(DPC-PPP) KABUPATEN BOGOR DALAM PILKADA
BUPATI TAHUN 2008
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Ilmu Sosial Islam (S.Sos.I)
Oleh Teddy Khumaedi NIM : 204051002863
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
BOGOR DALAM PILKADA BUPATI BOGOR TAHUN 2008
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Ilmu Sosial Islam
Oleh:
Teddy Khumaedi
NIM : 204051002863
Di Bawah Bimbingan :
Drs. Study Rizal, LK M.A
NIP :19640428 199303 1 002
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa :
1. Skripsi ini merupakan hasil penelitian saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata Satu (S1) di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya
cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya
atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia
menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Ciputat, 30 Juni 2009
Skripsi yang berjudul ”Komunikasi Politik Dewan Pimpinan Cabang
Partai Persatuan Pembangunan (DPC-PPP) Dalam Pilkada Bupati Bogor
2008” telah diujikan dalam sidang munaqosah Fakultas Dakwah dan Komunikasi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada hari (Senin 29 Juni 2009) skripsi ini telah
diterima sebagai salah satu sarat untuk memperoleh gelar Sarjana Islam Program
Strata 1 (S1) pada Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam
Jakarta, 29 Juni 2009
Sidang Munaqosah
Ketua MerangkapAnggota Sekertaris Merangkap Anggota
Anggota
Penguji l Penguji ll
(DPC-PPP) KABUPATEN BOGOR DALAM PILKADA
BUPATI TAHUN 2008
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Ilmu Sosial Islam (S.Sos.I)
Oleh Teddy Khumaedi NIM: 204051002863
Di bawah bimbingan,
Drs. Study Rizal LK, MA NIP 19640428 199303 1 002
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
Skripsi yang berjudul ”KOMUNIKASI POLITIK DEWAN
PIMPINAN CABANG PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN
(DPC-PPP) KABUPATEN BOGOR DALAM PILKADA BUPATI TAHUN 2008”
telah diujikan dalam sidang munaqosah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 29 skripsi ini telah diterima sebagai salah
satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial Islam Program Strata 1 (S1)
pada Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam
Jakarta 29 Juni 2009
Sidang Munaqosah
Ketua MerangkapAnggota Sekertaris Merangkap Anggota
Drs. H. Mahmud Jalal, M.A Rubiyanah, M.A
NIP. 150202342 NIP. 150286373
Anggota
Penguji l Penguji ll
Dra. Hj. Asriati Jamil, M. Hum Dra. Hj. Musfirah Nurlaily, M.A
NIP. 19610422 199003 2 001 NIP. 150299324
Pembimbing
Teddy Khumaedi
Komunikasi Politik Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan (DPC-PPP) Kabupaten Bogor Dalam Pilkada Bupati Tahun 2008
Pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung merupakan momentum politik dan bagian dari “sejarah masa depan” demokrasi Indonesia, keputusan penyelenggaraan pilkada langsung tidak dapat dilepaskan dari serangkaian keputusan politik penting di era reformasi, bahwa hajatan politik demokrasi langsung tidak berlaku ditingkat nasional saja tetapi terjadi juga di daerah-daerah, dan pentingnya komunikasi dalam aktivitas politik tidak bisa dipungkiri, begitu juga halnya dalam suatu partai politik, setiap komunikasi politik yang dilakukan selalu mencakup pesan politik, komunikator politik, media atau saluran politik, dan efek yang pasti akan muncul ditengah khalayak akibat terjadinya proses komunikasi politik.
Hal inilah yang akan dibahas dalam penelitian ini, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui usaha-usaha komunikasi politik Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan (DPC-PPP) kabupaten bogor dalam pemenangan pilkada bupati bogor tahun 2008, khususnya yang berkaitan dengan pesan politik, komunikator politik, media atau saluran politik dan efek yang muncul ditengah khalayak politik. penelitian ini adalah penelitian lapangan (study kasus) dengan metode deskriftif interpretative melalui pendekatan secara fenomenologi guna menemukan fakta yang ada dilapangan, untuk mencapai tujuan itu penulis menggunakan beberapa metode, antara lain : metode observasi dan metode dokumentasi serta wawancara, yang digunakan untuk mengetahui hal-hal yang berkenaan dengan strategi pemenangan pasangan Rahman (Rachmat Yasin dan Karyawan Fathurahman) ditiap-tiap pos tim DPC-PPP menjelang pilkada bupati bogor tahun 2008. Dari hasil penelitian diatas peneliti menyimpulkan bahwa komunikasi politik dewan pimpinan cabang, khususnya pasangan Rahman dalam pilkada bupati bogor tahun 2008 lebih cenderung mengarah dan memfokuskan pada pencitraan positif pasangan yang diusung baik personal maupun institusi partai kepada khalayak agar terbangunnya citra positif (positif image) dan terdapatnya kecocokan bahwa strategi komunikasi politik dewan pimpinan partai persatuan pembangunan bisa dilihat dari hasil wawancara dengan narasumber dari pengurus DPC-PPP yang sekaligus bagian dari Tim pemenangan DPC-PPP dan pasangan Rahman sesuai dengan program kerja Tim sukses, sedangkan menjelang hari (H) pemilihan bupati, harus sudah 85% strategi yang diharapkan sesuai dengan program kerja Tim sukses, sedangkan untuk yang 15% antisipasi terjadinya black campaige dari pihak lawan atau pasangan bupati dari partai lain, namun bila ditinjau dari hasil penelitian tentang bagaimana usaha-usaha komunikasi politik yang dilakukan, ternyata terdapat kecocokan yaitu hampir 72,30% dari strategi komunikasi politik yang dilakukan DPC-PPP cenderung lebih efektif dan berhasil menimbulkan pencitraan positif terhadap pasangan Rahman, sehingga sudah dipastikan hampir 94% khalayak pemilih, pasti akan lebih memilih pasangan Rahman untuk menjadi bupati dan wakil bupati bogor tahun 2008-2013.
Segala puja dan puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT Yang
Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang telah memberikan pencerahan hati
dan pikiran kepada penulis, sehingga penulis mampu menyelesaikan penulisan
skripsi ini, walaupun hasil penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan. Shalawat
serta salam semoga dilimpahkan kepada hamba Allah yang paling mulia, baginda
Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya, sahabat-sahabatnya dan para
pengikutnya yang tetap setia dan selalu istiqomah pada ajaran agamanya.
Dalam ucapan kata pengantar skripsi ini, perkenakanlah penulis untuk
mengekspresikan diri sebagai bentuk ucapan rasa syukur dan terima kasih
sedalam-dalamnya, yang akan diberikan kepada semua pihak yang telah banyak
memberikan kontribusinya yang tak terbatas serta spirit yang telah diberikan
kepada penulis dalam rangka menyelesaikan tugas akhir perkuliahan Strata Satu
(S1) ini. Ucapan terima kasih penulis haturkan kepada;
1. Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, bapak Drs. Arief Subhan, MA,
Pembantu Dekan II Bapak Drs. H. Mahmud Jalal, MA. Pembantu Dekan
III Bapak Drs. Study Rizal, LK. MA. Ketua dan sekertaris Jurusan
Komunikasi dan Penyiaran Islam serta para dosen yang telah mau
pembimbing penulis dari mulai saat masih aktif kuliah hingga selesainya
tugas akhir ini, serta mau mewariskan ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi
penulis. Dan kepada para karyawan FDK yang telah melayani seluruh
Dra. Hj. Musfirah Nurlaily, MA. Yang telah banyak membantu penulis
dalam mengurusi segala urusan yang berkaitan dengan keadministrasian
dan segala teknis-teknis yang bersangkutan dengan akademik pusat.
3. Pudek III Drs. Study Rizal, LK MA. (Abang Yudi) selaku pembimbing
kelas sekaligus pembimbing skripsi ini, yang tidak bosan-bosannya selalu
memberikan arahan dan masukan kepada penulis sehingga penulis mampu
menyelesaikan tugas akhir ini. Penulis ucapkan ribuan terima kasih atas
semua kebaikannya dan dukungannya. Semoga Allah Swt membalas
segala kebaikkan beliau. Amin.
4. Segenap karyawan Perpustakaan Fakutas Dakwah dan Komunikasi dan
Perpustakaan Utama Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta, yang telah memudahkan penulis untuk mendapatkan berbagai
referensi dalam penyelesaian skripsi ini.
5. Bapak Drs. Rahcmat Yasin MM dan Karyawan Fathurahman selaku
Bupati dan Wakil Bupati Bogor terpilih, Bapak Drs. Amrullah Zaily,
selaku, wakil ketua DPC PPP Kab. Bogor, Bapak Drs. Teuku Hanibal SE,
dan segenap pengurus DPC PPP beserta Tim Pemenangan pasangan
RAHMAN dalam pilkada Bupati Bogor Tahun 2008.
6. Kepada orang tua penulis, Ayahanda dan Ibunda terscinta H. Soleh dan Hj.
Siti Mala Solihat yang telah memberikan segalanya mulai dari kandungan
datang, akan menjadi kebahagiaan untuk keduanya. Ucapan ribuan terima
kasih atas do’anya tak henti-hentinya penulis lantunkan di setiap doanya.
7. Kakak ku tercinta yang selalu memberikan dukungan dan motivasinya :
Supandi, Omay sumarni, Uus Usnawati, Kamaluddin, Lukman Hakim dan
semua keponakan Mang teddy yang lucu, Arin, Noni, Nadira, Intan, Irfan,
Alfi, Eki, Dani, Alita, terima kasih atas semua dukungannya baik moral
maupun materil.
8. Teman-teman Pangurus BEMF NR 2005-2006, Ahmad Syaoqillah
(Onky), Roby Zulia, Deden MD S.sos.i, Riyan (Tukul), Agin BEMF,
Erfan, Ronal, Muhe, Nurharis Anbiya, Dado, Millati Cahya, Ummu
Kulsum, Eny Ermawati, Misliya, Rahmy, dan Kaka Fatoni S. Sos.i terima
kasih atas motivasi dan dukungannya tetap semangat, harmonis dan jangan
pernah putus komunikasi diantara kita.
9. Teman-teman seangkatan dan sekelas KPI, Pak Nurdin S.Sos.i, , M. Erfan
NH S.Sos.i, Vina Monica S.Sos.i, Rahmi Isnaini S.Sos.i, Nurul Mardiah
S.Sos., Ummu Khulsum S.Sosi, Mahyudi S.Sos.i, Khalillah S.Sosi,
Syaoqilah, Umar Kamal, Nasrullah Y S.Sos.i, dan Nasrullah N, Haris
S.Sos.i, Syahroni, Millati Cahya, Ryan, Robi, Rani S.Sos.i, dan yang
lainnya yang tidak dapat penulis tuliskan satu persatu. Terima kasih atas
kawan-kawan yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu....Yakin Usaha
Sampai.
11. Temen-temen IKPM cab.Bogor, Pak Ketum (Nursayamsu), Mr. Cucup
MS, Malik, Saepudin, Fitra (Okher), Asep Mono, dan yang lainnya, yang
belum sempat penulis sebutkan satu persatu, tetap semangat euy, futsal
jadikan olahraga pilihan euy
12.Kawan-kawan yang masih konsisten di BIMBEL IG, Mis Aryanie, Mis
Dedah, Mis Pipih, Mr. Cucup MS, Mr. Iman, C Umi, maju terus sukses
terus Bimbel Insan Gemilang, semangat,,semangat,,semangat..
13.Teman-teman yang selalu ada dihati walaupun jauh dimata, D’ Elsa
Indriyani, Ririn (Rima Kesin) terima kasih sudah pernah mengisi hari-hari
indah bersama,,walapun hanya dengan jarak jauh, terima kasih juga atas
semua dukungan dan motivasi yang telah diberikan kepada penulis,
semoga teman-teman bisa meraih cita-cita yang di impi-impikan...Amin
Ciputat, 30 Juni 2009
Penulis
Lembar Persetujuan Pembimbing
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN hlm
A. Latar Belakang Masalah...1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah...4
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian...4
D. Metodologi Penelitian...6
E. Tinjauan Pustaka...8
F. Sistematika Penulisan...9
BAB II LANDASAN TEORITIS A. KOMUNIKASI POLITIK 1. Pengertian Komunikasi Politik...11
2. Unsur-unsur Komunikasi Politik...15
3. Komunikator Politik...17
4. Saluran Komunikasi Politik...18
5. Efek dan Khalayak Komunikasi Politik...19
B. PARTAI POLITIK 1. Pengertian Partai Politik...21
2. Fungsi Partai Politik...24.
3. Ideologi Partai Islam...25
A. Sejarah Berdirinya PPP Kabupaten Bogor...……….30
B. Perspektif Ideologi Partai, Visi dan Misi…...…31
C. AD/ART Partai Persatuan Pembangunan (PPP)...…38
D. Program Kerja DPC PPP Kabupaten Bogor...…39
E. Struktur DPC PPP Kabupaten Bogor...….41
F. Profile Rachmat Yasin Ketua DPC PPP……….42
BAB IV TEMUAN DAN ANALISIS A. Pesan Politik DPC PPP Kabupaten Bogor...43
B. Komunikator Politik DPC PPP Kabupaten Bogor...48
C. Saluran Komunikasi Politik DPC PPP...50
1. Peran Media Massa (Publikasi Media)...50
2. Mobilisasi Sosial (Tatap Muka, Debat Publik)...52
3. Tim Sukses (Atribute Kampanye, Marketing Kandidat)...53
D. Efek Komunikasi Politik...54
BAB V PENUTUP 1. Kesimpulan...59
2. Saran-saran...61
Daftar Pustaka
A. Latar Belakang
Tanggal 20 september Tahun 2004 lalu, terjadi salah satu peristiwa yang
menarik bagi bangsa Indonesia yang mencerminkan proses terwujudnya
demokratisasi di Indonesia melalui pemilihan umum legislative dan pemilihan
calon presiden dan wakil presiden secara langsung oleh rakyat, patut pula
diperhatikan dari dua episode peristiwa pemilu sebelumnya yang terlaksana dalam
situasi aman, damai, dan terselenggara secara jujur dan transparan, merupakan
peristiwa yang mengantarkan rakyat Indonesia menjadi lebih dewasa dalam
memilih kemunculan kepimpinan Indonesia baru sebagai hasil kemenangan rakyat
Indonesia.1
Dan semua peristiwa itu merupakan proses kesinambungan dalam
perwujudan kompetisi yang sehat dan proses demokratisasi yang terbuka,
kemunculan peristiwa itu pun membawa bangsa ini untuk merekonstruksi kembali
berbagai teori komunikasi massa dan komunikasi politik yang dilatarbelakangi
oleh fenomena pemikiran tradisional maupun modern dalam mengonsepsikan
bentuk struktur politik demokrasi sesungguhnya dan tindakan social serta relasi
antara keduanya.
Pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung merupakan momentum politik
dan bagian dari “sejarah masa depan“ demokrasi Indonesia. Keputusan
penyelenggaraan pilkada langsung tidak dapat dilepaskan dari serangkaian
keputusan politik penting di era reformasi. Bahwa hajatan politik demokrasi
1
langsung tidak berlaku di tingkat nasional terkhusus pemilihan presiden (pilpres)
secara langsung, tetapi juga terjadi di daerah-daerah. Lokomotif demokrasi
prosedural, setidaknya demokrasi electoral menggelinding, diharapkan dengan
menggelindingnya demokrasi procedural tersebut. Akan menambah bobot makna
demokrasi substansial, bahwa perbaikan prosedur berdemokrasi itu penting.2
Hal itu sangat diharapkan akan berpengaruh pada “ budaya politik “ yang
ada tetapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana demokrasi substansial mampu
terserap dalam praktik-praktik keseharian. Demokrasi substansial yang lebih
menekankan nilai-nilai dan “ tidak akan ada gunanya “ demokrasi substansial
dalam hal ini, pilkada adalah sebentuk ujian apakah akan mampu menjadi pintu
masuk bagi masa depan daerah secara lebih baik dan bermartabat.3
Di mana masyarakat Indonesia sudah mulai menyadari akan pentingnya
pilkada langsung sebagai momentum politik yang amat strategis.
Dalam teorinya Komunikasi adalah merupakan aktivitas dasar dari seluruh
interaksi antarmanusia karena tanpa komunikasi interaksi antarmanusia baik
secara perorangan, kelompok maupun organisasi tidak mungkin terjadi.
Komunikasi memainkan peran penting dalam kehidupan manusia dan hampir
setiap saat manusia bertindak dan belajar dengan dan melalui komunikasi
termasuk dalam aktivitas politik, komunikasi memainkan peran yang dominan,
salah satunya hubungan antarmanusia dalam rangka mencapai saling pengertian
(mutual understanding).4
2
Alfan Alfian Bagaimana Memenangkan Pilkada Langsung. (Akbar Tanjung Instistute 2005) h. iii
3
Ibid h. 1
4
Pentingnya komunikasi dalam aktivitas politik tidak bisa dipungkiri,
begitu juga halnya dalam suatu partai politik. Setiap Komunikasi Politik yang
dilakukan selalu mencakup pesan politik, komunikator politik, media atau saluran
politik, dan efek yang muncul di tengah khalayak akibat terjadinya proses
komunikasi politik. Di Indonesia komunikasi politik sebagai displin ilmu, telah
lama tercantum dalam kurikulum ilmu social, baik dalam kajian ilmu komunikasi
maupun dalam kajian ilmu politik.
Para komunikator politik digolongkan menjadi tiga : politisi, profesional,
dan aktivis. ketiga golongan di atas telah lama terlibat dalam kegiatan komunikasi
politik. Anggota DPR, Para Pejabat, Pengamat politik (yang amatir maupun
Profesional) para Aktivitis partai politik melihat dengan cermat fenomena yang
terjadi, dengan demikian, komunikasi sebagai proses politik, dapat diartikan
sebagai gejala-gejala yang menyangkut pembentukan kesepakatan misalnya
kesepakatan menyangkut bagaimana pembagian sumberdaya kekuasaan atau
dengan arti lain komunikasi politik adalah upaya sekelompok manusia yang
mempunyai orientasi, pemikiran politik atau ideologi tertentu dalam rangka
menguasai atau memperoleh kekuasaan.5
Berpijak dari uraian di atas peneliti bermaksud ingin mengajukan
penelitian skripsi dengan judul “ Komunikasi Politik Dewan Pimpinan Cabang
Partai Persatuan Pembangunan (DPC-PPP) Kabupaten Bogor Dalam
Pilkada Bupati Bogor Tahun 2008 "
5
Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan metode
deskriftif interpretatif melalui pendekatan secara fenomenologi guna menemukan
fakta yang ada di lapangan.
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka penulis hanya membatasi
pada usaha-usaha komunikasi politik Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan
Pembangunan (DPC-PPP) Kabupaten Bogor dalam pilkada Bupati Bogor Tahun
2008, yaitu yang berkaitan dengan pesan politik, komunikator politik, saluran
komunikasi politik, dan efek komunikasi politik. Maka berdasarkan pembatasan
masalah di atas, secara umum perumusan masalah tersebut adalah “Bagaimana
Komunikasi Politik Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan
Pembangunan (DPC-PPP) Kabupaten Bogor dalam Pilkada Bupati Bogor
Tahun 2008” perumusan masalah tersebut dapat dirinci sebagai berikut :
1. Bagaimana Pesan Politik Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PPP Kab.
Bogor dalam pilkada pada saat itu ?
2. Siapa Komunikator Politik Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PPP
Kabupaten Bogor dalam Pilkada Bupati Bogor 2008 ?
3. Saluran Politik Apa Saja yang digunakan Dewan Pimpinan Cabang (DPC)
PPP Kabupaten Bogor dalam Pilkada Bupati Bogor Tahun 2008?
4. Bagaimana Efek Politik Yang ditimbulkan oleh Khalayak ?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui ciri khas isi pesan politik Dewan Pimpinan
Cabang (DPC) PPP Kabupaten Bogor dalam pilkada Bupati Bogor
2. Untuk mengetahui bagaimana komunikator politik Dewan
Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan (DPC-PPP)
Kabupaten Bogor dalam pilkada Bupati Bogor Tahun 2008.
3. Untuk mengetahui saluran atau media politik yang digunakan oleh
Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan
(DPC-PPP) Kabupaten Bogor dalam menyampaikan pesan politik.
4. Untuk mengetahui bagaimana efek khalayak yang muncul akibat
proses komunikasi politik yang di lakukan Dewan Pimpinan
Cabang Partai Persatuan Pembangunan (DPC-PPP) Kabupaten
Bogor dalam pilkada Bupati Bogor Tahun 2008
D. Manfaat Penelitian
1. Akademis
Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi
terhadap perkembangan khazanah keilmuan dan dapat pula memperkaya
teori-teori komunikasi yang berkaitan dengan komunikasi politik khususnya di Fakultas
Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Praktis
Secara praktis hasil Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan pedoman
dasar untuk mengetahui fungsi dari komunikasi politik, bahwa komunikasi politik
berguna sebagai wawasan pemikiran dan praktek yang diperoleh, oleh Jurusan
Komunikasi Penyiaran Islam di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif
E. Metodologi Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah
metode penelitian kualitatif. Kualitatif menurut Taylor adalah penelitian yang
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang
dan perilaku yang dapat diamati.6
a. Penentuan Lokasi Penelitian
Penentuan lokasi penelitian di Kantor Sekretariat Rachmat Yasin
Center (RY Center) dan Kantor Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan
Pembangunan (DPC-PPP) Kabupaten Bogor yang terletak di Kabupaten
Bogor, penelitian ini di mulai dari 26 April s/d 30 Juni 2008,karena dalam
penelitian ini peneliti ingin mengetahui usaha-usaha komunikasi politik Dewan
Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan (DPC-PPP) Kabupaten Bogor
dalam memenangkan pilkada Bupati Bogor 2008.
b. Tekhnik Pengumpulan Data
Pada penelitian ini peneliti menggunakan tekhnik pengumpulan data
diantaranya :
1. Wawancara : Wawancara di lakukan peneliti secara tatap muka
langsung kepada pihak yang bersangkutan seperti pengurus Dewan Pimpinan
Cabang Partai Persatuan Pembangunan (DPC-PPP) dan tim sukses dengan cara
memberikan pertanyaan langsung atau memberikan lembar pertanyaan untuk
6
dijawab secara langsung dan kepada orang-orang yang di anggap perlu dan
mewakili dalam penelitian ini.
2. Observasi : Dilakukan peneliti secara langsung ke kantor Dewan
Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan (DPC-PPP) Kabupaten
Bogor, observasi ini dilakukan untuk memperoleh data-data7 mengenai
Komunikasi Politik yang dilakukan oleh Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PPP
Kabupaten Bogor.
3. Telaah Kepustakaan : Untuk mendapatkan data-data yang berkaitan
dengan penelitian ini, selain itu telaah kepustakaan juga dimaksudkan untuk
menjelaskan teori yang digunakan, Telaah kepustakaan didapat dari sumber
informasi seperti buku-buku arsip partai, jurnal, surat kabar dan majalah yang
kiranya dapat mendukung penelitian ini dari segi pustaka.
c. Analisis Data
Data-data yang terkumpul akan dianalisa sesuai dengan jenis data
yang terkumpul, dengan menggunakan analisis kualitatif yaitu penelitian yang
berupaya menarik nilai-nilai dari data lapangan yang ditemui secara mendalam.
Adapun dalam penulisan skripsi ini, penulis berpedoman kepada buku pedoman
penulisan karya ilmiah ( Skripsi, Tesis, dan Disertasi ) UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta Tahun 2007-2008.
Berdasarkan metode penelitian tersebut di atas penulis berharap
mendapatkan data penelitian yang bersifat deskriptif interpretative sehingga
7
penulis dapat menganalisa dan menelaah lebih dekat, mendalam, mengakar dan
menyeluruh, untuk mendapatkan gambaran mengenai Komunikasi Politik Dewan
Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan (DPC-PPP) Kabupaten Bogor
dalam pilkada Bupati Bogor 2008.
F. Tinjauan Pustaka
Setelah penulis melihat dan mencari judul skripsi yang ada di
perpustakaan utama Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah dan
perpustakaan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, ada beberapa judul skripsi yang
juga membahas mengenai Dakwah, komunikasi dan politik, pertama judul skripsi
“ Dakwah dan Politik Muhammadiyah, “ karya Nurhidayat. Dalam skripsi
tersebut lebih banyak tentang lahir dan peran organisasi muhammadiyah terhadap
kondisi masyarakat (islam) dalam rangka mengembalikan ajaran islam kepada
keasliannya kemurniannya (purifikasi), Kemudian judul skripsi “ Dakwah dan
Politik Hizbut Tahrir di Indonesia “ karya Romi Sopyan. Skripsi ini memaparkan
tahapan-tahapan pembinaan kader Hizbut Tahrir dan masyarakat dengan ide-ide
yang di adopsi Hibut Tahrir, berinteraksi dengan masyarakat (Tafa’ul Ma’al
Ummah) agar umat turut memikul kewajiban dakwah islam. Tahapan
pengambilalihan kekuasaan (Istilaam al hokum). Selanjutnya judul skripsi “
Konsep Dakwah dan Politik Partai Keadilan Sejahtera (PKS) “ karya Muhammad
Amin Muttaqien, skripsi ini memaparkan konsep dakwah politik partai keadilan
sejahtera (PKS) berdasarkan kepada pemahaman tentang ajaran-ajaran islam yang
universal itu sendiri, tetapi dakwah juga bisa di lakukan melalui partai politik
dakwah akan lebih luas. Melihat dari judul skripsi di atas, maka semuanya
membahas tentang dakwah politik yang dilakukan oleh organisasi masyarakat dan
partai politik. Sedangkan skripsi ini lebih mengkaji pada komunikasi politik yang
dilakukan oleh Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan
(DPC-PPP) dan Tim pemenangan (Tim Sukses) koalisi Partai Persatuan Pembangunan
dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PPP-PDIP) dalam memenangkan
pertarungan pilkada Bupati Bogor 2008.
G. Sistematika Penulisan
Untuk mengetahui gambaran yang jelas tentang hal-hal yang di uraikan
dalam penulisan ini, maka penulis membagi sistematika penyusunan ke dalam
lima bab, masing-masing bab di bagi dalam sub dengan perincian sebagai
berikut :
BAB I. Pendahuluan meliputi : latar belakang masalah, pembatasan dan
perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metodologi
penelitian, tinjauan pustaka, dan sistematika penulisan
BAB II. Kerangka teori memuat : A. pengertian komunikasi,
komunikator politik, saluran komunikasi politik, efek dan khalayak
komunikasi politik. B. pengertian partai politik, fungsi partai politik, politik
islam, ideologi partai islam
BAB III. Gambaran umum dewan pimpinan cabang (DPC-PPP)
kabupaten bogor, memuat : sejarah berdirinya DPC-PPP kabupaten bogor,
perspektif ideologi partai, visi dan misi, AD / ART partai persatuan
BAB IV. Temuan dan analisis meliputi : Komunikasi Politik dewan
pimpinan cabang (DPC) PPP kabupaten bogor, a. pesan politik b. komunikator
politik c. saluran komunikasi politik, yaitu 1. Peran Media Massa 2.
Mobilisasi Sosial 3. Tim Pemenangan dan. efek komunikasi politik
BAB V. Penutup meliputi : Kesimpulan dan saran
Daftar Pustaka
BAB II
KERANGKA TEORITIS
A. Komunikasi Politik
1. Pengertian Komunikasi Politik
Komunikasi politik terdiri dari dua kata yaitu, komunikasi dan
politik, Istilah komunikasi dalam bahasa Inggris (communication) berasal dari
kata latin communicatio, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama.
Sama di sini maksudnya adalah sama makna. Komunikasi adalah suatu proses
melalui mana seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus dengan tujuan
mengubah atau membentuk perilaku orang lain.8 Komunikasi merupakan
pengalihan informasi untuk memperoleh pengoordinasian makna antara seseorang
dan khalayak.9 Sedangkan kata politik berasal dari politic (Inggris yang
menunjukan sifat pribadi. (Adjective of Person) atau sifat perbuatan (Adjective of
action) dalam kalimat bahwa politik berarti bertindak bijaksana (Acting wisely)
dan bijak (Wise).10 Politik adalah siapa memperoleh apa, kapan, dan bagaimana.11
Politik merupakan ilmu kenegaraan/tatanegara, sebagai kata kolektif yang
menunjukkan pemikiran yang bertujuan untuk mendapatkan kekuasaan.12 Politik
sering pula ditafsirkan sebagai kekuasaan. Sedangkan komunikasi politik
dipandang sebagai alat politik (political mean) untuk mencapai tujuan
8
Onong Uchjana Efendi, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek Rosdakarya:Bandung cet-XVIII h. 9
9
Dan Nimmo, Komunikasi Politik (komunikator,pesan dan media) Rosdakarya:Bandung h. 5
10
Ap. Cowl, Oxford Learners Dictionary, oxford Univesity Press, 1990
11
Dan Nimmo, Komunikasi Politik (komunikator,pesan dan media) Rosdakarya:Bandung h. 8
12
kekuasaan.13 Menurut Deliar Noer dalam bukunya.14 Politik merupakan aktivitas
atau sikap yang berhubungan dengan kekuasaan dan yang bermaksud untuk
mempengaruhi dengan jalan mengubah atau mempertahankan suatu bentuk
susunan masyarakat. Komunikasi Politik telah menjembatani dua disiplin dalam
ilmu sosial: komunikasi dan politik. Setiap sistem politik, sosialisasi dan
perekrutan politik, kelompok-kelompok kepentingan, penguasa, peraturan, dan
sebagainya dianggap bermuatan komunikasi.15
Dalam bahasa Indonesia kata politik mempunyai berbagai macam
pengertian di antaranya :
Pertama, ilmu pengetahuan ketata-negaraan. Kedua, segala urusan dan tindakan
(Kebijakkan, Siasat, dan sebagainya) mengenai pemerintahan.16
Dalam referensi lain, kata politik sendiri berasal dari bahasa Latin
“politicus” atau bahasa yunani (Greek): yang embrionya adalah kata polis yang
berarti negara kota.17 Sedangkan dalam bahasa dikenal dengan kata sifat yang
salah satu artinya adalah politik, sedangkan maksudnya di sini, politik adalah
muslihat, tindakan akal, kebijakkan dengan tujuan mencapai suatu maksud.18 Ada
berbagai definisi yang diberikan oleh ilmuan diantaranya menurut Soelistyani
Ghani dalam bukunya pengantar ilmu politik.19 menurut dia ada dua arti kata
politik yang penting ialah :
13
Dedi Djamaluddin Malik, Peradaban Komunikasi Politik, Rosdakarya : Bandung 1999 h. 130
14
Deliar Noer, Pengantar Ke Pemikiran Politik, Rajawali Press : Jakarta 1983
15
www.teorikomunikasipolitik co.id Edisi Agustus 2006
16
Depdikbud, Kamus Besar, Bahasa Indonesia Balai Pustaka : Jakarta 1995 cet Ke.VII h. 694
17
Anwar Arifin, Komunikasi Politik Balai Pustaka: Jakarta h. 13
18
Depdikbud, Kamus Besar, Bahasa Indonesia Balai Pustaka : Jakarta 1995 cet. Ke.VII h. 836
19
Pertama, politik dalam arti dipergunakan untuk menunjukkan pada
mengenai suatu segi dari kehidupan manusia bersama dalam masyarakat yang
menyangkut kekuasaan, menyangkut PowerRelationship, dalam artian ini
terkadang isi politik sebagai usaha untuk memperoleh kekuasaan. Kedua, politik
di dalam arti mempergunakan untuk menunjukkan kepada satu rangkaian tujuan
yang hendak dicapai atau dengan kata yang lebih singkat kebijaksanaan.
Perdebatan tentang komunikasi mencakup politik meliputi komunikasi,
telah menunjukkan bahwa komunikasi dan politik saling mencakupi. Kedua
bidang kajian itu menyatu dalam subdisiplin komunikasi politik, yang melintasi
berbagai disiplin dan dibesarkan secara lintas disiplin. Secara definisi komunikasi
yang memberi perhatian utama kepada kontrol sosial atau upaya mempengaruhi,
sesungguhnya telah mengandung makna politis karena aspek pengaruh merupakan
salah satu unsur utama politik. Sesungguhnya komunikasi politik sudah ada sejak
manusia berpolitik dan berkomunikasi, tetapi sebagai telaah ilmu. Menurut Alwi
Dahlan, komunikasi politik mulai berkembang dalam bentuk awal dalam
kandungan ilmu politik sesudah Perang Dunia I, meskipun belum memakai
penamaan tersebut. Hal ini terlihat dari studi mengenai pendapat umum,
propaganda, dan perang urat saraf, serta berkembangnya teori media kritis sebagai
bagian dari ilmu politik.20 Ilmuwan komunikasi Abdul Muis, menjelaskan bahwa
istilah komunikasi politik menunjuk pada pesan sebagai objek formalnya sehingga
titik berat konsepnya terletak pada komunikasi dan bukan pada politik. Pada
hakekatnya komunikasi politik mengandung informasi atau pesan tentang politik.
Astrid Susanto, mengartikan komunikasi politik sebagai suatu komunikasi yang
20
diarahkan pada pencapaian suatu pengaruh sedemikian rupa sehingga masalah
yang dibahas oleh jenis kegiatan komunikasi ini, dapat mengikat semua warganya
melalui suatu sanksi yang ditentukan oleh lembaga-lembaga politik. Karena
melalui komunikasi politik terjadi pengaitan masyarakat sosial dengan lingkup
negara sehingga komunikasi politik merupakan sarana untuk pendidikan
politik/kesadaran warga dalam hubungan kenegaraan.21
Definisi Komunikasi politik menurut Michael Schudson (1997 : 311),
komunikasi politik itu, “ Any transmission of message that has, or is intended to
have, an effect on the distribution or use of power in society or on attitude toward
the use of power “. Gejala komunikasi politik, menurut Schudson, bisa dilihat dari
dua arah. Pertama. Bagaimana institusi-institusi negara yang bersifat formal atau
suprastruktur politik menyampaikan pesan-pesan politik terhadap suprastruktur.
Relasi komunikasi politik antarsupra dan infrastruktur “ politik dengan gamblang
bisa dipetakan bila semua komponen yang berkaitan dengan komunikasi politik
digambarkan.22 Dan realitas komunikasi politik di suatu negara, sangat
bergantung pada sistem politik yang dianutnya.
Dari sistem politik itulah, terbentuk sebuah sistem komunikasi politik yang
pada dataran empiriknya tidak selalu persis mencerminkan sistem politik itu
sendiri, pendekatan komunikasi politik yang bersifat empirik dengan melihat
berbagai komponen di dalamnya, terasa akan lebih mendekati kenyataan
beroperasinya sebuah mekanisme komunikasi politik.23 Ada dua bentuk
komunikasi politik, yaitu : Pertama, komunikasi politik yang cenderung
21
Ibid h. 8
22
Dedi Djamaluddin Malik, Peradaban Komunikasi Politik, Rosdakarya : Bandung 1999 h. 131
23
mengambil (membentuk) posisi horizontal. Dalam komunikasi ini, posisi antara
komunikator dan komunikan (masyarakat) relatif seimbang (saling memberi dan
menerima) sehingga terjadi proses sharing karena bentuk komunikasi semacam
ini merefleksikan nilai-nilai demokratis. Yang kedua, komunikasi politik yang
cenderung membentuk pola linear. Arus komunikasi (informasinya) satu arah
cenderung vertikal (top down) karena bentuk komunikasi semacam ini
merefleksikan nilai-nilai budaya feodalistik dan kepemimpinan otoriter.24 Selain
teori-teori di atas masih ada teori-teori lain yang berkaitan dengan komunikasi
politik, secara garis besar semua teori-teori itu selalu berkaitan, maka pada
penulisan skripsi ini lebih cenderung menggunakan teori Model Lasswel yaitu (
Who gets what, when, how?) menurut penulis, teori ini lebih sesuai digunakan
dalam penelitian ini, karena teori ini menunjuk pada teori analisis sumber
(siapa/komunikator), analisis isi (pesan), analisis media (saluran/media politik),
dan analisis efek (efek pada khalayak) sebagaimana diungkapkan oleh Ilmuwan
Komunikasi Abdul Muis, bahwa istilah komunikasi politik menunjuk pada pesan
sebagai objek formalnya sehingga titik berat konsepnya terletak pada komunikasi
dan bukan pada politik, karena hakikat komunikasi politik mengandung informasi
atau pesan yang bercirikan politik.25
2. Unsur-unsur Komunikasi Politik
Menurut David Bell (1972), pembicaraan politik mengandung tiga
kepentingan, yang pasti dan jelas bersifat politis, ketiga kepentingan itu
berturut-turut adalah pembicaraan kekuasaan (mempengaruhi dengan ancaman),
pembicaraan pengaruh (mempengaruhi orang lain tanpa ancaman) dan
24
Dan Nimmo, Komunikasi Politik (komunikator,pesan dan media) Rosdakarya:Bandung h. 13
25
pembicaraan otoritas (pemberitaan pemerintah). Karena isi komunikasi politik
seharusnya tidak cuma berkaitan dengan kekuasaan dan pengaruh kekuasaan
karena bisa menjadi penyebab kemungkinan terjadinya konflik. Itu sebabnya,
mengapa setiap komunikator politik di indonesia seharusnya menguasai kiat
mengelola konflik ( management of conflict ), karena konflik adalah konsekuensi
logis komunikasi politik.26
a. Pesan Politik
Unsur komunikasi politik yang pertama, yaitu pesan politik, tumbuh dan
berkembang dalam negosiasi politik, kegiatan ini bertujuan membentuk
pengertian bersama di antara berbagai pihak tentang bagaimana setiap pihak
seharusnya bersikap dan bertindak terhadap sesama.
b. Saluran Politik/Media Politik
Unsur komunikasi politik yang kedua, yaitu media politik/saluran politik,
sarana perjuangan kepentingan politik itu seharusnya dikelola dengan sifat-sifat
interpersonal yang menonjol, dengan demikian, media komunikasi politik mampu
dimanfaatkan oleh setiap komunikator politik, untuk berbicara langsung kepada
publik sasaran tertentu, tanpa perantara, tapi media komunikasi politik juga bisa
bersifat organisasional artinya, media komunikasi politik itu mampu meneruskan
pesan-pesan komunikator politik ( sebagai elite politik ) kepada berbagai segmen
politik yang ingin dituju, baik massa politik itu bersifat homogen, heterogen,
maupun yang termasuk pendukung atau lawan politiknya.
c. Efek / Akibat Politik
26
Unsur komunikasi politik yang ketiga, yaitu efek / akibat, efek atau akibat
komunikasi politik dapat berupa simpati dan partisipasi politik, akan tetapi bisa
pula berwujud sinisme, antipati, hingga perlawanan politik, dengan demikian,
proses komunikasi politik bisa menghasilkan pembentukan dan perubahan sikap
serta perilaku politik sasaran tertentu, yang bersifat positif ataupun bersifat negatif
bagi komunikator politiknya. Pembentukan dan perubahan sikap serta perilaku
politik target tertentu yang dihasilkan oleh komunikasi politik bergantung pada
kepercayaan nilai dan pengharapan publik atas gagasan politik yang diterimanya.
Di sinilah arti penting partisipasi politik melalui peralihan kepentingan personal
dan sosial komunikator politik sebagai pembentuk pendapat umum, pada target
publiknya.27
3. Komunikator Politik
a. Tipologi Komunikator Politik
Para komunikator politik sering menggunakan bahasa dan simbol untuk
memberikan jaminan kepada khalayak baik untuk memberikan informasi maupun
meyakinkan khalayak.28 Karena sebagian besar komunikator politik adalah
pemimpin organisasi yang biasa disebut pemimpin simbolik.29 Ada tiga jenis
komunikator politik yang harus diketahui dalam membahas komunikasi politik.30
yaitu :
1) Politisi Wakil dan Ideolog
27
Anwar Arifin Komunikasi Politik Balai Pustaka : Jakarta 2003 cet-1 h. 135
28
Dan Nimmo, Komunikasi Politik (komunikator,pesan dan media) Rosdakarya:Bandung h. 101
29
Ibid h. 46
30
Politisi wakil dan ideolog, tipe komunikator politik yang menjadi
perwakilan (refresentative) dan hasil dari kaderisasi partai yang jadi perwakilan
nilai-nilai normatif untuk kepentingan politik dari individu ataupun kelompok.
2) Profesional (Jurnalis dan Promotor)
Profesional, terdiri dari jurnalis dan promotor, komunikator politik yang
secara profesional bekerja dan melembaga mempublikasikan isu, opini publik dan
mempromosikan seorang kandidat/calon atau sebuah partai politik tertentu dalam
pemenangan pertarungan politik di saat pemilu.
3) Aktivis (Juru Bicara dan Figure Head)
Aktivis yang terbagi juru bicara dan pemuka pendapat (figure head),
komunikator politik yang menjadi perwakilan (refresentative) kelompok di
masyarakat dalam menyuarakan tuntutan dan masukan suprastruktur politik dan
komunikator politik dari tokoh masyarakat atau figur yang memiliki pengaruh
besar dilingkungan masyarakat dimana ia tinggal.
4. Saluran Komunikasi Politik
Saluran komunikasi politik adalah alat serta sarana yang memudahkan
penyampaian pesan yang bercirikan politik.31 Saluran komunikasi selalu terdiri
atas lambang-lambang dan kombinasi lainnya serta teknik media yang digunakan
untuk berbicara dengan khalayak.32 Dalam sistem politik apapun, para politisi
sebagai pembuat keputusan politik berkomunikasi dengan khalayak selalu
menggunakan saluran utama yaitu media politik atau saluran politik.33 Ada
hubungan yang menarik antara media/saluran politik dengan komunikator politik,
31
Dan Nimmo, Komunikasi Politik(Komunikator,pesan dan media)Rosdakarya:Bandung 2005cet-6 h.166
32
Ibid h.166
33
politisi, partai politik dan khalayak umum, karena saluran media politik
membentuk dan mempengaruhi opini publik menjadi sangat penting pada waktu
pemilu.34 Dalam komunikasi politik saluran komunikasi terbagi dalam tiga tipe.35
Pertama, saluran komunikasi satu kepada banyak, yaitu komunikasi massa.
Kedua, saluran komunikasi interpersonal merupakan bentuk dari satu kepada satu,
yaitu tatap muka. Ketiga, saluran komunikasi yang menggabungkan penyampaian
satu kepada satu dan satu kepada banyak, yaitu komunikasi organisasi. Dan
komunikasi massa merupakan sumber utama pesan-pesan politik dari
komunikator politik dalam menyusun agenda politiknya, sedangkan pemerintah
dan pers adalah sumber dan saluran komunikasi politik.36
5. Efek dan Khalayak Komunikasi Politik
a. Khalayak Komunikasi Politik
Khalayak adalah merupakan peran sifat sementara yang menjadi tujuan
disampaikannya suatu pesan politik karena khalayak dapat merubah pesan
menjadi sumber atau komunikator politik saat ia memprakasai penyampaian pesan
politik. Jenis khalayak politik terdiri dari tiga macam.37 Yaitu : Pertama, publik
umum (general public) merupakan komunitas masyarakat kebanyakan yang
seringkali menerima informasi politik secara selintas dan biasanya meliputi lebih
dari separuh penduduk dalam kenyataannya ciri khasnya khalayak semacam ini
jarang melakukan komunikasi dengan para pembuat kebijakkan. Kedua, publik
yang penuh perhatian (The attentive public) khalayak semacam ini biasanya
muncul dari lapisan masyarakat yang berperhatian, mereka adalah lapisan
34
Ibid h. 9
35
Dan Nimmo, Komunikasi Politik(Komunikator,pesan dan media)Rosdakarya:Bandung 2005cet-6 h. 168
36
Ibid h. 18
37
masyarakat yang mau tahu dan menaruh minat pada perkembangan politik yang
sedang berkembang, biasanya publik atentif kurang dari separuh populasi dewasa
yang ada pada suatu masyarakat atau sekitar 10-15 % dari populasi. Ketiga, elit
opini dan kebijakan (Elite opinion and policy) khalayak semacam ini muncul
dikarenakan posisi mereka di dalam masyarakat sebagai tokoh masyarakat (Figure
head).
b. Efek Komunikasi Politik
Efek adalah pengaruh yang ditimbulkan oleh sebab perbuatan, akibat,
dampak.38 dari suatu peristiwa yang telah dilakukan, sedangkan yang di maksud
dengan efek komunikasi dalam komunikasi politik yaitu tindakan komunikasi
apapun dapat mempunyai akibat yang banyak pada khalayak.39 Efek yang banyak
dalam komunikasi politik merupakan sesuatu yang wajar. Efek terjadi karena
adanya interaksi antara tiga unsur dalam komunikasi yaitu : pesan, khalayak dan
siapa (komunikator) yang mengatakan dengan saluran apa, akibat/efek tidak
ditentukan terpisah dari interpretasi tapi malahan sebaliknya akibat adalah tidak
terpretatif terus berlangsung yang dihasilkan dari penyusunan opini personal,
sosial, dan politik.40 Efek yang diharapkan dari sasaran/objek dalam komunikasi
politik pada hakikatnya sama dengan efek yang dihasilkan dalam komunikasi
lainnya, tujuan utamanya yaitu, untuk meraih kemenangan terhadap suatu
kekuasaan.41 Jenis dasar efek terbagi dua macam yaitu: Pertama, efek primer
meliputi perhatian dan pemahaman. Kedua, efek sekunder meliputi tingkat
38
Burhani Ms dan Hasbi L, Kamus Ilmiah Populer Referensi Ilmiah-Politik Lintas Media: Jombang Edisi Millenium h.107
39
Dan Nimmo, Komunikasi Politik(Komunikator, pesan dan media)Rosdakarya:Bandung 2005cet VI h.19
40
Ibid h 20
41
kognitif (perubahan pengetahuan dan sikap) dan perubahan perilaku (menerima
dan memilih).42
B. Partai Politik
1. Pengertian Partai Politik
Partai politik berasal dari dua kata yaitu : partai dan politik. Istilah partai
apabila kita melihat pada kamus mengandung pengertian yaitu, segolongan
orang-orang yang sehaluan atau setujuan atau seideologi.43 Adapun politik adalah segala
urusan atau tindakan (kebijakan) mengenai pemerintah negara atau menangani
suatu masalah.44
Politik adalah pemikiran-pemikiran yang terkait dengan kepentingan
(masyarakat), baik pemikiran-pemikiran tersebut berupa kaidah-kaidah yang
mencakup akidah atau hukum-hukum, atau pemikiran tersebut berupa aktivitas
yang sedang berlangsung, telah berlangsung maupun yang akan berlangsung
termasuk pula didalamnya informasi-informasi. Apabila pemikiran-pemikiran
tersebut adalah perkara yang real, maka hal itu merupakan politik. Baik
perkara-perkara tersebut bersifat kekinian ataupun masa datang. Namun apabila waktunya
telah lewat, yaitu faktanya telah berlalu, dan lenyap, baik baru saja berlalu atau
sudah lama, maka hal itu berupa sejarah.45
Partai politik sebagai suatu kelompok yang terorganisir yang
anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai dan cita-cita yang sama. Tujuan
kelompok ini ialah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan
42
Nurudin M.Si, Pengantar Komunikasi Massa Rajagrafindo Persada Edisi 1 h. 206
43
Zainal Bahri, Kamus Umum Khususnya Bidang Hukum dan Politik Bandung : Angkasa 1996 h. 15
44
Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia Balai Pustaka : Jakarta, 1995 h. 11
45
politik (biasanya) dengan cara konstitusional untuk melaksanakan
kebijaksanaan-kebijaksanaan mereka.46
Bila dilihat dari segi komposisi dan fungsi keanggotaannya, secara umum
klasifikasi partai politik dapat dibagi dalam dua jenis, yaitu (1) partai massa, yang
mengutamakan kekuatan berdasarkan keunggulan jumlah anggota, dan (2) partai
kader, yang mementingkan keketatan organisasi dan disiplin kerja dari
anggota-anggotanya.47
Partai politik merupakan alat untuk meraih kekuasaan demi kesejahteraan
rakyat, yaitu adanya peningkatan kemampuan masyarakat dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya. Partai politik dibentuk untuk memediasi rakyat guna
merencanakan suatu model kekuasaan yang dapat membawa dampak positif bagi
peningkatan kualitas hidup seluruh warga masyarakat. Partai politik ditempatkan
sebagai instrumen penting dalam mempermudah terciptanya iklim demokrasi
sebagai jalan yang dianggap paling mudah mencapai kesejahteraan tersebut.
Di samping pengertian di atas, penulis juga menampilkan pengertian partai
politik dari beberapa ahli ilmu politik.48 diantaranya : (1) Carl J Friedrich,
memaknai partai politik sebagai sekelompok manusia yang terorganisir secara
stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasaan terhadap
pemerintahan bagi pimpinan partainya dan, berdasarkan penguasaan ini
memberikan kepada anggota partainya kemanfaatan yang bersifat adil maupun
materiil. (2) R..H Soltau, menafsirkan partai politik adalah sekelompok warga
46
Meriam Budihardjo, Dasar-dasar ilmu politik Gramedia Jakarta 2000. cet. Ke-21 h. 160-161
47
Ibid h. 166
48
negara yang sedikit banyak terorganisir, yang bertindak sebagai suatu kesatuan
politik dengan memanfaatkan kekuasaannya untuk memilih bertujuan menguasai
pemerintahan dan melaksanakan kebijaksanaan umum mereka. (3) Sigmund
Neumann, mendefinisikan partai politik dengan organisasi dari aktivis-aktivis
politik yang berusaha untuk menguasai kekuasaan pemerintahan serta merebut
dukungan rakyat atas dasar persaingan dengan suatu golongan atau
golongan-golongan lain yang mempunyai pandangan yang berbeda.
Partai politik merupakan organisasi yang tidak bertujuan untuk menarik
keuntungan sama sekali, partai politik termasuk dalam salah satu organisasi yang
selalu menghadapi problem dalam menerapkan manajemen reward and
punishment system. Sehingga tak jarang menimbulkan keluhan di sejumlah
kalangan aktivisnya, terutama aktivis yang merasa memiliki skill atau sejumlah
kemampuan, kompetensi, profesionalisme atau merasa sudah lama mengabdi di
partai namun tidak mendapat tempat sebagaimana yang diharapkan. Akan tetapi
kalau merujuk kepada terminologi, kedudukan dan fungsi partai politik yang
banyak didefinisikan oleh sebagian pakar politik, partai politik sebenarnya
mempunyai keharusan untuk menerapkan manajemen modern yang tidak lain
prinsip reward and punishment system. Karena partai politik pada hakekatnya
sebagai sarana komunikasi dan sosialisasi politik baik di tingkat internal maupun
eksternal partai (lembaga-lembaga politik formal dan pemerintahan).49
2. Fungsi Partai Politik
49
Adapun fungsi-fungsi partai politik dirumuskan oleh ahli ilmu politik50
sebagai berikut :
Pertama, sarana komunikasi politik, yaitu proses penyampaian informasi
mengenai politik dari pemerintah kepada masyarakat dan dari masyarakat kepada
pemerintah. Kedua, sarana sosialisasi politik, yaitu proses pembentukan sikap dan
orientasi politik para anggota masyarakat. Melalui proses sosialisasi politik inilah
para anggota masyarakat memperoleh sikap dan orientasi terhadap kehidupan
politik yang berlangsung dalam masyarakat. Ketiga, sarana recruitment politik,
yaitu seleksi dan pengangkatan seseorang atau sekelompok orang untuk
melaksanakan sejumlah peran dalam system politik pada umumnya dan
pemerintahan pada khususnya. Keempat, sarana pengatur konflik (conflict
management), yaitu mengendalikan konflik melalui cara berdialog dengan
pihak-pihak yang berkonflik, menampung dan memadukan berbagai aspirasi dan
kepentingan dari pihak-pihak yang berkonflik dan membawanya ke parlemen
untuk mendapatkan penyelesaian melalui keputusan politik. Kelima, artikulasi dan
agregasi kepentingan, menyalurkan berbagai kepentingan yang ada dalam
masyarakat dan mengeluarkannya berupa keputusan politik. Keenam, jembatan
antara rakyat dan pemerintah, yaitu sebagai mediator antara kebutuhan dan
keinginan masyarakat dan responsivitas pemerintah dalam mendengar tuntutan
rakyat.
3. Ideologi Partai Islam
50
Partai-partai yang berideologi dan berbasis massa umat islam umumnya
harus memiliki ciri khas dan mempunyai beberapa karakter yang menjadi symbol
perwakilan (refresentative) umat islam dalam mengaspirasikan tuntutan mayoritas
umat islam yang salah satunya untuk menerapkan sistem yang diatur oleh hukum
islami, beberapa karakter yang harus ada pada setiap partai islam, di antaranya :
Pertama, Dasarnya Islam. Artinya Islam bukan hanya menjadi dasar, tetapi harus
menjadi panduan partai untuk membangun pandangan partai, pemikiran dan
hukum yang diadopsi dan diperjuangkan. Kedua, Kaderisasi yang Islami, artinya
generasi partai yang berpikir dan berbuat berdasarkan nilai-nilai yang islami,
generasi yang siap menerapkan syariah islam yang ikhlas dan berjuang tanpa
pamrih. Ketiga, Memiliki Jiwa memimpin secara islami, artinya
kepemimpinannya dibangun dengan pemikiran islam dan ditaati selama tidak
menyimpang dari aturan yang berlaku. Kempat, Memiliki konsep yang universal
yang islami, artinya partai islam harus memiliki konsepsi yang jelas, tegas dan
berani tapi tetap mengarah pada syariah islam yang bisa diterima semua lapisan
masyarakat. Kelima, Arah dan metodenya sesuai dengan perjuangan Rasulullah
SAW. Keenam, melakukan fungsi-fungsi pembangunan antara lain : (a)
Membangun tubuh partai dengan pembinaan yang intensif, (b) Membina umat
dengan islam dan pemikiran, ide dan hukum syariah, (c) Melakukan perang
pemikiran dengan semua ide, pemikiran dan aturan yang bertentangan dengan
islam, (d) Melakukan koreksi terhadap penguasa yang tidak menerapkan atau
mendzalimi rakyatnya (e) Perjuangan politik terhadap penjajahan kaum kafir.51
4. Politik Islam
51
a. Politik Islam
Sebelum membahas gerakan politik Islam kita terlebih dahulu harus
mengetahui
uraian sederhana mengenai pengertian politik (siyasah). Siyasah berasal dari
kata saasa, yasusu, siyasah yang artinya ''mengendalikan''.52 Yang artinya bahwa
inti dari politik adalah pengendalian. Pengertian politik juga dapat diartikan secara
lebih luas kepada sistem pengendalian yang lain, semisal pengedalian kekuasaan
(siyasah-daulah), pengendalian masyarakat (siyasatul-mujtama').53 Politik Islam
dapat diartikan sebagai upaya-upaya yang dilakukan untuk menjadikan Islam
sebagai pengendali sistem kehidupan manusia.
Makna Politik Islam dihayati dalam sebuah pemahaman bahwa agama
yang dibawa nabi Muhammad SAW ini adalah ajaran yang tidak sekadar
berdimensi individual (mengatur hubungan manusia dengan Allah), tetapi juga
berdimensi sosial (mengatur hubungan manusia dengan manusia). Pemahaman ini
menjadi dasar untuk tampilnya Islam di tengah kehidupan manusia dalam posisi
sebagai pengendali. Pembahasan politik Islam sangat terkait erat dengan
kepemimpinan, karena dengan kepemimpinanlah pengendalian dapat dilakukan.54
Dengan demikiantema kepemimpinan merupakan tema yang sangat penting,
karena manusia diciptakan Allah Swt sebagai makhluk majemuk yang
membutuhkan kepemimpinan. Bahkan fenomena ini adalah fenomena universal
yang dapat dilihat pada kehidupan hampir semua makhluk, hidup maupun mati.
Politik Islam tidak dapat diwujudkan kecuali oleh sekelompok manusia yang
52
www. Republika Online. co.id Edisi 04 Agustus Tahun 1999 h. 1
53
Ibid h. 1
54
solid, yang berpijak pada suatu visi dan kepentingan yang sama, yaitu Islam. Dari
sisi sosial mereka disebut kelompok (al-jama'ah) dan dari sisi politik mereka
disebut dengan partai (al-hizb). Partai bukanlah sekadar sebuah kumpulan orang
yang bertemu secara tiba-tiba yang dengan kepentingan-kepentingan pinggiran
mendirikan sebuah lembaga yang diharapkan bisa ikut dalam pemilihan umum.
Terkadang pengertian hakiki partai sering dikaburkan dengan pengertian
partai-partai ''formal'' seperti masa sekarang ini. Kebanyakan orang mengira
bahwa partai itu harus senantiasa hanya memenuhi ketentuan-ketentuan seperti
memiliki nama tertentu, terdaftar di departemen umum, dan memiliki kartu
anggota resmi. Sebuah partai berideologikan agama islam akan disebut dengan
partai Islam, jika di dalam anggaran dasarnya tertera asas Islam.55 Partai yang
hakiki bisa saja berbentuk sebuah partai formal, tetapi bisa juga mengambil
bentuk-bentuk semiformal lainnya selain ''partai'', misalnya sebuah yayasan,
organisasi kemasyarakatan, atau malah tak memiliki bentuk formal sama sekali
semisal sebuah gerakan ''bawah tanah''. Eksistensi kejamaahan dalam sebuah
bentuk kesatuan niat, tujuan, metode, dan wawasan, yang penting tetap terjaga.
Uraian pengertian diatas dikuatkan lagi dengan adanya pendapat-pendapat para
orientalis56 sebagai berikut:
1) Dr. V. Fitzgerald berkata: "Islam bukanlah semata agama (a religion),
namun ia juga merupakan sebuah sistem politik (a political system).
Meskipun pada dekade-dekade terakhir ada beberapa kalangan dari umat
55
H.A Chudlary Syafi’i Hadzami, Anak Betawi Di Pentas Politik Jakarta,Yayasan Al-Asyirotusy syafi’iyyah : Jakarta, 2004 cet. ke-1 h. 157
56
Islam, yang mengklaim diri mereka sebagai kalangan 'modernis', yang
berusaha memisahkan kedua sisi itu, namun seluruh gagasan pemikiran
Islam dibangun di atas fundamental bahwa kedua sisi itu saling
bergandengan dengan selaras, yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain".
2) Prof. C. A. Nallino berkata: "Muhammad telah membangun dalam waktu
bersamaan: agama (a religion) dan negara (a state). Dan batas-batas
teritorial negara yang ia bangun itu terus terjaga sepanjang hayatnya".
3) Dr. Schacht berkata : " Islam lebih dari sekadar agama: ia juga
mencerminkan teori-teori perundang-undangan dan politik. Dalam
ungkapan yang lebih sederhana, ia merupakan sistem peradaban yang
lengkap, yang mencakup agama dan negara secara bersamaan".
4) Prof. R. Strothmann berkata : "Islam adalah suatu fenomena agama dan
politik. Karena pembangunnya adalah seorang Nabi, yang juga seorang
politikus yang bijaksana, atau "negarawan".
5) Prof D.B. Macdonald berkata : "Di sini (di Madinah) dibangun negara
Islam yang pertama, dan diletakkan prinsip-prinsip utama undang-undang
Islam".
6) Sir. T. Arnold berkata : " Adalah Nabi, pada waktu yang sama, seorang
kepala agama dan kepala negara".
7) Prof. Gibb berkata : " Dengan demikian, jelaslah bahwa Islam bukanlah
sekadar kepercayaan agama individual, namun ia meniscayakan berdirinya
tersendiri dalam sistem kepemerintahan, perundang-undangan dan
institusi.57
57
BAB III
GAMBARAN UMUM DEWAN PIMPINAN CABANG (DPC) PPP
KABUPATEN BOGOR
A. Sejarah Berdirinya Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan
Pembangunan (DPC-PPP) Kabupaten Bogor
Sejarah tidaklah bergerak secara linear, melainkan seringkali bergerak
secara dialektik. Itu pula yang terjadi di kalangan partai-partai politik Islam. Pada
5 Januari 1973, tokoh-tokoh Islam dan ulama yang berasal dari NU, PERTI, PSII,
dan Parmusi berkumpul dan bermusyawarah di rumah kediaman HMS
Mintaredja. Yang akhirnya tercapai mufakat untuk bersatu dan berfusi dalam satu
wadah partai politik yang bernama Partai Persatuan Pembangunan (PPP).58 Inilah
awal mula sejarah PPP berdiri yang berangkat dari terjadinya sejarah masa lalu
dimana partai-partai Islam pada itu masih tersekat-sekat oleh kepentingan
masing-masing.
Ada empat alasan bersatu dan berfusinya partai-partai Islam pada waktu
itu, Pertama, kelompok demokrasi pembangunan sudah berencana melakukan fusi
partai pada tanggal 10 februari 1973, sehingga Partai Persatuan Pembangunan
tidak mau ketinggalan. Kedua, semangat persatuan di kalangan partai Islam
(terutama pimpinannya) begitu menonjol, setelah kalah pada pemilu 1971. Ketiga,
isu penyederhanaan partai sejak paska pemilu 1971 semakin santer digaungkan
pemerintah. Maka jalan tengahnya, mau tidak mau partai-partai Islam lebih baik
bersatu dan berfusi daripada harus dibubarkan dengan alasan melanggar
58
Undang. Keempat, sikap ikut arus fusi memungkinkan PPP bisa konsentrasi untuk
ikut menyusun UU Politik baru di DPR.59 Proses terbentuknya fusi partai-partai
islam melalui proses yang sangat panjang dan melelahkan. Berlangsungnya fusi
partai-partai islam ke dalam PPP menunjukkan adanya dua kesadaran sekaligus,
yakni : Pertama kesadaran subyektif di kalangan tokoh-tokoh dan ulama islam
pada waktu itu bahwa hanya dengan persatuan dan kesatuan, maka kekuatan
partai-partai islam akan mejadi solid dan kokoh. Kedua, berfusinya partai-partai
islam ke dalam PPP didasarkan atas kesadaran objektif bahwa tantangan dan
realitas politik yang sedang berkembang pada waktu itu dan mengharuskan
partai-partai islam berfusi ke dalam PPP, faktor lain yang menjadi alasan bersatu dan
berfusi partai-partai islam karena dua dari partai islam lain yaitu NU dan PSII
sebelumnya pernah satu wadah dalam Masyumi, partai islam yang lahir 7
November 1945.60 Dan berfusinya partai islam ke dalam PPP haruslah dirawat,
dipelihara serta ditumbuh-kembangkan.
B. Perspektif Ideologi Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Persatuan
Pembangunan (PPP)
Hubungan Islam dengan politik merupakan bagian yang tak terpisahkan.
Bahkan bisa disimpulkan memang sudah tertulis hampir di semua literature
sejarah dan peradaban islam. Hubungan islam dengan negara sudah menjadi
keakraban yang tak terpisahkan, maka tak heran jika ada beberapa ulama
mendefinisikan islam sebagai suatu agama (din) dan negara (kekuasaan atau
59
Ibid h. 71
60
dawlah).61 Dalam Al Qur’an amatlah jelas bahwa islam tidak hanya mengatur
hubungan antara manusia dengan penciptanya, juga mengatur hubungan antar
manusia dengan sesamanya. Ada 14 prinsip ajaran islam yang berkaitan dengan
hak asasi dan politik (negara).62 antara lain : prinsip umat, prinsip persatuan dan
persaudaraan, prinsip persamaan, prinsip kebebasan, prinsip hubungan antar
pemeluk agama, prinsip pertahanan, prinsip hidup bertetangga, prinsip tolong
menolong, dan membela yang lemah dan teraniaya, prinsip perdamaian, prinsip
musyawarah, prinsip keadilan, prinsip pelaksanaan hukum, prinsip kepemimpinan
dan prinsip ketakwaan, amar ma’ruf nahi munkar . Islam sebagai agama, yang
sejatinya membawa faham egalitarian, jelas harus berhadapan dengan realitas
sosial-politik. Dalam konteks keagamaan, juru dakwah Islam melakukan gerakan
secara sinkretik dengan tetap mengadopsi kepercayaan dan adat istiadat di
indonesia dalam batas-batas tertentu sehingga ajaran islam relatif dapat diterima
tanpa ada ketegangan dan halangan yang berarti, karena proses Islamisasi pada
masa awal-awal berjalan secara pembicaraan (smooth).63 Berikut adalah kerangka
landasan yang menjadi dasar bagi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dalam
melangkah di dunia politik sebagaimana dituangkan di dalam dokumen-dokumen
partai
1. Asas Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
Asas Partai Persatuan Pembangunan (PPP) adalah Islam.
61
Burhani Ms dan Hasbi L, Kamus Ilmiah Populer Lintas Media: Jombang Edisi Millenium h.79
62
J Suyuthi Pulungan, Prinsip-prinsip Pemerintahan dalam Piagam Madinah ditinjau dari Pandangan Al-Qur’an, RajaGrafindo Persada :Jakarta 1994 h.125-260
63
Sebagai partai yang berasakan Islam, PPP berusaha mengembangkan
budaya politik akhlakul karimah. Karena budaya politik akhlakul karimah secara
normatif bersumber pada nilai-nilai ajaran islam yang terkandung dalam
Al-Qur’an dan Al-Hadist, dan sejarah politik islam dari masa Rasululah hingga
sejarah politik Islam di Indonesia.64
2. Tujuan Partai
Tujuan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) adalah dakwah amar ma’ruf nahi
munkar yang bertujuan mewujudkan masyarakat madani yang adil, makmur,
sejahtera lahir bathin dan demokratis dalam wadah Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang berdasarkan Pancasila di bawah ridho Allah Subhanahu
Wata’ala.65
3. Usaha
1. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) selalu berusaha untuk menjadi
sebuah partai Reformis atau partai yang membawa perubahan.
2. Melaksanakan ajaran Islam dalam hidup perorangan, bermasyarakat,
berbangsa dan negara.
3. Mendorong terciptanya iklim yang sebaik-baiknya bagi terlaksananya
kegiatan-kegiatan peribadatan menurut syariat Islam.
4. Memupuk ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah
basyariyah untuk mengukuhkan persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia
dalam segala kegiatan kemasyarakatan dan kenegaraan
5. Membrantas paham komunis/atheisme dan faham-faham lainnya yang
bertentangan dengan Islam dan Pancasila.
64
Ibid h. 110
65
6. Menegakkan, membangun dan mempertahankan Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
7. Melaksanakan usaha-usaha lainnya yang tidak bertentangan dengan asas
dan tujuan partai.66
Sebagai partai islam, PPP berusaha untuk terus tampil sebagai partai
reformis, karena pada dasarnya PPP yang didirikan hasil fusi partai-partai islam
pada 5 januari 1973 adalah sejatinya sudah mengandung nilai-nilai pembaruan
dan kereformisan, yang terlihat dalam orientasi dan perilaku para elit dan
kader-kadernya serta ditunjukkan dengan program-programnya.67 Adanya fusi
partai-partai islam sesungguhnya dapat dianggap sebagai suatu langkah reformasi
politik. Fusi partai ditempuh untuk kepentingan jangka panjang dan lebih besar
bagi umat islam, karena bersatu dan berfusinya partai-partai islam ke dalam PPP
dapat dianggap sebagai langkah reformatif terkini dalam sejarah islam.68 Tokoh
politik dan ulama yang sudah berikrar fusi partai ke dalam PPP menyadari betul
bahwa permasalahan politik umat Islam di indonesia tidak mudah terselesaikan
dengan adanya fusi partai dalam tubuh PPP tapi justru malah sebaliknya
terjadinya fusi partai ke dalam PPP merupakan starting point untuk maju bersama
dalam semangat ukhuwwah Islamiyah agar PPP bisa tampil menjadi partai yang
disegani.69 PPP Sebagai partai politik yang memiliki akar historis keumatan dan
keulamaan, sejak berfusinya partai-partai politik menjadi satu partai, PPP
mengalami banyak tantangan terutama disebabkan adanya kesan dan perasaan
66
Ketetapan-ketetapan Muktamar VI dalam Buku AD/ART Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPP Masa Bakti 2007-20012 h. 6-7
67
HA. Chudlary Syafi’i Hadzami, Anak Betawi Di Pentas Politik Jakarta,Yayasan Al-Asyirotusy syafi’iyyah : Jakarta, 2004 cet. ke-1 h. 65
68
Ibid h. 65
69
umum di kalangan umat islam dan elite PPP bahwa berfusinya partai-partai islam
ke dalam PPP bukan semata-mata intervensi dan desakan pemerintah pada waktu
itu (masa orde baru).70 Melainkan atas kesadaran bersama para elite politik islam
dan para ulama untuk sama-sama membangun partai yang berasaskan Islam
sebagai kendaran politik umat Islam dalam pertarungan memperebutkan
kekuasaan.
C. Visi dan Misi Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Persatuan
Pembangunan (PPP)
1. Visi Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
a. Visi Umum
Secara umum dasar pemikiran visi dan misi Dewan Pimpinan Cabang
(DPC) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Bogor sama dengan isi
visi dan misi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPP dengan maksud, Tujuan
pendirian sebuah partai politik ialah untuk memperoleh kekuasaan politik dan
merebut kedudukan politik biasanya dengan cara konstitusional.71 Adanya visi
dan misi serta platform sebuah partai politik merupakan hal yang sangat esensial
dan substansial.72 Istilah visi menunjuk kepada kemampuan untuk melihat pada
inti persoalan, pandangan luas serta wawasan.73 Adapun visi Partai Persatuan
Pembangunan (PPP) sebagaimana dirumuskan dalam muktamar ke IV tahun 1998
adalah terwujudnya suatu masyarakat madani yang adil dan makmur yang diridhoi
70
HA. Chudlary Syafi’i Hadzami, Anak Betawi Di Pentas Politik Jakarta,Yayasan Al-Asyirotusy syafi’iyyah : Jakarta, 2004 cet. ke-1 h. 136
71
Meriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik Gramedia Jakarta 1977 cet. Ke-21 h. 160-161
72
Burhani Ms dan Hasbi L, Kamus Ilmiah Popule, Lintas Media: Jombang Edisi Millenium h. 634
73