• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perporma dan Biaya Operasional Mesin Pencacah Pelepah Sawit Rancangan UPT Mekanisasi Pertanian Provinsi Sumatera Utara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Perporma dan Biaya Operasional Mesin Pencacah Pelepah Sawit Rancangan UPT Mekanisasi Pertanian Provinsi Sumatera Utara"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

RANCANGAN UPT MEKANISASI PERTANIAN

PROVINSI SUMATERA UTARA

SKRIPSI

HANDYMAN MAKMUR WARUWU 110308034

PROGRAM STUDI KETEKNIKAN PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

(2)

RANCANGAN UPT MEKANISASI PERTANIAN

PROVINSI SUMATERA UTARA

SKRIPSI

OLEH:

HANDYMAN MAKMUR WARUWU 110308034

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Program Studi Keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

Disetujui Oleh: Komisi Pembimbing

Lukman Adlin Harahap, STP, M.Si Achwil Putra Munir, STP, M.Si

Ketua Anggota

Mengetahui,

Ainun Rohanah, STP, M.Si

Ketua Program Studi Keteknikan Pertanian

PROGRAM STUDI KETEKNIKAN PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

(3)

Pencacah Pelepah Kelapa Sawit Rancangan UPT Mekanisasi Pertanian Provinsi Sumatera Utara, dibimbing oleh LUKMAN ADLIN HARAHAP dan ACHWIL PUTRA MUNIR.

Pencacahan merupakan salah satu cara pengecilan ukuran zat padat menjadi kepingan-kepingan yang lebih kecil untuk menghasilkan padatan dengan ukuran tertentu. Pencacahan dengan alat mekanis belum banyak dilakukan karena kurangnya pengetahuan dan keterbatasan alat yang ada pada petani. Padahal, apabila dilakukan dapat meningkatkan pendapatan petani. Penelitian ini bertujuan untuk menguji performa mesin pencacah pelepah kelapa sawit rancangan UPT Mekanisasi Pertanian Provinsi Sumatera Utara dengan menggunakan pelepah kelapa sawit sebagai bahan bakunya dan menganalisis biaya operasionalnya. Parameter yang diamati adalah kapasitas efektif alat, rendemen pencacahan, persentase bahan tertinggal, dan konsumsi bahan bakar.

Hasil penelitian menunjukkan kapasitas efektif alat 287,29 Kg/jam. Rendemen pencacahan 94,2%. Persentase bahan tertinggal 5,2%. Bahan bakar 0,44 L/jam. Biaya pokok sebesar Rp. 53,9/Kg untuk tahun pertama, Rp.54,29/Kg untuk tahun kedua, Rp. 54,48/Kg untuk tahun ketiga, Rp. 54,79/Kg untuk tahun keempat, Rp. 55,12/Kg untuk tahun kelima. BEP sebanyak 62.209 Kg pada tahun pertama, 65.862 Kg pada tahun kedua, 67.759 Kg pada tahun ketiga, 70.755 Kg pada tahun keempat, 73.947 Kg pada tahun kelima. IRR sebesar 39,17%.

Kata kunci : mesin pencacah, performa, biaya operasional, pelepah kelapa sawit.

ABSTRACT

HANDYMAN MAKMUR WARUWU: Performance and Operating Costs Oil Palm Fronds Chopper Machine Designed by Agricultural Mechanization Unit of North Sumatra Province, supervised by LUKMAN ADLIN HARAHAP and ACHWIL PUTRA MUNIR.

Chopping is one way of size reduction of solids into smaller pieces to produce solids of a certain size. Chopping with a mechanical equipment has not much been done due to lack of knowledge and limitation of existing equipments of the farmers. In fact, if it can be done can increase farmers' income. The aim of the research was to test the performance of oil palm fronds chopper machine designed by Agricultural Mechanization Unit in North Sumatra Province using oil palm fronds as a raw material and analyze its operating costs. Observed parameters were effective capacity, yield of chopping, the percentage of materials left behind, and fuel consumption of the equipment.

The results showed that the effective capacity of the equipment was 287,29 Kg/hour. Chopping yield was 94,2%. The percentage of materials left behind was 5,2%. Fuel consumption was 0,44 L/hour. Cost of Analysis was Rp. 53,9/Kg for the first year, Rp. 54,29/Kg for the second year, Rp. 54,48/Kg for the third year, Rp.54,79/Kg for the fourth year, and Rp. 55,12/Kg for the fifth year. BEP was 62.209 Kg in the first year, 65.862 Kg in the second year, 67.759 Kg in the third year, 70.755 Kg in the fourth year and 73.947 Kg in the fifth year. The IRR was 39,17%.

(4)

Handyman Makmur Waruwu, dilahirkan di Bawodesolo Kota

Gunungsitoli pada tanggal 1 Juli 1993 dari ayah Yoniaro Waruwu dan ibu Air

Manis Zendrato. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.

Tahun 2011 penulis lulus dari SMA Negeri Unggulan Sukma Nias dan

pada tahun yang sama lulus seleksi masuk ke Fakultas Pertanian USU melalui

jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) jalur tertulis.

Penulis memilih Program Studi Keteknikan Pertanian.

Selama mengikuti perkuliahan penulis aktif menjadi anggota Ikatan

Mahasiswa Teknik Pertanian (IMATETA), sebagai Badan Pengurus Harian

Paduan Suara El-Shaddai USU tahun 2012-2014, dan sebagai Koordinasi Unit

Kegiatan Mahasiswa Kristen Universitas Sumatera Utara Unit Pelayanan Fakultas

Pertanian (UKM KMK USU UP FP) tahun 2015.

Penulis melaksanakan praktek kerja lapangan (PKL) di PT. Perkebunan

Nusantara III Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Rambutan, Tebing Tinggi, Sumatera

(5)

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas

berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang

berjudul “Performa dan Biaya Operasional Mesin Pencacah Pelepah Kelapa Sawit

Rancangan UPT Mekanisasi Pertanian Provinsi Sumatera Utara” yang merupakan

salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Program Studi Keteknikan

Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada

Bapak Lukman Adlin Harahap, STP, M.Si selaku ketua komisi pembimbing dan

kepada Bapak Achwil Putra Munir, STP, M.Si selaku anggota komisi

pembimbing yang telah banyak membimbing dan memberikan berbagai masukan,

saran dan kritikan yang sangat berharga kepada penulis sehingga draft ini dapat

diselesaikan dengan baik. Terimakasih penulis ucapkan kepada kedua orangtua

dan kedua saudaraku yang telah mendukung penulis baik secara moril dan materil.

Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada semua staf pengajar dan

pegawai Program Studi Keteknikan Pertanian serta semua rekan mahasiswa yang

tidak dapat disebutkan satu per satu, yang telah membantu penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat

bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Agustus 2015

(6)

Hal

ABSTRAK ... i

RIWAYAT HIDUP ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Tujuan Penelitian ... 2

Kegunaan Penelitian... 2

TINJAUAN PUSTAKA Kelapa Sawit ... 4

Pelepah Kelapa Sawit ... 6

Peranan Mekanisasi Pertanian ... 7

Elemen Mesin ... 8

Motor diesel ... 8

Poros ... 9

Sabuk V ... 10

Roda transmisi ... 10

Bantalan... 11

Mekanisme Pembuatan Alat ... 12

Kapasitas Kerja Mesin Pertanian ... 12

Pengecilan Ukuran ... 12

Konsumsi Bahan Bakar... 13

Analisis Ekonomi ... 13

Biaya pokok ... 14

Break even point ... 17

Net present value ... 18

Internal rate of return ... 18

METODOLOGI PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian... 19

Bahan dan Alat Penelitian... 19

Metodologi Penelitian ... 19

Komponen Alat ... 19

Prosedur Penelitian ... 20

Persiapan ... 20

Pengujian alat... 21

Parameter yang Diamati ... 21

Kapasitas efektif alat ... 21

Rendemen pencacahan ... 22

Persentase bahan tertinggal ... 22

Konsumsi bahan bakar ... 22

Analisis Ekonomi ... 22

(7)

Break even point ... 24

Net present value ... 24

Internal rate of return ... 24

HASIL DAN PEMBAHASAN Prinsip Kerja Alat ... 25

Kapasitas Efektif Alat ... 25

Rendemen Pencacahan ... 27

Persentase Bahan Tertinggal... 27

Bahan Bakar Digunakan ... 28

Analisis Ekonomi ... 29

Biaya pokok ... 29

Break even point ... 30

Net present value ... 30

Internal rate of return ... 31

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 32

Saran ... 33 DAFTAR PUSTAKA

(8)

No. Hal

1. Kapasitas alat mesin pencacah pelepah kelapa sawit ... 27

2. Rendemen pencacahan ... 28

3. Persentase bahan tertinggal ... 29

4. Bahan bakar digunakan ... 29

5. Biaya pokok/produksi ... 30

(9)

No. Hal

1. Flowchart pelaksanaan penelitian ... 36

2. Kapasitas alat ... 37

3. Rendemen pencacahan ... 38

4. Persentase bahan tertinggal ... 39

5. Bahan bakar digunakan ... 40

6. Biaya pokok ... 41

7. Break even point (BEP) ... 45

8. Net present value (NPV) ... 47

9. Internal rate of return (IRR) ... 50

10. Tabel suku bunga ... 51

11. Standard SNI ... 52

11. Proses penelitian ... 53

(10)

Pencacah Pelepah Kelapa Sawit Rancangan UPT Mekanisasi Pertanian Provinsi Sumatera Utara, dibimbing oleh LUKMAN ADLIN HARAHAP dan ACHWIL PUTRA MUNIR.

Pencacahan merupakan salah satu cara pengecilan ukuran zat padat menjadi kepingan-kepingan yang lebih kecil untuk menghasilkan padatan dengan ukuran tertentu. Pencacahan dengan alat mekanis belum banyak dilakukan karena kurangnya pengetahuan dan keterbatasan alat yang ada pada petani. Padahal, apabila dilakukan dapat meningkatkan pendapatan petani. Penelitian ini bertujuan untuk menguji performa mesin pencacah pelepah kelapa sawit rancangan UPT Mekanisasi Pertanian Provinsi Sumatera Utara dengan menggunakan pelepah kelapa sawit sebagai bahan bakunya dan menganalisis biaya operasionalnya. Parameter yang diamati adalah kapasitas efektif alat, rendemen pencacahan, persentase bahan tertinggal, dan konsumsi bahan bakar.

Hasil penelitian menunjukkan kapasitas efektif alat 287,29 Kg/jam. Rendemen pencacahan 94,2%. Persentase bahan tertinggal 5,2%. Bahan bakar 0,44 L/jam. Biaya pokok sebesar Rp. 53,9/Kg untuk tahun pertama, Rp.54,29/Kg untuk tahun kedua, Rp. 54,48/Kg untuk tahun ketiga, Rp. 54,79/Kg untuk tahun keempat, Rp. 55,12/Kg untuk tahun kelima. BEP sebanyak 62.209 Kg pada tahun pertama, 65.862 Kg pada tahun kedua, 67.759 Kg pada tahun ketiga, 70.755 Kg pada tahun keempat, 73.947 Kg pada tahun kelima. IRR sebesar 39,17%.

Kata kunci : mesin pencacah, performa, biaya operasional, pelepah kelapa sawit.

ABSTRACT

HANDYMAN MAKMUR WARUWU: Performance and Operating Costs Oil Palm Fronds Chopper Machine Designed by Agricultural Mechanization Unit of North Sumatra Province, supervised by LUKMAN ADLIN HARAHAP and ACHWIL PUTRA MUNIR.

Chopping is one way of size reduction of solids into smaller pieces to produce solids of a certain size. Chopping with a mechanical equipment has not much been done due to lack of knowledge and limitation of existing equipments of the farmers. In fact, if it can be done can increase farmers' income. The aim of the research was to test the performance of oil palm fronds chopper machine designed by Agricultural Mechanization Unit in North Sumatra Province using oil palm fronds as a raw material and analyze its operating costs. Observed parameters were effective capacity, yield of chopping, the percentage of materials left behind, and fuel consumption of the equipment.

The results showed that the effective capacity of the equipment was 287,29 Kg/hour. Chopping yield was 94,2%. The percentage of materials left behind was 5,2%. Fuel consumption was 0,44 L/hour. Cost of Analysis was Rp. 53,9/Kg for the first year, Rp. 54,29/Kg for the second year, Rp. 54,48/Kg for the third year, Rp.54,79/Kg for the fourth year, and Rp. 55,12/Kg for the fifth year. BEP was 62.209 Kg in the first year, 65.862 Kg in the second year, 67.759 Kg in the third year, 70.755 Kg in the fourth year and 73.947 Kg in the fifth year. The IRR was 39,17%.

(11)

Latar Belakang

Indonesia merupakan negara dengan luas lahan kelapa sawit terbesar di

dunia. Pada tahun 2014 tercatat luas lahan kelapa sawit di Indonesia mencapai

10.010.824 Hektare (Saidi, 2014), dan dengan luas lahan tersebut maka volume

limbah yang dihasilkan sangat banyak. Di perkebunan, limbah utama yang

dihasilkan berupa pelepah kelapa sawit yang berasal dari pembersihan pohon

setiap 6 bulan sekali.

Pengolahan dan pemanfaatan pelepah kelapa sawit masih sangat

terbatas. Sebagian besar perkebunan kelapa sawit masih membakar pelepah

kelapa sawit meskipun sudah dilarang oleh pemerintah. Pembakaran pelepah

kelapa sawit sebagai usaha untuk memperkecil volume limbah dapat

menimbulkan pencemaran udara.

Optimalisasi pemanfaatan pelepah kelapa sawit dapat dilakukan dengan

pengecilan ukuran. Pengecilan ukuran dilakukan dengan pencacahan. Sebagian

orang memanfaatkan cacahan pelepah kelapa sawit sebagai bahan pembuatan

kompos dan juga sebagai pakan ternak.

Hasil analisis Laboratorium Ilmu Nutrisi Makanan Ternak, Departemen

Peternakan Fakultas Pertanian USU (2000), pelepah daun kelapa sawit

mengandung 6,50% protein kasar, 32,55% serat kasar, 4,47% lemak kasar, 9,34%

bahan kering dan 56,00% TDN.

Pemanfaatan pelepah kelapa sawit sebagai pakan maupun pupuk masih

diolah secara tradisonal dalam bentuk pencacahan secara manual, yang

(12)

manual didapatkan kapasitas pencacahan 9-10 kg/jam, hal ini berakibat

menumpuknya limbah pelepah sawit jika tidak dilakukan pencacahan dengan

cepat (Rusadi, 2012).

Pengolahan limbah pelepah kelapa sawit yang masih secara manual

dirasakan tidak efektif terhadap kebutuhan pelepah sebagai bahan pakan ternak

dan bahan pembuatan pupuk kompos.

Penelitian ini dimulai dengan melakukan studi literatur (kepustakaan)

dan persiapan alat serta bahan. Pada pengamatan parameter dilakukan dengan

mencacah pelepah kelapa sawit, lalu dihitung kapasitas mesin, rendemen mesin

dan konsumsi bahan bakar pada setiap kali ulangan. Selanjutnya dilakukan

analisis ekonomi alat dengan menghitung biaya pokok, BEP, NPV dan IRR.

Penelitian tentang mesin pencacah pelepah kelapa sawit ini juga

sebelumnya pernah dilakukan di BPTP Sumatera Barat oleh Febriani Rusadi pada

tahun 2012 untuk menghitung kinerja puli. Menurut Rusadi (2012) kapasitas kerja

efektif yang terbesar adalah pada perbandingan puli 1:1,33 yaitu 529,27 Kg/jam.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menguji performa mesin pencacah

pelepah kelapa sawit rancangan UPT Mekanisasi Pertanian Provinsi Sumatera

Utara dengan menggunakan pelepah kelapa sawit sebagai bahan bakunya dan

menganalisis biaya operasionalnya.

Kegunaan Penelitian

1. Bagi penulis yaitu sebagai bahan untuk menyusun skripsi yang

merupakan syarat untuk menyelesaikan pendidikan di Program Studi

(13)

2. Bagi mahasiswa, sebagai informasi pendukung untuk melakukan

penelitian lebih lanjut mengenai mesin pencacah pelepah kelapa sawit.

3.

Bagi masyarakat, sebagai bahan informasi bagi pihak yang

membutuhkan terutama pengusaha perkebunan kelapa sawit, pengusaha

(14)

Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) berasal dari Nigeria, Afrika Barat. Meskipun demikian ada yang menyatakan bahwa kelapa sawit

berasal dari Amerika Selatan yaitu Brazil karena lebih banyak ditemukan spesies

kelapa sawit di hutan Brazil dibandingkan dengan Afrika. Pada kenyataannya

tanaman kelapa sawit hidup subur di luar daerah asalnya, seperti Malaysia,

Indonesia, Thailand, dan Papua Nugini (Fauzi, 2002).

Kelapa sawit, saat ini berkembang pesat di Indonesia. Masuknya bibit

kelapa sawit ke Indonesia pada tahun 1948 hanya sebanyak 4 batang yang berasal

dari Bourbon (Mauritius) dan Amsterdam. Keempat batang bibit kelapa sawit

ditanam di Kebun Raya Bogor dan selanjutnya disebarkan ke Deli, Sumatera

Utara (Risza, 1994).

Menurut Mustafa (2004), taksonomi kelapa sawit yang umum diterima

sekarang adalah sebagai berikut :

Divisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae

Kelas : Monocotyledonae

Ordo : Cocoidae

Famili : Palmae

Genus : Elaeis

Spesies : Elaeis guineensis Jacq

Nama Elaeis guineensis diberikan oleh Jacquin pada tahun 1763 berdasarkan

pengamatan pohon–pohon kelapa sawit yang tumbuh di Martinique, kawasan Hindia

(15)

dipilih berdasarkan keyakinan Jacquin bahwa kelapa sawit berasal dari Guinea (Pahan,

2006).

Menurut Sastrosayono (2003), varietas tanaman kelapa sawit dapat dibedakan

berdasarkan tebal cangkang/tempurung dan daging buah, serta warna kulit buahnya.

Berdasarkan ketebalan cangkang/tempurung dan daging buah varietas kelapa sawit

dibedakan :

1. Dura

Varietas ini memiliki tempurung yang cukup tebal yaitu antara 2-8 mm dan tidak

terdapat lingkaran sabut pada bagian luar cangkang. Daging buah relatif tipis yaitu

35-50% terhadap buah, kernel (daging biji) lebih besar dengan kandungan minyak

sedikit.

2. Pisifera

Ketebalan cangkang sangat tipis, bahkan hampir tidak ada tetapi daging buahnya

tebal, lebih tebal dari buah dura. Daging biji sangat tipis, tidak dapat diperbanyak

tanpa menyilangkan dengan jenis lain dan dipakai sebagai pohon induk jantan.

3. Tenera

Berdasarkan tebal tipisnya cangkang sebagai faktor homozygote tunggal yaitu dura

bercangkang tebal jika dikawinkan dengan pisifera bercangkang tipis maka akan

menghasilkan varietas baru yaitu tenera. Batang kelapa sawit tumbuh tegak lurus

(phototropi) dan pelepah daun (frond base) menempel membalut batang. Pada

tanaman dewasa diameternya dapat mencapai 40-60 cm, bagian bawah batangnya

lebih gemuk disebut bongkol bawah (bowl). Kecepatan tumbuh berkisar 35-75

cm/tahun. Karena sifatnya yang phototropi dan heliotropi (menuju cahaya dan arah

matahari) maka pada keadaan terlindung, tumbuhnya akan lebih cepat akan tetapi

(16)

Pelepah Kelapa Sawit

Pangkal pelepah daun (petiole) adalah tempat duduknya helaian daun (leaf let)

dan terdiri dari rachis (basis foli), tangkai daun (petiole) dan duri (spine), helaian anak

daun (lamina), ujung daun (apex foli), lidi (nervatio), daun (margo folii) dan daging daun

(intervenium) (Fauzi, dkk., 2002).

Daun kelapa sawit mirip kelapa yaitu membentuk susunan daun majemuk,

bersirip genap dan bertulang sejajar. Daun-daun membentuk satu pelepah yang

panjangnya mencapai lebih dari 7,5-9 meter. Jumlah anak daun disetiap pelepah berkisar

antara 250-400 helai, daun muda yang masih kuncup berwarna kuning pucat. Pada tanah

yang subur, daun cepat membuka sehingga makin efektif melakukan fungsinya sebagai

tempat berlangsungnya fotosintesis dan sebagai alat respirasi. Semakin lama proses

fotosintesis berlangsung, semakin banyak bahan makanan yang dibentuk sehingga

produksi akan meningkat. Jumlah pelepah, panjang pelepah, dan jumlah anak daun

tergantung pada umur tanaman. Tanaman yang berumur tua, jumlah pelepah dan anak

daun lebih banyak. Begitu pula pelepahnya akan lebih panjang dibandingkan dengan

tanaman yang masih muda (Fauzi, dkk., 2002).

Batang dan pelepah dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Pada prinsipnya

terdapat 3 cara pengolahan batang kelapa sawit untuk dijadikan pakan ternak yaitu

pengolahan menjadi silase, perlakuan NaOH dan pengolahan dengan menggunakan uap.

Untuk pelepah sawit, pengolahan yang paling efisien adalah dengan membuat silase.

Pengalaman peternak sapi di Malaysia pada usaha penggemukan sapi dengan skala 1.500

ekor, menggunakan komposisi makanan campuran dengan perbandingan 50 % pelepah

kelapa sawit dan 50 % konsentrat (Fauzi, dkk., 2002).

Gaya potong pelepah kelapa sawit dapat dihitung dengan meletakkan pisau

diatas neraca (posisi tegak lurus terhadap neraca), kemudian pelepah dipecutkan kearah

(17)

berapa Kg gaya potong maksimal yang terjadi. Hasil dari percobaan gaya potong terhadap

pelepah kelapa sawit sebanyak 5 kali pengulangan diketahui gaya potong maksimal

adalah 4,1 Kg (Septiadi, 2013).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap uji fisik dan mekanik

parenkim pelepah daun sawit, didapatkan bahwa pelepah kelapa sawit segar memiliki

sifat fisik dengan kadar air rata-rata 0,83%; berat jenis pelepah kelapa sawit adalah 0,362

g/cm3; modulus elastisitas 11.345 Kg/cm2; tegangan pada batas proporsi 146,696 Kg/cm2;

tegangan maksimum 178,521 Kg/cm2; daya lenting 0,165 Kg m; dan deformasi mulur

0,682 mm ( Intara dan Banun, 2012).

Berat jenis ini diduga sangat dipengaruhi oleh anatomi parenkim pelepah

sawit. Anatomi batang parenkim pelepah sawit secara makro terdiri dari dua jaringan

utama yaitu parenkim dasar dan pembuluh sangat mempengaruhi massa bahan. Jika

dihubungkan dengan komponen kimia yang terdapat didalam parenkim pelepah sawit

maka kandungan selulosa dan lignin berpengaruh terhadap massa bahan. Kerapatan serat

sangat ditentukan kandungan selulosa dan lignin parenkim. Serat yang satu dengan serat

yang lain diikat oleh lignin dalam suatu ikatan yang kompak dan tersusun rapat pada

batang parenkim pelepah sawit. Semakin tinggi kandungan selulosa maka semakin tinggi

ikatan mikrofilbil. Semakin banyak ikatan mikrofibil semakin banyak serat-serat yang

tersusun. Akan tetapi yang paling berperan dalam membentuk suatu ikatan yang kompak

dan susunan yang rapat adalah kandungan lignin. Jadi secara tidak langsung berat jenis

dipengaruhi oleh kandungan selulosa dan lignin (Pasaribu, 1990).

Peranan Mekanisasi Pertanian

Ilmu mekanisasi pertanian adalah ilmu yang mempelajari penguasaan dan

pemanfaatan bahan dan tenaga alam untuk mengembangkan daya kerja manusia dalam

bidang pertanian, demi untuk kesejahteraan manusia. Pengertian pertanian dalam hal ini

(18)

Peranan mekanisasi pertanian dalam pembangunan pertanian di Indonesia

adalah:

1. Mempertinggi efisiensi tenaga manusia,

2. Meningkatkan derajat dan taraf hidup petani,

3. Menjamin kenaikan kualitas dan kuantitas serta kapasitas produksi pertanian,

4. Memungkinkan pertumbuhan tipe usaha tani, yaitu dari tipe pertanian untuk

kebutuhan keluarga (subsistence farming) menjadi tipe pertanian perusahaan

(commercial farming),

5. Mempercepat transisi bentuk ekonomi Indonesia dari bersifat agraris menjadi

bersifat industri.

(Hardjosentono, dkk., 1996).

Mekanisasi pertanian di Indonesia sudah sejak lama menjadi keharusan, oleh

karena itu muatan teknologinya harus selalu diperkaya dan disesuaikan seiring dengan

perkembangan lingkungan strategis nasional maupun global. Perkembangan lingkungan

strategis tersebut diantaranya adalah adanya perkembangan harga dan permintaan pangan

dan energi yang semakin meningkat Perkembangan mekanisasi pertanian tentunya harus

ditunjang dengan ketersediaan bahan bakar yang dibutuhkan untuk mengoperasikannya.

Terhambatnya penggunaan peralatan dan mesin pertanian tersebut tentunya akan

berdampak pada menurunnya kinerja sektor pertanian (Prastowo, dkk., 2009).

Elemen Mesin

Motor diesel

Motor penggerak adalah motor yang dapat mengubah tenaga panas hasil dari

suatu pembakaran menjadi tenaga mekanik. Motor penggerak dapat dibedakan dalam 2

golongan, yaitu:

1. Motor dengan pembakaran diluar,

2. Motor dengan pembakaran didalam silinder.

(19)

Motor diesel adalah motor pembakaran dalam (internal combustion engine)

yang beroperasi dengan menggunakan minyak gas atau minyak berat sebagai bahan bakar

dengan suatu prinsip bahan bakar tersebut disemprotkan (diinjeksikan) kedalam silinder

yang didalamnya sudah terdapat udara dengan tekanan dan suhu yang cukup tinggi

sehingga bahan bakar tersebut secara spontan terbakar (Soenarto dan Shoichi, 1995).

Sifat berikut, mempengaruhi prestasi dan keandalan dari mesin diesel:

penguapan, residu karbon, viskositas, kandungan belerang, abu, air dan endapan, titik

nyala, titik tuang, sifat korosif dan keasaman serta mutu penyalaan. Tetapi mutu

penyalaan hanya penting untuk mesin kecepatan tinggi dan oleh karenanya didaftarkan

paling akhir dalam urutan pentingnya untuk mesin ini (Maleev, 1991).

Minyak bakar yang disemprotkan kedalam silinder berbentuk butir-butir

cairan yang halus. Oleh karena udara di dalam silinder pada saat tersebut sudah

bertemperatur dan bertekanan tinggi maka butir-butir tersebut akan menguap. Penguapan

butir bahan bakar itu dimulai pada bagian permukaan luarnya, yaitu bagian yang terpanas.

Uap bahan bakar yang terjadi itu selanjutnya bercampur dengan udara yang ada

disekitarnya. Proses penguapan itu berlangsung terus selama temperatur sekitarnya

mencukupi (Arismunandar dan Koichi, 2004).

Poros

Poros merupakan salah satu bagian yang terpenting dari setiap mesin. Hal- hal

yang perlu diperhatikan di dalam merencanakan sebuah poros adalah:

1. Kekuatan poros

Suatu poros dapat mengalami beban puntir atau lentur atau gabungan antara puntir

dan lentur. Juga ada poros yang mendapat beban tarik atau tekan. Kelelahan,

pengaruh konsentrasi tegangan bila diameter poros diperkecil (poros bertangga),

poros mempunyai alur pasak, harus diperhatikan. Sebuah poros harus direncanakan

(20)

2. Kekakuan poros

Meskipun sebuah poros mempunyai kekuatan yang cukup tetapi jika lenturan atau

defleksi puntirnya terlalu besar akan mengakibatkan ketidaktelitian atau

menimbulkan getaran dan suara. Karena itu, kekuatan poros harus diperhatikan dan

disesuaikan dengan jenis mesin yang akan dilayani oleh poros tersebut.

3. Putaran kritis

Bila putaran suatu mesin dinaikkan maka pada suatu harga putaran tertentu dapat

terjadi getaran yang luar biasa besarnya. Putaran ini disebut putaran kritis. Poros

harus direncanakan sedemikian rupa hingga putaran kerjanya lebih rendah dari

putaran kritisnya.

4. Korosi

Bahan- bahan tahan korosi harus dipilih untuk propeler dan pompa bila terjadi

kontak dengan media yang korosif. Demikian pula untuk poros yang terancam

kavitasi dan poros mesin yang sering berhenti lama.

(Achmad, 2006).

Sabuk V

Sabuk bentuk trapesium atau bentuk V dinamakan demikian karena sisi sabuk

dibuat serong, supaya cocok dengan alur roda transmisi yang berbentuk V. Kontak

gesekan terjadi antara sisi sabuk V dengan dinding alur menyebabkan berkurangnya

kemungkinan selipnya sabuk penggerak dengan tegangan yang lebih kecil. Sabuk V

sering digunakan dalam keadaan rangkap bilamana daya yang dipindahkan melebihi

kemampuan satu sabuk (tunggal). Dalam pemindahan daya dengan sabuk rangkap perlu

bahwa semua sabuk sama panjangnya agar supaya beban terbagi rata (Smith dan

Lambert, 1990).

Roda transmisi

Roda transmisi beralur untuk sabuk V dibuat dari besi tuang, baja tuang atau

(21)

berubah-ubah untuk memperoleh nisbah kecepatan putar yang berbeda. Yang pertama disebut

sebagai tipe kontrol stasioner. Dalam roda transmisi tipe ini diameter alur diatur dengan

mengubah cakram yang dapat diambil pada waktu mesin tidak bekerja. Pada kedua tipe

lainnya diameter alur dapat diubah pada waktu mesin sedang bekerja. Ada dua tipe

dasar alur yang tersedia untuk roda transmisi dengan sabuk V yaitu yang baku dan

yang dalam (Smith dan Lambert, 1990).

Bantalan

Bantalan dalam peralatan usaha tani diperlukan untuk menahan berbagai suku

pemindah gaya tetap di tempatnya. Bantalan yang tepat untuk digunakan ditentukan oleh

besarnya keausan, kecepatan putar poros, beban yang harus didukung, dan besarnya daya

dorong akhir (Smith dan Lambert, 1990).

Bantalan (bearing) digunakan kepada bagian mesin yang meneruskan gaya

atau beban dari bagian yang bergerak kepada bagian yang stasioner sehingga mendukung

bagian yang bergerak. Permukaan yang bersinggungan dibawah tekanan disebut

permukaan bantalan. Semua bantalan dapat dibagi menjadi dua golongan utama,

tergantung pada jenis gerakan bagian yang didukungnya:

1. Bantalan untuk gerak putar

2. Bantalan untuk gerak ulak-alik

(Maleev, 1991).

Mekanisme Pembuatan Alat

Dalam pekerjaan bengkel alat dan mesin, benda kerja yang akan dijadikan

dalam bentuk tertentu sehingga menjadi barang siap pakai dalam kehidupan sehari-hari,

maka dilakukan proses pengerjaan dengan mesin–mesin perkakas, antara lain mesin

bubut, mesin bor, mesin gergaji, mesin frais, mesin skrap, mesin asah, mesin gerinda, dan

mesin yang lainnya (Daryanto, 1993).

Kekuatan, keawetan, dan pelayanan yang diberikan peralatan usaha tani

(22)

pembuatannya. Dalam pembuatannya terdapat kecenderungan konstruksi peralatan untuk

meniadakan sebanyak mungkin baja tuangan dan mengganti dengan baja tekan atau baja

cetak. Bilamana hal ini dilakukan dapat menekan biaya membuat mesin dalam jumlah

besar. Keberhasilan atau kegagalan alat sering sekali tergantung pada bahan yang dipakai

untuk pembuatannya. Bahan yang digunakan untuk pembuatan peralatan usaha tani dapat

diklasifikasikan dalam logam dan non logam (Smith dan Wilkes, 1990).

Kapasitas Kerja Mesin Pertanian

Kapasitas kerja suatu alat atau mesin didefenisikan sebagai kemampuan alat

dan mesin dalam menghasilkan suatu produk (contoh: Ha. Kg, lt) persatuan waktu (jam).

Dari satuan kapasitas kerja dapat dikonversikan menjadi satuan produk per kW per jam,

bila alat atau mesin itu menggunakan daya penggerak motor. Jadi satuan kapasitas kerja

menjadi: Ha.jam/KW, Kg.jam/KW, Lt.jam/KW (Daywin, dkk., 2008).

Pengecilan Ukuran

Semua cara yang digunakan untuk memotong partikel zat padat dan

dipecahkan menjdi kepingan-kepingan yang lebih kecil dinamakan size reduction atau

pengecilan ukuran. Didalam industri pengolahan, zat padat diperkecil dengan berbagai

cara yang sesuai dengn tujuannya. Secara umum tujuan dari pengecilan ukuran adalah:

1. Menghasilkan padatan dengan ukuran maupun spesifik permukaan tertentu,

2. Memecahkan bagian dari mineral atau kristal dari persenyawaan kimia yang terpaut

pada padatan.

Beberapa cara untuk memperkecil ukuran zat padat dapat dilakukan dengan

menggunakan berbagai cara, yaitu: kompresi (tekanan), impak (pukulan), gesekan dan

pemotongan/ pencacahan (Sukma, 2009).

Hijauan yang telah dicacah memungkinkan ternak dapat

mengkonsumsi/mengunyah hijauan tersebut dengan lebih baik. Disamping itu dalam

proses pembuatan silase diperlukan hijauan yang telah tercacah agar prosesnya

(23)

menjadi potongan-potongan secara seragam dengan panjang potongan 2-5 cm (Unadi,

2003).

Konsumsi Bahan Bakar

Pengamatan bahan bakar diperlukan untuk mengetahui berapa banyak bahan

bakar yang digunakan untuk mencacah caranya yaitu dengan mengisi penuh tangki bahan

bakar sebelum alat dioperasikan. Setelah alat selesai dioperasikan, bahan bakar bensin

diisi kembali sampai penuh dan dicacat besarnya volume penambahan bahan bakar

tersebut.

Debit pemakaian bahan bakar dapat dihitung dengan rumus:

Q = volume

T

... (1)

Dengan:

Q = debit pemakaian bahan bakar (liter/jam)

Vol = volume pemakaian bahan bakar pada saat beroperasi (cm3)

T = total operasional waktu alat pencacah (menit)

(Rusadi, 2012).

Analisis Ekonomi

Analisis ekonomi digunakan untuk menentukan besarnya biaya yang harus

dikeluarkan saat produksi menggunakan alat ini. Dengan analisis ekonomi dapat

diketahui seberapa besar biaya produksi sehingga keuntungan alat dapat diperhitungkan.

Biaya variabel adalah biaya yang besarnya tergantung pada output yang dihasilkan.

Semakin banyak produk yang dihasilkan maka semakin banyak bahan yang digunakan.

Sedangkan, biaya tetap adalah biaya yang tidak tergantung pada banyak sedikitnya

produk yang akan dihasilkan (Soeharno, 2007).

Untuk menilai kelayakan finansial, diperlukan semua data yang

(24)

pengukuran kelayakan tersebut meliputi data tenaga kerja, sarana produksi, hasil

produksi, harga, upah, dan suku bunga (Nastiti, dkk., 2008).

Biaya pokok

Biaya produksi atau biaya pokok adalah biaya dari tiga unsur biaya yaitu biaya

langsung, tenaga kerja langsung dan over head pabrik. Biaya-biaya ini secara langsung

berkaitan dengan biaya pembuatan produk secara fisik yang dikeluarkan dalam rangka

kegiatan proses produksi sehingga disebut juga dengan production cost. Biaya produksi

terdiri dari biaya bahan langsung, biaya tenaga kerja langsung, biaya bahan tak langsung,

biaya tenaga kerja tak langsung, dan biaya tak langsung lainnya. (Giatman, 2006).

Bagi suatu kegiatan usaha, apapun bidang usaha hanya mengenal dua macam

biaya, yaitu:

a. Biaya tetap (fixed cost) yaitu biaya yang selalu harus dikeluarkan tanpa memandang

aktifitas produksi yang sedang dilaksanakan, misalnya: gaji personel, staf kantor,

biaya rutin kantor, penyusutan, dll.

b. Biaya tidak tetap (variable cost) yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan

dengan kegiatan produksi misalnya: pembelian bahan, sewa alat, upah buruh, bahan

bakar, dll.

(Waldiyono, 2008).

Investasi di bidang mesin/alat dimaksud untuk memperoleh keuntungan yang

wajar, karena itu perlu dilakukan perhitungan biaya produksi. Prestasi mesin/alat harus

mengimbangi biaya tetap dan biaya tidak tetap. Prestasi mesin/alat dapat diukur dengan

cara:

Biaya produksi = Biaya perjam serendah mungkin

Produksi perjam setinggi mungkin

... (2)

(25)

1. Biaya tetap

Biaya tetap terdiri dari :

- Biaya penyusutan (Sinking Fund Methods)

Dt = P – (P-S)(A/F, i%, n) (F/A, i%, t)...(3)

dimana :

Dt = Biaya penyusutan (Rp/tahun)

P = Nilai awal (harga beli/pembuatan) alsin (Rp)

S = Nilai sisa pada tahun akhir (Rp)

i = Suku bunga (%)

n = Perkiraan umur ekonomi (tahun)

- Biaya bunga modal dan asuransi, diperhitungkan untuk mengembalikan nilai

modal yang ditanam sehingga pada akhir umur peralatan diperoleh suatu nilai

uang yang present value nya sama dengan nilai modal yang ditanam. Persamaan

yang digunakan:

I = i P (n+1)

2n ...(4)

dimana :

i = Total persentase bunga modal dan asuransi (5,5% pertahun)

I = Total bunga modal dan asuransi (Rp/tahun)

P = Harga awal mesin (Rp)

N = Umur ekonomis (tahun)

(Daywin, dkk., 2008)

- Biaya pajak

Di negara kita belum ada ketentuan besar pajak secara khusus untuk

mesin-mesin dan peralatan pertanian, namun beberapa literatur menganjurkan bahwa

biaya pajak alsin pertanian diperkirakan sebesar 1% pertahun dari nilai awalnya

(26)

2. Biaya tidak tetap

Biaya tidak tetap terdiri dari biaya bahan bakar, biaya reparasi, biaya perawatan

preventip, biaya ban dan biaya operator.

- Biaya bahan bakar adalah pengeluaran solar atau bensin (bahan bakar) pada

kondisi kerja per jam. Satuannya adalah liter per jam, sedangkan harga per

liter yang digunakan adalah harga lokasi.

- Biaya pemeliharaan preventip adalah untuk memberikan kondisi kerja yang

baik bagi mesin dan peralatan.

- Biaya ban per jam diperuntukan bagi traktor-traktor roda, sebab banyak

pengalaman menunjukkan bahwa penggantian ban ini besar pengaruhnya

terhadap biaya operasi.

- Dalam perhitungan biaya perbaikan ini dapat digolongkan ke dalam 3

golongan/alat pertanian, yaitu: biaya perbaikan untuk peralatan besar, biaya

perbaikan untuk traktor roda dua dan biaya perbaikan dan pemeliharaan mesin

sumberdaya motor.

(Daywin, 2006).

Break even point (BEP)

Break even point (BEP) umumnya berhubungan dengan proses penentuan

tingkat produksi untuk menjamin agar kegiatan usaha yang dilakukan dapat membiayai

sendiri (self financing). Selanjutnya dapat berkembang sendiri (self growing). Dalam

analisis ini, keuntungan awal dianggap sama dengan nol. Bila pendapatan dari produksi

berada di sebelah kiri BEP maka kegiatan usaha akan menderita kerugian, sebaliknya bila

di sebelah kanan BEP akan memperoleh keuntungan.

Analisis BEP juga digunakan untuk:

1. Hitungan biaya dan pendapatan untuk setiap alternatif kegiatan usaha.

2. Rencana pengembangan pemasaran untuk menetapkan tambahan investasi untuk

(27)

3. Tingkat produksi dan penjualan yang menghasilkan ekuivalensi (kesamaan) dari

dua alternatif usulan investasi.

Manfaat perhitungan BEP adalah untuk mengetahui batas produksi minimal

yang harus dicapai dan dipasarkan agar usaha yang dikelola masih layak untuk

dijalankan. Pada kondisi ini income yang diperoleh hanya cukup untuk menutupi biaya

operasional tanpa adanya keuntungan.

Untuk mendefinisikan antara titik impas pada keuntungan (P) nol dan titik

impas dengan kontribusi keuntungan, keuntungan sebelum pajak (P) perlu diperhatikan,

yakni:

S = FC + P

SP - VC ...(5)

dimana:

S = sales variabel (produksi) (Kg)

FC = fix cash (biaya tetap) per tahun (Rp)

P = profit (keuntungan) (Rp) dianggap nol untuk mendapat titik impas.

SP = selling per unit (penerimaan dari tiap unit produksi) (Rp)

VC = variabel cash (biaya tidak tetap) per unit produksi (Rp)

(Waldiyono, 2008).

Net present value (NPV)

Net Present Value (NPV) adalah metode menghitung nilai bersih (netto) pada

waktu sekarang (present). Asumsi present yaitu menjelaskan waktu awal perhitungan

bertepatan dengan saat evaluasi dilakukan atau pada periode tahun ke nol (0) dalam

perhitungan cash flow investasi.

Cash flow yang benefit saja perhitungannya disebut dengan present worth of

(28)

present worth of cost (PWC). Sementara itu NPV diperoleh dari PWB dikurangi PWC,

yakni:

NPV = PWB - PWC ...(6)

PWB = present worth of benefit

PWC = present worth of cost

Untuk mengetahui apakah rencana suatu investasi tersebut layak ekonomis

atau tidak, diperlukan suatu ukuran atau kriteria tertentu dalam metode NPV, yaitu:

NPV > 0 artinya investasi akan menguntungkan/ layak

NPV < 0 artinya investasi tidak menguntungkan

(Giatman, 2006).

Internal rate of return (IRR)

Internal rate of return (IRR) ini digunakan untuk memperkirakan kelayakan

lama (umur) pemilikan suatu alat atau mesin pada tingkat keuntungan tertentu. IRR

adalah suatu tingkatan discount rate, dimana diperoleh B/C ratio = 1 atau NPV = 0.

Berdasarkan harga dari NPV = X (positif) atau NPV= Y (positif) dan NPV =

X (positif) atau NPV = Y (negatif), dihitunglah harga IRR dengan menggunakan rumus

berikut:

) %)(

% (

% x q p positif dan negatif Y X X p IRR   

 ...(7)

atau ) %)( % (

% x q p positif dan positif Y X X q IRR   

 ...(8)

dimana :

p = suku bunga bank paling atraktif

q = suku bunga coba-coba ( > dari p)

X = NPV awal pada p

Y = NPV awal pada q

(29)

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei 2015 di Unit

Pelaksana Tugas (UPT) Mekanisasi Pertanian Dinas Pertanian Provinsi Sumatera,

Medan.

Bahan dan Alat Penelitian

Adapun bahan-bahan yang digunakan adalah: pelepah kelapa sawit dan

bahan bakar minyak (solar).

Adapun alat-alat yang digunakan adalah: mesin pencacah pelepah

kelapa sawit, meteran, karung sebagai wadah penampung cacahan, parang,

stopwatch, timbangan, kalkulator, komputer dan alat tulis.

Metodologi Penelitian

Dalam penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan cara studi

literatur (kepustakaan), kemudian dilakukan pengamatan tentang alat, dilakukan

persiapan dan dilakukan pengamatan parameter terhadap alat, lalu dilakukan

pengujian dan perhitungan. Pengujian dilakukan sebanyak 5 kali dengan

menggunakan 10 pelepah tiap kali ulangan dan tiap pelepah seberat 4 Kg.

Komponen Alat

Alat pencacah pelepah kelapa sawit yang digunakan dalam penelitian

ini memiliki beberapa komponen utama yaitu:

1. Rangka alat

Rangka alat ini berfungsi sebagai penyokong komponen-komponen alat

(30)

2. Motor diesel

Motor diesel berfungsi sebagai sumber tenaga mekanis (penggerak).

3. Poros motor

Poros motor berfungsi sebagai dudukan pulley. Juga sebagai penerus gaya

dari motor listrik diteruskan pulley.

4. Bearing (bantalan)

Bearing berfungsi sebagai dudukan poros dan agar poros tidak mengalami

aus.

5. Pulley penggerak

Pulley penggerak berfungsi sebagai penerima putaran dari poros dan sebagai

dudukan sabuk-V.

6. Sabuk-V

Sabuk-V berfungsi sebagai pemindah putaran, dari pulley penggerak

dipindahkan putaran ke pulley pencacah.

7. Poros pencacah

Poros pencacah berfungsi sebagai tempat dudukan pulley pencacah dan juga

sebagai penghubung putaran yang diterima pulley pencacah untuk

diteruskan ke mata pisau.

8. Pisau pencacah

Pisau pencacah berfungsi untuk mencacah pelepah kelapa sawit.

Prosedur Penelitian Persiapan

Sebelum penelitian dilaksanakan, terlebih dahulu dilakukan persiapan

(31)

pemakaian alat di UPT Mekanisasi Pertanian Dinas Pertanian Provinsi Sumatera

Utara dan mempersiapkan bahan-bahan dan peralatan-peralatan yang akan

digunakan untuk penelitian.

Pengujian alat

Adapun prosedur pengujian alat adalah:

1. Disiapkan pelepah kelapa sawit yang akan dicacah sebanyak 50 pelepah

dengan berat rata- rata tiap pelepah 4 Kg.

2. Dinyalakan motor bensin dengan menarik tuas pemutar motor hingga mesin

hidup.

3. Dimasukkan pelepah melalui hopper dan dicacah menggunakan mata pisau

pencacah dalam alat.

4. Dicatat waktu yang dibutuhkan untuk mencacah tiap 10 pelepah kelapa

sawit.

5. Dihitung banyaknya bahan bakar yang telah terpakai.

6. Ditimbang hasil cacahan pelepah serta cacahan pelepah tertinggal di dalam

alat.

7. Diulangi langkah 2 sampai 6 sebanyak 5 kali.

8. Dilakukan pengamatan parameter.

Parameter yang Diamati Kapasitas efektif alat

Pengukuran kapasitas alat dilakukan dengan membagi banyaknya

pelepah kelapa sawit yang dicacah terhadap waktu yang dibutuhkan untuk

(32)

Kapasitas efektif alat dihitung dengan rumus:

Kapasitas efektif alat = banyaknya pelepah dicacah (Kg)

t (jam) ... (9)

Rendemen pencacahan

Rendemen pencacah adalah persentase keluaran hasil pencacahan

pelepah dibagi dengan masukan pelepah. Dihitung dengan rumus:

Rendemen = banyaknya pelepah yang dicacah (Kg)

Banyaknya pelepah yang dimasukkan (Kg) X 100% ... (10)

Persentase bahan tertinggal

Persentase bahan tertinggal dapat dihitung dengan membandingkan

bahan yang tertinggal didalam alat dengan banyaknya pelepah yang telah dicacah.

Dapat dihitung dengan rumus:

Persentase = Pelepah masuk(Kg) - Hasil cacahan (Kg)

Pelepah masuk (Kg) X 100% ... (11)

Konsumsi bahan bakar

Pengamatan bahan bakar diperlukan untuk mengetahui berapa banyak

bahan bakar yang digunakan dalam mencacah caranya yaitu dengan mengisi

penuh tangki bahan bakar sebelum mesin dioperasikan. Setelah mesin

dioperasikan, bahan bakar bensin diisi kembali sampai penuh dan dicatat besarnya

volume penambahan bahan bakar tersebut. Dapat dihitung dengan persamaan (1).

Analisis Ekonomi Biaya pokok

Analisis ekonomi dilakukan dengan menghitung biaya pokok yang

(33)

(2). Kemudian dilanjutkan dengan menghitung biaya tetap dan biaya tidak tetap

sebagai berikut:

Biaya tetap

Menurut Daywin, dkk., (2008), biaya tetap terdiri dari :

1) Biaya penyusutan (Sinking Fund Methods)

Dengan menggunakan I = 5,5%

2) Biaya bunga modal dan asuransi

Diperhitungkan untuk mengembalikan nilai modal yang ditanam sehingga

pada akhir umur peralatan diperoleh suatu nilai uang yang present value nya

sama dengan nilai modal yang ditanam. Dihitung dengan persamaan (4).

Biaya tidak tetap

Menurut Daywin, dkk., (2008), biaya tidak tetap terdiri dari :

1) Biaya bahan bakar adalah pengeluaran solar atau bensin (bahan bakar) pada

kondisi kerja per jam. Satuannya adalah liter per jam, sedangkan harga per

liter yang digunakan adalah harga lokasi.

2) Biaya pemeliharaan preventip adalah untuk memberikan kondisi kerja yang

baik bagi mesin dan peralatan.

3) Biaya ban per jam diperuntukan bagi traktor-traktor roda, sebab banyak

pengalaman menunjukkan bahwa penggantian ban ini besar pengaruhnya

terhadap biaya operasi.

4) Dalam perhitungan biaya perbaikan ini dapat digolongkan ke dalam 3

golongan/alat pertanian, yaitu: biaya perbaikan untuk peralatan besar, biaya

perbaikan untuk traktor roda dua dan biaya perbaikan dan pemeliharaan

(34)

Break even point (BEP)

Manfaat perhitungan BEP adalah untuk mengetahui batas produksi

minimal yang harus dicapai dan dipasarkan agar usaha yang dikelola masih layak

untuk dijalankan. Pada kondisi ini income yang diperoleh hanya cukup untuk

menutupi biaya operasional tanpa adanya keuntungan. Dianalisis dengan

persamaan (5).

Net present value (NPV)

Dalam perhitungan NPV ini, umur ekonomi alatnya diperkirakan 5

tahun, besarnya suku bunga adalah 5,5%. Penetapan umur ekonomi alat ini

disebabkan antara lain: keausan dan keusangan dari alat tersebut, biaya perbaikan

makin naik sampai akhirnya tidak lagi ekonomis untuk memperbaikinya serta

teknologi yang semakin berkembang yang membuat unjuk kerja dari alat ini lebih

kecil dibandingkan alat yang dibuat dimasa yang akan datang. Dihitung dengan

persamaan (6).

Internal rate of return(IRR)

Dalam perhitungan IRR ini, besarnya suku bunga yang digunakan adalah 5,5%.

Besarnya suku bunga yang ditetapkan ini diharapkan mampu menghasilkan

perhitungan IRR yang lebih besar dari bunga bank yang berlaku sehingga usaha

(35)

Penelitian ini dilakukan dengan melakukan pencacahan pada pelepah

kelapa sawit dengan menggunakan mesin pencacah pelepah kelapa sawit sebagai

pencacah dan motor diesel sebagai tenaga penggerak yang menggunakan bahan

bakar solar.

Prinsip Kerja Alat

Motor diesel sebagai tenaga penggerak akan menggerakkan pulley

motor yang selanjutnya mentransmisi daya pada pulley poros sehingga

menggerakkan poros pisau. Poros yang berputar akar menggerakkan mata pisau

yang menyatu dengan poros. Dengan kecepatan putaran yang tinggi, mata pisau

mampu memberi tekanan yang besar sehingga mencacah pelepah kelapa sawit

yang dimasukkan melalui hopper. Cacahan pelepah kemudian keluar melalui

saluran pengeluaran.

Kapasitas Efektif Alat

Mesin pencacah pelepah kelapa sawit rancangan UPT Mekanisasi

Pertanian Provinsi Sumatera Utara menggunakan motor diesel dengan daya 10

HP. Pencacahan dilakukan dengan memasukkan ujung pelepah pada hopper, yang

dicacah hingga pangkal pelepah. Kapasitas efektif alat diperoleh dengan

melakukan pencacahan pelepah kelapa sawit sebanyak lima kali ulangan dengan

tiap ulangan menggunakan 10 pelepah dengan berat tiap pelepah rata -rata 4

Kg/pelepah, kemudian dihitung kapasitas efektif alat rata-rata. Pengukuran

kapasitas efektif alat dilakukan dengan membagi berat bahan yang dicacah

terhadap waktu yang dibutuhkan. Kapasitas efektif suatu alat menunjukkan

(36)

efektif alat diukur dengan membagi banyaknya pelepah yang dicacah pada mesin

pencacah pelepah kelapa sawit terhadap waktu yang dibutuhkan selama

[image:36.595.114.513.195.308.2]

pengoperasian alat (persamaan 12).

Tabel 1. Kapasitas alat mesin pencacah pelepah kelapa sawit

Ulangan Berat pelepah (Kg)

Waktu pencacahan (menit)

Kapasitas Efektif Alat (Kg/jam)

I 42,8 10,02 256,29

II 42,0 8,55 294,74

III 39,4 9,17 257,80

IV 38,7 7,63 304,33

V 38,2 7,42 308,90

Rata-rata 40,22 8,56 287,29

Hasil tersebut didapat dari hasil penelitian yang dilakukan dengan

mencacah pelepah sebanyak 5 kali ulangan dengan setiap ulangan menggunakan

bahan rata-rata seberat 40 Kg. Hasil pencacahan menunjukkan waktu rata-rata

yang dibutuhkan untuk mencacah pelepah seberat 40 Kg adalah sebesar 8,56

menit.

Tabel 1 diperoleh kapasitas efektif rata-rata mesin pencacah pelepah

kelapa sawit ini sebesar 287,29 Kg/jam. Sesuai dengan persyaratan unjuk kerja

mesin pencacah bahan pupuk organik pada SNI 7580:2010 bahwa kapasitas

efektif alat dibagi menjadi 3 kelas yaitu kelas A dengan kapasitas <600 Kg/jam,

kelas B dengan kapasitas 600-1500 Kg/jam dan kelas C dengan kapasitas >1500

Kg/jam. Sehingga kapasitas pencacah pelepah kelapa sawit sebagai bahan baku

kompos ini termasuk kelas A.

Menurut Smith (1990) kapasitas suatu pencacah bergantung pada

banyak faktor, seperti laju pemasukan bahan, kecepatan poros motor, daya yang

(37)

Rendemen Pencacahan

Rendemen pencacahan diperoleh dengan membandingkan antara

banyaknya cacahan pelepah yang dihasilkan dengan banyaknya pelepah yang

[image:37.595.113.511.229.357.2]

dicacah dalam persen (persamaan 13). Berikut tabel rendemen pencacahan:

Tabel 2. Rendemen pencacahan

Ulangan Banyak pelepah dicacah (Kg) Banyak hasil cacahan pelepah (Kg) Rendemen pencacahan (%)

I 42,8 39,7 92,8

II 42,0 39,6 94,3

III 39,4 37,0 93,9

IV 38,7 36,6 94,6

V 38,2 36,4 95,3

Rata-rata 40,22 37,86 94,2

Berdasarkan tabel 2, diperoleh rendemen pencacahan rata-rata mesin

pencacah pelepah kelapa sawit sebesar 94,2 %, yang berarti kinerja optimal

mesin dapat menghasilkan cacahan yang keluar melalui saluran pengeluaran

sebanyak 94,2% dari banyaknya pelepah yang dicacah tiap kali mencacah.

Menurut Henderson dan Perry (1998), rendemen pencacahan

dipengaruhi oleh kapasitas bahan yang dimasukkan, tenaga yang diperlukan per

satuan bahan, ukuran dan bentuk bahan sebelum dan sesudah proses pengecilan

ukuran, dan kisaran ukuran dan bentuk hasil akhir.

Persentase Bahan Tertinggal

Persentase bahan tertinggal diperoleh dengan membandingkan antara

berat bahan yang tertinggal didalam alat dengan berat masukan awal bahan yang

dinyatakan dalam persen (persamaan 14). Pada saat mencacah, tidak semua hasil

(38)

didalam saluran pengeluaran. Berikut tabel data pencacahan untuk persentase

[image:38.595.115.509.170.297.2]

bahan tertinggal:

Tabel 3. Persentase bahan tertinggal

Ulangan Banyak pelepah dicacah (Kg) Banyak cacahan pelepah tertinggal (Kg) Persentase bahan tertinggal (%)

I 42,8 2,7 6,3

II 42,0 2,1 5,0

III 39,4 2,3 5,8

IV 38,7 1,9 4,9

V 38,2 1,5 3,9

Rata-rata 40,22 2,1 5,2

Dari penelitian yang telah dilakukan, diperoleh bahwa persentase

rata-rata bahan tertinggal adalah sebesar 5,2 %, yang berarti setiap kali melakukan

pencacahan, akan terdapat sekitar 2 Kg bahan yang akan tertinggal didalam alat.

Adapun bahan tertinggal ini diduga disebabkan oleh kemiringan penutup saluran

pengeluaran yang kecil sehingga bahan tidak dapat keluar secara optimal.

Bahan Bakar Digunakan

Penggunaan bahan bakar diperoleh dengan menandai ketinggian bahan

bakar awal pada tangki bahan bakar. Kemudian setiap kali selesai ulangan, tangki

kembali diisi dengan bahan bakar hingga pada tanda ketinggian. Selanjutnya, pada

gelas ukur dilihat banyaknya bahan bakar yang digunakan (persamaan 15).

Tabel 4. Bahan bakar digunakan

Ulangan

Waktu pencacahan

(jam)

Banyak bahan bakar digunakan

(mL)

Bahan bakar digunakan

(L/jam)

I 0,17 80 0,47

II 0,14 65 0,46

III 0,15 70. 0,47

IV 0,13 50 0,38

V 0,12 45 0,38

[image:38.595.116.511.627.754.2]
(39)

Dari penelitian yang dilakukan, diperoleh bahwa bahan bakar yang

digunakan selama pencacahan rata-ratanya adalah sebesar 0,44 L/jam.

Berdasarkan SNI 7580:2010 persyaratan unjuk kerja mesin pencacah bahan pupuk

organik berdasarkan konsumsi bahan bakar dikelompokkan menjadi 3 kelas, yaitu

kelas A dengan konsumsi < 2 liter/jam, kelas B dengan konsumsi 2 -3 liter/jam,

dan kelas C dengan konsumsi >3liter/jam, sehingga konsumsi bahan bakar pada

mesin pencacah pelepah kelapa sawit ini dapat dikelompokkan pada kelas A.

Analisis Ekonomi Biaya pokok

Analisis ekonomi digunakan untuk menentukan besarnya biaya yang

harus dikeluarkan saat produksi menggunakan alat ini. Dengan analisis ekonomi

dapat diketahui seberapa besar biaya produksi sehingga keuntungan alat dapat

diperhitungkan.

Tabel 5. Biaya Pokok/Produksi

Tahun Biaya Pokok

(Rp/tahun) (Rp/jam) (Rp/Kg)

I 27.318.785 15.486,84 53,90

II 27.510.711 15.595,64 . 54,29

III 27.610.379 15.652 54,48

IV 27.767.788 15.741 54,79

V 27.935.519 15.836 55,12

Dari analisis biaya (Lampiran 6), diperoleh biaya produksi pencacahan

pelepah setiap tahunnya yakni pada tahun I sebesar Rp. 53,9/Kg, tahun II sebesar

Rp. 54,29/Kg, tahun III sebesar Rp. 54,48/Kg, tahun IV sebesar Rp. 54,79/Kg dan

tahun V sebesar Rp. 55,12/Kg. Perbedaan biaya pokok/produksi setiap tahunnya

(40)

produksi merupakan hasil perhitungan dari biaya tetap dan biaya tidak tetap

terhadap kapasitas mesin.

Break even point

Menurut Waldiyono (2008) analisis titik impas umumnya berhubungan

dengan proses penentuan tingkat produksi untuk menjamin agar kegiatan usaha

yang dilakukan dapat membiayai sendiri (self financing). Selanjutnya dapat

berkembang sendiri (self growing). Dalam analisis ini, keuntungan awal dianggap

sama dengan nol.

Bila pendapatan dari produksi berada disebelah kiri titik impas maka

kegiatan usaha akan menderita kerugian, sebaliknya bila disebelah kanan titik

impas akan memperoleh keuntungan. Maka dari itu perhitungan analisis titik

impas dari alat ini yaitu untuk mengetahui seberapa banyak pelepah dicacah alat

ini agar mencapai titik impas. Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian

[image:40.595.115.508.502.601.2]

yang telah dilakukan (Lampiran 7) berikut BEP untuk setiap tahunnya:

Tabel 6. Break even point

Tahun Biaya Tetap (Rp/tahun)

Penerimaan – BTT (Rp/Kg)

BEP (Kg/tahun)

I 3.268.480 52,54 62.209

II 3.460.406 52,54 65.862

III 3.560.074 52,54 67.759

IV 3.717.483 52,54 70.755

V 3.885.214 52,54 73.947

Berdasarkan tabel 6, titik impas pada tahun I terjadi setelah mencacah

62.209 Kg, pada tahun kedua harus mencacah 65.862 Kg, tahun ketiga mencacah

67.759 Kg, tahun keempat mencacah 70.755 Kg, dan tahun kelima harus

mencacah 73.947 Kg pelepah kelapa sawit. Peningkatan BEP setiap tahunnya

(41)

Net present value

Dalam menginvestasikan modal dalam penambahan alat pada suatu

usaha maka net present value dapat dijadikan salah satu alternatif dalam analisa

finansial. Dari percobaan dan data yang diperoleh pada penelitian maka dapat

diketahui besarnya nilai. Jadi, besarnya NPV 5,5% adalah Rp. 98.930.948.

Sedangkan untuk NPV 7% adalah sebesar Rp. 94.318.312 (Lampiran 8). Hal ini

berarti usaha ini layak untuk dijalankan karena nilainya lebih besar atau sama

dengan nol.

Internal rate of return

Internal rate of return berfungsi untuk melihat seberapa layak suatu usaha dapat

dilaksanakan atau seberapa besar keuntungan investasi maksimum yang ingin

dicapai. Berdasarkan hal tersebut maka hasil yang didapat dari penelitian ini

adalah sebesar 39,17% (Lampiran 9) artinya usaha pencacahan pelepah kelapa

sawit masih layak untuk dijalankan jika pengusaha melakukan peminjaman modal

di bank pada suku bunga dibawah 39,17%. Atau dengan kata lain, usaha ini masih

layak dijalankan apabila bunga pinjaman di bank tidak melebihi 39,17%. Jika

bunga pinjaman di bank melebihi angka tersebut maka usaha ini tidak layak lagi

diusahakan. Semakin tinggi bunga pinjaman di bank maka keuntungan yang

(42)

Kesimpulan

1. Performa mesin pencacah pelepah kelapa sawit rancangan UPT Mekanisasi

Pertanian Provinsi Sumatera Utara yaitu kapasitas efektif alat sebesar

287,29 Kg/jam dengan menggunakan bahan bakar 0,44 L/jam.

2. Rendemen pencacahan rata-rata mesin pencacah pelepah kelapa sawit

adalah 94,2%.

3. Persentase bahan tertinggal mesin pencacah pelepah kelapa sawit rata-rata

yaitu 5,2%.

4. Biaya pokok yang digunakan setiap tahunnya pada mesin pencacah pelepah

kelapa sawit rancangan UPT Mekanisasi Pertanian Provinsi Sumatera Utara

adalah pada tahun I sebesar: Rp. 53,9/Kg, pada tahun II sebesar Rp.

54,29/Kg, tahun III sebesar Rp. 54,48/Kg, tahun IV sebesar Rp. 54,79/Kg

dan pada tahun V sebesar Rp. 55,12/Kg.

5. Mesin pencacah pelepah kelapa sawit mengalami titik impas (break even

point) apabila mencacah 62.209 Kg pada tahun pertama, 65.862 Kg pada

tahun kedua, 67.759 Kg pada tahun ketiga, 70.755 Kg pada tahun keempat,

73.947 Kg pada tahun kelima.

6. NPV 5,5% adalah Rp. Rp. 98.930.948> 0, oleh karena itu usaha ini layak

untuk dijalankan.

7. Internal rate of return dari mesin pencacah pelepah kelapa sawit adalah

(43)

Saran

1. Perlu dilakukan pengujian terhadap diameter pulley, baik pulley pada poros

pisau pencacah maupun pada poros motor yang secara langsung

(44)

Achmad, Z. 2006. Elemen Mesin I. Refika Aditama. Bandung.

Arismunandar, W. Dan Koichi T. 2004. Motor Diesel Putaran Tinggi. Pradnya Paramita.

Jakarta.

Daryanto. 1993. Dasar-Dasar Teknik Mesin. Rineka Cipta. Jakarta.

Daywin, F. J., R. G. Sitompul dan I. Hidayat. 2008. Mesin-Mesin Budidaya Pertanian di

Lahan Kering. Graha Ilmu. Yogyakarta.

Fauzi, Y., Y.E. Widiastuti, I. Satyawibawa dan R. Hartono, 2002. Kelapa Sawit;

Budidaya, Pemanfaatan Hasil dan Limbah Analis Usaha dan Pemasaran. Penebar

Swadaya, Jakarta.

Giatman, M. 2006. Ekonomi Teknik. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Hardjosentono, M., Wijato, Elon. R., Badra I.W dan R. Dadang. 1996. Mesin-Mesin

Pertanian. Bumi Aksara. Jakarta.

Intara Y.I. dan Banun D.P., 2012. Studi Sifat Fisik dan Mekanik Parenkhim Pelepah

Daun Kelapa Sawit Untuk Pemanfaatan sebagai Bahan Anyaman.

http://pertanian.trunojoyo.ac.id/wp-content/uploads/2013/02/JURNAL-6-Studi-Sifat-Fisik-dan-Mekanik-Parenkhim-Pelepah-Daun-Kelapa-Sawit-untuk.pdf [ 5

April 2015].

Maleev, L. 1991. Operasi dan Pemeliharaan Mesin Diesel. Erlangga. Jakarta.

Mustafa, M. 2004. Kelapa Sawit. Edisi Pertama. Cetakan Pertama Andi Cipta Karya

Nusa. Yogyakarta.

Nastiti, D., Sriwulan, P dan Farid R. A. 2008. Analisis Finansial Agribisnis Pertanian.

BPTP. Kalimantan Timur.

Pahan, I. 2006. Panduan Lengkap Kelapa Sawit Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga

Hilir. Penebar Swadaya, Jakarta.

Prastowo, B., C. Indrawanto dan D. S. Efendi. 2009. Mekanisasi Pertanian dalam

(45)

Risza, S., 1994. Kelapa Sawit Upaya Peningkatan Produktivitas. Kanisius. Yogyakarta.

Rusadi, F. 2012. Evaluasi Teknis dan Ekonomi Mesin Pencacah Pelepah Kelapa Sawit

Rancangan BBP Mektan sebagai Bahan Baku Kompos.

http://repository.unand.ac.id/19940/1/jurnal_febriani_rusadi-teknik_pertanian_unand.pdf [ 20 Januari 2015]

Sastrosayono, S. 2003. Budidaya Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Septiadi, A., 2013. Rancang Bangun Mesin Pencacah Pelepah Sawit untuk Pakan Ternak

(Perawatan). http://ssptpolsri-gdl-agungsepti-6484-4-bab3.pdf [7 Januari 2015]

Smith, H. P., dan Wilkes, L.H. 1990. Mesin dan Peralatan Usaha Tani. UGM-Press.

Yogyakarta.

Soeharno. 2007. Teori Mikroekonomi. Andi Press. Yogyakarta.

Soenarto, N. Dan Shoichi F. 1995. Motor Serbaguna. Pradnya Paramita. Jakarta.

Sukirno. 1999. Mekanisasi Pertanian. UGM. Yogyakarta.

Sukma, I.W.D., 2009. Spesifikasi Alat Size Reduction.

https://indrawibawads.files.wordpress.com/2012/01/spesifikasi-alat-size-reduction-indra-wibawa-tkim-unila.pdf [17 April 2015]

Unadi, A., 2003. Teknologi Alat dan Mesin untuk Agribisnis Peternakan di Kawasan

Perkebunan Sawit.

http://peternakan.litbang.pertanian.go.id/fullteks/lokakarya/probklu03-21.pdf [17

April 2015].

Waldiyono. 2008. Ekonomi Teknik (Konsep, Teori dan Aplikasi). Pustaka Pelajar.

Yogyakarta.

(46)

Lampiran 1. Flowchart pelaksanaan penelitian

Mengukur dan menggambar dimensi alat Mulai

Pengujian Alat

Pengukuran Parameter

Analisis Data

Selesai Data

(47)

Lampiran 2. Kapasitas Alat

Ulangan

Berat

pelepah tiap

ulangan

(Kg)

Waktu

pencacahan

(menit)

Waktu

pencacahan

(jam)

Kapasitas

Efektif Alat

(Kg/jam)

I 42,8 10,02 0,17 256,29

II 42,0 8,55 0,14 294,74

III 39,4 9,17 0,15 257,80

IV 38,7 7,63 0,13 304,33

V 38,2 7,42 0,12 308,90

Rata-rata 40,22 8,56 0,14 287,29

Kapasitas alat rata-rata = Banyaknya pelepah dicacah (Kg) Waktu pencacahan (jam)

= 40,22 Kg

0,14 jam

(48)

Lampiran 3. Rendemen Pencacahan

Ulangan

Banyak pelepah

dicacah

(Kg)

Banyak hasil

cacahan pelepah

(Kg)

Rendemen Hasil

Cacahan

(%)

I 42,8 39,7 92,8

II 42,0 39,6 94,3

III 39,4 37,0 93,9

IV 38,7 36,6 94,6

V 38,2 36,4 95,3

Rata-rata 40,22 37,86 94,2

Rendemen hasil cacahan rata-rata = Banyaknya hasil cacahan (Kg)

Banyaknya pelepah dicacah (Kg)

×

100%

= 37,86 Kg

40,22 Kg

×

100%

(49)

Lampiran 4. Persentase bahan tertinggal

Ulangan

Banyak pelepah

dicacah

(Kg)

Banyak cacahan

pelepah tertinggal

(Kg)

Persentase bahan

tertinggal

(%)

I 42,8 2,7 6,3

II 42,0 2,1 5,0

III 39,4 2,3 5,8

IV 38,7 1,9 4,9

V 38,2 1,5 3,9

Rata-rata 40,22 2,1 5,2

Persentase bahan tertinggal = Banyaknya cacahan tertinggal (Kg)

Banyaknya pelepah dicacah (Kg)

×

100%

= 2,1 Kg

40,22 Kg

×

100%

(50)

Lampiran 5. Bahan Bakar Digunakan

Ulangan

Waktu

pencacahan

(jam)

Banyak bahan

bakar digunakan

(mL)

Banyak bahan

bakar digunakan

(L)

Bahan bakar

digunakan

(L/jam)

I 0,17 80 0,08 0,47

II 0,14 65 0.06 0,46

III 0,15 70. 0.07 0,47

IV 0,13 50 0.05 0,38

V 0,12 45 0.05 0,38

Rata-rata 0,14 62 0.062 0,44

Bahan bakar digunakan

Bahan bakar digunakan rerata = Banyaknya bahan bakar (L) Waktu pencacahan (jam)

= 0,062 L

0,14 jam

(51)

Lampiran 6. Biaya Pokok

I. Unsur Produksi

1. Biaya pembuatan alat = Rp. 16.000.000

2. Umur ekonomis (n) = 5 tahun

3. Nilai akhir alat (S) = Rp. 1.600.000

4. Jam Kerja = 6 jam/hari

5. Produksi/ jam = 287,29 Kg/jam

6. Biaya operator = Rp. 5.250/jam/orang (Rp. 42.000/hari

sesuai data penghasilan buruh tani di

BPS dengan jam kerja efektif 8

jam/hari)

7. Jumlah operator = 2 orang

8. Bahan bakar (solar) = Rp. 6.900/ liter ( Juni 2015)

9. Jam kerja alat per tahun = 1.764 jam/tahun (asumsi 294 hari

efektif kerja tahun 2015)

II. Perhitungan Biaya Pokok

1. Biaya Tetap (BT)

- Biaya Penyusutan (Metode Sinking Fund)

Dt = (P-S) (A/F; i; n) (F/P; i; t-1)

(P-S) = Rp. 16.000.000 – Rp. 1.600.000

= Rp. 14.400.000

(52)

N (F/P;5,5%;t-1) Dt (Rp/tahun)

Nilai Mesin tiap

akhir tahun (Rp)

0 0 0 16.000.000

1 1,000 2.580.480 13.419.520

2 1,055 2.722.406 10.697.114

3 1,113 2.872.074 7.825.040

4 1,174 3.029.483 4.795.557

5 1,239 3.197.214 1.598.343

- Bunga modal dan asuransi

i = i (P) (n+1)

2 n

i = 5,5% × 16.000.000 (5+1)

2 × 5

i = Rp. 528.000/ tahun

- Pajak

= 1% . P

= 1% . 16.000.000

= Rp. 160.000/tahun

Total Biaya Tetap (BT)

Tahun 1 = Rp. 2.580.480/thn + Rp. 528.000/thn + Rp. 160.000/thn

= Rp. 3.268.480/tahun

Tahun 2 = Rp. 2.772.406/thn + Rp. 528.000/thn + Rp. 160.000/thn

= Rp. 3.460.406/tahun

Gambar

Tabel 1. Kapasitas alat mesin pencacah pelepah kelapa sawit
Tabel 2. Rendemen pencacahan
Tabel 3. Persentase bahan tertinggal
Tabel 6. Break even point
+2

Referensi

Dokumen terkait

Rancangan desain alat pencacah pelepah sawit dimaksudkan untuk mengurangi keluhan muscolusceletal operator dan hasil cacahan pelepah sawit yang dihasilkan lebih halus

• Pengkajian lapang pemanfaatan mesin pencacah pelepah kelapa sawit, kemudian hasil cacahan difermentasikan dengan beberapa formulasi perlakuan dan ditambahkan dengan

Hasi Cacahan Daun Pelepah Kelapa Sawit Mesin pencacah hijauan pakan ternak dengan komponen penggerus/ penggiling/pelumat sebelum mencacah.. Mesin pencacah hijauan pakan

Evaluasi Teknis dan Ekonomi Mesin Pencacah Pelepah Kelapa Sawit Rancangan BBP Mektan sebagai Bahan Baku Kompos.. Rancang Bangun Mesin Pencacah Pelepah Sawit untuk Pakan

Hasi Cacahan Daun Pelepah Kelapa Sawit Mesin pencacah hijauan pakan ternak dengan komponen penggerus/ penggiling/pelumat sebelum mencacah.. Mesin pencacah hijauan pakan

Penilaian postur kerja peternak sapi pada kegiatan pencacahan pelepah sawit dilakukan terhadap 2 elemen kegiatan yaitu menghidupkan mesin pencacah dan memasukkan

Dalam penelitian ini dirancang sebuah desain mesin pencacah daun pelepah sawit dengan menggunakan metode DFMADesign For Manufacture and assembly, Batasan masalahnya hanya pada

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Selama melaksanakan kerja praktek di Posyantekdes Kabupaten Bengkalis Penulis dapat menyelesaikan laporan dengan judul Mesin Pencacah pelepah sawit