Biologi reproduksi ikan pelangi merah (Glossolepis incisus Weber, 1907) di Danau Sentani

70 

Teks penuh

(1)

LISA SOFIA SIBY

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Biologi Reproduksi Ikan Pelangi Merah

(Glossolepis incisus, Weber 1907) di Danau Sentani adalah karya saya dengan arahan

komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi

mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun

tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam

Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Agustus 2009

(3)

ABSTRACT

LISA SOFIA SIBY. Reproductive Biology of Red Rainbowfish (Glossolepis incisus, Weber 1907) in Sentani Lake. Under direction of M. F. RAHARDJO and DJADJA SUBARDJA SJAFEI

This study investigated the reproductive biology of red rainbowfish (Glossolepis incisus), endemic and small pelagic fish found in Sentani Lake. The reproductive biology study included sex ratio, gonad maturity, gonado somatic index, fecundity, spawning season, and length at first maturity (L50). This study was conducted in Sentani Lake for 5

months (December 2007-February 2008 and April-May 2008). Samples were caught monthly by using experimental gill nets with different mesh sizes. Gonad maturity stages were determined by the macroscopically and microscopically.

Based on the results of the research, Gonad maturity and GSI was higher at December, length at first maturity (L50) of female and male was 99,2 mm and 99,5 mm,

respectively. Sex ratio shows statistically significant at January – February (1 : 2,5; 1 : 3) with trends in more number of female. Fecundity ranged between 910-3122 eggs, no significant correlation between fecundity with total length and body weight, egg diameter range between 0,625 – 7,125 μm. Spawning patterns are partially and iteroparous.

(4)

RINGKASAN

LISA SOFIA SIBY. Biologi Reproduksi Ikan Pelangi Merah (Glossolepis incisus Weber, 1907) di Danau Sentani. Dibimbing oleh M. F. RAHARDJO dan DJADJA SUBARDJA SJAFEI

Penelitian biologi reproduksi ikan pelangi merah (Glossolepis incisus) telah dilakukan di Danau Sentani dari bulan Desember 2007 – Februari 2008 dan April-Mei 2008 dengan tujuan mengkaji biologi reproduksi yang meliputi tingkat kematangan gonad, ukuran pertama kali matang gonad, nisbah kelamin, indeks kematangan gonad, fekunditas dan diameter telur.

Pengambilan sampel ikan dilakukan dengan menggunakan jaring insang eksperimen dengan berbagai ukuran mata jaring. Sampel ikan yang diperoleh dianalisis dengan melakukan pengukuran panjang dan penimbangan berat tubuh. Selanjutnya dilakukan pembedahan untuk pengamatan morfologi gonad. Selain itu juga dilakukan pembuatan preparat histologi untuk pengamatan mikroskopis.

Berdasarkan hasil penelitian, TKG IV-V dan IKG tertinggi ditemukan pada bulan Desember, ukuran pertama kali matang gonad untuk ikan jantan 99,5 mm dan betina 99,2 mm. Nisbah kelamin ikan pelangi merah selama penelitian menunjukkan ketidakseimbangan pada bulan Januari – Februari (1 : 2,5; 1 : 3) dengan kecenderungan jumlah ikan betina lebih banyak. Fekunditas berkisar 910-3122 butir, terlihat korelasi yang lemah antara fekunditas dengan panjang total dan berat tubuh, kisaran diameter telur 0,625 – 7,124 µm. Berdasarkan sebaran diameter telurnya, maka ikan pelangi merah tergolong pemijah bertahap dan iteroparous.

(5)

©

Hak Cipta milik IPB, tahun 2009 Hak cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

(6)

BIOLOGI REPRODUKSI IKAN PELANGI MERAH

(Glossolepis incisus, Weber 1907)

DI DANAU SENTANI

LISA SOFIA SIBY

Tesis

Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Ilmu Perairan

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(7)

HALAMAN PENGESAHAN

Judul Tesis : Biologi reproduksi ikan pelangi merah (Glossolepis incisus Weber, 1907) di Danau Sentani

Nama : Lisa Sofia Siby

NIM : C151060271

Disetujui, Komisi Pembimbing

Dr. Ir. M.F. Rahardjo, DEA Dr. Ir. Djadja Subardja Sjafei

Ketua Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Ilmu Perairan Dekan Sekolah Pascasarjana

Prof. Dr. Ir. Enang Harris, MS Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, MS

(8)
(9)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkatNya

sehingga tesis dengan judul “Biologi Reproduksi Ikan Pelangi Merah (Glossolepis incisus,

Weber 1907) dari hasil penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Desember 2007 hingga

Februari 2008 dan bulan April hingga Mei 2008 dapat selesai.

Terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak Dr. M.F. Rahardjo, DEA selaku

dosen pembimbing I dan Dr. Djadja Subardja Sjafei selaku dosen pembimbing II yang

telah memberikan arahan dan masukan yang sangat berarti selama proses penyusunan tesis

ini. Ungkapan terima kasih juga penulis sampaikan pada Dr. Ir. Sulistiono, MSc sebagai

dosen penguji luar komisi pembimbing yang telah memberikan masukan dalam ujian tesis

untuk perbaikan tesis ini; Prof. Dr. Enang Harris, MS selaku Ketua Program Studi Ilmu

Perairan atas bimbingan selama penulis menjadi mahasiswa SPs IPB; Direktur Sekolah

Tinggi Pertanian St. Thomas Aquinas melalui Ketua Jurusan Perikanan Sekolah Tinggi

Pertanian St. Thomas Aquinas yang merekomendasikan penulis melanjutkan studi ke

Institut Pertanian Bogor; Keluarga Bapak Tungkoye di Yakonde; Keluarga Bapak

Benyamin Tokoro di Simporo; Herlina Matuan S.Pi, Penaho Wuka S.Pi, Bapak Ruslan, Ir.

Syarifah Nurdawati, Wahyu Yuliani S.Pi , Prawira Atmaja Tampubolon S.Pi, Shelly N.E.

Tutupoho S.Pi yang membantu dalam penelitian di lapangan dan laboratorium maupun

penyusunan tesis ini. Terima kasih kepada Bapak S. Siby, Mama N. Makanuay (almh),

Suami Stevanus William de Keyzer S.Th dan putri tercinta Kezia Tanyaradzwa de Keyzer

atas doa dan dukungan mereka.

Akhir kata, semoga tesis ini dapat bermanfaat dalam pengelolaan dan pelestarian

ikan pelangi di Papua, khususnya ikan pelangi merah di Danau Sentani.

Bogor, Agustus 2009

(10)

RIWAYAT HIDUP

LISA SOFIA SIBY. Lahir di Jayapura, 30 Maret 1972 sebagai anak pertama dari lima orang anak pasangan Bapak Sosthenes Siby dan Ibu Neltje Makanuay (almh). Pendidikan sarjana ditempuh di Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya Malang, lulus tahun 2001. Kesempatan melanjutkan studi program magister sains di Program Studi Ilmu Perairan IPB diperoleh pada tahun 2006.

(11)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ……….………. ii

DAFTAR GAMBAR ……….. iii

DAFTAR LAMPIRAN ……….……… iv

1 PENDAHULUAN ……….……….. 1

1.1 Latar Belakang ………. 1

1.2 Tujuan dan Manfaat ……….. 2

2 TINJAUAN PUSTAKA ... 3

2.1 Klasifikasi dan Deskripsi ikan ………. 3

2.2 Pemijahan Ikan ……… 4

2.3 Nisbah Kelamin Ikan Pelangi ………. 6

2.4 Kematangan Gonad Ikan Pelangi ……….. 6

2.5 Fekunditas ..……….. 7

3 METODE PENELITIAN ………. 9

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ..………. 9

3.2 Bahan dan Alat Penelitian ………. 9

3.3 Metode Pengumpulan Data ……… 9

3.4 Analisis Laboratorium ……….. 10

3.5 Analisis Data ..……….. 11

4 HASIL DAN PEMBAHASAN …..………. 15

4.1 Hasil ………..……….. 15

4.2 Pembahasan ……… 31

5 SIMPULAN DAN SARAN …..……… 40

5.1 Simpulan …..………. 40

5.2 Saran ………. 40

DAFTAR PUSTAKA ……….. 41

LAMPIRAN ..………. 48

DAFTAR TABEL Halaman 1. Pengukuran kualitas air ……….. 10

2. Kisaran parameter kualitas air di Danau Sentani selama penelitian .. 15

(12)

merah (Glossolepis incisus) tiap bulan pengamatan ……… 18

4. Sebaran hasil tangkapan berdasarkan stasiun penelitian ……….. 19

5. Kisaran faktor kondisi ikan pelangi merah selama penelitian …….. 21

6. Faktor kondisi ikan pelangi merah berdasarkan TKG ………. 22

7. Nisbah kelamin ikan pelangi merah berdasarkan bulan pengamatan. 22

8. Nisbah kelamin berdasarkan kelas panjang total ……… 23

9. Nisbah kelamin ikan pelangi merah matang gonad (TKG IV-V)

pada tiap bulan pengamatan ……….. 23

10. Nisbah kelamin ikan pelangi merah matang gonad pada tiap

stasiun penelitian ……….. 24

11. Perkembangan gonad secara makroskopis dan mikroskopis gonad

ikan pelangi merah jantan (Modifikasi Pusey et al., 2001) ... 27

12. Perkembangan gonad secara makroskopis dan mikroskopis gonad

ikan pelangi merah betina (Modifikasi Pusey et al., 2001) ……….. 27

13. Indeks Kematangan Gonad ikan pelangi merah selama penelitian… 28

(13)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Ikan pelangi merah (Glossolepis incisus) ………. 3

2. Grafik jumlah curah hujan di Jayapura ……… 17

3. Sebaran ikan pelangi merah berdasarkan kelas ukuran panjang

total ……….. 19

4. Hubungan panjang berat ikan pelangi merah di Danau Sentani …… 20

5. Faktor kondisi ikan pelangi merah matang gonad (TKG IV-V) …… 21

6. Tingkat kematangan gonad berdasarkan waktu ……… 24

7. Gonad dan jaringan gonad ikan pelangi merah jantan pada

TKG I-IV ………. 25

8. Gonad dan jaringan gonad ikan pelangi merah betina pada

TKG II-V ……… 26

9. Persentase ukuran pertama kali matang gonad (L50) ……….. 28

10. Indeks Kematangan Gonad berdasarkan TKG ………. 29

11. Grafik hubungan fekunditas dengan panjang total, berat tubuh

dan berat gonad ………. 30

12. Sebaran diameter telur ikan pelangi merah yang tertangkap di

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Peta lokasi penelitian ……….. 48

2. Gambaran lokasi penelitian ……….. 49

3. Alat tangkap jaring insang (gill net) ……….. 50

4. Kategori perkembangan dan kematangan gonad ikan pelangi …….. 51

5. Pembuatan preparat histologi (Angka et al., 1990) ………. 52

6. Uji khi kuadrat terhadap nisbah kelamin ikan pelangi merah

(Glossolepis incisus) ………. 53

7. Frekuensi ukuran pertama kali matang gonad berdasarkan stasiun... 54

8. Frekuensi ukuran pertama kali matang gonad berdasarkan waktu

(15)

1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Danau Sentani dengan luas 9.360 ha terletak di Kabupaten Jayapura.

Keanekaragaman sumberdaya hayati ikan air tawar di danau ini terdiri atas lima belas jenis

ikan sehingga danau ini merupakan pemasok ikan air tawar untuk konsumsi penduduk di

sekitarnya. Delapan jenis ikan diantaranya adalah ikan asli, salah satunya adalah ikan

pelangi merah (Glossolepis incisus) yang merupakan ikan endemik di Danau Sentani

(Allen, 1991) dan digemari sebagai ikan hias terutama ikan jantan yang berwarna merah

cerah.

Pada tahun 1996, ikan pelangi merah telah terdaftar dalam Redlist IUCN sebagai

spesies ikan yang mengalami ancaman kepunahan dengan status rentan (vulnerable A2ce)

(IUCN, 2007). Diduga terjadi penurunan populasi ikan ini yang disebabkan kompetisi

terhadap makanan dan habitat pemijahan dengan ikan introduksi yang ditemukan di danau

ini seperti mata merah, tambakan, nila, nilem, gabus toraja, sepat siam, mas dan

menurunnya kualitas lingkungan perairan Danau Sentani serta penebangan hutan untuk

pembangunan jalan dan perluasan pemukiman yang mengakibatkan menurunnya luas

tutupan hutan sebagai daerah tangkapan air (Allen, 1991; Allen et al., 2002; Polhemus et

al., 2004).

Beberapa penelitian mengenai ikan pelangi merah ini telah dilakukan seperti

taksonomi dan distribusi (Allen, 1991), pengaruh jenis pakan terhadap warna (Sulawesty,

1997), kekerabatan beberapa spesies ikan pelangi (Said et al., 2005) dan keanekaragaman

genetiknya (Said dan Hidayat, 2005). Namun penelitian tersebut masih terbatas pada skala

laboratorium, sedangkan informasi tentang ekologi dan biologi ikan pelangi merah di

habitatnya belum tersedia.

Melihat seriusnya tekanan yang dihadapi ikan pelangi merah di habitatnya serta

belum adanya informasi dasar menyangkut biologi reproduksinya, maka perlu dilakukan

(16)

1.2 Tujuan dan Manfaat Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji biologi reproduksi ikan pelangi merah di

Danau Sentani. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan informasi dasar untuk

pengelolaan sumberdaya ikan pelangi merah di Danau Sentani, terutama dalam upaya

(17)

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi dan Deskripsi

Klasifikasi ikan pelangi merah menurut Allen (1991); Nelson (2006) dan Fishbase

(2009) sebagai berikut :

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Actinopterygii

Divisi : Teleostei

Super Ordo : Atherinea

Ordo : Atheriniformes

Famili : Melanotaeniidae

Sub Famili : Melanotaeniinae

Genus : Glossolepis

Spesies : Glossolepis incisus Weber, 1907

Nama umum : Red Rainbowfish, Pelangi Merah Irian (Inggris, Indonesia)

Nama daerah : Ikan Kaskado, Heuw (Papua, Sentani)

Gambar 1. Ikan Pelangi Merah (Glossolepis incisus)

Famili Melanotaeniidae terdiri atas tujuh genera dan enam puluh delapan spesies

(Nelson, 2006). Salah satu genusnya adalah Glossolepis, dengan daerah sebaran pada

wilayah utara Papua dari Sungai Markham hingga sistem Sungai Mamberamo. Sebaran

ikan pelangi merah (Glossolepis incisus) di Danau Sentani (Allen, 1991).

(18)

Ikan ini dicirikan dengan tubuh yang pipih menyamping (compressed lateral), sisik

yang besar, sirip punggung yang terbagi dua, sirip anal yang panjang dan linea lateralis

yang tidak beraturan. Dimorfisme seksual terlihat jelas pada ikan jantan yang bertubuh

lebih besar daripada ikan betina. Ikan inipun memiliki sifat dikromatisme seksual yang

ditandai dengan warna tubuh ikan pelangi merah betina yang hijau kekuningan (olive)

hingga kecoklatan dan ikan jantan yang berwarna merah cerah dengan pantulan keperakan

pada kepala dan kedua sisinya. Ukuran panjang baku maksimum ikan pelangi merah jantan

sekitar 120 mm dan betina sekitar 100 mm (Allen, 1991; Allen et al., 2000; Allen, 2001).

2.2 Pemijahan Ikan

Di daerah tropis, perubahan tinggi air sangat berpengaruh terhadap pemijahan ikan

di sungai daripada di danau (McKaye, 1984 ; Lowe-McConnel, 1987 dalam Wootton,

1990). Reproduksi ikan pada musim kering saat banjir berkurang dan tinggi air relatif

stabil dikenal sebagai rekrutmen aliran rendah (low flow recruitment hypothesis). Pola

reproduksi pada kondisi aliran air rendah dan suhu meningkat banyak dilakukan oleh ikan

yang berukuran kecil seperti Melanotaenia fluviatilis (famili Melanotaeniidae),

Hypseleotris spp, Retropinna semoni dan Phylipnodon grandiceps di Australia yang

memanfaatkan makanan berukuran kecil yang banyak terdapat pada kondisi air stabil

(Humphries et al., 1999).

Pola lainnya ditunjukkan oleh tiga spesies ikan pelangi di bagian utara Australia

yakni Melanotaenia eachamensis, M. splendida splendida dan Cairnsichthys

rhombosomoides yang matang gonad pada ukuran kecil dan mengeluarkan telur per

tumpukan (batch spawner). Sebagian besar aktivitas reproduksi ikan pelangi ini terjadi

pada saat musim kering tetapi beberapa individu aktif bereproduksi sepanjang musim

(Pusey et al., 2001).

Reproduksi saat musim basah seperti yang terjadi pada sebagian besar ikan tropis

dikenal sebagai rekrutmen aliran tinggi (flood recruitment model) (Harris dan Gehrke,

1994). Kondisi seperti ini tergambarkan pada ikan pelangi sulawesi (Telmatherina

celebensis) di Danau Towuti yang memijah tiga hingga empat kali selama siklus

(19)

splendida di bagian timur Australia memijah sepanjang musim pemijahan dengan puncak

pemijahan sesaat sebelum dan selama air meninggi (banjir) dengan meletakkan telurnya

lebih dari 200 butir pada tanaman air yang terendam dalam air selama lebih dari 2 minggu

(Allen, 1991 dalam Hurwood dan Hughes, 2001). Reproduksi spesies ikan pada musim

penghujan sebagai salah satu strategi agar larva ikan mendapatkan cukup makanan saat air

meninggi (Humphries et al., 1999).

Menurut Lowe McConnel (1987) dalam Paugy (2002) terdapat dua tipe strategi

pemijahan ikan yaitu pemijah total (total spawners), umumnya memiliki periode

pemijahan tahunan yang pendek dan pemijah tumpukan telur (partial spawners), yang

mengasuh anaknya dan memproduksi tumpukan telur dengan frekuensi yang berselang

sepanjang tahun. Ikan Telmatherina ladigesi tergolong memijah bertahap (partial

spawner) (Nasution et al., 2006); Selanjutnya dikatakan bahwa, umumnya famili

Telmatherinidae tergolong pemijah bertahap (partial spawner).

Berdasarkan frekuensi pemijahan, ikan dibedakan menjadi semelparous yakni ikan

yang memijah sekali kemudian mati dan iteroparous, ikan yang memijah berkali-kali

(Murua dan Sabarido-Rey, 2003). Menurut Winemiller dan Rose (1992); Winemiller

(1989) dalam Moreno-Amich et al. (2006), terdapat tiga strategi ikan dalam

mempertahankan hidupnya yaitu periodic life-history strategy, spesies yang sekali atau

beberapa kali memijah tiap tahun, waktu hidup yang lebih panjang, berukuran besar,

fekunditas yang besar dan tidak mengasuh anaknya. Opportunistic life-history strategy,

spesies yang memijah berkali-kali, masa pemijahan yang panjang, waktu hidup lebih

pendek, berukuran kecil, fekunditas rendah, mengasuh anaknya dan ukuran telur yang

kecil. Equilibrium life-history strategy, spesies yang mengasuh anaknya, fekunditas kecil

dan ukuran telur yang besar dan keberhasilan hidup larva tinggi. Menurut McGuigan et al.

(2005) ikan pelangi (Melanotaeniidae) tergolong pemijah eksternal dan tidak mengasuh

(20)

2.3 Nisbah Kelamin Ikan Pelangi

Nisbah kelamin merupakan perbandingan antara ikan jantan dan ikan betina di

dalam suatu populasi dengan perbandingan ideal adalah 1 : 1 yaitu 50 % ikan jantan dan 50

% ikan betina (Ball dan Rao, 1984). Tetapi seringkali terjadi penyimpangan dari

perbandingan 1 : 1 yang disebabkan mortalitas karena penangkapan (Offem et al., 2008;

Arslan dan Aras, 2007), ruaya pemijahan (Hashem, 1981 dalam Ilhan dan Togulga, 2007),

pemangsaan (Alp dan Kara, 2007) dan faktor lainnya seperti suhu, cahaya, salinitas dan

lingkungan sosial kehidupan ikan itu sendiri (Jobling, 1995). Masa menjelang dan selama

ruaya untuk pemijahan, nisbah kelamin dapat berubah secara teratur. Pada awalnya ikan

jantan mendominasi kemudian nisbah kelamin berubah menjadi 1 : 1 selanjutnya diikuti

dengan dominasi ikan betina (Nikolsky, 1969). Ikan pelangi sulawesi (Telmatherina

ladigesi) di Sungai Maros, Sulawesi Selatan memperlihatkan nisbah kelamin yang tidak

seimbang (1 : 1,47) dengan jumlah ikan betina yang lebih banyak (Andriani, 2000).

Selanjutnya dikatakan bahwa ketidakseimbangan ini terjadi karena mortalitas akibat

penangkapan. Ikan pelangi arfak (Melanotaenia arfakensis) di Manokwari memperlihatkan

perbandingan yang seimbang (1 : 1) dengan kecenderungan ikan betina lebih banyak

(Manangkalangi dan Pattiasina, 2005). Penelitian mengenai reproduksi ikan Melanotaenia

splendida fluviatilis di bagian tenggara Queensland, Australia yang dilakukan selama tahun

1981-1982 didapati pola nisbah kelamin yang tidak seimbang. Ikan betina mendominasi

pada tahun 1981 dan pada tahun berikutnya didominasi oleh ikan jantan. Kondisi tersebut

diduga sebagai bentuk strategi pemijahan ikan pelangi tersebut (Milton dan Arthington,

1984).

2.4 Kematangan Gonad Ikan Pelangi

Menurut Lagler et al. (1977) ada dua faktor yang memengaruhi kematangan gonad

yaitu faktor dalam dan luar. Faktor dalam meliputi perbedaan spesies, umur, ukuran serta

sifat fisiologi ikan itu sedangkan faktor luar adalah makanan, suhu dan arus. Hasil

penelitian Andriani (2000) mengenai ikan pelangi sulawesi (Telmatherina ladigesi) di

Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa kematangan gonad dipengaruhi oleh arus, suhu dan

(21)

splendida dan Cairnsichthys rhombosomoides di bagian utara Queensland, Australia lebih

banyak mencapai TKG IV dan V saat musim kemarau yang ditandai dengan meningkatnya

suhu, arus relatif stabil dan tersedianya makanan yang cukup di alam (Pusey et al., 2001)

Selama perkembangan gonad, sebagian besar hasil metabolisme ditujukan untuk

perkembangan gonad. Hal ini menyebabkan terjadi perubahan-perubahan dalam gonad.

Umumnya pertambahan berat gonad pada ikan betina sebesar 10-25% dari berat tubuh dan

5-10% pada ikan jantan. Pengetahuan tentang tahap kematangan gonad diperlukan untuk

mengetahui waktu pemijahan, ukuran pertama kali matang gonad, hubungannya dengan

pertumbuhan ikan dan faktor lingkungan yang mempengaruhinya (Effendie, 1997). Ikan

pelangi dari bagian barat Australia tergolong ikan yang matang gonad sepanjang tahun

(Pusey et al., 2001).

Perubahan dalam gonad dapat dinyatakan secara kuantitatif dengan menggunakan

Indeks Kematangan Gonad (IKG). Indeks ini adalah suatu nilai dalam persen sebagai hasil

dari perbandingan berat gonad dengan berat tubuh ikan termasuk gonad dikalikan 100%.

Nilai IKG ikan pelangi tergolong bervariasi bergantung pada lokasi dan musim (Milton

dan Arthington, 1984; Pusey et al., 2001; Nasution, 2005; Nasution et al., 2006) dan

strategi pemijahan (Harris dan Gehrke, 1994; Humphries et al., 1999).

2.5 Fekunditas

Fekunditas dapat beragam diantara spesies sebagai hasil adaptasi terhadap

lingkungan habitat (Witthames et al., 1995 dalam Murua et al., 2003), umur ikan, ukuran

telur, makanan, dan musim (Nikolsky, 1963). Fekunditas relatif pada ikan Brycinus nurse

di Waduk Asa, Nigeria lebih rendah dibanding spesies yang sama di Ivory Coast. Namun

rata-rata fekunditas mutlak lebih tinggi pada populasi B. nurse di Nigeria dibandingkan di

Ivory Coast. Variasi dari hal tersebut disebabkan oleh perbedaan lokasi geografis dari

populasi, sehingga memengaruhi perbedaan habitat hidup (Saliu dan Fagade, 2003).

Bahkan dalam stok populasi, fekunditas bervariasi tahunan, menghadapi

perubahan-perubahan dalam waktu yang panjang memperlihatkan hasil yang proporsional pada

ukuran dan kondisi ikan. Ikan yang berukuran besar menghasilkan fekunditas yang tinggi

(22)

lebih baik menghasilkan fekunditas yang tinggi (Kjesbu et al., 1991 dalam Murua dan

Sabarido-Rey, 2003). Ukuran dan kondisi ikan adalah parameter kunci untuk mengkaji

fekunditas pada level populasi. Fekunditas pada ikan Melanotaenia splendida splendida

berkaitan erat dengan ukuran ikan. Ikan dengan panjang 40 mm menghasilkan sekitar 370

telur. Demikian juga pada ukuran 70 mm menghasilkan sekitar 1655 telur (Pusey et al.,

2001).

Perubahan dalam faktor lingkungan seperti suhu dan ketersediaan makanan

berpengaruh pada tingkah laku dan metabolisme ikan. Menurunnya kondisi dapat

mengakibatkan penurunan fekunditas yang direfleksikan dalam rendahnya jumlah oosit

yang berkembang atau terjadi atresia. Pada kasus yang ekstrim, kondisi yang menurun

dapat memicu kegagalan reproduksi yang mengakibatkan musim pemijahan terlewati (Bell

et al., 1992; Livingston et al., 1997 dalam Murua et al., 2003).

Menurut Paugy (2002) terdapat hubungan yang berlawanan antara ukuran telur dan

fekunditas. Fekunditas ikan Melanotaenia eachemensis berkisar antara 206-2126 butir

dan kisaran diameter telur ikan M. eachemensis antara 1,207 mm – 1,324 mm (Pusey et

al., 2001). Glossolepis multisquamatus pada rawa banjiran Sungai Sepik, Papua New

Guinea memperlihatkan ukuran telur yang lebih besar. Diameter telur terbesar adalah 2

mm sedangkan ikan pelangi lainnya di wilayah tersebut adalah 1 mm. Hal ini diasumsikan

sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi rawa banjiran dengan meningkatkan ukuran telur

tetapi menurunkan fekunditas (Allen dan Cross, 1982; Milton dan Arthington, 1984;

(23)

3 METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di perairan Danau Sentani selama lima bulan dari bulan

Desember 2007 hingga Mei 2008. Pengambilan sampel ikan dan pengamatan kualitas air

dilakukan bersamaan.

Penentuan titik sampling dilakukan berdasarkan kondisi alam dan aktifitas manusia

di Danau Sentani, sehingga ditetapkan enam stasiun penelitian. Stasiun I, di bagian barat

laut Danau Sentani (Doyo Lama) merupakan wilayah tempat tinggal penduduk. Stasiun II,

di bagian barat Danau Sentani, pada stasiun ini terdapat muara sungai kecil. Stasiun III di

bagian barat Danau Sentani, wilayah ini masih diliputi hutan. Stasiun IV di bagian barat

daya Sentani (Simporo) merupakan wilayah tempat tinggal masyarakat dan terdapat hutan

rawa. Stasiun V di bagian selatan Danau Sentani (Abaar) merupakan wilayah pemukiman

penduduk dan masih diliputi hutan. Stasiun VI di bagian timur Danau Sentani (Waena).

Stasiun ini merupakan area budidaya ikan karamba jaring apung dan pemancingan

(Lampiran 1 dan 2).

3.2 Bahan dan Alat Penelitian

Bahan penelitian meliputi ikan sampel, paraform 4% untuk mengawetkan ikan dan

bahan-bahan untuk analisis kualitas air. Alat yang digunakan dalam penelitian meliputi

jaring insang eksperimen dengan ukuran mata jaring ½ inci, 1 inci, 1¼ inci, 1½ inci , 2 inci

masing-masing berukuran panjang 4 m dan tinggi 2 m (Lampiran 3), alat bedah,

mikroskop, timbangan digital dengan ketelitian 0,01 g dan 0,0001 g, kaliper vernier untuk

mengukur panjang ikan dengan ketelitian 0,01 mm dan alat pengukur kualitas air.

3.3 Metode Pengumpulan Data

Pengukuran kualitas air dilakukan di setiap stasiun bersamaan dengan

pengambilan sampel ikan. Parameter yang diamati meliputi parameter fisika dan kimia.

Alat dan metode pengukuran parameter kualitas air yang dilakukan selama penelitian

(24)

Tabel 1. Pengukuran Kualitas Air

Paramater Alat dan Metode Satuan Lokasi

Suhu Termometer 0C in situ

Kecerahan Cakram Secchi cm in situ

Alkalinitas Titrasi mg/l CaCO3 in situ

pH pH meter - in situ

Oksigen terlarut DO meter mg/l in situ

Karbondioksida Titrasi mg/l in situ

Sampel ikan ditangkap dengan menggunakan jaring insang eksperimen dengan

ukuran mata jaring ½ inci, 1 inci, 1¼ inci, 1½ inci dan 2 inci masing-masing satu buah

dengan panjang 4 m dan tinggi 2 m yang dipasang pada sore hari (16.00) dan diangkat

pada pagi hari (06.00). Cara pemasangan jaring dilakukan pada setiap stasiun dari arah

pantai ke perairan bebas. Ikan yang tertangkap dipisahkan berdasarkan stasiun penelitian

dan jenis kelamin. Selanjutnya ikan sampel diawetkan dalam paraform 4 %.

3.4 Analisis Laboratorium

Analisis laboratorium dilakukan di laboratorium Bio Makro I FPIK IPB meliputi

penimbangan berat ikan dengan menggunakan timbangan digital berketelitian 0,01 g.

Identifikasi jenis ikan berdasarkan karakter morfometrik dan meristik berdasarkan Allen

(1991); Kottelat et al. (1993); Wiecaszek et al. (2007) dengan menggunakan kaliper

vernier dengan ketelitian 0,01 mm. Ikan sampel kemudian dibedah menggunakan alat

bedah lalu gonadnya diambil dan diawetkan dalam paraform 4 %.

Penentuan tingkat kematangan gonad berdasarkan morfologinya mengacu pada

kategori perkembangan dan kematangan gonad ikan pelangi (Pusey et al., 2001)

(Lampiran 4). Pengamatan gonad secara histologi dengan membuat preparat histologi

gonad betina dan jantan mengacu pada pembuatan preparat histologi (Angka et al., 1990)

(Lampiran 5) dan analisis histologi gonad menggunakan analisis histologi ikan

berdasarkan Takashima dan Hibiya (1982); ikan Odonthestes bonariensis (Soria et al.,

(25)

timbangan berketelitian 0,0001 g. Analisis fekunditas dilakukan dengan menghitung

langsung telur dari ikan yang matang gonad (TKG IV–V) dan penghitungan dilakukan

seluruhnya dengan cara diencerkan dengan air dan dihitung jumlah telurnya di bawah

mikroskop (Effendie, 1979). Pengukuran diameter telur dilakukan dengan mengambil

gonad ikan betina dari TKG III- V dari tiga bagian yang berbeda yaitu anterior, median dan

posterior masing-masing sebanyak 100 butir, diletakkan berjajar pada gelas objek lalu

diamati dengan menggunakan mikroskop yang dilengkapi mikrometer okuler, sebelumnya

mikrometer okuler ditera dengan mikrometer objektif. Peneraan dilakukan dengan

mengalikan nilai pengukuran diameter telur dengan hasil bagi antara mikrometer objektif

dan okuler.

3.5. Analisis Data

Nisbah Kelamin

Perbandingan antara jumlah ikan jantan dan betina (nisbah kelamin) yang terdapat

pada setiap stasiun dihitung menggunakan rumus :

X BJ

Keterangan :

X : Nisbah kelamin

J : Jumlah ikan jantan (ekor) B : Jumlah ikan betina (ekor)

Keseragaman sebaran nisbah kelamin dilakukan dengan uji khi kuadrat (Steel dan Torrie,

1993).

x oi eei

i n

i

Keterangan :

X2 : Sebuah nilai bagi peubah acak X2 yang sebaran penarikan contohnya menghampiri khi kuadrat

oi : Frekuensi ikan jantan dan betina yang teramati

ei : Frekuensi harapan yaitu frekuensi ikan jantan ditambah frekuensi

(26)

Hubungan Fekunditas dengan Panjang Total Tubuh, Berat Tubuh dan Gonad

Hubungan fekunditas dengan panjang total tubuh menggunakan rumus sebagai

berikut (Effendie, 1997) :

F = aLb

Keterangan :

F : Fekunditas

L : Panjang total ikan (mm) a dan b : Konstanta

Persamaan hubungan fekunditas dengan berat tubuh dan berat gonad

F = a + bBg

F = a + bBt

Keterangan :

Bt : Berat tubuh (g) Bg : Berat gonad (g)

Untuk melihat keeratan hubungan antara keduanya ditunjukkan dengan nilai koefisien

korelasi ( r ). Jika nilainya mendekati satu menandakan korelasi yang kuat. Jika nilai r-nya

mendekati nol maka hubungan keduanya lemah (Walpole, 1992).

Indeks Kematangan Gonad

Nilai indeks kematangan gonad merupakan suatu nilai dalam persen yang

didapatkan dari perbandingan berat gonad dengan berat ikan dikalikan 100 %. Nilai IKG

yang terdapat pada setiap stasiun dianalisis menggunakan rumus yang diuraikan oleh

Effendie (1979) :

IKG Bg

Bt

Keterangan :

IKG : Indeks kematangan gonad Bg : Berat gonad (g)

(27)

Ukuran Ikan Pertama Kali Matang Gonad

Untuk mendapatkan ukuran ikan pertama kali matang gonad dilakukan dengan

memplotkan persentase ikan matang gonad dengan panjang totalnya. Panjang ikan

minimum pada sekurang-kurangnya 50% dari ikan yang matang gonad (TKG IV dan V)

dinyatakan sebagai ukuran ikan pertama kali matang gonad (Rao and Sharma, 1984; Offem

et al., 2008).

Hubungan Panjang Berat

Hubungan panjang-berat menggunakan rumus sebagai berikut :

W = aLb

Keterangan :

W : Berat tubuh ikan (g)

L : Panjang ikan (mm)

a dan b : konstanta

Persamaan ini untuk menduga pola pertumbuhan dari nilai b. Jika didapatkan b = 3 maka

pertambahan berat seimbang dengan pertambahan panjang (isometrik). Bila didapatkan b <

3 maka pertambahan panjang lebih cepat dibanding pertambahan beratnya (allometrik

negatif). Jika b>3 maka pertambahan berat lebih cepat dibanding pertambahan panjangnya

(allometrik positif). Untuk menguji nilai b dilakukan uji t dengan hipotesis : H0 : b = 3;

H1 : b ≠ 3; t hitung :

.

Untuk penarikan keputusan dengan membandingkan t

hitung dengan t tabel pada selang kepercayaan 95 %. Jika nilai t hitung > t tabel maka

keputusannya menolak hipotesis nol (H0) tetapi jika t hitung < t tabel maka keputusannya

menerima hipotesis nol (H0) (Steel dan Torrie, 1993).

Faktor Kondisi

Faktor kondisi dihitung dengan menggunakan sistem metrik berdasarkan hubungan

panjang berat ikan sampel. Jika pertumbuhan ikan isometrik, maka rumus yang digunakan

seperti berikut (Effendie 1979) :

(28)

Keterangan :

K : Faktor kondisi

W : Berat tubuh ikan (g)

L : Panjang total ikan (mm)

Jika pertumbuhan bersifat allometrik, maka faktor kondisi dihitung dengan rumus :

Kn aLw

Keterangan :

Kn : Faktor kondisi relatif W : Berat tubuh ikan (gram)

L : Panjang total ikan (mm)

(29)

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian

Hasil pengukuran dan pengamatan aspek kualitas air yang dilakukan di Danau

Sentani selama penelitian meliputi suhu, kecerahan, alkalinitas, pH, oksigen terlarut dan

karbondioksida di tiap stasiun dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Kisaran parameter kualitas air di Danau Sentani selama penelitian

Parameter Satuan Stasiun

I II III IV V VI

Fisika

Suhu 0C 28,8 - 30 29 – 29,4 28,9 – 29,4 28 – 29,2 29 – 29,2 29 – 29,1

Kecerahan cm 350 – 520 300 – 430 200 – 450 450 – 550 200 – 350 250 – 450

Kimia

Alkalinitas mg /l CaCO3

104,89-Kisaran suhu perairan selama penelitian adalah 28-300C. Kisaran suhu tidak

menunjukkan perbedaan yang menonjol selama waktu penelitian dan masih mendukung

untuk kehidupan organisme perairan. Suhu berperan dalam metabolisme organisme yang

berpengaruh pada pertumbuhan, reproduksi dan aktifitas mencari makan. Ikan di perairan

dapat mendeteksi suhu yang berubah dengan mengendalikan tingkah lakunya untuk

mencari ruang dengan suhu yang sesuai (Wootton, 1992). Hasil pengukuran kecerahan

berkisar 200 – 450 cm. Hal ini menunjukkan kondisi stasiun penelitian yang tergolong

jernih. Alkalinitas di Danau Sentani tergolong tinggi dengan kisaran 103,99 – 115,12. Nilai

alkalinitas yang baik bagi pertumbuhan organisme perairan berkisar 30 – 500 mg/l CaCO3.

Perairan alami dengan nilai alkalinitas > 40 mg/l CaCO3 tergolong perairan sadah (Boyd,

1988). Alkalinitas yang tinggi di Danau Sentani dapat dijelaskan dari pegunungan kapur

(30)

karbonat dari batuan yang dilewati air kedalam perairan. Nilai pH di Danau Sentani selama

penelitian umumnya stabil dan berkisar 7,6 – 8,2. Sebagian besar organisme akuatik

sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai nilai sekitar 7 – 8,5. Toksisitas dari suatu

senyawa kimia dipengaruhi oleh pH, senyawa ammonium yang dapat terionisasi banyak

ditemukan pada perairan dengan pH rendah dan senyawa ini tidak bersifat toksik,

sebaliknya pada suasana dengan pH tinggi banyak ditemukan ammonia tidak terionisasi

dan bersifat toksik (Novotny dan Olem, 1994). Oksigen terlarut masih tergolong baik di

Danau Sentani selama penelitian dengan kisaran 5,8 – 6,1. Menurut Boyd (1988) kisaran

oksigen terlarut yang baik untuk kehidupan dan mendukung pertumbuhan ikan di perairan

adalah > 5 mg/l. Sebagian besar oksigen terlarut pada perairan lakustrin seperti danau dan

waduk merupakan hasil aktifitas fotosintesis mikrofita dan makrofita perairan (Tebbut,

1992). Karbondioksida di Danau Sentani selama penelitian masih berada dalam kisaran

yang tidak merugikan bagi kehidupan organisme di danau ini. Kadar karbondioksida bebas

yang mendukung untuk pertumbuhan ikan adalah < 5 mg/l. Fluktuasi nilai kadar

karbondioksida bebas di perairan berkaitan dengan proses fotosintesis dan evaporasi

(Boyd, 1988).

Curah hujan yang cenderung meningkat untuk daerah Sentani dan sekitarnya terjadi

pada bulan November 2007 – April 2008, sedangkan yang terendah terjadi pada bulan

September – Oktober 2007 dan Mei 2008. Curah hujan yang terus-menerus meningkat

sejak bulan November 2007 – April 2008 menyebabkan perubahan pada tinggi air di danau

(31)

Sumber : BMKG Jayapura, 2007-2008

Gambar 2. Grafik jumlah curah hujan di Jayapura

Stasiun satu (Yakonde satu) terletak di bagian barat Danau Sentani. Kondisi alam

di sekitar stasiun ini dicirikan dengan adanya muara sungai kecil dengan lebar 3 m, pada

wilayah litoralnya terdapat hutan sagu dan sub litoralnya terdapat tumbuhan air yang

tenggelam dari jenis Ipomea aquatica, Vallisneria sp.,Nymphoides sp..

Stasiun dua (Yakonde dua) terletak di dekat perkampungan penduduk. Wilayah

litoral stasiun ini landai dan terdapat batu-batu karang sekeliling perkampungan.

Tumbuhan air yang mendominasi di stasiun ini adalah Hydrilla verticillata, Vallisneria sp.,

Myriophyllum brasiliense dan Potamogeton sp..

Stasiun tiga (Yakonde tiga) memiliki wilayah litoral yang berukuran lebar 2 cm

dan curam, wilayah supra litoral dibatasi dengan gunung kapur. Tumbuhan air yang

terdapat pada stasiun ini didominasi oleh Vallisneria sp., Myriophyllum brasiliense dan

Ceratophylum demersum.

Stasiun empat (Simporo) terletak di bagian tengah yang dicirikan dengan hutan

rawa yang luas, warna air di sekitar stasiun ini merah tua dan terlihat adanya lapisan

humus. Tumbuhan air yang terdapat pada stasiun ini yakni Ceratophylum demersum dan

Myriophyllum brasiliense.

Stasiun lima (Abaar) terletak di wilayah tengah danau. Stasiun ini memiliki pantai

berpasir abu-abu dan berbatu-batu kecil. Pada stasiun ini juga terdapat muara sungai kecil

0 50 100 150 200 250 300

Juli '07 Agst Sept Okt Nov Des Jan '08 Feb Mar Apr Mei Juni

Jumlah

 

curah

 

hujan

 

(32)

dan wilayah litoral ditumbuhi tanaman pandan. Terdapat satu jenis tumbuhan air yang

mendominasi yakni Nesaeae sp.

Stasiun enam (Waena) merupakan perbatasan antara kota dan kabupaten Jayapura

yang terletak di bagian timur danau. Pada daerah ini terdapat usaha budidaya ikan dalam

karamba jaring apung dan tempat wisata pemancingan danau. Wilayah litoral danau

terdapat tumbuhan air yang mendominasi yakni Eichornia crassipes, Hydrilla verticillata

dan Ipomea aquatica.

4.1.2 Hasil Tangkapan dan Sebaran Ukuran Panjang

Selama penelitian, ikan pelangi merah yang tertangkap berjumlah 798 ekor yang

terdiri atas 404 ikan jantan dan 394 ikan betina. Kisaran panjang total dan berat ikan

pelangi merah adalah 88 – 120 mm ; 6,85 – 22,58 g. Kisaran panjang total dan berat ikan

jantan 88 – 119 mm dan 7,23 – 22,58 g dan ikan betina berkisar 90 – 120 mm dan 6,85 –

22,58 g (Tabel 3). Pada bulan Maret, tidak dilakukan pengambilan sampel ke lapangan

karena kendala teknis yaitu kekurangan bahan pengawet.

Tabel 3. Jumlah hasil tangkapan, kisaran panjang dan berat ikan pelangi merah (Glossolepis incisus) tiap bulan pengamatan

Bulan

Hasil tangkapan yang diperoleh selama penelitian berdasarkan stasiun penelitian

terbanyak terdapat pada stasiun dua dengan jumlah ikan jantan 94 ekor dan betina 80 ekor

dan yang terendah didapat pada stasiun lima dengan jumlah ikan jantan 16 ekor dan betina

(33)
(34)

betina W = 9 x 10-5L2,528. Hubungan panjang berat menunjukkan nilai korelasi yang kuat

untuk ikan jantan (r = 0,862) dan ikan betina (r = 0,746) (Gambar 4). Untuk menentukan

pola pertumbuhan dilakukan dengan uji t. Hasil analisis uji t terhadap nilai b diperoleh

ikan jantan menunjukkan pola pertumbuhan isometrik (t hitung < t tabel) yang berarti

pertambahan berat ikan jantan seimbang dengan pertambahan panjang dan ikan betina

memperlihatkan pola pertumbuhan allometrik (t hitung > t tabel) yang berarti pola

pertumbuhan panjang tidak seimbang dengan pertambahan beratnya dan karena nilai b < 3

maka pola pertumbuhannya adalah allometrik negatif, yang berarti pertambahan panjang

lebih cepat dibanding pertambahan berat. Nilai b yang rendah (b = 2,528) pada ikan betina

memperlihatkan ikan betina lebih kurus dibanding ikan jantan (b = 3,157). Pola

pertumbuhan ikan pelangi merah secara keseluruhan bersifat isometrik (b = 2,852).

Gambar 4. Hubungan panjang berat ikan pelangi merah di Danau Sentani

4.1.4 Faktor Kondisi

Berdasarkan pola pertumbuhan ikan pelangi merah secara keseluruhan yang

bersifat isometrik, maka penentuan nilai faktor kondisi menggunakan rumus faktor

kondisi. Kisaran rata-rata faktor kondisi ikan jantan adalah 1,003 – 1,019 dan betina

Jantan

Gabungan Jantan -Betina

(35)

1,058 – 1,212. Nilai rata-rata faktor kondisi ikan jantan dan betina yang tertinggi

ditemukan pada bulan Desember (1,019 ± 0,186; 1,212 ± 0,129), sedangkan yang terendah

untuk ikan jantan ditemukan pada bulan Januari (1,003 ± 0,084) dan ikan betina pada bulan

Mei (1,058 ± 0,174) (Tabel 5).

Tabel 5. Kisaran faktor kondisi ikan pelangi merah selama penelitian

Bulan Jantan Betina

Kisaran Rata-rata Sb Kisaran Rata-rata Sb

Des 0,558 - 1,597 1,019 0,186 0,879 - 1,649 1,212 0,129 Jan 0,869 - 1,268 1,003 0,084 0,936 - 1,514 1,192 0,126 Feb 0,795 - 1,283 1,005 0,105 0,879 - 1,469 1,183 0,117 April 0,722 - 1,244 1,005 0,103 0,938 - 1,445 1,186 0,139 Mei 0,628 - 1,343 1,014 0,168 0,723 - 1,448 1,058 0,174

Keterangan : Sb : Simpangan baku

Nilai rata-rata faktor kondisi ikan pelangi merah jantan dan betina pada tingkat

kematangan gonad IV-V yang tertinggi ditemukan pada bulan Desember (1,080 ± 0,140;

1,190 ± 0,111) (Gambar 5), nilai faktor kondisi pada bulan April-Mei 2008 bias karena

sampel ikan pelangi merah matang gonad (TKG IV-V) yang ditemukan sedikit.

Gambar 5. Faktor kondisi ikan pelangi merah matang gonad (TKG IV-V)

Faktor kondisi ikan pelangi merah pada tiap tingkat kematangan gonad

memperlihatkan nilai bervariasi. Kisaran nilai faktor kondisi yang tertinggi baik pada ikan

jantan maupun betina terdapat pada tingkat kematangan gonad empat (TKG IV) dan

terendah pada TKG I (Tabel 6).

Tabel 6. Faktor kondisi ikan pelangi merah berdasarkan TKG

(36)

TKG Jantan Betina Keterangan : Sb : Simpangan baku

4.1.5 Nisbah Kelamin

Selama penelitian, ikan pelangi merah jantan yang tertangkap berjumlah 404 ekor

(50,6%) dan betina 394 ekor (49,4%), sehingga secara keseluruhan nisbah kelamin ikan

pelangi merah mengikuti pola 1 : 1. Dari uji khi kuadrat terhadap nisbah kelamin secara

keseluruhan memperlihatkan hasil yang tidak berbeda nyata pada taraf kepercayaan 95%

[X2 hitung (1,02) < X2 tabel (db=1) (3,84)]. Pola perbandingan 1 : 1 juga terlihat pada uji khi

kuadrat terhadap nisbah kelamin per bulan pengamatan (Tabel 7).

Tabel 7. Nisbah kelamin ikan pelangi merah berdasarkan bulan pengamatan

Bulan Jantan (ekor) Betina (ekor) Nisbah kelamin X2 hitung

Des 177 153 1,16 1,745 ns

Jan 63 84 0,75 3 ns

Feb 88 77 1,14 0,733 ns

April 48 40 1,2 0,727 ns

Mei 28 40 0,70 2,118 nS

Keterangan : ns : tidak berbeda nyata

Nisbah kelamin berdasarkan kelas panjang total ikan pelangi merah

memperlihatkan nilai yang tertinggi pada kelas panjang 112-114 mm. Hasil uji khi kuadrat

terlihat berbeda nyata pada kelas panjang 100 – 102 mm [x2 hitung (4, 86) > x2 tabel

(3,84)] dan 112 – 114 mm [x2 hitung (9,85) > x2 tabel (3,84)] (Tabel 8).

Tabel 8. Nisbah kelamin berdasarkan kelas panjang total

(37)

103 - 105 50 55 0,91 0,25ns

106 - 108 24 22 1,09 0,09ns

109 - 111 23 22 1,05 0,04ns

112 - 114 21 5 4,20 9,85s

115 - 117 4 8 0,50 1,33ns

118 - 120 2 1 2,00 0,50ns

Keterangan : s : berbeda nyata ; ns : tidak berbeda nyata

Nisbah kelamin ikan pelangi merah yang matang gonad (TKG IV-V) tertinggi

diperoleh pada bulan Desember (1 : 1,56) dan yang terendah pada bulan Februari (1 : 0,3).

Dari hasil uji khi kuadrat, nisbah kelamin pada tiap bulan pengamatan menunjukkan hasil

yang tidak berbeda pada bulan Desember dan Mei dan berbeda nyata pada bulan Januari

dan Februari, dimana jumlah ikan betina lebih banyak dari ikan jantan. Pada bulan April

tidak dapat dianalisis karena bias akibat sampel yang tertangkap sedikit (Tabel 9).

Tabel 9. Nisbah kelamin ikan pelangi merah matang gonad (TKG IV-V) pada tiap bulan pengamatan

Bulan Jantan (ekor) Betina (ekor) Nisbah kelamin X2 hitung

Des 28 18 1,56 2,17 ns

Jan 10 25 0,40 59,46 s

Feb 3 10 0,30 14,13 s

April 0 2 0 2

Mei 1 1 1,00 0 ns

Keterangan : s : berbeda nyata; ns : tidak berbeda nyata

Berdasarkan hasil uji khi kuadrat nisbah kelamin ikan pelangi merah pada tiap

stasiun penelitian terlihat mengikuti pola 1 : 1 kecuali pada stasiun 4, tidak ditemukan ikan

yang matang gonad (Tabel 10, Lampiran 6).

Tabel 10. Nisbah kelamin ikan pelangi merah matang gonad pada tiap stasiun penelitian

Stasiun Jantan Betina Nisbah Kelamin X2 hitung

1 11 14 0,8 3,6ns

2 9 13 0,7 3,1ns

3 10 13 0,8 3,3ns

4 0 0 0 0

5 8 10 0,8 2,6ns

6 4 6 0,7 1,4ns

(38)

4.1.6 Tingkat Kematangan Gonad

Analisis tingkat kematangan gonad menunjukkan bahwa ikan pelangi merah jantan

yang matang gonad ditemukan pada bulan tertentu (Desember-Februari) sedangkan ikan

betina pada bulan Desember-Mei dengan persentase yang berbeda-beda. Persentase

tertinggi TKG V pada ikan jantan dan betina terdapat pada bulan Desember (0,31); (0,28)

(Gambar 6).

Gambar 6. Tingkat kematangan gonad berdasarkan waktu

Penggolongan tingkat kematangan gonad ikan pelangi merah terbagi dalam lima

tahap yaitu TKG I (belum matang), II (perkembangan awal), III (perkembangan remaja

dan dewasa istirahat), IV (perkembangan akhir) dan V (bunting). Gambaran

masing-masing tingkat perkembangan gonad ikan pelangi merah jantan dan betina secara

morfologi maupun histologi dapat dilihat pada Gambar 7 dan 8. Perkembangan gonad

ikan pelangi merah jantan dan betina secara makroskopis dan mikroskopis diutarakan pada

Tabel 11 dan 12.

Des Jan Feb Apr Mei

0%

Des Jan Feb Apr Mei

(39)

Gambar 7. Keterang

Gonad dan j (skala bar : gan : A : sperm

jaringan gon 5 mm; 1 µm matid; B : sperm

nad ikan pela m; perbesaran matozoa; C dan

angi merah j n 200 x) n E : spermatog

antan pada

gonia; D : sper

TKG I-IV

(40)

Gambar 8. Gonad dan jaringan gonad ikan pelangi merah betina pada TKG II-V (skala bar : 5 mm; 5 µm; perbesaran 40 x)

Keterangan : A : sitoplasma; B dan D : nukleus; C : butir minyak; At : Atresia

(41)

Tabe

Tabe

el 11. Perke merah

el 12. Perke merah

mbangan go h jantan (M

mbangan go h betina (Mo

onad secara Modifikasi dar

onad secara difikasi dari

makroskopi ri Pusey et a

makroskopi i Pusey et al

is dan mikro al., 2001)

is dan mikro ., 2001)

oskopis gona

oskopis gona

ad ikan pela

ad ikan pela angi

(42)
(43)

ekor ikan betina TKG V yang mengeluarkan kelompok telur sehingga tidak dapat

dilakukan analisis (Gambar 10).

Gambar 10. Indeks Kematangan Gonad berdasarkan TKG

Nilai IKG ikan jantan yang tertinggi ditemukan pada stasiun 1 (0,63 ± 0,46), 2 (0,88 ± 0,55) dan stasiun 3 (0,76 ± 0,33) dan ikan betina pada stasiun 1 (2,01 ± 0,62), 2 (2,02 ± 0,55), 3 (2,07 ± 0,49) dan 6 (2,11 ± 0,72) (Tabel 14).

Tabel 14. Indeks Kematangan Gonad Ikan Pelangi Merah Berdasarkan Stasiun

Stasiun Jantan Betina

Kisaran Rata-rata Sb N (ekor) Kisaran Rata-rata Sb N (ekor)

Keterangan : Sb : Simpangan baku

4.1.9 Fekunditas dan Diameter Telur

Fekunditas ikan pelangi merah dengan kisaran panjang total 95 – 120 mm dan berat

tubuh 9,95 – 22,58 g sebanyak 910 – 3122 butir (rata-rata 1432 ± 451 butir). Hubungan

antara fekunditas dengan panjang total adalah F = 528,5L0,206 (r = 0,045), fekunditas

dengan berat tubuh F = 537,8W0,368 (r = 0,285) fekunditas dengan berat gonad F =

(44)
(45)

Gambar 12. Sebaran diameter telur ikan pelangi merah yang tertangkap di Danau Sentani

4.2 Pembahasan

4.2.1 Hubungan Panjang Berat

Pola pertumbuhan ikan pelangi merah jantan bersifat isometrik sedangkan ikan

betina bersifat allometrik negatif, yang berarti pertambahan panjang lebih cepat dibanding

pertambahan beratnya. Namun, secara keseluruhan pola pertumbuhan ikan pelangi merah

di Danau Sentani bersifat isometrik. Pola pertumbuhan isometrik juga terlihat pada ikan

rainbow selebensis (T. celebensis) di Danau Towuti ( b = 3,08; R2 = 0,81) (Nasution,

2007); ikan Atherina boyeri di danau kecil dari Sungai Segura (b = 3,26; R2 = 0,971)

(Andreu-Soler et al., 2006).

Bentuk tubuh yang berbeda antara ikan pelangi merah jantan dan betina

memengaruhi nilai b dalam hubungan panjang berat ikan ini. Ikan jantan memiliki bentuk

tubuh yang pipih dan cenderung membulat sedangkan ikan betina memperlihatkan bentuk

(46)

sifat dimorfisme seksual yaitu bentuk tubuh yang berbeda antara ikan jantan dan betina.

Sifat inipun terdapat pada ikan pelangi merah yang berpengaruh terhadap pola

pertumbuhannya. Pola pertumbuhan yang berbeda antara ikan jantan dan betina dalam satu

spesies juga terlihat pada ikan Atherina boyeri (Andreu-Soler et al., 2006).

4.2.2 Faktor Kondisi

Faktor kondisi ikan pelangi merah di Danau Sentani berkaitan dengan ketersediaan

makanan dan reproduksi. Hal ini dapat dijelaskan dari tingginya nilai faktor kondisi ikan

pelangi merah pada bulan Desember yang merupakan puncak musim pemijahan yang

berkaitan dengan kondisi lingkungan saat musim hujan yang memberikan keuntungan

dengan tersedianya makanan yang cukup di habitatnya. Nilai faktor kondisi kemudian

menurun sejalan dengan musim pemijahan yang telah berakhir. Nilai faktor kondisi yang

berkaitan dengan ketersediaan makanan dan saat puncak pemijahan juga terlihat pada

ikan rainbow selebensis (Telmatherina celebensis) di Danau Towuti (Nasution, 2007);

ikan Atherina boyeri di Semenanjung Iberia menunjukkan fluktuasi nilai faktor kondisi

yang berhubungan dengan musim (Andreu-Soler et al., 2003).

Ikan pelangi merah betina mempunyai nilai rata-rata faktor kondisi yang lebih

tinggi dibanding ikan jantan. Hal ini dapat dijelaskan dari berat ovarium yang lebih tinggi

daripada berat testes pada ukuran ikan yang sama.

Nilai rata-rata faktor kondisi ikan pelangi merah cenderung meningkat dengan

meningkatnya TKG. Dalam proses reproduksi, oosit ikan pada TKG I belum berkembang

karena proses vitellogenesis belum berjalan secara sempurna. Pada TKG yang lebih

tinggi, proses vitellogenesis dalam pembentukan vitellogenin sebagai bahan dasar kuning

telur telah berlangsung sempurna, sehingga ukuran oosit akan bertambah besar yang

menyebabkan berat gonad bertambah. Dengan meningkatnya berat gonad ikan pelangi

merah akan meningkatkan berat tubuh yang juga meningkatkan nilai faktor kondisi. Hal

ini terlihat pada ikan pelangi merah pada TKG I - IV, selanjutnya nilai rata-rata faktor

kondisi yang menurun pada TKG V menunjukkan berat gonad yang berkurang karena

ikan pelangi merah telah memijah, kondisi ini memengaruhi berat tubuh yang ditunjukkan

(47)

(2005) nilai faktor kondisi ikan yang meningkat selama musim hujan berkaitan erat

dengan peningkatan kematangan gonad dan menurunnya nilai faktor kondisi berkaitan

dengan alokasi energi untuk perkembangan dan pemijahan.

4.2.3 Nisbah Kelamin

Nisbah kelamin ikan pelangi merah dipengaruhi oleh tingkah laku ikan ini dalam

bergerombol. Berdasarkan pengamatan, ikan jantan banyak terlihat di daerah litoral,

sedangkan ikan betina yang terlihat jarang dan banyak terdapat di daerah yang lebih dalam

dan terlindung pada tumbuhan air.

Variasi nisbah kelamin pada ikan pelangi merah di Danau Sentani diduga terjadi

karena lingkungan kehidupan sosial ikan itu sendiri. Menurut Jobling (1995) nisbah

kelamin ikan dapat dipengaruhi oleh kehidupan sosial ikan yaitu sifat menggerombolnya.

Sifat menggerombol ikan Telmatherina ladigesi jantan yang terlihat lebih agresif di

wilayah litoral yang terbuka juga memengaruhi variasi nisbah kelaminnya (Andriani,

2000). Selain itu, kecenderungan jumlah ikan betina matang gonad yang lebih banyak juga

terlihat pada ikan M. splendida fluviatilis (Milton dan Arthington, 1984), G,

multisquamatus (Coates, 1990), M. arfakensis (Manangkalangi dan Pattiasina, 2005).

Nisbah kelamin ikan pelangi merah yang bervariasi dapat dijelaskan dari tingkah

laku ikan pelangi (Melanotaenia sp.) terutama sifat menggerombolnya dengan ikan

pelangi yang berjenis kelamin sama dan pada habitat yang dikenalnya, yang berkaitan

dengan responnya terhadap ketersediaan makanan dan keberadaan predator (Brown dan

Warburton, 1997; Brown, 2001; Brown 2002; Brown, 2003; Hoare et al., 2004).

Nisbah kelamin ikan pelangi merah yang matang gonad bervariasi tiap bulan

pengamatan dengan ikan betina lebih banyak pada bulan Januari-Februari (1 : 2,5 ; 1: 3).

Kondisi ini menggambarkan satu ekor ikan pelangi merah jantan yang matang gonad pada

bulan tersebut harus membuahi telur-telur dari tiga ekor ikan pelangi merah betina yang

matang gonad yang dikeluarkan ke perairan.

Berdasarkan kelas ukuran, nisbah kelamin ikan pelangi merah relatif memiliki

perbandingan yang seimbang antara ikan jantan dan betina. Ketidakseimbangan nisbah

(48)

(4 : 1). Hal ini menggambarkan pada ukuran tersebut yang juga merupakan ukuran

reproduktif menunjukkan kecenderungan ketidakseimbangan nisbah kelamin yang dapat

berpengaruh pada pembuahan ikan pelangi merah.

4.2.4 Pemijahan

Gonad ikan pelangi merah secara anatomis, testes dan ovarium terdiri atas satu

lobus. Menurut Miller (1984) bahwa testes dan ovarium pada sebagian besar ikan Teleostei

berupa sepasang lobus yang terletak di rongga tubuh. Namun, pada sebagian jenis ikan

lain, testes dan ovarium yang berkembang hanya satu lobus. Lobus tunggal juga ditemukan

pada ikan opudi (Telmatherina antoniae) di Danau Matano (Sumassetiyadi, 2003), ikan

Atherina presbyter di Pulau Canary (Pajuelo dan Lorenzo, 2004), ikan rainbow selebensis

(T. celebensis) di Danau Towuti (Nasution, 2005) dan ikan beseng-beseng (T. ladigesi) di

beberapa sungai di Sulawesi Selatan (Nasution et al., 2006).

Reproduksi ikan pelangi merah di Danau Sentani terjadi saat ikan telah mencapai

tingkat kematangan tertinggi pada ukuran pertama kali matang gonad (L50) pada ikan

jantan 99,5 mm dan betina 99,2 mm. Hal ini menggambarkan kematangan pada ikan

pelangi merah jantan dan betina terjadi pada ukuran yang relatif sama.

Selain itu, pencapaian ukuran pertama kali matang gonad (L50) dapat juga berbeda

pada ikan jantan dan betina seperti yang ditemukan pada ikan Atherinisoma

presbyteroides, A. elongata, A. wallacei, Allaneta mugilloides dan Pranesus ogilby (Ordo

Atheriniformes) yang dicapai pada ukuran 40 – 85 mm (Prince dan Potter, 1983),

Glossolepis multisquamatus betina pada ukuran 63 mm dan jantan 67 mm (Coates, 1990),

Ikan Atherina presbyter jantan mencapai ukuran pertama kali matang gonad (L50) pada

ukuran 65,4 mm dan betina 73,1 mm (Moreno et al., 2005), Ikan bonti-bonti (Paratherina

striata) jantan di Danau Towuti mencapai matang gonad untuk pertama kalinya pada

ukuran 167,8 mm dan betina 146,1 mm (Nasution et al., 2008). Kondisi ini diduga

berkaitan dengan pertumbuhan dan pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan serta

taktik reproduksinya, akibat adanya perbedaan kecepatan tumbuh maka ikan-ikan yang

berasal dari telur yang menetas pada waktu bersamaan bisa mencapai tingkat kematangan

(49)

Pengamatan ukuran ikan pertama kali matang gonad secara berkala dapat dijadikan

indikator adanya tekanan terhadap populasi. Data berkala ukuran pertama kali matang

gonad pada ikan pelangi merah belum tersedia, sehingga belum dapat dijadikan

pembanding akan adanya tekanan terhadap populasi ikan ini, namun ukuran ikan ini telah

menurun dari ukuran yang ditemukan oleh Allen (1991) yaitu panjang baku 120 mm pada

ikan jantan dan ikan betina 100 mm. Menurut Lowe-Mc Connel (1990); Barbieri et al.

(2004) dalam Moresco dan Bemvenuti (2006) ukuran pertama kali matang gonad pada

ikan yang berbeda-beda dan terjadi pada ukuran yang lebih kecil merupakan taktik

reproduksi ikan untuk memulihkan keseimbangan populasinya yang disebabkan oleh

perubahan kondisi, faktor abiotik dan tangkap lebih.

Analisis tingkat kematangan gonad berdasarkan waktu pengamatan ditemukan ikan

pelangi merah jantan dan betina pada TKG IV-V di bulan Desember yang merupakan

musim penghujan. Kondisi serupa juga terjadi pada ikan rainbow selebensis

(Telmatherina celebensis) di Danau Towuti yang mencapai TKG IV pada bulan

Desember (Nasution, 2005). Bila dikaitkan dengan curah hujan daerah setempat, maka

dapat dikatakan bahwa kematangan gonad dan pemijahan ikan pelangi merah pada musim

penghujan di Danau Sentani berkaitan dengan faktor lingkungan yaitu ketersediaan

makanan (Lagler et al., 1977; Wootton, 1990; Pusey et al., 2001; Andreu-Soler et al.,

2006b; Bartulovich et al., 2006; Moresco dan Bemvenuti, 2006). Pada musim hujan,

memberi keuntungan dengan tersedianya makanan yang cukup bagi larva dan anak-anak

ikan untuk sintasan dan perkembangan anak ikan tersebut (Mc Kaye, 1984; Lowe-Mc

Connel, 1991; Vazzoler, 1996 dalam Gomiero dan Braga, 2004). Ikan yang telah

mencapai ukuran pertama kali matang gonad (L50) pada tingkat kematangan gonad yang

tertinggi lalu ditunjang oleh faktor lingkungan seperti suhu termasuk ketersediaan

makanan yang cukup di alam dapat memengaruhi terjadinya pemijahan (Gomiero dan

Braga, 2004).

4.2.5 Musim Pemijahan

Nilai IKG yang dikaitkan dengan jumlah ikan pelangi merah jantan dan betina yang

(50)

dapat menjamin ketersediaan makanan di alam. Ikan rainbow selebensis (Telmatherina

celebensis) di Danau Towuti yang memijah tiga hingga empat kali saat musim penghujan

pada musim reproduksi tahunannya terutama pada bulan November-Februari (Nasution,

2005); ikan Melanotaenia splendida splendida di bagian timur Australia dengan puncak

pemijahan berkaitan dengan meningginya air saat musim hujan (Allen, 1991 dalam

Huword dan Hughes, 2001), Glossolepis multisquamatus di Papua New Guinea memijah

saat musim hujan (Coates, 1990). Ikan tropis yang memijah pada musim penghujan

memberi keuntungan bagi anak-anak ikan untuk mendapatkan makanan dan terlindungi

dari predator. Adaptasi pemijahan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti

ketersediaan makanan, perubahan pada level dan kualitas air, interaksi interspesifik dan

ketersediaan tempat memijah (Wootton, 1992; Harding, 1966; Lowe McConnel, 1969;

Baylis, 1974; McKaye, 1977; Kramer, 1978; Zaret, 1980; Ward dan Samarakoon, 1981

dalam Saliu dan Fagade, 2003; Gomiero et al., 2009; Pacheco dan Da-Silva, 2009).

Nilai rata-rata IKG ikan pelangi merah betina selalu lebih besar daripada IKG ikan

jantan pada TKG yang sama. Hal ini disebabkan pertambahan berat ovarium selalu lebih

besar daripada pertambahan berat testes. Peningkatan berat ovarium berhubungan dengan

proses vitellogenesis dalam perkembangan gonad, sedangkan peningkatan berat testes

berhubungan dengan proses spermatogenesis dan peningkatan volume semen dalam

tubulus seminiferi. Proses tersebut sangat bergantung pada ketersediaan makanan sebagai

sumber energi untuk perkembangan somatik dan reproduksinya. Meningkatnya IKG ikan

pelangi merah sejalan dengan meningkatnya TKG.

Nilai IKG ikan jantan dan betina yang tertinggi ditemukan di stasiun 1, 2 dan 3

(Yakonde). Hal ini dapat dijelaskan dari kondisi kualitas air yang masih baik di Yakonde

serta karakteristik lingkungan seperti keberadaan tumbuhan air yang beragam sehingga

menunjang reproduksi ikan pelangi merah. Tumbuhan air yang beragam menunjang

pemijahan ikan pelangi karena sebagian besar ikan pelangi (Melanotaeniidae) tergolong

phytophylous, dengan meletakkan telurnya pada tumbuhan air yang tenggelam dengan

kedalaman 10 cm dengan bantuan filamen sebagai perekat, seperti yang ditemukan pada

(51)

Allen, 1995 dalam Hurwood dan Hughes, 2001; Beumer, 1979; Ivantsoff et al., 1988

dalam Humphrey et al., 2003).

4.2.6 Pola Pemijahan

Sebaran ukuran diameter telur yang didapati mulai dari yang terkecil hingga yang

terbesar (0,624-7,624 µm) pada tingkat kematangan gonad ikan pelangi merah yang

tertinggi tidak merata. Hal ini menunjukkan bahwa kematangan gonad ikan ini terjadi

tidak serentak atau pemijah bertahap (partial spawner). Pola serupa juga ditemukan pada

ikan M. splendida fluviatilis (Milton dan Arthington, 1984), ikan Cairnsichthys

rhombosomoides, Melanotaenia eachamensis dan M. splendida splendida (Pusey et al.,

2001), ikan beseng-beseng (T. ladigesi) (Andriani, 2000), opudi (T. antoniae)

(Sumassetiyadi, 2003) dan ikan rainbow selebensis (T. celebensis) (Nasution, 2005).

Fekunditas ikan pelangi merah berkisar dari 910 – 3122 butir. Ikan rainbow

selebensis (T. celebensis) di Danau Towuti memiliki fekunditas dengan jumlah berkisar

dari 185 – 1448 butir (Nasution, 2005), Ikan Atherina boyeri di rawa Gomishan berkisar

dari 874 - 2976 butir (Patimar et al., 2009), ikan Melanotaenia eachemensis berkisar

antara 206-2126 butir, M. splendida splendida 370 - 1655 telur (Pusey et al., 2001). Bila

dibandingkan dengan ikan pelangi lainnya fekunditas ikan pelangi merah tergolong tinggi,

diduga ini berkaitan dengan strategi reproduksinya dengan meningkatkan fekunditas

namun menurunkan ukuran diameter telur (Allen dan Cross, 1982; Milton dan Arthington,

1984; Merick dan Schmida, 1984 dalam Coates, 1990).

Fekunditas yang berbeda-beda diantara spesies merefleksikan strategi

reproduksinya. Bahkan dalam spesies, fekunditas bervariasi sebagai hasil dari perbedaan

adaptasi terhadap lingkungannya. Ikan yang berukuran besar menghasilkan fekunditas

yang besar. Pada ukuran yang sama, ikan betina dalam kondisi yang baik menghasilkan

fekunditas yang lebih tinggi. Fekunditas ikan yang baru pertama kali memijah

berkecenderungan kualitas dan kuantitas telurnya masih rendah yang berpengaruh terhadap

rekrutmennya bila dibandingkan dengan induk ikan yang telah berkali-kali memijah

dengan fekunditas yang meningkat serta ukuran telur dan larva yang lebih besar. Kondisi

(52)

kualitas dan kuantitas telur yang dihasilkan (ikan yang tua) (Bagenal, 1957; Wootton,

1984; Sabarido-Rey, 2003 dalam Murua et al., 2003; Froese dan Luna, 2004).

Fekunditas ikan pelangi merah memperlihatkan korelasi yang lemah dengan

panjang total dan berat tubuh, sehingga panjang total dan berat tubuh ikan pelangi merah

betina tidak dapat dijadikan penduga nilai fekunditas ikan pelangi merah. Korelasi yang

lemah antara fekunditas dengan panjang total dan berat tubuh juga ditemukan pada pada

ikan Atherina presbyter (Ordo Atheriniformes) di Pulau Canary (Moreno et al., 2005) dan

ikan rainbow selebensis (T. celenbensis) di Danau Towuti (Nasution, 2005).

4.2.7 Upaya Pelestarian dan Pengembangan Ikan Pelangi Merah

Berdasarkan kajian aspek reproduksi ikan pelangi merah di Danau Sentani, maka

perlu dilakukan upaya-upaya dalam pelestarian dan pengembangan sumberdaya ikan ini.

Konsep pengelolaan sumberdaya perikanan ikan pelangi merah di Danau Sentani antara

lain : penentuan ukuran ikan yang dapat ditangkap, pengaturan ukuran mata jaring yang

dapat dioperasikan, pengaturan musim penangkapan sedangkan upaya pengembangannya

dilakukan dengan cara penangkaran dan pembenihan serta mengembangkan upaya

domestikasi sebagai dasar budidaya ikan pelangi merah.

Penentuan ukuran ikan yang boleh ditangkap berdasarkan pada pertimbangan ikan

telah mampu bereproduksi. Ukuran ikan yang tertangkap pada L50 adalah 99,5 mm untuk

ikan jantan dan 99,2 mm pada ikan betina, sedangkan ukuran ikan terkecil yang tertangkap

88 mm. Berdasarkan ukuran tersebut, maka ukuran ikan yang tertangkap jauh lebih kecil

dari ukuran ikan pertama kali matang gonad pada L50. Kondisi ini dapat mengganggu

rekrutmen ikan pelangi merah di Danau Sentani karena ikan ini belum diberi kesempatan

sekali dalam hidupnya untuk menjamin kelangsungan spesiesnya melalui proses

reproduksi. Berdasarkan hal tersebut, maka ukuran ikan pelangi merah yang ditangkap

sebaiknya berukuran > 99 mm.

Penentuan ukuran ikan pelangi merah yang dapat ditangkap membawa akibat pada

ukuran mata jaring yang digunakan. Ikan pelangi merah yang berukuran 99 mm umumnya

memiliki tinggi tubuh 25 mm. Hal ini mengakibatkan ikan pelangi merah banyak

(53)

sehingga untuk menjaga kelestarian ikan ini, maka ukuran mata jaring yang dioperasikan

sebaiknya berukuran > 1 inci.

Pengaturan musim penangkapan didasarkan pada musim pemijahan dari ikan

pelangi merah di Danau Sentani. Berdasarkan hasil penelitian ini, musim pemijahan ikan

pelangi merah terjadi saat musim penghujan, sehingga pada musim tersebut wilayah danau

yang merupakan area pemijahan dari ikan pelangi merah tidak diperkenankan melakukan

kegiatan penangkapan. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka wilayah danau yang

diusulkan adalah di bagian barat Danau Sentani (Yakonde) dengan pertimbangan bahwa

terdapat ikan pelangi merah matang gonad yang tinggi di wilayah ini, kondisi kualitas air

yang masih baik dan keragaman tumbuhan air yang tinggi.

Upaya-upaya pengembangan ikan pelangi merah di Danau Sentani yang dapat

dilakukan untuk menjamin ketersediaannya di habitat meliputi : kegiatan penangkaran dan

pembenihannya, pengembangan budidaya ikan ini dilakukan untuk menjamin ketersediaan

ikan pelangi merah yang kontinyu untuk memenuhi kebutuhan komersil sebagai ikan hias.

Selain upaya penangkaran tersebut, juga dikembangkan upaya domestikasi ikan pelangi

merah sebagai dasar pengembangan budidaya ikan ini yang dimulai dari pembenihan

(54)

5 SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan

Simpulan yang dapat dikemukakan dari hasil penelitian mengenai biologi

reproduksi ikan pelangi merah di Danau Sentani adalah :

1. Nisbah kelamin ikan pelangi merah yang matang gonad di Danau Sentani

menunjukkan kecenderungan jumlah ikan betina lebih banyak pada bulan

Januari-Februari (1 : 2,5; 1 : 3).

2. Ukuran pertama kali matang gonad (L50) ikan pelangi merah jantan 99,5 mm dan

betina 99,2 mm.

3. Fekunditas berkisar 910-3122 butir; memiliki korelasi yang lemah dengan panjang

total dan berat tubuh ikan.

4. Pemijahan ikan pelangi merah terjadi pada musim hujan, ikan ini tergolong

pemijah bertahap (partial spawner) dan iteroparous.

5.2 Saran

1. Perlu dilakukan upaya domestikasi ikan pelangi merah di Danau Sentani sebagai

langkah awal budidaya ikan ini untuk mencegah kepunahannya.

2. Perlu penelitian lebih lanjut yang menyeluruh terkait dengan ekosistem di Danau

Figur

Gambar 1. Ikan Pelangi Merah ( Glossolepis incisus)
Gambar 1 Ikan Pelangi Merah Glossolepis incisus . View in document p.17
Tabel 1. Pengukuran Kualitas Air
Tabel 1 Pengukuran Kualitas Air . View in document p.24
Tabel 2. Kisaran parameter kualitas air di Danau Sentani selama penelitian
Tabel 2 Kisaran parameter kualitas air di Danau Sentani selama penelitian . View in document p.29
Gambar 2. Grafik jumlah curah hujan di Jayapura
Gambar 2 Grafik jumlah curah hujan di Jayapura . View in document p.31
Tabel 3. Jumlah hasil tangkapan, kisaran panjang dan berat ikan pelangi merah   (Glossolepis incisus) tiap bulan pengamatan
Tabel 3 Jumlah hasil tangkapan kisaran panjang dan berat ikan pelangi merah Glossolepis incisus tiap bulan pengamatan . View in document p.32
Gambar 3. Sebaran ikkan pelangi mmerah berdassarkan kelas ukuran panjjang total
Gambar 3 Sebaran ikkan pelangi mmerah berdassarkan kelas ukuran panjjang total . View in document p.33
Gambar 4. Hubungan panjang berat ikan pelangi merah di Danau Sentani
Gambar 4 Hubungan panjang berat ikan pelangi merah di Danau Sentani . View in document p.34
Gambar 5. Faktor kondisi  ikan pelangi merah matang gonad (TKG IV-V)
Gambar 5 Faktor kondisi ikan pelangi merah matang gonad TKG IV V . View in document p.35
Tabel 5. Kisaran faktor kondisi  ikan pelangi merah selama penelitian
Tabel 5 Kisaran faktor kondisi ikan pelangi merah selama penelitian . View in document p.35
Tabel 8. Nisbah kelamin berdasarkan kelas panjang total
Tabel 8 Nisbah kelamin berdasarkan kelas panjang total . View in document p.36
Tabel 7. Nisbah kelamin ikan pelangi merah berdasarkan bulan pengamatan
Tabel 7 Nisbah kelamin ikan pelangi merah berdasarkan bulan pengamatan . View in document p.36
Tabel 9. Nisbah kelamin ikan pelangi merah matang gonad (TKG IV-V) pada tiap bulan   pengamatan
Tabel 9 Nisbah kelamin ikan pelangi merah matang gonad TKG IV V pada tiap bulan pengamatan . View in document p.37
Tabel 10. Nisbah kelamin ikan pelangi merah matang gonad pada tiap stasiun penelitian
Tabel 10 Nisbah kelamin ikan pelangi merah matang gonad pada tiap stasiun penelitian . View in document p.37
Gambar 6. Tingkat kematangan gonad berdasarkan waktu
Gambar 6 Tingkat kematangan gonad berdasarkan waktu . View in document p.38
Gambar 8. Gonad dan jaringan gonad ikan pelangi merah betina  pada TKG II-V    (skala bar : 5 mm; 5 µm; perbesaran 40 x)
Gambar 8 Gonad dan jaringan gonad ikan pelangi merah betina pada TKG II V skala bar 5 mm 5 m perbesaran 40 x . View in document p.40
Tabel 13. Indeks keematangan gonad ikan peelangi merahh selama pennelitian
Tabel 13 Indeks keematangan gonad ikan peelangi merahh selama pennelitian . View in document p.42
Gambar 10. Indeks Kematangan Gonad berdasarkan TKG
Gambar 10 Indeks Kematangan Gonad berdasarkan TKG . View in document p.43
Tabel 14. Indeks Kematangan Gonad Ikan Pelangi Merah Berdasarkan Stasiun
Tabel 14 Indeks Kematangan Gonad Ikan Pelangi Merah Berdasarkan Stasiun . View in document p.43
Gambar 12. Sebaran diameter telur ikan pelangi merah yang tertangkap di Danau Sentani
Gambar 12 Sebaran diameter telur ikan pelangi merah yang tertangkap di Danau Sentani . View in document p.45

Referensi

Memperbarui...