• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONDISI PSIKOLOGIS PADA KELUARGA SINGLE PARENT PASCA PERCERAIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "KONDISI PSIKOLOGIS PADA KELUARGA SINGLE PARENT PASCA PERCERAIAN"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkawinan merupakan kegiatan yang sakral. Perkawinan adalah bersatunya dua pribadi dalam suatu ikatan formal melalui catatan sipil dan juga diabadikan dihadapan Allah SWT sesuai dengan agama yang disetujui kedua belah pihak. Problematika kehidupan keluarga kian lama kian kompleks seiring perubahan zaman dan paradigma berpikiran maupun komunitas tertentu terhadap hakikat atau esensi sebuah perkawinan. Simpul-simpul permasalahan rumah tangga yang tidak dapat diuraikan secara jelas dapat menyebabkan keretakan sebuah kebersamaan yang serius yaitu perceraian yang dapat melahirkan babak kehidupan baru seperti terjadinya peran baru dalam rumah tangga yang disebut single parent.

Kasus perceraian tampak terus meningkat. Banyaknya tayangan infotainment di televisi yang menyiarkan parade artis dan public figure yang mengakhiri perkawinan mereka melalui meja pengadilan, seakan mengesahkan bahwa perceraian merupakan suatu hal yang bersifat umum. Sepertinya kesakralan dan makna perkawinan sudah tidak lagi berarti. Pasangan yang akan bercerai sibuk mencari pembenaran akan keputusan mereka untuk berpisah. Mereka tidak lagi

mempertimbangkan bahwa ada yang bakal sangat menderita dengan keputusan tersebut, yaitu anak-anak.

Anggapan mengenai perceraian sama dengan suatu kegagalan yang biasa karena semata–mata mendasarkan perkawinan pada cinta yang romantis, padahal pada semua sistem perkawinan paling sedikit terdiri dari dua orang yang hidup dan tinggal bersama dimana masing–masing memiliki keinginan, kebutuhan serta latar belakang sosial yang berbeda satu sama lain. Akibatnya sistem ini biasanya memunculkan ketegangan dan ketidakbahagiaan yang dirasakan oleh semua anggota keluarga.

(2)

2

terbaik untuk anaknya. Kebutuhan anak sendiri sudah mendominasi kebutuhan secara keseluruhan, dan orang tua selalu memberikan yang terbaik mulai kebutuhan sandang, pangan, pendidikan, hingga kesenangan anak tersebut. Permasalahan yang sering muncul sebagai orang tua tunggal sering terjadi pada wanita. Setelah menikah banyak wanita yang dilarang bekerja oleh suaminya untuk mengurus keluarga.

Namun, fenomena perceraian marak terjadi bukan hanya dikalangan artis atau

public figure saja. Di dalam keluarga sederhana, bahkan di dalam lingkungan pendidik, lingkungan yang tampak religius, perceraian juga banyak terjadi. Anak-anak yang orang tuanya bercerai atau meninggal dunia sering kali mengalami problem perilaku diri dan prilaku sosial. Misalnya, gampang tersinggung dan marah-marah, murung ataupun lebih memilih bermain sendiri (soliter).

Perceraian dan perpisahan orang tua menjadi faktor yang sangat berpengaruh bagi pembentukan perilaku dan kepribadian anak. Banyak studi dilakukan untuk memahami akibat-akibat perceraian bagi anggota keluarga khususnya seorang anak (Johnston, 1996; Hurlock, 1992). Dalam kasus perceraian, tidak hanya orang tua yang menanggung kepedihan, tapi yang lebih merasakan beratnya perceraian adalah anak. Anak bukannya tidak tahu tapi ia tidak mampu menjelaskan, mengapa ia tidak ingin ada orang tahu bahwa ia sedang pedih hatinya, dia juga tidak ingin mengatakan apapun yang dapat memperburuk keadaan di rumah. Sebenarnya anak dapat melihat

ketegangan yang dialami orang tuanya. Tetapi dia khawatir jika dia mengungkapkan emosinya, akan menambah kepedihan setiap orang. Inilah alasan mengapa sebagian besar anak tidak pernah bicara dengan orang tuanya tentang perasaannya mengenai perceraian. Perasaan tersembunyi ini akan meningkatkan kecemasan dan memperlemah kemampuan anak untuk berprestasi di sekolah. Selain itu, perasaan yang tertekan bisa menjadi bibit bagi permasalahan yang lebih besar dalam kehidupannya nanti. Secara psikologis, anak terikat pada kedua orang tuanya, jika orang tuanya bercerai, seperti separuh kepribadiannya dirobek, hal ini akan berpengaruh terhadap rasa harga diri yang buruk, timbul rasa tidak aman dan kemurungan yang luar biasa dan dalam kondisi demikian maka sekolah bagi anak bukan merupakan sesuatu yang penting (Severe 2000, dalam Belajar 2011).

(3)

3

mati. Cerai hidup merupakan suatu kasus perceraian yang terjadi akibat adanya perselisihan atau permasalahan dalam rumah tangga dan melalui proses talak serta berdasarkan atas keputusan pengadilan. Sedangkan cerai mati diartikan sebagai suatu perceraian atau terpisahnya pasangan antara suami dengan istri akibat kematian dari salah satu pihak. Dalam penelitian kali ini peneliti menggunakan kasus cerai hidup karena kasus cerai mati didasarkan atas beberapa permasalahan sehingga dampak psikologis pada masing-masing korban perceraian berbeda-beda.

Menurut Hurlock (1989), rumah tangga yang pecah karena perceraian dapat lebih merusak anak dan hubungan keluarga dibandingkan rumah tangga yang terpecah karena kematian. Terdapat dua alasan untuk hal tersebut. Pertama, periode penyesuaian terhadap perceraian lebih lama dan sulit bagi anak daripada penyesuaian yang menyertai kematian orang tua. Hozman dan Froiland mengemukakan bahwa kebanyakan anak melalui lima tahap dalam penyesuaian ini, yaitu penolakan terhadap perceraian, kemarahan yang ditujukan kepada mereka yang terlibat dalam situasi tersebut, tawar menawar dalam usaha mempersatukan orang tua, depresi, dan menerima perceraian orang tua. Kedua, perpisahan yang disebabkan perceraian ini bisa dikategorikan sebagai suatu hal yang serius sebab merekan cenderung membuat anak berbeda dihadapan teman-temannya. Jika anak ditanya dimana orang tuanya atau mengapa mereka mempunyai orang tua baru sebagai pengganti orang tua yang

tidak ada, mereka menjadi serba salah dan merasa malu.

Keluarga yang lengkap dan utuh merupakan idaman setiap orang, akan tetapi ada kalanya takdir berkata lain sehingga menempatkan seseorang berperan sebagai orang tua tunggal. Menjadi orang tua tunggal dalam sebuah rumah tangga tentu saja tidak mudah. Baik pria maupun wanita, tentu sangat berat mengalami ditinggal oleh pasangannya. Dibutuhkan perjuangan berat untuk membesarkan si buah hati, termasuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Sering kali orang tua tunggal mempunyai tuntutan harus bekerja ekstra keras untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Di sisi lain, orang tua tunggal seharusnya tetap menyediakan waktu bersama dengan anak-anaknya.

(4)

4

efektif, layaknya keluarga dengan orang tua utuh. Asalkan, mereka tak larut dalam kelemahan dan masalah yang dihadapinya. “Melainkan, harus secara sadar membangun kembali kekuatan yang dimilikinya,” katanya. Penulis buku Single Parenting, Stephen Atlas menuturkan, jika keluarga dengan orang tua tunggal memiliki kemauan untuk bekerja membangun kekuatan yang dimilikinya, itu bisa membantu mereka untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

Salah satu cara yang dapat dilakukan agar orangtua dan anak dapat bertemu ialah mengadakan pertemuan keluarga. Dalam pertemuan tersebut, semua anggota keluarga diberi kesempatan untuk membicarakan kegiatannya di kantor atau sekolah. Selain itu, didalam pertemuan tersebut dapat dibicarakan juga mengenai kegiatan wajib masing-masing anggota keluarga yang dilakukan di rumah.

“Selain itu, dapat juga diusahakan waktu untuk lebih banyak berkumpul bersama. Misalnya, makan malam bersama, orang tua dapat meminta anak membantu memasak. Atau, jadwalkan orang tua untuk bermain games atau menonton film bersama pada malam hari atau akhir pekan,” ujar Colleen.

Perpisahan dengan anggota keluarga baik melalui perceraian ataupun kematian adalah hal yang sulit, bagi orang dewasa dan anak. Terutama bagi anak, kehilangan orang tua dapat mengakibatkan gangguan dalam perkembangannya. Setiap perubahan yang terjadi dalam suatu keluarga baik pernikahan, kelahiran anak

baru, kematian maupun perceraian akan selalu memberikan pengaruh bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya. Misalnya kasus perceraian, hal ini juga akan memberikan dampak bagi tumbuh kembang putra/putri dalam keluarga tersebut terutama bagi anak tertua dimana anak tersebut sudah mulai bisa memahami situasi yang terjadi dalam keluarganya.

Perceraian pasangan suami-istri seringkali berakhir menyakitkan bagi pihak-pihak yang terlibat, termasuk di dalamnya adalah anak-anak. Peristiwa ini menimbulkan anak–anak tidak merasa mendapatkan perlindungan dan kasih sayang dari orang tuanya. Perceraian juga dapat menimbulkan stres dan trauma untuk memulai hubungan baru dengan lawan jenis. Perceraian adalah penyebab stres kedua paling tinggi, setelah kematian pasangan hidup. Seringkali perceraian diartikan sebagai kegagalan yang dialami suatu keluarga.

(5)

5

akan mengalami masalah kecemasan, murung, pemarah, kurang percaya diri, masalah perilaku seperti mengompol kembali, agresivitas dan juga penurunan pada prestasi belajarnya. Apalagi anak laki-laki, biasanya ia membutuhkan figur seorang ayah untuk membantunya agar lebih siap dalam menghadapi perubahan yang terjadi.

Pakar ahli jiwa asal Amerika Serikat, Dr Stephen Duncan dalam tulisannya berjudul The Unique Strengths of Single-Parent Families mengungkapkan, pangkal masalah yang sering dihadapi keluarga dengan orang tua tunggal adalah anak. Anak merasa kehilangan orang yang berarti dalam hidupnya. “Hasil riset menunjukkan, anak di keluarga yang hanya memiliki orang tua tunggal, rata-rata cenderung kurang mampu mengerjakan sesuatu dengan baik dibandingkan anak yang berasal dari keluarga yang orang tuanya utuh,” terangnya.

Dampak psikologis pasca terjadinya kasus perceraian dapat dibedakan berdasarkan usia perceraian yang terjadi. Mayoritas keluarga yang baru mengalami perpisahan akibat perceraian cenderung lebih menampakan perubahan kondisi psikologis mereka dibandingkan dengan keluarga yang telah lama bercerai. Dengan demikian peneliti termotivasi untuk meneliti bagaimana kondisi psikologis keluarga yang mengalami perceraian berdasarkan dari usia perceraian mereka.

DeGenova (dalam Kertamuda 2008) mengungkap bahwa terdapat banyak dampak perceraian bagi anak di antaranya adalah hak asuh anak, dukungan pada

anak, hak anak, serta reaksi anak. Dampak perceraian dapat terjadi ketikan mereka dewasa dan mulai membina hubungan dengan lawan jenis, pada saat itu mereka menunjukkan perilaku-perilaku yang menyimpang dikarenakan pengalaman masa kecil mereka seperti agresivitas, sangat emosional, atau cenderung menutup diri terhadap lawan jenisnya. Glen dan Krimer (1987 dalam Kertamuda 2008) mengemukakan beberapa argumen tentang dampak perceraian, yaitu membentuk peran dalam pernikahan menjadi buruk yang diikuti oleh tipikal anak yang buruk juga seperti kurang mempunyai control sosial. Hal ini mencakup kurangnya dukungan keluarga terhadap perceraian, pendidikan yang rendah, atau keinginan besar untuk bercerai karena mereka lebih suka mengakhiri konflik. Perceraian cenderung terjadi pada pernikahan di usia muda.

(6)

6

Kasus perceraian terjadi karena dilatarbelakangi oleh beberapa sebab diantaranya adalah poligami tidak sehat, krisis akhlak, cemburu, kawin paksa, perekonomian keluarga, tidak ada tanggung jawab, pernikahan di bawah umur, penganiayaan, dihukum, cacat biologis, politis, gangguan pihak ketiga, dan tidak adanya keharmonisan rumah tangga. Berdasarkan dengan uraian-uraian yang telah dijelaskan, maka penulis tertarik melakukan penelitian mengenai dampak perceraian terhadap kondisi psikologis keluarga single parent pasca perceraian.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dan latar belakang tersebut diatas, terdapat beberapa permasalahan yang akan dibahas yaitu:

1. Bagaimana kondisi psikologis anak pasca perceraian orang tuanya ditinjau dari aspek kognitif, afektif, dan konasi?

2. Bagaimana kondisi psikologis orang tua single parent pasca perceraian ditinjau dari aspek kognitif, afektif, dan konasi?

3. Bagaimana seharusnya sikap orang tua terhadap anak pasca perceraian?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan tersebut diatas, adapun tujuan dilaksanakannya

penelitian ini adalah:

a. Untuk mengetahui bagaimana kondisi psikologis anak pasca perceraian orang tuanya ditinjau dari aspek kognitif, afektif, dan konasi.

b. Untuk mengetahui bagaimana kondisi psikologis orang tua single parent pasca

perceraian ditinjau dari aspek kognitif, afektif, dan konasi.

c. Untuk mengetahui bagaimana sikap yang harus dilakukan orang tua terhadap anak pasca perceraian.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Secara Teoritis

(7)

7

yang berkaitan dengan dampak perceraian orang tua terhadap penyesuaian diri pada remaja awal.

2. Manfaat Secara Praktis a. Remaja

Memberikan gambaran secara khusus mengenai penyesuaian diri remaja yang dihadapkan dari keluarga yang memiliki status perceraian, karena dapat menjadi acuan untuk mengatasi masalah-masalah remaja yang menjadi korban perceraian orang tuanya sendiri.

b. Orang tua

Bagi orang tua hal ini merupakan salah satu cara untuk memberikan pengertian tentang dampak perceraian didalam keluarga dan dampak bagi anak–anak mereka.

c. Masyarakat

Harapan peneliti dari hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi orang tua yang ingin bercerai dalam mengambil keputusan dan pertimbangan untuk bercerai dan diharapkan dapat membantu orang yang sudah bercerai untuk dapat meminimalkan efeknya terhadap anak-anak mereka.

(8)

KONDISI PSIKOLOGIS

PADA KELUARGA

SINGLE PARENT PASCA

PERCERAIAN

SKRIPSI

Diajukan kepada Universitas Muhammadiyah Malang sebagai

salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Strata 1

Psikologi

Oleh :

AULIA HAMDANI 201110230312373

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

(9)

ii

LEMBAR PERSETUJUAN

1. Judul Skripsi : Kondisi Pada Psikologis Keluarga Single Parent Pasca Perceraian

2. Nama Peneliti : Aulia Hamdani

3. NIM : 201110230312373

4. Fakultas : Psikologi

5. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang 6. Tempat Penelitian : Rumah Subjek di Gresik dan Sidoarjo. 7. Waktu Penelitian : 13 Juli 2012 – 15 Juli 2012

Malang, Agustus 2012

Pembimbing I Pembimbing II

(10)

iii

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi telah diuji oleh Dewan Penguji Tanggal : 13 Agustus 2012

Dewan Penguji

Ketua Penguji : Dra. Siti Suminarti F, M. Si

Anggota Penguji : 1. Siti Maimunah S.Psi, M.A

2. Dra. Diantini, M.Si

Mengesahkan, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang

(11)

iv

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertandatangan di bawah ini: Nama : Aulia Hamdani

NIM : 201110230312373

Fakultas : Psikologi

Judul Skripsi : Kondisi Psikologis Pada Keluarga Single Parent Pasca

Perceraian

Menyatakan bahwa :

1. Skripsi ini adalah karya saya sendiri dan bukan karya orang lain, baik sebagian maupun keseluruhan kecuali penulisan dalam bentuk kutipan yang telah disebutkan sumbernya.

2. Hasil tulisan karya ilmiyah/ skripsi dari penelitian yang telah saya lakukan merupakan HAK BEBAS ROYALTI non eksklusif, apabila digunakan sebagai sumber pustaka.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan apabila pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia mendapat sanksi akademis.

Mengetahui, Malang, Agustus 2012

Ketua Program Studi Yang menyatakan,

(12)

v

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat, taufik serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini sesuai dengan yang diharapkan. Shalawat dan salam selalu tercurah pada junjungan Nabi besar Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabat dan pengikut jejak langkahnya sampai akhir nanti.

Skripsi ini berjudul “Kondisi Psikologis Pada Keluarga Single Parent Pasca Perceraian”. Maksud penulisan skripsi ini adalah sebagai salah satu syarat menyelesaikan studi tingkat Strata 1 (S1) di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.

Dengan selesainya Skripsi ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkenan memberikan bantuannya baik secara moril maupun materiil. Terima kasih ini secara khusus penulis ucapkan kepada :

1. Bapak Drs. Muhadjir Effendy, M.AP selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Malang.

2. Ibu Dra. Cahyaning Suryaningrum, M.Si selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.

3. Bapak M. Salis Yuniardi, S.Psi, M.Si selaku Ketua Program Fakultas Psikologi yang telah membantu dan memberi motivasi sehingga terselesaikannya skripsi ini.

4. Ibu Dra. Siti Suminarti F. M.Si selaku Dosen Paembimbing I, yang selalu membmbing, memberika saran-saran dan arahan yang sangat berguna untuk penyusunan skripsi ini

5. Bapak Zainul Anwar S.Psi, M.Psi Selaku Dosen Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan serta kritik, saran yang baik dan motivasi dalam penyelesaian skripsi ini.

(13)

vi

7. Subjek penelitian (EN, AL, LN, TT) yang senantiasa berpartisipasi dan memberikan bantuan secara ikhlas sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini.

8. Kedua orang tuaku (Rosul Hadi dan Anna Hartamik) dan Kakak tercinta beserta Suaaminya (dr. Sofia Aulina dan Nirwanto) yang tak pernah lelah memberikan dukungan dan semangat baik berupa materi, moral, maupun spiritual.

9. Estikarani sebagai pendamping hidup yang senantiasa ada dan selalu membantu, memberi dorongan, serta semangat sehingga skripsi ini mampu terselesaikan.

10.Keluarga besar BAKSO CAK DOEL yang selalu memberikan semangat serta doa hingga terselesaikannya skripsi ini.

11.Semua teman-teman Psikologi khususnya anggota THE LEGEND (Sannidya, Taufan, Miftah, dan Shinta) yang senantiasa berjuang bersama sampai titik

akhir.

Semoga Allah SWT senantiasa menerima dan membalas segenap amal kebaikkan yang telah dilakukan.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan Skripsi ini kurang sempurna. Oleh karena itu sangat diharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan Skripsi ini. Dan semoga Skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua, terutama bagi perkembangan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.

Malang, 9 Agustus 2012

(14)

vii

2. Faktor Penyebab Terjadinya Single Parent ... 17

C. Perceraian ... 18

1. Pengertian Perceraian ... 18

2. Jenis Perceraian ... 21

3. Faktor Penyebab Terjadinya Perceraian... 22

(15)

viii

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 30

1. Gambaran Subjek Penelitian ... 30

2. Deskripsi Hasil Penelitian ... 32

B. Analisa Data ... 39

(16)

ix

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 : Identitas Subjek Penelitian ... 30 Tabel 4.2 : Data dan Analisa Mengenai Kondisi Psikologis keluarga Single

Parent Pasca Perceraian Pada Subjek Anak ... 39 Tabel 4.3 : Data dan Analisa Mengenai Kondisi Psikologis keluarga Single

(17)

x

DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, Novi. (2008). Emosi pada ibu single parent. (Skripsi, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur)

Chaplin. (2002). Kamus besar pskologi. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

Chaplin. (2005). Kamus besar pskologi. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

Hidayat, Rahmad. (2007). Pengangkatan wali anak di bawah umur akibat cerai mati.

Diakses dari http://studentresearch.umm.ac.id/index.php/department_of_ syariah/ article/view/7203/

Hurlock, Elizabeth B. (1980). Psikologi perkembangan : suatu pendekatan rentang kehidupan. Jakarta : Erlangga

Hurlock, Elizabeth B. (1992). Psikologi perkembangan anak jilid 1-2. Jakarta : Erlangga

Kertamuda, Fatchiach E. (2008). Konseling pernikahan untuk keluarga Indonesia.

Salemba Humanika

Moleong, Lexy J. (2006). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Sianturi, Marliana N. (2007). Konsep diri remaja yang pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). (Skripsi, Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro, Semarang)

Sugiyono. (2008). Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta

Wijanarko, Adi. (2007). Deskripsi kondisi psikologis pada remaja yang menonton tayangan fenomena trans TV. (Skripsi, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur)

(18)

Gambar

TABEL ANALISIS

Referensi

Dokumen terkait

Selain sebagai indikator pelayanan yang menunjukkan seberapa cepat dan tanggap petugas kesehatan dalam menangani masalah dan memberikan pertolongan medis kepada

Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi trend CPUE dan kapasitas penangkapan ikan pelagis kecil menggunakan metode Peak to Peak Analysis di tiga zona

Kebutuhan akan informasi bagi para pecinta sepakbola bisa didapatkan melalui media internet, informasi tentang berita terbaru, seperti jadwal pertandingan, klasemen, hasil

Dalam hal kekuatan pembuktian berdasarkan pada ketentuan Pasal 5 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang menyatakan

Dengan tingkat rata-rata pertumbuhan penduduk sebesar 0,47% diproyeksikan pada tahun 2019 jumlah penduduk di Kabupaten Lampung Utara mencapai 614.977 jiwa

Terminasi yang mewakili simbol tertentu untuk digunakan pada aliran lain pada halaman yang

VIRO adalah produk air mineral dalam kemasan bermutu tinggi yang diproduksi menggunakan teknologi terbaik dari Eropa.. VIRO