• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengintegrasian Pendidikan Karakter ke D

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengintegrasian Pendidikan Karakter ke D"

Copied!
163
0
0

Teks penuh

(1)

PENGINTEGRASIAN PENDIDIKAN KARAKTER KE DA

PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

DI KELAS

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

PROGRAM PASCASARJANA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN

PENGINTEGRASIAN PENDIDIKAN KARAKTER KE DALAM

PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

DI KELAS TINGGI SEKOLAH DASAR

TESIS

Danang Iksan Maulana

NIM 107855001

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

PROGRAM PASCASARJANA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DASAR

2012

(2)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak tahun 2010 mencanangkan pelaksanaan pendidikan karakter untuk semua jenjang pendidikan mulai dari tingkat dasar, menengah, hingga perguruan tinggi. Program itu dilaksanakan dengan alasan pendidikan selama ini belum berhasil mengantarkan generasi bangsa menjadi generasi yang memiliki kepribadian yang dapat membawa bangsa ini lebih bermartabat. Dunia pendidikan baru mampu melahirkan lulusan dengan kemampuan akademik yang cukup. Kemampuan akademik itu cenderung hanya bersifat kemampuan intelektualitas (kognitif), belum diimbangi dengan kepribadian yang dapat menunjukkan karakter yang kuat. Intelektualitas yang tinggi dan karakter yang kuat akan menentukan martabat seseorang. Apabila seseorang memiliki intelektualitas yang tinggi dan karakter yang kuat, maka dia akan menjadi manusia yang bermartabat. Sebaliknya apabila seseorang memiliki intelektualitas yang rendah dan karakter yang lemah, maka dianggap rendah martabatnya. Demikian juga apabila seseorang memiliki intelektualitas yang tinggi tetapi karakternya rendah juga kurang bermartabat, karena kemampuan intelektualitasnya tidak bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan orang banyak, bahkan apabila tidak hati-hati akan mencelakakan dirinya dan juga orang lain.

(3)

Pendidikan menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat (1) pada hakekatnya adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Lebih lanjut dalam pasal 3 menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

(4)

pendek yang hasilnya dapat dilihat seketika setelah proses pendidikan berlangsung.

Menurut Samani (2011:6) pendidikan dapat dipahami dalam tiga jangkauan, yaitu jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Jangka pendek pendidikan dipahami sebagai proses pembelajaran artinya menekankan bagaimana peserta didik belajar. Jangka menengah pendidikan dipahami sebagai persiapan bekerja artinya menekankan apa yang dipelajari selama pembelajaran sehingga memiliki bekal dalam menapaki kehidupan setelah lulus. Jangka panjang pendidikan dipahami sebagai proses pembudayaan artinya pendidikan juga harus menanamkan nilai-nilai kehidupan untuk membangun karakter peserta didik. Karakter inilah yang akan mewarnai kehidupan peserta didik setelah dewasa dalam menjalani kehidupan nyata. Tiga cara pandang tersebut harus dipahami secara utuh dalam satu kesatuan secara simultan. Ketiga-tiganya semestinya dibelajarkan di sekolah secara proporsional. Tidak ada yang lebih dipentingkan diantara ketiganya.

(5)

secara layak. Indikasi terkembangnya seluruh potensi individu dalam proses pendidikan seseorang akan memiliki pengetahuan yang dapat diaplikasikan untuk kepentingan orang banyak, kepribadiannya menjadi lebih dewasa, mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan solusi yang arif dan bijak, serta spiritualitasnya menjadi lebih meningkat dan kokoh.

Untuk membenahi pendidikan agar sesuai dengan fungsi dan tujuan pendidikan nasional pemerintah melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan merumuskan program pendidikan karakter. Pendidikan karakter adalah upaya sistematis penanaman nilai-nilai karakter kepada peserta didik yang meliputi pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan karakter bertujuan membentuk pribadi peserta didik yang baik dengan harapan dapat menjadi warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Kriteria pribadi, warga masyarakat, dan warga negara yang baik adalah yang memiliki nilai-nilai sosial yang bersumber dari nilai-nilai budaya masyarakat dan bangsanya serta nilai-nilai itu diterapkan dalam perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari. Jadi pendidikan karakter pada hakekatnya adalah pendidikan nilai, yaitu pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri dalam rangka membina karakter kepribadian generasi muda bangsa (Dinas Pendidikan Jatim, 2010:15).

(6)

Indonesia guna mewujudkan cita-cita bangsa, yaitu masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila (Desain Induk Pendidikan Karakter Kemendiknas, 2011:251). Pada masa orde baru ada program penataran P-4, pada masa reformasi ada program pengintegrasian iman dan taqwa (imtaq) dan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) ke dalam pembelajaran di setiap mata pelajaran. Namun hingga saat ini belum menunjukkan hasi yang optimal, dengan indikasi dari banyaknya fenomena sosial yang menunjukkan perilaku yang tidak berkarakter. Ketidakberhasilan program terdahulu disebabkan oleh beberapa hal yang diantaranya (1) program itu baru sekedar wacana, belum diikuti dengan aksi nyata yang operasional dan terukur, (2) program itu cenderung bersifat indoktrinasi, (3) tidak ada model sehingga para guru dan pengelola sekolah yang kurang kreatif dan inovatif sulit untuk melaksanakannya, dan (4) program itu dalam pelaksanaannya cenderung bersifat pengajaran buku pendidikan yang mengutamakan pembiasaan dalam praktek dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu agar program pendidikan karakter yang dicanangkan oleh pemerintah saat ini tidak bernasib sama dengan program sebelumnya perlu adanya model yang dapat menjadi sumber inspirasi bagi guru dan pengelola sekolah dalam melaksanakan pendidikan karakter.

(7)

Menurut Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006, salah satu standar kompetensi lulusan (SKL) SD, SMP, dan SMA dalam substansi mata pelajaran IPS adalah menghargai keberagaman agama, budaya, suku, rasa, dan golongan sosial ekonomi di lingkungan sekitarnya. Lingkungan sekitar yang dimaksud dari lingkungan desa, kecamatan, kabupaten, propinsi, dan nasional.

IPS menurut Depdiknas (2006) Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD/MI sampai SMP. IPS mengkaji seperangkat peristiwa fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SD/MI mata pelajaran IPS, siswa diarahkan untuk dapat menjadi warga negara yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai.

Pengorganisasian materi mata pelajaran IPS pada jenjang pendidikan SD/MI menganut pendekatan terpadu, artinya materi pelajaran dikembangkan dan disusun dengan tidak mengacu pada disiplin ilmu sosial yang terpisah, melainkan mengacu pada aspek kehidupan nyata (real) siswa sesuai dengan karakteristik usia, tingkat perkembangan berfikir, dan kebiasaan bersikap dan berperilakunya (Supriyadi, 2008:160).

(8)

memerankan dirinya sebagai pusat pembelajaran. Sebagaimana dikemukakan Al Muchtar (2004:5), bahwa “IPS merupakan bidang studi yang menjemukan dan kurang menantang minat belajar siswa, bahkan lebih dari itu IPS dipandang sebagai mata pelajaran kelas dua oleh siswa maupun oleh orang tua siswa”. Sebagian besar dari mereka tidak mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan tersebut akan dipergunakan atau dimanfaatkan. Siswa memiliki kesulitan untuk memahami konsep akademik sebagaimana yang diajarkan yaitu dengan sesuatu yang abstrak dan Model ceramah. Padahal mereka sangat butuh untuk memahami konsep-konsep yang berhubungan dengan tempat kerja dan masyarakat pada umumnya dimana mereka akan hidup dan bekerja.

Hal tersebut sangat jelas akibatnya jika ditinjau dari mutu lulusan SD mereka tidak mempunyai kecakapan yang memadai maupun file skill yang dibutuhkan dalam kehidupan mereka. Guru sebagai pelaku agen perubahan pendidikan harus mampu berinovasi agar siswa memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk di lingkungan tingkat lokal, nasional, dan global.

Terhadap kenyataan pembelajaran IPS seperti itu mengundang banyak kritik, seperti dikemukakan Stopsky dan Sharon Lee (2004:90) yang kritikannya menyebutkan bahwa IPS adalah:

(9)

3. Tidak ada kontribusi dalam masyarakat, karena hanya membicarakan fakta, data, konsep, generalisasi, teori, dan hukum;

4. Pembelajaran yang bersumber pada buku teks;

5. Guru tidak dapat membelajarakan keterampilan berpikir;

6. Guru IPS cenderung berasumsi bahwa tugas mereka adalah memindahkan pengetahuan dan keterampilan yang ada pada dirinya kepada siswa secara utuh (transfer knowledge to the brain of the student).

Pemerintah selalu berusaha memperbaiki mutu pendidikan. Dengan pemberlakuan kurikulum 2004, yang disempurnakan menjadi KTSP 2006. Pembelajaran yang semula berpusat pada guru (teacher centered) beralih berpusat pada siswa (student centered), metodologi yang semula lebih didominasi ekspositori berganti ke partisipatori, dan pendekatan yang semula lebih banyak bersifat tekstual berubah menjadi kontekstual. Materi pembelajaran tidak hanya konsep, teori, dan fakta tapi juga aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian materi pembelajaran tidak lagi tersusun atas hal-hal sederhana yang bersifat hafalan dan pemahaman, tetapi terdiri dari hal-hal yang kompleks yang memerlukan analisis, aplikasi, dan sintesis. Agar materi pembelajaran tersusun atas hal-hal yang kompleks, guru harus menentukan suatu pendekatan, strategi, model, maupun media sesuai dengan kompetensi dasar.

Dalam pasal 3 UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan, bahwa :

(10)

kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (Depdiknas 2003).

Terkait dengan pasal tersebut dapat dicermati bahwa selain perkembangan potensi anak secara kognitif, dan psikomotor atau kecakapan hidup, pemerintah sangat menekankan perkembangan aspek afektif yang sangat penting sebagai bekal anak dalam menjalani kehidupan sosial di masyarakatnya kelak. Akan tetapi, fenomena hidup dalam masa ini seringkali membingungkan baik bagi orang tua maupun anak-anak. Ada banyak hal yang berubah dalam segi politik, sosial ekonomi, moral, dan spiritual. Di tengah perubahan itu tampak melemahnya penegakan disiplin dan peraturan, sehingga apa yang benar dan apa yang salah tidak menjadi jelas. Dengan kata lain, batas-batas moral semakin kabur. Penegakan disiplin, peraturan dan batas-batas moral menjadi tidak jelas dalam kehidupan seorang siswa. Selain itu meningkatkan sikap egoisme dan pelanggaran terhadap hak-hak orang dengan melakukan kekerasan terhadap orang lain semakin marak. Perselisihan paham dan sikap mau menang sendiri, berkembang menjadi pertengkaran dan perkelahian. Kesalahan kecil antara dua orang, yang tidak terselesaikan, berkembang menjadi perkelahian.

(11)

maju ke depan kelas ketika mendapat giliran atau anak tidak ada kemauan untuk belajar. Guru menyatakan bahwa banyak siswa kurang menunjukkan kesungguhan dalam belajar dan kurang berusaha, terlambat datang, sering tidak membuat tugas, menyontek, kurang ramah, angkuh, meremehkan, bersikap kurang ajar, menentang, dan berkecenderungan balas dendam, kurang tegar dan kurang tangguh dalam menghadapi tekanan.

Tujuan pendidikan nasional mengarah pada pengembangan berbagai karakter manusia Indonesia, walaupun dalam penyelenggaraannya masih jauh dari apa yang dimaksudkan dalam Undang-Undang. Secara singkat, pendidikan nasional seharusnya pendidikan karakter bukan pendidikan adakemik semata. Akan hal ini, kami menegaskan ukuran keberhasilan pendidikan yang berhenti pada angka ujian, seperti halnya ujian nasional adalah sebuah kemunduran, karena dengan demikian pembelajaran akan menjadi sebuah proses menguasai keterampilan dan mengakumulasi pengetahuan (Dharma, 2011:8-9).

(12)

dan non formal. Selama ini, ada kecenderungan pendidikan formal, informal, dan non formal, berjalan terpisah satu dengan yang lainnya. Akibatnya, pendidikan karakter sekolah menjadi tanggung jawab secara parsial.

Implementasi pendidikan karakter ke dalam proses pembelajaran tidak dapat dilaksanakan apabila guru belum bisa mengintegrasikan ke dalam perangkat pembelajaran. Dalam pengintegrasian nilai-nilai karakter ke dalam perangkat pembelajaran tidak dapat di integrasikan secara begitu saja, melainkan harus menyesuaikan terlebih dahulu nilai-nilai karakter dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Dalam membuat perangkat pembelajaran dalam hal ini RPP guru harus memperhatikan nilai-nilai karakter yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang tertuang dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.

Berdasarkan beberapa kajian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian “Pengintegrasian Pendidikan Karakter Ke Dalam Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Di Kelas Tinggi Sekolah Dasar”.

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan fokus penelitian pada kelas tinggi khususnya kelas IV SDN 8 Karangharjo Kecamatan Glenmore Kabupaten Banyuwangi sebagai berikut:

(13)

2. Bagaimanakah implementasi sebelum dan sesudah dikembangkan pembelajaran berbasis pendidikan karakter?

Untuk menjawab fokus masalah pada point 2 perlu dijabarkan ke dalam pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

a. Nilai-nilai karakter apa saja yang sesuai diintegrasikan ke dalam mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial di kelas tinggi sekolah dasar ?

b. Bagaimanakah pengintegrasian nilai-nilai karakter ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran ilmu pengetahuan sosial di kelas tinggi sekolah dasar?

c. Bagaimanakah perilaku siswa sebelum dan sesudah dikembangkan pembelajaran berbasis pendidikan karakter?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pada fokus penelitian di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan:

1. Mengembangkan perangkat pembelajaran berbasis pendidikan karakter.

2. Mengembangkan implementasi ke pembelajaran berbasis pendidikan karakter dengan beberapa aspek sebagai berikut:

a. Mengidentifikasi nilai-nilai karakter apa saja yang sesuai ke dalam mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial di kelas tinggi sekolah dasar

(14)

c. Mendeskripsikan perilaku siswa sebelum dan sesudah dikembangkan pembelajaran berbasis pendidikan karakter?

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretis

Secara teoretis, pengintegrasian pendidikan karakter pada penelitian ini, belum sampai menghasilkan pembelajaran IPS berbasis pendidikan karakter yang benar-benar ideal. Hasil penelitian ini baru terbatas pada mata pelajaran IPS kelas tingg yang dilaksanakan di SDN 8 Karangharjo Kecamatan Glenmore Kabupaten Banyuwangi. Oleh karena itu penelitian ini diharapkan bermanfaat dalam rangka pengembangan lebih lanjut pembelajaran berbasis pendidikan karakter mata pelajaran IPS Kelas tinggi SD atau pun pada mata pelajaran dan kelas lainnya. 2. Manfaat Praktis

Penelitian ini dimaksudkan dapat bermanfaat bagi guru dan siswa. Bagi guru, pertama untuk memberi pandangan yang luas, khususnya guru kelas tinggi dalam mengembangkan dan menyelenggarakan pembelajaran yang berbasis pendidikan karakter bangsa. Manfaat bagi siswa adalah pembentukan nilai-nilai karakter.

3. Peneliti Lain Yang Sejenis

(15)

E. Definisi Operasional Variabel

1. Perangkat pembelajaran mencakup Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Lembar Kerja Siswa, Lembar Tes Hasil Belajar, dan Bahan Ajar Siswa.

2. Pengintegrasian adalah menggabungkan antara pendidikan karakter yang berupa nilai-nilai ke dalam suatu pembelajaran

3. Pendidikan Karakter Bangsa adalah upaya terencana dalam mengembangkan potensi peserta didik, sehingga mereka memiliki sistem berpikir, nilai, moral, dan keyakinan yang digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Ada 18 pilar nilai pendidikan karakter oleh Kementerian Pendidikan Nasional Balitbang Puskur.

(16)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Umum Tentang Pendidikan Karakter 1. Pengertian Pendidikan Karakter

Pendidikan merupakan upaya terencana dalam mengembangkan potensi peserta didik, sehingga mereka memiliki sistem berpikir, nilai, moral, dan keyakinan yang diwariskan masyarakatnya dan mengembangkan warisan tersebut kearah yang sesuai untuk kehidupan masa kini dan masa mendatang. Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebijakan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain. Interaksi seseorang dengan orang lain menumbuhkan karakter masyarakat dan karakter bangsa. Oleh karena itu, pengembangan karakter bangsa hanya dapat dilakukan melalui pengembangan karakter individu seseorang. Akan tetapi, karena manusia hidup dalam lingkungan sosial dan budaya tertentu, maka pengembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang bersangkutan melalui pendidikan hati, otak, dan fisik. Pendidikan adalah juga suatu usaha masyarakat dan bangsa dalam mempersiapkan generasi mudanya bagi keberlangsungan kehidupan

(17)

masyarakat dan bangsa yang lebih baik di masa depan. Keberlangsungan itu ditandai oleh pewarisan budaya dan karakter yang telah dimiliki masyarakat dan bangsa. Oleh karena itu, pendidikan adalah proses pewarisan budaya dan karakter bangsa dari generasi muda dan juga proses pengembangan budaya dan karakter bangsa untuk peningkatan kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa di masa mendatang.

Akar kata “karakter” dapat diacak dari sebuah kata Bahasa Latin “kharakter”, “kharassein”, dan ”kharax”, yang maknanya “tools for marking”, “to engrave”, dan “pointed stake”. Kata ini mulai banyak digunakan dalam bahasa Perancis “caractere” pada abad ke -14 dan kemudian masuk dalam bahasa Inggris menjadi “character”, sebelum akhirnya menjadi Bahasa Indonesia “karakter” (John, 2010:vii).

(18)

tetapi, karena manusia hidup dalam lingkungan sosial dan budaya tertentu, maka pengembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang bersangkutan. Artinya, pengembangan karakter bangsa hanya dapat dilakukan dalam suatu proses pendidikan yang tidak melepaskan siswa dari lingkungan sosial, budaya masyarakat, dan budaya bangsa.

(19)

melandasi sikap dan perilaku kita. Jadi karena karakter melandasi sikap dan perilaku manusia, tentu karakter tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus dibentuk, dibangun, dan ditumbuhkembangkan. Sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Hellen Keller (dalam John, 2010:viii) “Character cannot be develop in ease and quite only through experiences of trial and suffering can the soul be strengthened, vision cleared, ambition, inspired, and success achieved”.

2. Fungsi Pendidikan Karakter

Fungsi pendidikan karakter bangsa adalah a) pengembangan: pengembangan potensi peserta didik untuk menjadi pribadi berperilaku baik, ini bagi peserta didik yang memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan karakter bangsa, b) perbaikan: memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermartabat, c) penyaring: untuk menyaring budaya bangsa sendiri dari budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai karakter bangsa yang bermartabat.

3. Tujuan Pendidikan Karakter

(20)

religius, c) menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa, d) mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan, e) mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity). 4. Nilai-nilai dalam Pendidikan Karakter

Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter bangsa diidentifikasi dari sumber-sumber berikut ini.

a. Agama: masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena itu, kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Secara politis, kehidupan kenegaraan pun didasari pada nilai-nilai yang berasal dari agama, atas dasar pertimbangan itu, maka nilai-nilai pendidikan karakter bangsa harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama. b. Pancasila: negara kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas

(21)

bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang lebih baik, yaitu warga negara yang memiliki kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sebagai warga negara.

c. Budaya: sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat itu. Nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antar anggota msyarakat itu. Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan karakter bangsa.

d. Tujuan Pendidikan Nasional: sebagai rumusan kualitas yang harus dimiliki setiap warga negara Indonesia, dikembangkan oleh berbagai satuan pendidikan di berbagai jenjang dan jalur. Tujuan pendidikan nasional memuat berbagai nilai kemanusiaan yang harus dimiliki warga negara Indonesia. Oleh karena itu, tujuan pendidikan nasional adalah sumber yang paling operasional dalam pengembangan pendidikan karakter bangsa.

(22)

Tabel 2.1 Nilai dan Deskripsi Nilai Pendidikan Karakter Bangsa

NO NILAI DESKRIPSI

1 Religius Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. 2 Jujur Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya

sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan

3 Toleransi Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4 Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan

5 Kerja Keras Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya

6 Kreatif Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki

7 Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas

8 Demokratis Cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain

9 Rasa Ingin Tahu

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar

10 Semangat Kebangsaan

(23)

11 Cinta Tanah Air

Cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa

12 Menghargai Prestasi

Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain

13 Bersahabat/ Komunikatif

Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain

14 Cinta Damai Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya

15 Gemar Membaca

Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya

16 Peduli Lingkungan

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan

Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Sumber: Kementerian Pendidikan Nasional Balitbang Puskur 2010

(24)

nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter bangsa ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Silabus, dan Rencana Pelaksanaan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sudah ada.

Prinsip pengembangan yang digunakan dalam pengembangan pendidikan karakter bangsa mengusahakan agar peserta didik mengenal dan menerima nilai-nilai karakter bangsa sebagai milik mereka dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya melalui tahapan mengenal pilihan, menilai pilihan, menentukan pendirian, dan selanjutnya menjadikan suatu nilai sesuai dengan keyakinan diri. Dengan prinsip ini, peserta didik belajar melalui proses berpikir, bersikap, dan berbuat. Ketiga proses ini dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam melakukan kegiatan sosial dan mendorong peserta didik untuk melihat diri sendiri sebagai makhluk sosial.

Berikut prinsip-prinsip yang digunakan dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa:

a. Berkelanjutan

Mengandung makna bahwa proses pengembangan nilai-nilai karakter bangsa merupakan sebuah proses panjang, dimulai dari awal peserta didik masuk sampai selesai dari suatu satuan pendidikan.

b. Melalui semua mata pelajaran, pengembangan diri, dan budaya sekolah

(25)

kurikuler dan ekstrakurikuler. Gambar 1 berikut ini memperlihatkan pengembangan nilai-nilai melalui jalur-jalur itu :

Gambar 2.1. Pengembangan Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Bangsa Sumber: Kementerian Pendidikan Nasional Balitbang Puskur 2010

Pengembangan nilai budaya dan karakter bangsa melalui berbagai mata pelajaran yang telah ditetapkan dalam Standar Isi (SI), digambarkan sebagai berikut ini:

Gambar 2.2 Pengembangan Nilai-Nilai Budaya dan Karakter Bangsa Melalui Setiap Mata Pelajaran

Sumber: Kementerian Pendidikan Nasional Balitbang Puskur 2010 NILAI

MATA

PENGEMBANGAN

BUDAYA

NIL

(26)

c. Nilai tidak diajarkan tapi dikembangkan

Mengandung makna bahwa materi pendidikan karakter bangsa bukanlah bahan ajar biasa, artinya nilai-nilai itu tidak akan dijadikan pokok bahasan yang dikemukakan seperti halnya ketika mengajarkan suatu konsep, teori, prosedur, ataupun fakta seperti dalam mata pelajaran lain. Materi pelajaran biasa digunakan sebagai bahan atau media untuk mengembangkan nilai-nilai karakter bangsa. Oleh karena itu, guru tidak perlu mengubah pokok bahasan yang sudah ada, tetapi menggunakan materi pokok bahasan itu untuk mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa. Juga, guru tidak harus mengembangkan proses belajar khusus untuk mengembangkan nilai. Suatu hal yang harus selalu diingat bahwa satu aktivitas belajar dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Konsekuensi dari prinsip ini, nilai-nilai karakter bangsa tidak dinyatakan dalam ulangan ataupun ujian. Walaupun demikian, peserta didik perlu mengetahui pengertian dari suatu nilai yang sedang mereka tumbuhkan pada diri mereka. Mereka tidak boleh berada dalam posisi tidak tahu dan tidak paham makna nilai itu.

(27)

perkenalan terhadap peserta pengertian nilai yang dikembangkan maka guru menuntun peserta didik agar secara aktif. Hal ini dilakukan tanpa guru mengatakan kepada peserta didik bahwa mereka harus aktif, tapi guru merencanakan kegiatan belajar yang menyebabkan peserta didik aktif merumuskan pertanyaan, mencari sumber informasi, dan mengumpulkan informasi dari sumber, mengolah informasi yang sudah dimiliki, merekonstruksi data, fakta, atau nilai, menyajikan hasil rekonstruksi atau proses pengembangan nilai, menumbuhkan nilai-nilai karakter pada diri mereka melalui berbagai kegiatan belajar yang terjadi di kelas, sekolah, dan tugas-tugas di luar sekolah.

Perencanaan dan pelaksanaan pendidikan karakter bangsa dilakukan oleh kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan (konselor) secara bersama-sama sebagai suatu komunitas pendidik dan diterapkan ke dalam kurikulum melalui hal-hal berikut:

a. Program Pengembangan Diri

(28)

yaitu perilaku dan sikap guru dan tenaga kependidikan yang lain dalam memberikan contoh terhadap tindakan-tindakan yang baik sehingga diharapkan menjadi panutan bagi peserta didik untuk mencontohnya, (4) pengkondisian. Untuk mendukung keterlaksanaan pendidikan budaya dan karakter bangsa maka sekolah harus dikondisikan sebagai pendukung kegiatan itu. Sekolah harus mencerminkan kehidupan nilai-nilai karakter bangsa yang diinginkan.

b. Pengintegrasian dalam Mata Pelajaran

Pengembangan nilai-nilai pendidikan karakter bangsa diintegrasikan dalam setiap pokok bahasan dari setiap mata pelajaran. Nilai-nilai tersebut dicantumkan dalam Silabus dan RPP.

c. Budaya Sekolah

(29)

nilai-nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa dalam budaya sekolah mencakup kegiatan-kegiatan yang dilakukan kepala sekolah, guru, konselor, tenaga administrasi ketika berkomunikasi dengan peserta didik dan menggunakan fasilitas sekolah.

d. Pengembangan Proses Pembelajaran

Pembelajaran pendidikan budaya dan karakter bangsa menggunakan pendekatan proses belajar peserta didik secara aktif dan berpusat pada peserta didik, dilakukan melalui berbagai kegiatan di kelas, sekolah, dan masyarakat. e. Penilaian Hasil Belajar

(30)

Tabel 2.2 Pertimbangan Pencapaian Indikator

BT: Belum Terlihat Apabila peserta didik belum memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator MT: Mulai Terlihat Apabila peserta didik sudah mulai memperlihatkan

adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator tetapi belum konsisten

MB: Mulai Berkembang Apabila peserta didik sudah memperlihatkan berbagai tanda perilaku yang dinyatakan dalam indikator dan mulai konsisten

Mbd: Membudaya Apabila peserta didik terus menerus memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten

Sumber: Kementerian Pendidikan Nasional Balitbang Puskur 2010

5. Keterkaitan Nilai dan Indikator untuk Sekolah Dasar Kelas Tinggi Tabel 2.3 Keterkaitan Nilai dan Indikator untuk SD Kelas Tinggi

Nilai Indikator tubuh manusia yang sempurna dalam sinkronisasi fungsi organ.

 Bersyukur kepada Tuhan karena memiliki keluarga yang menyayanginya.

 Merasakan kekuasaan Tuhan yang telah menciptakan berbagai keteraturan dalam berbahasa.

(31)

sebagai keperluan untuk hidup bersama.

 Membantu teman yang memerlukan bantuan sebagai suatu ibadah atau kebajikan

 Tidak meniru pekerjaan temannya dalam mengerjakan tugas di rumah

 Mengatakan dengan sesungguhnya sesuatu yang terjadi atau yang dialaminya.

 Mau bercerita tentang kesulitan menerima pendapat temannya

 Mengemukakan pendapat tentang sesuatu sesuai dengan yang diyakininya.

 Mengemukakan ketidaknyamanan dirinya dalam belajar di sekolah

 Menghargai pendapat yang berbeda sebagai sesuatu yang alami dan insan.

 Bekerja sama dengan teman yang berbeda agama, suku, dan etnis dalam kegiatan-kegiatan kelas dan sekolah.

 Bersahabat dengan teman yang berbeda pendapat. Disiplin:

 Selalu mengajak teman menjaga ketertiban kelas.

(32)

dengan kata-kata sopan dan tidak menyinggung.

 Mengerjakan tugas dengan teliti dan rapi

 Mencari informasi dari sumber-sumber di luar sekolah.

 Mengerjakan tugas-tugas dari guru pada waktunya

 Fokus pada tugas-tugas yang diberikan guru di kelas.

 Mencatat dengan sungguh-sungguh sesuatu yang dibaca, diamati, dan didengar dengar untuk

 Membuat berbagai kalimat baru dari sebuah kata.

 Bertanya tentang sesuatu yang berkenaan dengan pelajaran tetapi di luar cakupan materi pelajaran.

 Membuat karya tulis tentang hal baru tapi terikat dengan materi pelajaran.

 Melakukan penghijauan atau penyegaran halaman sekolah.

 Menyadari bahwa setiap perjuangan mempertahankan kemerdekaan dilakukan bersama oleh berbagai suku, etnis yang ada di Indonesia. Mandiri

Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan

tugas- Mencari sumber untuk menyelesaikan tugas sekolah tanpa bantuan pustakawan sekolah.

(33)

tugas.

 Membiasakan diri bermusyawarah dengan teman-teman.

 Menerima kekalahan dalam pemilihan dengan ikhlas.

 Mengemukakan pendapat tentang teman yang jadi pemimpinnya.

 Memberi kesempatan kepada teman yang menjadi memimpinnya untuk bekerja.

 Melaksanakan kegiatan yang dirancang oleh teman yang menjadi pemimpinnya.

 Bertanya tentang beberapa peristiwa alam, sosial, budaya, ekonomi, politik, teknologi yang baru didengar.

 Bertanya tentang sesuatu yang terkait dengan materi pelajaran tetapi di luar yang dibahas di

 Turut serta dalam panitia peringatan hari pahlawan dan proklamasi kemerdekaan.

 Menggunakan bahasa Indonesia ketika berbicara di kelas.

(34)

kelompoknya  Menyukai berbagai upacara adat di nusantara.

 Bekerja sama dengan teman dari suku, etnis, budaya lain berdasarkan persamaan hak dan kewajiban.

 Menyadari bahwa setiap perjuangan mempertahankan kemerdekaan dilakukan bersama oleh berbagai suku, etnis yang ada di Indonesia. Cinta Tanah Air:

 Mengagumi posisi keografis wilayah Indonesia dalam perhubungan laut dan udara dengan negara lain.

 Mengagumi kekayaan budaya dan seni di Indonesia.

 Mengagumi keragaman suku, etnis, dan bahasa sebagai keunggulan yang hadir di wilayah negara Indonesia.

 Mengagumi sumbangan produk pertanian, perikanan, flora, dan fauna Indonesia bagi dunia.

 Mengagumi peran hutan Indonesia bagi dunia.

 Mengagumi peran laut dan hasil laut Indonesia

 Berlatih keras untuk menjadi pemenang dalam berbagai kegiatan olahraga dan kesenian di sekolah.

 Menghargai kerja keras guru, kepala sekolah, dan personalia lain.

(35)

orang lain mengembangkan berbagai potensi dirinya melalui pendidikan dan kegiatan lain.

 Menghargai hasil kerja pemimpin dalam menyejahterakan masyarakat dan bangsa.

 Menghargai temuan-temuan yang telah dihasilkan manusia dalam bidang ilmu, teknologi, sosial, budaya, dan seni.

 Memberi dan mendengarkan pendapat dalam diskusi kelas.

 Aktif dalam kegiatan sosial dan budaya kelas.

 Aktif dalam kegiatan organisasi di sekolah.

 Berbicara dengan guru, kepala sekolah, dan

 Menggunakan kata-kata yang menyejukkan emosi teman yang sedang marah.

 Ikut menjaga keamanan barang-barang di kelas.

 Menjaga keselamatan teman di kelas/ sekolah dari perbuatan jahil yang merusak.

 Mencari bahan bacaan dari perpustakaan daerah.

(36)

 Membaca buku atau tulisan tentang alam, sosial,

 Mengunjungi rumah yatim dan orang jompo.

 Menghormati petugas-petugas sekolah.

 Membantu teman yang sedang memerlukan bantuan.

 Memperindah kelas dan sekolah dengan tanaman.

 Ikut memelihara taman di halaman sekolah.

 Ikut dalam kegiatan menjaga kebersihan lingkungan.

Sumber: Kementerian Pendidikan Nasional Balitbang Puskur 2010

B. Karakteristik Ilmu Pengetahuan Sosial

(37)

Pada dasarnya Mulyono Tj. (1980:8) memberi batasan IPS adalah suatu pendekatan interdisipliner (Inter disciplinary Approach) dari pelajaran ilmu-ilmu sosial. IPS merupakan gabuangan ilmu-ilmu sosial yang terintegrasi atau terpadu. Pengertian terpadu, bahwa bahan atau materi IPS diambil dari ilmu-ilmu sosial yang dipadukan dan tidak terpisah-pisah dalam kotak disiplin ilmu, seperti : konsep-konsep dasar sosiologi, geografi, ekonomi, sejarah, kewarganegaraan, pedagogis, dan psikologis.

Jadi karakteristik mata pelajaran IPS harus diimpelentasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik misalnya menjadi mudah berempati kepada orang lain yang membutuhkan pertolongan, mengerti peraturan yang berlaku misalnya dilarang membuang sampah sembarangan dan mencoret-coret fasilitas sekolah, dan mampu menghargai jasa para pahlawan bangsa.

C. Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar

(38)

misalnya siswa mampu berpikir kritis, bersifat terbuka menerima pendapat orang lain, kreatif, disiplin, dan sebagainya karena siswa menghayati pengalaman berupa diskusi kelompok/ kelas.

Pidarta (2007:6) mengemukakan istilah belajar-mengajar berubah karena proses mengajar pada perkembangan terakhir tidak lagi tekanannya sama antara peserta didik dan pendidik, melainkan tekanan utamanya pada peserta didik. Peserta didiklah yang aktif belajar mengembangkan diri, kepribadian, bakat, pengetahuan, dan keterampilannya untuk menjadi manusia dewasa yang dapat mandiri dan menjadi warga negara yang baik. Sementara itu pendidik hanya bertindak sebagai fasilitator, yaitu merencanakan dan menyiapkan serta mengatur segala sesuatu untuk keperluan belajar peserta didik.

Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang menekankan makna dan mengaktifkan siswa, menyatakan pembelajaran yang efektif berarti pencapaian atau penguasaan peserta didik terhadap materi ajar sesuai dengan tujuan pembelajaran yang sudah dirumuskan dan guru tidak dapat “memindahkan” pemahamannya kepada pikiran siswa, siswa sendiri yang mengkonstruknya (Samani, 2007:165).

(39)

1. Hakikat Ilmu Pengetahuan Sosial a. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi konsep dasar dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya. Ilmu Pengetahuan Sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu-ilmu sosial (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya).

(40)

b. Maksud dan Tujuan IPS

Mata pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.

1) mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya;

2) memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial;

3) memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan;

4) memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global.

c. Ruang Lingkup Materi IPS

Ruang lingkup mata pelajaran IPS meliputi aspek-aspek sebagai berikut.

1) manusia, tempat, dan lingkungan; 2) waktu, keberlanjutan, dan perubahan; 3) sistem sosial dan budaya; dan

(41)

D. Definisi Perangkat Pembelajaran

Menurut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 20, “perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar”.

1. Silabus

(42)

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/ atau kelompok mata pelajaran/ tema tertentu yang mencakup SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.

2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan telah dijabarkan dalam silabus. Sesuai dengan Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses dijelaskan bahwa RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

(43)
(44)

belajar, pada bagian ini ditulis mengenai strategi penilaian yang dipilih serta kapan penilaian itu dilakukan.

Dalam penelitian ini, untuk menyusun RPP mengacu pada Permendiknas RI Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk satuan pendidikan dasar dan menengah, yang meliputi : a) Identitas Mata Pelajaran/ Tema, b) Standar Kompetensi, c) Kompetensi Dasar, d) Indikator Pencapaian Kompetendi, e) Tujuan Pembelajaran f) Materi Ajar, g) Alokasi Waktu, h) Metode Pembelajaran, i) Kegiatan Pembelajaran yang terdiri dari: 1) Kegiatan Pendahuluan, 2) Kegiatan Inti, dan 3) Kegiatan Penutup, j) Penilaian Hasil Belajar, k) Sumber Belajar.

3. Lembar Kerja Siswa (LKS)

Lembar kerja siswa (student worksheet) adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Lembar kegiatan biasanya berupa petunjuk, langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas. Suatu tugas yang diperintahkan dalam lembar kegiatan harus jelas KD yang akan dicapainya.

(45)

lembar kerja siswa ini, maka partisipasi aktif peserta didik sangat diharapkan, sehingga dapat memberikan kesempatan lebih luas dalam proses konstruksi pengetahuan dalam dirinya (Depdiknas, 2008:13).

4. Lembar Tes Hasil Belajar

Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing-masing. Namun untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman pada kurikulum yang berlaku saat ini, antara lain bahwa suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila Kompetensi Dasarnya dapat dicapai. untuk mengetahui tercapai tidaknya KD, guru perlu mengadakan tes setiap selesai menyajikan satu bahasan kepada siswa. Fungsi tes hasil belajar ini adalah memberikan umpan balik kepada guru dalam rangka memperbaiki proses belajar mengajar dan melaksanakan program berikutnya bagi siswa yang belum berhasil.

5. Bahan Ajar Siswa

(46)

dan dikembangkan guru untuk membantu siswa menguasai kompetensi yang diharapkan. Adapun langkah-langkah dalam menulis buku sebagai pelengkap perangkat pembelajaran adalah : a) menganalisis kurikulum, b) menentukan judul buku yang akan ditulis, c) merancang outline buku agar memenuhi aspek kecukupan, d) mengumpulkan referensi sebagai bahan penulisan, e) menulis buku dengan memperhatikan kebahasaan yang sesuai dengan pembacanya, f) mengedit dan merevisi hasil tulisan, g) memperbaiki tulisan, h) menggunakan berbagai sumber belajar yang relevan (Depdiknas, 2008:19-20).

E. Hasil Penelitian yang Relevan

(47)

(diseminasi). Peneliti tidak dapat melaksanakan tahapan diseminasi karena berbagai faktor, antara lain keterbatasan waktu dan biaya.

Respon siswa terhadap pembelajaran tematik berwawasan pendidikan karakter bangsa termasuk dalam kategori sangat baik. Pada kegiatan uji coba terbatas rata-rata respon siswa sebesar 3,48 sedangkan pada kegiatan uji coba luas rata-rata respon siswa sebesar 3,46.

Hasil penelitian lainnya, Machful Indra Kurniawan (2012) dari program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya yang berjudul “Integrasi pendidikan Karakter Ke Dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Di Sekolah Dasar”. Teknik analisis datanya, meliputi: analisis kesesuaian nilai karakter dengan SK dan KD PKN SD, analisis perangkat pembelajaran PKN berbasis karakter SD, dan analisis hasil penerapan perangkat pembelajaran berbasis karakter PKn di SD terhadap karakter siswa, sesuai yang diharapkan.

(48)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan model naturalistik, Nasution (2003:5-7) mengemukakan motede penelitian kualitatif menekankan pada metode penelitian observasi di lapangan dan datanya dianalisa dengan cara non-statistik. Penelitian kualitatif lebih menekankan pada penggunaan diri si peneliti sebagai alat. Peneliti harus mampu mengungkapkan gejala sosial di lapangan dengan mengerahkan segenap fungsi inderawinya. Dengan demikian, peneliti harus dapat diterima oleh responden dan lingkungannya agar mampu mengungkap data yang tersembunyi melalui bahasa tutur, bahasa tubuh, perilaku maupun ungkapan-ungkapan yang berkembang dalam dunia dan lingkungan responden. Apa yang dilakukan oleh peneliti kualitatif banyak persamaannya dengan detektif atau jurnalis yang terjun ke lapangan untuk mempelajari manusia tertentu dengan mengumpulkan data yang banyak. (Pidarta, 2008:19) Penelitian bersifat evaluatif, yang bertujuan menilai objek-objek yang akan diteliti.

Berdasarkan permasalahan penelitian maka sesuai dengan ciri-ciri penelitaian kualitatif, yaitu:

1. Penelitian kualitatif menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data langsung. Situasi pendidikan baik dalam lingkungan keluarga, sekolah dan

(49)

masyarakat, sebagaimana adanya (alami) tanpa dilakukan perubahan dan intervensi oleh peneliti, merupakan objek bagi penelitian kualitatif.

2. Penelitian kualitatif, sifatnya eksploratif (Silalahi, 2003:55). Data yang diperoleh dari penelitian kualitatif seperti hasil pengamatan, hasil wawancara, hasil pemotretan, cuplikan tertulis dari dokumen, catatan lapangan, disusun peneliti dilokasi penelitian, tidak dituangkan dalam bentuk dan bilangan statistik. Peneliti segera melakukan analisis data dengan memperkaya informasi, melalui analisis komparasi, sepanjang tidak menghilangkan data aslinya. Hasil analisis berupa pemaparan gambaran mengenai situasi yang diteliti dalam bentuk uraian. Hakikat pemaparan pada umumnya menjawab pertanyaan-pertanyaan apa, mengapa, bagaimana suatu fenomena itu terjadi dalam konteks lingkungannya. Sehingga mampu menghasilkan judgment mengenai konsep-konsep dan makna yang terkandung dalam data hasil pengamatan dan teknik-teknik lainnya.

3. Tekanan peneliti kualitatif ada pada proses bukan pada hasil. Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengungkap suatu proses bukan hasil dari suatu kegiatan. Apa yang dia lakukan, mengapa hal itu dilakukan dan bagaimana cara melakukannya,memerlukan pemaparan suatu proses mengenai fenomena tidak bisa dilakukan dengan ukuran frekuensi atau perhitungan enumirasi.

(50)

terjadi secara alami, mencatat, menganalisis, menafsirkan dan melaporkan serta menarik kesimpulan-kesimpulan dari proses tersebut.

5. Penelitian kualitatif mengutamakan makna. Penelitian kualitatif mengutamakan kepada bagaimana orang mengartikan hidupnya, dalam pengertian participant perspectives: Makna yang diungkap berkisar pada asumsi-asumsi apa yang dimiliki orang mengenai hidupnya. Misalnya penelitian dalam bidang pendidikan, memusatkan bagaimana pengintegrasian pendidikan karakter ke dalam pembelajaran ilmu pengetahuan sosial di kelas tinggi sekolah dasar dilaksanakan selama ini. Pemaparan hasil penelitian ini nantinya diharapkan bisa memperbaiki pembelajaran IPS berbasis pendidikan karakter di masa yang akan datang.

B. Jenis Penelitian

(51)

C. Desain Penelitian

Rancangan penelitian yang dilakukan adalah penelitian menguji coba konsep yaitu pengintegrasian pendidikan karakter ke dalam pembelajaran IPS di kelas tinggi sekolah dasar pada SDN 8 Karangharjo Kecamatan Glenmore Kabupaten Banyuwangi. Pidarta (2006:18) mengemukakan bahwa rancangan penelitian dengan menguji coba terdiri dari beberapa langkah yaitu:

1. Melakukan studi awal; semua fokus yang diteliti disurvei di lapangan.

2. Menentukan cara mengembangkan. (1) hasil studi awal ditunjukkan kepada ketua lembaga atau kepala sekolah tempat melakukan penelitian. (2) ketua lembaga diajak bekerjasama mengembangkan fokus-fokus di atas dengan menerapkan konsep-konsep atau teori-teori yang bertalian dengan fokus-fokus itu yang telah dibahas dalam bab kajian teori.

3. Pengembangan: (1) konsep-konsep yang dipakai mengembangkan diterapkan di lapangan minimal enam bulan, (2) sesudah selesai menguji coba/ mengembangkan, fokus-fokus yang dikembangkan dinilai atau diukur dengan alat ukur seperti pada studi awal.

(52)

Rancangan penelitian menguji coba konsep dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut:

Gambar 3.1. Desain Penelitian Menguji Coba Konsep (Dimodifikasi dari Pidarta, 2006:18)

D. Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan umumnya berbentuk uraian atau narasi, gambar dan kebanyakan bukan angka-angka. Kalaupun ada angka-angka sifatnya hanya sebagai penunjang. Ketika mengumpulkan data deskriptif, peneliti pendekatan terhadap situasional sesuai dengan lokasi di tempat penelitian dengan cara sabar (with packing way). Artinya penelitian kualitatif mendekati semua masalah dengan asumsi bahwa tidak ada satu-pun hal yang sifatnya tidak penting melainkan semuanya bermakna.

Adapun teknik yang digunakan dalam pengumpulan data sebagai berikut: 1. Observasi

Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematis atas fenomena-fenomena yang diteliti. Hadi (2000:130). Fenomena tersebut perlu diketahui oleh peneliti dengan cara terlibat langsung pada situasi nyata, tidak

Studi Awal

Cara Pengembangan

Pengembangan

Mengukur Hasil Pengembangan

(53)

cukup dengan meminta bantuan orang lain atau sebatas mendengar penuturan dari sumber yang secara tidak langsung. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Riyanto, (2003:36) bahwa peneliti memasuki kancah dengan membaurkan diri ke dalam masyarakat yang akan diteliti tinggal dan hidup dalam kancah penelitian.

Dalam penelitian kualitatif, metode observasi merupakan metode yang sangat tepat guna dalam rangka memperoleh data dan informasi yang lengkap sesuai dengan fokus penelitian. Observasi adalah merekam dan mencatat peristiwa, sikap, dan tingkah laku pengelola dan partisipan masyarakat dan pengamatan tersebut digunakan untuk mendapatkan interaksi kompleks dalam tatanan sosial yang kemudian diungkap dengan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara cermat dan tepat pada yang diamati.

Jenis kegiatan observasi yang digunakan dalam pengumpulan data adalah observasi partisipan. Observasi partisipan artinya bahwa peneliti merupakan bagian dari kelompok yang diteliti misalnya portofolio responden masing-masing.

Observasi dilaksanakan untuk menggali data tentang perangkat pembelajaran, nilai-nilai karakter, serta perilaku siswa di SDN 8 Karangharjo Kecamatan Glenmore Kabupaten Banyuwangi. Informan adalah kepala sekolah dan guru baik guru kelas maupun guru mata pelajaran di SDN 8 Karangharjo Kecamatan Glenmore Kabupaten Banyuwangi.

2. Wawancara Mendalam (in-depth interview)

(54)

diteliti, yang tidak terungkap melalui metode observasi. Hal yang perlu mendapat perhatian bagi peneliti adalah agar peneliti mengupayakan wawancara sedemikian rupa, sehingga secara perlahan-lahan peneliti memasuki serta mengalami suasana baru dalam membantu informan agar dapat menyampaikan tanggapan.

Langkah-langkah wawancara menurut Lincion dan Guba (dalam Riyanto 2007:28) bahwa ada tujuh langkah yaitu (1) menetapkan kepada siapa wawancara itu dilaksanakan (2) menyiapkan pokok-pokok masalah yang akan menjadi bahan pembicaraan (3) mengawali atau membuka alur wawancara (4) melangsungkan wawancara (5) mengkonfirmasikan ikhtisar/ ringkasan hasil wawancara kepada informan dan mengakhirinya (6) melukiskan hasil wawancara kedalam catatan lapangan (7) mengidentifikasi tindak lanjut hasil wawancara yang telah diperoleh.

Wawancara yang dilaksanakan secara tergesa-gesa akan mengubah suasana akrab menjadi suasana yang tegang seperti halnya wawancara terstruktur yang kaku.

(55)

wawancara (6) menghentikan wawancara, setiap kali selesai melakukan wawancara, peneliti menyalin hasil wawancara dalam bentuk transkip dan rekaman audiosebagai dokumentasi dan diolah lebih lanjut.

Wawancara mendalam dilaksanakan untuk menggali data tentang perangkat pembelajaran, nilai-nilai karakter yang sesuai ke dalam pembelajaran IPS di kelas tinggi SD, mengintegrasikan nilai-nilai ke dalam RPP, dan mendeskripsikan perilaku siswa. Informan adalah kepala sekolah dan guru baik guru kelas maupun guru mata pelajaran di SDN 8 Karangharjo Kecamatan Glenmore Kabupaten Banyuwangi. wawancara dilaksanakan dengan berpedoman pada panduan wawancara (lampiran)

3. Dokumentasi

(56)

Data dokumentasi ditunjukkan untuk memperlihatkan data langsung dari tempat penelitian, meliputi buku-buku yang relevan, peraturan-peraturan, laporan kegiatan, foto-foto, program audio visual lainnya dan data yang relevan dengan penelitian.

Dalam penelitian kualitatif terdapat sumber data yang berasal dari bukan manusia (nonhuman resource), yaitu berupa dokumen cetak dan elektronik serta dokumentasi foto-foto dan sebagainya. Data yang berupa dokumentasi akan bermanfaat untuk memberikan gambaran secara lebih valid terhadap permasalahan yang diteliti dan sebagai pendukung di dalam memahami informasi-informasi secara verbal dan non verbal dalam fenomena yang berhasil direkam oleh peneliti.

E. Subyek Penelitian

Subjek atau informan penelitian ini adalah kepala sekolah SDN 8 Karangharjo, guru kelas I s.d. guru kelas VI, dengan jumlah keseluruhan 6 orang serta siswa kelas IV yang berjumlah 20 siswa.

F. Tempat Penelitian

(57)

maka didapatkan sampel SDN 8 Karangharjo Kecamatan Glenmore Kabupaten Banyuwangi.

G. Pengecekan Keabsahan Data

Pengecekan keabsahan data dalam penelitian ini melalui beberapa teknik. Teknik ini dimaksudkan untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang relevan dengan persiapan dan isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal yang rinci.

1. Kredibilitas

Kriteria ini berarti bahwa data dan informasi yang dikumpulkan harus mengandung nilai kebenaran yang berarti bahwa hasil penelitian kualitatif harus dipercaya oleh pembaca yang kritis dan dapat diterima oleh orang-orang (responden) yang memberikan informasi yang dikumpulkan selama penelitian berlangsung.

a. Prolonged Engagement,

(58)

b. Persistent Observation,

Observasi yang dilakukan secara terus-menerus dalam jangka waktu tertentu dalam jangka waktu tertentu sehingga data yang diperoleh benar-benar apa adanya dan mendalam. Jadi observasi adalah suatu teknik yang digunakan untuk memahami suatu gejala yang lebih mendalam. Dengan teknik ini maka peneliti akan dapat menetapkan aspek-aspek mana yang penting dan tidak, dan kemudian memusatkan perhatian kepada aspek-aspek yang relevan dengan fokus penelitian.

c. Member Check,

(59)

2. Dependabilitas

Dependabilitas adalah kriteria untuk penelitian kualitatif apakah proses penelitian bermutu atau tidak. Cara untuk menetapkan bahwa penelitian dapat dipertanggungjawabkan proses penelitian yang benar ialah dengan audit dependabilitas guna mengkaji kegiatan yang dilakukan penelitian. Jadi standar ini untuk mengecek apakah hasil penelitian kualitatif bermutu atau tidak, antara lain dilihat apakah peneliti sudah hati-hati atau belum bahkan apakah membuat kesalahan dalam: (a) mengkonseptualisasikan apa yang diteliti, (b) mengumpulkan data, (c) menginterpretasikan data yang telah dikumpulkan dalam suatu laporan penelitian. Dalam pelaksanaan auditor adalah dosen pembimbing satu Prof. Dr. Made Pidarta dan pembimbing kedua Dr. H. Ketut Prasetya, MS, sedangkan untuk validasi perangkat pembelajaran validatornya adalah Dr. Waspodo Tjipto Subroto, M.Pd (Unesa) dan Prof. Dr. Bambang Hari Purnomo, MA (Universitas Jember)

3. Konfirmabilitas

(60)

pembimbing satu Prof. Dr. Made Pidarta dan pembimbing kedua Dr. H. Ketut Prasetya, MS.

4. Transferabilitas

Transferabilitas artinya bahwa penelitian yang dilakukan dalam konteks tertentu dapat diaplikasikan atau ditransfer pada konteks yang lain. Hasil penelitian dapat ditransfer atau tidak adalah merupakan pertanyaan empiris yang tidak dapat dijawab oleh peneliti kualitatif itu sendiri. Yang bisa menjawab dan menilaianya apakah penelitian dapat ditransfer ke dalam konteks lain atau tidak adalah para pembaca laporan penelitian, oleh karenanya pembaca/ calon pengguna hasil penelitian harus mencermati latar dan konteks hasil penelitian itu diterapkan. Jadi untuk memenuhi kriteria ini cara yang paling tepat dilakukan oleh peneliti adalah mendiskripsikan secara rinci dan komprehensif tentang latar/ konteks yang menjadi fokus penelitian.

H. Teknik Analisis Data

Sesuai dengan karakteristik data yang dikumpulkan, maka peneliti menggunakan pendekatan analisis kualitatif. Adapun langkah-langkah yang harus ditempuh dalam pendekatan analisis jenis penelitian.

(61)

penjelasan atau kriteria, (c) menyusun daftar kejadian yang dipergunakan untuk melihat kejadian-kejadian selama proses pengintegrasian pendidikan karakter ke dalam pembelajaran IPS di kelas tinggi sekolah dasar pada SDN 8 Karangharjo Kecamatan Glenmore Kabupaten Banyuwangi.

1. Reduksi Data

Reduksi atau fokus data dimulai dengan menerapkan, memilih hal-hal yang pokok (menyederhanakan), memfokuskan hal-hal yang penting terhadap isi dari suatu data yang berasal dari lapangan (mengabstrakkan), sehingga data yang telah direduksi dapat memberikan gambaran yang lebih fokus tentang hasil pengamatan. Dengan demikian dalam reduksi data ini ada proses living in dan living out, artinya data yang terpilih adalah living in, data yang tidak terpakai adalah living out. Jadi, dalam penelitian ini ditempuh empat langkah reduksi data, yaitu: (1) membuat ringkasan kontak, (2) mengembangkan kategori pengkodean, (3) membuat catatan refleksi, dan (4) pemilihan data.

2. DisplayData

(62)

3. Simpulan Dan Verifikasi

(63)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Perangkat Pembelajaran 1. Perangkat Silabus

a. Hasil Studi Awal

Menurut hasil dokumentasi menunjukkan tidak adanya perubahan antara silabus yang berkarakter dan tidak berkarakter, acuan pada SDN 8 Karangharjo adalah pada Permendiknas No 41 Tahun 2007. Hal tersebut seperti di utarakan pada wawancara dengan Moh. Badrut Tamam, S.PdI (27 Februari 2012), guru kelas IV bahwa:

Pada SDN 8 Karangharjo khususnya kelas IV ini silabus yang dibuat berdasarkan pada kurikulum KTSP 2006 tanpa menambahi atau mengurangi kata yang ada pada kurikulum tersebut, dengan kata lain guru kelas hanya membuat silabus sama persis dengan yang ada pada buku BSNP.

Hal yang sama juga dapat diterima dari hasil wawancara dengan guru kelas VI, Siswiyanto, S.Pd (27 Februari 2012) yang menjelaskan bahwa pembuatan silabus harus di kerjakan bersama-sama guru kelas, misalnya antar sekolah atau antar gugus.

Pembuatan perangkat pembelajaran silabus masih bersifat perseorangan karena tidak adanya koordinasi baik sesama guru, antar guru kelas baik dalam lingkup sekolah atau antar sekolah, sekolah atau gugus menurut saya perlu mengaktifkan lagi kelompok kerja guru (KKG) antar kelas atau antar bidang studi

(64)

untuk penyusunan perangkat pembelajaran silabus ini untuk mencapai perangkat pembelajaran silabus yang berkualitas.

Menurut hasil observasi, dari beberapa guru kelas dan guru mata pelajaran selama studi awal didapatkan permasalahan-permasalahan, diantaranya: pelaksanaan pembuatan silabus masih bersifat perseorangan, dan silabusnya tidak dikreasikan sendiri sesuai dengan karakteristik dari peserta didik, serta tidak berbasis pendidikan karakter.

Hasil kesimpulan pada studi awal dalam pembuatan silabus masih bersifat perseorangan, dan silabusnya tidak dikreasikan sendiri sesuai dengan karakteristik dari siswa, serta tidak berbasis pendidikan karakter.

b. Hasil Pengembangan

Peneliti berkoordinasi dengan guru kelas beserta kepala sekolah untuk mengembangkan perangkat pembelajaran silabus ini dengan beberapa buku acuan, misalnya kurikulum KTSP 2006, BSNP, pedoman pendidikan karakter, dan lain sebagainya.

(65)

Rapat dinas yang dilakukan kepala sekolah dengan beberapa guru terkait mengenai perangkat pembelajaran dalam hal ini silabus cukup berjalan efektif, karena dengan adanya rapat dinas tersebut guru secara pro aktif mengerjakan silabus dengan pedoman-pedoman dari kurikulum, pedoman-pedoman pendidikan karakter, dan lain-lain dengan berkoordinasi dengan guru dalam sekolah atau antar sekolah, kepala sekolah, dan orang yang berkompeten guna memperoleh perangkat silabus yang layak, berkualitas, dan tentunya sesuai dengan kurikulum terbaru.

Sebagai informasi dari hasil observasi yang dilakukan mendapatkan gambaran bahwa, guru kelas melaksanakan tugas dalam pembuatan silabus yang dikerjakan pada sela-sela istirahat dan jam-jam kosong dengan berkoordinasi dengan guru kelas yang lain, dengan kepala sekolah dan terkadang berdiskusi dengan pengawas TK/SD yang kebetulan sedang melakukan supervisi sekolah.

Hasil kesimpulan yaitu pembuatan silabus di konsultasikan dengan beberapa guru kelas yang lain, disesuaikan dengan karakteristik siswa, serta silabusnya sudah diintegrasikan nilai-nilai karakter dalam pembelajaran IPS di kelas IV SDN 8 Karangharjo Kecamatan Glenmore Kabupaten Banyuwangi.

2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran a. Hasil Studi Awal

(66)

Pembuatan RPP khususnya kelas IV masih menggunakan RPP KTSP 2006, untuk RPP yang mengintegrasikan pendidikan karakter masih dalam proses dan sementara ini nilai-nilai karakter masih disisipkan secara lisan saja, jadi bisa dikatakan secara bukti fisik belum dan aplikasinya sudah meskipun alat ukur yang diguanakan tidak ada.

Hal yang sama juga diterima dari hasil wawancara dengan guru kelas Pendidikan Agama Islam (PAI), Akhmad Holili, S.PdI (27 Februari 2012) yang menjelaskan bahwa RPP khususnya mata pelajaran Pendidikan Agama Islam tidak diberikan nilai-nilai karakter di dalamnya dikarenakan kurangnya pemahaman tentang nilai-nilai karakter itu sendiri.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) khususnya mata pelajaran PAI kurang memberikan nilai-nilai karakter di dalamnya, terkadang nilai karakter yang diberikan kepada siswa tidak sesuai dengan indikator pencapaian kompetensi, ini dikarenakan kurang pemahaman tentang cara mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam RPP, saya pribadi mengusulkan agar kepala sekolah mengajukan kepada UPTD Pendidikan atau bahkan ke Dinas Pendidikan supaya memberikan seorang ahli yang berkompeten untuk memberikan sosialisasi tentang pendidikan karakter dan bagaimana cara mengintegrasikannya.

(67)

mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam mata pelajaran atau ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

Hasil kesimpulan pada studi awal dalam pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran masih bersifat perseorangan, dan RPP nya tidak dikreasikan sendiri sesuai dengan karakteristik dari siswa, serta tidak berbasis pendidikan karakter.

b. Hasil Pengembangan

Penilaian terhadap RPP oleh dua orang validator berupa revisi dan saran untuk perbaikan RPP dan atas koreksi dan saran validator tersebut telah dilakukan perbaikan sebelum diterapkan di lapangan. Adapun hasil penilaian dua orang validator terhadap kelayakan RPP disajikan pada tabel 4.1 berikut.

Tabel 4.1

Hasil Penilaian Kelayakan RPP

No Aspek yang Dinilai

Rata-rata Skor Penilaian

Rata-rata Kriteria Validator 1 Validator 2

1 Isi 4.75 3.00 3.88 Baik

2 Bahasa 5.00 3.50 3.75 Baik

(68)

disimpulkan bahwa RPP yang telah dikembangkan layak digunakan dengan sedikit revisi. Data lengkap dapat dilihat pada Lampiran.

Setelah diadakannya pengembangan terhadap perangkat RPP dan telah juga di validasi oleh para ahli, selanjutnya peneliti mensosialisasikannya kepada kepala sekolah dan guru kelas yang ada di SDN 8 Karangharjo Kecamatan Glenmore Kabupaten Banyuwangi. Para Bapak dan Ibu guru sungguh antusias dalam sosialisasi ini. Hal ini terungkap melalui wawancara dengan guru kelas I Vivi Wijayanti, (09 April 2012) sebagai berikut:

Sosialisasi tentang rencana pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan peneliti sangatlah berguna dan bermanfaat bagi saya khususnya dan bagi para guru pada umumnya, terlebih sosialisasi ini menyangkut perangkat pembelajaran yang terbaru yang berbasis pendidikan karakter dan sangat beruntung sekali bagi saya dan SDN 8 Karangharjo ini karena sosialisasi dari UPTD Pendidikan atau Dinas Pendidikan jarang sekali dilaksanakan.

Gambar

Tabel 2.1 Nilai dan Deskripsi Nilai Pendidikan Karakter Bangsa
Gambar 2.2 Pengembangan Nilai-Nilai Budaya dan Karakter Bangsa Melalui
Tabel 2.2 Pertimbangan Pencapaian Indikator
Gambar 3.1. Desain Penelitian Menguji Coba Konsep
+6

Referensi

Dokumen terkait

Gejala perilaku tidak bermoral di tunjukkan oleh generasi muda kita khususnya para pelajar yaitu “mencontek” pada saat ulangan, tawuran antar pelajar, siswa yang kurang semangat dalam

membuat 5 paragraf, (7) terlihat siswa bersemangat pada saat menulis berita, (8) mengecek kembali tulisan yang sudah siap dikumpulkan, (9) siswa membacakan hasil

Banyak siswa yang tidak terpengaruh dalam pergaulan bebas sehingga terlihat dari segi perilaku yang nampak baik, bisa jadi dikerenakan oleh proses layanan

Gejala perilaku tidak bermoral di tunjukkan oleh generasi muda kita khususnya para pelajar yaitu “mencontek” pada saat ulangan, tawuran antar pelajar, siswa yang kurang semangat dalam

Gejala perilaku tidak bermoral di tunjukkan oleh generasi muda kita khususnya para pelajar yaitu “mencontek” pada saat ulangan, tawuran antar pelajar, siswa yang kurang semangat dalam

Hasil angket dari ahli media diperoleh bahwa validator A pada menilai dari aspek penilaian tampilan dan program bahan ajarmenarik dan membuat siswa mudah memahami materi, dan

Dampak pengiring yang dihasilkan dari penanaman nilai-nilai karakter pada pembelajaran tematik kerjasama nampak pada perilaku yang dihasilkan melalui wawancara

Untuk menangkal perubahan kebudayaan dan perilaku para peserta didik pada saat pandemi covid 19 penguatan kemampuan siswa dalam melakukan pendidikan yang bernuansa pada nilai-nilai