ANALISIS DETERMINAN PENDAPATAN
PETANI JAGUNG
DI KECAMATAN TIGABINANGA
TESIS
Oleh
INGANTA TARIGAN
087018029/EP
S
E K O L AH
P A
S C
A S A R JA
NA
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ANALISIS DETERMINAN PENDAPATAN
PETANI JAGUNG
DI KECAMATAN TIGABINANGA
TESIS
Untuk Memperoleh Gelar Magister Sains
dalam Program Studi Magister Ilmu Ekonomi Pembangunan pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
Oleh
INGANTA TARIGAN
087018029/EP
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Judul Tesis : ANALISIS DETERMINAN PENDAPATAN PETANI JAGUNG DI KECAMATAN TIGABINANGA
Nama Mahasiswa : INGANTA TARIGAN Nomor Pokok : 087018029
Program Studi : Ekonomi Pembangunan
Menyetujui, Komisi Pembimbing
(Dr. Rahmanta, M.Si) (Drs. Rahmat Sumanjaya, MSi) Ketua Anggota
Ketua Program Studi Direktur
(Prof. Dr. Sya’ad Afifuddin, M.Ec.) (Prof.Dr.Ir.A.Rahim Matondang,MSIE)
Telah diuji pada
Tanggal : 11 Agustus 2011
PANITIA PENGUJI TESIS:
Ketua : Dr. Rahmanta, M.Si
Anggota : 1. Drs. Rahmat Sumanjaya, MSi 2. Prof. Dr. Sya’ad Afifuddin, M.Ec
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul :
“ANALISIS DETERMINAN PENDAPATAN PETANI JAGUNG DI
KECAMATAN TIGABINANGA “
Adalah benar hasil karya saya sendiri dan belum pernah dipublikasikan oleh siapapun
sebelumnya. Sumber – sumber data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan
secara benar dan jelas.
Medan, September 2011
Yang membuat pernyataan
ABSTRAK
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh luas lahan,benih,pupuk dan
tenaga kerja terhadap pendapatan petani jagung di Kecamatan Tigabinanga Kabupaten
Karo.
Data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang dikumpulkan
dari lapangan. Teknik sampling yang digunakan adalah Simple Random Sampling dengan
mengambil 100 responden dari total populasi petani jagung yang tersebar di kecamatan
Tigabinanga. Model yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah model ekonometrika
dan menggunakan metoda Ordinary Least Square (OLS).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai koefisien determinasi (R²) untuk semua
variabel seperti luas lahan, jumlah benih,jumlah pupuk dan jumlah tenaga kerja dapat
menjelaskan semua variasi dalam pendapatan yang diterima oleh petani sebesar 77.1%
sementara 22.9% tidak dijelaskan didalam model. Kemudian uji serempak (F Test)
menunjukkan bahwa semua variabel independent dapat mempengaruhi Variabel terikat
(Dependent Variable) secara signifikan. Hasil secara parsial menunjukkan bahwa
variabel luas lahan dan jumlah tenaga kerja secara signifikan berpengaruh terhadap
pendapatan yang diterima oleh petani pada α= 5% sementara jumlah benih dan jumlah
pupuk tidak signifikan.
Kata Kunci : Luas lahan, jumlah benih, jumlah pupuk, jumlah tenaga kerja dan
ABSTRACT
The main objective of this study is to the analyze influence of land acreage,seed of
corn,fertilizer,employer on income of farmers in the village of Tigabinanga in Karo
Regency.
Data used in this research is primary data which collected from the field. Sampling
thecnique used is simple random sampling by taking 100 respondents from total
population of small farmers which spread all over district of Tigabinanga. The model
used in this research is econometric model and the method applied is Ordinary Least
Square (OLS).
The result shows that coefficient determination (R2) indicates that all variables
such as land acreage,seed of corn, fertilizer and employer can describe all variation in
income received by small scale farmers as amount of 77.1 percent, meanwhile 22.9
percent which are determined by other variables that are not include in this
model/research. Therefore, the F-test (all over test) indicates that all independent
variables can influence on the dependent variable significantly.The partial result shows
that land acreage and employe significantly influence on total income of farmer at α =
5 % level. Meanwhile the seed of corn, fertilizer are not significant.
Key word : variables land acreage,seed of corn, fertilizer,employer and income of
farmer
Haleluya…….! Segala puji,hormat dan juga syukur disampaikan kepada Bapa di
dalam nama Yesus Kristus. Pencipta langit dan bumi serta isinya, baik yang kelihatan
maupun yang tidak kelihatan, dan semua yang diciptakanNya baik, Allah yang berkuasa
di surga dan di bumi dan Dia Allah yang sangat baik, masa depan dan damai sejahtera
ada di tanganNya, terima kasih Tuhan Yesus, Allah yang kepadaNya penulis percaya,
aku mengasihiMu sampai selama-lamanya, Heleluya…………Amin.
Dalam mengikuti pendidikan Program Pascasarjana, banyak pihak yang telah
memberikan motivasi, bimbingan dan bantuan oleh karena itu penulis mengucapkan
terima kasih kepada:
1. Bapak Prof.Dr.dr.Syahril Pasaribu.DTM&H,MSc(CTM),Sp.A(K)selaku
Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof.Dr.Ir.A.Rahim Matondang,MSIE selaku Direktur Program
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Prof. Dr. Sya’ad Afifuddin, M.Ec selaku Ketua Program Pascasarjana
Ekonomi Pembangunan Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Dr.Rahmanta,M.Si sebagai Pembimbing I, Bapak Drs. Rahmat
Sumanjaya, MSi sebagai Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan
dan diskusi dari proposal sampai penyempurnaan tesis ini.
5. Ibu Dr. Murni Daulay, SE, MSi yang sangat membantu , memberikan
masukan yang berarti, memberikan illustrasi yang bermanfaat dalam
membuka wacana cara berpikir dan bertindak seperti “ Modal Pengusaha
7. Para dosen penanggungjawab mata kuliah program Pascasarjana Ekonomi
Pembangunan Universitas Sumatera Utara
8. Ibu Ir. Nomi Sinuhaji selaku Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan
Pemerintah Kabupaten Karo yang sangat koorperatif dalam penelitian ini
guna membangun Kabupaten Karo.
9. Kedua Orang tua yang mendukung pendidikan ini.
10.Abangda Ir.J.I Tarigan sekeluarga.
11.Liasta Rasmenda Sebayang, istri tercinta yang banyak memberikan semangat
dalam menyelesaikan pendidikan Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
12.Debora Gloria br Tarigan, Esther Gloria ananda tersayang yang turut
membantu dalam penyelesaian tesis ini.
13.Dwisan Riyando Purba, SE, sekeluarga yang memberikan semangat dari
wilayah barat Papua.
14.Kristen Vernandos Bukit, ST sekeluarga yang tetap memberikan semangat.
15.Rekan mahasiswa
Tesis ini jauh dari sempurna, saran dalam penyempurnaan diterima dengan rendah
hati dan semoga bermanfaat.
Medan, September 2011
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
1. Nama : Inganta Tarigan
2. Tempat/Tanggal Lahir : Medan, 28 Juli 1967
3. Pekerjaan : Petani
4. Alamat : Desa Keriahen Kecamatan Juhar
Kabupaten Karo.
5. Nama Orang Tua
Ayah : May.Purn H.Tarigan
Ibu : T.br Sembiring
6. Istri : Liasta Rasmenda br. Sebayang
7. Anak : Debora Gloria br Tarigan
Esther Gloria br Tarigan
8. Pendidikan
a. SD Riama Medan : Lulus Tahun 1980
b. SMP N 13 Medan : Lulus Tahun 1983
c. SMA N 2 Medan : Lulus Tahun 1986
d. UPN ‘Veteran Yogyakarta : Lulus Tahun 1993
DAFTAR ISI
2.1.1. Faktor-faktor Produksi Usahatani Jagung... ... 7
2.1.2. Fungsi Produksi ... ... 7
2.1.3. Produksi Mencerminkan Tingkat Pendapatan ... ... 9
2.1.4. Pendapatan ... ... 9
2.1.4.1. Luas Lahan... ... 10
2.1.4.2. Benih... ... 10
2.1.4.3. Pupuk ... ... 11
2.1.4.4. Tenaga Kerja... ... 11
2.1.5. Pengaruh penggunaan Faktor Produksi terhadap Produksi ... 12
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman 1.1 Luas Lahan dan Produktivitas Tanaman Jagung
di Kecamatan Tigabinanga... ... 2
3.1 Populasi petani jagung di kecamatan Tigabinanga... 18
3.2 Karangka sampling petani jagung di Kecamatan Tigabinanga... 19
3.3 Teknik pengambilan sample petani jagung di Kecamatan
Tigabinanga... ... 20
4.1 Uji t Statistik ... 34
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
1.1 Luas Lahan Pertanian dan luas lahan Tanaman Jagung
di Kecamatan Tigabinanga... 3
1.2 Produksi Tanaman Jagung di Kecamatan Tigabinanga ... 3
2.1 Kerangka Konseptual Analisis Pendapatan Petani Jagung
DAFTAR LAMPIRAN
No. Judul Halaman
1. Ijin Penelitian dari Pascasarjana USU ... 50
2. Surat Keterangan telah melakukan penelitian dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Pemerintah Kabupaten Karo... 51
3. Daftar Pertanyaan ... 52
4. Data Luas Lahan dan Benih ... 53
5. Data Pupuk ... 56
6. Data Hari Kerja Orang ... 61
7. Data Regresi ... 66
8. Hasil Regresi... 69
9 Uji Normalitas ... 70
10. Uji linieritas ... 71
ABSTRAK
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh luas lahan,benih,pupuk dan
tenaga kerja terhadap pendapatan petani jagung di Kecamatan Tigabinanga Kabupaten
Karo.
Data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang dikumpulkan
dari lapangan. Teknik sampling yang digunakan adalah Simple Random Sampling dengan
mengambil 100 responden dari total populasi petani jagung yang tersebar di kecamatan
Tigabinanga. Model yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah model ekonometrika
dan menggunakan metoda Ordinary Least Square (OLS).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai koefisien determinasi (R²) untuk semua
variabel seperti luas lahan, jumlah benih,jumlah pupuk dan jumlah tenaga kerja dapat
menjelaskan semua variasi dalam pendapatan yang diterima oleh petani sebesar 77.1%
sementara 22.9% tidak dijelaskan didalam model. Kemudian uji serempak (F Test)
menunjukkan bahwa semua variabel independent dapat mempengaruhi Variabel terikat
(Dependent Variable) secara signifikan. Hasil secara parsial menunjukkan bahwa
variabel luas lahan dan jumlah tenaga kerja secara signifikan berpengaruh terhadap
pendapatan yang diterima oleh petani pada α= 5% sementara jumlah benih dan jumlah
pupuk tidak signifikan.
Kata Kunci : Luas lahan, jumlah benih, jumlah pupuk, jumlah tenaga kerja dan
ABSTRACT
The main objective of this study is to the analyze influence of land acreage,seed of
corn,fertilizer,employer on income of farmers in the village of Tigabinanga in Karo
Regency.
Data used in this research is primary data which collected from the field. Sampling
thecnique used is simple random sampling by taking 100 respondents from total
population of small farmers which spread all over district of Tigabinanga. The model
used in this research is econometric model and the method applied is Ordinary Least
Square (OLS).
The result shows that coefficient determination (R2) indicates that all variables
such as land acreage,seed of corn, fertilizer and employer can describe all variation in
income received by small scale farmers as amount of 77.1 percent, meanwhile 22.9
percent which are determined by other variables that are not include in this
model/research. Therefore, the F-test (all over test) indicates that all independent
variables can influence on the dependent variable significantly.The partial result shows
that land acreage and employe significantly influence on total income of farmer at α =
5 % level. Meanwhile the seed of corn, fertilizer are not significant.
Key word : variables land acreage,seed of corn, fertilizer,employer and income of
farmer
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indikator kemiskinan adalah pendapatan perkapita perbulan yang disetarakan
dengan konsumsi kalori sebesar 2100/kapita atau Rp 114.619/kapita/bulan demikian
menurut Persatuan Bangsa Bangsa.
Kemiskinan adalah masalah paling serius yang dihadapi dunia, demikian hasil
jajak pendapat international BBC yang diumumkan 17/1/2010. Kemiskinan berada di
urutan pertama diatas perubahan iklim, terorisme dan perang.
Menurut Badan Pusat Statistik kemiskinan di Indonesia tahun 2008 sebesar 15 %,
dari jumlah tersebut 50 % - nya merupakan petani yang berada di desa, dari jumlah
petani tersebut 20 % tidak memiliki lahan pertanian sendiri. Kelemahan sektor pertanian
lainnya adalah produktivitas yang rendah, mutu produksi yang beragam, mutu bibit
rendah, produksi pengolahan terbatas, nilai tukar petani (NTP atau inflasi pertanian)
masih rendah sehingga berdampak pada posisi tawar petani rendah atau menjadikan
petani miskin.
Kemiskinan tidak hanya ditemui di perkotaan, tetapi juga di desa. Keduanya
terkait erat bila dihubungkan dengan proses urbanisasi. Jika ditelusuri akar
permasalahannya, kemiskinan di desa menjadi penyebabnya sedangkan kemiskinan di
perkotaan sebagai akibat. Jika kemiskinan di desa bisa diatasi, kemiskinan di kota dengan
sendirinya bisa diperkecil. Jika akar kemiskinan akan dibongkar, harus bertolak dari
Indikator kemiskinan adalah pendapatan perkapita maka untuk mengurangi angka
kemiskinan hanya dapat dilakukan dengan meningkatkan pendapatan perkapita. Bila
pendapatan perkapita masyarakat terus bergerak naik dan dapat memenuhi kebutuhan
sehari-hari maka dapat dipastikan perlahan-lahan angka kemiskinan dapat ditekan.
Peningkatan pendapatan perkapita adalah pintu masuk mengurangi kemiskinan.
Oleh karena tingkat kemiskinan 50 %- nya adalah petani yang di desa maka perlu
dilakukan penelitian terhadap petani jagung di Kabupaten Karo yang terdapat di
Kecamatan Tigabinanga. Kecamatan Tigabinanga di pilih sebagai daerah penelitian
karena memiliki luas tanaman jagung yang paling luas di Kabupaten Karo. Dibawah ini
diuraikan dalam Tabel 1.1. luas lahan dan produktivitas tanaman jagung di kecamatan
Kemudian diuraikan dalam Gambar 1.1 dan Gambar 1.2 dibawah ini :
1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
Luas Lahan Jagung Total Lahan pertanian
Tahun
Gambar 1.1 : Luas Lahan Pertanian dan luas lahan Tanaman Jagung di Kecamatan
Tigabinanga
Keterangan : Terjadi peningkatan luas tanaman jagung di Kecamatan Tigabinanga di sebabkan mulai meningkatnya harga jagung.
1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Produktivitas Jagung
Tahun
Gambar 1.2 : Produktivitas Tanaman Jagung di Kecamatan Tigabinanga
Dilihat dari bentang lahan dan topograpinya Kecamatan Tigabinanga berada 625
meter dpl, dataran berombak 15 %, berombak berbukit 35 %, berbukit bergunung 50 %
dan suhu udara antara 18 C – 30 C, kelembaban udara harian rata-rata 72 %.
Kondisi luas lahan pertanian, lebih dari 80 % penggunaannya adalah untuk kebun
jagung, lahan yang dulunya dimanfaatkan untuk tanaman kemiri, tanaman kopi, dan
hutan desa sekarang habis digarap. Tidak ketinggalan lereng gugusan hutan negara (
Bukit Barisan ) yang dulunya tanah kosong , gersang juga di garap jadi ladang jagung.
Kenaikan harga jagung hingga mencapai Rp. 2500 per kg sebagai pemicu terjadinya
ekspansi lahan dan alih tanaman, hal ini terjadi sekitar tahun 2005.
Belum ada penataan pembangunan lahan berbasis jagung sehingga harga jagung
berfluktuatif merupakan suatu masalah yang belum dipikirkan dan jumlah benih yang di
gunakan, penggunaan jumlah pupuk sebagai penyedia unsur hara,belum sesuai dengan
paket teknologi hasil penelitian para pakar dibidangnya, yang mengakibatkan rendahnya
hasil rata-rata jagung sehingga meningkatkan biaya produksi, jumlah tenaga kerja yang
tersedia belum termanfaatkan secara maksimal sehingga pendapatan petani tidak dapat
ditingkatkan.
Apakah dengan semakin bertambahnya luas lahan, jumlah benih, jumlah pupuk
dan jumlah tenaga kerja di Kecamatan Tigabinanga berpengaruh terhadap peningkatan
pendapatan masyarakat petani jagung ?, Apakah peningkatan pendapatan petani jagung
telah mengurangi kemiskinan di Kecamatan Tigabinanga…..?
Berdasarkan variabel luas lahan, jumlah benih, jumlah pupuk, dan jumlah tenaga
kerja tersebut di atas maka perlu dilakukan penelitian Analisis Determinan
1.2 Perumusan Masalah
Permasalahan yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana pengaruh luas lahan terhadap pendapatan petani jagung
di kecamatan Tigabinanga.
2. Bagaimana pengaruh jumlah benih terhadap pendapatan petani jagung
di kecamatan Tigabinanga.
3. Bagaimana pengaruh jumlah pupuk terhadap pendapatan petani jagung
di kecamatan Tigabinanga.
4. Bagaimana pengaruh jumlah tenaga kerja terhadap pendapatan petani jagung
di kecamatan Tigabinanga.
1.3 Tujuan Penelitian
Secara umum tujuan penelitian ini adalah ;
1. Menganalisis pengaruh luas lahan terhadap pendapatan petani jagung
di kecamatan Tigabinanga.
2. Menganalisis pengaruh jumlah benih terhadap pendapatan petani jagung
di kecamatan Tigabinanga.
3. Menganalisis pengaruh jumlah pupuk terhadap pendapatan petani jagung
di kecamatan Tigabinanga.
4. Menganalisis pengaruh jumlah tenaga kerja terhadap pendapatan petani
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat ;
1. Memberikan beberapa pertimbangan dan masukan dalam menentukan
kebijakan peningkatan pendapatan petani jagung kepada pemerintah daerah
sebagai pembuat kebijakan di daerah.
2. Menambah kasanah ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan masalah
produksi pertanian dan pendapatan petani khususnya petani jagung.
Sebagai bahan acuan untuk pembahasan atau mungkin penelitian yang ingin meneliti
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
Teori yang digunakan untuk mengurai perumusan masalah pendapatan petani
jagung di kecamatan Tigabinanga, penulis menggunakan teori yang sederhana sebagai
berikut :
2.1.1 Faktor-Faktor Produksi Usahatani
Usahatani merupakan cara-cara petani menentukan, mengorganisasikan dan
mengkoordinasikan, penggunaan faktor-faktor produksi berupa luas lahan, tenaga kerja
dan modal seefektif dan seefisien mungkin sehingga usaha tersebut memberikan
pendapatan semaksimal mungkin.
Soekartawi (2002), mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan faktor produksi
adalah semua korbanan yang diberikan pada tanaman agar tanaman tersebut mampu
tumbuh dan menghasilkan dengan baik. Untuk menghitung besarnya koefisien faktor
produksi maka digunakan fungsi produksi sebagai berikut :
2.1.2. Fungsi Produksi
Fungsi produksi adalah hubungan antara input dan output. atau aktivitas ekonomi
dengan memanfaatkan beberapa masukan atau input.
Fungsi produksi Cobb-Douglas dapat juga dipakai untuk menganalisis
Q = f(K, L)……….……….(2.1)
Q = A K L ...(2.2)
dimana : Q = output K = input kapital
A = konstanta L = input tenaga kerja
= koefisien kapital atau elastisitas output berkaitan dengan K
= koefisien tenaga kerja Elastisitas output berkaitan dengan L
Parameter ( satuan alat ukur ) variabel independen dan variabel dependen yang
digunakan bervariasi maka untuk menyederhanakan varian tersebut lebih dahulu
dilogaritmakan kemudian ditransformasikan ke dalam bentuk ekonometrika :
Log Q = Log A + Log K + Log L + …...…………..( 2.3 )
Dimana Q ( Quantity ) adalah output dan L dan K masing-masing adalah tenaga
kerja dan barang modal. A, α ( alfa ) dan β ( beta ) adalah parameter-parameter positif
yang dalam setiap kasus ditentukan oleh data. Semakin besar nilai A, barang teknologi
semakin maju. Parameter α ( alfa ) mengukur persentase kenaikan Q akibat adanya
kenaikan satu persen K sementara L dipertahankan konstan. Demikian pula parameter β(
beta ), mengukur persentase kenaikan Q akibat adanya kenaikan satu persen L sementara
K dipertahankan konstan. Jadi, α dan β masing-masing merupakan elastisitas output dari
modal dan tenaga kerja.
Jika α + β = 1, maka terdapat tambahan hasil yang konstan
Jika α + β > 1 terdapat tambahan hasil yang meningkat
Jika α + β < 1 maka artinya terdapat tambahan hasil yang menurun atas skala
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dirumuskan bahwa faktor-faktor penentu
seperti tenaga kerja dan modal merupakan hal yang sangat penting diperhatikan terutama
dalam upaya mendapatkan cerminan tingkat pendapatan.
2.1.3. Produksi Mencerminkan Pendapatan
Hubungan antara masukan pada proses produksi dan hasil keluaran dapat
digambarkan melalui fungsi produksi. Fungsi ini menunjukkan keluaran Q ( Quantity )
yang dihasilkan suatu unit usaha untuk setiap kombinasi masukan tertentu. Untuk
menyederhanakan fungsi tersebut dapat dituliskan dalam persamaan ( 2.2 ). Persamaan
ini menghubungkan jumlah keluaran dari jumlah kedua masukan yakni modal dan tenaga
kerja. Hubungan ini kemudian disebut dengan pendapatan.
2.1.4. Pendapatan
Pendapatan dapat dihitung dengan cara produksi,cara pengeluaran dan dengan
cara nilai tambah ( added value ) Dalam penelitian ini pendapatan dihitung dengan cara
produksi
Pendapatan adalah sama dengan jumlah unit output ( Q ) yang dihasilkan
dikalikan dengan harga output per unit ( P ). maka pendapatan total :
TR ( Total Reveneu ) = P x Q
Pendapatan usahatani akan terkait dengan jumlah produk yang dihasilkan dan
harga produk. Faktor produksi berpengaruh pada biaya produksi kemudian keduanya
2.1.4.1. Luas Lahan
Faktor-faktor produksi lahan terdiri dari beberapa faktor alam lainnya seperti air,
udara, temperatur, sinar matahari yang secara bersama-sama menentukan jenis tanaman
yang dapat di usahakan, macam penggunaan lahan dan topografinya.
Faktor produksi tanah mempunyai kedudukan paling penting. Hal ini terbukti dari
besarnya balas jasa yang diterima oleh tanah dibandingkan faktor-faktor produksi
lainnya.
Dalam perhitungan ekonomi, sewa lahan / tanah tidak dapat dihitung sebagai
pendapatan karena tanah tidak ada nilai penyusutannya dan sumber untuk memproduksi
barang ekonomi, sewa tanah dapat dihitung jika ingin mencari keuntungan dalam usaha
tani bukan pendapatan.
Bila luas lahan telah mencapai seluruh luas pertanian maka peningkatan
pendapatan dilakukan dengan cara intensifikasi penggunahan lahan seperti tumpangsari
tanaman, untuk kasus jagung antara jagung dengan kedele, jagung dengan ubi jalar. Jika
dengan intensifikasi penggunaan luas lahan tidak tercapai maka alih tanaman yang
dilakukan. Penambahan luas lahan dilakukan bila luas lahan meningkatkan pendapatan
dan sebaliknya pengurangan luas lahan dilakukan apabila luas lahan mengurangi
pendapatan petani.
2.1.4.2. Benih
Benih jagung merupakan salah satu komponen dalam sistem produksi jagung.
penentu untuk memperoleh kepastian hasil usahatani jagung sebab mutu benih jagung
yang bersifat kualitatif memegang peranan penting dalam meningkatkan produksi,
dengan meningkatnya produksi akan meningkatkan pendapatan petani jagung.
Selain mutu benih secara kualitatif, populasi tanaman meningkatkan produksi
persatuan luas sampai dengan batas maksimum luas tanam yang ditentukan oleh
kapasitas produksi benih, namun semakin meningkat kebutuhan akan benih yang pada
akhirnya akan meningkatkan biaya produksi atau modal.
2.1.4.3. Pupuk
Pemupukan dilakukan sebagai penambah unsur hara yang ada di dalam tanah
guna memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman untuk meningkatkan produktivitas tanaman.
Dosis anjuran pemupukan rata-rata perhektar yaitu untuk varietas hibrida sebesar 300 kg
Urea, 150 kg SP- 36 dan 100 kg KCL untuk varietas bersari bebas sebesar 250 kg Urea,
100 kg SP-36 dan 50 kg KCL. Pemberian pupuk organik, terutama dapat memperbaiki
struktur tanah dengan menyediakan ruang pada tanah untuk udara dan air.
2.1.4.4. Tenaga Kerja
Tenaga kerja musiman pertanian ditentukan oleh musim, maka terjadilah
penyediaan tenaga kerja musiman dan pengangguran tenaga kerja musiman. Bila terjadi
pengangguran semacam ini, maka konsekuensinya juga terjadi migrasi atau urbanisasi
Penggunaan tenaga kerja sebagai variabel dalam proses produksi lebih ditentukan
oleh pasar tenaga kerja, dalam hal ini dipengaruhi oleh upah tenaga kerja serta harga
outputnya (Nopirin, 2000).
2.1.5 Pengaruh Penggunaan Faktor Produksi terhadap Produksi
Analisis fungsi Cobb Douglas digunakan untuk mengetahui pengaruh
penggunaan faktor produksi terhadap hasil produksi. Analisis fungsi Cobb Douglass:
Q = aX1β1 X2β2 X3β3 …Xnβn …eu ...( 2.4 )
Untuk memudahkan pendugaan dinyatakan dengan mengubah bentuk kuadrat
terkecil disederhanakan menjadi :
Q = α + β1 X1 + β2 X2 + β3 X3 + β4 X4 + µ ………..( 2.5 )
Karena parameter ( satuan alat ukur ) variabel independen dan variabel dependen
bervariasi, maka untuk menyederhanakan varian tersebut digunakan fungsi logaritma
sehingga persamaanya menjadi ;
Log Q = a + b1 log X1 + b2 log X2 + b3 log X3 + b4log X4 + u ..( 2.6 )
Keterangan :
Q (Quantity) = Produk jagung (Ton)
a = Konstanta atau intercept
X1 = Luas Lahan ( ha )
X2 = Jumlah Benih Jagung ( kilogram )
X3 = Jumlah Pupuk (kilogram)
X4 = Jumlah Tenaga Kerja ( HKO )
Selanjutnya persamaan ini digunakan untuk mengurai masalah pendapatan petani
jagung sebagai berikut :
2.1.6 Pengaruh Penggunaan Faktor Produksi terhadap Pendapatan
Analisis persamaan (2.5) diatas digunakan untuk mengetahui pengaruh
penggunaan faktor produksi terhadap pendapatanpetani jagung ( jumlah unit output yang
dihasilkan dikalikan dengan harga output per unit) dengan persamaan :
Log YP = α + β1 log X1 + β2 log X2 + β3 log X3 + β4 log X4 + µ ...( 2.7 )
Dimana:
YP = Total Pendapatan Kotor Petani Jagung (jutaan rupiah ).
α = Konstanta atau Intercept
X1 = Luas Lahan ( ha )
X2 = Jumlah Benih Jagung (kilogram )
X3 = Jumlah Pupuk Kimia maupun Organik (kilogram )
X4 = Jumlah Tenaga Kerja (Hari Kerja Orang = HKO )
µ = Faktor pengganggu atau residual / Term of error
β 1,β 2, β3, , β 4, = Koeffisien regresi (variabel/ yang akan diduga )
2.1.7 Penelitian Terdahulu
Padabagianini dijelaskan secara deskriptif tentang beberapa penelitian terdahulu
yang relevan dengan penelitian yang dilakukan, beberapa ringkasan penting disajikan
melalui paparan theoritical mapping yang mencakup, Nama Peneliti,Tahun
Penelitian,Judul Penelitian,Variabel yang digunakan serta hasil penelitian, seperti :
Riyadi, (2007). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap produksi jagung secara signifikan adalah luas lahan, tenaga kerja,
bibit, pupuk, dan pestisida.
Sawa Suryana, (2007) hasil penelitiannya menyebutkan faktor yang
mempengaruhi produksi jagung secara signifikan adalah jumlah tanaman,tenaga kerja
sementara jumlah pupuk tidak signifikan.
Surviani, (2007) hasil penelitiannya menyebutkan faktor-faktor yang
mempengaruhi pendapatan petani jagung secara signifikan adalah bibit,tenaga
2.1.8 Kerangka Pemikiran
Berdasarkan pemikiran di atas, digambarkan kerangka konseptual seperti
ditunjukkan pada Gambar 2.1.
Luas Lahan
(ha )
Jumlah Tenaga Kerja
( HKO)
Jumlah Benih
( kilogram )
Pendapatan Petani Jagung
(jutaan rupiah )
Jumlah Pupuk
( kilogram )
2.1.9 Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah maka hipotesis dalam penelitian ini adalah :
1. Luas lahan berpengaruh secara positif terhadap total pendapatan petani di
Kecamatan Tigabinanga, Ceteris Paribus.
2. Jumlah benih berpengaruh secara positif terhadap total pendapatan petani di
Kecamatan Tigabinanga, Ceteris Paribus
3. Jumlah pupuk berpengaruh secara positif terhadap total pendapatan petani di
Kecamatan Tigabinanga, Ceteris Paribus
Jumlah tenaga kerja berpengaruh secara positif terhadap total pendapatan petani di
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Ruang Lingkup
Penelitian ini hanya menganalisis hal-hal yang berkenaan dengan variabel luas
lahan, jumlah benih, jumlah pupuk dan jumlah tenaga kerja yang mempengaruhi
pendapatan petani jagung. Lingkupan penelitian ini dilakukan agar tujuan yang ingin
dicapai dari hasil penelitian tidak menyimpang dari yang telah ditetapkan sebelumnya.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi yang dipilih untuk memperoleh data penelitian lapangan ini adalah
beberapa desa yang berada di kecamatan yang memiliki tanaman jagung di wilayah
kecamatan Tigabinanga. Waktunya dimulai dari 20 Maret 2010 ( Surat ijin penelitian di
Lampiran 1.)
3.3 Jenis dan Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, yaitu data
yang dikumpulkan dari petani jagung dengan melakukan wawancara langsung dengan
menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner) dan melakukan observasi, meliputi batasan
variabel dan data yang diperlukan dalam mendukung penelitian ini.
3.4 Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani jagung yang terdapat di desa
– desa yang berada di wilayah Kecamatan Tigabinanga yang berjumlah 8047 jiwa
petani dari 19 desa, jenis dari populasi adalah homogen.
Sampel adalah kumpulan elemen yang sifatnya tidak menyeluruh melainkan
hanya sebagian dari populasi saja,untuk memodifikasi sampel dibuat kerangka sampling
berdasarkan urutan populasi tertinggi.
Setelah kerangka sampling terbentuk maka ditentukan teknik sampling. Teknik
sampling yang digunakan dalam penelitian ini ditetapkan metode Simple Random
Sampling yaitu setiap elemen populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih
sebagai sampel dimana populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani jagung yang
terdapat di desa–desa yang berada di wilayah kecamatan Tigabinanga yang jenis dari
populasinya homogen.
Karena jenis populasi homogen maka peneliti mengambil 2% sampel dari
masing-masing desa yang ada dalam kerangka sampling sehingga di dapati 99 sampel
dibulatkan menjadi 100 sampel. Seperti di dalam Tabel dibawah ini :
Sampel No. Desa/Kelurahan Jiwa 2 % dari
Populasi
1 Tigabinanga 1612 32
2 Perbesi 1335 27
3 Pergendangen 574 11
4 Kuta Bangun 551 11
5 Kuala 502 10
6 Limang 387 9
J u m l a h 4961 100
Sumber : diolah dari Tigabinanga Dalam Angka 2010
3.5 Metode Analisis
Metode Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuadrat
terkecil biasa atau Ordinary Least Square (OLS) karena hanya menggunakan satu
persamaan dengan alat bantu (software) SPSS 17
3.6 Model Analisis Data
Model dasar untuk fungsi pendapatan petani jagung di kecamatan Tigabinanga
merupakan pengembangan teori produksi Cobb-Dauglas, yaitu persamaan:
Y=A Kα Lβ …... (3.1)
Dengan memecah variabel K dan L dalam bentuk yang lebih spesifik, yaitu
variabel-variabel eksplanatori yang digunakan dalam penelitian ini, maka fungsi
pendapatan menjadi:
Selanjutnya untuk mendapatkan model penelitian mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi pendapatan petani jagung ini dilakukan dengan log terhadap
variabel-variabel yang digunakan. Adapun spesifikasi model penelitian ini adalah sebagai berikut:
Log YP = α + β1 log X1 + β2 log X2 + β3 log X3 + β4 log X4 + µ
Dimana:
YP = Total Pendapatan kotor petani jagung (jutaan rupiah)
X1 = Luas lahan ( ha )
X2 = Jumlah Benih Jagung ( kilogram )
X3 = Jumlah Pupuk Kimia dan Organik ( kilogram )
X4 = Jumlah Tenaga kerja (Hari Kerja Orang = HKO )
α = Konstanta atau Intercept
µ = Faktor pengganggu atau residual / Term of error
β 1,β 2, β3, , β 4, = Koeffisien regresi (variabel/ yang akan diduga
3.7 Uji Kesesuaian Model (Test of Goodness of Fit)
Karena analisis dalam model estimasi maka perlu lakukan uji kesesuaian yang
terdiri dari uji koefisien R2,,uji F (F -statistik) dan uji (t - statistik).
a. Koeffisien Determinasi R2 ( R Square )
Penilaian terhadap kofesien determinasi atau R Square (R2 ) bertujuan untuk
melihat variasi kemampuan variabel independen ( luas lahan, jumlah benih,
jumlah pupuk dan jumlah tenaga kerja) dalam menjelaskan pengaruhnya terhadap
Koeffisien Determinasi (R2) sangat dipengaruhi oleh banyaknya observasi
yang dilakukan. Semakin tinggi nilai kofesien determinasi (R2) , berarti model
semakin dapat diandalkan. Jika nilai kofesien determinasi (R2) terletak diantara
0.70 – 1.00 dapat dikatakan memiliki nilai kofesien determinasi yang tinggi.
Nilai R2 berada diantara 0 sampai 1 (0R2 1).
b. Uji F- Statistik atau Uji Serempak ( F- test/ simultan test )
Uji simultan dilakukan untuk mengetahui hubungan antara masing-masing
variabel independen (X1),(X2), (X3) dan (X4) terhadap variabel dependen (Y).
Pengujian ini dilakukan dengan membandingkan nilai hitung dengan
F-tabel atau membandingkan nilai sig. regresi dengan sig. ( 0.05 ). Jika
F-hitung > F-tabel atau sig. > 0.05 maka H0 ditolak, yang berarti variabel
independen secara bersama-sama mempengaruhi variabel dependen.
c. Uji t-Statistik ( Uji Parsial )
Uji t-statistik merupakan suatu pengujian secara parsial yang bertujuan
untuk mengetahui :
2. Tanda pengaruh baik positif (menambah) maupun negatif
(mengurangi)
3. Nilai koefisien regresi ( >1 atau < 1)
4. Nilai koefisien elastisitas ( >1 atau < 1)
secara individu (masing-masing) terhadap variabel dependen dengan menganggap
variabel lainnya konstan. Tanda pengaruh dalam uji t-statistik ini kemudian
dibandingkan hasil penelitihan apakah sama dengan hipotesis penelitian ?.
Pengujian ini dilakukan dengan membandingkan nilai hitung dengan
t-tabel atau membandingkan nilai sig. regresi dengan sig. ( 0.05 ). Jika t-hitung
> t-tabel atau sig. > 0.05 maka H0 ditolak, yang berarti variabel independen
secara individu mempengaruhi variabel dependen.
3.8 Uji Asumsi Klasik
Uji penyimpangan asumsi klasik adalah pengujian terhadap beberapa asumsi klasik
yang dilakukan untuk melihat apakah suatu model dikatakan baik dan efisien. Uji
penyimpangan asumsi klasik dimulai dengan menguji :
a. Normalitas
Menurut Ghozali ( 2005 ) uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah
populasi data berdistribusi normal atau tidak. Dalam penelitian ini dilakukan
Data dinyatakan berdistribusi normal jika nilai signifikansi > 0.05. Jika nilai
signifikan < 0.05, maka distibusi data tidak normal.
b. Uji Linieritas
Uji linieritas bertujuan untuk mengetahui apakah dua variabel mempunyai
hubungan yang linier( nilai harapan dalam parameter berpangkat satu ) atau
nonliner secara signifikan. Hubungan yang linear bila signifikansi ( linearity )
kurang dari 0,05. Selanjutnya dideteksi dengan menguji asumsi klasik
multikolinearitas dan heteroskedastisitas.
c. Uji Multikolinearitas
Multikoniaritas adalah alat untuk mengetahui suatu kondisi, apakah terdapat
korelasi variabel independen di antara satu sama lainnya. Untuk melihat ada
tidaknya multikolinieritas dalam suatu model pengamatan, dapat dilakukan dengan
regresi antar variabel independen, sehingga dapat diperoleh nilai koefisien
determinan (R2) masing-masing atau parsial. Selanjutnya R2 hasil regresi ( parsial )
antar variabel independen tersebut dibandingkan dengan R2 hasil regresi model,
sehingga diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
- Jika nilai R2 hasil regresi ( parsial ) antar variabel bebas > R2 model
penelitian, berarti terjadi multikolinieritas dalam model empiris yang
- Jika nilai R2 hasil regresi ( parsial ) antar variabel bebas < R2 model
penelitian, berarti tidak terjadi multikolinieritas model empiris yang
digunakan.
d. Uji Heterokedastisitas
Untuk menguji heterokedastisitas digunakan uji Spearman rho yaitu uji
yang mengkorelasikan nilai residual (unstandardized residual) dengan
masing-masing variabel independen. Jika signifikansi korelasi kurang dari 0.05 maka
model regresi terjadi masalah heterokedastisitas.
3.9. Definisi Operasional Variabel
Untuk memudahkan pengambilan data, diwujudkan dalam konsep operasional
1. Total Pendapatan (YP) adalah total pendapatan petani ( TR = P . Q ) dimana P
( Price ) adalah harga jagung dan Q ( Quantity ) dari hasil produksi jagung
selama kurun waktu sekali musim tanam dihitung dalam ( jutaan rupiah ).
2. Luas Lahan (X1) adalah lahan yang digunakan untuk menghasilkan produksi
jagung sekali musim tanam dihitung dengan ( ha ).
3. Jumlah benih (X2) adalah jumlah benih jagung yang digunakan untuk
menghasilkan produksi jagung dalam satu musim tanam. ( kilogram ).
4. Jumlah pupuk ( X3 ) adalah jumlah pupuk yang digunakan baik pupuk kimia
maupun organik untuk menghasilkan produksi jagung sekali musim tanam
dihitung dengan ( kilogram )
Jumlah tenaga kerja ( X4 ) adalah penggunaan jumlah hari kerja orang ( HKO )
untuk menghasilkan produksi jagung yang dipekerjakan dalam satu kali musim
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN
4.1.1. Gambaran Umum Wilayah Kecamatan Tigabinanga
a. Kondisi Geografis
Kecamatan Tigabinga adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Karo
Propinsi Sumatera Utara. Dengan luas wilayah 160,38 Km2. Kecamatan
Tigabinanga berjarak kira-kira 37 Km dari pusat pemerintahan Kabupaten.
b. Jumlah Penduduk
Kecamatan Tigabinanga didiami suku bangsa yang terdiri dari Karo, Jawa,
Aceh Alas, Minang dan Batak dengan jumlah penduduknya sebesar 18.894 jiwa
dengan 5.789 KK, yang terdiri dari 9.558 laki-laki dan 9.336 jiwa perempuan.
c. Mata Pencaharian
Sesuai dengan kondisi sumber daya alam pada umumnya sumber mata
pencaharian masyarakat adalah sebagai petani. Penduduk yang memenuhi
kebutuhan hidupnya sebagai petani yaitu mencapai 84,92% atau sebanyak 8.047
jiwa dengan usia antara 23 tahun sampai dengan 57 tahun. Perilaku petani karo
lebih mudah mencontoh petani yang berhasil dari pada menerima saran dari
petugas penyuluh pertanian, selain itu petani karo beranggapan bahwa bertani
pembangunan lahan berbasis jagung sehingga tidak ada perencanaan untuk
mensejahterakan petani. Pembiayaan petani dalam mananam jagung didanai
kredit bank jika para petani memiliki sertifikat lahan sebagai jaminan dan kredit
di penggilingan jika petani tidak memiliki sertifikat lahan, yang menjadikan
petani terjerat rentenir,terperangkap pengijon dan tidak berdaya menghadapi
tengkulak saat panen merupakan fakta nyata petani belum sejahtera hal ini terjadi
di Kecamatan Tigabinanga
4.1.2. Pendapatan
Jumlah pendapatan yang dimaksudkan adalah pendapatan kotor petani jagung
dari hasil perkalian jumlah produksi jagung ( Q = Quantity ) dengan harga jual jagung (
P = Price ) dalam satu kali musim panen. Hasil rata-rata produksi jagung sebesar 5742
kg/ 9620 M2, rata-rata harga produksi jagung sebesar Rp 2.186 / kg dengan rata-rata
pendapatan yang diterima para petani jagung di Kecamatan Tigabinanga sebesar Rp
12.285.429 / 9620 M2 luas lahan dalam satu kali musim panen ( selama 5 bulan ) dengan
rata-rata modal sebesar Rp 9.000.000. Total pendapatan petani jagung yang masuk dalam
penelitian ini sebesar Rp 1.228.542.850,- dengan responden sebanyak 100 petani jagung.
Rasio modal terhadap pendapatan rata-rata 3,57% dengan rasio terendah sebesar 1,10 %
dan rasio tertinggi sebesar 6,27 %.
Kebijakan harga jagung walaupun ada namun tidak banyak berpengaruh terhadap
stabilitas harga di Kecamatan Tigabinanga. Hal ini dapat dilihat ketika panen jagung
melimpah harga jagung bergerak lambat di antara Rp 1600/ Kg sampai dengan Rp 2000/
sampai Rp 2550/kg dalam masa 2 minggu. Perubahan harga seperti ini tidak dapat
diketahui oleh petani. Pengamatan penulis ke PT. Pokphan Jl. Sisingamangaraja Km 9
Medan, terjadinya perubahan harga demikian disebabkan stok jagung pada masa-masa
tertentu menipis sehingga untuk merangsang ketersediaan jagung harga dinaikan sampai
batas harga impor jagung di pabrik.
4.1.3. Luas Lahan
Luas lahan tanam jagung yang diusahakan petani untuk menanam jagung rata
rata 0.962 ha atau 9620 M2. Total luas lahan yang masuk dalam data penelitian seluas
2407 rante atau 96,28 ha yang berarti sebesar 0,06 dari luas 14.705 ha lahan tanaman
jagung yang ada di kecamatan Tigabinanga.
4.1.4. Benih
Penggunaan benih jagung yang dibutuhkan petani dipengaruhi dengan luas dan
jarak tanam. Petani Jagung di Kecamatan Tigabinanga menggunakan benih jagung NK
22 dan DK 979 dengan jarak tanam 40 – 50 cm, 40 – 60 cm dan 25 – 70 cm, sehingga
rata-rata jumlah benih yang digunakan oleh petani sebesar 23.02 kg ( lampiran 4 ) per
0.962 ha dalam satu kali musim tanam, semakin tinggi benih yang digunakan akan
meningkatkan harga pokok produksi.
Masa tanam jagung oleh petani di Kecamatan Tigabinanga dimulai dari bulan Juli
sampai dengan bulan Agustus, sekitar 45 % dari sampel penelitian memulai bertanam di
awal bulan Juli diikuti dengan 30 % di akhir bulan Juli dan 25% di awal Agustus. Hal
berharap di pertengahan bulan Agustus curah hujan tinggi sehingga kebutuhan akan air
dalam pembentukan buah jagung tidak terganggu,sebab kekurangan air pada masa
percambahan ( mulai benih di tanam sampai dua minggu setelah ditanam) akan
mengakibatkan matinya tanaman, bila tanaman jagung tidak tumbuh maka petani
melakukan penyisipan tanaman. Kekurangan air pada saat 3 ( tiga ) minggu setelah
keluar rambut tongkol akan menurunkan produksi hingga 30 %, sementara kekurangan
air selama pembungaan akan mengurangi jumlah biji yang terbentuk yang akan
menurunkan produksi hingga 40 %. Ternyata curah hujan terjadi diawal bulan
September.
Jarak tanam tanaman jagung tergantung dengan kreatifitas para petani jagung itu
sendiri, ada yang menanam dengan jarak tanam 40 – 50 cm 2 butir dalam satu lobang
tanam, 40 – 60 cm dengan 3 butir dalam satu lobang tanam dan ada yang menanam
dengan jarak tanam 25 – 70 cm dengn 4 butir benih dalam satu lobang tanam, hal ini
mereka lakukan dengan harapan semakin banyak batang akan semakin tinggi
produksinya.
4.1.5 Pupuk
Petani jagung di kecamatan Tigabinanga melakukan kombinasi pupuk antara lain
: Urea, SP 36, Phonska, organik untuk menghasilkan unsur arah bagi tanaman jagung,
kombinasi pupuk tersebut dilakukan kerena NPK lengkap harganya mahal demikian juga
dengan pupuk cair. Prilaku petani lebih merasa puas dengan pupuk kristal daripada
menggunakan pupuk cair. Rata-rata penggunaan pupuk oleh petani sebesar 701.7 kg per
Tidak adanya pengukuran unsur hara di lahan jagung sehingga pemberian dosis
pupuk dan waktu pemberian pupuk pada tanaman jagung di lahan petani dilakukan
berdasarkan kebiasaan yaitu satu bulan sejak benih di tanam. Penggunaan dosis pupuk
sebagai penyedia unsur hara yang dibutuhkan untuk memproduksi jagung belum sesuai
dengan paket teknologi hasil penelitian para pakar dibidangnya. Para petani berpendapat
bahwa tanpa dipupuk, jagung tidak akan berbuah yang menjadikan posisi petani sebagai
target produksi ( target omzet ) dari pabrik pupuk nonorganik. Ketersediaan pupuk
subsidi pada bulan Juli dan Agustus terganggu sehingga mempengaruhi harga pupuk
menjadi mahal, karena harga pupuk mahal maka petani mulai beralih dari pupuk
nonorganik menjadi pupuk organik karena harganya lebih murah. Pada masa panen,
sering sekali dijumpai butiran pupuk nonorganik yang tidak larut dengan tanah di bawah
batang jagung, hal ini disebabkan oleh kekurangan air dan curah hujan tidak dapat
menembus daun jagung karena sudah terlalu rimbun.
4.1.6. Hasil Estimasi Model Pendapatan Petani Jagung
Analisis fungsi Cobb Douglas digunakan untuk mengetahui pengaruh
penggunaan faktor produksi ( unit variabel/variabel independen) terhadap hasil
produksi ( unit produksi/variabel dependen ) adalah sebagai berikut :
Q = aX1β1 X2β2 X3β3 …...Xnβn …eu
Untuk memudahkan pendugaan dinyatakan dengan mengubah bentuk kuadrat
terkecil yang disederhanakan menjadi
Selanjutnya fungsi tersebut,digunakan untuk mengestimasikan faktor-faktor produksi (
variabel independen ) yang mempengaruhi Pendapatan Petani Jagung ( rupiah ) di
Kecamatan Tigabinanga, Q ( produksi ) menjadi YP ( pendaptan ) secara matematis
model persamaanya dirumuskan sebagai berikut :
YP = α + β1 X1 + β2 X2 + β3 X3 + β4 X4 + µ
Karena parameter ( satuan alat ukur ) variabel independen dan variabel dependen
bervariasi, maka untuk menyederhanakan varian tersebut digunakan fungsi logaritma
sehingga persamaanya menjadi ;
Log YP = α + β1 log X1 + β2 log X2 + β3 log X3 + β4 log X4 + µ
Berdasarkan data yang telah diperoleh dari hasil penelitian dan telah diolah dalam
persamaan maka hasil setelah dilogaritmakan diperoleh persaman model estimasi
sebagai berikut :
4.1.7. Test of goodness of fit (uji kesesuaian)
a. Analisis Koefisien Determinasi (R-square)
Dari uraian persamaan model estimasi diatas diperoleh Koefisien
Determinasi (R , R-square) yang tinggi karena terletak diantara 0.7 – 1.00 yaitu
sebesar 0.771 % ( Lampiran 8.) hal ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan
variasi yang terjadi pada variabel independen (luas lahan,jumlah benih,jumlah
pupuk dan jumlah tenaga kerja) dapat menjelaskan variabel dependen
(pendapatan petani jagung) sebesar 77.10 % sedangkan sisanya sebesar 22.90 %
dijelaskan oleh variabel lain yang tidak disertakan dalam model estimasi seperti ;
perubahan iklim dalam hal ketersediaan air, ketersediaan unsur hara bagi tanaman
jagung, jarak tanam, pengendalian hama penyakit jagung, perbedaan lahan datar
dan perbukitan, pengolahan produksi dan harga jual.
b. Uji F-statistik (Uji Over all, uji serempak atau uji ANOVA )
Uji F-statistik ini dilakukan untuk mengetahui apakah variabel independen
mampu secara bersama-sama mempengaruhi peningkatan variabel dependen
1. Hipotesis : H0 : b1 = b2 = b3 = b4 = 0……….Tidak Signifikan
Ha : b1b2 b3b4 0……....Signifikan
2. Kriteria pengujian : H0 diterima apabila nilai sig > 0,05 ( 5%)
Ha diterima apabila F-hitung < 0,05 ( 5%)
3. F-hitung = 80.145 dan F0,05( tabel ) = 2,32 (80.145 > 2.32 )
4. Nilai Sig 0.000α < 0,05
Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa F-hitung > F-tabel artinya
Ha diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa variabel luas lahan (X1)
,jumlah benih (X2) , jumlah pupuk (X3) ,dan jumlah tenaga kerja (X4) secara
keseluruhan signifikan mempengaruhi pendapatan petani jagung dengan tingkat
kepercayaan ( confidence interval ) sebesar 95 % atau ( alpha ) α = 5%.
Uji t-statistik dilakukan untuk menguji apakah variabel independen diatas
secara parsial berpengaruh nyata terhadap variabel dependen.
1. Hipotesis : H0 : bi = 0…………Tidak Signifikan
Ha : bi0…....….…Signifikan
2. Kriteria pengambilan keputusan:
a. H0 diterima apabila nilai sig > 0,05
b. Ha diterima apabila nilai sig < 0,05
Tabel 4.1 : Uji t Statistik
Variabel t hitung Sig. X1 ( Luas lahan ) 4.065 .000
X2 ( Benih ) - 0.365 .716
X3( Pupuk ) 0.537 .593
X4 Tenaga kerja ) 4.641 .000
Sumber : Hasil penelitian,2011 ( data diolah, lampiran 8.)
Dengan jumlah sampel (n) = 100, variabel bebas (k) = 4 maka derajat
bebas untuk nilai statistik (n-k-1) atau sama dengan 95 maka didapati
t-tabel dengan tingkat kepercayaan ( confidence interval ) sebesar 95 % atau (
alpha ) α = 5 % sebesar 1.985 dan α = 0,025 sebesar 2.277.
Hasil uji t- statistik diuraikan dalam pembahasan sebagai berikut :
1. Pengaruh Luas Lahan (X1) terhadap Pendapatan Petani Jagung.
1. Tanda pengaruh yang positif secara statistik, yang berarti setiap terjadi
peningkatan terhadap luas lahan maka pendapatan petani jagung
mengalami peningkatan dengan asumsi ceteris paribus.
2. Nilai koefisien regresi luas lahan sebesar 8,085, karena persamaan
model estimasi dalam bentuk logaritma maka diartikan apabila
penggunaan luas lahan meningkat secara relatif sebesar 1% atau
secara absolut sebesar 96.20 M2 maka pendapatan petani jagung di
Kecamatan Tigabinanga meningkat secara relatif sebesar 8,085 %
atau secara absolut sebesar Rp 993.277 ( berasal dari 8,085 % x
Rp 12.285.429/100 ) ceteris paribus dalam satu kali masa tanam ( 5
bulan ).
3. Dari nilai koefisien regresi luas lahan sebesar 8,085, ini menunjukan
nilai koefisien elastisitas sebesar 8,085 > 1 maka elastisitasnya
bersifat elastis artinya persentasi perubahan pendapatan petani jagung
lebih besar dari persentasi perubahan luas lahan.
Selanjutnya penajaman pembahasan dilakukan uji parsial untuk
mengetahui hubungan yang signifikan atau tidak signifikan dengan
menggunakan uji t seperti dibawah ini :
b. Dengan hasil t hitung 4.065 > 1,98 t tabel , sig. ,000 < 0,05 Ha
diterima. Hal ini berarti :
1. Variabel luas lahan berpengaruh positif dan signifikan terhadap total
2. Faktor produksi luas lahan mempunyai kedudukan paling penting,
terbukti dari besarnya balas jasa yang diterima oleh luas lahan
dibandingkan faktor-faktor produksi lainnya.
3. Sesuai dengan hipotesis penelitian yang digunakan menyatakan
bahwa luas lahan berpengaruh secara positif terhadap total
pendapatan petani jagung di Kecamatan Tigabinanga, Ceteris
Paribus.
4. Didukung dengan hasil study Riyadi, (2007). yang menyatakan
bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produksi jagung
secara signifikan adalah luas lahan, tenaga kerja, bibit, pupuk, dan
pestisida.
2. Pengaruh Jumlah Benih (X2) terhadap Pendapatan Petani Jagung.
a. Hasil regresi persamaan model estimasi dalam logaritma diperoleh :
1. Tanda pengaruh yang negatif secara statistik, yang berarti setiap
terjadi peningkatan terhadap jumlah benih maka pendapatan petani
jagung mengalami penurunan dengan asumsi ceteris paribus.
2. Nilai koefisien regresi jumlah benih sebesar – 0,016, karena
persamaan model estimasi dalam bentuk logaritma maka diartikan
apabila penggunaan jumlah benih meningkat secara relatif sebesar
1% atau secara absolut sebesar 0.23 kg ( berasal dari 1%
dari 23,02 kg atau biaya benih meningkat sebesar Rp 12.700 berasal
jagung di Kecamatan Tigabinanga berkurang secara relatif sebesar
0,016 % atau secara absolut sebesar Rp 197 ( berasal dari 0.016 x
Rp 12.285.429/100 ) dengan asumsi ceteris paribus dalam satu kali
masa tanam ( 5 bulan ).
3. Dari nilai koefisien regresi luas lahan sebesar –0,016, ini menunjukan
nilai koefisien elastisitas sebesar – 0,016 < 1 maka elastisitasnya
bersifat inelastis artinya persentasi perubahan pendapatan petani
jagung lebih kecil dari persentasi perubahan jumlah benih.
Selanjutnya penajaman pembahasan dilakukan uji parsial untuk
mengetahui hubungan yang signifikan atau tidak signifikan dengan
menggunakan uji- t seperti dibawah ini :
b. Dengan hasil t hitung - 0.365 < 1,98 t tabel , sig. .716 > 0,05 Ho
diterima. Hal ini berarti :
1. Variabel jumlah benih berpengaruh negatif dan tidak signifikan
terhadap total pendapatan petani jagung.
2. Tidak sesuai dengan hipotesis penelitian yang digunakan menyatakan
bahwa jumlah benih berpengaruh secara positif terhadap total
pendapatan petani jagung di Kecamatan Tigabinanga, Ceteris
Paribus.
3. Jumlah benih menjadi tidak signifikan disebabkan karena
a. Kekurangan air pada masa percambahan ( mulai benih di tanam
tanaman, bila tanaman jagung tidak tumbuh maka petani
melakukan penyisipan tanaman.
b. Jarak tanam tanaman jagung tergantung dengan kreatifitas para
petani jagung itu sendiri, ada yang menanam dengan jarak tanam
40 – 50 cm/ 2 butir dalam satu lobang tanam, 40 – 60 cm dengan
3 butir dalam satu lobang tanam dan ada yang menanam dengan
jarak tanam 25 – 70 cm dengn 4 butir benih dalam satu lobang
tanam, hal ini mereka lakukan dengan harapan semakin banyak
batang akan semakin tinggi produksinya.
c. Kekurangan air pada saat 3 ( tiga ) minggu setelah keluar rambut
tongkol akan menurunkan produksi hingga 30 %, sementara
kekurangan air selama pembungaan akan mengurangi jumlah biji
yang terbentukyang akan menurunkan produksi hingga 40 %.
d. Peningkatkan penggunaan benih akan menurunkan rata-rata
produksi jagung yang berarti menaikan biaya produksi dan
menurunkan pendapatan petani jagung.
3. Pengaruh Jumlah Pupuk (X3) terhadap Pendapatan Petani Jagung .
a. Hasil regresi persamaan model estimasi dalam logaritma diperoleh :
1. Tanda pengaruh yang positif secara statistik, yang berarti setiap terjadi
peningkatan terhadap jumlah pupuk maka pendapatan petani jagung
2. Nilai koefisien regresi jumlah pupuk sebesar 0,001, karena persamaan
model estimasi dalam bentuk logaritma maka diartikan apabila
penggunaan jumlah pupuk meningkat secara relatif sebesar 1% atau
secara absolut sebesar 7.017 kg ( berasal dari 1% dari 701.7 kg
atau biaya pupuk meningkat sebesar Rp 11.122 berasal dari 7.017
kg X Rp 1.585 / kg harga pupuk ), maka pendapatan petani jagung
di Kecamatan Tigabinanga meningkat secara relatif sebesar 0,001%
atau secara absolut sebesar Rp 123 ( berasal dari 0.001 x Rp
12.285.429/100 ) ceteris paribus dalam satu kali masa tanam ( 5
bulan ).
3. Dari nilai koefisien regresi jumlah pupuk sebesar 0,001, ini
menunjukan nilai koefisien elastisitas sebesar 0,001 < 1 maka
elastisitasnya bersifat inelastis artinya persentasi perubahan
pendapatan petani jagung lebih kecil dari persentasi perubahan
jumlah pupuk.
Selanjutnya penajaman pembahasan dilakukan uji parsial untuk
mengetahui hubungan yang signifikan atau tidak signifikan dengan
menggunakan uji t seperti dibawah ini :
b. Dengan hasil t hitung 0.537 < 1,98 t tabel , sig. 0.593 > 0,05 Ho
diterima. Hal ini berarti
1. Variabel jumlah pupuk berpengaruh positif dan tidak signifikan
2. Sesuai dengan hipotesis penelitian yang digunakan menyatakan
bahwa jumlah pupuk berpengaruh secara positif terhadap total
pendapatan petani jagung di Kecamatan Tigabinanga, Ceteris
Paribus.
3. Jumlah pupuk menjadi tidak signifikan disebabkan karena :
a. Pupuk tidak larut dengan tanah akibat kekurangan air sehingga
kemampuan pupuk meningkatkan unsur hara tidak maksimal
yang menpengaruhi kemampuan produksi tanaman jagung juga
tidak maksimal.
b. Petani mulai beralih dari pupuk nonorganik menjadi pupuk
organik.
c. Penggunaan dosis pupuk sebagai penyedia unsur hara yang
dibutuhkan untuk memproduksi jagung belum sesuai dengan
paket teknologi hasil penelitian para pakar dibidangnya.
4. Didukung dengan hasil study Sawa, (2007) faktor- faktor yang
mempengaruhi produksi jagung secara signifikan adalah jumlah
tanaman,tenaga kerja sementara jumlah pupuk tidak signifikan.
4. Pengaruh Jumlah Tenaga Kerja (X3) terhadap Pendapatan Petani
Jagung (X4 )
1. Tanda pengaruh yang positif secara statistik, yang berarti setiap
terjadi peningkatan terhadap jumlah tenaga kerja maka pendapatan
petani jagung mengalami peningkatan dengan asumsi ceteris paribus.
2. Nilai koefisien regresi jumlah tenaga kerja sebesar 0,244, karena
persamaan model estimasi dalam bentuk logaritma maka diartikan
apabila jumlah tenaga kerja meningkat secara relatif sebesar 1% atau
secara absolut sebesar 0.275 HKO ( berasal dari 1% dari 27.5
HKO atau biaya tenaga kerja meningkat sebesar Rp 12.487
berasal dari 0.01 X Rp 1.248.750 ), maka pendapatan petani jagung
di Kecamatan Tigabinanga meningkat secara relatif sebesar 0,244 %
atau secara absolut sebesar Rp 29.976 ( berasal dari 0.0244 x
Rp 12.285.429/100) ceteris paribus dalam satu kali masa tanam ( 5
bulan ).
3. Dari nilai koefisien regresi jumlah tenaga kerja sebesar 0,244, ini
menunjukan nilai koefisien elastisitas sebesar 0,244 < 1 maka
elastisitasnya bersifat inelastis artinya persentasi perubahan
pendapatan petani jagung lebih kecil dari persentasi perubahan
jumlah tenaga kerja.
Selanjutnya penajaman pembahasan dilakukan uji parsial untuk
mengetahui hubungan yang signifikan atau tidak signifikan dengan
menggunakan uji t seperti dibawah ini :
b. Dengan hasil t hitung 4.641 > 1,98 t tabel , sig. ,000 < 0,05 Ha
1. Variabel jumlah tenaga kerja berpengaruh positif dan signifikan
terhadap total pendapatan petani jagung.
2. Sesuai dengan hipotesis penelitian yang digunakan menyatakan
bahwa jumlah tenaga kerja berpengaruh secara positif terhadap total
pendapatan petani jagung di Kecamatan Tigabinanga, Ceteris
Paribus.
3. Relevan dengan hasil study Surviani,(2007) yang menyatakan bahwa
faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani jagung secara
signifikan adalah bibit,tenaga kerja,produksi jagung dan pola tanam.
Secara keseluruhan nilai koefisien elastisitas sebesar 8.3284
( berasal dari penjumlahan koefisien regresi masing-masing variabel
8.085 - 0.0016 + 0.001 + 0.244 ) lebih besar dari satu yang berarti
memiliki sifat yang elastis, artinya persentasi perubahan variabel
independen meningkatkan pendapatan petani jagung di Kecamatan
Tigabinanga.
4.1.8 Uji Asumsi Klasik
a. Uji Normalitas
Hasil uji normalitas data di peroleh nilai significansi sebesar 0.110 >
b. Uji Linieritas
Hasil uji linearity menunjukan masing - masing nilai sig (.000 ) < 0.0
5 yang berarti variabel memiliki hubungan yang linear. ( lampiran 10 )
c. Multikolinearitas
Dari hasil pengujian multikolinearitas diantara masing-masing variabel
independen dapat dilihat nilai R2 partsial di Tabel 4.2. di bawah ini
menunjukkan bahwa lebih kecil daripada nilai R2 hasil regresi model awal
sebesar 0,771 . Berdasarkan kepada rule of thumb menunjukkan bahwa tidak
ditemukan adanya multikolinearitas.
Hasil Uji Spearman’s rho yaitu uji yang mengkorelasikan nilai residual (
unstandardized residual ) dengan masing-masing variabel independen Nilai
signifikansi setiap variabel > 0.05 berarti tidak terjadi heterokedastisitas terkecuali
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian pada bab sebelumnya yang menyatakan bahwa
koefisien elastisitas pendapatan bersifat elastis yang artinya penanbahan jumlah variabel
independen mampu meningkatkan pendapatan petani jagung di Kecamatan Tigabinanga,
apabila peningkatan pendapatan petani jagung ini terjadi dalam waktu yang panjang
berarti mengurangi kemiskinan di Kecamatan Tigabinanga.
Berdasarkan uji-t, maka penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai
berikut:
1. Luas lahan berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap total
pendapatan petani jagung di Kecamatan Tigabinanga.
2. Jumlah benih berpengaruh secara negatif dan tidak signifikan terhadap
pendapatan petani jagung di Kecamatan Tigabinanga.
3. Jumlah pupuk berpengaruh secara positif dan tidak signifikan terhadap
pendapatan petani jagung di Kecamatan Tigabinanga.
4. Jumlah tenaga kerja berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap
pendapatan petani jagung di Kecamatan Tigabinanga.
5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh, maka penulis mengajukan beberapa
saran yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani jagung di Kecamatan
a. Luas lahan merupakan variabel yang dominan mempengaruhi pendapatan
petani jagung namun lahan telah mencapai luas seluruh lahan pertanian di
kecamatan Tigabinanga untuk meningkatkan pendapatan perlu dilakukan
tanaman tumpangsari atau intensifikasi penggunaan lahan dengan
mengkombinasikan jagung dengan kedele, jagung dengan ubi jalar.
b. Jumlah benih berpengaruh secara negatif dan tidak signifikan terhadap
pendapatan petani jagung di Kecamatan Tigabinanga hal ini disebabkan
kekurangan air maka perlu dilakukan / pembuatan kantung /resapan air
(biopori) di lahan untuk menyimpan/menahan ketersediaan air pada saat turun
hujan dan melepaskan air pada saat proses percambahan benih agar
meningkatkan kemampuan tumbuh benih dan melepaskan air pada saat proses
produksi tanaman jagung yang akhirnya meningkatkan pendapatan petani
jagung di Kecamatan Tigabinanga.
c. Jumlah pupuk berpengaruh secara positif namun nilai koefisien regresi sangat
rendah dan tidak signifikan terhadap pendapatan petani jagung di Kecamatan
Tigabinanga maka selain pembuatan resapan biopori perlu dilakukan
pengukuran unsur hara di lahan tanaman jagung agar pupuk yang di curahkan
sesuai dengan dosis tanaman jagung, penggunaan pupuk cair organik karena
lebih cepat larut dengan tanah dan tidak meninggalkan residual di tanah dan
meningkatkan kemampuan daya rangsang akar,buah dan mikroorganisma
dalam tanah sehingga kemampuan produksi dapat meningkat dan biaya pupuk
d. Jumlah tenaga kerja berpengaruh secara positif namun nilai koefisien regresi
rendah dan signifikan terhadap pendapatan petani jagung di Kecamatan
Tigabinanga namun penyerapan tenaga kerja ini bersifat musiman (
sambilan,sementara, aron )oleh karena itu perlu dilakukan pengkajian lebih
tajam untuk menentukan strategi pembangunan berbasis lahan jagung
sehingga terjadi penyerapan tenaga kerja pertanian yang permanen dalam
jangka panjang yang disebabkan terjadinya stabilitas harga
DAFTAR PUSTAKA
BPS. 2005. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Karo Menurut Lapangan
Usaha, Kerjasama BPS dengan BAPPEDA Kabupaten Karo
______ 1999. Karo Dalam Angka Tahun 1998. BPS Karo , Kabanjahe.
______ 2000. Karo Dalam Angka Tahun 1999. BPS Karo , Kabanjahe.
______ 2001. Karo Dalam Angka Tahun 2000. BPS Karo , Kabanjahe.
______ 2002. Karo Dalam Angka Tahun 2001. BPS Karo , Kabanjahe.
______ 2003. Karo Dalam Angka Tahun 2002. BPS Karo , Kabanjahe.
______ 2004. Karo Dalam Angka Tahun 2003. BPS Karo , Kabanjahe.
______ 2005. Karo Dalam Angka Tahun 2004. BPS Karo , Kabanjahe
______ 2006. Karo Dalam Angka Tahun 2005. BPS Karo , Kabanjahe
______ 2007. Karo Dalam Angka Tahun 2006. BPS Karo , Kabanjahe
______ 2008. Karo Dalam Angka Tahun 2007. BPS Karo , Kabanjahe
______ 2009. Karo Dalam Angka Tahun 2008. BPS Karo , Kabanjahe
______ 2010. Karo Dalam Angka Tahun 2009. BPS Karo , Kabanjahe
Ghozali,H.Imam.2006. Aplikasi Analisis Multivariate dengan program SPSS, Cetakan Edisi ke Empat. Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang
Gujarati, D. 2003. Basic Econometrics. McGraw-Hill/Irvin. Cetakan Edisi ke Empat, USA
Joesran dan Fathorrozi, 2003. Teori Ekonomi Mikro. Edisi Pertama. Penerbit Salemba empat, Jakarta
Mankiw, N. Gregory. 2003. Teori Makroekonomi. Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta
Nahriyanti, 2006. Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Pada