L A B O R A T O R I U M
P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
LEMBAGA KETAHANAN
NASIONAL RI
Labkurtannas Lemhannas RI
Gedung Astagatra Lt. 8
Jl. Medan Merdeka Selatan No. 10
i
SAMBUTAN
GUBERNUR
LEMBAGA KETAHANAN NASIONAL RI
Kita perlu memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan
Yang Maha Esa atas segala karunia yang dianugerahkan
kepada kita semua. Saya memberikan apresiasi atas
diterbitkannya Buku Pedoman tentang Sistem Pengukuran
Ketahanan Nasional dan Simulasi Kebijakan Publik edisi tahun
2015, yang merupakan updating
dari buku Pedoman edisi
sebelumnya.
Buku Pedoman ini adalah manual yang digunakan oleh
Lemhannas Republik Indonesia dalam mengukur Ketahanan
Nasional dan Ketahanan Nasional di daerah. Buku ini juga
akan digunakan sebagai manual dalam praktikum bagi peserta
Program Pendidikan Reguler Angkatan dan Program
Pendidikan Singkat Angkatan tahun 2016 dalam melakukan
pengukuran ketahanan nasional, ketahanan nasional di daerah,
simulasi dan evaluasi kebijakan publik.
nasional, bermanfaat bagi pengkajian strategis (dalam
melakukan identifikasi awal tentang
permasalahan-permasalahan ketahanan nasional dan ketahanan nasional di
daerah), dan dapat digunakan sebagai pedoman untuk
menentukan
locus
sasaran dan materi sosialisasi dalam
pemantapan nilai-nilai kebangsaan.
Kepada Tim Penyusun buku dan semua pihak yang
telah membantu penerbitan buku ini, saya mengucapkan
terimakasih.
Demikian sambutan saya, semoga buku ini bermanfaat.
Wassalamu ’alaikum Wr. Wb.
Jakarta, Desember 2015
Gubernur Lemhannas RI
PENGANTAR
KETUA LABORATORIUM
PENGUKURAN KETAHANAN NASIONAL
Kami sangat bersyukur ke hadirat Allah SWT, karena
hanya atas karunia-Nya lah Laboratorium Pengukuran
Ketahanan Nasional, Lembaga Ketahanan Nasional Republik
Indonesia dapat menyelesaikan Buku Pedoman tentang Sistem
Pengukuran Ketahanan Nasional dan Simulasi Kebijakan
Publik edisi tahun 2015 dengan baik. Buku ini adalah
ringkasan dari Buku tentang Sistem Utama Pengukuran
Ketahanan Nasional dan Simulasi Kebijakan Publik Edisi
Tahun 2015
. Buku Pedoman ini terutama akan digunakan
sebagai pedoman pengukuran ketahanan nasional dan simulasi
kebijakan publik bagi Program Pendidikan Reguler Angkatan
dan Program Pendidikan Singkat Angkatan pada tahun 2016.
Secara prinsip buku ini tidak jauh berbeda dengan buku
pedoman edisi sebelumnya. Perbedaannya adalah terdapat
beberapa indikator baru dalam model pengukuran, perubahan
nama indikator yang disesuaikan dengan terminologi yang
digunakan oleh sumber data dan
Sistem Pengukuran
Ketahanan Nasional (Siskurtannas) berbasis GIS
(Geographical Information System)
.
Ada empat bagian yang dibahas dalam buku pedoman
ini, yaitu:
1.
Sistem Ketahanan Nasional baik dalam perspektif
2.
Sistem Pengukuran Ketahanan Nasional yang meliputi;
model pengukuran, variabel, indikator, parameter dan
instrumen.
3.
Sistem Pengukuran Ketahanan Nasional berbasis GIS
.
4.
Model Simulasi Kebijakan Publik dengan menggunakan
sistem dinamik serta penentuan isu strategis.
Dinamika lingkungan strategis yang sangat cepat
membawa keharusan bagi Lembaga Ketahanan Nasional
Republik Indonesia untuk selalu melakukan updating, paling
tidak setiap tahun. Updating tidak hanya dilakukan terhadap
data tetapi juga pada sistem pengukuran dan simulasi kebijakan
yang digunakan.
Kami menyadari bahwa sistem ini masih dapat
dikembangkan lebih jauh. Oleh karena itu masukan-masukan
yang konstruktif dari pembaca dalam rangka penyempurnaan
buku ini sangat kami harapkan.
Semoga Allah SWT selalu melindungi kita semua.
Jakarta, Desember 2015
KETUA LABKURTANNAS
LEMHANNAS RI
v
Daftar Isi
Sambutan Gubernur Lemhannas RI ...
i
Pengantar Koordinator Labkurtannas ... iii
Daftar Isi ...
v
Daftar Tabel ... vii
Daftar Gambar ... viii
Daftar Lampiran ... ix
Bab 1 Pendahuluan ...
1
1.1 Deskripsi Umum Ketahanan Nasional ...
1
1.2 Pentingnya Pengukuran Ketahanan Nasional ....
3
1.3 Hubungan Ketahanan Nasional dengan
Pembangunan Nasional ...
5
Bab 2 Sistem Ketahanan Nasional ...
7
2.1 Ketahanan Nasional dalam Perspektif
Konseptual ...
7
2.1.1 Dimensi Gatra ...
9
2.1.1.1 Gatra Alamiah ...
9
2.1.1.2 Gatra Sosial ... 10
2.1.2 Dimensi Spasial (Wilayah) ... 10
2.1.3 Dimensi Waktu ... 11
2.2 Ketahanan Nasional dalam Perspektif
Operasional ... 12
2.2.1 Peran Setiap Gatra dalam Trigatra ... 13
2.2.2 Peran Setiap Gatra dalam Pancagatra ... 15
2.2.3 Pancagatra sebagai Prime Mover Sistem
Nasional ... 17
Bab 3 Pengukuran Ketahanan Nasional ... 19
3.1.1 Aspek, Variabel dan Indikator Trigatra ... 21
3.1.2 Aspek, Variabel dan Indikator
Pancagatra ... 23
3.2 Kaidah Pengembangan Instrumen Pengukuran . 24
3.3 Pengukuran Ketahanan Nasional ... 25
3.4 Siskurtannas berbasis GIS ... 35
Bab 4 Keterkaitan Antar Indikator ... 39
4.1 Deskripsi Umum Ketahanan Nasional ... 39
4.2 Hubungan Kausalitas ... 41
4.3 Model Simulasi Kebijakan (Pendekatan Sistem
Dinamik) ... 43
Bab 5 Isu Strategis ... 51
Bab 6 Penutup ... 53
vii
Daftar Tabel
Tabel 3.1
Banyaknya Aspek, Variabel, Indikator,
dan Instrumen Trigatra ... 22
Tabel 3.1.2
Banyaknya Aspek, Variabel, Indikator,
dan Instrumen Pancagatra ... 23
Tabel 3.3
Gatra G (Geografi, Demografi, SKA,
Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosbud,
Hankam) ... 28
Daftar Gambar
Gambar 2.1.1 Skema Hubungan Antar Gatra dalam
Ketahanan Nasional ...
8
Gambar 3.1.1 Model Pengukuran Ketahanan Nasional ... 21
Gambar 3.4.1 Hasil Pengukuran Indeks Ketahanan
Nasional berbasis GIS ... 36
ix
Daftar Lampiran
Lampiran I
Matriks Indikator Gatra Geografi ... 57
Lampiran II
Matriks Indikator Gatra Demografi ... 68
Lampiran III
Matriks Indikator Gatra Sumber Kekayaan
Alam ... 73
Lampiran IV
Matriks Indikator Gatra Ideologi ... 87
Lampiran V
Matriks Indikator Gatra Politik ... 99
Lampiran VI
Matriks Indikator Gatra Ekonomi ... 109
Lampiran VII Matriks Indikator Gatra Sosial Budaya ... 122
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
Pendahuluan
1.1 Deskripsi Umum Ketahanan
Nasional
etahanan nasional dapat didekati melalui dua
pendekatan, yakni pendekatan enjiniring dan
pendekatan sosial (Muladi, 2007). Pendekatan
enjiniring melihat ketahanan sebagai suatu kemampuan untuk
cepat kembali ke bentuk dan posisi semula pada saat terjadi
tekanan,
benturan atau
pembengkokan.
Pendekatan
sosial
Bab
1
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
2
memandang ketahanan nasional sebagai kemampuan merespon,
beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungan.
Ketahanan nasional adalah kondisi dinamik suatu
bangsa yang meliputi segenap aspek kehidupan nasional yang
terintegrasi, berisi keuletan dan ketangguhan yang
mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan
nasional, dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan,
ancaman, hambatan dan gangguan baik yang datang dari
luar maupun dari dalam, untuk menjamin identitas,
integritas, kelangsungan hidup Bangsa dan Negara serta
perjuangan mencapai tujuan nasional.
Ketahanan nasional
meliputi segenap aspek kehidupan yang secara sederhana dapat
digolongkan menjadi delapan gatra yang meliputi geografi,
demografi dan sumber kekayaan alam sebagai gatra alamiah
(natural determinants) serta ideologi,politik,ekonomi,sosial
budaya, serta pertahanan dan keamanan sebagai gatra sosial
(social determinants).
Masing-masing komponen dalam system nasional
menggambarkan keseluruhan sistem yang saling berintegrasi dan
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
ketahanan dan interaksi masing-masing komponen secara terus
menerus/berkala, akan dapat diketahui dinamika kondisi dan
interaksi dari masing-masing komponen baik secara substansi
maupun spasial dari waktu ke waktu.
Pengukuran ketahanan nasional melibatkan 3 dimensi,
yaitu (a) dimensi substansi/gatra, (b) dimensi wilayah/spasial, dan
(c) dimensi waktu.
1.2 Pentingnya Pengukuran
Ketahanan Nasional
Pengukuran ketahanan nasional, baik
dimensi substansi, spasial maupun waktu
sangat diperlukan. dan regionalisasi serta
dinamika lingkungan strategis yang sangat cepat
tentu sangat berpengaruh pada ketahanan nasional. Kondisi ini
menuntut kita untuk selalu melakukan evaluasi dan monitoring
terhadap ketahanan nasional kita, agar kita tidak terlambat dalam
menyikapi dampak dari dinamika lingkungan tersebut.Ketahanan
Nasional. Oleh karena itu, kita perlu selalu melakukan
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
4
pemantauan secara terus menerus terhadap ketahanan nasional
kita dalam rangka memberikan sistem peringatan dini (early
warning system) dan basis data bagi pengambilan keputusan baik
bagi pemerintah, maupun pemerintah daerah.
Lemhannas RI mempunyai empat fungsi utama, yaitu (a)
mendidik kader dan pimpinan nasional, (b) memberikan masukan
kepada Presiden melalui kajian yang bersifat konseptual dan
strategis, (c) memantapkan nilai-nilai kebangsaan, dan (d)
melakukan kerja sama. Dalam rangka melaksanakan fungsi
tersebut, Lemhannas RI berkewajiban untuk selalu melakukan
evaluasi dan monitoring tentang ketahanan nasional.
Upaya untuk selalu mampu memenuhi tugas pokok fungsi
tersebut memang sudah dilakukan oleh Lemhannas RI. Namun,
dalam rangka meningkatkan kapasitas dan kualitas pelaksanaan
tugas dan pokok fungsi, maka sejak tahun 2007 telah di bangun
Laboratorium Pengukuran Ketahanan Nasional (Labkurtannas).
Pembangunan sarana dan prasarana baik yang berbentuk
perangkat keras (hardware),
maupun perangkat lunak (software)
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
juga mulai dilakukan dalam upaya untuk mengakselerasi
peningkatan kapasitas dankualitas Labkurtannas tersebut.
1.3
Hubungan Ketahanan Nasional
dengan Pembangunan Nasional
Pembangunan nasional merupakan
proses berlanjut dengan berbagai tantangan,
ancaman, hambatan dan gangguan.
Keberhasilan pembangunan nasional yang
berhasil akan meningkatkan kondisi ketahanan nasional.
Demikian juga ketahanan nasional yang sangat tangguh
akan memberikan landasan yang kuat bagi pelaksanaan
pembangunan nasional.
Kebijakan dan strategi pembangunan
harus berbasis
pada perkiraan tentang perkembangan kondisi geografi,
demografi, sumber kekayaan alam, ideologi, politik, ekonomi,
sosial budaya, pertahanan dan keamanan di masa yang akan
datang serta dinamika lingkungan strategis baik pada tingkat
regional maupun global
. Keberhasilan memprediksi kondisi
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
6
masa yang akan datang, menjadi kunci bagi perumusan arah
kebijakan dan strategi pembangunan nasional.
Antara ketahanan nasional dan pembangunan nasional
saling terkait.
Keberhasilan pembangunan nasional akan
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
D
Sistem Ketahanan
Nasional
2.1 Ketahanan Nasional dalam
Perspektif Konseptual
ilihat dari perspektif konseptual, pengukuran
ketahanan nasional berbasis pada ketahanan
masing-masing komponen dalam sistem nasional yang terdiri
atas 3 dimensi, yaitu dimensi substansi/gatra, dimensi wilayah
serta dimensi waktu. Ilustrasi secara skematik mengenai posisi
ketiga dimensi dalam sistem nasional dan interaksinya dapat
dilihat pada Gambar 2.1.
Bab
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
Masing-masing komponen dalam sistem
nasional menggambarkan keseluruhan sistem
yang saling berintegrasi dan saling berinteraksi
satu sama lain. Dengan mengamati kondisi
ketahanan dan interaksi masing-masing komponen secara terus
menerus/berkala, akan dapat diketahui dinamika kondisi dan
interaksi dari masing-masing komponen baik secara substansi
maupun spasial dari waktu ke waktu.
Gambar 2.1.1
Skema Hubungan antar Gatra dalam Ketahanan Nasional
berdasarkan dimensi gatra, wilayah dan waktu
Periode n-1
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
2 .1 .1 Dim e nsi Ga t ra
Gatra dalam sistem ketahanan nasional dikelompokkan
menjadi dua bagian, yaitu gatra alamiah, terdiri dari tiga gatra
(trigatra) dan gatra sosial, terdiri dari lima gatra (pancagatra).
Berikut ini uraian selengkapnya mengenai trigatra dan pancagatra.
Gatra alamiah
meliputi gatra geografi,
demografi dan sumber kekayaan alam,
atau disebut trigatra, yang masing-masing memiliki ciri spesifik.
Batas-batas di antara ketiganya sangat jelas sehingga dapat dilihat
sebagai sebuah entitas tersendiri yang memiliki tingkat
independensi atau soliditas internal yang cukup tinggi. Dampak
dari interaksi danatau interkoneksi di antara ketiganya, relatif
lambat.
Nilai kontribusi gatra alamiah terhadap ketahanan nasional
sangat ditentukan oleh seberapa besar porsi dari eksistensi gatra
alamiah yang dapat dikelola dan atau didayagunakan oleh
masing-masing gatra dalam pancagatra. Dalam konteks sistem nasional,
gatra alamiah cenderung merupakan input yang harus diproses
lebih lanjut oleh gatra sosial. Tinggi rendahnya ketahanan nasional
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
sangat bergantung pada kemampuan bangsa dan negara dalam
mendayagunakan secara optimal gatra alamiah sebagai modal
dasar untuk penciptaan kondisi dinamis yang merupakan kekuatan
dalam penyelenggaraan kehidupan nasional.
Gatra Sosial atau Pancagatra
memiliki
sifat aktif dan sangat dinamis. Pancagatra
yang terdiri dari ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya serta
pertahanan dan keamanan merupakan wujud nyata dari perilaku
hidup berbangsa dan bernegara untuk mempertahankan
kelangsungan hidup dan meningkatkan kualitas hidup.
Dampak yang ditimbulkan oleh interaksi dan atau
interkoneksi antar gatra dalam gatra sosial berproses secara
langsung dan relatif cepat.
2 .1 .2 Dim e nsi Spa sia l (Wila ya h)
Dimensi spasial lebih
menitikberatkan pada fungsi
wilayah dalam
berbagai
operasionalisasi trigatra dan
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
pancagatra dalam kehidupan nyata bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara, berdasarkan hirarki ketatanegaraan.
Berdasarkan
dimensi ini ketahanan nasional adalah
agregasi dari ketahanan masing-masing wilayah di daerah
dan wilayah nasional
. Dimensi wilayah, tidak lepas kaitannya
dengan masalah integrasi antar wilayah dengan berbagai
implikasinya. Secara kongkrit yang disebut wilayah nasional
adalah
agregasi dari seluruh wilayah, baik yang
pengelompokkannya berdasarkan wilayah administratif,
kompartemen strategis, maupun pulau-pulau besar.
2 .1 .3 Dim e nsi Wa k t u
Pada dasarnya ketahanan nasional merupakan resultante
dan agregasi dari ketahanan masing-masing gatra pada berbagai
dimensi spasial yang dapat berubah sesuai dengan perubahan
waktu. Untuk itulah pengukuran ketahanan nasional harus
dilakukan secara periodik untuk mengetahui kecenderungan
dinamika ketahanan nasional dari waktu ke waktu. Dengan
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
akan dapat dilihat apakah ketahanan nasional baik pada
masing-masing indikator, variabel, gatra, daerah maupun secara agregat
semakin meningkat, tetap atau semakin menurun.
2.2 Ketahanan Nasional dalam
Perspektif Operasional
Sesuai fungsinya, ketahanan nasional
adalah gambaran menyeluruh dan terintegrasi
dari komponen-komponen sistem nasional yang
digerakkan untuk mencapai tujuan nasional.
Dalam perspektif operasional, pancagatra berperan aktif dan
dinamis mendayagunakan trigatra menuju pada pencapaian tujuan
nasional. Gatra ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya serta
pertahanan dan keamanan saling berkoneksi dan berinteraksi satu
sama lain, membentuk sebuah sinergi dalam sistem nasional.
Pengaruh lingkungan regional dan global sebagai suprasistem
selalu diperhitungkan secara cermat dalam pengukuran ketahanan
nasional.
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
2 .2 .1 Pe ra n Se t ia p Ga t ra da la m T riga t ra
Dalam sistem nasional, trigatra
cenderung merupakan input alamiah yang
diproses lebih lanjut oleh gatra sosial atau
pancagatra.
Ketahanan trigatra sangat
bergantung kepada bagaimana pancagatra mengelola trigatra
tersebut dalam rangka mencapai tujuan nasional. Peran setiap gatra
alamiah dalam sistem ketahanan nasional dapat dijelaskan sebagai
berikut.
Geografi
Peranan gatra geografi diwujudkan melalui seberapa besar
porsi dari eksistensi gatra geografi yang dapat dikelola dan
didayagunakan oleh masing-masing gatra dalam pancagatra.
Geografi suatu negara adalah segala sesuatu yang ada di
permukaan bumi sebagai hasil proses alam dan hasil budidaya
manusia, yang memberikan gambaran tentang karakteristik
wilayah negara. Geografi sebagai wilayah negara menjelaskan
letak dan perbatasan serta karakteristik wilayah yang meliputi
wilayah darat, laut, udara, atmosfir dan ruang angkasa. Geografi
menampakkan corak, wujud, isi dan tata susunan wilayah negara.
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
Demografi
Demografi meliputi aspek kuantitas, kualitas dan mobilitas
penduduk. Kuantitas penduduk berkaitan dengan pertumbuhan
penduduk, tingkat kelahiran, dan tingkat kematian. Kualitas
penduduk terkait dengan kesehatan, gizi, kebugaran, mental dan
intelektualitas. Mobilitas penduduk berkaitan dengan masalah
transmigrasi, urbanisasi, dan migrasi musiman.
Sumber Kekayaan Alam
Kekayaan alam harus dimanfaatkan oleh manusia secara
optimal dan lestari. Untuk memanfaatkan dan mengelola sumber
kekayaan alam diperlukan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam
sistem nasional, sumber kekayaan alam dipandang sebagai tiga
hal, yaitu 1) sebagai sumber konsumsi, 2) sebagai sumber devisa,
dan 3) sebagai penyeimbang stabilitas lingkungan. Oleh karena itu,
pemanfaatan sumber kekayaan alam harus mampu meningkatkan
kesejahteraan masyarakat secara adil dan merata serta mampu
meningkatkan kulitas lingkungan dalam rangka meningkatkan
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
2 .2 .2 Pe ra n Se t ia p Ga t ra da la m Pa nc a ga t ra
Pancagatra yang terdiri atas gatra
ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta
pertahanan dan keamanan merupakan prime
mover sistem nasional dalam mendayagunakan
gatra alamiah untuk mencapai tujuan nasional. Berikut ini
dijelaskan peranan setiap gatra dari pancagatra dalam sistem
pengukuran ketahanan nasional.
Ideologi
Ideologi adalah suatu pandangan hidup atau sistem nilai
secara menyeluruh dan mendalam yang dimiliki dan dipegang
suatu bangsa. Dengan demikian, ideologi merupakan landasan
konseptual dalam rangka memberikan arah dan etika kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Politik
Sistem politik berfungsi: (1) menampung aspirasi rakyat,
(2) membuat kebijakan publik untuk memenuhi aspirasi rakyat, (3)
mencukupi kebutuhan rakyat dan atau membangun motivasi dan
ruang yang cukup bagi rakyat untuk berkembang dan berinovasi
dalam memenuhi kebutuhannya, (4) membangun iklim politik
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
yang menjamin kepastian hukum dan mampu meredam gejolak
pada saat intensitas konflik meningkat di atas ambang batasnya,
serta (5) membangun kesiapan bangsa dalam menghadapi kancah
pergaulan dan kompetisi antar bangsa.
Ekonomi
Pembangunan ekonomi diarahkan untuk memenuhi
kebutuhan hidup rakyat, bangsa dan negara serta meningkatkan
kapasitas dan kualitas sumber daya nasional yang memadai dalam
rangka mencapai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.
Ekonomi juga digerakkan untuk menciptakan kesejahteraan lahir
batin dalam sebuah kerangka keadilan, kemajuan dan kemandirian
bangsa.
Sosial Budaya
Sosial Budaya dikembangkan dan dikelola untuk: (1)
membangun masyarakat madani, (2) menciptakan dan memelihara
kehidupan sosial yang adil, tertib, aman, nyaman, harmoni dan
dinamik, (3) menyelaraskan dan memperkuat nilai-nilai lokal dan
nilai-nilai tradisi yang lebih konstruktif, lebih produktif, dan makin
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
serta (4) memajukan peradaban bangsa di antara peradaban
bangsa-bangsa di dunia.
Pertahanan dan Keamanan
Pertahanan dan Keamanan dikembangkan, dibina dan
didayagunakan untuk melindungi rakyat, bangsa dan negara dari
berbagai ancaman fisik maupun non-fisik, baik yang datang dari
dalam maupun dari luar negeri, baik yang bersifat langsung
maupun tidak langsung. Pertahanan dan keamanan juga
dikembangkan dalam rangka membangun bangsa yang
bermartabat dan disegani dalam percaturan hubungan antar bangsa
melalui penciptaan kapasitas, kapabilitas dan kredibilitas sistem
pertahanan beserta sistem pengawakan (termasuk kesiapan rakyat)
dan kesenjataannya (termasuk kesiapan infrastruktur nasional).
2 .2 .3 Pa nc a ga t ra se ba ga i
Prim e M ove r Sist e m
N a siona l
Setiap gatra terutama pancagatra saling
berkoneksi dan berinteraksi satu sama lain
mengikuti tatanan struktural dan fungsional dalam
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
sistem nasional, serta menjadi motor penggerak ketahanan
nasional secara sistematik, konsisten, dan berkesinambungan.
Pancagatra berfungsi sebagai motor penggerak dalam proses
transformasi pendayagunaan modal dasar nasional menjadi
keluaran nasional dalam rangka mencapai tujuan nasional.
Sebagai transformator, setiap gatra dari pancagatra
memproses berbagai masukan yang diterima dalam sistem
nasional sesuai dengan peran dan fungsinya masing–masing.
Setiap gatra melakukan proses bersama sesuai dengan jenis dan
intensitas interaksi yang terbangun secara fungsional. Meskipun
nilai masing-masing gatra secara individual sangat penting, namun
proses interaksi yang terintegrasi antar gatra akan memberikan
Pengukuran
Ketahanan Nasional
3.1 Model Pengukuran Ketahanan
Nasional
alam mengukur ketahanan nasional, setiap gatra
diuraikan menjadi beberapa aspek, aspek diuraikan
menjadi beberapa variabel, dan variabel diuraikan lagi
menjadi beberapa indikator. Secara umum setiap variabel diukur
dengan melihat dua unsur penting, yaitu (a) unsur
indikator-indikator yang mencerminkan kebijakan
dan (b) unsur
indikator-
indikator yang mencerminkan kinerja
.
Setiap indikator diberi bobot sesuai dengan besarnya
kontribusi relatif indikator terhadap variabel terkait. Setiap
Bab
3
variabel diberi bobot sesuai dengan besarnya kontribusi relatif
variabel terhadap ketahanan gatra. Demikian juga setiap gatra
juga diberi bobot sesuai dengan besarnya kontribusi relatif gatra
terhadap ketahanan nasional secara agregat.
Ada dua metode yang digunakan untuk menentukan bobot,
baik bobot indikator, bobot variabel maupun bobot gatra, yaitu
pertama
expert judgment
(penilaian pakar) dan kedua, metode
pengurutan tingkat kepentingan
. Metode
expert judgment
menggunakan pendapat pakar dalam menentukan bobot.
Sedangkan metode pengurutan tingkat kepentingan yang
digunakan untuk menentukan bobot indikator, bobot variabel dan
bobot gatra adalah dengan cara mengurutkan; tingkat
kepentingan setiap indikator dalam variabel, setiap variabel
dalam gatra dan setiap gatra dalam ketahanan nasional secara
agregat.
Basis yang digunakan dalam pengukuran ketahanan
nasional ini adalah indikator. Setiap indikator diberi peringkat
(skor), yaitu:
(1) Rawan, (2) Kurang Tangguh, (3) Cukup
didasarkan melalui
benchmark, norma dan data historis. Ilustrasi
secara skematis pengukuran ketahanan nasional digambarkan pada
[image:33.420.32.405.162.421.2]Gambar 3.1 di bawah ini.
Gambar 3.1.1
Model Pengukuran Ketahanan Nasional
3 .1 .1 Aspe k , V a ria be l da n I ndik a t or T riga t ra
Banyaknya aspek, variabel dan indikator masing-masing
lainnya. Perbedaan tersebut disebabkan oleh karena adanya
perbedaan substansi masing-masing gatra. Banyaknya aspek,
variabel dan indikator dari setiap gatra pada trigatra dapat dilihat
[image:34.420.67.384.201.351.2]pada Tabel 3.1 berikut ini.
Tabel 3.1
Banyaknya Aspek, Variabel, Indikator, dan Instrumen Trigatra
Matriks indikator yang menggambarkan bobot dan nilai
masing-masing aspek, variabel, bobot variabel, indikator, bobot
indikator dan parameter dalam trigatra, yaitu gatra geografi,
demografi dan sumber kekayaan alam dapat dilihat pada Lampiran
I, II, dan III.
No
Trigatra
Aspek
Variabel
Indikator
Instrumen
1
Geografi
7
8
52
187
2
Demografi
3
7
47
142
3
Sumber
Kekayaan
Alam
3
8
146
379
3 .1 .2 Aspe k , V a ria be l da n I ndik a t or Pa nc a ga t ra
Seperti halnya trigatra, maka banyaknya
aspek, variabel dan indikator masing-masing
gatra di dalam pancagatra juga berbeda antara
satu gatra dengan gatra lain, tergantung pada
perbedaan substansinya masing-masing. Rincian aspek, variabel,
indikator dan instrumen dapat dilihat pada Tabel 3.1.2.
Tabel 3.1.2
Banyaknya Aspek, Variabel, Indikator dan Instrumen Pancagatra
No
Pancagatra
Aspek
Variabel
Indikator
Instrumen
1
Ideologi
5
14
99
353
2
Politik
6
18
108
311
3
Ekonomi
5
20
127
412
4
Sosial Budaya
4
12
132
331
5
Pertahanan
dan Keamanan
4
20
110
379
Jumlah
24
84
576
1786
[image:35.420.72.383.270.455.2]Matriks indikator yang menggambarkan aspek, variabel,
bobot dan parameter dapat dilihat pada Lampiran IV, V, VI, VII
dan VIII.
3.2
Kaidah Pengembangan
Instrumen Pengukuran
Agar indikator-indikator pada trigatra
dan pancagatra dapat diukur secara
operasional diperlukan instrumen
pengukuran. Pengukuran dilakukan pada data
kuantitatif dan data kualitatif yang dikuantitatifkan. Data yang
digunakan adalah data sekunder dan data primer. Data primer
yang dimaksud meliputi data yang diperoleh melalui
pengamatan/ observasi secara langsung, melalui wawancara
mendalam (depth-interview
atau
grounded research),
sedangkan data sekunder didapatkan dari berbagai Institusi
diantaranya Kementerian terkait, Badan Pusat Statistik, TNI,
Polri, Bappenas, Bank Indonesia, Pemerintah Provinsi, DPR,
DPRD Provinsi, dan BMKG.
3.3 Pengukuran Ketahanan Nasional
Ketahanan nasional pada dasarnya
adalah ketahanan dari setiap aspek kehidupan
bangsa dan negara dalam menghadapi
tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan
dalam mencapai tujuan nasional. Dengan demikian pencapaian
tujuan nasional menjadi kunci utama bagi tingkat ketahanan
nasional. Tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan di era
global seperti sekarang ini, tidak hanya muncul secara fisik, tetapi
sudah lebih banyak berubah bentuknya dan hampir menyatu
dengan pola serta dinamika hidup dan kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara.
Pengukuran ketahanan nasional dilakukan di setiap
wilayah provinsi maupun nasional. Pengukuran ketahanan
nasional dimulai dari pengukuran ketahanan masing-masing gatra,
baik trigatra mapun pancagatra di masing-masing wilayah provinsi
dan nasional. Hasil pengukuran ketahanan nasional tersebut
berupa indeks ketahanan yang nilainya berkisar di antara 1 (rawan)
hingga 5 (sangat tangguh).
Pengukuran ketahanan nasional dilakukan terhadap
variabel-variabel kunci pada masing-masing gatra dan
indikator-indikator kunci pada masing-masing variabel. Nilai indikator-indikator ini
diberi peringkat sesuai dengan parameternya masing-masing
dengan skor sebagai berikut:
Skor 1 yang berarti
rawan
Skor 2 yang berarti
kurang tangguh
Skor 3 yang berarti
cukup tangguh
Skor 4 yang berarti
tangguh
Skor 5 yang berarti
sangat tangguh
Disamping skor, ditentukan pula besarnya bobot gatra,
variabel, dan indikator (dalam persen). Bobot indikator pada
masing-masing variabel tergantung pada besar kecilnya nilai
kepentingan atau prioritas masing-masing indikator pada
variabel tersebut.
Bobot
variabel pada masing-masing gatra
menggambarkan besar kecilnya tingkat kepentingan atau nilai
prioritas suatu variabel dibandingkan dengan variabel lainnya
ketahanan nasional akan sangat tergantung pada besar kecilnya
tingkat kepentingan atau nilai prioritas suatu gatra
dibandingkan dengan gatra lainnya dalam ketahanan nasional
secara agregat. Secara rinci indikator, variabel dan aspek yang
digunakan sebagai instrumen untuk pengukuran Ketahanan
Nasional dapat dilihat pada Lampiran I sampai dengan
Lampiran VIII.
Berikut ini adalah tabel generik setiap
gatra yang berisi tentang: (1) Nama Variabel,
(2) Bobot Variabel (%), (3) Indikator, (4)
Bobot Indikator (%) dan (5) Peringkat
Ketahanan. Tabel generik ini digunakan untuk mengukur :
1.
Indeks ketahanan masing-masing variabel pada setiap gatra.
2.
Indeks ketahanan masing-masing gatra.
3.
Indeks ketahanan nasional masing-masing wilayah
provinsi.
4.
Indeks ketahanan nasional.
Tabel 3.3
Gatra G (Geografi, Demografi, SKA, Ideologi, Politik, Ekonomi,
Sosial Budaya, dan Pertahanan Keamanan
No
Variabel
Bobot
Variabel
(%)
Indikator
Bobot
Indikator
(%)
Peringkat Ketahanan
1
2
3
4
5
1
Variabel G
1v
11.1 Indikator 1.1
w
11x
111.2
Indikator 1.2
w
12x
12………
………..
....
1.
l
Indikator 1.
l
w
1lx
1l...
...
...
...
…………
………
k
Variabel G
kv
kk.1 Indikator k.1
w
k1x
k1k.2 Indikator k.2
w
k2x
k2………
….
...
k.n
Indikator k.
n
w
knx
knMisalkan gatra G memiliki k variabel yang diberi nama
Variabel G
1
hingga Variabel Gk, dengan bobot variabel (dalam
persen) masing-masing v
1
hingga v
k
.
Maka berlaku persamaan
v
1
+ v
2
+... + v
k
=
100.
Dalam Tabel 3.3 Variabel G
1
memiliki
n indikator
yaitu Indikator 1.1 hingga Indikator 1.n dengan bobot indikator
(dalam persen) masing-masing w
11
hingga w
1
l
,
Maka berlaku persamaan
w
11
+ w
12
+ ... + w
1
n= 100.
(3.2)
Begitu pula untuk variabel G
k
yang memiliki n
indikator yaitu Indikator k.1 hingga Indikator k.n dengan bobot
indikator masing-masing w
k1
hingga wkn,
Maka berlaku juga persamaan
w
k1
+ w
k2
+ ... + wkn
=
100
(3.3)
Peringkat ketahanan masing-masing indikator x
ij
diperoleh dengan cara mengkonversikan nilai indikator yang
didapatkan dari pengukuran ke dalam peringkat 1 (rawan), 2
(kurang tangguh), 3 (cukup tangguh), 4 (tangguh) dan 5 (sangat
Pada prinsipnya, bobot untuk indikator, variabel dan
gatra tergantung pada kondisi masing-masing unit analisis
(baik provinsi maupun nasional). Hanya dalam kaitan untuk
menentukan ranking antar wilayah, maka bobot masing-masing
indikator, variabel, dan gatra menggunakan bobot pada skala
nasional.
Setelah peringkat ketahanan masing-masing indikator
dipetakan ke skor 1 sampai dengan 5, maka sub indeks untuk
masing-masing variabel dapat dihitung dengan persamaan
sebagai berikut:
�
�
=
�
���
���=�
�
�����
(3.4)
Keterangan:
i
= 1, 2,...,k
k
= banyaknya variabel pada gatra G, dan
Mi
= banyaknya indikator pada variabel Gi
Wij
= bobot untuk indikator Xij
Xij
= peringkat indikator (1, 2, 3, 4 atau 5)
Selanjutnya indeks ketahanan nasional setiap
gatra dapat dihitung melalui persamaan (3.5).
������
�
=
∑
��=��
��
����
(3.5)
Keterangan:
k
= banyaknya variabel dalam gatra G
Vi
= bobot variabel Gi
Gi
= sub indeks untuk variabel Gi
Bila setiap gatra mempunyai bobot (dalam persen),
yang besarnya bergantung pada seberapa besar kontribusinya
pada indeks ketahanan nasional, maka indeks ketahanan
nasional dihitung dengan menggunakan persamaan:
Indeks Tannas =
(Indeks Geo) +
(Indeks Dem)
+
(Indeks SKA) +
(Indeks Ide)
+
(Indeks Pol) +
(Indeks Eko)
+
(Indeks Sosbud)
Keterangan:
= bobot Gatra Geografi
= bobot Gatra Demografi
= bobot Gatra Sumber Kekayaan Alam
= bobot Gatra Ideologi
= bobot Gatra Politik
= bobot Gatra Ekonomi
= bobot Gatra Sosial Budaya
= bobot Gatra Pertahanan dan Keamanan
Indeks
Tannas
= Indeks Ketahanan Nasional
Indeks Geo
= Indeks Ketahanan Gatra Geografi
Indeks Dem
= Indeks Ketahanan Gatra Demografi
Indeks SKA
= Indeks Ketahanan Gatra Sumber
Kekayaan Alam
Indeks Ide
= Indeks Ketahanan Gatra Ideologi
Indeks Pol
= Indeks Ketahanan Gatra Politik
Indeks Eko
= Indeks Ketahanan Gatra Ekonomi
Indeks
Sosbud
= Indeks Ketahanan Gatra Sosial Budaya
Indeks
Hankam
= Indeks Ketahanan Gatra Pertahanan dan
Keamanan
Jumlah semua bobot gatra adalah 100%, yaitu:
[image:44.420.76.383.88.479.2]+
+
+
+
+
+
+
= 100 (3.7)
Tabel 3.7 menyajikan contoh pengukuran ketahanan
TABEL 3.7
Tabel Pengukuran Ketahanan Nasional
NO
GATRA
BOBOT
SKOR
BOBOT x
SKOR
1
Geografi
8
2.82
22.56
2
Demografi
12
3.16
37.92
3
Sumber Kekayaan
Alam
10
1.85
18.50
4
Ideologi
10
1.93
19.30
5
Politik
11
2.89
31.79
6
Ekonomi
17
2.80
47.60
7
Sosial Budaya
16
2.61
41.76
8
Pertahanan &
Keamanan
16
2.58
41.28
Jumlah
100
260.71
Peringkat ketahanan nasional pada level variabel, level
gatra, dan agregat, baik di wilayah nasional maupun wilayah
provinsi, dilakukan dengan konversi indeks sebagai berikut.
Rawan
: 1.0 s.d.< 1.8
Kurang Tangguh
: 1.8 s.d.< 2.6
Cukup Tangguh
: 2.6 s.d.< 3.4
Tangguh
: 3.4 s.d.< 4.2
Tabel 3.7 memperlihatkan pengukuran ketahanan
nasional dengan mencantumkan bobot gatra, skor gatra, dan
perkalian antara bobot gatra dengan skor gatra. Jumlah bobot
gatra adalah 100 dan total perkalian antara bobot gatra dengan
skor gatra adalah 260.71. Sehingga total skor ketahanan
nasional adalah 260.71/100 = 2.6071. Dengan demikian,
berdasarkan konversi indeks di atas, peringkat ketahanan
3.4 Siskurtannas Berbasis GIS
istem Pengukuran Ketahanan Nasional berbasis
Geographical Information System (GIS) merupakan
sistem yang bisa menyajikan data hasil pengukuran yang
berbasis pada peta visual dan dinamik. Sistem ini memberikan
informasi tentang sifat spasial dan non-spasial dan dengan
visualisasi hasil pengukuran indeks ketahanan nasional dan hasil
simulasi model dinamik di peta membantu untuk proses analisis.
Sistem ini bisa dibentuk dalam sebuah dashboard yang dapat
menampilkan data dengan cepat untuk mendapatkan gambaran
bagaimana trend pengukuran suatu daerah.
GIS memiliki layout dengan 4 komponen utama, yaitu:
1.
Peta Dasar. Komponen ini berfungsi untuk menampilkan
data dalam visualisasi peta sesuai dengan filter data.
2.
Filter Data. Komponen ini berfungsi untuk memfilter data
yang dipilih berdasarkan jenis data (Gatra, Variabel,
Indikator), wilayah, dan tahun studi.
3.
Hasil Pengukuran. Komponen ini berfungsi untuk
menampilkan data dalam visualisasi grafik radar atau tabel
dan rincian unsur dibawahnya.
4.
Komposisi Wilayah. Komponen ini berfungsi untuk
menampilkan hasil pengukuran data di wilayah lain dan
trend data tersebut di masing-masing wilayah.
[image:48.420.72.376.200.380.2]Berikut ini adalah contoh tampilan Siskurtannas berbasis GIS:
Gambar 3.4.1 Hasil Pengukuran Indeks Ketahanan Nasional berbasis GIS
Dalam Siskurtannas berbasis GIS ini juga disediakan
modul manajemen data Jaringan Informasi Geospasial
Nasional (JIGN), yang merupakan kumpulan data peta yang
disebut simpul, yang bersumber dari sistem informasi geografis
oleh Badan Informasi Geospasial (BIG). Terdapat 5 Sistem
Informasi Geografis yang teridentifikasi, antara lain:
1.
Simpul Sistem Informasi Geografis Pusat (Umum dan
Administrasi) yang dikelola oleh Badan Informasi
Geospasial.
2.
Simpul Sistem Informasi Geografis Prasarana
Transportasi yang dikelola oleh Kementerian
Perhubungan.
3.
Simpul Sistem Informasi Geografis Kehutanan yang
dikelola oleh Kementerian Kehutanan.
4.
Simpul Sistem Informasi Geografis Pertanian yang
dikelola oleh Kementerian Pertanian.
Di halaman berikut ini merupakan salah satu contoh informasi
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
Keterkaitan Antar
Indikator
Keterkaitan antar indikator dapat dilihat melalui dua tahapan,
yaitu pertama hubungan korelasional dan kedua
hubungan kausalitas.
Makna dari dua hubungan tersebut
dapat diberikan penjelasan sebagai berikut.
4.1 Deskripsi Umum Ketahanan
Nasional
ubungan korelasional menunjukkan keterkaitan
antara dua buah entitas (indikator, variabel, gatra, atau
wilayah). Hubungan korelasional diperlukan untuk
mengetahui bagaimana suatu entitas terkait dengan entitas yang
Bab
4
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
4 0
lain apakah secara paralel (positif) atau berlawanan arah (negatif)
dan seberapa signifikan hubungannya.
Setiap
indikator,
dalam
trigatra
maupun pancagatra dapat saling terkait satu
sama lain. Keterkaitan antar indikator baik di
dalam satu gatra maupun antar gatra adalah
langkah awal untuk melihat hubungan kausalitas antar
indikator tersebut. Analog dengan keterkaitan antar indikator,
maka dapat dianalisis pula keterkaitan antar variabel di dalam
gatra maupun antar gatra, serta keterkaitan antar gatra.
Di samping itu berdasarkan pendekatan spasial,
ketahanan nasional di suatu provinsi akan saling berkaitan dengan
ketahanan nasional di provinsi lainnya. Dinamika ketahanan di
suatu provinsi pada umumnya akan paralel dengan dinamika
ketahanan di provinsi lain. Jadi ada hubungan korelasional antara
ketahanan nasional di suatu provinsi dengan ketahanan nasional di
provinsi lain.
Dalam hubungan korelasional, dua buah entitas
dianggap mempunyai peranan setara. Hubungan korelasional
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
antara dua buah entitas diukur dengan menggunakan
koefisien
korelasi
product momment
(
product moment correlation
coefficient
).
Koefisien ini mengukur seberapa kuat dan arah
hubungan kedua entitas. Untuk menghitung koefisien korelasi
antara Entitas X dengan Entitas Y digunakan rumus matematika
sebagai berikut:
(4.1)
Keterangan :
N = banyaknya pasang data entitas
= koefisien korelasi
4.2 Hubungan Kausalitas
Hubungan kausalitas adalah hubungan fungsional
(sebab-akibat) dari berbagai entitas dalam sistem ketahanan
nasional.
Dalam hubungan kausalitas
dengan
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
4 2
pengaruh antara suatu entitas dengan entitas lain.
Dinamika dari entitas A misalnya akan dipenguruhi oleh
dinamika entitas B, C dan seterusnya. Demikian juga dinamika
entitas B akan dipengaruhi oleh dinamika entitas A, C dan
seterusnya. Dinamika entitas C akan dipengaruhi oleh
dinamika entitas A dan B dan seterusnya. Hubungan kausalitas
antar indikator ini tidak hanya terjadi antara indikator-indikator
pada gatra yang sama, tetapi juga antara indikator pada gatra
yang berbeda.
Secara matematis, hubungan kausalitas atau hubungan
fungsional antar indikator/variabel dapat dituliskan melalui
model persamaan sebagai berikut:
Y =
β
0
+
β
1
X
1
+
β
2
X
2
+ ...
β
k
X
k
+ €
(4.2)
Keterangan:
Y
= indikator/variabel yang dipengaruhi
X
1
X
2
X
k
= indikator/variabel yang mempengaruhi
€
= disturbance error
Dengan memasukkan unsur waktu, time lag maka hubungan
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
1 1 1
Y
t
=
β
0
+
β
1
∑X
1t-i
+
β
2
∑X
2t-i
+ ...
β
k
∑X
kt-i
+ €
(4.3)
i=0 i=0 i=0
Untuk melihat sampai seberapa jauh model regresi
tersebut menjelaskan kenaikan variabel Y
t
, digunakan
koefisien determinasi (coefficient of determination) R
2
. Nilai R
2
berkisar antara 0 sampai dengan 1.Semakin besar nilai R
2
,
semakin tinggi model tersebut mampu menjelaskan dinamika
dari variabel Y
t
.
Sebagai konsekuensi terjadinya hubungan kausalitas
antar indikator, maka dapat terjadi juga hubungan kausalitas
antara variabel dan antar gatra.
Hubungan kausalitas antar
entitas ini digunakan sebagai salah satu tahapan simulasi
bagi kebijakan publik dalam sistem permodelan dinamik.
4.3
Model Simulasi Kebijakan
(Pendekatan sistem Dinamik)
Model simulasi yang digunakan dalam sistem
pengukuran ketahanan nasional yang dikembangkan
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
4 4
melalui sistem dinamik. Ada sembilan tahapan yang
dilakukan, yaitu sebagai berikut.
1.
Menentukan indikator-indikator yang menjadi isu
strategis.
Dari potret ketahanan nasional, baik pada
tingkat provinsi, maupun agregate, dapat ditemukan
indikator yang menjadi
isu strategis
bagi ketahanan
nasiona
l
dengan metode seperti yang telah ditetapkan
di atas
.
Indikator-indikator ini sangat penting
(urgent)
untuk mendapatkan perhatian dan harus segera ditangani,
karena kalau tidak akan membahayakan bagi ketahanan
nasional.
2.
Mencari matriks korelasi dari indikator-indikator yang
merupakan isus strategis dengan indikator-indikator
lain.
Hubungan korelasional antara dua buah entitas
diukur dengan menggunakan koefisien korelasi Pearson
(Pearson product moment correlation coefficient).
Koefisien korelasi ini mengukur seberapa kuat dan arah
hubungan kedua indikator tersebut.
Nilai korelasi populasi
(p) berkisar pada interval -1 <= p <= 1. Jika korelasi
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
searah. Sebaliknya, jika korelasi bernilai negatif, maka
hubungan antara dua variabel bersifat berlawanan arah.
3.
Berdasarkan matriks korelasi dilakukan justifikasi
kausalitas dari indikator yang merupakan isu
strategis tersebut dalam kaitannya dengan
indikator-indikator lain. Justifikasi dilakukan
berdasarkan
:
a.
Teori.
b.
Hasil studi terdahulu yang informasinya diperoleh dari
journal ilmiah atau
proceeding
hasil penelitian
terdahulu.
c.
Benchmark
dengan negara lain.
d.
Expert judgement
berdasarkan pengalaman pakar.
4.
Pembuatan
Causal Loop Diagram
. Causal loop
diagram dipergunakan untuk menggambarkan hubungan sebab
akibat hasil dari justifikasi kausalitas yang telah dilakukan di
langkah sebelumnya. Causal loop diagram menekankan
perhatian kepada sifat hubungan sebab akibat antar komponen
sistem yang digambarkan dalam suatu diagram, dengan
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
4 6
berlawanan arah diberikan tanda negatif, sedangkan yang
bersamaan arah diberikan tanda posistf, atau tidak diberikan tanda.
5.
Pembuatan Stock & Flow Diagram
. Membuat
stock & flow
diagram untuk menggambarkan struktur model secara fisik.
Stock adalah enditias yang dinamis yang berubah berdasarkan
waktu. Pedrubahan nilai stock sangat ditentukan oleh perubahan
nilai flow. Model simulasi (stock & low diagram) tersebut akan
memberikan gambaran serta analisis prediksi dari suatu isu
strategis. dalam pembuatan stock and flow diagram diperlukan
standar notasi (node) yang digunakan. Simbol node yang
digunakan dalam
stock and flow diagram
adalah sebagai berikut:
•
Level
adalah sebuah entitas yang nilainya dapat berubah
berdasarkan waktu. dengan
initial value
(nilai awal)
sebagai acuan nilai pada saat t = 0. Level merupakan
independent variabel terhadap entitas lain yang
mengacunya dan merupakan dependent variabel flow
level itu sendiri.
•
Flow
adalah sebuah entitas yang menghubungkan
antara entitas dengan level. Flow merupakan dependent
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
merupakan independent variabel terhadap level. Flow
hanya dapat mempengaruhi satu level tertentu.
•
Auxiliary
adalah sebuah entitas yang dipengaruhi oleh
entitas lain atau berupa nilai konstan.
•
Constant
adalah sebuah entitas yang mempunyai nilai
konstan.
Connector
adalah sebuah garis yang
menghubungkan antar entitas.
•
Reference Node
adalah sebuah entitas yang dapat
menghubungkan diagram utama dengan diagram
referensi.
6.
Pendefinisian Formula Matematika
. Formula
matematika dibuat berdasarkan causal loop diagram yang telah
dibuat sebelumnya. Formula ini dilakukan untuk memprediksi
nilai indikator di tahun berikutnya. Sistem Dinamik Labkurtannas
dapat mengeluarkan data panel untuk indikator yang dicari.
Pembuatan data panel excel untuk tiap indikator dan isu
strategisnya untuk skala nasional dengan mengacu pada data tiap
provinsi. Data panel harus dipastikan terisi nilai (tidak kosong)
untuk tiap indikator. Data panel ini dimasukan dalam program
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
4 8
R2 tertinggi dalam artian mencari besarnya pengaruh variabel
independen terhadap variabel dependen secara simultan atau
bersama-sama. Arti dari R2 tersebut apabila R2 mendekati 1,
adalah secara bersama-sama variabel independen berpengaruh
kuat terhadap variabel dependen dan apabila R2 mendekati angka
nol, maka secara bersama-sama variabel independen berpengaruh
tidak nyata terhadap variabel dependen. Sistem dinamik juga
sudah menyediakan fungsi mencari persamaan dengan regresi
linier yang mempunyai fungsionalitas untuk bisa menunjukan
apakah suatu persamaan sudah valid atau belum.
Validitas formula ini ditentukan oleh koefisien
determinasi yang dinyatakan dengan simbol R
2
dan Durbin
Watson. Sebagai contoh, jika R
2
=
0,9, berarti bahwa
kemampuan model untuk menjelaskan
perubahan-perubahan variabel Y adalah 90%, sedangkan yang 10%
lainnya dijelaskan oleh variabel-variabel lain di luar model.
Nilai Durbin Watson dikatakan baik apabila 1,5 ≤DW≤ 2,5.
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
dibentuk di stock & flow diagram dan formula di dalamnya.
Simulasi dapat ditampilkan dalam beberapa keluaran:
•
Tabel Simulasi Indikator pada rentang periode simulasi
•
Grafik Garis Simulasi Indikator pada rentang periode
simulasi
•
Peta Simulasi Indikator pada rentang periode simulasi
8.
Validasi Model Dinamik. Validasi dilakukan dengan
membandingkan data hasil simulasi dengan data sebenarnya dari
pengukuran dalam rentang waktu yang ditentukan. Suatu model
divalidasi dengan menggunakan rumus:
a.
E1 =
S−A
|
A
|
Model dianggap valid jika E1 ≤ 5%.
b.
E2 =
Ss
Ss
=e
Model dianggap valid
jika E2 ≤ 30%.
c.
E3
=
RMSE(
�
^) =
�
MSE(
�
^) =
�
E((
�
^
− �
)2)
29TModel dianggap valid jika E3
≤ 5%.
9.
Optimasi Model Dinamik
. Optimasi dilakukan guna
memperbaiki permasalahan yang terjadi pada
indikator-indikator yang menjadi isu strategis. Hasil optimasi yang
diperoleh dari simulasi dapat digunakan sebagai acuan bagi
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
5 0
Simulasi kebijakan dirancang untuk pengambilan keputusan
yang berkaitan dengan indikator, variabel dan gatra, dengan
menggunakan simulasi tersebut dapat ditemukan penyebab dari
kerawanan suatu indikator dan dampaknya pada
indikator-indikator lain. Dari hasil simulasi juga dapat diantisipasi dampak
dari suatu kebijakan publik terhadap suatu indikator, variabel dan
gatra, baik secara langsung, maupun tidak langsung, serta
implikasinya pada ketahanan nasional di daerah dan ketahanan
nasional secara agregat.
Demikian juga dengan ditemukannya koefisien parameter
dari hubungan kausalitas antar indikator akan dapat
direkomendasikan kebijakan publik yang seharusnya dilakukan
untuk meningkatkan kinerja dari suatu indikator. Di samping itu
juga akan dapat dilihat sampai seberapa jauh dampak dari
peningkatan kinerja indikator tersebut pada indikator-indikator
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
Isu Strategis &
Simulasi Kebijakan
Salah satu hasil dari pengukuran ketahanan nasional
adalah ditemukannya beberapa isu strategis .
engukuran ketahanan nasional dengan metode yang
diuraikan pada Bab III dan Bab IV akan
menemukanbeberapa isu strategis. Isu-isu tersebut
teridentifikasi berdasarkan pertama, posisi kritis (critical
position) dari indikator-indikator yang berada pada posisi
rawan (
alert
) atau kurang tangguh (
warning
). Kedua, indikator
tersebut bobot strategisnya tinggi. Ketiga kerawanan atau
kekurang tangguhan tersebut terjadi di lebih dari 50% wilayah
provinsi. Keempat, indikator tersebut mempunyai hubungan
kausalitas dengan indikator lain.
Bab
5
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
5 2
Penentuan isu-isu strategis tersebut
dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu
pendekatan deduktif-induktif dan
induktif-deduktif.Pendekatan deduktif-induktif dilakukan
melalui judgement pakar berdasarkan teori, kemudian diuji oleh
sistem dengan menggunakan kriteria-kriteria di atas. Sedangkan
pendekatan induktif-deduktif dilakukan melalui sistem
berdasarkan kriteria-kriteria pengukuran yang telah dibangun,
kemudian hasilnya diuji oleh pakar.Dari proses tersebut dihasilkan
isu strategis, yaitu isuyang sangat prioritas untuk segera ditangani.
Masing-masing komponen dalam sistem nasional
menggambarkan keseluruhan sistem yang saling berintegrasi dan
saling berinteraksi satu sama lain. Dengan mengamati kondisi
ketahanan dan interaksi masing-masing komponen secara terus
menerus/berkala, akan dapat diketahui dinamika kondisi dan
interaksi dari masing-masing komponen baik secara substansi
maupun spasial dari waktu ke waktu.
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
Penutup
erdasarkan tujuan dibangunnya model pengukuran ketahanan
nasional dan simulasi kebijakan publik, maka dapat dikatakan
bahwa model yang dikembangkan Lemhannas telah
menghasilkan output sesuai dengan yang diharapkan, yaitu peta ketahanan
nasional dan ketahanan nasional di daerah, baik dilihat dari dimensi gatra,
dimensi spasial, maupun dimensi waktu. Dengan menggunakan model
dinamik dalam mendeteksi ketrkaitan antar indikator dapat ditemukan sampai
seberapa jauh keterkaitan antar indikator, terutama untuk indikator-indikator
strategis baik korelasional maupun fungsional.
Bab
6
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
5 4
Sistem pengukuran ketahanan nasional bersifat dinamis, sehingga
harus selalu terbuka untuk perubahan dan penyempurnaan. Oleh karena itu,
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
DAFTAR PUSTAKA
Dougllas, Hubbard W., 2007. How to Measure Anything :
Finding the Value of Intangibles in Business, John wiley
and Sons Ltd, New Jersey.
Gujarati, Damodar N., Porter, Dawn 2009. Basic
Econometrics. McGraw Hill International Edition, New
York.
A. Koutsoyannis. 1979. Theory of Econometrics. An
Introductory Exposition of Econometric Methods. The
Macmillan Press LTD, London
Kutner, M.H., C.J. Nachtsheim dan J. Nete, 2004. Applied
Linear Regression Models. Fourth Ed., McGraw-Hill
Company, Inc. New York.
Lemhannas, 1989. Ketahanan Nasional Republik Indonesia
Edisi 2, Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia,
Jakarta.
L A B O R A T O R I U M P E N G U K U R A N K E T A H A N A N N A S I O N A L
5 6
Pidd, Michael, 2003. Tools for Thingking : Modelling in
Management Science, Second edition, John Willey and
Sons, England.
Robert, Flod L., and Ewart R Carson, 1989. Dealing Eigth
Compelxity: An introduction to the theory and application
of sistems Science, Plenum Prass, New York.
Shefffi, Yossi, 2005. The Resilient Enterprise : Overcoming
Vulnerability for Competitive Advantage, Massachusetts
Institute of Technology-MT Press Books, Boston.
Verton, Dan, Black Ice 2003.
The Invisible Threat of
SANGAT TANGGUH
TANGGUH CUKUP
TANGGUH
KURANG TANGGUH
RAWAN
Letak/Posisi 1. 20 1.1 Kebijakan pusat tentang batas wilayah * 20 N >4,00 3,00< Ν ≤4,00
2,00< Ν ≤3,00
1,00< Ν ≤2,00
Ν ≤1,00
1.2 Kebijakan daerah tentang batas wilayah 0 N >4,00 3,00< Ν ≤4,00
2,00< Ν ≤3,00
1,00< Ν ≤2,00
Ν ≤1,00
1.4 Rasio jumlah kejadian pelanggaran kedaulatan negara RI yang tertangkap di perbatasan laut terhadap panjang garis batas laut dengan negara lain ** (%)
15 Ν ≤0,10 0,25≥ Ν >0,10
0,40≥ Ν >0,25
0,50≥ Ν >0,40
N >0,50
Rasio jumlah kejadian pelanggaran kedaulatan negara RI yang tertangkap di laut dalam wilayah teritorial dengan luas wilayah teritorial
1.5 Persentase jumlah pulau kecil terluar yang tidak berpenghuni terhadap jumlah pulau kecil terluar ** (%)
15 Ν ≤10 20≥ Ν >10 30≥ Ν >20 40≥ Ν >30 N >40
1.6 Persentase jumlah pulau kecil terluar yang belum mendapat ratifikasi dari PBB terhadap jumlah pulau kecil terluar ** (%)
0 Ν ≤1 15≥ Ν >1 30≥ Ν >15 40≥ Ν >30 N >40
Persentase segmen laut teritorial batas maritim yang sudah selesai dirundingkan terhadap panjang seluruh segmen Persentase segmen Zona Ekonomi Eklusif batas maritim yang sudah selesai dirundingkan terhadap panjang seluruh segmen
LEMBAGA KETAHANAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA
LABORATORIUM PENGUKURAN KETAHANAN NASIONAL
MATRIKS INDIKATOR GATRA GEOGRAFI
BOBOT
Batas Negara (Maritim / Laut)
P E R I N G K A T K E T A H A N A N
SANGAT TANGGUH
TANGGUH CUKUP
TANGGUH
KURANG TANGGUH
RAWAN
BOBOT P E R I N G K A T K E T A H A N A N
ASPEK VARIABEL BOBOT INDIKATOR
Persentase segmen landas kontinen batas maritim yang sudah selesai dirundingkan terhadap panjang seluruh segmen
1.9 Jumlah kejadian pelanggaran kedaulatan negara di wilayah kedaulatan udara nasional yang tertangkap terhadap cakupan wilayah udara yang harus dipertahankan
30
Batas Negara (Darat)
1.3 Rasio jumlah kejadian pelanggaran kedaulatan negara di perbatasan darat yang tertangkap terhadap panjang garis batas darat dengan negara lain ** (%)
15 Ν ≤0,25 0,50≥ Ν >0,25
0,75≥ Ν >0,50
1≥ Ν >0,75 N >1
1.7 Persentase kabupaten/kota yang mempunyai konflik batas wilayah terhadap jumlah kabupaten/kota seluruhnya (%)
15 Ν ≤1 5≥ Ν >1 10≥ Ν >5 15≥ Ν >10 N >15
Presentase Kabupaten/Kota yang telah memiliki sistem Informasi Geospasial (Jaringan Informasi Geospasial Daerah yang terintegrasi dengan Jaringan Informasi Geospasial Nasional).
Presentase peta batas desa yang telah t