Perlakuan Priming Benih untuk Mempertahankan Vigor Benih Kacang Panjang (Vigna unguiculata) Selama Penyimpanan

26  57  Download (0)

Teks penuh

(1)

PERLAKUAN PRIMING BENIH UNTUK

MEMPERTAHANKAN VIGOR BENIH KACANG PANJANG

(

Vigna unguiculata

) SELAMA PENYIMPANAN

ESTY PURI UTAMI

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Perlakuan Priming Benih untuk Mempertahankan Vigor Benih Kacang Panjang (Vigna unguiculata) Selama Penyimpanan adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

(4)

ABSTRAK

ESTY PURI UTAMI. Perlakuan Priming Benih untuk Mempertahankan Vigor Benih Kacang Panjang (Vigna unguiculata) Selama Penyimpanan. Dibimbing oleh MARYATI SARI dan ENY WIDAJATI.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh priming dalam mempertahankan vigor benih kacang panjang selama dalam penyimpanan. Perlakuan priming yang dilakukan adalah perendaman benih dalam air, KNO3,

CaCl2, asam askorbat, dan pelembapan diantara kertas selama dua jam. Perlakuan

priming menyebabkan peningkatan kadar air benih hingga sekitar 9%, sedangkan perlakuan pelembapan diantara kertas hanya meningkatkan kadar air 1-2 % dibanding kontrol. Setelah selesai perlakuan, benih dikeringkan kembali hingga kadar air 12-13% lalu disimpan di ruang kamar (26-30.8 °C; RH 68-77 %) dan AC (±20 °C; RH ±50%) menggunakan plastik polipropilen (tebal 0.08 mm). perlakuan dengan perendaman dalam air,CaCl2, KNO3, dan asam askorbat dapat meningkatkan indeks vigor dan kecepatan tumbuh benih serta dapat dipertahankan hingga akhir penyimpanan (15 minggu). Perlakuan perendaman dalam air dapat menjadi pilihan terbaik sebagai perlakuan benih sebelum simpan karena murah dan mudah dilakukan serta memberikan hasil yang baik.

Kata kunci: kacang panjang, priming, penyimpanan, vigor

ABSTRACT

ESTY PURI UTAMI. Seed Priming to Maintain Vigor of Longbean Seed during Storage. Supervised by MARYATI SARI and ENY WIDAJATI.

The objective of this research was to study the effect of priming to maintain vigor of longbean seeds during storage. The treatments were priming in water, KNO3, CaCl2, ascorbic acid, and imbibition beetwen papers for two hours.

Osmoconditioning and hydropriming increased seeds moisture content about 9% whereas imbibition between papers increased about 1-2% over the control. After teatment, the seeds were dryed back to reduce moisture content to about 12-13% and then stored in ambient (26-30.8 °C; RH 68-77 %) and AC (±20 °C; RH ±50%) temperature packed in polypropilen plastic bags (thick 0.08 mm). Hydropriming, priming in CaCl2, KNO3, and ascorbic acid solution increased

vigor index and speed of germination longbean seeds. The advantages of these treatments could be maintained until 15 weeks of storage, both in AC and ambient temperature. Hydropriming was the best choice for seed treatment before storage, because it was inexpensive and easy to applied.

(5)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian

pada

Departemen Agronomi dan Hortikultura

PERLAKUAN PRIMING BENIH UNTUK

MEMPERTAHANKAN VIGOR BENIH KACANG PANJANG

(

Vigna unguiculata

) SELAMA PENYIMPANAN

ESTY PURI UTAMI

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(6)
(7)

Judul Skripsi : Perlakuan Priming Benih untuk Mempertahankan Vigor Benih Kacang Panjang (Vigna unguiculata) Selama Penyimpanan Nama : Esty Puri Utami

NIM : A24090185

Disetujui oleh

Maryati Sari, SP, MSi

Pembimbing I Dr Ir Eny Widajati, MS Pembimbing II

Diketahui oleh

Dr Ir Agus Purwito, MScAgr Ketua Departemen

(8)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan pada bulan Mei 2013 ini ialah invigorasi, dengan judul Perlakuan Priming Benih untuk Mempertahankan Vigor Benih Kacang Panjang (Vigna unguiculata) Selama Penyimpanan.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Hermanto Kristiansyah dan Ibu Lily Nurlaeli, selaku orang tua yang memberikan dukungan tak terhingga baik moril, materil, dan kasih sayang kepada penulis, Ibu Maryati Sari dan Ibu Eny Widajati selaku pembimbing, serta Ibu Endah R. Palupi sebagai penguji yang telah banyak memberi saran dan ilmu kepada penulis.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, September 2013

(9)

DAFTAR ISI

 

DAFTAR TABEL viii 

DAFTAR GAMBAR viii 

PENDAHULUAN 1 

Latar Belakang 1 

Tujuan Penelitian 2 

TINJAUAN PUSTAKA 2 

Kemunduran Benih 2 

Invigorasi 2  METODE 3 

Tempat dan Waktu 3 

Bahan dan Alat 3 

Prosedur Percobaan 3 

Pengamatan 4 

Prosedur Analisis Data 6 

HASIL DAN PEMBAHASAN 6 

Percobaan 1: Invigorasi untuk Mempertahankan Vigor Benih Kacang Panjang

Selama Penyimpanan pada Ruang AC 7 

Percobaan 2: Invigorasi untuk Mempertahankan Vigor Benih Kacang Panjang

Selama Penyimpanan pada Ruang Kamar 9 

SIMPULAN DAN SARAN 13 

Simpulan 13  Saran 13 

DAFTAR PUSTAKA 13 

(10)

DAFTAR TABEL

1 Perubahan kadar air benih setelah invigorasi 6  2 Pengaruh interaksi perlakuan invigorasi dan periode simpan terhadap KA (%)

pada penyimpanan ruang AC 8 

3 Rekapitulasi analisis ragam pengaruh perlakuan invigorasi dan periode simpan

pada ruang AC terhadap viabilitas benih 8 

4 Pengaruh perlakuan periode simpan terhadap DB, IV, KCT, dan LPK pada

penyimpanan ruang AC 8 

5 Pengaruh perlakuan invigorasi terhadap DB, IV, KCT, dan LPK pada

penyimpanan ruang AC 9 

6 Pengaruh interaksi perlakuan invigorasi dan periode simpan terhadap KA (%)

pada ruang simpan kamar 10 

7 Rekapitulasi analisis ragam pengaruh perlakuan invigorasi dan periode simpan pada ruang kamar terhadap viabilitas benih 10  8 Pengaruh interaksi perlakuan invigorasi dan periode simpan terhadap DB (%)

pada ruang simpan kamar 11 

9 Pengaruh interaksi antara perlakuan invigorasi dan periode simpan terhadap

LPK (g KN-1) pada ruang simpan kamar 11 

10 Pengaruh periode simpan terhadap IV dan KCT pada ruang simpan kamar 12 

11 Pengaruh perlakuan invigorasi terhadap IV dan KCT pada ruang simpan kamar

12 

DAFTAR GAMBAR

1 Benih yang sudah dikemas 4 

(11)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kacang panjang (Vigna unguiculata) merupakan salah satu sayuran yang sering ditemui baik di supermarket maupun di pasar-pasar tradisional. Kacang panjang dapat dirancang sebagai komoditas yang mempunyai nilai gizi dan nilai ekonomi yang tinggi. Luas panen kacang panjang di Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun 2008 hingga tahun 2010. Luas panen kacang panjang pada tahun 2008 adalah 83 493 ha, tahun 2009 meningkat menjadi 83 796 ha, dan sampai tahun 2010 luas panennya mencapai 85 828 ha (BPS 2011), sehingga diperlukan ketersediaan benih bermutu yang dapat menunjang keberhasilan produksinya.

Penyediaan benih kacang panjang bermutu, merupakan salah satu kunci keberhasilan produksi kacang panjang. Benih bermutu biasanya dicirikan dengan viabilitas dan vigor yang tinggi. Jaminan terhadap mutu benih diberikan melalui adanya program sertifikasi benih yang memberikan jaminan terhadap mutu fisik, genetik dan fisiologis. Penyimpanan yang baik dapat mempertahankan mutu fisiologis, yakni viabilitas dan vigor benih tetap tinggi sampai saat benih tersebut ditanam. Mutu fisiologis pasti menurun seiring dengan berjalannya waktu baik secara cepat maupun lambat. Benih yang menurun mutunya ini mengalami deteriorasi. Upaya meningkatkan mutu benih dapat dilakukan dengan invigorasi. Invigorasi dapat berupa priming/osmoconditioning (Widajati et al. 2013) dan matriconditioning (Ilyas 2012).

Invigorasi biasanya digunakan sebagai perlakuan pratanam untuk meningkatkan kembali viabilitas benih yang mulai berkurang. Penelitian tentang invigorasi sebagai perlakuan pratanam telah banyak dilakukan, diantaranya oleh Farooq et al. (2006), benih padi KS 282 yang diberi perlakuan osmohardening dengan KCl dan CaCl2 memiliki daya berkecambah (87.70%) lebih tinggi

dibandingkan dengan kontrol (79.7%). Senada dengan hal tersebut, Lamtiar (2010) menyatakan bahwa kecepatan tumbuh benih kacang panjang yang diberi perlakuan priming lebih tinggi (33.81% etmal-1) dibanding kontrol (29.29% etmal-1). Penelitian Namadev (2010) juga menunjukkan perlakuan hydropriming dengan GA3 dan CaCl2

meningkatkan perkecambahan benih wijen menjadi 97.67% dan 96.00% dibanding kontrol 89.67%. Penelitian Ruliansyah (2011) menunjukkan bahwa perlakuan invigorasi yang dikenakan pada benih kedelai memberikan peningkatan sangat nyata terhadap daya berkecambah, kecepatan tumbuh, keserempakan tumbuh, dan laju pertumbuhan kecambah.

(12)

2

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh priming dalam mempertahankan vigor benih kacang panjang selama penyimpanan.

TINJAUAN PUSTAKA

Kemunduran Benih

Kualitas benih terbaik didapatkan saat benih mencapai masak fisiologis, yang dicirikan oleh berat kering, viabilitas dan vigor benih maksimum serta kadar air benih yang minimum. Setelah mencapai masak fisiologis, pada umumnya benih mengalami kemunduran bertahap yang pada akhirnya benih tersebut kehilangan viabilitas maupun vigornya dan berujung mati. Proses kemunduran kondisi benih pasca masak fisiologis inilah yang disebut deteriorasi (Utomo 2011).

Kemunduran benih merupakan proses penurunan mutu benih secara berangsur-angsur dan kumulatif serta tidak dapat balik pada kondisi awal (irreversible) akibat perubahan fisiologis di dalam benih. Kemunduran benih adalah mundurnya mutu fisiologis benih yang dapat menimbulkan perubahan menyeluruh di dalam benih, baik fisik, fisiologi maupun kimiawi yang mengakibatkan menurunnya viabilitas benih (Utomo 2011).

Kemunduran benih dipengaruhi oleh genetik, kadar air benih dan suhu. Indikasi fisiologi dari kemunduran benih diantaranya perubahan warna benih, meningkatnya jumlah kecambah abnormal, pertumbuhan bibit yang berkurang dan toleransi yang berkurang terhadap kondisi suboptimum selama perkecambahan (Mugnisjah 2007). Indikator lain kemunduran benih adalah banyaknya kecambah abnormal yang tumbuh, enzim menjadi aktif, terjadinya kebocoran sel benih, keragaman benih meningkat, perubahan warna benih, laju perkecambahan lambat, benih tidak berkecambah, dan benih mati (Utomo 2011). Kemunduran benih tidak bisa dihentikan namun dapat diperlambat. Beberapa teknik yang biasa digunakan sebagai alternatif dalam upaya memperlambat deteriorasi diantaranya pemanenan saat benih mencapai masak fisiologis, prosesing benih secara benar, penyimpanan benih pada suhu dan kadar air tertentu, dan yang terakhir adalah perlakuan invigorasi pada benih yang telah mundur (Utomo 2011).

Invigorasi

Invigorasi merupakan suatu proses yang dilakukan untuk meningkatkan vigor benih yang telah mengalami deteriorasi atau kemunduran. Selama invigorasi terjadi peningkatan kecepatan dan keserempakan perkecambahan, serta mengurangi tekanan lingkungan yang kurang menguntungkan. invigorasi banyak dilakukan sebagai perlakuan pratanam. Invigorasi dimulai saat benih berhidrasi secara terkontrol pada medium imbibisi yang berpotensial air rendah (Ilyas 2012).

(13)

3 perlakuan hidrasi benih terkontrol dengan larutan berpotensi osmotik rendah dan potensial matriknya dapat diabaikan (Khan et al. 1990). Matriconditioning adalah perlakuan hidrasi benih terkontrol dengan media padat lembap berpotensi matrik rendah dan potensial osmotiknya dapat diabaikan (Khan 1992). Priming dan matriconditioning dapat diintegrasikan dengan hormon, seperti GA3, untuk

meningkatkan perkecambahan. Selain itu, bisa pula dengan pestisida, biopestisida, mikroba (Ilyas 2012), dan juga antioksidan.

Invigorasi sebagai perlakuan pratanam maupun prasimpan sudah banyak dilakukan. Invigorasi sebagai perlakuan pratanam diantaranya dilakukan oleh Nemadev (2010), Assefa et al. (2010), Ruliansyah (2011). Ketiganya menunjukkan bahwa benih dengan perlakuan invigorasi memberikan performa yang lebih baik dibanding kontrol pada penanaman di lapang. Invigorasi sebagai perlakuan prasimpan juga telah banyak dilakukan, diantaranya oleh Owen dan Pill (1994), Basra et al. (2003), Sedghi et al. (2012) yang menunjukkan bahwa benih dengan perlakuan invigorasi mampu mempertahankan vigornya selama penyimpanan, namun tidak semuanya menunjukkan hasil yang positif. Yullianida dan Murniati (2005) menunjukkan bahwa perlakuan matriconditioning dengan tambahan zat antioksidan pada benih bunga matahari tidak cocok dilakukan sebagai perlakuan prasimpan. Kalsa et al. (2011) juga menunjukkan bahwa perlakuan hydropriming berpengaruh negatif terhadap daya berkecambah benih Vicia sativa.

METODE

Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, IPB. Penelitian dilakukan pada bulan Mei hingga Agustus 2013.

Bahan dan Alat

Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih kacang panjang varietas Wulung dengan daya berkecambah awal ±85%. Bahan untuk perlakuan priming adalah air, kertas CD, KNO3, CaCl2, dan asam askorbat. Plastik

polipropilen (tebal 0.08 mm) untuk wadah penyimpanan, dan kertas merang sebagai media pengecambah. Alat yang digunakan untuk penelitian ini adalah oven, alat pengepres kertas, alat pengecambah benih IPB 72-1, timbangan, gelas ukur, dan kotak mika.

Prosedur Percobaan

(14)

4

kedua dalam ruang kamar (suhu 26-30.8 °C, RH 68-77%). Masing-masing percobaan dilakukan dengan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dua faktor, yaitu faktor perlakuan invigorasi dan periode simpan. Perlakuan invigorasi terdiri atas perendaman dalam air (hydropriming), priming yang terdiri dari perendaman dalam CaCl2, KNO3, dan asam askorbat serta pelembapan dengan kertas.

Masing-masing perlakuan dilakukan selama dua jam. Perbandingan benih dan larutan 1:5 (w:v). Konsentrasi CaCl2, KNO3, dan asam askorbat yang digunakan

dalam priming masing-masing adalah 22.2 g L-1, 30 g L-1 (Basra et al. 2004), 10 mg L-1 (Farooq et al. 2006).

Benih kontrol dan benih yang telah diberi perlakuan invigorasi kemudian dikeringkan dan dimasukkan ke dalam plastik (Gambar 1). Setelah itu, benih disimpan di ruang AC dan kamar. Pengamatan dilakukan terhadap daya berkecambah (DB), kecepatan tumbuh (KCT), kadar air (KA), indeks vigor (IV), dan

laju pertumbuhan kecambah (LPK) pada 0, 3, 6, 9, 12, dan 15 minggu penyimpanan.

Gambar 1 Benih setelah diberi perlakuan dan dikemas

Pengamatan

1. Daya berkecambah (DB)

Pengamatan daya berkecambah dilakukan terhadap jumlah kecambah normal (Gambar 2) pada hitungan I (3 HST) dan hitungan II ( 5 HST). Perhitungan rumus DB sebagai berikut:

DB =

∑ KN I ∑ KN II

x 100%

(15)

5

Gambar 2 Kecambah normal dan abnormal benih kacang panjang

2. Kecepatan tumbuh (KCT)

Kecepatan tumbuh diperhitungkan sebagai akumulasi kecepatan tumbuh setiap hari dalam unit tolok ukur persentase per hari.

Perhitungan rumus kecepatan tumbuh (KCT) sebagai berikut:

K

CT

=

N

Keterangan: KCT = Kecepatan tumbuh benih.

Ni = Presentase kecambah nornal setiap waktu pengamatan. t = Waktu pengamatan.

T = Waktu akhir pengamatan 3. Kadar air (KA)

Pengujian kadar air dilakukan dengan menggunakan metode langsung. Benih sebanyak ±5 gram di oven pada suhu 103 ± 2 selama 17 jam jam. Perhitungan rumus kadar air KA sebagai berikut:

KA BB BKBB %

Keterangan: KA = Kadar air benih.

BB = Berat basah (sebelum dioven) BK = Berat kering (setelah dioven) 4. Indeks vigor (IV)

(16)

6

IV ∑ Benih yang ditanamKN %

Keterangan : IV = Indeks vigor 5. Laju pertumbuhan kecambah (LPK)

Laju pertumbuhan kecambah diperoleh dengan menimbang kecambah normal yang telah dioven pada suhu 80 °C selama 24 jam dibagi dengan kecambah normal. Satuannya adalah g KN-1. Perhitungan rumus laju pertumbuhan kecambah sebagai berikut:

LPK Berat kering kecambah normal gram∑ Kecambah normal

Prosedur Analisis Data

Data yang diperoleh dari masing-masing percobaan dianalisis dengan uji F. Data yang berbeda nyata diuji lanjut dengan uji Duncan pada taraf 5%. Semua data diolah menggunakan software SAS versi 9.0.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Perbedaan waktu perendaman mengakibatkan perbedaan kadar air setelah invigorasi. Perlakuan perendaman dalam air (hydropriming) selama 10 jam pada suhu kamar (25-28°C) mengakibatkan peningkatan kadar air benih kacang panjang yang sangat tinggi menjadi 43.93% (kontrol 6.46%) (Lamtiar 2010). Peningkatan kadar air yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan kerusakan serius bila benih kemudian dikeringkan kembali untuk disimpan. Pada percobaan ini, proses invigorasi hanya dilakukan selama dua jam sehingga peningkatan kadar air tidak terlalu tinggi (Tabel 1).

Tabel 1 Perubahan kadar air benih setelah invigorasi Perlakuan invigorasi Kadar air (%)

Kontrol 8.75

Pelembapan kertas 9.17

Perendaman air 17.76

Perendaman CaCl2 18.90

Perendaman KNO3 18.88

Perendaman asam askorbat 18.86

Benih yang telah diinvigorasi dikeringkan kembali hingga mencapai kadar air aman untuk disimpan, yaitu 8-9%, namun pada penelitian ini benih yang diberi perlakuan priming perendaman dalam air, CaCl2, KNO3, dan asam askorbat

(17)

7 retak-retak pada permukaan benih. Perlakuan pelembapan di antara kertas mengakibatkan benih menjadi keriput. Perlakuan dengan perendaman dalam KNO3

menyebabkan berubahnya warna kulit benih menjadi kebiruan, lebih kusam dari pada benih kontrol. Retak-retak pada permukaan kulit benih dan perubahan warna menjadikan penampilan benih kurang menarik dan menurunkan mutu fisik dari benih itu sendiri. Hal ini menjadi kelemahan dari teknik hydropriming dan priming/osmoconditioning untuk penyimpanan.

Mutu benih terdiri dari mutu fisik, fisiologis, dan genetik. Ketiga-tiganya harus tetap dipertahankan selama dalam penyimpanan hingga siap untuk ditanam. Benih yang mengalami deteriorasi dicirikan dengan menurunnya ketiga mutu tersebut. Mutu fisik yang sudah menurun dicirikan dengan perubahan warna yang lebih kusam dan keriput dari keadaan awalnya (Justice dan Bass 2002).

Pengeringan harus dilakukan secara hati-hati. Suhu pengeringan tidak boleh lebih dari 43.3 °C bagi benih yang sangat lembap dan pada benih yang cukup kering suhu pengeringan tidak boleh melebihi 54.4 °C (Justice dan Bass 2002). Pengeringan yang terlalu cepat dapat pula menyebabkan impermeabilitas kulit benih melalui perubahan struktur testa pada beberapa jenis benih. Bagian luar benih menjadi keras tetapi bagian dalamnya masih basah (Sutopo 2004).

Pengeringan kembali setelah priming merupakan tahap paling kritis dalam penentuan kualitas benih. Bruggink et al. (1999) menyatakan bahwa beberapa perlakuan setelah priming dapat mencegah penurunan daya simpan benih yang sudah dipriming. Perlakuan yang dapat dilakukan untuk mencegah penurunan daya simpan diantaranya inkubasi PEG, pengeringan secara lambat dalam RH 75% dan heat shock treatment pada suhu 40°C selama tiga jam, sedangkan menurut Sedghi et al. (2012) suhu yang paling baik untuk pengeringan kembali benih Calendula officinalis yang telah dihydropriming adalah 20-30°C. Suhu yang tidak terlalu tinggi akan meningkatkan toleransi terhadap desikasi dan pengeringan pun berhasil.

Percobaan 1: Invigorasi untuk Mempertahankan Vigor Benih Kacang Panjang Selama Penyimpanan pada Ruang AC

Benih kontrol dan benih dengan perlakuan pelembapan di antara kertas disimpan pada kadar air kurang dari 10%, sedangkan benih dengan priming dalam air, CaCl2, KNO3, dan asam askorbat disimpan dengan kadar air ± 13% karena

pengeringan lebih lanjut pada benih tersebut mengakibatkan keretakan pada permukaan benih. Selama penyimpanan kadar air benih mengalami fluktuasi, namun secara umum dapat dilihat bahwa kemasan polipropilen yang digunakan relatif mampu mempertahankan kadar air benih kacang panjang (Tabel 2). Suhu ruang simpan adalah ±20 °C dan kelembapannya ±50%.

Hasil analisis ragam menunjukkan periode simpan berpengaruh sangat nyata terhadap semua tolok ukur. Perlakuan invigorasi berpengaruh sangat nyata terhadap indeks vigor dan kecepatan tumbuh. Interaksi antara perlakuan invigorasi dan periode simpan tidak berpengaruh nyata terhadap semua tolok ukur (Tabel 3).

(18)

8

(Anwar 2009) dan kacang tanah (Cahyono 2001). Laporan mengenai adanya dormansi pada benih kacang panjang sejauh ini belum ditemukan, namun pada beberapa spesies Vigna lainnya sudah ditemukan adanya dormansi. V. membranacea, V. oblongifolia, V. racemosa, V. schimperi, dan V. vexillata memiliki kulit benih yang keras sehingga menghambat perkecambahan benih (Wary et al. 2007).

Tabel 2 Pengaruh interaksi perlakuan invigorasi dan periode simpan terhadap KA (%) pada penyimpanan ruang AC

Invigorasi Periode simpan

0 3 6 9 12 15

Kontrol 9.96k 7.69no 8.04no 7.92no 8.12mo 7.99no

Perendaman air 13.72ab 13.17a-e 13.98a 14.10a 11.54h-j 13.77ab

Pelembapan kertas 9.14lm 9.11lm 9.11lm 8.25m-o 8.92l-n 9.36l

Perendaman CaCl2 12.81b-g 12.55c-f 12.01f-i 12.18e-i 10.84jk 12.42d-g

Perendaman KNO3 13.33a-d 13.48a-d 13.16a-e 12.84b-g 11.29ij 13.41a-f

Perendaman asam askorbat 13.61a-c 13.61a-c 13.31a-d 13.30a-d 11.85g-i 13.01a-f

Keterangan : KK = 5.04%

Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata berdasarkan uji Duncan

5%

Tabel 3 Rekapitulasi analisis ragam pengaruh perlakuan invigorasi dan periode simpan pada ruang AC terhadap viabilitas benih

Tolok ukur tn = tidak berpengaruh nyata

Tabel 4 Pengaruh perlakuan periode simpan terhadap DB, IV, KCT, dan LPK pada

penyimpanan ruang AC 0 minggu 77.33b 42.44c 25.28d 0.047c 3 minggu 94.22a 72.22a 37.34a 0.058b 6 minggu 95.56a 78.00a 34.70b 0.065ab 9 minggu 92.83a 55.28b 35.51ab 0.068a 12 minggu 93.56a 56.67b 29.22c 0.069a 15 minggu 95.47a 29.88d 25.58d 0.056b Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom menunjukkan berbeda nyata berdasarkan uji

(19)

9 Perlakuan priming mampu meningkatkan vigor benih kacang panjang selama penyimpanan berdasarkan nilai indeks vigor dan kecepatan tumbuh meskipun daya berkecambah dan laju pertumbuhan kecambah tidak nyata. Tabel 5 menunjukkan priming dengan perendaman dalam air, CaCl2, KNO3, dan asam askorbat memiliki

nilai indeks vigor dan kecepatan tumbuh nyata lebih tinggi dibanding kontrol. Diantara keempat perlakuan tersebut, perlakuan yang tidak memerlukan biaya tinggi dan bahannya mudah didapatkan adalah perlakuan dengan perendaman dalam air. Tabel 5 Pengaruh perlakuan invigorasi terhadap DB, IV, KCT, dan LPK pada

penyimpanan ruang AC Perendaman air 92.00 62.94a 33.85a 0.060 Pelembapan kertas 92.67 48.44b 29.78bc 0.058 Perendaman CaCl2 92.00 58.44a 32.07ab 0.061

Perendaman KNO3 89.11 65.00a 32.02ab 0.066

Perendaman asam askorbat 89.94 60.22a 31.82ab 0.058 Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom menunjukkan berbeda nyata berdasarkan uji Duncan

5%

Penelitian tentang penyimpanan benih yang telah dipriming telah banyak dilakukan untuk jenis benih lain. Owen dan Pill (1994) menunjukkan benih asparagus yang sudah dipriming lalu dikeringanginkan kemudian disimpan pada suhu 4 °C memiliki daya berkecambah yang lebih baik setelah tiga bulan penyimpanan dibanding kontrol (96.00 % dibanding kontrol 91.00 %) dan benih asparagus yang sudah dipriming lalu dikeringanginkan kemudian disimpan pada suhu 20 °C memiliki daya berkecambah 89.00 %, sedangkan kontrol 87.00 %. Penelitian Basra et al. (2003) menunjukkan benih kanola yang diberi perlakuan osmopriming selama empat jam dengan PEG-10000 kemudian disimpan dapat mempertahankan vigornya hingga enam bulan penyimpanan dalam suhu rendah. Dalam penelitian ini, perlakuan priming dengan perendaman dalam air, CaCl2,

KNO3, dan asam askorbat selama dua jam mampu mempertahankan indeks vigor dan

kecepatan tumbuh tetap tinggi selama dalam penyimpanan ruang AC.

Percobaan 2: Invigorasi untuk Mempertahankan Vigor Benih Kacang Panjang Selama Penyimpanan pada Ruang Kamar

(20)

10

Hasil pengukuran kadar air benih pada ruang simpan kamar hampir sama polanya dengan kadar air pada ruang AC. Kemasan polipropilen yang digunakan relatif mampu mempertahankan kadar air benih dengan baik, meskipun terdapat fluktuasi ( Tabel 6).

Tabel 6 Pengaruh interaksi perlakuan invigorasi dan periode simpan terhadap KA (%) pada ruang simpan kamar

Invigorasi Periode simpan

0 3 6 9 12 15

Kontrol 7.53jk 8.07i-k 6.94k 8.67h-k 8.88h-k 9.22g-k

Perendaman air 13.72bc 14.3ab 13.96b 16.18a 11.01d-h 13.79bc

Pelembapan kertas 9.20gk 9.55g-j 10.10g-i 10.14g-i 9.04h-k 10.18g-i

Perendaman CaCl2 12.81b-f 12.65b-f 11.48c-g 12.59b-f 10.75e-h 12.82b-f

Perendaman KNO3 13.33bc 13.82bc 13.22b-d 13.05b-e 10.86e-h 13.42b-c

Perendaman asam askorbat 13.61bc 14.01b 7.11k 13.39bc 10.73f-h 13.36bc

Keterangan : KK = 10.36%

Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata berdasarkan uji Duncan

5%

Hasil analisis ragam terhadap data viabilitas benih pada penyimpanan dalam ruang kamar menunjukkan bahwa periode simpan berpengaruh sangat nyata terhadap semua tolok ukur yang diamati. Perlakuan invigorasi berpengaruh sangat nyata terhadap indeks vigor dan laju pertumbuhan kecambah. Perlakuan invigorasi berpengaruh nyata terhadap kecepatan tumbuh. Interaksi antara perlakuan invigorasi dan periode simpan hanya berpengaruh nyata terhadap daya berkecambah dan laju pertumbuhan kecambah (Tabel 7).

Tabel 7 Rekapitulasi analisis ragam pengaruh perlakuan invigorasi dan periode simpan pada ruang kamar terhadap viabilitas benih

Tolok ukur Inv PS Inv*PS KK (%)

Invigorasi sebagai perlakuan prasimpan tidak selalu berpengaruh positif terhadap benih. Matriconditioning dengan tambahan zat antioksidan ternyata tidak dapat meningkatkan daya simpan benih bunga matahari pada ruang kamar (Yullianida dan Murniati 2005). Hydropriming juga ternyata berpengaruh negatif terhadap daya berkecambah benih Vicia sativa L. (Kalsa et al. 2011).

(21)

11 simpan padi. Benih yang berumur 6 bulan dan diberi perlakuan priming selama 3 dan 6 jam dapat meningkatkan daya simpan 4.7 bulan. Assefa (2008) menyatakan bahwa lamanya waktu priming berhubungan dengan proses imbibisi dalam benih.

Penelitian Nemadev (2010) menunjukkan perlakuan invigorasi benih wijen dengan thiram mampu mempertahankan daya berkecambah tetap tinggi pada 6 bulan penyimpanan, walaupun menurun nilainya dari daya berkecambah awal (87.25%, 86.75%, 86.25%, 85.63%, 84.38%, 83.38%, dan 82.13%), akan tetapi penurunan tersebut tidak sebesar benih kontrol selama penyimpanan dalam ruang kamar (83.38%, 83.00%, 81.70%, 81.25%, 80.25%, 78.75%, 76.38%). Pada percobaan kali ini daya berkecambah benih pada akhir periode simpan tidak berbeda antar perlakuan meskipun terdapat fluktuasi (Tabel 8).

Tabel 8 Pengaruh interaksi perlakuan invigorasi dan periode simpan terhadap DB (%) pada ruang simpan kamar

Invigorasi Periode simpan

0 3 6 9 12 15

Kontrol 80.00e-g 94.67a-e 97.33a-c 96.00a-d 92.00a-f 92.00a-f

Perendaman air 82.67c-g 100.00a 100.00a 88.00a-g 77.33fg 97.33a-c

Pelembapan kertas 57.33h 97.33a-c 100.00a 93.33a-e 96.00a-d 89.33a-g

Perendaman CaCl2 84.00b-g 97.33a-c 93.33a-e 96.00a-d 89.33a-g 96.00a-d

Perendaman KNO3 76.33g 92.00a-f 97.33a-c 89.33a-g 92.00a-f 93.33a-e

Perendaman asam askorbat 81.33d-g 98.67ab 98.67ab 85.33a-g 94.67a-e 88.00a-g Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata berdasarkan uji Duncan 5%

Laju pertumbuhan kecambah pada benih dengan perlakuan pelembapan dengan kertas dan CaCl2 (0.056 g KN-1), perendaman dengan KNO3 (0.057 g KN-1)

dan perendaman dengan asam askorbat (0.059 g KN-1) pada 15 minggu penyimpanan dalam ruang kamar menunjukkan hasil yang tidak lebih baik dibanding kontrol (0.062 g KN-1) (Tabel 9).

Tabel 9 Pengaruh interaksi antara perlakuan invigorasi dan periode simpan terhadap LPK (g KN-1) pada ruang simpan kamar

Invigorasi Periode simpan

0 3 6 9 12 15

Kontrol 0.044p 0.063c-k 0.065b-h 0.065a 0.060f-m 0.062c-l

Perendaman air 0.045op 0.062c-k 0.061d-m 0.068a-e 0.056k-n 0.052no

Pelembapan kertas 0.059g-m 0.063c-k 0.068a-e 0.069a-c 0.062c-l 0.056i-n

Perendaman CaCl2 0.046op 0.067a-f 0.061e-m 0.069a-c 0.061d-m 0.056i-n

Perendaman KNO3 0.055l-n 0.067a-f 0.064b-i 0.071ab 0.058h-n 0.057i-n

Perendaman asam askorbat 0.054l-n 0.064c-k 0.059h-n 0.069a-c 0.059g-m 0.059i-n

Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata berdasarkan uji Duncan 5%

(22)

12

suatu benih. Benih dengan vigor tinggi lebih cepat tumbuh dibandingkan benih dengan vigor rendah (Sadjad 1994). Kecepatan tumbuh benih mencerminkan vigor individu benih dikaitkan dengan waktu (Widajati et al. 2013).

Tabel 10 Pengaruh periode simpan terhadap IV dan KCT pada ruang simpan kamar

Periode simpan Tolok ukur

Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom menunjukkan berbeda nyata berdasarkan uji

Duncan 5%

Benih dengan perlakuan perendaman dalam air, CaCl2, KNO3, dan asam

askorbat memiliki nilai indeks vigor dan kecepatan tumbuh lebih tinggi dibanding kontrol (Tabel 11). Penelitian Somraj et al. (2012) menunjukkan bahwa invigorasi dengan KNO3 0.5% pada benih bawang menunjukkan nilai kecepatan tumbuh yang

tinggi dibanding kontrol.

Tabel 11 Pengaruh perlakuan invigorasi terhadap IV dan KCT pada ruang simpan

kamar Perendaman CaCl2 53.11ab 30.13ab

Perendaman KNO3 55.78ab 31.25a

Perendaman asam askorbat 57.11a 31.25a

Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom menunjukkan berbeda nyata berdasarkan uji

Duncan 5%

Asam askorbat adalah vitamin yang dapat larut dalam air dan berfungsi seperti antioksidan. Sistem antioksidan berpengaruh pada beberapa perlakuan priming. Menurut Bailly et al. (2000) perlakuan priming benih bunga matahari dengan PEG -2.0 Mpa dapat memperbaiki mekanisme antioksidan dalam benih, yaitu dengan meningkatkan catalase (CAT) yang merupakan enzim yang berperan dalam sistem pembentukan antioksidan dalam benih bunga matahari. Enzim CAT mengontrol kecepatan dari lipid peroksida dengan menggunakan H2O2 dan

menghasilkan antioksidan glutathione. Perkecambahan pada benih bunga matahari berhubungan dengan lipid peroksida yang dihasilkan.

(23)

13 dengan mudah karena bahan yang diperlukan murah dan mudah didapatkan. Perlakuan perendaman dengan air dapat dijadikan perlakuan prasimpan benih. Benih direndam kemudian dikeringkan hingga kadar air 12-13% lalu dikemas dan disimpan. Kelemahan metode ini terletak pada kadar air yang tidak dapat diturunkan hingga kadar air yang lebih rendah lagi (8-9%) disebabkan benih akan mengalami retak-retak pada permukaan. Kadar air yang relatif tinggi di ruang penyimpanan dikhawatirkan menjadi pintu terjadinya serangan cendawan. Teknik pengeringan yang tepat perlu dipelajari agar benih dapat dikeringkan hingga aman untuk disimpan dengan penampilan yang tetap baik.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Benih kacang panjang mengalami peningkatan viabilitas pada awal penyimpanan dan selanjutnya berangsur mengalami kemunduran. Perlakuan priming dengan perendaman dalam air, CaCl2, KNO3, dan asam askorbat dapat meningkatkan

indeks vigor dan kecepatan tumbuh benih serta dapat dipertahankan lebih tinggi dibanding kontrol hingga akhir penyimpanan (15 minggu) baik di ruang AC (±20 °C; RH ±50%) maupun ruang kamar (26-30.8 °C; RH 68-77 %).

Saran

Perlakuan perendaman dalam air dapat dijadikan alternatif untuk mempertahankan vigor benih selama penyimpanan baik pada ruang AC maupun kamar karena tidak memerlukan biaya yang terlalu mahal namum efektif. Priming sebagai perlakuan prasimpan harus memperhatikan cara pengeringan setelah perlakuan agar tidak merusak tampilan benih.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar S. 2009. Pengaruh lama perendaman dan konsentrasi KNO3 terhadap

pemecahan dormansi dan pertumbuhan benih padi. Ukhuwah 4(3): 234-238. Asni N. 2010. Kadar air yang aman untuk penyimpanan benih tanaman pangan

(jagung, kedelai, dan kacang tanah) [Internet]. (diunduh 2013 Sept 11). Tersedia pada:

(24)

14

Assefa MK. 2008. Effect of seed priming on storability, seed yield, and quality of soybean (Glycine max L.) [tesis]. Dharwad (IN): University of Agricultural Sciencies.

Assefa MK, Hunje R, Koti RV, Biradarpatil NK. 2010. Enhancement of seed quality in soybean following priming treatments. Karnataka J. Agric. Sci. 23(5): 787-789. Bailly C, Benamar A, Corbineau F, CÔme D. 2000. Antioxidant system in sunflower

(Helianthus annuus L.) seeds as affected by priming. Seed Sci Res 10: 35-42. Basra SMA, Ullah E, Warraich EA, Cheema MA, Afzal I. 2003. Effect of storage on

growth and yield of primed canola (Brassica napus) seeds. Int. J. Agri. Biol. 5(2): 117-120.

Basra SMA, Farooq M, Hafeez K, Ahmad N. 2004. Osmohardening: a new technique for rice seed invigoration. IRRN 29 (2): 80-81.

Badan Pusat Statistik. 2011. Luas Panen Sayuran di Indonesia Tahun 2007-2011. (diunduh 2013 Agt 30).Tersedia pada : http://www.bps.go.id.

Bruggink GT, Doms JJJ, Van der Toorn P. 1999. Induction of longevity in prime seeds. Seed Sci Res 9: 49-53.

Cahyono RC. 2001. Pengaruh perlakuan pematahan dormansi terhadap viabilitas benih beberapa varietas kacang tanah (Arachis hypogaea L.) [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Farooq M, Basra SMA, Rehman H. 2006. Seed priming enhances emergence, yield, and quality of direct-seeded rice. IRRN 31(2): 42-44.

Ilyas S. 2012. Ilmu dan Teknologi Benih. Teori dan Hasil-hasil Penelitian. Bogor (ID): IPB Pr.

Justice OL, Bass LN. 2002. Prinsip dan Praktek Penyimpanan Benih. Jakarta (ID): Rajawali Pr.

Kalsa KK, Tomer RPS, Abebie B. 2011. Effect of storage duration and hydropriming on seed germination and vigor of common vetch. J. of Sci. and Dev. 1(1): 65-73. Khan AA, Miura H, Prusinski J, Ilyas S. 1990. Matriconditioning of seeds to

improve emergence. Prosiding of The Symposium on Stand Establishment of Horticultural Crops.4-6 April. Minneapolis (US).

Khan AA. 1992. Preplant physiological seed conditioning. Janick J (ed). Review. New York (US): Wiley and Sons Inc.

Lamtiar. 2010. Priming benih terhadap pertumbuhan dan produksi kacang panjang (Vigna sinensis (L.) Savi ex Hask) pada media tanah pantai [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Mugnisyah WQ. 2007. Teknologi Benih. Jakarta. Jakarta (ID): Universitas Terbuka. Nemadev WA. 2010. Studies on presowing treatments on fields performance and

seed quality in sesame (Sesame indicum L.) [tesis]. Dharwad (IN): University of Agricultural Sciences.

Owen PL, Pill WG. 1994. Germination of osmotically primed asparagus and tomato seeds after storage up to three months. J. Amer. Soc. Hort. 119 (3): 636-641. Ruliansyah A. 2011. Peningkatan performansi benih kacangan dengan perlakuan

priming. J. Tek. Perkebunan & PSDL 1: 13-18.

Sadjad S. 1994. Kuantifikasi Metabolisme Benih. Jakarta (ID): PT. Gramedia Widiasarana.

(25)

15 Sutopo L. 2004. Teknologi Benih. Jakarta (ID): Rajawali Pr.

Somraj B, Ravinder Reddy K, Radha Krishna KV, Sriharij D. 2012. Effect of invigoration treatments on seed germination and seedling vigour in carry-over onion seed (Allium cepa L.). Res. ANGRAU 40(3): 1-5.

Thavong P, Jamradkran R. 2010. Effect of seed priming on extending rice seed storability [internet]. Postharvest: Saving The Rice Harvest, Maintain a Full Rice Bowl, and Moving Toward Better Livelihoods. The 28th International. 8-12 November. Hanoi.

Utomo BP. 2011. Deteriorasi Benih. [Internet]. (diunduh 2012 Des 4). Tersedia pada : http://ditjenbun.deptan.go.id.

Wary YR, Hanson J, Mariam YW. 2007. Effect of sulfuric acid pretreatment on breaking hard seed dormancy in diverse accessions of five wild Vigna species. Seed Science and Technology (Switzerland) 35(3): 550-559.

Widajati E, Murniati E, Palupi ER, Kartika T, Suhartanto MR, Qadir A. 2013. Dasar Ilmu dan Teknologi Benih. Bogor (ID): IPB Pr.

(26)

16

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bogor pada 10 Februari 1991 sebagai anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Bapak Hermanto Kristiansyah dan Ibu Lily Nurlaeli. Pendidikan dari mulai SD, SMP, hingga SMA ditempuh di Bogor, yaitu di SDN Polisi V, SMPN 1 Bogor, dan SMAN 1 Bogor. Penulis diterima sebagai mahasiswa jurusan Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor (IPB) pada Agustus 2009 melalui jalur SPMB.

Figur

Gambar 2  Kecambah normal dan abnormal benih kacang panjang

Gambar 2

Kecambah normal dan abnormal benih kacang panjang p.15
Tabel 2  Pengaruh interaksi perlakuan invigorasi dan periode simpan terhadap KA

Tabel 2

Pengaruh interaksi perlakuan invigorasi dan periode simpan terhadap KA p.18
Tabel 5 Pengaruh perlakuan invigorasi terhadap DB, IV, KCT, dan LPK pada penyimpanan ruang AC

Tabel 5

Pengaruh perlakuan invigorasi terhadap DB, IV, KCT, dan LPK pada penyimpanan ruang AC p.19
Tabel 8  Pengaruh interaksi perlakuan invigorasi dan periode simpan terhadap DB

Tabel 8

Pengaruh interaksi perlakuan invigorasi dan periode simpan terhadap DB p.21
Tabel 9  Pengaruh interaksi antara perlakuan invigorasi dan periode simpan terhadap -1

Tabel 9

Pengaruh interaksi antara perlakuan invigorasi dan periode simpan terhadap -1 p.21
Tabel 10  Pengaruh periode simpan terhadap IV dan KCT pada ruang simpan kamar

Tabel 10

Pengaruh periode simpan terhadap IV dan KCT pada ruang simpan kamar p.22

Referensi

Memperbarui...