satunya akses dari Kecamatan Medan Belawan

menuju ke Kampung Nelayan dapat ditempuh dengan menggunakan transportasi air

yakni berupa motor boat atau sampan kecil yang setiap hari menunggu di tangkahan

Belawan.

Kampung Nelayan terbagi menjadi 5 blok lingkungan yaitu, Blok Kampung

Depan, Blok Kampung tengah, Blok Kampung banjar, Blok Kampung kerang, dan

(55)

Gambar 4.3 Kampung Nelayan terdiri dari 5 blok

4.2 Pembangunan Jalan Setapak Rabat Beton

Saat ini Kampung Nelayan memiliki jalan setapak lingkungan sepanjang

hampir 5 km yang terdiri dari jalan setapak papan kayu sepanjang sekitar 4300 m dan

jalan setapak rabat beton sepanjang sekitar 678 m (Gambar 4.4).

Gambar 4.4 Peta Jaringan Jalan Kampung Nelayan

Blok kp taruna

Blok kp banjar

Blok kp kerang

Blok kp tengah

(56)

Jalan setapak di Kampung Nelayan dibangun oleh masyarakat dan berbagai

pihak yang turut berpartisipasi di dalam pembangunan. Jalan setapak kayu merupakan

jenis tipe konstruksi jalan yang pertama sekali dibangun di Kampung Nelayan dalam

rangka untuk memenuhi kebutuhan aksesibilitas prasarana perjalanan di Kampung

Nelayan, biasanya jalan ini memiliki lebar tiga sampai lima keping papan dengan

lebar total kurang dari 1,5 m dan hanya dapat dilalui oleh dua orang pengguna jalan

(gambar 4.5). Jalan setapak ini pada umumnya dibangun dengan maksud untuk

mendapatkan akses tercepat menuju ke laut tanpa direncanakan dengan fungsi

kawasan kawasan tertentu seperti akses menuju sekolah, akses menuju pasar dan

lainnya sehingga mengakibatkan sistem jaringan jalan yang ada di Kampung Nelayan

menjadi tidak terstruktur.

Seiring waktu pembangunan jalan setapak dengan konstruksi rabat beton

semakin dirasakan perlu dan secara bertahap mulai dilakukan. Hal ini dikarenakan

jalan setapak rabat beton dapat menjadi solusi alternatif yang lebih baik daripada

penggunaan material dari papan kayu. Masyarakat sering mengalami permasalahan

kondisi jalan setapak papan kayu yang sudah tidak layak untuk dilalui yang dapat

membahayakan keselamatan pengguna jalan setapak di atasnya. Umumnya

pengggunaan material dari papan kayu tidak dapat bertahan lama, selain dari karakter

material itu sendiri hal ini juga diperburuk atas kondisi cuaca pasang surut yang

terjadi hampir setiap hari di Kampung Nelayan dan menjadikan papan kayu semakin

(57)

Gambar 4.5 Pembangunan Jalan Setapak Rabat Beton Kampung Nelayan

Pembangunan jalan setapak rabat beton mulai dilaksanakan pertama kali pada

tahun 2005 dan semenjak itu terus dilakukan penambahan peningkatan jalan rabat

beton secara bertahap setiap tahunnya. Sejak awal pembangunan dilaksanakan secara

partisipatif oleh swadaya masyarakat di bawah program PNPM/P2KP oleh

Gambar

Tabel 2.1.  Faktor yang mempengaruhi persepsi
Gambar 2.3 Model Penelitian
Tabel 2.2  Simpulan Teori
Tabel. 2.2  (Lanjutan)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pembangunan jalan tol Becakayu adalah upaya pemerintah dalam meningkatan jumlah jalan merupakan sebagai solusi untuk mengurangi kemacetan dan memenuhi kebutuhan mobilisasi masyarakat

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Desa Puyung, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah tentang Persepsi Masyarakat Terhadap Pembangunan Kampus

Tujuan dari penelitian ini adalah menemukan tingkat partisipasi masyarakat pada tahap pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan berdasarkan Skala Sherry Arnstein dan juga

Faktor-faktor sosialisasi Bank Syariah, keberagamaan, dan pengetahuan tentang Bank Syariah secara bersama-sama berpengaruh signifikan pada persepsi masyarakat terhadap Bank

Persepsi masyarakat sekitar terhadap dampak pembangunan perumahan pada kondisi lingkungan dibagi menjadi lingkungan sosial, lingkungan ekonomi, lingkungan budaya,

Penelitian ini menemukan bahwa terdapat pola spasial yang mirip antara satu permukiman tidak terencana dengan tidak terencana lain dan terdapat beberapa kecenderungan

Adapun yang menjadi hipotesis penelitian ini adalah “Persepsi Masyarakat terhadap Pembangunan Rabat Beton Usaha Tani di Desa Muara Botung Kecamatan Kotanopan

Hipotesis dalam penelitian ini adalah diduga persepsi masyarakat Kota Banjarbaru terhadap dampak lingkungan pada usaha peternakan ayam ras pedaging adalah negatif merugikan dan faktor-