1 A.Latar Belakang
Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia
Indonesia demi mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, sejahtera, yang
merata secara materiil maupun spiritual yang berdasarkan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Peran tenaga
kerja sangat penting dalam pelaksanaan pembangunan nasional. Oleh karena
itu, perlu adanya perlindungan tenaga kerja dan keluarganya sesuai dengan
harkat dan martabat kemanusiaan.
Perlindungan terhadap tenaga kerja dimaksudkan untuk menjamin hak-hak
dasar pekerja/buruh dan menjamin kesempatan yang sama serta perlakuan
tanpa diskriminasi atas dasar apapun untuk mewujudkan kesejahteraan
pekerja/buruh dan keluarganya dengan tetap memperhatikan perkembangan
kemajuan usaha.1 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 telah mengatur dalam salah satu pasalnya yaitu dalam pasal 28D, pada
ayat (1) menyatakan “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan,
perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama
dihadapan hukum”. Pada ayat (2), “Setiap orang berhak untuk bekerja serta
mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja”.
Perusahaan tempat pekerja/buruh bekerja tidak selamanya mengalami
kestabilan dalam operasionalnya, dan hasil produksi tidak selamanya
menghasilkan keuntungan yang meningkat. Banyak risiko yang akan timbul,
baik dari segi investasi maupun pembiayaan. Perusahaan tidak akan terlepas
dari utang piutang. Ketika perusahaan mengalami penurunan penghasilan dan
keuntungan, perusahaan akan mengalami kesulitan dalam melaksanakan
kewajiban untuk membayar utang kepada para kreditornya. Disaat utang
tersebut telah jatuh tempo dan dapat ditagih, kreditor dapat menagih kepada
perusahaan, serta berhak mengajukan permohonan pailit ke Pengadilan.
Berdasarkan pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) menyatakan,
“Debitor yang mempunyai dua atau lebih Kreditor dan tidak membayar lunas
sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan
pailit dengan putusan Pengadilan, baik atas permohonannya sendiri maupun
atas permohonan satu atau lebih Kreditornya”. Yang dimaksud dengan
Kreditor dalam ayat ini adalah baik Kreditor Konkuren, Kreditor Separatis,
maupun Kreditor Preferen.2
Kreditor pemegang gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, atau
hak agunan atas kebendaan lainnya atau kreditor dengan jaminan, disebut
kreditor separatis. Berdasarkan pasal 55 ayat (1) Undang-Undang No. 37
Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang,
kreditor tersebut berwenang untuk mengeksekusi haknya seolah-olah tidak
terjadi kepailitan. Separatis berarti terpisahnya hak eksekusi atas benda-benda
yang dijaminkan dari harta yang dimiliki debitor yang dipailitkan. Sehingga,
kreditor separatis mendapatkan posisi paling utama dalam proses kepailitan,
sehubungan dengan hak atas kebendaan yang dijaminkan untuk piutangnya.3
Kreditor preferen berarti kreditor yang memiliki hak istimewa atau hak
prioritas. Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang memakai istilah hak-hak istimewa,
sebagaimana diatur di dalam KUHPerdata. Hak istimewa mengandung arti hak
yang oleh undang-undang diberikan kepada seorang berpiutang sehingga
tingkatnya lebih tinggi daripada orang berpiutang lainnya. Terdapat dua jenis
hak istimewa yang diatur dalam KUHPerdata, yaitu hak istimewa khusus
(pasal 1139 KUHPerdata) dan hak istimewa umum (pasal 1149 KUHPerdata).
Hak istimewa khusus berarti hak istimewa yang menyangkut benda-benda
tertentu, sedangkan yang termasuk hak istimewa umum adalah seluruh benda.
Berdasarkan ketentuan KUHPerdata, hak istimewa khusus didahulukan atas
hak istimewa umum (pasal 1138 KUHPerdata). Meskipun memiliki
keistimewaan dibanding hak-hak yang dimiliki orang berpiutang pada
umumnya, posisi pemegang hak istimewa pada dasarnya masih berada di
bawah pemegang hak gadai atau hipotek sehubungan dengan benda-benda
yang dijaminkan. Ada beberapa perkecualian untuk urutan tersebut, seperti
misalnya, biaya-biaya perkara atau tagihan pajak.4
3HukumOnline.com. Pembayaran Upah Buruh dalam Proses Kepailitan. Diakses dari internet http://www.hukumonline.com, pada tanggal 21 Oktober 2014, pukul 21.45 WIB
Kreditor konkuren atau kreditor biasa adalah kreditor pada umumnya
(tanpa hak jaminan kebendaan atau hak istimewa). Berdasarkan KUHPerdata,
kreditor konkuren memiliki kedudukan yang setara dan memiliki hak yang
seimbang (proporsional) atas piutang-piutang mereka. Ketentuan tersebut juga
dinamakan prinsip „paritas creditorium‟.5
Menurut Rahayu Hartini, terdapat 3 (tiga) golongan Kreditor, yaitu6 :
a. Golongan Khusus, yaitu kreditor yang mempunyai hak tanggungan, gadai atau hak agunan atas kebendaan lainnya yang dapat mengeksekusi haknya seolah-olah tidak terjadi kepailitan (pasal 56 UU Kepailitan); Pemegang hak sebagaimana dimaksud dalam pasal 56 ayat (1) yang melaksanakan haknya tersebut, wajib memberikan pertanggungjawaban kepada kurator tentang hasil penjualan barang yang menjadi agunan dan menyerahkannya kepada kurator sisanya setelah dikurangi jumlah utang, bunga dan biaya.
b. Golongan Istimewa (previlege), yaitu kreditor yang piutangnya mempunyai kedudukan istimewa artinya golongan kreditor yang mempunyai hak untuk pelunasan terlebih dahulu atas hasil penjualan harta pailit (pasal 1133, 1134, 1139, 1149 KUHPerdata).
c. Golongan Konkuren, atau kreditor konkuren yaitu kreditor-kreditor yang tidak termasuk golongan khusus atau golongan istimewa. Pelunasan piutang-piutang mereka dicukupkan dengan sisa hasil penjualan atau pelelangan harta pailit sesudah diambil bagian golongan khusus dan golongan istimewa, sisa penjualan harta pailit itu dibagi menurut imbangan besar kecilnya piutang para kreditor konkuren itu (pasal 1132 KUHPerdata).
Ketika perusahaan tempat pekerja/buruh bekerja dinyatakan pailit oleh
Pengadilan, maka pekerja/buruh dapat meminta haknya yaitu upah.
Berdasarkan pasal 39 ayat (2) UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, “Sejak tanggal putusan pernyataan
pailit diucapkan, upah yang terutang sebelum maupun sesudah putusan
pernyataan pailit diucapkan merupakan utang harta pailit”. Yang dimaksud
5 Ibid.
dengan „upah‟ adalah hak pekerja yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk
uang sebagai imbalan dari pemberi kerja kepada pekerja atas jasa yang telah
atau akan dilakukan, ditetapkan, dan dibayarkan menurut suatu perjanjian
kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan, termasuk tunjangan
bagi pekerja dan keluarga.7
Pekerja/buruh dalam kepailitan termasuk dalam golongan istimewa, yang
mana tagihan upahnya dikategorikan sebagai hak istimewa umum, sesuai pasal
1149 angka (4) KUHPerdata. Walaupun memiliki hak untuk pelunasan
terlebih dahulu atas penjualan harta pailit, posisi pemegang hak istimewa
masih berada di bawah pemegang hak jaminan. Bahkan diantara kreditor
pemegang hak istimewa, pekerja/buruh berada di peringkat kelima setelah
tagihan pajak, biaya perkara, biaya lelang, dan biaya kurator.8
Hal inilah yang kemudian menjadi perdebatan ketika disandingkan dengan
Pasal 95 ayat (4) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan yang menyatakan “Dalam hal perusahaan dinyatakan pailit
atau dilikuidasi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku,
maka upah dan hak-hak lainnya dari pekerja/buruh merupakan utang yang
didahulukan pembayarannya”. Kata „didahulukan pembayarannya‟ dianggap
menjadi bermakna multitafsir. “Didahulukan pembayarannya” dianggap
pelunasan tagihan upah pekerja/buruh didahulukan pembayarannya
7 Penjelasan Pasal 39 ayat (2) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU)
mendahului Kreditor Separatis maupun hak Negara, tagihan pajak, biaya
perkara, biaya lelang, dan biaya kurator.
Pasal 95 ayat (4) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan ini kemudian diajukan permohonan Judicial Review ke
Mahkamah Konstitusi pada tanggal 17 Juni 2013 dengan nomor perkara
67/PUU-XI/2013 oleh 9 (sembilan) orang pekerja PT. PERTAMINA sebagai
pemohon. Pemohon masing-masing bernama: Ir. Otto Geo Diwara Purba
sebagai Pemohon I; Ir. Syamsul Bahri Hasibuan S.H.,M.H sebagai Pemohon II;
Eiman sebagai Pemohon III; Robby Prijatmodjo sebagai Pemohon IV; Macky
Ricky Avianto sebagai Pemohon V; Yuli Santoso sebagai Pemohon VI; Joni
Nazarudin sebagai Pemohon VII; Piere J Wauran sebagai Pemohon VIII; dan
Maison Des Arnoldi sebagai Pemohon IX. Para pemohon ini mempunyai
kepedulian perlindungan terhadap para karyawan PT. PERTAMINA
khususnya, dan pekerja yang bekerja pada perusahaan lain pada umumnya,
yang akan berpotensi dikenai pemberlakuan Pasal 95 ayat (4) Undang-Undang
Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan ketika perusahaan tempat
mereka bekerja mengalami pailit. Kepailitan ini yang dikhawatirkan akan
menyulitkan pekerja dalam menuntut hak-hak mereka apabila dihadapkan
dengan kreditor lain. Permohonan ini diajukan dengan tujuan untuk
memberikan perlindungan, pembelaan hak dan kepentingan, serta
meningkatkan kesejahteraan yang layak bagi pekerja/buruh dan keluarganya.
Hal inilah yang dianggap oleh para pemohon tidak adanya penafsiran yang
2003 tentang Ketenagakerjaan, sehingga berpotensi menimbulkan
ketidakpastian hukum serta pengingkaran terhadap hak-hak para pemohon
selaku pekerja dan pekerja lainnya yang bekerja di perusahaan tempat mereka
bekerja yang sedang mengalami pailit berdasarkan putusan pengadilan.
Alasan pengajuan permohonan judicial review Pasal 95 ayat (4)
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan oleh para pemohon
adalah karena dianggap bertentangan dengan pasal 28D ayat (1) dan Pasal 28D
ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Yang
pertama, dianggap bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, karena berpotensi
menimbulkan ketidakpastian hukum bagi pekerja, yakni dalam praktik dan
mengingat ketentuan hukum yang berlaku, baik itu dalam Pasal 1134 ayat (2)
juncto Pasal 1137 KUH Perdata dan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 16 tahun
2000 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah
diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang
Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, maka terdapat urutan peringkat
penyelesaiian tagihan kreditor setelah selesainya kreditor separatis, dimana
upah buruh masih harus menunggu urutan setelah tagihan hak negara, kantor
lelang, dan badan umum yang dibentuk Pemerintah untuk didahulukan.
Selain itu, pemberlakuan Pasal 20 ayat (2) Undang-Undang Nomor 2
Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian bahwa Hak pemegang polis atas
Asuransi Jiwa yang di likuidasi maerupakan hak utama. Baik dalam
Undang-Undang Pajak, Undang-Undang Asuransi maupun Undang-Undang
Ketenagakerjaan semua menyatakan diutamakan/didahulukan. Hal ini
kemudian dalam praktiknya akan menimbulkan ketidakpastian hukum bagi
pekerja/buruh.
Yang kedua, Pasal 95 ayat (4) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003
tentang Ketenagakerjaan dianggap bertentangan dengan pasal 28D ayat (2)
karena berpotensi menimbulkan pelanggaran hak pekerja untuk memperoleh
perlakuan yang adil dan layak secara hukum, yakni meskipun upah dan
hak-hak buruh dijamin dalam hal terjadinya pailit atau likuidasi perusahaan, namun
posisi pekerja selaku kreditor preferen khusus menjadi rentan karena masih
menunggu pembayaran bagi kreditor separatis dalam hal terjadinya kepailitan.
Dengan demikian salah satu pihak yang dijaminkan haknya selama proses
pailit yaitu para pekerja/buruh menjadi terabaikan hak asasi manusianya untuk
mendapatkan penghidupan yang layak dan imbalan yang sesuai dengan
kerjanya.
Atas permohonan ini, Mahkamah dalam amar putusannya mengabulkan
permohonan pemohon untuk sebagian, bahwa 1) Pasal 95 ayat (4) UU No. 13
Tahun 2003 bertentangan dengan UUD NRI Tahun 1945 sepanjang tidak
dimaknai : pembayaran upah pekerja/buruh yang terutang didahulukan atas
semua jenis kreditor termasuk atas tagihan kreditor separatis, tagihan hak
Negara, kantor lelang, dan badan umum yang dibentuk oleh Pemerintah,
tagihan termasuk tagihan hak Negara, kantor lelang, dan badan umum yang
dibentuk oleh Pemerintah, kecuali tagihan dari kreditor separatis. 2) Pasal 95
ayat (4) UU No. 13 Tahun 2003 tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat
sepanjang tidak dimaknai : pembayaran upah pekerja/buruh yang terutang
didahulukan atas semua jenis kreditor termasuk atas tagihan kreditor separatis,
tagihan hak Negara, kantor lelang, dan badan umum yang dibentuk oleh
Pemerintah, sedangkan pembayaran hak-hak pekerja/buruh lainnya
didahulukan atas semua tagihan termasuk tagihan hak Negara, kantor lelang,
dan badan umum yang dibentuk oleh Pemerintah, kecuali tagihan dari kreditor
separatis.
Apabila dilihat dari sejarah, filosofi dan asas-asas hukum kepailitan,
hukum kepailitan itu sendiri ada karena adanya perjanjian utang piutang antara
debitor dan kreditor, dimana penyelesaiannya yang sulit mengakibatkan perlu
ada pengaturan penyelesaian pembayaran utang untuk melindungi debitor dan
kreditor, oleh karena itu kepailitan menganut beberapa prinsip utama
penyelesaian utang debitor terhadap kreditornya secara merata untuk
menciptakan keadilan.
Selain itu, menurut Sutan Remy Sjahdeini9, beberapa asas yang
seyogyanya termuat dalam Undang-Undang Kepailitan yaitu: Undang-Undang
Kepailitan harus dapat mendorong kegairahan Investasi Asing, mendorong
Pasar Modal, dan memudahkan perusahaan Indonesia memperoleh kredit luar
negeri; Undang-Undang Kepailitan harus memberikan perlindungan yang
seimbang bagi kreditor dan debitor.
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 67/PUU-XI/2013 akan bisa
menimbulkan rasa ketidakadilan bagi pihak kreditor lain terutama kreditor
separatis yang notabene kebanyakan adalah investor. Hal tersebutlah yang
mendorong penulis untuk melakukan penelitian lebih dalam terhadap dasar
putusan Hakim Mahkamah Konstitusi yang mengabulkan sebagian
permohonan pemohon, serta implikasi putusan Mahkamah Konstitusi tersebut
terhadap hak-hak buruh pada perusahaan pailit pasca judicial review ke dalam
bentuk penulisan skripsi yang berjudul :
“IMPLIKASI PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR
67/PUU-XI/2013 TERHADAP HAK-HAK BURUH PADA
PERUSAHAAN PAILIT PASCA JUDICIAL REVIEW”
B.Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut diatas, maka penulis akan
meneliti dan membahas masalah yang dirumuskan sebagai berikut :
1. Apa dasar putusan Hakim Mahkamah Konstitusi yang mengabulkan
sebagian permohonan pemohon pada permohonan judicial review Pasal 95
ayat (4) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan?
2. Bagaimana implikasi putusan Mahkamah Konstitusi Nomor
67/PUU-XI/2013 terhadap hak-hak buruh pada perusahaan pailit pasca judicial
C.Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian yang dilakukan penulis adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui dan menganalisa dasar putusan Hakim Mahkamah
Konstitusi yang mengabulkan sebagian permohonan pemohon pada
permohonan judicial review Pasal 95 ayat (4) Undang-Undang Nomor 13
Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
2. Untuk mengetahui dan mendiskripsikan implikasi putusan Mahkamah
Konstitusi Nomor 67/PUU-XI/2013 terhadap hak-hak buruh pasca judicial
review.
D.Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian yang ingin dicapai penulis adalah sebagai
berikut :
1. Manfaat praktis
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat
luas tentang pengetahuan hak dan kewajiban yang terkait dengan bidang
usaha dan ketenagakerjaan ketika terjadi sebuah peristiwa hukum
(kepailitan pada perusahaan).
2. Manfaat teoritis
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis berupa
pengembangan ilmu hukum khususnya dalam bidang hukum perdata yang
ketenagakerjaan ketika terjadi sebuah peristiwa hukum (kepailitan pada
perusahaan).
E.Kegunaan Penelitian
1. Bagi penulis, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi
penulis tentang hak dan kewajiban subjek hukum dalam bidang usaha dan
ketenagakerjaan ketika terjadi sebuah peristiwa hukum (kepailitan pada
perusahaan) setelah adanya putusan Mahkamah Konstitusi Nomor
67/PUU-XI/2013.
2. Bagi masyarakat, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan pedoman dan
pemahaman bagi masyarakat saat berada dalam bidang usaha dan
ketenagakerjaan ketika terjadi sebuah peristiwa hukum (kepailitan pada
perusahaan).
3. Bagi akademisi hukum, penelitian ini diharapkan dapat menambah
wawasan keilmuan hukum dalam bidang hukum perdata khususnya bidang
usaha dan ketenagakerjaan yang terkait dengan hak dan kewajiban para
subjek hukumnya ketika terjadi kepailitan setelah adanya putusan
Mahkamah Konstitusi Nomor 67/PUU-XI/2013.
F. Metode Penelitian
Untuk memperoleh data-data yang dihubungkan dengan penulisan skripsi
1. Metode Pendekatan
Sebagai penelitian hukum yang melihat hukum sebagai norma dalam
masyarakat, maka dalam penelitian ini penulis menggunakan metode
pendekatan yuridis normatif. Dengan menganalisa masalah berdasarkan
hukum positif/peraturan perundang-undangan (statute approach). Selain itu,
penulis melakukan penelitian hukum ini dengan pendekatan konseptual
(konseptual approach).
Pendekatan konseptual (konseptual approach) beranjak dari
pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin yang berkembang di dalam ilmu
hukum.10 Yaitu dengan mempelajari pandangan-pandangan dan
doktrin-doktrin dalam ilmu hukum sesuai permasalahan yang diangkat.
2. Jenis Bahan Hukum a. Bahan Hukum Primer
Adalah bahan hukum yang diperoleh dari hukum positif/peraturan
perundang-undangan.11 Beberapa peraturan perundang-undangan yang
dikaji terkait dengan masalah adalah yang terkait dengan kepailitan,
ketenagakerjaan, dan hukum jaminan kebendaan.
b. Bahan Hukum Sekunder
Adalah bahan hukum yang mendukung bahan hukum primer, berupa
buku, jurnal, hasil penelitian, hasil kegiatan ilmiah, dan lain-lain.12 Yaitu
10 Peter Mahmud Marzuki. 2010. Penelitian Hukum. Jakarta: Kencana. hlm. 94-95
yang terkait dengan masalah kepailitan, ketenagakerjaan, dan hukum
jaminan kebendaan.
c. Bahan Hukum Tersier
Adalah bahan hukum yang diperoleh dari Ensiklopedi, Kamus, dan
lain-lain.13
3. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum
Teknik pengumpulan bahan hukum yang dilakukan oleh penulis yaitu
dengan studi pustaka. Peneliti mencari bahan-bahan hukum yang sesuai
dengan masalah, dan berdasar pendekatan yang digunakan.
4. Teknik Analisa Data
Teknik analisa data yang dilakukan penulis dalam penelitian ini yaitu
analisa isi (content analysis) terhadap putusan Mahkamah Konstitusi Nomor
67/PUU-XI/2013 dengan berdasar pendekatan yang digunakan. Penulis
mengkaji masalah yang dibahas, menelaah peraturan perundang-undangan
terkait, dan berdasarkan asas-asas/prinsip-prinsip kepailitan, serta
menggunakan analogi/penafsiran.
G.Sistematika Penulisan
Pada penelitian ini, penulis akan menyajikan empat bab yang terdiri dari
sub-sub bab, sistematika penulisannya secara singkat adalah sebagai berikut :
1. BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini memuat hal-hal yang melatarbelakangi pemilihan topik dari
penulisan skripsi dan sekaligus menjadi pengantar umum didalam
memahami penulisan secara keseluruhan yang terdiri dari latar belakang,
rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kegunaan
penelitian, kerangka teori, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
2. BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab II ini penulis akan menguraikan dan menjelaskan berbagai
teori-teori hukum yang dapat mendukung peneliti dalam membahas dan
menjawab rumusan masalah terkait dengan para subjek hukum dalam
bidang usaha ketika perusahaan terjadi kepailitan, hak dan kewajiban para
subjek hukum tersebut ketika terjadi kepailitan.
3. BAB III : PEMBAHASAN
Dalam bab III ini penulis akan menjawab, menguraikan dan menganalisa
secara rinci dan jelas terkait dengan rumusan masalah. Penulis akan
menguraikan dan menganalisa masalah berdasarkan metode pendekatan
yang digunakan, serta berdasarkan bahan yang digunakan penulis untuk
menjawab rumusan masalah.
4. BAB IV : PENUTUP
Dalam bab IV berisi kesimpulan-kesimpulan, ini merupakan hasil penelitian
yang dirumuskan dalam bentuk pernyataan dan merupakan jawaban atas
rumusan masalah, sedangkan saran merupakan sumbangan pemikiran
PENULISAN HUKUM
Oleh :
CHIKKA ADISTYA KRISI
201110110311030
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG FAKULTAS HUKUM
PASCA JUDICIAL REVIEW
Disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar kesarjanaan
dalam bidang Ilmu Hukum
Oleh :
CHIKKA ADISTYA KRISI
201110110311030
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG FAKULTAS HUKUM
serta karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi
yang berjudul “IMPLIKASI PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR
67/PUU-XI/2013 TERHADAP HAK-HAK BURUH PADA PERUSAHAAN
PAILIT PASCA JUDICIAL REVIEW” dengan baik dan lancar, guna memenuhi
salah satu syarat memperoleh gelar kesarjanaan dalam bidang Ilmu Hukum
Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang.
Shalawat serta salam tidak lupa penulis haturkan kepada Nabi Muhammad
SAW yang telah membawa umat manusia dari jaman kegelapan menuju jaman
yang terang benderang dengan naungan Ilahi dan kesucian ilmu pengetahuan.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan juga kepada
pihak-pihak yang telah memberikan sumbangsih dan berperan penting selama
penyusunan skripsi ini. Penulis sampaikan terima kasih dan hormat kepada :
1. Kedua orang tua penulis, yakni Krisijantoro dan Tutik Saraswati, terima kasih
telah menjadi orang tua yang luar biasa, yang tidak henti-hentinya
memberikan semangat, motivasi, dan dukungan kepada penulis dengan penuh
kasih sayang, serta do’a yang selalu dipanjatkan selama ini sehingga penulis
dapat menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah
3. Keluarga besar penulis, tante Sulismiarti, Debby Regina Pramesti, dan
keluarga besar lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu, terima kasih
atas semangat yang diberikan, serta do’anya, hingga penulis dapat segera
menyelesaikan penyusunan skripsi ini dan studi di Fakultas Hukum
Universitas Muhammadiyah Malang.
4. Bapak Dr. Muhadjir Effendy, MAP., selaku Rektor, Bapak Prof. Dr.
Bambang Widagdo, M.M., selaku Pembantu Rektor I, Bapak Drs. Fauzan,
M.Pd., selaku Pembantu Rektor II, dan Ibu Dr. Diah Karmiyati, Psi., selaku
Pembantu Rektor III.
5. Bapak Dr. Sulardi, SH. M.Si., selaku Dekan FH UMM, Bapak Dr. Tongat,
SH., M.Hum., selaku Pembantu Dekan I FH UMM, Ibu Fifik Wirayani, SH.
M.Si., M.Hum., selaku Pembantu Dekan II FH UMM dan Bapak Sofyan
Arief, SH., M.Kn., Pembantu Dekan III FH UMM.
6. Ibu Herwastoeti, S.H., M.Si., selaku Dosen Pembimbing I yang telah
memberikan arahan dan bimbingan dengan penuh kesabaran, serta
kritikan-kritikan yang membangun selama proses penyusunan skripsi ini.
7. Bapak Sofyan Arief, S.H., M.Kn., selaku Dosen Pembimbing II yang telah
bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan arahan, bimbingan, serta
9. Bapak/Ibu Dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang,
terima kasih atas ilmu pengetahuan hukum yang diberikan kepada penulis
selama kuliah di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang.
10. Para Staf Tata Usaha dan Laboratorium Fakultas Hukum Universitas
Muhammadiyah Malang, serta staf perpustakaan Universitas Muhammadiyah
Malang, terimakasih atas pelayanan yang baik, arahan, serta bantuan selama
perkuliahan penulis dalam mengurus segala hal yang berkaitan dengan
administrasi akademik di Universitas Muhammadiyah Malang.
11. Robby Fandhita Kurniawan, terima kasih telah menjadi seorang penyemangat
yang sabar, yang selalu memberikan dukungan, dan bersedia meluangkan
waktunya untuk penulis selama ini.
12. Sahabat kecil penulis, Noor Faizah Imansari, Arina Manasikana, Cecia
Rahmadani, Rizka Kurnia Andaru, Charisma Arianti, Kiki Febriani, Liana
Nirmawati, terima kasih telah menjadi sahabat terbaik, dukungan, serta do’a
untuk penulis hingga penulis menyelesaikan perkuliahan di Fakultas Hukum
Universitas Muhammadiyah Malang.
13. Sahabat penulis selama perkuliahan, Anggi Febrina Venifera dan Anggun
Fadhillah Sumenda, terima kasih atas kasih sayang dan dukungannya selama
berproses diperkuliahan. Semoga persaudaraan ini tetap mengikat sampai
Imaniar, terima kasih atas masukan dan semangatnya selama penyusunan
skripsi ini hingga dapat menyelesaikannya dengan baik dan tepat waktu.
15. Teman-teman angkatan 2011 kelas A, Dwi Fitri Handayani, Ridho Alfian,
Aininia Aziza, Vivi Agustina, Ferary Ayu Novitasari, Putri Yunita, Yekti
Karunia, Eviana Anggraeni, Ferry Prasetyo, Nusantoro Ajie Budi Kuncoro,
Fadhil Firmansyah, Des’ Yandra, Aditya Arief Pratama, Soni Akbar, Rifki,
Zubaidi, terima kasih telah menjadi bagian dari kehidupan penulis selama
perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang.
16. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah
membantu penulis selama berproses diperkuliahan hingga penyelesaian
skripsi ini di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang.
Disadari segala kekurangan serta keterbatasan penulis dalam penyusunan
skripsi ini, maka dengan kerendahan hati penulis harapkan saran dan kritik yang
membangun agar dikemudian hari menjadi lebih baik dan sempurna.
Malang, 7 Februari 2015
Penulis,
Lembar Pengesahan ... ii
Surat Pernyataan Penulisan Hukum Bukan Hasil Plagiat ... iii
Ungkapan Pribadi / Motto ... iv
Abstraksi ... v
Abstract ... vi
Kata Pengantar ... vii
Daftar Isi... xi
Daftar Lampiran ... xiii
BAB I : PENDAHULUAN ... 1
A.Latar Belakang ... 1
B.Rumusan Masalah ... 10
C.Tujuan Penelitian... 11
D.Manfaat Penelitian... 11
E.Kegunaan Penelitian ... 12
F. Metode Penelitian ... 12
1. Metode Pendekatan ... 13
2. Jenis Bahan Hukum ... 13
3. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum ... 14
4. Teknik Analisa Data ... 14
G.Sistematika Penulisan ... 14
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA... 16
A.Tinjauan Umum tentang Perusahaan Perseroan Terbatas dalam Kepailitan ... 16
1. Tinjauan Umum tentang Kepailitan ... 17
1.1. Pengertian Kepailitan ... 17
1.2. Kreditor dalam Hukum Kepailitan ... 23
1.2.1. Pengertian Kreditor ... 23
1.2.2. Penggolongan Kreditor... 24
1.3. Prinsip Hukum dalam Hukum Kepailitan ... 28
2. Tanggung Jawab Perusahaan Perseroan Terbatas Pailit Terhadap Hak Pekerja/Buruh ... 31
B. Tinjauan tentang Hak Pekerja/Buruh dalam Perusahaan Perseroan Terbatas ... 40
1. Pengertian Hak Pekerja/Buruh ... 40
2. Hak-Hak Normatif Pekerja/Buruh ... 41
1. Kewenangan Mahkamah Konstitusi... 48
2. Legal Standing (Kedudukan Hukum) ... 52
3. Putusan Mahkamah Konstitusi ... 53
4. Pelaksanaan Putusan Mahkamah Konstitusi ... 54
5. Implikasi Putusan Mahkamah Konstitusi ... 56
BAB III : PEMBAHASAN ... 61
A.Dasar Putusan Hakim Mahkamah Konstitusi yang Mengabulkan Sebagian Permohonan Pemohon Pada Permohonan Judicial Review Pasal 95 ayat (4) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan ... 61
1. Kasus Posisi... 61
2. Analisa Dasar Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 67/PUU-XI/2013 ... 73
B. Implikasi Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 67/PUU-XI/2013 Terhadap Hak-Hak Buruh Pada Perusahaan Pailit Pasca Judicial Review ... 102
BAB IV : PENUTUP ... 112
A.Kesimpulan... 112
B.Saran ... 114
DAFTAR PUSTAKA ... 116
Abdul Latif. 2007. Fungsi Mahkamah Konstitusi Dalam Upaya Mewujudkan Negara Hukum Demokrasi. Yogyakarta, Kreasi Total Media.
Adrian Sutedi. 2009. Hukum Kepailitan. Bogor, Ghalia Indonesia.
Ana Rokhmatussa’dyah dan Suratman. 2011. Hukum Investasi dan Pasar Modal.
Jakarta, Sinar Grafika.
Bambang Sutiyoso. 2006. Hukum Acara Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Bandung, PT Citra Aditya Bakti.
Fatkhurohman, Dian Aminudin, dan Sirajuddin. 2004. Memahami Keberadaan Mahkamah Konstitusi Di Indonesia. Bandung, PT. Citra Aditya Bakti.
Jimly Asshiddiqie. 2010. Hukum Acara Pengujian Undang-Undang. Jakarta, Sinar Grafika.
Jono. 2010. Hukum Kepailitan. Jakarta, Sinar Grafika.
Lalu Husni. 2007. Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, edisi revisi. Jakarta, PT Raja Grafindo Persada.
M. Hadi Subhan. 2009. Hukum Kepailitan: Prinsip, Norma, dan Praktik di Peradilan. Jakarta, Kencana.
M. Yahya Harahap. 2011. Hukum Perseroan Terbatas. Jakarta, Sinar Grafika.
Maruar Siahaan. 2011. Hukum Acara Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, edisi kedua. Jakarta, Sinar Grafika.
Munir Fuady. 2014. Hukum Pailit dalam Teori & Praktek. Bandung, PT Citra Aditya Bakti.
Peter Mahmud Marzuki, SH., MS., LL.M. 2010. Penelitian Hukum. Jakarta, Kencana.
Rachmat Trijono. 2014. Pengantar Hukum Ketenagakerjaan. Jakarta, Papas Sinar Sinanti.
Rachmadi Usman. 2009. Hukum Jaminan Keperdataan. Jakarta, Sinar Grafika.
Rahayu Hartini. 2012. Hukum Kepailitan. Malang, UMM Press.
Peraturan Perundang-Undangan :
Kitab Undang-Undang Hukum Dagang
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi
Jurnal/Artikel/Penelitian :
Dian Rositawati. Judicial Review. Seri Bahan Bacaan Kursus HAM untuk Pengacara X, Tahun 2005, Materi: Mekanisme Judicial Review. Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM).
Fista Prilia Sambuari. Eksistensi Putusan Judicial Review Oleh Mahkamah Konstitusi. Lex Administratum, Volume 1, Nomor 2, April-Juni 2013.
I Made Wisnu Yoga Wijaya, A.A. Sagung Wiratni Darmadi, dan A.A. Gede Agung Dharma Kusuma. _. Hak-Hak Normatif Pekerja Pada Perusahaan Yang Dinyatakan Pailit. Fakultas Hukum Uniersitas Udayana.
Kurniawan. Tanggung Jawab Direksi Dalam Kepailitan Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-Undang Perseroan Terbatas. MIMBAR HUKUM Volume 24, Nomor 2, Juni 2012.
Kurniawan. 2007. Tesis: Pemberesan Harta Pailit Pada Perusahaan Perorangan (Studi Kasus Pada PT. Sierad Produce Tbk.). Universitas Diponegoro, Semarang.
Royke A. Taroreh. Hak Kreditor Separatis Dalam Mengeksekusi Benda Jaminan Debitor Pailit. Vol.II, Nomor 2, Januari-Maret, 2014, Edisi Khusus, Universitas Sam Ratulangi.
Kamus :
Black’s Law Dictionary (revised fourth edition). 1968. ST.Paul, Minn. West Publishing Co.
El Altha. Hak Uji (Toetsingsrecht). http://elaltha.blogspot.com. Diakses pada tanggal 19 November 2014, pukul 22.23 WIB.
HukumOnline.com. Pembayaran Upah Buruh dalam Proses Kepailitan. http://www.hukumonline.com. Diakses pada tanggal 21 Oktober 2014, pukul 21.45 WIB.
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Profil Mahkamah Konstitusi RI. http://www.mahkamahkonstitusi.go.id. Diakses pada tanggal 19 November 2014, pukul 20.47 WIB.
Nien Rafles Siregar, S.H. Perbedaan Antara Kreditur Separatis dengan Kreditur Konkuren. http://www.hukumonline.com. Diakses pada tanggal 16 November 2014, pukul 09.33 WIB.
Susilo Andi Darma. 2013. Kedudukan Pekerja/Buruh dalam Perkara Kepailitan Ditinjau dari Peraturan Perundang-Undangan dan Teori Keadilan. http://www.aifis-digilib.org. Diakses pada tanggal 21 Oktober 2014, pukul 21.47 WIB.
Wikipedia Bahasa Indonesia. Pailit. http://id.wikipedia.org. Diakses pada tanggal 16 November 2014, pukul 08.16 WIB.