HUBUNGAN SINDROM METABOLIK DENGAN MILD COGNITIVE IMPAIRMENT PADA USIA PARUH BAYA
TESIS
M. ADNIN RUDI SIREGAR 077112003
PROGRAM MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK–SPESIALIS ILMU PENYAKIT SARAF FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
HUBUNGAN SINDROM METABOLIK DENGAN MILD COGNITIVE IMPAIRMENT PADA USIA PARUH BAYA
TESIS
Untuk Memperoleh Gelar Magister Kedokteran Klinis Spesialis Saraf Pada
Program Studi Magister Kedokteran Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Oleh
M.ADNIN RUDI SIREGAR 077112003
PROGRAM MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK–SPESIALIS ILMU PENYAKIT SARAF FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Judul Tesis : Hubungan Sindrom Metabolik Dengan Mild Cognitive Impairment Pada Usia Paruh Baya
Nama Mahasiswa : M. ADNIN RUDI SIREGAR Nomor Induk Mahasiswa : 077112003
Program Magister : Magister Kedokteran Klinik Konsentrasi : Ilmu Penyakit Saraf
Menyetujui Komisi Pembimbing
Prof. DR. dr. Hasan Sjahrir, Sp.S (K) Ketua
Ketua Program Studi Ketua TKP PPDS I
Dr. Rusli Dhanu, Sp.S (K) dr. Zainuddin Amir, SpP(K)
Telah diuji pada
Tanggal: 9 Juni 2010
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. DR. dr. Hasan Sjahrir, Sp.S (K)
PERNYATAAN
HUBUNGAN SINDROM METABOLIK DENGAN MILD COGNITIVE IMPAIRMENT PADA USIA PARUH BAYA
TESIS
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan disuatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah dituliskan atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, 9 Juni 2010
UCAPAN TERIMA KASIH
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan segala berkah, rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini.
Tesis ini dibuat untuk memenuhi persyaratan dan merupakan tugas akhir Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik – Spesialis Ilmu Penyakit Saraf di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara/Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan.
Pada kesempatan ini perkenankanlah penulis menyatakan penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Rektor Universitas Sumatera Utara, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, dan Ketua TKP PPDS I Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kepada penulis kesempatan untuk mengikuti Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Penyakit Saraf di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
mengoreksi, dan memberikan masukan-masukan berharga kepada penulis sehingga tesis ini dapat diselesaikan.
3. Dr. H. Rusli Dhanu, Sp.S (K), Ketua Program Studi PPDS-I Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang banyak memberikan masukan-masukan berharga kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini.
4. Dr. Aldy S. Rambe, Sp.S dan Prof. DR. dr. H. Hasan Sjahrir, Sp.S (K), selaku pembimbing penulis yang dengan sepenuh hati telah mendorong, membimbing, mengoreksi dan mengarahkan penulis mulai dari perencanaan, pembuatan dan penyelesaian tesis ini.
6. Direktur Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan yang telah memberikan kesempatan, fasilitas dan suasana kerja yang baik sehingga penulis dapat mengikuti Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik. 7. Drs. Abdul Jalil Amri Arma, M.Kes, selaku pembimbing statistik yang telah
banyak meluangkan waktu untuk membimbing dan berdiskusi dengan penulis dalam pembuatan tesis ini.
8. Rekan-rekan sejawat peserta PPDS-I Departemen Neurologi FK-USU/RSUP. H. Adam Malik Medan, yang banyak memberikan masukan berharga kepada penulis melalui diskusi-diskusi kritis dalam berbagai pertemuan formal maupun informal, serta selalu memberikan dorongan-dorongan yang membangkitkan semangat kepada penulis menyelesaikan Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Penyakit Saraf.
9. Para perawat dan pegawai di berbagai tempat dimana penulis pernah bertugas selama menjalani Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik ini, serta berbagai pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah banyak membantu penulis dalam menjalani Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Penyakit Saraf. 10. Semua pasien sindrom metabolik yang telah bersedia berpartisipasi
11. Kedua orang tua yang sangat penulis hormati dan sayangi Fauzin Eddin Siregar dan ibunda Cut Syafniar yang telah bersusah payah membesarkan, memberikan rasa aman, cinta dan doa restu kepada penulis sejak lahir hingga saat ini.
12. Kedua mertua saya, H. Harmain, SH dan Almh. Hj. Rindung Bulan, yang banyak memberikan semangat, nasehat dan doa kepada penulis selama menjalani Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Penyakit Saraf.
13. Seluruh saudara kandung saya, Ira Muthia Siregar, SH, Ivo Fauziah Siregar, saudara kembarku M. Adnan Baron Siregar, ST, M. Darul Kutni Siregar, ST, Julia Siregar, Amd, yang banyak memberikan semangat dan doa kepada penulis selama menjalani Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Penyakit Saraf.
14. Teristimewa kepada istriku tercinta Drg. Heraini dan putriku yang cantik Nindira Yasmine Siregar atas doa dan dukungan, kesabaran dan pengertian yang mendalam, mendampingi dengan penuh cinta dan kasih sayang dalam suka dan duka selama penulis menjalani Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik dan menyelesaikan tesis ini.
Akhirnya penulis mengharapkan semoga penelitian dan tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Amin.
Penulis
ABSTRAK
Latar Belakang:Penderita Sindrom Metabolik dengan obesitas, hipertensi, dislipidemi dan intoleransi glukosa tidak hanya mempunyai resiko penyakit jantung tetapi juga terdapat peningkatan resiko terjadinya gangguan fungsi kognitif dan penyakit Alzheimer pada masa tuanya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan sindrom metabolik dengan Mild Cognitive Impairment pada usia paruh baya.
Metode: Penelitian potong lintang dengan pengambilan sampel secara non random dengan metode konsekutif pada penderita sindrom metabolik usia paruh baya yang berobat jalan di Poliklinik Penyakit Dalam RSUP.H.Adam Malik Medan selama priode 1 Juli sampai 31 Desember 2009. Dilakukan pemeriksaan lingkar pinggang, tekanan darah, trigliserida, HDL kolesterol, KGD puasa dan pemeriksaan fungsi kognitif menggunakan MMSE dan CDR. Hasil:Didapati 26 penderita Sindrom Metabolik, terdiri dari 11 orang pria (42,3%) dan 15 orang wanita (57,7%). Nilai rerata lingkar pinggang 93,00 (SD 8,75) cm, nilai rerata tekanan darah sistolik 143,27 (SD 12,07) mmHg, nilai rerata tekanan darah diastolik 87,50 (SD 6,96) mmHg, nilai rerata Trigliserida 191,99 (SD 110,74) mg/dL, nilai rerata HDL kolesterol 36,81 (SD 5,76) mg/dL, Nilai rerata KGD puasa 141,23 (SD 34,70) mg/dL. Sebanyak 9 penderita Sindrom Metabolik (34,6%) mengalami Mild Cognitive Impairment. Dari uji independent sample test didapati tidak ada hubungan yang bermakna antara lingkar pinggang (p=0,316), tekanan darah sisitolik (p=0,494), tekanan darah diastolik (p=0,310), trigliserida (p=0,504), HDL kolesterol (p=0,648) dengan MCI. Didapati hubungan yang bermakna antara nilai KGD puasa dengan MCI (p=0,44)
Kesimpulan:Nilai KGD puasa memiliki hubungan yang bermakna dengan
Mild Cognitive Impairment pada kelompok penderita Sindrom Metabolik usia paruh baya.
ABSTRACT
Background:Metabolic syndrome patients with obesity, hypertension, dislipidemia and glucose intolerance not only have risk of cardiovascular disease but also have the increase risk of cognitive impairment event and Alzheimer disease in old age. This study was done to know the association between metabolic syndrome with mild cognitive impairment (MCI) in middle age.
Methods:A cross sectional study by taking non random sample with consecutive method in middle age patient with metabolic syndrome that was treated in outpatient clinic of internal medicine in H. Adam Malik General Hospital during period of 1st July up to 31th December 2009. Waist circumference, blood pressure, triglycerides, HDL cholesterol, and fasting blood glucose were measured, and cognitive function test was measured by using MMSE and CDT
Results:It was found 26 patients with metabolic syndrome that was consist of 11 male (42,3%) and 15 female (57,7%). The mean of waist circumference was 93,00 (SD 8,75) cm, the mean of sistolic blood pressure was 143,27 (SD 12,07) mmHg, the mean of diastolic blood pressure was 87,50 (SD 6,96) mmHg, the mean of triglycerides was 191,99 (SD 110,74) mg/dL, the mean of HDL cholesterol was 36,81 (SD 5,76) mg/dL, and the mean of fasting blood glucose was 141,23 (SD 34,70) mg/dL. As many as 9 patients with metabolic syndrome (34,6%) have mild cognitive impairment. From the independent sample test, it was found that there was no significant correlation between waist circumference (p=0,316), sistolic blood pressure (p=0,494), diastolic blood pressure (p=0,310), triglycerides (p=0,504), HDL cholesterol (p=0,648) with MCI. It was found the significant correlation between blood fasting glucose with MCI (p=0,044).
Conclusion: Fasting blood glucose value has significant correlation with mild cognitive impairment in group of middle age Metabolic Syndrome patients.
DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Pengesahan Tesis... ii
Ucapan Terima Kasih... v
BAB III. METODOLOGI III.1. Tempat dan Waktu……… 21
III.2. Subjek Penelitian... 21
III.2.1. Populasi sasaran... 21
III.2.2. Populasi Terjangkau... 21
III.2.4. Kriteria Inklusi... 22
III.2.5. Kriteria Eksklusi... 23
III.2.6. Instrumen... 23
III.3. Batasan Operasional... 23
III.4. Rancangan penelitian... 26
III.5. Pelaksanaan Penelitian... 27
III.5.1. Pengambilan sampel... 27
III.5.2. Kerangka Operasional... 28
III.5.3. Variabel yang diamati... 28
III.5.4. Analisa Statistik... 29
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN... . 30
IV.1. HASIL PENELITIAN... . 30
IV.1.1. Karakteristik Penelitian... 30
IV.1.2. Karakteristik Demografi subjek penelitian... 30
IV.1.3. Karakteristik komponen Sindrom Metabolik subjek penelitian... 32
IV.1.4. Hubungan karakteristik demografi subjek penelitian dengan MCI... 34
IV.1.5. Perbedaan karakteristik tekanan darah subjek penelitian dengan MCI... 37
IV.1.6. Perbedaan karakteristik lingkar pinggang Subjek penelitian dengan MCI... 38
IV.1.7. Perbedaan karakteristik nilai trigliserida subjek penelitian dengan MCI... 39
IV.1.8. Perbedaan karakteristik nilai HDL subjek Penelitian dengan MCI... 39
IV.1.9. Perbedaan karakteristik nilai kadar gula darah puasa dengan MCI... 40
IV.2. PEMBAHASAN... 41
IV.2.1. Karakteristik demografi subjek penelitian... 42
IV.2.2 Hubungan karakteristik subjek penelitian dengan MCI... 43
IV.2.3. Hubungan karakteristik komponen sindrom metabolik dengan MCI... 44
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN V.1. KESIMPULAN... 46
V.2. SARAN... 47
Lampiran
1. Lembar Penjelasan Kepada pasien... 54
2. Surat Persetujuan Ikut Dalam Penelitian setelah penjelasan... 56
3. Lembar Pengumpul Data Penelitian... 57
4. Nilai Skor Mini Mental State Examination... 59
5. Skor Clinical Dementia Rating... 60
6. Hamilton Rating Scale for Depressi... 61
7. Persetujuan Komite Etik... 65
8. Karakteristik data pasien Sindrom Metabolik... 66
DAFTAR SINGKATAN
AD = Alzheimer’sDisease
AHA = American Heart Association
APOEє4 =Apolipoprotein E є4
CABG = Coronary Artery Bypass Graft
CDR = Clinical Dementia Rating
CEBP = C Enhancer Binding Protein
CT SCAN = Computed Tomography Scan
GLUT-4 = Glucose Transporter -4 HDL = High Density Lipoprotein
IDF = International Diabetes Federation
IL = Inter Leukine
IMT = Indeks Massa Tubuh
IRT =Ibu Rumah Tangga
KGD = Kadar Gula Darah LDL = Low Density Lipoprotein
MCI = Mild Cognitive Impairment
MIF = Migration Inhibitor Factor
MMSE = Mini Mental State Examination
MRI = Magnetic Resonance Imaging
NCEP-ATP III =National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel III
NO = Nitric Oxide
ROS = Reactive Oxygen Species
SPSS = Statistical Product and Science Service
TNF-α = Tumor Necrosis Factor- α
DAFTAR LAMBANG
α : alfa β : beta cm : Centimeter dL : Desi Liter є : epsilon Hg : Mercury mg : Miligram mm : Milimeter n : Besar sampel p : Tingkat kemaknaan
Zα : Nilai baku normal berdasarkan nilai α (0,01) yang telah ditentukan Æ 1,96
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Kriteria Diagnosis Sindrom Metabolik... 7 Tabel 2. Karakteristik demografi subjek penelitian... 31 Tabel 3. Karakteristik komponen sindrom metabolik
pada subjek penelitian... 33 Tabel 4. Hubungan karakteristik demografi
subjek penelitian dengan MCI... 36 Tabel 5. Perbedaan karakteristik tekanan darah
subjek penelitian dengan MCI... 37 Tabel 6. Perbedaan karakteristik lingkar pinggang
subjek penelitian dengan MCI... 38 Tabel 7. Perbedaan karakteristik nilai Trigliserida
subjek penelitian dengan MCI... 39 Tabel 8. Perbedaan karakteristik nilai HDL
subjek penelitian dengan MCI... 40 Tabel 9. Perbedaan karakteristik nilai Kadar Gula Darah
ABSTRAK
Latar Belakang:Penderita Sindrom Metabolik dengan obesitas, hipertensi, dislipidemi dan intoleransi glukosa tidak hanya mempunyai resiko penyakit jantung tetapi juga terdapat peningkatan resiko terjadinya gangguan fungsi kognitif dan penyakit Alzheimer pada masa tuanya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan sindrom metabolik dengan Mild Cognitive Impairment pada usia paruh baya.
Metode: Penelitian potong lintang dengan pengambilan sampel secara non random dengan metode konsekutif pada penderita sindrom metabolik usia paruh baya yang berobat jalan di Poliklinik Penyakit Dalam RSUP.H.Adam Malik Medan selama priode 1 Juli sampai 31 Desember 2009. Dilakukan pemeriksaan lingkar pinggang, tekanan darah, trigliserida, HDL kolesterol, KGD puasa dan pemeriksaan fungsi kognitif menggunakan MMSE dan CDR. Hasil:Didapati 26 penderita Sindrom Metabolik, terdiri dari 11 orang pria (42,3%) dan 15 orang wanita (57,7%). Nilai rerata lingkar pinggang 93,00 (SD 8,75) cm, nilai rerata tekanan darah sistolik 143,27 (SD 12,07) mmHg, nilai rerata tekanan darah diastolik 87,50 (SD 6,96) mmHg, nilai rerata Trigliserida 191,99 (SD 110,74) mg/dL, nilai rerata HDL kolesterol 36,81 (SD 5,76) mg/dL, Nilai rerata KGD puasa 141,23 (SD 34,70) mg/dL. Sebanyak 9 penderita Sindrom Metabolik (34,6%) mengalami Mild Cognitive Impairment. Dari uji independent sample test didapati tidak ada hubungan yang bermakna antara lingkar pinggang (p=0,316), tekanan darah sisitolik (p=0,494), tekanan darah diastolik (p=0,310), trigliserida (p=0,504), HDL kolesterol (p=0,648) dengan MCI. Didapati hubungan yang bermakna antara nilai KGD puasa dengan MCI (p=0,44)
Kesimpulan:Nilai KGD puasa memiliki hubungan yang bermakna dengan
Mild Cognitive Impairment pada kelompok penderita Sindrom Metabolik usia paruh baya.
ABSTRACT
Background:Metabolic syndrome patients with obesity, hypertension, dislipidemia and glucose intolerance not only have risk of cardiovascular disease but also have the increase risk of cognitive impairment event and Alzheimer disease in old age. This study was done to know the association between metabolic syndrome with mild cognitive impairment (MCI) in middle age.
Methods:A cross sectional study by taking non random sample with consecutive method in middle age patient with metabolic syndrome that was treated in outpatient clinic of internal medicine in H. Adam Malik General Hospital during period of 1st July up to 31th December 2009. Waist circumference, blood pressure, triglycerides, HDL cholesterol, and fasting blood glucose were measured, and cognitive function test was measured by using MMSE and CDT
Results:It was found 26 patients with metabolic syndrome that was consist of 11 male (42,3%) and 15 female (57,7%). The mean of waist circumference was 93,00 (SD 8,75) cm, the mean of sistolic blood pressure was 143,27 (SD 12,07) mmHg, the mean of diastolic blood pressure was 87,50 (SD 6,96) mmHg, the mean of triglycerides was 191,99 (SD 110,74) mg/dL, the mean of HDL cholesterol was 36,81 (SD 5,76) mg/dL, and the mean of fasting blood glucose was 141,23 (SD 34,70) mg/dL. As many as 9 patients with metabolic syndrome (34,6%) have mild cognitive impairment. From the independent sample test, it was found that there was no significant correlation between waist circumference (p=0,316), sistolic blood pressure (p=0,494), diastolic blood pressure (p=0,310), triglycerides (p=0,504), HDL cholesterol (p=0,648) with MCI. It was found the significant correlation between blood fasting glucose with MCI (p=0,044).
Conclusion: Fasting blood glucose value has significant correlation with mild cognitive impairment in group of middle age Metabolic Syndrome patients.
BAB I
PENDAHULUAN
1. 1. LATAR BELAKANG
Prevalensi obesitas telah meningkat secara dramatis di Amerika Serikat, dan juga di berbagai negara di dunia (Mokdad,dkk, 2000; WHO 2000).Telah diketahui bahwa obesitas berhubungan dengan penyakit vaskular dan berkenaan dengan Sindrom Metabolik (Ford, dkk 2002).
Penelitian Soegondo (2004) menunjukkan bahwa kategori Indeks Massa Tubuh (IMT) obesitas > 25 kg/m2 lebih cocok diterapkan pada orang Indonesia, dan pada penelitiannya didapat prevalensi Sindrom Metabolik adalah 13,13%. Sedangkan penelitiannya yang lain, dilakukan di Depok (2001) didapati prevalensi Sindrom Metabolik sebesar 25,7 % pria dan 25 % pada wanita (Soegondo, 2004).
Sedangkan di Amerika Serikat, Sindrom Metabolik meliputi hampir 25 % populasi usia 20 tahunan dan 45 % populasi usia 50 tahun, serta 43,5% pada populasi dengan usia 60- 70 tahun (Ford, dkk 2002).
mempunyai 4 atau 5 kriteria dari Sindrom Metabolik mempunyai peningkatan resiko penyakit jantung koroner sebesar 3,7 kali lipat dan peningkatan resiko diabetes sebesar 24,5 kali dibandingkan dengan yang tanpa Sindrom Metabolik.
Dalam penelitian Kivipelto, dkk (2005) dari 1449 pasien yang diamati selama 21 tahun, didapati bahwa pada pasien dengan obesitas, tekanan darah yang tinggi dan level kolesterol yang tinggi mempunyai peningkatan resiko terjadinya demensia dan penyakit Alzheimer pada masa tuanya sebesar 6 kali lipat, setiap faktor resiko mempunyai nilai peningkatan sebesar 2 kali lipat untuk demensia atau penyakit Alzheimer dibandingkan dengan pasien yang tidak mempunyai faktor resiko.
Faktor resiko kardiovaskuler dan metabolik seperti hipertensi dan diabetes telah banyak dihipotesakan berperan dalam hal patogenesa dari penyakit Alzheimer terutama dalam perkembangan demensia vaskuler (Yaffe, 2004).
Black, dkk (1990) mengidentifikasi bahwa resistensi insulin sering dijumpai bersamaan dengan adanya hipertensi. Dari semua individu yang hipertensi, 30% sampai 50% adalah mengalami resistensi insulin dan hiperinsulinemi.
Berdasarkan teori hiperinsulinemi dan resistensi insulin dapat mempengaruhi fungsi kognitif melalui lebih kurang 2 mekanisme. Pertama, hiperinsulinemi dan resistensi insulin dihubungkan dengan peningkatan resiko terjadinya aterosklerosis dan penyakit serebrovaskuler. Kedua, telah diketahui bahwa pada keadaan hiperinsulinemia, insulin dijumpai di daerah otak dimana ia berperan sebagai neuromodulator penghambat aktifitas sinap (Kuusisto dkk, 1993).
Gregg, dkk (2000) melalui studi kohort prospektif selama 3-6 tahun mendapati bahwa diabetes mempunyai hubungan yang signifikan dengan fungsi kognitif pada level yang rendah, dan juga terdapatnya penurunan fungsi kognitif pada populasi wanita umur 65 tahun keatas.
32-62 tahun, setelah dilakukan adjustment terhadap faktor usia, sex, tingkat pendidikan, tekanan darah dan faktor psikososial, didapati hubungan yang bermakna antara Indeks Massa Tubuh yang tinggi dengan skor tes kognitif yang rendah.
Dalam penelitian Busse, dkk (2006) setelah pengamatan selama 6 tahun dan berdasarkan tes-tes neuropsikologi yang dilakukan di daerah selatan Leipzig, dari 980 partisipan yang berumur 75 tahun atau lebih dan bebas demensia didapat hasil bahwa setiap subtipe MCI berhubungan dengan peningkatan resiko dari tipe demensia.
I.2. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang penelitian-penelitian terdahulu seperti yang telah diuraikan di atas, dirumuskan masalah sebagai berikut:
Bagaimana hubungan Sindrom Metabolik dengan Mild Cognitive Impairment (MCI) pada usia paruh baya?
I.3. TUJUAN PENELITIAN
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan Sindrom Metabolik dengan Mild Cognitive Impairment (MCI) pada usia paruh baya.
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui hubungan Sindrom Metabolik dengan Mild Cognitive Impairment (MCI) pada usia paruh baya di RSUP.H.Adam Malik Medan.
2. Untuk mengetahui karakteristik dari komponen Sindrom Metabolik pada kelompok usia paruh baya.
3. Untuk mengetahui distribusi Sindrom Metabolik pada jenis subtipe MCI
4. Untuk mengetahui hubungan tiap komponen dari Sindrom Metabolik dengan MCI
I.4. HIPOTESIS
Ada hubungan Sindrom Metabolik dengan Mild Cognitive Impairment
I.5. MANFAAT PENELITIAN
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1. SINDROM METABOLIK
II.1.1. Definisi
Berdasarkan the National Cholesterol Education Program Third Adult Treatment Panel (NCEP-ATP III), Sindrom Metabolik adalah seseorang dengan memiliki sedikitnya 3 kriteria berikut: 1). Obesitas abdominal (lingkar pinggang > 88 cm untuk wanita dan untuk pria > 102 cm); 2). Peningkatan kadar trigliserida darah (≥ 150 mg/dL, atau ≥ 1,69 mmol/ L); 3). Penurunan kadar kolesterol HDL (< 40 mg/dL atau < 1,03 mmol/ L pada pria dan pada wanita < 50 mg/dL atau <1,29 mmol/ L); 4). Peningkatan tekanan darah (tekanan darah sistolik ≥ 130 mmHg, tekanan darah diastolik ≥ 85 mmHg atau sedang memakai obat anti hipertensi); 5). Peningkatan glukosa darah puasa (kadar glukosa puasa ≥ 110 mg/dL, atau ≥ 6,10 mmol/ L atau sedang memakai obat anti diabetes) (Adult Treatment Panel III, 2001).
American Heart Association/National Heart, Lung, and Blood Institute
(AHA/NHLBI), saat ini kriteria NCEP-ATP III telah banyak diterima secara luas (Mittal, 2008). (Tabel 1)
II.1.2. Epidemiologi
Konsep dari Sindrom Metabolik telah ada sejak ±80 tahun yang lalu, pada tahun 1920, Kylin, seorang dokter Swedia, merupakan orang pertama yang menggambarkan sekumpulan dari gangguan metabolik, yang dapat menyebabkan resiko penyakit kardiovaskuler aterosklerosis yaitu hipertensi, hiperglikemi dan gout (Eckel, dkk, 2005).
Pada tahun 1988, Reaven menunjukkan berbagai faktor resiko: dislipidemi, hiperglikemi dan hipertensi secara bersamaan dikenal sebagai
multiple risk factor untuk penyakit kardiovaskuler dan disebut dengan sindrom X. Selanjutnya sindrom X ini dikenal dengan sindrom resistensi insulin. Dan kemudian NCEP-ATP III menamakan dengan istilah Sindrom Metabolik. Konsep Sindrom Metabolik ini telah banyak diterima secara Internasional (Reaven, 1988).
Tabel 1. Kriteria Diagnosis Sindrom Metabolik
Lingkar pinggang L >102 cm, TGT dan 2 kriteria di atas. Jika
Lingkar pinggang L >102 cm,
Obesitas sentral + 2 kriteria di atas
Sedangkan di Indonesia prevalensi Sindrom Metabolik sekitar 13,13% (Soegondo, 2004).
II.1.3. Patofisiologi
Insulin merupakan hormon anabolik tubuh yang prinsipil, yang mengatur perkembangan dan pertumbuhan yang sesuai dan juga sebagai maintenance
dari sistem homeostasis glukosa di seluruh tubuh. Hormon insulin disekresi oleh sel β pulau Langerhan dari organ pankreas. Insulin berperan dalam menurunkan kadar gula darah melalui beberapa cara; 1). supressi hepatic glucose output (melalui penurunan gluconeogenesis dan glycogenolysis), 2). merangsang penyimpanan terutama ke otot dan jaringan lemak melalui
glucose transporter yaitu Glucose Transporter -4 (GLUT-4) (Mittal, 2008).
Reseptor insulin terdistribusi secara luas di sistem sarap pusat, terutama di daerah hipotalamus dan pituitary. Pada eksperimen hewan percobaan, gangguan gen reseptor insulin di sistem sarap pusat memperlihatkan suatu keadaan kebutuhan asupan makanan yang meningkat pada hewan tersebut sehingga menginduksi keadaan obesitas dan resisten insulin. Aksi Insulin di sistem sarap pusat memberikan negatif feedback bagi inhibisi postprandial
Insulin juga mempunyai efek antiapoptosis, hal ini didukung oleh studi eksperimen pada binatang percobaan dimana dengan penambahan insulin pada cairan reperfusi berhubungan dengan pengurangan ukuran miokard infark sekitar 50%. Sedangkan studi pada manusia, pemberian infus insulin dosis rendah dengan heparin dan agen trombolitik menunjukkan efek kardioprotektif (Dandona, 2005).
Efek anti inflamasi juga terdapat pada insulin hal ini didukung oleh eksperimen pada binatang percobaan bahwa pemberian insulin menunjukkan pengurangan mediator-mediator inflamasi (IL-β, IL-6, macrophage migration inhibitor factor [MIF], TNF-α), dan expression of proinflammatory transcription factors CEBP (C enhancer binding protein) dan cytokines. Kemampuan insulin dalam efek antioksidan didukung dengan kemampuannya untuk menekan reactive oxygen species (ROS) (Dandona, 2005).
Dan resistensi insulin dijumpai pada sebagian besar pasien dengan Sindrom Metabolik (Reaven, 1988).
Resistensi Insulin dan hipertensi sistolik merupakan faktor yang menentukan terjadinya disfungsi endotel. Resistensi Insulin menyebabkan menurunnya produksi Nitric Oxide (NO) yang dihasilkan oleh sel-sel endotel, sedangkan hipertensi menyebabkan disfungsi endotel melalui beberapa cara seperti; secara kerusakan mekanis, peningkatan sel-sel endotel dalam bentuk radikal bebas, pengurangan bioavailabilitas NO atau melalui efek proinflamasi pada sel-sel otot polos vaskuler. Disfungsi endotel ini berhubungan dengan stres oksidatif dan menyebabkan penyakit kardiovaskuler (Barnet, 2004). Proses-proses seluler yang penting yang berkenaan dengan disfungsi endotel ini dapat dilihat pada gambar-1.
Gambar-1. Proses seluler yang berkenaan dengan disfungsi endotel
menyebabkan vascular injury dan aterosklerosis.
Ang-II, angiotensin-II; ET-1, endothelin-1; FFA, free fatty acids; FGF, fibroblast growth factor; ICAM, intracellular cell adhesion molecule; NO, nitric oxide; PAI-1, plasminogen activator inhibitor-1; PDGF, platelet-derived growth factor; RAGEs, receptor for advanced glycation end products (promotes inflammation and oxidation, particularly in cells involved in atherogenesis); VCAM-1, vascular cell adhesion molecule-1.
Pada beberapa studi ditemukan bahwa dalam keadaan hiperinsulinemia, insulin dapat mengurangi aktifitas kolinergik yang bersifat reversibel pada kultur neuron striatum dan dapat mempercepat turnover dari monoamin di otak.
Sebagaimana diketahui bahwa neuron-neuron kolinergik banyak yang rusak pada demensia atau penyakit Alzheimer. Fakta-fakta tersebut menjelaskan bahwa insulin dapat mengganggu fungsi kognitif melalui penghambatan aktifitas sinap secara langsung, penurunan aktifitas kolinergik ataupun melalui keterlibatan metabolisme monoamin di otak (Kuusisto dkk, 1993).
Faktor-faktor resiko untuk gangguan fungsi kognitif seperti demensia vaskuler adalah umumnya sama dengan faktor resiko untuk stroke yaitu hipertensi, diabetes, hiperlipidemi, merokok, aritmia jantung. Pengobatan medis untuk demensia vaskuler ini ditujukan sebagai kontrol terhadap berbagai keadaan seperti hipertensi, diabetes, hiperlipidemia yang dapat menyebabkan infark (Kempler, 2005).
gangguan kognitif, didapati hasilnya tidak ada hubungan yang bermakna antara kolesterol total, HDL dan LDL dengan gangguan fungsi kognitif.
Launer, dkk (2001) menyatakan bahwa hubungan antara kadar lipid di usia paruh baya terhadap resiko terjadinya gangguan kognitif dibuktikan dengan autopsi dengan hasilnya bahwa kadar kolesterol total yang rendah di usia paruh baya dihubungkan dengan jumlah neuritik yang lebih sedikit, adanya plak amyloid dan neurofibrillary tangels.
II.2. MILD COGNITIVE IMPAIRMENT
II.2.1. Definisi
Mild Cognitive Impairment merupakan suatu keadaan transisi antara kognisi pada proses penuaan yang normal dengan demensia ringan (American Psychiatric Association, 1994).
II.2.2. Epidemiologi
Pada penelitian Canadian Study of Health and Aging, didapati angka prevalensi dari MCI sekitar 17%. Angka prevalensi untuk gangguan memori yang berhubungan dengan usia didapati berkisar antara 17% sampai 34% (Graham dkk, 1997).
Seseorang dengan MCI mempunyai resiko untuk menjadi AD dengan kecepatan setiap tahunnya 10-12%, dan semakin cepat progresifitasnya bila MCI ini disertai dengan kelainan pada APOEє4 dan hasil MRI hipokampus (Sjahrir, 1999).
Pada tahun 2000 diperkirakan lebih kurang 4,5 juta individu dengan penyakit Alzheimer’s di Amerika Serikat, dan angka ini akan meningkat sampai 14 juta di tahun 2050 hal ini berkenaan dengan meningkatnya populasi manusia lanjut usia (Fink, 2004).
II.2.3. Patogenese
Jack, dkk (1999) melakukan studi Cross-sectional dan longitudinal dengan memakai modalitas CT Scan, MRI dan PET terhadap 80 penderita MCI selama 36 bulan didapati 27 orang berkembang menjadi demensia, dan juga didapati gambaran atrofi pada daerah hipokampus pada amnestic MCI dibanding kontrol. Atrofi daerah hipokampus tersebut dapat sebagai prediktor kejadian konversi dari MCI ke AD, dan juga mempunyai korelasi dengan bukti autopsi didapati atrofi dan neuronal loss.
Price, dkk (1999) melakukan studi longitudinal dengan mengamati seri patologi terhadap 62 pasien (39 tanpa demensia, 15 dengan nilai CDR 0,5 dan 8 dengan AD), didapati hasil dari semua 15 pasien dengan nilai CDR 0,5 memperlihatkan gambaran neuropatologi sebagai AD. Hasil ini membuktikan bahwa plak senile dapat terlihat pada subjek yang tidak terdeteksi adanya penurunan kognitif dan ini menegaskan bahwa kemungkinan gambaran neuropatologi pada AD sudah ada pada keadaan MCI.
Pada suatu studi longitudinal oleh Sunderland, dkk tahun 1999 menunjukkan bahwa hampir semua subjek dengan MCI yang telah berkonversi menjadi AD mempunyai nilai tau yang tinggi di dalam cairan serebrospinalnya, sementara yang tidak berkonversi (nonprogressive MCI) level dari tau nya masih rendah (Petersen 2001).
II.2.4. Diagnosis
Pada umumnya, diagnosis Mild cognitive Impairment dibuat apabila pada seseorang ditemukan beberapa kriteria: ada gangguan memori, fungsi memori abnormal untuk usia dan pendidikan, aktivitas sehari-hari normal, fungsi kognisi umum normal dan tidak dijumpai demensia (Kusumoputro, 2001; Fink, 2004).
Menurut Petersen (2004) pada MCI terdapat gangguan fungsi kognitif sebesar 0.5 -1 SD dibandingkan orang normal setelah dilakukan matching
Diagnosis MCI dapat dibagi atas 4 subtipe klinis;
1. Amnestic MCI - single domain: terdapat gangguan memori dengan tidak adanya gangguan dari area fungsi kognitif yang lain seperti atensi, orientasi, bahasa dan visuospatial.
2. Amnestic MCI - multiple domain: terdapat gangguan memori ditambah satu atau lebih gangguan dari area fungsi kognitif yang lainnya.
3. Non Amnestic MCI - single domain: terdapat gangguan pada satu area fungsi kognitif tanpa adanya gangguan dari area fungsi memori.
4. Non Amnestic MCI - multiple domain: terdapat gangguan pada dua atau lebih area fungsi kognitif tanpa adanya gangguan dari area fungsi memori.
Ke empat subtipe klinis tersebut berbeda dalam hal etiologi dan outcome
nya. Amnestic MCI (single domain lebih baik dari yang multiple domain) mempunyai kemungkinan yang lebih besar mengalami progresifitas menjadi penyakit demensia Alzheimer. Sedangkan subtipe non-Amnestic mempunyai kemungkinan mengalami progresifitas menjadi penyakit demensia non-Alzheimer (Petersen, 2004).
pemeriksaan status mental, test neuropsikologi, tes laboratorium, pemeriksaan imaging dan penilaian kondisi komorbid psikiatri seperti depresi (Fink, 2004).
Komplain dari gangguan memori mungkin dilaporkan sendiri oleh si pasien atau dapat juga dari orang sekitarnya yang disebut sebagai informan. Bila sudah ada komplain dari gangguan memori maka haruslah dilakukan pemeriksaan seperti pemeriksaan status mental atau pemeriksaan neuropsikologi (Fink, 2004).
Oleh karena MCI ataupun demensia merupakan bagian dari penyakit neurologi, maka diharuskan pemeriksaan neurologi pada penderitanya termasuk saraf-saraf kranial, refleks-refleks, sistem motorik, koordinasi dan pemeriksaan sensorik (Fink, 2004).
Berbagai macam instrumen screening fungsi kognitif dilakukan untuk untuk menilai individu dengan sangkaan mengalami gangguan fungsi kognitif, seperti Mini-Mental Status Examination, Mayo Short Test of Mental Status, Clock Drawing Test, Clinical Dementia Rating dan tes lainnya (Fink, 2004).
Mini-Mental Status Examination (MMSE) merupakan salah satu dari sekian banyak tes yang sering digunakan secara luas untuk mendeteksi gangguan kognitif. Sensitifitas untuk mendeteksi MCI semakin bagus jika nilai
dilakukan adjustment terhadap usia dan pendidikan. Individu dengan skor 26-28 harus di screen lebih lanjut untuk MCI dengan menggunakan pemeriksaan seperti Clinical Dementia Rating ataupun Mayo Short Test of Mental Status (Fink, 2004).
Clinical Dementia Rating digunakan untuk menilai 6 domain yang berhubungan dengan kognitif dan fungsional performa seperti memori, orientasi, judgement dan pemecahan masalah, kegiatan komunitas, pekerjaan rumah dan hobi serta perawatan diri. Clinical Dementia Rating
II.3. KERANGKA KONSEPSIONAL
Yaffe dkk, 2002 : kadar yang tinggi dari LDL dan kolesterol total berhubungan dengan gangguan kognitif.
Gregg, dkk (2000) diabetes mempunyai hubungan yang signifikan dengan fungsi kognitif pada level yang rendah
Reaven, 1988: Resistensi insulin Æ mendahului onset Diabetes tipe 2 Æ keadaan hiperglikemi.
Dislipidemi Hipertensi
Kuusisto dkk,1993:insulin Æ mengganggu fungsi kognitif menghambat aktifitas sinap, penurunan aktifitas kolinergik dan keterlibatan metabolisme monoamin di otak
BAB III
METODE PENELITIAN
III.1. TEMPAT DAN WAKTU
Penelitian dilakukan di Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK-USU/RSUP H.A.Malik Medan dari tanggal 1 Juli 2009 s/d 31 Desember 2009.
III.2. SUBJEK PENELITIAN
Subjek penelitian diambil dari populasi pasien rumah sakit. Penentuan subjek penelitian dilakukan menurut metode non probability sampling jenis
consecutive sampling.
III.2.1. Populasi Sasaran
III.2.2. Populasi Terjangkau
Semua penderita Sindrom Metabolik yang berobat jalan di Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK-USU/RSUP H Adam Malik Medan.
III.2.3. Besar Sampel
Ukuran sampel dihitung menurut rumus (Madiyono dkk, 2002)
n = Zα2PQ
d2
Z = nilai baku normal berdasarkan nilai yang telah ditentukan (α = 0,05) Zα2 = 1,96
P = perkiraan prevalensi penderita Sindrom Metabolik pertahun → 0,15
Q = (1-P) → 0,85
d = tingkat ketepatan (presisi) → 15% n = (1,96)2((0,15)(0,85)
(0,15)2 n = 22
III.2.4. Kriteria Inklusi
1. Semua penderita Sindrom Metabolik yang berobat jalan di Bagian Ilmu
Penyakit Dalam FK-USU/RSUP H. Adam Malik Medan.
2. Pasien yang berusia 40-60 tahun
3. Memberikan persetujuan untuk ikut serta dalam penelitian ini
III.2.5. Kriteria Eksklusi
1. Pasien dengan riwayat stroke sebelumnya.
2. Pasien dengan riwayat penyakit jantung (atrial fibrilasi, miocard infark dan post operasi CABG)
3. Pasien yang buta huruf
4. Pasien dengan gangguan kesadaran, ganguan pendengaran dan gangguan penglihatan (tuli, buta)
III.2.6. Instrumen
1. Mini Mental State Examination (MMSE)
2. Clinical Dementia Rating (CDR) scale
3. Hamilton Rating Scale for Depression
III.3. BATASAN OPERASIONAL
a. Sindrom Metabolik adalah berdasarkan kriteria NCEP-ATP III yaitu: seseorang dengan memiliki sedikitnya 3 kriteria berikut: 1). Obesitas abdominal (lingkar pinggang > 88 cm untuk wanita dan > 102 cm untuk pria); 2). Peningkatan kadar trigliserida darah (≥ 150 mg/dL); 3).Penurunan kadar kolesterol HDL (< 40 mg/dL pada pria dan < 50 mg/dL pada wanita); 4). Peningkatan tekanan darah (tekanan darah sistolik ≥ 130 mmHg, tekanan darah diastolik ≥ 85 mmHg atau sedang memakai obat anti hipertensi); 5). Peningkatan glukosa darah puasa (kadar glukosa puasa ≥ 110 mg/dL atau sedang memakai obat anti diabetes) (Adult Treatment Panel III, 2001).
fungsi yang lainnya masih baik dan tidak dijumpai kriteria untuk demensia (Fink, 2004).
Pemeriksaan MMSE relatif kurang sensistif untuk mendeteksi MCI, terutama jika standar cutt-off untuk demensia digunakan <24. Deteksi MCI lebih sensitif bila nilai cutt-off tersebut ditinggikan (26-28) atau usia dan tingkat pendidikan di adjust (Fink, 2004).
Dalam penelitian ini penentuan MCI dengan skor MMSE 26 – 28 dan skor CDR 0,5-1
c. Usia paruh baya adalah periode kehidupan yang melewati usia dewasa muda dan sebelum memasuki usia tua. Usia pada kelompok ini adalah antara 40-60 tahun (Collins,1999). Pada penelitian ini usia paruh baya dikelompokkan menjadi 4 kelompok yaitu: 1.kelompok usia 40-45 tahun; 2.kelompok usia >45-50 tahun; 3. kelompok usia >50-55 tahun dan 4.kelompok usia >55-60 tahun.
e. Pemeriksaan CDR merupakan penilaian untuk demensia terdiri dari 6 kategori meliputi memori, orientasi, judgment dan pemecahan masalah, perkumpulan komunitas, tempat tinggal dan hobi serta perawatan diri; dengan skor 0-3 setiap kategorinya (semakin tinggi skor semakin tinggi tingkat keparahan demensia), skor pada kategori memori adalah yang skor paling berbobot (Masur dkk, 2004). Clinical Dementia Rating
menggunakan 5 skala keparahan yaitu 0=normal, 0,5=MCI/questionable dementia, 1=mild dementia, 2=moderate dementia, 3=severe dementia
(Fink, 2004).
f. Riwayat merokok berdasarkan WHO (Molarius dkk,1999) adalah perokok aktif setiap hari (daily smoker) minimal 1 batang perhari.
g. Pemeriksaan Hamilton Rating Scale for Depression adalah suatu skala untuk mengukur derajat depresi yang terdiri dari 17 pertanyaan. Dengan interpretasi, skor 0-6 : tidak ada depresi, skor 7-17 : depresi ringan, skor 18-24 : depresi sedang, skor >24 : depresi berat (Blacker, 2000).
III.4. RANCANGAN PENELITIAN
penderita Sindrom Metabolik yang berobat jalan di Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK-USU/RSUP H Adam Malik Medan.
a. Studi observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran lingkar pinggang, trigliserida darah, kadar kolesterol HDL, tekanan darah dan glukosa darah puasa, nilai MMSEserta CDR
b. Studi korelasi dilakukan untuk mengetahui hubungan antara lingkar pinggang, trigliserida darah, kadar kolesterol HDL, tekanan darah dan glukosa darah puasa dengan nilai MMSEserta CDR.
III.5. PELAKSANAAN PENELITIAN
III.5.1. Pengambilan Sampel
Semua penderita Sindrom Metabolik yang berobat jalan di Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK-USU/RSUP H Adam Malik Medan yang diambil secara konsekutif yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak ada kriteria ekslusi, diambil darah venanya sebanyak 5 ml setelah terlebih dahulu berpuasa lebih kurang 8 jam. Darah yang didapat segera dikirim ke Laboratorium Bagian Patologi Klinik RSUP.H.Adam Malik untuk dilakukan pemeriksaan.
Pengukuran tekanan darah dilakukan dengan cara pasien pada posisi
kanan setelah 5 menit istirahat di atas tempat tidur pemeriksaan. Pengukuran kembali diulang setelah 1,5 menit kemudian dan nilai yang didapat pada pemeriksaan kedua ini adalah nilai yang dipakai.
III.5.2. Kerangka Operasional
Penderita sindrom metabolik
Anamnese, pemeriksaan fisik,laboratorium dan neurologi
Kriteria inklusi Pemeriksaan Hamilton Rating Scale for Depression
Surat Izin ikut penelitian
Pasien di Poliklinik Penyakit Dalam RS HAM
Kriteria eksklusi
Pemeriksaan MMSE dan CDR
III.5.3. Variabel yang diamati
Variabel bebas: Sindrom Metabolik
Variabel terikat: Mild Cognitive Impairment
III.5.4. Analisa Statistik
Data hasil penelitian akan dianalisa secara statistik dengan bantuan program komputer Windows SPSS (Statistical Product and Science Service) versi 15.0 dengan tingkat kemaknaan p < 0,05
Analisis dan penyajian data dilakukan sebagai berikut :
1. Analisis deskriptik digunakan untuk melihat gambaran umur, jenis kelamin, suku bangsa, pekerjaan dan tingkat pendidikan serta karakteristik komponen Sindrom Metabolik
2. Untuk melihat hubungan karakteristik demografi subjek penelitian dengan MCI digunakan uji Chi- Square.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1. HASIL PENELITIAN
IV.1.1 Karakteristik Penelitian
Dua puluh enam pasien sindrom metabolik yang datang berobat jalan ke poliklinik di bagian Penyakit Dalam RSUP. H. Adam Malik Medan telah terpilih untuk ikut serta dalam penelitian ini. Pemilihan sampel penelitian ini ditetapkan dengan metode non probability sampling jenis consecutive sampling dari tanggal 1 Juli 2009 sampai dengan 31 Desember 2009.
IV.1.2. Karakteristik Demografi subjek penelitian
(61,5%), diikuti suku Karo 6 orang (23,1%), suku Jawa dan suku Aceh masing-masing sebanyak 2 orang (15,4%). (Tabel 2.)
Tabel 2. Karakteristik demografi subjek penelitian
Pekerjaan
Non MCI (skor MMSE 29-30;skor CDR=0)
MCI (skor MMSE 26-28; skor CDR =0,5)
Amnestic Single Domain
Amnestic Multiple Domain
Non Amnestic Single Domain
NonAmnestic Multiple Domain
kelompok yang bekerja sebanyak 12 orang (46,1%) terdiri dari Pegawai Negeri Sipil sebanyak 9 orang (34,6%), pegawai swasta sebanyak 2 orang (7,7%) dan wiraswasta 1 orang (3,8%).
Pada penelitian ini rerata nilai MMSE yang rendah didapati pada kelompok jenis kelamin pria 28,4 (SD 1,8), pada kelompok usia >45-50 tahun 27,7 (SD 1,6), pada suku Aceh 28,0 (SD 2,8), pada kelompok tingkat pendidikan SLTA 28,5 (SD 1,8) dan pada kelompok IRT 28,7 (SD 1,7).
Didapati penderita Mild Cognitive Impairment (MCI) yaitu subjek yang mempunyai skor MMSE 26-28 dan skor CDR 0,5 sebanyak 9 orang (34,6%) yang terdiri dari Amnestic Single Domain 6 orang (23,1%) dan Amnestic Multiple Domain sebanyak 3 orang (11,5%).
IV.1.3. Karakteristik komponen Sindrom Metabolik subjek penelitian
Tabel 3. Karakteristik komponen sindrom metabolik pada subjek penelitian
Trigliserida < 150 mg/dl
Trigliserida > 150 mg/dl
Wanita
< 50 mg/dl
> 50 mg/dl
KGD Puasa
KGD Puasa <110 mg/dL
KGD Puasa ≥ 110 mg/dL
15 (57,7)
1 (3,8)
6 (23,1)
20 (76,9)
36,81 (5,76)
141,23 (34,70)
IV.1.4. Hubungan karakteristik demografi subjek penelitian dengan MCI
Berdasarkan hubungan karakteristik sampel dengan MCI didapati jenis kelamin yang terbanyak mengalami MCI adalah pada pria sebanyak 5 orang (19,2%) dan wanita sebanyak 4 orang (15,4%). Untuk kelompok usia yang mengalami MCI terbanyak adalah kelompok umur >45-50 tahun dengan jumlah 5 orang (19,2%), kelompok umur >50-55 tahun dan >55 -60 tahun masing-masing berjumlah 2 orang (7,7%) sedangkan pada kelompok usia 40-45 tahun tidak dijumpai MCI (0%). Pada suku bangsa dijumpai suku Batak yang paling banyak mengalami MCI dengan 7 orang (26,9%) suku Karo dan Aceh masing-masing berjumlah 1 orang (3,8%) sedangkan suku Jawa tidak dijumpai MCI (0%). Untuk karakteristik tingkat pendidikan yang paling banyak mengalami MCI adalah pada kelompok tingkat pendidikan SLTA sebanyak 6
orang (23,1%) sedangkan pada kelompok tingkat pendidikan perguruan tinggi yang mengalami MCI dijumpai 3 orang (11,5%) sedangkan untuk pendidikan SD dan SLTP tidak ada. Untuk karakteristik pekerjaan yang mengalami MCI dijumpai pada kelompok yang bekerja 5 orang (19,2%) dan pada yang tidak bekerja sebanyak 4 orang (15,4%). (Tabel 4)
pada kelompok umur dengan menggunakan Chi- Square test didapati hasil p=0,090 yang berarti nilai p>0,05, tidak ada perbedaan kelompok umur dengan MCI. Untuk analisa statistik pada suku bangsa dengan menggunakan
Chi- Square test didapati hasil p=0,438 yang berarti nilai p>0,05, tidak terdapat hubungan yang bermakna antara suku bangsa dengan MCI. Dari uji statistik pada tingkat pendidikan dengan menggunakan Chi- Square test
Tingkat Pendidikan
Keterangan: uji Chi-Square p < 0,05
IV.1.5. Perbedaan karakteristik tekanan darah subjek penelitian dengan MCI
memiliki tekanan darah diastolik ≥ 85 mmHg sebanyak 8 orang (88,9%). Dari uji statistik dengan menggunakan t-independent didapati nilai p=0,310 yang berarti tidak ada perbedaan yang bermakna antara tekanan darah diastolik dengan MCI. (tabel 5)
Tabel 5.Perbedaan karakteristik tekanan darah subjek penelitian dengan MCI
MCI Karakteristik
sampel
n % p
Tekanan darah Sistolik
< 130 mmHg ≥ 130 mmHg
Diastolik < 85 mmHg ≥ 85 mmHg
0 9
1 8
0 100
11,1 88,9
0,494
0,310
IV.1.6. Perbedaan karakteristik lingkar pinggang subjek penelitian dengan MCI
Berdasarkan karakteristik lingkar pinggang subjek yang mengalami MCI, dijumpai lingkar pinggang pria < 102 cm sebanyak 3 orang (33,3%) dan lingkar pinggang pria > 102 cm sebanyak 2 orang (22,3%). Untuk lingkar pinggang wanita < 88 cm dijumpai sebanyak 1 orang (11,1%) serta lingkar pinggang wanita > 88 cm yang mengalami MCI dijumpai sebanyak 3 orang (33,3%). Dari analisa statistik dengan menggunakan uji t-independent
didapati nilai p=0,316 yang berarti tidak ada perbedaan bermakna antara lingkar pinggang pria maupun wanita terhadap MCI. (tabel 6)
Tabel 6. Perbedaan karakteristik lingkar pinggang subjek penelitian dengan MCI
MCI Karakteristik
sampel
n % p
Lingkar Pinggang Pria
< 102 cm > 102 cm
3 2
33,3 22,3
Wanita Keterangan: uji t-independent p < 0,05
IV.1.7. Perbedaan karakteristik nilai Trigliserida subjek dengan MCI
Berdasarkan karakteristik nilai Trigliserida subjek yang mengalami MCI, dijumpai trigliserida < 150 mg/dL sebanyak 5 orang (55,6%) dan trigliserida > 150 mg/dL sebanyak 4 orang (44,4%). Dari analisa statistik dengan menggunakan uji t-independent didapati nilai p=0,504 yang berarti tidak ada perbedaan bermakna antara nilai trigliserid terhadap MCI. (tabel 7)
Tabel 7. Perbedaan karakteristik nilai Trigliserida subjek penelitian dengan MCI
Trigliserida < 150 mg/dl Trigliserida > 150 mg/dl
5 4
55,6 44,4
0,504
IV.1.8. Perbedaan karakteristik nilai HDL subjek penelitian dengan MCI
Pada karakteristik nilai HDL subjek yang mengalami MCI, dijumpai HDL pria < 40 mg/dL sebanyak 3 orang (33,3%) dan HDL pria > 40 mg/dL sebanyak 1 orang (11,1%). Untuk HDL wanita < 50 mg/dL dijumpai sebanyak 5 orang (55,6%) serta HDL wanita > 50 mg/dL yang mengalami MCI tidak dijumpai. Dari analisa statistik dengan menggunakan uji t-independent
didapati nilai p=0,648 yang berarti tidak ada perbedaan bermakna antara nilai HDL pria maupun wanita terhadap MCI. (tabel 8)
Tabel 8. Perbedaan karakteristik nilai HDL subjek penelitian dengan MCI
MCI
IV.1.9. Perbedaan karakteristik nilai Kadar Gula Darah Puasa subjek penelitian dengan MCI
Berdasarkan karakteristik nilai kadar gula darah puasa subjek yang mengalami MCI, tidak dijumpai KGD Puasa < 110 mg/dL (0%) dan KGD Puasa ≥ 110 mg/dL didapati sebanyak 9 orang (100%). Dari analisa statistik dengan menggunakan uji t-independent didapat nilai p=0,044 yang berarti didapati perbedaan bermakna antara KGD Puasa dengan MCI. (tabel 9)
Tabel 9. Perbedaan karakteristik nilai Kadar Gula Darah Puasa subjek penelitian dengan MCI
MCI Karakteristik
sampel
n % p
KGD
KGD < 110 mg/dL KGD ≥ 110 mg/dL
0 9
0 10 0
0,04 4*
IV.2. PEMBAHASAN
Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan metode pengumpulan data secara potong lintang (cross sectional) dengan teknik pengambilan sampel secara non probability sampling jenis consecutive sampling. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan Sindrom Metabolik dengan
Mild Cognitive Impairment (MCI) pada usia paruh baya.
Penelitian ini memilih penderita sindrom metabolik yang berumur 40-60 tahun yang datang berobat ke poliklinik umum Bagian Penyakit Dalam RSUP H. Adam Malik Medan selama priode waktu 1 Juli 2009 sampai dengan 31 Desember 2009 dan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, selanjutnya dilakukan pemeriksaan fungsi kognitif dengan memakai MMSE (Mini Mental State Examination) dan CDR (Clinical Dementia Rating).
IV.2.1. Karakteristik demografi subjek penelitian
sindrom metabolik wanita sebesar 57,7% (n=15) dibanding pria sebesar 42,3% (n=11).
Prevalensi sindrom metabolik menurut usia meningkat dari 6,7% pada kelompok usia 20 sampai 29 tahun menjadi 43,5% pada kelompok usia 60 sampai 69 tahun dan prevalensi tersebut meningkat menjadi 42,0% pada kelompok usia 70 tahun ke atas (Mittal, 2008). Pada penelitian ini didapati kelompok usia yang paling banyak adalah kelompok umur >50-55 tahun dengan jumlah 9 orang (34,5%) dengan rerata umur 52,1 (SD 5,9) tahun.
Pada penelitian ini dijumpai jumlah penderita sindrom metabolik lebih banyak pada kelompok yang tidak bekerja (Ibu Rumah Tangga dan pensiunan) dengan jumlah 14 orang (53,9%) dibanding dengan kelompok yang bekerja 12 orang (46,1%). Menurut Pangiotakos, dkk (2004) pada studinya di Yunani dijumpai penderita sindrom metabolik juga lebih banyak pada kelompok yang tidak aktif bekerja dibanding dengan kelompok yang aktif bekerja.
IV.2.2. Hubungan karakteristik subjek penelitian dengan MCI
yang signifikan antara pria dan wanita. Pada penelitian ini didapati penderita yang mengalami mild cognitive impairment (MCI) sebanyak 9 orang (27,0%) dengan jumlah pria 5 orang dan wanita 4 orang, dan juga tidak didapati perbedaan yang signifikan antara jenis kelamin pria dengan wanita (p=0,32)
Pada penelitian ini didapati dari 26 orang penderita sindrom metabolik, yang mengalami mild cognitive impairment (MCI) sebanyak 9 orang (27,0%) dengan rincian yang mengalami Amnestic Single Domain sebanyak 6 orang (23,1%), Amnestic Multiple Domain sebanyak 3 orang (11,5%), Non Amnestic Single Domain dan Non Amnestic Multiple Domain masing-masing tidak ada. Pada penelitian Busse,dkk (2006) yang meneliti selama 6 tahun terhadap 980 orang berusia 75 tahun ke atas yang tidak menderita Alzheimer didapati hasil yang mengalami MCI tipe Amnestic Single Domain sebesar 9,3%, MCI tipe
Amnestic Multiple Domain sebesar 10,9%, MCI tipe Non Amnestic Single Domain 3,9% dan MCI tipe Non Amnestic Multiple Domain sebesar 17,4%.
Menurut Sjahrir (1999), tingkat pendidikan yang rendah menjadi faktor resiko untuk terjadinya Alzheimer Disease, hal ini disebabkan environmental
IV.2.3. Hubungan karakteristik komponen Sindrom Metabolik subjek penelitian dengan MCI
Pada penelitian Yaffe, dkk (2009) selama 4 tahun terhadap 4895 populasi wanita tua (rerata umur 66,2 SD 6,9 tahun), didapati yang menderita sindrom metabolik sebanyak 497 (10,2%) wanita, dan dari kelompok tersebut yang mengalami gangguan kognitif didapati sebesar 7,2% (n=36). Komponen sindrom metabolik yang didapat adalah sebanyak 222 orang (44,7%) yang obesitas, 384 orang (77,3%) yang hipertrigliseridemi, 425 orang (85,5%) memiliki kolesterol HDL yang rendah, hipertensi sebanyak 425 orang (85,5%) dan sebanyak 180 orang (36,2%) dengan nilai kadar glukosa puasa yang tinggi.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
V.1. KESIMPULAN
Dari hasil penelitian terhadap 26 pasien sindrom metabolik yang datang berobat ke poliklinik Penyakit Dalam RSUP H. Adam Malik dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Penderita Sindrom Metabolik yang paling banyak adalah jenis kelamin wanita, kelompok umur >50-55 tahun, suku Batak, tingkat pendidikan SLTA dan kelompok yang tidak bekerja.
3. Didapati penderita Mild Cognitive Impairment (MCI) sebanyak 9 orang yang terdiri dari Amnestic Single Domain 6 orang dan Amnestic Multiple Domain sebanyak 3 orang.
4. Didapati yang paling banyak menderita MCI adalah pada pria, kelompok umur >45-50 tahun, suku Batak, tingkat pendidikan SLTA dan pada kelompok yang bekerja.
5. Tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin, kelompok umur suku bangsa, tingkat pendidikan dan pekerjaan dengan MCI.
6. Tidak ada perbedaan yang bermakna antara tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, lingkar pinggang pria maupun wanita, trigliserida dan nilai HDL pria maupun wanita terhadap MCI.
7. Terdapat perbedaan yang bermakna antara kadar gula darah (KGD) penderita sindrom metabolik dengan MCI (p=0,044).
V.2. SARAN
2. Perlu dilakukan pemeriksaan fungsi kognitif pada setiap penderita sindrom metabolik dan juga sebaliknya penderita Mild Cognitive Impairment harus dilakukan pemeriksaan metabolik terutama pada kelompok usia paruh baya.
3. Perlunya perhatian dan penatalaksanaan yang tepat terhadap nilai kadar gula darah puasa pada penderita sindrom metabolik usia paruh baya dengan kaitannya terhadap gangguan fungsi kognitif.
4. Penderita Mild Cognitive Impairment perlu mendapat penanganan seperti edukasi, asuhan berupa pelatihan dan perawatan serta terapi dengan obat-obatan.
DAFTAR PUSTAKA
Adult Treatment Panel III. 2001. Expert Panel on Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Cholesterol in Adults. Executive Summary of the Third Report of the National Cholesterol Education Program (NCEP) Expert Panel on Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Cholesterol in Adults (Adult Treatment Panel III). JAMA. 285:2486-2496.
American Psychiatric Association. 1994. Diagnostic and Statiscal Manual of Mental Disorder, Fourth Edition. American Psychiatric Association. Washington, DC.
Attix, D. K., Welsh-Bohmer K. A. 2006. Geriatric neuropsychology : assessment and intervention. The Guilford Press. New york. p.44-47 Barnet, A.H. and Sudhesh K. 2004. Obesity and Diabetes. John Wiley. New
York.
Black, H.R. 1990. The Coronary Artery Disease Paradox: the Role of Hyperinsulinemia and Insulin Resistance and Implications for Therapy. J Cardiovasc Pharmacol. 15(suppl 5):26-38.
Blacker D. 2000. Psychiatric Rating Scale In:Sadock BJ, Sadock VA, editors.Kaplan and Sadocks Comprehensive Textbook of Psychiatry. Vol.I.7th. ed. Lipincott Williiam & Wilkins. Philadelphia. p.769
Busse, A., Hensel, A., Guhne, U., Angermeyer, M.C. and Riedel-Heller, S.G. 2006. Mild Cognitive Impairment; Long-term Course of Four Clinical Subtypes. Neurology. 67:2716-2185.
Cameron, A.J., Shaw, J.E. and Zimmet, P.Z. 2004. The Metabolic Syndrome Prevalence in Worldwide Populations. Endocrinol Metab Clin North Am. 33:351–375.
Cournot, M., Marquie, J.C., Ansiau, D., Martinaud, C., Fonds, H., Ferrieres, J. and Ruidavets, J.B. 2006. Relation Between Body Mass Index and Cognitive Function in Healthy Middle-aged Men and Women. Neurology. 67:1208-1214.
Dandona, P., Aljada,A. and Chaudhuri A. 2005. Metabolic syndrome. A Comprehensive Perspective Based on Interactions Between Obesity, Diabetes,Diabetic. 37:1595–1607.
Eckel, R.H., Grundy, S.M. and Zimmet P. 2005. The Metabolic Syndrome. Lancet. 365:9468–9415.
Fink, V. 2004. Mild Cognitive Impairment.Pre Alzheimer’s Disease Provides Opportunity for Early Detection and Possible Treatment. Health Patners The Institute for Medical Education Bulletin. Vol.6. p.1-12. Ford, E.S., Giles, W.H., Dietz, W.H., 2002. Prevalence of the Metabolic
Syndrome Among US Adults. Finding from the Third National Health and Nutrition Examination Survey. JAMA. 287:356-359
Graham, J.E., Rockwood, K. and Beattie, B.L. 1997. Prevalence and Severity of Cognitive Impairment With and Without Dementia in an Elderly Population. Lancet. 349:1793-1796.
Gregg, E.W., Yaffe, K., Cauley, J.A., Rolka, D.B., Blakwell, T.L., Narayan, K.M.V. and Cummings S.R. 2000. Is Diabetes Associated With Cognitive Impairment and Cognitive Decline Among Older Women? Arch Intern Med. 160:174-180.
Isomaa, B., Almgren, P. and Tuomi, T. 2001. Cardiovascular Morbidity and Mortality Associated With the Metabolic Syndrome. Diabetes Care. 24:683-689.
Jack, C.R., Petersen, R.C., Xu, Y.C, O’Brien, P.C., Smith, G.E., Ivink, R.J., Boeve, B.F., Waring, S.C., Tangalos, E.G. and Kokmen, E. 1999. Prediction of AD With MRI-based Hippocampal Volume in Mild Cognitive Impairment. Neurology. 52:1397-1402.
Kivipelto, M., Ngandu, T., Fratiglioni, L., Viitanen, M., Kareholt, I., Winblad, B., Helkala, E.L., Tuomilehto, J., Soinien, H. and Nissinen, A. 2005. Obesity and Vascular Risk Factors at Midlife and the Risk of Dementia and Alzheimer Disease. Arch Neurol. 62:1556-1560.
Kusumoputro, S. 2001. Permasalahan Mudah-lupa Sampai Kepikunan (Alzheimer). Dalam: Sjahrir, H., Nasution, D., Rambe, H.H.(editor). Demensia. USU PRESS. Medan. Hal:1-9
Kuusisto, J., Koivisto, K., Mykkanen, L., Hekkala, E.L., Vanhanen, M., Hanninen, T., Pyorala, K., Riekkinen, P. and Laakso, M. 1993. Essential Hypertension and Cognitive Function. The Role of Hyperinsulinemia. Hypertension. 22:771-779.
Madiyono, B.,Moeslichan, Mz.S., Satroasmoro, S., Budiman, I., Purwanto, S.H. 2002. Perkiraan Besar Sampel. Dalam : Sastroasmoro, S., Ismael, S, editor. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Edisi ke-2. Hal. 259-288. CV Sagung Seto. Jakarta.
Masur, H., (ed). 2004. Scales and Scores in Neurology: Quantification of Neurological Deficits in Research and Practice. Thieme. New York. Martini, L. 2004. Encyclopedia of Endocrinology. Springer-Verlag. London. Mittal, S. 2008. The Metabolic Syndrome in Clinical Practice. Springer-Verlag.
London.
Mokdad, A.H., Marks, J.S., Stroup, D.F. and Gerberding, J.L. 2000. Actual Causes of Death in the United States. JAMA.291: 1238-1245.
Molarius, A., Kuulasmaa, K., Evans, A., McCrum E., Hanna, T. 1999. Quality Assessment of Data on Smoking Behaviour in the WHO MONICA Project,availablefrom:http://www.ktl.fi/publications/monica/smoking/qa3 0.htm
Pangiotakos, D. B., Pitsauus, C., Chrysohoou, C. 2004. Impact of life-style habits on the prevalence of the metabolic syndrome among Greek adults from the ATTICA Study. Am Heart J;147(11):106–112
Petersen, R.C., Doody, R., Kurz, A., Mohs, R.C., Morris, J.C., Rabins, P.V., Ritchie, K., Rossor, M., Thal, L. and Winblad B. 2001. Current Concepts in Mild Cognitive Impairment. Arch Neurol. 58:1985-1992. Poerjoto, P. 2007. Sindroma Metabolik suatu kelainan metabolik dengan
tanda dan resiko kardivaskular dan upaya pengendaliannya. Dalam: Darmono, Suhartono, T., Pemayun, T.G.D., Padmomartono, F.S (editor). Naskah Lengkap Diabetes Melitus. Badan penerbit Universitas Diponegoro. Semarang. Hal:233-234.
Price, J.L. and Morris, J.C. 1999. Tangles and Plaques in Nondemented aging and “preclinical” Alzheimer Disease. Annals Neurol. 45:358-368. Reaven, G.M. 1988. Banting Lecture: Role of Insulin Resistance in Human
Disease.
Reitz, C., Luchsinger,J., Tang,M.X., Manly,J., Mayeux,R. 2205. Impact of plasma lipids and time on memory performance in healthy elderly without Dementia. Arch Neurology. 64:93-96
Sattar, N., Gaw, A., Scherbakova, O., Ford, I., O’Reilly, D.S., Haffner, S.M., Isles, I., Macfarlane, P.W., Packard, J.C., Cobbe, S.M. and Shepherd, M. 2003. Metabolic Syndrome With and Without C-Reactive Protein as a Predictor of Coronary Heart Disease and Diabetes in the West of Scotland Coronary Prevention Study. Circulation. 108: 414-419.
Sjahrir, H. 1999. Pengenalan Demensia. Dalam: Sjahrir, H., Nasution, D., Rambe, H.H.(editor). Demensia. USU PRESS. Medan. Hal:74-76. Soegondo, S. 2004. Prinsip pengobatan diabetes, obat hipoglikemik oral dan
insulin. Dalam. Soegondo, S., Soewondo, P. dan Subekti, I. Eds. Diabetes Melitus: Penelitian Terpadu. Balai Penerbit FKUI.
World Health Organization. 2000. Obesity: Preventing and Managing the Global Epidemic. World Health Organization. Geneva, Switzerland. Yaffe, K., Blackwell, T.L., Kanaya, A.M., Davidowitz, N., Barret-Connor, E.
Yaffe, K., Connor, E.B., Lin, F. and Grady D. 2002. Serum Lipoprotein, Statin Use, and Cognitive Function in Older Women. Arch Neurol. 59:378-384.
Lampiran-1
LEMBAR PENJELASAN KEPADA SUBJEK PENELITIAN
Bapak/Ibu Yth,
Perkenalkan nama saya: dr. M. Adnin Rudi Siregar, saat ini saya sedang menjalani pendidikan di bagian ilmu penyakit saraf Fakultas Kedokteran USU.
Bapak/Ibu yang terhormat, disini saya sedang melakukan penelitian dengan judul ’HUBUNGAN SINDROM METABOLIK DENGAN MILD COGNITIVE IMPAIRMENT PADA USIA PARUH BAYA’.
Sebagaimana diketahui kumpulan gejala yang berhubungan dengan proses kerja tubuh adalah gabungan dari beberapa gangguan tubuh yaitu berupa darah tinggi, gangguan kadar gula darah, gangguan kadar lemak darah serta adanya kegemukan. Sedangkan gangguan berpikir ringan adalah keadaan berpikir antara proses penuaan yang normal dan pikun.
Pada penelitian ini Bapak/Ibu akan diperiksa darahnya untuk mengetahui kadar gula darah, kadar lemak darah dengan cara pengambilan darah setelah berpuasa selama ± 10 jam. Dan juga diperiksa tekanan darah serta lingkar perut bapak/ibu. Selanjutnya akan ada wawancara berupa lembaran daftar pertanyaan , bapak/ibu akan ditanyakan beberapa pertanyaan yang ada di dalam daftar tersebut.
Di sini saya menjamin kerahasiaan data dari Bapak/Ibu dan masalah biaya yang timbul dari pemeriksaan tersebut menjadi tanggungan saya. Penelitian ini tidak menimbulkan efek samping, bila terjadi efek samping yang tidak diinginkan diharapkan Bapak/Ibu dapat menghubungi saya.
Lampiran-2
SURAT PERSETUJUAN IKUT DALAM PENELITIAN SETELAH PENJELASAN
Saya yang bertanda tagan dibawah ini :
Nama :
Jenis kelamin:
Umur : Pekerjaan : Alamat :
Setelah mendapat keterangan secara terperinci dan jelas mengenai penelitian yang berjudul, “HUBUNGAN SINDROM METABOLIK DENGAN MILD COGNITIVE IMPAIRMENT PADA USIA PARUH BAYA” dan setelah mendapat kesempatan mengajukan pertanyaan mengenai gejala sesuatu yang berhubungan dengan penelitian tersebut, maka dengan ini saya secara sukarela dan tanpa paksaan menyatakan saya ikut dalam penelitian tersebut.
Medan, 2009
LAMPIRAN-3
LEMBAR PENGUMPUL DATA PENELITIAN
I. Karakteristik Responden
1. Nama :
2. Jenis Kelamin : Pria Wanita
3. Umur :
4. Suku Bangsa :
5. Pendidikan : Buta Huruf SD SLTP SLTA
Perguruan Tinggi
6. Pekerjaan : Wiraswasta Pegawai Negri
Pegawai Swasta Ibu Rumah Tangga
Pensiunan
7. Bahasa yang biasa dipergunakan :
Bahasa Indonesia : Ya Tidak
8. Status Perkawinan : Belum Menikah Menikah Duda/Janda
9. Alamat :
10. No. MR :
II. Pemeriksaan Umum
Sensorium: Nadi: x/i
Tekanan Darah (5 ’ pertama): mmHg RR: x/i
II. Lingkar Pinggang = cm
III. Pemeriksaan Laboratorium
1. KGD puasa = mg/dL
2. Trigliserid = mg/dL
Lampiran-4
NILAI SKOR MINI MENTAL STATE EXAMINATION
Identitas pribadi
Sekarang (tahun), (Musim), (Bulan), (Tanggal), (Hari)
Kita berada dimana sekarang? (negara), (Propinsi), (Kota), (RS), (Lantai/Kamar)
5 5
3
Registrasi:
Sebutkan 3 buah nama benda (Apel, Meja, Koin), tiap 1 detik, pasien disuruh mengulangi ketiga nama benda tadi . Nilai 1 untuk tiap nama benda yang benar . Ulangi sampai pasien dapat
menyebutkan dengan benar dan catat jumlah pengulangan
3
4
Atensi dan Kalkulasi:
Kurangi 100-7. Nilai 1 untuk tiap jawaban yang benar. Hentika setelah 5 jawaban. Atau suruh pasien mengeja terbalik kata “WAHYU” (Nilai diberi pada huruf yang benar sebelum kesalahan; misalnya UYAHW =2)
5
5
Mengingat Kembali (RECALL):
Pasien disuruh menyebut kembali 3 nama benda di atas 3
6 7 8
9
Bahasa:
Pasien disuruh menyebut nama benda yang ditunjukkan (pensil, buku)
Pasien disuruh mengulang kata-kata “ namun” ,“tanpa”, “bila” Pasien disuruh melakukan perintah :” Ambil kertas ini dengan tangan anda, lipatlah menjadi dua dan letakkan di lantai” Pasien disuruh membaca dan melakukan perintah “ PEJAMKANLAH MATA ANDA”
2 1 3
1