• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Akulturasi Dan Perubahan Identitas (Pengaruh Proses Akulturasi Terhadap Perubahan Identitas Etnis Pasangan Keturunan Jepang Dan Indonesia Di Fukushi Tomo No Kai)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Proses Akulturasi Dan Perubahan Identitas (Pengaruh Proses Akulturasi Terhadap Perubahan Identitas Etnis Pasangan Keturunan Jepang Dan Indonesia Di Fukushi Tomo No Kai)"

Copied!
87
0
0

Teks penuh

(1)

PROSES AKULTURASI DAN PERUBAHAN IDENTITAS

(Pengaruh Proses Akulturasi Terhadap Perubahan Identitas Etnis

Pasangan Keturunan Jepang dan Indonesia di

Fukushi Tomo No Kai

)

SKRIPSI

Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Menyelesaikan

Pendidikan Sarjana (S-1) pada Depertemen Ilmu Komunikasi

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

Disusun Oleh

CYNTHIA AMANDA SILABAN

090904072

Program Studi : Hubungan Masyarakat

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

i

Universitas Sumatera Utara

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

LEMBAR PERSETUJUAN

Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh

Nama : Cynthia Amanda Silaban

NIM : 090904072

Judul Skripsi. : Proses Akulturasi dan Perubahan Identitas

(Pengaruh Proses Akulturasi Terhadap Perubahan

Identitas Etnis Pasangan Keturunan Jepang dan

Indonesia di Fukushi Tomo No Kai)

Pembimbing Ketua Departemen

Dra. Lusiana Andriani Lubis, M.A Dra. Fatma Wardi Lubis,M.A

NIP : 196704051990032002 NIP: 196208281987012001

Dekan FISIP USU

Prof. Drs. Badaruddin, M.Si

(3)

ii

Universitas Sumatera Utara

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi ini Diajukan Oleh :

Nama : Cynthia Amanda Silaban

NIM : 090904072

Departemen : Ilmu Komunikasi

Judul : Pengaruh Akulturasi dan Perubahan Identitas Etnis

(Pengaruh Proses Akulturasi Terhadap Perubahan

Identitas Etnis Pasangan Keturunan Jepang dan

Indonesia di Fukushi Tomo No Kai)

Hari/ Tanggal :

Pukul :

Tempat : Ruang Sidang FISIP USU

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan penguji dan diterima sebagai

bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu

Komunikasi pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

Politik Universitas Sumatera Utara.

MAJELIS PENGUJI

Ketua Penguji :

Penguji :

(4)

iii

Universitas Sumatera Utara

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, semua sumber baik yang dikutip

maupun diujuk telah saya cantumkan sumbernya dengan benar. Jika di

kemudian hari saya terbuki melakukan pelanggaran (plagiat) maka saya

bersedia diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.

Nama : Cynthia Amanda Silaban

Nim : 090904072

Tanda Tangan: ………

(5)

iv

Universitas Sumatera Utara

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS

AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademik Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan

di bawah ini:

Nama : Cynthia Amanda Silaban

NIM : 090904072

Departemen : Ilmu Komunikasi

Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas : Sumatera Utara

Jenis Karya : Skripsi

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non Ekslusif ( Non- ekslusif Royalti- Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:

PROSES AKULTURASI DAN PERUBAHAN IDENTITAS ETNIS

(Proses Pengaruh Akulturasi Terhadap Perubahan Identitas Etnis Pasangan

Keturunan Jepang dan Indonesia di Fukushi Tomo No Kai)

beserta perangkat yang ada ( jika diperlukan ). Dengan Hak Bebas Royalti Nonekslusif ini Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mengalihmedia/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data ( database ), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Medan

Pada Tanggal :

Yang Menyatakan,

(6)

v

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul “Pengaruh Proses Akulturasi Terhadap Perubahan Identitas Etnis Pasangan Keturunan Jepang Dan Indonesia Di Fukushi Tomonokai”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh akulturasi dan perubahan identitas etnis pasangan Jepang dan Indonesia di Yayasan Warga Persahabatan Cabang Medan Fukushi Tomo No Kai. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah komunikasi antar budaya, proses akulturasi, pernikahan dan identitas etnis. Metode yang digunakan penelitian ini adalah metode kuantitatif korelasional, yaitu suatu penelitian yang mengunakan alat bantu statistik sebagai hal paling utama dalam memberikan gambaran atas suatu peristiwa atau gejala. Sedangkan korelasi adalah suatu alat statistik yang dapat digunakan untuk membandingkan hasil pengukuran dua variabel yang berbeda agar dapat menentukan tingkat hubungan antara variabel. Populasi dalam penelitian adalah Pasangan Keturunan Jepang Dan Indonesia Di Yayasan Persahabatan Fukushi Tomonokai. Populasi penelitian berjumlah 19 orang. Teknik penarikan sampel menggunakan teknik

total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan penelitian kepustakaan (library research) yaitu melalui literatur dan sumber bacaan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa tabel tunggal. Hasil Penelitian menunjukkan pengaruh proses akulturasi terhadap identitas diri ditunjukkan melalui uji korelasi koefisien Spearman (rho) adalah 0.481. Berdasarkan skala Guilford, hasil 0,481 menunjukkan hubungan yang cukup berarti. Tanda korelasi pada koefisien korelasi menghasilkan + 0,481, yang menunjukkan arah hubungan yang sama antara proses akulturasi dan identitas diri. Sesuai kaidah dalam Spearman rs menunjukkan kedua variabel berkorelasi secara signifikan, maka hubungannya adalah signifikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini diterima dan hubungannya signifikan. Penelitian ini menunjukkan bahwa proses akulturasi berpengaruh terhadap identitas budaya pasangan pernikahan campuran Jepang dan Indonesia di Yayasan Warga Persahabatan Cabang Medan Fukushi Tomo No Kai.

Kata kunci:

Proses akulturasi, identitas etnis, Yayasan Warga Persahabatan Cabang

(7)

vi

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang

senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia-NYA, sehingga penulis dapat

menyelesaikan penelitian yang berjudul “Proses Akulturasi dan Perubahan

Identitas” ( Pengaruh Proses Akulturasi Terhadap Perubahan Identitas Etnis

Pasangan Keturunan Jepang dan Indonesia Fukushi Tomo No Kai ).

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak

kekurangan dan keterbatasan baik bentuk maupun isinya sehingga dapat dikatakan

masih jauh dari sempurna. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan

kemampuan penulis. Untuk kritik dan saran masih sangat diharapkan oleh penulis

sebagai penyempurnaan hasil penulisan skripsi ini.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya atas segala bantuan yang telah diberikan kepada penulis baik secara

langsung maupun tidak langsung dalam rangka penyelesaian penyusunan skripsi

ini kepada ;

1. Kedua orang tua penulis yakni Ayahanda A. Silaban dan Ibunda C. R.

Sitompul atas cinta dan kasih sayang serta doa yang tak pernah putus untuk

menjadikan kami anak yang terbaik. Untuk abang dan adik tersayang

Alexander Christian Silaban dan Kenjiro Adriano Silaban yang selalu

memberikan motivasi serta dukungannya.

2. Bapak Prof.Dr.Badaruddin, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan

Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Dra. Fatma Wardy Lubis, MA. dan Ibu Dra. Dayana, M.Si selaku ketua

dan sekretaris Departemen Ilmu Komunikasi

4. Ibu Dra. Lusiana Andriani Lubis, M.A selaku dosen pembimbing peneliti,

terima kasih yang tak terhingga penulis ucapkan atas kebaikan dan

pengetahuan yang telah banyak ibu berikan dalam membimbing peneliti

sehingga memotivasi peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.

(8)

vii

Universitas Sumatera Utara 6. Para dosen Ilmu Komunikasi FISIP USU yang selalu memberikan contoh,

masukan serta teladan yang patut ditiru oleh penulis berupa semangat untuk

terus belajar dan meraih cita-cita.

7. Kak Natasha Simangunsong S.Sos atas dukungan, bimbingan, masukan

serta waktu dan kesabarannya dalam membantu penulis menyelesaikan

skripsi ini.

8. Sahabat – sahabat terbaikku Cesilia Methami S, S.Ikom., Dessy Anapesy

Sitompul, S.Ikom., Disa Nurdania, S.Ikom., Patricia S., S.Ikom., Raniesta J,

Amd., dan Putri Nazria, S.Ikom atas masukan, semangat, doa serta motivasi

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

9. Teman – teman terkasih Widya Gabriella Manurung, Mei Elsa Kembaren,

Elizabeth Tobing, Feby Sembiring dan Dica Pramarti yang selalu

mendukung dan memberikan semangat kepada penulis.

10. Teman – teman tersayang Dzikra Maula, S.Ikom., Nalom Andre, S.Ikom,

Maulana Andinata, S.Ikom, Nugraha Arifin, S.Ikom., Joy Pramadana,

S.Ikom., dan Kak Maya yang selalu mengingatkan, membantu dan memberi

dukungan kepada penulis.

11. Eric Octovan Ginting, S.T., atas doa, semangat dan motivasi kepada penulis.

12. Terimakasih kepada teman-teman angkatan 2009 Departemen Ilmu

Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera

Utara atas perjuangan dan semangat kebersamaan kita.

13. Terimakasih untuk semua orang yang telah membantu penulis mengerjakan

skripsi ini dari awal dan yang selalu mengingatkan penulis untuk

menyelesaikannya.

Medan, April 2015

(9)

viii

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

HALAMAN PERNYATAAN ... iii

HALAMAN PUBLIKASI... iv

ABSTRAK ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR... x

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1

1.2 Perumusan Masalah ... 5

1.3 Pembatasan Masalah ... 5

1.4 Tujuan Penelitian ... 6

1.5 Manfaat Penelitian ... 6

BAB II URAIAN TEORITIS 2.1 Kerangka Teori ... 7

2.1.1 Komunikasi Antar Budaya... 7

2.1.2 Pandangan Dunia 12 2.1.3 Akulturasi Dalam Pernikahan Campuran... 14

2.1.3.a Komunikasi dan Akulturasi ... 14

2.1.3.b Potensi Akulturasi... 16

2.1.4 Pernikahan... 17

2.1.4.a Pernikahan di Indonesia... 18

2.1.4.b Pernikahan di Jepang... 18

2.1.5 Identitas Etnis... 21

2.1.5.a Pengertian Identitas Etnis... 21

2.1.6 Persepsi... 26

2.1.6.a Persepsi dan Budaya... 28

2.2 Kerangka Konsep... 30

2.3 Variabel Operasional... 32

2.4 Hipotesis Penelitian... 33

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Deskripsi Lokasi Penelitian ... 34

3.1.1 Struktur Organisasi Yayasan Warga Persahabatan (YWP) Fukushi Tomo No Kai... 34

3.2 Metode Penelitian ... 40

3.3 Populasi dan Sampel ... 40

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 42

3.5 Teknik Analisis Data ... 42

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Analisis Tabel Tunggal ... 45

4.1.1 Karakteristik Responden ... 45

4.1.2 Proses Akulturasi ... 49

4.1.3 Identitas Etnis ... 59

(10)

ix

Universitas Sumatera Utara 4.3 Uji Hipotesis ... 65 4.4 Pembahasan ... 67

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan ... 70 5.2 Saran ... 71

DAFTAR PUSTAKA ... xxi LAMPIRAN

(11)

x

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

2.1 Operasional Variabel Penelitian ... 32

3.1 Data Anggota Yayasan Warga Persahabatan (YWP) \ Cabang Medan Fukushi Tomo No Kai ... 41

4.1 Usia Responden ... 45

4.2 Jenis Kelamin Responden... 46

4.3 Tingkat Pendidikan Responden ... 46

4.4 Agama Responden ... 47

4.5 Pekerjaan Responden... 48

4.6 Usia Pernikahan Responden ... 48

4.7 Kecenderungan Berpikir Curiga Dan Dogmatis Terhadap Pasangan ... 49

4.8 Menganggap Jika Budaya Asal Lebih Hebat Daripada Budaya Pasangan ... 50

4.9 Menganggap Bahwa Budaya Asli Mutlak Kebenarannya ... 51

4.10 Merasakan Rasa Takut Meninggalkan Budaya Asli ... 52

4.11 Merasakan Gelisah Meninggalkan Budaya Asli ... 53

4.12 Perasaan Merindukan Rumah ... 54

4.13 Menarik Diri Dari Budaya Baru ... 55

4.14 Mengalami Perasaan Takut, Gelisah, Selalu Merindukan Rumah Dan Menarik Diri Dari Budaya Pasangan ... 56

4.15 Waktu Yang Saudara Butuhkan Dalam Menerima Budaya Baru Dari Pasangan ... 57

4.16 Dalam Menjalani Proses Penerimaan Budaya Baru ... 58

4.17 Setelah Menjalani Proses Penerimaan Budaya Baru ... 59

4.18 Kemampuan Mengenali Budaya Pasangan ... 59

4.19 Kemampuan Mengenali Identitas Diri ... 60

4.20 Keterikatan Kelompok Budaya ... 61

4.21 Degradasi Budaya ... 62

4.22 Dominan Salah Satu Budaya ... 62

4.23 Tabel Silang Berfikir Curiga Terhadap Pasangan dan Kemampuan Mengenali Budaya Pasangan ... 64

4.24 Tabel Silang Ego Budaya Sendiri Terhadap Pasangan dan Kemampuan Mengenali Identitas Diri ... 64

4.25 Tabel Silang Keunggulan Budaya Sendiri Terhadap Pasangan dan Keterikatan Kelompok Budaya ... 65

(12)

xi

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

2.1 Variabel Penelitian ... 31 3.1 Struktur Organisasi Yayasan Warga Persahabatan (YWP)

Cabang Medan Fukushi Tomo No Kai. ... 35 3.2 Kegiatan Merangkai Bunga (Ikebana) di Gedung

Dharma Wanita Sumut ... 37 3.3 Kegiatan Farewell Party di hotel Aryaduta Medan ... 38 3.4 Acara tradisi minum teh Jepang (Chanoyu) di Gedung

(13)

v

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul “Pengaruh Proses Akulturasi Terhadap Perubahan Identitas Etnis Pasangan Keturunan Jepang Dan Indonesia Di Fukushi Tomonokai”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh akulturasi dan perubahan identitas etnis pasangan Jepang dan Indonesia di Yayasan Warga Persahabatan Cabang Medan Fukushi Tomo No Kai. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah komunikasi antar budaya, proses akulturasi, pernikahan dan identitas etnis. Metode yang digunakan penelitian ini adalah metode kuantitatif korelasional, yaitu suatu penelitian yang mengunakan alat bantu statistik sebagai hal paling utama dalam memberikan gambaran atas suatu peristiwa atau gejala. Sedangkan korelasi adalah suatu alat statistik yang dapat digunakan untuk membandingkan hasil pengukuran dua variabel yang berbeda agar dapat menentukan tingkat hubungan antara variabel. Populasi dalam penelitian adalah Pasangan Keturunan Jepang Dan Indonesia Di Yayasan Persahabatan Fukushi Tomonokai. Populasi penelitian berjumlah 19 orang. Teknik penarikan sampel menggunakan teknik

total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan penelitian kepustakaan (library research) yaitu melalui literatur dan sumber bacaan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa tabel tunggal. Hasil Penelitian menunjukkan pengaruh proses akulturasi terhadap identitas diri ditunjukkan melalui uji korelasi koefisien Spearman (rho) adalah 0.481. Berdasarkan skala Guilford, hasil 0,481 menunjukkan hubungan yang cukup berarti. Tanda korelasi pada koefisien korelasi menghasilkan + 0,481, yang menunjukkan arah hubungan yang sama antara proses akulturasi dan identitas diri. Sesuai kaidah dalam Spearman rs menunjukkan kedua variabel berkorelasi secara signifikan, maka hubungannya adalah signifikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini diterima dan hubungannya signifikan. Penelitian ini menunjukkan bahwa proses akulturasi berpengaruh terhadap identitas budaya pasangan pernikahan campuran Jepang dan Indonesia di Yayasan Warga Persahabatan Cabang Medan Fukushi Tomo No Kai.

Kata kunci:

Proses akulturasi, identitas etnis, Yayasan Warga Persahabatan Cabang

(14)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan (ide, gagasan) dari

satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi di antara

keduanya. Pada umumnya, komunikasi dilakukan dengan menggunakan kata-kata

yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Melalui komunikasi, sikap dan

perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain. Tanpa

kita sadari, komunikasi itu sendiri telah terjadi pada saat kita memperhatikan

perilaku seseorang dan memberikan makna pada perilaku tersebut. Adapun

karakter pribadi seseorang sangat mempengaruhi kelancaran suatu bentuk

komunikasi. Karakter inilah yang dibentuk dari lingkungan, keluarga, latar

belakang pendidikan, dan budaya.

Budaya berkaitan dengan cara manusia hidup. Manusia berpikir dan

bertindak sesuai dengan pola budaya yang telah melekat pada dirinya sendiri.

Budaya muncul dalam setiap pola bahasa, bentuk-bentuk kegiatan, dan perilaku

yang memungkinkan setiap individu di dalamnya bertindak dan berkomunikasi

sesuai dengan pola budaya yang dianut. Budaya dan komunikasi tidak dapat

dipisahkan karena seluruh perilaku seseorang sangat bergantung pada budaya

tempat ia dibesarkan. Budaya merupakan landasan komunikasi. Semakin beraneka

ragam budaya, maka semakin beraneka ragam pula praktik komunikasi.

Seiring dengan perkembangan jaman, komunikasi yang terjadi tidak hanya

dalam ruang lingkup yang kecil. Komunikasi antar budaya juga semakin

berkembang pesat, tidak hanya di Indonesia namun juga ke luar negeri. Latar

belakang sejarah, pendidikan, dan kesempatan karir yang bagus mengakibatkan

manusia berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Perpindahan inilah yang

menyebabkan seseorang mengalami culture shock, yaitu bentuk kecemasan yang

dialami seseorang dalam penyesuaiannya dengan lingkungan yang baru, dimana

nilai-nilai budayanya berbeda dengan budaya asli yang dia miliki. Beradaptasi

(15)

2

ia miliki, salah satunya dengan bersosialisasi dengan orang sekitar baik itu dari

lingkungan pekerjaan ataupun rumah.

Komunikasi antarbudaya yang lebih intens dapat ditemui dalam

komunikasi interpersonal yang terjadi dalam keluarga, yaitu yang dibentuk oleh

ikatan pernikahan, khususnya pernikahan yang terjadi antarbangsa. Sebagaimana

diberitakan dalam Kompas (08/10/2004), bahwa pernikahan antarbangsa kini

semakin biasa. Mereka yang bersekolah atau mencari kerja ke luar negeri semakin

banyak jumlahnya, baik perempuan maupun laki-laki, dan interaksi tersebut

meningkatkan peluang meningkatnya jumlah pernikahan antarbangsa, termasuk di

kota Medan.

Kota Medan merupakan kota ketiga terbesar di Indonesia dan letaknya

sangat strategis, sehingga peluang masuknya warga negara asing juga sangat

besar. Data mengenai jumlah pernikahan antarbangsa yang terjadi di Indonesia,

sebagaimana menurut data Aliansi Pelangi Antar Bangsa (APAB), pada tahun

2002 saja tercatat sebanyak 4.420 pasangan. Data ini diyakini terus mengalami

peningkatan setiap tahunnya, meskipun data riil terakhir masih belum

dipublikasikan (http://www.expat.or.id/orgs/aliansipelangiantarbangsa.html).

Salah satu negara yang memiliki jumlah warga negara terbanyak di Medan

adalah Jepang. Saat ini, ada 2.880 orang keturunan Jepang di Medan. Ini

berdasarkan generasi pertama sampai dengan ketiga keturunan Jepang (survey

Yayasan Warga Persahabatan Fukushi Tomo No Kai) (Sumutpos.com).

Jepang sendiri memiliki sejarah yang sangat dekat dengan Indonesia.

Sejak kemerdekaan Indonesia, banyak tentara Jepang yang tidak kembali ke

negara asalnya dan memilih untuk berkeluarga dengan penduduk pribumi di

Indonesia. Walaupun bahasa menjadi salah satu faktor hambatan dalam

berkomunikasi, namun bukan menjadi persoalan berarti. Pemilihan pasangan

hidup biasanya cenderung dilakukan seseorang dengan memilih pasangan yang

mempunyai kesamaan antara dia dan pasangannya, baik kesamaan dalam agama,

hobi, sifat, bahasa, pola berpikir bahkan adat istiadat. Hal ini disebut sebagai

(16)

3

Perkawinan merupakan hal yang sakral bagi masyarakat Jepang dan

Indonesia. Dua-duanya menganggap perkawinan adalah bagian dari fase hidup

yang penting dalam melanjutkan keturunan. Dewasa ini, masyarakat Indonesia

tidak lagi mementingkan faktor suku atau etnis dalam mencari pasangan hidup,

faktor kesamaan minat, latar belakang dan pengalaman hidup dirasa lebih penting.

Adapun karakter tiap-tiap orang juga berbeda. Karakter didapat dari budaya dari

lingkungan, semasa hidup dari kecil tempat dibesarkan dan peranan keluarga.

Jepang adalah negara dengan penduduk yang berkarakter dingin, cuek dan

acuh terhadap satu sama lain. Berbeda jauh dengan Indonesia, dimana

masyarakatnya terkenal hangat dan ramah terhadap semua orang. Dari segi

bahasa, makanan, tata krama, dan budaya masing-masing negara sangat berbeda.

Masalah penyesuaian adalah suatu hal yang sifatnya universal dan unik, karena

setiap individu mau tidak mau harus menghadapi masalah atau kesulitan dalam

kehidupannya sehingga perlu melakukan penyesuaian.

Ketika proses penyesuaian ini berlangsung, seringkali ada gangguan dan

kesalahpahaman karena perbedaan budaya. Untuk mengurangi dampak gegar

budaya (culture shock) sangat diperlukan pemahaman budaya. Culture shock

merupakan bentuk kecemasan berlebihan akibat pergaulan dengan budaya lain

dan kehilangan pergaulan sosial dengan budaya aslinya. Aktif mengikuti

komunitas etnis yang ada di lingkungan adaptasi, bisa membantu imigran untuk

mengurangi kecemasan yang berlebihan pada saat bertemu dengan budaya baru,

yaitu dengan tetap bersentuhan pada budaya aslinya.

Proses memakan waktu ini membuat setiap orang mempelajari budaya

asing dan tanpa disadari menggabungkannya dengan budaya aslinya. Disinilah

proses akulturasi berlangsung. Pada saat seorang pria dan seorang wanita

menikah, tentunya masing-masing membawa nilai-nilai budaya, sikap, keyakinan,

dan gaya penyesuaian sendiri-sendiri ke dalam pernikahan tersebut.

Masing-masing memiliki latar belakang dan pengalaman yang berbeda. Tentu saja ada

perbedaan dalam susunan nilai serta tujuan yang ingin dicapai, untuk itulah perlu

dilakukan penyesuaian sehingga kebutuhan dan harapan masing-masing pasangan

(17)

4

Pasangan yang memutuskan melakukan pernikahan beda etnis harus

memiliki pola pikir terbuka terhadap budaya yang dibawa oleh pasangannya,

termasuk kepercayaan, nilai dan norma. Jika kedua pihak tidak memiliki pola

pikir terbuka, akan terjadi pemaksaan kehendak untuk mempraktikkan

kepercayaan, nilai dan norma yang dianut oleh pasangannya.

Dalam proses ini identitas etnis seseorang juga lambat laun akan berubah.

Pada saat seseorang yang berbeda etnis menikah dengan etnis lainnya, akan terjadi

kesepakatan atau kompromi untuk mengakui salah satu etnis budaya dalam

pernikahannya, saling menggabungkan, atau malah menghilangkan budaya

masing – masing (miskin budaya). Situasi inilah yang mengakibatkan munculnya

kesepakatan untuk mengakui salah satu budaya yang akan mendominasi, budaya

lain yang merupakan percampuran dari dua budaya tersebut, atau malah kedua

budaya dapat berjalan beriringan dalam satu keluarga (asimilasi).

Pernikahan beda etnis sekalipun pasti melakukan interaksi, walaupun

dengan bahasa yang sama, bukan berarti proses komunikasi akan berjalan lancar.

Adanya perbedaan karakter diantara keduanya mengakibatkan masing-masing

pasangan memiliki bentuk prasangka terhadap satu sama lain. Disinilah

diperlukan saling menerima dan saling pengertian akan kebudayaan

masing-masing dengan latar belakang dan keluarga yang sangat berbeda. Penyesuaian diri

merupakan proses yang dinamis, membutuhkan usaha yang terus-menerus

sepanjang usia pernikahan dan disini dilihat seberapa mampukah individu dalam

menghadapi situasi dan kondisi yang berbeda. Karena pada saat seseorang

menikah, ia tidak hanya menikahi satu orang saja, melainkan sekelompok

keluarga baru. Ada norma dan peraturan yang harus dipatuhi bersama untuk

mencapai tujuan pernikahan itu.

Berdasarkan pengamatan peneliti, Yayasan Warga Persahabatan Cabang

Medan Fukushi Tomo No Kai memiliki anggota yang tingkat akulturasinya sangat

tinggi dikarenakan masing-masing pasangan memiliki unsur kebudayaan yang

masih kental dan sering mendapat kebudayaan yang masih asing dalam hubungan

pernikahan. Banyak anggotanya terdiri dari pasangan yang memilih

(18)

5

dimana pada kebudayaan baru tersebut masih dapat ditemukan karakter asli dari

unsur-unsur kebudayaan penyusunnya.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti ingin mengetahui lebih jauh bagaimana

pengaruh proses akulturasi terhadap perubahan identitas etnis yang terjadi pada

pasangan Jepang dan Indonesia di Yayasan Warga Persahabatan Cabang Medan

Fukushi Tomo No Kai. Melalui penelitian ini, peneliti ingin mengetahui apakah

memang ada pengaruh antara proses akulturasi terhadap perubahan identitas etnis

pasangan Jepang dan Indonesia di Yayasan Warga Persahabatan Cabang Medan

Fukushi Tomo No Kai.

Namun selama ini belum pernah dilakukan penelitian mengenai proses

akulturasi yang terjadi pada pasangan Jepang dan Indonesia di Yayasan Warga

Persahabatan Cabang Medan Fukushi Tomo No Kai. Dengan demikian juga belum

pernah diketahui bagaimana perubahan identitas etnis pasangan Jepang dan

Indonesia yang menjadi anggota aktif disana. Oleh karena itu, peneliti merasa

tertarik untuk melakukan penelitian maslaah ini dengan judul “Bagaimana

Pengaruh Akulturasi Terhadap Perubahan Identitas Etnis Pasangan Jepang dan

Indonesia di Yayasan Warga Persahabatan Cabang Medan Fukushi Tomo No

Kai.”

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas, maka dapat dirumuskan

masalah sebagai berikut : :”Bagaimana pengaruh proses akulturasi terhadap

perubahan identitas etnis pasangan keturunan Jepang dan Indonesia di Fukushi

Tomonokai?”.

1.3. Pembatasan Masalah

Pembatasan masalah bertujuan untuk menetapkan batasan dari masalah

penelitian yang akan diteliti agar ruang lingkup penelitian menjadi lebih sempit

dan jelas. Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka pembatasan masalah

(19)

6

1. Penelitian bersifat kuantitatif, yaitu menganalisis pengaruh akulturasi dan

perubahan identitas etnis terhadap pasangan keturunan Jepang dan

Indonesia di Yayasan Fukushi Tomonokai di Medan

2. Subjek penelitian dikhususkan pada pasangan keturunan Jepang dan

Indonesia yang menjadi anggota aktif Fukushi Tomonokai di Medan.

1.4. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mendeskripsikan pasangan keluarga Jepang dan Indonesia di

Yayasan Warga Persahabatan Cabang Medan Fukushi Tomo No Kai.

2. Untuk mengetahui pengaruh akulturasi dan perubahan identitas etnis

pasangan Jepang dan Indonesia di Yayasan Warga Persahabatan Cabang

Medan Fukushi Tomo No Kai.

1.5. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah :

1. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat melengkapi dan

menambah pengetahuan serta wawasan bagi pembaca, khususnya

departemen Ilmu Komunikasi.

2. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi

positif terhadap Ilmu Komunikasi, khususnya mengenai komunikasi

antarbudaya dalam pernikahan campuran.

3. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan

referensi bagi mahasiswa yang membutuhkan informasi yang lebih

mendalam mengenai komunikasi antarabudaya dalam pernikahan

(20)

7

BAB II

URAIAN TEORITIS

2.1 Kerangka Teori

Fungsi teori dalam riset adalah membantu periset menerangkan fenomena

sosial atau fenomena alami yang menjadi pusat perhatiannya.Teori adalah

himpunan konstruk (konsep), definisi dan proposisi yang mengemukakan

pandangan sistematis tentang gejala dengan menjabarkan relasi diantara variabel,

untuk menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut (Kriyantono, 2007: 45).

Adapun teori yang dianggap relevan dengan penelitian ini adalah :

2.1.1 Komunikasi Antar Budaya

2.1.1.a Pengertian Komunikasi Antar Budaya

Komunikasi antarbudaya tidak dapat dielakkan dari pengertian

kebudayaan. Budaya merupakan landsan komunikasi, bila komunikasi beraneka

ragam, maka beraneka ragam pula praktik-praktik komunikasinya karena

perbendaharaan perilaku kita sangat bergantung pada budaya tempat kita

dibesarkan. Kebudayaan (budaya) berasal dari bahasa Sansekerta yaitu bentuk

jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “akal” (Koentjaraningrat, 1990:181).

Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan sebagai keseluruhan sistem

gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat

yang dijadikan milik dari manusia dengan belajar.

Komunikasi antarbudaya adalah kegiatan komunikasi antarpribadi yang

dilangsungkan di antara para anggota kebudayaan yang berbeda (Liliweri, 2001:

13). Fred E. Jandt juga mengartikan komunikasi antarbudaya sebagai interaksi

tatap muka diantara orang-orang yang berbeda budayanya. Komunikasi

antarbudaya terjadi bila si pengirim pesan adalah anggota suatubudaya dan

penerima pesannya adalah anggota suatu budaya lainnya. Budaya sendiri sangat

mempengaruhi orang yang berkomunikasi. Budaya bertanggungjawab atas

seluruh perilaku komunikatif dan maksud yang dimiliki oleh setiap orang.

Perilaku inilah yang dimiliki dua orang yang berbeda budaya dapat menimbulkan

(21)

8

Adapun beberapa definisi komunikasi antarbudaya yang dikutip dari

Liliweri (2001: 10-11), antara lain :

1. Andrea L. rich dan Dennis M. Ogawa dalam buku Larry A. Samovar

dan Richard E. Porter Intercultural Communication, A Reader ,

komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara orang – orang yang

berbeda kebudayaan, misalnya antara suku bangsa, antaretnik dan ras,

antarkelas sosial.

2. Samovar dan Porter juga mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya

terjadi diantara produser pesan dan penerima pesan yang latar belakang

kebudayaannya berbeda.

3. Charley H. Dood mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya meliputi

komunikasi yang melibatkan peserta komunikasi yang mewakili

pribadi, antarpribadi dan kelompok dengan tekanan pada perbedaan

latar belakang kebudayaan yang mempengaruhi perilaku komunikasi

para peserta.

4. Guo-Ming Chen dan William J. Stratosta mengatakan bahwa

komunikasi antarbudaya adalah proses negosiasi atau pertukaran sistem

simbolik yang membimbing perilaku manusia dan membatasi mereka

dalam menjalankan fungsinya sebagai kelompok.

Menurut defenisi diatas, dapat disimpulkan bahwa komunikasi antar

budaya selalu mempunyai tujuan tertentu yakni menciptakan komunikasi yang

efektif melalui pemaknaan yang sama melalui pesan yang dipertukarkan. Secara

umum tujuan komunikasi antar budaya antara lain menyatakan identitas sosial dan

menjembatani perbedaan antar budaya melalui perolehan informasi baru,

mempelajari sesuatu yang baru yang tidak pernah ada dalam kebudayaan

(Liliweri, 2001:255).

Melalui pengaruh budayalah manusia belajar berkomunikasi dan

memandang dunia mereka melalui kategori-kategori dan label-label yang

dihasilkan kebudayaan.Kemiripan budaya dalam persepsi memungkinkan

pemberian makna yang mirip pula terhadap suatu objek atau peristiwa. Cara-cara

(22)

9

yang digunakan, perilaku-perilaku non verbal merupakan respons terhadap fungsi

budaya itu sendiri (Liliweri, 2001: 160).

Salah satu unsur penting yang mempengaruhi persepsi seseorang ketika

berkomunikasi dengan orang lain, terutama dengan yang berbeda budaya adalah

agama dan ideologi. Kepercayaan pada dasarnya adalah sesuatu yang bersifat

persepsi pribadi.Banyak sistem kepercayaan yang dianut seseorang mengenai

berbagai aspek realitas dan memiliki karakteristik tertentu. Kepercayaan merujuk

pada keyakinan bahwa suatu hal memiliki ciri-ciri tertentu (Mulyana, 2005 : 221).

Setiap kepercayaan mengajarkan nilai-nilai kehidupan untuk setiap orang yang

menganutnya. Nilai-nilai budaya inilah yang menjadi arah dan pedoman

seseorang dalam bertindak karena adanya konsep yang terbentuk dalam pikiran

manusia, apa yang penting dan tidak penting. Karena nilai-nilai budaya tersebut

sudah berkembang sejak kita kecil, dari lingkungan dan keluarga, nilai tersebut

menjadi norma untuk panduan terhadap tindakan, sikap dan perilaku. Norma

tersebut juga digunakan untuk menilai diri sendiri dan orang lain.

Tidak semua orang atau komunitas budaya menganut seperangkat

kepercayaan yang sama. Semua pesan berawal dari konteks budaya yang unik

danspesifik, dan konteks tersebut akan mempengaruhi isi dan bentuk komunikasi

(Mulyana, 2005: 44-45). Budaya akan mempengaruhi setiap aspek pengalaman

manusia dalam berkomunikasi. Seseorang melakukan komunikasi dengan

cara-caraseperti yang dilakukan oleh budayanya. Budaya memainkan peranan penting

dalam pembentukan kepercayaan/keyakinan, nilai, dan sikap. Dalam komunikasi

antarbudaya tidak ada hal benar atau hal yang salah sejauh hal-hal tersebut

berkaitan dengan kepercayaan. Sedangkan nilai-nilai dalam suatu budaya terdapat

dalam perilaku anggota budaya yang dituntut oleh budaya tersebut. Kepercayaan

dan nilai memberi kontribusi bagi pengembangan sikap. Sikap dipelajari dalam

suatu konteks budaya. Lingkungan turut membentuk sikap individu, kesiapan

merespon, dan akhirnya menjadi perilaku individu tersebut (Mulyana, 2005:

(23)

10

2.1.1.b Unsur – Unsur Proses Komunikasi Antarbudaya

Unsur pertama dalam proses komunikasi antarbudaya adalah komunikator.

Komunikator dalam komunikasi antarbudaya merupakan pihak yang mengawali

proses pengiriman pesan terhadap komunikan. Baik komunikator maupun

komunikan ditentukan oleh faktor-faktor makro seperti penggunaan bahasa

minoritas dan pengelolaan etnis, pandangan tentang pentingnya sebuah

percakapan dalam konteks budaya, orientasi terhadap konsep individualitas dan

kolektivitas dari suatu masyarakat, orientasi terhadap ruang dan waktu.Sedangkan

faktor mikronya adalah komunikasi dalam konteks yang segera, masalah

subjektivitas dan objektivitas dalam komunikasi antarbudaya, kebiasaan

percakapan dalam bentuk dialek dan aksen, dan nilai serta sikap yang menjadi

identitas sebuah etnik (Liliweri, 2004: 25-26).

Unsur kedua dalam proses komunikasi antarbudaya adalah komunikan.

Komunikan merupakan penerima pesan yang disampaikan oleh komunikator.

Dalam komunikasi antarbudaya, komunikan merupakan seorang yang berbeda

latar belakang dengan komunikator. Tujuan komunikasi yang diharapkan ketika

komunikan menerima pesan dari komunikator adalah memperhatikan dan

menerima secara menyeluruh. Ketika komunikan memperhatikan dan memahami

isi pesan, tergantung oleh tiga bentuk pemahaman, yaitu kognitif, afektif dan overt

action. Kognitif yaitu penerimaan pesan oleh komunikan sebagai sesuatu yang

benar, kemudian afektif merupakan kepercayaan komunikan bahwa pesan tidak

hanya benar namun baik dan disukai, sedangkan overt action merupakan tindakan

yang nyata, yaitu kepercayaan terhadap pesan yang benar dan baik sehingga

mendorong suatu tindakan yang tepat (Liliweri, 2004:26-27).

Unsur yang ketiga adalah pesan atau simbol. Pesan berisi pikiran, ide atau

gagasan, dan perasaan yang berbentuk simbol. Simbol merupakan sesuatu yang

digunakan untuk mewakili maksud tertentu seperti kata-kata verbal dan simbol

nonverbal. Pesan memiliki dua aspek utama, yaitu content (isi) dan treatment

(perlakuan). Pilihan terhadap isi dan perlakuan terhadap pesan tergantung dari

keterampilan komunikasi, sikap, tingkat pengetahuan, posisi dalam sistem sosial

(24)

11

Unsur keempat yaitu media. Dalam proses komunikasi antarbudaya, media

merupakan saluran yang dilalui oleh pesan atau simbol. Terdapat dua tipe saluran

yang disepakati para ilmuwan sosial, yaitu sory channel, yakni saluran yang

memindahkan pesan sehingga akan ditangkap oleh lima indera manusia. Lima

saluran dalam channel ini yaitu cahaya, bunyi, tangan, hidung dan lidah. Saluran

kedua yaitu institutionalized channel yaitu saluran yang sudah sangat dikenal

manusia seperti percakapan tatap muka, material percetakan dan media elektronik.

Para ilmuwan sosial menyimpulkan bahwa komunikan akan lebih menyukai pesan

yang disampaikan melalui kombinasi dua atau lebih saluran sensoris (Liliweri,

2004:28-29).

Unsur proses komunikasi antarbudaya yang kelima adalah efek atau

umpan balik. Tujuan manusia berkomunikasi adalah agar tujuan dan fungsi

komunikasi dapat tercapai. Tujuan dan fungsi komunikasi antarbudaya, antara lain

memberikan informasi, menerangkan tentang sesuatu, memberikan hiburan dan

mengubah sikap atau perilaku komunikan. Di dalam proses tersebut, diharapkan

adanya reaksi atau tanggapan dari komunikan dan hal inilah yang disebut umpan

balik. Tanpa adanya umpan balik terhadap pesan-pesan dalam proses komunikasi

antarbudaya, maka komunikator dan komunikan sulit untuk memahami pikiran

dan ide atau gagasan yang terkandung di dalam pesan yang disampaikan.

Unsur keenam dalam proses komunikasi antarbudaya adalah suasana.

Suasana merupakan salah satu dari 3 faktor penting (waktu, tempat dan suasana)

didalam komunikasi antarbudaya (Liliweri, 2004:29-30). Unsur ketujuh dalam

proses komunikasi antarbudaya adalah gangguan. Gangguan di dalam komunikasi

antarbudaya merupakan segala sesuatu yang menghambat laju pesan yang ditukar

antara komunikator dan komunikan, dan dapat juga mengurangi makna pesan

antarbudaya. Gangguan tersebut menghambat penerimaan pesan dan sumber

pesan. Gangguan yang berasal dari komunikator bersumber akibat perbedaan

status sosial dan budaya, latar belakang pendidikan dan keterampilan

berkomunikasi. Gangguan yang berasal dari pesan disebabkan oleh perbedaan

pemberian makna pesan yang disampaikan secara verbal dan perbedaan tafsir atas

(25)

12

kesalahan pemilihan media yang tidak sesuai dengan konteks komunikasi

sehingga kurang mendukung komunikasi antarbudaya.

Pada dasarnya manusia menciptakan budaya atau lingkungan sosial

merekasebagai suatu adaptasi terhadap lingkungan fisik dan biologis mereka.

Kebiasaan–kebiasaan dan tradisi-tradisi tersebut terus hidup dan berkembang serta

diwariskan oleh suatu generasi ke generasi lainnya dalam suatu masyarakat

tertentu. Individu –individu tersebut cenderung menerima dan mempercayai apa

yang diwariskan budaya mereka. Mereka cenderung mengabaikan atau menolak

apa yang bertentangan dengan “kebenaran” yang mereka yakini. Ini seringkali

menjadi landasan bagi prasangka yang tumbuh di antara anggota kelompok

tertentu terhadap kelompok lain.

2.1.2 Pandangan Dunia (World View)

Menurut Ishii, Cooke, dan Klopf (dalam Samovar, dkk) cara pandang

merupakan orientasi budaya terhadap Tuhan, kemanusiaan, alam, pertanyaan

tentang keberadaan sesuatu, alam dan kosmos, kehidupan, moral dan alasan etis,

penderitaan, kematian, dan isu filosofis lainnya yang mempengaruhi bagaimana

anggotanya memandang dunia. Tujuan cara pandang adalah untuk menuntun

orang menentukan gambaran dunia ini dan bagaimana mereka berperan dalam

dunia tersebut. Banyak ahli yang setuju bahwa budaya mempengaruhi sebagian

besar cara pandang seseorang. Cara pandang menyediakan dasar persepsi dan sifat

realitas seperti yang dialami oleh mereka yang berbagi budaya yang umum.

Pandangan budaya berfungsi untuk membuat pengalaman hidup yang mungkin

menurut orang lain kacau dan tidak berarti menjadi dapat diterima oleh akal sehat.

Cara pandang ditentukan oleh pemahaman kolektif sebagai dasar untuk

menghakimi suatu tindakan yang memungkinkan kelangsungan hidup dan

adaptasi (Samovar, dkk, 2010: 117-118).

Agama sebagai cara pandang telah ditemukan dalam setiap budaya selama

ribuan tahun. Cara pandang erat kaitannya dengan praktik agama dan

kepercayaan. Manusia percaya bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari manusia

sebagai penentu dan pencipta budaya. Bagi kebanyakan orang di dunia ini, tradisi

(26)

13

Orang Kristen percaya bahwa keselamatan hanya diperoleh lewat Yesus

Kristus.Sedangkan kaum Muslim percaya bahwa untuk memperoleh surga adalah

keyakinan bahwa Tuhan itu satu dan tanpa sekutu dan bahwa Muhammad adalah

utusan-Nya.Akan tetapi orang-orang yang beragama Hindu dan Budha tidak

menganut kepercayaan seperti Kristen dan Islam. Agama Hindu dan Budha

percaya bahwa Tuhan tidak dalam otoritas tunggal, tetapi menjelma menjadi

banyak Tuhan (Mulyana, 2004: 35).

Hal yang menarik dari agama adalah bahwa hal tersebut mengikat orang

bersama-sama dalam dan memelihara cara pandang budaya mereka selama ribuan

tahun. Baik melalui ajaran Alkitab, Alquran, Weda, Torah, dan I Ching, manusia

selalu merasakan suatu kebutuhan untuk melihat keluar diri mereka sendiri akan

nilainilai yang mereka gunakan dalam mengatur hidup mereka. Agama

menyediakan dan menunjukkan nilai dari fenomena yang tidak dapat dijelaskan.

Inti dari agama adalah menyediakan petunjuk mengenai bagaimana untuk

memperlakukan orang lain dan memperoleh kedamaian batin (Samovar, dkk,

2010: 123-125).

Keyakinan kita tidak terbatas, misalnya Tuhan itu Esa atau Adam adalah

manusia pertama di bumi. Salah satu fungsi penting dari kepercayaan/keyakinan

adalah bahwa hal itu membentuk dasar nilai. Nilai adalah komponen evaluatif dari

kepercayaan mencakup kegunaan, kebaikan, estetika, dan kepuasan. Jadi nilai

bersifat normatif, memberitahu suatu anggota budaya mengenai apa yang baik

atau buruk, benar dan salah, apa yang harus diperjuangkan, dan sebagainya. Nilai

biasanya bersumber dari isu filosofis yang lebih besar yang merupakan bagian

dari lingkungan budaya, karena itu nilai bersifat stabil dan sulit berubah

(Mulyana, 2007:215-216).

Keyakinan dan nilai yang dianut seseorang yang jika dilaksanakan secara

terus-menerus akan disebut sikap. Keyakinan dan nilai yang dianut seseorang

tidak dapat diamati langsung. Kita hanya bisa menduga bagaimana kepercayaan

dan nilai seseorang berdasarkan tindakannya, terutama yang konsisten dari waktu

ke waktu (sikap). Manusia telah menganut berbagai kepercayaan sejak lahir yang

ditanamkan di dalam lingkungannya. Bagaimana cara berbicara, gaya berpakaian,

(27)

14

tersebut, semua diterima begitu saja dari lingkungan tanpa banyak

mempersoalkannya. Pola budaya merupakan suatu sistem kepercayaan dan nilai

yang terintegrasi yang bekerja sama untuk menyediakan suatu model terpadu dan

konsisten. Pola tersebut berkontribusi tidak hanya pada cara manusia melihat dan

berpikir mengenai dunia ini, namun juga bagaimana manusia hidup di dunia ini

(Samovar,dkk, 2010: 227).

2.1.3 Akulturasi dalam Pernikahan Campuran

2.1.3.a Komunikasi dan Akulturasi

Istilah akulturasi atau acculturation mempunyai arti sebagai proses sosial

yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu

dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian

rupa, sehingga unsur – unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan

diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian

kebudayaan itu sendiri (Koentjaraningrat, 2002: 248). Dalam akulturasi, selalu

terjadi proses penggabungan (fusi budaya) yang memunculkan kebudayaan baru

tanpa menghilangkan nilai-nilai dari budaya lama atau budaya asalnya. Akulturasi

adalah proses jalan tengah antara konfrontasi dan fusi, isolasi dan absorbs, masa

lampau dan masa depan. Ada 4 (empat) syarat yang harus dipenuhi supaya proses

akulturasi dapat berjalan dengan baik :

1.Penerimaan kebudayaan tanpa rasa terkejut (syarat persenyawaan/affinity).

2.Adanya nilai baru yang tercerna akibat keserupaan tingkat dan corak

budayanya (syarat keseragaman/homogeneity).

3.Adanya nilai baru yang diserap hanya sebagai kegunaan yang tidak

penting atau hanya tampilan (syarat fungsi).

4.Adanya pertimbangan yang matang dalam memilih kebudayaan asing

yang datang (syarat seleksi) (Sachari, 2001:86-87).

Apabila dilihat dari defenisi tentang akulturasi diatas maka dapat diambil

kesimpulan bahwa akulturasi adalah proses penggabungan antara dua kebudayaan

atau lebih untuk mencari jalan tengah dimana pada kebudayaan baru yang

(28)

15

kebudayaan penyusunnya. Salah satu bentuk akulturasi yang sering terjadi adalah

pada saat perpindahan. Migrasi menyebabkan pertemuan-pertemuan

antarkelompok manusia dengan kebudayaan yang berbeda-beda, akibatnya

individu-individu dalam kelompok tersebut dihadapkan dengan unsur-unsur

kebudayaan yang asing. Pada akhirnya bukan hanya sistem sosio-budaya imigran,

tapi juga sosio-budaya pribumi yang mengalami perubahan sebagai akibat kontak

antar budaya yang lama. Faktor yang berpengaruh atas perubahan yang terjadi

pada diri imigran itu adalah perbedaan antara jumlah dan besarnya masyarakat

pribumi, serta kekuatan dominan masyarakat pribumi dalam mengontrol berbagai

sumber dayanya mengakibatkan lebih banyak dampak pada kelanjutan dan

perubahan budaya imigran. Kebutuhan imigran untuk beradaptasi dengan sistem

sosio-budaya pribumi akan lebih besar daripada kebutuhan masyarakat pribumi

untuk memasukkan unsur-unsur budaya imigran ke dalam budaya mereka.

Kecakapan berkomunikasi yang telah diperoleh imigran lebih lanjut

menentukan seluruh akulturasinya. Kecakapan imigran dalam berkomunikasi akan

berfungsi sebagai alat penyesuaian diri yang membantu imigran memenuhi

kebutuhan-kebutuhan dasarnya seperti kebutuhan akan kelangsungan hidup

dankebutuhan akan “rasa memiliki”. Oleh karena itu, proses akulturasi adalah

suatu proses yang interaktif dan berkesinambungan yang berkembang dalam dan

melalui komunikasi seorang imigran dengan lingkungan sosio-budaya baru.

Kecakapan komunikasinya pada gilirannya menunjukkan derajat akulturasi

imigran tersebut.

Dalam proses akulturasi budaya yang terjadi, tidak jarang timbul

permasalahan dalam memahami budaya asing. Menurut William B. Gudykunst,

terdapat beberapa potensi masalah dalam proses akulturasi budaya (Gudykunst,

2003:316), yaitu :

1. Stereotip

Stereotip dapat positif atau negatif. Stereotip dapat menyamaratakan

ciri-ciri sekelompok orang. Dengan demikian, stereotip bisa mempersempit

persepsi kita dan mencemarkan proses akulturasi yang sedang

(29)

16 2. Prasangka

Prasangka memberikan perasaan dan tingkah laku negatif yang melibatkan

rasa marah, takut, keseganan dan perasaan gelisah. Menurut Brislin (dalam

Gudykunst, 2003:323) prasangka adalah perasaan mengenai hal baik atau

buruk, benar atau salah, pantas atau tidak pantas, dll.

3. Etnosentrisme

Menurut Nanda dan Warms (dalam Gudykunst, 2003:331), etnosentrisme

merupakan pandangan bahwa budaya seseorang lebih unggul

dibandingkan budaya lain. Pandangan bahwa budaya lain dinilai

berdasarkan standar budaya kita. Kita menjadi etnosentris ketika kita

melihat budaya lain melalui kacamata budaya kita atau posisi sosial kita.

4. Culture shock (gegar budaya)

Menurut Kalvero Aberg (dalam Gudykunst, 2003:335), gegar budaya

ditimbulkan oleh rasa gelisah sebagai akibat dari hilangnya semua tanda

dan simbol yang biasa kita hadapi dalam hubungan sosial. Gegar budaya

dapat meneybabkan rasa putus asa, lelah dan perasaan tidak nyaman.

Butuh penyesuaian sebelum Anda dapat beradaptasi dengan lingkungan

yang baru. Penyesuaian ini bisa berupa masalah komunikasi, perbedaan

mekanis dan lingkungan, perbedaan pengalaman budaya, perilaku dan

kepercayaan.

2.1.3.b Potensi Akulturasi

Potensi akulturasi seorang imigran sebelum berimigrasi dapat

mempermudah akulturasi yang dialaminya dalam masyarakat pribumi. Potensi

akulturasi ditentukan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

1. Kemiripan budaya asli dengan budaya pribumi.

2. Usia pada saat berimigrasi.

3. Latar belakang pendidikan.

4. Beberapa karakteristik kepribadian seperti suka bersahabat dan

toleransi.

5. Pengetahuan tentang budaya pribumi sebelum berimigrasi (Mulyana,

(30)

17

Memperhatikan individu-individu dari kebudayaan asing yang

menyebabkan pengaruh unsur-unsur kebudayaan penerima sangat penting, karena

mereka adalah agent of acculturation yang mengetahui unsur-unsur apa saja yang

sudah masuk. Dalam tiap masyarakat, warga masyarakat hanya memahami

sebagian dari kebudayaannya.Misalnya, kalau mereka pedagang, maka unsur

kebudayaan yang dibawa adalah benda-benda kebudayaan jasmani, cara-cara

berdagang, dan hal-hal yang bersangkutan dengan itu.

Ketika terjadi proses akulturasi, ada dua tipe masyarakat yang akan

terbentuk. Masyarakat yang “kolot” (tidak suka dan menolak hal-hal baru) dan

masyarakat yang “progresif” (suka dan menerima hal-hal baru). Salah satu wujud

penolakan terhadap pengaruh kebudayaan asing dan pergeseran sosial budaya

adalah gerakan-gerakan kebatinan di mana warga “kolot” dapat mengundurkan

diri dari kehidupan masyarakat yang bergeser itu dan bermimpi mengenai

kejayaan kuno di masa lampau sesuai dengan kebudayaannya. Reaksi berbeda dari

warga progresif dimana mereka menerima hal-hal baru yang datang.Hal ini tidak

jarang mengakibatkan perpecahan masyarakat dengan berbagai konsekuensi

konflik sosial politik (Koentjaraningrat, 2002: 254-255).

2.1.4 Pernikahan

Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau

dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatanperkawinan

secara hukum agama, hukum negara, dan hukum adat. Pernikahan adalah

bentukan kata benda dari kata dasar nikah; kata itu berasal dari Bahasa Arab yaitu

kata nikkah yang berarti perjanjian perkawinan.

Pengesahan secara hukum suatu pernikahan biasanya terjadi pada saat

dokumen tertulis yang mencatatkan pernikahan ditanda-tangani. Upacara

pernikahan sendiri biasanya merupakan acara yang dilangsungkan untuk

mmelakukan upacara berdasarkan adat-istiadat yang berlaku, dan kesempatan

untuk merayakannya bersama teman dan keluarga. Wanita dan pria yang sedang

melangsungkan pernikahan dinamakan pengantin, dan setelah upacaranya selesai

(31)

18

2.1.4.a Pernikahan di Indonesia

Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 pengertian pernikahan

adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami

isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal

berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Di Indonesia, pernikahan dilakukan

dengan dua cara, dengan catatan sipil atau sesuai adat dan istiadat yang menjadi

latar belakang masing-masing pasangan. Tidak jarang juga yang memilih untuk

mengadopsi pernikahan gaya barat. Perkawinan bertujuan untuk membentuk

keluarga yang bahagia sejahtera dan kekal selamanya. Perkawinan memerlukan

kematangan dan persiapan fisik dan mental karena menikah / kawin adalah

sesuatu yang sakral dan dapat menentukan jalan hidup seseorang.

2.1.4.b Pernikahan di Jepang

Di Jepang, pernikahan adalah hal yang penting karena hal itu menandakan

kesiapan seseorang dalam membentuk keluarga yang baru. Saat ini, jarang

pasangan Jepang yang menikah pada usia muda, karena setelah menamatkan

pendidikan mereka mulai memikirkan karir, setelah itu baru pernikahan. Uniknya,

para wanita Jepang rata-rata menginginkan pria yang sudah memenuhi syarat

untuk dijadikan pendamping, yaitu tinggi badan, tinggi pendidikan, dan tinggi

pendapatan. Pernikahan dilakukan dengan 2 cara, yaitu Shinto atau pernikahan

dengan cara barat. Sedangkan upacara pernikahannya ada yang menggunakan tata

cara tradisional dan cara modern.

Beda lagi dalam sebuah konteks perkawinan. Menurut Cohen (dalam

Hariyono,1993:102), perkawinan campuran dimaksudkan sebagai sebuah

perkawinan yang berlangsung antara individu dalam kelompok etnis yang

berbeda, atau dengan istilah lain disebut amalgamasi. Amalgamasi ini merupakan

peristiwa bertemunya sepasang suami isteri yang berlainan etnis, yang sama-sama

bermaksud membentuk suatu rumah tangga (keluarga) berdasarkan kasih sayang,

yang disahkan secara resmi dengan upacara tertentu. Oleh Hariyono, perkawinan

campuran dikatakan sebagai puncak dari bentuk asimilasi, yang diistilahkan

sebagai asimilasi perkawinan. Asimilasi perkawinan memberi pengertian tentang

(32)

19

jenis kelamin) yang memiliki perbedaan etnis. Segala apa yang ada pada pasangan

hidupnya, dengan segala latar belakang yang berbeda dapat diterima untuk

kemudian berjalan bersama-sama secara serasi menjadi teman hidup untuk

selamanya dalam satu wadah rumah tangga yang sama.

Dugan Romano dalam penelitiannya mengenai perkawinan antar etnis,

atau antarbudaya, mengidentifikasikan empat kelompok dalam tipe perkawinan

antaretnis tersebut, yaitu patuh/tunduk, kompromi, eliminasi, dan

konsensus.Perkawinan dalam tipe patuh, individu bersedia menerima budaya

pasangannya. Dan tipe inilah yang sering dijumpai dalam pasangan yang menikah

antarbudaya, banyak diantaranya yang berhasil. Tipe perkawinan kedua, yaitu

kompromi, lebih bermakna negatif. Hal ini dikarenakan salah satu akan

mengorbankan kepentingannya, prinsip-prinsipnya demi pasangannya. Tipe

eliminasi, berarti pasangan perkawinan antarbudaya tidak mau mengakui budaya

masing-masing, sehingga pasangan ini dapat dikatakan sangat miskin budaya.

Tipe terakhir, konsensus, memuat persetujuan dan kesepakatan dalam perkawinan

antarbudaya, sehingga tidak ada nilai-nilai yang disembunyikan

(http://ums.ac.id/).

Beulah Rohrlich (dalam Dodd, 1998: 71) menyatakan, bahwa dalam

keluarga kawin campur, komunikasi merupakan isu utama yang lazim muncul.

Karena itu, Rohrlichmemberikan beberapa alternatif dalam upaya penyesuaian:

1. Penyesuaian satu arah (one way adjustment): salah satu mengadopsi

polabudayapasangannya.

2. Penyesuaian alternatif (alternative adjustment): pada satu kesempatan

salahsatu budaya diterapkan, tapi pada kesempatan lain budaya

lainnya diterapkan.

3. Kompromi midpoin (midpoint compromise): kedua pihak sepakat

untuk menentukan posisi masing-masing sebagai jalan keluar.

4. Penyesuaian campuran (mixing adjustment): kombinasi dari dua

budaya yang sepakat untuk diadaptasi.

5. Penyesuaian kreatif (creative adjustment): kedua pihak memutuskan

untuktidak mengadopsi budaya masing-masing tetapi mencari pola

(33)

20

Dalam upaya saling menyesuaikan diri, pasangan kawin campur

dipengaruhi oleh beragam kondisi. Dodd menggolongkannya ke dalam delapan

kategori, yaitu:

1. Efek Romeo dan Juliet. Konsep ini merujuk pada pasangan kawin

campur yang saling tertarik, meskipun keluarga masing-masing tidak

memberikan restu. Sayangnya, seiring waktu, pasangan akan

menemui beragam persoalan, seperti tidak diterima oleh komunitas,

munculnya kritik dari orang-orang terdekat, orangtua melakukan

intervensi. Hal ini akan menurunkan kepercayaan individu terhadap

pasangannya.

2. Peran yang diharapkan. Beberapa studi memperlihatkan, bahwa para

isteri merasa dipaksa untuk menerima budaya suaminya. Para istri

yang sering kali mengalami tekanan untuk melakukan penyesuaian

diri terhadap budaya para suami. Hal ini mengakibatkan turunnya

kepuasan dalam berkomunikasi.

3. Gangguan dari keluarga besar. Bagi keluarga kawin campur,

persoalan seputarikut campurnya atau evaluasi oleh keluarga besar

lebih sering dijumpai dibandingkan dengan keluarga yang menikah

dalam satu budaya.

4. Budaya kolektif-individualistik. Beberapa budaya menganut

pendekatan saling berbagi sesuai dengan komitmen dan tanggung

jawab dalam kelompok (keluarga besar). Tetapi terdapat pula budaya

yang lebih memperhatikan kebutuhan keluarganya sendiri dan lebih

individualistik.

5. Bahasa dan kesalahpahaman. Ketika dua bahasa yang berbeda dipakai

dalam kehidupan sehari-hari keluarga kawin campur, seringkali

menghasilkan konflik, paling tidak persoalan kesalahpahaman

terhadap kata-kata, bahasa yang dipilih untuk dipakai sehari-hari, atau

kekuasaan psikologis yang akan mengontrol rumah tangga. Sebagai

catatan, jika seorang anak dipaksa untuk memilih identitas

(34)

21

6. Model konflik. Perbedaan dalam cara memecahkan konflik juga

merupakan poin penting kehidupan pasangan kawin campur.

Directness-indirectness, budaya konteks tinggi-konteks rendah,

monokronik-polikronik dan jarak kekuasaan merupakan faktor-faktor

yang berhubungan dengan konflik dalam keluarga kawin campur.

7. Cara membesarkan anak. Perilaku terhadap anak dan cara mendidik

anakmerepresentasikan perbedaan budaya yang lain dalam keluarga

kawin campur. Beberapa budaya menganut pemberlakuan aturan yang

ketat dibandingkan budaya lain, yang akan menghasilkan nilai budaya

yang berbeda, sekaligus perbedaan cara nilai-nilai tersebut

dikomunikasikan dan diberlakukan kepada anak-anak.

8. Pandangan negatif dari komunitas. Bizman mengajukan pertanyaan

kepada 549 orang tentang perkawinan orang Yahudi; Yahudi Barat

dengan Yahudi Barat, Yahudi Timur dengan Yahudi Timur dan

Yahudi Barat dengan Yahudi Timur. Hasilnya, 25 persen

beranggapan, bahwa perkawinan antara orang Yahudi Barat dengan

Yahudi Timur tidak akan berhasil dalam perkawinannya (dalam

Dodd, 1998:70-71).

2.1.5 Identitas Etnis

2.1.5.a Pengertian Identitas Etnis

Identitas adalah suatu konsep yang abstrak dan beraneka ragam yang

memainkan peran yang signifikan dalam seluruh interaksi komunikasi. Untuk itu

penting memberikanapresiasi pada apa yang membawa identitas, dan untuk

memberikan pemahaman mengenai hal tersebut, maka perlu untuk memperluas

kebutuhan untuk mengerti peran dari identitas dalam masyarakat yang beragam

budaya ini. Dan kebutuhan akan pemahaman perasaan tentang identitas akan

terbukti sendiri. Perkembangan identitas dipertimbangkan sebagai sebuah aspek

kritis bagi kebaikan/kesehatan psikologis setiap orang. Menurut Phinney dalam

Samovar dkk, sebuah prinsip objektif bagi orang dalam masa-masa usia dewasa

(35)

22

identitas yang tepat akan menghadapi kebingungan identitas, kekurangan

kejernihan pemikiran tentang siapa mereka dan apa peran mereka dalam hidup.

Pemahaman akan identitas juga sebuah aspek yang penting dalam studi

dan praktek komunikasi antarbudaya. Perhatian dari studi komunikasi

antarbudaya adalah bagaimana identitas mempengaruhi dan menuntun ekspektasi

tentang apa peran sosial diri dan orang lain maupun menyediakan tuntunan bagi

interaksi komunikasi dengan orang lain (Samovar dkk, 2007: 109-110). Secara

sederhana identitas dipahami sebagai konsep pribadi mengenai diri di dalam

sebuah konteks sosial, geografik, budaya dan politik. Menurut Mathews dalam

Samovar dkk, identitas adalah bagaimana diri menyusun dirinya sendiri dan label

untuknya sendiri (Samovar dkk, 2007: 111). Menurut Alba, identitas etnis dinilai

sebagai orientasi subjektif seseorang yang mengarahkannya pada etnis asalnya.

Bahkan menurut Rossens, identitas etnis membantu kita mendefenisikan siapa kita

(Gundykunst,dkk 2003: 103).

Tipologi identitas dalam Communication between cultures, terbagi atas:

identitas ras, identitas etnis, identitas gender, identitas nasional, identitas regional,

identitas organisasi, identitas pribadi, dan identitas maya dan fantasi (Samovar

dkk, 2007: 113-118). Sedangkan dalam Intercultural Communication In Context,

identitas budaya dan sosial di bagi atas: identitas gender, identitas usia, identitas

ras, identitas etnis, identitas agama, identitas kelas, identitas nasional, identitas

regional, dan identitas pribadi (Martin & Thomas, 2007: 171-188). Identitas etnis

sering sekali dikaji oleh para sosiolog, antropolog, psikolog dan sejarawan. Para

ahli meneliti asal-susul, substansi, konsekuensi dan proses etnisitas yang sedang

berubah dalam berbagai komunitas. Istilah-istilah lain yang sering menjadi

sinonim adalah etnisitas dan konsep diri kultural atau rasial. Istilah-istilah kadang

digunakan identik atau punya makna yang sama oleh para ahli. Makna konsep

identitas etnis tidak selalu eksplisit dalam kajian-kajian itu, atau tersirat dalam

kajian tentang akulturasi, asimilasi suatu kelompok etnis (Mulyana, 2005 : 151).

Identitas etnis sendiri sebenarnya merupakan bentuk spesifik dari identitas

budaya. Ting-Toomey dalam Rahardjo, mendefenisikan identitas kultural

merupakan perasaan (emotional significance) dari seseorang untuk ikut dalam

(36)

23

2005: 1-2). Sedangkan identitas etnis bisa dilihat sebagai sebuah kumpulan ide

tentang satu kepemilikan keanggotaan kelompok etnis. Hal ini menyangkut

beberapa dimensi:

• Identifikasi diri sendiri

• Pengetahuan tentang budaya etnis (tradisi, kebiasaan, nilai, perilaku) • Perasaan mengenai kepemilikan pada kelompok etnis tertentu.

Identitas etnis sering melibatkan sebuah perasaan yang dibagi tentang asal

dan sejarah, di mana mungkin mata rantai kelompok etnis pada kelompok budaya

yang jauh di Eropa, Asia, Amerika Latin atau tempat lain (Martin & Thomas,

2007: 175). Memiliki sebuah identitas etnis berarti mengalami sebuah perasaan

memiliki pada suatu kelompok dan mengetahui sesuatu tentang pengalaman yang

dibagi pada anggota kelompok (Martin & Thomas, 2007: 175).

Identitas etnis merupakan identitas sosial yang penting yang dapat

mempengaruhi komunikasi kita dengan orang lain (berbeda budaya). Cara kita

bereaksi dengan orang lain sering didasarkan pada asumsi kita mengenai etnisitas

mereka, sebagai contoh, kitamengkategorisasikan orang asing dan melekatkan

label etnis pada mereka. Bagaimanapun ketika kita melekatkan label pada orang

beda budaya, kita tidak mungkin melekatkan label, orang yang berbeda budaya

tersebut akan digunakan untuk mendeskripsikan diri mereka. Bahkan Devos

menjelaskan bahwa etnisitas melibatkan penggunaan beberapa aspek dari sebuah

latar belakang kelompok budaya yang digunakan untuk memisahkan anggota

kelompok dari yang bukan termasuk di dalaam kelompok. Sedangkan Giles dan

Johnson melihat sebuah kelompok etnis sebagai orang-orang yang

mengidentifikasi diri mereka yang memiliki kategori etnis yang sama

(Gundykunst &Kim, 2003: 103). Beberapa ahli menyatakan identifikasi etnis dan

ras sama dan ada yang menyebutkan keduanya berbeda. Beberapa ahli

menyebutkan identitas etnis dikonstruksikan oleh dirinya sendiri dan lainnya

tetapi identitas ras dikonstriksikan semata-mata oleh dirinya (Martin & Thomas,

2007: 177).

Kita akan bisa untuk mengabaikan perbedaan kelompok etnis ketika kita

berinteraksi dengan orang lain yang juga secara lemah mengidenfikasi

(37)

24

dam jelas mengidentifikasi kesamaannya maka kita tidak dapat mengabaikan

perbedaan kelompok. Ketika orang lain dengan jelas menemukan dan merasakan

kesamaannya dengan kelompok etnisnya dan kita mengabaikan etnisitas orang

lain tersebut ketika kita berinteraksi dengannya, maka kita tidak mendukung

konsep dirinya dan tidak akanmampu memahami tingkah lakunya. Ini adalah

sebuah masalah karena dukungan konsep diri justru perlu untuk orang lain yang

berbeda budaya tersebut, agar dia bisa merasakan kepuasan dengan komunikasi

mereka dengan kita (Gundykunst & Kim, 2003: 110).

Masyarakat menggambarkan identitas mereka didalam suatu lingkungan

secara pribadi. Identitas etnis atau disebut juga etnisitas, berasal dari sejarah,

tradisi, warisan, nilai, kesamaan perilaku, asal daerah dan bahasa yang sama.

Masyarakat yang memiliki etnis yang sama didaerah tempat perpindahan akan

membentuk komunitas etnisnya sendiri. Pada komunitas etnis ini, identitas etnis

cenderung tetap kuat, hal ini dikarenakan praktik, kepercayaan, dan bahasa dari

bahasa tradisional yang dipertahankan dan dipelihara (Samovar, dkk, 2010:189).

Identitas etnis merupakan bentuk spesifik dari identitas budaya.

Daphne A. Jameson dalam jurnalnya Reconceptualizing Cultural Identity

and Its Role in Intercultural Business Communication (Jameson, 2007: 218-225)

menyebutkan bahwa identitas budaya memiliki atribut sebagai berikut:

1. Cultural identity is affected by close relationships (Identitas budaya

dipengaruhi oleh hubungan dekat). Hubungan dekat seseorang dengan

orang lain seperti anggota keluarga atau teman. Orang-orang yang

memiliki teman dekat berbeda budaya, secara bertahap akan

mengadopsi beberapa kepercayaan dan sikap dari rekannya tersebut.

Proses ini sering berlangsung secara tidak sengaja, tetapi dapat

menyebabkan qualitative psychic transformation. Oleh karena itu,

penting untuk mempertimbangkan bagaimana sebuah hubungan

memodifikasi identitas budaya seseorang.

2. Cultural identity changes over time (identitas budaya berubah sesuai

dengan waktu). Dalam perjalanan kehidupan, banyak ornag berpindah

kelas ekonomi atau bidang profesi. Beberapa orang mengubah

(38)

25

bahasa aslinya, tetapi kemudian banyak yang muncul dengan dialek

baru dalam kehidupannya sehari-hari. Semua perubahan tersebut

mempengaruhi identitas budaya masyarakat. Bahkan ketika terjadi

perubahan terhadap kondisi sehari-hari, komponen lain dari identitas

budaya tetap mejadi pusat penting dan relevan dengan identitas inti

seseorang dalam jangka waktu yang panjang.

3. Cultural identity is closely intertwined with power and privilege

(identitas budaya erat kaitannya dengan kekuasaan dan hak istimewa).

Kekuasaan dan hak istimewa ataupun kemampuan untuk

mengendalikan persepsi eksternal identitas budaya menjadi terbatas

ketika seseorang tidak memiliki lembaga atau kelompok. Beberapa

komponen dari identitas budaya mungkin dapat disembunyikan atau

yang disebut “afiliasi disengaja”. Sebagai contoh, ciri-ciri fisik

membuat jelas latar belakang etnis untuk beberapa orang, tetapi

menjadi ambigu bagi yang lainnya. Orang-orang dapat memilih apakah

mereka akan membiarkan orang lain tahu mengenai latar belakang

budayanya atau tidak. Komponen biologis budaya-ras, etnis, jenis

kelamin, usia, terkadang membuat orang lain merasa terpinggirkan dari

hak-haknya.

4. Cultural identity may evoke emotions (identitas budaya bisa

membangkitkan emosi). Orang mungkin memiliki perasaan positif,

negatif, netral atau ambigu terhadap komponen identitas mereka

sendiri. Bahkan terkadang baik secara sadar ataupun tidak memiliki

perasaan negative terhadap komponen identitas mereka sendiri. Ketika

seseorang bersikap negative terhadap budaya orang lain, beberpaa

kemungkinan bisa saja terjadi. Ting Toomey (1986) dalam model

validitas identitasnya, berteori bahwa orang mengembangkan sikap

positif atau negative terhadap komponen atau identitas budaya mereka

sendiri berdasarkan persepsi sejauh mana orang lain mendukung

identitas tersebut. Dengan menegaskan identitas budaya orang lain,

Gambar

Gambar 2.1
Tabel 2.1
Gambar 3.1
Gambar 3.2 Kegiatan Merangkai Bunga (Ikebana) di Gedung Dharmawanita
+7

Referensi

Dokumen terkait

Manfaat yang akan diperoleh dari hasil penelitian mengenai status identitas remaja etnis dengan latar belakang kelurga etnis Jawa dan Tionghoa ini adalah sebagai

Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan bentuk representasi identitas etnis Tionghoa di Singkawang melalui tanda-tanda dalam film televisi Bakpao Ping Ping. Metode

Dengan mempelajari corak khas dari kebudayaan Etnis Jawa, Etnis Batak, dan Etnis Minang yang dalam penelitian ini dibatasi pemahaman akan habitat, lingkungan

Penelitian ini bertujuan, 1) Untuk mengetahui bagaimana proses komunikasi dalam pernikahan pasangan antara etnis Bugis dan etnis Tionghoa di Sengkang. 2) Untuk mengetahui

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara empirik hubungan antara identitas sosial dengan perilaku prososial mahasiswa etnis Jawa terhadap sesama etnis dan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konflik pernikahan dan coping pada pasangan pernikahan remaja. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif

Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini mengkaji bagaimana identitas etnis individu ber- etnis Jawa yang menikah dengan sesama etnis dan individu beretnis Jawa yang menikah de- ngan

untuk lebih jelasnya, rancangan perlakuan yang digunakan didalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini : Tabel 1 Desain Faktorial Penelitian Perlakuan Akulturasi