TESIS
OLEH
DAMOZ HUTAGALUNG
127020001/AR
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
TESIS
Untuk Memperoleh Gelar Magister Teknik
Dalam Program Studi Teknik Arsitektur
Pada Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
Oleh
DAMOZ HUTAGALUNG
127020001/AR
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
KAMPUNG NELAYAN BELAWAN
TESIS
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah
diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan
sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah
ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam
naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, 20 Agustus 2014
Nomor Pokok : 127020001
Program Studi : TEKNIK ARSITEKTUR
Bidang Kekhususan : MANAJEMEN PEMBANGUNAN KOTA
Menyetujui Komisi Pembimbing,
Dr. Ir. Bauni Hamid, M.DesS
Ketua Anggota
Ir. Nurlisa Ginting, M.Sc, PhD
Ketua Program Studi, Dekan,
Dr. Ir. Dwira Nirfalini Aulia, M.Sc Prof. Dr. Ir. Bustami Syam, M.S.M.E
Panitia Penguji Tesis
Ketua Komisi Penguji : Ir. Bauni Hamid, M.DesS, PhD
Anggota Komisi Penguji : 1. Ir. Nurlisa Ginting, M.Sc, PhD
2. Ir. Samsul Bahri, MT
3. Salmina Ginting, ST, MT
dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin. Namun pada saat yang sama juga terjadi resistensi penerimaan maupun pemanfaatan pembangunan itu sendiri yang mana sebagian dari pembangunan tersebut masih dieksekusi secara
top down tanpa memperhatikan pentingnya terlebih dahulu untuk memahami persepsi masyarakat akan pembangunan. Persepsi masyarakat terhadap pembangunan sangat penting karena merupakan salah satu faktor kunci dalam penerimaan pembangunan. Penelitian ini dilakukan pada permukiman nelayan di Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan. Ragam pembangunan di Kampung Nelayan antara lain pembangunan jalan setapak rabat beton, pembangunan sumur bor, pembangunan posyandu kesehatan, pembangunan WC umum dan pembangunan kebersihan sampah lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah menemukan pola persepsi masyarakat terhadap usaha usaha pembangunan yang sudah pernah dilakukan dan juga menemukan pengaruh faktor pengetahuan dan kebutuhan dalam pembentukan persepsi masyarakat berkenaan dengan pembangunan tersebut.
Penelitian bersifat deskriptif kualitatif yang didukung deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui pengumpulan data primer berupa observasi lapangan, wawancara, kuisioner dan pengumpulan data sekunder. Metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis kualitatif untuk menemukan pengaruh faktor pengetahuan dan kebutuhan dalam pembentukan persepsi masyarakat.
Hasil penelitian menunjukkan persepsi masyarakat cukup beragam dalam menyatakan pendapatnya terhadap berbagai pembangunan di Kampung Nelayan. Terhadap pembangunan jalan setapak rabat beton dan pembangunan sumur bor terdapat bentukan persepsi yang terbangun secara umum pada masyarakat Kampung Nelayan. Sejumlah 80% masyarakat menyatakan pembangunan jalan setapak rabat beton cukup baik dan demikian juga terhadap pembangunan sumur bor sejumlah 72% masyarakat menyatakan cukup baik. Tidak terdapat bentukan pendapat yang menjadi pola umum persepsi masyarakat terhadap pembangunan posyandu, WC umum dan kebersihan sampah dimana pola persebaran pendapat tersebar cukup merata. Pada analisis hubungan pengetahuan dan kebutuhan terhadap pembentukan persepsi masyarakat diperoleh hasil, terdapat hubungan antara pengetahuan dan kebutuhan terhadap pembentukan persepsi masyarakat akan pembangunan jalan setapak rabat beton dan pembangunan sumur bor, terdapat hubungan antara kebutuhan terhadap pembentukan persepsi masyarakat akan pembangunan posyandu, tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dan kebutuhan terhadap pembentukan persepsi masyarakat akan pembangunan WC umum dan kebersihan sampah.
attention to the people’s perception on the development. This perception is very important because it is one of the key factors in accepting the development. The research was conducted at Kelurahan Belawan I, Medan Belawan Subdistrict, Medan. The types of development at Kampung Nelayan were concrete rebate footpath, the construction of drilled wells, the construction of posyadu, the construction of public toilets, and the construction of garbage dumps. The objective of the research was to find out the pattern of public perception on the development which had been done and to find out the factors of knowledge and need in shaping public perception related to the development.
The research was descriptive qualitative, supported by descriptive quantitative. The data consisted of primary data which were gathered by conducting field observation, interviews, questionnaires, and gathering secondary data and analyzed qualitatively in order to find out the influence of the factors of knowledge and need on the shaping of public perception.
The result of the research showed that there were various public perceptions on the development at Kampung Nelayan. There was general public perception on the construction of concrete rebate footpaths and the construction of drilled wells at Kampung Nelayan. 80% of the respondents stated that the construction of concrete rebate footpaths was good, and 72% of them stated that the construction of drilled wells was good. There was no opinion which became the general pattern of public perception on the construction of public toilets and public toilets since the distributed pattern was distributed evenly. From the analysis of the correlation of knowledge and need with the shaping of public perception, it was found that there was the correlation of knowledge and need with the shaping of public perception on the construction of concrete rebate footpaths and drilled wells, there was the correlation between need and the shaping of public perception on the construction of posyandu, there was no correlation of knowledge and need with the shaping of public perception on the construction of public toilets and garbage dumps.
kemudahan bagi penyelesaian tesis ini dengan judul “ Persepsi Masyarakat Terhadap Dinamika Pembangunan Kampung Nelayan Belawan “ yang merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan dan menempuh studi pada Program Magister Teknik
Arsitektur, dengan konsentrasi Manajemen Pembangunan Kota, Universitas Sumatera
Utara Medan.
Penulis menyadari dalam penyelesaian tesis ini banyak melibatkan bantuan
maupun dukungan dari berbagai pihak berupa sumbangan saran dan pemikiran. Pada
kesempata ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
Ibu Dr. Ir. Dwira Nirfalini Aulia, M.Sc selaku Ketua Program Studi, Ibu Beny O.Y
Marpaung, ST, MT, PhD selaku Sekretaris Program Studi, Bapak Ir. Bauni Hamid,
M.DesS, PhD selaku pembimbing utama, Ibu Ir. Nurlisa Ginting, M.Sc selaku
pembimbing pendamping, Bapak dan Ibu penguji yang memberikan saran dan kritik
membangun, Keluarga yang saya cintai khususnya kepada Ibunda Dr. dr Diana
Sinulingga, M.Si dan Istri Nurul Yanni S.Psi yang penulis banggakan dan semua
pihak yang telah membantu dalam penyelesaian tesis ini yang tidak dapat penulis
sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari di dalam penulisan tesis ini masih jauh dari kesempurnaan,
oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan
demi sempurnanya penelitian ini.
Medan, 20 Agustus 2014
Merupakan anak kedua dari tiga beraudara. Pendidikan dasar
(SD) ditempuh di SD Harapan 1 Medan dan lulus tahun 1992.
Jenjang pendidikan selanjutnya ditempuh di SMP Harapan 1
Medan dan lulus tahun 1995, kemudian dilanjutkan ke SMAN 1
Medan dan lulus tahun 1998. Pendidikan tinggi Sarjana (S1)
ditempuh di Universitas Sumatera Utara pada Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Sipil
dan lulus tahun 2005. Tahun 2005 – 2007 bekerja sebagai karyawan PT. Bank Sumut
di Medan. Tahun 2007 – 2009 bekerja sebagai karyawan PT. Bank Danamon di
Medan. Tahun 2009 diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di
Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara dan ditempatkan di Dinas Pekerjaan Umum
Kabupaten Deli Serdang. Selanjutnya pada tahun 2010 diangkat sebagai Pegawai
Negeri dan ditempatkan pada instansi yang sama. Pendidikan dan pelatihan yang
pernah diikuti antar lain Diklat Preservasi Bangunan Jembatan, Diklat Penyusunan
Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi, Diklat Pengadaan Barang dan Jasa.
Pada tahun 2012 berkesempatan unuk menempuh pendidikan Pascasarjana (S2) di
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
RIWAYAT HIDUP ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR TABEL ... ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 4
1.3 Pembatasan Masalah ... 4
1.4 Tujuan Penelitian ... 5
1.5 Manfaat Penelitian ... 5
1.6 Sistematika Penulisan ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8
2.1 Persepsi ... 8
2.1.1 Defenisi ... 8
2.3.1 Pengertian pembangunan ... 15
2.3.2 Stakeholder dalam pembangunan ... 17
2.3.3 Persepsi masyarakat dalam pembangunan ... 19
2.4 Pengetahuan ... 20
2.5 Kebutuhan ... 23
2.6 Kampung Nelayan ... 23
BAB III METODE PENELITIAN ... 29
3.1 Jenis Penelitian ... 29
3.2 Lokasi Penelitian ... 29
3.3 Populasi dan Sampel ... 30
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 31
3.5 Metode Analisa Data ... 33
BAB IV GAMBARAN UMUM KAWASAN ... 36
4.1 Kawasan Penelitian ... 36
4.2 Pembangunan Jalan Setapak Rabat Beton ... 39
4.3 Pembangunan Sumur Bor ... 42
4.4 Pembangunan Sarana Posyandu ... 45
4.5 Pembangunan WC Umum ... 47
5.3 Kajian Pengetahuan Terhadap Persepsi Masyarakat ... 56
5.3.1 Kajian pengetahuan jalan setapak rabat beton ... 56
5.3.2 Kajian pengetahuan sumur bor ... 58
5.3.3 Kajian pengetahuan posyandu kesehatan ... 61
5.3.4 Kajian pengetahuan WC umum ... 64
5.3.5 Kajian pengetahuan kebersihan sampah dan lingkungan ... 66
5.4 Kajian Kebutuhan Terhadap Persepsi Masyarakat ... 68
5.4.1 Kajian kebutuhan jalan setapak rabat beton ... 68
5.4.2 Kajian kebutuhan sumur bor ... 71
5.4.3 Kajian kebutuhan posyandu kesehatan ... 72
5.4.4 Kajian kebutuhan WC umum ... 74
5.4.5 Kajian kebutuhan kebersihan sampah dan lingkungan ... 76
BAB VI PENUTUP ... 79
6.1 Kesimpulan ... 79
6.2 Rekomendasi ... 81
2.1 Proses Terjadinya Persepsi ... 10
2.2 Model Penelitian ... 26
4.1 Kampung Nelayan di Propinsi Sumatera Utara ... 36
4.2 Letak Kampung Nelayan di Kota Medan ... 37
4.3 Kampung Nelayan terdiri dari 5 Blok ... 39
4.4 Peta Jaringan Jalan Kampung Nelayan ... 39
4.5 Pembangunan Jalan Setapak Rabat Beton Kampung Nelayan ... 41
4.6 Pembangunan Sumur Bor Kampung Nelayan ... 43
4.7 Peta Lokasi Sumur Bor ... 44
4.8 Pembangunan Posyandu Kampung Nelayan ... 47
4.9 Peta Lokasi Posyandu ... 47
4.10 Pembangunan WC Umum Kampung Nelayan ... 48
4.11 Peta Lokasi WC Umum ... 49
2.1 Faktor yang Mempengaruhi Persepsi ... 14
2.2. Simpulan Teori ... 27
5.1 Distribusi Frekuensi Responden ... 53
5.2 Distribusi Pengetahuan Jalan Setapak Rabat Beton ... 56
5.3 Persepsi Terhadap Jalan Setapak Rabat Beton ... 57
5.4 Distribusi Pengetahuan Sumur Bor ... 58
5.5 Persepsi Terhadap Sumur Bor ... 60
5.6 Distribusi Pengetahuan Posyandu Kesehatan ... 61
5.7 Persepsi Terhadap Posyandu Kesehatan ... 63
5.8 Distribusi Pengetahuan WC Umum ... 64
5.9 Persepsi Terhadap WC Umum ... 65
5.10 Distribusi Pengetahuan Kebersihan Sampah Lingkungan .. 66
5.11 Persepsi Terhadap Kebersihan Sampah Lingkungan ... 67
5.12 Distribusi Kebutuhan Kebersihan Jalan Setapak Rabat Beton ... 68
5.14 Distribusi Kebutuhan Sumur Bor ... 71
5.16 Distribusi Kebutuhan Posyandu ... 73
5.18 Distribusi Kebutuhan WC Umum ... 75
dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin. Namun pada saat yang sama juga terjadi resistensi penerimaan maupun pemanfaatan pembangunan itu sendiri yang mana sebagian dari pembangunan tersebut masih dieksekusi secara
top down tanpa memperhatikan pentingnya terlebih dahulu untuk memahami persepsi masyarakat akan pembangunan. Persepsi masyarakat terhadap pembangunan sangat penting karena merupakan salah satu faktor kunci dalam penerimaan pembangunan. Penelitian ini dilakukan pada permukiman nelayan di Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan. Ragam pembangunan di Kampung Nelayan antara lain pembangunan jalan setapak rabat beton, pembangunan sumur bor, pembangunan posyandu kesehatan, pembangunan WC umum dan pembangunan kebersihan sampah lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah menemukan pola persepsi masyarakat terhadap usaha usaha pembangunan yang sudah pernah dilakukan dan juga menemukan pengaruh faktor pengetahuan dan kebutuhan dalam pembentukan persepsi masyarakat berkenaan dengan pembangunan tersebut.
Penelitian bersifat deskriptif kualitatif yang didukung deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui pengumpulan data primer berupa observasi lapangan, wawancara, kuisioner dan pengumpulan data sekunder. Metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis kualitatif untuk menemukan pengaruh faktor pengetahuan dan kebutuhan dalam pembentukan persepsi masyarakat.
Hasil penelitian menunjukkan persepsi masyarakat cukup beragam dalam menyatakan pendapatnya terhadap berbagai pembangunan di Kampung Nelayan. Terhadap pembangunan jalan setapak rabat beton dan pembangunan sumur bor terdapat bentukan persepsi yang terbangun secara umum pada masyarakat Kampung Nelayan. Sejumlah 80% masyarakat menyatakan pembangunan jalan setapak rabat beton cukup baik dan demikian juga terhadap pembangunan sumur bor sejumlah 72% masyarakat menyatakan cukup baik. Tidak terdapat bentukan pendapat yang menjadi pola umum persepsi masyarakat terhadap pembangunan posyandu, WC umum dan kebersihan sampah dimana pola persebaran pendapat tersebar cukup merata. Pada analisis hubungan pengetahuan dan kebutuhan terhadap pembentukan persepsi masyarakat diperoleh hasil, terdapat hubungan antara pengetahuan dan kebutuhan terhadap pembentukan persepsi masyarakat akan pembangunan jalan setapak rabat beton dan pembangunan sumur bor, terdapat hubungan antara kebutuhan terhadap pembentukan persepsi masyarakat akan pembangunan posyandu, tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dan kebutuhan terhadap pembentukan persepsi masyarakat akan pembangunan WC umum dan kebersihan sampah.
attention to the people’s perception on the development. This perception is very important because it is one of the key factors in accepting the development. The research was conducted at Kelurahan Belawan I, Medan Belawan Subdistrict, Medan. The types of development at Kampung Nelayan were concrete rebate footpath, the construction of drilled wells, the construction of posyadu, the construction of public toilets, and the construction of garbage dumps. The objective of the research was to find out the pattern of public perception on the development which had been done and to find out the factors of knowledge and need in shaping public perception related to the development.
The research was descriptive qualitative, supported by descriptive quantitative. The data consisted of primary data which were gathered by conducting field observation, interviews, questionnaires, and gathering secondary data and analyzed qualitatively in order to find out the influence of the factors of knowledge and need on the shaping of public perception.
The result of the research showed that there were various public perceptions on the development at Kampung Nelayan. There was general public perception on the construction of concrete rebate footpaths and the construction of drilled wells at Kampung Nelayan. 80% of the respondents stated that the construction of concrete rebate footpaths was good, and 72% of them stated that the construction of drilled wells was good. There was no opinion which became the general pattern of public perception on the construction of public toilets and public toilets since the distributed pattern was distributed evenly. From the analysis of the correlation of knowledge and need with the shaping of public perception, it was found that there was the correlation of knowledge and need with the shaping of public perception on the construction of concrete rebate footpaths and drilled wells, there was the correlation between need and the shaping of public perception on the construction of posyandu, there was no correlation of knowledge and need with the shaping of public perception on the construction of public toilets and garbage dumps.
1.1 Latar Belakang
Kampung Nelayan Belawan merupakan perkampungan yang terletak di
Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan. Perkampungan ini
dihuni sekitar 800 Kepala Keluarga (KK) dengan mata pencaharian utama bekerja
sebagai nelayan. Dalam beberapa tahun terakhir terdapat berbagai proses
pembangunan yang menjadi dinamika pembangunan di Kampung Nelayan, baik
pembangunan yang merupakan swadaya masyarakat ataupun pembangunan yang
dilakukan oleh pemerintah dan pihak lain. Pembangunan yang dilakukan oleh pihak
swasta biasanya merupakan sumbangan pembangunan sebagai bentuk corporate social responsibility di Kampung Nelayan ataupun sumbangan dari berbagai kalangan pengusaha. Sebagian dari usaha pembangunan tersebut belum dipergunakan secara
maksimal atau dapat dirasakan manfaatnya, seperti pendirian pos kesehatan
masyarakat oleh PT. Pertamina namun sebagian besar masyarakat masih belum
menggunakan fasilitas kesehatan tersebut untuk kegiatan berobat atau seperti
penyuluhan kebersihan lingkungan yang dilakukan kelompok mahasiswa kedokteran
Universitas Sumatera Utara namun belum terlihat dampak perbaikan yang cukup
signifikan dimana saat ini permukiman Kampung Nelayan masih tergolong
permukiman kumuh. Hal ini dapat terjadi salah satunya dikarenakan kurangnya
Persepsi masyarakat terhadap pembangunan sangat penting karena merupakan salah
satu faktor kunci dalam penerimaan pembangunan.
Persepsi masyarakat terhadap suatu pembangunan merupakan landasan atau
dasar utama bagi timbulnya kesediaan untuk ikut terlibat dan berperan aktif dalam
setiap kegiatan pembangunan tersebut. Makna positif atau negatif sebagai hasil
persepsi seseorang terhadap pembangunan akan menjadi pendorong atau penghambat
baginya untuk berperan dalam kegiatannya. Persepsi positif masyarakat dapat
mendorong terjadinya partisipasi aktif dalam kegiatan pembangunan sebaliknya
persepsi negatif memungkinkan timbulnya partisipasi semu atau bahkan resistensi
pembangunan di masyarakat. Keadaan yang demikian itu bila sering terjadi maka
akan berakibat kurang lancarnya kegiatan sesuai dengan rencana sehingga
menyulitkan usaha pencapaian tujuan pembangunan dan dapat berimplikasi kepada
hasil pembangunan yang berkurang manfaatnya.
Pada akhir tahun 2012 PT. Perkebunan Nusantara III (PTPN III) menyerahkan
bantuan berupa 10 unit sumur bor dan 5 unit WC umum dan pada saat bersamaan
juga dilakukan kegiatan bakti sosial perbaikan jalan kayu oleh para ibu ibu IIP
BUMN (Ikatan Istri Pimpinan) wilayah Sumatera Utara. PT. Perkebunan Nusantara
IV (PTPN IV) turut menyerahkan bantuan berupa papan jalan dan pembuatan
lapangan upacara sekolah dasar. Selain itu, perusahaan yang secara kawasan
bersinggungan langsung dengan Kampung Nelayan, yaitu PT. Pelabuhan Indonesia
(PELINDO), memberikan bantuan berupa beasiswa pendidikan kepada anak anak
kesehatan masyarakat (Sehati) memberikan bantuan berupa pendirian posyandu.
Peneliti tertarik untuk melihat berbagai isu persepsi berkembang yang terjadi di
masyarakat, apakah berbagai kegiatan pembangunan yang dilakukan telah melalui
proses penerimaan di dalam pemikiran masyarakat. Proses penerimaan di dalam
pemikiran masyarakat tersebut disebut persepsi, yang merupakan proses bagaimana
masyarakat menyeleksi, mengatur dan menginterpretasikan masukan masukan
informasi pembangunan yang ada dan kemudian menafsirkannya untuk memberikan
arti dan memaknai gambaran pembangunan di lingkungannya. Peneliti tertarik untuk
meneliti bagaimana tingkat pengetahuan dan kebutuhan masyarakat mempengaruhi
pembentukan persepsi masyarakat berkenaan dengan manfaat pembangunan tersebut.
Adanya pengalaman pembangunan, kemampuan berpikir, kerangka acuan yang tidak
sama pada masing masing individu dalam masyarakat maka akan memungkinkan
untuk menghasilkan persepsi pembangunan yang tidak sama pula.
Meskipun berbagai usaha pembangunan telah dilakukan di Kampung
Nelayan, namun di saat yang sama juga terjadi resistensi penerimaan maupun
pemanfaatan pembangunan itu sendiri. Contohnya meskipun fasilitas kesehatan dasar
posyandu telah didirikan di Kampung Nelayan namun banyak masyarakat yang
memilih untuk melakukan pengobatan sendiri atau bahkan memiliki anggapan bahwa
tidak perlu sampai pergi ke posyandu untuk mengobati penyakit kecil dan ringan. Hal
akan kesehatan tersebut terbentuk dari tingkat pengetahuan masyarakat tentang
kesehatan maupun tingkat kebutuhan akan hidup sehat pada populasi masyarakat
Kampung Nelayan. Meskipun tentunya tingkat pengetahuan dan kebutuhan bukanlah
satu satunya variabel faktor dalam membentuk persepsi masyarakat dan persepsi
masyarakat juga bukanlah satu satunya faktor dalam menentukan keberhasilan
pembangunan, namun penelitian ini penting dilakukan dengan maksud untuk
meletakkan komponen persepsi sebagai salah satu dasar pondasi dan dapat menjadi
informasi yang berguna bagi berbagai rencana pembangunan di masa depan sehingga
tercapainya pembangunan yang dapat diterima oleh masyarakat secara keseluruhan.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat dirumuskan permasalahan
penelitian yang menjadi research question yaitu bagaimana pengaruh faktor pengetahuan dan kebutuhan dalam pembentukan persepsi masyarakat berkenaan
dengan pembangunan yang dilakukan oleh berbagai pihak selama ini.
1.3 Pembatasan Masalah
Meskipun banyak faktor (variabel) yang potensial memengaruhi pembentukan
persepsi, namun mengingat dan mempertimbangkan segenap keterbatasan peneliti
dalam hal waktu, biaya dan tenaga, maka penelitian ini hanya dibatasi pada upaya
menemukan pengaruh faktor (variabel) pengetahuan dan kebutuhan dalam
melihat sampai sejauh mana keterkaitannya dengan peran serta masyarakat dalam
pembangunan sebagai resultan bentuk tindakan ataupun aksi yang dapat timbul
setelah adanya dorongan stimulus persepsi.
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan penelitian
research question yang muncul dengan latar belakang seperti yang diuraikan di atas yaitu:
1. Menemukan pola persepsi masyarakat Kampung Nelayan Belawan Medan
terhadap usaha usaha pembangunan yang sudah pernah dilakukan selama
ini oleh berbagai pihak di Kampung Nelayan Belawan Medan.
2. Menemukan pengaruh faktor pengetahuan dan kebutuhan dalam
pembentukan persepsi masyarakat berkenaan dengan pembangunan yang
dilakukan oleh berbagai pihak selama ini.
1.5 Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat/kegunaan
yaitu antara lain:
1. Secara teoritis/akademis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya
khasanah kepustakaan kependidikan serta dapat menjadi masukan bagi
mengambil kancah penelitian yang berbeda. Penelitian lanjutan linear
dapat dilakukan misalnya dengan melihat hubungannya (persepsi) dengan
lebih lanjut terhadap partisipasi masyarakat dalam pembangunan ataupun
penelitian lanjutan expanded dengan melihat faktor variabel lain yang berbeda dalam membentuk terjadinya persepsi.
2. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan
referensi bagi pemerintah dan berbagai pihak khususnya dalam maksud
melaksanakan pembangunan di Kampung Nelayan Belawan Medan. Hasil
penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi informasi yang berguna bagi
berbagai rencana pembangunan di masa depan sehingga tercapainya
pembangunan yang dapat diterima oleh masyarakat secara keseluruhan.
1.6 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan tesis ini dibuat untuk mempermudah dalam menyusun
tesis. Adapun sistematika penulisan tesis ini adalah sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini berisi uraian tentang Latar Belakang Masalah yang mendasari
pentingnya diadakan penelitian, Perumusan Masalah Penelitian, Tujuan Penelitian,
BAB II : TINJAUAN TEORI
Bab ini berisi tinjauan teori yang mendeskripsikan pengertian dari persepsi,
faktor faktor pembentuk persepsi, dinamika pembangunan dan kehidupan masyarakat
nelayan.
BAB III : METODE PENELITIAN
Bab ini berisi uraian tentang Lokasi Penelitian, Teknik Pengumpulan Data dan
Teknik Analisis Data yang digunakan, dan Pertanyaan Pertanyaan Penelitian.
BAB IV : GAMBARAN UMUM KAWASAN
Dalam bab ini diuraikan tentang gambaran mengenai kawasan penelitian dan
ragam dinamika kegiatan pembangunan yang dilakukan.
BAB V : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini diuraikan tentang Hasil Penelitian, Distribusi Data, dan
Pembahasan Hasil Penelitian yang dilakukan.
BAB VI : PENUTUP
Berisi uraian tentang pokok-pokok kesimpulan dan saran-saran yang perlu
2.1 Persepsi
2.1.1 Definisi
Pengertian persepsi berasal dari Bahasa Inggris, perception yang artinya persepsi, penglihatan, tanggapan; yaitu proses seseorang menjadi sadar akan segala
sesuatu dalam lingkungannya melalui indera indera yang dimilikinya atau
pengetahuan lingkungan yang diperoleh melalui interpretasi data indera (Kartono dan
Gulo, 1987). Kotler (2000) menerangkan persepsi sebagai proses bagaimana
seseorang menyeleksi, mengatur dan menginterpretasikan masukan-masukan
informasi untuk menciptakan gambaran keseluruhan yang berarti. Mangkunegara
(dalam Arindita, 2003) menyatakan bahwa persepsi adalah suatu proses pemberian
arti atau makna terhadap lingkungan. Dalam hal ini persepsi mencakup penafsiran
obyek, penerimaan stimulus (Input), pengorganisasian stimulus, dan penafsiran
terhadap stimulus yang telah diorganisasikan dengan cara mempengaruhi perilaku
dan pembentukan sikap. Adapun Robbins (2003) menjelaskan persepsi dalam
kaitannya dengan lingkungan, yaitu sebagai proses di mana individu-individu
mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indera mereka agar memberi makna
kepada lingkungan mereka. Walgito (1994) berpendapat bahwa persepsi seseorang
merupakan proses aktif yang memegang peranan, bukan hanya stimulus yang
pengalaman-pengalamannya, motivasi serta sikapnya yang relevan dalam menanggapi stimulus.
Individu dalam hubungannya dengan dunia luar selalu melakukan pengamatan untuk
dapat mengartikan rangsangan yang diterima dan alat indera dipergunakan sebagai
penghubungan antara individu dengan dunia luar. Agar proses pengamatan itu terjadi,
maka diperlukan objek yang diamati alat indera yang cukup baik dan perhatian
merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam mengadakan pengamatan.
Persepsi berarti analisis mengenai cara mengintegrasikan penerapan kita
terhadap hal-hal di sekeliling individu dengan kesan-kesan atau konsep yang sudah
ada, dan selanjutnya mengenali benda tersebut. Untuk memahami hal ini, maka
contoh sebagai berikut: individu baru pertama kali menjumpai buah yang sebelumnya
tidak kita kenali, dan kemudian ada orang yang memberitahu kita bahwa buah itu
namanya mangga. Individu kemudian mengamati serta menelaah bentuk, rasa, dan
lain sebagainya dari buah itu secara seksama sehingga timbul konsep mengenai
mangga dalam benak (memori) individu. Pada kesempatan lainnya, saat menjumpai
buah yang sama, maka individu akan menggunakan kesan-kesan dan konsep yang
telah kita miliki untuk mengenali bahwa yang kita lihat itu adalah mangga
(Taniputera, 2005). Melalui persepsi individu dapat menyadari, dapat mengerti
tentang keadaan diri individu yang bersangkutan. Persepsi itu merupakan aktivitas
yang integrated, maka seluruh apa yang ada dalam diri individu seperti perasaan, pengalaman, kemampuan berpikir, kerangka acuan dan aspek-aspek lain yang ada
dalam diri individu masyarakat akan ikut berperan dalam persepsi tersebut (Walgito,
sekalipun stimulusnya sama tetapi karena pengalaman tidak sama, kemampuan
berpikir tidak sama, kerangka acuan tidak sama, maka akan menimbulkan
kemungkinan hasil persepsi antara individu dengan individu yang lain tidak sama.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa persepsi masyarakat merupakan suatu proses
bagaimana masyarakat menyeleksi, mengatur dan menginterpretasikan masukan
masukan informasi pembangunan dan pengalaman pengalaman pembangunan yang
ada dan kemudian menafsirkannya untuk memberikan arti dan memaknai gambaran
pembangunan. Adanya pengalaman pembangunan, kemampuan berpikir, kerangka
acuan yang tidak sama pada masing masing individu dalam masyarakat maka akan
memungkinkan untuk menghasilkan persepsi pembangunan yang tidak sama pula.
2.1.2 Proses terjadi persepsi
Mutmainah (1997) menggambarkan proses terjadinya persepsi pada Gambar
Objek atau peristiwa yang terdapat di dunia nyata real world akan diterima oleh alat indera manusia: (1) Berupa masukan masukan informasi atau disebut
stimulus. Stimulus tersebut kemudian diubah oleh alat indera menjadi sinyal yang
dimengerti oleh otak; (2) “Komputer” otak akan mengolahnya dengan
membandingkannya dengan peristiwa peristiwa relevan yang tersimpan di otak (3)
sehingga menjadi pengalaman perseptual. Dunia yang dipersepsi bukanlah “dunia
ang nyata” real world. Yang kita persepsi adalah “dunia yang kita pahami” perceived world (Mutmainnah, 1997).
2.1.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi
Menurut Darwin P. Hunt, (2003) persepsi terbentuk atas tiga faktor yaitu
pengetahuan, keyakinan dan kebutuhan. “It is knowledge, beliefs and needs that structure our perceptions by interpreting the data of our senses”.
Menurut Richard L Gregory (1997), dikatakan bahwa persepsi berkaitan
secara tidak langsung dengan objek yang diterima oleh indera manusia dan bahwa
pengetahuan manusia dibutuhkan guna menyimpulkan objek yang diterima oleh
sensor indera kita sehingga objek tersebut menjadi berarti. “Human perception is but indirectly related to objects, being inferred from fragmentary and often hardly relevant data signalled by the eyes, so requiring inferences from knowledge of the world to make sense of the sensory signals”.
Adapun menurut Muhyadi (1989), persepsi yang terbentuk
sendiri, stimulus yang berupa obyek maupun peristiwa tertentu, situasi di mana
pembentukan persepsi itu terjadi. Orang yang membentuk persepsi itu sendiri,
khususnya kondisi intern atau karakteristik pribadinya, sangat menentukan persepsi
yang dibentuk. Termasuk dalam kategori kondisi intern ini antara lain: kebutuhan,
kelelahan, kecemasan, sikap, pengetahuan, motivasi, harapan, pengalaman masa lalu,
dan kepribadian.
Robbins (2003), mengemukakan bahwa faktor faktor yang
mempengaruhi persepsi yaitu:
1. Pelaku persepsi, yaitu bila seorang individu memandang pada suatu objek
dan mencoba menafsirkan apa yang dilihatnya, penafsiran itu sangat
dipengaruhi oleh karakteristik pribadi dari perilaku persepsi itu. Di antara
karakteristik pribadi yang lebih relevan mempengaruhi persepsi adalah
sikap, pengetahuan, motif atau kebutuhan, kepentingan atau minat,
pengalaman masa lalu, dan pengharapan (ekspektasi).
2. Target/obyek, yaitu karakteristik karakteristik dari target yang akan
diamati dapat mempengaruhi apa yang dipersepsikan, seperti orang yang
keras suaranya akan lebih mungkin untuk lebih diperhatikan dari suatu
kelompok mereka yang pendiam. Hubungan suatu target dengan latar
belakangnya mempengaruhi persepsi, seperti kecenderungan kita untuk
mengelompokkan benda-benda yang mirip.
3. Situasi, yaitu unsur unsur lingkungan sekitar kita yang mempengaruhi
Menurut Miftah Thoha (1996) faktor faktor yang mempengaruhi persepsi
seseorang berbeda antara satu dengan yang lainnya adalah:
1. Faktor intern, antara lain perasaan, sikap dan kepribadian individual,
prasangka, keinginan atau harapan, perhatian (fokus), proses belajar,
keadaan fisik, gangguan kejiwaan, nilai dan kebutuhan juga minat dan
motivasi dari individu.
2. Faktor ekstern, antara lain intensitas, ukuran, keberlawanan, pengulangan
gerakan, hal-hal baru dan familiar atau ketidakasingan suatu objek.
Mutmainnah (1997) mengatakan faktor faktor personal yang mempengaruhi
persepsi seseorang antara lain adalah kebutuhan atau motif, keyakinan, tujuan,
kapabilitas yang mencakup hal hal seperti pengetahuan, kegunaan, gaya komunikasi
dan pengalaman atau kebiasaan. Mutmainnah juga mengatakan bahwa terdapat faktor
stimuli objek yang mempengaruhi persepsi antara lain karakter fisik objek,
pengorganisasian pesan, kebaruan, mode dan asal mula informasi. Mutmainnah
menggolongkan pengaruh, media dan lingkungan sebagai situasi yang dapat
mempengaruhi persepsi.
Berdasarkan berbagai pendapat ahli di atas dapat dibuat pengelompokkan
variabel variabel faktor pembentuk persepsi dari berbagai pendapat ahli, secara Tabel
Tabel 2.1. Faktor yang mempengaruhi persepsi
Muhyadi Robbins
Miftah
2.2 Masyarakat
Dalam kamus bahasa Inggris, masyarakat disebut society asal katanya socius
yang berarti kawan. Arti yang lebih khusus, bahwa masyarakat adalah kesatuan sosial
yang mempunyai kehidupan jiwa seperti adanya ungkapan-ungkapan jiwa rakyat,
kehendak rakyat, kesadaran masyarakat dan sebaginya. Sedangkan jiwa masyarakat
ini merupakan potensi yang berasal dari unsur-unsur masyarakat meliputi pranata,
status dan peranan sosial. Sehingga para pakar sosiologi seperti Mac Iver, J.L Gillin
saling bergaul berinteraksi karena mempunyai nilai-nilai, norma-norma, cara-cara dan
prosedur yang merupakan kebutuhan bersama berupa suatu sistem adat istiadat
tertentu yang bersifat kontinyu dan terikat oleh suatu identitas bersama (Soelaiman,
dalam Adrianto, 2006).
2.3 Pembangunan
2.3.1 Pengertian pembangunan
Secara sederhana pembangunan sering diartikan sebagai suatu upaya untuk
melakukan perubahan menjadi lebih baik. Makna penting dari pembangunan adalah
adanya kemajuan/perbaikan progress, pertumbuhan dan diversifikasi. Para ahli memberikan pengertian pembangunan yang beragam. Istilah pembangunan bisa saja
diartikan berbeda oleh satu orang dengan orang lain, daerah yang satu dengan daerah
lainnya, Negara satu dengan Negara lain. Namun secara umum ada suatu
kesepakatan bahwa pembangunan merupakan proses untuk melakukan perubahan
(Riyadi dan Deddy Supriyadi Bratakusumah, 2005). Menurut Bintoro Tjokroamidjojo
(1988), pembangunan adalah upaya suatu masyarakat bangsa yang merupakan suatu
perubahan sosial yang besar dalam berbagai bidang kehidupan ke arah masyarakat
yang lebih maju dan baik, sesuai dengan pandangan masyarakat bangsa itu. Siagian
(1994) memberikan pengertian tentang pembangunan sebagai “Suatu usaha atau
rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana dan dilakukan secara
sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah, menuju modernitas dalam rangka
mencakup seluruh sistem sosial, seperti politik, ekonomi, infrastruktur, pertahanan,
pendidikan dan teknologi, kelembagaan, dan budaya. Portes (1998) mendefenisikan
pembangunan sebagai transformasi ekonomi, sosial dan budaya. Pembangunan
adalah proses perubahan yang direncanakan untuk memperbaiki berbagai aspek
kehidupan masyarakat. Ginanjar Kartasasmita (1994) memberikan pengertian yang
lebih sederhana, yaitu sebagai “suatu proses perubahan ke arah yang lebih baik
melalui upaya yang dilakukan secara terencana”.
Pembangunan dapat diartikan sebagai upaya terencana dan terprogram yang
dilakukan secara terus menerus oleh sutau negara untuk menciptakan masyarakat
yang lebih baik. Setiap individu society atau Negara state akan selalu bekerja keras untuk melakukan pembangunan demi kelangsungan hidupnya untuk masa ini dan
masa yang akan datang. Pembangunan dapat diartikan sebagai upaya terencana dan
terprogram yang dilakukan secara terus menerus oleh suatu negara untuk
menciptakan masyarakat yang lebih baik, dan merupakan proses dinamis untuk
mencapai kesejahteraan masyarakat. Proses kegiatan yang dilakukan dalam rangka
pengembangan kegiatan ekonomi dan peningkatan taraf hidup masyarakat. Tiap tiap
negara selalu mengejar pembangunan dengan tujuan semua orang turut
mengambil bagian. Sedangkan kemajuan ekonomi adalah suatu komponen esensial
dari pembangunan itu, walaupun bukan satu satunya. Hal ini disebabkan
pembangunan itu bukanlah semata-mata fenomena ekonomi. Dalam pengertian
yang paling mendasar, bahwa pembangunan itu haruslah mencakup masalah-masalah
diselidiki sebagai suatu proses multi dimensional yang melibatkan reorganisasi dan
reorientasi dari semua sistem ekonomi dan sosial (Todaro, 2000). Sejalan dengan
pendapat tersebut Dudley Seers, menyatakan bahwa pembangunan menuju pada tiga
sasaran penting yaitu mengurangi: kemiskinan (poverty), pengangguran
(unemployment), dan ketimpangan (inequality).
Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa dinamika pembangunan
Kampung Nelayan adalah aktifitas pergerakan pergerakan usaha untuk memperbaiki
kondisi yang lebih baik bagi masyarakat untuk menuju ke arah kemajuan di Kampung
Nelayan. Maju mundurnya suatu masyarakat dapat dilihat dari hasil hasil
pembangunan yang telah dilaksanakan oleh masyarakat tersebut.
2.3.2 Stakeholder dalam pembangunan
Dalam melaksanakan pembangunan terdapat tiga komponen utama agar
pelaksanaan pembangunan dapat berjalan dengan baik dan berhasil, pertama yaitu
pemerintah, kedua masyarakat dan ketiga swasta. Ketiganya memiliki peranan
masing masing, tetapi dalam pelaksanaannya ketiga komponen tersebut harus saling
berkoordinasi, bekerjasama dan saling melengkapi. Secara lebih jelas peranan ketiga
komponen tersebut adalah:
a. Peran Pemerintah
Sesuai dengan peraturan yang berkaitan dengan otonomi daerah maka
pemerintah sekarang ini dalam melaksanakan program pembangunannya
maupun pedoman pelaksanaan beserta petunjuk teknisnya namun lebih
berperan sebagai fasilitator dan motivator. Guna mempercepat keberhasilan
pembangunan prasarana dasar permukiman maka peranan pemerintah
dapat berupa pemberian stimulan yang berupa konsultasi dan kemudahan
berkomunikasi, material dan dana.
b. Peran Masyarakat
Masyarakat merupakan salah satu komponen utama dalam pelaksanaan
pembangunan, karena mereka dapat berperan baik sebagai subyek maupun
obyek pembangunan. Keterlibatan masyarakat akan sangat mendorong
terciptanya suatu hasil pembangunan yang baik, karena biar bagaimanapun
masyarakatlah yang mengetahui sekaligus memahami kondisi apa yang ada
di wilayahnya. Disamping itu, dengan melibatkan mereka dalam proses
pembangunan, pemerintah telah memberikan kepercayaan kepada
masyarakat sehingga mereka dapat merasa ikut bertanggung jawab dan
merasa memiliki program-program pembangunan.
c. Peran Swasta
Secara umum peranan swasta tidak dapat dipisahakan dari peran
masyarakat, namun demikian peranan mereka sangat besar terhadap laju
pembangunan. Adanya kewenangan suatu daerah untuk mengatur rumah
tangganya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, akan membuka
peluang bagi para investor pemegang modal untuk menanamkan usahanya.
sangat terbatas untuk memenuhi semua kebutuhan masyarakat yang boleh
dikata tidak mempunyai batas. Munculnya investor akan sangat membantu
pelaksanaan program pembangunan yang akan dilaksanakan oleh
pemerintah. Apabila hal ini benar benar bisa terwujud maka pemerintah
sangat diuntungkan, karena modal yang akan dikeluarkan akan relatif
sedikit dan percepatan pembangunan dapat dicapai dengan merata.
2.3.3 Persepsi masyarakat dalam pembangunan
Untuk mencapai keberhasilan pembangunan terdapat banyak hal dan aspek
yang harus diperhatikan, diantaranya adalah keterlibatan masyarakat di dalam
pembangunan. Salah satu keuntungan dengan adanya perlibatan masyarakat dalam
perencanaan pembangunan adalah pembangunan akan berjalan sesuai dengan
tanggapan dan kebutuhan masyarakat. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan
oleh Adrianto (2006) diperoleh kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang signifikan
antara tingkat partisipasi masyarakat terhadap persepsi masyarakat, dimana di dalam
penelitiannya disimpulkan bahwa pada responden masyarakat yang memiliki tingkat
partisipasi yang lebih tinggi terhadap pelaksanaan pembangunan prasarana dasar
memiliki tingkat persepsi terhadap pembangunan prasarana dasar yang lebih baik
pula. Sejalan dengan itu berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Nugraha
(2009) dikatakan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara partisipasi
dan persepsi masyarakat dalam pembangunan kota dimana di dalam penelitiannya
terbuka hijau yang lebih baik memiliki tingkat partisipasi pembangunan yang lebih
tinggi pula.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat kecenderungan
hubungan garis lurus antara persepsi dan partisipasi masyarakat di dalam
pembangunan dan perlunya dilakukan pengkajian terhadap tingkat persepsi
masyarakat yang dapat berfungsi sebagai tolak ukur ataupun indikator peran serta
masyarakat di dalam pembangunan.
2.4 Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu yang diperoleh manusia melalui
pengamatan inderawi terhadap objek tertentu. Penginderaan ini terjadi melalui panca
indera manusia yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan peraba.
Menurut Notoatmodjo (2003) pengetahuan terbagi atas 6 (enam) tingkatan yaitu:
1. Tahu (know) berarti ingat materi dipelajari sebelumnya secara benar.
2. Memahami (comprehension) artinya mampu menjelaskan objek yang
diketahui dan bisa menginterpretasikan materi dengan benar.
3. Aplikasi (Application) berarti mampu memakai materi yang dipelajari dari
situasi sebenarnya.
4. Analisis (analysis) berarti mampu menjabarkan materi pada komponen,
tetapi dalam struktur organisasi yang masih berkaitan.
5. Sintesis (synthesis) berarti mampu menghubungkan bagian dalam bentuk
6. Evaluasi (evaluation) berarti mampu menilai materi.
Menurut Arikunto (2006), pengetahuan dibagi ke dalam 3 (tiga) kategori.
Ketiga kategori tersebut lebih lanjut dikatakan Arikunto, yaitu:
1. Baik, bila subyek mampu menjawab dengan benar 76%-100% dari seluruh
pertanyaan.
2. Cukup, bila subyek mampu menjawab dengan benar 56%-75% dari
seluruh pertanyaan.
3. Kurang, bila subyek mampu menjawab dengan benar 40%-55% dari
seluruh pertanyaan.
Pengetahuan masyarakat Kampung Nelayan tentang pembangunan adalah
pengetahuan akan pembangunan yang dimiliki masyarakat Kampung Nelayan yang
diperoleh dari berbagai pengamatan melalui unsur inderawi tentang pembangunan itu
sendiri. Pengetahuan tersebut dapat diperoleh melalui pembelajaran di sekolah,
kegiatan diskusi, sosialisasi, pengalaman pembangunan,,dan sebagainya. Misalnya
seseorang mendapatkan pengetahuan tentang pentingnya penggunaan sabun pada saat
membersihkan tangan, yang diperoleh melalui penginderaan mata dan telinga ketika
melihat dan mendengarkan pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan yang
diberikan guru di sekolah. Ketika masyarakat mampu memakai sabun saat
membersihkan tangan, maka berdasarkan pendapat Notoatmodjo masyarakat tersebut
terletak pada tingkatan ketiga; aplikasi (application) yaitu mampu memakai materi
Dengan berpengetahuan yang baik dapat berimplikasi kepada tindakan yang
baik pula. Menurut Benyamin Bloom dalam Notoatmodjo (2003) perilaku terdiri dari
tiga aspek yaitu pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan tindakan (psikomotor).
Apabila dikaitkan dengan seorang masyarakat yang memiliki pengetahuan yang baik,
maka akan berdampak terhadap tindakan seseorang tersebut sebagai perwujudan
sikap menjadi perbuatan nyata sesuai yang diharapkan. Perbuatan nyata membuang
sampah pada tempatnya merupakan manifestasi tindakan yang diharapkan dari usaha
usaha memberikan pengetahuan tentang kebersihan lingkungan.
Bila proses perilaku ini didasari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang
positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya bila
perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan
berlangsung lama. Contohnya ibu-ibu menjadi peserta Keluarga Berencana, karena
diperintahkan oleh lurah tanpa mengetahui makna dan tujuan Keluarga Berencana,
maka mereka akan segera keluar dari keikutsertaannya dalam Keluarga Berencana
setelah beberapa saat perintah tersebut diterima (Notoatmodjo, 2007).
Dapat disimpulkan pengetahuan turut berkontribusi dalam menentukan
keberhasilan pembangunan meskipun tentu masih terdapat berbagai faktor lain,
sehingga dengan terdapatnya berbagai dinamika pembangunan yang telah dilakukan
di Kampung Nelayan, variabel pengetahuan menjadi salah satu komponen penting
dalam menentukan berhasil atau tidaknya pembangunan di wilayah perkampungan
2.5 Kebutuhan
Teori yang cukup terkenal dalam membahas tentang kebutuhan salah satunya
adalah teori Abraham Maslow yang mengklasifikasikan kebutuhan ke dalam lima
tingkat. Kebutuhan tersebut berjenjang dari yang paling mendesak hingga yang akan
muncul dengan sendirinya saat kebutuhan sebelumnya telah dipenuhi, namun hanya
sedikit yang mampu mencapai tingkatan tertinggi dari piramida kebutuhan. Tingkatan
tersebut dimulai dari yang terendah sampai tertinggi yaitu kebutuhan fisiologis, rasa
aman, sosial, penghargaan dan mewujudkan jati diri.
Maslow mengatakan bahwa kebutuhan dasar fisik/fisiologis dan keamanan
terlebih dahulu harus terpenuhi sebelum memenuhi kebutuhan kebutuhan lainnya.
Adapun contoh Kebutuhan fisiologis seperti sandang/pakaian, pangan/makanan,
papan/rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil,
bernafas, dan lain sebagainya. Kebutuhan keamanan seperti bebas dari penjajahan,
bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan semacamnya.
Kebutuhan sosial misalnya adalah memiliki teman, memiliki keluarga, dan lain lain.
Kebutuhan penghargaan meliputi hal hal sepeti pujian, piagam, tanda jasa, hadiah.
Terakhir adalah kebutuhan tertinggi yaitu kebutuhan aktualisasi diri.
2.6 Kampung Nelayan
Kampung merupakan bentuk permukiman yang unik, dihuni penduduk
berpendapatan menengah ke bawah, dapat tersebar di seluruh wilayah kota seperti di
sebagainya. Kampung juga dapat diartikan sebagai desa atau dusun, dapat pula
sebagai kelompok rumah rumah yang merupakan bagian kota, dan biasanya yang
rumahnya kurang bagus (Silas, 1998). Masyarakat kampung nelayan adalah
masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupannya di sepanjang hari dengan
kehidupan yang dihasilkan oleh laut. Laut adalah tempat dimana mereka mengelola
kehidupannya, mengembangkan kreativitas dan inovasi untuk mengoptimalkan
potensi kelautan. Sumber kehidupan yang berada di laut mempunyai makna bahwa
manusia yang akan memanfaatkan sumber hidup yang tersedia di laut tidak
mempertentangkan dirinya dengan hukum hukum alam kelautan yang telah terbentuk
dan terpola seperti yang mereka lihat dan rasakan.
Salah satu ciri perilaku sosial kehidupan dari masyarakat nelayan dapat
disimak dalam pernyataan antropolog Belanda (Boelaars, 1984) “Orang pesisir
memiliki orientasi yang kuat untuk merebut dan meningkatkan kewibawaan atau
status sosial. Mereka sendiri mengakui bahwa mereka cepat marah, mudah
tersinggung, lekas menggunakan kekerasan, dan gampang cenderung balas membalas
sampai dengan pembunuhan. Orang pesisir memiliki rasa harga diri yang amat tinggi
dan sangat peka. Perasaan itu bersumber pada kesadaran mereka bahwa pola hidup
pesisir memang pantas mendapat penghargaan yang tinggi”.
Masyarakat nelayan memiliki karakter keras, tegas, dan terbuka. Hal ini
dikarenakan nelayan menghadapi sumber daya yang bersifat “open access” dengan tingkat ketidakpastian yang cukup tinggi. Nelayan mesti berpindah-pindah tempat
berisiko tinggi. Berbeda dengan petani, masyarakat petani menghadapi sumber daya
yang lebih terkontrol yakni pengolahan lahan produksi. Karakteristik masyarakat
nelayan yaitu rata-rata penduduk golongan ekonomi lemah, dengan latar belakang
pendidikan relatif terbatas, pengetahuan akan lingkungan sehat cenderung masih
kurang, terjadi kebiasaan tidak sadar lingkungan serta cenderung kurang
memperhatikan bahaya dan resiko. Hal ini dapat dilihat pada permukiman Kampung
Nelayan dimana saat ini tergolong merupakan permukiman kumuh dengan perilaku
masyarakat yang cenderung kurang perduli akan kebersihan dan lingkungan sekitar.
Apabila dikaitkan dengan pendapat Indra Wijaya (1989) yaitu “Bagaimana
tafsiran dan pemikiran seseorang terhadap semua rangsangan yang diproseskan itu
akan tampak pengaruhnya dalam perilaku atau dalam sikap yang berkaitan dengan hal
hal yang dipersepsikan”, maka dengan demikian perilaku sikap masyarakat Kampung
Nelayan yang cenderung kurang perduli akan kebersihan dan lingkungan merupakan
manifestasi sikap dari persepsi masyarakat akan lingkungan tempat tinggalnya.
Apabila dikaitkan dengan sikap pembangunan hal tersebut memiliki integrasi yang
erat sebagai dasar perilaku yang membentuknya. Kondisi yang demikian dapat
dipahami mengingat waktu masyarakat nelayan yang banyak berada di laut dimana
ketika sedang mencari ikan dapat menghabiskan waktu berhari-hari bahkan sampai
berminggu-minggu di laut, tidak seperti masyarakat darat yang sudah lebih teratur,
pola aktifitas masyarakat nelayan terpusat pada kegiatan mencari ikan dimana laut
lainnya yang pada akhirnya akan berpengaruh pada pembangunan masyarakat
nelayan.
Merujuk pada kajian teoritik dan dengan mempertimbangkan keterbatasan
keterbatasan dan pemilihan komponen variabel faktor pembentuk persepsi yang
dipilih, maka dapat dibangun model penelitian yang secara bagan dapat
divisualisasikan seperti Gambar 2.3.
Gambar 2.3 Model Penelitian Pengetahuan
Masyarakat Tentang Pembangunan
Persepsi Masyarakat Terhadap Pembangunan
Kebutuhan Masyarakat akan
Adapun simpulan teori yang digunakan dijelaskan pada Tabel 2.2
Tabel 2.2 Simpulan Teori
Teori Variabel Data yang diperlukan Metoda Darwin P. Hunt,
(2003) "The concept of knowledge and how to measure it", Journal of Intellectual Capital, Vol. 4 Iss: 1, hal 101. “It is knowledge (pengetahuan), beliefs and needs (kebutuhan) that yang telah dilakukan di Kampung Nelayan suatu objek dan mencoba yang sudah dilakukan di Kampung setempat tentang
Tabel. 2.2 (Lanjutan)
Teori Variabel Data yang diperlukan Metoda karakteristik Robbin adalah pengetahuan dan kebutuhan individu tersebut
Masyarakat Pembangunan
Kebutuhan masyarakat telah dilakukan di Kampung Nelayan
dengan menggunakan tabulasi silang dan secara analitik dengan
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dimaksudkan untuk
mengumpulkan informasi dan membuat gambaran deskripsi dari penelitian. Kajian
dilakukan terhadap faktor pengetahuan, kebutuhan dan persepsi masyarakat. Tahapan
selanjutnya peneliti melakukan analisis dengan menggunakan pendekatan deskriptif
kuantitatif dan analisis kualitatif di dalam menganalisa hubungan faktor pengetahuan
dan kebutuhan terhadap pembentukan persepsi masyarakat berkenaan dengan
pembangunan yang dilakukan di Kampung Nelayan.
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini mengambil tempat di kawasan perkampungan Kampung
Nelayan yaitu di Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan.
Berdasarkan perumusan masalah dan tujuan penelitian maka dapat diidentifikasi
variabel variabel yang menjadi kriteria pemilihan lokasi penelitian yaitu variabel
lokasi populasi persepsi masyarakat, variabel lokasi populasi tingkat pengetahuan
masyarakat, variabel lokasi populasi kebutuhan masyarakat dan variabel lokasi
dinamika pembangunan. Keempat variabel tersebut harus berada pada satu daerah
lokasi yang sama sebagai parameter lokasi proses penelitian guna menemukan
dinamika pembangunan yang terjadi di Kampung Nelayan dengan maksud manfaat
pembangunan yang ditujukan untuk dapat dirasakan seluruh masyarakat Kampung
Nelayan, yang memiliki berbagai persepsi dan tingkat pengetahuan pembangunan dan
kebutuhan akan pembangunan yang beragam pula sehingga alasan kesamaan lokasi
dimana keseluruhan proses keempat variabel tersebut terjadi menjadikan Kampung
Nelayan sebagai tempat pemilihan lokasi penelitian.
3.3 Populasi dan Sampel
Populasi adalah seluruh masyarakat yang tinggal di perkampungan Kampung
Nelayan, Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan. Sampel
adalah sebagian masyarakat yang mewakili untuk diperiksa guna kepentingan
penelitian. Sampel penelitian ini ditentukan berdasarkan rumus Slovin. Pengambilan
sampel masyarakat yang diperiksa yang terpilih dilakukan secara random. Maka
teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode simple random sampling, yang bertujuan agar sampel dapat mewakili masyarakat di Kampung Nelayan.
n
=
N1+Ne2
...
(3.1)n = Jumlah sampel
N = Jumlah populasi
e = Kelonggaran ketidaktelitian yang ditolerir yaitu sebesar 10% sehingga
Berdasarkan rumus tersebut, maka jumlah sampel pada penelitian ini:
n = Jumlah sampel pada penelitian ini
N = Jumlah populasi, dalam hal ini jumlah penduduk Kampung Nelayan Belawan
e = Derajat kecermatan studi yang diharapkan 10%
Berdasarkan asumsi di atas maka jumlah sampel yang akan diambil adalah sebesar:
n
=
N1+Ne2
=
4052
1+4052 x 0,12
=
405241,52
=
97,591 ≈ 1003.4 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan suatu proses untuk mendapatkan data empiris
melalui responden dengan metode tertentu. Hal ini ditujukan untuk mendapatkan data
yang dibutuhkan sebagai bahan masukan untuk setiap tahap analisis berikutnya:
1. Pengumpulan Data Primer
Merupakan pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti secara
langsung kepada objek penelitian di lapangan, baik melalui pengamatan
observasi langsung maupun wawancara interview dan penyebaran angket kuisioner. Dalam melakukan pengamatan observasi objek yang diamati adalah ragam pembangunan yang telah dilakukan di Kampung Nelayan.
Wawancara interview dilakukan dengan cara mewawancara pihak pemerintah yaitu kepala lingkungan setempat. Penyebaran angket kuisioner
penelitian yaitu data pengetahuan, data kebutuhan, dan persepsi masyarakat
setempat akan pembangunan.
Batasan pengetahuan masyarakat yang akan diteliti dibatasi dengan ragam
pembangunan yang telah dilakukan di Kampung Nelayan selama ini yaitu:
a. Pengetahuan masyarakat tentang fungsi sumur bor dan air bersih.
b. Pengetahuan masyarakat tentang fungsi WC umum dan sanitasi.
c. Pengetahuan masyarakat tentang posyandu dan kesehatan.
d. Pengetahuan masyarakat terhadap fungsi jalan setapak rabat beton .
e. Pengetahuan masyarakat tentang terhadap penyuluhan kebersihan
sampah dan lingkungan.
Batasan kebutuhan masyarakat yang akan diteliti dibatasi dengan ragam
pembangunan yang telah dilakukan di Kampung Nelayan selama ini yaitu:
a. Kebutuhan masyarakat akan sumur bor dan air bersih.
b. Kebutuhan masyarakat akan WC umum dan sanitasi.
c. Kebutuhan masyarakat akan posyandu.
d. Kebutuhan masyarakat akan jalan setapak rabat beton.
e. Kebutuhan masyarakat akan kebersihan sampah dan lingkungan.
Batasan persepsi masyarakat yang akan diteliti dibatasi dengan hanya
kaitannya dengan pembangunan yang telah terjadi di Kampung Nelayan
selama ini yaitu:
a. Persepsi masyarakat terhadap pembangunan sumur bor di Kampung
b. Persepsi masyarakat terhadap pembangunan WC umum di Kampung
Nelayan.
c. Persepsi masyarakat terhadap pendirian posyandu di Kampung Nelayan.
d. Persepsi masyarakat terhadap perbaikan jalan setapak rabat beton di
Kampung Nelayan.
e. Persepsi masyarakat terhadap penyuluhan kebersihan sampah di
Kampung Nelayan.
2. Pengumpulan Data Sekunder
Pengumpulan data sekunder dilakukan peneliti dengan cara tidak langsung
ke objek penelitian, tetapi melalui penelitian terhadap dokumen dokumen
yang berkaitan dengan objek penelitian. Penelitian ini juga menggunakan
metode dokumentasi. Menurut Arikunto (2006) metode dokumentasi
adalah mencari data mengenai hal hal atau variabel yang berupa catatan,
transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan
sebagainya.
3.5 Metode Analisa Data
Setelah mendapatkan data data penelitian, yaitu data pengetahuan masyarakat
setempat tentang pembangunan, data kebutuhan masyarakat akan pembangunan dan
data persepsi masyarakat setempat mengenai dinamika pembangunan selanjutnya
ketiga jenis data tersebut digunakan menjadi bahan analisa. Berdasarkan pendapat
kebutuhan manusia maka dapat dijabarkan bahwa data persepsi merupakan variabel
terikat yang dibentuk variabel bebas yaitu data pengetahuan atau data kebutuhan,
sehingga dapat dikatakan variabel persepsi memiliki hubungan fungsional dan kausal
dengan variabel pengetahuan dan variabel kebutuhan. Metode analisa yang digunakan
dalam meneliti hubungan antara variabel salah satunya adalah dengan menggunakan
analisis Pearson Chi Square Test.
Ketiga variabel penelitian diukur dengan menggunakan skala likert dimana
untuk variabel pengetahuan diukur dengan data ordinal dengan kategori data yaitu
berpengetahuan kurang, berpengetahuan cukup dan berpengetahuan baik. Untuk
variabel kebutuhan diukur dengan data ordinal dengan kategori data yaitu tidak
membutuhkan, membutuhkan dan sangat membutuhkan. Untuk variabel persepsi
masyarakat akan pembangunan diukur dengan data ordinal dengan kategori data yaitu
sangat tidak baik, tidak baik, cukup baik, baik dan sangat baik. Dalam mendapatkan
data ordinal kebutuhan dan data ordinal persepsi dilakukan langsung dengan
menyebarkan angket kuisioner, namun untuk mendapatkan data ordinal pengetahuan
perlu dilakukan pengolahan terlebih dahulu yaitu dengan cara melakukan scoring
penilaian terhadap jawaban atas pertanyaan pertanyaan pengetahuan yang diberikan
kepada responden. Kategori berpengetahuan baik adalah apabila subyek mampu
menjawab dengan benar 76%-100% dari seluruh pertanyaan. Kategori
berpengetahuan cukup apabila subyek mampu menjawab dengan benar 56%-75%
dari seluruh pertanyaan. Kategori berpengetahuan kurang apabila subyek mampu
Jumlah frekuensi dari masing masing kategori atas ketiga variabel tersebut
akan saling diperbandingkan secara tabulasi silang untuk kemudian dilakukan analisa
komparatif dengan teknik chi square untuk memperoleh hubungannya, dengan rumusan hipotesis penelitian sebagai berikut:
1. Ho diterima: Tidak ada hubungan faktor pengetahuan/kebutuhan dengan
persepsi masyarakat.
2. Ho ditolak: Terdapat hubungan faktor pengetahuan/kebutuhan dengan
persepsi masyarakat.
Dasar pengambilan keputusan yaitu dengan melihat perbandingan X2 hitung
dengan X2 tabel:
1. Jika X2 hitung < X2 tabel, maka Ho diterima
2. Jika X2 hitung > X2 tabel, maka Ho ditolak
Dalam menentukan X2 tabel (df k-1xk-1) = 8, pada tingkat kepercayaan 95%
diperoleh nilai X2 tabel sebesar 15,507.
Dengan menggunakan metode analisa tersebut maka akan diperoleh hasil
penelitian untuk kemudian dilakukan penarikan kesimpulan sesuai dengan tujuan
penelitian yaitu menemukan pengaruh tingkat pengetahuan dan kebutuhan
masyarakat terhadap pembentukan persepsi berkenaan dengan pembangunan yang
4.1 Kawasan Penelitian
Kawasan penelitian terletak di Kampung Nelayan Lingkungan XII Kelurahan
Belawan I, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan. Kelurahan ini memiliki luas
wilayah ± 110 Ha (Gambar 4.1).
Berdasarkan letak geografis Kampung Nelayan berbatasan dengan, sebelah
utara dengan Paluh, sebelah selatan dengan Sei Belawan, sebelah timur dengan Pulau
Nonang, dan sebelah barat dengan Sei Batang Serang.
Menurut narasumber Kepala Lingkungan XII Kampung Nelayan telah berdiri
sejak tahun 1937, yang saat ini ditempati ± 800 kk. Berdasarkan data yang
dikumpulkan Kepala Lingkungan jumlah penduduk pada tahun 2013 berjumlah
sekitar 4052 jiwa. Kampung Nelayan pada mulanya termasuk ke dalam wilayah
Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang, seiring perjalanan waktu kemudian masuk
ke dalam bagian Kecamatan Medan Belawan Kota Medan. Kampung ini juga
termasuk ke dalam area kewilayahan administrasi Pelindo Belawan dimana sesuai
dengan peraturan pemerintah perkampungan ini termasuk di dalam kewilayahan
berjarak radius 1.000 meter dari Pelabuhan Umum Belawan (Gambar 4.2).
Perkampungan ini tumbuh secara organik pada tahun 1937 yang pada awalnya
berfungsi sebagai tempat persinggahan sementara yang dibangun masyarakat nelayan
ketika mencari ikan di laut. Sejak pertama berdiri memang tidak melibatkan
pemerintah ataupun perancang, dimana masyarakat Kampung Nelayan mulai
membangun tonggak tonggak kayu pancang pondasi tempat tinggal di atas air tanpa
surat kepemilikan yang jelas. Seiring berjalan waktu perkampungan terus tumbuh dan
berkembang lebih banyak lagi ke bagian dalam sisi daratan. Pada bagian dalam sisi
daratan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Deli Serdang terdapat sebagian
masyarakat yang ber-KTP Pemerintahan Kabupaten Deli Serdang. Perkampungan ini
cukup terisolir dari Kecamatan Medan Belawan utamanya dikarenakan kesulitan
aksesibilitas dalam menjangkau wilayah tersebut. Laut sebagai jalur perlintasan kapal
besar ternyata juga merupakan hambatan utama dalam berbagai kegiatan
penyeberangan dari wilayah induk Kecamatan Belawan menuju perkampungan
nelayan. Hal tersebut cukup ironis mengingat daerah Belawan merupakan daerah
pelabuhan berskala internasional dengan berbagai kegiatan aktifitas perekonomian
dan perdagangan di dalamnya. Satu satunya akses dari Kecamatan Medan Belawan
menuju ke Kampung Nelayan dapat ditempuh dengan menggunakan transportasi air
yakni berupa motor boat atau sampan kecil yang setiap hari menunggu di tangkahan
Belawan.
Kampung Nelayan terbagi menjadi 5 blok lingkungan yaitu, Blok Kampung
Depan, Blok Kampung tengah, Blok Kampung banjar, Blok Kampung kerang, dan
Gambar 4.3 Kampung Nelayan terdiri dari 5 blok
4.2 Pembangunan Jalan Setapak Rabat Beton
Saat ini Kampung Nelayan memiliki jalan setapak lingkungan sepanjang
hampir 5 km yang terdiri dari jalan setapak papan kayu sepanjang sekitar 4300 m dan
jalan setapak rabat beton sepanjang sekitar 678 m (Gambar 4.4).
Gambar 4.4 Peta Jaringan Jalan Kampung Nelayan
Blok kp taruna
Blok kp banjar
Blok kp kerang
Blok kp tengah
Jalan setapak di Kampung Nelayan dibangun oleh masyarakat dan berbagai
pihak yang turut berpartisipasi di dalam pembangunan. Jalan setapak kayu merupakan
jenis tipe konstruksi jalan yang pertama sekali dibangun di Kampung Nelayan dalam
rangka untuk memenuhi kebutuhan aksesibilitas prasarana perjalanan di Kampung
Nelayan, biasanya jalan ini memiliki lebar tiga sampai lima keping papan dengan
lebar total kurang dari 1,5 m dan hanya dapat dilalui oleh dua orang pengguna jalan
(gambar 4.5). Jalan setapak ini pada umumnya dibangun dengan maksud untuk
mendapatkan akses tercepat menuju ke laut tanpa direncanakan dengan fungsi
kawasan kawasan tertentu seperti akses menuju sekolah, akses menuju pasar dan
lainnya sehingga mengakibatkan sistem jaringan jalan yang ada di Kampung Nelayan
menjadi tidak terstruktur.
Seiring waktu pembangunan jalan setapak dengan konstruksi rabat beton
semakin dirasakan perlu dan secara bertahap mulai dilakukan. Hal ini dikarenakan
jalan setapak rabat beton dapat menjadi solusi alternatif yang lebih baik daripada
penggunaan material dari papan kayu. Masyarakat sering mengalami permasalahan
kondisi jalan setapak papan kayu yang sudah tidak layak untuk dilalui yang dapat
membahayakan keselamatan pengguna jalan setapak di atasnya. Umumnya
pengggunaan material dari papan kayu tidak dapat bertahan lama, selain dari karakter
material itu sendiri hal ini juga diperburuk atas kondisi cuaca pasang surut yang
terjadi hampir setiap hari di Kampung Nelayan dan menjadikan papan kayu semakin
Gambar 4.5 Pembangunan Jalan Setapak Rabat Beton Kampung Nelayan
Pembangunan jalan setapak rabat beton mulai dilaksanakan pertama kali pada
tahun 2005 dan semenjak itu terus dilakukan penambahan peningkatan jalan rabat
beton secara bertahap setiap tahunnya. Sejak awal pembangunan dilaksanakan secara
partisipatif oleh swadaya masyarakat di bawah program PNPM/P2KP oleh