• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh kombinasi NaCI Dan ZPT IBA pada media MS terhadap pertumbuhan galur mutan padi secara In Vitro

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh kombinasi NaCI Dan ZPT IBA pada media MS terhadap pertumbuhan galur mutan padi secara In Vitro"

Copied!
78
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KOMBINASI NaCl DAN ZPT IBA PADA

MEDIA MS TERHADAP PERTUMBUHAN GALUR MUTAN

PADI SECARA

IN VITRO

EFRILIA NURJANAH

PROGRAM STUDI BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF

(2)

PENGARUH KOMBINASI NaCl DAN ZPT IBA PADA

MEDIA MS TERHADAP PERTUMBUHAN GALUR MUTAN

PADI SECARA

IN VITRO

SKRIPSI

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

EFRILIA NURJANAH 103095029758

PROGRAM STUDI BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF

(3)

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI SKRIPSI KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.

Jakarta, Februari 2009

(4)

PENGARUH KOMBINASI NaCl DAN ZPT IBA PADA

MEDIA MS TERHADAP PERTUMBUHAN GALUR MUTAN

PADI SECARA

IN VITRO

SKRIPSI

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

EFRILIA NURJANAH 103095029758

Menyetujui :

Pembimbing I

Priyanti, M.Si NIP : 132 283 153

Pembimbing II

Azri Kusuma Dewi, S.TP. M.Si NIP : 330 005 090

Mengetahui

Ketua Program Studi Biologi

DR. Lily Surayya E.P, M. Env.

Stud

(5)

PENGESAHAN UJIAN

Skripsi berjudul “Pengaruh Kombinasi NaCl dan ZPT IBA Pada Media MS Terhadap Pertumbuhan Galur Mutan Padi Secara In Vitro” yang ditulis oleh Efrilia Nurjanah, NIM 103095029758 telah diuji dan dinyatakan lulus dalam sidang Munaqosah Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 18 Februari 2009. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana strata satu (S1) Program Studi Biologi.

Menyetujui,

Penguji I Penguji II

Fahma Wijayanti, M.Si Dra. Nani Radiastuti, M.Si

NIP : 150 326 910 NIP : 150 318 610

Pembimbing I Pembimbing II

Priyanti, M.Si Azri Kusuma Dewi, S.TP. M.Si NIP : 132 283 153 NIP : 330 005 090

Mengetahui,

Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Ketua Program Studi Biologi

DR. Syopiansyah Jaya Putra, M.Sis DR. Lily Surayya E.P, M. Env. Stud

(6)

Bukankah Dia (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air dari langit untukmu, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu

kebun-kebun yang berpemandangan indah? Kamu tidak akan mampu menumbuhkan pohon-pohonnya. Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang menyimpang

(dari kebenaran) (an-Naml : 60)

“ Ilmu lebih berharga dibandingkan harta. Harta berkurang jika diberikan kepada orang lain,

Sedangkan ilmu bertambah dengan diberikan kepada orang lain. Harta dijaga oleh pemiliknya sedangkan ilmu menjaga pemiliknya ”.

(’Ali Ibn Abi Thalib)

Islam memberi kebebasan kepada akal dan mendorongnya untuk banyak melakukan penelitian dan pemikiran terhadap alam semesta. Islam menghargai ilmu pengetahuan dan memuliakan ulama serta menyenangi orang-orang yang menciptakan sesuatu untuk kemaslahatan kehidupan

manusia (asy-Syahid Hasan al-Banna).

(7)

RIWAYAT HIDUP PENULIS

Penulis adalah anak pertama dari pasangan Bakri Harun dan Elfida Roslaini yang lahir pada tanggal 19 April 1985 di Jakarta. Alamat penulis Jalan Kebon Jeruk Raya No.30 RT 002 RW 06, Kelurahan Sukabumi Utara, Jakarta Barat 11540. Pada tahun 1991 penulis menyelesaikan Taman Kanak-Kanak Srikandi, kemudian tahun 1997 menyelesaikan pendidikan dasar di Sekolah Dasar Negeri 15 Palmerah. Tahun 2000 menyelesaikan pendidikan menengah pertama di Sekolah Menengah Pertama Negeri 111, kemudian dilanjutkan pada tahun 2003 menyelesaikan pendidikan menengah atas di Sekolah Menengah Atas Al-Chasanah. Pada tahun 2003 penulis diterima di Jurusan MIPA Prodi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri melalui jalur Ujian Lokal yang diadakan pihak Universitas.

(8)

ABSTRAK

EFRILIA NURJANAH. Pengaruh Kombinasi NaCl dan ZPT IBA Pada Media MS Terhadap Pertumbuhan Galur Mutan Padi Secara In Vitro.

Skripsi. Program Studi Biologi. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Jakarta. 2009.

Penelitian mengenai pengaruh kombinasi NaCl dan ZPT IBA pada media MS terhadap pertumbuhan galur mutan padi secara in vitro telah dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan dan Rumah Kaca Kelompok Pemuliaan Tanaman (PATIR-BATAN). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi NaCl, ZPT IBA serta kombinasi keduanya pada media MS terhadap persentase daya tumbuh, tinggi dan panjang akar planlet padi varietas Diah Suci dan 3 galur mutannya secara in vitro. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 faktor, 48 perlakuan dan 5 ulangan. Faktor pertama yaitu 4 konsentrasi NaCl (0%, 0.5%, 1% dan 1.5%), faktor kedua yaitu 3 konsentrasi ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) IBA (0%, 2.5% dan 5%) dan faktor ketiga yaitu varietas Diah Suci sebagai tanaman kontrol dan 3 galur mutan padi varietas Diah Suci yaitu obs-1700, obs-1701, dan obs-1704. Hasil pengamatan pada 4 MST (Minggu Setelah Tanam) menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi NaCl yang diberikan (1.5%) maka persentase daya tumbuh, tinggi dan panjang akar planlet semakin menurun. Pemberian konsentrasi IBA hingga 5% berpengaruh terhadap persentase daya tumbuh, tinggi dan panjang akar planlet. Dengan menggabungkan ketiga parameter pengamatan pada umur 4 MST maka galur mutan obs.1704 lebih baik dibandingkan dengan tanaman kontrol dan kedua galur mutan lainnya dengan persentase daya tumbuh 80%, tinggi planlet 19.84 cm dan panjang akar 5.62 cm pada konsentrasi NaCl 1% dan konsentrasi IBA 5%.

(9)

ABSTRACT

EFRILIA NURJANAH. The Influence of NaCl and IBA Combination at MS Media for the Growth of Rice Mutant Lines by In Vitro Technique. Bsc

Thesis. Biology Department. Faculty of Science and Technology. State Islamic University Syarif Hidayatullah. Jakarta. 2009.

The influence research of NaCl and IBA at the MS media for the growth of rice mutant in vitro was done in the Tissue Culture Laboratory and Green House Plant’s Breeding Group (PATIR-BATAN). The aims of this research was to know the concentrate variation of NaCl, IBA and MS media combination for growing percentage, height and root length in plantlet Diah Suci variety and 3 rice mutant lines. The experiment was arranged in a Completely Randomized Design, with three factors, fourty eight treatments and five replications. The first factor was 4 concentration of NaCl (0%, 0.5%, 1% and 1.5%). The second factor was 3 concentration of IBA (0%, 2.5% dan 5%). The third factor was Diah Suci variety as plant control and 3 rice mutant lines (obs-1700, obs-1701, dan obs-1704). The result of 4 weeks observation was show that the added of NaCl concentration up to 1.5%, so the growth percentage, height and root length of plantlet will be to descend. Concentration of IBA until 5% influenced to the growth percentage, height and root length of plantlet. The combination of three parameter refered to obs.1704 better than control and the others (obs.1700 and obs.1701) with the growth percentage was 80%, plantlet height 19.84 cm and root length 5,62 cm in combination of NaCl 1% and IBA 5% on 4 weeks observation.

(10)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrohim

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh,

Alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT dengan rahmat dan karunia-Nya turunlah segala kebaikan, dengan taufik-Nya tercapailah segala tujuan, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana sains. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah SAW sebagai pendidik dan pembawa petunjuk, kepada keluarga, sahabat dan ummatnya tetap istiqomah hingga yaumil akhir.

Skripsi ini disusun berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Tumbuhan Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi (PATIR-BATAN) dengan judul “Pengaruh Kombinasi NaCl dan ZPT IBA Pada Media MS Terhadap Pertumbuhan Galur Mutan Padi Secara In Vitro”.

(11)

1. Orang tua tercinta dan tersayang dengan sabar dan ikhlas mendoakan, mendidik serta memberikan semangat dan dukungannya secara moril maupun materil.

2. Dr. Syopiansyah Jaya Putra, M.Si selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi.

3. DR. Lily Surayya E.P, M. Env. Stud selaku Ketua Program Studi Biologi. 4. Kepala Pusat (PATIR-BATAN), Kepala Bidang Pertanian dan Ketua

Kelompok Pemuliaan Tanaman beserta staf atas kerjasamanya yang telah memberikan fasilitas penelitian.

5. Priyanti, M.Si. selaku pembimbing pertama dan Azri Kusuma Dewi, S.TP. M.Si selaku pembimbing kedua yang telah mengorbankan tenaga, pikiran dan waktu untuk memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

6. Ibu Yulidar yang telah sabar membimbing penulis selama penelitian di laboratorium.

7. Siti Maryam Abd. (Iam) sahabat dakwah penulis yang senantiasa membantu, memberikan semangat, menghiasi dan memberi warna dalam hidup penulis.

(12)

Akhir kata penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan skripsi ini terdapat banyak kekurangan, baik dari segi isi maupun materi. Penulis membuka diri terhadap kritik dan saran yang membangun serta berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dalam menambah pengetahuan dan wawasan.

Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Jakarta, Februari 2009

(13)

DAFTAR ISI

2.3 Pengaruh Salinitas Terhadap Pertumbuhan Tanaman Padi...

2.4 Pemuliaan Mutasi...

2.5 Teknik Pembiakan Secara In Vitro ……….

2.6 Pemanfaatan Radiasi dalam Kultur Jaringan ...

(14)
(15)

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1. Kombinasi Perlakuan NaCl, ZPT IBA dan Galur... 33 Tabel 2. Induksi Padi………... 35 Tabel 3. Persentase Daya Tumbuh Planlet Umur 4 MST……... 37 Tabel 4. Interaksi NaCl, ZPT IBA dan Galur terhadap tinggi

planlet (cm) padi secara in vitro pada umur 2

MST ………. 39

Tabel 5. Interaksi NaCl, ZPT IBA dan Galur terhadap tinggi planlet (cm) padi secara in vitro pada umur 3 MST…

…………... 39 Tabel 6. Interaksi NaCl, ZPT IBA dan Galur terhadap tinggi

planlet (cm) padi secara in vitro pada umur 4 MST…

……….……... 40

Tabel 7. Interaksi NaCl, ZPT IBA dan Galur terhadap panjang akar (cm) padi secara in vitro pada umur 3 MST……

(16)

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1. Daun Padi... 7 Gambar 2. Malai Padi (a) dan Bunga Padi (b)... 9 Gambar 3. Bentuk Buah Padi dan Bagiannya... 10 Gambar 4. Penampilan toleransi varietas padi yang bervariasi

terhadap salinitas... 14 Gambar 5. Pemuliaan Mutasi Secara Umum... 20 Gambar 6. (a) Eksplan Varietas Diah Suci, (b) Obs.1700, (c)

Obs.1704 dan (d) Obs.1701………... 26 Gambar 7. Alat dalam kultur jaringan diantaranya, (a) autoclave,

(b) LAFC, (c) Oven, dan (d) timbangan analitik... 27 Gambar 8. Media MS... 29 Panjang akar pada perlakuan NaCl 0% dan IBA 0% umur 4 MST... Panjang akar pada perlakuan IBA 0%, 2.5% dan 5% umur 4 MST...

43

43

47

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1. Deskripsi Varietas Diah Suci (DS)………... 54 Lampiran 2. Komposisi Media MS……….…….……... 55

Lampiran 3. Gambar Rata-Rata Pertumbuhan Tinggi Planlet Padi

Umur 2-4 MST………... 56 Lampiran 4. Hasil Anova Tinggi Planlet Padi Umur 2-4 MST..….. 58

Lampiran 5. Hasil Uji Duncan Tinggi Planlet Padi…………... 59

Lampiran 6. Gambar Rata-Rata Pertumbuhan Panjang Akar Padi4

MST... 60 Lampiran 7. Hasil Anova dan Hasil Uji Duncan Panjang Akar

Padi 4 MST... 61 Lampiran 8. Gambar Penampilan Planlet Hidup, Planlet Mati,

(18)

BAB l

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Padi merupakan komoditi pertanian yang penting, kurang lebih 50% penduduk dunia memerlukannya sebagai bahan makanan pokok. Kebutuhan nasional akan padi saat ini meningkat namun produksinya cenderung menurun. Salah satu faktor penyebabnya adalah luas lahan sawah yang subur semakin menyempit dan telah beralih fungsi, diperkirakan dua puluh ribu hektar setiap tahun diperuntukkan bagi keperluan non pertanian seperti industri, pemukiman, jalan dan lain-lain. Mengoptimalkan tanaman padi di daerah sekitar pantai menjadi alternatif baru bagi para petani. Namun permasalahan yang timbul adalah tidak semua varietas padi tahan terhadap tanah dengan kadar garam tinggi dibandingkan tanah di lahan persawahan pada umumnya. (Lestari dkk., 2005; Shannon dalam Jagau, 1993; BATAN, 2003).

(19)

produksi padi di lahan yang bersifat salin dan asam (Sembiring, H dan A. Gani, 2009). Penelitian mengenai salinitas pada tanaman padi sudah pernah dilakukan oleh Dinata (1985) yang berjudul “Pengaruh Salinitas Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Padi Varietas Atomita II dan IR 32” dan Ishak (1994) yang berjudul “Analisis Kandungan Asam Amino Mutan Padi (Oryza sativa L.) C.V. Atomita-1 dan Atomita-2 serta Hubungannya dengan Toleransi Terhadap Salinitas”. Sedangkan penelitian mengenai salinitas secara in vitro diantaranya juga sudah pernah dilakukan oleh Basu, S dkk (2002) dengan mengamati pertumbuhan kalus padi dari varietas Basmati 370 yang sensitif dan varietas SR-26B yang toleran terhadap salinitas.

(20)

galur mutan mana yang toleran terhadap cekaman abiotik terutama salinitas. Sehingga ke depannya galur mutan tersebut dapat ditanam di daerah yang berkadar garam tinggi dan beradaptasi dengan baik terhadap cekaman faktor lingkungan (BATAN, 2003)

Salah satu faktor penentu keberhasilan perbanyakan tanaman secara in vitro adalah media kultur. Berbagai komposisi media kultur telah diformulasikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang dikulturkan. Komposisi media kultur yang digunakan dalam kultur in vitro berisi campuran garam mineral dari unsur makro, mikro, gula, protein, vitamin dan zat pengatur tumbuh (ZPT) (Yusnita, 2003). Media kultur yang digunakan dalam penelitian ini adalah media dasar dan media perlakuan. Media dasar yang digunakan adalah media MS (Murashige & Skoog) yang unsur hara makro, mikro dan vitaminnya cukup untuk kebutuhan pertumbuhan tanaman. Sedangkan media perlakuan yang digunakan adalah variasi konsentrasi NaCl mulai dari 0%, 0.5%, 1% dan 1.5%, dan variasi konsentrasi ZPT IBA (Indole Butyric Acid) mulai dari 0%, 2.5% dan 5%. Dalam penelitian ini digunakan tiga galur mutan padi dari varietas Diah Suci (DS) yaitu observasi (obs.) 1700, obs.1701, obs.1704 dan varietas Diah Suci (DS) sendiri sebagai tanaman kontrol.

1.2 Permasalahan

(21)

1.3 Hipotesis

1. NaCl memberikan pengaruh terhadap persentase daya tumbuh, tinggi dan panjang akar planlet padi varietas DS dan 3 galur mutannya secara in vitro.

2. ZPT IBA memberikan pengaruh terhadap persentase daya tumbuh, tinggi dan panjang akar planlet padi varietas DS dan 3 galur mutannya secara in vitro.

3. Planlet padi varietas DS dan 3 galur mutannya memiliki perbedaan terhadap persentase daya tumbuh, tinggi dan panjang akar secara in vitro.

4. Kombinasi variasi konsentrasi NaCl dan ZPT IBA pada media MS berpengaruh terhadap persentase daya tumbuh, tinggi dan panjang akar planlet padi varietas DS dan 3 galur mutannya secara in vitro.

1.4 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi NaCl terhadap persentase daya tumbuh, tinggi dan panjang akar planlet padi varietas DS dan 3 galur mutannya secara in vitro.

2. Untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi ZPT IBA terhadap persentase daya tumbuh, tinggi dan panjang akar planlet padi varietas DS dan 3 galur mutannya secara in vitro.

(22)

4. Untuk mengetahui pengaruh kombinasi variasi konsentrasi NaCl dan ZPT IBA terhadap persentase daya tumbuh, tinggi dan panjang akar planlet padi varietas DS dan 3 galur mutannya secara in vitro.

1.5 Manfaat Penelitian

(23)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Morfologi Padi

Padi termasuk golongan tanaman semusim atau berumur pendek (kurang dari satu tahun) dan berproduksi satu kali, setelah itu mati atau dimatikan. Tanaman padi secara morfologi dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu bagian vegetatif (akar, batang dan daun) dan bagian generatif (bunga, buah, dan biji). 1. Bagian Vegetatif

a. Akar

Akar adalah bagian tanaman yang berfungsi menyerap air dan zat makanan dari dalam tanah, kemudian diangkut terus ke bagian atas tanaman. Akar tanaman padi dapat dibedakan lagi menjadi tiga yaitu: (1) akar serabut / akar adventif; (2) akar rambut merupakan bagian akar yang keluar dari akar serabut, biasanya berumur pendek; dan (3) akar tajuk adalah akar yang tumbuh dari ruas batang terendah. Akar tajuk dibedakan lagi berdasarkan letak kedalaman akar di tanah yaitu akar yang dangkal dan akar yang dalam (AAK, 1990).

b. Batang

(24)

daun. Batang baru akan muncul pada ketiak daun, awalnya berupa kuncup, kemudian mengalami pertumbuhan dan akhirnya menjadi batang baru (AAK, 1990).

c. Daun

Ciri khas daun padi adalah adanya sisik dan telinga daun. Hal ini yang dapat membedakan daun padi dengan daun jenis rumput yang lain. Ada pun bagian-bagian daun padi yaitu: (1) Helaian daun terletak pada batang, bentuknya memanjang seperti pita, panjang dan lebar helaian daun tergantung varietas padi; (2) Pelepah daun merupakan bagian daun yang menyelubungi batang, pelepah daun berfungsi memberi dukungan pada bagian ruas yang jaringannya lunak; dan (3) Lidah daun terletak pada perbatasan antara helai daun (leaf blade) dan upih. Panjang dan warna lidah daun berbeda-beda tergantung varietas padi. Lidah daun duduknya melekat pada batang. Lidah daun berfungsi mencegah masuknya air hujan di antara batang dan pelepah daun/upih daun (AAK, 1990).

Keterangan :

1. Helaian daun (leaf blade)

2. Sisik daun (ligule)

3. Leher daun (collar)

4. Pelepah daun (leaf sheath)

5. Telinga daun (auricle)

6. Dasar helaian daun

(base of leaf blade)

(25)

2. Bagian Generatif a. Bunga

Malai adalah sekumpulan bunga padi (spikelet) yang keluar dari buku paling atas. Bulir-bulir padi terletak pada cabang pertama dan cabang kedua, sedangkan sumbu utama malai adalah ruas buku yang terakhir pada batang. Panjang malai tergantung pada varietas padi dan cara bercocok tanam. Panjang malai dapat dibedakan menjadi tiga macam ukuran, yaitu malai pendek kurang dari 20 cm, malai sedang antara 20-30 cm, dan malai panjang lebih dari 30 cm. Jumlah cabang pada setiap malai berkisar antara 15-20 buah (AAK, 1990).

(26)

Keterangan :

1. Kepala sari

2. Tangkai sari

3. Palea

4. Lemma

5. Kepala putik

6. Lodicula

7. Tangkai bunga

(a) (b)

Gambar 2. (a) Malai Padi dan (b) Bunga Padi. Sumber : AAK, 1990

b. Buah

Gabah atau buah padi adalah ovary yang telah masak, bersatu dengan

(27)

Gambar 3. Buah Padi dan Bagiannya. Sumber : Saenong, 1993

2.2 Syarat Tumbuh Padi

Pertumbuhan padi dipengaruhi oleh iklim dan tanah. Tanaman padi dapat hidup dengan baik di daerah yang berhawa panas dan lembab. Pengertian iklim menyangkut curah hujan, temperatur, ketinggian tempat, sinar matahari, angin dan musim (AAK, 1990).

Tanaman padi membutuhkan curah hujan yang baik, rata-rata 200 mm/bulan atau lebih, dengan distribusi selama empat bulan. Curah hujan yang dikehendaki per tahun sekitar 1500-2000 mm. Tanaman padi dapat tumbuh dengan baik pada suhu 230C. Padi yang tumbuh di daerah lahan kering

memerlukan curah hujan antara 1000-1500 mm per tahun selama 3-4 bulan dengan penyebaran tidak teratur. Menurut Junghun, dalam AAK (1990), hubungan antara tinggi tempat dengan tanaman padi adalah sebagai berikut yaitu (1) daerah 0-650 m dpl (diatas permukaan laut) dengan suhu 22.50C – 26.50C

(28)

650-1500 m dpl dengan suhu 18.70C – 22.50C masih cocok untuk tanaman padi (AAK,

1990).

Tanah merupakan bagian dari permukaan bumi yang dapat digunakan sebagai tempat tumbuh suatu tanaman. Penggunaan dan pemanfaatan tanah oleh manusia mencakup sifat fisik tanah yang terdiri dari struktur tanah, air serta udara dalam tanah. Di Pulau Jawa, padi dapat tumbuh dengan baik pada tanah dengan ketebalan lapisan atasnya antara 18-22 cm, sedangkan lapis olah tanah sawah menurut IRRI ialah dengan kedalaman 18 cm (AAK, 1990).

2.3 Pengaruh Salinitas Terhadap Pertumbuhan Tanaman Padi

Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air. Salinitas juga dapat mengacu pada kandungan garam dalam tanah. Salinitas secara sederhana dapat diartikan sebagai suatu keadaan dengan garam-garam yang dapat larut dalam jumlah berlebihan dan berakibat buruk bagi pertumbuhan tanaman (Castro, 1980, dalam Dinata, 1985). Salinitas merupakan salah satu masalah penting dalam mengusahakan tanaman padi (Oryza sativa L.) di daerah pasang surut, delta, dan estuari (Suwarno, 1985). Di Indonesia, tanah-tanah yang mempunyai potensi salinitas tinggi sering dijumpai di daerah dataran rendah dekat pantai dan daerah yang dipengaruhi oleh gerakan pasang surut air laut, yang luasnya diperkirakan 39.4 juta ha (Adhi, 1986).

(29)

terhambat dan akhirnya akan mati atau mengering (Castro, dalam Dinata, 1985). Salinitas juga mempengaruhi serapan dan keseimbangan hara tanaman. Perlakuan dengan NaCl dapat menurunkan kadar K dan meningkatkan kadar Na, Ca, Mg dan Cl dalam jaringan tanaman (Hassan, 1970; IRRI, 1978, dalam Dinata, 1985).

Menurut Bumbla dan Abrol, 1978, dalam Dinata (1985), tanah yang terpengaruh garam ditunjukkan oleh adanya pertumbuhan tanaman tidak seragam, tanaman terhenti pertumbuhannya dan beberapa tanaman menunjukkan gejala daun terbakar dan khlorosis. Garam-garam klorida, sulfat dan bikarbonat yang merupakan anion utama dan natrium, kalsium serta magnesium yang merupakan kation dalam larutan dan masing-masing kandungan garam ini akan memberikan berbagai tingkat salinitas.

Unsur-unsur Na+ dan Cl- merupakan unsur esensial dan dikelompokkan ke

dalam unsur mikro yang diperlukan bagi pertumbuhan dan produksi tanaman. Unsur Na+ dan Cl- dapat menekan pertumbuhan tanaman dan mengurangi

produksi bila jumlahnya berkurang, sebaliknya akumulasi Na+ dan Cl- yang

berlebihan juga akan menekan pertumbuhan dan mengurangi produksi tanaman (Soepardi, 1979, dalam Bintoro, 1985). Peranan Na+ dan Cl- pada proses fisiologi

tanaman diduga mempengaruhi pengikatan air oleh tanaman sehingga tanaman menjadi tahan kekeringan, sedangkan Cl- diperlukan untuk reaksi fotosintesis

yang bertalian dengan produksi oksigen (Prawiranata, Haran dan Tjondronegoro, 1981, dalam Bintoro, 1985).

(30)

tanaman menyebabkan tekanan osmotik yang tinggi sehingga ketersediaan unsur K bagi tanaman berkurang akibatnya akar tanaman mengalami kesukaran dalam menyerap air dan pembentukan akar baru terhambat (Bernstein, 1981, dalam

Dinata, 1985).

Menurut Carter, Bondurant dan Robinson, 1971, dalam Dinata (1985), faktor lain yang menyebabkan salinitas adalah air drainasi yang melewati daerah berkadar garam tinggi. Kemampuan tanaman menyerap air pada lingkungan bergaram akan berkurang sehingga gejala yang ditimbulkan mirip seperti kekeringan. Gejala yang tampak yaitu daun cepat menjadi layu, terbakar, berwarna biru kehijau-hijauan, pertumbuhan daun kecil dan akhirnya tanaman mati kekeringan (Doorenbos dan Pruitt, 1977, dalam Dinata, 1985). Salinitas yang tinggi juga menyebabkan daun padi menggulung kemudian mengering dimulai dari bagian ujung daun. Meningkatnya salinitas akan menekan pertumbuhan tanaman yang ditandai dengan menurunnya bobot kering tanaman, ukuran daun, tinggi tanaman, jumlah anakan, panjang malai, dan bobot gabah (Akbar dan Ponnamperuma, 1980, dalam Suwarno, 1985) selain itu juga dapat terjadi penebalan lapisan kutikula dan lilin di permukaan daun (Dinata, 1985).

(31)

Toleransi tanaman padi terhadap salinitas dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain iklim, fase pertumbuhan tanaman dan varietas. Adanya keragaman toleransi antar varietas menunjukkan adanya kemungkinan untuk mendapatkan varietas unggul yang toleran terhadap salinitas melalui program pemuliaan (Suwarno, 1985). Varietas padi yang toleran salinitas dapat mempertahankan keseimbangan hara di dalam tanaman, yaitu dengan mempertahankan serapan K dan menekan serapan Na+ dan Cl- (Dinata, 1985).

Umumnya tanaman padi lebih tahan terhadap salinitas pada fase perkecambahan, tetapi menjadi sangat peka pada awal fase bibit. Ketahanan tanaman padi terhadap salinitas akan meningkat selama pembentukan anakan, kemudian menurun selama fase pembungaan dan meningkat kembali pada saat pemasakan biji (Dinata, 1985).

Gambar 4. Penampilan toleransi varietas padi yang bervariasi terhadap salinitas Sumber : Anonim. 2005. padi. http://id.wikipedia.org/wiki/Padi.(5 Agustus 2007)

2.4 Pemuliaan Mutasi

(32)

mendapatkan sifat-sifat tanaman baru yang lebih baik dari induknya sehingga terjadi perubahan dalam bahan keturunan pada tanaman (Herawati dan Setiamihardja, 2000).

Pemuliaan tanaman secara konvensional menggunakan teknik hibridisasi yaitu menyilangkan dua atau lebih tetua yang berbeda genotipnya untuk mendapatkan kombinasi genetik yang diinginkan, sedangkan dalam pemuliaan mutasi hal tersebut dicapai dengan menggunakan mutagen, baik fisik maupun kimia (Poespodarsono, 1988).

Stansfield (1991), mengatakan bahwa secara alami mutasi jarang terjadi di alam dan merupakan kejadian yang langka, karena kebanyakan gen memiliki sifat yang relatif stabil. Walaupun mutasi adalah kejadian yang langka, mutasi dapat dipercepat melalui penggunaan bahan yang dapat menyebabkan mutasi atau disebut mutagen. Poespodarsono (1988) mengelompokkan mutagen ke dalam tiga golongan yaitu mutagen radiasi, mutagen non radiasi, dan mutagen kimia.

Pengembangan metode pemuliaan mutasi dilakukan dengan rekayasa materi genetik bahan tanaman dengan menggunakan bahan mutagen (mutagenic agents). Bahan mutagen yang digunakan dapat berupa mutagen kimia (chemical mutagen) umumnya berasal dari senyawa alkil seperti Colchicin, Ethyl Methane Sulphonate (EMS), Diethyl Sulphate (DES), Methyl Methane Sulphate (MMS), maupun mutagen fisika (physical mutagen) seperti sinar X, Alfa, Beta, Gamma dan Neutron (IAEA, 1977).

(33)

penyinaran. Dengan seleksi, maka mutan yang dihasilkan sebagai akibat radiasi dapat diarahkan kepada sifat-sifat unggul yang dikehendaki (Sastrodiharjo, 1978).

Menurut Mugiono (1989), untuk memperoleh mutasi yang efektif diperlukan dosis radiasi tertentu. Pada setiap jenis tanaman memerlukan dosis radiasi yang berbeda-beda.

Mutagen yang ideal untuk tujuan mutasi induksi adalah jenis mutagen yang bersifat hanya menimbulkan kerusakan secara fisiologis sekecil mungkin tetapi mampu menimbulkan perubahan genetik yang besar. Penggunaan dosis paparan radiasi yang lebih rendah tetapi cukup mampu menimbulkan efek genetik yang besar akan lebih baik hasilnya daripada memilih dosis radiasi yang lebih tinggi tetapi banyak menimbulkan kerusakan fisik (Darussalam, 1989).

Dengan energi nuklir yang dimiliki, perlakuan bahan mutagen dengan dosis tertentu pada materi reproduktif tanaman dapat merubah genetik tanaman yang akan diwariskan ke generasi-generasi berikutnya. Perubahan genetik yang dikenal dengan istilah mutasi, dapat terjadi pada tingkat ploidi, kromosom, atau gen. Proses mutasi dapat menimbulkan perubahan pada sifat-sifat genetis tanaman baik ke arah positif atau negatif (Hoeman, 2002).

(34)

Menurut Herawati dan Setiamihardja (2000), perlakuan dengan menggunakan bahan mutagen fisik maupun kimia akan menimbulkan beberapa pengaruh pada generasi pertama yaitu :

1. Kerusakan fisiologis (kerusakan utama)

Kerusakan fisiologis mungkin terjadi karena kerusakan kromosom dan juga bagian sel di luar kromosom. Besarnya kerusakan utama ini tergantung pada pengaturan dan besarnya dosis yang digunakan dan akan meningkat sampai batas tertentu (letalitas).

2. Mutasi kromosom (aberasi kromosom)

Mutasi kromosom adalah perubahan struktur yang meliputi penambahan jumlah kromosom (duplikasi), kehilangan jumlah kromosom (defisiensi atau deletion) atau penempatan kembali segmen kromosom (inverse dan translokasi).

3. Mutasi gen (mutasi faktor/mutasi titik)

Mutasi gen adalah perubahan yang sangat kecil terjadi di dalam struktur molekuler dari gen yang bersifat turun-temurun. Berdasarkan mekanisme molekuler, pada mutasi gen dapat terjadi pergantian pasangan basa (transisi dan transverse) dan perubahan kerangkanya.

Ismachin (2000), menyatakan bahwa kerusakan fisiologis hanya terjadi pada generasi pertama (M1) tetapi mutasi kromosom dan mutasi gen akan diturunkan ke generasi selanjutnya (M2).

(35)

dibandingkan dengan metode persilangan untuk mendapatkan hasil yang sama (Mugiono, 1989).

Umumnya pemulia tanaman menggunakan metode mutasi untuk memunculkan sifat resesif tanaman yang dapat menguntungkan, baik secara botani maupun secara ekonomi. Sebanyak 95-99% kasus pemuliaan mutasi menghasilkan mutasi yang bersifat resesif (Brock, 1979).

Tidak semua pemulia menyetujui bahwa metode mutasi adalah metode yang tepat untuk menciptakan keragaman. Hal ini karena mutasi memiliki beberapa kelemahan, seperti munculnya kimera, munculnya sifat-sifat yang justru tidak diinginkan atau merugikan, serta kadang kala hasil mutasi tidak sesuai dengan harapan atau peluang untuk menghasilkan mutasi yang menguntungkan sangat kecil (Nybom, 1961). Selain itu mutasi hanya mempengaruhi secara efektif gen yang sudah ada dan kerusakan struktur genetik akibat mutasi dapat berubah normal kembali sebelum termanifestasi sebagai mutasi dan terekspresi sebagai fenotip mutan (Micke dan Donini, 1993).

(36)

Research Institute) di Filipina. Sejak saat itu, berbagai macam tipe padi dengan kualitas yang berbeda berhasil dikembangkan secara terencana untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia. Pada tahun 1960-an pemuliaan padi diarahkan sepenuhnya pada peningkatan hasil. Hasilnya adalah padi 'IR5' dan 'IR8' (di Indonesia diadaptasi menjadi 'PB5' dan 'PB8'). Walaupun hasilnya tinggi tetapi banyak petani menolak karena rasanya tidak enak (pera). Selain itu, terjadi wabah hama wereng coklat pada tahun 1970-an. Puluhan ribu persilangan kemudian dilanjutkan untuk menghasilkan kultivar dengan potensi hasil tinggi dan tahan terhadap berbagai hama dan penyakit padi (Anonim, 2005).

Dalam usaha pengembangan tanaman padi di Indonesia, diperlukan varietas unggul yang dapat diperoleh dengan perbaikan sifat varietas tanaman. Salah satu cara yang ditempuh adalah melalui kegiatan rekayasa genetik bahan tanaman dengan teknik mutasi. Pembentukan varietas baru dapat dihasilkan dengan memperbesar keragaman genetik, yang dapat dilakukan dengan cara persilangan antar spesies, introduksi genotip, poliploidi, kultur jaringan/kultur in vitro, pemuliaan mutasi dengan radiasi. Penciptaan varietas baru dengan pemuliaan mutasi adalah dengan cara penyinaran radiasi gamma terhadap biji-biji padi untuk mendapatkan sifat-sifat baru yang dikehendaki. Sifat-sifat ini bisa meliputi produktivitas yang lebih tinggi, umur yang lebih genjah (pendek) atau sifat lebih tahan terhadap hama dan penyakit (BATAN, 2003).

Menurut Peng dan Hodges (1989) dalam Ishak dan Soeranto (1994), genotip dan sumber eksplan sangat menentukan keberhasilan kultur in vitro

(37)

dicoba oleh beberapa peneliti yang akhirnya memperoleh regenerasi tanaman dari ”embryogenic callus” yang berasal dari embrio muda tanaman padi.

Menurut Poespodarsono (1988) beberapa sifat-sifat yang banyak diamati dari hasil mutasi buatan adalah sifat tahan kerebahan, kemasakan tanaman, pertumbuhan dan tipe tanaman, ketahanan terhadap hama dan penyakit, kemampuan berproduksi, dan kualitas hasil. Langkah terakhir dari program pemuliaan tanaman adalah evaluasi. Untuk mengevaluasi suatu varietas baru, harus diuji terlebih dahulu dengan menggunakan varietas yang sudah diketahui sebagai standar (Poespodarsono, 1988). Berikut ini disajikan skema metode pemuliaan mutasi secara umum seperti pada Gambar 5.

(38)

2.5 Teknik Pembiakan Secara In Vitro

Perbaikan sifat tanaman padi secara in vitro mempunyai beberapa keuntungan: (1) Memperpendek waktu untuk memperoleh sifat unggul tanaman ke arah yang diinginkan; (2) Penggabungan metode kultur jaringan dengan pemuliaan mutasi akan memperluas keragaman genetik; dan (3) Kultur jaringan akan memberikan variasi somaklonal akibat mutasi spontan selama proses kultur jaringan. Perbaikan sifat tanaman padi secara in vitro akan memberikan nilai tambah dalam prospek ketersediaan pangan secara berkesinambungan (Ishak dan Soeranto, 1994).

Teknik kultur jaringan adalah suatu metode perbanyakan tanaman yang dilakukan dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti protoplas, sel, sekelompok sel atau jaringan dan organ, kemudian menumbuhkannya dalam kondisi aseptik sehingga bagian tanaman tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman lengkap (Gunawan, 1992). Cara ini sering disebut

in vitro, karena bagian tanaman tersebut ditumbuhkan dalam tabung gelas di dalam laboratorium dalam kondisi aseptik dan teknik ini juga disebut propagasi mikro sebab tanaman yang dihasilkan berupa tanaman kecil (Kyte, 1990). Teknik

in vitro juga sangat memperhatikan penggunaan media kultur buatan dengan kandungan nutrisi lengkap dan ZPT (zat pengatur tumbuh), serta kondisi ruang kultur yang suhu dan pencahayaannya terkontrol (Yusnita, 2003).

(39)

adalah mendapatkan tanaman baru dalam jumlah banyak dalam waktu relatif singkat, mempunyai sifat fisiologi dan morfologi sama persis atau serupa dengan tanaman induknya, serta memperoleh tanaman baru yang unggul (Sriyanti dan Wijayani, 1994).

Kemajuan yang dicapai dalam meregenerasikan tanaman secara in vitro, dari sel atau bagian tanaman ternyata berdampak luas bagi kemajuan bidang pertanian. Salah satu keberhasilan pada teknik in vitro sangat bergantung pada media yang digunakan dan komponennya. Komponen media kultur ini tidak hanya mengandung unsur hara makro dan mikro tetapi juga mengandung gula (umumnya sukrosa), akuades, vitamin, asam amino, ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) dan pemadat media (umumnya agar-agar) (Yusnita, 2003).

Keberhasilan teknik kultur jaringan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: genotip bahan tanaman yang dikulturkan, substrat yaitu media dan zat pengatur tumbuh, lingkungan yaitu kondisi fisik tempat kultur ditumbuhkan dan fisiologi jaringan tanaman yang digunakan sebagai eksplan (George dan Sherrington, 1984).

Perpaduan teknik kultur jaringan dan teknik nuklir akan didapat modifikasi genetik sehingga mampu mendapatkan sifat tanaman yang diinginkan (Dwimahyani, 1997). Oleh karena itu perbanyakan tanaman dengan kultur jaringan umumnya dilakukan untuk tanaman yang sulit tumbuh karena adanya kendala seperti sulitnya mendapatkan bibit dalam jumlah besar yang seragam secara kontinyu, bebas hama dan penyakit.

(40)

Murashige dan Skoog (MS), B5, White, Vacin dan Went, Nitsch, Schenk dan Hildebrandt, Woody Plant Medium (WPM) dan N6, Miller. Media dasar yang paling sering digunakan untuk berbagai tujuan kultur adalah media MS karena

media MS mengandung 40 mM nitrogen (N) dalam bentuk NO3- dan 29 mM

dalam bentuk NH4+ yang kandungan N-nya, 5 kali lebih tinggi dari N total yang

terdapat pada media Miller, 15 kali lebih tinggi dari media tembakau Hildebrant dan 19 kali lebih tinggi dari media White (Gunawan, 1987).

2.6 Pemanfaatan Radiasi dalam Kultur Jaringan

Dalam bidang pemuliaan tanaman, teknik mutasi dapat meningkatkan keragaman genetik tanaman sehingga memungkinkan pemulia melakukan seleksi genotipe tanaman sesuai dengan tujuan yang dikehendaki. Mutasi induksi dapat dilakukan pada tanaman dengan perlakuan bahan mutagen tertentu terhadap organ reproduksi tanaman seperti pada akar rhizome, stek batang, serbuk sari, biji, kultur jaringan dan sebagainya. Mutasi direfleksikan dalam munculnya keragaman genetik tanaman, yang kemudian melalui proses seleksi dan pengujian lebih lanjut, memungkinkan diperolehnya suatu varietas unggul tanaman (BATAN, 2003).

Perbaikan karakter tanaman dengan kultur jaringan dapat dikombinasikan dengan teknik radiasi. Variasi genetik yang merupakan dasar bagi pemuliaan tanaman dapat ditingkatkan melalui mutasi buatan (Miecke dan Maluszynski,

dalam Leoni, 2005). Mutasi yang direncanakan dan terarah dapat dimanfaatkan oleh pemulia tanaman dalam menciptakan varietas baru yang superior (Crowder,

(41)

2.7 Zat Pengatur Tumbuh (ZPT)

Penemuan ZPT dan upaya pengembangan formulasi media berperan penting dalam menentukan keberhasilan teknik kultur jaringan atau kultur in vitro

secara umum (Yusnita, 2003). Menurut Gunawan (1987) zat pengatur tumbuh mempunyai peranan dalam pertumbuhan dan perkembangan suatu tanaman, diantaranya yaitu mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis dalam kultur sel, jaringan dan organ, namun efektifitas penggunaannya tergantung pada tipe eksplan dan jenis tanaman. Hal ini di dukung oleh Abidin (1980) bahwa zat pengatur tumbuhan pada tanaman adalah senyawa organik bukan hara, yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung, menghambat dan dapat merubah proses fisiologi tumbuhan. Faktor yang perlu diperhatikan dalam penggunaan ZPT adalah konsentrasi, urutan penggunaan dan periode masa induksi dalam kultur tertentu.

Golongan zat pengatur tumbuh yang sering digunakan dalam kultur jaringan adalah auksin dan sitokinin (Wattimena, 1988, dalam Fatikah, 2004). Penambahan zat pengatur tumbuh seperti auksin dan sitokinin merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan kultur jaringan (Gautheret, 1995). Auksin digunakan secara luas dalam kultur jaringan untuk merangsang pertumbuhan kalus, suspensi sel dan organ. Pengkulturan untuk merangsang pembentukan akar pada tunas, biasanya menggunakan ZPT auksin. Jenis auksin yang sering digunakan untuk pengakaran in vitro adalah Indole Butyric Acid

(IBA) dan Naphtoxy Acetic Acid (NAA).

(42)

dalam tanaman, daya kerjanya lebih lama dan relatif lebih lambat ditranslokasi di dalam tanaman. Senyawa auksin dicirikan oleh kemampuannya dalam mendukung terjadinya perpanjangan pada sel pucuk Auksin mempunyai berbagai pengaruh fisiologis dan morfologis pada tanaman, yaitu meningkatkan pembesaran atau pemanjangan sel, mendorong pembelahan sel, menghambat mata pertumbuhan tunas samping dan menghambat gugurnya daun (Wattimena, 1988,

dalam Fitriyah, 2008). Pengaruh rangsangan auksin terhadap jaringan berbeda– beda, pengaruh yang besar adalah pada sel-sel meristem apikal batang dan koleoptil. Auksin pada konsentrasi yang tinggi lebih bersifat menghambat daripada merangsang pemanjangan sel. Pengaruh auksin dapat menaikkan tekanan osmotik, meningkatkan sintesis protein, meningkatkan permeabilitas sel terhadap air dan melunakkan dinding sel yang diikuti menurunnya tekanan dinding sel (Abidin, 1980). Sedangkan menurut Wareing dan Philips, 1970, dalam Fitriyah, 2008 bahwa auksin dalam konsentrasi rendah dapat menstimulasi pembesaran dan perpanjangan sel.

Sedangkan Sitokinin merupakan zat pengatur tumbuh yang dapat mendorong pembelahan sel dan jaringan serta merangsang inisiasi tunas. Sitokinin banyak ditemukan pada sel-sel yang aktif membelah seperti kecambah dan buah muda. Sitokinin yang sering digunakan dalam kultur jaringan adalah BAP (Benzyl Amino Purine) dan Kinetin (George dan Sherrington, 1984, dalam Fitriyah, 2008). BAP adalah sitokinin yang sering digunakan karena paling efektif untuk merangsang pembentukan tunas, lebih stabil dan tahan terhadap oksidasi serta paling murah diantara sitokinin lainnya (Bhojwani dan Razdan, 1983, dalam

(43)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan dan Rumah Kaca Kelompok Pemuliaan Tanaman, Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi, Badan Tenaga Nuklir Nasional (PATIR-BATAN), pada bulan Juli 2007 sampai dengan Februari 2008.

3.2 Bahan dan Alat 3.2.1 Bahan

Bahan utama yang digunakan adalah eksplan dari padi varietas Diah Suci (DS) sebagai kontrol dan 3 galur mutan padi dari varietas Diah Suci yaitu obs-1700, obs-1701 dan obs-1704. Bahan lainnya yaitu bacto agar, gula pasir, aquades, media kultur MS, NaCl, ZPT IBA, Chlorox, Tween (untuk penyabunan dalam sterilisasi eksplan), spiritus dan alkohol 96%.

(a) (b) (c) (d)

(44)

3.2.2 Alat

Alat yang digunakan antara lain Autoclave, Laminar Air Flow Cabinet

(LAFC), hot plate dan magnetic strirrer + spin bar, oven, microwave, timbangan analitik, pH meter digital, lemari es, botol tanam, alumunium foil, erlenmeyer, karet gelang, beaker glass, gegep, pipet volume, labu ukur, rak kultur yang dilengkapi lampu TL Philips 40 Watt (sumber penyinaran), alat-alat diseksi, bunsen, ember plastik, spidol, tisu, kertas label, kereta dorong, dan perlengkapan pencucian alat-alat gelas.

(a) (b)

(c) (d)

(45)

3.3 Cara Kerja

3.3.1 Sterilisasi Alat

Dalam Laboratorium Kultur Jaringan di BATAN terdapat 2 macam sterilisasi yaitu sterilisasi basah dan sterilisasi kering. Sterilisasi basah dilakukan untuk mensterilisasi media kultur yang sudah dibuat dan botol kultur yang sudah terkontaminasi dengan menggunakan Autoclave. Sedangkan sterilisasi kering dilakukan untuk mensterilkan alat diseksi seperti skalpel, cawan petri, pinset, erlenmeyer dan botol kultur yang akan digunakan dan sudah dicuci bersih dikeringkan dan dibungkus dengan alumunium foil kemudian disterilisasi dalam

oven pada suhu 180°C selama 2 jam. Pada saat pemotongan dan penanaman eksplan alat diseksi ini disterilisasi kembali dengan alkohol 96% lalu dibakar di atas pembakar bunsen beberapa saat sebelum digunakan.

3.3.2 Pembuatan Media Kultur

Media dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah media MS. Untuk memudahkan pembuatan media, maka terlebih dahulu dilakukan pembuatan larutan stok. Adapun komposisi senyawa kimia yang terdapat dalam larutan stok terdapat dalam lampiran 2.

(46)

dilarutkan dalam 1000 ml aquades, selanjutnya diaduk menggunakan magnetic stirrer supaya homogen.

Setelah homogen, dilakukan pengukuran pH media dengan menggunakan pH meter digital. pH media ini yaitu 5.8. Menurut Yusnita (2003), jika larutan media tersebut mempunyai pH yang rendah yaitu kurang dari 4.5 maka larutan media yang terbentuk sangatlah encer. Sedangkan jika larutan media tersebut mempunyai pH yang terlalu tinggi yaitu lebih dari 5.8 maka larutan media akan berbentuk padat. Dalam pembuatan media selain harus memperhatikan ketepatan dalam pempipetan larutan juga harus memperhatikan keasaman media (pH larutan). Apabila larutan terlalu asam maka ditambahkan NaOH dan bila terlalu basa ditambahkan HCl. Setelah pH yang dikehendaki tercapai, kemudian media tersebut dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml yang berisi pemadat atau bacto

agar sebanyak 2 gr. Erlenmeyer ditutup dengan alumunium foil dan diikat dengan karet. Selanjutnya media tersebut di sterilisasi menggunakan autoclave selama 15

menit pada tekanan 1 atm dengan suhu 121°C. Media yang telah steril kemudian disimpan di dalam ruang kultur.

Penuangan media dilakukan di LAFC yang telah dibersihkan dan disemprot dengan alkohol 96%. Setiap media perlakuan dituang ke dalam botol kultur steril. Botol yang telah berisi media kemudian ditutup dengan alumunium foil.

(47)

3.3.3 Induksi Padi

Induksi padi dilakukan di LAFC dengan terlebih dahulu menyalakan

blower dan lampu penerang LAFC minimal selama 15 menit, kemudian seluruh permukaan LAFC dibersihkan dengan tisu dan disemprot dengan alkohol 96%. LAFC yang sudah steril langsung digunakan untuk sterilisasi eksplan. Masing-masing eksplan padi dari varietas DS sebagai kontrol dan 3 galur mutan padi obs-1700, obs-1701 dan obs-1704 dikupas gabahnya kemudian disterilkan dengan menggunakan 100 ml larutan chlorox 40% dan 4 tetes tween yang dihomogenkan selama 25 menit. Setelah itu dibilas dengan air steril sebanyak 3 kali. Eksplan atau biji padi varietas DS, obs.1700, obs.1701 dan obs.1704 yang sudah steril siap untuk di induksi di dalam LAFC.

(48)

penanaman kemudian diinkubasi dalam ruang kultur dengan suhu ruang sekitar 260C-280C dan diletakkan pada rak yang dilengkapi dengan lampu Philips 40 watt

sebagai sumber penyinaran dengan suhu 200C-240C. Pengamatan dimulai dari 1

minggu setelah tanam sampai 4 minggu setelah tanam untuk mengetahui persentase daya tumbuh, tinggi dan panjang akar planlet dari padi varietas DS dan 3 galur mutannya yaitu obs.1700, obs.1701 dan obs.1704.

Eksplan atau biji padi steril dipotong bagian endosperm dan embrio

Gambar 9. Tahapan Induksi Padi

3.4 Parameter Pengamatan

Pengamatan dilakukan dari umur satu minggu setelah tanam sampai empat minggu setelah tanam. Dalam satu minggu, pengamatan dilakukan satu sampai dua kali. Parameter yang diamati adalah:

Botol kultur berisi 3 embrio padi

Botol kultur berisi 3 embrio padi Ruang Tumbuh,

Ruang Tumbuh,

penyinaran l

penyinaran lampu Philipsampu Philips 40 Watt dan suhu

40 Watt dan suhu

20-24

24o

C.

(49)

1. Persentase Daya Tumbuh Planlet

Planlet hidup adalah meliputi planlet yang tumbuh dan mengalami penghambatan atau penghentian pertumbuhan namun tidak mati. Planlet yang hidup mulai dihitung dari awal sampai akhir pengamatan yaitu umur 4 MST (Minggu Setelah Tanam) dengan dengan rumus sebagai berikut :

% daya tumbuh = x 100%

2. Tinggi Planlet

Pengukuran tinggi planlet diukur pada umur 2-4 MST. Pengukuran tinggi planlet pada umur 2-3 MST dilakukan dengan cara menggunakan penggaris yang ditempelkan pada dinding botol kultur karena planlet tidak dikeluarkan dari botol kultur dan pengukuran di mulai dari batas batang pokok hingga permukaan atas tanaman. Pengukuran tinggi planlet pada umur 4 MST dilakukan dengan cara planlet dikeluarkan dari botol kultur, dibilas dengan air mengalir kemudian dibentangkan pada penggaris dan diukur tingginya mulai dari batas batang pokok hingga ujung tanaman yang paling panjang.

3. Panjang Akar

Pengamatan dan pengukuran panjang akar dilakukan pada saat tanaman sudah berumur 4 MST. Proses pengukuran dilakukan dengan cara menggunakan penggaris dimana tanaman dikeluarkan dari botol kultur, dibilas dengan air mengalir kemudian dibentangkan pada pengggaris dan diukur panjangnya mulai dari batas batang pokok hingga bulu-bulu akar yang terpanjang.

(50)

3.5 Rancangan Percobaan

Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 faktor yaitu 4 konsentrasi NaCl (0%, 0,5%, 1%, 1,5%), 3 konsentrasi ZPT IBA (0%, 2,5%, 5%) dan 4 eksplan padi yaitu 1 varietas Diah Suci (DS) sebagai kontrol dan 3 galur mutan padi 1700, 1701, dan obs-1704. Kombinasi dari ketiga faktor ini menghasilkan 48 perlakuan. Percobaan diulang sebanyak 5 kali untuk diamati komponen pertumbuhannya. Pada percobaan ini diperlukan botol kultur sebanyak 96 botol untuk setiap kali penanaman dan pada setiap botol ditanam 3 buah embrio padi.

Tabel 1. Kombinasi Perlakuan NaCl, ZPT IBA dan Galur

(51)
(52)

A3B1C3 = 1.5% NaCl + 2.5 mg/l IBA + 1704

24 botol 24 botol 24 botol 24 botol 96 botol

3.6 Analisis Data

Data yang diperoleh diuji secara statistik dengan menggunakan Uji Anova. Jika hasilnya berbeda nyata, maka dilakukan Uji Duncan’s pada taraf nyata 5 % SPSS 15.0. Rumusan hipotesis:

1. Hipotesis nihil atau nol (H0): parameter pada kontrol dan perlakuan tidak berbeda nyata.

(53)

Interpretasi:

a. Nilai Fhitung > Ftabel atau nilai probabilitas (sig) < 0,05 = tidak signifikan,

maka H0 ditolak.

b. Nilai Fhitung > Ftabel atau nilai probabilitas (sig) > 0,05 = signifikan, maka

(54)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Persentase Daya Tumbuh Planlet

Planlet hidup adalah meliputi planlet yang tumbuh dan mengalami penghambatan atau penghentian pertumbuhan namun tidak mati. Setelah 4 MST tanaman kontrol (varietas DS) dan 3 galur mutan padi yaitu obs.1700, obs.1701 dan obs.1704 ditumbuhkan ke dalam media MS dengan kombinasi konsentrasi NaCl dan ZPT IBA. Dalam percobaan ini kemampuan hidup planlet dilihat dari persentase daya tumbuhnya. Data persentase daya tumbuh planlet dari tanaman kontrol dan 3 galur mutan umur 4 MST ditampilkan pada tabel 3.

Tabel 3. Persentase Daya Tumbuh Planlet Umur 4 MST

NaCl

(55)

konsentrasi NaCl sampai 1% dan konsentrasi IBA 0%, galur mutan obs.1700 memiliki persentase daya tumbuh lebih tinggi yaitu mencapai 100% dibandingkan dengan tanaman kontrol dan kedua galur mutan lainnya obs.1701 dan obs.1704. Pada pemberian konsentrasi NaCl hingga 1.5% dan IBA 0%, galur mutan obs.1700 masih tetap memiliki persentase daya tumbuh yang lebih baik dibandingkan tanaman kontrol dan kedua galur mutan lainnya tetapi persentase daya tumbuhnya rendah yaitu hanya 30%.

Pada pengamatan persentase daya tumbuh planlet dengan konsentrasi NaCl 0% dan konsentrasi IBA hingga 5% menunjukkan bahwa persentase daya tumbuh galur mutan dan tanaman kontrol tidak jauh berbeda yaitu sekitar 80%-90%. Hal ini menunjukkan bahwa tanpa pemberian perlakuan konsentrasi NaCl dan cukup diberikan perlakuan konsentrasi IBA sampai 5% tanaman kontrol dan ketiga galur mutan tersebut mempunyai kemampuan hidup yang baik.

Pada konsentrasi NaCl 1% dan IBA 5% persentase daya tumbuh planlet yang lebih tinggi terdapat pada galur mutan obs.1700 dengan persentase daya tumbuhnya adalah 100%, sedangkan pada tanaman kontrol hanya 90%, obs.1701 dan obs.1704 mencapai 80%. Hal ini menunjukkan bahwa dengan pemberian perlakuan NaCl 1% dan IBA 5%, galur mutan obs.1700 mempunyai kemampuan hidup yang paling baik dibandingkan tanaman kontrol dan kedua galur mutan lainnya.

4.2 Tinggi Planlet

(56)

adanya pengaruh yang berbeda terhadap pertambahan tinggi planlet seperti yang ditampilkan pada tabel 4, 5 dan 6.

Tabel 4. Interaksi NaCl, ZPT IBA dan Galur terhadap tinggi planlet (cm) padi secara in vitro pada umur 2 MST

0% 14.12a 13.15ab 9.55abcdef 11.61abc 11.11abc 11.97abc

0,5% 10.44abcd 9.59abcdef 9.07abcdefg 9.26abcdefg 8.88abcdefg 9.53abcdef

1% 5.67defghij 4.29fghijk 4.31fghijk 5.00efghijk 4.20ghijk 4.49fghijk

1,5% 0.73jk 0.30k 0.24k 0.50jk 1.15jk 0.57jk

0% 11.94abc 11.35abc 11.48abc 10.41abcd 9.56abcdef 10.26abcde

0,5% 10.14abcde 8.66bcdef 8.19bcdefgh 9.11abcdefg 7.80cdefgh 8.65bcdefg

1% 6.67cdefghi 3.98ghijk 5.30defghijk 4.62fghijk 3.17hijk 4.14ghijk

1,5% 2.60ijk 0.92jk 1.00jk 0.30k 0.30k 0.10k

Keterangan : Nilai rataan yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata (α = 5%)

Tabel 5. Interaksi NaCl, ZPT IBA dan Galur terhadap tinggi planlet (cm) padi secara in vitro pada umur 3 MST

0% 21.39a 20.18ab 18.76abcd 19.18abcd 20.55ab 21.17a

0,5% 17.90abcd 20.18ab 20.06ab 19.06abcd 17.64abcde 20.20ab

1% 13.44cdefg 10.45fgh 16.06abcdef 14.21bcdefg 10.99fgh 14.74abcdefg

1,5% 2.39i

0% 19.06abcd 20.01abc 19.82abc 19.58abc 19.82abc 20.25ab

0,5% 18.48abcd 20.27ab 19.58abc 18.50abcd 18.96abcd 18.80abcd

1% 14.98abcdefg 11.64efg 16.15abcdef 13.01defg 9.01gh 10.71fgh

1,5% 5.15hi

(57)

Tabel 6. Interaksi NaCl, ZPT IBA dan Galur terhadap tinggi planlet (cm)

0% 29.86abc 26.68abcde 27.64abcde 23.63abcdefgh 27.01abcde 28.63abcd

0,5% 27.91abcde

1% 19.73defghi 15.37hi 23.40abcdefgh 20.51bcdefghi 16.29ghi 19.66defghi

1,5% 3.06k 0.00k 1.34k 3.31k 3.68k 3.22k

0% 24.60abcdefgh 20.38cdefghi 27.25abcde 25.80abcdef 27.84abcde 28.52abcd

0,5% 24.24abcdefgh 25.95abcdef 27.82abcde 25.57abcdef 28.17abcde 28.60abcd

1% 19.34defghi 16.61fghi 21.92bcdefgh 18.80efghi 12.00ij 19.84defghi

1,5% 6.05jk 2.14k 3.14k 0.00k 1.00k 0.00k

Keterangan : Nilai rataan yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata (α = 5%)

(58)

Pemberian konsentrasi NaCl 0% dan IBA hingga 5%, galur mutan obs.1700 dan obs.1701 memiliki penampilan tinggi planlet yang lebih baik dari tanaman kontrol dan galur mutan obs.1704 dengan tinggi planlet masing-masing mencapai 11.98 cm dan 11.48 cm. Pada kombinasi konsentrasi NaCl 1% dan IBA 5% hanya galur mutan obs.1701 yang memiliki tinggi planlet lebih baik dibandingkan tanaman kontrol dan kedua galur mutan lainnya dengan tinggi planlet 5.3 cm. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian variasi konsentrasi NaCl dan IBA serta kombinasi keduanya ternyata mempengaruhi penampilan tinggi planlet pada umur 2 MST.

(59)

hanya galur mutan obs.1700 dan obs.1701 yang masih dapat tumbuh dengan tinggi planlet masing-masing 3.22 cm dan 3.14 cm.

Menurut Suwarno (1985), pemberian NaCl pada konsentrasi yang berbeda dapat meningkatkan kerusakan daun dan menurunkan jumlah anakan, tinggi tanaman, serta bobot kering tajuk, akar dan total tanaman. Hal ini juga terlihat pada data di tabel 6 yaitu dengan pemberian variasi konsentrasi NaCl ternyata berpengaruh terhadap tinggi planlet tanaman kontrol dan ketiga galur mutan. Dimana galur mutan obs.1701 dan tanaman kontrol planlet masih dapat tumbuh dengan rata-rata tinggi planlet 22-23 cm. Dengan meningkatnya konsentrasi NaCl 1.5% dan IBA 5% ternyata hanya galur mutan obs.1700 dan obs.1701 yang masih dapat tumbuh dengan tinggi planlet ± 3 cm sedangkan tanaman kontrol dan galur mutan obs.1704 pertumbuhannya terhambat dan akhirnya planlet mati. Menurut IRRI, 1977, dalam Dinata (1985) menyatakan bahwa semakin tinggi salinitas, maka konsentrasi Na, Ca, Mg dan Mn dalam media akan semakin bertambah, sedangkan kelarutan P akan menurun. Dalam hal ini NaCl 1.5% dapat menekan pertumbuhan planlet padi yang disebabkan oleh tidak seimbangnya serapan unsur hara, kekahatan unsur P, terganggunya sintesis protein dalam tanaman, serta adanya keracunan Na dan Cl (Dinata, 1985).

(60)

ketersediaan unsur hara bagi tanaman sehingga akan menyebabkan pertumbuhan tanaman terganggu.

Gambar 10. Persiapan sebelum mengukur tinggi tanaman pada planlet berumur 4 MST

Gambar 11. Pengukuran tinggi tanaman pada planlet berumur 4 MST

4.3 Panjang Akar

(61)

Tabel 7. Interaksi NaCl, ZPT IBA dan Galur terhadap panjang akar padi

0% 8,70ab 1,80ijklmnop 2,13hijklmnop 8,20abc 4,32efghi 4,50efghi

0,5% 9,23a

1% 4,02fghijk 3,14ghijklmno 2,54hijklmnop 3,36ghijklm 2,79ghijklmnop 3,23ghijklmno

1,5% 1,10klmnop 0,00p 0,34op 0,75lmnop 1,25jklmnop 0,50mnop

NaCl

0% 7,08abcde 1,85ijklmnop 3,23ghijklmno 8,87ab 4,41efghi 4,33efghi

0,5% 6,44bcdef 4,02fghijk 2,93ghijklmno 8,37ab 3,94fghijk 3,97fghijk

1% 3,63fghijkl 5,70cdefg 3,31ghijklmn 3,96fghijk 2,31hijklmnop 5,62cdefg

1,5% 1,25jklmnop 0,60mnop 0,70mnop 0,00p 0,40nop 0,00p

Keterangan : Nilai rataan yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata (α = 5%)

Pada pemberian konsentrasi NaCl hingga 1% dan IBA 0% tanaman kontrol mempunyai panjang akar yang paling baik dibandingkan dengan ketiga galur mutan yaitu mencapai 4.02 cm. Pada pemberian konsentrasi NaCl 1.5% dengan IBA 0% panjang akar planlet rata-rata mengalami penghambatan pertumbuhan baik pada tanaman kontrol dan ketiga galur mutan dengan rerata panjang akarnya 0-1.25 cm.

(62)

NaCl hingga 1.5% dan IBA 5% pada tanaman kontrol dan keempat galur mutan tersebut terjadi penekanan pada panjang akarnya karena pemberian konsentrasi NaCl dan IBA yang tinggi sehingga pertumbuhan panjang akarnya menjadi terhambat. Walaupun untuk galur mutan obs.1701, akarnya masih mengalami pertumbuhan dengan panjang akar sekitar 0.70 cm dibandingkan tanaman kontrol dan kedua galur mutan lainnya. Ini terlihat dari pengamatan panjang akar secara visual pada umur 4 MST yang menunjukkan bahwa warna akar padi pada konsentrasi NaCl 1.5% dan IBA 5% lebih suram dan rapuh dengan bulu-bulu akar yang sedikit. Menurut McGuire dan Dvorah, 1981 dan Sriwidodo, 1985, dalam

Dinata (1985), hal ini disebabkan karena tingginya konsentrasi NaCl dalam media pertumbuhan tanaman dapat mengakibatkan terjadinya penekanan pertumbuhan panjang akar dan gangguan pada pembentukan akar-akar baru akibatnya dapat mempengaruhi daya jelajah akar sehingga kemampuan untuk menjangkau unsur hara berkurang. Dengan demikian besarnya konsentrasi zat pengatur tumbuh dalam hal ini IBA 5% secara bersamaan juga dapat merusak bagian yang terluka.

Dengan kata lain, pengaruh lingkungan bergaram terhadap pertumbuhan tanaman berhubungan langsung dengan ketahanan tanaman terhadap tekanan osmotik dan keracunan oleh ion-ion spesifik seperti natrium dan klorida. Tanaman yang tumbuh pada daerah yang mempunyai kelarutan garam yang tinggi akan banyak menyerap ion dari garam-garam seperti Na+, Cl- dan SO

4-. Adanya aliran

(63)

diberikan pada stek akar akan mendorong pertumbuhan panjang akar dan tunas. Sedangkan menurut Wudianto, 1989, dalam Harsanti dan Mugiono (2001), sebenarnya tanaman itu sendiri sudah mempunyai hormon tersendiri dalam tubuh tumbuhan tersebut, namun berhubung yang ada pada tanaman itu jumlahnya sangat sedikit maka perlu ditambah hormon sintetik yang diharapkan pertumbuhan tanaman menjadi lebih cepat dari sebelumnya.

Seperti penelitian yang dilakukan oleh Ishak (1994) bahwa penggunaan konsentrasi NaCl 1% dalam media MS telah menurunkan pertumbuhan panjang akar padi Pelita I/I sebanyak 30% dan daun sekitar 47% terhadap kontrol, sedangkan padi Atomita-2 pertumbuhan panjang akarnya turun sekitar 9% dan daun 38% terhadap kontrol, dan akar padi Atomita-1 sekitar 19% dan daun 37%. Sedangkan penggunaan konsentrasi NaCl 1.5% pada pertumbuhan panjang akar Pelita I/I menurun hampir 69% dan daun 68%, pada Atomita-1 turunnya pertumbuhan panjang akar dan daun adalah 77% dan 67%, sedangkan pada Atomita-2 turunnya pertumbuhan panjang akar dan daun sekitar 74% dan 70%.

Selain itu juga menurut Blum, 1986, dalam Kurniasih (2002),penambahan konsentrasi garam akan mengakibatkan lingkungan menjadi basa sehingga unsur hara yang sebelumnya tersedia menjadi tidak tersedia, kemudian akar yang ekstensif dan panjang merupakan salah satu sifat tanaman yang tahan terhadap salinitas karena akar tersebut akan mampu mengeksplorasi ke daerah-daerah yang lebih rendah kadar garamnya. Dengan demikian kadar garam yang tinggi dalam larutan air di daerah perakaran tanaman menyebabkan tekanan osmotik yang tinggi dan berkurangnya ketersediaan unsur K bagi tanaman (Bernstein, 1978,

(64)

(1985), kemampuan tanaman menyerap air pada lingkungan bergaram akan berkurang dan menimbulkan gejala mirip kekeringan yang ditandai dengan daun cepat menjadi layu, terbakar, berwarna biru kehijauan, pertumbuhan daun yang kecil dan akhirnya tanaman mati kekeringan.

Gambar 12. Panjang akar pada perlakuan NaCl 0% dan IBA 0% pada umur 4 MST

Gambar 13. Panjang akar pada perlakuan IBA 0%, 2,5% dan 5% umur 4 MST

(65)
(66)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Semakin tinggi konsentrasi NaCl yang diberikan (1.5%) maka persentase daya tumbuh, tinggi dan panjang akar planlet semakin menurun.

2. Konsentrasi IBA 5% memberikan pengaruh terhadap persentase daya tumbuh, tinggi dan panjang akar planlet.

3. Dengan menggabungkan ketiga parameter pengamatan pada umur 4 MST maka galur mutan obs.1704 lebih baik dibandingkan dengan tanaman kontrol dan kedua galur mutan lainnya dengan persentase daya tumbuh 80%, tinggi planlet 19.84 cm dan panjang akar 5.62 cm pada konsentrasi NaCl 1% dan konsentrasi IBA 5%.

4. Kombinasi konsentrasi NaCl 1% dan IBA 5% adalah yang lebih baik dilihat dari pertumbuhan planlet dimana persentase daya tumbuh, tinggi dan panjang akar planlet masih bagus.

5.2 Saran

(67)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2005. padi. http://id.wikipedia.org/wiki/Padi.(5 Agustus 2007)

AAK. 1990. Budidaya Tanaman Padi. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Abidin, Z. 1980. Dasar–dasar Pengetahuan Tentang Zat Pengatur Tumbuh.

Angkasa. Bandung.

Adhi, W. 1986. Pengelolaan Lahan Pasang Surut dan Lebak. Penerbit Pusat Penelitian Tanah Bogor. Bogor.

BATAN, 2003. Varietas Unggul Padi Hasil Kombinasi Teknologi Mutasi Radiasi dan Perkawinan Silang. Aplikasi Radiasi Di Bidang Pertanian. BATAN. Jakarta.

Basu, S. G.Gangopadhyay and B.B Mukherjee. 2002. Salt Tolerance in Rice In Vitro : Implication of Accumulation of Na+, K+ and Proline. Journal: Plant

Cell, Tissue and Organ Culture, Vol.69, no.1

Bintoro, M. H. 1985. Seleksi Varietas Jagung yang Tahan Terhadap Salinitas.

Tesis. IPB. Bogor.

Brock, R.D. 1979. Mutation Plant Breeding for Seed Protein Improvement in Cereals and Grain Legumes Proc. Symposium. IAEA/FAO/GSF. Neuherberg. Vienna.

Darussalam, M. 1989. Radiasi dan Radioisotop. Penerbit Tarsito. Bandung.

Dinata, K.K. 1985. Pengaruh Salinitas Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Padi Varietas Atomita II dan IR 32. Tesis. IPB. Bogor.

Donini, B. dan A. Micke. 1984. Use of Induced Mutations in Improvement of Vegetatively Propagated Crops. Induced Mutation for Crop Improvement in Latin Amerika. A Technical Document Issued by the IAEA. Vienna.

Dwimahyani, I. 1997. Perbaikan Regenerasi Mutan Tanaman Padi (Oryza sativa

L.) Dengan Menggunakan NaCl. Risalah Pertemuan Ilmiah Penelitian dan Pengembangan Aplikasi Isotop dan Radiasi. BATAN. Jakarta. Hal 43-45 Dwimahyani, I., dan Ishak. 2004. Mutation Breeding dan Biotechnology on

Gambar

Tabel 1.Kombinasi Perlakuan NaCl, ZPT IBA dan Galur........
Gambar 1.Daun Padi.....................................................................
Gambar Rata-Rata Pertumbuhan Tinggi Planlet Padi
Gambar 1. Daun Padi. Sumber : AAK, 1990
+7

Referensi

Dokumen terkait

saat tersebut tunas yang terbentuk dari media MS cair pada. semua perlakuan ZPT menunjukkan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian konsentrasi BAP dan madu baik tunggal tunggal maupun kombinasi memberikan respons yang berbeda-beda juga pada media MS

Dari analisis statistik diketahui bahwa konsentrasi IBA berpengaruh terhadap indeks pertumbuhan ka1us Blumea balsamifera (L.) DC, dimana media MS dengan perlakuan IBA

Perlakuan kombinasi ZPT sintetik (A3) konsentrasi IAA 0,4 mg/l, NAA 0,06 mg/l, IBA 0,12 mg/l, Thiram 8 mg/l dengan macam bahan stek bagian tengah memberikan hasil yang

Hasil percobaan pada PLB anggrek dengan kombinasi media dan ZPT menunjukkan bahwa perlakuan media NPK (18-18-18+EDTA) menghasilkan persentase multiplikasi sangat

- Pengaruh kombinasi perlakuan Rootone F di berbagai media tumbuh berbeda nyata sampai sangat nyata terhadap IBA maupun kontrol (tanpa ZPT) di berbagai media tumbuh untuk

Persentase perkecambahan, jumlah tu- nas, jumlah daun dan tinggi tanaman dipengaruhi oleh perlakuan faktor tunggal konsentrasi media MS dan konsentrasi media dengan

Hasil percobaan pada PLB anggrek dengan kombinasi media dan ZPT menunjukkan bahwa perlakuan media NPK (18-18-18+EDTA) menghasilkan persentase multiplikasi sangat