• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perilaku Masyarakat Indonesia dalam Penggunaan Internet

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perilaku Masyarakat Indonesia dalam Penggunaan Internet"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

PERILAKU MASYARAKAT INDONESIA DALAM

PENGGUNAAN INTERNET

KARINA DIAN LESTARI

DEPARTEMEN STATISTIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Perilaku Masyarakat Indonesia dalam Penggunaan Internet adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

(4)

ABSTRAK

KARINA DIAN LESTARI. Perilaku Masyarakat Indonesia dalam Penggunaan Internet. Dibimbing oleh HARI WIJAYANTO, LA ODE ABDUL RAHMAN, dan SITI MEININGSIH.

Peranan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang begitu besar menyebabkan penggunaan TIK, khususnya telepon seluler (ponsel) dan internet, telah menjadi bagian dari keseharian hidup manusia. Oleh karena itu, diperlukan penggambaran perilaku pengguna internet dari hasil pengamatan dan evaluasi. Penggambaran perilaku ini dimaksudkan agar dapat dibangun kebijakan yang tepat dalam mengatur akses dan infrastruktur penunjangnya sehingga sesuai dengan kondisi serta lingkungan pengguna itu berada. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melakukan survei untuk mendapatkan data mengenai akses dan penggunaan TIK pada rumah tangga dan individu, kemudian dianalisis secara deskriptif dengan tabel kontingensi, uji chi-square, dan analisis korespondensi untuk mendapatkan gambaran mengenai perilaku pengguna internet pada individu. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebanyak 88% responden sudah menggunakan internet. Perilaku pengguna internet di Indonesia berbeda-beda untuk setiap segmen demografi. Secara umum, frekuensi mengakses internet oleh pengguna di Indonesia adalah paling tidak sekali dalam seminggu. Frekuensi ini tidak berbeda antara laki-laki dan perempuan. Wilayah yang penggunanya paling sering mengakses internet adalah wilayah DKI. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa frekuensi mengakses internet akan lebih sering dilakukan sejalan dengan peningkatan usia. Lokasi mengakses internet di setiap wilayah pada umumnya adalah di rumah, terkecuali wilayah Maluku & Papua. Lokasi utama yang dipilih oleh pengguna pada wilayah Maluku & Papua adalah warnet. Umumnya, pengguna pada wilayah ini mengakses internet tidak setiap hari sehingga mengakses internet dari warnet lebih efisien. Pengguna di pedesaan menggunakan ponsel sebagai alat untuk mengakses internet dan memanfaatkan internet untuk kegiatan belajar dan mencari informasi mengenai organisasi pemerintahan. Hasil ananlisis korespondensi menunjukkan bahwa aktivitas yang paling banyak dilakukan dalam memanfaatkan internet adalah membuka situs jejaring sosial, terutama oleh pengguna yang berusia remaja. Sementara pada usia anak-anak, aktivitas yang dilakukan adalah belajar dan bermain game. Jika dilihat berdasarkan pekerjaannya, pengguna mengakses internet untuk berbagai keperluan yang menunjang kebutuhan masing-masing pengguna.

Kata kunci: analisis deskriptif, analisis korespondensi, internet, perilaku penguna internet.

ABSTRACT

(5)

The big role of Information and Communication Technology (ICT) caused the usage of ICT, especially mobile phone and internet, become a part in human daily life. Thus, it is needed to know about the description of the internet user’s behavior from observation and evaluation. This behaviour described so that the policy and infrastructure for internet access can be arranged based on the user’s condition. Ministry of Communication and Information Technology held a survey to get the data about access and ICT usage in household and personal, and analyzed descriptively using contingency table, chi-square test, and correspondence analysis to obtain the behavior of internet user. The analysis results show that 88% of respondence using the internet and user’s behaviors are different due to the demography. In average, frequency of internet usage is once in a week. This frequency does not different between male and female. The highest frequency comes from the users in DKI region. The results also show that older the users are, the frequency of internet usage will be higher too. Location preference in accessing internet from every region is house, except in Maluku & Papua region. Main location that Maluku & Papua’s users choose is internet cafe. Users in this region are using the internet rarely, so it is more efficient to go to internet cafe. Users in the rural use their phone to access internet, when using the internet they do study and searching about the government organization. Correspondence analysis shows that the most common activity the users do is opening social media sites, especially by the teenagers. Meanwhile the activities that kids do are studying and playing game. Based on the job, users are accessing the internet to do various things that can help them fulfill their needs in their daily life.

(6)
(7)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Statistika

pada

Departemen Statistika

PERILAKU MASYARAKAT INDONESIA DALAM

PENGGUNAAN INTERNET

KARINA DIAN LESTARI

DEPARTEMEN STATISTIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(8)
(9)

Judul Skripsi : Perilaku Masyarakat Indonesia dalam Penggunaan Internet Nama : Karina Dian Lestari

NIM : G14090091

Disetujui oleh

Dr Ir Hari Wijayanto, MSi Pembimbing I

La Ode Abdul Rahman, SSi, MSi Pembimbing II

Dra Siti Meiningsih, MSc Pembimbing III

Diketahui oleh

Dr Anang Kurnia, MSi Ketua Departemen

(10)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas karunia dan rahmat-Nya sehingga penelitian yang berjudul “Perilaku Masyarakat Indonesia dalam Penggunaan Internet” dapat diselesaikan.

Terima kasih penulis ucapkan kepada:

1. Bapak Dr Ir Hari Wijayanto, MSi, Bapak La Ode Abdul Rahman, SSi, MSi, dan Ibu Dra Siti Meiningsih, MSc yang telah membimbing dan memberi arahan kepada penulis.

2. Kementerian Komunikasi dan Informatika atas izinnya untuk menggunakan data Survei Akses dan Penggunaan TIK oleh Rumah Tangga dan Individu Tahun 2013 sebagai bahan penelitian.

3. Bapak, Ibu, Nadya, Demas, dan Denis atas dukungan dan doa yang selalu diberikan.

4. Staf pengajar Departemen Statistika atas ilmunya dan TU Departemen Statistika atas bantuannya.

5. Teman-teman seperjuangan di Statistika 46 atas masukan dan diskusi bermanfaatnya.

6. Keluarga Kontri, teman-teman terdekat, dan Jakarta Community atas perhatian dan kebersamaannya.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

(11)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vi

DAFTAR LAMPIRAN vi

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan Penelitian 1

METODOLOGI 2

Metode Pengumpulan Data 2

Metode Analisis 2

HASIL DAN PEMBAHASAN 5

Profil dan Gambaran Umum Pengguna 5

Perilaku Pengguna Internet Berdasarkan Demografinya 6 Perilaku Pengguna Internet Berdasarkan Status Desa 14 Karakteristik Pengguna Internet dengan Analisis Korespondensi 17

SIMPULAN DAN SARAN 20

Simpulan 20

Saran 20

DAFTAR PUSTAKA 20

LAMPIRAN 22

(12)

DAFTAR TABEL

Demografi Responden 5

Hasil Uji Chi-Square 6

Hasil Uji Chi-Square dengan peubah Status Desa 14

DAFTAR GAMBAR

Frekuensi mengakses internet berdasarkan wilayah 7

Frekuensi mengakses berdasarkan usia 7

Frekuensi mengakses berdasarkan pendidikan terakhir 8

Frekuensi mengakses berdasarkan pekerjaan 8

Lokasi mengakses internet berdasarkan wilayah 9

Lokasi mengakses internet berdasarkan jenis kelamin 9

Lokasi mengakses internet berdasarkan usia 10

Lokasi mengakses internet berdasarkan pendidikan terakhir 10 Lokasi mengakses internet berdasarkan pekerjaan 11 Aktivitas mengakses internet berdasarkan wilayah 12 Aktivitas mengakses internet bedasarkan jenis kelamin 12

Aktivitas mengakses internet berdasarkan usia 13

Aktivitas mengakses internet berdasarkan tingkat pendidikan 13 Aktivitas mengakses internet berdasarkan pekerjaan 14 Lokasi mengakses internet berdasarkan status desa 15 Tingkat penggunaan HP dan komputer pada status desa 15 Provider yang digunakan berdasarkan status desa 16

Perbandingan aktivitas utama pada status desa 17

Frekuensi mengakses internet berdasarkan status desa 17 Plot hasil analisis korespondensi antara aktivitas dan usia 18 Plot hasil analisis korespondensi antara aktivitas dan pekerjaan 19

DAFTAR LAMPIRAN

Keterangan Peubah 22

Frekuensi mengakses internet 23

Provider yang digunakan 23

Teknologi mengakses internet 23

Ketersediaan BTS pada status desa 24

Kekuatan sinyal pada status desa 24

(13)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang sangat cepat telah mengubah gaya hidup manusia. Sekarang ini, informasi tidak terbatas jarak dan waktu karena kegiatan diskusi, membaca buku, berita, koran, transfer uang, jual dan/atau beli barang atau jasa, dapat dilakukan dari telepon seluler dengan mengakses internet dimana saja dan kapan saja. Peranan TIK yang begitu besar menyebabkan penggunaan TIK, khususnya telepon seluler (ponsel) dan internet, telah menjadi bagian dari keseharian hidup manusia, baik itu untuk keperluan individu ataupun untuk sektor lain seperti bisnis dan pendidikan. Dengan kata lain, memiliki dan menggunakan ponsel sudah menjadi hal umum di Indonesia.

Pengguna ponsel di Indonesia meningkat dari 150 juta hingga 280 juta dalam kurun waktu tiga tahun hingga Desember 2012 dan pada awal tahun 2013 penggunanya sudah mencapai 290 juta. Peningkatannya mencapai 200 juta pengguna dalam lima tahun. Pengguna ponsel bukan hanya usia dewasa, bahkan 70% anak usia 10-14 sudah memiliki dan menggunakan ponsel (budde.com.au 2013). Seiring dengan berkembangnya penggunaan ponsel dan jaringan 3G yang kini tersedia, pengguna internet di Indonesia juga meningkat dari 63 juta pengguna di tahun 2012 hingga mencapai 82 juta pengguna dengan penetrasi sebesar 34,5% pada tahun 2013 (Kominfo 2013). Menurut Kominfo, 95% dari penggunaan akses internet adalah untuk media sosial seperti Twitter dan Facebook. Indonesia merupakan negara ke-empat terbesar pengguna paling aktif di Facebook. Jakarta, sebagai ibukota negara, merupakan kota dengan pengguna Twitter paling aktif. Peningkatan pengguna internet ini kemudian sejalan dengan peningkatan pengguna mobile broadband yang juga berkembang pesat menggantikan teknologi terdahulunya, fixed broadband dan narrow broadband. Walaupun begitu, perkembangan internet di Indonesia belum merata, masih berpusat di Indonesia bagian barat sedangkan di Indonesia bagian tengah dan timur masih dalam proses perkembangan. Berbagai upaya untuk meratakan akses dan penggunaan internet di Indonesia masih dilakukan.

Banyaknya pengguna ponsel dan internet membuat perkembangannya perlu diamati, dievaluasi, dan dimonitor agar dapat membangun kebijakan yang tepat dalam mengatur akses dan infrastruktur penunjangnya. Sehingga, penggambaran perilaku pengguna internet diperlukan agar kebijakan sesuai dengan kondisi serta lingkungan pengguna itu berada. Survei kemudian dilakukan untuk mendapatkan data mengenai akses dan penggunaan TIK pada rumah tangga dan individu. Data survei dianalisis untuk mendapatkan gambaran mengenai perilaku pengguna internet pada individu.

Tujuan Penelitian

(14)

2

METODOLOGI

Metode Pengumpulan Data

Data yang digunakan pada penelitian ini merupakan data primer dari Survei Akses dan Penggunaan TIK oleh Rumah Tangga dan Individu Tahun 2013 yang dilakukan oleh Kominfo. Survei dilakukan dengan cara wawancara menggunakan instrumen kuesioner. Survei dilakukan pada 30 provinsi, kemudian pemilihan pada tingkat kabupaten/kota dilakukan strata menurut akses terhadap TIK yang dibuat berdasarkan jumlah penduduk, persentase rumah tangga yang memiliki telepon kabel, persentase rumah tangga yang menggunakan listrik, persentase desa yang dijangkau TVRI dan TV swasta, dan persentase desa dengan sinyal HP yang kuat. Selanjutnya pada setiap kabupaten/kota terpilih, dipilih secara acak empat desa/kelurahan dengan mempertimbangkan keterwakilan strata desa-pedesaaan (rural) dan desa-perkotaan (urban). Pada setiap desa terpilih dipilih dua Rukun Tetangga yang mewakili kelompok menengah atas dan menengah bawah. Untuk desa-desa di pedesaan dapat dilakukan dengan pendekatan Rukun Tetangga di dekat pusat desa dan agak jauh dari pusat desa. Selanjutnya dipilih secara acak masing-masing 8 Rumah Tangga menggunakan teknik systematic random sampling. Setiap desa diwakili oleh 16 Rumah Tangga. Individu dipilih dengan menggunakan metode Kish Grid.

Informasi yang dikumpulkan pada survei ini adalah profil responden, kepemilikan, kegiatan akses dan karakteristik penggunaan TIK. Informasi yang dikumpulkan kemudian dihubungkan dengan data Potensi Desa (Podes) 2011 yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) untuk menggali lebih jauh lagi perbedaan perilaku penggunaan internet di berbagai wilayah di Indonesia (Lampiran 1).

Metode Analisis

Analisis data dilakukan pada peubah demografi, yang terdiri dari wilayah, jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, dan pekerjaan responden. Peubah yang berasal dari data Podes 2011, yaitu status desa, ada atau tidak BTS di desa, dan sinyal HP. Peubah yang berhubungan dengan penggunaan internet terdiri dari penggunaan HP, komputer, dan akses internet, lokasi dan aktivitas mengakses internet, dan provider yang digunakan. Analisis yang digunakan adalah statistika deskriptif, uji Chi-Square dan analisis korespondensi. Langkah analisis yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Melakukan eksplorasi data dengan menghitung frekuensi setiap peubah. Hal ini dilakukan untuk melihat profil responden dan karakteristik awal pengguna internet.

(15)

3 Menurut Daniel, Uji Chi-Square untuk kebebasan dilakukan untuk mengetahui apakah dua peubah dalam suatu populasi berhubungan atau saling bebas. Data untuk uji Chi-Square dapat ditampilkan dalam tabel kontingensi. Data ini kemudian disebut sebagai data frekuensi observasi dan dilambangkan sebagai , karena ditampilkan dalam tabel kontingensi maka . Nilai merupakan banyaknya kejadian pada baris ke-i (peubah pertama) dan kolom ke-j (peubah kedua). Hipotesinya adalah:

: Dua peubah saling bebas.

: Dua peubah tidak saling bebas atau berhubungan.

Uji Chi-Square membandingkan frekuensi observasi dengan frekuensi harapan ketika benar. Untuk mendapatkan frekuensi harapan setiap sel, dihitung dengan rumus:

Jika perbedaan antara frekuensi observasi dan frekuensi harapan besar maka nilai akan besar, dan sebaliknya. ditolak pada taraf nyata α jika nilai dengan derajat bebas .

3. Melakukan analisis korespondensi antara peubah aktivitas dengan usia dan aktivitas dengan pekerjaan. Analisis korespondensi adalah sebuah teknik untuk menampilkan baris dan kolom matriks data (tabel kontingensi) sebagai titik dalam ruang vektor berdimensi kecil (Greenacre 1984). Analisis korespondensi digunakan untuk menetapkan kategori yang mirip dalam suatu peubah, sehingga kategori-kategori tersebut dapat digabungkan menjadi satu kategori. Analisis korespondensi juga dapat digunakan untuk menentukan kemungkinan hubungan antar dua gugus peubah (Mattjik dan Sumertajaya 2011). Langkah analisis korespondensi adalah sebagai berikut (Mattjik dan Sumertajaya 2011):

a. Membuat tabel kontigensi dua arah, tabel ini kemudian membentuk matriks data . Dari tabel kontingensi dua arah tersebut dapat dibentuk matriks korespondensi sebagai berikut:

( )

merupakan frekuensi pengamatan baris ke-i dan kolom ke-j,

merupakan jumlah data.

Kemudian dibentuk vektor baris dan vektor kolom dengan cara menjumlahkan setiap elemen pada setiap baris dan setiap kolomnya sehingga didapat diagonal vektor baris dan diagonal vektor kolom .

(16)

4

pengamatan baris ke-i dan kolom ke-j dibagi dengan jumlah setiap total baris dan kolomnya masing-masing.

Didefiniskan matriks adalah matriks profil baris dengan

Untuk menampilkan profil baris dan profil kolom tersebut ke dalam ruang dimensi Euclid yang berdimensi dua digunakan pendekatan jarak chi-square, yaitu

dengan c. Menentukan nilai inersia.

Nilai inersia menunjukkan kontribusi dari baris ke-i pada inersia total. Nilai total inersia merepresantasikan semua informasi dalam seluruh ruang.

Total inersia baris: ∑ Total inersia kolom: ∑

d. Menguraikan nilai singular untuk mereduksi data berdasarkan keragaman data terbesar dengan mempertahankan optimasi minimum. Penguraian matriks

akan menghasilkan matriks A berukuran dan matriks B berukuran , dan matriks Λ merupakan matriks yang elemen-elemennya adalah nilai singular.

e. Menguraikan nilai singular umum (Generalized Singular Value Decomposition) untuk menentukan anak ruang Euclid dan memproyeksikan semua nilai profil baris ke dalam anak ruang Euclid menggunakan matriks

Koordinat baris dan kolom dapat ditentukan dengan rumus: dan

f. Menentukan koefisien kontingensi untuk melihat keeratan hubungan atau kecenderungan antara peubah satu dan yang lainnya.

adalah nilai uji statistik chi-square, adalah banyaknya populasi sampel, dan .

g. Menggambarkan koordinat baris dan kolom ke dalam plot dua dimensi.

(17)

5

HASIL DAN PEMBAHASAN

Profil dan Gambaran Umum Pengguna

Jumlah responden yang diperoleh dari survei Akses dan Penggunaan TIK oleh Rumah Tangga dan Individu Tahun 2013 adalah sebanyak 8749 responden. Responden tersebar pada berbagai wilayah, jenis kelamin, usia, pendidikan, dan pekerjaan. Pemilihan responden pada beragam karakteristik demografi ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran perilaku responden dalam mengakses internet. Gambaran umum responden secara ringkas disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1 Demografi Responden Wilayah % JK % Usia % Pendidi

Indonesia merupakan negara kepulauan yang setiap pulaunya memiliki karakteristik tersendiri. Agar setiap karakter pada setiap pulau dapat terwakili, maka dibagi wilayah berdasarkan pulau besar dan daerah ibukota. Pemisahan wilayah ibukota DKI dari pulau Jawa bertujuan untuk mengetahui karakteristik pengguna internet di DKI secara rinci. Menurut wilayahnya, responden paling banyak berada di Sumatera (31.4%).

(18)

6

Perilaku Pengguna Internet Berdasarkan Demografinya

Secara umum, 88% responden sudah menggunakan internet. Namun, perilaku pengguna internet antar individu dapat berbeda-beda. Perbedaan pada setiap individu dikarenakan perilaku didasari pada motif, kebutuhan, dan lingkungan pengguna berada. Gambaran perilaku pada penelitan ini meliputi kapan saja mengakses internet, di mana mengakses internet, dan apa yang dilakukan ketika mengakses internet. Indonesia merupakan negara yang sangat beragam latar belakang penduduknya, terlihat dari demografi responden yang berbeda-beda. Hal ini dapat mempengaruhi keputusan responden dalam menggunakan internet. Oleh sebab itu, dilakukan uji chi-square untuk melihat apakah ada hubungannya antara peubah-peubah demografi pengguna dengan frekuensi, lokasi, dan aktivitas dalam menggunakan internet.

Tabel 2 Hasil Uji Chi-Square

Frekuensi Lokasi Aktivitas

Chi-Square Sig. Chi-Square Sig. Chi-Square Sig.

Wilayah 54.332 .000 88.856 .000 123.651 .000

Jenis kelamin 3.019 .221 24.927 .000 63.203 .000

Usia 19.034 .004 352.226 .000 404.844 .000

Pendidikan terakhir 76.618 .000 258.837 .000 257.018 .000

Pekerjaan 36.851 .000 684.491 .000 751.071 .000

Tabel 2 menujukkan bahwa terdapat hubungan antara peubah-peubah pada demografi dengan frekuensi mengakses internet, lokasi mengakses internet, dan aktivitas mengakses internet, kecuali peubah jenis kelamin dengan frekuensi mengakses internet pada taraf nyata 0.05. Secara umum, frekuensi masyarakat Indonesia mengakses internet paling tidak sekali dalam seminggu (51.3%). Frekuensi mengakses internet ini tidak berbeda antara laki-laki dan perempuan (Lampiran 2).

Frekuensi Mengakses Internet

Secara umum, frekuensi mengakses internet berdasarkan wilayahnya adalah paling tidak sekali dalam seminggu. Perbedaan terlihat pada wilayah Maluku & Papua, pengguna yang mengakses internet tidak setiap hari (73.3%) jauh lebih tinggi dari pengguna yang mengakses internet setiap hari (21.5%). Hal ini menunjukkan bahwa walaupun frekuensinya tidak sering, masyarakat pada wilayah Maluku & Papua sudah menggunakan internet untuk keperluan mereka.

(19)

7 pada wilayah Jawa, lebih banyak pengguna yang mengakses internet paling tidak sekali dalam seminggu (Gambar 1).

Gambar 1 Frekuensi mengakses internet berdasarkan wilayah

Mayoritas pengguna pada setiap segmen usia mengakses internet paling tidak sekali dalam seminggu. Akan tetapi, semakin besar usianya, akan semakin sering juga mengakses internet. Terlihat pada Gambar 2, pada usia anak-anak (9-15 tahun) pengguna yang mengakses internet setiap hari hanya 26%, kemudian pada usia remaja (16-25 tahun) sebanyak 36% pengguna dan akhirnya pada usia dewasa awal (26-45 tahun) dan dewasa akhir (46-65 tahun) yaitu 39% pengguna yang mengakses internet setiap hari. Penggunaan internet oleh berbagai usia juga terlihat pada gambar ini.

Gambar 2 Frekuensi mengakses berdasarkan usia

Tingkat pendidikan berpengaruh pada frekuensi penggunaan internet. Terlihat pada Gambar 3, pada tingkat pendidikan seperti D3/S1 dan S2/S3 mayoritas pengguna mengakses internet setiap hari. Sedangakan pada tingkat pendidikan sekolah seperti SD, SMP, dan SMA sebagian besar pengguna mengakses internet paling tidak sekali dalam seminggu. Hal ini menunjukkan bahwa pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi, kebutuhan berinternet juga semakin tinggi. Kebutuhan akan internet yang tinggi tidak lain disebabkan oleh penyebaran informasi yang kini berkembang pesat sehingga setiap harinya informasi apapun dapat diperbaharui.

47.4%

73.3%

15.3%

Bali&NT DKI Jawa Kalimantan Maluku&Papua Sulawesi Sumatera

Setiap hari Seminggu sekali Tidak pernah

26%

36% 39% 39%

59.0%

53.4%

48.2% 51.0%

15.0%

10.2% 12.7% 10.2%

Anak-anak Remaja Dewasa awal Dewasa akhir

(20)

8

Gambar 3 Frekuensi mengakses berdasarkan pendidikan terakhir

Umumnya, untuk setiap jenis pekerjaan responden mengakses internet paling tidak sekali dalam seminggu. Pengguna yang sudah bekerja merupakan pengguna dengan intensitas mengakses paling tinggi, terutama oleh karyawan swasta. Sebanyak 42.6% pengguna yang bekerja sebagai karyawan swasta mengakses internet setiap hari dan hanya 8.4% yang tidak pernah mengakses internet. Pengguna yang paling jarang mengakses internet adalah petani/nelayan/buruh/pedagang/tukang dengan frekuensi mengakses internet setiap hari hanya 28.2% dari pengguna. Walaupun begitu, terlihat bahwa sekarang ini pengguna internet berasal berbagai latar belakang pekerjaan.

Gambar 4 Frekuensi mengakses berdasarkan pekerjaan

Lokasi Mengakses Internet

Gambar 5 menunjukkan lokasi mengakses internet yang dipilih oleh pengguna. Berdasarkan wilayahnya, mayoritas pengguna memanfaatkan rumah sebagai lokasi mengakses internet. Namun, terlihat perbedaan pada wilayah Maluku & Papua. Pengguna internet pada wilayah ini menggunakan warnet sebagai lokasi untuk mengakses internet (31.3%). Bahkan pemilihan lokasi rumah lebih sedikit dibandingkan dengan warnet. Pada wilayah Maluku & Papua, mengakses dari tempat umum seperti warnet akan lebih efisien dibandingkan mengakses dari rumah karena kebanyakan pengguna pada wilayah tersebut tidak setiap hari mengakses internet. Wilayah Bali & NT merupakan wilayah dengan pengguna yang menggunakan rumah sebagai lokasi mengakses internet paling tinggi dibanding dengan wilayah lain (51.7%). Sementara, wilayah Kalimantan adalah wilayah dengan pengguna internet mengkses internet di mana saja

26% 25%

Setiap hari Seminggu sekali Tidak pernah

31.5%

(21)

9 menggunakan ponsel. Penggunaan ponsel ini lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya (29.9%). Wilayah Jawa merupakan wilayah dengan pengguna yang memilih sekolah sebagai lokasi utama lebih tinggi dari wilayah lainnya, yaitu sebesar 6.5%. Pada wilayah Sumatera, 14.9% pengguna memilih kantor sebagai lokasi utama mengakses internet.

Gambar 5 Lokasi mengakses internet berdasarkan wilayah

Baik laki-laki maupun perempuan, mayoritas penggunanya mengakses internet dari rumah. Pengguna dengan jenis kelamin laki-laki lebih banyak yang mengakses internet di kantor dibandingkan dengan perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa laki-laki lebih banyak yang bekerja kantoran sebagai karyawan daripada perempuan. Selain di rumah, perempuan juga mengakses internet dari ponsel (27.5%) dan sekolah (7.9%).

Gambar 6 Lokasi mengakses internet berdasarkan jenis kelamin

Perbedaan usia membuat pemilihan lokasi mengakses berbeda pula. Anak-anak (9-15 tahun) banyak yang mengakses internet dari warnet (32.4%). Sementara itu, pengguna usia dewasa awal (26-45 tahun) sebesar 28.8% penggunanya mengakses internet dari ponsel dan 19.3% penggunanya mengakses internet dari kantor. Cukup tingginya pengguna mengakses dari kantor menunjukkan banyak pekerja kantoran yang berusia 26-45 tahun. Sedangkan pengguna berusia dewasa awal (46-65 tahun), mayoritas mengakses internet dari rumah (55.4%). Pengguna usia remaja (16-25 tahun) lebih beragam dalam memilih lokasi mengakses internet. Hal ini dapat disebabkan usia remaja (16-25 tahun) merupakan awal usia produktif sehingga sudah memungkinkan pada usia ini untuk bekerja kantor. Usia ini juga merupakan usia sekolah. Oleh sebab itu, lokasi mengakses internetnya lebih beragam.

51.7%

29.9% 31.3%

14.9%

6.5%

Bali&NT DKI Jawa Kalimantan Maluku&Papua Sulawesi Sumatera Rumah Dimana saja Warnet Kantor Sekolah

37.5% 38.9%

(22)

10

Gambar 7 Lokasi mengakses internet berdasarkan usia

Lokasi yang banyak dipilih untuk mengakses internet adalah rumah, terlebih oleh pengguna yang tingkat pendidikannya S2/S3 (53.6%). Sedangkan pengguna dengan tingkat pendidikan SMP, 29% mengakses internet di mana saja dengan menggunakan ponsel. Selain ponsel, lokasi yang banyak dipilih oleh pengguna dengan tingkat pendidikan SMP adalah warnet (26.6%) dan sekolah (15.7%). Pengguna dengan tingkat pendidikan SD memanfaatkan warnet untuk mengakses internet (29.7%). Kemudian, kebanyakan pengguna dengan tingkat pendidikan D3/S1 mengakses internet dari rumah (43.8%) dan kantor (23.9%).

Gambar 8 Lokasi mengakses internet berdasarkan pendidikan terakhir Berdasarkan pekerjaannya, mayoritas pengguna mengakses internet dari rumah. Pengguna yang bekerja sebagai ibu rumah tangga sebanyak 57.4% mengakses dari rumah, persentase ini lebih ditinggi dibanding dengan yang tidak bekerja sebagai ibu rumah tangga. Selain di rumah, pengguna yang bekerja sebagai pelajar & mahasiswa sebanyak 18.5% mengakses internet dari sekolah. Pengguna yang bekerja sebagai PNS/TNI/POLRI juga banyak yang mengakses internet dari kantor (35.3%). Sementara itu, pengguna yang bekerja sebagai petani/nelayan/buruh/tukang lebih banyak yang mengakses internet dari ponsel mereka (40.8%) dibandingkan dengan yang mengakses di rumah. Begitu juga dengan pengguna yang tidak bekerja, pengguna tersebut lebih banyak yang memanfaatkan warnet untuk mengakses internet (30.9%).

55.4%

28.8% 32.4%

19.3%

Anak-anak Remaja Dewasa awal Dewasa akhir

Rumah Dimana saja Warnet Sekolah Kantor

53.6%

29.0% 29.7%

23.9%

15.7%

SD SMP SMA D3/S1 S2/S3

(23)

11

Gambar 9 Lokasi mengakses internet berdasarkan pekerjaan

Secara umum, terdapat tiga provider utama yang digunakan oleh masyarakat Indonesia, yaitu Telkomsel (AS, Simpati, Kartu Halo), Indosat (Mentari, M3), dan XL. Pengguna provider lainnya seperti Tri, Axis, Esia, Flexi, dan Smartfren hanya sedikit. Pengguna yang memakai ponsel untuk mengakses internet mayoritas menggunakan Telkomsel sebagai provider ponselnya. Sedangkan pengguna yang mengakses internet dari rumah mayoritas menggunakan teknologi mobile broandband (Lampiran 3 dan 4).

Aktivitas Mengakses Internet

Membuka situs jejaring sosial adalah aktivitas utama yang banyak dilakukan pengguna internet di seluruh wilayah Indonesia (Gambar 10). Namun, mayoritas pengguna internet di wilayah DKI (53.6%) membuka situs jejaring sosial sebagai aktivitas utama dalam mengakses internet. Termasuk situs jejaring sosial adalah Facebook, Twitter, Google+, Instagram, dan masih banyak lagi. Hal ini mendukung pernyataan bahwa Jakarta, sebagai ibukota negara, merupakan kota dengan pengguna Twitter paling aktif (Kominfo, 2013). Jejaring sosial tidak hanya populer pada wilayah DKI, karena pada wilayah Maluku & Papua, Sulawesi, dan Sumatera mayoritas penggunanya juga membuka situs jejaring sosial ketika mengakses ineternet. Penggunaan internet untuk belajar banyak dilakukan oleh pengguna internet pada wilayah Kalimantan (27%). Pada wilayah Jawa, 6.3% pengguna internet bermain game sebagai aktivitas utama. Wilayah Bali merupakan wilayah dengan proporsi penggunaan internet untuk menjual atau membeli barang atau jasa (22.4%), menerima atau mengirim e-mail (15.4%), dan mencari informasi mengenai organisasi pemerintahan (10.9%) paling banyak dilakukan dibanding dengan wilayah lainnya. Aktivitas lainnya yang dilakukan pengguna adalah membaca atau mengunduh berita, jurnal, dan e-book; menonton atau mengunduh video, televisi film; mengunduh software; Internet Banking; teleconference melalui voIP.

57.4%

Petani, dll PNS/ TNI/ POLRI Wiraswasta Tidak bekerja

(24)

12

Gambar 10 Aktivitas mengakses internet berdasarkan wilayah

Jika dilihat pada Gambar 11, membuka situs jejaring sosial adalah aktivitas yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. Akan tetapi, perempuan lebih aktif membuka situs jejaring sosial dibandingkan laki-laki. Sebanyak 41% pengguna berjenis kelamin perempuan membuka situs jejaring sosial sebagai aktivitasnya. Selain membuka situs jejaring sosial, aktivitas dilakukan oleh perempuan adalah belajar (20.6%). Sementara, belajar hanya diminati 12.9% oleh pengguna berjenis kelamin laki-laki. Aktivitas yang dilakukan oleh laki-laki adalah menjual atau membeli barang atau jasa (23.2%), mencari informasi mengenai organisasi pemerintahan (10.2%), mengirim atau menerima e-mail (9.3%), dan bermain game (5.3%). Sementara mengirim pesan melalui Instant Messaging seperti BBM, Whats App, Line, dan lainnya adalah hal umum yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan.

Gambar 11 Aktivitas mengakses internet bedasarkan jenis kelamin

Membuka situs jejaring sosial merupakan aktivitas yang digemari remaja dan dewasa awal. Hal ini terlihat pada Gambar 12, 38.6% pengguna internet usia remaja dan 30.4% pengguna usia dewasa awal membuka situs jejaring sosial. Sementara, bermain game dan belajar dilakukan oleh pengguna berusia anak-anak. Namun, pengguna yang memilih bermain game (12.8%) jauh lebih sedikit dibandingkan dengan yang melakukan aktivitas belajar (36.6%). Tingginya pengguna yang melakukan aktivitas belajar menunjukkan bahwa tingginya minat anak-anak menggunakan internet untuk hal yang bermanfaat. Pengguna pada usia dewasa akhir lebih sedikit yang membuka situs jejaring sosial dibandingkan dengan pengguna usia lain. Pengguna pada usia ini memanfaatkan internet untuk menjual atau membeli barang atau jasa (26.2%), mencari informasi mengenai

46.4%

19.8% 21.3%

5.7%

Bali&NT DKI Jawa Kalimantan Maluku&Papua Sulawesi Sumatera Socmed Jual/beli Belajar Email Org. Pem IM Game Lainnya

27.5%

(25)

13 organisasi pemerintah (16.9%), dan melakukan aktivtas lain seperti, membaca atau mengunduh berita, jurnal, dan e-book; menonton atau mengunduh video, televisi film; mengunduh software; Internet Banking; teleconference melalui voIP. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh pengguna berusia dewasa akhir juga dilakukan oleh pengguna yang berusia dewasa awal.

Gambar 12 Aktivitas mengakses internet berdasarkan usia

Mayoritas pengguna membuka situs jejaring sosial ketika mengakses internet, kecuali pengguna dengan tingkat pendidikan S2/S3. Sebagian besar pengguna ini melakukan jual atau beli barang atau jasa (21.4%) dan mencari informasi mengenai organisasi pemerintah (14.3%). Aktivitas bermain game dilakukan oleh pengguna dengan tingkat pendidikan SD. Jika diperhatikan, lokasi warnet dan aktivitas bermain game sama-sama dilakukan oleh pengguna berpendidikan SD. Hal ini menunjukkan bahwa warnet-warnet yang menyediakan game online kebanyakan pelanggan warnet tersebut adalah anak sekolah SD. Namun, pengguna berpendidikan SD juga menggunakan internet untuk belajar. Membuka situs jejaring sosial paling banyak dilakukan oleh pengguna yang berpendidikan SMP.

Gambar 13 Aktivitas mengakses internet berdasarkan tingkat pendidikan Perbedaan pekerjaan membuat aktivitas yang dilakukan juga berbeda, walaupun mayoritas pengguna pada berbagai kalangan pekerjaan membuka situs jejaring sosial ketika mengakses internet. Ibu rumah tangga merupakan pekerjaan yang pengguna dengan membuka situs jejaring sosial ketika mengakses internet lebih tinggi dibanding pengguna yang bekerja bukan sebagai ibu rumah tangga

Anak-anak Remaja Dewasa awal Dewasa akhir

Socmed Belajar Jual/beli Game Org. Pem Email IM Lainnya

40.8%

(26)

14

(46.3%). Sementara, 13.5% dari pengguna yang bekerja sebagai karyawan swasta menggunakan internet untuk mengirim atau menerima e-mail. Pelajar & mahasiswa sebagai siswa yang dituntut aktif belajar juga melakukan internet untuk menunjang kebutuhan belajarnya (35.2%). PNS/TNI/POLRI sebagai pegawai negara banyak yang mengakses internet untuk mencari informasi mengenai organisasi pemerintahan. Pengguna yang bekerja sebagai wiraswasta mengakses internet untk menjual atau membeli barang atau jasa. Hal ini menunjukkan bahwa internet merupakan alat penunjang untuk memenuhi kebutuhan penggunanya.

Gambar 14 Aktivitas mengakses internet berdasarkan pekerjaan

Perilaku Pengguna Internet Berdasarkan Status Desa

Pengguna internet bukan hanya masyarakat yang berada di perkotaan. Saat ini pengguna internet sudah merambah hingga ke pedesaan. Program “Internet Masuk Desa” merupakan program pemerintah sebagai salah satu upaya pemerataan perkembangan internet. Program ini berupa sebuah unit mobil yang disebut Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) dan berkedudukan di kecamatan sehingga masyarakat sekitar kecamatan tersebut dapat menggunakan internet. Untuk mengetahui apakah status desa mempengaruhi perilaku pengguna internet dan karakteristiknya, dikelompokan pengguna internet berdasarkan status desa tempat tinggal. Status desa ini didapatkan dari data Podes 2011. Dari data survei yang telah digabungkan dengan data Podes, ada empat kelurahan di dua kabupaten yang tidak ada keterangan status desanya. Hal ini dapat terjadi karena terdapat kelurahan yang melakukan pemekaran wilayah setelah tahun 2011, sedangkan data Podes yang terbaru adalah Podes 2011.

Tabel 3 Hasil Uji Chi-Square dengan peubah Status Desa Chi-Square Sig

Lokasi 27.221 .001 Aktivitas 24.592 .026 Frekuensi 24.592 .000

Berdasarkan Tabel 3, status desa mempengaruhi keputusan pengguna dalam mengakses internet. Nilai signifikansi peubah lokasi utama, aktivitas utama, dan frekuensi mengakses internet kurang dari α (0.05).

46.3% 47.6%

Petani, dll PNS/ TNI/ POLRI Wiraswasta Tidak bekerja

(27)

15

Lokasi Mengakses Internet

Gambar 15 menunjukkan bahwa secara umum masyarakat perkotaan dan pedesaan memilih mengakses internet di rumah. Namun, masyarakat pedesaan memanfaatkan tempat umum seperti kantor, sekolah, dan warnet sebagai lokasi utama mengakses internet. Masyarakat pedesaan juga lebih banyak yang mengakses internet melalui ponselnya dibandingkan dengan masyarakat perkotaan. Hal ini menunjukkan ponsel sudah menjadi bagian keseharian masyarakat pedesaan, bukan lagi hanya untuk mendengarkan musik, memotret, menelepon dan mengirim atau menerima sms, tetapi juga mengakses internet.

Gambar 15 Lokasi mengakses internet berdasarkan status desa

Jika dilihat pada Gambar 16, penggunaan ponsel oleh masyarakat perkotaan maupun pedesaan cukup tinggi. Hal ini ditunjukkan dari angka penggunaan ponsel yang lebih dari 80%. Pada pedesaan, angka penggunaan ponsel jauh lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan komputer. Sementara pada masyarakat perkotaan penggunaan komputer lebih tinggi, sehingga pengguna pada perkotaan yang memilih untuk mengakses internet di rumah sebagai lokasi utama lebih banyak dibandingkan dengan masyarakat pada pedesaan.

Gambar 16 Tingkat penggunaan HP dan komputer pada status desa

Telkomsel, Indosat, dan XL adalah tiga provider besar yang mendominasi. Pemilihan provider pada perkotaan lebih beragam dibandingkan pedesaan, walaupun Telkomsel tetap menjadi provider pilihan yang banyak digunakan untuk ponsel. Sebanyak 10.7% dari masyarakat perkotaan menggunakan Indosat dan 13.4% menggunakan XL. Pada perkotaan, masih cukup banyak pengguna Axis, Tri, Esia, Flexi, dan Smartfren masing-masing berkisar 3%. Sedangkan pada pedesaan, pengguna Telkomsel jauh lebih banyak dan pemilihan providernya kurang beragam. Pengguna Telkomsel ada sebanyak 71.1%, Indosat 12.7%, dan

Rumah Dimana saja Warnet Kantor Sekolah

93% 81%

40%

17%

Perkotaan Pedesaan

(28)

16

oleh masyarakat pedesaan, sedangkan provider lain proporsinya tidak lebih dari 1%. Pemilihan provider yang digunakan berkaitan dengan ketersedian Base Transceiver Station (BTS) sebagai penerima dan pengirim sinyal dan kekuatan sinyal pada daerah status desa.

Gambar 17 Provider yang digunakan berdasarkan status desa

Pada Lampiran 5 dan 6, terlihat bahwa ketersediaan BTS belum merata dan masih terpusat pada perkotaan. Sebanyak 66.6% daerah perkotaan sudah tersedia BTS. Sebaliknya, 65.3% daerah pedesaan tidak memiliki BTS. Ketersediaan BTS di daerah perkotaan dan pedesaan mempengaruhi kekuatan sinyal yang ada di daerah tersebut. Daerah perkotaan karena sudah memiliki banyak BTS 98.7% dari daerah perkotaan sudah memiliki sinyal yang kuat dan hanya 1.3% daerah perkotaan yang bersinyal lemah. Sementara pada daerah pedesaan, hanya 74.7% daerah yang memiliki sinyal kuat. 21.5% dari daerah pedesaan hanya terjangkau oleh sinyal yang lemah dan 3.8% dari daerah pedesaan tidak ada sinyal sama sekali.

Aktivitas Mengakses Internet

Aktivitas utama yang paling sering dilakukan baik itu pada masyarakat perkotaan maupun pedesaan adalah membuka situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter (Gambar 18). Terlihat pada gambar, aktivitas utama yang dilakukan selain membuka situs jejaring sosial adalah melakukan aktivitas belajar, mencari informasi mengenai organisasi pemerintahan, dan bermain game online. Sementara itu, masyarakat pengguna pada perkotaan lebih banyak yang melakukan aktivitas menjual atau membeli barang atau jasa. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat perkotaan sudah memanfaatkan internet untuk keperluan usaha dan masyarakat perkotaan cenderung lebih komsumtif dibandingkan masyarakat pedesaan, terlihat dari banyaknya bisnis online shop yang ada saat ini. Masyarakat perkotaan juga lebih sering mengirim atau menerima e-mail dan mengirim pesan melalui Instant Messaging. Tingginya tingkat kesibukan masyarakat perkotaan membuat aktivitas berdiskusi dilakukan melalui e-mail dan Instant Messaging.

60.4%

71.1%

10.7% 13.4% 15.5% 12.7% 14.2%

2.0%

Perkotaan Pedesaan

(29)

17

Gambar 18 Perbandingan aktivitas utama pada status desa

Frekuensi Mengakses Internet

Gambar 19 menunjukkan bahwa masyarakat perkotaan lebih sering mengakses internet dibandingkan dengan masyarakat pedesaan. Sebanyak 40% dari masyarakat perkotaan mengakses internet setiap hari dan hanya 9.8% masyarakat perkotaan tidak pernah mengakses internet sama sekali. Sementara pada pedesaan, 31.3% mengakses internet setiap hari dan 14.8% tidak pernah mengakses internet sama sekali.

Gambar 19 Frekuensi mengakses internet berdasarkan status desa

Karakteristik Pengguna Internet dengan Analisis Korespondensi

Analisis korespondensi dilakukan untuk mendapatkan informasi lebih jauh mengenai perilaku pengguna internet di Indonesia. Peubah-peubah yang dianalisis adalah antara peubah usia dengan aktivitas mengakses internet dan peubah pekerjaan dengan aktivitas mengakses internet. Pemilihan peubah usia dan pekerjaan dilakukan karena kedua peubah ini merupakan peubah yang berpengaruh terhadap aktivitas mengakses internet.

Berdasarkan hasil analisis antara peubah usia dan peubah aktivitas mengakses internet, diperoleh nilai inersia komponen pertama adalah 0.175 dan nilai inersia komponen kedua adalah 0.029. Kedua komponen tersebut dapat menjelaskan 98.4% keragaman data.

Gambar 20 menunjukkan plot hasil analisis korespondensi. Plot korespondensi menunjukkan bahwa aktivitas utama yang dilakukan anak-anak ketika mengakses internet adalah belajar dan bermain game. Aktivitas bermain game yang semakin sering dilakukan oleh anak-anak ini tentu harus dengan pengawasan orang yang lebih tua karena tidak semua game ditujukan untuk usia anak-anak.

Socmed Jual/beli Belajar Email Org. Pem. IM Game

Perkotaan Pedesaan

(30)

18

Walaupun secara umum membuka situs jejaring sosial dilakukan oleh pengguna segala usia, pengguna usia remaja merupakan pengguna dengan proporsi membuka situs jejaring sosial paling tinggi. Usia remaja merupakan usia pengembangan diri dan selalu ingin tahu akan hal-hal baru. Salah satu wadah untuk mecncari informasi baru adalah melalui jejaring sosial. Kini situs jejaring sosial bukan hanya tempat untuk mencari dan memperluas pertemanan, tetapi juga bertautan dengan situs lain seperti situs berita, artikel pengetahuan, dan sebagainya sehingga pencarian informasi pun dapat dilakukan dari jejaring sosial. Informasi-informasi ini juga selalu diperbaharui setiap hari, bahkan setiap menit.

Aktivitas utama mengakses internet yang dilakukan penggua usia dewasa awal adalah menjual atau membeli barang atau jasa, mengirim pesan melalui Instant Messaging, dan mengirim atau menerima e-mail. Sedangkan pengguna usia dewasa akhir mencari informasi mengenai organisasi pemerintahan sebagai aktivitas utama ketika mengakses internet.

Gambar 20 Plot hasil analisis korespondensi antara aktivitas dan usia Analisis korespondensi antara peubah pekerjaan dan aktivitas utama mengakses internet menghasilkan nilai inersia komponen pertama sebesar 0.237 dan nilai inersia komponen kedua sebesar 0.119. Kedua komponen tersebut dapat menjelaskan 92.7% keragaman data.

Berdasarkan Gambar 21, plot menunjukkan bahwa aktivitas ketika mengakses internet oleh pengguna yang masih pelajar & mahasiswa adalah belajar dan bermain game. Hal ini menunjukkan bahwa pelajar & mahasiswa menggunakan internet untuk keperluan studi dan juga hiburan disela-sela studinya.

(31)

19 menjual atau membeli barang atau jasa, mengirim atau menerima e-mail, dan mengirim pesan melalui Instant Messaging. Berkembangnya internet digunakan oleh responden dengan pekerjaan sebagai wiraswasta untuk berbisnis. Hal ini terlihat dari banyaknya situs jual beli online yang tersedia sekarang, bahkan promosi jualan pun dilakukan pada Instant Messaging. Kemudahan karena adanya internet pun digunakan oleh pengguna yang bekerja sebagai karyawan. Lewat Instant Messaging pengguna dapat berkirim pesan dan dapat digunakan untuk berdiskusi.

Pengguna yang tidak bekerja pun melakukan aktivitas mengirim pesan melaui Instant Messaging. Sementara, ibu rumah tangga dan petani/nelayan/pedagang/buruh/tukang adalah dua pekerjaan dengan aktivitas yang dilakukan adalah membuka situs jejaring sosial. Hal ini menunjukkan bahwa membuka situs jejaring sosial sudah menjadi hal yang umum pada berbagai kalangan pengguna. Aktivitas yang dilakukan ketika mengakses internet oleh pengguna yang bekerja sebagai PNS/TNI/POLRI adalah mencari informasi mengenai organisasi pemerintah.

(32)

20

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Ponsel dan internet telah menjadi bagian hidup sehari-hari masyarakat Indonesia. Teknologi yang terus berkembang membuat pengguna internet di Indonesia berkembang pula. Sebanyak 88% responden sudah menggunakan internet. Pengguna ponsel dan internet di Indonesia sangat beragam latar belakangnya. Perbedaan wilayah, jenis kelamin, usia, pekerjaan, tingkat pendidikan, bahkan status desa tidak menjadi hambatan untuk memiliki dan menggunakan ponsel dan mengakses internet.

Secara umum, frekuensi mengakses internet oleh pengguna di Indonesia adalah paling tidak sekali dalam seminggu. Frekuensi ini tidak berbeda antara laki-laki dan perempuan. Wilayah yang penggunanya paling sering mengakses internet adalah wilayah DKI. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa frekuensi mengakses internet akan lebih sering dilakukan sejalan dengan peningkatan usia.

Lokasi mengakses internet di setiap wilayah pada umumnya adalah di rumah, terkecuali wilayah Maluku & Papua. Lokasi utama yang dipilih oleh pengguna pada wilayah Maluku & Papua adalah warnet. Pengguna pada wilayah ini tidak mengakses internet setiap hari sehingga mengakses internet dari warnet lebih efisien. Pengguna internet di pedesaan menggunakan ponsel sebagai media berinternet dan umumnya memanfaatkan internet untuk kegiatan belajar dan mencari informasi mengenai organisasi pemerintahan.

Hasil analisis korespondensi menunjukkan bahwa aktivitas yang paling banyak dilakukan dalam memanfaatkan internet adalah membuka situs jejaring sosial, terutama oleh pengguna yang berusia remaja. Sementara pada usia anak-anak, aktivitas yang dilakukan adalah belajar dan bermain game. Jika dilihat berdasarkan pekerjaannya, pengguna mengakses internet untuk berbagai keperluan yang menunjang kebutuhan masing-masing pengguna.

Saran

Internet saat ini sudah bebas diakses oleh siapa saja dan di mana saja. Hal ini membuat pentingnya kontrol atas penggunaan internet supaya tidak disalahgunakan untuk kegiatan negatif. Upaya kontrol atas penggunaan internet dapat berupa pengawasan konten situs, larangan konten yang dapat merusak moral, dan peran serta orang tua dalam mengawasi aktivitas anak ketika mengakses internet.

DAFTAR PUSTAKA

Daniel, WW. 1990. Applied Nonparametric Statistics. Boston (US): PWS – KENT Publishing Company.

(33)

21 [KOMINFO]. Kementerian Komunikasi dan Informatika. 2013. Seminar “ICT

Wahite Paper 2013”; 2013 Nov 28. Jakarta (ID).

Mattjik, AA. Sumertajaya, IM. 2011. Sidik Peubah Ganda dengan Menggunakan SAS. Bogor (ID): IPB Press.

Indonesia Mobile Communication, Forecast, and Broadcasting Market. [Internet].

[diunduh 27 November 2013]. Tersedia pada:

(34)

22

Lampiran 1 Keterangan Peubah

Peubah Skala

Pengukuran Kategori

Wilayah Nominal 1= Bali dan Nusa Tenggara, 2=DKI, 3 Jawa non-DKI, 4=Kalimantan, 5=Maluku dan Papua, 6=Sulawesi, 7=Sumatera

Umur Nominal 1=Anak-anak (9-15 tahun), 2=Remaja (16-25 tahun), 3=Dewasa awal (26-45 tahun), 4=Dewasa akhir (46-65 tahun)

Pendidikan Nominal 1= SD, 2=SMP, 3=SMA, 4=D3/S1, 5=S2/S3 Pekerjaan Nominal 1=Ibu Rumah Tangga, 2=Karyawan swasta,

3=Pelajar dan mahasiswa,

Nominal 1=Rumah, 2=Kantor, 3=Sekolah, 4=Warnet, 5=HP

Aktivitas Utama

Nominal 1=Mencari informasi tentang organisasi

pemerintah, 2=Menerima atau mengirim e-mail, 3=Instant Messanging, 4=Menjual atau membeli barang atau jasa, 5=Belajar, 6=Bermain game, 7=Membuka situs jejaring sosial, 8=Lainnya Provider Nominal 1=Telkomsel, 2=Indosat, 3=XL, 4= Lainnnya Status Desa Nominal 1=Perkotaan, 2=Pedesaan

BTS Nominal 1=Ada, 2=Tidak Ada

(35)

23 Lampiran 2 Frekuensi mengakses internet

Lampiran 3 Provider yang digunakan

Lampiran 4 Teknologi mengakses internet

37%

51% 12%

Setiap hari Seminggu sekali Tidak pernah

66% 12%

14% 9%

Telkomsel Indosat XL Lainnya

10%

21%

68%

(36)

24

Lampiran 5 Ketersediaan BTS pada status desa

Lampiran 6 Kekuatan sinyal pada status desa

Lampiran 7 Hasil analisis korespondensi antara aktivitas dan usia

Dimensi Nilai Inersia Kumulatif

1 0.175 0.845

2 0.029 0.984

3 0.003 1.000

Lampiran 8 Hasil analisis korespondensi antara aktivitas dan pekerjaan

Dimensi Nilai Inersia Kumulatif

1 0.237 0.616

2 0.119 0.927

3 0.017 0.971

4 0.010 0.997

5 0.001 1.000

6 0.000 1.000

0% 20% 40% 60% 80% 100%

Perkotaan Pedesaan

Tidak ada

Ada

0% 20% 40% 60% 80% 100%

Perkotaan Pedesaan

Ada kuat

Ada lemah

(37)

25

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta, 01 Desember 1991 dan merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Gardjito dan Euis Ratna Pudjiwati. Pada tahun 2006 penulis lulus dari SMP Negeri 73 Jakarta dan masuk ke SMA Negeri 26 Jakarta. Setelah penulis lulus SMA pada tahun 2009, penulis melanjutkan pendidikan ke IPB melalui jalur UTMI dan diterima di Departemen Statistika Fakultas Matematika dan Pengetahuan Alam.

Gambar

Tabel 1  Demografi Responden
Gambar 1 Frekuensi mengakses internet berdasarkan wilayah
Gambar 3 Frekuensi mengakses berdasarkan pendidikan terakhir
Gambar 5 Lokasi mengakses internet berdasarkan wilayah
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pada riwayat login dan logout pengguna terdapat detail data seperti akun pengguna, lokasi dan tanggal mengakses, jumlah penggunaan bandwidth download dan upload, waktu

Artinya semakin tinggi penggunaan internet untuk akses materi pembelajaran dan bahan tugas sekolah (pembelajaran e-learning) , maka semakin tinggi pula perilaku penggunaan

Artinya semakin tinggi penggunaan internet untuk akses materi pembelajaran dan bahan tugas sekolah (pembelajaran e-learning), maka semakin tinggi pula perilaku penggunaan

keterbatasan dalam penggunaan media internet, mengetahui fungsi dasar internet tetapi digunakan untuk tujuan-tujuan tertentu tanpa arah yang jelas, kapasitas

Persentase Rumah Tangga yang Mengakses Internet melalui Komputer di Rumah dan Luar Rumah menurut Provinsi, 2005-2006. Warnet/ Internet corner Kantor/ Sekolah Office/school Di

Penggunaan internet ini juga boleh mendatangkan banyak keburukan terutamanya kepada individu yang terlalu taksub dengan penggunaan internet ini dan pihak

Frekuensi Penggunaan Media TIK Terkait dengan media akses internet, meskipun responden yang memiliki perangkat komputer yang dapat difungsikan untuk akses internet, namun

Objektif kajian ialah untuk menentukan latar belakang demografi pengguna internet di kafe siber dan menentukan tujuan serta aktiviti penggunaan internet di kafe