David Luther Lubis : Kekuatan Otot Dasar Panggul Pada Wanita Pasca Persalinan Normal Dan Pasca Seksio
KEKUATAN OTOT DASAR PANGGUL PADA
WANITA PASCA PERSALINAN NORMAL DAN
PASCA SEKSIO SESAREA DENGAN
PERINEOMETER
T E S I S
OLEH :
DAVID LUTHER LUBIS
DEPARTEMEN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA
UTARA
RSUP.H.ADAM MALIK- RSUD. Dr. PIRNGADI
MEDAN
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, berkat
Rahmat dan Karunia-Nya penulisan tesis ini dapat diselesaikan.
Tesis ini disusun untuk melengkapi tugas – tugas dan memenuhi salah
satu syarat untuk memperoleh keahlian dalam bidang Obstetri dan
Ginekologi. Sebagai manusia biasa saya menyadari bahwa tesis ini masih
jauh dari sempurna, namun demikian besar harapan saya kiranya tulisan
sederhana ini dapat bermanfaat dalam menambah perbendaharaan
bacaan khususnya tentang :
” KEKUATAN OTOT DASAR PANGGUL PADA WANITA PASCA PERSALINAN NORMAL DAN PASCA SEKSIO SESAREA DENGAN
PERINEOMETER”
Dengan selesainya laporan penelitian ini, perkenankanlah saya
menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi –
tingginya kepada yang terhormat:
Rektor Universitas Sumatera Utara dan Dekan Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan kesempatan kepada
saya untuk mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis di Fakultas
Prof. Dr. Delfi Lutan, MSc, SpOG(K), Kepala Departemen Obstetri dan
Ginekologi FK - USU Medan; Dr. M. Rusda Harahap, SpOG, Sekretaris
Bagian Obstetri dan Ginekologi FK – USU Medan; Prof. Dr. M. Fauzie
Sahil, SpOG(K), Ketua Program Studi Dokter Spesialis Obstetri dan
Ginekologi FK – USU Medan; Dr. Deri Edianto, SpOG(K), Sekretaris
Program Studi Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi FK–USU Medan;
Prof. Dr. M.Yusuf Hanafiah, SpOG(K); Dr. Erdjan Albar, SpOG(K);
Prof. Dr. Herbert Hutabarat, SpOG; Prof. Dr. Pandapotan Simanjuntak,
MPH, SpOG (Alm), Prof. Dr. Hamonangan Hutapea, SpOG(K);
Prof. Dr. Djafar Siddik, SpOG(K); Prof. DR. Dr. M. Thamrin Tanjung,
SpOG(K) yang secara bersama – sama telah berkenan menerima saya
untuk mengikuti pendidikan spesialis di Departemen Obstetri dan
Ginekologi.
Prof.Dr.R.Haryono.Roeshadi, SpOG(K) bersama Dr.M.Rhiza Tala,
SpOG,(K) yang telah meluangkan waktu yang sangat berharga untuk
membimbing, memeriksa dan melengkapi penulisan tesis ini hingga
selesai. Dr.Christoffel L.Tobing, SpOG(K), Dr.Syamsul Arifin, SpOG,Prof.
Dr. M. Fauzie Sahil, SpOG(K) selaku tim penyanggah dan nara sumber
dalam penulisan tesis ini yang telah banyak memberikan bimbingan dan
Dr.Hotma P.Partogi, SpOG, selaku pembimbing Referat Mini Fetomaternal
saya berjudul “Supresi Laktasi” ;Kepada Dr.M.Rusda Harahap,SpOG
selaku pembimbing Referat Mini Fertilitas Endokrinologi dan Reproduksi
saya berjudul “Disfungsi Seksual “ dan kepada Prof.Dr.M.Fauzie Sahil,
SpOG(K) selaku pembimbing Referat Mini Onkologi saya berjudul “Low
Malignant Potential Tumor ”.
Prof.Dr.R.Haryono Roeshadi, SpOG(K), selaku bapak angkat saya selama
menjalani masa pendidikan, yang telah banyak mengayomi, membimbing,
dan memberikan nasehat-nasehat yang bermanfaat kepada saya dalam
menghadapi masa-masa sulit selama pendidikan.
Prof. Dr. Djafar Siddik, SpOG(K) beserta keluarga yang telah memberikan
saya kesempatan, motivasi sekaligus semangat bagi saya untuk dapat
mengikuti pendidikan di Departemen Obstetri dan Ginekologi FK – USU.
Drs.Abdul Jalil Amri,,M.Kes, yang telah meluangkan waktu untuk
membimbing saya dalam penyelesaian uji statistik tesis ini.
Seluruh staf pengajar di Departemen Obstetri dan Ginekologi FK – USU
Medan, yang secara langsung telah banyak membimbing dan mendidik
saya sejak awal hingga akhir pendidikan. Semoga Yang Maha pengasih
Direktur RSUP Haji Adam Malik Medan yang telah memberikan
kesempatan dan sarana untuk bekerja selama mengikuti pendidikan di
Departemen Obstetri dan Ginekologi.
Direktur RSUD Dr. Pirngadi Medan dan Kepala SMF Kebidanan dan
Penyakit Kandungan Dr. Rushakim Lubis SpOG, RSUD Dr. Pirngadi
Medan, yang telah memberikan kesempatan dan sarana bekerja selama
mengikuti pendidikan.
Direktur RS PTPN II Tembakau Deli Medan, Dr. Sofian Abdul Illah, SpOG
dan Dr. Nazaruddin Jafar, SpOG(K) beserta staf yang telah memberi
kesempatan dan bimbingan selama saya bertugas di bagian tersebut.
Direktur RS. Sundari Medan,Ibu Sundari,Am.Keb dan dr. M.Hadir, MHA,
SpOG yang telah memberikan ijin kesempatan untuk meneliti dan
mengumpulkan sampel penelitian.
Direktur RSU.Pandan Tapanuli Tengah, beserta staf atas kesempatan
kerja dan bantuan moril selama saya bertugas di rumah sakit tersebut.
Kepala Departemen Patologi Anatomi FK - USU Medan beserta staf, atas
kesempatan dan bimbingan yang telah diberikan selama saya bertugas di
Teman – teman sejawat asisten ahli, dokter muda, bidan dan paramedis
yang telah ikut membantu dan bekerja sama dalam menjalani pendidikan
di Departemen Obstetri dan Ginekologi di FK USU / RSUP H. Adam Malik
– RSUD Dr. Pirngadi Medan. Terima kasih atas dorongan dan semangat
yang telah diberikan kepada saya.
Seluruh karyawan dan karyawati serta para pasien di Departemen Obstetri
dan Ginekologi FK USU / RSUP H. Adam Malik – RSUD Dr. Pirngadi
Medan dan Ibu Asnawaty Hasibuan dan Ibu Hj. Sosmalawati atas
kerjasama dan saling pengertian yang diberikan kepada saya sehingga
dapat menyelesaikan pendidikan ini.
Abang dan kakak saya dalam pendidikan, Dr. Harry C. Simanjuntak
SpOG, Dr. Binsar Ricky Sitompul SpOG, Dr. M. Birza Rizaldi SpOG, Dr.
Riza Rivani SpOG, Dr. Ronny Siddik SpOG, Dr. Cut Adeya Adella SpOG,
Dr. Arika Husnayanti Abubakar SpOG, Dr. Roy Yustin Simanjuntak SpOG,
Dr. Johny Marpaung SpOG, Dr. Melvin NG. Barus SpOG, Dr. M. Oki
Prabudi SpOG, Dr. Dudy Aldiansyah SpOG, Dr. Hayu Lestari Haryono
SpOG, Dr. Juni Hardi Tarigan SpOG, Dr. Abdul Hadi SpOG, Dr. T.M.
Rizky SpOG, Dr. Panuturi G Sidabutar SpOG, Dr. Tomy SpOG, Dr.Sim
Romi SpOG, Dr.Dwi Faradina SpOG, Dr.Hj.Dessy Hasibuan SpOG,
Dr.Alim Sahid,Dr.Ronny P.Bangun,Dr.Yusmardi,Dr.Nur Aflah terima kasih
Teman satu angkatan saya Dr.Siti S.Sylvia, Dr.Gorga
IVW.Udjung,Dr.Ilham S.Lubis,Dr.Anggia M.Lubis, Dr.Maya Hasmita,
Dr.Benny Marpaung terima kasih atas kebersamaan dan dorongan yang
diberikan selama ini.
Tim jaga saya yang kompak, Dr.M.Rizky Yaznil , Dr. T. Jeffry Abdillah,
Dr.Errol Hamzah,Dr. Hatsari Marintan S, Dr. Rizka Heriansyah, Dr. Heika
N. Silitonga, Dr. Elvira M. Sungkar, Dr. Ali Akbar, Dr. M.Yusuf terima kasih
atas kebersamaan kita selama ini, kenangan indah ini akan saya ingat
selamanya.Dan juga kepada junior saya Dr.M.Ikhwan,Dr.Edward,Dr.Riza
H.Nst, Dr.Aidil, Dr.Ismail, Dr.T.Johan, Dr.Aries, Dr.Irwansyah Dr.Liza
Marosa, Dr.Yudha Sudewo,Dr.Pantas dan khususnya Dr.Meity Elvina dan
Dr.Ferdiansyah P.Harahap, yang telah banyak membantu saya.
Terima kasih yang tidak terhingga saya sampaikan kepada Ompung
Alm.Sahara Oloan Panggabean yang telah membesarkan ,membimbing,
dan mendidik saya sampai saya bisa menyelesaikan program pendidikan
dokter spesialis.
Sembah sujud, hormat dan terima kasih yang tidak terhingga saya
sampaikan kepada kedua orang tua saya Bapak Manahan Lubis dan Ibu
R.br.Saragih, yang telah membesarkan, membimbing, dan mendidik saya
cita-cita, tanpa kenal lelah memberikan semangat, motivasi, perhatian dan
doa.
Terima kasih yang tidak terhingga saya sampaikan kepada kedua kakak
saya, Delina Juni Artha Lubis,SH.Mkn dan Eka Mei Selly Lubis,S.Sos
yang telah banyak membantu, mendoakan dan memberikan dorongan
dan perhatian kepada saya selama mengikuti pendidikan ini.
Akhirnya kepada seluruh keluarga dan handai tolan yang tidak dapat
saya sebutkan satu persatu, yang secara langsung maupun tidak
langsung telah memberikan bantuan baik moril dan materil, saya
ucapakan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Medan, July 2009
DAFTAR ISI
Halaman Halaman Judul
Kata Pengantar ... i
Daftar Isi... viii
Daftar Gambar ... x
Daftar Tabel ... xi
Daftar Grafik ... xii
Daftar Lampiran ... xiii
Daftar Singkatan ... xiv
Abstrak ... xv
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 2
1.3 Tujuan Penelitian... 3
1.4 Manfaat Penelitian……….... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dasar Panggul ... 4
2.2 Kekuatan Otot Dasar Panggul ... 5
2.3 Evaluasi dan Pengukuran Kekuatan Otot Dasar Panggul…….. 8
2.4 Persalinan ... 11
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian ... 14
3.2 Tempat Penelitian ... 14
3.3 Populasi dan Sampel ... 14
3.4 Kriteria Sampel ... 15
3.5 Cara Pengambilan Data ... 16
3.6 Metode Pengumpulan Data ... 16
3.7 Metode Analisis Data ... 20
3.8 Penyajian Data ... 20
3.9 Aspek Etis ... 20
3.10 Alur Penelitian ... 21
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... 22
4.2 Pembahasan ... 32
4.2.1 Karakteristik Sampel ... 32
4.2.2 Perbandingan Kekuatan ODP Wanita Pasca PPN dan Pasca Seksio Sesarea ... 34
4.2.3 Perbandingan Kekuatan ODP antara Tanpa Kontraksi dan Kontraksi ... 36
4.2.4 Kelemahan ... 36
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 38
DAFTAR GAMBAR
Judul Halaman
Gambar 1 Anatomi Otot Dasar Panggul Wanita ... 5
Gambar 2 Alat Perineometer ... 17
DAFTAR TABEL
Judul Halaman
Tabel 1 Karakteristik Sampel Menurut Umur ... 22
Tabel 2 Karakteristik Sampel Menurut Usia Kehamilan ... 23
Tabel 3 Karakteristik Sampel Menurut IMT ... 24
Tabel 4 Karakteristik Sampel Menurut BBL ... 25
Tabel 5. Korelasi berat badan lahir dengan kekuatan otot dasar panggul pada kelompok pasca PPN dan pasca SS……….. 26
Tabel 6 Perbandingan Kekuatan ODP antara PPN dan SS ... 27
DAFTAR GRAFIK
Judul Halaman
Grafik 1 Perbandingan Kekuatan ODP tanpa Kontraksi antara
PPN dan SS ... 28
Grafik 2 Perbandingan Kekuatan ODP dengan Adanya Kontraksi
antara PPN dan SS ... 29
Grafik 3 Perbandingan Kekuatan ODP tanpa Kontraksi dan
Kontrasi pada PPN ... 31
Grafik 4 Perbandingan Kekuatan ODP tanpa Kontraksi dan
DAFTAR LAMPIRAN
Judul Halaman
Lampiran 1 Formulir Persetujuan Mengikuti Penelitian ... 43
Lampiran 2 Persetujuan Komisi Etik Tentang Pelaksanaan Penelitian
Bidang Kesehatan ... 44
Lampiran 3 Formulir Penelitian ... 47
DAFTAR SINGKATAN
PPN : Pertolongan Persalinan Normal
SS : Seksio Sesarea
SUI : Stress Urine Incontinencia
DM : Diabetes Melitus
MRI : Magnetic Resonance Imaging
USG : Ultrasonografi
EMG : Elektromiografi
IMT : Indeks Massa Tubuh
ODP : Otot Dasar Panggul
BBL : Berat Badan Lahir
SD : Standar Deviasi
dkk : dan kawan-kawan
SPSS : Statistical Package for Social Science
UK : Usia Kehamilan
TB : Tinggi Badan
BB : Berat Badan
TK : Tanpa Kontraksi
ABSTRAK
David L Lubis, Kekuatan Otot Dasar Panggul Wanita Pasca Persalinan Normal dan Pasca Seksio Sesarea dengan Perineometer (dibimbing oleh R. Haryono Roeshadi dan M. Rhiza Tala).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) kekuatan otot dasar panggul wanita pasca persalinan normal, (2) kekuatan otot dasar panggul wanita pasca seksio sesarea.
Penelitian ini dilaksanakan di RSUP H. Adam Malik Medan, RSUD Dr Pirngadi Medan, RS. Sundari Medan selama periode 1 Januari 2007 – 31 Januari 2009. Dilakukan pengukuran kekuatan otot dasar panggul dengan menggunakan alat perineometer dengan interval skala 0 – 12 mmHg. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional dengan desain Cross Sectional Study untuk menentukan kekuatan otot dasar panggul pada wanita primipara pasca persalinan normal dan seksio sesarea, kemudian data dianalisis dengan menggunakan analisis analitik uji chi square, t-independent dan t-berpasangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan otot dasar panggul pada wanita pasca PPN dan pasca SS baik tanpa kontraksi maupun dengan adanya kontraksi berbeda bermakna secara statistik (p=0,000), dimana kekuatan otot dasar panggul wanita pasien PPN lebih rendah dibandingkan dengan wanita pasca SS.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Disfungsi dasar panggul dapat menimbulkan berbagai gejala yang
mengganggu kualitas hidup seperti inkontinensia urine, inkontinesia alvi,
prolapsus organ panggul,dan disfungsi seksual. Kebanyakan disfungsi
dasar panggul dihubungkan dengan kerusakan dasar panggul selama
persalinan pervaginam, terutama pada persalinan yang pertama.1,2,3
Kehamilan dan persalinan akan menyebabkan dasar panggul
melemah atau rusak sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik.4 Kekendoran otot-otot yang melingkari vagina sering disebabkan oleh
kelahiran anak melalui vagina.5 Hampir 50% wanita yang pernah melahirkan akan menderita prolaps organ genitourinaria dan 40% disertai
inkontinensia urin.2 Diantara kondisi ini inkontinensia urin merupakan salah satu yang paling tinggi prevalensinya. Satu dari tiga wanita akan
mengalami inkontinensia selama hidupnya dan lebih 65% wanita ini
menyatakan bahwa hal tersebut dimulai saat kehamilan maupun sesudah
melahirkan.6
Dalam laporan tahunannya pada tahun 2001 Perkumpulan Obstetri
dan Ginekologi Pantai Pasifik memperkirakan bahwa kebutuhan akan
pelayanan bagi perempuan kerusakan dasar panggul akan meningkat
Survei yang dilakukan Mac Lenan tahun 2000 pada wanita usia
15-57 tahun menyatakan bahwa setengah dari mereka mengalami disfungsi
dasar panggul yang menimbulkan kelainan seperti stress atau urge
inkontinensia, gangguan flatus atau inkontinensia fekal, gejala prolaps
vagina dan uterus.7
Persalinan secara pervaginam menyebabkan perubahan neurologis
pada dasar panggul yang menimbulkan efek langsung pada konduksi
nervus pudendus, kekuatan kontraksi vagina dan tekanan velositas
penutupan uretra. Hal ini menyebabkan menetapnya angka kejadian
stress inkontinensia pada wanita setelah melahirkan. Sedangkan pada
wanita yang melahirkan secara seksio sesarea perubahan patofisiologi ini
jauh lebih sedikit.1,8
Untuk mengetahui kekuatan otot dasar panggul (ODP) dapat
dilakukan dengan pemeriksaan digital atau dengan menggunakan alat
perineometer.6 Sampai saat ini di Indonesia belum ada data tentang kekuatan otot dasar panggul wanita yang pernah melahirkan pervaginam
ataupun secara seksio sesarea, sehingga peneliti tertarik untuk meneliti
hal ini.
1.2 Rumusan Masalah
Mengetahui seberapa besar kekuatan otot dasar panggul wanita
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Menilai kekuatan otot dasar panggul pada wanita pasca
persalinan normal dan pasca seksio sesarea.
Tujuan Khusus
1. Mengukur kekuatan otot dasar panggul wanita pasca
persalinan normal.
2. Mengukur kekuatan otot dasar panggul wanita pasca seksio
sesarea.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Hasil penelitian diharapkan dapat memberi informasi awal
mengenai cara persalinan terhadap kekuatan otot dasar panggul.
2. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan acuan bagi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar Panggul
Dasar panggul adalah diafragma muskuler yang memisahkan cavum
pelvis di sebelah atas dengan ruang perineum di sebelah bawah. Sekat ini
dibentuk oleh m. Levator ani, serat m. coccigeus dan seluruhnya ditutupi
oleh fascia parietalis.5,6,9,10
Otot dasar panggul terdiri dari beberapa otot yang fungsinya saling
mendukung satu sama lainnya yang terdiri dari: 8,9,10
1. Muskulus Levator ani, yang terdiri dari dua otot, yaitu :
a. Muskulus pubococcigeus dengan tiga bagian otot:
pubovaginalis, puborectalis dan pubococcigeus propria.
b. Muskulus iliococcigeus
2. Muskulus coccigeus (ischiococcigeus)
Otot dasar panggul khususnya muskulus levator ani, mempunyai
peranan penting dalam meyangga organ visera pelvis dan peran integral
pada fungsi berkemih, defekasi dan seksual.11
Otot pubococcigeus dari porsterior inferior ramus pubis dan masuk ke
garis lengan organ viseral dari anococcigeal raphe. Puborektalis juga
berasal dari tulang pubis, tetapi serabutnya melewati bagian posterior dan
membentuk tali gantungan di sekeliling vagina, rektum dan perineum,
obstruktor internus yang berjalan dari spina ischiadika ke permukaan
posterior dari ramus pubis superior ipsilateral, masuk ke garis tengah
melalui raphe anococcigeal. Ruangan antara muskulus levator ani dimana
dilalui oleh uretra, vagina dan rektum disebut sebagai hiatus urogenital.
Fusi dari levator ani dimana mereka bergabung pada garis tengah disebut
sebagai lempeng levator.11
Dasar panggul mempunyai tiga fungsi utama yaitu:6 Suportir
Sfingterik Fungsi seksual
Gambar 1. Anatomi Otot Dasar Panggul Wanita
2.2 Kekuatan Otot Dasar Panggul
Kekuatan otot dasar panggul dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko
yang dapat menyebabkan terjadinya kelemahan atau kekendoran
1. Usia, otot akan cenderung mengalami penurunan kekuatan
berdasarkan pertambahan usia. Hal ini tidak dapat dihindari.
Problem lain yang terjadi dengan pertambahan usia adalah hilang/
berkurangnya mobilitas dari otot. Demikian juga halnya dengan
otot dan jaringan penyokong organ-organ genitalia akan
mengalami hal yang sama. Beberapa penulis mengemukakan
bahwa terdapat peningkatan 12% kejadian prolaps organ pelvik
dengan bertambahnya usia, bahkan ada penelitian yang
mendapatkan peningkatan kejadian prolaps organ pelvik sampai
dua kali pada usia antara 20-59 tahun.
2. Hormonal, peningkatan hormon dalam sirkulasi pada saat
persalinan menyebabkan terjadinya relaksasi otot panggul.
Diantaranya hormon progesteron, prostaglandin, relaxin. Hormon
ini akan berkurang sampai menghilang enam minggu setelah
melahirkan. Ini berarti kekuatan otot dasar panggul baru dapat
kembali ke posisi normal setelah 6 minggu.
3. Kehamilan, akibat tekanan beban yang terus menerus terhadap
otot dasar panggul mengakibatkan terjadinya peregangan yang
pada akhirnya menyebabkan kelemahan otot dasar panggul.
4. Persalinan, tujuh persen wanita yang melahirkan 4 kali atau lebih
akan mengalami SUI (Stress Urinary Incontinence). Setiap
kelahiran dapat menyebabkan kerusakan pada otot dasar panggul.
serta penyokongnya dapat merusak struktur ini. Sobekan atau
tekanan yang berlebihan pada otot, ligamentum, jaringan
penyambung dan jaringan saraf akan menyebabkan kelemahan
yang progresif akibat kelahiran bayi. Wanita yang melahirkan
dengan forcep, ekstraksi vakum atau berat badan > 4000 gr akan
mengalami risiko peningkatan inkontinensia urin. Persalinan
seperti ini memiliki tendensi terjadinya peningkatan kerusakan
saraf dasar panggul.
5. Kelianan neurologik. Persalinan pervaginam dapat menyebabkan
kerusakan nervus pudendus baik tekanan secara langsung
maupun akibat penarikan.
6. Kelainan kongenital. Beberapa kelainan kongenital pada saraf
spinalis dan jalur yang menghubungkan persarafan pada otot-otot
pelvis yang turut mempengaruhi kekuatan ODP seperti: muscular
dystrophy, myelodysplasia, meningomyelocele, bladder exstropi
dan spina bifida. Kelainan ini menyebabkan flaccid paralysis pada
otot dasar panggul.
7. Penyakit infeksi dan keganasan pada ronggal panggul dapat
mengurangi kekuatan kontraksi otot dasar panggul.
8. Obesitas, memiliki kontribusi yang sedikit pada peningkatan
tekanan intraabdominal dalam menyebabkan prolaps organ pelvis.
9. Penyakti kronis seperti hipertensi, DM, penyakit paru kronik,
penyakit ini secara tidak langsung dapat menyebabkan kelemahan
Kelainan struktur atau fungsi otot dasar panggul akan menyebabkan
timbulnya prolapsus organ panggul, disfungsi seksual, sindrome nyeri
panggul kronis dan inkontinensia urine serta fekal. Kebanyakan disfungsi
dasar panggul (terutama prolapsus organ panggul inkontinensia urine dan
inkontinensia fekal) dihubungkan dengan kerusakan dasar panggul
selama persalinan pervaginam, terutama pada persalinan yang pertama.
Banyak penelitian telah membuktikan bahwa persalinan menyebabkan
denervasi levator ani yang akhirnya akan menyebabkan kelemahan dan
disfungsi.18
Kelainan dasar panggul termasuk diantaranya inkontinensia baik urin
maupun fekal, sistokel, rektokel, prolaps vagina dan uterus, dimana
inkontinensia urin terjadi sekitar 10% hingga 58% populasi wanita.15,16
2.3 Evaluasi dan Pengukuran Otot Dasar Panggul
Ada beberapa metode yang dapat dipakai untuk mengevaluasi fungsi
dan kekuatan otot dasar panggul yang dapat dibagi menjadi 2 kategori
yaitu:19
1. Metode untuk menilai kontraksi
Observasi klinik
Pada tahun 1948, Kegel memperkenalkan bagaimana cara
melihat atau menilai kontraksikan otot dasar panggul yang benar yaitu
dengan cara squeeze (memeras) di sekeliling uretra, vagina,
Shull dkk, mengemukakan bahwa observasi klinik yang diamati
berupa kontraksi otot superfisial perineum dimana dianggap bahwa
kontraksi otot levator ani berespon secara bersamaan dengan
kontraksi otot superfisial perineum.
Palpasi vagina
Teknik ini seringkali digunakan oleh kebanyakan terapis untuk
mengevaluasi kontraksi otot dasar panggul dan pertama kali
diperkenalkan oleh Kegel sebagai suatu metode untuk mengevaluasi
fungsi otot dasar panggul. Caranya dengan menempatkan satu jari
pada 1/3 distal vagina dan meminta ibu untuk mengkontraksikan
vagina seperti cara memeras (squeeze). Palpasi vagina ini digunakan
untuk melatih wanita mengkontraksikan otot dasar panggul.
Ultrasonografi dan MRI
Pada saat ini ultrasound dan MRI dapat dipakai untuk
mengevaluasi ODP saat berkontraksi. Dengan menempatkan probe
USD pada supra pubik, perineum, intravaginal atau pada rectum kita
dapat mengevaluasi otot dasar panggul.
EMG
Elektromiografi dapat dipakai untuk menilai aktivitas listrik pada
otot skelet dan gambaran langsung dari aliran motorneuron dan
medulia spinalis bagian ventral ke otot yang merupakan hasil volunter
atau refleks kontraksi ODP. Ada beberapa tipe alat dan perbedaan
teknik penggunaan EMG yang telah digunakan untuk menilai aktivitas
2. Metode untuk menilai kuantitas kekuatan otot
Tes manual
Metode ini menggunakan sistim tingkatan dan oxford yang telah
dimodifikasi oleh Laycock. Untuk menilai kekuatan ODP dengan cara
palpasi pada vagina. Hasil yang diperoleh di kategorikan ke dalam 6
skala poin: yaitu skala 0 = tidak ada kontraksi, 1 = hanya berupa
denyutan, 2 = lemah, 3 = sedang, 4 = baik, 5 = kuat
Manometer
Cara ini telah dilakukan oleh Kegel menggunakan alat yang
dimasukkan ke vagina untuk mengukur kekuatan ODP, alat ini disebut
perineometer. Alat ini memiliki skala 0-12 mmHg, dimana ODP
dikatakan baik bila pada pengukuran didapatkan kekuatan ODP ≥ 8
mmHg,dan.
Dinamometer
Sampselle dkk, adalah orang yang pertama kali melaporkan
pemakaian spekulum dinamometer untuk menilai kekuatan ODP. Alat
ini mengukur secara langsung kekuatan otot di daerah dorsoventral.
Namun sampai sejauh ini belum ada laporan benar yang dapat
dipercaya tentang penggunaan alat ini. Dinamometer ini terdiri dari 2
aluminium bercabang yang sejajar, satu terfikser dan yang satu dapat
diatur sesuai diameter vagina. Alat ini dihubungkan dengan komputer.
Vaginal weights/cones
latihan ODP. Cones ini terdiri dari 9 macam dengan volume yang sama
tapi beratnya bertambah mulai 20-100 gr. Pada versi terbaru cones
yang biasa digunakan terbuat dari 3-5 cones, dan terdiri dari ukuran
dan bentuk yang berbeda. Cara menggunakan alat ini adalah dengan
memasukkan ke dalam vagina kemudian sebisa mungkin ditahan
selama 1 menit.
2.4 Persalinan
Persalinan normal adalah pengeluaran hasil konsepsi yang viabel
dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar dengan letak belakang
kepala tanpa memakai alat-alat serta pertolongan istimewa serta tidak
melukai ibu dan bayi dan umumnya berlangsung dalam waktu kurang dari
24 jam.17
Melahirkan anak melalui vagina merupakan penyebab tersering
terjadinya kekendoron otot dasar panggul. Hampir 50% wania yang
pernah melahirkan akan menderita prolaps organ genitourinaria dan 40%
dari mereka disertai dengan inkontinensia urin.6 Pada persalinan pervaginam dapat terjadi kerusakan pada dasar panggul berupa
kerusakan otot atau intervasi otot, kerusakan muskulofasial dan kerusakan
saraf pudenda.20,21
Pada persalinan pervaginam terjadi peningkatan tekanan intravaginal
hingga lebih dari 200 mmHg, dengan tekanan rata-rata pada setiap
kontraksi sebesar 100 mmHg. Peningkatan tekanan yang melebihi 80
perifer.2 kerusakan ini akan mengalami perbaikan dalam dua minggu postpartum pada kelinci dan tiga hari pada tikus.2 Viktub dkk mendapatkan bahwa setelah tiga bulan postpartum gejala inkontinensia membaik dan
4% persisten.Hal serupa didapatkan pada penelitian yang dilakukan oleh
Chaliha dkk, prevalensi SUI setelah 3 bulan post partum sebesar 14,6%
dan menurun hingga menjadi 4,6% setelah 6 bulan postpartum.2 Hal ini terjadi karena kerusakan yang terjadi karena trauma hipoksia pada
jaringan dasar panggul mengalami proses penyembuhan dan fungsinya
kembali normal, sehingga waktu penyembuhan merupakan hal penting
untuk perbaikan SUI. Dan hal ini dipercepat dan ditingkatkan dengan
melakukan latihan fisik otot-otot dasar panggul.4
Allen dkk, mendapatkan hampir semua wanita yang melahirkan anak
pertama dengan cara pervaginam terjadi denervasi parsial pada dasar
panggul. Denervasi akan meningkat dengan meningkatnya usia dan
persalinan pervaginam berikut.22
2.5 Seksio Sesarea
Seksio Sesarea (SS) adalah melahirkan janin melalui insisi pada
dinding abdomen (laparotomi) dan dinding uterus (histerotomi).23 Persalinan secara seksio sesarea jangka panjang terhadap ibu yang
paling penting adalah perlindungan potensial terhadap dasar panggul
mengurangi insidens inkontinensia urin, flatus dan fekal serta prolaps
Pescher dkk, mempelajari efek anatomis pada persalinan
pervaginam dan menentukan bahwa sokongan leher kandung kemih
melemah secara signifikan setelah persalinan pervaginam dibandingkan
dengan SS (p<0,001). Mereka juga menemukan bahwa penurunan leher
kandung kemih) dengan valsalva maneuver mengalami peningkatan
secara signifikan setelah persalinan pervaginam dibandingkan dengan SS
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain
cross sectional study untuk mementukan kekuatan otot dasar panggul
pada wanita primipara pasca persalinan normal dan seksio sesarea.
3.2 Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di beberapa rumah sakit pendidikan
Bagian Obstetri dan Ginekologi FK-USU , antara lain :
RSUP.H .Adam Malik,RSU.Pirngadi Medan,dan RSU.Sundari.
3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah semua wanita baru pertama kali
melahirkan (primipara) secara normal dan seksio sesarea yang datang
kontrol ke RSUP.H .Adam Malik,RSU.Pirngadi Medan,dan RSU Sundari.
3.3.2 Sampel
Semua anggota populasi yang memenuhi kriteria inklusi dan
bersedia mengikuti penelitian ini dengan menandatangani surat
3.4 Kriteria Sampel
3.4.1. Kriteria inklusi :
1. Wanita berusia 20-35 tahun
2. Wanita primipara dengan pasca kehamilan aterm
3. Wanita primipara pasca persalinan normal dan seksio sesarea ≥ 3
bulan
4. Wanita tidak menderita infeksi kronik pada rongga panggul
5. Wanita yang tidak menderita penyakit kronik seperti hipertensi,
DM, penyakit paru kronik.
6. Wanita yang bersedia ikut dalam penelitian ini.
3.4.2. Kriteria eksklusi:
1. Wanita yang sedang menderita infeksi pada rongga panggul
2. Wanita yang mengalami ruptur perineum lama
3.4.3. Perkiraan Jumlah Sampel
Besarnya sampel diambil dengan menggunakan rumus 16
n =
Z =nilai baku normal dari table Z yang besarnya tergantung
pada nilai yang ditentukan ( = 0,15) Z = 1.03
(Z + Z ). Sd d
Z = nilai baku normal dari table Z yang besarnya tergantung
pada nilai yang ditentukan ( = 0,05) Z = 1.96
Sd = Rerata simpangan baku kekuatan otot dasar panggul paska
persalinan normal dan paska seksio sesaria 1.96
d = Presisi (tingkat ketepatan) 0,36
Perkiraan besarnya sampel adalah 30 untuk masing-masing kelompok.
3.5. Cara Pengambilan Data
Sampel diambil dari populasi sampel secara “Consecutive Sampling”
yaitu anggota populasi sampel yang memenuhi kriteria inkulsi diambil
sebagai sampel sampai tercapai jumlah sesuai hasil perhitungan sampel.
3.6 Metode Pengumpulan Data
3.6.1 Alat dan Bahan
1. Lembaran kuesioner
2. Surat persetujuan penelitian
3. Perineometer (PFX2), Cardio design Pth. Ltd, Baulkham
Hills, Australia, 2115).
4. Kondom merek sutra
5. Sarung tangan steril
6. Kasa steril
7. Savlon
8. Timbangan berat badan dewasa merek airlux
3.6.2 Cara Kerja
1. Semua sampel yang memenuhi syarat inklusi diambil sesuai dengan
perkiraan besar sampel dan diminta menandatangani surat
persetujuan setelah diberikan penjelasan tentang maksud dan tujuan
penelitian.
2. Dilakukan anamnesis menggunakan kuesioner yang telah ditentukan.
3. Pengambilan sampel Penderita dalam posisi telentang dan rileks,
kandung kemih dalam keadaan kosong, digunakan dua buah bantal
untuk menyangga kepala dan bahu. Kedua lutut difleksikan
membentuk sudut 900 antara paha bagian interal dan meja periksa dibuat sudut 450. Jarak antara kedua lutut sekitar 30 cm. begitu pula jarak antara kedua kaki. Dilakukan pengukuran kekuatan ODP
panggul dengan memasukkan sensor perineometer yang telah
dibungkus kondom ke dalam introitus vagina sampai panjang sensor
tersisa kurang lebih 1 cm, kemudian dilakukan pembacaan pada
skala perineometer. Hasil ini merupakan kekuatan ODP tanpa
kontraksi. Selanjutnya subyek diminta untuk mengkontraksikan otot
dasar panggulnya seperti menahan pancaran berkemih, hasilnya
dibaca pada skala perineometer. Ini merupakan kekuatan ODP
dengan kontraksi. Hasil terbaik dari tiga kali pemeriksaan dicatat.
3.7 Metode Analisis Data
Data yang terkumpul dianalisis untuk menjawab tujuan dan hipotesis
penelitian. Kemudian diolah dengan program SPSS for Windows versi 12.
Untuk maksud tersebut analisis data yang digunakan adalah:
1. Uji chi square : bertujuan untuk mengetahui homogenitas sampel
penelitian.
2. Uji t-independent : bertujuan untuk mencari nilai mean pengukuran
kekuatan ODP antara wanita pasca PPN dan pasca SS.
3. Uji t-berpasangan : bertujuan untuk mencari nilai mean pengukuran
kekuatan ODP tanpa kontraksi dan dengan kontraksi pada
masing-masing kelompok sampel.
3.8 Penyajian Data
Semua hasil analisis data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik
disertai penjelasan/diskusi.
3.9 Aspek Etis
Sebelum penelitian dilaksanakan, peneliti meminta keterangan
kelayakan etik (Ethical clearance) dari Komisi Etik Penelitian Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Kepada semua pasien dijelaskan maksud dan tujuan penelitian
(informed consent) secara sukarela dan apabila karena suatu alasan
tertentu penderita mengundurkan diri dari penelitian.
3.10 Alur Penelitian
WANITA PRIMIGRAVIDA
KRITERIA INKLUSI
PASCA PERSALINAN NORMAL
PASCA PERSALINAN SEKSIO SESAREA
PENGUMPULAN DATA PENGUKURAN KEKUATAN
OTOT DASAR PANGGUL
PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Telah dilakukan penelitian pengukuran kekuatan otot dasar panggul
terhadap 30 ibu pasca persalinan normal dan 30 ibu pasca seksio
sesarea. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain
cross sectional study yang dilakukan di beberapa rumah sakit, antara lain :
RSUP.H .Adam Malik,RSU.Pirngadi Medan,dan RSU Sundari. Selama
periode 1 Januari 2007-31 Januari 2009.
Tabel 1. Sebaran sampel penelitian berdasarkan kelompok usia ibu
USIA
uji Chi Square, uji t independent dan uji t berpasangan. Hasil penelitian
yang diperoleh diuraikan dalam bentuk tabel dan grafik sebagai berikut:
Hasil kelompok usia terbanyak dalam penelitian ini adalah 21-25 tahun
sebanyak 14 sampel (46,7%) pada kelompok PPN, dan 26-30 tahun
sebanyak 14 sampel (46,7%) pada kelompok SS. Dari uji statistik (Chi
Square) tidak ada perbedaan bermakna pada kedua kelompok (p>0,05).
Hal ini berarti kedua kelompok sampel homogen (tabel 1).
Tabel 2. Sebaran sampel penelitian berdasarkan kelompok usia
kehamilan
Distribusi usia kehamilan terbanyak dalam penelitian ini adalah 37-39
minggu baik pada kelompok persalinan normal maupun kelompok seksio
sesarea yaitu masing-masing 18 kasus (60%) dan 28 kasus (93,3%). Dari
uji statistik (Chi Square) terdapat perbedaan bermakna diantara keedua
kelompok (p<0,05) yang berarti kedua kelompok tidak homogen, hal ini
ditemukan pada usia kehamilan 37-39 minggu yang diterminasi
kehamilannya (tabel 2).
Tabel 3. Sebaran sampel penelitian berdasarkan kelompok Indeks
Massa Tubuh
Distribusi Indeks Massa Tubuh terbanyak dalam penelitian ini adalah
status gizi normal pada kelompok persalinan normal maupun kelompok
seksio sesarea yaitu masing-masing 25 kasus (83,3%) dan 24 kasus
(80,0%). Dari uji statistik (Chi Square) tidak terdapat perbedaan bermakna
diantara kedua kelompok (p>0,05), hal ini berarti bahwa kedua kelompok
Tabel 4. Sebaran sampel penelitian berdasarkan kelompok berat badan
Distribusi kelompok terbanyak menurut berat badan lahir dalam
penelitian ini adalah untuk 2500-2999 gram kelompok persalinan normal
16 kasus (53,3%), 3000-3499 gram kelompok seksio sesarea, 17 kasus
(56,7%) dan pada 3500-3999 gram kelompok persalinan normal 3 kasus
(10%). Dari uji statistik (Chi Square) tidak ada perbedaan bermakna pada
kedua kelompok (p>0,05), hal ini berarti kedua kelompok sampel
Tabel 5. Korelasi berat badan lahir dengan kekuatan otot dasar panggul
pada kelompok pasca PPN dan pasca SS
Berat Badan Lahir (BBL) n r p
Keterangan : a) Uji Korelasi Spearman
b) Uji Korelasi Pearson
*) Signifikan
Dari data diatas dapat dilihat korelasi BBL dengan kekuatan otot dasar
panggul dimana koefisien korelasi BBL pada PPN Tanpa Kontraksi
= -0,615 dan Kontraksi = -0,793. Dan pada Pasca SS Tanpa Kontraksi
= -0,807 dan Kontraksi = -0,375. Jadi oleh karena itu dapat disimpulkan
bahwa semakin besar BBL semakin menurun pula kekuatan otot dasar
Tabel 6. Kekuatan ODP antara kelompok pasca PPN dan pasca SS
Kelompok n Mean SD pa
ODP tanpa kontraksi PPN
SS
ODP kontraksi PPN
SS
Pengukuran kekuatan ODP tanpa kontraksi besarnya rerata berbeda
antara persalinan normal dan seksio sesarea yaitu masing-masing 4,69 ±
0,912 mmHg dan 7,01 ± 0,880 mmHg dengan nilai p<0,05 dan uji
t-independent, maka perbedaan tersebut secara statistik bermakna.
Sedangkan pada kelompok dengan kontraksi juga berbeda antara
persalinan normal dan seksio sesarea yaitu :
masing-masing 9,41 ± 0,969 mmHg dan 11.09 ±0,941 mmHg, dengan uji
t independen diperoeh nilai p<0,05 yang berarti perbedaan tersebut
Grafik 1. Perbandingan kekuatan ODP tanpa kontraksi
Pada grafik 1 menunjukkan kekuatan otot dasar panggul tanpa
kontraksi antara wanita pasca PPN dan SS. Rerata kekuatan otot dasar
panggul tanpa kontraksi pada pasca PPN lebih rendah dibandingkan
Grafik 2. Perbandingan kekuatan ODP dengan kontraksi
Pada grafik 2. menunjukkan adanya perbedaan kekuatan otot dasar
panggul dengan adanya kontraksi antara wanita pasca PPN dan SS.
Rerata kekuatan otot dasar panggul kontraksi pada pasca PPN lebih
Tabel 7. Kekuatan ODP antara tanpa kontraksi dengan ada kontraksi
Kelompok Kelompok Kontraksi n Mean SD pa PPN Tanpa Kontraksi
Kontraksi
SS Tanpa Kontraksi
Kontraksi
Pada pasca persalinan normal pengukuran kekuatan ODP tanpa
kontraksi dan dengan kontraksi terdapat perbedaan besarnya rerata yaitu
masing-masing 4,69 ± 0,912 mmHg dan 9,41 ± 0,969 mmHg dengan nilai
(p<0,05) dari uji t-independent, maka perbedaan tersebut secara statistik
bermakna. Sedangkan kekuatan ODP pada kelompok pasca seksio
sesarea tanpa kontraksi dan dengan kontraksi juga terdapat perbedaan
kekuatan ODP yaitu masing-masing 7,01 ± 0.880 mmHg dan 11.09
±0,941 mmHg, dengan uji t indpenden diperoleh nilai (p<0,05) yang berarti
Grafik 3. Perbandingan kekuatan ODP pada pasca PPN
Pada grafik 3 menunjukkan kekuatan otot dasar panggul wanita
pasca PPN antara tanpa kontraksi dengan adanya kontraksi. Rerata
kekuatan otot dasar panggul tanpa kontraksi lebih rendah dibandingkan
dengan adanya kontraksi.
Grafik 4 menunjukkan adanya perbedaan kekuatan otot dasar
panggul wanita pasca seksio sesarea antara tanpa kontraksi dengan
adanya kontraksi. Rerata kekuatan otot dasar panggul tanpa kontraksi
lebih rendah dibandingkan dengan adanya kontraksi.
4.2 Pembahasan
Pada penelitian ini kami mencoba mengukur kekuatan otot dasar
panggul wanita pasca persalinan normal dan seksio sesarea setelah 3
bulan, yang dapat dijadikan sebagai data awal untuk penelitian
selanjutnya di bidang uroginekologi.
4.2.1 Karakteristik Sampel
Penelitian ini terdiri dari 60 sampel, yaitu 30 kelompok pasca
persalinan normal dan 30 kelompok pasca seksio sesarea. Masing-masing
kelompok sampek kemudian dikelompokkan ke dalam beberapa
karakteristik yaitu, usia ibu, usia kehamilan, IMT, dan berat badan lahir.
Dari uji statistik yang dilakukan terhadap variabel karakteristik
tersebut didapatkan hasil nilai p> 0,05 untuk variabel usia ibu, IMT dan
berat badan lahir yang artinya kelompok tersebut homogen menurut
variabel tersebut.
Pada pemeriksaan ini didapatkan kelompok usia dengan sampel
Palembang pada tahun 2005 mendapatkan kelompok usia ≤ 30 tahun.27 hal yang sama juga didapatkan pada penelitian Santy dkk di Jakarta tahun
2007 yaitu pada kelompok usia ≤ 30 tahun.30
Dalam kepustakaan dikatakan bahwa otot akan cenderung
mengalami penurunan kekuatan berdasarkan pertambahan usia. Hal ini
tidak dapat dihindari. Problem lain yang didapat dengan pertambahan usia
adalah berkurangnya mobilitas dari otot. Demikian juga halnya dengan
otot dasar panggul dan jaringan penyokong organ-organ genetalia akan
mengalami hal yang sama.17
Mac Lennan dkk (2000) menyimpulkan bahwa peningkatan usia
merupakan salah satu faktor risiko melemahnya kekuatan otot dasar
panggul.7, pada penelitian ini tidak didapatkan hubungan yang bermakna secara statistik terhadap usia ibu. Hal ini mungkin disebabkan karena
kebanyakan sampel masih berusia ≤ 30 tahun.
Menurut usia kehamilan, baik kelompok persalinan normal dan
seksio sesarea, usia kehamilan terbanyak adalah usia 37-39 minggu. Dari
uji statistik yang dilakukan terhadap variabel ini didapatkan nilai p<0,05,
hal ini berarti bahwa ada hubungan bermakna antara usia kehamilan
dengan kekuatan otot dasar panggul.
Pada penelitian ini juga dinilai IMT terhadap kekuatan otot dasar
panggul dimana kelompok sampel terbanyak adalah dengan IMT normal
baik pada persalinan normal maupun seksio sesarea.
Kepustakaan mengatakan semakin besar IMT maka akan
didapatkan hubungan antara obesitas dengan gangguan pada organ
dasar panggul.27
Pada penelitian ini tidak mendapatkan hubungan yang bermakna
antara IMT dan kekuatan otot dasar panggul (p>0,05). Hasil ini berbeda
dengan yang didapatkan oleh Susanto dkk (2005) di Palembang.26 Ini mungkin disebabkan karena distribusi dari sampel yang dominan pada
IMT normal, dimana menurut teori IMT yang gemuk yang turut
mempengaruhi kekuatan ODP.
Menurut berat badan lahir, pada penelitian ini didapatkan kelompok
sampel terbanyak pada BBL 3000-3499 gram. Penelitian oleh Susanto
dkk (2005) di Palembang26 dan Santy (2007) di Jakarta, juga mendapatkan hal yang sama.27 Dari uji statistik tidak ditemukan hubungan bermakna antara BBL dengan kekuatan ODP, temuan ini sesuai dengan
penelitian Relly dkk (2002) terhadap 268 primigravida dan Susanto dkk
(2005) juga menemukan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara
BBL dengan kekuatan otot dasar panggul.29
Banyak ahli yang percaya bahwa penekanan dan peregangan
struktur dasar panggul oleh fetus selama persalinan pervaginam adalah
salah satu penyebab utama kerusakan dasar panggul tersebut. Logikanya
bayi yang lebih besar menghasilkan tekanan yang lebih besar pada
struktur dasar panggul.2 Pada penelitian ini didapatkan tidak ada hubungan bermakna antara kekuatan ODP dengan BBL mungkin
4.2.2 Kekuatan ODP Pasca Persalinan Normal dan Pasca Seksio
Sesarea
Untuk melihat kekuatan ODP pada kedua kelompok baik tanpa
kontraksi maupun dengan kontraksi dipakai uji t independen. Pada
penelitian ini didapatkan bahwa rerata kekuatan ODP pada kelompok
pasca PPN dan pasca SS tanpa kontraksi yaitu masing-masing 4,69 ±
0,912 mmHg dan 7,01 ± 0.887 mmHg. Sedangkan pada kelompok
dengan kontraksi ditemukan rata-rata kekuatan ODP masing-masing 9,41
± 0,969 mmHg dan 11.09 ±0,941 mmHg (tabel 6). Hasil uji statistik dengan
t independen didapat perbedaan yang bermakna antara kekuatan ODP
pada kedua kelompok, baik tanpak kontraksi maupun dengan kontraksii,
dimana kekuatan ODP pasca PPN lebih rendah dibandingkan pasca SS.
Hal ini lebih jelas dapat kita lihat pada grafik 1 dan grafik 2.
Max Lenan dkk (2000) pada penelitiannya mengenai hubungan
kerusakan dasar panggul pada nullipara menurut cara persalinan,
menemukan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara seksio
sesarea (OR 2.5, 95% CI 1.5-4.3), persalinan normal (OR 3.4, 95% CI
2.4-4.9) dan persalinan dengan alat (OR 4.3 95% CI 2.8-6.6).7 Persalinan pervaginam menyebabkan perubahan neurologis pada dasar panggul
yang menimbulkan efek langsung pada konduksi nervus pudendus,
kekuatan kontraksi vagina dan tekanan velositas penutupan uretra. Hal
tersebut dapat diperhitungkan terhadap menetapnya angka kejadian
stress inkontinensia pada wanita setelah melahirkan pervaginam. Setelah
Meyer dkk pada penelitian prospektif terhadap 149 wanita
menemukan perubahan pada panjang uretra dan penurunan tekanan
intravagina dan intraanal dalam waktu 9 minggu setelah melahirkan
pervaginam. Sementara pada wanita yang melahirkan secara SS tidak
ditemukan adanya perubahan.2
4.2.3 Kekuatan ODP Tanpa Kontraksi Dengan Kontraksi
Uji t berpasangan pada masing-masing kelompok memperlihatkan
(tabel 7 grafik 3 dan grafik 4) bahwa pada kelompok pasca PPN
ditemukan perbedaan kekuatan ODP yang bermakna (p<0,05), baik tanpa
kontraksi (4,69 mmHg) maupun dengan kontraksi (9,41 mmHg). Demikian
juga halnya pada kelompok pasca SS didapatkan perbedaan kekuatan
ODP yang bermakna antara tanpa kontraksi (7,01 mmHg) dan dengan
kontraksi (11,09 mmHg). Hasil ini hampir sama dengan pergukuran
kekuatan otot dasar panggul pada primipara yang dilakukan oleh
Piliansjah di Jakarta 2003, yaitu tanpa kontraksi (4,20 mmHg) dan dengan
kontraksi (10,7 mmHg)30 dan oleh Paembonan di Makassar 2007, yaitu (4,61 mmHg) dan (11,13 mmHg).31
4.2.4 Kelemahan
Disadari bahwa terdapat kelemahan pada penelitian ini, antara lain
pengukuran kekuatan ODP pada masing-masing kelompok sangat
risiko lain yang juga turut mempengaruhi kekuatan otot dasar panggul ini
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Rerata ± SD kekuatan ODP pada wanita pasca persalinan normal
tanpa kontraksi dan dengan kontraksi adalah 4,69 ± 0,912 mmHg
dan 9,41 ± 0,969 mmHg.
2. Rerata ± SD kekuatan ODP pada wanita pasca seksio sesarea
tanpa kontraksi dan dengan kontraksi adalah 7,01 ± 0.880 mmHg
dan 11.09 ±0,941mmHg.
5.2 Saran
1. Pada penelitian ini kami hanya mengukur kekuatan ODP wanita
pasca SS dan pasca PPN tanpa memisahkan kelompok sampel
pasca SS ke dalam SS elektif dan non elektif, kala I atau kala II.
Oleh karena itu kami sarankan perlu dilakukan penelitian yang lebih
lanjut dalam menilai hubungan kekuatan ODP dengan
mempertimbangkan hal di atas.
2. Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk menilai kekuatan ODP
dengan menggunakan instrumen lain, mengingat masih banyak
DAFTAR PUSTAKA
1. Junizaf. Perkembangan Uriginekologi, Masa Lalu, Kini dan Mendatang.
Majalah Obstetri & Ginekologi Indonesia, Yayasan Bina Pustaka
2. Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 2004: 28: 136-45.
3. Goldberg RP. Kwon C. Gandhi S, Atkuru LV, Sorensun M, Sand PK
Urirany incontinence among mother of multiple : The protective effect
of cesarean delivery. Am J Obstet Gynaecol 2003; 188 : 1447-53.
4. Barber MD, Bremer RE, Thor KB, Dolber PC, Khuel TJ, Coates KW.
Innervation of the female levotor ani muscle, Am J Obstet Gynecol
2002; 187 : 64-71.
5. Patric H. Urogenital prolapse : The pelvic floor its function and
disorders. WB Saundes 2002 : 251-63.
6. Loetan F. Rehabilitasi dini kelemahan otot dasar panggul hindari
kekenduran vagina. Available from : file://E:perineometer.html.
Accessed on March 5, 2006.
7. Pauls RN, Berman JR. Impact of pelvic floor disorders and prolapse on
female sexual function and responsen. Urologial clinics of North
America 2002; 29: 677-683.
8. Mac Lenan HA. Taylor AW, Wilson DH, Wilson D. The prevalence
9. Gosling J. Gross anatomy of lower urinary trac. In : Abrams P, Khoury
S, Wein S. Editors, Incontinence. Playmouth Health Publications Ltd
1999. p. 21-51.
10. Callahan TL, Caughey AB, Heffur LJ. Pelvic relaxation. Blue print
obstetric and gynecology. Blackwell publishing, Massachusetts, 2004;
18: 163-67.
11. Roger RM. Anatomy of pelvic support. In : Bent AE, Cundiff GW,
Ostergard DR, Swift SE. Editors. Ostergard’s urogynecology and pelvic
floor dysfunction. 5th edition. Philadelphia: Lippincott Wiiliams and Wilkins; 2003. p.19-33.
12. Barber MD. Contemporary views on female pelvic anatomy. Cleveland
clinic journal of medicine 2005; 72:S4-S11.
13. Brandies. The pelvic floor. Available from : file://E:\pelvicfloor.htm
Accessed on December, 2005.
14. Wijma J, Potter AE, Wolf BTHM, Tinga DJ, Arnoudse JG. Urinary trac
during pregnancy. Br J Obstet Gynaecol 2001; 108 : 762-32.
15. Gerald MPF, Russel B, Hale D, Benson JT, Brubaker L. Ultrastructure
of detrusor and urethral smooth muscle in women with urinary
incontenence. Am J Obstet Gynaecol 2000; 182 : 879-83.
16. Swift SE. Epidemiology of pelvic organ prolapse. In : Bent AE, Cundiff
GW, Ostergard DR, Swift SE. Editors. Ostergard’s urogynecology and
17. Sastroasmoro S,Ismael S. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis.
Edisi ke-2. CV Sagung Seto,Jakarta,2002.269.
18. Chalik TMA. Inkontinensia urinae pada wanita. Jurnal kedokteran Syah
Kuala, 2001; 1 : 39-49.
19. BA Kari, Sherburn M. Evaluation of female pelvic floor muscle function
and strength. Jurnal phys ther 2005; 18 : 269-282.
20. Perry JD, Hullett LT. The role of home trainers in Kegel exercise
program for the treatment of inkontinence. Available from:
file://TheRolperineometer.2.htm. Acceseed on March 5, 2005.
21. Winjosastro H. Fisiologi dan mekanisme persalinan normal. Dalam :
Ilmu kebidanan, cetakan ke-4, Jakarta. Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo; 1997, hal : 180-91.
22. Murray S, Chaote A. Research in pelvic floor muscle strength in
postpartum and nulliparous women. Available from :
23. Allen RE, Hosker GL, Smith ARB, Warrell DW. Pelvic floor damage
and childbirth: aneurophysiological study. Br J Obstet Gyneacol 1990;
97 : 770-79.
24. Cunningham FG, et al. Cesarean delivery and post partum
hysterectomy. In : Williams obstetri 21th edition. New York : Mc Graw Hill; 1997. p. 537 – 563.
25. Minkoff H, Chervenak FA. Elective primary cesarean delivery. N Engl J
26. Susanto S. Status perineum post partum sebagai prediktor kelemahan
otot dasar panggul pada primipara. Dibawakan pada PT XVI POGI.
Mataram 2007.
27. Santi D, Junizaf. Hubungan antara seksio berencana dan seksio
darurat pada wanita primipara dengan kejadian stres inkontinensia.
Dibawakan pada PIT XVI POGI. Mataram 2007.
28. Chaliha C, Soligo M. Khullar V. Caesarean section is protective againts
stress incontinence : an analysis of woman with multiple deliveries. Br
J Obstet Gynaecol 2004; 111 : 754-5.
29. Reily ETC, Freeman RM, Waterfield MR, Waterfiels AE. Steggles P.
Pedlar F. Prevention of Postpertum Stress incontinence in
primigravidae with increased bladder neck mobility; a randomized
controlled trial of antenatal pelvic fllor exercise; Br J Obstet Gyneco
12002 : 109 : 68-76.
30. Piliansjah, Somad NM. Pengukuran kekuatan otot dasar panggul
wanita dengan perineometer. Dibawakan pada PIT XIII POGI.
Bandung, 2003.
31. Paembonan O. Pengukuran kekuatan otot dasar panggul pada wanita
hamil sebelum dan sesudah persalinan. Dibawakan pada PIT XVI
Lampiran 1
SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN
Yang bertanda tangan di bawah ini :
N a m a :
U m u r :
A l a m a t :
Pekerjaan :
Dengan sesungguhnya menyatakan bahwa setelah mendapat penjelasan
sepenuhnya serta memahami tentang maksud dan tujuan serta manfaat
penelitian yang berjudul :
KEKUATAN OTOT DASAR PANGGUL PADA WANITA PASCA PERSALINAN NORMAL DAN PASCA SEKSIO SESAREA DENGAN
PERINEOMETER
Maka saya setuju untuk diikutsertakan dalam penelitian ini dan bersedia
berperan serta dengan memenuhi semua ketentuan yang berlaku dalam
penelitian ini.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan penuh kesadaran untuk
dipergunakan sebagaimana mestinya.
Peneliti Yang bersangkutan,
( ………. ) ( ………. )
Lampiran 3
FORMULIR PENELITIAN
KEKUATAN OTOT DASAR PANGGUL PADA WANITA PASCA PERSALINAN
NORMAL DAN PASCA SEKSIO SESAREA DENGAN PERINEOMETER
1. Nomor penelitian : ……… 16. Pernah/sedang menderita : Ya/tidak
penyakit infeksi kronik/keganasan pada rongga panggul
17. Pernah/sedang menderita : Ya/tidak penyakit infeksi kronik : - Hipertensi : Ya/tidak
- DM
18. Riwayat operasi panggul : Ya/tidak 19. Riwayat ruptur perineum lama : Ya/tidak 20. Riwayat melakukan latihan dasar : Ya/tidak
Lampiran 4
Data Pasca Persalinan Normal