EFEK ANTIFUNGAL KITOSAN BLANGKAS
(LIMULUS POLYPHEMUS) BERMOLEKUL TINGGI
DENGAN PELARUT GLISERIN TERHADAP
CANDIDA ALBICANS SEBAGAI ALTERNATIF
BAHAN DRESSING SALURAN AKAR
(PENELITIAN IN-VITRO)
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi
Oleh :
TIKA IKKE IVANTI NIM : 060600091
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Fakultas Kedokteran Gigi
Departemen Ilmu Konservasi Gigi
Tahun 2010
Tika Ikke Ivanti
Efek antifungal kitosan blangkas (Limulus polyphemus) bermolekul tinggi
dengan pelarut gliserin terhadap Candida albicans sebagai alternatif bahan
dressing saluran akar (penelitian in vitro)
Xii + 46 halaman
Candida albicans adalah jenis jamur yang paling sering diisolasi dari saluran
akar yang terinfeksi. Penggunaan dressing saluran akar direkomendasikan untuk
mengeliminasi mikroorganisme dan saat ini telah dikembangkan kitosan blangkas
(Limulus polyphemus) sebagai alternatif bahan dressing yang berasal dari alam,
kompatibel terhadap jaringan, namun tetap memiliki sifat antibakteri dan antifungal
yang sama dengan bahan non-biologi. Untuk mempermudah pengaplikasian bahan
dressing ke dalam saluran akar digunakan bahan pelarut gliserin yang tidak memiliki
efek antibakteri maupun antifungal.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antifungal dari kitosan blangkas
bermolekul tinggi yang diaplikasikan dengan bahan pelarut gliserin terhadap Candida
albicans. Metode yang digunakan adalah difusi agar yakni dengan meletakan paper
telah diinokulasi oleh Candida albicans, kemudian diukur zona bening yang
menunjukkan daya hambat setelah diinkubasi selama 24 jam.
Hasil penelitian menunjukkan zona hambat paling besar terdapat pada
konsentrasi 1% dengan rata-rata diameter zona hambat sebesar 13,25 mm kemudian
0,5% sebesar 13,15 mm dan 0,25% sebesar 12,85 mm yang berarti bahwa ketiga
konsentrasi tersebut efektif dalam menghambat pertumbuhan Candida albicans.
Sedangkan kontrol negatif yakni gliserin tidak menunjukkan zona bening sama sekali
Kemudian konsentrasi larutan kitosan blangkas bermolekul tinggi dengan pelarut
gliserin diturunkan dan didapat nilai MIC sebesar 0,006%.
Hasil analisis varians satu arah menunjukkan bahwa ada perbedaan yang
signifikan (p < 0,05) antara konsentrasi larutan kitosan blangkas 0,25%; 0,5%, dan 1%
dengan pelarut gliserin (bahan coba) dan gliserin (kontrol negatif) dalam menghambat
pertumbuhan Candida albicans. Hasil uji LSD menunjukkan ada perbedaan yang
signifikan (p < 0.05) antara konsentrasi larutan kitosan blangkas 0,25%; 0,5%, dan 1%
dengan gliserin (kontrol negatif).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kitosan blangkas bermolekul tinggi
dengan pelarut gliserin memiliki efek antifungal dimana semakin tinggi konsentrasinya
maka semakin efektif dalam menghambat pertumbuhan Candida albicans.
LEMBAR PENGESAHAN
SKRIPSI INI TELAH DISETUJUI UNTUK DISEMINARKAN PADA TANGGAL 24 AGUSTUS 2010
OLEH :
Pembimbing
NIP : 19500828 197902 2 001
Prof. Trimurni Abidin,drg., M.Kes., Sp.KG(K)
Mengetahui
Ketua Departemen Ilmu konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Sumatera Utara
NIP : 19500828 197902 2 001
PERNYATAAN PERSETUJUAN
Skripsi berjudul
EFEK ANTIGUNGAL KITOSAN BLANGKAS (LIMULUS POLYPHEMUS) BERMOLEKUL TINGGI DENGAN PELARUT GLISERIN TERHADAP
CANDIDA ALBICANS SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN DRESSING
SALURAN AKAR (PENELITIAN IN-VITRO)
Yang dipersiapkan dan disusun oleh :
NIM : 060600091 TIKA IKKE IVANTI
Telah dipertahankan didepan tim penguji pada tanggal 24 Agustus 2010
dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima
Susunan Tim Penguji Skripsi
Ketua Penguji
Prof.Trimurni Abidin,drg.,M.Kes,Sp.KG 19500828 197902 2 001
Anggota tim penguji lain
Prof.Dr.Rasinta Tarigan,drg.,Sp.KG
NIP : 19410830 196509 1 001 NIP : 19631117 199203 2 004 Nevi Yanti, drg., M.Kes
Medan, 24Agustus 2010 Fakultas Kedokteran Gigi Departemen Ilmu Konservasi Gigi
Ketua,
NIP : 19500828 197902 2 001
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
segala limpahan rahmat, karunia serta kekuatan bagi penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana
Kedokteran Gigi.
Rasa terima kasih secara khusus penulis tujukan kepada Ayahanda Toiman dan
Ibunda Sumiyati serta penyemangat penulis Tante Minik yang tidak henti-hentinya
mendoakan, menyayangi, membimbing, memberi semangat serta motivasi dan
mendukung baik secara moril maupun materil kepada penulis. Rasa sayang dan terima
kasih penulis tujukan untuk adikku Roland Bijaksono, sepupu-sepupu dan keluarga
besar atas dukungan, perhatian dan semangat yang diberikan kepada penulis.
Dalam penulisan skripsi ini penulis juga telah mendapat banyak bimbngan,
pengarahan, saran-saran dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan
penuh ketulusan dan kerendahan hati penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Prof. H.Nazruddin, drg., C.Ort., P.hd., Sp.Ort., selaku Dekan Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.
2. Prof. Trimurni Abidin, drg., M.Kes., Sp.KG(K), selaku Ketua Departemen
Ilmu Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara dan juga
dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk
3. Essie Octiara, drg., Sp.KGA selaku dosen pembimbing akademik yang
telah membimbing penulis selama menjalani pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Sumatera Utara.
4. Seluruh staf pengajar dan pegawai khususnya di Departemen Ilmu
Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara yang telah
memberikan bantuan selama penyelesaian skripsi ini.
5. Prof. Dr. Dwi Suryanto, drs., B.Sc., M.Sc selaku Kepala Laboratorium
Biologi Fakultas MIPA Universitas Sumatera Utara beserta teman-teman asisten yang
telah banyak memberikan saran dan masukan dalam penelitian dan penyelesaian
skripsi ini.
6. Prof. Dr. Harry Agusnar, drs., M.Sc., M.Phil selaku Kepala Bagian
Laboratorium Pusat Penelitian FMIPA USU atas bimbingannya dalam penelitian ini.
7. Drs. Abdul Jalil A.A, M.Kes selaku Pembantu Dekan II Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan bimbingan dalam
analisa statistik hasil penelitian.
8. Teman-teman terbaikku Mita, Nanda, Lita, Dita, Esty, Noni, Luki, Ica,
Wina, Uul terima kasih untuk selalu ada, atas persahabatan, semangat dan motivasi
yang menguatkan penulis.
9. Teman-teman seperjuangan Lusy, Willy, Swastika, Tari, Tiwi, Atih, Yanda,
Yumi, Manda, Khairani, Halida, Rozi, Fauzan, Hanif, Aad, Eja dan teman-teman
stambuk 2006 yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terima kasih atas segala
10.Terkhusus untuk Lisa Trisnawati, Rifa’Atul Mahmudah, Rahma Hutami,
Mas Hendro Prayugo, Mas Denny Wijaya dan Kak Eka Ramadhani atas semangat,
persahabatan dan rasa persaudaraan yang diberikan selama ini.
11.Kak Fania dan Kak Roza atas saran dan masukan dalam penelitian dan
penulisan skripsi ini.
Akhirnya terima kasih penulis kepada semua pihak yang telah membantu baik
secara langsung maupun tidak, mudah-mudahan segala bantuannya menjadi amal
ibadah di sisi Allah SWT dan penulis memohon maaf jika selama proses penyelesaian
skripsi ini terdapat kesalahan baik yang disengaja maupun tidak.
Medan, Agustus 2010 Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ...
HALAMAN PERSETUJUAN ...
HALAMAN TIM PENGUJI SKRIPSI ...
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN... xi
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang ... 1
1.2Perumusan Masalah ... 4
1.3Tujuan Penelitian... 4
1.4Manfaat Penelitian ... 4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Candida albicans sebagai salah satu mikroflora yang terdapat pada infeksi saluran akar. ... 5
2.2 Bahan dressing saluran akar... 9
2.3 Kitosan blangkas (Limulus polyphemus) sebagai bahan dressing saluran akar ... 12
BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN 3.1 Kerangka Konsep ... 16
3.2 Hipotesis Penelitian... 17
BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1 Rancangan Penelitian... 19
4.2 Jenis Penelitian... 19
4.3 Populasi, Sampel dan Besar Sampel... ... 19
4.4 Variabel Penelitian ... 20
4.4.2 Variabel Tergantung... 20
4.4.3 Variabel Terkendali... 20
4.4.4 Variabel Tak Terkendali... 21
4.5 Defenisi Operasional... 21
4.6 Alat dan Bahan Penelitian... 23
4.6.1 Alat Penelitian... 23
4.6.2 Bahan Penelitian... 24
4.7 Tempat dan Waktu Penelitian... 24
4.7.1 Tempat Penelitian... 24
4.7.2 Waktu Penelitian... 24
4.8 Prosedur Pengambilan dan Pengumpulan Data………. 24
4.8.1 Pembuatan Media... 24
4.8.2 Pembiakan Spesimen... 25
4.8.3 Persiapan Bahan Coba... 26
4.8.4 Uji Efek Antifungal... 27
4.9 Analisa Data... 27
BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS HASIL PENELITIAN 5.1 Hasil Penelitian... 29
5.2 Analisis Hasil Penelitian... 32
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Faktor virulensi dari Candida albicans dan peranannya
pada periodontitis apikalis.. ... 7
2. Pengukuran diameter zona hambat pada 24 jam dalam mm……... 30
3. Hasil uji ANOVA efek antifungal kitosan blangkas
0,25%; 0,5%; 1% dan kontrol (gliserin) ... 33
4. Hasil uji LSD efek antifungal kitosan blangkas
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. SEM dari Blastospora Candida albicans pada permukaan saluran
akar in vitro. Indikator bar 10 mm. ... 6
2. SEM dari penetrasi hifa Candida albicans ke tubulus dentin. Indikator bar 2 mm... 6
3. Struktur bangun kitin dan kitosan... 13
4. Blangkas (Limulus Polyphemus)... 14
5. Penimbangan Media PDA (Ohyo JP2 6000, Japan)... … 25
6. Pemanasan media Hot plate... 25
7. Stem-cell Candida albicans... 25
8. Pembuatan goresan pada media PDA... ... 25
9. Penimbangan bubuk kitosan blangkas(Ohyo JP2 6000, Japan)... 27
10. Larutan kitosan blangkas dan gliserin ... 27
11. Hasil percobaan setelah 24 jam : terdapat zona bening disekitar disk yang telah direndam bahan coba dengan konsentrasi 0,25%;0,5%;1%.. 30
12. Hasil percobaan setelah 24 jam : terdapat zona bening disekitar disk yang telah direndam bahan coba dengan konsentrasi 0,05%;0,1%;15%. 31 13. Hasil percobaan setelah 24 jam : terdapat zona bening disekitar disk yang telah direndam bahan coba dengan konsentrasi (a) 0,006%; 0,007%; 0,008% dan 0,009% (b) 0,05%; 0,025% dan 0,01% (c) 0,0009%; 0,0005%; 0,005% ... 32
14. Reaksi kitosan dengan asam asetat... 35
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
1. Skema alur pikir
2. Skema alur penelitian
Fakultas Kedokteran Gigi
Departemen Ilmu Konservasi Gigi
Tahun 2010
Tika Ikke Ivanti
Efek antifungal kitosan blangkas (Limulus polyphemus) bermolekul tinggi
dengan pelarut gliserin terhadap Candida albicans sebagai alternatif bahan
dressing saluran akar (penelitian in vitro)
Xii + 46 halaman
Candida albicans adalah jenis jamur yang paling sering diisolasi dari saluran
akar yang terinfeksi. Penggunaan dressing saluran akar direkomendasikan untuk
mengeliminasi mikroorganisme dan saat ini telah dikembangkan kitosan blangkas
(Limulus polyphemus) sebagai alternatif bahan dressing yang berasal dari alam,
kompatibel terhadap jaringan, namun tetap memiliki sifat antibakteri dan antifungal
yang sama dengan bahan non-biologi. Untuk mempermudah pengaplikasian bahan
dressing ke dalam saluran akar digunakan bahan pelarut gliserin yang tidak memiliki
efek antibakteri maupun antifungal.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antifungal dari kitosan blangkas
bermolekul tinggi yang diaplikasikan dengan bahan pelarut gliserin terhadap Candida
albicans. Metode yang digunakan adalah difusi agar yakni dengan meletakan paper
telah diinokulasi oleh Candida albicans, kemudian diukur zona bening yang
menunjukkan daya hambat setelah diinkubasi selama 24 jam.
Hasil penelitian menunjukkan zona hambat paling besar terdapat pada
konsentrasi 1% dengan rata-rata diameter zona hambat sebesar 13,25 mm kemudian
0,5% sebesar 13,15 mm dan 0,25% sebesar 12,85 mm yang berarti bahwa ketiga
konsentrasi tersebut efektif dalam menghambat pertumbuhan Candida albicans.
Sedangkan kontrol negatif yakni gliserin tidak menunjukkan zona bening sama sekali
Kemudian konsentrasi larutan kitosan blangkas bermolekul tinggi dengan pelarut
gliserin diturunkan dan didapat nilai MIC sebesar 0,006%.
Hasil analisis varians satu arah menunjukkan bahwa ada perbedaan yang
signifikan (p < 0,05) antara konsentrasi larutan kitosan blangkas 0,25%; 0,5%, dan 1%
dengan pelarut gliserin (bahan coba) dan gliserin (kontrol negatif) dalam menghambat
pertumbuhan Candida albicans. Hasil uji LSD menunjukkan ada perbedaan yang
signifikan (p < 0.05) antara konsentrasi larutan kitosan blangkas 0,25%; 0,5%, dan 1%
dengan gliserin (kontrol negatif).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kitosan blangkas bermolekul tinggi
dengan pelarut gliserin memiliki efek antifungal dimana semakin tinggi konsentrasinya
maka semakin efektif dalam menghambat pertumbuhan Candida albicans.
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Mikroba merupakan penyebab penyakit pulpa dan jaringan periradikuler yang
ditemukan pada saluran akar terinfeksi berupa bakteri, spirochete dan jamur. Jamur
merupakan mikroflora normal yang terdapat di dalam rongga mulut, tetapi akan
menimbulkan penyakit apabila terdapat faktor predisposisi lokal atau sistemik yang
menyebabkan infeksi.1 Sel ragi dari jamur ditemukan 5-20% di saluran akar yang
terinfeksi dan sel ragi Candida albicans adalah jenis yang paling sering diisolasi dari
saluran akar yang telah dirawat dengan atau tanpa adanya lesi periapikal.1,2 Candida
albicans merupakan jenis yang paling virulent dalam penelitian eksperimental yang
telah dilakukan dan faktor virulensi yang menyebabkan patogenitas Candida albicans
antara lain perlekatannya, pembentukan hifa, tigmotropism, sekresi protease dan
fenomena phenotypic switching.2
Keberhasilan perawatan endodontik secara langsung dipengaruhi oleh
kemampuan untuk mengeliminasi mikroorganisme dan produknya dari sistem saluran
akar serta menciptakan lingkungan yang tidak memungkinkan bagi organisme untuk
bertahan hidup.2-4 Irigasi dan preparasi biomekanikal tidak dapat mengeliminasi
seluruh mikroorganisme dalam saluran akar. Maka dari itu, penggunaan dressing
saluran akar direkomendasikan untuk perawatan infeksi saluran akar khususnya dengan
Bahan dressing yang digunakan selama ini yakni bahan yang berbasis fenol,
seperti formocresol, camphorated monoparachlorophenol (CMCP), metacresyl
acetate, eugenol dan thymol. Bahan-bahan ini memiliki daya hambat terhadap bakteri
namun efeknya hanya beberapa waktu saja dan tidak direkomendasikan karena dapat
menimbulkan nekrosis dan peradangan.6,7 Bahan dressing yang paling umum
digunakan saat ini dan merupakan standar adalah kalsium hidroksida (Ca(OH)2).
Kalsium hidroksida memiliki efek menghancurkan membran sel bakteri dan struktur
protein dengan pHnya yang tinggi yakni sekitar 11-12,5.5,8 Untuk mempermudah
aplikasi kalsium hidroksida ke dalam saluran akar, digunakan bahan pelarut gliserin
(Ariyani dan Yanti., 2004).9
Tam et al., (1989) menemukan bahwa kalsium hidroksida memiliki beberapa
kelemahan, diantaranya kekuatan kompresif yang rendah sehingga dapat berpengaruh
pada kestabilan kalsium hidroksida terhadap cairan di dalam saluran akar sehingga
dapat melarutkan bahan dressing.10 Penelitian Radeva et al., (2007) menunjukkan
walaupun irigasi dan medikamen intrakanal saluran akar terinfeksi telah dilakukan,
selalu terdapat mikroorganisme yang tetap resisten terhadap prosedur khemis dan
mekanikal. Menurut Waltimo et al,. 1999. Candida albicans merupakan salah satunya
yang ditunjukkan dengan keresistenannya setelah kontak langsung dengan beberapa
bahan medikamen intrakanal.8,11-13
Perkembangan material kedokteran gigi yang mengacu pada pemakaian bahan
alami merupakan salah satu alternatif menghilangkan mikroorganisme dari saluran
akar. Saat ini telah dikembangkan kitosan blangkas sebagai alternatif bahan dressing
antibakteri yang sama dengan bahan non-biologi. Kitosan ditemuka n oleh Rouget pada
tahun 1859 dan merupakan biopolymer polisakarida hasil dari proses diasetilasi kitin
yang berasal dari ekstrak kulit hewan laut seperti udang, rajungan, kepiting. Kitosan
juga ditemukan pada dinding sel jamur jenis Zycomycetes serta kulit serangga. Kitosan
banyak digunakan karena berbagai sifat seperti biokompatibilitas dan biodegradasi
yang baik serta tidak bersifat toksik.14-17
Kitosan blangkas (Limulus Polyphemus) merupakan hasil diasetilasi kitin yang
diperoleh dari cangkang blangkas dengan berat molekul 893.000 Mv.15 Penelitian
Banurea dan Trimurni., 2008 menunjukkan bubuk kitosan blangkas bermolekul tinggi
tanpa tambahan pelarut bereaksi positif sebagai antibakteri terhadap Fusobacterium
Nucleatum pada konsentrasi 10%.18 Penelitian Fania dan Trimurni., 2009
membandingkan keefektifan kitosan blangkas bermolekul tinggi yang diaplikasikan
dengan pelarut gliserin dan VCO (Virgin Coconut Oil) jika digunakan sebagai
alternatif bahan dressing saluran akar. Hasilnya menunjukkan bahwa hanya kitosan
blangkas pada konsentrasi 1% dan 0,5% dengan pelarut gliserin yang memiliki daya
hambat terhadap bakteri Fusobacterium Nucleatum.19 Allan dan Hadwiger (1974)
menemukan bahwa larutan 1% kitosan dalam 1% asam asetat dapat menghambat
pertumbuhan Candida Tropicalis. Penelitian Ramisz et al, 2005 menggunakan larutan
yang sama menunjukkan bahwa larutan tersebut juga dapat menghambat pertumbuhan
Candida Albicans.20
Sampai saat ini, belum ada penelitian mengenai efek antifungal kitosan
blangkas (limulus polyphemus) bermolekul tinggi yang diaplikasikan dengan pelarut
alternatif bahan dressing saluran akar. Mengingat Candida albicans merupakan salah
satu penyebab infeksi saluran akar dan merupakan mikroflora yang memiliki resistensi
tinggi terhadap bahan medikamen saluran akar.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan hasil penelitian terdahulu, bahan gliserin merupakan bahan pelarut
yang baik untuk pemanipulasian kitosan bermolekul tinggi sebagai bahan dressing ke
dalam saluran akar. Kitosan bermolekul tinggi juga diketahui memiliki efek antibakteri
sehingga timbul permasalahan, apakah ada efek antifungal dari kitosan blangkas
bermolekul tinggi yang diaplikasikan dengan bahan pelarut gliserin terhadap Candida
albicans?
1.3 Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui efek antifungal dari kitosan blangkas bermolekul tinggi yang
diaplikasikan dengan bahan pelarut gliserin terhadap Candida albicans jika digunakan
sebagai alternatif bahan dressing dalam perawatan saluran akar.
1.4 Manfaat Penelitian
• Sebagai dasar penelitian lebih lanjut untuk pemanfaatan kitosan blangkas di
bidang endodonti khususnya sebagai bahan dressing.
• Untuk meningkatkan pemanfaatan bahan alami yang bersifat biokompatibel,
biodegradable dan tidak toksik terhadap jaringan periapikal sebagai bahan
material kedokteran gigi.
• Sebagai informasi dan bahan pertimbangan bagi dokter gigi dalam memilih
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Salah satu mikroorganisme yang dapat ditemui pada saluran akar adalah jamur.
Candida albicans merupakan jenis jamur yang paling umum ditemui pada rongga
mulut terutama pada infeksi saluran akarmaupun pada perawatan saluran akar yang
gagal. 10-12
2.1 Candida albicans sebagai salah satu mikroflora yang terdapat pada infeksi
saluran akar
Candida spp. merupakan mikroflora normal yang terdapat di dalam rongga
mulut yang diisolasi dari plak, karies, mikroflora subgingival dan kavitas periodontal
yang aktif. Candida spp. adalah sel ragi gram positif yang tumbuh dengan baik pada
suhu 370 dan pada media yang sedikit asam dengan pH 6-6,5.11 Taksonomi Candida
albicans dapat diklasifikasikan ke dalam Kingdom Fungi, Divisi Ascomycota, Filum
Saccharomycotina, Klas Endomycetes, dan digolongkan ke dalam Famili
Saccharomycetaceae, Genus Candida, Spesies Candida albicans.2
Baumgartner et al., 2000 menemukan 21% Candida albicans pada sampel yang
diambil dari saluran akar dengan menggunakan metode PCR (Polymerase Chain
Reaction).1 Waltimo et al., 2003 juga menemukan Candida albicans sebanyak 5-20%
pada saluran akar yang terinfeksi.2 Molander et al., 1998 cit Siquera et al., 2003
menemukan Candida albicans pada 3 dari 68 gigi yang dilakukan pengisian saluran
akar dengan lesi periradikular kronis dan menunjukkan adanya pertumbuhan
Candida albicans digambarkan sebagai jamur dimorfik karena keberadaannya
dalam bentuk blastospora dan hifa. Namun pada kenyataannya, Candida albicans
adalah jamur polimorfik karena sering dilaporkan pertumbuhannya memperlihatkan
beberapa morfologi seperti blastospora, kecambah, hifa, pseudohifa, dan klamidospora,
tergantung pada kondisi lingkungannya.12,21
Gambar 1. SEM dari Blastospora Candida albicans pada permukaan saluran akar in vitro. Indikator bar 10 mm.2
Gambar 2. SEM dari penetrasi hifa Candida albicans ke tubulus dentin. Indikator bar 2 mm.2
Peralihan Candida albicans dari komensal yang tidak merugikan menjadi
pembentukan hifa, tigmotropism, sekresi protease dan fenomena phenotypic switching.
Faktor-faktor virulensi dari Candida albicans dan peranannya pada periodontitis
apikalis diuraikan pada tabel berikut.2 (Tabel 1)
TABEL 1. FAKTOR VIRULENSI DARI CANDIDA ALBICANS DAN
PERANANNYA PADA PERIODONTITIS APIKALIS
Faktor virulensi Peranannya pada periodontitis apikalis
Perlekatan Kolonialisasi pada jaringan keras gigi
Pembentukan hifa Penetrasi ke dalam tubulus dentin
Tighmotropisme Penetrasi ke dalam tubulus
Sekresi Protease Kemampuan bertahan hidup pada
lingkungan dengan nutrisi yang terbatas
fenomena phenotypic switching Adaptasi terhadap kondisi ekologi
Tahap pertama proses infeksi Candida albicans adalah perlekatan pada sel
inang yang merupakan tahap penting dalam kolonialisasi dan invasi ke sel host. Bagian
pertama dari Candida albicans yang berinteraksi dengan sel host adalah dinding sel.21
Dinding sel Candida albicans 80-90% merupakan karbohidrat yakni glukan, kitin dan
manan, selebihnya terdiri dari 6-25% protein dan 1-7% lipid.22 Perlekatan Candida
dihasikan dari kombinasi antara mekanisme spesifik (interaksi reseptor-ligand) dan non
spesifik (muatan elektrostatik, kekuatan Van derWaals) yang memungkinkan Candida
melekat pada berbagai jenis jaringan, termasuk dentin (Cotter dan Kavanagh, 2000).21
Candida memiliki molekul pada permukaannya yang mampu melekatkannya
ke jaringan, termasuk reseptor homolog terhadap integrin CR3 manusia, yang
mengikat kelompok RGD (arginin, glisin dan asam aspartat) pada fibrinogen,
mengikat molekul seperti lektin pada sel dan jaringan host (Calderone dan Brawn.,
1991). Perlekatan Candida albicans pada protein matriks ekstraseluler, kolagen tipe 1
dan fibronektin bergantung kepada keberadaan kaksium ekstraseluler, yang banyak
dijumpai pada dentin (Klotz et al., 1993). Hal ini dapat membantu menjelaskan
kolonisasi Candida albicans pada dentin yang dijumpai pada penelitian Siqueira et al,.
2002. 12 Candida albicans dilaporkan menghasilkan enzim kolagenolitik sehingga
dapat menurunkan jumlah kolagen dentin manusia12 yakni dengan menjadikan dentin
sebagai sumber nutrisi.23 Maka dari itu, Candida albicans disebut juga sebagai
mikroorganisme dentinophilic karena kemampuannya menginvasi dentin dengan
bentuk pertumbuhan yang berbeda dan menjadikan dentin sebagai sumber nutrisi.2,4,13
Mekanisme lain yang juga meningkatkan virulensi Candida albicans adalah
produksi enzim hidrolitiknya yang dapat meningkatkan kerusakan jaringan
periradikular. Enzim-enzim tersebut termasuk sekresi aspartil protease, kolagenase,
aminopeptida, glukosaminidase, phosphatase asam dan alkali, hialuronidase, dan
konroitin sulfatase, yang seluruh enzim tersebut memiliki efek penurunan matriks
protein ekstraselular.13 Candida albicans juga memiliki kemampuan membentuk
biofilm pada berbagai permukaan yang berbeda dan hal inilah yang menyebabkan
Candida albicans menjadi jenis yang paling virulent diantara jenis Candida lainnya
yang menghasilkan sedikit biofilm seperti C glabrata, C tropikalis, dan C parapsilosis
(Haynes K., 2001).13 Biofilm ini berfungsi sebagai pelindung mikroba terhadap sistem
kekebalan tubuh host.21
Sen et al, 1997 cit Waltimo et al., 2003 menunjukkan kolonialisasi Candida
terdapat smear layer, terdapat cabang dari pseudohifa pada dinding dentin tetapi tidak
terjadi pembentukan biofilm, namun pada keadaan ditemukannya smear layer, terdapat
biofilm dengan bentuk pertumbuhan yang berbeda.2
2.2 Bahan Dressing Saluran Akar
Salah satu langkah penting dalam perawatan endodontik selama
bertahun-tahun adalah dressing saluran akar. Bahan yang digunakan selama ini yakni bahan
yang berbasis fenol, seperti formocresol, camphorated monoparachlorophenol
(CMCP), metacresyl acetate, eugenol dan thymol. Formocresol merupakan kombinasi
formalin dan tricresol dengan perbandingan 1:1. Formocresol serta bahan yang
berbasis fenol lainnya memiliki daya hambat terhadap bakteri namun efeknya hanya
beberapa waktu saja. Bahan ini tidak direkomendasikan karena dapat menimbulkan
nekrosis dan peradangan. 6,7
Bahan dressing paling umum dan standar yang digunakan saat ini adalah
kalsium hidroksida (Ca(OH)2).24 Penggunaan kalsium hidroksida dalam perawatan
endodontik diperkenalkan pertama kali oleh Hermann pada tahun 1920.25 Mekanisme
antibakterial kalsium hidroksida disebabkan kemampuannya menciptakan lingkungan
pH yang akan mengganggu pertumbuhan bakteri. Kalsium hidroksida yang dilarutkan
dalam air akan berdisosiasi menjadi ion hidroksil (OH-) dan ion kalsium (Ca2+). Ion
OH- berdifusi ke dalam tubulus dentin yang menyebabkan peningkatan pH di dalam
tubulus dentin menghasilkan efek antibakteri.25,26 Estrela et al,. 1995 melaporkan
bahwa reaksi kalsium hidroksida mampu menghasilkan pH tinggi karena ion hidroksil
(OH-) yang telah berdisosiasi sehingga menghambat aktivitas enzim yang penting bagi
pH terhadap trasnportasi dari nutrisi dan bahan-bahan organik melalui membran
sitolasma bekerja sebagai racun pada bakteri, pH yang tinggi juga mengaktifkan enzim
hidrolitik alkaline phospatase yang penting untuk mineralisasi jaringan. Oleh karena
itu, kalsium hidroksida memiliki dua hal dasar dari reaksi enzim, yaitu penghambatan
enzim bakteri sebagai efek antibakteri dan pengaktifan enzim jaringan sebagai efek
mineralisasi. Safavi dan Nichols, 1993 cit Estrela et al., 1998 mempelajari efek
kalsium hidroksida terhadap Lippopolysaccharides (LPS) bakteri, dapat disimpulkan
bahwa kalsium hidroksida menghidrolisis lapisan lipid dari LPS bakteri menghasilkan
asam lemak hidroksi dalam jumlah yang banyak dan menonaktifkan enzim dalam
membran bakteri serta mengganggu mekanisme transportasi yang mengakibatkan sel
keracunan.25 Sifat higroskopik dari kalsium hidroksida dapat mengurangi eksudat.27
Substansi yang berbeda (air distilasi, larutan salin, propyleneglycol, CMCP,
khlorhexidin, gliserin, iodoform, barium sulfate, kortikosteroid-antibiotik, larutan
anastesi, methycellulose, detergen) telah dicampurkan pada kalsium hidroksida sebagai
vehicle untuk meninggikan efek kalsium hidroksida.25 Selain itu, penambahan pelarut
tersebut bertujuan untuk membantu manipulasi dalam pemakaian kalsium hidroksida
ke dalam saluran akar.26 Gomes et al.,2002 membuktikan pemakaian kalsium
hidroksida dengan pelarut yaitu CMCP dan gliserin menunjukkan angka tertinggi
dalam menghambat pertumbuhan bakteri saluran akar dibandingkan dengan pemakaian
kalsium hidroksida dengan pelarut CMCP, gliserin, larutan anastesia, larutan salin dan
air distilasi.26
Menurut Tam et al., (1989) kalsium hidroksida memiliki beberapa kelemahan,
kestabilan kalsium hidroksida terhadap cairan di dalam saluran akar sehingga dapat
melarutkan bahan dressing.10 Menurut Anderson et al., 2002, pemakaian pasta kalsium
hidroksida jangka panjang dalam merawat gigi muda akan menyebabkan kerusakan
jaringan keras gigi dan memudahkan terjadinya fraktur. Gomes et al., 2002
beranggapan bahwa walaupun kalsium hidroksida direkomendasikan sebagai bahan
medikasi intrakanal pada perawatan periodontitis apikalis, bukan berarti pemakaian
kalsium hidroksida dapat digunakan secara universal karena kalsium hidroksida tidak
menunjukkan kemampuan yang sama terhadap seluruh bakteri.26
Penelitian Radeva et al., (2007) menunjukkan walaupun irigant endodontik
dan medikamen intrakanal saluran akar yang terinfeksi telah dilakukan, selalu terdapat
mikroorganisme yang tetap resisten terhadap prosedur khemis dan mekanikal.11
E.faecalis merupakan bakteri yang paling resisten dibandingkan bakteri lain yang telah
diuji terhadap kalsium hidroksida (Bystrom et al, 1985). Waltimo et al,.1999
menemukan secara in vitro bahwa seluruh spesies Candida menunjukkan
keresistenannya terhadap kalsium hidroksida.2 Haapasalo et al, 2003 menemukan di
dalam tubulus dentin, E.faecalis dan C. Albicans terlindungi dari efek antifungal dan
antibakterial medikamen endodontik karena efek menonaktifkan dentin dan juga
resisten terhadap beberapa medikamen intrakanal setelah kontak langsung.23
Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa bahan perawatan dressing saluran akar
menggunakan bahan dressing umum dan standar yakni Ca(OH)2 memiliki efek
antibakterial yang tinggi, tetapi mempunyai efek samping kerusakan jaringan keras
alami yang bersifat biokompatibel dan biodegradebel terhadap saluran akar serta
memiliki efek antifungal yaitu kitosan blangkas.
2.3 Kitosan blangkas sebagai bahan dressing saluran akar
Kitosan (poly-β-1,4-glukosamin) merupakan biopolimer alami di alam setelah
selulosa dan merupakan hasil N-diasetilisasi dari kitin.Kitin banyak terkandung pada
hewan laut berkulit keras seperti udang, rajungan, kepiting, blangkas, serangga,
moluska, dan dinding jamur seperti klas zygomycetes. Bahan ini pertama kali
ditemukan oleh Rouget pada tahun 1859. Kemudian pada tahun 1891, Rouget
menemukan kitosan yang mempunyai derajat kereaktifan yang tinggi disebabkan
adanya gugus amino bebas sebagai gugus fungsional.14,15,28-30 Kitosan hanya dapat
larut dalam pelarut asam seperti asam asetat, asam formiat, asam laktat, asam sitrat dan
asam hidroklorat. Kitosan tidak larut dalam air, alkali dan asam mineral encer kecuali
dibawah kondisi tertentu yaitu dengan adanya sejumlah pelarut asam sehingga dapat
larut dalam air, methanol, aseton dan campuran lainnya.15
Kitosan memiliki muatan molekul positif (NH3+) yang dapat berikatan secara
kimia dengan muatan negatif yang dimiliki oleh lemak, lipid, kolesterol,ion-ion metal,
protein dan makromolekul (Li et al., 1992).17 Berikut struktur bangun kitin dan kitosan
yang menunjukkan bahwa kandungan utama kitin dan kitosan adalah polimer
CHITIN CHITOSAN
Gambar 3. Struktur bangun kitin dan kitosan.17
Berdasarkan viskositasnya, berat molekul kitosan terdiri atas tiga yaitu kitosan
bermolekul rendah, kitosan bermokekul sedang dan kitosan bermolekul tinggi. Kitosan
bermolekul rendah dengan berat molekul dibawah 400.000 Mv berasal dari hewan laut
dengan cangkang atau kulit yang lunak misalnya udang, cumi-cumi dan rajungan.
Kitosan bermolekul sedang dengan berat molekul 400.000-800.000 Mv dan kitosan
dengan berat molekul 800.000-1.100.000 Mv biasanya berasal dari hewan laut
bercangkang keras misalnya kepiting, kerang dan blangkas.15
Kitosan blangkas merupakan kitosan yang diperoleh dari kulit blangkas
(Limulus Polyphemus). Kitin yang diproses dari kulit blangkas didapatkan dengan
hasil 30,60% melalui proses deasetilasi kitin dengan menggunakan larutan alkali
(NaOH). Proses pembuatan kitosan blangkas dilakukan dengan 2 (dua) tahap yaitu
proses deproteinasi dengan pemberian NaOH 2 M untuk mengurangi protein pada
cangkang blangkas dan proses demineralisasi dengan pemberian HCL 2 M sehingga
Gambar 4. Blangkas (Limulus polyphemus)
Dari berbagai penelitian dilaporkan bahwa di alam, kitosan bentuk polimer
banyak digunakan di bidang medis karena berbagai sifat yang sangat istimewa yaitu
biokompabilitas dan biodegradabilitas yang baik, tidak bersifat toksik dan bioaktif.
Produk biodegradasi bersifat tidak toksik, tidak menyebabkan reaksi imunologi, tidak
menyebabkan terjadi kanker (Zhu et al, 2003 cit Silva et al,.2004).16
Koide (1998) menemukan bahwa kitin dan kitosan menunjukkan aktivitas
antibakteri dan antijamur.17 Menurut Chung et al., 2004 daya antibakteri kitosan dapat
diperoleh dengan menciptakan suasana asam dengan derajat deasetilasi tinggi yang
dapat menyebabkan jumlah ion NH3+ yang bebas menjadi lebih banyak sehingga
memudahkan penyerapan bakteri terhadap kitosan. Hal ini berdampak pada perubahan
struktur sel dan gangguan permeabilitas membran sehingga berlanjut menjadi kematian
sel bakteri.28 Tsai dan Su (1999) menggunakan kitosan yang diambil dari kulit udang
untuk menguji aktivitas antimikroba terhadap bakteri E. Coli menemukan bahwa
temperatur yang tinggi serta pH asam pada makanan dapat meningkatkan aktivitas
antibakteri kitosan.17
Aplikasi kitosan di bidang kedokteran gigi telah diteliti oleh Sapeii et al., 1986
kitosan powder dan kitosan membran. Penelitian Trimurni et al., (2007) kitosan
berperan dalam dentinogenesis, dimana kitosan yang digunakan ialah kitosan blangkas
bermolekul tinggi dan kitosan komersial sebagai bahan kaping pulpa direk pada gigi
tikus wistar secara in-vivo. Dengan keadaan pulpa terbuka dan mengalami inflamasi
reversibel, kitosan mampu membentuk jaringan keras osteotipic irregular yang terlihat
pada peletakan kitosan selama 14 hari dan 1 bulan dan dapat dilihat sel-sel pulpa
dentinoblast tersusun berlekatan dengan bahan coba.15 Ballal et al,. 2008 menunjukkan
hasil penelitiannya secara in vitro bahwa kombinasi khlorheksidin glukonat dengan gel
kitosan meningkatkan aktivitas antimikrobial gel klorheksidin terhadap C. albicans dan
E.faecalis dibanding menggunakan klorheksidin 2% dan gel kitosan 2% yang tidak
dicampurkan.23 Penelitian Banurea dan Trimurni (2008) menunjukkan bubuk kitosan
blangkas bermolekul tinggi tanpa pelarut bereaksi positif sebagai antibakteri terhadap
Fusobacterium Nucleatum pada konsentrasi 10%.18 Penelitian Fania dan Trimurni
(2009) membandingkan keefektifan kitosan blangkas bermolekul tinggi yang
diaplikasikan dengan pelarut gliserin dan VCO jika digunakan sebagai alternatif bahan
dressing saluran akar. Hasilnya menunjukkan bahwa hanya kitosan blangkas pada
konsentrasi 1% dan 0,5% dengan pelarut gliserin yang memiliki daya hambat terhadap
BAB 3
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN
3.1 Kerangka Konsep
Candida albicans
Sel lysis
Sel mati
Dressing Saluran Akar
Kitosan blangkas bermolekul tinggi 1%; 0,5%; 0,25% dst + gliserin
Konsentrasi >> + as.asetat
kandungan kitosan >> dan gugus amino (NH3+) >> efek antibakteri dan antifungal >>
Kitosan + gliserin (-) daya antibakteri/antifungal, namun
mempermudah proses manipulasi bahan ke dalam saluran akar
Derajat diasetilasi Berat molekul PH
Temperatur
Penurunan permeabilitas membran sel
Kebocoran substansi intraseluler kehilangan ion kalsium
Gangguan DNA dan mRNA
Gangguan metabolisme sel
menghalangi pertukaran medium, peralihan ion pengkhelat, menghambat enzim
??
Muatan kation gugus amino (NH3+) berikatan
dengan komponen anion; lemak, lipid, kolesterol, ion-ion metal, protein dan makromolekul termasuk asam N-asetilmuramik, asam sialik dan
Diagram diatas menunjukkan mekanisme kitosan blangkas bermolekul tinggi yang
diaplikasikan dengan pelarut gliserin terhadap Candida albicans. Kitosan bermolekul
tinggi yang digunakan adalah kitosan blangkas (Trimurni et al., 2007) yang
mengandung gugus amino (NH2) dengan derajat diasetilasi dan berat molekul yang
tinggi yakni 84,20% dan 893.000 Mv.15 Kitosan yang dilarutkan dalam asam asetat
memiliki banyak muatan positif (NH3+) yang dapat berikatan secara kimia dengan
muatan negatif yang dimiliki oleh lemak, lipid, kolesterol, ion-ion metal, protein dan
makromolekul (Li et al., 1992). 17 Hal inilah yang menyebabkan kitosan memiliki efek
antibakteri yang tinggi. Penggunaan gliserin sebagai bahan pelarut tidak memiliki efek
antibakteri namun mempermudah proses manipulasi bahan ke dalam saluran akar.19
Beberapa faktor yang mempengaruhi efek antifungal dari kitosan antara lain derajat
diasetilasi, berat molekul, pH dan temperatur (Rout, 2002).17
Menurut Chung et al., 2004 daya antibakteri kitosan dapat diperoleh dengan
menciptakan suasana asam dengan derajat deasetilasi tinggi yang dapat menyebabkan
jumlah ion NH3+ yang bebas menjadi lebih banyak sehingga memudahkan penyerapan
bakteri terhadap kitosan. Hal ini berdampak pada perubahan struktur sel dan gangguan
permeabilitas membran sehingga berlanjut menjadi kematian sel bakteri.28 Tsai dan Su
(1999) menggunakan kitosan yang diambil dari kulit udang untuk menguji aktivitas
antimikroba terhadap bakteri E. Coli menemukan bahwa temperatur yang tinggi serta
pH asam pada makanan dapat meningkatkan aktivitas antibakteri kitosan.17
Kitosan yang berinteraksi dengan dinding sel jamur berikatan dengan
komponen anion yakni lemak, lipid, kolesterol, ion-ion metal, protein dan
permukaan sel yang kemudian menghalangi pertukaran medium, peralihan ion
pengkhelat dan menghambat enzim (Li et al., 1992 dan Ramisz et al., 2005).
Selanjutnya kitosan mempengaruhi permeabilitas membran sel, menginduks i
kebocoran materi selular yang mempengaruhi keseimbangan biosintesis dan degradasi
komponen dinding sel (Leuba et al., 1986 cit El Ghaouth et al,. 1992).31 Perubahan
permeabilitas membran dinding sel Candida albicans menyebabkan kebocoran
substansi intraseluler yang penting bagi metabolisme normal sel seperti ion kalsium
yang dibutuhkan untuk berubah menjadi bentuk hifa yang lebih patogen ( Jackson and
Heath., 1993).32 Hal ini diikuti oleh gangguan fungsi DNA dan mRNA serta gangguan
metabolisme sel yang diikuti dengan kematian sel Candida albicans.
3.2 Hipotesis Penelitian
Dari kerangka konsep diatas dapat dikemukakan hipotesis sebagai berikut:
• Ada efek antifungal kitosan blangkas bermolekul tinggi dengan pelarut gliserin
terhadap Candida albicans.
METODE PENELITIAN
4.1 Rancangan penelitian : Posttest only control group design
4.2 Jenis penelitian : Eksperimental laboratorium
4.3 Populasi, sampel dan besar sampel
Populasi adalah koloni Candida albicans yang diisolasi dari rongga mulut
Sampel adalah koloni Candida albicans yang telah diisolasi, dan dibiakkan
secara murni pada media Potato Dekstrose Agar (PDA)
Besar sampel
Pada penentuan efek antifungal, digunakan 1 (satu) kelompok bahan coba dan 1
(satu) kelompok kontrol negatif.
Kelompok I : Kitosan blangkas 0,25gr: 0,5gr dan 1gr ditambahkan 100
ml asam asetat 1% dan 1 ml pelarut gliserin 1%
Kelompok II (kontrol negatif) : Pelarut gliserin
Perhitungan besar sampel memakai rumus (Stell dan Torrie, 1995) :
n = ( Zα + Zβ)22δ2 = (1,96 + 1,64)2 2 (3,55)2 d2 (6,08)
= 8,83
Keterangan : n = besar sampel
Zα = harga standar normal dari
Zβ = harga standar normal dari
δ = penyimpangan yang ditolerir
Untuk menggenapkan sampel, maka besar sampel yang dipakai dari setiap
kelompok perlakuan pada penelitian ini adalah 10, maka jumlah keseluruhan sampel
sebanyak 40 sampel.
4.4 Variabel Penelitian
4.4.1 Variabel bebas
a. Kitosan blangkas bermolekul tinggi dengan berat 0,25gr: 0,5gr dan 1gr
(Trimurni et al., 2007) yang dilarutkan dalam asam asetat 1% kemudian
dicampurkan dengan pelarut gliserin 100%
b. Gliserin 100%
4.4.2 Variabel tergantung
Pertumbuhan Candida albicans setelah inkubasi 24 jam
4.4.3 Variabel kendali
a. Media untuk pertumbuhan Candida albicans.
b. Konsentrasi larutan kitosan blangkas sebesar 0,25%;0,5%;1%
c. Perbandingan larutan kitosan blangkas 0,25%;0,5%;1% dengan pelarut gliserin
100%
d. Suhu inkubasi yang digunakan untuk menumbuhkan Candida albicans sekitar
370C
e. Waktu yang digunakan untuk pembiakan Candida albicans selama 24 jam
f. Teknik pengisolasian dan pengkulturan.
g. Sterilisasi alat dan bahan coba.
4.4.4 Variabel tak terkendali
a. Individu asal Candida albicans diisolasi
b. Lamanya penyimpanan kitosan blangkas dan bahan pelarut gliserin sebelum
perlakuan penelitian
4.5 Defenisi operasional
4.5.1 Koloni Candida albicans adalah Candida albicans yang telah diisolasi dari
rongga mulut dan dikultur pada media Potato Dekstrose Agar (PDA).
4.5.2 Kitosan blangkas (Trimurni et al., 2007) merupakan kitosan yang diperoleh
dari cangkang blangkas melalui proses deasetilasi kitin dilanjutkan dengan VARIABEL BEBAS
• Kitosan blangkas bermolekul tinggi (Trimurni et al., 2007) 0,25gr;0,5gr;1gr + asam asetat 1% + gliserin 100%
• Gliserin 100%
VARIABEL TERGANTUNG
Pertumbuhan Candida albicans setelah inkubasi 24 jam
VARIABEL TERKENDALI
• Media pertumbuhan
• Konsentrasi larutan kitosan blangkas 1%;0,5%:0,25%
• Perbandingan larutan kitosan blangkas dengan pelarut
• Suhu inkubasi 370
• Waktu pembiakan Candida albicans selama 24 jam
• Teknik pengisolasian dan pengkulturan
• Sterilisasi alat dan bahan coba
• Keterampilan operator
VARIABEL TAK TERKENDALI
• Individu asal Candida albicans diisolasi
proses deproteinasi dan demineralisasi. Sebanyak 0,25gr; 0,5gr; 1gr bubuk
kitosan blangkas dilarutkan masing-masing dalam 100 ml asam asetat dan
selanjutnya diambil sebanyak 9 ml pada setiap konsentrasi untuk kemudian
ditambahkan 1 ml pelarut gliserin 100%.
4.5.3 Gliserin merupakan pelarut jenis viscous yang digunakan sebagai kontrol
negatif dan dicampurkan dengan larutan kitosan blangkas 0,25%; 0,5% dan
1% , masing-masing sebanyak 1 ml.
4.5.4 Kitosan blangkas + gliserin merupakan campuran 9 ml larutan kitosan
blangkas pada konsentrasi 0,25%; 0,5% dan 1% dengan 1 ml pelarut
gliserin 100% yang akan dilihat efeknya terhadap pertumbuhan Candida
albicans.
4.5.5 Penentuan efek antifungal dari kitosan blangkas dengan pelarut gliserin
pada konsentrasi 0,25%; 0,5% dan 1% didapat dengan metode difusi agar
dimana paper disk (Ǿ 6 mm) yang telah direndam bahan coba berkontak
langsung dengan media yang telah diinokulasi oleh Candida albicans,
kemudian dapat diamati zona bening yang terbentuk setelah diinkubasi
selama 24 jam. Zona bening menunjukkan daya hambat yang dihasilkan
dari bahan coba terhadap Candida albicans. Dengan metode ini, dapat juga
ditentukan Minimum Inhibitory Concentration (MIC) yakni konsentrasi
minimal dari larutan kitosan blangkas yang mampu menghambat
pertumbuhan Candida albicans yang ditunjukkan oleh zona bening paling
kecil yang terbentuk disekitar disk setelah diinkubasi selama 24 jam. Zona
(ketelitian mm). Berikut adalah cara mengukur diameter zona hambat
terhadap pertumbuhan Candida albicans.
Diameter zona hambat =
2
Ǿ vertikal + Ǿ horizontal (mm)
= Diameter vertikal
= Diameter horizontal
= Zona hambat
4.6 Alat dan Bahan Penelitian
4.6.1 Alat penelitian
1. Electronic balance (Ohyo JP2 6000, Japan)
2. Becker glass (Pyrex)
3. Batang pengaduk (Pyrex)
4. Erlenmeyer (Pyrex)
5. Hot plate
6. Inkubator (Haraeus, Germany)
7. Vorteks (Fisons, UK)
8. Autoclave (Welbeco, Germany)
9. Tabung reaksi dan rak (Pyrex)
10.Petri dish (Pyrex)
11.Paper disk (Ǿ 6mm) (Oxoid, England))
12.Lampu spiritus
14.Kapas lidi
15.Jangka sorong
4.6.2 Bahan penelitian
1. Kitosan blangkas bermolekul tinggi (Trimurni et al., 2007)
2. Gliserin 100% (Merck, Germany)
3. Asam asetat 1% (Lab. Kimia FMIPA USU)
4. Candida albicans (Lab. Mikrobiologi FK USU)
5. Media Potato Dekstrose Agar (Oxoid, England)
6. Aquadest (Lab. Kimia FMIPA USU)
4.7 Tempat dan Waktu Penelitian
4.7.1 Tempat penelitian : Laboratorium Mikrobiologi FMIPA USU
4.7.2 Waktu penelitian : 6 bulan
4.8 Prosedur pengambilan dan pengumpulan data
4.8.1 Pembuatan Media
Sebelum spesimen dibiakkan, dilakukan pembuatan media Potato Dekstrose
Agar (PDA). PDA sebanyak 7,8 gram dilarutkan kedalam akuades sebanyak 200 ml
dan dipanaskan sampai mendidih. Kemudian disterilkan di dalam autoclave selama 2
jam. Setelah disterilkan, media yang akan digunakan kembali dipanaskan dan dituang
ke dalam petri (20ml/petri) dan dibiarkan hingga dingin. Media diinkubasi selama 24
Gambar 5. Penimbangan Media PDA Gambar 6. Pemanasan media
(Ohyo JP2 6000, Japan) Hot plate
4.8.2 Pembiakan spesimen
Candida albicans yang digunakan adalah stem-cell yang diisolasi dari rongga
mulut. Dengan menggunakan ose, biakan murni tersebut digoreskan zig-zag dan rapat
pada media padat Potato Dekstrose Agar (PDA). Biakan jamur diinkubasi dalam
suasana anaerob pada suhu 37oC selama 24 jam, kemudian diamati koloni yang
tumbuh. Setelah hasil didapat, dilakukan pembuatan suspensi Candida albicans
dengan mengambil 2-3 ose koloni, dimasukkan kedalam NaCl 0,9% dan disetarakan
dengan standar MC Farland 1 x 108 CFU/ ml. Suspensi diambil dengan menggunakan
Gambar 7. Stem-cell Candida Gambar 8. Pembuatan goresan albicans pada media PDA
4.8.3 Persiapan bahan coba
Pada penelitian ini, digunakan bubuk kitosan blangkas (Trimurni et al, 2007)
yang berasal dari cangkang blangkas melalui proses deasetilasi kitin dengan
menggunakan larutan alkali (NaOH). Proses dilanjutkan pada dua tahap yaitu proses
deproteinasi dengan pemberian NaOH 2 M untuk mengurangi protein dan proses
demineralisasi dengan pemberian HCL 2 M untuk menghilangkan kandungan mineral
CaCO3. Setelah proses-proses tersebut, didapatkan bubuk kitosan blangkas dengan
derajat diasetilasi dan berat molekul yang tinggi yakni 84,20% dan 893.000 Mv.
Pembuatan suspensi bahan coba dilakukan dengan mencampurkan bubuk kitosan
blangkas dengan asam asetat 1% lalu ditambahkan bahan pelarut (vehicle) yakni
gliserin 100%. Konsentrasi yang digunakan adalah 0,25%; 0,5%; 1%. Sejumlah bahan
coba yaitu 0,25 gr bubuk kitosan untuk konsentrasi 0,25%; 0,5 gr bubuk kitosan untuk
konsentrasi 0,5% dan 1 gr bubuk kitosan untuk konsentrasi 1% dicampur dengan 100
ml asam asetat 1% secara merata (divortex). Hasil pencampuran dari setiap konsentrasi
tersebut diambil sebanyak 9 ml dan dimasukkan ke dalam tabung sesuai label, lalu
ditambahkan dengan bahan pelarut gliserin 100% sebanyak 1 ml kedalam
Gambar 9. Penimbangan bubuk kitosan blangkas Gambar 10. Larutan kitosan
(Ohyo JP2 6000, Japan) blangkas dan gliserin
4.8.4 Uji efek antifungal
Hasil pencampuran larutan kitosan blangkas dengan pelarut gliserin pada
konsentrasi 0,25%; 0,5%; 1% serta kontrol negatif gliserin 100% dituang kedalam petri
dish yang berbeda, kemudian masukkan disk pada masing-masing petri dish, lalu
dibiarkan selama 1 jam. Keempat disk yang telah direndam bahan coba ditempatkan
kedalam media padat Potato Dekstrose Agar (PDA) yang telah disebarkan suspensi
Candida albicans. Kemudian petri dibungkus dan dimasukkan ke inkubator suhu 370C
dan diamati setelah 24 jam. Zona hambat yang terbentuk disekitar masing-masing disk
diamati lalu diameter yang bebas koloni diukur dengan menggunakan jangka sorong
(ketelitian dalam milimeter) dan kemudian dicatat.
4.9 Analisis data
Dari setiap pemeriksaan dianalisis dengan memakai uji statistik yakni
1. Uji Analisis Varians satu arah (ANOVA), untuk melihat perbedaan efek
2. Uji Least Significant Difference (LSD), untuk melihat perbedaan efek
BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS HASIL PENELITIAN
5.1 Hasil penelitian
Setelah peletakan disk yang telah direndam bahan coba yaitu larutan kitosan
blangkas 0,25%; 0,5%; 1% dengan pelarut gliserin 100% dan kontrol negatif yakni
gliserin 100%, dilakukan pengamatan setelah 24 jam. Dari pengamatan dapat dilihat
zona bening disekitar disk yang telah direndam bahan coba. Zona bening tersebut
merupakan zona yang dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans. Hal ini
berarti larutan kitosan blangkas 0,25%; 0,5%; 1% dengan pelarut gliserin 100%
memiliki efek antifungal terhadap Candida albicans. Sedangkan kontrol negatif yakni
gliserin 100% tidak menunjukkan zona bening sama sekali yang berarti gliserin tidak
memiliki efek antifungal terhadap Candida albicans.
Gambar 11. Hasil percobaan setelah 24 jam : terdapat zona bening
disekitar disk yang telah direndam bahan coba dengan konsentrasi 0,25%; 0,5%; 1%.
Konsentrasi 0,25% Konsentrasi 0,5%
TABEL 2. PENGUKURAN DIAMETER ZONA HAMBAT PADA 24 JAM DALAM MM
Diameter Zona Hambat
Konsentrasi Kitosan blangkas Gliserin (Kontrol -)
Untuk memperoleh MIC (Minimum Inhibitory Concentration) yakni
konsentrasi minimal dari larutan kitosan blangkas yang mampu menghambat
pertumbuhan Candida albicans yang ditunjukkan oleh zona bening yang terbentuk
disekitar disk setelah diinkubasi selama 24 jam, konsentrasi larutan kitosan blangkas
dengan pelarut gliserin 100% diturunkan menjadi 0,05%; 0,1%; 0,15%.
Gambar 12. Hasil percobaan setelah 24 jam : terdapat zona bening disekitar disk yang telah
direndam bahan coba dengan konsentrasi 0,05%; 0,1%; 15%.
Konsentrasi 0,1% Konsentrasi 0,05%
Setelah pengamatan 24 jam, terlihat zona bening disekitar disk yang direndam
dengan larutan kitosan blangkas 0,05%; 0,1%; 0,15% dengan pelarut gliserin 100%.
Kontrol negatif gliserin 100% tidak menunjukkan zona bening sama sekali. Zona
bening pada konsentrasi yang telah diturunkan menunjukkan bahwa pada konsentrasi
rendah pun, larutan kitosan blangkas dapat menghambat pertumbuhan Candida
albicans, maka konsentrasi larutan kitosan blangkas dengan pelarut gliserin 100%
diturunkan lagi antara rentang 0,0009% sampai dengan 0,01%. Konsentrasi yang diuji
antara lain 0,0009%; 0,0005%; 0,005%; 0,006%; 0,007%; 0,008%; 0,009%; 0,01%;
0,025% dan 0,05%.
(a) (b)
Konsentrasi 0,005%
Gliserin
Konsentrasi 0,007%
Konsentrasi 0,008% Konsentrasi 0,006%
Konsentrasi 0,009%
Gliserin Konsentrasi 0,0005%
(c)
Gambar 13. Hasil percobaan setelah 24 jam : terdapat zona bening disekitar disk yang telah direndam bahan coba dengan konsentrasi (a)0,006%; 0,007%; 0,008% dan 0,009% (b) 0,05%; 0,025% dan 0,01% (c) 0,0009%; 0,0005%; 0,005%
Setelah pengamatan 24 jam, terlihat zona bening disekitar disk yang direndam
dengan larutan kitosan blangkas 0,006%; 0,007%; 0,008%; 0,009%; 0,05%; 0,025%
dan 0,01% sedangkan disk yang direndam dengan larutan kitosan blangkas 0,0009%;
0,0005%; 0,005% dan kontrol negatif gliserin 100% tidak menunjukkan zona bening
sama sekali. Maka nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC) larutan kitosan
blangkas dengan pelarut gliserin 100% adalah larutan dengan konsentrasi 0,006%
karena merupakan konsentrasi minimal dari larutan kitosan blangkas yang mampu
menghambat pertumbuhan Candida albicans.
5.2 Analisis hasil penelitian
Data dari pengukuran diameter zona hambat pertumbuhan Candida albicans
pada konsentrasi 0,25%; 0,5%, dan 1% dilakukan analisa secara statistik dengan
derajat kemaknaan (α=0,05). Perbedaan efek antifungal antara kelompok perlakuan
Konsentrasi 0,025%
Konsentrasi 0,01% Konsentrasi 0,05%
diuji dengan menggunakan uji ANOVA satu arah dan untuk melihat perbedaan efek
antifungal antara masing-masing perlakuan digunakan uji Least Significant Difference
(LSD).
TABEL 3. HASIL UJI ANOVA EFEK ANTIFUNGAL KITOSAN BLANGKAS 0,25%; 0,5%; 1% DAN KONTROL (GLISERIN)
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa ada perbedaan yang signifikan (p < 0,05)
pada konsentrasi larutan kitosan blangkas 0,25%; 0,5%; 1% dalam menghambat
pertumbuhan Candida albicans.
TABEL 4. HASIL UJI LSD EFEK ANTIFUNGAL KITOSAN BLANGKAS 0,25%; 0,5%; 1% DAN KONTROL (GLISERIN)
*. Adanya perbedaan yang signifikan pada derajat kemaknaan 0,05
Hasil uji LSD menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan (P>0,05) antar
masing-masing konsentrasi larutan kitosan blangkas yang diuji (0,25%; 0,5%, dan 1%)
signifikan (p < 0.05) antara konsentrasi larutan kitosan blangkas 0,25%; 0,5%;1%
BAB 6
PEMBAHASAN
Penelitian mengenai efek antifungal kitosan blangkas bermolekul tinggi dengan
pelarut gliserin terhadap Candida albicans adalah untuk membuktikan bahwa kitosan
blangkas bermolekul tinggi yang diaplikasikan dengan pelarut gliserin memiliki daya
hambat terhadap Candida albicans jika digunakan sebagai pengembangan bahan
dressing saluran akar. Selain itu, penelitian ini juga untuk mengetahui nilai MIC
(Minimum Inhibitory Concentration) yakni konsentrasi minimal dari larutan kitosan
blangkas bermolekul tinggi dengan pelarut gliserin yang mampu menghambat
pertumbuhan Candida albicans yang ditunjukkan oleh zona bening yang terbentuk
disekitar disk setelah diinkubasi selama 24 jam.
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode difusi agar dimana
paper disk (Ǿ 6 mm) yang telah direndam bahan coba berkontak langsung dengan
media yang telah diinokulasi oleh Candida albicans, kemudian diukur zona bening
yang terbentuk setelah diinkubasi selama 24 jam. Zona bening menunjukkan daya
hambat yang dihasilkan dari bahan coba terhadap Candida albicans, Konsentrasi awal
bahan coba sebesar 1%; 0,5% dan 0,25% ditentukan berdasarkan penelitian terdahulu
diantaranya Ramisz et al., (2005) menunjukkan bahwa larutan 1% kitosan dalam 1%
asam asetat dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans. Penelitian lainnya
yakni Fania dan Trimurni., (2009) membuktikan bahwa hanya kitosan blangkas pada
konsentrasi 1% dan 0,5% dengan pelarut gliserin yang memiliki daya hambat terhadap
O
OH
NH2 - CH3COOH
+
Larutan kitosan blangkas bermolekul tinggi dibuat dengan melarutkan bubuk
kitosan blangkas dengan asam asetat 1% kemudian dicampurkan dengan pelarut
gliserin 100%. Mekanisme reaksi kitosan dicampurkan dengan asam asetat sebagai
berikut:
+ CH3COOH
Gambar 14. Reaksi kitosan dengan asam asetat
Asam asetat digunakan karena sifat kitosan yang hanya dapat larut dalam asam
encer seperti asam asetat, asam formiat dan asam sitrat.12,13 Tujuan penggunaan pelarut
gliserin adalah untuk mempermudah aplikasi kitosan blangkas yang nantinya akan
digunakan sebagai pengembangan bahan dressing saluran akar. Pelarut gliserin ini
tidak memiliki efek antibakteri dan antifungal, hal ini dibuktikan pada penelitian Fania
dan Trimurni., (2009) yang menggunakan gliserin sebagai pelarut kitosan blangkas
bermolekul tinggi tidak menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Fusobacterium
nucleatum. Penelitian Gomes et al., (2002) menyatakan bahwa pelarut aqueous dan
viscous yang digunakan pada penelitiannya tidak memberikan efek antibakteri, salah
satunya adalah gliserin. CH2OH
Hasil uji konsentrasi awal setelah 24 jam menunjukkan zona hambat paling
besar terdapat pada konsentrasi 1% dengan rata-rata diameter zona hambat sebesar
13,25 mm kemudian 0,5% sebesar 13,15 mm dan 0,25% sebesar 12,85 mm yang
berarti bahwa ketiga konsentrasi tersebut efektif dalam menghambat pertumbuhan
Candida albicans. Pada konsentrasi awal ini, tidak ditemukan pertumbuhan Candida
albicans pada zona hambat yang berarti bahwa kitosan pada konsentrasi 1%; 0,5% dan
0,25% bersifat fungisidal.
Pada konsentrasi awal ini dilakukan analisa data statistik yakni uji ANOVA dan
LSD. Hasil uji ANOVA (tabel 3) menunjukkan konsentrasi larutan kitosan blangkas
0,25%; 0,5%; 1% memberikan pengaruh yang bermakna terhadap pertumbuhan
Candida albicans dimana pada konsentrasi yang semakin tinggi, zona hambat yang
terbentuk semakin besar yang berarti kitosan blangkas semakin efektif dalam
menghambat pertumbuhan Candida albicans. Hasil uji LSD (tabel 4) menunjukkan
tidak ada perbedaan yang bermakna antar kelompok dengan masing-masing
konsentrasi larutan kitosan blangkas yang diuji (0,25%; 0,5%; 1%) dalam menghambat
pertumbuhan Candida albicans tetapi terdapat perbedaan bermakna antara konsentrasi
larutan kitosan blangkas 0,25%; 0,5%;1% dengan gliserin (kontrol negatif).
Kemudian untuk menentukan nilai MIC (Minimum Inhibitory Concentration),
konsentrasi larutan kitosan blangkas dengan pelarut gliserin 100% diturunkan menjadi
0,05%; 0,1%; dan 0,15%. Hasilnya menunjukkan zona hambat yang masih efektif
dalam menghambat Candida albicans dengan rata-rata diameter sebesar 10,075 mm
pada konsentrasi 0,15%; 9,575 mm pada konsentrasi 0,1% dan 9,2 mm pada
tumbuh pada zona hambat yang berarti konsentrasi 0,05%; 0,1%; dan 0,15% bersifat
fungistatik. Hasil ini belum menunjukkan konsentrasi minimal dari larutan kitosan
blangkas yang mampu menghambat pertumbuhan Candida albicans, maka konsentrasi
diturunkan antara rentang 0,0009% sampai dengan 0,05%. Konsentrasi yang diuji
antara lain 0,0009%; 0,0005%; 0,005%; 0,006%; 0,007%; 0,008%; 0,009%; 0,05%;
0,01%; 0,025% dan 0,05%.
Pemilihan rentang konsentrasi rendah tersebut dikarenakan pada konsentrasi
awal dan konsentrasi berikutnya yang telah diturunkan, kitosan blangkas tetap
memiliki daya hambat pertumbuhan yang cukup besar terhadap Candida albicans.
Pada pengujian dengan rentang konsentrasi 0,0009% sampai dengan 0,05%, diperoleh
nilai MIC larutan kitosan blangkas dengan pelarut gliserin pada konsentrasi 0,006%.
Nilai MIC yang sangat rendah menunjukkan bahwa kitosan blangkas bermolekul tinggi
dengan pelarut gliserin sangat efektif dalam menghambat pertumbuhan Candida
albicans. Hasil penelitian Ramisz et al.,(2005) menunjukkan 0,6 mg/cm3 sebagai nilai
MIC kitosan terhadap Candida albicans dan merupakan nilai MIC paling rendah
dibandingkan dengan bakteri dan jamur lain yang diuji. El Ghaouth et al (1992)
menemukan bahwa kitosan dapat mengurangi pertumbuhan B. Cinerea hingga 90%
dan R. Stolonifer hingga 75% pada konsentrasi 6 mg/ml yang berarti pada konsentrasi
ini kitosan bersifat fungisidal daripada fungistatik.
Efek antibakteri dan antifungal kitosan dipengaruhi oleh derajat deasetilasi,
berat molekul, pH dan temperatur (Rout., 2002). Yoshua (2008) membuktikan bahwa
peningkatan derajat deasetilasi kitosan diikuti dengan penurunan jumlah koloni
terhadap jamur Colletotrichum gloeosporioides pada tanaman menunjukkan bahwa
efek fungisidal kitosan akan semakin besar pada konsentrasi yang semakin tinggi.
Hirano dan Nagao (1989) meneliti beberapa tipe kitosan (kitosan bermolekul tinggi
dan rendah, kitosan oligosakaride dan asam pektin) pada 18 jenis jamur yang berbeda
dan menemukan bahwa aktifitas fungisidal paling baik terdapat pada media yang
ditambahkan kitosan bermolekul tinggi. Menurut Liu et al., (2004), aktifitas
antimikroba kitosan meningkat sejalan dengan semakin tingginya derajat deasetilasi
karena akan semakin banyak jumlah gugus amino (NH3+) yang dimilikinya. Kitosan
yang dipakai pada penelitian ini adalah kitosan yang diperoleh dari cangkang blangkas
(limulus polyphemus) yang mempunyai derajat deasetilisasi 84,20% dengan berat
molekul 893000 Mv (Trimurni et al., 2007).
Mekanisme antibakteri kitosan adalah adanya muatan kation gugus amino
(NH3+) yang berikatan dengan komponen anion seperti asam N-asetilmuramik, asam
sialik dan asam neuraminik pada permukaan sel dan menekan pertumbuhan bakteri
dengan menghalangi pertukaran medium, peralihan ion pengkhelat dan menghambat
enzim. Mekanisme ini juga yang mendasari efek antifungal dari kitosan (Ramisz et al.,
2005). Leuba et al (1986) dan El Ghaouth et al (1992) melaporkan bahwa kitosan
mempengaruhi membran sel jamur, menginduksi kebocoran materi selular yang
mempengaruhi keseimbangan biosintesis dan degradasi komponen dinding sel.
Perubahan permeabilitas membran dinding sel Candida albicans menyebabkan
kebocoran substansi intraseluler yang penting bagi metabolisme normal sel seperti ion
(Jackson and Heath., 1993). Hadwiger dan Loschke (1981) menyatakan interaksi
kitosan dengan DNA dan mRNA jamur adalah dasar dari efek antifungal dari kitosan.
Gambar 15. Migrasi dan lokalisasi kitosan pada bagian fungsional sel jamur.32
Dari hasil penelitian dapat dikemukakan bahwa kitosan blangkas bermolekul
tinggi dengan pelarut gliserin memiliki efek antifungal dimana semakin tinggi
konsentrasinya maka semakin efektif dalam menghambat pertumbuhan Candida
albicans. Hal ini berarti hipotesis dari penelitian ini diterima. Dengan melihat efek
antifungal yang dihasilkan dari kitosan blangkas bermolekul tinggi dengan pelarut
gliserin ini, maka kemungkinan kitosan blangkas dapat dikembangkan sebagai bahan
BAB 7
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian efek antifungal kitosan blangkas (Lymulus
polyphemus) bermolekul tinggi dengan pelarut gliserin terhadap Candida albicans
sebagai alternatif bahan dressing saluran akar (penelitian in vitro) dapat disimpulkan
bahwa:
• Semakin tinggi konsentrasi larutan kitosan blangkas bermolekul tinggi dengan
pelarut gliserin maka semakin efektif dalam menghambat pertumbuhan Candida
albicans.
• Ada perbedaan yang signifikan (p < 0,05) pada konsentrasi larutan kitosan
blangkas 0,25%; 0,5%; 1% dalam menghambat pertumbuhan Candida albicans.
• Tidak ada perbedaan yang signifikan (P>0,05) antar masing-masing konsentrasi
larutan kitosan blangkas 0,25%; 0,5%; 1% dalam menghambat pertumbuhan
Candida albicans.
• Ada perbedaan yang signifikan (p < 0.05) antara konsentrasi larutan kitosan
blangkas 0,25%; 0,5%; 1% dengan gliserin (kontrol negatif) dalam menghambat
pertumbuhan Candida albicans.
• Nilai MIC dari larutan kitosan blangkas bermolekul tinggi dengan pelarut gliserin
• Pada konsentrasi awal yakni 0,25%; 0,5% dan 1% tidak ditemukan pertumbuhan
Candida albicans pada zona hambat yang berarti bahwa kitosan pada konsentrasi
tersebut bersifat fungisidal.
• Pada rentang konsentrasi 0,15% sampai dengan 0,006% ditemukan pertumbuhan
Candida albicans pada zona hambat yang berarti bahwa kitosan pada konsentrasi
tersebut bersifat fungistatik.
7.2 Saran
• Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai efek antifungal dari larutan
kitosan blangkas bermolekul tinggi dengan pelarut gliserin terhadap Candida