RANCANGAN UPT MEKANISASI PERTANIAN
PROVINSI SUMATERA UTARA
SKRIPSI
HANDYMAN MAKMUR WARUWU 110308034
PROGRAM STUDI KETEKNIKAN PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
RANCANGAN UPT MEKANISASI PERTANIAN
PROVINSI SUMATERA UTARA
SKRIPSI
OLEH:
HANDYMAN MAKMUR WARUWU 110308034
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Program Studi Keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara
Disetujui Oleh: Komisi Pembimbing
Lukman Adlin Harahap, STP, M.Si Achwil Putra Munir, STP, M.Si
Ketua Anggota
Mengetahui,
Ainun Rohanah, STP, M.Si
Ketua Program Studi Keteknikan Pertanian
PROGRAM STUDI KETEKNIKAN PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
Pencacah Pelepah Kelapa Sawit Rancangan UPT Mekanisasi Pertanian Provinsi Sumatera Utara, dibimbing oleh LUKMAN ADLIN HARAHAP dan ACHWIL PUTRA MUNIR.
Pencacahan merupakan salah satu cara pengecilan ukuran zat padat menjadi kepingan-kepingan yang lebih kecil untuk menghasilkan padatan dengan ukuran tertentu. Pencacahan dengan alat mekanis belum banyak dilakukan karena kurangnya pengetahuan dan keterbatasan alat yang ada pada petani. Padahal, apabila dilakukan dapat meningkatkan pendapatan petani. Penelitian ini bertujuan untuk menguji performa mesin pencacah pelepah kelapa sawit rancangan UPT Mekanisasi Pertanian Provinsi Sumatera Utara dengan menggunakan pelepah kelapa sawit sebagai bahan bakunya dan menganalisis biaya operasionalnya. Parameter yang diamati adalah kapasitas efektif alat, rendemen pencacahan, persentase bahan tertinggal, dan konsumsi bahan bakar.
Hasil penelitian menunjukkan kapasitas efektif alat 287,29 Kg/jam. Rendemen pencacahan 94,2%. Persentase bahan tertinggal 5,2%. Bahan bakar 0,44 L/jam. Biaya pokok sebesar Rp. 53,9/Kg untuk tahun pertama, Rp.54,29/Kg untuk tahun kedua, Rp. 54,48/Kg untuk tahun ketiga, Rp. 54,79/Kg untuk tahun keempat, Rp. 55,12/Kg untuk tahun kelima. BEP sebanyak 62.209 Kg pada tahun pertama, 65.862 Kg pada tahun kedua, 67.759 Kg pada tahun ketiga, 70.755 Kg pada tahun keempat, 73.947 Kg pada tahun kelima. IRR sebesar 39,17%.
Kata kunci : mesin pencacah, performa, biaya operasional, pelepah kelapa sawit.
ABSTRACT
HANDYMAN MAKMUR WARUWU: Performance and Operating Costs Oil Palm Fronds Chopper Machine Designed by Agricultural Mechanization Unit of North Sumatra Province, supervised by LUKMAN ADLIN HARAHAP and ACHWIL PUTRA MUNIR.
Chopping is one way of size reduction of solids into smaller pieces to produce solids of a certain size. Chopping with a mechanical equipment has not much been done due to lack of knowledge and limitation of existing equipments of the farmers. In fact, if it can be done can increase farmers' income. The aim of the research was to test the performance of oil palm fronds chopper machine designed by Agricultural Mechanization Unit in North Sumatra Province using oil palm fronds as a raw material and analyze its operating costs. Observed parameters were effective capacity, yield of chopping, the percentage of materials left behind, and fuel consumption of the equipment.
The results showed that the effective capacity of the equipment was 287,29 Kg/hour. Chopping yield was 94,2%. The percentage of materials left behind was 5,2%. Fuel consumption was 0,44 L/hour. Cost of Analysis was Rp. 53,9/Kg for the first year, Rp. 54,29/Kg for the second year, Rp. 54,48/Kg for the third year, Rp.54,79/Kg for the fourth year, and Rp. 55,12/Kg for the fifth year. BEP was 62.209 Kg in the first year, 65.862 Kg in the second year, 67.759 Kg in the third year, 70.755 Kg in the fourth year and 73.947 Kg in the fifth year. The IRR was 39,17%.
Handyman Makmur Waruwu, dilahirkan di Bawodesolo Kota
Gunungsitoli pada tanggal 1 Juli 1993 dari ayah Yoniaro Waruwu dan ibu Air
Manis Zendrato. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.
Tahun 2011 penulis lulus dari SMA Negeri Unggulan Sukma Nias dan
pada tahun yang sama lulus seleksi masuk ke Fakultas Pertanian USU melalui
jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) jalur tertulis.
Penulis memilih Program Studi Keteknikan Pertanian.
Selama mengikuti perkuliahan penulis aktif menjadi anggota Ikatan
Mahasiswa Teknik Pertanian (IMATETA), sebagai Badan Pengurus Harian
Paduan Suara El-Shaddai USU tahun 2012-2014, dan sebagai Koordinasi Unit
Kegiatan Mahasiswa Kristen Universitas Sumatera Utara Unit Pelayanan Fakultas
Pertanian (UKM KMK USU UP FP) tahun 2015.
Penulis melaksanakan praktek kerja lapangan (PKL) di PT. Perkebunan
Nusantara III Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Rambutan, Tebing Tinggi, Sumatera
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas
berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang
berjudul “Performa dan Biaya Operasional Mesin Pencacah Pelepah Kelapa Sawit
Rancangan UPT Mekanisasi Pertanian Provinsi Sumatera Utara” yang merupakan
salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Program Studi Keteknikan
Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada
Bapak Lukman Adlin Harahap, STP, M.Si selaku ketua komisi pembimbing dan
kepada Bapak Achwil Putra Munir, STP, M.Si selaku anggota komisi
pembimbing yang telah banyak membimbing dan memberikan berbagai masukan,
saran dan kritikan yang sangat berharga kepada penulis sehingga draft ini dapat
diselesaikan dengan baik. Terimakasih penulis ucapkan kepada kedua orangtua
dan kedua saudaraku yang telah mendukung penulis baik secara moril dan materil.
Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada semua staf pengajar dan
pegawai Program Studi Keteknikan Pertanian serta semua rekan mahasiswa yang
tidak dapat disebutkan satu per satu, yang telah membantu penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat
bermanfaat bagi kita semua.
Medan, Agustus 2015
Hal
ABSTRAK ... i
RIWAYAT HIDUP ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR LAMPIRAN ... vii
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Tujuan Penelitian ... 2
Kegunaan Penelitian... 2
TINJAUAN PUSTAKA Kelapa Sawit ... 4
Pelepah Kelapa Sawit ... 6
Peranan Mekanisasi Pertanian ... 7
Elemen Mesin ... 8
Motor diesel ... 8
Poros ... 9
Sabuk V ... 10
Roda transmisi ... 10
Bantalan... 11
Mekanisme Pembuatan Alat ... 12
Kapasitas Kerja Mesin Pertanian ... 12
Pengecilan Ukuran ... 12
Konsumsi Bahan Bakar... 13
Analisis Ekonomi ... 13
Biaya pokok ... 14
Break even point ... 17
Net present value ... 18
Internal rate of return ... 18
METODOLOGI PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian... 19
Bahan dan Alat Penelitian... 19
Metodologi Penelitian ... 19
Komponen Alat ... 19
Prosedur Penelitian ... 20
Persiapan ... 20
Pengujian alat... 21
Parameter yang Diamati ... 21
Kapasitas efektif alat ... 21
Rendemen pencacahan ... 22
Persentase bahan tertinggal ... 22
Konsumsi bahan bakar ... 22
Analisis Ekonomi ... 22
Break even point ... 24
Net present value ... 24
Internal rate of return ... 24
HASIL DAN PEMBAHASAN Prinsip Kerja Alat ... 25
Kapasitas Efektif Alat ... 25
Rendemen Pencacahan ... 27
Persentase Bahan Tertinggal... 27
Bahan Bakar Digunakan ... 28
Analisis Ekonomi ... 29
Biaya pokok ... 29
Break even point ... 30
Net present value ... 30
Internal rate of return ... 31
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 32
Saran ... 33 DAFTAR PUSTAKA
No. Hal
1. Kapasitas alat mesin pencacah pelepah kelapa sawit ... 27
2. Rendemen pencacahan ... 28
3. Persentase bahan tertinggal ... 29
4. Bahan bakar digunakan ... 29
5. Biaya pokok/produksi ... 30
No. Hal
1. Flowchart pelaksanaan penelitian ... 36
2. Kapasitas alat ... 37
3. Rendemen pencacahan ... 38
4. Persentase bahan tertinggal ... 39
5. Bahan bakar digunakan ... 40
6. Biaya pokok ... 41
7. Break even point (BEP) ... 45
8. Net present value (NPV) ... 47
9. Internal rate of return (IRR) ... 50
10. Tabel suku bunga ... 51
11. Standard SNI ... 52
11. Proses penelitian ... 53
Pencacah Pelepah Kelapa Sawit Rancangan UPT Mekanisasi Pertanian Provinsi Sumatera Utara, dibimbing oleh LUKMAN ADLIN HARAHAP dan ACHWIL PUTRA MUNIR.
Pencacahan merupakan salah satu cara pengecilan ukuran zat padat menjadi kepingan-kepingan yang lebih kecil untuk menghasilkan padatan dengan ukuran tertentu. Pencacahan dengan alat mekanis belum banyak dilakukan karena kurangnya pengetahuan dan keterbatasan alat yang ada pada petani. Padahal, apabila dilakukan dapat meningkatkan pendapatan petani. Penelitian ini bertujuan untuk menguji performa mesin pencacah pelepah kelapa sawit rancangan UPT Mekanisasi Pertanian Provinsi Sumatera Utara dengan menggunakan pelepah kelapa sawit sebagai bahan bakunya dan menganalisis biaya operasionalnya. Parameter yang diamati adalah kapasitas efektif alat, rendemen pencacahan, persentase bahan tertinggal, dan konsumsi bahan bakar.
Hasil penelitian menunjukkan kapasitas efektif alat 287,29 Kg/jam. Rendemen pencacahan 94,2%. Persentase bahan tertinggal 5,2%. Bahan bakar 0,44 L/jam. Biaya pokok sebesar Rp. 53,9/Kg untuk tahun pertama, Rp.54,29/Kg untuk tahun kedua, Rp. 54,48/Kg untuk tahun ketiga, Rp. 54,79/Kg untuk tahun keempat, Rp. 55,12/Kg untuk tahun kelima. BEP sebanyak 62.209 Kg pada tahun pertama, 65.862 Kg pada tahun kedua, 67.759 Kg pada tahun ketiga, 70.755 Kg pada tahun keempat, 73.947 Kg pada tahun kelima. IRR sebesar 39,17%.
Kata kunci : mesin pencacah, performa, biaya operasional, pelepah kelapa sawit.
ABSTRACT
HANDYMAN MAKMUR WARUWU: Performance and Operating Costs Oil Palm Fronds Chopper Machine Designed by Agricultural Mechanization Unit of North Sumatra Province, supervised by LUKMAN ADLIN HARAHAP and ACHWIL PUTRA MUNIR.
Chopping is one way of size reduction of solids into smaller pieces to produce solids of a certain size. Chopping with a mechanical equipment has not much been done due to lack of knowledge and limitation of existing equipments of the farmers. In fact, if it can be done can increase farmers' income. The aim of the research was to test the performance of oil palm fronds chopper machine designed by Agricultural Mechanization Unit in North Sumatra Province using oil palm fronds as a raw material and analyze its operating costs. Observed parameters were effective capacity, yield of chopping, the percentage of materials left behind, and fuel consumption of the equipment.
The results showed that the effective capacity of the equipment was 287,29 Kg/hour. Chopping yield was 94,2%. The percentage of materials left behind was 5,2%. Fuel consumption was 0,44 L/hour. Cost of Analysis was Rp. 53,9/Kg for the first year, Rp. 54,29/Kg for the second year, Rp. 54,48/Kg for the third year, Rp.54,79/Kg for the fourth year, and Rp. 55,12/Kg for the fifth year. BEP was 62.209 Kg in the first year, 65.862 Kg in the second year, 67.759 Kg in the third year, 70.755 Kg in the fourth year and 73.947 Kg in the fifth year. The IRR was 39,17%.
Latar Belakang
Indonesia merupakan negara dengan luas lahan kelapa sawit terbesar di
dunia. Pada tahun 2014 tercatat luas lahan kelapa sawit di Indonesia mencapai
10.010.824 Hektare (Saidi, 2014), dan dengan luas lahan tersebut maka volume
limbah yang dihasilkan sangat banyak. Di perkebunan, limbah utama yang
dihasilkan berupa pelepah kelapa sawit yang berasal dari pembersihan pohon
setiap 6 bulan sekali.
Pengolahan dan pemanfaatan pelepah kelapa sawit masih sangat
terbatas. Sebagian besar perkebunan kelapa sawit masih membakar pelepah
kelapa sawit meskipun sudah dilarang oleh pemerintah. Pembakaran pelepah
kelapa sawit sebagai usaha untuk memperkecil volume limbah dapat
menimbulkan pencemaran udara.
Optimalisasi pemanfaatan pelepah kelapa sawit dapat dilakukan dengan
pengecilan ukuran. Pengecilan ukuran dilakukan dengan pencacahan. Sebagian
orang memanfaatkan cacahan pelepah kelapa sawit sebagai bahan pembuatan
kompos dan juga sebagai pakan ternak.
Hasil analisis Laboratorium Ilmu Nutrisi Makanan Ternak, Departemen
Peternakan Fakultas Pertanian USU (2000), pelepah daun kelapa sawit
mengandung 6,50% protein kasar, 32,55% serat kasar, 4,47% lemak kasar, 9,34%
bahan kering dan 56,00% TDN.
Pemanfaatan pelepah kelapa sawit sebagai pakan maupun pupuk masih
diolah secara tradisonal dalam bentuk pencacahan secara manual, yang
manual didapatkan kapasitas pencacahan 9-10 kg/jam, hal ini berakibat
menumpuknya limbah pelepah sawit jika tidak dilakukan pencacahan dengan
cepat (Rusadi, 2012).
Pengolahan limbah pelepah kelapa sawit yang masih secara manual
dirasakan tidak efektif terhadap kebutuhan pelepah sebagai bahan pakan ternak
dan bahan pembuatan pupuk kompos.
Penelitian ini dimulai dengan melakukan studi literatur (kepustakaan)
dan persiapan alat serta bahan. Pada pengamatan parameter dilakukan dengan
mencacah pelepah kelapa sawit, lalu dihitung kapasitas mesin, rendemen mesin
dan konsumsi bahan bakar pada setiap kali ulangan. Selanjutnya dilakukan
analisis ekonomi alat dengan menghitung biaya pokok, BEP, NPV dan IRR.
Penelitian tentang mesin pencacah pelepah kelapa sawit ini juga
sebelumnya pernah dilakukan di BPTP Sumatera Barat oleh Febriani Rusadi pada
tahun 2012 untuk menghitung kinerja puli. Menurut Rusadi (2012) kapasitas kerja
efektif yang terbesar adalah pada perbandingan puli 1:1,33 yaitu 529,27 Kg/jam.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menguji performa mesin pencacah
pelepah kelapa sawit rancangan UPT Mekanisasi Pertanian Provinsi Sumatera
Utara dengan menggunakan pelepah kelapa sawit sebagai bahan bakunya dan
menganalisis biaya operasionalnya.
Kegunaan Penelitian
1. Bagi penulis yaitu sebagai bahan untuk menyusun skripsi yang
merupakan syarat untuk menyelesaikan pendidikan di Program Studi
2. Bagi mahasiswa, sebagai informasi pendukung untuk melakukan
penelitian lebih lanjut mengenai mesin pencacah pelepah kelapa sawit.
3.
Bagi masyarakat, sebagai bahan informasi bagi pihak yangmembutuhkan terutama pengusaha perkebunan kelapa sawit, pengusaha
Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) berasal dari Nigeria, Afrika Barat. Meskipun demikian ada yang menyatakan bahwa kelapa sawit
berasal dari Amerika Selatan yaitu Brazil karena lebih banyak ditemukan spesies
kelapa sawit di hutan Brazil dibandingkan dengan Afrika. Pada kenyataannya
tanaman kelapa sawit hidup subur di luar daerah asalnya, seperti Malaysia,
Indonesia, Thailand, dan Papua Nugini (Fauzi, 2002).
Kelapa sawit, saat ini berkembang pesat di Indonesia. Masuknya bibit
kelapa sawit ke Indonesia pada tahun 1948 hanya sebanyak 4 batang yang berasal
dari Bourbon (Mauritius) dan Amsterdam. Keempat batang bibit kelapa sawit
ditanam di Kebun Raya Bogor dan selanjutnya disebarkan ke Deli, Sumatera
Utara (Risza, 1994).
Menurut Mustafa (2004), taksonomi kelapa sawit yang umum diterima
sekarang adalah sebagai berikut :
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Cocoidae
Famili : Palmae
Genus : Elaeis
Spesies : Elaeis guineensis Jacq
Nama Elaeis guineensis diberikan oleh Jacquin pada tahun 1763 berdasarkan
pengamatan pohon–pohon kelapa sawit yang tumbuh di Martinique, kawasan Hindia
dipilih berdasarkan keyakinan Jacquin bahwa kelapa sawit berasal dari Guinea (Pahan,
2006).
Menurut Sastrosayono (2003), varietas tanaman kelapa sawit dapat dibedakan
berdasarkan tebal cangkang/tempurung dan daging buah, serta warna kulit buahnya.
Berdasarkan ketebalan cangkang/tempurung dan daging buah varietas kelapa sawit
dibedakan :
1. Dura
Varietas ini memiliki tempurung yang cukup tebal yaitu antara 2-8 mm dan tidak
terdapat lingkaran sabut pada bagian luar cangkang. Daging buah relatif tipis yaitu
35-50% terhadap buah, kernel (daging biji) lebih besar dengan kandungan minyak
sedikit.
2. Pisifera
Ketebalan cangkang sangat tipis, bahkan hampir tidak ada tetapi daging buahnya
tebal, lebih tebal dari buah dura. Daging biji sangat tipis, tidak dapat diperbanyak
tanpa menyilangkan dengan jenis lain dan dipakai sebagai pohon induk jantan.
3. Tenera
Berdasarkan tebal tipisnya cangkang sebagai faktor homozygote tunggal yaitu dura
bercangkang tebal jika dikawinkan dengan pisifera bercangkang tipis maka akan
menghasilkan varietas baru yaitu tenera. Batang kelapa sawit tumbuh tegak lurus
(phototropi) dan pelepah daun (frond base) menempel membalut batang. Pada
tanaman dewasa diameternya dapat mencapai 40-60 cm, bagian bawah batangnya
lebih gemuk disebut bongkol bawah (bowl). Kecepatan tumbuh berkisar 35-75
cm/tahun. Karena sifatnya yang phototropi dan heliotropi (menuju cahaya dan arah
matahari) maka pada keadaan terlindung, tumbuhnya akan lebih cepat akan tetapi
Pelepah Kelapa Sawit
Pangkal pelepah daun (petiole) adalah tempat duduknya helaian daun (leaf let)
dan terdiri dari rachis (basis foli), tangkai daun (petiole) dan duri (spine), helaian anak
daun (lamina), ujung daun (apex foli), lidi (nervatio), daun (margo folii) dan daging daun
(intervenium) (Fauzi, dkk., 2002).
Daun kelapa sawit mirip kelapa yaitu membentuk susunan daun majemuk,
bersirip genap dan bertulang sejajar. Daun-daun membentuk satu pelepah yang
panjangnya mencapai lebih dari 7,5-9 meter. Jumlah anak daun disetiap pelepah berkisar
antara 250-400 helai, daun muda yang masih kuncup berwarna kuning pucat. Pada tanah
yang subur, daun cepat membuka sehingga makin efektif melakukan fungsinya sebagai
tempat berlangsungnya fotosintesis dan sebagai alat respirasi. Semakin lama proses
fotosintesis berlangsung, semakin banyak bahan makanan yang dibentuk sehingga
produksi akan meningkat. Jumlah pelepah, panjang pelepah, dan jumlah anak daun
tergantung pada umur tanaman. Tanaman yang berumur tua, jumlah pelepah dan anak
daun lebih banyak. Begitu pula pelepahnya akan lebih panjang dibandingkan dengan
tanaman yang masih muda (Fauzi, dkk., 2002).
Batang dan pelepah dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Pada prinsipnya
terdapat 3 cara pengolahan batang kelapa sawit untuk dijadikan pakan ternak yaitu
pengolahan menjadi silase, perlakuan NaOH dan pengolahan dengan menggunakan uap.
Untuk pelepah sawit, pengolahan yang paling efisien adalah dengan membuat silase.
Pengalaman peternak sapi di Malaysia pada usaha penggemukan sapi dengan skala 1.500
ekor, menggunakan komposisi makanan campuran dengan perbandingan 50 % pelepah
kelapa sawit dan 50 % konsentrat (Fauzi, dkk., 2002).
Gaya potong pelepah kelapa sawit dapat dihitung dengan meletakkan pisau
diatas neraca (posisi tegak lurus terhadap neraca), kemudian pelepah dipecutkan kearah
berapa Kg gaya potong maksimal yang terjadi. Hasil dari percobaan gaya potong terhadap
pelepah kelapa sawit sebanyak 5 kali pengulangan diketahui gaya potong maksimal
adalah 4,1 Kg (Septiadi, 2013).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap uji fisik dan mekanik
parenkim pelepah daun sawit, didapatkan bahwa pelepah kelapa sawit segar memiliki
sifat fisik dengan kadar air rata-rata 0,83%; berat jenis pelepah kelapa sawit adalah 0,362
g/cm3; modulus elastisitas 11.345 Kg/cm2; tegangan pada batas proporsi 146,696 Kg/cm2;
tegangan maksimum 178,521 Kg/cm2; daya lenting 0,165 Kg m; dan deformasi mulur
0,682 mm ( Intara dan Banun, 2012).
Berat jenis ini diduga sangat dipengaruhi oleh anatomi parenkim pelepah
sawit. Anatomi batang parenkim pelepah sawit secara makro terdiri dari dua jaringan
utama yaitu parenkim dasar dan pembuluh sangat mempengaruhi massa bahan. Jika
dihubungkan dengan komponen kimia yang terdapat didalam parenkim pelepah sawit
maka kandungan selulosa dan lignin berpengaruh terhadap massa bahan. Kerapatan serat
sangat ditentukan kandungan selulosa dan lignin parenkim. Serat yang satu dengan serat
yang lain diikat oleh lignin dalam suatu ikatan yang kompak dan tersusun rapat pada
batang parenkim pelepah sawit. Semakin tinggi kandungan selulosa maka semakin tinggi
ikatan mikrofilbil. Semakin banyak ikatan mikrofibil semakin banyak serat-serat yang
tersusun. Akan tetapi yang paling berperan dalam membentuk suatu ikatan yang kompak
dan susunan yang rapat adalah kandungan lignin. Jadi secara tidak langsung berat jenis
dipengaruhi oleh kandungan selulosa dan lignin (Pasaribu, 1990).
Peranan Mekanisasi Pertanian
Ilmu mekanisasi pertanian adalah ilmu yang mempelajari penguasaan dan
pemanfaatan bahan dan tenaga alam untuk mengembangkan daya kerja manusia dalam
bidang pertanian, demi untuk kesejahteraan manusia. Pengertian pertanian dalam hal ini
Peranan mekanisasi pertanian dalam pembangunan pertanian di Indonesia
adalah:
1. Mempertinggi efisiensi tenaga manusia,
2. Meningkatkan derajat dan taraf hidup petani,
3. Menjamin kenaikan kualitas dan kuantitas serta kapasitas produksi pertanian,
4. Memungkinkan pertumbuhan tipe usaha tani, yaitu dari tipe pertanian untuk
kebutuhan keluarga (subsistence farming) menjadi tipe pertanian perusahaan
(commercial farming),
5. Mempercepat transisi bentuk ekonomi Indonesia dari bersifat agraris menjadi
bersifat industri.
(Hardjosentono, dkk., 1996).
Mekanisasi pertanian di Indonesia sudah sejak lama menjadi keharusan, oleh
karena itu muatan teknologinya harus selalu diperkaya dan disesuaikan seiring dengan
perkembangan lingkungan strategis nasional maupun global. Perkembangan lingkungan
strategis tersebut diantaranya adalah adanya perkembangan harga dan permintaan pangan
dan energi yang semakin meningkat Perkembangan mekanisasi pertanian tentunya harus
ditunjang dengan ketersediaan bahan bakar yang dibutuhkan untuk mengoperasikannya.
Terhambatnya penggunaan peralatan dan mesin pertanian tersebut tentunya akan
berdampak pada menurunnya kinerja sektor pertanian (Prastowo, dkk., 2009).
Elemen Mesin
Motor diesel
Motor penggerak adalah motor yang dapat mengubah tenaga panas hasil dari
suatu pembakaran menjadi tenaga mekanik. Motor penggerak dapat dibedakan dalam 2
golongan, yaitu:
1. Motor dengan pembakaran diluar,
2. Motor dengan pembakaran didalam silinder.
Motor diesel adalah motor pembakaran dalam (internal combustion engine)
yang beroperasi dengan menggunakan minyak gas atau minyak berat sebagai bahan bakar
dengan suatu prinsip bahan bakar tersebut disemprotkan (diinjeksikan) kedalam silinder
yang didalamnya sudah terdapat udara dengan tekanan dan suhu yang cukup tinggi
sehingga bahan bakar tersebut secara spontan terbakar (Soenarto dan Shoichi, 1995).
Sifat berikut, mempengaruhi prestasi dan keandalan dari mesin diesel:
penguapan, residu karbon, viskositas, kandungan belerang, abu, air dan endapan, titik
nyala, titik tuang, sifat korosif dan keasaman serta mutu penyalaan. Tetapi mutu
penyalaan hanya penting untuk mesin kecepatan tinggi dan oleh karenanya didaftarkan
paling akhir dalam urutan pentingnya untuk mesin ini (Maleev, 1991).
Minyak bakar yang disemprotkan kedalam silinder berbentuk butir-butir
cairan yang halus. Oleh karena udara di dalam silinder pada saat tersebut sudah
bertemperatur dan bertekanan tinggi maka butir-butir tersebut akan menguap. Penguapan
butir bahan bakar itu dimulai pada bagian permukaan luarnya, yaitu bagian yang terpanas.
Uap bahan bakar yang terjadi itu selanjutnya bercampur dengan udara yang ada
disekitarnya. Proses penguapan itu berlangsung terus selama temperatur sekitarnya
mencukupi (Arismunandar dan Koichi, 2004).
Poros
Poros merupakan salah satu bagian yang terpenting dari setiap mesin. Hal- hal
yang perlu diperhatikan di dalam merencanakan sebuah poros adalah:
1. Kekuatan poros
Suatu poros dapat mengalami beban puntir atau lentur atau gabungan antara puntir
dan lentur. Juga ada poros yang mendapat beban tarik atau tekan. Kelelahan,
pengaruh konsentrasi tegangan bila diameter poros diperkecil (poros bertangga),
poros mempunyai alur pasak, harus diperhatikan. Sebuah poros harus direncanakan
2. Kekakuan poros
Meskipun sebuah poros mempunyai kekuatan yang cukup tetapi jika lenturan atau
defleksi puntirnya terlalu besar akan mengakibatkan ketidaktelitian atau
menimbulkan getaran dan suara. Karena itu, kekuatan poros harus diperhatikan dan
disesuaikan dengan jenis mesin yang akan dilayani oleh poros tersebut.
3. Putaran kritis
Bila putaran suatu mesin dinaikkan maka pada suatu harga putaran tertentu dapat
terjadi getaran yang luar biasa besarnya. Putaran ini disebut putaran kritis. Poros
harus direncanakan sedemikian rupa hingga putaran kerjanya lebih rendah dari
putaran kritisnya.
4. Korosi
Bahan- bahan tahan korosi harus dipilih untuk propeler dan pompa bila terjadi
kontak dengan media yang korosif. Demikian pula untuk poros yang terancam
kavitasi dan poros mesin yang sering berhenti lama.
(Achmad, 2006).
Sabuk V
Sabuk bentuk trapesium atau bentuk V dinamakan demikian karena sisi sabuk
dibuat serong, supaya cocok dengan alur roda transmisi yang berbentuk V. Kontak
gesekan terjadi antara sisi sabuk V dengan dinding alur menyebabkan berkurangnya
kemungkinan selipnya sabuk penggerak dengan tegangan yang lebih kecil. Sabuk V
sering digunakan dalam keadaan rangkap bilamana daya yang dipindahkan melebihi
kemampuan satu sabuk (tunggal). Dalam pemindahan daya dengan sabuk rangkap perlu
bahwa semua sabuk sama panjangnya agar supaya beban terbagi rata (Smith dan
Lambert, 1990).
Roda transmisi
Roda transmisi beralur untuk sabuk V dibuat dari besi tuang, baja tuang atau
berubah-ubah untuk memperoleh nisbah kecepatan putar yang berbeda. Yang pertama disebut
sebagai tipe kontrol stasioner. Dalam roda transmisi tipe ini diameter alur diatur dengan
mengubah cakram yang dapat diambil pada waktu mesin tidak bekerja. Pada kedua tipe
lainnya diameter alur dapat diubah pada waktu mesin sedang bekerja. Ada dua tipe
dasar alur yang tersedia untuk roda transmisi dengan sabuk V yaitu yang baku dan
yang dalam (Smith dan Lambert, 1990).
Bantalan
Bantalan dalam peralatan usaha tani diperlukan untuk menahan berbagai suku
pemindah gaya tetap di tempatnya. Bantalan yang tepat untuk digunakan ditentukan oleh
besarnya keausan, kecepatan putar poros, beban yang harus didukung, dan besarnya daya
dorong akhir (Smith dan Lambert, 1990).
Bantalan (bearing) digunakan kepada bagian mesin yang meneruskan gaya
atau beban dari bagian yang bergerak kepada bagian yang stasioner sehingga mendukung
bagian yang bergerak. Permukaan yang bersinggungan dibawah tekanan disebut
permukaan bantalan. Semua bantalan dapat dibagi menjadi dua golongan utama,
tergantung pada jenis gerakan bagian yang didukungnya:
1. Bantalan untuk gerak putar
2. Bantalan untuk gerak ulak-alik
(Maleev, 1991).
Mekanisme Pembuatan Alat
Dalam pekerjaan bengkel alat dan mesin, benda kerja yang akan dijadikan
dalam bentuk tertentu sehingga menjadi barang siap pakai dalam kehidupan sehari-hari,
maka dilakukan proses pengerjaan dengan mesin–mesin perkakas, antara lain mesin
bubut, mesin bor, mesin gergaji, mesin frais, mesin skrap, mesin asah, mesin gerinda, dan
mesin yang lainnya (Daryanto, 1993).
Kekuatan, keawetan, dan pelayanan yang diberikan peralatan usaha tani
pembuatannya. Dalam pembuatannya terdapat kecenderungan konstruksi peralatan untuk
meniadakan sebanyak mungkin baja tuangan dan mengganti dengan baja tekan atau baja
cetak. Bilamana hal ini dilakukan dapat menekan biaya membuat mesin dalam jumlah
besar. Keberhasilan atau kegagalan alat sering sekali tergantung pada bahan yang dipakai
untuk pembuatannya. Bahan yang digunakan untuk pembuatan peralatan usaha tani dapat
diklasifikasikan dalam logam dan non logam (Smith dan Wilkes, 1990).
Kapasitas Kerja Mesin Pertanian
Kapasitas kerja suatu alat atau mesin didefenisikan sebagai kemampuan alat
dan mesin dalam menghasilkan suatu produk (contoh: Ha. Kg, lt) persatuan waktu (jam).
Dari satuan kapasitas kerja dapat dikonversikan menjadi satuan produk per kW per jam,
bila alat atau mesin itu menggunakan daya penggerak motor. Jadi satuan kapasitas kerja
menjadi: Ha.jam/KW, Kg.jam/KW, Lt.jam/KW (Daywin, dkk., 2008).
Pengecilan Ukuran
Semua cara yang digunakan untuk memotong partikel zat padat dan
dipecahkan menjdi kepingan-kepingan yang lebih kecil dinamakan size reduction atau
pengecilan ukuran. Didalam industri pengolahan, zat padat diperkecil dengan berbagai
cara yang sesuai dengn tujuannya. Secara umum tujuan dari pengecilan ukuran adalah:
1. Menghasilkan padatan dengan ukuran maupun spesifik permukaan tertentu,
2. Memecahkan bagian dari mineral atau kristal dari persenyawaan kimia yang terpaut
pada padatan.
Beberapa cara untuk memperkecil ukuran zat padat dapat dilakukan dengan
menggunakan berbagai cara, yaitu: kompresi (tekanan), impak (pukulan), gesekan dan
pemotongan/ pencacahan (Sukma, 2009).
Hijauan yang telah dicacah memungkinkan ternak dapat
mengkonsumsi/mengunyah hijauan tersebut dengan lebih baik. Disamping itu dalam
proses pembuatan silase diperlukan hijauan yang telah tercacah agar prosesnya
menjadi potongan-potongan secara seragam dengan panjang potongan 2-5 cm (Unadi,
2003).
Konsumsi Bahan Bakar
Pengamatan bahan bakar diperlukan untuk mengetahui berapa banyak bahan
bakar yang digunakan untuk mencacah caranya yaitu dengan mengisi penuh tangki bahan
bakar sebelum alat dioperasikan. Setelah alat selesai dioperasikan, bahan bakar bensin
diisi kembali sampai penuh dan dicacat besarnya volume penambahan bahan bakar
tersebut.
Debit pemakaian bahan bakar dapat dihitung dengan rumus:
Q = volume
T
... (1)
Dengan:
Q = debit pemakaian bahan bakar (liter/jam)
Vol = volume pemakaian bahan bakar pada saat beroperasi (cm3)
T = total operasional waktu alat pencacah (menit)
(Rusadi, 2012).
Analisis Ekonomi
Analisis ekonomi digunakan untuk menentukan besarnya biaya yang harus
dikeluarkan saat produksi menggunakan alat ini. Dengan analisis ekonomi dapat
diketahui seberapa besar biaya produksi sehingga keuntungan alat dapat diperhitungkan.
Biaya variabel adalah biaya yang besarnya tergantung pada output yang dihasilkan.
Semakin banyak produk yang dihasilkan maka semakin banyak bahan yang digunakan.
Sedangkan, biaya tetap adalah biaya yang tidak tergantung pada banyak sedikitnya
produk yang akan dihasilkan (Soeharno, 2007).
Untuk menilai kelayakan finansial, diperlukan semua data yang
pengukuran kelayakan tersebut meliputi data tenaga kerja, sarana produksi, hasil
produksi, harga, upah, dan suku bunga (Nastiti, dkk., 2008).
Biaya pokok
Biaya produksi atau biaya pokok adalah biaya dari tiga unsur biaya yaitu biaya
langsung, tenaga kerja langsung dan over head pabrik. Biaya-biaya ini secara langsung
berkaitan dengan biaya pembuatan produk secara fisik yang dikeluarkan dalam rangka
kegiatan proses produksi sehingga disebut juga dengan production cost. Biaya produksi
terdiri dari biaya bahan langsung, biaya tenaga kerja langsung, biaya bahan tak langsung,
biaya tenaga kerja tak langsung, dan biaya tak langsung lainnya. (Giatman, 2006).
Bagi suatu kegiatan usaha, apapun bidang usaha hanya mengenal dua macam
biaya, yaitu:
a. Biaya tetap (fixed cost) yaitu biaya yang selalu harus dikeluarkan tanpa memandang
aktifitas produksi yang sedang dilaksanakan, misalnya: gaji personel, staf kantor,
biaya rutin kantor, penyusutan, dll.
b. Biaya tidak tetap (variable cost) yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan
dengan kegiatan produksi misalnya: pembelian bahan, sewa alat, upah buruh, bahan
bakar, dll.
(Waldiyono, 2008).
Investasi di bidang mesin/alat dimaksud untuk memperoleh keuntungan yang
wajar, karena itu perlu dilakukan perhitungan biaya produksi. Prestasi mesin/alat harus
mengimbangi biaya tetap dan biaya tidak tetap. Prestasi mesin/alat dapat diukur dengan
cara:
Biaya produksi = Biaya perjam serendah mungkin
Produksi perjam setinggi mungkin
... (2)
1. Biaya tetap
Biaya tetap terdiri dari :
- Biaya penyusutan (Sinking Fund Methods)
Dt = P – (P-S)(A/F, i%, n) (F/A, i%, t)...(3)
dimana :
Dt = Biaya penyusutan (Rp/tahun)
P = Nilai awal (harga beli/pembuatan) alsin (Rp)
S = Nilai sisa pada tahun akhir (Rp)
i = Suku bunga (%)
n = Perkiraan umur ekonomi (tahun)
- Biaya bunga modal dan asuransi, diperhitungkan untuk mengembalikan nilai
modal yang ditanam sehingga pada akhir umur peralatan diperoleh suatu nilai
uang yang present value nya sama dengan nilai modal yang ditanam. Persamaan
yang digunakan:
I = i P (n+1)
2n ...(4)
dimana :
i = Total persentase bunga modal dan asuransi (5,5% pertahun)
I = Total bunga modal dan asuransi (Rp/tahun)
P = Harga awal mesin (Rp)
N = Umur ekonomis (tahun)
(Daywin, dkk., 2008)
- Biaya pajak
Di negara kita belum ada ketentuan besar pajak secara khusus untuk
mesin-mesin dan peralatan pertanian, namun beberapa literatur menganjurkan bahwa
biaya pajak alsin pertanian diperkirakan sebesar 1% pertahun dari nilai awalnya
2. Biaya tidak tetap
Biaya tidak tetap terdiri dari biaya bahan bakar, biaya reparasi, biaya perawatan
preventip, biaya ban dan biaya operator.
- Biaya bahan bakar adalah pengeluaran solar atau bensin (bahan bakar) pada
kondisi kerja per jam. Satuannya adalah liter per jam, sedangkan harga per
liter yang digunakan adalah harga lokasi.
- Biaya pemeliharaan preventip adalah untuk memberikan kondisi kerja yang
baik bagi mesin dan peralatan.
- Biaya ban per jam diperuntukan bagi traktor-traktor roda, sebab banyak
pengalaman menunjukkan bahwa penggantian ban ini besar pengaruhnya
terhadap biaya operasi.
- Dalam perhitungan biaya perbaikan ini dapat digolongkan ke dalam 3
golongan/alat pertanian, yaitu: biaya perbaikan untuk peralatan besar, biaya
perbaikan untuk traktor roda dua dan biaya perbaikan dan pemeliharaan mesin
sumberdaya motor.
(Daywin, 2006).
Break even point (BEP)
Break even point (BEP) umumnya berhubungan dengan proses penentuan
tingkat produksi untuk menjamin agar kegiatan usaha yang dilakukan dapat membiayai
sendiri (self financing). Selanjutnya dapat berkembang sendiri (self growing). Dalam
analisis ini, keuntungan awal dianggap sama dengan nol. Bila pendapatan dari produksi
berada di sebelah kiri BEP maka kegiatan usaha akan menderita kerugian, sebaliknya bila
di sebelah kanan BEP akan memperoleh keuntungan.
Analisis BEP juga digunakan untuk:
1. Hitungan biaya dan pendapatan untuk setiap alternatif kegiatan usaha.
2. Rencana pengembangan pemasaran untuk menetapkan tambahan investasi untuk
3. Tingkat produksi dan penjualan yang menghasilkan ekuivalensi (kesamaan) dari
dua alternatif usulan investasi.
Manfaat perhitungan BEP adalah untuk mengetahui batas produksi minimal
yang harus dicapai dan dipasarkan agar usaha yang dikelola masih layak untuk
dijalankan. Pada kondisi ini income yang diperoleh hanya cukup untuk menutupi biaya
operasional tanpa adanya keuntungan.
Untuk mendefinisikan antara titik impas pada keuntungan (P) nol dan titik
impas dengan kontribusi keuntungan, keuntungan sebelum pajak (P) perlu diperhatikan,
yakni:
S = FC + P
SP - VC ...(5)
dimana:
S = sales variabel (produksi) (Kg)
FC = fix cash (biaya tetap) per tahun (Rp)
P = profit (keuntungan) (Rp) dianggap nol untuk mendapat titik impas.
SP = selling per unit (penerimaan dari tiap unit produksi) (Rp)
VC = variabel cash (biaya tidak tetap) per unit produksi (Rp)
(Waldiyono, 2008).
Net present value (NPV)
Net Present Value (NPV) adalah metode menghitung nilai bersih (netto) pada
waktu sekarang (present). Asumsi present yaitu menjelaskan waktu awal perhitungan
bertepatan dengan saat evaluasi dilakukan atau pada periode tahun ke nol (0) dalam
perhitungan cash flow investasi.
Cash flow yang benefit saja perhitungannya disebut dengan present worth of
present worth of cost (PWC). Sementara itu NPV diperoleh dari PWB dikurangi PWC,
yakni:
NPV = PWB - PWC ...(6)
PWB = present worth of benefit
PWC = present worth of cost
Untuk mengetahui apakah rencana suatu investasi tersebut layak ekonomis
atau tidak, diperlukan suatu ukuran atau kriteria tertentu dalam metode NPV, yaitu:
NPV > 0 artinya investasi akan menguntungkan/ layak
NPV < 0 artinya investasi tidak menguntungkan
(Giatman, 2006).
Internal rate of return (IRR)
Internal rate of return (IRR) ini digunakan untuk memperkirakan kelayakan
lama (umur) pemilikan suatu alat atau mesin pada tingkat keuntungan tertentu. IRR
adalah suatu tingkatan discount rate, dimana diperoleh B/C ratio = 1 atau NPV = 0.
Berdasarkan harga dari NPV = X (positif) atau NPV= Y (positif) dan NPV =
X (positif) atau NPV = Y (negatif), dihitunglah harga IRR dengan menggunakan rumus
berikut:
) %)(
% (
% x q p positif dan negatif Y X X p IRR
...(7)
atau ) %)( % (
% x q p positif dan positif Y X X q IRR
...(8)
dimana :
p = suku bunga bank paling atraktif
q = suku bunga coba-coba ( > dari p)
X = NPV awal pada p
Y = NPV awal pada q
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei 2015 di Unit
Pelaksana Tugas (UPT) Mekanisasi Pertanian Dinas Pertanian Provinsi Sumatera,
Medan.
Bahan dan Alat Penelitian
Adapun bahan-bahan yang digunakan adalah: pelepah kelapa sawit dan
bahan bakar minyak (solar).
Adapun alat-alat yang digunakan adalah: mesin pencacah pelepah
kelapa sawit, meteran, karung sebagai wadah penampung cacahan, parang,
stopwatch, timbangan, kalkulator, komputer dan alat tulis.
Metodologi Penelitian
Dalam penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan cara studi
literatur (kepustakaan), kemudian dilakukan pengamatan tentang alat, dilakukan
persiapan dan dilakukan pengamatan parameter terhadap alat, lalu dilakukan
pengujian dan perhitungan. Pengujian dilakukan sebanyak 5 kali dengan
menggunakan 10 pelepah tiap kali ulangan dan tiap pelepah seberat 4 Kg.
Komponen Alat
Alat pencacah pelepah kelapa sawit yang digunakan dalam penelitian
ini memiliki beberapa komponen utama yaitu:
1. Rangka alat
Rangka alat ini berfungsi sebagai penyokong komponen-komponen alat
2. Motor diesel
Motor diesel berfungsi sebagai sumber tenaga mekanis (penggerak).
3. Poros motor
Poros motor berfungsi sebagai dudukan pulley. Juga sebagai penerus gaya
dari motor listrik diteruskan pulley.
4. Bearing (bantalan)
Bearing berfungsi sebagai dudukan poros dan agar poros tidak mengalami
aus.
5. Pulley penggerak
Pulley penggerak berfungsi sebagai penerima putaran dari poros dan sebagai
dudukan sabuk-V.
6. Sabuk-V
Sabuk-V berfungsi sebagai pemindah putaran, dari pulley penggerak
dipindahkan putaran ke pulley pencacah.
7. Poros pencacah
Poros pencacah berfungsi sebagai tempat dudukan pulley pencacah dan juga
sebagai penghubung putaran yang diterima pulley pencacah untuk
diteruskan ke mata pisau.
8. Pisau pencacah
Pisau pencacah berfungsi untuk mencacah pelepah kelapa sawit.
Prosedur Penelitian Persiapan
Sebelum penelitian dilaksanakan, terlebih dahulu dilakukan persiapan
pemakaian alat di UPT Mekanisasi Pertanian Dinas Pertanian Provinsi Sumatera
Utara dan mempersiapkan bahan-bahan dan peralatan-peralatan yang akan
digunakan untuk penelitian.
Pengujian alat
Adapun prosedur pengujian alat adalah:
1. Disiapkan pelepah kelapa sawit yang akan dicacah sebanyak 50 pelepah
dengan berat rata- rata tiap pelepah 4 Kg.
2. Dinyalakan motor bensin dengan menarik tuas pemutar motor hingga mesin
hidup.
3. Dimasukkan pelepah melalui hopper dan dicacah menggunakan mata pisau
pencacah dalam alat.
4. Dicatat waktu yang dibutuhkan untuk mencacah tiap 10 pelepah kelapa
sawit.
5. Dihitung banyaknya bahan bakar yang telah terpakai.
6. Ditimbang hasil cacahan pelepah serta cacahan pelepah tertinggal di dalam
alat.
7. Diulangi langkah 2 sampai 6 sebanyak 5 kali.
8. Dilakukan pengamatan parameter.
Parameter yang Diamati Kapasitas efektif alat
Pengukuran kapasitas alat dilakukan dengan membagi banyaknya
pelepah kelapa sawit yang dicacah terhadap waktu yang dibutuhkan untuk
Kapasitas efektif alat dihitung dengan rumus:
Kapasitas efektif alat = banyaknya pelepah dicacah (Kg)
t (jam) ... (9)
Rendemen pencacahan
Rendemen pencacah adalah persentase keluaran hasil pencacahan
pelepah dibagi dengan masukan pelepah. Dihitung dengan rumus:
Rendemen = banyaknya pelepah yang dicacah (Kg)
Banyaknya pelepah yang dimasukkan (Kg) X 100% ... (10)
Persentase bahan tertinggal
Persentase bahan tertinggal dapat dihitung dengan membandingkan
bahan yang tertinggal didalam alat dengan banyaknya pelepah yang telah dicacah.
Dapat dihitung dengan rumus:
Persentase = Pelepah masuk(Kg) - Hasil cacahan (Kg)
Pelepah masuk (Kg) X 100% ... (11)
Konsumsi bahan bakar
Pengamatan bahan bakar diperlukan untuk mengetahui berapa banyak
bahan bakar yang digunakan dalam mencacah caranya yaitu dengan mengisi
penuh tangki bahan bakar sebelum mesin dioperasikan. Setelah mesin
dioperasikan, bahan bakar bensin diisi kembali sampai penuh dan dicatat besarnya
volume penambahan bahan bakar tersebut. Dapat dihitung dengan persamaan (1).
Analisis Ekonomi Biaya pokok
Analisis ekonomi dilakukan dengan menghitung biaya pokok yang
(2). Kemudian dilanjutkan dengan menghitung biaya tetap dan biaya tidak tetap
sebagai berikut:
Biaya tetap
Menurut Daywin, dkk., (2008), biaya tetap terdiri dari :
1) Biaya penyusutan (Sinking Fund Methods)
Dengan menggunakan I = 5,5%
2) Biaya bunga modal dan asuransi
Diperhitungkan untuk mengembalikan nilai modal yang ditanam sehingga
pada akhir umur peralatan diperoleh suatu nilai uang yang present value nya
sama dengan nilai modal yang ditanam. Dihitung dengan persamaan (4).
Biaya tidak tetap
Menurut Daywin, dkk., (2008), biaya tidak tetap terdiri dari :
1) Biaya bahan bakar adalah pengeluaran solar atau bensin (bahan bakar) pada
kondisi kerja per jam. Satuannya adalah liter per jam, sedangkan harga per
liter yang digunakan adalah harga lokasi.
2) Biaya pemeliharaan preventip adalah untuk memberikan kondisi kerja yang
baik bagi mesin dan peralatan.
3) Biaya ban per jam diperuntukan bagi traktor-traktor roda, sebab banyak
pengalaman menunjukkan bahwa penggantian ban ini besar pengaruhnya
terhadap biaya operasi.
4) Dalam perhitungan biaya perbaikan ini dapat digolongkan ke dalam 3
golongan/alat pertanian, yaitu: biaya perbaikan untuk peralatan besar, biaya
perbaikan untuk traktor roda dua dan biaya perbaikan dan pemeliharaan
Break even point (BEP)
Manfaat perhitungan BEP adalah untuk mengetahui batas produksi
minimal yang harus dicapai dan dipasarkan agar usaha yang dikelola masih layak
untuk dijalankan. Pada kondisi ini income yang diperoleh hanya cukup untuk
menutupi biaya operasional tanpa adanya keuntungan. Dianalisis dengan
persamaan (5).
Net present value (NPV)
Dalam perhitungan NPV ini, umur ekonomi alatnya diperkirakan 5
tahun, besarnya suku bunga adalah 5,5%. Penetapan umur ekonomi alat ini
disebabkan antara lain: keausan dan keusangan dari alat tersebut, biaya perbaikan
makin naik sampai akhirnya tidak lagi ekonomis untuk memperbaikinya serta
teknologi yang semakin berkembang yang membuat unjuk kerja dari alat ini lebih
kecil dibandingkan alat yang dibuat dimasa yang akan datang. Dihitung dengan
persamaan (6).
Internal rate of return(IRR)
Dalam perhitungan IRR ini, besarnya suku bunga yang digunakan adalah 5,5%.
Besarnya suku bunga yang ditetapkan ini diharapkan mampu menghasilkan
perhitungan IRR yang lebih besar dari bunga bank yang berlaku sehingga usaha
Penelitian ini dilakukan dengan melakukan pencacahan pada pelepah
kelapa sawit dengan menggunakan mesin pencacah pelepah kelapa sawit sebagai
pencacah dan motor diesel sebagai tenaga penggerak yang menggunakan bahan
bakar solar.
Prinsip Kerja Alat
Motor diesel sebagai tenaga penggerak akan menggerakkan pulley
motor yang selanjutnya mentransmisi daya pada pulley poros sehingga
menggerakkan poros pisau. Poros yang berputar akar menggerakkan mata pisau
yang menyatu dengan poros. Dengan kecepatan putaran yang tinggi, mata pisau
mampu memberi tekanan yang besar sehingga mencacah pelepah kelapa sawit
yang dimasukkan melalui hopper. Cacahan pelepah kemudian keluar melalui
saluran pengeluaran.
Kapasitas Efektif Alat
Mesin pencacah pelepah kelapa sawit rancangan UPT Mekanisasi
Pertanian Provinsi Sumatera Utara menggunakan motor diesel dengan daya 10
HP. Pencacahan dilakukan dengan memasukkan ujung pelepah pada hopper, yang
dicacah hingga pangkal pelepah. Kapasitas efektif alat diperoleh dengan
melakukan pencacahan pelepah kelapa sawit sebanyak lima kali ulangan dengan
tiap ulangan menggunakan 10 pelepah dengan berat tiap pelepah rata -rata 4
Kg/pelepah, kemudian dihitung kapasitas efektif alat rata-rata. Pengukuran
kapasitas efektif alat dilakukan dengan membagi berat bahan yang dicacah
terhadap waktu yang dibutuhkan. Kapasitas efektif suatu alat menunjukkan
efektif alat diukur dengan membagi banyaknya pelepah yang dicacah pada mesin
pencacah pelepah kelapa sawit terhadap waktu yang dibutuhkan selama
[image:36.595.114.513.195.308.2]pengoperasian alat (persamaan 12).
Tabel 1. Kapasitas alat mesin pencacah pelepah kelapa sawit
Ulangan Berat pelepah (Kg)
Waktu pencacahan (menit)
Kapasitas Efektif Alat (Kg/jam)
I 42,8 10,02 256,29
II 42,0 8,55 294,74
III 39,4 9,17 257,80
IV 38,7 7,63 304,33
V 38,2 7,42 308,90
Rata-rata 40,22 8,56 287,29
Hasil tersebut didapat dari hasil penelitian yang dilakukan dengan
mencacah pelepah sebanyak 5 kali ulangan dengan setiap ulangan menggunakan
bahan rata-rata seberat 40 Kg. Hasil pencacahan menunjukkan waktu rata-rata
yang dibutuhkan untuk mencacah pelepah seberat 40 Kg adalah sebesar 8,56
menit.
Tabel 1 diperoleh kapasitas efektif rata-rata mesin pencacah pelepah
kelapa sawit ini sebesar 287,29 Kg/jam. Sesuai dengan persyaratan unjuk kerja
mesin pencacah bahan pupuk organik pada SNI 7580:2010 bahwa kapasitas
efektif alat dibagi menjadi 3 kelas yaitu kelas A dengan kapasitas <600 Kg/jam,
kelas B dengan kapasitas 600-1500 Kg/jam dan kelas C dengan kapasitas >1500
Kg/jam. Sehingga kapasitas pencacah pelepah kelapa sawit sebagai bahan baku
kompos ini termasuk kelas A.
Menurut Smith (1990) kapasitas suatu pencacah bergantung pada
banyak faktor, seperti laju pemasukan bahan, kecepatan poros motor, daya yang
Rendemen Pencacahan
Rendemen pencacahan diperoleh dengan membandingkan antara
banyaknya cacahan pelepah yang dihasilkan dengan banyaknya pelepah yang
[image:37.595.113.511.229.357.2]dicacah dalam persen (persamaan 13). Berikut tabel rendemen pencacahan:
Tabel 2. Rendemen pencacahan
Ulangan Banyak pelepah dicacah (Kg) Banyak hasil cacahan pelepah (Kg) Rendemen pencacahan (%)
I 42,8 39,7 92,8
II 42,0 39,6 94,3
III 39,4 37,0 93,9
IV 38,7 36,6 94,6
V 38,2 36,4 95,3
Rata-rata 40,22 37,86 94,2
Berdasarkan tabel 2, diperoleh rendemen pencacahan rata-rata mesin
pencacah pelepah kelapa sawit sebesar 94,2 %, yang berarti kinerja optimal
mesin dapat menghasilkan cacahan yang keluar melalui saluran pengeluaran
sebanyak 94,2% dari banyaknya pelepah yang dicacah tiap kali mencacah.
Menurut Henderson dan Perry (1998), rendemen pencacahan
dipengaruhi oleh kapasitas bahan yang dimasukkan, tenaga yang diperlukan per
satuan bahan, ukuran dan bentuk bahan sebelum dan sesudah proses pengecilan
ukuran, dan kisaran ukuran dan bentuk hasil akhir.
Persentase Bahan Tertinggal
Persentase bahan tertinggal diperoleh dengan membandingkan antara
berat bahan yang tertinggal didalam alat dengan berat masukan awal bahan yang
dinyatakan dalam persen (persamaan 14). Pada saat mencacah, tidak semua hasil
didalam saluran pengeluaran. Berikut tabel data pencacahan untuk persentase
[image:38.595.115.509.170.297.2]bahan tertinggal:
Tabel 3. Persentase bahan tertinggal
Ulangan Banyak pelepah dicacah (Kg) Banyak cacahan pelepah tertinggal (Kg) Persentase bahan tertinggal (%)
I 42,8 2,7 6,3
II 42,0 2,1 5,0
III 39,4 2,3 5,8
IV 38,7 1,9 4,9
V 38,2 1,5 3,9
Rata-rata 40,22 2,1 5,2
Dari penelitian yang telah dilakukan, diperoleh bahwa persentase
rata-rata bahan tertinggal adalah sebesar 5,2 %, yang berarti setiap kali melakukan
pencacahan, akan terdapat sekitar 2 Kg bahan yang akan tertinggal didalam alat.
Adapun bahan tertinggal ini diduga disebabkan oleh kemiringan penutup saluran
pengeluaran yang kecil sehingga bahan tidak dapat keluar secara optimal.
Bahan Bakar Digunakan
Penggunaan bahan bakar diperoleh dengan menandai ketinggian bahan
bakar awal pada tangki bahan bakar. Kemudian setiap kali selesai ulangan, tangki
kembali diisi dengan bahan bakar hingga pada tanda ketinggian. Selanjutnya, pada
gelas ukur dilihat banyaknya bahan bakar yang digunakan (persamaan 15).
Tabel 4. Bahan bakar digunakan
Ulangan
Waktu pencacahan
(jam)
Banyak bahan bakar digunakan
(mL)
Bahan bakar digunakan
(L/jam)
I 0,17 80 0,47
II 0,14 65 0,46
III 0,15 70. 0,47
IV 0,13 50 0,38
V 0,12 45 0,38
[image:38.595.116.511.627.754.2]Dari penelitian yang dilakukan, diperoleh bahwa bahan bakar yang
digunakan selama pencacahan rata-ratanya adalah sebesar 0,44 L/jam.
Berdasarkan SNI 7580:2010 persyaratan unjuk kerja mesin pencacah bahan pupuk
organik berdasarkan konsumsi bahan bakar dikelompokkan menjadi 3 kelas, yaitu
kelas A dengan konsumsi < 2 liter/jam, kelas B dengan konsumsi 2 -3 liter/jam,
dan kelas C dengan konsumsi >3liter/jam, sehingga konsumsi bahan bakar pada
mesin pencacah pelepah kelapa sawit ini dapat dikelompokkan pada kelas A.
Analisis Ekonomi Biaya pokok
Analisis ekonomi digunakan untuk menentukan besarnya biaya yang
harus dikeluarkan saat produksi menggunakan alat ini. Dengan analisis ekonomi
dapat diketahui seberapa besar biaya produksi sehingga keuntungan alat dapat
diperhitungkan.
Tabel 5. Biaya Pokok/Produksi
Tahun Biaya Pokok
(Rp/tahun) (Rp/jam) (Rp/Kg)
I 27.318.785 15.486,84 53,90
II 27.510.711 15.595,64 . 54,29
III 27.610.379 15.652 54,48
IV 27.767.788 15.741 54,79
V 27.935.519 15.836 55,12
Dari analisis biaya (Lampiran 6), diperoleh biaya produksi pencacahan
pelepah setiap tahunnya yakni pada tahun I sebesar Rp. 53,9/Kg, tahun II sebesar
Rp. 54,29/Kg, tahun III sebesar Rp. 54,48/Kg, tahun IV sebesar Rp. 54,79/Kg dan
tahun V sebesar Rp. 55,12/Kg. Perbedaan biaya pokok/produksi setiap tahunnya
produksi merupakan hasil perhitungan dari biaya tetap dan biaya tidak tetap
terhadap kapasitas mesin.
Break even point
Menurut Waldiyono (2008) analisis titik impas umumnya berhubungan
dengan proses penentuan tingkat produksi untuk menjamin agar kegiatan usaha
yang dilakukan dapat membiayai sendiri (self financing). Selanjutnya dapat
berkembang sendiri (self growing). Dalam analisis ini, keuntungan awal dianggap
sama dengan nol.
Bila pendapatan dari produksi berada disebelah kiri titik impas maka
kegiatan usaha akan menderita kerugian, sebaliknya bila disebelah kanan titik
impas akan memperoleh keuntungan. Maka dari itu perhitungan analisis titik
impas dari alat ini yaitu untuk mengetahui seberapa banyak pelepah dicacah alat
ini agar mencapai titik impas. Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian
[image:40.595.115.508.502.601.2]yang telah dilakukan (Lampiran 7) berikut BEP untuk setiap tahunnya:
Tabel 6. Break even point
Tahun Biaya Tetap (Rp/tahun)
Penerimaan – BTT (Rp/Kg)
BEP (Kg/tahun)
I 3.268.480 52,54 62.209
II 3.460.406 52,54 65.862
III 3.560.074 52,54 67.759
IV 3.717.483 52,54 70.755
V 3.885.214 52,54 73.947
Berdasarkan tabel 6, titik impas pada tahun I terjadi setelah mencacah
62.209 Kg, pada tahun kedua harus mencacah 65.862 Kg, tahun ketiga mencacah
67.759 Kg, tahun keempat mencacah 70.755 Kg, dan tahun kelima harus
mencacah 73.947 Kg pelepah kelapa sawit. Peningkatan BEP setiap tahunnya
Net present value
Dalam menginvestasikan modal dalam penambahan alat pada suatu
usaha maka net present value dapat dijadikan salah satu alternatif dalam analisa
finansial. Dari percobaan dan data yang diperoleh pada penelitian maka dapat
diketahui besarnya nilai. Jadi, besarnya NPV 5,5% adalah Rp. 98.930.948.
Sedangkan untuk NPV 7% adalah sebesar Rp. 94.318.312 (Lampiran 8). Hal ini
berarti usaha ini layak untuk dijalankan karena nilainya lebih besar atau sama
dengan nol.
Internal rate of return
Internal rate of return berfungsi untuk melihat seberapa layak suatu usaha dapat
dilaksanakan atau seberapa besar keuntungan investasi maksimum yang ingin
dicapai. Berdasarkan hal tersebut maka hasil yang didapat dari penelitian ini
adalah sebesar 39,17% (Lampiran 9) artinya usaha pencacahan pelepah kelapa
sawit masih layak untuk dijalankan jika pengusaha melakukan peminjaman modal
di bank pada suku bunga dibawah 39,17%. Atau dengan kata lain, usaha ini masih
layak dijalankan apabila bunga pinjaman di bank tidak melebihi 39,17%. Jika
bunga pinjaman di bank melebihi angka tersebut maka usaha ini tidak layak lagi
diusahakan. Semakin tinggi bunga pinjaman di bank maka keuntungan yang
Kesimpulan
1. Performa mesin pencacah pelepah kelapa sawit rancangan UPT Mekanisasi
Pertanian Provinsi Sumatera Utara yaitu kapasitas efektif alat sebesar
287,29 Kg/jam dengan menggunakan bahan bakar 0,44 L/jam.
2. Rendemen pencacahan rata-rata mesin pencacah pelepah kelapa sawit
adalah 94,2%.
3. Persentase bahan tertinggal mesin pencacah pelepah kelapa sawit rata-rata
yaitu 5,2%.
4. Biaya pokok yang digunakan setiap tahunnya pada mesin pencacah pelepah
kelapa sawit rancangan UPT Mekanisasi Pertanian Provinsi Sumatera Utara
adalah pada tahun I sebesar: Rp. 53,9/Kg, pada tahun II sebesar Rp.
54,29/Kg, tahun III sebesar Rp. 54,48/Kg, tahun IV sebesar Rp. 54,79/Kg
dan pada tahun V sebesar Rp. 55,12/Kg.
5. Mesin pencacah pelepah kelapa sawit mengalami titik impas (break even
point) apabila mencacah 62.209 Kg pada tahun pertama, 65.862 Kg pada
tahun kedua, 67.759 Kg pada tahun ketiga, 70.755 Kg pada tahun keempat,
73.947 Kg pada tahun kelima.
6. NPV 5,5% adalah Rp. Rp. 98.930.948> 0, oleh karena itu usaha ini layak
untuk dijalankan.
7. Internal rate of return dari mesin pencacah pelepah kelapa sawit adalah
Saran
1. Perlu dilakukan pengujian terhadap diameter pulley, baik pulley pada poros
pisau pencacah maupun pada poros motor yang secara langsung
Achmad, Z. 2006. Elemen Mesin I. Refika Aditama. Bandung.
Arismunandar, W. Dan Koichi T. 2004. Motor Diesel Putaran Tinggi. Pradnya Paramita.
Jakarta.
Daryanto. 1993. Dasar-Dasar Teknik Mesin. Rineka Cipta. Jakarta.
Daywin, F. J., R. G. Sitompul dan I. Hidayat. 2008. Mesin-Mesin Budidaya Pertanian di
Lahan Kering. Graha Ilmu. Yogyakarta.
Fauzi, Y., Y.E. Widiastuti, I. Satyawibawa dan R. Hartono, 2002. Kelapa Sawit;
Budidaya, Pemanfaatan Hasil dan Limbah Analis Usaha dan Pemasaran. Penebar
Swadaya, Jakarta.
Giatman, M. 2006. Ekonomi Teknik. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Hardjosentono, M., Wijato, Elon. R., Badra I.W dan R. Dadang. 1996. Mesin-Mesin
Pertanian. Bumi Aksara. Jakarta.
Intara Y.I. dan Banun D.P., 2012. Studi Sifat Fisik dan Mekanik Parenkhim Pelepah
Daun Kelapa Sawit Untuk Pemanfaatan sebagai Bahan Anyaman.
http://pertanian.trunojoyo.ac.id/wp-content/uploads/2013/02/JURNAL-6-Studi-Sifat-Fisik-dan-Mekanik-Parenkhim-Pelepah-Daun-Kelapa-Sawit-untuk.pdf [ 5
April 2015].
Maleev, L. 1991. Operasi dan Pemeliharaan Mesin Diesel. Erlangga. Jakarta.
Mustafa, M. 2004. Kelapa Sawit. Edisi Pertama. Cetakan Pertama Andi Cipta Karya
Nusa. Yogyakarta.
Nastiti, D., Sriwulan, P dan Farid R. A. 2008. Analisis Finansial Agribisnis Pertanian.
BPTP. Kalimantan Timur.
Pahan, I. 2006. Panduan Lengkap Kelapa Sawit Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga
Hilir. Penebar Swadaya, Jakarta.
Prastowo, B., C. Indrawanto dan D. S. Efendi. 2009. Mekanisasi Pertanian dalam
Risza, S., 1994. Kelapa Sawit Upaya Peningkatan Produktivitas. Kanisius. Yogyakarta.
Rusadi, F. 2012. Evaluasi Teknis dan Ekonomi Mesin Pencacah Pelepah Kelapa Sawit
Rancangan BBP Mektan sebagai Bahan Baku Kompos.
http://repository.unand.ac.id/19940/1/jurnal_febriani_rusadi-teknik_pertanian_unand.pdf [ 20 Januari 2015]
Sastrosayono, S. 2003. Budidaya Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Septiadi, A., 2013. Rancang Bangun Mesin Pencacah Pelepah Sawit untuk Pakan Ternak
(Perawatan). http://ssptpolsri-gdl-agungsepti-6484-4-bab3.pdf [7 Januari 2015]
Smith, H. P., dan Wilkes, L.H. 1990. Mesin dan Peralatan Usaha Tani. UGM-Press.
Yogyakarta.
Soeharno. 2007. Teori Mikroekonomi. Andi Press. Yogyakarta.
Soenarto, N. Dan Shoichi F. 1995. Motor Serbaguna. Pradnya Paramita. Jakarta.
Sukirno. 1999. Mekanisasi Pertanian. UGM. Yogyakarta.
Sukma, I.W.D., 2009. Spesifikasi Alat Size Reduction.
https://indrawibawads.files.wordpress.com/2012/01/spesifikasi-alat-size-reduction-indra-wibawa-tkim-unila.pdf [17 April 2015]
Unadi, A., 2003. Teknologi Alat dan Mesin untuk Agribisnis Peternakan di Kawasan
Perkebunan Sawit.
http://peternakan.litbang.pertanian.go.id/fullteks/lokakarya/probklu03-21.pdf [17
April 2015].
Waldiyono. 2008. Ekonomi Teknik (Konsep, Teori dan Aplikasi). Pustaka Pelajar.
Yogyakarta.
Lampiran 1. Flowchart pelaksanaan penelitian
Mengukur dan menggambar dimensi alat Mulai
Pengujian Alat
Pengukuran Parameter
Analisis Data
Selesai Data
Lampiran 2. Kapasitas Alat
Ulangan
Berat
pelepah tiap
ulangan
(Kg)
Waktu
pencacahan
(menit)
Waktu
pencacahan
(jam)
Kapasitas
Efektif Alat
(Kg/jam)
I 42,8 10,02 0,17 256,29
II 42,0 8,55 0,14 294,74
III 39,4 9,17 0,15 257,80
IV 38,7 7,63 0,13 304,33
V 38,2 7,42 0,12 308,90
Rata-rata 40,22 8,56 0,14 287,29
Kapasitas alat rata-rata = Banyaknya pelepah dicacah (Kg) Waktu pencacahan (jam)
= 40,22 Kg
0,14 jam
Lampiran 3. Rendemen Pencacahan
Ulangan
Banyak pelepah
dicacah
(Kg)
Banyak hasil
cacahan pelepah
(Kg)
Rendemen Hasil
Cacahan
(%)
I 42,8 39,7 92,8
II 42,0 39,6 94,3
III 39,4 37,0 93,9
IV 38,7 36,6 94,6
V 38,2 36,4 95,3
Rata-rata 40,22 37,86 94,2
Rendemen hasil cacahan rata-rata = Banyaknya hasil cacahan (Kg)
Banyaknya pelepah dicacah (Kg)
×
100%= 37,86 Kg
40,22 Kg
×
100%Lampiran 4. Persentase bahan tertinggal
Ulangan
Banyak pelepah
dicacah
(Kg)
Banyak cacahan
pelepah tertinggal
(Kg)
Persentase bahan
tertinggal
(%)
I 42,8 2,7 6,3
II 42,0 2,1 5,0
III 39,4 2,3 5,8
IV 38,7 1,9 4,9
V 38,2 1,5 3,9
Rata-rata 40,22 2,1 5,2
Persentase bahan tertinggal = Banyaknya cacahan tertinggal (Kg)
Banyaknya pelepah dicacah (Kg)
×
100%= 2,1 Kg
40,22 Kg
×
100%Lampiran 5. Bahan Bakar Digunakan
Ulangan
Waktu
pencacahan
(jam)
Banyak bahan
bakar digunakan
(mL)
Banyak bahan
bakar digunakan
(L)
Bahan bakar
digunakan
(L/jam)
I 0,17 80 0,08 0,47
II 0,14 65 0.06 0,46
III 0,15 70. 0.07 0,47
IV 0,13 50 0.05 0,38
V 0,12 45 0.05 0,38
Rata-rata 0,14 62 0.062 0,44
Bahan bakar digunakan
Bahan bakar digunakan rerata = Banyaknya bahan bakar (L) Waktu pencacahan (jam)
= 0,062 L
0,14 jam
Lampiran 6. Biaya Pokok
I. Unsur Produksi
1. Biaya pembuatan alat = Rp. 16.000.000
2. Umur ekonomis (n) = 5 tahun
3. Nilai akhir alat (S) = Rp. 1.600.000
4. Jam Kerja = 6 jam/hari
5. Produksi/ jam = 287,29 Kg/jam
6. Biaya operator = Rp. 5.250/jam/orang (Rp. 42.000/hari
sesuai data penghasilan buruh tani di
BPS dengan jam kerja efektif 8
jam/hari)
7. Jumlah operator = 2 orang
8. Bahan bakar (solar) = Rp. 6.900/ liter ( Juni 2015)
9. Jam kerja alat per tahun = 1.764 jam/tahun (asumsi 294 hari
efektif kerja tahun 2015)
II. Perhitungan Biaya Pokok
1. Biaya Tetap (BT)
- Biaya Penyusutan (Metode Sinking Fund)
Dt = (P-S) (A/F; i; n) (F/P; i; t-1)
(P-S) = Rp. 16.000.000 – Rp. 1.600.000
= Rp. 14.400.000
N (F/P;5,5%;t-1) Dt (Rp/tahun)
Nilai Mesin tiap
akhir tahun (Rp)
0 0 0 16.000.000
1 1,000 2.580.480 13.419.520
2 1,055 2.722.406 10.697.114
3 1,113 2.872.074 7.825.040
4 1,174 3.029.483 4.795.557
5 1,239 3.197.214 1.598.343
- Bunga modal dan asuransi
i = i (P) (n+1)
2 n
i = 5,5% × 16.000.000 (5+1)
2 × 5
i = Rp. 528.000/ tahun
- Pajak
= 1% . P
= 1% . 16.000.000
= Rp. 160.000/tahun
Total Biaya Tetap (BT)
Tahun 1 = Rp. 2.580.480/thn + Rp. 528.000/thn + Rp. 160.000/thn
= Rp. 3.268.480/tahun
Tahun 2 = Rp. 2.772.406/thn + Rp. 528.000/thn + Rp. 160.000/thn
= Rp. 3.460.406/tahun