Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
KERUSAKAN SISTEM IMUNITAS TUBUH PADA
SJOGREN SYNDROM
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi
syarat guna memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi
Oleh :
HANRI NIM : 050600084
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
Fakultas Kedokteran Gigi
Departemen Biologi Oral
Tahun 2009
HANRI
Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom
viii + 48 halaman.
Kerusakan sistem imunitas tubuh banyak menimbulkan bermacam penyakit
atau kelainan, diantaranya penyakit yang dikenal dengan sjogren syndrom. Sjogren
syndrom merupakan salah satu penyakit autoimun yang menyebabkan kerusakan
kelenjar saliva, kelenjar air mata serta kelenjar eksokrin tubuh lainnya, sehingga
memberikan keluhan yang utama berupa mulut dan mata kering
.
Penulisan skripsi inibertujuan untuk mengetahui bagaimana kerusakan sistem imunitas tubuh pada
sjogren syndrom.
Sjogren syndrom diklasifikasikan menjadi sjogren syndrom primer dan
sjogren syndrom sekunder. Etiologi dari sjogren syndrom secara pasti belum
diketahui tetapi penyakit ini dianggap sebagai penyakit yang disebabkan oleh
gangguan autoimunitas.
Faktor-faktor yang dihubungkan dengan etiologi sjogren syndrom yaitu
faktor-faktor penyebab sjogren syndrom yang berhubungan dengan genetik meliputi
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
reseptor, alpha fodrin. Faktor–faktor penyebab sjogren syndrom yang lain adalah
berhubungan dengan lingkungan yaitu faktor keterlibatan virus.
Penyakit sjogren syndrom memerlukan beberapa pemeriksaan yaitu
pemeriksaan komponen oral dan mata, tes serologi, pemeriksaan histopatologi, dan
sialography. Pemeriksaan dilakukan agar dapat menegakkan diagnosa secara tepat
sehingga dapat menentukan tindakan perawatan yang dibutuhkan oleh penderita.
Perawatan yang diberikan berupa perawatan lokal dan perawatan sistemik. Perawatan
yang diberikan bertujuan untuk mengurangi perkembangan penyakit sjogren syndrom
dan keluhan yang dirasakan oleh penderita sjogren syndrom.
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
KERUSAKAN SISTEM IMUNITAS TUBUH PADA
SJOGREN SYNDROM
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi
syarat guna memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi
Oleh :
HANRI NIM : 050600084
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan
dihadapan tim penguji skripsi
Pembimbing I
Lisna Unita R, drg., M.Kes NIP : 19510405 198201 2 001
Pembimbing II
Dr. Ameta Primasari, drg., MDSc., M.Kes NIP : 19680311 199203 2 001
Mengetahui,
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
Lisna Unita R, drg., M.Kes NIP : 19510405 198201 2 001
TIM PENGUJI SKRIPSI
Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan tim penguji
Pada tanggal 01 Agustus 2009
Susunan Tim Penguji Skripsi
TIM PENGUJI
Ketua penguji : Lisna Unita R, drg., M.Kes
Anggota : 1. Rehulina Ginting, drg., M.Si
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
KATA PENGANTAR
Dengan mengucap syukur kepada Allah SWT karena dengan rahmat dan
karuniaNya lah penulis dapat menyelesaikan skripsi ini untuk memenuhi syarat guna
memperoleh gelar sarjana Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.
Dalam penulisan skripsi ini penulis banyak mendapatkan pengarahan,
bimbingan, bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Untuk itu, dengan segala
kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Prof. Ismet Danial Nasution, drg., Ph.D., Sp.Pros(K) selaku Dekan Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.
2. Kedua orang tua tercinta Ibunda (Mega Ningsih) dan Ayahanda (Usman, S.H)
atas segala kasih sayang, doa serta pengorbanannya untuk penulis.
3. Ibu Lisna Unita R, drg., M.Kes, dan Dr. Ameta Primasari, drg., MDSc.,
M.Kes selaku dosen pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu dan
tenaga untuk membimbing dan mengarahkan penulis sehingga skripsi ini
dapat diselesaikan.
4. Ibu Rehulina Ginting, drg., M.Si selaku dosen penguji yang telah bersedia
meluangkan waktunya, serta memberikan saran dan masukan yang amat
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
5. Seluruh staf pengajar Biologi Oral yang telah memberikan masukan kepada
penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
6. Bapak Shaukat Osmani Hasbi, drg., Sp.BM selaku penasehat akademik yang
telah membimbing penulis selama masa perkuliahan.
7. Seluruh staf pengajar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara
yang telah membimbing dan memberikan ilmunya kepada penulis selama
menjalani masa pendidikan.
Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada teman-teman kostku
Kurniawan, Junaidi P. P, Effendi Harahap, Jefri, Iwan, Wiwin A. Siregar, yang telah
memberiku doa dan semangat kepada penulis. Serta teman-teman kuliahku Moh.
Haikal, M. Ariansyah Lubis, Franky Leo, Eko Suryanto, Thomas R. Purba, Fitri Yuni
Astuti, Ririn Nasution, Teuku Agus Surya, Andrew Sipayung dan seluruh
teman-teman angkatan 2005.
Akhirnya penulis mengharapkan semoga hasil karya atau skripsi ini dapat
memberikan sumbangan pikiran yang berguna bagi kita semua.
Medan, 01 Agustus 2009 Penulis.
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ...
HALAMAN PERSETUJUAN ...
HALAMAN TIM PENGUJI SKRIPSI ...
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR GAMBAR ... viii
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
BAB 2 SJOGREN SYNDROM 2.1 Faktor-faktor penyebab sjogren syndrom yang berhubungan dengan genetik ... 4
2.2 Faktor-faktor lingkungan penyebab sjogren syndrom ... 7
BAB 3 SISTEM IMUNITAS TUBUH 3.1 Respon imun non spesifik ... 9
3.3 Major histocompatibility complex ... 19
3.3.1 Molekul HLA kelas I ... 19
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
3.3.3 Molekul HLA kelas III ... 20
3.4 Faktor-faktor yang mengubah respon imun... 21
3.4.1 Faktor intrinsik ... 21
3.4.2 Faktor ekstrinsik ... 23
BAB 4 KERUSAKAN SISTEM IMUNITAS TUBUH 4.1 Penyakit autoimun ... . 24
4.1.1 Teori klon terlarang ... . 25
4.1.2 Teori antigen terasing ... . 26
4.1.3 Teori defisiensi imun ... . 27
4.2 Patogenesis penyakit autoimun ... 29
4.2.1 Induksi autoimun melalui peniruan molekular ... 29
4.2.2 Induksi reaksi autoimun setelah infeksi virus kerena penyimpangan antigen MHC kelas II ... 30
BAB 5 GAMBARAN KLINIS DAN DIAGNOSA SJOGREN SYNDROM 5.1 Gambaran klinis sjogren syndrom ... 32
5.2 Metode diagnostik sjogren syndrom ... 35
5.2.1 Pemeriksaan komponen oral ... 35
5.2.2 Tes serologi ... 35
5.2.3 Pemeriksaan histopatologi ... 36
5.2.4 Sialography ... 37
5.3 Differensial diagnosa sjogren syndrom ... 39
BAB 6 PENATALAKSANAAN PERAWATAN SJOGREN SYNDROM 6.1 Perawatan lokal ... 40
6.2 Perawatan sistemik ... 42
BAB 7 KESIMPULAN... 45
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1 Autoantibodi M3 reseptor yang menghambat asetilkolin
menuju M3R ... 6
Gambar 2 Fagositosis dan penghancuran mikroorganisme di dalam sel ... 10
Gambar 3 Fungsi dari sel NK (natural killer) ... 11
Gambar 4 Fungsi dari epitel pelindung pada respon imun non spesifik... 12
Gambar 5 Jalur pengaktifan sistem komplemen ... 15
Gambar 6 Tahapan perkembangan dari seleksi limfosit T terhadap MHC ... 18
Gambar 7 Bagan teori klon terlarang... 26
Gambar 8 Bagan teori antigen terasing... 27
Gambar 9 Bagan teori defisiensi imun ... 28
Gambar 10 Mekanisme patogenesis autoimun melalui peniruan molekular ... 29
Gambar 11 Mekanisme patogenesis dari autoimun setelah infeksi virus karena penyimpangan antigen MHC kelas II ... 30
Gambar 12 Rampan karies ... 33
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
Gambar 14 Kandidiasis pseudomembran akut ... 34
Gambar 15 Pembesaran bilateral dari kelenjar parotis ... 34
Gambar 16 Pemeriksaan histopatologi kelenjar saliva minor
(pembesaran x200) ... 37
Gambar 17 Gambaran sialography pada sjogren syndrom ... 38
BAB 1
PENDAHULUAN
Sjogren syndrom merupakan salah satu penyakit yang diduga kuat disebabkan
oleh kerusakan sistem imun tubuh yang menyebabkan kerusakan kelenjar saliva dan
kerusakan kelenjar eksokrin lainnya, sehingga memberikan keluhan yang utama
berupa mulut dan mata terasa kering
.
(1,2) Penyakit sjogren syndrom merupakanpenyakit yang jarang dijumpai karena prevalensinya adalah empat kasus per 100.000
populasi penduduk Amerika atau berkisar 1-3% dari keseluruhan populasi, penyakit
ini umumnya diderita oleh orang-orang dekade empat puluh dan lima puluh tahun
kehidupan,(2) dan didominasi oleh wanita dari pada laki-laki dengan perbandingan
wanita dengan laki-laki adalah 9:1.(3)
Pasien yang menderita sjogren syndrom umumnya mengeluhkan mulutnya
terasa kering yang disebabkan oleh menurunnya aliran saliva yang ditimbulkan oleh
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
mulutnya seperti peningkatan karies, kesulitan dalam menelan makanan, gangguan
pengecapan.(3)
Kerusakan sistem imunitas tubuh memainkan peranan penting dalam
menyebabkan kerusakan kelenjar saliva dan kelenjar eksokrin lainnya pada sjogren
syndrom. Imun merupakan suatu kata yang berasal dari bahasa latin yaitu immunis
yang berarti bebas dari pajak atau bebas dari beban.(4) Imunitas diartikan sebagai
semua mekanisme yang membantu mahluk hidup untuk melindungi dirinya dari
serangan mikroorganisme yang patogen.(5,6) Mekanisme efektor yang terjadi apabila
imunitas tubuh terpapar oleh zat yang dianggap asing dilaksanakan melalui dua cara
yaitu respon imun non spesifik dan respon imun spesifik. Respon imun non spesifik
merupakan respon pertahanan tubuh terhadap zat asing yang akan muncul walaupun
sebelumnya tubuh tidak pernah terpapar dengan zat asing tersebut, sedangkan respon
imun spesifik merupakan respon imun yang timbul karena tubuh pernah terpapar oleh
antigen asing sebelumnya.(6)
Respon imunitas ini dapat memberikan pengaruh yang tidak menguntungkan
bagi tubuh. Salah satu bentuk respon yang tidak menguntungkan tersebut adalah
kerusakan sistem imunitas atau yang lebih dikenal dengan penyakit autoimun.(5)
Kerusakan imunitas ini banyak menimbulkan penyakit atau kelainan, salah satu
diantaranya penyakit yang dikenal dengan sjogren syndrom.(6)
Pada penulisan skripsi ini penulis akan membahas bagaimana kerusakan
sistem imun tubuh dapat menimbulkan kerusakan kelenjar saliva pada sjogren
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
untuk meningkatkan kualitas hidupnya, dengan cara mengurangi keluhan yang
dirasakan oleh pasien, sehingga diperoleh perbaikan dari keadaan di dalam rongga
mulut pasien dan pasien dapat melakukan kegiatan seperti makan, berbicara tanpa ada
gangguan dari akibat yang ditimbulkan oleh penyakit sjogren syndrom.
BAB 2
SJOGREN SYNDROM
Sjogren syndrom adalah suatu penyakit autoimun yang menyebabkan
berkurangnya sekresi kelenjar saliva dan kelenjar eksokrin tubuh lainnya. Sjogren
syndrom terjadi bila suatu sistem imunitas tubuh menyerang dan menghancurkan
sel-sel penyusun kelenjar saliva, kelenjar air mata dan kelenjar eksokrin tubuh
lainnya.(3,7)
Sjogren syndrom diklasifikasikan menjadi sjogren syndrom primer dan
sjogren syndrom sekunder, pada sjogren syndrom primer etiologinya dihubungkan
dengan gangguan autoimun tanpa keterlibatan penyakit autoimun yang lain,
sedangkan sjogren syndrom sekunder etiologinya dihubungkan dengan keterlibatan
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
kering dan mata kering. Sedangkan pada sjogren syndrom sekunder memiliki tiga
gejala berupa mulut kering, mata kering dan rheumatoid arthritis.(2,7)
Etiologi dan patogenesis dari Sjogren syndrom secara pasti belum diketahui
tetapi penyakit ini dianggap sebagai penyakit yang disebabkan oleh gangguan
autoimunitas.(3) Ada beberapa faktor yang dihubungkan dengan etiologi dan
patogenesis sjogren syndrom yaitu :
2.1. Faktor-faktor Penyebab Sjogren Syndrom yang Berhubungan
dengan Genetik.
Penyebab sjogren syndrom yang berhubungan dengan genetik terdiri dari
empat faktor yaitu :
2.1.1 Hiperaktivitas dari sel-B.
Fungsi antibodi adalah mengenali antigen dan merangsang suatu respon imun.
Antigen memainkan peranan penting dalam menentukan jenis respon imun yang akan
terjadi pada individu tersebut. Jika antibodi mengenali komponen dari virus atau
bakteri maka tubuh akan melakukan perlawanan terhadap komponen virus dan
bakteri tersebut. Tetapi jika antibodi mengenali sel tubuh sendiri maka akan
menyebabkan kerusakan dari sel tubuh tersebut hal ini yang disebut dengan respon
autoimun yang patologik,(1) yang paling dikenal dalam respon autoantibodi di dalam
sjogren syndrom adalah hiperaktivitas dari sel limfosit B yang mengakibatkan
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
munculnya bermacam antibodi seperti antibodi antinuklear, yang termasuk di
dalamnya adalah anti SS-A/Ro dan anti SS-B/La (50-70%) dan rheumatoid faktor
(40%) antithyrioglobulin antibodies (25%), antimicrosomal antibodies.(1,7) SS-A/Ro
dan SS-B/La adalah protein yang ditemukan di dalam setiap sel dan berperan dalam
pembelahan sel.(1)
2.1.2 Peningkatan HLA (human leukocyte antigen) kelas II
Pada pasien sjogren syndrom terjadi peningkatan HLA kelas II. Kumpulan
struktur dasar dari allel kelas II berhubungan dengan sjogren syndrom adalah
terpaparnya molekul-molekul tersebut pada permukaan sel-sel epitel kelenjar saliva
yang mungkin dapat bertindak sebagai autoantigen dan eksogen antigen supaya
sel-sel T CD4 menginfiltrasi ke dalam kelenjar. Pembelajaran pada pasien sjogren
syndrom ras kaukasoid menunjukkan suatu perbedaan kecenderungan genetik, yaitu
pada sjogren syndrom primer menunjukkan suatu keterlibatan HLA-DR3 sedangkan
pada pasien sjogren syndrom sekunder yang berkaitan dengan rheumatoid arthritis
(RA) dihubungkan dengan sub grup dari HLA II yaitu HLA-DR4. Selain itu
pengaruh dari gen-gen HLA tambahan seperti HLA-DQ telah pula menunjukkan
keterlibatan pada sjogren syndrom, sedangkan pada populasi dengan etnis lain seperti
pada ras negroid penyebab sjogren syndrom mungkin dihubungkan dengan
peningkatan HLA-DR5, sedangkan untuk orang-orang Jepang dihubungkan dengan
peningkatan kadar HLA-DR4, sedangkan untuk orang-orang di Cina dihubungkan
dengan peningkatan HLA-DR8.(8)
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
Suatu hipotesis yang menjelaskan bahwa pada penderita sjogren syndrom
autoantibodi muscarinic M3 reseptor memblok dan mengikat reseptor muscarinic M3
sehingga asetilkolin tidak dapat berikatan pada reseptor muscarinic M3 yang
menyebabkan sel-sel dari kelenjar saliva tidak berkontraksi sehingga tidak
menghasilkan saliva. Dalam beberapa tahun terakhir peneliti mencoba
mengembangkan manfaat ujiklinis untuk menunjukkan keberadaan antibodi
muscarinic M3 reseptor ini namun sampai saat ini belum berhasil.(1) Berdasarkan
penjelasan tersebut maka akan dijelaskan pada gambar 1.
Gambar 1. Autoantibodi M3 reseptor yang menghambat asetilkolin menuju M3R.(Van De Merwe Joop P, 2005 : 5 )
2.1.4 Alpha fodrin.
Alpha fodrin adalah suatu pengikat aktin intraselular, protein organ spesifik
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
fodrin diletakkan dibawah membran plasma dari sel sekretori. Selama apoptosis alpha
fodri dipecah menjadi suatu produk 120 kD -fodrin, yang ditemukan banyak pada
kelenjar saliva. Proteolisis dari fodrin mungkin sebagai suatu akibat dari akitivitas
protease selama apoptosis. 120 kD -fodrin adalah penemuan yang sangat penting
untuk menjadi autoantigen pada proses patogenesis respon autoimun dari organ
tertentu. Pembelajaran klinis menunjukkan, bahwa pada pasien penderita sjogren
syndrom alpha fodrin terlibat dalam perangsangan sel T. Penemuan ini
memperlihatkan bahwa selama proteolisis alpha fodrin terjadi suatu peningkatan
aktivitas protease dan perangsangan dari sel-sel T, sehingga memainkan suatu
peranan penting dari perkembangan sjogren syndrom.(1)
2.2. Faktor–Faktor Lingkungan Penyebab Sjogren Syndrom
Lingkungan merupakan kofaktor yang bertanggung jawab pada sjogren
syndrom yang tidak diketahui penyebabnya. Secara tidak langsung keterlibatan virus
yaitu Epstein-Barr Virus (EBV) dalam penyebab sjogren syndrom telah dibuktikan
dengan tetap adanya kadar virus dalam saliva pada individu normal setelah infeksi
primer. Pemeriksaan pasien menunjukkan bahwa genom EBV mayoritas terikat
dengan sel epitel kelenjar. EBV kemungkinan cukup kuat untuk merangsang respon
imun baik sel–T dan sel–B pada individu yang normal sehingga terjadi suatu respon
autoimun yang menyebabkan kerusakan sel yang telah terikat dengan genom EBV.
Sjogren syndrom hanya terjadi disebagian kecil dari individu yang terinfeksi.(8,9)
Selain dari infeksi EBV dalam menginduksi sjogren syndrom ada jenis virus lain
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
human herpesvirus 6 (HHV-6), human immunodeficiency virus 1 (HIV-1), hepatitis
C-virus (HCV), pada kasus dari HCV 75% dari penderita sjogren syndrom memiliki
antibodi untuk melawan HVC, dan cytomegalovirus (CMV). (9,10)
Banyak faktor yang menyebabkan gangguan sistem imunitas tubuh salah
satunya adalah faktor lingkungan yaitu keterlibatan virus, tetapi faktor utama yang
memainkan peranan yang sangat penting dalam menyebabkan sjogren syndrom
adalah faktor-faktor genetik, dimana pada faktor genetik sistem imunitas tubuh
mengalami kerusakan dan menyerang jaringan tubuh sehingga jaringan tubuh
mengalami kerusakan. Bagaimana sistem imunitas tubuh yang mengalami kerusakan
dapat merusak jaringan tubuh akan dibahas pada bab 4, tetapi sebelum membahas
kerusakan imunitas tubuh sebaiknya kita mengenal terlebih dahulu sistem imunitas
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
BAB 3
SISTEM IMUNITAS TUBUH
Imunitas diartikan sebagai semua mekanisme yang membantu mahluk hidup
untuk melindungi dirinya dari serangan mikroorganisme yang patogen. Perlindungan
tersebut termasuk pencegahan dari masuknya mikroorganisme patogen dan
penghancuran dari mikroorganisme patogen tersebut ketika sudah masuk ke dalam
tubuh dengan atau tanpa kerusakan pada jaringannya sendiri.(5,11)
Bila sistem imun terpapar dengan zat yang dianggap asing, maka ada dua
jenis respon imun yang akan berperan yaitu respon imun non spesifik dan respon
imun spesifik.(6,11,12)
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
Respon imun non spesifik adalah pertahanan tubuh yang mengenali dan
memberikan respon terhadap mikroorganisme patogen, yang mana respon yang
ditimbulkan tersebut tidak diperoleh melalui kontak dengan antigen tersebut
sebelumnya.(12) Yang termasuk dari respon ini adalah :
3.1.1 Fagosit.
Sel fagosit adalah sel polimorfonuklear (neutrofil), monosit fagosit
(makrofag). Sel-sel fagosit ditemukan pada jaringan-jaringan dan organ-organ tubuh,
untuk menghadapi serbuan dari mikroorganisme patogen. Fungsi utama sel-sel
fagosit adalah migrasi, kemotaksis, memfagosit dan mematikan
mikroorganisme.(5,11,12,13)
Pengenalan dari mikroorganisme patogen dan proses fagositosis untuk
membunuh serta menghancurkan mikroorganisme patogen akan dijelaskan pada
gambar 2.
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
Gambar 2. Fagositosis dan penghancuran mikroorganisme di dalam sel. Mikroorganisme yang terikat pada reseptor makrofag akan dicerna ke dalam bentuk fagosom, fagosom kemudian akan bergabung dengan lisosom menjadi fagolisosom, selanjutnya mikroorganisme akan mati oleh enzim dan beberapa substansi racun yang dihasilkan oleh fagolisosom.
(Abbas AK, 2004 : 29)
3.1.2. Sel NK (Natural Killer)
Sel NK adalah suatu sel limfosit yang mengenali sel yang terinfeksi oleh
virus. Ketika sel ini kontak dengan sel yang telah terinfeksi virus maka sel NK akan
melepaskan substansi yang akan merangsang sel tersebut untuk melakukan
penghancuran terhadap dirinya sendiri atau yang dikenal dengan nama apoptosis.
Melalui mekanisme ini partikel virus yang terdapat di dalam sel tersebut akan ikut
terbunuh melalui proses kematian sel.(11) Fungsi dari sel NK akan ditunjukkan pada
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
Gambar 3. Fungsi dari sel NK.
A. Sel NK mengahancurkan sel yang terinfeksi Virus secara langsung. B. sel NK teraktivasi oleh IL-12 yang dihasilkan oleh makrofag, kemudian sel NK mengeluarkan
untuk meningkatkan aktivasi sel makrofag agar membunuh sel virus melalui fagositosis. (Abbas AK, 2004 : 31)
3.1.3. Epitel pelindung.
Adalah Suatu lapisan pelindung, yang umumnya berfungsi untuk melindungi
tubuh dari masuknya mikroorganisme, lapisan ini terdapat pada kulit, saluran
pencernaan dan saluran nafas. Lapisan perlindungan ini tersusun dari lapisan epitel
yang menyediakan perlindungan secara fisik dan kimia dari serangan infeksi.(12,13)
Epitel pelindung memberikan suatu perlindungan dari masuknya mikroorganisme
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
lokal dan membunuh mikroorganisme melalui limfosit intraepitel. Hal ini akan
ditunjukkan pada gambar 4 dibawah ini.
Gambar 4. Fungsi dari epitel pelindung pada respon imun non spesifik. (Abbas AK,2004 : 24)
3.2. Respon Imun Spesifik
Respon imun spesifik adalah pengenalan dan pengawasan yang ketat terhadap
benda asing dengan kepekaan yang tinggi. Respon imun spesifik memiliki sifat-sifat
umum yang membedakannya dengan respon imun non spesifik adalah spesifisitas,
deversitas, memori, spesialisasi, membatasi diri dan membedakan self dari
non-self.(5,6) Respon imun spesifik terdiri dari respon imun humoral dan respon imun
seluler.(6,12)
3.2.1. Imunitas humoral
Imunitas humoral dilaksanakan oleh sekelompok limfosit yang berdiferensiasi
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
tersebut yaitu sumsum tulang (bone marrow derived) atau limfosit-B serta produknya
yaitu antibodi.(5,6) Antibodi adalah produk dari elemen sel-B (limfosit B dan sel
plasma) yang dibentuk ke dalam dua bentuk yang berbeda yaitu sebagai reseptor
permukaan yang terkait pada permukaan sel, maupun yang disekresi sebagai produk
ekstraseluler. Pada manusia antibodi berhubungan dengan lima kelompok protein
utama (imunoglobulin) yang dapat didiferensiasikan satu sama lain atas dasar,
ukuran, molekul, fungsi biologik atau sifat kimianya. Imunoglobulin tersebut adalah
IgG, IgA, IgM, IgE, IgD.(5,6,13) Faktor-faktor humoral yang lain yang berperan dalam
respon imunitas humoral adalah sistem komplemen, sitokin, interferon.(5,6)
3.2.1.1 Sistem komplemen.
Meliputi protein serum dan protein terikat selaput yang fungsi keduanya
merupakan sistem pertahanan host yang didapat dan alami. Protein ini sangat teratur
dan berinteraksi melalui suatu rangkaian tangga proteolitik. Istilah komplemen
mengacu pada kemampuan protein ini untuk melengkapi yakni, memperbesar efek
senyawa lain pada sistem imun. Dalam keadaan normal komponen-komponen
komplemen terdapat di dalam serum dalam keadaan inaktif, yang dinyatakan dalam
huruf C (C=complement) diikuti dengan angka, misalnya C1, C2, C3, C4, hingga C9.
Disamping itu di dalam sistem komplemen juga terdapat sub komplemen, seperti C1
yang terdiri dari C1q, C1r, dan C1s, faktor B, faktor D, dan protein regulator yang
terdiri dari C1 inhibitor, C4b binding protein, karboksipeptidase N, faktor H, faktor I
Properdin dan protein S. Umumnya komplemen mempunyai efek utama yaitu lisisnya
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
pembersihan fagositosis, peningkatan respon imun berperantara antibodi.(6,11,12,14)
Pengaktifan sistem komplemen akan dijelaskan pada gambar 5.
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
fogositosis. Pada tahap akhir C3b akan merangsang C5 untuk menghasilkan C5a & C5b. C5b kemudian akan merangsang terbentuknya C9. C9 merupakan komplemen yang dapat membentuk lubang pada membran sel yang akan menyebabkan lisisnya mikroba patogen.
( Abbas AK, 2004 : 33)
3.2.1.2 Sitokin
Pada reaksi imun atau reaksi inflamasi banyak substansi seperti hormon yang
dilepaskan oleh limfosit T dan B maupun oleh sel-sel lain, yang berfungsi sebagai
sinyal interselular yang mengatur respon inflamasi lokal maupun sistemik terhadap
rangsangan dari luar. Sekresi substansi itu dibatasi sesuai kebutuhan,
substansi-substansi tersebut secara umum dikenal dengan nama sitokin. Substansi yang
dilepaskan limfosit disebut limfokin sedangkan yang disekresikan oleh monosit
disebut monokin. Substansi ini berperan dalam pengendalian hemopoesis maupun
limfopoesis dan juga berfungsi dalam mengendalikan respon imun dan reaksi
inflamasi dengan cara mengatur pertumbuhan, serta mobilitas dan deferensiasi
leukosit maupun sel-sel lain. Selain itu sitokin juga diketahui berperan dalam
patofisiologi berbagai jenis penyakit.(6)
3.2.1.3 Interferon
Secara umum interferon (IFN) dikelompokkan ke dalam IFN tipe I yang
terdiri dari IFN- dan IFN- , dan IFN tipe II yang mencakup IFN- . IFN- , IFN
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
biologik yang utama IFN adalah menghambat replikasi virus dengan cara merangsang
sel untuk memproduksi berbagai enzim yang menghambat transkripsi RNA virus dan
replikasi DNA virus, meningkatkan ekspresi molekul MHC I yang diperlukan CD8
untuk mengenal antigen virus, merangsang perkembangan sel Th1 dan meningkatkan
aktivitas sitolitik sel NK.(6)
3.2.2. Imunitas seluler
Imunitas seluler merupakan jenis utama yang kedua mekanisme efektor
respon imun spesifik.(5) Semua sel yang berfungsi dalam respon imun diketahui
berasal dari sel induk pluripoten yang kemudian berdiferensiasi melalui dua jalur
yaitu jalur limfoid yang membentuk limfosit dan subsetnya, jalur mieloid yang
membentuk sel-sel mast, eritrosit, platelets, sel-sel dendritik, sel polimorfonuklear
dan sel-sel mononuklear.(6,15)
Sel-sel imunokompeten yang utama adalah limfosit T (sel-T) dan limfosit B
(sel-B).(6) Sel-T mengalami perkembangan di sumsum tulang namun kemudian sel-sel
tersebut bermigrasi ke kelenjar tymus untuk mengalami pematangan, sedangkan sel-B
mengalami perkembangan di sumsum tulang memiliki sel-B reseptor (BCR) atau
yang disebut juga dengan (surface-immunoglobulin/sIg) yang terdapat pada membran
sel tersebut yang berfungsi untuk mengikat antigen.(6,15) Sel-T berdiferensiasi di
dalam tymus, di dalam bagian korteks tymus terjadi proliferasi dan kematian sel yang
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
penghancuran (apoptosis) sedangkan yang dipertahankan hidup adalah sel yang akan
bermanfaat dikemudian hari sesuai fungsinya.(6)
Sel-T dibagi ke dalam dua kelompok utama yaitu sel-T helper dan sel-T
sitotoksik. Sel-T helper biasanya akan menghasilkan CD4 (Cluster of differentiation /
CD), sedangkan sel-T sitotoksik biasanya membawa CD8. Sel-T helper dibutuhkan
untuk mengaktifkan fungsi dari sel-sel B, sel NK dan makrofag.(6,15) Sel-sel T
sitotoksik berfungsi menghancurkan sel yang sudah terinfeksi oleh virus.(15)
Perkembangan dan seleksi sel T di dalam tymus dikontrol secara ketat oleh
mekanisme seleksi positif, seleksi negatif dan neglect (gambar 6). Sel T yang
mengekpresikan TCR (T Cell Reseptor) yang dapat berinteraksi lemah dengan
self-MHC (self-major histocompatibility complex) yang ditampilkan di dalam tymus
mengalami seleksi positif dan dilindungi dari proses apoptosis, sedangkan sel yang
tidak diseleksi positif akan mati dengan cara apoptosis karena tidak dipelihara. Sel –T
yang dapat bereaksi kuat dengan antigen yang terikat pada self-MHC juga diinduksi
untuk mengalami apoptosis (seleksi negatif). Sel-T yang tidak memberikan respon
atau bereaksi dengan antigen asing dan antigen tubuh sendiri juga akan mengalami
apoptosis (neglect). Selama proses ini lebih 95% sel T yang terbentuk di dalam tymus
mati dan sisanya yang 5% bermigrasi ke organ limfoid perifer sebagai sel T yang
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
Gambar 6. Tahapan perkembangan dan seleksi limfosit T terhadap MHC. (Abbas AK, 2004 : 81)
3.3. Major Histocompatibility Complex (MHC)
Salah satu karakteristik respon imun adalah mengenali antigen tubuh sendiri
(self antigen) dan antigen dari luar (non-self antigen). Pada mulanya, bagaimana
mekanisme respon imun membedakan antigen self dan non self masih menimbulkan
pertanyaan. Ternyata mekanisme ini dilakukan melalui molekul Major
Hisocompatibility Complex (MHC). Saat ini terlihat bahwa semua antigen, baik self
maupun non-self hanya dapat dikenali oleh sel T apabila berhubungan dengan MHC.
Sel T CD4 atau yang dikenal dengan sel Th atau sel T helper akan mengenali antigen
yang berikatan dengan molekul MHC kelas II, sedangkan sel T CD8 atau yang
dikenal dengan sel Ts atau sel T sitotoksik akan mengenali antigen yang
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
hubungannya dengan molekul MHC akan dihilangkan dan sel T yang potensial untuk
mengenal antigen asing dalam kaitannya dengan molekul MHC individu sendiri akan
dipertahankan.(4,13,16)
Kesalahan dalam mengeliminasi self-recognation akan mengakibatkan
kelainan autoimun, sedangkan kegagalan dalam mempertahankan pengenal antigen
asing akan menyebabkan imunodefisiensi sehingga mudah terserang infeksi. Gen
yang paling penting pada MHC manusia, juga dikenal dengan molekul HLA (human
leukocyte antigen) dan gen yang mengkodenya dibagi menjadi tiga kategori, yaitu
HLA kelas I, II, dan III.(4,13,16)
3.3.1. Molekul HLA kelas I
Molekul HLA kelas I meliputi HLA-A, HLA-B, dan HLA-C molekul HLA
ini disusun oleh dua rantai yaitu rantai heavy (berat) atau rantai dengan BM 45.000
dan rantai ringan atau yang dikenal sebagai 2-microglobulin dengan BM 12.000.
Rantai adalah suatu protein transmembran yang memiliki tiga daerah ( 1, 2, 3)
dengan setiap daerah mengandung 90 asam amino. Rantai membentuk ikatan
nonkovalen dengan extraselular 2-microglobulin. Molekul HLA kelas I ditemukan
pada semua sel yang berinti. Agar dapat dikenali oleh sel T8 (CD8), antigen harus
dalam keadaan berkombinasi dengan molekul HLA kelas I untuk dapat dikenali oleh
sel T sitotoksik.(13,14,16,17)
3.3.2. Molekul HLA kelas II
Molekul HLA kelas II meliputi HLA-DR, HLA-DP, dan HLA-DQ juga terdiri
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
29.000 yang keduanya berikatan secara non kovalen. Distribusi seluler molekul HLA
kelas II terbatas hanya sedikit ditemukan pada sel-sel imunokompeten seperti
limfosit-B, makrofag, serta ditemukan pada limfosit-T teraktivasi. Sel-sel yang pada
keadaan normal tidak mengekspresikan molekul HLA kelas II seperti sel-T yang
istirahat, sel endotel, sel tiroid, dapat diinduksi untuk mengekspresikan molekul HLA
kelas II. Fungsi molekul HLA kelas II adalah untuk menyajikan fragmen-fragmen
peptida antigen yang sudah diproses kepada limfosit T (CD4) pada awal timbulnya
respon imun.(13,14,16,17)
3.3.3. Molekul HLA kelas III
Molekul HLA kelas III adalah komponen kedua (C2) dan keempat (C4)
sistem komplemen, baik jalur klasik maupun faktor B properdin jalur alternatif.(4,16)
3.4. Faktor-Faktor yang Mengubah Respon Imun
Mekanisme imun hospes mungkin dapat dipandang secara keseluruhan
sebagai suatu barier pelindung yang terdiri dari berbagai komponen yang melindungi
hospes dari pengaruh yang merugikan dari agen-agen lingkungan yang berbahaya.
Tapi kerusakan atau cacat mungkin dapat ditemukan pada sistem imun. Ada sejumlah
faktor yang memodifikasi mekanisme imunitas tubuh yaitu faktor intrinsik dan faktor
ekstrinsik.(4,5)
3.4.1. Faktor intrinsik
Faktor intrinsik merupakan faktor yang dapat mempengaruhi dan
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
3.4.1.1 Faktor metabolik
Hormon tertentu ternyata dapat mempengaruhi respon imun tubuh. Misalnya
pada keadaan hipoadrenal dan hipotiroidisme akan mengakibatkan menurunnya daya
tahan terhadap infeksi. Demikian pula pada orang-orang yang mendapat pengobatan
sediaan steroid sangat mudah mendapatkan infeksi bakteri maupun virus. Steroid
tersebut mengakibatkan terhambatnya fagositosis, produksi antibodi dan menghambat
proses radang. Termasuk golongan hormon steroid yaitu hormon androgen, esterogen
dan progesteron diduga merupakan faktor pengubah terhadap respon imun. Terbukti
dengan adanya perbedaan jumlah penderita antara laki-laki dan wanita yang
mengidap penyakit imun tertentu.(4,5)
3.4.1.2 Faktor anatomi
Garis pertahanan pertama dalam menghadapi invasi mikroba biasanya
terdapat pada kulit dan selaput lendir yang melapisi permukaan luar dan dalam tubuh.
Struktur jaringan yang dimaksud bertindak sebagai imunitas alamiah dengan
menyediakan suatu rintangan fisik yang efektif. Adanya kerusakan pada permukaan
kulit atau selaput lendir akan mudah menyebabkan seseorang terkena penyakit.(4,5)
3.4.1.3 Faktor umur
Perkembangan sistem imun seseorang dimulai sejak di dalam kandungan,
maka efektifitasnya dimulai dari keadaan lemah dan meningkat dengan bertambahnya
umur. Hal ini tidaklah berarti bahwa pada umur usia lanjut sistem imun akan bekerja
secara maksimal. Namun sebaliknya fungsi sistem imun pada usia lanjut akan
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
sistem imun. Hal ini disebabkan karena pengaruh kemunduran biologik secara umum,
juga jelas berkaitan dengan menyusutnya kelenjar tymus apabila umur makin lanjut.
Keadaan tersebut akan mengakibatkan perubahan-perubahan respon imun seluler dan
humoral. Maka di usia lanjut akan timbul berbagai kelainan yang melibatkan sistem
imun akan bertambah. Misalnya resiko menderita penyakit autoimun, penyakit
keganasan dan mudah terjangkit infeksi.(4,5)
3.4.1.4 Faktor genetik
Semua respon imun ada dibawah pengendalian genetik. Pada manusia ada
perbedaan dalam kerentanan terhadap suatu penyakit. Salah satu perkembangan imun
yang menguntungkan adalah teridentifikasinya suatu kompleks genetik, ialah MHC
(major histocompatibility complex) yang mengendalikan respon imun maupun
ekspresi antigen histokompabilitas pada sel. Apabila terjadi kerusakan pada gen-gen
MHC dari manusia maka akan menyebabkan terjadinya suatu kerusakan pada sistem
imunitas seperti menurunnya kemampuan respon imun serta produksi dari antibodi,
rentan terhadap infeksi penyakit, rentan untuk terjadinya suatu penyakit autoimun dan
alergi.(4,5,17)
3.4.2. Faktor ekstrinsik
Faktor ekstrinsik merupakan faktor yang dapat mempengaruhi dan
memodifikasi respon imun, yang termasuk ke dalam faktor ini adalah lingkungan.
Peningkatan jumlah penderita untuk penyakit infeksi pada masyarakat yang hidup di
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
lebih banyak menghadapi bibit penyakit atau hilangnya daya tahan yang disebabkan
kurangnya asupan gizi yang disebabkan rendahnya taraf ekonomi.(4,5)
Keadaan asupan gizi yang kurang akan berpengaruh terhadap status imun
seseorang. Manusia membutuhkan 6 komponen dasar bahan makanan yang
dimanfaatkan untuk pertumbuhan dan menjaga kesehatan tubuh. Keenam komponen
tersebut adalah protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral dan air. Gizi yang cukup
dan sesuai sangat penting untuk berfungsinya sistem imun secara normal.
Kekurangan gizi merupakan penyebab utama timbulnya imunodefisiensi.(4,5)
BAB 4
KERUSAKAN SISTEM IMUNITAS TUBUH
Salah satu karakteristik dari sistem imun yang normal adalah kemampuan
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
imun yang normal tidak akan bereaksi terhadap antigen tubuh sendiri. Jika sistem
imun rusak dan bereaksi dengan sel tubuh sendiri hal ini disebut dengan autoimun.(6)
4.1. Penyakit Autoimun
Pada sebagian kecil populasi terjadi suatu penyakit yang dikenal sebagai
penyakit autoimun. Dalam hal ini tanda-tanda pokok adalah injuri jaringan yang
disebabkan oleh reaksi imun hospes dengan jaringannya sendiri. Pada kebanyakan
individu, di dalam hospes ada pengenal terhadap self-antigen dan toleransi terhadap
semua komponen-komponen tubuh, namun pada penyakit autoimun ada suatu
keadaan penyimpangan yang disebut Ehrlich sebagai horror autotoxcius yang
diartikan sebagai proses penghancuran sel tubuh sendiri yang dilakukan oleh sistem
imun orang itu sendiri.(5,18)
Dalam kaitannya dengan fenomena autoimun tersebut harus dibedakan antara
pengertian respon autoimun dengan penyakit autoimun. Respon autoimun selalu
dikaitkan dengan didapatkannya autoantibodi atau reaktifitas limfosit terhadap
antigen. Respon autoimun tidak selalu harus mempunyai kaitan dengan penyakit
autoimun yang diderita, bahkan respon autoimun tidak selalu menampakkan gejala
penyakit autoimun. Meskipun diduga bahwa penyakit autoimun akibat dari cedera
jaringan oleh respon autoimun. Belum diketahui apakah fenomena autoimun adalah
sebab, akibat atau suatu hal lain yang kebetulan dijumpai bersamaan pada penyakit
autoimun. Autoimunitas dapat dipandang sebagai manifestasi tersier dari respon imun
yang mengarah pada pemerosesan yang tidak tepat dan menimbulkan penghancuran
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
fenomena nomal, maka terdapat tiga hipotesis yang mencoba menjelaskan fenomena
autoimunitas yaitu :
4.1.1. Teori klon terlarang (forbidden clone theory)
Teori ini didasarkan atas anggapan bahwa pada keadaan biasa, apabila terjadi
mutasi somatik dari limfosit, antigen yang terdapat pada permukaan sel limfosit
mutan tersebut akan dikenal oleh sistem imunnya sebagai hal yang asing. Dengan
segera mutan baru ini akan dihancurkan oleh limfosit dari sistem imun sehinga tidak
akan membawa efek apa-apa terhadap tubuh, namun apabila kebetulan mutan tersebut
tidak memperagakan antigen yang dikenal asing oleh sistem imun pada
permukaannya, maka limfosit mutan tersebut merupakan klon yang tidak dikehendaki
yang tetap hidup (forbidden clone). Klon yang hidup ini bahkan akan mengenal sel
jaringan sendiri sebagai antigen asing, sehingga terjadilah respon imun terhadap sel
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
Gambar 7. Bagan teori klon terlarang. A. Mutan yang memiliki antigen permukaan akan segera dibinasakan. B. Mutan yang memiliki antigen tersembunyi dapat hidup Terus sehingga berfungsi dalam respon imun dan menimbulkan kerusakan. (Subowo, 1993 : 41)
4.1.2. Teori antigen terasing. (squestered antigen theory)
Teori ini didasarkan atas timbulnya fenomena toleransi pada fetus. Menurut
teori ini, semasa embrio semua jaringan yang dipaparkan kepada sistem imun akan
dikenal sebagai dirinya. Apabila pada masa embrio tersebut terdapat sel atau jaringan
yang tidak sempat dipaparkan kepada sistem imun, maka sel tersebut tidak akan
dikenal sebagai dirinya (gambar 8). Jaringan semacam itu misalnya lensa mata,
sistem saraf pusat, dan kelenjar tiroid yang memiliki barier peredaran darah. Apabila
dikemudian hari, misalnya oleh suatu sebab, antigen organ tersebut terpapar kepada
sistem imun, maka akan dikenal asing, sehinga menyebabkan timbulnya respon
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
Gambar 8. Bagan teori antigen terasing. A. Kelenjar tiroid embrional, tahap pengenalan antigen. B. Kelenjar tiroid dewasa, antigen yang tadinya terasing sekarang terpapar karena kerusakan, sehingga limfosit mengenal sebagai asing. (Subowo, 1993 : 42)
4.1.3. Teori defisiensi imun (immunologic deficiency theory)
Adanya kerusakan jaringan dijelaskan bahwa, dengan adanya defisiensi imun
terjadi mutasi pada sel-sel limfosit sehingga tidak menyebabkan musnahnya mutan
yang merupakan klon terlarang tersebut. Sehingga nantinya limfosit tersebut akan
dapat menyerang jaringan tubuh yang merupakan sel sasaran ataupun mikroba yang
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
Gambar 9. Bagan teori defisiensi imun.
A. Mutan limfosit tetap hidup. B. Kerusakan jaringan melalui mekanisme reaksi tipe II, III, dan IV. (Subowo, 1993 : 43)
Akhirnya, setiap konsep yang menjelaskan perkembangan keadaan autoimun,
haruslah diperhitungkan faktor genetik yang mengendalikan sistem imun. Gambaran
keluarga dan distribusi jenis kelamin (misalnya penyakit autoimun lebih banyak
terjadi pada wanita) mengkarakterisasi kebanyakan penyakit autoimun. Penemuan
adanya hubungan antara antigen histokompabilitas tertentu dengan aneka macam
penyakit memberikan kesan bahwa gen respon imun pada manusia mungkin terlekat
dekat sekali dengan lokus HLA, serta pengaturan respon imun terganggu didasarkan
pada ketidakseimbangan yang ditentukan secara genetik pada sub populasi sel T yaitu
CD4 dan CD8 sebagai determinan yang utama pada perkembangan penyakit
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
4.2. Patogenesis Penyakit Autoimun
Berdasarkan uraian diatas tampak bahwa sebab terjadinya respon autoimun
bermacam-macam. Walaupun belum ada bukti-bukti yang memastikan patogenitas
penyakit autoimun, tetapi diduga kerusakan jaringan terjadi dengan beberapa
mekanisme.(12,14)
4.2.1 Induksi autoimun melalui peniruan molekular.
Menurut hipotesis ini, cara peniruan molekular suatu antigen tertentu adalah
melalui suatu derajat kesamaan yang besar antara struktur antigen bakteri atau virus
dengan struktur molekul antigen endogen (self-antigen), kemudian antigen bakteri
atau virus melakukan reaksi silang dengan antigen endogen. Karena kesalahan dalam
mengenali self-antigen, maka sel tubuh akan diserang oleh sel limfosit T yang aktif
sebagai molekul asing ketika diinfeksi kembali dengan antigen asing. (Gambar
10).(12,14)
Gambar 10. Mekanisme patogenesis autoimun melalui peniruan molekular.
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
4.2.2. Induksi reaksi autoimun setelah infeksi virus karena penyimpangan
antigen MHC kelas II
Pada banyak penyakit autoimun, antigen HLA kelas II ditemukan pada sel
target yang seharusnya tidak ditemukan pada sistem imun orang yang normal.
Pelepasan IFN- dihubungkan sebagai suatu mekanisme yang mungkin menyebabkan
penyimpangan ekspresi antigen HLA kelas II. Suatu virus menginfeksi sekelompok
sel, kemudian molekul virus tersebut dikenal sebagai antigen asing oleh limfosit T.
Selama proses pertahanan, limfosit T mengeluarkan IFN- yang memimpin pelepasan
dari antigen HLA kelas II. Penyimpanagan dari ekspresi antigen HLA kelas II
mungkin mendorong autoreakfitnya sel T, sehingga mengenali autoantigen pada
pemukaan sel sebagai antigen asing dan pada akhirnya sel tersebut akan dihancurkan.
(Gambar 11).(14)
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
Penyakit autoimun dikelompokkan dalam dua kelompok yaitu penyakit
autoimun sistemik dan penyakit autoimun spesifik organ. Penyakit autoimun spesifik
organ adalah penyakit autoimun yang pengaruh utamanya melibatkan satu organ.
Sedangkan penyakit autoimun sistemik adalah penyakit autoimun yang pengaruh
utamanya lebih dari satu organ. Contoh penyakit autoimun sistemik ini adalah Lupus
Eritematosus Sistemik (LSE), Rheumatoid Arthritis, Sjogren Syndrom, Polimiositis/
Dermatomiositis dan Skleroderma.(5,18) Pada bidang kedokteran gigi penyakit yang
sangat memberikan efek yang cukup besar terhadap perubahan di dalam rongga mulut
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
BAB 5
GAMBARAN KLINIS DAN DIAGNOSA SJOGREN SYNDROM
Tidak ada suatu gejala, tanda atau tes untuk penderita sjogren syndrom.
Namun gambaran klinis dan diagnosa biasanya mudah dicapai melalui pengumpulan
informasi klinis serta penilaian serologi pasien dan pemeriksaan histopatologik.(2)
5.1. Gambaran Klinis Sjogren Syndrom
Sjogren syndrom merupakan suatu penyakit autoimun yang menyebabkan
kerusakan pada kelenjar saliva serta kelenjar eksokrin tubuh lainnya. Keluhan utama
yang sering dirasakan oleh pasien penderita sjogren syndrom adalah xerostomia, hal
ini disebabkan karena penurunan dari aliran saliva dari keadaan yang normal.
Sehingga gambaran klinis di dalam rongga mulut pasien berupa peningkatan
insidensi karies dalam waktu yang singkat. Karies pada permukaan gigi anterior
(rampan karies) ditunjukkan pada gambar 12, dorsum lidah kelihatan berfisur dan
berlobus disertai dengan atropi dari papila filifomis, lidah kelihatan menjadi merah
dan mengkilat atau glositis (gambar 13) dan pada sudut bibir menjadi pecah-pecah
(angular chelitis). Mukosa mulut yang merah dan atropi mudah menyebabkan
ulserasi. Xerostomia juga dihubungkan dengan peningkatan jumlah dari organisme
jamur di dalam mulut dengan tanda berupa terjadinya oral kandidiasis (gambar 14).
Penyempitan duktus dari kelenjar parotid merupakan suatu keadaan yang jarang
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
dan hanya terjadi pada sekitar 20% penderita sjogren syndrom dan sering berupa
pembesaran kelenjar saliva unilateral. Pembesaran kelenjar yang bilateral dari
kelenjar parotid atau sub mandibular mungkin dapat terjadi pada kasus yang parah
(gambar 15).(2,19)
Gambar 12. Rampan karies. Karies yang terjadi pada permukaan gigi regio servikal dari gigi insisivus mandibula. (Aguirre A, 1999)
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
Gambar 13. Glositis. Hilangnya papila lidah dan erithema adalah karakteristik pada pasien dengan xerostomia. (Aguirre A, 1999).
Gambar 14. Kandidiasis pseudomembran akut pada penderita sjogren syndrom. (Aguirre A, 1999)
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
kelenjar saliva ini hanya terlihat Pada penderita sjogren syndrom sekitar 20%. (Van de Merwe JP, 2005).
5.2. Metode Diagnostik Sjogren Syndrom
Sulit untuk menegakkan diagnosa dari sjogren syndrom, karena tidak ada
suatu tes diagnostik yang tepat. Tetapi ada beberapa tes diagnostik yang dapat
membantu menegakkan diagnosa antara lain(3) :
5.2.1 Pemeriksaan Komponen Oral dan Mata
Pemeriksaan komponen oral dan mata ditujukan untuk mengetahui jumlah
volume saliva dan air mata yang disekresikan oleh kelenjar saliva dan kelenjar air
mata. Sjogren syndrom jelas dikaitkan dengan berkurangnya produksi saliva yaitu
kurang dari 1,5 ml per menit dan berkurangnya produksi air mata yaitu kurang dari 5
ml per 5 menit. Pemeriksaan produksi dari kelenjar saliva ini dapat dilakukan
melalui pemeriksaan sialometri. Digital subtraction sialography atau scintigrapy
dapat digunakan untuk menghasilkan pemeriksaan yang lebih akurat dari fungsi
kelenjar saliva. Pemeriksaan produksi dari kelenjar air mata dapat dilakukan dengan
pemeriksaan schirmer test dan rose bengal, kedua pemeriksaan produksi kelenjar air
mata ini tidak perlu dilakukan oleh dokter gigi.(2,20) Pemeriksaan komponen oral dan
mata belum dapat menegakkan diagnosa dari sjogren syndrom oleh karena itu perlu
dilakukan pemeriksaan lain seperti pemeriksaan serologi dan histopatologi supaya
dapat menegakkan diagnosa secara tepat.
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
Tes serologi dari individu dengan sjogren syndrom menggambarkan suatu
hiperaktivitas sel-B, ini ditemukan kurang lebih 80% pada penderita sjogren
syndrom.(19) Beberapa antibodi tersebut diantaranya adalah
imunoglobulin-imunoglobulin (IgG, IgA, IgM) yang kadarnya meningkat.(7,21) Rheumatoid faktor
adalah sangat penting terdapat pada serum pasien dengan sjogren syndrom primer
atau sekunder, dan sering pada titer yang tinggi. Antinucler antibodies (ANA), secara
tidak langsung terdeteksi dengan immunofluorescence dan sering ditemukan pada
serum pasien dengan sjogren syndrom. Antibodi nuklear antigen Ro (SS-A) dan La
(SS-B) juga ditemukan pada banyak pasien, dengan menggunakan metode
pengendapan. Seluruh hasil pemeriksaan tersebut diidentifikasi pada hampir semua
pasien sjogren syndrom.(2,19,21)
5.2.3. Pemeriksaan Histopatologi
Biopsi dari kelenjar saliva minor sudah diperkenalkan pada tahun 1966
sebagai suatu prosedur pemeriksaan dari komponen saliva pada penderita sjogren
syndrom. Ciri-ciri karakteristik histopatologi dari kelenjar saliva minor pada
penderita sjogren syndrom adalah fokal limfosit sialodenitis. Terdapatnya sel limfosit
yang berjumlah 50 atau lebih pada satu fokus lapangan pandang (satu fokus lapangan
pandang adalah 4mm2), yang terlihat berdampingan dengan sel asini yang terlihat
normal.(19) Menggunakan suatu metode tingkat inflamasi semikuantitaif, tingkatan
inflamasi pada spesimen biopsi dari kelenjar saliva labial ditemukan pada tingkat IV
inflamasi yang hanya terlihat pada pasien-pasien dengan sjogren syndrom.(2,19)
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
sebagai kriteria diagnosa yang paling spesifik dari komponen saliva pada sjogren
syndrom.(19) Gambaran histopatologis dari kelenjar saliva akan ditunjukkan pada
gambar 16.
Gambar 16. Pemeriksaan histologi kelenjar saliva minor (pembesaran x200). Sel yang menginfiltrasi terdiri dari limfosit, sel-sel plasma, dan makrofag. Dua duktus ekskretorius dan tiga asini mucosa adalah terlihat (Grade IV, menurut krieria Chisholm dan Mason). (Aguirre A, 1999).
5.2.4 Sialography
Sialography adalah suatu metode pemeriksaan radiography yang
memperlihatkan perubahan anatomi pada sistem duktus kelenjar saliva. Pemeriksaan
sialography dengan menggunakan suatu media kontras menunjukkan suatu
peningkatan insiden dari sialoektasis pada pasien sjogren syndrom. Media kontras
tersebut disuntikkan perlahan ke dalam duktus stensen kemudian dilakukan
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
sialography tersebut berupa skor yang merupakan gambaran tingkat kerusakan dari
kelenjar saliva, skor1 menunjukkan bentuk pucanta (bintik) yang menyebar pada
daerah kontras dengan ukuran diameter 1 mm atau kurang. Skor 2, berbentuk
globular dengan ukuran diameter 1-2 mm pada daerah kontras. Skor 3, berbentuk
suatu kavitas yang tidak beraturan pada daerah kontras yang menunjukkan
perkembangan lebih lanjut dari penyakit tersebut. Skor 4, penghancuran total
pengerusakan dari struktur kelenjar, yang mengindikasikan tahap akhir dari penyakit.
(7,20)
Gambaran sialography akan ditunjukkan pada gambar dibawah ini.
Gambar 17. Gambaran Sialography pada sjogren syndrom. Menunjukkan terjadinya kerusakan pada kelenjar saliva. (Scuiba J, 1998).
5.3. Differensial Diagnosa Sjogren Syndrom
Banyak dari kondisi medis baik akut maupun kronis memiliki gambaran klinis
yang sama terhadap sjogren syndrom. Termasuk diantaranya adalah efek samping
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
Tumor kelenjar parotid mungkin dapat dipertimbangkan sebagai differensial diagnosa
dari sjogren syndrom tapi yang membedakannya dengan sjogren syndrom adalah
tidak adanya nyeri dari kelenjar, fluktuasi pada kelenjar, dan pembesaran kronis dari
kelenjar tanpa perluasan ke dalam jaringan ikat yang berdekatan. Pembesaran
kelenjar saliva dan kelenjar air mata mungkin terjadi pada individu dengan
sarcoidosis, lymphoma dan limfositik leukimia.(1,2)
Meskipun sjogren syndrom tidak menunjukkan keganasan pada kelenjar saliva
dan air mata, tapi ini sering terjadi pada sarcoidosis. Sarcoidosis dapat meniru
gambaran klinis dari sjogren syndrom, tetapi pada biopsi kelenjar saliva minor
menunjukkan tidak adanya autoantibodi seperti Ro (SS-A) atau La (SS-B)
antigen.(1,19) Suatu jenis dari perkembangan penyakit lainnya seperti lipoproteinnemia
(tipe II, IV, dan V), hemokhromasitosis, amiloidosis, infeksi virus hepatitis C dan
virus HIV mungkin sering disalah diagnosakan sebagai sjogren syndrom.
Keterlibatan sistem saraf pusat pada sjogren syndrom primer mungkin banyak meniru
kelainan neurologi. Pada orang tua kekeringan mukosa sering kali dihubungkan
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
BAB 6
PENATALAKSANAAN PERAWATAN SJOGREN SYNDROM
Perawatan dari sjogren syndrom adalah sering ditujukan untuk membantu
mengatasi gejala utama yang ditimbulkan akibat dari efek kerusakan kelenjar saliva
dan kelenjar air mata.(10) Pada sjogren syndrom yang perlu dipertimbangkan dalam
perawatan adalah perawatan lokal dan perawatan sistemik.(19)
6.1. Perawatan Lokal
Para dokter gigi harus dipersiapkan untuk menanggulangi hipofungsi kelenjar
saliva yaitu xerostomia yang dapat menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah dari
karies, oral kandidiasis, dan rasa nyeri pada rongga mulut yang disebabkan karena
mukosa mulut mengalami iritasi.(19,21) Penanggulangan dari berkurangnya aliran
saliva adalah dengan merangsang sekresi kelenjar saliva dengan cara mengunyah
permen karet yang bebas gula, sorbitol atau permen karet yang mengandung
xilitol.(19,23)
Penanganan dari xerostomia dapat juga dilakukan dengan cara meresepkan
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
menggunakan pelembab rongga mulut (oral moist) yang telah banyak di
pasarkan.(23,24) Artifisial saliva adalah suatu produk yang dibuat seperti saliva asli
tetapi kerja dari artifisial saliva tidak merangsang produksi dari kelenjar saliva.
Produk-produk artifisial saliva dan pelembab rongga mulut yang dijual biasanya
dalam bentuk solutions, gel, sprays. Contoh produk artifisial saliva dan oral moist
adalah Caphosol®, Salivart®, V.A. Oralube®, Biotene Oral Balance Liquid®, Oasis
Sensodyne®.(24,25)
Pengendalian dari jumlah karies serta pencegahannya, dapat dilakukan oleh
dokter gigi dengan melakukan restorasi pada gigi yang telah mengalami karies serta
melakukan tindakan pencegahan karies seperti topikal flour aplikasi pada permukaan
gigi atau berkumur dengan larutan yang mengandung flour serta mengaplikasikan
GC Tooth Mouse® pada permukaan gigi. GC Tooth Mouse adalah topikal pasta yang
mengandung CPP-ACP (Caesin Phosphopeptida-Amorphous Calsium Phosphate)
yang memberikan perlindungan ekstra pada gigi, karena dapat mengantarkan kalsium
fosfat ke dalam gigi sehingga menyebabkan proses remineralisasi dan mencegah
perlekatan plak bakteri pada permukaan gigi yang menimbulkan efek pencegahan
terhadap karies dan perbaikan terhadap kerusakan kecil pada permukaan enamel
seperti white spot, erosi pada permuka an email gigi.(23,26)
Iritasi pada mukosa rongga mulut pasien harus dapat dicegah supaya tidak
menimbulkan luka (ulkus) dan rasa nyeri. Luka yang terjadi dapat menyebabkan
terjadinya peningkatan aktivitas dari sel-sel limfosit sehingga memicu perkembangan
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
mencegah iritasi adalah dengan membuat mukosa mulut agar tetap lembab melalui
penggunaan oral moist atau artifisial saliva. Untuk mengurangi rasa nyeri yang timbul
pada saat mengkonsumsi makanan, maka nasihat-nasihat makanan berikut dapat
disampaikan kepada pasien. Seperti menyarankan mengkonsumsi makanan cair dan
lunak, menghindari mengkonsumsi makanan keras dan kering, memperbanyak
minum air dan sari buah-buahan (yang tidak dimaniskan) akan membantu melarutkan
lendir mulut dan mempermudah proses menelan makanan dan berbicara.(22)
Mengkonsumsi buah-buahan yang dapat mengurangi rasa sakit seperti melon,
semangka, tomat, karena buah-buahan ini terasa dingin, berair, dan tidak
mengandung gula sehingga tidak menimbulkan rasa haus.(22) Pada penderita yang
kurang makan dan diikuti oleh turunnya berat badan, dianjurkan pemberian makanan
tambahan yang agak encer dengan minuman yang kaya protein (susu).(22)
Perawatan oral kandidiasis yang dapat dilakukan oleh dokter gigi adalah
dengan meresepkan obat anti jamur topikal seperti Mycostatin® salep. Infeksi jamur
ini dapat terjadi akibat dari pemakaian obat-obat penekan respon imun terutama
golongan steroid.(27,28)
Dokter gigi dapat memberikan atau meresepkan kepada pasien agar
menggunakan sikat gigi yang sangat lembut seperti Oral-B® Sensitive Ekstra Soft dan
pasta gigi yang tidak menyebabkan iritasi pada mukosa mulut seperti Biotine® Dry
Mouth PBF Toothpaste, Oralbalance® Long-lasting Mousturizing Gel, untuk
pengendalian plak yang dapat dilakukan oleh pasien di rumah. Produk pasta gigi
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
lactoperoxidase, glucose oxidase dan lysozyme, yang berfungsi sebagai antibakteri
dan melarutkan lapisan biofilm pada permukaan gigi.(24)
6.2. Perawatan Sistemik
Tujuan perawatan sistemik dengan menggunakan obat-obatan adalah untuk
mengurangi perkembangan penyakit dan mencegah terjadinya banyak komplikasi
yang ditimbulkan oleh sjogren syndrom. Perawatan sistemik ini tidak dilakukan oleh
dokter gigi tetapi dengan merujuk pasien ke dokter yang lebih berkompeten.
Sebaiknya para dokter gigi mengetahui beberapa kategori obat yang sering digunakan
dalam terapi sjogren syndrom, seperti penggunaan obat golongan kortikosteroid, obat
ini merupakan immunosupresan untuk pengobatan dari gangguan autoimun, dengan
cara menurunkan inflamasi melalui penekanan aktivitas sel polimorfonuklear.
Menstabilkan membran lisosomal dan juga menekan produksi dan aktivitas limfosit
dan antibodi. Obat ini dikenal dengan nama prednisone. (3)
Obat Agen Immunosupresan, merupakan agen penghambat pertumbuhan dan
proliferasi sel, dengan cara melepaskan nitrogen mustards yang dikenal sebagai alkali
agen yang mungkin ikut dalam proses pemisahan dari DNA. Selain itu obat ini juga
menurunkan respon imun. Obat ini dikenal dengan nama cyclophosphamide.(3)
Kategori obat anti inflamasi non steroid, obat ini mempunyai aktivitas
analgesik, anti-inflamasi, dan antipiretik. Mekanisme kerja dari obat ini belum
diketahui, tetapi obat ini mungkin menghambat aktivitas cyclo-oxygenase dan sintesis
prostaglandin. Mekanisme yang lain adalah termasuk menghambat sintesis
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
Obat Immun Globulin Intravenous, digunakan untuk memperbaiki aspek
klinik dan imun dari penyakit, dengan cara menurunkan produksi autoantibodi dan
menurunkan solubilitasnya. Obat ini dikenal dengan nama guanin, gammagard,
sandoglobulin.(3)
Golongan Obat Antimalaria, memiliki aktivitas anti-inflamasi. Efek
Anti-inflamasi obat ini melalui penekanan perubahan limfosit dan mungkin memiliki
sebuah efek photoprotective. Obat ini dikenal dengan nama chloroquine phosphate.
Pilocarpine HCL, merupakan obat parasimpatomimetik yang fungsi utamanya
sebagai agonis muscarinic-cholinergik dengan cara merangsangan ringan kerja dari
beta-andregenik. Pilocarpine meningkatkan pengeluaran dari saliva dan efektif untuk
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
BAB 7
KESIMPULAN
Sjogren syndrom adalah suatu penyakit autoimun yang menyebabkan
kerusakan kelenjar saliva, kelenjar air mata dan kelenjar eksokrin tubuh lainnya. Ada
beberapa faktor yang dihubungkan dengan penyebab sjogren syndrom yaitu faktor
yang berhubungan dengan genetik meliputi hiperaktifitas dari sel-B, peningkatan
HLA kelas II, autoantibodi muscarinic M3 reseptor, alpha fodrin dan faktor–faktor
lingkungan penyebab sjogren syndrom yaitu keterlibatan virus.
Untuk menegakkan diagnosa dari penyakit sjogren syndrom maka diperlukan
beberapa pemeriksaan yaitu pemeriksaan klinis seperti komponen oral dan sekresi
mata, yang dilakukan oleh dokter gigi pada pemeriksaan ini berupa pengukuran
volume saliva dan pemeriksaan perubahan yang terjadi di dalam rongga mulut
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
serologi, pemeriksaan histopatologi, sialography merupakan pemeriksaan yang
dilakukan untuk menegakkan diagnosa secara tepat dari sjogren syndrom.
Untuk mengatasi efek dari penyakit sjogren syndrom pada rongga mulut,
akibat dari kerusakan kelenjar saliva maka perlu dilakukan suatu penggabungan
tindakan perawatan yaitu perawatan lokal dan perawatan sistemik. Perawatan lokal
yaitu perawatan yang dilakukan oleh dokter gigi untuk mengatasi keluhan dan
perubahan yang terjadi di dalam rongga mulut pasien. Perawatan sistemik merupakan
perawatan yang dilakukan oleh dokter yang berkompeten untuk menekan respon
imun yang berlebih pada pasien sjogren syndrom.
DAFTAR PUSTAKA
1. Van De Merwe Joop P. Sjogren’s syndrome. 2005.
2. Manoussakis M.N. Orpharnet. Sjogren syndrome. 2004.
3. Schwart RA. Emedicine. Sjogren syndrome. 2008.
(17 Sep 2008)
4. Subowo. Imunobiologi 2nd ed. Bandung : Angkasa, 1993 : 1-15, 53-73.
5. Joseph AB. Imunologi III. Trans. A Samik Wahab. Yogyakarta : Gajah Mada
University Press, 1993 : 7-16, 443-6
6. Kresno SB. Imunologi : diagnosa dan prosedur laboratorium 4th ed. Jakarta :
Hanri : Kerusakan Sistem Imunitas Tubuh Pada Sjogren Syndrom, 2009.
7. Al-hashimi Ibtisam. Online course. Sjogren syndrome : early detection. 2001.
Online course #1-AGD code 739 oral pathology. (9 okt 2005)
8. Fox RI. Sjogren’s syndrome: immunobiology of exocrine gland dysfunction.
In : University of florida. Proceeding of The Conference on Oral and Ocular
Manifestation of Autoimmune Diseasea, 1995 : 35-6.
9. Fox PC, PM Speight. Current consepts of autoimune exocrinopathy:
immunologic mechanisms in the salivary pathology of sjogren’s syndrome.
Crit Rev Oral Biol Med 1996 ; 7 : 153-154.
10.Noah Scheinfeld. Sjogren syndrome and systemic lupus erythematous are
distinct conditions. 2005.
11.Lamont RJ, Burne RA, dkk. Oral microbiology and immunology.
Washington, D.C : ASM Press, 2006: 23-44.
12.Abbas AK, Andrew HL. Basic immunology functions and disorders of the
immune system. 2nd ed. Philadelphia : Saunders, 2004 : 21-30, 63-81, 161-75.
13.Jawetz, Melnick, Adelberg. Medical microbiology 24 ed. United states of
america : Mac graw hill, 2007 : 121-41.
14.Burmester GR, Pezzutto A. Color atlas of immunology. Germany : Thieme
Verlag, 2003 : 50,58, 70-1.
15.Samaranayake L. Essential microbiology for dentistry 3rd ed. Philadelphia :
Elsevier, 2006 : 85-88.