RAGAM
HISTORISME FLANCIUS TAMPUBOLON
Edisi No. 23/Tahun XI/Januari 2007 54
Pemberian Pemakaian Adverbia dalam Bahasa Indonesia
Flancius Tampubolon
Staf Pengajar Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra USU
Adverbia adalah kata yang memberi keterangan pada verba, adjektiva, nomina, predikatif, atau kalimat. Adverbia sebagai kategori harus dibedakan dari keterangan sebagai fungsi kalimat.
Seandainya kita dihadapkan pada fenomena-fenomena penggunaan bentuk lingual secara teknis dapat dikelompokan dalam jenis adverbia. Salah satu fenomena itu adalah penggunaan bentuk adverbia secara bijaksana. Misalnya ditemukan tuturan berikut ini:
1. Secara bijaksana dia menjawab semua pertanyaan peserta sidang.
2. Pak Lurah secara bijaksana mengemukakan pendapatnya.
3. Paman berusaha mengatasi kemelut keluarga itu secara bijaksana.
Timbul pertanyaan mengenai tempat atau letak adverbia secara bijaksana itu dalam susunan berurutan konstituen tuturannya; maka pertanyaan itu dapat berwujud demikian. Adakah maksud yang berbeda dengan penggunaan adverbia secara bijaksana yang berlainan itu, yaitu penggunaan pada awal kalimat, sesudah subjek kalimat, dan pada akhir kalimat? Sekiranya unsur atau konstituen selain adverbia secara bijaksana sama dengan demikian ada kemiripan maksimal-apakah kiranya maksud tuturan itu masih tetap sama? Jadi, apakah maksud (1a) berikut masih sama dengan (1b) dan (1c), maksud tuturan (2b) dan (2c), dan maksud tuturan (3a) berikutnya lagi masih sama pula dengan tuturan (3b) dan (3c)? Untuk menjelaskan di mana perbedaan masing-masing kalimat disebut dapat kita lihat dari kalimat berikut dibawah ini:
(1a). Secara bijaksana dia menjawab semua pertanyaan peserta sidang. (1b). Dia secara bijaksana menjawab
semua pertanyaan peserta sidang. (1c). Dia menjawab semua pertanyaan
peserta sidang secara bijaksana.
(2a). Pak Lurah secara bijaksana mengemukakan pendapatnya.
(2b). Secara bijaksana Pak Lurah mengemukakan pendapatnya.
(2c). Pak Lurah mengemukakan pendapatnya secara bijaksana.
(3a). Paman berusaha mengatasi kemelut keluarga itu seara bijaksana.
(3b). Secara bijaksana paman berusaha mengatasi kemelut keluarga itu. (3c). Paman secara bijaksana berusaha
mengatasi kemelut keluarga itu.
Dari kalimat-kalimat di atas maksud penggunaanya dapat menduduki posisi; adverbia bijaksana pada awal kalimat: (1a), (2b), dan (3b), yang menduduki posisi sesudah subjek pada kalimat (2a), dan (3c), dan yang menduduki posisi pada akhir kalimat pada kalimat (1c), (2c), dan (3a).
Di samping posisi masing-masing yang dijelaskan seperti posisi adverbia pada awal kalimat, posisi sesudah subjek dan yang menduduki posisi pada akhir kalimat maka dapat juga lihat adverbia yang memberikan keterangan pada verba, adjektiva, nomina predikatif, atau kalimat seperti kalimat berikut ini: Saya ingin lekas-lekas pulang, kata lekas-lekas adalah adverbia yang menerangkan verba pulang; pada kalimat: Orang itu sangat baik, kata sangat adalah adverbia yang menerangkan adjektiva baik. Demikian pula pada kalimat Ayah saya hanya petani, kata hanya adalah adverbia yang menerangkan nomina predikatif petani.Dalam kalimat Sebaiknya engkau datang, kata sebaiknya engkau adalahadverbia yang menerangkan kalimat engkau datang secara keseluruhan.
Jadi, dalam kalimat Ia datang kemarin, kata kemarin berkategori nomina (bukan adverbia), tetapi fungsinya adalah keterangan waktu. Demikian juga dalam kalimat, Orang itu sangat baik, kata sangat berfungsi sebagai keterangan dan kebetulan juga kategorinya adalah adverbia. Sehingga adverbia sebagai kategori harus dibedakan dari keterangan sebagai fungsi kalimat.
ragam
HISTORISME FLANCIUS TAMPUBOLON
Edisi No. 23/Tahun XI/Januari 2007 55
Adverbia di dalam bahasa Indonesia dapat diklasifikasikan dengan mempertimbangkan: (1). Bentuk, (2). Struktur sintaksis, dan (3). Maknanya.
1. Bentuk Adverbia
Adverbia dapat terdiri atas satu morfena (monomorfemis) dan dapat pula terdiri atas dua morfena atau lebih (polimorfemis). Kata sangat adalah monomorfemis, sedangkan sebaiknya adalah polimorfemis (Se-baik-nya). Contoh berikut untuk adverbia yang monomorfemis:
- Sangat - Lebih - Hanya - Segera
Adverbia yang polimorfemis melalui salah satu cara berikut: (a) dengan mengulang kata dasar, (b) dengan mengulang kata dasar dan menambah sufiks-an, (c) dengan mengulang kata dasar dan menambah gabungan afiks se-nya, (d) dengan menambah gabungan afiks se-nya kata dasar, (e) dengan menambah-nya pada kata dasar. Contoh:
a. diam-diam d. sebaiknya lekas-lekas sesungguhnya pelan-pelan sebenarnya hati-hati b. habis-habisan e. agaknya mati-matian biasanya mudah-mudahan rupanya c. setinggi-tingginya
sedalam-dalamnya sekuat-kuatnya
2. Struktur Sintaksis Adverbia
Struktur sintaksis adverbia dapat dilihat melalui dua segi yaitu, letak struktur dan lingkup strukturnya. Dari segi letak strukturnya dapat diamati perilaku adverbia yang (a) senantiasa mendahului kata yang diterangkan, (b) senantiasa mengikuti kata yang diterangkan, dan (c) dapat mendahului atau mengikuti kata yang diterangkan. Contoh:• Lebih tinggi • Jelek benar • Merah sekali
• Jangan lekas-lekas pulang • Jangan pulang lekas-lekas • Lekas-lekas dia pulang
Dari segi lingkup strukturnya dapat ditinjau medan jangkauan adverbia yang terbatas pada satuan frasa dan mencapai satuan kalimat. Adverbia yang jangkauannya terbatas pada frasa terdapat pada frasa adjektiva (a) frasa verba, (b) frasa adverbial, (c) frasa nominal predikatif. Contoh:
a. tinggi sekali agak cantik
b. berlari (dengan) cepat lekas-lekas pulang c. tiba-tiba sekali kurang serempak d. hanya guru hanya petani
Adverbia jenis a, b, dan d lebih tetap letak strukturnya, tidak memiliki keleluasaan untuk berpindah tempat, sedangkan adverbia jenis c memiliki peluang untuk berada di awal dan berada di belakang intinya. Adverbia yang seperti itu daya jangkauannya hanya sebatas ruang lingkup frasa saja.
3. Makna Adverbia
Makna adverbia dapat ditinjau dalam kaitannya dengan unsur lain pada suatu struktur (kaitan relasional). Makna relasional adverbia dapat diamati pada satuan frasa dan satuan klausa.
a. Makna Relasional pada Satuan Frasa
Terdapatnya adverbia yang secara sistematis bergantungan pada satuan leksikal lain; keberadaannya di dalam suatu satuan frasa berkaitan dengan kontituen lain. Keterkaitan itu merupakan hubungan antara pewatas dan inti. Sebagai misal, pada frasa sangat baik, kata baik adalah inti dan sangat menjadi pewatasnya.
Adverbia yang jangkauannya meliputi seluruh kalimat atau klausa tidak terikat pada batas frasa. Adverbia itu biasanya dapat berpindah tempat dalam kalimat, seperti pada contoh yang berikut: a. Biasanya dia pulang pukul lima b. Dia biasanya pulang pukul lima c. Dia pulang pukul lima biasanya
RAGAM
HISTORISME FLANCIUS TAMPUBOLON
Edisi No. 23/Tahun XI/Januari 2007 56
Bentuk lain yang termasuk adverbia jenis itu adalah sebenarnya, sesungguhnya, agaknya, rupanya, seyogianya, sebaiknya.
Ada dua macam adverbia pewatas: pewatas adjektiva dan pewatas verba. Adverbia pewatas adjektiva tidak dapat berdiri sendiri sebagai satuan tunggal pembentuk kalimat. Pemunculannya senantiasa berkaitan dengan konstituen intinya. Adverbia pewatas seperti sangat, misalnya memerlukan adjektiva seperti besar sebagai intinya: sangat besar. Adverbia pewatas verba dapat merupakan satuan tunggal pembentuk kalimat, misalnya, sebagai jawaban singkat atas suatu pertanyaan.
Adverbia pewatas adjektiva:
Agak lebih
Begitu sangat
Kurang sekali
Adverbia pewatas verba:
Hampir mungkin
Jarang pernah
Kadang-kadang selalu
Perhatikan bahwa dari kalimat 1a berikut, kita dapat memakai adverbia seperti 1b sebagai jawaban. Akan tetapi dari 2a kita tidak dapat memperoleh jawaban seperti pada 2b sebagai contoh berikut ini:
1 a. apakah ia sering mengunjungi pepustakaan?
b. sering
2 a. apa Tuti sangat cantik? b. *sangat
b. Makna Relasional pada Satuan Klausa
Sebagai salah satu unsur di dalam suatu klausa, adverbia cara adalah adverbia yang memiliki makna relasional itu. Dasar pemakaiannya adalah jenis pertanyaan yang memunculkan adverbia yang bersangkutan.
Pertanyaan yang diawali dengan kata bagaimana mengundang tampilnya adverbia cara. Dengan demikian maka adverbia cara mengacu pada caranya suatu perbuatan dilakukan. Adverbia jenis itu berupa 1. bentuk reduplikasi adjektiva, 2.
bentuk reduplikasi dengan-an, 3. bentuk reduplikasi dengan se + nya.
1. Adverbia Cara Bentuk Ulang dan Frasa Adverbial
Adverbia cara yang memakai reduplikasi menyatakan makna cara melakukan suatu perbuatan. Adverbia jenis itu pada awalnya dibentuk dengan mengulang kata dasar berupa adjektiva. Sebagai adverbia cara jenis itu dapat diganti dengan kontruksi preporsional dengan + adjektiva, menjadi frasa adverbial.
Seperti dilihat pada contoh di bawah ini: 1 a. Dibayar dengan mahal: dibayar
mahal-mahal
b. Berlari dengan cepat: berlari dengan cepat-cepat
c. Berteriak dengan keras: berteriak keras-keras
2 a. Meloncat *dengan tinggi: meloncat tinggi-tinggi
b. *dengan jelas bersalah: jelas-jelas bersalah
3. a. Datang (dengan) segera: datang *segera-segera
b. Tahu (dengan) pasti: tahu *pasti-pasti c. Menunggu (dengan) gelisah:
menunggu *gelisah-gelisah
2. Adverbia Cara Bentuk Ulang dengan-an Adverbia cara yang memakai reduplikasi dengan-an menyatakan cara yang dilakukan sampai titik yang paling tuntas. Bentuk reduplikasi ini ada yang tanpa didahului konstituen apa-apa, dan ada pula yang dapat didahului konstituen sehingga menjadi frasa adverbial. Seperti dapat dilihat pada contoh di bawah ini:
1. Mereka berjuang mati-matian 2. Dia dikritik habis-habisan
3. Pesta itu dirayakan (secara) besar-besaran
4. Ayah saya berdagang (secara) kecil-kecilan.
3. Adverbia Cara Bentuk Ulang dengan + nya
Reduplikasi yang dimaksud
menyatakan kemungkinan dengan derajat yang paling ekstrim, dan lazimnya dapat
ragam
HISTORISME FLANCIUS TAMPUBOLON
Edisi No. 23/Tahun XI/Januari 2007 57
berdistribusi paralel dengan kontruksi se + adjektiva + mungkin.
1. Serendah-rendahnya: serendah mungkin 2. Setinggi-tingginya: setinggi mungkin 3. Secepat-cepatnya: secepat mungkin 4. Sejauh-jauhnya: sejauh mungkin.
Dalam pemakaiannya dapat kita melihat pemerian adverbia pada kalimat di bawah ini secara keseluruhan yang masing-masing posisinya berada di awal kalimat, di tengah kalimat, dan di akhir kalimat:
1 a. Sebaiknya kita berfikir dahulu sebelum melakukan sesuatu.
b. Kita sebaiknya berfikir dahulu sebelum melakukan sesuatu.
c. Sebelum melakukan sesuatu kita berfikir dahulu sebaiknya.
2 a. Mudah-mudahan dengan bekerja keras apa yang dilakukan PT Lapindo mengenai umpur panas dapat tercapai.
b. Apa yang dilakukan PT Lapindo mudah-mudahan dapat tercapai dengan bekerja keras mengenai lumpur panas.
c. Dengan bekerja keras yang dilakukan PT Lapindo menangani lumpur panas mudah-mudahan dapat tercapai.
3 a. Dengan segera Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan kepada PT Lapindo membuang lumpur panas ke laut.
b. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan dengan segera kepada PT Lapindo membuang lumpur panas ke laut.
c. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan kepada PT Lapindo membuang lumpur panas dengan segerake laut.
4 a. Biasanya dia pergi bekerja pukul 07.00 pagi.
b. Dia pergi bekerja biasanya pukul 07.00 pagi.
c. Pukul 07.00 pagi dia pergi bekerja biasanya.
5 a. Dia hati-hati dia menaiki tangga. b. Dia dengan hati-hatimenaiki tangga. c. Dia menaiki tangga dengan hati-hati.
Kesimpulan
• Adverbia adalah kata yang memberi keterangan pada verba, adjektiva, nomina, predikatif atau kalimat.
• Adverbia sebagai kategori harus dibedakan dari keterangannya sebagai fungsi kalimat.
• Adverbia di dalam bahasa Indonesia dapat diklasifikasikan dengan mempertimbangkan dari segi 1. bentuk, 2. struktur sintaksis, dan 3. maknanya. • Ditinjau dari bentuk adverbia dapat
terdiri dari atas satu morfem (monomorfemis) dan terdiri atas dua morfem atau lebih (polymorfemis). • Adverbia dapat dibentuk dari kata
dasar, dengan mengulang kata dasar, dengan mengulang kata dasar dan menambah sufiks /-an/, dengan mengulang kata dasar denang menambah gabungan afiks /se…nya/ pada kata dasar dan dengan menambah /-nya/ pada kata dasar.
• Makna relasional adverbia dapat diamati pada satuan frasa dan satuan klausa.
• Pemberian pemakaian adverbia dalam kalimat bahasa Indonesia ditinjau dari letak posisinya berada di awal kalimat, di tengah kalimat, dan di akhir kalimat.
Daftar Pustaka
Depdikbud, 1992. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Peran Balai Pustaka
Indosiar, Minggu, 08-10-2006. Berita Siang Metro TV, Minggu, 08-10-2006. Berita
Siang.
TPI, Selasa, 03-10-2006. Berita Malam. RCTI, Selasa, 03-10-2006. Berita Siang. Sudaryanto, 1988. Metode Linguistik Bagian
Kedua Metode dan Aneka Teknik Pengumpulan Data, Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
... , 1992. Metode Linguistik Kearah Memahami Metode Linguistik, Yogyakarta: Gajah Mada University Press.