I’jaz ‘Adadi
(Kemukjizatan Angka 7 dan 19 dalam
Al-Qur’an)
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Theologi Islam (S.Th.I)
Oleh
MUSTAR
NIM: 107034000335
PROGRAM STUDI TAFSIR-HADIS
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
i ABSTRAK
Mustar
I’jaz ‘Adadi (Kemukjizatan Angka 7 dan 19 dalam Al-Qur’an)
I’jaz ‘Adadi merupakan salah satu dari kemukjizat Al-Qur’an, disamping i’jaz Al-Qur’an yang sudah ada sebelumnya, seperti i’jaz balaghi, i’jaz tasyri’, i’jaz ilmi, i’jaz lughawi, i’jaz thibby, i’jaz falaky, i’jaz i’lami, i’jaz thabi’i dan lain sebagainya. Namun i’jaz ‘adadi masih dibilang baru dibandingkan dengan i’jaz-i’jaz lain yang terungkap.
Jika melihat dari awal sejarahnya, i’jaz ‘adadi sudah mulai terungkap pada masa kekuasaan Abd Al-Malik Marwan yang berusaha menghitung huruf, ayat dan surat dalam Al-Qur’an. Kajian ini kemudian berkembang dengan lahirnya para mufasir-mufasir yang menulis setiap awal surat, selalu disebutkan jumlah huruf, kata dan ayat dalam surat tersebut, seperti dalam Marah Labid karya Muhammad Nawawi al-Jawi dan berlanjut pada kajian huruf-huruf muqaththaah, menurut para mufasir huruf-huruf muqaththaah mempunyai keistimewaan dan keterhubungan dengan surat yang didahuluinya.
Setelah adanya penghitungan terhadap huruf, ayat dan surat dalam Al-Qur’an tersebut, metode seperti ini berkembang dalam penjumlahan dan penghitungan huruf, ayat dan surat dalam Al-Qur’an yang penghitungan dan penjumlahannya dalam konteks mukjizat Al-Qur’an, khususnya yang berkaitan dengan bilangan angka (i’jaz ’adadi).
Bilangan angka dalam konteks mukjizat juga dilakukan oleh Rashad Khalifa ketika menafsirkan QS. Al-Muddatstsir/74: 30 dengan menemukan fakta-fakta angka dalam Al-Qur’an yang habis dibagi atau kelipatan dari angka 19. Metode seperti ini pun persis sama dengan yang dilakuakn ‘Abd Ad-Da’im Al Kahil, namun ‘Abd Ad-Da’im Al Kahil melihat keistimewaan dari angka 7 yang disebut berulang-ulang dalam Al-Qur’an. Ia membuktikan bahwa semua surah, ayat, kata, dan huruf dalam Al-Quran disusun Allah swt secara teratur dengan sistem berbasis angka 7.
Melihat fenomena angka 7 dan 19 dalam Al-Qur’an bukanlah sebuah kebetulan, logika ilmiah dasar beranggapan bahwa suatu kebetulan tidak mungkin selalu berulang dalam sebuah buku kecuali bila si penulis buku tersebut telah mengurutkan tulisannya dengan sebuah metode tertentu.
Terungkapnya i’jaz ‘adadi juga tidak terlepas dari kritik, ini akibat dari tidak konsistennya para peneliti menggunakan metode. Dan seharusnya hasil penelitian Al-Qur’an ini memunculkan kemukjizatan hakiki yang tidak ada faktor kebetulan di dalamnya.
ii
‘adadi ini, sebaiknya kita tidak bersikap apriori ataupun cepat mengambil kesimpulan. Menurut penulis, kedua kalangan Islam tersebut sama-sama mempunyai tujuan yang baik yaitu menjaga Al-Qur’an. Kelompok yang mendukung i’jaz ‘adadi, yaitu ingin membuktikan kemukjizatan Al-Qur’an melalui mukjizat angka-angka yang terkandung di dalamnya. Sementara kalangan yang lain, ingin Al-Qur’an selalu terpelihara dari tangan-tangan orang-orang "dungu" yang menjelaskan Al-Qur’an jauh dari kaedah-kaedah penafsiran muktabar.
ii i
PEDOMAN TRANSLITERASI
Berikut adalah daftar aksara Arab dan padanannya dalam aksara latin yang digunakan dalam skripsi ini1:
Huruf Arab Huruf Latin Keterangan
ا tidak dilambagkan
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt, atas limpahan rahmat dan karunia selalu yang selalu dilimpahkan kepada kita semua. Salawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad saw yang telah membawa perdamaian di bawah naungan Islam.
Alhamdulillah atas ridha Allah swt penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul I’jaz ‘Adadi (Kemukjizatan Angka 7 dan 19 dalam Al-Qur’an). Tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongannya. Hanya Allah swt pelindung dan sebaik-baik manusia di alam ini yakni Muhammad saw.
Penulis menyadari bahwa terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari dukungan dan motifasi dari berbagai pihak, oleh karena itu sebagai rasa hormat, penulis hanya dapat menyampaikan ucapan terima kasih sedalam-dalamnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, M.A selaku Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta beserta jajarannya.
2. Bapak Prof. Dr. Zainul Kamaluddin Fakih, M.A selaku Dekan Fakultas Ushuluddin beserta para pembantu dekan I, II, III.
3. Bapak Dr. Bustamin, M.Si selaku Ketua Jurusan Tafsir Hadis, yang telah memberikan pendidikan akademik kepada penulis.
5. Ibu Dr. Faizah Ali Syibromalisi, M.A, selaku dosen pembimbing dalam skripsi ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kerelaan dan keikhlasannya meluangkan waktu membimbing dan memberikan saran kepada penulis agar dapat menyelasaikan skripsi ini.
6. Segenap dosen Fakultas Ushuluddin, terima kasih atas ketulusannya dalam memberikan ilmu yang telah diberikan kepada penulis. Semoga ilmu yang diajarkan ini bermanfaat bagi masa depan penulis.
7. Pimpinan dan seluruh staf perpustakaan Fakultas Ushuluddin, Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah menjadi sumber bacaan dan data dari awal kuliah hingga selesainnya skripsi ini.
8. Ayahanda mame Samlawi dan ibu Sohanah tercinta, yang telah mengasuh dan mendidik penulis sejak kecil, berkat do’a, cinta dan kasih sayangnya yang tiada henti dan berkat do’anya pula penulis sampai dan mampu menyelesaikan pendidikan ini. Bakti dan do’a penulis haturkan untuk mereka, ”Ya Allah sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka menyayangiku sejak kecil”. Sujud baktiku
kepada mu mame dan ibu.
Miftah Ramadhan Al-Ghifari, Syifa Kamaliatuz Zahra, M. Fikri. Terima kasih atas motivasi dan dukungannya senyum hangat selalu. 10. Keluarga Besar KH. Hasbullah Qamar selaku pimpinan Pondok
Pesantren Banu Al-Qomar, yang telah memberikan ilmu dan nasihat selama penulis berada di pesantren. Penulis tidak akan pernah lupa dengan ilmu dan nasihat-nasihat beliau.
11. Kepada guru-guru penulis di Madrasah Al-Khairiyah Karang Tengah; H. Muktillah S.Ag, Ayatullah, S.Hum, dan seluruh guru-guru yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu. Merekalah yang telah memberikan cakrawala baru kepada penulis hingga gerbang kampus dan gerbang masa depan ini.
12. For my sweet just mine, Khoerunisa ”icha” yang selalu menemani penulis baik suka maupun duka. Cinta dan kasih sayangnya selalu akan penulis kenang.
13. Kawan seperjuangan di Tafsir Hadis angkatan 2007: Budi Prestiawan, Fikri, Miftah, Mukmin, Rusli, Izul, Irwan, Arfan Akbar, Miftahuddin, Nuril, Ajeng, Maisyaroh, Zahro, yang telah bersama-sama penulis kurang lebih empat tahun di Fakultas Ushuluddin. Semoga kita berjumpa di lain waktu.
kecilku, terus semangat jangan pernah padamkan kobaran api KMC di jiwa batur-batur. ”tekun ngederese giat organisasine”.
15. Kawan-kawan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Ciputat, Ketum Cabang HMI Ciputat Ramfalak Siregar, Ketum Komfu Arma Hidayat, Husnul Aqib, Daud Catur dan kawan-kawan yang lain. YAKUSA untuk semuanya.
16. Temen-temen PUI (Persatuan Umat Islam) Jakarta; Asep, Ade Husni, yovi, Evan, Omeh, Cici, Alfi. Makasih semuanya PUI mempunyai warna yang berbeda di hati penulis.
Atas dukungan mereka yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, penulis hanya bisa berharap kepada Allah swt untuk membalas segala kebaikan mereka. Mudah-mudahan Allah swt memberikan amal yang setimpal atas apa yang telah mereka berikan.
Akhirnya penulis hanya tawakal kepada Allah swt atas segala kesalahan dan kekhilafan dalam penulisan skripsi ini. Dan penulis hanya berharap semoga skripsi ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan umunya pagi para pembaca.
Jakarta, 26 November 2011
Penulis
DAFTAR ISI
ABSTRAK...i
KATA PENGANTAR...iii
DAFTAR ISI...vii
PEDOMAN TRANSLITERASI...ix
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah……….1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah………..………..….9
C. Tinjauan Pustaka…….……….…………10
D. Tujuan Penelitian…..………...12
E. Metodologi Penelitian…………..………12
F. Sistematika Penulisan………...………13
BAB II I’JAZ AL-QUR’AN DAN I’JAZ ’ADADI A. I’jaz al-Qur’an 1. Pengertian I’jaz al-Qur’an...15
2. Unsur-unsur mukjizat...19
3. Sisi-sisi Mukjizat al-Quran...21
4. Macam-macam dan Fungsi I’jaz al-Qur’an...29
2. Pengertian I’jaz Adadi...36
3. Sejarah awal I’jaz Adadi...37
4. Aspek-aspek I’jaz Adadi...40
C. Biografi para peneliti I’jaz Adadi...44
BAB III KAJIAN ANGKA 7 DAN 19 DALAM AL-QUR’AN A. Kajian angka 7 menurut ‘Abd Ad-Da’im Al Kahil 1. Penyebutan angka 7 dalam al-Qur’an...48
2. Fenomena angka 7 dalam al-Quran...56
3. Contoh-contoh kemukjizatan angka 7...61
B. Kajian angka 19 menurut Rashad Khalifa 1. Penyebutan angka 19 dalam al-Qur’an...64
2. Fenomena angka 19 dalam al-Qur’an...66
3. Contoh-contoh kemukjizatan angka 19...69
C. Penilaian ulama terhadap fenomena angka 7 dan 19...71
D. Analisa...76
BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan……….…….81
B. Saran……….……82
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang dan Alasan Pemilihan Masalah
Keotentikan Qur’an tidak dapat diragukan lagi. Dari sudut apapun al-Qur’an sulit untuk dibantah keasliannya. Dari segi bahasa, al-al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Tetapi tidak semua orang Arab waktu itu memahami al-Qur’an sebab bahasa Arab al-al-Qur’an adalah sangat istimewa.1
Dari segi kadungannya, al-Qur’an tidak saja memuat ajaran-ajaran yang bersifat relegius keakhiratan melainkan juga berisi masalah muamalah keduniaan seperti ilmu pengetahuan, masalah ekonomi, sosial, kemasyarakatan, pendidikan, dan hubungan antara pemeluk agama.
Dalam ulum al-Qur’an, kajian pembuktian keotentikan al-Qur’an disebut sebagai mukjizat al-Qur’an atau i’jaz al-Qur’an. Barbagai macam segi (wajh) kemukjizatan al-Qur’an dinyatakan oleh para ulama ulum al-Qur’an, yaitu dari segi kebahasaan, segi keilmuan, segi infomasi gaib, dan sebagainya.
Para ulama ulum al-Qur’an pada umumya melihat kemukjizatan al-Qur’an terletak pada susunan kalimat yang indah, pemilihan bahasa yang bagus, serta penempatan kosa katanya yang berimbang.2 Untuk mengetahui mukjizat al-Qur’an dari segi kebahasaan tidaklah mudah harus dibenturkan dengan kaidah-kaidah kebahasaan, bilangan kata dan huruf dalam teks dan naskah al-Qur’an.
1
Didin Saefuddin Buchori, Pedoman Memahami Kandungan Al-Qur’an, (Bogor: Granada Sarana Pustaka, 2005), cet-1, h. 17
2
2
Kajian terhadap teks dalam Qur’an ini telah melahirkan mukjizat al-Qur’an yang berupa bilangan atau angka dalam susunan ayat atau surat bahkan huruf dalam al-Qur’an. Mukjizat ini disebut dengan i’jaz ‘adadi. Dalam kajian ulumul Qur’an klasik, i’jaz ‘adadi belum menjadi topik kajian yang utama ketika
mengkaji segi-segi kemukjizatan al-Qur’an. Namun isyarat akan adanya i’jaz ‘adadi sudah tampak dalam mukjizat al-Qur’an dari segi bahasa.3 I’jaz ‘adadi dimulai dengan berbagai kajian tentang huruf-huruf muqaththa’ah4
Selanjutnya i’jaz ‘adadi atau mukjizat angka-angka dalam al-Qur’an berkembang, sehingga hasilnya diketahui secara luas oleh umat islam. Pengetahuan ini semakin berkembangan pada abad ke-19 hingga sekarang sebagai kemajuan ilmu pengetahuan modern seperti komputerisasi, sehingga membantu secara teknologi untuk mengembangkan dan menggali i’jaz ‘adadi yang terkandung dalam al-Qur’an.
Kata I’jaz (زﺎﺠﻋإ) merupakan bentuk mashdar dari bentuk fi’il yaitu kata a’jaza-yu’jizu (ﺰﺠﻌﯾ -ﺰﺠﻋأ). A’jaza sendiri berasal dari kata ‘ajaza (ﺰﺠﻋ) yang berati lemah5. Secara bahasa a’jaza atau i’jaz berarti melemahkan atau menjadikan sesuatu menjadi lemah/tidak mampu.6
Sedangkan kata ‘adad merupakan bentuk ism (kata benda) dari wajan fi’il (kata kerja) ‘adda (ﺪﻋ) yang bermakna hasaba dan al-ihsha’ (menghitung).7
3
Jalal Al-Din Al-Suyuthi, Al-Itqan Fi Ulum Al-Qur’an, (Beirut: Maktabah Al-Ashriyyah, 1979), j. 4, h. 8
4
Huruf muqaththa’ah adalah huruf arab (dibaca sesuai dengan nama/bunyi hurufnya) yang menjadi salah satu pembuka surat-surat dalam Al-Qur’an.
5
Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir Kamus Arab Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997) h. 898.
6
Muhammad ibn Makram ibn Manzhur, Lisan al-Arab, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th), j.5, h. 369 dan Luwis Ma’luf, al-Munjid fi al-Lughah, (Beirut: Dar al-Masyriq, 2002), cet-39, h. 488
7
3
Menurut Ibn Manzhur, دﺪﻋ berarti menghitung sesuatu, sementara ‘adad sendiri adalah ukuran (miqdar dan mablagh) dari sesuatu yang dihitung.8 Secara bahasa pengertian ‘adadi adalah berkaitan dengan hitungan. Dengan demikian secara istilah didefenisikan i’jaz ‘adadi adalah kemampuan mukjizat yang dimiliki Al-Qur’an dalam segi angka atau bilangan tertentu yang menyusunnya.
Ada beberapa peneliti yang melakukan penelitian terhadap angka-angka dalam al-Qur’an diantaranya; Rashad Khalifa, Abd al-Razzaq Nawfal, Abu Zahra al-Najdi, ‘Abd Ad-Da’im Al Kahil dan di Indonesia ada Rosman Lubis, Fahmi Basya yang banyak melakukan penelitian dan membuat buku yang berkaitan dengan angka-angka dan keseimbangan angka dalam al-Qur’an.
Berkaitan dengan i’jaz ‘adadi di atas, i’jaz ‘adadi mempunyai peranan yang penting terhadap rumusan angka-angka yang mewarnai pembuktian adanya kemukjizatan dalam al-Qur’an. Isyarat-isyarat angka telah tampak tersurat dan tersirat dalam teks-teks al-Qur’an. Al-Qur’an sendiri menyebutkan berbagai bilangan angka, baik bilangan asli/pokok, bilangan bertingkat, maupun bilangan pecahan.9 Dengan banyaknya bilangan angka-angka dalam al-Qur’an ini, maka penulis akan membatasi kajian pada angka 7 dan 19 saja.
Ada beberapa hal mengapa penulis membatasi kajian pada angka 7 dan 19 dan apa keistimewaan angka-angka ini dengan angka yang lainya. karena kedua angka ini sangat istimewa dibandingkan dengan angka-angka yang lain; Misalnya saja angka 7 yang banyak di sebut didalam al-Qur’an, sering ditemukan banyaknya indikasi angka 7 dalam al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi saw, juga
8
Muhammad ibn Makram ibn Manzhur, Lisan al-Arab, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th), j.3, h. 281-282
9
4
pengulangan angka ini dalam tatanan yang sangat teratur di Kitabullah, dan ini mengindikasikan urgensi angka 7.
1. Allah memilih angka tujuh untuk dijadikan jumlah dari tingkatan langit dan bumi. Termuat dalam QS. Al-Thalaq ayat 12. Allah SWT berfirman,
bumi. perintah Allah Berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu”
2. Nabi Nuh a.s. yang mengajak kaumnya untuk berpikir tentang pencipta langit yang tujuh tingkat. Termuat dalam QS. Nuh ayat 15.
Artinya: “tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?”
3. Al-Qur’an diturunkan dalam tujuh huruf
Nabi saw bersabda;
فﺮﺣأﺔﻌﺒﺳ ﻰﻠﻋ لﺰﻧُأ نآﺮﻘﻟا اﺬھ نإ, Artinya:“Al-Qur’an diturunkan dengan 7 huruf.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
5
Artinya: “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.”
Penyebutan angka 7 terakhir kali dalam al-Qur’an adalah surat al-Naba’
Artinya: “dan Kami bina di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh” Dengan hasil penelitian ‘Abd Ad-Da’im Al Kahil menemukan fenomena angka 7 dalam al-Qur’an diantaranya sebagai berikut10;
1. Jumlah surat yang berada diantara surat al-Baqarah dan surat an-Naba’ adalah berjumlah 77 surat. Angka 77 merupakan kelipatan dari angka 7. 11x7=77
Jumlah ayat yang berada diantara ayat ke-29 surat al-Baqarah dengan ayat ke-12 surat an-Naba’ berjumlah 5649 ayat. Angka 5649 merupakan kelipatan dari angka 7.
807x7=5649
2. Mulai dari permulaan surat al-Baqarah hingga akhir surat surat an-Naba’ terdapat 5705 ayat. Bilangan 5705 merupakan kelipatan dari angka 7. 815x7=5705
10
Hisham Thalbah, dkk., Ensiklopedia Mukjizat al-Qur’an dan Hadis (Kemukjizatan
6
3. Jumlah ayat yang mendahului ayat pertama yag mememuat tentang angka 7 berjumlah 35 ayat. Angka 35 adalah kelipatan dari angka 7. Begitu pula jumlah ayat yang berada sebelum ayat terakhir yang menyebut angka 7, yaitu 5684, juga merupakan bilangan kelipatan angka 7 untuk kedua kalinya, 5684=7x812
4. Jumlah ayat mulai dari permulaan surat al-Baqarah hingga ayat pertama yang memuat tentang angka 7 ada 28 ayat. Artinya bilangan tersebut adalah kelipatan dari angka 7 yaitu; 4x7=28, adapun dari ayat terakhir yang menyebut angka 7 dalam surat an-naba’ diketahui bahwa jumlah ayat setelah ayat tersebut hingga akhir surat an-naba’ adalah berjumlah 28 ayat. Artinya bilangan tersebut adalah kelipatan dari angka 7 dengan persamaan 4x7=28.
Bukan hanya angka 7 yang menarik dalam kajian ini tetapi juga angka 19 didalam al-Qur’an yang hanya satu kali yaitu terdapat pada QS. Al-Muddatsir ayat 30. Kebanyakan para mufasir menafsirkan angka 19 dalam ayat ini adalah jumlah malaikat penjaga Neraka Saqar. Namun Rashad Khalifa menafsirkan angka 19 adalah sebuah bilangan yang mengandung rahasia dibalik angka 19.
Rashad Khalifa adalah Seorang ahli biokimia berkebangsaan Amerika keturunan Mesir dan seorang ilmuan muslim di tahun 1974 pertama kali menemukan sistem 19 pada desain al-Qur’an11, yang mencoba mengemukakan makna surat al-Muddatsir ayat 30:
11
7
Artinya: “Dan di atasnya ada Sembilan belas”
Sebagian besar ahli tafsir menafsirkan 19 sebagai jumlah malaikat penjaga Neraka Saqar.12 Menurut Rashad Khalifa, menafsirkan bilangan 19 sebagai jumlah malaikat adalah tidak tepat karena bagaimana mungkin jumlah malaikat dapat dijadikan untuk ujian/tes bagi orang kafir, untuk meyakinkan orang-orang Nasrani dan Yahudi, untuk meningkatkan keimanan orang-orang yang telah beriman dan juga untuk menghilangkan keragu-raguan. Jadi, tepatnya bilangan 19 ini merupakan keajaiban yang besar dari Al Qur’an.13
Rashad Khalifa membuktikan awal idenya dengan mengulas kata
yang terdiri dari 19 huruf ini dapat dibuktikan dari penghitungan yang sangat sederhana sampai dengan yang sangat komplek. Berikut ini hanya sebagian kecil dari keajaiban al Quran (angka 19):
1. Kata disebut sebanyak 114 kali, yang habis dibagi dengan angka 19, yaitu: 19x6=114
2. terdiri dari 19 huruf; habis dibagi dengan 1914 3. Kata Ism (ﻢﺳا) sebanyak 19 kali; habis dibagi dengan 19 4. Kata Allah (ﷲا) sebanyak 2698 kali; habis dibagi dengan 1915 5. Kata Ar-Rahman (ﻦﻤﺣﺮﻟا) sebanyak 57 kali; habis dibagi dengan 19 6. Kata Ar-Rahim (ﻢﯿﺣﺮﻟا) sebanyak 114 kali; habis dibagi dengan 19
12
Darwis Hude, dkk., Cakrawala Ilmu Dalam al-Qur’an, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2002), h. 396.
13
Abah Salma Alif Sampaya, Keseimbangan Matematika Dalam Al-Qur’an, (Jakarta: Republika, 2007), cet-1, h. 55-59
14
Fahmi Basya,Matematika Islam 2 Al-Qur’an 4- Dimensi, (Jakarta: Republika, 2008), h. 97
15
M. Quraish Shihab, Mukjizat al-Qur’an Ditinjau dari Aspek Kebahasaan Isyarat dan
8
7. Jumlah kata-kata dalam wahyu pertama (lima ayat) adalah 19 kata; habis dibagi dengan 19.
8. Jarak wahyu pertama dari surat terakhir (surat an-nas) dalam Al-Qur’an adalah 19 surat; habis dibagi dengan 19
9. Jumlah huruf nun yang mengawali surat Al-Qalam (68) sebanyak 133 buah; habis dibagi dengan 19
10. Surat Al-Alaq terdiri dari 19 ayat; habis dibagi dengan 19
11. Jumlah huruf Qaf dalam surat Qaf (50) sebanyak 57 kali; habis dibagi dengan 1916
Dan juga angka 19 berhubungan dengan kata Wahiddalam Al-Qur’an atau berhubungan dengan simbol ke-Esa-an Tuhan, di mana jumlah nilai gematrikalnya tiap huruf (wahid) atau al-jumal adalah 19 juga. contohnya, و = 6, ا = 1, ح = 8, د = 4, total 19.17 Kata Wahid dalam al-Qur’an disebut 20 kali, tetapi yang berhubungan dengan "Ke-Esa-an Tuhan" hanya 19 kali. Sisanya 1 kali, menyatakan bilangan yang berarti satu. Ini berarti angka 19 ini bisa diartikan sebagai simbol atau cap keesaan Tuhan.
berikut daftar hisab al-jumal atau nilai gematrik tiap huruf hija’iyah yang digunakan oleh Rashad Khalifa:
Huruf Angka Huruf Angka Huruf Angka
ا 1 ي 10 ق 100
ب 2 ك 20 ر 200
ج 3 ل 30 ش 300
د 4 م 40 ت 400
ه 5 ن 50 ث 500
و 6 س 60 خ 600
ز 7 ع 70 ذ 700
16
Suwaidan, S., Numeric Miracles In the Holy Qur’an, www.islamicity.org
17
9
ح 8 ف 80 ض 800
ط 9 ص 80 ظ 900
غ 1000
Melihat fenomena angka 7 dan 19 ini bukanlah sebuah kebetulan, logika ilmiah dasar beranggapan bahwa suatu kebetulan tidak mungkin selalu berulang dalam sebuah buku kecuali bila si penulis buku tersebut telah mengurutkan tulisannya dengan sebuah metode tertentu. Keteraturan bilangan yang kita saksikan sekarang menunjukkan bahwa Allah SWT telah mengurutkan kitab-Nya dengan bentuk yang selaras.
Munculnya fenomena rumusan angka 7 dan 19 dalam al-Qur’an sangat menarik untuk dikaji dan diteliti, namun dalam skripsi ini penulis hanya menjabarkan dari hasil penemuan kedua tokoh yaitu ‘Abd Ad-Da’im Al Kahil dan Rashad Khalifa, maka penulis berniat ingin mengangkatnya menjadi sebuah judul skripsi yaitu: I’jaz ‘Adadi (Kemukjizatan Angka 7 dan 19 dalam Al-Qur’an)
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
a. Pembatasan Masalah
Isyarat-isyarat angka dalam al-Qur’an begitu banyak, baik bilangan asli/pokok (cardinal number), bilangan bertingkat (ordinal number), maupun bilangan pecahan. Oleh karena itu dalam skripsi ini agar masalah tidak melebar pembahasannya dan tidak mengarah kepada maksud dan tujuan dari penulisan skripsi ini, maka penulis perlu membatasi permasalahan skripsi ini yakni lebih menitikberatkan pada I’jaz ‘Adadi dengan menganalisa angka 7 dan 19 dalam al-Qur’an.
10
Dengan demikian, Berdasarkan latar belakang masalah di atas, permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana kemukjizatan al-Qur’an dari segi angka 7 dan 19?
2. Apa metode yang digunakan dalam rumusan angka 7 dan 19 dalam i’jaz ‘adadi?
C. Tinjauan Pustaka
I’jaz ‘Adadi merupakan bagian dari pembahasan mukjizat al-Qur’an,
dalam kajian mukjizat Al-Qur’an banyak disajikan dalam bentuk kitab, buku dan bahkan karya ilmiah. Setelah melakukan penelusuran pustaka yang berkaitan penelitian akademis, penulis tidak menemukan kajian ini dalam bentuk skripsi, namun penulis menemukan dalam bentuk tesis yang berkaitan dengan kemukjizatan al-Qur’an dari segi angka/bilangan yang ditulis oleh; Uun Yusufa, dengan judul ”I’jaz ’Adadi li Qur’an Studi Kritis Diskursus Rumus Angka dalam Al-Qur’an”. Tesis ini mengkaji bilangan-bilangan yang berkaitan dengan I’jaz
’Adadi secara keseluruhan, seperti rumusan keseimbangan angka, rumus
kesesuain angka dengan realitas dan keajaiban angka 11. berbeda dengan penulis yang hanya pembatasi pada obyek kajian angka 7 dan 19 saja.
Tetapi kajian ini banyak ditulis dalam bentuk kitab/buku, diantaranya seperti; Abdurrazaq Naufal, Kemukjizatan Angka-Angka Dalam Al-Qur’an, dalam buku ini Abdurrazaq Naufal menjelaskan keseimbangan-keseimbangan kosa kata dalam al-Qur’an.18
18
Abdurrazaq Naufal, Kemukjizatan Angka-Angka Dalam Al-Qur’an, terj. (Jakarta: PT.
11
Abu Zahra An-Najdi, Al-Qur’an dan Rahasia Angka-Angka, dalam buku ini dijelaskan tentang kesesuaian antara jumlah kata dalam al-Qur’an dengan realitas.19 Rosman Lubis, Keajaiban Angkaa 11 Dalam Al-Qur’an,20 dalam buku ini dijelaskan keajaibaan angka 11 dalam al-Qur’an dengan menghitung jumlah surat, ayat dan huruf tertentu yang habis dibagi dengan angka 11, seperti penjumlahan nomor urut hijaiyyah dari nama allah: 1+23+23+27= 74 kemudian angka 74 menjadi 7+4= 11. Hisham Thalbah, dkk., Ensiklopedia Mukjizat al-Qur’an dan Hadis (Kemukjizatan Angka 7), buku ini berbentuk ensiklopedia yang
dijelaskan kemukjizatan angka 7 dengan mengitung jumlah surat, ayat dan huruf tertentu yang habis dibagi dengan angka 7.21 Fahmi Basya, al-Qur’an, Alam Semesta dan Matematika, buku ini menjelaskan tentang angka-angka dalam
al-Qur’an yang berkaitan dengan fenomena alam semesta.22
D. Tujuan Penelitian
1. untuk membuktikan adanya i’jaz ‘adadi dalam Al-Qur’an
2. untuk mengetahui metodologi yang digunakan dalam rumusan angka-angka dalam i’jaz ‘adadi.
3. Untuk mengetahui penilaian ulama terhadap adanya i’jaz ‘adadi dalam al-Qur’an.
19
Abu Zahra An-Najdi, Al-Qur’an dan Rahasia Angka-Angka,terj. Agus Effendi (Bandung:
Pustaka Hidayah, 2001), cet-8
20
Rosman Lubis, Keajaiban Angkaa 11 Dalam Al-Qur’an, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar,
2001)
21
Hisham Thalbah, et.al, Ensiklopedia Mukjizat al-Qur’an dan Hadis (Kemukjizatan
Angka), terj. Sarif Dede Masyah., et.al, (Jakarta: PT. Sapta Sentosa)
22
12
4. Untuk memenuhi tugas akhir perkuliahan untuk mencapai gelar kesarjanaan Strata Satu (S-1) pada Jurusan Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Sedangkan kegunaan penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan penambahan informasi mengenai mukjizat Al-Qur’an dari segi angka atau bilangan dengan harapan dapat menjadi bahan kajian keIslaman,
khususnya di bidang Tafsir-Hadis. Sekaligus penulis dapat memberikan sumbangsih dalam khazanah ilmu pengetahuan Islam.
D. Metodologi Penelitian
Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan jenis penelitian Library Research (penelitian kepustakaan), yaitu suatu penelitian dengan mengadakan
studi kepustakaan terhadap buku-buku/kitab-kitab, kamus, majalah, koran, artikel dan sebagainya yang ada hubungan dengan masalah yang akan dibahas, baik dari sumber primer (primary sources) maupun sumber sekunder (secondary sources).
Sumber primer (primary sources) penulis mengambil dari buku Hisham Thalbah, dkk., Ensiklopedia Mukjizat al-Qur’an dan Hadis (Kemukjizatan Angka 7), Taslaman, Caner, Miracle of The Qur’an: Keajaiban al-Qur’an Mengungkap
Penemuan-Penemuan Ilmiah Modern, terj. Ary Nilandari. Bandung: Mizan, 2010
dan http/:www.submission.org/miracle-history. Sedangkan untuk sumber sekunder (secondary sources) penulis mengambil dari buku Abdurrazaq Naufal, Kemukjizatan Angka-Angka Dalam Al-Qur’an, Abu Zahra al An-Najdi, Al-Qur’an
dan Rahasia Angka-Angka Fahmi Basya, al-Qur’an, Alam Semesta dan
13
Sedangkan dalam metode penelitian penulis menggunakan metode deskriptif analitis. Metode ini secara singkat, dapat dijelaskan sebagai suatu
pendekatan dengan mendeskripsikan atau menguraikan unsur-unsur yang berkaitan dengan tema yang dimaksud23 dan selanjutnya dianalisis untuk memperoleh penilaian dan kajian yang kritis dan obyektif.
Adapun pedoman yang digunakan dalam penulisan ini merujuk kepada buku “Pedoman Akademik –Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi) yang diterbitkan oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tahun 2007.24
E. Sistematika Penulisan
Skripsi ini terbagi menjadi empat bab, setiap bab terdiri dari beberapa sub-sub bab yang dimaksudkan untuk mempermudah dalam penyusunan serta mempelajarinya, dengan sistematika sebagai berikut :
Bab pertama dimulai dengan pendahuluan yang meliputi: latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, kajian pustaka, tujuan penelitian, metodologi penelitian dan diakhiri dengan sistematika penulisan. Bab ini berusaha memberikan gambaran singkat tentang masalah yang akan dibahas pada bab-bab selanjutnya.
Bab kedua membahas tentang konsep I’jaz al-Qur’an dan I’jaz ’Adadi secara umum yang didalamnya mencakup Pengertian, Unsur-unsur mukjizat, Sisi-sisi Mukjizat al-Quran, Macam-macam dan Fungsi I’jaz al-Qur’an, sedangkan bagian kedua menjelaskan tentang I’jaz ’Adadi yang mencakup Penyebutan
23
Winarno Surachmad, Pengantar Metode Ilmiah Dasar, (Bandung: Tarsito, 1985), h. 139.
24
14
angka-angka dalam al-Qur’an, Pengertian, Sejarah awal I’jaz Adadi, Aspek-aspek I’jaz Adadi dan dalam bab ini disertai juga biografi para peneliti I’jaz ’Adadi.
Bab ketiga ini merupakan inti pembahasan dari skripsi ini, yakni menjelaskan Kemukjizatan angka 7 dan 19 dalam al-Qur’an yang meliputi Penyebutan angka 7 dan 19 dalam al-Qur’an, Fenomena angka 7 dan 19 dan Contoh-contoh kemukjizatannya. Dan adapun pada akhir bab ini dibahas tentang Penilaian ulama terhadap fenomena angka 7 dan 19 dan Analisa dari penulis terhadap fenomena angka 7 dan 19.
15 BAB II
I’JAZ AL-QUR’AN DAN I’JAZ ’ADADI
A. I’jaz al-Qur’an
1. Pengertian I’jaz al-Qur’an
I’jaz al-Qur’an terdiri dari dua kata i’jaz dan al-Qur’an yang kemudian dijadikan satu. Dan untuk mendapatkan pengertian dari i’jaz al-Qur’an, maka perlu diuraikan terlebih dahulu defenisi masing-masing kata.
Kata i’jaz (زﺎﺠﻋإ) merupakan bentuk mashdar dari bentuk fi’il yaitu kata a’jaza-yu’jizu (ﺰﺠﻌﯾ -ﺰﺠﻋأ). A’jaza sendiri berasal dari kata ‘ajaza (ﺰﺠﻋ) yang berati lemah (dha’f)1. Secara bahasa a’jaza atau i’jaz berarti melemahkan atau menjadikan sesuatu menjadi lemah/tidak mampu.2
Sesuatu yang memiliki kemampuan i’jaz berarti memastikan adanya kemampuan mu’jiz (pelaku yang melemahkan). Jika kemampuan melemahkan yang dimiliki oleh mu’jiz tersebut sangat menonjol (kuat), maka ia disebut dengan mu’jizah (ةﺰﺠﻌﻣ). Kata mu’jizah merupakan bentuk ism al-fa’il (kata benda pelaku) yang ditambah ta’ ta’nits (huruf ta’ untuk bentuk mu’annats/perempuan), tambahan huruf ini diujung kata mu’ijz mengandung makna mubalaghah (superlatif).3
1
Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir Kamus Arab Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997) h. 898.
2
Muhammad ibn Makram ibn Manzhur, Lisan al-Arab, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th), j.5, h. 369 dan Luwis Ma’luf, al-Munjid fi al-Lughah, (Beirut: Dar al-Masyriq, 2002), cet-39, h. 488
3
M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat
16
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata mukjizat berarti kejadian ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia.4 Secara istilah Al-Qaththan mendefinisikan i’jaz adalah:
َﻟﺎَﺳِّﺮﻟا ىَﻮْﻋَﺪىِﻓ َﻢﱠﻠَﺳَو ِﮫْﯿَﻠَﻋ ُﷲا ﻰَﻠَﺻ ِﻲِﺒﱠﻨﻟا ِقْﺪِﺻ ُرﺎَﮭْﻇِإ َﻲِھَو ِةَﺪِﻟﺎَﺨﻟْا ِﮫِﺗَﺰِﺠَﻌُﻣ ْﻦَﻋ ِبَﺮَﻌْﻟا ِﺰْﺠَﻋ ِرﺎَﮭﻇﺎِﺑ ِﺔ
ﻢُھَﺪْﻌَﺑ ِلﺎَﯿْﺟَﻷْا ِﺰْﺠَﻋَو ُناْﺮُﻘﻟْا 5
Artinya: “Menampakkan kebenaran Nabi SAW dalam pengakuannya sebagai seorang Rasul dengan menampakkan kelemahan orang arab untuk menghadapi mukjizat yang abadi, yaitu al-Qur’an, dan kelemahan generasi-generasi sesudah mereka.”
Dari defenisi di atas, terlihat jelas bahwa i’jaz merupakan upaya membuktikan kebenaran Nabi Muhammad saw dengan al-Qur’an dengan sekaligus membuktikan ketidakmampuan untuk menandingi dengan sesuatu yang serupa bagi orang arab dan generasi sesudahnya baik itu orang arab maupun non arab.
Dengan demikian dapat dipahami, meskipun kata i’jaz dan kata mukjizat merupakan dua kata yang berakar pada satu kata, sesungguhnya keduanya mempunyai makna yang berbeda. Kata i’jaz menunjuk arti kemampuan atau proses melemahkan, sedangkan mukjizat menunjuk arti pelaku, hal atau peristiwa ajaib yang memiliki kemampuan tersebut. Dengan kata lain, sesuatu hal yang ajaib atau keajaiban adalah mukjizat. Kata “ajaib” atau keajaiban sendiri mempunyai arti: jarang ada, tidak biasa, ganjil, aneh, mengherankan, sesuatu yang aneh, dan tidak dapat diterangkan dengan akal.6 Namun dalam kajian agama Islam
4
Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2008), h. 936.
5
Manna Khalil al-Qathathan, Mabahits fi Ulum al-Qur’an, terj. Mudzakit as (Bogor: Pustaka Litera Antar Nusa, 2009), cet-12, h. 371.
6
17
yang berkaitan dengan kejadian yang ajaib tersebut dikenal dengan istilah irhash, karamah, ma’unah, ihanah/istidraj, dan sihr.7
Umumnya menyebut hal-hal di atas sebagai aneh, ajaib, hebat, dahsyat, tidak biasa, supranatural, mistik, atau luar biasa. Namun, dalam terminologi agama, hal-hal tersebut disebut dengan mukjizat (jika dilakukan Nabi) dan keramat (jika dilakukan orang saleh selain nabi).
Dengan keterangan itu, mukjizat dapat dimaknai sebagai kekuatan luar biasa dan tidak dapat ditandingi yang berasal dari para Nabi dengan izin dan kehendak Allah SWT. serta selaras dengan hukum sebab-akibat sebagai dalil akan kebenaran pengakuan kenabiannya.
Makna ini mencakup beberapa unsur yang menjadi cirri khas mukjizat kenabian :
1. Adanya fenomena yang keluar dari kebiasaan manusia yang tidak bisa didapati dengan sebab-sebab yang wajar. Jadi, mukjizat merupakan kejadian yang berawal dari sejumlah faktor yang tidak wajar.
2. Bahwa perkara yang keluar dari adat kebiasaan itu timbulnya dari para nabi dengan kehendak ilahiah dan izin dari-Nya secara khusus.
Dengan demikian, secara terminologi dalam diskursus agama Islam bahwa mukjizat sebagai suatu hal atau peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seorang
yang mengaku nabi, sebagai bukti kenabiannya yang ditantangkan kepada orang-orang yang ragu, untuk melakukan atau mendatangkan hal serupa, tetapi mereka
7
Istilah irhash, karamah, ma’unah, ihanah/istidraj, dan sihr biasanya digunakan untuk menunjuk kejadian luar biasa, namun masing-masing dimiliki oleh golongan manusia yang berbeda. Irhash dimiliki seseorang sebelum diangkat menjadi nabi, karamah dimiliki oleh para wali atau orang suci, ma’unah dimilki oleh manusia pada umumnya, istidraj dimilki oleh orang fasik atau kafir untuk menambah kehinaannya, sedangkan sihr dimilki oleh manusia dengan bantuan setan. Lihat M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan,
18
tidak mampu melayani tantangan itu. Dengan redaksi yang berbeda, mukjizat di definisikan pula sebagai sesuatu luar biasa yang diperlihatkan Allah melalui para nabi dan Rasulnya, sebagai bukti atas kebenaran pengakuan kenabian dan kerasulannya.
Dengan melihat defenisi-defenisi di atas, kata i’jaz atau mukjizat belum merujuk kepada al-Qur’an karena itu juga dapat berlaku untuk jenis-jenis mukjizat yang lain. Oleh karena itu untuk medapatkan defenisi yang sesuai maka perlu ada defenisi al-Qur’an itu sendiri.
Pengertian al-Qur’an secara etimologi dan terminologi sudah banyak dijelaskan dalam berbagai buku ulum al-Qur’an, seperti defenisi al-Qur’an menurut Muhammad Ali al-Shabuni:
بﻮﺘﻜﻤﻟا مﻼﺴﻟا ﮫﯿﻠﻋ ﻞﯾﺮﺒﺟ ﻦﯿﻣﻷا ﺔﻄﺳاﻮﺑ ﻦﯿﻠﺳﺮﻤﻟاو ءﺎﯿﺒﻧﻷا ﻢﺗﺎﺧ ﻲﻠﻋ لﺰﻨﻤﻟا ﺰﺠﻌﻤﻟا ﷲا مﻼﻛ ﺘﺨﻤﻟا ﮫﺤﺗﺎﻔﻟا ةرﻮﺴﺑ ءوﺪﺒﻤﻟا ﮫﺗوﻼﺘﺑ ﺪﺒﻌﺘﻤﻟا ﺮﺗاﻮﺘﻟﺎﺑ ﺎﻨﺒﻟإ لﻮﻘﻨﻤﻟا ﻒﺣﺎﺼﻤﻟا ﻲﻓ .سﺎﻨﻟا ةرﻮﺴﺑ ﻢ
8
Artinya: “kalam (perkataan) Allah yang diturunkan kepada penutup nabi dan rasul (Muhammad saw) dengan perantara al-Amin Jibril as yang ditulis dalam mushaf, diriwayatkan secara mutawatir, membacanya bernilai ibadah, dimulai dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas”
Dari defenisi di atas, maka al-Qur’an memiliki beberapa batasan, yaitu: (1) kalam Allah SWT, (2) melalui malaikat Jibril as, (3) diturunkan kepada Nabi
Muhammad saw, (4) membacanya bernilai ibadah, (5) diriwayatkan secara mutawattir (6) ditulis dalam mushaf (7) dimulai dengan surat al-Fatihah dan
diakhiri dengan surat an-Nas.
Setelah menjelaskan pengertian i’jaz, mukjizat dan al-Qur’an maka dapat diambil kesimpulan bahwa i’jaz al-Qur’an berarti kemapuan yang dimilki
8
19
Qur’an untuk membuktikan kenabian Muhammad saw dan melemahkan penantangnya dalam membuat hal serupa. Sedangkan mukjizat al-Qur’an adalah suatu hal luar biasa yang dimiliki al-Qur’an untuk membuktikan kenabian Muhammad saw dan tidak dapat ditandingi dengan hal serupa.
2. Unsur-unsur mukjizat
Jika kita memperhatikan defenisi-defenisi di atas, terlihat banyak unsur-unsur penting yang harus menyertai sesuatu itu sehingga ia dapat dinamai mukjizat. Unsur-unsur tersebut adalah:9
a. Hal atau peristiwa luar biasa
Peristiwa-peristiwa alam, misalnya, yang terlibat sehari-sehari, walaupun menakjubkan tidak dinamai mukjizat, karena ia telah merupakan sesuatu yang biasa. Yang dimaksud dengan luar biasa adalah sesuatu yang berada di luar jangkauan sebab dan akibat yang diketahui secara umum hukum-hukumnya. Dengan demikian hipnotis atau sihir walaupun sekilas terlihat ajaib atau luar biasa, namun karena ia dapat dipelajari maka ia tidak termasuk dalam pengertian ”luar biasa” dalam defenisi di atas.
b. Terjadi atau dipaparkan oleh seorang yang mengaku nabi
Tidak mustahil terjadi hal-hal di luar kebiasaan pada diri siapa pun. Namun apabila bukan dari seorang yang mengaku nabi, maka ia tidak dinamai mukjizat. Boleh jadi sesuatu yang luar biasa tampak pada diri seorang yang kelak bakal menjadi nabi, ini pun tidak dinamai mukjizat tetapi irhash.
9
M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat
20
Bertitik tolak dari keyakinan umat Islam bahwa Nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir, maka tidak mungkin lagi terjadi mukjizat sepeninggalan Nabi Muhammad saw, walaupun ini bukan berarti bahwa keluarbiasaan tidak dapat lagi terjadi dewasa ini.
c. Mengandung tantangan terhadap yang meragukan kenabian
Tentu saja tantangan ini harus berbarengan dengan pengakuannya sebagai nabi, bukan sebelum atau sesudahnya. Di sisi lain, tantangan tersebut harus pula merupakan sesuatu yang sejalan dengan ucapan sang nabi. Kalau misalnya ia berkata, ”batu ini dapat berbicara,” tetapi ketika batu tersebut berbicara, dikatakannya bahwa ”sang penantang berbohong” maka keluarbiasaan ini bukanlah mukjizat tetapi ihanah atau istidraj.
d. Tantangan tersebut tidak mampu atau gagal dilayani
21 3. Sisi-Sisi Mukjizat al-Qur’an
Al-Qur’an merupakan satu-satunya kitab samawi yang dengan jelas dan tegas menyatakan bahwa tidak seorang pun yang mampu mendatangkan kitab sepertinya, meskipun seluruh manusia dan jin berkumpul untuk melakukan hal itu.10 Bahkan, mereka tidak akan mampu sekalipun untuk menyusun, misalnya, sepuluh surat saja,11 atau malah satu surat pendek sekalipun yang hanya mencakup satu baris saja.12
Oleh karena itu, al-Qur’an menantang seluruh umat manusia untuk melakukan hal itu. Dan banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an yang menekankan tantangan tersebut. Sesungguhnya ketidakmampuan mereka untuk mendatangkan hal yang sama dan memenuhi tantangan tersebut merupakan bukti atas kebenaran kitab suci itu dan risalah Nabi Muhammad saw dari Allah SWT.13
Dengan demikian, tidak diragukan lagi bahwa al-Qur’an telah membuktikan pengakuannya sebagai mukjizat. Sebagaimana Rasul saw pembawa kitab ini, telah menyampaikannya kepada umat manusia bahwa al-Qur’an sebagai mukjizat yang abadi dan bukti yang kuat atas kenabiannya hingga akhir masa.
Atas dasar uraian di atas, setiap manusia yakin bahwa al-Qur’an merupakan kitab samawi yang istimewa, yang tidak mungkin ditiru atau dipalsukan, dan tidak mungkin pula bagi setiap individu atau kelompok manapun untuk mendatangkan kitab yang sepadan dengannya, sekalipun mereka
10
Lihat QS. Al-Isra'/17: 88.
11
Lihat QS. Hud/11: 13.
12
Lihat QS. Yunus/10: 38.
13
22
mengerahkan seluruh kekuatan dan telah menjalani pendidikan dan pelatihan demi hal itu. Artinya, kitab suci itu memiliki ciri-ciri kemukjizatan, yaitu luar biasa, tak bisa ditiru dan dipalsukan, dan diturunkan sebagai bukti atas kebenaran kenabian seseorang.
Dengan demikian untuk membuktikan al-Qur’an adalah mukjizat yang hakiki banyak sekali tokoh-tokoh yang mengspesifikasikan aspek-aspek mukjizat al-Qur’an, sebut saja al-Suyuthi yang membagi mukjizat menjadi dua, yakni mukjizat hissiyyah (indrawi) dan mukjizat ‘aqliyyah (rasional). Kebanyakan mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Bani Israil adalah bersifat hissiyyah, hal itu disebabkan oleh kebodohan dan kelemahan pandangan (pemikiran) mereka, seperti; seperti unta Nabi Shaleh as, tongkatnya Nabi Musa as dan Nabi Ibrahim as yang tidak terbakar dengan api. Sedangkan kebanyakan mukjizat yang dianugrahkan kepada umat Islam bersifat ‘aqliyyah sesuai dengan kecerdasan, kepintaran dan kesempurnaan daya nalarnya, seperti al-Qur’an yang mukjizatnya terus berlaku sampai hari kiamat, yang mukjizatnya tidak hancur setelah masa kenabiannya berakhir. Adapun kemukjizatan al-Qur’an ini dapat disaksikan dengan gaya nalar dan pandangan batin manusia dan karena itu orang yang tidak menyaksikan turunnya wahyu dapat mengimaninya. Sebab, apa yang disaksikan oleh kasatmata akan sirna seiring dengan sirnanya objek yang dilihat sedangkan apa yang ditangkap oleh mata hati dan daya nalar akan bersifat abadi dan dapat disaksikan terus menerus oleh orang-orang yang datang kemudian.14
14
23
Menurut Muhammad Husayn al-Thabathaba’i, mukjizat al-Qur’an merujuk kebeberapa hal, diantaranya: keluasan pengetahuan yang dikandungnya; kepribadian Nabi Muhammad saw yang menyampaikan al-Qur’an; kandungan berita gaib di dalamnya; bersihnya al-Qur’an dari pertentangan di dalamnya; dan al-Qur’an mengungguli kitab manapun dalam keindahan maknanya.15
Imam Fakhrudin Razi mengatakan bahwa aspek kemukjizatan al-Qur’an terletak pada kefasihan kata-kataya, keunikan gaya bahasanya, serta kesempurnaan redaksinya. Berbeda dengan al-Razi, al-Zamaksari menegaskan bahwa aspek kemukjizatan al-Qur’an dikembalikan pada susunan spesifiknya (al-ta’lif al-khashsh), bukan pada susunan globalnya (muthlaq al-(al-ta’lif).16 Sedangkan, M. Quraish Shihab membagi mukjizat al-Qur’an dari tiga aspek, yaitu; aspek kebahasaan, isyarat ilmiah dan pemberitaan ghaib.
Dari sekian banyak aspek-aspek mukjizat al-Qur’an diatas, maka secara umum dapat disimpulkan, bahwa mukjizat al-Qur’an meliputi: aspek kebahasaan, pemberitaan ghaib, dan isyarat ilmiah. Untuk lebih jelasnya ketiga aspek mukjizat al-Qur’an dijelaskan berikut ini:
1. Kemukjizatan al-Qur’an dari aspek bahasa
Al-Qur’an pertama kali berinteraksi dengan masyarakat Arab pada masa Nabi Muhammad saw. Keahlian mereka adalah bahasa dan sastra Arab. Penyair mendapat kedudukan yang sangat istimewa dalam
15
Muhammad Husayn al-Thabathaba’i, al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, (Beirut: Mu’assasah al-I’lami li al-Mathbu’at, 1991), cet-1, j. 1, h. 63-73.
16
24
masyarakat Arab, sebenarnya mereka yang hidup pada masa turunnya al-Qur’an adalah masyarakat yang paling mengetahui tentang keunikan dan keistimewaan Qur’an. Tetapi sebagian mereka tidak dapat menerima al-Qur’an karena pesan-pesan yang dikandungnya merupakan sesuatu yang baru, di samping tidak sejalan dengan adat kebiasaan dan bertentangan dengan kepercayaan mereka. Namun mereka tidak semuanya menolak, oleh karena itu sesekali mereka menyatakan bahwa al-Qur’an adalah syair, karena mereka menyadari keindahan susunan dan nada irama al-Qur’an yang sangat menyentuh bagaikan syairnya para penyair ulung. Tetapi al-Qur’an bukan syair seperti yang mereka kenal selama ini. bahkan mereka menuduh bahwa al-Qur’an adalah sihir ulung dan perdukunan.17
Dari penjelasan di atas penulis dapat menarik kesimpulan bahwa keunikan dan keistimewaan al-Qur’an dari segi bahasa merupakan kemukjizatan pertama yang ditujukan kepada masyarakat Arab yang dihadapi al-Qur’an pada masa turunnya, justru kemukjizatan yang dihadapkan kepada mereka ketika itu bukan dari segi isyarat ilmiahnya atau segi pemberitaan gaibnya, karena kedua aspek ini berada di luar pengetahuan dan kemampuan mereka. Sementara kalau seseorang atau masyarakat tidak dapat mengetahui atau merasakan betapa indah dan teliti bahasa al-Qur’an, bukan berarti aspek ini tidak ditantangkan kepada mereka.
17
M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat
25
Hal ini juga tidak mengurangi keistimewaannya dari segi bahasa, akan tetapi karena mereka tidak memahaminya, maka perlu ditampilkan aspek lain dari keistimewaan al-Qur’an yang mereka pahami seperti isyarat ilmiah atau pemberitaan gaibnya, maka kalau pada saat ini ada seorang yang merasa mampu dalam bidang bahasa, maka al-Qur’an akan tetap tampil menantangnya dalam bidang kebahasaan. Seperti tantangan al-Qur’an untuk menyusun serupa dengannya, atau menyusun lebih kurang dari sepuluh surat saja.
Bahasa Arab sejak masa turunnya al-Qur’an hingga saat ini telah melewati periode-periode yang beraneka ragam, baik masa kejayaan atau masa kemundurannya, pada masa peradaban dan masa primitif, namun al-Qur’an tetap berada “di atas” dari hasil seluruh karya yang ada. Karena di dalamnya terdapat susunan kata-kata yang istimewa, terdapat gaya yang hakiki, majaz, ijaz dan itnab meskipun bahasa itu telah meningkat dan
tinggi tetapi di hadapan al-Qur’an, dengan kemukjizatan bahasanya, ia menjadi pecahan-pecahan kecil yang tunduk menghormat dan takut terhadap uslub al-Qur’an.18 Kemukjizatan dari segi bahasa ini dapat dilihat diantaranya melalui: pertama Susunan kata dan kalimat al-Qur’an yang bercirikan, yaitu; Mempunyai nada dan langgamnya yang terasa berbeda dari yang lainnya, bukan syair ataupun puisi, namun terasa terdengar mempunyai keunikan dalam irama dan ritmenya. Nada-nadanya bisa menggerakkan manusia untuk menangis dan bersuka-cita.
18
26
Hal ini disebabkan oleh huruf dari kata-kata yang dipilih melahirkan keserasian irama dalam rangkaian kalimat ayat-ayatnya. Seperti misalnya dalam surat An-Nazi’at/79 1-14.19
Artinya:1. demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras, 2. dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan
lemah-lembut,
3. dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat, 4. dan (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang, 5. dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia).
6. (Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncang alam,
7. tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. 8. hati manusia pada waktu itu sangat takut, 9. pandangannya tunduk.
10. (orang-orang kafir) berkata: "Apakah Sesungguhnya Kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan semula?
11. Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila Kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?"
12. mereka berkata: "Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan".
13. Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah satu kali tiupan saja, 14. Maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi.
Kedua Mempunyai Keseimbangan Redaksi, Abdurraziq Naufal
dalam bukunya al-‘Ijaz al-‘Adad al-Qur’an al-Karim (Kemukjiatan dari segi Bilangan dalam al-Qur’an), mengemukakan sekian banyak contoh tentang keseimbangan tersebut, diantaranya; Keseimbangan antara jumlah
19
M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat
27
bilangan kata dengan antonimnya; تﺎﯿﺤﻟا (kehidupan) dan تﻮﻤﻟا (kematian) masing-masing sebanyak 145 kali, ﻊﻔﻨﻟا (manfaat) dan دﺎﺴﻔﻟا (muradar/kerusakan) masing-masing sebanyak 50 kali, ﺮﺤﻟا (panas) dan دﺮﺒﻟا(dingin) masing-masing 4 kali. تﺎﺤﻟﺎﺼﻟا(kebajikan) dengan تﺎﺌﯿﺴﻟا (keburukan) ada 167 kali. Dan masih banyak lagi kesimbangan-kesimbangan redaksi al-Qur’an yang menunjukkan keunggulan redaksi dan bahasa al-Qur’an.
2. Isyarat-isyarat ilmiah
Al-Qur’an berbicara panjang lebar tentang manusia, dan salah satu yang diuraikannya adalah persoalan reproduksi manusia, serta tahap-tahap yang dilaluinya hingga tercipta sebagai manusia ciptaan Tuhan yang lain dari yang lain. Berikut dikemukakan sekelumit tentang persoalan ini.
Qs. An-najm/53: 45-46
Artinya: dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita. dari air mani, apabila dipancarkan.
28
huruf “X”. sedangkan ovum hanya semacam, yaitu yang dilambangkan X. apabila yang membuahi ovum adalah sperma yang memiliki kromosom Y, maka anak yang dikandung adalah laki-laki, dan bila X bertemu dengan X, maka anak yang dikandung adalah perempuan. Jika demikan yang menentukan jenis kelamin adalah nuthfah yang dituangkan sang ayah itu.20
3. Pemberitaan gaib
Adanya berita ghaib dalam al-Qur’an juga menunjukkan bahwa kitab suci tersebut betul-betul wahyu Allah SWT karena tidak mungkin hal-hal yang terjadi ratusan ribu tahun yang lalu bisa diketahui oleh Nabi apalagi menceritakannya, kalau bukan wahyu dari Allah SWT yang Maha Mengetahui segala rahasia dan kejadian21.Berita ghaib itu bisa mengenai kejadian yang telah lalu, kejadian sekarang ataupun kejadian yang akan datang. Seperti dalam QS. Ar-Rum/30:2-3
terdekat23 dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang”24.
Dalam ayat di atas disebutkan bahwa bangsa Romawi akan menang terhadap bangsa Persia, setelah dia dikalahkan. Kemenangan bangsa Romawi itu belum terjadi, waktu ayat itu diturunkan. Tetapi,
20
M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat
Ilmiah, dan Pemberitaan Ghaib, (Bandung: Mizan, 2003), cet-4, h. 167-168.
21
Abdul Djalal, Ulumul Qur’an, (Surabaya: Dunia Ilmu, 1998) , hal 287
22
Maksudnya: Rumawi Timur yang berpusat di Konstantinopel.
23
Maksudnya: terdekat ke negeri Arab Yaitu Syria dan Palestina sewaktu menjadi jajahan kerajaan Rumawi Timur.
24
29
isyarat al-Qur’an tersebut tepat karena beberpa tahun kemudian bangsa Romawi dapat mengalahkan bangsa Persia. Dengan kejadian yang demikian nyatalah kebenaran Nabi Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul dan kebenaran al-Quran sebagai firman Allah SWT.
4. Macam-macam I’jaz al-Qur’an dan Fungsi I’jaz al-Qur’an
a. Macam-macam I’jaz al-Qur’an
Macam-macam i’jaz al-Qur’an yang terungkap antara lain: i’jaz
balaghi (berita mengenai hal ghaib), i’jaz tasyri’ (perundang-undangan),
i’jaz ilmi, i’jaz lughawi (keindahan redaksi Al-Qur’an), i’jaz thibby
(kedokteran), i’jaz falaky (astronomi), i’jaz adady (angka-angka), i’jaz
i’lami (informasi), i’jaz thabi’i (fisika) dan lain sebagainya. Karena
banyaknya berbagai macam i’jaz Al-Qur’an, seperti Afzalur Rahman
menyebut sekitar 27 macam ilmu pengetahuan yang diisyaratkan dalam
al-Qur’an25 dan Darwis Hude menyebutkan 30 macam ilmu pengetahuan
yang terdapat dalam al-Qur’an.26
Maka dalam hal ini akan diuraikan beberapa bagian dari
macam-macam i’jaz Al-Qur’an antara lain:
1. I’jaz Balaghi
Sebagian ulama’ mengatakan bahwa mukjizat al-Qur’an adalah
berita ghaib, contohnya adalah Fir’aun yang mengejar Nabi Musa as,
hal ini diceritakan dalam QS. Yunus/10: 92
25
Lihat Afzalur Rahman, al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan. Terj. M. Arifin, (Jakarta: Bina Aksara, 1980)
26
30 supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan Sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami.”
Berita-berita ghaib yang terdapat pada wahyu Allah SWT yakni
Taurat, Injil, dan al-Qur’an merupakan mukjizat. Berita ghaib dalam
wahyu Allah SWT itu membuat manusia takjub, karena akal manusia
tidak mampu mencapai hal-hal tersebut.
2. I’jaz ’Ilmi
Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT mengumpulkan beberapa
macam ilmu, di antaranya ilmu astronomi, biologi, fisika, kedokteran,
dan masih banyak ilmu-ilmu yang terkandung di dalam al-Qur’an,
semuanya itu menimbulkan rasa takjub. Begitulah i’jaz al-Qur’an dari
segi ilmi itu betul-betul mendorong kaum muslimin untuk berfikir dan
membukakan pintu-pintu ilmu pengetahuan. Menurut Darwis Hade
dkk dalam bukunya Cakrawala Ilmu dalam al-Qur’an menyebutkan
banyak sekali isyarat ilmiah yang ditemukan dalam al-Qur’an,
misalnya: Cahaya matahari bersumber dari dirinya sendiri dan cahaya
bulan merupakan pantulan dan planet-planet berputar mengikuti
porosnya yang sudah ditentukan, sebagaimana dijelaskan dalam
27
31 Artinya: “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui”.
Informasi al-Qur’an tantang matahari sebagai pusat tatasurya dengan jelas dikemukakan di dalam QS. Yasin/36: 38. Bumi mengitari matahari, demikian pula bulan beredar mengitari bumi. Ayat ke-39 dari surat Yasin mengindikasikan demikian dan keharmonisan benda-benda angkasa, antara matahari dan bulan, antara siang dan malam, peredaran planet-planet pada orbitnya, dengan jelas dilukiskan dalam ayat 40 dari surat yasin.28
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa al-Qur’an telah menginformasikan banyak hal berkaitan dengan ilmu astronomi. Informasi ini pada umumnya menggugah manusia agar
memperhatikan, merenungkan, dan mengobservasi benda-benda
angkasa serta gejala-gejala alam yang ditimbulkannya. Karena jauh
sebelum ilmu-ilmu modern menemukan tentang ilmu astronomi,
al-Qur’an terlebih dahulu yang telah menjelaskannya hal tersebut. Dan
28
32
ini membuktikan bahwa al-Qur’an adalah mukjizat yang tidak
diragukan lagi.
3. I’jaz Tasyri’i
Al-Qur’an menetapkan peraturan pemerintah Islam, yakni
pemerintah yang berdasarkan musyawarah dan persamaan serta
mencegah kekuasaan pribadi. Firman Allah SWT dalam QS. Ali
Artinya: “dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu”29. Al-Qur’an menetapkan perkara yang sangat dibutuhkan oleh
manusia, yakni agama, jiwa, akal, nasab (keturunan) dan harta benda.
Di atas lima perkara ini disusun sanksi-sanksi hukum yang
berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Ini dapat dilihat dalam fiqh
Islam, yaitu yang bersangkutan dengan jinayat dan huduud.
4. I’jaz ’Adadi
I’jaz ’adadi merupakan rahasia angka-angka dalam al-Qur’an. seperti kata as-syahr (bulan) disebut di dalam al-Qur’an sebanyak 12 kali; yaitu sebanyak jumlah bulan dalam setahun. Demikian juga kata al-yaum (hari) yang disebut sebanyak 365 kali; yaitu sebanyak hari dalam setahun.30
Selain itu al-Qur’an menjelaskan bahwa langit ada tujuh
tingkat, penjelasan ini diulangi sebanyak tujuh kali pula dalam QS.
Al-Baqoroh: 29, QS. Al-Isra’: 44, QS. Al-Mukminun: 86, QS.
29
Maksudnya: urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya.
30
33
Fushshilat: 12, QS. Ath-Thalaq: 12, QS. Al-Mulk: 3, dan QS. Nuh:
15.
b. Fungsi-fungsi I’jaz al-Qur’an
Ditampakkanya mukjizat terkadang terjadi demi memenuhi tuntutan permintaan manusia atau terjadi tanpa permintaan mereka dengan tujuan untuk memperkenalkan dan menyempurnakan hujjah Allah SWT atas manusia, bukan untuk memaksa mereka agar menerima dakwah, tunduk dan taat secara terpaksa kepada aturan Allah SWT.
Mukjizat yang dimiliki al-Qur’an memiliki beberapa fungsi diantaranya adalah:
1. Bukti kerasulan Nabi Muhammad saw
Membuktikan dan mengukuhkan kebenaran kenabian, disetiap pengakuan kenabian mestilah disertai dengan kemampuan melakukan mukjizat. Artinya, jika seseorang menyatakan dirinya Nabi, maka jika ia diminta—dengan sungguh-sungguh—oleh umat untuk melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh manusia umumnya, maka ia harus siap dan mampu melakukannya.
2. Bukti kebenaran al-Qur’an
34 3. Menguatkan iman
Salah satu fungsi mukjizat al-Qur’an adalah untuk menguatkan keimanan terhadap al-Qur’an. Yang berimplikasi langsung terhadap elemen keimanan yang lain. Pengetahuan tentang i’jaz al-Qur’an menguatkan keyakinan bagi orang-orang yang beriman terhadap al-Qur’an, karena kitab ini tidak pernah ditandingi dengan hal serupa lainnya, dan dikaji keilmuannya pada setiap masa. Bagi orang-orang yang tidak beriman, maka fungsi ini tidak berlaku semestinya, karena keimanan tidak ditentukan karena pengakuan akan kemukjizatan al-Qur’an, tetapi hidayah Allah SWT.
4. Melemahkan musuh-musuh nabi
Mukjizat sangat penting dimiliki oleh seorang Nabi, misalnya, salah satu fungsi mukjizat adalah melemahkan musuh-musuh Nabi yang ingin menyesatkan umat. Maksudnya, jika ada seorang yang bukan Nabi tetapi memiliki kekuatan luar biasa (mungkin berasal dari setan) yang digunakan untuk menyesatkan manusia, maka sesuai dengan rahmat dan kebijaksanaan Allah, maka Dia mesti mengutus seorang Nabi untuk melemahkan kemampuan orang tersebut, sehingga kejahatan tidak akan bisa bertahan selamanya.31
31
35 B. I’jaz ’Adadi dalam al-Qur’an
1. Penyebutan angka-angka dalam al-Qur’an
Angka/bilangan sangat femiliar ditemukan di dalam al-Qur’an, al-Qur’an telah menyebutan berbagai angka-angka di dalam al-Qur’an dan fenomena ini membuktikan bahwa angka/bilangan adalah isyarat terhadap upaya pembuktian kemukjizatan dalam al-Qur’an.
Al-Qur’an menyebut berbagai angka-angka baik itu bilangan asli/pokok (cardinal number), bilangan bertingkat (ordinal number), maupun bilangan pecahan. Bilangan asli yag terdapat dalam al-Qur’an ada 30 macam baik dari angka yang terkecil hingga angka yang terbesar. Angka-angka tersebut adalah: satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas, sembilan belas, dua puluh, tiga puluh, empat puluh, lima puluh, enam puluh, tujuh puluh, delapan puluh, sembilan puluh sembilan, seratus, dua ratus, tiga ratus, seribu, dua ribu, tiga ribu, lima ribu, lima puluh ribu, dan seratus ribu.32
Angka atau bilangan yang disebutkan di atas ialah angka atau bilangan asli/pokok (cardinal number). Selain itu, dalam al-Qur’an juga terdapat bilangan bertingkat (ordinal number), di dalam al-Qur’an ada 7 macam bilangan
32
36
bertingkat yaitu: kesatu, kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, kedelapan.33 Selain bilangan bilangan asli/pokok (cardinal number) dan bilagan bertingkat (ordinal number) al-Qur’an juga menjelaskan bilangan-bilangan pecahan, di dalam al-Qur’an terdapat 6 macam bilangan pecahan, yaitu: seperdua, sepertiga, seperempat, seperlima, seperenam, dan seperdelapan.34
2. Pengertian I’jaz ’Adadi
I’jaz ’Adadi terdiri dari kata i’jaz dan ’adadi, kata i’jaz telah dijelaskan dalam pembahasan sebelumya, maka perlu dijelaskan pengertian kata ’Adadi, yang berasal dari kata ’adad.
kata ‘adad merupakan ism (kata benda) dari bentuk fi’il (kata kerja) ‘adda (ﺪﻋ) yang bermakna hasaba dan al-ihsha’(menghitung).35 Menurut Ibn Manzhur, دﺪﻋ (’adada) berarti menghitung sesuatu, sementara ‘adad sendiri adalah ukuran
(miqdar dan mablagh) dari sesuatu yang dihitung.36 Tambahan huruf ya’ al-nisbah dibelakang kata ’adad berfungsi kepada penisbatan kepada jenis, atau berkaitan dengan ’adad. Jadi secara bahasa pengertian ‘adadi adalah berkaitan dengan hitungan.
33
Drawis Hude.,dkk, Cakrawala Ilmu dalam Al-Qur’an , (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2002) h. 388-390, bilangan kesatu terdapat pada: QS. al-An’am/6: 14, kedua: QS. at-Taubah/9: 40, ketiga: QS. Yasin/36: 14, keempat: QS. Al-mujadilah/58: 7, kelima: QS. An-nur/24:7, keenam: QS. Al-kahf/18: 22, kedelapan: QS. Al-kahf/18: 23.
34
Drawis Hude., dkk, Cakrawala Ilmu dalam Al-Qur’an , (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2002) h. 390-391, yaitu: bilangan seperdua terdapat pada: QS nisa/4: 12, sepertiga: QS an-nisa/4: 11, seperempat : QS an-an-nisa/4: 12, seperlima: QS al-anfal/8:41, seperenam : QS an-an-nisa/4: 11, dan seperdelapan: QS an-nisa/4: 12.
35
Luwis Ma’luf, al-Munjid fi al-Lughah, (Beirut: Dar al-Masyriq, 2002), cet-39, h. 490. Lihat juga Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir Kamus Arab Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997) h. 903.
36
37
Dalam Kamus Bahasa Indonesia, kata adad diartikan dengan kata bilangan dan jumlah.37 Jika ditambahkan dengan ya’ al-nisbah maka menjadi; berkaitan dengan angka atau bilangan. Oleh karena itu jika i’jaz ’adadi diindonesiakan maka artinya mukjizat yang berkaitan dengan angka atau bilangan tertentu. Dengan demikian secara istilah didefenisikan i’jaz ‘adadi adalah kemampuan mukjizat yang dimiliki al-Qur’an dalam segi angka atau bilangan tertentu.
3. Sejarah awal I’jaz Adadi
Sejarah awal i’jaz ’adadi berawal dari penghitungan huruf, ayat dan surat dalam al-Qur’an. Berawal dari kira-kira pada abad ketiga Hijriyah, tepatnya pada pada masa kekuasaan Abd Al-Malik Marwan (685-705 M) seorang gubernur Baghdad. Pada masa ini penghitungan huruf, ayat, surat dalam al-Qur’an dengan menggunakan biji gandum, dari penghitungan tersebut diperoleh jumlah huruf, ayat, surat dalam al-Qur’an. Berikut ini adalah riwayat penghitungan tersebut.38
Diriwayatkan oleh sebagian mereka bahwasanya ia ditanya: ”bagaimana kalian menghitung huruf-huruf al-Qur’an?” dia menjawab: ”dengan gandum”. Diriwayatkan juga mereka menghitungnya selama empat bulan. Menurut penduduk Madinah pertengahan Qur’an itu pada surat al-Kahfi, ketika Allah SWT berfirman: ma lam tastathi’ ’alayh shabran (apa yang telah membuat engkau tidak sabar) (QS. Al-kahf: 78). Al-Hajjaj bertanya kepada mereka: ”beritahu aku huruf al-Qur’an mana yang
37
Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2008), h. 7.
38
38
tengah-tengah al-Qur’an?” lantas mereka menghitung dan sepakat bahwa huruf tengah-tengahnya pada surat al-Kahf, yaitu pada firman Allah SWT: walyatalaththaf. Huruf ta’ pada setengah pertama al-Qur’an dan huruf lam
pada setengan terakhir al-Qur’an. WAllahu a’lam bi al-shawab...inilah hitungan surat, kata dan huruf al-Qur’an.
Penghitungan huruf, ayat dan surat dalam al-Qur’an ini walaupun dengan menggunkan metode yang sangat sederhana, tetapi sangat kecil akan terjadi kesalahan dalam penghitungannya. Dikarnakan generasi pada masa itu hanya mengacu pada satu mushaf yaitu mushaf Utsmani serta seragam dalam rasm dan qira’ah-nya dan juga adanya kesamaan metode penghitungan dan usaha seperti ini
membuktikan perhatian mereka sangat besar terhadap al-Qur’an, yang tidak mememahi al-Qur’an sebagai hafalan saja melainkan juga al-Qur’an sebagai sebuah teks tertulis yag harus dijaga.
Dalam penghitungan seperti di atas juga terdapat dalam kitab-kitab tafsir. Di antaranya adalah kitab Lubab al-Ta’wil fi Ma’ani al-Tanzil karya Aliyuddin Ali ibn Muhammad al-Baghdadi al-Khazin dan Tafsir al-Munir aw Marah Labid karya Muhammad Nawawi al-Jawi. Dalam kitab tersebut, pada awal setiap surat selalu disebutkan jumlah ayat, kata dan huruf dalam surat tersebut.