BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembelajaran adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang (guru) untuk membelajarkan siswa yang belajar. Pada pendidikan formal (sekolah), pembelajaran merupakan tugas yang dibebankan kepada guru, karena guru merupakan tenaga profesional yang dipersiapkan untuk itu. Menurut Suprapto dalam Sulistiasih (2007: 1) pembelajaran dipandang sebagai suatu sistem dan sebagai suatu proses. Pembelajaran dipandang sebagai suatu sistem, maka pembelajaran terdiri dari komponen yang terorganisir antara lain tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, strategi dan metode pembelajaran, media atau alat peraga, pengorganisasian kelas, evaluasi pembelajaran, dan tindak lanjut. Sedangkan pembelajaran dipandang sebagai suatu proses yaitu pembelajaran yang merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka membuat peserta didik belajar. Proses dimulai dari merencanakan program, penyusunan persiapan mengajar, serta perangkat kelengkapannya yang berupa media dan evaluasi.
2
suatu pembelajaran merupakan suatu sistem. Kesemua sistem tersebut memiliki batasan sendiri-sendiri, dan berbeda antara sistem satu dengan sistem lainnya, meskipun antara sistem juga dapat saling mempengaruhi. Secara umum setiap sistem mempunyai ciri-ciri yang sama meliputi tujuan, fungsi, komponen, interaksi atau saling hubungan, jalinan keterpaduan, proses transformasi, umpan balik, dan lingkungan.
Berdasarkan teori sistem di atas, maka pembelajaran sebagai sistem di dalamnya merupakan perpaduan beberapa komponen pembelajaran, di mana komponen satu dengan yang lain dimanipulasikan agar terjadi saling berhubungan, saling melengkapi, dan saling bekerjasama dalam mencapai tujuan pembelajaran/kompetensi yang telah dirumuskan. Meskipun masing-masing komponen pembelajaran memiliki fungsi atau peran yang berbeda, tetapi dengan perpaduan antarkomponen tersebut dapat membuat proses pembelajaran menjadi lebih sistematis dan berhasil. Komponen guru harus dapat berinteraksi dengan komponen siswa. Materi/isi pelajaran harus terintegrasi dengan komponen media pembelajaran.
3
tujuan pendidikan dan pembelajaran tidak akan tercapai sesuai dengan yang diharapkan. Guru, yang merupakan salah satu komponen penting dalam aktivitas pembelajaran memiliki banyak peran dalam pembelajaran khususnya dalam pembelajaran tatap muka, termasuk di antaranya guru sebagai informatory harus berusaha menginformasikan materi/pesan pembelajaran secara jelas dan mudah diterima oleh siswa. Ini berarti guru harus menyiapkan bahan pembelajaran seperti media pembelajaran yang dapat membantunya dalam menyajikan pesan pembelajaran. Dengan media, pembelajaran menjadi efektif dan efesien.
Mutu pendidikan yang baik akan tercapai jika tujuh komponen dalam proses pembelajaran telah terpenuhi. Salah satunya adalah guru yang berkualitas, baik dari segi keterampilan dalam menggunakan media/alat peraga, metode, strategi pembelajaran maupun penguasaan materi pembelajaran.
4
ditetapkan yaitu 60. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia terlihat kekurangmampuan siswa dalam menyusun kalimat.
Sejalan dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) siswa dituntut untuk memilki kompetensi. Untuk memenuhi hal tersebut dalam proses pembelajaran sebaiknya siswa dilibatkan langsung sehingga memperoleh pengalaman belajar yang maksimal. Keterlibatan dan aktivitas siswa yang maksimal dalam pembelajaran, diharapkan dapat meningkatkan penguasaan materi dalam pelajaran bahasa Indonesia.
Cara yang diduga dapat meningkatkan keterampilan dan nilai siswa dalam pembelajaran Bahasa Inddonesia, salah satunya adalah dengan melakukan tindakan yang dapat mengubah suasana pembelajaran dan melibatkan siswa aktif dalam proses pembelajaran. Faktor yang mempengaruhi di antaranya adalah kreatifitas guru dalam mempersiapkan rencana pembelajaran mulai dari sumber pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, serta penggunaan alat peraga yang tujuannya adalah untuk memberikan pengalaman langsung kepada siswa sehingga semua materi pembelajaran yang diterima bisa bertahan lama dalam ingatan siswa.
5
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, perlu diidentifikasi permasalahan yang ada yaitu sebagai berikut:
1. Rendahnya kemampuan siswa kelas II dalam menyusun kalimat pada proses pembelajaran bahasa Indonesia yang tidak menggunakan alat peraga kartu kata.
2. Rendahnya nilai bahasa Indonesia siswa akibat kurangnya kepedulian guru dalam menggunakan alat peraga dalam pembelajaran sehingga siswa menjadi pasif dan tidak bergairah mengikuti proses pembelajaran.
3. Perlu ditingkatkannya mutu pembelajaran bahasa Indonesia pada materi membuat kalimat dengan menggunakan alat peraga kartu kata pada siswa kelas II SDN I Mekar Sari.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka inti permasalahannya adalah: ”Bagaimanakah penggunaan alat peraga kartu kata untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyusun kalimat Bahasa Indonesia di kelas II SDN I Mekar Sari Kecamatan Lambu Kibang?”
6
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini untuk:
1. Meningkatkan kemampuan siswa dalam menyusun kalimat dengan menggunakan alat peraga kartu kata.
2. Meningkatkan nilai siswa dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia pada materi menyusun kalimat.
3. Meningkatkan kemampuan guru dalam menggunakan alat peraga kartu kata agar kemampuan dan nilai siswa pada proses pembelajaran bahasa Indonesia tentang materi menyusun kalimat dapat meningkat.
E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai berikut: 1. Bagi Siswa
Dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyusun kalimat pada proses pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan alat peraga kartu kata.
2. Bagi Guru
Sebagai bahan masukan dalam meningkatkan mutu pendidikan di kelasnya, menambah pengetahuan guru, serta mengembangkan kemampuan guru dalam mempersiapkan diri untuk menjadi guru yang profesional.
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Alat peraga
1. Pengertian Alat Peraga
Dalam keseluruhan proses di sekolah, kegiatan pembelajaran merupakan kegiatan yang paling inti. Hal ini mempunyai arti bahwa kegiatan inti harus dilaksanakan secara maksimal. Untuk pelaksanaan tersebut diperlukan suatu alat atau media agar siswa lebih mudah dan cepat menangkap pesan atau materi ajar yang disampaikan oleh guru. Salah satu media atau alat yang menunjang proses pembelajaran adalah dengan menggunakan alat peraga atau media pembelajarn yang sesuai dengan materi pelajaran dan tingkat perkembangan siswa.
Secara harfiah alat peraga berarti alat atau media pembelajaran untuk memeragakan sajian pelajaran. Tiap-tiap benda yang dapat menjelaskan suatu ide, prinsip, gejala atau hukum alam disebut alat peraga (Soelarko, 1995: 6). Alat peraga adalah alat yang dipergunakan untuk memeragakan benda yang diterangkan, baik dalam bentuk benda nyata, tiruan/modelnya, atau gambar visualnya (Siddiq, dkk., 2008: 1-35).
8
NEA dalam Rohani (1997: 2) berpendapat alat peraga adalah segala benda yang dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca, dan dibicarakan beserta instrumen yang digunakan dalam kegiatan tersebut.
2. Jenis Alat Peraga
Jenis alat peraga ada bermacam-macam. Menurut Dale dalam Sadiman, (1989: 26) alat peraga digolongkan berdasarkan pengalaman belajar peserta didik, yaitu dari yang konkret sampai yang bersifat abstrak. Pengalaman-pengalaman itu meliputi :
1. Pengalaman melalui lambang kata/verbal. 2. Pengalaman melalui lambang visual. 3. Pengalaman melalui gambar.
4. Pengalaman melalui rekaman. 5. Pengalaman melalui gambar hidup. 6. Pengalaman melalui televisi. 7. Pengalaman melalui pameran. 8. Pemgalaman melalui widya wisata.
9. Pengalaman melalui kegiatan demonstrasi. 10. Pengalaman melalui dramatisasi.
11. Pengalaman melalui mode.
12. Pengalaman melalui pengalaman langsung bertujuan dan melakukan sendiri.
3. Alat Peraga Kartu Kata.
Alat peraga kartu kata adalah alat peraga berbentuk lembaran-lembaran persegi panjang yang bertuliskan kata-kata yang mudah dipahami atau dicerna oleh anak-anak. Kata-kata yang ditulis dipilih dari kata-kata yang terdapat di sekeliling siswa dan berhubungan dengan subjek (S), predikat (P), objek (O), dan keterangan (K).
Contoh: Kartu kata yang belum tersusun
9
Disusun menjadi
Kartu kata yang belum tersusun
Disusun menjadi
4. Kelebihan dan kelemahan Alat Peraga Kartu Kata.
Alat peraga kartu kata adalah salah satu media visual yang memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan. Menurut Sadiman, dkk. (1989: 29-31) kelebihan dan kelemahan tersebut antara laian:
a. Kelebihan.
1) Sederhana dan mudah pembuatannya
2) Lebih realistis menunjukkan pokok masalah dibandingkan dengan media verbal semata.
3) Dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita. 4) Dapat memperjelas suatu masalah
5) Murah harganya dan gampang didapat serta digunakan, tanpa memerlukan peralatan khusus.
b. Kelemahan.
1) Hanya menekankan persepsi indra mata. 2) Ukurannya sangat terbatas.
5. Fungsi Alat Peraga dalam Pembelajaran
Fungsi dari alat peraga ialah untuk memvisualisasikan sesuatu yang tidak dapat dilihat atau sukar dilihat, hingga menjadi nampak jelas dan dapat menimbulkan pengertian atau meningkatkan persepsi seseorang (Soelarko,
Bapak menanam pohon pisang di kebun
menyiram Rini di taman bunga
10
1995: 6). Menurut Soelarko ada enam fungsi pokok dari alat peraga dalam proses belajar mengajar, yaitu:
a. Penggunaan alat peraga dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan tetapi mempunyai fungsi tersendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif.
b. Penggunaan alat peraga merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar.
c. Alat peraga dalam pengajaran penggunaannya integral dengan tujuan dan isi pelajaran.
d. Alat peraga dalam pengajaran bukan semata-mata alat hiburan atau bukan sekadar pelengkap.
e. Alat peraga dalam pengajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru.
f. Alat peraga diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar.
Menurut Kemp dan Dayton dalam Prastati (2005: 6) fungsi alat /media pembelajaran adalah:
a. Pemberian materi pembelajaran dapat diseragamkan. b. Pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik. c. Pembelajaran menjadi lebih interaktif.
d. Jumlah waktu belajar-mengajar dapat dikurangi. e. Kualitas belajar anak dapat ditingkatkan.
f. Pelaksanaan proses pembelajaran dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja.
g. Sikap positif siswa terhadap bahan belajar maupun proses belajar itu sendiri dapat ditingkatkan.
h. Peran guru dalam proses pembelajaran dapat berubah ke arah yang lebih positif dan produktif.
Nilai-nilai praktis penggunaan alat peraga dalam pembelajaran menurut Rohani (1997: 8) adalah :
a. Memberikan dasar pengalaman konkret bagi pengertian dan pemikiran-pemikiran abstrak.
b. Mempertinggi perhatian anak.
c. Memberikan realitas, sehingga mendorong adanya self activity.
d. Memberikan hasil belajar yang permanen.
11
B. Kemampuan Menyusun Kalimat 1. Pengertian Kalimat
Ahli tata bahasa tradisional menyatakan bahwa kalimat adalah satuan kumpulan kata yang terkecil yang mengandung pikiran yang lengkap. Definisi tersebut tidak universal karena kadangkala ada kalimat yang terdiri atas satu kata tetapi maknanya dapat dipahami secara lengkap (Faisal, dkk., 2009: 5-9).
Keraf dalam Faisal, dkk. (2009: 5-9) mendefinisikan kalimat sebagai satu bagian yang didahului dan diikuti oleh kesenyapan, sedang intonasinya menunjukkan bagian ujaran itu sudah lengkap. Pengertian tersebut sejalan dengan pendapat Kridalaksana dalam Faisal, dkk. (2009: 5-9) bahwa kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual dan potensial terdiri dari klausa.
Finoza (1993: 125) menjelaskan bahwa kalimat adalah bagian ujaran yang mempunyai struktur minimal subjek (S) dan predikat (P) serta intonasinya menunjukkan bagian ujaran itu sudah lengkap dengan makna. Intonasi final dalam bahasa tulis dilambangkan dengan tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru. Sedangkan menurut Arifin dan Tasai (2000: 58) kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh.
12
secara relatif berdiri sendiri sedang intonasinya menunjukkan bagian ujaran itu sudah lengkap dengan makna.
2. Jenis Kalimat
Menurut Finoza (1993: 137) kalimat dibedakan menjadi beberapa jenis a. Menurut jumlah klausa pembentuknya, kalimat dapat dibedakan atas
dua macam, yaitu kalimat tunggal, dan kalimat majemuk. Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri dari satu klausa.
Kalimat mejemuk adalah kalimat yang merupakan gabungan dari dua atau lebih kalimat tunggal.
a. Jenis Kalimat Menurut Fungsinya
Di dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988: 33) disebutkan berdasarkan fungsi isi atau makna komunikatifnya kalimat dapat dibedakan atas empat macam, yaitu kalimat berita (deklaratif), kalimat tanya (interogatif), kalimat perintah (imperatif), dan kalimat seru (ekslamatif).
1. Kalimat berita adalah kalimat yang dipakai oleh penutur untuk menyatakan suatu berita kepada mitra komunikasinya.
2. Kalimat tanya adalah kalimat yang dipakai oleh penutur/penulis untuk memperoleh informasi atau reaksi berupa jawaban yang diharapkan dari mitra komunikasinya.
13
4. Kalimat seru dipakai penutur untuk mengungkapkan perasaan emosi yang kuat, termasuk kejadian yang tiba-tiba dan memerlukan reaksi sepontan.
b.Menurut kelengkapan isinya kalimat dibedakan menjadi kalimat lengkap dan kalimat tidak lengkap.
Dari tiga jenis kalimat di atas, yang akan digunakan/dipilih oleh peneliti dalam PTK ini adalah kalimat yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa kelas II SD yaitu jenis kalimat menurut fungsinya.
3. Menyusun Kalimat dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
14
Dari uaraian di atas jelaslah bahwa menyusun kalimat perlu memperhatikan beberapa hal yaitu kalimat yang kita susun, selain harus mampu menyampaikan pikiran atau gagasan secara lengkap juga harus diatur strukturnya, supaya pikiran atau gagasan yang terkandung di dalamnya bisa diterima oleh orang lain dengan mudah.
Jadi menyusun kalimat dalam bahasa Indonesia, setiap unsur (kata) yang terdapat di dalamnya harus menempati posisi yang jelas dalam
hubungan satu sama lain. Kata-kata itu harus diurutkan menurut aturan-aturan yang sudah dibiasakan (Razak, 1986: 7).
C. Teknik Penyekoran Kemampuan Menyusun Kalimat dengan Menggunakan Alat Peraga Kartu Kata.
15
dan bentuk non-tes. Jadi teknik penyekoran yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan Scoring Rubric, seperti yang tertera dalam tabel di bawah ini.
Tabel 1. Format Penyekoran Menyusun Kalimat
Skor Deskripsi
10 Susunan kalimat tepat, tanda baca tepat, tulisan rapi dan jelas.
8 Susunan kalimat tepat, tanda baca kurang tepat, tulisan rapi dan jelas
6 Susunan kalimat kurang tepat, tanada baca kurang tepat, tulisan kurang rapi tetapi jelas
4 Susunan kalimat kurang tepat, tanda baca kurang tepat, tulisan kurang rapi dan kurang jelas
2 Susunan kalimat salah, tanda baca salah, tulisan tidak rapi dan tidak jelas.
(Sumber: Dimodifikasi dari Zainul dan Agus, 2005: 5.21)
Maka = Skor maksimal (tertinggi) = 10 x 5 = 50 = Skor minimal (terendah) = 2 x 5 = 10
Skor Ahir =
Skor Jumlah
Perolehan
Skor x 100%
Arti tingkat penguasaan yang dicapai: Skor > 86 = Baik sekali.
Skor 71-85 = Baik. Skor 56-70 = Cukup.
16
D. HIPOTESIS TINDAKAN
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian tindakan (action research) merupakan penelitian pada upaya
pemecahan masalah atau perbaikan yang dirancang menggunakan metode
penelitian tindakan (classroom action research) yang bersifat reflektif dan
kolaboratif. Prosedur pelaksanaan penelitian tindakan berupa suatu siklus
atau daur ulang berbentuk spiral (a spiral of steps) yang setiap langkahnya
terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi
(Kemmis dan Tagart dalam Wiriaatmadja, 2006: 66).
A. Setting Penelitian
1. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas II SDN I
Mekar Sari Kecamatan Lambu Kibang, Tulang Bawang Barat dengan
jumlah siswa 28 anak yang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 16 siswa
perempuan.
2. Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SDN I Mekar Sari Kecamatan Lambu Kibang,
Kabupaten Tulang Bawang Barat. Sekolah ini merupakan tempat tugas
18
3. Waktu Penelitian
Waktu pelaksanaan penelitian di semester genap selama 4 bulan, yaitu
bulan Februari minggu pertama, sampai April minggu keempat.
B. Sumber Data
Data penelitian diperoleh melalui tes dan nontes yaitu dokumen hasil
belajar siswa, observasi dan angket.
C. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan selama kegiatan pelaksanaan tindakan, yaitu
dengan menggunakan teknik tes dan nontes.
1. Teknik Tes
Teknik tes adalah seperangkat tugas yang harus dikerjakan oleh orang
yang dites, dan berdasarkan hasil pelaksanaan tugas-tugas tersebut, akan
dapat ditarik kesimpulan tentang aspek tertentu pada orang tersebut
(Poerwanti, dkk., 2008: 2.26). Dalam penelitian ini, teknik tes digunakan
untuk mengumpulkan data nilai-nilai siswa, guna mengetahui hasil belajar
siswa mata pelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan media kartu
kata pada kelas II SD Negeri 01 Mekar Sari Kecamatan Lambu Kibang
Kabupaten Tulang Bawang Barat khususnya tes kemampuan menyusun
kalimat. Data yang terkumpul melalui teknik tes berupa data kuantitatif.
2. Teknik Nontes
Teknik nontes dapat dilakukan melalui observasi baik secara langsung
maupun tidak langsung, dan angket (Poerwanti, dkk., 2008: 2.26). Secara
19
untuk memperoleh data (Kerlinger dalam Aunurrahaman, dkk., 2009:
8-20). Observasi digunakan untuk mengetahui apakah dengan kartu kata
pembelajaran di kelas akan lebih efektif, apa pengaruhnya serta bagaimana
pembelajaran yang akan dilakukan. Observasi dilakukan oleh observer
terhadap aktivitas siswa maupun guru selama proses pembelajaran
berlangsung. Angket digunakan untuk memperoleh data tentang masalah
atau kesulitan yang dihadapi oleh siswa.
D. Alat Pengumpulan Data
Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes, lembar observasi
dan angket.
1. Tes yang digunakan adalah tes subjektif tertulis untuk mengetahui
kemampuan siswa dalam menyusun kalimat pada pembelajaran bahasa
Indonesia.
2. Lembar observasi yang digunakan oleh observer untuk mengamati
aktivitas siswa maupun peneliti saat pembelajaran berlangsung.
3. Angket adalah berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang akan diajukan
oleh peneliti kepada siswa untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan
penggunaan alat peraga kartu kata sebagai alat pendukung untuk
meningkatkan kemampuan siswa dalam menyusun kalimat bahasa
Indonesia.
E. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah suatu kegiatan untuk mencermati setiap langkah yang
20
pembelajaran, dalam arti apakah kegiatan beserta langkah-langkahnya sudah
sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai atau belum. Demikian juga dengan
anlisis PTK terhadap kegiatan pembelajaran, analisis dilakukan untuk
memperkirakan apakah semua aspek pembelajaran yang terlibat di dalamnya
sudah sesuai dengan kapasitasnya (Aunurrahman, dkk., 2009: 9-1). Jadi,
teknik analisis data yang dilakukan adalah:
a. Mengumpulkan semua data dari hasil pengamatan selama siklus I, baik
data kuantitatif maupun kualitatif.
b. Menganalisis data dengan membuat tabulasi dan persentase, serta disajikan
dalam bentuk tabel dan grafik.
c. Menguji keberhasilan penelitian dengan cara membandingkan hasil
pengolahan data dengan indikator keberhasilan antara hasil tes siklus I dan
hasil tes siklus II.
F. Prosedur Penelitian
Prosedur pelaksanaan penelitian yang digunakan adalah berupa rangkaian
langkah-langkah berbentuk spiral yang dikemukakan Kemmis (Wiriaatmadja,
2006: 66) yaitu setiap langkah/siklus terdiri dari empat tahap, yaitu
perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Kegiatan pertama dilakukan
pada tahap perencanaan (planing). Dilanjutkan dengan tindakan (action)
disertai dengan pengamatan (observe). Ebbut (dalam Syukri.M, dalam
Aunnurahman, dkk., 2009: 3.6)) bahwa penelitian tindakan kelas merupakan
suatu studi yang sistematis yang dilakukan dalam upaya memperbaiki
praktik-praktik dalam pendidikan dengan melakukan tindakan praktis serta refleksi
21
diskusi antarpeneliti yang akan menghasilkan rencana perbaikan tindakan
pada siklus berikutnya. Siklus tindakan dalam penelitian ini digambarkan
sebagai berikut.
Proses Penelitian Tindakan Kelas
Siklus 1
Siklus 2
Sumber: Metode PTK (Kemmis dalam Wiriaatmadja, 2006: 66).
G. Urutan Tindakan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, dengan berbagai kemungkinan
perubahan yang dianggap perlu. Setiap siklus terdiri dari perencanaan,
tindakan, observasi dan refleksi.
Siklus I
1. Perencanaan Tindakan:
Pada tahap perencanaan akan ditetapkan hal-hal sebagai berikut:
22
b. Menyiapkan instrumen penelitian terdiri dari lembar observasi untuk
kegiatan guru dan siswa, lembar kerja siswa, dan alat evaluasi.
c. Menentukan materi.
2. Pelaksanaan Tindakan Siklus I
Pertemuan pertama
Materi pembelajaran pada siklus I bertema ”Lingkungan” dengan pokok
bahasan ”Menulis Kalimat Berita Sederhana”.
Penyampaian materi pembelajaran dalam siklus I adalah sebagai berikut:
a. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang sesuatu yang
berhubungan dengan lingkungan sebagai apersepsi untuk menggiring
pemikiran dan kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran tentang
lingkungan.
b. Membentuk kelompok kerja siswa.
c. Guru menginformasikan tema yang akan dipelajari bersama.
d. Guru mengajak siswa bernyanyi bersama-sama lagu yang
berhubungan dengan lingkungan berjudul “lihat kebunku”.
e. Guru menunjukkan gambar lingkungan alam dan lingkungan buatan,
serta gambar macam-macam hewan yang ada di lingkungan.
f. Guru menjelaskan materi tentang lingkungan dengan bantuan
gambar.
g. Guru membagi lembar kerja siswa kepada masing-masing kelompok.
h. Masing-masing kelompok siswa bekerjasama menyelesaikan
tugasnya.
23
j. Perwakilan dari masing-masing kelompok berdiri membacakan hasil
kerja kelomok yaitu berupa kalimat sederhana yang berhubungan
dengan lingkungan.
k. Guru menunjukkan beberapa kartu kata dan memeragakan
kartu-kartu tersebut menjadi kalimat.
l. Guru menjelaskan materi tentang kalimat sederhana yang
beerhubunga dengan lingkungan
m. Guru membagi sejumlah kartu kata pada masing-masing kelompok
dan memberi kesempatan kepada setiap kelompok untuk menyusun
kartu-kartu tersebut menjadi kalimat berita sederhana yang
berhubungan dengan lingkungan.
n. Guru membimbing setiap kelompok dalam mengerjakan tugasnya
secara bergiliran.
o. Memotivasi siswa pendiam dan pasif untuk aktif dalam
menyelesaikan tugas kelompok.
p. Siswa menyalin di buku tugasnya kalimat yang telah tersusun dari
sejumlah kartu kata dengan benar.
q. Perwakilan dari masing-masing kelompok membacakan hasil kerja
kelompok.
r. Guru mendiktekan kata-kata acak dan meminta kepada setiap siswa
untuk menyusun kata-kata acak tersebut menjadi kalimat sederhana
yang benar.
24
t. Guru mengulas kembali materi yang telah dipelajari untuk
memantapkan pemahaman siswa.
Pertemuan kedua
a. Mengajukan pertanyaan berkisar materi yang telah dibahas
sebelumnya untuk mengetahui daya ingat siswa tentang materi yang
telah dipelajari sebelumnya.
b. Memotivasi siswa dengan bersama-sama menyanyikan lagu wajib
nasional ”Kulihat Ibu Pertiwi”.
c. Mengemukakan tujuan pembelajaran tematik yang temanya masih
sama dengan pertemuan sebelumnya yaitu lingkungan pada
pertemuan kedua tentang pelestarian lingkungan alam, buatan, dan
hewan.
d. Menjelaskan bagaimana menulis kalimat sederhana yang benar.
e. Membentuk kelompok yang masih sama dengan pertemuan
sebelumnya yaitu 6 kelompok.
f. Guru mengemukakan kelanjutan materi tentang lingkungan yaitu
pemeliharaan tentang lingkungan alam, lingkungan buatan dan
pemeliharaan hewan.
g. Guru membagi lembar kerja siswa pada masing-masing kelompok.
h. Masing-masing kelompok mengerjakan tugas kelompoknya.
i. Guru membimbing dan mengawasi siswa dalam mengerjakan tugas
kelompok khususnya siswa yang masih berkesan pasif dalam
25
j. Wakil dari masing-masing kelompok membacakan hasil kerja
kelompok dan kelompok lain menanggapi.
k. Guru memberi penguatan kepada kelompok yang hasil kerjanya
sudah baik dan benar, serta memberikan motivasi kelompok yang
hasil kerjanya belum sempurna.
l. Guru membagikan sejumlah kartu kata pada tiap-tiap kelompok.
m. Tiap-tiap kelompok maju bekerjasama menyusun kartu-kartu kata
tersebut menjadi kalimat dan berdiri berderet menghadap ke arah
kelompok lain sesuai urutan kata dalam kalimat.
n. Kelompok lain membaca kalimat yang terusun dari kartu kata
tersebut.
o. Siswa menempel kartu-kartu kata tersebut sesuai urutan kata dalam
kalimat pada kertas karton yang ada di papan tulis.
p. Guru membagikan kembali sejumlah kartu kata pada masing-masing
kelompok dan meminta pada setiap kelompok untuk menyusun
kartu-kartu kata tersebut menjadi kalimat.
q. Guru meminta setiap siswa dalam kelompok untuk menulis kalimat
dengan benar yang telah tersusun dari kartu-kartu kata tersebut.
r. Siswa mengumpulkan hasil kerja masing-masing untuk diperiksa.
s. Melakukan evaluasi hasil belajar.
Berdasarkan kajian hasil tes tersebut guru bersama observer
merumuskan kelebihan dan kekurangan yang ada pada siklus I sebagai
koreksi yang dijadikan bahan partimbangan dalam pelaksanaan
26
3. Tahap Pengamatan/Observasi
Dalam kegiatan pada tahap ini peneliti meminta bantuan kepada teman
sejawat untuk mengadakan observasi pada saat pelaksanaan
pembelajaran.
4. Tahap Refleksi
Hal-hal yang dilakukan dalam kegiatan refleksi adalah membahas
hal-hal yang terjadi dalam siklus pertama yang dilakukan oleh peneliti. Bila
terdapat kelemahan atau kekurangan, maka akan dilakukan perbaikan
pada perencanaan tindakan untuk siklus kedua. Sedangkan kebaikan
yang sudah dilakukan pada siklus pertama dipertahankan untuk siklus ke
dua.
Siklus II
1. Perencanaan Tindakan
Pada tahap perencanaan akan ditetapkan hal-hal sebagai berikut:
a. Menyiapkan silabus, rencana perbaikan pembelajaran dan bahan
ajar.
b. Menyiapkan instrumen penelitian terdiri dari lembar observasi untuk
kegiatan guru dan siswa, lembar kerja siswa, dan alat evaluasi.
c. Menentukan materi.
2. Pelaksanaan Tindakan Siklus II
Materi pembelajaran pada siklus II bertema ”Makhluk Hidup” dengan
pokok bahasan Melengkapi Kalimat Tanya di mana, siapa, dan ke mana
dengan memperhatikan penggunaan huruf kapital dan tanda baca yang
27
Penyampaian materi pembelajaran dalam siklus II adalah sebagai
berikut.
Pertemuan Pertama.
a. Mengadakan apersepsi dengan mengajukan pertanyaan pada siswa
tentang sesuatu yang ada di lingkungan yang berkaitan dengan tema
yang akan dipelajari.
b. Mengemukakan tujuan pembelajaran.
c. Membentuk kelompok kerja sebanyak 6 kelompok dalam satu kelas.
d. Guru menunjukkan gambar ayam, sapi, kucing, kambing, dan ikan
lalu meminta siswa untuk menyebutkan nama hewan-hewan tersebut
satu per satu.
e. Guru membagikan LKS disertai gambar-gambar hewan lalu memberi
kesempatan kepada siswa dalam setiap kelompok untuk mengerjakan
tugas yang diberikan guru yaitu menempel kartu kata pada
bagian-bagian tubuh hewan yang sesuai.
f. Perwakilan masing-masing kelompok berdiri membacakan hasil
kerja kelompoknya dan kelompok lain menanggapi hasil kerja
kelompok yang telah dibacakan.
g. Guru membahas kembali hasil kerja kelompok, yaitu mengenai
bagian-bagian tubuh hewan.
h. Guru menunjukkan beberapa kartu kata yang bertuliskan kata tentang
makhluk hidup kemudian memeragakan menyusun kartu-kartu
tersebut menjadi dua buah kalimat yaitu kalimat tanya dan
28
i. Guru menjelaskan sedikit tentang kalimat tanya disertai dengan
jawabannya dan mengemukakan contohnya ”Di mana ayam bertelur?
Ayam bertelur di kandang”.
j. Perwakilan masing-masing kelompok maju menerima beberapa kartu
kata dan menyusunnya menjadi kalimat tanya disertai jawabannya
lalu maju berdiri berderet sesuai urutan kata dalam kalimat.
k. Siswa lain yang belum mendapat giliran maju, bersama-sama
membaca kalimat yang tersusun dari kartu kata tersebut.
l. Guru membagikan sejumlah kartu kata pada setiap kelompok lalu
memberi kesempatan setiap kelompok untuk menyusunnya menjadi
kalimat tanya dan jawabannya.
m. Siswa menempel kartu kata yang telah tersusun menjadi kalimat
tanya pada tempat yang telah disediakan oleh guru.
n. Guru mengawasi dan membimbing setiap kelompok yang sedang
bekerja secara bergiliran serta memotivasi setiap anggota kelompok
agar terlibat aktif dan berpartisipasi dalam kerja kelompok.
o. Perwakilan dari setiap kelompok berdiri membacakan hasil kerja
kelompok.
p. Siswa mengumpulkkan hasil kerja kelompok.
q. Guru mengulas kembali materi yang telah disampaikan untuk
memantapkan pemahaman siswa tentang materi yang telah dipelajari
r. Melakukan evaluasi hasil belajar siswa dengan bentuk soal tertulis
untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam menerima
29
Pertemuan kedua.
a. Mengadakan apersepsi dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan
tentang materi pembelajaran yang telah dibahas pada pertemuan 1
untuk menggali pengetahuan awal siswa.
b. Mengemukakan tujuan pembelajaran dan pokok masalah agar proses
pembelajaran berlangsung efektif dan efesien sesuai dengan harapan.
c. Membagi siswa menjadi 6 kelompok
d. Guru mengemukakan inti materi yang merupakan kelanjutan dari
pertemuan pertama dengan tema makhluk hidup yang mengaitkan
dua mata pelajaran yaitu IPA dan Bahasa Indonesia. Mata Pelajaran
IPA tentang bagian-bagian tumbuhan, serta manfaat hewan dan
tumbuhan bagi manusia. Sedangkan mata pelajaran bahasa Indonesia
masih tentang menyusun kalimat.
e. Guru menunjukkan gambar beberapa macam tumbuhan dan meminta
siswa uuntuk menyebutkan nama tumbuhan itu satu per satu.
f. Mengemukakan pada siswa bahwa beberapa macam tumbuhan yang
ditunjukkan itu akan dipelajari pada pertemuan ini.
g. Guru membagikan gambar tumbuhan, beberapa kartu kata yang
bertuliskan bagian-bagian tumbuhan, dan LKS pada masing-masing
kelompok.
h. Guru memberi kesempatan pada semua kelompok untuk menempel
kartu-kartu kata yang bertuliskan bagian-bagian tumbuhan pada
30
i. Guru meminta agar semua anggota kelompok berperan aktif dalam
kerja kelompok sehingga pekerjaan terasa ringan dan cepat
terselesaikan.
j. Guru membimbing setiap kelompok yang sedang bekerja dan
melakukan pengawasan yang lebih intensif kepada kelompok yang
dinilai lamban dalam menyelesaikan pekerjaan.
k. Perwakilan dari masing-masing kelompok maju menunjukkan
gambar tumbuhan yang telah ditempeli kartu kata pada tiap
bagian-bagiannya dan membacakan hasil kerja kelompok dan kelompok lain
menanggapi.
l. Guru meluruskan hasil kerja kelompok yang masih kurang tepat dan
belum sempurna.
m. Guru membagikan kembali sejumlah kartu kata pada masing-masing
kelompok dan meminta semua anggota kelompok untuk
menyusunnya menjadi kalimat tanya.
n. Guru kembali mengawasi dan membimbing dalam bekerja
kelompok.
o. Perwakilan dari masing-masing kelompok membacakan hasil kerja
kelompok.
p. Meminta kelompok lain untuk menanggapi hasil kerja dari kelompok
yang sudah dibacakan.
q. Guru mendiktekan kata-kata acak dan meminta siswa untuk
31
r. Siswa mengumpulkan hasil kerja masing-masing untuk dilakukan
penilaian.
s. Melakukan evaluasi hasil belajar.
t. Memberi tugas untuk memperdalam pemahaman anak mengenai
materi yang telah dipelajari.
3. Tahap Pengamatan/Observasi.
Dalam kegiatan pada tahap ini masih sama seperti pada kegiatan observasi
siklus I yaitu peneliti meminta bantuan kepada teman sejawat untuk
mengadakan observasi pada saat pelaksanaan pembelajaran. Pada siklus ini
akan diketahui apakah sikap dan semangat belajar anak mengalami
kemajuan atau tidak.
4. Tahap Refleksi.
Dalam tahap refleksi ini juga masih sama seperti dalam teknis pelaksanaan
pada siklus yang pertama. Hasil dari refleksi siklus ini akan dijadikan
acuan dalam melaksanakan kegiatan siklus berikutnya yaitu siklus yang
ketiga.
H. Indikator Kinerja
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini ditetapkan jika
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil pembahasan pada Bab IV peneliti mengambil beberapa
kesimpulan, antara lain:
1. Penggunaan kartu kata ternyata dapat meningkatkan kemampuan siswa
pada pembelajaran Bahasa Indonesia, terutama pada materi menyusun
kalimat.
2. Penggunaan kartu kata dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam
proses pembelajaran bahasa Indonesia pada materi menyusun kalimat.
Hasil akhir dari penelitian menunjukkan jumlah siswa yang tuntas
sebanyak 24 siswa (88,8 %) dari 27 siswa.
3. Penggunaan kartu kata dapat meningkatkan kemampuan guru dalam
proses pembelajaran bahasa Indonesia tentang materi menyusun kalimat.
B. Saran
Berdasarkan simpulan pada point A peneliti menyarankan kepada:
1. Rekan-rekan Guru seyogianya menggunakan kartu kata sebagai alat
peraga dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, terutama pada kelas rendah.
2. Peneliti lain jika melakukan penelitian yang sama seyogianya dilakukan
58
3. Kepala Sekolah seyogianya melengkapi media dan alat peraga di
sekolahnya, dan memberikan rekomendasi kepada dewan guru untuk
59
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zaenal dan Tasai, S. Amran. 2000. Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Akademika Pressindo.
Aunurrahman, dkk. 2009. Penelitian Pendidikan SD. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Faisal, Muh. Dkk. 2009. Kajian Bahasa Indonesia SD. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departeman Pendidikan Nasional.
Finoza, Lamuddin. 1993. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Diksi Insan Mulia.
Kasbolah E. S Kasihani. 1998/1999. Penelitian Tindakan Kelas. Malang. Depdikbud Dirjen Dikti.
Poerwanti, Endang dkk. 2008. Asesmen pembelajaran SD. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidiikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
Prastati, Trini & Irawan, Prasetya. 2005. Media Sederhana. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Razak, Abdul. 1986. Kalimat Efektif. Jakarta: PT Gramedia
Rohani, Ahmad. 1997. Media Instruksional Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta.
Sadiman, Arief S. dkk. 1989. Media Pendidikan. Jakarta: CV. Rajawali
Santoso, Kusno Budi. 1990. Problematika Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta
Siddiq, Djauhar dkk. 2008. Pengembangan bahan Pembelajaran SD. Departemen Pendidikan Nasional.
60
Sulistiasih. 2007. Peningkatan Berpikir Kreatif Melalui Model Pembelajaran Group Inquiry pada Mata Kuliah Keterampilan Berbahassa Indonesia Smester II D2 PGSD FKIP Unila UPP Metro: (Laporan Penelitian). Unila: FKIP.
Sunyono. 2005. Jurnal Penelitian Laporan PTK. PPTK dan Ditjen Dikti. Jakarta.
Wardhani. IGAK, dkk. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka.
Wiriaatmadja, Rochiati. 2006. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT Rosdakarya.