• Tidak ada hasil yang ditemukan

TA : Pembuatan Film Pendek Bergenre Drama Keluarga Berjudul "Secuil Daging Untuk Keluargaku".

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "TA : Pembuatan Film Pendek Bergenre Drama Keluarga Berjudul "Secuil Daging Untuk Keluargaku"."

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

“SECUIL DAGING UNTUK KELUARGAKU”

TUGAS AKHIR

Nama : Dimas Pradipta NIM : 08.51016.0087

Program Studi : DIV Komputer Multimedia SEKOLAH TINGGI

MANAJEMEN INFORMATIKA & KOMPUTER SURABAYA

2013

STIKOM

(2)

xi

Dimas Pradipta (2008)

Program Studi DIV Komputer Multimedia, STIKOM

Kata Kunci: Film Pendek, Realita Sosial, Kemiskinan.

Potret kemiskinan sering kali diabadikan dalam sebuah frame, baik fotografi maupun ke dalam sebuah film. Namun gambar film lebih memiliki soul untuk menyampaikan ke masyarakat tentang sebuah kehidupan kemiskinan tanpa terpotong-potong. Film ini menggunakan jenis film pendek yang nantinya akan di kemas sederhana dengan di beri pesan-pesan moral di dalamnya. Mengangkat realita sosial kehidupan masyarakat miskin diharapkan film ini mampu memberikan cerita yang menarik untuk di tonton. Dengan menggunakan metode penelitian secara kualitatif di mana penelitian kualitatif merujuk pada penalaran baik secara tekstual maupun secara visual, instrument yang digunakan berupa instrument dokumentasi langsung ke lapangan agar mempermudah pengamatan. Berdasarkan ide awal tersebut, akan berkembang menjadi sebuah cerita yang menjadi klimaks dengan alur-alur yang diharapkan dapat menyampaikan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Film pendek ini berdurasi sekitar kurang lebih 20 menit dan memakai alur cerita hanya berkisah dalam satu hari. Film pendek ini berkisah tentang sepasang suami istri yang hidup dalam kemiskinan, sang suami akan selalu berusaha untuk membahagiakan istrinya walaupun dengan segala keterbatasan.

STIKOM

(3)

xii

KATA PENGANTAR ... ix

ABSTRAK ... xi

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR TABEL ... xvii

DAFTAR LAMPIRAN ... xviii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 4

1.3 Batasan Masalah ... 4

1.4 Tujuan ... 5

1.5 Manfaat ... 5

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Kelas Sosial ... 6

2.2 Realitas Sosial ... 7

2.3 Pengertian Kemiskinan ... 9

2.4 Sejarah Film ... 11

2.5 Pengertian Film ... 12

2.6 Film Pendek (Short Movie) ... 14

2.7 Mekanisme Produksi Karya Film ... 14

2.8 Proses Pembuatan Film ... 15

STIKOM

(4)

xiii

3.3.1 Pengamatan/Observasi ... 23

3.3.2 Wawancara ... 24

3.3.3 Dokumentasi ... 25

3.3.4 Studi Literatur ... 28

3.3.5 Studi Eksisting ... 29

3.4 Perancangan Karya ... 35

3.5 Pencarian Keyword ... 37

3.6 Pra Produksi ... 38

3.6.1 Ide dan Konsep Cerita ... 38

3.6.2 Sinopsis ... 39

3.7 Produksi ... 40

3.8 Publikasi ... 41

BAB IV IMPLEMENTASI KARYA 4.1 Pra-produksi ... 44

4.2 Produksi ... 48

4.3 Pasca produksi ... 50

1. Proses pemilihan video ... 50

2. Proses Penataan Stock Shoot ... 51

3. Proses Colour Grading effect ... 52

4. Sound Editing ... 53

5. Rendering ... 55

6. Mastering ... 55

7. Publikasi ... 56

STIKOM

(5)

xiv

DAFTAR PUSTAKA ... 60

BIODATA PENULIS ... 61

LAMPIRAN ... 62

STIKOM

(6)

1

1.1 Latar Belakang Masalah

Di Indonesia, masalah kemiskinan merupakan salah satu persoalan mendasar

yang menjadi pusat perhatian pemerintah. Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi

ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat

berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh

kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap

pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang

memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya

melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari

sudut ilmiah yang telah mapan

(http://pkesinteraktif.com/edukasi/opini/2396-mengatasi-kemiskinan.html).

Kemiskinan menurut Soerjono Soekanto dalam bukunya Sosiologi: suatu

Pengantar, Rajawali Press (Soekanto, 1982: 10) kemiskinan diartikan sebagai suatu

keadaan dimana seseorang tidak sanggup memelihara dirinya sendiri sesuai dengan

taraf kehidupan kelompok dan juga tidak mampu memanfaatkan tenaga mental,

maupun fisiknya dalam kelompok tersebut. Jadi bisa disimpulkan dari kutipan di atas

bahwa kemiskinan bukan hal baru, kemiskinan adalah hal umum yang menyangkut

masalah ekonomi, agama, sosial, politik, dan paham-paham lainnya. Kemiskinan

STIKOM

(7)

tidak memandang usia, mulai dari balita, remaja, orang dewasa dan orang tua.

Kemiskinan terjadi dimana-mana, di kota, di desa, dan di negara seluruh dunia.

Dampak kemiskinan begitu bervariasi karena kondisi dan penyebab yang

berbeda memunculkan akibat yang berbeda juga. Di dalam artikel yang ditulis oleh

Martin Jatinangor, Kemiskinan Ladang Pemurtadan, dalam rubrik Fakta

(www.swaramuslim.com) Kriminalitas merupakan dampak lain dari kemiskinan.

Kesulitan mencari nafkah mengakibatkan orang lupa diri sehingga mencari jalan

cepat tanpa memperdulikan halal atau haramnya uang sebagai alat tukar guna

memenuhi kebutuhan mereka. Misalnya saja perampokan, penodongan, pencurian,

penipuan, pembegalan, penjambretan dan masih banyak lagi contoh kriminalitas yang

bersumber dari kemiskinan. Mereka melakukan itu semua karena kondisi yang sulit

mencari penghasilan untuk keberlangsungan hidup dan lupa akan nilai-nilai yang

berhubungan dengan Tuhan. Di era global dan materialisme seperti sekarang ini tak

heran jika kriminalitas terjadi dimanapun.

Dunia film di Indonesia sekarang ini banyak sekali mengalami kemajuan dan

perkembangan dengan banyaknya film-film di Indonesia. Hal tersebut didukung

dengan berkembangnya teknologi yang sekarang ini dapat memudahkan manusia

untuk mencurahkan hasil karya mereka dalam dunia hiburan sekarang ini.

Perkembangan dunia hiburan perfilman sekarang ini merupakan salah satu dampak

utama meningkatnya kebutuhan manusia akan dunia hiburan saat ini dengan melalui

sebuah media elektronik.

STIKOM

(8)

Perkembangan film independent di Indonesia, disebut sebagai film pendek.

Menurut Gotot Prakosa dalam bukunya Film Pinggiran (Gotot Prakosa, 1997) film

pendek merupakan film yang berdurasi singkat, tetapi dengan singkatnya waktu

tersebut para pembuat film semestinya bisa lebih selektif mengungkapkan

materi-materi yang ditampilkan. Dengan demikian, setiap shot akan memiliki makna yang

cukup besar untuk ditafsirkan oleh penontonnnya. Ketika pembuat film terjebak ingin

mengungkapkan cerita saja, film pendek seperti ini akan menjadi film panjang yang

dipendekkan karena hanya terikat oleh waktu yang singkat.

Dengan berlatar belakang kehidupan sosial dan para sineas muda Indonesia

juga mampu membuat film independent. Pembuatan film dengan tema-tema sosial

maupun budaya bisa menjadi tema dari film independent, hal ini yang mendorong

penulis untuk membuat film dengan tema kehidupan sosial. Dengan mengangkat

kehidupan keluarga kecil yang hidup serba keterbatasan, dan mampu memberi

paradigma (pola pikir) kepada masyarakat terhadap kemiskinan tidak dari segi negatif

saja. Berdasarkan ide awal tersebut, akan berkembang menjadi sebuah cerita yang

menjadi klimaks dengan alur-alur yang diharapkan dapat menyampaian pesan-pesan

yang terkandung di dalamnya seperti kebahagiaan, tanggung jawab, kejujuran, dan

keikhlasan dalam lingkungan keluarga tak mampu sekalipun.

STIKOM

(9)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, yang menjadi pokok

permasalahan antara lain:

1. Bagaimana membuat film pendek bergenre drama keluarga dengan latar

belakang kehidupan sosial masyarakat miskin?.

2. Bagaimana membuat suatu film berlatar belakang kemiskinan dengan penjiwaan

pada pemeran untuk menyampaikan pesan rasa syukur?.

3. Bagaimana mengaplikasikan sebuah ide cerita ke dalam audio visual dengan

teknik liveshot menggunakan kamera DSLR?.

1.3 Batasan Masalah

Berdasarkan perumusan masalah di atas agar permasalahan tidak menyimpang,

maka batasan masalah yang akan dikerjakan antara lain:

1. Membuat film pendek bergenre drama keluarga dengan latar belakang kehidupan

sosial masyarakat kecil.

2. Membuat suatu film berlatar belakang kemiskinan dengan penjiwaan pada

pemeran untuk menyampaikan pesan rasa syukur.

3. Mengaplikasikan sebuah ide cerita ke dalam audio visual dengan menggunakan

kamera DSLR dengan teknik liveshot.

STIKOM

(10)

1.4 Tujuan

Tujuan pembuatan film pendek ini adalah sebagai berikut:

1. Memproduksi sebuah film pendek berjenis drama keluarga dengan latar belakang

kehidupan sosial masyarakat kecil.

2. Mengangkat sebuah realita yang ada di kehidupan jaman saat ini.

3. Menumbuhkan apresiasi masyarakat terhadap film pendek di Indonesia.

1.5 Manfaat

Manfaat yang ingin dicapai adalah sebagai berikut:

1. Dapat mengetahui proses pembuatan suatu film, terutama film pendek bergenre

drama keluarga dengan latar belakang kehidupan sosial masyarakat miskin.

2. Sebagai proses pembelajaran dalam pembuatan film pendek menggunakan DSLR

dengan teknik liveshot selanjutnya.

STIKOM

(11)

6

Untuk mendukung pembuatan karya film pendek yang berjudul “Pembuatan

Film Pendek Bergenre Drama Keluarga Berjudul Secuil Daging Untuk Keluargaku”

maka karya film akan menggunakan beberapa tinjauan pustaka. Tinjauan pustaka

yang digunakan antara lain kelas sosial, realitas sosial, kemiskinan, sejarah film, film

pendek, mekanisme produksi karya film, dan proses pembuatan film.

2.1 Kelas Sosial

Kelas sosial didefinisikan menurut George Ritzer dan Douglas J. Goodman.

Teori Sosiologi (2011) sebagai suatu strata (lapisan) orang-orang yang berkedudukan

sama dalam kontinum (rangkaian kesatuan) status sosial. Definisi ini

memberitahukan bahwa dalam masyarakat terdapat orang-orang yang secara

sendiri-sendiri atau bersama-sama memiliki kedudukan sosial yang kurang lebih sama.

Mereka yang memiliki kedudukan kurang lebih sama akan berada pada suatu lapisan

yang kurang lebih sama pula.

Analisis Marx selalu mengemukakan bagaimana hubungan antara manusia

terjadi dilihat dari hubungan antara posisi masing-masing terhadap sarana-sarana

produksi, yaitu dilihat dari usaha yang berbeda dalam mendapatkan sumber-sumber

daya yang langka. Ia mencatat bahwa perbedaan atas sarana tidak selalu menjadi

penyebab pertikaian antar golongan. Tetapi dia membenarkan bahwa tiap golongan

STIKOM

(12)

masyarakat mempunyai cara khas yang dapat menimbulkan konflik antar golongan

karena masyarakat secara sistematis menghasilkan perbedaan pendapat antara

orang-orang atau golongan yang berbeda tempat atau posisinya di dalam suatu struktur

sosial dan lebih penting lagi dalam hubungannya dengan sarana produksi. Marx

memiliki anggapan yang begitu kuat bahwa posisi di dalam struktur sedemikian ini

selalu mendorong mereka untuk melakukan tindakan yang bertujuan untuk bisa

memperbaiki nasib mereka,

(http://sosiopedia.blogspot.com/2011/12/teori-kelas-sosial-karl-marx.html).

2.2 Realitas Sosial

Menurut Sandra Oliver (2007: 96) definisi realitas sosial adalah sebuah tempat

dimana kultur berubah, nilai-nilai masyarakat dan kelompok disusun, disimpan, dan

diekspresikan secara jelas. Apa yang diterima masyarakat sebagai realitas dari

organisasi akan dibentuk dari kesan pribadi yang tidak jelas dan terbatas yang

diperoleh dari kontak langsung dengan organisasi, dari citra dan kesan yang dipilih

dari media untuk ditampilkan.

Pada era perkembangan zaman yang semakin maju maka kehadiran

modernisme merupakan respon atas perkembangan zaman tersebut, sekaligus sebagai

bentuk resistensi terhadap situasi keagamaan. Van Gennep dalam bukunya Adlin,

Alfathri (2006: 143) menyebutkan beberapa ciri dalam proyek modernitas diantaranya

adalah:

STIKOM

(13)

1. Proses sejarah dipandang sebagai suatu yang progresif, diukur atas dasar

penalaran, artinya mereka yang tidak rasional adalah terbelakang.

2. Individu dan bukan masyarakat adalah sebagai penentu perubahan, agent of

change.

3. Proses mengetahui adalah proses abstraksi.

4. Adanya pemisahan antara subjek-subjek.

Modernitas menyebabkan terjadinya pergolakan dengan tradisi sehingga

memunculkan dua pandangan dunia yang berbeda. Dua pandangan dunia tersebut

yaitu paradigma hirarkis dan paradigma non hirarkis. Paradigma hirarkis adalah cara

pandang realitas sebagai suatu tingkatan yang berjenjang dalam degradasi menaik.

Dalam paradigma hirarkis, semua tingkatan alam bermuara kepada satu diri manusia

sehingga konsekuensinya adalah pengakuan atas adanya dimensi spiritual manusia

beserta kecerdasannya. Sedangkan paradigma non hirarkis adalah pandangan atas

realitas sebatas apa yang tercerna secara inderawi maupun terabstraksi secara rasio.

Realitas sosial merupakan suatu peristiwa yang memang benar-benar terjadi di

tengah masyarakat, (http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/12/realitas-sosial/).

Sebagai contoh:

1. Pameran pekerjaan, begitu banyak pengangguran yang mencari pekerjaan.

2. Ribuan orang mencari lapangan pekerjaan.

3. Para tahanan, seperti curanmor, pembunuh, perampok, dll.

4. Anak-anak putus sekolah dan mencari uang dijalan dengan mengamen.

STIKOM

(14)

Paradigma definisi sosial memusatkan perhatian kepada realitas sosial pada

tingkatan mikro-subyektif dan sebagai mikro-obyektif yang tergantung kepada

proses-proses mental (tindakan). Paradigma perilaku sosial menjelaskan sebagian

realitas sosial pada tingkatan mikro-obyektif yang tak tercakup kepada proses mental

atau proses berfikir, yakni yang menyangkut tingkah laku yang semata-mata

dihasilkan stimuli yang datang dari luar diri aktor, yang disini disebut sebagai

behavior. Dari munculnya aktor tersebut maka muncul pula ketidaksesuaian antara

unsur-unsur yang dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti kegoyahan

dalam kehidupan kelompok atau masyarakat. Sebagaimana yang diungkapkan oleh

Soerjono Soekanto (1990: 58) masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara

unsur-unsur didalam kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan

kelompok sosial. Dalam web

http://organisasi.org/definisi-pengertian-masalah-sosial-dan-jenis-macammasalah-sosial-dalam-masyarakat. Dijelaskan bahwa masalah sosial

dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) jenis faktor, diantaranya:

1. Faktor Ekonomi: Kemiskinan, pengangguran.

2. Faktor Budaya: Perceraian, kenakalan remaja.

3. Faktor Biologis: Penyakit menular, keracunan makanan.

4. Faktor Psikologis: penyakit syaraf, aliran sesat.

2.3 Pengertian Kemiskinan

Kemiskinan menurut Gunawan Sumodiningrat dkk (dalam Winoto 1999:60)

adalah sebuah konsep ilmiah yang lahir sebagai dampak ikutan dari pembangunan

STIKOM

(15)

dalam kehidupan. Kemiskinan di pandang sebagai masalah dalam pembangunan,

yang keberadaannya di tandai dengan adanya pengangguran dan keterbelakangan.

kemiskinan lahir sebagai dampak dari adanya pembangunan dalam kehidupan seperti

di era globalisasi pada jaman sekarang.

Masalah kemisikinan muncul karena adanya kelompok anggota masyarakat

yang secara struktural tidak mempunyai peluang dan kemampuan yang memadai

untuk mencapai tingkat kehidupan yang layak, itu sebabnya yang menjadikan faktor

terciptanya hal-hal negatif di perkotaan seperti halnya pemukiman kumuh dan liar,

munculnya kriminalitas yang disebabkan minimnya lapangan pekerjaan. Kemiskinan

dipahami dalam berbagai cara, penulis menemukan di dalam sebuah web

http://www.pkesinteraktif.com/edukasi/opini/2396-mengatasi-kemiskinan.html yaitu

pemahaman utamanya mencakup diantaranya:

1. Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan

sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam

arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.

2. Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial,

ketergantungan, dan ketidak mampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat.

Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya

dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik

dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.

3. Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna

"memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan

STIKOM

(16)

ekonomi di seluruh dunia. Berikut adalah salah satu contoh dari gambaran

kemiskinan:

Pemukiman kecil dan kumuh yang tersebar dibanyak lokasi kemiskinan. Mereka

tidak mempunyai lahan atau tempat tinggal yg layak.

Gambar 2.1 lingkungan kumuh.

(sumber www.google.com)

2.4 Sejarah Film

Film yang kita kenal sekarang ini merupakan perkembangan dari fotografi yang

diciptakan oleh Joseph Nicephore Niepce dari Perancis (1826). Bila dikaitkan dengan

gambar bergerak, maka terciptanya film bermula dari suatu pertanyaan unik, “Apakah

keempat kaki kuda pada suatu saat berada pada posisi melayang secara bersamaan

ketika berlari?” Untuk menjawab pertanyaan ini, Edward Muybridge (1878) dari

Standford University, Inggris, membuat sederetan foto (frame) kuda yang sedang

STIKOM

(17)

berlari. Kemudian, ketika foto kuda berlari tersebut dilihat secara berurutan dalam

kecepatan tertentu terjadilah gerakan kuda berlari. Berdasarkan ciptaannya ini,

Edward Muybridge disebut sebagai pencipta gambar rekaman bergerak/film pertama

(motion picture).

2.5 Pengertian Film

Film adalah gambar hidup atau movie atau sering disebut dengan sinema, yang

merupakan bentuk dari sebuah seni, hiburan dan bisnis. Film merupakan hasil gambar

rekaman dari orang dan benda (termasuk fantasi dan figur palsu) dengan kamera, atau

dengan menggunakan teknik animasi (Peacock, 2001: 5).

Menurut Peacock dalam bukunya The Art of Moviemaking: Script to Screen

(2001: 1-3), film atau movie merupakan tampilan pada layar oleh kilatan atau flicker

cahaya yang muncul sebanyak 24 kali (24 gambar) tiap detiknya dari lampu

proyektor. Kejadian itu dapat dilihat oleh mata manusia hanya saja karena

kemampuan mata manusia yang terbatas, maka potongan-potongan gambar tidak

terlihat sedangkan yang muncul adalah pergerakan gambar yang halus. Fenomena ini

disebut persistence of vision. Pergerakan gambar-gambar tersebut merupakan

exaggeration dari ide-ide romantis kita yang liar, potret atau gambaran dari kenyataan

hidup, atau hingga terjerumus pada gelapnya mimpi buruk.

Perkembangan teknologi yang pesat di dunia hiburan menjadikan film semakin

banyak dikenal masyarakat. Itu yang mempengaruhi perkembangan film pada saat

ini.

STIKOM

(18)

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa film adalah suatu

media audio visual yang mampu menghibur khalayak melalui berbagai macam gaya

dalam menyampaikan cerita, pesan, ataupun gagasan. Cerita sebuah film merupakan

hasil suatu proses ide-ide imajinatif yang diambil berdasarkan lingkungan kehidupan

masyarakat sekitar.

Film memiliki beberapa genre yang akan memberikan karakteristik dalam

sebuah film. Segmentasi audien dalam sebuah film akan memperhatikan jenis

genrenya. Penggunaan genre dalam sebuah film akan membuat daya tarik tersediri

bagi setiap audien yang menontonya. Setiap film pendek memiliki teknik yang

menjadi point di setiap film.

Gambar 2.2 Jenis-Jenis Genre Film.

(sumber www.google.com)

STIKOM

(19)

2.6 Film Pendek (Short Movie)

Penulis memilih film pendek untuk mengaplikasikan ide dan konsepnya,

pengertian film pendek merupakan film yang durasinya singkat yaitu dibawah 50

menit dan didukung oleh cerita yang pendek (Mabruri, 2010). Dengan durasi film

yang pendek, para pembuat film dapat lebih selektif mengungkapkan materi yang

ditampilkan melalui setiap shot akan memiliki makna yang cukup besar untuk

ditafsirkan oleh penontonnnya. Perkembangan di dunia industri perfilman sekarang

ini tidak hanya di produksi melalui rumah-rumah produksi saja. Melainkan banyak

pula karya-karya film yang dihasilkan oleh sineas-sineas muda yang dapat

menghasilkan sebuah karya yang berupa moving picture secara independent.

2.7 Mekanisme Produksi Karya Film

Mekanisme produksi film adalah sebuah proses yang lazim diterapkan dalam

proses pengerjaan film pada umumnya (Mabruri, 2010). Mekanisme tersebut meliputi

pra produksi, produksi dan pasca produksi. Persentase pembagian pengerjaan karya

film adalah 70% di bagian pra produksi, 20% dalam tahap produksi sedangkan 10%

tahap pasca produksi.

Pengerjaan sebuah film tidak lepas dari kerja sama 3 pihak yaitu penulis

scenario, sutradara dan produser. Penulis skenario adalah orang yang menuangkan ide

atau gagasan ke dalam bentuk tulisan yng sesuai dengan kaidah penulisan naskah.

Sutradara adalah orang yang mewujudkan gagasan yang tertuang dalam sebuah

skenario menjadi rekaman audio visual. Sedangkan produser adalah orang yang

STIKOM

(20)

membantu sutradara dalam mengelola proses pembuatan film (Tino, 2008) Pada

umumnya tim kerja produksi film terdiri dari beberapa bagian yaitu manajer

produksi, asisten sutradara, sinematografer, perekan suara, pengarah artistic,

penyunting gambar.

Pada proses syuting berlangsung untuk mengambil adegan pemain yang akan

dimainkan dalam film, penulis dalam melakukan liveshot tidak menggunakan kamera

video pada umumnya, tetapi menggunakan kamera DSLR dalam pengambilan

gambar.

Keuntungan dari pengambilan video shooting dengan menggunakan kamera

DSLR adalah:

1. Fokus kamera DSLR dapat dirubah sesuai keinginan penulis.

2. Lensa kamera DSLR lebih variatif dan mudah di dapat.

3. ISO yang tinggi antara 100-6400, menjadikan kamera DSLR lebih sensitif

terhadap penangkapan cahaya.

2.8 Proses Pembuatan Film

Ide adalah proses awal mula dari pembuatan sebuah film, pengertian ide adalah

gagasan sebuah cerita yang nantinya akan dituangkan menjadi sebuah cerita dalam

skenario. Menurut Elizabeth Lutters dalam bukunya Kunci Sukses Menulis Skenario

(2004: 46-50), dijelaskan bahwa ide didapatkan dari kisah pribadi penulis, novel,

cerpen, film lain yang diambil inti cerita dan diadaptasikan, dan juga produser itu

sendiri. Setelah ide mulai terbentuk, pastikan plot yang digunakan bercabang atau

STIKOM

(21)

lurus dan juga setting yang digunakan seperti apa. Hampir sama seperti yang

diungkapkan oleh Elizabeth Lutters, menurut Askurifal Baksin dalam bukunya

Membuat Film Indie Itu Gampang (2003: 62-65), ide dapat diperoleh dari

pengalaman pribadi, percakapan sehari-hari, biografi seseorang, komik, novel, music,

olahraga, dan sastra.

Setelah ide kemudian naskah, naskah adalah pengembangan ide menjadi sebuah

synopsis. Menurut Elizabeth Lutters dalam bukunya Kunci Sukses Menulis Skenario

(2004: 61), synopsis bukan hanya ringkasan cerita tetapi sebuah ikhtisar yang memuat

semua data dan informasi dalam scenario. Penyusunan bagan cerita dan kerangka

tokoh, tokoh diberi karakteristik yang detail dari sifat, postur badan, agama, latar

belakang dan lain-lain. Karakter tokoh dibuat dengan detail. Naskah tersebut berupa

skenario, storyboard, dll.

Menurut Elizabeth Lutters dalam bukunya Kunci Sukses Menulis Skenario

(2004: 90), skenario adalah naskah cerita yang sudah lengkap dengan deskripsi dan

dialog, telah matang, dan siap digarap dengan bentuk visual. Skenario berisi

informasi-informasi seperti scene, nama pemeran, deskripsi visual, tokoh yang

berdialog, beat, dialog dan transisi.

Menurut Handry TM di buku Yok Bikin Film Gitu Loh! (2006: 59-60), skenario

yang baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Simple, mudah dimengerti dan sederhana.

2. Tidak terlalu banyak deskripsi, misalnya selalu diisi keinginan penulis tentang

adegan tertentu, dan terkesan menggurui.

STIKOM

(22)

3. Tersusun dengan standart umum yang disepakati.

4. Style kepenulisan personal harus dihindari.

5. Terbuka untuk dikembangkan, terutama pengadeganan dan penajaman konflik.

6. Tidak dikunci dengan adegan-adegan mati. Misalnya, harus ditempat-tempat

tertentu yang sulit dijangkau.

7. Menghindari dari istilah-istilah sulit, diluar kelaziman produksi film.

Menurut Heru Effendy dalam bukunya mari membuat film (2002: 150),

storyboard adalah sejumlah sketsa yang menggambarkan aksi di dalam film, atau

bagian khusus film yang disusun teratur pada papan buletin dan dilengkapi dengan

dialog yang sesuai waktunya atau deskripsi adegan. Storyboard adalah satu rangkaian

ilustrasi-ilustrasi atau gambaran-gambaran yang dipertunjukkan di dalam urutan

untuk tujuan previsualizing satu grafik gerakan atau urutan media yang interaktif.

Dalam pembuatan storyboard, sutradara dapat dibantu oleh seorang ilustrasi dan

harus mengerti teknik-teknik pengambilan gambar. Menurut Rikrik El Saptaria dalam

bukunya Acting Handbook (2006: 120), shot adalah satu bagian dari rangkaian

gambar yang begitu panjang yang direkam dengan satu take saja.

Menurut Elizabeth Lutters di bukunya Kunci Sukses Menulis Skenario (2004:

86), treatment adalah pengembangan cerita dari sebuah synopsis yang didalamnya

berisi plot secara detail, dan cukup padat. Menurut Heru Effendy di buku Mari

Membuat Film (2002: 154), treatment adalah presentasi detail dari sebuah cerita

sebuah film, namun belum berbentuk naskah. Treatment adalah satu potongan dari

STIKOM

(23)

prosa, kartu-kartu peristiwa, pemandangan dan draft pertama dari satu cerita untuk

film.

Setelah skenario selesai setiap scenenya dikembangkan menjadi shooting script

yang menurut Heru Effendy di buku Mari Membuat Film (2002: 150), adalah

pekerjaan akhir sebuah naskah film, membuat detail gambar satu persatu dan

memberi nomor urutan.

Di sebuah web

http://itcentergarut.blogspot.com/2011/09/sudut-kamera-camera-angle.html pembuatan shooting script juga diperhatikan angle kamera atau

penempatan kamera pada saat produksi. Angle kamera atau penempatan kamera

terdapat bahasa-bahasa kamera itu sendiri, diantaranya:

1. Sudut Pengambilan Gambar (Camera Angle)

Di dalam pembuatan film terdapat beberapa sudut pandang kamera yang

digunakan dalam shoting, beberapa sudut pandang kamera, kontinuitas,

komposisi dan editing. Sudut pandang kamera (Angle Camera) adalah sudut

pandang penonton. Mata kamera adalah mata penonton. Sudut pandang kamera

mewakili sudut pandang penonton. Dengan demikian penempatan kamera ikut

menentukan sudut pandang penonton dan wilayah yang dilihat oleh penonton

atau oleh kamera pada suatu shot. Pemilihan sudut pandang kamera yang tepat

akan mempertinggi visualisasi dramatik dari suatu cerita (Biran, 2006).

2. Shot Size

Dalam dunia pertelevisian dan perfilman terdapat beberapa ukuran shot yang

dikenal sebagai komposisi dasar dari sebuah pembingkaian gambar. Beberapa

STIKOM

(24)

shot sizes itu adalah:

a. Extreme Long Shot (ELS)

Sangat jauh, panjang, luas dan berdimensi lebar. Memperkenalkan seluruh

lokasi adegan dan isi cerita, menampilkan keindahan suatu tempat.

b. Very Long Shot (VLS)

Panjang, jauh dan luas tetapi lebih kecil daripada ELS. Untuk

menggambarkan adegan kolosal atau obyek yang banyak.

c. Long Shot (LS)

Total, dari ujung kepala hingga ujung kaki, gambaran manusia seutuhnya.

Memperkenalkan tokoh utama atau seorang pembawa acara lengkap dengan

setting latarnya yang menggambarkan di mana dia berada.

d. Medium Long Shot (MLS)

Dengan menarik garis imajiner dari posisi LS lalu zoom-in hingga gambar

menjadi lebih padat, maka kita akan memasuki wilayah Medium Long Shot

(MLS).

e. Medium Shot (MS)

Memperlihatkan subjek orang dari tangan hingga ke atas kepala sehingga

penonton dapat melihat jelas ekspresi dan emosi yang meliputinya.

f. Medium Close Up (MCU)

MS dikategorikan sebagai komposisi “potret setengah badan” dengan

background yang masih bisa dinikmati, MCU justru memperdalam gambar

dengan dengan lebih menunjukkan profil dari obyek yang direkam. Latar

STIKOM

(25)

belakang itu nomer dua, yang penting adalah profil, bahasa tubuh, dan emosi

obyek bisa terlihat lebih jelas.

g. Close Up (CU)

Obyek (seseorang) direkam gambarnya penuh dari leher hingga ke ujung

batas kepala. Fokus kepada wajah.

h. Extreme Close Up (ECU/XCU)

Pengambilan gambar yang terlihat sangat detail seperti hidung pemain atau

bibir atau ujung tumit dari sepatu.

i. Big Close Up (BCU)

Pengambilan gambar dari sebatas kepala hingga dagu. Menampilkan

kedalaman pandangan mata, ekspresi kebencian pada wajah, emosi, keharuan.

Untuk penyutradaraan non drama.

Gambar 2.3 Camera Shots, Angles and Movement.

(sumber www.google.com)

STIKOM

(26)

21

3.1 Metodologi Penelitian

Metodologi dalam penelitian ini menggunakan penelitian secara kualitatif, di

mana penelitian kualitatif merujuk pada penalaran baik secara tekstual maupun secara

visual. Menurut Borg and Gall (1988) menyatakan bahwa penelitian kualitatif lebih

sulit dibandingkan dengan penelitian kuantitatif, karena data yang terkumpul bersifat

subjektif dan instrument sebagai alat pengumpulan data. Maka, untuk menjadi

instrument penelitian yang baik, peneliti secara kualitatif dituntut untuk mampu

menguasai teori dan memiliki wawasan yang luas.

Dengan demikian, peneliti secara kualitatif dituntut untuk memiliki wawasan

yang luas, sehingga peneliti akan mampu membuka pertanyaan kepada sumber data

dan mampu memahami apa yang terjadi di lapangan, serta mampu melakukan analisis

secara induktif terhadap data yang diperoleh. Selain itu peneliti secara kualitatif

dituntu untuk menemukan teori baru berdasarkan data yang diperoleh di

lapangan/situasi sosial.

Instrument yang digunakan oleh penulis ialah instrument secara dokumentasi

lapangan, dimana penulis mengambil gambar secara langsung di lapangan untuk

mendapatkan data yang sepenuhnya akurat. Melalui observasi, dapat diperoleh

pandangan secara langsung mengenai apa yang sebeneranya terjadi dilapangan. Hal

ini dilakukan untuk mendapatkan data terkait realitas sosial keluarga miskin yang

STIKOM

(27)

terjadi di perkampungan padat penduduk. Dipilihlah wilayah wonocolo Surabaya

sebagai instrument dokumentasi lapangan untuk mendapatkan data yang diinginkan.

Mujiono (2010: 76) menyatakan bahwa semua tahapan dapat dilaksanakan

dengan system metodologis. Tahapan metodologi berdasarkan sistim metodologis

diantaranya merumuskan masalah, mengumpulkan data, menganalisis, dan

kesimpulan dari pengumpulan data. Berikut akan dijelaskan secara lebih rinci

mengenai keempat sistim metodologis tersebut.

3.2 Merumuskan Masalah

Berdasarkan hasil pengamatan selama proses penelitian di wilayah wonocolo

Surabaya, masalah kemisikinan muncul karena adanya kelompok anggota masyarakat

yang secara struktural tidak mempunyai peluang dan kemampuan yang memadai

untuk mencapai tingkat kehidupan yang layak, itu sebabnya yang menjadikan faktor

terciptanya hal-hal negatif di perkotaan seperti halnya pemukiman kumuh dan liar,

munculnya kriminalitas yang disebabkan minimnya lapangan pekerjaan.

Karena standart hidup manusia itu berbeda-beda, maka belum ada definisi

kemiskinan yang dapat diterima secara universal. Pengelompokan orang ke dalam

kategori miskin atau tidak miskin biasanya dilakukan berdasarkan atribut-atribut

yang melekat pada seseorang atau kelompok orang tersebut, dan golongan miskin

seringkali ditandai dengan ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok,

terutama kebutuhan makan dan minum sehari-hari dan akan menimbulkan beberapa

dampak pada masyarakat.

STIKOM

(28)

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan, maka peneliti mengambil tema film

pendek bergenre drama dengan background realita sosial kemiskinan dengan

pemaparan cerita kehidupan keluarga kecil yang hidup dalam kemiskinan, keinginan

seorang suami untuk membahagiakan istrinya namun dengan segala kendala

keterbatasannya, dan penjiwaan karakter yang diperankan oleh pemeran dapat

membawakan suatu cerita dengan rasa syukur yang akan digunakan sebagai

pesan-pesan moral di dalam film pendek ini sebagai karya Tugas Akhir.

3.3 Pengumpulan Data 3.3.1 Pengamatan/Observasi

Pengamatan/observasi dilakukan pada awal bulan Agustus 2012, hal-hal yang

diamati oleh penulis adalah pengamatan terhadap lingkungan di daerah kumuh dan

padat penduduk yang terdapat di daerah wonocolo Surabaya. Rata-rata pekerjaan

masyarakat di daerah tersebut para pekerja serabutan seperti pedagang keliling, sales,

tukang, dan kuli bangunan.

Berdasarkan hasil pengamatan menunjukan bahwa ternyata faktor kemiskinan

dapat menyebabkan kesan negatif kepada masyarakat di perkotaan seperti

kriminalitas khususnya. Pekerjaan adalah yang sangat diperlukan untuk menghindari

kemiskinan tersebut, dengan mencari pekerjaan yang bermutu dan pendidikan yang

baik kemiskinan dapat dihindari. Kemiskinan sangat di pandang rendah oleh

masyarakat di daerah perkotaan seperti Surabaya, banyak sekali rakyat miskin di

pandang sebelah mata.

STIKOM

(29)

3.3.2 Wawancara

Wawancara dilakukan kepada seorang warga yang berprofesi sebagai pekerja

serabutan di daerah wonocolo Surabaya. Untuk mempermudah pencarian keyword

peneliti menggunakan beberapa pertanyaan wawancara. Berikut pertanyaan

wawancara yang diberikan ke salah satu warga pada tabel 3.1.

Tabel 3.1 Daftar pertanyaan wawancara kepada salah satu warga.

Pihak yang diwawancarai

Pertanyaan wawancara

Salah satu warga wonocolo

Hal sulit apa yang mempengaruhi kebutuhan anda saat ini?

Keinginan apa yang paling anda ingin cari

saat menemukan pekerjaan yang layak?

Dengan kehidupan anda saat ini apakah anda

merasa harmonis terhadap keluarga anda?

Pendidikan terakhir anda?

Dengan anda berada di kota besar seperti Surabaya ini

hal apa yang sangat anda alami?

Dengan pekerjaan anda sekarang

berapakah penghasilan anda?

STIKOM

(30)
[image:30.612.83.559.135.662.2]

Table 3.2 Daftar hasil wawancara kepada salah satu warga.

Pihak yang diwawancarai

Jawaban wawancara

Salah satu warga wonocolo

Pekerjaan yang layak untuk memenuhi segala kebutuhan

Mencukupi kebutuhan dengan mencari nafkah

dengan cara yang lebih baik

Meskipun dengan keterbatasan materi

keluarga tetap terjalin harmonis

Pendidikan terakhir sampai SLTP/SMP

Tekanan hidup yang sangat susah

Penghasilan tidak tentu,

karena tidak mempunyai pekerjaan yang tetap

3.3.3 Dokumentasi

Dokumentasi yang di dapatkan oleh penulis/peneliti selama melakukan

pengamatan/observasi di lapangan diantaranya adalah:

STIKOM

(31)

1. Foto keadaan rumah tinggal salah satu warga di wonocolo Surabaya.

Gambar 3.1 Foto salah satu rumah warga.

STIKOM

(32)

2. Foto lingkungan permukiman di daerah wonocolo Surabaya.

Gambar 3.2 Foto lingkungan permukiman.

STIKOM

(33)

3. Foto pada saat wawancara dengan salah satu warga.

Gambar 3.3 Foto saat wawancara dengan salah satu warga.

3.3.4 Studi Literatur

Studi literatur yang dipergunakan adalah buku dan internet. Digunakannya

studi literatur sebagai teknik pengumpulan data untuk memenuhi semua kebutuhan

akan semua materi selama proses perancangan hingga film pendek berjudul Secuil

Daging Untuk Keluargaku akan siap dinikmati.

STIKOM

(34)

3.3.5 Studi Eksisting

Untuk memperdalam ide dan konsep diwujudkan dalam bentuk karya di Tugas

Akhir ini, penulis/peneliti telah melakukan kajian terhadap beberapa karya film

diantaranya:

1. Nilai Kehidupan episode 55 berjudul Bau Kejujuran (Trans TV)

Nilai Kehidupan merupakan sebuah program acara di Trans TV, Nilai Kehidupan

menyajikan drama dari kejadian-kejadian yang mungkin sering Anda temukan

dalam kehidupan sehari-hari. Setiap karakter, latar belakang dan alur cerita di

acara Nilai Kehidupan selalu berbeda-beda dalam setiap episodenya. Peneliti

memilih episode ke 55 yang berjudul Bau Kejujuran.

Gambar 3.4 Nilai Kehidupan Trans TV.

(Sumber: google.co.id)

STIKOM

(35)

Gambar 3.5 Screenshoot cuplikan episode 55 berjudul Bau Kejujuran.

(Sumber google.co.id)

2. Film See You After School (2006) sutradara Lee Seok-Hoon

Film korea yang di produksi tahun 2006 bergenre drama komedi ini memiliki

alur cerita yang menceritakan tentang cerita dalam satu hari. Cerita yang

sederhana dibuat oleh sutradara asal korea Lee Seok-Hoon ini menyampaikan

penokohan komedi yang sangat bagus, walaupun hanya berkisah selama satu hari

saja.

STIKOM

(36)

Gambar 3.6 Film See You After School.

(Sumber: google.co.id)

STIKOM

(37)

Gambar 3.7 Screenshoot cuplikan film See You After School.

(Sumber: google.co.id)

Berdasarkan studi eksisting dari kedua film dan cerita yang digunakan untuk film

pendek yang berjudul “Secuil Daging Untuk Keluargaku” dapat diketahui SWOT

dari kedua film tersebut. SWOT dari kedua film tersebut dijelaskan dalam tabel

3.3 analisis SWOT.

STIKOM

(38)
[image:38.612.61.564.141.605.2]

Tabel 3.3 Analisis SWOT film “Nilai Kehidupan” dan “See You After School”.

Analisis SWOT Nilai Kehidupan See You After School Strength

Para pemeran yang

mempunyai karakter

yang sangat menjiwai

dan mempunyai pesan

moral yang sangat bagus

Cerita yang sangat menarik

walaupun hanya berkisah

dalam satu hari

Weakness Pewarnaan pada gambar

kurang dramatis.

Alur cerita yang susah untuk

di pahami.

Opportunity

Menambah referensi

tentang pesan moral yang

diberikan kepada

penonton.

Menambah referensi dalam

membuat cerita yang

menarik dan mudah di

pahami.

Threat

Film ini hanya

mengangkat pesan moral

tanpa diberikan

pewarnaan yang dramatis

dan sound effect untuk

mendukung cerita dalam

film ini.

Film ini hanya berkisah

dalam satu hari, namun

dengan cerita yang sangat

susah untuk dipahami bila

menonton film ini hanya

sekali saja.

Dari analisis SWOT Nilai Kehidupan dan See You After School disimpulkan

bahwa film harus mempunyai pesan-pesan moral, penjiwaan karakter pemain,

dan penambahan pewarnaan yang dramatis agar penonton dapat ikut merasakan

suasana drama dan pesan-pesan moral yang disampaikan.

STIKOM

(39)

Setelah melakukan analisis SWOT, dilakukan pembagian segment yang dituju,

target yang diinginkan, serta memposisikan filmpendek ini kepada khalayak luas.

Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan rancang karya yang akan dikerjakan pada

tahap pra-produksi. Berikut adalah pembagian berdasarkan STP. STP akan

dijelaskan dalam tabel 3.4 analisis STP.

Tabel 3.4 Analisis STP (Segmenting, Targeting, Positioning).

STP Secuil Daging Untuk Keluargaku

Segmentation & Targeting

Geografis

- Ukuran kota: kota besar

- Letak kota: Tengah kota

Demografis

- usia:

18 – 40 tahun

- Gender:

laki-laki, perempuan

- Pendidikan:

Pelajar, Mahasiswa, Sarjana

Psikografis - Kelas sosial:

menengah

Positioning

Film pendek ini bertemakan drama keluarga

dengan menggunakan realita background

kemiskinan di dalamnya, dan alur cerita yang

dramatis agar audien dapat merasakan

pesan-pesan moral di film ini, serta film pendek ini

akan berkisah hanya satu hari saja untuk alur

ceritanya.

STIKOM

(40)

Dari analisis STP film di tabel 3.4 dapat disimpulkan bahwa pembuatan film

diperlukan beberapa hal yang berkaitan dengan jenis atau bentuk film itu sendiri.

Film yang baik mempunyai ciri dimana konsep yang dituju dapat diterima

penonton sehingga cerita yang dibuat dapat dimengerti. Selain itu dapat

disimpulkan bahwa suatu film harus mampu mempresentasikan isi pesan dengan

semiotika cerita. Selain teknik yang dilakukan, penggabungan antar keduanya

seimbang agar terlihat nyata dan tidak kaku. Dengan jelasnya target pasar serta

penempatan film maka konsep tersebut dapat diterima oleh penikmatnya sesuai

dengan tujuan film itu dibuat.

3.4 Perancangan Karya

Pada gambar 3.8 dapat dilihat pengerjaan tugas akhir ini berawal dari ide dan

konsep yang telah mengalami pematangan sejak dari ide yang bertemu dengan hasil

pengamatan/observasi di lapangan dan studi eksisting. Kemudian diolah menjadi

storyboard yang menjadi acuan dalam pembuatan film ini.

Lalu setelah selesai, dilakukan casting pemain, pemilihan kostum, dan mencari

setting lokasi. Setelah itu maka akan dilakukan syuting dan pengambilan audio.

Saat rangkaian syuting selesai maka tiba ke proses editing. Proses editing

melewati beberapa tahap mulai dari pemberian pewarnaan gambar dan penambahan

backsound didalamnya.

STIKOM

(41)

Gambar 3.8 Bagan perancangan pengerjaan Tugas Akhir.

Pra produksi

Pengembangan ide cerita

Skenario

Break down skenario

Storyboard

Jadwal shooting

Casting

Anggaran

Lokasi

Logistik

Peralatan

Pasca produksi

Editing video

pemilihan perwarnaan

Memasukan musik

Melakukan mixing gambar

Produksi

Perekaman gambar

Pemilihan Musik Pemilihan ide cerita

STIKOM

(42)

3.5 Pencarian Keyword

Berdasarkan dari hasil pencarian data dengan melakukan wawancara,

didapatkan kalimat-kalimat yang digunakan sebagai pencarian keyword/kata kunci.

Dari hasil wawancara pada tabel 3.2 maka dilakukan analisa dari target pasar dan

tujuan film berjudul “Secuil Daging Untuk Keluargaku” ini dibuat. Analisis ini

berguna untuk mencari keyword yang kemudian akan diterapkan dalam film.

Tabel 3.5 Analisis Keyword.

Hasil pengamatan dan observasi Pekerjaan Keluarga Kecil Miskin Kesengsaraan

Mencari Nafkah

 Menjalin Kebahagiaan  Harmonis  Pengangguran Kurang Sejahtera  Keterbatasan materi  Kumuh  Rendahnya Intelektual  Kehidupan yang

Cepat Kota

Besar

Terlantar  Ramai

 Tekanan Hidup  Kehidupan susah

(43)

Dari analisa keyword pada tabel 3.5 maka hasilnya adalah menggunakan

keyword Kesengsaraan. Analisa ini sesuai dengan film bertema potret kemiskinan.

Dalam pewarnaan sebuah film dapat menimbulkan ciri khas sebuah film. Analisis

pewarnaan dalam film pendek “Secuil Daging Untuk Keluargaku” ini sesuai pada

analisis keyword yaitu kesengsaraan. Berdasarkan pemilihan pewarnaan pada analisis

keyword didapatkan pewarnaan dramatis warna soft yang akan mendominasi hasil

karya film pendek yang bertema kemiskinan.

3.6 Pra Produksi

3.6.1 Ide dan Konsep Cerita

Ide muncul berawal dari keinginan penulis membuat film pendek bergenre

drama keluarga dengan potret kemiskinan, karena jarang sekali film bergenre drama

keluarga dengan potret kemiskinan. Film ini menggunakan konsep film pendek yang

yang mempunyai alur cerita berkisah hanya satu hari, dengan konsep seperti itu

penulis berharap dapat menampilkan suatu karya film pendek dengan durasi kurang

lebih 20 menit dengan baik dan dapat diterima oleh audiens.

Penulis membuat karya film pendek dengan pengambilan gambar teknik secara

liveshot, karena film pendek dengan teknik liveshot dapat lebih mudah dipahami oleh

masyarakat daripada media animasi. Penulis ingin membuktikan bahwa para sineas

lokal tidak kalah dan mampu menghasilkan karya yang baik dan layak dinikmati

masyarakat Indonesia.

STIKOM

(44)

3.6.2 Sinopsis

Sinopsis merupakan pengembangan ide cerita. Susunan sinopsis merupakan

acuan dalam pembuatan skenario. Pada sinopsis, mulai terdapat pengembangan

cerita, tokoh utama dan setting. Sinopsis Tugas Akhir film pendek berjudul Secuil

Daging Untuk Keluargaku ini adalah:

Bercerita tentang sebuah keluarga kecil yang miskin hidup di perkampungan

sederhana, keluarga tersebut hidup seorang bapak bernama Feri beserta istri yang

sedang hamil bernama Gita. Berawal dari kehidupan keluarga ini yang susah dan

miskin, semua rintang kehidupan telah mereka hadapi tetapi mereka selalu menjalani

dengan tegar, ikhlas, dan sabar. Feri selalu memberikan yang terbaik untuk

keluarganya, namun apa daya Feri hanyalah seorang pekerja serabutan yang hanya

mengandalkan tenaga dan keringat. Untuk membeli sesuap nasi pun Feri harus

membanting tulang agar mendapatkannya.

Suatu saat Gita meminta sesuatu kepada feri, Gita meminta untuk makan

daging karena merasa sedang hamil dan membutuhkan asupan gizi untuk janinnya

tetapi apa daya Feri belum bisa menuruti istrinya tersebut karena uang yang didapat

Feri belum bisa untuk membeli daging untuk istrinya. Karena Feri pun baru saja

keluar dari pekerjaannya yang lama, Feri pun berusaha keras untuk mencari pekerjaan

kembali untuk mendapatkan uang kembali untuk membeli daging keinginan istrinya.

Sampai di sebuah jembatan mulailah Feri merasa sangat putus asa karena uang yang

ia dapat sangat kurang untuk membeli daging, dan saat itu Feri pun kehilangan akal

STIKOM

(45)

sehatnya, ia melihat seekor anjing di depannya lantas cepat Feri membunuh anjing

tersebut dan mengambil dagingnya.

Senja pun menjelang Feri kembali pulang dengan gontai dan perasaan yang

sangat risau, Gita sangat gembira akan kedatangan Feri membawa sekantong plastik

berisikan daging. Langsung dimasaknya daging tersebut oleh Gita. Masakan telah

matang dengan senangnya Gita hendak menyantap daging itu, tak lama Feri pun

merebut piring berisikan daging dan langsung membuang daging tersebut. Gita

sangat kesal, bertanya-tanya kepada Feri. Feri pun menceritakan semuanya, dengan

sabar Gita menanggapi dan memberi tahu apa yang telah suaminya lakukan itu adalah

salah. Gita pun memberitahukan bahwa segala sesuatu yang kita tidak mampu tidak

perlu kita paksakan, Feri pun memeluk Gita. Gita tetap menyemangati suaminya agar

selalu sabar dan tabah.

3.7 Produksi

Untuk meminimalkan dana dan waktu, produksi dilakukan selama 12 hari di 4

tempat yang berbeda. Proses syuting pertama dilakukan di daerah perkampungan

Wonocolo Surabaya, kemudian dilanjutkan syuting di A Yani Surabaya untuk

pengambilan adegan makan di warung, lalu di jembatan Menanggal Surabaya untuk

pengambilan adegan pengemis, dan yang terakhir di Wiyung Surabaya untuk

pengambilan adegan kerja di proyek bangunan.

Pemilihan backsound untuk film pendek ini harus sesuai dengan film yang akan

di produksi, penulis memilih backsound dari artis ibukota TonyQ Rastafara yang

STIKOM

(46)

berjudul Yang Terulang dan Matahariku, dengan mengambil lagu tersebut karena

lirik pada lagu ini menunjang cerita dan sesuai dengan tema yang ada di dalam karya

film pendek Tugas Akhir ini. Surat ijin dari penggunaan lagu tersebut ada pada

lembar lampiran.

3.8 Publikasi

Setelah selesai mengolah seluruh hasil film, maka penulis melakukan publikasi.

Media yang digunakan penulis untuk publikasi adalah poster dan DVD. Kemudian

diimplementasikan ke dalam bentuk cetak berupa poster dan DVD. Poster disebar

lewat sosial media dan forum-forum mahasiswa sehingga dirasa bisa menarik simpati

publik. Berikut konsep dan sketsa dari desain publikasi dari film pendek ini:

1. Konsep poster

Penulis menggunakan konsep pada poster dengan menampilkan 2 peran utama

dan pewarnaan yang sesuai dengan analisis keyword, serta pemberian

background suasana pemukiman padat penduduk yang mewakili kehidupan

kemiskinan yang diperlihatkan disela-sela sobekan kertas. Hal ini dimaksudkan

agar poster dapat mewakili film dan penonton menjadi tertarik untuk melihatnya.

STIKOM

(47)

2. Sketsa Poster

Gambar 3.9 Sketsa poster.

[image:47.612.51.569.135.681.2]

3. Label DVD

Gambar 3.10 Sketsa Label DVD.

STIKOM

(48)

4. Cover DVD

Gambar 3.11 Sketsa Cover DVD.

STIKOM

(49)

44

Pada bab ini akan dijelaskan proses produksi dan pasca produksi, seperti yang

telah terencana pada pra-produksi yang tertulis pada bab sebelumnya. Berikut ini

penjelaskan proses produksi dalam film pendek yang berjudul ”Secuil Daging Untuk

Keluargaku”, sebagai berikut:

4.1 Pra-produksi

Dalam tahapan pra-produksi disiapkan berbagai perencanaan dan peralatan

shooting untuk nantinya akan dilaksanakan pelaksanaan produksi, diantaranya:

1. Budgeting/Anggaran

Pada tahapan budgeting dilakukan guna merumuskan dan merencanakan

pengeluaran yang akan digunakan pada tahap produksi.

STIKOM

(50)

Tabel 4.1 Anggaran pembuatan film pendek drama keluarga “Secuil Daging

Untuk Keluargaku”.

Pembelian Steadicam, Tripod. 2 Buah Rp. 1.100.000,-

Pembelian Memory SDHC. 2 buah Rp. 300.000,-

Penyewaan Lighting/Lampu. 2 Buah Rp.100.000,-

Penggandaan naskah skenario film untuk kru dan pemain.

- Rp. 20.000,-

Penyediaan property, kostum, make-up.

- Rp. 200.000,-

Penyediaan CD/DVD. 10 Buah Rp. 40.000,-

Akomodasi dan Transportasi Selama Proses Produksi.

- Rp. 300.000,-

Konsumsi Selama Proses Produksi. 2 Minggu Rp. 700.000,-

Lain-Lain. - Rp. 300.000,-

Jumlah Rp. 3.060.000,- 2. Crew

Pemilihan crew dilakukan guna membantu proses produksi, diantaranya:

a. Cameraman

Bertugas mengoperasikan kamera secara fisik dan memelihara komposisi

seluruh adegan atau bidik an yang dimaksud.

STIKOM

[image:50.612.60.562.151.650.2]
(51)

b. Lighting/Penata cahaya

Bertugas melakukan inovasi tata cahaya sesuai kebutuhan naskah dan skema

penempatan lampu dan mengarahkan penataan peralatan tata cahaya agar

dihasilkan tata cahaya yang optimal dan seimbang.

c. Boomer/Audioman

Bertugas menangani audio/suara pada produksi film.

d. Wardrobe

Bertugas bertanggungjawab atas pemilihan kostum yang akan dipergunakan

untuk produksi.

e. Makeup

Bertugas terhadap penampilan aktor/aktris agar sesuai dengan kebutuhan

skenario pada saat syuting.

f. Casting Director

Bertugas menemukan talent dan bekerjasama dengan sutradara untuk

melakukan pemilihan pemeran agar sesuai dengan film yang akan dibuat.

g. Composer/Music Scoring

Bertugas menata/mengaransemen musik scoring untuk meningkatkan rasa,

jiwa, dan nada emosi dari sebuah film. Bertanggung jawab dalam pengaturan

atau menyediakan musik yang akan digunakan dalam film.

STIKOM

(52)

3. Penyusunan Materi

Tahap ini dilakukan guna mematangkan konsep dan ide. Sehingga membantu

dalam proses produksi dan pasca produksi. Yang didalamnya terdapat study

literatur, wawancara dan study perbandingan.

4. Persiapan peralatan

Tahap ini dilakukan guna mempersiapkan peralatan shooting guna

mempermudah pengambilan gambar. Peralatan tersebut seperti:

a. Kamera DSLR

Berfungsi sebagai alat untuk pengambilan gambar secara video dan

menghasilkan gambar yang bagus dan lebih mudah dari pada jenis kamera

yang lain.

b. Memory SD card

Berfungsi sebagai media penyimpanan pada kamera DSLR dan untuk

mempermudah memindah hasil rekaman ke dalam computer.

c. Tripod

Berfungsi mempermudah kameramen untuk mengambil gambar agar tidak

terjadi shacking/goyang pada hasil rekaman.

d. Boomer/micboom

Berfungsi sebagai alat untuk merekam suara adegan pada film, yang nanti

akan digabungkaan pada scene-scene film untuk mengisi suara.

STIKOM

(53)

e. Lighting/Lampu

Berfungsi memberikan tambahan cahaya pada film.

4.2 Produksi

Setelah melakukan persiapan dalam proses pra produksi, dimulainya tahap

observasi tempat yang sesuai dengan tema dan kemudian memilih lokasi

pengambilan gambar. Setelah melakukan observasi keesokan harinya dilakukan

proses pengambilan gambar dari hasil rekaman yang ada.

Gambar 4.1 Screenshot stock video film drama “Secuil Daging Untuk Keluargaku”.

Penulis berusaha mengambil gambar yang mendukung untuk memberikan

kesan dramatis. Disini pemeran di breafing terlebih dahulu agar setiap scene bisa

benar-benar menjiwai perannya masing-masing, karena sedikit banyak perlu

STIKOM

(54)

berakting layaknya di dalam keluarga kecil yang miskin agar menunjang cerita dalam

film pendek ini.

Gambar 4.2 Screenshot video sebelum editing.

Dalam pembuatan film drama keluarga berjudul “Secuil Daging Untuk

Keluargaku” ini menggunakan berbagai macam peralatan sinematrografi sederhana

yaitu:

1. Camera DSLR dengan kemampuan merekam video

2. Lensa 50mm, 18-55mm

3. Microphone/micboom

4. Tripod dan Monopod

5. Komputer/laptop editing

6. Memory SDHC kamera

STIKOM

(55)

Beberapa variasi shot yang digunakan dan diterapkan dalam film pendek drama

keluarga berjudul “Secuil Daging Untuk Keluargaku” diantaranya adalah Extreme

Long Shot, Long Shot, Medium Shot, Medium Close Up, Close Up. Untuk pergerakan

kamera menggunakan Panning, Tilting dan Zooming. Sedangkan untuk sudut

pengambilan gambar yang digunakan Eye Level, Low Angle dan High Angle.

4.3 Pasca produksi

Pada tahapan pasca produksi ini dilakukan proses editing dan penambahan

sound efek dan lagu dengan beberapa langkah yang harus dilakukan, yaitu:

1. Proses pemilihan video

Proses awal dimana menyeleksi beberapa stock shoot atau hasil rekaman pada

saat produksi berjalan. Materi pemilihan yang dilakukan berdasarkan kelayakan

[image:55.612.52.557.138.673.2]

gambar secara visual dan audio.

Gambar 4.3 Screenshot pemilihan stock shoot video.

STIKOM

(56)

2. Proses Penataan Stock Shoot

Proses ini dilakukan dengan bantuan program editing video, setelah melakukan

pemilihan video stock shoot atau hasil rekaman pada saat produksi berjalan,

Proses selanjutnya melakukan penataan yang mengacu kepada storyboard.

Gambar 4.4 Screenshot penataan stock shoot video.

Dalam penataan atau proses editing secara sederhana memberikan suatu maksud

dengan menggunakan bahasa visual yang terdiri dari stock shoot atau hasil

rekaman pada saat produksi berjalan. Sehingga menjadi sebuah alinea,

kalimat-kalimat yang harus disusun menurut aturan logis tertentu yang akan

menghasilkan pula suatu gaya tersendiri untuk menyampaikan fakta atau data

menurut apa adanya. Untuk menata suatu scene, stock shoot dihubungkan satu

dengan yang lain. Sebuah scene klasik disusun mulai dengan sebuah long shot,

dilanjutkan dengan sebuah close up dan diakhiri dengan sebuah long shot lagi

STIKOM

(57)

atau cut away. Tetapi kebiasaan ini sekarang sudah tidak lagi ditaati secara ketat.

Yang tetap dipertahankan orang dalam membuat scene, bukan lagi shot-shot nya,

tetapi arti scene itu sendiri.

Gambar 4.5 Screenshot penataan subtitle.

3. Proses Colour Grading effect

Dalam proses ini adalah merubah atau memodifikasi warna terhadap gambar

sehingga menimbulkan kesan tertentu. pemilihan warna sesungguhnya tidak

didasari oleh teori khusus melainkan hanya untuk menajamkan dan memberikan

nilai estetika tersendiri.

STIKOM

(58)

Gambar 4.6 Screenshot proses colour grading effect.

4. Sound Editing

Dalam proses ini penambahan backsound dilakukan guna mendukung tatanan

visual. Proses sound editing effect pada film pendek drama keluarga “Secuil

Daging Untuk Keluargaku” ini menggunakan original soundtrack dari artis

ibukota Tonyq Rastafara yang berjudul Matahariku, dikarenakan musik dan

lirik-lirik pada lagu tersebut sesuai dengan tema dan pesan-pesan moral yang

ditujukan pada film pendek ini. Dengan mengantongi izin dari management

Tonyq Rastafara Im_production untuk menggunakan lagu tersebut untuk

keperluan akademik dan bukan untuk dikomersilkan, surat permohonan izin dan

surat balasan ada pada lembar lampiran. Dan selanjutnya pada prosesnya sound

dalam film pendek drama “Secuil Daging Untuk Keluargaku” terbagi menjadi 2

STIKOM

(59)

channel dimana channel pertama berisikan suara asli yang dihasilkan dari

gambar dan chanel kedua adalah suara/musik tambahan yang diberikan.

[image:59.612.57.557.157.678.2]

Gambar 4.7 Screenshot editing equalizer audio.

Gambar 4.8 Screenshot proses sound editing

STIKOM

(60)

5. Rendering

Adalah proses akhir dari pasca produksi dimana semua proses editing stock shoot

disatukan menjadi sebuah format media. Dalam proses rendering memiliki

pengaturan tersendiri sesuai hasil yang diinginkan. Sedangkan dalam film pendek

drama berjudul “Secuil Daging Untuk Keluargaku” menggunakan format media

MOV.

Gambar 4.9 Screenshot proses sebelum rendering

6. Mastering

Mastering merupakan proses dimana file yang telah di render dipindahkan ke

dalam media kaset, VCD, DVD atau media lainya. Film drama ini menggunakan

media DVD sebagai mastering data.

STIKOM

(61)

7. Publikasi

Setelah selesai mengolah seluruh hasil film pada pasca produksi, maka

selanjutnya penulis melakukan publikasi dari hasil karya film pendek ini. Media

yang digunakan penulis untuk publikasi adalah sebuah poster dan DVD.

Kemudian diimplementasikan ke dalam bentuk cetak berupa poster dan DVD

(cover DVD dan label DVD).

Gambar 4.10 Poster Film Pendek drama “Secuil Daging Untuk Keluargaku”

STIKOM

(62)

Gambar 4.11 Cover DVD Film Pendek drama “Secuil Daging Untuk Keluargaku”.

Gambar 4.12 Label DVD Film Pendek drama “Secuil Daging Untuk Keluargaku”.

STIKOM

(63)

58

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan seluruh penelitian hasil produksi yang telah dilaksanakan,

maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Pembuatan film pendek bergenre drama keluarga dengan mengangkat

kehidupan masyarakat miskin sangat butuh ketelitian dalam segi karakter

pemeran, seperti pemilihan pemain/casting yang benar-benar mendalami

perannya agar terlihat realistis.

2. Film pendek yang bertema kehidupan sosial memiliki pengaruh yang sangat

besar kepada para penikmat film untuk sebuah pesan yang sebenarnya

terkandung di dalam fim tersebut.

3. Sebuah film pendek diharapkan tak hanya menjadi sebuah wahana hiburan

semata melainkan menjadi sebuah kajian yang menarik yang dapat

dikembangkkan dalam ilmu pengetahuan dan disiplin ilmu yang lain. Yang

tentunya memiliki tujuan positif untuk mengembangkan berbagai aspek

kehidupan sosial yang di inginkan bersama.

STIKOM

(64)

5.2 Saran

Berdasarkan seluruh hasil produksi yang telah dilaksanakan, terdapat

beberapa saran untuk penelitian ini, yaitu:

1. Penelitian tentang kelas sosial dalam realitas masyarakat miskin yang di

aplikasikan kedalam sebuah karya film pendek ini diharapkan dapat menjadi

wawasan, inspirasi dan hiburan bagi para masyarakat luas. Penulis berharap

bagi peneliti selanjutnya supaya dapat menampilkan film dengan genre yang

sama dan dengan mengangkat kehidupan sosial dengan sudut pandang yang

berbeda.

2. Penulis mengakui masih banyak kekurangan dalam mengaplikasikan hasil

penelitian ini kedalam film pendek karena dalam pembuatan film pendek ini

sangat diperlukan perencanaan dan perancangan yang lebih matang dan

didukung oleh beberapa pemilihan tim/crew dengan spesifikasi (Job

descriptions) tersendiri dan peralatan yang dipakai pada waktu produksi

haruslah mempunyai standarisasi untuk memproduksi film, seperti jimijib,

lighting, steadicam/glidecam, dan boomer sebagai mixing untuk suara.

Namun dalam pembuatan film pendek bergenre drama keluarga berjudul

Secuil Daging Untuk Keluargaku ini dikerjakan dengan jumlah tim/crew

yang terbatas dan peralatan produksi yang terbatas pula.

STIKOM

(65)

60

DAFTAR PUSTAKA

Alfathri, Adlin. 2006. Resistensi Gaya Hidup: Teori Dan Realitas. Yogyakarta: Jalasutra

Bare, Richard. 1970. “The Film Director”, New York, Coolier Book.

Baksin, A. 2009. Pengantar Vidiografi. Bandung: Widya Padjadjaran.

Biran, Yusa, Misbach, 2006. Teknik Menulis Skenario Film Cerita. Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya dan PT. Demi Gisela Citra Pro.

Effendy, Heru. 2009. Mari Membuat Film. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Lutters, E. 2004. Kunci Sukses Menulis Skenario. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Mabruri, Anton, 2010. Manajemen Produksi Program Acara Televisi. Depok: Mind 8 Publising House.

Oliver, Sandra. 2007. Public Relations Strategy. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Prakosa, G. 2008. Film Pinggiran: Antologi Film Pendek, Film Eksperimental, dan Film Dokumenter. Jakarta Pusat: Koperasi Sinematografi IKJ.

Saptaria, Rikrik, E. 2006. Acting Handbook. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Soekanto, S. 1982. Sosiologi: Suatu Pengantar. Rajawali Press.

Sumber Internet:

(http://pkesinteraktif.com/edukasi/opini/2396-mengatasi-kemiskinan.html) Diakses pada tanggal 22 Desember 2012 pukul 13.40.

(http://sosiopedia.blogspot.com/2011/12/teori-kelas-sosial-karl-marx.html) Diakses pada tanggal 26 Desember 2012 pukul 23.22.

(http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/12/realitas-sosial/) Diakses pada tanggal 27 Desember 2012 pukul 15.10.

(http://organisasi.org/definisi-pengertian-masalah-sosial-dan-jenis-macammasalah-sosial-dalam-masyarakat) Diakses pada tanggal 27 Desember 2012 pukul 18.19.

(http://itcentergarut.blogspot.com/2011/09/sudut-kamera-camera-angle.html) Diakses pada tanggal 3 Januari 2013 pukul 14.20.

STIKOM

Gambar

Gambar 2.3 Camera Shots, Angles and Movement.
Table 3.2 Daftar hasil wawancara kepada salah satu warga. STIKOM SURABAYA
Tabel 3.3 Analisis SWOT film “Nilai Kehidupan” dan “See You After School”. STIKOM SURABAYA
Gambar 3.10 Sketsa Label DVD.
+4

Referensi

Dokumen terkait

Berawal dari penulis melihat kehidupan sebagian mahasiswa saat ini yang bekerja sambilan, mereka mengambil kerja sambilan dengan berbagai alasan, akan tetapi dengan

Tapi ketika seseorang berkata itu adalah drama berarti film tersebut kisah nyata dengan karakter yang nyata, penataan, situasi kehidupan dan cerita yang nyata pula

Impian adalah proses untuk membina dan merancang masa depan sesuai apa yang mereka inginkan dengan segala daya dan upaya, apapun yang terjadi harus tercapai dengan penuh

Dalam analisis warna, data dari STP ( Segmentation, Targeting, and Positioning ) dan keyword digunakan untuk mencari warna yang akan diterapkan dalam proses colour grading

Berawal dari penulis melihat kehidupan saat ini banyaknya realita kehidupan sosial yang ada didalam kehidupan sehari-hari, Background kemiskinan adalah salah satu

split screen yang merupakan teknik efek dalam editing sebuah film. Teknik split Screen

Sebagai rujukan penelitian pada masa mendatang tentang sutradara dalam pembuatan film pendek dengan judul pembuatan film fiksi bergenre Psycho Thriller tentang skizofrenia

Diakses melalui (http://www.hukumonline.com) dijelaskan definisi Film menurut UU 8/1992 yang merupakan karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa