• Tidak ada hasil yang ditemukan

The Requirement Analysis of Diesel Fuel to Support The Troll Fishing Vessel Operational in Palabuhanratu Nusantara Fishing Port

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "The Requirement Analysis of Diesel Fuel to Support The Troll Fishing Vessel Operational in Palabuhanratu Nusantara Fishing Port"

Copied!
112
0
0

Teks penuh

(1)

PALABUHANRATU

DINNARI EKA HALLYZEPTA

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi Analisis Kebutuhan Solar untuk Mendukung Operasional Kapal Pancing Tonda di PPN Palabuhanratu adalah karya saya sendiri dengan arahan dari dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya ilmiah yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

(3)

Mendukung Operasional Kapal Pancing Tonda di PPN Palabuhanratu. Dibimbing oleh TRI WIJI NURANI dan MUSTARUDDIN.

Bahan bakar solar sangat penting dalam kegiatan perikanan tangkap, khususnya untuk mendukung kebutuhan operasional kapal pancing tonda di PPN Palabuhanratu. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung jumlah kebutuhan solar bagi kapal pancing tonda di PPN Palabuhanratu, penyalur dan jumlah solar yang disalurkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Penelitian lapangan dilakukan selama tiga bulan dengan studi kasus. Data primer dikumpulkan melalui pengamatan dan wawancara terhadap 25 orang responden nelayan pancing tonda dan tiga penyalur solar di PPN Palabuhanratu. Data sekunder diperoleh dari PPN Palabuhanratu dan tiga penyalur solar di pelabuhan tersebut. Pada tahun 2011 terdapat dua penyalur resmi bahan bakar solar di PPN Palabuhanratu yang diperuntukan unit pancing tonda, yaitu KUD Mina Sinar Laut melalui Solar Packet Dealer Nelayan (SPDN) yang menyalurkan solar sebanyak 1.683.577 liter dan PT Mekar Tunas Raya Sejati melalui Stasiun Pengisian Bahan bakar Nelayan (SPBN) sebanyak 6.905.985 liter. Kebutuhan solar bagi kapal pancing tonda pada tahun 2011 adalah sebesar 1.147.050 liter atau 13,09% dari jumlah pasokan kedua penyalur tersebut.

(4)

ABSTRACT

DINNARI EKA HALLYZEPTA, C44050539. The Requirement Analysis of Diesel Fuel to Support The Troll Fishing Vessel Operational in Palabuhanratu Nusantara Fishing Port. Supervised by TRI WIJI NURANI and MUSTARUDDIN.

Diesel fuel is vital importance in fishing activities, specially to support requirement of troll fishing operational in Palabuhanratu Nusantara Fishing Port. The objectives of this research to count the diesel fuel requirement to troll fishing vessel in Palabuhanratu Nusantara Fishing Port, amount of diesel fuel and dealer fulfill that requirement. The research conducted by during three months with case study. Primary data collected to through observation and interview to 25 fishermen responder of troll fishing and three diesel fuel dealers in Palabuhanratu Nusantara Fishing Port. Secondary data obtained from Palabuhanratu Nusantara Fishing Port and three diesel fuel dealers in the port. In the year 2011 there are two formal diesel fuel dealers in Palabuhanratu Nusantara Fishing Port which are allotment of troll fishing unit, that is KUD Mina Sinar Laut is managed by Solar Packet Dealer Nelayan (SPDN) to supply 1,683,577 liters diesel fuel and PT Mekar Tunas Raya Sejati is managed by Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) to supply 6,905,985 liters. Diesel fuel requirement for troll fishing vessel in 2011 is equal to 1,147,050 liters or 13.09% from amount of both of the dealer. Key words: diesel fuel requirement, troll fishing unit, Palabuhanratu Nusantara

(5)

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

(6)

ANALISIS KEBUTUHAN SOLAR UNTUK MENDUKUNG

OPERASIONAL KAPAL PANCING TONDA DI PPN

PALABUHANRATU

DINNARI EKA HALLYZEPTA C44050539

Skripsi

Sebagai salah satu untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada

Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP

DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(7)

Nama : Dinnari Eka Hallyzepta

NRP : C44050539

Program Studi : Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap

Disetujui Komisi Pembimbing

Ketua, Anggota,

Dr.Ir. Tri Wiji Nurani, M.Si. Dr. Mustaruddin, S.TP.

NIP. 19650624 198903 2 002 NIP. 19750205 2007011 002

Diketahui

Ketua Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

Dr.Ir. Budy Wiryawan, M.Sc. NIP. 19621223 198703 1 001

(8)

PRAKATA

Kebutuhan bahan bakar solar adalah utama bagi nelayan pancing tonda di PPN Palabuhanratu untuk mengoperasikan kapalnya. Ketersediaan solar sangatlah penting diperhatikan. Skripsi ini mengungkapkan kebutuhan solar bagi kapal pancing tonda yang mendaratkan ikannya di PPN Palabuharatu, jumlah pasokan dan penyalurannya.

Banyak pihak yang telah membantu penulis dalam penyelesaian tugas akhir ini. Sehubungan dengan itu penulis mengucapkan terimakasih atas semua arahan, bimbingan, bantuan, dukungan dan semangat yang telah diberikan.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini belum sempurna, oleh karena itu diharapkan kritik dan saran untuk penyempurnaannya. Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan pihak yang membutuhkan untuk pengembangan strategi pelayanan kebutuhan bahan bakar solar di PPN Palabuhanratu.

(9)

Tugas Akhir ini dapat diselesaikan dengan baik juga atas bantuan banyak semua pihak. Semoga Allah SWT memberikan manfaat kepada kita. Kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian tugas akhir ini, penulis mengucapkan terimakasih :

1) Dr.Ir. Tri Wiji Nurani, M.Si. dan Dr. Mustaruddin, S.TP. selaku Komisi Pembimbing yang telah memberikan arahan dan bimbingannya;

2) Dr.Ir. Ronny Irawan Wahju, M.Phil. sebagai Dosen Penguji Tamu dalam siding ujian skripsi dan Dr.Ir. Mohammad Imron, M.Si. sebagai Komisi Pendidikan yang telah memberikan masukan dan sarannya untuk perbaikan skripsi ini. Ucapan terimakasih juga disampaikan kepada seluruh civitas Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB atas semua ilmu yang telah diberikan;

3) Kepala Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu beserta Staf, Bapak Arik Permana dan nelayan pancing tonda yang telah membantu dalam mengumpulkan data selama melakukan penelitian;

4) Kedua orangtua tersayang dan sanak saudara atas doa, pengertian dan semangat yang telah diberikan;

(10)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bogor pada tanggal 27 September 1987. Penulis merupakan putra pertama dari dua bersaudara dari keluarga Bapak Moch. Prihatna Sobari dan Ibu Diniah.

Penulis lulus dari SMA Bina Bangsa Sejahtera pada tahun 2005 dan pada tahun yang sama penulis diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan Saringan Masuk IPB (USMI). Pada semester III tahun akademik 2006/2007, untuk kelanjutan studi penulis memilih Program Studi Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap, Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Selama perkuliahan, penulis aktif membantu dosen dalam pelaksanaan praktikum mata kuliah sebagai asisten. Penulis menjadi asisten Mata Kuliah Dasar-dasar Perikanan Tangkap pada tahun akademik 2007/2008 dan 2009/2010 dan asisten Mata Kuliah Alat penangkapan Ikan pada tahun akademik 2007/2008 sampai dengan 2011/2012.

(11)

x Halaman

DAFTAR TABEL xi

DAFTAR GAMBAR xii

DAFTAR LAMPIRAN xiii

1 PENDAHULUAN .. 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 1

1.3 Tujuan 2

1.4 Manfaat .. 2

2 TINJAUAN PUSTAKA . 3

2.1 Pelabuhan Perikanan . 3

2.2 Unit Penangkapan Pancing Tonda . 5

2.3 Penyediaan Bahan Bakar ... 8

2.4 Pengertian Sediaan 9

2.5 Fungsi Pengendalian Sediaan 10

2.6 Komponen Biaya Sediaan . 11

3 METODE PENELITIAN 12

3.1 Waktu dan Tempat . 12

3.2 Metode Penelitian .. 12

3.3 Metode Pengumpulan Data ... 12

3.4 Metode Analisis Data 13

4 HASIL DAN PEMBAHASAN .. 15

4.1 Keadaan Umum PPN Palabuhanratu . 15

4.2 Unit Penangkapan Pancing Tonda . 18

4.2.1 Konstruksi alat penangkapan pancing tonda 19

4.2.2 Kapal pancing tonda .. 21

4.2.3 Nelayan ... 21

(12)

x

4.2.5 Daerah dan musim pengoperasian pancing tonda 24

4.2.6 Hasil tangkapan pancing tonda 25

4.3 Kebutuhan Bahan Bakar Solar ... 27

4.4 Sediaan Bahan Bakar Solar 30

4.5 Pembahasan 36

5 KESIMPULAN DAN SARAN .. 40

5.1 Kesimpulan . 40

5.2 Saran ... 40

DAFTAR PUSTAKA ... 41

(13)

xi Halaman 1 Karakteristik setiap tipe Pelabuhan Perikanan ... 5

2 Perkembangan jumlah kapal dan perahu di PPN Palabuhanratu

periode 1993-2011 16

3 Jenis dan jumlah alat penangkapan ikan yang mendaratkan hasil

tangkapannya di PPN Palabuhanratu tahun 2003-2011 . 17

4 Perkembangan jumlah nelayan di PPN Palabuhanratu periode

1993-2011 . 17

5 Perkembangan jumlah pancing tonda bulanan tahun 2009-2011 .. 19

6 Volume produksi tuna (kg) dari unit penangkapan pancing tonda

tahun 2009-2011 .. 26

7 Nilai produksi tuna (Rp) dari unit penangkapan pancing tonda tahun

2009-2011 . 26

8 Rincian kebutuhan solar satu kapal pancing tonda pada tahun 2011 .. 28

9 Rincian perhitungan kebutuhan solar bulanan seluruh unit

penangkapan pancing tonda pada tahun 2011 29

10 Jumlah kebutuhan solar bulanan kapal pancing tonda tahun

2009-2011 berdasarkan data primer .. 30

11 Jumlah kebutuhan solar bulanan unit penangkapan pancing tonda

tahun 2009-2011 berdasarkan catatan PPN Palabuhanratu . 31

12 Jumlah pasokan solar bulanan tahun 2009-2011 32

13 Jumlah pasokan solar bulanan dari SPDN tahun 2009-2011 .. 33

14 Pasokan jumlah solar melalui SPBN tahun 2009-2011 .. 35

15 Pasokan solar melalui SPBB tahun 2009-2011 . 36

16 Jumlah pasokan solar bulanan untuk kapal-kapal <30 GT di PPN

Palabuhanratu tahun 2009-2011 37

(14)

xii

✏✑✒ ✓✑✔ ✕✑✖ ✗✑✔

Halaman

1 Pancing tonda 7

2 Fluktuasi jumlah kapal pancing tonda bulanan pada periode tahun

2009-2011 . 18

3 Alat penangkapan pancing tonda .. 20

4 Kapal pancing tonda . 21

5 Daerah pengoperasian pancing tonda ... 24

6 Hasil tangkapan pancing tonda . 25

7 Perkembangan volume dan nilai produksi tahun 2009-2011 . 27

8 Jumlah pasokan solar bulanan tahun 2009-2011 32

9 SPDN yang dikelola KUD Mina Sinar Laut 33

10 Bangunan kantor dan tangki penyaluran dari SPBN yang dikelola PT

Mekar Tunas Raya Sejati .. 34

(15)

xiii Halaman 1 Keragaan teknis unit penangkapan pancing tonda menurut responden 44 2 Musim penangkapan ikan dan lama dalam satu trip menurut musim

berdasarkan informasi responden .... 45

3 Informasi responden tentang jarakfishing grounddarifishing base

dan waktu tempuh kefishing ground .. 46

(16)

✧★ ✩✪✫✬✭ ✮✯✮✬✪

✰ ✱✰ ✲ ✳✴ ✳✵✶ ✷✸ ✳✹✳✺✻

✼✽✾✿❀ ❁❂❀❃ ❄✿❅✿ ❆ ❇✿❈❃ ❉❂ ❆❊ ❇ ❋✿●✿ ❆ ❋✿❅✿❀ ❁❊❆❍✿❅ ❍✿ ❆■ ❇✿ ❆■✿❈ ❏ ❊❄❂❀ ✾❃❅ ✿ ❆

❁✿ ❇❍✿ ❀✿❅ ✿❈ ❆❂✾✿❍✿ ❆ ❏✿✾✿ ❁ ❅❂■ ❊✿❈ ✿ ❆ ❁❂✾✿❃ ❈ ❆❍ ✿. ✼❂❉✿❅ ❁❂✾❃❆❑❃ ❀ ❆❍✿ ❅ ❂ ❋❊❉✿❅ ✿ ❆ ❄❂ ❁❂❀ ❊❆❈✿● ❈❂ ❆❈✿ ❆■ ❅❂ ❆✿ ❊❅✿ ❆ ● ✿❀■ ✿ ❋✿● ✿ ❆ ❋✿❅ ✿❀ ❁❊❆❍✿❅▲ ❄❂ ❁❂❀ ❊❆❈✿● ❁❂ ❁ ❋✿ ❆■❃❆

✾❂ ❁❋✿■✿ ❄❂ ❁✿ ❇ ✽❅ ❇ ✽✾✿❀ ❅ ❂ ✾ ✽❅ ✿ ❇ ❊-✾ ✽❅ ✿ ❇ ❊ ❇❈❀✿❈❂■❊❇ ❄❂ ❆■■ ❃ ❆✿ ❆❍✿, ❍✿ ❊❈❃ ❏ ❊ ✾ ❊❆■❅ ❃ ❆■✿ ❆ ❄❂✾✿ ❋❃● ✿ ❆ ❄❂❀ ❊❅✿ ❆✿ ❆▲ ❏ ❊✿ ❆❈✿❀✿ ❆❍✿ ✿ ❏✿✾✿● ▼❂✾✿❋❃ ●✿ ❆ ▼❂❀❊❅ ✿ ❆✿ ❆ ◆❃ ❇✿ ❆❈✿❀✿ (▼▼◆) ▼✿✾✿ ❋❃ ●✿ ❆❀✿❈❃.

❖✿●✿ ❆ ❋✿❅ ✿❀ ❇✽✾✿❀ ❇✿ ❆■✿❈ ❄❂ ❆❈ ❊❆■ ❏✿✾✿ ❁ ❅❂■ ❊✿❈✿ ❆ ❄❂❀ ❊❅✿ ❆✿ ❆❈✿ ❆■❅ ✿ ❄▲ ❅ ●❃❇❃❇ ❆❍ ✿

❃❆❈❃❅ ❁❂ ❆❏❃❅ ❃ ❆■ ❄❂ ❆■✽❄❂❀✿ ❇❊✿ ❆ ❅✿ ❄✿✾ ❄❂ ❆✿ ❆■❅ ✿ ❄ ❊❅ ✿ ❆P ✼✿✾✿● ❇✿❈❃ ❇❂ ❆❈❀ ✿ ❅❂■❊✿❈✿ ❆

❄❂❀ ❊❅✿ ❆✿ ❆ ❈✿ ❆■❅ ✿ ❄ ❈❂❀❋❂ ❇✿❀ ❏ ❊ ❇❂✾✿❈✿ ❆ ◗ ✿❘✿ ❖✿❀ ✿❈ ✿ ❏✿✾✿● ▼❂✾✿ ❋❃ ●✿ ❆ ▼❂❀ ❊❅ ✿ ❆✿ ❆

◆❃ ❇✿ ❆❈✿❀✿ (▼▼◆) ▼✿✾✿ ❋❃ ●✿ ❆❀✿❈❃ P ❙❊ ✾ ✽❅✿ ❇ ❊ ❊❆❊ ❋✿ ❆❍✿❅ ❋❂❀✾✿ ❋❃● ❅ ✿ ❄✿✾-❅✿❄✿✾ ❄✿ ❆❑❊❆■ ❈ ✽❆ ❏✿. ◗ ❃❁✾✿● ❀✿❈✿-❀✿❈✿ ❋❃✾✿ ❆✿ ❆ ❃❆❊❈ ❄✿ ❆❑❊❆■ ❈ ✽❆ ❏✿ ❍✿ ❆■ ❋❂❀ ✽ ❄❂❀ ✿ ❇❊ ❏❊ ❄❂❀✿ ❊❀✿ ❆ ▼✿✾✿ ❋❃ ●✿ ❆❀✿❈❃ ❁❂ ❆ ❊❆■❅ ✿❈❈✿❉✿ ❁ ❏✿❀ ❊❈✿●❃❆❚ ❯ ❯❱ ❅❂❈✿● ❃ ❆❚ ❯❲❲▲ ❍✿ ❊❈❃ ❀✿❈✿-❀✿❈✿ ❳ ❯ ❃ ❆ ❊❈ ❄❂❀ ❋❃ ✾✿ ❆ ❄✿ ❏✿ ❈✿● ❃ ❆❚❯❯ ❱ ❁❂ ❆❉✿ ❏❊ ❱❨ ❃ ❆ ❊❈ ❄❂❀ ❋❃✾✿ ❆ ❄✿ ❏✿ ❈✿● ❃ ❆❚❯❲ ❲ ▲ ✿❀❈ ❊❆❍✿❈❂❀ ❉✿ ❏❊

❄❂ ❆❊❆■ ❅✿❈✿ ❆ ❇❂ ❋❂ ❇✿❀ ❲❩❩%. ▼❂ ❆❊ ❆■❅ ✿❈✿ ❆ ❉❃ ❁✾✿● ✿❀❁✿ ❏✿ ❄❂ ❆✿ ❆■❅ ✿ ❄✿ ❆ ❄✿ ❆❑❊❆■ ❈ ✽❆ ❏✿ ❊❆❊ ❈❂ ❆❈❃❆❍✿ ✿❅ ✿ ❆ ❁❂ ❁ ❄❂ ❆■✿❀ ❃●❊ ❅❂ ❋❃❈❃● ✿ ❆ ❏✿ ❆ ❇❂ ❏❊✿✿ ❆ ❋✿●✿ ❆ ❋✿❅✿ ❀ ❇✽✾✿❀ ❃❆❈❃ ❅

❅ ❂ ❄❂❀✾❃ ✿ ❆❅ ❂■❊✿❈✿ ❆❁❂✾✿❃ ❈. ✼❂ ❏❊✿✿ ❆❇✽✾✿❀❇❂● ✿❀❃❇ ❆❍✿❉❃■ ✿❁❂ ❆❊❆■❅ ✿❈.

▼❂ ❆❍❂ ❏❊✿✿ ❆ ❋✿● ✿ ❆ ❋✿❅ ✿❀ ❇ ✽✾✿❀ ❇✿ ❆■ ✿❈✾✿● ❄❂ ❆❈❊❆■ ❏✿✾✿ ❁ ❅❂ ■ ❊✿❈✿ ❆ ❄❂ ❆✿ ❆■ ❅✿ ❄✿ ❆

❊❅✿ ❆ P ✼❂✾✿ ❊❆❏✿❀ ❊✼▼❖❬, ❆❂✾✿❍✿ ❆❁❂ ❆❏✿ ❄✿❈❅ ✿ ❆❇ ✽✾✿❀❏✿❀ ❊ ❇❂❉❃ ❁✾✿● ❄❂ ❆❍✿✾❃ ❀, ❋✿ ❊❅ ❍✿ ❆■ ❋❂❀ ❇❊❭✿❈ ❀❂ ❇ ❁❊ ❁✿❃ ❄❃ ❆ ❈ ❊❏✿❅ ❀ ❂ ❇❁ ❊. ✼❂❉❃❁✾✿● ❄❂ ❆❍✿✾❃❀ ❇✽✾✿❀ ❍✿❆■ ❀❂ ❇ ❁❊ ❈❂❀ ❏✿❭❈✿❀ ❏❊ ▼▼◆ ▼✿✾✿ ❋❃● ✿ ❆❀ ✿❈❃ ❏❊✿ ❆❈✿❀✿ ❆❍✿ ❏✿✾✿ ❁ ❅ ✿❈✿■ ✽❀❊ ✼✽✾✿❀ ▼✿❑❅ ❂❈ ❙❂✿✾❂❀ ◆❂✾✿ ❍✿ ❆ (✼▼❙◆), ✼❈✿ ❇ ❊❃ ❆ ▼❂ ❆■❊❇❊✿ ❆ ❖✿● ✿ ❆ ❋✿❅ ✿❀ ◆❂✾✿ ❍✿ ❆ (✼▼❖◆) ❏✿ ❆ ✼❈✿ ❇ ❊❃ ❆ ▼❂ ❆■❊❇❊✿ ❆ ❖✿●✿ ❆ ❋✿❅ ✿❀ ❖❃❆❅ ❂❀ (✼▼❖❖). ❪ ❏✿❅✿● ❄❂❀ ❋❂ ❏✿✿ ❆ ❏❊✿ ❆❈✿❀✿ ❅ ❂❈ ❊■✿ ❄❂ ❆❍✿✾❃ ❀ ❈❂❀ ❇❂ ❋❃❈, ❋❂ ❀✿ ❄✿ ❉❃ ❁✾✿● ❇ ✽✾✿❀ ❍✿ ❆■ ❏ ❊❇✿✾❃ ❀❅ ✿ ❆❆❍✿, ❏✿ ❆ ❋❂❀✿ ❄✿❅ ✿● ❉❃❁✾✿● ❅ ❂ ❋❃ ❈❃● ✿ ❆ ❇✽✾✿❀ ❆❂✾ ✿❍✿ ❆▲ ❅● ❃ ❇❃ ❇ ❆❍✿ ❃❆❈❃❅✿❀ ❁✿ ❏✿❄❂ ❆✿ ❆■❅ ✿ ❄✿ ❆❄✿ ❆❑❊❆■❈ ✽ ❆❏✿,❋❂✾❃❁❏❊❅ ❂❈✿●❃❊❏✿ ❆❋❂✾❃❁❄❂❀❆✿●✿ ❏✿ ❍✿ ❆■ ❁❂ ❆■●❊❈❃ ❆■ ❆❍✿. ❫✾❂● ❅ ✿❀❂ ❆✿ ❊❈❃▲ ❄❂ ❆❃ ✾ ❊❇ ❋❂❀ ❁❊❆✿❈ ❁❂✾✿❅ ❃❅ ✿ ❆ ❄❂ ❆❂✾ ❊❈ ❊✿ ❆ ❈❂ ❆❈✿ ❆■ ● ✿✾ -● ✿✾❈❂❀ ❇❂ ❋❃ ❈.

✰ ✱❴❵✷rmasalahan

(17)

❝❞ ❝❡ ❢❣❡ ❤❡ ✐❞ ❝❥❞ ❝❡ ❞ ❣❦ ❧❥❧ ♠❝❡ ❦ ❝♠❝❡ ❦ ❝❞❝ ♥ ♦ ♣ q❝ ♥❡r❝. s❝♠❝❡ ❦ ❝❞❝♥ ♦ ♣q❝ ♥ ❢❣ ♥❧t❝❞ ❝❡ ♦❝q❝♠ ♦❝❥❧ ❞❣❦ ❧❥❧ ♠❝❡ ❧❥❝ ❢❝❦ ❝✐ ❤ ❡❣q❝r❝❡ ❧ ❡❥❧ ❞ ❢❣❡ ✐♣ t❣ ♥❝♦❤❞ ❝❡ ❞ ❝t❝q t❝❡ ✉ ❤❡ ✐ ❥♣❡ ✈❝, ❡ ❝ ❢❧❡❡ ❣q❝r❝❡♦❣ ♥❤❡ ✐❞❝q❤♦❧q❤❥ ❢❣ ❢t❣ ♥♣ q❣♠✇❣❡ ❤♦❦❝♠ ❝❡❦❝❞ ❝ ♥❤❡❤, ❥❣ ♥❧ ❥❝ ❢❝ ♦❝❝❥ ❢❧♦❤❢ ❥❣ ♥❥❣❡ ❥❧. ①✈❣❝q❡r❝, ❡❣q❝r❝❡♦❣♠❝ ♥❧♦❡r❝❥ ❤✈ ❝❞q❝♠ ♦❧q❤❥❢❣❡ ✈❝t❝❥❞❝❡❦❝♠ ❝❡❦ ❝❞❝ ♥❢❤❡r❝❞ ❥❣ ♥❢❝♦❧ ❞ ♦ ♣q❝ ♥ ✈ ❤ ♦❧❝ ❥❧ t❣q❝❦❧ ♠❝❡ t❣ ♥ ❤❞❝❡ ❝❡ ② ③❣♦❧q❤❥❝❡ ❤❥❧ ❥❣ ♥✇❝✈❤ ✈ ❤ ④④⑤

④❝q❝❦❧ ♠❝❡♥❝❥❧, ⑥❝q❝❧t❧ ❡ ♦❧✈ ❝♠ ❝✈ ❝ ♦❣✇❧ ❢q❝♠ t❣❡r❝q❧♥ ♥❣♦❢❤. ⑦❣q❝q❧❤ t❣❡❣q❤❥ ❤❝❡ ❤❡ ❤ ❝❞ ❝❡✈❤❧❡ ✐❞ ❝t❦ ❣❦ ❣ ♥❝t❝♠ ❝q❦❣ ♥ ❤❞❧ ❥⑧

⑨ ⑩ s❣ ♥❝t❝ ✇❧ ❢q❝♠ ♦ ♣ q❝ ♥ r❝❡ ✐ ✈❤♦❝q❧♥❞ ❝❡ ❧❡ ❥❧❞ ❢❣ ❢❣❡ ❧♠❤ ❞❣❦ ❧❥❧ ♠❝❡ ❡ ❣q❝r❝❡ t❝❡ ✉ ❤❡ ✐

❥♣❡✈ ❝✈❤④④⑤④❝q❝❦ ❧♠ ❝❡ ♥❝❥❧❶

❜⑩ s❣ ♥❝t❝✇❧❢q❝♠❞❣❦ ❧❥❧ ♠ ❝❡♦♣q❝ ♥❦ ❝✐ ❤❡❣q❝r❝❡t❝❡ ✉ ❤❡✐❥♣❡ ✈❝✈ ❤④④⑤④❝q❝❦❧ ♠❝❡♥❝❥❧.

❷ ❸❹ ❺ ❻juan

④❣❡ ❣q❤❥ ❤❝❡❤❡❤❦ ❣ ♥❥❧✇❧ ❝❡❧ ❡❥❧ ❞

⑨ ⑩ ⑦❣❡❣❡ ❥❧❞ ❝❡ ✇❧ ❢q❝♠ ♦ ♣q❝ ♥ r❝❡ ✐ ✈ ❤♦❝q❧♥❞ ❝❡ ❧❡ ❥❧❞ ❢❣ ❢❣❡❧ ♠ ❤ ❞ ❣❦❧ ❥❧♠ ❝❡ ❡❣q❝r❝❡

t❝❡ ✉ ❤❡ ✐❥♣❡ ✈❝✈ ❤④④⑤④❝q❝❦ ❧♠ ❝❡ ♥❝❥❧❶

❜⑩ ⑦❣❡❣❡ ❥❧❞ ❝❡ t❣ ♥♦❣✈❤❝❝❡ ❞❣❦ ❧❥❧ ♠❝❡ ♦ ♣q❝ ♥ r❝❡✐ ❤✈ ❣❝q ❦❝ ✐ ❤❡ ❣q❝r❝❡ t❝❡✉ ❤❡ ✐ ❥♣❡✈ ❝ ✈ ❤

④④⑤④❝q❝❦❧ ♠❝❡♥❝❥❧. 1.4 Manfaat

⑦❝❡ ❼❝❝❥ r❝❡ ✐✈❤♠❝ ♥❝t❞ ❝❡✈❝t❝❥✈❤t❣ ♥♣q❣♠✈ ❝ ♥❤t❣❡ ❣q❤❥ ❤❝❡❤❡❤♦❣❦❝✐ ❝ ❤❦ ❣ ♥❤❞❧ ❥⑧

⑨ ⑩ ⑦❣❡❝ ❢❦❝♠ ⑥❝⑥❝♦❝❡ t❣❡ ❧q❤♦ ❥❣❡❥❝❡ ✐ t❣ ♥♦❣✈ ❤❝❝❡ ❞❣❦ ❧❥❧ ♠❝❡ ♦ ♣ q❝ ♥ ❦❝✐❤ ❡❣q❝r❝❡

t❝❡ ✉ ❤❡ ✐❥♣❡ ✈❝✈ ❤④④⑤④❝q❝❦ ❧♠ ❝❡ ♥❝❥❧✈ ❝❡♦❤♦❥❣ ❢t❣❡r❝q❧♥❝❡ ❡r❝,

❜⑩ ❽❣❦❝✐ ❝❤ ❢❝♦❧ ❞❝❡ ❦❝✐❤ t❣❡✐ ❣q♣ q❝ ④④⑤ ④❝q❝❦❧ ♠❝❡♥❝❥❧ ✈ ❝q❝ ❢ ♠❝q t❣❡ ✐❝✈ ❝❝❡ ♦❝q❝♠

♦❝❥❧ ✇❣❡ ❤♦ ❦❝♠ ❝❡ ❦❝❞ ❝ ♥❢ ❤❡r❝❞ r❝❡✐✈ ❤❦❧ ❥❧♠ ❞❝❡ ✈ ❝q❝ ❢❞ ❣✐ ❤❝❥❝❡ t❣ ♥ ❤❞❝❡ ❝❡ ❥❝❡✐ ❞❝t

✈ ❤⑥ ❤q❝r❝♠④❝q❝❦ ❧♠ ❝❡ ♥❝❥❧❶

❾ ⑩ ❽❣❦ ❝✐❝ ❤ ❦❝♠ ❝❡t❣ ♥❥ ❤❢❦ ❝❡✐❝❡ ❦ ❝✐ ❤t❣❡ ✐❣q♣q❝④④⑤④❝q❝❦ ❧♠ ❝❡ ♥❝❥❧ ❧ ❡❥❧ ❞❢❣❡ ❣❡❥❧ ❞❝❡

♦❤♦❥❣ ❢ t❣❡✐ ❝✈❝❝❡ ✈❝❡ ❞ ❣♦❣✈ ❤❝❝❡ ✇❧ ❢q❝♠ ♦ ♣ q❝ ♥ ✈ ❣❡ ✐❝❡ ♠ ❝ ♥✐❝ r❝❡ ✐ ❢❣ ❢❝✈ ❝ ❤ ❦❝✐❤

(18)

❿➀➁ ➂➃➄➅➄ ➂➆➅➇➀ ➄➈ ➄

➉ ➊➋➌➍➎➏➐➑➒ ➏➓➌➍➔→ ➏➓➏ ➓r

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2009 tentang

Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan Pasal 1,

Pelabuhan perikanan adalah tempat yang terdiri atas daratan dan perairan di sekitarnya

dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan sistem

bisnis perikanan yang dipergunakan sebagai tempat kapal perikanan bersandar,

berlabuh, dan/atau bongkar muat ikan yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan

pelayaran dan kegiatan penunjang perikanan.

Pelabuhan perikanan mempunyai fungsi yang bersifat umum dan khusus

(Murdiyanto 2004). Fungsi umum merupakan fungsi yang terdapat pula pada

pelabuhan lain selain pelabuhan perikanan, misal pelabuhan umum atau pelabuhan

niaga. Fasilitas-fasilitas yang perlu dibangun untuk memenuhi fungsi umum pelabuhan

perikanan antara lain :

1) Jalan masuk yang aman bagi kapal yang datang menuju pintu gerbang masuk

pelabuhan dengan kedalaman air yang cukup;

2) Pintu atau gerbang pelabuhan dan saluran navigasi yang aman dan dalam;

3) Kolam air yang cukup luas, dalam dan terlindung dari gelombang dan arus yang

kuat untuk keperluan kegiatan kapal di dalam pelabuhan;

4) Bantuan peralatan navigasi untuk memandu kapal agar dapat melakukan manuver

di dalam areal pelabuhan dengan lebih mudah dan aman;

5) Mendirikan bangunan penahan gelombang (breakwater) jika dianggap perlu;

6) Dermaga yang cukup panjang dan luas untuk melayani kapal yang berlabuh;

7) Fasilitas yang menyediakan bahan kebutuhan pelayaran, seperti bahan bakar

minyak, pelumas, air minum, listrik, saluran pembuangan sisa kotoran dari kapal,

penanggulangan sampah dan sistem pemadam kebakaran;

8) Bangunan rumah dan perkantoran yang perlu untuk kelancaran dan

pendayagunaan operasional pelabuhan;

(19)

10) Jalan raya atau jalan kereta api atau lori yang cukup panjang untuk sistem

transportasi dalam areal pelabuhan dan untuk hubungan dengan daerah lain di luar

pelabuhan;

11) Tempat parkir yang cukup luas untuk kendaraan industri atau perorangan di

dalam pelabuhan, sehingga arus lalu-lintas di kompleks pelabuhan dapat berjalan

lancar;

12) Fasilitas perbaikan, reparasi dan pemeliharaan kapal, seperti dok dan

perbengkelan umum untuk melayani permintaan sesewaktu.

Fungsi khusus (Murdiyanto 2004) adalah fungsi-fungsi yang berkaitan dengan

dengan masalah perikanan yang memerlukan pelayanan khusus yang belum terlayani

oleh adanya berbagai fasilitas fungsi umum. Fungsi khusus merupakan tugas

pelayanan di pelabuhan perikanan yang membedakannya dari pelabuhan lain yang

bukan pelabuhan perikanan. Fasilitas yang diperlukan untuk memenuhi fungsi khusus

pelabuhan perikanan antara lain :

1) Fasilitas pelelangan ikan yang cukup luas dan dekat dengan tempat pendaratan;

2) Fasilitas penanganan dan pengolahan ikan;

3) Pabrik es;

4) Fasilitas penyediaan sarana produksi penangkapan ikan.

Ciri khusus lain dari pelabuhan perikanan adalah ukuran kapal yang relatif kecil dan

berjumlah banyak. Hal ini menjadi pertimbangan tersendiri dalam membangun suatu

pelabuhan perikanan.

Pelabuhan perikanan (Murdiyanto 2004) pada hakekatnya merupakan basis

utama kegiatan industri perikanan tangkap yang harus dapat menjamin suksesnya

aktivitas usaha perikanan tangkap di laut. Pelabuhan perikanan berperan sebagai

terminal yang menghubungkan kegiatan usaha di laut dan di darat ke dalam suatu

sistem usaha dan berdayaguna tinggi.

Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: PER.16/MEN/2006 tentang

Pelabuhan Perikanan mengemukakan bahwa berdasarkan kapasitas dan kemampuan

menangani kapal yang datang dan pergi, serta letak dan posisinya, Pelabuhan Perikanan

dibagi menjadi empat kategori utama yaitu :

1) PPS (Pelabuhan Perikanan Samudera)

(20)

5

3) PPP (Pelabuhan Perikanan Pantai)

4) PPI (Pangkalan Pendaratan Ikan)

Masing-masing tipe pelabuhan perikanan ini mempunyai karakteristik yang berbeda.

Karaktertistik setiap tipe pelabuhan perikanan secara rinci dapat dilihat dalam Tabel 1.

Tabel 1 Karakteristik setiap tipe pelabuhan perikanan

No Kriteria Pelabuhan

6. Ekspor ikan Ya Ya Tidak Tidak

7. Luas lahan >30 ha 15-30 ha 5-15 ha 2-5 ha

Sumber :http://www.pipp.dkp.go.id/pipp2/pelabuhan_index.html01 Oktober 2006diacu

dalamDiniah (2008)

➣ ↔➣↕➙➛➜➝➞ ➙➟ ➙➠➡➟ ➢➟➙➝➟➙➤ ➛➙➠➥ ➦ ➙➧➟

Unit penangkapan ikan adalah kesatuan teknis dalam suatu operasi

penangkapan ikan, terdiri atas kapal atau perahu beserta mesin penggeraknya, alat

tangkap dan nelayan. Unit penangkapan pancing rumpon yang mendaratkan hasil

tangkapannya di PPN Palabuhanratu secara formal tercatat di dalam buku statistik

perikanan PPN Palabuhanratu sebagai pancing tonda, karena alat penangkapan ikan ini

dioperasikan di sekitar rumpon. Oleh karena itu, untuk selanjutnya unit penangkapan

ikan ini disebut sebagai pancing tonda. Unit penangkapan pancing tonda terdiri atas

(21)

penangkapan pancing tonda yang mendaratkan hasil tangkapannya di PPN

Palabuhanratu digunakan untuk menangkap ikan berukuran besar dan bernilai

ekonomis penting, seperti cakalang dan tuna (PPN Palabuhanratu 2011; Sari 2011).

Menurut klasifikasi von Brandt (2005), pancing tonda termasuk dalam

kelompok perikanan pancing (lines), sementara dalam Statistik Perikanan Indonesia

dari Kementerian Kelautan dan Perikanan tergolong kelompok pancing (hook and line).

Sari (2011) mengemukakan bahwa pancing tonda terdiri atas pancing layang-layang,

pancing jerigen, pancing tonda dan pancing kotrek. Secara umum keempat jenis

pancing dalam unit penangkapan pancing tonda terdiri atas bagian tali pancing, mata

pancing, swivel, pelampung dan pemberat. Cara pengoperasian dari keempat jenis pancing yang digunakan agak berbeda, namun keempatnya dioperasikan bersama pada

trip yang sama. Pancing tonda memiliki nama daerah yang beragam, diantaranya

pancing irid atau klewer (Jawa), pancing kaladalam atau kabalancam (Sepulu, Madura),

pancing lohmoloh atau palanggungan atau lemading (Pegagan, Madura), pancing

pengenser (Bawean), lor bebe (Penarukan, Jatim), pancing pengambes (Puger, Jatim),

pancing pemalesan (Bali) dan kakahu atau sela (Ambon, Maluku Selatan) (Subani dan

Barus 1989).

Menurut Gunarso (1989), pancing tonda adalah alat penangkapan ikan berupa

tali yang diberi umpan tiruan atau imitation bait di sekitar mata pancingnya. Pancing tonda dioperasikan dengan cara ditarik menggunakan kapal secara horizontal.

Kadang-kadang nelayan menggunakan umpan utuh atautrue baitdalam pengoperasian pancing tonda. Sasaran tangkap unit penangkapan pancing tonda adalah jenis-jenis ikan pelagis

besar yang biasa hidup di lapisan permukaan dan mempunyai nilai ekonomis tinggi

dengan kualitas daging yang tinggi, seperti tuna, cakalang dan tongkol.

Pancing tonda (Gambar 1) terdiri atas bagian-bagian (Subani dan Barus 1989) :

1) Tali utama, dari bahan nilon monofilamen dengan panjang bervariasi, namun umumnya berkisar antara 50-100 meter

2) Kili-kili (swivel)

3) Tali kawat (wire rope)

4) Mata pancing (hook)

5) Umpan tiruan, berbentuk cumi-cumi, ikan, dan lain-lain.

Kapal pancing tonda yang umum digunakan memiliki panjang berkisar antara

(22)

7

pancing diikatkan. Nelayan pancing tonda biasa disebut dengan pemancing. Jumlah

nelayan yang terlibat dalam pengoperasian pancing tonda terdiri atas 4-7 orang

(Adwino 1998).

Menurut Subani dan Barus (1989), pengoperasian pancing tonda menggunakan

umpan, baik umpan segar maupun umpan buatan. Umpan buatan yang biasa digunakan

adalah umpan yang dibentuk dari bulu ayam (chicken feader), bulu domba (sheep

wools), potongan kain yang berwarna menarik, maupun bahan dari plastik berbentuk miniatur yang menyerupai aslinya. Bentuk umpan buatan diantaranya dapat menyerupai

cumi-cumi atau ikan.

Pengoperasian pancing tonda dilakukan pada siang hari. Pancing tonda ditarik

secara horizontal oleh perahu atau kapal yang bergerak di depan gerombolan ikan

sasaran. Umpan buatan yang dipasang pada mata pancing dapat bergerak seperti ikan

asli, karena adanya pengaruh tarikan dari kapal. Kecepatan tarik kapal bergantung pada

ikan target tangkapan, untuk ikan perenang cepat seperti tuna dan cakalang biasanya

dengan kecepatan 6-8 knot (Sainsbury 1971).

Hasil tangkapan utama dari unit penangkapan pancing tonda adalah ikan tuna

madidihang (Thunnus albacares), cakalang (Katsuwonus pelamis) dan setuhuk

(Makaira sp.). Hasil tangkapan sampingan antara lain tongkol (Euthynnus spp.) dan

ikan tenggiri (Scomberomorus commersonii) (Sainsbury 1971; Subani dan Barus 1989;

Handriana 2007).

Ikan merupakan organisme yang bersifat mobile, artinya ikan sering berpindah-pindah tempat. Hal ini menyebabkan sulitnya menentukan arah dan letak dari

perpindahan daerah penangkapan ikan. Tuna hidup di perairan tempat pertemuan

(23)

antara dua arus atau front, tempat terjadinya upwelling, konvergensi dan divergensi. Daerah ini merupakan daerah berkumpulnya plankton, yaitu perairan dengan salinitas

sekitar 34 ppt serta temperatur optimum berkisar antara 150C-300C (Hetharuca 1983

vide Handriana 2007). Pengoperasian alat tangkap pancing tonda hampir terdapat di seluruh perairan Indonesia. Alat ini banyak digunakan di daerah Jawa Barat, Jawa

Timur, Madura, Bali, Ambon dan Sumatera (Subani dan Barus 1989).

➨ ➩➫➭➯➲ye➳➵➸ ➸➲ B➸➺ ➸➲ B➸➻➸➼

Bahan bakar minyak (BBM) masih diusahakan oleh pemerintah dengan harga

yang masih disubsidi. Perusahaan yang mengelola penyaluran BBM di dalam negeri

adalah Pertamina. Penyaluran BBM dari Pertamina kepada masyarakat dilakukan guna

memutar roda perekonomian nasional (Razak 2004).

Razak (2004) mengemukakan bahwa penyaluran BBM kepada nelayan di PP

dan PPI melibatkanbeberapainstansi, yaitu :

1) Pertamina,

2) Departemen Kelautan dan Perikanan,

3) Tim Pelaksana Penanggulangan Penyalahgunaan BBM (TP3BBM),

4) Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (DPP HNSI),

5) Departemen Koperasi.

Tujuan dari kerjasama ini untuk mencapai beberapa tujuan, yaitu :

1) Mendekatkan lokasi penyaluran BBM ke sentra-sentra nelayan,

2) Menyediakan pasokan BBM bagi nelayan dalam jumlah yang cukup,

3) Menjamin harga BBM yang dibeli nelayan dengan harga seperti di SPBU.

Menurut petunjuk pelaksanaan Pertamina (Razak 2004), jatah BBM yang

diberikan Pertamina kepada PP atau PPI ditentukan berdasarkan besarnya konsumsi

BBM di PP atau PPI dengan melihat jumlah, jenis dan tonase kapal. Jatah BBM juga

ditetapkan berdasarkan rekomendasi dari TP3BBM dan juga harus disesuaikan dengan

kapasitas mobil tanki, sebanyak delapan kilo liter. Lembaga-lembaga penyalur BBM

Pertamina hingga tahun 2004 sudah turut melayani kebutuhan nelayan, namun dengan

(24)

9

➽ ➾➚➪➶➹➘➶rt➴➷➹ Se➬ ➴➷➷➹

Persediaan atau inventory suatu istilah umum yang menunjukkan segala sesuatu

atau sumberdaya-sumberdaya organisasi yang disimpan dalam antisipasinya terhadap

pemenuhan permintaan. Permintaan akan sumberdaya bisa internal maupun eksternal,

terdiri atas bahan mentah, barang dalam proses, barang jadi atau produk akhir,

bahan-bahan pembantu atau pelengkap dan komponen lainnya yang menjadi keluaran produk

perusahaan (Handoko 1985).

Pengendalian persediaan merupakan fungsi manajerial yang sangat penting,

karena persediaan fisik banyak perusahaan melibatkan investasi rupiah terbesar dalam

pos aktiva lancar. Bila perusahaan menanamkan terlalu banyak dana dalam persediaan,

akan menyebabkan biaya penyimpanan berlebihan, dan mungkin mempunyai

opportunity cost untuk dapat ditanamkan dalam investasi lain yang lebih menguntungkan. Demikian pula bila perusahaan tidak mempunyai persediaan yang

mencukupi, dapat mengakibatkan biaya-biaya dari terjadinya kekurangan bahan baku

(Handoko 1985).

Model pengendalian sediaan dibedakan atas dua jenis, yaitu model

pengendalian sediaan deterministik dan model pengendalian sediaan stokastik. Pada

model pengendalian, sediaan deterministik permintaan pasar telah tertentu dan

diketahui dengan pasti. Sementara pada model pengendalian sediaan stokastik,

permintaan pasar tidak tertentu dengan pasti tetapi menyebar menurut fungsi peluang

(Taha 1982videSiahaan 1990).

Sistem persediaan merupakan serangkaian kebijaksanaan dan pengendalian

yang memonitor tingkat persediaan dan menentukan tingkat yang harus dijaga, kapan

persediaan harus diisi dan berapa besar pesanan harus dilakukan. Sistem ini bertujuan

menetapkan dan menjamin tersedianya sumberdaya yang tepat, dalam kuantitas dan

pada waktu yang tepat. Atau dengan kata lain, sistem dan model persediaan bertujuan

untuk meminimumkan biaya total melalui penentuan apa, berapa dan kapan pesanan

dilakukan secara optimal (Handoko 1985).

Ada beberapa jenis persediaan, setiap jenis mempunyai karakteristik khusus dan

cara pengolahan yang berbeda. Handoko (1985) membedakan persediaan menurut

jenisnya sebagai berikut :

(1) Persediaan bahan mentah (raw material) yaitu persediaan barang-barang berwujud

(25)

(2) Persediaan komponen-komponen rakitan (purchased partsatau components), yaitu persediaan barang-barang yang terdiri atas komponen-komponen yang diperoleh

dari perusahaan lain yang secara langsung dapat dirakit menjadi suatu produk.

(3) Persediaan bahan pembantu atau penolong (supplies), yaitu persediaan

barang-barang yang diperlukan dalam proses produksi, tetapi tidak merupakan bagian atau

komponen barang jadi.

(4) Persediaan barang dalam proses (work in process), yaitu persediaan barang-barang

yang merupakan keluaran dari tiap-tiap bagian dalam proses produksi atau yang

telah diolah menjadi suatu bentuk, tetapi masih perlu diproses lebih lanjut menjadi

barang jadi.

(5) Persediaan barang jadi (finished goods), yaitu persediaan barang-barang yang telah

selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap untuk dijual atau dikirim kepada

langganan.

➮ ➱✃ ❐❒❮❰ ÏÐÑÒ❮❰Ò❮ÓÔ ÕÐÔ ❮ SeÓÐÔÔ ❮

Efisiensi operasional suatu organisasi dapat ditingkatkan karena berbagai fungsi

penting persediaan. Harus diingat bahwa persediaan adalah sekumpulan produk fisikal

pada berbagai tahap proses transformasi dari bahan mentah ke barang dalam proses,

dan kemudian barang jadi. Handoko mengemukakan bahwa fungsi pengendalian

sediaan dapat didefinisikan sebagai berikut :

(1) Fungsidecoupling

Fungsi penting persediaan adalah memungkinkan operasi-operasi perusahaan

internal dan eksternal kebebasan (independence). Persediaan decouples ini memungkinkan perusahaan dapat memenuhi per mintaan langganan tanpa

tergantung padasupplier. (2) Fungsieconomic lot sizing

Persediaan lot size ini perlu mempertimbangkan penghematan-penghematan (potongan pembelian, biaya pengangkutan per unit lebih murah dan sebagainya),

karena perusahaan melakukan pembelian dalam kuantitas yang lebih besar

dibandingkan dengan biaya-biaya yang timbul akibat besarnya persediaan, seperti

(26)

11

(3) Fungsi antisipasi

Sering perusahaan menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diperkirakan dan

diramalkan berdasarkan pada pengalaman atau data masa lalu, yaitu permintaan

musiman. Dalam hal ini perusahaan dapat mengadakan persediaan musiman atau

seasonal inventaries. Disamping itu, perusahaan juga sering menghadapi ketidakpastian jangka waktu pengiriman dan permintaan akan barang-barang

selama periode persamaan kembali, sehingga memerlukan kuantitas ekstra yang

sering disebut persediaan pengaman atausafety inventories. Persediaan antisipasi ini penting agar kelancaran proses produksi tidak terganggu.

Ö ×6 KoØÙ ÚpeÚ BÛÜÝ ÜÞeß ÛÜÜ Ú

Banyak faktor yang harus diperhatikan dalam menentukan masalah tingkat

pengendalian persediaan, diantaranya faktor biaya (Yusnita 2003 vide Mailany 2005). Menurut Supranto (1998) vide Mailany (2005), komponen-komponen biaya pengendalian secara garis besar dibedakan atas tiga bagian, yaitu :

(1) Biaya pemesanan (ordering cost)

Biaya pemesanan merupakan biaya yang dikeluarkan untuk menanggung biaya

pemesanan, meliputi antara lain gaji pegawai, biaya telepon, biaya pengepakan

dan penimbangan.

(2) Biaya penyimpanan (holding cost)

Biaya penyimpanan terdiri atas biaya-biaya yang bervariasi secara langsung

dengan kuantitas persediaan. Biaya-biaya yang termasuk sebagai biaya

penyimpanan, seperti biaya menyimpan, biaya kerusakan, biaya asuransi, pajak

dan sebagainya.

(3) Biaya kekurangan (shortage costs)

Biaya kekurangan adalah biaya yang disebabkan keterlambatan di dalam

memenuhi permintaan atau ketidakmampuan untuk memenuhinya sama sekali,

karena kehabisan stok misalnya. Biaya-biaya yang termasuk sebagai biaya

kekurangan antara lain biaya pemesanan khusus, terganggunya operasi dan

(27)

da T at P ta .

ùúûú üýþýÿû ýûý ÿ ÿû ✁ ýüÿ ✂ ÿû ✁ ý ✄ú ýþÿ☎ ùù✆ ùÿüÿ✝✂ ✞ ÿû ☎ ÿþ✂ ✟ ✞✂ ✄✂ ✄û✠ÿ ✝ÿ✡ ý û ú üÿ ✠ÿû ☛ÿû☞ýû✡þ✌û ✁ ÿ✍ ùúû✡✂✎ ☛✂üÿû ✁ÿþÿ✁ýüÿ☛ÿû✡ÿû✁ ýüÿ ✂ ÿû ☛ÿ✁ÿ✝✂ üÿûDú ✄ú✎✝ú ☎ ✏ ✑✑ ✒✟ ✝✂üÿû ✓☛☎ýü✏ ✑ ✔ ✔✁ÿû✝✂üÿû✕ú ✝ ☎✂ÿ☎ý✏✑✔✏✍

3.2 ✖ ôt✗ ✘ô Pôóô÷øtøaó.

✙ú þ✌✁ú ☛úû ú üýþýÿû ✠ÿû✡✁ ý✡✂ûÿ ÿûÿ✁ÿüÿ✞✄ þ✂ ✁ ý ÿ✄✂ ✄✍ ✚ú ✝ ÿ✡ÿý ÿ✄✂✄û ✠ÿÿ✁ ÿüÿ✞

☛úû ✠ú ✁ ýÿÿû ú ✝✂þ✂ ✞ ÿû ✄✌üÿ☎ ✂ûþ✂ ÿ☛ÿü ☛ÿû☞ýû✡ þ✌û ✁ ÿ ✠ÿû✡ ✎úû ✁ ÿ☎ÿþ ÿû ✞ ÿ✄ýü

þÿû ✡ ÿ☛ÿûû✠ÿ✁ýùú üÿ✝✂ ✞ ÿû ùú ☎ý ÿû ÿû✆✂✄ÿûþÿ☎ÿ✛ ùù✆✜ùÿüÿ✝✂ ✞ ÿû ☎ ÿþ✂✍

3.3 ✖ôt✗ ✘ô Pôóguõöu÷aó✢ata

✣ÿþÿ ✠ÿû✡ ✁ ý ✂✎☛✂ ü ÿû ÿ✁ÿ ✁✂ÿ ✤úû ý✄ ✟ ✠ÿýþ✂ ✁ ÿþÿ ☛☎ý✎ú ☎ ✁ÿû ✁ÿþÿ ✄ú ✂ û✁ú ☎✍

✣ÿþÿ ☛☎ý✎ú ☎ ✁ý☛ú ☎✌üú ✞ ✁úû✡ÿû ☞ÿ☎ ÿ ✥ÿ✥ÿû☞ÿ☎ ÿ ✁ ÿû ☛úû✡ÿ✎ÿþÿû üÿû✡✄✂û✡ þú☎✞ÿ✁ ÿ☛

û ú üÿ ✠ÿû ☛ÿû☞ýû✡ þ✌û ✁ ÿ ✁ ÿû ☛úû✠ÿü✂☎ ✄✌ü ÿ☎ ✁ ý ùù✆ ùÿüÿ✝✂ ✞ ÿû ☎ÿþ✂✍ ✦ ÿ✥ÿû☞ÿ☎ÿ

✁ ýüÿ ✂ ÿû ✝ú ☎✁ ÿ✄ÿ ☎ ÿû ✁ÿ✧þÿ☎ ☛ú ☎ þÿû✠ÿÿû ✁ ÿû ✂ú ✄ ý✌û ú ☎ ✠ÿû ✡ þú üÿ✞ ✁ ý✄ ýÿ☛ ÿû

✄ú ✝ú ü✂✎û✠ÿ✍ ùúû✡ÿ✎ÿþÿû ✁ ýüÿ ✂ ÿû þú ☎✞ ÿ✁ÿ☛ ú ✡ ýÿþÿû ☛úû✠ÿü✂ ☎ ÿû ✄✌üÿ☎ ✁ ý ✄ú ýþÿ☎ ùù✆

ùÿüÿ✝✂✞ÿû☎ÿþ✂✍ ✣ÿþÿ ☛☎ý✎ú ☎✠ÿû✡✁ ý ✂✎☛✂ ü ÿû ÿûþÿ☎ÿ üÿýû ÿ☎ÿ þú ☎ý✄ þý ÿ☛ÿü ☛ÿû☞ýû✡

þ✌û✁ÿ ✟ ✎úû✡ý✁úûþý✧ý ÿ✄ý ú ✝✂þ✂ ✞ ÿû ✄✌üÿ☎ ✄ú þýÿ☛ ☎ú ✄☛ ✌û✁úû ûú üÿ ✠ÿû ☛ÿû☞ýû ✡ þ✌û✁ÿ ✁ ÿû

✎ÿ✄ ÿüÿ✞☛úû✠ú ✁ ýÿÿû✄✌üÿ☎✁ýùù✆ ùÿüÿ✝✂✞ÿû☎ÿþ✂✍

★✂✎üÿ✞☞ ✌ûþ✌✞ ✠ÿû✡ ✁ý✥ÿ✥ÿû☞ÿ☎ÿ ÿ✁ ÿüÿ✞ ✏ ✩ ☎ú ✄☛✌û ✁úû û ú üÿ✠ÿû ☛ÿû☞ýû ✡ þ✌û✁ÿ

✁ ÿû ✄ú✎✂ÿ ☛úû✠ÿü✂☎ ✄✌üÿ☎ ✠ÿû✡ ☎ú ✄✎ý ✁ ý ùù✆ ùÿüÿ✝✂ ✞ ÿû ☎ ÿþ✂✍ ✪ú ✄☛✌û ✁úû ✁ ýþúû þ✂ ÿû

✁úû ✡ ÿû ✎ú þ✌✁ú ✫ ✬✭✫ ✮ ✯✰✱ ✲ ✯✳✴✫✵✰✶✷✟ ✠ÿýþ✂ ☛úûúûþ✂ÿû ☎ú ✄☛✌û ✁úû ✁úû✡ÿû ☞ÿ☎ÿ ✄úû✡ÿ✤ÿ

✁ ý☛ýüý✞ ✝ú ☎✁ÿ✄ ÿ☎ ÿû ☎ýþú ☎ýÿ þú ☎þúûþ✂✍ ✸☎ ýþú ☎ýÿ ✠ÿû✡ ✎úû✤ÿ✁ ý✁ ÿ✄ ÿ☎ ☛ú✎ýüý✞ÿû ☎ú ✄☛ ✌û✁úû

ÿ✁ ÿüÿ✞û ú üÿ✠ÿû ✠ÿû ✡ ✝ý✄ ÿ✝ú ☎ ✌✎✂ûý ÿ✄ ý✁úû ✡ ÿû ✝ ÿý ☛ÿ✁ÿ✄ÿÿþ ✁ý✥ÿ✥ÿû☞ÿ☎ÿ✟✄ú ✞ ýû ✡ ✡ÿ

✁ ý☛ú ☎✌üú ✞ ✁ ÿþÿ ✠ÿû✡ ✁ýýû✡ýû ÿû ✄ú ✄✂ ÿý ✁úû✡ÿû þ✂✤✂ÿû ☛úûú üýþýÿû ýû ý✍ ✪ú ✄☛✌û ✁úû

☛úû ✠ÿü✂☎✄✌üÿ☎✝ú ☎✤✂✎üÿ✞þý✡ÿýû✄þÿû✄ý✟✠ÿýþ✂✠ÿû✡☎ú ✄✎ýþú ☎✁ ÿ✧þÿ☎✄ú ✝ ÿ✡ÿý ☛úû✠ÿü✂☎✄✌üÿ☎

✁ ýùù✆ùÿüÿ✝✂✞ÿû☎ÿþ✂✍

✣ÿþÿ ✄ú ✂û✁ú ☎ ✁ý☛ú ☎✌üú ✞ ✁ ÿ☎ý ✁✌ ✂✎úû✹✁✌ ✂✎úû ✁ ÿ☎ý ✣ýûÿ✄ ùú ☎ý ÿû ÿû ✁ÿû

✸ú üÿ✂ þÿû ✄ú þú✎☛ÿþ✟ ÿû þ✌☎ ùù✆ ùÿüÿ✝✂✞ÿû☎ÿþ✂✟ ☛ú ☎✂✄ ÿ✞ÿÿû ☛úû✠ÿ ü✂ ☎ ✄✌üÿ☎✟ ✁ÿû üÿýû✹

(28)

✻ ✼

⑥⑦⑧ = Rata-rata kebutuhan solar tahunan unit pancing tonda (liter/unit) ⑥

⑨ = Jumlah kebutuhan solar unit pancing tonda ke-m pada musim ke-n ⑩ = Jumlah trip pancing tonda ke-m pada musim ke-n

❶ = Unit pancing tonda ke 1, 2, ., 25

❷ = Musim penangkapan ikan ke-1 (musim puncak), ke-2 (musim

sedang) dan ke-3 (musim paceklik)

3) Menghitung jumlah kebutuhan solar berdasarkan data statistik per unit pancing

tonda di bulan ke-z, yaitu dengan mengalikan antara jumlah kebutuhan solar per

(29)

Keterangan :

Bz = Jumlah kebutuhan solar per unit pancing tonda di bulan ke-z

(liter/unit)

STz = Jumlah kebutuhan solar per trip per unit pancing tonda di bulan ke-z (liter/trip)

Tz = Jumlah trip per bulan

z = 1, 2, , 12

4) Menghitung jumlah kebutuhan solar bulanan untuk seluruh unit pancing tonda.

Tahapan pertama adalah mengalikan jumlah kebutuhan solar per unit pancing

tonda di bulan ke-z dengan jumlah armada penangkapan ikan yang beroperasi di

bulan ke-z dan selanjutnya ditotalkan untuk setiap bulan. Jumlah armada

penangkapan ikan yang beroperasi setiap bulan diambil dari data Statistik

Perikanan Tangkap. Tahapan kedua adalah membagi hasil total kebutuhan solar

tersebut dengan jumlah bulan operasi. Perhitungan ini dilakukan menggunakan

rumus :

SB = Jumlah kebutuhan solar bulanan seluruh unit pancing tonda (liter)

SBz = Jumlah kebutuhan solar per unit pancing tonda di bulan ke-z (liter/unit)

UPz= Jumlah unit pancing tonda di bulan ke-z

z = 1, 2, ., 12 (bulan operasi pancing tonda)

5) Menghitung jumlah kebutuhan solar untuk armada penangkapan ikan per tahun

dengan cara menjumlahkan besaran kebutuhan solar setiap bulan, mulai Januari

hingga Desember.

6) Membandingkan jumlah kebutuhan solar bulanan dan tahunan yang telah dihitung

dengan data pemakaian solar yang tercatat dalam Statistik Perikanan Tangkap

PPN Palabuhanratu dan jumlah solar yang dipasok yang tercatat di setiap

(30)

❽❾❿➀ ➁➂➃❿ ➄➅ ➆➇ ➈❿ ❾❿➀❿ ➄

➉ ➊➋ ➌➍➎ ➏➎ ➎ ➐➑➒ ➓➒➔➔→➔➎ ➣➎ ↔➓↕➎ ➐r➎ ➙u

➛➜➝➞➟ ➠➡➞ ➢ ➛➜r➤➥➞ ➢➞ ➢ ➦us➞ ➢➧➞r➞ (➛➛➦) ➛➞➝➞➟➠➡ ➞ ➢➨➞tu y➞ ➢ ➩ t➜r➝➜t➞➥ ➫➤ ➭➜➯➞➲➞t➞ ➢➛➞➝➞➟➠➡ ➞ ➢r➞tu ➲➜ru➳➞➥➞ ➢ s➞➝➞➡ s➞tu ➳➠➵➞t ➸➞s➤➝➤t➞s ➫ ➞ ➢➞➥➧➤v➤t➞s ➳➜r➤➥➞ ➢➞ ➢

t➞ ➢➩➥➞➳ ➫➤ ➭➞➟ ➠➳➞t➜ ➢ ➺u➥ ➞➟ ➠➲➤. ➛➜➝➞➟➠➡ ➞ ➢ ➛➜r➤➥ ➞ ➢➞ ➢ ➦us➞ ➢➧➞r➞ ➛➞➝➞➟ ➠➡➞ ➢ ➨➞tu

➲➞➲➳➠ ➲➜ ➢➞➲➳➠ ➢➩ ➳➜r➞➡➠ ➞t➞u ➞r➲➞➫ ➞ ➳➜r➤➥➞➢➞ ➢ ➫➜ ➢ ➩➞ ➢ ➥ ➞➳➞s➤t➞s ➫ ➤ ➞t➞s 30 GT,

sedangkan di tempat pendaratan ikan lainnya yang ada di Kabupaten Sukabumi hanya

dapat menampung kapal-kapal yang berbobot tidak lebih dari 15 GT. Hal inilah yang

menyebabkan jumlah ikan yang didaratkan dan dilelang di PPN Palabuhanratu jauh

lebih banyak dibandingkan dengan jumlah ikan yang didaratkan dan dilelang di

kecamatan lain (PPN Palabuhanratu 2011).

Secara umum kapal penangkapan ikan di Palabuhanratu dapat diklasifikasikan

menjadi dua jenis, yaitu kapal motor (KM) dan perahu motor tempel (PMT). Kapal

motor adalah kapal yang pengoperasiannya menggunakan mesin yang disimpan di

dalam badan kapal (inboa➻➼ engine) dan digunakan untuk mengoperasikan alat tangkap

rawai, tuna longline, gillnet, pancing ulur, p➽ ➻➾➚ seine, pancing tonda. Kapal motor

juga biasanya digunakan oleh nelayan sebagai angkutan ke bagan. Perahu motor tempel

adalah kapal atau perahu yang pengoperasiannya menggunakan mesin motor tempel

(outboa➻➼ engine ) dan umumnya digunakan oleh nelayan t➻➪➶mel net, payang, rampus

dan pancing ulur.

Perkembangan jumlah armada perikanan yang menggunakan PPN

Palabuhanratu sebagai fishing baseselama 19 tahun terakhir berfluktuasi. Jenis kapal

perikanan yang mendominasi setiap tahun pada periode 1993-2011 bervariasi, pada tiga

tahun terakhir armada perikanan didominasi oleh perahu motor tempel. Pada tahun

2011 armada perikanan berjumlah 1.090 unit atau meningkat sebesar 30,23% dari tahun

2010. Perkembangan jumlah kapal atau perahu yang tercatat berlabuh di PPN

Palabuhanratu periode 1993-2011 menurut jenisnya dapat dilihat pada Tabel 2.

Alat penangkapan ikan yang digunakan oleh nelayan di Palabuhanratu sangat

bervariasi dengan jumlah yang berfluktuasi selama sembilan tahun terakhir. Alat

penangkapan ikan yang paling banyak mendaratkan hasil tangkapannya di PPN

(31)

Secara lengkap jenis dan jumlah alat penangkapan ikan dalam periode tahun 2003-2011

dapat dilihat dalam Tabel 3.

Tabel 2 Perkembangan jumlah kapal dan perahu yang berlabuh di PPN Palabuhanratu periode 1993-2011

Tahun Jenis Kapal/Perahu Perikanan (unit) Jumlah total (unit)

Nelayan di Palabuhanratu dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu nelayan

pemilik dan nelayan buruh. Nelayan pemilik atau juragan adalah nelayan yang

memiliki fasilitas produksi dan membiayai operasi penangkapan ikan. Nelayan ini juga

berperan dalam proses pendaratan sampai pemasaran hasil tangkapan. Nelayan buruh

adalah nelayan yang secara langsung melakukan operasi penangkapan ikan dan

umumnya tidak memiliki alat tangkap. Jumlah nelayan di Palabuhanratu pada periode

1993-2011 berfluktuasi. Pada tiga tahun terakhir, tahun 2009-2011, terjadi peningkatan

jumlah nelayan. Pada tahun 2011 terjadi peningkatan jumlah nelayan sebesar 2,12%

dari tahun 2010. Perkembangan jumlah nelayan di PPN Palabuhanratu periode 1993

(32)

17

Tabel 3 Jenis dan jumlah alat penangkapan ikan yang mendaratkan hasil tangkapannya di PPN Palabuhanratu tahun 2003-2011

Alat Penangkapan Ikan

Jumlah alat penangkapan ikan (unit) per tahun

2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011

Pancing 2020 1902 - - -

-Payang 1002 1027 1009 1812 159 45 971 533 375

Bagan 1289 1097 2913 2333 - - - -

-Jaring Klitik - 264 47 - - -

-Rampus 127 552 160 476 101 35 553 301 91

ill et 1813 1700 264 581 109 40 369 118 54

Pancing Ulur - - 1198 2613 414 254 1677 1052 729

Bagan Apung - - - 164 453

-Ang. Bagan - - - - 267 200 - - 79

Rawai Cucut - - - 2 1

Sumber : PPN Palabuhanratu (2011)

Tabel 4 Perkembangan jumlah nelayan di PPN Palabuhanratu periode 1993-2011

(33)

✃ ❐❒ ❮❰ÏÐÑÒ❰ Ó❰Ô ÕÓÖ Ó❰ÑÓ❰×ÏÔnØonÙÓ

Unit penangkapan ikan merupakan kesatuan tiga unsur yang terdiri atas alat

penangkapan ikan, kapal dan nelayan yang mengoperasikannya. Satu unit penangkapan

ikan pancing tonda terdiri atas satu kapal pancing tonda dengan empat jenis alat

penangkapan ikan pancing dan dioperasikan oleh 5-8 orang nelayan. Alat penangkapan

pancing tonda berkembang pesat di PPN Palabuhanratu dari 605 unit pada tahun 2009

menjadi sebanyak 1.124 kapal pada tahun 2011, atau meningkat sebanyak 185,79%.

Satu unit alat penangkapan pancing tonda terdiri atas empat macam pancing dan

sekaligus dioperasikan oleh satu kapal, sehingga jumlah alat penangkapan pancing

tonda ini dapat dianalogkan dengan jumlah kapal yang beroperasi.

Pada tahun 2009 jumlah pancing tonda yang dioperasikan dalam setiap

bulannya berkisar antara 32 65 unit. Pada tahun 2010 meningkat menjadi 66 112

unit per bulan dan pada tahun 2011 menjadi 55 115 unit per bulan. Jumlah pancing

tonda yang beroperasi setiap bulan dipengaruhi oleh musim penangkapan ikan. Jumlah

terbanyak terjadi pada saat musim puncak, yaitu antara Bulan April sampai Bulan Juli.

Jumlah pancing tonda yang dioperasikan dalam setiap bulannya secara rinci selama

periode Tahun 2009 2011 dapat dilihat pada Gambar 2 dan Tabel 5. Penjelasan lebih

rinci tentang unit penangkapan pancing tonda di PPN Palabuhanratu diuraikan lebih

lanjut.

Gambar 1 Fluktuasi jumlah unit pancing tonda bulanan pada periode Tahun 2009-2011.

(34)

19

Tabel 5 Perkembangan jumlah unit pancing tonda bulanan tahun 2009-2011

Bulan 2009 2010 2011

Januari 38 69 78

Februari 51 80 115

Maret 42 89 111

April 49 90 156

Mei 49 98 108

Juni 65 97 93

Juli 54 112 106

Agustus 64 102 85

September 60 66 73

Oktober 54 95 84

November 47 87 60

Desember 32 80 55

Rata-rata 50 89 94

Sumber : PPN Palabuhanratu 2011

4.2.1 Konstruksi alat penangkapan pancing tonda

Secara umum konstruksi alat tangkap pancing tonda berupa pancing, terdiri atas

bagian tali pancing, mata pancing, swivel, pelampung dan pemberat. Pada saat

dioperasikan, terdapat empat macam pancing yang dioperasikan dengan cara yang

berbeda. Keempat macam pancing tersebut adalah pancing jerigen, pancing

layang-layang, pancing tonda dan pancing kotrek (Gambar 3).

Pancing jerigen dibentuk dari tali nilon monofilament. Tali pancing di bagian

atas bernomor 1.000 sepanjang 180-225 m, sedangkan tali bagian bawah lebih kuat

bernomor 1.200 sepanjang 10-15 m. Tali pancing bagian atas dan bagian bawah

dihubungkan menggunakanswivel, agar tali pancing tidak mudah putus. Mata pancing

yang digunakan terbuat dari baja berukuran nomor 1 atau 2. Pelampung terbuat dari

drum atau jerigen bekas berukuran 30 liter, sedangkan pemberat terbuat dari timah

dengan bobot 250 g. Pancing jerigen menggunakan umpan hidup.

Konstruksi pancing layang-layang terdiri atas tali pancing, mata pancing dan

layang-layang. Layang-layang terbuat dari plastik bewarna hitam dengan rangka dari

bilah bambu. Tali pancing dari bahan nilon monofilamen. Tali pancing yang

digunakan untuk mengendalikan layang-layang dari nomor 800 dengan panjang sekitar

50 m. Tali pancing bagian bawah tempat mata pancing diikatkan terbuat dari nomor

(35)

menggunakan umpan buatan. Dalam satu trip, nelayan membawa 10-15 buah

layang-layang.

Pancing kotrek merupakan pancing ulur yang dioperasikan dengan cara

dihentak-hentak atau istilah nelayan adalah dikotrek. Pancing kotrek dioperasikan

pertama dan berfungsi untuk menangkap ikan umpan. Tali pancing dari bahan nilon

monofilamen bernomor 150 atau 200 dan memiliki panjang 150-200 m. Mata pancing

terbuat dari baja bernomor 7 atau 8. Pemberat terbuat dari bahan timah seberat 250 g.

Umpan yang digunakan adalah umpan buatan. Jumlah pancing kotrek yang dibawa

dalam satu trip umumnya sesuai dengan jumlah nelayan yang ikut operasi penangkapan

ikan, bahkan bisa lebih banyak.

Pancing tonda adalah pancing yang yang dioperasikan dengan cara ditarik oleh

kapal. Tali pancing tonda terbuat dari bahan nilon monofilamen nomor 500-800. Saat

(36)

21

dioperasikan menggunakan umpan buatan berbentuk ikan, cumi atau bulu-bulu. Mata

pancing terbuat dari baja bernomor 2. Pemberat terbuat dari timah dengan bobot

sekitar 250 g.

4.2.2 Kapal pancing tonda

Kapal yang digunakan untuk mengoperasikan alat tangkap pancing tonda

umumnya terbuat dari kayu, ada juga yang terbuat dari bahan fibeÚ ÛÜass. Panjang

(LOA) kapal berkisar antara 11 - 15 m, lebar 2,8 - 3,5 m dan tinggi 1,2 1,8 m.

Tenaga penggerak di kapal adalah mesin inboaÚÝ berbahan bakar solar, berjumlah dua

buah, terdiri atas mesin utama dan mesin tambahan. Mesin utama berkekuatan 120

-300 PK, sedangkan mesin tambahan berkekuatan 22 - 30 PK. Kapasitas tangki bahan

bakar berkisar antara 300 700 liter. Gambaran kapal yang digunakan untuk

mengoperasikan alar penangkapan pancing tonda seperti tampak dalam Gambar 4 dan

Lampiran 1.

4.2.3 Nelayan

Nelayan yang mengoperasikan pancing tonda dalam satu kapal umumnya

berjumlah 5 - 8 orang (Lampiran 1). Responden nelayan umumnya berumur produktif,

yaitu berkisar antara 23 50 tahun. Pendidikan responden nelayan umumnya mencapai

tingkat Sekolah Dasar, beberapa diantaranya mencapai tingkat SMP. Umumnya telah

berpengalaman melaut selama 5 30 tahun. Secara umum pembagian tugas nelayan

sebagai:

1) Juru mudi, bertugas mengemudikan kapal;

2) Juru masak, bertugas untuk memasak;

(37)

3) Juru mesin, bertugas untuk mengecek dan memastikan mesin dalam keadaan

optimal; dan

4) Pemancing; bertugas memancing ikan.

4.2.4 Metode pengoperasian pancing tonda

Kegiatan pengoperasian unit penangkapan pancing tonda dalam satu kali trip

berlangsung selama 3 sampai 12 hari, bergantung pada musim penangkapan ikan. Pada

saat musim puncak, satu trip pengoperasian unit penangkapan pancing tonda

berlangsung 3-7 hari dengan rata-rata 5 hari per trip. Pada saat musim sedang, satu trip

pengoperasian unit penangkapan pancing tonda berlangsung 7-10 hari dengan rata-rata

8 hari per trip. Pada saat musim paceklik, satu trip pengoperasian unit penangkapan

pancing tonda berlangsung 7-12 hari dengan rata-rata 10 hari per trip. Dalam satu

bulan berlangsung 2-5 trip, jumlah trip ini juga bergantung pada musim penangkapan

ikan. Pada saat musim puncak, satu bulan berlangsung 3-5 trip dengan rata-rata 4 trip

per bulan. Pada saat musim sedang dan musim paceklik, satu bulan berlangsung 2-3

trip dengan rata-rata 3 trip per bulan saat musim sedang dan 2 trip per bulan saat musim

paceklik. Dalam satu tahun, kegiatan operasi penangkapan ikan berlangsung selama

9-12 bulan.

Waktu tempuh menuju daerah penangkapan ikan berkisar antara 2-19 jam,

bergantung pada posisi daerah penangkapan ikan yang dituju dan musim penangkapan

ikan yang sedang berlangsung. Umumnya kapal menyesuaikan waktu keberangkatan

dengan posisi daerah penangkapan ikan yang dituju, dan berusaha sampai di lokasi

pemancingan pada pagi hari.

Kegiatan memancing dilakukan di sekitar rumpon. Oleh karena ada empat

macam pancing, maka pengoperasiannya pun sesuai dengan jenis alat pancingnya.

Metode pengoperasian keempat jenis pancing tersebut adalah

1) Pancing jerigen. Tali pancing dirangkaikan dengan swivel, mata pancing dan

pelampung. Pada mata pancing dipasang umpan berupa umpan hidup. Pancing

jerigen dioperasikan dengan cara diapungkan di sekitar rumpon. Satu kali

operasional dipasang 6-10 rangkaian. Pancing jerigen dibiarkan mengapung sekitar

30-60 menit, kapal dalam keadaan mesin mati. Apabila ada pelampung jerigen

yang bergerak timbul dan tenggelam di permukaan laut, itu adalah tanda ada ikan

(38)

23

diangkat ke atas kapal. Nelayan mengangkat ikan hasil tangkapan menggunakan

ganco sebagai alat bantu penangkapan ikan. Pancing jerigen dioperasikan setelah

nelayan mendapatkan umpan hidup dari hasil tangkapan pancing kotrek.

2) Pancing layang-layang. Pancing layang-layang dioperasikan dengan cara

menerbangkan layang-layang yang telah digantungkan tali pancing dan umpan

buatan. Pancing layang-layang dioperasikan pada keadaan cukup angin. Saat

dioperasikan, tali pancing layang-layang terhentak-hentak dan menyebabkan umpan

buatan bergerak menyerupai gerakan ikan. Kondisi kapal dalam keadaan berhenti.

Pada saat umpan dimakan ikan sasaran, maka layang-layang digulung dengan cepat

dan ikan tangkapan dinaikkan ke kapal dengan bantuan ganco. Pancing

layang-layang dioperasikan bersamaan dengan pengoperasian pancing jerigen. Alat

penangkapan ikan yang dipasang terlebih dahulu adalah pancing jerigen, setelah

pancing jerigen diapungkan sambil menunggu umpan dimakan ikan sasaran, maka

nelayan mengoperasikan pancing layang-layang.

3) Pancing kotrek. Pancing kotrek merupakan rangkaian mata pancing yang diikatkan

pada tali pancing dan diberi pemberat. Pengoperasian pancing kotrek diulurkan

menggunakan tangan sampai di kedalaman tertentu. Pancing dioperasikan dengan

cara dikotrek atau digerak-gerakkan seperti menghentak. Gerakan umpan buatan

yang turut terhentak ini menarik perhatian ikan sasaran. Pada saat umpan dimakan,

tali pancing langsung ditarik dan ikan hasil tangkapan diangkat ke kapal. Pancing

kotrek dioperasikan pertama kali saat sampai di daerah penangkapan ikan dengan

maksud untuk memancing ikan umpan. Hasil tangkapan pancing kotrek biasanya

berupa ikan tuna kecil, kembung dan layur. Selanjutnya hasil tangkapan digunakan

dalam pengoperasian pancing jerigen sebagai umpan hidup.

4) Pancing tonda. Pancing tonda dioperasikan dengan cara ditonda atau ditarik oleh

kapal mengelilingi rumpon dengan kecepatan 4-8 knot. Penarikan umumnya

dilakukan sekitar 15-30 menit atau bergantung saat tertangkapnya ikan sasaran.

Ikan hasil tangkapan diangkat dari laut ke atas kapal menggunakan alat bantu

penangkapan ikan ganco. Saat operasi penangkapan ikan, kapal menarik 2-4

rangkaian pancing tonda.

Kegiatan memancing biasanya dilakukan pada pagi hingga sore hari. Satu trip

(39)

penangkapan ikan atau palka ikan sudah penuh dan tidak dapat menampung hasil

tangkapan lagi.

4.2.5 Daerah dan musim pengoperasian pancing tonda

Daerah pengoperasian pancing tonda adalah di Samudera Hindia di posisi

06059 LS- 08029 LS dan 104000 BT - 106036 BT (Gambar 5). Di lokasi ini telah

dipasang sejumlah rumpon. Rumpon tersebut merupakan milik sendiri nelayan, ada

juga yang dipasang oleh pihak PPN Palabuhanratu. Jarak lokasi penangkapan ikan dari

fishing basedi PPN Palabuhanratu berkisar antara 12-120 mil, bergantung pada musim

penangkapan ikan. Pada saat musim puncak, nelayan menuju lokasi penangkapan ikan

yang berjarak 12-87 mil, pada musim sedang jarak lokasi berkisar antara 12-90 mil,

sedangkan pada musim paceklik berlangsung jarak fishing gÞ ßà áâ terjauh dapat

mencapai 120 mil (Lampiran 3).

Pengoperasian unit penangkapan pancing tonda dapat dilakukan sepanjang

tahun. Nelayan pancing tonda menyatakan ada tiga musim penangkapan ikan dalam

setahun, yaitu musim puncak, sedang dan paceklik. Musim puncak biasanya

berlangsung pada bulan April Juli, musim sedang pada bulan Agustus November,

sedangkan musim paceklik berlangsung pada bulan Desember Maret (Lampiran 2). = daerah penangkapan ikan

Gambar 5 Daerah pengoperasian pancing tonda Palabuhanratu

0°LS

100°BT

= daerah penangkapan ikan

Gambar 5 Daerah pengoperasian pancing tonda Palabuhanratu

0°LS

100°BT

= daerah penangkapan ikan

5°LS

10°LS

(40)

25

4.2.6 Hasil tangkapan pancing tonda

Hasil tangkapan pancing tonda (Gambar 6 dan Lampiran 1) umumnya adalah

jenis tuna. Hasil tangkapan terbanyak adalah jenis madidihang atau yellowfin tuna

hunnus albacaä ås ). Selain itu tertangkap pula jenis tuna mata besar atau bigeye tuna

hunnus obesus), setuhuk loreng (ãetä æç èéä és audax), lemadang (êoä ëphaena

hippéä éì), cakalang (íatsuwonus pelamis) dan kadang-kadang tertangkap albakora

hunnus alalunga).

Produksi tuna yang didaratkan oleh unit penangkapan pancing tonda di PPN

Palabuhanratu meningkat dari tahun 2009 hingga 2011, baik dari volume maupun nilai

produksi. Volume produksi tuna yang didaratkan unit penangkapan pancing tonda pada

tahun 2009 berjumlah 601.221 kg dan meningkat menjadi 1.023.659 kg pada tahun

2011 (Tabel 6). Nilai produksi tuna dari pendaratan unit penangkapan pancing tonda

meningkat 78% dari tahun 2009 ke 2010, namun menurun 8% dari 2010 ke 2011. Nilai Madidihang

(41)

produksi tuna dari unit penangkapan pancing tonda pada tahun 2011 mencapai

Rp15.691.786.700,- (Tabel 7).

Tabel 6 Volume produksi tuna (kg) dari unit penangkapan pancing tonda tahun 2009-2011

Tabel 7 Nilai produksi tuna (Rp) dari unit penangkapan pancing tonda tahun 2009-2011

Volume dan nilai produksi tuna bulanan dari unit penangkapan pancing tonda di

PPN Palabuhanratu berfluktuasi. Volume produksi berkisar antara 16.377 155.608

(42)

27

Agak sulit menentukan saat musim penangkapan tuna, karena pola yang terjadi setiap

tahun pada 2009 - 2011 berbeda (Gambar 7). Pada tahun 2009 dan 2010, volume dan

nilai produksi tinggi diperoleh pada bulan Mei sampai dengan Agustus. Pada tahun

2011, volume dan nilai produksi tinggi diperoleh pada bulan September dan Oktober.

Berdasarkan wawancara dengan nelayan, September dan Oktober merupakan musim

sedang, musim puncak penangkapan ikan terjadi pada bulan April sampai dengan Juli.

î ïð ñ òóutuôõö÷õôõö÷ õø õùúû üõ ù

Berdasarkan data primer yang diperoleh dan dipadukan dengan data sekunder

yang tersedia, kebutuhan bahan bakar solar bagi nelayan pancing tonda dapat dihitung

per bulan menurut musim penangkapan ikan. Perhitungan tersebut adalah dengan cara

mengalikan antara jumlah kebutuhan solar per kapal per trip dengan jumlah trip per

bulan dan jumlah kapal yang beroperasi pada bulan tersebut. Pada saat musim puncak

berlangsung 4 trip penangkapan ikan per bulan, setiap kapal memerlukan rata-rata 280

liter solar per trip dengan jumlah unit penangkapan ikan per bulan berkisar antara

49-156 unit. Pada saat musim sedang berlangsung 3 trip penangkapan ikan per bulan,

setiap kapal memerlukan rata-rata 345 liter solar per trip dengan jumlah unit

penangkapan ikan per bulan berkisar antara 47-102 unit. Pada saat musim paceklik

rata-rata berlangsung 2 trip penangkapan ikan per bulan, setiap kapal memerlukan 421

liter solar per trip dengan jumlah unit penangkapan ikan per bulan berkisar antara

32-115 unit (Lampiran 4).

Jumlah kebutuhan bahan bakar solar nelayan dalam mengoperasikan kapal

tonda untuk sebulan berkisar antara 600 2.700 liter bergantung musim penangkapan

(43)

600 1.800 liter solar per bulan dengan rata-rata 1.020 liter per kapal per bulan. Pada

musim sedang dibutuhkan sekitar 500 2.100 liter per kapal per bulan dengan rata-rata

966 liter. Pada musim paceklik kebutuhan solar semakin meningkat, karena jarak

tempuh kapal semakin panjang, yaitu berkisar antara 600 2.700 liter per kapal per

bulan dengan rata-rata sebesar 932 liter. Secara akumulasi, dalam satu tahun kapal

pancing tonda memerlukan solar sekitar 6.800 26.400 liter dengan rata-rata sebesar

11.670 liter. Secara terinci mengenai kebutuhan solar bagi setiap kapal pancing tonda

dapat dilihat dalam Tabel 8.

Tabel 8 Rincian kebutuhan solar satu kapal pancing tonda pada tahun 2011

Responden

Rata-rata 280 345 440 4 3 2 1.020 966 932 11.670

Sumber : Diolah dari data primer

Keterangan : A = musim puncak (Bulan April Juli); B = musim sedang (Agustus November); C = musim paceklik (Desember Maret)

Kebutuhan bahan bakar solar bulanan untuk seluruh unit penangkapan pancing

(44)

29

trip per bulan dan jumlah unit penangkapan ikan yang beroperasi per bulan. Pada tahun

2011, jumlah kapal pancing tonda yang beroperasi berkisar antara 55 156 unit dengan

kebutuhan solar berkisar antara 280 440 liter per trip dan 2 4 trip per bulan, maka

kebutuhan solar bulanan setiap kapal berkisar antara 46.310 174.720 liter (Tabel 9).

Tabel 9 Rincian perhitungan kebutuhan solar bulanan seluruh unit pancing tonda pada tahun 2011

Sumber : diolah dari data primer dan data PPN palabuhanratu (2011)

Kebutuhan bahan bakar solar bulanan kapal pancing tonda berfluktuasi selama

periode tahun 2009-2011, berkisar antara 26.944 174.720 liter bergantung musim

penangkapan ikan yang berlangsung. Kebutuhan solar pada saat musim puncak

berkisar antara 54.880 174.720 liter, pada musim sedang berkisar antara 48.645

105.570 liter, sedangkan pada musim paceklik berkisar antara 26.944 96.830 liter.

Secara umum kebutuhan solar tertinggi pada setiap tahunnya terjadi pada periode

musim puncak penangkapan ikan, yaitu pada bulan April sampai Juli. Secara rinci

kebutuhan solar bulanan untuk unit penangkapan pancing tonda dapat dilihat dalam

Tabel 10.

Jumlah pemakaian solar yang tercatat di PPN Palabuhanratu untuk kapal

pancing tonda agak berbeda dengan perhitungan data primer. Jumlah yang tercatat

lebih kecil. Pemakaian solar bulanan pada kapal pancing tonda yang tercatat di PPN

Palabuhanratu selama tahun 2009-2011 berkisar antara 13.200 107.330 liter.

(45)

solar pada saat musim puncak berkisar antara 25.500 107.330 liter, pada musim

sedang berkisar antara 22.500 86.610 liter, sedangkan pada musim paceklik berkisar

antara 13.200 91.170 liter. Walaupun kebutuhan tertinggi akan solar tercatat pada

saat musim penangkapan ikan, namun tidak seluruh bulan dalam musim itu tertinggi

angka kebutuhannya. Artinya perbedaan jumlah kebutuhan solar bulanan kapal

pancing tonda tidak terlalu mencolok. Secara rinci kebutuhan solar bulanan untuk

kapal pancing tonda yang tercatat di PPN Palabuhanratu dapat dilihat dalam Tabel 11.

Tabel 10 Jumlah kebutuhan solar bulanan kapal pancing tonda tahun 2009-2011 berdasarkan data primer

Musim Bulan 2009 2010 2011

Paceklik

Januari 31.996 58.098 65.676

Februari 42.942 67.360 96.830

Maret 35.364 74.938 93.462

Puncak

April 54.880 100.800 174.720

Mei 54.880 109.760 120.960

Juni 72.800 108.640 104.160

Juli 60.480 125.440 118.720

Sedang

Agustus 66.240 105.570 87.975

September 62.100 68.310 75.555

Oktober 55.890 98.325 86.940

November 48.645 90.045 62.100

Paceklik Desember 26.944 67.360 46.310

Jumlah : 613.161 1.074.646 1.133.408

ý þý ÿ ✁✂✄✄ ☎✆✄ ✝✄ ☎ ✆✄✞✄ ✟ÿ ✠✡✄ ✟

Bahan bakar solar di PPN Palabuhanratu disediakan melalui tiga penyalur

resmi, yaitu :

1) Solar Packet Dealer Nelayan (SPDN) KUD Mina Sinar laut

2) Stasiun pengisian Bahan bakar Nelayan (SPBN) PT Mekar Tunas Raya Sejati

Nomor Registrasi 38.43104

3) Stasiun Pengisian bahan bakar Banker (SPBB) PT Paridi Asyudewi Nomor

Gambar

Tabel 2 Perkembangan jumlah kapal dan perahu yang berlabuh di PPN Palabuhanratu
Tabel 4 Perkembangan jumlah nelayan di PPN Palabuhanratu periode 1993-2011
Tabel 5 Perkembangan jumlah unit pancing tonda bulanan tahun 2009-2011
Gambar 3 Alat penangkapan pancing tonda
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan data kinerja keuangan tersebut diindikasikan kinerja profitabilitas yang diukur dengan EPS merupakan salah satu penyebab return saham mengalami

Dilakukan dengan cara merubah dari bilangan octal menjadi bilangan biner kemudian dikonversikan ke hexadesimal... Konversi

[r]

Sedangkan bencana tanah longsor tidak mengakibatkan kerusakan rumah di Kepulauan Bangka Belitung untuk RRB, beberapa daerah untuk RRS (Sulawesi Barat, Gorontalo,

sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf c, selanjutnya dalam Peraturan Menteri ini disebut biaya jasa pengelolaan sumber daya air merupakan dana yang dipungut dari

3 Usaha Jasa Transportasi farasifa Tour dan Travel Sudah Ada (Dalam Pengurusan) 10 Orang. 4 Usaha Jasa Transportasi Halim Perdana Taksi Sudah Ada (Dalam Pengurusan)

Perkebunan Nusantara II Pabrik Ribbed Smoke Sheet (RSS) Kebun Batang Serangan - Langkat memiliki jam kerja yang terdiri atas tiga bagian yaitu waktu kerja pada karyawan

Percobaan kultur jaringan dilakukan dengan menggunakan eksplan biji muda cendana yang endospermanya masih meristematis hingga dimungkinkan mengalami morfogenetis membentuk