• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Kebijakan Modal Kerja Terhadap Return On Investment Pada Industri Rokok Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pengaruh Kebijakan Modal Kerja Terhadap Return On Investment Pada Industri Rokok Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KEBIJAKAN MODAL KERJA

TERHADAP RETURN ON INVESTMENT

PADA INDUSTRI ROKOK

YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

TESIS

Oleh :

ENCIK LATIFAH HANUM

057017004 /AKT

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

M E D A N

2 0 0 8

SE

K O LA

H

P A

S

C

(2)

PENGARUH KEBIJAKAN MODAL KERJA

TERHADAP RETURN ON INVESTMENT

PADA INDUSTRI ROKOK

YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

TESIS

Untuk Memperoleh Gelar Magister Sains

Dalam Program Ilmu Akuntansi pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

Oleh :

ENCIK LATIFAH HANUM

057017004 /AKT

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

Judul Tesis : PENGARUH KEBIJAKAN MODAL KERJA TERHADAP RETURN ON INVESTMENT PADA INDUSTRI ROKOK YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

Nama : Encik Latifah Hanum Nomor Pokok : 057017004

Program Studi : Ilmu Akuntansi

Menyetujui : Komisi Pembimbing,

(Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA, Ak) (Drs. Hasan Sakti Siregar, M.Si, Ak)

Ketua Anggota

Ketua Program Studi, Direktur,

(4)

Tanggal Lulus : 15 Agustus 2008 Telah diuji pada

(5)

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA, Ak

Anggota : 1. Drs. Hasan Sakti Siregar, M.Si, Ak 2. Drs. Rasdianto, M.Si, Ak

(6)

ABSTRAK

ENCIK LATIFAH HANUM, 2008, Pengaruh Kebijakan Modal Kerja Terhadap

Return On Investment (ROI) Pada Industri Rokok yang Terdaftar di Bursa Efek

Indonesia Tahun 1998 - 2006, dengan komisi pembimbing : Ade Fatma Lubis (Ketua) dan Hasan Sakti Siregar (Anggota)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kebijakan modal kerja berpengaruh terhadap Return On Investment (ROI) pada Industri Rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Obyek yang diambil berjumlah 4 (empat) perusahaan pada emiten industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan periode penelitian antara tahun 1998 sampai dengan tahun 2006. Metode analisis yang digunakan adalah Regresi Linier Berganda (Multiple Linear Regression).

Pengumpual data yang dilakukan adalah melalui studi dokumentasi yang bersumber dari data yang terdapat pada Indonesian Capital Market Directory maupun berasal

dar

hal ini desain asosiatif yang digunakan adalah desain asosiatif kausal yaitu adanya hubungan sebab akibat antara satu variabel dengan variabel yang lain. Penelitian ini merupakan penelitian sensus dimana semua populasi dijadikan sampel pada seluruh industri rokok yang terdapat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari tahun 1998 sampai dengan 2006 (selama 9 tahun) pada populasi perusahaan rokok yang terdapat di Bursa Efek Indonesia. Populasi industri rokok yang tredapat di Bursa Efek Indonesia mulai 1998 hingga 2006 terdapat 4 (empat) perusahaan rokok. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari current ratio, working capital turnover ratio, current

assets to total assets dan current liabilities to total assets ratio sedangkan variebel

dependen return on investment. Metode analisi yang digunakan adalah Regresi Linier Berganda (Multiple Linear Regression)

Hasil analisis menunjukkan bahwa dari beberapa unsur – unsur modal kerja seperti

current ratio, working capital turnover ratio, current assets to total assets dan current liabilities to total assets ratio secara simultan terdapat pengaruh yang

signifikan terhadap tingkat profitabilitas yang diwakili oleh Return on Investment. Secara parsial menunjukkan hanya variabel current ratio dan working capital

turnover ratio dengan variasi yang terjelaskan yang dinyatakan dalam Adjusted R2

sebesar 36,9 % sedangkan sisanya sebesar 63,1 % dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dijelaskan oleh model penelitian ini.

Hasil penelitian berdasarkan uji hipotesis menunjukkan bahwa diantara beberapa unsur kebijakan modal kerja yang paling dominan mempengaruhi tingkat Return on Investment pada industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia adalah current

(7)

keuangan harus mampu dan tanggap untuk melihat perubahan-perubahan yang terjadi di perusahaan terutama yang menyangkut pengelolaan modal kerja yang dimulai dari perencanaan, penyusunan, pelaksanaan dan pengawasan modal kerja itu sendiri dan juga bagi investor dalam melakukan keputusan investasi perlu mempertimbangkan faktor – faktor modal kerja.

(8)

ABSTRACT

ENCIK LATIFAH HANUM, 2008, Influence of Policy of Working Capital to Return On Investment (ROI) the Cigarette Industry which Listed in Indonesia Stock Exchange in 1998 - 2006, with counsellor commission ; Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA, Ak ( Chief) and Hasan Sakti Siregar ( Member)

This research aim to to know do policy of working capital have an effect on to Return On Investment (ROI) at Cigarette Industry which listed in Indonesia Stock Exchange. Emiten in popullation Cigarette Emiten the taken amount to 4 (four) emiten the cigarette industry listed in Indonesia Stock Exchange with period of research between of 1998 up to year of 2006. Analysis method the used is Multiple Linear Regression.

The data used in this research from the documenation study on Indonesian Capital

Market Directory an

this case associatif design the used is causal associatif that is existence of causality between one variable with other variable. This research is cencus type where all populations in the cigarette industry listed in Indonesia Stock Exchange from 1998 until 2006 (during 9 year). The variable used in this research consist of current ratio (X1), working capital turnover ratio (X2), current assets to total assets (X3), current liabilities to total assets ratio (X4) is while dependen varible is return on investment (Y). Method analysis used is Multiple Linear Regression Analysis.

The result indicate that from some working capital policy as of current ratio, working capital turnover ratio, current assets to total assets and current liabilities to total assets ratio simultanly there are the influence significant to the profitability represented by Return on Investment. Partially show only variable current ratio and working capital turnover ratio with explained by variation the expressed in Adjusted R2 equal to 36,9 % is while the rest equal to 63,1 % influenced by other variable which is not explained by this research model.

(9)
(10)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Dengan kerendahan hati, tulus dan ikhlas penulis menyampaikan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, kerena dorongan rahmat, karunia dan RidhoNya yang berkelimpahan, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini.

Dalam penyelesaian tesis ini tentu saja penulis banyak menemui kesulitan-kesulitan, kendala-kendela dan hambatan-hambatan, akan tetapi berkat bantuan, bimbinan, petunjuk dan masukan dari berbagai pihak lainnya penulis dapat menyelesaikannya.Dengan ini segala kerendahan hati, tulus dan ikhlas penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Prof. Chairuddin P. Lubis, DTMH, Sp. A(K), selaku Rektor

Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas untuk mengikuti dan menyelesaikan Sekolah Pascasarjana.

2. Ibu Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B, M.Sc, Selaku Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, yang senantiasa dengan sabar dan secara berkesenambungan meningkatkan layanan pendidikan di Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MBA, MAFIS, Ak, selaku Ketua Program Studi Ilmu Akuntansi Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, Sekaligus Ketua Komisi Dosen Pembimbing Utama yang telah banyak memberikan saran dan kritik yang konstruktif dalam membimbing penulis sejak awal sehingga selesainya tesis ini.

4. Bapak Drs. Hasan Sakti Siregar, M.Si, Ak, selaku Anggota Komisi Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan saran dan kritik yang konstruktif dalam membimbing penulis sejak awal hingga selesainya tesis ini.

5. Bapak Drs. Rasdianto, M.Si, Ak, Selaku Anggota Komisi Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan saran dan kritik yang konstruktif dalam membimbing penulis sejak awal hingga selesainya tesis ini.

6. Bapak Drs. Jainul Bahri Torong, M.Si, Ak, selaku Anggota Dosen

Pembimbing yang telah banyak memberikan saran dan kritik yang konstruktif dalam membimbing penulis sejak awal hingga selesainya tesis ini.

7. Ibu Dra. Tapi Anda Sari Lubis, M.Si, Ak, selaku Anggota Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan saran dan kritik yang konstruktif dalam membimbing penulis sejak awal hingga selesainya tesis ini.

(11)

Disamping itu, teristimewa penulis mengucapkan terima kasih kepada keluarga tercinta yaitu Ayahanda O.K H. Rachtan Effendi Amin dan Ibunda Hj. Ramlah serta saudara penulis Kakanda Rodhiah, Zurriah, Hisyamuddin Amir, O.K M. Aman dan O.K M. Amin juga Adinda O.K M. Ajad Mulia, Indah Muliani, Boby Hendra Gunawan dan O.K M. Ridho dan Ananda M. Wahyu sampurna, M. Reza Fachrie, T. Mahjura Azzahra dan Anisa Riski Mulia yang senantiasa memberikan semangat dan motivasi kepada penulis.

Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh kesempurnaan baik dari segi penyajian dan dari segi penyusunannya. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yangbersifat membanggundari para pembaca guna penyempurnaan skripsi ini pada masa yang akan datang.

Akhir kata penulis mengucapkan semoga tesis ini bermanfaat bagi para pembaca, khususnya bagi rekan mahasiswa/i.

Medan, Agustus 2008

(12)

RIWAYAT HIDUP

N a m a : Encik Latifah Hanum

Jenis Kelamin : Perempuan

Tempat/Tanggal Lahir : Belawan, 15 Januari 1977

Agama : Islam

Anak Ke : 6 (enam) dari 9 (sembilan) bersaudara

Nama Ayah : H. Rachtan Effendi Amin

Nama Ibu : Hj. Ramlah

Alamat : Jl. Kapten Raden Sulian Lor. Kesenian

No:24B Belawan

Telepon : 061-6943081 / 08173033466

LATAR BELAKANG PENDIDIKAN

1. Tahun 2008 Pendidikan Sekolah Pascasarjana (S2) Program Magister Sains Akuntansi Universitas Sumatera Utara Medan

2. Tahun 2004 Lulus Pendidikan Sarjana (S1) Jurusan Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Medan

3. Tahun 1996 Lulus Sekolah Menengah Atas Negeri Labuhan Deli Medan

4. Tahun 1993 Lulus Sekolah Menengah Pertama Negeri 24 Medan

(13)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK……….. i

ABSTRACK………. ii

KATA PENGANTAR………. iii

RIWAYAT HIDUP……….. v

DAFTAR ISI………... vi

DAFTAR TABEL………. viii

DAFTAR GAMBAR………. ix

DAFTAR LAMPIRAN... x

BAB I PENDAHULUAN………. 1

1.1. Latar Belakang Masalah………. 1

1.2. Rumusan Masalah………... 6

1.3. Tujuan Penelitian……… 6

1.4. Manfaat Penelitian... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS... 8

2.1. Tinjauan Teori... 8

2.1.1.Modal Kerja... 8

A. Hubungan Rasio Lancar (Current Ratio) dengan Return On Investment……….. 10 B. Hubungan Rasio Perputaran Modal Kerja (Working Capital Turnover Ratio) terhadap Return On Investment... 11 C. Hubungan Rasio Jumlah Aktiva Lancar terhadap Total Aktiva (Current Assets to Total Assets Ratio) dengan Return On Investment. 11 D. Hubungan Rasio Jumlah Hutang Lancar terhadap Total Aktiva (Current Liabilities to Total Assets Ratio) terhadap Return On Investment... 12 2.1.2.Pembelanjaan Modal Kerja... 15

2.1.3.Manajemen Modal Kerja... 16

2.1.4.Profitabilitas Perusahaan……….. 19

2.2. Tinjauan Penelitian Terdahulu……… 24

2.3. Kerangka Konseptual………. 27

2.4. Hipotesis Penelitian……… 31

BAB III METODE PENELITIAN……… 32

3.1. Rancangan Penelitian………. 32

(14)

3.3. Variabel Penelitian... 33

3.3.1. Klasifikasi Variabel... 33

3.3.2. Operasionalisasi Variabel... 33

3.4. Lokasi dan Waktu Penelitian... 36

3.5. Teknik Pengumpulan Data... 36

3.6. Metode dan Teknik Analisis Data... 36

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN……….. 39

4.1. Deskripsi Data Penelitian Industri Rokok... 39

4.2. Hasil Penelitian... 43

4.2.1. Uji Asumsi Klasik... 43

4.2.1.1. Pengujian Normalitas Data... 43

4.2.1.2. Pengujian Multikolinearitas………. 45

4.2.1.3. Pengujian Heteroskedastisitas………... 46

4.2.1.4. Pengujia Autokorelasi………. 47

4.3. Pembahasan Hasil Penelitian... 49

4.3.1. Pengujian Hipotesis... 49

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN……… 56

5.1. Kesimpulan... 56

5.2. Saran... 58

(15)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

2.1 Ringkasan Hasil Penelitian Terdahulu……… 26

3.1 Tabel Operasionalisasi Variabel... 35

4.1 Deskripsi Data Penelitian Industri Rokok……… 41

4.2 Hasil Pengujian One Sample Kolmogorov Smirnov Test………… 46

4.3 Pengujian Multikolinieritas……… 47

4.4 Pengujian Heteroskedastisitas (Statistik)……… 48

4.5 Nilai Durbin-Watson……… 48

4.6 Pengujian Goodness of Fit………... 50

4.7 Uji F... 51

(16)

DAFTAR GAMBAR

Tabel Judul Halaman

(17)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Industri rokok nasional yang notabene memiliki karakteristik padat modal dan

padat tenaga kerja tersebut terus berkembang ditengah persaingan yang semakin

tajam. Kondisi itu bukan tanpa alasan, pada saat makro ekonomi masih menghadapi

kelesuan seperti rendahnya laju perekonomian yang hanya sekira 6 -7 %, tingkat

inflasi yang menembus dua digit (diatas 10%), jumlah pengangguran mencapai

sekitar 60 juta orang, industri rokok secara positif memberikan kontribusi baik di

daerah maupun nasional dengan menyerap tenaga kerja dan memberikan kontribusi

pemasukan terhadap pajak yang tidak sedikit. Perkembangan tersebut salah satunya

dapat terlihat dari sisi total produksi industri rokok nasional yang rata-rata per tahun

dapat mencapai 220 miliar batang. Bila dihitung, jumlah produksi ini tentu

menunjukkan produktivitas yang tergolong sangat tinggi pada ukuran sebuah produk

yang bukan barang primer. Salah satu masalah utama yang dihadapi pemilik

perusahaan ialah menyediakan modal kerja yang diperlukan untuk menunjang

kegiatan-kegiatan operasional perusahaan yang selalu mengalami perubahan dari

periode yang satu ke periode berikutnya. Oleh karena itu seorang manajer keuangan

harus mampu dan tanggap untuk melihat perubahan-perubahan yang terjadi di

perusahaan terutama yang menyangkut pengelolaan modal kerja yang dimulai dari

(18)

Berikut disajikan rasio modal kerja dengan Return on Investment (ROI) pada

perusahaan industri rokok di Bursa Efek Indonesia terdapat pada lampiran 1.

Berdasarkan data menunjukkan bahwa PT. BAT Indonesia sejak tahun 1998

struktur kekayaannya mengalami sedikit penurunan sebesar 1.5 %. Perputaran modal

kerja dari tahun 1998 sampai dengan tahun 1999 mengalami sedikit kenaikan namun

pada tahun 1999 sampai dengan tahun 2001 mengalami penurunan. Sedangkan nilai

ROI secara terus menerus semakin meningkat. PT. BAT Indonesia, Tbk pada tahun

2005 rasio struktur kekayaan mengalami kenaikan sedangkan return on investment

juga mengalami peningkatan, tahun 2006 rasio struktur kekayaan mengalami

kenaikan dan ROI mengalami kenaikan juga, rasio perputaran modal kerja pada tahun

2005 mengalami peningkatan dan return on investment mengalami peningkatan, pada

tahun 2006 rasio perputaran modal kerja mengalami kenaikan dan return on

investment mengalami kenaikan juga, rasio lancar pada tahun 2006 mengalami

peningkatan dan return on investment mengalami peningkatan, pada tahun 2006 rasio

lancar kenaikan dan return on investment juga mengalami kenaikan. Hal yang sama

juga dapat dilihat pada perusahaan yang sejenis terhadap perubahan struktur

kekayaan, perputaran modal kerja, rasio lancar dan ROI.

Salah satu masalah utama yang dihadapi oleh pemimpin atau pemilik

perusahaan ialah menyediakan modal kerja yang diperlukan untuk menunjang

kegiatan-kegiatan operasional perusahaan yang selalu mengalami perubahan dari

periode yang satu ke periode berikutnya. Oleh karena itu seorang manajer keuangan

(19)

perusahaan terutama yang menyangkut pengelolaan modal kerja yang dimulai dari

perencanaan, penyusunan, pelaksanaan dan pengawasan modal kerja itu sendiri.

Kinerja keuangan menyangkut keberhasilan perusahaan dalam mencapai

tujuan yang telah ditetapkan menggunakan beberapa kriteria diantaranya ROI (Return

on Ivestment), ROE (Return on Equity), BEP (Break Even Point), Economic Value

Added (EVA) dan sebagainya. Menurut Sawir (2005:129) Modal kerja adalah

keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki perusahaan, atau dapat pula dimaksudkan

sebagai dana yang harus tersedia untuk membiayai kegiatan operasi perusahaan

sehari-hari. Sedangkan menurut Sukarno (2000:57) modal kerja merupakan asset

perusahaan yang diputar atau digerakkan secara terus-menerus sejalan dengan tujuan

perusahaan.

Penelitian terdahulu yang membahas modal kerja dan mempunyai kaitan

dengan penelitian ini diantaranya oleh Nurak (2002 : 29) mengemukakan kesimpulan

dari penelitian Lanu bahwa kebijakan modal kerja cukup dominan mempengaruhi

Return on Assets (ROA) dan relevan dalam proses pengambilan keputusan

manajemen. Proses hirarki kebijaksanaan modal kerja sangat kuat dipengaruhi oleh

adanya perubahan permintaan sebagai salah satu faktor ekstern. Apabila permintaan

bertambah, berarti ada peluang pasar secara otomatis tercipta kesempatan produksi.

Hal ini dapat dilakukan dengan perencanaan besarnya investasi pada aktiva lancar.

Selanjutnya pertimbangan sumber pendanaannya atau cara pembelanjaannya.

(20)

oleh kegiatan intern kurang dari 50 %, namun keduanya saling tergantung dan

menunjang.

Commanor et al. dalam Martono (2002) mengemukakan bahwa dalam

mempelajari persaingan industri, hal yang perlu diperhatikan adalah besarnya

hambatan untuk keluar masuk industri (barrier to entry). Penggunaan rasio intensitas

modal (capital intensiveness) yang diukur dari total aktiva terhadap penjualan sebagai

(indicator barrier to entry).

Rasio leverage keuangan merupakan salah satu rasio yang banyak dipakai

untuk meningkatkan profitabilitas perusahaan. Rasio leverage memberikan implikasi

penting dalam pengukuran rasio finansial perusahaan.

Modal kerja adalah nilai aktiva atau harta yang dapat segera dijadikan uang

kas yang digunakan perusahaan untuk operasional perusahaan sehari-hari. Ini

menunjukkan bahwa modal kerja merupakan salah satu unsur aktiva yang sangat

penting dalam perusahaan.

Kegiatan kegiatan yang dibiayai oleh modal kerja antara lain adalah

pembelian material/ bahan baku, upah dan gaji karyawan serta berbagai macam biaya

yang diharapkan dapat kembali dalam waktu singkat melalui hasil penjualan. Uang

yang masuk dan bersumber dari hasil penjualan barang tersebut akan dikeluarkan

kembali guna membiayai operasi perusahaan selanjutnya. Dengan demikian dana

tersebut akan berputar secara terus menerus setiap periodenya sepanjang hidup

(21)

Martono dan Harjito (2001:2) menyatakan bahwa perusahaan memiliki 3

macam tujuan utama yang saling berkaitan :

1. Mencapai atau memperoleh laba maksimal untuk kemakmuran pemilik

perusahaan.

2. Menjaga kelangsungan hidup perusahaan (going concern)

3. Mencapai kesejahteraan masyarakat sebagai tanggung jawab sosial perusahaan.

Profitabilitas menurut Riyanto (2001:37) dan Harahap (2004:304) adalah:

menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua

kemampuan dan sumber yang ada seperti penjualan, kas, modal, jumlah karyawan,

jumlah cabang dan sebagainya.

Kondisi kebijakan modal kerja yang ditunjukkan oleh Rasio Lancar (Current

Ratio), Rasio Perputaran Modal Kerja (Working Capital Turn Over), Rasio Aktiva

Lancar Terhadap Total Aktiva (Current Asset to Total Asset), Rasio Hutang Lancar

Terhadap Total Aktiva (Current Liabilities to Total Asset) dan kondisi Return On

Investment (ROI) yang dialami oleh Industri Rokok yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia.

Penelitian ini merupakan penelitian replikasi yang dilakukan dari penelitian

sebelumnya seperti Nurak (2001), Abdul Raheman dan Mohamed Nasr (2007),

Khouri et al (1999) dan Weny dan Murtanto (2001). Adapun yang membedakan

penelitian dengan penelitian sebelumnya adalah periode penelitian lebih panjang yang

mempertimbangkan pengaruh distorsi krisis moneter terhadap laporan keuangan

(22)

Oleh karena itu maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan

mengambil judul: “Pengaruh Kebijakan Modal Kerja Terhadap Return On

Investment (ROI) Pada Industri Rokok yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

Tahun 1998 - 2006”.

1.2. Rumusan Masalah

“Apakah kebijakan modal kerja baik secara simultan maupun secara parsial

berpengaruh terhadap Return On Investment (ROI) pada Industri Rokok yang

terdaftar di Bursa Efek Indonesia ?”.

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah :

Untuk mengetahui apakah kebijakan modal kerja baik secara simultan

maupun secara parsial berpengaruh terhadap Return On Investment (ROI) pada

Industri Rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai :

1) Peneliti Berikut nya

Sumbangan pemikiran bagi berbagai pihak yang berniat untuk melakukan

penelitian lebih lanjut tentang masalah Modal kerja .

(23)

Menambah pegetahuan penulis tentang hubungan modal kerja terhadap Return On

Investment (ROI) pada Industri Rokok yang telah terdaftar di Bursa Efek

Indonesia.

3) Bagi Investor dan Perusahaan

Bahan pertimbangan bagi manajemen untuk pembuatan keputusan dalam rangka

penetapan kebijaksanaan rencana investasi modal kerja pada Industri Rokok

(24)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

2.1. Tinjauan Teori

2.1.1. Modal Kerja

Pemahaman arti modal kerja sangat erat hubungannya dalam rangka

menghitung kebutuhan modal kerja. Pengertian modal kerja yang berbeda-beda akan

menyebabkan perhitungan kebutuhan modal kerja yang juga berbeda.

Sawir (2005:129) Modal kerja adalah keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki

perusahaan, atau dapat pula sebagai dana yang harus tersedia untuk membiayai

kegiatan operasi perusahaan sehari-hari. Menurut Sundjaja & Berlian (2002:155)

modal kerja adalah aktiva lancar yang mewakili bagian dari investasi yang berputar

diri satu bentuk kebentuk lainnya dalam melaksanakan suatu usaha atau kas,

surat-surat berharga yang mudah di uangkan (giro, cek, deposito), piutang dagang dan

persediaan yang tingkat perputarannya tidak melebihi satu tahun atau jangka waktu

normal perusahaan.

Menurut Sawir (2005:126) pengertian modal kerja ada 3 yaitu :

1. Konsep Kuantitatif

Berdasarkan pendekatan konsep kuantitatif, modal kerja merupakan jumlah

keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki suatu perusahaan pada suatu periode

tertentu. Modal kerja dalam pengertian ini sering disebut modal kerja bruto

(25)

2. Konsep Kualitatif

Konsep ini menitik beratkan kualitas modal kerja suatu badan usaha/ perusahaan.

modal kerja menurut konsep kualitatif merupakan selisih jumlah aktiva lancar

setelah dikurangi dengan hutang lancar pada suatu periode waktu tertentu. Modal

kerja dalam pengertian ini sering disebut modal kerja bersih (Net Working

Capital).

3. Konsep Fungsional

Konsep fungsional menekankan pada aspek fungsi modal kerja yang dimiliki

perusahaan dalam menghasilkan pendapatan (laba) dari usaha pokok perusahaan.

Modal kerja adalah aktiva jangka pendek yang digunakan untuk keperluan

sehari – hari oleh perusahaan. Kebijakan modal kerja adalah sebuah keputusan yang

diambil oleh manajer. Besar kecilnya modal kerja yang disediakan oleh perusahaan

terutama tergantung terhadap sikap manajemen terhadap laba dan resiko.

Dalam manajemen modal kerja ada dua prinsip mendasar dari pendanaan operasional

(Horne, 2005:313), yaitu :

a. Kemampuan memperoleh laba berbanding terbalik dengan likuiditas

b. Kemampuan memperoleh laba searah dengan resiko.

Weston (1999:332), merumuskan tiga alternatif pada pembiayaan aktiva

lancar tersebut sebagai pola pembiayaan yang bersifat konservatif, agresif, dan

(26)

manajemen yang mempertahankan tingkat aktiva lancar yang tinggi. Asumsinya yang

mendasari adalah semakin tinggi likuiditasnya.

Pola pembiayaan agresif adalah sebaliknya, pola ini dicirikan oleh sikap

manajemen yang menjaga tingkat aktiva lancar serendah mungkin sepanjang dapat

mendukung penjualan, dengan proporsi yang tinggi antara hutang lancar dari

keseluruhan hutang. Strategi ini akan menghasilkan tingkat modal kerja rendah

bahkan negatif dan kemampuan memperoleh laba yang tinggi.Konsekuensinya adalah

resiko yang tinggi.

Pola pembiayaan moderat berada diantara kedua pola tersebut. Kebijakan ini

berusaha untuk mempertemukan masa jatuh tempo aktiva dan kewajiban dengan

setepat-tepatnya sehingga pendanaan aktiva akan dilakukan dengan instrumen

pendanaan yang memiliki masa jatuh tempo kurang lebih sama. Metode pembiayaan

ini merupakan model yang paling ideal sehingga sering digunakan pedoman

pembelanjaan dalam perusahaan.

A. Hubungan Rasio Lancar (Current Ratio) terhadap ROI

Current Ratio adalah perbandingan antara aktiva lancar dengan hutang lancar.

Rasio ini menunjukkan berapa besar hutang lancar yang dijamin oleh aktiva lancar.

% 100 Lancar Hutang

Lancar Aktiva

Ratio

Current = x

Semakin besar rasio ini maka semakin kemampuan perusahaan untuk melunasi

kewajiban jangka pendeknya. Salah satu unsur kebijakan modal kerja berasal dari

(27)

mengelola aktiva lancar. Aktiva lancar biasanya dikaitkan dengan hutang lancar. Oleh

sebab itu dalam memahami pengertian modal kerja berkaitan pula dengan hutang

lancar. Dengan kondisi tertentu aktiva lancar mampu menghasilkan keuntungan

(profitabilitas) bagi pemilik perusahaan.

B. Hubungan Rasio Perputaran Modal Kerja (Working Capital Turnover Ratio) terhadap ROI

Rasio perputaran modal kerja merupakan perbandingan antara penjualan

dengan jumlah keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki suatu perusahaan pada suatu

periode tertentu. (Abdullah , 2005:71), dapat dihitung dengan rumus :

%

Semakin besar rasio perputaran modal kerja maka semakin baik suatu

perusahan dimana persentase modal kerja yang ada mampu menghasilkan jumlah

penjualan tertentu. Selain itu semakin besar rasio ini menunjukkan efektifnya

pemanfaatan modal kerja yang tersedia dalam meningkatkan profitabilitas

perusahaan.

C. Hubungan Rasio Jumlah Aktiva Lancar terhadap Total Aktiva (Current Assets to Total Assets Ratio) terhadap ROI

Rasio jumlah aktiva lancar terhadap total aktiva merupakan perbandingan

jumlah aktiva lancar terhadap total aktiva yang terdapat diperusahaan yang dinyakan

dalam persen (Sawir, 2005 :144). Dapat dihitung dengan rumus :

(28)

Semakin besar rasio semakin baik karena menunjukkan tersedianya kas,

piutang dan persediaan yang merupakan harta lancar yang paling likuid dibanding

dengan keseluruhan aktiva yang dimiliki perusahaan. Adanya aktiva yang likuid

dapat digunakan sewaktu – waktu dapat membiayai kebutuhan operasional

perusahaan dalam rangka menghasilkan laba.

D. Hubungan Rasio Jumlah Hutang Lancar terhadap Total Aktiva (Current Liabilities to Total Assets Ratio) terhadap ROI

Rasio jumlah hutang lancar terhadap total aktiva merupakan perbandingan

jumlah hutang lancar terhadap total aktiva yang terdapat diperusahaan yang

dinyatakan dalam persen (Barlian & Sundjaja, 2001:78). Dapat dihitung dengan

rumus :

Rasio ini menekankan pentingnya pendanaan hutang bagi perusahaan dengan

jalan menunjukkan besarnya aktiva perusahaan yang dibiayai dengan hutang jangka

pendek. Semakin besar persentase pendanaan berasal dari ekuitas pemegang saham

maka dari sudut kreditur bermakna makin besar perlindungan bagi pemberi pinjaman.

Semakin tinggi rasio ini maka semakin besar resiko keuangan yang dapat

mengganggu capaian profitabilitas perusahaan. Semakin kecil rasio ini maka semakin

(29)

Kesimpulannya, pengertian modal kerja adalah nilai aktiva atau harta yang

dapat segera dijadikan uang kas yang digunakan perusahaan untuk operasional

perusahaan sehari-hari.

Pembagian Modal Kerja

Sawir (2005:132) modal kerja dibagi kedalam dua bagian pokok yaitu :

a. Modal Kerja Permanen (Permanent Working Capital)

Modal kerja permanen adalah modal kerja yang secara teratur harus ada pada

perusahaan untuk mendukung operasi-operasi yang dijalankan perusahaan. Modal

kerja permanen juga dapat di bagi 2 yaitu:

1) Modal Kerja Primer (primary working capital).

Modal Kerja Primer yaitu jumlah modal kerja minimum yang harus ada pada

perusahaan untuk menjamin kontinuitas usahanya.

2) Modal Kerja Normal (normal working capital).

Modal kerja normal adalah modal kerja yang diperlukan oleh perusahaan

untuk mendukung operasi-operasi normal perusahaan yang sering dikaitkan

dengan luas produksi dari perusahaan tersebut. Operasi normal menghasilkan

produksi normal. Apabila perusahaan misalnya selama 4 atau 5 bulan rata-rata

perbulannya mempunyai produksi 1000 unit maka dapat di katakana luas

produksi normalnya adalah 1000 unit. Apabila kemudian ternyata selama 4

atau 5 bulan berikutnya luas produksi rata-rata perbulannya 2000 unit, maka

(30)

b. Modal Kerja Variabel (Variabel Working Capital)

Modal kerja variabel adalah modal kerja yang jumlahnya berubah - ubah sesuai

dengan perubahan keadaan.

Modal kerja variabel dapat dibedakan atas:

1) Modal Kerja Musiman (Seasonal Working Capital)

Modal kerja musiman yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah

disebabkan fluktuasi musim.

2) Modal Kerja Siklis (Cyclical Working Capital)

Modal kerja siklis yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah

disebabkan karena fluktuasi konjungtur.

3) Modal Kerja Darurat (Emergency Working Capital)

Modal kerja darurat yaitu modal kerja yang besarnya berubah-ubah karena

adanya keadaan darurat yang tidak diketahui sebelumnya (misalnya : adanya

pemogokan buruh, banjir, perubahan keadaan ekonomi yang mendadak).

Kebutuhan Modal Kerja

Kebutuhan modal kerja harus direncanakan dengan seksama oleh manajer

keuangan karena kesalahan didalam manajemen modal kerja akan menyebabkan

kesalahan yang fatal bagi perusahaan. Kebijakan modal kerja menurut merupakan

keputusan mendasar sehubungan denga jumlah setiap kategori aktiva lancar yang

(31)

ini menyangkut penentuan besar kecilnya jumlah aktiva lancar yang akan di

pertahankan oleh perusahaan.

Untuk menentukan jumlah modal kerja yang diperlukan oleh suatu

perusahaan terdapat sejumlah faktor yang perlu dianalisa. Djarwanto (2001:89)

menyatakan besarnya modal kerja yang di butuhkan perusahaan tergantung pada

beberapa hal yaitu :

a. Sifat umum atau tipe perusahaan.

b. Waktu yang diperlukan untuk memproduksi atau mendapatkan barang dan

ongkos produksi per unit atau harga beli perunit barang tersebut.

c. Syarat pembelian dan penjualan

d. Tingkat perputaran persediaan

e. Tingkat perputaran piutang

f. Pengaruh konjungtur (business cycle)

g. Derajat resiko kemungkinan menurunnya harga jual aktiva jangka pendek

h. Pengaruh musim

i. Credit rating dari perusahaan.

2.1.2. Pembelanjaan Modal Kerja

Sawir (2005:138) menjelaskan ada 3 (tiga) pilihan kebijakan bagi manajemen

perusahaan untuk membelanjai modal kerjanya, yaitu :

(32)

Kebijakan modal kerja konservatif adalah kebijakan dimana perusahaan

memodali sebagian modal kerja variabelnya dengan modal permanen, sedangkan

modal kerja permanen dan aktiva tetap dibelanjai oleh modal permanen.

2. Kebijakan Modal Kerja Moderat

Perusahaan dapat pula mengambil kebijakan modal kerja moderat dalam

membelanjai modal kerjanya dimana dalam hal ini modal kerja variabel yang

dimiliki oleh perusahaan dimodali dengan sumber dana jangka pendek dan modal

kerja permanen serta aktiva tetap dimodali dari sumber dana jangka panjang.

3. Kebijakan Modal Kerja Agresif

Kebijakan modal kerja agresif adalah bila semua modal kerja dibelanjai dengan

modal kerja jangka pendek, tetapi sebahagian dari modal kerja permanennya di

belanjai dengan sumber modal kerja jangka pendek.

2.1.3. Manajemen Modal Kerja

Menurut Weston & Copeland (1999:327) mengemukakan manajemen modal

kerja mengacu pada semua aspek pengelolaan aktiva lancar dan kewajiban lancar.

manajemen modal kerja adalah kegiatan yang mencakup semua fungsi manajemen

atas aktiva lancar dan kewajiban jangka pendek yang terdapat dalam perusahaan agar

mampu membiayai pengeluaran atau operasi perusahaan sehari-hari. Oleh karena itu

seorang manajer diharapkan mampu mengelola agar pemenuhan modal kerja dapat

(33)

Menurut Weston & Copeland (1999 :324), Pengelolaan modal kerja menjadi penting

karena menyangkut beberapa aspek yaitu sebagai berikut :

1. Beberapa penelitian telah memberikan indikasi bahwa sebagian besar waktu

manajer keuangan dihabiskan dalam kegiatan internal perusahaan dari hari ke hari

dan ini merupakan bagian dari manajemen modal kerja.

2. Lebih separuh dari total aktiva perusahaan merupakan aktiva lancar sebagai

bagian investasi yang besar dan mudah diuangkan, maka aktiva lancar

memerlukan perhatian yang seksama dari menajer keuangan.

3. Hubungan antara tingkat pertumbuhan penjualan dan kebutuhan akan permodalan

aktiva lancar adalah dekat dan langsung. Misalnya dalam piutang, jika jangka

waktu penagihan piutang perusahaan 40 hari dan penjualan kreditnya

Rp.1.000.000,00 sehari, berarti investasi perusahaan dalam piutang akan sebesar

Rp.40.000.000,00.

4. Manajemen modal kerja terutama sangat penting bagi perusahaan kecil.

Walaupun perusahaan kecil ini dapat mengurangi investasi aktiva tetapnya

melalui sewa-beli atau leasing peralatan dan mesin. Mereka tidak dapat

menghindari kebutuhan akan kas, piutang dan persediaan. Karena perusahaan

kecil memiliki akses (jalan masuk) ke pasar modal yang relatif sangat terbatas,

maka penekanan harus ditujukan kepada kredit dagang dan pinjaman bank jangka

pendek, keduanya mempunyai pengaruh pada modal kerja perusahaan melalui

(34)

Modal kerja sebaiknya tersedia dalam jumlah yang cukup agar

memungkinkan perusahaan untuk beroperasi secara ekonomis dan tidak mengalami

kesulitan keuangan dengan menutupi kerugian-kerugian dan dapat mengatasi

keadaan kritis atau darurat tanpa membahayakan keadaan keuangan perusahaan.

Perusahaan akan semakin kuat apabila telah dapat menafsirkan seberapa

banyak kebutuhannya akan modal kerja. Djarwanto (2001:87) menyatakan manfaat

dari tersedianya modal kerja yang cukup adalah :

1. Melindungi perusahaan dari akibat buruk berupa turunnya nilai aktiva lancar,

seperti adanya kerugian kerena debitur tidak membayar kewajibannya, turunnya

nilai persediaan karena harganya merosot.

2. Memungkinkan perusahaan untuk melunasi kewajiban-kewajiban jangka

pendeknya tepat pada waktu yang telah ditentukan.

3. Memungkinkan perusahaan untuk dapat membeli barang dengan tunai sehingga

dapat memetik keuntungan berupa potongan harga.

4. Menjamin perusahaan memiliki credit standing dan dapat mengatasi peristiwa

yang tidak dapat diduga sebelumnya seperti adanya kebakaran, pencurian, dan

sebagainya.

5. Memungkinkan untuk memiliki persediaan dalam jumlah yang cukup guna

melayani permintaan konsumennya.

6. Memungkinkan perusahaan untuk dapat memberikan syarat kredit yang

(35)

7. Memungkinkan perusahaan untuk dapat beroperasi dengan lebih efisien karena

tidak ada kesulitan dalam memperoleh bahan baku, jasa dan supplyer yang

dibutuhkan.

8. Memungkinkan perusahaan untuk mampu bertahan dalam periode resesi atau

depresi.

Sasaran yang ingin dicapai dari manajemen modal kerja (Sawir, 2005:133)

adalah seperti yang diutarakan berikut ini :

1. Memaksimalkan nilai perusahaan dengan mengelola aktiva lancar sehingga

tingkat pengembalian investasi marginal adalah sama atau lebih besar dari biaya

modal yang digunakan untuk membiayai aktiva-aktiva lancar tersebut.

2. Meminimalkan dalam jangka panjang biaya modal yang digunakan untuk

membiayai aktiva lancar.

3. Pengawasan terhadap arus dana dalam aktiva lancar dan ketersediaan dana dari

sumber utang sehingga perusahaan selalu dapat memenuhi kewajiban

keuangannya ketika jatuh tempo.

2.1.4. Profitabilitas Perusahaan

Profitabilitas perusahaan diindikasikan oleh earnings (laba). Menurut Gitman

(2003 : 599): ”Profitability is the relationship between revenues and cost generated

by using the firm’s assets – both current and fixed – in productive activities”.

Sedangkan Brigham dan Houston (2001 : 89) mengatakan bahwa profitabilitas adalah

(36)

Daves (2004 : 1007) mengatakan bahwa ”profitability ratios are a group of ratios

that shows the combined effects of liquidity, assets management, and debt on

operations”. Hal tersebut menunjukkan rasio profitabilitas merupakan suatu

kelompok rasio yang menunjukkan aspek likuiditas, manajemen aktiva dan besarnya

oparasional perusahaan yang dibiayai dari sumber hutang.

Dalam penelitian ini, rasio yang dipakai untuk mengukur profitabilitas adalah

Return on Investment (ROI). Istilah lain dari ROI adalah Return on Assets (ROA).

Gitman (2003: 65) mengatakan bahwa “Return on Total Assets (ROA) measures the

overall effectiveness of management in generating profits with its available assets;

also called the return on investment (ROI)”. Berdasarkan defenisi tersebut bahwa

ROI istilah lainnya disebut ROA yang mengukur tingkat efektivitas manajemen

dalam menghasilkan laba dengan pemanfaatan dari aktiva – aktiva yang dimiliki

perusahaan.

Kemampulabaan (Profitabilitas) merupakan hasil akhir bersih dari berbagai

kebijakan dan keputusan manajemen. Rasio kemampulabaan akan memberikan

gambaran dan jawaban akhir tentang tingkat efektivitas pengelolaan perusahaan.

Laba (profit) maksimum adalah tujuan umum setiap perusahaan yang bersifat jangka

pendek dan merupakan elemen terpenting agar kelanjutan dari perusahaan itu dapat

terjamin, Selain tujuan yang bersifat jangka panjang yaitu kemampuan untuk bersaing

(survive), kemampuan untuk bertumbuh (growth), dan kemampuan untuk

(37)

Untuk mencapai tujuan perusahaan tersebut maka perlu dilakukan proses

manajemen yang efektif dan efisien. Tingkat efisien tidak hanya dilihat dari sisi laba

yang diperoleh, melainkan dengan cara membandingkan laba yang diperoleh tersebut

dengan kekayaan atau modal yang dimiliki oleh perusahaan untuk menghasilkan laba

tersebut.

Kondisi perusahaan dapat diketahui kekuatan dan kelemahannya melalui rasio

profitabilitas. Rasio-rasio profitabilitas yang dipergunakan berhubungan dengan

penilaian terhadap kinerja perusahaan dalam menghasilkan laba. Terdapat beberapa

pengukuran terhadap profitabilitas atau rentabilitas suatu perusahaan yang

masing-masing dihubungkan dengan total aktiva, modal sendiri maupun nilai penjualan yang

dicapai.

Weston & Copeland (1999:232) mendefenisikan profitabilitas

(kemampulabaan) merupakan hasil akhir bersih dari berbagai kebijakan dan

keputusan. Sedangkan menurut Martono & Harjito (2001:18) menyatakan bahwa

profitabilitas yaitu kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dari modal yang

digunakan untuk menghasilkan laba tersebut.

Manager perusahaan diharapkan memiliki kemampuan didalam mengelola

perusahaan untuk mendapatkan laba yang maksimum melalui semua kemampuan dan

sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah

cabang, dan sebagainya dengan cara yang efisien. Efisiensi perusahaan dapat di

peroleh dengan membandingkan laba yang diperoleh dengan kekayaan atau modal

(38)

Rasio profitabilitas perusahaan yang umum digunakan menurut Sawir

(2005:18) adalah :

1. Margin Laba Kotor ( gross profit margin)

2. Margin Laba Bersih (Net Profit Margin)

3. Rentabilitas Ekonomis (Basic Earning Power)

4. Return On Investment (ROI)

5. Return On Equity (ROE)

Dari ukuran rasio profitabilitas diatas, penulis mengambil rasio ukur Return

On Investment (ROI) untuk melakukan penelitian .

Kelebihan Return On Investment (ROI) menurut Syamsuddin (2002:58) yaitu:

1. Selain ROI berguna sebagai alat kontrol, juga berguna untuk keperluan

perencanaan. Misalnya ROI dapat digunakan sebagai dasar pengambilan

keputusan apabila perusahaan akan melakukan ekspansi. Perusahaan dapat

mengistimasikan ROI yang harus melalui investasi pada aktiva tetap.

2. ROI dipergunakan sebagai alat mengukur profitabilitas dari masing-masing

produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Dengan menerapkan sistem biaya

produksi yang baik, maka modal dan biaya dapat dialokasikan ke dalam berbagai

produk yang dihasilkan oleh perusahaan, sehingga dapat dihitung profitabilitas

masing-masing produk.

3. Kegunaan ROI yang paling prinsip berkaitan dengan efisiensi penggunaan modal,

efisiensi produksi dan efisiensi penjualan. Hal ini dapat dicapai apabila

(39)

mematuhi prinsip-prinsip akuntansi yang ada. Apabila suatu perusahaan pada

periode tertentu telah mencapai perputaran aktiva operasi (operating assets turn

over) sesuai standar/ target yang telah ditetapkan, akan tetapi ROI yang dicapai

masih dibawah standar, maka pihak manajemen perusahaan hendaknya lebih

mencurahkan perhatian pada usaha peningkatan efisiensi sektor produksi dan

penjualan.

Sedangkan kelemahan Return On Investment (ROI) menurut Syamsuddin

(2002:59), yaitu sebagai berikut:

1. Sulit membandingkan rate of return suatu perusahaan dengan perusahaan lain,

karena perbedaan praktek akuntansi antar perusahaan.

2. Analisa return on investment (ROI) saja tidak dapat dipakai untuk

membandingkan antara dua perusahaan atau lebih dengan memperoleh hasil yang

memuaskan.

Menurut Syamsuddin (2002:57) ROI sering disebut juga dengan Return On

Total Assets dipergunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam

menghasilkan keuntungan dengan penggunaan seluruh aktiva perusahaan yang

dimiliki. ROI dapat dihitung dengan rumus :

% 100 x Aktiva

Total

Pajak Setelah Bersih

Laba

(40)

2.2. Tinjauan Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu yang membahas modal kerja diantaranya oleh Nurak

(2001 : 29) mengemukakan kesimpulan bahwa kebijkan modal kerja cukup dominan

mempengaruhi Return on Assets (ROA) dan relevan dalam proses pengabilan

keputusan manajemen. Proses hirarki kebijaksanaan modal kerja sangat kuat

dipengaruhi oleh adanya perubahan permintaan sebagai salah satu faktor ekstern.

Apabila permintaan bertambah maka ada peluang pasar secara otomatis tercipta

kesempatan produksi. Hal ini dilakukan dengan perencanaan besarnya investasi pada

aktiva lancar, selanjutnya pertimbangan sumber pendanaannya atau

pembelanjaannya. Keberhasilan pengelolaan modal kerja untuk memperoleh ROI

banyak dipengaruhi oleh kegiatan intern kurang dari 50 %, namun keduanya saling

tergantung dan menunjang serta tidak terpisahkan.

Penelitian yang dilakukan oleh Abdul Raheman dan Mohamed Nasr (2007)

pada tahun 1999 – 2004 pada Karachi Stock Exchange di Pakistan menunjukkan

terdapat pengaruh modal kerja terhadap tingkat likuiditas perusahaan dan juga tingkat

profitabilitas perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel average

collection period, inventory turn over in days, average payment period, cash

convertion cycle dan current ratio. Hasilnya menunjukkan ada hubungan negatif

antara kebijakan modal dengan tingkat profitabilitas perusahaan.

Penelitian Khouri et al, (1999). yang membandingkan kebijakan Modal Kerja

di Negara Kanada, The United States dan Australia dengan mengajukan quesioner

(41)

kerja yang diambil perusahaan pada tiap negara tersebut. Selain itu menunjukkan

bahwa kebijakan modal kerja banyak dipengaruhi oleh waktu (periode) dan kebijakan

modal kerja banyak dipengaruhi oleh kultur yang ada pada tiap negara tersebut.

Selain itu Weny dan Mutranto (2001) menemukan bahwa pada perusahaan

retail harus memperhatikan Cash Convertion Cycle yang merupakan merchandising

ratio suatu alat analisis yang menentukan berapa hari kas menetap dalam siklus

konversi kas. Selain itu keberhasilan strategi modal kerja bergantung pada

kemampuan perusahaan dalam menggunakan aktiva secara efektif dan pemanfaatan

hutang secara maksimal untuk menghasilkan keuntungan.

Ringkasan dari hasil penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh peneliti

(42)

Tabel 2.1

Ringkasan Hasil Penelitian Terdahulu

Tahun Judul Penelitian Variabel Hasil Penelitian

Nurak (2001)

Pengaruh Kebijaksanaan

Modal Kerja Terhadap ROA pada

Perusahaan

Property/Real Estate yang Masuk Pasar Modal di Indonesia

Pembelanjaan Modal, Rasio Lancar, Perputaran Modal Kerja, Jumlah Aktiva Lancar terhadap ROA.

Menunjukkan rasio pembelanjaan modal kerja

memiliki korelasi terhadap profitabilitas (ROA).

Abdul Profitability – Case of Pakistani Firms

Net Operating Activities, Average Collection Period, Inventory Turn Over in Days, Average Payment Period, Cash Convertion Cycle, Current Ratio, Sales, Debt Ratio dan ROI

Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel average

collection period, inventory turn over in days, average

payment period, cash

convertion cycle dan current ratio ada hubungan negatif

antara kebijakan modal dengan tingkat profitabilitas perusahaan. Capital Practices in Canada, The United States and Australia. A Note.

Menggunakan

Kuisioner dengan 35 pertanyaan meliputi aspek Kebijakan Modal Kerja yang diambil juga Kebijakan

Piutang Usaha, Perputaran Persediaan,

Hutang dan Surat – surat berharga

Adanya perbedaan kebijakan modal kerja yang diambil perusahaan pada tiap negara tersebut. Selain itu menunjukkan bahwa kebijakan modal kerja banyak

dipengaruhi oleh waktu (periode) dan kebijakan modal kerja banyak dipengaruhi oleh kultur yang ada pada tiap negara tersebut.

Wenty dan Murtanto

(2001)

Pengukuran

Komprehensif atas Strategi Modal Kerja

Melalui Rasio

(43)

Tahun Judul Penelitian Variabel Hasil Penelitian

hutang secara maksimal untuk menghasilkan keuntungan.

2.3.Kerangka Konseptual

Tujuan mengelola modal kerja adalah untuk membiayai operasi perusahaan

sehari – hari sehingga menghasilkan laba. Kebijakan modal kerja menyangkut

penentuan besar kecilnya jumlah aktiva lancar yang akan dipertahankan oleh

perusahaan. Nurak (2002 : 70) menyatakan bahwa kebijakan modal kerja dapat

dilihat dari 4 (empat) aspek yang saling terkait secara serentak yaitu rasio cara

pembelanjaan modal kerja, tingkat rasio lancar, tingkat perputaran modal kerja dan

rasio jumla aktiva lancar terhadap jumlah aktiva.

Djarwanto (2001:141) mengemukakan perputaran modal kerja (working

capital turn over) adalah rasio antara penjualan dengan modal kerja. Perputaran

modal kerja ini menunjukkan jumlah rupiah penjualan bersih yang diperoleh bagi

setiap rupiah modal kerja. perputaran modal kerja yang tinggi menunjukkan semakin

besar kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba melalui penjualan dan

akhirnya akan meningkatkan ROI.

Syamsudin (2001:209) mengemukakan bahwa rasio aktiva lancar terhadap

total aktiva adalah rasio yang menunjukkan berapa bagian dari total aktiva yang

tertanam dalam pos-pos yang lancar. Rasio aktiva lancar atas total aktiva yang tinggi

(44)

hal ini berarti ROI juga mengalami penurunan. Profitabilitas yang tinggi disebabkan

karena aktiva lancar yang menghasilkan lebih sedikit dibanding dengan aktiva tetap.

Sundjaja & Barlian (2001:114) mengemukakan bahwa rasio hutang lancar

terhadap total aktiva dapat menunjukkan persentase total aktiva yang dibiayai oleh

pasiva lancar. Jika rasio hutang lancar terhadap total aktiva meningkat, laba

meningkat karena perusahaan menggunakan banyak pembiayaan jangka pendek yang

berdampak pada naiknya resiko perusahaan atas pembayaran jangka hutang

lancarnya.

Menurut Sawir (2005:143), Ada 6 (enam) Rasio Kebijakan Modal Kerja yang

mempengaruhi Return On Investment (ROI) yang meliputi :

1. Rasio Kecukupan Aktiva Lancar

Rasio kecukupan aktiva lancar perusahaan merupakan tolok ukur paling kasar

untuk menunjukkan adannya dana likuid yang segera menjadi kas dan tersedia

untuk membayar tagihan- tagihan.

2. Rasio kecukupan Quick Assets

Rasio kecukupan Quik assets berguna untuk melihat besarnya aktiva yang likuid

dalam aktiva lancar yang dapat dengan segera menjadi kas yang meliputi kas dan

piutang dalam perusahaan.

3. Rasio kecukupan kas

Rasio kecukupan kas berguna untuk melihat besarnya aktiva yang paling likuid

yang terdapat dalam neraca yang terdiri dari kas dan efek (setara kas).

(45)

Rasio arus dana dari persediaan penting bagi perusahaan, artinya bila perusahaan

tidak menjual persediaan, maka tidak ada piutang dan sebaliknya apabila piutang

tidak dikumpulkan maka perusahaan akan kekurangan dana pada kas.

5. Rasio Exposure dari kewajiban lancar.

Rasio Exposure dari kewajiban lancar digunakan untuk mengukur resiko dari

kewajiban lancar. Dalam menentukan struktur modalnya, perusahaan melakukan

pilihan pemakaian antara hutang jangka pendek atau hutang jangka panjang.

6. Rasio kecukupan modal kerja.

Rasio kecukupan modal kerja digunakan untuk melihat kekuatan modal kerja

untuk membiayai kegiatan perusahaan sehari- hari.

Pihak perusahaan perlu berperan aktif dalam menentukan besarnya dana, cara

mendapatkan dan mengalokasikannya pada berbagai jenis aktiva yang menghasilkan

serta mengendalikannya sehingga diperoleh suatu kombinasi sumber dan penggunaan

dana yang seimbang dan efisien. Tujuan mengelola modal kerja adalah membiayai

operasi perusahaan sehari – hari sehingga menghasilkan laba. Laba tersebut

dibandingkan dengan modal yang digunakan untuk menghitung tingkat

profitabilitasnya.

Modal kerja adalah investasi perusahaan pada aktiva jangka pendek yaitu kas,

(46)

yang digunakan untuk operasional sehari-hari dan wujud dari modal kerja tersebut

adalah perkiraan-perkiraan yang ada dalam aktiva lancar. Manajemen modal kerja

berkaitan erat dengan masalah pembelanjaan perusahaan, dimana hal ini ada kaitanya

dengan jumlah dana aktiva lancar ataupun bagaimana proses pemenuhan kewajiban

jangka pendek perusahaan. Namun, seringkali untuk persediaan yang ada di gudang

sebagian masih merupakan hutang perusahaan kepada supplier atau pemasok, karena

itu timbul pengertian modal kerja bersih atau net working capital yaitu selisih dari

aktiva lancar dengan kewajiban lancar.

Kebijakan modal kerja menyangkut penentuan besar kecilnya jumlah aktiva

lancar yang akan dipertahankan perusahaan. Kondisi kebijakan modal kerja yang

ditunjukkan oleh Rasio Lancar (Current Ratio), Rasio Perputaran Modal Kerja

(Working Capital Turn Over), Rasio Aktiva Lancar Terhadap Total Aktiva (Current

Asset to Total Asset), Rasio Hutang Lancar Terhadap Total Aktiva (Current

Liabilities to Total Asset) dan kondisi Return On Investment (ROI). Sehingga

kerangka konseptual yang terbentuk sebagai berikut :

(47)

KEBIJAKAN MODAL KERJA

Gambar 2.1. Kerangka Konseptual

Hipotesis Penelitian

Hipotesis yang dapat diambil berdasarkan latar belakang masalah dan

perumusan masalah adalah :

”Kebijakan modal kerja baik secara simultan maupun secara parsial berpengaruh

terhadap Return On Investment (ROI) perusahaan”

Return On Investment

(ROI) Current

Ratio

Current Assets to Total Assets Working Capital

Turnover

(48)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Rancangan Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah desain asosiatif, yaitu untuk

menganalisis hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya atau bagaimana

suatu variabel mempengaruhi variabel lain. Dalam hal ini desain asosiatif yang

digunakan adalah desain asosiatif kausal yaitu adanya hubungan sebab akibat antara

satu variabel dengan variabel yang lain. (Cooper and Schindler, dalam Budijanto dkk

2006 : 176 - 177).

3.2. Populasi dan Sampel Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian SENSUS dimana semua populasi dijadikan

sampel pada seluruh industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari

tahun 1998 sampai dengan tahun 2006 (selama 9 tahun) pada populasi perusahaan

rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Populasi Industri Rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia mulai 1998

hingga tahun 2006 terdapat 4 (empat) perusahaan. Semua populasi diambil menjadi

sampel penelitian yaitu:

a. PT. British American Tobacco Indonesia, Tbk (BATI),

b. PT. Bentoel International Investama, Tbk (RMBA),

c. PT. Gudang Garam, Tbk (GGRM),

(49)

3.3. Variabel Penelitian

3.3.1. Klasifikasi Variabel

Variabel – variabel yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu :

a. Rasio Return On Investment (Y)

Rasio Return On Investment (ROI) merupakan kemampuan perusahaan untuk

menghasilkan laba setelah pajak dari seluruh aktiva atau modal yang dimilikinya

(Abdullah 2005:57), atau dapat dilihat dengan rumus :

% 100 Aktiva Total

EAT

ROI = ×

b. Rasio Aktiva Lancar (X1)

Current Ratio adalah perbandingan antara aktiva lancar dengan hutang lancar.

Rasio ini menunjukkan berapa besar hutang lancar yang dijamin oleh aktiva

lancar.

% 100 Lancar Hutang

Lancar Aktiva

Ratio

Current = x

Semakin besar rasio ini maka semakin kemampuan perusahaan untuk melunasi

kewajiban jangka pendeknya.

(50)

Rasio perputaran modal kerja merupakan perbandingan antara penjualan dengan

jumlah keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki suatu perusahaan pada suatu

periode tertentu. (Abdullah , 2005:71), dapat dihitung dengan rumus :

%

Rasio jumlah aktiva lancar terhadap Total aktiva merupakan perbandingan jumlah

aktiva lancar terhadap total aktiva yang terdapat diperusahaan yang dinyakan

dalam persen (Sawir, 2005 :144). Dapat dihitung dengan rumus :

%

e. Rasio Jumlah Hutang Lancar terhadap Total Aktiva (X4)

Rasio jumlah hutang lancar terhadap total aktiva merupakan perbandingan jumlah

hutang lancar terhadap total aktiva yang terdapat diperusahaan yang dinyatakan

dalam persen (Barlian &Sundjaja, 2001:78). Dapat dihitung dengan rumus :

(51)

3.3.2. Operasionalisasi Variabel

Adapun operasionalisasi variabel terdapat pada tabel 3.1. berikut :

Tabel 3.1

Tabel Operasionalisasi Variabel

No. Variabel Defenisi Sub

Variabel Indikator Skala

1. ROI (Y)

Kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba setelah pajak dari seluruh aktiva atau modal yang

dimilikinya

Profitability 100%

Aktiva

Rasio yang menunjukkan besarnya hutang lancar yang dijamin oleh aktiva

lancar.

Liquidity 100%

Lancar penjualan dengan jumlah keseluruhan aktiva lancar

yang dimiliki suatu perusahaan pada suatu

periode tertentu.

Liquidity 100%

kerja aktiva lancar terhadap total

aktiva yang terdapat diperusahaan yang dinyakan dalam persen.

Liquidity 100%

Aktiva hutang lancar terhadap total aktiva yang terdapat

diperusahaan yang dinyatakan dalam persen.

Leverage 100%

3.4. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah Bursa Efek Indonesia di Jakarta dengan

(52)

3.5. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti adalah melalui studi

dokumentasi. Peneliti mengumpulkan berbagai data yang relevan dengan penelitian,

terutama yang bersumber dari data yang terdapat pada Indonesian Capital Market

Directory maupun berasal dari www.isx.co.id.

Metode dan Teknik Analisis Data

3.6.1. Metode Analisis Data

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Model dasar analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah :

Y = f (X1, X2, X3, X4)

Model tersebut ditransformasikan dalam bentuk regresi linier berganda

(Multiple Regression Analysis) dengan metode Ordinary Least Square (OLS) sebagai

berikut :

Y

= α+ β

1X1

+ β

2X2

+ β

3X3

+ β

4X4

dimana :

Y = Return on Investment (ROI)

X1 = Current Ratio

X2 = Working Capital Turnover Ratio

X3 = Current Assets to Total Assets

X4 = Current Liabilities to Total Assets Ratio

α

= Konstanta

(53)

Pengujian mengenai ada tidaknya pelanggaran terhadap asumsi-asumsi klasik

yang merupakan dasar dalam model regeresi linier berganda. Hal ini dilakukan

sebelum dilakukan pengujian terhadap hipotesis. Asumsi-asumsi klasik tersebut

meliputi (Gujarati, alih bahasa Zain :1999) sebagai berikut :

1. Data terdistribusi secara normal (Normalitas Data)

2. Tidak terdapat multikolinieritas diantara atau semua variabel independen.

3. Tidak terdapat heteroskedastisitas, yaitu ragam error yang tidak konstan pada

setiap variabel.

4. Tidak terjadi autokorelasi, yaitu korelasi antar error atau tidak dipengaruhi oleh

unsur gangguan.

Uji Normalitas Data

Normalitas data dilakukan dengan Uji Kolmogorov-Smirnov. Dimana apabila

nilai signifikansi < 0,05 maka distribusi data tidak normal dan sebaliknya.

Uji Multikoliniearitas

Multikolinieritas adalah terdapatnya lebih dari satu hubungan linier pasti

(sempurna). Dimana suatu keadaan yang satu atau lebih variabel bebasnya terdapat

korelasi dengan variabel bebas lainnya. Adanya multikolinieritas dapat dilihat dari

tolerance value atau nilai Variance Inflation Factor (VIF), yaitu dengan rumus :

(Hair et al, 1998 :193)

  

 − =

k R VIF

2

(54)

R2/k = Koefesien determinasi (R2) berganda ketika Xk diregresikan dengan

variabel-variabel X lainnya.

Batas tolerance value adalah 0,01 dan batas VIF adalah 10. Apabila :

tolerance value < 0,01 atau VIF > 10 = terjadi multikolinieritas tolerance value > 0,01 atau VIF < 10 = tidak terjadi multikolinieritas

Uji Heteroskedastisitas

Heteroskedastisitas terjadi karena perubahan situasi yang tidak tergambarkan

dalam spesifikasi model regresi atau terjadi jika residual tidak memiliki varians yang

konstan. Perubahan yang tergambarkan dalam spesifikasi model regresi disebut

Homoskedastisitas. Asumsi kedua ini akan di uji dengan uji Glesjer yaitu untuk

memformalkan grafik dengan melakukan regresi FLS terhadap model regresi dan

kembali melakukan regresi terhadap residual untuk menentukan koefesien

kemiringan yang signifikan dan melakukan pengujian t, berikut : (Gujarati, dalam

Zain, 1999 : 186).

Apabila :

t hitung > t tabel = terjadi heteroskedastisitas

t hitung ≤ t tabel = tidak ada heteroskedastisitas

Uji Autokorelasi

Pengujian asumsi ketiga menggunakan uji Durbin Watson (Durbin-Watson

Test), yaitu menguji apakah terjadi korelasi serial atau tidak dengan menghitung nilai

d statistik dengan rumus (Gujarati, dalam Zain, 1999 : 215) berikut :

(55)

dimana :

d = nilai d

et = nilai residu dari persamaan regresi periode t

et-1 = nilai residu dari persamaan regresi periode t-1

3.6.2. Pengujian Hipotesis

Untuk membuktikan hipotesis maka digunakan alat uji sebagai berikut :

1. Uji F, dengan maksud menguji apakah secara simultan variabel bebas berpengaruh

terhadap variabel tidak bebas, dengan tingkat keyakinan 95 % (α=0,05).

Urutan uji F meliputi :

a. Merumuskan hipotesis null dan hipotesis alternatif.

H0 : β1 = β2 = β3 =β4 = 0

Ha : Paling sedikit ada satu βi ≠ 0 i = 1,2,3,4

b. Menghitung F-hitung dengan menggunakan rumus yaitu :

dimana : R2= koefesien determinasi n = jumlah sampel k = jumlah variabel bebas

Dengan kriteria tersebut, diperoleh nilai Fhitung yang dibandingkan dengan

Ftabel dengan tingkat resiko (level of significant) dalam hal ini 0,05 dan degree

of freedom = n-k-1.

c. Kriteria Pengujian :

dimana : Fhitung > Ftabel = H0 ditolak

Fhitung≤ Ftabel = H0 diterima

2. Uji Koefesien Determinasi (R2), melihat berapa proporsi variasi dari variabel

bebas secara bersama-sama dalam mempengaruhi variabel tidak bebas, dengan

formula (Gujarati, dalam Zain, 1995 : 207) sebagai berikut :

(56)

dimana : JKR = jumlah kuadrat regresi (explained sum of squares)

JKY = jumlah total kuadrat (total sum of squares)

Dalam hasil output SPSS Version 15 maka yang menjadi patokan adalah

Adjusted R Square.

3. Uji-t statistik, untuk menguji pengaruh secara parsial antara variabel bebas

terhadap variabel tidak bebas dengan asumsi bahwa variabel lain dianggap

konstan, dengan tingkat keyakinan 95 % (α = 0,05).

Urutan Uji t :

a. Merumuskan hipotesis null dan hipotesis alternatif.

H0 : β1 = β2 = β3 =β4 = 0

Ha : Paling sedikit ada satu βi ≠ 0 i = 1,2,3,4

b. Menghitung t-hitung dengan menggunakan rumus : Clave et al., (2001:534)

dimana : bi = koefesien regresi masing-masing variabel

Sbi = standar error masing-masing variabel

Dari perhitungan tersebut akan diperoleh nilai thitung yang kemudian

dibandingkan dengan ttabel pada tingkat keyakinan 95%.

c. Kriteria pengujian :

(57)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Deskripsi Data Penelitian Industri Rokok

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kebijakan modal kerja

berpengaruh terhadap Return On Investment (ROI) pada Industri Rokok yang

terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah

Return on Investment, sedangkan variabel independen adalah Rasio Aktiva Lancar

(current ratio), Rasio Perputaran Modal Kerja (Working Capital Turn Over ratio),

Rasio Jumlah Aktiva Lancar terhadap Total Aktiva (Current Assets to Total Assets

ratio) dan Rasio Jumlah Hutang Lancar terhadap Total Aktiva (Current Liabilities to

Total Assets). Berdasarkan tabel 4.2 dibawah ini menunjukkan nilai maksimum, nilai

minimum, nilai rata – rata dan standar deviasi dari data. Hal ini secara ringkas

terdapat pada Tabel 4.1 berikut :

Tabel 4.1 :

Deskripsi Statistik Industri Rokok Tahun 1998 - 2006 p

36 106.33 372.71 211.7489 65.53706 36 1.21 6.94 2.8508 1.57700 36 40.68 84.21 70.1417 9.40253 36 16.77 85.08 36.5489 12.15563 36 1.03 4.04 2.3775 .71547 36

CR WCTO CLTA CATA ROI

Valid N (listw ise)

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

(58)

Berdasarkan Tabel 4.1, maka secara umum nilai manimum dari current ratio

adalah 106, 33, nilai maksimum current ratio adalah 372,31 dengan rata – rata

current ratio yang diperoleh perusahaan rokok yang go publik dari tahun 1998 –

2006 sebesar 211,75 persen. Hal tersebut menunjukkan besarnya jumlah aktiva

terutama aktiva lancar yang mampu melunasi kewajiban jangka pendek kepada pihak

eksternal pada industri rokok. Nilai current ratio pada industri rokok dinilai stabil

dan konstan dari tahun 1998 – 2006. Sedangkan penyimpangan dari rata – rata data

current ratio yang ada sebesar 65, 54 %.

Berdasarkan hal tersebut menunjukkan bahwa current ratio yang tinggi

memberikan indikasi jaminan yang baik bagi kreditur jangka pendek dalam arti setiap

perusahaan memiliki kemampuan untuk melunasi kewajiban – kewajiban finansial

jangka pendek. Akan tetapi current ratio yang tinggi akan berpengaruh negatif

terhadap kemampuan memperoleh laba (profitabilitas), karena sebagian modal kerja

tidak berputar atau mengalami pengangguran (iddle money). Syamsuddin (2002:209)

mengatakan bila rasio aktiva lancar atas total aktiva meningkat maka baik

profitabilitas maupun resiko yang dihadapi akan menurun. Menurunnya profitabilitas

disebabkan karena aktiva lancar menghasilkan lebih sedikit dibandingkan dengan

aktiva tetap.

Nilai minimum dari working capital turnover ratio adalah 1,21, nilai

maksimum working capital turnover ratio adalah 6,94 dengan rata – rata working

capital turnover ratio yang diperoleh perusahaan rokok yang go publik dari tahun

Gambar

Tabel Operasionalisasi Variabel........................................................
Tabel                                                        Judul             Halaman
Tabel 2.1 Ringkasan Hasil Penelitian Terdahulu
Tabel 3.1 Tabel Operasionalisasi Variabel
+7

Referensi

Dokumen terkait

Diantara loan to assets ratio, return on assets ratio, return on equity ratio dan net profit margin, manakah yang paling dominan berpengaruh terhadap price earning ratio pada

Berdasar uraian sebelumnya, dengan mengetahui apa dan bagaimana faktor-faktor yang paling mempengaruhi struktur modal industri makanan dan minuman di Bursa Efek

Modal Kerja dan Return On Investmen (ROI). Membuat kesimpulan terhadap hasil uji hipotesis. Dari pemaparan diatas maka dapat dikatakan bahwa desain penelitian merupakan

Predictors: (Constant), arus kas operasi, return on investment b. Dependent

Untuk mengetahui pengaruh struktur modal (Debt to Equity Ratio) terhadap profitabilitas (Return On Equity) perusahaan industri tekstil dan garmen yang terdaftar di

Saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Struktur Modal Pada Perusahaan Sektor Aneka Industri dan Sektor Industri Barang Konsumsi Yang Terdaftar

Untuk mengetahui pengaruh struktur modal (Debt to Equity Ratio) terhadap profitabilitas (Return On Equity) perusahaan industri tekstil dan garmen yang terdaftar di

Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen yaitu Return on Investment, Return on equity dan Debt to Equity ratio terhadapan