Perbanyakan Bibit Kemenyan Sumatrana (Styrax benzoin Dryander) Secara Kultur Jaringan Tanaman

Teks penuh

(1)

RINGKASAN

Perbanyakan bibit kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) secara kultur jaringan tanaman dijelaskan dalam laporan hasil penelitian ini. Pelestarian dan peningkatan kualitas tanaman hutan perlu mendapat perhatian, terutama terhadap tanaman yang dapat menghasilkan produk non-kayu yang memiliki nilai ekonomi tinggi seperti kemenyan

sumatrana (Styrax benzoin Dryander) yang menghasilkan getah (kemenyan) yang

mengandung senyawa bioaktif sebagai bahan baku obat. Penelitian bertujuan untuk

mendapatkan teknik regenerasi yang efektif untuk perbanyakan tanaman Kemenyan

Sumatrana (Styrax benzoin Dryander) sebagai usaha untuk menghasilkan bibit kemenyan dalam jumlah banyak dan seragam, sehingga dapat memenuhi kebutuhan bibit bagi petani di daerah dekat hutan rakyat dan untuk keperluan bibit tanaman untuk hutan nasional.

Penelitian bersifat eksperimental, dengan kombinasi perlakuan percobaan dirancang secara acak faktorial dengan 6 ulangan setiap perlakuan. Kombinasi perlakuan diantaranya adalah media yang mengandung dan tanpa zat pengatur tumbuh. Prosedur penelitian terdiri atas persiapan bahan tanaman, penyediaan mendium kultur, sterilisasi eksplan dan penanaman eksplan, regenerasi kalus, dan aklimatisasi tanaman. Bahan baku untuk kultur jaringan tanaman adalah pohon kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) berkualitas baik dipilih dari areal hutan di Tapanuli Utara. Penelitian meliputi beberapa aspek perbanyakan bibit tanaman. kemenyan sumatrana (Styrox benzoin Dryander) secara kultur jaringan tanaman, untuk mendapatkan teknik regenerasi yang efektif untuk perbanyakan tanaman kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander), dan untuk mengetahui kondisi optimum untuk pertumbuhan dan perkembangan bibit kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) yang diperbanyak secara teknik in vitro melalui kultur jaringan tanaman.

Dari hasil penelitian diperoleh setelah empat minggu terlihat kalus mulai terbentuk dan membesar untuk beberapa kelompok perlakuan, dan dilanjutkan pada pertumbuhan kalus di dalam media kultur. Kalus yang bertumbuh terlihat bervariasi. Pertumbuhan kalus kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) dipengaruhi oleh zat pengatur tumbuh 2,4-D dan BAP yang ditambahkan ke dalam media kultur. Persentase kultur berkalus bervariasi, yaitu 50-83%, di mana persentase tertinggi ditemukan pada kelompok DIB0 dan D2B0 masing-masing 83%, berat kalus tertinggi diperoleh pada kelompok perlakuan D3B3 dengan rataan berat kalus 0.319 g. Analisis statistik sidik ragam menunjukkan bahwa zat pengatur tumbuh yang ditambahkan ke dalam media sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan kalus kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) (Fhitung 27.39 > Fcrit 2.44) pada taraf signifikansi 0,01.

(2)
(3)

SUMMARY

Propagation of benzoin sumatrana (Styrax benzoin Dryander) by using of plant tissue culture is explained in this research report. The afford for sustainability and to improve the quality of production of forest plants is need, especially for the plants that specified as non-timber plants that have high economic value such as benzoin sumatrana (Styrax benzoin Dryander) that could produce benzoin which is containing of bioactive as raw materials for medicine. The aim of the experiment is to obtain an effective regeneration method as affords to produce styrac benzoin seedling that are used as a source of seedling to be planted in the forest or industrial forest.

The study is experimentally with treatment combination in factorial with 6 replicate. The treatment combinations are including the mediums which in the absence and in the presence of growth regulators. The experimental steps are consists of preparation of plant, culture medium, explants sterilization and explants inoculation, callus regeneration, and acclimatization. The raw materials for the propagation are a good quality benzoin sumatrana

(Styrax benzoin Dryander) that are selected from the forest in North Tapanuli. The study

consists of propagation aspects that is used to obtain an effective regeneration technique for the production of good quality seedling of benzoin sumatrana (Styrax benzoin Dryander), and also to find optimum conditions for the growth and development of the seedling.

The results have been obtained that the callus are grown after four weeks of incubation, where the callus is starting to become bigger for some group treatments, and followed by the grown of the callus in the culture medium. The calluses are grown in various formations. The grown of the callus is affected by the grown stimulator 2,4-D and BAP that were added into the culture medium. The percentage of the callus grown are varied which are found about 50-83%, where the highest percentage was found in D1B0 and D2B0 (83%) and the heaviest callust are observed in D3B3 where the average callus is 0.319 g. The growth regulators influence callus growth of benzoin sumatrana (Styrax benzoin Dryander) (F 27.39 >F(0.1) 2.44).

The percentage of the culture to grow become shots was found in high intensity. The variation in the treatments influenced the development of the culture to become shots, where the highest intensity of shot to grow is obtained in D1B3 where the average callus is 2.0. The growth regulators influence the growth of the shot of benzoin sumatrana (Styrax benzoin Dryander) (F 1.88 >F(0.1) 2.44). Supplementing the growth regulator 2,4-D and BAP into the MS basal medium are also affecting the growth of the roots, where the highest intensity of root to grow is obtained in D3B0, the average is 5.5. The growth regulators influence the growth of the roots of the benzoin sumatrana (Styrox benzoin Dryander) (F 8.08 >F(0.1) 2.44).

(4)

DAFTAR ISI

1.1. Latar Belakang Masalah 1

12. Ruang Lingkup Penelitian 2

1.3. Perumusan Masalah 3

1.4. Pembatasan Masalah 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5

2.1. Latar Belakang Penelitian 5

2.2. Kemenyan Sumatrana (Styrax benzoin Dryander) 8

2.3. Propagasi Secara Kultur Jaringan Tanaman 9

2.4. Propagasi Kemenyan Sumatrana (Styrax benzoin Dryander) 10

BAB II TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 13

3.1. Tujuan Penelitian 13

3.2. Manfaat Penelitian Tahap Pertama 13

BAB IV METODE PENELITIAN 15

4.1. Rancangan Penelitian 15

4.2. Prosedur Penelitian 15

42.1. Persiapan Bahan Tanaman Kemenyan Sumatrana 16

4.2.2. Penyediaan Media Kultur 17

42.3. Sterilisasi Eksplan dan Penanaman Eksplan 18

42.4. Regenerasi tanaman 18

4.3. Organisasi dan Analisis Data 19

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 20

5.1. Induksi Kalus Kemenyan Sumatrana 20

52. Pengaruh Media Terhadap Pertumbuhan Kalus 22

5.3. Perkembangan Tunas Kemenyan Sumatrana (Styrax benzoin Dryander) 25

5.3. Pengaruh Media Terhadap Pertumbuhan Akar Kemenyan Sumatrana 28

5.4. Regenerasi Kalus Styrax benzoin Dryander 30

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 31

6.1. Kesimpulan 31

62. Saran 33

(5)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 4.1. Pohon kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander)

berkualitas baik dan masih produktif yang tumbuh di hutan

rakyat Tapanuli Utara. 16

Gambar 4.2. Pucuk kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) yang

diambil daun pertama membuka untuk dijadikan sebagai

sumber eksplan dalam kultur jaringan tanaman. 17

Gambar 5.1. Bentuk kalus kultur kemenyan sumatrana (Styrax benzoin

Dryander) pada minggu ke dua belas 22

Gambar 5.2. Pertumbuhan dan perkembangan tunas di kemenyan

sumatrana (Styrax benzoin Dryander) dalam media kultur

(6)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 4.1. Rancangan percobaan perbanyakan kemenyan Sumatrana (Styrax

benzoin Dryander) secara kultur jaringan tanaman 15

Tabel 5.1. Persentase kultur kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander)

yang hidup di dalam media kultur dengan variasi perlakuan 21

Tabe15.2.Pertumbuhan kalus kultur kemenyan sumatrana (Styrax benzoin

Dryander) pada media MS yang diperkaya dengan berbagai jenis

zat pengatur tumbuh 23

Tabe15.3.Analisis sidik ragam pertumbuhan kalus kultur kemenyan

sumatrana (Styrax benzoin Dryander) pada media MS yang

diperkaya dengan berbagai jenis zat pengatur tumbuh (Data pada

Tabel 5.2) 24

Tabel 5.4. Pertumbuhan tunas kultur kemenyan sumatrana (Styrax benzoin

Dryander) pada media MS yang diperkaya dengan berbagai jenis

zat pengatur tumbuh 25

Tabe15.5.Analisis sidik ragam pertumbuhan tunas kemenyan sumatrana

(Styrax benzoin Dryander) pada media MS yang diperkaya dengan

berbagai jenis zat pengatur tumbuh (Data hasil pada Tabel 5.4) 27

Tabel 5.6. Pertumbuhan akar kultur kemenyan sumatrana (Styrax benzoin

Dryander) pada media MS yang diperkaya dengan berbagai jenis

zat pengatur tunibuh 28

Tabe15.7.Analisis sidik ragam pertumbuhan akar kemenyan sumatrana

(Styrax benzoin Dryander) pada media MS yang diperkaya dengan

(7)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Pelestarian dan peningkatan kualitas tanaman hutan perlu mendapat perhatian, terutama

terhadap tanaman yang dapat menghasilkan produk non-kayu yang memiliki nilai ekonomi

tinggi. Salah satu tanaman hutan yang sangat penting untuk dikembangkan dan

dibudidayakan adalah kemenyan Sumatrana (Styrax Benzoin Dryander) karena menghasilkan

getah kulit yang disebut kemenyan yang mengandung senyawa bioaktif sebagai bahan baku

obat. Kemenyan Sumatrana mengandung senyawa bioaktif yang dapat digunakan sebagai

bahan baku obat (Sianipar dan Simanjuntak, 2000). Tanaman ini tumbuh dengan baik di

hutan Sumatera Utara, khususnya di tiga kabupaten: Tapanuli Utara, Dairi dan Toba Samosir.

Kemenyan merupakan produk hasil hutan non kayu yang khas dari Tapanuli Utara

Sumatera Utara. Getah kemenyan bukan hanya dikonsumsi secara lokal, akan tetapi sudah

merupakan komoditas ekspor dari Sumatera Utara. Banyak masyarakat di sekitar hutan di

Tapanuli Utara yang menggantungkan hidup dari getah kemenyaan, yang dijual dalam

bentuk bahan baku mentah. Walaupun kemenyan sudah termasuk komoditas unggulan dari

Tapanuli Utara, akan tetapi budidaya kemenyan belum dilakukan dengan baik. Getah

kemenyan yang diproduksi dari Tapanuli Utara masih berasal dari kemenyan yang tumbuh

secara liar di hutan. Budidaya kemenyan sumatrana dalam jumlah banyak sulit untuk

dilakukan karena kendala dalam penyediaan bibit. Berdasarkan hasil wawancara peneliti

dengan masyarakat di sekitar hutan diketahui bahwa bibit pohon kemenyan yang tumbuh di

(8)

2

sangat sedikit bahkan tidak tumbuh sama sekali, karena kulit biji yang keras dan

ketersediaannya sangat sedikit. Hal ini menyebabkan usaha budidaya kemenyan menjadi

sulit dilakukan. Dengan demikian bila budidaya kemenyan tidak dilakukan, diperkirakan

tanaman ini akan mengalami kepunahan.

Permasalahan besar yang dihadapi dalam pemuliaan tanaman kemenyan adalah sulit

mendapatkan bibit yang tersedia. Penyediaan bibit kemenyan pada umumnya dilakukan

secara konvensional melalui perbanyakan generatif dengan biji yang tumbuh secara alami,

sehingga penanaman kemenyan dalam jumlah besar di hutan tidak memungkinkan untuk

dilakukan karena kesulitan dalam penyediaan bibit. Sebagai alternatif terbaik untuk

memenuhi penyediaan bibit kemenyan dalam jumlah besar harus dilakukan melalui teknik in

vitro, karena dapat memproduksi bibit dalam jumlah banyak dan seragam dalam waktu relatif

singkat. Hal ini yang mendorong peneliti melakukan penelitian sebagai upaya perbanyakan

tanaman kemenyan sumatrana (Styrax benzoin dryander) melalui kultur daun pucuk, sebagai

langkah awal dalam usaha penyediaan bibit kemenyan.

1.2. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini diarahkan pada usaha perbanyakan bibit kemenyan sumatrana (Styrax

benzoin Dryander) secara kultur jaringan tanaman untuk menghasilkan bibit kemenyan.

Permasalahan besar yang dihadapi dalam pemuliaan tanaman kemenyan adalah sulit

mendapatkan bibit kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) yang tersedia. Pada

umumnya penyediaan bibit kemenyan yang dilakukan oleh petani kemenyan adalah secara

konvensional melalui perbanyakan generatif dengan biji yang tumbuh secara alami, sehingga

penanaman kemenyan dalam jumlah besar di hutan tidak memungkinkan untuk dilakukan

(9)

rakyat dan hutan industri dalam areal luas sangat tidak memungkinkan untuk dilakukan.

Sebagai alternatif terbaik untuk memenuhi penyediaan bibit kemenyan dalam jumlah besar

harus dilakukan melalui teknik in vitro, karena dapat memproduksi bibit dalam jumlah

banyak dan seragam dalam waktu relatif singkat. Hal ini yang mendorong peneliti

melakukan penelitian perbanyakan bibit kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander)

melalui kultur jaringan tanaman. Hasil penelitian ini sangat berguna untuk mengatasi

keterbatasan penyediaan bibit kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) yang selama

ini hanya dapat diperoleh masyarakat dari hutan yang tumbuh secara liar karena bibit

tanaman kemenyan sangat sulit ditumbuhkan dari biji secara budi daya tanaman. Teknik

penyediaan bibit seperti ini sangat sulit menyediakan benih yang seragam dalam jumlah

banyak, sehingga tidak memungkinkan menanam kemenyan pada area( luas di hutan lindung

yang sangat luas. Teknik kultur jaringan tanaman merupakan cara terbaik dalam mengatasi

permasalahan dalam penyediaan bibit kemenyan.

1.3. Perumusan Masalah

Untuk memberikan arahan spesifik dalam penelitian ini maka dibuat perumusan

masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana teknik kultur jaringan yang baik untuk perbanyakan tanaman kemenyan

sumatrana (Styrax benzoin Dryander) sebagai usaha untuk penyediaan bibit kemenyan

sumatrana secara kultur jaringan tanaman dalam jumlah banyak dengan kualitas yang

seragam.

2. Bagaimana teknik regenerasi yang efektif untuk perbanyakan tanaman kemenyan

(10)

3. Faktor apa saja yang perlu diperhatikan dalam usaha perbanyakan kemenyan sumatrana

(Styrax benzoin Dryander) agar diperoleh kondisi optimum untuk pertumbuhan dan

perkembangan bibit kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) yang diperbanyak

secara teknik in vitro melalui kultur jaringan tanaman.

1.4. Pembatasan Masalah

Masalah penelitian dikhususkan terhadap upaya perbanyakan tanaman kemenyan

sumatrana (Styrax benzoin Dryander) sebagai upaya untuk menyediakan bibit kemenyan

sumatrana (Styrax benzoin Dryander) secara kultur jaringan tanaman. Permasalahan akan

dibatasi pada studi teknik regenerasi yang efektif untuk perbanyakan tanaman kemenyan

sumatrana (Styrax benzoin Dryander) sebagai langkah utama dalam mendapatkan kondisi

optimum untuk pertumbuhan dan perkembangan bibit kemenyan sumatrana (Styraxbenzoin

(11)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Latar Belakang Penelitian

Pelestarian dan peningkatan kualitas tanaman hutan perlu mendapat perhatian, terutama

terhadap tanaman yang dapat mengasilkan produk non-kayu yang memiliki nilai ekonomi

tinggi. Salah satu tanaman hutan yang sangat penting untuk dikembangkan dan

dibudidayakan adalah kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) karena mempunyai

nilai ekonomi tinggi, yaitu tumbuhan yang penghasil getah kulit yang disebut kemenyan.

Kemenyan sumatrana mengandung senyawa bioaktif yang dapat digunakan sebagai bahan

baku obat (Sianipar dan Simanjuntak, 2000). Tanaman ini tumbuh dengan baik di hutan

Sumatera Utara, khususnya di lima kabupaten seperti Kabupaten Tapanuli Utara (Taput),

Kabupaten Dairi, Kabupaten Toba dan Samosir (Tobasa), Kabupaten samosir, dan

Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas). Beberapa Kabupaten lain masih

dimungkinkan untuk tempat tumbuh tanaman kemenyan sumatrana (Styrax benzoin

Dryander), namun tanaman kemenyan belum dibudidayakan melalui hutan-hutan rakyat

maupun tanaman industri.

Bahan baku sebagai dari tanaman kemenyan yang dikenal dengan nama getah

kemenyan merupakan produk hasil hutan non-kayu dari Provinsi Sumatera Utara. Getah

kemenyan sangat potensil sebagai produk unggulan karena begitu diperlukan sebagai bahan

baku obat maupun kebutuhan lain. Getah kemenyan bukan hanya dikonsumsi secara lokal,

akan tetapi sudah merupakan komoditas ekspor andalan dari Sumatera Utara (BPS, 2003).

Banyak penduduk di sekitar hutan di lima kabupaten di atas (Taput, Dairi, Tobasa, Samosir,

dan Humbahas) yang menggantungkan hidup dari getah kemenyaan, pada umumnya masih

dijual dalam bentuk bahan baku mentah. Walaupun kemenyan sudah termasuk komoditas

unggulan dari Taput, Dairi, Tobasa, Samosir, dan Humbahas, akan tetapi budidaya kemenyan

belum dilakukan dengan baik. Getah kemenyan yang diproduksi dari Propinsi Sumatera Utara

masih berasal dari kemenyan yang tumbuh secara liar di hutan. Budidaya kemenyan

sumatrana dalam jumlah banyak sulit untuk dilakukan karena kendala dalam penyediaan bibit.

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan masyarakat secara sampling di beberapa

(12)

bibit pohon kemenyan yang tumbuh di dalam hutan diperoleh dari biji yang tumbuh liar.

Usaha untuk menghasilkan bibit tanaman kemenyan melalui biji sering dicoba masyarakat,

akan tetapi, jumlah biji yang dapat tumbuh sangat sedikit bahkan tidak tumbuh sama sekali

karena kulit biji yang keras dan sulitnya mendapatkan media yang dapat menumbuhkan biji

kemenyan di persamaian. Hal ini menyebabkan usaha budidaya kemenyan menjadi sulit

dilakukan, terutama untuk kebutuhan hutan rakyat dan hutan industri lahan luas. Dengan

demikian bila budidaya kemenyan tidak dilakukan dan bila kebutuhan bibit tidak dapat diatasi

maka diperkirakan dalam waktu tidak lama tanaman ini akan mengalami kepunahan.

Usaha untuk menumbuhkan biji kemenyan sebagai bibit untuk digunakan sumber

eksplan dalam kultur jaringan telah dilakukan oleh peneliti (Nurwahyuni, 2002). Tujuan

utama dilakukan menumbuhan bibit dari biji kemenyan ini untuk mengatasi sumber

kontaminasi pada penelitian tahap awal, karena eksplan yang digunakan langsung dari hutan

sangat sulit untuk bebas dari kontaminasi jamur dan bakteri walau sudah dilakukan sterilisasi

yang optimum. Akan tetapi, dari beberapa cara yang telah dilakukan untuk menumbuhkan

bibit dari biji kemenyan, sesuai dengan saran masyarakat petani dan dengan pertimbangan

ilmiah, belum ada yang berhasil. Hasil ini menguatkan pernyataan masyarakat setempat

bahwa memperoleh bibit kemenyan melalui biji (di luar yang tumbuh secara liar) sangat sulit

untuk dilakukan, dari berbagai usaha yang dilakukan tersebut terbukti bahwa sangat sulit

untuk menumbuhkan biji kemenyan dalam lahan persamaian Kenyataan ini semakin

menambah tantangan yang mendorong peneliti untuk berusaha untuk memperbanyak tanaman

kemenyan melalui kultur jaringan tanaman.

Permasalahan besar yang dihadapi dalam pemuliaan tanaman kemenyan adalah sulit

mendapatkan bibit yang tersedia. Penyediaan bibit kemenyan pada umumnya dilakukan

secara konvensional melalui perbanyakan generatif dengan biji yang tumbuh secara alami,

sehingga penanaman kemenyan dalam jumiah besar dan seragam di hutan tidak

memungkinkan untuk dilakukan karena keterbatasan jumlah bibit yang tersedia. Dengan

demikian, penyediaan bibit untuk hutan rakyat dan hutan industri dalam areal luas sangat

tidak memungkinkan untuk dilakukan. Sebagai altematif terbaik untuk memenuhi penyediaan

bibit kemenyan dalam jumlah besar harus dilakukan melalui teknik in vitro, karena dapat

(13)

yang mendorong peneliti melakukan penelitian lanjutan perbanyakan bibit kemenyan

sumatrana (Styrax benzoin Dryander) secara kultur jaringan tanaman sebagai usaha

penyediaan bibit kemenyan dalam jumlah yang besar dengan kualitas bibit yang baik dan

seragam.

Penelitian awal dalam perbanyakan Kemenyan Sumatrana (Styrax benzoin dryander)

melalui kultur pucuk telah dilakukan oleh peneliti (Nurwahyuni, 2002). Hasil penelitian

menunjukkan tahapan yang menggembirakan. Beberapa hasil penelitian ini yaitu diperoleh

pengaruh pemberian zat tumbuh terhadap pertumbuhan eksplan kultur daun pucuk di dalam

media kultur. Kemampuan jaringan tanaman untuk membentuk kalus sangat dipengaruhi oleh

konsentrasi zat pengatur tumbuh kinetin dan -napthaleneacetic acid (NAA). Dua jenis atau

tipe pertumbuhan kalus, yaitu membentuk kalus dan kalus berakar. Penambahan kinetin di

dalam media basal Murashige dan Skoog (MS) sangat mempengaruhi terhadap pertumbuhan

eksplan. Semakin tinggi kadar kinetin di dalam media, kualitas eksplan semakin baik, yaitu

dihasilkan kalus bertekstur padat, berwarna hijau, dan sebagian kecil friable berwarna putih.

Studi lanjutan masih perlu dilakukan untuk mencari media yang tepat dalam menumbuhkan

eksplan menjadi bibit tanaman kemenyan sumatrana (Styraxbenzoin Dryander), yaitu melalui

eksplan dan variasi zat pengatur tumbuh lain yang sesuai untuk regenerasi kemenyan.

2.2. Kemenyan Sumatrana (Styrax benzoin Dryander)

Usaha pelestarian tanaman penghasil senyawa bioaktif, terutama tanaman penghasil

obat, di Indonesia perlu mendapat perhatian karena memiliki nilai ekonomi tinggi. Salah satu

tanaman yang sangat potensil adalah tanaman kemenyan sumatrana (Styrax benzoin

Dryander). Tanaman kemenyan termasuk Divisio Spermatophyta, sub Divisio Angiospermae,

klass Dicotyledonae, Ordo Ebenales, Familia Styraceae, Genus Styrax, dan Spesies Styrax

benzoin Dryander. Kemenyan tumbuh dengan baik di hutan di Sumatera Utara dan

merupakan salah satu sumber penghasilan masyarakat di beberapa desa, yang dikenal dengan

getah kemenyan. Pemanfaatan kemenyan telah dikenal luas di Indonesia, terutama sebagai

bahan obat, baik sebagai obat tradisionil maupun untuk industri rokok, batik dan upacara

ritual. Lebih dari itu, tanaman kemenyan sebagai golongan styrax mengandung senyawa

(14)

dkk 1995; Bacchi dan Sertie, 1994; Jiang, dkk. 1979; Ulubelen dan Goren, 1973). Kemenyan

sumatrana (Styraxbenzoin Dryander) memiliki banyak senyawa bioaktif seperti asam sinamat

dan turunannya, yaitu senyawa kimia yang dapat digunakan sebagai bahan baku untuk

industri kosmetika dan obat-obatan (Sianipar dan Simanjuntak, 2000; Luo, dkk 1996).

Pemanfaatan tumbuhan sebagai sumber senyawa bioaktif telah dikenal luas di

Indonesia, terutama sebagai bahan obat, baik sebagai obat tradisionil maupun yang dikemas

dalam bentuk obat modern. Walaupun tanaman kemenyan memiliki potensi ekonomi yang

cukup tinggi, akan tetapi, usaha budidaya kemenyan belum dapat dilakukan karena kesulitan

dalam penyediaan bibit tanaman, sehingga masyarakat mengalami kesulitan di dalam

menanam kemenyan dalam areal luas seperti pada areal hutan rakyat dan hutan industri. Di

samping itu, apabila penanaman kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) tidak

digalakkan maka diperkirakan suatu saat tanaman kemenyan akan punah dari hutan di

Sumatera Utara.

2.3. Propagasi Secara Kultur Jaringan Tanaman

Perbanyakan tanaman secara kultur jaringan tanaman sangat tepat di dalam penyediaan

bibit dalam jumlah besar, seragam dan dengan kualitas baik. Teknik kultur jaringan juga

termasuk cara yang sangat baik untuk perbaikan kualitas tanaman, khususnya tanaman yang

potensil seperti tanaman-tanaman hortikultura dan tanaman hutan. Teknik kultur jaringan

tanaman telah banyak digunakan untuk perbanyakan tanaman dikotil yang memiliki nilai

ekonomi (Chaturvedi, dkk, 1982). Dalam kultur jaringan tanaman, bahan tanaman (eksplan)

yang digunakan adalah bagian biji, benih, helai daun, tangkai daun, ruas batang, tunas aksilar,

dan meristem apikal, semuanya ini diambil dari bahan yang masih muda karena jaringan

tersebut mengandung sel-sel yang aktif membelah atau sel meristematik (Ling dan Iwamasa,

1997; Balch dan Alejo, 1997). Eksplan ditanam pada media MS yang mengandung

garam-garam mineral, asam-asam amino, vitamin, sumber karbon dan energi (gula) dan zat

pengatur tumbuh (ZPT) dengan komposisi tertentu (Murashige dan Skoog, 1962; Murashige

dan Tucker, 1969).

Ada beberapa jenis ZPT yang digunakan dalam kultur jaringan tanaman, seperti auksin

(15)

(IAA), IBA, dll.), dan sitokinin (benzyladenin (BA), kinetin (KI), dan zeatin (Zl)). Respon

tumbuhan terhadap ZPT yang ditambahkan ke dalam media berbeda-beda, tergantung pada

jenis tanaman yang dikultur. Efisiensi dan efektifitas dari hormon pertumbuhan juga berbeda

terhadap jenis tanaman yang berbeda. Sebagai contoh, kinetin sangat efektif untuk kultur

buku batang (Carimi, dkk., 1995), sementara sitokinin konsentrasi rendah dapat memacu

perkembangan tunas sedangkan konsentrasi tinggi merangsang penggandaan tunas

(Nurwahyuni, 2004). Auksin pada konsentrasi rendah dapat memacu pertumbuhan akar dan

pada konsentrasi tinggi dapat merangsang pertumbuhan kalus (Magoon dan Singh, 1995;

Goh, dkk, 1995). Dengan demikian, pengaturan zat pengatur tumbuh di dalam media sangat

menentukan terhadap keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan kultur. Dalam

perbanyakan tanaman dibutuhkan pemilihan perbandingan konsentrasi auksin, sitokinin dan

suplemen yang tepat, karena hal ini akan menentukan dalam derajat keberhasilan

pembentukan tanaman baru (Nurwahyuni dan Tjondronegoro, 1994).

2.4. Propagasi Kemenyan Sumatrana (Styrax benzoin Dryander)

Perbanyakan tanaman secara in vitro pada akhir-akhir ini banyak dilakukan, terutama

dalam usaha pemenuhan bibit dalam jumlah yang besar dengan kualitas bibit dan produksi

yang relatif sama. Teknik kultur jaringan memiliki keuntungan karena dapat menghasilkan

bibit klonal secara massal dalam waktu yang singkat, dapat meningkatkan kualitas tanaman

karena menghasilkan tanaman seragam dan tingkat kesehatan yang lebih baik. Sepanjang

penelusuran pustaka yang sudah dilakukan oleh peneliti, belum ada usaha yang dilakukan

untuk perbanyakan tanaman kemenyan sumatrana secara kultur jaringan tanaman. Bahkan

hasil telusur pustaka lebih jauh telah dilakukan tetapi menunjukkan belum pernah dilakukan

usaha kultur jaringan tanaman terhadap tanaman golongan styrax. Hal ini mungkin

disebabkan karena belum banyaknya penelitian yang telah dilakukan terhadap potensi

tanaman tingkat tinggi golongan Styrax. Sebagai acuan perbanyakan kemenyan sumatrana

yang dilakukan dalam penelitian ini digunakan pendekatan teknik in vitro terhadap tanaman

tingkat tinggi seperti yang dilakukan pada tanaman jeruk manis (Nurwahyuni, 2003;

Nurwahyuni, 2001x; Grosser, dkk, 1996)) dan tanaman kopi arabika (Nurwahyuni, 2001b,

(16)

untuk kultur jaringan tanaman tingkat tinggi seperti diantaranya organ sumber eksplan, umur

organ, musim, ukuran eksplan, dan kualitas tanaman induk (Moreira-Dias, dkk. 2000;

Hidaka, 1984; Barlass dan Skene, 1982). Sumber eksplan adalah bagian vegetatif tanaman

karena mudah diperoleh. Faktor-faktor ini akan menjadi perhatian dalam kultur jaringan

tanaman kemenyan yang dilakukan dalam penelitian ini.

Penelitian awal dalam usaha perbanyakan tanaman Kemenyan Sumatrana (Styrax

benzoin dryander) melalui kultur pucuk telah dilakukan oleh peneliti (Nurwahyuni, 2002a).

Hasil penelitian ini menunjukkan tahapan yang menggembirakan, yaitu sebagai langkah awal

dalam usaha penyediaan bibit kemenyan menggunakan teknik kultur jaringan tanaman.

Tahapan penelitian sebagai usaha perbanyakan tanaman kemenyan sumatrana (Styrax benzoin

Dryander) secara kultur jaringan masih belum mencapai tahapan perbanyakan tanaman, akan

tetapi langkah yang sudah berhasil dilakukan sudah berada pada arah yang tepat. Sebagai

bagian dari tahapan awal penelitian ini, peneliti telah melakukan berbagai penelitian sebagai

usaha untuk perbanyakan bibit kemenyan sumatrana secara kultur jaringan tanaman

(Nurwahyuni, 2002). Perbanyakan kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) melalui

kultur daun pucuk juga telah dilakukan (Nurwahyuni, 2004) sebagai upaya mendapatkan

kalus dengan kualitas lebih baik untuk selanjutnya diregenerasi menjadi planlet dan tanaman.

Dari hasil penelitian diketahui bahwa kemampuan jaringan tanaman kemenyan untuk

membentuk kalus sangat dipengaruhi oleh konsentrasi kinetin dan NAA, yaitu ditunjukkan

dari berat basah kalus yang dihasilkan di dalam media kultur. Berat basah kalus yang

dihasilkan semakin meningkat dengan meningkatnya kadar kinetin dan NAA di dalam media

kultur (Nurwahyuni, 2005a). Propagasi in vitro tanaman kemenyan sumatrana (Styrox benzoin

Dryander) melalui kultur pucuk juga telah dilakukan (Nurwahyuni, 2005b). Kemampuan

jaringan tanaman kemenyan untuk membentuk kalus sangat dipengaruhi oleh konsentrasi zat

pengatur tumbuh 2,4-D dan BAP. Pertumbuhan eksplan sangat bervariasi, sehingga tidak

ditemukan pola yang konsisten terhadap pertambahan berat kultur di dalam media. Eksplan

yang menghasilkan kalus menunjukkan kalus yang berbeda tipe sehingga sangat

(17)

11

BAB III

TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

3.1. Tujuan Penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan teknik regenerasi yang

efektif untuk perbanyakan tanaman kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) sebagai

usaha untuk menghasilkan bibit kemenyan dalam jumlah banyak dan seragam, sehingga

dapat memenuhi kebutuhan bibit bagi petani di daerah dekat hutan rakyat dan untuk

keperluan bibit tanaman untuk hutan nasional. Secara spesifik, tujuan penelitian diperinci

adalah untuk:

1. Menyediakan bibit kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) secara kultur jaringan

tanaman sehingga memungkinkan untuk memproduksi bibit dalam jumlah besar dengan

kualitas yang seragam.

2. Mendapatkan teknik regenerasi yang efektif untuk perbanyakan tanaman kemenyan

sumatrana (Styrax benzoin Dryander).

3. Mengetahui kondisi optimum untuk pertumbuhan dan perkembangan bibit kemenyan

sumatrana (Styrax benzoin Dryander) yang diperbanyak secara teknik in vitro melalui

kultur jaringan tanaman.

3.2. Manfaat Penelitian Tahap Pertama

Penelitian bermanfaat untuk memberikan kontribusi ilmiah di dalam usaha perbanyakan

bibit tanaman kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) secara kultur jaringan

tanaman untuk memproduksi bibit dalam jumlah besar dengan kualitas yang seragam.

(18)

pertumbuhan dan perkembangan bibit kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) yang

diperbanyak secara teknik in vitro melalui kultur jaringan tanaman. Tujuan akhir penelitian

adalah usaha untuk memproduksi bibit kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander)

secara massal melalui kultur jaringan tanaman untuk memenuhi kebutuhan bibit bagi petani

(19)

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1. Rancangan Penelitian

Penelitian bersifat eksperimental, dengan kombinasi perlakuan percobaan dirancang

secara acak faktorial dengan 6 ulangan setiap perlakuan. Kombinasi perlakuan diantaranya

adalah media yang mengandung/tanpa zat pengatur tumbuh. Kombinasi perlakuan

diantaranya adalah media yang mengandung/bebas dari glukosa dan diperkaya dengan

beberapa jenis zat pengatur tumbuh seperti: Benzyl Amino Purin (BAP) dan 2,4

dichlorophenoxyacetic acid (2,4-D) seperti diperlihatkan dalam rancangan percobaan pada

tabel 4.1.

Tabel 4.1. Rancangan percobaan perbanyakan kemenyan Sumatrana (Styraxbenzoin

Dryander) secara kultur jaringan tanaman.

Variasi z pt BAP

2,4-D BO B 1 B2 B3

DO DOBO DOW DOB2 DOB3

DI DIBO DIBI DIB2 DIB3

D2 WBO D2BI D2B2 D2B3

D3 D3BO D3BI D3B2 D3B3

Keterangan:

DO = 0,0 mg/l 2,4-D BO = 0,0 mg/l BAP

D 1 = 0,05 mg/1 2,4-D B 1 = 0,1 mg/1 BAP

D2 = 0,5 mg/1 2,4-D B2 = 1,0 mg/1 BAP

(20)

4.2. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian terdiri atas persiapan bahan tanaman, penyediaan mendium kultur,

sterilisasi eksplan dan penanaman eksplan, regenerasi kalus, dan aklimatisasi tanaman.

Masing-masing komponen ini akan dijelaskan secara singkat berikut ini.

4.2.1. Persiapan Bahan Tanaman Kemenyan Sumatrana

Bahan baku tanaman untuk kultur jaringan tanaman adalah pohon kemenyan sumatrana

(Styrax benzoin Dryander) berkualitas baik dipilih dari areal hutan di Tapanuli Utara, dan

dari hutan tersebut diambil anakan yang baik untuk ditanam di dalam pot di rumah kaca

Laboratorium Kultur Jaringan Jurusan Biologi FMIPA-USU. Tanaman induk yang dijadikan

sebagai sumber anakan adalah tanaman pohon kemenyan seperti diperlihatkan pada Gambar

4.1. Tanaman kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) ini digunakan sebagai sumber

bahan tanaman, sedangkan daun sumber eksplan digunakan daun muda seperti diperlihatkan

pada Gambar 4.2.

Gambar 4.1. Pohon kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) berkualitas baik dan

(21)

Gambar 4.2. Pucuk kemenyan sumatrana (Styraxbenzoin Dryander) yang diambil daun

pertama membuka untuk dijadikan sebagai sumber eksplan dalam kultur jaringan

tanaman.

4.2.2. Penyediaan Media Kultur

Media basal terdiri atas garam dan vitamin yaitu media MS (Murashige dan Skoog,

1962) dikeraskan dengan 8% agar. Kondisi pH media di atur pada pH 5.8, kemudian di

sterilisasi di autoclaf pada 121 OC selama 20 menit. Media basal yang digunakan divariasi

komposisinya zat pengatur tumbuh yaitu benzyl amino purin (BAP) dan 2,4

diklorophenoxyacetic acid (2,4-D). Percobaan dilakukan dengan variasi zat pengatur tumbuh

yaitu BAP (0, 0.1, 1.0 dan 10 mg/1) dan 2,4-D (0, 0.05, 0.5 dan 5 mg/1). Media kultur untuk

inisiasi kalus terdiri atas media MS (Murashige dan Skoog, 1962) yang diperkaya dengan zpt.

Optimasi percobaan meliputi inisiasi kalus, regenerasi, aklimatisasi akan dilakukan dengan

berbagai variasi perlakuan. Studi terhadap resistensi tanaman terhadap beberapa penyakit

akan dilakukan dalam tingkat kalus dengan variasi jumlah vektor seperti fungi, bakteri dan

virus di dalam kalus yang berhasil dikultur pada tahapan awal. Adaptasi tanaman terhadap

iklim dan kadar air dilakukan secara laboratorium dirumah kaca dengan perlakuan variasi

tingkat kesuburan tanah (pemupukan), suhu dan curah hujan. Percobaan di atas akan

(22)

4.2.3. Sterilisasi Eksplan dan Penanaman Eksplan

Daun muda tanaman kemenyan diambil lalu dicuci dengan air detergen dan dibilas

dengan air kran. Bahan disterilasi dalam kondisi aseptik dalam alkohol 70% selama 1 menit

dan diikuti dengan pemindahan ke dalam larutan bayclin 10 dan 20 % masing-masing selama

15 menit masing-masing diseling dengan pembilasan memggunakan akuades sebanyak 3

kali. Eksplan dipotong sebesar 1.Ocm dan ditanam pada 16 perlakuan media yang sudah

dibuat. Kultur diinkubasi dengan penyinaran 1000 lux selama 16 jam/hari, dengan suhu

25-27 OC. Kultur dipelihara selama 90 hari dan pengamatan dilakukan setiap 3 hari sekali.

Terhadap setiap kultur akan dilakukan pengamatan yaitu persentase kultur terkontaminasi,

pertumbuhan kultur: jumlah tunas, tinggi tunas, pertambahan jumlah daun, jumlah akar,

persentase kultur mengkalus. Jika pada media perlakuan dihasilkan kalus embriogenik maka

kalus tersebut diregenerasi dalam media MSO (media MS tanpa zat pengatur tumbuh).

Kondisi ruangan kultur dipelihara sama seperti pada saat inisiasi. Pada fase ini dilakukan

pengamatan kemampuan kultur beregenerasi menjadi tanaman, seperti jumlah planlet

terbentuk..

4.2.4. Regenerasi tanaman

Terhadap kalus yang terbentuk pada kultur akan dilakukan regenerasi kalus menjadi

tanaman dengan cara memindahkan kalus ke dalam media regenerasi. Sebagai media

regenerasi digunakan media MSO (media MS tanpa zat pengatur tumbuh) dan MS yang

diperkaya dengan zat pengatur tumbuh. Kondisi ruangan kultur dipelihara sama seperti pada

saat inisiasi. Pada fase ini dilakukan pengamatan kemampuan kultur morfogenik

beregenerasi menjadi tanaman, seperti jumlah tunas dan tunas beralcar, jumlah tunas

per-eksplan, jumlah akar dan kecepatan pertumbuhan, hasil diferensiasi kalus setelah di

subkultur, respon tunas pada media perakaran, dan kecepatan pertumbuhan. Faktor-faktor

lain juga akan dioptimasi untuk mendapatkan kondisi optimum pertumbuhan dan

(23)

4.3. Organisasi dan Analisis Data

Data penelitian ini akan dikumpulkan, ditabulasi dan dianalisis secara statistik untuk

penarikan kesimpulan (Zar, 1996). Data hasil penelitian akan disajikan dalam bentuk

persentase, tabel, grafik atau kurva sesuai dengan jenis data yang diperoleh dalam percobaan.

Hasil pemotretan (foto) dari pertumbuhan, perkembangan kalus dan bibit tanaman juga akan

disajikan sebagai hasil penelitian dan akan dijadikan sebagai sumber data untuk keperluan

(24)

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Induksi Kalus Kemenyan Sumatrana

Pada teknik kultur jaringan tanaman, telah diketahui bahwa kemampuan jaringan

tanaman untuk membentuk kalus sangat dipengaruhi antara lain oleh komponen dan

konsentrasi media, jenis dan konsentrasi zat pengatur tumbuh (zpt) dan intensitas cahaya

(Nurwahyuni, 1994), maka dalam dalam kultur kemenyan sumatrana (Styrax benzoin

Dryander) digunakan media MS sehingga pengaruh pemberian kombinasi zat pengatur

tumbuh terhadap pertumbuhan kalus dapat diamati. Eksplan tanaman kemenyan yang berasal

dari daun pucuk yang sudah disterilisasi dipotong-potong dan dimasukkan ke dalam botol

kultur berisi media. Potongan daun dibenamkan dengan seluruh permukaan menempel pada

media. Cara ini dilakukan karena ternyata meletakkan daun pada posisi permukaan bawah

atau permukaan atas daun yang bersentuhan dengan media cukup baik untuk inisiasi dan

pertumbuhan kalus pada kultur daun pucuk kemenyan ini karena setiap sel pada permukaan

yang bersentuhan dengan media mempunyai potensi untuk menyerap nutrien yang terdapat

dalam media. Walaupun menurut Hendroyono dan Wijayani (1994) cara seperti ini tidak

selalu efektif dalam induksi kalus, akan tetapi, pada penelitian yang dilakukan pada kultur

jaringan kopi (Nurwahyuni, 1999), dan kultur jaringan jeruk manis (2001) telah terbukti

bahwa cara yang dilakukan seperti pada kultur jaringan kemenyan ini tidak efektif dalam

merangsang pembentukan kalus embriogenik.

Kultur kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) kemudian diinkubasi di dalam

ruang dengan pencahayaan konstan 1000 lux pada suhu 25±2 °C. Setelah masa inkubasi

empat minggu terlihat kalus mulai terbentuk dan membesar untuk beberapa kelompok

perlakuan, dan dilanjutkan pada pertumbuhan kalus di dalam media kultur pada minggu ke

duabelas. Kalus bertumbuh mulai pada bagian eksplan bekas luka yang merupakan pinggiran

yang bersentuhan langsung dengan media, dan selanjutnya perlumbuhan meluas keseluruh

permukaan eksplan. Pertumbuhan kalus pada eksplan semakin meningkat apabila pada

eksplan terdapat tulang-tulang daun apalagi ibu tulang daun yang mengandung

(25)

tersebut terdapat nutrien yang lebih banyak bila dibandingkan dengan jaringan daun yang

tidak mempunyai jaringan pengangkut mengakibatkan pemacuan pertumbuhan kalus

meningkat. Hasil seperti ini selalu didapati seperti dijelaskan dalam beberapa penelitian

sebelumnya (Nurwahyuni, 2002, dan Nurwahyuni, 2004). Jumlah kultur yang hidup dari

seluruh kultur yang ditumbuhkan dalam berbagai kelompok perlakuan dirangkum pada Tabel

5.1.

Tabel 5.1. Persentase kultur kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) yang hidup

di dalam media kultur dengan variasi perlakuan.

(26)

(*) eksplan membesar, (+) kalus bertumbuh, (++) intensitas pertumbuhan kalus sedang,

(+++) intensitas pertumbuhan kalus sangat besar

Kalus yang bertumbuh terlihat bervariasi. Dari hasil pengamatan terlihat bahwa kalus

berwarna coklat berair hanya bertumbuh menjadi kalus dalam jumlah yang besar, tetapi tidak

dapat menghasilkan tanaman. Sedangkan kalus yang berwama hijau merupakan kalus

embriogenik, berkembang dengan baik. Bentuk kalus yang bertumbuh pada minggu ke enam

diperlihatkan pada Gambar 5.1.

Gambar 5.1. Bentuk kalus kultur kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) pada

minggu ke dua belas

5.2. Pengaruh Media Terhadap Pertumbuban Katus

Pertumbuhan dan perkembangan kalus kemenyan sumatrana (Styraxbenzoin Dryander)

sangat dipengaruhi oleh jenis zat pengatur tumbuh yang ditambahkan ke dalam media kultur.

Dalam percobaan ini telah dilakukan variasi beberapa jenis zat pengatur tumbuh yang

ditambahkan ke dalam media kultur, kemudian persentase kultur yang bertumbuh kalusnya

diamati dan berat kalus ditimbang untuk dianalisis secara statistika. Pengaruh pemberian zat

pengatur tumbuh ke dalam media kultur mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan

kalus, yaitu diamati setelah pengkulturan selama 1 bulan.

Pertumbuhan eksplan baru menunjukkan gejala tumbuh setelah 1 bulan pengkulturan, dan

(27)

tumbuh 2,4-D dan BAP di dalam media basal MS ditunjukkan dari berat basah kalus di

dalam kultur. Dari pengaruh variasi zat pengatur tumbuh terhadap pertumbuhan kalus

diperoleh seperti dirangkum para Tabel 5.2.

Tabel 5.2. Pertumbuhan kalus kultur kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) pada

media MS yang diperkaya dengan berbagai jenis zat pengatur tumbuh

(28)

Keterangan:

DO = 0,0 mg/I 2,4-D BO = 0,0 mg/1 BAP D1 = 0,05 mg/I 2,4-D B 1 = 0,1 mg/1 BAP

D2 = 0,5 mg/1 2,4-D B2 = 1,0 mgfI BAP D3 = 5,0 mg/I 2,4-D B3 = 10,0 mg/1 BAP

*Diperoleh berdasarkan hasil analisis statistika "Uji Jarak Duncan"

Pemberian zat pengatur tumbuh sangat nyata berpengaruh terhadap induksi dan

kecepatan perkembangan kalus tetapi tidak berpengaruh terhadap persentase kultur

membentuk kalus. Pada kelompok perlakuan ditemukan persentase kultur berkalus yang

bervariasi, yaitu 50-83%, di mana persentase tertinggi ditemukan pada kelompok Dl BO dan

D2B0 masing-masing 83%, sedangkan persentase terrendah ditemukan pada kelompok D3B1

hanya bertumbuh 50%. Dari hasil penelitian diketahui bahwa media dengan komposisi

kombinasi zat pengatur tumbuh sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dun

perkembangan kalus kemenyan, dimana berat kalus tertinggi diperoleh pada kelompok

perlakuan D3B3 dengan rataan berat kalus 0.319 g, disusul dengan kelompok perlakuan

D3B2 dengan rataan berat basah kalus 0.190 g, sedangkan berat kalus terrendah diperoleh

pada kelompok perlakuan DOBI dengan rataan berat kalus 0.028 g, yaitu hampir sama

dengan kelompok control DOBO dengan rataan berat kalus 0.017g. Dari data ini diketahui

bahwa konsentrasi zat pengatur tumbuh sangat mempengaruhi terhadap pertumbuhan kalus,

yaitu semakin tinggi konsentrasi 2,4-D dun BAP yang ditambahkan ke dalam media kultur

maka berat basah kalus yang dihasilkan juga semakin tinggi.

Tabel 5.3. Analisis sidik ragam pertumbuhan kalus kultur kemenyan sumatrana (Styrax

benzoin Dryander) pada media MS yang diperkaya dengan berbagai jenis zat

pengatur tumbuh (Data pada Tabel 5.2).

(29)

Ket : KK (a) =2.45%

* * = sangat nyata

* = nyata

tn = tidak nyata

Analisis data dengan menggunakan statistik analisis sidik ragam dirangkum pada Tabel

5.3. Dari hasil ini disimpulkan bahwa zat pengatur tumbuh yang ditambahkan ke dalam

media sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan kalus Kemenyan Sumatrana (Styrax

benzoin Dryander) (Fhitung 27.39 > Fcrit 2.44) pada taraf signifikansi 0,01. Pengaruh nyata dari

masing-masing zat pengatur tumbuh yang ditambahkan ke dalam media kultur juga sangat

signifikan, yaitu 2,4-D sangat nyata mempengaruhi pertumbuhan kalus (Fhitung 113.45 > Fcrit

4.23) dan media BAP juga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan kalus (Fhitung 11.70 >

Fcrit 4.23) masing-masing pada taraf signifikansi 0,01. Hasil ini juga menunjukkan adanya

pengaruh interaksi yang signifikan antar variabel (Fhitung 3.94 > Fcrit 2.44) pada taraf

signifikansi 0,01.

5.3. Perkembangan Tunas Kemenyan Sumatrana (Styrax benzoin Dryander)

Perkembangan tunas di dalam kultur untuk beberapa kondisi perlakuan menunjukkan

pertumbuhan yang cukup baik. Persentase keberhasilan kultur untuk bertumbuh menjadi

tunas cukup tinggi. Kalus di dalam media kultur menunjukkan pertumbuhan dan

perkembangan yang cukup baik setelah 6 minggu, yaitu berkembang membentuk tunas

(30)

Tabel 5.4. Pertumbuhan tunas kultur kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) pada

media MS yang diperkaya dengan berbagai jenis zat pengatur tumbuh

Jumlah Tunas

No Jenis Perlakuan % Kultur Bertunas Rataan Tunas Notasi*

(buah)

1 DOBO 0 0.00 e

2 DOB I 67 0.50 d

3 DOB2 67 1.00 be

4 DOB3 67 1.00 be

5 DIB0 0 0.00 e

6 DIB1 67 1.00 cd

7 DIB2 67 1.50 abc

8 DIB3 67 2.00 a

9 D2B0 0 0.00 e

10 D2B 1 0 0.00 e

II D2B2 67 1.00 be

12 D2B3 67 1.75 ab

13 D3B0 0 0.00 e

14 D3B1 0 0.00 e

15 D3B2 0 0.00 e

16 D3B3 67 1.25 abc

Keterangan:

DO = 0,0 mg/1 2,4-D BO = 0,0 mgll BAP D 1 = 0,05 mg/I 2,4-D B 1 = 0,1 mg/1 BAP

D2 = 0,5 mg/1 2,4-D B2 = 1,0 mg/1 BAP D3 = 5,0 mg/I 2,4-D B3 = 10,0 mg/l BAP

(31)

Dari hasil diketahui bahwa variasi perlakuan memberikan perkembangan kultur menjadi

tunas bervariasi.namun jumlah tunas antar perlakuan tidak berbedanyata. Kalus yang

terbentuk pada beberapa kombinasi media, seperti pada perlakuan D1B3 memiliki intensitas

pertumbuhan tunas yang tinggi dengan rataan jumlah tunas sebanyak 2,0 buah, disusul

dengan kelompok perlakuan D2B3 dengan rataan jumlah tunas sebanyak 1.75 buah,

kelompok perlakuan DIB2 dengan rataan jumlah tunas sebanyak 1.50 buah, dan kelompok

perlakuan D3B3 dengan rataan jumlah tunas sebanyak 1.25 buah. Akan tetapi masih banyak

kelompok perlakuan yang tidak bertumbuh tunas seperti pada kelompok perlakuan D1B0,

D2B0, D2B1, D3B0, D3B1, dan kelompok D3B2, yaitu hampir sama dengan kelompok

kontrol D0B0. Dari hasil ini terlihat bahwa peningkatan konsentrasi zat pengatur tumbuh

tidak konsisten terhadap variasi pertumbuhan tunas.

Gambar 5.2. Pertumbuhan dan perkembangan kultur bertunas kemenyan sumatrana (Styrax

benzoin Dryander) dalam media kultur setelah 6 minggu.

Lebih lanjut diketahui bahwa variasi perlakuan memberikan perkembangan kultur

menjadi tunas dengan bentuk bervariasi. Tipe pertumbuhan untuk tunas kemenyan sumatrana

(Styrax benzoin Dryander) bervariasi seperti perbesaran eksplan yang disebabkan oleh

peningkatan jumlah sel dan pembesaran sel yang menyebabkan eksplan bertambah luas

permukaannya. Warna eksplan coklat dan bentuknya berupa lembaran potongan daun yang

(32)

perkembangan yang cukup baik setelah 6 minggu. Tunas yang dihasilkan Bentuk tunas yang

bertumbuh diperlihatkan pada Gambar 5.2.

Analisis data dengan menggunakan statistik analisis sidik ragam dirangkum pada

Tabel 5.5. Dari hasil ini disimpulkan bahwa zat pengatur tumbuh yang ditambahkan ke dalam

media berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tunas Kemenyan Sumatrana (Styraxbenzoin

Dryander) (Fhitung 1.88 > Fcrit 2.44) pada taraf signifikansi 0,05, tetapi tidak nyata pada taraf

signifikansi 0,01. Akan tetapi, masing-masing zat pengatur tumbuh yang ditambahkan ke

dalam media kultur memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan tunas, yaitu 2,4-D nyata

mempengaruhi pertumbuhan tunas (Fhitung 9.50 > Fcrit 4.23) dan media yang mengandung BAP

juga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tunas (Fhitung 52.45 > Fcrit 4.23)

masing-masing pada taraf signifikansi 0,01. Hasil ini juga menunjukkan adanya pengaruh

interaksi yang signifikan antar variabel (Fhitung 4.59 > Fcrit 2.81) pada taraf signifikansi 0,01.

Tabel 5.5. Analisis sidik ragam pertumbuhan tunas kemenyan sumatrana (Styrax benzoin

Dryander) pada media MS yang diperkaya dengan berbagai jenis zat pengatur

tumbuh (Data hasil pada Tabel 5.4).

(33)

5.3. Pengaruh Media Terhadap Pertumbuhan Akar Kemenyan Sumatrana

Untuk mengetahui pengaruh ZPT terhadap pertumbuhan akar kemenyan sumatrana

(Styrax benzoin Dryander) di dalam media kultur, telah dilakukan penambahan 2,4-D dan

BAP dengan variasi konsentrasi ke dalam media basal MS, dan pertumbuhan akar diamati.

Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pemberian zat pengatur tumbuh 2,4-D dan BAP di

dalam media basal MS sangat mempengaruhi terhadap pertumbuhan akar kemenyan

sumatrana (Styrax benzoin Dryander). Akar yang tumbuh pada media basal yang

mengandung 2,4-D dan BAP menunjukkan kualitas bervariasi seperti di rangkum pada Tabel

5.6.

Tabel 5.6. Pertumbuhan akar kultur kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) pada

media MS yang diperkaya dengan berbagai jenis zat pengatur tumbuh

(34)

14 D3B I 50 4.67 ab

*Diperoleh berdasarkan hasil analisis statistika "Uji Jarak Duncan"

Dari berbagai jenis perlakuan terlihat adanya variasi pertumbuhan akar tanaman

kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) yang dipengaruhi oleh pemberian zat

pengatur tumbuh ke dalam media kultur. Pola pertumbuhan akar tanaman bervariasi untuk

kelompok perlakuan, dimana jumlah akar yang paling banyak ditemukan pada kelompok

perlakuan 133130 dengan rataan jumlah akar 5.50 buah, diikuti oleh kelompok perlalcuan

D3B1 dengan rataan jumiah akar 4.67 buah, dun kelompok perlakuan D1 B3 dengan rataan

jumlah akar 4.25 buah. Sementara itu masih ada kelompok perlakuan yang tidak

menghasilkan akar yaitu kelompok perlakuan DOB2 dun kelompok DOW yang hampir sama

dengan kelompok kontrl DOBO. Data hasil penelitian menunjukkan bahwa pertambahan akar

tanaman kemenyan sumatrana sangat dipengaruhi oleh konsentrasi zat pengatur tumbuh yang

ditambahkan ke dalam media kultur.

Data pertumbuhan akar oleh pengaruh pemberian zat pengatur tumbuh dianalisis

menggunakan statistik analisis sidik ragam dirangkum pada Tabel 5.7. Dari hasil ini

disimpulkan bahwa zat pengatur tumbuh yang ditambahkan ke dalam media berpengaruh

nyata terhadap pertumbuhan akar Kemenyan Sumatrana (Styrax benzoin Dryander) (Fhitung

8.08 > Fcrit 2.44) pada taraf signifikansi 0,01. Lebih lanjut diketahui bahwa masing-masing zat

pengatur tumbuh yang ditambahkan ke dalam media kultur memberikan pengaruh yang

signifikan terhadap pertumbuhan akar, yaitu 2,4-D sangat nyata mempengaruhi pertumbuhan

(35)

ini juga menunjukkan adanya pengaruh interaksi yang signifkan antar variabel Fhitung 2.78 >

Fcrit 2.81) pada taraf signifkansi 0,05 tetapi tidak signifkan pada taraf signifikansi 0,01.

Tabe15.7.Analisis sidik ragam pertumbuhan akar kemenyan sumatrana (Styrax benzoin

Dryander) pads. media MS yang diperkaya dengan zat pengatur tumbuh (Data pada

Tabel 5.6).

SK db JK KT Fhit F,05 F.01

Perlakuan 15 15.52 1.03 8.08 ** 1.88 2.44

D 3 10.59 3.53 27.56 ** 2.80 4.23

B 3 1.72. 0.57 4.48 ** 2.80 4.23

DxB 9 3.21 0.36 2.78 * 2.08 2.81

Galat 49 6.28 0.13

Total 64 21.80

Ket : KK (a) = 23.82%

** = sangat nyata

* = nyata

tn = tidak nyata

5.4. Regenerasi Kalus Styrax benzoin Dryander

Regenerasi Styrax benzoin Dryander dapat dilakukan dengan memindahkan kalus

embriogenik dalam media inisiasi ke media MSO untuk membentuk planlet. Di samping itu,

pembentukan planlet dapat juga dilakukan melalui regenerasi langsung, yaitu planlet langsung

terbentuk di dalam media. Untuk mengembangkan kalus menjadi plantlet maka embrio

somatik dipindahkan ke dalam media yang tidak mengandung zat pengatur tumbuh.. Dalam

hal ini pembentukan planlet terjadi melalui regenerasi tidak langsung, yaitu melalui

pembentukan kalus dan harus terlebih dahulu dipindahkan ke media MSO. Kalus yang

(36)

masih dilakukan dengan penambahan berbagai jenis zat pengatur tumbuh untuk

(37)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Perbanyakan tanaman Kemenyan Sumatrana (Styrax benzoin dryander) melalui kultur

daun pucuk dalam penelitian ini menunjukkan tahapan yang menggembirakan, yaitu sebagai

langkah awal dalam usaha penyediaan bibit kemenyan menggunakan teknik kultur jaringan

tanaman. Tahapan penelitian sebagai usaha perbanyakan tanaman Kemenyan Sumatrana

(Styrax benzoin Dryander) secara kultur jaringan masih belum mencapai tahapan

perbanyakan tanaman, akan tetapi langkah yang sudah berhasil dilakukan sudah berada pada

arah yang tepat. Beberapa hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu diperoleh pengaruh

pemberian zat tumbuh terhadap pertumbuhan eksplan kultur daun pucuk di dalam media

kultur. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Kemampuan jaringan tanaman untuk membentuk kalus sangat dipengaruhi oleh

konsentrasi zat pengatur tumbuh 2,4-D dan BAP. Perkembangan kalus di dalam media

kultur sangat lambat. Persentase kultur berkalus yang bervariasi, yaitu 50-83%, di mana

persentase tertinggi ditemukan pada kelompok D1B0 dan D2B0 masing-masing 83%,

sedangkan persentase terendah ditemukan pada kelompok D3B1 hanya bertumbuh 50%.

Pertumbuhan kalus di dalam media kultur untuk seluruh kelompok perlakuan adalah

dengan rata-rata berat basah kalus 0,764 g. Berat basah kalus yang paling tinggi adalah

pada perlakuan D3B3 dengan rataan berat kalus 0.319 g. Analisis data dengan

menggunakan statistik analisis sidik ragam bahwa zat pengatur tumbuh yang

ditambahkan ke dalam media sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan kalus Kemenyan

(38)

0,01. yaitu 2,4-D sangat nyata mempengaruhi pertumbuhan kalus (Fhitung 113.45 > Fcrit

4.23) dun media BAP juga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan kalus (Fhitung 11.70

> Fcrit 4.23) masing-masing pada taraf signifikansi 0,01, adanya pengaruh interaksi yang

signifikan antar variabel (Fhitung 3.94 > Fcrit 2.44) pada taraf signifikansi 0,01.

2. Persentase keberhasilan kultur untuk bertumbuh menjadi tunas cukup tinggi. variasi

perlakuan memberikan perkembangan kultur menjadi tunas bervariasi.namun jumlah tunas

antar perlakuan tidak berbeda nyata. perlakuan D1B3 memiliki intensitas pertumbuhan

tunas yang tinggi dengan rataan jumlah tunas sebanyak 2,0 buah. Zat pengatur tumbuh

berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tunas kemenyan sumatrana (Fhitung 1.88 > Fcrit

2.44) yaitu 2,4-D nyata mempengaruhi pertumbuhan tunas (Fhitung 9.50 > Fcrit 4.23) dan

media BAP juga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tunas (Fhitung 52.45 > Fcrit

4.23), interaksi antar variabel nyata (Fhitung 4.59 > Fcrit 2.81) pada taraf signifikansi 0,01.

3. Pemberian zat pengatur tumbuh 2,4-D dan BAP di dalam media basal MS sangat

mempengaruhi terhadap pertumbuhan akar. Pola pertumbuhan akar tanaman bervariasi

untuk kelompok perlakuan, dimana jumlah akar yang paling banyak ditemukan pada

kelompok perlakuan D3B0 dengan rataan jumlah akar 5.50 buah. Zat pengatur tumbuh

berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan akar kemenyan sumatrana (Fhitung 8.08 > Fcrit

2.44), yaitu 2,4-D sangat nyata mempengaruhi pertumbuhan akar (Fhitung 27.56 > Fcrit 4.23)

dan BAP juga nyata mempengaruhi pertumbuhan akar (Fhitung 4.48 > Fcrit 4.23)

masing-masing pada taraf signifikansi 0,01, dan interaksi antar variabel signifikan (Fhitung

2.78 > Fcrit 2.81) pada taraf signifikansi 0,05.

4. Regenerasi Styrax benzoin Dryander secara teoritis dapat dilakukan dengan memindahkan

kalus embriogenik dalam media inisiasi ke media MSO untuk membentuk planlet. Akan

tetapi kalus yang ditumbuhkan hanya dapat berkembang menjadi akar dan tunas dan

belum berhasil berdifrensiasi menjadi planlet. Penumbuhan kalus menjadi planlet belum

dapat dilakukan walau telah dikultur dalam waktu yang cukup lama (12 minggu) dan

(39)

5. Pada tahap ini belum dapat dilakukan aklimatisasi tanaman karena tidak terbentuk planlet.

Usaha masih dilakukan dengan penambahan berbagai jenis zat pengatur tumbuh untuk

menumbuhkan planlet untuk perbanyakan tanaman secara kultur jaringan tanaman.

6.2. Saran

Agar perbanyakan bibit tanaman Kemenyan Sumatrana (Styrax benzoin Dryander)

dapat tercapai, maka peneliti mengajukan saran sebagai berikut yaitu perlu dilakukan

penelitian lanjutan berupa variasi zat pengatur tumbuh lain sampai menghasilkan planlet dan

bibit tanaman, atau perlakuan subkultur. Dalam penelitian lanjutan diharapkan akan dapat

(40)

DAFTAR PUSTAKA

Bacchi, E.M. dan Sertie, J.A., (1994), Antiulcer action of Styrax camporum and Caesalpinia

ferrea in rats, Planta Medica 60: 118-120.

Bacchi, E.M.; Sertie, J.A.; Villa, N. Dan Katz, H., (1995), Antiulcer action and toxicity of

Styrax camporum and Caesalpinia ferrea, Planta Medica 61: 204-207.

Balch, E.P.M. dan Alejo, N.O., (1997), In vitro plant regeneration of Mexican lime and

Mandarin by direct organogenesis, Hortscience 32: 931-934.

Barlass, M. dan Skene, K.G.M., (1982), In Vitro plantlet formation from Citrus species and

hybrids, Scientia Horticulturae 17: 333-341.

BPS, (2003), Statistik Hasil Hutan Indonesia Tahun 1991-1993, Komoditi Kemenyan, Biro

Pusat Statistik, Indonesia

Carimi, F.; DePasquale, F. dan Crescimanno, F.G., (1995), Somatic embryogenesis in Citrus

from styles culture, Plant Science 105: 81-86.

Chaturvedi, H.C.; Sharma, A.K.; Sharma, M. dan Prasad, R.N., (1982), Morphogenesis,

micropropagation and germplasm preservation of some economic plants by tissue

cultures. In: Plant Tissue Culture, (A.Fugiwara, eds), Maruzen, Tokyo, p. 687-688.

Grosser, J.W.; Gmitter, F.G.; Tusa, N.; Recupero, G.R. dan Cucinotta, P., (1996), Further

evidence of a cybridization requirement for plant regeneration from citrus leaf

(41)

Jiang WD. Xu DZ. Hu GJ. Lin BZ. (1979), Some pharmacologic effects of the "Styrax pill

for coronary disease" and the pharmacological basis of a simplified styrax-borneol

preparation, Acta Pharmaceutica Sinica 14(11): 655-61 (Abstract)

Ling, J.T. dan Iwamasa, M., (1997), Plant regeneration from embryogenic calli of six Citrus

related genera, Plant Cell and Organ Culture 49: 145-148.

Luo, G.; Yang, R.; Lai, X.; Yang, W.; Xie, S. dan Zhou, H., (1996), Analysis of cinnamic

acid in storax and its original plant by HPLC, China Journal of Chinese Materia Medica

21(12): 744-745, 763 (Abstract)

Maggon, R. dan Singh, B.D., (1995), Promotion of adventitious bud regeneration by ABA in

combination with BAP in epicotyl and hypocotyl explants sweet orange (Citrus sinensis

L.Osbeck), Scientia Horticulturae 63: 123-128.

Moreira-Dias, J.M.; Molina, R.V.; Guardiola, J.L. dan Garcia-Luis, A., (2001), Daylength

and photon flux density influence the growth regulator effects on morphogenesis in

epicotyl segments of Troyer citrange, Scientia Horticulturae 87: 275-290.

Murashige, T. dan Skoog, F., (1962), A revised media for rapid grouth and bioassay with

tobacco tissue culture, Physiol. Plant. 15: 473-496.

Murashige, T. dan Tucker, D.P.H., (1969), Grouth factor requirement of citrus tissue culture,

Proc. 1st. Citrus Symp. 3: 1155-1161.

Nurwahyuni, 1., (1999), Perbanyakan tanaman kopi arabika (Cofea arabica L) secara kultur

jaringan, Komunikasi Penelitian 11(2): 88-102.

Nurwahyuni, I., (2005a), Propagasi in vitro tanaman kemenyan sumatrana (Styrax Benzoin

(42)

Nurwahyuni, I., (2005b), Perbanyakan tanaman kemenyan sumatrana (Styrax Benzoin

Dryander) melalui kultur jaringan tanaman, Jurnal Sain Indonesia29(2): 44-49

Nurwahyuni, I., (2004), Perbanyakan Tanaman Kemenyan Sumatrana (Styrax Benzoin

Dryander) Melalui Kultur Pucuk, Laporan Hasil Penelitian, PPD REDS-FMIPA USU

Medan

Nurwahyuni, I., (2000), Kultur Kalus Jeruk Manis (Citrus sinensis Brasitepu), Laporan Hasil

Penelitian, FMIPA USU Medan.

Nurwahyuni, I., (2001a), Perbanyakan Tanaman Jeruk Manis (Citrus sinensis Brasitepu)

Secara Kultur Jaringan, Laporan Hasil Penelitian, FMIPA USU Medan.

Nurwahyuni, I., (2001b), Kultur jaringan daun kopi arabika (Coffea arabica L.) dalam media

MS diperkaya dengan kombinasi sitokinin dan auksin, Jurnal Pendidikan Science

25(2A): 29-38.

Nurwahyuni, I., (2002a), Upaya Perbanyakan Tanaman Kemenyan Sumatrana (Styrax

Benzoin Dryander) Melalui Kultur Pucuk, Laporan Hasil Penelitian, PPD REDS

-FMIPA USU Medan.

Nurwahyuni, I., (2002b), Kultur jaringan daun jeruk manis (Citrus sinensis Brasitepu) untuk

mikropropagasi, Jurnal Sain Indonesia 24(1): 17-20.

Nurwahyuni, I., (2003), Uji ketahanan kultur jeruk manis (Citrus sinensis Brasitepu)

terhadap salinitas menuju bibit unggul, Jurnal Scientia 3(2): 75-84

Nurwahyuni, I., dan Tjondronegoro, P., (1994), Induksi kalus dan regenerasi tanaman

(43)

Nurwahyuni, I.; Munir, E., dan Riyani, Y., (1996), Perbanyakan Tanaman Anggrek

Dendrobium sp. secara Kultur jaringan, Komunikasi Penelitian 8(4): 331-337.

Shahjahan, M. dan Islam, I., (1998), Preliminary evaluation of shilajit as a suspending agent

in antacid suspensions, Drug Development & Industrial Pharmacy 24: 11091112.

Sianipar, H., dan Simanjuntak, B., (2000) Isolasi dan identifikasi asam sinamat dari

Kemenyan Sumatrana, Media Farmasi 4(1): 22-28.

Ulubelen, A. dan Goren, N., (1973), Preliminary investigations on the herba of Styrax

officinalis. I., Planta Medica 24: 290-293.

Figur

Gambar 4.2. Pucuk kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) yang

Gambar 4.2.

Pucuk kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) yang p.5
tabel 4.1.

tabel 4.1.

p.19
Gambar 4.1. Pohon kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) berkualitas baik dan

Gambar 4.1.

Pohon kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) berkualitas baik dan p.20
Gambar 4.2. Pucuk kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) yang diambil daun

Gambar 4.2.

Pucuk kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) yang diambil daun p.21
Gambar 5.1. Bentuk kalus kultur kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) pada

Gambar 5.1.

Bentuk kalus kultur kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) pada p.26
Tabel 5.2. Pertumbuhan kalus kultur kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) pada

Tabel 5.2.

Pertumbuhan kalus kultur kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) pada p.27
Tabel 5.3. Analisis sidik ragam pertumbuhan kalus kultur kemenyan sumatrana (Styrax

Tabel 5.3.

Analisis sidik ragam pertumbuhan kalus kultur kemenyan sumatrana (Styrax p.28
Gambar 5.2. Pertumbuhan dan perkembangan kultur bertunas kemenyan sumatrana (Styrax

Gambar 5.2.

Pertumbuhan dan perkembangan kultur bertunas kemenyan sumatrana (Styrax p.31
Tabel 5.5. Analisis sidik ragam pertumbuhan tunas kemenyan sumatrana (Styrax benzoin

Tabel 5.5.

Analisis sidik ragam pertumbuhan tunas kemenyan sumatrana (Styrax benzoin p.32
Tabel 5.6. Pertumbuhan akar kultur kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) pada

Tabel 5.6.

Pertumbuhan akar kultur kemenyan sumatrana (Styrax benzoin Dryander) pada p.33
Tabel 5.6).

Tabel 5.6).

p.35

Referensi

Memperbarui...