• Tidak ada hasil yang ditemukan

Intervensi Koroner Perkutan Pada penyakit Jantung koroner Dan Permasalahannya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Intervensi Koroner Perkutan Pada penyakit Jantung koroner Dan Permasalahannya"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

INTERVENSI KORONER PERKUTAN

PADA PENYAKIT JANTUNG KORONER

DAN PERMASALAHANNYA

Pidat o Pengukuhan

Jabat an Guru Besar Tet ap

dalam Bidang Ilmu Kardiologi dan Kedokt eran Vaskular pada

Fakult as Kedokt eran,

diucapkan di hadapan Rapat Terbuka Universit as Sumat era Ut ara

Gelanggang Mahasiswa, Kampus USU, 4 Agust us 2007

Oleh:

HARRIS HASAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

Bism illa h ir r a h m a n ir r a h im

Ya n g t e r h or m a t ,

Bapak Ment er i Pendidikan Nasional Republik I ndonesia,

Bapak Ket ua dan Bapak/ I bu Anggot a Maj elis Wali Am anat Univer sit as Sum at er a Ut ar a,

Bapak Ket ua dan Bapak/ I bu Anggot a Senat Akadem ik Univer sit as Sum at er a Ut ar a,

Bapak Ket ua dan Bapak/ I bu Anggot a Dew an Gur u Besar Univ er sit as Sum at er a Ut ar a,

Bapak Rekt or Univer sit as Sum at er a Ut ar a,

Bapak/ I bu Pem bant u Rekt or Univer sit as Sum at er a Ut ar a,

Bapak Dekan Fakult as Kedokt er an USU ser t a par a Dekan dan Ket ua- Ket ua Lem baga dan Unit Ker j a, Dosen, dan Kar yaw an di lingkungan Univer sit as Sum at er a Ut ar a,

Bapak dan I bu par a undangan, sanak keluar ga, t em an sej aw at , m ahasisw a, ser t a hadir in yang saya m uliakan.

Assa la m u ’a la ik u m W a r a h m a t u lla h i W a ba r a k a t u h

Pada kesempatan yang berbahagia ini perkenankan saya mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT serta selawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Rasa syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita sekalian, sehingga kita dapat berkumpul bersama dalam keadaan sehat walafiat pada hari ini, yang merupakan hari yang bahagia bagi saya dan keluarga karena mendapat syukur nikmat dari Allah SWT.

Berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor: 14373/A4.5/KP/2007, maka terhitung tanggal 1 April 2007 saya telah diangkat sebagai Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Kardiologi dan Kedokteran Vaskular pada Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan.

(3)

Oleh karenanya izinkanlah saya menyampaikan pidato pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Kardiologi dan Kedokteran Vaskular di Universitas Sumatera Utara ini dengan judul:

I N TERV EN SI KORON ER PERKUTAN PAD A PEN YAKI T JAN TUN G KORON ER D AN PERM ASALAH AN N YA

PEN D AH U LUAN

Hadirin yang saya muliakan,

Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan penyebab kematian nomor satu di Eropa dan Amerika begitu juga di Indonesia, baik untuk laki-laki maupun wanita. Angka kesakitan dan angka kematian PJK di Indonesia meningkat tajam dalam dua puluh tahun terakhir ini, sebagaimana terlihat pada Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT). Setelah beberapa dekade berlalu beberapa terapi baru telah ditemukan untuk mengobati penyakit ini. Di antara kemajuan tersebut adalah penggunaan st ent koroner (1994), obat antiplatelet seperti tiklopidin, klopidogrel, dan GP IIb/IIIa inhibitor. Dengan adanya penemuan ini maka intervensi koroner perkutan menjadi lebih aman dan komplikasi yang timbul menjadi lebih sedikit.

Intervensi koroner perkutan dalam hal ini angioplasti pertama sekali dilakukan oleh Andreas Gruentzig pada 16 September 1977 di Zurich. Sejak penemuannya sampai dengan sekarang banyak sekali dijumpai kemajuan dalam disiplin ilmu ini baik dari segi teknik maupun penelitian serta efek terapeutiknya. Berkat pekerjaannya ini Andreas Gruentzig merupakan Bapak Kardiologi Intervensi.1,2,3

Intervensi Koroner Perkutan (Per cut aneous Cor onar y I nt er vension- disingkat

PCI at au I KP) adalah terminologi yang digunakan untuk menerangkan

berbagai prosedur yang secara mekanik berfungsi untuk meningkatkan perfusi (aliran) miokard tanpa melakukan tindakan pembedahan. Prosedur yang paling umum dilakukan adalah Per cut aneous Cor onar y Angioplast y

(PTCA-Balonisasi). Balonisasi biasanya diikuti dengan implantasi st ent

(gorong-gorong) pada pembuluh darah koroner untuk mencegah restenosis (penyumbatan kembali).

(4)

tahun 1995 meningkat menjadi 400.000 (884.000 prosedur di seluruh dunia). Sampai saat ini jutaan pasien telah terbukti dapat diobati dengan prosedur tersebut. Pada saat ini intervensi koroner perkutan dilakukan dengan angka kesakitan dan angka kematian yang rendah. Kematian terjadi lebih kecil dari 1% dan angka komplikasi (kematian, infark miokard dan operasi pintas koroner segera) biasanya antara 3-5%. Tetapi dari tahun ke tahun hasilnya lebih baik hal ini misalnya, ditunjukkan oleh register NHLBI dari Amerika Serikat.4

Pada awal perkembangannya di Indonesia tindakan ini hanya dilakukan di Jakarta dan Surabaya. Perkembangan kardiologi intervensi di Indonesia tidak lepas dari peran beberapa dokter ahli seperti dr. Otte J. Rachman, SpJP(K) dan Prof. DR. Teguh Santoso, SpPD, SpJP(K) yang boleh dikatakan sebagai pionir di bidang tersebut. Tindakan intervensi koroner di Indonesia mulai diperkenalkan tahun 1987, tetapi sejak lima tahun terakhir tindakan ini mulai berkembang di daerah-daerah seperti Medan, Semarang, Yogya, Bandung, dan Makasar.5

Perkembangan intervensi koroner perkutan di Medan mulai intensif dikerjakan sejak tahun 2002 di bawah bimbingan dan supervisi dari dr. Muchtar Hanafy, SpPD, SpJP(K), dari Pusat Jantung Nasional–RS Jantung Harapan Kita Jakarta. Tindakan ini dikerjakan di RSUP H. Adam Malik dan RS Gleneagles Medan. Pada periode ini dapat disebutkan beberapa sejawat dari Departemen Kardiologi FK-USU, RSUP H. Adam Malik secara intensif dibimbing mengenai teknik intervensi koroner perkutan. Hal ini mengingatkan kembali ingatan kita sama seperti pada awal Gruentzig menyebarluaskan kardiologi intervensi pada asisten-asistennya di seluruh dunia antara lain Spencer King (Atlanta), Richard Myler (San Fransisco), Benhard Meier (Zurich), Kaltenbach (Frankfurt), dan Simon Stertzer (New York). Di Amerika Serikat prosedur ini mulai dilakukan tahun 1978 oleh Myler & Stertzer.

(5)

D ATA PASI EN AN GI OGRAFI & I KP RSH AM

Pada awal perkembangannya intervensi koroner perkutan digunakan terutama pada pasien dengan kelainan satu pembuluh darah (single vessel

disease). Tetapi pada tahun-tahun terakhir tindakan ini dilakukan pada lebih

satu pembuluh darah (m ult iv essel disease), berkat kemajuan dalam aspek terapeutik yakni penggunaan antiplatelet yang lebih paten dan teknik perkembangan st ent (gorong-gorong) yang sangat inovatif dan baik.

Hingga pada saat ini kasus-kasus m ult iv essel yang harus dilakukan operasi pintas koroner (by pass- CABG) pada waktu yang lalu, sekarang dapat dilakukan dengan intervensi koroner perkutan, termasuk kasus-kasus left m ain (cabang utama) dan CTO (chronic total occlusion–oklusi total kronik).6,7

(6)

Berikut ini akan ditunjukkan peranan penggunaan intervensi koroner perkutan pada Penyakit Jantung Koroner (PJK).8,9,10,11,12

A. I N TERVEN SI KORON ER PERKUTAN PADA AN GGI N A PEKTORI STABI L

Sampai saat ini ada 3 penelitian randomisasi yang membandingkan intervensi koroner perkutan (IKP) dengan terapi medikal yakni penelitian ACME, ACIP, dan AVERT. Pasien dengan penyakit arteri koroner yang luas

(m ult ivessel), dengan fungsi ventrikel kiri yang buruk mempunyai survival

yang lebih lama setelah operasi pintas koroner meskipun pasien asimtomatis. Pada pasien PJK stabil, tindakan intervensi koroner perkutan (IKP) dilakukan hanya pada pasien dengan adanya keluhan dan tanda-tanda iskemik akibat penyempitan pembuluh darah koroner. Pada penelitian-penelitian awal dijumpai manfaat yang lebih kecil terhadap survival pasien yang dilakukan IKP tanpa st ent dibandingkan dengan operasi pintas koroner. Tetapi dengan adanya st ent dan stent bersalut obat (DES-Drugs Eluting St ent) serta tersedianya obat-obatan ajuvan maka tindakan IKP saat ini menghasilkan manfaat yang lebih besar dibandingkan operasi pintas koroner.

Pada oklusi total kronik (CTO) angka keberhasilan IKP masih tetap rendah. Bila oklusi dapat ditembus oleh guide w ir e dan lumen distal dapat dicapai maka implantasi st ent dapat dilakukan seperti ditunjukkan penelitian GISSIC, PRISON, SARECCO, SICCO, SPACTO, STOP dan TOSCA.

Tindakan IKP dapat juga dilakukan pada pasien dengan m ult iv essel

(pembuluh darah banyak terlibat), left m ain (LM-pembuluh koroner utama kiri).13,14

B. I N TERV EN SI KORON ER PERKUTAN PAD A SI N D ROM A KORON ER AKUT

(7)

Kriteria pasien risiko tinggi adalah:17

- Angina (nyeri dada) berulang pada keadaan istirahat.

- Perubahan segmen ST yang dinamis (depresi segmen > 0,1 mv atau elevasi segmen ST sementara < 30 menit < 0,1 mv).

- Peningkatan nilai troponin I, troponin T, atau CK MB. - Pada periode observasi hemodinamis pasien tidak stabil. - Adanya takikardia ventrikel dan fibrilasi ventrikel.

- Angina tidak stabil pada pasca infark dini. - Diabetes melitus.

Parameter-parameter lain yang menunjukkan risiko tinggi jangka panjang pada penderita NSTEMI adalah:18

- Usia di atas 65-70 tahun.

- Riwayat sebelumnya dari penyakit jantung koroner, infark miokard akut, intervensi koroner perkutan atau operasi pintas koroner.

- Payah jantung kongestif, edema paru, desah regurgitasi mitral yang baru.

- Peningkatan petanda inflamasi (C r eact ive pr ot ein, fibrinogen, dan interleukin 6).

- Peningkatan BNP (Brain Natriuretic Peptide) atau Pro BNP. - Insufisiensi ginjal.

Perlu diingat bahwa pasien yang tergolong dalam kelompok risiko tinggi mempunyai manfaat yang lebih besar bila dilakukan intervensi koroner perkutan dibandingkan dengan kelompok risiko rendah.

(8)

Ga m ba r 1 . Re k om e n da si I KP pa da Pe n de r it a N STEM I

ASA/Clopidogrel/UFH Nitrate, -blocker

High risk Low risk

Initially planned Invasive strategy

Immediate (<2,5 hrs) angio planned: GPI can be postponed

Early (<48 hrs) angioplanned: Upstream GPI (trofiban and eptifibatide)

Early non-invasive stress

i

PCI + abciximab or eptifibatide

PCI + continuing tirofiban or eptifibatide

PCI provisional abciximab or eptifibatide

Initially planned Conservative strategy

Medical treatment Patient presenting w ith NSTEMI

Berdasarkan hasil 3 penelitian terbaru yakni Frisc II (Fr agm in and Fast

Revascular izat ion Dur ing I nst abilit y in Cor onar y Ar t er y Disease), TACTICS –

TIMI 18 (Tr eat Angina w it h Aggr ast at and Det er m ine Cost of Ther apy w it h

I nvasive of Conser v at ive St r at egy- Thr om bolysis in Myocar dial I nfar ct ion)

dan RITA–3 (Random ized I nt er vent ion Tr ial of Unst able Angina) maka tindakan invasif harus dikerjakan dalam 48 jam setelah gejala pertama timbul. Sedangkan penelitian ISAR–Cool (I nt r acor onar y St ent ing w it h

Ant it hr om bot ic Regim en Cooling Off Tr ial) pada risiko tinggi menunjukkan

(9)

2 . Sin dr om a Kor on e r Ak u t d e n ga n Ele v a si Se gm e n ST ( STEM I )

STEMI didefinisikan sebagai pasien-pasien dengan riwayat nyeri dada yang khas (nyeri infark) di mana hasil elektrokardiografi dijumpai peningkatan segmen ST yang menetap atau adanya left bundle br anch block yang baru. IKP untuk STEMI membutuhkan tim yang berpengalaman yang terdiri dari kardiologis intervensi dengan bantuan staf yang terampil.

Strategi reperfusi berupa IKP telah menjadi modalitas pengobatan yang sangat penting dari STEMI dan banyak mengalami kemajuan pada tahun-tahun terakhir ini. Sedangkan terapi trombolitik di mana dapat digunakan secara luas, mudah diberikan dan tidak mahal tetap merupakan pilihan alternatif. IKP primer telah terbukti lebih superior dibandingkan terapi trombolitik dalam pencapaian TIMI 3 flow (perfusi komplit), iskemik berulang sedikit, mortalitas 30 hari lebih baik dan insiden stroke perdarahan yang lebih rendah.19

Panduan dari Perhimpunan Kardiologi Eropa (ESC) tahun 2005 dan American College of Cardiology (ACC) menyatakan bahwa tindakan IKP sama efektifnya dengan terapi trombolitik bila pasien datang di bawah 3 jam setelah serangan pertama, akan tetapi bila pasien datang lebih dari 3 jam maka manfaat trombolisis lebih kecil bila dibandingkan dengan IKP.

(10)

Ga m ba r 2 . Re k om e n da si I KP pa da Pe n de r it a STEM I

Primary PCI

Rescue PCI

Post thrombolysis PCI

Predischarge ischemia PCI < 24 hours

not available PCI < 24 hours

available

STEMI

Within 12 hours after onset of symptoms

Patient presenting in a hospital with PCI

Patient presenting in a hospital without PCI

Thrombolysis

Immediated transfer

> 3-12 hours < 3 hours

Successful Failed

Ischemia guided PCI

I KP Pr im e r pa da STEM I

(11)

Gruentzig tetapi sampai saat ini banyak penelitian randomisasi terkontrol menunjukkan bahwa IKP primer lebih unggul dibandingkan trombolisis intravena untuk pengobatan STEMI. Ini disebabkan karena tindakan IKP primer sangat efektif mengembalikan patensi pembuluh darah koroner mengurangi iskemik miokard berulang, pengurangan reoklusi koroner, pengurangan kejadian infark miokard berulang, memperbaiki fungsi ventrikel kiri, dan pengurangan kejadian stroke. Terbukti bahwa wanita dan pasien tua bermanfaat untuk tindakan IKP primer dibandingkan trombolisis.20,21

Penelitian-penelitian yang membuktikan bahwa IKP primer lebih baik dari trombolisis adalah penelitian-penelitian PAMI, GUSTO-IIb, C-PORT, PRAGUE-1, PRAGUE-2, dan DANAMI-2. Pasien dengan keluhan nyeri dada dalam 12 jam yang datang di rumah sakit tanpa fasilitas IKP dan mempunyai kontraindikasi untuk tindakan trombolisis seharusnya segera dikirim ke rumah sakit dengan fasilitas IKP untuk angiografi dan jika memungkinkan IKP primer dilakukan.22

Kontraindikasi absolut untuk trombolisis adalah diseksi aorta, stroke perdarahan, trauma/pembedahan besar yang baru dilaksanakan, perdarahan saluran cerna satu bulan terakhir ataupun adanya gangguan perdarahan (gangguan hemostasis yang berat). Perlu diingat bahwa pasien dengan kontraindikasi trombolisis mempunyai morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi. Pada keadaan tersebut di atas IKP primer adalah aman dan sangat bermanfaat. Penelitian-Penelitian yang menyokong keunggulan IKP primer meskipun diperlukan transfer pasien dari rumah sakit tanpa fasilitas IKP ke rumah sakit dengan fasilitas IKP adalah Limburg (LIMI), PRAGUE-1, PRAGUE-2, AIR-PAMI, dan DANAMI-2. Penelitian DNAMI-2 adalah penelitian pertama yang menunjukkan secara bermakna penurunan tujuan akhir primer dari kematian, infark berulang, dan stroke setelah dilakukan IKP primer meskipun transfer pasien menyebabkan keterlambatan.23 Dalam 3 jam pertama setelah keluhan nyeri dada maka tindakan trombolisis merupakan alternatif pilihan di samping IKP primer seperti ditunjukkan oleh penelitian PRAGUE-2, STOPAMI-1, dan –2, MITRA, MIR, dan CAPTIM, dengan demikian dalam 3 jam pertama setelah onset nyeri dada maka kedua strategi reperfusi tersebut (trombolisis dan IKP primer) sama efektifnya dalam mengurangi luasnya infark dan angka kematian.

(12)

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa IKP primer merupakan pilihan pada pasien dengan kontra indikasi trombolisis, syok kardiogenik dan trombolisis yang gagal yakni gagalnya resolusi segmen ST pada 60-90 menit setelah pemberian obat trombolitik dan keluhan nyeri dada menetap. Penelitian dari Cleveland Clinic America menunjukkan manfaat tindakan IKP pada trombolisis yang gagal (Rescue PCI). Penggunaan st ent s (gorong-gorong) pada IKP primer sangat dianjurkan untuk mencegah retrombosis. Setelah trombolisis yang berhasil maka pasien sebaiknya dapat dilakukan evaluasi invasif dan dilakukan pemasangan st ent (gorong-gorong) pada lesi yang terlibat (culprit lesions). Hal ini ditunjukkan oleh 4 penelitian yakni: SIAM III, GRACIA-I, CAPITAL-AMI dan LPLS. Dengan demikian walaupun trombolisis berhasil tidak akan dipandang sebagai pengobatan akhir dan mottonya adalah ”Lyse now, Stent Later”. 27,28

Tindakan IKP pada STEMI dapat disimpulkan bahwa setiap usaha dan cara harus dilakukan untuk mengurangi keterlambatan antara serangan pertama nyeri dada dan memulai tindakan reperfusi yang efektif dan aman pada pasien.

Pengurangan waktu total iskemik adalah hal yang sangat penting tidak hanya untuk tindakan trombolitik tetapi juga untuk tindakan PCI primer (Gambar 3). Mengurangi waktu dari mulai serangan pertama nyeri dada dan segera memulai tindakan pengobatan secara bermakna akan meningkatkan hasil akhir klinis.

(13)

Ga m ba r 3 . Pe n de k a t a n u n t u k M e n gu r a n gi Ke t e r la m ba t a n W a k t u pa da STEM I

Solution

Problem

Patients’ delay:

time between onset of

symptoms & emergency call

Patient education

Paramedics organisation

Hospital/Practice

Organization

Transport delay:

time between emergency

call & patient contact

Treatment delay:

door-to-needle time (first

medical contact to needle)

door-to-balloon time (first

medical contact to balloon)

C. TERAPI AJUV AN

Yang dimaksud dengan terapi ajuvan di sini adalah pemberian obat-obatan yang berhubungan dengan tindakan IKP yang akan dikerjakan terhadap pasien. Ini dimaksudkan untuk memberikan keamanan selama tindakan dan meningkatkan hasil akhir akibat tindakan IKP. Pemberian rutin bolus

nitrogliserin (NTG) intrakoroner dianjurkan untuk menghindari vasospasme sehingga dapat menilai besarnya pembuluh darah yang sebenarnya dan menghindari reaksi vasospastik selama prosedur. Pemberian bolus dapat diulangi selama dan pada akhir tindakan, tergantung pada tekanan darah penderita. Pada kasus yang lebih jarang di mana proses spasme resisten terhadap NTG maka diberikan verapamil intrakoroner.

(14)

Asa m Ase t ilsa lisila t ( ASA)

Sejak permulaan perkembangan kardiologi intervensi obat-obat anti platelet merupakan obat ajuvan yang sangat penting karena trauma yang diakibatkan oleh tindakan IKP terhadap endotel dapat menyebabkan aktivasi platelet. Pada penelitian Ant it hr om bot ic Tr ialist Collabor at ion Met a

analysis disimpulkan pemberian asam asetilsalisilat dapat mengurangi

sebesar 22% angka kematian, infark miokard atau stroke pada seluruh pasien yang mempunyai risiko tinggi dibandingkan dengan plasebo. Pada penelitian M. Heart II kejadian infark miokard berkurang dari 5,7% menjadi 1,2% bila diberikan ASA. Saat ini ASA tetap mempunyai peranan yang sangat penting dalam mengurangi komplikasi iskemik sehubungan dengan IKP. Begitu juga terhadap pasien NSTEMI dan STEMI baik akan dilakukan IKP atau tidak.

Pasien yang dikenal alergi terhadap ASA (resistensi asam salisilat) obat ini tidak diberikan. Untuk penggunaan yang kronik, dosis ASA adalah 100 mg per hari dan diberikan seumur hidup bila tidak ada kontraindikasi.

Tik lopidin da n Klopidogr e l

Tiklopidin dan Klopidogrel merupakan antiplatelet yang kuat. Bukti-bukti menunjukkan pemberian keduanya dapat mengurangi kejadian akut dan sub-akut st ent trombosis setelah tindakan IKP. Kombinasi tiklopidin atau klopidogrel dan ASA lebih baik dibandingkan ASA sendiri atau ASA ditambah antikoagulan oral (penelitian Milan/Tokyo, ISAR, STARS, FANTASTIC, dan MATTIS). Sesuai dengan penelitian randomisasi terkontrol (CLASSICS, TOPPS, Bad Krozingen) dan beberapa register dan metaanalisis lain menunjukkan bahwa sama efektifnya antara klopidogrel dan tiklopidin. Dibandingkan dengan tiklopidin maka klopidogrel mempunyai efek samping lebih sedikit dan lebih baik ditoleransi oleh pasien.

Pada masa sekarang karena sebagian besar tindakan IKP dengan implantasi

st ent maka terhadap setiap pasien yang direncanakan IKP terlebih dahulu

(15)

H e pa r in

Heparin mudah dikontrol karena efeknya dapat segera dihilangkan dengan pemberian protamin. Obat ini sangat bermanfaat pada pasien STEMI dan non-STEMI. Saat ini juga dapat digunakan Enoxaparin (Heparin berat molekul rendah) karena tidak diperlukan pengawasan hemostasis (penelitian SYNERGY). Saat ini sedang dicoba pemberian bivalirudin (penelitian REPLACE-2, ACUITY) pada pasien IKP.

GP I I b/ I I I a I n h ibit or

Pengobatan antiplatelet sebelum intervensi koroner perkutan primer (IKP primer) pada pasien dengan risiko tinggi harus terdiri dari 3 regimen yakni aspirin, klopidogrel, dan GP IIb/IIIa inhibitor (abciximab). Pemberian abciximab diteruskan selama 12 jam setelah IKP primer.

Banyak data menunjukkan inhibisi GP IIb/IIIa pada pasien dengan STEMI didapat dari penelitian abciximab. 5 penelitian randomisasi menunjukkan bahwa abciximab dapat mengurangi angka kematian, revaskularisasi ulang dan kejadian serangan jantung dalam 6 bulan ke depan. Akan tetapi perlu diingat pemberian 3 antiplatelet di atas mengandung risiko perdarahan yang lebih besar, apalagi bila pasien terpaksa harus menjalani operasi pintas koroner segera (Em er gency CABG).

D . STEN T BERSALU T OBAT ( D RUGS ELUTI N G STEN T- D ES)

St ent bersalut obat (dr ugs elut ing st ent) merupakan salah satu hal yang

sangat penting dalam perkembangan kardiologi intervensi, karena DES dapat mengurangi angka restenosis. Tetapi DES ini lebih mahal daripada

st ent biasa sehingga penggunaannya di negara berkembang masih

terbatas. Saat ini harga DES empat kali lebih mahal dari st ent biasa. 31,32

Dr ug elut ing st ent s menjadi fokus perhatian pada IKP sejak penelitian

(16)

adalah hasil angiografi (lat e lum en loss- LLL) atau klinis (t ar get v essel

r evaskular izat ion-TVR). Untuk pasien perjalanan klinis pasien lebih penting

dari kedua parameter tersebut di atas.

Sampai sebegitu jauh hanya 4 penelitian besar yang digunakan sebagai rujukan yakni DELIVER-1, TAXUS-IV, SIRIUS, dan TAXUS-VI.

Hasil pertama yang membandingkan cypher dan t axus st ent (TAXI-t r ial) mengkonfirmasi ke-2 st ent tersebut dapat digunakan dalam praktik klinis. Meskipun impian ”no restenosis” adalah di luar kenyataan akan tetapi DES menghasilkan angka satu digit untuk hasil angiografi dan restenosis klinis pada 9 bulan.

Pada penelitian Taxus-VI, TLR secara bermakna menurun pada pembuluh darah kecil (<2,5 mm) dari 29,7 menjadi 5,0%. Pada penelitian RESEARCH

dengan st ent cypher 2,25 mm angka restenosis adalah 10,7%. Diabetes melitus merupakan faktor risiko terjadinya restenosis setelah implantasi

st ent.

Pada penelitian SIRIUS dan TAXUS-IV DES dapat mengurangi angka restenosis pada diabetes. Meskipun hasil penelitian SIRIUS sangat menggembirakan, akan tetapi intervensi berulang pada pasien diabetes lebih tinggi dibandingkan pasien non-diabetes, terutama pada pasien yang menggunakan insulin dan lesi panjang. 33

St e n t Tr om bosis da r i D ES

St ent trombosis tidak ditemukan sebagai problem yang mengkhawatirkan

dalam penelitian randomisasi bila pemberian klopidogrel dan aspirin untuk periode yang berbeda yakni 2 bulan (E-SIRIUS), 3 bulan (SIRIUS), dan 6 bulan pada seri TAXUS.

(17)

I n dik a si D ES

Ada 2 alternatif untuk menentukan rekomendasi penggunaan DES yakni: pertama, didasarkan pada kalkulasi biaya dan yang kedua adalah sesuai kriteria inklusi dan eksklusi dari penelitian besar. Sesuai dengan level

evidence hanya cypher dan taxus yang direkomendasikan pada level I B

sesuai dengan penelitian SIRIUS, TAXUS IV, dan TAXUS VI.36,37

Rekomendasi Institut UK NHS NISE untuk penggunaan DES adalah penggunaan cypher (sirolismus-eluting) atau taxus (paclitaxel-eluting) st ent

pada penyakit jantung koroner simtomatis bila target arteri diameternya lebih kecil 3 mm dan panjangnya lesi lebih dari 15 mm. Keadaan-keadaan di mana dijumpai peningkatan risiko terjadinya restenosis sehingga dibutuhkan penggunaan DES, yakni:38,39,40

- sm all v essel (pembuluh darah kecil)

- chr onic t ot al occlusions (oklusi total kronik)

- bifur cat ional (percabangan)

- ost ial lesion (lesi pangkal)

- by pass st enosis (penyumbatan pembuluh by pass)

- insulin dependent diabet es m elit us (DM tipe 1)

- m ult ivessel disease (pembuluh darah banyak terlibat)

- unpr ot ect ed left m ain st enosis (oklusi cabang utama kiri)

- inst ent r est enosis (oklusi pada tempat st ent)

Dokter dan pasien harus selalu diingatkan bahwa klopidogrel tidak boleh dihentikan terlalu cepat bahkan untuk prosedur minor seperti perawatan gigi.

E. I N TRAV ASCULAR ULTRASOUN D ( I V US)

I nt r avascular ult r asound merupakan bagian yang tak terpisahkan dari

penelitian-penelitian mengenai dr ug elut ing st ent (DES). Penggunaan IVUS dapat menentukan lokasi yang tepat serta expansi st ent yang optimal terhadap dinding pembuluh endotel pada waktu IKP.41

(18)

KESI M PU LAN

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pada pasien dengan penyakit jantung koroner (PJK) stabil maka tindakan IKP merupakan cara revaskularisasi pada seluruh pasien dengan adanya tanda-tanda iskemik pada arteri koroner. Adanya st ent (bar e m et al st ent dan DES) serta obat-obat ajuvan (clopidogrel dan GP IIb/IIIa inhibitor) akan meningkatkan hasil akhir (out com e) penderita.

Pada pasien-pasien dengan NSTEMI (Angina pektori tak stabil, non-Q infark) harus dilakukan stratifikasi penderita atas ringan, sedang dan berat untuk risiko komplikasi akut trombosis. Manfaat terbesar dilakukan tindakan IKP terutama dijumpai pada kelompok dengan risiko sedang dan berat. Penggunaan gorong-gorong (st ent) dianjurkan atas dasar hasil angiografi yang diperoleh dan keamanan tindakan. Intervensi Koroner Perkutan Primer harus menjadi pilihan pengobatan pasien STEMI di rumah sakit dengan fasilitas IKP dan tim yang berpengalaman. Pasien-pasien dengan kontra indikasi trombolisis harus segera dirujuk untuk IKP primer karena ini merupakan satu-satunya kesempatan untuk membuka secara cepat arteri koroner. Pada syok kardiogenik tindakan IKP merupakan referfusi komplit untuk menyelamatkan nyawa penderita dan harus dipertimbangkan sejak dari awal. Pasien yang datang dalam 3 jam pertama setelah onset serangan nyeri dada kedua strategi reperfusi baik trombolisis dan IKP Primer sama efektifnya dalam mengurangi luasnya infark dan mortalitas. Keunggulan IKP primer dari trombolisis terutama di antara waktu 3-12 jam setelah onset

serangan nyeri dada dalam hal menyelamatkan miokard. Tetapi secara keseluruhan tindakan IKP primer pada STEMI lebih bermanfaat daripada trombolisis.

Bapak Rektor yang saya muliakan serta para hadirin sekalian,

Pada akhir pidato pengukuhan ini, izinkanlah saya sekali lagi memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya kepada saya dan keluarga karena atas rida-Nya sehingga saya memperoleh kesempatan untuk dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Kardiologi dan Kedokteran Vaskular pada Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK-USU).

(19)

ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkenan memberi bantuan dan perhatian kepada saya.

Saya mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Republik Indonesia melalui Bapak Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia atas kepercayaan dan kehormatan yang telah diberikan kepada saya untuk memangku jabatan Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Kardiologi dan Kedokteran Vaskular pada Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Rasa hormat dan terimakasih yang setulusnya saya sampaikan kepada Bapak Prof. dr. Chairuddin P. Lubis, SpA(K), DTM&H selaku Rektor Universitas Sumatera Utara yang telah mendorong saya, membantu dan memproses pengusulan saya untuk menjadi Guru Besar sampai acara pengukuhan yang diselenggarakan pada hari ini. Semoga Allah SWT tetap memberikan kesehatan, hidayah, dan kemudahan kepada beliau untuk terus memimpin Universitas Sumatera Utara yang kita cintai ini.

Kepada Bapak/Ibu para anggota Senat Universitas Sumatera Utara, beserta seluruh Pembantu Rektor dan Tim Penilai Kenaikan Pangkat Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan persetujuan atas pengusulan saya sebagai Guru Besar, saya ucapkan banyak terima kasih.

Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada mantan Dekan FK-USU Prof. dr. T. Bahri Anwar, SpJP(K) yang telah membantu dalam pengusulan kenaikan jabatan saya ke jenjang Guru Besar. Beliau selalu mendorong saya agar mencapai jenjang Guru Besar ini.

Begitu juga kepada Bapak Dekan FK-USU Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, SpPD-KGEH yang merupakan sahabat saya sejak lama, demikian juga kepada Pembantu Dekan Fakultas Kedokteran USU saya ucapkan banyak terima kasih.

Kepada para Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dan Anggota Dewan Pertimbangan Fakultas saya mengucapkan banyak terima kasih atas segala bantuan, nasihat dan dukungan bagi pengangkatan saya sebagai Guru Besar.

(20)

Kepada alm. Prof. dr. Kariman Soedin, SpPD, KTI, DTM&H, alm. Dr. R. Sutadi, SpPD-KHOM, Prof. dr. Harun Rasyid Lubis, SpPD-KGEH, dan Prof. dr. OK. Moehadsyah, SpPD, KR saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya karena telah menerima saya untuk mengikuti pendidikan di Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK-USU. Beliau-beliau ini selalu memberi arahan dan nasihat kepada saya.

Terima kasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan kepada Prof. dr. T. Renardi Haroen, MPH, SpPD, KKV yang telah mengajak dan mendidik saya untuk bergabung di divisi kardiologi. Beliau sangat banyak membantu dalam menambah wawasan kardiovaskular bagi saya. Sebenarnya Beliau ingin menghadiri pengukuhan Guru Besar ini, tetapi karena alasan kesehatan beliau tidak dapat hadir. Saya selalu berdoa agar beliau dan keluarga selalu dalam lindungan Allah SWT.

Terima kasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan kepada Kepala Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK-USU Prof. dr. Lukman Hakim Zain, SpPD-KGEH yang selalu memberi perhatian, kemudahan dan mendorong saya untuk tetap menjadi lebih maju sejak saya mulai menjalani pendidikan ilmu penyakit dalam hingga saya mencapai Guru Besar ini.

Kepada guru-guru saya di Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK-USU, Prof. dr. Harun Rasyid Lubis, SpPD-KGEH, Prof. dr. T. Renardi Harun, MPH, SpPD, KKV, Prof. dr. Pengarapen Tarigan, SpPD-KGEH, Prof. dr. Habibah Hanum Nasution, SpPD-KPsikosomatik, Prof. dr. Bachtiar F. Lubis, SpPD, KHOM, Prof. dr. O.K. Moehadsyah, SpPD, KR, dr. Nuraisyah, SpPD, KE, Prof. dr. Azhar Tanjung, SpPD, KP, KAI, Alm. dr. Rusli Pelly, SpPD-KP, dr. Syafii Piliang, SpPD, KE, alm. dr. Muharman Idham, SpPD-KTI, dr. Mangara Silalahi, SpPD, Prof. dr. Lukman Hakim Zain, SpPD-KGEH, Prof. dr. Sutomo Kasiman, SpPD, SpJP(K), Prof. dr. M. Yusuf Nasution, SpPD-KGEH, Prof. dr. Azmi S. Kar., SpPD, KHOM, dr. A. Adin St. Bagindo, SpPD, KKV, dr. Lufti Latief, SpPD, KKV, alm. Dr. R.M.G. Sidabutar, SpPD, KKV, saya ucapkan terima kasih yang tak terhingga atas didikan dan bantuannya selama ini. Begitu juga kepada senior-senior saya dan sejawat serta staf administrasi Syarifuddin Abdullah dan kawan-kawan di Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK-USU saya ucapkan terima kasih atas kerja sama selama ini.

(21)

dr. Anggia C. Lubis dkk. terima kasih atas bantuan dan kerja samanya selama ini. Terima kasih juga saya ucapkan untuk seluruh staf dan karyawan Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FK-USU. Semoga kekompakan dan kerja sama kita tetap terjaga sehingga Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FK-USU dapat menjadi departemen kardiologi yang disegani di Indonesia. Untuk para suster di Unit Kateterisasi, Unit CVCU, di mana saya bekerja saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kerjasamanya.

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan kepada Prof. dr. Sjukri Karim, SpJP(K), dr. Otte J. Rachman, SpJP(K) yang telah menerima saya untuk dididik di Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Begitu juga untuk para guru-guru saya di Departemen Kardiologi FK-UI/RS Jantung Harapan Kita, Prof. dr. Asikin Hanafiah, SpJP(K), Prof. dr. Lily I Rilantono, SpJP(K), Prof. Dr. dr. Dede Kusmana, SpJP(K), dr. Hadi Purnomo, SpJP(K), dr. Ganesja M. Harimurti, SpJP(K), Prof. Dr. dr. Idris Idham, SpJP(K), Prof. dr. Harmani Kalim, SpJP(K), MPH, dr. Ann Soenarta, SpJP(K), dr. Irawan Soegeng, SpPD, SpJP(K), dr. Deddy Affandi, SpJP(K), Prof. Dr. dr. Hamed Oemar, SpJP(K), Prof. Dr. Budi K., SpJP(K), dr. Nani Hersunarti, SpJP(K), dr. Irmalita, SpJP(K), dr. H. Andang Yoesoef, SpJP(K), dr. Manoefris Kasim, SpJP(K), Dr. dr. Faisal Baraas, SpJP(K), dr. Santoso Karo karo, SpJP(K), MPH, dr. Ainil Basha, SpJP(K), Dr. dr. Bambang, SpJP(K), serta para senior lainnya, di Departemen Kardiologi FK-UI.

Untuk para guru-guru dan senior saya di Laboratorium Kateterisasi FK-UI/RS Jantung Harapan Kita, dr. Otte J. Rachman, SpJP(K), dr. M. Yusak, SpJP(K), dr. Muchtar Hanafy, SpPD, SpJP(K), dr. M. Nur Haryono, SpJP(K), Dr. dr. M. Munawar, SpJP(K), dan dr. Sunarya S. SpJP(K), saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, kepada saya merekalah yang membuka wawasan dan mengajari teknik kardiologi intervensi.

Terima kasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan kepada Dr. dr. Fadillah Supari, SpJP(K) yang saat ini sebagai Menteri Kesehatan Republik Indonesia telah bersedia menjadi pembimbing tesis saya. Beliau sangat banyak meluangkan waktu dan memberikan masukan untuk penyelesaian tesis saya.

(22)

(AICT), Malaysian Cardiovascular Interventional, saya ucapkan terima kasih karena saya banyak sekali menimba ilmu dari presentasi dan kasus-kasus

live dem o di acara tersebut.

Terima kasih saya ucapkan kepada adik-adik mahasiswa FK-USU, Peserta Program Pendidik Dokter Spesialis Ilmu Penyakit Dalam, Peserta Program Pendidik Dokter Spesialis Ilmu Kardiologi atas kerja sama yang terbina selama ini. Semoga kalian selalu bersemangat dalam mencari dan mengembangkan ilmu kedokteran.

Kepada para Direktur RSUP H. Adam Malik (dr. T.M. Panjaitan, SKM, dr. M. Fauzi, SKM, drg. H. Arman P. Daulay, MKes) dan para Wakil Direktur beserta seluruh staf saya ucapkan terima kasih atas fasilitas dan sarana yang telah diberikan kepada saya dalam menjalankan profesi kardiovaskular.

Kepada guru-guru dari saya sejak dari sekolah dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Fakultas Kedokteran USU, saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya.

Ucapan terima kasih juga saya ucapkan kepada teman-teman seangkatan. Terima kasih sebesar-besarnya saya ucapkan kepada seluruh panitia pengukuhan yang telah bekerja keras menyiapkan dan melaksanakan acara pengukuhan ini.

Bapak Rektor yang saya muliakan serta para hadirin sekalian,

(23)

Kepada alm. Bapak H. M. Amin dan alm. Hajirah, mertua saya yang telah menganggap saya sebagai anaknya sendiri dan telah membimbing saya dalam menjalankan kehidupan ini, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Semoga arwah beliau diterima di sisi Allah SWT. Amin ya Robbal Alamin.

Kepada abang-abang dan kakak-kakak saya beserta keluarganya, T. Ibrahim, dr. Hasdiana Anwar, SpOG(K), alm. T. Hazairin, Hasmiati Suprani, dr. Hanafiah, SpOG, drg. Hadi Kesuma, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan (moril dan materiel) yang sangat besar kepada saya sejak dari awal pendidikan sampai pada hari pengukuhan ini.

Kepada Kak Tara serta ipar-ipar saya, saya ucapkan terima kasih atas dukungannya selama ini kepada keluarga saya.

Yang tak mungkin terlupakan istri saya tercinta dr. Bilkes, SpKK, rasanya kata-kata saya tidak cukup untuk mengungkapkan rasa sayang, terima kasih dan penghargaan atas pengorbanannya dalam mendampingi saya dengan sabar dan penuh pengertian dalam mengarungi kehidupan ini dengan segala suka dukanya.

Buat anak-anakku, T. Rifqi Hashmi, Cut Farah Saufika, dan T. Rafli Baihaki, yang menjadi permata hati papa, terima kasih atas pengertian, kesabaran dan dukungan serta doa terhadap papa. Papa selalu berdoa agar cita-cita kalian dapat tercapai dan semoga kalian menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat serta beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Amin ya Robbal Alamin.

Kepada seluruh keluarga saya, teman-teman saya dan semua pihak yang secara langsung maupun tak langsung membantu saya, yang tak mungkin saya sebutkan satu per satu pada kesempatan ini saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Akhirnya kepada para hadirin yang saya hormati sekali lagi saya mengucapkan banyak terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas perhatian dan kesediaannya meluangkan waktu yang sangat berharga untuk menghadiri upacara pengukuhan saya sebagai guru besar hari ini dan saya mohon maaf jika terdapat kesilapan dalam pidato pengukuhan ini.

Wabillahi taufik wal hidayah,

(24)

D AFTAR PUSTAKA

1. King S.B. III: The Development of Interventional Cardiology. J Am Coll Cardiol 1998; 31 suppl: 64B-88B.

2. Favaloro R.G. Critical analysis of coronary artery bypass grafting: a 30 year journey. J Am Coll Cardiol 1998: 31 suppl; 1B-63B.

3. Dixon S.R., O’Neill W.W. The year in interventrial cardiology. J Am Coll Cardiol 2006: 47; 1689-706.

4. Smith S.C., Feldman T.E., Hishfeld J.W., Jacobs A.K. et al. ACC/AHA/SCAI 2005 Guidelines update for Percutaneous Coronary Intervention-Sumary article. Circulation 2005; 113: 156-175.

5. Munawar M. Perkembangan Kedokteran Kardiologi di Indonesia. Layanan, Pendidikan Dokter Spesialis dan Pendidikan Lanjutan di Bidang Kardiologi, J. Kardiol Ind 2007; 28: 26-32.

6. Baloguese L., Ferari R. Foreword acute coronary syndrome management. Eur Heart J 2005; 7 suppl: K3-K4.

7. Elsasser A., Hnum C.W. Percutaneous coronary intervention guidelines new aspects for the the interventional treatment of acute coronary syndrome. Eur Heart J 2005; 7 suppl: K5-K9.

8. Silber S., Albertoson P., Aviles F.F., Camici P.G., Colombo A., Hanum C., et al. Guidelines for percutaneous coronary intervention. The task force for percutaneous coronary intervention of the European Society of Cardiology, Eur Heart J 2005; 26: 804-847.

9. Ramrakha P., Hill J. Oxford Handbook of Cardiology, Oxford University Press, 2006.

10. Serruys P.W.: Fourth Annual American College of Cardiology International Lecture. A journey in the interventional field. J Am Coll Cardiol 2006; 47: 1754-68.

(25)

12. Legrand V., Thomas M., Zelisko M., de Bruyne B. et al. Percutaneous coronary intervention of bifurcation lesions: State-of-the art, Insights from the second meeting of the European Bifurcation Club. Eurointerv 2007;3:44-49.

13. Serruys P.W., Ong A.T.L., van Herwerden L.A., Sousa J.E., et al. Five year outcomes after coronary stenting versus bypass surgery for the treatment of multivessel disease. J Am Coll Cardiol 2005; 46: 575-81.

14. Rodriguez A.E., Baldi J., Pereina C.F., Navia J. Five year follow up of the Argentine randomized trial of coronary angioplasty with stenting versus coronary bypass surgery in patients with multiple vessel disease (ERACI II). J Am Coll Cardiol 2005; 46: 582-89.

15. Histro F., Oucci K., Falsuen G., Buloguese L. Early invasive strategy in elderly patient with non-ST-elevation acute coronary syndrome. Eur Heart J 2005; 7 suppl: K23-K25.

16. Gingliano R.P., Braunwald E. The Year in non ST segment elevation acute coronary syndrome J Am Coll Cardiol 2005; 46: 906-919.

17. De Maria A.N., Ben Yehuda O., Berman D., Feld G.K. et al. Highlights of the year in JACC 2004 J Am Coll Cardiol 2005; 45: 137-152.

18. Krumholz H.M., Anderson J.L., Brooks N.H., Fesmire F.M. et al. ACC/AHA clinical performance measures for adults with ST elevation and non ST elevation myocardial infaction Circulation. 2006; 113: 732-761.

19. Mahmud E., Pejeshki B., Salami A., Keramati S., Highlights of the 2004 Transcatheter Cardiovascular Therapeutics (TCT) Annual Meeting Clinical Implications. J Am Coll Cardiol 2005; 45: 796-801.

(26)

21. Nallamothu B.K., Wang Y., Magid D.J., McNamara R.C. et al. Relation between hospital specialization with primary percutaneous coronary intervention and clinical out comes in ST segment elevation myocardial infarction. National registry of myocardial infarction–4 analysis, Circulation 2006; 113: 222-229.

22. Mascucci M., Share D. Smith D., O’Donwell M.J. et al. Relationship between operator volume and adverse outcome in contemporary percutaneous coronary intervention practice An analysis of a quality controlled multi center percutaneous coronary intervention clinical database, J Am Coll cardiol 2005; 46: 625-632.

23. Mascucci M., Eagle KA, “Door to balloon time in primary percutaneous coronary intervention. Is the 90 minutes gold standard an unreachable chimera? Circulation 2006; 113: 1048-1050.

24. Borden W.B., Faxon D.P. Facilitated percutaneous coronary intervention. J Am Coll Cardiol 2006; 48: 1120- 8E.

25. Mehta R.H., Granger C.B., Alexander K.P., Bassone E. et al. Reperfusion strategies for acute myocardial infarction in the elderly Benefits and risks. J Am Coll Cardiol 2005; 45: 471-8.

26. Verheugt F.W.A. Reperfusion therapy start in the ambulance, Circulation 2006; 113: 2377-2379.

27. Brindiss R.G., Dehmer G.J. Continuous quality improvement in the cardiac catheterization laboratory. Are the benefit worth the cost and effort? Circulation 2006; 113: 767-770.

28. Hannan E.L., Racz M., Holmes D.R., King III SB et al., Impact of completeness of percutaneous coronary intervention revascularization on long term outcomes in stent era. Circulation 2006; 113: 2406-2412.

29. Smith S.C. Evidence based medicine: making the grade. Miles to go before we sleep. Circulation 2006; 113: 178-179.

(27)

31. Valgimigli M., Percoco G., Ciechitelli G., Campo G., et al. New and old strategies to affort the liberal use of drug eluting stents in real life scenarios. Eur Heart J 2005; 7 suppl: K31-K35.

32. Vaithus P.T. Common sense, dollars and cents, and drug eluting stent. J Am Coll Cardiol 2006; 48: 268-9.

33. Rugers C., Edelman ER. Pushing drug eluting stents into uncharted territory. Simpler than you think-more complex than you imagine. Circulation 2006; 113: 2262-2265.

34. Colombo A., Corbett S.J. Drug eluting stent thrombosis increasingly recognized but too frequently over emphasized, J Am Coll Cardiol 2006; 48:203-205.

35. Cosgrave J., Melzi G., Biondi Zoccai G.G.L., Arolde F., et al. Drug eluting stent restenosis. The pattern predicts the outcome. J Am Coll Cardiol 2006; 47: 2399-404.

36. Goy J.J., Stauffer J.C., Siegenthaler M., Benoit A. et al., A prospective randomized comparison between paclitaxel and sirolismus stents in the real world of interventional cardiology the TAXI trial. J Am Coll Cardiol 2005; 45: 308-311.

37. Ong ATL, Serruys PW, Aoki J, Hoye A et al. The unrestricted use of paclitaxel versus sirolismus eluting stents for coronary artery disease in an unselected population. One year results of the taxus stent evaluated at Rotterdam cardiology hospital (T-SEARCH) registry. J Am Coll Cardiol 2005; 45 : 1135 – 41.

38. Lemos P.A., Hofma S.H., Regar E., Saia F., Serrvys P.W. Drug eluting stents in Euro PCR 04. The Paris course on revascularization, May 2004.

39. Kereiakes D.J., Antman E.M. Clinical guidelines and practice. In search of the truth. J Am Coll Cardiol 2006; 48:1124-35las.

40. Douglas P.S. President’s page. Upon convocation: dream big, love big. J Am Coll Cardiol 2005; 47: 1142-1143.

(28)

D AFTAR RI W AYAT H I D UP

A. D ATA PRI BAD I

Nama : Prof. dr. Harris Hasan, SpPD, SpJP(K)

NIP : 140 142 681

Pangkat/Golongan : Pembina Tingkat I/IVb

Jabatan : Guru Besar Madya

Tempat/Tanggal Lahir : Medan/5 April 1956 Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Nama Ayah : H. T. M. Hasan Nama Ibu : Hj. Cut Hamdiah Nama Isteri : dr. Bilkes, SpKK Nama Anak : 1. T. Rifqi Hashmi

2. Cut Farah Saufika 3. T. Rafli Baihaki

Alamat : Kompleks Tasbih Jl. Cykas II Blok AA No. 5, Medan, 20122

B. PEN D I D I KAN

1. 1968 : Lulus SD Negeri 15 Medan 2. 1971 : Lulus SMP Negeri 4 Medan 3. 1974 : Lulus SMA Negeri 6 Medan 4. 1982 : Lulus Dokter, FK-USU Medan

5. 1993 : Lulus Dokter Spesialis Penyakit Dalam FK-USU

6. 1998 : Lulus Dokter Spesialis Jantung & Pembuluh Darah FK-UI 7. 2004 : Konsultan Penyakit Jantung & Pembuluh Darah dari PERKI

Pusat & Kolegium Penyakit Jantung & Pembuluh Darah 8. 2005 : Kursus Biologi Molekuler FK-USU

9. 2005 : Paris Course Revascularization–Euro PCR Paris 10.2005 : Angioplasty Summit, TCT Seoul

11.2005 : Singapore Live Intervention, Singapore 12.2005 : 1st Asian Intervention, Singapore

13.2006 : On Tutor Training for Staff, Medical Education Unit FK-USU 14. 2007 : Pertukaran Kunjungan Dosen Departemen Kardiologi dan

Kedokteran Vaskular USU ke Departemen Kardiologi FK-UI

(29)

C. JABATAN D AN PEKERJAAN

Pa n gk a t / Golon ga n

1. 1 Maret 1983 : Calon Pegawai Negeri Sipil/Gol. IIIa 2. 1 Desember 1984 : Penata Muda/Gol. IIIa

3. 1 April 1986 : Penata Muda Tingkat I/Gol. IIIb 4. 1 April 1990 : Penata/Gol. IIIc

5. 1 Oktober 1993 : Penata Tingkat I/Gol. IIId 6. 1 April 1997 : Pembina/Gol. IVa

7. 16 Januari 2004 : Pembina Tingkat I/Gol. IVb 8. 1 Juli 2004 : Lektor/Gol. IVb

9. 1 April 2007 : Guru Besar Madya/Pembina Tingkat I/Gol. IVb

Pe k e r j a a n

1. 1982-1983 : Dokter Puskesmas Kodya Sabang-Aceh 2. 1983-1987 : Dokter Puskesmas Kabupaten Aceh Utara

3. 1988-1993 : Peserta Program Studi Ilmu Penyakit Dalam FK-USU 4. 1993-sekarang : Staf Pengajar Ilmu Penyakit Dalam FK-USU

5. 1996-1998 : Peserta Program Studi Ilmu Penyakit Jantung FK-UI 6. 2001-sekarang : Staf Bagian/Departemen Kardiologi FK-USU

7. 2001-sekarang : Sekretaris Departemen Kardiologi FK-USU

8. 2005-sekarang : Wakil Kepala Instalasi Kardiovaskular RSUP H. Adam Malik Medan

9. 1993-sekarang : Dosen Kardiologi Mahasiswa FK-USU 10.2004-sekarang : Dosen Kardiologi S1 Keperawatan FK-USU 11.2004-sekarang : Dosen Kardiologi D3 Keperawatan FK-USU

12.2003-sekarang : Kepala Unit Kardiovaskular Intensif (CVCU) RSUP H. Adam Malik Medan

13.2007-sekarang : Ketua Gugus Kendali Mutu (GKM) Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FK-USU

D . KEAN GGOTAAN ORGAN I SASI PROFESI

1. Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI)

2. Anggota Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI)

3. Sekretaris Perhimpunan Kardiologi Indonesia (PERKI) cabang Medan 4. Sekretaris Perkumpulan Gawat Darurat Indonesia (PGDI) cabang

Medan

5. Anggota European Society of Cardiology (ESC) 6. Anggota Fellow Indonesian Heart Association (FIHA)

7. Anggota European Association of Percutaneous Cardiovascular Interventions (EAPCI)

(30)

E. KARYA I LM I AH

Se ba ga i Pe n u lis Ut a m a :

1. Hasan, H., Isnanta, R., ”Hubungan mikroalbuminuria dengan penyakit jantung koroner”, Majalah Kedokteran Nusantara 2006, Vol. 39 No.3 Suppl.242-5.

2. Hasan, H., “Intervensi Koroner Perkutan”, Majalah Kedokteran Nusantara, 2005, Vol. 38 No.1, 124-6.

3. Hasan, H.,” Resiko Penyakit Jantung Koroner Akibat Hipertensi”, Majalah Kedokteran Nusantara 2005, Vol. 38 No. 2.

4. Hasan, H., Tarigan, E., ”Hubungan Kadar Troponin T dengan Gambaran Klinis Penderita Sindroma Koroner Akut”, Majalah Kedokteran Nusantara 2005, Vol. 38 No. 4.

5. Hasan, H., Leonard, ”Kadar Homosistein Plasma pada Penderita Angina Pektoris Stabil”, Majalah Kedokteran Nusantara 2005, Vol. 38 No.4.

6. Hasan, H., ”Timing of Intervention/Operation in Valvular Heart Disease” Programme & Abstract Book 12th Annual Scientific Meeting of The Indonesian Heart Association (Cardiology Update) and 6th Interventional Cardiology, Jakarta 24-26 April 2003.

7. Hasan, H., ”Pelayanan Kardiovaskular di Bagian Kardiologi”, Symposium Penyelenggara Ilmu Kardiovaskular dan Perkembangan Penanggulangannya, Medan, 8 Januari 2005.

8. Hasan, H., ”Tatalaksana Faktor Risiko Kardiovaskular” Seminar Kolesterol & Penyakit Jantung Koroner, Medan, 1 Maret 2006.

9. Hasan, H., ”Hypertension with multiple risk factor, why we managed to improve clinical outcome”, Seminar Hipertensi & Koroner, Banda Aceh, Feb. 2006.

10. Hasan, H., ”Management heart failure in 2006”, Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT VII) Ilmu Penyakit Dalam FK-USU, Medan, 2-4 Maret 2006.

11. Hasan, H., ”The role of ARB in heart filure management”, Round Table Discussion, Medan 25 Maret 2006.

12. Hasan, H., ”Olmersatan the newest ARB for cardiovascular”, Round Table Discussion, Medan, 18 Februari 2006.

13. Hasan, H., “Early reperfusion in acute myocardial infarct”, Symposium Cardiac Emergency, Medan, 2 Juli 2006.

(31)

15. Hasan, H., “Emergency cardiovascular syndrome”, 11th National Congress of Indonesian Heart Association 15th Annual Scientific Meeting of The Indonesian Heart Association, April 19-22, 2006 Tiara Convention Center Medan.

16. Hasan, H., “Acute coronary syndrome (ACS)”, 11th National Congress of Indonesian Heart Association 15th Annual Scientific Meeting of The Indonesian Heart Association, April 19-22, 2006 Tiara Convention Center Medan.

17. Hasan, H., “Management dyslipidemia in diabetes tipe II (field study)”, 11th Seminar Management Dyslipidemia in Diabetes tipe II, Medan, 27 Mei 2006.

18. Hasan, H., “Management of acute myocardial infarction in the first minuter” Seminar Cardiac and Pulmonary Emergency Course, Medan 30 Juni 2006.

19. Hasan, H., “Looking for ideal CCB (lercanidipine)”, Simposium Hipertensi dan Faktor Resiko Koroner, Medan, 17 Juni 2006.

20. Hasan, H., ”Peran klinis vitamin E dalam pencegahan dan pengobatan penyakit jantung koroner”, Seminar Antioksidan, Medan, 16 Juni 2004.

21. Hasan, H., ”Valiant study for MI Patient” RTD, Medan, 24 Agustus 2005.

22. Hasan, H., ”Resiko penyakit jantung koroner akibat hipertensi”, Symposium the 3nd New Trend on Cardiovascular Management 2005, Medan, 6-8 Juni 2005.

23. Hasan, H., “Approach to chest pain and possible MI”, The 1st Symposium on Critical Care and Emergency Medicine, Medan, 22 Mei 2005.

24. Hasan, H., “Management of acute myocardial infarction in the first minute”, The 1st Symposium on Critical Care and Emergency Medicine, Medan, 20 Mei 2005.

25. Hasan, H., “Cardiogenik Shock”, The 1st Symposium on Critical Care and Emergency Medicine, Medan, 21 Mei 2005.

26. Hasan, H., “Peripheral arterial disease and drug of choice” Forum Ilmiah I Endokrin dan Diabetes Regional Sumatera 2005, Medan, 30 Juli 2005.

27. Hasan, H., “Clopidogrel as adjuvant in thrombolytic in STEMI”, RTD Sanofi, Medan, 13 Agustus 2005.

28. Hasan, H., “Hypertension with multiple risk factor, why we managed to improve outcome”, Seminar di RSU Kisaran, 10 Agustus 2005. 29. Hasan, H., “Risk of coronary disease imposed by hypertension”,

(32)

30. Hasan, H., “Resiko kardiovaskular dan pencegahannya”, Ceramah Mantan Bupati se-SUMUT, Medan, 27 Juli 2005.

31. Hasan, H., “Percutaneous coronary intervention”, PIT Interna, Medan Maret 2005.

32. Hasan, H., ”Jantungku Kekasihku”, ceramah kesehatan di Aula Kantor Gubernur, Agustus 2004.

33. Hasan, H., ”Cintailah Jantung Anda”, Ceramah di Kantor Walikota Agustus 2004.

34. Hasan, H., ”Gangguan hemostasis pada uremia”, Tesis Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK-USU, 1993.

35. Hasan, H., ”Perjalanan klinis penderita infark miokard akut yang mendapat trombolisis”, Tesis Bagian Kardiologi FK-UI, 1998.

36. Hasan, H., Effendi, D., ”Correlation dispersion QT with hypertrophy left ventricle towards hypertension patients”, 2nd Asean Conference On Medical Science, Medan, Agustus 2002.

37. Hasan, H., Tarigan, E., ”Relation between the level of troponin T with clinical pictures of patients with acute coronary syndrome”, Majalah Kedokteran Nusantara, 2002.

38. Hasan, H., Acute Coronary Syndrome Implication for Management. The 3rd Symposium On Critical Care and Emergency Medicine, Medan, May 2007.

39. Hasan, H., Management of Hypertension Emergencies, The 3rd Symposium on Critical Care and Emergency Medicine, Medan, May, 2007.

40. Hasan, H., Management Non Elevation Myocard Infarct, Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) VIII 2007 Departemen Penyakit Dalam FK-USU, Medan, Maret 2007.

41. Hasan, H., Penatalaksanaan MCI pada Pelatihan Keperawatan Dasar ICU, RSUP H. Adam Malik Medan, 20-24 Februari 2007.

42. Hasan, H., CHD in Adult, What should we do? The 4th New Trend in Cardiovascular Management, Medan, June 15-16th 2007.

43. Hasan, H., Recent Management of Acute Coronary Syndrome, The 4th New Trend in Cardiovascular Management, Medan, June 15-16th 2007.

Se ba ga i Pe n u lis Pe m ba n t u :

(33)

2. Suherdy, H a sa n , H ., “Drug eluting stents (DES) in multivessel disease”, 11th National Congress of Indonesian Heart Association 15th Annual Scientific Meeting of The Indonesian Heart Association, April 19-22, 2006 Tiara Convention Center Medan.

3. Muchtar, Z., Kasiman, S., Kaoy, I.N., H a sa n , H ., “Primary PCI in STEMI Medan cases”, 11th National Congress of Indonesian Heart Association 15th Annual Scientific Meeting of The Indonesian Heart Association, April 19-22, 2006 Tiara Convention Center Medan.

4. Sembiring, L.P., H a sa n , H ., “The level of N-Terminal pro-Brain Natriuretic Peptide (NT-proBNP)”, 11th National Congress of Indonesian Heart Association 15th Annual Scientific Meeting of The Indonesian Heart Association, April 19-22, 2006 Tiara Convention Center Medan.

5. Sitepu, A., H a sa n , H ., “GP IIb/IIIa in primary PCI”, 11th National Congress of Indonesian Heart Association 15th Annual Scientific Meeting of The Indonesian Heart Association, April 19-22, 2006 Tiara Convention Center Medan.

6. Rey Imelda, H a sa n , H ., “PCI in high risk CHD patient”, 11th National Congress of Indonesian Heart Association 15th Annual Scientific Meeting of The Indonesian Heart Association, April 19-22, 2006 Tiara Convention Center Medan.

7. Savitri, H a sa n , H ., “Primary PCI in ST elevation myocardial infarction”, 11th National Congress of Indonesian Heart Association 15th Annual Scientific Meeting of The Indonesian Heart Association, April 19-22, 2006 Tiara Convention Center Medan.

8. Jannus, H a sa n , H ., “Percutaneous coronary intervention in diabetic patients”, 11th National Congress of Indonesian Heart Association 15th Annual Scientific Meeting of The Indonesian Heart Association, April 19-22, 2006 Tiara Convention Center Medan.

9. Putra Surya H, H a sa n , H ., “Trombus aspiration in primary PCI”, 11th National Congress of Indonesian Heart Association 15th Annual Scientific Meeting of The Indonesian Heart Association, April 19-22, 2006 Tiara Convention Center Medan.

10. Syahrini, H., H a sa n , H ., “Pericardiosentesis on cardiac tamponade”, 11th National Congress of Indonesian Heart Association 15th Annual Scientific Meeting of The Indonesian Heart Association, April 19-22, 2006 Tiara Convention Center Medan.

(34)

12. Deli, Sembiring, P., H a sa n , H ., “Homocystein pada penyakit jantung koroner dengan DM tipe 2”, Tesis Bagian Patologi Klinik FK-USU, 2003.

13. Nainggolan Y.D., Ganie R.A., H a sa n , H ., “Penentuan kadar fibrinogen metode clause dengan teknik autorealisasi pada penderita infark miokard akut”, Tesis Bagian Patologi Klinik FK-USU, 2005. 14. Zulkhairi, H a sa n , H ., ”Penatalaksanaan blok total AV dengan pacu

jantung”, Maj Kedokt Indon 2002; 52: 442-6.

15. Tampubolon, Y., H a sa n , H ., “Profile of patients with heart valve disease in Adam Malik general hospital, Medan”, 2nd Asean Conference On Medical Science, Medan, Agustus 2002.

16. Lubis, F., H a sa n , H ., “Coronary angiography profile in Haji Adam Malik general hospital Medan”, 2nd Asean Conference On Medical Science, Medan, Agustus 2002.

17. Nasution, S., H a sa n , H ., “Congestive heart failure profile in hospitalized patients at Haji Adam Malik Medan”, 2nd Asean Conference On Medical Science, Medan, Agustus 2002.

18. Zulkhairi, H a sa n , H ., “Permanent pacemaker in recurrent syncope” 2nd Asean Conference On Medical Science, Medan, Agustus 2002. 19. Dirga, M., H a sa n , H ., ”Management of ventricular tachycardia in

acute myocardial infarction”, 2nd Asean Conference On Medical Science, Medan, Agustus 2002.

20. Rinaldi, H a sa n , H ., “Aggressive controlling risk factor in patient after percutaneous coronary intervention”, 2nd Asean Conference On Medical Science, Medan, Agustus 2002.

21. Fauzy, M., Lubis, M.Y., H a sa n , H ., “Cardiovascular autonomical neuropathy for those with type 2 diabetes newly diagnosed”, 2nd Asean Conference On Medical Science, Medan, Agustus 2002.

22. Fauzy, M., H a sa n , H ., “Successful intervention of balloon mitral valvuloplasty (BMV) on severe mitral stenosis”, 2nd Asean Conference On Medical Science, Medan, Agustus 2002.

23. Gunawan, A., H a sa n , H ., “The management of acute management of acute pulmonary oedema in ischemic heart disease”, 2nd Asean Conference On Medical Science, Medan, Agustus 2002.

24. Darmadi, H a sa n , H ., “Dilated cardiomiopathy: how to treat?” 2nd Asean Conference On Medical Science, Medan, Agustus 2002.

25. Nasution, S., H a sa n , H ., “Mitral stenosis with thrombus in the left atrium”, 2nd Asean Conference On Medical Science, Medan, Agustus 2002.

(35)

27. Sembiring, L.P., H a sa n , H ., ”Acute coronary sindrome patients profile at the intensive cardiac care unit of Adam Malik General Hospital Medan, 2nd Asean Conference On Medical Science, Medan, Agustus 2002.

28. Lardo, S., H a sa n , H . ”Kardiomiopati”, Medikal, Jurnal Kedokteran dan Farmasi No.6, tahun ke XXX, Juni 2004.

F. PERTEM U AN I LM I AH YAN G D I H AD I RI

1. 18th Weekend course on Cardiology, Jakarta, September 2006.

2. The 8th International Meeting on Respiratory Care Indonesia (RESPINA 2006), Jakarta, September 2006.

3. World Congress of Cardiology 2006 in Barcelona, Spain, September 2006.

4. European Board for Accreditation in Cardiology (EBAC), “Coronary pressure to improve multivessel PCI” Organised by the “Cardiovascular Research Center, Aalst, Barcelona, September 2006. 5. European Board for Accreditation in Cardiology (EBAC), “Improving

the management of dyslipidemia: translating treatment benefits into clinical practice”, Barcelona, September 2006.

6. Seminar Kesehatan “Cintai jantung anda”, Medan, Agustus 2006. 7. Symposium Thyroid Update, dalam rangka ulang tahun FK-USU 54,

Agustus 2006.

8. Seminar ilmiah, ”Penyelesaian Sengketa Medik Dokter dan Pasien”, dalam rangka Dies Natalis ke-54 USU, Agustus 2006.

9. Seminar Osteoporosis, dalam rangka ulang tahun FK-USU 54, Agustus 2006.

10. Pertemuan Perhimpunan Intervensi Kardiovaskular Indonesia (PIKI) ke-2, Semarang, Juli 2006.

11. Kongres Nasional PETRI XII, PERPARI VIII, PKWI IX, Medan, Juli 2006.

12. The 2nd Symposium on Critical Care and Emergency Medicine, Medan, Juli 2006.

13. The 6th Jakarta Nephrology and hypertension course, Jakarta, Mei 2006.

14. Echocardiography mini course in conjuction with 15th Annual Scientific Meeting of The Indonesian Heart Association, Medan, April 2006.

(36)

16. 15th Annual Scientific Meeting of The Indonesian Heart Association, Medan, April 2006.

17. China Interventional Therapeutics 2006 in conjuction with TCT at CIT & EuroPCR at CIT, Beijing, China, April 2006.

18. PIT VII 2006, Departemen Penyakit Dalam FK-USU, Medan, Maret 2006.

19. Singapore live 2006, Singapore, February-March 2006. 20. Launching symposium Olmetec Medan, Januari 2006.

21. 15th Asian Pacific Congress of Cardiology 57th Annual Conference of Cardiological Society of India, Mumbai, India, December 2005.

22. Pelatihan Kedokteran Keluarga Modul A,B,C, dan D, Medan, Agustus-September 2005.

23. Symposium Infection Update II 2005, Medan, Agustus 2005.

24. 1st Asian Interventional Cardiovascular Therapeutics (AICT), Singapura, Agustus 2005.

25. Forum Ilmiah Pertama Endokrin dan Diabetes Regional Sumatera, Medan, Juli 2005.

26. The 3rd New Trend in Cardiovascular Management (NTCM), Medan, Juni 2005.

27. The 1st symposium, “On critical care & emergency medicine”, Medan, May 2005.

28. Angioplasty Summit 2005 TCT Asia Pacific, Seoul, Korea, April 2005. 29. PIT VI 2005 Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK-USU, Medan, Maret

2005.

30. KONKER PERKI X dan The National Symposium Cardiometabolics, Batam, Februari 2005.

31. Singapore Live 2005, Singapore, January 2005. 32. Singapore live 2004, Singapore, March 2004.

33. Seminar PERKI Cabang Sumatera Utara, Medan, Januari 2005.

34. European Society of Cardiology (ESC) congress 2004, Munich, Germany, September 2004.

35. European Society of Cardiology (ESC) congress 2003, Vienna, Austria, September 2003.

36. 16th weekend course on cardiology, Jakarta, Oktober 2004.

37. The 10th National congress of Indonesian Heart Association, Bali, February 2004.

38. The 13th Annual Scientific Meeting of Indonesian Heart Association, Bali, February 2004.

39. 14th Asian Pacific congress of cardiology 2004, Singapore, January 2004.

(37)

41. China Interventional Therapeutics 2007, Beijing, China, March 29– April 1, 2007.

42. 3rd Asian Interventional Cardiovascular Therapeutic with Malaysian Cardiovascular Interventional Symposium 2007, 11-14 Juli, Kuala Lumpur.

G. TAN D A PEN GH ARGAAN

1. 1985 : Piagam Penghargaan Bupati Aceh Utara dalam Rangka Peresmian Pabrik Pupuk Asean (AAF) oleh Presiden RI.

2. 1998 : Piagam Penghargaan dari Ketua MPR RI dalam Rangka Sidang Umum MPR 1998.

3. 2006 : Piagam Tanda Penghargaan Bakti Karya Husada Dwi Windu dari Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 464/MENKES/ SK/VI/2006.

Referensi

Dokumen terkait

The objectives of the research are to find out how the translation of modal auxiliary in the film entitled Dear John translated and the quality of the translation in

Berdasarkan hasil uji coba terbatas yang dilakukan, diperoleh bahwa (a) Hasil validasi bahan ajar adalah 4 pada kategori sangat valid karena setiap aspek untuk setiap

Predictors: (Constant), Lev, Latar_Belakang_KA, Intensitas_Gw, Size, ROA, Auditor. Variables

Untuk membatasi permasalahan yang ada supaya tidak terlalu kompleks, maka pada penelitian ini hanya difokuskan pada 4 faktor saja yang mempengaruhi keputusan

AN EFFORT TO IMPROVE STUDENTS’ READING COMPREHENSION THROUGH RECIPROCAL TEACHING TECHNIQUE (A CLASSROOM ACTION RESEARCH AT THE SECOND GRADE STUDENTS’ OF SMA NEGERI 1

dengan baik, maka peserta didik diharapkan dapat menjelaskan tentang materi : asal-usul manusia purba di indonesia.. Sains (

Untuk mewujudkan sasaran tersebut, kegiatan yang telah dilakukan meliputi: Persentase sisa perkara yang diselesaikan, Persentase perkara yang diselesaikan tepat

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat dan limpahan karunia-Nya lah, akhirnya penulis dapat menyelesaikan laporan