SURAKARUTA HADININRATO KYUDEN NO SURIKURAN NO GISHIKI
KERTAS KARYA
Dikerjakan O
l e h
INDAH DWI PRATIWI Nim : 072203031
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS SASTRA
PROGRAM PENDIDIKAN NON-GELAR SASTRA BUDAYA DALAM BIDANG STUDI BAHASA JEPANG
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan kertas karya, serta Shalawat
dan Salam kita panjatkan kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai persyaratan
untuk memenuhi ujian akhir Diploma III Program Studi Bahasa Jepang Fakultas
Sastra Universitas Sumatera Utara. Kertas karya ini berjudul “Upacara Selikuran
Keraton Surakarta Hadiningrat”.
Penulis menyadari bahwa apa yang telah tertulis dalam kertas karya ini masih
jauh dari sempurna baik dari segi materi maupun penulisan. Demi kesempurnaan
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca
untuk kearah perbaikan.
Dalam kertas karya ini penulis telah banyak menerima bantuan dari berbagai
pihak yang cukup bernilai harganya. Untuk itu penulis mengucapkan banyak
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Prof. Syaifuddin, M.A., Ph.D, selaku Dekan Fakultas Sastra
Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Adriana Hasibuan, S.S., M.Hum, selaku Ketua Jurusan Program Studi
Bahasa Jepang Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Hj. Muhibah, S.S, selaku Dosen Pembimbing yang dengan ikhlas
telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan juga arahan
6. Seluruh staf pengajar pada Program Studi Bahasa Jepang Fakultas Sastra
Universitas Sumatera Utara, atas didikannya selama masa perkuliahan.
7. Teristimewa kepada Keluarga Besar penulis, Ayahanda Sahadi dan
Ibunda Ermayani Lubis. Juga kepada Abang tercinta Wira, Adik
tersayang Uci, Ican dan Kevin. Terima kasih atas semua dukungannya dan
Doa yang telah dipanjatkan, sehingga penulis dapat menyelesaikan kertas
karya ini.
8. Tidak lupa penulis juga ingin mengungkap rasa banyak terima kasih
kepada Bibeh Pichay “Obe”, yang selalu setia memberikan dukungan.
Dan juga terimakasih kepada Ika (Kachan), Kiky (Ms.Ribet) & Si Mas,
Nisa (Nincek), Aguz iki, Dijah, Ani, Bu Guru Tya, Ara, Ruth dan
teman-teman Hinode ’07 yang tidak bisa disebutkan semua. Dan juga terima
kasih kepada para alumni bang Marwan, bang Yahya yang telah banyak
membantu kertas karya ini. Dan bagi segenap pihak yang tidak dapat
disebutkan satu-persatu, penulis menghaturkan rasa terimakasih
sebesar-besarnya karena dengan tulus telah membantu dan memotivasi penulis
dalam penyelesaian kertas karya ini.
Akhir kata penulis memohon maaf kepada para pembaca atas segala
kesalahan ataupun kekurangan dalam pengerjaan kertas karya ini, karena
kesempurnaan hanya milik ALLAH SWT.
Medan, Mei 2010
Penulis
Nim. 072203031
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Alasan Pemilihan Judul ... 1
1.2 Tujuan Penulisan ... 2
1.3 Pembatasan Masalah... 2
1.4 Metode Penelitian ... 2
BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH SURAKARTA ... 3
2.1 Lokasi ... 3
2.2 Penduduk... 3
2.3 Sistem Religi ... 4
2.4 Mata Pencaharian ... 4
BAB III UPACARA SELIKURAN KERATON SURAKARTA HADININGRAT ... 5
3.1 Pengertian Upacara Selikuran ... 5
3.2 Tujuan Upacara Selikuran... 7
3.3 Tahap Pelaksanaan Upacara Selikuran ... 8
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan ... 10
4.2 Saran ... 10
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Alasan Pemilihan Judul
Perkembangan Upacara Tradisional yang ditandai dengan berbagai lambang
atau simbol menunjukkan suatu norma atau nilai budaya bangsa. Hal tersebut
merupakan unsur penting yang dapat menunjukkan suatu identitas serta warna
kehidupan kebudayaan bangsa. Dalam kehidupan masyarakat upacara tradisional
merupakan hal yang sangat penting karena dapat digunakan sebagai alat
komunikasi antar anggota masyarakat bahkan antar suku. Upacara tradisional
yang dilaksanakan dapat membuat rasa aman tentram dan damai bagi suku bangsa
yang melakukan upacara itu. Upacara tradisional dapat menjadi sarana sosialisasi
bagi masyarakat tradisional khususnya.
Indonesia adalah negara yang terdiri dari beribu pulau dan didiami oleh
beribu macam adat istiadat. Mereka mempunyai kebudayaan dan upacara
tradisional yang berbeda-beda. Salah satu dari upacara tradisional tersebut adalah
Upacara Selikuran Keraton Surakarta Hadiningrat. Upacara ini khusus
dilaksanakan oleh masyarakat muslim yaitu pada bulan puasa. Upacara ini
dilaksanakan pada saat menjelang berbuka puasa dan semua orang yang
mempersiapkan upacara ini pun sedang melaksanakan ibadah puasa.
Upacara Selikuran ini berbeda dengan upacara-upacara tradisional lainnya,
judul Upacara Selikuran Keraton Surakarta Hadiningrat, kemudian
menuangkannya ke dalam kertas karya ini.
1.2 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulis memilih Upacara Selikuran Keraton Surakarta
Hadiningrat sebagai judul kertas karya adalah sebagai berikut :
1. Untuk memberikan informasi tentang upacara tradisional khususnya
Upacara Selikuran yang masih dilestarikan oleh masyarakat tradisional di
dalam wilayah Keraton Surakarta Hadiningrat.
2. Untuk menambah pengetahuan baik terhadap pembaca dan juga penulis.
3. Melengkapi persyaratan untuk dapat lulus dari D3 Bahasa Jepang
Universitas Sumatera Utara.
1.3Pembatasan Masalah
Dalam kertas karya ini penulis membatasi hanya membahas mengenai
pengertian, tujuan serta tahap pelaksanaan Upacara Selikuran Keraton Surakarta
Hadiningrat.
1.4Metode Penelitian
Dalam kertas karya ini penulis menggunakan metode kepustakaan yaitu
metode pengumpulan data atau informasi dengan membaca buku yang
BAB II
GAMBARAN UMUM DAERAH SURAKARTA
2.1 Lokasi
Keraton Surakarta termasuk Provinsi Jawa Tengah, letaknya diantara 108030
bujur barat dan 111030 bujur timur. Daerah Kecamatan Keraton Surakarta
mempunyai luas daerah 481,52 Ha. Secara geografis dan fisiografis Keraton
Surakarta terletak dibagian tengah. Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan
Jebres. Sebelah Selatan berbatasan dengan kabupaten Sukaharja. Sebelah barat
berbatasan dengan kecamatan Serengan dan sebelah utara berbatasan dengan
Kecamatan Banjarsari.
2.2 Penduduk
Kecamatan Keraton Surakarta merupakan kecamatan yang mempunyai
peninggalan sejarah dan sampai sekarang masih tetap kelihatan kemegahannya
yaitu Keraton Surakarta Hadiningrat. Keraton Surakarta Hadiningrat terletak pada
kelurahan Baluwarti. Menurut laporan kependudukan Kecamatan Keraton
Surakarta jumlah penduduk Kecamatan Keraton Surakarta adalah 80,208 jiwa.
2.3 Sistem Religi
Kehidupan religi di kecamatan Keraton Surakarta mayoritas adalah pemeluk
agama Islam, kemudian disusul pemeluk agama Katolik, Protestan, Buddha, lalu
Hindu. Kedatangan orang Islam ke Jawa sangat berpengaruh terhadap kebudayaan
orang Jawa, terutama dalam segi agama. Sebelum orang Jawa berkenalan dengan
Islam, mereka banyak menganut agama Hindu dan Buddha, tetapi setelah Islam
masuk maka banyaklah orang-orang yang memeluk agama Islam. Namun
demikian adat agama Hindu atau Buddha tidak dapat ditinggalkan secara total.
2.4 Mata Pencaharian
Masyarakat Jawa Tengah umumnya mempunyai mata pencaharian hidup
sebagai petani. Di samping mereka yang menjadi petani, bagi penduduk yang
tidak dapat menjalankan sawah mencari nafkah di bidang lain yaitu menjadi buruh
industri bangunan, buruh penjual jasa pengangkutan, pedagang, ABRI, dan
sebagainya. Ada juga pekerjaan sampingan yang dapat membuahkan hasil jerih
BAB III
UPACARA SELIKURAN KERATON SURAKARTA HADININGRAT
3.1 Pengertian Upacara Selikuran
Upacara tradisional ialah tingkah laku resmi yang dilakukan untuk
peristiwa-peristiwa yang tidak ditujukan pada kegiatan sehari-hari akan tetapi mempunyai
kaitan dengan kekuatan di luar kemauan manusia.
Upacara Selikuran yaitu upacara yang diselenggarakan pada bulan Puasa
menjelang hari ke duapuluh satu Romadhon yaitu bulan ke 9 pada kalender Arab.
Upacara tradisional ini diselenggarakan setiap tahun sekali.
Asal mula nama Selikuran yaitu menurut riwayat yang disampaikan oleh
beberapa ulama bahwa Nabi Muhammad SAW menerima wahyu dari Tuhan yang
pertama pada malam hari tanggal 21 Romadhon disebuah gua yang bernama gua
Hira. Pada malam itu juga para kerabat sahabat berduyun-duyun menjemput
pulangnya Nabi dengan membawa obor.
Poerwadarminta menyebutkan bahwa arti selikuran jumlah hitungan yang
bernilai duapuluh satu (Poerwadarminta, 1939, 549). Arti tersebut dapat
dihubungkan dengan upacara di atas karena upacara tersebut diselenggarakan
pada hari yang keduapuluh satu.
Upacara Selikuran yang diselenggarakan di masjid Agung Keraton Surakarta
puasa terjadi hanya sekali saja. Jika upacara tersebut di undur maka namanya telah
berbeda walaupun masih diselenggarakan upacara seperti itu, dan upacara telah
berbeda maknanya. Upacara memerlukan persiapan yang sangat banyak terutama
menyiapkan tempat upacara, alat-alat upacara dan penyelenggaraan upacara.
Kelompok sosial berdasarkan agama diselenggarakan oleh orang yang
memeluk agama Islam. Kelompok sosial berdasarkan stratifikasi diselenggarakan
oleh kelompok bangsawan dan rakyat biasa. Kelompok bangsawan
menyelenggarakan upacara tersebut di keraton. Upacara tersebut dihadiri oleh
para bangsawan, khususnya kerabat keraton. Tidak ada seorang pun yang berasal
dari luar lingkungan itu.
Adapun persiapan untuk mengadakan Upacara Selikuran yaitu para abdi
dalem wanita yang diberi tugas untuk mempersiapkan alat upacara yang berupa
sesaji. Sesaji terdiri dari peralatan sesaji dan sajen serta makanan utama dan
makanan kecil. Sajen terdiri dari : pisang raja manten, bunga mawar dan melati,
dan lain-lain. Makanan utama terdiri dari : nasi putih dan lauk pauk. Makanan
kecil adalah pisang raja dan kue-kue tradisional. Ada seorang abdi dalem yang
mempersiapkan dupa yang dibakar pada permulaan Upacara Selikuran. Sebelum
sesaji disiapkan pada tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upacara
maka tempat itu dihampari tikar. Akhir-akhir ini tikar diganti karpet. Setelah
semua tersedia, maka semua lampu dinyalakan sebagai tanda dimulainya upacara
3.2 Tujuan Upacara Selikuran
Maksud penyelenggaraan kegiatan Upacara Selikuran di Keraton Surakarta
Hadiningrat ialah untuk mendapatkan keselamatan baik lahir maupun batin.
Disamping itu juga untuk melestarikan kebudayaan dan untuk mengingat
peristiwa yang dialami Nabi Muhammad SAW pada waktu mendapatkan wahyu
di gua Hira. Wahyu tersebut kemudian dikumpulkan sampai sekarang terkenal
dengan nama Kitab Al Qur’an di turunkan didunia sebagai petunjuk dan sebagai
pedoman bagi umat manusia di dunia untuk mendapatkan keselamatan di dunia
dan di akhirat.
Masyarakat setempat mempunyai pemikiran bahwa upacara Selikuran
merupakan upacara keagamaan, terutama bagi pengikut agama Islam. Namun hal
tersebut telah terpengaruh oleh kepercayaan beserta kebudayaan, yaitu agama
Hindu dan Buddha. Sebetulnya Upacara Selikuran itu bertujuan untuk mencari
wahyu Tuhan, tetapi pandangan mereka telah berubah yaitu ingin melestarikan
kebudayaan dan ingin mengembangkan adat yang telah dijalankan oleh para
sesepuh yang telah mendahuluinya dan bertujuan untuk keselamatan negara,
bukan hanya untuk keselamatan diri sendiri.
Lain dari pada itu tujuan diselenggarakan Upacara Selikuran ialah untuk
melestarikan kebudayaan Jawa yang diciptakan oleh nenek moyang. Sumber
kebudayaan Jawa yang ada pada Keraton Surakarta yaitu berdasarkan lahir dan
batin. Upacara Selikuran adalah upacara yang tidak menggunakan alat musik,
tari-tarian dan drama.
Jika kebudayaan itu tidak dilestarikan akan cepat punah. Para pemuda jaman
penyelenggaraan tradisi upacara Selikuran itu, berarti kota Surakarta melestarikan
kebudayaan tersebut.
3.3 Tahap Pelaksanaan Upacara Selikuran
Upacara Selikuran diselenggarakan di Keraton Surakarta mulai jam 17.00
WIB sampai dengan pukul 17.30 WIB. Upacara selikuran dimulai dengan tanda
bunyi lonceng yang menunjukkan waktu pukul lima sore. Pada saat itu datanglah
dua orang puteri kehadapan para hadirin yang diundang dengan membawa amanat
sang raja. Amanat sang raja ditujukan kepada seseorang yang bertugas
membawakan doa agar mengikrarkan upacara Selikuran.
Sementara itu pembaca doa meminta perhatian kepada hadirin untuk
mengamini doa yang diucapkannya. Adapun doa yang digunakan mengikrarkan
Upacara Selikuran berupa doa untuk keselamatan.
Setelah pembaca doa selesai mengikrarkan doa, amanat sang raja yang telah
dibacakan tersebut dikembalikan kepada petugas dari istana. Kemudian semua
makanan yang telah dipersiapkan dibagikan kepada hadirin yang hadir dalam
upacara itu. Semua makanan dibagi rata. Makanan tersebut kemudian dipakai
untuk berbuka puasa bersama.
Ada pantangan yang harus dipatuhi dalam upacara Selikuran Keraton
Surakarta Hadiningrat. Hal ini dapat kita lihat dalam peraturan untuk mengikuti
upacara. Misalnya : tidak setiap orang dapat mengikuti jalannya upacara karena
umum tidak boleh masuk. Pakaian yang dipakai tidak sembarangan karena jika
hal itu dilanggar maka akan mengurangi hikmahnya upacara. Pada waktu
berlangsungnya upacara, tidak seorangpun yang berbicara sendiri, dan berkata
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Upacara Selikuran merupakan upacara keagamaan yang bercampur dengan
adat Keraton Surakarta Hadiningrat.
2. Upacara Selikuran Keraton Surakarta Hadiningrat diselenggarakan untuk
melestarikan kebudayaan bangsa.
3. Pihak keraton Surakarta Hadiningrat bekerjasama dengan pihak
Pemerintah Daerah terutama bidang Pariwisata untuk menjadikan upacara
tersebut sebagai obyek pariwisata.
4.2 Saran
Dari pembahasan tentang Upacara Selikuran Keraton Surakarta Hadiningrat
ini maka penulis menyarankan :
1. Dengan membaca kertas karya ini, penulis mengharapkan agar pembaca
dapat lebih mengenal Upacara Selikuran Keraton Surakarta Hadiningrat
sebagai salah satu warisan budaya bangsa.
2. Dengan adanya penyelenggaraan tradisi upacara selikuran, penulis
mengharapkan agar kita bisa lebih manghargai, melestarikan dan
DAFTAR PUSTAKA
Suwandi, Surip, 1985/1986. Upacara Selikuran Keraton Surakarta Hadiningrat,
Yogyakarta : Departemen P & K.
Taniguchi, Goro, 2008. Kamus Standar Bahasa Jepang Indonesia, Jakarta : Dian
Rakyat.
Taniguchi, Goro, 2008. Kamus Standar Bahasa Indonesia Jepang, Jakarta : Dian