• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Peningkatan Kualitas pada Rantai Pasok Buah Pepaya Calina

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Peningkatan Kualitas pada Rantai Pasok Buah Pepaya Calina"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENINGKATAN KUALITAS PADA RANTAI

PASOK BUAH PEPAYA CALINA

RATIH PRIHATININGTYAS

MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Peningkatan Kualitas pada Rantai Pasok Buah Pepaya Calina adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Juli 2013

Ratih Prihatiningtyas

(4)

Buah merupakan salah satu jenis dari hortikultura yang berdaya guna antara lain: sebagai penunjang gizi masyarakat, sumber pendapatan, serta menyerap tenaga kerja bila diusahakan secara intensif. Buah-buahan di Indonesia mampu memberikan kontribusi yang cukup besar untuk dieskpor ke luar negeri. Kenaikan nilai ekspor buah dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 5583% dari tahun 2007 hingga tahun 2011 adalah buah pepaya. Di Indonesia, pepaya tersedia sepanjang tahun dengan budidaya yang tak mengenal musim sehingga buah ini dikenal oleh berbagai lapisan masyarakat, khususnya pepaya Calina. Penanganan pada rantai pasok pepaya Calina (IPB 9) mengalami masalah yang dapat mempengaruhi nilai kualitas penampilan sehingga diperlukannya peningkatan kualitas.

Kualitas harus didasarkan pada kebutuhan dan karakteristik konsumen pepaya Calina maka diperlukan alat Analisis Quality Function Deployment (QFD) untuk menciptakan kepuasan pelanggan yang mengintegrasikan atribut dengan aktivitas. Dari analisis QFD juga dapat diketahui penyebab-penyebab persoalan kualitas yang dapat dilihat melalui diagram Ishikawa. Oleh karena itu, diperlukan strategi peningkatan kualitas pepaya karena adanya tuntutan konsumen yang menginginkan kualitas buah sesuai standar keamanan pangan dan mutu produk dengan menggunakan analisis Strengths Weakness Opportunity Threats (SWOT) dan

Quantitave Strategies Planning Matrix (QSPM).

Dalam penelitian ini, rantai pasok pepaya Calina secara umum adalah PetaniProcessorRetailKonsumen. Berdasarkan software Expert Choice,

diperoleh tiga hasil atribut utama keinginan konsumen adalah rasa manis, warna daging, dan tekstur daging buah. Konsumen umumnya sudah merasa puas terhadap produk yang dihasilkan. Namun petani, prosesor, dan retail harus melakukan peningkatan kepuasan konsumen secara kontinu untuk menjaga loyalitas konsumen terhadap produk (pepaya Calina). Dan aktivitas rantai pasok yang memiliki tingkat kepentingan paling tinggi berdasarkan analisis QFD adalah pemeliharaan (nilai 525) dalam budidaya harus lebih diperhatikan.

Adanya dua atribut yang mengalami ketidaksesuaian mutu, yaitu pepaya memar dan terserang hama-penyakit karena prioritas dari analisis QFD termasuk tujuh tertinggi dari apa yang diinginkan konsumen dan jika dilihat dari tingkat kepuasan belum memenuhi target yang diharapkan konsumen (tidak sesuai apa yang diharapkan dengan apa yang direalisasikan). Lima penyebab buah memar dan terserang hama-penyakit adalah bahan baku, management, tenaga kerja, lingkungan,

(5)

ABSTRAK

RATIH PRIHATININGTYAS. Analisis Peningkatan Kualitas pada Rantai Pasok Buah Pepaya Calina. Dibimbing oleh ALIM SETIAWAN SLAMET dan NUR HADI WIJAYA.

Penanganan pasca panen buah lokal khususnya pada rantai pasok pepaya Calina (IPB 9) mengalami masalah yang dapat mempengaruhi nilai kualitas penampilan sehingga diperlukannya peningkatan kualitas. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengidentifikasi atribut kunci peningkatan kualitas pepaya Calina yang didasarkan pada keinginan konsumen dan mengetahui tingkat kepuasan konsumen menggunakan Quality Function Deployment, (2) menganalisis penyebab-penyebab persoalan kualitas pepaya Calina, (3) menganalisis strategi atau cara meningkatkan kualitas pepaya Calina di Indonesia. Tiga hasil atribut utama keinginan konsumen adalah rasa manis, warna daging, dan tekstur daging buah. Aktivitas rantai pasok yang memiliki tingkat kepentingan paling tinggi berdasarkan analisis QFD adalah pemeliharaan (nilai 525) dalam budidaya. Adanya dua atribut yang mengalami ketidaksesuaian mutu, yaitu pepaya memar dan terserang hama-penyakit. Penyebabnya adalah bahan baku, management, tenaga kerja, lingkungan, machine and method. Prioritas tertinggi yang dapat dipilih sebagai alternatif strategi adalah peningkatan kapasitas produksi, kualitas produk, dan jaminan keamanan dengan memperluas jaringan distribusi dengan bobot sebesar 6,290.

Kata kunci: pepaya, quality function deployment, strategi

ABSTRACT

RATIH PRIHATININGTYAS. Analysis of Quality Improvement in Calina Papaya Supply Chain. Supervised by ALIM SETIAWAN SLAMET and NUR HADI WIJAYA

Post-harvest handling of local fruits especially in Calina papaya supply chain (IPB 9) has problems that can affect the value of the quality appearance so it needs quality improvement. The purposes of this research are (1) Identifying the key attributes of Calina papaya quality improvement based on desires of consumer and to know the level of customer satisfaction using Quality Function Deployment, (2) Analyzing the cause of quality problems Calina papaya, and (3) Analyzing strategies or ways on improving the quality of Calina papaya in Indonesia. The result in this research that there are three main attributes of customer satisfaction are the sweet taste, color of fruit meat, and texture of fruit meat. Supply chain activities that have the highest interests of rate based on analysis of QFD are the maintenance (value 521) of cultivation. There are two attributes that had mismatches of quality, which are bruise and pests-diseases. The causes are materials, management, labor, environment, machine and method. The highest priority that can be chosen as the alternative strategy is increasing production capacity, product quality, and food safety assurance by expanding the distribution network with score 6,290.

(6)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

pada

Departemen Manajemen

ANALISIS PENINGKATAN KUALITAS PADA RANTAI

PASOK BUAH PEPAYA CALINA

RATIH PRIHATININGTYAS

MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(7)
(8)

Judul Skripsi : Analisis Peningkatan Kualitas pada Rantai Pasok Buah Pepaya Calina

Nama : Ratih Prihatiningtyas NIM : H24090057

Disetujui oleh

Alim Setiawan S, S.TP, MSi Pembimbing I

Nur Hadi Wijaya, S.TP, MM Pembimbing II

Diketahui oleh

Dr Ir. Jono M. Munandar M.Sc Ketua Departemen

(9)

PRAKATA

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya sehingga penulis bisa menyelesaikan karya ilmiah yang berjudul

Analisis Peningkatan Kualitas pada Rantai Pasok Buah Pepaya Calina”. Di harapkan dengan adanya penelitian ini dapat dijadikan pedoman cara meningkatkan kualitas buah lokal khususnya pepaya untuk mengembangkan pasarnya ke luar negeri agar dapat bersaing. Dan juga agar perusahaan dapat meningkatkan kualitas buah pepaya secara efektif dan efisien sesuai keinginan konsumen.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Alim Setiawan S, STP, MSi dan Bapak Nur Hadi Wijaya, STP. MM selaku pembimbing. Dan Bapak Prof. Dr. Ir. H. Musa Hubeis, MS, Dipl. Ing, DEA selaku dosen penguji sidang dan bersedia memberi masukan. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada PT. Sewu Segar Nusantara dan berbagai pihak yang telah membantu selama mengumpulkan data. Selain itu, ucapkan terima kasih juga disampaikan kepada Ibunda Endang Purwati, Ayahanda Kardjito Hoetomo, mas Tomy, adik Galih, seluruh keluarga besar, sahabat-sahabat di Manajemen 46 dan OMDA JAC (Jombang Agricultural Community) serta penghuni Azyra atas segala doa dan dukungannya.

Penulis pun menyadari bahwa karya ilmiah ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh sebab itu, penulis membutuhkan kritik dan saran dari pembaca. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Juli 2013

(10)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vi

DAFTAR LAMPIRAN vi

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 2

Tujuan Penelitian 3

Manfaat Penelitian 3

Ruang Lingkup Penelitian 3

METODE 4

Kerangka Pemikiran 4

Lokasi dan Waktu Penelitian 5

Jenis dan Metode Pengumpulan Data 5

Pengambilan Sampel 5

Prosedur Analisis Data 6

HASIL DAN PEMBAHASAN 10

Gambaran Umum Rantai Pasok Pepaya 10

Kualitas Produk dan Standar Keamanan Pangan 11

Kebutuhan dan Karakteristik Konsumen Pepaya 13

Rumah Kualitas 15

Penyebab-Penyebab Persoalan 17

Strategi Peningkatan Kualitas 20

Implikasi Manajerial 25

SIMPULAN DAN SARAN 26

Simpulan 26

Saran 26

UCAPAN TERIMA KASIH 27

DAFTAR PUSTAKA 27

LAMPIRAN 29

RIWAYAT HIDUP 47

(11)

DAFTAR TABEL

1 Perkembangan Nilai Ekspor Komoditas Buah 1

2 Bentuk Dasar QSPM 10

3 Bobot Atribut Kualitas Pepaya Calina 12

4 Karakteritik Konsumen Pepaya Calina 13

5 Hasil Tingkat Kepuasan Konsumen 14

6 Matriks Faktor-faktor Internal 20

7 Matriks Faktor-faktor Eksternal 21

8 Matriks SWOT Peningkatan Kualitas Pepaya Calina 21

9 Bobot Strategi QSPM 24

DAFTAR GAMBAR

1 Alur Kerangka Pemikiran Penelitian. 4

2 Rumah kualitas (Bertschinger et al. 2009) 8

3 Diagram Sebab Akibat (Rampersad 2001) 9

4 Matriks Analisis SWOT (Umar 2008) 9

5 Rantai Pasok Pepaya Calina 11

6 Rumah Kualitas Rantai Pasok Pepaya Calina 16

7 Matriks Hubungan Prioritas dari QFD dengan Tingkat Kepuasan 17 8 Diagram Tulang Ikan Produk Memar dan Hama-Penyakit 18

DAFTAR LAMPIRAN

1 Kuesioner (Wawancara) Tingkat Kepentingan dan Kepuasan 30 2 Kuesioner Penetapan Prioritas Atribut Kualitas oleh Konsumen Ahli 32 3 Kuesioner Penelitian Penilaian Bobot dan Rating Faktor Strategis

Internal dan Eksternal serta QSPM 34

4 Uji Validitas dan Reabilitas 41

5 Keterangan Atribut Kualitas Pepaya Calina 42

(12)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Buah merupakan salah satu jenis dari hortikultura yang berdaya guna antara lain: sebagai penunjang gizi masyarakat, sumber pendapatan, serta menyerap tenaga kerja bila diusahakan secara intensif (Satuhu 2004). Penerapan healthy life

sangat penting dalam masyarakat, khususnya akan asupan buah-buahan untuk menunjang aktivitas sehari-hari dan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi. Peningkatan kesadaran ini telah mendorong para pebisnis untuk mendirikan usaha bisnis buah. Pola konsumsi masyarakat dalam mengonsumsi buah yang terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya daya beli masyarakat sehingga menyebabkan permintaan akan buah-buahan terus meningkat. Terbukti pada tahun 2009 ke tahun 2010, pengeluaran konsumsi buah-buahan meningkat dari 2,05% ke 2,49% (Susenas Badan Pusat Statistik 2013).

Menurut Sujiprihati dan Sukety (2011), produksi buah dalam negeri dapat terancam tergeser dengan maraknya buah-buahan impor yang terdapat di pasar modern (minimarket, hypermarket, dan supermarket) maupun pasar tradisional. Perdagangan bebas antarnegara mengakibatkan persaingan global yang sangat ketat. Oleh karena itu, para petani buah di Indonesia harus mampu meningkatkan daya saing buah tropika untuk menghasilkan buah-buahan yang berkualitas tinggi, jaminan produksi buah berkesinambungan serta sesuai standar kualitas sehingga layak untuk dikonsumsi baik dalam negeri maupun menembus pasar luar negeri.

Buah-buahan di Indonesia mampu memberikan kontribusi yang cukup besar untuk dieskpor ke luar negeri. Dalam lima tahun terakhir, perkembangan buah-buahan lokal mampu bersaing di kancah internasional dengan nilai ekspor rata-rata pertumbuhan ≥100%, antara lain: Pepaya, Anggur, Pisang, Semangka, Belimbing, dan Durian (Ditjen Holtikultura 2013). Perkembangan nilai ekspor buah lokal dari tahun 2007 hingga tahun 2011 dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Perkembangan Nilai Ekspor Komoditas Buah

Komoditas 2007 2008 2009 2010 2011 Rata-rata

Sumber: Data Ekspor Impor BPS diolah Ditjen Holtikultura, 2013

(13)

2

tahun dengan budidaya yang tak mengenal musim sehingga buah ini dikenal oleh berbagai lapisan masyarakat, khususnya pepaya Calina. Pepaya jenis ini mempunyai keunggulan kulitnya lebih mulus, dagingnya tebal, ukuran middle, dan rasa lebih manis.

Penanganan pasca panen buah lokal khususnya pepaya Calina (IPB 9) mengalami masalah karena mengalami kerusakan saat distribusi ke berbagai tempat. Beberapa buah yang cacat dapat mempengaruhi nilai kualitas penampilan serta jumlah pepaya yang didistribusikan (Santoko dan Purwoko dalam Rini 2008). Menurut ketua asosiasi pepaya jawa barat mengemukakan dalam rantai pasok (khususnya distribusi) pepaya mengalami kecacatan produk sebesar kurang lebih 20% sehingga distributor dengan petani harus melakukan kontrak perjanjian yang menyatakan segala kecacatan produk pada saat distribusi merupakan tanggung jawab distributor agar petani tidak merugi. Rendahnya mutu produk hortikultura ini memerlukan perhatian yang lebih besar untuk membentuk sistem agribisnis dan manajemen rantai pasok dengan mengutamakan kualitas produk sampai di tangan konsumen (Setiawan 2009). Oleh karena itu, diperlukannya perbaikan atau peningkatan kualitas buah lokal karena adanya tuntutan konsumen menginginkan kualitas pepaya Calina yang sesuai standar keamanan pangan dan mutu produk.

Pengembangan rantai pasokan basis jaringan melibatkan permasalahan kompleks, dinamis, dan probabilistik (Adiarni et al. 2007). Langkah pertama yaitu dengan mengetahui keinginan pasar khususnya mengenai harapan konsumen tentang pepaya Calina yang berkualitas. Alat analisis yang digunakan untuk preferensi konsumen dari segi kualitas yaitu Quality Function Deployment (QFD). Menurut Gaspersz dalam Marimin (2004), QFD didefinisikan sebagai proses atau mekanisme terstruktur untuk menentukan kebutuhan pelanggan dan menerjemahkan kebutuhan-kebutuhan itu dalam kebutuhan teknis yang relevan, di mana masing-masing area fungsional dan level organisasi dapat mengerti dan bertindak.

Peningkatan kualitas pepaya Calina diperlukannya perbaikan atau pengendalian kualitas dalam produksi. Pemantauan proses perlu dilakukan untuk mengetahui dengan cepat terjadinya pergeseran proses atau ketidaksesuaian kualitas (Marimin 2002). Alat analisis pengendalian kualitas yang sesuai untuk mengetahui penyebab-penyebab persoalan kualitas pepaya Calina ini adalah melalui diagram fishbone (sebab-akibat). Kombinasi antara QFD dan pemantauan proses yang sesuai dapat digunakan sebagai dasar untuk merumuskan strategi peningkatan konsumen dengan memperhatikan faktor internal dan eksternal perusahaan. Oleh karena itu, diperlukan perumusan strategi untuk meningkatkan kualitas pepaya Calina ini melalui faktor internal dan eksternal sehingga buah lokal mampu digemari dan mampu berdaya saing dengan buah impor sesuai standar keamanan pangan dan mutu produk

Perumusan Masalah

(14)

3 maupun luar negeri. Dalam menghasilkan buah yang berkualitas merupakan kegiatan yang tidak mudah karena kegiatan ini melibatkan bagian hulu ke hilir yang sesuai standar mutu harus saling terintegrasi dan diimplementasikan dengan baik sehingga dapat bersaing di pangsa pasar luar negeri. Dengan demikian, permasalahan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: 1) Bagaimana atribut kunci peningkatan kualitas pepaya Calina yang didasarkan pada keinginan konsumen dan cara mengetahui tingkat kepuasan konsumen, 2) Apa penyebab-penyebab persoalan kualitas pepaya Calina, 3) Apa strategi atau cara meningkatkan kualitas pepaya Calina di Indonesia.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengidentifikasi atribut kunci peningkatan kualitas pepaya Calina yang didasarkan pada keinginan konsumen dan mengetahui tingkat kepuasan konsumen menggunakan Quality Function Deployment (QFD), 2) Menganalisis penyebab-penyebab persoalan kualitas pepaya Calina dengan menggunakan diagram Ishikawa (sebab akibat), 3) Menganalisis strategi atau cara meningkatkan kualitas pepaya Calina di Indonesia menggunakan analisis Strengths Weakness Opportunity Threats (SWOT) dan

Quantitave Strategies Planning Matrix (QSPM).

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan bermanfaat 1) Bagi perusahaan, dapat digunakan sebagai masukan tentang cara peningkatan kualitas pepaya Calina untuk menghasilkan buah yang berkualitas tinggi sehingga dapat bersaing di dalam maupun luar negeri, 2) Bagi peneliti selanjutnya, sebagai bahan referensi dan informasi dalam melakukan penelitian lebih lanjut, 3) Sebagai tambahan ilmu pengetahuan untuk memperluas wawasan dan khususnya untuk mahasiswa dapat digunakan sebagai referensi penelitian lebih lanjut.

Ruang Lingkup Penelitian

(15)

4

METODE

Kerangka Pemikiran

Buah-buahan diperlukan sebagai penunjang aktivitas untuk memenuhi kebutuhan asupan gizi pada manusia khususnya dalam penerapan healty life. Salah satunya buah pepaya (Carica papaya L.) yang bernama pepaya Calina. Skema diagram alir penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1 Alur Kerangka Pemikiran Penelitian.

Buah-buahan sebagai penunjang aktivitas ini menyebabkan permintaan buah-buahan terus meningkat sehingga mempunyai prospek untuk dikembangkan karena mempunyai nilai ekonomis tinggi dan lima tahun terakhir ini terjadi kenaikan nilai ekspor pada buah lokal. Oleh karena itu, diperlukannya kualitas dan standar kemanan pangan yang sesuai kebutuhan dan karakteristik konsumen buah pepaya.

Berdasarkan kebutuhan dan karakteristik konsumen pepaya maka diperlukan alat Analisis Quality Function Deployment (QFD) untuk menciptakan kepuasan pelanggan yang mengintegrasikan atribut dengan aktivitas. Dari analisis QFD juga dapat diketahui penyebab-penyebab persoalan kualitas yang dapat dilihat melalui diagram Ishikawa. Oleh karena itu, diperlukan strategi peningkatan kualitas pepaya karena adanya tuntutan konsumen yang menginginkan kualitas buah sesuai standar keamanan pangan dan mutu produk.

Analisis Quality Funtion Deployment (QFD) untuk menciptakan kepuasan pelanggan Kenaikan nilai ekspor buah lokal

Penyebab-penyebab persoalan kualitas pepaya (Diagram Ishikawa)

Permintaan buah-buahan meningkat

Strategi peningkatan kualitas pepaya (Analisis SWOT dan QSPM)

Prospek untuk dikembangkan

Kualitas produk dan standar keamanan pangan

Kebutuhan dan karakteristik konsumen pepaya

(16)

5 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Bogor, Jawa Barat dan distributor di Tangerang, Banten. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari hingga Mei 2013 untuk mengumpulkan data yang diperlukan pada penelitian ini.

Jenis dan Metode Pengumpulan Data

Data yang dibutuhkan pada penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh dari sumber pertama (individu atau perorangan) melalui pengamatan langsung di lapangan, wawancara, dan penyebaran kuesioner (Umar 2010). Sedangkan data sekunder merupakan data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan oleh pihak lain atau pihak pengumpul data primer (Umar 2010). Data primer dapat diperoleh melalui studi pustaka atau literatur-literatur yang relevan dan laporan yang dimiliki perusahaan. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari:

1. Wawancara dilakukan langsung ke sumber penelitian yaitu para petani, pengusaha, retail dan konsumen pepaya Calina untuk mengetahui rantai pasok kualitas produk.

2. Pengamatan langsung untuk mengamati secara lebih dekat atau langsung objek penelitian terkait penyebab-penyebab persoalan kualitas.

3. Penyebaran kuesioner ke konsumen (dapat dilihat pada Lampiran 1) dan konsumen ahli (dapat dilihat pada Lampiran 2) ini bertujuan untuk mengetahui keinginan konsumen tentang atribut kualitas. Serta ke perusahaan yang menangani pepaya (kuesioner terlampir pada Lampiran 3).

4. Studi literatur-literatur, pencatatan data internal perusahaan, dan hasil-hasil penelitian terdahulu serta data-data yang terkait dengan penelitian.

Pengambilan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen Toserba Yogya Cimanggu dan Toko All Fresh Bogor. Dengan asumsi jumlah pembeli per hari di Toserba Yogya Cimanggu sebesar 300 orang, kecuali weekend 600 orang. Sedangkan di Toko All Fresh Bogor pembeli per hari sebesar 100 orang, kecuali weekend

sebesar 200 orang. Sehingga di dapat jumlah populasi pembeli selama sebulan kira-kira sebesar 15200 orang. Sampel yang di jadikan responden penelitian adalah konsumen yang pernah membeli atau mengonsumsi pepaya Calina lebih dari satu kali pembelian. Pengambilan sampel dilakukan dalam penelitian dengan menggunakan salah satu metode non probability sampling (pengambilan sampel non acak atau disengaja), yaitu teknik convenience sampling. Menurut Umar (2010), ada beberapa cara untuk menentukan jumlah sampel dari suatu populasi, salah satunya dengan menggunakan rumus solvin sebagai berikut:

………...(1)

Keterangan:

(17)

6

N = Ukuran populasi

E = Kelongggaran ketelitian karena kesalahan pengambilan keputusan pengambilan sampel yaitu 10%

Berdasarkan rumus solvin di atas, dengan tingkat kelonggaran ketelitian sebesar 10 persen maka jumlah sampel yang dijadikan responden konsumen adalah sebesar 100 orang.

Teknik pengambilan sampel dari pendapat pakar (konsumen ahli) dan manajemen ahli di perusahaan adalah judgment sampling. Judgment sampling

merupakan teknik penarikan sampel yang dilakukan berdasarkan karakteristik yang ditetapkan terhadap elemen populasi target yang disesuaikan dengan tujuan atau masalah penelitian (Umar 2010). Sampel konsumen ahli dan manajemen ahli masing-masing sebesar tiga orang.

Prosedur Analisis Data

Pada penelitian ini menggunakan analisis data yaitu data kualitatif dan kuantitatif. Analisis data kualitatif untuk memperoleh gambaran secara lebih mendalam mengenai cara meningkatkan kulitas buah lokal khususnya pepaya Calina. Penelitian ini menggunakan program Expert Choice, Microsoft Excel 2007, dan software SPSS 17 untuk membantu analisis.

Uji Validitas

Uji validitas agar dapat mengetahui butir-butir pertanyaan variabel mana yang valid atau tidak valid. Uji validitas digunakan untuk mengetahui kelayakan butir-butir dalam suatu daftar (konstruk) pertanyaan dalam mendefinisikan suatu variabel (Nugroho 2005). Jumlah responden sebanyak 30 maka nilai r-trabel = 0, 361. Dengan tingkat kepercayaan 95% (=0,05). Butir pertanyaan dikatakan valid jika r-hitung > r-tabel. Teknik yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan korelasi product moment, dengan rumus sebagai berikut:

………(2) Keterangan:

r = Angka korelasi, n = Jumlah sampel dalam penelitian X = Skor

Y = Skor total responden n dalam menjawab seluruh pertanyaan Uji Reliabilitas

(18)

7 Penentuan Tingkat Kepuasan

Terlebih dahulu menghitung total nilai dari hasil kuesioner untuk menentukan tingkat kepuasan maka diperoleh perhitungan sebagai berikut:

(N1 x 1) + (N2 x 2) + (N3 x 3) + ( N4 x 4) + (N5 x 5)………(3) Keterangan:

N1 = Jumlah responden dengan jawaban “sangat tidak memuaskan”

N2 = Jumlah responden dengan jawaban “tidak memuaskan” N3 = Jumlah responden dengan jawaban “cukup memuaskan”

N4 = Jumlah responden dengan jawaban “memuaskan”

N5 = Jumlah responden dengan jawaban “sangat memuaskan”

Penentuan tingkat kepuasan konsumen dari setiap atibut konsumen berdasarkan nilai indeks masing-masing dengan rumus customer rating. Adapun untuk mengetahui nilai kepuasan adalah sebagai berikut: (1) Mencari nilai indeks maksimum = (5x100)/5 = 100 dan nilai indeks minimum = (1x100)/5 = 20, (2) Menghitung range = 100 – 20 = 80, (3) Jumlah kelas diketahui sebanyak 5 kelas, (4) Maka dapat dihitung panjang kelas = 80/5 = 16

Berdasarkan data diatas maka dapat dibuat interval untuk mengetahui tingkat kepuasan sebagai berikut: Analisis Quality Function Deployment (QFD)

Rampersad (2001) mengemukakan Quality Function Deployment (QFD) adalah suatu metode yang sistematis dan terstruktur untuk mengkonversikan harapan konsumen dalam tahap awal menjadi aspek penting dari produk, layanan, dan proses. Sementara itu menurut Gaspersz dalam Marimin (2004), Quality Function Deployment didefinisikan sebagai proses atau mekanisme terstruktur untuk menentukan kebutuhan pelanggan dan menerjemahkan kebutuhan-kebutuhan itu dalam kebutuhan-kebutuhan teknis yang relevan, di mana masing-masing area fungsional dan level organisasi dapat mengerti dan bertindak.

Metode QFD dapat digunakan untuk kedua produk tangible dan non-tangible service, layanan industri, produk software, proyek IT, perkembangan proses bisnis, pemerintah, lingkungan kesehatan, dan banyak aplikasi lainnya (QFD Institute 2013).

Menurut Nasution (2005), Manfaat QFD terdiri dari:

a. Fokus pada pelanggan. QFD memerlukan pengumpulan masukan pelanggan dan umpan balik informasi ini diterjemahkan ke seperangkat tuntutan pelanggan yang spesifik.

b. Efisien waktu. QFD dapat mengurangi waktu pengembangan karena focus pada tuntutan pelanggan.

c. Berorientasi kerja tim. QFD adalah pendekatan yang berorientasi kerja tim. d. Berorientasi dokumentasi. QFD mendorong isu dokumentasi komprehensif

(19)

8

all. 2009). Prinsip rumah kualitas yang digunakan ISAFRUIT untuk proses

Vasco da Gama” dapat dilihat pada Gambar 2

Gambar 2 Rumah kualitas (Bertschinger et al. 2009)

Berdasarkan Gambar 2, dapat diketahui tahapan penggunaan QFD menurut Subagyo dalam Marimin (2004) adalah sebagai berikut:

a. Mengindentifikasi kemauan pelanggan. Dalam hal ini pelanggan atau konsumen ditanya mengenai sifat yang diinginkan dari suatu produk. Konsumen ahli melakukan pembobotan dengan metode perbandingan berpasangan (Pairwise Comparison) terhadap atribut kualitas.

b. Mempelajari ketentuan teknis dalam menghasilkan barang atau jasa. Hal ini didasarkan data yang tersedia, aktivitas, dan sarana yang sering digunakan dalam menghasilkan barang atau jasa, dalam rangka menentukan kualitas pemenuhan kebutuhan pelanggan.

c. Hubungkan antara keinginan pelanggan dengan ketentuan teknis. Hubungan ini dapat berpengaruh kuat (10 = ❿), sedang (5 = ⑤) atau lemah (1 = ▲). Setiap aspek dari konsumen diberi bobot, untuk membedakan pengaruhnya terhadap kualitas produk. Penentuan keterkaitan ini nantinya akan dilakukan dengan teknik brainstorming.

d. Perbandingan kinerja pelayanan. Tahap ini membandingkan kinerja perusahaan dengan pesaing. Nilai yang digunakan untuk kinerja terbaik nilai 5 dan yang terburuk nilai 1.

e. Evaluasi pelanggan untuk membandingkan pendapat pelanggan tentang kualitas produk yang dihasilkan kualitas produk yang dihasilkan oleh perusahaan dengan produk pesaing. Nilai yang digunakan antara 1 sampai 5, kemudian dibuat rasio antara target dengan kualitas setiap kategori.

(20)

9 Diagram Sebab Akibat

Diagram sebab akibat (Fishbone) adalah suatu gambaran grafik yang menghubungkan antara suatu hasil dan penyebab-penyebab masalah (Ishikawa, 1985 dalam Rampersad 2001). Fishbone digunakan untuk menganalisis hubungan sebab akibat dan berdasarkan fasilitas untuk mencari solusi dalam masalah yang nyata, diagram tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3 Diagram Sebab Akibat (Rampersad 2001)

Langkah-langkah pembuatan diagram sebab akibat berdasarkan pada Gambar 3, yaitu:

a. Pada awalnya membuat pernyataan masalah utama untuk diselesaikan.

b. Gambarkan pernyataan masalah utama pada kepala ikan (sisi sebelah kanan. Dan kategori utama atau penyebab pada tulang ikan (sisi sebelah kiri).

c. Tetapkan dan tuliskan faktor-faktor penyebab dalam kategori utama, setelah itu tempatkan pada cabang yang sesuai.

d. Tuliskan penyebab-penyebab sekunder yang mempengaruhi penyebab utama dan tuliskan penyebab-penyebab tersier yang mempengaruhi penyebab sekunder.

e. Interpretasikan diagram sebab-akibat dan lihat item-item yang penting dari setiap faktor seperti pada Gambar 3. Faktor yang penting tersebut mungkin memiliki pengaruh nyata terhadap karakteristik kulitas.

Analisis SWOT dan QSPM

Analisis SWOT adalah mengidentifikasi faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan (Rangkuti 2006). Berdasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) dan peluang (Opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats). Matriks analisis SWOT dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4 Matriks Analisis SWOT (Umar 2008) Intenal keuntungan dari peluang yang ada)

Strategi WO

Kategori Kategori Penyebab 1

(21)

10

Pada Gambar 4, menurut Umar (2008) terdapat empat strategi dalam SWOT, antara lain: strategi SO (Strength-Opportunity), WO ( Weakness-Opportunity), ST (Strength-Threat), dan WT (Weakness-Threat). Keempat strategi tersebut dapat digunakan untuk mengetahui tingkat internal dan eksternalnya.

Quantitative Strategies Planning Matrix (QSPM) adalah alat yang direkomendasikan bagi para ahli strategi untuk melakukan evaluasi pilihan strategi alternatif secara objektif, berdasarkan key success factors internal-eksternal yang telah diidentifikasikan sebelumnya (Umar, 2008). QSPM bertujuan untuk menetapkan alternatif relatif dari strategi-strategi yang bervariasi yang telah dipilih dan menentukan strategi mana yang dianggap paling baik untuk diimplementasikan. Bentuk QSPM dapat dilihat di Tabel 2.

Tabel 2 Bentuk Dasar QSPM

Faktor Utama

Alternatif Strategi

Weight (Bobot)

Strategi I Strategi II Strategi III

AS TAS AS TAS AS TAS

Faktor Eksternal

-Peluang -Ancaman

Faktor Internal -Kekuatan -Kelemahan

Sumber: Umar (2008)

Berdasarkan Tabel 2, menurut Umar (2008) terdapat enam langkah untuk membuat matriks QSPM, yaitu: pertama, menuliskan daftar peluang, ancaman, kekuatan dan kelemahan. Kedua, pemberian bobot untuk masing-masing peluang, ancaman, kekuatan, dan kelemahan. Ketiga, tuliskan strategi alternatif yang dievaluasi. Keempat, berikan nilai Attractiveness Score (AS) yang dimulai 1 (tidak menarik), 2 (cukup menarik), 3 (menarik), dan 4 (sangat menarik). Kelima, kalikan nilai bobot dengan nilai AS. Terakhir, hitung nilai Total Attractiveness Score (TAS). Nilai TAS tertinggi merupakan strategi yang terpilih untuk diimplementasikan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Rantai Pasok Pepaya

(22)

11 atau minimarket dan oulet-outlet buah. Gambaran rantai pasok pepaya Calina lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5 Rantai Pasok Pepaya Calina

Terdapat enam jalur rantai pasok pada Gambar 5, Adapun enam jalur tersebut adalah sebagai berikut: (1) PetaniProcessorRetailKonsumen, (2) PetaniProcessorKonsumen, (3) PetaniRetailKonsumen, (4) Petani Konsumen, (5) PetaniPasar TradisonalKonsumen, (6) PetaniProcessor

Pasar TradisionalKonsumen

Pepaya IPB 9 yang lebih dikenal masyarakat dengan nama pepaya Calina atau California ini memiliki daging buah yang lebih tebal, manis, dan produktivitasnya tinggi (Sujiprihati dan Sukety 2011). Karakteristik pepaya Calina memiliki bentuk buah silindris, ukuran buah sedang, bobot per buah 1200 ± 300 gram, kulit buah berwarna hijau terang, warna daging jingga kemerahan, rata-rata bobot 1,24 kg/buah, tingkat kemanisan 10,1-11,2oBriks dengan masa berbunga ± 4 bulan setelah tanam dan masa umur petik ± 8,5 bulan setelah tanam, serta umur tanam ± 3 tahun.

Kualitas Produk dan Standar Keamanan Pangan

Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 4230:2009 tentang pepaya, ketentuan minimum buah pepaya yang harus dipenuhi adalah: utuh, penampilan buah segar, padat, layak konsumsi, bersih, bebas dari hama penyakit, bebas dari memar, bebas dari kerusakan akibat temperatur rendah dan atau tinggi, bebeas dari kelembaban eksternal yang abnormal, bebas dari aroma asing, tangkai buah panjangnya tidak lebih dari 3 cm. Pepaya digolongkan dalam tiga kelas mutu, antara lain:

a. Kelas Super dicerminkan dengan ciri varietas atau tipe komersial, bebas dari kerusakan, kecuali kerusakan sangat kecil.

b. Kelas A dicerminkan dengan ciri varietas atau tipe komersial, dengan kerusakan kecil yang diperbolehkan sebagai berikut: sedikit penyimpangan pada bentuk, sedikit kerusakan pada kulit buah, total kerusakan tidak lebih 10% dari luas permukaan kulit, dan tidak mempengaruhi daging buah.

c. Kelas B dicerminkan dengan ciri varietas atau tipe komersial dengan kerusakan yang diperbolehkan sebagai berikut: penyimpangan pada bentuk, penyimpangan warna, kerusakan pada kulit buah, sedikit bekas serangan hama dan penyakit, dan total kerusakan maksimum 15% dari luas permukaan kulit tidak mempengaruhi daging buah.

(23)

12

dan keamanan. Berdasarkan hasil wawancara dengan konsumen ahli pepaya dan ketentuan SNI 4230:2009 tentang pepaya diperoleh 14 atribut kualitas buah pepaya Calina yang dikelompokkan ke dalam empat komponen, yaitu:

a. Kualitas penampilan (bebas dari memar, tampilan segar, kebersihan kulit, bentuk, ukuran, warna kulit dan warna daging buah).

b. Kualitas tekstur (tekstur daging dan kulit buah). c. Kualitas flavour (rasa manis dan aroma khas).

d. Kualitas keamanan (bebas dari hama dan penyakit, bebas dari aroma dan rasa asing, bebas dari kerusakan akibat perubahan temperatur yang ekstrim).

Dilakukan penyebaran kuesioner kepada 30 responden untuk mengetahui uji validitas dan uji reabilitas. Hasil uji validitas dapat dilihat pada Lampiran 4 yang menyatakan bahwa seluruh atribut kualitas pepaya tersebut valid karena masing-masing atribut r-hitung > r-tabel (0,361) dengan tingkat kepercayaan 95% dan uji reabilitas memiliki nilai Cronbach’s Alpha (0,770) > 0,60 sehingga layak untuk disebar (hasil uji reabilitas terlampir pada Lampiran 4).

Atribut kualitas selanjutnya di sebar ke tiga konsumen ahli dengan skala perbandingan untuk membandingkan atribut kualitas yang menjadi prioritas utama (kuesioner terlampir pada Lampiran 2). Konsumen ahli diasumsikan sebagai konsumen yang sudah berpengalaman dalam mengkonsumsi berbagai jenis pepaya IPB sehingga diyakini telah mengetahui elemen-elemen yang menjadi prioritas mereka dalam mengkonsumsi pepaya Calina (IPB 9). Hasil kuesioner pendapat gabungan konsumen ahli untuk pembobotan atribut kualitas dalam menentukan kriteria prioritas yang harus dipenuhi. Perhitungan bobot masing-masing atribut ini dengan menggunakan software Expert Choice dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Bobot Atribut Kualitas Pepaya Calina

Atribut Kualitas Bobot Peringkat Bobot

konversi

Bebas dari kerusakan akibat perubahan temperatur yang ekstrim 0.029 12 3

Warna kulit buah 0.020 13 2

Tekstur kulit buah 0.017 14 1

(24)

13 Kebutuhan dan Karakteristik Konsumen Pepaya

Karakteristik Konsumen

Dalam penelitian ini, responden dengan jumlah sampel sebesar 100 orang yang merupakan konsumen Toserba Yogya Cimanggu dan Toko All Fresh Bogor dengan syarat pernah membeli atau mengkonsumsi pepaya Calina lebih dari satu kali pembelian. Data diperoleh menunjukkan adanya karakteristik dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Karakteritik Konsumen Pepaya Calina

No Karakteristik Jumlah

Responden %

Wiraswasta atau Pengusaha 15 15

Lainnya 31 31

6 Pengeluaran per Bulan

Rp 500 001- Rp 1 000 000 1 1

Rp 1 000 001 – Rp 1 500 000 4 4

Rp 1 500 001 – Rp 2 000 000 8 8

≥ Rp 2 000 001 87 87

7 Pengeluaran untuk Konsumsi

Buah per Bulan

Rp 100 001 – Rp 200 000 7 7

Rp 200 001 – Rp 300 000 21 21

Rp 300 001 – Rp 400 000 25 25

≥ Rp 400 001 47 47

8 Keseringan Membeli atau

Mengkonsumsi

Berdasarkan Tabel 4 menunjukkan sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan dengan persentase sebesar 64%. Status pernikahan responden teridentifikasi bahwa sebesar 79% memiliki status menikah. Hal ini menggambarkan sebagian besar pepaya Calina dikonsumsi oleh keluarga untuk pemenuhan kebutuhan zat gizi.

Pada penelitian ini, responden dilatarbelakangi pendidikan terakhir yang beragam. Sebagian besar latar belakang pendidikan konsumen adalah Sarjana (S1, S2, dan S3) sebesar 62%. Hal ini menggambarkan bahwa mayoritas responden memiliki latar belakang pendidikan sarjana, dimana konsumen pada tingkat ini memiliki pola pikir untuk mengkonsumsi suatu produk dengan mempertimbangkan nilai lebih atau kualitas dari suatu produk.

(25)

14

seperti: ibu rumah tangga, dokter, brimob, writer, dan asisten dosen. Pengeluaran per bulan responden pada penelitian ini sebagian besar pengeluarannya di atas Rp 2 000 001 dengan persentase sebesar 87%. Hal ini menggambarkan bahwa konsumen pepaya Calina berasal dari kelas ekonomi menengah ke atas.

Berdasarkan pengeluaran konsumsi buah per bulan sebagian besar, pengeluarannnya di atas Rp 400 001 dengan persentase sebesar 47%. Hal ini menggambarkan bahwa sebagian besar konsumen mengalokasikan pengeluaran untuk membeli dan mengkonsumsi buah-buahan per bulan di atas Rp 400 001 karena konsumen peduli akan kesehatan untuk pemenuhan gizi. Dengan intensitas antara satu sampai tiga per bulan untuk membeli atau mengonsumsi pepaya Calina.

Kepuasan Konsumen

Tingkat kepuasan konsumen terhadap atribut kualitas yang disebar ke 100 responden dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Hasil Tingkat Kepuasan Konsumen

Atribut Kualitas Tidak

Puas 6. Bebas dari kerusakan akibat

perubahan temperatur yang ekstrim

0 7 27 66 459 91.80 Sangat

Memuaskan

7. Bebas dari aroma dan rasa asing

13.Bebas dari hama dan penyakit

0 22 59 19 397 79.40 Memuaskan

14.Bebas memar 0 21 66 13 392 78.40 Memuaskan

(26)

15 Rumah Kualitas

Penyesuaian keinginan konsumen terhadap aktivitas perusahaan perlu dilakukan dengan menggunakan metode Quality Function Deployment (QFD). Adapun atribut yang menjadi keinginan konsumen seperti pada Tabel 4. Untuk mengetahui teknisi dalam memenuhi spesifikasi dan harapan pelanggan, dapat dilihat dari aktivitas dan sarana yang ada (Abidin 2001). Aktivitas dan sarana akan mempengaruhi mutu pepaya yang dipasarkan. Beberapa aktivitas dan sarana yang dilakukan dan diperlukan dalam melakukan kegiatan, mulai dari petani sampai konsumen akhir. Aktivitas tersebut dibagi menjadi empat, yaitu:

a. Aktivitas yang dilakukan petani (budidaya), meliputi: pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan, dan sortasi. Keterangan aktivitas yang dilakukan petani sebagai berikut:

1. Pembibitan bertujuan untuk mendapatkan bibit pepaya yang sehat, tumbuh secara optimal, dan mempunyai daya adaptasi yang baik.

2. Penanaman adalah kegiatan budidaya menanam bibit pepaya yang dilakukan pada waktu yang tepat.

3. Pemeliharaan adalah kegiatan budidaya yang teratur, meliputi: pengairan, pemupukan, seleksi tanaman, sanitasi kebun, penjarangan buah, pembungkusan buah, serta pengendalian hama-penyakit.

4. Pemanenan adalah tahap terakhir dari kegiatan budidaya tanaman pepaya, tahap ini dapat dilihat keberhasilan dari budidaya pepaya yang dilakukan. 5. Sortasi bertujuan untuk memilih dan memisahkan buah yang baik cacat,

rusak, serta mengklasifikasikan buah yang seragam dilakukan oleh petani dan prosesor.

b. Aktivitas prosesor (pasca panen), meliputi: sortasi, grading, pengemasan, distribusi, penyimpanan, penerimaan, penjadwalan, penanganan, inspeksi. Keterangan aktivitas yang dilakukan prosesor sebagai berikut:

1. Grading bertujuan untuk menyaring pepaya berdasarkan ukuran dan bentuk, misalnya grade A berukuran 0,7-1,1 kg, B kecil berukuran 1,2-1,4 kg, dan B besar berukuran 1,4-1,6 kg.

2. Pengemasanan bertujuan untuk mempertahankan mutu buah, terutama saat pengangkutan atau penyimpanan, dan agar penampilan buah lebih menarik ketika dijual, dikemas menggunakan koran.

3. Distribusi adalah Aktivitas pendistribusian produk dari petani ke perusahan ke konsumen dengan kendaraan tertentu.

4. Penyimpanan adalah aktivitas yang selalu terkait dengan faktor waktu, tujuan menjaga dan mempertahankan nilai komoditas yang disimpan, dengan suhu di bawah 150C dan diatas titik beku.

5. Penerimaan adalah aktivitas menerima produk pepaya dari petani ke perusahaan atau distributor.

6. Penjadwalan adalah aktivitas yang dilakukan untuk menjadwalkan produk sesuai permintaan.

7. Penanganan adalah aktivitas yang dilakukan untuk loading dock ke kendaraan dan unloading dock dari kendaraan pengangkut pepaya Calina. 8. Inspeksi adalah aktivitas pengontrolan kualitas dengan cara meneliti

(27)

16

c. Aktivitas yang dilakukan retail adalah penjualan (aktivitas menjual produk ke konsumen)

d. Aktivitas yang dilakukan konsumen adalah pembelian (aktivitas mendapatkan produk yang diinginkan atau dibutuhkan untuk dikonsumsi)

Hubungan antara satu aktivitas dengan aktivitas yang lainnya pada trade roof (atap) rumah kualitas dapat dilihat pada Lampiran 6. Penentuan trade off dan rumah kualitas dilakukan secara brainstorming dengan petani dan bagian local sourcing dari PT. Sewu Segar Nusantara yang menangani pepaya Calina serta konsumen ahli. Bentuk rumah kualitas rantai pasok pepaya Calina dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6 Rumah Kualitas Rantai Pasok Pepaya Calina Keterangan:

❿ = Kuat (10)

⑤ = Sedang (5)

(28)

17 Berdasarkan Gambar 6 diketahui bahwa hubungan antara atribut kualitas dengan aktivitas yang memiliki tingkat kepentingan paling tinggi pada rumah kualitas pepaya Calina adalah pemeliharaan pada saat budidaya dengan tingkat kepentingan sebesar 525 dan nilai relatif sebesar 0,115. Hal ini menunjukkan bahwa proses pemeliharaan sangat mempengaruhi hasil produksi khususnya kualitas pepaya Calina. Kedua adalah inspeksi (quality control) pada saat pasca panen yang dilakukan oleh prosesor dengan nilai sebesar 521 dan nilai relatif sebesar 0,114. Hal ini berbeda dengan Marimin (2002) yang menyatakan bahwa penanganan dan penyimpanan memiliki tingkat kepentingan paling tinggi dari peningkatan kualitas sayuran segar dengan menggunakan analisis QFD.

Penyebab-Penyebab Persoalan

Atribut kualitas pepaya Calina berdasarkan hubungan prioritas dari analisis QFD (tujuh tertinggi dan tujuh terendah) dengan tingkat kepuasan (sangat memuaskan dan memuaskan) dikelompokkan menjadi empat kuadran dapat lihat pada Gambar 7.

Sangat Memuaskan

Bentuk buah Rasa Manis

Ukuran buah Warna daging buah

Aroma khas Tekstur daging

Bebas dari aroma dan rasa asing Tampilan segar

Prioritas QFD (7 terendah)

Tekstur kulit Kebersihan kulit buah

Prioritas

Gambar 7 Matriks Hubungan Prioritas dari QFD dengan Tingkat Kepuasan Berdasarkan hasil penelitian (Gambar 7) terdapat ketidaksesuaian mutu yang difokuskan pada kuadran IV yaitu bebas dari memar dan bebas dari hama-penyakit karena prioritas dari analisis QFD termasuk tujuh tertinggi dari apa yang diinginkan konsumen dan jika dilihat dari tingkat kepuasan belum memenuhi target yang diharapkan konsumen (tidak sesuai apa yang diharapkan dengan apa yang direalisasikan).

(29)

18

Hama-penyakit merupakan salah satu faktor penentu dalam usaha tani pepaya diman dapat mengakibatkan penurunan kualitas dan kuantitas buah yang dihasilkan (Sujiprihati dan Sukety 2011). Berikut ini beberapa hama-penyakit yang menyerang buah papaya Calina:

a. Kutu putih dan kutu-kutuan

Kutu putih merupakan hama baru tanaman pepaya yang pertama kali ditemukan di Bogor. Hama ini berwarna putih kecil tubuhnya ditutupi selaput benang lembut yang sering kali bergerombolan. Sedangkan serangan kutu daun ditandai dengan timbulnya bercak-bercak kuning pada daun dan daun menjadi kriput. Kutu ini juga berperan sebagai perantara penyakit virus mozaik pepaya. Selain itu terdapat tungau merah mirip laba-laba berukuran kecil kurang dari 1 mm. Gejala awal tanaman terserangnya adalah munculnya bintik-bintik putih pada daun. Lalat buah ini menyebakan buahnya cacat (benjol-benjol) dan rontok-rontok.

b. Penyakit yang disebabkan oleh jamur

Busuk akar dan pangkal batang, gejala ini muncul akibat serangan penyakit misalnya: daun bawah layu, menguning, dan menggantung sebelum akhirnya rontok; akar leteral membusuk dan berbau tidak enak; pada buah dimulai dengan tangkai buah kemudian mengeriput. Kemudian ada penyakit yang bernama antraknosa (buah busuk), pada buah berbentuk luka kecil ditandai adanya getah yang keluar dan mengental. Bila bertambah masak, bulatan membesar dan busuk cekung ke arah dalam.

Layu bakteri menyebabkan daun pepaya menjadi terkulai dan gugur, meskipun di bagian terdapat daun-daun sehat. Pembusukan dapat menjalar sehingga menyebabkan tanaman busuk. Terdapat bercak cincin dapat menyebabkan daun muda berbintik-bintik atau bercak-bercak (daun kurang sehat). Dan terakhir virus mozaik menyebabkan daun tanaman menjadi kasar dan bergaris-garis tidak teratur (mosaik) dan pertumbuhan daun terlambat. Dapat juga menyebabkan daun gugur. Pada buah virus ini menyebabakan timbulnya lingkaran-lingkaran berwarna hijau gelap.

Terdapat enam kendala utama atau faktor-faktor yang memengaruhi pepaya memar dan terserang hama-penyakit, yaitu material, management, men, lingkungan, machine and method. Diagram sebab akibat secara lebih rinci dimuat pada Gambar 8.

Gambar 8 Diagram Tulang Ikan Produk Memar dan Hama-Penyakit

(30)

19 Berdasarkan Gambar 8, penjelasan mengenai faktor-faktor yang memengaruhi pepaya memar dan terserang hama-penyakit adalah:

a. Bahan baku

Proses pencucian pepaya Calina dilakukan dengan menggunakan sabun cair agar kutu putih pada pepaya bersih dan pepaya terlihat mengkilat. Padahal hal ini tidak dibenarkan oleh Standar Nasional Indonesia karena mempengaruhi kehiegenisan produk yang akan mengganggu kesehatan manusia. Petani dapat menguranginya dengan merendam sementara buah dalam air panas. Dan pepaya sering kali dicampur dengan produk lain pada saat penyimpanan baik di prosesor ataupun di retail, hal ini dapat memengaruhi aroma khas pepaya itu sendiri. Serta pemanenan yang dilakukan tidak tepat waktu atau dipaksakan untuk panen dengan tingkat kematangan yang kurang. Jika ingin mengamati tingkat kematangan, perlu diperhatikan jumlah semburat buah pada kulit buah (20%-25% semburat merah).

b. Management

Tidak menerapkan sistem manajemen yang baik antara petani, prosesor, dan retail, seperti kurangnya penerapan Just In Time (JIT), misalnya: distribusi dari petani sampai ke konsumen akhir yang terlalu lama prosesnya, penyimpanan yang terlalu lama pada prosesor dan retail. Kurangnya penerapan Good Handling Practice (GHP), misalnya pada proses pengemasan dari petani dan prosesor yang dikemas menggunakan koran bekas dan transportasi yang kurang memadai dengan jalur distribusi (jalan) yang rusak.

c. Tenaga kerja

Tenaga kerja merupakan aset terpenting dari perusahaan. Produk memar disebabkan perlakuan pekerja, seperti kurang skill dari petani, tenaga kerja pada prosesor dan retail. Kedisiplinan dan kehati-hatian petani pada sortasi melebihi batas toleransi ke prosesor dan pengangkutan produk ke alat transportasi. Sedangkan hama-penyakit disebabkan petani yang tidak merawat kebun dengan baik sehingga diperlukan pengendalian hama-penyakit terpadu dengan menggunakan pupuk organik, seperti pupuk kandang dan kompos. Menjaga kesehatan pekerja (petani) dan kelestarian lingkungan dapat menekan hama-penyakit. Perlakuan hati-hati pada saat panen dan penanganan pascapanen untuk mencegah memar dan pembungkusan buah di pohon untuk mencegah hama-penyakit.

d. Lingkungan

Lingkungan merupakan faktor eksternal yang sulit diatasi seperti perubahan cuaca yang tak menentu sehingga sulit diprediksi oleh petani pada saat budidaya dan menyebabkan penyebaran hama-penyakit semakin tinggi. Sirkulasi udara pada saat transportasi kurang diperhatikan dan biasanya memaksakan tumpukan buah terlalu tinggi, hal ini dapat menyebabkan buah memar (busuk).

e. Machine and method

(31)

20

Strategi Peningkatan Kualitas Identifikasi Analisis SWOT

Analisis Strengths Weakness Opportunity Threats (SWOT) diperlukan untuk merumuskan strategi peningkatan kualitas industri (Marimin 2002). Berdasarkan hasil analisis terhadap kondisi lingkungan internal (kekuatan dan kelemahan) dan lingkungan eksternal (peluang dan ancaman). Faktor-faktor Internal dan eksternal merupakan hasil wawancara atau brainstorming dengan pihak-pihak terkait (petani, prosesor, PKHT, retail dan konsumen ahli) dan referensi dari penelitian-penelitian sebelumnya. Sedangkan Penilaian analisis SWOT dilakukan oleh tiga manajemen ahli di bagian local sourcing area di PT. SSN.

Aspek-aspek yang ditinjau dalam mengidentifikasi faktor-faktor internal, meliputi: manajemen, pemasaran, keuangan, produksi atau operasi, penelitian dan pengembangan, serta sistem informasi manajemen (Farisi 2011). Penilaian faktor-faktor internal yang menjadi kekuatan dan kelemahan dalam peningkatan kualitas pepaya Calina dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6 Matriks Faktor-faktor Internal

Faktor-Faktor Internal Bobot Rating Skor

Terbobot Kekuatan (S)

Kulit pepaya Calina lebih mulus, dagingnya tebal, ukuran

middle, dan rasa lebih manis.

0,127 3,667 0,467

Dapat dipanen lebih cepat dibandingkan pepaya varietas lain.

0,098 3,333 0,327

Hubungan kerjasama yang baik antara petani dan distributor serta penjual

0,127 4,000 0,510

Buah keluarga yang mudah dikonsumsi. 0,108 3,667 0,395 Kelemahan (W)

Penanganan pasca panen belum optimal. 0,127 1,667 0,212

Produksi pepaya belum optimal. 0,108 2,000 0,216

Peralatan pertanian yang masih sederhana. 0,108 2,000 0,216 Kurangnya pengetahuan petani dalam morfologi tanaman. 0,098 1,667 0,163 Keterbatasan modal usaha budidaya pepaya. 0,098 1,667 0,163

Total 1,000 2,670

Menurut Umar (2008), jika nilai skor terbobot di atas 2,50 menandakan perusahaan pada posisi kuat dan sebaliknya. Hasil penilaian matriks faktor-faktor internal diperoleh total nilai skor terbobot 2,670 (lihat pada Tabel 6) menunjukkan faktor-faktor internal dalam kondisi kuat. Kekuatan utama adalah hubungan kerjasama yang baik antara petani dan distributor serta penjual dengan skor sebesar 0,510. Kelemahan utama yang dihadapi adalah kurangnya pengetahuan petani dalam morfologi tanaman dan keterbatasan modal usaha budidaya pepaya dengan skor sebesar 0,163.

(32)

21 Tabel 7 Matriks Faktor-faktor Eksternal

Faktor-Faktor Eksternal Bobot Rating Skor

Terbobot Peluang (O)

Kenaikan nilai ekspor pepaya (Prospek dikembangkan) 0,087 3,333 0,291 Permintaan pepaya Calina yang tinggi 0,107 3,333 0,356 Peningkatan kesadaran masyarakat pentingnya konsumsi

buah

0,117 3,000 0,350

Peningkatan pola hidup sehat (healthy life) 0,117 3,333 0,388

Perkembangan teknologi 0,117 3,333 0,388

Ancaman (T)

Hama dan penyakit yang menyerang 0,126 2,000 0,252

Perubahan cuaca 0,126 1,333 0,168

Perilaku kompetitif pesaing 0,107 2,000 0,214

Adanya buah pepaya varietas lain atau baru yang lebih unggul

0,097 2,000 0,194

Total 1,000 2,602

Berdasarkan Tabel 7 diketahui bahwa total nilai skor terbobot sebesar 2,602. Menurut Umar (2008), jika skor total 4,00 maka perusahaan merespon sangat baik peluang yang ada dan mampu menghindari ancaman yang ada. Sehingga di dapat bahwa dalam rantai pasok dapat memanfaatkan peluang-peluang dengan baik dan mampu mengatasi ancaman-ancaman yang ada. Peluang utama yang dihadapi adalah peningkatan pola hidup sehat dan perkembangan teknologi sebesar 0,388. Ancaman utama yang harus dihadapi adalah adanya perubahan cuaca dengan skor 0,168.

Setelah melakukan identifikasi terhadap faktor-faktor internal dan eksternal maka dapat dibuat matriks SWOT. Matriks SWOT dalam peningkatan kualitas pepaya Calina dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8 Matriks SWOT Peningkatan Kualitas Pepaya Calina

INTERNAL

EKSTERNAL

KEKUATAN / STRENGTHS

(S)

1. Kulit pepaya Calina lebih mulus, dagingnya tebal,

3. Hubungan kerjasama yang baik antara petani dan

PELUANG / OPPORTUNITIES (O)

1. Kenaikan nilai ekspor pepaya (Prospek dikembangkan). 2. Permintaan pepaya Calina yang

tinggi.

3. Peningkatan kesadaran

masyarakat pentingnya konsumsi buah.

4. Peningkatan pola hidup sehat (healthy life).

5. Perkembangan teknologi.

STRATEGI SO

1. Peningkatan kapasitas

produksi, kualitas produk,

dan jaminan keamanan

dengan memperluas

jaringan distribusi. (S1, S2, S3) (O1, O2, O3, O4, O5)

2. Penggunaan teknologi

modern untuk

menghasilkan produk yang bermutu dengan system ramah lingkungan. (S1, S2, S3) (O4,O5)

STRATEGI WO

Penambahan modal investasi untuk penanganan budidaya dan pasca panen yang optimal

sehingga menghasilkan

(33)

22

1. Kulit pepaya Calina lebih mulus, dagingnya tebal, ukuran middle, dan rasa lebih manis.

2. Dapat dipanen lebih cepat dibandingkan pepaya varietas lain.

3. Hubungan kerjasama yang

baik antara petani dan distributor serta penjual.

4. Buah keluarga yang mudah

dikonsumsi

1. Hama dan penyakit yang

menyerang.

2. Perubahan cuaca.

3. Perilaku kompetitif pesaing. 4. Adanya buah pepaya varietas lain

atau baru yang lebih unggul.

STRATEGI ST

1. Budidaya dengan aturan

yang sesuai, pengendalian hama dan penyakit sesuai kebutuhan (tepat cara, tepat dosis, tepat jenis, dan tepat waktu). (S1, S3) (T1, T2, T3)

2. Menjalin kerjasama

kemitraan yang baik

dengan pihak-pihak terkait

untuk mengantisipasi

persaingan usaha dengan tetap menjaga kualitas. (S3, S4) ( T3, T4)

STRATEGI WT

Meningkatkan pengetahuan

petani terkait dengan

budidaya pepaya, baik secara teknis maupun modal melalui

kegiatan sosialisasi dan

pembinaan.

(W1, W2, W4, W5) (T1, T2)

Berdasarkan Tabel 8 diketahui bahwa terdapat empat strategi dalam analisis SWOT, antara lain:

a. Strategi SO (Strengths-Opportunities)

Strategi yang dirumuskan dengan mempertimbangkan kekuatan yang dimiliki untuk memanfaatkan peluang-peluang yang ada seoptimal mungkin (David 2009). Rumusan strateginya adalah peningkatan kapasitas produksi, kualitas produk, dan jaminan keamanan dengan memperluas jaringan distribusi serta penggunaan teknologi modern untuk menghasilkan produk yang bermutu dengan sistem ramah lingkungan.

(34)

23 b. Strategi WO (Weaknesses-Opportunities)

Strategi yang dapat dilakukan untuk mengurangi efek yang muncul dari beberapa kelemahan yang ada dengan memanfaakan peluang-peluang yang ada (David 2008). Strategi WO yang dapat diterapkan adalah penambahan modal investasi untuk penanganan budidaya dan pasca panen yang optimal sehingga menghasilkan produk yang berkualitas. Dalam strategi ini, seharusnya pemerintah, bank, dan pihak-pihak terkait ikut berperan aktif dalam pemberian tambahan modal usaha kepada petani. Diperlukannya penerapan Good Handling Practice (GHP) atau penanganan pasca panen yang baik. Tujuannya untuk meningkatkan dan mempertahankan kualitas, meningkatkan daya saing menekan kerugian sehingga dapat meningkatkan keuntungan yang optimal c. Strategi ST (Strengths-Threats)

Strategi yang digunakan untuk menghindari ancaman dengan memanfaatkan kekuatan yang dimiliki (David 2008). Strategi ST yang dapat diterapkan adalah budidaya dengan aturan yang sesuai, pengendalian hama dan penyakit sesuai kebutuhan (tepat cara, tepat dosis, tepat jenis, dan tepat waktu) serta menjalin kerjasama kemitraan yang baik dengan pihak-pihak terkait untuk mengantisipasi persaingan usaha dengan menjaga kualitas.

Dalam strategi ini, petani harus melakukan budidaya yang sesuai dengan menerapkan Good Agricultural Practice (GAP) dengan mengorganisasikan atau mengintegrasikan antara pengelolaan hama-penyakit dan pengeloaan tanaman yang sesuai aturan secara berkelanjutan. Sehingga menghasilkan pepaya yang aman dikonsumsi, pepaya yang berkualitas, kelestarian lingkungan tetap terjaga, berdaya saing, produktivitas tinggi, dan kesehatan keselamatan kesejahteraan pekerja. Petani melakukan kerjasama dengan berbagai pihak seperti perusahaan (distributor), pemerintah, bank, dan berbagai instansi terkait.

d. Strategi WT (Weaknesses-Threats)

Strategi yang dilakukan dengan meminimalisir kerugian akibat dari kelemahan serta menghindari ancaman-ancaman yang mungkin datang (David 2008). Strategi WT yang dapat diterapkan adalah meningkatkan pengetahuan petani terkait dengan budidaya pepaya, baik secara teknis maupun modal melalui kegiatan sosialisasi dan pembinaan.

Dalam strategi ini, kegiatan sosialisai dan pembinaan dapat dilakukan oleh perusahaan distributor, Dirjen Pertanian, atau instansi perguruan tinggi untuk membantu petani budidaya pepaya dalam menghasilkan produk yang berkualitas.

Strategi Pengambilan Keputusan

Strategi untuk pengambilan keputusan peningkatan kualitas pepaya Calina dengan menggunakan Quantitative Strategy Planning Matrix (QSPM). Alternatif strategi QSPM diperoleh dari matriks SWOT, antara lain:

a. Strategi 1 (S1), yang mana strateginya adalah peningkatan kapasitas produksi, kualitas produk, dan jaminan keamanan dengan memperluas jaringan distribusi.

(35)

24

c. Strategi 3 (S3), strateginya adalah penambahan modal investasi untuk penanganan budidaya dan pasca panen yang optimal sehingga menghasilkan produk yang berkualitas.

d. Strategi 4 (S4), strateginya adalah budidaya dengan aturan yang sesuai, pengendalian hama dan penyakit sesuai kebutuhan (tepat cara, tepat dosis, tepat jenis, dan tepat waktu)

e. Strategi 5 (S5), strateginya adalah menjalin kerjasama kemitraan yang baik dengan pihak-pihak terkait untuk mengantisipasi persaingan usaha dengan tetap menjaga kualitas.

f. Strategi 6 (S6), strateginya adalah meningkatkan pengetahuan petani terkait dengan budidaya pepaya, baik secara teknis maupun modal melalui kegiatan sosialisasi dan pembinaan.

Menurut Husein Umar (2003), nilai Total Attractiveness Score (TAS) dari alternatif strategi yang tertinggi menunjukkan bahwa alternatif strategi itu menjadi pilihan utama dan nilai TAS terkecil menunjukkan pilihan terakhir untuk dipilih. Bobot strategi Quantitative Strategies Planning Matrix (QSPM) dari gabungan tiga pakar perusahaan dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Bobot Strategi QSPM

Strategi Skor Bobot atau TAS Prioritas

S1 (Strategi 1) 6,290 1

Berdasarkan Tabel 9 menunjukkan alternatif strategi yang mempunyai nilai TAS tertinggi sehingga menjadi pilihan utama adalah strategi 1 (S1) berupa peningkatan kapasitas produksi, kualitas produk, dan jaminan keamanan dengan memperluas jaringan distribusi (nilai TAS sebesar 6,290). Dengan strategi tersebut petani dan perusahaan dapat meningkatkan jumlah produksinya, mengurangi kecacatan produk dalam produksi, dan meningkatkan kualitas produk dengan budidaya yang sesuai aturan.

(36)

25 Implikasi Manajerial

Implikasi manajerial dari peningkatan kualitas buah pepaya Calina dapat diklasifikasikan dalam tiga bidang, yaitu produksi, manajemen, dan pemasaran. Pelakunya meliputi petani, prosesor, dan retail. Adapun implikasi manajerialnya adalah sebagai berikut:

a. Produksi 1. Petani

Pada saat budidaya harus dilakukan dengan aturan yang sesuai agar dapat meningkatkan kualitas pepaya Calina dan dibutuhkan penerapan Green Supply Chain Management. Misalnya: pemanenan harus dilakukan pada pagi hari (pukul 07.00-10.00) atau sore hari (pukul 15.00-17.00) saat cuaca cerah, cara memetiknya juga harus diperhatikan, distribusi dan pemasaran yang ramah lingkungan.

2. Petani dan prosesor

Diperlukan penerapan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) untuk keamanan produk dengan mengintegrasikan baik petani maupun prosesor. Dengan membentuk tim HACCP terlebih dahulu sehingga akan diperoleh tindakan koreksi untuk jaminan keamanan produk yang sesuai dengan standar keamanan.

3. Retail

Penggunaan suhu kamar yang dapat menyebabkan buah cepat busuk. Seharusnya tempat penyimpanan suhunya harus dibawah normal (150C) agar produk memiliki daya simpan yang lebih lama sampai tangan konsumen akhir.

b. Manajemen 1. Petani

Diperlukannya penerapan Good Agricultural Practice (GAP) dengan mengorganisasikan atau mengintegrasikan antara pengelolaan hama-penyakit dan pengeloaan tanaman yang sesuai aturan secara berkelanjutan. Petani diberikan pembinaan dan pelatihan tentang GAP dan pemerintah harus melakukan evaluasi secara berkala.

2. Petani dan prosesor

Diperlukannya penerapan Good Handling Practice (GHP) atau penanganan pasca panen yang baik. GHP harus dilakukan secara berkelanjutan dan perlu disosialisasikan lebih mendalam lagi. Tujuannya untuk mempertahankan kualitas dan meningkatkan daya saing sehingga keuntungan dapat optimal.

3. Petani, prosesor, dan retail

Penerapan Just In Time (JIT) atau disebut sistem tepat waktu pada petani, prosesor, dan retail. Misalnya: proses pemesanan pepaya dari petani dilakukan secara tepat waktu, distribusi dari petani ke tangan konsumen akhir dilakukan secara tepat dan hati-hati,

c. Pemasaran

(37)

26

mengikuti expo-expo dan menggunakan jejaring sosial (web, facebook, twitter,

path, instagram, dan lain-lain). Dengan adanya promosi tersebut diharapkan permintaan pepaya Calina akan meningkat dan dapat semakin dikenal di pangsa pasar luar negeri.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan atribut utama keinginan konsumen terhadap kualitas pepaya Calina adalah rasa manis, warna daging, dan tektur daging buah. Analisis Quality Function Deployment (QFD) menunjukkan aktivitas pada rantai pasok yang memiliki tingkat kepentingan paling tinggi terhadap aktivitas lainnya, yaitu pemeliharaan dalam budidaya dengan nilai kepentingan sebesar 525 dan nilai relatif sebesar 0,115 untuk memenuhi kepuasan pelanggan.

Dalam menghasilkan pepaya berkualitas, terdapat dua atribut yang mengalami ketidaksesuaian mutu karena belum mencapai target dari tingkat kepuasan dan termasuk tujuh tertinggi dari prioritas analisis QFD, yaitu produk memar dan terserang hama-penyakit. Penyebabnya adalah bahan baku,

management, tenaga kerja, lingkungan, machine and method yang harus ditindak lanjuti.

Kekuatan utama peningkatan kualitas adalah hubungan kerjasama yang baik antara petani dan distributor serta penjual dengan skor sebesar 0,510. Kelemahan utama yang dihadapi adalah kurangnya pengetahuan petani dalam morfologi tanaman dan keterbatasan modal usaha budidaya pepaya dengan skor sebesar 0,163. Peluang utama yang dihadapi adalah peningkatan pola hidup sehat dan perkembangan teknologi sebesar 0,388. Ancaman utama yang harus dihadapi adalah adanya perubahan cuaca dengan skor 0,168. Dan rumusan strategi yang terpilih dalam peningkatan kualitas pepaya Calina adalah peningkatan kapasitas produksi, kualitas produk, dan jaminan keamanan dengan memperluas jaringan distribusi karena mempunyai nilai Total Attractiveness Score tertinggi sebesar 6,290.

Saran

Berdasarkan yang telah dilakukan, maka saran yang dapat diajukan adalah perlu diterapkannya implikasi manajerial pada petani, prosesor, retail dan kemitraannya yang terintegrasi secara berkelanjutan. Perusahaan harus melakukan survei atau riset secara berkala untuk mengetahui kebutuhan dan keinginan konsumen terhadap atribut kualitas. Penelitian selanjutnya diharapkan menganalisis pengendalian mutu atau pemantauan proses dengan alat analisis selain diagram sebab-akibat, misalnya menggunakan diagram pareto, diagram pencar, grafik kendali, dan yang lainnya. Dan penentuan strategi dalam proses pengambilan keputusan disarankan menggunakan Analytical Hierarchy Process

(38)

27

UCAPAN TERIMA KASIH

Penelitian ini mendapat pendanaan dari Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi khususnya Hibah Penelitian Dasar untuk Bagian melalui oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Nasional melalui Dana DIPA IPB Tahun Anggaran 2013 KODE MAK: 2013.089.521219.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin. 2001. Menciptakan Kepuasan Total Pelanggan melalui Penggunaan

Quality Function Deloyment pada Agribisnis Sayuran. J Teknol Indust Pangan. 12(2):147-155.

Adiarni N, Jamaran I, Fauzi M, Marimin, Machfud, Sjarief. 2007. Rekayasa Sistem Rantai Pasok Berbasis Jaringan pada Bahan Baku Agroindustri Farmasi. Forum Pasca. 30(2) April:93-10.

Bertschinger L, Corella-Grappadelli L, Derkx M, Hall S, Kockerols K, Sijtsema S, Steiner S, Lans Van D, Schaik, A, Zimmermann. 2009. A search for systematic method to bridge between pre-harvest, post-harvest, and consumen research aimed at increasing fruit consumption: The “Vasco da Gama” Process.

J Horti Science Biotechno. 1(1):2-6

David, Fred R. 2009. Manajemen Strategis: Konsep. Dono Sunardi, penerjemah. Jakarta (ID): Salemba Empat. Terjemahan dari Management strategies: consept. Ed ke-12.

[Ditjen Hortikultura] Direktorat Jenderal Hortikultura. 2013. Departemen Pertanian [Internet]. [diunduh 2013 Jan 20]. Tersedia pada: http// hortikultura.deptan.go.id/.

Farisi, A. K. 2011. Strategi Pengembangan Usaha Pepaya California (Studi kasus: Gapoktan Lembayung Desa Cikopomayak, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor) [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Indrajit, R. E dan Djokopranoto R. 2006. Konsep Manajemen Supply Chain Cara Baru Memandang Mata Rantai Penyediaan Barang. Jakarta (ID): Grasindo. Marimin. 2002. Kajian Strategi Peningkatan Kualitas Produk Industri Sayuran

Segar (Studi Kasus di Sebuah Agroindustri Sayuran Segar). J Teknol Indust Pangan. 13(3):224-233.

Marimin. 2004. Teknik dan Aplikasi Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk. Jakarta (ID): Gramedia Widiasarana Indonesia.

Nasution, N. 2005. Manajemen Mutu Terpadu. Ed ke-2. Jakarta (ID): Ghalia Indonesia.

Nugroho, B. A. 2005. Strategi Jitu Memilih Metode Statistik Penelitian dengan SPSS. Yogyakarta (ID): CV. Andi Offset.

[QFD Institute] Quality Function Deployment Institute. 2013. What is QFD?

[Internet]. [diunduh 2013 Jan 20]. Tersedia pada: http//qfdi.org/,

Gambar

Gambar 4 Matriks Analisis SWOT (Umar 2008)
Gambar 5 Rantai Pasok Pepaya Calina
Tabel 3 Bobot Atribut Kualitas Pepaya Calina
Tabel 4 Karakteritik Konsumen Pepaya Calina
+6

Referensi

Dokumen terkait

Nilai ini dikalikan dengan bobot nilai untuk kriteria daya tarik areal yatitu , sehingga nilai untuk kriteria daya tarik areal Kawasan Ekowisata Air Merah menjadi 123,15 X  =

Di lihat pada hasil rata - rata penimbangan berat badan tikus tiap kelompok perlakuan diatas terdapat perbedaan berat badan antara kelompok perlakuan dengan

Hasil penelitian menyebutkan bahwa Masyarakat desa Tuwiri Kulon memiliki berbagai macam persepsi, yang pertama menganggap petung weton merupakan suatu metode

34 minggu 1 hari dengan kehamilan normal di BPM Sukatmiati, Amd.Keb Ngemplak, Ngudirejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Metode

Sementara pelaksanaan UAS (Ujian Akhir Semester) dilakukan secara serentak sesuai dengan jadwal pada kelender akademik yang telah ditetapkan oleh Biro

Tidak semua turnover memberi dampak negatif bagi suatu organisasi karena kehilangan beberapa angkatan kerja sangat diinginkan, terutama apabila karyawan-karyawan yang keluar adalah

Gambar 4.12 Hasil grafik Sistem PV Synchronous buck converter dengan beban

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa analisis kariotipe dapat membantu dalam menentukan kedudukan suatu takson (Primack 1987).Variasi dari kariotipe dalam satu spesies yang