Pendahuluan 1.1 Latar Belakang
Dewasa ini, perkembangan sektor industri di Indonesia menyebabkan terjadinya percepatan munculnya bangunan industri, penambahan devisa negara, serta mengurangi jumlah
pengangguran. Namun, hal tersebut jika tidak diimbangi dengan kebijakan-kebijakan yang kuat, analisa lokasi khususnya lokasi industri yang tepat, maka keberadaan kawasan industri
disamping memberikan dampak positif juga akan mempengaruhi potensi, kondisi, dan mutu sumber daya alam dan lingkungan sekitar (Anonim, 1993).
Keberadaan sektor industri tersebut tidak terlepas dari pemilihan lokasi yang didasarkan pada teori lokasi yang telah berkembang mulai dari teori klasik, neo-klasik, sampai dengan teori lokasi modern. Teori lokasi sendiri dapat didefinisikan sebagai ilmu yang menyelidiki tata ruang (spatial order) kegiatan ekonomi, atau ilmu yang menyelidiki alokasi geografis dari sumber-sumber yang potensial, serta hubungannya dengan atau pengaruhnya terhadap keberadaan berbagai macam usaha/kegiatan lain baik ekonomi maupun sosial. (Tarigan, 2006:77). dengan sekian banyak fasilitas yang mendukung industri dan perdagangan sangat potensial untuk tumbuh dan berkembangnya bangunan-bangunan industri
Adapun hal-hal yang ingin dibahas dalam makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Apa saja yang menjadi dasar-dasar teori penentu lokasi industri?
2. Apa sajakah faktor-faktor yang menjadi kriteria penentuan lokasi suatu industri? 3. Bagaimanakah implikasi teori lokasi industri terhadap penentuan lokasi industri di kompleks Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER)?
(spatial order) kegiatan ekonomi, atau ilmu yang menyelidiki lokasi geografis dari sumber-sumber yang potensial serta hubungan-nya dengan atau pengaruh-nya terhadap keberadaan berbagai macam usaha / kegiatan lain, baik ekonomi maupun sosial (Tarigan, 2006:77).
Berdasarkan kedua penjelasan di atas maka dibutuhkan suatu analisis mengenai konsep dasar teori lokasi dalam menentukan lokasi kawasan industri, dimana dengan adanya konsep dasar tersebut dapat menjadi prinsip dalam pemilihan lokasi yang terbaik dan menguntungkan secara ekonomi bagi industri itu sendiri. Berikut merupakan beberapa pengertian teori lokasi industri yang dikemukakan oleh berbagai pakar, baik secara geografi, ekonomi, maupun keruangan. 2.1 Teori Lokasi Industri Teori lokasi industri pertama kali diungkapkan oleh ahli ekonom Jerman pada tahun 1929, yakni Alfred Weber. Menurut teori Weber, pemilihan lokasi industri didasarkan atas prinsip minimisasi biaya. Weber menyatakan bahwa lokasi setiap industri tergantung pada total biaya transportasi dan tenaga kerja, dimana penjumlahan keduanya harus minimum. Tempat dimana total biaya transportasi dan tenaga kerja yang minimum adalah identik dengan tingkat keuntungan yang maksimum. Menurut Weber ada tiga faktor yang mempengaruhi lokasi industri, yaitu biaya transportasi, upah tenaga kerja, dan kekuatan aglomerasi atau
keseimbangannya akan membentuk segienam beraturan. Losch juga menambahkan bahwa jaringan heksagonal tidak memiliki penyebaran yang sama tetapi di sekeliling tempat sentralnya masih ada 6 faktor yang memiliki wilayah yang luas dan 6 faktor yang memiliki wilayah sempit sehingga Losch menggambarkan teorinya tersebut dalam bentuk roda. 2.3 Teori Tempat Pusat Teori ini dikemukakan oleh Walter Christaller pada tahun 1933 dalam bukunya yang berjudul Central Places In Southern Germany. Dalam buku ini Christaller mencoba menjelaskan bagaimana susunan dari besaran kota, jumlah kota, dan distribusinya di dalam satu wilayah Tempat pusat (central place) merupakan suatu tempat dimana produsen cenderung
mengelompok di lokasi tersebut untuk menyediakan barang dan jasa bagi populasi di sekitarnya. Asumsi-asumsi yang dikemukakan dalam teori Christaller antara lain: a. Suatu lokasi yang memiliki permukaan datar yang seragam. b. Lokasi tersebut memiliki jumlah penduduk yang merata dan memiliki daya beli yang sama. c. Lokasi tersebut mempunyai kesempatan transport dan komunikasi yang merata/gerakan ke segala arah (isotropic surface). d.
Konsumen bertindak rasional sesuai dengan prinsip minimisasi jarak/biaya. Teori central place ini didasarkan pada prinsip jangkauan (range) dan ambang batas (threshold). Range merupakan jarak jangkauan antara penduduk dan tempat suatu aktivitas pasar yang menjual kebutuhan komoditi atau barang. Misalnya seseorang membeli baju di lokasi pasar tertentu, range-nya adalah jarak antara tempat tinggal orang tersebut dengan pasar lokasi tempat dia membeli baju. Apabila jarak ke pasar lebih jauh dari kemampuan jangkauan penduduk yang bersangkutan, maka penduduk cenderung akan mencari barang dan jasa ke pasar lain yang lebih dekat. Sedangkan threshold adalah jumlah minimum penduduk atau konsumen yang dibutuhkan untuk menunjang kesinambungan pemasokan barang atau jasa yang bersangkutan, yang diperlukan dalam penyebaran penduduk atau konsumen dalam ruang (spatial population distribution). Dari komponen range dan threshold maka lahir prinsip optimalisasi pasar (market optimizing
principle). Prinsip ini antara lain menyebutkan bahwa dengan memenuhi asumsi di atas, dalam suatu wilayah akan terbentuk wilayah tempat pusat (central place). Pusat tersebut menyajikan kebutuhan barang dan jasa bagi penduduk sekitarnya. Apabila sebuah pusat dalam range dan threshold yang membentuk lingkaran, bertemu dengan pusat yang lain yang juga memiliki range dan threshold tertentu, maka akan terjadi daerah yang bertampalan. Penduduk yang bertempat tinggal di daerah yang bertampalan akan memiliki kesempatan yang relatif sama untuk pergi ke kedua pusat pasar itu. Christaller juga menyatakan bahwa sistem tempat pusat membentuk suatu hierarki yang teratur dimana keteraturan dan hierarki tersebut didasarkan pada prinsip bahwa suatu tempat menyediakan tidak hanya barang dan jasa untuk tingkatannya sendiri, tetapi juga semua barang dan jasa lain yang ordernya lebih rendah. Hierarki tempat pusat menurut teori ini dibedakan menjadi 3, yaitu: a. Tempat sentral yang berhierarki 3 (K = 3) merupakan pusat pelayanan berupa pasar yang senantiasa menyediakan barang-barang bagi daerah sekitarnya atau disebut juga sebagai kasus pasar optimal. b. Tempat sentral yang berhierarki 4 (K = 4) merupakan situasi lalu lintas yang optimum yakni daerah tersebut dan daerah sekitarnya yang terpengaruh oleh tempat sentral senantiasa memberikan kemungkinan jalur lalu lintas yang paling efisien. c. Tempat sentral yang berhierarki 7 (K = 7) merupakan situasi administratif yang optimum yang mana tempat sentral ini mempengaruhi seluruh bagian wilayah-wilayah tetangganya. Model Christaller tentang terjadinya model area perdagangan heksagonal adalah sebagai berikut: a. Mula-mula terbentuk areal perdagangan suatu
tindih dibagi antara kedua pusat yang berdekatan sehingga terbentuk areal yang heksagonal yang menutupi seluruh daratan yang tidak lagi tumpang tindih. d. Tiap barang berdasarkan tingkat ordenya memiliki heksagonal sendiri-sendiri. Dengan menggunakan k = 3, maka barang orde I memiliki lebar heksagonal 3 kali heksagonal barang orde II, dan seterusnya. Heksagonal yang sama besarnya tidak akan tumpang tindih tetapi antara heksagonal yang tidak sama besarnya akan terjadi tumpang tindih. 2.4 Teori Biaya Minimum dan Ketergantungan Lokasi Teori biaya minimum dan ketergantungan lokasi (Theory Least Cost and Place Interdependence) dikemukakan oleh Melvin Greenhut pada tahun 1956 dalam bukunya Plant Location in Theory and in Practice dan Microeconomics and The Space Economy. Greenhut berusaha menyatukan teori lokasi biaya minimum dengan teori ketergantungan lokasi yang mana dalam teori tersebut mencakup unsur-unsur sebagai berikut: a. Biaya lokasi yang meliputi biaya angkutan, tenaga dan pengelolaan b. Faktor lokasi yang berhubungan dengan permintaan, yaitu ketergantungan lokasi dan usaha untuk menguasai pasar. c. Faktor yang menurunkan biaya d. Faktor yang meningkatkan pendapatan. e. Faktor pribadi yang berpengaruh terhadap penurunan biaya dan peningkatan pendapatan. f. Pertimbangan pribadi 2.5 Kerangka Substitusi Isard Teori ini dikemukakan oleh Walter Isard (1956) yang mengembangkan logika teori dasar Weber dengan menempatkan teori tersebut dalam konteks analisis substitusi sehingga menjadi alat peramal yang tangguh (robust) namun sederhana. Pendekatan Isard menggunakan asumsi bahwa lokasi dapat terjadi di titik-titik sepanjang garis yang menghubungkan sumber bahan baku dengan pasar jika bahan baku setempat adalah murni sehingga terdapat dua variabel, yaitu jarak dari pasar dan jarak dari sumber bahan baku. Hubungan kedua variabel tersebut dapat diplotkan dalam bentuk grafik dimana garis yang menghubungkan antara sumber bahan baku dan pasar adalah tempat kedudukan titik-titik kombinasi antara bahan baku dan pasar yang bersifat substitusi. Apabila ditambah lagi satu variabel baru yakni penggunaan bahan baku kedua kedalam input produksi, maka terdapat 3 set hubungan substitusi. Alasan mengapa istilah satu variabel dibuat tetap hanyalah untuk mempermudah pembuatan grafik dua dimensi.
Penyelesaian masalah dalam penentuan lokasi dapat dilihat secara bertahap melalui pasangan-pasangan dua sudut dari segitiga tersebut. Titik biaya terendah diperoleh dengan
mengidentifikasikan titik dimana jarak tempuh total adalah terendah di setiap pasangan garis transformasi sehingga jarak parsial dapat digunakan untuk menentukan lokasi optimal. Jadi, lokasi optimal adalah lokasi dengan biaya transportasi beberapa substitusi lokasi yang paling rendah. 2.6 Kurva Biaya Ruang Teori ini dikemukakan oleh Smith yang merupakan
penggabungan metode substitusi Isard dengan metode isodapane (garis yang menghubungkan titik-titik yang mempunyai biaya transportasi yang sama dari seluruh unit produksi yang tetap) Weber dimana dalam teori ini terdapat dua tahap, yakni: a. Memplotkan isotim (garis yang menunjukkan titik-titik biaya transportasi yang sama pada setiap bahan baku/material dan produk akhir) di setiap bagian supply atau titik pasar. Hal ini menggambarkan bahwa biaya transportasi setiap komponen secara individual akan meningkat jika jarak dari titik biaya terendah meningkat sehingga isotim merupakan garis yang konsentris terhadap titik lokasi (pasar dan bahan baku). b. Menjumlahkan biaya transportasi pengumpulan bahan baku dan pengangkutan produk akhir ke pasar yang mana perpotongan antara titik-titik biaya pada lingkaran isotim menunjukkan total biaya yang sama disebut sebagai isodapane. Jika terdapat titik yang unik di bagian dasar dari permukaan biaya, titik tersebut merupakan titik biaya transportasi terendah berdasarkan asumsi yang dibuat yaitu bobot bahan baku bergerak, transportasi tidak seragam. Bagi Smith,
sederhana merupakan bagian yang menggambarkan peta kontur biaya yang mana titik terendah dari kurva tersebut adalah lokasi dengan biaya terendah. b. Kurva biaya yang diturunkan merupakan spatial margin to profitability. Harga produk diasumsikan dijual pada harga konstan di dalam ruang. Pada beberapa titik di permukaan biaya total akan merupakan suatu kontur yang berkaitan dengan harganya. Keuntungan ataupun kerugian di dalam ruang dapat dilihat dari besarnya biaya. Apabila suatu lokasi biayanya melebihi level harga pengiriman berarti terjadi kerugian, begitu juga sebaliknya. BAB III PEMBAHASAN Wilayah studi yang digunakan dalam makalah ini adalah kawasan industri SIER yang terletak di Rungkut. Kawasan industri SIER merupakan perseroan atau badan usaha milik negara (BUMN) yang didirikan pada tanggal 28 Februari 1974, dengan proporsi saham 50% dimiliki oleh Pemerintah Pusat RI, 25% Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Timur, dan 25% Pemerintah Daerah Tingkat II Surabaya. Kawasan industri ini merupakan salah satu dari kawasan industri yang dapat menyelesaikan pembebasan tanahnya. Jenis-jenis industri yang diperbolehkan masuk adalah jenis industri ringan (besar, menengah dan kecil) dengan syarat terlebih dahulu mendapatkan izin persetujuan dari instansi berwenang (Dinas Perindustrian dan Perdagangan, BKPM, Pemda, dsb) serta memenuhi syarat-syarat dan ketentuan yang ditetapkan oleh PT. SIER. Kawasan Industri SIER memiliki luas lahan sebesar ± 298.51 Ha. Penggunaan lahan di kompleks SIER mayoritas digunakan untuk industri dan pergudangan yakni sebesar 187,2 (RTRK Kawasan SIER). SIER sendiri terletak di
Kecamatan Rungkut, Tenggilis Mejoyo dan Gunung Anyar dengan batas-batas administrasi sebagai berikut: Sebelah Utara : Kelurahan Kendangsari dan Kali Rungkut Sebelah Selatan : Kabupaten Sidoarjo Sebelah Barat : Kecamatan Tenggilis Mejoyo (Kelurahan Kutisari dan Kendangsari) Sebelah Timur : Kecamatan Rungkut (Rungkut Kidul dan Rungkut Tengah) dan Kecamatan Gunung Anyar (Rungkut Menanggal). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Peta 3.1 Penggunaan Lahan Kawasan SIER. 3.1 Alasan Pemilihan Lokasi Propinsi Jawa Timur terbilang strategis jika ditilik dari lokasi kawasan industri SIER. Propinsi paling timur di Pulau Jawa ini kerap disebut sebagai jembatan penghubung dengan Indonesia bagian timur dengan aktivitas yang tampak di penyeberangan lalu lintas bahari tujuan Bali dan Kalimantan, yakni di pelabuhan Ketapang. Pada tahun 1974, perkembangan Kota Surabaya masih ke arah utara dan selatan, Kawasan Rungkut yang berada pada Surabaya Timur merupakan kawasan pinggiran yang belum berkembang. Hal inilah yang menjadi pertimbangan awal pemilihan Kawasan Rungkut sebagai kawasan industri oleh Pemerintah Kota Surabaya. Selain itu, sebagai kota metropolitan, Surabaya menjadi pusat kegiatan perekonomian di daerah Jawa Timur dan sekitarnya. Sebagian besar penduduknya bergerak dalam bidang jasa, industri, dan perdagangan. Banyak perusahaan besar yang berkantor pusat di Surabaya, seperti PT
(Maryunani, 2003). Adapun faktor-faktor yang diperhatikan dalam memilih lokasi industri menurut Weber dalam Tarigan (2005) adalah: 1. Biaya Transportasi Biaya transportasi bertambah secara proporsional dengan jarak sehingga titik terendah untuk biaya transportasi adalah titik yang menunjukkan biaya minimum untuk angkutan bahan baku dan distribusi hasil produksi. Konsep titik minimum tersebut dinyatakan sebagai segitiga lokasi. 2. Biaya Upah Produsen cenderung mencari lokasi dengan tingkat upah tenaga kerja yang lebih rendah dalam melakukan aktivitas ekonomi sedangkan tenaga kerja cenderung mencari lokasi dengan konsentrasi upah yang lebih tinggi. 3. Keuntungan dari Konsentrasi Industri Secara Spasial Konsentrasi spasial akan
menciptakan keuntungan yang berupa penghematan lokalisasi dan penghematan urbanisasi. Penghematan lokalisasi terjadi apabila biaya produksi perusahaan pada suatu industri menurun ketika produksi total dari industri tersebut meningkat. Hal ini terjadi pada perusahaan/industri yang berlokasi secara berdekatan. Menurut Djojodipuro (1992), faktor-faktor yang
mempengaruhi lokasi industri, adalah: 1. Faktor Endowment Tersedianya faktor produksi secara kualitatif dan kuantitatif di suatu daerah, berupa tanah (topografi, struktur tanah, cuaca, harga tanah), tenaga dan manajemen (fringe benefit, labour turn over, absenteeism, techno-structure), dan modal (industrial inertia, industrial nursery). 2. Pasar dan Harga Suatu daerah yang
berpenduduk banyak secara potensial perlu diperhatikan. Bila daerah ini disertai pendapatan perkapita yang tinggi, maka pasar tersebut akan menjadi efektif dan semakin meningkat bila disertai dengan distribusi pendapatan yang merata. Luas pasar ditentukan oleh jumlah penduduk, pendapatan perkapita, dan distribusi pendapatan. Pasar mempengaruhi lokasi melalui ciri pasar, biaya distribusi, dan harga yang terdapat di pasar yang bersangkutan. Harga ditentukan oleh biaya produksi dan permintaan (elastisitas dan biaya angkut). CIF (Cost,
Insurance, Freight), FOB (Free On Board), dan Basing Point System. 3. Bahan Baku dan Energi Proses produksi merupakan usaha untuk mentransformasikan bahan baku kedalam hasil akhir yang memiliki nilai lebih tinggi. Jarak antara lokasi pabrik dengan ketersediaan bahan baku mempengaruhi biaya pengangkutan. Beberapa industri karena sifat dan keadaan dari proses pengolahannya mengharuskan untuk menempatkan pabriknya berdekatan dengan sumber bahan baku. 4. Aglomerasi, Keterkaitan Antar Industri, dan Penghematan Ekstern Aglomerasi adalah pengelompokkan beberapa perusahaan dalam suatu daerah atau wilayah sehingga membentuk daerah khusus industri. Beberapa sebab yang memicu terjadinya aglomerasi antara lain: ● Tenaga kerja tersedia banyak dan banyak yang memiliki kemampuan dan keahlian yang lebih baik dibanding di luar daerah tersebut. ● Suatu perusahaan menjadi daya tarik bagi perusahaan lain. ● Berkembangnya suatu perusahaan dari kecil menjadi besar sehingga menimbulkan perusahaan lain untuk menunjang perusahaan yang membesar tersebut. ● Perpindahan suatu kegiatan produksi dari satu tempat ke beberapa tempat lain. ● Perusahaan lain mendekati sumber bahan untuk aktivitas produksi yang dihasilkan oleh perusahaan yang sudah ada untuk saling menunjang satu sama lain. 5. Kebijakan Pemerintah Kebijakan
pemerintah terkait dengan kawasan industri, kawasan berikat, kawasan ekonomi khusus (KEK), kawasan perdagangan bebas (FTZ). Menurut Sigit (1987), faktor-faktor yang digunakan sebagai dasar pertimbangan penentuan lokasi industri, antara lain: 1. Pasar Masalah pasar tidak boleh diabaikan sama sekali karena sangat berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas barang yang diperlukan oleh pasar dan kekuatan daya beli masyarakat akan jenis barang yang diproduksi. 2. Bahan Baku Bahan baku sangat erat kaitannya dengan faktor biaya produksi. Lokasi
ditentukan oleh faktor transportasi yang menghubungkan lokasi dengan pasar, lokasi dengan bahan baku, dan lokasi dengan tenaga kerja. 5. Pelayanan Bisnis Faktor-faktor sumber tenaga, listrik, air, keadaan iklim, juga fasilitas komunikasi, perbankan, dan pelayanan teknis seperti reparasi juga perlu dipertimbangkan dalam penentuan lokasi. 6. Inducement Inducement ini seperti pemberian insentif dan disinsentif. 7. Sifat Perusahaan Sifat perusahaan seperti perusahaan yang menghasilkan barang mudah meledak dan polutan yang berbahaya. 8.
Kemungkinan Lain Kemungkinan lain disini maksudnya seperti bahaya alam seperti banjir, tanah longsor, dan bahaya sosial misalnya tantangan masyarakat. Sedangkan menurut Greenhut, faktor-faktor penentu lokasi industri, antara lain: 1. Biaya lokasi, meliputi biaya angkutan, tenaga, dan pengelolaan Greenhut berpendapat bahwa biaya angkutan merupakan faktor yang penting dalam produksi. Apabila berat bahan baku lebih berat dari hasil akhir atau bahan baku bersifat cepat rusak maka lokasi akan berorientasi ke bahan baku. Oleh karena itu, perlu dibedakan dari biaya lain. 2. Faktor lokasi yang berhubungan dengan permintaan, yaitu ketergantungan lokasi dan usaha untuk menguasai pasar Bila elastisitas harga permintaan tak terhingga perusahaan cenderung berlokasi di tempat konsumen. Hal ini disebabkan karena kenaikan biaya angkutan akan menurunkan permintaan yang besar. Jadi, makin elastisitas permintaan makin cenderung perusahaan mendekati konsumen, perusahaan makin tersebar. Biaya angkutan yang tinggi juga akan mendorong lokasi perusahaan tersebar dan mendekati konsumen. Greenhut membedakan antara oligopoli yang terorganisasi dan yang tidak. Oligopoli yang tidak terorganisasi cenderung menghindari persaingan dan mencari pasar yang aman dengan menjauhi satu sama lain sehingga lokasinya lebih tersebar. Oligopoli yang terorganisasi biasanya bekerja sama dalam berbagai kebijakan sehingga penyebaran tidak lagi merupakan masalah. 3. Faktor yang menurunkan biaya Faktor yang menurunkan biaya mencakup external economies yang disebabkan oleh aglomerasi. Gejala ini dapat terjadi di kawasan industri. Pada awalnya
perusahaan yang berlokasi di kawasan dapat memanfaatkan berbagai fasilitas yang ada, seperti saluran pembuangan limbah, gardu listrik, telepon, dan lain sebagainya. Pada perkembangan selanjutnya penghematan ini cenderung meningkat karena ada banyak perusahaan yang berlokasi di tempat itu seperti bank, restoran, juga dari segi perizinan, dan lain sebagainya. 4. Faktor yang meningkatkan pendapatan Kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Semarang mempunyai penduduk yang banyak dan beragam serta didukung oleh pendapatan berkapita yang lebih tinggi dari daerah lain. Hal ini mendorong timbulnya berbagai permintaan barang sehingga merupakan kesempatan bagi perusahaan untuk memperoleh keuntungan.
Kesempatan ini tidak mungkin diberikan oleh kota kecil seperti Bangil, Ungaran, dan lain sebagainya. Gejala ini yang disebut unsur-unsur yang berkenaan dengan peningkatan pendapatan yang merupakan agglomeration economies dan berlaku umum bagi perusahaan manapun. 5. Faktor pribadi yang berpengaruh terhadap penurunan biaya dan peningkatan pendapatan Hubungan pribadi memberikan peluang yang tidak kecil terhadap peningkatan pendapatan. 6. Pertimbangan pribadi Kadang pertimbangan pribadi tampak bertentangan dengan tingkah laku mengejar keuntungan. Misalnya lokasi pabrik kretek Gudang Garam di Kediri. Di Kediri tidak terdapat tembakau, jadi lokasi tidak berorientasi pada bahan baku. Tenaga pada waktu berdiri juga tidak lebih banyak dan lebih terampil dibandingkan dengan di Blitar, jadi tidak berorientasi pada tenaga. Begitu juga dengan pasar, tidak lebih dari satu persen yang dikonsumsi di Kediri. Lokasi pabrik itu mempunyai arti tersendiri bagi pemiliknya. Oleh karena itu pemiliknya bersedia membayar harga sebagai inputed cost. Gejala demikian tidak sedikit
tenaga kerja di pabrik tersebut sebagian besar berasal dari luar Kediri. Saat ini pabrik tersebut telah labor oriented localized. Kawasan industri SIER tidak serta merta berdiri begitu saja. Tentunya, pihak pengembang dalam hal ini pemerintah memiliki alasan dalam mengembangkan kawasan industri SIER. Adapun faktor-faktor penentu kawasan industri SIER diantaranya yaitu: a. Faktor aksesibilitas; aksesibilitas lokasi kawasan industri SIER sangat tinggi. Hal ini
dikarenakan kawasan Rungkut dekat dengan jalan arteri Ahmad Yani Surabaya sehingga memudahkan distribusi industri SIER ke pasar. b. Merupakan kawasan yang strategis. Hal ini didukung dengan terealisaisinya jalan tol lingkar timur yang menyebabkan perkembangan industri di SIER sangat strategis. Adanya tol lingkar timur ini menyebabkan aksesibiltas yang tinggi, sehingga meminimumkan biaya pengangkutan bahan baku. Selain itu, adanya tol ini secara tidak langsung membuat sektor industri khusunya di SIER berkembang pesat dan berkontribusi untuk mengembangkan perekonomian di Kota Surabaya. c. Faktor ketersediaan fasilitas dan utilitas; beragam fasilitas dan utilitas telah tersedia seperti listrik, pengolahan limbah, air bersih PDAM, tempat ibadah, lapangan olah raga. d. Faktor endownment berupa kondisi fisik lahan; wilayah studi merupakan dataran rendah dengan ketinggian antara 2-4 m dari permukaan air laut dengan kemiringan antara 0-8%, sehingga berpotensi untuk pengembangan pembangunan fisik secara merata dengan biaya pembangunan yang relatif murah karena tidak memerlukan pengerukan tanah. e. Memiliki nilai lahan yang tinggi; suatu kawasan yang memiliki nilai lahan yang tinggi akan sangat menguntungkan pemerintah daerah tersebut karena apabila suatu kawasan yang memiliki nilai lahan yang tinggi tidak menutup kemungkinan
peminat dari lahan tersebut akan banyak dengan pertimbangan dari masing-masing peminatnya. Hal ini dapat memberikan income kepada pemerintah setempat yang lebih tinggi. Kawasan Industri SIER memiliki karakteristik dari penjabaran diatas, terlebih dengan adanya jalan tol lingkar timur. f. Sesuai dengan RTRW Kota Surabaya 2013, Kawasan Rungkut di Surabaya Timur ditetapkan sebagai kawasan industri. g. Tersedianya akses angkutan umum yang melewati kawasan ini seperti lyn JTK2, H4W, U, dan H4J. h. Tenaga kerja semi skilled atau female labour yang mudah didapat i. Menghindari pajak yang besar dibandingkan berada di dalam kota j. Keberadaan tenaga kerja relatif tinggal berdekatan dengan lokasi industri k. Masalah lingkungan relatif lebih mudah diatasi karena populasi penduduk yang lebih sedikit 3.3 Implikasi Teori Lokasi Industri Terhadap Penentuan Lokasi Industri Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) Berdasarkan penjabaran dalam bab sebelumnya dijelaskan mengenai 2 teori, yaitu teori yang menjabarkan mengenai konsep dasar teori lokasi industri serta teori yang menjelaskan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi peletakan lokasi industri yang akan dikaitkan dengan kondisi eksisting lokasi industri di kawasan SIER. Teori yang sesuai untuk dijadikan landasan bagi peletakan kawasan industri di SIER adalah teori lokasi industri yang dikemukakan oleh Weber. Hal ini dapat dilihat dari penjabaran mengenai teori lokasi industri yang dikemukakan oleh Weber (1929) bahwa: "Lokasi setiap industri tergantung pada total biaya transportasi dan tenaga kerja, dimana penjumlahan keduanya harus minimum. Tempat dimana total biaya transportasi dan tenaga kerja yang minimum adalah identik dengan tingkat
keuntungan yang maksimum." Dalam studi kasus kawasan industri SIER, terlihat bahwa faktor utama yang menjadi pendorong dikembangkannya kawasan industri di daerah ini adalah aksesibilitas kawasan SIER yang tinggi untuk pasar dikarenakan terealisasinya jalan tol lingkar timur. Adanya jalan tol lingkar timur ini dapat membantu dalam pengangkutan bahan baku, sehingga dapat meminimumkan biaya pengangkutan. Selain itu, tersedianya permukiman buruh yang letaknya dekat dengan lokasi industri dapat meminimalisasi biaya tenaga kerja.
pada teori lokasi industri yang dikemukakan oleh Weber, dimana teori ini berprinsip pada penggunaan biaya minimum. Pada teori selanjutnya, yakni mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi peletakan lokasi industri, teori-teori yang dikemukakan oleh beberapa pakar menjadi landasan dalam penentuan kebijakan peletakan suatu kawasan industri yang baik. Faktor peletakan kawasan industri di kompleks SIER sendiri memperlihatkan kecenderungannya pada suatu teori. Penjabaran mengenai implikasi teori mengenai faktor yang mempengaruhi peletakan lokasi industri yang dikaitkan dengan kondisi eksisting lokasi industri di kawasan SIER dapat dilihat pada tabel berikut. Pakar Faktor Pasar Bahan Baku Tenaga Kerja Transportasi Infrastruktur Aglomerasi Kebijakan Weber √ √ √ Losch √ √ Christaller √ √ Greenhut √ √ √ √ √ √ Isard √ √ √ Smith √ √ √ Djojodipuro √ √ √ √ √ √ Sigit √ √ √ √ √ Sumber: Hasil Analisa, 2012 Dari tabel diatas dapat terlihat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi peletakan lokasi industri di kawasan SIER lebih cenderung pada teori yang dikemukakan oleh Melvin Greenhut.
Keseluruhan faktor-faktor yang mempengaruhi peletakan lokasi industri di kawasan SIER baik dari pasar, bahan baku, upah tenaga kerja, transportasi, infrastruktur serta aglomerasi masuk ke dalam teori yang dikemukaan oleh Greenhut. Prinsip teori Greenhut adalah menyatukan teori lokasi biaya minimum dan teori ketergantungan lokasi. Teori lokasi ini mengedepankan
banyaknya permintaan sehingga dapat menekan biaya angkutan. Seperti yang dijelaskan pada sebelumnya, bahwa aksesibilitas kawasan SIER yang tinggi menjadi acuan dalam penentuan lokasi industri di kawasan ini karena terdapat pembangunan jalan tol lingkar timur yang melewati wilayah ini, sehingga meminimumkan biaya pengangkutan bahan baku. Dalam memenuhi kegiatan perindustrian di SIER, tenaga kerja mudah didapat dikarenakan mayoritas dari mereka tinggal berdekatan dengan lokasi industri (adanya permukiman buruh di sekitar SIER). Selain itu, infrastruktur yang ada di kawasan industri SIER telas tersedia dengan lengkap mengingat kawasan ini berdasarkan RTRW Kota Surabaya 2013 memang diperuntukkan sebagai kawasan industri yang pada nantinya pengembangan kawasan ini diharapkan dapat memberikan
DAFTAR PUSTAKA
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Penentuan Lokasi Pabrik
By Budi Wahyono On 2:22 AM
Pemilihan lokasi pabrik
membutuhkan pertimbangan yang hati-hati. Di saat manajemen telah memutuskan untuk beroperasi di satu lokasi tertentu, banyak biaya menjadi tetap dan sulit untuk dikurangi. Keputusan lokasi sering bergantung pada tipe bisnis.Untuk keputusan lokasi industri, strategi yang digunakan biasanya adalah strategi untuk meminmalkan biaya, sedang untuk bisnis eceran dan jasa professional, strategi yang digunakan terfokus pada memaksimalkan pendapatan. Walaupun demikian, strategi pemilihan gudang ditentukan oleh kombinasi antara biaya dan kecepatan pengiriman. Secara umum, tujuan strategi lokasi adalah untuk memaksimalkan keuntungan lokasi bagi perusahaan.
Pilihan-pilihan yang ada dalam lokasi meliputi:
1.
Tidak pindah, tetapi meluaskan fasilitas yang ada2.
Mempertahankan lokasi sekarang, selagi menambah fasilitas lain dii tempat lain3.
Menutup fasilitas yang ada dan pindah ke lokasi lain.Pemilihan lokasi pabrik dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor ini pada prakteknya berbeda penerapannya bagi satu pabrik dengan pabrik yang lain, sesuai dengan produk yang dihasilkan. Faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi dilihat dari sisi produk yang dihasilkan adalah sebagai berikut:
1.
Faktor primer, yaitu faktor yang harus dipenuhi, bila tidak, maka operasi tidak dapatberjalan sebagaimana mestinya.2.
Faktor sekunder, yaitu faktor yang sebaiknya ada, bila tidak operasi masih dapatdiatasi dengan biaya lebih mahal.Macam faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi pabrik adalah sebagai berikut:
selera konsumen, mengurangi resikokerusakan dalam pengangkutan, apabila barang yang diproduksi tidak tahan lama,biaya angkut mahal, khususnya untuk produksi jasa.
2.
Sumber bahan baku, yaitu penempatan pabrik di dekat dengan daerah bahan baku.Dasar pertimbangan yang diambil adalah apabila bahan baku yang dipakai mengalamipenyusutan berat dan volume, bahan baku mudah rasak dan berubah kualitas, resikokekurangan bahan baku tinggi.3.
Sumber tenaga kerja, alternatif yang dipakai adalah apakah tenaga kerja yangdibutuhkan unskill, dengan pertimbangan tingkat upah rendah, budaya hidup sederhana, mobiiitas tingp sehingga jumlah gaji dianggap sebagai daya tarik, ataukahtenaga kerja skill, apabila pemsahaan membutuhkan fasilifeas yang lebih baik, adanyapemikiran masa depan yang cerah, dibutuhkan keahlian, dan kemudahan untukmencari pekerjaan lain.4.
Air, disesuaikan dengan produk yang dihasilkan apakah membutuhkan air yang jernihalami, jernih tidak alami, atau sembarang air.5.
Suhu udara, faktor ini mempengaruhi kelancaran proses dan kualitas hasil operasi.6.
Listrik, disesuaikan dengan produk yang dihasilkan kapasitas tegangan yangdibutuhkan.7.
Transportasi, berupa angkutan udara, laut, sungai, kereta api, dan angkutan jalan raya.8.
Lingkungan, masyarakat, dan sikap yang muncul apabila didirikan pabrik di dekattempat tinggal mereka, apakah menerima atau tidak.9.
Peraturan Pemerintah, Undang-undang dan sistem pajak. Aspek umum yang diaturundang-undang adalah jam kerja maksimum, upah minimum, usia kerja minimum, dankondisi lingkungan kerja.10.
Pebuangan limbah industri, kaitannya dengan tingkat pencemaran, sistem pembuangan limbah untuk perlindungan terhadap alam sekitar dan menjaga keseimbangan habitat.11.
Fasilitas untuk pabrik, berupa spare part, mesin-mesin, untuk menekan biaya.Seiring dengan adanya globalisasi, maka pemilihan lokasi menjadi semakin rumit. Globalisasi terjadi karena:
1.
Ekonomi pasar2.
Komunikasi internasional yang lebih baik3.
Perjalanan dan pengiriman yang lebih cepat dan dapat diandalkan4.
Kemudahan perpindahan arus modal antar Negara5.
Diferensiasi biaya tenaga kerja yang tinggi.Suatu pendekatan untuk memilih lokasi di sebuah Negara adalah dengan mengidentifikasi apa yang diyakini oleh organisasi pusat sebagai factor penunjang keberhasilan (critical success factor-CSFs) yang diperlukan untuk mencapai keunggulan bersaing. Beberapa pertimbangan dan faktor yang mempengaruhi keputusan lokasi digambarkan sebagai berikut:
Pentingnya pemilihan lokasi pabrik adalah untuk menentukan keberhasilan perusahaan hubungannya dengan biaya operasi, harga jual, serta kemampuan perusahaan untuk. bersaing di pasar. Alternatif pemilihan lokasi adalah pertimbangan biaya yang dikeiuarkan dibandingkan dengan tingkat keuntungan yang diperoleh. Alternatif pemilihan lokasi tersebut apakah didirikan pabrik baru, ekspansi, ataukah relokasi bagi pabrik yang sudah ada.
pendatang baru. Alternatif pemilihan relokasi apabila pabrik lama sudah tidak memenuhi standard yang diharapkan, dan alternatif. pemilihan ekspansi didasarkan alasan bahwa fasilitas produksi dirasa sudah ketinggalan, permintaan pasar tumbuh dan berkembang lebih besar daripada kapasitas produksi yang dimiliki, serta apabila fasilitas pendukung (faktor-faktor produksi)
tak lagi mencukupi.
Sumber:
Penentuan Lokasi Pabrik (Plant Location)
PENENTUAN LOKASI SUATU PABRIK (PLANT LOCATION)
Lokasi akan mempengaruhi kedudukan perusahaan dalam persaingan dan menentukan kelangsungan hidup perusahaan tersebut. Tujuan penentuan lokasi suatu perusahaan/pabrik dengan tepat ialah untuk dapat membantu perusahaan/pabrik beroperasi atau berproduksi dengan lancar, efektif dan efisien.
Pilihan-pilihan lokasi mencakup :
tidak pindah, tapi memperluas fasilitas yang ada
mempertahankan lokasi yang sekarang tetapi menambahkan fasilitas lain di lokasi yang berbeda
menutup fasilitas yang sekarang dan pindah ke lokasi lain
Sering terdapat perbedaan dalam pemilihan lokasi. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan kebutuhan masing-masing perusahaan. Lokasi yang baik adalah persoalan yang individual. Hal ini sering disebut pendekatan ”situasional” atau ”contingenty” untuk pembuatan keputusan.
Dengan adanya penentuan lokasi suatu perusahaan/pabrik yang tepat atau baik akan menentukan:
kemampuan melayani konsumen dengan memuaskan.
mendapatkan bahan-bahan mentah yang cukup dan kontinue dengan harga yang layak/memuaskan.
mendapatkan tenaga buruh yang cukup.
memungkinkan diadakannya perluasan pabrik di kemudian hari.
Masalah-masalah yang mungkin timbul di kemudian hari disebabkan:
a) karena berubahnya adat kebiasaan masyarakat
b) dengan berpindahnya pusat-pusat penduduk dan perdagangan
c) adanya jaringan komunikasi dan pengangkutan yang lebih baik.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENENTUAN LOKASI SUATU PERUSAHAAN/PABRIK
Memilih lokasi menjadi lebih rumit dengan adanya globalisasi tempat kerja. Globalisasi terjadi karena perkembangan dari hal-hal berikut :
ekonomi pasar
perjalanan (udara, laut, darat) dan pengangkutan barang yang lebih cepat serta lebih dapat diandalkan
semakin mudahnya arus kas antarnegara
perbedaan biaya tenaga kerja yang tinggi
Beberapa pertimbangan dan faktor yang mempengaruhi keputusan lokasi :
Keputusan Negara
peraturan, sikap, stabilitas, dan rangsangan pemerintah
isu-isu budaya dan ekonomi
lokasi pasar
ketersediaan tenaga kerja, sikap, produktivitas, dan biaya
ketersediaan pasokan, komunikasi dan energi
tingkat kurs valuta asing
Keputusan Negara/masyarakat
keinginan perusahaan
segi-segi yang menarik dari daerah itu
ketersediaan tenaga kerja, biaya, sikap terhadap serikat tenaga kerja
biaya dan ketersediaan utilities
peratuarn lingkungan hidup daerah dan nasional
rangsangan dari pemerintah
jarak relatif antara bahan baku dengan konsumen
biaya tanah pembangunan fasilitas
Keputusan lokal
ukuran dan biaya lokasi
sistem transportasi udara, kereta, laut dan jalan bebas hambatan
pembatasan penetapan zona
dekat tidaknya jasa/pasokan yang dibutuhkan
isu-isu dampak lingkungan
Tujuan manufacturing organization adalah:
2. Tujuan Sekunder (Secondary Objective), dan
3. Tujuan Tambahan (Collateral objective).
Tujuan Utama: Tujuan ini meliputi produksi dan distribusi dari nilai-nilai yang dikonsumsi menurut macam dan kualitas, serta menurut waktu dan tempat yang dibutuhkan pada tingkat harga yang bersedia dibayar oleh konsumen, dan dengan biaya yang akan memberika profit yang layak (reasonable) bagi perusahaan.
Tujuan Sekunder: Yaitu untuk menghasilkan nilai-nilai yang dibutuhkan organisasi/perusahaan dalam melaksanakan pekerjaanny guna mencapai tujuan pertama di atas.
Tujuan Tambahan: Yaitu menghasilkan nilai-nilai yang diberikan perusahaan kepada individu, kelompok/group dalam organisasi, selain dari konsumen, misalnya upah buruh, gaji direktur, laba perusahaan, dan sebagainya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam penentuan lokasi suatu perusahaan/pabrik dibagi dalam 2 bagian, yaitu:
1. faktor-faktor utama/primer (Primary factors)
2. faktor-faktor sekunder (Secondary factors)
a. Faktor-faktor Utama
Faktor-faktor yang termasuk dalam faktor utama yang perlu di perhatikan dalam penentuan lokasi suatu perusahaan/pabrik adalah:
Letak dari pasar
Alasan utama perusahaan mendirikan pabriknya dekat dengan daerah pasaran hasil produksinya agar dapat cepat melayani konsumen atau barang hasil produksinya maka pelayanan kepada konsumen akan menjadi lebih cepat.
Letak dari sumber-sumber bahan mentah
Perusahaan/pabrik yang berkecenderungan untuk meletakkan pabriknya di daerah yang dekat dengan sumber bahan mentahnya, didasarkan atas pertimbangan biaya pengangkutan ke pabrik adalah besar/mahal karena volume dan berat serta jarak bila jarak pabrik adalah agak jauh.
Terdapatnya fasilitas pengangkutan
Untuk melaksanakan kegiatan pengangkutan ada empat jenis fasilitas yang sering digunakan, yaitu :
Kereta api
Truk/angkutan jalan raya
Pengangkutan melalui udara
Sebaiknya pabrik didirikan di daerah yang mempunyai fasilitas pengangkutan seperti terdapatnya jalan-jalan kendaraan ke pabrik tersebut, dekat dengan stasiun kereta api ataupun pelabuhan sehingga pabrik itu mudah dihubungi, bahan2 mudah diangkut ke pabrik serta barang-barang hasil dapat mudah diangkut ke pasar atau disampaikan kepada para pemesan.
Supply dari buruh atau tenaga kerja yang tersedia
Pimpinan perusahaan hendaknya berusaha mencari tempat untuk lokasi bagi perusahaan/pabriknya di daerah yang tersedia cukup banyak yenaga kerja dan kualitas serta skillnya tinggi.
Jadi pemilihan suatu daerah untuk tempat lokasi suatu perusahaan/pabrik ditentukan oleh :
Adanya skill buruh yang ditentukan, sesuai dengan komposisi yang dibutuhkan.
Terdapatnya kualitas yang cukup dari buruh yang diperlukan.
Besar kecilnya atau tinggi rendahnya tingkat upah di daerah-daerah itu.
Terdapatnya pembangkit tenaga listrik
pabrik yang membutuhkan tenaga listrik yang besar akanmemilih lokasinya di daerah yang
mempunyai atau di dekat sumber listrik, karena di daerah ini biaya tenaga listrik tidak begitu besar.
b. Faktor-faktor sekunder
faktor-faktor sekunder ini antara lain adalah :
1. rencana masa depan
2. biaya dari tanah dan gedung
3. kemungkinan perluasan
4. terdapatnya fasilitas service
5. terdapatnya fasilitas pembelanjaan
6. water supply
7. tinggi rendahnya pajak dan undang-undang perburuhan
8. masyarakat di daerah itu
9. iklim
11. perumahan yang ada dan fasilitas-fasilitas lainnya
SUBURBAN AREA
Yang dimaksud suburban disini adalah daerah pinggiran kota besar atau kota-kota kecil yang ada di dekat kota besar.
Alasan perusahaan memilih daerah suburban ini sebagai daerah lokasi pabriknya adalah karena keuntungan-keuntungan berikut ini :
upah buruh relatif lebih murah
letaknya relatif dekat dengan pasar daripada daerah-daerah luar kota
harga tanah relatif lebih murah daripada di kota-kota besar dan tanah yang luas banyaknya tersedia untuk kemungkinan perluasan
banyak mempunyai hubungan transportasi ke kota-kota besar sebagai pasar untuk barang-barang yang dihasilkannya
dekat dengan service industries yang umumnya banyak terdapat di kota-kota besar
tidak perlu membangun atau mendirikan pembangkit tenaga listrik sendiri karena listrik kota besar biasanya dapat dengan mudah mencapai daerah ini.
pajak-pajak pada umumnya lebih rendah daripada kota-kota besar
biaya-biaya gedung/bangunan biasanya lebih murah/rendah
adanya persediaan tenaga kerja yang besar dibandingkan dengan daerah-daerah yang jauh di luar kota
hanya sedikit waktu dan usaha yang dikeluarkan untuk pergi dan pulng dari pekerjaan
sedikitnya pembolosan karena kesempatan kerja disini kurang
adanya labor relation yang lebih akrab
TAHAP-TAHAP YANG DAPAT DILAKUKAN DALAM MEMILIH LOKASI SUATU PABRIK
Tahap pertama: melihat kemungkinan daerah mana yang dapat ditentukan sebagai daerah-daerah alternative.
Tahap kedua: melihat pengalaman orang lain atau pengalaman kita sendiri dalam menentukan lokasi pabrik.
METODE PENILAIAN PLANT SITE
Di dalam pemilihan suatu plant site tertentu ada beberapa metode analisis, antara lain :
metode penilaian hasil values
metode cost comparison
economic analysis
METODE EVALUASI ALTERNATIF LOKASI
Metode Pemeringkatan Faktor
Keenam tahapannya adalah :
mengembangkan daftar-daftar faktor terkait
menetapkan bobot pada setiap faktor
mengembangkan suatu skala untuk setiap faktor
meminta manajer menentukan skor untuk setiap faktor
mengalikan faktor tersebut dengan bobot setiap faktor, dan menentukan jumlah total
membuat rekomendasi yang didasarkan pada skor laba maksimal
Analisis titik impas lokasi
Ketiga tahapannya adalah :
Tentukan biaya tetap dan biaya variabel untuk tiap lokasi
Plot biaya untuk setiap lokasi
Pilih lokasi yang biaya totalnya paling rendah
Metode Pusat Gravitasi
Metode pusat gravitasi merupakan teknik matematika dalam menemukan lokasi pusat distribusi yang akan meminimalisasi biaya distribusi. Dalam menemukan lokasi yang terbaik untuk menjadi pusat distribusi, metode ini memperhitungkan lokasi pasar, volume barang yang dikirim ke pasar itu, dan biaya pengangkutan.
Model Transportasi
Analisis biaya
Konsep biaya tetap dan biaya variabel dapat membantu dalam penentuan lokasi. Kombinasi biaya tetap dan biaya variabel bagi lokasi yang berbeda-beda dapat menciptakan persamaan biaya yang menunjukkan hubungan antara biaya danvolume produksi, yang berlaku bagi masing-masing lokasi.
Metoda transportasi
Metoda transportasi adalah suatu teknik riset operasi (operation research) yang dapat sangat membantu dalam pembuatan keputusan-keputusan lokasi pabrik atau gudang. Metoda ini terutama digunakan bila perusahaan yang mempunyai beberapa pabrik dan beberapa gudang bermaksud menambah kapasitas satu pabriknya atau realokasi pelayanan dari setiap pabrik serta penambahan pabrik atau gudang baru.
Metoda Grid