• Tidak ada hasil yang ditemukan

^aAnalisis Dampak Non-Tariff Measures (NTMs) terhadap Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Negara Tujuan Utama

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "^aAnalisis Dampak Non-Tariff Measures (NTMs) terhadap Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Negara Tujuan Utama"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS DAMPAK

NON-TARIFF

MEASURES

(NTMs)

TERHADAP EKSPOR IKAN TUNA INDONESIA KE NEGARA

TUJUAN UTAMA

OKTAVINA WIDYA KRISTRIANA

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Dampak Non- Tariff Measures (NTMs) Terhadap Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Negara Tujuan Utama adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

(4)

ABSTRAK

OKTAVINA WIDYA KRISTRIANA. Analisis Dampak Non Tariff Measures (NTMs) Terhadap Ekspor Tuna Indonesia ke Negara Tujuan Utama. Dibimbing oleh WIWIEK RINDAYATI.

Dewasa ini, perdagangan internasional mengalami hambatan baik tarif maupun non tarif. Negara- negara pelaku perdagangan cenderung memberlakukan tindakan non tarif (NTM). Kebijakan NTM yang paling banyak diberlakukan adalah Sanitary and Phitosanitary (SPS) dan Technical Barrier to Trade (TBT). Salah satu ekspor potensial Indonesia yang menghadapi hambatan NTM yaitu komoditi ikan tuna. Beberapa negara tujuan utama ekspor ikan tuna antara lain China, Jepang, Thailand, Amerika Serikat, Korea Selatan, Singapura, dan Vietnam. Penelitian ini bertujuan menganalisis kinerja ekspor serta dampak NTM terhadap ekspor komoditi tuna Indonesia. Metode yang digunakan yakni pendekatan inventory (coverage ratio dan frequency index) dan model gravity. Hasil pendekatan inventory menunjukkan Amerika Serikat sebagai negara yang memberlakukan NTM terbanyak dan kelompok komoditi tuna yang paling banyak terkena NTM adalah tuna beku. Hasil estimasi menunjukkan SPS dan TBT berpengaruh nyata terhadap ekspor ikan tuna dengan koefisien positif sebesar 0,011 dan 0,015.

Kata kunci: ikan tuna, model gravity, NTM, SPS, dan TBT

ABSTRACT

OKTAVINA WIDYA KRISTRIANA. Impact Analysis of The Major Destination Countries’ Non Tariff Measures (NTM) on The Indonesian Tuna Exports. Supervised by WIWIEK RINDAYATI

Currently, International trading is hampered in both tariff and non-tariff. Non-Tariff Measures (NTM) is likely applied by some major trading countries. Sanitary and Phytosanitary (SPS) and Technical Barrier to Trade (TBT) are the most widely applied NTM policy. Tuna commodities is one of Indonesian potential exports facing NTM barriers. Some of Indonesian tuna export major destinations are China, Japan, Thailand, United States, South Korea, Singapore, and Vietnam. This study aims to analyze the export performance and NTM impact on the Indonesian tuna export commodities. The methods used are descriptive analysis through inventory approach (coverage ratio and frequency index) and gravity model. The results show that United States as a country imposing highest NTMand frozen tuna as the most affected commodity group by NTM effects. The estimation results SPS and TBT affect tuna fish exports with positive coefficient of each 0,011 and 0,015

(5)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

pada

Departemen Ilmu Ekonomi

ANALISIS DAMPAK

NON-TARIFF MEASURES

(NTMs)

TERHADAP EKSPOR IKAN TUNA INDONESIA KE

NEGARA TUJUAN UTAMA

OKTAVINA WIDYA KRISTRIANA

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(6)
(7)
(8)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan karunianya sehingga skripsi yang berjudul Analisis Dampak Non- Tariff Measures (NTMs) Terhadap Ekspor Ikan Tuna Indonesia ke Negara Tujuan Utama ini dapat diselesaikan. Penyusunan tulisan ini sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan program Strata-1 pada Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor.

Penulis mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaian tugas akhir ini. Ucapan terima kasih disampaikan kepada:

1. Dr. Ir. Wiwiek Rindayati, M.Si selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan baik secara teknis, teoritis, dan moril selama proses penyelesaian skripsi sehingga dapat diselesaikan dengan baik.

2. Dr. Alla Asmara, S.Pt, M.Si dan Dr. Eka Puspitawati selaku penguji atas kritik dan masukan yang diberikan untuk perbaikan skripsi ini.

3. Orang tua dan keluarga penulis Tri Imam H. (Ayah) dan Kristintien Mulyani (Ibu), dan Yusril W. Mahendra (Adik) atas doa dan dukungan baik secara moril maupun materil yang diberikan kepada penulis dalam proses penyelesaian tugas akhir ini.

4. Ibu Darmiati Dahar alumni Pasca Sarjana Ilmu Ekonomi FEM IPB yang telah memberikan ilmu dan bantuan mengenai informasi Non-Tariff Measures (NTMs) kepada penulis.

5. Teman- teman satu bimbingan yaitu Annisa Meidianty, Dian Rahmadhani, Khairunnisa, dan Selamet Widodo yang senantiasa mendukung dan saling membantu dalam penyusunan skripsi. Sahabat- sahabat terbaik yaitu Chintia A.M, Anggun Tina, Indah Hardiyanti, Seftiyana, Aurora Fathyaa, Octavianne D. M, Ika Fauziah, Rusy Laytifah M, Latifa Dinna P, Danu Pramudia, Dani Arwan, dan Kemal Akbar, sebagai partner bertukar pikiran dalam berbagai hal dan juga berbagi semangat. Keluarga Power Rangers Astri Septiani, Khairunnisa M, Diana F.L, Asma Zakiyah, Desy S, Soleha, Puti H, Nurul Hikmah, Panny W, yang senantiasa berbagi keceriaan dan doa. 6. Teman- teman Ilmu Ekonomi FEM IPB Angkatan 48 yang telah sama- sama

berproses dalam dunia kampus dan berbagi pengalaman selama hampir empat tahun.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

(9)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL viii

DAFTAR GAMBAR viii

DAFTAR LAMPIRAN ix

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 4

Tujuan Penelitian 6

Manfaat Penelitian 6

Ruang Lingkup Penelitian 6

TINJAUAN PUSTAKA 7

METODE PENELITIAN 14

Jenis dan Sumber Data 14

Metode Analisis 14

HASIL DAN PEMBAHASAN 17

Gambaran Umum Subsektor Perikanan dan Industri Ikan Tuna Indonesia 17 Kinerja Perdagangan Komoditi Ikan Tuna Indonesia 18 Pemberlakuan Non Tariff Measures (NTM) pada Komoditi Ikan Tuna

Indonesia 21

Dampak NTMs Pada Ekspor Komoditi Tuna Indonesia ke Negara Tujuan

Utama 27

SIMPULAN DAN SARAN 32

Simpulan 32

Saran 32

DAFTAR PUSTAKA 33

LAMPIRAN 35

(10)

DAFTAR TABEL

1 Tabel 1 Nilai PDB menurut lapangan usaha tahun 2011- 2013 2 2 Tabel 2 Volume dan nilai ekspor hasil perikanan menurut komoditas utama

dan negara tujuan 2011-2012 3

3 Tabel 3 Jenis dan sumber data 14

4 Tabel 4 Produksi perikanan tangkap di laut menurut komoditas utama

2008-2013 18

5 Tabel 5 Perkembangan ekspor ikan tuna segar Indonesia tahun 2009-2013

ke negara tujuan utama 19

6 Tabel 6 Perkembangan ekspor ikan tuna beku Indonesia tahun 2009-2013

ke negara tujuan utama 19

7 Tabel 7 Perkembangan ekspor ikan tuna olahan Indonesia tahun 2009-

2013 ke negara tujuan utama 20

8 Tabel 8 Jumlah NTMs SPS dan TBT yang diberlakukan pada komoditi ikan tuna di negara tujuan utama tahun 2002- 2013 21

9 Tabel 9 Hasil Uji Chow dan Hausman 28

10 Tabel 10 Hasil estimasi model dampak SPS dan TBT 28

DAFTAR GAMBAR

1 Gambar 1 Kontribusi perikanan terhadap PDB sektor pertanian 2013 2

2 Gambar 2 Klasifikasi baru NTM 9

3 Gambar 3 Kerangka Pemikiran 13

4 Gambar 4 PDB sektor pertanian atas dasar harga berlaku 2008-2013 17 5 Gambar 5 Nilai ekspor ikan tuna Indonesia ke negara tujuan utama tahun

2013 (000 USD) 20

6 Gambar 6 Frequency index SPS pada ekspor komoditi tuna ke negara

tujuan utama tahun 2009- 2013 22

7 Gambar 7 Frequency index TBT pada ekspor komoditi tuna ke negara

tujuan utama tahun 2009- 2013 23

8 Gambar 8 Frequency index SPS pada ekspor komoditi tuna ke negara tujuan utama tahun 2013 berdasarkan kelompok komoditi 24 9 Gambar 9 Frequency index TBT pada ekspor komoditi tuna ke negara

tujuan utama tahun 2013 berdasarkan kelompok komoditi 24 10 Gambar 10 Coverage ratio SPS pada ekspor komoditi tuna ke negara

tujuan utama tahun 2009- 2013 25

11 Gambar 11 Coverage ratio TBT pada ekspor komoditi tuna ke negara

tujuan utama tahun 2009- 2013 26

12 Gambar 12 Coverage ratio SPS pada ekspor komoditi tuna ke negara tujuan utama tahun 2013 berdasarkan kelompok komoditi 26 13 Gambar 13 Coverage ratio TBT pada ekspor komoditi tuna ke negara

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

1 Lampiran 1 Cakupan Kode HS Ikan Tuna 35

2 Lampiran 2 Cakupan Kode HS Ikan Tuna 35

3 Lampiran 3 Neraca perdagangan tuna Indonesia ke negara- negara tujuan

utama tahun 2009- 2013 (000 USD) 36

4 Lampiran 4 Neraca perdagangan tuna Indonesia ke negara- negara tujuan utama berdasarkan kelompok komoditi tahun 2010- 2013 (000 USD) 37

5 Lampiran 5 Cross sections effect 37

6 Lampiran 6 Hasil uji normalitas 38

7 Lampiran 7 Hasil uji multikolinearitas 38

8 Lampiran 8 Hasil uji heteroskedastisitas 38

(12)
(13)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Ekspor merupakan mesin penggerak bagi percepatan pertumbuhan ekonomi. Dalam rangka mencapai pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, ekspor merupakan salah satu bagian penting yang harus diperhatikan kelangsungannya. Peranan ekspor menjadi semakin penting seiring dengan perubahan strategi industrialisasi dari industri substitusi impor menuju industri promosi ekspor.

Perdagangan yang dilakukan dalam rangka mendorong pertumbuhan ekspor mengalami hambatan baik tarif maupun non tarif. World Trade Organization (WTO) telah menetapkan tingkat tarif yang diberlakukan untuk komoditas di seluruh dunia, baik untuk negara maju maupun berkembang. Melalui perjanjian preferensi dalam perdagangan global, berbagai macam bentuk tarif telah semakin berkurang. Adanya batasan tarif ini membuat negara memberlakukan tindakan non tarif (non tariff measures/ NTMs) sebagai bentuk proteksi pada produsen domestik dalam menghadapi persaingan impor dengan produk asing (Dahar 2014).

Dewasa ini terdapat dua kecenderungan dalam sektor pertanian, yaitu peningkatan konsumsi masyarakat dan persoalan mengenai keaslian produk serta komposisinya. Masyarakat akan lebih memperhatikan keamanan produk serta keberlanjutan lingkungan dalam sebuah proses produksi sehingga nantinya akan berdampak pada keputusan konsumen untuk membeli sebuah produk pertanian. Akan tetapi keputusan membeli tentu saja tidak dapat ditentukan oleh masyarakat sendiri, sehingga dalam hal ini, peran non tariff measures menjadi sangat penting (Boza 2013). Tujuan diberlakukannya NTMs yakni melakukan tindakan untuk melindungi manusia, hewan, dan tumbuhan pada suatu negara dari penyakit, serta untuk menjamin kesejahteraan nasional yang berkelanjutan dengan memperbaiki kegagalan pasar.

Saini (2009) mendefinisikan NTMs sebagai tindakan selain tarif yang berkaitan dengan aktivitas administratif negara dan mempengaruhi harga, kuantitas, struktur dan/ atau arah dari arus perdagangan internasional berupa barang atau jasa serta sumberdaya yang digunakan untuk memproduksi produk atau jasa tersebut. UNCTAD mengklasifikasikan NTMs secara mendetail, dimana klasifikasi tersebut merupakan taksonomi dari semua langkah tindakan yang dianggap relevan dalam perdagangan internasional saat ini (Rahmaniar 2013). Secara garis besar, regulasi teknis dibagi menjadi dua kategori besar, yakni sanitary or phytosanitary (SPS) dan technical barriers to trade (TBT). Kedua regulasi ini dimaksudkan sebagai bentuk proteksi terhadap manusia, hewan atau tumbuhan pada suatu negara dari penyakit, dan juga mencakup segala macam regulasi teknis, standar, serta prosedurnya (UNCTAD 2013).

(14)

2

persayaratan kebijakan yang diberlakukan oleh negara pengimpor serta memaksimalkan potensi ekspornya dalam rangka mendorong surplus neraca perdagangan nasional

Tabel 1 Nilai PDB menurut lapangan usaha tahun 2011- 2013

Sumber: BPS 2013

Terdapat sembilan sektor utama pilar perekonomian nasional, dimana sektor

pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan merupakan satu dari sembilan sektor utama penopang perekonomian Indonesia. Tabel 1 memperlihatkan kinerja sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan terhadap nilai PDB yang mengalami tren peningkatan sepanjang tahun 2011- 2013. Nilai PDB sektor pertanian, peternakan, kehutanan atas dasar harga konstan meningkat dari 315 triliun rupiah pada tahun 2011 menjadi 328,3 triliun rupiah pada 2012 dan 339.9 triliun rupiah pada 2013.

Sumber: Dirjen Kelautan dan Perikanan, 2013

(15)

Gambar 1 menunjukkan kontribusi masing- masing subsektor dalam PDB sektor pertanian. Kontribusi terbesar yakni tanaman bahan makanan (tabama) sebesar 50% dan disusul oleh subsektor perikanan sebesar 21%. Dalam periode 2009-2012, capaian PDB sub sektor perikanan berdasarkan harga berlaku mengalami peningkatan rata- rata sebesar 13.07%, dan pada periode yang sama PDB nasional mengalami peningkatan sebesar 13.95%.

Dirjen Kelautan dan Perikanan (2013) mencatat bahwa pada tahun 2013, volume ekspor hasil perikanan sebesar 802 ribu ton dengan nilai total USD 2.6 milyar. Salah satu komoditas penyumbang nilai ekpor terbesar yaitu ikan tuna, dengan nilai USD 515 juta.

Tabel 2 Volume dan nilai ekspor hasil perikanan menurut komoditas utama dan negara tujuan 2011-2012

Negara Tujuan

Tahun Perubahan

2011 2012 2011/2012

Volume Nilai Volume Nilai Volume Nilai

(ton) (USD 000) (ton) (USD 000) % %

Jepang 123 830 806 060 118 732 842 118 -4.12 4.47

Udang 37 897 427 301 33 521 372 825 -11.55 -12.75

Tuna/ Cakalang 44 604 174 060 38 526 171 203 -13.63 -1.64

Kepiting 1 149 12 892 383 2 763 -66.67 -78.57

Lainnya 5 601 23 611 2 900 27 414 -48.22 16.11

Amerika Serikat 126 931 1 070 484 133 476 1 147 191 5.16 7.17

Udang 70 059 615 055 62 194 500 307 -11.23 -18.66

Tuna/ Cakalang 15 062 71 374 14 545 91 357 -3.43 28.00

Kepiting 10 016 198 319 4 976 91 236 -50.32 -54.00

Lainnya 4 032 14 614 29 376 298 299 628.57 1941.19

China 242 397 220 998 295 486 284 664 21.90 28.81

Udang 5 920 25 432 6 136 39 804 3.65 56.51

Tuna/ Cakalang 711 1 518 6 640 5 684 833.90 274.44

Kepiting 4 379 16 033 6 950 41 622 58.71 159.60

Lainnya 110 961 93 549 147 176 116 041 32.64 24.04

Negara Lainnya 563 858 963 626 594 304 1 133 795 5.40 17.66

Udang 27 527 97 652 43 858 279 302 59.33 186.02

Tuna/ Cakalang 51 263 154 159 113 645 358 242 121.69 132.39

Kepiting 6 386 23 756 14 642 181 477 129.28 663.92

Lainnya 79 593 184 346 105 847 1 896 32.99 -98.99

Total 1 159 349 3 521 091 1 229 114 3 853 658 6.02 9.44

Udang 158 062 1 309 674 162 068 1304 149 2.53 -0.42

Tuna/ Cakalang 141 774 498 591 201 159 749 992 41.89 50.42

Ikan lainnya 618 294 1 075 401 538 723 965 062 -12.87 -10.26

Kepiting 23 089 262 321 28 212 329 724 22.19 25.69

Lainnya 218 130 375 105 298 952 504 731 37.05 34.56

Sumber: KKP 2012

(16)

4

dan Amerika Serikat. Perubahan nilai komoditas tuna untuk semua negara kecuali Jepang menunjukkan angka yang positif dengan persentase terbesar jika dibandingkan dengan komoditas lain. Persentase nilai perubahan terbesar pada tahun 2011-2012 adalah ekspor ke China yang mencapai 274.44%.

Ikan tuna merupakan salah satu dari sepuluh komoditas potensial Indonesia (Kemendag 2015). Beberapa negara tujuan utama ekspor ikan tuna antara lain China, Jepang, Thailand, Amerika Serikat, Korea Selatan, Singapura, dan Vietnam. Adanya pertumbuhan nilai ekspor yang positif ke negara tujuan utama serta pasar yang terus berkembang di negara- negara tersebut memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan volume ekspor ikan tunanya. Peluang ini pun semakin diperkuat dengan keanggotaan Indonesia dalam berbagai asosiasi dunia berkaitan dengan ikan tuna, diantaranya Komisi Perikanan Wilayah Pasifik Barat dan Tengah (Western and Central Pacific Fisheries Commission/ WCPFC), Komisi untuk Konservasi Tuna Sirip Biru (Commisssion for the the Conservation of Southern Bluefin Tuna/ CCSBT) dan Komisi Tuna Samudera Hindia (Indian Ocean Tuna Commission/ IOTC). Keanggotaan Indonesia dalam berbagai asosiasi tersebut semakin memperkuat posisi tawar Indonesia sebagai eksportir tuna di pasar dunia. Maraknya isu non tarif seperti SPS dan TBT yang telah banyak ditetapkan oleh negara pengimpor sebagai bentuk proteksi dapat menjadi hambatan bagi ekspor tuna Indonesia. Akan tetapi, peranan asosiasi tuna domestik seperti Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI), Asosiasi Tuna Indonesia (ASTUIN), Asosiasi Perikanan Pole and Line and Hand Line (AP2HI), serta Komisi Tuna Indonesia (KTI) agaknya menjadi salah satu kunci penting dalam industri tuna dalam menghadapi isu tersebut, yakni dalam rangka menekan biaya perdagangan sekaligus mendorong daya saing tuna Indonesia melalui peningkatan standar mutu dan kualitas. Adanya dukungan asosiasi dalam rangka menghadapi kebijakan non tarif pada komoditi tuna Indonesia membuat hal ini menjadi menarik untuk diteliti, yakni dengan menganalisis apakah dampak kebijakan non tariff tetap menjadi hambatan atau justru menciptakan peluang baru bagi komoditi ikan tuna Indonesia. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan menghasilkan implikasi kebijakan sebagai upaya dalam rangka meningkatkan kinerja ekspor ikan tuna Indonesia ke negara- negara tujuan utama.

Perumusan Masalah

(17)

Terlepas dari tujuan penerapan kebijakan perdagangan sebagai proteksi atau mengatasi kegagalan pasar, NTMs diperkirakan memiliki efek distorsi pada perdagangan internasional. Kebijakan non tarif yang ditetapkan oleh negara- negara pengimpor komoditas justru memberikan hambatan baru dalam perdagangan internasional dan membatasi akses pasar menggantikan kebijakan tarif pada periode sebelumnya. Hal ini dijelaskan melalui studi yang dilakukan oleh International Trade Centre (2010). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanpa intensi proteksi sekalipun, NTMs dapat meningkatkan biaya perdagangan, mengalihkan perhatian manajerial, serta menekan eksportir kecil terutama pada negara berkembang dimana akses hukum dan informasi regulasi cenderung sulit dilakukan. Adanya regulasi teknis dan standar produk misalnya, dapat meningkatkan biaya perdagangan melalui dua cara. Pertama, meningkatkan beban biaya tetap bagi eksportir yang harus menyesuaikan produk dengan standar dan regulasi yang diberlakukan oleh negara pengimpor. Kedua, prosedur penilaian kesesuaian seperti pengujian untuk menunjukkan bahwa suatu produk telah sesuai dengan regulasi teknis juga dapat menjadi biaya tambahan.

Sanitary and Phytosanytary (SPS) dan Technical Barrier to Trade (TBT) merupakan dua bentuk penerapan NTMs yang paling banyak diberlakukan untuk subsektor perikanan khususnya komoditas tuna. UNCTAD (2013) menyatakan SPS dan TBT sebagai kebijakan non tarif yang paling banyak diberlakukan oleh seluruh negara di dunia, dengan nilai permberlakuan regulasi 15- 30% dari komoditas yang diperdagangkan. Hal ini menjadi penting untuk diperhatikan oleh negara pengekspor dalam mencapai kualitas dan keamanan produk untuk memenuhi ketentuan- ketentuan tersebut dan memperluas akses pasar di negara tujuan ekspor.

Berdasarkan data Dirjen Kelautan dan Perikanan (2014) total produksi perikanan Indonesia tahun 2013 mencapai 11.06 juta ton dengan total nilai sebesar Rp 126 triliun. Sub sektor perikanan tangkap mengalami pertumbuhan sebesar 3.53% dalam kurun waktu lima tahun terakhir, dan didominasi oleh komoditas tuna dan cakalang masing masing 269.5 ton dan 381 ton. Total volume ekspor hasil perikanan Indonesia pada tahun 2013 tumbuh sebesar 3.51%. Komoditas tuna, tongkol, dan cakalang (TTC) merupakan salah satu penyumbang terbesar nilai hasil ekspor perikanan dengan nilai USD 515 juta.

Angka pertumbuhan baik dalam segi nilai ekspor maupun produksi menunjukkan potensi ekspor yang besar untuk komoditas ikan tuna. Akan tetapi, penerapan hambatan non tariff pada komoditas tuna oleh negara pengimpor NTMs mengharuskan Indonesia untuk memperhatikan persyaratan yang harus dipenuhi dan secara tidak langsung berdampak bagi peningkatan biaya perdagangan komoditas tersebut. Peranan berbagai asosiasi tuna Indonesia seperti ATLI, ASTUIN, AP2HI, dan KTI menjadi penting. Keanggotaan nelayan serta eksportir tuna Indonesia dalam asosiasi- asosiasi tersebut merupakan salah satu upaya menekan biaya perdagangan yang harus ditanggung dalam memenuhi persyaratan dan standar yang diberlakukan oleh negara- negara pengimpor, terlebih karena masing- masing negara memiliki standar yang berbeda- beda sehingga biaya yang dibutuhkan akan menjadi lebih besar.

Penerapan SPS dan TBT oleh negara tujuan utama ekspor yang berpotensi menjadi hambatan perdagangan perlu dikaji lebih lanjut, sehingga terdapat beberapa permasalahan untuk diteliti yakni sebagai berikut:

(18)

6

2. Bagaimana pemberlakuan NTMs pada komoditas ikan tuna di negara- negara tujuan ekspor?

3. Bagaimana dampak NTMs pada ekspor ikan tuna Indonesia?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan permasalahan pada uraian sebelumnya, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu:

1. Mendeskripsikan kinerja ekspor komoditas ikan tuna Indonesia.

2. Mendeskripsikan pemberlakuan NTMs pada ekspor komoditas ikan tuna Indonesia di negara- negara tujuan utama.

3. Menganalisis dan mengestimasi dampak pemberlakuan NTMs terhadap kinerja ekspor komoditas ikan tuna Indonesia.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharpkan dapat memberi manfaat antara lain:

1. Bagi pemerintah, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi serta pertimbangan untuk mengambil kebijakan dalam rangka mendorong potensi ekspor komoditas ikan tuna Indonesia.

2. Bagi pelaku sektor perikanan khususnya untuk komoditas ikan tuna, penelitian ini diharapkan dapat memberi gambaran untuk meningkatkan kinerja ekspor komoditas ikan tuna.

3. Bagi masyarakat, penelitian ini diharapkan dapat memberi pengetahuan baik secara umum maupun khusus mengenai kebijakan perdagangan Non Tariff Measures (NTMs), serta mengetahui dampak NTMs terhadap arus ekspor pada komoditas ikan tuna Indonesia. Hasil dari penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan bahan referensi untuk penelitian lanjutan. 4. Bagi penulis, penelitian ini diharapkan dapat memperdalam ilmu

pengetahuan dan wawasan penulis tentang kebijakan perdagangan Non Tariff Measures (NTMs), serta mengetahui dampak NTMs terhadap arus ekspor komoditas ikan tuna Indonesia.

Ruang Lingkup Penelitian

(19)

TINJAUAN PUSTAKA

Landasan Teori

Teori Perdagangan Internasional

Perdagangan dan pertukaran secara ekonomi dapat didefinisikan sebagai proses tukar- menukar yang didasarkan atas kehendak sukarela. Suatu perdagangan akan terjadi apabila pihak- pihak pelaku perdagangan mendapatkan manfaat atau keuntungan. Demikian pula dengan perdagangan internasional. Dalam arti sempit, perdagangan internasional merupakan suatu gugusan masalah yang timbul sehubungan dengan pertukaran komoditas antar negara. Apabila tidak ada perdagangan internasional maka masing- masing negara harus mengkonsumsi hasil produksinya sendiri (Salvatore 1997).

Kebijakan Perdagangan Internasional

Kebijakan perdagangan internasional merupakan tindakan atau kebijaksanaan ekonomi pemerintah yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi komposisi, arah, serta bentuk dari perdagangan internasional (Nopirin, 1999). Instrumen- instrumen kebijakan perdagangan internasional yaitu:

1. Kebijakan perdagangan internasional

Meliputi tindakan pemerintah terhadap current account dari neraca pembayaran internasional, khususnya ekspor dan impor barang dan jasa. 2. Kebijakan pembayaran internasional

Meliputi tindakan pemerintah terhadap capital account dalam neraca pembayaran internasional.

3. Kebijakan bantuan luar negeri

Meliputi tindakan pemerintah berhubungan dengan bantuan (grants), pinjaman (loans), bantuan yang bertujuan untuk membantu rehabilitasi serta pembangunan, dan bantuan militer terhadap negara lain.

Non Tariff Measures (NTMs)

Semenjak berakhirnya Perang Dunia II, khususnya pada sektor manufaktur, pemerintah berbagai negara memiliki kecenderungan untuk melindungi industri- industri domestik dengan memberlakukan berbagai macam hambatan non tariff (Salvatore 1997). Berdasarkan hasil perundingan GATT pada putaran Uruguay, terdapat beberapa kesepakatan mengenai jenis- jenis hambatan non tarif, antara lain:

1. Kuota Impor

Kuota impor digunakan untuk melindungi sektor industri tertentu. Pada negara maju, hambatan ini umumnya digunakan untuk melindungi sektor pertanian, sementara pada negara berkembang digunakan untuk melindungi sektor manufaktur.

2. Subsidi Ekspor

(20)

8

menimbulkan daya saing yang berlebihan pula sehingga dapat menjadi ancaman bagi kelangsungan perdagangan internasional. Antisipasi untuk bentuk kecurangan ini yakni dengan menetapkan pajak atau tariff pada produk yang diduga memperoleh subsidi ekspor dari pemerintahnya. Sari 2014).

3. Pembatasan Ekspor Secara Sukarela

Tindakan pembatasan ekspor secara sukarela merupakan implikasi dari adanya pemaksaan untuk pengurangan ekspor yang dilakukan bersamaan dengan hambatan perdagangan yang lebih keras oleh suatu negara pengimpor. Tujuannya yakni untuk melindungi sektor tertentu yang menurun karena adanya produk impor. Selain pembatasan produk impor, langkah lain yang dapat ditempuh untuk menghindari ancaman produk impor yakni dengan memaksa negara pengekspor untuk membayar kompensasi sebagai akibat dari dampak yangditimbulkan pada industri domestik negara tujuan ekspor (World Trade Organization 2013).

4. Hambatan Birokrasi

Pemerintah suatu negara memberlakukan kontrol ketat terhadap standar kesehatan, keamanan, dan prosedur kepabeanan. Tindakan ini dinilai efisien untuk membatasi impor. Akan tetapi, pada praktiknya pemerintah ingin membatasi impor tanpa mengumumkannya secara formal sehingga seringkali menimbulkan hambatan dalam perdagangan internasional. 5. Kartel Internasional

Kartel merupakan bentuk sebuah organisasi produsen tertentu yang anggotanya terdiri dari beberapa negara. Tujuan pembentukan kartel yakni untuk membatasi output serta mengendalikan kegiatan ekspor sehingga dapat digunakan untuk memaksimalkan keuntungan bagi negara- negara tertentu. Praktik kartel menjadi merugikan bagi negara onsumen karena harus membeli produk yang terbayas dengan harga relatif mahal.

6. Tindakan Anti- Dumping

Tindakan anti-dumping merupakan langkah yang dilakukan pemerintah sebagai respon terhadap adanya pengaduan serta keluhan produsen domestik karena perusahaan asing tertentu menjual komoditasnya dengan harga dibawah biaya produksi atau lebih murah dibandingkan harga pasar negara asalnya.

Dumping secara umum diartikan sebagai diskriminasi harga secara internasional. Keadaan tersebut terjadi ketika harga komoditas yang dijual di negara importir lebih rendah dibandingkan harga komoditas di pasar domestik negara eksportir. Dalam jangka panjang, dumping dapat menyebabkan kerugian pada negara tujuan ekspor, sebab tidak selamanya negara pengekspor akan memberikan harga murah pada negara tujuan ekspor. Setelah negara tujuan ekspor bergantung pada komoditas negara pengekspor, maka negara pengekspor akan menaikkan harga komoditasnya. 7. Sanitasi dan Fitosanitasi

(21)

yang dihasilkan oleh produsen domestik. Implikasi dari ukuran standar kualitas yang lebih tinggi akan mampu mendorong negara lain untuk meningkatkan kualitas produknya sehingga memiliki daya saing yang lebih tinggi di negara tujuan ekspornya.

8. Standar Lingkungan

Isu standar lingkungan yang semakin gencar dibahas dan telah diberlakukan oleh negara- negara maju berdampak pada perdagangan negara- negara berkembang. Standar lingkungan yang diberlakukan oleh negara maju dikhatarikan menjadi hambatan perdagangan terutama dalam segi kinerja ekspor bagi negara- negara berkembang. Bagi negara maju, standar lingkungan seringkali digunakan untuk tujuan tidak langsung yaitu untuk melindungi industri- industri dalam negerinya (Verbruggen et al. 1995).

Non tariff measures (NTMs) sendiri didefinisikan sebagai kebijakan- kebijakan selain tariff yang secara potensial memiliki pengaruh ekonomi perdagangan komoditas internasional dengan mengubah kuantitas perdagangan atau harga atau keduanya (UNCTAD 2013). Secara garis besar, klasifikasi NTMs terbagi menjadi import measures dan export measures (gambar 2). Pada import measures terbagi menjadi dua bagian yakni technical measures dan non technical measures, sementara untuk export measures hanya memiliki satu klasifikasi yaitu export related measures.

Sumber : UNCTAD 2013

(22)

10

Pada perkembangannya, kebijakan non tariff pada perdagangan internasional telah mengalami kemajuan sehingga dilakukan perubahan dalam metodologi, klasifikasi, penghitungan, dan pengumpulan data NTMs. Pada tahun 2006, UNCTAD membentuk Multi Agency Team Support dalam rangka menyusun dan memperbaharui klasifikasi NTMs. Modifikasi dalam penyusunan NTMs dilakukan dengan dengan penambahan beberapa cabang klasifikasi yang merefleksikan kondisi perdagangan internasional saat ini.

Sanitary and Phytosanitary (SPS) dan Technical Barriers to Trade (TBT)

Sanitary and Phytosanitary (SPS) dan Technical Barriers to Trade (TBT) merupakan bagian dari technical measures. Kedua kebijakan ini dimaksudkan sebagai tindakan perlindungan terhadap manusia, hewan, dan tumbuhan, serta mencakup berbagai regulasi teknis dan prosedur penilaian kesesuaian.

Penggunaan SPS secara spesifik banyak diberlakukan pada sektor pertanian dan produk yang berasal dari hewan. Cadot (2012) menjelaskan SPS sebagai kebijakan yang diaplikasikan untuk melindungi kehidupan manusia atau hewan dari zat- zat lain, kontaminasi, racun, atau organisme penyebab penyakit dalam makanan; untuk melindungi kehidupan manusia dari penyakit bawaan baik hewan maupun tumbuhan; untuk mencegah atau membatasi kerusakan negara dari masuknya hama; dan untuk melindungi biodiversitas.

Penggunaan TBT diterapkan secara lebih luas pada berbagai sektor dan berkaitan pada regulasi teknis dan prosedur penilaian kesesuaian. Definisi TBT menurut UNCTAD (2013) yaitu tindakan yang mengacu pada regulasi teknis, dan prosedur penilaian kesesuaian dengan peraturan teknis dan standar, termasuk langkah- langkah yang tercakup dalam perjanjian SPS. Regulasi teknis merupakan dokumen yang menetapkan mengenai karakteristik produk atau yang terkait dengan proses produksi serta ketentuan administratif. Hal ini juga mencakup symbol, pengemasan, atau pelabelan seperti yang digunakan pada produk, proses, maupun cara produksi. Sedangkan prosedur penilaian kesesuaian adalah prosedur yang digunakan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk menentukan bahwa persayaratan telah relevan atau memenujhi standar dalam peraturan teknis.

Pendekatan Inventory

Pendekatan inventory adalah inventarisasi kebijakan- kebijakan non tarif oleh setiap negara, dilakukan dengan menghitung frequency index dan coverage ratio pada periode waktu yang yang disesuaikan dengan ketersediaan data. Keduanya merupakan indikator agregat yang paling sederhana dalam mengukur pemberlakuan NTMs pada suatu negara. Frequency index merupakan share total tariff pada satu a

tau lebih NTMs yang diberlakukan, sementara coverage ratio merupakan persentase dari perdagangan suatu produk yang dikenakan NTMs pada negara pengimpor. Coverage ratio memberikan ukuran pentingnya NTMs impor secara keseluruhan.

Model Gravity

(23)

merupakan adaptasi dari model gravitasi yang dikemukakan oleh Sir Isaac Newton, dan kemudian berkembang sesuai dengan kebutuhannya dalam berbagai disiplin ilmu. Pada disiplin ilmu ekomomi, model ini diperkenalkan dan dikembangkan oleh Jan Timbergen pada 1962 dan digunakan sebagai alat analisis perdagangan internasional antarnegara.

Pada konteks perdagangan, model gravity menyatakan bahwa intensitas perdagangan antarnegara akan berhubungan secara positif dengan pendapatan nasional masing- masing negara, dan berhubungan terbalik dengan jarak antar keduanya (Yuniarti 2007).

Dahar (2014) menjelaskan persamaan gravitasi dapat dianggap sebagai semacam representasi singkat penawaran dan permintaan. Jika i adalah negara asal, maka Mi mewakili jumlah total yang bersedia dipasok ke semua pelanggan,

sementara Mj mewakili “wedge” yang memberlakukan biaya perdagangan dan

menghasilkan arus keseimbangan perdagangan yang lebih rendah. Secara matematis, seperti yang dikemukakan oleh Anderson (2011), gravity model dinyatakan dengan persamaan berikut:

= � �

Anderson juga menjelaskan bahwa dari perkalian persamaan gravitasi dapat diperoleh logaritma natural sehingga didapatkan hubungan linier antara arus perdagangan dan ukuran ekonomi dan jarak:

Ln Fij = α ln Mij+ β ln Mj–θ ln Dij+ ρ ln Rj + ϵij

Disertakannya error term ϵij menjelaskan bahwa persamaan dapat diestimasi

oleh regresi kuadrat terkecil biasa (ordinary least square) sehingga diharapkan dapat diperoleh estimasi dengan α= β = ρ = 1.

Tinjauan Penelitian Terdahulu

Studi yang dilakukan oleh Rastikaranty (2008) mengenai pengaruh kebijakan tarif dan non tariff Uni Eropa terhadap ekspor tuna Indonesia menggunakan model regresi berganda dengan dummy intersep. Hasil penelitian menunjukkan hasil bahwa kebijakan hambatan tarif berpengaruh nyata dan bersifat inelastis, sementaa kebijakan hambatan non tarif tidak berpengaruh nyata terhadap model. Tidak adanya pengaruh signifikan ini didukung oleh fakta bahwa Indonesia diijinkan untuk teris melakukan ekspor ke Uni Eropa namun harus diimbangi dengan penyetaraan standar.

(24)

12

positif dan signifikan, sementara NTM terkait tindakan pengawasan dan karantina menunjukkan pengaruh yang positif dan signifikan.

Pada tahun 2014, Dahar melakukan penelitian mengenai analisis dampak kebijakan non-tarif terhadap kinerja ekspor hortikultura Indonesia di negara ASEAN +3. Hasil penelitian menunjukkan variabel yang berpengaruh terhadap kinerja ekspor antara lain GDP perkapita negara pengimpor, populasi negara pengimpor, serta jarak ekonomi. Kebijakan non tariff berupa SPS dan TBT yang diukur dengan pendekatan variabel coverage ratio dan frequency index menujukkan pegaruh signifikan dengan koefisien negatif.

Penelitian yang dilakukan oleh Devadason (2009) mengenai NTM di ASEAN yang dipertanyakan sebagai hambatan perdagangan intra regional. Model yang digunakan digunakan adalah gravity dengan variabel export coverage ratio (ECR) yang diadaptasi dari pendekatan inventory untuk menangkap coverage ratio dari subjek perdagangan yang terkena NTM pada hubungan perdagangan intra-regional ASEAN. Komoditi yang diteliti mencakup 97 produk dalam HS dua digit, sehingga dimasukkan variabel dummy untuk sektor pertanian dan industri sebagai pembeda efek perdagangan antara kedua pasar tersebut. Hasil penelitian ternyata menunjukkan bahwa ECR memiliki dampak yang positif baik pada produk pertanian maupun industri. Akan tetapi, bagi beberapa negara seperti Cambodia, Laos, Myanmar, dan Vietnam, NTM dapat menjadi hambatan apabila permasalahan internal dalam industri domestic tidak bisa diatasi dengan baik oleh pemerintah setempat.

Fontagne et al (2005) mengestimasi dampak SPS dan TBT pada perdagangan internasional menggunakan model gravity. Negara yang diteliti meliputi negara maju (developing country/ DC), negara berkembang (least developed country/ LDC), dan negara- negara OECD (Organization of Economic Co-operation and Development). Hasil penelitian menunjukkan bahwa SPS dan TBT memiliki dampak negatif dan signifikan pada negara- negara maju, dampak positif dan signifikan pada negara- negara berkembang meskipun dengan elastisitas yang kecil, sedangkan untuk negara- negara OECD tidak memiliki dampak signifikan.

Penelitian yang dilakukan oleh Bratt (2014) mengestimasi mengenai dampak bilateral non-tariff measures pada 85 negara menggunakan gravity model yang mencakup variabel keunggulan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan NTM memiliki dampak negatif. Bagi negara eksportir berpendapatan rendah, NTM yang diberlakukan oleh negara pengimpor berendapatan tinggi cenderung memiliki dampak yang lebih besar dibandingkan dengan NTM oleh negara berkembang yang diberlakukan pada eksportir negara maju.

Kerangka Pemikiran

(25)

digunakan yaitu sanitary and phytosanitary (SPS) dan technical barriers to trade (TBT).

Salah satu komoditi potensial ekspor Indonesia yang tidak terlepas dari pemberlakuan NTMs adalah Ikan tuna. Jumlah produksi yang memberikan sumbangan besar pada subsektor perikanan serta pertumbuhan nilai ekspor ke beberapa negara tujuan utama yang positif merupakan sebuah peluang besar jika dapat dimanfaatkan dengan maksimal. Penggunaan SPS dan TBT yang banyak diberlakukan pada komoditi ikan tuna oleh negara- negara tujuan utama dimaksudkan sebagai upaya perlindungan terhadap manusia, hewan, dan tumbuhan dari berbagai penyakit, serta sebagai bentuk regulasi teknis dan prosedur penilaian kesesuaian.

Pendekatan inventory digunakan untuk menganalisis pemberlakuan SPS dan TBT oleh negara pengimpor pada komoditi ikan tuna Indonesia, sedangkan untuk menganalisis bagaimana dampak dari pemberlakuan kedua kebijakan tersebut menggunakan model gravity. Hasil dari penelitian ini adalah implikasi kebijakan terkait ekspor ikan tuna yang diharapkan dapat menjadi pertimbangan pemerintah.

Hipotesis

Hipotesis yang dibuat dalam penelitian ini adalah:

1. GDP per kapita suatu negara berhubungan positif dengan arus ekspor. Pada hubungan bilateral, peningkatan GDP perkapita suatu negara

Kebijakan Perdagangan

Implikasi Kebijakan Hambatan Tarif

Implementasi Non Tarif (SPS dan TBT) pada ekspor

ikan tuna Hambatan Non Tarif

Model Panel Gravity Pendekatan Inventory

(Frequency Index dan Coverage Ratio)

Dampak NTM pada ekspor ikan tuna

Instrumen Kebijakan Perdagangan Internasional

(26)

14

akan meningkatkan permintaan ekspor dan berhubungan positif dengan GDP perkapita partner dagangnya.

2. Populasi negara importir berhubungan positif dengan arus ekspor negara eksportir. Besarnya populasi akan meningkatkan GDP suatu negara dan mendorong permintaan impornya.

3. Jarak ekonomi berpengaruh negatif terhadap hubungan perdagangan antar negara. Semakin besar jarak ekonomi, maka akan semakin kecil arus perdagangan bilateral.

4. Nilai tukar riil berpegaruh positif dengan arus ekspor antarnegara dagang.

5. Penerapan NTMs (SPS dan TBT) oleh negara pengimpor berdampak terhadap arus ekspor.

METODE PENELITIAN

Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder time-series tahun 2011-2013 dengan cross section negara tujuan utama meliputi China, Jepang, Thailand, Amerika Serikat, Korea Selatan, Vietnam, dan Singapura. Data berasal dari berbagai sumber dengan rincian pada tabel 4.

Tabel 3 Jenis dan sumber data

Jenis Data Sumber Satuan

Non Tariff Measures (NTMs) I- TIP WTO

Populasi World Bank jiwa

GDP perkapita World Bank Juta USD

Ekspor dan Impor Ikan Tuna WITS Juta USD

Jarak geografis CEPII Km

Nilai tukar World Bank, OECD Rp/ USD

IHK World Bank

Metode Analisis

Terdapat dua metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini, yakni analisis deskriptif dengan pendekatan inventory dan analisis data panel dengan model gravity.

Pendekatan Inventory

(27)

negara tujuan ekspor. Analisis pemberlakuan kebijakan NTMs dilakukan dengan pendekatan inventory yang menggunakan frequency index dan coverage ratio sebagai indikatornya.

Fugazza (2013) menjelaskan frequency index hanya digunakan untuk mengukur ada atau tidaknya suatu NTMs, dan merangkum persentase produk dimana satu atau lebih kebijakan NTMs diterapkan. Frequency index menunjukkan persentase dari transaksi impor yang tercakup dalam sejumlah NTMs untuk negara ekspor sedangkan coverage ratio merupakan persentase dari subjek perdagangan yang dikenakan NTMs pada negara pengimpor dan memberikan ukuran pentingnya NTMs impor secara keseluruhan. Kedua indikator tersebut dirumuskan sebagai berikut:

� = [

] ×

� = [

� �

� � ] ×

Dimana:

Fijt = Frequency index negara pengekspor i ke negara pengimpor j pada tahun t (%)

Dkt = variabel dummy yang menunjukkan ada atau tidaknya satu atau lebih NTM pada produk k pada tahun t

MkT = jumlah produk k dengan total tahun dari jumlah yang diimpor Cijt = Coverage ratio negara pengekspor i ke negara pengimpor j pada

tahun t (%)

VkT = nilai produk k dengan total tahun dari jumlah yang diimpor j = negara pengimpor

i = negara pengekspor k = produk yang diimpor

t = tahun diberlakukannya NTMs

T = total tahun dari jumlah yang diimpor ke negara tujuan

Nilai frequency index dan coverage ratio berada pada rentang 0-100. Nilai frequency index yang semakin kecil menunjukkan semakin sedikit penggunaan NTMs oleh suatu negara, begitupun sebaliknya. Nilai coverage ratio yang semakin kecil menunjukkan semakin sedikitnya cakupan produk yang terkena kebijakan NTMs, sementara coverage ratio yang semakin besar menujukkan semakin luasnya cakupan produk yang terkena kebijakan NTMs.

Model Gravity

(28)

16

Model yang digunakan dalam penelitian untuk melihat dampak NTMs merujuk pada model gravity mengacu pada model penelitian Fontagne et al (2005). Pada penelitian ini menggunakan pendekatan coverage ratio sebagai variabel bebasnya. Model tersebut dirumuskan sebagai berikut:

ln � � = + �+ �+ �+ �

+ �+ �+ � �

Dimana:

EXijt = nilai ekspor ikan tuna Indonesia ke negara j pada tahun t (juta US $)

POPijt = populasi negara pengimpor j pada tahun t (jiwa)

GDPCjt = GDP perkapita negara pengimpor j pada tahun t (juta USD) EDISTijt = jarak ekonomi antara negara eksportir j dan Indonesia (km) RERijt = nilai tukar riil Indonesia terhadap negara pengimpor j pada

tahun t

CR TBTijt = coverage ratio TBT negara pengimpor j terhadap tuna Indonesia pada tahun t (%)

CR SPSijt = coverage ratio SPS negara pengimpor j terhadap tuna Indonesia pada tahun t (%)

Definisi Operasional

Definisi operasioanl variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: 1. Ekspor (EX) adalah total nilai ekspor komoditi tuna Indonesia ke negara

tujuan utama.

2. GDP perkapita (GDPC) merupakan jumlah pendapatan rata- rata dari penduduk suatu negara pada periode tertentu.

3. Populasi (POP) yaitu total jumlah penduduk di negara tujuan ekspor dalam satu tahun.

4. Jarak ekonomi (EDIST) merupakan variabel yang mewakili biaya transportasi, diperoleh dari:

� � = � � � � � � � × �

5. Real Exchange Rate (RER) merupakan nilai tukar riil negara pengekspor terhadap negara pengimpor yang diperoleh dari:

= � � � × � � � �

(29)

7. Coverage Ratio TBT (CR TBT) adalah pemberlakuan NTM berupa TBT yang dihitung dengan nilai impor suatu produk dan diukur dalam satuan persen.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Subsektor Perikanan dan Industri Ikan Tuna Indonesia

Perikanan merupakan salah satu dari empat subsektor dalam sektor pertanian. Subsektor ini memiliki juga memiliki peran penting jika dilihat dengan kontribusinya terhadap PDB. Grafik 1 memperlihatkan subsektor perikanan memiliki kontribusi terbesar kedua setelah kelompok tanaman bahan makanan. Berdasarkan data KKP, pada triwulan III tahun 2013, subsektor ini memberikan kontribusi yang cukup signifikan yaitu sebesar 5.1% dibandingkan dengan share subsektor lainnya.

Sumber : BPS 2014

Gambar 4 PDB sektor pertanian atas dasar harga berlaku 2008-2013 Salah satu bagian dari subsektor perikanan yang memiliki peran penting adalah ikan tuna. Tabel 5 memperlihatkan hasil produksi subsektor perikanan selama 2008-2013. Komoditi ikan tuna memiliki kenaikan rata- rata terbesar sepanjang enam tahun terakhir yakni tuna besar (Thunnus spp.) sebesar 6.95%, diikuti dengan cakalang (skipjack tuna) sebesar 5.68%. Jumlah produksi ikan tuna dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan hingga tahun 2012, kemudian mengalami penurunan pada tahun 2013.

-2009 2010 2011 2012 2013 2014

(30)

18

Tabel 4 Produksi perikanan tangkap di laut menurut komoditas utama 2008-2013

Jenis Ikan

Sumber: Dirjen Kelautan dan Perikanan 2014

Usaha penangkapan ikan tuna dimulai pada 1970, setelah PT. Perikanan Samudera Besar (PSB) berdiri. Basis perikanan terkonsentrasi di Benoa Bali, dan terus dikembangkan hingga Sabang Aceh. Pada 1980, armada perikanan beroperasi hampir di seluruh perairan Indonesia, dan terus berkembang seiring dengan dukungan perusahaan- perusahaan nasional, penanaman modal asing (PMA), dan pertumbuhan sarana penunjang lainnya. Kapal yang digunakan sebagai mediapenangkapan berukuran > 100 Gross Tonage (GT) yang dilengkapi dengan unit refrigrasi hingga -50o C dengan lama operasi lebih dari 30 hari/ trip. Khusus untuk produk tuna segar, dikembangkan kapal- kapal berukuran <60 GT dengan lama waktu operasi sekitar dua minggu karena dinilai lebih efisien dan ekonomis untuk menjaga mutu produk tersebut.

Basis perikanan untuk industri tuna longlinier skala besar menyebar di daerah Jakarta dan Cilacap, sementara di kawasan timur Indonesia dikembangkan industri pole and linier, pursuiner, dan hand linier yang melibatkan nelayan dalam jumlah besar serta kemitraan dengan pengusaha industri tuna (Hanudi 2005). Pengusaha yang bergerak dalam industri perikanan tuna tergabung dalam organisasi- organisasi seperti Asosiasi Tuna Indonesia (Astuin), Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI), Gabungan Pengusaha Perikanan Indonesia (GAPPINDO), dan Komisi Tuna Indonesia (KTI).

Kinerja Perdagangan Komoditi Ikan Tuna Indonesia

(31)

internasional terdiri dari bentuk ikan tuna segar (fresh/chilled), beku (frozen) dan ikan tuna olahan.

Ekspor Ikan Tuna Segar (HS 0302.3)

Ekspor ikan tuna segar yang digunakan dalam penelitian ini tercakup pada Lampiran 1. Berdasarkan tabel 5, kinerja ekspor ikan tuna segar mengalami tren menurun dilihat dari nilai ekspornya yang terus mengalami pertumbuhan negative sepanjang 2010- 2013, sementara untuk volume ekspor mengalami kenaikan pada tahun 2013 hingga mencapai angka 10.6%.

Tabel 5 Perkembangan ekspor ikan tuna segar Indonesia tahun 2009-2013 ke negara tujuan utama

Ekspor Ikan Tuna Beku (HS 0303.4)

Kinerja ekspor ikan tuna beku Indonesia memiliki tingkat pertumbuhan yang cukup baik. Tabel 6 memperlihatkan tingkat pertumbuhan ekspor ikan tuna beku baik nilai maupun volume tahun 2009-2013 Tingkat pertumbuhan nilai ekspor pada tahun 2010 mencapai 93.91%, hal ini juga berkaitan dengan pertumbuhan volume ekspor pada tahun tersebut yang mencapai 74.29%. Akan tetapi, pada tahun 2013, baik nilai maupun volume ekspor mengalami penurunan pada tingkat pertumbuhannya.

Tabel 6 Perkembangan ekspor ikan tuna beku Indonesia tahun 2009-2013 ke negara tujuan utama

Ekspor Ikan Tuna Olahan (HS 1604.14)

(32)

20

Tabel 7 Perkembangan ekspor ikan tuna olahan Indonesia tahun 2009-2013 ke negara tujuan utama

Ekspor Ikan Tuna ke Negara Tujuan Utama

Neraca perdagangan komoditas ikan tuna Indonesia ke negara tujuan utama menunjukkan perkembangan kinerja perdagangan yang cukup baik dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini membuktikan ikan tuna sebagai salah satu komoditi potensial untuk mendorong neraca perdagangan nasional. Indonesia sebagai eksportir ikan tuna terbesar kedua setelah Thailand, ditambah dengan potensi perairan yang luas merupakan peluang besar sehingga kinerja ekspornya perlu terus dikembangkan.

Ilustrasi gambar 5 memperlihatkan tujuan ekspor utama ikan tuna Indonesia pada tahun 2013 didominasi oleh Jepang dengan total nilai 151 223.6 juta USD, diikuti oleh Thailand sebesar 102 744,769 USD, dan Amerika Serikat sebesar 73406.125 juta USD. Selama lima tahun terakhir, Jepang juga menjadi negara tujuan utama yang mendominasi ekspor ikan tuna Indonesia. Hal ini disebabkan karena konsumsi ikan yang tinggi di negara tersebut sehingga memiliki permintaan impor ikan tuna yang besar.

Sumber: UNCOMTRADE 2015

Gambar 5 Nilai ekspor ikan tuna Indonesia ke negara tujuan utama tahun 2013 (000 USD)

(33)

negara China, dan pada tahun 2013 untuk tujuan Korea Selatan. Defisit neraca perdagangan untuk negara tujuan Korea Selatan juga merupakan satu- satunya defisit pada tahun 2013, sementara negara lain yakni China, Jepang, Thailand, Amerika Serikat, Vietnam, dan Singapura mengalami surplus.

Defisit nilai ekspor ikan tuna untuk negara tujuan Korea Selatan pada tahun 2013 disebabkan karena adanya defisit pada komoditi ikan tuna beku sebesar 5.64 USD dan ikan tuna olahan sebesar 226.08 USD (Lampiran 3). Khusus untuk ikan tuna olahan ke negara Korea Selatan terus mengalami defisit semenjak 2010 dan angka ini terus meningkat, sehingga hal ini juga mempengaruhi pertumbuhan ekspor tuna olahan yang mengalami penurunan. Pada tahun 2013, surplus terbesar ikan tuna olahan yakni ke negara Jepang sebesar 43 674.69 USD. Jepang juga merupakan negara tujuan yang menyumbang surplus terbesar untuk komoditi ikan segar sebesar 66 390.6 USD. Sementara untuk komoditi ikan tuna beku yaitu ke negara tujuan Thailand dengan nilai 68 933.8 USD.

Pemberlakuan Non Tariff Measures (NTM) pada Komoditi Ikan Tuna Indonesia

Selama beberapa tahun terakhir, non tariff measures telah menjadi isu penting dalam lingkup perdagangan internasional. Adanya kecenderungan perhatian masyarakat mengenai kemanan sebuah produk dan serta proses yang erat kaitannya dengan keberlanjutan lingkungan menjadi salah satu faktor diberlakukannya kebijakan perdagangan internasional berupa NTMs dalam upaya peningkatan kesejahteraan nasional.

Terdapat dua kebijakan NTMs yang paling banyak diberlakukan terutama dalam subsektor perikanan, yakni Sanitary and Phitosanitary (SPS) dan Technical Barrier to Trade (TBT). Tabel 8 memperlihatkan jumlah kebijakan SPS dan TBT yang diberlakukan oleh negara tujuan utama ekspor tuna Indonesia selama tahun 2002-2013.

Tabel 8 Jumlah NTMs SPS dan TBT yang diberlakukan pada komoditi ikan tuna di negara tujuan utama tahun 2002- 2013

Negara Tujuan SPS TBT Total

China 51 3 54

Jepang 40 7 47

Amerika 15 66 81

Thailand 44 6 50

Korea Selatan 11 13 24

Vietnam 2 0 2

Singapura 0 0 0

Total 163 95 258

Sumber: WTO 2015

(34)

22

besar dibandingkan TBT. Hanya negara Amerika Serikat yang dominan memberlakukan kebijakan TBT pada impor komoditi tuna.

Amerika Serikat juga merupakan negara tujuan utama yang paling banyak memberlakukan NTMs, dengan total 81 kebijakan meliputi 15 kebijakan SPS dan 66 kebijakan TBT. Kebijakan TBT yang paling banyak diberlakukan oleh Amerika Serikat yaitu standar pangan yang mencakup standar proses produksi sebanyak 28 kebijakan, serta pelabelan sebanyak 26 kebijakan. Negara dengan pemberlakuan NTM terbanyak kedua adalah China dengan total 54 kebijakan. Pemberlakuan SPS sebagian besar fokus pada kesehatan manusia dan standar nasional keamanan pangan, sementara ketiga jumlah TBT semuanya diberlakukan untuk kebijakan pelabelan. Thailand memberlakukan 44 kebijakan SPS dan 6 kebijakan TBT. Sebanyak 38 dari 40 kebijakan SPS yang diterapkan berkaitan dengan standar keamanan pangan nasional sekaligus kesehatan manusia. Jepang memberlakukan 47 kebijakan dengan SPS sejumlah 40 kebijakan. Hampir keseluruhan kebijakan SPS yang diberlakukan mencakup aturan mengenai standar nasional keamanan pangan, kesehatan manusia, dan maximum residue limits (MRLs).

Komposisi pemberlakuan SPS dan TBT pada negara tujuan utama ekspor tuna Indonesia terdiri dari berbagai macam kebijakan. Kebijakan SPS yang paling banyak diberlakukan yakni mengenai standar nasional keamanan pangan dan kesehatan manusia, sementara untuk TBT umumnya mencakup kebijakan pelabelan.

Frequency index dan Coverage ratio

Salah satu cara yang digunakan untuk mengukur besaran suatu NTM yang diberlakukan oleh sebuah negara adalah dengan pendekatan inventory. Pendekatan ini merupakan sebuah pengukuran sederhana dengan menggunakan dua indikator yaitu frequency index dan coverage ratio. Frequency index digunakan untuk menghitung ada atau tidaknya pemberlakuan NTM serta persentase dari produk yang menggunakan satu atau lebih NTM. Sedangkan coverage ratio digunakan untuk mengukur persentase dari subjek perdagangan yang terkena NTM pada negara pengimpor (UNCTAD 2013).

Sumber: Data setelah diolah 2015

(35)

Ekspor komoditi tuna ke negara tujuan utama yang terkena SPS selama 2009- 2013 berdasarkan frequency index menunjukkan angka yang cukup tinggi, yakni berkisar 69% hingga 100%. Gambar 6 menampilkan Jepang, Thailand, dan Amerika Serikat yang konsisten memberlakukan kebijakan SPS pada komoditi tuna selama lima tahun berturut- turut. Penggunaan SPS di Jepang pada tahun 2010 sebesar 69.14% dan terus meningkat hingga mencapai 82.46% pada tahun 2013.

Persentase pemberlakuan SPS untuk Thailand cenderung fluktuatif. Penggunaannya mencapai 100% pada tahun 2010, kemudian turun ke angka 76.43%, dan pada 2013 kembali memberlakukan SPS hingga 100%. Pada negara Amerika Serikat, penggunaan SPS mencapai 100% pada tahun 2010, dan berturut- turut pada 2012 dan 2013. Sementara untuk Korea Selatan, nilainya berfluktuasi tajam. Hal in diperlihatkan dari penggunaan yang tinggi pada 2009, 2011, dan 2013 sebesar 97.75%, 98.13%, dan 99.96% sangat kontras dengan tahun 2010 dan 2012 dimana tidak diberlakukan SPS sama sekali.

 Sumber: Data setelah diolah 2015

Gambar 7 Frequency index TBT pada ekspor komoditi tuna ke negara tujuan utama tahun 2009- 2013

Gambar 7 memperlihatkan penggunaan TBT pada negara tujuan ekspor ikan tuna Indonesia. Frequency index ekspor yang terkena TBT umumnya lebih rendah dibandingkan dengan frequency index SPS. Thailand dan Amerika Serikat merupakan dua negara tujuan yang konsisten memberlakukan TBT mulai tahun 2010 hingga 2013. Selama kurun waktu lima tahun, China hanya memberlakukan TBT pada komoditi tuna selama dua tahun, yaitu sebesar 99.18 pada 2010 dan menurun pada 2011 sebesar 98.58.

Penggunaan TBT tertinggi yakni pada negara Thailand tahun 2012 yang mencapai 100%. Amerika Serikat, meskipun tidak memberlakuukan TBT sebanyak SPS, namun frequency index menunjukkan angka yang terus meningkat dari 22.67% pada 2010 dan mencapai 31.45% pada 2013. Sementara itu, negara tujuan lainnya seperti Jepang, Korea Selatan, dan Vietnam tidak memberlakukan kebijakan TBT pada komoditi tuna Indonesia.

(36)

24

Sumber: Data setelah diolah 2015

Gambar 8 Frequency index SPS pada ekspor komoditi tuna ke negara tujuan utama tahun 2013 berdasarkan kelompok komoditi

Komposisi penggunaan NTM berupa SPS pada tahun 2013 dengan melihat nilai frequency index ditampilkan pada gambar 8. Berdasarkan gambar 8, terdapat keseragaman nilai frequency index sebesar 100% untuk negara Jepang, Thailand, Amerika Serikat, dan Korea Selatan. Pada negara Thailand dan Amerika Serikat, kebijakan SPS dikenakan pada ketiga jenis komoditi tuna, yakni tuna segar, tuna beku, dan tuna olahan dengan nilai masing- masing frequency index mencapai 100%. Persentase ini juga berkaitan dengan angka frequency index total SPS untuk komoditi ikan tuna pada tahun 2013 yang juga mencapai 100%. Frequency index untuk negara Jepang dan Korea Selatan juga memiliki kesamaan karakteristik. Keduanya memiliki frequency index sebesar 100% pada jenis tuna segar dan tuna beku. Akan tetapi, meskipun memiliki keseragaman nilai frequency index pada dua jenis komoditi, kedua negara ini memiliki nilai total frequency index SPS yang berbeda.

Sumber: Data setelah diolah 2015

Gambar 9 Frequency index TBT pada ekspor komoditi tuna ke negara tujuan utama tahun 2013 berdasarkan kelompok komoditi

(37)

Pada gambar 9, ditampilkan pula komposisi penggunaan NTM yakni TBT pada tahun 2013. Berkaitan dengan gambar 7, dimana pada tahun 2013 hanya Thailand dan Amerika Serikat yang memberlakukan kebijakan TBT, maka hanya dua negara tersebut yang nilainya tertera pada gambar 7. Jepang hanya menggunakan TBT untuk jenis tuna olahan, sedangkan Amerika memberlakukan kebijakan TBT pada jenis tuna segar dan tuna beku.

Indikator lain yang digunakan dalam pedekatan inventory adalah coverage ratio. Nilai coverage ratio yang semakin besar memperlihatkan besarnya cakupan produk impor yang terkena dampak NTM di negara yang bersangkutan. Berbeda dengan nilai frequency index SPS yang cenderung tinggi, coverage ratio ekspor ikan tuna Indonesia ke negara tujuan utama memiliki nilai yang beragam.

Berdasarkan gambar 10, terdapat tiga negara yang konsisten memberlakukan SPS selama 2009-2013, yaitu Amerika Serikat, Jepang, dan Thailand. Nilai coverage ratio Amerika Serikat tertinggi pada 2010 mencapai 65.24%. Akan tetapi nilai ini menurun menjadi 64.00% pada 2013. Pada 2012, Thailand memiliki nilai sebesar 46.77% dan mengalami peningkatan pada 2013 sebesar 5.51% menjadi 52.28%. Korea Selatan hanya memberlakukan SPS pada tahun 2009, 2011, dan 2013. Sedangkan China hanya memberlakukan kebijakan SPS pada 2011 dengan nilai yang terhitung rendah yakni 2.19%.

Sumber: Data setelah diolah 2015

Gambar 10 Coverage ratio SPS pada ekspor komoditi tuna ke negara tujuan utama tahun 2009- 2013

Persentase cakupan komoditi tuna Indonesia yang terkena dampak TBT sepanjang 2009-2013 disajikan pada gambar 11. Amerika Serikat memiliki coverage ratio TBT sebesar 20.23% pada 2009, dan nilai ini terus mengalami peningkatan hingga mencapai 28.86% pada 2013. Pada tahun 2012, Thailand memiliki nilai coverage ratio yang sangat tinggi mencapai 44,81%. Hal ini disebabkan karena nilai ekspor tuna ke Thailand pada tahun tersebut yang cukup tinggi dibandingkan dengan tahun sebelum atau setelahnya. Sedangkan untuk negara Jepang, Korea Selatan, dan Vietnam tidak memberlakukan NTMs TBT dalam kurun lima tahun tersebut.

(38)

26

Sumber: Data setelah diolah 2015

Gambar 11 Coverage ratio TBT pada ekspor komoditi tuna ke negara tujuan utama tahun 2009- 2013

Adanya keragaman pada nilai coverage ratio SPS secara spesifik ditunjukkan oleh gambar 12. Tuna beku merupakan jenis produk yang memiliki keragaman nilai pada negara Jepang, Thailand, Amerika Serikat, dan Korea Selatan. Penggunaan SPS dengan cakupan terbanyak yakni negara Amerika Serikat dengan coverage ratio mencapai 100% untuk jenis tuna segar dan tuna olahan, dan 42.45% untuk tuna beku. Thailand juga memiliki coverage ratio mencapai 100% untuk jenis tuna segar dan olahan, sementara nilai untuk tuna beku sebesar 34.72%. Jepang dan Korea Selatan sama- sama tidak memberlakukan SPS pada jenis tuna olahan dan memiliki cakupan hingga 100% untuk jenis tuna segar. Akan tetapi, keduanya memiliki perbedaan coverage ratio pada jenis tuna beku dimana Jepang memiliki persentase 43.25%, lebih tinggi dibandingkan Korea Selatan yang hanya sebesar 11.13%. Perbedaan nilai ini juga didasarkan pada adanya perbedaan nilai impor untuk jenis tuna beku pada kedua negara tersebut.

Sumber: Data setelah diolah 2015

Gambar 12 Coverage ratio SPS pada ekspor komoditi tuna ke negara tujuan utama tahun 2013 berdasarkan kelompok komoditi

(39)

Sumber: Data setelah diolah 2015

Gambar 13 Coverage ratio TBT pada ekspor komoditi tuna ke negara tujuan utama tahun 2013 berdasarkan kelompok komoditi

Berdasarkan gambar- gambar yang telah disajikan dapat diketahui bahwa selama kurun waktu 2009-2013, setiap negara tujuan ekspor memberlakukan NTMs kecuali negara Singapura dan Belanda. Kebijakan SPS diberlakukan oleh hampir semua negara tujuan tersebut, sementara kebijakan TBT hanya diberlakukan oleh Thailand dan Amerika Serikat pada jenis produk tertentu. Selain itu, Amerika Serikat juga merupakan negara dengan pemberlakuan NTMs tertinggi baik dalam nilai frequency index maupun coverage ratio.

Tuna segar merupakan jenis yang paling banyak terkena NTMs, dengan frequency index mencapai 100% pada semua negara tujuan yang memberlakukan kebijakan SPS dan TBT. Sedangkan kelompok yang paling sedikit terkena NTMs adalah jenis tuna olahan. Persentase frequency index memperlihatkan tingginya frekuensi pemberlakuan NTMs di negara tujuan ekspor utama tuna Indonesia. Berkaitan dengan itu, maka Indonesia dituntut untuk dapat meningkatkan kualitas dan daya saing komoditi tuna. Upaya ini perlu dilakukan dalam rangka memenuhi kebijakan- kebijakan tersebut sehingga dapat bersaing dengan negara lain terutama eksportir tuna dan memaksimalkan potensi ekspor ikan tuna Indonesia.

Dampak NTMs Pada Ekspor Komoditi Tuna Indonesia ke Negara Tujuan Utama

(40)

28

Pengujian Model

Tahap awal metode data panel adalah mengestimasi model untuk mendapatkan model yang dapat menjelaskan faktor- faktor yang memengaruhi ekspor ikan tuna Indonesia. Estimasi dilakukan melalui tiga pendekatan model, yaitu Pooled Least Square (PLS), Fixed Effect Model (FEM), dan Random Effect Model (REM). Penentuan model terbaik dilakukan melalui uji Chow dan uji Hausman yang ditunjukkan oleh tabel 10.

Tabel 9 Hasil Uji Chow dan Hausman

Uji Model Terbaik Nilai Probabilitas Hasil Hipotesis

Uji Chow 0.0000 Tolak H0, maka FEM

Uji Hausman 0.0000 Tolak H0, maka FEM

Berdasarkan tabel 10, hasil uji Chow menunjukkan nilai probabilitas 0,0000 kurang dari taraf nyata 5% sehingga cukup bukti untuk melakukan penolakan H0. Model FEM lebih baik digunakan daripada model PLS. Hasil estimasi uji Hausman juga memiliki probabilitas 0,0000 yang kurang dari taraf nyata 5% sehingga cukup bukti untuk menolak H0. Model FEM lebih baik digunakan dibandingkan model REM. Adapun hasil estimasi dari pendekatan model FEM dapat dilihat pada tabel 11.

Tabel 10 Hasil estimasi model dampak SPS dan TBT

Variabel Koefisien Prob.

C 468.5537 0.0000

GDP perkapita 2.363025 0.0007*

Populasi -25.9055 0.0000*

Jarak Ekonomi -0.9882 0.0089*

Nilai Tukar riil 0.049087 0.8623

CR SPS 0.011215 0.0048*

CR TBT 0.015269 0.0136*

R-squared 0.989646

Prob(F-statistic) 0.000000

Keterangan: *)signifikan pada taraf nyata 5%

Berdasarkan hasil estimasi pada tabel 11, didapatkan nilai R-squared sebesar 98.9%. Nilai ini menunjukkan bahwa 98.9% perubahan nilai ekspor tuna Indonesia dapat dijelaskan oleh variabel GDP perkapita negara pengimpor, populasi negara pengimpor, jarak ekonomi antara Indonesia dengan negara pengimpor, coverage ratio SPS, dan coverage ratio TBT, sedangkan sisanya sebesar 1.1% dijelaskan oleh faktor lain diluar model.

(41)

Uji-t statistic digunakan untuk mengetahui apakan koefisien masing- masing variabel eksogen memberikan pengaruh nyata terhadap variabel endogennya. Hasil estimasi pada tabel 11 menunjukkan bawa variabel eksogen yakni GDP perkapita negara pengimpor, populasi negara pengimpor, jarak ekonomi antara Indonesia dengan negara pengimpor, coverage ratio SPS, dan coverage ratio TBT memiliki nilai probabilitas kurang taraf nyata dari 5%. Hal ini berarti bahwa variabel eksogen tersebut secara individu berpengaruh signifikan terhadap nilai ekspor tuna Indonesia.

Uji normalitas (Lampiran 5) dilakukan untuk mendeteksi apakah error term berdistribusi normal atau tidak, dilihat dari nilai probabilitas Jarque Bera yang lebih besar dari taraf nyata 5%. Berdasarkan hasil estimasi nilai probabilitas Jarque Bera sebesar 0.24 sehingga dapat disimpulkan bahwa error telah terdistribusi secara normal dalam model.

Uji multikolinearitas (Lampiran 6) pada model menunjukkan bahwa nilai korelasi parsial antar peubah eksogen lebih kecil dari 0.8 (Spearmen’s Rho Correlation), atau nilai peubah eksogen tidak melebihi nilai R-squared, sehingga dapat disimpulkan tidak terjadi multikolinearitas.

Statistik Durbin Watson pada lampiran 8 menunjukkan nilai 2.38. Nilai tersebut terletak diantara 1.54 dan 2.46 yaitu pada daerah tidak ada autokorelasi sehingga dapat disimpulkan model tidak mengandung gejala autokorelasi.

Pada lampiran 8, Sum Square Residual Weighted Statistics sebesar 2.83 lebih kecil dibandingkan dengan Sum Square Residual Unweighted Statistics sebesar 3.52. Dengan demikian, model terindikasi masalah heteroskedastisitas sehingga diberikan perlakuan cross section weighting dan coefficient of covariance white cross section untuk mengatasinya.

Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Ekspor Komoditi Tuna Indonesia

Berdasarkan hasil estimasi pada tabel 11, diketahui bahwa terdapat beberapa faktor yang berpengaruh nyata terhadap ekspor komoditi tuna Indonesia. Faktor- faktor tersebut yakni GDP perkapita negara pengimpor, populasi negara pengimpor, jarak ekonomi, dan NTMs berupa SPS dan TBT yang diukur dengan variabel coverage ratio. Hasil model menunjukkan bahwa kebijakan SPS dan TBT yang diberlakukan pada komoditi tuna berpengaruh positif pada ekspor tuna Indonesia. Sedangkan variabel nilai tukar riil tidak berpengaruh nyata pada ekspor komoditi tuna Indonesia.

GDP perkapita merepresentasikan ukuran daya beli masyarakat di suatu negara terhadap barang dan jasa. Hasil estimasi menunjukkan variabel GDP perkapita negara pengimpor berpengaruh signifikan terhadap taraf nyata 5% dengen koefisien sebesar 2,363. Hal ini berarti bahwa peningkatan GDP perkapita negara pengimpor sebesar 1% akan meningkatkan ekspor komoditi tuna Indonesia sebesar 2.363%, ceteris paribus. Berdasarkan teori ekonomi, maka GDP perkapita negara pengimpor memiliki hubungan positif dengan perdagangan bilateral. Peningkatan GDP perkapita negara pengimpor menyebabkan peningkatan peningkatan kapasitas absorsi sehingga terjadi peningkatan impor. Hasil pada model sesuai dengan hipotesis dan teori ekonomi tersebut.

Gambar

Tabel 1 Nilai PDB menurut lapangan usaha tahun 2011- 2013
Tabel 1 Nilai PDB menurut lapangan usaha tahun 2011- 2013
Tabel 2 Volume dan nilai ekspor hasil perikanan menurut komoditas utama dan
Gambar 2 Klasifikasi baru NTM
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) nilai ekspor perhiasan Indonesia menunjukkan tren yang positif, namun volume ekspor perhiasan Indonesia menunjukkan adanya fluktuasi;

DAMPAK PENGIRIMAN TENAGA KERJA INDONESIA KE MALAYSIA TERHADAP HUBUNGAN BILATERAL KEDUA NEGARA. Oleh:

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis tren atau kecenderungan dalam perdagangan karet alam antara Indonesia dengan negara-negara importir utama karet alam

besarnya koefisien determinasi berganda sebesar 0,976, nilai ini menunjukkan bahwa variabel harga ekspor, nilai tukar dan investasi perikanan (PMA dan PMDN) mampu

Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan restriksi yang dilakukan oleh Cina dan Uni Eropa terhadap produk kimia Indonesia hanya mempengaruhi pangsa ekspor produk

Identifikasi dari analisis biplot pada data ekspor komoditi utama pada subsektor hasil industri ke negara tujuan utama menunjukkan bahwa komoditi minyak kelapa sawit dan pakaian

Identifikasi dari analisis biplot pada data ekspor komoditi utama pada subsektor hasil industri ke negara tujuan utama menunjukkan bahwa komoditi minyak kelapa sawit dan pakaian

Hasil penelitian menunjukkan nilai tukar, PDB negara importir teh, serta harga kopi internasional berpengaruh positif siginifikan terhadap ekspor teh Indonesia, sedangkan harga ekspor