• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dinamika Trust Terhadap Pasangan Pada Perempuan Setelah Melakukan Aborsi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Dinamika Trust Terhadap Pasangan Pada Perempuan Setelah Melakukan Aborsi"

Copied!
130
0
0

Teks penuh

(1)

DINAMIKA TRUST TERHADAP PASANGAN PADA

PEREMPUAN YANG TELAH MELAKUKAN ABORSI

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi

Oleh:

MEILA RAMADHANY

061301127

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

Dinamika trust terhadap pasangan pada perempuan setelah melakukan aborsi

Meila Ramadhany dan Meutia Nauli

ABSTRAK

Dampak pergaulan bebas di kalangan remaja pra-nikah mengantarkan pada kegiatan menyimpang seperti seks bebas dan tindakan kriminal termasuk aborsi. Aborsi merupakan suatu keputusan yang dilematis khususnya bagi perempuan dan juga sebuah pengalaman yang traumatis serta meninggalkan efek yang signifikan secara fisik dan psikologis khususnya pada perempuan yang melakukannya. Salah satu dampak negatif secara psikologis bagi perempuan yang melakukan aborsi adalah ketidakstabilan trust terhadap pasangan.

Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana dinamika trust pada perempuan terhadap pasangannya setelah melakukan aborsi dan hal apa saja yang mempengaruhi dinamika trust tersebut. Untuk menjawab masalah ini, digunakan beberapa teori dinamika dari beberapa tokoh yaitu, Johnson & Johnson (1997), Solomon, dkk (2001) dan Falcone&Castelfranci (2004).

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif karena dengan metode ini dapat dipahami gejala sebagaimana subjek mengalaminya, sehingga dapat diperoleh gambaran yang sesuai dengan diri subjek dan bukan semata-mata penarikan kesimpulan sebab akibat yang dipaksakan. Responden dalam penelitian ini adalah dua perempuan belum menikah yang telah melakukan aborsi dan sedang menjalani hubungan pacaran. Prosedur pengambilan data dilakukan berdasarkan konstruk operasional (operational construct sampling). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam dan observasi yang dilakukan selama wawancara berlangsung.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum tentang bagaimana sikap dan perilaku seorang perempuan terhadap pasangannya saat berada di fase distrust, saat membangun trust kembali, dan pada akhirnya trust tersebut terbentuk kembali, serta hal apa saja yang mempengaruhi perubahan trust tersebut. Masing-masing responden mengalami perubahan tahapan fase trust yang berbeda-beda dan perubahan tersebut bergantung pada bagaimana pasangan mereka memperlakukan dan menyikapi harapan-harapan mereka.

(3)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan puji dan syukur

kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan anugerah-Nya yang

berlimpah kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang

berjudul “Dinamoka Trust Terhadap Pasangan Pada Perempuan Yang Telah

Melakukan Aborsi”. Skripsi ini merupakan tugas akhir perkuliahan penulis

sebagai syarat pendidikan sarjana (S-1). Penulis berharap ke depannya skripsi ini

dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa dalam mengembangkan penelitian.

Tentunya skripsi ini masih sangat jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis

senantiasa mengharapkan gagasan baru, kritik, serta saran yang membangun demi

perbaikan ke depan.

Dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini, ternyata tidaklah semudah yang

dibayangkan sebelumnya. Namun berkat dorongan, semangat dan dukungan dari

berbagai pihak merupakan kekuatan yang sangat besar hingga terselesaikan

skripsi ini. Khususnya, dorongan dari kedua orang tua penulis baik moril maupun

materil serta do’a. Mereka yang selama ini telah mendidik dan menjadi contoh

terbaik dalam hidup ini, ananda belum bisa membahagiakan kalian, semoga Allah

SWT memberikan kesempatan untuk itu. Mereka adalah Ayahanda tercinta

Almarhum Marthin Ramadhan yang tanpa cinta dan semangatnya peneliti tidak

akan berdiri sampai di sini dan Ibunda tercinta Ida Suryana yang selalu ada di

rumah untuk membimbing dan memberikan semangat, cinta, dan kasih

sayangnya. Untuk adik-adik saya Maghfira Rizkia dan M. Raihan Fahrezi

terima kasih telah selalu mendoakan penulis dalam setiap kesempatan dan yang

selalu berharap bahwa penulis nantinya akan menjadi manusia yang berguna di

(4)

Dalam proses penyelesaian skripsi ini, penulis tidak hanya mengandalkan

kemampuan diri sendiri. Begitu banyak pihak yang memberi kontribusi, baik

berupa materi, pikiran, maupun dorongan semangat dan motivasi. Oleh karena itu

melalui kata pengantar ini penulis menyampaikan terima kasih kepada :

1. Ibu Prof. Irmawati, M.Si, Psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi

Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Meutia Nauly, M,Si, Psi selaku dosen pembimbing penulis yang

memiliki pengetahuan yang cukup luas mengenai berbagai hal yang

membuat penulis termotivasi untuk membuat suatu penelitian yang

cukup menantang, dan memiliki kesabaran, ketekunan dalam

memberikan masukan-masukan bagi skripsi ini.

3. Ibu Rika Eliana, M.Si, Psi Selaku Koordinator Departemen Sosial

Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

4. Para dosen Psikologi USU yang selalu memberikan contoh, masukan

serta teladan yang patut untuk ditiru oleh penulis berupa semangat untuk

terus belajar dan meraih cita-cita.

5. Para mahasiswa stambuk 2007 dan 2008 yang peneliti kenal dan sering

berinteraksi. Para mahasiswa dari yang 2002 sampai 2005 yang juga

turut men – support penulis dari awal waktu perkuliahan hingga

sekarang.

Semoga Skripsi ini bermanfaat bagi seluruh pihak dan dapat membuka

khazanah berpikir kita mengenai komunikasi orang tua dan pembentukan konsep

(5)

Medan, Juli 2010

Penulis

(6)

DAFTAR ISI

ABSTRAK

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR SKEMA ... iv

DAFTAR LAMPIRAN ... v

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH ………. 1

B. PERUMUSAN MASALAH ………. 16

C. TUJUAN PENELITIAN ………... 16

D. MANFAAT PENELITIAN ………... 17

E. SISTEMATIKA PENELITIAN ……… 17

BAB II LANDASAN TEORI A. TRUST A.1. DEFENISI TRUST ……….………… 20

(7)

A.3. DINAMIKA TRUST ……….…….………… 23

B. ABORSI B.1. DEFENISI ABORSI ……….……… 28

B.2. MACAM-MACAM ABORSI ……….………….. 29

B.3. FAKTOR PENDORONG ABORSI ……….……… 30

B.4. DAMPAK KONDISI ABORSI ……….………... 31

C. PACARAN C.1. DEFENISI PACARAN ……… 34

C.2. PROSES PACARAN ……… 35

D. DINAMIKA TRUST DALAM HUBUNGAN ………...… 38

E. DINAMIKA TRUST DALAM HUBUNGAN SETELAH ABORSI …… 38

BAB III METODE PENELITIAN A. PENDEKATAN KUALITATIF ………... 42

B. SUBJEK PENELITIAN B.1. KARAKTERISTIK SUBJEK PENELITIAN ……….…………. 43

B.2. JUMLAH SUBJEK PENELITIAN ………….…….………. 44

B.3. TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL ……….……....…… 44

B.4. LOKASI PENELITIAN ……….……….…….. 45

C. METODE PENGUMPULAN DATA C.1. WAWANCARA ……….…..………. 45

C.2. OBSERVASI ……….……….….……….. 46

(8)

D.2.PEDOMAN WAWANCARA ……… 48

D3. LEMBAR OBSERVASI ………...………. 49

E. KREDIBILITAS (VALIDITAS) PENELITIAN ……….... 49

F. PROSEDUR PENELITIAN ………. 50

BAB IV ANALISA DATA ……….. 56

BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN …………..………... 115

DAFTAR PUSTAKA ……… 116

LAMPIRAN DAFTAR SKEMA A. DINAMIKA TRUST ………40

B. PARADIGMA PENELITIAN………. 41

C. DINAMIKA TRUST RESPONDEN I ……… 90

D. DINAMIKA TRUST RESPONDEN II ……….. 112

DAFTAR TABEL A. GAMBARAN UMUM SOSIODEMOGRAFIS RESPONDEN ...……56

B. TEMPAT DAN WAKTU WAWANCARA RESPONDEN I………….. 57

C. TEMPAT DAN WAKTU WAWANCARA RESPONDEN II ……….. 91

(9)

Dinamika trust terhadap pasangan pada perempuan setelah melakukan aborsi

Meila Ramadhany dan Meutia Nauli

ABSTRAK

Dampak pergaulan bebas di kalangan remaja pra-nikah mengantarkan pada kegiatan menyimpang seperti seks bebas dan tindakan kriminal termasuk aborsi. Aborsi merupakan suatu keputusan yang dilematis khususnya bagi perempuan dan juga sebuah pengalaman yang traumatis serta meninggalkan efek yang signifikan secara fisik dan psikologis khususnya pada perempuan yang melakukannya. Salah satu dampak negatif secara psikologis bagi perempuan yang melakukan aborsi adalah ketidakstabilan trust terhadap pasangan.

Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana dinamika trust pada perempuan terhadap pasangannya setelah melakukan aborsi dan hal apa saja yang mempengaruhi dinamika trust tersebut. Untuk menjawab masalah ini, digunakan beberapa teori dinamika dari beberapa tokoh yaitu, Johnson & Johnson (1997), Solomon, dkk (2001) dan Falcone&Castelfranci (2004).

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif karena dengan metode ini dapat dipahami gejala sebagaimana subjek mengalaminya, sehingga dapat diperoleh gambaran yang sesuai dengan diri subjek dan bukan semata-mata penarikan kesimpulan sebab akibat yang dipaksakan. Responden dalam penelitian ini adalah dua perempuan belum menikah yang telah melakukan aborsi dan sedang menjalani hubungan pacaran. Prosedur pengambilan data dilakukan berdasarkan konstruk operasional (operational construct sampling). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam dan observasi yang dilakukan selama wawancara berlangsung.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum tentang bagaimana sikap dan perilaku seorang perempuan terhadap pasangannya saat berada di fase distrust, saat membangun trust kembali, dan pada akhirnya trust tersebut terbentuk kembali, serta hal apa saja yang mempengaruhi perubahan trust tersebut. Masing-masing responden mengalami perubahan tahapan fase trust yang berbeda-beda dan perubahan tersebut bergantung pada bagaimana pasangan mereka memperlakukan dan menyikapi harapan-harapan mereka.

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dampak pergaulan bebas di kalangan remaja berpacaran mengantarkan

pada kegiatan menyimpang seperti seks bebas sehingga mengakibatkan

menularnya penyakit kelamin dan kehamilan diluar nikah yang pada akhirnya

membawa pada tindakan aborsi. Berdasarkan survei BKKBN tahun 2008, sekitar

63% remaja di Indonesia pernah berhubungan seks dan sebanyak 21% diantaranya

yaitu sekitar 2.000.000 jiwa pernah melakukan aborsi setiap tahunnya di

Indonesia.

Aborsi adalah Menggugurkan kandungan atau dalam dunia kedokteran

dikenal dengan istilah “abortus” yang berarti pengeluaran hasil konsepsi

(pertemuan sel telur dan sel sperma) sebelum janin dapat hidup di luar kandungan.

Ini adalah suatu proses pengakhiran hidup dari janin sebelum diberi kesempatan

untuk bertumbuh (Wikipedia, 2009). Sama halnya dengan yang diungkapkan oleh

Dadang Hawari dalam bukunya, ‘ABORSI – Dimensi Psikoreligi’ (2006), bahwa

aborsi merupakan pengguguran kandungan atau terminasi (penghentian)

kehamilan yang disengaja (abortus provocatus), yaitu, kahamilan yang

diprovokasi dengan berbagai macam cara sehingga terjadi keguguran.

Aborsi adalah suatu keputusan yang biasanya melibatkan hubungan kedua

(11)

tersebut sudah diputuskan, maka aborsi akan menjadi bagian dari masa lalu

mereka yang memiliki dampak yang potensial terhadap kehidupan mereka saat ini

dan di masa mendatang (Coleman, dkk ,2007).

Terdapat beberapa alasan individu mengambil keputusan untuk melakukan

aborsi yaitu ingin terus melanjutkan sekolah atau kuliah, takut pada kemarahan

orang tua, menjaga nama baik keluarga, malu pada lingkungan sosial bila

ketahuan hamil sebelum menikah dan kehamilan yang terjadi akibat perkosaan

(“Pacaran”, 2006). Adapun penyebab lainnya karena mereka mengalami

kehamilan tetapi tidak menghendaki kehamilannya, dengan berbagai alasan

seperti faktor usia atau pasangan yang tidak mau bertanggung jawab (Hidayati,

2001). Hal ini sesuai dengan yang ungkapan Mika (23 tahun) dalam komunikasi

personal:

“Kami kan dua-duanya masih sekolah, mel. Trus kau tau lah siapa orang tuanya.. Mana mungkin kami pertahanin anak tu. Malu keluarga ntik. Kalo gak mikir keluarga udah beranak aku sekarang..” (S1.W1.b: 186-192.h:5-6).

Aborsi dapat membawa dampak negatif yang cukup signifikan baik secara

fisik dan psikologis. Terdapat dua macam resiko kesehatan wanita yang

melakukan aborsi yaitu resiko kesehatan dan keselamatan secara fisik yaitu

sebagaimana yang diungkapkan oleh Clowes (1994) dan didukung oleh pendapat

Edmundson (2009) yang meyatakan bahwa aborsi memiliki dampak yang

potensial yaitu memiliki resiko yang tinggi terhadap kesehatan maupun

keselamatan seorang wanita. Ada beberapa resiko yang akan dihadapi oleh

(12)

kematian karena pembiusan yang gagal, infeksi serius disekitar kandungan, rahim

yang sobek (uterine peoration), kerusakan leher rahim (cervical lacerations) yang

akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya, kanker payudara, kanker indung

telur, kanker leher rahim (cervical cancer), kanker hati, kelainan placenta,

kemandulan, infeksi panggul, infeksi rongga dan infeksi pada lapisan rahim

(endometris).

Selain dampak fisik, wanita yang melakukan aborsi juga akan mengalami

resiko berupa gejala psikologis yang dikenal sebagai “Post-Abotion Syndrome”

(PAS) yang dikarakteristikkan dengan perasaan bersalah yang mendalam dan

dalam jangka waktu yang lama, depresi, dan mengakibatkan ketidakberfungsian

secara sosial dan seksual (Coleman, Rue & Spenser, 2007). Hal senada juga

diungkapkan oleh Edmundson, 2009, bahwa secara psikologis aborsi memberikan

dampak hilangnya harga diri, perasaan berdosa, lemahnya ikatan pasangan kedua

belah pihak yang menyebabkan kegagalan setelah menikah, serta penghinaan dari

masyarakat.

Hal ini dapat terlihat dari pendapat beberapa orang yang sempat

diwawancarai tentang masalah aborsi,

”Menurut aku sih apapun alasannya aborsi itu ya tetap salah lah! Berani berbuat, harus berani tanggung jawab. Jangan jadi pengecut lah!” (Eka, 20 tahun. Wawancara personal, 13 Desember 2009).

”Aborsi itu merusak tatanan kehidupan masyarakat. Perbuatan jahiliah!” (Rezha, 26 tahun. Wawancara personal, 13 Desember 2009).

(13)

Speckhard dan Rue (1992, dalam Major, Appelbaun, Beckman, Datton,

Russo & West 2008), serta Burke (2002) mengatakan bahwa PAS dapat

dikarakteristikkan sebagai bentuk khusus dari Posttraumatic stress disorder

(PTSD) yang dapat dibandingkan dengan beberapa simptom, termasuk simptom

trauma, seperti flashback dan denial, depresi, perasaan bersalah, marah, malu,

sedih berkepanjangan dan penyalahgunaan obat-obatan. Hal ini juga didukung

oleh penelitian yang dilakukan Speckhard (1987), yang menunjukkan bahwa

adanya efek setelah aborsi terhadap perilaku seseorang, yaitu reaksi berupa

perasaan bersalah; perasaan duka cita, penyesalan, merasa kehilangan yang

mendalam, perasaan marah misalnya mengamuk, melakukan kekerasan terhadap

orang-orang yang terlibat dalam kejadian aborsi tersebut, perasaan fear dan

anxiety; takut terhadap kemarahan Tuhan, takut tidak dapat menghasilkan

keturunan lagi, distrust terhadap orang lain dan pasangannya, dan sebagainya.

Hal lain yang juga berdampak negatif dari segi psikologis adalah

konsekuensi atau dampak secara psikososial seseorang yang telah melakukan

aborsi. Adapun masalah psikososial yang cukup berdampak buruk yaitu masalah

interpersonal setelah aborsi tersebut, misalnya permasalahan dalam hubungannya

dengan diri sendiri, lingkungan sosialnya, misalnya pertemanan, dengan keluarga,

dan dalam hubungan percintaan pada perempuan pelaku aborsi.

Dalam hubungan pertemanan, biasanya seorang perempuan yang telah

melakukan aborsi akan sering merasa iri melihat teman-temannya yang masih bisa

(14)

sebesar masalah yang ia tanggung, merasa minder untuk berkumpul dengan

teman-temannya karena merasa dirinya berbeda dengan teman-temannya, dan

membuat dia terus menerus menyalahkan diri sendiri dan menarik diri dari

hubungan pertemanan. Hal ini terlihat dari pengakuan Mika (23 tahun) dan Rin

(22 tahun) dalam wawancara mendalam:

” Kalo liat kawan-kawan kita yang perempuan, aku iri kali. Sesak kali hati aku kalo liat kawan-kawan aku masih bisa ketawa-ketawa gak ada beban. Kadang kalo ada kawan yang curhat ma aku, aku ngerasa masalah dia tu gak ada apa-apanya dibandingkan aku. Kadang aku ngerasa minder gitu kalo lagi ngumpul-ngumpul. Aku ngerasa beda aja ma anak-anak seumuran aku yang seharusnya mikirin sekolah, gebetan-gebetan, bukan mikirin dosa karna udah bunuh anak sendiri”. (S1.W2.b: 301-314.h:17)

”kek ada bertanya-tanya gitu, apa orang tu masih virgin ato nggak. Kalo udah liat cewek-cewek seumuran kita ato anak SMP lah, ada terpikir aku gitu lah. Kek mana lah, aku dah ilang perawan dari SMP. Sedih aku kalo ingat-ingat itu Mel.. Seharusnya aku gak kek gini mel... seharusnya aku kayak anak-anak yang laen”. (S1.W1.b: 317-326.h:17)

” Sering kali Rin bertanya-tanya sendiri, mereka masih virgin nggak ya? Mereka sama nggak ya kayak aku? Mereka punya masalah yang kayak aku hadapin sekarang nggak ya?”. (S2.W2.b: 308-313.h: 76-77)

Dalam hubungannya dengan keluarga, sebelum kakak dan keluarga yang

lain mengetahui tentang masalah aborsinya, Mika (22 tahun) merasa cemas karena

takut masalahnya tersebut diketahui, melakukan physical withdrawal, emosi yang

tidak stabil karena berusaha menutupi rasa takut dan perasaan bersalah tersebut.

Tetapi setelah sang kakak mengetahui permasalahan aborsi tersebut, Mika merasa

(15)

”...emang dari awal kan keluarga aku udah tau kalo aku udah pernah gituan dengan Aldi, tapi abis aborsi tu aku sumpah ketakutan jangan lah orang ni tau aku gugurin anak. Jarang kali aku di rumah, mel. Pokoknya sebisa mungkin aku gak ketemu ma kakak en cecek aku. Kadang aku gak tau kenapa aku seringkali berantam ma kakak aku. Ditanya dikit masalah Aldi aku icah (emosi)” (wawancara personal, 10 Desember 2009).

”kek misalnya kalo ditanya, ’kau tadi kemana ma Aldi?’, aku langsung emosi jawabnya. Kan kalo kita nutupin sesuatu, biasanya gitu mel” (wawancara personal, 10 Desember 2009).

”pas abes kakak aku tau, dia yang bilang ma keluarga. Aku benci kali lah ma anak tu! Dia kalo lagi marah ma aku, macam bukan kakak aku lagi. Semua aib aku dikasih tau ma keluarga. Tapi abis itu aku lumayan lega lah. Walaupun aku dicacimaki, diceramahin panjang lebar, yang penting abes tu agak plong karna gak ada yang perlu aku tutupin lagi” (wawancara personal, 10 Desember 2009).

Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Rue (dalam Burke, 2004) bahwa

ketika seorang anak yang merahasiakan tentang aborsinya dengan orang tua

mereka, hal itu akan menciptakan jarak antara dirinya dengan orang tua dan

keluarganya. Hal itu juga didukung dengan pernyataan Deveber (2002) bahwa

perasaan malu dan takut merupakan motivator utama untuk terciptanya rahasia

antara anak kepada orang tua. Hal ini termasuk takut untuk membuat orang tua

kecewa. Rue (dalam Deveber, 2002) kembali menambahkan bahwa ketika seorang

remaja memilih untuk aborsi tanpa konsultasi dengan orang tua atau keluarga,

dampak pada konteks keluarga tidak akan dapat terelakkan. Bagaimanapun ia

akan menyimpan rahasianya yang memalukan itu dan secara emosional menekan

kemampuannya untuk menyelesaikan masalah dan akan menyebabkan ia akan

menciptakan kebohongan lainnya karena ia berusaha untuk tetap menjaga aibnya

(16)

Tetapi selain rasa lega karena permasalahannya telah diketahui oleh

keluarga, hal itu akan menimbulkan masalah lain yaitu perasaan rendah diri.

Akibatnya Mika cenderung menghindari interaksi dalam keluarganya.

”...emang udah lega sih, tapi kan mel, aku ada ngerasa orang tu pasti bakal ngeliat aku beda, kek ngeremehin aku. Aku kek takut buat kesalahan gitu. Rasanya kalo aku buat salah keknya dibilang gini, ’alah, gak heran lah si Mika tu kan emang tukang cari masalah. Tukang buat dosa. Dasar anak nggak tau diri’. Makanya aku males kalo ada ngumpul-ngumpul keluarga” (wawancara personal, 12 Desember 2009).

Selain reaksi yang mempengaruhi hubungan dengan teman dan keluarga,

penelitian juga mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang diasosiasikan dengan

reaksi psikologis yang lebih negatif yang terjadi pada perempuan setelah aborsi.

Salah satu hal yang termasuk di dalamnya yaitu menggugurkan kehamilan yang

sebenarnya diinginkan dan kurangnya sosial support termasuk kurangnya

dukungan dari pasangan (Adler et al., 1992; Major & Cozzrelli, 1992; Major et

al., 2000 dalam Major dkk, 2008).

Hal tersebut sesuai juga dialami oleh Rin (22 tahun), yang mengatakan

bahwa:

“Rin sebenarnya siap walaupun fifty-fifty, Mel. Tapi dari awal dia udah langsung bilang bahwa dia nggak siap. Rin kecewa sebenarnya sama dia, Mel. Dia emang bilang kalo emang Rin mau mempertahankan, dia siap tanggung jawab. Tapi kalimat awalnya dia udah langsung bilang kalo dia itu nggak siap..”. (S2.W2.b:115-125.h: 70-71)

(17)

mpek aku dah coba bunuh diri berkali-kali. Di rumah kau udah dua kali, di rumah aku sendiri udah nggak terhitung lagi. Buntu pikiran aku mel..”. (S1.W1.b:85-96.h:3)

”pas dia ngilang, aku kek mau gila gitu mel. Depresi berat. Berat badan aku turun mpek berkilo-kilo, aku gak bisa tidor, gak bisa belajar, nangis tiap malam, gak bisa ngapa-ngapain lah mel. Waktu tu aku bolak balik mau bunuh diri, aku ngerasa mana ada yang mau ma aku lagi, benci kali aku ma laki-laki” (S1.W3.b: 43-51.h:22).

”...aku kek hampir gila kek gitu ada lah mpek hampir setaon juga. Pokoknya aku gak pernah ngerasa senang lah mel” (S1.W3.b:54-57.h:22).

Reaksi lebih negatif terjadi pada Mika yang merasa kurang adanya social

support adalah keinginan bunuh diri dan hal itu terjadi dalam waktu yang relatif

sering, depresi, benci dengan laki-laki dan menganggap dirinya tidak berharga.

Kurang tersedianya social support tersebut dikarenakan kedua orang tuanya telah

meninggal, kakaknya yang sudah menikah sehingga ia tidak mau mengganggu

kehidupan kakaknya tersebut dan pasangan yang tiba-tiba meninggalkannya.

Selain berdampak buruk terhadap hubungan dengan keluarga dan

teman-temannya, aborsi juga berdampak buruk terhadap hubungan dengan pasangan.

Menurut David H. Sherman, et al (1985), hampir setengah perempuan yang

melakukan aborsi mengaku bahwa keputusan mereka untuk aborsi adalah

pengubah hubungan mereka dengan pasangan secara signifikan dan mengakhiri

suatu hubungan pasangan, walaupun pasangan tersebut sudah menjalani hubungan

yang stabil (Barnett, et al, 1992).

(18)

yang dilakukan oleh peneliti:

“…aku putos ma Aldi kan abes aku aborsi tu. Cobak lah ko piker, mel, aku ma anak tu udah sembilan taon pacaran, tapi pas stelah aku aborsi baru kami sering berantam trus baru-baru ni dia tinggalin aku. Emang pertama cukop baek dia mel.. Tapi tiba-tiba ditinggalinnya aku, nggak ada kabar. Yang nggak gila aja aku mel..” (S1.W1.b: 59-67.h:2).

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Barnett, dkk (1992) yang

menyatakan bahwa wanita yang memiliki hubungan yang cenderung stabil,

setelah melakukan aborsi dilaporkan berpisah. Dari 80% kelompok pasangan yang

berpisah, kebanyakan wanita yang berinisiatif untuk melakukan perpisahan

dengan pasangannya. Hubungan setelah aborsi dilaporkan menjadi lebih buruk,

dengan lebih banyak konflik dan kurangnya saling trust satu dengan lainnya.

Hal ini sesuai dengan wawancara personal peneliti dengan Mika (23

tahun) yang menyatakan bahwa:

“abes aborsi tu emang aku terus yang minta putus, walaupun ntik balek lagi kami. Tapi kek mana ya kubilang, hubungan kami tu kek udah hambar gitu mel, karna aku ngerasa dia gak mau peduli aku lagi, dia udah nggak sayang aku lagi. Dulu aku bisa lah percaya penuh ma dia kalo dia bisa jagain aku, ni aku dibuatnya berdosa terus, jauh terus dari Allah. Gara-gara anak tu juga aku nggak percaya Panji (pacar Mika saat ini) betol-betol sayang ma aku. Mana ada yang mau ma perempuan nggak virgin lagi mel? Alah, sama aja semua cowok! Mulut dengan perbuatannya nggak sinkron! Cuma mau enaknya aja, abes tu kita dicampakin.” (S1.W1.b: 243-260.h:7).

Seseorang yang kehilangan kemampuan trust sering kali karena adanya

suatu keadaan traumatis (Herman, 1991). Aborsi merupakan sebuah pengalaman

(19)

pada perempuan yang melakukannya (Edmundson, 2009). Menurut penelitian

Anne Speckhard (1992), sekitar 50 % perempuan pasca aborsi kehilangan trust

terhadap orang lain, dan 58% kehilangan kepercayaan terhadap laki-laki. Aborsi

dikatakan sebagai pengalaman yang traumatis dikarenakan bahwa itu melibatkan

kejadian kematian seseorang, yang secara spesifik, merupakan pembunuhan

seseorang yang belum dilahirkan secara disengaja dan menyaksikan kematian

yang yang kejam, sama halnya dengan melanggar tanggung jawab dan insting

orang tua, merusak hubungan ibu dan anak yang belum dilahirkan dan rasa sedih

yang sangat mendalam (Coleman dkk, 2005; MacNair, 2005; Speckhard & Rue,

1992 dalam Major dkk, 2008).

Hal ini sesuai dengan ungkapan dari Mika (23 tahun) dalam komunikasi

personal yang dilakukan oleh peneliti:

“Aku sering miker sekarang, kenapa lah nggak kupertahanin aja anak-anak aku tu mel? Abes aborsi tu aku ngerasa betol-betol macam pembunuh. Aku masih terasa mpek sekarang kek mana bidan tu masokin gunteng kedalam perot aku. Aku masih terasa kek mana anak aku pelan-pelan ancor di dalam perot aku sendiri. Ancor kali hati aku, mel. Tiap hari aku ingat anak-anak aku trus. Kalo orang ni masih idop pasti sekarang udah sehat-sehat. Kejam kali aku jadi orang tua lah, padahal bos aku sayang kali dulu ma aku. Semuanya gara-gara Aldi! Susah aku percaya lagi ama anak tu ya mel! Semua saket sekarang aku tanggong sendiri! Laher baten ya mel!!” (S1.W1.b: 286-305).

Rasa sedih, perasaan bersalah yang mendalam, penyesalan, depresi yang

terjadi pada individu yang menjadikan seorang perempuan yang melakukan aborsi

merasa trauma dan mempengaruhi hubungannya dengan pasangan. Stabilitas

(20)

terlihat saat ia menjalin hubungan percintaan dengan pasangan.

Mika (23 tahun) juga mengaku bahwa emosinya cenderung tidak stabil dan

seringkali marah dengan pasangannya. Dan ia seringkali menyalahkan

pasangannya terhadap hal apapun.

”..aku sakit kali mel aborsi tu... Aku mau Aldi bisa ngertiin aku, aku mau dia bisa ngerasa apa yang aku rasa. Siapa yang ngerasa malu kalo ketauan? Aku mel. Aku yang nanggong semuanya. Makanya aku marah kali kalo dia nggak dengerin apa yang aku bilang. Aku stres kali kalo teringat itu. Rasa bersalah tu nggak pernah ilang. Aldi kadang-kadang suka bentak aku, aku sedih, marah, parah lah pokoknya mel. Makin sering aja kami berantam, maki-makian. Aku mau walaupun aku yang salah, dia yang nanggung salah aku. Aku mau berbagi rasa sakit itu mel”. (S1.W2.b: 411-427.h:19)

Dari pemaparan Mika, ia mengaku bahwa setelah melakukan aborsi

hubungannya dengan Aldi mengalami beberapa perubahan dalam hal stabilitas

emosi, meningkatnya perasaan ingin dimengerti, perasaan curiga, takut

ditinggalkan pasangan, tingginya keinginan agar Aldi dapat merasakan apa yang

Mika rasakan dan seringnya melampiaskan kemarahan kepada Aldi dan selalu

menyalahkan Aldi.

Hal tersebut sesuai dengan pendapat Ervin (dalam Deveber, 2002) yang

mengatakan bahwa seorang perempuan yang mengalami distress dalam bentuk

perasaan bersalah setelah melakukan aborsi biasanya melimpahkan kesalahan

tersebut pada pasangannya. Dan didukung oleh sebuah penelitian yang dilakukan

(21)

setelah aborsi, sekitar 40 -75 % dikarenakan gangguan pada intimacy dan distrust

terhadap pasangan mereka.

Trust menurut Johnson & Johnson (1997) merupakan aspek dalam suatu

hubungan dan secara terus menerus berubah. Dan menurut Johnson (2006), trust

merupakan dasar dalam membangun dan mempertahankan hubungan

intrapersonal. Kualitas suatu hubungan yang kuat didasari oleh adanya

kepercayaan (trust) untuk memuaskan secara emosional, spiritual dan hubungan

fisik. Pondasi trust meliputi saling menghargai satu dengan lainnya dan menerima

adanya perbedaan (Carter, 2001). Trust merupakan suatu hal yang esensial bagi

sebuah hubungan untuk dapat terus tumbuh dan berkembang serta merupakan

suatu fenomena yang dinamis yang terjadi secara intrinsik pada suatu keadaan

yang alamiah, dimana trust merupakan hal yang menyangkut masalah mental

yang didasarkan oleh situasi seseorang dan konteks sosialnya, misalnya ketika

seseorang untuk mengambil suatu keputusan, ia akan lebih memilih keputusan

berdasarkan pilihan dari orang-orang yang lebih dapat ia percayai dari pada yang

kurang ia percayai. Hal tersebut juga diperkuat oleh Hoogendoorn, Jaffry & Treur

(2009) yang mengatakan bahwa trust tidak hanya tergantung pada pengalaman

tetapi juga melibatkan hubungan dengan proses mental dimana terdapat adanya

aspek kognitif dan afektif di dalamnya. Hal ini menjelaskan bahwa trust tidak

hanya tergantung pada pengalaman sebagai informasi yang diperoleh dari waktu

ke waktu, tetapi juga melibatkan respon emosi dan perasaan yang berhubungan

dengan pengalaman tersebut .Untuk membangun suatu hubungan yang kuat, kita

(22)

pengakhianatan dan penolakan, dan meningkatkan harapan akan penerimaan,

support, dan confirmation (Johnson & Johnson, 1997).

Untuk dapat trust, seseorang akan mengharapkan adanya sense of

responsibility, percaya bahwa mereka akan berperilaku pada cara-cara yang dapat

dipercaya. Seseorang akan berharap bahwa orang yang ingin ia percaya akan

mengerti harapannya dan mengetahui cara untuk mengatasi keterbatasannya,

karena itu hal yang paling esensial dari trust adalah keterbukaan. Hal tersebut juga

diperkuat oleh Johnson&Johnson (1997) yang mengatakan bahwa terdapat lima

aspek penting untuk membangun trust yang mendasari suatu hubungan

intrapersonal yaitu openness (keterbukaan) yaitu ketika pasangan dapat saling

membagi informasi, ide-ide, pemikiran, perasaan, dan reaksi isu-isu yang terjadi,

sharing (berbagi) dimana pasangan menawarkan bantuan emosional dan material

serta sumber daya kepada pasangannya dengan tujuan untuk membantu mereka

menuju penyelesaian tugas, acceptance (penerimaan) yaitu ketika adanya

komunikasi penuh penghargaan terhadap pasangan, support (dukungan) yaitu

komunikasi dengan orang lain yang diketahui kemampuannya dan percaya bahwa

dia mempunyai kapabilitas yang dibutuhkan, dalam hal ini seseorang percaya

bahwa pasangannya memiliki kemampuan dan kapabilitas yang dibutuhkan dalam

menjalankan hubungan intrapersonal, dan yang terakhir adalah cooperative

intention yaitu adanya pengharapan bahwa seseorang dapat bekerja sama dan

bahwa orang lain juga dapat bekerjasama untuk mencapai pemenuhan tujuan, dan

dalam hal ini pasangan percaya bahwa pasangannya dapat bekerja sama dalam

(23)

kelima aspek tersebut, maka kita dan pasangan telah membangun mutual trust

satu dengan lainnya (Johnson & Johnson, 1997).

Trust terbentuk melalui rangkaian perilaku antara orang yang memberikan

kepercayaan dan orang yang dipercayakan tersebut. Interpersonal trust dibangun

melalui adanya resiko dan penerimaan dan dapat hancur karena adanya resiko dan

tidak adanya sikap penerimaan. Tanpa resiko maka trust tidak akan terbentuk, dan

hubungan tidak dapat maju dan berjalan (Johnson & Johnson, 1997). Ketika

seseorang mengambil resiko dengan terbuka (disclosing) dalam membicarakan

pemikiran-pemikirannya, informasi, kesimpulan, perasaan dan reaksi pada suatu

situasi dan pasangan akan memberikan respon yang positif berupa penerimaan,

support, kooperatif dan membalas kita dengan menjadi terbuka (disclosing) dalam

membicarakan pemikiran, ide, dan perasaan mereka, disitulah trust dapat

terbentuk dan berkembang (Johnson & Johnson, 1997).

Tetapi Trust bukan suatu jaminan untuk tidak dapat berubah karena

keadaan bisa menghilangkan kemampuan seseorang untuk trust (Johnson &

Johnson, 1997). Sebuah hubungan yang intim dapat membuat kita mengenal diri

kita sebenarnya dan merasa diterima. Dimana hubungan tersebut terjadi ketika

trust dapat menggantikan perasaan anxiety dan dimana kita dapat secara bebas

membuka diri kita sendiri tanpa harus takut kehilangan perasaan pasangan kita

(Holmes & Rampel, 1989 dalam Myers, 2007).

Trust dapat berubah dari waktu ke waktu, karena orang yang terlibat di

(24)

Castelfranci, 2004). Hal tersebut didukung oleh pendapat Johnson & Johnson

1997 yang menyatakan bahwa trust bukan suatu jaminan untuk tidak dapat

berubah karena keadaan bisa menghilangkan kemampuan seseorang untuk trust.

Solomon, dkk (2001) menjelaskan bahwa, ada kalanya seseorang berada di dalam

periode distrust yang ekstrim. Seseorang yang kehilangan kemampuan trust sering

kali karena adanya suatu keadaan traumatis (Herman, 1991). Hal tersebut terjadi

karena adanya pengkhianatan dan pelanggaran terhadap trust dan komitmen

tersebut. Trust memang meliputi resiko dan konsekuensi dari resiko seringkali

membuat kita kecewa dan merasa gagal.

Setelah berada di dalam periode distrust, beberapa orang ada yang tidak

dapat melupakan dan juga tidak dapat memaafkan, tetapi tidak sedikit pula

mereka tetap berubah dan belajar untuk trust kembali kepada pasangannya.

Individu yang dapat memaafkan akan berada pada fase Reestablishing trust yaitu

membangun kembali struktur-struktur baru, memulihkan dan kembali melakukan

rutinitas sehari-hari dan membangun kembali hubungannya tersebut (Solomon,

2001).

Aborsi memang dapat membawa dampak yang signifikan terhadap

hubungan seorang perempuan yang melakukannya. Tidak hanya hubungannya

dengan pasangan yang terpengaruhi tetapi juga hubungannya dengan seluruh

keluarga dan lingkungan sosialnya. Tiap individu akan mengalami fase atau

dinamika trust berbeda-beda karena trust tergantung pada bagaimana perilaku

(25)

Atas pemaparan diatas, peneliti ingin meneliti lebih dalam tentang

bagaimana dinamika trust terhadap pasangan pada perempuan yang telah

melakukan aborsi.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan pemaparan latar belakang sebelumnya, perumusan masalah

penelitian ini adalah bagaimana dinamika trust terhadap pasangan pada

perempuan yang telah melakukan aborsi.

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan atau mendeskripsikan

mengenai dinamika trust terhadap pasangan pada perempuan yang telah

melakukan aborsi.

D. Manfaat Penelitian

Dari penelitian ini diharapkan dapat memberi dua manfaat, yaitu manfaat

secara teoritis dan manfaat secara praktis.

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat member manfaat untuk

pengembangan ilmu psikologi, khususnya di bidang Psikologi Sosial dalam

rangka perluasan teori, terutama yang berkenaan dengan bagaimana dinamika

trust yang terjadi pada perempuan yang telah melakukan aborsi kepada

(26)

2. Manfaat Praktis

Secara praktis, hasil penelitian ini dapat memberikan informasi tentang

bagaimana gambaran dinamika trust terhadap pasangan pada perempuan yang

telah melakukan aborsi.

Dapat memberikan sumbangan informasi tentang dampak dan bahaya baik

secara fisik maupun secara mental serta bagaimana aborsi mempengaruhi

hubungannya dengan pasangan.

Diharapkan penelitian ini juga dapat memberikan sumbangan informasi

bagi keluarga, masyarakat sekitar dan lembaga-lembaga yang peduli terhadap

kesejahteraan fisik dan psikis perempuan, agar lebih peka terhadap isu-isu global

seperti ini sehingga dapat bijaksana dalam mengambil sikap.

E. Sistematika Penulisan

Laporan hasil penelitian ini disusun dalam sistematika sebagai berikut:

Bab I: Pendahuluan

Dalam bab ini akan disajikan uraian singkat mengenai latar belakang

masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian serta

sistematika penulisan.

Bab II: Landasan Teori

Bagian ini berisikan tinjauan teoritis yang menjadi acuan dalam

(27)

trust yang berisikan definisi trust, faktor terbentuknya trust, aspek trust,

dinamika trust. Kemudian masalah aborsi yang berisikan definisi,

macam-macam aborsi, fakor pendorong aborsi, pengambilan keputusan untuk

melakukan aborsi, dan dampak setelah aborsi.

Bab III: Metode Penelitian

Dalam Bab ini akan dijelaskan metode penelitian yang digunakan oleh

peneliti dan dalam hal ini adalah metode kualitatif, metode pengumpulan

data, subjek penelitian, teknik pengambilan sampel, alat bantu

pengumpulan data, prosedur penelitian serta analisis data.

Bab IV: Analisa Data dan Hasil Analisa Data

Bab ini menguraikan mengenai data pribadi subyek, data observasi, data

wawancara yang berupa analisa data dan hasil analisa data persubyek yang

meliputi latar belakang dan pengalaman aborsi subjek, dinamika trust; (1)

membangun trust, (2) membentuk trust, (3) fase distrust.

Bab V : Kesimpulan, Diskusi, dan Saran

Bab ini menguraikan mengenai kesimpulan, diskusi dan saran mengenai

dinamika trust terhadap pasangan pada perempuan setelah melakukan

aborsi. Kesimpulan berisikan hasil dari penelitian yang telah dilaksanakan

dan terdapat diskusi terhadap data yang tidak dapat dijelaskan dengan teori

atau penelitian sebelumnya karena merupakan hal baru, serta saran yang

(28)

penelitian, dan saran-saran metodologis untuk penyempurnaan penelitian

(29)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. TRUST

A.1. Definisi Trust

Trust menurut Johnson & Johnson (1997) merupakan aspek dalam suatu

hubungan dan secara terus menerus berubah. Dan Johnson (2006), trust

merupakan dasar dalam membangun dan mempertahankan hubungan

intrapersonal.

Trust terhadap pasangan akan meningkat apabila pasangan dapat

memenuhi pengharapan individu dan bersungguh-sungguh peduli terhadap

pasangan ketika situasi memungkinkan individu untuk tidak memperdulikan

mereka (Rempel dalam Levinsin, 1995).

Perkembangan trust juga tergantung pada kesediaan individu untuk

menunjukkan kasih sayang dengan mengambil resiko dan bertanggung jawab

terhadap kebutuhan pasangan. Apabila pasangan menjalani kesuksesan dalam hal

pemecahan konflik, bukan hanya trust yang akan meningkat tapi juga akan

menambah bukti terhadap komitmen pasangan dalam hubungan dan juga

kepercayaan yang lebih besar bahwa hubungan akan berjalan (Rempel dalam

Levinsin, 1995).

Henslin (dalam King, 2002) memandang trust sebagai harapan dan

(30)

menghargai satu dengan lainnya dan menerima adanya perbedaan (Carter, 2001).

Individu yang memiliki trust tinggi cenderung lebih disukai, lebiih bahagia,

dianggap sebagai orang yang paling dekat dibandingkan individu yang memiliki

trust rendah (Marriages, 2001). Hanks (2002) menyatakan bahwa trust merupakan

elemen dasar bagi terciptanya suatu hubungan yang baik.

Berdasarkan beberapa pengertian yang dikemukakan di atas ditarik

kesimpulan bahwa definisi trust adalah suatu elemen dasar bagi terciptanya suatu

hubungan baik antara kedua belah pihak yang berisi tentang harapan dan

kepercayaan individu terhadap reliabilitas seseorang.

A.2. Faktor terbentuknya Trust

Membangun trust pada orang lain merupakan hal yang tidak mudah. Itu

tergantung pada perilaku kita dan kemampuan orang lain untuk trust dan dalam

mengambil resiko.

Faktor yang mempengaruhi trust individu dalam mengembangkan

harapannya mengenai bagaimana seseorang dapat trust kepada orang lain,

bergantung pada faktor-faktor di bawah ini (Lewicki, dalam Deutsch & Coleman,

2006):

1. Predisposisi kepribadian

Deutsch (dalam Deutsch & Coleman, 2006) menunjukkan bahwa setiap

individu memiliki predisposisi yang berbeda untuk percaya kepada orang lain.

(31)

harapan untuk dapat mempercayai orang lain.

2. Reputasi dan stereotype

Meskipun individu tidak memiliki pengalaman langsung dengan orang

lain, harapan individu dapat terbentuk melalui apa yang diperlajari dari teman

ataupun dari apa yang telah didengar. Reputasi orang lain biasanya membentuk

harapan yang kuat yang membawa individu untuk melihat elemen untuk trust dan

distrust serta membawa pada pendekatan pada hubungan untuk saling percaya.

3. Pengalaman aktual

Pada kebanyakan orang, individu membangun faset dari pengalaman untuk

berbicara, bekerja, berkoordinasi dan berkomunikasi. Beberapa dari faset tersebut

sangat kuat di dalam trust, dan sebagian kuat di dalam distrust. Sepanjang

berjalannya waktu, baik elemen trust maupun distrust memulai untuk

mendominasi pengalaman, untuk menstabilkan dan secara mudah mendefenisikan

sebuah hubungan.ketika polanya sudah stabil, individu cenderung untuk

mengeneralisasikan sebuah hubungan dan menggambarkannya dengan tinggi atau

rendahnya trust atau distrust.

4. Orientasi psikologis

Deutsch (dalam Deutsch & Coleman, 2006) menyatakan bahwa individu

membangun dan mempertahankan hubungan sosial berdasarkan orientasi

psikologisnya. Orientasi ini dipengaruhi oleh hubungan yang terbentuk dan

(32)

mencari hubungan yang sesuai dengan jiwa mereka.

Membangun trust pada orang orang lain merupakan hal yang tidak mudah.

Itu tergantung pada perilaku kita dan kemampuan orang lain untuk trust dan

mengambil resiko (Myers, 1992).

A.3. Dinamika Trust

Hubungan interpersonal bukan hanya berisi sekumpulan kebiasaan. Di

dalamnya terdapat suatu struktur, perilaku yang stabil, memberi dan menerima,

tuntutan dan komitmen (Solomon, Robert.; Flores, Fernando, 2001). Dan dasar

untuk membangun suatu hubungan interpersonal yang baik diperlukan rasa saling

percaya (trust) antara satu dengan lainnya.

Adapun beberapa tahapan dalam dinamika trust, yaitu:

I. Membangun trust

Menurut Falcone & Castelfranci (2004), trust merupakan suatu fenomena

yang dinamis yang terjadi secara intrinsik pada suatu keadaan yang alamiah,

dimana trust merupakan hal yang menyangkut masalah mental yang didasarkan

oleh situasi seseorang dan konteks sosialnya, misalnya ketika seseorang untuk

mengambil suatu keputusan, ia akan lebih memilih keputusan berdasarkan pilihan

dari orang-orang yang lebih dapat ia percayai dari pada yang kurang ia percayai.

Hal tersebut juga diperkuat oleh Hoogendoorn, Jaffry & Treur (2009) yang

mengatakan bahwa trust tidak hanya tergantung pada pengalaman tetapi juga

(33)

kognitif dan afektif di dalamnya. Hal ini menjelaskan bahwa trust tidak hanya

tergantung pada pengalaman sebagai informasi yang diperoleh dari waktu ke

waktu, tetapi juga melibatkan respon emosi dan perasaan yang berhubungan

dengan pengalaman tersebut .

Untuk dapat trust, seseorang akan mengharapkan adanya sense of

responsibility, percaya bahwa mereka akan berperilaku pada cara-cara yang dapat

dipercaya. Untuk dapat trust, seseorang akan berharap bahwa orang yang ingin ia

percaya akan mengerti harapannya dan mengetahui cara untuk mengatasi

keterbatasannya, karena itu hal yang paling esensial dari trust adalah keterbukaan.

Hal tersebut juga diperkuat oleh Gambetta (dalam, Falcone & Castelfranci, 2004)

yang mengatakan bahwa trust merupakan suatu kemungkinan yang subjektif dari

seorang individu, yang mengharapkan individu lain untuk menunjukkan suatu

tindakan tertentu, segala kemungkinan yang terjadi tergantung pada bagaimana

perilaku yang ditunjukkan orang yang kita percayai tersebut kepada kita,

bagaimana mereka dapat memenuhi perilaku yang kita harapkan.

Membangun trust diawali dengan menghargai dan menerima kepercayaan

(trust) tersebut, melibatkan rutinitas sehari-hari dan latihan yang terus menerus.

Tanpa adanya perilaku nyata, pemahaman dan penerimaan kita akan trust pun

tidak berarti apapun. Membangun trust berarti memikirkan suatu kepercayaan

(trust) dalam cara yang positif, membangun langkah demi langkah, komitmen

demi komitmen. Jika trust dianggap sebagai sebuah bentuk resiko dan penuh

ancaman, maka tidak ada hal positif yang bisa kita dapatkan. Memang trust selalu

(34)

sendiri untuk berpikir bahwa ketidakpastian tersebut sebagai sebuah kemungkinan

dan kesempatan, bukan sebagai halangan (Solomon, dkk, 2001).

Trust merupakan sesuatu hal yang penting bagi sebuah hubungan karena

di dalamnya terdapat kesempatan untuk melakukan aktivitas yang kooperatif,

pengetahuan, otonomi, self-respect, dan nilai moral lainnya (Blackburn, 1998).

Hal itu sejalan dengan pendapat Johnson & Johnson, 1997 yang menyatakan

bahwa trust memiliki lima aspek penting di dalamnya, yang mendasari suatu

hubungan intrapersonal yaitu openness (keterbukaan) yaitu ketika pasangan dapat

saling membagi informasi, ide-ide, pemikiran, perasaan, dan reaksi isu-isu yang

terjadi, sharing (berbagi) dimana pasangan menawarkan bantuan emosional dan

material serta sumber daya kepada pasangannya dengan tujuan untuk membantu

mereka menuju penyelesaian tugas, acceptance (penerimaan) yaitu ketika adanya

komunikasi penuh penghargaan terhadap pasangan, support (dukungan) yaitu

komunikasi dengan orang lain yang diketahui kemampuannya dan percaya bahwa

dia mempunyai kapabilitas yang dibutuhkan, dalam hal ini seseorang percaya

bahwa pasangannya memiliki kemampuan dan kapabilitas yang dibutuhkan dalam

menjalankan hubungan intrapersonal, dan yang terakhir adalah cooperative

intention yaitu adanya pengharapan bahwa seseorang dapat bekerja sama dan

bahwa orang lain juga dapat bekerjasama untuk mencapai pemenuhan tujuan, dan

dalam hal ini pasangan percaya bahwa pasangannya dapat bekerja sama dalam

mencapai pemenuhan tujuannya. Jadi ketika kita dan pasangan sudah memenuhi

kelima aspek tersebut, maka kita dan pasangan telah memiliki mutual trust satu

(35)

II. Terbentuknya trust

Trust terjadi dikarenakan adanya keyakinan bahwa pasangan akan

memberikan keuntungan, dan terbentuk melalui sikap menerima, mendukung,

sharing, dan kerjasama pada diri seseorang (Johnson & Johnson, 1997). Artinya

bahwa trust merupakan suatu situasi kita menerima pengaruh dari orang lain, dan

kita percaya bahwa orang lain akan memberikan keuntungan bagi kita.

Supaya suatu hubungan dapat berjalan dengan baik dan efektif, individu

harus membangun perasaan saling percaya (mutual trust). Trust terbentuk melalui

rangkaian perilaku antara orang yang memberikan kepercayaan dan orang yangn

dipercayakan tersebut. Interpersonal trust dibangun melalui adanya resiko dan

penerimaan dan dapat hancur karena adanya resiko dan tidak adanya sikap

penerimaan. Tanpa resiko maka trust tidak akan terbentuk, dan hubungan tidak

dapat maju dan berjalan (Johnson & Johnson, 1997). Ketika seseorang mengambil

resiko dengan terbuka (disclosing) dalam membicarakan pemikiran-pemikirannya,

informasi, kesimpulan, perasaan dan reaksi pada suatu situasi dan pasangan akan

memberikan respon yang positif berupa penerimaan, support, kooperatif dan

membalas kita dengan menjadi terbuka (disclosing) dalam membicarakan

pemikiran, ide, dan perasaan mereka, disitulah trust dapat terbentuk dan

berkembang (Johnson & Johnson, 1997).

III. Fase Distrust

Trust merupakan sesuatu yang rapuh. Trust dapat berubah dari waktu ke

(36)

mengalami perubahan (Falcone & Castelfranci, 2004). Hal tersebut didukung oleh

pendapat Johnson & Johnson 1997 yang menyatakan bahwa Trust bukan suatu

jaminan untuk tidak dapat berubah karena keadaan bisa menghilangkan

kemampuan seseorang untuk trust. Di dalam interaksi nyata, kita tidak akan

pernah mendapatkan situasi interaksi yang benar-benar sama dalam suatu waktu,

dengan begitu suatu keadaan tertentu bisa saja mempengaruhi trust seseorang

pada orang yang ia percayai. Trust berubah bukan hanya karena adanya suatu

pengalaman tertentu, belum tentu suatu pengalaman yang menyenangkan akan

meningkatkan trust dan sebaliknya. tetapi juga dengan adanya modifikasi dari

berbagai sumber trust tersebut, misalnya pengalaman langsung di masa lalu,

reputasi trustee (bagaimana pengalaman dan opini orang lain mempengaruhi

kepercayaan trustier kepada trustee), perubahan sikap dan perilaku dari orang

yang kita percayai, keadaan emosional trustier, dan dengan adanya modifikasi

dari lingkungan yang menuntut seseorang untuk berperilaku tertentu (Falcone &

Castelfranci, 2004). Trust berubah juga karena adanya suatu faktor sebab akibat

(causal attribution), kepercayaan seseorang pada orang lain akan bergantung pada

bagaimana orang lain tersebut berperilaku dan sebaliknya.

Solomon, dkk (2001) menjelaskan bahwa, ada kalanya seseorang berada di

dalam periode distrust yang ekstrim. Seseorang yang kehilangan kemampuan trust

sering kali karena adanya suatu keadaan traumatis (Herman, 1991). Hal tersebut

terjadi karena adanya pengkhianatan dan pelanggaran terhadap trust dan

komitmen tersebut. Trust memang meliputi resiko dan konsekuensi dari resiko

(37)

sesuatu yang bersifat bebas, trust juga melibatkan resiko. Ada beberapa katagori

dari kekecewaan tersebut, yang pertama adalah kekecewaan karena sesuatu tidak

berjalan sebagai mana mestinya. Ada kemungkinan besar bahwa sesuatu tdk

berjalan sebagai mana mestinya. Ini bukan berarti kesalahan seseorang. Disini

trust merupakan dirinya sendiri dan trust di dalam perilaku nyata dan proses yang

terhubung, menjadi sesuatu yang krusial. Dan hal yang paling esensial dari bagian

ini adalah ketika orang tersebut tetap melanjutkan untuk percaya dengan orang

lain dan dapat berpikir bahwa ini merupakan sebuah kebijaksanaan dan

penerimaan kita setiap hari. Katagori kekecewaan yang kedua adalah karena

adanya kesalahan. Terkadang hal ini disebabkan oleh sesuatu yang tidak berjalan

sebagai mana mestinya dan karena kesalahan dari seseorang.

Setelah berada di dalam periode distrust, beberapa orang ada yang tidak

dapat melupakan dan juga tidak dapat memaafkan, tetapi tidak sedikit pula

mereka tetap berubah dan belajar untuk trust kembali kepada pasangannya.

Reestablishing trust adalah membangun kembali struktur-struktir baru,

memulihkan dan kembali melakukan rutinitas sehari-hari dan membangun

kembali hubungannya tersebut.

B. ABORSI

B.1 Definisi Aborsi

Menurut Wikipedia, Aborsi adalah Menggugurkan kandungan atau dalam

dunia kedokteran dikenal dengan istilah “abortus”. Berarti pengeluaran hasil

(38)

kandungan. Ini adalah suatu proses pengakhiran hidup dari janin sebelum diberi

kesempatan untuk bertumbuh.

Sama halnya dengan yang diungkapkan oleh Dadang Hawari dalam

bukunnya ‘ABORSI – Dimensi Psikoreligi’ (2006) bahwa aborsi merupakan

pengguguran kandungan atau terminasi (penghentian) kehamilan yang disengaja

(abortus provocatus), yaitu, kahamilan yang diprovokasi dengan berbagai macam

cara sehingga terjadi keguguran.

Berdasarkan beberapa pengertian yang dikemukakan di atas ditarik

kesimpulan bahwa definisi aborsi adalah suatu terminasi kehidupan dari janin

sebelum ia diberi kesempatan hidup dan berkembang dengan cara yang disengaja

dan diprovokasi dengan berbagai cara agar terjadi keguguran.

B. 2. Macam-macam Aborsi

Dalam dunia kedokteran dikenal 3 macam aborsi (Hawari, 2006), yaitu:

1. Aborsi Spontan / Alamiah: berlangsung tanpa tindakan apapun. Kebanyakan

disebabkan karena kurang baiknya kualitas sel telur dan sel sperma,

2. Aborsi Buatan / Sengaja: pengakhiran kehamilan sebelum usia kandungan 28

minggu (7 bulan) sebagai suatu akibat tindakan yang disengaja dan disadari oleh

calon ibu maupun si pelaksana aborsi (dalam hal ini dokter, bidan atau dukun

beranak).

3. Aborsi Terapeutik / Medis: pengguguran kandungan buatan yang dilakukan

(39)

mempunyai penyakit darah tinggi menahun atau penyakit jantung yang parah

yang dapat membahayakan baik calon ibu maupun janin yang dikandungnya.

Tetapi ini semua atas pertimbangan medis yang matang dan tidak tergesa-gesa.

Pada penelitian ini dikhususkan pada jenis aborsi buatan atau aborsi yang

disengaja, yaitu suatu aborsi sebagai pengakhiran kehamilan sebelum usia

kandungan 28 minggu (7 bulan) sebagai suatu akibat tindakan yang disengaja dan

disadari oleh calon ibu maupun si pelaksana aborsi (dalam hal ini adalah dokter,

bidan, dukun beranak atau ibu dari janin tersebut).

Ada 2 macam tindakan aborsi yaitu:

1. Aborsi dilakukan sendiri

Aborsi yang dilakukan sendiri misalnya dengan cara memakan obat-obatan

yang membahayakan janin, atau dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang

dengan sengaja ingin menggugurkan janin.

2. Aborsi dilakukan orang lain

Orang lain disini bisa seorang dokter, bidan atau dukun beranak. Cara-cara

yang digunakan juga beragam.

Dalam penelitian ini, peneliti ingin meneliti perempuan yang melakukan

aborsi yang dilakukan dengan cara sendiri dan dengan bantuan orang lain.

B.3. Faktor-faktor pendorong aborsi

Menurut Prof. Dr. Sarlito W. Sarwono, ada beberapa faktor yang mendorong

aborsi:

(40)

a. anak terlalu banyak, penghasilan suami terbatas dsb. (khususnya

untuk ibu-ibu peserta KB yang mengalami kegagalan kontasepsi)

b. PHK (misal: pramugari, polwan)

c. Belum bekerja (buat yang masih sekolah/kuliah)

Dampak sosial jika tidak aborsi (khusus untuk kehamilan pra-nikah):

a. Putus sekolah/kuliah

b. Malu pada keluarga/tetangga

c. Siapa yang akan mengasuh bayi

d. Kalau bayi diasuh nenek, akan dipanggil apa? (Eyang dipanggil

"ibu", ibu dipanggil "mbak"?)

e. Terputus/terganggu karir/masa depan

f. Dan sebagainya.

B.4. Dampak Kondisi Aborsi

Menurut Prof. Dr. Sarlito W. Sarwono ada beberapa Kondisi psikologik wanita

pra-aborsi:

a. Takut/cemas

b. Butuh informasi tetapi tidak tahu mau bertanya ke mana/siapa?

(Masyarakat mentabukan sex, apalagi aborsi, dari semua yang belum

menikah, khususnya wanita).

c. Butuh perlindungan tetapi laki-laki yang berbuat pada umumnya tidak

(41)

sekolah) bertanggung jawab.

d. Kebingungan sehingga menunda-nunda persoalan

e. Pada saat merasa sudah sangat terdesak, akhirnya nekad, mencari bantuan

yang paling terjangkau (dekat, mudah, murah)

f. Tindakan nekad ini (karena tidak didukung oleh pengetahuan yang cukup)

bisa sangat berbahaya (dukun/para medik/dokter yang tak bertanggung

jawab, komplikasi yang tidak segeera ditolong, infeksi karena tidak

periksa ulang dsb.).

Sedangkan Kondisi psikologis pasca-aborsi (Burke, 2006):

a. Ketakutan yang intens, anxiety, helplessness.

b. Perasaan kehilangan kontrol

c. Mati rasa secara emosional, sulit mengingat suatu kejadian.

d. Merasa bersalah, perasaan sedih yang mendalam, depresi.

e. Cepat marah, marah yang meledak-ledak, perilaku agrsif.

f. Sulit tidur, ketidakbeMikaungsian secara seksual.

g. flashback, mimpi buruk.

h. Menghindar dari hubungan, menolak anak-anak.

i. Pesimis terhadap masa depan.

j. Drugs, alcohol abuse dan berpikir untuk bunuh diri.

Sama halnya dengan pendapat yang diungkapkan oleh Edmundson, 2009,

(42)

perasaan dihantui dosa, lemahnya ikatan pasangan kedua belah pihak yang

menyebabkan kegagalan setelah menikah, serta penghinaan terhadap

masyarakat.

Beberapa dampak aborsi terhadap psikososial seorang perempuan yang

melakukan aborsi:

1. Efek pada hubungan dengan pasangan

Menurut Burke (2004), ada sekitar 40 – 50 % pasangan mengakhiri

hubungan mereka setelah aborsi, sekitar 40 -75 % dikarenakan

gangguan pada intimacy dan trust terhadap pasangan mereka. Hal itu

didukung pula oleh penelitian Barnett, dkk (1992) yang menyatakan

bahwa wanita yang memiliki hubungan yang cenderung stabil, setelah

melakukan aborsi dilaporkan berpisah. Dari 80% kelompok pasangan

yang berpisah, kebanyakan wanita yang berinisiatif untuk melakukan

perpisahan dengan pasangannya. Hubungan setelah aborsi dilaporkan

menjadi lebih buruk, dengan lebih banyak konflik dan kurangnya

saling trust satu dengan lainnya.

2. Hubungan dengan orang tua dan keluarga

Jika orang tua yang memaksakan untuk melakukan aborsi, maka

hubungan orang tua - anak menjadi rusak (Rue, 1994). Jika ia

menyembunyikannya maka hal itu akan membuat jarak hubungan

orang tua – anak akan semakin jauh (Rue dalam Burke, 2004).

(43)

Perempuan yang pernah melakukan aborsi menjadi pesimis dan selalu

berpikir negatif tentang hidupnya secara umum (Burke, 2004). Self

esteem akan menurun dan ia akan menghindari kontak sosial.

4. Hubungannya dengan pasangan masa depan.

Pengalaman masa lalu tentang aborsi akan dirahasiakan dari

pasangannya karena takut akan judgement atau takut akan penolakan

(Burke, 2004). Sering kali perempuan yang telah melakukan aborsi

akan merasa tidak nyaman dan merasa takut dalam aktivitas seksual

dengan pasangannya, dan sebagian akan menjadi sangat permisif

terhadap aktivitas seksual.

C. Pacaran

C.1. Defenisi Pacaran

Menurut Guerney & Arthur (Dacey & Kenny, 1997) pacaran adalah

aktivitas social yang membolehkan dua orang yang berbeda jenis kelaminnya

untuk terikat dalam interaksi sosial dengan pasangannya yang tidak ada hubungan

keluarga.

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (2002) pacaran merupakan proses

perkenalan antara dua in

pencarian kecocokan menuju kehidupan be

(44)

Ada beberapa karakteristik dari hubungan ini, yaitu perilaku yang saling

bergantung satu dan lainnya, interaksi yang berulang, kedekatan emosionaal, dan

kebutuhan untuk saling mengisi. Hubungan ini terdiri dari orang-orang yang kita

sukai, seseorang yang kita sukai, cintai, hubungan yang romantis dan hubungan

seksual.

Salah satu kerakteristik dari pacaran yaitu adanya kedekatan atau

keintiman secara fisik (physical intimacy). Keintiman (intimacy) tersebut meliputi

berbagai tingkah laku tertentu, seperti berpegangan tangan, berciuman, dan

berbagai interaksi perilaku seksual lainnya (Baron & Byrne, 1997). Sedangkan

menurut Duvall dan Miller (1985), keintiman dalam berpacaran tersebbut antara

lain meliputi berpegangan tangan, ciuman, petting dan intercourse.

Berdasarkan pemaparan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pacaran

merupakan kegiatan yang dilakukan oleh dua orang yangberbeda jenis kelamin

dan tidak menikah serta tidak ada hubungan keluarga, dan biasanya melakukan

sejumlah perilaku, yaitu berpegangan tangan, berciuman, petting,dan sexual

intercourse.

C.2. Proses Pacaran

Menurut Myers & Myers (1992), ada 5 tahap dalam suatu hubungan,

pertama adalah tahap contacting. Pada tahap ini kita pertama kali menentukan

apakah kita menginginkan seseorang yang kita temui tersebut atau tidak.

Penentuan ini dipengaruhi oleh kesamaan minat, sikap, nilai, kebiasaan,

(45)

miliki. Tahap kedua adalah evaluating, dimana pada tahap ini kita mulai

menyeimbangkan antara hal-hal yang positif yang kita dapatkan (reward) dengan

cost yang kita keluarkan. Kita akan menilai apakah seseorang tersebut lebih

memberikan kita keuntungan atau kerugian. Pada tahap ini juga sering disebut

sebagai tahapan tawar-menawar, explorasi, keterlibatan, atau timbal balik. Ketika

kita masuk dalam tahap ini bukan berarti tahap contacting selesai karena minat

dan sikap akan membantu kita dalam mengevaluasi suatu hubungan. Tahap ketiga

adalah committing. Pada tahap ini kita mulai memiliki komitmen-komitmen dan

ditandai oleh adanya perjanjian dengan pasangan kita. Tahap ini ditandai dengan

adanya intensitas, peninjauan ulang, keterkaitan, atau interaksi-interaksi penting,

lalu adanya keterikatan, keabsahan hubungan, intimacy, coupling, dan kestabilan

hubungan. Pada tahap ini, penilaian negative terhadap pasangan lebih minim atau

sedikit. Kita akan sering melewatkan atau melupakan kesalahan-kesalahan yang

dilakukan pasangan dan hanya berfokus pada kesenangan bersamanya. Tahap

berikutnya adalah doubting, dimana pada tahap ini mulai ada konflik. Tahap

sebelumnya kita berfokus pada “kualitas baik” dari seseorang, pada tahap ini kita

mulai melihat sesuatu yang lebih ‘buruk’ dari seseorang tersebut. Kebiasaan dan

sikap yang awalnya bisa kita terima atau mungkkin kita sukai, sekarang akan lebih

mengganggu. Hubungan mulai sedikit berbagi dan melakukan lebih sedikit usaha

untuk menyenangkan satu dengan lainnya. Dan akhirnya kita masuk ke tahapan

terakhir yaitu tahap disengaging, yaitu dimana kita akan menghindari,

mengakhiri, menghancurkan atau menghentikan hubungan kita dengan pasangan.

(46)

Pacaran sebagai salah satu bentuk hubungan intim dapat terjadi dimana

saja, di kelas, di tempat kerja, di toko, di tempat bermain, dan lain-lain. tetapi,

untuk memulai terjadinya suatu hubungan, maka biasanya dimulai dengan adanya

rasa ketertarikan (interpersonal attraction), yaitu keinginan untuk dekat dengan

seseorang (Brehm, 1992).

Untuk memulai hubungan yang intim berbeda-beda caranya. Ada yang

dapat dengan mudah jatuh cinta, tetapi ada yang memulainya dari hubungan

pertemanan terlebih dahulu. Lalu lama-kelamaan hubungan tersebut berkembang

(Brehm, 1992).

Agar kedua individu berpacaran, maka pertama-tama harus muncul rasa

ketertarikan (attraction). Ketertarikan dapat berupa mengirim dan menerima tanda

seksual tertentu, yang dapat diekspresikan melalui gaya berpakaian atau gaya

berjalan seseorang. Ketertarikan dapat juga sebagai bentuk umum dari rasa suka

(liking) (Geer, Heiman & Leitenberg, 1984).

Sedangkan menurut Baron dan Byrne (1997) ketertarikan itu dimulai

ketika seseorang mulai berinteraksi dengan orang lain, dan biasanya interaksi

tersebut dapat membuat seseorang tertarik dengan orang lain, yaitu kedekatan

fisik (physical proximity). Faktor yang sangat penting yang dapat dijumpainya

yaitu keadaannya pada saat itu (affective state). Seseorang akan senang dengan

orang yang dijumpainya ketika perasaan emosinya positif dan begitu juga

(47)

positif, tetapi rasa tertarik tidak akan timbul jika kedua individu yang kedua

individu yang berkaitan tidak termotivasi untuk membentuk suatu hubungan.

D. Dinamika Trust dalam hubungan

Menurut Rositer dan Pearce (dalam Myers & Myers, 1992), kita akan

mengalami trust hanya ketika hubungan kita dengan pasangan dikarakteristikkan

dengan contingency; pada situasi ketika perilaku pasangan memberikan dampak

yang siginifikan bagi diri kita, predictability; dimana kita bisa memprediksi

perilaku pasangan kita, percaya bahwa pasangan akan berperilaku pada cara

tertentu, karena jika predictability kita terhadap perilaku pasangan rendah maka

kita hanya bisa berharap dan bukan trust, dan alternative options; dimana kita

bebas untuk melakukan sesuatu selain trust, karena trust hanya merupakan

pilihan.

E. Dinamika Trust dalam hubungan setelah aborsi

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Barnett, dkk (1992) yang

menyatakan bahwa wanita yang memiliki hubungan yang cenderung stabil,

setelah melakukan aborsi dilaporkan berpisah. Dari 80% kelompok pasangan yang

berpisah, kebanyakan wanita yang berinisiatif untuk melakukan perpisahan

dengan pasangannya. Hubungan setelah aborsi dilaporkan menjadi lebih buruk,

dengan lebih banyak konflik dan kurangnya saling trust satu dengan lainnya.

Seseorang yang kehilangan kemampuan trust seringkali karena adanya

suatu keadaan traumatis (Herman, 1991). Aborsi merupakan sebuah pengalaman

(48)

pada perempuan yang melakukannya (Edmundson, 2009). Menurut penelitian

Anne Speckhard (1992), sekitar 50 % perempuan pasca aborsi kehilangan trust

terhadap orang lain, dan 58% kehilangan kepercayaan terhadap laki-laki. Aborsi

dikatakan sebagai pengalaman yang traumatis dikarenakan bahwa itu melibatkan

kejadian kematian seseorang, yang secara spesifik, merupakan pembunuhan

seseorang yang belum dilahirkan secara disengaja dan menyaksikan kematian

yang yang kejam, sama halnya dengan melanggar tanggung jawab dan insting

orang tua, merusak hubungan ibu dan anak yang belum dilahirkan dan rasa sedih

yang sangat mendalam (Coleman dkk, 2005; MacNair, 2005; Speckhard & Rue,

1992 dalam Major dkk, 2008). Rasa sedih, perasaan bersalah yang mendalam,

penyesalan, depresi yang terjadi pada individu yang menjadikan seorang

perempuan yang melakukan aborsi merasa trauma dan mempengaruhi

hubungannya dengan pasangan. Perasaan bergantung pada pasangan membuat

individu berusaha untuk membangun trust kembali pada pasangan. Sebuah

hubungan yang intim dapat membuat kita mengenal diri kita sebenarnya dan

merasa diterima. Dimana hubungan tersebut terjadi ketika trust dapat

menggantikan perasaan anxiety dan dimana kita dapat secara bebas membuka diri

kita sendiri tanpa harus takut kehilangan perasaan pasangan kita (Holmes &

(49)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Kualitatif

Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2000) metode penelitian

kualitatif merupakan prosedur penelitian yang akan menghasilkan data deskriptif

berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.

Pendekatan ini juga digunakan untuk menggambarkan dan menjawab pertanyaan

seputar subjek penelitian beserta konteksnya.

Padget (1998) mengemukakan beberapa alasan mengapa menggunakan

penelitian kualitatif. Alasan-alasan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Penelitian kualitatif digunakan jika peneliti ingin menggali suatu topic yang

masih sedikit diketahui.

2. Jika topik yang ingin diteliti memiliki tingkat kedalaman sensitivitas dan

emosional.

3. Penelitian tersebut diharapkan dapat menggambarkan “pengalaman hidup”

dari perspektif orang yang hidup di dalamnya dan menciptakan arti darinya.

4. Diharapkan dapat memasuki “kotak hitam” dari program atau intervensi.

5. Seorang peneliti kuantitatif yang mencapai jalan buntu dalam mengumpulkan

data atau dalam menjelaskan penemuan.

Sama halnya dengan beberapa alasan penggunaan metode penelitian kualitatif

Gambar

Tabel 1. Gambaran Umum Sosiodemografis Responden
Tabel. 2. Tempat dan waktu wawancara Responden I
Table 3. tanggal dan tempat wawancara responden II
Tabel 3.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi anggota organisasi kepemudaan Alumni Budi Mulia (ALBUM- Medan) terhadap mendonorkan

Sehubungan dengan permasalahan tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk melihat seberapa besar pendapatan usahatani responden, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi

Kondisi yang positif dalam komunitas Alpharian menjadi basis penelitian untuk melihat bagaimana pengaruh tingkat keterlibatan konsumen dan kepercayaan konsumen ( brand trust )

Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah pada (1) bagaimana persepsi masyarakat terhadap pendidikan perempuan di Desa Bangun Jaya Kecamatan Katingan Kuala, (2) apa saja faktor

Tujuan dari penelitian ini adalah melihat bagaimana gambaran trust pada pasangan commuter marriage tipe adjusting yang berada pada usia pernikahan 0-5 tahun dimana pasangan

Penelitian ini bertujuan untuk melihat perkembangan folikel, korpus luteum dan profil progesteron plasma setelah sinkronisasi estrus dengan impIan progesteron intravagina CIDR,

Penelitian ini bertujuan untuk melihat perkembangan folikel, korpus luteum dan profil progesteron plasma setelah sinkronisasi estrus dengan implan progesteron intravagina CIDR,

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan pengelolaan usaha pada UMKM perempuan.. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini