• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBANDINGAN PENGUASAAN KONSEP TERMOKIMIA ANTARA MODEL LEARNING CYCLE 6 PHASE DENGAN LEARNING CYCLE 3 PHASE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERBANDINGAN PENGUASAAN KONSEP TERMOKIMIA ANTARA MODEL LEARNING CYCLE 6 PHASE DENGAN LEARNING CYCLE 3 PHASE"

Copied!
45
0
0

Teks penuh

(1)

PERBANDINGAN PENGUASAAN KONSEP TERMOKIMIA

ANTARA MODEL LEARNING CYCLE 6 PHASE DENGAN

LEARNING CYLE 3 PHASE

Oleh

Yani Efrina

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN

Pada

Program Studi Pendidikan Kimia

Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

PERBANDINGAN PENGUASAAN KONSEP TERMOKIMIA ANTARA MODEL LEARNING CYCLE 6 PHASE

DENGAN LEARNING CYCLE 3 PHASE Oleh

YANI EFRINA

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan penguasaan konsep

termokimia antara model learning cycle 6 phase dengan model learning cycle 3

phase pada siswa MAN Krui Kabupaten Pesisir Barat. Populasi dalam

penelitian ini adalah semua siswa kelas XI IPA tahun ajaran 2012/2013. Sampel

diambil menggunakan teknik purposive sampling, diperoleh kelas XI IPA 1

sebagai kelas eksperimen I dan kelas XI IPA 2 sebagai kelas eksperimen II.

Penelitian ini menggunakan rancangan non equivalent pretest-posttest control

group design. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh rata-rata N-gain dengan

penerapan model learning cycle 6 phase adalah sebesar 0,41 sedangkan rata-rata

N-gain dengan penerapan model learning cycle 3 phase adalah sebesar 0,27,

Berdasarkan uji hipotesis dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran

dengan model learning cycle 6 phase lebih tinggi dibandingkan model learning

cycle 3 phase. Hal ini karena model learning cycle 6 phase memiliki tahap-tahap

lebih terperinci dalam meningkatkan penguasaan konsep termokimia.

(3)
(4)
(5)
(6)

DAFTAR ISI

Halaman DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 7

E. Ruang Lingkup Penelitian ... 8

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Learning Cycle ... 9

B. Penguasaan Konsep ... 14

C. Lembar Kerja Siswa (LKS) ... 16

D. Kerangka Berpikir... ... 17

E. Anggapan Dasar ... 18

F. Hipotesis Umum Penelitian ... 19

III. METODOLOGI PENELITIAN A. Populasi dan Sampel ... 20

B. Jenis dan Variabel Penelitian ... 20

(7)

D. Instrumen Penelitian ... 21

E. Pelaksanaan Penelitian ... 22

F. Hipotesis Statistik………. 23

G. Teknik Analisis Data ... 25

1. Analisis soal. ... 25

2. Analisis data penelitian dan pengujian hipotesis. ... 29

(8)

8. Lembar observasi kinerja guru learning cycle 6 phase... 226

9. Lembar observasi kinerja guru learning cycle 3 phase... 238

10.Kisi-kisi soal pretest dan posttest ... 250

11.Soal pretest dan posttest ... 253

12.Kunci jawaban soal pretest dan posttest ... 261

13.Hasil uji analisis soal ... 262

14.Data nilai siswa ... 268

15.Hasil pengujian hipotesis ... 270

(9)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kegiatan belajar mengajar merupakan kegiatan paling pokok dalam keseluruhan

proses pendidikan di sekolah. Keberhasilan pendidikan sangat ditentukan oleh

kinerja dari proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar merupakan

rangkai-an kegiatrangkai-an komunikasi rangkai-antara mrangkai-anusia yaitu rangkai-antara orrangkai-ang yrangkai-ang belajar disebut

siswa dan orang yang mengajar disebut guru. Dalam proses belajar mengajar, guru

akan menghadapi siswa yang mempunyai karakteristik yang berbeda-beda,

se-hingga guru dalam proses belajar mengajar tidak akan lepas dengan masalah hasil

belajar siswanya, yang merupakan alat untuk mengukur sejauh mana siswa

menguasai materi yang telah diajarkan. Jadi inti dari proses pembelajaran adalah

bagaimana siswa mampu menguasai materi pelajaran secara optimal (Hidayat,

2011).

Penguasaan materi dapat dilihat dari sejauh mana siswa menerima pelajaran dan

seberapa jauh daya serap serta kemampuan siswa untuk memahami materi

pelajar-an tersebut. Karena hasil belajar bpelajar-anyak tergpelajar-antung pada seberapa besar materi

pelajaran diserap oleh seorang siswa, sehingga siswa memiliki pengetahuan dan

keterampilan yang tinggi dan berguna untuk mengembangkan kehidupannya

(10)

Salah satu prasyarat yang harus diwujudkan selama proses pembelajaran adalah

bagaimana guru mampu meningkatkan atau membangun partisipasi aktif siswa.

Oleh karena itu aktifitas dan kreatifitas guru dalam memotivasi siswa untuk

ter-libat langsung dan aktif dalam pembelajaran merupakan salah satu aspek yang

menentukan keberhasilan pencapaian tujuan belajar dan lancarnya kegiatan

be-lajar mengajar tersebut, yang mana hal ini akan berpengaruh pada penguasaan

konsep siswa (Hidayat, 2011).

Banyak faktor yang mempengaruhi penguasaan konsep siswa, diantaranya adalah

materi pelajaran, tujuan pembelajaran, model pengajaran, sarana dan prasarana.

Salah satu cara untuk meningkatkan penguasaan konsep siswa adalah dengan

me-nerapkan model pengajaran yang tepat, karena model pengajaran merupakan

bagian yang penting dalam proses belajar mengajar dan kemampuan yang

di-harapkan dapat dimiliki anak didik, akan ditentukan oleh penggunaan model yang

tepat, sesuai dengan standar keberhasilan yang terpatri di dalam suatu tujuan.

Model apa yang cocok agar siswa dapat berfikir kritis, logis, dapat memecahkan

masalah dengan terbuka, kreatif, inovatif serta tidak membosankan merupakan

pertanyaan yang tidak mudah dijawab, karena masing-masing metode dan model

mempunyai kelebihan dan kekurangan. Dalam upaya untuk meningkatkan mutu

pendidikan, pemerintah telah menerapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan

(KTSP). Kurikulum ini merupakan hasil revisi dari kurikulum sebelumnya.

Ber-dasarkan KTSP kegiatan pembelajaran dirancang dan dikembangkan berBer-dasarkan

karakteristik standar kompetensi, kompetensi dasar, potensi peserta didik, daerah

(11)

Materi pokok termokimia merupakan salah satu materi pokok yang terdapat pada

pelajaran kimia SMA kelas XI semester Ganjil. Materi pokok ini membahas

tentang termokimia yang merupakan penerapan dari Hukum I termodinamika dan

kaitannya dengan reaksi kimia. Dalam termokimia dibahas tentang pengertian

termokimia yang meliputi energi yang dimiliki setiap zat, azas kekekalan energi,

entalpi dan perubahan entalpi. Reaksi eksoterm dan reaksi endoterm, persamaan

termokimia, entalpi molar, dan perhitungan perubahan entalpi berdasarkan hukum

Hess, data perubahan entalpi pembentukan, dan data energi ikatan. Materi ini

me-rupakan materi yang menyajikan fakta-fakta tentang peristiwa yang terjadi dalam

kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu dalam mempelajarinya siswa harus mampu

mengerti dan memahami konsep-konsep materi yang ada dalam pelajaran

terse-but. Materi ini tergolong dalam materi sulit, karena selain berupa hafalan juga

berupa hitungan.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru kimia kelas XI IPA

MAN Krui Kabupaten Pesisir Barat, pembelajaran yang dilakukan sudah mengacu

pada student centered (berpusat pada siswa) dan mengajak siswa untuk

meng-amati langsung fenomena yang terjadi pada proses pembelajaran. Namun, pada

materi pokok termokimia guru bidang studi cenderung menggunakan metode

ceramah disertai latihan soal. Alasan yang dikemukakan guru bidang studi adalah

kurangnya waktu pembelajaran oleh karena itu kegiatan praktikum tidak

dilaku-kan pada proses pembelajaran. Pembelajaran yang dilakudilaku-kan kurang

mem-bimbing siswa sehingga menyebabkan masih rendahnya rata-rata penguasaan

konsep siswa. Dilihat dari kompetensi dasarnya, konsep termokimia adalah suatu

(12)

metode eksperimen sehingga siswa dapat membangun konsep termokimia dengan

meng-amati setiap fenomena yang terjadi selama praktikum. Hal ini sangat sesuai

deng-an prinsip pembelajaran konstruktivisme dimana siswa sendiri yang dipacu

untuk menemukan konsep dalam dirinya, sehingga ilmu yang diperoleh siswa

diharap-kan dapat bertahan lama.

Salah satu model pembelajaran yang bersifat konstruktivisme adalah

pembelajar-an siklus (learning cycle). Pembelajaran melalui model siklus belajar

mengharus-kan siswa membangun sendiri pengetahuannya dengan memecahmengharus-kan

permasalah-an ypermasalah-ang dibimbing lpermasalah-angsung oleh guru. Pemerolehpermasalah-an konsep baru akpermasalah-an

ber-dampak pada konsep yang telah dimiliki siswa. Siswa harus dapat

mengkan konsep yang baru dipelajari dengan konsep-konsep lain dalam suatu

hubung-an hubung-antar konsep. Konsep yhubung-ang baru harus diorghubung-anisasikhubung-an denghubung-an konsep-konsep

lain yang telah dimiliki. Dalam hal ini siswa diberi kesempatan untuk

meng-asimilasi informasi dengan cara mengeksplorasi lingkungan, mengakomodasi

informasi dengan cara mengembangkan konsep, mengorganisasikan informasi dan

menghubungkan konsep-konsep baru dengan menggunakan atau memperluas

konsep yang dimiliki untuk menjelaskan suatu fenomena yang berbeda (Fajaroh

dan Dasna, 2008).

Learning cycle adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada siswa

(student centered) dan merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang

diorganisasi sedemikian rupa sehingga pembelajar dapat meng-uasai

kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperanan aktif

(13)

Learning cycle pada mulanya terdiri dari 3 tahap yaitu, tahap eksplorasi

(exploration), tahap penjelasan konsep (explaination), dan tahap penerapan

konsep (elaboration). Seiring dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan,

saat ini learning cycle 3phase telah dikembangkan dan disempurnakan menjadi

learning cycle 5 phase , learning cycle 6 phase, dan learning cycle 7 phase

Fajaroh dan Dasna (Septiyani, 2012).

Dalam pembelajaran learning cycle6 phase terdiri dari tahap-tahap engagement,

exploration, explaination, echo, extension, dan evaluation. Pada tahap

engagement (pendahuluan), guru mengeksplorasi pengetahuan awal serta

mem-bangkitkan keingintahuan siswa terhadap topik yang akan diajarkan. Pada tahap

exploration (eksplorasi),siswa diberi kesempatan untuk melakukan pengamatan

melalui kegiatan-kegiatan seperti eksperimen dan telaah literatur. Pada tahap

explaination (penjelasan), guru mendorong siswa untuk menjelaskan konsep

dengan kalimat mereka sendiri. Pada tahap echo (penguatan), guru memberikan

penguatan terhadap konsep yang telah diperoleh siswa pada tahap exploration.

Pada tahap extension (penerapan), siswa menerapkan konsep yang telah mereka

terima pada situasi baru. Pada tahap akhir, yaitu evaluation (evaluasi), dilakukan

evaluasi terhadap pengetahuan dan penguasaan konsep siswa. Dengan adanya

keenam tahap tersebut siswa diberi kesempatan untuk mengasimilasi informasi

dengan cara mengeksplorasi lingkungan, mengakomodasi informasi dengan cara

mengembangkan konsep, mengorganisasikan informasi dan menghubungkan

konsep-konsep baru dengan menggunakan atau memperluas konsep yang dimiliki

(14)

Fitri (2011) melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui efektivitas

model pembelajaran learning cycle 3 phase untuk meningkatan penguasaan

konsep siswa pada materi pokok Reaksi Oksidasi Reduksi di SMA Budaya

Bandar Lampung. Dari hasil penelitiannya pembelajaran learning cycle 3 Phase

lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional dalam meningkatkan

penguasaan konsep pada materi Reaksi Oksidasi Reduksi SMA Budaya Bandar

Lampung.

Ayuwulanda (2011) melakukan penelitian mengenai perbandingan penguasaan

konsep Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan antara pembelajaran inkuiri

terbim-bing dengan model pembelajaran learning cycle 6phase dalam pembelajaran

kimia di SMAN 1 Pringsewu. Berdasarkan penelitian ini diketahui bahwa setelah

me-nerapkan model pembelajaran learning cycle 6phase pada materi Kelarutan

dan Hasil Kali Kelarutan terjadi peningkatan rata-rata tiap jenis aktivitas on task

siswa (aktivitas mengerjakan LKS, bertanya kepada guru, menjawab pertanyaan

dari guru, mem-beri pendapat) dari siklus ke siklus.

Berdasarkan data dan latar belakang uraian di atas, maka dianggap perlu

dilaku-kan penelitian untuk mengetahui perbandingan penguasaan konsep kimia

khusus-nya pada materi termokimia antara siswa yang diberi pembelajaran learning cycle

6 phase dengan siswa yang diberi pembelajaran learning cycle 3 phase yang

(15)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Apakah ada perbedaan rata-rata penguasaan konsep termokimia antara model

learning cycle 6 phase dengan learning cycle 3 phase pada siswa MAN Krui?

2. Rata-rata penguasaan konsep manakah yang lebih tinggi antara model

learning cycle 6 phase dengan learning cycle 3 phase pada siswa MAN Krui?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:

1. Perbedaan rata-rata nilai penguasaan konsep termokimia antara model

learning cycle 6 phase dengan learning cycle 3 phase pada siswa MAN Krui.

2. Rata-rata nilai penguasaan konsep termokimia siswa yang lebih tinggi antara

model learning cycle 6 phase dengan learning cycle 3 phase siswa MAN Krui.

D. Manfaat Penelitian

Dengan dilakukannya penelitian ini, diharapkan dapat memberikan manpaat :

1. Manfaat bagi guru :

Dapat memberikan alternatif dalam memilih model pembelajaran yang tepat

untuk diterapkan pada pembelajaran termokimia kimia kelas XI IPA MAN

Krui.

(16)

Siswa mendapat pengalaman belajar yang baru sehingga diharapkan dapat

meningkatkan motivasi belajar dan penguasaan konsep termokimia.

3. Manfaat bagi sekolah :

Memberikan informasi mengenai model learning cycle6 phase dan learning

cycle3 phase.

E. Ruang Lingkup Penelitian

1. Materi pokok pada penelitian ini adalah termokimia.

2. Populasi penelitian ini adalah kelas XI IPA semester ganjil MAN Pesisir Barat

Tahun Ajaran 2012-2013.

3. Sampel penelitian ini adalah kelas XI IPA 1 dan kelas XI IPA 2 MAN Pesisir

Barat Tahun Ajaran 2012-2013.

4. Penguasaan konsep termokimia dilihat dari nilai siswa pada materi pokok

termokimia yang diperoleh melalui pretest dan posttest.

5. Model learning cycle 3 phase merupakan model pembelajaran yang disusun

berdasarkan 3 tahap pembelajaran, yaitu: exploration phase (eksplorasi),

explaination phase (penjelasan konsep), dan elaboration phase (penerapan

konsep) (Fajaroh dan Dasna, 2008).

6. Model learning cycle 6 phase merupakan model pembelajaran yang disusun berdasarkan 6 tahap pembelajaran, yaitu: engagementphase

(persiapan/pendahuluan), exploration phase (eksplorasi), explaination phase

(penjelasan konsep), elaboration phase (penerapan konsep) , echo phase

(penguatan konsep) dan evaluation phase (evaluasi) (Fajaroh dan Dasna,

(17)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Learning Cycle

Learning Cycle adalah suatu kerangka konseptual yang digunakan sebagai

pedoman dalam melakukan proses pembelajaran yang berpusat pada pembelajar

atau anak didik (Hirawan, 2009). Learning cycle merupakan rangkaian dari

tahap-tahap kegiatan (phase) yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga

belajar dapat me-nguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam

pem-belajaran dengan jalan berperan aktif. Model learning cycle termasuk ke dalam

pendekatan kontruktivisme karena siswa sendiri yang mengkonstruksi

pe-mahamannya Fajaroh dan Dasna (Septiyani, 2012)

Menurut Karplus dan Their (Fajaroh dan Dasna, 2007), learning cycle pada

mulanya terdiri dari 3 phase (3 tahap) , yaitu eksplorasi (exploration), penjelasan

konsep (concept introduction), dan aplikasi konsep (concept application). Pada

tahap eksplorasi siswa diberi kesempatan untuk memanfaatkan panca inderanya

semaksimal mungkin dalam berinteraksi dengan lingkungan melalui

kegiatan-kegiatan seperti praktikum, menganalisis artikel, mendiskusikan fenomena alam,

mengamati fenomena alam atau perilaku sosial, dan lain-lain. Dari kegiatan ini

diharapkan timbul ketidakseimbangan dalam struktur mentalnya (cognitive

(18)

mengarah pada berkembangnya daya nalar tingkat tinggi (high level reasoning)

yang diawali dengan kata-kata seperti mengapa dan bagaimana (Dasna, 2005).

Munculnya pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan indikator kesiapan siswa

untuk menempuh tahap berikutnya, tahap pengenalan konsep (concept

introduction). Pada tahap ini diharapkan terjadi proses menuju kesetimbangan

antara konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dengan konsep-konsep yang baru

dipelajari melalui kegiatan-kegiatan yang membutuhkan daya nalar seperti

me-nelaah sumber pustaka dan berdiskusi. Pada tahap ini siswa mengenal

istilah-istilah yang berkaitan dengan konsep-konsep baru yang sedang dipelajari.

Pada tahap terakhir, yakni aplikasi konsep (concept application), siswa diajak

menerapkan pemahaman konsepnya melalui kegiatan-kegiatan seperti problem

solving (menyelesaikan problem-problem nyata yang berkaitan) atau melakukan

percobaan lebih lanjut. Penerapan konsep dapat meningkatkan pemahaman

konsep dan motivasi belajar, karena siswa mengetahui penerapan nyata dari

konsep yang mereka pelajari Karplus dan Their (Fajaroh dan Dasna, 2007)

Tahapan dalam learning cycle 3 phase adalah sebagai berikut:

1. Exploration phase (Tahap eksplorasi)

Pada tahap ini guru menyajikan fakta atau fenomena yang berkaitan dengan

konsep yang akan diajarkan. Siswa menyelidiki fenomena tersebut dengan

bimbingan minimal sehingga menimbulkan pertanyaan-pertanyaan atas

masalah yang tidak dapat mereka pecahkan dengan pola penalaran yang biasa

mereka lakukan. Tahap ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk

(19)

meng-komunikasikannya pada orang lain berdasarkan konsep-konsep yang telah

mereka ketahui. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melibatkan siswa

se-cara aktif dalam suatu aktivitas yang dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan

motivasi belajar. Di samping itu kegiatan pada tahap ini memungkinkan siswa

mengingat kembali konsep yang telah dimilikinya.

1. Explanation phase (Tahap penjelasan konsep)

Pada tahap ini siswa mengemukakan gagasan-gagasan kemudian didiskusikan

dalam konteks apa yang telah diamati selama tahap eksplorasi. Guru

mem-berikan penguatan terhadap jawaban atau gagasan yang diungkapkan siswa.

Selain itu, guru mengenalkan istilah-istilah, memberikan penjelasan,

meng-usulkan alternatif pemecahan, atau memperbaiki miskonsepsi siswa. Siswa

dengan bimbingan guru mengorganisasikan datanya untuk menemukan

ke-teraturan atau hubungan antar konsep.

2. Elaboration phase (Tahap penerapan konsep)

Tahap ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk menggunakan

konsep-konsep yang telah diperoleh pada tahap-tahap sebelumnya untuk

menyelesai-kan persoalan dalam konteks yang berbeda. Siswa menerapmenyelesai-kan konsep yang

telah mereka dapat pada situasi baru, baik untuk memahami sifat-sifat konsep

lebih jauh (materi pengayaan) atau dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Guru membantu menginterpretasi dan menggeneralisasi hasil pengalaman

siswa. Siswa memperoleh penguatan dan pengembangan struktur mental yang

(20)

Learning cycle 3 phase saat ini telah dikembangkan dan disempurnakan menjadi

learning cycle 5 phase , learning cycle 6 phase , dan learning cycle 7 phase .

Pada learning cycle5 phase, ditambahkan engagementphase (persiapan) sebelum

explorationphase dan ditambahkan pula evaluationphase (evaluasi) pada bagian

akhir siklus. Sekarang ini learning cycle 5 phase dikenal dengan istilah LC 5E

(Engagement, Exploration, Explaination, Elaboration, dan Evaluation), Lorsbach

(Fajaroh dan Dasna, 2007). Pada learning cycle6 phase ditambahkan phase echo

sesudah phase explain, sehingga pembelajaran learning cycle6 phase sering juga

disebut dengan pembelajaran learning cycle 6E yang terdiri dari tahap-tahap

sebagai berikut:

Tahapan dalam learning cycle 6 phase adalah sebagai berikut:

1. Fase Pendahuluan (Engagement) Tahap engagement bertujuan mempersiapkan diri siswa agar terkondisi dalam

menempuh phase berikutnya dengan jalan mengeksplorasi pengetahuan awal dan

ide-ide mereka serta untuk mengetahui kemungkinan terjadinya miskonsepsi pada

pembelajaran sebelumnya. Dalam fase engagement ini minat dan keingintahuan

siswa tentang topik yang akan diajarkan berusaha dibangkitkan. Pada fase ini

pula siswa diajak membuat prediksi-prediksi tentang fenomena yang akan

di-pelajari dan dibuktikan dalam tahap eksplorasi.

2. Fase Eksplorasi (Exploration)

Pada fase exploration, siswa diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam

(21)

prediksi, melakukan dan mencatat pengamatan serta ide-ide melalui

kegiatan-kegiatan seperti praktikum dan telaah literatur.

3. Fase Penjelasan (Explaination)

Pada fase explaination, guru harus mendorong siswa untuk menjelaskan konsep

dengan kalimat mereka sendiri, meminta bukti dan klarifikasi dari penjelasan

mereka, dan mengarahkan kegiatan diskusi. Pada tahap ini siswa menemukan

istilah-istilah dari konsep yang dipelajari.

4. Fase Penguatan Konsep (Echo)

Pada fase echo, siswa memperkuat konsep yang telah diperoleh pada fase

exploration. Peran guru pada phase echo mengkonfirmasi penguasaan konsep

oleh siswa dan memberikan tambahan dukungan atau informasi serta pengalaman

tambahan jika diperlukan.

5. Fase Penerapan Konsep (Extention)

Pada fase extention, siswa menerapkan konsep dan keterampilan dalam situasi

baru melalui kegiatan-kegiatan seperti praktikum lanjutan dan problem solving.

6. Fase Evaluasi (Evaluation)

Pada tahap akhir, evaluation, dilakukan evaluasi terhadap efektifitas fase-fase

sebelumnya dan juga evaluasi terhadap pengetahuan, pemahaman konsep, atau

kompetensi siswa melalui problem solving dalam konteks baru yang

(22)

Kimia yang merupakan komponen dari mata pelajaran IPA di SMA akan sangat

sesuai bila dalam pembelajarannya menggunakan model pembelajaran learning

cycle, mengingat kimia merupakan ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa

alam secara molekuler. Siswa diharapkan dapat membangun sendiri pengetahuan

kognitif melalui indera untuk melihat gejala-gejala yang ada di sekitarnya dan

kedudukan guru sebagai fasilitator yang mengelola berlangsungnya fase-fase

tersebut mulai dari perencanaan (terutama perangkat pembelajaran), pelaksanaan

(terutama pemberian pertanyaan-pertanyaan arahan dan proses pembimbingan)

dan evaluasi berfungsi mengetahui sejauh mana pengetahuan yang diperoleh.

B. Penguasaan Konsep

Menurut Dahar (1998) konsep adalah suatu abstraksi yang memiliki suatu kelas

objek-objek, kejadian-kejadian, kegiatan-kegiatan, hubungan-hubungan yang

mempunyai atribut yang sama. Setiap konsep tidak berdiri sendiri melainkan

ber-hubungan satu sama lain, oleh karena itu siswa dituntut tidak hanya menghafal

konsep saja, tetapi hendaknya memperhatikan hubungan antara satu konsep

dengan konsep lainnya. Selanjutnya Syaiful (Ernawati, 2009) menyatakan bahwa

konsep diperoleh dari fakta-fakta, peristiwa, pengalaman generalisasi dan berpikir

abstrak, kegunaan konsep untuk menjelaskan dan meramalkan. Konsep

merupa-kan abstraksi dan ciri-ciri dari sesuatu yang dapat mempermudah komunikasi

untuk berpikir, dengan demikian tanpa adanya konsep belajar akan sangat

terhambat. Kemampuan abstrak itu disebut pemikiran konseptual. Sebagian

(23)

Semakin banyak konsep yang dimiliki seseorang, semakin banyak alternatif yang

dapat dipilih dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya.

Penguasaan konsep merupakan suatu kemampuan yang didapat dari kegiatan

be-lajar yang merupakan kegiatan kompleks. Setelah proses bebe-lajar dilakukan maka

keberhasilan proses itu akan dapat dilihat dalam suatu tes penguasaan konsep.

Hal tersebut sesuai dengan pendapat Gagne (Dimyati dan Mudjiono, 2002).

Setelah belajar seseorang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai. Hasil dari rangkaian kegiatan kompleks adalah kapabilitas. Timbul-nya kapabilitas tersebut dari : (1) Stimulasi yang berasal dari lingkungan. (2) Proses kognitif yang dilakukan oleh pembelajar.

Penguasaan konsep dasar yang baik akan membantu dalam pembentukan

konsep-konsep yang lebih kompleks untuk menemukan suatu prinsip. Dengan memiliki

penguasaan konsep, seseorang akan mampu mengartikan dan menganalisis ilmu

pengetahuan yang dilambangkan dengan kata-kata menjadi suatu buah pemikiran

dalam memecahkan suatu permasalahan tertentu. Hal tersebut didukung oleh

pendapat Sagala (2007).

Penguasaan konsep adalah buah pemikiran seseorang atau sekelompok orang yang dinyatakan dalam definisi sehingga menghasilkan produk pengetahuan yang meliputi prinsip hukum dari suatu teori, konsep tersebut diperoleh dari fakta, peristiwa, dan pengalaman melalui generalisasi dan berfikir abstrak.

Dengan adanya penguasaan konsep, siswa dapat memecahkan masalah dan

me-mudahkan siswa untuk dapat mempelajari konsep-konsep yang lain, sehingga

(24)

C. Lembar Kerja Siswa (LKS)

Media pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran ini adalah media berupa

Lembar Kerja Siswa (LKS). Media pembelajaran adalah alat bantu untuk

me-nyampaikan pesan kepada siswa yang digunakan oleh guru dalam proses

pem-belajaran. Melalui penggunaan media pembelajaran akan memudahkan bagi guru

dalam menyampaikan materi pembelajaran. Menurut Sriyono (Sarinah, 2009)

Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah salah satu bentuk program yang berlandaskan

atas tugas yang harus diselesaikan dan berfungsi sebagai alat untuk mengalihkan

pengetahuan dan keterampilan sehingga mampu mempercepat tumbuhnya minat

siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Menurut Prianto dan Harnoko

(Sarinah, 2009) manfaat dan tujuan LKS antara lain:

1. Mengaktifkan siswa dalam proses belajar mengajar. 2. Membantu siswa dalam mengembangkan konsep.

3. Melatih siswa untuk menemukan dan mengembangkan proses belajar mengajar.

4. Membantu guru dalam menyusun pelajaran.

5. Sebagai pedoman guru dan siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran.

6. Membantu siswa memperoleh catatan tentang materi yang dipelajarai melalui kegiatan belajar.

7. Membantu siswa untuk menambah informasi tentang konsep yang dipelajari melalui kegiatan belajar secara sistematis.

Pada proses belajar mengajar, LKS digunakan sebagai sarana pembelajaran untuk

menuntun siswa mendalami materi dari suatu materi pokok atau submateri pokok

mata pelajaran yang telah atau sedang diajarkan. LKS digunakan untuk

(25)

D.Kerangka Berpikir

Upaya memperbaiki mutu pendidikan diprioritaskan dengan memperbaiki proses

pembelajaran. Perbaikan proses pembelajaran tersebut salah satunya dengan

me-nerapkan model pengajaran kuasi eksperimen yang bertujuan untuk mengetahui

perbandingan penguasaan konsep termokimia oleh siswa melalui penerapan

pem-belajaran learning cycle 6 phase dengan penguasaan konsep termokimia oleh

siswa melalui penerapan pembelajaran learning cycle 3 phase. Dalam penelitian

ini variabel bebasnya adalah model pembelajaran learning cycle 6 phase (X1) dan

learning cycle 3 phase (X2), Sedangkan variabel terikatnya adalah penguasaan

konsep termokimia oleh siswa (Y). learning cycle 6 phase dan learning cycle 3

phase merupakan model pembelajaran yang dapat diterapkan pada pelajaran

kimia, dan diharapkan mampu meningkatkan peran serta siswa dalam kegiatan

pembelajaran sehingga dapat meningkatkan penguasaan konsep kimia siswa yang

dilihat dari hasil belajar siswa ranah kognitif (melalui pemberian pretest dan

posttest). Dilihat dari tahap-tahap pembelajaran pada learning cycle 6 phase dan

learning cycle 3 phase, secara teoritis tahap-tahap pembelajaran pada learning

cycle 6 phase lebih mendetail dibandingkan dengan learning cycle 3 phase,

sehingga diharapkan rata-rata penguasaan konsep termokimia oleh siswa yang

diberi pembelajaran learning cycle 6 phase akan lebih tinggi jika dibandingkan

dengan learning cycle 3 phase.

Berlandaskan keterangan tersebut maka kerangka berfikir dalam penelitian ini

(26)

Gambar 1. Bagan Kerangka Berpikir

E. Anggapan Dasar

Anggapan dasar dalam penelitian ini adalah:

1. Siswa kelas XI IPA semester ganjil MAN Krui Kabupaten Pesisir Barat

tahun pelajaran 2012/2013 yang menjadi populasi penelitian mempunyai

ke-mampuan dasar yang sama dalam penguasaan konsep kimia.

2. Tingkat kedalaman dan keluasan materi yang dibelajarkan sama.

3. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi peningkatan penguasaan konsep

termokimia siswa kelas XI IPA semester ganjil MAN Krui Kabupaten Pesisir

Barat tahun pelajaran 2012/2013 diabaikan.

Learning cycle 6 phase (X1) Learning cycle 3 phase (X2)

Penguasaan Konsep (Y) Penguasaan Konsep (Y)

(27)

F. Hipotesis Penelitian

Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Ada perbedaan rata-rata penguasaan konsep termokimia antara model

learning cycle 6 phase dengan learning cycle 3 phase .

2. Rata-rata penguasaan konsep termokimia dengan model learning cycle 6

(28)

III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPA semester ganjil

MAN Krui Kabupaten Pesisir Barat tahun ajaran 2012/2013. Teknik pengambilan

sampel dilakukan secara purposive sampling, yaitu pengambilan sampel dengan

pertimbangan tertentu (Sukardi, 2007). Penentuan sampel didasarkan pada

per-timbangan nilai rata-rata uji blok pertama yang mempunyai nilai rata-rata kelas

yang sama atau hampir sama. Dari tiga kelas XI IPA, sampel yang diambil adalah

siswa kelas XI IPA1 sebagai kelas eksperimen I yang diberi perlakuan

mengguna-kan model learning cycle 6 phase, dan siswa kelas XI IPA2 sebagai kelas

eksperimen II yang diberi perlakuan menggunakan model learning cycle 3 phase.

B.Jenis dan Variabel Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuasi eksperimen dengan menggunakan

desain non equivalent pretest-posttest control group design. Penelitian ini

ber-tujuan untuk mengetahui perbandingan penguasaan konsep termokimia antara

model learning cycle 3 phase dengan learning cycle6 phase pada siswa MAN

Krui Kabupaten Pesisir Barat.

Dalam penelitian ini terdiri dari satu variabel bebas dan satu variabel terikat.

(29)

learning cycle 3 phase dan model learning cycle 6 phase. Sebagai variabel terikat

adalah penguasaan konsep termokimia siswa MAN Krui Kabupaten Pesisir Barat.

Tabel 1. Desain penelitian

Sampel Penelitian Pre test Perlakuan Post test

Siswa kelas XI IPA1 O1 X1 O2

Siswa kelas XI IPA2 O1 X2 O2

Keterangan:

X1 : Model learning cycle 6 phase X2 : Model learning cycle 3 phase

O1 : pretest sebelum proses pembelajaran O2 : posttest setelah proses pembelajaran

C.Metode Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian ini digunakan metode

tes, yaitu untuk memperoleh data primer yang bersifat kuantitatif. Data hasil tes

tersebut digunakan untuk analisis pengujian hipotesis.

D. Instrumen Penelitian

Pada penelitian ini, instrumen yang digunakan berupa soal-soal pretest dan

posttest untuk mengetahui penguasaan konsep siswa pada materi termokimia.

Dalam pelaksanaannya kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II diberikan soal

yang sama. Soal pretest dan posttest yang digunakan terdiri dari 20 soal pilihan

jamak. Soal tersebut dirancang sesuai dengan kebutuhan untuk memperoleh data

(30)

model learning cycle6 phase. Untuk memperoleh hasil penelitian yang bisa

di-pertanggung jawabkan maka instrumen yang digunakan harus valid, daya

pem-beda tidak jelek dan reliabel. Soal pretest dan posttest yang digunakan dalam

pe-nelitian ini akan dilakukan uji validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan tingkat

kesukaran terlebih dahulu sebelum digunakan.

E. Pelaksanaan Penelitian

Langkah-langkah dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Melakukan observasi di kelas XI IPA MAN Krui Kabupaten Pesisir Barat.

2. Menentukan populasi dan sampel.

3. Mempersiapkan instrumen.

4. Menguji validitas, reliabilitas, tingkat kesukan dan daya beda instrumen pada

siswa XII MAN Krui.

5. Melaksanakan pretest di kedua kelas.

6. Pelaksanaan proses pembelajaran di masing-masing kelas dengan model

pembelajaran yang berbeda.

7. Pelaksanaan posttest di kedua kelas.

8. Menganalisis data.

9. Penarikan kesimpulan.

10.Penulisan laporan penelitian.

Adapun langkah-langkah penelitian tersebut ditunjukkan pada alur penelitian,

(31)

Gambar 2. Alur Penelitian

F. Hipotesis Statistik

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis statistik, hipotesis

dirumuskan dalam bentuk pasangan hipotesis nol (H0) dan hipotesis alternatif

(H1).Hipotesis pertama :

H0 : Tidak ada perbedaan rata-rata penguasaan konsep termokimia antara

model learning cycle 3 phase dengan learning cycle6 phase pada siswa

MAN Krui.

Observasi Pendahuluan

Mempersiapkan instrumen Menentukan Populasi

dan Sampel

Kelas Eksperimen I Pretest Kelas Eksperimen II

Posttest Model 3 phaselearning cycle

Model learning cycle 6 phase

Analisis Data

Kesimpulan Validasi instrumen

(32)

H0 : µ1 = µ2

H1 : Ada perbedaan rata-rata penguasaan konsep termokimia antara model

learning cycle 3 phase dengan learning cycle6 phase pada siswa MAN

Krui.

H1 : µ1≠ µ2

Jika dalam pengujian statistik ternyata terima Ho atau tolak Ho , maka pengujian

dilanjutkan dengan hipotesis berikut:

Hipotesis kedua:

H0 : Rata-rata penguasaan konsep termokimia siswa dengan pembelajaran

learning cycle 6 phase lebih rendah atau sama dengan pembelajaran

learning cycle 3 phase.

H0 : µ1≤ µ2

H1 : Rata-rata penguasaan konsep termokimia siswa dengan pembelajaran

learning cycle 6 phase lebih tinggi dari pembelajaran learning cycle 3

phase.

H0 : µ1 > µ2

Keterangan:

µ1 : Rata-rata penguasaan konsep termokimia siswa dengan pembelajaran

learning cycle 6 phase.

µ2 : Rata-rata penguasaan konsep termokimia siswa dengan pembelajaran

(33)

G. Teknik Analisis Data

1. Analisis soal

a. Validitas dan reliabilitas instrumen

Data evaluasi yang baik sesuai dengan kenyataan disebut data valid, agar

dapat data yang valid maka dilakukan pengujian terhadap butir soal pretest

dan postest yang akan digunakan. Validitas adalah suatu ukuran yang

me-nunjukan kesahihan suatu instrumen. Sebuah instrumen dikatakan valid

apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkap data

dari variabel yang diteliti secara tepat. Untuk variabel penguasaan konsep

siswa dihitung validitas butir soal atau validitas item. Dalam penelitian ini,

pengujian validitas dapat dicari dengan menggunakan rumus sebagai berikut.

=

Keterangan :

rix = Koefisien korelasi item-total

x = Skor item

y = Skor total

n = Banyaknya subjek

Sebagai acuan (Rusman, 2008) uji validitas dapat dilihat dari tabel 2 untuk kriteria

valid atau tidak valid untuk masing-masing butir soal yang akan digunakan.

Tabel 2. Makna validitas butir soal

(34)

> 0,30 Valid (Diterima)

0,10 – 0,30 Tidak Valid (Direvisi)

<0,10 Tidak Valid (Ditolak)

Reliabilitas menunjuk pada satu pengertian bahwa sesuatu instrumen cukup dapat

dipercaya sebagai alat pengumpul data karena instrumen yang akan digunakan

sudah baik. Sesuatu instrumen yang sudah dapat dipercaya, yang reliabel akan

menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. Dalam hal ini dilakukan uji

reliabilitas menggunakan program SPSS 16.0 dengan langkah-langkah sebagai

berikut:

1) Pilih program SPSS 16.0.

2) Siapkan variabel yang akan digunakan, dan menuliskan pada layar variabel

(Variable View) yaitu nomor soal.

3) Memasukkan skor setiap siswa sesuai variabelnya pada layar data (DataView).

4) Klik menu Analyze.

5) Pilih menu scale, reliability analysis.

6) Pada bagian statistic aktifkan kotak cek item, scale, dan scaleif item delete.

7) Klik continue lalu Ok.

8) Untuk menentukan reliabilitas dilihat dari nilai alpha, jika nilai alpha lebih

besar dari r tabel maka bisa dikatakan reliabel.

Kriteria dari hasil uji reliabilitas untuk masing-masing butir soal dapat dilihat

keterangannya seperti pada Tabel 3 berikut:

Tabel 3. Makna reliabilitas butir soal

Angka korelasi Makna

(35)

0,900 – 0,999 Sangat tinggi

0,700 – 0,899 Tinggi

0,400 – 0,699 Sedang

0,200 – 0,399 Rendah

< 0, 199 Tidak ada korelasi

b. Daya beda

Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara

siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah.

Daya pembeda soal ditentukan dengan rumus:

keterangan:

J = jumlah peserta tes

JA = banyaknya peserta kelompok atas

JB = banyaknya peserta kelompok bawah

BA = banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab benar

BB = banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab benar

PA = proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar

(36)

Klasifikasi daya pembeda soal:

D < 0,00 : Tidak baik.

0,00 < D ≤ 0,20 : Jelek

0,20 < D ≤ 0,40 : Cukup

0,40 < D ≤ 0,70 : Baik

0,70 < D ≤ 1,00 : Baik sekali

(Arikunto, 2002)

c. Tingkat kesukaran.

Tingkat kesukaran soal dapat ditentukan dengan menggunkan rumus:

N

x

p

Keterangan:

p = tingkat kesukaran

x = banyaknya peserta tes yang menjawab benar

N = jumlah peserta tes

Surapratana (2006) mengkatagorikan tingkat kesukaran butir soal pada Tabel 4

berikut ini:

Tabel 4. Kategori tingkat kesukaran

Nilai p Kategori

P < 0,3 Sukar

0,3 ≤ p ≤ 0,7 Sedang

(37)

2. Analisis data dan pengujian hipotesis

a. N - gain

Penguasan konsep termokimia siswa baik pada kelompok perlakuan learning

cycle 6 phase maupun pada kelompok perlakuan learning cycle 3 phase dihitung

dengan rumus sebagai berikut (Hake, 2002):

Kriteria interpertasi N-Gain yang dikemukakan oleh Hake, yaitu:

g > 0,7 (N- gain tinggi)

0,3 < g < 0,7 (N-gain sedang)

g < 0,3 (N- gain rendah)

b. Uji normalitas.

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah dua kelompok sampel berasal

dari populasi berdistribusi normal atau tidak.

Hipotesis untuk uji normalitas :

H0 = data penelitian berdistribusi normal

H1 = data penelitian berdistribusi tidak normal

Pengujian normalitas ini dilakukan dengan menggunakan SPSS 16.0

Langkah-langkahnya yaitu sebagai berikut:

1) Buka lembar kerja/file input normalitas.

2) Dari menu utama SPSS, pilih Analyze Descriptive Statistic

Explore.

3) Masukkan variabel yang akan diuji ke dalam independentlist.

(38)

4) Pada display, pilih plots.

5) Pada box plots beri tanda pada factor levels together, pada descriptive beri

tanda untuk normality plots with test. Klik continue, klik ok.

6) Terima H0 jika pada kolmogorov-smirnov nilai sig > 0.05 dan tolak H0 jika

pada kolmogorov-smirnov nilai sig ≤ 0.05.

c. Uji homogenitas

Uji homogenitas dua varians digunakan untuk mengetahui apakah dua kelompok

sampel mempunyai varians yang homogen atau tidak.

H0 = data penelitian mempunyai varians yang homogen

H1 = data penelitian mempunyai varians yang tidak homogen

Pengujian homogenitas ini dilakukan dengan menggunakan program SPSS 16.0.

Langkah-langkahnya yaitu sebagai berikut :

1) Buka lembar kerja.

2) Dari menu utama SPSS, pilih Analyze Compare Means One

Way Anova.

3) Masukkan variabel N - gain ke dalam dependentlist dan variabel kelas ke

dalam factor list.

4) Pada options, pilih homogenity of variance test.

5) Klik continue, klik ok.

(39)

d. Pengujian hipotesis

Untuk data sampel yang berasal dari populasi berdistribusi normal, maka uji

hipotesis yang digunakan adalah uji parametik (Sudjana, 1996). Dalam penelitian

ini digunakan uji-t dengan program SPSS 16.0

1) Uji kesamaan dua rata-rata

Uji kesamaan dua rata-rata digunakan untuk mengetahui ada tidaknya

perbedaan rata-rata penguasaan konsep termokimia antara model learning

cycle 3 phase dengan learning cycle 6 phase pada siswa MAN Krui.

a) Rumusan hipotesis

H0 : Tidak ada perbedaan rata-rata penguasaan konsep termokimia antara model

learning cycle 3 phase dengan learning cycle6 phase pada siswa MAN

Krui.

H1 : Ada perbedaan rata-rata penguasaan termokimia antara model learning cycle

3 phase dengan pembelajaran learning cycle 6 phase pada siswa MAN Krui.

b) Langkah statistik

Langkah uji-t dengan menggunakan SPSS 16.0 yaitu sebagai berikut:

1. Buka lembar kerja.

2. Dari menu utama SPSS, pilih Analyze Compare Means One

Way Anova.

3. Masukkan variabel N – gain ke dalam test variable dan variabel kelaske

dalam grouping variable.

(40)

c) Kriteria uji

Menurut Pidekso (2009), kriteria ujinya adalah terima H0 jika thitung < ttabel dan

tolak H0 jika sebaliknya.

2) Uji perbedaan dua rata-rata

Uji perbedaan dua rata-rata digunakan untuk mengetahui rata-rata penguasaan

konsep termokimia mana yang lebih tinggi antara model learning cyle 3 phase

dengan learning cycle 6 phase pada siswa MAN Krui.

a) Rumusan hipotesis

H0 : Rata-rata penguasaan konsep termokimia siswa dengan model learning

cycle 6 phase lebih rendah atau sama dengan learning cyle 3 phase.

H1 : Rata-rata penguasaan konsep termokimia siswa dengan model

learning cycle 6 phase lebih tinggi dari learning cyle 3 phase.

b) Langkah uji

Langkah uji-t dengan menggunakan SPSS 16.0 yaitu sebagai berikut:

1. Buka lembar kerja.

2. Dari menu utama SPSS, pilih Analyze Compare Means

Independent-sample T test.

3. Masukkan variable N - gain ke dalam test variable dan variabel kelaske

dalam grouping variable.

4. Klik define groups kemudian ketik 1 pada group 1 dan ketik 2 pada group 2.

(41)

Menurut Pidekso (2009) kriteria ujinya adalah tolak H0 jika thitung > ttabel dan

(42)

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa:

1. Ada perbedaan rata- rata penguasaan konsep termokimia antara penerapan

model learning cycle 6 phase dengan learning cycle 3 phase.

2. Rata-rata penguasaan konsep termokimia dengan penerapanmodel learning

cycle 6 phase lebih tinggi daripada learning cycle 3 phase.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, disarankan bahwa :

1. Dalam pembelajaran dengan menggunakan model learning cycle 6 phase dan

learning cycle 3 phase harus memperhatikan alokasi waktu, karena dalam

pelaksanaannya pembelajaran dengan menggunakan kedua model tersebut

membutuhkan manajemen waktu yang baik. Terutama pembelajaran dengan

learning cycle 6 phase, karena model ini membutuhkan waktu yang lebih

lama jika dibandingkan dengan learning cycle 3 phase.

2. Sebaiknya, LKS yang harus dikerjakan oleh siswa diberikan minimal sehari

sebelum proses pembelajaran berlangsung, agar siswa mendapat gambaran

(43)

3. Penelitian ini lebih menekankan pada hasil belajar ranah kognitif, sedangkan

ranah afektif dan psikomotor tidak diteliti. Oleh karena itu, perlu dilakukan

penelitian serupa dengan variabel yang lebih kompleks yaitu hasil belajar

(44)

DAFTAR PUSTAKA

Ayuwulanda, A. 2011. Perbandingan Penguasaan konsep Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan antara Penerapan Pembelajara Inkuiri Terbimbing dengan Pembelajaran Learning Cycle 6 Phase. (Eksperimen pada siswa kelas XI SMAN 1 Pringsewu TP 2010-2011). Skripsi. Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Arikunto, S. 2002. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Bumi Aksara. Jakarta.

Dasna, I.W. 2005. Kajian Model Siklus Belajar (Learning Cycle) Dalam Pembelajaran Kimia. Makalah seminar Nasional MIPA dan

Pembelajarannya. FMIPA UM. Malang.

Dahar, R. W. 1998. Teori-teori Belajar. Erlangga. Jakarta.

Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta. Jakarta.

Djamarah dan Aswan, Z. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Rineka Cipta. Jakarta.

Ernawati, N. 2009. Efektivitas Pembelajaran Course Review Horay Terhadap Pemahaman Konsep Materi Pokok Bahasan Sudut pada Siswa Kelas VIII Semester II di SMP AL Islam Surakarta (Penelitian Eksperimen, Tahun Pelajaran 2008-2009). Diakses 26 Februari 2010 dari http://etd.eprints. ums.ac.id./4697/I/A4/10050097.pdf.

Fajaroh, F. dan I. W. Dasna. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif:

Pembelajaran dengan Model Siklus Belajar (Learning Cycle). UM PRESS. Malang.

Fajaroh, F. dan I. W. Dasna. 2008 . Model-Model Pembelajaran Inovatif: Pembelajaran dengan Model Siklus Belajar (Learning Cycle). UM PRESS. Malang.

Fitri, U.N. 2011. Efektivitas Pembelajaran Learning Cycle 3 E untuk

(45)

Hake ,R.R. 2002. Relationship Of Individual Student Normalized Learning Gains In Mechanics With Gender, High-School Physics, And Pretest Scores On Mathematics And Spatial Visualization. Diakses 03 Februari 2012 dari http://www.physics.indiana.edu/~hake.

Hidayat, A.K. 2011. Perbandingan Penguasaan Konsep Termokimia Antara Pembelajaran Dengan Metode Tanya Jawab Berbasis Keterampilan Generik Sains Dengan Tanya Jawab Konvensional. Skripsi. Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Hirawan, I.K.A. 2009. Model Siklus Belajar (Learning Cycle). Diakses 25 Agustus 2012 dari http://16315603-model-siklus-belajar.pdf.

Muslich, M. 2008. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Bumi Aksara. Jakarta.

Ketawang, P. 2012. Penerapan Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together pada Materi Termokimia

(Eksperimen pada siswa kelas XI SMAN 1 Gadingrejo TP. 20011-2012).

Skripsi. Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Pidekso, A. 2009. SPSS 17 Untuk Pengolahan Data Statistik. Wahana Komputer dan Penerbit Andi. Yogyakarta.

Sagala, Syaiful. 2007 . Konsep dan Makna Pembelajaran . Bandung: Alfabeta.

Sarinah. 2009. Pembelajaran Penemuan Terbimbing Untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Dan Keterampilan Proses Sains Siswa pada materi pokok laju reaksi(PTK Pada Siswa Kelas XI IPA1 SMA Wijaya Bandar Lampung TP 2009-2010). Skripsi. Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Septiyani, 2012. Perbandingan Penguasaan konsep Laju reaksi antara Penerapan Pembelajara Learning Cycle 5 Fase dengan Pembelajaran Learning Cycle 3 Fase. (Eksperimen pada siswa kelas XI SMA 13 Bandar Lampung TP 2011-2012). Skripsi. Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Alfabeta. Bandung.

Sukardi. 2007. Metodologi Penelitian Pendidikan. Bumi Aksara. Jakarta.

Sriyono. 1992. Teknik Belajar Mengajar dalam CBSA. Rineka Cipta. Jakarta.

Gambar

Gambar 1. Bagan Kerangka Berpikir
Tabel 1. Desain penelitian
Gambar 2. Alur Penelitian
Tabel  3. Makna reliabilitas butir soal
+2

Referensi

Dokumen terkait

MENINGKATKAN LITERASI SAINS SISWA KELAS 7 SMP PADA TEMA PERUBAHAN BENDA-BENDA DI SEKITAR

Beberapa jurus ia memandang kepadaku. Dan melalui sinar matanya itu seolah-olah mengalirlah perasaan kasih sayang yang mesra yang berlimpah-limpah tercurah dari hatinya ke

S 3 yaitu jarak yang ditempuh bola setelah menumbuk dinding BD dan sebelum memasuki lubang... Terdapat suatu engsel licin yang menghubungkan kedua ujung batang

Puji syukur dihaturkan penulis kepada Tuhan yang Maha Esa karena berkat dan perlindungan – Nya, maka Penilis dapat menyelesaikan laporan skripsi dengan judul

Hasil dari pelaksanaan PPL selama dua bulan di SMA Negeri 1Piyungan ini dapat diperoleh mahasiswa berupa penerapan Ilmu Pengetahuan dan Praktik Keguruan, dalam hal ini

Karena merupakan kondisi yang mendasar dalam hidup manusia, maka Parekh yang merupakan salah satu penafsir ulung atas pemikiran Arendt membuat afirmasi demikian: &#34;Tanpa

Kemunculan etika kedokteran atau kode etik kedokteran adalah untuk mengawal profesi para dokter yang mempunyai tujuan mulia yaitu

Berdasarkan analisis hasil kinerja siswa selama pembelajaran melalui pendekatan pragmatik menunjukkan bahwa siswa mampu dengan baik menyebutkan komponen yang diketahui dari