PENGARUH KEBIJAKAN MODAL KERJA
TERHADAP RETURN ON INVESTMENT
PADA INDUSTRI ROKOK
YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
TESIS
Oleh :
ENCIK LATIFAH HANUM
057017004 /AKT
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
M E D A N
2 0 0 8
SE
K O LA
H
P A
S
C
PENGARUH KEBIJAKAN MODAL KERJA
TERHADAP RETURN ON INVESTMENT
PADA INDUSTRI ROKOK
YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
TESIS
Untuk Memperoleh Gelar Magister Sains
Dalam Program Ilmu Akuntansi pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
Oleh :
ENCIK LATIFAH HANUM
057017004 /AKT
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Judul Tesis : PENGARUH KEBIJAKAN MODAL KERJA TERHADAP RETURN ON INVESTMENT PADA INDUSTRI ROKOK YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
Nama : Encik Latifah Hanum Nomor Pokok : 057017004
Program Studi : Ilmu Akuntansi
Menyetujui : Komisi Pembimbing,
(Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA, Ak) (Drs. Hasan Sakti Siregar, M.Si, Ak)
Ketua Anggota
Ketua Program Studi, Direktur,
Tanggal Lulus : 15 Agustus 2008 Telah diuji pada
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA, Ak
Anggota : 1. Drs. Hasan Sakti Siregar, M.Si, Ak 2. Drs. Rasdianto, M.Si, Ak
ABSTRAK
ENCIK LATIFAH HANUM, 2008, Pengaruh Kebijakan Modal Kerja Terhadap
Return On Investment (ROI) Pada Industri Rokok yang Terdaftar di Bursa Efek
Indonesia Tahun 1998 - 2006, dengan komisi pembimbing : Ade Fatma Lubis (Ketua) dan Hasan Sakti Siregar (Anggota)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kebijakan modal kerja berpengaruh terhadap Return On Investment (ROI) pada Industri Rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Obyek yang diambil berjumlah 4 (empat) perusahaan pada emiten industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan periode penelitian antara tahun 1998 sampai dengan tahun 2006. Metode analisis yang digunakan adalah Regresi Linier Berganda (Multiple Linear Regression).
Pengumpual data yang dilakukan adalah melalui studi dokumentasi yang bersumber dari data yang terdapat pada Indonesian Capital Market Directory maupun berasal
dar
hal ini desain asosiatif yang digunakan adalah desain asosiatif kausal yaitu adanya hubungan sebab akibat antara satu variabel dengan variabel yang lain. Penelitian ini merupakan penelitian sensus dimana semua populasi dijadikan sampel pada seluruh industri rokok yang terdapat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari tahun 1998 sampai dengan 2006 (selama 9 tahun) pada populasi perusahaan rokok yang terdapat di Bursa Efek Indonesia. Populasi industri rokok yang tredapat di Bursa Efek Indonesia mulai 1998 hingga 2006 terdapat 4 (empat) perusahaan rokok. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari current ratio, working capital turnover ratio, current
assets to total assets dan current liabilities to total assets ratio sedangkan variebel
dependen return on investment. Metode analisi yang digunakan adalah Regresi Linier Berganda (Multiple Linear Regression)
Hasil analisis menunjukkan bahwa dari beberapa unsur – unsur modal kerja seperti
current ratio, working capital turnover ratio, current assets to total assets dan current liabilities to total assets ratio secara simultan terdapat pengaruh yang
signifikan terhadap tingkat profitabilitas yang diwakili oleh Return on Investment. Secara parsial menunjukkan hanya variabel current ratio dan working capital
turnover ratio dengan variasi yang terjelaskan yang dinyatakan dalam Adjusted R2
sebesar 36,9 % sedangkan sisanya sebesar 63,1 % dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dijelaskan oleh model penelitian ini.
Hasil penelitian berdasarkan uji hipotesis menunjukkan bahwa diantara beberapa unsur kebijakan modal kerja yang paling dominan mempengaruhi tingkat Return on Investment pada industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia adalah current
keuangan harus mampu dan tanggap untuk melihat perubahan-perubahan yang terjadi di perusahaan terutama yang menyangkut pengelolaan modal kerja yang dimulai dari perencanaan, penyusunan, pelaksanaan dan pengawasan modal kerja itu sendiri dan juga bagi investor dalam melakukan keputusan investasi perlu mempertimbangkan faktor – faktor modal kerja.
ABSTRACT
ENCIK LATIFAH HANUM, 2008, Influence of Policy of Working Capital to Return On Investment (ROI) the Cigarette Industry which Listed in Indonesia Stock Exchange in 1998 - 2006, with counsellor commission ; Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA, Ak ( Chief) and Hasan Sakti Siregar ( Member)
This research aim to to know do policy of working capital have an effect on to Return On Investment (ROI) at Cigarette Industry which listed in Indonesia Stock Exchange. Emiten in popullation Cigarette Emiten the taken amount to 4 (four) emiten the cigarette industry listed in Indonesia Stock Exchange with period of research between of 1998 up to year of 2006. Analysis method the used is Multiple Linear Regression.
The data used in this research from the documenation study on Indonesian Capital
Market Directory an
this case associatif design the used is causal associatif that is existence of causality between one variable with other variable. This research is cencus type where all populations in the cigarette industry listed in Indonesia Stock Exchange from 1998 until 2006 (during 9 year). The variable used in this research consist of current ratio (X1), working capital turnover ratio (X2), current assets to total assets (X3), current liabilities to total assets ratio (X4) is while dependen varible is return on investment (Y). Method analysis used is Multiple Linear Regression Analysis.
The result indicate that from some working capital policy as of current ratio, working capital turnover ratio, current assets to total assets and current liabilities to total assets ratio simultanly there are the influence significant to the profitability represented by Return on Investment. Partially show only variable current ratio and working capital turnover ratio with explained by variation the expressed in Adjusted R2 equal to 36,9 % is while the rest equal to 63,1 % influenced by other variable which is not explained by this research model.
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Dengan kerendahan hati, tulus dan ikhlas penulis menyampaikan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, kerena dorongan rahmat, karunia dan RidhoNya yang berkelimpahan, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini.
Dalam penyelesaian tesis ini tentu saja penulis banyak menemui kesulitan-kesulitan, kendala-kendela dan hambatan-hambatan, akan tetapi berkat bantuan, bimbinan, petunjuk dan masukan dari berbagai pihak lainnya penulis dapat menyelesaikannya.Dengan ini segala kerendahan hati, tulus dan ikhlas penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Prof. Chairuddin P. Lubis, DTMH, Sp. A(K), selaku Rektor
Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas untuk mengikuti dan menyelesaikan Sekolah Pascasarjana.
2. Ibu Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B, M.Sc, Selaku Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, yang senantiasa dengan sabar dan secara berkesenambungan meningkatkan layanan pendidikan di Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MBA, MAFIS, Ak, selaku Ketua Program Studi Ilmu Akuntansi Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, Sekaligus Ketua Komisi Dosen Pembimbing Utama yang telah banyak memberikan saran dan kritik yang konstruktif dalam membimbing penulis sejak awal sehingga selesainya tesis ini.
4. Bapak Drs. Hasan Sakti Siregar, M.Si, Ak, selaku Anggota Komisi Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan saran dan kritik yang konstruktif dalam membimbing penulis sejak awal hingga selesainya tesis ini.
5. Bapak Drs. Rasdianto, M.Si, Ak, Selaku Anggota Komisi Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan saran dan kritik yang konstruktif dalam membimbing penulis sejak awal hingga selesainya tesis ini.
6. Bapak Drs. Jainul Bahri Torong, M.Si, Ak, selaku Anggota Dosen
Pembimbing yang telah banyak memberikan saran dan kritik yang konstruktif dalam membimbing penulis sejak awal hingga selesainya tesis ini.
7. Ibu Dra. Tapi Anda Sari Lubis, M.Si, Ak, selaku Anggota Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan saran dan kritik yang konstruktif dalam membimbing penulis sejak awal hingga selesainya tesis ini.
Disamping itu, teristimewa penulis mengucapkan terima kasih kepada keluarga tercinta yaitu Ayahanda O.K H. Rachtan Effendi Amin dan Ibunda Hj. Ramlah serta saudara penulis Kakanda Rodhiah, Zurriah, Hisyamuddin Amir, O.K M. Aman dan O.K M. Amin juga Adinda O.K M. Ajad Mulia, Indah Muliani, Boby Hendra Gunawan dan O.K M. Ridho dan Ananda M. Wahyu sampurna, M. Reza Fachrie, T. Mahjura Azzahra dan Anisa Riski Mulia yang senantiasa memberikan semangat dan motivasi kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh kesempurnaan baik dari segi penyajian dan dari segi penyusunannya. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yangbersifat membanggundari para pembaca guna penyempurnaan skripsi ini pada masa yang akan datang.
Akhir kata penulis mengucapkan semoga tesis ini bermanfaat bagi para pembaca, khususnya bagi rekan mahasiswa/i.
Medan, Agustus 2008
RIWAYAT HIDUP
N a m a : Encik Latifah Hanum
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat/Tanggal Lahir : Belawan, 15 Januari 1977
Agama : Islam
Anak Ke : 6 (enam) dari 9 (sembilan) bersaudara
Nama Ayah : H. Rachtan Effendi Amin
Nama Ibu : Hj. Ramlah
Alamat : Jl. Kapten Raden Sulian Lor. Kesenian
No:24B Belawan
Telepon : 061-6943081 / 08173033466
LATAR BELAKANG PENDIDIKAN
1. Tahun 2008 Pendidikan Sekolah Pascasarjana (S2) Program Magister Sains Akuntansi Universitas Sumatera Utara Medan
2. Tahun 2004 Lulus Pendidikan Sarjana (S1) Jurusan Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Medan
3. Tahun 1996 Lulus Sekolah Menengah Atas Negeri Labuhan Deli Medan
4. Tahun 1993 Lulus Sekolah Menengah Pertama Negeri 24 Medan
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK……….. i
ABSTRACK………. ii
KATA PENGANTAR………. iii
RIWAYAT HIDUP……….. v
DAFTAR ISI………... vi
DAFTAR TABEL………. viii
DAFTAR GAMBAR………. ix
DAFTAR LAMPIRAN... x
BAB I PENDAHULUAN………. 1
1.1. Latar Belakang Masalah………. 1
1.2. Rumusan Masalah………... 6
1.3. Tujuan Penelitian……… 6
1.4. Manfaat Penelitian... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS... 8
2.1. Tinjauan Teori... 8
2.1.1.Modal Kerja... 8
A. Hubungan Rasio Lancar (Current Ratio) dengan Return On Investment……….. 10 B. Hubungan Rasio Perputaran Modal Kerja (Working Capital Turnover Ratio) terhadap Return On Investment... 11 C. Hubungan Rasio Jumlah Aktiva Lancar terhadap Total Aktiva (Current Assets to Total Assets Ratio) dengan Return On Investment. 11 D. Hubungan Rasio Jumlah Hutang Lancar terhadap Total Aktiva (Current Liabilities to Total Assets Ratio) terhadap Return On Investment... 12 2.1.2.Pembelanjaan Modal Kerja... 15
2.1.3.Manajemen Modal Kerja... 16
2.1.4.Profitabilitas Perusahaan……….. 19
2.2. Tinjauan Penelitian Terdahulu……… 24
2.3. Kerangka Konseptual………. 27
2.4. Hipotesis Penelitian……… 31
BAB III METODE PENELITIAN……… 32
3.1. Rancangan Penelitian………. 32
3.3. Variabel Penelitian... 33
3.3.1. Klasifikasi Variabel... 33
3.3.2. Operasionalisasi Variabel... 33
3.4. Lokasi dan Waktu Penelitian... 36
3.5. Teknik Pengumpulan Data... 36
3.6. Metode dan Teknik Analisis Data... 36
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN……….. 39
4.1. Deskripsi Data Penelitian Industri Rokok... 39
4.2. Hasil Penelitian... 43
4.2.1. Uji Asumsi Klasik... 43
4.2.1.1. Pengujian Normalitas Data... 43
4.2.1.2. Pengujian Multikolinearitas………. 45
4.2.1.3. Pengujian Heteroskedastisitas………... 46
4.2.1.4. Pengujia Autokorelasi………. 47
4.3. Pembahasan Hasil Penelitian... 49
4.3.1. Pengujian Hipotesis... 49
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN……… 56
5.1. Kesimpulan... 56
5.2. Saran... 58
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
2.1 Ringkasan Hasil Penelitian Terdahulu……… 26
3.1 Tabel Operasionalisasi Variabel... 35
4.1 Deskripsi Data Penelitian Industri Rokok……… 41
4.2 Hasil Pengujian One Sample Kolmogorov Smirnov Test………… 46
4.3 Pengujian Multikolinieritas……… 47
4.4 Pengujian Heteroskedastisitas (Statistik)……… 48
4.5 Nilai Durbin-Watson……… 48
4.6 Pengujian Goodness of Fit………... 50
4.7 Uji F... 51
DAFTAR GAMBAR
Tabel Judul Halaman
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Industri rokok nasional yang notabene memiliki karakteristik padat modal dan
padat tenaga kerja tersebut terus berkembang ditengah persaingan yang semakin
tajam. Kondisi itu bukan tanpa alasan, pada saat makro ekonomi masih menghadapi
kelesuan seperti rendahnya laju perekonomian yang hanya sekira 6 -7 %, tingkat
inflasi yang menembus dua digit (diatas 10%), jumlah pengangguran mencapai
sekitar 60 juta orang, industri rokok secara positif memberikan kontribusi baik di
daerah maupun nasional dengan menyerap tenaga kerja dan memberikan kontribusi
pemasukan terhadap pajak yang tidak sedikit. Perkembangan tersebut salah satunya
dapat terlihat dari sisi total produksi industri rokok nasional yang rata-rata per tahun
dapat mencapai 220 miliar batang. Bila dihitung, jumlah produksi ini tentu
menunjukkan produktivitas yang tergolong sangat tinggi pada ukuran sebuah produk
yang bukan barang primer. Salah satu masalah utama yang dihadapi pemilik
perusahaan ialah menyediakan modal kerja yang diperlukan untuk menunjang
kegiatan-kegiatan operasional perusahaan yang selalu mengalami perubahan dari
periode yang satu ke periode berikutnya. Oleh karena itu seorang manajer keuangan
harus mampu dan tanggap untuk melihat perubahan-perubahan yang terjadi di
perusahaan terutama yang menyangkut pengelolaan modal kerja yang dimulai dari
Berikut disajikan rasio modal kerja dengan Return on Investment (ROI) pada
perusahaan industri rokok di Bursa Efek Indonesia terdapat pada lampiran 1.
Berdasarkan data menunjukkan bahwa PT. BAT Indonesia sejak tahun 1998
struktur kekayaannya mengalami sedikit penurunan sebesar 1.5 %. Perputaran modal
kerja dari tahun 1998 sampai dengan tahun 1999 mengalami sedikit kenaikan namun
pada tahun 1999 sampai dengan tahun 2001 mengalami penurunan. Sedangkan nilai
ROI secara terus menerus semakin meningkat. PT. BAT Indonesia, Tbk pada tahun
2005 rasio struktur kekayaan mengalami kenaikan sedangkan return on investment
juga mengalami peningkatan, tahun 2006 rasio struktur kekayaan mengalami
kenaikan dan ROI mengalami kenaikan juga, rasio perputaran modal kerja pada tahun
2005 mengalami peningkatan dan return on investment mengalami peningkatan, pada
tahun 2006 rasio perputaran modal kerja mengalami kenaikan dan return on
investment mengalami kenaikan juga, rasio lancar pada tahun 2006 mengalami
peningkatan dan return on investment mengalami peningkatan, pada tahun 2006 rasio
lancar kenaikan dan return on investment juga mengalami kenaikan. Hal yang sama
juga dapat dilihat pada perusahaan yang sejenis terhadap perubahan struktur
kekayaan, perputaran modal kerja, rasio lancar dan ROI.
Salah satu masalah utama yang dihadapi oleh pemimpin atau pemilik
perusahaan ialah menyediakan modal kerja yang diperlukan untuk menunjang
kegiatan-kegiatan operasional perusahaan yang selalu mengalami perubahan dari
periode yang satu ke periode berikutnya. Oleh karena itu seorang manajer keuangan
perusahaan terutama yang menyangkut pengelolaan modal kerja yang dimulai dari
perencanaan, penyusunan, pelaksanaan dan pengawasan modal kerja itu sendiri.
Kinerja keuangan menyangkut keberhasilan perusahaan dalam mencapai
tujuan yang telah ditetapkan menggunakan beberapa kriteria diantaranya ROI (Return
on Ivestment), ROE (Return on Equity), BEP (Break Even Point), Economic Value
Added (EVA) dan sebagainya. Menurut Sawir (2005:129) Modal kerja adalah
keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki perusahaan, atau dapat pula dimaksudkan
sebagai dana yang harus tersedia untuk membiayai kegiatan operasi perusahaan
sehari-hari. Sedangkan menurut Sukarno (2000:57) modal kerja merupakan asset
perusahaan yang diputar atau digerakkan secara terus-menerus sejalan dengan tujuan
perusahaan.
Penelitian terdahulu yang membahas modal kerja dan mempunyai kaitan
dengan penelitian ini diantaranya oleh Nurak (2002 : 29) mengemukakan kesimpulan
dari penelitian Lanu bahwa kebijakan modal kerja cukup dominan mempengaruhi
Return on Assets (ROA) dan relevan dalam proses pengambilan keputusan
manajemen. Proses hirarki kebijaksanaan modal kerja sangat kuat dipengaruhi oleh
adanya perubahan permintaan sebagai salah satu faktor ekstern. Apabila permintaan
bertambah, berarti ada peluang pasar secara otomatis tercipta kesempatan produksi.
Hal ini dapat dilakukan dengan perencanaan besarnya investasi pada aktiva lancar.
Selanjutnya pertimbangan sumber pendanaannya atau cara pembelanjaannya.
oleh kegiatan intern kurang dari 50 %, namun keduanya saling tergantung dan
menunjang.
Commanor et al. dalam Martono (2002) mengemukakan bahwa dalam
mempelajari persaingan industri, hal yang perlu diperhatikan adalah besarnya
hambatan untuk keluar masuk industri (barrier to entry). Penggunaan rasio intensitas
modal (capital intensiveness) yang diukur dari total aktiva terhadap penjualan sebagai
(indicator barrier to entry).
Rasio leverage keuangan merupakan salah satu rasio yang banyak dipakai
untuk meningkatkan profitabilitas perusahaan. Rasio leverage memberikan implikasi
penting dalam pengukuran rasio finansial perusahaan.
Modal kerja adalah nilai aktiva atau harta yang dapat segera dijadikan uang
kas yang digunakan perusahaan untuk operasional perusahaan sehari-hari. Ini
menunjukkan bahwa modal kerja merupakan salah satu unsur aktiva yang sangat
penting dalam perusahaan.
Kegiatan kegiatan yang dibiayai oleh modal kerja antara lain adalah
pembelian material/ bahan baku, upah dan gaji karyawan serta berbagai macam biaya
yang diharapkan dapat kembali dalam waktu singkat melalui hasil penjualan. Uang
yang masuk dan bersumber dari hasil penjualan barang tersebut akan dikeluarkan
kembali guna membiayai operasi perusahaan selanjutnya. Dengan demikian dana
tersebut akan berputar secara terus menerus setiap periodenya sepanjang hidup
Martono dan Harjito (2001:2) menyatakan bahwa perusahaan memiliki 3
macam tujuan utama yang saling berkaitan :
1. Mencapai atau memperoleh laba maksimal untuk kemakmuran pemilik
perusahaan.
2. Menjaga kelangsungan hidup perusahaan (going concern)
3. Mencapai kesejahteraan masyarakat sebagai tanggung jawab sosial perusahaan.
Profitabilitas menurut Riyanto (2001:37) dan Harahap (2004:304) adalah:
menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua
kemampuan dan sumber yang ada seperti penjualan, kas, modal, jumlah karyawan,
jumlah cabang dan sebagainya.
Kondisi kebijakan modal kerja yang ditunjukkan oleh Rasio Lancar (Current
Ratio), Rasio Perputaran Modal Kerja (Working Capital Turn Over), Rasio Aktiva
Lancar Terhadap Total Aktiva (Current Asset to Total Asset), Rasio Hutang Lancar
Terhadap Total Aktiva (Current Liabilities to Total Asset) dan kondisi Return On
Investment (ROI) yang dialami oleh Industri Rokok yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia.
Penelitian ini merupakan penelitian replikasi yang dilakukan dari penelitian
sebelumnya seperti Nurak (2001), Abdul Raheman dan Mohamed Nasr (2007),
Khouri et al (1999) dan Weny dan Murtanto (2001). Adapun yang membedakan
penelitian dengan penelitian sebelumnya adalah periode penelitian lebih panjang yang
mempertimbangkan pengaruh distorsi krisis moneter terhadap laporan keuangan
Oleh karena itu maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan
mengambil judul: “Pengaruh Kebijakan Modal Kerja Terhadap Return On
Investment (ROI) Pada Industri Rokok yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Tahun 1998 - 2006”.
1.2. Rumusan Masalah
“Apakah kebijakan modal kerja baik secara simultan maupun secara parsial
berpengaruh terhadap Return On Investment (ROI) pada Industri Rokok yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia ?”.
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah :
Untuk mengetahui apakah kebijakan modal kerja baik secara simultan
maupun secara parsial berpengaruh terhadap Return On Investment (ROI) pada
Industri Rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
1.4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai :
1) Peneliti Berikut nya
Sumbangan pemikiran bagi berbagai pihak yang berniat untuk melakukan
penelitian lebih lanjut tentang masalah Modal kerja .
Menambah pegetahuan penulis tentang hubungan modal kerja terhadap Return On
Investment (ROI) pada Industri Rokok yang telah terdaftar di Bursa Efek
Indonesia.
3) Bagi Investor dan Perusahaan
Bahan pertimbangan bagi manajemen untuk pembuatan keputusan dalam rangka
penetapan kebijaksanaan rencana investasi modal kerja pada Industri Rokok
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
2.1. Tinjauan Teori
2.1.1. Modal Kerja
Pemahaman arti modal kerja sangat erat hubungannya dalam rangka
menghitung kebutuhan modal kerja. Pengertian modal kerja yang berbeda-beda akan
menyebabkan perhitungan kebutuhan modal kerja yang juga berbeda.
Sawir (2005:129) Modal kerja adalah keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki
perusahaan, atau dapat pula sebagai dana yang harus tersedia untuk membiayai
kegiatan operasi perusahaan sehari-hari. Menurut Sundjaja & Berlian (2002:155)
modal kerja adalah aktiva lancar yang mewakili bagian dari investasi yang berputar
diri satu bentuk kebentuk lainnya dalam melaksanakan suatu usaha atau kas,
surat-surat berharga yang mudah di uangkan (giro, cek, deposito), piutang dagang dan
persediaan yang tingkat perputarannya tidak melebihi satu tahun atau jangka waktu
normal perusahaan.
Menurut Sawir (2005:126) pengertian modal kerja ada 3 yaitu :
1. Konsep Kuantitatif
Berdasarkan pendekatan konsep kuantitatif, modal kerja merupakan jumlah
keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki suatu perusahaan pada suatu periode
tertentu. Modal kerja dalam pengertian ini sering disebut modal kerja bruto
2. Konsep Kualitatif
Konsep ini menitik beratkan kualitas modal kerja suatu badan usaha/ perusahaan.
modal kerja menurut konsep kualitatif merupakan selisih jumlah aktiva lancar
setelah dikurangi dengan hutang lancar pada suatu periode waktu tertentu. Modal
kerja dalam pengertian ini sering disebut modal kerja bersih (Net Working
Capital).
3. Konsep Fungsional
Konsep fungsional menekankan pada aspek fungsi modal kerja yang dimiliki
perusahaan dalam menghasilkan pendapatan (laba) dari usaha pokok perusahaan.
Modal kerja adalah aktiva jangka pendek yang digunakan untuk keperluan
sehari – hari oleh perusahaan. Kebijakan modal kerja adalah sebuah keputusan yang
diambil oleh manajer. Besar kecilnya modal kerja yang disediakan oleh perusahaan
terutama tergantung terhadap sikap manajemen terhadap laba dan resiko.
Dalam manajemen modal kerja ada dua prinsip mendasar dari pendanaan operasional
(Horne, 2005:313), yaitu :
a. Kemampuan memperoleh laba berbanding terbalik dengan likuiditas
b. Kemampuan memperoleh laba searah dengan resiko.
Weston (1999:332), merumuskan tiga alternatif pada pembiayaan aktiva
lancar tersebut sebagai pola pembiayaan yang bersifat konservatif, agresif, dan
manajemen yang mempertahankan tingkat aktiva lancar yang tinggi. Asumsinya yang
mendasari adalah semakin tinggi likuiditasnya.
Pola pembiayaan agresif adalah sebaliknya, pola ini dicirikan oleh sikap
manajemen yang menjaga tingkat aktiva lancar serendah mungkin sepanjang dapat
mendukung penjualan, dengan proporsi yang tinggi antara hutang lancar dari
keseluruhan hutang. Strategi ini akan menghasilkan tingkat modal kerja rendah
bahkan negatif dan kemampuan memperoleh laba yang tinggi.Konsekuensinya adalah
resiko yang tinggi.
Pola pembiayaan moderat berada diantara kedua pola tersebut. Kebijakan ini
berusaha untuk mempertemukan masa jatuh tempo aktiva dan kewajiban dengan
setepat-tepatnya sehingga pendanaan aktiva akan dilakukan dengan instrumen
pendanaan yang memiliki masa jatuh tempo kurang lebih sama. Metode pembiayaan
ini merupakan model yang paling ideal sehingga sering digunakan pedoman
pembelanjaan dalam perusahaan.
A. Hubungan Rasio Lancar (Current Ratio) terhadap ROI
Current Ratio adalah perbandingan antara aktiva lancar dengan hutang lancar.
Rasio ini menunjukkan berapa besar hutang lancar yang dijamin oleh aktiva lancar.
% 100 Lancar Hutang
Lancar Aktiva
Ratio
Current = x
Semakin besar rasio ini maka semakin kemampuan perusahaan untuk melunasi
kewajiban jangka pendeknya. Salah satu unsur kebijakan modal kerja berasal dari
mengelola aktiva lancar. Aktiva lancar biasanya dikaitkan dengan hutang lancar. Oleh
sebab itu dalam memahami pengertian modal kerja berkaitan pula dengan hutang
lancar. Dengan kondisi tertentu aktiva lancar mampu menghasilkan keuntungan
(profitabilitas) bagi pemilik perusahaan.
B. Hubungan Rasio Perputaran Modal Kerja (Working Capital Turnover Ratio) terhadap ROI
Rasio perputaran modal kerja merupakan perbandingan antara penjualan
dengan jumlah keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki suatu perusahaan pada suatu
periode tertentu. (Abdullah , 2005:71), dapat dihitung dengan rumus :
%
Semakin besar rasio perputaran modal kerja maka semakin baik suatu
perusahan dimana persentase modal kerja yang ada mampu menghasilkan jumlah
penjualan tertentu. Selain itu semakin besar rasio ini menunjukkan efektifnya
pemanfaatan modal kerja yang tersedia dalam meningkatkan profitabilitas
perusahaan.
C. Hubungan Rasio Jumlah Aktiva Lancar terhadap Total Aktiva (Current Assets to Total Assets Ratio) terhadap ROI
Rasio jumlah aktiva lancar terhadap total aktiva merupakan perbandingan
jumlah aktiva lancar terhadap total aktiva yang terdapat diperusahaan yang dinyakan
dalam persen (Sawir, 2005 :144). Dapat dihitung dengan rumus :
Semakin besar rasio semakin baik karena menunjukkan tersedianya kas,
piutang dan persediaan yang merupakan harta lancar yang paling likuid dibanding
dengan keseluruhan aktiva yang dimiliki perusahaan. Adanya aktiva yang likuid
dapat digunakan sewaktu – waktu dapat membiayai kebutuhan operasional
perusahaan dalam rangka menghasilkan laba.
D. Hubungan Rasio Jumlah Hutang Lancar terhadap Total Aktiva (Current Liabilities to Total Assets Ratio) terhadap ROI
Rasio jumlah hutang lancar terhadap total aktiva merupakan perbandingan
jumlah hutang lancar terhadap total aktiva yang terdapat diperusahaan yang
dinyatakan dalam persen (Barlian & Sundjaja, 2001:78). Dapat dihitung dengan
rumus :
Rasio ini menekankan pentingnya pendanaan hutang bagi perusahaan dengan
jalan menunjukkan besarnya aktiva perusahaan yang dibiayai dengan hutang jangka
pendek. Semakin besar persentase pendanaan berasal dari ekuitas pemegang saham
maka dari sudut kreditur bermakna makin besar perlindungan bagi pemberi pinjaman.
Semakin tinggi rasio ini maka semakin besar resiko keuangan yang dapat
mengganggu capaian profitabilitas perusahaan. Semakin kecil rasio ini maka semakin
Kesimpulannya, pengertian modal kerja adalah nilai aktiva atau harta yang
dapat segera dijadikan uang kas yang digunakan perusahaan untuk operasional
perusahaan sehari-hari.
• Pembagian Modal Kerja
Sawir (2005:132) modal kerja dibagi kedalam dua bagian pokok yaitu :
a. Modal Kerja Permanen (Permanent Working Capital)
Modal kerja permanen adalah modal kerja yang secara teratur harus ada pada
perusahaan untuk mendukung operasi-operasi yang dijalankan perusahaan. Modal
kerja permanen juga dapat di bagi 2 yaitu:
1) Modal Kerja Primer (primary working capital).
Modal Kerja Primer yaitu jumlah modal kerja minimum yang harus ada pada
perusahaan untuk menjamin kontinuitas usahanya.
2) Modal Kerja Normal (normal working capital).
Modal kerja normal adalah modal kerja yang diperlukan oleh perusahaan
untuk mendukung operasi-operasi normal perusahaan yang sering dikaitkan
dengan luas produksi dari perusahaan tersebut. Operasi normal menghasilkan
produksi normal. Apabila perusahaan misalnya selama 4 atau 5 bulan rata-rata
perbulannya mempunyai produksi 1000 unit maka dapat di katakana luas
produksi normalnya adalah 1000 unit. Apabila kemudian ternyata selama 4
atau 5 bulan berikutnya luas produksi rata-rata perbulannya 2000 unit, maka
b. Modal Kerja Variabel (Variabel Working Capital)
Modal kerja variabel adalah modal kerja yang jumlahnya berubah - ubah sesuai
dengan perubahan keadaan.
Modal kerja variabel dapat dibedakan atas:
1) Modal Kerja Musiman (Seasonal Working Capital)
Modal kerja musiman yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah
disebabkan fluktuasi musim.
2) Modal Kerja Siklis (Cyclical Working Capital)
Modal kerja siklis yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah
disebabkan karena fluktuasi konjungtur.
3) Modal Kerja Darurat (Emergency Working Capital)
Modal kerja darurat yaitu modal kerja yang besarnya berubah-ubah karena
adanya keadaan darurat yang tidak diketahui sebelumnya (misalnya : adanya
pemogokan buruh, banjir, perubahan keadaan ekonomi yang mendadak).
• Kebutuhan Modal Kerja
Kebutuhan modal kerja harus direncanakan dengan seksama oleh manajer
keuangan karena kesalahan didalam manajemen modal kerja akan menyebabkan
kesalahan yang fatal bagi perusahaan. Kebijakan modal kerja menurut merupakan
keputusan mendasar sehubungan denga jumlah setiap kategori aktiva lancar yang
ini menyangkut penentuan besar kecilnya jumlah aktiva lancar yang akan di
pertahankan oleh perusahaan.
Untuk menentukan jumlah modal kerja yang diperlukan oleh suatu
perusahaan terdapat sejumlah faktor yang perlu dianalisa. Djarwanto (2001:89)
menyatakan besarnya modal kerja yang di butuhkan perusahaan tergantung pada
beberapa hal yaitu :
a. Sifat umum atau tipe perusahaan.
b. Waktu yang diperlukan untuk memproduksi atau mendapatkan barang dan
ongkos produksi per unit atau harga beli perunit barang tersebut.
c. Syarat pembelian dan penjualan
d. Tingkat perputaran persediaan
e. Tingkat perputaran piutang
f. Pengaruh konjungtur (business cycle)
g. Derajat resiko kemungkinan menurunnya harga jual aktiva jangka pendek
h. Pengaruh musim
i. Credit rating dari perusahaan.
2.1.2. Pembelanjaan Modal Kerja
Sawir (2005:138) menjelaskan ada 3 (tiga) pilihan kebijakan bagi manajemen
perusahaan untuk membelanjai modal kerjanya, yaitu :
Kebijakan modal kerja konservatif adalah kebijakan dimana perusahaan
memodali sebagian modal kerja variabelnya dengan modal permanen, sedangkan
modal kerja permanen dan aktiva tetap dibelanjai oleh modal permanen.
2. Kebijakan Modal Kerja Moderat
Perusahaan dapat pula mengambil kebijakan modal kerja moderat dalam
membelanjai modal kerjanya dimana dalam hal ini modal kerja variabel yang
dimiliki oleh perusahaan dimodali dengan sumber dana jangka pendek dan modal
kerja permanen serta aktiva tetap dimodali dari sumber dana jangka panjang.
3. Kebijakan Modal Kerja Agresif
Kebijakan modal kerja agresif adalah bila semua modal kerja dibelanjai dengan
modal kerja jangka pendek, tetapi sebahagian dari modal kerja permanennya di
belanjai dengan sumber modal kerja jangka pendek.
2.1.3. Manajemen Modal Kerja
Menurut Weston & Copeland (1999:327) mengemukakan manajemen modal
kerja mengacu pada semua aspek pengelolaan aktiva lancar dan kewajiban lancar.
manajemen modal kerja adalah kegiatan yang mencakup semua fungsi manajemen
atas aktiva lancar dan kewajiban jangka pendek yang terdapat dalam perusahaan agar
mampu membiayai pengeluaran atau operasi perusahaan sehari-hari. Oleh karena itu
seorang manajer diharapkan mampu mengelola agar pemenuhan modal kerja dapat
Menurut Weston & Copeland (1999 :324), Pengelolaan modal kerja menjadi penting
karena menyangkut beberapa aspek yaitu sebagai berikut :
1. Beberapa penelitian telah memberikan indikasi bahwa sebagian besar waktu
manajer keuangan dihabiskan dalam kegiatan internal perusahaan dari hari ke hari
dan ini merupakan bagian dari manajemen modal kerja.
2. Lebih separuh dari total aktiva perusahaan merupakan aktiva lancar sebagai
bagian investasi yang besar dan mudah diuangkan, maka aktiva lancar
memerlukan perhatian yang seksama dari menajer keuangan.
3. Hubungan antara tingkat pertumbuhan penjualan dan kebutuhan akan permodalan
aktiva lancar adalah dekat dan langsung. Misalnya dalam piutang, jika jangka
waktu penagihan piutang perusahaan 40 hari dan penjualan kreditnya
Rp.1.000.000,00 sehari, berarti investasi perusahaan dalam piutang akan sebesar
Rp.40.000.000,00.
4. Manajemen modal kerja terutama sangat penting bagi perusahaan kecil.
Walaupun perusahaan kecil ini dapat mengurangi investasi aktiva tetapnya
melalui sewa-beli atau leasing peralatan dan mesin. Mereka tidak dapat
menghindari kebutuhan akan kas, piutang dan persediaan. Karena perusahaan
kecil memiliki akses (jalan masuk) ke pasar modal yang relatif sangat terbatas,
maka penekanan harus ditujukan kepada kredit dagang dan pinjaman bank jangka
pendek, keduanya mempunyai pengaruh pada modal kerja perusahaan melalui
Modal kerja sebaiknya tersedia dalam jumlah yang cukup agar
memungkinkan perusahaan untuk beroperasi secara ekonomis dan tidak mengalami
kesulitan keuangan dengan menutupi kerugian-kerugian dan dapat mengatasi
keadaan kritis atau darurat tanpa membahayakan keadaan keuangan perusahaan.
Perusahaan akan semakin kuat apabila telah dapat menafsirkan seberapa
banyak kebutuhannya akan modal kerja. Djarwanto (2001:87) menyatakan manfaat
dari tersedianya modal kerja yang cukup adalah :
1. Melindungi perusahaan dari akibat buruk berupa turunnya nilai aktiva lancar,
seperti adanya kerugian kerena debitur tidak membayar kewajibannya, turunnya
nilai persediaan karena harganya merosot.
2. Memungkinkan perusahaan untuk melunasi kewajiban-kewajiban jangka
pendeknya tepat pada waktu yang telah ditentukan.
3. Memungkinkan perusahaan untuk dapat membeli barang dengan tunai sehingga
dapat memetik keuntungan berupa potongan harga.
4. Menjamin perusahaan memiliki credit standing dan dapat mengatasi peristiwa
yang tidak dapat diduga sebelumnya seperti adanya kebakaran, pencurian, dan
sebagainya.
5. Memungkinkan untuk memiliki persediaan dalam jumlah yang cukup guna
melayani permintaan konsumennya.
6. Memungkinkan perusahaan untuk dapat memberikan syarat kredit yang
7. Memungkinkan perusahaan untuk dapat beroperasi dengan lebih efisien karena
tidak ada kesulitan dalam memperoleh bahan baku, jasa dan supplyer yang
dibutuhkan.
8. Memungkinkan perusahaan untuk mampu bertahan dalam periode resesi atau
depresi.
Sasaran yang ingin dicapai dari manajemen modal kerja (Sawir, 2005:133)
adalah seperti yang diutarakan berikut ini :
1. Memaksimalkan nilai perusahaan dengan mengelola aktiva lancar sehingga
tingkat pengembalian investasi marginal adalah sama atau lebih besar dari biaya
modal yang digunakan untuk membiayai aktiva-aktiva lancar tersebut.
2. Meminimalkan dalam jangka panjang biaya modal yang digunakan untuk
membiayai aktiva lancar.
3. Pengawasan terhadap arus dana dalam aktiva lancar dan ketersediaan dana dari
sumber utang sehingga perusahaan selalu dapat memenuhi kewajiban
keuangannya ketika jatuh tempo.
2.1.4. Profitabilitas Perusahaan
Profitabilitas perusahaan diindikasikan oleh earnings (laba). Menurut Gitman
(2003 : 599): ”Profitability is the relationship between revenues and cost generated
by using the firm’s assets – both current and fixed – in productive activities”.
Sedangkan Brigham dan Houston (2001 : 89) mengatakan bahwa profitabilitas adalah
Daves (2004 : 1007) mengatakan bahwa ”profitability ratios are a group of ratios
that shows the combined effects of liquidity, assets management, and debt on
operations”. Hal tersebut menunjukkan rasio profitabilitas merupakan suatu
kelompok rasio yang menunjukkan aspek likuiditas, manajemen aktiva dan besarnya
oparasional perusahaan yang dibiayai dari sumber hutang.
Dalam penelitian ini, rasio yang dipakai untuk mengukur profitabilitas adalah
Return on Investment (ROI). Istilah lain dari ROI adalah Return on Assets (ROA).
Gitman (2003: 65) mengatakan bahwa “Return on Total Assets (ROA) measures the
overall effectiveness of management in generating profits with its available assets;
also called the return on investment (ROI)”. Berdasarkan defenisi tersebut bahwa
ROI istilah lainnya disebut ROA yang mengukur tingkat efektivitas manajemen
dalam menghasilkan laba dengan pemanfaatan dari aktiva – aktiva yang dimiliki
perusahaan.
Kemampulabaan (Profitabilitas) merupakan hasil akhir bersih dari berbagai
kebijakan dan keputusan manajemen. Rasio kemampulabaan akan memberikan
gambaran dan jawaban akhir tentang tingkat efektivitas pengelolaan perusahaan.
Laba (profit) maksimum adalah tujuan umum setiap perusahaan yang bersifat jangka
pendek dan merupakan elemen terpenting agar kelanjutan dari perusahaan itu dapat
terjamin, Selain tujuan yang bersifat jangka panjang yaitu kemampuan untuk bersaing
(survive), kemampuan untuk bertumbuh (growth), dan kemampuan untuk
Untuk mencapai tujuan perusahaan tersebut maka perlu dilakukan proses
manajemen yang efektif dan efisien. Tingkat efisien tidak hanya dilihat dari sisi laba
yang diperoleh, melainkan dengan cara membandingkan laba yang diperoleh tersebut
dengan kekayaan atau modal yang dimiliki oleh perusahaan untuk menghasilkan laba
tersebut.
Kondisi perusahaan dapat diketahui kekuatan dan kelemahannya melalui rasio
profitabilitas. Rasio-rasio profitabilitas yang dipergunakan berhubungan dengan
penilaian terhadap kinerja perusahaan dalam menghasilkan laba. Terdapat beberapa
pengukuran terhadap profitabilitas atau rentabilitas suatu perusahaan yang
masing-masing dihubungkan dengan total aktiva, modal sendiri maupun nilai penjualan yang
dicapai.
Weston & Copeland (1999:232) mendefenisikan profitabilitas
(kemampulabaan) merupakan hasil akhir bersih dari berbagai kebijakan dan
keputusan. Sedangkan menurut Martono & Harjito (2001:18) menyatakan bahwa
profitabilitas yaitu kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dari modal yang
digunakan untuk menghasilkan laba tersebut.
Manager perusahaan diharapkan memiliki kemampuan didalam mengelola
perusahaan untuk mendapatkan laba yang maksimum melalui semua kemampuan dan
sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah
cabang, dan sebagainya dengan cara yang efisien. Efisiensi perusahaan dapat di
peroleh dengan membandingkan laba yang diperoleh dengan kekayaan atau modal
Rasio profitabilitas perusahaan yang umum digunakan menurut Sawir
(2005:18) adalah :
1. Margin Laba Kotor ( gross profit margin)
2. Margin Laba Bersih (Net Profit Margin)
3. Rentabilitas Ekonomis (Basic Earning Power)
4. Return On Investment (ROI)
5. Return On Equity (ROE)
Dari ukuran rasio profitabilitas diatas, penulis mengambil rasio ukur Return
On Investment (ROI) untuk melakukan penelitian .
Kelebihan Return On Investment (ROI) menurut Syamsuddin (2002:58) yaitu:
1. Selain ROI berguna sebagai alat kontrol, juga berguna untuk keperluan
perencanaan. Misalnya ROI dapat digunakan sebagai dasar pengambilan
keputusan apabila perusahaan akan melakukan ekspansi. Perusahaan dapat
mengistimasikan ROI yang harus melalui investasi pada aktiva tetap.
2. ROI dipergunakan sebagai alat mengukur profitabilitas dari masing-masing
produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Dengan menerapkan sistem biaya
produksi yang baik, maka modal dan biaya dapat dialokasikan ke dalam berbagai
produk yang dihasilkan oleh perusahaan, sehingga dapat dihitung profitabilitas
masing-masing produk.
3. Kegunaan ROI yang paling prinsip berkaitan dengan efisiensi penggunaan modal,
efisiensi produksi dan efisiensi penjualan. Hal ini dapat dicapai apabila
mematuhi prinsip-prinsip akuntansi yang ada. Apabila suatu perusahaan pada
periode tertentu telah mencapai perputaran aktiva operasi (operating assets turn
over) sesuai standar/ target yang telah ditetapkan, akan tetapi ROI yang dicapai
masih dibawah standar, maka pihak manajemen perusahaan hendaknya lebih
mencurahkan perhatian pada usaha peningkatan efisiensi sektor produksi dan
penjualan.
Sedangkan kelemahan Return On Investment (ROI) menurut Syamsuddin
(2002:59), yaitu sebagai berikut:
1. Sulit membandingkan rate of return suatu perusahaan dengan perusahaan lain,
karena perbedaan praktek akuntansi antar perusahaan.
2. Analisa return on investment (ROI) saja tidak dapat dipakai untuk
membandingkan antara dua perusahaan atau lebih dengan memperoleh hasil yang
memuaskan.
Menurut Syamsuddin (2002:57) ROI sering disebut juga dengan Return On
Total Assets dipergunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan keuntungan dengan penggunaan seluruh aktiva perusahaan yang
dimiliki. ROI dapat dihitung dengan rumus :
% 100 x Aktiva
Total
Pajak Setelah Bersih
Laba
2.2. Tinjauan Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang membahas modal kerja diantaranya oleh Nurak
(2001 : 29) mengemukakan kesimpulan bahwa kebijkan modal kerja cukup dominan
mempengaruhi Return on Assets (ROA) dan relevan dalam proses pengabilan
keputusan manajemen. Proses hirarki kebijaksanaan modal kerja sangat kuat
dipengaruhi oleh adanya perubahan permintaan sebagai salah satu faktor ekstern.
Apabila permintaan bertambah maka ada peluang pasar secara otomatis tercipta
kesempatan produksi. Hal ini dilakukan dengan perencanaan besarnya investasi pada
aktiva lancar, selanjutnya pertimbangan sumber pendanaannya atau
pembelanjaannya. Keberhasilan pengelolaan modal kerja untuk memperoleh ROI
banyak dipengaruhi oleh kegiatan intern kurang dari 50 %, namun keduanya saling
tergantung dan menunjang serta tidak terpisahkan.
Penelitian yang dilakukan oleh Abdul Raheman dan Mohamed Nasr (2007)
pada tahun 1999 – 2004 pada Karachi Stock Exchange di Pakistan menunjukkan
terdapat pengaruh modal kerja terhadap tingkat likuiditas perusahaan dan juga tingkat
profitabilitas perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel average
collection period, inventory turn over in days, average payment period, cash
convertion cycle dan current ratio. Hasilnya menunjukkan ada hubungan negatif
antara kebijakan modal dengan tingkat profitabilitas perusahaan.
Penelitian Khouri et al, (1999). yang membandingkan kebijakan Modal Kerja
di Negara Kanada, The United States dan Australia dengan mengajukan quesioner
kerja yang diambil perusahaan pada tiap negara tersebut. Selain itu menunjukkan
bahwa kebijakan modal kerja banyak dipengaruhi oleh waktu (periode) dan kebijakan
modal kerja banyak dipengaruhi oleh kultur yang ada pada tiap negara tersebut.
Selain itu Weny dan Mutranto (2001) menemukan bahwa pada perusahaan
retail harus memperhatikan Cash Convertion Cycle yang merupakan merchandising
ratio suatu alat analisis yang menentukan berapa hari kas menetap dalam siklus
konversi kas. Selain itu keberhasilan strategi modal kerja bergantung pada
kemampuan perusahaan dalam menggunakan aktiva secara efektif dan pemanfaatan
hutang secara maksimal untuk menghasilkan keuntungan.
Ringkasan dari hasil penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh peneliti
Tabel 2.1
Ringkasan Hasil Penelitian Terdahulu
Tahun Judul Penelitian Variabel Hasil Penelitian
Nurak (2001)
Pengaruh Kebijaksanaan
Modal Kerja Terhadap ROA pada
Perusahaan
Property/Real Estate yang Masuk Pasar Modal di Indonesia
Pembelanjaan Modal, Rasio Lancar, Perputaran Modal Kerja, Jumlah Aktiva Lancar terhadap ROA.
Menunjukkan rasio pembelanjaan modal kerja
memiliki korelasi terhadap profitabilitas (ROA).
Abdul Profitability – Case of Pakistani Firms
Net Operating Activities, Average Collection Period, Inventory Turn Over in Days, Average Payment Period, Cash Convertion Cycle, Current Ratio, Sales, Debt Ratio dan ROI
Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel average
collection period, inventory turn over in days, average
payment period, cash
convertion cycle dan current ratio ada hubungan negatif
antara kebijakan modal dengan tingkat profitabilitas perusahaan. Capital Practices in Canada, The United States and Australia. A Note.
Menggunakan
Kuisioner dengan 35 pertanyaan meliputi aspek Kebijakan Modal Kerja yang diambil juga Kebijakan
Piutang Usaha, Perputaran Persediaan,
Hutang dan Surat – surat berharga
Adanya perbedaan kebijakan modal kerja yang diambil perusahaan pada tiap negara tersebut. Selain itu menunjukkan bahwa kebijakan modal kerja banyak
dipengaruhi oleh waktu (periode) dan kebijakan modal kerja banyak dipengaruhi oleh kultur yang ada pada tiap negara tersebut.
Wenty dan Murtanto
(2001)
Pengukuran
Komprehensif atas Strategi Modal Kerja
Melalui Rasio
Tahun Judul Penelitian Variabel Hasil Penelitian
hutang secara maksimal untuk menghasilkan keuntungan.
2.3.Kerangka Konseptual
Tujuan mengelola modal kerja adalah untuk membiayai operasi perusahaan
sehari – hari sehingga menghasilkan laba. Kebijakan modal kerja menyangkut
penentuan besar kecilnya jumlah aktiva lancar yang akan dipertahankan oleh
perusahaan. Nurak (2002 : 70) menyatakan bahwa kebijakan modal kerja dapat
dilihat dari 4 (empat) aspek yang saling terkait secara serentak yaitu rasio cara
pembelanjaan modal kerja, tingkat rasio lancar, tingkat perputaran modal kerja dan
rasio jumla aktiva lancar terhadap jumlah aktiva.
Djarwanto (2001:141) mengemukakan perputaran modal kerja (working
capital turn over) adalah rasio antara penjualan dengan modal kerja. Perputaran
modal kerja ini menunjukkan jumlah rupiah penjualan bersih yang diperoleh bagi
setiap rupiah modal kerja. perputaran modal kerja yang tinggi menunjukkan semakin
besar kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba melalui penjualan dan
akhirnya akan meningkatkan ROI.
Syamsudin (2001:209) mengemukakan bahwa rasio aktiva lancar terhadap
total aktiva adalah rasio yang menunjukkan berapa bagian dari total aktiva yang
tertanam dalam pos-pos yang lancar. Rasio aktiva lancar atas total aktiva yang tinggi
hal ini berarti ROI juga mengalami penurunan. Profitabilitas yang tinggi disebabkan
karena aktiva lancar yang menghasilkan lebih sedikit dibanding dengan aktiva tetap.
Sundjaja & Barlian (2001:114) mengemukakan bahwa rasio hutang lancar
terhadap total aktiva dapat menunjukkan persentase total aktiva yang dibiayai oleh
pasiva lancar. Jika rasio hutang lancar terhadap total aktiva meningkat, laba
meningkat karena perusahaan menggunakan banyak pembiayaan jangka pendek yang
berdampak pada naiknya resiko perusahaan atas pembayaran jangka hutang
lancarnya.
Menurut Sawir (2005:143), Ada 6 (enam) Rasio Kebijakan Modal Kerja yang
mempengaruhi Return On Investment (ROI) yang meliputi :
1. Rasio Kecukupan Aktiva Lancar
Rasio kecukupan aktiva lancar perusahaan merupakan tolok ukur paling kasar
untuk menunjukkan adannya dana likuid yang segera menjadi kas dan tersedia
untuk membayar tagihan- tagihan.
2. Rasio kecukupan Quick Assets
Rasio kecukupan Quik assets berguna untuk melihat besarnya aktiva yang likuid
dalam aktiva lancar yang dapat dengan segera menjadi kas yang meliputi kas dan
piutang dalam perusahaan.
3. Rasio kecukupan kas
Rasio kecukupan kas berguna untuk melihat besarnya aktiva yang paling likuid
yang terdapat dalam neraca yang terdiri dari kas dan efek (setara kas).
Rasio arus dana dari persediaan penting bagi perusahaan, artinya bila perusahaan
tidak menjual persediaan, maka tidak ada piutang dan sebaliknya apabila piutang
tidak dikumpulkan maka perusahaan akan kekurangan dana pada kas.
5. Rasio Exposure dari kewajiban lancar.
Rasio Exposure dari kewajiban lancar digunakan untuk mengukur resiko dari
kewajiban lancar. Dalam menentukan struktur modalnya, perusahaan melakukan
pilihan pemakaian antara hutang jangka pendek atau hutang jangka panjang.
6. Rasio kecukupan modal kerja.
Rasio kecukupan modal kerja digunakan untuk melihat kekuatan modal kerja
untuk membiayai kegiatan perusahaan sehari- hari.
Pihak perusahaan perlu berperan aktif dalam menentukan besarnya dana, cara
mendapatkan dan mengalokasikannya pada berbagai jenis aktiva yang menghasilkan
serta mengendalikannya sehingga diperoleh suatu kombinasi sumber dan penggunaan
dana yang seimbang dan efisien. Tujuan mengelola modal kerja adalah membiayai
operasi perusahaan sehari – hari sehingga menghasilkan laba. Laba tersebut
dibandingkan dengan modal yang digunakan untuk menghitung tingkat
profitabilitasnya.
Modal kerja adalah investasi perusahaan pada aktiva jangka pendek yaitu kas,
yang digunakan untuk operasional sehari-hari dan wujud dari modal kerja tersebut
adalah perkiraan-perkiraan yang ada dalam aktiva lancar. Manajemen modal kerja
berkaitan erat dengan masalah pembelanjaan perusahaan, dimana hal ini ada kaitanya
dengan jumlah dana aktiva lancar ataupun bagaimana proses pemenuhan kewajiban
jangka pendek perusahaan. Namun, seringkali untuk persediaan yang ada di gudang
sebagian masih merupakan hutang perusahaan kepada supplier atau pemasok, karena
itu timbul pengertian modal kerja bersih atau net working capital yaitu selisih dari
aktiva lancar dengan kewajiban lancar.
Kebijakan modal kerja menyangkut penentuan besar kecilnya jumlah aktiva
lancar yang akan dipertahankan perusahaan. Kondisi kebijakan modal kerja yang
ditunjukkan oleh Rasio Lancar (Current Ratio), Rasio Perputaran Modal Kerja
(Working Capital Turn Over), Rasio Aktiva Lancar Terhadap Total Aktiva (Current
Asset to Total Asset), Rasio Hutang Lancar Terhadap Total Aktiva (Current
Liabilities to Total Asset) dan kondisi Return On Investment (ROI). Sehingga
kerangka konseptual yang terbentuk sebagai berikut :
KEBIJAKAN MODAL KERJA
Gambar 2.1. Kerangka Konseptual
Hipotesis Penelitian
Hipotesis yang dapat diambil berdasarkan latar belakang masalah dan
perumusan masalah adalah :
”Kebijakan modal kerja baik secara simultan maupun secara parsial berpengaruh
terhadap Return On Investment (ROI) perusahaan”
Return On Investment
(ROI) Current
Ratio
Current Assets to Total Assets Working Capital
Turnover
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Rancangan Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah desain asosiatif, yaitu untuk
menganalisis hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya atau bagaimana
suatu variabel mempengaruhi variabel lain. Dalam hal ini desain asosiatif yang
digunakan adalah desain asosiatif kausal yaitu adanya hubungan sebab akibat antara
satu variabel dengan variabel yang lain. (Cooper and Schindler, dalam Budijanto dkk
2006 : 176 - 177).
3.2. Populasi dan Sampel Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian SENSUS dimana semua populasi dijadikan
sampel pada seluruh industri rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari
tahun 1998 sampai dengan tahun 2006 (selama 9 tahun) pada populasi perusahaan
rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Populasi Industri Rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia mulai 1998
hingga tahun 2006 terdapat 4 (empat) perusahaan. Semua populasi diambil menjadi
sampel penelitian yaitu:
a. PT. British American Tobacco Indonesia, Tbk (BATI),
b. PT. Bentoel International Investama, Tbk (RMBA),
c. PT. Gudang Garam, Tbk (GGRM),
3.3. Variabel Penelitian
3.3.1. Klasifikasi Variabel
Variabel – variabel yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu :
a. Rasio Return On Investment (Y)
Rasio Return On Investment (ROI) merupakan kemampuan perusahaan untuk
menghasilkan laba setelah pajak dari seluruh aktiva atau modal yang dimilikinya
(Abdullah 2005:57), atau dapat dilihat dengan rumus :
% 100 Aktiva Total
EAT
ROI = ×
b. Rasio Aktiva Lancar (X1)
Current Ratio adalah perbandingan antara aktiva lancar dengan hutang lancar.
Rasio ini menunjukkan berapa besar hutang lancar yang dijamin oleh aktiva
lancar.
% 100 Lancar Hutang
Lancar Aktiva
Ratio
Current = x
Semakin besar rasio ini maka semakin kemampuan perusahaan untuk melunasi
kewajiban jangka pendeknya.
Rasio perputaran modal kerja merupakan perbandingan antara penjualan dengan
jumlah keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki suatu perusahaan pada suatu
periode tertentu. (Abdullah , 2005:71), dapat dihitung dengan rumus :
%
Rasio jumlah aktiva lancar terhadap Total aktiva merupakan perbandingan jumlah
aktiva lancar terhadap total aktiva yang terdapat diperusahaan yang dinyakan
dalam persen (Sawir, 2005 :144). Dapat dihitung dengan rumus :
%
e. Rasio Jumlah Hutang Lancar terhadap Total Aktiva (X4)
Rasio jumlah hutang lancar terhadap total aktiva merupakan perbandingan jumlah
hutang lancar terhadap total aktiva yang terdapat diperusahaan yang dinyatakan
dalam persen (Barlian &Sundjaja, 2001:78). Dapat dihitung dengan rumus :
3.3.2. Operasionalisasi Variabel
Adapun operasionalisasi variabel terdapat pada tabel 3.1. berikut :
Tabel 3.1
Tabel Operasionalisasi Variabel
No. Variabel Defenisi Sub
Variabel Indikator Skala
1. ROI (Y)
Kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba setelah pajak dari seluruh aktiva atau modal yang
dimilikinya
Profitability 100%
Aktiva
Rasio yang menunjukkan besarnya hutang lancar yang dijamin oleh aktiva
lancar.
Liquidity 100%
Lancar penjualan dengan jumlah keseluruhan aktiva lancar
yang dimiliki suatu perusahaan pada suatu
periode tertentu.
Liquidity 100%
kerja aktiva lancar terhadap total
aktiva yang terdapat diperusahaan yang dinyakan dalam persen.
Liquidity 100%
Aktiva hutang lancar terhadap total aktiva yang terdapat
diperusahaan yang dinyatakan dalam persen.
Leverage 100%
3.4. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah Bursa Efek Indonesia di Jakarta dengan
3.5. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti adalah melalui studi
dokumentasi. Peneliti mengumpulkan berbagai data yang relevan dengan penelitian,
terutama yang bersumber dari data yang terdapat pada Indonesian Capital Market
Directory maupun berasal dari www.isx.co.id.
Metode dan Teknik Analisis Data
3.6.1. Metode Analisis Data
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Model dasar analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah :
Y = f (X1, X2, X3, X4)
Model tersebut ditransformasikan dalam bentuk regresi linier berganda
(Multiple Regression Analysis) dengan metode Ordinary Least Square (OLS) sebagai
berikut :
Y
= α+ β
1X1+ β
2X2+ β
3X3+ β
4X4+ε
dimana :
Y = Return on Investment (ROI)
X1 = Current Ratio
X2 = Working Capital Turnover Ratio
X3 = Current Assets to Total Assets
X4 = Current Liabilities to Total Assets Ratio
α
= KonstantaPengujian mengenai ada tidaknya pelanggaran terhadap asumsi-asumsi klasik
yang merupakan dasar dalam model regeresi linier berganda. Hal ini dilakukan
sebelum dilakukan pengujian terhadap hipotesis. Asumsi-asumsi klasik tersebut
meliputi (Gujarati, alih bahasa Zain :1999) sebagai berikut :
1. Data terdistribusi secara normal (Normalitas Data)
2. Tidak terdapat multikolinieritas diantara atau semua variabel independen.
3. Tidak terdapat heteroskedastisitas, yaitu ragam error yang tidak konstan pada
setiap variabel.
4. Tidak terjadi autokorelasi, yaitu korelasi antar error atau tidak dipengaruhi oleh
unsur gangguan.
• Uji Normalitas Data
Normalitas data dilakukan dengan Uji Kolmogorov-Smirnov. Dimana apabila
nilai signifikansi < 0,05 maka distribusi data tidak normal dan sebaliknya.
• Uji Multikoliniearitas
Multikolinieritas adalah terdapatnya lebih dari satu hubungan linier pasti
(sempurna). Dimana suatu keadaan yang satu atau lebih variabel bebasnya terdapat
korelasi dengan variabel bebas lainnya. Adanya multikolinieritas dapat dilihat dari
tolerance value atau nilai Variance Inflation Factor (VIF), yaitu dengan rumus :
(Hair et al, 1998 :193)
− =
k R VIF
2
R2/k = Koefesien determinasi (R2) berganda ketika Xk diregresikan dengan
variabel-variabel X lainnya.
Batas tolerance value adalah 0,01 dan batas VIF adalah 10. Apabila :
tolerance value < 0,01 atau VIF > 10 = terjadi multikolinieritas tolerance value > 0,01 atau VIF < 10 = tidak terjadi multikolinieritas
• Uji Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas terjadi karena perubahan situasi yang tidak tergambarkan
dalam spesifikasi model regresi atau terjadi jika residual tidak memiliki varians yang
konstan. Perubahan yang tergambarkan dalam spesifikasi model regresi disebut
Homoskedastisitas. Asumsi kedua ini akan di uji dengan uji Glesjer yaitu untuk
memformalkan grafik dengan melakukan regresi FLS terhadap model regresi dan
kembali melakukan regresi terhadap residual untuk menentukan koefesien
kemiringan yang signifikan dan melakukan pengujian t, berikut : (Gujarati, dalam
Zain, 1999 : 186).
Apabila :
t hitung > t tabel = terjadi heteroskedastisitas
t hitung ≤ t tabel = tidak ada heteroskedastisitas
• Uji Autokorelasi
Pengujian asumsi ketiga menggunakan uji Durbin Watson (Durbin-Watson
Test), yaitu menguji apakah terjadi korelasi serial atau tidak dengan menghitung nilai
d statistik dengan rumus (Gujarati, dalam Zain, 1999 : 215) berikut :
dimana :
d = nilai d
et = nilai residu dari persamaan regresi periode t
et-1 = nilai residu dari persamaan regresi periode t-1
3.6.2. Pengujian Hipotesis
Untuk membuktikan hipotesis maka digunakan alat uji sebagai berikut :
1. Uji F, dengan maksud menguji apakah secara simultan variabel bebas berpengaruh
terhadap variabel tidak bebas, dengan tingkat keyakinan 95 % (α=0,05).
Urutan uji F meliputi :
a. Merumuskan hipotesis null dan hipotesis alternatif.
H0 : β1 = β2 = β3 =β4 = 0
Ha : Paling sedikit ada satu βi ≠ 0 i = 1,2,3,4
b. Menghitung F-hitung dengan menggunakan rumus yaitu :
dimana : R2= koefesien determinasi n = jumlah sampel k = jumlah variabel bebas
Dengan kriteria tersebut, diperoleh nilai Fhitung yang dibandingkan dengan
Ftabel dengan tingkat resiko (level of significant) dalam hal ini 0,05 dan degree
of freedom = n-k-1.
c. Kriteria Pengujian :
dimana : Fhitung > Ftabel = H0 ditolak
Fhitung≤ Ftabel = H0 diterima
2. Uji Koefesien Determinasi (R2), melihat berapa proporsi variasi dari variabel
bebas secara bersama-sama dalam mempengaruhi variabel tidak bebas, dengan
formula (Gujarati, dalam Zain, 1995 : 207) sebagai berikut :
dimana : JKR = jumlah kuadrat regresi (explained sum of squares)
JKY = jumlah total kuadrat (total sum of squares)
Dalam hasil output SPSS Version 15 maka yang menjadi patokan adalah
Adjusted R Square.
3. Uji-t statistik, untuk menguji pengaruh secara parsial antara variabel bebas
terhadap variabel tidak bebas dengan asumsi bahwa variabel lain dianggap
konstan, dengan tingkat keyakinan 95 % (α = 0,05).
Urutan Uji t :
a. Merumuskan hipotesis null dan hipotesis alternatif.
H0 : β1 = β2 = β3 =β4 = 0
Ha : Paling sedikit ada satu βi ≠ 0 i = 1,2,3,4
b. Menghitung t-hitung dengan menggunakan rumus : Clave et al., (2001:534)
dimana : bi = koefesien regresi masing-masing variabel
Sbi = standar error masing-masing variabel
Dari perhitungan tersebut akan diperoleh nilai thitung yang kemudian
dibandingkan dengan ttabel pada tingkat keyakinan 95%.
c. Kriteria pengujian :
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Deskripsi Data Penelitian Industri Rokok
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kebijakan modal kerja
berpengaruh terhadap Return On Investment (ROI) pada Industri Rokok yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah
Return on Investment, sedangkan variabel independen adalah Rasio Aktiva Lancar
(current ratio), Rasio Perputaran Modal Kerja (Working Capital Turn Over ratio),
Rasio Jumlah Aktiva Lancar terhadap Total Aktiva (Current Assets to Total Assets
ratio) dan Rasio Jumlah Hutang Lancar terhadap Total Aktiva (Current Liabilities to
Total Assets). Berdasarkan tabel 4.2 dibawah ini menunjukkan nilai maksimum, nilai
minimum, nilai rata – rata dan standar deviasi dari data. Hal ini secara ringkas
terdapat pada Tabel 4.1 berikut :
Tabel 4.1 :
Deskripsi Statistik Industri Rokok Tahun 1998 - 2006 p
36 106.33 372.71 211.7489 65.53706 36 1.21 6.94 2.8508 1.57700 36 40.68 84.21 70.1417 9.40253 36 16.77 85.08 36.5489 12.15563 36 1.03 4.04 2.3775 .71547 36
CR WCTO CLTA CATA ROI
Valid N (listw ise)
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Berdasarkan Tabel 4.1, maka secara umum nilai manimum dari current ratio
adalah 106, 33, nilai maksimum current ratio adalah 372,31 dengan rata – rata
current ratio yang diperoleh perusahaan rokok yang go publik dari tahun 1998 –
2006 sebesar 211,75 persen. Hal tersebut menunjukkan besarnya jumlah aktiva
terutama aktiva lancar yang mampu melunasi kewajiban jangka pendek kepada pihak
eksternal pada industri rokok. Nilai current ratio pada industri rokok dinilai stabil
dan konstan dari tahun 1998 – 2006. Sedangkan penyimpangan dari rata – rata data
current ratio yang ada sebesar 65, 54 %.
Berdasarkan hal tersebut menunjukkan bahwa current ratio yang tinggi
memberikan indikasi jaminan yang baik bagi kreditur jangka pendek dalam arti setiap
perusahaan memiliki kemampuan untuk melunasi kewajiban – kewajiban finansial
jangka pendek. Akan tetapi current ratio yang tinggi akan berpengaruh negatif
terhadap kemampuan memperoleh laba (profitabilitas), karena sebagian modal kerja
tidak berputar atau mengalami pengangguran (iddle money). Syamsuddin (2002:209)
mengatakan bila rasio aktiva lancar atas total aktiva meningkat maka baik
profitabilitas maupun resiko yang dihadapi akan menurun. Menurunnya profitabilitas
disebabkan karena aktiva lancar menghasilkan lebih sedikit dibandingkan dengan
aktiva tetap.
Nilai minimum dari working capital turnover ratio adalah 1,21, nilai
maksimum working capital turnover ratio adalah 6,94 dengan rata – rata working
capital turnover ratio yang diperoleh perusahaan rokok yang go publik dari tahun