DINAMIKA TRUST TERHADAP PASANGAN PADA
PEREMPUAN YANG TELAH MELAKUKAN ABORSI
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi
Oleh:
MEILA RAMADHANY
061301127
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Dinamika trust terhadap pasangan pada perempuan setelah melakukan aborsi
Meila Ramadhany dan Meutia Nauli
ABSTRAK
Dampak pergaulan bebas di kalangan remaja pra-nikah mengantarkan pada kegiatan menyimpang seperti seks bebas dan tindakan kriminal termasuk aborsi. Aborsi merupakan suatu keputusan yang dilematis khususnya bagi perempuan dan juga sebuah pengalaman yang traumatis serta meninggalkan efek yang signifikan secara fisik dan psikologis khususnya pada perempuan yang melakukannya. Salah satu dampak negatif secara psikologis bagi perempuan yang melakukan aborsi adalah ketidakstabilan trust terhadap pasangan.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana dinamika trust pada perempuan terhadap pasangannya setelah melakukan aborsi dan hal apa saja yang mempengaruhi dinamika trust tersebut. Untuk menjawab masalah ini, digunakan beberapa teori dinamika dari beberapa tokoh yaitu, Johnson & Johnson (1997), Solomon, dkk (2001) dan Falcone&Castelfranci (2004).
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif karena dengan metode ini dapat dipahami gejala sebagaimana subjek mengalaminya, sehingga dapat diperoleh gambaran yang sesuai dengan diri subjek dan bukan semata-mata penarikan kesimpulan sebab akibat yang dipaksakan. Responden dalam penelitian ini adalah dua perempuan belum menikah yang telah melakukan aborsi dan sedang menjalani hubungan pacaran. Prosedur pengambilan data dilakukan berdasarkan konstruk operasional (operational construct sampling). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam dan observasi yang dilakukan selama wawancara berlangsung.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum tentang bagaimana sikap dan perilaku seorang perempuan terhadap pasangannya saat berada di fase distrust, saat membangun trust kembali, dan pada akhirnya trust tersebut terbentuk kembali, serta hal apa saja yang mempengaruhi perubahan trust tersebut. Masing-masing responden mengalami perubahan tahapan fase trust yang berbeda-beda dan perubahan tersebut bergantung pada bagaimana pasangan mereka memperlakukan dan menyikapi harapan-harapan mereka.
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan puji dan syukur
kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan anugerah-Nya yang
berlimpah kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang
berjudul “Dinamoka Trust Terhadap Pasangan Pada Perempuan Yang Telah
Melakukan Aborsi”. Skripsi ini merupakan tugas akhir perkuliahan penulis
sebagai syarat pendidikan sarjana (S-1). Penulis berharap ke depannya skripsi ini
dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa dalam mengembangkan penelitian.
Tentunya skripsi ini masih sangat jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis
senantiasa mengharapkan gagasan baru, kritik, serta saran yang membangun demi
perbaikan ke depan.
Dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini, ternyata tidaklah semudah yang
dibayangkan sebelumnya. Namun berkat dorongan, semangat dan dukungan dari
berbagai pihak merupakan kekuatan yang sangat besar hingga terselesaikan
skripsi ini. Khususnya, dorongan dari kedua orang tua penulis baik moril maupun
materil serta do’a. Mereka yang selama ini telah mendidik dan menjadi contoh
terbaik dalam hidup ini, ananda belum bisa membahagiakan kalian, semoga Allah
SWT memberikan kesempatan untuk itu. Mereka adalah Ayahanda tercinta
Almarhum Marthin Ramadhan yang tanpa cinta dan semangatnya peneliti tidak
akan berdiri sampai di sini dan Ibunda tercinta Ida Suryana yang selalu ada di
rumah untuk membimbing dan memberikan semangat, cinta, dan kasih
sayangnya. Untuk adik-adik saya Maghfira Rizkia dan M. Raihan Fahrezi
terima kasih telah selalu mendoakan penulis dalam setiap kesempatan dan yang
selalu berharap bahwa penulis nantinya akan menjadi manusia yang berguna di
Dalam proses penyelesaian skripsi ini, penulis tidak hanya mengandalkan
kemampuan diri sendiri. Begitu banyak pihak yang memberi kontribusi, baik
berupa materi, pikiran, maupun dorongan semangat dan motivasi. Oleh karena itu
melalui kata pengantar ini penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1. Ibu Prof. Irmawati, M.Si, Psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi
Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Meutia Nauly, M,Si, Psi selaku dosen pembimbing penulis yang
memiliki pengetahuan yang cukup luas mengenai berbagai hal yang
membuat penulis termotivasi untuk membuat suatu penelitian yang
cukup menantang, dan memiliki kesabaran, ketekunan dalam
memberikan masukan-masukan bagi skripsi ini.
3. Ibu Rika Eliana, M.Si, Psi Selaku Koordinator Departemen Sosial
Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.
4. Para dosen Psikologi USU yang selalu memberikan contoh, masukan
serta teladan yang patut untuk ditiru oleh penulis berupa semangat untuk
terus belajar dan meraih cita-cita.
5. Para mahasiswa stambuk 2007 dan 2008 yang peneliti kenal dan sering
berinteraksi. Para mahasiswa dari yang 2002 sampai 2005 yang juga
turut men – support penulis dari awal waktu perkuliahan hingga
sekarang.
Semoga Skripsi ini bermanfaat bagi seluruh pihak dan dapat membuka
khazanah berpikir kita mengenai komunikasi orang tua dan pembentukan konsep
Medan, Juli 2010
Penulis
DAFTAR ISI
ABSTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI ... i
DAFTAR SKEMA ... iv
DAFTAR LAMPIRAN ... v
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH ………. 1
B. PERUMUSAN MASALAH ………. 16
C. TUJUAN PENELITIAN ………... 16
D. MANFAAT PENELITIAN ………... 17
E. SISTEMATIKA PENELITIAN ……… 17
BAB II LANDASAN TEORI A. TRUST A.1. DEFENISI TRUST ……….………… 20
A.3. DINAMIKA TRUST ……….…….………… 23
B. ABORSI B.1. DEFENISI ABORSI ……….……… 28
B.2. MACAM-MACAM ABORSI ……….………….. 29
B.3. FAKTOR PENDORONG ABORSI ……….……… 30
B.4. DAMPAK KONDISI ABORSI ……….………... 31
C. PACARAN C.1. DEFENISI PACARAN ……… 34
C.2. PROSES PACARAN ……… 35
D. DINAMIKA TRUST DALAM HUBUNGAN ………...… 38
E. DINAMIKA TRUST DALAM HUBUNGAN SETELAH ABORSI …… 38
BAB III METODE PENELITIAN A. PENDEKATAN KUALITATIF ………... 42
B. SUBJEK PENELITIAN B.1. KARAKTERISTIK SUBJEK PENELITIAN ……….…………. 43
B.2. JUMLAH SUBJEK PENELITIAN ………….…….………. 44
B.3. TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL ……….……....…… 44
B.4. LOKASI PENELITIAN ……….……….…….. 45
C. METODE PENGUMPULAN DATA C.1. WAWANCARA ……….…..………. 45
C.2. OBSERVASI ……….……….….……….. 46
D.2.PEDOMAN WAWANCARA ……… 48
D3. LEMBAR OBSERVASI ………...………. 49
E. KREDIBILITAS (VALIDITAS) PENELITIAN ……….... 49
F. PROSEDUR PENELITIAN ………. 50
BAB IV ANALISA DATA ……….. 56
BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN …………..………... 115
DAFTAR PUSTAKA ……… 116
LAMPIRAN DAFTAR SKEMA A. DINAMIKA TRUST ………40
B. PARADIGMA PENELITIAN………. 41
C. DINAMIKA TRUST RESPONDEN I ……… 90
D. DINAMIKA TRUST RESPONDEN II ……….. 112
DAFTAR TABEL A. GAMBARAN UMUM SOSIODEMOGRAFIS RESPONDEN ...……56
B. TEMPAT DAN WAKTU WAWANCARA RESPONDEN I………….. 57
C. TEMPAT DAN WAKTU WAWANCARA RESPONDEN II ……….. 91
Dinamika trust terhadap pasangan pada perempuan setelah melakukan aborsi
Meila Ramadhany dan Meutia Nauli
ABSTRAK
Dampak pergaulan bebas di kalangan remaja pra-nikah mengantarkan pada kegiatan menyimpang seperti seks bebas dan tindakan kriminal termasuk aborsi. Aborsi merupakan suatu keputusan yang dilematis khususnya bagi perempuan dan juga sebuah pengalaman yang traumatis serta meninggalkan efek yang signifikan secara fisik dan psikologis khususnya pada perempuan yang melakukannya. Salah satu dampak negatif secara psikologis bagi perempuan yang melakukan aborsi adalah ketidakstabilan trust terhadap pasangan.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana dinamika trust pada perempuan terhadap pasangannya setelah melakukan aborsi dan hal apa saja yang mempengaruhi dinamika trust tersebut. Untuk menjawab masalah ini, digunakan beberapa teori dinamika dari beberapa tokoh yaitu, Johnson & Johnson (1997), Solomon, dkk (2001) dan Falcone&Castelfranci (2004).
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif karena dengan metode ini dapat dipahami gejala sebagaimana subjek mengalaminya, sehingga dapat diperoleh gambaran yang sesuai dengan diri subjek dan bukan semata-mata penarikan kesimpulan sebab akibat yang dipaksakan. Responden dalam penelitian ini adalah dua perempuan belum menikah yang telah melakukan aborsi dan sedang menjalani hubungan pacaran. Prosedur pengambilan data dilakukan berdasarkan konstruk operasional (operational construct sampling). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam dan observasi yang dilakukan selama wawancara berlangsung.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum tentang bagaimana sikap dan perilaku seorang perempuan terhadap pasangannya saat berada di fase distrust, saat membangun trust kembali, dan pada akhirnya trust tersebut terbentuk kembali, serta hal apa saja yang mempengaruhi perubahan trust tersebut. Masing-masing responden mengalami perubahan tahapan fase trust yang berbeda-beda dan perubahan tersebut bergantung pada bagaimana pasangan mereka memperlakukan dan menyikapi harapan-harapan mereka.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dampak pergaulan bebas di kalangan remaja berpacaran mengantarkan
pada kegiatan menyimpang seperti seks bebas sehingga mengakibatkan
menularnya penyakit kelamin dan kehamilan diluar nikah yang pada akhirnya
membawa pada tindakan aborsi. Berdasarkan survei BKKBN tahun 2008, sekitar
63% remaja di Indonesia pernah berhubungan seks dan sebanyak 21% diantaranya
yaitu sekitar 2.000.000 jiwa pernah melakukan aborsi setiap tahunnya di
Indonesia.
Aborsi adalah Menggugurkan kandungan atau dalam dunia kedokteran
dikenal dengan istilah “abortus” yang berarti pengeluaran hasil konsepsi
(pertemuan sel telur dan sel sperma) sebelum janin dapat hidup di luar kandungan.
Ini adalah suatu proses pengakhiran hidup dari janin sebelum diberi kesempatan
untuk bertumbuh (Wikipedia, 2009). Sama halnya dengan yang diungkapkan oleh
Dadang Hawari dalam bukunya, ‘ABORSI – Dimensi Psikoreligi’ (2006), bahwa
aborsi merupakan pengguguran kandungan atau terminasi (penghentian)
kehamilan yang disengaja (abortus provocatus), yaitu, kahamilan yang
diprovokasi dengan berbagai macam cara sehingga terjadi keguguran.
Aborsi adalah suatu keputusan yang biasanya melibatkan hubungan kedua
tersebut sudah diputuskan, maka aborsi akan menjadi bagian dari masa lalu
mereka yang memiliki dampak yang potensial terhadap kehidupan mereka saat ini
dan di masa mendatang (Coleman, dkk ,2007).
Terdapat beberapa alasan individu mengambil keputusan untuk melakukan
aborsi yaitu ingin terus melanjutkan sekolah atau kuliah, takut pada kemarahan
orang tua, menjaga nama baik keluarga, malu pada lingkungan sosial bila
ketahuan hamil sebelum menikah dan kehamilan yang terjadi akibat perkosaan
(“Pacaran”, 2006). Adapun penyebab lainnya karena mereka mengalami
kehamilan tetapi tidak menghendaki kehamilannya, dengan berbagai alasan
seperti faktor usia atau pasangan yang tidak mau bertanggung jawab (Hidayati,
2001). Hal ini sesuai dengan yang ungkapan Mika (23 tahun) dalam komunikasi
personal:
“Kami kan dua-duanya masih sekolah, mel. Trus kau tau lah siapa orang tuanya.. Mana mungkin kami pertahanin anak tu. Malu keluarga ntik. Kalo gak mikir keluarga udah beranak aku sekarang..” (S1.W1.b: 186-192.h:5-6).
Aborsi dapat membawa dampak negatif yang cukup signifikan baik secara
fisik dan psikologis. Terdapat dua macam resiko kesehatan wanita yang
melakukan aborsi yaitu resiko kesehatan dan keselamatan secara fisik yaitu
sebagaimana yang diungkapkan oleh Clowes (1994) dan didukung oleh pendapat
Edmundson (2009) yang meyatakan bahwa aborsi memiliki dampak yang
potensial yaitu memiliki resiko yang tinggi terhadap kesehatan maupun
keselamatan seorang wanita. Ada beberapa resiko yang akan dihadapi oleh
kematian karena pembiusan yang gagal, infeksi serius disekitar kandungan, rahim
yang sobek (uterine peoration), kerusakan leher rahim (cervical lacerations) yang
akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya, kanker payudara, kanker indung
telur, kanker leher rahim (cervical cancer), kanker hati, kelainan placenta,
kemandulan, infeksi panggul, infeksi rongga dan infeksi pada lapisan rahim
(endometris).
Selain dampak fisik, wanita yang melakukan aborsi juga akan mengalami
resiko berupa gejala psikologis yang dikenal sebagai “Post-Abotion Syndrome”
(PAS) yang dikarakteristikkan dengan perasaan bersalah yang mendalam dan
dalam jangka waktu yang lama, depresi, dan mengakibatkan ketidakberfungsian
secara sosial dan seksual (Coleman, Rue & Spenser, 2007). Hal senada juga
diungkapkan oleh Edmundson, 2009, bahwa secara psikologis aborsi memberikan
dampak hilangnya harga diri, perasaan berdosa, lemahnya ikatan pasangan kedua
belah pihak yang menyebabkan kegagalan setelah menikah, serta penghinaan dari
masyarakat.
Hal ini dapat terlihat dari pendapat beberapa orang yang sempat
diwawancarai tentang masalah aborsi,
”Menurut aku sih apapun alasannya aborsi itu ya tetap salah lah! Berani berbuat, harus berani tanggung jawab. Jangan jadi pengecut lah!” (Eka, 20 tahun. Wawancara personal, 13 Desember 2009).
”Aborsi itu merusak tatanan kehidupan masyarakat. Perbuatan jahiliah!” (Rezha, 26 tahun. Wawancara personal, 13 Desember 2009).
Speckhard dan Rue (1992, dalam Major, Appelbaun, Beckman, Datton,
Russo & West 2008), serta Burke (2002) mengatakan bahwa PAS dapat
dikarakteristikkan sebagai bentuk khusus dari Posttraumatic stress disorder
(PTSD) yang dapat dibandingkan dengan beberapa simptom, termasuk simptom
trauma, seperti flashback dan denial, depresi, perasaan bersalah, marah, malu,
sedih berkepanjangan dan penyalahgunaan obat-obatan. Hal ini juga didukung
oleh penelitian yang dilakukan Speckhard (1987), yang menunjukkan bahwa
adanya efek setelah aborsi terhadap perilaku seseorang, yaitu reaksi berupa
perasaan bersalah; perasaan duka cita, penyesalan, merasa kehilangan yang
mendalam, perasaan marah misalnya mengamuk, melakukan kekerasan terhadap
orang-orang yang terlibat dalam kejadian aborsi tersebut, perasaan fear dan
anxiety; takut terhadap kemarahan Tuhan, takut tidak dapat menghasilkan
keturunan lagi, distrust terhadap orang lain dan pasangannya, dan sebagainya.
Hal lain yang juga berdampak negatif dari segi psikologis adalah
konsekuensi atau dampak secara psikososial seseorang yang telah melakukan
aborsi. Adapun masalah psikososial yang cukup berdampak buruk yaitu masalah
interpersonal setelah aborsi tersebut, misalnya permasalahan dalam hubungannya
dengan diri sendiri, lingkungan sosialnya, misalnya pertemanan, dengan keluarga,
dan dalam hubungan percintaan pada perempuan pelaku aborsi.
Dalam hubungan pertemanan, biasanya seorang perempuan yang telah
melakukan aborsi akan sering merasa iri melihat teman-temannya yang masih bisa
sebesar masalah yang ia tanggung, merasa minder untuk berkumpul dengan
teman-temannya karena merasa dirinya berbeda dengan teman-temannya, dan
membuat dia terus menerus menyalahkan diri sendiri dan menarik diri dari
hubungan pertemanan. Hal ini terlihat dari pengakuan Mika (23 tahun) dan Rin
(22 tahun) dalam wawancara mendalam:
” Kalo liat kawan-kawan kita yang perempuan, aku iri kali. Sesak kali hati aku kalo liat kawan-kawan aku masih bisa ketawa-ketawa gak ada beban. Kadang kalo ada kawan yang curhat ma aku, aku ngerasa masalah dia tu gak ada apa-apanya dibandingkan aku. Kadang aku ngerasa minder gitu kalo lagi ngumpul-ngumpul. Aku ngerasa beda aja ma anak-anak seumuran aku yang seharusnya mikirin sekolah, gebetan-gebetan, bukan mikirin dosa karna udah bunuh anak sendiri”. (S1.W2.b: 301-314.h:17)
”kek ada bertanya-tanya gitu, apa orang tu masih virgin ato nggak. Kalo udah liat cewek-cewek seumuran kita ato anak SMP lah, ada terpikir aku gitu lah. Kek mana lah, aku dah ilang perawan dari SMP. Sedih aku kalo ingat-ingat itu Mel.. Seharusnya aku gak kek gini mel... seharusnya aku kayak anak-anak yang laen”. (S1.W1.b: 317-326.h:17)
” Sering kali Rin bertanya-tanya sendiri, mereka masih virgin nggak ya? Mereka sama nggak ya kayak aku? Mereka punya masalah yang kayak aku hadapin sekarang nggak ya?”. (S2.W2.b: 308-313.h: 76-77)
Dalam hubungannya dengan keluarga, sebelum kakak dan keluarga yang
lain mengetahui tentang masalah aborsinya, Mika (22 tahun) merasa cemas karena
takut masalahnya tersebut diketahui, melakukan physical withdrawal, emosi yang
tidak stabil karena berusaha menutupi rasa takut dan perasaan bersalah tersebut.
Tetapi setelah sang kakak mengetahui permasalahan aborsi tersebut, Mika merasa
”...emang dari awal kan keluarga aku udah tau kalo aku udah pernah gituan dengan Aldi, tapi abis aborsi tu aku sumpah ketakutan jangan lah orang ni tau aku gugurin anak. Jarang kali aku di rumah, mel. Pokoknya sebisa mungkin aku gak ketemu ma kakak en cecek aku. Kadang aku gak tau kenapa aku seringkali berantam ma kakak aku. Ditanya dikit masalah Aldi aku icah (emosi)” (wawancara personal, 10 Desember 2009).
”kek misalnya kalo ditanya, ’kau tadi kemana ma Aldi?’, aku langsung emosi jawabnya. Kan kalo kita nutupin sesuatu, biasanya gitu mel” (wawancara personal, 10 Desember 2009).
”pas abes kakak aku tau, dia yang bilang ma keluarga. Aku benci kali lah ma anak tu! Dia kalo lagi marah ma aku, macam bukan kakak aku lagi. Semua aib aku dikasih tau ma keluarga. Tapi abis itu aku lumayan lega lah. Walaupun aku dicacimaki, diceramahin panjang lebar, yang penting abes tu agak plong karna gak ada yang perlu aku tutupin lagi” (wawancara personal, 10 Desember 2009).
Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Rue (dalam Burke, 2004) bahwa
ketika seorang anak yang merahasiakan tentang aborsinya dengan orang tua
mereka, hal itu akan menciptakan jarak antara dirinya dengan orang tua dan
keluarganya. Hal itu juga didukung dengan pernyataan Deveber (2002) bahwa
perasaan malu dan takut merupakan motivator utama untuk terciptanya rahasia
antara anak kepada orang tua. Hal ini termasuk takut untuk membuat orang tua
kecewa. Rue (dalam Deveber, 2002) kembali menambahkan bahwa ketika seorang
remaja memilih untuk aborsi tanpa konsultasi dengan orang tua atau keluarga,
dampak pada konteks keluarga tidak akan dapat terelakkan. Bagaimanapun ia
akan menyimpan rahasianya yang memalukan itu dan secara emosional menekan
kemampuannya untuk menyelesaikan masalah dan akan menyebabkan ia akan
menciptakan kebohongan lainnya karena ia berusaha untuk tetap menjaga aibnya
Tetapi selain rasa lega karena permasalahannya telah diketahui oleh
keluarga, hal itu akan menimbulkan masalah lain yaitu perasaan rendah diri.
Akibatnya Mika cenderung menghindari interaksi dalam keluarganya.
”...emang udah lega sih, tapi kan mel, aku ada ngerasa orang tu pasti bakal ngeliat aku beda, kek ngeremehin aku. Aku kek takut buat kesalahan gitu. Rasanya kalo aku buat salah keknya dibilang gini, ’alah, gak heran lah si Mika tu kan emang tukang cari masalah. Tukang buat dosa. Dasar anak nggak tau diri’. Makanya aku males kalo ada ngumpul-ngumpul keluarga” (wawancara personal, 12 Desember 2009).
Selain reaksi yang mempengaruhi hubungan dengan teman dan keluarga,
penelitian juga mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang diasosiasikan dengan
reaksi psikologis yang lebih negatif yang terjadi pada perempuan setelah aborsi.
Salah satu hal yang termasuk di dalamnya yaitu menggugurkan kehamilan yang
sebenarnya diinginkan dan kurangnya sosial support termasuk kurangnya
dukungan dari pasangan (Adler et al., 1992; Major & Cozzrelli, 1992; Major et
al., 2000 dalam Major dkk, 2008).
Hal tersebut sesuai juga dialami oleh Rin (22 tahun), yang mengatakan
bahwa:
“Rin sebenarnya siap walaupun fifty-fifty, Mel. Tapi dari awal dia udah langsung bilang bahwa dia nggak siap. Rin kecewa sebenarnya sama dia, Mel. Dia emang bilang kalo emang Rin mau mempertahankan, dia siap tanggung jawab. Tapi kalimat awalnya dia udah langsung bilang kalo dia itu nggak siap..”. (S2.W2.b:115-125.h: 70-71)
mpek aku dah coba bunuh diri berkali-kali. Di rumah kau udah dua kali, di rumah aku sendiri udah nggak terhitung lagi. Buntu pikiran aku mel..”. (S1.W1.b:85-96.h:3)
”pas dia ngilang, aku kek mau gila gitu mel. Depresi berat. Berat badan aku turun mpek berkilo-kilo, aku gak bisa tidor, gak bisa belajar, nangis tiap malam, gak bisa ngapa-ngapain lah mel. Waktu tu aku bolak balik mau bunuh diri, aku ngerasa mana ada yang mau ma aku lagi, benci kali aku ma laki-laki” (S1.W3.b: 43-51.h:22).
”...aku kek hampir gila kek gitu ada lah mpek hampir setaon juga. Pokoknya aku gak pernah ngerasa senang lah mel” (S1.W3.b:54-57.h:22).
Reaksi lebih negatif terjadi pada Mika yang merasa kurang adanya social
support adalah keinginan bunuh diri dan hal itu terjadi dalam waktu yang relatif
sering, depresi, benci dengan laki-laki dan menganggap dirinya tidak berharga.
Kurang tersedianya social support tersebut dikarenakan kedua orang tuanya telah
meninggal, kakaknya yang sudah menikah sehingga ia tidak mau mengganggu
kehidupan kakaknya tersebut dan pasangan yang tiba-tiba meninggalkannya.
Selain berdampak buruk terhadap hubungan dengan keluarga dan
teman-temannya, aborsi juga berdampak buruk terhadap hubungan dengan pasangan.
Menurut David H. Sherman, et al (1985), hampir setengah perempuan yang
melakukan aborsi mengaku bahwa keputusan mereka untuk aborsi adalah
pengubah hubungan mereka dengan pasangan secara signifikan dan mengakhiri
suatu hubungan pasangan, walaupun pasangan tersebut sudah menjalani hubungan
yang stabil (Barnett, et al, 1992).
yang dilakukan oleh peneliti:
“…aku putos ma Aldi kan abes aku aborsi tu. Cobak lah ko piker, mel, aku ma anak tu udah sembilan taon pacaran, tapi pas stelah aku aborsi baru kami sering berantam trus baru-baru ni dia tinggalin aku. Emang pertama cukop baek dia mel.. Tapi tiba-tiba ditinggalinnya aku, nggak ada kabar. Yang nggak gila aja aku mel..” (S1.W1.b: 59-67.h:2).
Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Barnett, dkk (1992) yang
menyatakan bahwa wanita yang memiliki hubungan yang cenderung stabil,
setelah melakukan aborsi dilaporkan berpisah. Dari 80% kelompok pasangan yang
berpisah, kebanyakan wanita yang berinisiatif untuk melakukan perpisahan
dengan pasangannya. Hubungan setelah aborsi dilaporkan menjadi lebih buruk,
dengan lebih banyak konflik dan kurangnya saling trust satu dengan lainnya.
Hal ini sesuai dengan wawancara personal peneliti dengan Mika (23
tahun) yang menyatakan bahwa:
“abes aborsi tu emang aku terus yang minta putus, walaupun ntik balek lagi kami. Tapi kek mana ya kubilang, hubungan kami tu kek udah hambar gitu mel, karna aku ngerasa dia gak mau peduli aku lagi, dia udah nggak sayang aku lagi. Dulu aku bisa lah percaya penuh ma dia kalo dia bisa jagain aku, ni aku dibuatnya berdosa terus, jauh terus dari Allah. Gara-gara anak tu juga aku nggak percaya Panji (pacar Mika saat ini) betol-betol sayang ma aku. Mana ada yang mau ma perempuan nggak virgin lagi mel? Alah, sama aja semua cowok! Mulut dengan perbuatannya nggak sinkron! Cuma mau enaknya aja, abes tu kita dicampakin.” (S1.W1.b: 243-260.h:7).
Seseorang yang kehilangan kemampuan trust sering kali karena adanya
suatu keadaan traumatis (Herman, 1991). Aborsi merupakan sebuah pengalaman
pada perempuan yang melakukannya (Edmundson, 2009). Menurut penelitian
Anne Speckhard (1992), sekitar 50 % perempuan pasca aborsi kehilangan trust
terhadap orang lain, dan 58% kehilangan kepercayaan terhadap laki-laki. Aborsi
dikatakan sebagai pengalaman yang traumatis dikarenakan bahwa itu melibatkan
kejadian kematian seseorang, yang secara spesifik, merupakan pembunuhan
seseorang yang belum dilahirkan secara disengaja dan menyaksikan kematian
yang yang kejam, sama halnya dengan melanggar tanggung jawab dan insting
orang tua, merusak hubungan ibu dan anak yang belum dilahirkan dan rasa sedih
yang sangat mendalam (Coleman dkk, 2005; MacNair, 2005; Speckhard & Rue,
1992 dalam Major dkk, 2008).
Hal ini sesuai dengan ungkapan dari Mika (23 tahun) dalam komunikasi
personal yang dilakukan oleh peneliti:
“Aku sering miker sekarang, kenapa lah nggak kupertahanin aja anak-anak aku tu mel? Abes aborsi tu aku ngerasa betol-betol macam pembunuh. Aku masih terasa mpek sekarang kek mana bidan tu masokin gunteng kedalam perot aku. Aku masih terasa kek mana anak aku pelan-pelan ancor di dalam perot aku sendiri. Ancor kali hati aku, mel. Tiap hari aku ingat anak-anak aku trus. Kalo orang ni masih idop pasti sekarang udah sehat-sehat. Kejam kali aku jadi orang tua lah, padahal bos aku sayang kali dulu ma aku. Semuanya gara-gara Aldi! Susah aku percaya lagi ama anak tu ya mel! Semua saket sekarang aku tanggong sendiri! Laher baten ya mel!!” (S1.W1.b: 286-305).
Rasa sedih, perasaan bersalah yang mendalam, penyesalan, depresi yang
terjadi pada individu yang menjadikan seorang perempuan yang melakukan aborsi
merasa trauma dan mempengaruhi hubungannya dengan pasangan. Stabilitas
terlihat saat ia menjalin hubungan percintaan dengan pasangan.
Mika (23 tahun) juga mengaku bahwa emosinya cenderung tidak stabil dan
seringkali marah dengan pasangannya. Dan ia seringkali menyalahkan
pasangannya terhadap hal apapun.
”..aku sakit kali mel aborsi tu... Aku mau Aldi bisa ngertiin aku, aku mau dia bisa ngerasa apa yang aku rasa. Siapa yang ngerasa malu kalo ketauan? Aku mel. Aku yang nanggong semuanya. Makanya aku marah kali kalo dia nggak dengerin apa yang aku bilang. Aku stres kali kalo teringat itu. Rasa bersalah tu nggak pernah ilang. Aldi kadang-kadang suka bentak aku, aku sedih, marah, parah lah pokoknya mel. Makin sering aja kami berantam, maki-makian. Aku mau walaupun aku yang salah, dia yang nanggung salah aku. Aku mau berbagi rasa sakit itu mel”. (S1.W2.b: 411-427.h:19)
Dari pemaparan Mika, ia mengaku bahwa setelah melakukan aborsi
hubungannya dengan Aldi mengalami beberapa perubahan dalam hal stabilitas
emosi, meningkatnya perasaan ingin dimengerti, perasaan curiga, takut
ditinggalkan pasangan, tingginya keinginan agar Aldi dapat merasakan apa yang
Mika rasakan dan seringnya melampiaskan kemarahan kepada Aldi dan selalu
menyalahkan Aldi.
Hal tersebut sesuai dengan pendapat Ervin (dalam Deveber, 2002) yang
mengatakan bahwa seorang perempuan yang mengalami distress dalam bentuk
perasaan bersalah setelah melakukan aborsi biasanya melimpahkan kesalahan
tersebut pada pasangannya. Dan didukung oleh sebuah penelitian yang dilakukan
setelah aborsi, sekitar 40 -75 % dikarenakan gangguan pada intimacy dan distrust
terhadap pasangan mereka.
Trust menurut Johnson & Johnson (1997) merupakan aspek dalam suatu
hubungan dan secara terus menerus berubah. Dan menurut Johnson (2006), trust
merupakan dasar dalam membangun dan mempertahankan hubungan
intrapersonal. Kualitas suatu hubungan yang kuat didasari oleh adanya
kepercayaan (trust) untuk memuaskan secara emosional, spiritual dan hubungan
fisik. Pondasi trust meliputi saling menghargai satu dengan lainnya dan menerima
adanya perbedaan (Carter, 2001). Trust merupakan suatu hal yang esensial bagi
sebuah hubungan untuk dapat terus tumbuh dan berkembang serta merupakan
suatu fenomena yang dinamis yang terjadi secara intrinsik pada suatu keadaan
yang alamiah, dimana trust merupakan hal yang menyangkut masalah mental
yang didasarkan oleh situasi seseorang dan konteks sosialnya, misalnya ketika
seseorang untuk mengambil suatu keputusan, ia akan lebih memilih keputusan
berdasarkan pilihan dari orang-orang yang lebih dapat ia percayai dari pada yang
kurang ia percayai. Hal tersebut juga diperkuat oleh Hoogendoorn, Jaffry & Treur
(2009) yang mengatakan bahwa trust tidak hanya tergantung pada pengalaman
tetapi juga melibatkan hubungan dengan proses mental dimana terdapat adanya
aspek kognitif dan afektif di dalamnya. Hal ini menjelaskan bahwa trust tidak
hanya tergantung pada pengalaman sebagai informasi yang diperoleh dari waktu
ke waktu, tetapi juga melibatkan respon emosi dan perasaan yang berhubungan
dengan pengalaman tersebut .Untuk membangun suatu hubungan yang kuat, kita
pengakhianatan dan penolakan, dan meningkatkan harapan akan penerimaan,
support, dan confirmation (Johnson & Johnson, 1997).
Untuk dapat trust, seseorang akan mengharapkan adanya sense of
responsibility, percaya bahwa mereka akan berperilaku pada cara-cara yang dapat
dipercaya. Seseorang akan berharap bahwa orang yang ingin ia percaya akan
mengerti harapannya dan mengetahui cara untuk mengatasi keterbatasannya,
karena itu hal yang paling esensial dari trust adalah keterbukaan. Hal tersebut juga
diperkuat oleh Johnson&Johnson (1997) yang mengatakan bahwa terdapat lima
aspek penting untuk membangun trust yang mendasari suatu hubungan
intrapersonal yaitu openness (keterbukaan) yaitu ketika pasangan dapat saling
membagi informasi, ide-ide, pemikiran, perasaan, dan reaksi isu-isu yang terjadi,
sharing (berbagi) dimana pasangan menawarkan bantuan emosional dan material
serta sumber daya kepada pasangannya dengan tujuan untuk membantu mereka
menuju penyelesaian tugas, acceptance (penerimaan) yaitu ketika adanya
komunikasi penuh penghargaan terhadap pasangan, support (dukungan) yaitu
komunikasi dengan orang lain yang diketahui kemampuannya dan percaya bahwa
dia mempunyai kapabilitas yang dibutuhkan, dalam hal ini seseorang percaya
bahwa pasangannya memiliki kemampuan dan kapabilitas yang dibutuhkan dalam
menjalankan hubungan intrapersonal, dan yang terakhir adalah cooperative
intention yaitu adanya pengharapan bahwa seseorang dapat bekerja sama dan
bahwa orang lain juga dapat bekerjasama untuk mencapai pemenuhan tujuan, dan
dalam hal ini pasangan percaya bahwa pasangannya dapat bekerja sama dalam
kelima aspek tersebut, maka kita dan pasangan telah membangun mutual trust
satu dengan lainnya (Johnson & Johnson, 1997).
Trust terbentuk melalui rangkaian perilaku antara orang yang memberikan
kepercayaan dan orang yang dipercayakan tersebut. Interpersonal trust dibangun
melalui adanya resiko dan penerimaan dan dapat hancur karena adanya resiko dan
tidak adanya sikap penerimaan. Tanpa resiko maka trust tidak akan terbentuk, dan
hubungan tidak dapat maju dan berjalan (Johnson & Johnson, 1997). Ketika
seseorang mengambil resiko dengan terbuka (disclosing) dalam membicarakan
pemikiran-pemikirannya, informasi, kesimpulan, perasaan dan reaksi pada suatu
situasi dan pasangan akan memberikan respon yang positif berupa penerimaan,
support, kooperatif dan membalas kita dengan menjadi terbuka (disclosing) dalam
membicarakan pemikiran, ide, dan perasaan mereka, disitulah trust dapat
terbentuk dan berkembang (Johnson & Johnson, 1997).
Tetapi Trust bukan suatu jaminan untuk tidak dapat berubah karena
keadaan bisa menghilangkan kemampuan seseorang untuk trust (Johnson &
Johnson, 1997). Sebuah hubungan yang intim dapat membuat kita mengenal diri
kita sebenarnya dan merasa diterima. Dimana hubungan tersebut terjadi ketika
trust dapat menggantikan perasaan anxiety dan dimana kita dapat secara bebas
membuka diri kita sendiri tanpa harus takut kehilangan perasaan pasangan kita
(Holmes & Rampel, 1989 dalam Myers, 2007).
Trust dapat berubah dari waktu ke waktu, karena orang yang terlibat di
Castelfranci, 2004). Hal tersebut didukung oleh pendapat Johnson & Johnson
1997 yang menyatakan bahwa trust bukan suatu jaminan untuk tidak dapat
berubah karena keadaan bisa menghilangkan kemampuan seseorang untuk trust.
Solomon, dkk (2001) menjelaskan bahwa, ada kalanya seseorang berada di dalam
periode distrust yang ekstrim. Seseorang yang kehilangan kemampuan trust sering
kali karena adanya suatu keadaan traumatis (Herman, 1991). Hal tersebut terjadi
karena adanya pengkhianatan dan pelanggaran terhadap trust dan komitmen
tersebut. Trust memang meliputi resiko dan konsekuensi dari resiko seringkali
membuat kita kecewa dan merasa gagal.
Setelah berada di dalam periode distrust, beberapa orang ada yang tidak
dapat melupakan dan juga tidak dapat memaafkan, tetapi tidak sedikit pula
mereka tetap berubah dan belajar untuk trust kembali kepada pasangannya.
Individu yang dapat memaafkan akan berada pada fase Reestablishing trust yaitu
membangun kembali struktur-struktur baru, memulihkan dan kembali melakukan
rutinitas sehari-hari dan membangun kembali hubungannya tersebut (Solomon,
2001).
Aborsi memang dapat membawa dampak yang signifikan terhadap
hubungan seorang perempuan yang melakukannya. Tidak hanya hubungannya
dengan pasangan yang terpengaruhi tetapi juga hubungannya dengan seluruh
keluarga dan lingkungan sosialnya. Tiap individu akan mengalami fase atau
dinamika trust berbeda-beda karena trust tergantung pada bagaimana perilaku
Atas pemaparan diatas, peneliti ingin meneliti lebih dalam tentang
bagaimana dinamika trust terhadap pasangan pada perempuan yang telah
melakukan aborsi.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang sebelumnya, perumusan masalah
penelitian ini adalah bagaimana dinamika trust terhadap pasangan pada
perempuan yang telah melakukan aborsi.
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan atau mendeskripsikan
mengenai dinamika trust terhadap pasangan pada perempuan yang telah
melakukan aborsi.
D. Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini diharapkan dapat memberi dua manfaat, yaitu manfaat
secara teoritis dan manfaat secara praktis.
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat member manfaat untuk
pengembangan ilmu psikologi, khususnya di bidang Psikologi Sosial dalam
rangka perluasan teori, terutama yang berkenaan dengan bagaimana dinamika
trust yang terjadi pada perempuan yang telah melakukan aborsi kepada
2. Manfaat Praktis
Secara praktis, hasil penelitian ini dapat memberikan informasi tentang
bagaimana gambaran dinamika trust terhadap pasangan pada perempuan yang
telah melakukan aborsi.
Dapat memberikan sumbangan informasi tentang dampak dan bahaya baik
secara fisik maupun secara mental serta bagaimana aborsi mempengaruhi
hubungannya dengan pasangan.
Diharapkan penelitian ini juga dapat memberikan sumbangan informasi
bagi keluarga, masyarakat sekitar dan lembaga-lembaga yang peduli terhadap
kesejahteraan fisik dan psikis perempuan, agar lebih peka terhadap isu-isu global
seperti ini sehingga dapat bijaksana dalam mengambil sikap.
E. Sistematika Penulisan
Laporan hasil penelitian ini disusun dalam sistematika sebagai berikut:
Bab I: Pendahuluan
Dalam bab ini akan disajikan uraian singkat mengenai latar belakang
masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian serta
sistematika penulisan.
Bab II: Landasan Teori
Bagian ini berisikan tinjauan teoritis yang menjadi acuan dalam
trust yang berisikan definisi trust, faktor terbentuknya trust, aspek trust,
dinamika trust. Kemudian masalah aborsi yang berisikan definisi,
macam-macam aborsi, fakor pendorong aborsi, pengambilan keputusan untuk
melakukan aborsi, dan dampak setelah aborsi.
Bab III: Metode Penelitian
Dalam Bab ini akan dijelaskan metode penelitian yang digunakan oleh
peneliti dan dalam hal ini adalah metode kualitatif, metode pengumpulan
data, subjek penelitian, teknik pengambilan sampel, alat bantu
pengumpulan data, prosedur penelitian serta analisis data.
Bab IV: Analisa Data dan Hasil Analisa Data
Bab ini menguraikan mengenai data pribadi subyek, data observasi, data
wawancara yang berupa analisa data dan hasil analisa data persubyek yang
meliputi latar belakang dan pengalaman aborsi subjek, dinamika trust; (1)
membangun trust, (2) membentuk trust, (3) fase distrust.
Bab V : Kesimpulan, Diskusi, dan Saran
Bab ini menguraikan mengenai kesimpulan, diskusi dan saran mengenai
dinamika trust terhadap pasangan pada perempuan setelah melakukan
aborsi. Kesimpulan berisikan hasil dari penelitian yang telah dilaksanakan
dan terdapat diskusi terhadap data yang tidak dapat dijelaskan dengan teori
atau penelitian sebelumnya karena merupakan hal baru, serta saran yang
penelitian, dan saran-saran metodologis untuk penyempurnaan penelitian
BAB II
LANDASAN TEORI
A. TRUST
A.1. Definisi Trust
Trust menurut Johnson & Johnson (1997) merupakan aspek dalam suatu
hubungan dan secara terus menerus berubah. Dan Johnson (2006), trust
merupakan dasar dalam membangun dan mempertahankan hubungan
intrapersonal.
Trust terhadap pasangan akan meningkat apabila pasangan dapat
memenuhi pengharapan individu dan bersungguh-sungguh peduli terhadap
pasangan ketika situasi memungkinkan individu untuk tidak memperdulikan
mereka (Rempel dalam Levinsin, 1995).
Perkembangan trust juga tergantung pada kesediaan individu untuk
menunjukkan kasih sayang dengan mengambil resiko dan bertanggung jawab
terhadap kebutuhan pasangan. Apabila pasangan menjalani kesuksesan dalam hal
pemecahan konflik, bukan hanya trust yang akan meningkat tapi juga akan
menambah bukti terhadap komitmen pasangan dalam hubungan dan juga
kepercayaan yang lebih besar bahwa hubungan akan berjalan (Rempel dalam
Levinsin, 1995).
Henslin (dalam King, 2002) memandang trust sebagai harapan dan
menghargai satu dengan lainnya dan menerima adanya perbedaan (Carter, 2001).
Individu yang memiliki trust tinggi cenderung lebih disukai, lebiih bahagia,
dianggap sebagai orang yang paling dekat dibandingkan individu yang memiliki
trust rendah (Marriages, 2001). Hanks (2002) menyatakan bahwa trust merupakan
elemen dasar bagi terciptanya suatu hubungan yang baik.
Berdasarkan beberapa pengertian yang dikemukakan di atas ditarik
kesimpulan bahwa definisi trust adalah suatu elemen dasar bagi terciptanya suatu
hubungan baik antara kedua belah pihak yang berisi tentang harapan dan
kepercayaan individu terhadap reliabilitas seseorang.
A.2. Faktor terbentuknya Trust
Membangun trust pada orang lain merupakan hal yang tidak mudah. Itu
tergantung pada perilaku kita dan kemampuan orang lain untuk trust dan dalam
mengambil resiko.
Faktor yang mempengaruhi trust individu dalam mengembangkan
harapannya mengenai bagaimana seseorang dapat trust kepada orang lain,
bergantung pada faktor-faktor di bawah ini (Lewicki, dalam Deutsch & Coleman,
2006):
1. Predisposisi kepribadian
Deutsch (dalam Deutsch & Coleman, 2006) menunjukkan bahwa setiap
individu memiliki predisposisi yang berbeda untuk percaya kepada orang lain.
harapan untuk dapat mempercayai orang lain.
2. Reputasi dan stereotype
Meskipun individu tidak memiliki pengalaman langsung dengan orang
lain, harapan individu dapat terbentuk melalui apa yang diperlajari dari teman
ataupun dari apa yang telah didengar. Reputasi orang lain biasanya membentuk
harapan yang kuat yang membawa individu untuk melihat elemen untuk trust dan
distrust serta membawa pada pendekatan pada hubungan untuk saling percaya.
3. Pengalaman aktual
Pada kebanyakan orang, individu membangun faset dari pengalaman untuk
berbicara, bekerja, berkoordinasi dan berkomunikasi. Beberapa dari faset tersebut
sangat kuat di dalam trust, dan sebagian kuat di dalam distrust. Sepanjang
berjalannya waktu, baik elemen trust maupun distrust memulai untuk
mendominasi pengalaman, untuk menstabilkan dan secara mudah mendefenisikan
sebuah hubungan.ketika polanya sudah stabil, individu cenderung untuk
mengeneralisasikan sebuah hubungan dan menggambarkannya dengan tinggi atau
rendahnya trust atau distrust.
4. Orientasi psikologis
Deutsch (dalam Deutsch & Coleman, 2006) menyatakan bahwa individu
membangun dan mempertahankan hubungan sosial berdasarkan orientasi
psikologisnya. Orientasi ini dipengaruhi oleh hubungan yang terbentuk dan
mencari hubungan yang sesuai dengan jiwa mereka.
Membangun trust pada orang orang lain merupakan hal yang tidak mudah.
Itu tergantung pada perilaku kita dan kemampuan orang lain untuk trust dan
mengambil resiko (Myers, 1992).
A.3. Dinamika Trust
Hubungan interpersonal bukan hanya berisi sekumpulan kebiasaan. Di
dalamnya terdapat suatu struktur, perilaku yang stabil, memberi dan menerima,
tuntutan dan komitmen (Solomon, Robert.; Flores, Fernando, 2001). Dan dasar
untuk membangun suatu hubungan interpersonal yang baik diperlukan rasa saling
percaya (trust) antara satu dengan lainnya.
Adapun beberapa tahapan dalam dinamika trust, yaitu:
I. Membangun trust
Menurut Falcone & Castelfranci (2004), trust merupakan suatu fenomena
yang dinamis yang terjadi secara intrinsik pada suatu keadaan yang alamiah,
dimana trust merupakan hal yang menyangkut masalah mental yang didasarkan
oleh situasi seseorang dan konteks sosialnya, misalnya ketika seseorang untuk
mengambil suatu keputusan, ia akan lebih memilih keputusan berdasarkan pilihan
dari orang-orang yang lebih dapat ia percayai dari pada yang kurang ia percayai.
Hal tersebut juga diperkuat oleh Hoogendoorn, Jaffry & Treur (2009) yang
mengatakan bahwa trust tidak hanya tergantung pada pengalaman tetapi juga
kognitif dan afektif di dalamnya. Hal ini menjelaskan bahwa trust tidak hanya
tergantung pada pengalaman sebagai informasi yang diperoleh dari waktu ke
waktu, tetapi juga melibatkan respon emosi dan perasaan yang berhubungan
dengan pengalaman tersebut .
Untuk dapat trust, seseorang akan mengharapkan adanya sense of
responsibility, percaya bahwa mereka akan berperilaku pada cara-cara yang dapat
dipercaya. Untuk dapat trust, seseorang akan berharap bahwa orang yang ingin ia
percaya akan mengerti harapannya dan mengetahui cara untuk mengatasi
keterbatasannya, karena itu hal yang paling esensial dari trust adalah keterbukaan.
Hal tersebut juga diperkuat oleh Gambetta (dalam, Falcone & Castelfranci, 2004)
yang mengatakan bahwa trust merupakan suatu kemungkinan yang subjektif dari
seorang individu, yang mengharapkan individu lain untuk menunjukkan suatu
tindakan tertentu, segala kemungkinan yang terjadi tergantung pada bagaimana
perilaku yang ditunjukkan orang yang kita percayai tersebut kepada kita,
bagaimana mereka dapat memenuhi perilaku yang kita harapkan.
Membangun trust diawali dengan menghargai dan menerima kepercayaan
(trust) tersebut, melibatkan rutinitas sehari-hari dan latihan yang terus menerus.
Tanpa adanya perilaku nyata, pemahaman dan penerimaan kita akan trust pun
tidak berarti apapun. Membangun trust berarti memikirkan suatu kepercayaan
(trust) dalam cara yang positif, membangun langkah demi langkah, komitmen
demi komitmen. Jika trust dianggap sebagai sebuah bentuk resiko dan penuh
ancaman, maka tidak ada hal positif yang bisa kita dapatkan. Memang trust selalu
sendiri untuk berpikir bahwa ketidakpastian tersebut sebagai sebuah kemungkinan
dan kesempatan, bukan sebagai halangan (Solomon, dkk, 2001).
Trust merupakan sesuatu hal yang penting bagi sebuah hubungan karena
di dalamnya terdapat kesempatan untuk melakukan aktivitas yang kooperatif,
pengetahuan, otonomi, self-respect, dan nilai moral lainnya (Blackburn, 1998).
Hal itu sejalan dengan pendapat Johnson & Johnson, 1997 yang menyatakan
bahwa trust memiliki lima aspek penting di dalamnya, yang mendasari suatu
hubungan intrapersonal yaitu openness (keterbukaan) yaitu ketika pasangan dapat
saling membagi informasi, ide-ide, pemikiran, perasaan, dan reaksi isu-isu yang
terjadi, sharing (berbagi) dimana pasangan menawarkan bantuan emosional dan
material serta sumber daya kepada pasangannya dengan tujuan untuk membantu
mereka menuju penyelesaian tugas, acceptance (penerimaan) yaitu ketika adanya
komunikasi penuh penghargaan terhadap pasangan, support (dukungan) yaitu
komunikasi dengan orang lain yang diketahui kemampuannya dan percaya bahwa
dia mempunyai kapabilitas yang dibutuhkan, dalam hal ini seseorang percaya
bahwa pasangannya memiliki kemampuan dan kapabilitas yang dibutuhkan dalam
menjalankan hubungan intrapersonal, dan yang terakhir adalah cooperative
intention yaitu adanya pengharapan bahwa seseorang dapat bekerja sama dan
bahwa orang lain juga dapat bekerjasama untuk mencapai pemenuhan tujuan, dan
dalam hal ini pasangan percaya bahwa pasangannya dapat bekerja sama dalam
mencapai pemenuhan tujuannya. Jadi ketika kita dan pasangan sudah memenuhi
kelima aspek tersebut, maka kita dan pasangan telah memiliki mutual trust satu
II. Terbentuknya trust
Trust terjadi dikarenakan adanya keyakinan bahwa pasangan akan
memberikan keuntungan, dan terbentuk melalui sikap menerima, mendukung,
sharing, dan kerjasama pada diri seseorang (Johnson & Johnson, 1997). Artinya
bahwa trust merupakan suatu situasi kita menerima pengaruh dari orang lain, dan
kita percaya bahwa orang lain akan memberikan keuntungan bagi kita.
Supaya suatu hubungan dapat berjalan dengan baik dan efektif, individu
harus membangun perasaan saling percaya (mutual trust). Trust terbentuk melalui
rangkaian perilaku antara orang yang memberikan kepercayaan dan orang yangn
dipercayakan tersebut. Interpersonal trust dibangun melalui adanya resiko dan
penerimaan dan dapat hancur karena adanya resiko dan tidak adanya sikap
penerimaan. Tanpa resiko maka trust tidak akan terbentuk, dan hubungan tidak
dapat maju dan berjalan (Johnson & Johnson, 1997). Ketika seseorang mengambil
resiko dengan terbuka (disclosing) dalam membicarakan pemikiran-pemikirannya,
informasi, kesimpulan, perasaan dan reaksi pada suatu situasi dan pasangan akan
memberikan respon yang positif berupa penerimaan, support, kooperatif dan
membalas kita dengan menjadi terbuka (disclosing) dalam membicarakan
pemikiran, ide, dan perasaan mereka, disitulah trust dapat terbentuk dan
berkembang (Johnson & Johnson, 1997).
III. Fase Distrust
Trust merupakan sesuatu yang rapuh. Trust dapat berubah dari waktu ke
mengalami perubahan (Falcone & Castelfranci, 2004). Hal tersebut didukung oleh
pendapat Johnson & Johnson 1997 yang menyatakan bahwa Trust bukan suatu
jaminan untuk tidak dapat berubah karena keadaan bisa menghilangkan
kemampuan seseorang untuk trust. Di dalam interaksi nyata, kita tidak akan
pernah mendapatkan situasi interaksi yang benar-benar sama dalam suatu waktu,
dengan begitu suatu keadaan tertentu bisa saja mempengaruhi trust seseorang
pada orang yang ia percayai. Trust berubah bukan hanya karena adanya suatu
pengalaman tertentu, belum tentu suatu pengalaman yang menyenangkan akan
meningkatkan trust dan sebaliknya. tetapi juga dengan adanya modifikasi dari
berbagai sumber trust tersebut, misalnya pengalaman langsung di masa lalu,
reputasi trustee (bagaimana pengalaman dan opini orang lain mempengaruhi
kepercayaan trustier kepada trustee), perubahan sikap dan perilaku dari orang
yang kita percayai, keadaan emosional trustier, dan dengan adanya modifikasi
dari lingkungan yang menuntut seseorang untuk berperilaku tertentu (Falcone &
Castelfranci, 2004). Trust berubah juga karena adanya suatu faktor sebab akibat
(causal attribution), kepercayaan seseorang pada orang lain akan bergantung pada
bagaimana orang lain tersebut berperilaku dan sebaliknya.
Solomon, dkk (2001) menjelaskan bahwa, ada kalanya seseorang berada di
dalam periode distrust yang ekstrim. Seseorang yang kehilangan kemampuan trust
sering kali karena adanya suatu keadaan traumatis (Herman, 1991). Hal tersebut
terjadi karena adanya pengkhianatan dan pelanggaran terhadap trust dan
komitmen tersebut. Trust memang meliputi resiko dan konsekuensi dari resiko
sesuatu yang bersifat bebas, trust juga melibatkan resiko. Ada beberapa katagori
dari kekecewaan tersebut, yang pertama adalah kekecewaan karena sesuatu tidak
berjalan sebagai mana mestinya. Ada kemungkinan besar bahwa sesuatu tdk
berjalan sebagai mana mestinya. Ini bukan berarti kesalahan seseorang. Disini
trust merupakan dirinya sendiri dan trust di dalam perilaku nyata dan proses yang
terhubung, menjadi sesuatu yang krusial. Dan hal yang paling esensial dari bagian
ini adalah ketika orang tersebut tetap melanjutkan untuk percaya dengan orang
lain dan dapat berpikir bahwa ini merupakan sebuah kebijaksanaan dan
penerimaan kita setiap hari. Katagori kekecewaan yang kedua adalah karena
adanya kesalahan. Terkadang hal ini disebabkan oleh sesuatu yang tidak berjalan
sebagai mana mestinya dan karena kesalahan dari seseorang.
Setelah berada di dalam periode distrust, beberapa orang ada yang tidak
dapat melupakan dan juga tidak dapat memaafkan, tetapi tidak sedikit pula
mereka tetap berubah dan belajar untuk trust kembali kepada pasangannya.
Reestablishing trust adalah membangun kembali struktur-struktir baru,
memulihkan dan kembali melakukan rutinitas sehari-hari dan membangun
kembali hubungannya tersebut.
B. ABORSI
B.1 Definisi Aborsi
Menurut Wikipedia, Aborsi adalah Menggugurkan kandungan atau dalam
dunia kedokteran dikenal dengan istilah “abortus”. Berarti pengeluaran hasil
kandungan. Ini adalah suatu proses pengakhiran hidup dari janin sebelum diberi
kesempatan untuk bertumbuh.
Sama halnya dengan yang diungkapkan oleh Dadang Hawari dalam
bukunnya ‘ABORSI – Dimensi Psikoreligi’ (2006) bahwa aborsi merupakan
pengguguran kandungan atau terminasi (penghentian) kehamilan yang disengaja
(abortus provocatus), yaitu, kahamilan yang diprovokasi dengan berbagai macam
cara sehingga terjadi keguguran.
Berdasarkan beberapa pengertian yang dikemukakan di atas ditarik
kesimpulan bahwa definisi aborsi adalah suatu terminasi kehidupan dari janin
sebelum ia diberi kesempatan hidup dan berkembang dengan cara yang disengaja
dan diprovokasi dengan berbagai cara agar terjadi keguguran.
B. 2. Macam-macam Aborsi
Dalam dunia kedokteran dikenal 3 macam aborsi (Hawari, 2006), yaitu:
1. Aborsi Spontan / Alamiah: berlangsung tanpa tindakan apapun. Kebanyakan
disebabkan karena kurang baiknya kualitas sel telur dan sel sperma,
2. Aborsi Buatan / Sengaja: pengakhiran kehamilan sebelum usia kandungan 28
minggu (7 bulan) sebagai suatu akibat tindakan yang disengaja dan disadari oleh
calon ibu maupun si pelaksana aborsi (dalam hal ini dokter, bidan atau dukun
beranak).
3. Aborsi Terapeutik / Medis: pengguguran kandungan buatan yang dilakukan
mempunyai penyakit darah tinggi menahun atau penyakit jantung yang parah
yang dapat membahayakan baik calon ibu maupun janin yang dikandungnya.
Tetapi ini semua atas pertimbangan medis yang matang dan tidak tergesa-gesa.
Pada penelitian ini dikhususkan pada jenis aborsi buatan atau aborsi yang
disengaja, yaitu suatu aborsi sebagai pengakhiran kehamilan sebelum usia
kandungan 28 minggu (7 bulan) sebagai suatu akibat tindakan yang disengaja dan
disadari oleh calon ibu maupun si pelaksana aborsi (dalam hal ini adalah dokter,
bidan, dukun beranak atau ibu dari janin tersebut).
Ada 2 macam tindakan aborsi yaitu:
1. Aborsi dilakukan sendiri
Aborsi yang dilakukan sendiri misalnya dengan cara memakan obat-obatan
yang membahayakan janin, atau dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang
dengan sengaja ingin menggugurkan janin.
2. Aborsi dilakukan orang lain
Orang lain disini bisa seorang dokter, bidan atau dukun beranak. Cara-cara
yang digunakan juga beragam.
Dalam penelitian ini, peneliti ingin meneliti perempuan yang melakukan
aborsi yang dilakukan dengan cara sendiri dan dengan bantuan orang lain.
B.3. Faktor-faktor pendorong aborsi
Menurut Prof. Dr. Sarlito W. Sarwono, ada beberapa faktor yang mendorong
aborsi:
a. anak terlalu banyak, penghasilan suami terbatas dsb. (khususnya
untuk ibu-ibu peserta KB yang mengalami kegagalan kontasepsi)
b. PHK (misal: pramugari, polwan)
c. Belum bekerja (buat yang masih sekolah/kuliah)
Dampak sosial jika tidak aborsi (khusus untuk kehamilan pra-nikah):
a. Putus sekolah/kuliah
b. Malu pada keluarga/tetangga
c. Siapa yang akan mengasuh bayi
d. Kalau bayi diasuh nenek, akan dipanggil apa? (Eyang dipanggil
"ibu", ibu dipanggil "mbak"?)
e. Terputus/terganggu karir/masa depan
f. Dan sebagainya.
B.4. Dampak Kondisi Aborsi
Menurut Prof. Dr. Sarlito W. Sarwono ada beberapa Kondisi psikologik wanita
pra-aborsi:
a. Takut/cemas
b. Butuh informasi tetapi tidak tahu mau bertanya ke mana/siapa?
(Masyarakat mentabukan sex, apalagi aborsi, dari semua yang belum
menikah, khususnya wanita).
c. Butuh perlindungan tetapi laki-laki yang berbuat pada umumnya tidak
sekolah) bertanggung jawab.
d. Kebingungan sehingga menunda-nunda persoalan
e. Pada saat merasa sudah sangat terdesak, akhirnya nekad, mencari bantuan
yang paling terjangkau (dekat, mudah, murah)
f. Tindakan nekad ini (karena tidak didukung oleh pengetahuan yang cukup)
bisa sangat berbahaya (dukun/para medik/dokter yang tak bertanggung
jawab, komplikasi yang tidak segeera ditolong, infeksi karena tidak
periksa ulang dsb.).
Sedangkan Kondisi psikologis pasca-aborsi (Burke, 2006):
a. Ketakutan yang intens, anxiety, helplessness.
b. Perasaan kehilangan kontrol
c. Mati rasa secara emosional, sulit mengingat suatu kejadian.
d. Merasa bersalah, perasaan sedih yang mendalam, depresi.
e. Cepat marah, marah yang meledak-ledak, perilaku agrsif.
f. Sulit tidur, ketidakbeMikaungsian secara seksual.
g. flashback, mimpi buruk.
h. Menghindar dari hubungan, menolak anak-anak.
i. Pesimis terhadap masa depan.
j. Drugs, alcohol abuse dan berpikir untuk bunuh diri.
Sama halnya dengan pendapat yang diungkapkan oleh Edmundson, 2009,
perasaan dihantui dosa, lemahnya ikatan pasangan kedua belah pihak yang
menyebabkan kegagalan setelah menikah, serta penghinaan terhadap
masyarakat.
Beberapa dampak aborsi terhadap psikososial seorang perempuan yang
melakukan aborsi:
1. Efek pada hubungan dengan pasangan
Menurut Burke (2004), ada sekitar 40 – 50 % pasangan mengakhiri
hubungan mereka setelah aborsi, sekitar 40 -75 % dikarenakan
gangguan pada intimacy dan trust terhadap pasangan mereka. Hal itu
didukung pula oleh penelitian Barnett, dkk (1992) yang menyatakan
bahwa wanita yang memiliki hubungan yang cenderung stabil, setelah
melakukan aborsi dilaporkan berpisah. Dari 80% kelompok pasangan
yang berpisah, kebanyakan wanita yang berinisiatif untuk melakukan
perpisahan dengan pasangannya. Hubungan setelah aborsi dilaporkan
menjadi lebih buruk, dengan lebih banyak konflik dan kurangnya
saling trust satu dengan lainnya.
2. Hubungan dengan orang tua dan keluarga
Jika orang tua yang memaksakan untuk melakukan aborsi, maka
hubungan orang tua - anak menjadi rusak (Rue, 1994). Jika ia
menyembunyikannya maka hal itu akan membuat jarak hubungan
orang tua – anak akan semakin jauh (Rue dalam Burke, 2004).
Perempuan yang pernah melakukan aborsi menjadi pesimis dan selalu
berpikir negatif tentang hidupnya secara umum (Burke, 2004). Self
esteem akan menurun dan ia akan menghindari kontak sosial.
4. Hubungannya dengan pasangan masa depan.
Pengalaman masa lalu tentang aborsi akan dirahasiakan dari
pasangannya karena takut akan judgement atau takut akan penolakan
(Burke, 2004). Sering kali perempuan yang telah melakukan aborsi
akan merasa tidak nyaman dan merasa takut dalam aktivitas seksual
dengan pasangannya, dan sebagian akan menjadi sangat permisif
terhadap aktivitas seksual.
C. Pacaran
C.1. Defenisi Pacaran
Menurut Guerney & Arthur (Dacey & Kenny, 1997) pacaran adalah
aktivitas social yang membolehkan dua orang yang berbeda jenis kelaminnya
untuk terikat dalam interaksi sosial dengan pasangannya yang tidak ada hubungan
keluarga.
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (2002) pacaran merupakan proses
perkenalan antara dua in
pencarian kecocokan menuju kehidupan be
Ada beberapa karakteristik dari hubungan ini, yaitu perilaku yang saling
bergantung satu dan lainnya, interaksi yang berulang, kedekatan emosionaal, dan
kebutuhan untuk saling mengisi. Hubungan ini terdiri dari orang-orang yang kita
sukai, seseorang yang kita sukai, cintai, hubungan yang romantis dan hubungan
seksual.
Salah satu kerakteristik dari pacaran yaitu adanya kedekatan atau
keintiman secara fisik (physical intimacy). Keintiman (intimacy) tersebut meliputi
berbagai tingkah laku tertentu, seperti berpegangan tangan, berciuman, dan
berbagai interaksi perilaku seksual lainnya (Baron & Byrne, 1997). Sedangkan
menurut Duvall dan Miller (1985), keintiman dalam berpacaran tersebbut antara
lain meliputi berpegangan tangan, ciuman, petting dan intercourse.
Berdasarkan pemaparan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pacaran
merupakan kegiatan yang dilakukan oleh dua orang yangberbeda jenis kelamin
dan tidak menikah serta tidak ada hubungan keluarga, dan biasanya melakukan
sejumlah perilaku, yaitu berpegangan tangan, berciuman, petting,dan sexual
intercourse.
C.2. Proses Pacaran
Menurut Myers & Myers (1992), ada 5 tahap dalam suatu hubungan,
pertama adalah tahap contacting. Pada tahap ini kita pertama kali menentukan
apakah kita menginginkan seseorang yang kita temui tersebut atau tidak.
Penentuan ini dipengaruhi oleh kesamaan minat, sikap, nilai, kebiasaan,
miliki. Tahap kedua adalah evaluating, dimana pada tahap ini kita mulai
menyeimbangkan antara hal-hal yang positif yang kita dapatkan (reward) dengan
cost yang kita keluarkan. Kita akan menilai apakah seseorang tersebut lebih
memberikan kita keuntungan atau kerugian. Pada tahap ini juga sering disebut
sebagai tahapan tawar-menawar, explorasi, keterlibatan, atau timbal balik. Ketika
kita masuk dalam tahap ini bukan berarti tahap contacting selesai karena minat
dan sikap akan membantu kita dalam mengevaluasi suatu hubungan. Tahap ketiga
adalah committing. Pada tahap ini kita mulai memiliki komitmen-komitmen dan
ditandai oleh adanya perjanjian dengan pasangan kita. Tahap ini ditandai dengan
adanya intensitas, peninjauan ulang, keterkaitan, atau interaksi-interaksi penting,
lalu adanya keterikatan, keabsahan hubungan, intimacy, coupling, dan kestabilan
hubungan. Pada tahap ini, penilaian negative terhadap pasangan lebih minim atau
sedikit. Kita akan sering melewatkan atau melupakan kesalahan-kesalahan yang
dilakukan pasangan dan hanya berfokus pada kesenangan bersamanya. Tahap
berikutnya adalah doubting, dimana pada tahap ini mulai ada konflik. Tahap
sebelumnya kita berfokus pada “kualitas baik” dari seseorang, pada tahap ini kita
mulai melihat sesuatu yang lebih ‘buruk’ dari seseorang tersebut. Kebiasaan dan
sikap yang awalnya bisa kita terima atau mungkkin kita sukai, sekarang akan lebih
mengganggu. Hubungan mulai sedikit berbagi dan melakukan lebih sedikit usaha
untuk menyenangkan satu dengan lainnya. Dan akhirnya kita masuk ke tahapan
terakhir yaitu tahap disengaging, yaitu dimana kita akan menghindari,
mengakhiri, menghancurkan atau menghentikan hubungan kita dengan pasangan.
Pacaran sebagai salah satu bentuk hubungan intim dapat terjadi dimana
saja, di kelas, di tempat kerja, di toko, di tempat bermain, dan lain-lain. tetapi,
untuk memulai terjadinya suatu hubungan, maka biasanya dimulai dengan adanya
rasa ketertarikan (interpersonal attraction), yaitu keinginan untuk dekat dengan
seseorang (Brehm, 1992).
Untuk memulai hubungan yang intim berbeda-beda caranya. Ada yang
dapat dengan mudah jatuh cinta, tetapi ada yang memulainya dari hubungan
pertemanan terlebih dahulu. Lalu lama-kelamaan hubungan tersebut berkembang
(Brehm, 1992).
Agar kedua individu berpacaran, maka pertama-tama harus muncul rasa
ketertarikan (attraction). Ketertarikan dapat berupa mengirim dan menerima tanda
seksual tertentu, yang dapat diekspresikan melalui gaya berpakaian atau gaya
berjalan seseorang. Ketertarikan dapat juga sebagai bentuk umum dari rasa suka
(liking) (Geer, Heiman & Leitenberg, 1984).
Sedangkan menurut Baron dan Byrne (1997) ketertarikan itu dimulai
ketika seseorang mulai berinteraksi dengan orang lain, dan biasanya interaksi
tersebut dapat membuat seseorang tertarik dengan orang lain, yaitu kedekatan
fisik (physical proximity). Faktor yang sangat penting yang dapat dijumpainya
yaitu keadaannya pada saat itu (affective state). Seseorang akan senang dengan
orang yang dijumpainya ketika perasaan emosinya positif dan begitu juga
positif, tetapi rasa tertarik tidak akan timbul jika kedua individu yang kedua
individu yang berkaitan tidak termotivasi untuk membentuk suatu hubungan.
D. Dinamika Trust dalam hubungan
Menurut Rositer dan Pearce (dalam Myers & Myers, 1992), kita akan
mengalami trust hanya ketika hubungan kita dengan pasangan dikarakteristikkan
dengan contingency; pada situasi ketika perilaku pasangan memberikan dampak
yang siginifikan bagi diri kita, predictability; dimana kita bisa memprediksi
perilaku pasangan kita, percaya bahwa pasangan akan berperilaku pada cara
tertentu, karena jika predictability kita terhadap perilaku pasangan rendah maka
kita hanya bisa berharap dan bukan trust, dan alternative options; dimana kita
bebas untuk melakukan sesuatu selain trust, karena trust hanya merupakan
pilihan.
E. Dinamika Trust dalam hubungan setelah aborsi
Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Barnett, dkk (1992) yang
menyatakan bahwa wanita yang memiliki hubungan yang cenderung stabil,
setelah melakukan aborsi dilaporkan berpisah. Dari 80% kelompok pasangan yang
berpisah, kebanyakan wanita yang berinisiatif untuk melakukan perpisahan
dengan pasangannya. Hubungan setelah aborsi dilaporkan menjadi lebih buruk,
dengan lebih banyak konflik dan kurangnya saling trust satu dengan lainnya.
Seseorang yang kehilangan kemampuan trust seringkali karena adanya
suatu keadaan traumatis (Herman, 1991). Aborsi merupakan sebuah pengalaman
pada perempuan yang melakukannya (Edmundson, 2009). Menurut penelitian
Anne Speckhard (1992), sekitar 50 % perempuan pasca aborsi kehilangan trust
terhadap orang lain, dan 58% kehilangan kepercayaan terhadap laki-laki. Aborsi
dikatakan sebagai pengalaman yang traumatis dikarenakan bahwa itu melibatkan
kejadian kematian seseorang, yang secara spesifik, merupakan pembunuhan
seseorang yang belum dilahirkan secara disengaja dan menyaksikan kematian
yang yang kejam, sama halnya dengan melanggar tanggung jawab dan insting
orang tua, merusak hubungan ibu dan anak yang belum dilahirkan dan rasa sedih
yang sangat mendalam (Coleman dkk, 2005; MacNair, 2005; Speckhard & Rue,
1992 dalam Major dkk, 2008). Rasa sedih, perasaan bersalah yang mendalam,
penyesalan, depresi yang terjadi pada individu yang menjadikan seorang
perempuan yang melakukan aborsi merasa trauma dan mempengaruhi
hubungannya dengan pasangan. Perasaan bergantung pada pasangan membuat
individu berusaha untuk membangun trust kembali pada pasangan. Sebuah
hubungan yang intim dapat membuat kita mengenal diri kita sebenarnya dan
merasa diterima. Dimana hubungan tersebut terjadi ketika trust dapat
menggantikan perasaan anxiety dan dimana kita dapat secara bebas membuka diri
kita sendiri tanpa harus takut kehilangan perasaan pasangan kita (Holmes &
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Kualitatif
Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2000) metode penelitian
kualitatif merupakan prosedur penelitian yang akan menghasilkan data deskriptif
berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.
Pendekatan ini juga digunakan untuk menggambarkan dan menjawab pertanyaan
seputar subjek penelitian beserta konteksnya.
Padget (1998) mengemukakan beberapa alasan mengapa menggunakan
penelitian kualitatif. Alasan-alasan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Penelitian kualitatif digunakan jika peneliti ingin menggali suatu topic yang
masih sedikit diketahui.
2. Jika topik yang ingin diteliti memiliki tingkat kedalaman sensitivitas dan
emosional.
3. Penelitian tersebut diharapkan dapat menggambarkan “pengalaman hidup”
dari perspektif orang yang hidup di dalamnya dan menciptakan arti darinya.
4. Diharapkan dapat memasuki “kotak hitam” dari program atau intervensi.
5. Seorang peneliti kuantitatif yang mencapai jalan buntu dalam mengumpulkan
data atau dalam menjelaskan penemuan.
Sama halnya dengan beberapa alasan penggunaan metode penelitian kualitatif