• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAHAN AJAR BERBASIS ENTREPRENEURSHIP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BAHAN AJAR BERBASIS ENTREPRENEURSHIP"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS ENTERPRENEURSHIP UNTUK MENINGKATKAN MINAT KEWIRAUSAHAAN

RANCANGAN TESIS

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Teknik Penulisan Ilmiah

Oleh

MUKHSININ

NIM 0402512021

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA S2

(2)

2014

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Saat ini masalah pengembangan jiwa kewirausahaan siswa melalui pendidikan

formal menjadi aktual untuk dibahas karena berbagai alasan yang sangat rasional

seperti meningkatnya lulusan pendidikan dasar yang tidak melanjutkan ke jenjang

sekolah menengah, lulusan sekolah menengah yang tidak melanjutkan ke

perguruan tinggi, meningkatnya angkatan kerja terdidik lulusan perguruan tinggi

yang jumlahnya semakin meningkat dalam setiap tahun, sementara kesempatan

kerja yang tersedia tidak mampu menampung mereka, pada akhirnya

menimbulkan residu angkatan kerja berupa pengangguran. Menurut data statistik

yang dikeluarkan oleh BPS, pada Agustus 2013 angka pengangguran mencapai

(3)

(www.bps.go.id:2014)

Kenyataan seperti ini mengindikasikan bahwa sekolah baru sekedar mampu

mempersiapkan peserta didik untuk mengisi lapangan kerja dan belum mampu

mempersiapkan mereka menjadi manusia pencipta lapangan kerja. Pendidikan

yang berbasis enterpreneurship adalah pendidikan yang menerapkan

prinsip-prinsip dan metodologi ke arah internalisasi nilai-nilai kewirausahaan pada peserta

didiknya melalui kurikulum yang terintegrasi dengan perkembangan yang terjadi

baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakatnya serta penggunaan

model dan bahan pembelajaran yang relevan dengan tujuan pembelajaran itu

sendiri.

Berdasarkan hal di atas, pendidikan/ sekolah memiliki kepentingan untuk

mengembangkan pembelajaran berbasis kewirausahaan/ enterpreneurship

sehingga diharapkan mampu menumbuhkan semangat dan minat kewirausahaan

kepada para siswa yang pada akhirnya pada saat memasuki kehidupan nyata

(4)

Salah satu hal yang dapat dilakukan oleh sekolah dan para guru adalah

dengan mengembangkan bahan ajar yang berbasis enterpreneurship. Penggunaan

bahan ajar yang berbasis enterpreneurship diharapkan mampu meningkatkan

minat kewirausahaan kepada para siswa sehingga siswa lebih siap sejak dini untuk

hidup mandiri di masyarakat.

1.2

Identifikasi Masalah

Beberapa masalah yang dapat teridentifikasi antara lain:

(1) Bahan ajar yang dipakai oleh guru belum menekankan pada tumbuhnya

minat kewirausahaan siswa

(2) Guru belum memprogramkan pengembangan bahan ajar yang berbasis

enterpreneurship

(3) Bagaimana merancang pengembangan bahan ajar yang berbasis

enterpreneurship untuk meningkatkan minat kewirausahaan siswa

1.3

Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang dan identifikasi masalah yang telah diuraikan di

(5)

ajar yang berbasis enterpreneurship untuk meningkatkan minat kewirausahaan

siswa.

1.4

Batasan Masalah

Supaya terdapat kesamaan persepsi maka beberapa batasan masalah dalam

penelitian ini adalah:

a. Bahan Ajar yang dimaksud di dalam penelitian ini adalah dalam bentuk

modul pembelajaran

b. Bahan Ajar yang dikembangkan terbatas pada materi Kalor yang merupakan

materi IPA Fisika Kelas VII Semester Genap

1.5

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bahan ajar yang dapat meningkatkan

minat kewirausahaan siswa.

1.6

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan akan dapat memberi manfaat bagi dunia

pendidikan khususnya dalam pembelajaran IPA di SMP bahwa pembelajaran IPA

dapat digunakan untuk meningkatkan minat kewirausahaan siswa sehingga

mereka pada akhirnya lebih siap menghadapi dunia kerja yang penuh persaingan. Selain itu diharapkan dapat membuka cakrawala baru bagi siswa, guru dan

pelaku atau praktisi pendidikan untuk berinovasi dan mengembangkan bidang

keilmuan yang dimilikinya lebih baik lagi.

BAB II

(6)

I.1 Bahan Ajar

Bahan ajar atau bahan pembelajaran merupakan komponen isi pesan dalam

kurikulum yang harus disampaikan kepada para siswa. Komponen ini memiliki

bentuk pesan yang beragam, ada yang berbentuk fakkta, konsep, prinsip/ kaidah,

prosedur, problema dan sebagainya. Komponen inin berperan sebagai isi atau

materi yang harus dikuasai siswa dalam proses pembelajaran.

Sifat materi kurikulum yang tersusun dalam silabus hanya bersifat

materi-materi pokok, maka untuk kelancaran proses pembelajaran, materi-materi pembelajaran

perlu disusun dalem bentuk bahan ajar/ bahan pembelajaran secara utuh (M.

Djauhar Shidiq et.al : 2008).

Menurut Iskandarwassid dalam Auliyah Naswa (2012) bahan ajar

merupakan seperangkat substansi atau materi pelajaran yang disusun secara runtut

dan sistematis serta menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai

siswa dalam kegiatan pembelajaran. Dengan bahan ajar memungkinkan siswa

dapat mempelajari suatu kompetensi secara runtut dan sistematis sehingga secara

akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara terpadu. Pada proses pembelajaran bahan ajar berfungsi sebagai:

a. Pedoman bagi guru yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses

pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya

diajarkan kepada siswa.

b. Pedoman bagi siswa yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam

proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang

seharusnya dipelajari/dikuasainya.

c. Alat evaluasi pencapaian/penguasaan hasil pembelajaran.(Depdiknas : 2007) Berdasarkan teknologi yang digunakan, bahan ajar dapat dikelompokkan

(7)

a. Bahan cetak (printed) seperti antara lain handout, buku, modul, lembar kerja

siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar, model/maket.

b. Bahan ajar dengar (audio) seperti kaset, radio, piringan hitam, dan compact

disk audio.

c. Bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti video compact disk, film. d. Bahan ajar multimedia interaktif (interactive teaching material) seperti CAI

(Computer Assisted Instruction), compact disk (CD) multimedia pembelajarn

interaktif, dan bahan ajar berbasis web (web based learning materials). Pada saat seorang guru mengembangkan sebuah bahan ajar maka terdapat

beberapa prinsip yang tidak boleh ditinggalkan. Prinsip-prinsip pengembangan

bahan ajar menurut Direktorat Pembinaan SMA (2010) adalah:

c. Prinsip relevansi, settiap materi yang terdapat di dalam bahan yang

dikembangkan harus memiliki keterkaitan dengan standar kompetensi/

kompetensi dasar.

d. Prinsip konsistensi atau keajegan. Artinya jumlah bahan ajar harus sama

dengan kompetensi dasar yang akan dicapai. Apabila terdapat 5 kompetensi

dasar yang hendak dicapai, maka harus dikembangkan bahan ajar sebanyak 5

buah.

e. Prinsip adekuasi atau kecukupan. Artinya cakupan materi yang terdapat di

dalam bahan ajar yang dikembangkan haruslah cukup untuk mencapai

kompetensi yang diinginkan.

Menurut Depdiknas (2007) bahwa prosedur pemilihan bahan ajar adalah :

1) Menentukan kriteria pokok pemilihan bahan ajar dengan mengidentifikasi

Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD). Sebab setiap aspek

dalam SK dan KD terdapat jenis materi yang berbeda-beda dalam kegiatan

pembelajaran,

2) Mengidentifikasi jenis-jenis materi bahan ajar. Materi pembelajaran

(8)

prosedur), aspek afektif (pemberian respon, penerimaan, internalisasi, dan

penilaian) serta aspek psikomotorik (gerakan awal, semi rutin, dan rutin), 3) Memilih bahan ajar yang sesuai atau relevan dengan SK-KD yang telah

teridentifikasi tadi,

4) Memilih sumber bahan ajar.

Bahan ajar yang dipilih di dalam penelitian ini adalah modul. Modul

pembelajaran merupakan salah satu bahan belajar yang dapat dimanfaatkan oleh

siswa secara mandiri. Modul yang baik harus disusun secara sistematis, menarik,

dan jelas. Modul dapat digunakan kapanpun dan dimanapun sesuai dengan

kebutuhan siswa.

Anwar (2010), menyatakan bahwa karakteristik modul pembelajaran

sebagai berikut :

1. Self instructional, siswa mampu membelajarkan diri sendiri, tidak tergantung

pada pihak lain.

2. Self contained, seluruh materi pembelajaran dari satu unit kompetensi yang

dipelajari terdapat didalam satu modul utuh.

3. Stand alone, modul yang dikembangkan tidak tergantung pada media lain

atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan media lain.

4. Adaptif, modul hendaknya memiliki daya adaptif yang tinggi terhadap

(9)

5. User friendly, modul hendaknya juga memenuhi kaidah akrab

bersahabat/akrab dengan pemakainya.

6. Konsistensi, konsisten dalam penggunaan font, spasi, dan tata letak.

I.2 Enterpreneurship atau Kewirausahaan

Kewirausahaan merupakan kemauan dan kemampuan seseorang dalam

menghadapi berbagai resiko dengan mengambil inisiatif untuk menciptakan dan

melakukan hal-hal baru melalui pemanfaatan kombinasi berbagai sumberdaya

dengan tujuan untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada seluruh

pemangku kepentingan (stakeholders) dan memperoleh keuntungan sebagai

konsekuensinya (Rusli Muhammad Rukka: 2011).

Esensi wirausaha adalah menciptakan nilai tambah dengan ara-cara baru dan

berbeda agar dapat bersaing. Wirausaha adalah orang yang memperoleh peluang

dan menciptakan suatu organisiasi untuk mengejar “peluang”. Wirausaha

merupakan sebuah pekerjaan yang bersifat fleksibel dan imajinatif, mampu

merencanakan, mengambil resiko, mengambil keputusan dan tindakan untuk

mencapai tujuan (Meredith dalam Suryana: 2001).

Sekolah tentu menghendaki memiliki outcomes berupa siswa yang mandiri,

bisa mengahadapi tantangan dunia yang begitu cepat berubah, memecahkan

masalah yang terjadi dalam kehidupannya dengan baik. Jiwa kewirausahaan yang

merupakan bagian dari ranah afektif perlu ditanamkan pada siswa.

Orang yang memiliki jiwa kewirausahaan adalah orang yang memiliki

perilaku inovatif, kreatif, menyukai perubahan, kemajuan dan tantangan.

(10)

watak kewirausahaan menurut Geoffrey G. Meredith dalam Suryana (2001) dapat

dilihat pada tabel berikut.

No Ciri-ciri Watak

1. Percaya diri

Keyakinan, ketergantungan, individualis dan optimisme

2. Berorientasi pada tugas dan hasil

Kebutuhan untuk berprestasi, berorientasi laba, ketekunan dan ketabahan, tekad kerja keras, mempunyai doroangan kuat, energetik, dan inisiatif

3. Pengambilan resiko

Kemampuan untuk memgambil resiko yang wajar dan suka tantangan

4. Kepemimpinan

Perilaku sebagai pemimpin, bergaul dengan orang lain, menanggapi saran dan kritik

5. Keorisinalan

Inovatif dan kreatif serta fleksibel

6. Berorientasi ke masa depan

Pandangan ke depan, prespektif

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN I.3 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Pati yang beralamat di Jalan

Pemuda 287 Pati mulai bulan Maret sampai Mei 2014.

I.4 Prosedur Penelitian

Rancangan pengembangan bahan ajar pada penelitian ini dapat dijelaskan

(11)

a. Identifikasi Masalah

Identifikasi diperoleh dari angket yang diberikan kepada sepuluh

orang siswa untuk menganalisis bahan ajar apa saja yang telah

digunakan oleh guru dan dimanfaatkan siswa secara langsung dalam

pembelajaran IPA Fisika. Selain itu juga menggunakan wawancara

dengan beberapa guru IPA b. Pengumpulan Data

Data yang diperoleh pada tahap ini berupa hasil observasi dan

angket ketersediaan bahan ajar IPA Fisika. Pada tahap ini juga

dilakukan pengkajian terhadap materi IPA Fisika yang akan

dikembangkan bahan ajarnya. Pengkajian ini meliputi analisis terhadap

SK, KD dan indikator pencapaian kompetensi. c. Pembuatan Desain Awal (Draft I)

Berdasarkan data yang diperoleh kemudian dikembangkan

desain pengembangan bahan ajar berbasis enterpreneurship d. Validasi

Bahan ajar yang telah dikembangkan selanjtnya divalidasi oleh

para pakar, meliputi pakar bahasa, pakar materi dan pakar pendiikan

kewirausahaan. Aspek-aspek yang dinilai oleh para validator adalah: 1. Aspek kelayakan isi;

2. Aspek kelayakan penyajian; 3. Aspek kelayakan bahasa; 4. Aspek kelayakan kegrafikan; 5. Aspek kewirausahaan.

e. Revisi desain (Draft II)

Uji Coba

(12)

Berdasarkan hasil validasi dan saran para validator, dilakukan

revisi bahan ajar yang telah dikembangkan, agar diperoleh bahan ajar

yang lebih baik. f. Uji keterbacaan

Uji keterbacaan bahan ajar dilakukan oleh 10 siswa yang dipilih.

Kesepuluh siswa yang dipilih diberi kesempatan untuk menelaah bahan

ajar yang telah dikembangkan kemudian mengisi angket tingkat

keterbacaan.

g. Revisi Desain (Draft III)

Hasil angket tingkat keterbacaan bahan ajar dijadikan dasar

untuk memperbaiki bahan ajar yang dikembangkan. h. Ujicoba Pemakaian Bahan Ajar

Bahan ajar yang telah direvisi sebanyak dua kali kemudian

diujicobakan pada proses pembelajaran sebenarnya. Kelas yang diberi

bahan ajar yang telah dikembangkan ini kemudian diberi angket untuk

menentukan minat kewirausahaan mereka. Hasilnya dibandingkan

dengan minat kewirausaahan dari kelas lain yang tidak menggunakan

bahan ajar ini (kelas kontrol) i. Finalisasi Produk

Hasil ujicoba digunakan untuk menyempurnakan bahan ajar

yang dkembangkan sehingga akhirnya didapatkan bahan ajar yang

benar-benar sempurna.

I.5 Jenis, Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data Jenis data yang diambil adalah sebagai berikut

No Data yang Jenis data Instrumen Teknik Analisis Dikumpulkan

1. Jenis bahan Nominal Angket keter- Deskriptif

kua-ajar yang sudah sediaan bahan litatif

digunakan ajar

2. Validitas bahan Interval Instrumen peni- Deskriptif

(13)

Keterbacaan sentase

4. Uji keterterapan Interval Angket tingkat Deskriptif per-Keterterapan sentase

5. Efektifitas Nominal Angket minat Deskriptif kua-Kewirausahaan litatif.

I.6 Metode Analisis Data

a. Data mengenai jenis-jenis bahan ajar materi Kalor dalam pembelajaran

IPA Fisika Kelas VII dari angket ketersediaan bahan ajar IPA Fisika

dianalis secara deskriptif kualitatif.

b. Data dari instrumen penilaian pakar terhadap modul materi Kalor

berbasis kewirausahaan dihitung dengan Rumus Analisis Deskriptif

Persentase ( Ali 1992).

Keterangan :

% = skor yang diharapkan

n = jumlah skor yang diperoleh

N = jumlah skor maksimum

c. Persentase data dari instrumen penilaian pakar terhadap modul materi

Kalor berbasis kewirausahaa kemudian dikonversikan menggunakan

(14)

Tabel 7 Kriteria deskriptif persentase

d. Data mengenai tingkat keterbacaan dan tingkat keterterapan modul

dalam pembelajaran dianalisis dengan teknik deskriptif persentase.

Keterangan :

% = skor yang diharapkan

n = jumlah skor yang diperoleh

N = jumlah skor maksimum

e. Persentase data dari angket keterbacaan dan angket keterterapan modul

dalam pembelajaran bagi siswa dikonversikan dengan Tabel 8 (Ali 1992,

(15)

Tabel 8 Tabel kriteria tingkat keterbacaan dan tingkat keterterapan modul

f. Data mengenai minat kewirausahaan yang diperoleh dari angket minat

(16)

DAFTAR PUSTAKA

Ali M. 1992. Strategi Penelitian Pendidikan. Bandung: Angkasa

Anwar, Ilham. 2010. Pengembangan Bahan Ajar. Bahan Kuliah Online. Direktori UPI. Bandung.

Auliyah Niswa. 2012. Pengembangan Bahan Ajar Mendengarkan Berbasis Video Interaktif Bermedia Flash Kelas VIID SMP Negeri 1 Kedamean. Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia. Volume 01 (01).

Biro Pusat Statistik. 2013. Keadaan Ketanagakerjaan Agustus 2013. Diunduh di http://www.bps.go.id pada tanggal 3 Januari 2014.

Depdiknas, 2007. Panduan Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta: Depdiknas

Rusli Muhammad Rukka. 2011. Bahan Ajar Kewirausahaan. LKPP UNHAS: Makassar.

Sudjana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Gambar

Tabel 7 Kriteria deskriptif persentase

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa Lorjuk atau kerang pisau yang ditemukan di daerah penangkapan pertama dan kedua yaitu desa Modung, kecamatan

kemampuan relationship yang jauh lebih baik dari pada anggota. Anggota kelompok hanya memfokuskan pikirannnya ke teknis budidaya dan bersifat lokalit; kurang memiliki orientasi

Abstrak ² Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui strategi bersaing yang digunakan oleh perusahaan dalam menghadapi persaingan di sektor jasa ini yang

Teknik atau rekayasa genetika telah memungkinkan dalam beberapa kasus untuk mentransfer gen dari satu organisme ke organisme lain dengan mengatasi penghalang spesies

Dalam proses pengembangan kompetensi bagi guru SMP Abulyatama Aceh Besar, kepala sekolah tentu banyak memiliki kendala atau permasalahn terumata dalam memposisikan dirinya

( ةسمخلا تايرورضلا ) sangat populer di tengah masyarakat. Banyak orang mengira bahwa pencetusnya adalah Asy-Syathibi sebagai tokoh ulama yang membawa

Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo 54 penelitian berupa informasi pola perilaku religius aliran kepercayaan masyarakat kerokhanian

It is required a Study of Socio-engineering of the Subak System Development with Agro-ecotourism Oriented.. The study was begun with the identification