PENGARUH INFLASI DAN NERACA PERDAGANGAN TERHADAP KURS TUKAR RUPIAH
SKRIPSI
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Mencapai Derajad Sarjana Ekonomi
Oleh: Erik Novianti 201010160311094
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur atas kehadiran Allah SWT atas berkah, limpahan rahmat serta hidayah-Nya yang senantiasa dilimpahkan kepada penulis, sehingga
dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “PENGARUH INFLASI DAN NERACA PERDAGANGAN TERHADAP KURS TUKAR RUPIAH”.
Adapun tujuan dari penyususnan skripsi ini yaitu sebagai tugas akhir dalam rangka memperoleh gelar Sarjana Ekonomi jurusan Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang
Dalam penyususnan ini banyak hambatan serta rintangan yang penulis hadapi yang pada akhirnya dapat teratasi berkat adanya bimbingan serta bantuan
dari berbagai pihak, baik secara moral maupun spiritual. Untuk itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Ayah dan Ibuku tercinta yang telah memberikan semangat, doa restu dan dukungan, fasilitas, dan kasih sayang baik moril maupun materiil serta doanya setiap waktu hingga selesainya skripsi ini.
2. Bapak Dr. Nazaruddin Malik, M. si , selaku dekan Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang.
3. Bapak Dr. Marsudi, MM. selaku Ketua Jurusan Manajemen.
4. Bapak Prof. Dr. Bambang Widagdo, MM, selaku dosen pembimbing I dan Bapak Drs. M Jihadi, M. Si. Selaku dosen pembimbing II yang telah
5. Mbak ku dan nenek yang slalu memberikan semangat dan memberikan
doa dalam mengerjakan skripsi ini.
6. Teman-temanku Manajemen B angkatan 2010, khususnya buat indah lotus, nobita, mariana, nana, cici, dan mita terima kasih atas pengertianya,
waktunya dan dukungannya semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penilisan skripsi ini masih jauh dari sempurna karena keterbatasan kemampuan yang penulis miliki, semoga skripsi ini berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Dengan segala kerendahan hati, penilis siap menerima saran dan kritik yang membangun atas penulisan skripsi ini dapat memberikan manfaat,
khususnya bagi penilis sendiri umumnya kepada seluruh pembaca skripsi ini.
Malang,3 Mei 2014
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GAMBAR ... vi
ABSTRAKSI ... vii
ABSTRACTION ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian dan Kegunaan ... 6
D. Batasan Maslah ... 6
BAB II LANDASAN TEORI ... 8
A. Peneliti Terdahulu ... 8
B. Tinjauan Teori ... 9
C. Kerangka pikir penelitian ... 26
D. Hipotesa... 27
BAB III METODE PENELITIAN... 28
A. Jenis Penelitian ... 28
B. Sumber dan Jenis Data ... 28
C. Teknik Pengumpulan Data ... 28
E. Teknik Analisis Data ... 30
BAB IV HASIL PEMBAHASAN ... 36
A. Gambaran Umum Perekonomian Indonesia ... 36
B. Analisis Data ... 45
C. Pembahasan ... 53
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 55
A. Kesimpulan ... 55
B. Saran ... 56 DAFTAR PUSTAKA ...
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Perkembangan kurs tengah periode Januari 2010- Juni 2013
(dalam ribuan)... 40
Tabel 4.2 Perkembangan tingkat inflasi periode Januari 2010 sampai dengan Juni 2013 ... 42
Tabel 4.3 Perkembangan Neraca Perdagangan periode Januari 2010 - Juni2013 ... 44
Tabel 4.4 Analisis Statistik Deskriptif ... 45
Tabel 4.5 Uji Normalitas Data ... 46
Tabel 4.6 Uji Autokorelasi ... 49
Tabel 4.7 Uji Multikolinieritas ... 50
Tabel 4.8 Uji Signifikasi Simultan (Uji statistik F) ... 51
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Grafik dari teori PPP (Purchasing Power Parity) menurut
DAFTAR PUSTAKA
Boediono.1998.Ekonomi Moneter. Edisi Tiga. Yogyakarta.BPFE.
Eiteman, David K,dkk. 2010. Manjemen Keuangan Multinasional. Edisi Sebelas. Jakarta.Erlangga.
Fajar Awaludin B.W. 2012. Pengaruh Tingkat Inflasi, Tingkat Suku Bunga, dan Jumlah Uang Beredar terhadap nilai tukar rupiah terhadap dollar AS periode 2007-2011. Universitas Negeri Malang. Malang.
Faisal ,M. 2001.Manajemen Keuangan Internasional. Jakarta. Salemba Empat.
Firmansyah Beni. 2009. Pengaruh Tingkat Suku Bunga, Inflasi,dan Jumlah Uang Beredar Terhadap Kurs Tukar Rupiah. UMM. Malang
Ghozali, Imam. 2011. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program IBM spss 19. Semarang. Undip
Hady, Hamdy. 1999. Ekonomi Internasional. Jakarta. Ghalia Indonesia
Kuncoro, Mudjarad.2004. Manajemen Keuangan Internasional (Pengantar Ekonomi dan Bisnis Global). Yogyakarta.
Lindert, Peter H dan Charles P. Kindleberger. 1995. Ekonomi Internasional. Jakarta: Erlangga.
Madura, Jeff. 2006. Manajemen Keuangan Internasional. Edisi Delapan. Jakarta. Salemba Empat.
N. Gregory Mankiw. 2006. Makroekonomi. Jakarta. Erlangga
Nopirin. 2012. Ekonomi Internasional. Edisi Ketiga. Yogyakarta. BPFE
Samuelson, A Paul dan Nordhaus D. William. 1998. Makro Ekonomi. Edisi Keempat Belas. Jakarta. Erlangga
Sanusi, Anwar. 2003. Metodologi Penelitian Praktis untuk Ilmu Sosial dan Ekonomi.Malang. Buntara Media.
Santosa, Purbayu B dan Muliawan Hamdani.2007. Statistika Deskriptif dalam bidang Ekonomi dan Niaga. Jakarta. Erlangga.
Sugiarto, Dergibson S. 2002. Metode Statisika untuk Bisnis dan Ekonomi. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama. IKAPI
Waluyo, Dwi Eko. 2002. Teori Ekonomi Makro. Edisi Revisi. Malang. FE-UMM.
Widayat. 2004. Metodologi Penelitian. UMM Press.Malang.
http://permodalanbmt.com/bmtcenter/?p=779. Perekonomian Indonesia 2011-2012: Tantangan Ekses Likuiditas dan Dampaknya bagi LKM. Diakses tanggal 21 Desember 2013 waktu 15:48
http://m.antaranews.com/berita/341759/neraca-perdagangan-september-surplus-lagi. Neraca Perdagangan Sempember Surplus Lagi. Diakses tanggal 4 Januari 2014 waktu 19:25
http://www.mediabpr.com/kamus-bisnis-bank/neraca_perdagangan.aspx. Neraca
Perdagangan. Diakses tanggal 6 Januari 2014 waktu 10:45
http://www.bukusoal.info/2013/02/neraca-perdagangan-dan-neraca-pembayaran.html. Neraca Perdagangan dan Neraca Pembayaran.
Dikases tanggal 6 Januari 2014 waktu 20:16
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada saat krisis keuangan global beberapa tahun belakangan ini kurs, inflasi dan neraca perdagangan seolah tidak lepas dari masalah perekonomian di Indonesia Beni (2009:1). Fluktuasi kurs rupiah yang susah
untuk dikendalikan disebabkan oleh banyaknya faktor, baik faktor ekonomi maupun faktor non ekonomi. Banyak perbankkan swasta maupun Bank
Indonesia sendiri yang menyatakan bahwa gejolak kurs rupiah dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi.
Usaha sektor riil, kondisi seperti ini telah membatasi kegiatan produksi dan investasi, sementara disektor keuangan, berbagai permasalahan tersebut telah menyebabkan tidak tersalurnya pembiayaan
dalam bentuk pemberian kredit dalam rangka membiayai kegiatan produktif pada perusahaan. Melemahnya hubungan kedua sektor ini bukan hanya menyebabkan keterbatasan sumber pembiayaan investasi dan produksi dan
kemudian menghambat proses pemulihan ekonomi, namun juga telah menyebabkan terjadinya kelebihan asset keuangan perbankan yang dapat
memberikan tekanan terhadap kurs.
Depresiasi kurs rupiah yang tinggi mempengaruhi antara lain harga produk impor sehingga mendorong kenaikan harga-harga didalam negeri
(inflasi), dan semakin tinggi peredaran jumlah uang beredar membengkaknya pembayaran hutang luar negeri swasta, rendahnya
2
saat ini mengalami perlambatan meskipun cenderung stabil. Pada tahun ini perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 6,0% atau melambat dari
perekonomian pada tahun 2012 yang mampu tumbuh sebesar 6,3%. Tingkat pertumbuhan ini merupakan yang terendah sejak tahun 2010. (permodalanbmt.com)
Krisis perekonomian global yang masih berlangsung hingga saat ini telah mengakibatkan perlamabatan ekspor dan merupakan salah satu faktor
yang mendorong perlambatan ekonomi Indonesia pada tahun ini. Kondisi perekonomian Indonesia pada tahun 2011 secara umum memang melebihi harapan otoritas ekonomi, jika dilihat dari economic outlook yang
disampaikan setahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi mencapai 6,1% lebih tinggi dari dari pada asumsi APBN 2011 dan APBN-P yang
mentargetkan dibawah 6%. Peningkatanpun di nilai dukungan dari sumber pertumbuhan yang makin berimbang, Diantaranya tercermin pada peran investasi dan ekspor yang meningkat. (permodalanbmt.com)
Peningkatan investasi mulai ditandai dengan semakin tingginya peranan investasi yang sifatnya menambah kapasitas ekonomi. Perkembangan neraca perdagangan memiliki informasi mengenai keadaan
perekonomian suatu negara, seperti yang terlihat dari perkembangan sektor riil dan moneter. Informasi dari neraca pembayaran dapat memberikan
gambaran berapa besar aliran sumber dana antara suatu negara dengan negara lain sehingga terlihat apakah negara tersebut merupakan pengekspor
3
Neraca perdagangan Indonesia selama bulan September 2012 mengalami surplus sebesar US$ 552,9 juta. Hal ini memperlihatkan neraca
perdagangan Indonesia mengalami peningkatan surplus. Surpus neraca perdagangan Indonesia didukung oleh surplus perdagangan non migas sebesar US$ 1. 224,7 juta, sementara migas defisit sebesar US$ 671,8 juta.
Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia periode 2010-2012 masih mengalami surplus sebesar US$ 1.034,2 juta yang terdiri dari surplus
perdagangan non migas sebesar US$ 3,3 miliar dan defisit perdagangan migas sebesar US$ 2,3 miliar.(antaranews.com)
Kenaikan ekspor non migas dipicu oleh menguatnya ekspor di sektor
pertanian, industri, dan pertambangan yang masing-masing naik sebesar 45%, 17,9% dan 5,8%. Sementara penurunan ekspor bersumber dari turunya
ekspor minyak mentah. Sedangkan impor masih didominasi oleh impor bahan baku/ penolong mencapai 73% dan barang modal (20%). Impor barang modal selama Januari- September 2012 mencapai US$ 28,6 miliar
meningkat 23,9%. (antaranews. com)
Inflasi tercatat 6,69% lebih tinggi dari target yang ditetapkan oleh Bank Indonesia sebesar 5%kurang lebih 1%dan asumsi APBN. Stabilitas
harga mendapat gangguan dari sisi pasokan, khususnya bahan makanan, meningkat tajam akibat perbedaaan cuaca baik di tingkat global maupun
domestik, sejak pertengahan tahun. Harga komoditas pangan dipasar global melonjak tajam, dan dalam waktu yang bersaman harga-harga komoditas
4
Komoditas bahan pokok seperti beras dan aneka bumbu memberi kontribusi kenaikan harga yang sangat besar sehingga inflasi volatile food
mencapai 17,74%, jauh lebih tinggi dari inflasi volatile food tahun 2009 yang hanya mencapai 3,95%. Meski demikian, inflasi ini tetap terjaga pada level 4,28% dan kelompok administered prices inflasi sebesar 5,40%,
sehingga inflasi keseluruhan masih bisa dikendalikan(permodalanbmt.com) Pergerakan nilai dollar AS dapat dikatakan sebagai determinan utama
nilai rupiah. Melalui mekanisme transmisi ini inflasi serta suku bunga domestik juga turun Rowter (2000:1). Menguatnya dollar AS belakangan ini menjadikan nilai rupiah merosot serta ada potensi besar inflasi meningkat.
Penyebab sebaliknya nilai mata uang dan nilai asset keuangan (saham dan obligasi) di hampir semua negara berkembang, termasuk Indonesia yaitu
naiknya suku bunga karena tindakan yang dilakukan investor menjual posisi jangka panjang dan mengembalikan dana kepasar uang di AS. Lebih berbahaya jika para investor domestik ikut-ikutan pula untuk menjual asset
negaranya dan melakukan konversi ke mata uang asing.
Besarnya pengaruh kurs pada inflasi disebabkan tingginya ketergantungan Indonesia pada impor, termasuk bahan makanan.
Melemahnya rupiah mengakibatkan naiknya harga pada berbagai titik produksi dan distribusi. Selama masa krisis kenaikan suku bunga domestik
tidak dapat dikatakan menjadi penjelasan naik turunya kurs. Periode tiga tahun terakhir kita melihat penurunan suku bunga tidak diikuti dengan
5
melemahnya rupiah adalah cost pushed, yaitu naiknya harga keluaran (output) karena naiknya harga masukan (input).
Perkembangan kurs rupiah pada tahun 2010 mengalami apresiasi sebesar 4,4%. Secara rata-rata pada tahun 2010 nilai tukar rupiah berada pada kisaran Rp. 9.081/US$. Kurs rupiah sampai dengan desember tahun
2010 berada pada level Rp.9.002/US$. Hal ini di sebabkan oleh ebijakan AS yang masih terus menjual asset-aset kotor dari sektor keuangan di tahun
2010. Pada tahun 2011 nilai tukar rupiah relative stabil hingga pada akhir tahun berkisar antara Rp.9000/US$. Pada akhir tahun 2011 tambahan tekanan masalah global seperti beberapa investor luar negeri mengambil
profitnya. Pada tahun 2012 nilai tukar rupiah pada dollar AS mengalami depresiasi sepanjang tahun 2012 yang mencapai kisaran Rp.9500/US$. Hal
ini dikarenakan defisistnya neraca perdagangan kuartal I dan II.
Jatuhnya nilai tukar rupiah merefleksikan menurunya permintaan masyarakat internasional terhadap mata uang rupiah karena menurunya peran perekonomian nasional atau karena meningkatnya permintaan mata uang asing US$ oleh masyarakat karena peranya sebagai alat pembayaran internasional. Kinerja uang khususnya pasar luar negeri di ukur melalui uji kurs rupiah terutama mata uang dollar AS. Semakin menguat kurs rupiah
6
B. Perumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka rumusan masalah berkenaan dengan variabel yang mempunyai pengaruh terhadap kurs tukar rupiah yaitu:
1. Apakah inflasi dan neraca perdagangan berpengaruh terhadap kurs tukar Rupiah ?
2. Variabel manakah yang paling berpengaruh terhadap kurs tukar Rupiah?
C. Batasan Penelitian
Batasan penelitian ini yaitu Inflasi dan Neraca Perdagangan (variable bebas) berpengaruh terhadap Kurs Tukar Rupiah (variable terikat) periode Januari 2010-Juni 2013.
D. Tujuan dan Manfaat 1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu:
a. Untuk mengetahui bahwa inflasi dan neraca perdagangan berpengaruh terhadap kurs tukar rupiah.
b. Untuk mengetahui variabel yang paling berpengaruh terhadap kurs tukar rupiah
2. Manfaat Penelitian
a. Bagi Pemerintah
Sebagai bahan masukan bagi pemerintah untuk pertimbangan
7
b. Bagi Peneliti selanjutnya
Hasil dari penelitian ini bisa dijadikan dasar dan juga bisa
8 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Penelitian terdahulu
Beberapa penelitian terdahulu akan diuraikan secara ringkas karena
penelitian ini mengacu pada beberapa penelitian sebelumnya. Meskipun ruang lingkup hampir sama tetapi karena objek dan periode waktu yang
digunakan berbeda maka terdapat banyak hal yang tidak sama sehingga dapat dijadikan sebagai referensi untuk saling melengkapi.
Berikut ringkasan penelitian terdahulu :
Penelitian terdahulu yang pertama oleh Beni Firmansyah (2009) yang berjudul “Pengaruh Inflasi, Suku Bunga SBI, Dan Jumlah Uang Beredar
Terhadap Kurs Rupiah Tahun 2000-2009”. Teknik analisis yang digunakan regresi linier berganda dengan metode kuadrat terkecil atau ordinary least square (OLS). Penelitian ini mengambil data triwulanan selama 10 tahun dari
tahun 2000-2009. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa inflasi, tingkat suku bunga dan jumlah uang beredar berpengaruh nyata atau signifikan terhadap kurs tukar rupiah di Indonesia.
Penelitian yang kedua oleh Awaludin Fajar Brata Wijaya (2012) yang berjudul “Pengaruh Tingkat Inflasi, tingkat Suku Bunga, dan Jumlah Uang
Beredar (M2) terhadap nilai tukar rupiah pada dollar AS periode 2007-2011. Teknik analisis yang digunakan regresi linier berganda. Penelitian ini
9
signifikan terhadap nilai tukar rupiah, dan variabel jumlah uang beredar adalah variabel yang paling berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah terhadap
dollas AS.
Perbedaan penelitian terdahulu dan penelitian yang sekarang yaitu terletak pada variabel bebas yang digunakan yaitu peneliti terdahulu meneliti tingkat suku
bunga, inflasi dan jumlah uang beredar sedangkan peneliti yang sekarang meneliti tentang inflasi dan neraca perdagangan, penelitian ini mengambil data bulanan dan
peneliti terdahulu mengambil data triwulanan pada setiap variabelnya dan tahun penelitian yang digunakan yaitu peneliti terdahulu menggunakan tahun 2000-2009 dan 2007-2012 sedangkan peneliti sekarang menggunakan tahun penelitian
periode Januari 2010-Juni 2013.
B. Tinjauan Teori a) Inflasi
Secara umum inflasi dapat di artikan sebagai kenaikan tingkat harga
barang dan jasa secara umum dan terus menerus selama waktu tertentu. Menurut para pakar beberapa pengertian mengenai inflasi:
1) Menurut Nopirin (1987:25)
Proses kenaikan harga-harga umum barang secara terus-menerus selama periode tertentu.
2) Menurut Samuelson dan Nordhaus (1998:578-603)
Inflasi dinyatakan sebagai kenaikan harga secara umum. Jadi
10
Rate of Infation (year t) = price level (year t) – price level (year t-1) Price level (year t-1)
3) Menurut Waluyo (2002:119) menyatakan bahwa “inflasi adalah merupakan kecenderungan kenaikan harga-harga umum secara terus menerus”. Sebagai indikator yang mencerminkan perubahan
harga-harga, inflasi berdasarkan Indeks Harga Saham Konsumen (IHK) merupakan indikator inflasi yang paling umum digunakan
baik di Indonesia maupun disejumlah negara lain.
Ada tiga komponen yang harus dipenuhi agar dapat dikatakan telah
terjadi inflasi,yaitu :
1) Kenaikan harga suatu komoditas dikatakan naik jika menjadi lebih
tinggi daripada harga periode sebelumnya.
2) Bersifat umum, kenaikan harga suatu komoditas belum dapat dikatakan inflasi jika kenaikan tersebut tidak menyebabkan harga
secara umum naik.
3) Berlangsung terus menerus, kenaikan harga yang bersifat umum juga belum akan dimunculkan inflasi, jika terjadi sesaat, karena itu
perhitungan inflasi dilakukan dalam rentang waktu minimal bulanan. Keadaan ini timbul apabila pemerintah mengalami defisit
anggaran belanja.
Menurut Boediono (1998:162) inflasi dapat digolongkan sebagai berikut : penggolongan pertama berdasarkan atas parah dan tidaknya
inflasi tersebut. Beberapa macam inflasi yaitu :
1) Inflasi ringan apabila kenaikan harga berada dibawah angka 10%
11
2) Inflasi sedang antara 10%-30% setahun. 3) Inflasi berat antara 30%-100% setahun.
4) Hyperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100% setahun.
Penggolongan yang kedua berdasarkan asal dari inflasi :
1) Inflasi yang berasal dari dalam negeri.
Inflasi yang berasal dari dalam negeri timbul misalnya karena defisit
anggaran belanja yang dibiayai dengan cara mencetak uang baru dan gagalnya pasar yang berakibat harga bahan makanan menjadi mahal. 2) Inflasi berasal dari luar negeri.
Inflasi yang berasal dari luar negeri adalah inflasi yang terjadi sebagai akibat naiknya harga barang impor.
Secara umum upaya-upaya yang dilakukan oleh Bank Indonesia dalam mengefektifkan pengendalian inflasi di daerah antara lain :
1) Memperkuat aspek kelembagaan antara Bank Indonesia di daerah
dan Pemda, terutama dalam rangka menanamkan komitmen pihak terkait untuk bersama-sama mengendalikan inflasi di daerah mengingat terciptanya inflasi yang rendah dan stabil merupakan
kebutuhan bersama.
2) Mengidentifikasi sumber-sumber kelangkaan pasokan barang
kebutuhan pokok di daerah. Adapun tujuan dari strategi itu adalah untuk menjamin kelancaran distribusi barang kebutuhan pokok,
12
3) Melakukian diseminasi untuk memberikan pemahaman masyarakat di daerah terkait kondisi dan prospek ekonomi serta risiko tekanan
inflasi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi Inflasi
Menurut Samuelson dan Nordhaus (1998:578) faktor yang
memyebabkan inflasi :
1) Demand Pull Inflation, timbul apabila permintaan agregat
meningkat lebih cepat dibandingkan dengan potensi prosuktif perekonomian, menarik harga keatas untuk menyeimbangkan penawaran dan permintaan agregat.
2) Cost Push Inflation or Supply Shock Inflation
Inflasi yang diakibatkan oleh peningkatan biaya selama periode
pengangguran tinggi dan penggunaan sumber daya yang kurang efektif.
Sedangkan faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya inflasi tidak
hanya dipengaruhi oleh Demand Pull Inflation dan Cost Push Inflation tetapi juga dipengaruhi oleh:
1) Domestic Inflation
Tingkat inflasi yang terjadi karena disebabkan oleh kenaikan harga barang secara umum di dalam negeri.
2) Imported Inflation
Tingkat inflasi yang terjadi karena disebabkan oleh kenaikan
13
Inflasi sebagai salah satu bagian dari keadaan perekonomian tertentu akan dialami oleh setiap negara, hanya saja setiap negara memiliki tingkat inflasi yang berbeda-beda. Inflasi di setiap negara pasti mengalaminya, tentu disebabkan oleh faktor yang berbeda-beda. Beberapa penyebab inflasi diantaranya bisa disebabkan oleh sektor ekspor-impor, tabungan atau investasi, pengeluaran dan penerimaan negara, sektor pemerintah dan swasta. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat beberapa uaraian berikut :
1) Inflasi disebabkan oleh sektor ekspor-impor
Jika ekspor suatu negara lebih besar daripada impor, akan mengakibatkan terjadinya tekanan inflasi, tekanan inflasi terjadi karena semakin besar jumlah uang beredar di dalam negeri akibat penerimaan devisa.
2) Inflasi disebabkan oleh sektor penerimaan dan pengeluaran negara. Sektor penerimaan dan pengeluaran suatu negara yang defisit menjadi penyebab inflasi. Karena pengeluaran pemerintah lebih besar dari penerimaanya, maka untuk menutupi keadaan tersebut akan dilakukan dengan mengeluarkan uang baru, pengeluaran uang baru menimbulkan tekanan inflasi.
3) Inflasi disebabkan oleh sektor swasta
14
b) Neraca Perdagangan
Menurut kamus Bank Indonesia neraca perdagangan adalah
balance of trade yaitu ikhtisar yang menunjukkan selisih antara nilai
transaksi ekspor dan impor suatu negara dalam jangka waktu tertentu. Neraca perdagangan adalah catatan yang memuat nilai barang-barang
yang di ekspor dan di impor oleh suatu negara. Kegunaan neraca perdagangan bagi suatu negara adalah untuk mengetahui sejauh mana
perkembangan aktifitas perdagangan luar negeri yang telah dilakukan. Mankiw (2000:183), nama lain dari neraca perdagangan adalah ekspor bersih, karena menyatakan bagaimana perdagangan barang dan
jasa melenceng dari tolak ukur kesamaan ekspor dan impor. Dan neraca perdagangan ditentukan oleh perbedaan antara tabungan dan investasi
di tingkat bunga dunia.
Setiap negara menginginkan neraca perdaganganya surplus menandakan bahwa hasil produksi dari negara tersebut memiliki keunggulan
karena laku di pasar internasional dan departemen devisa negara.
Keadaan neraca perdagangan suatu negara ada tiga kemungkinan yaitu: 1) Surplus : jika nilai ekspor lebih besar dari pada nilai impor
2) Defisit : jika nilai ekspor lebih kecil dari pada nilai impor 3) Seimbang : jika nilai ekspor sama besarnya dengan nilai impor
Menurut Mankiw (2006:114) menyatakan bahwa nama lain dari ekspor neto adalah neraca perdagangan (trade balance), karena menunjukkan
15
c) Kurs Tukar Mata Uang
Pengertian kurs tukar (exchange rate) adalah harga satu mata
uang satu negara dengan mata uang satu negara yang lainya (Faisal, 2001:20).
Dornbusch dan Fisher mengatakan bahwa pergerakan nilai
tukar mempengaruhi daya saing internasional dan posisi neraca perdagangan, dan konsekuensinya juga akan berdampak pada real
output dari negara tersebut yang pada gilirannya akan mempengaruhi
cash flow saat ini dan masa yang akan datang dari perusahaan tersebut.
Ekuitas yang merupakan bagian dari kekayaan perusahaan, dapat mempengaruhi perilaku nilai tukar melalui mekanisme permintaan uang berdasarkan model penentuan nilai tukar oleh ahli moneter. Sistem nilai tukar yang dianut oleh suatu negara sangat berpengaruh sekali dalam menentukan pergerakan nilai tukar. Seperti negara Indonesia yang sebelum tanggal 14 Agustus 1997 menerapkan sistem nilai tukar mengambang terkendali, maka laju depresiasi sangat ditentukan oleh pemegang otoritas moneter, sehingga ketika Bank Indonesia melepas kendali nilai tukar menyebabkan nilai tukar akan segera mengikuti hukum pasar dan pengaruh-pengaruh dari luar.
16
tukar pada posisi semula. Pendekatan moneter merupakan pengembangan konsep paritas daya beli dan teori kuantitas uang.
Pendekatan ini menekankan bahwa ketidakseimbangan kurs valuta asing terjadi karena ketidakseimbangan di sektor moneter yaitu terjadinya perbedaan antara permintaan uang dengan penawaran uang (jumlah uang beredar). Pendekatan yang digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kurs adalah pendekatan moneter. Dengan pendekatan moneter maka diteliti pengaruh variabel jumlah uang beredar dalam arti luas, tingkat suku bunga, tingkat pendapatan, dan variabel perubahan harga.
Dollar Amerika sebagai mata uang pembanding, karena dollar Amerika merupakan mata uang yang kuat dan Amerika merupakan partner dagang yang dominan di Indonesia. Konsep penentuan kurs diawali dengan konsep Purchasing Power Parity (PPP) atau yang lebih dikenal dengan teori paritas daya beli, kemudian berkembang konsep dengan pendekatan neraca pembayaran (balance of payment theory).
Teori PPP menyatakan bahwa pergerakan nilai tukar disebabkan oleh perbedaan tingkat inflasi, jika suku bunga riil antar negara sama, maka perbedaan tingkat suku bunga nominal diakibatkan oleh perbedaan taksiran inflasi. Teori IFE (International Fisher Effect) menyatakan bahwa mata uang asing dengan suku bunga yang relative tinggi akan terdepresiasi karena suku bunga nominal lebih tinggi yang mencerminkan taksiran inflasi.
17
lebih tinggi).Selain itu, perusahaan dan masyarakat dalam negara tersebut cenderung meningkatkan impor. Kedua hal tersebut akan menekan inflasi tinggi pada mata uang suatu negara. Tingkat inflasi antar negara berbeda, sehingga pola perdagangan internasional dan nilai tukar akan berubah sesuai dengan inflasi tersebut. Teori PPP (Purchasing Power Parity) ini berupaya untuk melihat hubungan antara inflasi dengan nilai tukar secara kuantitatif. Madura (2006: 299)
Suku bunga nominal juga akan membentuk risiko gagal bayar atas investasi jadi kaitan antara internasional Fisher Effect dengan paritas daya beli adalah teori IFE melihat perubahan suku bunga dipengaruhi oleh perbedaan taksiran perubahan tingkat inflasi. (timut2211.blogspot.com)
-2 -4
2 4
2 4
-2
-4
A
B
Garis PPP (%)
f
n I
[image:28.595.214.451.402.660.2]I
Gambar 2.1
18
Keterangan Gambar 2.1
Titik A mencerminkan kita sebelumnya dimana tingkat inflasi pada suatu negara asal dan tingkat inflasi negara lain, menyebabkan apresiasi mata uang negara lain sebesar 4%. Titik B mencerminkan situasi dimana tingkat inflasi pada negara asal dan negara lain. Situasi ini menyebabkan taksiran depresiasi mata uang asing, sebesar 5% seperti tercermin pada titik B. Jika kurs menanggapi perbedaan inflasi seperti yang dinyatakan teori ppp, maka titik aktual akan terletak dekat atau pada garis PPP.
Nilai tukar atau disebut juga kurs valuta dalam berbagai transaksi ataupun jual beli valuta asing, dikenal ada empat jenis, yaitu: 1) Selling rate (kurs jual), yaitu kurs yang ditentukan oleh suatu bank
untuk penjualan valuta asing tertentu pada saat tertentu.
2) Middle rate (kurs tengah), yaitu kurstengah antara kurs jual dan kurs beli valuta asing terhadap mata uang nasional, yang
ditetapkan oleh Bank Central pada suatu saat tertentu.
3) Buying rate (kurs beli), yaitu kurs yang ditentukan oleh suatu bank untuk pembelian valuta asing tertentu pada saat tertentu.
4) Flat rate (kurs flat), yaitu kurs yang berlaku dalam transaksi jual beli bank notes dan traveler chaque, di mana dalam kurs tersebut telah diperhitungkan promosi dan biaya lain‐lain.
Jenis Kurs
Kurs yang ditransaksikan di pasar uang terbagi menjadi 3 jenis yaitu:
1) Kurs beli dan kurs jual
Kurs beli (bid rate) adalah kurs dimana bank bersedia membeli suatu
19
ditawarkan bank untuk menjual suatu mata uang dan biasanya yang lebih tinggi dari kurs beli. Selisih antara kurs beli dan kurs jual disebut bid offer spread atau trading margin.
2) Kurs silang
Kurs silang (cross exchange rates) adalah kurs antara dua mata uang
yang ditentukan dengan menggunakan mata uang lain sebagai
pembanding. Hal ini terjadi karena kedua mata uang tersebut, salah satu atau keduanya, tidak memiliki pasar valuta asing yang aktif,
sehingga tidak semua mata uang ditentukan oleh mata uang lainya. Misalnya, kurs rupiah dalam mata uang krona Swedia jarang
ditemukan, namun kurs kedua mata uang selalu tersedia dalam Dollar AS. Kurs masing-masing mata uang tersebut dapat dibandingkan dalam US$, sehingga dapat ditentukan kurs antara
rupiah dan krona.
3) Kurs Spot dan Kurs Forward
Spot cxchange rates adalah kurs mata uang dimana mata uang asing
dapat dibeli atau dijual dengan penyerahan atau pengiriman pada hari yang sama atau maksimal dalam 48 jam. Forward exchange
rates adalah kurs yang ditentukan sekarang untuk pengiriman
sejumlah mata uang di masa akan datang berdasarkan kontrak
forward.
20
bukunya “Manajemen Keuangan Internasional” ada lima faktor yang
mempengaruhi penawaran dan permintaan nilai tukar: 1) Laju inflasi relative
Perubahan dalam laju inflasi relative mempengaruhi aktivitas perdagangan internasional, karena mempengaruhi permintaan dan penawaran valuta dan dengan demikian mempengaruhi valuta. 2) Suku bunga relative
Perubahan suku bunga relative mempengaruhi permintaan dan penawaran valuta asing, yang selanjutnya akan mempengaruhi permintaan dan penawaran valuta asing, dan nilai tukar.
3) Tingkat pendapatan relative
Apabila pendapatan Indonesia lebih besar dari AS, maka akan terjadi peningkatan impor dan tingkat penawaran produk domesik tetap, sehingga tingkat konsumsi turun.
4) Control pemerintah
Pemerintah negara-negara asing dapat mempengaruhi nilai tukar ekuilibirium dengan berbagai cara, diantaranya melaui:
a. Hambatan jual beli valuta asing b. Hambatan perdagangan
c. Intervensi (pembelian dan penjualan valuta) dalam pasar valuta asing d. Pengubahan variabel-variabel makro seperti inflasi, suku bunga,
21
5) Ekspektasi pasar
Keseimbangan kurs jika dipengaruhi oleh pengharapan pasar terhadap posisi kurs pada masa yang akan datang. Sama seperti pasar keuangan lainya pasar valuta asing juga reponsif terhadap informasi baru.
Sedangakan menurut (Kindleberger,1995:379) faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tukar suatu mata uang negara yaitu:
1) Perbedaan tingkat inflasi antara 2 negara
Suatu negara yang tingkat inflasinya konsisten rendah akan lebih kuat nilai tukar mata uangnya dibandingkan negara yang
inflasinya lebih tinggi. Daya beli (purchasing power) mata uang tersebut relatif lebih besar dari negara lain. Pada akhir abad 20 lalu,
negara-negara dengan tingkat inflasi rendah adalah Jepang, Jerman dan Swiss, sementara Amerika Serikat dan Canada menyusul kemudian. Nilai tukar mata uang negara-negara yang inflasinya
lebih tinggi akan mengalami depresiasi dibandingkan negara partner dagangnya.
2) Perbedaan tingkat suku bunga antara 2 negara
Suku bunga, inflasi dan nilai tukar sangat berhubungan erat. Dengan merubah tingkat suku bunga, bank sentral suatu negara bisa
mempengaruhi inflasi dan nilai tukar mata uang. Suku bunga yang lebih tinggi akan menyebabkan permintaan mata uang negara
22
investor akan keluar hingga bank sentral menaikkan suku bunganya lagi. Sebaliknya, jika bank sentral menurunkan suku bunga maka
akan cenderung memperlemah nilai tukar mata uang negara tersebut.
3) Neraca perdagangan
Neraca perdagangan antara 2 negara berisi semua
pembayaran dari hasil jual beli barang dan jasa. Neraca perdagangan suatu negara disebut defisit bila negara tersebut membayar lebih banyak ke negara partner dagangnya dibandingkan dengan
pembayaran yang diperoleh dari negara partner dagang. Dalam hal ini negara tersebut membutuhkan lebih banyak mata uang negara
partner dagang, yang menyebabkan nilai tukar mata uang negara tersebut terhadap negara partnernya melemah. Keadaan sebaliknya
disebut surplus, dimana nilai tukar mata uang negara tersebut menguat terhadap negara partner dagang.
4) Hutang publik (Public debt)
Neraca anggaran domestik suatu negara digunakan juga untuk membiayai proyek-proyek untuk kepentingan publik dan
pemerintahan. Jika anggaran defisit maka public debt membengkak. Public debt yang tinggi akan menyebabkan naiknya inflasi. Defisit
anggaran bisa ditutup dengan menjual bond pemerintah atau
23
peringkat hutangnya turun. Public debt yang tinggi jelas akan cenderung memperlemah nilai tukar mata uang negara tersebut.
5) Ratio harga ekspor dan harga impor
Jika harga ekspor meningkat lebih cepat dari harga impor maka nilai tukar mata uang negara tersebut cenderung menguat.
Permintaan akan barang dan jasa dari negara tersebut naik yang berarti permintaan mata uangnya juga meningkat. Keadaan sebaliknya untuk harga impor yang naik lebih cepat dari harga
ekspor.
6) Kestabilan politik dan ekonomi
Para investor tentu akan mencari negara dengan kinerja ekonomi yang bagus dan kondisi politik yang stabil. Negara yang
kondisi politiknya tidak stabil akan cenderung beresiko tinggi sebagai tempat berinvestasi. Keadaan politik akan berdampak pada kinerja ekonomi dan kepercayaan investor, yang pada akhirnya akan
mempengaruhi nilai tukar mata uang negara tersebut.
d) Pasar Valuta Asing
1) Devinisi Pasar Valuta Asing
pihak-24
pihak yang melakukan transaksi. Pihak-pihak ini antara lain: eksportir-importir, bank, pedagang, perantara dan bank sentral. Mereka saling berhubungan sehingga membentuk pasar valuta asing yaitu eksportir dan atau importir yang hendak menjual atau membeli valas menghubungi bank mereka
Menurut Siamat (1999:178) menyatakan bahwa “pasar valuta asing adalah suatu mekanisme dimana orang dapat mentransfer daya beli antar negara, memperoleh atau menyediakan kredit untuk
transaksi perdagangan internasional, dan meminimalkan kemungkinan resiko kerugian akibat terjadinya fluktuasi kurs suatu mata uang”.
2) Fungsi Pasar Valuta Asing
Menurut Nopirin (2012:139) Pasar Valuta Asing mempunyai
beberapa fungsi pokok dalam membantu kelancaran lalu lintas pembayaran internasional, yang pertama, mempermudah penukaran
valuta asing serta pemindahan dana dari satu negara ke negara lain.
Kedua, memberikan kemudahan untuk dilaksanakannya perjanjian/ kontrak jual beli dengan kredit. Ketiga, memungkinkan dilakukanya “hedging”, dapat dilakukan pada pasar jangka (forward market).
Pasar jangka adalah pasar dimana transaksi jual-beli terjadi dengan
25
e) Hubungan antara inflasi dan neraca perdagangan terhadap kurs tukar rupiah 1) Hubungan antara inflasi terhadap kurs tukar
Hubungan inflasi terhadap kurs tukar dibedakan mejadi dua yaitu nilai tukar nominal dan nilai tukar riil. Nilai tukar nominal menunjukkan harga relatif mata uang dan dua negara, sedangkan
nilai tukar riil menujukkan tingkat kuran (rate) suatu barang dapat diperdagangkan antar negara. Jika nilai tukar riil tinggi berarti
harga produk luar negeri relatif murah dan harga produk domestik relatif mahal. Presentase perubahan nilai tukar nominal sama dengan presentase perubahan nilai tukar riil ditambah perbedaan
inflasi antara inflasi luar negeri dengan inflasi domestik (persentase perubahan harga inflasi). Jika suatu negara luar negeri lebih tinggi
inflasinya dibandingkan domestik (Indonesia) maka rupiah akan ditukarkan dengan lebih banyak valas. Jika inflasi meningkat untuk membeli valuta asing yang sama jumlahnya harus ditukar dengan
rupiah yang makin banyak atau depresiasi rupiah (Herlambang, dkk, 2001: 282)
2) Hubungan neraca perdagangan terhadap kurs tukar
Hubungan neraca perdagangan terhadap kurs tukar apabila neraca perdagangan suatu negara mengalami defisit, maka ini
menunjukkan bahwa nilai mata uang negara tersebut terdepresiasi dibandingkan dengan negara lain (Lindert dan
26
[image:37.595.152.440.135.284.2]C. Kerangka pikir penelitian
Gambar 2.2
Kerangka Pikir Penelitian Keterangan Gambar 2.2
Digambarkan di atas menunjukkan bahwa apakah tingkat inflasi dan neraca
perdagangan berpengaruh terhadap kurs tukar Rupiah.
Sesuai dengan model struktural yang dikembangkan oleh Messe dan Rogof fluktuasi kurs di Indonesia dipengaruhi oleh Inflasi dan neraca
perdagangan (Kindleberger, 1995:379). Suatu negara yang tingkat inflasinya konsisten rendah akan lebih kuat nilai tukar mata uangnya dibandingkan negara yang inflasinya lebih tinggi. Daya beli (purchasing power) mata uang
tersebut relatif lebih besar dari negara lain. Neraca perdagangan antara 2 negara berisi semua pembayaran dari hasil jual beli barang dan jasa. Neraca
perdagangan suatu negara disebut defisit bila negara tersebut membayar lebih banyak ke negara partner dagangnya dibandingkan dengan pembayaran yang
diperoleh dari negara partner dagang. Dalam hal ini negara tersebut membutuhkan lebih banyak mata uang negara partner dagang, yang
Inflasi
Neraca Perdagangan
27
menyebabkan nilai tukar mata uang negara tersebut terhadap negara partnernya melemah. Keadaan sebaliknya disebut surplus, dimana nilai tukar
mata uang negara tersebut menguat terhadap negara partner dagang.
D. Hipotesis
Hipotesis yang dapat diambil dari penelitian ini yaitu:
1. Diduga bahwa inflasi dan neraca perdagangan berpengaruh nyata terhadap kurs tukar rupiah secara signifikan.