ABSTRAK
Oleh
Obbie Ferrie Vernando
Setiap bisnis membutuhkan modal/ kapital untuk memulai, mengelola, memelihara dan menumbuh kembangkan bisnis tersebut. Jika bisnis itu berhasil maka bisnis tersebut akan menghasilkan uang dan bila gagal maka akan mengalami
kebangkrutan. Keputusan pendanaan yang dilakukan secara tidak cermat akan menimbulkan biaya dalam bentuk biaya modal yang tinggi, yang selanjutnya dapat berakibat pada rendahnya profitabilitas. Seperti halnya perusahaan yang bergerak dalam bidang keuangan, PT. BPD Lampung juga mengalami kondisi persaingan yang semakin tajam dalam dunia usaha, sehingga menuntut para pelaku ekonomi untuk membuat dan melaksanakan strategi agar dapat mempertahankan
kelangsungan hidupnya, baik secara individual maupun dalam koorporasi.
yaitu profitabilitas (ROE) dan 2 (dua) variabel independen yaitu Debt to Total Equity (DTE) dan Debt to Total Aset (DTA).
Penelitian ini dilakukan pada periode Tahun 2003 – 2013. Struktur modal pada penelitian ini diukur dengan dengan menggunakan Debt to Total Equity dan Debt to Total Aset. Alat analisis yang digunakan adalah uji normalitas dengan pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji t. Hasil analisis diketahui bahwa secara bersama-sama (simultan) DTE dan DTA berpengaruh signifikan terhadap Profitabilitas (ROE). DTE PT. BPD Lampung mempunyai pengaruh signifikan terhadap Struktur Modal, dengan nilai P-value atau tingkat siginifikan sebesar 0,18, diatas α = 0,05 (5%) dan DTA PT. BPD Lampung mempunyai pengaruh signifikan terhadap Struktur Modal, dengan nilai P-value atau tingkat siginifikan sebesar 0,19, diatas α = 0,05 (5%).
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bandar Lampung pada tanggal 8 Mei 1985, merupakan putra pertama dari
pasangan Ayahanda Herlinto AZ dan Ibunda Septina.
Penulis menyelesaikan Taman Kanak-Kanak (TK) IAIN Bandar Lampung Tahun 1991, Sekolah
Dasar Negeri (SDN) 1 Pelita Bandar Lampung Tahun 1997, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
(SLTP) di SLTP Negeri 2 Bandar Lampung Tahun 2000, Sekolah Menengah Umum (SMU) di
SMU Negeri 2 Bandar Lampung Tahun 2003.
Pada Tahun 2004, Penulis terdaftar sebagai mahasiswa pada Fakultas Ekonomi Jurusan
Manajemen Universitas Lampung. Pada Tahun 2014 Penulis melakukan penelitian pada PT.
PERSEMBAHAN
Bismillahhirrohmannirrohim
Dengan mengucap Puji syukurku kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunianya,
kupersembahkan karya sederhana ini untuk:
Ibu Septina, Ibunda yang sangat kucintai
Bapak Herlinto AZ, Ayahanda yang terhebat bagiku
Inggit Fadillah, wanita yang aku sayangi dan
Anakku Terkasih Mirabel Azzahra Odipisu
serta Siapapun yang percaya bahwa aku akan selalu melakukan yang terbaik
MOTO
tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina,
gunakan ilmu yang dimiliki agar menjadi amal ibadah,
jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain,
hidup cuma satu kali maka gunakan sebaik - baiknya,
man jadda wa jada
siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapatkannya.
fa inna ma’al ‘usri yusra
karena sesungguhnya bersama segala kesukaran, ada kemudahan yang besar.
KATAPENGANTAR
Puji syukur Penulis panjatkan kehadiran Allah SWT, karena atas rahmat dan
hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.
Skripsi dengan judul “Pengaruh Struktur Modal Terhadap Profitabilitas Pada PT.
BPD Lampung Periode Tahun 2003 - 2013” adalah salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Ekonomi.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Sugeng P Harianto selaku Rektor Universitas Lampung
2. Bapak Prof. Dr. H. Satria Bangsawan, S.E., M.Si selaku Dekan Fakultas
Ekonomi Universitas Lampung
3. Ibu Hj. Aida Sari, S.E., M.Si. selaku Ketua Jurusan Ekonomi Manajemen
Fakultas Ekonomi Universitas Lampung trimakasih atas ilmu dan saran yang
di berikan.
4. Ibu Yuningsih, S.E., M.M selaku Sekretaris Jurusan Ekonomi Manajeman
Fakultas Ekonomi Universitas Lampung
5. Bapak M. Syatibi Ch., S.E. selaku Dosen Pembimbing Utama yang telah
meluangkan waktu, tenaga dan fikiran untuk memberikan bimbingan dan
arahan selama penulisan skripsi ini.
7. Bapak Hidayat Wiweko, S.E., M.Si. selaku Dosen Penguji saya ucapkan
terimakasih.
8. Bapak Mustafid, S.E., M.M selaku Pembimbing Akademik
9. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Lampung atas
sumbangsih pemikiran dan ilmu selama menjadi mahasiswa. Serta seluruh
karyawan dan staff di lingkungan Fakultas Ekonomi Universitas Lampung
yang telah membantu penulis selama menjadi mahasiswa.
10.Ibundaku tercinta Septina, terima kasih atas segala pengorbanan, kasih sayang,
kepercayaan, air mata akan doa dan sujud, dan setiap kesabarannya tidak
pernah putus sepanjang masa dan tak ternilai harganya.
11.Ayahanda Herlianto AZ atas atas dukungan, doa, perhatian, kasih sayang serta
hal-hal lain yang tak kan bisa penulis lupakan.
12.Istriku tercinta Inggit Fadillah dan Anakku yang aku banggakan Mirabel
Azzahra Odipisu atas dukungan dan semangatnya.
13.Adik-adikku tersayang Lilie Amelia Yulianti, S.Pd. dan Rendi Ferrie
Vernando yang selalu membuat ku tetap tesenyum dan tertawa.
14.Kakekku tercinta Hi. Ahmar Zahri dan seluruh keluarga atas bantuan dan
dukungannya.
15.Teman-teman seperjuangan Yudi, Sunu, Riski dan Shela dimana akhirnya kita
17.Almamater hijauku Universitas Lampung
Akhir kata penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan,
akan tetapi sedikit harapan semoga skripsi yang sederhana ini dapat berguna dan
bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Bandar Lampung, 5 Desember 2014
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman ABSTRAK
DAFTAR ISI………...………. i
DAFTAR TABEL………...………. ii
DAFTAR GAMBAR………..………. iii
DAFTAR LAMPIRAN………..………. iv
I. PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah………. 1
1.2.Perumusan Masalah……… 8
1.3.Tujuan Penelitian……… 8
1.4.Manfaat Penelitian.………... 8
1.5.Kerangka Pemikiran ……….. 9
1.6.Perumusan Hipotesis ………. 10
II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Landasan Teori ……….. 11
2.1.1. Pengertian Struktur Modal ……… 11
2.1.2. Teori Yang Berkaitan Dengan Struktur Modal ………. 15
2.2.Pengertian Profitabilitas ……… 17
2.3.Ukuran Perusahaan ……… 21
III METODE PENELITIAN
3.1Desain Penelitian ……….. 26
3.2Definisi dan Operasional Variabel Penelitian ………... 27
3.3Sumber Data ……….. 29
3.4Teknik Pengumpulan Data ……… 30
3.5Alat Analisis Data ………. 30
3.6Teknik Penguyjian Hipotesis ……… 32
IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1.Deskriptif Data ……….. 37
4.1.1. Statistik Deskriptif ……… 37
4.1.2. Deskriptif Data Variabel Dependent Independent ……… 38
4.2.Hasil Penelitian ……….. 41
4.2.1. Uji Asumsi Klasik ………. 41
4.2.2. Pengujian Hipotesis ……….. 38
4.3.Pembahasan ………... 47
4.3.1. Pengaruh DTE Terhadap Profitabilitas ………. 47
4.3.2. Pengaruh DTA Terhadap Profitabilitas ……… 48
V SIMPULAN DAN SARAN 5.1.Simpulan………. 50
5.2.Saran………... 51
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1.1 Pertumbuhan Setoran Deviden PT. BPD Lampung Periode Tahun
2009 – 2013 ………... 3
1.2 Hutang Jangka Panjang PT. BPD Lampung Periode Tahun 2003 –
2013 ... 4
1.3 DTE dan DTA PT. BPD Lampung Periode 2003 – 2013 ………….. 6
1.4 ROE PT. BPD Lampung Periode Tahun 2003 – 2013 ………... 7
3.3 Operasional Variabel ……….. 29
4.1 Statistik Deskriptif PT. BPD Lampung Periode Tahun 2003 - 2013 38
4.2 Hasil Uji Autokorelasi ……….…... 43
4.3 Hasil Regresi Berganda Uji F pada DTE PT. BPD Lampung Periode
Tahun 2003 - 2013 ………..
44
4.4 Hasil Regresi Berganda Uji F pada DTA PT. BPD Lampung
Periode Tahun 2003 - 2013 ………...……..
45
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Data Profitabilitas (ROE) PT. BPD Lampung Periode 2003 - 2013
Lampiran 2 Data Debt to Total Equty (DTE) PT. BPD Lampung Periode 2003 - 2013
Lampiran 3 Data Debt to Total Aset (DTA) PT. BPD Lampung Periode 2003 - 2013
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1.1 Kerangka Pemikiran ……… 9
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Setiap bisnis membutuhkan modal/ kapital untuk memulai, mengelola,
memelihara dan menumbuh kembangkan bisnis tersebut. Jika bisnis itu berhasil
maka bisnis tersebut akan menghasilkan uang dan bila gagal maka akan
mengalami kebangkrutan. Baik sukses maupun gagal suatu bisnis tetap
membutuhkan uang untuk membeli peralatan, persediaan, membayar pajak dan
lain-lain. Sebagaimana dengan tujuan perusahaan yaitu mendapatkan profit dari
tahun ketahun serta menjaga kelangsungan hidup perusahaan, salah satu
keputusan yang dihadapi oleh manajer keuangan adalah kebutuhan pendanaan
yaitu suatu keputusan yang berkaitan dengan komposisi hutang, saham preferen
dan saham biasa yang harus digunakan perusahaan. Keputusan pendanaan yang
dilakukan secara tidak cermat akan menimbulkan biaya dalam bentuk biaya modal
yang tinggi, yang selanjutnya dapat berakibat pada rendahnya profitabilitas.
Penentuan proporsi hutang dan modal dalam penggunaannya sebagai sumber dana
perusahaan berkaitan erat dengan istilah stuktur modal.
PT. BPD Lampung sebagai salah satu perusahaan milik daerah Provinsi Lampung
pembangunan daerah khususnya di Provinsi Lampung pada segala bidang dan
sebagai salah satu sumber pendapatan daerah dalam rangka meningkatkan taraf
hidup rakyat khususnya masyarakat di Provinsi Lampung. Seperti halnya
perusahaan yang bergerak dalam bidang keuangan, PT. BPD Lampung juga
mengalami kondisi persaingan yang semakin tajam dalam dunia usaha, sehingga
menuntut para pelaku ekonomi untuk membuat dan melaksanakan strategi agar
dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya, baik secara individual maupun
dalam koorporasi.
Salah satu ukuran keberhasilan manajemen perusahaan adalah profitabilitas.
Menurut Brigham (2001:39) dalam bukunya “Manajemen Keuangan”
mengemukakan profitabilitas sebagai berikut : “Profitability is the result of a
large number of policies and decision”, dan G. Sugiarso dan F. Winarni
(2005:118) mengartikan profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh
laba dalam hubungan dengan penjualan total aset maupun modal sendiri”. Rasio
profitabilitas terdiri atas Profit Margin, Basic Earning Power, Return On Assets,
dan Return on Equity. Semakin besar rasio, akan semakin baik, karena
kemakmuran pemilik perusahaan meningkat dengan semakin besarnya
profitabilitas.
PT. BPD Lampung sebagai banknya masyarakat Lampung memberikan kontribusi
deviden yang cukup besar yang dimanfaatkan sebagai salah satu sumber
pembiayaan belanja Pemerintah Provinsi Lampung. Dibawah ini adalah setoran
deviden yang diperoleh Pemerintah Provinsi Lampung dari PT. BPD Lampung
Tabel 1.1
Pertumbuhan Setoran Deviden PT. BPD Lampung Periode Tahun 2009 – 2013
No. tahun deviden
Sumber : LKPD Provinsi Lampung (data diolah)
Data menunjukkan setiap tahun deviden yang disetor PT. BPD Lampung ke
Pemerintah Provinsi Lampung selama 5 (lima) tahun terakhir terus mengalami
peningkatan. Pada tahun 2009 deviden yang disetor sebesar Rp.11.521.545.130,66
dan pada tahun berikutnya yaitu tahun 2010 mengalami peningkatan sebesar 10%.
Kemudian pada tahun 2011 peningkatan deviden yang disetor mengalami
peningkatan yang sangat signifikan dibanding tahun 2010 yaitu
Rp.19.248.083.784,00 pada tahun 2011 dari sebelumnya pada tahun 2010 hanya
sebesar Rp.12.699.519.352,58 atau meningkat sebesar 52%. Pada tahun 2012
mengalami peningkatan sebesar 9% dan tahun 2013 sebesar 19%.
Bagi sebuah perusahaan yang bersifat profit oriented keputusan sumber
pendanaan dalam rangka memperkuat struktur modal menjadi penting yang harus
dikaji dengan mendalam berbagai dampak pengaruh yang mungkin terjadi dimasa
yang akan datang (future effect). Struktur modal merupakan salah satu keputusan
Sebagaimana modal secara umum bersumber dari pemilik saham (modal sendiri)
dan dari eksternal seperti pinjaman/ utang. Modal pinjaman dalam penilitian ini
adalah hutang jangka panjang. Adapun berdasarkan laporan keungan PT. BPD
Lampung diperoleh data hutang jangka panjangnya sebagai berikut :
Tabel 1.2
Hutang Jangka Panjang PT. BPD Lampung Periode Tahun 2003 - 2013
Tahun Hutang Jangka Panjang (Juta)
Sumber : Laporan Keuangan PT. BPD Lampung (data diolah)
Hutang sebagai salah satu unsur struktur modal diproyeksikan apabila semakin
meningkat dari tahun ketahun diharapkan dapat menghasilkan profitabilitas yang
maksimal yang akan diperoleh PT. BPD Lampung guna membiayai kelangsungan
perusahaan dan diharapkan dapat memberi deviden yang cukup bagi Pemerintah
Provinsi Lampung sebagai pemegang sahamnya.
Dari Tabel 1.2 diketahui bahwa secara umum hutang jangka panjang yang
dimiliki PT. BPD Lampung setiap tahunnya mengalami fluktuasi naik dan turun.
Pada Tahun 2004 terjadi kenaikan hutang jangka panjang sebesar 165,77 % yang
Rp.2.496.586.000.000,- pada Tahun 2004. Kemudian pada Tahun 2005 hutang
jangka panjang PT. BPD Lampung berkurang sebesar 4,14% sehingga menjadi
Rp.2.393.222.000.000,- dan Tahun 2006 turun cukup besar sebanyak 43,42% atau
senilai Rp.1.354.127.000.000,-. Akan tetapi pada Tahun 2007 hutang jangka
panjang yang dimilik PT. BPD Lampung terjadi kenaikan kembali menjadi
Rp.3.124.392.000.000,- atau sebesar 130,73%. Tahun 2008 berkurang sebesar
31,37% dan pada Tahun 2009 sebesar 1,49% dengan nilai uang sebesar
Rp.2.144.167.000.000,- pada Tahun 2008 dan Rp.2.112.141.000.000,- pada Tahun
2009. Pada Tahun 2010 diketahui bahwa hutang jangka panjang PT. BPD
Lampung sebesar Rp.2.315.334.000.000,- yang kemudian pada Tahun 2011
mencapai angka Rp.5.661.819.000.000,- dan Tahun 2012 sebesar
Rp.6.896.410.000.000,- dengan pertumbuhan sebesar 9,62% pada Tahun 20010,
sebesar 144,54% Tahun 2011 dan 21,81% Tahun 2012. Sedangkan terakhir
berdasarkan Publikasi Laporan Keuangan PT. BPD Lampung Tahun 2013 hutang
jangka panjang yang dimiliki PT. BPD Lampung adalah sebesar
Rp.8.291.483.000.000,- dengan tingkat pertumbuhan sebesar 21,81%.
Kemudian untuk menunjang penelitian dan sebagai variabel independent pada
penelitian ini diketahui nilai DTE dan DTA PT. BPD Lampung yang sumber
datanya diperoleh berdasarkan perhitungan dari publikasi laporan keuangan pada
PT. BPD Lampung untuk periode tahun 2003 – 2013 dapat dilihat seperti pada
Tabel 1.3
DTE dan DTA PT. BPD Lampung Periode 2003 - 2013
Tahun Nilai DTE Pertumbuhan DTE (%)
Nilai DTA
Pertumbuhan DTA (%)
2003 12,956 0 1,03388 0
2004 29,315 126,266 2,44688 136,671
2005 21,102 -28,015 1,91751 -21,634
2006 9,274 -56,053 0,62012 -67,660
2007 19,384 109,018 1,54368 148,933
2008 10,589 -45,371 1,03788 -32,766
2009 9,399 -11,235 1,50009 44,534
2010 9,974 6,117 2,17189 44,784
2011 16,524 65,659 1,42301 -34,481
2012 16,922 2,408 1,39097 -2,252
2013 17,433 3,022 1,58016 13,602
Sumber : Laporan Keuangan PT. BPD Lampung (data diolah)
Seperti halnya pertumbuhan pada hutang jangka panjang, maka dapat dilihat
bahwa pertumbuhan DTE dan DTA pada PT. BPD Lampung periode Tahun 2003
– 2013 juga terjadi fluktuasi naik turun. Tahun 2004 DTE meningkat sebesar
126,266% dan DTA sebesar 136,671 kemudian Tahun 2005 terjadi penurunan
dimana DTE turun sekitar -28,015% dan DTA sebesar -21,634% dan Turun
kembali pada Tahun 2006 DTE sebesar -56,053% dan DTA -67,660%. Akan
tetapi pada Tahun 2007 DTE dan DTA yang dimilik PT. BPD Lampung terjadi
kenaikan sebesar 109,018% untuk DTE dan 148,933%. Sayngnya pada Tahun
2008 terjadi penurunan dimana DTE berkurang sebesar -45,371% dan DTA
sebesar -32,766% dan pada Tahun 2009 DTE berkurang sebesar -11,235%
sedangkan DTA meningkat sebesar 44,784%. Pada Tahun 2010 kembali DTE dan
DTA mengalami peningkatan dimana DTA meningkat sebesar 6,117% dan DTE
sebesar 44,784% sedangkan Tahun 2011 DTE Bertambah sebesar 65,659%
sedangkan DTEnya berkurang -34,481%. Tahun 2012 dan 2013 peningkatan DTE
Berikut ini adalah data ROE pada PT. BPD Lampung yang dihimpun dari laporan
publikasi keuangan PT. BPD Lampung untuk periode tahun 2003 – 2013 adalah
sebagai berikut :
Tabel 1.4
ROE PT. BPD Lampung Periode Tahun 2003 - 2013
Tahun Nilai ROE Pertumbuhan ROE (%)
2003 2,738 0
Sumber : Laporan Keuangan PT. BPD Lampung (data diolah)
Pertumbuhan profitabilitas (ROE) PT. BPD Lampung pada Tahun 2004 sebesar
15,239% kemudian Tahun 2005 sebesar 31,291 dan Tahun 2006 sebesar
-26,601%. Pada Tahun 2007 terjadi kenaikan sebesar 33,510% tetapi tahun
selanjutnya 2008 terjadi penurunan kembali sebesar -12,912%. Pada Tahun 2009
ROE PT. BPD Lampung sebesar 22,408% dan Tahun 2010 sebesar 55,165%
kemudian Tahun 2011 sebesar -37,060% dan Tahun 2012 sebesar -18,592%
kemudian Tahun 2013 sebesar 14,262%.
Berdasarkan uraian dari latar belakang, maka penulis ingin mengangkat judul
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.2. Perumusan Masalah
Penelitian tentang pengaruh struktur modal terhadap profitabilitas telah banyak
dilakukan. Penelitian yang dilakukan oleh Gill et al. (2011) menemukan hubungan
positif antara utang jangka pendek, utang jangka panjang, dan total utang terhadap
profitabilitas. Modigliani dan Miller (1958), penelitian mereka menunjukkan
bahwa nilai suatu perusahaan tidak dipengaruhi oleh struktur modal. Bertitik tolak
dari permasalahan tersebut di atas maka rumusan masalah pada penelitian ini
adalah “Apakah struktur modal berpengaruh terhadap profitabilitas pada PT. BPD
Lampung?”.
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian yang dilakukan adalah untuk menjawab pertanyan-pertanyaan
penelitian dalam rumusan masalah yang telah dijabarkan.
Secara rinci, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh Debt
to Total Equity dan Debt to Total Aset terhadap profitabilitas yang diproksikan
dengan Return on Equity ratio baik secara parsial maupun simultan.
.
1.4. Manfaat Penelitian
Jenis manfaat yang diharapkan pada penelitian ini adalah :
1) Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi pemikiran bagi studi
Ilmu Ekonomi dan Bisnis Khususnya pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Lampung tentang hal-hal yang berkaitan dengan struktur modal
2) Manfaat Praktis
Manfaat praktis dari penelitian ini adalah agar dapat memberikan masukan
dan kontribusi sumbangan pemikiran kepada manajemen PT. BPD Lampung
dalam meningkatkan kinerja keuangan perusahaan.
1.5. Kerangka Pemikiran
Alur pemikiran yang tumbuh kembangkan tentang pentingnya profitabilitas
dipengaruhi oleh struktur modal. Nilai akhir saham biasa sebagian tergantung
tingkat pengembalian yang diharapkan pemegang saham (investor) dalam wujud
deviden tunai. Tingkat pengembalian yang diharapkan akan dibandingkan dengan
tingkat profitabilitas yang menggambarkan kemampuan perusahaan membagikan
bagian laba yang diperolehnya kepada pihak yang berhak diantaranya investor
(dalam hal ini pemerintah Provinsi Lampung).
Berikut ini gambar model kerangka pemikiran yang menegaskan bahwa semakin
tinggi proporsi penggunaan hutang jangka panjang dalam struktur modal
ditunjukkan oleh besarnya rasio hutang dengan modal sendiri (debt to total equity)
dan hutang dengan total aset (debt to total aset) maka semakin meningkat pula
kemampuan perusahaan menghasilkan laba (profitabilitas) yang dapat dibagikan
kepada pemegang saham dengan ditunjukkan melalui semakin meningkatnya
1.6 Perumusan Hipotesis
Weston dan Copeland (2010) memberikan definisi struktur modal sebagai
pembiayaan permanen yang terdiri dari utang jangka panjang, saham preferen,
dan modal pemegang saham. Menurut Lawrence, Gitman (2000), definisi struktur
modal adalah sebagai berikut: ”Capital Structure is the mix of long term debt
andequity maintained by the firm”. Profitabilitas menggambarkan perbandingan
antara utang jangka panjang dan modal sendiri yang digunakan oleh perusahaan.
Menurut Myers (1984), pecking order theory menyatakan bahwa ”Perusahaan
dengan tingkat profitabilitas yang tinggi justru tingkat utangnya rendah,
dikarenakan perusahaan yang profitabilitasnya tinggi memiliki sumber dana
internal yang berlimpah”.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian
BAB. II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasa Teori
2.1.1. Pengertian Struktur Modal
Teori struktur modal menjelaskan hubungan apakah tersedianya sumber dana dan
biaya modal yang berlainan serta ada pengaruh perubahan struktur modal terhadap
nilai perusahaan dan biaya modal (Husnan dan Enny Pudjiatuti (1994)). Menurut
Weston dan Copeland (1996;68) mengatakan bahwa struktur modal adalah
pembiayaan permanen yang terdiri dari utang jangka panjang, saham preferen dan
modal pemegang saham. Sedangkan Siegel & Shim (1999;69) mengatakan capital
struktur (struktur modal) adalah komposisi saham biasa, saham preferen dan
berbagai kelas seperti itu, laba yang ditahan, utang jangka panjang yang
dipertahankan oleh kesatuan usaha dalam mendanai aktiva.
Fleksibelitas nilai suatu perusahaan pada dasarnya tergantung pada perkiraan
seberapa besar arus dana di masa datang dan tingkat pemulihan sebagai
pengembalian (kapasitalisasi) dari arus dana tersebut. Tingkat biaya modal yang
Adapun secara umum struktur modal terdiri atas :
a. Hutang jangka panjang (long term debt)
Yaitu hutang yang masa jatuh tempo pelunasannya lebih dari sepuluh tahun.
Komponen ini terdiri dari : hutang hipotik dan obligasi.
b. Modal sendiri (equity)
Yang terdiri dari saham preferen, saham biasa dan laba ditahan.
Untuk memperkuat struktur modal suatu perusahaan kita dapat melihat dari segi
sumber-sumber dana perusahaan. Jika kebutuhan dana untuk membiayai aktivitas
yang bersifat jangka pendek (short term expendotures) dan jika untuk membiayai
aktivitas bersifat jangka panjang maka lebih baik diambil dari yang bersumber
pengeluaran jangka panjang (long term expenditures).
Struktur modal merupakan hal penting dalam sebuah perusahaan, dimana
didalamnya terdapat perpaduan antara utang beserta ekuitas atau biasa diartikan
sebagai perimbangan antara modal asing dan modal sendiri. Modal asing terdiri
dari utang jangka panjang maupun utang jangka pendek. Sedangkan modal sendiri
terbagi atas laba ditahan dan bisa juga dengan penyertaan kepemilikan
perusahaan. Optimal tidaknya struktur modal terletak dalam satu rentang tertentu
untuk setiap perusahaan dan pemahaman konsep struktur modal membantu
manajer keuangan untuk megidentifikasi faktor utama yang mempengaruhi
2.1.2 Teori Yang Berkaitan dangan Struktur modal
Ada beberapa teori yang berkaitan dengan srtuktur modal yaitu :
a. Pendekatan Laba Bersih, Pendekatan Laba Operasi Bersih dan Pendekatan Tradisional
David Durand (1952) mengemukakan teori berdasarkan pendekatan laba
bersih, pendekatan laba operasi bersih dan pendekatan tradisional. Dalam
ketiga pendekatan ini, diasumsikan bahwa pajak perusahaan adalah nol.
Pendekatan yang pertama yaitu pendekatan laba bersih mengasumsikan
tingkat kapitalisasi laba yang konstan dan perusahaan dapat meningkatkan
jumlah utang dengan tingkat biaya utang yang konstan pula. Karena laba dan
tingkat biaya utang yang konstan, maka semakin besar jumlah utang yang
digunakan perusahaan, semakin kecil biaya modal rata-rata tertimbangnya.
Oleh karena itu, jika biaya modal rata-rata tertimbang semakin kecil akibat
penggunaan utang yang besar, maka nilai perusahaan akan semakin
meningkat. Tetapi persoalannya adalah dalam hal ini sebaiknya perusahaan
menggunakan seratus persen utang untuk memaksimumkan nilai perusahaan.
Pendekatan Kedua adalah pendekatan laba operasi bersih ini berasumsi
bahwa investor memiliki reaksi berbeda terhadap penggunaan utang
perusahaan, karena melihat biaya modal rata-rata tertimbang bersifat konstan
berapapun tingkat utang yang digunakan oleh perusahaan. Oleh karena itu,
asumsi pertama yakni biaya utang konstan. Kedua, penggunaan utang
perusahaan. Artinya bahwa ketika perusahaan menggunakan utang yang lebih
besar, maka pemilik saham akan memperoleh bagian laba yang semakin
kecil.
Pendekatan ketiga adalah pendekatan tradisional. Pendekatan ini banyak
dianut oleh para praktisi dan akademis. Pendekatan Tradisional
mengamsusikan bahwa perubahan struktur modal yang optimal dan
peningkatan nilai total perusahaan melalui penggunaan financial leverage
(utang dibagi modal sendiri). Hasil dari pendekatan tradisional memberikan
biaya modal keseluruhan yang terendah dan memberikan harga saham yang
tertinggi.
b. Pendekatan Modigliani dan Miller (MM)
Tahun 1958, Franco Modigliani dan Merton Miller (selanjutnya disebut MM)
menerbitkan salah satu artikel keuangan paling berpengaruh yang pernah
ditulis. MM membuktikan, dengan sekumpulan asumsi yang sangat
membatasi, bahwa nilai sebuah perusahaan tidak terpengaruh oleh struktur
modalnya. Dengan kata lain, hasil yang diperoleh MM menunjukkan bahwa
bagaimana cara sebuah perusahaan akan mendanai operasinya tidak akan
berarti apa-apa, sehingga struktur modal adalah suatu hal yang tidak relevan.
Modigliani dan Miller menentang pendekatan tradisional dengan menawarkan
tingkat kapitalisasi perusahaan yang konstan. MM berpendapat bahwa resiko
total bagi seluruh pemegang saham tidak berubah walaupun mengalami
dan resiko, sehingga nilai perusahaan tidak berubah walaupun struktur
modalnya berubah. Akan tetapi, studi MM didasarkan pada beberapa asumsi
yang tidak realistik, termasuk hal-hal berikut:
a.tidak ada biaya pialang,
b.tidak ada pajak,
c.tidak ada biaya kebangkrutan,
d.investor dapat meminjam pada tingkat yang sama dengan perusahaan,
e.semua investor memiliki informasi yang sama dengan menajemen tentang
peluang-peluang investasi perusahaan dimasa depan,
f. EBIT tidak terpengaruh oleh penggunaan utang.
Pada tahun 1963, MM menerbitkan artikel sebagai lanjutan teori MM tahun
1958. Asumsi yang diubah adalah adanya pajak terhadap penghasilan
perusahaan. Dengan adanya pajak ini, MM menyimpulkan bahwa
penggunaan utang akan meningkatkan nilai perusahaan karena biaya bunga
utang adalah biaya yang mengurangi pembayaran pajak. Implikasi teori ini
adalah perusahaan sebaiknya menggunakan utang sebanyak-banyaknya.
Dalam praktiknya, tidak ada perusahaan yang mempunyai utang sebesar itu,
karena semakin tinggi tingkat utang suatu perusahaan, akan semakin tinggi
juga kemungkinan kebangkrutannya dan hal tersebut diabaikan oleh MM.
c. Teori Trade-off
Model trade-off mengasumsikan bahwa profitabilitas merupakan hasil
akan timbul sebagai akibat penggunaan utang tersebut. Esensi trade-off
theory dalam struktur modal adalah menyeimbangkan manfaat dan
pengorbanan yang timbul sebagai akibat penggunaan utang. Sejauh manfaat
lebih besar, tambahan utang masih diperkenankan. Apabila pengorbanan
karena penggunaan utang sudah lebih besar, maka tambahan utang sudah
tidak diperbolehkan. Trade-off theory telah mempertimbangkan berbagai
faktor seperti corporate tax, biaya kebangkrutan, dan personal tax, dalam
menjelaskan mengapa suatu perusahaan memilih struktur modal tertentu.
Biaya kebangkrutan tersebut bisa cukup signifikan.
Biaya tersebut terdiri dari 2 (dua) hal, yaitu :
a. Biaya Langsung
Yaitu, biaya yang dikeluarkan untuk membayar biaya administrasi, biaya
pengacara atau biaya lainnya yang sejenis.
b. Biaya Tidak Langsung
Yaitu, biaya yang terjadi karena dalam kondisi kebangkrutan, perusahaan
lain atau pihak lain tidak mau berhubungan dengan perusahaan secara
normal.
d. Teori Pecking Order
Pada tahun 1961, seorang akademisi Donald Donaldson melakukan
pengamatan terhadap perilaku profitabilitas di Amerika Serikat.
Pengamatannya menunjukkan bahwa perusahaan yang mempunyai
keuntungan tinggi ternyata cenderung menggunakan utang yang lebih rendah.
order, mereka menetapkan suatu urutan keputusan pendanaan dimana para
manajer pertama kali akan memilih untuk menggunakan laba ditahan,
kemudian utang, dan modal sendiri eksternal sebagai pilihan terakhir (J. Fred
Weston dan Thomas E.copeland, 2010). Pecking order theory menjelaskan
mengapa perusahaan mempunyai urut-urutan preferensi dalam memilih
sumber pendanaan.
Perusahaan-perusahaan yang profitable umumnya meminjam dalam jumlah
yang sedikit. Hal tersebut disebabkan karena mereka memerlukan external
financing yang sedikit. Perusahaan–perusahaan yang kurang profitable
cenderung mempunyai utang yang lebih besar karena alasan dana internal
yang tidak mencukupi kebutuhan dan karena utang merupakan sumber
eksternal yang disukai. Dana eksternal lebih disukai dalam bentuk utang dari
pada modal sendiri karena pertimbangan biaya emisi utang jangka panjang
yang lebih murah dibanding dengan biaya emisi saham.
2.2. Pengertian Profitabilitas
Profitabilitas merupakan gambaran dari kinerja manajemen dalam mengelola
perusahaan. Menurut beberapa ahli pengertian profitabilitas, antara lain:
a. menurut Helfert (2003:126)
“profitability is the effectiveness with whichmanagement has employed both
b. menurut Greuning (2005:29)
“profitabilitas adalah suatu indikasi atas bagaimana margin laba suatu
perusahaan berhubungan dengan penjualan, modal rata-rata, dan ekuitas
saham biasa rata-rata”.
Berdasarkan bebarapa pengertian dari para ahli sebelumnya maka dapat
disimpulkan bahwa profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk
menghasilkan laba. Ukuran profitabilitas perusahaan dapat berbagai macam
seperti : laba operasi, laba bersih, tingkat pengembalian invetasi/asset, dan tingkat
pengembalian ekuitas pemilik. Robert (1997) mengungkapkan bahwa rasio
profitabilitas atau rasio rentabilitas menunjukan keberhasilan perusahaan dalam
menghasilkan keuntungan. Rasio ini dapat dibagi atas enam jenis yaitu :
1) Gross Profit Margin (GPM)
Gross Profit Margin (GPM) berfungsi untuk mengukur tingkat
pengembalian keuntungan kotor terhadap penjualan bersihnya. GPM
dapat diketahui dengan perhitungan sebagai berikut :
Gross profit adalah net sales dikurangi dengan harga pokok penjualan,
sedangkan net sales adalah total penjualan bersih selama satu tahun.
Nilai GPM berada diantara 0 dan 1. Nilai GPM semakin mendekati
satu, maka berarti semakin efisien biaya yang dikeluarkan untuk
2) Net Profit Margin (NPM)
NPM berfungsi untuk mengukur tingkat kembalian keuntungan bersih
terhadap penjualan bersihnya (Robert, 1997)
Nilai NPM ini juga berada diantara 0 dan satu. Nilai NPM semakin
besar mendekati satu, maka berarti semakin efisien biaya yang
dikeluarkan dan juga berarti semakin besar tingkat kembalian
keuntungan bersih.
3) Operating Return On Assets (OPROA)
OPROA digunakan untuk mengukur tingkat kembalian dari
keuntungan operasional perusahaan terhadap seluruh asset yang
digunakan untuk menghasilkan keuntungan operasional tersebut.
Operating income merupakan kentungan operasional atau disebut juga
laba usaha. Average total assets merupakan rata-rata dari total asset
awal tahun dan akhir tahun. Jika total asset awal tahun tidak tersedia,
maka total asset akhir tahun dapat digunakan.
4) Return On Assets (ROA)
ROA digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan didalam
dimilikinya. Rasio ini merupakan rasio yang terpenting diantara rasio
profitabilitas yang ada. ROA kadang-kadang disebut juga Return on
Investment (ROI)
5) Earning Power
Earning Power adalah hasil kali net profit margin dengan perputaran
asset. Earning Power merupakan tolak ukur kemampuan perusahaan
dalam menghasilkan laba dengan asset yang digunakan. Rasio ini
menunjukkan pula tingkat efisiensi investasi yang nampak pada tingkat
perputaran asset. Apabila perputaran asset meningkat dan net profit
margin tetap maka earning power juga meningkat. Dua perusahaan
mungkin akan mempunyai earing power yang sama meskipun
perputaran asset dan net profir margin keduanya berbeda.
6) Return on equity (ROE)
Return on equity (ROE) merupakan tingkat pengembalian atas ekuitas
pemilik perusahaan. Ekuitas pemilik adalah jumlah asset bersih
perusahaan. Return on equity atau return on net worth mengukur
kemampuan perusahaan memperoleh laba yang tersedia bagi
pemegang saham perusahaan (Sartono, 2001). ROE secara eksplisit
memperhitungkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan return
utang) dan biaya saham preferen. Apabila terdapat kenaikan
permintaan saham suatu perusahaan, maka secara tidak langsung akan
menaikkan harga saham tersebut di pasar modal (Sartono, 2001):
2.3. Ukuran Perusahaan (Firm Size)
Ukuran perusahaan merupakan proksi volatilitas operasional dan inventory
controlability yang seharusnya dalam skala ekonomis besarnya perusahaan
menunjukkan pencapaian operasi lancar dan pengendalian persediaan
(Mukhlasin,2002). Sedangkan Sidharta (2000) mengatakan, “Ukuran perusahaan
diproksikan dari penjualan bersih (net sales) dan total penjualan mengukur
besarnya perusahaan”. Biaya-biaya yang mengikuti penjualan cenderung lebih
besar, maka perusahaan dengan tingkat penjualan yang tinggi cenderung memilih
kebijakan akuntansi yang mengurangi laba. Secara umum, perusahaan besar yang
memiliki peluang investasi sebaiknya menetapkan rasio pembayaran yang lebih
rendah, yang berarti menahan lebih banyak laba dari pada perusahaan besar yang
memiliki peluang investasi yang lemah. Jika ada ketidakpastian yang besar dalam
arus kas bebas (free cashflow), yang didefinisikan sebagai arus kas operasi
perusahaan dikurangi investasi ekuitas yang diwajibkan, maka yang terbaik bagi
perusahaan adalah bersikap konservatif dan menetapkan dividen tunai masa
berjalan rendah. (Bringham danHouston, 2001).
Weston (1985) mengatakan, “Dalam pemilihan cara pembiayaan, perusahaan
besar yang sahamnya dimiliki oleh banyak orang akan memilih penambahan
pengendalian perusahaan”. Sebaliknya perusahaan kecil mungkin lebih senang
menghindari penerbitan saham biasa dalam usahanya untuk tetap mengendalikan
perusahaan sepenuhnya. Dalam perusahaan kecil terdapat keyakinan prospek
perusahaan dan laba yang diperoleh besar, sehingga sering bersedia mengambil
utang yang tinggi (dalam Trisusilowati, 2006).
2.4. Penelitian terdahulu
Struktur modal dan profitabilitas memiliki hubungan yang tidak dapat diabaikan,
dimana keduanya memiliki hubungan yang saling mempengaruhi satu dan
lainnya. Hal itu dikarenakan perusahaan memerlukan peningkatan profitabilitas
agar dapat bertahan hidup jangka panjang dan nantinya berpengaruh pada nilai
perusahaannya. Di antaranya tentang besar kecilnya nilai yang dikeluarkan
perusahaan untuk kebutuhan sosial dan lingkungan perusahaan, pembayaran
bunga utang dikurangkan pajak, dan penambahan utang dalam struktur modal
akan meningkatkan profitabilitas perusahaan. Pemilik sebuah perusahaan
mungkin dapat mempergunakan utang yang berjumlah relatif besar untuk
mambatasi manajernya. Ancaman kebangkrutan disebabkan oleh tingkat rasio
utang yang tinggi. Untuk itu, perusahaan diharapkan lebih berhati-hati dan tidak
menghambur-hamburkan uang para pemegang saham.
Kebanyakan pengambilalihan perusahaan dan pembelian melalui utang dirancang
untuk meningkatkan efisiensi dengan mengurangi arus kas bebas yang tersedia
bagi para manajer (Brigham & Houston, 2004). Berkaitan dengan profitabilitas,
jangka panjang, dan total utang terhadap profitabilitas. Roden dan Lewellen
(dalam Gill et al.,2011) mengumpulkan data dengan menggunakan 107
perusahaan di Amerika Serikat. Mereka menggunakan data untuk periode sepuluh
tahun dari tahun 1981 hingga 1990. Melalui analisis regresi, mereka menemukan
hubungan positifantara profitabilitas dan total utang sebagai presentase dari total
pembelian. Wald (dalam Gill et al., 2011) menggunakan data Worldscope tahun
1993 yang telah ditetapkan, untuk mengumpulkan data tentang perusahaan dari 40
negara. Total ukuran sampel Wald adalah lebih dari 3.300 perusahaan tertutup
untuk Amerika Serikat saja. Melalui analisis regresi, Wald menemukan bahwa
adanya korelasi negatif antara leverage dan profitabilitas.
Kemudian dilanjutkan penelitian Chiang et al. (2002), mereka mengumpulkan
data yang berkaitan dengan 18 pengembang dan 17 kontraktor dari hongkong
dengan menggunakan Data Stream (data base keuangan elektronik). Hasil studi
empiris mereka melalui analisis regresi mengindikasikan bahwa profitabilitas dan
struktur modal saling terkait. Abor J (2005) mengambil sampel 22 perusahaan
yang terdaftar di Bursa Efek Ghana selama periode lima tahun (1998-2002)
ditemukan :
1. Hubungan positif antara rasio utang jangka pendek terhadap total asset dan
Return On Equity.
2. Hubungan negatif antara rasio utang jangka panjang terhadap total asset dan
keuntungan Return On Equity.
Selain itu, mereka juga menemukan bahwa adanya hubungan positif antara:
i) Ukuran perusahaan dan profitabilitas, dan
ii) Pertumbuhan penjualan dan profitabilitas
Penelitian yang dilakukan oleh Denise dan Robert (2009), menemukan bahwa
strategi investasi yang berdasarkan kepemilikan modal dari dalam perusahaan
(modal sendiri) memiliki hubungan positif terhadap profitabilitas perusahaan,
artinya jika perusahaan memperoleh hasil yang lebih besar dari dana yang
dipinjam dari pada yang harus dibayar sebagai bunga, maka hasil pengembalian
berupa profit untuk para pemilik akan meningkat. Selain itu, ada pula penelitian
yang telah dilakukan sebelumnya mengenai pengaruh struktur modal terhadap
nilai perusaahaan. Diantaranya adalah pada tahun 1958 Modigliani dan Miller
(MM) menunjukkan bahwa nilai suatu perusahaan tidak dipengaruhi oleh struktur
modal, bukti tersebut dengan berdasarkan serangkaian asumsi antara lain, tidak
ada biaya broker (pialang), tidak ada pajak, tidak ada kebangkrutan, para investor
dapat meminjam dengan tingkat suku bunga yang sama dengan perseroan, semua
investor mempunyai informasi yang sama, EBIT tidak dipengaruhi oleh biaya
utang. Hasil tersebut menunjukkan kondisi-kondisi dimana struktur modal tidak
relevan, MM juga memberikan petunjuk agar srtuktur modal menjadi relevan
sehingga akan mempengaruhi nilai perusahaan (Brigham dan Houston, 2001).
Pada tahun 1963, MM menerbitkan makalah lanjutan yang melemahkan asumsi
tidak ada pajak perseroan. Peraturan perpajakan memperbolehkan pengurangan
dapat dikurangi. Hasil penelitain mendorong perusahaan untuk menggunakan
utang dalam struktur modal. Kesimpulan ini diubah oleh Miller ketika memasuki
efek dari pajak perseroan. Miller berpendapat bahwa investor bersedia menerima
pengembalian atas saham sebelum pajak yang relatif rendah dibandingkan dengan
pengembalian atas obligasi sebelum pajak (Brigham dan Houston, 2001).
Hasil-hasil MM yang tidak relavan juga tergantung pada asumsi tidak adanya biaya
kebangkrutan. Perusahaan yang bangkrut mempunyai biaya hukum dan akutansi
yang tinggi, dan mereka juga sulit untuk menahan pelanggan, pemasok dan
karyawan. Bahkan kebangkrutan sering memaksa suatu perusahaan melikuidasi
atau menjual hartanya dengan harga dibawah harga normal.
Biaya yang terkait dengan kebangkrutan, yaitu:
1) profitabilitas terjadinya,
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Desain penelitian merupakan rencana atau metoda yang akan ditempuh dalam
penelitian, sehingga rumusan masalah dan hipotesis yang diajukan dapat dijawab
dan diuji secara akurat. Metode penelitian menurut Sugiyono (2008;5) adalah cara
ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat ditemukan,
dikembangkan, dan dibuktikan, suatu pengetahuan tertentu sehingga pada
gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan, dan mengantisipasi
masalah dalam bidang bisnis.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan metode
verifikatif. Menurut Sigiyono (2003;11) Metode deskriptif adalah suatu metode
yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau
lebih (indipenden) tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan
varibael lain. Winarno Surakhmad (1994;140) mengemukakan ciri-ciri metode
deskriptif sebagai berikut :
1. Pemusatan diri pada pemecahan masalah-masalah yang ada pada masa
2. Data yang dikumpulkan mula-mula disusun, dijelaskan, dan kemudian
dianalisa (karena itu metode ini sering pula disebut metode analitik).
Penelitian deskriptif pada skripsi ini bertujuan untuk memberikan gambaran
mengenai struktur modal dan profitabilitas pada PT. BPD Lampung.
Metode verifikatif menurut Iqbal Hasan (2007;22) adalah metode yang digunakan
untuk menguji kebenaran (pengetahuan) dalam bidang yang telah ada, dimana
pengujian hipotesis tersebut menggunkan perhitungan-perhitungan statistik.
Metode penelitian verifikatif pada skripsi ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh struktur modal terhadap profitabilitas PT. BPD Lampung.
3.2. Definisi dan Operasionalisasi Variabel Penelitian
Dalam penelitian dapat dipastikan terdapat variabel yang akan diteliti. Variabel
dapat diartikan sebagai sesuatu yang dijadikan objek penelitian yang dapat
digunakan sebagai sesuatu yang dijadikan objek penelitian yang dapat digunakan
sebagai faktor-fakor yang berperan dalam peristiwa atau gejala yang akan diteliti.
Menurut Suharsimi Arikunto (2010;86) menjelaskan bahwa variabel adalah objek
peneliian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.
Dalam penelitian ini terdapat 2 variabel yang akan dikaji oleh penulis yaitu satu
variabel independen (struktur modal) dan satu variabel dependen (profitabilitas).
1. variabel independen (struktur modal)
variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi variabel dependen
(variabel terikat) variabel independen dalam penelitian ini adalah struktur
modal (capital structure). Struktur modal adalah perbandingan antara total
hutang perusahaan dengan total equitas perusahaan. Dalam kata lain struktur
modal juga dapat dikatakan sebagai perimbangan jumlah hutang jangka
pendek yang bersifat permanen, hutang jangka panjang, saham preferen dan
saham biasa.
Untuk mengukur efektifitas penggunaan struktur modal dapat diukur
mengggunakan rasio DTE (Debt to Total Equity), yaitu merupakan salah satu
rasio leverage yang bertujuan untuk mengukur kemampuan dari hutang
jangka panjang untuk total equitas dan rasio DTA (Debt to Total Assets),
yaitu merupakan salah satu rasio leverage yang bertujuan untuk mengukur
kemampuan dari hutang jangka panjang untuk total aset. perusahaan.
2. Variabel Dependen (profitabilitas)
Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel
independen (variabel bebas). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah
profitabilitas perusahaan. Profitabilitas adalah suatu kemampuan perusahaan
dalam memperoleh laba yang optimal yang dalam perhitungannya diukur
dengan mengggunakan rasio ROE (Return On Equity). Rasio ROE ini
merupakan rasio yang sering digunakan untuk mengukur kemampuan atas
modal perusahaan yang telah diitasikan dalam keseluruhan equity yang
memperoleh laba yang optimal. Dalam perhitungannya rasio ROE ini hanya
menggunakan laba bersih setelah pajak dibagi dengan total aktiva perusahaan.
Untuk lebih jelasnya penulis menjelaskan variabel-variabel dalam penelitian
ini secara rinci dalam tabel operasional berikut ini :
Tabel 3.3
Operasionalisasi Variabel
No. Variabel Definisi Pengukuran Skala
1 Dependen (Y) Profitabilitas
Rasio antara Earnings Before Interest and
dengan Total Equitas Rasio
3 Independen (X2) Rasio Hutang thpd Aset
Hutang Jangka Panjang
dengan Total Asset Rasio
3.3. Sumber Data
Sumber data penelitian adalah sumber data yang diperlukan sebagai penunjang
terhadap keberhasilan suatu penelitian. Menurut Suharsimi Arikunto (2004;107)
menyatakan bahwa sumber data adalah subjek dari mana data tersebut dapat
diperoleh. Sumber data dipergunakan untuk menunjang terlaksananya penelitian
dan sekaligus untuk menjamin keberhasilan dari penelitian tersebut.
Menurut Riduan (2007;97) pengambilan data yang dihimpun secara langsung oleh
peneliti disebut sumber data primer, sedangkan apabila melaui tangan kedua
disebut data sekunder.
Sumber data dalam penelitian ini merupakan sumber data sekunder karena peneliti
tidak menghimpun data secara langsung dari perusahaan tempat peneliti
Konsolidasi dan Laporan Laba Rugi PT. BPD Lampung periode Tahun 2003
sampai dengan 2013.
3.4. Teknik Pengumpulan Data
Menurut Sugiyo (2008;193) terdapat dua hal yang mempengaruhi kualitas data
hasil penelitian yaitu kualitas instrumen dan kualitas pengumpulan data. Adapun
teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan teknik dokumentasi.
Teknik pengumpulan dokumentasi yaitu teknik pengumulan data yang
digunakkan dalam rangka analisis masalah yang sedang diteliti dengan mencari
informasi dari dokumen-dokumen yang ada hubungannya dengan objek yang
diteliti. Data yang diperlukan dalam penelitan ini adalah data laporan keuangan
yang diperoleh dari situs www.bi.go.id.lampungbpd.neraca
3.4 Alat Analisis Data
Analisis data dapat menggunakan software Eview sebagai alat untuk regresi model
formulasi. Untuk menghasilkan suatu model yang baik, hasil analisis regresi
memerlukan pengujian Asumsi Klasik.
3.4.1 Uji Asumsi Klasik 3.4.1.1 Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel
terikat dan variabel bebas keduanya memiliki distribusi normal atau tidak. Model
regresi yang baik adalah memiliki distribusi normal atau mendekati normal
penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik. Menurut Santoso
(200:214), dasar pengambilan keputusan dari uji normalitas adalah:
1. Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal,
maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
2. Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis
diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
3.4.1.2 Uji Multikolineritas
Pengujian ini dilakukan dengan tujuan untuk menguji ada tidaknya hubungan
sempurna antar variabel independen pada model regresi. Uji terhadap
multikolinieritas merupakan pengujian untuk melihat adanya keterkaitan
hubungan antar variabel independent. Penelitian yang mengandung
multikolinieritas akan berpengaruh terhadap hasil penelitian sehingga penelitian
tersebut menjadi tidak berfungsi.
Cara untuk mendeteksi adanya multikolinieritas dilakukan dengan cara
meregresikan model analisis dan melakukan uji korelasi antar variabel independen
dengan menggunakan variance inflation factor (VIF) dan tolerance value
(Gujarati, 1995). Jika nilai VIF kurang dari 10 atau nilai tolerance lebih dari 0,1
maka dapat disimpulkan bahwa model tersebut tidak memiliki gejala
multikolinearitas.
3.4.1.3 Uji Autokorelasi
Pengujian autokorelasi digunakan untuk mengetahui apakah terjadi korelasi antara
atau ruang data (data cross section). Untuk mendeteksi adanya autokorelasi dapat
dilakukan melalui pengujian terhadap nilai uji Durbin-Watson (uji DW) dengan
ketentuan sebagai berikut:
Dw Kesimpulan
Kurang dari 1,08 Ada autokorelasi
1,08 s.d. 1,66 Tanpa kesimpulan
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah sebuah model regresi terjadi
ketidaksamaan variasi dari kesalahan residual melalui satu pengamatan ke
pengamatan yang lain (Santoso, 2002:208). Dengan kata lain pengujian ini
dimaksudkan untuk melihat jarak kuadrat titik-titik sebaran terhadap garis regresi.
Untuk mendeteksi heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan metode Scatter
Plot. Metode ini dapat dilakukan dengan melihat grafik jika terdapat pola tertentu
seperti titik-titik membentuk satu pola tertentu yang teratur (bergelombang,
melebar kemudian menyempit) maka disinyalir telah terjadi Heteroskedastisitas,
dan sebaliknya jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar maka tidak
terjadi Heteroskedastisitas.
3.5 Teknik Pengujian Hipotesis 3.5.1 Hipotesis
1. Ha1Debt to Total Equity mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
2. Ha2Debt to Total Aset mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
profitabilitas PT. BPD Lampung.
Pengaruh secara simultan digunakan untuk mengetahui apakah kedua variabel
independen yaitu Debt to Total Equity dan Debt to Total Aset berpengaruh
terhadap profitabilitas PT. BPD Lampung dan dapat dirumuskan hipotesis sebagai
berikut:
Debt to Total Equity dan Debt to Total Aset mempunyai pengaruh yang signifikan
terhadap profitabilitas PT. BPD Lampung periode Tahun 2003-2013.
3.5.2 Pengujian Hipotesis
Uji ini digunakan untuk menjelaskan kekuatan dan arah pengaruh beberapa
variabel bebas (independent variable) terhadap satu variabel terikat (dependent
variable). Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara simultan (Uji
F) maupun parsial (Uji t) menggunakan model regresi berganda atau Multiple
Regression (Imam Ghozali, 2001) yang akan diolah dengan menggunakan
program komputer SPSS 16.0. dengan persamaan sebagai berikut :
Y = a + b1X1 + µ
Atau Y = a + b2X2 + µ
Keterangan :
Y: Profitabilitas (ROE)
X1: Hutang Terhadap Aset (Debt to Total Aset)
X2: Hutang Terhadap Equitas (Debt to Total Equity)
Dari persamaan tersebut variabel struktur modal (Y) diwakili dengan Return on
Equity (ROE) yang merupakan rasio antara total hutang jangka panjang dengan
total equitas.
3.5.2.1 Uji F (simultan)
Pengaruh simultan dari seluruh variabel bebas terhadap veriabel terikat dilakukan
dengan menggunakan uji F dengan derajat kebebasan (df)=n-k-1 pada tingkat
kepercayaan sebesar 95% (α = 5%). Uji statistik F digunakan untuk menguji
pengaruh variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen
dari suatu persamaan regresi dengan menggunakan hipotesis statistik. Pengaruh
simultan dari seluruh variabel bebas terhadap veriabel terikat ini menggunakan
rumusan hipotesis sebagai berikut :
Ho : b1 = b2 = 0 Debt to Total Equity dan Debt to Total Aset secara bersama-sama
tidak berpengaruh terhadap profitabilitas.
Ha : minimal salah satu dari b1 , b2 , b3 ≠ 0 Debt to Total Equity dan Debt to Total
Aset secara bersama-sama berpengaruh terhadap profitabilitas.
Adapun kriteria yang digunakan untuk menguji hipotesis tersebut adalah sebagai
berikut:
Jika probabilitas (p) dari nilai F < tingkat signifikansi α (5%) atau Fhitung > Ftabel
maka Hoditolak (Ha diterima), yang berarti Debt to Total Equity dan Debt to
3.5.2.2 Uji t (parsial)
Pengujian pengaruh variabel bebas secara parsial (sendiri-sendiri) dengan derajat
kebebasan (df)=n-k-1 dan tabel distribusi t dicari pada α = 5%. Pengaruh parsial
dari seluruh variabel bebas terhadap veriabel terikat ini menggunakan rumusan
hipotesis sebagai berikut :
1. Pengujian Pengaruh Debt to Total Equity terhadap profitabilitas Dalam hipotesis ini menduga bahwa Debt to Total Equity mempunyai
pengaruh positif yang signifikan terhadap struktur modal. Adapun formulasi
dari hipotesis tersebut adalah sebagai berikut :
Ho : Secara parsial Debt to Total Equity tidak mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap profitabilitas
Ha : Secara parsial Debt to Total Equity mempunyai pengaruh yang signifikan
terhadap profitabilitas
Adapun kriteria yang digunakan untuk menguji hipotesis tersebut adalah
sebagai berikut :
Jika probabilitas P-Value (sig) < tingkat signifikansi α (5%) atau thitung > ttabel
maka Ho ditolak (Ha diterima), yang berarti Debt to Total Equity mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap profitabilitas.
2. Pengujian Pengaruh Debt to Total Aset terhadap Struktur Modal
Dalam hipotesis ini menduga bahwa Debt to Total Aset mempunyai pengaruh
negatif yang signifikan terhadap struktur modal. Adapun formulasi dari
Ho : Secara parsial Debt to Total Aset tidak mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap profitabilitas
Ha : Secara parsial Debt to Total Aset mempunyai pengaruh yang signifikan
terhadap profitabilitas
Adapun kriteria yang digunakan untuk menguji hipotesis tersebut adalah
sebagai berikut :
Jika probabilitas P-Value (sig) < tingkat signifikansi α (5%) atau thitung > ttabel
maka Ho ditolak (Ha diterima), yang berarti Debt to Total Equity dan Debt to
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dikemukakan dalam bab
empat (4) maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Sesuai dengan hipotesis yang dikemukakan dan bedasarkan uji F, bahwa
secara bersama-sama (simultan) DTE dan DTA berpengaruh signifikan
terhadap Profitabilitas (ROA).
2. Berdasarkan hipotesis yang dikemukakan sebelumnya juga melihat dari hasil
uji t atau secara parsial, maka dapat dikemukakan beberapa kesimpulan
sebagai berikut:
- DTE PT. BPD Lampung mempunyai pengaruh signifikan terhadap
Struktur Modal, dengan nilai P-value atau tingkat siginifikan sebesar
0,18, diatas α = 0,05 (5%).
- DTA PT. BPD Lampung mempunyai pengaruh signifikan terhadap
Struktur Modal, dengan nilai P-value atau tingkat siginifikan sebesar
5.2 Saran
1. Bagi Perusahaan
Hendaknya PT. BPD Lampung agar dapat mengoptimalkan struktur modal yang
dimiliki guna dapat menghasilkan profitabilitas yang tinggi sehingga dapat
menghasilkan deviden yang tinggi bagi pemerintah Provinsi Lampung guna
menjadi salah satu sumber dana pembiayaan APBD Pemerintah Provinsi
Lampung.
2. Bagi Peneliti selanjutnya
Diharapkan bagi peneliti lain yang tertarik untuk meneliti profitabilitas sebaiknya
memfokuskan pada suatu teori profitabilitas tertentu dan menggunakan
variabel-variabel yang dapat mendukung teori tersebut selain itu dan mengembangkan
penelitian ini dalam rangka mengetahui dampak dari struktur modal terhadap
kinerja perusahaan yang pada penelitian ini hanya sebatas mengetahui pengaruh
DAFTAR PUSTAKA
Andriyanti, Elyana Noor. 2007. Pengaruh Struktur Aktiva, Ukuran Perusahaan Dan Operating Leverage Terhadap Struktur Modal Pada Perusahaan Makanan Dan Minuman Yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Skripsi. Universitas Negeri Semarang,
Brigham, Eugene, F dan Joel F. Houston, 2001, Manajemen Keuangan, Edisi Kedelapan, Erlangga,
Ghozali, Imam. 2009. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS. Semarang. Badan Penerbitan Universitas Diponegoro
Halim, Abdul, dan Sarwoko. 1995. Manajemen Keuangan. Edisi Pertama. UPP AMP YKPN. Jogjakarta
Houston, Joel F. dan Eugene F Brigham. 2006. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Edisi Kesepuluh. Salemba Empat. Jakarta
Husnan, Suad. 1996. Manajemen Keuangan: Teori dan Penerapan (Keputusan Jangka Panjang). Buku 1, Edisi 4. BPFE- Yogyakarta.Yogyakarta
Riyanto, Bambang. 2001. Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan. Edisi 4. BPFE- Yogyakarta. Yogyakarta
Syamsuddin, Lukman. 2004. Manajemen Keuangan Perusahaan: Konsep dan Aplikasi dalam Perencanaan dan Pengambilan Keputusan. Raja Grafindo Persada. Jakarta