• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Deskriptif Teknik Permainan Kulcapi Karo

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Studi Deskriptif Teknik Permainan Kulcapi Karo"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR INFORMAN

Nama : Bangun Tarigan

Alamat : Desa Sarimunte, Kecamatan Munte, Kabupaten Karo Umur : 51 Tahun

Pekerjaan : Pemusik Tradisional Karo

Nama : Sorensen Tarigan Alamat : Gang Lona, Medan Umur : 51 Tahun

Pekerjaan : Pemusik Tradisional Karo

Nama : Pauzi Ginting

Alamat : Desa Pertampilen, Kecamatan Pancurbatu Umur : 44 Tahun

Pekerjaan : Pemusik Tradisional Karo

Nama : Mbantu Ginting Alamat : Gang Lona, Medan Umur : 56 tahun

Pekerjaan : Pemusik Tradisional Karo

Nama : Ngemat Tarigan

Alamat : Jalan Katepul, Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Karo Umur : 56 Tahun

(2)

Pekerjaan : Pemusik Tradisional Karo

(3)

DAFTAR PUSTAKA

A.G.Sitepu. 1980. Mengenal Seni Kerajinan Tradisional Karo seri B: Medan

Depdikbud. 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Hutabarat, Irfan Saidul. 2010. Peranan Jasa Tarigan Sebagai Musisi Dalam

Perkembangan Ensambel Musik Tradisional Karo. Medan: Skripsi Sarjana

Etnomusikologi

Koentjaraningrat. 1981. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta:

PT. Gramedia, Indonesia

Koentjaraningrat. 1986. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Gramedia

Merriam, Alan P. 1964. The Anthropology of Music. Illinois: North-Western

University Press

Nettl, Bruno, 1963. Theory and Method In Ethnomusicology, New York : The

Free Press

Prinst, Darwan. 2004. “Adat Karo”. Medan: Bina Media Perintis.

Purba, Maruli, 2013. Teknik Permainan dan Struktur Musik Husapi Simalungun

Pada Lagu Parenjak-enjak Ni Huda Sitajur yang Disajikan Oleh Arisden

Purba di Huta Manik Saribu Sait Buttu, Kecamatan Pematang Sidamanik,

Kabupaten Simalungun. Skripsi Sarjana S-1, Departemen

Entomusikologi,Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara

Tarigan, Sarjani 2008. Dinamika Orang Karo, Budaya dan Modernisme, Balai

Adat Karo Indonesia : Medan

Tarigan, Sarjani 2008. Dinamika Peradatan Orang Karo, Balai Adat Karo

Indonesia : Medan

(4)

BAB III

KULCAPI PADA MASYARAKAT KARO 3.1 Struktur kulcapi Karo

Untuk membantu dan mendukung proses mengamati teknik permainan

kulcapi pada objek penelitian maka penulis akan menjelaskan terlebih dahulu

bagian-bagian yang terdapat pada kulcapi tersebut.

Gambar 3.1 : Struktur kulcapi Karo

(5)

Berdasarkan wawancara dengan bapak Pauzi Ginting, panjang kulcapi

sekitar 80 cm. Kayu yang biasa dipakai untuk kulcapi yaitu kayu tualang, kayu

nangka, kayu kembawang dan kayu juhar. Instrumen Kulcapi ini memiliki

bagian-bagian yang mempunyai fungsi masing-masing, antara lain :

a. Takal (kepala)

Kepala (Takal) adalah bagian kepala dari kulcapi ini adalah tempat dimana

setelan (cuping-cuping) akan dibuat. Biasanya bentuk kepala (takal) kulcapi

berbentuk seperti takal kayat. Namun, pada saat ini sudah banyak variasi yang

digunakan oleh pengrajin kulcapi untuk membentuk kepala (takal) pada kulcapi

tersebut.

Gambar 3.2 : Takal (kepala) kulcapi

(Dokumentasi : Penulis)

(6)

b. Kerahung (leher)

Leher (Kerahung), adalah bagian badan dari kulcapi yang terletak di

bawah kepala kucapi, dimana pada bagian ini terdapat fret (tembuku)

kulcapi. Leher (kerahung) juga berfungsi untuk meletakkan ibu jari tangan

kiri pada saat posisi memainkan kulcapi.

Gambar 3.3 : Kerahung (Leher) kulcapi (Dokumentasi : Penulis)

c. Takkur (tutup)

Takkur (tutup) , merupakan bagian yang berada di bawah leher kucapi

yang merupakan bagian tutup lobang resonator dan pada bagian ini

terdapat bagian pengait senar (dekung) yaitu engguhna.

Gambar 3.4 : Takkur (tutup) kulcapi

(Dokumentasi : Penulis)

(7)

d. Lubang Resonator

Lubang resonator, bagian dari kulcapi ini merupakan lubang yang terdapat

pada bagian bawah kulcapi yang berfungsi sebagai pengubah efek suara.

Gambar 3.5 : Lubang Resonator (Dokumentasi : Penulis)

Dalam mengklasifikasikan instrumen kulcapi, penulis mengacu pada teori

yang dikemukakan oleh Curt Sach dan Hornbostel (1961) yaitu:

”Sistem pengklasifikasian alat musik berdasarkan sumber penggetar utama

bunyinya. Sistem klasifikasi ini terbagi menjadi empat bagian yaitu:

Idiofon,(penggetar utama bunyinya adalah badan dari alat musik itu sendiri),

Aerofon, (penggetar utama bunyinya adalah udara), Membranofon, (penggetar

utama bunyinya adalah kulit atau membran), Kordofon, (penggetar utama

bunyinya adalah senar atau dawai)”.

Mengacu pada teori tersebut, maka kulcapi diklasifikasikan sebagai alat

musik kelompok kordofon karena sumber bunyi utamanya berasal dari senar.

Kulcapi berbentuk lute yang terdiri dari dua buah senar (two-strenged

fretted-necked lute).

(8)

3.2 Eksistensi Kulcapi Pada masyarakat Karo

Alat musik Kulcapi merupakan alat musik petik yang berasal dari suku

Karo dan keberadaannya masih ada hingga saat ini. Pada masyarakat Karo,

Kulcapi memiliki banyak fungsi, salah satunya adalah sebagai pembawa melodi

dalam Ensambel Gendang Telu sendalanen. Menurut Kamus Besar Bahasa

Indonesia, Balai Pustaka, 1991:253 bahwa eksistensi adalah keberadaan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa seniman Karo, bahwa salah satu

orang paling berpengaruh dalam perkembangan Kulcapi adalah Alm. Jasa

Tarigan. Pada awal tahun 1980, seorang musisi tradisional Karo, yaitu Jasa

Tarigan melakukan eksperimen dengan menggabungkan alat musik Kulcapi

dengan Gendang Lima Sendalanen dalam seni pertunjukan tradisional masyarakat

Karo, yaitu Gendang guro-guro aron. Awalnya, Kulcapi adalah alat musik

pembawa melodi dalam ensambel Gendang telu sendalanen, sementara itu alat

musik pembawa melodi dalam Gendang Lima Sendalanen adalah Sarune.

Sebelumnya pada akhir tahun 1970an, Gendang Lima Sendalanen yang terdiri

dari alat musik: Sarune, Gendang singanaki, Gendang singindungi, Penganak dan

Gung masih merupakan ensambel musik tradisional masyarakat Karo yang biasa

digunakan dalam kesenian tradisional Karo. Selanjutnya, dengan kemampuan dan

kreativitas yang dimilikinya, Jasa Tarigan menggabungkan instrumen Kulcapi

dengan Gendang Lima Sendalanen dalam konteks Gendang guro-guro aron.

Dalam hal ini Kulcapi dimainkan secara bergantian dengan Sarune sebagai alat

musik pembawa melodi. Pergantian alat musik ini juga tidak bersifat permanen

dalam satu pertunjukan Gendang guro-guro aron, karena dalam setiap

(9)

pertunjukannya, kedua instrumen tersebut tetap akan dibawa dan penggunaannya

dimainkan secara berganti-gantian dalam membawakan melodi lagu. Dengan

digunakannya Kulcapi sebagai pembawa melodi dalam Gendang Lima

Sendalanen, maka konsep atau terminologi Gendang Lima Sendalanen sebagai

suatu ensambel musik tradisional Karo menjadi rancu, karena di depan telah

dijelaskan bahwa Gendang Lima Sendalanen terdiri dari instrumen: Sarune,

Gendang singanaki, Gendang singindungi, Penganak dan Gung, sementara

Kulcapi memiliki ensembel dan konteks tersendiri, yaitu Gendang telu

sendalanen dan konteksnya adalah Erpangir ku lau. Setelah lebih kurang sepuluh

tahun (1980-1990) Gendang Lima Sendalanen Plus Kulcapi digunakan sebagai

ensambel yang umum dalam Gendang guro-guro aron, di awal tahun 1991 Jasa

Tarigan kembali melakukan eksperimen pada musik pengiring Gendang

guro-guro aron, Ia menghadirkan alat musik Keyboard dan dimainkan secara

bersama-sama dengan Gendang Lima Sendalanen Plus Kulcapi dalam setiap

pertunjukannya. Berbeda dengan Kulcapi yang secara langsung digunakan -

secara bergantiganti dengan sarune - sebagai pembawa melodi lagu, di sini

Keyboard pada hanya dimanfaatkan sebagai alat musik tambahan (musik

pengiring) melalui bunyi-bunyi perkusif (ritmis) pada bagian akhir komposisi

Gendang salih yang dimainkan Gendang Lima Sendalanen Plus Kulcapi.

Bunyi-bunyi ritmis yang dimunculkan melalui alat musik Keyboard ini hanya pada saat

tertentu saja dalam keseluruhan bagian Gendang salih tersebut.

(10)

3.3 Fungsi Kulcapi pada Masyarakat Karo

Dalam menuliskan fungsi Kulcapi dalam kebudayaan masyarakat Karo,

maka penulis mengacu pada teori Alan P. Merriam, yaitu:

”use” then, refers to the situation in which is employed in human action:

“function” concern the reason for its employment and particulary the brodader

purpose which is serves(1964:210)

Dari kalimat di atas, dapat diartikan bahwa use (penggunaan) menitik

beratkan pada masalah situasi atau cara yang bagaimana musik itu digunakan,

sedangkan function (fungsi) yang menitik beratkan pada alasan penggunaan atau

menyangkut tujuan pemakaian musik itu mampu memenuhi kebutuhan manusia

itu sendiri.

Menurut Allan P. Merriam (1964:219-226) fungsi music dapat dibagikan

dalam 10 kategori yaitu

1. Fungsi Pengungkapan Emosional

2. Fungsi penghayatan Estetis

3. Fungsi Hiburan

4. Fungsi Komunikasi

5. Fungsi Perlambangan

6. Fungsi Reaksi Jasmani

7. Fungsi yang berkaitan dengan reaksi social

8. Fungsi pengesahan lembaga sosial dan upacara keagamaan

9. Fungsi kesinambungan budaya

10. Fungsi Pengintegrasian masyarakat

(11)

Kulcapi dapat dikategorikan dalam beberapa fungsi yaitu, fungsi pengungkapan

emosional, fungsi hiburan, fungsi komunikasi, fungsi reaksi jasmani, fungsi

pengesahan lembaga social dan upacara keagamaan, fungsi penghayatan estetis.

3.3.1 Fungsi Pengungkapan emosional

Berkenaan dengan fungsi kulcapi sebagai pengungkapan emosional dapat

dilihat pada waktu alat musik ini digunakan untuk mengungkapkan perasaan

seperti digunakannya alat musik ini sebagai alat untuk menghibur diri. Dorongan

emosional yang mengakibatkan kesedihan pada diri pemainnya terutama karena

kemelaratan dan dan penderitaan yang dialaminya. Dengan menuangkan

kesedihan melalui permainan kucapi, si pemain akan merasa lebih tenang dan

merasa bebannya sudah terbawa oleh nyanyian yang dituangkan melalui

permainan kulcapi.

3.3.2 Fungsi Hiburan

Kulcapi juga berfungsi dalam hiburan. Disamping untuk menghibur diri,

pada perkembangannya alat musik ini digunakan untuk menghibur orang lain. Hal

ini dapat dilihat dari penggunaan alat musik ini pada saat mengiringi tari dan juga

kolaborasi dengan alat musik lain dalam kegiatan seni pertunjukan atau kegiatan

budaya.

(12)

3.3.3 Fungsi Komunikasi

Dalam banyak hal musik berfungsi sebagai alat atau media komunikasi.

Kulcapi berfungsi sebagai alat komunikasi dapat dilihat ketika alat ini digunakan

oleh anak perana (pemuda) untuk mengkomunikasikan perasaannya kepada

seorang gadis yang disukainya.

3.3.4 Fungsi Reaksi Jasmani

Kulcapi dalam ensambel oning-oningen yang digunakan untuk mengiringi

tarian yang sebagian gerakannya adalah gerakan yang dinamis yang kerap

membuat para penarinya bergerak indah. Kesinambungan antara bunyi musik

dapat menimbulkan reaksi jasmani dari si penari sehingga dapat menggerakkan

tubuhnya dengan indah.

3.3.5 Fungsi pengesahan lembaga sosial dan upacara keagamaan

Fungsi pengesahan lembaga sosial dan upacara agama dimana alat musik

kulcapi digunakan dalam upacara agama, upacara perkawinan, peresmian suatu

tempat, organisasi/lembaga maupun individu.

3.3.6 Fungsi Penghayatan Estetis

Suatu keindahan dapat dituangkan dalam bunyi-bunyian yang dihasilkan

dari melodi kulcapi yang dapat dinikmati oleh pemusik itu sendiri maupun

pendengarnya. Selain itu, pengunkapan emosional yang dilakukan oleh seorang

(13)

pemain kulcapi pada saat menghibur diri dapat terjadi ketika si pemain kulcapi

dapat mengahayati permainannya.

(14)

BAB IV

DESKRIPSI TEKNIK PERMAINAN KULCAPI KARO

4.1 Proses Belajar Kulcapi Karo

Proses belajar kulcapi pada masyarakat Karo dilakukan dengan tradisi lisan.

Tradisi lisan adalah sebuah tradisi yang proses belajarnya dengan cara melihat,

mendengar, menghapal , dan meniru. Dengan cara menghapal sebuah melodi lagu

yang dimainkan atau menyanyikannya kemudian memainkannnya ke dalam alat

musik kulcapi. Semakin sering mendengar lagunya dan semakin menghafal

melodinya, maka secara otomatis dapat memainkannya dalam alat musik kulcapi.

4.1.1 Posisi memainkan

Dalam teknik permainan kulcapi, posisi memainkan merupakan tahap awal dalam

proses belajar kulcapi. Seorang perkulcapi tidak akan bermain maksimal apabila

posisi memainkan kurang tepat. Posisi Kulcapi diletakkan tegak lurus dengan

badan, tangan kiri diposisikan di leher kulcapi, jari (kecuali ibu jari) menekan

senar ( leher kulcapi bagian depan) sedangkan ibu jari menekan leher kulcapi

bagian belakang kulcapi. Posisi tangan kanan tepatnya telapak tangan diletakkan

di bagian nggoh dari kulcapi, jari telunjuk dan ibu jari tangan kanan digunakan

untuk memegang kuir-kuir4, sedangkan jari yang lain diposisikan di bawah badan kulcapi sebagai alat untuk memetik dekung5

4

Sejenis pick gitar yang digunakan untuk memetik senar kulcapi 5

Dekung adalah senar kulcapi

. Bagian perut dari kulcapi di

(15)

tempelkan pada perut sipemain dengan tujuan agar kulcapi dapat berada dalam

posisi yang kokoh.

Gambar 4.1 : Posisi memainkan kulcapi (dok : penulis)

(16)

Gambar 4.2 : Posisi ibu jari tangan kiri pada kulcapi (dok : penulis)

Gambar 4.3 : Posisi jari kiri bagian depan (dok : penulis)

(17)

4.1.2 Cara memetik

Setelah mengetahui bagaimana posisi yang tepat saat memainkan kulcapi, tahap

selanjutnya adalah bagaimana cara memetik kulcapi. Pada saat memetik kulcapi,

tangan kanan diletakkan di bagian engguhna dari kulcapi.

Gambar 4.4 : gambar engguhna (dok : penulis)

(18)

jari telunjuk dan ibu jari tangan kanan digunakan untuk memegang kuis-kuis

untuk memetik dekung.

Gambar 4.5 : posisi jari memegang kuis-kuis kulcapi (dok : penulis)

Sedangkan jari yang lain, diantaranya jari tengah, jari manis dan jari kelingking

diposisikan di bawah badan kulcapi agar posisi saat memetik lebih nyaman.

(19)

Tahap awal yang dilakukan untuk belajar memetik kulcapi adalah memetik

kedua senar kulcapi dengan menggunakan pick mengikuti irama gung dan

penganak dengan tempo peselukken dimana senar 1 dianggap sebagai penganak

sedangkan senar dua sebagai gung dan posisi jari kiri tidak menekan senar (open

string)6

4.1.3 Penjarian (fingering)

Pada umumnya terdapat 5 fret yang dipasang pada kulcapi, namun untuk

mencapai nada satu oktav kita harus memainkannya sampai pada fret 9 pada fret

transparent (yang tidak terpasang). Namun secara umum nada pada kulcapi karo

dapat dijelaskan sebagai berikut:

Tangga nada mayor pada kulcapi .

C=DO

C D E F G A B C’

6

Wawancara dengan Sorensen Tarigan

(20)

Gambar 4.6 : gambar tembuku (fret) kulcapi (dok : penulis)

Keterangan gambar Posisi jari pada Kulcapi

Senar (dekung) 1

1. Gambar 1 : Posisi jari untuk menghasilkan nada D adalah memetik senar 1

tanpa menekan senar (open string).

(21)

2. Gambar 2 : Posisi jari untuk menghasilkan nada E adalah memetik senar 1

dengan menekan senar pada fret 1.

3. Gambar 3 : Posisi jari untuk menghasilkan nada F adalah memetik senar 1

dengan menekan senar pada fret 2.

(22)

4. Gambar 4 : Posisi jari untuk menghasilkan nada F# adalah memetik senar

1 dengan menekan senar pada fret 3

5. Gambar 5 : Posisi jari untuk menghasilkan nada G adalah memetik senar 1

dengan menekan senar pada fret 4

6.

(23)

6. Gambar 6 : Posisi jari untuk menghasilkan nada G# adalah memetik senar

1 dengan menekan senar pada fret 5

7. Gambar 7 : Posisi jari untuk menghasilkan nada A adalah memetik senar 1

dengan menekan senar pada fret 6

(24)

8. Gambar 8 : Posisi jari untuk menghasilkan nada A# adalah memetik senar

1 dengan menekan senar pada fret 7

9. Gambar 9 : Posisi jari untuk menghasilkan nada B adalah memetik senar 1

dengan menekan senar pada fret 8

(25)

10. Gambar 10 : Posisi jari untuk menghasilkan nada C adalah memetik senar 1

dengan menekan senar pada fret 9

Senar (dekung) 2

1. Gambar 11 : Posisi jari untuk menghasilkan nada G adalah memetik senar

2 tanpa menekan senar (open string).

(26)

2. Gambar 12 : Posisi jari untuk menghasilkan nada A adalah memetik senar

2 dengan menekan senar pada fret 1.

3. Gambar 13 : Posisi jari untuk menghasilkan nada A# adalah memetik

senar 2 dengan menekan senar pada fret 2.

(27)

4. Gambar 14 : Posisi jari untuk menghasilkan nada B adalah memetik senar

2 dengan menekan senar pada fret 3.

5. Gambar 15 : Posisi jari untuk menghasilkan nada C adalah memetik senar

2 dengan menekan senar pada fret 4

(28)

6. Gambar 16 : Posisi jari untuk menghasilkan nada C# adalah memetik

senar 2 dengan menekan senar pada fret 5

7. Gambar 17 : Posisi jari untuk menghasilkan nada D adalah memetik senar

dengan menekan senar pada fret 6

(29)

8. Gambar 18 : Posisi jari untuk menghasilkan nada D# adalah memetik

senar dengan menekan senar pada fret 7

7. Gambar 19 : Posisi jari untuk menghasilkan nada E adalah memetik senar

dengan menekan senar pada fret 8

(30)

7. Gambar 20 : Posisi jari untuk menghasilkan nada F adalah memetik senar

dengan menekan senar pada fret 9

4.2 Pelarasan (tunning)

Di dalam sistem pelarasan (tuning) kulcapi dalam tradisi Karo telah memiliki

ukuran tersendiri, senar satu adalah nada sol dan senar dua adalah nada do. Sistem

pelarasan dalam alat musik ini tergantung dari perasaan si pemain walaupun

dalam kenyataan yang penulis temukan bahwa interval nada antara senar dua

dengan senar satu adalah kwint murni7.

7

Kwint murni adalah interval nada yang berjarak 3 ½ laras dari nada dasar

(31)

A B

Gambar 4.7 : A (menyetem senar 2) & B (menyetem senar 1)

(dok : penulis)

4.3 Rengget pada Kulcapi

Dalam permainan musik masyarakat Karo dikenal ciri khas yang menjadi

nada istimewa yang dimainkan baik itu terdapat dalam beberapa permainan alat

musik tunggal Karo maupun nyanyian pada masyarakat Karo yaitu rengget.

Rengget merupakan sejenis nada melismatis yang dihasilkan untuk mengalunkan

nada sebelum dan setelahnya. Rengget inilah yang menjadi khas permainan musik

masyarakat Karo pada umumnya. Ada 3 rengget yang di transkripsikan oleh

penulis yaitu:

Rengget 1

(32)

Rengget 2

Rengget 3

4.4 Tonggum pada Kulcapi

Tonggum adalah suatu teknik permainan Kulcapi dengan cara

mendekapkan seluruh/sebagian resonator (babah) Kulcapi ke badan pemain

Kulcapi secara berulang dalam waktu tertentu. Hal tersebut dilakukan untuk

mengubah warna bunyi (efek bunyi) pada kulcapi. Posisi badan saat memainkan

kulcapi adalah dengan duduk bersila dan setengah baju dibuka agar resonator

kulcapi bisa menempel langsung dengan perut si pemain.

Gambar 4.8 : posisi memainkan tonggum pada kulcapi (dok : penulis)

(33)

Namun seiring dengan berkembangnya zaman, maka perubahan pun

terjadi. Kulcapi mulai menggunakan spul (pengeras suara). Dibagian lobang

resonator pada kulcapi sudah dipasang spul pengeras suara. Hal ini sudah dipakai

pada saat kulcapi digunakan dalam kegiatan budaya. Contohnya spul tersebut

digunakan pada kegiatan Gendang guro-guro aron. Hal ini digunakan untuk

pengeras suara pada kulcapi agar suaranya kuat dan sebanding dengan suara

keyboard yang sudah digunakan pada kegiatan budaya pada masyarakat Karo.

Gambar 4.9 : Gambar spul atau pengeras suara pada kulcapi

(dok : penulis)

(34)

Gambar 4.10 : Lobang resonator kulcapi (dok : penulis)

Gambar 4.11 : Posisi diletakkannya spul di lobang resonator kulcapi

(dok : penulis)

(35)

4.5 Analisis Melodi pada lagu Odak-odak

Lagu yang dimaksud adalah repetoar lagu Odak-odak. Alasan penulis memilih

lagu ini adalah karena lagu ini adalah lagu yang sering dimainkan untuk tujuan

pengiring tarian dan lagu ini merupakan lagu yang popular pada masyarakat Karo.

Odak-odak

(36)
(37)

4.5.1 Tangga Nada (Scale)

Dalam mendeskripsikan tangga nada, penulis akan mengurutkan nada-nada yang

terdapat dalam melodi lagu odak-odak tersebut yang dimulai dari nada terendah

sampai nada yang tertinggi. Dari hasil analisa pada tangga nada lagu odak-odak,

maka diperoleh kesimpulan lagu tersebut menggunakan 5 nada, terdiri atas G, A,

C, D, dan E.

Odak-odak

G

A

C D E

4.5.2 Nada Dasar

Nada dasar pada sebuah lagu/musik sangatlah berperan penting. Nettl (1964:147)

mengemukakan tentang metode atau pendekatan dalam menemukan nada dasar

pada sebuah lagu/musik. Ada enam yang diusulkan menjadi perhatian penting,

yaitu:

a. Melihat nada mana yang sering dipakai

b. Melihat nada mana yang memiliki ritmis (harga ritmis) yang besar

c. Melihat nada awal atau akhir suatu komposisi yang dianggap mempunyai

fungsi penting dalam penentuan tonalitas (nada dasar)

d. Nada paling rendah atau posisi tepat ditengah-tengah dianggap penting

e. Adanya tekanan ritmis sebagai patokan

(38)

f. Pengenalan yang akrab dengan gaya musik

Dari hasil analisis transkripsi lagu odak-odak diatas, khususnya tangga nada dan

jumlah nada digunakan penulis sebagai acuan untuk menjawab ketujuh

pendekatan untuk menemukan nada dasar pada sebuah repotoar/lagu sehingga

dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

a. Nada yang sering dipakai pada odak-odak adalah nada C

b. Nada yang memiliki ritmis (harga ritmis) yang besar pada odak-odak adalah

nada C

c. Nada awal komposisi pada odak-odak adalah nada C , dan nada akhirnya

adalah nada C

d. Nada paling rendah pada odak-odak adalah nada G , dan nada paling tengah

adalah nada C

e. Adanya tekanan ritmis pada odak-odak adalah nada C

f. Pengenalan yang akrab dengan gaya musik pada odak-odak Mayor adalah nada

C.

4.5.3 Wilayah Nada (Range)

Wilayah nada adalah daerah (ambitus) antara nada yang frekuensinya

paling rendah dengan nada yang frekuensinya paling tinggi dalam satu lagu.

Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Ellis dalam Malm (1977:35) tentang

perhitungan frekuensi nada dengan menggunakan cent, yaitu nada-nada yang

berjarak 1 laras sama dengan 200 cent, dan nada-nada berjarak ½ laras sama

dengan 100 cent. Dengan melihat nada-nada yang telah ditranskripsikan, maka

lagu odak-odak memiliki wilayah nada dari nada G (terendah) dan E ( nada

(39)

tertinggi) yang semua berjarak 4½ laras atau sama dengan 900 cent. Untuk lebih

jelas wilayah nada lagu odak-odak, dapat dilihat dari garis paranada di bawah ini.

Wilayah nada odak-odak

4.5.4 Jumlah Nada

Netll (1964:146) menyatakan dalam mentranskripsikan modus lagu paling

tidak menyebut nada mana yang yang berfungsi sebagi nada dasar , nada-nada

yang dianggap penting dalam lagu tersebut, serta nada-nada pendamping lainnya.

Lebih lanjut Netll mengatakan bahwa gambaran tangga nada dan modus biasanya

disampaikan lewat notasi (tangga nada) yang ditulis diatas garis paranada dengan

harga-harga yang menandai nada mana yang sering dipakai dan yang tidak.

Berikut jumlah nada-nada yang dipakai pada lagu odak-odak, setelah penulis

menyusun nada-nada tersebut pada garis paranada.

Jumlah nada odak-odak

G A C D E

(28) (36) (91) (48) (15

(40)

4.5.5 Interval

Interval adalah jarak antara satu nada dengan nada berikutnya, naik

maupun turun (Manoff 1991 : 50). Pada suatu komposisi lagu interval adalah

penggarapan melodi yang dicapai melalui bangunan nada secara melangkah atau

melompat, turun , maupun mendatar. Manoff (1991:84) membuat pengukuran

yang lebih akurat terhadap interval dengan ketentuan sebagai berikut :

1. Interval berkualitas mayor (M) bila dinaikkan setengah langkah, maka interval

tersebut akan berkualitas auqmented (Auq) dan jika diturunkan setengah langkah

akan berkualitas minor (m).

2. Interval berkualitas minor bila dinaikkan setengah langkah akan menjadi mayor

dan sebaliknya jika diturunkan setengah langkah akan menjadi diminished (dim).

3. Interval berkualitas perfect (P) bila dinaikkan setengah langkah akan menjadi

interval auqmented dan sebaliknya jika diturunkan setengah langkah akan menjadi

interval diminished.

Berikut ini akan penulis jelaskan beberapa contoh interval yang ada pada

lagu odak-odak:

D-D = 1P (Prime Perfect)

D-E = 2M (Secunde Mayor)

(41)

E-D = 7 m (Septim minor)

D-C = 7 m (Septim minor)

C-G = 5 P (Kwint Perfect)

G-A = 2M (Secunde Mayor)

A-C = 3 Auq ( Third Auqmented)

C-D = 2M (Secunde Mayor)

C-A = 6 M (Sekta Mayor)

A-G = 7 (Septim minor)

4.5.6 Pola Kadensa (Cadence Patterns)

Kadensa adalah suatu rangkaian harmoni atau melodi sebagai penutup pada akhir

melodi atau di tengah kalimat, sehingga bisa menutup sempurna melodi tersebut

atau setengah menutup (sementara) melodi tersebut. Berikut ini adalah pola

kadensa yang terdapat pada lagu odak-odak:

(42)

4.5.7 Bentuk melodi

Dalam medeskripsikan bentuk melodi, ada tiga hal yang penting untuk

dibahas, yaitu bentuk, frasa, dan motif. Netll (1964:149-150) mengatakan bahwa

bentuk adalah hubungan diantara bagian-bagian dari sebuah komposisi, termasuk

hubungan diantara unsur-unsur melodis dan ritmis, atau dengan pemahaman

sederhana, bentuk merupakan suatu aspek yang menguraikan tentang organisasi

musikal. Frasa adalah suatu unit dari melodi di dalam komposisi. Sedangkan

motif adalah ide melodi sebagai dasar pembentukan melodi. Bentuk disimbolkan

dengan huruf A, B, C, dan seterusnya, sedangkan frasa dituliskan ke dalam

angka-angka.

1. Repetitive, yaitu bentuk nyanyian yang mengalami pengulangan.

2. Iteratif, yaitu suatu bentuk nyanyian yang menggunakan formula melodi

yang kecil dengan kecenderungan pengulangan-pengulangan di dalam

keseluruhan nyanyian.

(43)

3. Reverting, yaitu suatu bentuk nyanyian apabila di dalam nyanyian terjadi

pengulangan pada frase pertama setelah terjadi penyimpangan melodis.

Namun pada lagu odak-odak tidak ditemukan bentuk (form) tersebut.

4. Strofic, yaitu bentuk nyanyian diulang dengan formalitas yang sama

namun menggunakan teks yang baru.

5. Progressive, yaitu bentuk nyanyian selalu berubah dengan menggunakan

materi melodi yang selalu baru. Namun dalam lagu odak-odak, bentuk

(form) ini tidak ada, karena semua bentuk melodinya selalu mengalami

pengulangan.

4.5.8 Kantur (Contour)

Kontur adalah garis atau melodi pada sebuah lagu (Malm 1964:8).

Defenisi yang sama, kontur adalah alur melodi yang biasanya ditandai dengan

menarik garis. Ada beberapa jenis kontur yang dikemukakan oleh Malm (Malm

dalam Jonson 2000: 76), antara lain:

1. Ascending, yaitu garis melodi yang sifatnnya naik dari nada rendah ke nada

yang lebih tinggi, seperti gambar :

(44)

2. Descending, yaitu garis melodi yang sifatnya turun dari nada yang tinggi ke

nada yang rendah, seperti gambar :

3. Pendulous, yaitu garis melodi yang sifatnya melengkung dari nada yang rendah

ke nada yang tinggi, kemudian kembali ke nada yang rendah. Begitu juga

sebaliknya, seperti gambar :

(45)

4. Teracced, yaitu garis melodi yang sifatnya berjenjang seperti anak tangga dari

nada yang rendah ke nada yang lebih tinggi kemudian sejajar, seperti gambar:

6. Statis, yaitu garis melodi yang sifatnya tetap atau apabila gerakan-gerakan

intervalnya terbatas, seperti gambar:

(46)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN

Berdasarkan penjelasan yang telah dijabarkan pada bab-bab sebelumnya

maka beberapa kesimpulan yang didapat oleh penulis adalah sebagai berikut.

Secara umum, proses belajar alat musik tradisional Karo yaitu dengan cara oral

tradition (tradisi lisan), yang proses belajarnya dengan cara melihat, mendengar,

menghapal, dan meniru. Alat musik tradisional Karo pada umumnya digunakan

untuk mengiringi upacara adat, upacara ritual dan untuk hiburan. Sesuai dengan

objek penelitian utama penulis, bahwa kulcapi adalah alat musik tradisional Karo

yang keberadaannya masih ada hingga saat ini. Kulcapi berbentuk lute yang

terdiri dari dua buah senar (two-strenged fretted-necked lute). Selain dapat

digunakan secara ensambel, instrumen kulcapi juga dapat dimainkan secara

tunggal. Kulcapi adalah alat musik petik berbentuk lute yang terdiri dua buah

senar. Senarnya terbuat dari metal namun dulunya terbuat dari akar pohon aren

atau enau. Orang yang memainkan Kulcapi disebut dengan perkulcapi. Awalnya

kulcapi hanya dapat dimankan tunggal dan seiring dengan perkembangan perjalanan

kulcapi maka kemudian dimainkan pada ansambel dan kemudian dikolaborasikan dengan

alat musik keyboard. Sebelumnya kulcapi hanya dimainkan pada upacara ritual saja

namun kemudian kulcapi dimainkan pada acara hiburan yakni gendang guro-guro aron

diprakarsai oleh Alm. Djasa Tarigan. Untuk memainkan kulcapi tentunya

mempunyai teknik agar perkulcapi bisa bermain dengan maksimal dan

menghasilkan melodi yang sesuai dengan ciri khas alat musik tersebut. Untuk

(47)

proses belajar kulcapi pada masyarakat Karo dilakukan dengan tradisi lisan.

Dengan cara menghapal sebuah melodi lagu yang dimainkan atau

menyanyikannya kemudian memainkannnya ke dalam alat musik kulcapi.

Semakin sering mendengar lagunya dan semakin menghafal melodinya, maka

secara otomatis dapat memainkannya dalam alat musik kulcapi.

Kulcapi memiliki beberapa teknik dalam memainkannya yaitu:

1. Cara memegang kulcapi

2. Cara memetik kulcapi

3. Penjarian pada kulcapi

Namun sebelum 3 hal tersebut dipelajari, posisi memainkan kulcapi sangat

berpengaruh saat memainkannya. Dalam teknik permainan kulcapi, posisi

memainkan merupakan tahap awal dalam proses belajar kulcapi. Seorang

perkulcapi tidak akan bermain maksimal apabila posisi memainkan kurang tepat

dan tujuannya agar kulcapi dapat berada dalamposisi yang kokoh.

5.2 Saran

Dari pembahasan dan beberapa kesimpulan yang telah diuraikan, ada

beberapa saran yang perlu dikemukakan untuk mengembangkan teknik permainan

kulcapi tersebut. Memperhatikan bagaimana teknik permainan kulcapi

sebelumnya, untuk itu dapat mendorong seluruh masyarakat terkhusus masyarakat

Karo untuk melestarikan salah satu keseniannya dengan melihat bagaimana teknik

permainan kulcapi tersebut. Dengan tulisan ini diharapkan dapat mendorong

masyarakat Karo untuk mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan

(48)

terkhusus kesenian ini agar tetap terlestari di dalam masyarakatnya. Generasi

merupakan salah satu kunci utama dalam proses ini agar tetap berkembang dan

dapat dipertahankan.

(49)

BAB II

MUSIK TRADISIONAL MASYARAKAT KARO

2.1 Gambaran Umum Wilayah Karo

Suku Karo/Batak Karo banyak terdapat didaerah Kabupaten Karo

(meliputi Tanah Karo Simalem dan sekitarnya), Kabupaten Langkat, Kabupaten

Deli Serdang, Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Simalungun, dan

Kabupaten Dairi. Selain itu suku Karo juga banyak menetap dibeberapa wilayah

Kota Medan, seperti Deli Tua, Padang Bulan, Sunggal, dan lain-lain. Masyarakat

suku Karo adalah salah satu sub etnis suku yang telah lama mendiami beberapa

wilayah sebagai tempat bermukim di Sumatera Utara. Karo adalah salah satu dari

beberapa etnis yang terdapat di daerah Propinsi Sumatera Utara. Karo juga

merupakan sebutan untuk satu wilayah administratif Kabupaten yaitu Kabupaten

Karo yang wilayahnya meliputi seluruh dataran tinggi Karo. Secara administratif

pemerintahan masyarakat Karo berada di dataran tinggi Kabupaten Karo dengan

ibukota Kabanjahe.

Gambar 2.1 : Peta Kabupaten Karo ( Sumber : Internet )

(50)

Gambaran tentang daerah domisili masyarakat Karo dapat pula dilihat seperti apa

yang digambarkan oleh J.H. Neuman dalam buku lentera kehidupan orang Karo

dalam berbudaya (Sarjani Tarigan, 2009 : 36), yaitu:

“Wilayah yang didiami oleh suku Karo dibatasi sebelah timur oleh pinggir jalan yang

memisahkan dataran tinggi dari Serdang. Di sebelah Selatan kira-kira dibatasi oleh sungai

Biang (yang diberi nama sungai Wampu, apabila memasuki Langkat), disebelah Barat

dibatasi oleh gunung Sinabung dan disebelah Utara wilayah itu meluas sampai kedataran

rendah Deli dan Serdang.”

Gambar 2.2 : Peta Provinsi Sumatera Utara (Sumber : Internet)

Dari gambaran luas daerahnya diatas, domisili masyarakat Karo ini

memang tidak dapat dibantah, bahwa ada beberapa kelompok yang berdomisili di

daerah pantai dan hidup berdampingan dengan penduduk Melayu, dan secara

bertahap kedua suku tersebut saling berbaur dan berakulturasi antara sesamanya.

Dengan demikian, orang-orang Karo yang tersebar dan berakulturasi dengan

suku-suku lain tersebut, mengakibatkan adanya perbedaan julukan atas dasar

(51)

wilayah komusitasnya seperti : Karo Kenjulu, Karo Teluh Dereng, Karo Singalor

Lau, Karo Baluren, Karo Langkat, Karo Timur dan Karo Dusun. Dalam pergaulan

kehidupan bermasyarakat sehari-hari, sering terjadi kekeliruan bahwa suku Karo

itu diidentikkan hanya kepada orang yang tinggal dan berasal dari Kabupaten

Karo padahal suku Karo itu wilayah pemukimannya jauh lebih luas dari pada

Kabupaten Karo itu sendiri ( Sarjani Tarigan 2009:255 ).

2.2 Musik Tradisional Masyarakat Karo

Musik tradisional adalah musik yang hidup di masyarakat secara turun

temurun, dipertahankan sebagai sarana hiburan maupun sarana ritual. Tiga

komponen yang saling memengaruhi diantaranya adalah Seniman, musik itu

sendiri dan masyarakat penikmatnya. Secara umum, proses belajar musik

tradisional merupakan oral tradition (tradisi lisan). Tradisi lisan adalah sebuah

tradisi yang proses belajarnya dengan cara melihat, mendengar, menghapal , dan

meniru. Masyarakat Karo memiliki konsep tersendiri tentang musik. Musik dalam

masyarakat Karo yaitu; musik instrumental, vokal, dan gabungan keduanya.

Dalam melakukan aktifitas bermusik masyarakat Karo memiliki dua konsep yaitu

ergendang (bermain musik) dan rende (bernyanyi). Musik tradisional Karo yang

akan dibahas penulis disini adalah adalah ensambel tradisional Karo, instrumen

musik tradisional Karo non-ensambel, musik vokal tradisional Karo, dan

instrumen keyboard dalam kebudayaan musik tradisional Karo. Untuk lebih jelas

tentang musik pada masyarakat Karo tersebut, penulis akan memaparkannya

sebagai berikut.

(52)

2.2.1 Ensambel musik tradisional Karo

Secara umum, proses belajar alat musik tradisional Karo yaitu dengan cara

oral tradition (tradisi lisan), yang proses belajarnya dengan cara melihat,

mendengar, menghapal, dan meniru3

Gendang lima sendalanen merupakan salah satu ensambel yang terdapat

pada masyarakat Karo. Gendang lima sendalanen terdiri dari sarune (klasifikasi

aerofon) sebagai pembawa melodi, gendang singanaki dan gendang singindungi

(klasifikasi membranofon) sebagai instrumen ritmis, serta gung dan penganak

(klasifikasi idiofon) sebagai pengatur tempo. Kelima instrumen tersebut . Alat musik tradisional Karo pada umumnya

digunakan untuk mengiringi upacara adat, upacara ritual dan untuk hiburan.

Musik tradisional Karo merupakan hasil/produk dari proses kebudayaan Karo itu

sendiri. Oleh karena itu, musik tradisional Karo berkaitan erat dengan

elemen-elemen kebudayaan lainnya seperti; adat istiadat Karo, sistem kepercayaan

tradisional Karo, sistem mata pencaharian masyarakat Karo, dan juga menjadi

hiburan bagi masyarakat Karo (Tarigan, 2004:119). Dalam penyebutan ensembel

musiknya masyarakat Karo menggunakan kata ‘gendang’. Ensembel musik Karo

jika diklasifikasikan secara umum dan yang paling sering digunakan pada konteks

upacara adat adalah gendang lima sedalanen dan gendang telu sedalanen.

Penjelasan mengenai ensembel musik tradisional Karo ini akan dijelaskan berikut

ini.

2.2.1.1 Gendang Lima Sedalanen

3

Wawancara dengan Bangun Tarigan (Seniman Karo), 16 Oktober 2015

(53)

dimainkan secara bersama-sama sebagai sebuah ensambel. Orang yang

memainkan kelima instrumen musik ini dalam gendang lima sendalenan disebut

dengan nama “Sierjabaten” dan masing-masing memiliki sebutan sesuai dengan

alat musik atau instrumen yang dimainkan. Untuk pemain sarune disebut sebagai

penarune, pemain gendang Singanaki dan pemain gendang Singindungi disebut

sebagai penggual, pemain gung disebut sebagai simalu gung dan pemain

penganak disebut sebagai simalu penganak.

Gambar 2.3 : Posisi sierjabaten saat memainkan alat musik gendang lima

sendalanen (Sumber : dokumentasi penulis)

Di kalangan musisi tradisional Karo istilah Gendang Sarune lebih sering

digunakan, sementara itu di berbagai tulisan tentang kebudayaan musik Karo

lebih banyak menggunakan istilah Gendang Lima Sendalanen. Untuk konsistensi

penulisan, dalam tulisan ini penulis menggunakan istilah Gendang Lima

Sendalanen. Ini tidak berarti istilah Gendang Lima Sendalanen lebih mewakili

(54)

dari pada Gendang Sarune karena memang kedua istilah tesebut selalu digunakan

dalam masyarakat Karo. Sarune merupakan alat musik tiup yang memiliki lidah

ganda (double reed), dan tabung alat musik ini berbentuk konis (conical) mirip

dengan alat musik obo (oboe). Instrumen ini terdiri dari lima bagian alat yang

dapat dipisah-pisahkan serta terbuat dari bahan yang berbeda pula yaitu: (a)

anak-anak sarune, (b) tongkeh, (c) ampang-ampang, (d) batang sarune, dan (e) gundal.

Gendang singanaki dan Gendang singindungi (double sided conical

drums) merupakan dua alat musik pukul yang terbuat dari kayu pohon nangka.

Pada kedua sisi alat musik yang berbentuk konis tersebut, terdapat membrane

yang terbuat dari kulit binatang. Sisi depan/atas atau bagian yang dipukul disebut

babah gendang, sisi belakang/bawah (tidak dipukul) disebut pantil gendang.

Kedua alat musik ini memiliki ukuran yang kecil, panjangnya sekitar 44 cm,

dengan diameter babah gendangnya sekitar 5 cm, sedangkan diameter pantil

gendang sekitar 4 cm.

Penganak dan gung tergolong dalam jenis suspended idiophone/gong

berpencu yang memiliki persamaan dari segi konstruksi bentuk, yakni sama

seperti gong yang umumnya terdapat pada kebudayaan musik nusantara.

Perbedaan keduanya (Penganak dan gung) adalah dari segi ukuran atau lebar

diameternya. Gung memiliki ukuran yang besar (diameter 68,5 cm), dan

penganak memiliki ukuran yang kecil (diameter 16 cm). Gung dan Penganak ini

terbuat dari kuningan, sedangkan palu-palu (pemukulnya) terbuat dari kayu

dengan benda lunak yang sengaja dibuat di ujungnya untuk menghasilkan suara

gung yang lebih enak didengar (palu-palu gung). Simalu gung dan simalu

(55)

penganak juga bermain dalam posisi duduk, sementara itu kedua alat musiknya

senantiasa digantung dengan seutas tali pada suatu tempat yang telah disediakan

secara khusus. Dalam konteks upacara adat sierjabaten atau penggual yang

memainkan gendang lima sedalanen/telu sedalanen diberikan tempat yang khusus

dengan beralaskan amak mbentar (tikar anyaman berwana putih). Walaupun

sekarang gendang lima sedalanen/telu sedalanen sudah digantikan dengan alat

elektronik modern yaitu gendang kibod, perlakuan terhadap sierjabaten tetap

sama. Dalam hal memberi upah, dulu sierjabaten atau penggual diberi beras,

garam, kelapa, dan ayam dalam mengiringi suatu acara adat, namun sekarang

sierjabaten atau penggual dibayar dengan uang sebagai ganti upah untuk

mengiringi jalannya acara adat.

2.2.1.2 Gendang Telu Sedalanen

Sama halnya dengan gendang lima sendalenan, secara harafiah gendang

telu sendalenan memiliki pengertian “tiga alat musik yang sejalan atau dimainkan

bersamaan.” Ketiga alat musik tersebut adalah kulcapi/ balobat, keteng-keteng,

dan mangkuk mbentar. Dalam ensambel ini ada dua instrumen yang bisa

digunakan sebagai pembawa melodi yaitu kulcapi dan balobat. Sedangkan

mangkuk dan keteng-keteng merupakan alat musik pengiring yang menghasilkan

pola ritem-ritem yang bersifat konstan dan repetitif. Pemakaian kulcapi dan

balobat sebagai pembawa melodi dilakukan secara terpisah dalam upacara yang

berbeda tergantung kebutuhan. Prinsipnya sebenarnya sama hanya saja instrumen

pembawa melodinya saja yang berbeda. Jika kulcapi digunakan sebagai pembawa

(56)

melodi maka disebut sebagai gendang kulcapi, dan jika menggunakan balobat

sebagai pembawa melodi maka disebut sebagai gendang balobat.

Gambar 2.4 : Instrumen Gendang Telu Sendalanen

( Sumber : Dokumentasi Penulis)

2.2.2 Instrumen Musik Tradisional Karo Non-ansambel

Selain dari ensambel di atas, masih banyak instrumen Karo nonensambel

yang dapat dimainkan secara tunggal tanpa diiringi alat musik lainnya, namun

hanya beberapa yang masih dapat ditemukan. Adapun instrumen tersebut antara

lain:

a. Kulcapi

Sesuai dengan objek penelitian utama penulis, bahwa Kulcapi adalah alat

musik tradisional Karo yang keberadaannya masih ada hingga saat ini. Kulcapi

berbentuk lute yang terdiri dari dua buah senar (two-strenged fretted-necked lute).

Selain dapat digunakan secara ensambel, instrumen kulcapi juga dapat dimainkan

secara tunggal. Kulcapi adalah alat musik petik berbentuk lute yang terdiri dua

(57)

buah senar. Senarnya terbuat dari metal namun dulunya terbuat dari akar pohon

aren atau enau. Orang yang memainkan Kulcapi disebut dengan perkulcapi.

Untuk memainkan kulcapi tentunya mempunyai teknik agar si pemain kulcapi

bisa bermain dengan maksimal dan menghasilkan melodi yang sesuai dengan ciri

khas alat musik tersebut. Pendeskripsian teknik permainan kulcapi tersebut akan

dijelaskan penulis pada bab berikutnya. Kulcapi Karo memiliki bentuk yang

hampir sama dengan alat musik sejenis yang dimiliki oleh suku Batak lain,

seperti: Hasapi pada masyarakat Toba, Kucapi pada masyarakat Pak-Pak dan

Husapi pada masyarakat Simalungun.

b. Balobat

Balobat merupakan alat musik tiup yang terbuat dari bambu dan dapat

dimainkan secara ansambel dan secara tunggal. Balobat ini di tiup biasanya pada

malam hari dan juga ditiup oleh penggembala sapi di padang rumput.

c. Murbab

Murbab merupakan satu-satunya alat musik gesek yang terdapat dalam

kesenian masyarakat Karo. Instrumen ini mirip dengan instrumen rebab yang

terdapat dalam musik Jawa. Alat musik murbab atau murdab merupakan alat

musik gesek menyerupai rebab pada alat musik tradisional Jawa atau biola pada

musik klasik barat. Murbab terdiri dari dua senar, sedangakan resonatornya

terbuat dari tempurung kelapa. Alat musik murbab dahulu dipergunakan sebagai

alat musik solo dan dimainkan dihadapan beberapa orang sebagai hiburan. Alat

(58)

musik ini kemungkinan besar telah hilang dari kebudayaan musik Karo. Namun

sekarang ini tidak dapat dapat ditemukan lagi dalam kebudayaan masyarakat

Karo.

d. Embal-ambal

Embal-embal merupakan alat musik yang biasanya dapat ditemukan di

sawah atau pada saat ladang padi sedang menguning. Instrumen ini digunakan

atau dimainkan sebagai alat musik hiburan pribadi di ladang ketika menjaga padi

dari gangguan burung. Embal-embal ini terbuat dari satu ruas bambu yang dibuat

lubang-lubang penghasil nada. Sebagai alat musik tiup, lidah (reed) embal-embal

dibuat dari badan alat musik itu sendiri.

e. Surdam

Surdam merupakan alat musik tiup yang terbuat dari bambu. Surdam

terbagi menjadi 3 jenis, yaitu surdam rumamis, surdam sitangko kuda dan surdam

puntung. Alat musik surdam biasanya dimainkan pada malam hari ketika suasana

sepi.

Surdam puntung merupakan surdam yang memiliki potongan bagian ujung

bambu yang tepat mengenai bagian ruas bambu, sehingga dapat dilihat pada

lubang tiup tepat pada bagian ruas bambu tersebut. Adapun lubang surdam ini

memiliki enam buah lubang yaitu lima lubang terdapat di bagian tengah bambu

surdam dan satu buah lubang dibagian bawah sisi bambu surdam. Adapun surdam

ini biasanya digunakan untuk memainkan segala jenis lagu-lagu yang sedih

(59)

maupun gembira. Surdam ini biasanya dipakai oleh permakan yang

menggembalakan ternaknya.

Surdam tangko kuda merupakan surdam yang sama seperti surdam

puntung namun ukuran surdam ini jauh lebih panjang dari surdam tersebut yaitu

satu meter. Lubang surdam ini memiliki enam buah lubang yaitu dua buah lubang

disis atas bambu surdam, tiga buah lubang dibagian sisi tengah bambu surdam,

dan satu buah lubang dibagian sisi bawah bambu surdam. Surdam ini juga

biasanya dipakai untuk memainkan lagu-lagu yang sedih.

Surdam rumamis merupakan surdam yang sama seperti surdam permakan,

namun surdam ini memiliki enam buah lubang yaitu empat buah lubang dibagian

sisi tengah bambu surdam dan dua buah lubang dibagian sisi bawah bambu

surdam dengan ukuran lubang yang berbeda antara kedua lubang tersebut.

Adapun surdam ini biasanya dimainkan untuk lagu yang memiliki suasana sedih

(tangis-tangis).

Seiring dengan perkembangannya, dari segi proses pembuatannya, alat

musik ini kemudian dibuat dengan menggunakan ritual dan berbagai persyaratan.

Dipercaya bahwa dengan menggunakan ritual tersebut, ketika ditiup alat musik

surdam ini dapat memiliki kekuatan magis, seperti untuk memikat hati

perempuan, ataupun supaya orang yang mendengarkan alunan bunyi surdam itu

dapat melepaskan rasa lelahnya. Surdam dulunya hanya memainkan lagu yang

bersifat sedih saja (lagu pada masyarakat karo pada umumnya) namun seiring

dengan perkembangannya pada saat ini surdam bisa memainkan lagu yang

bersifat riang. Pengaruh yang terjadi dari dalam maupun luar masyarakat Karo

(60)

juga menentukan perkembangan alat musik tradisi ini setelah melihat pengalih

fungsian yang terjadi atas alat musik ini.

f. Empi-empi

Empi-empi merupakan alat musik yang biasanya dapat ditemukan di

sawah atau pada saat ladang padi sedang menguning. Instrumen ini digunakan

atau dimainkan sebagai alat musik hiburan pribadi di ladang ketika menjaga padi

dari gangguan burung. Empi-empi (aerophone, multiple reeds) terbuat dari batang

padi yang telah mulai menguning. Lidah (reed) dari empi-empi dibuat dari batang

padi itu sendiri, dengan cara memecahkan sebagian kecil dari salah satu ujung

batang padi yang memiliki ruas. Akibat terpecahnya ruas batang padi menjadi

beberapa bagian (tidak terpisah) maka ketika ditiup bagian yang terpecah tersebut

akan menimbulkan bunyi. Sebagian yang tidak terpecah kemudian dibuat lobang

lobang untuk menghasilkan nada yang berbeda. Biasanya empi-empi mempunyai

empat buah lobang nada. Untuk saat sekarang, empi empi sudah semakin jarang

ditemukan/dimainkan oleh masyarakat Karo, khususnya orang Karo yang berada

di daerah pedesaan.

2.3 Musik Vokal

Dalam berkesenian, aktifitas bernyanyi pada masyarakat Karo disebut

rende dan penyanyi berarti perende-ende. Orang yang pandai bernyanyi serta

menari dalam satu konteks upacara seperti gendang guro-guro aron disebut

sebagai perkolong kolong. Selain memiliki kemampuan dalam menyanyikan

(61)

lagu Karo yang bertemakan percintaan atau muda mudi, perkolong-kolong juga

mampu menyanyikan lagu-lagu yang bertemakan pemasu-masun (nasihat-nasihat)

yang secara teks atau liriknya sangat bergantung kepada konteks suatu upacara

adat. Artinya melodi lagu pemasu-masun memang telah diketahui atau dihapal,

namun lirik dari melodi tersebut harus dibuat (dinyanyikan) sendiri oleh

Perkolong-kolong tersebut pada saat bernyanyi sesuai dengan konteks upacara

yang sedang berlangsung pada saat itu. Kebudayaan musik Karo juga mengenal

beberapa jenis seni vokal lainnya yaitu: ende-enden (nyanyian muda-mudi),

katoneng-katoneng (nyanyian yang berisikan pengharapan), didong dong

(nyanyian yang berisikan nasehat-nasehat), mangmang (nyanyian yang berisikan

doa-doa), tangis-tangis (nyanyian ungkapan keluh kesah) dan masih banyak lagi.

Dalam acara adat dan hiburan penyajian seni vokal katoneng-katoneng dan

Ende-enden dilakukan oleh seorang penyanyi tradisional Karo yaitu perkolongkolong.

Sementara nyanyian mangmang dilakukan oleh seorang guru sibaso (dukun) di

dalam upacara yang berkaitan dengan upacara ritual. Musik vokal dalam

kebudayaan masyarakat Karo dapat ditemukan dalam berbagai upacara adat, ritual

maupun hiburan.

2.4Penggunaan ensambel musik tradisional Karo

Setiap etnis yang ada di Sumatera Utara, baik dari kelompok etnis Batak

maupun etnis lainnya pastinya memiliki kebudayaan dan adat istiadat yang

masing-masing memiliki keunikan tersendiri dan setiap kebudayaan tersebut tidak

dapat dibandingkan mana yang lebih baik. Demikian juga halnya dengan etnis

(62)

Karo, masyarakat Karo memiliki kebudayaan yang diwariskan secara

turun-temurun oleh leluhurnya, baik secara lisan maupun tulisan.

Penggunaan ensambel musik tradisional dalam upacara-upacara adat masyarakat

Karo akan dijelaskan berdasarkan konteks upacara masyarakat Karo secara

umum, yaitu upacara perkawinan, upacara kematian, upacara erpangir ku lau,

mengket rumah, dan gendang guro-guro aron.

2.4.1 Upacara adat perkawinan (Kerja nereh-empo)

Dalam upacara adat perkawinan musik memiliki peran yang cukup

penting. Pada upacara adat perkawinan (kerja nereh-empo) yang menyertakan

gendang lima sedalanen disebut kerja adat erkata gendang yang artinya kerja

adat disertai musik tradisional (Tarigan, 2004:120). Kehadiran gendang (musik)

dalam pesta adat perkawinan disajikan untuk mengiringi acara rende (menyanyi),

landek (menari), dan juga penyampaian pesan atau pedah-pedah. Ensambel musik

yang awalnya digunakan adalah gendang lima sedalanen. Pada upacara adat

perkawinan, gendang lima sendalanen dimainkan untuk mengiringi sesi aturen

menari/telah-telah (acara menari/memberikan wejangan dan ucapan selamat)

yang diikuti dengan acara penyerahan luah (kado). Penyerahan luah (kado)

diserahkan oleh kalimbubu sitelu sada dalanen sesuai dengan yang telah

dimusyawarahkan bersama. Luah (kado) ini diserahkan kepada kedua mempelai

yang terdiri dari: lampu menyala, tempat memasak nasi dan pengaduknya, piring

makan, beras dan telur ayam, ayam yang masih hidup, serta tikar dan bantal

(Prints, 2004:117-118).

(63)

2.4.2 Upacara kematian

Cawir metua merupakan upacara kematian yang biasanya menghadirkan

gendang (musik) dalam pelaksanaan upacaranya. Dalam adat cawir metua

biasanya gendang nya adalah “nangkih gendang ”, yang artinya semalam sebelum

penguburan sudah ada iringan musik tradisional Karo. Dalam upacara kematian

masyarakat Karo ada beberapa kegiatan yang diiringi oleh gendang lima

sedalanen yaitu rende, landek, dan juga ngerana yang telah diatur sesuai dengan

musyawarah. Di upacara kematian (ritual penguburan jenajah) orang Karo yang

menyertakan gendang lima sedalanen terdapat istilah yang berkaitan langsung

dengan kehadiran musik dalam upacaranya, yaitu :gendang mentas, erkata

gendang , dan nangkih gendang . Gendang mentas merupakan pemakaian musik

tradisional yang paling singkat yang dilaksanakan pada siang hari hingga sore hari

pada acara penguburan. Nangkih gendang dilaksanakan pada malam sebelum

penguburan jenasah musik tradisional Karo telah dihadirkan dan biasanya sampai

pada malam setelah penguburan jenasah itu selesai dilakukan, dan erkata gendang

dilaksanakan pada saat upacara adat penguburan hingga selesai (Tarigan,

2004:120).

2.4.3 Upacara erpangir ku lau

Erpangir ku lau berasal dari kata “pangir” yang berarti “langir” dan “ku

lau” yang berarti “ke air”. Jadi secara harafiah erpangir ku lau adalah berlangir ke

air. Erpangir ku lau merupakan upacara ritual yang bertujuan untuk

membersihkan diri agar terhindar dari penyakit, bahaya ataupun roh-roh jahat

(64)

danagar cita-cita atau keinginan tercapai. Dalam upacara erpangir ku lau

kehadiran musik memiliki peran penting dalam berlangsungnya upacara ini.

Adapun ensambel yang digunakan untuk mengiringi upacara erpangir ku lau

adalah gendang lima sedalanen dan gendang telu sedalanen. Gendang lima

sendalanen yang dimainkan pada upacara yang bersifat ritual berguna untuk

mengubah suasana upacara menjadi sakral dan sedikit magis, dan sekaligus juga

akan mempengaruhi (alam bawah sadar) guru sibaso menjadi kesurupan (trance)

(Tarigan, 2004:121).

2.4.4 Mengket rumah

Upacara memasuki atau meresmikan rumah baru dalam tradisi masyarakat

Karo disebut mengket rumah. Upacara ini dilaksanakan untuk mengungkapkan

rasa syukur dan gembira suatu keluarga karena rumah yang di bangun telah

selesai dan siap untuk ditempati. Dalam pelaksanaan mengket rumah ensambel

musik yang digunakan pada awalnya adalah gendang lima sedalanen. Namun

pesta mengket rumah sudah dapat menggunakan gendang kibod. Menurut Prints

(2004:198) maysarakat Karo mengenal empat tingkatan dalam pesta mengket

rumah yaitu; (1) sumalin jabu, merupakan pesta mengket rumah yang paling

sederhana, yang dihadiri sengkep nggeluh terdekat saja, (2) mengkah dapur,

merupakan pesta mengket rumah yang diawali dengan runggun (musyawarah), (3)

ngerencit, merupakan pesta mengket rumah dengan pesta besar sehingga harus

dengan runggun sangkep nggeluh, dan (4) ertukam, merupakan pesta mengket

rumah yang paling besar dan berlangsung beberapa hari dan beberapa malam.

(65)

Ngerencit, dan juga ertukam adalah upacara mengket rumah khusus untuk rumah

adat tradisional Karo. Pada saat ini pembangunan untuk rumah adat tradisional

masyarakat Karo sudah tidak pernah dilakukan, dan kehadiran rumah adat

masyarakat Karo kini sudah tidak banyak lagi yang tersisa. Repertoar musik yang

dimainkan dalam pesta mengket rumah dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu

repertoar gendang adat (gendang perang-perang, gendang simalungen rakyat,

gendang jumpa malem) dan repertoar gendang lima puluh kurang dua (50-2).

Penggunaan seluruh repertoar dalam gendang adat tidak berkaitan dengan

masalah kepercayaan. Sesuai dengan namanya gendang adat maka gendang ini

hanya berhubungan dengan adat istiadat. Berbeda halnya dengan gendang lima

puluh kurang dua yang penggunaannya sangat berkaitan dengan ritual (Sitepu,

1993:46-47).

2.4.5 Gendang guro-guro aron

Guro-guro aron berasal dari dua kata, yaitu guro-guro dan aron.

Guroguro berarti hiburan atau pesta, sedangkan aron berarti muda-mudi. Jadi

guroguro aron adalah suatu pesta muda-mudi yang dilaksanakan berdasarkan adat

dan kebudayaan Karo, dengan memakai musik Karo dan perkolong-kolong

(Prints, 2004:280). Pada dasarnya gendang guro-guro aron merupakan suatu

acara yang bersifat gembira yang di adakan setelah panen oleh para petani. Hal ini

juga disampaikan oleh Sinuraya dalam Roberto Bangun (2006: 175) yang

mengatakan bahwa: “aron” merupakan grup-grup kerja bertani baik dilakukan

oleh orangorang muda laki-laki atau wanita maupun yang sudah berumah tangga.

(66)

Asal kata aron adalah “si-saron-saron” yang berarti tolong-tolongan, yang

kemudian beralih menjadi kata aron. Sedangkan guro-guro adalah bersuka ria.

Jadi guroguro aron adalah bersuka ria dengan gendang (musik) yang dijelmakan

dalam seni bunyi-bunyian tari dan nyanyian. Gendang guro-guro aron merupakan

suatu seni pertunjukan tradisional Karo yang terdiri dari unsur musik, tari dan

nyanyi. Sebagai seni pertunjukan tradisional, gendang lima sedalanen merupakan

salah satu unsur pokok dalam gendang guro-guro aron, karena aktifitas utama

dalam pesta tersebut adalah menari dan menyanyi dalam iringan musik (Tarigan,

2004:121).

Dalam gendang guro-guro aron ensambel yang digunakan adalah gendang

lima sedalanen. Gendang guro-guro aron biasanya diadakan pada acara kerja

tahun, (perwujudan rasa sukacita/gembira atas masa panen) yang dilaksanakan

oleh tiap-tiap desa setiap tahun. Kerja tahun diadakan di setiap desa dengan

jadwal yang telah di atur, biasanya tergantung pada masa musim panen dan

ditetapkan oleh masing-masing tetua adat di setiap desa. Ada pula desa yang

tanggal kerja tahunnya tetap/tidak berubah yaitu desa Juhar yaitu pada tanggal 17

Agustus. Gendang guro-guro aron dalam kebudayaan masyarakat Karo memiliki

beberapa fungsi. Adapun fungsi dari gendang guro-guro aron adalah: (1) latihan

kepemimpinan (persiapan suksesi), maksudnya adalah dalam gendang guro-guro

aron muda-mudi dilatih untuk memimpin, mengatur dan mengurus acara

tersebut,dan dengan mengikuti acara ini muda-mudi dipersiapkan untuk menjadi

pemimpin desa dikemudian hari. (2) belajar adat Karo, dalam gendang guro-guro

(67)

aron muda-mudi juga belajar tentang adat Karo dengan mengetahui bagaimana

cara ertutur agar mengetahui siapa yang boleh dan tidak boleh menjadi pasangan

menari, (3) hiburan, gendang guro-guro aron merupakan sarana hiburan bagi

muda-mudi dan penduduk kampung, (4) metik (tata rias), dengan mengikuti

gendang guro-guro aron muda-mudi juga belajar untuk merias diri sendiri, belajar

melulur diri, membuat tudung atau bulang-bulang, (5) belajar etika, dalam

melaksanakan gendang guro-guro aron, muda-mudi juga belajar bagaimana etika

atau tata krama pergaulan hidup dengan sesama, (6) arena cari jodoh, guro-guro

aron juga dimaksud untuk sarana pencarian jodoh untuk muda-mudi (Prints,

2004:280-281).

2.5 Penggunaan instrumen tradisional Karo non-ensambel

Alat-alat musik tradisional tunggal (solo) secara umum dimainkan sebagai

hiburan pribadi. Kulcapi dapat digunakan sebagai hiburan pribadi maupun

pengiring tradisi nyanyian bercerita yang terdapat dalam kebudayaan masyarakat

Karo. Belobat dimainkan ketika sedang mengembalakan ternak, menjaga padi di

sawah atau di ladang. Surdam biasanya dimainkan pada malam hari ketika

suasana sepi, embal-embal dan empi-empi yang berbahan dasar bambu dan batang

padi biasa dimainkan ketika petani sedang menjaga padi dari gangguan burung

(Tarigan,2004:121-122).

(68)

2.6 Penggunaan musik vokal tradisional Karo

Penggunaan musik vokal dalam masyarakat Karo dapat ditemukan di

beberapa konteks upacara. Menurut Kumalo Tarigan

musik vokal dalam musik tradisional Karo dapat disajikan berdasarkan beberapa

konteks yaitu:

1. Musik vokal dalam konteks seni pertunjukan

Musik vokal dalam konteks seni pertunjukan berupa nyanyian yang disebut

ende-enden yaitu nyanyian yang biasanya dibawakan oleh perkolong-kolong dalam seni

pertunjukan gendang guro-guro aron.

2. Musik vokal dalam konteks ritual

Musik vokal dalam konteks ritual terdiri dari tujuh jenis nyanyian yaitu (1) didong

doah, adalah nyanyian menidurkan anak, (2) ndilo wari udan, adalah nyanyian

untuk mengundang atau mendatangkan hujan, (3) mangmang, adalah nyanyian

untuk memanggil roh dan meminta kekuatan gaib untuk dapat menjalankan

upacara ritual, (4) nendong, adalah nyanyian untuk meramal suatu kejadian, (5)

ngeria, adalah nyanyian untuk menyadap atau mengambil nira dari pohon aren,

(6) perumah begu, adalah nyanyian untuk berkomunikasi dengan arwah orang

yang sudah meninggal dunia, dan (7) tabas, adalah nyanyian yang berisi mantra.

3. Musik vokal dalam konteks adat

Musik vokal dalam konteks adat dapat dibagi menjadi dua yaitu

katonengkatoneng pemasu-masun yaitu nyanyian bercerita yang disajikan dalam

upacara perkawinan dan didong doah bibi serembah ku lau yaitu nyanyian yang

disajikan dalam upacara perkawinan yang dinyanyikan oleh bibi dari pengantin

(69)

wanita. Selain dalam upacara perkawinan katoneng-katoneng juga disajikan pada

upacara kematian.

4. Musik vokal dalam konteks hiburan pribadi

Musik vokal untuk hiburan pribadi yaitu (1) doah-doah nyanyian spontan untuk

diri sendiri, (2) tangis-tangis, adalah nyanyian ungkapan kesedihan, dan (3) io-io,

adalah nyanyian kesedihan dalam percintaan.

(70)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Etnis Karo merupakan salah satu etnis yang terdapat di Sumatera Utara1.

Setiap etnis yang ada di Sumatera Utara, baik dari kelompok etnis Batak maupun

etnis lainnya pastinya memiliki kebudayaan dan adat istiadat yang masing-masing

memiliki keunikan tersendiri dan setiap kebudayaan tersebut tidak dapat

dibandingkan mana yang lebih baik. Demikian juga halnya dengan etnis Karo,

masyarakat Karo memiliki kebudayaan yang diwariskan secara turun temurun

oleh leluhurnya, baik secara lisan maupun tulisan. Suku Karo/Batak Karo banyak

terdapat didaerah Kabupaten Karo (meliputi Tanah Karo Simalem dan

sekitarnya), Kabupaten Langkat, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Serdang

Bedagai, Kabupaten Simalungun, dan Kabupaten Dairi. Selain itu suku Karo juga

banyak menetap dibeberapa wilayah Kota Medan, seperti Deli Tua, Padang

Bulan, Sunggal, dan lain-lain. Kesenian dalam suku Karo sangat beraneka ragam

dan didalam tulisan ini penulis terfokus pada seni musiknya saja. Ruang lingkup

musik mencakup beberapa aspek yaitu kemampuan untuk menguasai olah vokal,

kemampuan memainkan alat musik, dan kemampuan untuk mengapresiasikan

karya musik yang dibuat.

1Karakteristik atau identitas dari sifat orang karo memiliki ciri khas yang berbeda dengan etnis

lain di Sumatera Utara. Karakteristik orang karo sangat banyak dipengaruhi oleh lingkungan alam yang mengitarinya, sebagai anak pedalaman dalam hutan rimba raya dan mentalitas agraris, atau mungkin juga disebabkan oleh sejarah penaklukan Kerajaan Haru dimana salah satu sempalannya adalah suku karo yang mendiami daerah-daerah daaran tinggi, baik di Tanah Karo, Medan, Deli Serdang, Langkat, Binjai, Simalungun, Dairi dan Aceh Tenggara (Sarjani Tarigan, 2008:15).

Gambar

Gambar 3.4 : Takkur (tutup) kulcapi
Gambar 3.5 : Lubang Resonator (Dokumentasi : Penulis)
Gambar 4.2 : Posisi ibu jari tangan kiri pada kulcapi (dok : penulis)
Gambar 4.6 : gambar tembuku (fret) kulcapi (dok : penulis)
+2

Referensi

Dokumen terkait

STUDI DESKRIPTIF TEKNIK PERMAINAN KULCAPI KARO Sesuai dengan objek penelitian utama penulis, bahwa Kulcapi adalah alat musik tradisional Karo yang keberadaannya masih ada

Penggunaan ensambel musik tradisional dalam upacara-upacara adat masyarakat Karo akan dijelaskan berdasarkan konteks upacara masyarakat Karo secara umum, yaitu upacara

Teknik Permainan dan Struktur Musik Husapi Simalungun Pada Lagu Parenjak-enjak Ni Huda Sitajur yang Disajikan Oleh Arisden. Purba di Huta Manik Saribu Sait Buttu, Kecamatan

Pekerjaan : Pemusik Tradisional Karo. Universitas

suatu ensambel musik tradisional Karo yang terdiri dari lima buah alat musik, yaitu: (1).. sarune , (2) gendang singanaki , (3) gendang singindungi , (4) penganak, (5)

Untuk Mengiringi Upacara Adat Kematian Batak Toba di Kota Medan.. Skripsi

Untuk dapat bermain sebuah conserto dengan baik dan benar, seorang pemain piano harus mengetahui serta menguasai beberapa teknik permainan dalam piano, teknik permainan