• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II Model Matematika Kanal Kota Makassar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BAB II Model Matematika Kanal Kota Makassar"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

II. TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini dibahas teori-teori yang digunakan dalam penulisan tugas akhir

ini yaitu mengenai pemodelan matematika, persamaan diferensial, persamaan

diferensial linier, dan pencemaran kanal sebagai bagian dari pembahasan hasil

penelitian.

A. Pemodelan Matematika

Model dan pemodelan telah membantu manusia memahami sistem alam yang

kompleks, mulai dari yang mikroskopik sampai yang makroskopik. Model tidak lain

adalah representasi suatu realitas dari seorang pemodel. Dengan kata lain, model

adalah jembatan antara dunia nyata dengan dunia berpikir untuk memecahkan suatu

masalah. Proses penjabaran atau merepresentasikan ini disebut sebagai modeling atau

pemodelan yang tidak lain merupakan proses berpikir melalui sekuen yang logis.

Model dibangun atas proses berpikir (melalui indra fisik) dari dunia nyata yang

kemudian diinterpretasikan melalui proses berpikir, sehingga menghasilkan

pengertian dan pemahaman mengenai dunia nyata. Pemahaman ini tidak bisa

sepenuhnya menggambarkan realitas dunia nyata, sehingga di dalam pemodelan

dikenal istilah “there is not such thing as one to one mapping” (tidak ada peta satu

banding satu). Selain itu, model dirancang bukan untuk memecahkan masalah sekali

untuk selamanya (one and for all) atau memecahkan semua masalah. Di dalam

(2)

yang menjadi kunci dari semua masalah, sehingga dalam pemodelan, penting untuk

merevisi dan meng-upgrade strategi.sehingga segala sesuatu cenderung berubah,

mengalir, dan tidak ada yang tetap. Jadi pemodelan juga dapat dikatakan sebagai

proses menerima, memformulasikan, memproses, dan menampilkan kembali persepsi

dunia luar.1

Penyusunan model matematika untuk berbagai bidang antara lain bidang

fisika, bidang biologi, bidang ekonomi, senantiasa diperlukan pengetahuan

matematika yang merupakan alat penyusun model seperti pengertian fungsi,

persamaan linear, persamaan diferensial dan aljabar matriks.

Adapun tujuan disusunnya model matematika antara lain:

1. Untuk mengetahui keterkaitan antara besaran yang satu terhadap besaran lain

yang terlibat dalam permasalahan yang dibahas. Dalam hal ini diharapkan dapat

diketahui nilai suatu besaran atau pengaruh yang ada sebagai akibat suatu

perubahan nilai besaran lain yang terkait pada bentuk model tersebut.

2. Untuk menentukan pendugaan nilai suatu besaran yang terlibat dalam

permasalahan tersebut untuk waktu yang akan datang. Pada umumnya dalam hal

ini model matematika merupakan model dari suatu permasalahan yang

bergantung pada besaran waktu.

(3)

3. Untuk menentukan harga optimum dari suatu besaran sebagai akibat

bervariasinya nilai besaran-besaran lain yang terlibat dengan permasalahan yang

dibahas.2

Dari ketiga tujuan disusunnya suatu model matematika memiliki maksud yang

berbeda tergantung model matematika yang dibentuk dan objek yang diteliti.

Misalkan pada tujuan pertama berkaitan terhadap hubungan antara variabel-variabel

model, tujuan kedua berkaitan terhadap mencari suatu nilai dugaan atau ramalan

suatu variabel dalam model yang dibentuk, dan tujuan ketiga berkaitan terhadap

mencari suatu nilai optimum suatu variabel dalam model matematika dengan

menginput nilai besaran variabel terkait.

Mengkonstruksikan suatu model matematika diperlukan langkah-langkah

sebagai berikut:

Langkah 1: Identifikasi masalah

Mengidentifikasi masalah adalah mengidentifikasi apa yang akan dikerjakan

atau diselesaikan. Seorang pemodel harus mampu cukup tepat merumuskan secara

verbal masalah tersebut agar berhasil dalam menerjemahkannya ke dalam bahasa

matematika. Perumusan masalah yang baik akan memudahkan menentukan tujuan

dari kegiatan pemodelan ini, sedangkan tujuan ini akan dipakai sebagai indikator

(4)

yang menunjukkan apakah model matematika yang dikonstruksi dapat menjawab

permasalahannya.

Pada langkah ini, seorang pemodel mulai melakukan identifikasi variabel apa

saja yang terlibat atau yang menggambarkan fenomena yang terjadi. Penentuan

variabel mana yang sebagai variabel tak bebas dan variabel mana yang sebagai

variabel bebasnya merupakan langkah yang sangat penting dan hati-hati.

Kehati-hatian diperlukan karena relasi kebergantungan anatar variabel yang terlibat

didalamnya tidak selalu berlaku bolak-balik. Misalkan dalam fenomena perubahan

ukuran populasi suatu spesies terhadap waktu. Dalam fenomena ini, sebagai variabel

tak bebasnya adalah ukuran populasi dan sebagai variabel bebasnya adalah waktu.

Langkah 2: Merumuskan asumsi-asumsi

Pada umumnya tidak semua faktor yang mempengaruhi perilaku yang telah

diidentifikasi melalui pengamatan akan dipakai dalam pemodelan matematikanya.

Sebuah model matematika memang berusaha menangkap, dalam bentuk abstrak,

karakteristik esensial dari suatu fenomena yang diamati. Keberhasilan dari usaha ini

bergantung pada pengetahuan emperis seorang pemodel dan kemampuan

matematisnya. Jika pengetahuan emperis tidak ada maka yang biasa dilakukan dalam

pemodelan adalah membuat asumsi-asumsi yang rasional. Seorang pemodel harus

dapat menyederhanakan banyaknya faktor tersebut, yaitu dengan mereduksi jumlah

(5)

yang tersisa harus ditentukan. Sebenarnya kompleksitas masalah dapat direduksi

dengan mengasumsikan saling keterhubungan yang relative sederhana. Jadi

pengasumsian meliputi dua kategori utama yaitu:

a. Identifikasi dan klasifikasi variabel

Hal-hal (faktor-faktor) apa saja yang mempengaruhi perilaku yang telah

diidentifikasi pada langkah 1. Daftarlah vfaktor-faktor ini sebagai variabel.

Kemudian klasifikasikan setiap variabel itu sebagai variabel bebas atau tak

bebas. Variabel-variabel dalam model yang dituntut untuk dijelaskan merupakan

variabel tak bebas dan sisanya merupakan variabel bebas. Pengetahuan yang

cukup tentang fenomena yang diamati akan mempermudah dalam melakukan

klasifikasi variabel ini, pengetahuan ini bias diperoleh dari refrensi-referensi

pendukung, atau bahkan melalui penelitian secara emperis.

b. Penentuan saling keterhubungan diantara variabel terpilih atau submodel

Sebelum dapat menduga suatu keterhubungan suatu variabel, pada umumnya

harus dibuat beberapa penyederhanaan. Masalah bisa cukup rumit manakala

relasi keterhubungan diantar variabel tidak dapat dilihat pada awalnya. Dalam

kasus demikian, diperbolehkan untuk mempelajari submodelnya, artinya satu

atau lebih variabel bebas dipelajari secara terpisah. Akhirnya submodel-submodel

ini dihubungkan bersama-sama dibawah asumsi model utamanya.

Langkah 3: Menyelesaikan model matematika

Model yang dikonstruksi berbentuk persamaan diferensial yang memodelkan

fenomena perubahan suatu objek yang terjadi. Penyelesaiaanya menggunakan

(6)

dilanjutkan dengan mengalisis solusi matematis yang telah didapatkan tersebut

tentang sifat dan kestabilannya bahkan mengeksplornya ke dalam hal-hal lain yang

terkait.

Langkah 4: Memvalidasi model

Sebelum menggunakan sebuah model untuk mencapai konklusi pada masalah

nyatanya, model harus diuji dahulu kevalidannya. Terdapat beberapa pertanyaan kritis

yang dapat diajukan sebelum mendesain pengujian validasi model (yang mungkin

merupakan sebuah proses yang dapat mahal dan menghabiskan waktu). Pertama,

apakah model ddapat menjawab masalah yang diidentifikasi pada langkah 1, atau

apakah model telah menyimpang dari isu kunci sebagaimana yang telah dikonstruksi

dalam model. Kedua, apakah model tersebut masuk akal. Ketiga, apakah data yang

perlu untuk pengujian dan mengoperasikan model dapat dikumpulkan, dan apakah

model mendukung ketika diuji.

Di dalam mendesain sebuah uji validasi untuk model, data actual yang didapat

dari observasi emperis digunakan secara hati-hati dengan melibatkan

observasi-observasi yang dibuat atas jelajah nilai yang sama untuk berbagai variabel bebas.

Pengasumsian pada langkah 2 dapat digunakan untuk memberikan batasan jelajah

variabel bebas. Jika data yang dihasilkan berdasarkan model mempunyai simpangan

(kesalahan) yang masih dapat ditoleransi terhadap data aktual maka model dapat

dikatakan valid dengan menyebutkan besarnya simpangannya.

Langkah 5: menginterpretasikan solusi matematis ke dalam masalah nyata

Setelah dilakukan uji validasi dan bahwa suatu model telah dinyatakan valid

(7)

nyatanya. Dari sinilah akan dihasilkan suatu kesimpulan atau keputusan, yang dalam

penyelesaian masalah nyata merupakan hal yang sangat penting.3

Seiring dengan kemajuan teknologi informasi, penyelesaian suatu masalah

matematis dapat diperoleh dengan mudah menggunakan perangkat lunak, yang

memudahkan mendapatkan solusi persamaan diferensial, menggambarkan grafik

solusi serta mengeksplornya. Misalkan sofhware matematica, matlab, minitab, maple,

dan lain-lain.

B. Persamaan Diferensial

Persamaan yang menyangkut satu atau lebih fungsi (peubah tak bebas) beserta

turunannya terhadap satu atau lebih peubah bebas disebut persamaan diferensial

(ordinary differential equation).4

Contoh :

Persamaan diferensial terbagi menjadi beberapa bentuk antara lain :

3Kartono. Persamaan Diferensial Biasa Model Matematika Fenomena Perubahan

(Yokyakarta: Graha Ilmu, 2012).h.10-12

4 Abdul Rahman, Nursalam, dan Wahidah Alwi. Persamaan Diferensial Biasa(Makassar: Lab

(8)

1. Persamaan diferensial biasa adalah persamaan diferensial yang menyangkut satu

atau lebih fungsi (peubah tak bebas) beserta turunannya terhadap satu peubah

bebas.

Bentuk umum :

F

(

x , y , y', y' ', … , ym

)

=0 (1)

Dimana

y adalah fungsi dari variabel bebas x

y', y' ', …, ym adalah turunan (differential quotient) dari fungsi y(x)

satu atau lebih fungsi (peubah tak bebas) beserta turunannya terhadap lebih dari

satu peubah bebas.

C. Tingkat (orde) dan Derajat (Degree) pada Persamaan Diferensial

Suatu persamaan diferensial biasa orde m adalah persamaan berbentuk

F

(

x , y , y', y' ', … , ym

)

=0 yang menyatakan hubungan antara peubah bebas x,

peubah tak bebas y(x) dan turunannya yaitu y , y', y'', … , ym , jadi suatu persamaan

(9)

persamaan diferensial itu adalah turunan ke m. Suatu persamaan diferensial disebut

Tingkat (orde) persamaan diferensial adalah tingkat tertinggi turunan yang

timbul. Persamaan 1, 3, dan 6 adalah tingkat pertama, persamaan 2, 5, dan 7 adalah

tingkat kedua, dan persamaan 4 adalah tingkat ketiga. Derajat (degree) persamaan

diferensial adalah derajat turunan tingkat tertinggi yang terjadi. Semua persamaan di

atas adalah mengenai derajat pertama kecuali persamaan 5 adalah derajat kedua.6

D. Persamaan Diferensial Linier

Suatu persamaan diferensial linier orde pertama mempunyai bentuk

dy

dx+p(x)y=r(x) (3)

5 Kartono.Penuntun Belajar Persamaan Diferensial(Yogyakarta: Andi Offset, 1994)

6 Frank Ayres, J.C. Ault, dan Lily Ratna.Persamaan Diferensial dalam satuan SI metric Seri

(10)

Kekhasan dari persamaan (3) adalah linier dalam y dan dydx , dengan p(x)

dan r(x) merupakan fungsi dari x atau konstanta yang diketahui. Jika r(x)

bernilai nol untuk semua nilai x dalam interval yang ditinjau maka persamaan itu

dinamakan homogen, tetapi sebaliknya dikatakan tak homogen. Solusi umum

persamaan ini adalah

y(x)=eh

[

ehr(x)dx

+c

]

(4)

Dimana

h=

p(x)dx (5)

Bila persamaannya mempunyai bentuk

dy

dx+p(x)y=r(x)y

n

,n ≠0 (6)

Maka dengan transformasi

z=yn+1

dandy dx=

yn 1−n

dz

dx (7)

Akan menghasilkan persamaan diferensial linier orde pertama, yaitu

dz

(11)

Oleh karena itu, persamaan (8) ini diselesaikan seperti menyelesaikan

diferensial linier orde pertama, dan kemudian gantilah z dengan transformasi semula

untuk mendapatkan solusi umum. Persamaan diferensial (6) dinamakan persamaan

diferensial Bernoulli.7

E. Faktor Pengintegral

Diberikan suatu persamaan diferensial linier orde satu sebagai berikut

dy

Bagian kiri persamaan (9) adalah turunan dari ln|y−3| , maka

d

dengan C konstanta integran yang bernilai sembarang. Persamaan (12) dapat dituliskan juga dalam bentuk

ye

x

2=3ex2+C (13)

(12)

kemudian dengan mendiferensialkan ruas kiri dan ruas kanan persamaan (13),

diperoleh

(

y' +1

2 y

)

e x 2=3

2e x

2 (14)

terlihat bahwa persamaan (14) ekivalen dengan persamaan (9). Dengan

demikian dapat dikatakan bahwa salah satu langkah untuk menyelesaikan

persamaan (9) adalah mengalikan persamaan tersebut dengan ex2 . Karena

perkalian ini dapat mereduksi persamaan ke bentuk yang terintegralkan, maka

fungsi ex2 dinamakan faktor pengintegral untuk persamaan (9).8

F. Sistem Drainase

Air hujan yang jatuh di suatu daerah perlu dialirkan atau dibuang agar tidak

terjadi genangan atau banjir. Caranya yaitu dengan pembuatan saluran yang dapat

menampung air hujan yang mengalir dipermukaan tanah tersebut. Sistem saluran di

atas selanjutnya dialirkan ke sistem yang besar. Sistem yang terkecil juga

dihubungkan dengan saluran rumah tangga dan sistem bangunan infrastruktur

lainnya. Sehingga apabila cukup banyak limbah cair yang berada dalam saluran

tersebut perlu diolah. Seluruh proses ini disebut sistem drainase.9

8 Marwan & Said Munzir, Persamaan Diferensial(Banda Aceh: Graha Ilmu, 2008). h. 16.

9 Robert J. Kodoatie & Roestam Sjarief, Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu Edisi

(13)

G. Erosi dan Sedimentasi

Kanal atau terusan merupakan saluran air yang dibuat oleh manusia untuk

berbagai keperluan. Umumnya kanal merupakan bagian dari aliran sungai dengan

pelebaran atau pendalaman pada bagian tertentu. Knala dapat difungsikan sebagai

bagian dari sistem pengendalian banjir serta dapat berguna untuk jalur transportasi/

perdagangan.10 Kanal terdiri dari dua macam yaitu kanal yang hanya digunakan untuk

mengarahkan dan mengalirkan air saja dan kanal yang merupakan jalur transportasi

yang dapat di navoigasi, digunakan untuk angkutan barang dan orang, seringkali

terhubung dengan sungai, laut dan danau.

Referensi

Dokumen terkait

- Menentukan besaran dari suatu masalah dalam matematika, mata pelajaran lain atau kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan sistem persamaan linear, yang dirancang sebagai

Penilaian (apprasial) adalah perkiraan nilai yang perhitungan nya didukung oleh data, perkiraan tersebut digunakan sebagai bahan prediksi di waktu yang akan datang dalam jangka waktu

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa aggregate planning adalah perencanaan untuk menentukan jumlah dan waktu produksi di masa yang akan datang dalam waktu

Curah hujan yang dicatat oleh pos hujan dapat digunakan untuk memprediksi curah hujan pada waktu yang akan datang melalui pemodelan deret waktu ARIMA musiman, Rantai Markov atau

Dari definisi yang dikemukakan para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa peramalan adalah suatu seni atau ilmu pengetahuan untuk menentukan suatu besaran satu atau

Prakiraan (forecasting), merupakan suatu usaha yang sistematis untuk meramalkan atau memperkirakan waktu yang akan datang dengan penarikan kesimpulan atas fakta yang

Peramalan adalah suatu perkiraan tingkat permintaan yang diharapkan untuk suatu produk atau beberapa produk dalam periode waktu tertentu di masa yang akan datang. Oleh

sehingga akan dilakukan pendugaan tidak langsung pada ketiga kecamatan ini menggunakan pendugaan Posterior untuk mendapatkan model Empirical Bayes (EB) dengan menggunakan