• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLIKASI PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 67/PUU-XI/2013 TERHADAP HAK-HAK BURUH PADA PERUSAHAAN PAILIT PASCA JUDICIAL REVIEW

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "IMPLIKASI PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 67/PUU-XI/2013 TERHADAP HAK-HAK BURUH PADA PERUSAHAAN PAILIT PASCA JUDICIAL REVIEW"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

1 A.Latar Belakang

Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia

Indonesia demi mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, sejahtera, yang

merata secara materiil maupun spiritual yang berdasarkan Pancasila dan

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Peran tenaga

kerja sangat penting dalam pelaksanaan pembangunan nasional. Oleh karena

itu, perlu adanya perlindungan tenaga kerja dan keluarganya sesuai dengan

harkat dan martabat kemanusiaan.

Perlindungan terhadap tenaga kerja dimaksudkan untuk menjamin hak-hak

dasar pekerja/buruh dan menjamin kesempatan yang sama serta perlakuan

tanpa diskriminasi atas dasar apapun untuk mewujudkan kesejahteraan

pekerja/buruh dan keluarganya dengan tetap memperhatikan perkembangan

kemajuan usaha.1 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun

1945 telah mengatur dalam salah satu pasalnya yaitu dalam pasal 28D, pada

ayat (1) menyatakan “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan,

perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama

dihadapan hukum”. Pada ayat (2), “Setiap orang berhak untuk bekerja serta

mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja”.

(2)

Perusahaan tempat pekerja/buruh bekerja tidak selamanya mengalami

kestabilan dalam operasionalnya, dan hasil produksi tidak selamanya

menghasilkan keuntungan yang meningkat. Banyak risiko yang akan timbul,

baik dari segi investasi maupun pembiayaan. Perusahaan tidak akan terlepas

dari utang piutang. Ketika perusahaan mengalami penurunan penghasilan dan

keuntungan, perusahaan akan mengalami kesulitan dalam melaksanakan

kewajiban untuk membayar utang kepada para kreditornya. Disaat utang

tersebut telah jatuh tempo dan dapat ditagih, kreditor dapat menagih kepada

perusahaan, serta berhak mengajukan permohonan pailit ke Pengadilan.

Berdasarkan pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang

Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) menyatakan,

“Debitor yang mempunyai dua atau lebih Kreditor dan tidak membayar lunas

sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan

pailit dengan putusan Pengadilan, baik atas permohonannya sendiri maupun

atas permohonan satu atau lebih Kreditornya”. Yang dimaksud dengan

Kreditor dalam ayat ini adalah baik Kreditor Konkuren, Kreditor Separatis,

maupun Kreditor Preferen.2

Kreditor pemegang gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, atau

hak agunan atas kebendaan lainnya atau kreditor dengan jaminan, disebut

kreditor separatis. Berdasarkan pasal 55 ayat (1) Undang-Undang No. 37

Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang,

kreditor tersebut berwenang untuk mengeksekusi haknya seolah-olah tidak

(3)

terjadi kepailitan. Separatis berarti terpisahnya hak eksekusi atas benda-benda

yang dijaminkan dari harta yang dimiliki debitor yang dipailitkan. Sehingga,

kreditor separatis mendapatkan posisi paling utama dalam proses kepailitan,

sehubungan dengan hak atas kebendaan yang dijaminkan untuk piutangnya.3

Kreditor preferen berarti kreditor yang memiliki hak istimewa atau hak

prioritas. Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan

Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang memakai istilah hak-hak istimewa,

sebagaimana diatur di dalam KUHPerdata. Hak istimewa mengandung arti hak

yang oleh undang-undang diberikan kepada seorang berpiutang sehingga

tingkatnya lebih tinggi daripada orang berpiutang lainnya. Terdapat dua jenis

hak istimewa yang diatur dalam KUHPerdata, yaitu hak istimewa khusus

(pasal 1139 KUHPerdata) dan hak istimewa umum (pasal 1149 KUHPerdata).

Hak istimewa khusus berarti hak istimewa yang menyangkut benda-benda

tertentu, sedangkan yang termasuk hak istimewa umum adalah seluruh benda.

Berdasarkan ketentuan KUHPerdata, hak istimewa khusus didahulukan atas

hak istimewa umum (pasal 1138 KUHPerdata). Meskipun memiliki

keistimewaan dibanding hak-hak yang dimiliki orang berpiutang pada

umumnya, posisi pemegang hak istimewa pada dasarnya masih berada di

bawah pemegang hak gadai atau hipotek sehubungan dengan benda-benda

yang dijaminkan. Ada beberapa perkecualian untuk urutan tersebut, seperti

misalnya, biaya-biaya perkara atau tagihan pajak.4

3HukumOnline.com. Pembayaran Upah Buruh dalam Proses Kepailitan. Diakses dari internet http://www.hukumonline.com, pada tanggal 21 Oktober 2014, pukul 21.45 WIB

(4)

Kreditor konkuren atau kreditor biasa adalah kreditor pada umumnya

(tanpa hak jaminan kebendaan atau hak istimewa). Berdasarkan KUHPerdata,

kreditor konkuren memiliki kedudukan yang setara dan memiliki hak yang

seimbang (proporsional) atas piutang-piutang mereka. Ketentuan tersebut juga

dinamakan prinsip „paritas creditorium‟.5

Menurut Rahayu Hartini, terdapat 3 (tiga) golongan Kreditor, yaitu6 :

a. Golongan Khusus, yaitu kreditor yang mempunyai hak tanggungan, gadai atau hak agunan atas kebendaan lainnya yang dapat mengeksekusi haknya seolah-olah tidak terjadi kepailitan (pasal 56 UU Kepailitan); Pemegang hak sebagaimana dimaksud dalam pasal 56 ayat (1) yang melaksanakan haknya tersebut, wajib memberikan pertanggungjawaban kepada kurator tentang hasil penjualan barang yang menjadi agunan dan menyerahkannya kepada kurator sisanya setelah dikurangi jumlah utang, bunga dan biaya.

b. Golongan Istimewa (previlege), yaitu kreditor yang piutangnya mempunyai kedudukan istimewa artinya golongan kreditor yang mempunyai hak untuk pelunasan terlebih dahulu atas hasil penjualan harta pailit (pasal 1133, 1134, 1139, 1149 KUHPerdata).

c. Golongan Konkuren, atau kreditor konkuren yaitu kreditor-kreditor yang tidak termasuk golongan khusus atau golongan istimewa. Pelunasan piutang-piutang mereka dicukupkan dengan sisa hasil penjualan atau pelelangan harta pailit sesudah diambil bagian golongan khusus dan golongan istimewa, sisa penjualan harta pailit itu dibagi menurut imbangan besar kecilnya piutang para kreditor konkuren itu (pasal 1132 KUHPerdata).

Ketika perusahaan tempat pekerja/buruh bekerja dinyatakan pailit oleh

Pengadilan, maka pekerja/buruh dapat meminta haknya yaitu upah.

Berdasarkan pasal 39 ayat (2) UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan

Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, “Sejak tanggal putusan pernyataan

pailit diucapkan, upah yang terutang sebelum maupun sesudah putusan

pernyataan pailit diucapkan merupakan utang harta pailit”. Yang dimaksud

5 Ibid.

(5)

dengan „upah‟ adalah hak pekerja yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk

uang sebagai imbalan dari pemberi kerja kepada pekerja atas jasa yang telah

atau akan dilakukan, ditetapkan, dan dibayarkan menurut suatu perjanjian

kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan, termasuk tunjangan

bagi pekerja dan keluarga.7

Pekerja/buruh dalam kepailitan termasuk dalam golongan istimewa, yang

mana tagihan upahnya dikategorikan sebagai hak istimewa umum, sesuai pasal

1149 angka (4) KUHPerdata. Walaupun memiliki hak untuk pelunasan

terlebih dahulu atas penjualan harta pailit, posisi pemegang hak istimewa

masih berada di bawah pemegang hak jaminan. Bahkan diantara kreditor

pemegang hak istimewa, pekerja/buruh berada di peringkat kelima setelah

tagihan pajak, biaya perkara, biaya lelang, dan biaya kurator.8

Hal inilah yang kemudian menjadi perdebatan ketika disandingkan dengan

Pasal 95 ayat (4) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang

Ketenagakerjaan yang menyatakan “Dalam hal perusahaan dinyatakan pailit

atau dilikuidasi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku,

maka upah dan hak-hak lainnya dari pekerja/buruh merupakan utang yang

didahulukan pembayarannya”. Kata „didahulukan pembayarannya‟ dianggap

menjadi bermakna multitafsir. “Didahulukan pembayarannya” dianggap

pelunasan tagihan upah pekerja/buruh didahulukan pembayarannya

7 Penjelasan Pasal 39 ayat (2) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU)

(6)

mendahului Kreditor Separatis maupun hak Negara, tagihan pajak, biaya

perkara, biaya lelang, dan biaya kurator.

Pasal 95 ayat (4) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang

Ketenagakerjaan ini kemudian diajukan permohonan Judicial Review ke

Mahkamah Konstitusi pada tanggal 17 Juni 2013 dengan nomor perkara

67/PUU-XI/2013 oleh 9 (sembilan) orang pekerja PT. PERTAMINA sebagai

pemohon. Pemohon masing-masing bernama: Ir. Otto Geo Diwara Purba

sebagai Pemohon I; Ir. Syamsul Bahri Hasibuan S.H.,M.H sebagai Pemohon II;

Eiman sebagai Pemohon III; Robby Prijatmodjo sebagai Pemohon IV; Macky

Ricky Avianto sebagai Pemohon V; Yuli Santoso sebagai Pemohon VI; Joni

Nazarudin sebagai Pemohon VII; Piere J Wauran sebagai Pemohon VIII; dan

Maison Des Arnoldi sebagai Pemohon IX. Para pemohon ini mempunyai

kepedulian perlindungan terhadap para karyawan PT. PERTAMINA

khususnya, dan pekerja yang bekerja pada perusahaan lain pada umumnya,

yang akan berpotensi dikenai pemberlakuan Pasal 95 ayat (4) Undang-Undang

Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan ketika perusahaan tempat

mereka bekerja mengalami pailit. Kepailitan ini yang dikhawatirkan akan

menyulitkan pekerja dalam menuntut hak-hak mereka apabila dihadapkan

dengan kreditor lain. Permohonan ini diajukan dengan tujuan untuk

memberikan perlindungan, pembelaan hak dan kepentingan, serta

meningkatkan kesejahteraan yang layak bagi pekerja/buruh dan keluarganya.

Hal inilah yang dianggap oleh para pemohon tidak adanya penafsiran yang

(7)

2003 tentang Ketenagakerjaan, sehingga berpotensi menimbulkan

ketidakpastian hukum serta pengingkaran terhadap hak-hak para pemohon

selaku pekerja dan pekerja lainnya yang bekerja di perusahaan tempat mereka

bekerja yang sedang mengalami pailit berdasarkan putusan pengadilan.

Alasan pengajuan permohonan judicial review Pasal 95 ayat (4)

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan oleh para pemohon

adalah karena dianggap bertentangan dengan pasal 28D ayat (1) dan Pasal 28D

ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Yang

pertama, dianggap bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang

Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, karena berpotensi

menimbulkan ketidakpastian hukum bagi pekerja, yakni dalam praktik dan

mengingat ketentuan hukum yang berlaku, baik itu dalam Pasal 1134 ayat (2)

juncto Pasal 1137 KUH Perdata dan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 16 tahun

2000 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah

diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang

Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang

Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, maka terdapat urutan peringkat

penyelesaiian tagihan kreditor setelah selesainya kreditor separatis, dimana

upah buruh masih harus menunggu urutan setelah tagihan hak negara, kantor

lelang, dan badan umum yang dibentuk Pemerintah untuk didahulukan.

Selain itu, pemberlakuan Pasal 20 ayat (2) Undang-Undang Nomor 2

Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian bahwa Hak pemegang polis atas

(8)

Asuransi Jiwa yang di likuidasi maerupakan hak utama. Baik dalam

Undang-Undang Pajak, Undang-Undang Asuransi maupun Undang-Undang

Ketenagakerjaan semua menyatakan diutamakan/didahulukan. Hal ini

kemudian dalam praktiknya akan menimbulkan ketidakpastian hukum bagi

pekerja/buruh.

Yang kedua, Pasal 95 ayat (4) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003

tentang Ketenagakerjaan dianggap bertentangan dengan pasal 28D ayat (2)

karena berpotensi menimbulkan pelanggaran hak pekerja untuk memperoleh

perlakuan yang adil dan layak secara hukum, yakni meskipun upah dan

hak-hak buruh dijamin dalam hal terjadinya pailit atau likuidasi perusahaan, namun

posisi pekerja selaku kreditor preferen khusus menjadi rentan karena masih

menunggu pembayaran bagi kreditor separatis dalam hal terjadinya kepailitan.

Dengan demikian salah satu pihak yang dijaminkan haknya selama proses

pailit yaitu para pekerja/buruh menjadi terabaikan hak asasi manusianya untuk

mendapatkan penghidupan yang layak dan imbalan yang sesuai dengan

kerjanya.

Atas permohonan ini, Mahkamah dalam amar putusannya mengabulkan

permohonan pemohon untuk sebagian, bahwa 1) Pasal 95 ayat (4) UU No. 13

Tahun 2003 bertentangan dengan UUD NRI Tahun 1945 sepanjang tidak

dimaknai : pembayaran upah pekerja/buruh yang terutang didahulukan atas

semua jenis kreditor termasuk atas tagihan kreditor separatis, tagihan hak

Negara, kantor lelang, dan badan umum yang dibentuk oleh Pemerintah,

(9)

tagihan termasuk tagihan hak Negara, kantor lelang, dan badan umum yang

dibentuk oleh Pemerintah, kecuali tagihan dari kreditor separatis. 2) Pasal 95

ayat (4) UU No. 13 Tahun 2003 tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat

sepanjang tidak dimaknai : pembayaran upah pekerja/buruh yang terutang

didahulukan atas semua jenis kreditor termasuk atas tagihan kreditor separatis,

tagihan hak Negara, kantor lelang, dan badan umum yang dibentuk oleh

Pemerintah, sedangkan pembayaran hak-hak pekerja/buruh lainnya

didahulukan atas semua tagihan termasuk tagihan hak Negara, kantor lelang,

dan badan umum yang dibentuk oleh Pemerintah, kecuali tagihan dari kreditor

separatis.

Apabila dilihat dari sejarah, filosofi dan asas-asas hukum kepailitan,

hukum kepailitan itu sendiri ada karena adanya perjanjian utang piutang antara

debitor dan kreditor, dimana penyelesaiannya yang sulit mengakibatkan perlu

ada pengaturan penyelesaian pembayaran utang untuk melindungi debitor dan

kreditor, oleh karena itu kepailitan menganut beberapa prinsip utama

penyelesaian utang debitor terhadap kreditornya secara merata untuk

menciptakan keadilan.

Selain itu, menurut Sutan Remy Sjahdeini9, beberapa asas yang

seyogyanya termuat dalam Undang-Undang Kepailitan yaitu: Undang-Undang

Kepailitan harus dapat mendorong kegairahan Investasi Asing, mendorong

Pasar Modal, dan memudahkan perusahaan Indonesia memperoleh kredit luar

(10)

negeri; Undang-Undang Kepailitan harus memberikan perlindungan yang

seimbang bagi kreditor dan debitor.

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 67/PUU-XI/2013 akan bisa

menimbulkan rasa ketidakadilan bagi pihak kreditor lain terutama kreditor

separatis yang notabene kebanyakan adalah investor. Hal tersebutlah yang

mendorong penulis untuk melakukan penelitian lebih dalam terhadap dasar

putusan Hakim Mahkamah Konstitusi yang mengabulkan sebagian

permohonan pemohon, serta implikasi putusan Mahkamah Konstitusi tersebut

terhadap hak-hak buruh pada perusahaan pailit pasca judicial review ke dalam

bentuk penulisan skripsi yang berjudul :

“IMPLIKASI PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR

67/PUU-XI/2013 TERHADAP HAK-HAK BURUH PADA

PERUSAHAAN PAILIT PASCA JUDICIAL REVIEW”

B.Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut diatas, maka penulis akan

meneliti dan membahas masalah yang dirumuskan sebagai berikut :

1. Apa dasar putusan Hakim Mahkamah Konstitusi yang mengabulkan

sebagian permohonan pemohon pada permohonan judicial review Pasal 95

ayat (4) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan?

2. Bagaimana implikasi putusan Mahkamah Konstitusi Nomor

67/PUU-XI/2013 terhadap hak-hak buruh pada perusahaan pailit pasca judicial

(11)

C.Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian yang dilakukan penulis adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui dan menganalisa dasar putusan Hakim Mahkamah

Konstitusi yang mengabulkan sebagian permohonan pemohon pada

permohonan judicial review Pasal 95 ayat (4) Undang-Undang Nomor 13

Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

2. Untuk mengetahui dan mendiskripsikan implikasi putusan Mahkamah

Konstitusi Nomor 67/PUU-XI/2013 terhadap hak-hak buruh pasca judicial

review.

D.Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian yang ingin dicapai penulis adalah sebagai

berikut :

1. Manfaat praktis

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat

luas tentang pengetahuan hak dan kewajiban yang terkait dengan bidang

usaha dan ketenagakerjaan ketika terjadi sebuah peristiwa hukum

(kepailitan pada perusahaan).

2. Manfaat teoritis

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis berupa

pengembangan ilmu hukum khususnya dalam bidang hukum perdata yang

(12)

ketenagakerjaan ketika terjadi sebuah peristiwa hukum (kepailitan pada

perusahaan).

E.Kegunaan Penelitian

1. Bagi penulis, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi

penulis tentang hak dan kewajiban subjek hukum dalam bidang usaha dan

ketenagakerjaan ketika terjadi sebuah peristiwa hukum (kepailitan pada

perusahaan) setelah adanya putusan Mahkamah Konstitusi Nomor

67/PUU-XI/2013.

2. Bagi masyarakat, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan pedoman dan

pemahaman bagi masyarakat saat berada dalam bidang usaha dan

ketenagakerjaan ketika terjadi sebuah peristiwa hukum (kepailitan pada

perusahaan).

3. Bagi akademisi hukum, penelitian ini diharapkan dapat menambah

wawasan keilmuan hukum dalam bidang hukum perdata khususnya bidang

usaha dan ketenagakerjaan yang terkait dengan hak dan kewajiban para

subjek hukumnya ketika terjadi kepailitan setelah adanya putusan

Mahkamah Konstitusi Nomor 67/PUU-XI/2013.

F. Metode Penelitian

Untuk memperoleh data-data yang dihubungkan dengan penulisan skripsi

(13)

1. Metode Pendekatan

Sebagai penelitian hukum yang melihat hukum sebagai norma dalam

masyarakat, maka dalam penelitian ini penulis menggunakan metode

pendekatan yuridis normatif. Dengan menganalisa masalah berdasarkan

hukum positif/peraturan perundang-undangan (statute approach). Selain itu,

penulis melakukan penelitian hukum ini dengan pendekatan konseptual

(konseptual approach).

Pendekatan konseptual (konseptual approach) beranjak dari

pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin yang berkembang di dalam ilmu

hukum.10 Yaitu dengan mempelajari pandangan-pandangan dan

doktrin-doktrin dalam ilmu hukum sesuai permasalahan yang diangkat.

2. Jenis Bahan Hukum a. Bahan Hukum Primer

Adalah bahan hukum yang diperoleh dari hukum positif/peraturan

perundang-undangan.11 Beberapa peraturan perundang-undangan yang

dikaji terkait dengan masalah adalah yang terkait dengan kepailitan,

ketenagakerjaan, dan hukum jaminan kebendaan.

b. Bahan Hukum Sekunder

Adalah bahan hukum yang mendukung bahan hukum primer, berupa

buku, jurnal, hasil penelitian, hasil kegiatan ilmiah, dan lain-lain.12 Yaitu

10 Peter Mahmud Marzuki. 2010. Penelitian Hukum. Jakarta: Kencana. hlm. 94-95

(14)

yang terkait dengan masalah kepailitan, ketenagakerjaan, dan hukum

jaminan kebendaan.

c. Bahan Hukum Tersier

Adalah bahan hukum yang diperoleh dari Ensiklopedi, Kamus, dan

lain-lain.13

3. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum

Teknik pengumpulan bahan hukum yang dilakukan oleh penulis yaitu

dengan studi pustaka. Peneliti mencari bahan-bahan hukum yang sesuai

dengan masalah, dan berdasar pendekatan yang digunakan.

4. Teknik Analisa Data

Teknik analisa data yang dilakukan penulis dalam penelitian ini yaitu

analisa isi (content analysis) terhadap putusan Mahkamah Konstitusi Nomor

67/PUU-XI/2013 dengan berdasar pendekatan yang digunakan. Penulis

mengkaji masalah yang dibahas, menelaah peraturan perundang-undangan

terkait, dan berdasarkan asas-asas/prinsip-prinsip kepailitan, serta

menggunakan analogi/penafsiran.

G.Sistematika Penulisan

Pada penelitian ini, penulis akan menyajikan empat bab yang terdiri dari

sub-sub bab, sistematika penulisannya secara singkat adalah sebagai berikut :

(15)

1. BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini memuat hal-hal yang melatarbelakangi pemilihan topik dari

penulisan skripsi dan sekaligus menjadi pengantar umum didalam

memahami penulisan secara keseluruhan yang terdiri dari latar belakang,

rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kegunaan

penelitian, kerangka teori, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

2. BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Dalam bab II ini penulis akan menguraikan dan menjelaskan berbagai

teori-teori hukum yang dapat mendukung peneliti dalam membahas dan

menjawab rumusan masalah terkait dengan para subjek hukum dalam

bidang usaha ketika perusahaan terjadi kepailitan, hak dan kewajiban para

subjek hukum tersebut ketika terjadi kepailitan.

3. BAB III : PEMBAHASAN

Dalam bab III ini penulis akan menjawab, menguraikan dan menganalisa

secara rinci dan jelas terkait dengan rumusan masalah. Penulis akan

menguraikan dan menganalisa masalah berdasarkan metode pendekatan

yang digunakan, serta berdasarkan bahan yang digunakan penulis untuk

menjawab rumusan masalah.

4. BAB IV : PENUTUP

Dalam bab IV berisi kesimpulan-kesimpulan, ini merupakan hasil penelitian

yang dirumuskan dalam bentuk pernyataan dan merupakan jawaban atas

rumusan masalah, sedangkan saran merupakan sumbangan pemikiran

(16)

PENULISAN HUKUM

Oleh :

CHIKKA ADISTYA KRISI

201110110311030

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG FAKULTAS HUKUM

(17)

PASCA JUDICIAL REVIEW

Disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar kesarjanaan

dalam bidang Ilmu Hukum

Oleh :

CHIKKA ADISTYA KRISI

201110110311030

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG FAKULTAS HUKUM

(18)
(19)
(20)

serta karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi

yang berjudul “IMPLIKASI PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR

67/PUU-XI/2013 TERHADAP HAK-HAK BURUH PADA PERUSAHAAN

PAILIT PASCA JUDICIAL REVIEW” dengan baik dan lancar, guna memenuhi

salah satu syarat memperoleh gelar kesarjanaan dalam bidang Ilmu Hukum

Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang.

Shalawat serta salam tidak lupa penulis haturkan kepada Nabi Muhammad

SAW yang telah membawa umat manusia dari jaman kegelapan menuju jaman

yang terang benderang dengan naungan Ilahi dan kesucian ilmu pengetahuan.

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan juga kepada

pihak-pihak yang telah memberikan sumbangsih dan berperan penting selama

penyusunan skripsi ini. Penulis sampaikan terima kasih dan hormat kepada :

1. Kedua orang tua penulis, yakni Krisijantoro dan Tutik Saraswati, terima kasih

telah menjadi orang tua yang luar biasa, yang tidak henti-hentinya

memberikan semangat, motivasi, dan dukungan kepada penulis dengan penuh

kasih sayang, serta do’a yang selalu dipanjatkan selama ini sehingga penulis

dapat menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah

(21)

3. Keluarga besar penulis, tante Sulismiarti, Debby Regina Pramesti, dan

keluarga besar lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu, terima kasih

atas semangat yang diberikan, serta do’anya, hingga penulis dapat segera

menyelesaikan penyusunan skripsi ini dan studi di Fakultas Hukum

Universitas Muhammadiyah Malang.

4. Bapak Dr. Muhadjir Effendy, MAP., selaku Rektor, Bapak Prof. Dr.

Bambang Widagdo, M.M., selaku Pembantu Rektor I, Bapak Drs. Fauzan,

M.Pd., selaku Pembantu Rektor II, dan Ibu Dr. Diah Karmiyati, Psi., selaku

Pembantu Rektor III.

5. Bapak Dr. Sulardi, SH. M.Si., selaku Dekan FH UMM, Bapak Dr. Tongat,

SH., M.Hum., selaku Pembantu Dekan I FH UMM, Ibu Fifik Wirayani, SH.

M.Si., M.Hum., selaku Pembantu Dekan II FH UMM dan Bapak Sofyan

Arief, SH., M.Kn., Pembantu Dekan III FH UMM.

6. Ibu Herwastoeti, S.H., M.Si., selaku Dosen Pembimbing I yang telah

memberikan arahan dan bimbingan dengan penuh kesabaran, serta

kritikan-kritikan yang membangun selama proses penyusunan skripsi ini.

7. Bapak Sofyan Arief, S.H., M.Kn., selaku Dosen Pembimbing II yang telah

bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan arahan, bimbingan, serta

(22)

9. Bapak/Ibu Dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang,

terima kasih atas ilmu pengetahuan hukum yang diberikan kepada penulis

selama kuliah di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang.

10. Para Staf Tata Usaha dan Laboratorium Fakultas Hukum Universitas

Muhammadiyah Malang, serta staf perpustakaan Universitas Muhammadiyah

Malang, terimakasih atas pelayanan yang baik, arahan, serta bantuan selama

perkuliahan penulis dalam mengurus segala hal yang berkaitan dengan

administrasi akademik di Universitas Muhammadiyah Malang.

11. Robby Fandhita Kurniawan, terima kasih telah menjadi seorang penyemangat

yang sabar, yang selalu memberikan dukungan, dan bersedia meluangkan

waktunya untuk penulis selama ini.

12. Sahabat kecil penulis, Noor Faizah Imansari, Arina Manasikana, Cecia

Rahmadani, Rizka Kurnia Andaru, Charisma Arianti, Kiki Febriani, Liana

Nirmawati, terima kasih telah menjadi sahabat terbaik, dukungan, serta do’a

untuk penulis hingga penulis menyelesaikan perkuliahan di Fakultas Hukum

Universitas Muhammadiyah Malang.

13. Sahabat penulis selama perkuliahan, Anggi Febrina Venifera dan Anggun

Fadhillah Sumenda, terima kasih atas kasih sayang dan dukungannya selama

berproses diperkuliahan. Semoga persaudaraan ini tetap mengikat sampai

(23)

Imaniar, terima kasih atas masukan dan semangatnya selama penyusunan

skripsi ini hingga dapat menyelesaikannya dengan baik dan tepat waktu.

15. Teman-teman angkatan 2011 kelas A, Dwi Fitri Handayani, Ridho Alfian,

Aininia Aziza, Vivi Agustina, Ferary Ayu Novitasari, Putri Yunita, Yekti

Karunia, Eviana Anggraeni, Ferry Prasetyo, Nusantoro Ajie Budi Kuncoro,

Fadhil Firmansyah, Des’ Yandra, Aditya Arief Pratama, Soni Akbar, Rifki,

Zubaidi, terima kasih telah menjadi bagian dari kehidupan penulis selama

perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang.

16. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah

membantu penulis selama berproses diperkuliahan hingga penyelesaian

skripsi ini di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang.

Disadari segala kekurangan serta keterbatasan penulis dalam penyusunan

skripsi ini, maka dengan kerendahan hati penulis harapkan saran dan kritik yang

membangun agar dikemudian hari menjadi lebih baik dan sempurna.

Malang, 7 Februari 2015

Penulis,

(24)

Lembar Pengesahan ... ii

Surat Pernyataan Penulisan Hukum Bukan Hasil Plagiat ... iii

Ungkapan Pribadi / Motto ... iv

Abstraksi ... v

Abstract ... vi

Kata Pengantar ... vii

Daftar Isi... xi

Daftar Lampiran ... xiii

BAB I : PENDAHULUAN ... 1

A.Latar Belakang ... 1

B.Rumusan Masalah ... 10

C.Tujuan Penelitian... 11

D.Manfaat Penelitian... 11

E.Kegunaan Penelitian ... 12

F. Metode Penelitian ... 12

1. Metode Pendekatan ... 13

2. Jenis Bahan Hukum ... 13

3. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum ... 14

4. Teknik Analisa Data ... 14

G.Sistematika Penulisan ... 14

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA... 16

A.Tinjauan Umum tentang Perusahaan Perseroan Terbatas dalam Kepailitan ... 16

1. Tinjauan Umum tentang Kepailitan ... 17

1.1. Pengertian Kepailitan ... 17

1.2. Kreditor dalam Hukum Kepailitan ... 23

1.2.1. Pengertian Kreditor ... 23

1.2.2. Penggolongan Kreditor... 24

1.3. Prinsip Hukum dalam Hukum Kepailitan ... 28

2. Tanggung Jawab Perusahaan Perseroan Terbatas Pailit Terhadap Hak Pekerja/Buruh ... 31

B. Tinjauan tentang Hak Pekerja/Buruh dalam Perusahaan Perseroan Terbatas ... 40

1. Pengertian Hak Pekerja/Buruh ... 40

2. Hak-Hak Normatif Pekerja/Buruh ... 41

(25)

1. Kewenangan Mahkamah Konstitusi... 48

2. Legal Standing (Kedudukan Hukum) ... 52

3. Putusan Mahkamah Konstitusi ... 53

4. Pelaksanaan Putusan Mahkamah Konstitusi ... 54

5. Implikasi Putusan Mahkamah Konstitusi ... 56

BAB III : PEMBAHASAN ... 61

A.Dasar Putusan Hakim Mahkamah Konstitusi yang Mengabulkan Sebagian Permohonan Pemohon Pada Permohonan Judicial Review Pasal 95 ayat (4) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan ... 61

1. Kasus Posisi... 61

2. Analisa Dasar Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 67/PUU-XI/2013 ... 73

B. Implikasi Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 67/PUU-XI/2013 Terhadap Hak-Hak Buruh Pada Perusahaan Pailit Pasca Judicial Review ... 102

BAB IV : PENUTUP ... 112

A.Kesimpulan... 112

B.Saran ... 114

DAFTAR PUSTAKA ... 116

(26)
(27)

Abdul Latif. 2007. Fungsi Mahkamah Konstitusi Dalam Upaya Mewujudkan Negara Hukum Demokrasi. Yogyakarta, Kreasi Total Media.

Adrian Sutedi. 2009. Hukum Kepailitan. Bogor, Ghalia Indonesia.

Ana Rokhmatussa’dyah dan Suratman. 2011. Hukum Investasi dan Pasar Modal.

Jakarta, Sinar Grafika.

Bambang Sutiyoso. 2006. Hukum Acara Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Bandung, PT Citra Aditya Bakti.

Fatkhurohman, Dian Aminudin, dan Sirajuddin. 2004. Memahami Keberadaan Mahkamah Konstitusi Di Indonesia. Bandung, PT. Citra Aditya Bakti.

Jimly Asshiddiqie. 2010. Hukum Acara Pengujian Undang-Undang. Jakarta, Sinar Grafika.

Jono. 2010. Hukum Kepailitan. Jakarta, Sinar Grafika.

Lalu Husni. 2007. Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, edisi revisi. Jakarta, PT Raja Grafindo Persada.

M. Hadi Subhan. 2009. Hukum Kepailitan: Prinsip, Norma, dan Praktik di Peradilan. Jakarta, Kencana.

M. Yahya Harahap. 2011. Hukum Perseroan Terbatas. Jakarta, Sinar Grafika.

Maruar Siahaan. 2011. Hukum Acara Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, edisi kedua. Jakarta, Sinar Grafika.

Munir Fuady. 2014. Hukum Pailit dalam Teori & Praktek. Bandung, PT Citra Aditya Bakti.

Peter Mahmud Marzuki, SH., MS., LL.M. 2010. Penelitian Hukum. Jakarta, Kencana.

Rachmat Trijono. 2014. Pengantar Hukum Ketenagakerjaan. Jakarta, Papas Sinar Sinanti.

Rachmadi Usman. 2009. Hukum Jaminan Keperdataan. Jakarta, Sinar Grafika.

Rahayu Hartini. 2012. Hukum Kepailitan. Malang, UMM Press.

Peraturan Perundang-Undangan :

Kitab Undang-Undang Hukum Dagang

(28)

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi

Jurnal/Artikel/Penelitian :

Dian Rositawati. Judicial Review. Seri Bahan Bacaan Kursus HAM untuk Pengacara X, Tahun 2005, Materi: Mekanisme Judicial Review. Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM).

Fista Prilia Sambuari. Eksistensi Putusan Judicial Review Oleh Mahkamah Konstitusi. Lex Administratum, Volume 1, Nomor 2, April-Juni 2013.

I Made Wisnu Yoga Wijaya, A.A. Sagung Wiratni Darmadi, dan A.A. Gede Agung Dharma Kusuma. _. Hak-Hak Normatif Pekerja Pada Perusahaan Yang Dinyatakan Pailit. Fakultas Hukum Uniersitas Udayana.

Kurniawan. Tanggung Jawab Direksi Dalam Kepailitan Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-Undang Perseroan Terbatas. MIMBAR HUKUM Volume 24, Nomor 2, Juni 2012.

Kurniawan. 2007. Tesis: Pemberesan Harta Pailit Pada Perusahaan Perorangan (Studi Kasus Pada PT. Sierad Produce Tbk.). Universitas Diponegoro, Semarang.

Royke A. Taroreh. Hak Kreditor Separatis Dalam Mengeksekusi Benda Jaminan Debitor Pailit. Vol.II, Nomor 2, Januari-Maret, 2014, Edisi Khusus, Universitas Sam Ratulangi.

Kamus :

Black’s Law Dictionary (revised fourth edition). 1968. ST.Paul, Minn. West Publishing Co.

(29)

El Altha. Hak Uji (Toetsingsrecht). http://elaltha.blogspot.com. Diakses pada tanggal 19 November 2014, pukul 22.23 WIB.

HukumOnline.com. Pembayaran Upah Buruh dalam Proses Kepailitan. http://www.hukumonline.com. Diakses pada tanggal 21 Oktober 2014, pukul 21.45 WIB.

Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Profil Mahkamah Konstitusi RI. http://www.mahkamahkonstitusi.go.id. Diakses pada tanggal 19 November 2014, pukul 20.47 WIB.

Nien Rafles Siregar, S.H. Perbedaan Antara Kreditur Separatis dengan Kreditur Konkuren. http://www.hukumonline.com. Diakses pada tanggal 16 November 2014, pukul 09.33 WIB.

Susilo Andi Darma. 2013. Kedudukan Pekerja/Buruh dalam Perkara Kepailitan Ditinjau dari Peraturan Perundang-Undangan dan Teori Keadilan. http://www.aifis-digilib.org. Diakses pada tanggal 21 Oktober 2014, pukul 21.47 WIB.

Wikipedia Bahasa Indonesia. Pailit. http://id.wikipedia.org. Diakses pada tanggal 16 November 2014, pukul 08.16 WIB.

Lain-lain :

Referensi

Dokumen terkait

Dasar Pertimbangan Hukum Mahkamah Konstitusi yang Memberlakukan kembali Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian dalam Putusan Nomor 28/PUU-XI/2013 dan

Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa putusan Mahkamah Konstitusi yang memberlakukan suatu undang-undang merupakan putusan yang bersifat progresif dan responsif

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hakim dalam memutus perkara waris anak luar nikah tidak mendapat waris karena hakim beralasan putusan Mahkamah Konstitusi sampai

[3.1] Menimbang bahwa maksud dan tujuan permohonan Pemohon adalah menguji konstitusionalitas Pasal 10 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah

24 Tahun 2003 tentang Mahka- mah Konstitusi, dapat ditarik kesimpulan bahwa putusan Mahkamah Konstitusi yang menyatakan suatu undang-undang berten- tangan dengan Undang-Undang

Selain Mahkamah Agung, kewenangan judicial review juga dimiliki oleh Mahkamah Konstitusi yang berwenang menguji Undang-Undang terhadap UUD. Bila dikaitkan dengan

Pertimbangan Hukum Hakim mengenai Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 68/PUU-XV/2017 yang mencabut kekuatan mengikat dari Pasal 99 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem

PENGARUH PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI TERHADAP PERUBAHAN UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN TINJAUAN PUTUSAN MAHMAKAH KONSTITUSI NOMOR 46/PUU-VIII/2010 DAN PUTUSAN