• Tidak ada hasil yang ditemukan

Optimalisasi Pinjaman Kebajikan (Al-Qardh) Pada Bmt (Studi Pada Bmt Umj, Ciputat)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Optimalisasi Pinjaman Kebajikan (Al-Qardh) Pada Bmt (Studi Pada Bmt Umj, Ciputat)"

Copied!
112
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Syariah (S.E.Sy.)

Oleh

AMALA SHABRINA NIM. 109046100156

KONSENTRASI PERBANKAN SYARIAH PROGRAM STUDI MUAMALAT FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)

SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)

Amala Shabrina. 109046100156. Optimalisasi Pinjaman Kebajikan (Al-Qardh) pada BMT (Studi pada BMT UMJ, Ciputat). Konsentrasi Perbankan Syariah, Program Studi Muamalat, Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Jakarta, 2013, xiv+69 halaman+8 lampiran.

Masalah pokok penelitian ini adalah strategi yang digunakan BMT untuk menghimpuan dana, optimalisasi dana Al-Qardh, dan strategi mengoptimalkan dana baitul maal, khususnya untuk produk Al-Qardh. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan strategi yang digunakan BMT UMJ untuk menghimpuan dana, optimalisasi dana Al-Qardh, dan strategi mengoptimalkan dana untuk produk Al-Qardh.

Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan/studi lapangan. Jenis data dalam penelitian ini terdiri atas dua sumber, yaitu data primer yang diperoleh dengan teknik wawancara dan data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, studi dokumentasi dan studi pustaka. Metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis deskriptif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyaluran dana Al-Qardh pada BMT UMJ pada periode 2010-2012 belum berjalan optimal. Hal ini dilihat dari pencapaian penyaluran yang belum masuk pada nilai standar FDR, yaitu 85% - 110%, sedangkan pencapaian pada tahun 2010 sebesar 56,22%, naik menjadi 58,24% pada tahun 2011, dan menurun pada tahun 2012 menjadi 55,22%.

Kata kunci: Optimalisasi,Al-Qardh, dan BMT. Pembimbing: Dr. H. Supriyadi Ahmad, M.A. Daftar Pustaka: 1976 s.d. 2013.

(6)

Puji syukur kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan kasih sayang-Nya kepada seluruh alam semesta. Shalawat serta salam tak lupa penulis sampaikan kepada junjungan nabi besar, Muhammad saw. yang telah memberikan hidayahnya kepada umat manusia.

Skripsi berjudul OPTIMALISASI PINJAMAN KEBAJIKAN (AL-QARDH) PADA BMT (STUDI PADA BMT UMJ, CIPUTAT) , diajukan untuk memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan studi strata satu (S1) dam memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Syariah pada Konsentrasi Perbankan Syariah, Program Studi Muamalat, Fakultas Syariah dan Hukum.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang turut membantu dalam penulisan karya ini, khususnya kepada:

1. Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, S.H., M.A., M.M., Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Dr. Euis Amalia, M.Ag., Ketua Program Studi Muamalat dan Mukmin Rauf,

MA., Sekretaris Program Studi Mualamat.

3. Dr. H. Supriyadi Ahmad, M.A., dosen pembimbing skripsi yang telah meluangkan pikiran dan waktunya kepada penulis.

(7)

masa perkuliahan.

5. BMT UMJ, Ciputat yang telah membantu dalam pengumpulan data dan informasi terkait yang penulis butuhkan untuk penyusunan skripsi.

6. Seluruh staff Perpustakaan Utama Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum yang telah memberikan fasilitas berupa referensi terkait tema skripsi.

7. Ayahanda dan Ibunda (Eddy Yanto dan Asnur Anas) tercinta yang tak henti-hentinya memberikan dukungan, baik moril maupun materiil, serta kasih sayang dan doa yang selalu penulis terima, kakak-kakak (Aziza Addina Permata beserta suami dan Diaz Palestine) yang selalu memberikan semangat dalam penyusunan skripsi ini, adik satu-satunya (Yamadika Okto Ahiro) yang selalu menghibur di saat penulis menghadapi ujian dalam penyusunan skipsi serta seluruh keluarga besar Alm. Esis dan Alm. Anas Sain atas segala doa, dukungan, dan kasih sayang yang telah diberikan kepada penulis.

8. Teman-teman seperjuangan yang saling memberikan semangat dalam penyusunan skripsi, khususnya PS E 2009 dan juga sahabat-sahabat: Nani, Eha, Nia, Putty, Linda, Tri, Sri, Eppi, Ani, Dinar, Fitri, Dini, Rizka, Lala, Kurnia, Tari, Reni, atas saran dan semangat yang diberikan kepada penulis. 9. Semua pihak lain yang tidak dapat disebut satu persatu dalam skripsi ini.

(8)

shalih yang diberikan, memperoleh balasan yang setimpal. Amin.

September 2013

Penulis

(9)

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

LEMBAR PERNYATAAN ... iii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 6

(10)

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8

F. Metodologi Penelitian ... 9

G. ReviewKajian Terdahulu ... 13

1. Jurnal Ilmiah ... 13

2. Penelitian Lain ... 15

H. Sistematika Penulisan ... 18

BAB II LANDASAN TEORI TENTANG OPTIMALISASI, AL-QARDH, DAN BMT ... 20

A. Optimalisasi ... 20

1. Pengertian ... 20

2. Elemen ... 21

B. Al-Qardh... 22

1. Pengertian ... 22

2. Dasar Hukum ... 25

3. Rukun dan Syarat Sah ... 31

4. Hukum ... 32

5. Fatwa DSN ... 33

(11)

1. Pengertian ... 35

2. Prinsip ... 36

3. Kegiatan ... 38

4. Ciri-ciri ... 43

5. Keunggulan ... 46

BAB III PROFIL BMT UMJ, CIPUTAT ... 48

A. Sejarah Singkat ... 48

B. Visi dan Misi ... 50

C. Produk Layanan ... 50

D. Struktur Organisasi dan Pengelola ... 54

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 56

A. Hasil Penelitian ... 56

1. Strategi Penghimpunan DanaAl-Qardh... 56

2. Optimalisasi Dana pada Pinjaman Kebajikan (Al-Qardh) ... 60

3. Strategi Optimalisasi Pinjaman Kebajikan (Al-Qardh) ... 69

B. Pembahasan ... 70

1. Strategi Penghimpunan DanaAl-Qardh... 70

(12)

BAB V PENUTUP ... 76

A. Kesimpulan ... 76

B. Saran-saran ... 77

DAFTAR PUSTAKA ... 79

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 82

(13)

Halaman

Gambar 2.1 Skema PelaksanaanAl-Qardh... 35

Gambar 4.1 Pertumbuhan Penghimpunan Dana BMT UMJ

Periode 2010-2012 ... 60

Gambar 4.2 Pertumbuhan Penyaluran Dana BMT UMJ

Periode 2010-2012 ... 65

Gambar 4.3 Jumlah Dana Pinjaman Kebajikan BMT UMJ

Periode 2010-2012 ... 66

(14)

Halaman

Tabel 4.1 Penghimpunan Dana BMT UMJ Periode 2010-2012 ... 58

Tabel 4.2 Persentase Penghimpunan Dana BMT UMJ

Periode 2010-2012 ... 59

Tabel 4.3 Penyaluran Dana BMT UMJ Periode 2010-2012 ... 63

Tabel 4.4 Persentase Penyaluran Dana BMT UMJ

Periode 2010-2012 ... 64

Tabel 4.5 Jumlah Dana Pinjaman Kebajikan BMT UMJ

Periode 2010-2012 ... 66

Tabel 4.6 Pertumbuhan Jumlah Dana Pinjaman Kebajikan BMT UMJ

Periode 2010-2012 ... 67 Tabel 4.7 Persentase Pertumbuhan Jumlah Dana Pinjaman Kebajikan

BMT UMJ Periode 2010-2012 ... 68 Tabel 4.8 Persentase Pencapaian Penyaluran Dana Pinjaman Kebajikan

(15)

Halaman

Lampiran 1 Hasil Wawancara dengan Manager Pemasaran ... 82

Lampiran 2 Hasil Wawancara dengan Manager Keuangan ... 87

Lampiran 3 Hasil Wawancara dengan Staf Sektor Riil ... 89

Lampiran 4 Neraca BMT UMJ Periode 2010-2012 ... 91

Lampiran 5 Tabel Total Pembiayaan ... 93

Lampiran 6 Daftar Nasabah Pinjaman Kebajikan ... 94

Lampiran 7 Surat Izin Penelitian ... 96

Lampiran 8 Surat Keterangan Penelitian ... 97

(16)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan praktik Lembaga Keuangan Syariah (LKS) baik di level nasional maupun internasional telah memberikan gambaran bahwa sistem ekonomi Islam mampu beradaptasi dengan perekonomian konvensional yang telah berabad-abad menguasai kehidupan masyarakat dunia dan juga terjadi di Indonesia.1 Perkembangan perbankan syariah dan lembaga keuangan syariah nonbank di Indonesia memang masih dikatakan belum lama. Namun, perkembangan dan pertumbuhan industri ini terus menunjukkan angka yang terus meningkat. Ini membuktikan bahwa masyarakat mulai sadar akan pentingnya bertransaksi dengan prinsip syariah. Sampai saat ini tercatat ada 11 BUS, 141 BPRS, 16 UUS, dan masih ada LKS nonbank lainnya, bahkan jumlah BMT sudah menembus angka 4000.

Saat ini, tidak hanya lembaga keuangan syariah yang bersifat komersial saja yang berkembang, namun juga lembaga keuangan syariah yang bersifat nirlaba. Lembaga keuangan syariah komersial yang berkembang saat ini

1Rifqi Muhammad,

Akuntansi Keuangan Syariah(Yogyakarta: P3EI Press, 2010), h.1.

(17)

antara lain: Pegadaian Syariah, Pasar Modal Syariah, Reksadana Syariah, dan Obligasi Syariah. Sedangkan lembaga keuangan syariah nirlaba yang saat ini berkembang antara lain: Organisasi Pengelola Zakat, baik Badan Amil Zakat maupun Lembaga Amil Zakat, dan Badan Wakaf. Bahkan lembaga keuangan mikro syariah seperti BMT (Baitul Maal at-Tamwil) juga turut berkembang sangat pesat di Indonesia.2

Konsep Baitul Maal at-Tamwil sebenarnya sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad Saw. Cikal bakal lembaga baitul maal yang telah dicetuskan dan difungsikan oleh Rasulullah Saw. dan diteruskan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq, semakin dikembangkan fungsinya pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab sehingga menjadi lembaga yang regular dan permanen.3 Pendirian lembaga baitul maal ini dipusatkan di Madinah dengan pembukaan cabang-cabangnya di tiap ibukota provinsi.

Di Indonesia sendiri, sejarah BMT dimulai tahun 1984 yang dikembangkan mahasiswa ITB di Masjid Salman yang mencoba menggulirkan lembaga pembiayaan berdasarkan syariah bagi usaha kecil. BMT secara resmi sebagai lembaga keuangan syariah dimulai dengan disahkannya UU No. 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan yang mencantumkan kebebasan penentuan imbalan dan

2

Ibid. h.33. 3Euis Amalia,

(18)

sistem keuangan bagi hasil, juga dengan terbitnya Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 1992 yang memberikan batasan tegas bahwa bank diperbolehkan melakukan kegiatan usaha dengan berdasarkan prinsip bagi hasil. Munculnya BMT sebagai lembaga mikro keuangan Islam yang bergerak pada sektor riil masyarakat bawah dan menengah menjadi salah satu lembaga mikro keuangan Islam yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.4

Tujuan umum yang ingin diketahui oleh Bappenas adalah untuk memperbaiki sistem lembaga keuangan pedesaan sehingga dapat melayani usaha kecil dari golongan masyarakat miskin pedesaan. Yaitu dengan membangun hubungan antara Bank Syariah dengan kopontren yang berupa BMT.5

Baitul Maal at-Tamwil (BMT) atau disebut juga dengan Koperasi Syariah merupakan lembaga keuangan syariah yang berfungsi menghimpun dan menyalurkan dana kepada anggotanya dan biasanya dalam skala mikro. BMT terdiri dari dua istilah, yaitubaitulmaaldanbaitultamwil.Baitulmaalmerupakan istilah untuk organisasi yang berperan dalam mengumpulkan dan menyalurkan dana non-profit, seperti zakat, infak, dan sedekah. Baitulmaaladalah lembaga

4Ica Nende,

Baitul Mal Wat Tamwil(BMT),

http://acankende.wordpress.com/2010/11/28/baitul-mal-wat-tamwil-bmt/

5Anonim,

(19)

keuangan yang kegiatannya mengelola dana yang bersifat nirlaba (sosial).6 Baitultamwil merupakan istilah untuk organisasi yang mengumpulkan dan menyalurkan dana komersial. Dengan demikian, BMT memiliki peran ganda, yaitu fungsi sosial dan fungsi komersial. Dalam operasinya, BMT biasanya menggunakan badan hukum koperasi. Oleh karena itu, BMT sering disebut dengan koperasi jasa keuangan syariah.7

Pada tahun April 2008, berdirilah KSU BMT UMJ di Ciputat dengan nomor badan hukum 770/BH/Meneg/.I/VI/2008. Visi dari BMT ini adalah membangun koperasi jasa keuangan terkemuka, modern, dan Islami dalam pengembangan ekonomi rakyat dengan salah satu misinya adalah memperjuangkan peningkatan harkat sosial ekonomi anggota dan karyawan koperasi serta masyarakat.

Dengan modal awal sebesar 117 juta rupiah, BMT UMJ telah memiliki aset sebesar 1,4 milyar rupiah pada akhir tahun 2012. Hal ini menunjukkan bahwa perekonomian tumbuh cukup pesat di BMT UMJ itu sendiri. Artinya, BMT UMJ berhasil memberdayakan masyarakat sekitar dengan produk-produk yang dimiliki.

6Hertanto Widodo, dkk.,

PAS (Pedoman Akuntansi Syariat): Panduan Praktis Operasional Baitul Mal Wat Tamwil (BMT)(Bandung: Mizan, 2000), h.81.

7 Rizal Yaya, Aji Erlangga Martawireja, dan Ahim Abdurahim,

(20)

Salah satu produk dari BMT UMJ adalah Pinjaman Kebajikan. Pinjaman ini merupakan bentuk dari kepedulian BMT terhadap pengusaha kecil berpotensi dengan tidak membebankan jaminan terhadap pengusaha tersebut. Pinjaman yang lebih sering dikenal dengan pinjaman al-qardh ini adalah pembiayaan yang bersifat sosial, bukan komersial. Hal ini karena memang arti dari akad al-qardh adalah akad pinjam-meminjam antara dua pihak dengan pengembalian tanpa ada tambahan. Jadi, peminjam hanya mengembalikan pokok pinjamannya saja. Menurut istilah para ahli fikih, al-qardh adalah memberikan suatu harta kepada orang lain tanpa ada tambahan8 seperti mengutang uang Rp. 2,- akan dibayar Rp. 2,- pula.9 BMT akan memberikan dananya kepada nasabah yang sudah memenuhi syarat untuk mengelola dana tersebut untuk kegiatan produktif. Tentunya, tidak semua nasabah mendapatkan pinjaman ini. Hanya nasabah miskin potensial yang bisa merasakan fasilitas ini.

Dalam pemberian pinjaman, BMT UMJ memperhatikan beberapa prinsip pembiayaan yang dikenal dengan prinsip 5 C, yaitu character, capacity, capital, collateral, dan condition. BMT juga tidak hanya memberikan dananya kepada pengusaha kecil tersebut, tetapi BMT UMJ juga melakukan pembinaan terhadap pengusaha peminjam. Hal ini dimaksudkan agar pengusaha-pengusaha

8Musthafa Dib Al-Bugha,

Buku Pintar Transaksi Syariah: Menjalin Kerja Sama Bisnis dan Menyelesaikan Sengketanya Berdasarkan Panduan Islam, terj. Fakhri Ghafur (Jakarta: Hikmah,

2010), h.51.

9Sulaiman Rasjid,

(21)

kecil tersebut dapat mengelola dana tersebut dengan baik, agar pengusaha menghasilkan laba yang optimal. Sampai tahun 2012, tercatat sebesar 32 juta dana yang dikeluarkan untuk Pinjaman Al-Qardh ini. Kemudian timbul permasalahan, apakah dengan angka 32 juta, BMT sudah mengoptimalkan dananya untuk pembiayaan ini karena melihat BMT yang tidak memiliki modal sebesar bank untuk dapat memberikan pembiayaan dengan akad al-qardh.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Optimalisasi Pinjaman Kebajikan (

Al-Qardh) pada BMT (Studi Kasus pada BMT UMJ, Ciputat) .

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan yang muncul adalah: 1. Banyak warga yang sulit mendapatkan modal tambahan untuk

mengembangkan usahanya.

2. Banyak pedagang kecil yang ingin mendapatkan pinjaman dari lembaga keuangan tetapi tidak memiliki barang yang dapat dijadikan jaminan atas pinjaman.

(22)

4. Optimalisasi Pinjaman Kebajikan (Al-Qardh), sudah berjalan optimal atau belum.

5. Strategi yang digunakan KSU BMT UMJ untuk mengoptimalkan Pinjaman Kebajikan (Al-Qardh), mungkin menggunakan strategi khusus.

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, perlu dilakukan pembatasan dan perumusan masalah agar tidak terjadi perluasan makna. Pembatasan masalah dalam penelitian ini yaitu:

1. Optimalisasi yang dimaksud dalam penelitian ini dibatasi pada jumlah dana pinjaman pada BMT UMJ, Ciputat.

2. Objek yang diteliti dibatasi pada BMT UMJ, Jalan KH. Ahmad Dahlan, Komplek Kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta, Ciputat, Tangerang Selatan.

3. Produk pembiayaan yang dimiliki BMT UMJ, yang diteliti dibatasi pada produk Pinjaman Kebajikan (Al-Qardh).

4. Data yang diteliti adalah data tiga tahun terakhir, yaitu tahun 2010-2012. D. Perumusan Masalah

(23)

1. Strategi apa sajakah yang digunakan BMT UMJ untuk menghimpun dana al-qardh?

2. Bagaimana prestasi BMT UMJ dalam penyaluran dana Pinjaman Kebajikan (Al-Qardh) selama tahun 2010-2012?

3. Bagaimana strategi yang digunakan oleh BMT UMJ untuk mengoptimalkan Pinjaman Kebajikan (Al-Qardh)?

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk:

1. Menjelaskan strategi yang dipakai oleh BMT UMJ, Ciputat dalam menghimpun danaal-qardh.

2. Mendeskripsikan prestasi BMT UMJ dalam penyaluran dana Pinjaman Kebajikan (Al-Qardh) selama tahun 2010-2012.

3. Menjelaskan strategi yang digunakan oleh BMT UMJ dalam mengoptimalkan Pinjaman Kebajikan (Al-Qardh).

Manfaat dari diadakannya penelitian ini adalah:

1. Manfaat Teoritis

(24)

b. Menambah literatur keilmuan yang dapat dijadikan sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi kalangan praktisi, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan antara pembiayaan-pembiayaan yang ada.

b. Bagi akademisi, penelitian ini dapat dijadikan gambaran mengenai pembiayaan dengan akad al-qardhyang dilaksanakan oleh BMT.

F. Metodologi Penelitian 1. Pendekatan Penelitian

Menurut tingkat eksplanasinya, penelitian ini termasuk ke dalam penelitian deskriptif yang merupakan penelitian yang dilakukan untuk mengetahui variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independent) tanpa membuat perbandingan atau menghubungkannya dengan variabel lain.10 Menurut sifat dan jenis data, penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.11

10 Ety Rochaety, Ratih Tresnati, dan Abdul Madjid Latief,

Metodologi Penelitian Bisnis dengan Aplikasi SPSS(Jakarta: Mitra Wacana Media, 2009), h.17.

11Nurul Zuriah,

Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan: Teori-Aplikasi(Jakarta: Bumi

(25)

2. Jenis Penelitian

Jenis untuk penelitian ini adalah penelitian lapangan/studi lapangan. Artinya, peneliti terjun langsung ke loksai penelitian untuk mengambil data atau dengan kata lain studi langsung di tengah kehidupan nyata.

3. Kriteria Sumber Data a. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh dari tangan pertama.12 Data ini diperoleh dari teknik observasi dan wawancara.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari tangan kedua seperti laporan keuangan, data statistik dari badan tertentu, dan lain-lain. 4. Teknik Pengumpulan Data

a. Observasi

Observasi adalah teknik pengumpulan data di mana peneliti melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian. Di sini, peneliti secara langsung melakukan pengamatan mengenai produk Pinjaman Kebajikan (Al-Qardh).

12

(26)

b. Wawancara

Wawancara merupakan suatu proses interaksi dan komunikasi verbal dengan tujuan untuk mendapatkan informasi penting yang diinginkan.13 Wawancara mendalam adalah teknik pengumpulan data yang didasarkan pada percakapan secara intensif dengan suatu tujuan.14 Wawancara dilakukan dengan karyawan BMT UMJ.

c. Studi Dokumentasi

Teknik ini dilakukan dengan mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis seperti laporan keuangan, arsip, teori, pendapat, hukum, dan lain-lain.

d. Studi Pustaka

Studi pustaka adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan menelaah buku-buku, catatan-catatan, literature-literatur, dan laporan-laporan mengenai masalah yang dibahas. Studi pustaka dilakukan untuk mendapatkan data tentang optimalisasi,al-qardh, dan BMT.

13

Ibid. h. 179. 14

(27)

5. Objek Penelitian

Yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah BMT UMJ yang bertempat di Jalan KH. Ahmad Dahlan, Komplek Kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta, Ciputat.

6. Teknik Pengolahan Data

Data yang telah didapat kemudian diolah agar menjadi hasil penelitian yang diinginkan. Pengolahan data dimulai dari menulis kembali hasil wawancara ke lembar baru agar tersusun secara sistematis. Kemudian hasil tersebut dirangkum agar mendapatkan poin-poin penting dari penelitian. Langkah terakhir adalah menarik kesimpulan dari data yang telah diolah. 7. Metode Analisis Data

(28)

G. Review Kajian Terdahulu 1. Jurnal Ilmiah

Jurnal ilmiah pertama yang terkait dengan penelitian saat ini adalah jurnal dengan judul Ekonomi Sedekah oleh Yusuf Wibisono dalam Jurnal Ekonomi Islam. Kesimpulan dari jurnal ini adalah secara umum terdapat dua ketentuan syariat Islam terkait sedekah atas harta. Pertama adalah sedekah wajib yaitu zakat. Sedekah kedua adalah sedekah sunnah (sukarela). Sedekah sunnah ini merupakan bentuk altruisme tertinggi dalam Islam karena ia bersifat sukarela, tanpa paksaan, tanpa ketentuan, dilakukan dalam kondisi susah ataupun senang, malam dan siang hari, sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan. Dalam Islam, sedekah sukarela ini memiliki banyak bentuk seperti infaq, sedekah jariyah, dan wakaf. Lebih dari itu, sedekah juga tidak hanya berdimensi sosial, namun juga ekonomi-bisnis. Maka dalam skema pembiayaan Islam kita mengenal qardhul hasan, di mana pemilik modal dianjurkan untuk meminjamkan modal kepada pengusaha tanpa mengharapkan bagi hasil. Bahkan jika yang orang berutang tersebut kesulitan membayar, dianjurkan untuk memberi toleransi, bahkan merelakan sebagian atau keseluruhan piutang tersebut.15

15Yusuf Wibisono, Ekonomi Sedekah,

(29)

Perbedaan dengan penelitian sekarang adalah dalam fokus kajian. Pada jurnal, hanya dijelaskan secara umum mengenai qardh, sedangkan penelitian sekarang dipersempit mengenai optimalisasi dana qardh.

Jurnal kedua adalah jurnal oleh Firdaus Furywardana dengan judul Evaluasi Non Performance Loan (NPL) Pinjaman Qardhul Hasan (Studi Kasus di BNI Syariah Cabang Yogyakarta) . Kesimpulan dari jurnal ini adalah qardhul hasan merupakan salah satu ciri pembeda bank syariah dengan bank konvensional yang didalamnya terkandung misi sosial, di samping misi komersial. Misi sosial kemasyarakatan ini akan meningkatkan citra bank dan meningkatkan loyalitas masyarakat terhadap bank syariah. Qardhul hasan mengunakan penilaian 2 C dan 2 P pada pemberian pinjaman, karena penerima qardhul hasan merupakan pengusaha golongan ekonomi lemah yang terbatas modal, kurang ataupun tidak mempunyai pencatatan secara baik dalam pengelolaan finansial maupun pengelolaan usahanya.16 Perbedaan dengan penelitian sekarang adalah dalam bidang yang dikaji. Pada jurnal, dibahas mengenai evaluasi NPF, sedangkan penelitian sekarang membahas tentang optimalisasi. Selain itu, dari segi subjek penelitian, yang

16 Firdaus Furywardana, Evaluasi Non Performance Loan (NPF) Pinjaman Qardul Hasan

(30)

menjadi subjek penelitian terdahulu adalah bank, sedangkan subjek penelitian sekarang adalah BMT.

2. Penelitian Lain

Penelitian pertama yang dijadikan review studi terdahulu adalah penelitan yang dilakukan oleh Syahid Maulana dengan judul Mekanisme Pembiayaan Dana Qardhul Hasan di Bank BNI Syariah (Studi Kasus BNI Syariah Kantor Cabang Pemuda, Jakarta Timur) . Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah BNI Syariah melakukan penghimpunan dana qardhul hasan dari gaji karyawan sebesar 2,5% perbulan. Penyaluran dana qardhul hasan disalurkan untuk dua pihak, yakni pihak internal (karyawan BNI Syariah) dan pihak eksternal (bukan karyawan BNI Syariah). Penyaluran dana ini dibagi lagi menurut kebutuhannya, yaitu untuk modal kerja, bantuan pendidikan, dan infaq. Manajemen risiko yang dilakukan oleh BNI Syariah Cabang Pemuda, Jakarta Timur ini adalah dengan memberikan Surat Peringatan jika debitur tidak mengembalikan dana selama dua bulan berturut-turut. Jika sudah mendapat tiga surat dan masih juga belum membayar, maka akan dilakukan surveylapangan.17

17 Syahid Maulana, Mekanisme Pembiayaan Dana

Qardhul Hasan di Bank BNI Syariah

(31)

Perbedaan dengan penelitian sekarang adalah dalam bidang yang dikaji, penelitian terdahulu mengkaji mengenai mekanisme pembiayaan, sedangkan penelitian sekarang membahas tentang optimalisasi. Selain itu, dari segi subjek penelitian, yang menjadi subjek penelitian terdahulu adalah bank, sedangkan subjek penelitian sekarang adalah BMT.

Penelitian selanjutnya adalah penelitian dengan judul Manajemen Qardhul Hasan dalam Pembiayaan Usaha Kecil Menengah di BAZ Kota Depok oleh Suhendri. Kesimpulan dari penelitian ini adalah langkah-langkah dalam pemberian pembiayaan ini dilakukan dengan empat tahap, yaitu planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (penggerakan), dan controlling(pengawasan). Penelitian ini juga dipaparkan mengenai hambatan dalam pemberian pembiayaan, yaitu kurangnya pemasukan yang menghambat program, kurang ketat dalam pelaksanaan survey, peminjam yang menyalahgunakan kecercayaan BAZ, kurangnya kesadaran peminjam dalam pengembalian dana, kurang maksimal dari segi pengawasan, dan kurang pengalaman dari peminjam.18 Perbedaan dengan penelitian sekarang adalah dalam bidang yang dikaji, penelitian terdahulu mengkaji mengenai manajemen pembiayaan, sedangkan penelitian sekarang

18Suhendri, Manajemen

Qardhul Hasandalam Pembiayaan Usaha Kecil Menengah di BAZ

(32)

membahas tentang optimalisasi. Selain itu, dari segi subjek penelitian, yang menjadi subjek penelitian terdahulu adalah lembaga zakat, sedangkan subjek penelitian sekarang adalah BMT.

Selanjutnya, penelitian yang terkait adalah penelitian yang dilakukan oleh Maria Ulfha dengan judul penelitian Efektifitas Pembiayaan Qardhul Hasan pada BMT Bina Ummat Sejahtera Periode 2006-2010 . Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini yakni konsep dari pembiayaan qardhul hasan adalah pembiayaan yang bersifat nirlaba yang diberikan kepada anggota atau mitra tanpa penetapan nisbah bagi hasil tetapi hanya dengan mengembalian pokok pembiayaannya saja. Dari penelitian yang dilakukan dalam periode 2006-2010, dana yang terkumpul selalu meningkat, ini dilihat dari hasil data pertumbuhan pembiayaan dana qardhul hasan. Berdasarkan laporan keuangan sederhana BMT BUS, setiap tahunnya BMT menyalurkan dana kepada 8 asnaf. Dapat ditarik kesimpulan bahwa pembiayaan tersebut tergolong efektif.19 Perbedaan dengan penelitian sekarang adalah dalam

bidang yang dikaji, penelitian terdahulu mengkaji mengenai efektifitas pembiayaan, sedangkan penelitian sekarang membahas tentang optimalisasi.

19Maria Ulfha, Efektifitas Pembiayaan

Qardhul Hasanpada BMT Bina Ummat Sejahtera

(33)

H. Sistematika Penulisan Penelitian

Sistematika yang penulis gunakan dalam penelitian ini terdiri dari lima bab dan terbagi lagi menjadi beberapa sub bab. Adapun sistematika penelitian ini, yaitu:

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini menjelaskan secara singkat mengenai Latar Belakang Masalah, Identifikasi Masalah, Pembatasan Masalah, Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Metodologi Penelitian, ReviewKajian Terdahulu, dan Sistematika Penulisan.

BAB II LANDASAN TEORI TENTANG OPTIMALISASI, AL-QARDH, DAN BMT

Bab ini menjelaskan tentang landasan teori dari penelitian yang diambil. Dalam bab ini, dipaparkan secara gamblang mengenai Optimalisasi,Al-Qardh,danBaitul Maal wat-Tamwil.

BAB III PROFIL BMT UMJ, CIPUTAT

(34)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini memaparkan hasil penelitian yang dilakukan dan pembahasan dari permasalahan yang diangkat mengenai Strategi Penghimpunan Dana Al-Qardh, Optimalisasi Dana pada Pinjaman Kebajikan (Al-Qardh), dan Strategi Optimalisasi Pinjaman Kebajikan (Al-Qardh).

BAB V PENUTUP

(35)

LANDASAN TEORI TENTANG OPTIMALISASI,AL-QARDH, DANBMT

I. Optimalisasi 1. Pengertian

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, optimal adalah terbaik, tertinggi, dan paling menguntungkan. Optimalisasi adalah upaya pengoptimalan, yang artinya proses, cara, dan perbuatan yang menjadikan paling baik.20

Menurut Sisdijatmo, optimal adalah berusaha untuk memaksimumkan sesuatu yang diinginkan. Namun dalam sumber lain dikatakan bahwa optimum tidak berarti maksimum, karena optimum mempertimbangkan juga faktor faktor batasan atau konstan. Kata optimum mengacu kepada kualitas bukan kuantitas, ini berarti yang terbaik bukan yang terbesar.21

Optimalisasi adalah proses pencarian solusi yang terbaik, tidak selalu keuntungan paling tinggi yang bisa dicapai jika tujuan pengoptimalan adalah

20Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,

Kamus Besar Bahasa Indonesia(Jakarta: Balai Pustaka, 1995), h.705.

21 Adi Ilham Akbar,

Aset, Artikel diakses pada 27 Januari 2013 dari

(36)

memaksimumkan keuntungan, atau tidak selalu biaya paling kecil yang bisa ditekan jika tujuan pengoptimalan adalah meminimumkan biaya.22

2. Elemen

Ada tiga elemen permasalahan optimalisasi yang harus diidentifikasi, yaitu tujuan, alternatif keputusan, dan sumber daya yang dibatasi.

a. Tujuan

Tujuan bisa berbentuk maksimisasi atau minimisasi. Bentuk maksimisasi digunakan jika tujuan pengoptimalan berhubungan dengan keuntungan, penerimaan, dan sejenisnya. Bentuk minimisasi akan dipilih jika tujuan pengoptimalan berhubungan dengan biaya, waktu, jarak, dan sejenisnya. Penentuan tujuan harus memperhatikan apa yang diminimumkan atau maksimumkan.

b. Alternatif Keputusan

Pengambilan keputusan dihadapkan pada beberapa pilihan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Alternatif keputusan yang tersedia tentunya alternatif yang menggunakan sumber daya terbatas yang dimiliki

22Hotniar Siringoringo,

Pemrograman Linier: Seri Teknik Riset Operasi(Yogyakarta: Graha

(37)

pengambil keputusan. Alternatif keputusan merupakan aktifitas atau kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan.

c. Sumber Daya yang Dibatasi

Sumber daya merupakan pengorbanan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Ketersediaan sumber daya ini terbatas. Keterlibatan inilah yang mengakibatkan dibutuhkannya proses optimalisasi.23

J. Al-Qardh 1. Pengertian

Dalam Wikipedia,Al-Qardhadalah salah satu akad yang terdapat pada sistem perbankan syariah yang tidak lain adalah memberikan pinjaman baik berupa uang ataupun lainnya tanpa mengharapkan imbalan atau bunga (riba). Secara tidak langsung berniat untuk tolong menolong bukan komersial.24

Al-Qardh (Pembiayaan Kebajikan/Lunak) adalah pemberian pembiayaan/pinjaman kepada mitra yang dapat ditagih atau diminta kembali dengan tanpa meminta imbalan atau kelebihan dari pokok pinjaman. Pinjaman ini hanya diberikan kepada paradhu afaatau mustahik zakat.

23

Ibid. h. 5-6.

24 Wikipedia Ensiklopedia Bebas,

Perbankan Syariah,

(38)

Al-Qardhul Hasanatau Benevolent Loanadalah suatu pinjaman lunak yang diberikan atas dasar kewajiban sosial semata di mana si peminjam tidak menuntut untuk mengembalikan apapun kecuali modal pinjaman.25

Qardhul hasan menurut Kamus Popular Keuangan dan Ekonomi Syariah merupakan pinjaman kebajikan, suatu akad pinjam meminjam dengan ketentuan pihak yang menerima pinjaman tidak wajib mengembalikan dana apabila terjadiforce majeure.26

Al-qardhul hasan adalah perjanjian baru kepada pihak kedua dan pinjaman tersebut dikembalikan dengan jumlah yang sama (sebesar yang dipinjam). Pengembalian ditentukan dalam jangka waktu tertentu (sesuai dengan kesepakatan bersama) dalam pembayaran dilakukan secara angsuran maupun tunai.27

Pembiayaanqardhul hasanadalah pembiayaan berupa pinjaman tanpa dibebani biaya apapun bagi kaum dhu afa yang merupakan asnaf zakat/infak/sedekah/dan ingin mulai usaha kecil-kecilan.28

25 Karnaen Permataatmadja dan Muhammad Syafi i Antonio,

Apa dan Bagaimana Bank Islam(Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1992), h. 33.

26M. Nadratuzzaman Hosen dan Am. Hasan Ali,

Kamus Popular Keuangan dan Ekonomi Syariah(Jakarta: PKES, 2008), h. 74.

27M. Umer Chapra,

Al-Qur an Menurut Sistem Ekonomi Moneter yang Adil(Yogyakarta: PT.

Dana Bakti Prima Yasa, 1997) h. 40.

28Wirdyaningsih,

(39)

Al-qardhul hasan berarti pinjaman kebajikan dan lunak (soft and benevolent loan), di mana pinjaman tersebut tanpa adanya bunga pinjaman.

Al-qardhu (soft benevolent loan) adalah pemberian harta kepada orang lain yang dapat ditagih atau diminta kembali atau dengan kata lain meminjam tanpa mengharapkan imbalan. Dalam literatur fiqih klasik, al-qardh dikategorikan dalam akad tathawwu i atau akad saling membantu dan bukan transaksi sosial.29

Menurut istilah para ahli fikih, al-qardh adalah memberikan suatu harta kepada orang lain tanpa ada tambahan30seperti mengutang uang Rp. 2,-akan dibayar Rp. 2,- pula.31

Dalam qardhul hasan pada prinsipnya pinjaman yang baik, karena dana yang diberikan, diperuntukan kepada orang yang kurang mampu atau yang terlilit banyak utang dengan tujuan untuk usaha. Sehingga dana ini tidak perlu jaminan, dan tidak boleh mengambil manfaat atas pinjaman tersebut.

Dana ini dikembalikan sesuai dengan pokoknya, karena dana ini dikumpulkan dariinfaq, sedekah, zakat, dan sejenisnya.32

29 Muhammad Syafi i Antonio,

Bank Syariah dari Teori ke Praktek (Jakarta: PT. Gema

Insani, 2001), h. 131.

30Musthafa Dib Al-Bugha,

Buku Pintar Transaksi Syariah: Menjalin Kerja Sama Bisnis dan Menyelesaikan Sengketanya Berdasarkan Panduan Islam, terj. Fakhri Ghafur (Jakarta: Hikmah,

2010), h.51.

31Sulaiman Rasjid,

(40)

Sifat qardh yang tidak memberi keuntungan secara finansial (zero-return) tetapi didasari niat untuk membantu pihak yang membutuhkan (muqtaridh) sangat dianjurkan dalam Islam. Dengan qardh, peminjam hanya memiliki kewajiban mengembalikan sejumlah pokoknya saja--meski boleh saja memberikan kelebihan secara ikhlas sebagai tanda terima kasih.33

Dari berbagai pengertian di atas, penulis menarik kesimpulan bahwa al-qardhadalah akad tolong menolong dengan tidak memberikan keuntungan finansial untuk pemberi pinjaman, artinya peminjam mengembalikan pinjamannya sesuai dengan besarnya pinjaman yang diberikan di awal perjanjian tetapi boleh saja peminjam memberikan kelebihan dari pinjamannya selama tidak ditentukan di awal.

2. Dasar Hukum a. Al-Qur an

                ) : (

Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan dan menyedekahkan (sebagian

32 Forum diskusi dengan Masyarakat Ekonomi Syariah,

http://www.ekonomisyariah.org/?page=konsultasi-detail&command=detail-konsultasi&sheet=1&id1=47

33Taufik Hidayat,

(41)

atau semua utang) itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Q.S. Al-Baqarah: 280)

Apabila ada seseorang yang berada dalam situasi sulit, atau akan terjerumus dalam kesulitan bila membayar utangnya, tannguhkan penagihan sampai dia lapang. Jangan menagihnya jika kamu mengetahui dia sempit, apalagi memaksanya dengan sesuatu yang amat dia butuhkan. Yang menangguhkan itu pinjamannya dinilai sebagai qardh hasan, yakni pinjaman yang baik. Setiap detik ia mengangguhkan dan menahan diri untuk tidak menagih, setiap saat itu pula Allah memberinya ganjaran sehingga berlipat ganda ganjaran itu. Yang lebih baik dari yang meminjamkan adalah menyedekahkan sebagian atau semua hutang itu. Kalau demikian, jika kamu mengetahui bahwa hal tersebut lebih baik, bergegaslah meringankan yang berutang atau membebaskannya dari utang.34             ) : (

34 M. Quraish Shihab,

Tafsir Al-Mishbah Vol.1: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur an

(42)

Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak. (Q.S.Al-Hadiid:11)

Ayat ini menjelaskan hakikat infak yang dilakukan demi karena Allah. Ia adalah bagaikan memberi pinjaman kepada Allah yang pasti dibayar dengan berlipat ganda. Siapa yang menafkahkan secara ikhlas walau sebagian harta yang berada dalam genggaman tangannya, lalu sebagai imbalannya Allah akan melipatgandakan pembayaran dan balasannya dengan pelipatgandaan yang banyak mencapai tujuh ratus kali bahkan lebih untuknya di akhirat dan juga bisa jadi di dunia ini, dan baginya, di samping pelipatgandaan itu, pahala yang mulia, yakni menyenangkan dan memuaskannya.35

b. Hadits : : : : : : : :

35M. Quraish Shihab,

Tafsir Al-Mishbah Vol.13: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur an

(43)

: : ). ( 36

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalaf Al Asqalani berkata, telah menceritakan kepada kami Ya'la berkata, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Yasir dari Qais bin Rumi ia berkata, "Sulaiman bin Udzunan meminjami Alqamah seribu dirham sampai waktu yang telah ditentukan, ketika waktu yang telah ditentukan habis, Sulaiman meminta dan memaksa agar ia melunasinya, Alqamah pun membayarnya. Namun seakan-akan Alqamah marah hingga ia berdiam diri selama beberapa bulan. Kemudian Alqamah datang kembali kepadanya dan berkata, "Pinjami aku seribu dirham sampai batas waktu yang telah engkau berikan kepadaku dulu." Sulaiman menjawab, "Baiklah, dan dengan rasa hormat wahai Ummu Utbah, berikanlah kantung milikmu yang tertutup itu." Ia pun datang dengan membawa kantung tersebut, kemudian Sulaiman berkata, "Demi Allah, sesungguhnya itu adalah dirham-dirham milikmu yang pernah engkau bayarkan kepadaku, aku tidak merubah dirham itu sedikitpun." Alqamah berkata, "Demi Allah, apa yang mendorongmu melakukan ini kepadaku?" ia menjawab, "Karena sesuatu yang aku dengar darimu." Ia bertanya,

36Muhammad Ibn Yazid Abu Abdullah al-Qazwainiy,

Sunan Ibnu Majah, (Beirut: Dar

(44)

"Apa yang kamu dengar dariku?" ia menjawab, "Aku mendengarmu menyebutkan dari Ibnu Mas'ud berkata, "Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah seorang muslim memberi pinjaman kepada orang lain dua kali, kecuali seperti sedekahnya yang pertama." Ia berkata, "Seperti itu pula yang di beritakan Ibnu Mas'ud kepadaku." (HR. Ibnu Majah)

Hadits ini menyatakan sangat besar pahala yang diperoleh oleh seseorang yang memberikan pinjaman kepada orang yang memerlukan. Ibnu Ruslan berkata, Kita boleh berhutang kepada seseorang bila kita memerlukannya dan berhutang itu bukanlah suatu keburukan. Nabi Saw. sendiri pernah berhutang. 37

) ( : : : : , : ). . ( 38

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalaf Al Asqalani berkata, telah menceritakan kepada kami Ya'la berkata, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Yasir dari Qais bin Rumi ia

37Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy,

Koleksi Hadis-hadis Hukum Vol.7(Semarang:

PT. Pustaka Rizki Putra, 2001), h. 122-123.

38Muhammad Ibn Yazid Abu Abdullah al-Qazwainiy,

Sunan Ibnu Majah, (Beirut: Dar

(45)
(46)

Memberi hutang kepada seseorang di saat dia memerlukannya, lebih besar pahalanya dari pada memberi sedekah karena hutang hanya diperlukan oleh orang yang dalam kesempitan.39

3. Rukun dan Syarat Sah

Ada beberapa rukun yang harus dipenuhi dalam akad qardh ini. Apabila rukun tersebut tidak terpenuhi, maka akad qardh akan batal. Rukun qardhtersebut adalah40:

a. Pihak peminjam (muqtaridh) b. Pihak pemberi pinjaman (muqridh)

c. Dana (qardh)41atau barang yang dipinjam (muqtaradh)

d. Ijab qabul (sighat)

Sedangkan ada pula yang harus dipenuhi agarqardhmenjadi sah. Jika syarat ini tidak dipenuhi, maka qardh dianggap tidak sah dalam pelaksanaannya. Syarat sahqardhtersebut adalah:

a. Muqtaradh atau barang yang dipinjamkan harus barang yang memberi manfaat.

b. Akad qardh tidak dapat terlaksana kecuali dengan ijab dan qabul seperti halnya dalam jual beli.

39Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy,

Koleksi Hadis-hadis Hukum Vol.7(Semarang:

PT. Pustaka Rizki Putra, 2001), h. 123.

40Taufik Hidayat,

(47)

4. Hukum

Pada dasarnya hukum pinjam-meminjam (qardh) adalah sunnah (mandub) bagi orang yang meminjamkan dan mubah bagi orang yang meminjam. Ini adalah hukum al-qardh dalam situasi biasa. Terkadang ada situasi-situasi yang bisa mengubah hukumnya, bergantung pada sebab seseorang meminjam. Oleh karena itu, hukumnya bisa berubah sebagai berikut42:

a. Haram, apabila seseorang memberikan pinjaman, padahal dia mengetahui bahwa pinjaman tersebut akan digunakan untuk perbuatan haram, seperti untuk minumkhamar, judi, dan perbuatan haram lainnya.

b. Makruh, apabila yang memberi pinjaman mengetahui bahwa peminjam akan menggunakan hartanya bukan untuk kemaslahatan, tetapi untuk berfoya-foya dan menghambur-hamburkannya. Begitu juga jika peminjam mengetahui bahwa dirinya tidak akan sanggup mengembalikan pinjaman itu.

c. Wajib, apabila ia mengetahui bahwa peminjam membutuhkan harta untuk menafkahi diri, keluarga, dan kerabatnya sesuai dengan ukuran yang

42Musthafa Dib Al-Bugha,

Buku Pintar Transaksi Syariah: Menjalin Kerja Sama Bisnis dan Menyelesaikan Sengketanya Berdasarkan Panduan Islam, terj. Fakhri Ghafur (Jakarta: Hikmah,

(48)

disyariatkan, sedangkan peminjam itu tidak memiliki cara lain untuk mendapatkan nafkah itu selain dengan meminjam.

5. Fatwa DSN

Fatwa DSN MUI tentang Qardh (Fatwa Nomor 19/DSN-MUI/IV/2001 Tentang Qardh) merupakan satu-satunya fatwa DSN yang mengatur tentangqardhdengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut43:

Pertama: Ketentuan UmumQardh

a. Qardhadalah pinjaman yang diberikan kepada nasabah (muqtaridh) yang memerlukan.

b. Nasabah qardh wajib mengembalikan jumlah pokok yang diterima pada waktu yang telah disepakati bersama.

c. Biaya administrasi dibebankan kepada nasabah.

d. LKS (Lembaga Keuangan Syariah) dapat meminta jaminan kepada nasabah bilamana dipandang perlu.

e. Nasabah qardh dapat memberikan tambahan (sumbangan) dengan sukarela kepada LKS selama tidak diperjanjikan dalam akad.

43Rifqi Muhammad,

Akuntansi Keuangan Syariah (Yogyakarta: P3EI Press, 2010),

(49)

f. Jika nasabah tidak dapat mengembalikan sebagian atau seluruh kewajibannya pada saat yang telah disepakati dan LKS telah memastikan ketidakmampuannya, LKS dapat:

1) Memperpanjang jangka waktu pengembalian, atau

2) Menghapus (write off) sebagian atau seluruh kewajibannya.

Kedua : Sanksi

a. Dalam hal nasabah tidak menunjukkan keinginan mengembalikan sebagian atau seluruh kewajibannya dan bukan karena ketidakmampuannya, LKS dapat menjatuhkan sanksi kepada nasabah. b. Sanksi yang dijatuhkan kepada nasabah sebagaimana dimaksud butir 1

dapat berupa --dan tidak terbatas pada-- penjualan barang jaminan.

c. Jika barang jaminan tidak mencukupi, nasabah tetap harus memenuhi kewajibannya secara penuh.

Ketiga : Sumber Dana

a. Bagian modal LKS.

b. Keuntungan LKS yang disisihkan.

(50)
[image:50.612.202.481.238.371.2]

6. Skema

Gambar 2.1

Skema PelaksanaanAl-Qardh

Sumber: Abdul Gofur padaSlideSeminar Perbankan Syariah

C. Baitul Maal wat-Tamwil 1. Pengertian

Istilah BMT adalah penggabungan daribaitul maal dan baitul tamwil. Baitul maaladalah lembaga keuangan yang kegiatannya mengelola dana yang bersifat nirlaba (sosial). Sumber dana diperoleh dari zakat, infak, dan sedekah. Kemudian dana tersebut disalurkan kepada mustahik, yang berhak, atau untuk kebaikan. Adapunbaitul tamwiladalah lembaga keuangan yang kegiatannya 6. Skema

Gambar 2.1

Skema PelaksanaanAl-Qardh

Sumber: Abdul Gofur padaSlideSeminar Perbankan Syariah

C. Baitul Maal wat-Tamwil 1. Pengertian

Istilah BMT adalah penggabungan daribaitul maal danbaitul tamwil. Baitul maaladalah lembaga keuangan yang kegiatannya mengelola dana yang bersifat nirlaba (sosial). Sumber dana diperoleh dari zakat, infak, dan sedekah. Kemudian dana tersebut disalurkan kepada mustahik, yang berhak, atau untuk kebaikan. Adapunbaitul tamwiladalah lembaga keuangan yang kegiatannya 6. Skema

Gambar 2.1

Skema PelaksanaanAl-Qardh

Sumber: Abdul Gofur padaSlideSeminar Perbankan Syariah

C. Baitul Maal wat-Tamwil 1. Pengertian

(51)

adalah menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat dan bersifat profit motive.44

Dengan demikian, BMT menggabungkan dua kegiatan yang berbeda sifatnya, laba dan nirbala, dalam satu lembaga. Namun, secara operasional BMT tetap merupakan entitas (badan) yang terpisah. Dalam perkembangannya, selain bergerak di bidang keuangan, BMT juga melakukan kegiatan di sektor riil. Sehingga ada tiga jenis aktivitas yang dijalankan BMT, yaitu jasa keuangan; sosial atau pengelolaan zakat, infak, dan sedekah (ZIS); serta sektor riil.45

2. Prinsip

Prinsip pembangunan BMT didasarkan pada cara pandang holistik, yaitu cara pandang yang diajarkan oleh Al-Qur an. Prinsip yang lebih terperinci adalah46:

a. Kemiskinan yang melanda rakyat Indonesia bukan hanya keminsikan ekonomi atau materi tetapi juag kemiskinan non-materi, khususnya kemiskinan spiritual. Dengan kata lain, BMT adalah suatu pusat

44Hertanto Widodo, dkk.,

PAS (Pedoman Akuntansi Syariat): Panduan Praktis Operasional

Baitul Mal Wat Tamwil (BMT) (Bandung: Mizan, 2000), h.81. 45

Ibid. h.81-82. 46PINBUK,

(52)

pengajian, pusat untuk belajar, mengamalkan, dan mendalami ajaran-ajaran agama, selain unit usaha ekonomi yang mengupayakan materi para anggotanya.

b. Kemiskinan yang melanda rakyat Indonesia bukanlah utamanya akibat dari tindakan orang-orang miskin tersebut. Oleh karena itu, dalam mengatasi kemiskinan, maka orang-orang yang lebih mampu perlu turut serta berpartisipasi, meyumbangkan apa yang mampu disumbangkan untuk mengatasi kemiskinan.

c. Prinsip organisasi yang terintegrasi. Prinsip terintegrasi ini juga berarti keterkaitan upaya mengatasi kemiskinan lewat BMT dengan upaya yang lebih atas dan makro di daerah tingkat dua, daerah tingkat satu, dan pusat. d. Prinsip kemandirian. Prinsip percaya diri dikembangkan baik dari segi

ajaran maupun pelaksanaan.

(53)

3. Kegiatan

Secara umum, kegiatan BMT dapat dikelompokkan menjadi beberapa sektor, yaitu47:

a. Jasa Keuangan

Kegiatan jasa keuangan yang dikembangkan oleh BMT berupa penghimpunan dana dan menyalurkannya melalui kegiatan pembiayaan dari dan untuk anggota atau non-anggota. Kegiatan ini dapat disamakan secara operasional dengan kegiatan simpan pinjam dalam koperasi atau kegiatan perbankan secara umum.

1) Penghimpunan Dana

Penghimpunan dana oleh BMT diperoleh melalui simpanan, yaitu dana yang dipercayakan oleh nasabah kepada BMT untuk disalurkan ke sektor produktif dalam bentuk pembiayaan. Simpanan ini dapat berbentuk tabungan wadi ah, simpanan mudharabah jangka pendek dan jangka panjang.

47Hertanto Widodo, dkk.,

PAS (Pedoman Akuntansi Syariat): Panduan Praktis Operasional

(54)

2) Penyaluran Dana

Penyaluran dana BMT kepada nasabah terdiri atas dua jenis: pertama, pembiayaan dengan sistem bagi hasil, dan kedua, jual beli dengan pembayaran ditangguhkan.

b. Sektor Riil48

Pada dasarnya, kegiatan sektor riil juga merupakan bentuk penyaluran dana BMT. Namun, berbeda dengan kegiatan sektor jasa keuangan yang penyalurannya berjangka waktu tertentu, penyaluran dana pada sektor riil bersifat permanen atau jangka panjang dan terdapat unsur kepemilikan di dalamnya. Penyaluran dana ini selanjutnya disebut investasi atau penyertaan.

c. Sosial (Zakat, Infak, dan Sedekah)49

Kegiatan pada sektor ini adalah pengelolaan zakat, infak, dan sedekah, baik berasal dari Dompet Dhuafa maupun yang berhasil dihimpun sendiri oleh BMT. Sektor ini merupakan salah satu kekuatan BMT karena juga berperan dalam pembinaan agama bagi para nasabah sektor jasa keuangan BMT. Dengan demikian, pemberdayaan yang

48

Ibid. h. 83. 49

(55)

dilakukan BMT tidak terbatas pada sisi ekonomi, tetapi juga dalam hal agama.

Jenis-jenis usaha BMT sebenarnya dimodifikasi dari produk perbankan Islam. Oleh karena itu, usaha BMT dapat dibagi kepada dua bagian utama, yaitu memobilisasi simpanan dari anggota dan usaha pembiayaan. Bentuk dari usaha memobilisasi simpanan dari anggota dan jamaah itu antara lain berupa50:

a. SimpananMudharabahBiasa b. SimpananMudharabahPendidikan c. SimpananMudharabahHaji d. SimpananMudharabahUmrah e. SimpananMudharabahQurban f. SimpananMudharabahIdul Fitri g. SimpananMudharabah Walimah h. SimpananMudharabahAkikah i. SimpananMudharabahPerumahan

j. SimpananMudharabahKunjungan Wisata k. Titipan Zakat, Infaq, dan Shadaqah (ZIS)

50 A. Djazuli dan Yadi Janwari,

(56)

l. Produk simpanan lainnya yang dikembangkan sesuai dengan lingkungan di mana BMT itu berada.

Sedangkan jenis usaha pembiayaan BMT lebih diarahkan pada pembiayaan usaha mikro, kecil bawah, dan bawah. Di antara usaha pembiayaan tersebut adalah51:

a. PembiayaanMudharabah b. PembiayaanMusyarakah c. PembiayaanMurabahah

d. PembiayaanAl-Bai Bithaman Ajil e. Al-Qardhul Hasan

Pada awal perkembangannya, BMT memang tidak memiliki badan hukum resmi. Dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia, yang memungkinkan penerapan sistem operasi bagi hasil adalah perbankan dan koperasi. Saat ini, oleh lembaga-lembaga Pembina BMT yang ada, BMT diarahkan untuk berbadan hukum koperasi mengingat BMT berkembang dari kelompok swadaya masyarakat. Selain itu, dengan berbentuk koperasi, BMT dapat berkembang ke berbagai sektor usaha seperti keuangan dan sektor riil. Bentuk ini juga diharapkan dapat memenuhi tujuan memberdayakan

51

(57)

masyarakat luas, sehingga kepemilikan kolektif BMT sebagaimana konsep koperasi akan lebih mengenai sasaran.52

Untuk sumber permodalan tidak ada bedanya dengan koperasi konvensional terutama dari partisipasi anggota. Adapun jika bersumber dari bank atau lembaga keuangan nonbank lainnya tidak dapat digunakan pola konvensional tetapi harus dengan akad syariah. Pengaturan yang berbeda juga dalam hal besarnya modal yang disetor pada koperasi syariah ada pembatasan sedangkan dalam Undang-undang Perkoperasian tidak dijelaskan dan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga (ART) koperasi, artinya sesuai kesepakatan anggota. Besarnya modal ditetapkan sekurang-kurangnya sebagai berikut53:

a. Rp 15.000.000,00 (lima belas juta rupiah) untuk Koperasi Jasa Keuangan Syariah/Unit Jasa Keuangan Syariah Koperasi Primer.

b. Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) untuk Koperasi Jasa Keuangan Syariah/Unit Jasa Keuangan Syariah Koperasi Sekunder.

c. Modal yang disetor pada awal pendirian Koperasi Jasa Keuangan Syariah dapat berupa simpanan pokok, simpanan wajib, dan dapat ditambah dengan hibah, modal penyertaan, dan simpanan pokok khusus.

52Hertanto Widodo, dkk.,

PAS (Pedoman Akuntansi Syariat): Panduan Praktis Operasional

Baitul Mal Wat Tamwil (BMT) (Bandung: Mizan, 2000), h.85. 53Euis Amalia,

(58)

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan lokasi kantor BMT, yaitu54:

a. Lokasinya strategis, yakni lokasi berdekatan dengan pusat perdagangan, usaha-usaha industri kecil dan rumah tangga, dan usaha ekonomi lainnya. b. Berdekatan dengan masjid atau mushala karena BMT mengadakan

pengajian rutin dan pertemuan bisnis. 4. Ciri-ciri

Secara umum, ciri-ciri BMT dapat dijelaskan sebagai berikut55:

a. Usahanya dimaksud untuk mendorong sikap dan perilaku menabung dari masyarakat banyak dengan menerima simpanan atas dasar balas jasa berdasarkan bagi hasil.

b. Pengelolaannya secara profesional persis mengikuti administrasi pembukuan dan prosedur perbankan (namun bukan lembaga perbankan) dengan kekecualian tidak mengharuskan pakai jaminan uang atau harta benda untuk jumlah pinjaman yang kecil.

c. Modal awal untuk mendirikan BMT, lebih kurang Rp 5.000.000 sampai dengan Rp 10.000.000 (lebih besar tentu lebih baik) ditambah dengan fasilitas sarana sekitar Rp 1.000.000 sampai dengan Rp 1.500.000.

54 A. Djazuli dan Yadi Janwari,

Lembaga-lembaga Perekonomian Umat (Sebuah Pengenalan)(Jakarta: Rajawali Pers, 2002), h.187-188.

55PINBUK,

(59)

d. Pendiri sebagai anggota inti. Terdapat sekelompok orang (20 sampai 40 orang) di sekitar lokasi tempat didirikan BMT yang menjadi anggota inti yang diharapkan bersedia urunan modal awal yang diangsur dalam satu atau beberapa kali.

e. Biaya operasional sangat rendah, antara lain karena kecilnya jumlah staf dan dapat beroperasi pada kondisi yang tidak mewah.

f. Jaminannya adalah dengan mengutamakan kepercayaan, tokoh setempat dan/atau tanggung renteng, saling kenal karena daerah operasinya tidak terlalu luas.

g. Mitra operasi, terintegrasi dengan lembaga lokal.

Selain ciri utama di atas, BMT juga memiliki ciri khas sebagai berikut56:

a. Staff dan karyawan BMT bertindak aktif, dinamis, berpandangan produktif, tidak menunggu tetapi menjemput nasabah, baik sebagai penyetor dana maupun sebagai penerima pembiayaan usaha.

b. Kantor dibuka dalam waktu tertentu dan ditunggui oleh sejumlah staf yang terbatas, karena sebagian besar staf harus bergerak di lapangan untuk

56 A. Djazuli dan Yadi Janwari,

(60)

mendapatkan nasabah penyetor dana, memonitor, dan mensupervisi usaha nasabah.

c. BMT mengadakan pengajian rutin secara berkala yang waktu dan tempatnya (biasanya di madrasah, masjid atau mushala) ditentukan sesuai dengan kegiatan nasabah dan anggota BMT. Setelah pengajian biasanya dilanjutkan dengan perbincangan bisnis dari para nasabah BMT.

d. Manajemen BMT diselenggarakan secara professional dan Islami.

BMT, dilihat dari fungsinya merupakan lembaga intermediasi keuangan antara pemilik dana dan peminjam. BMT beroperasi berlandaskan prinsip-prinsip ekonomi Islam yang pada intinya menerapkan bahwa dana pada dasarnya merupakan salah satu alat produksi untuk meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan kesejahteraan orang per-orang, BMT tumbuh dari keinginan dan prakarsa masyarakat sendiri, sehingga BMT merupakan salah satu jenis Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang bekerja dari, oleh, dan untuk anggota. Dengan demikian, pada hakekatnya BMT bekerja dalam lingkup terbatas pada anggota-anggotanya.57

57

(61)

5. Keunggulan

Dalam memberdayakan pengusaha kecil dan kecil-bawah serta kaum dhu afa, BMT mempunyai beberapa keunggulan58:

a. Pemilihan sistem syariah sebagai syarat pokok pelasksanaan BMT mempunyai kekuatan dalam masyarakat Islam.

b. Sistem manajemen dan pembukuan BMT yang mengadopsi manajemen modern.

c. Hubungan pemodal dan pengusaha yang saling asah, asih, dan asuh. Bantuan BMT tidak hanya terbatas pada permodalan, tetapi juga bimbingan dan penyuluhan.

d. Pembiayaan bertujuan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Pengarahan dan pendidikan penggunaan pendapatan perlu dilakukan sejak diniyakni sejak merumuskan kelayakan usaha dan kelayakan pembiayaan. Ketika pengelola BMT harus mengarahkan agar pengusaha kecil membuat perencanaan penggunaan keuntungan tersebut secara baik dan benar. e. Kegiatan menabung sebagai indikator keberhasilan. Ini juga menjadi

indikator kemampuan masyarakat membuat perencanaan hidupnya.

f. Pembinaan keagamaan. Sebagai lembaga perekonomian Islam, BMT tidak hanya melakukan pengembangan usaha, tapi juga melakukan pembinaan

58

(62)

keagamaan terutama yang menyangkut akhlakul karimah, etika pengusaha muslim, dan hubungan muamalah secara Islami.

g. Pengembangan usaha kecil bertumpu pada pengetahuan dan keterampilan masyarakat setempat. BMT secara sistematis telah mendistribusikan pengetahuan dan keterampilan pada anggota masyarakat.

(63)

PROFIL BMT UMJ, CIPUTAT

A. Sejarah Singkat

Pendirian Koperasi BMT-UMJ diawali dengan rapat pembentukan oleh 36 (tiga puluh enam) orang sekitar awal bulan April 2008. Selanjutnya, Akta Pendirian Koperasi BMT UMJ dengan nomor 69 diterbitkan tanggal 14 April 2008 oleh Notaris yang ditunjuk Kementerian Koperasi dan UKM. Setelah itu, Kementerian Koperasi dan UKM, mengesahkan Akta Pendirian dan sekaligus memberikan nomor badan hukum : 770/BH/Meneg/.I/VI/2008 pada tanggal 6 Juni 2008.59

Dalam rangka mempersiapkan operasional BMT UMJ, pada awal bulan Mei 2008, selama sebulan penuh tiga orang calon karyawan terseleksi telah melaksanakan proses magang di BMT Mujahidin dan BMT Al-Munawarah. Kemudian, BMT UMJ memulai kegiatan operasionalnya pada awal Juni 2008. Saat ini, BMT UMJ menempati ruangan seluas kurang lebih 12 m2di lantai dasar

samping gedung Rektorat UMJ, dengan alamat di Jalan KH. Ahmad Dahlan, Komplek Kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta, Ciputat. Perangkat kerja

59

Company ProfileBMT UMJ, h. 1.

(64)

cukup tersedia, mulai dari blanko/formulir untuk berbagai jenis transaksi sesuai produk yang akan ditawarkan, brankas, tiga buah komputer, dan dua buah printer.

Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, modal BMT UMJ terdiri atas modal sendiri dan modal luar. Modal sendiri terbagi atas simpanan pokok, simpanan wajib, cadangan, donasi, dan hibah. Modal luar atau modal pinjaman berasal dari anggota, anggota luar biasa, calon anggota, koperasi lain, lembaga keuangan (bank dan nonbank) dan sumber-sumber lain yang sah.

Per tanggal 18 Juni 2008, permodalan BMT UMJ yang tersedia adalah sebesar Rp 117 juta. Permodalan dimaksud terdiri atas modal sendiri yang berasal dari simpanan pokok 10 orang anggota/pendiri sebesar Rp 42 juta dan modal pinjaman dalam bentuk modal penyertaan sebesar Rp 75 juta yang berasal dari empat orang anggota/pendiri.

(65)

B. Visi dan Misi 1. Visi60

Membangun Koperasi Serba Usaha terkemuka, modern, dan Islami dalam mengembangkan ekonomi rakyat.

2. Misi61

a. Menigkatkan kualitas sumber daya insani yang bermartabat dan mandiri. b. Memperjuangkan peningkatan harkat sosial ekonomi anggota dan

karyawan koperasi serta masyarakat.

c. Mengelola portofolio bisnis anggota dengan semangat kekeluargaan dan berdaya saing.

d. Menjadi media efektif dalam membangun silaturahmi sesama anggota KSU BMT UMJ dan para pihak yang terkait.

C. Produk Layanan

1. Penghimpunan Dana62

a. Tabungan Makkah (Manfaat Penuh Berkah) 1) Simapan (Simpanan Masa Depan)

60

Ibid, h. 2. 61

Ibid, h. 2. 62

(66)

Produk ini merupakan tabungan dengan prinsip mudharabah mutlaqah yang penarikannya dapat dilakukan selama jam buka kas di kantor BMT UMJ.

2) Sahara (Simpanan Hari Raya)

Produk ini adalah simpanan yang direncanakan untuk keperluan Idul Fitri dengan prinsip mudharabah mutlaqah. Penarikan hanya dapat dilakukan satu kali menjelang Idul Fitri.

3) Sapitri (Simpanan Pendidikan Putra-putri)

Simpanan ini adalah bentuk simpanan yang alokasi dananya diperuntukkan dana pendidikan bagi putra-putri mitra. Penarikan dapat dilakukan dua kali, yaitu pada saat ajaran baru dan semester kedua di tahun ajaran yang sama. Simpanan ini menggunakan prinsip mudharabah mutlaqah.

4) Tafaqur (Tabungan Fasilitas Qurban)

(67)

b. Deposito Madani

Produk ini adalah produk dengan tujuan investasi dengan jangka waktu yang bermacam, yaitu 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan dengan prinsipmudharabah.

2. Penyaluran Dana a. Jual Beli63

1) Murabahah

Piutang murabahah akad jual beli barang antara mitra dengan BMT dengan menyatakan harga perolehan/harga beli/ harga pokok ditambah keuntungan/margin yang disepakati kedua belah pihak. BMT membelikan barang-barang yang dibutuhkan mitra atau BMT memberi kuasa kepada mitra untuk membeli barang-barang kebutuhan mitra atas nama BMT. Lalu barang tersebut dijual kepada mitra dengan harga pokok ditambah dengan keuntungan yang diketahui dan disepakati bersama dan diangsur selama jangka waktu tertentu.

63

(68)

b. Sewa Jasa64

1) IjarahMultijasa

Akad sewa menyewa barang atau jasa antara BMT dan mitra. BMT menyewakan jasa atau barang kepada mitra dengan harga sewa yang telah disepakati dan diangsur selama jangka waktu tertentu.

c. Kerjasama65 1) Mudharabah

Akad kerjasama antara BMT selaku pemilik modal (shahibul maal) dengan mitra selaku pengelola usaha (mudharib) untuk mengelola usaha yang produktif dan halal. Dan hasil keuntungan dibagi sesuai dengan nisbah yang disepakati kedua belah pihak.

2) Musyarakah

Akad kerjasama usaha produktif dan halal antara BMT dengan mitra di mana sumber modalnya dari kedua belah pihak. Keuntungan dibagi sesuai dengan nisbah yang disepakati kedua belah pihak. Sedangkan kerugian ditanggung kedua belah Pihak sesuai dengan porsi modal masing-masing.

64

Ibid, h. 5. 65

(69)

d. Pinjaman Kebajikan66 1) Al-Qardh

Akad pinjaman dari BMT dengan tujuan sosial yang wajib dikembalikan dengan jumlah pinjaman pokoknya tanpa adanya tambahan.

2) Hiwalah

Akad pengalihan hutang nasabah kepada BMT dari nasabah yang lain.

D. Struktur Organisasi dan Pengelola 1. Struktur Organisasi67

a. Dewan Syariah

1) Ketua : Drs. Muchtar Lutfi, S.H. 2) Anggota : Prof. Dr. Hj. Masyitoh, M.Ag.

Prof. Dr. Sri Mulyani Soegiono Drs. Fakhrurazi Reno S., M.A. b. Pengawas

1) Ketua : Prof. Dr. Ir. Suhendar S., M.Si. 2) Anggota : Ir. Soebroto H.S., M.Si.

66

Ibid, h. 5. 67

(70)

Dr. Burhanuddin R., M.A. c. Pengurus

1) Ketua : Dr. Nur Hidayah, S.E., M.M.

2) Sekretaris : Nur Azis Hakim, S.H., M.M., M.Kn. 3) Bendahara : Iskandar Zulkarnain, S.E., M.M.

2. Pengelola68

68

Ibid, h. 4.

Direktur Utama Dina Febriani, S.E., M.M.

Manager Marketing Mukhtiar, S.E.I.

Manager Sektor Riil Juliana Veronica, S.E. Saff: Syaiful Bahri, S.E.Sy.

(71)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Strategi Penghimpunan DanaAl-Qardh

BMT UMJ memiliki misi memperjuangkan peningkatan harkat sosial ekonomi anggota dan karyawan koperasi serta masyarakat. Dari misi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan keberadaan BMT UMJ ini tentu saja ingin melibatkan masyarakat sekitar kantor operasional, tidak hanya cakupan kampus saja. Hal ini sejalan dengan data mengenai jumlah anggota inti dan anggota bukan inti. Anggota inti yang juga merupakan pendiri BMT tercatat sejumlah 10 orang, sedangkan anggota bukan inti lebih dari 50 orang. Untuk Pinjaman Kebajikan (Al-Qardh) sendiri, anggota bukan inti pada tahun 2012 tercatat sebanyak 20 orang yang merupakan pengusaha-pengusaha mikro (masyarakat luar kampus).

Produk Al-Qardh adalah produk yang bersifat sosial, artinya BMT UMJ semata-mata memperjuangkan peningkatan ekonomi untuk pengusaha

(72)

mikro yang tidak memiliki kecukupan modal untuk mengembangkan usahanya tanpa adanya keuntungan bagi BMT UMJ sendiri karena nasabah hanya mengembalikan sebesar pinjamannya.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, sumber dana Al-Qardh terdiri atas beberapa macam. Pertama, sumber yang berasal dari baitul maal, yaitu infaq wajib yang dikenakan kepada setiap anggota yang dibayarkan setiap kali anggota tersebut membayar angsuran kepada BMT. Sumber kedua adalah dari penyisihan dari Sisa Hasil Usaha (SHU) setiap tahun. Sumber lainnya adalah dari dana hibah yang diberikan oleh Kementrian Koperasi maupun dari donatur lain yang ingin menghibahkan dananya. Selain itu, ada dana yang bersumber dari kegiatan-kegiatan Ramadhan, artinya BMT menyisihkan sebagian dana untuk dimasukkan kebaitul maal.

(73)

khusus, seperti Ramadhan, BMT melakukan kegiatan sembako murah dengan harga yang sangat rendah.

[image:73.612.100.545.355.589.2]

Dari penelitian yang dilakukan, berikut adalah tabel penghimpunan dana BMT untuk sisibaitul maaldanbaitul tamwil.

Tabel 4.1

Penghimpunan Dana BMT UMJ Periode 2010-201269

Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012

Mudharabah Rp 452.500.000,00 Rp 691.890.000,00 Rp 405.395.000,00

Musyarakah Rp 109.000.000,00 Rp 2.500.000,00 Rp

-Murabahah Rp 749.837.631,00 Rp 1.791.852.861,00 Rp 1.718.895.422,00

Al-Qardh Rp 17.886.081,00 Rp 15.719.047,00 Rp 64.029.017,50

Total Rp 1.329.223.712,00 Rp 2.501.961.908,00 Rp 2.188.319.439,50

Sumber:Company ProfileBMT UMJ dan neraca yang telah diolah

Dari data di atas, diketahui total penghimpunan dana pada tahun 2010 adalah Rp 1.329.223.712,00, tahun 2011 sebesar Rp 2.501.961.908,00, dan

69

(74)
[image:74.612.135.505.372.545.2]

pada tahun 2012 terhimpun sebesar Rp 2.188.319.439,50. Untuk dana al-qardh, diketahui terhimpun sebesar Rp 17.886.081,00 pada tahun 2010, Rp 15.719.047,00 pada tahun 2011, dan Rp 64.029.017,50 pada tahun 2012. Jika dipersentasekan, maka penghimpunan dana pada setiap akad adalah seperti di bawah ini.

Tabel 4.2

Persentase Penghimpunan Dana BMT UMJ Periode 2010-2012

Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012

Mudharabah 34% 28% 19%

Musyarakah 8% 0% 0%

Murabahah 56% 72% 79%

Al-Qardh 1% 1% 3%

Total 100% 100% 100%

(75)
[image:75.612.139.503.221.446.2]

Gambar 4.1

Pertumbuhan Penghimpunan Dana BMT UMJ Periode 2010-2012

Dari Gambar 4.1 dapat diketahui bahwa terjadi penurunan sedikit pada penghimpunan dana Al-Qardh dari tahun 2010-2011. Kemudian terjadi kenaikan pada tahun 2011-2012.

2. Optimalisasi Dana pada Pinjam

Gambar

Gambar 2.1Gambar 2.1Gambar 2.1
Tabel 4.1
Tabel 4.2Persentase Penghimpunan Dana BMT UMJ Periode 2010-2012
Gambar 4.1Pertumbuhan Penghimpunan Dana BMT UMJ Periode 2010-2012
+7

Referensi

Dokumen terkait

Untuk melihat besarnya pengaruh variabel kecerdasan spiritual dan kepuasan kerja secara parsial terhadap komitmen organisasi digunakan Uji t, sedangkan untuk melihat

merencanakan desain disposal berdasarkan geometri lereng yang aman, lokasi yang sesuai, dan jumlah overburden hasil kegiatan penambangan pit 5 tahunan, dan merencanakan

Benda akan melayang jika gaya Benda akan melayang jika gaya angkat maksimum yang dialami angkat maksimum yang dialami benda sama dengan berat benda.. Hukum

Dari selisih data (point) yang telah didapat maka dapat diambil kesimpulan untuk short circuit turn 1 pada fasa R-Ground pada gambar 4.17 perubahan selisih

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang mantap antara persepsi brand image dengan keputusan pembelian ulang oleh subscribers Majalah Kawanku Kata Kunci

Terdapat motivasi, perepsi, pengetahuan dan sikap berpengaruh secara parsial terhadap keputusan pembelian dengan nilai t_uji pada dapat diketahui bahwa semua

Genotip memberikan perbedaan penampilan pada karakter tinggi tanaman, tinggi dikotomus, panjang daun, lebar daun, lebar tajuk, diameter buah, bobot per buah, bobot buah

Hal ini mendukung studi yang dilakukan oleh Wilson (1988) yang mengemukakan bahwa software yang didesain dengan pemikiran mendalam dapat menghadirkan banyak hal,